JPPK Nomor 2 Halaman 77-144 Malang Agustus 2015 ISSN 0215

advertisement
Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
Anata Ikrommullah (SMA Negeri 1 Lumajang)
Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
Daya Negri Wijaya (Universitas Negeri Malang)
Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
Eri Hendro Kusuma (Universitas Kahuripan Kediri)
Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional
Margono (Universitas Negeri Malang)
Memahami Indonesia Melalui Prespektif Nasionalisme, Politik Identitas, serta Solidaritas
Mifdal Zusron Alfaqi (Universitas Gadjah Mada)
Analisis Pelaksanaan Desentralisasi dalam Otonomi Daerah Kota/Kabupaten
Muhammad Mujtaba Habibi (Universitas Negeri Malang)
Analisis Kinerja Relawan Demokrasi dalam Pemilihan Umum Legislatif
di Kota Banda Aceh
Nopri Hariadi, Amirullah, Ruslan (Universitas Syiah Kuala)
Urgensitas Ombudsman dalam Pengawasan Pelayanan Publik
Nurul Laili Fadhilah (Universitas Jember)
Penerapan Metide Debat Guna Mengembangkan Sikap Kritis dan Keterampilan
Berargumentasi Mahasiswa
Petir Pudjantoro (Universitas Negeri Malang)
JPPK
Nomor 2
Halaman
77-144
Malang
Agustus 2015
ISSN 0215-9902
JURNAL
PENDIDIKAN PANCASILA
DAN
KEWARGANEGARAAN
ISSN 0215-9902
Tahun 28, Nomor 2 Agustus 2015
Terbit dua kali setahun, bulan Pebruari dan Agustus, ISSN 0215-9902 berisi tulisan ilmiah
tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berupa artikel hasil penelitian, kajian
teori, dan penerapanya. Artikel-artikel dalam bahasa Indonesia atau bahasa asing.
Ketua Penyuting
Siti Awaliyah
Anggota Penyunting
Sri Untari
A. Rosyid Al Atok
Nuruddin Hady
Rani Prita Prabawangi
Pelaksana Tata Usaha
Desinta Dwi Rapita
Sudirman
Muhammad Mujtaba Habibi
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan oleh jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang bekerjasama dengan Asosiasi Profesi Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia (AP3KNI).
Alamat Penyuting dan Tata Usaha: Laboraturium HKn, FIS, Universitas Negeri Malang Jl.
Semarang 5 Malang gedung I-1 Tlp.(0341) 551-312 (4 saluran), Pesawat 287 Fax.(0341) 566962. Langganan 2 nomor setahun Rp. 80.000,- Uang langganan dapat dikirim melalui wesel
pos ke alamat tata usaha.
Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan diterbitkan dalam Laboratorium Jurusan
HKn FIS Universitas Negeri Malang. Dekan: Sumarmi, Ketua Jurusan: Suparlan Al Hakim.
Sekretaris Jurusan: Margono. Kepala Laboratorium: Nur Wahyu Rochmadi. Terbit pertama
kali pada tahun 1988 dengan judul CIVICUS.
Penyuting menerima tulisan yang belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain. Naskah
diketik dengan spasi rangkap pada kertas kwarto, panjang 10-20 halaman sebanyak 2 eksemplar
(selanjutnya silahkan membaca petunjuk bagi penulis pada sampul dalam belakang). Naskah yang
masuk dievaluasi oleh Penyunting ahli/peninjau ahli. Penyuting dapat melakukan perubahan pada
tulisan yang dimuat untuk keseragaman format, tanpa mengubah maksud dan isinya.
Berkala ini diterbitkan di bawah tim pengembangan Jurnal dan berkala Universitas Negeri
Malang. Pembina: Ach. Rofi’udin (Rektor), Ketua: Ali Saukah, Anggota: Suhadi Ibnu, Amat
Mukhadis, M. Guntur, Waseso, Margono.
JURNAL
PENDIDIKAN PANCASILA
DAN
KEWARGANEGARAAN
ISSN 0215-9902
Tahun 28, Nomor 2, Agustus 2015
DAFTAR ISI
Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
Anata Ikrommullah (SMA Negeri 1 Lumajang)
77-87
Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
Daya Negri Wijaya (Universitas Negeri Malang)
88-95
Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
Eri Hendro Kusuma (Universitas Kahuripan Kediri)
96-104
Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional
Margono (Universitas Negeri Malang)
105-110
Memahami Indonesia Melalui Perspektif Nasionalisme, Politik Identitas,
serta Solidaritas
Mifdal Zusron Alfaqi (Universitas Gadjah Mada)
111-116
Analisis Pelaksanaan Desentralisasi dalam Otonomi Daerah Kota/Kabupaten
Muhammad Mujtaba Habibi (Universitas Negeri Malang)
117-124
Analisis Kinerja Relawan Demokrasi dalam Pemilihan Umum Legislatif
di Kota Banda Aceh
Nopri Hariadi, Amirullah, Ruslan (Universitas Syiah Kuala)
125-129
Urgensitas Ombudsman dalam Pengawasan Pelayanan Publik
Nurul Laili Fadhilah (Universitas Jember)
130-136
Penerapan Metode Debat Guna Mengembangkan Sikap Kritis dan Keterampilan
Berargumentasi Mahasiswa
Petir Pudjantoro (Universitas Negeri Malang)
137-144
TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL SANTRI MAHASISWA
MENURUT LAWRENCE KOHLBERG
Anata Ikrommullah
SMA Negeri 1 Lumajang
Jl. Jendral A. Yani No. 7 Lumajang
email:[email protected]
Abstrak: this research was conducted with the aim to describe: (1) the stages of moral development
of students grade students Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, (2) the analysis of the stages of
moral development of santri mahasiswa Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang.In this descriptive
study, researchers sought to describe how the results of the stages of moral development santri
mahasiswa of class IV. Through this type of research data that has been collected in the form of the
results of the questionnaire moral dilemmas (DIT) Jamest Rest systematically arranged, accurate and
factual.Research findings indicate that (1) the highest level of students are students in Law And
Order level of 62.5%, (2) as much as 22.2% in stage Nice Girl and Good Boy, (3) the third largest stages
are stages Social Contract which amounted to 12.5%, (4) Stages of Jamest Rest which serves as an
internal check that Meaningless much as 2.5%.
Keywords: stages of moral development, santri mahasiswa, Lawrence Kohlberg.
Abstrak: tujuan penelitian adalah: (1) mendeskripsikan langkah perkembangan moral santri pesantren
mahasiswa Al-Hikam Malang, (2) analisis tingkat perkembangan moral santri mahasiswa pesantren
Al-Hikam Malang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, peneliti mendeskripsikan hasil tahap
perkembangan moral santri mahasiswa tingkat IV. Penelitian menggunakan data yang dikumpulkan
melalui kuesioner dilema moral (DIT) yang dikemukakan James Rest yang akurat dan faktual. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa: (1) level tertinggi adalah law and order yaitu sebesar 62,5%, (2)
sebanyak 22.2% berada pada tahapan nice girl and nice boy, (3) tahap ketiga terluas adalah tahap
social contract yang berjumlah 12.5%, (3) pentahapan James Rest pada tahap cek internal meaningless sebanyak 2.5%.
Kata kunci: tahap perkembangan moral, santri mahasiswa, Lawrence Kohlberg
Tak bisa dipungkiri agama memiliki hubungan yang
erat dengan moral, dalam kehidupan sehari-hari
seringkali motivasi kita yang terpenting terkait
moral yakni agama (Bertens,1993:37). Dengan
demikian maka lembaga pesantren yang
merupakan lembaga pendidikan keagamaan tentu
saja juga mempunyai hubungan yang erat dengan
pendidikan moral. Pesantren memberikan porsi
yang lebih kepada para peserta didiknya dalam
mempelajari moral, Adapun moral itu sendiri
menjadi sesuatu yang benar-benar ada dan tak
bisa dipungkiri di kehidupan kita. Dalam menjalani
kehidupan, moral menjadi semacam rambu atau
aturan yang berfungsi untuk mengontrol dan
mengarahkan perjalanan seluruh umat manusia
untuk mencapai tujuannya. Moral berkaitan
dengan kemampuan untuk membedakan antara
perbuatan yang benar dan salah, maka moral
merupakan kendali dengan tingkah laku.
Menurut Purwadarminto dalam (Anshoriy,
2008: 29) moral adalah ajaran tentang baik buruk
perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan
sebagainya. Sehingga menurut Purwadarminto
definisi paling dasar dari moral adalah suatu ajaran
tentang baik dan buruk yang kemudian akan
menjadi dasar pengambilan keputusan bagi
tindakan manusia. Ajaran tentang moral diajarkan
kepada seluruh umat manusia tanpa peduli tentang
umur, jenis kelamin, agama,dan etnis. Ajaran moral
secara sama menyentuh semua lapisan
masyarakat dan jika ada yang berbeda mungkin
hanya frekuensi pengajarannya.Salah satu
77
78 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
lembaga pengajaran formal yang secara intens
memberikan penekanan terhadap pengajaran
moral yaitu pesantren, pesantren selalu
memberikan nilai porsi yang tinggi terhadap
pengajaran moral hal ini disebabkan oleh identiknya
moral dengan akhlak dalam lingkup pengertian
pesantren, hal ini berbeda dengan akal yang
berhubungan dengan kecerdasan dan pengertian,
moral atau akhlak dalam lingkup pengertian
pesantren yaitu suatu kata kerja yang berbentuk
suatu perilaku atau tindakan baik maupun sopan
santun dll.
Namun dalam perkembanganya terdapat
banyak hambatan yang ditemukan dalam
pengajaran moral tersebut salah satunya yaitu
tentang definisi maupun ukuran dari moral itu
sendiri. Untuk mengetahui tingkatan moral
seseorang selalu diperlukan suatu alat ukur yang
sesuai guna mengukur moral orang tersebut, dan
jenis alat ukur tersebut tentunya haruslah
berhubungan dengan definisi moral yang dipahami
oleh si pengukur. Maka jika lembaga pesantren
ingin mengetahui tingkatan moral seseorang
dengan pengertian moral mereka yakni moral
sebagai suatu bentuk tindakan atau perilaku
pastilah sulit untuk dapat menemukan alat ukur
yang sesuai. Hal ini dikarenakan perilaku
seseorang sangat luas dan sulit dikategorikan dan
dirumuskan sehingga sangatlah sulit untuk
menyimpulkan suatu perilaku seseorang.
Di samping itu perilaku moral yang dipahami
oleh pesantren yakni suatu perilaku yang baik
disertai motif yang baik juga, dan apabila suatu
perilaku dapat dikatakan baik akan tetapi memiliki
motif yang buruk dan manipulatif tentu perilaku
tersebut dalam pemahaman pesantren dapat
dikategorikan sebagai perilaku yang buruk,
berangkat dari sinilah timbul permasalahan yang
lain yakni suatu tindakan moral yang ditentukan
oleh motif.
Perilaku moral yang ditentukan oleh motif
merupakan suatu hal yang tidak bisa diukur,
dikarenakan motif merupakan sesuatu yang
bersifat sangat pribadi ataupun internal. Berawal
dari sinilah timbul berbagai macam problem dan
permasalahan dalam mengukur moral santri
khususnya di lingkungan pesantren, sehingga problem tersebut terus menerus berlanjut tanpa ada
penyelesaian yang sesuai, dan hal ini membuat
pesantren tidak mempunya data acuan yang jelas
mengenai moral dari peserta didiknya, yang
kemudian membuat pesantren lemah dalam
memonitor peserta didiknya dalam perilaku moral
mereka. Jika lemahnya control pesantren terhadap
peserta didiknya dikarenakan kurangnya data
tentang tingkatan moral peserta didiknya maka
dengan kurangnya data tersebut tentu juga
membuat tidak jelasnya evaluasi hasil pengajaran
moral yang dilangsungkan oleh pesantren tersebut,
Hasil output dari sistem pengajaran moral di
pesantren dipertanyakan dikarenakan tidak adanya
data yang jelas terkait hasil pengajaran moral
tersebut.
Jika masalah tersebut diselidiki lebih
mendalam sebernarnya akar permasalahannya
terletak dalam perbedaan definisi tingkat
keberhasilan dari pengajaran moral yang dianut
oleh pesantren. Selama tingkat keberhasilan
pengajaran moral didefinisikan dengan tindakan
peserta didik yang baik disertai motif yang baik
maka dapat dipastikan akan terjadi kesulitan dalam
mengukur tingkatan moral tersebut, akan tetapi
jika pesantren memang ingin mengukur tingkatan
moral peserta didiknya, sebenarnya hal tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan 3 jenis alat
ukur tahapan moral dari peserta didik atau individu.
Alat ukur tersebut adalah Teori psikoanalisa,
kognitif dan social learning.
Ketiga alat ukur tersebut memiliki corak
penekanan yang berbeda dalam mendefinisikan
moral, Psikoanalisa misalnya menekankan tindakan
moral terjadi berdasarkan dorongan-dorongan
psikoseksual yang bersifat irrasional. Sigmund
Freud telah dianggap sebagai orang pertama yang
mampu menunjukkan secara sistematis dorongandorongan psikoseksual yang irrasional sebagai
faktor utama yang menentukan terjadinya
keputusan-keputusan moral (Cheepy,1986: 36).
Akan tetapi masih akan terdapat kesulitan yang
besar jika psikoanalisa ini dijadikan acuan untuk
menganalisa tahapan moral seseorang dikarenakan teori psikoanalisa Freud dalam banyak hal
menggunakan konstruk emosi dan motivasi yang
dalam metode penelitiannya kurang terperinci dan
penjabaran akan 3 tahapan moral (id,ego,super
ego) cenderung sangat luas dan sangatlah sulit
untuk didefinisikan secara khusus.
Pendekatan kedua ialah pendekatan Reinforcement atau Social learning lebih menekankan kepada hal-hal lain diluar variable-variable
yang terkait dalam perkembangan moral, pada
umumnya mereka lebih tertarik untuk mengkaji
aspek-aspek yang spesifik dari tingkah laku moral
secara langsung, Para peneliti seperti Bandura dan
Ikrommullah, Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
Walters atau Aron Freed telah mencoba
menentukan tipe-tipe lingkungan yang bisa
menyebabkan adanya perbedaan dalam perubahan
tingkah laku (Cheepy, 1986: 26).
Sehingga penekanan pendekatan social
learning terletak pada lingkungan sosial dari
individu sendiri, Akan tetapi jika pendekatan ini
diterapkan dalam pesantren maka yang terjadi
adalah hasil pengukuran moral seluruh peserta
didik adalah baik, hal ini dikarenakan pesantren
merupakan lingkungan yang baik dan berbasis
moral, sehingga tidaklah tepat jika pendekatan
social learning ini dijadikan alat ukur tahapan moral
peserta didik di pesantren.
Dan yang terakhir ialah pendekatan
perkembangan moral melalui teori kognitif
sebagaimana yang dikembangkan oleh Jean Piaget
dan Lawrence Kohlberg. Berbeda dengan
psikoanalisa dan social learning, pendekatan
kognitif ini lebih menekankan pada aspek kognisi,
sehingga mengesampingkan peran emosi dan
lingkungan dalam perkembangan moral suatu
individu, pendekatan kognitif ini sangat cocok
diterapkan dilingkungan pesantren yang notabene
sebagai lembaga pendidikan dikarenakan
pendekatan kognitif memiliki format yang
terperinci dalam penelitiannya dan tahapan moral
yang dibuat oleh Kohlberg yang berjumlah 6
tahapan perkembangan moral sangatlah rinci dan
khusus sehingga akan memudahkan bagi para
tenaga pengajar di pesantren untuk memetakan
tahapan atau tingkatan moral para peserta
dididknya yang kemudian akan membuat pesantren
tetap memiliki control terhadap moral peserta
didiknya dan dapat juga dapat menjadi data awal
tentang evaluasi tingkat keberhasilan pengajaran
moral di pesantren.
Teori Perkembangan Moral Kognitif
Berawal dari Piaget (1932) adalah peneliti
pertama yang mempublikasikan konsep
perkembangan moral (moral development) dalam
monografnya, The Moral Judgment of a Child.
Dalam perkembangannya menurut Kohlberg
(dalam id.wikipedia.org) teori perkembangan
moral berubah atau berkembang menjadi teori
perkembangan moral kognitif (cognitive moral
development–CMD) modern yang dilahirkan oleh
seorang peneliti berkebangsaan Amerika yang
bernama Lawrence Kohlberg pada tahun1950an.
Penemuan tersebut merupakan hasil dari turunan
ide dan gagasan Piaget yang tentunya telah
79
mengalami perluasan dan perluasan tersebut
mampu mencangkup remaja hingga orang dewasa.
Dalam seluruh karyanya Kohlberg mengakui
ketergantungannya kepada psikolog Swiss, Jean
Piaget (1896-1980). Sepanjang karirnya sebagai
Psikolog, Piaget mempelajari perkembangan
pengetahuan manusia, yang disebutnya
“Epistemologi Genetis” (Bertens,1993:84).
