perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator derajat
kesehatan masyarakat. Angka kematian bayi di seluruh dunia saat ini
setiap tahunnya mencapai 4 juta jiwa. Berdasarkan penelitian World
Health Organization (WHO) di enam negara berkembang resiko kematian
bayi antara usia 9 12 bulan meningkat 40 % jika bayi tersebut tidak
disusui. Untuk bayi berusia dibawah 2 bulan, angka kematian ini
meningkat menjadi 48 %. Sekitar 40% kematian balita terjadi satu bulan
pertama kehidupan bayi1.
Di Indonesia, berdasarkan data Survey Demografi Kesehatan Indonesia,
saat ini tercatat angka kematian bayi masih sangat tinggi yaitu 35 tiap 1.000
kelahiran hidup pada tahun 2008, yang artinya dalam satu tahun sekitar 175.000
bayi meninggal sebelum mencapai usia satu tahun 2. Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI) mencatat tidak kurang dari 10 bayi dan 20 anak balita meninggal dunia
setiap jam di Indonesia3.
WHO merekomendasikan semua bayi perlu mendapat kolostrum (air susu
ibu atau ASI di hari pertama dan kedua) untukmelawan infeksi dan mendapat ASI
Eksklusif selama 6 bulan untuk menjamin kecukupan gizi bayi. Karena itulah
organisasi internasional yang secara khusus menyoroti permasalahan pentingnya
1
http://aimi-asi.org/alasan-medis-pengganti-asi/ diakses pada 20/11/2013/13.20
http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profilkesehatan-indonesia-2008.pdf diakses pada 12/12/2013/09.00
2
3
http://www.kompas.com/ver1/Kesehatan/0708/04/000233.htm. 1 Januari 2008-01-03 diakses
pada 20/11/2013 pukul 11.00
commit to user
1
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
2
menyusui untuk kelangsungan hidup bayi, WABA (World Alliance for Breast
Feeding) setiap tahunnya menyelenggarakan Pekan ASI Sedunia (PAS) setiap
tanggal 1-7 Agustus, untuk mendukung pengkampanyean pentingnya ASI bagi
keberlangsungan hidup bayi.
Menurut laporan World Breastfeeding Trends Initiative pada tahun 2012
tentang angka pemberian ASI Eksklusif menyatakan bahwa Indonesia berada di
peringkat 49 dari 51 negara, yaitu dengan angka cakupan pemberian ASI eksklusif
hanya sebesar 27,5%4. Sedangkan menurut data yang dirilis oleh Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2009 tentang ASI eksklusif menunjukkan
bahwa pemberian ASI eksklusif di kabupaten/kota di Jawa Tengah mencapai
angka 40,21%, meningkat bila dibandingkan pada tahun 2008 yang hanya
28,96%. Akan tetapi jumlah ini masih dikatakan rendah jika dibandingkan dengan
target pencapaian ASI eksklusif pada tahun 2010 yaitu 80%.
Permasalahan berkaitan tentang pemberian ASI ini sendiri bermula dari
masa ketika sains, teknologi, dan industri masih serba sederhana, manusia
menggantungkan diri pada ASI sebagai sumber utama makanan demi
kelangsungan hidup bayi-bayinya. Dalam bukunya Don
Jacqueline Wolf menulis bahwa di era agraris, saat manusia tak lagi nomaden dan
mulai menetap, para perempuan teredukasi tentang proses kehamilan, melahirkan,
dan mengasuh anak lewat partisipasi langsung. Mereka melihat dan membantu
perempuan lain melakukannya. Mereka mengamati bagaimana seorang bayi akan
4
http://aimi-asi.org/tenaga-kesehatan-indonesia-perlu-sosialisasi-kebijakan-menyusui/ diakses
pada 20/10/2014 pukul 12.13
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
3
disusui, dan dengan sendirinya menganggap menyusui itu sesuatu yang wajar,
penting, dan seharusnya dikerjakan setiap ibu.
Sama seperti di masa sekarang, ada sebagian ibu yang menghadapi lebih
banyak tantangan untuk bisa menyusui dibanding ibu yang lain. Ada pula bayi
yang tak bisa disusui langsung oleh ibunya karena sang ibu sakit parah atau
perempuan lain diminta atau disewa untuk menyusui bayi yang bukan anaknya.
an terjadi sebagai cara masyarakat untuk menyelamatkan bayi yang
Money, and Madness. Meskipun yang menyusui bukan ibunya sendiri, praktek
ibu susuan mengisyaratkan bahwa masyarakat masih tetap memandang ASI
sebagai sumber utama kehidupan bayi, dan menyusui sebagai praktek yang wajar,
penting, dan seharusnya.
Kemudian budaya pun bergeser lagi yang ditandai dengan status ibu
susuan yang lambat laun menjadi profesi, dan biasanya dijalani oleh perempuan
dari kelas sosial rendah. Mereka menyusui bayi dari para perempuan terhormat.
Gabrielle Palmer dalam buku The Politics of Breastfeeding menyebutkan bahwa
status ibu susuan menjadi suatu identifikasi sosial. Praktek yang tadinya bertujuan
untuk menyelamatkan hidup bayi menjadi sarana mencari nafkah. Kaum
perempuan kelas atas dididik untuk berpikir bahwa menyusui itu tidak keren,
menyusui adalah pekerjaan perempuan miskin. Ada tekanan sosial bagi
perempuan bangsawan untuk mendelegasikan semua kerja fisik pada pihak lain
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
4
dalam rangka memamerkan status tingginya dan keluarganya sendiri. Karena
perkembangan cara pandang negatif ini, makin jarang perempuan kaya yang mau
menyusui. Kalangan elit pun kemudian makin jarang melihat proses menyusui
dan makin tak teredukasi tentang praktek menyusui. Ini terus meluas, sehingga di
generasi-generasi muda berikutnya, praktek menyusui terasa asing.
Selain masalah status ekonomi, tradisi menyusui juga dihambat oleh
perkembangan tabu-tabu sosial. Di era Victoria, kesopanan jadi nilai yang
dijunjung tinggi. Perempuan tak lagi melahirkan didampingi oleh banyak
perempuan lain, tapi hanya ditunggui oleh ibunya saja. Pengalaman tradisional
mengamati proses persalinan dari perempuan lain kini menghilang 5. Menyusui
dilakukan secara tertutup. Pengetahuan tentang menyusui pun semakin terkikis.
Anak-anak gadis di kemudian hari harus menghadapi proses persalinan dan
menyusui tanpa bekal pengetahuan apa pun. Generasi muda tak lagi paham seperti
apa sebetulnya menyusui itu, kecuali apa kata mitos-mitos yang disebarkan oleh
orang lain, tanpa jelas lagi mana yang benar dan mana yang keliru.
Perempuan di era Victoria juga mengalami perubahan persepsi tentang
tubuhnya. Citra tentang perkawinan sebagai kisah romansa membuat anak-anak
gadis lebih peduli tentang seni bercinta ketimbang tentang melahirkan dan
menyusui. Persepsi tentang payudara pun berubah, lebih bermuatan seksual
ketimbang reproduktif. Payudara dipandang sebagai kepentingan suami,
5
Jacquelin C Wolf, Dont Kill Your Baby: Public Health and The Decline of Breastf in the 19th and
20th Centuries (Women & Health C&S Perspective), Ohio State University Press; 1 edition
(September 7, 2001)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
5
ketimbang kepentingan bayi dan anak-anak. Maka obsesi menjaga payudara tetap
indah kemudian membuat perempuan memilih untuk tidak menyusui. Bisa
diduga, kombinasi antara kurangnya pengetahuan dan perubahan persepsi memicu
kian menurunnya kegiatan menyusui di masyarakat.
Permasalahan dalam perkembangan pemberian ASI berikutnya adalah
pengaruh industrialisasi. Tahun 1900, profesi ibu susuan praktis sudah lenyap
sebab industri formula dan botol susu bayi makin canggih. Alih-alih menyerahkan
anaknya untuk disusui perempuan lain, para ibu baru dikondisikan untuk memilih
botol susu berisi formula.
Radbill dalam artikel Infant Feeding through the Ages (1981) memaparkan
pada tahun 1760, pertama kali dipublikasikan oleh Jean Charles Des-Essarz
analisis komparasi ASI manusia dan susu hewan (sapi, domba, keledai, kuda, dan
kambing). Menurut karakteristik kimiawinya, Des-Essartz menyimpulkan bahwa
ASI manusia adalah sumber nutrisi terbaik bagi bayi. Dengan mematok ASI
sebagai contoh ideal, para ilmuwan berupaya membuat formula susu non-manusia
untuk meniru ASI.
Tahun 1865, ahli kimia Justus von Liebig mengembangkan, mematenkan,
dan memasarkan makanan bayi
ke bentuk bubuk
mula-mula berbentuk cair, lalu dikembangkan
yang berbahan susu sapi, tepung gandum, malt, dan potasium
bikarbonat. Dia mengklaim jualan
Sebelumnya di tahun 1835, teknologi evaporasi susu ditemukan, dan tahun 1853
diproduksilah susu kental manis yang laris dijadikan makanan bayi. Tahun 1885,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
6
John B. Myerling mengembangkan sejenis susu kental yang tak manis. Produk ini
juga laris manis, bahkan direkomendasikan oleh banyak dokter di dekade 1930-an
dan 1940-an.
