Lembaga-lembaga kepausan berhasil menahan gelombang

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Renaissance Dan Perubahan
Menyeluruh Dalam Pola Pikir Gereja
Fakultas
Program Studi
MKCU
MKCU
Tatap Muka
12
Kode MK
Disusun Oleh
90039
Drs. Sugeng Baskoro, M.M
Abstract
Kompetensi
Pemahaman mengenai gereja jaman
renaissance
Mahasiswa mampu memahami
perkembangan gereja jaman
renaissance dan perubahan pola pikir
gereja
Latar Belakang
Sejak abad ke-14, landasan sebuah perubahan menyeluruh telah terbentuk
lewat beragam faktor. Pertama, merebaknya nominalisme (kesejatian penamaan)
dan pengingkaran atas keberadaan konseo-konsep universal di Inggris dan
Perancis, yang berperan efektif menjatuhkan dasar-dasar filsafat. Kedua,
percekcokan seputar filsafat alam Aristoteles di Universitas Paris. Ketiga, gemerutu
ketakselarasan filsafat dan dogma-dogma Kristen, atau nalar dan agama. Keempat,
mencoloknya perseteruan antara penguasa-penguasa masa itu dan otoritasotoritas Gereja, dan antar-otoritas Gereja sendiri terjadi perselisihan yang berbuntut
pada kemunculan Protestantisme. Kelima, menggilanya humanisme dan tendensi
untuk
berurusan
dengan
masalah-masalah
kehidupan
manusia,
sembari
mencampakkan masalah-masalah metafisika.
Dan akhirnya, keenam, pada pertengahan abad ke-15, Kekaisaran
Bizantium runtuh, perubahan utuh (secara politik, filosofis, kesusastraan, dan
keagamaan) mencuat di seluruh penjuru Eropa, dan lembaga-lembaga kepausan
diserang dari segala jurusan. Dalam keadaan ini, filsafat skolastik yang lemah itu
pun menemui nasih akhirnya.
Pada abad ke-16, minat pada ilmu-ilmu alam dan empiris meningkat pesat,
dan temuan-temuan Copernicus, Kepler, dan Galileo telah mengguncang dasardasar astronomi Ptolemius dan filsafat alam Aristoteles. Singkatnya, semua aspek
perikemanusiaan di Eropa terganggu dan terguncang.
Lembaga-lembaga kepausan berhasil menahan gelombang-gelombang
besar ini, dan para ilmuwan dihadapkan pada Inkuisisi karena penolakan mereka
pada dogma-dogma agama, pandangan-pandangan tentang filsafat alam, dan
kosmologi seperti yang diakui oleh Gereja berdasarkan tafsiran Injil dan ajaranajaran agama. Banyak ilmuwan yang kemudian dibakar hidup-hidup dengan alasan
fanatisme buta dan kepentingan otoritas-otoritas Gereja.
Bagaimanapun, pada gilirannya Gereja dan lembaga-lembaga kepausan
dimundurkan dengan hina.Perilaku fanatik dan beringas Gereja Katolik berekor
pada sikap negatif masyarakat terhadap otoritas-otoritas Gereja, dan agama secara
umum, serta kejatuhan filsafat skolastik, yaitu satu-satunya filsafat yang mengalir
pada masa itu.
Semua ini selanjutnya melahirkan kehampaan intelektual dan filosofis, dan
akhirnya memunculkan skeptisisme modern. Selama proses ini, satu-satunya yang
mengalami kemajuan adalah humanisme dan hasrat pada ilmu alam dan empiris di
medan budaya, serta kegandrungan pada liberalisme dan demokrasi di medan
politik.
