STIKES NGUDI WALUYO
HUBUNGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DENGAN KEMATIAN
NEONATAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KRATON
KABUPATEN PEKALONGAN
JURNAL
SKRIPSI
OLEH :
FARAH SABRIYANA WILLIANDY ADITYA TAMARIA
NIM : 030112A031
PROGRAM STUDI D IV KEBIDANAN
STIKES NGUDI WALUYO
2013
1
HUBUNGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DENGAN KEMATIAN
NEONATAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KRATON KABUPATEN
PEKALONGAN
Oleh :
FARAH SABRIYANA WILLIANDY ADITYA TAMARIA
Program Studi D IV Kebidanan STIKES Ngudi Waluyo
Abstrak
Kematian neonatal di negara berkembang lebih tinggi daripada negara maju proporsinya
pada berat badan lahir rendah, lahir asfiksia dan kelainan kongenital. Penyebab utama kematian
neonatal disebabkan oleh asfiksia neonatorum, karena kemungkinan terjadinya asfiksia dapat lebih
besar pada bayi baru lahir yang tanpa faktor resiko asfiksia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
hubungan antara kejadian asfiksia neonatorum dengan kematian neonatal di Rumah Sakit Umum
Daerah Kraton Kabupaten Pekalongan.
Metode penelitian yang digunakan descriptif corelatif dengan pendekatan cross sectional.
Populasinya sebanyak 74 bayi. Sampel dalam penelitian ini adalah 52 bayi yang meninggal.
Pengambilan sampel dengan teknik purposive sample dan uji analisa data menggunakan uji chi –
square.
Hasil penelitian didapatkan dari 52 bayi, yang mengalami asfiksia neonatorum sebanyak 48
bayi (92,3%) dan seluruhnya mengalami kematian neonatal. Sebanyak 4 bayi (7,7 %) tidak
mengalami asfiksia, 2 bayi (50 %) mengalami kematian neonatal dan 2 bayi (50 %) tidak
mengalami kematian neonatal, hasil analisis didapatkan nilai p value = 0,005 ( p < α ).
Kesimpulannya ada hubungan kejadian asfiksia neonatorum dengan kematian neonatal di
RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan. Disarankan agar petugas kesehatan lebih meningkatkan
keterampilan dalam penanganan masalah kegawatdaruratan neonatus.
Kata Kunci
: Asfiksia neonatorum, Kematian neonatal
PENDAHULUAN
Salah
satu
cara
untuk
menilai
keberhasilan
program
pembangunan
kesehatan yang telah dilaksanakan di suatu
negara adalah dengan melihat perkembangan
angka kematian dari tahun ke tahun. Angka
kematian bayi adalah banyaknya kematian
bayi yang meninggal sebelum mencapai usia
1 tahun, per 1000 kelahiran hidup pada waktu
tertentu (Dinkesjatengprov, 2012). Angka
kelahiran adalah angka yang menunjukkan
jumlah bayi yang lahir dari setiap 1000 orang
penduduk per tahun (Mochtar, 2012).
Penanganan yang kurang baik pada bayi
baru lahir akan menyebabkan kelainankelainan yang dapat mengakibatkan cacat
seumur hidup atau bahkan kematian.
Pembersihan jalan nafas yang kurang baik
saat bayi lahir dapat menyebabkan masuknya
cairan lambung ke dalam paru-paru sehingga
dapat mengakibatkan kesulitan pernafasan,
kekurangan zat asam, dan apabila hal ini
berlangsung terlalu lama dapat menimbulkan
perdarahan otak, kerusakan otak dan
kemudian keterlambatan tumbuh kembang
(Saifudin, 2008).
Manajemen bayi baru lahir normal dapat
dilihat dari penilaiannya yaitu bayi yang
cukup bulan, air ketuban jernih, tidak
bercampur mekonium, bayi menangis atau
bernafas spontan, dan tonus otot bayi baik /
bayi bergerak aktif (Gulardi, 2008). Penilaian
bayi baru lahir dilihat dari apgar (apperance /
warna kulit, pulse / frekuensi jantung,
grimace / reaksi terhadap rangsangan, activity
/ tonus otot, respirasi / pernafasan). Bayi
dikatakan normal apabila nilai apgar 7-10.
Apabila nilai apgar kurang dari 7 dapat
digolongkan menjadi bayi gawat (high risk
baby) dan memerlukan penanggulangan
2
khusus seperti adanya asfiksia (Mochtar,
2012).
