PENDAHULUAN
Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat didefinisikan sebagai
suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud cair atau lava) yang memanjang dari
kedalaman sekitar 10 km di bawah permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk
endapan hasil akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus.
Lebih lanjut, istilah gunung api ini juga dipakai untuk menamai fenomena pembentukan ice
volcanoes atau gunung api es dan mud volcanoes atau gunung api lumpur. Gunung api es biasa
terjadi di daerah yang mempunyai musim dingin bersalju, sedangkan gunung api lumpur dapat
kita lihat di daerah Kuwu, Grobogan, Jawa Tengah yang populer sebagai Bledug Kuwu.
Gunung berapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi yang paling dikenali adalah
gunung berapi yang berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire). Busur
Cincin Api Pasifik merupakan garis bergeseknya antara dua lempengan tektonik.
Gunung berapi terdapat dalam beberapa bentuk sepanjang masa hidupnya. Gunung berapi yang
aktif mungkin berubah menjadi separuh aktif, istirahat, sebelum akhirnya menjadi tidak aktif
atau mati. Bagaimanapun gunung berapi mampu istirahat dalam waktu 610 tahun sebelum
berubah menjadi aktif kembali. Oleh itu, sulit untuk menentukan keadaan sebenarnya daripada
suatu gunung berapi itu, apakah gunung berapi itu berada dalam keadaan istirahat atau telah
mati.
ISI
1. GUNUNG HOOD
Gunung Hood
Ketinggian
Lokasi
Lokasi
Koordinat
Geologi
Jenis
Letusan terakhir
3.429 m (11.249 kaki)
Oregon
45° 22′ 24,65″ LU
121° 41′ 45,31″ BB
Stratovolcano
1790-an
Gunung Hood adalah sebuah gunung berapi tipe stratovolcano di sebelah utara Oregon, wilayah
Pasifik barat laut Amerika Serikat. Berjarak sekitar 100 km (60 mil) dari Portland. Gunung ini
merupakan gunung tertinggi di Oregon. Gunung ini dapat terlihat dari Portland, Oregon dan dari
Vancouver, Washington.
Gunung Hood hanya kalah dari Gunung Fuji dalam hal banyaknya pendaki yang mencapai
puncaknya. Gunung ini merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Hood yang memiliki
wilayah seluas 4.900 km². Terdapat lima wilayah ski di gunung ini, termasuk satu-satunya
wilayah ski di Amerika Utara yang buka 12 bulan dalam setahun.
Suku asli Amerika menamai gunung ini Wy’East. Menurut legenda, nama tersebut berasal dari
kepala suku dari suku Multnomah. Kepala suku tersebut diceritakan berkompetisi dengan kepala
suku dari suku Klickitat untuk memperebutkan seorang wanita. Legenda menceritakan akibat
dari kemarahan dari kompetisi tersebut, mengakibatkan ketiganya berubah menjadi gunung
berapi, kepala suku Klickitat menjadi Gunung Adams sedangkan wanita tersebut menjadi
Gunung St. Helens.
Namanya yang sekarang ini diberikan pada 29 Oktober 1792 oleh Letnan William Broughton,
seorang anggota dari rombongan ekspedisi dari Kapten George Vancouver. Namanya berasal
dari seorang laksamana Britania Raya, Samuel Hood.
2. Gunung Ungaran
Gunung Ungaran
Ketinggian 2.050 meter (6.726 kaki)[1]
Daftar
Ribu
Lokasi
Jawa Tengah, Indonesia
Lokasi
Koordinat 7°11′S 110°20′E / 7.18°LS 110.33°BT /
-7.18; 110.33
Geologi
Jenis
stratovolcano
Umur
Holocene
batuan
Gunung Ungaran adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Dengan
ketinggian 2.050 meter, gunung ini adalah gunung tinggi pertama yang dilihat pengendara dari
Semarang ke arah selatan, di sisi kanan (barat). Menurut catatan-catatan sejarah, nama-nama lain
gunung ini adalah Karundungan (prasasti Kuti), Karurungan/Karungrangan (Tantu
Panggelaran), Karungrungan (Perjalanan Bujangga Manik, Serat Aji Saka, Serat Kanda),
Kroenroengan (Domis, 1825), dan NgroengroenganBleeker 1850, Friederich 1870)[2]. (
Di kaki gunung ini terletak kota Ungaran, pusat pemerintahan Kabupaten Semarang.