Industri makanan bayi terus berkembang. Tahun 1883, sudah ada 27
makanan bayi bermerek paten, termasuk Nestle, tulis Fomon dalam artikel
Formula and Beikost (2001), semuanya berbentuk bubuk dengan berbahan susu
dicampur berbagai jenis karbohidrat seperti gula atau pemanis, beragam pati dan
dekstrin. Dari waktu ke waktu, makin banyak nutrien yang ditambahkan.
Terjadinya beberapa tragedi kematian bayi pada periode awal pemasaran
rintisan
formula-formula
ini
membuat
pihak
industri
berusaha
keras
memperbaikinya dengan menjaga mutu susu dari ternak sapi, sampai mendirikan
klinik-klinik untuk membagikan formula yang bersih kepada masyarakat.
Teknologi pembuatan dot karet yang mudah dibersihkan plus kulkas untuk
menyimpan susu terus diperbaharui. Susu khusus untuk bayi yang alergi susu sapi
juga diciptakan. Susu soya (kedelai) yang pertama dipasarkan tahun 1929. Sambil
terus memperbaiki formula agar setara dengan ASI manusia, sisi pemasaran juga
ikut digencarkan. Para pabrikan formula mulai beriklan langsung kepada para
tenaga kesehatan. Terjadi relasi yang karib antara tenaga kesehatan dan
perusahaan-perusahaan formula. Pemasaran formula yang agresif meluas juga ke
negara-negara berkembang. Sejak tahun 1940 dan 1950-an, masyarakat
medis maupun awam
baik
telah memandang formula sebagai produk yang aman dan
populer sebagai pengganti ASI. Tentu saja situasi ini berpengaruh pada tradisi
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
7
menyusui. Selama dua atau tiga dekade, hingga tahun 1970-an, persentase ibu
menyusui terus menurun.
Sisi lain dari proses industrialisasi adalah makin banyak perempuan yang
bekerja di luar rumah. Kaum perempuan kelas bawah yang semula menjadi ibu
susuan sekarang malah meninggalkan rumah dan anak-anak mereka untuk
menjadi buruh pabrik. Inilah salah satu faktor yang menyebabkan produk formula
bayi laris manis. Situasinya sungguh tragis. Gabungan antara persepsi diri sebagai
objek seksual yang harus selalu cantik menarik plus kewajiban membantu mencari
nafkah bagi keluarga serta makin tak teredukasinya perempuan tentang menyusui,
membuat kian banyak ibu yang memasrahkan anaknya pada asupan formula.
Menyusui yang dulu dipandang wajar, penting, dan seharusnya lantas menjadi
praktek yang kuno, aneh, membingungkan, merepotkan, bahkan hina.
Menurunnya persentase ibu menyusui dan anak disusui berarti makin
banyak keluarga yang bergantung pada makanan buatan untuk bayi. Namun alam
tak bisa dibohongi. Para peneliti kesehatan mencermati bahwa ada kaitan antara
meningkatnya pemakaian formula dengan angka kematian bayi. Stevens dkk
menyebutkan ada tiga penyakit pada anak yang nyata terkait dengan konsumsi
formula
atropi (alergi), diabetes mellitus, dan obesitas.
Abad ke-19 menjadi abad berbaliknya tren karena makin banyak ahli
kesehatan yang mempromosikan praktek menyusui sebagai pilihan sehat dan
terbaik bagi bayi. World Health Organization dan asosiasi dokter anak berbagai
negara merekomendasikan menyusui eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
8
sampai minimal anak berusia 2 tahun. Lembaga kesehatan dunia dan pemerintah
mengeluarkan berbagai perundangan untuk melindungi hak ibu menyusui,
termasuk mengatur kode etik pemasaran produk-produk pengganti ASI.
Pemerintah Indonesia sendiri dalam hal ini telah melakukan berbagai
upaya, diantaranya dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 450/MENKES/SK/IV/2004 tentang pemberian Air
Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia 6. Yang berisi hal-hal
sebagai berikut:
Menetapkan pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif bagi bayi
di Indonesia sejak bayi lahir sampai dengan bayi berumur 6 (enam)
bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 (dua) tahun
dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.
Semua tenaga kesehatan yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan
agar menginformasikan kepada semua Ibu yang baru melahirkan untuk
memberikan ASI Eksklusif
Tenaga Kesehatan dalam memberikan informasi sebagaimana
dimaksud Diktum Ketiga agar mengacu kepada Sepuluh Langkah
Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).
Adapun Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui sebagaimana yang
dimaksud diatas adalah sebagai berikut:
1. Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutin
dikomunikasikan kepada semua petugas;
2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan untuk
menerapkan kebijakan tersebut;
3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan
penatalaksanaannya dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir
sampai umur 2 tahun termasuk cara mengatasikesulitan menyusui;
4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah
melahirkan, yang dilakukan di ruang bersalin. Apabila ibu mendapat
operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar;
5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar dan cara
mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi
medis;
6. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada
bayi baru lahir;
7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi
24 jam sehari;
6
http://aimi-asi.org/wp-content/uploads/2013/01/10-kepmenkes-450.pdf diakses pada
20/11/2013 pukul 09.00
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
9
8. Membantu ibu menyusui semau bayi semau ibu, tanpa pembatasan
terhadap lama dan frekuensi menyusui;
9. Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI;
10. Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan
merujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah
Sakit/Rumah Bersalin/Sarana Pelayanan Kesehatan.
Dari Keputusan Menteri Kesehtan tersebut sebenarnya telah diatur dengan
jelas bagaimana seharusnya pemberian asi dilakukan. Namun pada kenyataannya,
banyak masalah dalam pengimplementasian peraturan tersebut. Bukan hal baru
lagi bahwa banyak tenaga medis justru banyak yang menganjurkan pemberian
susu formula kepada bayi baru lahir dengan alasan air susu ibu tidak keluar.
Padahal sebenarnya, dalam kajian medis yang disebutkan dalam dokumen
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, bayi sanggup bertahan tidak makan selama 3
hari karena sudah memilik cadangan makanan yang didapatkan selama masih
diperut ibunya. Hal ini yang nampaknya kurang dipahami oleh beberapa tenaga
medis yang pada beberapa kasus ditemukan fakta mereka dengan mudah
menganjurkan pemberian susu formula pada bayi baru lahir. Parahnya, media
pemberiannya pun melalui dot yang mana mempunyai resiko bayi baru lahir dapat
mengalami bingung puting. Situasi dimana bayi tidak mau menyusu pada
ibunyadan memilih minum dari dot, karena proses minum dari dot lebih mudah
daripada menyusu langsung dari payudara ibu.
Adapun beberapa peraturan pemerintah lain untuk melengkapi Keputusan
Menteri Kesehatan diatas adalah sebagai berikut7 :
Konvensi Hak Anak, diratifikasi oleh Keppres No. 36/1990
Aktivitas menyusui sesungguhnya adalah implementasi dari Konvensi
Hak Anak - KHA- (Convention on the Rights of the Child) khususnya
7
ibid
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
10
pasal 6 dan pasal 24 (2.a,2.c), yaitu tentang upaya pemberian makanan
yang terbaik, bergizi serta pengasuhan yang optimal ===> Sebagai
dasar bagi ibu untuk menyusui;
UU No 36/2009 tentang KESEHATAN
Pasal 128
(1) setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak
dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis;
(2) selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah,
pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara
penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus;
(3) penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diadakan ditempat kerja dan di tempat sarana umum.
Pasal 129
(1) pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam
rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara
eksklusif;
(2) ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur
dengan peraturan pemerintah.
Usaha lain dari pemerintah untuk menggalakkan program asi eksklusif
bagi bayi baru lahir diantaranya melakukan upaya promosi kesehatan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang fungsi menyusui ASI bagi
keberlangsungan hidup bayi. Promosi kesehatan pada hakikatnya adalah usaha
menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu,
dengan harapan masyarakat, kelompok atau individu dapat memperoleh
pengetahuan, akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perubahan
perilaku.
Rencana Strategis Departemen Kesehatan RI 2005-2009 menggariskan
bahwa tujuan promosi kesehatan adalah memberdayakan individu, keluarga, dan
masyarakat agar mau menumbuhkan perilaku hidup sehat dan mengembangkan
upaya kesehatan yang bersumber masyarakat. Kegiatan pokoknya adalah dengan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
11
pengembangan media promosi kesehatan dan teknologi komunikasi, informasi
dan edukasi (KIE) dan melaksanakan dukungan administratif dan operasional
pelaksanaan program promosi kesehatan. Upaya tersebut dilakukan dengan
menggunakan media cetak, elektronik maupun media ruang. Dalam hal ini media
diposisikan untuk membuat suasana yang kondusif terhadap perubahan perilaku
yang positif terhadap kesehatan8.