Pemikiran Politik Pada Masa Abad Pertengahan di Eropa (Medieval
Political Theory in Europe)
Zaman pertengahan yang dimaksud di sini dimulai sejak abad ke-13 sampai
awal abad ke-17 di Eropa, dimana terdapat garis yang jelas antara teori politik pada
masa itu. Hubungan public pada masa ini banyak dicampuri oleh gereja, dalam hal
ini pola hubungan antara kerajaan dan gereja. Namun, pada abad ke-18 terjadi
reformasi yang cukup besar dimana kalangan aristokrat tidak diperbolehkan
mengontrol gereja sama seperti mereka mengontrol militer dan kekuatan politik
masa itu.
Hal di atas menujukkan sebuah revolusi kepausan dalam sejarah Eropa dan
menyebabkan krisis kekuasaan antara gereja dengan kerajaan. Sepanjang abad
ke-13, sering sekali terjadi konflik yang melibatkan Paus Gregory VII dengan Raja
Henry IV, termasuk perubahan posisi antara Paus Innocent IV dengan Raja
Frederick II. Terjadi ketidak pahaman mengenai konstitusi pemilihan Raja dan
pangeran terpilih, dan persetujuan Paus, serta mengenai hubungan antara
kerajaan Inggris dengan kerajaan Perancis dan Spanyol.
Kedudukan Paus dalam gereja juga menjadi kontroversi karena Paus
memberikan dukungan terhadap ‘mendicant orders’ dan hal itu semakin
meruncingkan oposisi dari uskup dan pendeta. Juga terjadi sengketa antara
otoritas gereja peraturan sekuler apakah pendeta dibebaskan dari pajak dan dari
pengadilan criminal umum, dan apakah uang yang dikumpulkan oleh gereja lokal
seharusnya digunakan oleh kepausan untuk membiayai pasukan Perang Salib
melawan Saracens tapi juga kampanye militer di Eropa.
Persengketaan semacam ini semakin meruncing di akhir abad ke-13 ketika
studi mengenai hukum, filosofi, dan teologi berada pada level yang tinggi. Sampai
pada abad ke-14, perdebatan yang rumit dan panjang terjadi antara Paus Boniface
VIII, Raja Philip dari Perancis, Paus John XXII, Raja Roma ‘Ludwig dari Bavaria’,
orang-orang Perancis, dan Universitas Perancis. Hal ini terjadi karena pakar teologi
menciptakan banyak sekali perjanjian yang mengkhawatirkan hubungan antara
agama dan pemerintahan sekular, konstitusi Gereja, konstitusi pemerintahan
sekuler, yang pada akhirnya berujung pada hukum dan filosifi pengikut Aristoteles.
a.
Separation: The Spiritual dan Temporal Powers
Dalam dunia klasik tidak terdapat pemisahan kekuasaan antara agama dan
politik. Namun, sejak awal abad pertengahan, sudah ada usaha untuk memisahkan
antara ‘priesthood’ dan ‘kingship’ di Eropa. Dua jenis kekuasaan ini menjadi tidak
setara dalam hal kedudukan, karena yang menjadi teratas adalah kekuatan spiritual
(gereja). Dari waktu ke waktu raja bertindak untuk mensucikan gereja.
Ada satu hal yang menarik dalam hal penyucian bagi gereja. Dimana secara
eksplisit, gereja memperbolehkan para pendeta melakukan bunuh diri. Dengan kata
lain, gereja membiarkan adanya tindakan kekerasan dalam peraturan gereja.
Pendeta biasa saja dipenjara oleh uskup tanpa izin dari pemerintah sekuler.
Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa dalam prakteknya ada pemisahan
yang sangat jelas antara kekuasaan dan peraturan gereja dengan kerajaan. Kedua
elemen inipun tidak bisa saling mengintervensi satu sama lain, walaupun dalam
prakteknya kekuasaan gereja sering melampaui kekuasaan raja.
b.
Subjection
Dalam gagasan lain, Gratian menyebut bahwa paus sebenarnya sangat
menikmati plentitudo polestatis atau kekuasaan penuh. Hal ini bukan berarti bahwa
paus memiliki kekuasaan tertinggi secara formal namun paus merupakan sumber
dari hukum gereja, memiliki otoritas untuk mengintervensi secara langsung urusan
apa saja dan dimana saja yang berkaitan dengan gereja.