Asfiksia merupakan kegagalan untuk
memulai dan melanjutkan pernafasan secara
spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir
atau beberapa saat sesudah lahir (Gulardi,
2008). Ciri - ciri dari bayi asfiksia adalah bayi
tampak pucat dan kebiruan serta tidak
bernafas (Mochtar, 2012). Beberapa keadaan
yang menyebabkan asfiksia antara lain yaitu
dapat dilihat dari keadaan ibu, keadaan tali
pusat, dan keadaan bayi. Keadaan ibu bersalin
yang dapat menyebabkan bayi asfiksia antara
lain ibu dengan preeklamsi dan eklamsia,
plasenta previa atau solusio plasenta, partus
lama atau partus macet, demam selama
persalinan, infeksi berat (malaria, sifilis, TBC,
HIV), dan kehamilan post matur (setelah 42
minggu). Keadaan tali pusat yang dapat
menyebabkan bayi asfiksia yaitu adanya
lilitan tali pusat, tali pusat pendek, simpul tali
pusat, dan prolapsus tali pusat. Keadaan bayi
yang dapat menyebabkan bayi asfiksia adalah
bayi premature (sebelum 37 minggu),
persalinan sulit (sungsang, kembar, distosia,
ekstraksi vakum atau forceps), kelainan
kongenital, dan air ketuban bercampur
mekonium (Gulardi, 2008).
Asfiksia terjadi apabila aliran darah ibu
yang melalui plasenta berkurang, sehingga
aliran oksigen ke janin berkurang (Gulardi,
2008). Apabila janin kekurangan O2 dan kadar
CO2 bertambah, maka akan timbul
rangsangan sehingga bunyi denyut jantung
meningkat. Bila kekurangan O2 terus
berlangsung maka denyut jantung menjadi
semakin cepat akhirnya ireguler dan
menghilang (Mochtar, 2012). Apabila proses
ini terus berlanjut dapat mengakibatkan
kerusakan otak atau bahkan kematian
(Saifudin, 2008).
Upaya-upaya yang aman dan efektif
untuk mencegah dan mengatasi penyebab
utama kematian bayi baru lahir adalah
pelayanan antenatal yang berkualitas, asuhan
persalinan normal / dasar dan pelayanan
kesehatan neonatal oleh tenaga profesional.
Untuk menurunkan kematian bayi baru lahir
karena asfiksia, persalinan harus dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang memiliki
kemampuan dan ketrampilan manajemen
asfiksia pada bayi baru lahir. Kemampuan dan
ketrampilan yang baik ini digunakan setiap
kali menolong persalinan. Pada setiap
menolong persalinan bidan harus siap
melakukan resusitasi bayi dan bidan perlu
mengetahui sebelum dan sesudah bayi lahir,
apakah bayi mempunyai risiko asfiksia. Pada
keadaan bayi yang memiliki risiko asfiksia
bidan harus memberitahukan dengan ibu dan
keluarganya tentang kemungkinan diperlukan
tindakan resusitasi. Akan tetapi, pada keadaan
tanpa faktor risiko pun beberapa bayi dapat
mengalami asfiksia. Sehingga bidan harus
siap melakukan resusitasi bayi baru lahir pada
setiap menolong persalinan (Gulardi, 2008).
Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar
3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir
mengalami asfiksia, hampir 1 juta bayi ini
kemungkinan meninggal. Di Indonesia dari
120 juta balita sebanyak 38% meninggal pada
masa bayi baru lahir (Gulardi, 2008).
Kematian perinatal merupakan ukuran
memberikan pelayanan obstetrik yang
mencerminkan
kesehatan.
Negara
berkembang memiliki angka mortalitas dan
morbiditas perinatal yang masih sangat tinggi.
Mortalitas dan morbiditas di Negara maju dan
Negara berkembang memiliki perbedaan.
Negara maju lebih cenderung pada kelainan
kongenital sedangkan di Negara berkembang,
proporsi lebih tinggi pada berat lahir rendah,
asfiksia dan infeksi. Penyebab utama
kematian neonatal disebabkan oleh asfiksia
neonatorum, karena kemungkinan terjadinya
asfiksia lebih besar pada bayi baru lahir yang
mempunyai resiko maupun yang tidak
mempunyai resiko asfiksia (Manuaba, 2010).
