Kajian Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam

advertisement
TIM PENYUSUN LAPORAN
1. Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, M.Sc
2. Drs. Oktorialdi, MA, Ph.D
3. Uke Mohammad Hussein, S.Si, MPP
4. Ir. Rinella Tambunan, MPA
5. Ir. Nana Apriyana, MT
6. Mia Amalia, ST, M.Si, Ph.D
7. Santi Yulianti, S.IP, MM
8. Hernydawaty, SE, ME
9. Aswicaksana, ST, MT, M.Sc
10. Raffli Noor, S.Si
11. Elmy Yasinta Ciptadi, ST, MT
12. Arumningsih, S.Si, M.Sc
13. Jayadi, S.Si, M.SE, MA
14. Arief Wiroyudo, S.Kom, MT, MPP
15. Rini Aditya Dewi, S.I.Kom
16. Indra Ade Saputra, S.Kom
17. Ibnu Muakhori, S.Kom
18. Sylvia Krisnawati
19. Cecep Saryanto
20. Ujang Supriatna
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
i
KATA PENGANTAR
Pesatnya perkembangan teknologi dan sistem informasi beberapa tahun terakhir
menjadi kebutuhan di setiap organisasi dalam mengelola data dan pengetahuan yang
dimiliki. Hal ini seiring dengan meningkatnya kompleksitas kegiatan organisasi dan
meningkatnya kemampuan teknologi informasi.
Dengan mulai berlakunya Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2010 tentang
pelaksanaan Undang-Undang No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Hal
ini berdampak pada kebutuhan kementerian dan lembaga pemerintah untuk mengelola
pengetahuan dan informasi yang dimiliki untuk menjangkau publik lebih luas sesuai dengan
ketentuan Undang-undang tersebut. Salah satu bentuk pengelolaan pengetahuan dan
informasi adalah dengan kegiatan Manajemen Pengetahuan.
Manajemen Pengetahuan adalah upaya terstruktur dan sistematis dalam
mengembangkan dan menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk membantu proses
pengambilan keputusan bagi peningkatan kinerja organisasi. Aktivitas dalam Manajemen
Pengetahuan meliputi upaya perolehan, penyimpanan, pengolahan dan pengambilan
kembali, penggunaan dan penyebaran, serta evaluasi dan penyempurnaan pengetahuan
dimana berperan sebagai aset intelektual organisasi.
Internalisasi Manajemen Pengetahuan di lingkup Kedeputian Bidang Pengembangan
Regional merupakan langkah untuk memperkuat sekaligus memperkaya aset pengetahuan
yang tersebar di semua sektor atau direktorat. Lebih lanjut, internalisasi Manajemen
Pengetahuan untuk mendukung kebijakan tata ruang dan pertanahan ini diharapkan
mampu meningkatkan daya saing kelembagaan, efektivitas, dan efisiensi kerja sehingga
sasaran dan target kinerja lembaga dapat tercapai dengan baik.
Akhir kata, semoga laporan kajian ini menjadi bahan referensi dan masukan yang
bermanfaat bagi perkembangan sistem informasi terkait bidang pengembangan regional
pada umumnya dan bidang tata ruang dan pertanahan pada khususnya di lingkungan
Kementerian PPN/Bappenas.
Jakarta, Desember 2016
Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Kementerian PPN/Bappenas
Uke Mohammad Hussein, S.Si., MPP
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
iii
DAFTAR ISI
Tim Penyusun Laporan............................................................................................................... i
Kata Pengantar......................................................................................................................... iii
Daftar Isi .................................................................................................................................... v
Daftar Tabel ............................................................................................................................ vii
Daftar Gambar ........................................................................................................................ vii
Daftar Singkatan..................................................................................................................... viii
Abstrak ................................................................................................................................... ix
BAB I Pendahuluan ............................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3. Profil Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/Bappenas ............. 2
BAB II Tujuan, Sasaran, dan Ruang Lingkup .......................................................................... 5
2.1. Tujuan dan Sasaran..................................................................................................... 5
2.2. Ruang Lingkup............................................................................................................. 6
2.3. Keluaran ...................................................................................................................... 7
BAB III Metodologi ................................................................................................................. 9
3.1. Kerangka Analisis ........................................................................................................ 9
3.2. Metode Pelaksanaan ................................................................................................ 11
3.3. Jadwal Pelaksanaan .................................................................................................. 12
BAB IV Internalisasi Knowledge Management Terkait Bidang Tata Ruang
dan Pertanahan ........................................................................................................ 15
4.1. Pengelolaan Pengetahuan dan Informasi Terkait Tata Ruang dan Pertanahan ...... 17
4.2. Kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan Bidang Tata Ruang Pertanahan .. 20
4.2.1. Sosialisasi Peraturan Pemerintah ...................................................................... 20
4.2.2. Pelatihan Dalam Bentuk Community Of Practices (Cop) ................................... 20
4.3. Studi Banding Ke PT Telkom Bandung dan Bappeda Kabupaten Muara Enim ........ 23
4.3.1. PT Telkom Bandung ........................................................................................... 23
4.3.2. Bappeda Kabupaten Muara Enim ...................................................................... 24
4.4. Penyusunan Panduan Aplikasi Manajemen Pengetahuan ....................................... 24
4.5. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Manajemen Pengetahuan ...................................... 26
BAB V Kesimpulan dan Rekomendasi.................................................................................. 27
5.1. Kesimpulan ............................................................................................................... 27
5.2. Rekomendasi ............................................................................................................ 28
Daftar Pustaka......................................................................................................................... 31
Lampiran ................................................................................................................................. 32
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
v
DAFTAR TABEL
Tabel 1.
Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan ................ 12
Tabel 2.
Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam Penyusunan Kebijakan
Perencanaan Pembangunan ................................................................................. 16
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Struktur Organisasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan 2016 .................... 4
Gambar 2.
Struktur Organisasi Kedeputian Bidang Pengembangan Regional 2016 ........... 4
Gambar 3.
Proses Manajemen Pengetahuan berdasarkan Model SECI .............................. 9
Gambar 4.
Proses Sistem Manajemen Pengetahuan dalam Bidang TRP .......................... 10
Gambar 5.
Tampilan beranda situs www.trp.or.id ............................................................ 17
Gambar 6.
Tampilan beranda portal www.tataruangpertanahan.com ............................ 18
Gambar 7.
Tampilan beranda sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan ......................... 19
Gambar 8.
Roadmap Manajemen Pengetahuan Kedeputian Pengembangan Regional ... 19
Gambar 9.
Cover Buku Panduan Manajemen Pengetahuan ............................................. 25
Gambar 10.
Beranda Aplikasi Manajemen Pengetahuan .................................................... 25
Gambar 11.
Menu Aplikasi Manajemen Pengetahuan ........................................................ 25
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
vii
DAFTAR SINGKATAN
B
BAPPENAS: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
C
CD: Compact Disc
CoP: Community of Practices
F
FGD: Focus Group Dicussion
I
Infosos: Informasi dan Sosialisasi
K
K-Map: Knowledge Map/Peta Pengetahuan
KBBI: Kamus Besar Bahasa Indonesia
KM: Knowledge Management
M
MP: Manajemen Pengetahuan
R
RKP: Rencana Kerja Pemerintah
RPJMN: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
S
SDM: Sumber Daya Manusia
SMP: Sistem Manajemen Pengetahuan
T
TRP: Tata Ruang dan Pertanahan
viii
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
ABSTRAK
Manajemen Pengetahuan adalah kegiatan berbagi pengetahuan (knowledge sharing)
yang menjadi sumber penting dalam setiap organisasi. Berbagi pengetahuan merupakan
proses timbal balik yang terjadi pada antar individu ketika saling melakukan bertukar
pengetahuan (tacit dan explicit knowledge). Proses tersebut secara bersama-sama akan
menciptakan pengetahuan yang berupa rekomendasi maupun solusi terhadap sebuah
permasalahan. Upaya mendokumentasikan segala kegiatan dan data yang dimiliki masih
kurang masif diterapkan khususnya pada organisasi pemerintahan di Indonesia hingga awal
tahun 2012. Kegiatan Kajian Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam Penyusunan
Kebijakan Tata Ruang dan Pertanahan dilakukan untuk mempermudah proses penciptaan,
pengumpulan, penyimpanan, dan berbagi-tukar pengetahuan secara khusus terkait tata
ruang dan pertanahan. Tujuan kajian ini secara umum adalah untuk berbagi isu lintas sektor
pembangunan lainnya seperti kehutanan, kelautan, kedaulatan pangan, kedaulatan energi,
pariwisata, industri dan lain sebagainya yang dapat membantu permasalahan di sektor
tersebut apabila terkait dengan penataan ruang dan pertanahan. Pelaksanaan kegiatan
kajian ini mencakup diantaranya pengelolaan pengetahuan dan informasi biang tata ruang
dan pertanahan, pelaksanaan sosialisasi, seminar, lokakarya, FGD, dan publikasi melalui
media cetak dan digital yang meliputi CD, leaflet, dan buletin tata ruang dan pertanahan
(TRP). Metode pelaksanaan kajian ini meliputi: (1) melakukan kajian literatur/studi, (2)
melakukan pemetaan (K-Map) Sistem Manajemen Pengetahuan, (3) melakukan kegiatan
sharing knowledge, dan (4) penyusunan laporan akhir kajian. Kegiatan Manajemen
Pengetahuan ini dilaksanakan dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. Pelaksanaan
kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pengumpulan data dan informasi sebagai Pedoman
Manajemen Pengetahuan, pendistribusian/sosialisasi, serial diskusi, serta evaluasi atas
pelaksanaan kegiatan kajian Manajemen Pengetahuan.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam konteks pemerintahan atau organisasi publik, perubahan yang terjadi di era
globalisasi dan otonomi menjadi tantangan dan tanggung jawab besar pemerintah dalam
melaksanakan pelayanan publik. Hal ini menuntut terciptanya organisasi pemerintah yang
semakin cerdas dan mampu melakukan berbagai inovasi. Manajemen pengetahuan
(knowledge management) saat ini tidak hanya dikenal dalam perusahaan swasta (private
sector), tetapi juga sudah dikenal pada organisasi pemerintahan (public sector). Setiadi, dkk
(2011) mengungkapkan bahwa penerapan manajemen pengetahuan (knowledge
management) di organisasi pemerintahan hampir sama dengan organisasi swasta.
Perbedaannya, organisasi swasta tujuannya adalah profit, sedangkan organisasi
pemerintahan tujuan akhirnya adalah peningkatan layanan publik. Sejumlah literatur
menunjukkan bahwa organisasi pemerintahan telah menginisiasi penerapan manajemen
pengetahuan. Penerapan manajemen pengetahuan (knowledge management) pada
organisasi pemerintahan ditujukan untuk mempermudah proses penciptaan, pengumpulan,
penyimpanan, dan berbagi-tukar pengetahuan (knowledge sharing), menutup kesenjangan
pengetahuan antara satu karyawan dengan karyawan lainnya dan meningkatkan
kemampuan organisasi dalam mengelola aset intelektual, pengetahuan dan pengalaman
yang ada (Bappenas, 2011; Ningky, 2010).
Sejak tahun 2014, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (TRP) telah mulai
membangun sistem Manajemen Pengetahuan yang untuk selanjutnya disebut dengan
Knowledge Management Tata Ruang dan Pertanahan (KM TRP) untuk mengelola
pengetahuan bidang penyelenggaraan penataan ruang dan pertanahan. Dalam pelaksanaan
kegiatan tersebut, Direktorat TRP telah mengintegrasikan berbagai pengalaman, wawasan,
pengalaman berikut berbagai data yang diperlukan ke dalam bentuk sistem KM yang
dibangun dalam rangka meningkatkan kualitas penyebaran pengetahuan dan terjadinya
sharing knowledge di lingkup Kedeputian Pengembangan Regional. Selanjutnya pada tahun
2015 Direktorat TRP telah melakukan penguatan dan pengembangan sistem KM yang telah
dibangun serta pengintegrasian sistem KM Direktorat TRP ke dalam sistem KM Kedeputian
Pengembangan Regional.