Gunung Ungaran termasuk gunung berapi berapi tipe strato. Gunung ini memiliki tiga puncak:
Gendol, Botak, dan Ungaran. Puncak tertinggi adalah Ungaran.
Dari puncak gunung ini, jika memandang ke utara akan terlihat Laut Jawa sedangkan jika
membalikkan badan, akan terlihat jajaran (dari kiri ke kanan) Gunung Merapi, Gunung Merbabu,
Gunung Telomoyo dan Kendalisodo dengan Rawa Peningnya, Gunung Sumbing, Gunung
Sindoro, dan Gunung Perahu.
Gunung Ungaran mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan
Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.
Di lerengnya terdapat situs arkeologi berupa Candi Gedongsongo (Bahasa Jawa: gedong =
gedung, songo = sembilan). Terdapat pula beberapa air terjun (curug), di antaranya Curug
Semirang dan Curug Lawe. Juga terdapat gua, yang terkenal dengan nama Gua Jepang. Gua ini
terletak 200 meter sebelum puncak, tepatnya di sekitar perkampungan Promasan (perkampungan
para pemetik teh). Di sini terdapat pula reruntuhan bekas pemandian kuna.
Menurut mitos masyarakat setempat, di lereng gunung di antara jajaran candi ini terdapat kawah
berbau belerang yang merupakan makam Dasamuka. Konon Dasamuka yang suka mabuk
dikubur di kawah ini oleh Hanoman. Hanoman sendiri kemudian berdiam di Gunung Telomoyo
mengawasi Dasamuka jika sewaktu-waktu bangkit. Dasamuka bisa bangkit jika ia mencium bau
minuman keras, hingga masyarakat setempat (dulu) tidak berani minum minuman keras di areal
Candi Gedong Songo.
3. Gunung Galunggung
Galunggung
Ketinggian
Daftar
Lokasi
Lokasi
Koordinat
Geologi
Jenis
Letusan
terakhir
2.168 m
Ribu
Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
7.25°LS-7°15’0″LS; 108.058°BT108°3’30″BT
Stratovolcano
1984
Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas
permukaan laut, terletak sekitar 17 kmTasikmalaya. Terdapat beberapa daya tarik wisata yang
ditawarkan antara lain obyek wisata dan daya tarik wanawisata dengan areal seluas kurang lebih
120 hektare di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Obyek yang lainnya seluas kurang lebih 3
hektar berupa pemandian air panas (Cipanas) lengkap dengan fasilitas kolam renang, kamar
mandi dan bak rendam air panas. dari pusat kota
Gunung Galunggung mempunyai Hutan Montane 1.200 – 1.500 meter dan Hutan Ericaceous >
1.500 meter.
Letusan Gunung Galunggung
Gunung Galunggung tercatat pernah meletus pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal
letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil
pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom
asap dari dalam kawah. Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober, letusan menghasilkan
hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar
bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa
dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km
dari puncak gunung.
Letusan berikutnya terjadi pada tahun 1894. Di antara tanggal 7-9 Oktober, terjadi letusan yang
menghasilkan awan panas. Lalu tanggal 27 dan 30 Oktober, terjadi lahar yang mengalir pada alur
sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan 1822. Letusan kali ini
menghancurkan 50 desa, sebagian rumah ambruk karena tertimpa hujan abu.
Letusan Galunggung 1982, disertai petir
Pada tahun 1918, di awal bulan Juli, letusan berikutnya terjadi, diawali gempa bumi. Letusan
tanggal 6 Juli ini menghasilkan hujan abu setebal 2-5 mm yang terbatas di dalam kawah dan
lereng selatan. Dan pada tanggal 9 Juli, tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah
setinggi 85m dengan ukuran 560×440 m yang kemudian dinamakan gunung Jadi.