Meski telah mengalami penurunan yang
cukup banyak, indikator AKB dan AKI dalam
MDGs (Millennium Development Goals)
masih jauh dari target yang ditentukan dan
harus dicapai pada 2015. Pemerintah masih
harus bekerja keras untuk mencapai target
MDGs sesuai kesepakatan yaitu AKB 35 per
1.000 kelahiran hidup dan AKI 102 per
100.000 kelahiran hidup pada 2015 (Health
compas, 2013).
Provinsi Jawa Tengah Angka kematian
Bayi mendapat perhatian secara khusus
melalui berbagai program dan kegiatan.
Beberapa indikator keberhasilan bidang
kesehatan ditunjukkan dengan Angka
Kematian Bayi yang cenderung menurun dari
3
34 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2000,
tahun 2003-2004 menunjukkan penurunan,
namun tahun 2004-2005 terjadi kenaikan
sebesar 9,96 % dan pada tahun 2005 Angka
Kematian Bayi menjadi 14 per 1000 kelahiran
hidup (BAPPENAS, 2011).
Berdasarkan KIA Dinas Kesehatan
Kabupaten Pekalongan angka kematian bayi
(AKB) yang tercatat di Kabupaten
Pekalongan pada tahun 2012 mengalami
peningkatan dibandingkan angka kematian
bayi tahun 2011. AKB 2011 adalah sebesar
8,5 per 1000 kelahiran hidup sedangkan AKB
pada tahun 2012 adalah sebesar 10,98 per
1000 kelahiran hidup. Meskipun angka
tersebut lebih baik dari target nasional yaitu
35 per 1000 kelahiran hidup, tetapi angka
kejadian cukup tinggi sehingga masih
membutuhkan perhatian supaya dapat
mencapai
target
MDG’s
(Millenium
Development Goals). Kasus kematian bayi
yang tercatat di Kabupaten Pekalongan dari
bulan Januari – Juni 2013 sebanyak 94 kasus
(DKK Pekalongan, 2013).
Berdasarkan hasil studi pendahuluan di
ruang RM (Rekam Medis) RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan diperoleh data pada
bulan Januari – Maret 2013 total jumlah
kelahiran sebanyak 558 bayi. Jumlah
kelahiran bayi asfiksia yang hidup dari bulan
januari – maret 2013 adalah 260 bayi, dan
bayi yang lahir normal sebanyak 283 bayi.
Jumlah kematian perinatal sebanyak 15 kasus
atau sekitar 2,68% dari seluruh kelahiran
hidup. Penyumbang kasus kematian perinatal
karena asfiksia neonatorum yaitu sebanyak 8
kasus atau sekitar 53,3% dari total kematian
bayi, sedangkan 7 kasus atau sekitar 46,6%
disebabkan karena BBLR, infeksi, dan
kelainan konginetal. Adapun jumlah kematian
perinatal karena asfiksia berat sebanyak 8
kasus atau sekitar 100% dari total kematian
bayi penyebab asfiksia berat.
Penanganan yang sudah dilakukan pada
bayi asfiksia di ruang perinatologi RSUD
Kraton kabupaten Pekalongan adalah sudah
sampai dilakukannya VTP (ventilasi tekanan
positif). Sebagian besar bayi yang asfiksia
berat tidak tertolong karena prognosis yang
jelek.
Berdasarkan latar belakang tersebut maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian
untuk mengetahui hubungan antara kejadian
asfiksia neonatorum dengan kematian
neonatal di RSUD Kraton Kabupaten
Pekalongan
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan
deskriptif korelasional yaitu penelitian
yang diarahkan untuk menjelaskan
hubungan antara dua variabel yaitu
variabel bebas dengan variabel terikat
(Notoatmodjo,2002).
. Pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan cross sectional.
B. Definisi Operasional
Variabel
Hasil Ukur
Skala
Independen Pembagian kategori: Nominal
Kejadian
1. Ya :
Asfiksia
Apabila
nilai
Neonatorum
APGAR score
0-6
2. Tidak :
Apabila APGAR
score 7-10
Dependen Pembagian kategori: Nominal
Kematian 1. Ya :
Neonatal
Apabila
meninggal umur
0-7 hari
2. Tidak :
Apabila
meninggal umur
8-28 hari
C. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling
Populasi pada penelitian ini adalah
bayi 0-28 hari yang meninggal di Rumah
Sakit Umum Daerah Kraton Kabupaten
Pekalongan pada bulan Juni 2012 – Mei
2013 sebanyak 74. Teknik pengambilan
sampel ini dengan teknik Nonprobability
Sampling yaitu purposive sampling yaitu
cara pengambilan sampel untuk tujuan
tertentu
(Hidayat,
2011).