Pada tahun 2016, Direktorat TRP melalui Sub Direktorat Informasi dan Sosialisasi
(Subdit Infosos) akan melakukan pemantapan sistem KM TRP yang ada dan dituangkan
dalam kegiatan Internalisasi KM untuk penyusunan kebijakan bidang tata ruang dan
pertanahan. Sistem KM menjadi sangat penting untuk Bidang Tata Ruang dan Pertanahan
yang bersifat nonsektor namun terkait erat dengan banyak sektor yang menggunakan serta
membentuk ruang nasional. Bidang Tata Ruang dan Pertanahan di Indonesia menjadi salah
satu pondasi pelaksanaan pembangunan. Kedua bidang ini bersifat lintas sektor, lintas
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
1
wilayah, dan lintas pemangku kepentingan. Oleh karena itu, berdasarkan isu strategis,
sasaran dalam bidang tata ruang maka sistem KM Direktorat TRP dapat memberikan
informasi terkait dengan arah kebijakan yang telah ditetapkan yaitu: (1) Meningkatkan
ketersediaan regulasi tata ruang yang efektif dan harmonis, (2) Meningkatkan pembinaan
kelembagaan penataan ruang, (3) Meningkatkan kualitas pelaksanaan penataan ruang, dan
(4) Melaksanakan evaluasi penyelenggaraan penataan ruang, melalui pemantauan dan
evaluasi yang terukur. Sedangkan dalam bidang pertanahan dapat mendukung dalam arah
kebijakan bidang pertanahan yang telah ditetapkan, yaitu: (1) Membangun Sistem
Pendaftaran Tanah Publikasi Positif, (2) Reforma Agraria melalui redistribusi tanah,
pemberian tanah dan bantuan pemberdayaan masyarakat, (3) Pencadangan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, dan (4) Pencapaian Proporsi Kompetensi SDM
Ideal Bidang Pertanahan untuk mencapai kebutuhan minimum juru ukur pertanahan.
1.2. Rumusan Masalah
Penerapan Manajemen Pengetahuan pada lembaga pemerintahan ditujukan untuk
mempermudah proses penciptaan, pengumpulan, penyimpanan dan berbagi pengetahuan
(knowledge sharing), menutup kesenjangan pengetahuan antar karyawan, serta
meningkatkan kemampuan organisasi dalam mengelola asset intelektual, pengetahuan dan
pengalaman yang ada. Penerapan Manajemen Pengetahuan (knowledge management),
khususnya pada organisasi pemerintahan di Indonesia sampai awal tahun 2012 belum
begitu masif karena pedoman pelaksanaan program manajemen pengetahuan oleh Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi/MenPAN RB belum lama
diterbitkan, yakni pada tahun 2011. Selain itu, penerapan Manajemen Pengetahuan belum
menyentuh ke unit-unit organisasi pemerintahan, yakni Kantor/Lembaga/Pemerintah
Daerah/Instansi (K/L/D/I). Penerapan Manajemen Pengetahuan masih diperuntukkan untuk
Unit Pengelola Reformasi Birokrasi Nasional (UPRBN) dalam mengelola forum manajemen
pengetahuan yang dapat dimanfaatkan sebagai knowledge sharing, dimana hal ini berguna
dalam perumusan kebijakan reformasi birokrasi nasional dan sebagai benchmarking bagi
Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah (Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi, 2011).
Akhirnya dengan upaya membangun sistem Manajemen Pengetahuan ini diharapkan
dapat membantu memberikan informasi dan pengetahuan baru terkait kebijakan dalam
bidang tata ruang dan pertanahan.
1.3. Profil Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Kementerian PPN/Bappenas
Berdasarkan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Nomor 4 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, secara singkat uraian tugas pokok dan
fungsi Unit Kerja Eselon II Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (Direktorat TRP) yang
2
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
berada di Kedeputian Bidang Pengembangan Regional adalah melaksanakan
pengoordinasian, perumusan dan pelaksanaan kebijakan, serta pemantauan, evaluasi dan
pengendalian perencanaan pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan
(Pasal 150).
Sementara dalam menyelenggarakan fungsinya, Direktorat TRP mempunyai fungsi
sesuai dengan Pasal 151, sebagai berikut:
a.
pengkajian, pengoordinasian, dan perumusan kebijakan di bidang perencanaan
pembangunan nasional, strategi pembangunan nasional, arah kebijakan, serta
pengembangan kerangka regulasi, kelembagaan dan pendanaan di bidang tata ruang
dan pertanahan;
b. pengordinasian dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan perencanaan
penganggaran pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan;
c.
dan
penyusunan rancangan rencana pembangunan nasional secara holistik integratif di
bidang tata ruang dan pertanahan dalam peneatpan program dan kegiatan
Kementerian/Lembaga/Daerah;
d. pengoordinasian dan pengendalian rencana pembangunan nasional dalam rangka
sinergi antara Rencana Kerja Pemerintah dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara di bidang tata ruang dan pertanahan;
e.
pengordinasian pelancaran dan percepatan pelaksanaan program dan kegiatan
pembangunan di bidang tata ruang dan pertanahan;
f.
pemantauan, evaluasi dan pengendalian atas pelaksanaan prgoram dan kegiatan
pembangunan di bidang tata ruang dan pertanahan;
g.
pelaksanaan evaluasi dan pelaporan pelaksanaan tugas dan fungsi perencanaan
pembangunan nasional di bidang tata ruang dan pertanahan; dan
h. pengordinasian pelaksanaan kegiatan-kegaitan pejabat fungsional perencana pertama
dan muda sesuai penugasannya.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan, Kementerian PPN/Bappenas terdiri dari
Direktur, Sub Direktorat Tata Ruang, Sub Direktorat Pertanahan, dan Sub Direktorat
Informasi Sosialisasi Tata Ruang Pertanahan. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, peran
para Fungsional Perencana Pertama, Muda, dan Madya yang ada sangat membantu dalam
penyelesaian tugas terkait bidang tata ruang dan pertanahan serta pengelolaan sistem
informasi sosialisasi tata ruang dan pertanahan.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
3
Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan 2016
Struktur Kedeputian Bidang Pengembangan Regional terdiri atas Direktorat Tata
Ruang dan Pertanahan; Direktorat Pengembangan Wilayah dan Kawasan; Direktorat Daerah
Tertinggal, Transmigrasi, dan Perdesaan; Direktorat Perkotaan, Perumahan, dan
Permukiman; serta Direktorat Otonomi Daerah. Seperti yang tercantum dalam gambar di
bawah ini.
Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan
Direktorat Pengembangan
Wilayah dan Kawasan
Kedeputian Pengembangan
Regional
Direktorat Daerah Tertinggal,
Transmigrasi, dan Perdesaan
Direktorat Perkotaan, Perumahan,
dan Permukiman
Direktorat Otonomi Daerah
Gambar 2. Struktur Organisasi Kedeputian Bidang Pengembangan Regional 2016
4
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
BAB 2
TUJUAN, SASARAN, DAN RUANG LINGKUP
2.1. Tujuan dan Sasaran
Kegiatan Kajian Internalisasi Manajemen Pengetahuan (MP) Dalam Penyusunan
Kebijakan Tata Ruang dan Pertanahan secara umum memiliki tujuan untuk mempermudah
proses penciptaan, pengumpulan, penyimpanan, dan berbagi-tukar pengetahuan secara
khusus terkait tata ruang dan pertanahan dan secara umum berbagai isu lintas sektor
pembangunan lainnya seperti kehutanan, kelautan kedaulatan pangan, kedaulatan energi,
pariwisata, industri dan lain sebagainya yang dapat membantu permasalahan di sektor
tersebut apabila terkait dengan penataan ruang dan pertanahan. Selain itu, dengan adanya
kegiatan MP ini untuk menutup kesenjangan pengetahuan di dalam internal organisasi. Hal
yang penting adalah untuk memperkuat dalam mengelola aset intelektual, pengetahuan,
dan pengalaman yang ada yang meliputi website, buku, dokumen, tulisan, bahan presentasi
(softcopy/hardcopy) untuk meningkatkan kinerja dan mendukung sistem informasi terkait
tata ruang dan pertanahan.
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mendukung sasaran rencana strategis berupa
terlaksananya program-program pembangunan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan sesuai
dengan rencana. Kegiatan ini secara umum mendukung pelaksanaan Prioritas Nasional (PN)
Revolusi Mental dengan Program Prioritas Reformasi Birokrasi Pemerintahan yang dalam
Kegiatan Prioritasnya untuk peningkatakan produktifitas dan manajemen dokumentasi
informasi dan pengetahuan dalam meningkatkan manajemen pengetahuan untuk
penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2017. Dari berbagai studi tentang
birokrasi yang telah dilakukan selama ini dapat kita amati bahwa perkembangan organisasi
publik sangat terkait dengan dinamika birokrasinya. Perubahan lingkungan seharusnya
diikuti dengan perubahan dalam birokrasi organisasi. James Q Wilson (1989)
mendeskripsikan perilaku birokrat untuk mendudukkan masalah pembelajaran di dalamnya
secara cermat. Wilson menjelaskan bahwa birokrasi sangat resisten terhadap inovasi dalam
kondisi dimana anggotanya sedang menikmati dukungan keuangan dan otoritas. Birokrasi
pemerintahan lebih senang dengan stabilitas dan rutinitas. Karakteristik birokrasi sangat
berpengaruh dalam hubungannya dengan learning organization dan Manajemen
Pengetahuan dalam organisasi tersebut.
Organisasi yang menangani permasalahan yang sangat kompleks memerlukan
harmonisasi untuk mencapai sinergi dalam mewujudkan visi dan misinya dalam mengikuti
perkembangan kondisi lingkungannya. Tuntutan masyarakat terhadap layanan organisasi
publik yang semakin meningkat, keterbatasan keuangan negara dan perubahan teknologi
informasi sangat memerlukan respon pemerintah dalam pemenuhannya. Salah satu langkah
yang perlu diambil adalah melakukan Reformasi Birokrasi. Reformasi Birokrasi pada
hakikatnya merupakan upaya untuk melakukan perubahan mendasar terhadap sistem
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
5
penyelenggaraan pemerintahan, terutama menyangkut aspek kelembagaan (organisasi),
ketatalaksanaan (proses bisnis), dan sumber daya manusia (SDM).
Pelaksanaan birokrasi berbasis pengetahuan menjadi kebutuhan yang mendasar
dalam upaya reformasi birokrasi. Hal ini terkait dengan pentingnya kebutuhan inovasiinovasi dalam birokrasi yang sangat tergantung dengan tingkatan pengetahuan dari pelaku
birokrasi dan manajemen pengetahuan suatu organisasi.
Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membangun birokrasi yang berbasis
pengetahuan antara lain dengan membangun sistem Manajemen Pengetahuan, dan
menumbuhkan budaya Knowledge Sharing. Oleh karena itu implementasi dari kedua hal
tersebut diatas, tahun 2016 ini Direktorat TRP dan Kedeputian Pengembangan Regional
melakukan pendisiplinan dari setiap unit kerja dan individual dalam penyimpanan berupa
Sistem Manajemen Pengetahuan (SMP) dan mengajak seluruh unit kerja direktorat lingkup
pengembangan regional untuk menumbuhkan budaya sharing knowledge yang dituangkan
ke dalam aplikasi SMP Kedeputian Pengembangan Regional.
Dalam rangka mencapai tujuan yang telah disebutkan diatas, kegiatan ini mempunyai
sasaran kegiatan antara lain: (1) terkumpulnya data dan informasi khususnya tata ruang dan
pertanahan dan secara umum terkait dengan pengembangan wilayah (perkotaan, pedesaan,
perumahan permukiman, otonomi daerah kawasan, daerah tertinggal); (2) analisis data dan
informasi tata ruang dan pertanahan; (3) penyusunan data dan informasi sesuai dengan
target audience; (4) tersosialisasikannya dan tersebarnya data dan informasi tata ruang dan
pertanahan sesuai dengan stakeholders melalui berbagai media; dan (5) internalisasi dalam
penyusunan kebijakan bidang tata ruang dan pertanahan yang dilakukan dalam berbagai
kegiatan Community of Practices (COP) sharing knowledge.