Teori perkembangan moral berusaha untuk
menjelaskan kerangka yang mendasari pengambilan keputusan individu dalam konteks dilema
etika. Tujuan teori ini adalah memahami proses
penalaran kognitif seorang individu dalam
mengatasi dilema etika, bukan untuk menilai benar
atau salah. Kohlberg bermaksud untuk
menemukan secara empiris bagaimana orang-orang memperoleh moralitasnya dan diyakini cara
terbaik melakukannya adalah dengan menguji
bagaimana orang-orang mengatasi masalahnya.
Metode Kohlberg adalah sebagai berikut, ia
(bersama para pembantunya) mengemukakan
sejumlah dilema moral khayalan kepada subjeksubjek penelitian. “Khayalan” dalam arti : kasuskasus itu tidaklah terjadi secara kongkret , tetapi
pada prinsipnya bisa terjadi. Untuk dilema-dilema
itu tidak tersedia pemecahan dalam lingkungan
anak-anak itu, sehingga mereka harus mencari
pemecahan sendiri. Jadi tidak mungkin mereka
melaporkan saja apa yang mereka saksikan di
sekitarnya, mereka harus menyampaikan
keputusan moral mereka sendiri (Bertens,
1993:85).
Oleh karena itu, Kohlberg memberikan cerita
kepada orang-orang yang memiliki umur berbeda
dan budaya yang menempatkan seseorang dalam
posisi dan situasi tertentu dikonfrontasi dengan
masalah moral standar tertentu. Kohlberg
kemudian menanyai orang-orang ini bagaimana
mereka akan mengatasi masalah ini dan
memberikan alasan atas solusinya. Pertanyaan
pertama menyangkut isi keputusan moral,
sedangkan kedua menyangkut struktur dan
bentuknya. Bisa saja bahwa dua subjek yang
dihadapkan dengan suatu dilema moral mereka
mungkin saja menjawab sama akan pertanyaan
pertama, akan tetapi memiliki jawaban yang
berbeda terhadap pertanyaan ke dua (Bertens
,1993 :85). Temuannya yang paling mengejutkan
adalah bahwa untuk mengatasi masalah-masalah
yang disajikan, orang-orang menggunakan tiga
pola, metode atau sistem yang jelas yang
disebutnya sebagai struktur, tiap struktur dapat
80 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
dibagi ke dalam dua sub struktur yang berbeda
dan ketiga (keenam) struktur ini dapat
dikarakterisasi sebagai tiga tingkat (level) atau
enam tahap (stages), yang dapat disamakan
dengan tiga tingkat (enam tahap) perkembangan
kedewasaan moral individu atau masyarakat.
Terdapat tiga aspek yang membedakan pertimbangan etis dengan semua proses mental lainnya.
Aspek-aspek tersebut adalah : (1) kognisi (cognition) berdasarkan pada nilai dan bukan pada
fakta yang tidak nyata, (2) penilaian didasarkan
atas beberapa isu yang melibatkan diri sendiri dan
orang lain, dan (3) penilaian disusun sekitar isu
“seharusnya” daripada berdasarkan kesukaan
biasa atau urutan pilihan. Kohlberg menekankan
bahwa perkembangan moral individu didasarkan
pada penalaran moral dan perkembangannya
secara bertahap.
Kesimpulan tersebut Kohlberg dapatkan
setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik
dengan anak-anak. Dalam wawancara, anak-anak
diberi serangkaian cerita di mana tokoh-tokohnya
menghadapi dilema-dilema moral. Setelah
membaca cerita, anak-anak yang menjadi
responden menjawab serangkaian pertanyaan
tentang dilema moral. Berdasarkan penalaranpenalaran yang diberikan oleh responden dalam
merespons dilema moral, Kohlberg percaya
terdapat tiga tingkat perkembangan moral, yang
setiap tingkatnya ditandai oleh dua tahap, konsep
kunci untuk memahami perkembangan moral.
Kohlberg menyatakan bahwa proses
perkembangan penalaran moral merupakan
sebuah proses alih peran, yaitu proses
perkembangan yang menuju ke arah struktur yang
lebih komprehensif, lebih terdiferensiasi dan lebih
seimbang dibandingkan dengan struktur
sebelumnya. Melihat pentingnya perkembangan
penalaran moral dalam kehidupan manusia, maka
berbagai penelitian psikologi di bidang ini dilakukan.
Lawrence Kohlberg, memperluas penelitian Piaget
tentang penalaran aturan konvensi sosial, menjadi
tiga tingkat penalaran moral yang terdiri dari
prakonvensional, konvensional, dan pasca
konvensional. Kohlberg menemukan bahwa
perkembangan moral seorang anak berlangsung
menurut enam tahap atau fase. Akan tetapi
tidaklah setiap anak mengalami perkembangan
yang cepat, sehingga tahap-tahapan ini tidak
dengan pasti untuk dikaitkan dengan umur-umur
tertentu, bisa jadi seorang anak akan mengalami
fiksasi dalam suatu tahap dan tidak akan
berkembang lagi (Bertens,1993: 85).
Dari hasil penelitian Kohlberg mengemukakan enam tahapan perkembangan moral yang
berlangsung secara universal dan dalam urutan
tertentu (Sunarto, 2008: 172), Tahap-tahap
perkembangan penalaran moral dibagi menjadi 3
tingkat, yang terdiri dari prakonvensional,
konvensional, dan pascakonvensional. Tiga tingkat
tersebut kemudian dibagi atas enam tahap).
Tingkat Prakonvensional
Dimana Pada tingkat yang pertama ini
seorang individu akan sangat responsif terhadap
norma-norma budaya ataupun simbol-simbol
kebudayaan lainnya, seperti halnya yang berkaitan
dengan baik, buruk, benar, salah dan lain
sebagainya. Walupun demikian biasanya individu
akan mempresentasikan norma-norma tersebut
sesuai konsekuensi atau hasil akhir dari
tindakannya hal ini dapat berupa hukuman dan
berbagai balasan lainnya. Selain daripada itu pada
tahap ini individu juga cenderung untuk
menginterpretasikan norma-norma tersebut
berdasarkan kekuatan fisik dari mereka yang
menerapkan norma tersebut. Sehingga dapat
dikatakan dalam kondisi ini berlaku prinsip “Might
means right” ( Cheppy,1986:38)
Dalam tingkat pra konvensional ini terdapat 2
tahapan, yaitu Orientasi hukuman kepatuhan dan
Orientasi relativis instrumental. Tahap pertama
Orientasi hukuman dan kepatuhan, yang pada
umumnya pada tahap ini Akibat-akibat fisik suatu
perbuatan menentukan baik buruknya, tanpa
menghiraukan arti dan nilai manusiawi dari akibat
tersebut. Anak hanya semata-mata menghindarkan hukuman dan tunduk pada kekuasaan tanpa
mempersoalkannya. Dinilai sebagai hal yang
bernilai dalam dirinya sendiri dan bukan karena
rasa hormat terhadap tatanan moral yang
melandasi dan yang didukung oleh hukuman dan
otoritas, segala keputusan dari otoritas dipandang
sebagai refleksi dari tertib moral. Sehingga kalimat
yang paling pas untuk mencerminkan tindakan ini
adalah “You do what you’re told” (Rest,1979:24).
Tahap kedua adalah Orientasi relativis-instrumental. Dalam tahapan ini tindakan yang
benar dibatasi sebagai tindakan yang mampu
mempu memberikan berbagai macam kepuasan
kepada diri sendiri (Cheppy,1986:38) sehingga
tidaklah mengherankan jika tahapan ini juga biasa
disebut Hedonistic Orientation. Perbuatan yang
benar adalah perbuatan yang merupakan cara
atau alat untuk memuaskan kebutuhannya sendiri
dan kadang- kadang juga kebutuhan orang lain.
Ikrommullah, Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
Hubungan antar manusia dipandang seperti
hubungan di pasar dimana unsur-unsur terusterang dan rasa timbal balik memiliki kedudukan
yang penting. Terdapat elemen kewajaran tindakan yang bersifat resiprositas dan pembagian sama
rata, tetapi ditafsirkan secara fisik dan pragmatis.
Resiprositas ini merupakan hal “Jika engkau
menggaruk punggungku, nanti aku juga akan
menggaruk punggungmu”, dan bukan karena
loyalitas, rasa terima kasih atau keadilan.Tahapan
ini dapat dicerminkan melalui kalimat “Let’s make
a deal” (Rest,1979 :26) atau orientasi pada
tahapan ini dapat pula dimengerti dengan
ungkapan “You Scratch my back and i’ll scratch
yours” (Cheppy,1986:38).
Tingkat Konvensional
Individu pada tingkat konvensional
menemukan pemikiran-pemikiran moral pada
masyarakat. Pada tingkat ini seseorang menyadari dirinya sebagai seorang individu ditengahtengah keluarga, masyarakat dan bangsanya.
Keluarga, masyarakat, bangsa dinilai memiliki
kebenarannya sendiri, karena jika menyimpang dari
kelompok ini akan terisolasi. Tindakan-tindakan
tersebut dilakukan seseorang tanpa harus terikat
dengan akibat-akibat yang mungkin muncul, baik
dalam jangka pendek ataupun jangka panjang.
Sikap seseorang bukanlah satu-satunya yang
harus disesuaikan dengan harapan-harapan pribadi
dan tertib sosial yang berlaku, akan tetapi hal yang
sama dituntut pula dari loyalitas seseorang
(Cheppy,1986:39)
Oleh karena itu, kecenderungan individu pada
tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturanaturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya
terhadap kelompok sosialnya. Kalau pada tingakat
prakonvensional perasaan dominan adalah takut,
pada tingkat ini perasaan dominan adalah malu.
Biasanya tingkat ini berkisar usia 10 sampai 13
tahun. Tingkat ini mempunyai dua tahap yakni
tahap Orientasi “Anak Manis” dan tahap
Orientasi hukum dan ketertiban.
Tahap pertama dalam tingkatan ialah
Orientasi kesepakatan antara pribadi/ orientasi
“Anak Manis” dimana perilaku yang baik adalah
yang menyenangkan dan membantu orang lain
serta yang disetujui oleh anak. Terdapat banyak
konformitas terhadap gambaran stereotip
mengenai apa itu perilaku mayoritas atau
“alamiah”. Perilaku sering dinilai menurut niatnya,
ungkapan “dia bermaksud baik” untuk pertama
81
kalinya menjadi penting. Dalam tingkatan ini yang
dimaksud dengan tindakan ataupun prilaku bermoral
adalah setiap prilaku ataupun tindakan yang dapat
diterima dan diakui oleh orang lain
(Cheppy,1986:40). Orang mendapatkan persetujuan
dengan menjadi “baik”tergantung penilaian dari
teman, keluarga dan masyarakat. Konsep seperti
kesetiaan, kepercayaan dan rasa terima kasih
haruslah digunakan. Individu mulai mengisi peran
sosial yang diharapkan masyarakatnya. Sesuatu
dikata-kan benar jika memenuhi harapan
masyarakat dan dikatakan buruk jika melanggar
aturan sosial.tahapan ini dapat tercermin dalam
kalimat “Be conciderate, nice and kind, and
you’ll get along with people” (Rest,1979:27).
Tahap kedua ialah Orientasi hukum dan
ketertiban dimana pada tahap ini, individu dapat
melihat sistem sosial secara keseluruhan. Aturan
dalam masyarakat merupakan dasar baik atau
buruk, melaksanakan kewajiban dan memperlihatkan penghargaan terhadap otoritas adalah hal
yang penting. Alasan mematuhi peraturan bukan
merupakan ketakutan terhadap hukuman atau
kebutuhan individu, melainkan kepercayaan bahwa
hukum dan aturan harus dipatuhi untuk
mempertahankan tatanan dan fungsi sosial.
Perilaku yang baik adalah semata-mata melakukan
kewajiban sendiri, menghormati otoritas dan
menjaga tata tertib sosial yang ada, sebagai yang
bernilai dalam dirinya sendiri. Dengan demikian
tingkah laku yang dianggap bermoral sebagian
dibatasi sebagai tingkah laku yang dibatasi sebagai
tingkahlaku yang diarahkan untuk pemenuhan
kewajiban seseorang, penghormatan terhadap
suatu otoritas, dan pemeliharaan tertib sosial yang
diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada
(Cheepy,1986:40). Tahapan ini dapat tercermin
dalam kalimat “Everyone in society is obligated
and protected by the law” (Rest,1979:29)
Tingkat Pasca-konvensional
Tingkat ini disebut juga moralitas yang
berprinsip (principled morality). Pada tingkat ini
terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilainilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan
dan dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok
atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu
dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri
dengan kelompok tersebut. Baik atau buruk
didefinisikan pada keadilan yang lebih besar, bukan
pada aturan masyarakat yang tertulis atau
kewenangan tokoh otoritas. Biasanya tahap ini
82 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
sudah dimulai dari remaja awal sampai seterusnya.
Pada tahap ini sudah ada sudah ada suatu usaha
yang jelas bagi seorang anak untuk kemudian
menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang
memiliki validitas dan diwujudkan tanpa harus
dikaitkan dengan kelompok-kelompok yang
disebutkan di atas (Cheppy,1986:40) Ada dua tahap
pada tingkat ini yakni Orientasi kontrak sosial
legalistis dan Orientasi prinsip etika universal.
Tahap pertama yakni Orientasi kontrak
sosial legalistis, Pada umumnya tahap ini amat
bernada semangat utilitarian. Perbuatan yang baik
cenderung dirumuskan dalam kerangka hak dan
ukuran individual umum yang telah diuji secara kritis
dan telah disepakati oleh seluruh masyarakat. Pada
tahap kelima ini dalam skema Kohlberg boleh
dikatakan sudah merupakan tingkataan moral yang
tinggi (Cheppy,1986:41). Sehingga dengan
kesadaran yang sedemikian tinggi individu
mempertimbangkan aturan –aturan proseduril yang
memungkinkan tercapainya konsesus. Selain itu
terdapat kesadaran yang jelas mengenai relativisme
nilai dan pendapat pribadi bersesuaian dengannya,
terdapat suatu penekanan atas aturan prosedural
untuk mencapai kesepakatan. Terlepas dari apa
yang telah disepakati secara konstitusional dan
demokratis, hak adalah soal “nilai” dan “pendapat”
pribadi. Dalam tahap ini tercakup pula apa yang
biasa disebut “Utilitarian” Hasilnya adalah
penekanan pada sudut pandangan legal, tetapi
dengan penekanan pada kemungkinan untuk
mengubah hukum berdasarkan pertimbangan
rasional mengenai manfaat sosial (dan bukan
membekukan hukum itu sesuai dengan tata tertib
gaya tahap 4). Tahap kelima dalam skema Kohlberg
ini dapat tercermin dalam kalimat “You are obligated by whatever arrangement are agreed to
by due procedd procedure” (Rest,1979: 32).
Tahap kedua Orientasi prinsip etika universal dimana hak ditentukan oleh keputusan
suara batin, sesuai dengan prinsip- prinsip etis yang
dipilih sendiri dan yang mengacu pada komprehensivitas logis, universalitas, konsistensi logis.
Dibanding aturan-aturan moral yang kongkrit,
prinsip-prinsip ini dipandang lebih baik, lebih luas,
dan lebih abstrak dan bisa pula mencangkup
prinsip-prinsip umum tentang keadilan, resiproritas,
persamaan hak-hak manusia dan penghargaan
terhadap martabat manusia sebagai individu.
(Cheppy,1986:42). Untuk sekedar contoh misalnya
penerimaan orang terhadap aborsi bisa
menunjukkan prinsip-prinsip hidup yang dianutnya
sekitar kesucian hidup manusia atau bahkan
tentang hak-hak manusia sebagai individu untuk
mengendalikan dirinya sendiri.
Keenam tingkat penalaran moral yang
dikemukakan oleh Kohlberg (1995) tersebut
dibedakan satu dengan yang lainnya bukan
berdasarkan keputusan yang dibuat, tetapi
berdasarkan alasan yang dipakai untuk mengambil
keputusan.Pada tahap ke enam ini dapat tercermin
dalam berbagai sifat yang menurut kalimat “How
rational and impartial people would organize
cooperation is moral” (Rest ,1979:35).
Mengingat pentingnya perkembangan moral
dan praktisnya teori moral kognitif Kohlberg, hal ini
yang kemudian mendasari peneliti untuk
mengadakan suatu analisa tentang tahapan
perkembangan moral di pesantren, dengan harapan
hasil dari penelitian ini kelak dapat berguna dan
bermanfaat bagi para tenaga pengajar di pesantren.
Tujuan penulisan ini adalah untuk mendiskripsikan:
(1) tahapan perkembangan moral santri mahasiswa
di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang
menurut Lawrence Kohlberg, dan (2) tahapan
perkembangan moral santri mahasiswa di Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam Malang.
METODE
Penelitian ini dilaksanakan di Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam Malang yang beralamat di
Jalan Cengger Ayam no 25. Penelitian mengenai
tahapan perkembangan moral santri mahasiswa
di Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang
menurut Lawrence Kohlberg ini menggunakan
pendekatan pendekatan kuantitatif deskriptif.