Gagasan yang menyatakan bahwa paus bisa menjalankan kekuasaan yang
telah diberikan oleh Kristus tidak menyalahi prinsip pemisahan kekuasaan antara
spiritual dan kekuasaan duniawi, selama gagasan tersebut diterima bahwa Kristus
tirak memberikan kekuasaan duniawi bagi gereja,
Paus menganggap bahwa gereja adalah perpanjangan dari komunitas
Kristen di dunia dan paus sendiri adalah pemimpinnya di muka bumi. Prinsip Dou
Sunt,
pemisahan
kekuasaan
tidak
begitu
saja
diabaikan.
Para
paus
memperlihatkan intervensi dalam urusan duniawi sebagai pengecualian. Namun,
tidak pernah ditemukan ada intervensi yang sangat mendasar selama abad
pertengahan yang dilakukan oleh kerajaaan terhadap eksistensi gereja.
Hubungan antara kepausan dan kerajaan tidak pernah terlepas satu sama
lain. Terkadang mereka berjalan beriringan dan kadang pula terlibat konflik, namun
satu hal yang pasti dalam kehidupan masyarakat saat itu. Rakyat tidak dapat
berbicara menyatakan aspirasinya, jika kerajaan atau kepausan melakukan
sesuatu yang salah seharusnya rakyat harus berbicara dengan lantang. Namun,
jika ada rakyat yang berani bicara, maka mereka akan dianggap menolak kerajaan,
menolak kehendak Tuhan, dan dengan kata lain mereka adalah pemberontak.
Paus selalu berada dibalik semua hal ini dan bisa dikatakan bahwa
sebenarnya umat Kristen mengalami masa ‘misleading’ di abad pertengahan ini
dan pengaruhnya masih banyak yang bertahan sampai saat ini. Namun, paus yang
masih berada dalam kantor kepausaan harus dipatuhi. Paus bisa menghakimi
semua namun tidak dihakimi oleh siapapun.
c.
The Debate on The Power of The Pope
Kekuasaan
Paus
yang
tidak
terbatas
menimbulkan
banyak
sekali
perdebatan sejak dulu sampai akhir abad pertengahan. Dua penulis yang cukup
berkontribusi adalah Thomas Aquinas dan Giles of Rome yang menganggap
bahwa kepausan berada di atas kerajaan. Sedangkan John of Paris, Marsilius of
Padua, dan William of Ockham, dengan tegas menantang hal ini.
1.
Thomas Aquinas
Thomas telah menelurkan beberapa tulisan mengenai kekuasaan paus di
Eropa. Tulisan pertamanya yaitu Scriptum super libros sentetiarum “ketika dua
kekuasaan berkonflik, yang mana yang harus kita patuhi?”. Jawaban yang muncul
adalah, jika yang otoritas yang asli datang dari yang lain, maka ketaatan yang
semestinya adalah terhadap otoritas yang asli. Misalnya kekuasaan pendeta yang
diberikan oleh paus, maka yang harus dipatuhi adalah paus.
Sedangkan, jika yang berkonflik adalah dua kekuasaan yang tertinggi yakni
gereja dan kerajaan, ketaatan harus diberikan terhadap pemegang kekuasaan
tertinggi melihat permasalahan itu apakah berkaitan dengan spiritual atau duniawi.
Hal ini dikarenakan bahwa baik kekuasaan spiritual maupun duniawi berasal dari
Tuhan.
Masyarakat harus patuh pada paus dalam persoalan yang menyangkut halhal yang telah ditentukan oleh Tuhan atau dengan kata lain yang menyangkut
urusan keagamaan. Di lain sisi, masyarakat harus patuh terhadap kerajaan jika
yang dipersengketakan adalah permasalahan sipil.