Diharapkan dari tujuan dan sasaran kegiatan ini dapat memberikan masukan dan
menambah berbagai informasi dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan dalam rangka
mendukung kebijakan perencanaan bidang tata ruang dan pertanahan.
2.2. Ruang Lingkup
Pelaksanaan kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan Dalam Penyusunan
Kebijakan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan ini mencakup:
(1) pengelolaan pengetahuan dan informasi bidang tata ruang dan pertanahan;
(2) penyusunan sistem MP lingkup kedeputian pengembangan regional;
(3) penguatan, pengembangan dan pengelolaan sistem MP TRP dan MP Kedeputian
Regional;
(4) mengkoordinasikan penyusunan media sosialisasi tentang tata ruang pertanahan
seperti Portal TRP (tataruangpertanahan.com), situs TRP (trp.or.id), Buletin TRP, dan
leaflet ringkasan undang-undang;
6
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
(5) pelaksanaan sosialisasi, seminar, lokakarya, dan FGD;
(6) publikasi melalui media cetak dan digital yang meliputi leaflet, buletin TRP dan CD
berisi RPJMN dan peraturan perundang-undangan;
(7) terselenggaranya sosialisasi sistem MP TRP dan MP Kedeputian Pengembangan
Regional dalam forum komunitas (jaringan) praktisi, workshop, seminar; dan
(8) teridentifikasinya hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan MP tersebut.
Diharapkan dengan ruang lingkup bagian pekerjaan dalam penggunaan sistem MP ini
dapat menambah wawasan, pengetahuan dan informasi yang lebih komprehensif dalam
pengambilan keputusan untuk mendukung pelaksanaan Rencana Kerja Pemerintah 2017.
2.3. Keluaran
Keluaran yang diharapkan melalui pelaksanaan kegiatan ini adalah:
(1) teridentifikasinya bagian-bagian manajemen pengetahuan yang dapat digunakan
dalam berkoordinasi dengan mitra kerja kementerian/lembaga maupun pemerintah
daerah termasuk mendukung Prioritas Nasional (PN) Revolusi Mental dengan program
prioritas Reformasi Birokrasi Pemerintahan dalam penyusunan RKP 2017;
(2) terselenggaranya sosialisasi manajemen pengetahuan tata ruang pertanahan dalam
forum komunitas (jaringan) praktisi, workshop, dan seminar;
(3) terselenggaranya kegiatan sharing knowledge pengetahuan dalam berbagai pelatihan
dalam bentuk Community of Practices (CoP) dengan unit kerja; dan
(4) teridentifikasinya hasil evaluasi pelaksanaan internalisasi manajemen pengetahuan
tata ruang pertanahan dan pengembangan regional.
Hasil dari kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pengalaman dan proses
pembelajaran dalam mendukung pengembangan sistem informasi dalam rangka menyusun
perencanaan pembangunan bidang tata ruang dan pertanahan ke depan.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
7
BAB 3
METODOLOGI
3.1. Kerangka Analisis
Manajemen Pengetahuan (MP) berkaitan dengan bagaimana meningkatkan
penggunaan pengetahuan organisasi melalui praktik manajemen informasi dan
pembelajaran organisasi. MP terdiri atas berbagai kegiatan di dalam suatu organisasi untuk
mengidentifikasi, menciptakan, mendistribusikan serta mengadopsi berbagai wawasan dan
pengalaman. Wawasan dan pengalaman yang dikumpulkan ini mewakili knowledge
(pengetahuan) yang dimiliki oleh satu individu dan tertanam di dalam organisasi dalam
bentuk kegiatan dan proses pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan pemahaman MP tersebut
diatas, kegiatan penciptaan pengetahuan dapat dilakukan melalui kegiatan SECI
(socialization, externalization, combination dan internalization). Hal ini dapat dilihat dalam
gambar dibawah ini.
Gambar 3. Proses Manajemen Pengetahuan berdasarkan Model SECI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) internalisasi adalah proses pemasukan
nilai pada seseorang yang akan membentuk pola pikirnya dalam melihat makna realitas
pengalaman yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku.
Proses internalisasi Manajemen Pengetahuan yang diterapkan merupakan perubahan
dari explicit knowledge ke tacit knowledge yang dapat dilakukan dengan cara memperoleh
pengetahuan atau informasi melalui media intranet (database organisasi), internet ataupun
media massa (majalah, koran dan lainnya). Proses internalisasi ini menjadi salah satu bagian
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
9
dari knowledge creation yang cukup penting juga karena melalui pencarian informasi yang
beragam dengan berbagai media yang digunakan tidak hanya bisa menambah pengetahuan
yang dimiliki seorang karyawan tapi juga bisa untuk di-sharing kepada rekan kerjanya.
Semua dokumen, data, informasi dan knowledge yang sudah didokumentasikan baik berupa
cetak maupun elektronik yang bisa dibaca oleh orang lain, bisa meningkatkan knowledge
sumber daya manusia karena di dalamnya karyawan bisa melakukan aktivitas belajar
mengenai informasi yang didapat. Pemaknaan atas nilai inilah yang mewarnai pemaknaan
dan penyikapan seseorang terhadap diri, lingkungan dan kenyataan di sekelilingnya.
Misalnya: perilaku disiplin dalam menerapkan MP di suatu direktorat tertentu akan ditiru
oleh direktorat lainnya, secara tidak langsung direktorat lainnya itu telah menginternalisasi
dirinya sendiri karena mengikuti perilaku disiplin tersebut.
Dalam rangka pelaksanaan kegiatan di lingkup bidang tata ruang dan pertanahan,
Direktorat TRP perlu melakukan pengintegrasian berbagai pengalaman, wawasan, serta
berbagai data yang diperlukan ke dalam bentuk Manajemen Pengetahuan (MP). MP
menjadi solusi bagi berbagai organisasi dan individu pengguna ruang secara efektif dengan
menurunkan gap pengetahuan pada setiap elemen di dalamnya. Secara sederhana proses
KM yang tepat untuk tata ruang dan pertanahan dapat digambarkan pada gambar di bawah
ini.
Aturan
Peta
Pilah,
simpan
Gunakan
Media
komunikasi
Data
Input
Proses
Sebarkan sesuai audience
Gambar 4. Proses Sistem Manajemen Pengetahuan dalam Bidang TRP
Oleh karenanya, penerapan MP di Direktorat TRP akan memiliki specific knowledge
yang akan membuat para pengguna MP memiliki daya saing lebih baik. Sehingga penerapan
MP di lembaga-lembaga apapun diharapkan akan menjadi pendorong tumbuhnya unit-unit
produktif yang memiliki daya saing yang tinggi baik di tingkat regional, nasional, maupun
sampai tingkat internasional. Manajemen pengetahuan di sini diperlukan agar organisasi
mampu melaksanakan fungsinya secara efektif dengan meminimalisir gap pengetahuan
pada setiap elemen organisasi.
10
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
3.2. Metode Pelaksanaan
Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pada kegiatan ini, maka langkah-langkah
yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Melakukan kajian literatur/studi.
a.
Kajian literatur ini diambil berdasarkan kegiatan dari penyusunan Manajemen
Pengetahuan (MP) Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan pada tahun 2014 yaitu
Manajemen Pengetahuan Bidang Tata Ruang dan Pertanahan. Hasil dari kegiatan MP
tahun 2014 memberikan gambaran bahwa suatu organisasi akan memiliki kinerja
yang baik jika dapat menerapkan sistem manajemen pengetahuan yang sangat
menunjang dan dapat dikumpulkan dalam suatu sistem informasi yang mudah untuk
diakses oleh seluruh anggota organisasi.
b. Kajian mengenai pemantapan dan sosialisasi sistem Manajemen Pengetahuan Tata
Ruang dan Pertanahan dalam lingkup Kedeputian Bidang Pengembangan Regional
dan Otonomi Daerah tahun 2015. Hasil dari kegiatan ini menggambarkan perlunya
pemetaan (K-Map) manajemen pengetahuan dan penguatan sistem MP yang ada
serta bagaimana membangkitkan setiap individu ataupun unit kerja yang ada untuk
dapat berbagi pengetahuan dalam mendukung pelaksanaan tugas dibidangnya
masing-masing.
2. Melakukan pemetaan (K-Map) Pengetahuan yang ada dilingkup Kedeputian
Pengembangan Regional. Hal ini dilakukan mengingat adanya Peraturan Menteri
PPN/Bappenas No. 4 Tahun 2016 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
PPN/Bappenas.
3. Melakukan kegiatan sharing knowledge (berbagi pengetahuan) melalui kegiatan diskusi,
FGD, sosialisasi, pelatihan singkat dengan unit kerja internal Bappenas maupun dengan
Pemerintah Daerah. Hal ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan bagi peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
4. Penyusunan laporan akhir kegiatan
Untuk mendukung kegiatan MP tahun 2016 ini sudah dilakukan kunjungan lapangan
ke dua tempat yang telah melakukan kerjasama dengan Direktorat TRP dalam
pengembangan Manajemen Pengetahuan. Lokasi pertama adalah Bappeda Kabupaten
Muara Enim, di Provinsi Sumatera Selatan. Latar belakang pemilihan lokasi adalah karena
Bappeda Kabupaten Muara Enim juga sedang membangun sistem MP dan telah melakukan
pengumpulan pengetahuan terkait dengan tugas dan fungsi pokok Bappeda dalam
melaksanakan aktifitas pengelolaan sistem informasinya. Dalam rencana awal kegiatan ini,
untuk pemilihan lokasi kedua adalah Bappeda Propinsi Papua. Mengingat adanya
penghematan dan efisiensi anggaran kegiatan menyebabkan kunjungan lapangan ke Papua
tidak dapat dilaksanakan. Namun demikian dengan tidak mendapatkan informasi dari
propinsi Papua terkait dengan keberadaan penggunaan Sistim Informasi Tata Ruang
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
11
(Simtaru) namun kegiatan sharing knowledge dialihkan pada daerah yang terjangkau yaitu
melakukan kunjungan untuk mendapatkan pembelajaran ke PT. Telkom Indonesia di
Bandung (Jawa Barat). Kesemua dari kunjungan lapangan tersebut ditujukan untuk
mendapatkan pembelajaran penerapan sistem informasi dalam e-goverment dan e-project
yang telah dikembangkan selama ini dalam kondisi yang berbeda.
Dalam Pelaksanaan Kegiatan KM ini, terdapat 2 (dua) orang Tenaga Ahli Bidang
Manajemen Multimedia dan 1 (satu) Tenaga Ahli Bidang Desain Web yang turut membantu
dalam proses persiapan, pengolahan dan penyusunan aplikasi sistem KM. Tenaga ahli
tersebut mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam mengembangkan aplikasi, melakukan
sosialisasi, memberikan pelatihan, mengarahkan pengumpulan sumber-sumber
pengetahuan, melakukan pemasangan atau instalasi aplikasi pada server yang telah
disediakan, melakukan uji coba terhadap aplikasi, penyusunan panduan aplikasi dan
melakukan penyusunan laporan akhir baik secara tenaga ahli maupun untuk laporan akhir
kegiatan.
3.3. Jadwal Pelaksanaan
Kegiatan Manajemen Pengetahuan ini dilaksanakan dalam jangka waktu 12 (dua
belas) bulan. Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk pengumpulan data dan
informasi sebagai pedoman MP, pendistribusian, sosialisasi dan serial diskusi, serta evaluasi
atas pelaksanaan kegiatan MP. Adapun jadwal pelaksanaan selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel dibawah ini:
Tabel 1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan
NO.
BULAN KE1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Pengumpulan data dan informasi yang akan dijadikan Pedoman MP
yang terdiri dari:
KEGIATAN
11
12
a) Program MP
1.
b) SOP MP
c) Roadmap MP
d) Kebijakan MP
Sosialisasi data dan informasi Bidang TRP melalui media cetak dan digital
seperti:
a) Penguatan portal TRP
2.
b) Pengelolaan situs TRP
c) Pembuatan leaflet
Bidang TRP
12
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
d) Pembuatan Buletin TRP
3.