Letusan terakhir terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 (VEI=4) disertai suara dentuman, pijaran api,
dan kilatan halilintar. Kegiatan letusan berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari
1983. Selama periode letusan ini, sekitar 18 orang meninggal, sebagian besar karena sebab tidak
langsung (kecelakaan lalu lintas, usia tua, kedinginan dan kekurangan pangan). Perkiraan
kerugian sekitar Rp 1 milyar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.
Letusan pada periode ini juga telah menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar
20 km dari kawah Galunggung, yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu dan
Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta wilayah tersebut lebih banyak disebabkan oleh
terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran
lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.
Pada periode pasca letusan (yaitu sekitar tahun 1984-1990) merupakan masa rehabilitasi
kawasan bencana, yaitu dengan menata kembali jaringan jalan yang terputus, pengerukan
lumpur/pasir pada beberapa aliran sungai dan saluran irigasi (khususnya Cikunten I), kemudian
dibangunnya check dam (kantong lahar dingin) di daerah Sinagar sebagai ‘benteng’ pengaman
melimpahnya banjir lahar dingin ke kawasan Kota Tasikmalaya. Pada masa tersebut juga
dilakukan eksploitasi pemanfaatan pasir Galunggung yang dianggap berkualitas untuk bahan
material bangunan maupun konstruksi jalan raya. Pada tahun-tahun kemudian hingga saat ini
usaha pengerukan pasir Galunggung tersebut semakin berkembang, bahkan pada awal
perkembangannya (sekitar 1984-1985) dibangun jaringan jalan Kereta Api dari dekat Station KA
Indihiang (Kp. Cibungkul-Parakanhonje) ke check dam Sinagar sebagai jalur khusus untuk
mengangkut pasir dari Galunggung ke Jakarta. Letusannya juga membuat British Airways
Penerbangan 9 tersendat, di tengah jalan.
Gunung Galunggung sebagai obyek wisata
Kebanyakan pengunjung obyek wisata Galunggung adalah wisatawan lokal, sementara
wisatawan dari mancanegara masih di bawah hitungan 100 orang rata-rata per tahun. Rata-rata
wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Gunung Galunggung berjumlah
213.382 orang per tahun.
Melihat potensi daya tarik yang mungkin digali, serta posisi geografis yang cukup strategis, serta
memiliki kekhasan dari kondisi alamnya obyek wisata Gunung Galunggung cukup potensial
untuk dijual kepada wisatawan mancanegara. Namun obyek wisata tersebut belum dikemas
dalam paket wisata yang profesional.
4. Gunung Bromo
Gunung Bromo
Gunung Bromo (latar depan, kawah besar) saat
matahari terbit
Ketinggian 2.329 m (7.641 ft) [1]
Daftar
Ribu
Lokasi
Gunung Bromo
Jawa, Indonesia
Koordinat 7°56′30″S 112°57′00″E / 7.94167°LS
112.95°BT / -7.94167;
112.95Koordinat: 7°56′30″S
112°57′00″E / 7.94167°LS 112.95°BT /
-7.94167; 112.95 [1]
Geologi
Jenis
Stratovolcano (aktif)
Letusan
Nov. 2010 (sedang berlangsung)
terakhir
Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama
Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di
Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Gunung Bromo menjadi menarik karena statusnya
sebagai gunung berapi yang masih aktif.
Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat
wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk
tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas
sekitar 10 kilometer persegi.
Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ±
600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km
dari pusat kawah Bromo.
Sejarah letusan
Selama abad XX, gunung yang terkenal sebagai tempat wisata itu meletus sebanyak tiga kali,
dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan
letusan terakhir terjadi pada 2010.
Sejarah letusan Bromo: 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950,
1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908,
1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867,
1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830,
1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775, dan 1767.
Bromo sebagai gunung suci
Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci.
Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara
ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke
puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan
purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.
5. Krakatau
.
Krakatau
Krakatoa (bahasa Inggris)
Gunung Krakatau pada lukisan abad ke-19.
Ketinggian
813 m (2,667 kaki)
Lokasi
Lokasi
Koordinat
Geologi
Jenis
Letusan terakhir
Selat Sunda, Indonesia
6°6′27″LS,105°25′3″BT
Kaldera vulkanik
2009
Krakatau adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau
Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana
(Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-271883. Letusan itu
sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa.