Pendekatan kuantitatif deskriptif digunakan untuk
memperoleh profil tahapan perkembangan moral
Santri Mahasisiwa, sedangkan untuk menganalisa
datanya digunakan perhitungan-perhitungan
secara analisis statistik.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif analitik dengan tujuan
besaran angka hasil perhitungan statistik yang telah
dianalisis mampu memaparkan tingkat penalaran
moral santri mahasiswa, perhitungan statistik yang
digunakan adalah dengan cara menghitung skor
tahapan tertinggi, yang kemudian menunjukkan
penalaran santri mahasiswa.
Metode pengumpulan data dalam penelitiaan
ini secara umum menggunakan kuesioner yang
kemudian dalam teknisnya menggunakan aturan
kuesioner cerita dilema moral DIT melalui
Ikrommullah, Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
kuesioner dan DIT (Defining Issue Test).
Kuesioner adalah pertanyaan terstruktur yang diisi
sendiri oleh responden atau diisi oleh
pewawancara dalam bentuk tulisan. Pertanyaan
yang diberikan dalam kuesioner ini adalah
pertanyaan yang menyangkut fakta dan pendapat
responden, dan kuesioner yang digunakan dalam
penelitian ini merupakan kuesioner tertutup,
dimana responden akan diminta menuliskan
jawaban dengan memilih dari sejumlah alternatif.
Keuntungan bentuk tertutup ialah mudah
diselesaikan, mudah dianalisis, dan mudah
memberikan jangkauan jawaban.
DIT meupakan alat ukur yang digunakan
untuk mengukur tahapan moral seseorang, Alat
ukur yang digunakan dalam mengukur tahap moral
seseorang dalam penelitian ini ialah alat ukur yang
dibuat oleh James Rest (1979) yang disusun
berdasarkan teori perkembangan Penalaran Moral
dari Lawrence Kohlberg. Alat ukur ini sering
disebut sebagai DIT (Defining Issue Test). Yang
merupakan suatu tes objektif yang biasa digunakan
untuk mengukur penalaran moral dan prinsip moral
yang dimiliki saat itu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi data masing-masing variable diolah
dengan tehnik statistik deskriptif, seperti distribusi
frekuensi yang disertai dengan grafik berupa histogram, nilai rata-rata, simpangan baku atau yang
lainnya. Temuan penelitian disajikan dalam bentuk
angka-angka statistik, tabel, atau grafik. Hasil
penelitian dapat dilihat dalam tabel 1 dan 1.1.
Moral Stage Development
Meaningless
2,5%
Stage 5a
10%
Stage 3
22,5%
Stage 4
62,5%
Tabel 1 Moral stage development Pie diagram
83
Moral Stage Development
70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
Stage Moral Development
i
n
n
n
n
m
es
io
io
io
io
or
io
pl
at
at
at
at
at
eg
ci
nt
nt
nt
nt
nt
at
in
e
e
e
e
r
i
i
i
i
e
C
i
P
or
or
or
or
s
or
al
y
er
b)
a)
es
t ic
ic
gl
is
rd
(5
(5
Bo
th
in
O
on
d
ct
ct
E
n
d
o
d
a
a
l
e
o
tr
tr
a
ea
an
H
G
rs
M
on
on
w
ve
lc
lc
La
ni
cia
cia
U
o
o
S
S
Tabel 1.1 Moral stage development column
diagram
Tahapan Perkembangan Moral Santri
Mahasiswa
Adapun deskripsi tahapan perkembangan
moral santri mahasiswa kelas IV sebagai berikut,
Pertama, tahapan perkembangan moral santri
mahasiswa terbesar berada dalam tahapan empat
yakni tahap Law and Order yakni sebesar 62,5%.
Dimana dalam tahapan tersebut, tingkah laku yang
dianggap bermoral yakni suatu tingkah laku yang
ditujukan dan diarahkan kepada pelaksanaan
lewajiban seseorang, penghormatan terhadap
suatu otoritas dan pemeliharaan tertib sosial yang
diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada
(Cheepy, 1986:40).
Jika dikorelasikan dalam kehidupan santri
mahasiswa di dalam berkehidupan baik di dalam
lingkungan pesantren maupun di lingkungan
perguruan tinggi, Maka santri mahasiswa yang
berada dalam tahapan ini dalam berkehidupan akan
selalu berfikir bahwa bermoral baik berarti
menselaraskan tingkah lakunya dengan peraturanperaturan yang diwajibkan kepadanya , baik dalam
lingkungan pesantren, perguruan tinggi maupun
masyarakat.
Cara berfikir moral seperti ini dapat
diwujudkan dalam tingkah laku seperti menjunjung
tinggi hukum atau aturan yang berlaku di
lingkungan dimanapun ia berada dan selalu
berusaha untuk tidak melanggar hukum atau aturan
tersebut.
Kedua, sebanyak 9 orang (22,2%) berada
pada tahapan ke tiga yakni tahap Good Boy and
Nice Girl. Dalam tahapan yang berada dalam level
Conventional ini santri mahasiswa akan
berfikiran bahwa tindakan yang bermoral adalah
suatu tindakan yang menyenangkan, membantu,
atau tindakan-tindakan yang diakui dan diterima
oleh orang lain (Cheepy, 1986:40). Dalam tahapan
ini santri mahasiswa akan melakukan tindakan
84 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
bermoral hanya jika tindakan tersebut dapat
diterima oleh orang lain sehingga dengan demikian
maka santri mahasiswa akan diterima pula oleh
masyarakat atau orang lain. Dalam penerapannya
di kehidupan sosial biasanya santri mahasiswa
yang berada dalam tahapan ini akan selalu
menyesuaikan pendiriannya dengan tindakantindakan yang sudah dinggap wajar oleh
masyarakat. Pandangan masyarakat merupakan
hal yang sangatlah penting bagi Santri mahasiswa
dalam melakukan tindakan moral, sehingga bisa
dibilang tindakan moral yang dilakukan santri
mahasiswa haruslah bertujuan untuk mendapatkan
penilaian baik dari masyarakat.
Ketiga, tahapan terbanyak selanjutnya ialah
tahapan ke lima, yaitu sebanyak 5 orang (12,5%).
Tahapan ini biasa disebut dengan tahapan Social
Contract. Dalam DIT, James Rest membagi tahap
Social Contract menjadi 2, Yakni tahap Social
Contract A dan Social Contract B. Dalam Tahap
Social Contract A santri mahasiswa meyakini
bahwa mereka mematuhi peraturan bukanlah
dikarenakan ingin mendapat penilaian baik dari
masyarakat ataupun karena peraturan tersebut
sebuah kewajiban yang harus dijalankan, Akan
tetapi santri mahasiswa melihat peraturan harus
ditaati semata-mata dikarenakan merupakan hasil
dari kehendak dan komitmen dari masyarakat untuk
tetap menjaga keharmonisan dalam hidup bersama
Jadi dalam tahapan ini santri mahasiswa
melakukan suatu tindakan moral berdasarkan
suatu cara berfikir bahwa kewajiban moral menjadi
suatu keharusan jika hal tersebut merupakan
kesepakatan kesepakatan dari masyarakat secara
umum. Jadi dapat dikatakan Konsesus memegang
peran penting dalam tahapan ini.
Keempat, tahap selanjutnya yakni tahap
Meaningless, Dimana tahapan ini memiliki
besaran 2,5% . James Rest memasukkan tahap
Meaningless ini untuk mengukur tingkat
kekonsistenan jawaban dalam angket Dilema
Moral DIT. Dari 40 orang santri mahasiswa kelas
IV dapat diketahui bahwa ada satu orang yang
memiliki tingkat ketidak konsistenan jawaban yang
tinggi, sehingga untuk tahapan perkembangan
moral santri mahasiswa tersebut tidak dapat
dimasukkan ke dalam tahapan manapun.
Analisis Tahapan perkembangan moral santri
mahasiswa
Dari keempat point hasil deskripsi tahapan
perkembangan moral santri mahasiswa, dapatlah
dianalisa sebagai berikut.
Pertama, melihat mayoritas santri mahasiswa
berada dalam tahapan Law and Oder, maka dapat
sekiranya dihubungkan dengan masifnya
pengajaran ilmu Fikih dalam pendidikan Pesantren
Mahasiswa Al-Hikam, pengajaran Fikih di
Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang sudah
dimulai saat Santri mahasiswa berada dalam kelas
1, hal ini terus berlanjut hingga kelas ke empat,
Adapun materi pengajaran fikih sangatlah
beragam, hal ini tergantung pula dari sumber
referensi yang dipakai dalam pengajarannya.
Tahapan ke empat merupakan suatu tahapan
yang berada dalam kategori konvensional, Pada
tahapan ini cara berfikir yang menjunjung tinggi
terhadap hukum atau aturan mutlak diperlukan,
santri mahasiswa yang berada dalam tahapan ini
menafsirkan bahwa hukum atau aturan merupakan
syarat utama agar mampu terciptanya keadilan
dan kesejahteraan. Bagi santri mahasiswa yang
berada dalam tahapan ini, kebenaran dipandang
sebagai aturan (rules), yang memiliki sifat
mengikat dan mampu menyelesaikan harapan dari
masyarakat luas (Rest,1979: 29).
Tidak ada suatu pertimbangan atau keadaan
apapun yang dapat memaksa seseorang untuk
melampaui hukum atau aturan (Rest,1979: 30),
Hukum atau aturan merupakan sesuatu yang lebih
dahulu ada sebelum yang lainnya ada, termasuk
nilai. Sehingga nilai haruslah berada di bawah
aturan sosial atau hukum atau aturan, dan menurut
tahapan ini, aturanlah yang membuat sistem di
dalam masyarakat.
Santri mahasiswa pada tahapan ini akan
berfikir untuk selalu menjunjung tinggi peraturan
pesantren atau perguruan tinggi dan berusaha
mentaatinya tanpa mempertanyakan akan aturan
tersebut. Setiap nilai-nilai kebaikan yang diajarkan
dalam institusi pendidikan yang ia tempati, bisa
dijalankan dengan cara menjalani aturan yang
sudah ada, dikarenakan nilai memang seharusnya
ada di bawah aturan. Penghormatan terhadap
pihak-pihak yang berwenang (Rest,1979: 31) juga
merupakan ciri-ciri dari tahapan ini, santri
mahasiswa dalam tahap ini memandang bahwa
penghormatan terhadap pihak yang berwenang
merupakan bagian dari kewajiban terhadap
masyarakat. Pihak yang berwenang dalam hal ini
diartikan sebagai pihak yang memiliki suatu posisi
di masyarakat dan posisi tersebut didapatkan dari
hasil pengabdiaanya terhadap masyarakat untuk
mewujudkan tujuan dari suatu lembaga ataupun
kelompok masyarakat. Penghormatan terhadap
orang yang melaksanakan tugas kemasyarakatan
Ikrommullah, Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
ini harus dilakukan oleh siapapun tanpa peduli
terhadap orang secara khusus, akan tetapi perlu
perduli terhadap hak prerogatif, tugas khusus dan
penghargaan terhadap kepantasan dia dalam
tugas-tugasnya dalam masyarakat.
Santri mahasiswa dalam tahapan ini akan
selalu menghormati otoritas yang berwenang,
dikarenakan dengan menghormati otoritas maka
hal tersebut berarti juga menghormati aturan
ataupun hukum atau aturan di masyarakat,
sehingga sebagai kesimpulan secara umum, dalam
tahap Law and Order merupakan bagaimana
cara seseorang untuk menstabilkan sistem aturan
yang sudah dan bekerja sama dengan masyarakat
secara luas.
Kedua, tahap selanjutnya dalam perkembangan moral Santri mahasiswa yakni tahap
Good Boy and Nice Girl, Dalam tahapan ini
santri mahasiswa akan berfikir bahwa pada
dasarnya segala tindakan itu baik asalkan sesuai
dengan keinginan orang-orang terdekatnya, orangorang terdekat yang dapat berupa keluarga
ataupun sahabat dan teman dekat memegang
peran sangat penting sebagai penentu prilaku
moral, baik dan benar suatu tindakan merupakan
hasil dari penilaian keluarga, sahabat dan teman,
terlepas dari penilaian tersebut sesuai atau pun
tidak sesuai dengan prinsip moral. Penilaian
ataupun persetujuan orang-orang terdekat
sedemikian penting sehingga rata-rata santri
mahasiswa mendasari tindakan moralnya guna
mendapatkan persetujuan dari orang-orang
terdekatnya.
Hubungan dengan orang lain merupakan
tujuan tertinggi dalam tahapan ini dan inti dari
hubungan ini yakni suatu hubungan yang memiliki
sifat timbal balik dalam hal pemahaman, bukan
hubungan win-win solution yang hanya
mengandalkan kesenangan semata, akan tetapi
hubungan ini lebih kepada sikap penghormatan,
kerjasama dan kepahaman. Persahabatan dengan
orang lain juga merupakan prioritas dalam
tujuannya, sehingga tindakan moral seringkali
diartikan sebagai bentuk tindakan yang dapat
mempererat atau menjaga hubungan persahabatannya dengan orang lain. Secara umum konsep
tahapan Good Boy and Nice Girl merupakan
suatu tahapan yang sangat mempertimbangkan
kesetabilan sistem personal relationship and
friendship (Rest,1973:29). Santri mahasiswa akan
sangat mempertimbangkan perasaan, kebutuhan
dan harapan dari orang lain, sehingga dalam
85
pandangan mereka orang yang mengalami
pengasingan ataupun kesulitan dalam melakukan
hubungan persahabatan dan relasi personal maka
ia merupakan orang yang gagal dalam melakukan
tindakan moral
Ketiga, tahapan selanjutnya yang memiliki
besaran sekitar 12,5% yakni tahapan Social
Contract 5a, Tahap Social Contract 5a memiliki
perbedaan dengan tahapan Social Contract 5b
dimana dalam Social Contract 5a memiliki
karakteristik tentang pelaksanaan kewajiban moral
yang berasal dari kerelaan masyarakat untuk
bekerjasama. Hukum atau aturan disini dibentuk
oleh masyarakat berdasarkan suatu alasan yakni
agar setiap anggota masyarakat mampu untuk
tetap hidup berdampingan dengan yang lain, oleh
karena itu perlunya hukum atau aturan dijalankan.
Sedangkan pada karakteristik Social Contract 5b, adalah suatu proses logika kritis terhadap
seleksi hukum atau aturan, dengan kata lain hukum
atau aturan tidaklah harus diterima secara utuh
tanpa kritik atau pembenahan, akan tetapi hukum
atau aturan tetap perlu pembenahan jika hukum
atau aturan tersebut tidak sesuai dengan tujuan
masyarakat secara luas. Dua karakteristik dari
tahap 5a dan 5b adalah suatu adaptasi atau
perkembangan dari teori Social Contract
Kohlberg dan dua tahap ini hanyalah merupakan
spesifikasi terhadap tahapan 5 yakni Social Contract. Jika harus ditempatkan dalam tahapan
Kohlberg, maka santri mahasiswa yang berada
dalam tahap 5a merupakan santri mahasiswa yang
berada dalam tahapan 5 yakni Social Contract.
Akan mulai melihat bahwa tindakan moral berupa
konsensus dan tentunya juga merupakan kebaikan
bagi masyarakat luas, didalam tahap ini santri
mahasiswa mulai memahami mayoritas sebagai
suatu kakuatan penting untuk mencetak dan
memproduksi hukum atau aturan. Oleh karena itu
hukum atau aturan haruslah dibuat oleh
masyarakat guna menjaga keharmonisan
kehidupan dalam masyarakat dan juga hukum atau
aturan haruslah diseleksi dan dicari yang paling
bisa mewakili kehendak masyarakat dan
meminimalisir kerusakan dalam masyarakat.
Ciri terakhir dari santri mahasiswa yang
berada dalam tahapan ini ialah memandang bahwa
hak dasar manusia sebagai suatu syarat
pengandaian sebelum adanya kewajiban sosial
(Rest,1979:34). Hak dasar manusia haruslah
dilindungi dan dibebaskan terlebih dahulu sebelum
individu bisa melakukan perannya dalam
86 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
menjalankan kewajiban-kewajiban sosial di
masyarakat, hanya masyarakat yang telah
dilindungi hak dasarnya yang dapat menjalankan
perannya dalam upaya menyeleksi hukum atau
aturan dan membuat hukum atau aturan.
Keempat, tahap selanjutnya yakni tahap
Meaningless, Dimana tahapan ini memiliki
besaran 2,5% . James Rest memasukkan tahap
Meaningless ini untuk mengukur tingkat
kekonsistenan jawaban dalam angket Dilema
Moral DIT. Meaningless bukanlah suatu tahap,
akan tetapi hanyalah sebuah tes akan
kekonsistenan jawaban bagi para partisipan
penelitian, dalam penelitian ini terdapat satu santri
mahasiswa yang memiliki jawaban yang tidak
mencerminkan tahapan manapun, sehingga dalam
penentuan tahapannya tidak mampu didefinisikan.