4.
5.
6.
e) Diskusi serial Sharing
Knowledge terkait tata
ruang pertanahan dan
pengembangan wilayah
Kunjungan lapangan (best
practice)
Evaluasi atas pelaksanaan
MP TRP dan MP
Kedeputian
Pengembangan Regional
Penyusunan Panduan
Sistem MP
Penyusunan Laporan awal
dan Akhir
Diharapkan dengan disusunnya jadwal pelaksanaan tersebut diatas, dapat
dilaksanakan secara optimal dan lancar.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
13
BAB 4
INTERNALISASI KNOWLEDGE MANAGEMENT
TERKAIT BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kegiatan Manajemen Pengetahuan atau MP adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan proses perubahan dari tacit pribadi menjadi tacit milik bersama, dari tacit milik
bersama jadi eksplisit, dan dari eksplisit jadi tersimpan. Semua proses ini berlaku dalam
proses kerja, kehidupan, sosial, politik dan lain-lain. MP mengurusi hal-hal dalam konteks
inovasi, perubahan dan dokumentasi. Salah satu penciptaan kegiatan MP adalah melalui
Internalisasi Pengetahuan.
Internalisasi pengetahuan merupakan konversi dari pengetahuan eksplisit ke dalam
pengetahuan tacit organisasi. Individu harus mengidentifikasi pengetahuan yang relevan
dengan kebutuhannya di dalam pengelolaan pengetahuan tersebut. Dalam prakteknya,
internalisasi dapat dilakukan dalam dua dimensi. Pertama, penerapan pengetahuan eksplisit
dalam tindakan dan praktek langsung. Contohnya melalui program pelatihan atau sosialisasi.
Kedua, perubahan dari explicit knowledge ke tacit knowledge dapat dilakukan dengan
cara memperoleh pengetahuan atau informasi melalui media intranet (database organisasi),
internet ataupun media massa (majalah, koran dan lainnya). Proses internalisasi ini menjadi
salah satu bagian dari knowledge creation yang cukup penting karena melalui pencarian
informasi yang beragam dengan berbagai media yang digunakan- tidak hanya bisa
menambah pengetahuan yang dimiliki seorang karyawan tapi juga bisa untuk dibagikan
kepada rekan kerjanya. Semua dokumen, data, informasi dan pengetahuan yang sudah
didokumentasikan baik berupa tercetak maupun elektronik yang bisa dibaca oleh orang lain,
bisa meningkatkan pengetahuan sumber daya manusia karena di dalamnya karyawan bisa
melakukan aktivitas belajar mengenai informasi yang diperoleh.
Menurut Setiarso (2009), untuk dapat mendukung proses internalisasi, dibutuhkan
suatu sistem atau alat bantu pencarian dan pengambilan dokumen seperti Content
Management. Content Management dapat mendukung proses kombinasi dan juga menjadi
alat fasilitas dalam proses internalisasi. Karena pemicu dalam proses ini adalah penerapan
“learning by doing”. Setiarso juga menjelaskan jika pelajaran tertulis atau explicit knowledge
yang didapat melalui pendidikan dan pelatihan bisa menjadi sumber pengetahuan bagi para
karyawan.
Kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam Penyusunan Kebijakan Tata
Ruang dan Pertanahan merupakan suatu kajian yang diharapkan dapat mendukung
pelaksanaan perencanaan pembangunan dengan pendekatan yang Holistik, Integratif,
Tematik dan Spasial sebagaimana tertuang dalam Tabel 2. dibawah ini:
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
15
Tabel 2. Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam Penyusunan Kebijakan Perencanaan Pembangunan
Pendekatan Perencanaan Pembangunan
Integratif (I)
Tematik (T)
No
Nama Kajian
1.
Internalisasi
Manajemen
Pengetahuan
dalam
Penyusunan
Kebijakan Tata
Ruang dan
Pertanahan
 Kajian ini bertujuan untuk
dapat membantu
memberikan informasi dan
pengetahuan baru terkait
kebijakan dalam bidang tata
ruang dan pertanahan.
 Kajian ini dilakukan dengan
melibatkan seluruh elemen
di dalam organisasi lingkup
tata ruang dan pertanahan.
 Kajian ini untuk menutup
kesenjangan pengetahuan
baik di dalam internal
organisasi maupun dengan
eksternal (masyarakat).
Kesimpulan
Kualitas kajian bidang tata ruang dan pertanahan dengan nama kajian “Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam Penyusunan Kebijakan
Tata Ruang dan Pertanahan” memenuhi kualitas BAIK karena telah mengintegrasikan pendekatan Holistik-Integratif-Tematik-Spasial (HITS)
didalamnya.
Holistik (H)
 Pencapaian internalisasi
manajemen pengetahuan
dengan mengintegrasikan
berbagai pengalaman,
wawasan, dan berbagai
data yang diperlukan ke
dalam bentuk sistem
manajemen pengetahuan
yang dibangun untuk
meningkatkan kinerja dan
mendukung sistem
informasi terkait tata ruang
dan pertanahan.
 Kegiatan ini mendukung
pelaksanaan Prioritas
Nasional (PN) Revolusi
Mental dengan Program
Prioritas Reformasi
Birokrasi Pemerintahan
yang dalam Kegiatan
Prioritasnya untuk
peningkatan produktifitas
dan manajemen
dokumentasi informasi dan
pengetahuan dalam
meningkatkan manajemen
pengetahuan untuk
penyusunan RKP 2017.
Spasial (S)
 Penyempurnaan
kajian dilakukan
melalui kunjungan
lapangan ke PT.
Telkom Indonesia
yang berlokasi di
Bandung, Jawa Barat.
 Tujuan kegiatan
mendapatkan
knowledge sharing
penerapan
manajemen
pengetahuan antara
publik dan swasta.
Pencapaian
>70%
Baik
Berdasarkan Tabel 2. diatas, dapat dikatakan bahwa hasil dari pelaksanaan kajian yang dihasilkan penting untuk terus dilakukan
mengingat menumbuhkan budaya knowledge sharing merupakan bagian dari bagian dari prioritas nasional dalam membangun revolusi
mental.
16
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
4.1. Pengelolaan pengetahuan dan informasi terkait tata ruang dan pertanahan
Upaya penerapan Manajemen Pengetahuan di Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
secara tidak langsung sudah dirintis sejak Tahun 2007. Melalui Subdit Informasi dan
Sosialisasi Tata Ruang dan Pertanahan telah melakukan penyebaran informasi terkait bidang
tata ruang dan pertanahan dengan menggunakan media online dan media cetak.
Penyebaran informasi melalui media online dimulai dengan membuat situs www.bkprn.org
yang berisi berbagai informasi kegiatan Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional
(BKPRN). Kemudian Direktorat TRP juga membuat situs www.trp.or.id yang memuat beritaberita kegiatan di Direktorat dan laporan-laporan serta kajian yang dikerjakan oleh
direktorat. Dismping itu Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan juga membuat portal
www.tataruangpertanahan.com yang berisi kliping harian, regulasi, dan media-media
informasi dan sosialisasi yang telah disusun dalam bentuk softcopy; leaflet ringkasan
peraturan; Buletin Tata Ruang dan Pertanahan; dan informasi digital lainnya yang
didistribusikan kepada berbagai pemangku kepentingan.
Gambar 5. Tampilan beranda situs www.trp.or.id
Sedangkan penyebaran informasi melalui media cetak dilakukan dengan membuat
Buletin Tata Ruang & Pertanahan yang terbit dua kali dalam setahun serta dengan
membuat berbagai leaflet terkait bidang tata ruang dan pertanahan.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
17
Gambar 6. Tampilan beranda portal www.tataruangpertanahan.com
Seiring perkembangan, sejak Tahun 2011 Direktorat TRP mulai aktif mengikuti
konferensi internasional untuk mensosialisasikan hasil kajian di Bidang Tata Ruang dan
Pertanahan, sekaligus untuk berbagi-tukar pengetahuan dengan pihak di luar birokrasi serta
dengan peneliti dari berbagai negara. Contohnya seperti Indonesian Regional Science
Association (IRSA). Selain itu, untuk menutup kesenjangan pengetahuan internal Direktorat
TRP, kami membuat sistem informasi, yaitu e-TRP dan e-BKPRN.
Tahun 2014, seluruh upaya tersebut akan diintegrasikan dalam kegiatan Manajemen
Pengetahuan (MP) Bidang Tata Ruang dan Pertanahan. Oleh karena itu, Direktorat TRP telah
melakukan berbagai diskusi dan berbagi informasi serta pengetahuan dengan tenaga ahli
untuk mengidentifikasi dan memperoleh pemahaman awal tentang MP serta melihat
kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam mengembangkan MP tersebut. Dari hasil diskusi
tersebut, terciptalah sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan lingkup Direktorat TRP yang
beralamat di http://landspatial.bappenas.go.id/km/.
18
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
Gambar 7. Tampilan beranda sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan
Mulai Tahun 2015 Direktorat TRP mulai memperkenalkan benefit dari penggunaan
sistem aplikasi ini. Selain itu, direktorat mulai menularkan praktik cerdas ini ke setiap
direktorat di lingkup Kedeputian Pengembangan Regional. Hal ini direalisasikan dengan
membuat K-Map Manajemen Pengetahuan masing-masing direktorat di lingkup Kedeputian
Pengembangan Regional berdasarkan tupoksi yang ada di direktorat tersebut.
Sepanjang Tahun 2016, Direktorat TRP melakukan kegiatan Kajian Internalisasi
Manajemen Pengetahuan Dalam Penyusunan Kebijakan Tata Ruang dan Pertanahan yang
outputnya berupa sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan yang digunakan oleh seluruh
direktorat di lingkup Kedeputian Pengembangan Regional. Hal ini sesuai dengan roadmap
kegiatan Manajemen Pengetahuan seperti yang tertera pada gambar di bawah ini.
GETTING
STARTED (2015)
 Membangun Tim KM
Kedeputian
Regional
 Menyusun
Standarisasi K-Map
Direktorat-Direktorat
Kedeputian
Regional
 Membangun sistem
KM Kedeputian
Regional berbasis
pada sistem KM TRP
yang telah
dikembangkan
 Mensosialisasi KM di
lingkungan
Kedeputian
Regional
EXPLORE AND
EXPERIMENT (2016)
 Mempertahankan
aktifitas-aktifitas KM
Direktorat-Direktorat
Kedeputian Regional
 Meningkatkan aplikasi
sistem KM Kedeputian
Regional untuk lebih
dapat diakses dari
pihak luar Kedeputian
Regional
 Menambahkan fitur
untuk mengelola CoP
Kedeputian Regional
 Memperjelas kebijakan
KM Kedeputian
Regional
 Melakukan KM
Assessment terhadap
kegiatan KM
Kedeputian Regional
EXPAND AND
SUPPORT (2017)
 Membuka KM dengan
lainnya dalam satu
organisasi yang lebih
luas
 Meningkatkan
sosialisasi aktifitas KM
Kedeputian Regional
dengan lainnya dalam
satu organisasi yang
lebih luas
 Meningkatkan aplikasi
sistem KM Kedeputian
Regional yang dapat
melibatkan pihak
lainnya dalam satu
organisasi yang lebih
luas
 Memperjelas Tata
Laksana KM
Kedeputian Regional
 Melakukan KM
Assessment terhadap
kegiatan KM
Kedeputian Regional
INSTITUTIONALIZE
KM (2018)
 Melekatkan aktifitas
KM kedalam semua
aktifitas Kedeputian
Regional
 Membuka KM
Kedeputian Regional
untuk seluruh
Organisasi Bappenas
 Meningkatkan aktifitasaktifitas KM
Kedeputian Regional
ke dalam semua
bagian Organisasi
 Meningkatkan aplikasi
sistem KM Kedeputian
Regional untuk dapat
melibatkan semua
Organisasi yang relasi
terhadap Kedeputian
Regional
 Melakukan KM
Assessment terhadap
kegiatan KM
Kedeputian Regional
INTEGRATE
KM (2019)
 Membuka KM
Kedeputian Regional
untuk di luar Organisasi
yang berkepentingan
 Meningkatkan aktifitasaktifitas KM
Kedeputian Regional
dalam semua aktifitas
dengan pihak di luar
Organisasi
 Meningkatkan fitur
aplikasi sistem KM
Kedeputian Regional
dengan Web 2.0 dan
terbuka dengan pihakpihak yang
berkepentingan
 Melakukan KM
Assessment terhadap
kegiatan KM
Kedeputian Regional
Gambar 8. Roadmap Manajemen Pengetahuan Kedeputian Pengembangan Regional
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
19
Roadmap umumnya digunakan untuk memberikan gambaran besar terhadap inisiatif
baru yang kompleks, program yang dirancang bagi suatu organisasi. Gambaran ini digunakan
untuk menunjukkan ke para stakeholder dan pihak terkait lainnya mengenai strategi untuk
mendapatkan proses dari awal hingga akhir dimana outputnya adalah mencapai tujuan yang
diharapkan.