Tak hanya pemerintah, sejumlah kepedulian juga lahir dari sejumlah orang
yang kemudian mendirikan lembaga yang khusus menangani isu seputar
pemberian ASI di Indonesia. Lembaga tersebut adalah AIMI yang merupakan
kepanjangan dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Terbentuknya AIMI didasari
kepedulian beberapa ibu yang sangat menyadari bahwa pemberian ASI adalah
sangat penting bagi bayi khususnya selama 6 bulan pertama kehidupan bayi atau
yang biasa dikenal dengan istilah ASI eksklusif. Tak hanya itu, AIMI juga
menggalakkan pemberian ASI selama 2 tahun setelah ASI eksklusif. Inisiatif
mendirikan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini awalnya lahir disertai
keprihatinan atas rendahnya dukungan pemerintah, masyarakat dan instansi
swasta terhadap pemberian ASI. Padahal ASI merupakan awal yang baik untuk
generasi bangsa yang berkualitas. Selain itu, upaya sosialisasi mengenai
pentingnya ASI bagi kesehatan dan imunitas bayi serta penyebaran informasi
mengenai ASI dinilai masih sangat kurang. Kondisi ini diperparah pula dengan
belum adanya dukungan kepada keluarga Indonesia, terutama ibu-ibu untuk
8
Maulana, Heri D.J. 2009. Promosi Kesehatan. Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
12
mendapatkan akses informasi selengkap mungkin mengenai ASI baik dari rumah
sakit tempat melahirkan maupun dari tenaga kesehatan.
Organisasi nirlaba ini memfasilitasi konseling laktasi, mengadakan kelas
edukasi juga seminar, melakukan kunjungan home visit, office visit untuk ibu
menyusui yang bekerja, dan hospital visit saat ibu melahirkan dan lain lain. AIMI
dalam situsnya juga menyebutkan visi dan misi yang jelas dalam menggalakkan
pemberian ASI eksklusif dan 2 tahun setelahnya.
Adapun misi AIMI adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi, pengetahuan dan dukungan bagi para ibu
untuk menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan dan
meneruskannya sampai 2 tahun atau lebih;
2. Memberikan masukkan untuk pemerintahan, perusahaan dan instansi
swasta agar mereka mengetahui pentingnya pemberian ASI, dengan
tujuan agar pihak-pihak tersebut dapat memberikan dukungan bagi
suksesnya pemberian ASI;
3. Memberikan pendidikan kepada lingkungan masyarakat akan
pentingnya ASI dengan terus-menerus memberikan pengetahuan dan
informasi terkini mengenai ASI;
4. Mensosialisasikan risiko pemberian susu formula kepada bayi yang
berusia kurang dari 2 tahun.
Misi tersebut di atas merupakan langkah pasti untuk mewujudkan visi.
Adapun visi dari organisasi ini adalah:
1. Untuk menaikkan prosentase angka ibu-ibu menyusui di Indonesia;
2. Untuk menaikkan prosentase bayi yang diberikan ASI eksklusif di
Indonesia;
3. Agar setiap ibu di Indonesia memiliki bekal pengetahuan dan
informasi yang cukup mengenai pentingnya pemberian ASI kepada
bayi mereka;
4. Agar setiap ibu di Indonesia mendapatkan dukungan penuh untuk
menyusui bayinya secara eksklusif selama 6 bulan dan meneruskannya
sampai 2 tahun atau lebih.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
13
5. Agar Pemerintah, perusahaan-perusahaan dan pihak ketiga lainnya
sadar betul akan pentingnya ASI dengan mendukung penuh pemberian
ASI kepada bayi-bayi di Indonesia;
6. Agar masyarakat luas mendapatkan informasi dan pengetahuan tentang
ASI, dan memberikan dukungan dalam rangka mensukseskan
pemberian ASI bagi bayi-bayi Indonesia.
Realita yang kemudian dihadapi oleh AIMI adalah adanya kesulitan untuk
menjangkau keseluruhan wilayah Indonesia dalam mengkampanyekan ASI for
Baby. Kesulitan ini mencakup keadaan geografis Indonesia yang terdiri dari
ribuan pulau. Sedikitnya tenaga kesehatan yang paham tentang pentingnya ASI
dan tentang peraturan pemerintah yang mewajibkan ASI. Iklan susu formula yang
gencar baik itu di media maupun di rumah sakit dan fasilitas untuk bersalin
lainnya. Belum meratanya cabang-cabang AIMI bahkan sampai sekarang pun
turut menjadi permasalahan dalam kampanye AIMI.
Dengan berbagai permasalahan yang ada, berbanding dengan semakin
tingginya permintaan para ibu menyusui akan informasi seputar menyusui, maka
hampir bisa dipastikan bahwa kampanye AIMI belum maksimal. Karenanya,
AIMI-ASI kemudian menyadari bahwa untuk menyebarluaskan pesan tentang
menyusui diperlukan sarana ataupun media, untuk membantu proses tersebut. Hal
ini sesuai dengan konsep promosi kesehatan seperti yang sudah dijelaskan diatas.
Sebagaimana menurut Harold D. Lasswell (1960) bahwa komunikasi pada
dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa,
dengan media apa, kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says
what? In which channel? To whom? With what effect?)9. Maka proses
9
(2005), hlm. 36
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
14
pengkomunikasian pesan-pesan oleh AIMI-ASI terhadap ibu menyusui pun
menggunakan beberapa media, diantaranya dengan menggunakan internet.
Pengertian dari internet atau interconnection networking itu sendiri adalah
jaringan komputer dalam skala internasional yang dapat membuat masing-masing
komputer saling berkomunikasi. Jaringan ini pertama kali dikembangkan oleh
Departemen Pertahanan Amerika Serikat dalam proyek ARPAnet (Advanced
Research Projects
Agency Network)
yang merupakan percobaan untuk
membentuk jaringan berskala besar yang menghubungkan komputer di berbagai
lokasi
yang dapat diakses sebagai sebuah kesatuan untuk dapat saling
memanfaatkan resource.
Dengan memanfaatkan internet inilah akhirnya dibentuk situs resmi AIMI
yaitu aimi-asi.org, facebook dengan nama akun Asosiasi
Ibu Menyusui
Indonesia, dan twitter dengan id @aimi_asi.
Akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, dipilih oleh peneliti
untuk dijadikan objek dalam penelitian ini. Adapun alasannya adalah tingginya
konsumsi media sosial facebook oleh masyarakat Indonesia, yang mana tembus
hingga mencapai angka 41,777,240 pengguna, dari 241.452.952 total penduduk
Indonesia yang menempati urutan ke empat sebagai negara berpenduduk
terbanyak di dunia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pengguna facebook
terbesar kedua di dunia, setelah Amerika Serikat. Facebook pulalah yang menjadi
1 dari 5 situs yang paling banyak dikunjungi orang Indonesia. Alasan lainnya
adalah didalam facebook AIMI-ASI, para ibu bisa saling share dengan ibu yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
15
lain berkaitan dengan kegiatan menyusui, kesulitan-kesulitan yang dihadapi ketika
menyusui, dan mendapatkan dukungan dari sesama ibu menyusui untuk menyusui
kapanpun dan dimanapun.
Bahkan bisa pula didapatkan artikel yang ditulis oleh anggota AIMIASI di dokumen facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Diantaranya :
Kontak konseling AIMI pusat, cabang serta ranting
Manajemen ASIP (ASI Perah)
Media pemberian ASIP (ASI Perah)
Menyusui Bayi Kuning
Panduan memerah dengan tangan
Laktogenesis Donor ASI dan ketentuannya
ASI lipase tinggi
Berbagai alasan kenapa bayi menolak menyusui
Diet aman untuk ibu menyusui
Gerakan tutup mulut pada anak
Metode KB ibu menyusui
Resiko penggunaan dot
Berbagai fakta tentang bingung puting
Serba serbi IMD dan rawat gabung
Serba-serbi BAB bayi
Serba-serbi tongue tie
Serba serbi relaktasi
Serba serbi foremilk dan hindmilk
Seputar posisi dan pelekatan menyusui
Menyusui saat hamil dan tandem nursing
Menyapih dengan cinta
Masalah-masalah payudara yang dialami ibu menyusui
Kandungan ASI vs kandungan susu formula
PP no: 33/2012 tentang ASIX
Panduan Pemberian (Susu) Formula Pada Bayi Sesuai Standar WHO
dan IDAI
Panduan MPASI WHO
Tips MPASI WHO
Kumpulan Kultwit AIMI tentang MPASI
Panduan obat-obatan yang aman untuk ibu menyusui
Let Down Reflex (LDR): Si Nyeri yang Dicari
ASI Lancar, Puasa pun tak Terlewat
Berbagai Fakta tentang Makanan / Minuman Ibu Menyusui
Tips Mengatasi Bayi yang Suka Menggigit Putting
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
16
Menyusui Hingga Lebih dari Dua Tahun: Kenapa Tidak?