Dalam
penelitian ini yang menjadi sampel
adalah semua bayi yang meninggal umur
0-28 hari pertama pada bulan Juni 2012Mei 2013 yang mempunyai data RM
lengkap sebanyak 52.
4
D. Analisa Data
1. Analisis Univariat
Analisis Univariat bertujuan untuk
menjelaskan atau mendiskripsikan
setiap variabel penelitian (Soekidjo
Notoatmojo, 2010). Yaitu untuk
mengetahui kejadian asfiksia dan
kematian neonatal di Rumah Sakit
Umum Daerah Kraton Kabupaten
Pekalongan. Analisa ini digunakan
untuk menjelaskan nilai jumlah
masing-masing variabel dalam ukuran
distribusi, frekuensi dan presentase
2. Analisa Bivariat
Analisa Bivariat yaitu analisa
yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau
berkorelasi (Soekidjo Notoatmojo,
2010).
Analisa
ini
bertujuan
mengetahui ada atau tidak hubungan
antara asfiksia neonatorum dengan
kematian neonatal di Rumah Sakit
Umum Daerah Kraton Kabupaten
Pekalongan. Teknik analisa bivariat
yang digunakan adalah dengan
menggunakan Uji Chi Square.
2. Kematian neonatal
Tabel 2
Distribusi frekuensi berdasarkan
kematian neonatal di RSUD Kraton
Kabupaen Pekalongan bulan Juni
2012 – Mei 2013.
Penggolongan Frekuensi Presentase
kematian
(f)
(%)
Kematian
50
96,2
Neonatal
Tidak
2
3,8
Kematian
Neonatal
Jumlah
52
100,0
Berdasarkan tabel 2 dapat
diketahui bahwa neonatus yang
mengalami kematian neonatal ≤ 7
hari sebanyak 50 bayi (96,2%) dan
yang mengalami kematian neonatal
> 7 hari sebanyak 2 bayi (3,8%).
3. Hubungan
Neonatorum
neonatal
Penggolongan Frekuensi Presentase
asfiksia
(f)
(%)
Asfiksia
48
92,3
Tidak
4
7,7
asfiksia
Jumlah
52
100,0
Berdasarkan tabel 1 dapat
diketahui bahwa dari 52 bayi yang
meninggal hampir seluruh bayi
sebanyak 48 bayi (92,3 %)
mengalami asfiksia, sedangkan yang
tidak mengalami asfiksia yaitu 4 bayi
(7,7%).
Asfiksia
Kematian
Tabel 3
Hubungan
kejadian
asfiksia
neonatorum dengan kematian neonatal
di
RSUD
Kraton
Kabupaten
Pekalongan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Kejadian Asfiksia Neonatorum
Tabel 1
Distribusi frekuensi berdasarkan
kejadian asfiksia neonatorum di
RSUD
Kraton
Kabupaten
Pekalongan bulan Juni 2012 – 2013.
Kejadian
dengan
Penggolongan
asfiksia
Asfiksia
Ya
48
Kematian neonatal
%
Tidak %
100
0
0
Tidak asfiksia
2
50,0
2
50,0
4
Total
50
96,2
2
3,8
52
To
tal
48
%
10
0
10
0
10
0
P
value
0,005
Berdasarkan tabel 3 didapatkan
hasil bahwa dari 48 bayi yang
mengalami asfiksia neonatorum
seluruhnya mengalami kematian
neonatal sebanyak 48 bayi (100%),
sedangkan dari 4 bayi yang tidak
mengalami asfiksia sebanyak 2 bayi
(50%) mengalami kematian neonatal,
dan sebanyak 2 bayi (50%) tidak
mengalami kematian neonatal.
Berdasarkan perhitungan dari chi
square dengan mebaca tabel Fisher’s
Exact Test nilai p value sebesar
5
0,005 < 0,05 ini berarti ada
hubungan yang signifikan antara
kejadian asfiksia neonatorum dengan
kematian neonatal di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan.
B. Pembahasan
1. Kejadian Asfiksia Neonatorum
Berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan didapatkan
hampir seluruh bayi sebanyak 48 bayi
(92,3
%)
mengalami
asfiksia
neonatorum. Asfiksia neonatorum
(apnea neonatorum) adalah keadaan
dimana bayi yang baru dilahirkan
tidak segera bernafas secara spontan
dan
teratur
setelah
dilahirkan
(Mochtar, 2012).