SIMPULAN
Berdasarkan fokus penelitian, paparan data,
temuan penelitian, dan pembahasan, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:(1) tahapan
perkembangan moral Santri Mahasiswa terbesar
berada dalam tahapan empat yakni tahap Law and
Order yakni sebesar 62,5%, (2) tahapan terbanyak
kedua sebesar 22,2% adalah tahapan ke tiga Good
Boy and Nice Girl. (3) Tahapan terbanyak
berikutnya ialah tahapan ke lima atau Social Contract dengan prosentase sebesar 12,5%, (4) Tahap
Terakhir ialah kelompok Meaningless sebesar 2,5
%, suatu kategori yang bukan merupakan tahapan
dari Kohlberg, akan tetapi tahapan ini merupakan
tahapan untuk cek ketidak konsistenan jawaban dari
angket DIT Jamest Rest.
DAFTAR RUJUKAN
Al-Hikam. 2004. Visi Misi Pesantren Mahasiswa
Al-Hikam. Malang: Al-Hikam.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Metodologi
Penelitian. Jakarta:Penerbit PT. Rineka
Cipta. Asina, Christina Rosito Pasaribu. 2012.Hubungan
AntaraReligiusitasDengan Penalaran
Moral Pada Remaja Akhir. Skripsi
diterbitkan. Bandung:
Universitas
Padjadjaran. Dari akademik.nommensenid.org, (online), (http//akademik.nommensen-id.org), diakses pada tanggal 15 juli 2013.
Bertens.1993. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama.
Cheepy, Hari Cahyono. 1986. Tahap- Tahap
Perkembangan Moral. Malang: Pengembangan Perguruan Tinggi IKIP Malang.
Darmadi, Hamid. 2009. Dasar Konsep
Pendidikan Moral. Bandung: Alfabeta.
Dewi,Chayati Tresna. 2012.Program Bimbingan
Pribadi Sosial Meningkatkan Penalaran Moral Siswa. Skripsi diterbitkan.
Jakarta: Universitas Pendidikan Indonesia.
Dari Repository Universitas Pendidikan
Indonesia, (online), (http://a-research.
upi.edu/skripsiview.php?start=2459.),
diakses pada tanggal 15 juli 2013.
Dwiyanti, Retno. 2013. Peran Orang Tua Dalam
Perkembangan Moral Anak. Skripsi
diterbitkan. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah surakarta. Dari publikasi-
ilmiah.ums.ac.id, (online), (http://
www.publikasiilmiah.ums.ac.id), diakses
pada tanggal 15 juli 2013.
Fatah, Rohadi Abdul. 2005. Rekonstruksi
Pesantren Masa Depan. Jakarta: Pt.
Listafariska Putra.
Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik, Jilid 2. Penerbit
ANDI, Yogyakarta Haribi.
Kementerian Pendidikan Nasional UM. 2010.
PPKI Skripsi, Tesis, Disertasi, Artikel,
Makalah, Tugas Akhir, Laporan
Penelitian. Malang: UM.
Kusani, Afin. 2006. Demokratisasi Pendidikan
Islam. Skripsi diterbitkan. Malang: Universitas Islam Negeri Malang. Dari lib.uinmalng.ac.id (Online),(http//lib.uinmalang.ac.id/files/thesis/fullchapter/
97110468.pdf), diakses pada tanggal15 juli
2014
Poespoprodjo.1988. Filsafat Moral. Bandung:
Remadja Karya.
Rest, James.R. 1979. Development in Judging
Moral Issues. Minnesotta: University Of
Minnesotta Press.
Rest, James.R. 1998. DIT-2 (Defining Issues
Test). Minnesota: University Of Minnesotta
Shodiq. 2011. Pesantren dan Perubahan Sosial.
Jurnal Falasifah.
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik
Pendidikan. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
Ikrommullah, Tahapan Perkembangan Moral Santri Mahasiswa Menurut Lawrence Kohlberg
Sugiyono. 2010. Memahami Penelitian
Kualitatif. Bandung: CV. Alfabeta.
Sunarto, dan A. Hartono. 2008. Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta.
Wiyono, Bambang Budi. 2008. Metodologi
Penelitian. Malang: Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Malang
87
Kementrian Agama. (online), (http://www.
Kemenag.co.id). Pesantren di Indonesia.
diakses pada tanggal 21 maret 2014.
Ali, M dan M. Ansori. 2008. Psikologi Remaja
Perkembangan Peserta Didik
Jakarta: PT Bumi Aksara. Dari Googlebooks,
(online), (http://www.books.google.co.id),
diakses pada tanggal 15 juli 2013.
CORAK HUMANISME DALAM SERIKAT BURUH JAWA
TAHUN 1926-1942
Daya Negri Wijaya
Jurusan Sejarah, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang No.5 Malang
[email protected]
Abstract:trade union established as a common goal of workers in obtaining life insurance and mutual
prosperity. But in its development, trade unions met various obstacles both in the internal context
where there are workers who do not want to join the union or the external context where the union is
under pressure from the investors and the government. However, they are not desperate and trying
to fight the goal. Furthermore, they struggle in perkembangannnya teryata not only the interests of
the union but also the interests of the people in general such as issues of racial and class and gender
gaps. This paper is expected to provide a historical consciousness of the reader in order to use the
past as suggestions and lessons learned in designing a better future.
Keywords: national movements, labor, human existence, humanism
Abstrak. Serikat buruh terbentuk karena cita-cita bersama buruh dalam memperoleh jaminan hidup
dan kesejahteraan bersama. Namun dalam perkembangannya serikat buruh menemui berbagai kendala
baik dalam konteks internal dimana ada buruh-buruh yang tidak mau bergabung dengan serikat
ataupun konteks eksternal dimana serikat mendapat tekanan dari pihak pemodal serta pemerintah.
Walaupun demikian mereka tidak putus asa dan berusaha untuk memperjuangkan tujuannya. Lebih
lanjut, perjuangan mereka dalam perkembangannnya teryata bukan hanya memperjuangkan
kepentingan serikat tetapi juga kepentingan manusia secara umum seperti permasalahan rasial dan
kelas serta kesenjangan gender. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan kesadaran historis pada
pembaca agar menggunakan masa lalu sebagai saran dan pelajaran dalam merancang masa depan
yang lebih baik
Kata-kata Kunci: pergerakan nasional, buruh, eksistensi manusia, humanisme
Dewasa ini masyarakat Indonesia digegerkan oleh
beberapa video Tenaga Kerja Wanita (TKW)
beserta respon dari para suami yang ditinggal ke
luar negeri dan Presiden Jokowi yang merespon
melalui pemberian nasehat-nasehat yang diunggah
ke situs Youtube. Video tersebut memberikan
gambaran bagaimana kehidupan seorang tenaga
kerja Indonesia di luar negeri. Ironisnya banyak
yang menghabiskan jerih payah tersebut dengan
berfoya-foya tanpa mempertimbangkan tabungan
hari esok. Selain itu tidak semua tenaga kerja dapat
menikmati hasil kerjanya atau tidak digaji. Mereka
ada yang disiksa, diperkosa, dicambuk, bahkan
tidak diberi makan dan diperlakukan tiada ubahnya
seperti budak atau bahkan lebih mirip seperti budak
yang dikontrak. Mereka tidak memiliki kekuatan
untuk melawan atau memperjuangkan hak-hak
dasar mereka sebagai manusia (hak untuk hidup,
kebebasan, kepemilikan, dan kesehatan) karena
mereka hanya berdiri sendirian.
Pada masa kolonial pasca pemberontakan
PKI 1926 dan pendudukan Jepang 1942 muncul
dua sentimen yang bernada negatif pada citra
pekerja atau buruh Indonesia yang mayoritas
berasal dari Jawa, termasuk serikat-serikat buruh
Indonesia yang pada dasarnya merupakan serikatserikat buruh di Jawa (Ingleson, 2015:14).
Penyebab buruh diberi upah rendah dan hidup
dalam penderitaan adalah: (1) pada 1833,
Gubernur Jenderal J. Van den Bosch menulis,
“tidak ada yang lebih menyenangkan bagi orang
Jawa selain berada dalam posisi bisa bekerja lebih
sedikit dibanding yang diharuskan. Ini akibat
kondisi iklim mereka (iklim yang dimaksud apakah
cuaca atau lingkungan kerja?); dan (2) pandangan
umum di kalangan pejabat dan majikan Eropa
88
Wijaya,Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
adalah buruh-buruh Indonesia pemalas dan tidak
memiliki keinginan meningkatkan kehidupan material mereka. Sebagian besar orang Eropa yakin
bahwa menaikkan upah hanya akan membuat orang Indonesia makin malas bekerja (Ingleson,
2015:24-25).
Fenomena di atas beserta dua sentimen
tersebut memberikan gambaran bahwa tiada
seorangpun dapat belajar dari sejarah. Bahkan,
adagium Hegel yang sangat terkenal menjelaskan
bahwa yang didapat dari belajar sejarah adalah
kegagalan dalam memahami dan memaknai
sejarah itu sendiri. Mengikuti pola Marx dalam The
Eighteenth Brumaire of Louis Napoleon
terungkap bahwa sejarah memang tidak mungkin
berulang kembali karena hanya terjadi satu kali
(einmalig) tetapi pola yang terjadi di masa lalu
bisa saja terulang di masa kini walaupun aktor,
tempat, dan waktunya yang berbeda. Lebih lanjut,
bagi Marx apabila manusia (buruh) di masa lalu
menderita dan sengsara itu adalah tragedi tetapi
apabila manusia (buruh) di masa kini mengalami
hal yang sama adalah suatu lelucon. Mengapa
demikian? Karena mereka gagal belajar dari
pengalaman masa lalu; pengalaman masyarakatnya; pengalaman dari perjuangan di masa lalu
untuk kesejahteraan masa kini; dan yang terpenting
adalah mereka lupa hakikat manusia yang memiliki
kesadaran historis.
Bagi Marx, jalan keluar dari ketidakadilan
tersebut adalah seluruh buruh atau tenaga kerja
(dalam Orde Baru disebut karyawan) harus
bersatu. Mengapa demikian? Pada hakikatnya
buruh hidup dalam tangan majikan dan mereka
mengikuti kehendak majikannya, jarang ditemui
buruh yang memiliki lebih dari satu majikan dan
yang ada hanyalah majikan yang mempunyai lebih
dari satu buruh. Mengikuti pola materialisme
dialektika Marx (it is not consciousness of men
that determine their beings, but, on the contrary their social beings determine our consciousness) dalam sejarah (biasanya disebut pula
sebagai materialisme historis), aktivitas manusia
dimulai dari kehidupan komunalisme yang hidup
dalam dua aktivitas yang bertentangan yakni
kehidupan berpindah-berpindah dan kehidupan
menetap. Kehidupan komunalisme ini yang
kemudian menggiring manusia pada persinggungan dan pertentangan sehingga menciptakan
tatanan masyarakat yang bersifat feodal.
Feodalisme dalam perkembangannya menimbulkan dua kelas yang dominan yakni kelas feodal
(tuan tanah) dan kelas budak.
89
Dalam perkembangan ekonomi ternyata hasil
pengolahan tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan
dan menyejahterakan rakyat maka jarum jam
beralih pada ekonomi industri dimana para tuan
tanah berlomba-lomba untuk menyewakan tanah
atau membuat industri di lahan mereka. Dalam
situasi inipula banyak budak yang diperjualbelikan
dan banyak pula yang melarikan diri. Namun
karena tidak mampu mencukupi kebutuhan diri
maka mereka harus bekerja, apapun pekerjaan
yang didapat. Kondisi ini yang nantinya
menciptakan masyarakat kapitalis, bahwa kerabat
tuan tanah menjelma menjadi kaum borjuis seperti
yang disebut kelas menengah dan kelas bawah
adalah transformasi dari budak yang berganti nama
menjadi buruh (menjadi alat manusia untuk
mengatur metabolismenya dengan alam) tetapi
mendapat perlakuan yang sama saja seperti budak
(jam kerja yang tidak manusiawi serta wanita dan
anak yang dipekerjakan). Para buruh akan tetap
tidak mendapatkan keadilan tanpa mereka bersatu
untuk berjuang menekan kaum borjuis (majikan).
Mereka sudah saatnya sadar bahwa kekuasaan
para borjuis atas perekonomian menjadi benteng
yang harus segera dihancurkan. Ketika buruh
bersatu dan menduduki semua aset serta
menyamaratakan properti yang ada maka
kesejahteraan akan didapat.
Paralel dengan pendapat Marx, Munir (2014)
juga menjelaskan bahwa tanpa solidaritas dan
persatuan, berbagai tuntutan buruh akan lemah
posisi tawarnya. Bahkan hal itu juga berpotensi
menihilkan partispasi individu-individu buruh untuk
bergabung dalam gerakan buruh. Secara
pragmatis sesuai dengan tujuan serikat buruh,
kekuasaan borjuasi sepenuhnya didasari oleh
persaingan antar buruh sendiri seperti misalnya
para borjuasi akan mengganti atau memberhentikan
buruh yang mogok dan menggantinya dengan
buruh yang lain untuk mendapatkan upah yang
murah (Engels, 2014:71).
Perjuangan ini setidaknya para buruh harus
memiliki suatu kendaraan politik, wadah yang
menampung semua aspirasi dan memiliki kesatuan
visi, misi, dan cita-cita. Kendaraan tersebut disebut
sebagai serikat buruh, organisasi inilah yang
kemudian memperjuangkan hampir semua aspirasi
dan perlakuan tidak adil pada buruh. Dewasa ini
hampir semua perusahaan dan pabrik baik yang
berskala nasional dan internasional memiliki serikat
buruh ataupun serikat pekerja. Dimana ketika
mereka merasa dirugikan atau tidak diberikan
haknya, laporan pada serikat akan terjadi dan
90 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
serikat mulai bergerak. Ilustrasi kecil ketika
saudara penulis bekerja di salah satu klinik PTPN
X, setiap pekerja yang berobat dan obatnya
dibatasi (tidak diberikan obatnya sesuai dengan
perjanjian) maka mereka akan melapor pada SP
dan dampaknya SP sebagai pemegang kekuasaan
akan menekan pihak direksi dengan demonstrasi
atau mogok kerja. Namun biasanya aksi ini
seringkali tidak mendapat reaksi nyata dari direksi.
Ingleson (2015:2) menjelaskan bahwa upaya
pemerolehan hak-hak buruh dengan cara militansi
adalah lelucon yang kedua. Pengalaman pada
masa kolonial menunjukkan perjuangan para buruh
membuahkan hasil apabila mereka memakai cara
yang lebih akomodatif ketika menghadapi
penguasa yang cenderung represif pasca
pemberontakan PKI 1926.
Para buruh dalam pemerolehan hak-hak
dasarnya tentunya ingin mendapatkan keadilan
bahwa jika perusahaan maju dan berkembang
maka kesejahteraan buruh juga ikut naik sebaliknya
apabila perusahaan diambang kehancuran maka
para buruh harus legawa menerimanya.
Fenomena ini adalah cerminan dari teori keadilan
sebagai fairness yang dikembangkan oleh John
Ralws. Ralws (2011:13) mengungkapkan bahwa
setiap orang harus mempertimbangkan manfaat
dari keputusan yang dibuat dengan pemikiran
rasional sehingga sekelompok orang harus
memutuskan apa yang menurut mereka adil dan
tidak adil bagi kepentingan bersama. Dengan
mengikuti teori Ralws, seyogyanya para buruh
melalui serikat buruh melakukan negoisasi dengan
para pemilik modal dan atau didampingi oleh
negara sebagai penjamin hak-hak setiap warga
negara namun perlu dibuat catatan bahwa mereka
harus memperhatikan kewajiban-kewajiban
sebagai pekerja. Dalam pertemuan tersebut
diharapkan menemukan jalan tengah atau
konsensus dari pertentangan kepentingan
keduanya sehingga buruh menggapai
kesejahteraan dan para kapitalis memperkuat
pondasi masyarakat pasar dengan masyarakat
bersahabat yang menekankan simpati antara satu
manusia dengan manusia lainnya.
Namun demikian, serikat buruh kini hanya
mengejar kesejahteraan buruh atau pekerja sendiri
tanpa melihat kepentingan bangsanya dan seolah
lupa bahwa buruh pada masa kolonial juga
menekankan pada aspek humanisme yang tidak
melihat kepentingan buruh, ideologi, rasial, atau
kewarganegaraan tetapi melihat tanggung jawab
dan toleransi dalam masyarakat. Kini sudah
sewajarnya serikat buruh bukan lagi mementingkan
kepentingan buruh ataupun kepentingan
bangsanya tetapi juga menggerakan humanisme
untuk ikut serta dalam menyelesaikan
permasalahan dasar yang dihadapi manusia.
Tulisan ini akan berusaha membahas lebih dalam
tentang perkembangan serikat buruh. Selain itu,
akan diulas pula corak humanisme sebagai
alternatif blue-print dasar perjuangan serikat
buruh. Dengan hadirnya tulisan ini diharapkan
setiap insan menyadari kebermaknaan sejarah dan
percik-percik humanisme didalamnya.