Memahami Growth Spurts (Percepatan Pertumbuhan) pada Bayi
Mitos dan Fakta tentang ASI dan Menyusui
Tips Meningkatkan Berat Badan Bayi Tanpa Bantuan Susu Formula
Permenkes no. 15 tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas
Ruang Menyusui dan/atau Memerah ASI
Permenkes no. 39 tahun 2013 tentang Susu Formula Bayi dan Produk
Bayi Lainnya
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Seputar Pemberian MPASI
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Seputar Memerah ASI
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ) Seputar Persiapan Menyusui
Sejak Masa Kehamilan
Kontak Divisi Belanja AIMI Pusat dan Cabang
Menyusui Pasca C-section (Cesarian)
Panduan Menyusui di hari-hari Awal Kehidupan Bayi
Cara Membaca Growth Chart
Growth Chart WHO Berat Badan Bayi Perempuan
Growth Chart WHO Berat Badan Bayi Laki-Laki
Growth Chart WHO Tinggi Badan Bayi Perempuan
Growth Chart WHO Tinggi Badan Bayi Laki-Laki
Growth Chart WHO Lingkar Kepala Bayi Perempuan
Growth Chart WHO Lingkar Kepala Bayi Laki-Laki
Cakupan bahasan dalam akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
seperti yang tertulis dalam peraturan akun tersebut adalah :
a) Seputar masalah ASI/menyusui;
b) MPASI dan makanan anak sampai 24 bulan;
c) Masalah kesehatan bayi hingga usia 24 bulan yang bersifat umum dan
terkait dengan ASUPAN. Namun demikian, AIMI selalu berpegang
pada prinsip bahwa para orang tua harus berkonsultasi dengan tenaga
kesehatan yang berwenang. Jika ada unsur kegawatan, diharapkan
untuk segera hubungi tenaga medis terdekat dan tidak mencari saran ke
media sosial. Dimohon juga agar tidak menanyakan obat apa yang
sebaiknya diberikan ke bayi/anak. Pemberian obat untuk bayi/anak
harus melalui pemeriksaan langsung dan penegakan diagnosa oleh
tenaga medis dan tidak bisa dilakukan lewat konsultasi di media sosial;
d) Masalah kehamilan yang terkait dengan menyusui;
e) Masalah seputar KB yang relevan dengan menyusui.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
17
Melalui peranan media komunikasi facebook inilah yang akan diteliti,
tentang bagaimana pengaruhnya terhadap persepsi ibu menyusui sehingga
menganggap bahwa menyusui ASI eksklusif adalah keharusan bagi ibu dan hak
bagi bayi, untuk kemudian mengubah perilaku. Mengingat bahwa akun facebook
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini dianggap cukup menginformasi dan
mengedukasi ibu hamil yang sedang mempersiapkan kelahiran maupun ibu
menyusui itu sendiri. Mengedukasi dari ketersediaan artikel yang bisa dibaca
kapan saja seperti yang sudah disebutkan diatas, dan adanya admin atau mimin
(sebutan bagi pengelola akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia yang
biasanya merupakan pengurus organisasi AIMI-ASI) yang akan mengelola akun,
menjawab pertanyaan dari para pengikut akun, meng-update artikel dan status
facebook sesuai dengan kebutuhan kampanye menyusui. Para ibu yang bergabung
dengan akun facebook ini bahkan bisa saling tanya jawab ataupun share
pengalaman masing-masing berkaitan dengan menyusui, juga kesulitan-kesulitan
yang dihadapi. Jadi dengan ini diharapkan mereka akan teredukasi dari
pengalaman ibu-ibu menyusui yang lain.
Karena sifatnya yang edukatif dan informatif maka salah satu alat
publikasi AIMI-ASI ini (akun facebook) kemudian dipandang mampu untuk
mengubah persepsi untuk kemudian mengubah perilaku. Dari yang menganggap
menyusui adalah sekedarnya hingga kemudian berpandangan bahwa menyusui
adalah hal alamiah yang merupakan kewajiban bagi ibu dan hak bagi bayi.
Sebagaimana yang dikatakan Janis & Kelley (1953) bahwa komunikasi adalah
suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
18
(biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk
perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Komunikasi memiliki andil untuk
membentuk / mengubah perilaku seseorang.
Berdasarkan uraian tersebut, maka judul ini dipilih untuk mengetahui
peran media komunikasi facebook AIMI ASI terhadap persepsi ibu menyusui
dalam melaksanakan program ASI eksklusif. Apakah ada pengaruh akun facebook
milik AIMI ASI terhadap keberhasilan ibu menyusui untuk memberikan ASI
eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi.
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
Sejauh mana peran media komunikasi facebook AIMI-ASI terhadap
persepsi ibu menyusui dalam melaksanakan program ASI eksklusif.
C. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui sejauh mana peran media komunikasi facebook AIMIASI terhadap persepsi ibu menyusui dalam melaksanakan program asi
eksklusif.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
19
D. KAJIAN TEORI
1. Komunikasi
Sebelum membahas lebih dalam mengenai variabel independen (peran
media komunikasi) dan variabel dependen (persepsi ibu menyusui) dalam
penelitian ini, peneliti terlebih dahulu akan mengurai mengenai komunikasi itu
sendiri, apakah komunikasi itu, bagaimana proses terbentuknya, bagaimana
menurut pandangan dari para ahli. Juga akan peneliti uraikan teori atau pendapat
ahli tentang media (sebagai sarana untuk melakukan proses komunikasi).
Changara
dalam
bukunya Pengantar
Ilmu
Komunikasi
(1998)
menjabarkan beberapa pengertian komunikasi menurut para ahli. Beberapa
diantaranya yaitu:
1. Everett M. Rogers. Komunikasi adalah proses dimana suatu ide
dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud
untuk mengubah tingkah laku mereka.
2. Rogers & D. Lawrence Kincaid, 1981. Komunikasi adalah suatu proses
dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran
informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada
saling pengertian yang mendalam.
3. Harorl D. Lasswell, 1960. Komunikasi pada dasarnya merupakan suatu
proses yang menjelaskan siapa, mengatakan apa, dengan saluran apa,
kepada siapa? Dengan akibat apa atau hasil apa? (Who? Says what? In
which channel? To whom? With what effect?)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
20
Berangkat dari paradigma Lasswell, Effendy10 membedakan proses komunikasi
menjadi dua tahap, yaitu:
1. Proses komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan
atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang
(symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses
komunikasi adalah pesan verbal (bahasa), dan pesan nonverbal
(kial/gesture, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya) yang secara
langsung dapat/mampu menerjemahkan pikiran dan atau perasaan
komunikator kepada komunikan.
Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang
diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi adalah proses membuat
pesan yang setara bagi komunikator dan komunikan. Prosesnya sebagai berikut,
pertama-tama komunikator menyandi (encode) pesan yang akan disampaikan
disampaikan kepada komunikan. Ini berarti komunikator memformulasikan
pikiran dan atau perasaannya ke dalam lambang (bahasa) yang diperkirakan akan
dimengerti oleh komunikan. Kemudian giliran komunikan untuk menterjemahkan
(decode) pesan dari komunikator. Ini berarti ia menafsirkan lambang yang
mengandung pikiran dan atau perasaan komunikator tadi dalam konteks
pengertian. Yang penting dalam proses penyandian (coding) adalah komunikator
dapat menyandi dan komunikan dapat menerjemahkan sandi tersebut (terdapat
kesamaan makna).
Wilbur Schramm 11 menyatakan bahwa komunikasi akan berhasil
(terdapat kesamaan makna) apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference) , yakni
10
Effendy, Onong Uchjana. (1994). Ilmu Komunikasi : Teori dan Praktek. Remadja Karya. Bandung
hlm 11-19
11
ibid
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
21
paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and
meanings) yang diperoleh oleh komunikan
2. Proses komunikasi sekunder
Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh
komunikator kepada komunikan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai
media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.
Seorang komunikator menggunakan media ke dua dalam menyampaikan
komunikasi karena komunikan sebagai sasaran berada di tempat yang relatif jauh
atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, teleks, surat kabar, majalah, radio, televisi,
film, dsb adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Proses
komunikasi secara sekunder itu menggunakan media yang dapat diklasifikasikan
sebagai media massa (surat kabar, televisi, radio, dsb.) dan media nirmassa
(telepon, surat, megapon, dsb.)
Lebih mendalam, Deddy Mulyana 12 mengkategorikan definisi-definisi
tentang komunikasi dalam tiga konseptual yaitu:
1.Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari
seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya,
baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat
(selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi.
2. Komunikasi sebagai interaksi.
Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebabakibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian.
12
Mulyana. Op. Cit. hlm 61-69
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
22
3. Komunikasi sebagai transaksi.
Pandangan ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang dinamis
yang
secara
berkesinambungan
mengubah
phak-pihak
yang
berkomunikasi.
2. Media
Lewat pengertian proses komunikasi sekunder seperti yang sudah
dijabarkan menurut Lasswel diatas,dalam suatu proses komunikasi, agar menjadi
efektif,
maka
membutuhkan
saluran
/
chanel
/
media
penyampaian
pesan.Pengertian media itu sendiri adalah alat atau sarana yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Ada beberapa pakar
psikologi memandang bahwa dalam komunikasi antarmanusia, maka media yang
paling dominasi dalam berkomunikasi adalah pancaindera manusia seperti mata
dan telinga. Pesan
pesan yang diterima selanjutnya oleh pancaindera selanjutnya
diproses oleh pikiran manusia untuk mengontrol dan menentukan sikapnya
terhadap sesuatu, sebelum dinyatakan dalam tindakan.