Namun, Thomas menambahkan bahwa kekuasaan spiritual dan duniawi
dipegang hanya oleh satu orang, paus, yang oleh Tuhan telah ditunjuk sebagai
perpanjangan tangannya di dunia untuk mengurusi urusan spiritual dan duniawi.
Pada level yang rendah, memang kekuasaan spiritual dan duniawi dipegang oleh
dua orang berbeda. Namun pada level yang lebih tinggi, kedua kekuasaan ini
dipegang oleh satu orang yaitu paus.
Tulisan keduanya, De regno, menyatakan bahwa Negara (pemerintahan)
bukanlah hal yang abadi alias akan berakhir pada waktunya dan terdiri dari individu
dengan tujuan masing-masing. Negara ada untuk menjamin keamanan rakyatnya,
keamanan yang dimaksud adalah keamanan yang virtual yang nyata dan juga
keamanan yang hakiki yaitu surga.
Kepausan menjelaskan bahwa pada dasarnya manusia harus mencapai
keamanan hakiki, maka dari itu Tuhan membangun gereja di muka bumi agar
manusia bisa menerima bantuan khusus dari Tuhan (God’s special help) berupa
pengampunan. Gereja adalah agensi manusia dari Tuhan yang sengaja dibangun
agar manusia bisa lebih mudah meminta pengampunan dan melakukan
pengorbanan sebagai usaha penebusan dosa.
Di sinilah tugas Negara (pemerintah) untuk mengarahkan rakyatnya agar
mau mengejar surga yang dijanjikan. Bahkan gereja juga menginginkan adanya
pengaplikasian hukum gereja dalam kehidupan bermasyarakat seperti, bunuh diri
bagi yang bersalah dan pengorbanan untuk penebusan dosa.
Di era ini terdapat, hirarki antara gereja dan pemerintah. Pemerintah hanya
menginginkan tujuan kesejahteraan secara virtual, fisik, dan nyata. Sedangkan
tujuan akhir bukanlah itu melainkan surga dan hanya bisa dicapai jika seseorang
benar-benar taat pada agamanya (Kristen) .
Sehingga, peraturan sekuler harus ditetapkan oleh paus karena hanya
dialah yang bisa menyediakan jalan menuju tujuan akhir yang tingkatannya lebih
tinggi dibandingkan tujuan yang diberikan oleh Negara.
2.
Giles of Rome
Dalam tulisannya yang berjudul On Ecclesiastical Power (1302), Giles of
Rome menyatakan bahwa kerajaan termasuk bangsawan pemilik property, harus
tunduk terhadap paus. “Dia (paus) yang menjadi hakim atas segala hal seharusnya
menjadi tuan atas segala hal yang dihakiminya, termasuk pemerintah.”
Giles berpandangan bahwa memang ada beberapa hal yang ditinggalkan
Tuhan untuk diurusi oleh raja. Namun, Tuhan dapat mengintervensi hal itu
kapanpun Tuhan mau dengan mukjizat dan keajaiban yang dimiliki-Nya. Jadi, paus
membiarkan
raja
bertindak di bawah hukum
virtual walaupun
dia bisa
mengintervensi secara langsung dan nyata melalui “kekuasaan utuh” yang
dimilikinya.
Paus memiliki kekuasaan yang utuh yang bisa mengintervensi apapun yang
berkaitan dengan gereja secara langsung, hal ini termasuk pemerintahan sekuler
karena argument di atas memperlihatkan bahwa di luar gereja tidak ada tuan.
Sehingga, dualism yang dilakukan oleh paus memang dikatakan murni sebagai
tugas yang diberikan oleh Tuhan secara langsung untuk menjadi wakil-Nya di muka
bumi dan paus bisa melakukannya tanpa intervensi dari pihak manapun.
3.