Menurut teori Mochtar (2012)
kehidupan
awal
bayi
sangat
dipengaruhi oleh kemampuan bayi
beradaptasi
dengan
lingkungan
ekstrauteri, dimana kematangan fungsi
organ sangat menentukan akankah
bayi dapat bertahan hidup atau akan
mengalami kematian. Bila organ vital
bayi mengalami gangguan maka bayi
tak akan dapat bertahan lama di
lingkungan ekstrauteri. Pada bayi yang
mengalami asfiksia, pengembangan
paru-paru menjadi tak sempurna. Bayi
tidak menangis menandakan respirasi
belum aktif, sementara suplai oksigen
dari ibu ke janin sudah terputus, ini
menyebabkan
bayi
mengalami
hipoksia dan bila penanganan tidak
dilakukan sesegera mungkin bayi akan
mengalami
kerusakan
jaringan
terutama jaringan otak dan berujung
pada kematian bayi.
Penyebab kejadian asfiksia
neonatorum
di
RSUD
Kraton
kabupaten Pekalongan sebagian besar
dipengaruhi oleh keadaan tali pusat
dan keadaan bayi seperti lilitan tali
pusat, bayi prematur (sebelum 37
mingu kehamilan), persalinan sulit
(letak sungsang), kelainan kongenital,
dan air ketuban bercampur mekonium
(warna kehijauan).
Pada bayi dengan riwayat
persalinan preterm (antara 20-37
minggu) atau BBLR (berat bayi lahir
rendah) dapat mengalami asfiksia
neonatorum,
karena
kematangan
fungsi organ belum sempuna. Semakin
muda usia kehamilannya semakin
besar morbiditas dan mortalitasnya,
dan disamping harapan hidup perlu
difikirkan pula kualitas hidup bayi
tersebut. Karakteristik yang sering
dijumpai pada bblr seperti lemak
subkutan kurang, aktivitas bayi kurang
atau lemah, otot masih hipotonik,
tangis lemah, pernafasan belum teratur
dan sering mengalami serangan apnoe,
reflek tonic neck lemah, sehingga
dapat memicu terjadinya asfiksia
neonatorum.
Mekonium
dalam
cairan
ketuban merupakan indikasi adanya
gangguan pada bayi yang berkaitan
dengan masalah intrauterin ataupun
gangguan pernafasan karena aspirasi
mekonium setelah bayi lahir. Pada
bayi yang mengalami lilitan tali pusat
dapat menghambat sistem pernafasan
dikarenakan saat bayi didalam
kandungan tali pusatnya melilit pada
daerah leher yang dapat menyebabkan
bayi sulit untuk lahir, sehingga bayi
terlalu lama mengalami sesak nafas.
Berdasarkan
teori
yang
dikemukakan oleh Manuaba (2010)
bahwa persalinan kepala pada letak
sungsang
tidak
mempunyai
mekanisme “maulage” karena susunan
tulang dasar kepala yang rapat dan
padat, sehingga hanya mempunyai
waktu 8 menit, setelah bayi lahir.
Keterbatasan waktu persalinan kepala
setelah bokong adalah 8 menit.
Melampaui batas 8 menit dapat
menimbulkan kesakitan atau kematian
bayi. Kelambatan persalinan kepala
bayi pada presentasi bokong akan
menimbulkan asfiksia karena tali pusat
tertekan sehingga aliran darah menuju
bayi mengalami penurunan dan
kekurangan nutrisi serta oksigen.
Selain penyebab yang telah
disebutkan di atas, kelainan kongenital
6
juga dapat menyebakan asfiksia
neonatorum. Hal ini disebabkan
karena bentuk dan fungsi organ yang
tidak
sempurna
sehingga
memungkinkan bayi kesulitan untuk
bernafas, dan menjadikan kualitas
hidupnya rendah.
2. Kematian Neonatal
Hasil
penelitian
diketahui
bahwa dari 52 bayi hampir seluruh
bayi sebanyak 50 bayi (96,2 %)
mengalami kematian neonatal ≤ 7
hari, dan 2 bayi (3,8 %) tidak
mengalami kematian neonatal > 7 hari.
Kematian neonatal adalah kematian
bayi antara 0-7 hari pertama setelah
lahir (Cuningham, 2004).