Sampai sebelum tanggal 26 Desember 2004, tsunami ini adalah yang terdahsyat di kawasan
Samudera Hindia. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau
Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom
atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II. Agustus
Selat Sunda
Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua
setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai
setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.
Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan
Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.
Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit.
Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan
teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan
berkembang pesat.
Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah
penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan
kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan
penjelasan mengenai letusan tersebut.
Perkembangan Gunung Krakatau
Gunung Krakatau Purba
Melihat kawasan Gunung Krakatau di Selat Sunda, para ahli memperkirakan bahwa pada masa
purba terdapat gunung yang sangat besar di Selat Sunda yang akhirnya meletus dahsyat yang
menyisakan sebuah kaldera (kawah besar) yang disebut Gunung Krakatau Purba, yang
merupakan induk dari Gunung Krakatau yang meletus pada 1883. Gunung ini disusun dari
bebatuan andesitik.
Catatan mengenai letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang
berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara
lain menyatakan:
“ Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan
bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin
dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir
besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula….
Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau
Sumatera
”
Pakar geologi Berend George Escher dan beberapa ahli lainnya berpendapat bahwa kejadian
alam yang diceritakan berasal dari Gunung Krakatau Purba, yang dalam teks tersebut disebut
Gunung Batuwara. Menurut buku Pustaka Raja Parwa tersebut, tinggi Krakatau Purba ini
mencapai 2.000 meter di atas permukaan laut, dan lingkaran pantainya mencapai 11 kilometer.
Akibat ledakan yang hebat itu, tiga perempat tubuh Krakatau Purba hancur menyisakan kaldera
(kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau
Panjang dan Pulau Sertung, dalam catatan lain disebut sebagai Pulau Rakata, Pulau Rakata Kecil
dan Pulau Sertung. Letusan gunung ini disinyalir bertanggung- jawab atas terjadinya abad
kegelapan di muka bumi. Penyakit sampar bubonic terjadi karena temperatur mendingin. Sampar
ini secara signifikan mengurangi jumlah penduduk di muka bumi.
Letusan ini juga dianggap turut andil atas berakhirnya masa kejayaan Persia purba, transmutasi
Kerajaan Romawi ke Kerajaan Byzantium, berakhirnya peradaban Arabia Selatan, punahnya
kota besar Maya, Tikal dan jatuhnya peradaban Nazca di Amerika Selatan yang penuh teka-teki.
Ledakan Krakatau Purba diperkirakan berlangsung selama 10 hari dengan perkiraan kecepatan
muntahan massa mencapai 1 juta ton per detik. Ledakan tersebut telah membentuk perisai
atmosfer setebal 20-150 meter, menurunkan temperatur sebesar 5-10 derajat selama 10-20 tahun.
[sunting] Munculnya Gunung Krakatau
Perkembangan Gunung Krakatau
Pulau Rakata, yang merupakan satu dari tiga pulau sisa Gunung Krakatau Purba kemudian
tumbuh sesuai dengan dorongan vulkanik dari dalam perut bumi yang dikenal sebagai Gunung
Krakatau (atau Gunung Rakata) yang terbuat dari batuan basaltik. Kemudian, dua gunung api
muncul dari tengah kawah, bernama Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan yang kemudian
menyatu dengan Gunung Rakata yang muncul terlebih dahulu. Persatuan ketiga gunung api
inilah yang disebut Gunung Krakatau.
Gunung Krakatau pernah meletus pada tahun 1680 menghasilkan lava andesitik asam. Lalu pada
tahun 1880, Gunung Perbuwatan aktif mengeluarkan lava meskipun tidak meletus. Setelah masa
itu, tidak ada lagi aktivitas vulkanis di Krakatau hingga 20 Mei 1883. Pada hari itu, setelah 200
tahun tertidur, terjadi ledakan kecil pada Gunung Krakatau. Itulah tanda-tanda awal bakal
terjadinya letusan dahsyat di Selat Sunda. Ledakan kecil ini kemudian disusul dengan letusanletusan kecil yang puncaknya terjadi pada 26-27 Agustus 1883.