SEKILAS PERKEMBANGAN SERIKAT
BURUH
Kini pandangan sejarah telah mengalami
pergeseran dari yang bersifat sumber pengetahuan
menuju sumber kebermaknaan. Masa lalu akan
bermakna atau bermanfaat apabila dimaknai
secara baik oleh manusia di masa kini. “Ide masa
lalu tak kenal waktu” menjelaskan bahwa konsep
masa kini dapat dibawa dengan mudah ke masa
lalu (Wineburg, 2006:71). Dengan kata lain,
manusia akan lebih mudah memahami apa yang
terjadi di masa kini apabila melihat bagaimana
peristiwa tersebut terkonstruksi dan secara tidak
langsung akan berhubungan dengan masa lalu
yang menjadi kajian sejarah. Namun bagaimanapun juga konsep tersebut tetap membawa
dampak yang berbeda bagi beberapa orang: (1)
ada beberapa orang yang dikategorikan sebagai
divi past (sebutan dalam Bahasa Inggris bagi orang yang sakit ingatan dan melihat sejarah dengan
kegusaran dan penghinaan karena tidak mengerti);
(2) melihat sejarah sebagai sistem penjelasan tetapi
tidak banyak berusaha memahami masa lalu dari
sisi masa lalu itu sendiri; dan (3) melihat perbedaan
antara cara berpikir masa lalu dan masa kini atau
perubahan zeitgeist dan mentalite dalam sejarah.
Oleh karena itu dalam menjalankan
pembelajaran sejarah sudah sewajarnya mulai
mentransformasikan dari cerita tetap pada
serangkaian cerita yang mengundang murid untuk
merenungkan keutuhan pengalaman manusia.
Dengan mempertanyakan masa lalu, murid
menerangi masa kini. Kegiatan-kegiatan apa pada
masa lalu dan masa sekarang yang patut mendapat
perhatian? Kisah siapa dan persoalan apa yang
dimasukkan atau tidak? Siapa yang memutuskan?
(Wineburg, 2006:197). Soe Hok Gie dalam
Wijaya,Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
skripsinya yang telah dibukukan berjudul “OrangOrang di Persimpangan Kiri Jalan” memberikan
penjelasan bahwa sebenarnya sebuah peristiwa
dikonstruksi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi
sebelumnya. Dalam konteks pemberontakan PKI
1948 tidak terlepas dari keadaan di Jawa pada
1926, Rusia, Belanda, Australia, Cina, serta Digul
yang semuanya meninggalkan jejaknya pada
tragedi Madiun. Dengan kata lain seluruh
peristiwa yang kita bahas bukan cerita utuh
sehingga perlu dilihat apa yang mengonstruksi
sebuah peristiwa tersebut terjadi.
Mengikuti pola diatas, penulis berusaha
menjelaskan perubahan dan kesinambungan
serikat buruh Indonesia di masa reformasi dengan
memberi penjelasan secara historis yang dimulai
dari konstruksi kehidupan buruh dalam
pemerintahan otoriter Orde Baru serta warisan
buruh pada masa kolonial yang kiranya
membentuk ideologi dan praksis serikat buruh kini.
Tjandra (2014:790) menunjukkan adanya gerakan
buruh yang mencolok dan berbeda dari
sebelumnya (orde baru) yakni pembentukan aliansi
serikat yang disebut KAJS (Komite Aksi Jaminan
Sosial). Mereka melancarkan demonstrasi disertai
dengan kampanye publik langsung melalui media
massa yang dimulai 5 April 2010 untuk mendorong
parlemen nasional dan daerah merekomendasikan
dukungan implementasi reformasi jaminan sosial
di Indonesia. Perjuangan KAJS sebagai aliansi dari
serikat-serikat regional dalam mereformasi sistem
jaminan sosial (berhasil mengawal lolosnya RUU
BPJS 28 Oktober 2011: BPJS I sebagai jaminan
kesehatan dan BPJS II pada ketenagakerjaan)
menunjukkan kemungkinan mengembangkan
persatuan serikat buruh di tingkat nasional yang
kiranya telah merubah orientasi dari yang bersifat
pasar atau bisnis (masa orde baru) ke arah yang
lebih sosial. Hal ini merupakan suatu terobosan
setelah dekade panjang penindasan dan kooptasi
negara terhadap gerakan serikat buruh pada masa
orde baru.
Kehidupan serikat buruh pada masa Orde
Baru sungguh memprihatinkan. Buruh memang
menempati posisi yang strategis dalam
menguatnya industri non-migas, terutama industri
manufaktur. Tidak hanya secara ekonomis namun
juga secara politis. Dalam rangka memelihara
stabilitas sosial dan politik, yang diyakini sebagai
prasyarat pokok keberhasilan pembangunan
ekonomi, Orde Baru merasa perlu mengadakan
pengaturan untuk mengendalikan buruh.
91
Anggapan ini berasal dari sentimen bahwa serikat
buruh menjadi ladang basah munculnya kembali
pengaruh unsur-unsur kiri yang menonjol dalam
gerakan buruh pada masa 1950-an dan 1960-an
yang kiranya menjadi ancaman pokok stabilitas
dan keamanan negara. Pengendalian buruh pada
masa Orde Baru diartikan tidak membuka
kemungkinan bagi munculnya serikat buruh
independen serta terjaminnya kepatuhan (faktor
yang mendorong munculnya gerakan bawah
tanah). Satu-satunya organisasi buruh yang
diijinkan pemerintah adalah Federasi Seluruh
Buruh Indonesia (FBSI) yang berdiri tanggal 20
Juli 1973 dengan membawahi Serikat Buruh
Lapangan Pekerjaan (SBLP). Bersamaan dengan
itu juga dikeluarkan peraturan yang membatasi
kemungkinan terbentukanya organisasi buruh di
luar FBSI. Peraturan ini mensyaratkan bahwa
sebuah organisasi buruh harus berbentuk gabungan
serikat buruh yang membawa 20 daerah dan 15
SBLP. Lebih lanjut konsep hubungan industrial
pancasila antara buruh, pengusaha, dan pemerintah
yang seimbang, mawas diri, dan memelihara terus
ditekankan dan nampaknya hanya menjadi
wacana. Hal ini sebagai konsekuensi logis dari
campur tangan pemerintah yang begitu besar
seperti misalnya instruksi Laksamana Sudomo
bahwa seluruh kodim harus terlibat dalam sengketa
industri dan mencegah pemogokan (Warouw,
2000:3-5).
Hal tersebut terjadi karena pemerintahan
Orde Baru sangat bernafsu sekali untuk
membangun citra bahwa era-nya lebih baik dari
masa sebelumnya. Peristiwa 1966 yang menyulut
mesiu bahwa buruh adalah ladang dari ideologi
sosialis-komunis sehingga membuat serikat buruh
dilarang keras beredar di masa Orde Baru.
Pemerintahan Orde Lama dinilai oleh Orde Baru
membuat kebijakan seperti dinamit yang dapat
menghabisi pemerintahannya. Orde Lama
memberikan kebebasan berserikat dan memberikan kebijakan yang menguntungkan buruh hingga
ideologi komunisme masuk. Serikat buruh pada
masa Orde Lama sangat kokoh dan kompak bukan
tanpa halangan serta bahkan pada awal
kemerdekaan masih terpecah-belah. Alimin
kemudian menyatukannya dan membentuk
SOBSI, disusul kemudian muncul serikat yang lebih
radikal yakni GASBRI dan yang lebih moderat
yakni POSS (Munir, 2014:12).
Selain itu pasca proklamasi 17 Agustus 1945
yang dirasakan sebagai pembebasan dari
92 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
penjajahan dan eksploitasi modal asing yang
didukung oleh Pemerintahan Kolonial. Pemerintahan Nasional menjadi unsur penting dalam
perjuangan kaum buruh untuk memperbaiki
kesejahteraannya. Untuk itu, gerakan buruh
dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam
pembangunan negara di bawah pemerintahan
sendiri. Kaum buruh juga turut serta melancarkan
aksi perebutan dan pengambilalihan kantor-kantor
perusahaan dan sarana penting yang masih
dikuasai oleh Jepang. Mereka yang dapat bebas
kemudian mulai melucuti apa yang dimiliki oleh
asing mengingat gerakan buruh dan serikat buruh
dapat dikendalikan dengan baik oleh pemerintah
Kolonial Belanda maupun Jepang. Pada masa
pendudukan Jepang, semua kegiatan organisasi
baik politik maupun sosial-ekonomi dilarang (Munir,
2014:11).
Perkembangan buruh seperti yang diuraikan
diatas dinilai oleh Ingleson diwarisi oleh
pengalaman buruh masa kolonial. Dia melihat
bahwa mengapa buruh dapat mendapatkan
mimpinya yang salah satunya adalah jaminan sosial
karena para pemimpin serikat (Ingleson di buku
ini menyebut sarekat) buruh berjuang membangun
organisasi-organisasi yang mengabaikan
pembagian suku, bahasa, dan kelas sosial tempattempat kerja Indonesia. mereka mendapatkan
akses yang terbatas. Selain sebagai kendaraan
politik dalam meraih kenaikan upah mereka juga
menempati posisi penting dalam perkembangan
kesadaran politik, menciptakan berbagai
kesempatan bagi orang-orang Indonesia untuk
memperoleh keterampilan-keterampilan organisasi
dan menyediakan saluran bagi banyak orang Indonesia untuk bergabung dalam partai-partai
nasionalis (Ingleson, 2013:409). Dengan kata lain,
serikat buruh memiliki suatu kecenderungan untuk
melebur dan bersatu dalam memperjuangkan hakhaknya. Hal ini adalah modal penting sekaligus
kunci bagi eksistensi serikat buruh yang terus
dirongrong oleh kepentingan kapitalis di masa
depan.
Humanisme sebagai Alternatif Blue-Print
Dasar Perjuangan Serikat Buruh
Alternatif blue-print dasar perjuangan
serikat buruh dapat diretas ketika mereka bersatu
pertama kali untuk mencapai tujuan bersama.
Tujuan utama tersebut dilihat dari visi dan misi
serikat buruh di zaman bergerak yang manifestasinya terlihat ketika Indonesia meraih
kemerdekaan. Seringkali dalam perkembangan
zaman, orientasi serikat buruh berubah-ubah dan
yang terdekat pada masa orde baru lebih ke arah
pasar atau bisnis sedangkan masa reformasi ke
arah sosial (pada kesejahteraan buruh) tetapi
mereka melupakan orientasi luhur yang bersifat
humanis bukan saja memperjuangkan hak-haknya
tanpa melupakan kewajibannya sebagai seorang
pekerja. Buruh dan pekerja atau karyawan
sebenarnya memiliki makna yang sama tetapi
mengalami penghalusan bahasa. Warouw
(2000:10) menjelaskan bahwa Buruh mengandung
makna orang yang semata bekerja pada orang lain
demi upah tanpa harus terlibat secara rohaniah
atas pekerjaannya. Buruh secara implisit sebagai
pelaksana perintah atau sebagai alat dalam
berproduksi. Selain itu buruh menyimpan
pengertian sebagai suatu kelompok yang berada
pada posisi yang berkontradiksi dengan majikan.
Orde Baru menggunakan politik penghalusan
bahasa dengan menggunakan pekerja atau
karyawan yang bermakna memiliki ikatan
kerohanian dan kebanggaan profesional yang kuat
dengan yang dikerjakan serta terdapat jenjang
karir yang dapat diperoleh jika berprestasi.
Pada masa bergerak (kolonial), buruh bukan
hanya sebagai anti-tesis pada kaum pemodal tetapi
juga sebagai suatu komunitas yang hidup dalam
pertentangan bangsa antara Belanda dan (citacita) Indonesia. Oleh karena itu, buruh dapat
dipahami sebagai orang yang kepunyaan dan
tanahnya dirampas oleh kapitalis. Mereka yang
dulunya adalah petani dan pedagang kecil,
dirampas segala miliknya hingga tersisa tenaga,
badan, dan nyawa. Kaum kapitalis tidak
memberikan gaji yang layak dan tiada jaminan
sosial sehingga para buruh menggeliat dan
menuntut perbaikan hidup. Pertentangan sosial ini
dipertajam oleh perbedaan bangsa dan
pemerintahannya masih dijalankan oleh asing yang
cenderung mengabaikan kepentingan pribumi
(Malaka, 2013:71-75).
Kondisi pekerja niscaya tidak bahagia dalam
kondisi terhisap karena mereka tidak hidup sebagai
manusia seperti dipikirkan dan dibayangkan oleh
seorang manusia. oleh karena itu, buruh berusaha
keluar dari kondisi kejam untuk mencapai hidup
yang lebih baik dan lebih manusiawi. Buruh hanya
bisa mencapainya dengan menyerang kepentingan
borjuasi yang tetap mengeksploitasi mereka.
Namun borjuasi mempertahankan kepentingannya
dengan segala kekuatan karena kekayaan dan
Wijaya,Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
kekuasaan negara (Engels, 2014:65). Serikat buruh
dibentuk dengan tujuan yang jelas yakni melindungi
buruh dari tirani dan pengabaian borjuasi. Tujuan
serikat buruh sebagai kekuatan politik adalah
membuat kesepakatan umum dengan majikan,
mengatur tingkat upah rata-rata sesuai laba yang
didapatkan majikan, meningkatkan upah jika ada
peluang, dan menyamakan upah bagi semua
pekerja (Engels, 2014:67-68). Dapat dipahami
mengapa buruh berontak, hal ini karena sistem
produksi yang tidak manusiawi akan menentukan
bahwa buruh sebagai kelompok tertindas yang
selalu memberontak (Warouw, 2000:10).
Namun demikian, para buruh bukan hanya
di tingkat pimpinannya tetapi juga sampai taraf
anggota-anggota biasa melalui serikat buruh
memiliki keterkaitan dengan partai-partai politik
nasionalis. Hal ini menjadi wajar karena
kepentingan buruh dapat terlaksana apabila negara
memberikan intervensi pada kaum kapitalis untuk
meninjau ulang gaji yang diberikan. Namun apa
yang terjadi pada masa kolonial berbeda dengan
asumsi tersebut, para pemilik modal akan pergi
jika ditekan oleh pemerintah kolonial yang
menggantungkan pemasukan dari kaum kapitalis
tersebut. Oleh karena syarat utama dalam
pemerolehan hak-hak buruh dengan menggapai
kemerdekaan maka mereka bergabung dengan
partai-partai nasionalis yang menginginkan
kemerdekaan. Contohnya adalah serikat buruh
Pegawai Pribumi Departemen Pekerjaan Umum
cabang Probolinggo di bawah pimpinan Raden
Panji Suroso. Dia lulusan sekolah guru di
Probolinggo tetapi malah melamar menjadi
pegawai di Jawatan Irigasi. Kemudian dia
berkembang menjadi pemimpin serikat di sektor
publik dan dia menjadi ketua cabang Sarekat Islam Probolinggo (Ingleson, 2015:2).
Suroso seperti pimpinan-pimpinan utama
serikat buruh besar seperti Hindromartono dari
Batavia atau Djoko Said dari Bandung serta
Ruslan Wongsokusumo dari Surabaya berjuang
dengan cara yang lebih akomodatif (konfrontasi
dilarang keras pemerintah terutama pasca
pemberontakan PKI 1926 dan pemogokan massa
di kota-kota besar) meliputi tulisan rutin di media
massa, menyampaikan pidato-pidato, mengaktifkan organisasi-organisasi kesejahteraan sosial dan
koperasi selain juga menjadi anggota partai-partai
nasionalis. Ingleson (2015:5) menjelaskan bahwa
mereka juga menyadari bahwa tujuan yang
diperjuangkan masih bersifat imajiner dan tugas
93
utama mereka adalah mendidik buruh-buruh Indonesia agar menyadari bahwa serikat buruh
adalah bagian dari gerakan internasional yang lebih
besar. Mereka yakin bahwa masyarakat sipil yang
lebih kuat perlu dibangun dan bahwa pembentukan
koperasi penghimpun dana milik serikat,
perpustakaan, aktivitas-aktivitas sosial dan
pendidikan, klub-klub olahraga adalah langkah
penting untuk mencapainya. Pengetahuan mereka
mengenai sejarah buruh internasional meyakinkan
mereka bahwa serikat buruh hanya bisa mencapai
potensi penuh dalam sebuah masyarakat yang
demokratis, tapi masyarakat yang demokratis itu
tidak dengan sendirinya menjamin upah dan
kondisi kerja yang lebih baik bagi kaum buruh.
Hanya serikat buruh yang bisa memperjuangkan
itu.
Jatuh bangun perjuangan dalam menggapai
kemerdekaan dipengaruhi oleh batasan aktivitas
oleh negara kolonial yang represif. Setiap terdapat
partai politik yang meredup tajinya pasti muncul
partai politik yang baru baik sebagai kelanjutan
partai yang lama atau gabungan dua partai politik.
Setiap partai politik yang ada terus melancarkan
propaganda serta menarik para buruh untuk turut
serta menyukseskan tujuan partai dan partai
berusaha mewujukan keinginan dari serikat buruh.
Hal ini terlihat dari konteks politik pada medio
1926-1942: mulai dari perebutan anggota SI dan
PKI hingga Parindra dan Gerindo.
Pasca gagalnya pemberontakan PKI, para
anggota termasuk anggota-anggota serikat buruh
diinterogasi oleh polisi serta majikannya, sebagian
diasingkan ke Boven Digul, dan yang lain dipenjara.