John of Paris
Salah satu penulis yang dengan lantang menentang kekuasaan Paus yang
tidak berbatas dan mutlak adalah John of Paris dalam tulisannya On Royal and
Papal Power (1302). Dia menolak anggapan bahwa sejak Paus dinobatkan sebagai
pendeta wakil Tuhan, dimana Kristus adalah Tuhan dan Tuhan adalah pemilik
segalanya, maka serta merta paus adalah pemilik dari segalanya. Pernyataan ini
menghancurkan dua poin penting.
Pertama, Paus adalah wakil Tuhan dalam wujud manusia (bukan sebagai
Tuhan), dan Kristus sebagai manusai bukanlah pemilik dari segalanya. Kedua,
walaupun Kristus dalam wujud manusia merupakan pemilik dari segalanya, Kristus
tidak memberikan semua kekuasaannya kepada wakilnya. Sehingga, tidak ada
bukti nyata yang bisa mendukung kekuasaan mutlaknya di muka bumi.
Tuhan adalah pemilik mutlak dari apa yang ada di akhirat dan dunia. Namun
di dunia, tidak manusia yang menjadi wakil Tuhan di kedua alam tersebut.
Pemerintah merupakan wakil Tuhan di dunia dan Paus adalah wakil Tuhan di
akhirat.
Mengenai anggapan bahwa ‘For he who judges a thing is always lord of the
thing he judged’, maka John beranggapan bahwa paus memiliki juridiksi tersendiri
dalam hal keagamaan. Sedangkan untuk hal property, paus sama sekali tidak
memiliki yuridiksi walaupun itu menyangkut property gereja. Property merupakan
milik pribadi, adapun komunitas (gereja) yang memiliki property itu merupakan
penerima dari individu yang memberikan hak propertinya kepada komunitas
tersebut. Seharusnya, gereja bisa menghargai pendonor bukan menjadi pemilik
atas hal itu. Kepala gereja hanyalah administrator, bukan pemilik atas gereja
tersebut.
Menurut John, kekuasaan duniawi bukan datang dari kekuasaan spiritual
melainkan langsung dari Tuhan. Sehingga, paus yang tugasnya mengurusi urusan
spiritual tidak berhak mencampuri urusan duniawi yang dijalankan oleh kerajaan.
Kekuasaan spiritual tidak boleh berlaku superior di atas kekuasaan duniawi
melainkan setara dan seimbang satu sama lain.
Pertanyaan utama mengenai hubungan antara kekuasaan spiritual dan
duniawi, Thomas Aquinas mendukung bahwa kepausan memiliki kekuasaan yang
mutlak, Giles menganggap bahwa semua kekuasaan legitimasi di bumi dimiliki oleh
paus, dan
Marsilius menyatakan bahwa
kekuasaan
koersif
dimiliki oleh
pemerintahan. William menyatakan bahwa paus memiliki kekuasaan mutlak dalam
urusan keagamaan dan bisa sewaktu-waktu melakukan intervensi jika dianggap
orang awam tidak bisa menyelesaikan persoalan tersebut.
Namun ada pembahasan yang cukup menarik bahwa kekuasaan tidak boleh
dimiliki oleh orang yang tidak mempercayai Kristus. Baik itu raja maupun
pemerintahan di bawahnya harus sepenuhnya taat dan tunduk terhadap Kristus.
Sehingga, satu-satunya agama yang diperbolehkan ada pada masa itu adalah
Kristen.
Perdebatan yang menarik mengenai kekuasaan paus tidak berhenti pada
abad pertengahan saja namu terus berlanjut sampai zaman pencerahan setelah
gereja diturunkan kekuasaan yang dimilikinya. Pada masa tradisional, sebelum
abad pertengahan, fungsi pendeta hanya pada fungsi duniawi. Beberapa penulis
menginginkan pengembalian fungsi pendeta dan paus. Namun di sisi lain,
pergeseran kekuasaan sangat dipengaruhi oleh kondisi politik kerajaan yang
dipenuhi skandal serta pengkhianatan.
DAFTAR PUSTAKA
1. http/ www.renaisance.co.id
2. http/ www.penginjilan.kristen.com
Download