[sunting] Erupsi 1883
Sebuah litografi yang dibuat pada tahun 1888 yang menggambarkan Gunung Krakatau pada
kejadian Erupsi 1883.
Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung itu. Menurut Simon
Winchester, ahli geologi lulusan Universitas Oxford Inggris yang juga penulis National
Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan
peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara
letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8
penduduk bumi saat itu.
Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan
Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah
modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Anak Krakatau sebagai ledakan yang
paling hebat yang terekam dalam sejarah.
Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18
kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang
berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka,
India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.
Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata
dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter.
Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di
pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.
Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan
pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga
Tanjung Layar di Pulau Panaitan (Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon,
air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian,
penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami
yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan
Semenanjung Arab yang jauhnya 7 ribu kilometer.
[sunting] Anak Krakatau
Anak Krakatau, dua tahun sejak awal terbentuknya. Foto diambil 12 atau 13 Mei 1929, koleksi
Tropenmuseum.
Mulai pada tahun 1927 atau kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Gunung Krakatau, muncul
gunung api yang dikenal sebagai Anak Krakatau dari kawasan kaldera purba tersebut yang masih
aktif dan tetap bertambah tingginya. Kecepatan pertumbuhan tingginya sekitar 20 inci per bulan.
Setiap tahun ia menjadi lebih tinggi sekitar 20 kaki dan lebih lebar 40 kaki. Catatan lain
menyebutkan penambahan tinggi sekitar 4 cm per tahun dan jika dihitung, maka dalam waktu 25
tahun penambahan tinggi anak Rakata mencapai 7.500 inci atau 500 kaki lebih tinggi dari 25
tahun sebelumnya. Penyebab tingginya gunung itu disebabkan oleh material yang keluar dari
perut gunung baru itu. Saat ini ketinggian Anak Krakatau mencapai sekitar 230 meter di atas
permukaan laut, sementara Gunung Krakatau sebelumnya memiliki tinggi 813 meter dari
permukaan laut.
Menurut Simon Winchester, sekalipun apa yang terjadi dalam kehidupan Krakatau yang dulu
sangat menakutkan, realita-realita geologi, seismik serta tektonik di Jawa dan Sumatera yang
aneh akan memastikan bahwa apa yang dulu terjadi pada suatu ketika akan terjadi kembali. Tak
ada yang tahu pasti kapan Anak Krakatau akan meletus. Beberapa ahli geologi memprediksi
letusan ini akan terjadi antara 2015-2083. Namun pengaruh dari gempa di dasar Samudera
Hindia pada 26 Desember 2004 juga tidak bisa diabaikan.
Anak Krakatau, Februari 2008
Menurut Profesor Ueda Nakayama salah seorang ahli gunung api berkebangsaan Jepang, Anak
Krakatau masih relatif aman meski aktif dan sering ada letusan kecil, hanya ada saat-saat tertentu
para turis dilarang mendekati kawasan ini karena bahaya lava pijar yang dimuntahkan gunung
api ini. Para pakar lain menyatakan tidak ada teori yang masuk akal tentang Anak Krakatau yang
akan kembali meletus. Kalaupun ada minimal 3 abad lagi atau sesudah 2325 M. Namun yang
jelas, angka korban yang ditimbulkan lebih dahsyat dari letusan sebelumnya. Anak Krakatau saat
ini secara umum oleh masyarakat lebih dikenal dengan sebutan “Gunung Krakatau” juga,
meskipun sesungguhnya adalah gunung baru yang tumbuh pasca letusan sebelumnya.
KESIMPULAN
Jadi gunung merapi adalah suatu pelepas tenaga bumi yang ada di perut bumi,jadi
semakin dalam dapur magma maka akan semakin bahaya letusan yang kan terjadi,apabila
dapur magma sempit, letusan yang kan terjadi akan lebih lebih kuat dari yang tadi,gunung
merapi yang akan meletus biasanya mengeluarkan tanda –tanda seperti keluarnya asap
belerang,dan terjadi gempa kecil berulang – ulang kali…
MAKALAH TENTANG GUNUNG
MASITA KHANZA
X3
Download

makalah tentang gunung - Hadi Prana Abadi, M. PdSMA NEGERI 4