Secara garis besar, penyebab
kematian bayi ada dua macam yaitu
kematian bayi endogen dan kematian
bayi eksogen. Kematian bayi endogen
atau yang umum disebut kematian
neonatal adalah kematian bayi yang
terjadi pada bulan pertama setelah
dilahirkan dan umumnya disebabkan
oleh faktor-faktor yang dibawa anak
sejak lahir, yang diperoleh dari orang
tuanya pada saat konsepsi atau didapat
selama kehamilan (Cuningham, 2004).
Etiologi kematian neonatal dari
faktor ibu antara lain : pendidikan
rendah dan ekonomi rendah, umur
kurang 20 tahun / di atas 35 tahun,
paritas diatas 5, hamil tanpa
pengawasan, hamil dengan penyakit
dan hamil dengan komplikasi. Dilihat
dari faktor bayi antara lain : berat
badan bayi kurang 2500 gr (BBLR),
berat badan bayi diatas 4000 gr, bayi
premature (umur kehamilan kurang 37
minggu), kelainan kongenital, dan
lahir
dengan
asfiksia.
Negara
berkembang mortalitas dan morbiditas
perinatal masih sangat tinggi hal ini di
sebabkan oleh : kelahiran bayi dengan
berat rendah, asfiksia, infeksi intra
sampai ekstra uteri dan terjadi
kelainan kongenital (Manuaba, 2010).
Terdapat perbedaan sebab morbiditas
dan mortalitas di Negara maju dan
Negara berkembang. Di Negara maju
lebih disebabkan karena kelainan
kongenital, sedangkan di Negara
berkembang lebih disebabkan karena
BBLR,
asfiksia
dan
infeksi
(Manuaba,2010).
Dalam
proses
penelitian
ditemukan bahwa sebagian besar bayi
yang diteliti mengalami kematian
neonatal pada usia ≤ 7 hari. Hal ini
sesuai dengan teori yang menyatakan
bahwa kematian neonatal merupakan
kematian bayi selama 7 hari pertama
setelah lahir karena adanya faktor
yang telah dibawa sejak lahir. Dapat
dilihat pada hasil rekam medik yang
menunjukkan bahwa bayi tidak dapat
bertahan hidup lama dengan riwayat
persalinan asfiksia.
3. Hubungan
Kejadian
Asfiksia
Neonatorum dengan Kematian
Neonatal
Hasil analisa hubungan antara
kejadian asfiksia neonatorum dengan
kematian neonatal di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan dari 48 bayi
yang mengalami asfiksia neonatorum
seluruhnya
mengalami
kematian
neonatal sebanyak 48 bayi (100%),
sedangkan dari 4 bayi yang tidak
mengalami asfiksia sebanyak 2 bayi
(50%) mengalami kematian neonatal,
dan sebanyak 2 bayi (50%) tidak
mengalami kematian neonatal. Uji
statistik dengan chi square didapatkan
hasil p value 0,005 <α = 0,05,
sehingga dapat diketahui bahwa ada
hubungan yang signifikan antara
kejadian asfiksia neonatorum dengan
kematian neonatal di RSUD Kraton
Kabupaten Pekalongan.
Hasil penelitian di atas dapat
diketahui bahwa hampir seluruh
kematian neonatal disebabkan oleh
asfiksia neonatorum. Hal ini ditandai
dari data rekam medis yang
menunjukkan nilai APGAR skor < 7.
Pada penelitian ini nilai APGAR
(apperance / warna kulit, pulse /
frekuensi jantung, grimace / reaksi
terhadap rangsangan, activity / tonus
otot, respirasi / pernafasan) dilihat
7
melalui medical record pada semua
kasus kematian bayi. Hal ini dilakukan
untuk mengetahui bayi mengalami
asfiksia neonatorum atau tidak.
Pada
bayi
baru
lahir
memerlukan usaha yang keras untuk
mengembangkan parunya pada setiap
hembusan nafas (ekspirasi), sehingga
untuk
pernafasan
berikutnya
dibutuhkan tekanan negatif intratoraks
yang lebih besar dengan disertai usaha
inspirasi yang lebih kuat. Akibatnya
setiap kali bernafas menjadi sukar
seperti saat pertama kali bernafas (saat
kelahiran). Sebagai akibatnya janin
lebih banyak menghabiskan O2 untuk
menghasilkan energi daripada yang ia
terima, dan ini menyebabkan bayi
kelelahan sehingga bayi akan semakin
sedikit membuka alveolinya (Surasmi,
2003).