4.2. Kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan bidang Tata Ruang Pertanahan
4.2.1. Sosialisasi Peraturan Pemerintah
Kegiatan sosialisasi di bidang tata ruang dan pertanahan telah dilaksanakan berupa
sosialisasi 2 (dua) buah Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 104 Tahun 2015 tentang
Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan, dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor
105 Tahun 2015 tentang Penggunaan Kawasan Hutan yang ditujukan kepada salah satu
daerah sebagai pilot project yaitu Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan sosialisasi ini juga
melibatkan peran Kementerian/Lembaga, yaitu Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan.
Tujuan dari kegiatan sosialisasi ini untuk: 1) menyebarluaskan isi dari PP 104/2015 dan
PP 105/2015 kepada pemangku kepentingan di daerah; 2) mewujudkan kesamaan
pemahaman mengenai PP 104/2015 dan PP 105/2015 antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah; dan 3) memberikan pemahaman kepada
Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Tengah mengenai implikasi implementasi PP
104/2015 dan PP 105/2015 terhadap penyelenggaraan penataan ruang.
Secara materi diperoleh pemahaman bahwa ada beberapa perubahan mendasar yang
diatur dalam kedua PP tersebut yang meliputi penyederhanaan proses Tukar Menukar
Kawasan Hutan, pelepasan kawasan hutan, dan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH)
dengan penetapan jangka waktu maksimal tiap prosesnya.
Diharapkan dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, Pemerintah Daerah memiliki dasar
hukum dalam melakukan percepatan pelepasan kawasan hutan terutama untuk
pembangunan sarana prasarana untuk kepentingan umum.
4.2.2. Pelatihan dalam bentuk Community of Practices (CoP)
A. Teknik Membuat Presentasi
Pelatihan Teknik Presentasi dilakukan untuk merealisasikan salah satu bentuk kegiatan
CoP (Community of Practice). CoP bertujuan untuk menyaring dan mengelola segala
informasi dan pengetahuan individu (tacit knowledge) dalam organisasi yang dapat
memecahkan problem di dalamnya dan kembali disebarluaskan agar dapat menjadi
pengetahuan bersama (explicit knowledge).
20
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
Sebagaimana diketahui, kegiatan di Direktorat TRP yang banyak menghadiri dan
menjadi narasumber di berbagai rapat, mengharuskan para staf memiliki keahlian membuat
slide presentasi yang mumpuni. Tidak bisa dipungkiri bahwa slide presentasi yang memukau
akan memudahkan presenter menyampaikan pesan ke audiens. Pelatihan Teknik Presentasi
ini diisi oleh Mia Amalia selaku Kasubdit Tata Ruang. Beliau mengambil contoh dari
pedoman presentasi Australian National University. Teknik Presentasi yang diajarkan adalah
bagaimana menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam microsoft power point. Banyak
dari kita yang belum tahu apa saja kelebihan fasilitas microsoft power point yang dapat
memudahkan kita dalam membuat suatu presentasi.
Slide yang menarik dalam suatu presentasi menjadi penting karena apabila slide
memiliki obyek yang menarik perhatian, maka audiens akan fokus memandangnya,
menangkap isi pesannya dengan baik, lalu menyimpannya secara kuat ke dalam ingatan.
Penampakan Visual yang wajib diterapkan antara lain: 1) Font mudah dibaca dan konsisten,
hindari menggunakan font yang ada kaitnya; 2) Font size untuk Judul 36-48pfs, Teks ± 24pfs,
Label dan Caption min 14pfs; 3) Grafik dibuat simpel dengan memakai sedikit warna.
Aturan dalam desain power point adalah: 1) Selalu tampilkan struktur presentasi; 2)
Pakai aturan 1:5:5 untuk topik:point:kata; 3) Gunakan key words, bukan kalimat; 4) Jangan
gunakan tanda baca; 5) Gunakan smart art, gambar/tabel; 6) Bagian kesimpulan sebaiknya
maksimal hanya 3 points dan gunakan gambar agar mudah diingat. Untuk Notes Pembicara,
dibuat lengkap dalam notes, sebaiknya kita baca terlebih dahulu sebelum diserahkan ke
presenter, serta print satu muka atau jangan bolak-balik. Dalam pelatihan ini terbagi dalam
beberapa kelompok dan langsung praktik membuat presentasi sesuai dengan prinsip-prinsip
yang telah dijelaskan.
B. Speech Writing Class
Kegiatan CoP Speech Writing Class dibawakan oleh Ibu Mia Amalia, Kasubdit Tata
Ruang, Direktorat TRP yang telah memiliki pengalaman dalam menyusun konsep dan pidato
bagi orang-orang penting di pemerintahan baik untuk kepentingan acara dalam negeri
maupun acara skala internasional. Speech writing atau menulis pidato intinya adalah
penyampaian gagasan, pikiran, dan informasi dari pembicara kepada khalayak. Salah satu
tujuan berpidato adalah meyakinkan pendengar tentang isi pidato yang disampaikan. Agar
pidato yang disampaikan dapat berjalan dengan lancar dan runtut, sebelumnya perlu
disiapkan naskah pidato. Secara garis besar, naskah pidato terdiri atas tiga bagian, yaitu
pembukaan, isi, dan penutup.
Prinsip-prinsip yang harus diketahui sebelum menyusun Speech Writing adalah 1)
Pidato bukan presentasi atau orasi; 2) Listening is hard, maka dari itu gunakanlah kalimat
yang terstruktur, sederhana, mudah diingat dan durasi yang tepat; 3) Speech writer atau
penulis pidato bekerja di belakang layar dan harus mendalami karakter dan profil orang
yang akan berpidato. Struktur Utama isi pidato terdiri dari 1) Acknowledgement/
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
21
penghormatan; 2) Rapport/unsur personal; 3) Topic/isi pidato; 4) Subtopic/pemaparan dan
mengingatkan kembali pada struktur. Kata dan kalimat yang dipakai sebaiknya kalimat aktif
dan singkat, kosakata yang tepat dan beragam, kata sifat yang bersifat deskriptif dan
menambah “rasa” kata, tentukan jenis tone (persuasif, argumentatif, analisis, atau visioner).
Kalimat yang digunakan haruslah kalimat yang terstruktur, sederhana, mudah diingat dan
menetapkan durasi yang tepat. Karena komunikasi bersifat irreversible yang artinya tidak
dapat kembali. Statement pertama yang disampaikan itulah yang akan diingat oleh audiens.
Sebagai penulis pidato atau ghost writer, kita harus memahami secara mendalam profil dan
karakteristik speaker yang akan berpidato. Pidato yang disampaikan harus menyentuh dan
mudah diingat oleh audiens.
C. Pelatihan Format Laporan Ideal
Format laporan ideal yang diajarkan adalah bagaimana menggunakan fasilitas-fasilitas
yang ada dalam microsoft word. Banyak dari kita yang belum tahu apa saja kelebihan
fasilitas Ms.Word yang dapat memudahkan kita dalam membuat format laporan. Dijelaskan
pula perbedaan antara laporan untuk internal dan laporan untuk eksternal dimana perlu
penjelasan yang lebih detail karena akan dibaca oleh orang yang kurang familiar dengan
istilah-istilah bidang TRP. Dalam pelatihan ini terbagi dalam beberapa kelompok dan
langsung praktik membuat contoh format laporan sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah
dijelaskan.
D. Testing Input Data Sistem MP
Pelaksanaan input pengetahuan dan informasi dalam sistem MP ini merupakan salah
satu bagian pelatihan bagi para Person in Charge (PIC) koordinator MP di unit direktorat di
lingkungan Kedeputian Pengembangan Regional yang telah ditunjuk. Tujuannya adalah
mencoba memasukkan data ke dalam sistem aplikasi MP Kedeputian Pengembangan
Regional yang beralamat di kmregional.dev.bappenas.go.id, nantinya jika sudah sustainable,
alamat domain sistem MP tersebut akan diubah menjadi kmregional.bappenas.go.id. Untuk
sementara, para PIC-lah yang bertugas dan bertanggungjawab menginput data yang didapat
ke sistem MP. Selanjutnya PIC dapat membuatkan username para staf di unit kerja masingmasing.
Aplikasi MP Kedeputian ini dipetakan berdasarkan tupoksi yang ada di setiap
direktorat. Ada menu tambahan yang merupakan kesepakatan antara Bapak Deputi
Pengembangan Regional dengan seluruh direktorat di bawahnya, yakni Menu Profil Wilayah
yang memuat 34 provinsi. Di dalam menu Profil Wilayah ini akan diisi oleh data, keterangan,
peta, dan lain sebagainya terkait informasi mengenai tata ruang, pertanahan, perkotaan,
perdesaan, perumahan, permukiman, otonomi daerah, daerah tertinggal, dan
pengembangan kawasan di provinsi tersebut.
22
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
4.3. Studi Banding ke PT Telkom Bandung dan Bappeda Kabupaten Muara Enim
4.3.1. PT Telkom Bandung
Pelaksanaan kegiatan studi banding ke PT Telkom Bandung dilaksanakan pada tanggal
25 Agustus 2016 dan dihadiri oleh para Person in Charge (PIC) unit kerja direktorat di
lingkungan Kedeputian Pengembangan Regional serta para pimpinan PT Telkom. Kegiatan
studi banding ini diselenggarakan untuk mendapatkan proses pembelajaran berbagi
informasi dan pengetahuan dalam kegiatan Manajemen Pengetahuan PT Telkom, dan juga
untuk memperoleh best practice pengembangan MP di perusahaan tersebut. Kedeputian
Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas sebagai organisasi pemerintah harus
siap untuk memanfaatkan kekayaan pengetahuan yang dimilikinya, termasuk belajar dari
pengalaman-pengalaman di masa lampau. Kendala yang sering dihadapi adalah kenyataan
bahwa pengetahuan dan pengalaman dalam organisasi sering kali tersebar, tidak
terdokumentasi, bahkan mungkin masih ada di dalam kepala masing-masing individu. Untuk
itu, diperlukan knowledge sharing antarinstitusi demi mendapatkan ilmu dan pengalaman
baru. Kementerian PPN/Bappenas memiliki fungsi think tank dalam penyusunan kebijakan
pemerintah. Sistem MP yang telah dibangun merupakan upaya untuk meningkatkan
kemampuan organisasi dalam mengelola aset intelektual.
Sebagai pembelajaran yang diperoleh dari diskusi dengan PT Telkom, dicermati bahwa
penerapan MP di PT Telkom lebih ke budaya untuk menulis dan sharing dengan sesama
karyawan. Karena mereka percaya bahwa aplikasi atau sistem yang bagus berasal dari
sumber daya manusia yang bagus juga. Dalam penerapannya, sanksi atas ketidakdisiplinan
menginput tulisan di website Kampiun, berbeda-beda tergantung dari level jabatan
karyawan. Aplikasi website e-learning yang menjadi salah satu penerapan MP di PT Telkom
dapat berjalan baik dan berkelanjutan karena dilakukan berdasarkan struktur
kepemimpinan dari atas ke bawah, sehingga tidak terlalu sulit untuk mendisiplinkan tiap
karyawan ikut berkontribusi. Para pimpinan langsung memberikan contoh kepada bawahan.