Para anggota serikat buruh yang selamat mulai
tertarik pada Sarekat Islam yang tidak seberapa
lama juga melemah dan tidak mampu bangkit
seperti sebelumnya. Memasuki pertengahan 1927,
kekosongan politik itu diisi dengan kelahiran
Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Kecuali
Soekarno yang saat itu menjadi mahasiswa di ITB,
para pemimpin PNI sebagian besar adalah para
pemuda yang baru kembali studi dari Belanda.
Pada puncak kejayaan anggota PNI berjumlah
sekitar 10.000 orang. Sebagian besar bekerja
sebagai guru sekolah, pegawai negeri, klerk, dan
pedagang. PNI-pun akhirnya tidak bertahan lama
dengan ditangkapnya pucuk pimpinannya dan
partai tersebut dilarang. Setelah PNI dibubarkan
muncul Partindo pimpinan Sartono yang kemudian
diambil alih oleh Soekarno dan golongan merdeka
yang berkembang menjadi PNI-Baru dibawah
94 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Hatta dan Sjahrir. PNI-Baru dan Partindo ini yang
kemudian merebut kepemimpinan gerakan
kebangsaan. Dengan sifat represif, pemerintah
kolonial kemudian juga melarang kedua partai
tersebut dan Sutomo, seorang dokter membentuk
Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) dengan
harapan dapat mengisi kekosongan kepemimpinan
gerakan kebangsaan. Namun harapan itu tidak
tercapai. PBI bersama Budi Utomo melebur
menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra). Disisi
lain pada medio Mei 1937 lahir partai baru yang
lebih radikal bentukan aktivis muda di Batavia yaitu
Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Parindra
dan Gerindo tetap mengahadapi ruang gerak yang
sempit di bawah kebijakan pemerintah kolonial
(Ingleson, 2015:62-66).
Selain orientasi pragmatis pada kebutuhan
ekonomi dan politik, serikat buruh ternyata memiliki
corak humanisme yang berusaha menyelesaikan
permasalahan dasar manusia. Humanisme secara
umum dapat dipahami sebagai pandangan yang
berfokus pada jalan keluar dalam masalah-masalah
yang berkaitan dengan manusia. Humanisme
terbagi dalam dua spektrum yakni humanisme
religi dan humanisme sekular. Humanisme religi
biasanya berfokus pada martabat dan budi luhur
dari keberhasilan yang dihasilkan oleh manusia
seperti Santo Agustinus. Namun pandangan ini
tidak bertahan lama akibat kritisi bahwa dogma
agama membelenggu nalar manusia. Dengan
perantara alam pencerahan Eropa, manusia mulai
membangun kesadaran kritis dengan memposisikan dirinya sebagai individu yang berpengaruh
pada proses sejarah. Gerakan ini disebut
humanisme sekular.
Humanisme sekular percaya bahwa bahwa
martabat dan nilai seseorang dan kemampuan
untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika.
Jean Paul Sartre merupakan filosof yang begitu
berpengaruh pada pandangan humanisme dewasa
ini. Sartre (2002:41-47) memberikan penjelasan
bahwa setiap manusia pasti memiliki esensi,
memiliki beragam fungsi, dan berdampak bagi orang lain sehingga setiap tindakan manusia memiliki
imbas pada orang lain. Oleh karena itu, jika
manusia percaya bahwa eksistensi mendahului
esensi maka manusia menjadi bertanggung jawab
atas hidupnya. Eksistensi mendahului esensi dapat
dianalogikan seperti hubungan antara benda dan
pembuat benda tersebut. Sebagai contoh jika benda
tersebut adalah pisau pemotong kertas dan
dikatakan bahwa pisau tersebut adalah esensi yang
memiliki beragam fungsi maka pembuat pisau
tersebut adalah eksistensinya karena hanya dia
yang mengetahui formula dan kualitas produksi
pisau tersebut. Mengikuti alur pola pikir Satre
dapat dilihat bagaimana pondasi pemikiran
humanisme dalam serikat buruh yang tentunya
apapun yang dipikirkan dan dilakukan pasti
berpengaruh pada kehidupan masyarakat yang
setidaknya meliputi permasalahan rasial dan kelas
serta kesenjangan gender.
Permasalahan rasial dan pelapisan kelas dalam
sebuah organisasi memang menjadi ancaman bukan
hanya oleh serikat buruh tetapi oleh semua
organisasi karena memang setiap individu berasal
dari budaya yang berbeda-beda. Para pemimpin
serikat buruh sangat menyadari permasalahan dasar
yang menyangkut harkat dan martabat manusia ini.
Satu hal yang mungkin mendorong mengapa serikatserikat buruh Eropa mau menerima pribumi Indonesia sebagai anggota lebih karena mereka
mengenyam pendidikan barat dan menempati
lapisan menengah dalam tatanan masyarakat.
Selain itu mereka juga bekerja bersama dengan
orang Indo-Eropa dan orang Eropa seperti serikat
buruh kereta api, pegawai pos, serta telepon.
Mereka ini tidak mau tahu tentang soal “totok”, Indo,
atau pribumi. Menariknya, serikat buruh ini juga
bersimpati dengan adanya buruh-buruh Indonesia
karena juga turut membantu dalam meningkatkan
posisi tawar mereka dalam berhadapan dengan
pihak majikan. Hal ini yang membuat mereka
berusaha dan disisi yang lain berebut untuk merekrut
lapisan menengah yang berasal dari pribumi. Namun
disisi yang lain mereka juga menyadari mayoritas
anggota mereka yakni Indo-Eropa akan semakin
gelisah jika suatu saat lapisan menengah Indonesia
mengambil pekerjaan mereka (Ingleson, 2015:71).
Kesenjangan gender kiranya juga menjadi isu
sepanjang hayat dimana aktivitas kehidupan selalu
didominasi laki-laki. Bahkan dalam kepemimpinan
serikat buruh didominasi oleh laki-laki. Secara
umum tidak dapat disangkal bahwa para pemimpin
serikat masih berpandangan konservatif terhadap
kedudukan perempuan. Mereka lebih terbiasa
menempatkan perempuan sebagai pendamping,
pengikut, dan menganggap lebih layak mengurus
keluarga dibanding menjadi figur publik. Selain itu
diskriminasi juga diberlakukan pemerintah kolonial
manakala kebangkrutan mulai nampak, pihak
pertama yang diPHK adalah perempuan yang
sudah menikah dengan alasan melindungi pegawai
laki-laki sebagai pencari nafkah keluarga. Namun
Wijaya,Corak Humanisme dalam Serikat Buruh Jawa Tahun 1926-1942
demikian, serikat buruh ternyata tidak mengasingkan
perempuan tetapi malah memberdayakannya dalam
peran sosial dan ekonomi (yang sebenarnya menjadi
tujuan utama serikat buruh). Pada 1930-an serikatserikat itu mengorganisir unit tambahan untuk
perempuan, seperti yang dilakukan serikat pegawai
pegadaian, kantor pos, guru, dan pegawai negeri
kolonial. Mereka diberi kewenangan dalam
mengorganisir koperasi, perpustakaan, dan yang
terpenting membantu menciptakan industri rumah
tangga kecil atau yang berskala besar seperti
Wanita Utomo di Mataram yang merupakan unit
perempuan serikat buruh pegadaian berhasil
membangun pabrik tekstik pada pertengahan 1930an (Ingleson, 2015:76-79).
Dapat dijadikan kesimpulan bahwa serikat
buruh tidak hanya bergerak dalam tataran
pragmatis dalam aspek ekonomi dan politik tetapi
lebih jauh dalam tataran humanis yang turut serta
menyelesaikan permasalahan dasar manusia
dalam permasalahan rasial dan kelas serta
kesenjangan gender.
SIMPULAN
Kondisi buruh dan serikat buruh pada masa
kolonial memang dapat dipandang sebagai citacita kesejahteraan yang ideal bagi mereka di masa
95
depan. Namun cita-cita ini berarti sudah tergapai
dalam alam republik. Bahkan kondisi guru
(terutama guru tidak tetap dan honorer) tidak
mengalami perubahan mulai dari masa kolonial
hingga masa kontemporer yang berpenghasilan
jauh dari upah minimal yang telah ditetapkan di
masing-masing daerah. Jika dahulu serikat guru
berjuang tetapi di masa kini PGRI seolah tidak
mau tahu pada nasib guru sebagai profesi tersebut.
Contoh lain sebelum pemerintah kolonial
menghapus beasiswa bagi pribumi yang ingin studi
ke Negeri Belanda, banyak orang yang berduyunduyun mendapatkannya. Namun ketika republik
sudah merdeka dan pemerintah memberikan
banyak beasiswa ke luar negeri, tidak banyak yang
mau mengaksesnya, sungguh ironis dan konyol.
Sesungguhnya di era dewasa ini begitu banyak
lelucon yang nampak akibat ketidakmauan belajar
dari sejarah. Bahkan ada yang mengungkapkan
bahwa sejarah tidak penting dan tidak menjual atau
tidak menarik untuk dikaji. Sentimen tersebut
adalah sentimen yang keluar dari manusia yang
tidak tahu hakikatnya sebagai manusia. Dia tidak
menyadari bahwa pandangannya pada sejarah
tersebut adalah akumulasi pengetahuan yang
bersumber dari masa lalu dan sejarah adalah
disiplin ilmu yang berusaha mengaji serta
merekonstruksi masa lalu.
DAFTAR RUJUKAN
Engels, Fridrich. 2014. Kondisi Kelas Pekerja
Inggris: Embrio Sosialisme Ilmiah.
Yogyakarta: Pustaka Nusantara, 2014
Gie, Soe Hok. 2005. Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan. Yogyakarta: Bentang,
Ingleson, John. 2015 Buruh, Serikat, dan Politik:
Indonesia pada 1920-an-1930-an.
Tangerang Selatan: Marjin Kiri.
Ingleson, John. 2013. Perkotaan, Masalah
Sosial, dan Perburuhan di Jawa Masa
Kolonial. Jakarta: Komunitas Bambu.
Malaka, Tan. 2013. Aksi Massa. Yogyakarta:
Narasi.
Marx, Karl. 2006. Brumaire XVIII Louis
Bonaparte. Jakarta: Hasta Mitra, 2006
Munir. 2014. Gerakan Perlawanan Buruh:
Gagasan Politik dan Pengalaman
Pemberdayaan Buruh Pra Reformasi.
Malang: Intrans Publishing dan Omah
Munir.
Ralws, John. 2011. Teori Keadilan: Dasar Dasar
Filsafat Politik untuk Mewujudkan
Kesejahteraan Sosial dalam Negara.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sartre, Jean Paul. 2002. Eksistensialisme dan
Humanisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Tedjasukmana, Iskandar. 2008. Watak Politik
Gerakan Buruh Indonesia. Jakarta: TURC,
Tjandra, Surya. 2014. Gerakan Serikat Buruh Indonesia Pasca Orde Baru. Dalam AE Priyono
dan Usman Hamid (Eds.), Merancang Arah
Baru Demokrasi: Indonesia PascaReformasi. Jakarta: Kepustakaan Populer
Gramedia, Public Virtue Indonesia, dan TIFA.
Warouw, J. Nicolaas. 2000. Pemogokan Buruh:
Perjuangan Kaum Buruh pada Masa
Orde Baru. Yogyakarta: KesAnt.
Wineburg, Sam. 2006. Berpikir Historis:
Memetakan Masa Depan, Mengajarkan
Masa Lalu. Jakarta: Yayasan Obor, 2006
HUBUNGAN ANTARA MORAL DAN AGAMA DENGAN HUKUM
Eri Hendro Kusuma
Universitas Kahuripan Kediri, Jl. Soekarno-Hatta No. 1 Palem Pare Kediri
email:[email protected]
Abstract:law, morals, and religion all three interact with each other and equally regulate human
behavior. The law requires moral. The law does not mean much if not imbued with morality. Without
morality, laws are empty. Therefore, the law must always be measured by moral norms. Legal product
which is immoral should not be replaced when the moral consciousness of the community reached a
mature enough stage. On the other hand, also need moral law. Moral will dreamily otherwise disclosed and institutionalized in the society in the form one of them is legal. Religion and law are also
interrelated and coloring, due to the existence of the law strengthens religious teachings and vice
versa.
Keywords: moral, religion, law
Abstrak:hukum, moral, dan agama ketigaanya saling mengandaikan dan sama-sama mengatur perilaku
manusia. Hukum membutuhkan moral. Hukum tidak berarti banyak kalau tidak dijiwai oleh moralitas.
Tanpa moralitas, hukum adalah kosong. Karena itu, hukum harus selalu diukur dengan norma moral.
Produk hukum yang bersifat imoral tidak boleh tidak harus diganti apabila dalam masyarakat kesadaran
moral mencapai tahap cukup matang. Di sisi lain, moral juga membutuhkan hukum. Moral akan
mengawang-awang kalau tidak diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat dalam bentuk
salah satunya adalah hukum.Agama dan hukum juga saling berkaitan dan mewarnai, karena
keberadaan hukum memperkuat ajaran agama begitu pula sebaliknya.
Kata kunci: moral, agama, hukum
Antara Hukum, Moral, dan Agama nampaknya
seperti pelangi yang memiliki warna yang berbeda
akan tetapi menciptakan daya keindahan yang
sangat luar biasa. Meskipun demikian diantara
ketiganya pasti ada sebuah perbedaan dan
persamaan yang mendasar. Petama penulis akan
memamparkan perbedaan dari hukum dengan
moral dan agama. Perbedaan antara hukum moral
dan agama dapat dilihat berdasarkan tiga hal yaitu
berdasar sumber, isi, dan sanksi yang diberikan
oleh masing-masing kaidah tersebut.
Kajian Hukum dan moral mempunyai kaitan
erat diantara keduanya, meskipun hukum tidaklah
sama dengan moralitas begitu juga sebaliknya.
Hukum mengikat kepada semua orang sebagai
warga Negara, sedangkan moral hanya mengikat
orang sebagai individu. Dalam teori pemisahan
antara hukum dan moral bahwa hukum adalah
suatu hal dan moralitas adalah hal lain. Artinya
bahwa hukum dan moralitas tidaklah sama meski
mempunyai hubungan erat diantara keduanya dan
juga bukan tidak bisa dipisahkan hubungan antara
hukum dan moral. Namun ini bukan berarti bahwa
para penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan
hakim hanya memberikan perhatian terhadap
hukum dan tidak memberikan perhatian terhadap
moralitas. Sebenarnya hukum yang baik berasal
dari moralitas yang baik, dan moralitas yang baik
melahirkan hukum yang baik pula (Ka’bah,
2004:144).
Perubahan jamanyang sangat cepat saat ini
juga berpengaruh terhadap perilaku dan sikap
masyarakat. Seorang pujangga Indonesia pada
masa lalu yaitu Ki Ronggo Warsito menuliskan
sebuah syair yang menggambarkan kondisi
tingkah laku masyarakat pada masa kini. Berikut
syair yang menggambarkan kondisi tersebut.
Amenangi jaman edan,
ewuhaya ing pambudi,
Melu edan nora tahan,
yen tan melu nglakoni boya kaduman melik
96
Kusuma,Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
kaliren wekasanipun ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
Luwih begja sing eling lawan waspada
Arti ramalan tersebut adalah: hidup di jaman
edan/gila,sulit rasanya hati, ikut edan tidak tahan,
kalau tidak ikut melaksanakan, tidak mendapat
bagian,khirnya kelaparan, ternyata masih kuasa
kehendak Allah,seuntung-untungnya yang
melupakan, masih untung yang selalu ingat dan
waspada(syair Ki RonggoWarsito).
Kajian dalam tulisan ini akan membahas
beberapa hal, yaitu: (1) kaidah moral, (2) kaidah
agama Islam, (3) perbedaan hukum dengan agama
dan moral, (4) persamaan hukum dengan agama
dan moral, dan (5) hubungan hukum dengan moral
dan agama.
KAIDAH MORAL
“Moral” merupakan kata yang sudah
menjadi warna dalam kehidupan kita sehari-hari.
Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali fenomena
sosial yang mengharuskan orang untuk berbicara
mengenai kata tersebut. Ketika diberitakan di
televisi mengenai sebuah tawuran pelajar maka
kita sering mendengarkan istilah “pelajar tak
bermoral”, kemudian ketika ada pemberitaan
tentang pejabat yang korupsi maka kita sering
mendengar istilah “pejabat tak bermoral”. Dari
fenomena sosial tersebut lantas muncul sebuah
pertanyaan yang mendasar mengenai “apa itu
moral?”
Moral berasal dari bahasa latin mos (jamak:
mores) yang berarti kebiasaan atau adat. Dalam
bahasa Inggris, kata mores masih dipakai dalam
arti yang sama yaitu kebiasaan. Moral juga
mempunyai arti yang sama dengan moralitas yang
dalam bahasa latin disebut dengan moralis.Kamus
besar bahasa Indonesia mengartikan moral
sebagai (1) Ajaran baik atau buruk yang diterima
umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban,dan
sebagainya, (2) kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah,
berdisiplin, dan sebagainya atau dengan kata lain
isi hati/keadaan perasaan sebagaimana terungkap
diperbuatan, (3) ajaran kesusilaan yang dapat
ditarik dari suatu cerita (Departemen Pendidikan
Nasional, 2008:929).