Janin yang kekurangan oksigen
dan kadar karbondioksida bertambah
akan timbul rangsangan terhadap
Nervus vagus sehingga bunyi jantung
janin menjadi lambat. Apabila
kekurangan
Oksigen
ini
terus
berlangsung, maka Nervus vagus tidak
dapat dipengaruhi lagi. Sehingga akan
timbul rangsangan dari Nervus
Simpatikus, DJJ (Denyut Jantung
Janin) akhirnya bertambah menjadi
lebih cepat akhirnya ireguler dan
menghilang (Saifudin, 2006).
Surfaktan adalah bahan yang
dikeluarkan oleh sel pada alveoli
paru
yang dapat
menurunkan
tekanan antara udara dan jaringan
sehingga
memudahkan
perkembangan paru saat bayi
bernapas pertama. Surfaktan bekerja
membantu alveoli paru agar tetap
terbuka. Pembentukan surfaktan pada
janin terjadi usia kehamilan 20 minggu.
Kekurangan atau ketidakmatangan fungsi
surfaktan
menimbulkan
ketidakseimbangan inflasi saat inspirasi
dan kolaps alveoli saat ekspirasi. Tanpa
surfaktan janin tidak dapat menjaga
parunya tetap mengembang.
Bayi yang lahir lebih dari 32
minggu harapan hidup akan lebih baik
dari bayi yang lahir antara 24 minggu- 32
minggu, karena pada alveoli yang
berkembang memiliki jumlah surfaktan
yang cukup. Jika ketuban pecah sebelum
umur kehamilan 20 minggu, dapat
menghambat pembentukan
susunan
bronkus dan pembentukan tulang rawan.
Secara
klinis
tanda-tanda
asfiksia adalah denyut jantung janin
yang lebih cepat dari 160 X permenit
atau kurang dari 100 X permenit, halus
dan ireguler, serta adanya pengeluaran
mekonium (Mochtar, 2011). Apabila
asfiksia terus berlanjut, gerakan
pernafasan akan berhenti, denyut
jantung
janin
akan
menurun
sedangkan
tonus
neuromoskular
berkurang secara berangsur-angsur
dan bayi memasuki periode yang
disebut dengan sebagai apneu primer
(Saifudin, 2006). Apablia kondisi bayi
bertambah buruk, bayi akan jatuh ke
dalam keadaan apneu sekunder dengan
gejala seperti nafas megap-megap
(gasping), frekuensi jantung menurun,
tekanan darah menurun, bayi tampak
lemas (tonus otot sangat berkurang),
gangguan metabolisme paling akhir
adalah jantung sampai berhenti sama
sekali
yang
diikuti
kematian
(Manuaba, 2006).
Kematian
neonatal
yang
disebabkan karena pernafasan bayi
tersumbat sehingga bayi sulit bernafas
yang
disebut
dengan
asfiksia
merupakan salah satu masalah yang
terjadi akibat kegagalan seorang bayi
untuk beradaptasi. Bayi tidak dapat
bernafas secara teratur dan tidak
menangis, namun karena kondisi bayi
yang lemah sehingga bayi tidak dapat
bertahan > 7 hari.
Penanganan yang kurang tepat
pada
bayi
baru
lahir
akan
menyebabkan kelainan-kelainan yang
dapat mengakibatkan cacat seumur
hidup
atau
bahkan
kematian.
Pembersihan jalan nafas yang kurang
tepat
saat
bayi
lahir
dapat
menyebabkan
masuknya
cairan
lambung ke dalam paru-paru sehingga
8
dapat
mengakibatkan
kesulitan
pernafasan
seperti
asfiksia
neonatorum, kekurangan zat asam, dan
apabila hal ini berlangsung terlalu
lama dapat menimbulkan perdarahan
otak, kerusakan otak dan kemudian
keterlambatan
tumbuh
kembang.
Semua bayi yang menunjukkan tandatanda asfiksia memerlukan perawatan
dan perhatian segera. Kewenangan
bidan dalam melakukan tindakan
resusitasi hanya sampai pada langkah
awal dan resusitasi. Bila tindakan
resusitasi gagal dapat langsung, dicari
penyebab lain seperti kebocoran dalam
sungkup, atau kemungkinan prognosis
jelek / baik.
Hasil penelitian ini sesuai
dengan teori penyebab kematian
neonatal
yang
salah
satunya
dikarenakan
asfiksia
nenatorum.
Semakin berat keadaan asfiksia yang
dialami bayi, maka semakin kecil pula
kemampuan organ vital bayi untuk
dapat berfungsi secara normal
sehingga
memperkecil
pula
kemungkinan bayi dapat bertahan
hidup. Semakin tinggi nilai apgar bayi
maka
semakin
tinggi
pula
kemungkinan bayi untuk dapat
bertahan hidup.