Tulisan-tulisan yang ada di website e-learning MP PT Telkom yakni Kampiun berisi tentang
hasil pemikiran yang sejalan maupun tidak sejalan dengan perkembangan teknologi dan
zaman, sehingga sejarah tidak akan hilang. Pada awalnya di Kampiun setiap karyawan bebas
menulis, ketika karyawan sudah mulai suka menulis mereka diarahkan membuat tulisan
sesuai tema tahunan yang sejalan dengan visi, misi, dan bisnis perusahaan.
Oleh karena itu, suatu sistem MP yang dapat dilakukan secara berkelanjutan kiranya
perlu disosialisasikan kepada para pengguna terkait bagaimana klasifikasi jenis data yang
masuk harus jelas, aturan dalam pelaksanaannya, koordinasi dengan pusat data internal
(Pusdatin) dan terakhir adanya sistem reward dalam pelaksanaan kegiatan MP tersebut.
Diharapkan dengan hasil kunjungan ini dapat meningkatkan pemahaman terhadap
penggunaan sistem MP secara baik dan benar, perlunya komitmen pimpinan dalam
melakukan sharing knowledge serta perlu disusun suatu peraturan pelaksanaan agar semua
pimpinan dan staf mau berbagi berbagai data, informasi dan pengetahuan yang dimiliki
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
23
untuk dapat dimanfaatkan dalam menyusun kebijakan dan kegiatan di bidangnya masingmasing.
4.3.2. Bappeda Kabupaten Muara Enim
Tahun 2016, Direktorat TRP telah melakukan kegiatan koordinasi dengan Bappeda
Kabupaten Muara Enim sebagai bagian dari proses internalisasi implementasi Manajemen
Pengetahuan (MP) tata ruang pertanahan. Bentuk koordinasi yaitu memberikan contoh
proses penyusunan sistem aplikasi MP Bappeda yang berdasarkan struktur dan bidang
organisasi, serta bagaimana proses berbagi pengetahuan untuk dapat dipergunakan sebagai
informasi dalam menyusun kebijakan pemerintah daerah dalam melaksanakan program dan
kegiatan pembangunan daerah. Proses internalisasi berupa Perencanaan Penyusunan
Sistem Informasi Pengelolaan Database Perencanaan Pembangunan Pemerintah Kabupaten
Muara Enim (Knowledge Management System).
Tujuan dari kerjasama MP Bappeda Kabupaten Muara Enim adalah untuk memberikan
pemahaman terhadap pengembangan organisasi terkait dengan mengakses dan mengelola
pengetahuan agar lebih baik, sistematis, serta meningkatkan berbagi pengetahuan di
seluruh staf bagian Bappeda Kabupaten Muara Enim sehingga memberikan dampak
efektifitas dan efisiensi terhadap aktivitas pemerintah daerah di lingkungannya.
Adapun ruang lingkup kegiatan meliputi: (a) merancang kerangka utama Sistem
Manajemen Pengetahuan; (b) merancang database aplikasi Sistem Manajemen
Pengetahuan; (c) mendesain tampilan aplikasi Sistem Manajemen Pengetahuan; (d)
membuat program aplikasi Sistem Manajemen Pengetahuan; (e) melakukan uji coba aplikasi
Sistem Manajemen Pengetahuan; (f) memasukan pengetahuan awal ke aplikasi Sistem
Manajemen Pengetahuan; (g) menyiapkan dokumen panduan manual sistem Manajemen
Pengetahuan; dan (h) memberikan pelatihan Sistem Manajemen Pengetahuan.
Diharapkan dengan ruang lingkup kegiatan tersebut dapat menjadi bagian knowledge
sharing daripada pengumpulan data, informasi, dan pengetahuan yang dimiliki oleh
Bappeda Kabupaten Muara Enim secara berkelanjutan.
4.4. Penyusunan Panduan Aplikasi Manajemen Pengetahuan
Penyusunan buku panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman dan langkah-langkah
secara bertahap dalam menggunakan sistem aplikasi MP yang beralamat di
http://kmregional.dev.bappenas.go.id/. Aplikasi ini memuat berbagai informasi dan
pengetahuan di bidang tata ruang dan pertanahan, serta bidang pengembangan regional
yang didalamnya meliputi pengembangan wilayah kawasan, otonomi daerah, daerah
tertinggal, transmigrasi dan perbatasan, serta perumahan, perkotaan dan permukiman.
24
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
Gambar 9. Cover Buku Panduan Manajemen Pengetahuan
Gambar 10. Beranda Aplikasi Manajemen Pengetahuan
http://kmregional.dev.bappenas.go.id/
Gambar 11. Menu Aplikasi Manajemen Pengetahuan
http://kmregional.dev.bappenas.go.id/
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
25
4.5. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan Manajemen Pengetahuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, internalisasi adalah proses pemasukan nilai pada
seseorang sehingga terbentuk pola pikir seperti yang diharapkan. Untuk mencapai tujuan
kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan bidang tata ruang dan pertanahan, proses
yang telah dilakukan Direktorat TRP meliputi kegiatan sosialisasi, Community of Practices
(CoP), membangun sistem aplikasi MP Kedeputian, dan penyusunan Panduan Aplikasi MP
dalam bentuk buku pedoman yang nantinya diterapkan pada berbagai unit kerja di lingkup
Kedeputian Pengembangan Regional, Kementerian PPN/Bappenas.
Dari dua instansi pemerintahan yang direncanakan akan dikunjungi oleh Direktorat
TRP untuk studi banding bidang Manajemen Pengetahuan yakni Bappeda Kabupaten Muara
Enim dan Bappeda Provinsi Papua, ada satu instansi yang batal (tidak jadi) dikunjungi.
Direktorat TRP tidak meneruskan rencana kerjasama dengan Bappeda Provinsi Papua dalam
aktifitas pengelolaan sistem informasi terpadu bidang tata ruang yang dikenal dengan
SIMTARU (Sistem Informasi Manajemen Tata Ruang Provinsi Papua). Hal ini dikarenakan
keterbatasan anggaran dimana terdapatnya sejumlah kegiatan yang mengalami
pemotongan anggaran termasuk kegiatan kajian ini. Berdasarkan kegiatan Manajemen
Pengetahuan yang telah dilakukan baik di lingkup internal Kementerian PPN/Bappenas
maupun di lingkup eksternal, beberapa hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian sebagai
bagian evaluasi kegiatan internalisasi ini sebagai berikut:




Perlu penyebarluasan informasi dan sosialisasi di kalangan Kedeputian Pengembangan
Regional mengenai Manajemen Pengetahuan. Karena ada banyak bentuk Manajemen
Pengetahuan yang dapat diterapkan, maka Direktorat TRP harus fokus terhadap bentuk
kegiatan apa yang ingin diterapkan dalam Manajemen Pengetahuan dan benefit yang
paling besar untuk meningkatkan kualitas pekerjaan para staf;
Dalam menjalankan Manajemen Pengetahuan diperlukan dukungan penuh dari
pimpinan. Karena setelah berbagi pengalaman dari PT. Telkom dan Bappeda Kabupaten
Muara Enim, kegiatan Manajemen Pengetahuan akan berjalan dengan lebih lancar jika
didasarkan pada sistem top down, sehingga para pimpinan yang terlebih dahulu
membudayakan Manajemen Pengetahuan kemudian akan diikuti oleh para staf;
Sense of belonging dan tingkat kedisiplinan yang masih rendah dalam memasukkan
informasi dan pengetahuan ke dalam sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan;
Sistem aplikasi yang ada saat ini membutuhkan beberapa tambahan fitur seperti
notifikasi komentar yang memudahkan user memantau file-file pengetahuan yang
dimilikinya.
Diharapkan dengan adanya evaluasi tersebut diatas, kiranya para pimpinan dan staf
dapat menyadari betapa pentingnya pengelolaan manajemen pengetahuan yang sangat
membantu mempermudah dalam melaksanakan pekerjaan selanjutnya.
26
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
BAB 5
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Kesimpulan
Internalisasi merupakan salah satu bagian dari knowledge creation yang cukup
penting. Hal ini dikarenakan proses internalisasi dapat dilakukan melalui pencarian
informasi yang beragam dengan berbagai media yang digunakan tidak hanya bisa
menambah pengetahuan yang dimiliki seorang karyawan tapi juga bisa untuk “ditularkan”
kepada rekan kerjanya.
Penerapan sistem Manajemen Pengetahuan (MP) yang dilakukan Kedeputian
Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas belum memberikan hasil yang optimal
dalam mengelola pengetahuan organisasi pemerintah, khususnya Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan. Idealnya, penerapan sistem tersebut langsung diterapkan pada sebagian atau
seluruh organisasi yang banyak mengelola pengetahuan dalam bentuk inovasi serta
didukung interaksi aktif seluruh anggotanya. MP diperlukan agar organisasi mampu
memecahkan masalah dengan cepat dan terus berinovasi sehingga dapat melaksanakan
fungsinya secara efektif dan kesenjangan pengetahuan pada setiap elemen organisasi dapat
diminimalisir.
Dengan diperbaharuinya sistem aplikasi MP dari lingkup Direktorat TRP menjadi
lingkup Kedeputian, diharapkan penginternalisasian dalam berbagi pengetahuan dan
informasi bidang tata ruang dan pertanahan akan lebih optimal untuk mendukung
penyusunan kebijakan bidang pengembangan regional yang mencakup bidang tata ruang
dan pertanahan.
Berdasarkan hasil kegiatan dalam mempersiapkan, menyusun, dan melaksanakan
kegiatan internalisasi manajemen pengetahuan dalam menyusun kebijakan tata ruang dan
pertanahan maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
1) Telah dilakukan koordinasi dan sinkronisasi terhadap K-Map (pemetaan) pengetahuan
antar direktorat dengan berbasis Tupoksi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri
PPN/Kepala Bappenas Nomor 4 Tahun 2015;
2) Adanya kesamaan pemahaman pentingnya Manajemen Pengetahuan sebagai bagian
dari penyebaran informasi dan pengetahuan secara terstruktur;
3) Telah dilakukan beberapa pelatihan dan sosialisasi sebagai bagian internalisasi
Manajemen Pengetahuan baik secara internal direktorat, lintas direktorat maupun
dengan pemerintah daerah;
4) Pengelolaan dan pembaharuan secara periodik informasi dan pengetahuan yang
tertuang dalam media informasi direktorat tata ruang dan pertanahan;
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
27
5) Akan dilakukan pemantapan penggunaan sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan
Kedeputian untuk mengetes efektivitas dan benefit yang ditimbulkan.
5.2. Rekomendasi
Suatu organisasi akan mempunyai kinerja yang “okey punya” jika menerapkan sistem
Manajemen Pengetahuan. Disarankan agar semua informasi dan pengetahuan dari seluruh
komponen organisasi yang berasal dari aktifitas rapat–rapat harian, informasi mengenai
peraturan–peraturan terbaru, serta data–data lain yang menunjang dapat dikumpulkan di
suatu sistem informasi yang mudah untuk diakses oleh seluruh anggota organisasi. Terlebih
lagi dengan adanya berbagai data, informasi, dan pengetahuan terkait pengembangan
wilayah, otonomi daerah, kawasan khusus tertinggal dan kawasan terbatas, perkotaan dan
pedesaan yang sangat dibutuhkan, maka keberadaan MP dalam mengelola informasi dan
pengetahuan tersebut perlu dipelihara dan dibangun secara berkelanjutan guna mendukung
penyusunan kebijakan rencana pembangunan.