Dani Vardiansyah dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi (2004)
menyebutkan bahwa media adalah bentuk jamak dari medium medium
komunikasi, yang dapat diartikan sebagai alat perantara yang sengaja dipilih
komunikator untuk menghantarkan pesannya agar sampai ke komunikan. Jadi,
unsur utama dari media komunikasi adalah pemilihan dan penggunaan alat
perantara yang dilakukan komunikator dengan sengaja. Artinya, hal ini mengacu
kepada pemilihan dan penggunaan teknologi media komunikasi.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
23
3. Media Sosial
Berbicara mengenai teknologi media komunikasi dalam penelitian ini
tentu kita akan berbicara mengenai facebook, yang mana merupakan salah satu
dari sekian banyak media sosial. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein dalam
kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan
teknologi Web 2.0, dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-
Dalam menelaah media sosial, ada teori yang bisa digunakan yaitu teori
ekologi media. Konsep dasar teori ini pertama kali dikemukakan oleh Marshall
McLuhan (1964). Setidaknya ada 3 asumsi dalam teori ini, yaitu:
1. Media melingkupi setiap tindakan di dalam masyarakat atau dalam
sebuah media yang terpenting adalah teknologinya, bukan isinya.
2. Media memperbaiki persepsi kita dan mengorganisasikan
pengalaman. Dalam asumsi kedua dari teori Ekologi Media
melihat media sebagai sesuatu yang langsung mempengaruhi
manusia. Cara manusia memberi penilaian, merasa, dan bereaksi
cenderung dipengaruhi oleh media. Dalam asumsi ini McLuhan
menilai media cukup kuat dalam membentuk pandangan kita atas
dunia.
3. Media menyatukan seluruh dunia. Dalam asumsi ketiga teori
ekologi media menyatakan bahwa setiap pertistiwa atau hal yang
dilakukan di belahan dunia lain, dapat diketahui atau menjalar ke
belahan dunia lain. Akibat dari hal tersebut, McLuhan menyebut,
manusia kemudian hidup di sebuah desa global (global village).
Media seolah mengikat dunia menjadi sebuah kesatuan sistem
politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang besar. Konsep Global
Village berarti tidak akan ada lagi batasan antar belahan dunia
manapun untuk saling mengetahui kegiatan satu sama lain. Apa
yang terjadi di belahan Kutub Utara misalnya dalam hitungan
sepersekian detik akan dengan mudah diketahui pula oleh
masyarakat di belahan Kutub Selatan. Dengan adanya internet,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
24
membuat kita mempermudah semua hal itu. Dengan
menggunakan social media¸memudahkan kita untuk berinteraksi
dengan siapapun dan dimanapun.
Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web
page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi
dan berkomunikasi. Jejaring sosial terbesar antara lain Facebook, Myspace, dan
Twitter. Jika media tradisional menggunakan media cetak dan media broadcast,
maka media sosial menggunakan internet. Media sosial mengajak siapa saja yang
tertarik untuk berpertisipasi dengan memberi kontribusi dan feedback secara
terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat
dan tak terbatas.
Media sosial mempunyai ciri-ciri, yaitu sebagai berikut :
Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa
keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet
Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper
atau penjaga atau aministrasi atau semacam penyensor
Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya
Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi
Pesatnya perkembangan media sosial kini dikarenakan semua orang
seperti bisa memiliki media sendiri. Jika untuk memiliki media tradisional seperti
televisi, radio, atau koran dibutuhkan modal yang besar dan tenaga kerja yang
banyak, maka lain halnya dengan media. Seorang pengguna media sosial bisa
mengakses menggunakan social media dengan jaringan internet bahkan yang
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
25
aksesnya lambat sekalipun, tanpa biaya besar, tanpa alat mahal dan dilakukan
sendiri tanpa karyawan. Kita sebagai pengguna social media dengan bebas bisa
mengedit, menambahkan, memodifikasi baik tulisan, gambar, video, grafis, dan
berbagai model content lainnya.
Menurut Antony Mayfield dari iCrossing, media sosial adalah mengenai
menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama,
dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berfikir, berdebat, menemukan orang
yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah
komunitas. Intinya, menggunakan media sosial menjadikan kita sebagai diri
sendiri. Selain kecepatan informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik,
menjadi diri sendiri dalam media sosial adalah alasan mengapa media sosial
berkembang pesat.
Jika dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa menyampaikan
pendapat secara terbuka karena satu dan lain hal, maka tidak jika kita
menggunakan media sosial. Kita bisa menulis apa saja yang kita mau atau
kita bebas mengomentari apapun yang ditulis atau disajikan orang lain. Ini
berarti komunikasi terjalin dua arah. Komunikasi ini kemudian
menciptakan komunitas dengan cepat karena ada ketertarikan yang sama
akan suatu hal13
Sedangkan facebook itu sendiri, yang merupakan objek dari penelitian ini,
adalah salah satu dari sekian banyak media sosial. Dibuat oleh Mark Zuckerbergh,
pada 23 Oktober 2003, facebook pada awalnya bernama Facemash.com. Baru
pada tahun 2004 berganti menjadi thefacebook.com yang pada tanggal 30
Desember 2004 pengikutnya tembus hingga 1 juta pengguna. Di Agustus 2005,
13
Kaplan, Andreas M.; Michael Haenlein (2010) "Users of the world, unite! The challenges and
opportunities of Social Media". Business Horizons 53(1): 59 68 diakses pada 15/01/2014 pk.09
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
26
thefacebook.com berganti nama menjadi facebook.com dengan harga $ 200.000
(200.000 US Dolar). Pada tahun tersebut, Facebook.com mendapatkan berbagai
investor dan mulai bekerjasama dengan Apple dan Microsoft. Di akhir 2005,
Facebook telah menyebar di US, Canada, Mexico, UK, Australia, New Zealand
dan Irlandia.
Aplikasi yang terdapat dalam facebook memungkinkan setiap orang yang
memiliki account untuk menampilkan informasi personal, seperti hobi, musik
favorit, kampung halaman, tempat tinggal begitu juga dengan foto atau gambar
pribadi. Selain itu, pengguna juga dapat mengirimkan pesan yang setara dengan
fasilitas pesan elektronik lainnya, dan facebook juga menampilkan dan
menyediakan informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan situs jaringan
sosial online lainnya 14.
Sheldon (2009) menyatakan bahwa perkembangan facebook begitu pesat,
dan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh compete.com pada Januari
2009, facebook mendapat peringkat pertama sebagai situs jaringan sosial yang
paling banyak digunakan di dunia setiap bulan oleh para pengguna aktifnya.
Pengguna facebook di Indonesia sendiri termasuk yang terbesar di dunia, di posisi
kedua di dunia yaitu sebanyak 41,777,240 pengguna dari 241.452.952 total
penduduk Indonesia yang menempati urutan ke empat sebagai negara
berpenduduk terbanyak di dunia. Potensi inilah yang menjadi alasan mengapa
AIMI pun turut menjadikan facebook sebagai alat kampanye Asi for Baby.
14
Stutzman dalam Limperos dkk, 2008
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
27
Ada pula teori lain yang berkaitan dengan penelitian ini. Yaitu Teori
Perubahan Sikap atau Attitude Change Theory, yang dikenalkan oleh Carl Iver
Hovland, pada awal tahun 1950-an.Teori perubahan sikap Carl Iver Hovland
memberikan penjelasan, bagaimana sikap seseorang terbentuk dan bagaimana
sikap itu dapat berubah melalui proses komunikasi, dan bagaimana sikap itu dapat
mempengaruhi sikap atau tingkah laku seseorang. Menurut Hovland, seseorang
akan merasa tidak nyaman bila dihadapkan pada informasi baru yang
bertentangan dengan keyakinannya. Teori perubahan sikap, juga disebut sebagai
Teori Disonansi, yang berarti ketidakcocokan atau ketidaksesuaian. Untuk
mengurangi ketidaknyamanan itu, maka akan ada proses selektif, yaitu
penerimaan informasi selektif, ingatan selektif, dan persepsi selektif.
4. Teori Peran
Teori peran (role theory
role
the
boundaries and sets of expectations applied to role incumbents of a particular
position, which are determined by the role incumbent and the role senders within
15
. Selain itu, Robbins (2001)
a set of expected behavior patterns attributed to
someone occupying a given position in a social unit
Ditinjau dari buku Perilaku Organisasi oleh Suryana Sumantri (2001),
peran merupakan salah satu komponen dari sistem sosial organisasi, selain norma
15
Banton, 1965; Katz &Kahn, 1966, dalam Bauer, 2003: 54
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
28
dan budaya organisasi.
expectations
subordinate
about
appropriate
behavior
in
a
job
position
(leader,
Ada dua jenis perilaku yang diharapkan dalam suatu pekerjaan,
yaitu (1) role perception: yaitu persepsi seseorang mengenai cara orang itu
diharapkan berperilaku; atau dengan kata lain adalah pemahaman atau kesadaran
mengenai pola perilaku atau fungsi yang diharapkan dari orang tersebut, dan (2)
role expectation: yaitu cara orang lain menerima perilaku seseorang dalam situasi
tertentu. Dengan peran yang dimainkan seseorang dalam organisasi, akan
terbentuk suatu komponen penting dalam hal identitas dan kemampuan orang itu
untuk bekerja. Dalam hal ini, suatu organisasi harus memastikan bahwa peranperan tersebut telah didefinisikan dengan jelas.
Scott et al. (1981) 16 menyebutkan lima aspek penting dari peran, yaitu:
1. Peran itu bersifat impersonal: posisi peran itu sendiri akan menentukan
harapannya, bukan individunya.