Penelitian menurut Priyadi
Nugraha Prabamurti (2012), yang
berjudul Analisis Faktor Risiko Status
Kematian Neonatal di Kecamatan
Losari Kabupaten Brebes tahun 2011.
Hasil
analisis
dengan
Yate’s
correction
menunjukkan
ada
hubungan antara asfiksia dengan
kematian neonatal. Hal ini mendukung
hasil penelitian yang didapatkan
bahwa kematian neonatal penyebab
terbesarnya adalah bayi mengalami
asfiksia neonatorum
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
1. Sebanyak 48 bayi (92,3%) dari 52 bayi
meninggal karena disebabkan oleh
asfiksia neonatorum.
2. Sebanyak 50 bayi (96,2%) dari 52 bayi
mengalami kematian neonatal.
3. Ada hubungan yang signifikan antara
kejadian asfiksia neonatorum dengan
kematian neonatal.
B. Saran
1. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan bagi peneliti selanjutnya
dapat mengembangkan penilitian ini
dengan
menggali
faktor-faktor
penyebab kematian neontal, sehingga
hasilnya dapat dijadikan sebagai
masukan dalam upaya penurunan
kejadian asfiksia neonatorum dan
kematian neonatal.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
a. Agar dapat sesegera mungkin
mendeteksi adanya kegawatan
janin saat masih di dalam
kandungan, sehingga pasien dapat
memperoleh pertolongan yang
lebih
cepat
yang
dapat
memperbesar kemungkinan hidup
bayi.
b. Petugas kesehatan terutama bidan
hendaknya selalu meningkatkan
pengetahuan, dan keterampilan
terutama
permasalahan
kegawatdaruratan obstetri dan
neonatologi dimana salah satunya
ada penanganan asfiksia yang
membutuhkan kecepatan dan
ketepatan dalam tindakan
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2013. Target MDGs. 8 Maret
2013. http://www.healthcompas.com
Asrimi, Surasmi; Handayani, Siti: Kusuma,
Heni Nur. 2003. Perawatan Bayi Risiko
Tinggi. Jakarta : EGC.
Budiman, Chandra. 2008. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : EGC.
Buku acuan Pelatihan Persalinan Normal.
2008. Jakarta : JNP-KR.
Cuningham,F. garry.dkk. 2004. Obstetri
Williams Ed 21 Vol. Jakarta : EGC.
Dinkes Jateng. 2012. Buku Saku Kesehatan.
28
Februari
2013.
http://www.dinkesjatengprov.go.id
9
F.Mckenzie james,R.Pinger Robert,E.Kotecki
Jerome.
2003.
Kesehatan
Masyarakat edisi 4. Jakarta : EGC.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2011. Metode
Penelitian Keperawatan dan Teknik
analisis Data. Jakarta : Salemba Medika.
Jitowiyono,
Sugeng.
2010.
Asuhan
Keperawata Neonatus dan Anak. Asuhan
Keperawata Neonatus dan Anak.
Yogyakarta : Nuha Medika.
Kemenkes. 2011. Profil Data Kesehatan
Indonesia Tahun 2011. 19 Maret 2013.
http://p3b.bappenas.go.id
Kristiyanasari, Weni. 2009. Neonatus &
Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta :
Nuha offset.
Manuaba IBG.
2010. Ilmu Kebidanan,
Penyakit Kandungan & Keluarga
Berencana untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta : EGC.
Manuaba IGB. 2000. Kapita Selekta
Penatalaksanaan
Rutin
Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta : EGC.
Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis Obstetri
jilid 1. Jakarta : EGC.
Mochtar, Rustam. 2012. Sinopsis Obstetri
jilid 2. Jakarta:EGC.
Notoatmojo, Soekidjo. 2010. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rieneka
Cipta.
Ridwidikdo, Handoko. 2010. Statistik untuk
Penelitian dengan Aplikasi Program R
dan SPSS. Yogyakarta : Pustaka
Rihanama.
Ridwidikdo, Handoko. 2012. Statistik
Kesehatan.Yogyakarta : Nuha Medika.
Saifudin, AB. 2006. Buku Acuan Nasional
Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neontal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
Sudarti, & Fauziah, Afroh. 2013. Asuhan
Kebidanan Neonatus Risiko Tinggi dan
kegawatan.Yogyakarta : Nuha Medika.
Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian.
Bandung : alfabeta
10