Berdasarkan hasil kegiatan Internalisasi Manajemen Pengetahuan dalam penyusunan
kebijakan tata ruang dan pertanahan tahun 2016, maka rekomendasi yang dapat
disampaikan adalah:
1)
2)
Penggunaan sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan seharusnya dapat digunakan
secara optimal oleh seluruh pimpinan dan staf di lingkungan Kedeputian
Pengembangan Regional;
Penguatan sistem aplikasi Manajemen Pengetahuan perlu dilakukan perbaikan pada
teknik dan perangkat MP yang telah digunakan;
3)
Memperjelas Kebijakan MP agar dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan
konsisten;
4)
Meningkatkan sistem aplikasi MP untuk dapat diakses oleh pihak internal dan
eksternal Kementerian PPN/Bappenas;
5)
Dibutuhkan dukungan pendanaan bagi penguatan dan pengembangan sistem MP
secara konsisten dan berkelanjutan;
6)
Perlu diterapkan sistem reward bagi staf yang rutin berpartisipasi dalam kegiatan
input informasi dan pengetahuan di dalam sistem aplikasi MP;
7)
Melakukan diskusi dan berbagi pengetahuan lebih lanjut mengenai penerapan sistem
informasi dengan Direktorat dan Kedeputian lainnya di Kementerian PPN/Bappenas,
Pusdantinrenbang, maupun dengan instansi lain di luar Kementerian PPN/Bappenas
untuk memperkaya referensi.
Dalam upaya membangun knowledge management dalam organisasi publik,
diharapkan dapat tercapai peningkatan efisiensi organisasi, mengurangi pengulangan
tindakan, memudahkan proses pengambilan keputusan, dan yang tak kalah penting adalah
28
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
terbangunnya budaya belajar dalam anggota organisasi yang pada akhirnya diharapkan
mampu mencapai kesadaran mandiri secara pengetahuan akan tugasnya sebagai pelayan
publik. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan iklim kerja yang kondusif dalam
mewujudkan terselenggaranya pemerintahan yang baik, yang proaktif, kreatif dan inovatif.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
29
DAFTAR PUSTAKA
Akib, Haedar., Bappenas. (2011). Artikel Jurnal: Mereaktualisasi Perilaku Kreatif
manusia Melalui Pendekatan Knowledge Management. Jakarta: Manajemen Usahawan
Indonesia.
Hasibuan, Rhubasy, & Setiadi. (2011). Model Goverment Knowledge Management
System Untuk Mewujudkan Transparansi dan Partisipasi Publik Pada Instansi Pemerintah.
Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi Yogyakarta, ISSN 1907-5022.
Munir, Ningky. (2010). Knowledge Management Audit: Pedoman Evaluasi Kesiapan
Organisasi Mengelola Pengetahuan. Jakarta: PPM.
Nonaka, I. a. (1995). The Knowledge Creating Company: How Japanesse Companies
Create The Dynamics In Innovation. Oxford University Press.
Setiarso, B., harjanto, N., Triyono, & Subagyo, H. (2009). Penerapan Knowledge
Management pada Organisasi. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Wilson, James Q., (1989). Bureaucracy: What Government Agencies Do and Why They
Do It. New York: Basic Books.
http://www.bppk.depkeu.go.id/berita-makassar/19407-knowledge-management-kmdalam-organisasi-publik diakses tanggal 27 Oktober 2016.
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
31
LAMPIRAN
FOTO-FOTO KEGIATAN:
Direktorat di Kedeputian Pengembangan Regional berdiskusi tentang Manajemen
Pengetahuan yang dilakukan PT Telkom. Dipandu oleh Rofiq dari Dept. Knowledge
Sharing & Utilization PT Telkom di Kampus Telkom CorpU Gegerkalong, Kamis
(25/8).
Santi Yulianti, dari Subdit Informasi dan Sosialisasi Direktorat TRP saat menjadi
narasumber Knowledge Management di Bappeda Kabupaten Muara Enim, Jumat
(14/10).
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
33
Suasana CoP Pelatihan Teknik Membuat Presentasi yang Efektif, diisi oleh Mia
Amalia yang mengambil contoh pedoman dari Australian National University,
Rabu (8/6).
Direktorat TRP bekerjasama dengan Kementerian LHK mensosialisasikan PP
104 dan 105/2015 tentang Kawasan Hutan di Bappeda Provinsi Kalimantan
Tengah yang dihadiri oleh bappeda kabupaten se-Kalteng, Senin (22/8).
34
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
CATATAN PERTEMUAN RAPAT:
BACK TO OFFICE REPORT
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kepada
:
Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Tembusan
:
1. Kasubdit Tata Ruang
2. Kasubdit Pertanahan
3. Kasubdit Informasi dan Sosialisasi
4. Ir. Nana Apriyana, MT
5. Ir. Rinella Tambunan, MPA
6. Hernydawati, SE, ME
Tempat Rapat
:
Ruang Rapat Sekretariat BKPRN,
Bappenas
Tanggal Rapat :
Selasa, 7 Juni 2016
Waktu Rapat
:
13.30-15.00 WIB
Notulen
Rini Aditya
Peserta Rapat
:
Dit. TRP (Subdit Tata Ruang, Subdit Pertanahan, Subdit Infosos); Sekretariat RAN;
Sekretariat BKPRN
Tema Rapat
:
Speech Writing Class
:
Substansi Rapat
1.
Speech writing class ini diisi oleh Mia Amalia selaku Kasubdit Tata Ruang. Beliau memiliki
pengalaman dalam menyusun konsep dan pidato bagi orang-orang penting di pemerintahan.
2.
Speech writing class dilakukan untuk merealisasikan salah satu bentuk kegiatan CoP (Community
of Practice). CoP bertujuan untuk menyaring dan mengelola segala informasi dan pengetahuan
individu (tacit knowledge) dalam organisasi yang dapat memecahkan problem di dalamnya dan
kembali disebarluaskan agar dapat menjadi pengetahuan bersama (explicit knowledge).
3.
Speech writing atau menulis pidato intinya adalah penyampaian gagasan, pikiran, dan informasi
dari pembicara kepada khalayak. Salah satu tujuan berpidato adalah meyakinkan pendengar tentang
isi pidato yang disampaikan.
4.
Agar pidato yang disampaikan dapat berjalan dengan lancar dan runtut, sebelumnya perlu
disiapkan naskah pidato. Secara garis besar, naskah pidato terdiri atas tiga bagian, yaitu
pembukaan, isi, dan penutup.
5.
Prinsip-prinsip yang harus diketahui sebelum menyusun Speech Writing: 1) Pidato bukan
presentasi atau orasi; 2) Listening is hard, maka dari itu gunakanlah kalimat yang terstruktur,
sederhana, mudah diingat dan durasi yang tepat; 3) Speech writer atau penulis pidato bekerja di
belakang layar dan harus mendalami karakter dan profil orang yang akan berpidato.
6.
Struktur Utama isi pidato: 1) Acknowledgement/penghormatan; 2) Rapport/unsur personal; 3)
Topic/isi pidato; 4) Subtopic/pemaparan dan mengingatkan kembali pada struktur.
7.
Langkah-langkah dalam menyusun pidato:
-
Menyusun spec sheet (berisi waktu, lokasi, durasi, karakteristik audiens, tamu penghormatan,
judul, topik, subtopik, tata letak ruangan, dresscode, dll)
-
Riset dan diskusi
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
35
8.
-
Membuat kerangka tulisan (sebaiknya didiskusikan dengan speaker)
-
Menyusun konsep (sebaiknya didiskusikan dengan speaker)
-
Printing sesuai kebutuhan speaker, karena tidak semua speaker punya kebutuhan yang sama,
contohnya sepertinya ukuran kertas yang kecil atau besar, note yang ringkas atau banyak, dll.
Kata dan kalimat yang dipakai sebaiknya kalimat aktif dan singkat, kosakata yang tepat dan
beragam, kata sifat yang bersifat deskriptif dan menambah “rasa” kata, tentukan jenis tone
(persuasif, argumentatif, analisis, atau visioner).
Kesimpulan
Kesimpulan
-
Sebagai ghost writer kita harus memahami secara mendalam profil dan karakteristik speaker yang
akan berpidato. Pidato yang disampaikan harus menyentuh dan mudah diingat oleh audiens.
-
Kalimat yang digunakan haruslah kalimat yang terstruktur, sederhana, mudah diingat dan durasi
yang tepat. Karena komunikasi bersifat irreversible yang artinya tidak dapat kembali. Statement
pertama yang disampaikan itulah yang akan diingat oleh audiens.
36
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
BACK TO OFFICE REPORT
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kepada
:
Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Tembusan
:
1. Kasubdit Tata Ruang
2. Kasubdit Pertanahan
3. Kasubdit Informasi dan Sosialisasi
4. Ir. Nana Apriyana, MT
5. Ir. Rinella Tambunan, MPA
6. Hernydawati, SE, ME
Tempat Rapat
:
Ruang Rapat Sekretariat BKPRN,
Bappenas
Tanggal Rapat :
Rabu, 8 Juni 2016
Waktu Rapat
:
09.00-12.00 WIB
Notulen
Rini Aditya
Peserta Rapat
:
Dit. TRP (Subdit Tata Ruang, Subdit Pertanahan, Subdit Infosos); Sekretariat RAN;
Sekretariat BKPRN
Tema Rapat
:
Pelatihan Teknik Presentasi
:
Substansi Rapat
1. Pelatihan Teknik Presentasi ini diisi oleh Mia Amalia selaku Kasubdit Tata Ruang. Beliau mengambil
contoh dari Australian National University.
2. Pelatihan Teknik Presentasi dilakukan untuk merealisasikan salah satu bentuk kegiatan CoP
(Community of Practice). CoP bertujuan untuk menyaring dan mengelola segala informasi dan
pengetahuan individu (tacit knowledge) dalam organisasi yang dapat memecahkan problem di
dalamnya dan kembali disebarluaskan agar dapat menjadi pengetahuan bersama (explicit knowledge).
3. Teknik Presentasi yang diajarkan adalah bagaimana menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada dalam
microsoft power point. Banyak dari kita yang belum tahu apa saja kelebihan fasilitas PPT yang dapat
memudahkan kita dalam membuat suatu presentasi.
4. Slide yang menarik dalam suatu presentasi menjadi penting karena apabila slide memiliki obyek yang
menarik perhatian, maka audiens akan fokus memandangnya, menangkap isi pesannya dengan baik,
lalu menyimpannya secara kuat ke dalam ingatan.
5. Penampakan Visual yang wajib diterapkan antara lain: 1) Font mudah dibaca dan konsisten, hindari
menggunakan font yang ada kaitnya; 2) Font size untuk Judul 36-48pfs, Teks ± 24pfs, Label dan
Caption min 14pfs; 3) Grafik dibuat simpel dengan memakai sedikit warna.
6. Aturan dalam Desain PPT adalah: 1) Selalu tampilkan struktur presentasi; 2) Pakai aturan 1:5:5 untuk
topik:point:kata; 3) Gunakan key words, bukan kalimat; 4) Jangan gunakan tanda baca; 5) Gunakan
smart art, gambar/tabel; 6) Bagian kesimpulan sebaiknya maksimal hanya 3 points dan gunakan
gambar agar mudah diingat.
7. Untuk Notes Pembicara, dibuat lengkap dalam notes, sebaiknya kita baca terlebih dahulu sebelum
diserahkan ke presenter, serta print satu muka atau jangan bolak-balik.
8. Dalam pelatihan ini terbagi dalam beberapa kelompok dan langsung praktik membuat presentasi sesuai
dengan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan narasumber.
Kesimpulan
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
37
Kesimpulan
-
Slide presentasi yang memukau akan memudahkan presenter menyampaikan pesan ke audiens.
Aturan dasar dalam Desain PPT adalah: 1) Selalu tampilkan struktur presentasi; 2) Pakai aturan 1:5:5
untuk topik:point:kata; 3) Gunakan key words, bukan kalimat; 4) Jangan gunakan tanda baca; 5)
Gunakan smart art, gambar/tabel; 6) Bagian kesimpulan sebaiknya maksimal hanya 3 points dan
gunakan gambar agar mudah diingat.