Bertens dalam bukunya yang berjudul “Etika”
mengatakan bahwa moral merupakan nilai-nilai
dan norma-norma yang menjadi pedoman bagi
97
seseorang maupun kelompok yang digunakan
untuk mengatur suatu perbuatan (Bertens, 2007:4).
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa
moral dijadikan sebuah ukuran seseorang atau
kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau
perbuatan. Misalnya kelompok organisasi masa
yang melakukan demonstrasi disertai dengan
tindakan anarkis maka mereka berpedoman pada
nilai dan norma yang tidak baik, atau beberapa
anggota partai politik yang terkena kasus korupsi
maka mereka berpedoman pada nilai dan norma
yang tidak baik.
Ensiklopedi Nasional Indonesia menjelaskan
bahwa moral merupakan salah satu cabang ilmu
filsafat yang secara khusus mempelajari dan
berbicara tentang tingkah laku manusia. Moral
dikatakan sebagai norma maka akan berbicara
mengenai bagaimana orang harus bertindak.
Sehingga dapat dikatakan bahwa moral merupakan
suatu ciri berperilaku seseorang yang dihubungkan
dengan ukuran yang ada dalam masyarakat,
khususnya mengenai perilaku baik atau buruk,
moralitas bukan sesuatu yang diperoleh dari
kelahiran melainkan tumbuh dan berkembang
dalam lingkungan hidup (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990:371).
Dari berbagai perspektif mengenai pengertian
moral maka penulis memberikan pengertian moral
sebagai suatu prinsip yang mengatur setiap sikap
dan perbuatan manusia yang berlandaskan asas
kemanusiaan secara universal. “Baik” atau
“buruk” nampaknya dua kata yang menjadi dasar
dari ukuran moral. Orang yang melakukan amal
dari uang hasil korupsi mengatakan bahwa itu
adalah perbuatan yang diperbolehkan menurut
pemikirannya tapi bertentangan dengan kaidah
secara umum.
Setiap kasus, perbuatan bisa memiliki
moralitas yang berbeda-beda karena dipengaruhi
oleh unsur-unsur tertentu. Unsur-unsur penentu
moralitas tersebut dapat dibicarakan melalui
pertanyaan, apa yang dikerjakan oleh seseorang?
Mengapa ia mengerjakan hal itu? Bagaimana
Keadaan ketika dia mengerjakan itu?.
Dari berbagai pengertian tentang moral diatas
maka kita lanjutkan ke pada apa sebenarnya yang
dimaksud dengan “kaidah moral”. Kaidah
merupakan kata yang berasal dari bahasa arab
yang memiliki arti “tata”. Tata merupakan wujud
dari aturan-aturan yang menjadi tingkah laku dalam
pergaulan hidup manusia yang berguna untuk
memelihara dan menjamin kepentingan masing-
98 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
masing individu(Rochman dkk, 2011:79). Kaidah
dalam bahasa latin biasa disebut dengan “norma”
atau aturan-aturan (dalam bahasa Indonesia”. Isi
dari kaidah ada dua yaitu mengenai perintah dan
larangan. Perintah merupakan sesuatu yang
“harus” dilakukan oleh manusia sedangkan
larangan adalah sesuatu yang “tidak boleh”
dilakukan oleh manusia dalam kehidpuan seharihari.
Dari pengertian tentang kaidah dan moral
diatas, maka penulis mendefinisikan kaidah moral
sebagai suatu ukuran tingkah laku baik atau buruk
manusia yang dipandang benar menurut sudut
pandang umum. Sebagai contoh, ketika seseorang
melakukan pembunuhan maka mustahil dia sendiri
atau keluarganya boleh dibunuh, peristiwa ini
mengandung arti subjektif sehingga tidak bisa
dikatakan sebagai kaidah moral karena tidak
mungkin di buat secara umum. Beda dengan
“ketika berjanji maka harus ditepati”, ini bisa dibuat
kaidah secara umum karena setiap orang pasti
harus menggunakan ini, saya berjanji maka saya
wajib menepati janji itu, dan ketika saya di beri
janji maka saya berharap janji itu ditepati.
KAIDAH AGAMA
Agama” merupakan kata yang sudah biasa
di dengar dan diucapkan oleh berbagai kalangan
masyarakat karena kata tersebut nampaknya
sudah menjadi bagian yang mendasar bagi
kehidupan manusia. Kata agama memang sulit
sekali ketika diberikan sebuah pengertian menurut
kebenaran universal, karena berkaitan dengan
individu dan sesuatu yang gaib. Akan tetapi bukan
tidak mungkin “agama” itu bisa didefinisikan
menurut berbagai perspektif.
Kata agama berasal dari bahasa sansekerta
yang terdiri dari dua perkataan yaitu A dan Gama.
A berarti tidak dan Gama yang berarti kocar-kacir
atau berantakan. Sehingga kata agama dapat
diartikan dari gabungan dua suku kata tersebut
yaitu tidak kocar-kacir (Bashori, 2002:22).
Berbeda dengan Gazalba yang mengatakan
bahwa kata agama berasal dari kata dasar gam
yang memiliki pengertian sama dengan go (bahasa
Inggris) yang berarti pergi, dan setelah
mendapatkan awalan dan akhiran a menjadi
agama yang berarti jalan. Dengan demikian
pengertian dari kata agama secara etimologis
mengandung arti yang bersifat mendasar yang
dimiliki oleh berbagai agama yaitu agama adalah
jalan, jalan hidup atau jalan yang harus ditempuh
oleh manusia dalam kehidupannya di dunia
(Muhaimin, 2008:5-6).
Selain itu di Indonesia juga sering disebutkan
mengenai religi yang berasal dari bahasa Inggris
yang berarti “berhati-hati” dan berpegang teguh
pada norma-norma atau aturan-aturan secara
ketat. Dengan demikian religi dapat dikatakan
sebagai suatu keyakinan akan adanya kekuatan
gaib yang suci, yang menentukan jalan hidup dan
memengaruhi kehidupan manusia, yang dihadapi
secara berhati-hati dan diikuti jalan-jalan dan
aturan-aturan yang ketat sehingga tidak
menyimpang dari jalan yang ditetapkan oleh
kekuatan gaib yang suci tersebut (Muhaimin,
2005:6).
Dalam kamus besar bahasa Indonesia
dijelaskan bahwa Agama adalah ajaran atau sistem
yang mengatur tata keimanan atau
kepercayaandan peribadatan yang berhubungan
dengan pergaulan manusia dengan manusia serta
manusia dengan lingkungannya (Departemen
Pendidikan Nasional, 2008:15).
Agama dalam agama budha berarti tradisi
yang diwariskan para guru secara turun temuru
atau sabda. Agama juga berarti aturan atau tata
cara hidup manusia dalam hubungannya Tuhan dan
sesamanya (Ensiklopedi Nasional Indonesia,
1988:125).
Lain lagi dalam bahasa arab yang menyebut
agama sebagai din. Salah Satu kata din dapat
dibaca pada QS- Al Kafirun ayat 6 “Lakum
diinukum waliyadin”yang berarti “untukmu
agamamu dan untukku agamaku”. Kata din
sendiri memiliki arti “hutang” atau sesuatu yang
harus dipenuhi. Dalam bahasa semit kata din
diartikan sebagai undang-undang atau hukum
(Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1988:6-7). Dari
kedua pengertian tersebut dapat ditarik sebuah
kesimpulan bahwa kata din adalah undangundang atau hukum yang harus ditaati oleh
manusia, dan ketika manusia itu tidak taat hukum
maka dia berhutang yang akan terus ditagih, serta
akan mendapatkan balasan jika tidak segera
dibayar.
Dari beberapa pandangan mengenai
pengertian agama di atas maka penulis
mendefinisikan kaidah agama sebagai suatu
keyakinan yang dimiliki oleh setiap individu
mengenai perintah dan larangan Tuhan (Allah
SWT), baik ketika berhubungan dengan sesuatu
yang gaib (Allah),individu dengan dengan individu
Kusuma,Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
lainnya, serta individu dengan lingkungannya untuk
mencapai sebuah tatanan kehidupan yang baik,
dan jika mereka melanggar perintah dan larangan
Allah maka akan menerima sanksi yang bukan
saja di alam dunia akan tetapi juga diterima pada
tempat yang berbeda (alam akhirat).
PERBEDAAN HUKUM DENGAN AGAMA
DAN MORAL
Antara kaidah hukum, moral dan agama
memiliki sumber yang berbeda. Kaidah agama
biasanya bersumber pada kitab suci ( dalam islam
bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi).
Salah satu bukti bahwa Al Qur’an adalah sumber
dari segala sumber hukum dalam kehidupan
manusia dapat dilihat dalam QS. Al-Ahzab ayat
36 yang artinya:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang
Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang
Mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah
Menetapkan suatu Ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
Dan barang siapa mendurhakai Allah dan
RasulNya maka sesungguhnya dia telah sesat,
sesat yang nyata.”
Segala perbuatan manusia menurut kaidah
agama haruslah berdasarkan perintah dan larangan
Allah SWT yang terdapat pada Kitab Suci Al
Qur’an. Tata kehidupan manusia mulai dari
hubungannya dengan Allah, hubungan dengan
manusia yang lain, serta hubungan dengan alam
semesta harus sesuai dengan apa yang sudah
tersurat di dalam Al Qur’an.
Berbeda dengan kaidah agama yang
bersumber dari Kitab Suci, Kaidah Moral
bersumber dari dalam diri individu manusia yang
kebenarannya diakui secara universal. Kemudian
mucul pertanyaan mengapa harus universal/
objektif dan tidak bergantung dari hati nurani saja?.
Penulis akan mencoba memberikan sebuah
contoh, “seorang teroris” yang melakukan bom
bunuh diri dan menyebabkan hilangnya nyawa
manusia yang lain, mengaggap bahwa
perbuatannya itu baik sesuai hati nuraninya. Akan
tetapi jika dilihat dari kacamata manusia lain maka
tindakan teroris itu amatlah keji dan bertentangan
dengan hati nurani orang lain.
Bertens (2007:62) mengatakan kita tidak
boleh bertindak yang bertentangan dengan hati
nurani, karena itu harus diikuti meski secara
objektif ia sesat. Akan tetapi manusia wajib juga
99
mengembangkan hati nurani dan seluruh
kepribadian etisnya sampai menjadi matang dan
seimbang, pada akhirnya orang yang sungguhsungguh dewasa dalam bidang etis, putusan
subjektif dari hati nuraniakan sesuai dengan
kualitas objektif dari perbuatannya. Hati nurani
sangatlah penting karena itu akan menjadi tembok
pertahanan terakhir tindakan manusia. Akan tetapi
hati nurani haruslah dibina hingga menuju sebuah
kedewasaan etis demi terwujudnya sebuah
pernyataan objektif menurut kebenaran universal.
Jika kaidah agama bersumber pada kitab suci
dan kaidah moral bersumber pada setiap individu
manusia, kemudian sumber kaidah hukum apa?
Kaidah hukum merupakan segala apa saja yang
menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai
kekuatan memaksa dan jika itu dilanggar maka
akan mengakibatkan sanksi yang tegas dan nyata.
Aturan-aturan itu bisa berupa peraturan
perundang-undangan, kebiasaan, yurisprudensi,
traktat, maupun doktrin (Kansil, 1989:46).
Dalam pandangan lain dikatakan bahwa
kaidah hukum adalah peraturan –peraturan yang
timbul dan dibuat oleh lembaga-lembaga negara
tertentu. Isinya mengikat setiap orang dan
pelaksanaannya dapat dipertahankan dengan
segala paksaan oleh alat-alat negara (Kansil,
1989:82). Sehingga dari pengertian ini dapat
disimpulkan bahwa kaidah hukum bersumber dari
aturan yang dibuat oleh penguasa suatu negara.
Kaidah Hukum lebih dikodifikasikan daripada
moralitas, artinya dituliskan dan secara kurang lebih
sistematis disusun dalam kitab undang-undang.
Karena itu norma yuridis mempunyai kepastian
lebih besar dan bersifat lebih objektif. Sebaliknya
norma moral bersifat lebih subjek dan akibatnya
lebih banyak diganggu oleh diskusi-diskusi yang
mencari kejelasan tentang apa yang dianggap etis
atau tidak etis. Tentu saja di bidang hukum pun
terdapat banyak diskusi dan ketidakpastian tetapi
di bidang moral ketidakpastian ini lebih besar
karena tidak ada pegangan tertulis. Lain lagi
dengan kaidah agama yang terkodifikasi sehingga
timbul adanya sebuah kepastian hukum meskipun
kepastian itu bersifat abstrak, karena berhubungan
dengan hal-hal ghaib.Di dalam kitab suci juga
dijelaskan bagaimana tata cara manusia ketika
berhubungan dengan manusia yang lain serta
dijelaskan juga mengenai ukuran baik manusia
ketika bertindak.
Menurut hemat penulis ketiganya dapat
disimpulkan bahwa hukum membatasi diri pada
100 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
tingkah laku lahiriah saja, sedangkan moral
menyangkut sikap batin seseorang. Niat batin tidak
termasuk jangkauan hukum, sebaliknya dalam
konteks moralitas sikap batin sangat penting.
Sedangkan di dalam agama (Islam)aturan antara
lahiriah dan bathiniah keduanya dianggap sangat
penting sehingga kedua hal tersebut wajib
diwadahi, dalam islam istilah ini disebut dengan
Akhlak. .
Sanksi yang berkaitan dengan hukum
berlainan dengan sanksi yang berkaitan dengan
moral mapun agama. Hukum untuk sebagian besar
dapat dipaksakan, orang yang melanggar hukum
akan mendapat sanksi/hukuman. Suatu contoh
ketika ada orang yang melakukan pencurian maka
di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP) dikatakan orang yang mencuri tersebut
mendapatkan pidana penjara atau denda. Jadi
sanksi yang diberikan oleh hukum ini bersifat tegas
dan nyata.
Tetapi norma-norma etis tidak dapat
dipaksakan. Menjalankan paksaan dalam bidang
etis tidak efektif juga. Sebab paksaan hanya dapat
menyentuh bagian luar saja, sedangkan perbuatanperbuatan etis justru berasal dari dalam. Satusatunya sanksi dalam bidang moralitas adalah hati
nurani yang tidak tenang karena telah melakukan
perbuatannya yang kurang baik terhadap orang
lain.
Sedangkan sanksi yang diberikan agama
nyata dan juga abstrak karena bukan hanya
sekarang (di dunia), akan tetapi setelah manusia
itu mengalami kematian (alam barzah dan alam
akhirat) juga akan mendapatkan sanksi manakala
tidak segera bertobat. Misal di dalam QS. Al
Ma’idah Ayat 38 yang artinya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan
yang mencuri, potonglah tangan keduanya
(sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka
kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Secara tegas di katakan dalam ayat tersebut
di atas tidak membedakan laki-laki maupun
perempuan ketika mereka melakukan pencurian
maka harus dipotong tangannya. Bukan hanya itu,
ketika mereka tidak mau bertobat atas
perbuatannya maka di hari pembalasan (alam
akhirat) akan mendapatkan sanksi lagi yang lebih
kejam dari pada potong tangan. Ini secara lahiriah
orang yang mencuri tersebut akan jerah dan secara
bathiniah hatinya akan tersiksa karena hukumannya
bukan hanya di dunia tapi berlanjut di akhirat.
Hukum didasarkan atas kehendak
masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara.
Juga kalau hukum tidak secara langsung berasal
dari negara seperti hukum adat maka hukum itu
harus diakui oleh negara supaya berlaku sebagai
hukum. Moralitas didasarkan pada norma-norma
moral yang melampaui para individu dan
masyarakat. Dengan cara demokratis ataupun
cara lain masyarakat dapat mengubah hukum
tetapi tidak pernah masyarakat mengubah atau
membatalkan suatu norma moral. Masalah etika
tidak dapat diputuskan dengan suara terbanyak.
Tetapi kalau hubungan dengan perbuatan
yang bersifat melawan hukum, maka agama, moral,
dan hukum itu saling bertemu. Disini agama, moral,
dan hukum mempunyai bidang bersama.
Perbedaan antara hukum dan moral disini ialah
bahwa jalan menuju ke bidang bersama itu
bertentangan arah, yaitu bagi hukum dari luar (dari
perbuatan lahir) ke dalam(ke batiniah).
Seringkali hukum harus menghukum
perbuatan yang timbul dari motif yang dibenarkan
oleh moral. Ini merupakan akibat perbedaan dalam
tujuan antara hukum dan moral. Sebab syarat untuk
adanya kehidupan bersama yang lebih baik dengan
yang baik dengan yang ditentukan oleh moral bagi
manusia sebagai individu seperti pembunuhan atas
perintah komandan; sumpah diganti janji.
Didalam hukum ada kekuasaan luar
(kekuasaan diluar “aku”) yaitu masyarakat yang
memaksakan kehendak. Kita tunduk pada hukum
diluar kehendak kita. Hukum mengikat kita tanpa
syarat. Sebaliknya perintah batiniah(moral) itu
merupakan syarat yang ditentukan oleh manusia
sendiri. Moral mengikat kita karena kehendak
kita.Hukum bertujuan tatanan kehidupan bersama
yang tertib. Tujuan ini hanya dapat dicapai apabila
diatas dan diluar manusia individual ada kekuasaan
yang tidak memihak yang mengatur bagaimana
mereka harus bertindak satu sama lain.
