Ghibah yang Dibolehkan
Ghibah adalah salah satu perbuatan yang tercela dan memiliki dampak negatif yang cukup besar.
Ghibah dapat mencerai-beraikan ikatan kasih sayang dan ukhuwah sesama manusia. Seseorang yang
berbuat ghibah berarti dia telah menebarkan kedengkian dan kejahatan dalam masyarakat. Walaupun
telah jelas besarnya bahaya ghibah, tetapi masih banyak saja orang yang melakukannya dan
menganggap remeh bahaya ghibah (menggunjing).
Akan tetapi, ternyata ada beberapa hal yang mengakibatkan seseorang diperbolehkan untuk
menggunjing. Namun sebelum mengetahui kriteria masalah apa saja yang membolehkan seseorang
untuk melakukan ghibah, ada baiknya kita mengetahui dahulu apa itu ghibah.
Definisi Ghibah
Definisi
ghibah
dapat
kita
lihat
dalam
hadits
Rasulullah
SAW
berikut
ini:
“Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali
bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada
padanya ?” Rasulullah SAW menjawab, “Kalau memang benar ada padanya, itu ghibah namanya. Jika
tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud,
dan Ahmad).
Berdasarkan hadits di atas telah jelas bahwa definisi ghibah yaitu menceritakan tentang diri saudara
kita sesuatu yang ia benci meskipun hal itu benar. Ini berarti kita menceritakan dan menyebarluaskan
keburukan dan aib saudara kita kepada orang lain. Allah sangat membenci perbuatan ini dan
mengibaratkan pelaku ghibah seperti seseorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Allah I
berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah
sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Bentuk-Bentuk Ghibah yang Diperbolehkan
Imam Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim dan Riyadhu As-Shalihin, menyatakan bahwa ghibah
hanya diperbolehkan untuk tujuan syara’ yaitu yang disebabkan oleh enam hal, yaitu:
1. Orang yang mazhlum (teraniaya) boleh menceritakan dan mengadukan kezaliman orang yang
menzhaliminya kepada seorang penguasa atau hakim atau kepada orang yang berwenang
memutuskan suatu perkara dalam rangka menuntut haknya. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat
An-Nisa ayat 148:
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang
dianiaya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ : 148).
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang teraniaya boleh menceritakan keburukan perbuatan orang
yang menzhaliminya kepada seseorang yang mempunyai kekuasaan, kekuatan, dan wewenang untuk
menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, seperti seorang pemimpin atau hakim, dengan tujuan
mengharapkan bantuan atau keadilan, maka sudah jelas boleh hukumnya.
Tetapi walaupun kita boleh mengghibah orang yang menzhalimi kita, pemberian maaf atau
menyembunyikan suatu keburukan adalah lebih baik. Hal ini ditegaskan pada ayat berikutnya, yaitu
Surat An-Nisa ayat 149:
“Jika kamu menyatakan kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang
lain), maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa: 149)
2. Meminta bantuan untuk menyingkirkan kemungkaran dan agar orang yang berbuat maksiat kembali
ke jalan yang benar.
Pembolehan ini dalam rangka isti’anah (minta tolong) untuk mencegah kemungkaran dan
mengembalikan orang yang berma’siat ke jalan yang haq. Selain itu, hal ini juga merupakan kewajiban
manusia untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Setiap muslim harus saling bahu-membahu menegakkan
kebenaran dan meluruskan jalan orang-orang yang menyimpang dari hukum-hukum Allah, hingga
nyata garis perbedaan antara yang haq dan yang bathil.
3.
Istifta’
(meminta
fatwa)
akan
sesuatu
hal.
Walaupun kita diperbolehkan menceritakan keburukan seseorang untuk meminta fatwa, untuk lebih
berhati-hati, ada baiknya kita hanya menyebutkan keburukan orang lain sesuai yang ingin kita adukan,
tidak lebih.
4. Memperingatkan kaum muslimin dari beberapa kejahatan seperti:
a. Apabila ada perawi, saksi, atau pengarang yang cacat sifat atau kelakuannya, menurut ijma’ ulama
kita boleh bahkan wajib memberitahukannya kepada kaum muslimin. Hal ini dilakukan untuk
memelihara kebersihan syariat. Ghibah dengan tujuan seperti ini jelas diperbolehkan, bahkan
diwajibkan untuk menjaga kesucian hadits. Apalagi hadits merupakan sumber hukum kedua bagi
kaum muslimin setelah Al-Qur’an.
b. Apabila kita melihat seseorang membeli barang yang cacat atau membeli budak (untuk masa
sekarang bisa dianalogikan dengan mencari seorang pembantu rumah tangga) yang pencuri,
peminum, dan sejenisnya, sedangkan si pembelinya tidak mengetahui. Maka memberitahu perihal
budak tersebut kepada pembelinya adalah boleh. Hal ini dilakukan untuk memberi nasihat atau
mencegah kejahatan terhadap saudara kita, bukan untuk menyakiti salah satu pihak.
c. Apabila kita melihat seorang penuntut ilmu agama belajar kepada seseorang yang fasik atau ahli
bid’ah dan kita khawatir terhadap bahaya yang akan menimpanya. Maka kita wajib menasehati
dengan cara menjelaskan sifat dan keadaan guru tersebut dengan tujuan untuk kebaikan semata.
5. Menceritakan kepada khalayak tentang seseorang yang berbuat fasik atau bid’ah seperti, minumminuman keras, menyita harta orang secara paksa, memungut pajak liar atau perkara-perkara bathil
lainnya. Ketika menceritakan keburukan itu kita tidak boleh menambah-nambahinya dan sepanjang
niat kita dalam melakukan hal itu hanya untuk kebaikan agar menghindari pergaulan dengan orang
tersebut. Karena bergaul dengan orang fasik atau pun ahli bid’ah dapat membahayakan agama kita.
6. Bila seseorang telah dikenal dengan julukan si pincang, si pendek, si bisu, si buta, atau sebagainya,
maka kita boleh memanggilnya dengan julukan di atas agar orang lain langsung mengerti. Tetapi jika
tujuannya untuk menghina, maka haram hukumnya. Jika ia mempunyai nama lain yang lebih baik,
maka lebih baik memanggilnya dengan nama lain tersebut.
Wallahu a’lam