38
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
BACK TO OFFICE REPORT
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kepada
:
Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Tembusan
:
1. Kasubdit Tata Ruang
2. Kasubdit Pertanahan
3. Kasubdit Informasi dan Sosialisasi
4. Ir. Nana Apriyana, MT
5. Ir. Rinella Tambunan, MPA
6. Hernydawati, SE, ME
Tempat Rapat
:
Ruang Rapat Sekretariat BKPRN,
Bappenas
Tanggal Rapat :
Selasa, 21 Juni 2016
Waktu Rapat
:
13.00-15.00 WIB
Notulen
Rini Aditya
Peserta Rapat
:
Dit. TRP (Subdit Tata Ruang, Subdit Pertanahan, Subdit Infosos); Sekretariat RAN;
Sekretariat BKPRN
Tema Rapat
:
CoP Pelatihan Format Laporan Ideal
:
Substansi Rapat
1. Pelatihan Format Laporan Ideal ini diisi oleh Idham Khalik selaku tenaga ahli Subdit Pertanahan
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas. Pelatihan Format Laporan Ideal ini diadakan sebagai
bentuk sinkronisasi dalam membuat laporan yang disusun oleh lebih dari satu bidang.
2. Direktorat TRP seringkali mendapat tugas kompilasi laporan-laporan dimana dibutuhkan satu format
ideal yang menjadi pegangan masing-masing bidang yang menyusunnya.
3. Pelatihan Format Laporan Ideal dilakukan untuk merealisasikan salah satu bentuk kegiatan CoP
(Community of Practice). CoP bertujuan untuk menyaring dan mengelola segala informasi dan
pengetahuan individu (tacit knowledge) dalam organisasi yang dapat memecahkan problem di
dalamnya dan kembali disebarluaskan agar dapat menjadi pengetahuan bersama (explicit knowledge).
4. Format Laporan Ideal yang diajarkan adalah bagaimana menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada
dalam microsoft word. Banyak dari kita yang belum tahu apa saja kelebihan fasilitas Ms.Word yang
dapat memudahkan kita dalam membuat formta laporan.
5. Dijelaskan pula perbedaan antara laporan untuk internal dan laporan untuk eksternal dimana perlu
penjelasan yang lebih detail karena akan dibaca oleh orang yang kurang familiar dengan istilah-istilah
bidang TRP.
6. Dalam pelatihan ini terbagi dalam beberapa kelompok dan langsung praktik membuat contoh format
laporan sesuai dengan prinsip-prinsip yang telah dijelaskan narasumber.
Kesimpulan
Kesimpulan
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
39
NOTULENSI RAPAT
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kepada
Tembusan
:
:
Pimpinan Rapat
Tempat Rapat
Peserta Rapat
:
:
:
Tema Rapat
:
1.
2.
3.
4.
5.


Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Kasubdit Tata Ruang; Kasubdit Pertanahan; Tata Ruang dan Pertanahan; dan Manager
Sekretariat BKPRN
Kasubdit Informasi dan Sosialisasi TRP
Tanggal
: 4 Agustus 2016
R.R 203 Bappenas
Notulen
: Rini Aditya
Dit. Pengembangan Wilayah dan Kawasan; Dit. Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan
Perdesaan; Dit. Otonomi Daerah; Dit. Perkotaan, Perumahan dan Permukiman; Dit. Tata
Ruang dan Pertanahan; Sekretariat RAN; Konsultan KM Haitan Rachman; Konsultan IT
Indra Ade Saputra
Rapat Revisi K-Map Knowledge Management Kedeputian Pengembangan Regional
ISI RAPAT
Rapat ini bertujuan untuk mengumpulkan masukan dari direktorat-direktorat yang ada di Kedeputian
Pengembangan Regional, khususnya direktorat yang mengalami perubahan struktur.
Sehubungan dengan adanya perubahan struktur direktorat, maka peta pengetahuan atau K-Map sistem
Knowledge Management (KM) Kedeputian juga turut berubah, sehingga diperlukan penyesuaian.
Adapun nama-nama direktorat di Kedeputian Pengembangan Regional saat ini adalah:
a. Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan (Dit. TRP)
b. Direktorat Otonomi Daerah (Dit. Otda)
c. Direktorat Pengembangan Wilayah dan Kawasan (Dit. PWK)
d. Direktorat Daerah Tertinggal, Transmigrasi dan Perdesaan (Dit. DTTP)
e. Direktorat Perkotaan, Perumahan dan Permukiman (Dit. PPP)
Hasil rapat antara lain:
a. Ada direktorat yang mengalami perubahan struktur KM karena tupoksinya yang berubah (terjadi
penambahan dan/atau pengurangan) yakni Dit. PWK, Dit. DTTP, dan Dit PPP.
b. Terjadi perubahan dan/atau perpindahan tupoksi antar direktorat sehingga harus ada penyesuaian lokasi
pengetahuan.
c. Pengetahuan berpindah ke KM direktorat lain karena tupoksinya yang berpindah (pengetahuan
mengikuti tupoksi), bukan mengikuti pemilik pengetahuan/user.
d. Pengetahuan yang ada di KM direktorat lama menjadi pengetahuan di KM direktorat baru tanpa perlu
perpindahan orang/user (berdasarkan ketentuan pengetahuan mengikuti tupoksi).
e. Jika pengetahuan bersifat privat, pengetahuan hanya dapat diakses dan melekat pada KM direktorat saja.
Jika pengetahuan bersifat umum, pengetahuan yang dapat dibagikan lintas direktorat.
f. Orang yang memiliki pengetahuan privat di direktorat lama, ketika berpindah masih dapat mengakses
pengetahuan tersebut melalui PIC di direktorat lamanya.
Setelah revisi K-Map ini selesai akan di launching sistem KM Kedeputian Regional beserta dengan buku
panduan manual.
KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
Akan dilakukan diskusi lanjutan dengan Dit. PPP untuk membahas perubahan struktur KM karena
perwakilan Dit. PPP tidak hadir saat rapat.
Tim teknis KM akan merevisi K-Map Sistem KM setiap direktorat yang mengalami perubahan struktur
dengan mempertimbangkan masukan-masukan dalam rapat ini. Ditargetkan revisi K-Map selesai dalam
waktu 2 (dua) minggu dari tanggal rapat.
40
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
NOTULENSI RAPAT
DIREKTORAT TATA RUANG DAN PERTANAHAN
Kepada
Tembusan
:
:
Plt. Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Kasubdit Tata Ruang
Kasubdit Pertanahan
Kasubdit Informasi dan Sosialisasi Tata Ruang dan Pertanahan
Pimpinan Rapat
: Bpk. Rofiq, Dept. Knowledge Sharing & Tanggal Rapat
: 25 Agustus 2016
Utilization PT Telkom
Tempat Rapat
: Telkom Digital Lounge, Kampus Telkom
Notulen
: Rini Aditya
CorpU, Gegerkalong Bandung
Raditya Pranadi
Peserta Rapat
: Dept. Knowledge Sharing & Utilization PT Telkom; Kedeputian Regional; Dit. PWK;
Dit. Perkotkim; Dit.TRP; Dit. Otonomi Daerah; Tenaga ahli KM
Tema Rapat
: Studi Banding dan Diskusi Knowledge Management (KM) antara Instansi Pemerintah
dengan Swasta
ISI RAPAT
1. Studi banding ini diselenggarakan untuk melakukan FGD KM dengan sasaran mendapatkan proses
pembelajaran berbagi informasi dan pengetahuan dalam kegiatan PT Telkom; memperoleh best practice
untuk pengembangan KM di Kedeputian Regional.
2. Kedeputian Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas sebagai organisasi pemerintah harus
siap untuk memanfaatkan kekayaan pengetahuan yang dimilikinya, termasuk belajar dari pengalamanpengalaman di masa lampau. Kendala yang sering dihadapi adalah kenyataan bahwa pengetahuan dan
pengalaman dalam organisasi sering kali tersebar, tidak terdokumentasi dan bahkan mungkin masih ada
di dalam kepala masing-masing individu dalam organisasi. Untuk itu, diperlukan knowledge sharing
antarinstitusi demi mendapatkan ilmu dan pengalaman baru.
3. Kementerian PPN/Bappenas memiliki fungsi think tank dalam penyusunan kebijakan pemerintah. Sistem
KM yang telah dibangun merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan organisasi dalam
mengelola aset intelektual.
4. Dalam knowledge sharing dengan PT Telkom diketahui bahwa latar belakang mereka mengembangkan
Knowledge Management adalah:
a. Pergerakan karyawan yang memasuki pensiun;
b. Pergerakan karyawan dalam memenuhi kebutuhan bisnis;
c. Pergerakan kebutuhan karyawan karena perubahan teknologi dan arah bisnis;
d. Sharing culture diharapkan dapat lebih meningkatkan ide untuk inovasi dan “disruptive idea”;
e. Saat akan memulai implementasi, diyakini bahwa masing-masing industri memiliki keunikan dalam
implementasi KM.
5. Faktor kesuksesan PT Telkom dalam menjalankan KM di internal perusahaan:
a. Pelatihan intensif karyawan;
b. Keterlibatan aktif karyawan;
c. Sifat keterbukaan dan teamwork berdasarkan kepercayaan;
d. Pemberdayaan karyawan;
e. Komitmen dan campur tangan peran pimpinan;
f. Ketersediaan infrastruktur sistem informasi;
g. Pengukuran kinerja karyawan;
h. Benchmarking.
6. Dalam KM yang dilakukan di PT Telkom, ada satu website e-learning yakni Kampiun yang digunakan
secara internal dan berisi tulisan-tulisan hasil pemikiran para karyawan, mulai dari karyawan level paling
atas sampai paling bawah, dengan kewajiban dan sanksi yang berbeda.
7. Penerapan KM di PT Telkom lebih ke budaya untuk menulis dan sharing dengan sesama. Karena mereka
percaya bahwa aplikasi yang bagus berasal dari sumber daya manusia yang bagus juga. Dalam penerapan
sanksi atas ketidakdisiplinan menginput tulisan di website Kampiun, berbeda-beda tergantung dari level
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
41
jabatan karyawan.
8. Aplikasi website e-learning yang menjadi salah satu penerapan KM di PT Telkom dapat berjalan baik dan
berkelanjutan karena dilakukan berdasarkan struktur kepemimpinan dari atas ke bawah, sehingga tidak
terlalu sulit untuk mendisiplinkan tiap karyawan untuk berkontribusi. Para pimpinan langsung
memberikan contoh kepada bawahan.
9. Tulisan-tulisan yang ada di website e-learning KM PT Telkom yakni Kampiun berisi tentang hasil
pemikiran yang sejalan maupun tidak sejalan dengan perkembangan teknologi dan zaman, sehingga
sejarah tidak akan hilang. Pada awalnya di Kampiun setiap karyawan bebas menulis, ketika karyawan
sudah mulai suka menulis mereka diarahkan membuat tulisan sesuai tema tahunan yang sejalan dengan
visi, misi, dan bisnis perusahaan.
10. Ada 7 level pengelompokkan karyawan di PT Telkom. Jenis tulisan yang bisa mereka input adalah level
1-2 case study, level 3-4 karya tulis, level 5-6-7 belum diwajibkan menulis di Kampiun karena masih
level baru.





SARAN, EVALUASI DAN TINDAK LANJUT
Sistem reward dalam pelaksanaan KM perlu dibahas dengan pimpinan, dan dibedakan antara PNS dengan
Non PNS.
Sepakat untuk menyusun aturan yang dapat mengikat para user dalam pelaksanaan penerapan KM.
Informasi terkait klasifikasi jenis data yang masuk ke KM perlu diperjelas dan disosialisasikan kepada
para user.
KM dapat dimasukkan ke tupoksi Bappenas, yakni ke dalam Penyusunan Analisa Kebijakan.
Perlu koordinasi dengan Pusdatin Bappenas dalam pelaksanaan penerapan KM di Kedeputian Regional.
TINDAK LANJUT:
 Melaporkan ke Pak Deputi Regional untuk membahas progres kegiatan KM (persiapan, pembiayaan, dan
mekanisme pelaksanaan).
 Segera susun SK dari Deputi untuk penggunaan aplikasi KM di lingkup semua direktorat di Kedeputian
Regional. Saran dari Biro Hukum Bappenas SK yang dibuat dalam bentuk himbauan melalui
memorandum atau nota dinas.
 Sosialisasi lanjutan di internal lingkungan Kedeputian Regional, dan perlu disiapkan akun login dan buku
panduan bagi para user.
42
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan - Bappenas
Download