2. Peran itu berkaitan dengan perilaku kerja (task behavior)
yaitu,
perilaku yang diharapkan dalam suatu pekerjaan tertentu.
3. Peran itu sulit dikendalikan (role clarity dan role ambiguity).
4. Peran itu dapat dipelajari dengan cepat dan dapat menghasilkan
beberapa perubahan perilaku utama.
5. Peran dan pekerjaan (jobs) itu tidaklah sama
seseorang yang
melakukan satu pekerjaan bisa saja memainkan beberapa peran.
Meski kata 'peran' sudah ada di berbagai bahasa Eropa selama beberapa
abad, sebagai suatu konsep sosiologis, istilah ini baru muncul sekitar tahun 1920an dan 1930-an. Istilah ini semakin menonjol dalam kajian sosiologi melalui karya
teoretis Mead, Moreno, dan Linton. Dua konsep Mead, yaitu pikiran dan diri
sendiri, adalah pendahulu teori peran. Tergantung sudut pandang umum terhadap
16
dalam Kanfer (1987: 197)
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
29
tradisi teoretis, ada serangkaian "jenis" dalam teori peran. Teori ini menempatkan
persoalan-persoalan berikut mengenai perilaku social : Pembagian buruh dalam
masyarakat membentuk interaksi di antara posisi khusus heterogen yang
disebut peran. Peran sosial mencakup bentuk perilaku "wajar" dan "diizinkan",
dibantu oleh norma sosial, yang umum diketahui dan karena itu mampu
menentukan harapan. Peran ditempati oleh individu atau sesuatu yang disebut
"aktor".
Teori peran sangat berkaitan erat dengan sosialisasi. Sejumlah sosiolog
menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Robert Linton
(1936), seorang antropolog, telah mengembangkan teori peran. Teori peran
menggambarkan interaksi social dalam terminology aktor-aktor yang bermain
sesuai dengan apa yang di tetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini harapanharapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk
berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Menurut teori ini masyarakat yang
dibarengi dengan yang namanya pemahaman tentang peran-peran secara otomatis
akan lebih paham dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, karena segala
sesuatu yang diajarkan dengan peran adalah salah satu fakor utama dalam
mencapai kepuasan tersendiri bagi individu untuk menjalankan sebuah fungsi. Hal
ini dikaitkan dengan bagaimana seorang individu atau masyarakat memahami apa
yang dilakukan oleh agen sosialisasi. Oleh karena itu diperlukan peran yang aktif
dalam proses pensosialisasian atas individu atau masyarakat agar tercapai
keinginan yang disepakati.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
30
Masih menurut teori ini pula, seseorang yang mempunyai peran tertentu
misalnya sebagai dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya,
diharapkan agar seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut.
Mengapa seseorang mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi
karena statusnya adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang
kepadanya. Perilaku ditentukan oleh peran social.
Kemudian, sosiolog yang bernama Glen Elder (1975) membantu
-
anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai dengan kategori-kategori
usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Contohnya, sebagian besar warga
Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah ketika berusia empat atau lima
tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan belas tahun, bekerja pada usia
tujuh belah tahun, mempunyai istri atau suami pada usia dua puluh tujuh, pensiun
pada usia enam puluh tahun.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi peran:
1. Soekanto. Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status).
Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan
kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran.
2. R. Linton. Peran adalah the dynamic aspect of status. Dengan kata lain,
seseorang menjalankan perannya sesuai hak dan kewajibannya.
3. Soejono Soekamto. Peran adalah suatu konsep prihal apa yang dapat
dilakukan individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat,
peranan meliputi norma-norma yang dikembangkan dengan posisi
atau tempat seseorang dalam masyarakat, peranan dalam arti ini
merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing
seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
31
4. Biddle dan Thomas. Peran adalah serangkaian rumusan yang
membatasi perilaku-perilaku yang diharapkan dari pemegang
kedudukan tertentu. Misalnya dalam keluarga, perilaku ibu dalam
keluarga diharapkan bisa memberi anjuran, memberi penilaian,
memberi sangsi dan lain-lain.
5. Merton. Pelengkap hubungan peran yang dimiliki seseorang karena
meduduki status sosial tertentu.
6. W.J.S. Poerwadarminta : 1985. Peran berasal dari kata peran, berarti
sesuatu yang menjadi bagian atau memegang pimpinan yang terutama.
5. Teori Persepsi
Manusia pada dasarnya merupakan mahkluk individu. Dalam melihat
suatu masalah setiap manusia memiliki pandangan yang berbeda sesuai dengan
tingkat pengetahuan dan pemahamannya. Hal ini pula yang menyebabkan persepsi
setiap individu memilki perbedaan. Persepsi secara etimologi diartikan sebagai
daya untuk mengamati, yang menghasilkan tanggapan, kesan atau penglihatan.
Soemanto17 mengartikan persepsi sebagai bayangan yang menjadi kesan yang
dihasilkan dari pengamatan. Definisi ini menekankan bahwa persepsi merupakan
hasil yang ditangkap dari mengamati suatu objek. Hal ini berarti dalam
membentuk persepsi harus jelas objek yang dituju.
Persepsi menurut manusia yang satu belum tentu sama dengan persepsi
manusia yang lainnya, karena adanya perbedaan dari pengalaman serta
lingkungan sekitar dari manusia tersebut tinggal. Persepsi adalah kesadaran yang
tidak dapat ditafsirkan yang timbul dari stimuli. Dalam hal ini persepsi itu lahir
karena adanya rangsangan sehingga menimbulkan rangsangan yang tidak dapat
ditafsirkan. Jadi yang merupakan faktor penyebab adanya persepsi adalah
rangsangan / stimuli.
17
Soemanto Wasty. (1990). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Reneka Cipta hlm 23
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
32
Kimball
Young18
menyatakan
persepsi
merupakan
suatu
yang
menunjukkan aktivitas, merasakan, menginterpretasikan dan memahami objek
baik fisik maupun benda. Hal ini menekankan bahwa persepsi akan timbul setelah
seseorang atau sekelompok orang terlebih dahulu merasakan kehadiran suatu
objek. Setelah dirasakan kemudian objek tersebut diinterpretasikan.
William James 19 menyebutkan ada tiga macam bentuk persepsi yakni :
1. Pesepsi masa lampau disebut dengan persepsi ingatan (tanggapan)
2. Persepsi masa sekarang disebut dengan persepsi tanggapan imajinasi.
3. Persepsi masa mendatang disebut sebagai tanggapan antisipatif.
Berdasarkan uraian diatas berarti tanggapan diasosiasikan sebagai suatu
reaksi yang dihasilkan stimuli berupa pertumbuhan kesan pribadi yang
berorientasi kepada pengamatan masa lampau, masa kini, dan masa mendatang.
Fenomena yang muncul dalam kaitannya dengan persepsi adalah atensi
(attention). Atensi merupakan suatu proses penyeleksian input yang akan diproses
dalam kaitannya dengan pengalaman. Hal ini berarti atensi banyak mendasarkan
diri pada proses penyaringan informasi (filtering) yang ada pada lingkungannya.
Untuk memperjelas pengertian dari persepsi, di bawah ini dijelaskan
mengenai pengertian persepsi menurut beberapa ahli 20 :
1. Persepsi merupakan kognitif yang dialami oleh setiap orang dalam
memahami informasi mengenali lingkungannya, baik lewat
penglihatan, pandangan, penghayatan, perasaan, dan penciuman.
18
Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan Intervensi Komunitas : Pengantar
pada pemikiran dan pendekatan praktis Edisi Revisi 2003). Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, hlm.102
19
ibid, hlm.105
20
ibid
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
33
Persepsi merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi dan
bukannya pencatatan yang benar terhadap situasi. Proses kognitif
diatas adalah proses kegiatan mental yang sadar seperti sikap,
kepercayaan dan pengharapan yang semuanya merupakan faktor yang
menetukan perilaku.
2. Menurut Davidof, persepsi merupakan proses yang digunakan oleh
seseorang
individu
untuk
memilih,
mengorganisasi
dan
menginterpretasikan masukan-masukan informasi guna menciptakan
gambaran dunia yang memiliki arti. Persepsi tidak hanya bergantung
pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan
dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu bersangkutan.
Selanjutnya menurut Horovitz, persepsi adalah anggapan yang muncul
setelah melakukan pengamatan di lingkungan sekitar atau melihat
situasi yang terjadi untuk mendapatkan informasi tentang sesuatu.
3. Menurut Lindzey dan Aronson, persepsi sosial merupakan suatu proses
yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui,
menginterpretasi dan mengevaluasi objek yang dipersepsi, baik sifat,
kualitas ataupun keadaan lain yang ada dalam objek tersebut sehingga
terbentuk gambaran mengenai objek tersebut.
Dari pendapat tersebut dapat dikatakan persepsi merupakan sebagai suatu
proses pemberian makna atau proses pemahaman diri di dalam diri seseorang
terhadap suatu objek, baik itu yang berwujud ataupun tidak berwujud. Dalam hal
ini persepsi sangat berkaitan dengan pengetahuan dan pengalaman. Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, baik faktor internal maupun faktor
eksternal.
Faktor internalnya diantaranya :
1. Motif dan kebutuhan.
2. Kesiapan seseorang untuk berespon terhadap suatu input tertentu, tetapi
tidak pada input lainnya.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
34
Sedangkan faktor eksternalnya diantaranya adalah :
1. Intensitas dan ukuran dari yang akan diberikan atensi.
2. Kontras dan hal-hal yang baru dari objek yang mendapat perhatian.
3. Pengulangan dari yang diberi persepsi.
4. Gerakan yang diberi persepsi.
Berrlyne 21 dalam buku yang sama juga menyebutkan ada empat aspek
persepsi yang membedakannya dengan pola pikir kognitif, yaitu pola pikir
yang masih berada didalam pemikiran manusia, yakni :
1. Hal- hal yang diamati dari sebuah rangsangan bervariasi,
tergantung pola dari keseluruhan dimana rangsangan tersebut
menjadi bagiannya.
2. Persepsi bervariasi dari orang ke orang dan dari waktu ke waktu
3. Persepsi bervariasi tergantung dari arah kearah (fokus) alat indra.
4. Persepsi cenderung berkembang kearah tertentu dan sekali
terbentuk kecenderungan itu biasanya akan menetap.
21
ibid, hlm.97
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
35
E. KERANGKA PEMIKIRAN
Untuk mempermudah proses penelitian, diperlukan kerangka berpikir yang
menjadi rambu-rambu penelitian berdasarkan teori relevan yang mencakup
pokok-pokok pikiran yang menggambarkan sudut pandang permasalahan yang
akan diteliti. Terdapat 2 variabel dalam penelitian ini yaitu variabel independen
(peran media komunikasi facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) dan
variabel dependen (persepsi ibu menyusui). Kerangka teorinya adalah:
TABEL I
Peran media komunikasi facebook
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
1. Frekwensi
2. Perhatian
3. Durasi
Stimulus berupa penginformasian
dan edukasi melalui artikel-artikel
tentang ASI, tentang proses
menyusui, dan penanganan kesulitankesulitan dalam proses menyusui,
serta dukungan untuk ibu menyusui
Persepsi Ibu Menyusui
1. Tahu (menyangkut pengetahuan responden tentang
AIMI, definisi ASI, ASI eksklusif itu penting)
2. Aktif (menyangkut keaktifan responden mengunjungi
akun facebook AIMI)
3. Informasi (responden mendapat informasi tentang
menyusui, tentang program ASI eksklusif
Sumber : Olahan penulis
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
36
Salah satu fungsi dibuatnya akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia adalah untuk mengkampanyekan asi eksklusif. Salah satunya dengan
memaparkan tulisan-tulisan yang ditulis oleh tenaga medis pro-ASI dan pegiatASI yang berdasarkan pengalaman, dan juga penelitian ilmiah. Juga membiarkan
pengikut akun tersebut saling bertukar pikiran dan pengalaman menyusui melalui
update status di wall akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia.
Perubahan perilaku yang dimaksud pada skema diatas adalah dari yang
tadinya mengganggap ASI eksklusif tidak penting, kemudian berfikir bahwa ASI
eksklusif itu penting, ASI eksklusif adalah keharusan dan kewajaran. Pemberian
ASI kepada bayi bisa diusahakan dengan berbagai caranya, bahkan diantaranya
dengan donor asi.Hal ini sesuai dengan pendapat Janis & Kelley (1953) bahwa
komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator)
menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan
mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak). Mindset
yang telah berubah kemudian membuat ibu menyusui membentuk / mengubah
perilaku, yaitu melaksanakan asi eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan
bayi. Goal atau hasil akhir yang diharapkan dari peran media komunikasi
facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia adalah meningkatnya angka ibu yang
menyusui secara eksklusif.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
37
F. HIPOTESA
Media komunikasi facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia berperan
secara positif terhadap persepsi ibu menyusui dalam melaksanakan
program ASI eksklusif.
G. DEFINISI KONSEPSIONAL DAN OPERASIONAL
1. Definisi Konsepsional
Singarimbun 22 menjelaskan bahwa definisi konsepsional merupakan
definisi yang dipakai oleh peneliti untuk menggambarkan secara abstrak
suatu
fenomena sosial
atau
alami. Studi pada penelitian ini berisi
kajian terhadap 2 variabel yaitu variabel independen (peran akun facebook
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) dan variabel dependen (persepsi ibu
menyusui). Secara konseptual dapat didefinisikan, sebagai berikut:
a. Variabel Independen (peran akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia)
Fadli dalam Kozier Barbara (2008) menyatakan peran adalah
seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap
seseorang / sesuatu sesuai kedudukannya dalam suatu sistem.
Sedangkan menurut King, peran merupakan
perilaku yang
diharapkan dari orang yang memiliki posisi dalam sistem sosial.
Peran adalah merujuk pada hal yang harus dijalankan seseorang di
dalam sebuah tim (Palan)
22
Singarimbun, Masri. (1989). Metode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
38
b. Variabel dependen (persepsi ibu menyusui).
Kimball Young23 menyatakan persepsi merupakan suatu yang
menunjukkan aktivitas, merasakan, menginterpretasikan
dan
memahami objek baik fisik maupun benda.
Gibson, dkk (1989) dalam buku Organisasi Dan Manajemen
Perilaku, Struktur; memberikan definisi persepsi adalah proses
kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsirkan dan
memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek).
Ibu menyusui adalah wanita yang sedang dalam proses menyusui.
Sedang pengertian menyusui itu sendiri adalah proses pemberian
susu kepada bayi atau anak kecil dengan air susu ibu (ASI) dari
payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk
mendapatkan dan menelan susu. Sedangkan asi eksklusif adalah air
susu ibu yang diberikan kepada bayi selama 6 bulan pertama
kehidupan bayi. Tidak ada asupan makanan atau minuman lain
yang diberikan kepada bayi selama masa ini (AIMI-ASI)
Berdasarkan pengertian diatas, maka definisi konsepsional dari
judul penelitian ini adalah sesuatu yang diharapkan orang-orang dari
jejaring sosial facebook milik AIMI ASI, terhadap pemahaman dan
penginterpretasian wanita yang sedang dalam proses menyusui, dalam
23
Adi,I.R, Op.Cit hlm.102
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
39
keberhasilannya untuk memberikan makanan berupa ASI saja kepada bayi
selama 6 bulan pertama kehidupan bayi.
2. Definisi Operasional
Definisi Operasional merupakan definisi yang sudah diturunkan derajatnya
dan telah disesuaikan dengan tempat dan waktu dimana peneliti
mengadakan penelitian. Definisi operasional berfungsi untuk mengukur
variabel yang menjadi fokus penelitian. Ada 2 variabel dalam penelitian
ini. Yaitu peran facebook yang merupakan variabel independen. Dan
persepsi ibu menyusui yang merupakan variabel dependen. Masingmasing variabel diukur dengan sejumlah pernyataan (kalimat positif), yang
kemudian responden akan diminta untuk menjawab dengan skala likert
untuk menunjukkan persetujuannya atau tidak atas pernyataan yang
diajukan tersebut. Adapun item pernyataan atau indikator untuk mengukur
yaitu:
a. Variabel independen (peranakun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia), diukur melalui 3 pointer yaitu frekwensi, perhatian,
durasi.
Ketiga
pointer
tersebut
akan
diturunkan
melalui
pernyataan-pernyataan berikut ini
-
Responden
mengikuti
akun
facebook
Asosiasi
Ibu
Menyusui Indonesia sejak kapan. Dengan pillihan jawaban
khusus yaitu 5 = sebelum hamil ; 4 = ketika hamil ; 2 =
sesudah melahirkan ; 1 = masa asi eksklusif akan berakhir
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
40
-
Responden sering mengunjungi akun facebook Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia,
-
Responden sengaja meluangkan waktu beberapa lama
untuk mengunjungi akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia,
-
Responden antusias dalam menggali informasi yang
terdapat dalam akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia,
-
Responden
membuka
akun
facebook
Asosiasi
Ibu
Menyusui Indonesia tidak sambil melakukan aktifitas lain,
-
Responden memahami isi pesan yang terdapat dalam akun
facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia,
-
Responden setuju bahwa akun facebook Asosiasi Ibu
Menyusui
Indonesia
sudah
memenuhi
pengharapan
responden dalam pemenuhan informasi tentang pemberian
asi, dukungan asi eksklusif bagi bayi, juga dalam perannya
dalam mengedukasi,
-
Responden
setuju
anggapan
adanya
pertambahan
pengetahuan dan perbedaan pandangan responden terhadap
asi eksklusif setelah mengikuti akun facebook Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
41
-
Responden menyadari bahwa mengikuti akun facebook
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia turut berperan dalam
keberhasilan dalam melaksanakan program asi eksklusif.
b. Variabel dependen (persepsi ibu menyusui) diukur melalui 3
pointer yaitu tahu (menyangkut pengetahuan responden tentang
AIMI, akun facebook AIMI, definisi asi, asi eksklusif adalah
penting), aktif (menyangkut keakfifan responden mengunjungi
akun facebook AIMI), dan mendapat informasi (menyangkut
informasi tentang menyusui, tentang program asi eksklusif). Yang
mana ketiga pointer tersebut akan dikonstruksikan melalui
pernyataan-pernyataan sebagai berikut :
-
Responden tahu apakah itu Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia (AIMI ASI),
-
Responden tahu tentang akun facebook Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia,
-
Responden aktif mengikuti akun facebook Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia,
-
Dari akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia
responden mendapat informasi seputar menyusui,
-
Akun facebook Asosiasi Indonesia menyediakan informasi
yang responden butuhkan terkait program asi eksklusif,
-
Responden tahu mengenai definisi asi eksklusif,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
42
-
Responden menjawab pernyataan bahwa pengertian asi
eksklusif adalah memberi asupan makanan pada bayi cukup
hanya dengan air susu ibu (ASI) selama 6 bulan pertama
kehidupan bayi,
-
Responden menganggap bahwa asi ekslusif adalah penting.
H. METODOLOGI PENELITIAN
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian ini adalah penelitian penjelasan atau explanatory research
yang menurut Masri Singarimbun adalah penelitian yang menyoroti hubungan
antara variabel-variabel penelitian dan mengkaji hipotesa yang telah dirumuskan
sebelumnya. Oleh karena itu dinamakan juga dengan penelitian pengujian
hipotesa atau testing research. Walaupun uraiannya juga mengandung deskripsi,
tetapi sebagai penelitian relasional fokusnya terletak pada penjelasan hubunganhubungan antar-variabel.
2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode
survei, yaitu penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan
menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpul data yang pokok.
3. Populasi dan Sampel Penelitian
Masih menurut Singarimbun, yang dimaksud populasi atau universe
adalah jumlah keseluruhan dari unit analisa yang ciri-cirinya akan diduga.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
43
Populasi dalam penelitian ini adalah para ibu menyusui itu sendiri, yang
mengikuti akun facebook AIMI-ASI, yang berhasil dalam pelaksanaan program
ASI eksklusifnya.
Persoalan mengenai batasan populasi kemudian muncul ketika peneliti
menyadari bahwa banyaknya akun facebook yang meng-add akun Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia, yaitu mencapai angka ribuan, sementara tidak bisa
dipastikan apakah semua akun tersebut masih aktif dan menyatakan bersedia
untuk menjadi responden. Tidak bisa dipastikan pula bahwa semua akun tersebut
adalah ibu menyusui, karena bisa jadi para pemilik akun yang bukan merupakan
ibu menyusui pun ikut mengikuti akun facebook Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia. Apalagi akun facebook milik AIMI tersebut bebas sifatnya bebas, atau
semua bisa meng-add dan semua bisa membaca postingan yang ada.
Tidak bisa dipastikan pula bahwa jumlah total pengikut akun facebook
AIMI tersebut kesemuanya adalah ibu menyusui yang melaksanakan program ASI
eksklusif. Karena itu, peneliti kemudian mengemukakan batasan-batasan dalam
penentuan populasi. Adapun ciri-ciri yang diakui sebagai populasi adalah:
1. Merupakan ibu menyusui
2. Meng-add akun facebook milik AIMI yaitu Asosiasi Ibu Menyusui
Indonesia
3. Berhasil melaksanakan program asi eksklusif
4. Akun facebooknya masih aktif sehingga bisa dihubungi
5. Menyatakan bersedia menjadi responden
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
44
Berdasar batasan populasi diatas maka jumlahnya diperkirakan sebanyak
300 akun. Jumlah ini memang jauh lebih sedikit daripada jumlah para pengikut
akun AIMI itu sendiri. Angka 300 ini didapatkan dari batasan populasi yang telah
ditetapkan oleh peneliti. Yaitu yang merupakan ibu menyusui, melaksanakan asi
eksklusif, menjadi pengikut akun AIMI, akun facebooknya aktif dan menyatakan
bersedia menjadi responden.
Dalam
bukunya, Jalaluddin Rakhmat (1999) menyatakan sampel
merupakan bagian dari populasi yang menjadi obyek penelitian. Untuk
menghitung ukuran sampel, besarnya sampel didasarkan pada pendugaan proporsi
populasi yang secara sederhana dikenal dengan rumus Yamane sebagai berikut:
n=
N
Nd 2 1
n : Jumlah sampel
N : Populasi
d : Derajat presisi (perkiraan kesalahan dalam pengambilan sampel)
1 : Bilangan konstan
Populasi ibu yang berhasil menyusui secara eksklusif yang mengikuti akun
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia ini, akun facebook nya masih aktif sehingga
bisa dihubungi, dan memastikan diri sanggup menjadi responden yaitu
diperkirakan sebanyak 300 orang dengan presisinya sebesar 10% dan tingkat
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
45
kepercayaan 90%. Sehingga hasil yang didapat dengan rumus tersebut adalah
sebagai berikut :
300
n=
300(0.1²)+1
n = 75
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah random sampling atau penarikan sampel secara acak. Di dalam sampel
acak setiap anggota populasi memiliki kemungkinan yang sama untuk menjadi
anggota sampel. Kemungkinan untuk menjadi anggota sampel berlaku bagi
semua
individu-individu
terlepas
dari
persamaan-persamaan
maupun
perbedaan-perbedaan diantara mereka sepanjang mereka itu menjadi anggota
populasi.
4. Jenis Data
Dalam penelitian ini ada dua jenis data yang digunakan peneliti, yaitu :
Data primer adalah data yang diperoleh peneliti langsung dari responden,
salah satunya dengan menyebarkan angket kuesioner yang telah disusun
terlebih dahulu.
Data sekunder adalah data yang diperoleh tidak langsung atau dengan cara
mengutip dari sumber lainnya guna melengkapi data primer.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
46
5. Tehnik Pengumpulan Data
Untuk pengumpulan data, dalam penelitian ini digunakan teknik:
Kuesioner, yaitu dengan cara menyebarkan angket secara langsung kepada
responden.
Interview, yaitu wawancara dengan berbagai pihak untuk memperoleh dan
melengkapi data yang belum terungkap.
Kepustakaan,
merupakan
data
tambahan
yang
digunakan
untuk
melengkapi data primer melalui literatur.
6. Teknik Analisis Data
Pengujian validitas dilakukan baik secara konvensional maupun
secara statistik dengan menggunakan bantuan software ANSOFT1.Yaitu
aplikasi pengolah data serupa SPSS yang merupakan karya mahasiswa
Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang mana aplikasi ini telah diujicoba,
diteliti, divalidasi, dan dipublikasikan secara nasional. Validitas instrumen
tes tertulis dapat ditentukan dengan menggunakan rumus korelasi. Rumus
korelasi yang dapat digunakan adalah yang dikemukakan oleh Pearson, yang
dikenal dengan rumus korelasional Product Moment sebagai berikut.
rxy
2
2
2
commit to user
2
)
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
47
Keterangan:
Harga rxy
= indeks korelasi antara dua variabel yang dikorelasikan
X
= skor item no X
Y
= skor total
Untuk menafsirkan validitas, digunakan acuan sebagai berikut.
TABEL II
Tabel Interpretasi Nilai r (Korelasi)
Besarnya nilai r
Tafsiran
0,80
1,00
Sangat tinggi
0,60
0,79
Tinggi
0,40
0,59
Cukup
0,20
0,39
Rendah
0,00
0,19
Sangat rendah (tak berkorelasi)
(Sumber: Sukiman, 2012)
Karena penelitian ini merupakan studi korelasi, maka tes statistik
yang dianggap sesuai untuk menguji hubungan antar variabel yang diteliti
adalah dengan Tata Jenjang Spearman. Rumus ini digunakan untuk
mengetahui koefisien korelasi atau derajat kekuatan hubungan dan
membuktikan hipotesis hubungan antara variabel. Adapun rumusnya
sebagai berikut :
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
48
X2
rS =
Y2
2
d2
X 2.
Y2
Keterangan :
rs : koefisien korelasi variabel X dan Y
d2 : kuadrat kembar pada variabel Y
: angka konstanta
Sebelum mencari r s dicari dulu kuadrat jumlah ranking yang sama
(nilai kembar) dari masing-masing variabel.
X2
=n
3
n _ Tx
12
Y2
=n
3
n _ Ty
12
Sedangkan untuk mencari Tx dan Ty (jenjang kembar pada
variabel x dan y) adalah:
Tx
= tx3
tx
12
Ty
= ty3
ty
12
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
49
Keterangan :
n
: jumlah sampel
Tx
: jumlah jenjang kembar pada variabel x
Ty
: jumlah jenjang kembar pada variabel y
t
: harga kembar
12
: bilangan konstanta
Kemudian untuk mencari taraf signifikasi digunakan rumus
sebagai berikut :
t=
n 2
1 rS 2
Keterangan :
t
= Harga kritik yang dicari
rs
= Koefisien korelasi Spearman
n
= Jumlah sampel
1&2
= Bilangan konstan
rs2
= Kuadrat koefisien korelasi yang dicari
Selanjutnya untuk mengetahui ada atau tidaknya signifikansi antara
variabel independen dan dependen, maka hasil t dikonsultasikan pada tabel
kritik t dengan memperhatikan derajat kebebasan (Db) pada batas
kepercayaan 90% dan atau pada taraf signifikan 10 %. Jika hasil (t) lebih
besar dari nilai kritiknya, maka hipotesa dapat diterima.
commit to user
Download