Moral berakar dalam hati nurani manusia,
berasal dari kekuasaan dari dalam diri manusia.
Disini tidak ada kekuasaan luar yang memaksa
manusia mentaati perintah moral. Paksaan lahir
dan moral tidak mungkin disatukan. Hakikat
perintah moral adalah bahwa harus dijalankan
dengan sukarela. Satu-satunya perintah kekuasaan
yang ada dibelakang moral adalah kekuasaan hati
nurani manusia. Kekuasaan ini tidak asing juga
pada hukum, bahkan mempunyai peranan penting.
Agama yang bersumber dari kitab suci
menjadi pelengkap antara hukum dan moral,
Kusuma,Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
101
Tabel 1 Perbedaan Hukum dengan Moral dan Agama
Kaidah
Berdasarkan
Hukum
Moral
Agama
Sumber
Dari Masyarakat
yang diwakili oleh
pemerintah
Dari dalam diri
manusia sendiri
Dari Tuhan melalui
Kitab Suci
Isi
Berkenaan dengan
sikap lahir
Berkenaan dengan
sikap bathin
Berkenaan dengan
sikap Lahir dan bathin
Sanksi
Eksternal yaitu
berupa pidana
maupun denda
Intern yaitu dari
pelaku sendiri
Intern yaitu berupa dosa
karena antara lahiriah dan bathiniah diatur dalam
ajaran agama khususnya Islam. Agama mencoba
menyatukan antara paksaan lahir dan bathin.
Agama mencoba membina hati nurani manusia
menuju kedewasaan, dari hati nurani yang bersih
maka akan timbul kegiatan lahiriah yang bersih
pula. Untuk memudahkan pemahaman mengenai
perbedaan hukum dengan moral dan agama maka
penulis membuat sebuah tabel perbandingan di
antara ketiga kaedah tersebut.
PERSAMAAN
HUKUM
AGAMA DAN MORAL
DENGAN
Dalam banyak literatur dikemukakan bahwa
tujuan hukum atau cita hukum tidak lain daripada
keadilan. Gustav Radbruch, di antaranya
menyatakan bahwa cita hukum tidak lain daripada
keadilan, Esensi keadilan berpangkal pada moral
manusia yang diwujudkan dalam rasa cinta kasih
dan sikap kebersamaan (Marzuki, 2009:44).Yang
pertama kali mengemukakan moral sebagai dasar
aturan adalah Thomas Aquinas (Marzuki,
2009:139).Thomas Aquinas menyatakan manusia
tidak dapat mengingkari keberadaan tubuhnya.
Tubuh inilah yang memicu adanya tindakan,
keinginan dan hawa nafsu.
Menurut Thomas Aquinas, manusia melalui
kekuatan kemauan dan pikiran yang dimilikinya
dapat melepaskan diri dari kendali-kendali
tersebut. Daya intelektual manusia dapat
memberikan peringkat terhadap makna mengenai
apa yang dimiliki manusia. Kekayaan, kesenangan,
kekuasaan, dan pengetahuan merupakan objek
keinginan yang dapat dimiliki oleh manusia. Akan
tetapi semua itu tidak dapat menghasilkan
kebahagian manusia yang terdalam. Hal-hal itu
tidak memiliki karakter kebaikan yang bersifat
universal yang dicari oleh manusia. Aquianas
percaya bahwa kebaikan yang universal itu tidak
dapat diketemukan pada ciptaan, melainkan pada
Allah Sang Pencipta.
Menurut Thomas Aquianas, hukum terutama
berkaitan dengan kewajiban yang diletakkan oleh
nalar. Hukum meliputi kekuasaan, dan kekuasaan
inilah yang memberikan kewajiban. Akan tetapi
di belakang kekuasaan inilah berdiri nalar.
Penguasa melalui hukum positif dapat memberi
perintah yang bukan-bukan atau memaksa orang
melakukan perbuatan yang tidak benar, tetapi
hukum positif tersebut bekerja tidak sesuai dengan
hakikat alamiah hukum. Hukum alam ditentukan
oleh nalar manusia. Mengingat Allah menciptakan
segala sesuatu, hakikat alamiah manusia dan
hukum alam paling tepat dipahami sebagai produk
kebijaksanaan atau pikiran Allah.
Bentuk kaidah hukum, moral, dan agama
adalah berupa perintah dan larangan yang harus
dilakukan manusia dalam melakukan sebuah
tindakan. Larangan untuk melakukan pencurian
adalah salah satu contoh perintah untuk
menghargai hak milik orang lain. Sehingga negara
(melalui peraturan perundang-undangan) melarang
perbuatan pencurian tersebut. Moral sebagai
“ukuran baik atau buruk” dalam melakukan
sebuah tindakan maka akan timbul sebuah perintah
dan larangan yang berasal dari hati nurani masingmasing individu untuk tidak melukai lahiriah dan
bathiniah individu yang lain. Sedangkan di dalam
agama juga sama yaitu berbentu perintah dan
larangan. Perintah untuk menghargai sesama dan
larangan untuk mencuri adalah salah satu contoh
perintah Allah yang tersurat dalam Al Qur’an.
Antara kaidah hukum, moral, dan agama
bertujuan untuk menciptakan ketertiban individu
dilingkungan masyarakat. Hukum ada karena
102 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Tabel 2 Persamaan Hukum dengan Moral dan Agama
Kaidah
Berdasarkan
Hukum
Moral
Agama
Bentuknya
Berupa kewajiban
dan larangan
Berupa kewajiban
dan larangan
Berupa kewajiban
dan larangan
Sifat
Memaksa
Memaksa
Memaksa
Tujuan
Ketertiban
masyarakat
Kepentingan pelaku
untuk kehidupan di
masyarakat
Tatanan hidup yang
baik di dunia dan
di akhirat
untuk mengatur tingkah laku individu dalam
bertindak dilingkungan masyarakat. Kaidah moral
melalui hati nurani membimbing manusia menuju
kejalan yang benar ketika individu tersebut
menjalani kehidupan di dalam bermasyarakat.
Sedangkan agama lebih dari pada hukum dan
moral, karena bukan hanya dipertanggung
jawabkan di dunia melainkan ketika melakukan
kegiatan di masyarakat segala amal perbuatan
yang baik maupun buruk akan dicatatdan di
pertanggung jawabkan kelak di alam akhirat.
Adanya sanksi baik dari kaidah hukum, moral,
dan agama tidak lain adalah untuk mengatur tata
kehidupan individu di dalam masyarakat. Sanksi
adalah sebuah cara untuk memaksa individu untuk
berbuat baik, sanksi adalah sebuah keharusan yang
harus diterima oleh individu ketika mereka melanggar
kaidah. Dengan adanya perintah, larangan, dan
sanksi menyebabkan antara hukum, moral, dan
agama sama-sama memiliki sifat “memaksa”. Ketiga
kaidah tersebut memiliki sifat yang sama karena
memiliki tujuan yang sama pula. Sehingga untuk
mencapai tujuan tersebut tidak ada jalan yang lain
selain harus memaksa individu untuk melakukan
tindakan yang baik dari kaca mata objektif.
Adanya perbedaan antara hukum, moral, dan
agama sebagaimana disampaikan sebelumnya
tidaklah menjadi pembeda diantara keduanya.
Artinya antara hokum, moral, dan agama
sangatlah erat kaitan diantara ketiganya. Sehingga
selain ada beberapa perbedaan yang sudah
disampaikan sebelumnya berikut juga beberapa
persamaan antara hukum, moral, dan agama.
HUBUNGAN HUKUM DENGAN MORAL
DAN AGAMA
Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia tahun 1945 Pasal 29 (2) menyatakan “
Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing dan untuk beribadat menurut agamnya dan
kepercayaannya itu. Bukti bahwa antara hukum,
moral, dan agama tidak bisa dilepaskan dalam
tatanan kehidupan masyarakat Indonesia.
Hukum, moral, dan agama merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam tatanan
kehidupan masyarakat Indonesia. Antara hukum,
moral, dan agama mempunyai hubungan yang erat
sehingga diantara ketiganya dapat memperkuat satu
sama lain untuk menjalankan kaidah-kaidahnya.
Orang yang menganut suatu ajaran agama maka
sudah pasti dia bermoral dan taat akan hukum. Hal
tersebut didasarkan pada suatu realita bahwa di
dalam ajaran agama apapun tidak ada yang
mengajarkan tentang bagaimana berbuat buruk atau
jahat kepada orang lain.Tidak dapat dipungkiri jika
agama mempunyai hubungan erat dengan moral.
Setiap agama mengandung suatu ajaran yang
menjadi pegangan bagi perilaku para penganutnya.
Diantara hukum, moral, dan agama ketigaanya
saling mengandaikan dan sama-sama mengatur
perilaku manusia. Hukum membutuhkan moral.
Hukum tidak berarti banyak kalau tidak dijiwai oleh
moralitas. Tanpa moralitas, hukum adalah kosong.
Kualitas hukum sebagian besar ditentukan oleh mutu
moralnya. Karena itu, hukum harus selalu diukur
dengan norma moral. Produk hukum yang bersifat
imoral tidak boleh tidak harus diganti bila dalam
masyarakat kesadaran moral mencapai tahap cukup
matang. Di sisi lain, moral juga membutuhkan
hukum. Moral akan mengawang-awang kalau tidak
diungkapkan dan dilembagakan dalam masyarakat
dalam bentuk salah satunya adalah hukum. Dengan
demikian, hukum bisa meningkatkan dampak sosial
dari moralitas. “Menghormati milik orang lain”
misalnya merupakan prinsip moral yang penting.
Ini berarti bukan saja tidak boleh mengambil dompet
orang lain tanpa izin, melainkan juga milik dalam
Kusuma,Hubungan antara Moral dan Agama dengan Hukum
bentuk lain termasuk milik intelektual, hal-hal yang
ditemukan atau dibuat oleh orang lain (buku, lagu,
komposisi musik, merk dagang dsb).Hal ini berlaku
karena alasan etis, sehingga selalu berlaku, juga bila
tidak ada dasar hukum.
Hukum tanpa moral adalah kezaliman. Moral
tanpa hukum adalah anarki dan utopia yang
menjurus kepada peri-kebinatangan. Sedangkan
hukum dan moral tanpa di landasi agama maka
akan sesat. Hanya hukum yang dipeluk oleh
kesusilaan dan berakar pada kesusilaan yang dapat
mendirikan kesusilaan. Dengan begitu dapat
dinyatakan bahwa hukum tanpa keadilan dan
moralitas bukanlah hukum dan tidak bisa bertahan
lama. Sistem hukum yang tidak memiliki akar
substansial pada keadilan dan moralitas pada
akhirnya akan terpental. sehingga hukum dan moral
harus berdampingan, karena moral adalah pokok
dari hukum, maka tidak ada dan tidak pernah ada
pemisahan total hukum dari moralitas. Oleh
karenanya hukum yang dipisahkan dari keadilan
dan moralitas bukanlah hukum.
Moral dengan hukum memiliki hubungan
yang erat pula, hukum membutuhkan moral, disisi
lain moral juga membutuhkan hukum. Tanpa
moralitas hukum akan kososng, sedangkan moral
akan mengawang-awang jika tidak diungkapkan
dan dikembangkan dalam masyarakat. Artinya
adalah moral dan hukum senantiasa saling
mendukung satu sama lain, tanpa moral lantas apa
dasar yang akan diatur dalam hukum. Sedangkan
jika tidak ada hukum lantas bagaimana
merealisasikan harapan-harapan “baik” yang
menjadi dasar dari kaidah moral.
Kubu positivisme hukum inklusif mengatakan
bahwa kaidah hukum positif yang tidak sejalan
atau bahkan bertentangan dengan faktor moral,
bisa jadi kaidah hukum positif tersebut menjadi
tidak valid. Meskipun demikian pendapat ini juga
bersebrangan dengan teori postivisme hukum
eksklusif yang menganggap bahwa hukum adalah
undang-undang (Fuady, 2013:73-74). Namun
pendapat dari teori postivisme hukum postivisme
ekslusif yang klasik nampaknya mendapatkan
pertentangan dari teori positivisme ekslusif yang
lebih moderat yang menganggap bahwa faktor
moral juga memberi sumbangan kepada apa yang
seharusnya dilakukan ketika hukum itu
dilaksanakan.
Pada umumnya peraturan-peraturan hukum
dilaksanakan secara sukarela oleh karena kita dalam
hati nurani kita merasa wajib. Hukum dalam
103
pelaksaannya terdapat dukungan moral.Dasar
kekuasaan batiniah dari hukum ini dapat berbeda.
Dapat terjadi karena isi peraturan hukum memenuhi
keyakinan batin kita. Akan tetapi dapat juga isi
peraturan hukum kita mematuhinya. Dibelakang
hukum masih ada kekuasaan disamping hati nurani
kita. Masyarakat yang menerapkan peraturanperaturan hukum itu mempunyai alat kekuasaan
untuk melaksanakan pelaksanaanya kalau tidak
dilaksanakan. Pelaksanaan hukum tidak seperti
moral yang hanya tergantung pada kekuasaan
batiniah, tetapi masih dipaksakan juga oleh alat-alat
kekuasaan lahir/luar.
Agama dan hukum juga saling berkaitan dan
mewarnai, untuk mendapatkan legaltas dari suatu
negara maka harus melaksanakan ritual sesuai
dengan ajaran agama, Suatu contoh sepasang
mempelai yang melakukan pernikahan maka
terlebih dahulu harus disahkan menurut ajaran
agamanya, sebelum mereka mendapat pengakuan
dari negara melalui catatan pernikahan dari Kantor
urusan Agama (KUA) maupun catatan sipil.
Fenomena ini terjadi karena untuk melaksanakan
hukum yang dibuat oleh pemerintah. Pasal
2(1)Undang-Undang Republik IndonesiaNomor I
Tahun 1974TentangPerkawinan, menyatakan
bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya itu.
Meskipun demikian tidak semuanya yang ada
di kitab suci bisa diadopsi ke dalam hukum positif.
Contohnya adalah sanksi pemotongan tangan
kepada pencuri yang dibenarkan oleh agama Islam, akan tetapi itu bertentangan dengan hukum
positif di Indonesia karena alasan pertimbangan
nilai moral. Hal ini yang memberikan salah satu
bukti bahwa antara hukum, moral dan agama
memiliki hubungan yang sangat erat.
Dari kajian ini agama merupakan suatu
kaedah yang di dalamnya sudah mencakupi ciri
dari kaedah hukum maupun moral. Di dalam
agama sudah terdapat ciri yang ada dalam kaedah
hukum yaitu adanya sebuah perintah dan larangan,
dan ada sanksi yang jelas. Dalam ajaran agama
pun juga sudah terdapat ciri dari kaedah moral
yaitu mengatur bagaimana seseorang bisa berbuat
sesuatu yang baik dan meninggalkan sesuatu yang
buruk demi ketentraman sebuah bathin. Sehingga
dapat dikatakan jika seseorang benar-benar
menganut ajaran salah satu agama secara benar
maka sudah pasti juga melaksanakan kaedahkaedah yang lain. Berikut gambaran yang
104 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
sekiranya dapat menjelaskan hubungan hukum,
moral dan agama secara sederhana,
Kaidah agama nampak bidang kajiannya
cukup luas dibandingkan dengan kedua kaidah
lainnya yakni hukum dan moral. Moral hanya
sebatas mengajarkan mana yang baik dan mana
yang buruk menurut kebenaran umum tanpa
adanya sebuah aturan yang jelas mengenai
sanksi. Hukum mengatur lar angan dan
keharusan dengan aturan sanksi yang jelas akan
tetapi hukum hanya berhubungan dengan yang
lahiriah saja. Sedangkan agama cakupannya
sangatlah luas, bukan hanya sebatas ukuran
baik dan buruk menurut kebenaran hati dan
pikiran bersih, bukan juga hanya perintah,
larangan, dan sanksi yang bersifat lahiriah saja,
akan tetapi lebih luas dari apa yang menjadi
dasar dari kedua kaidah tersebut.
SIMPULAN
Moral mengajarkan mana yang baik dan
mana yang buruk menurut kebenaran umum tanpa
adanya sebuah aturan yang jelas mengenai
sanksi.Agama cakupannya sangat luas, bukan
hanya sebatas ukuran baik dan buruk menurut
kebenaran hati dan pikiran bersih, bukan juga
hanya perintah, larangan, dan sanksi yang bersifat
lahiriah saja, akan tetapi lebih luas dari apa yang
menjadi dasar dari kedua kaidah tersebut yakni
ada sanksi pada kehidupan setelah manusia
meninggal. Hukum mengatur larangan dan
keharusan dengan aturan sanksi yang jelas yang
dibuat oleh negara, keberadaan hukum sangat
dipengaruhi oleh rasionalitas manusia..
DAFTAR RUJUKAN
Bashori. 2007. Ilmu perbandingan agama
(suatu pengantar).Sekolah Tinggi Ilmu
Agama Islam Negeri Malang. Malang.
Bertens, K. Etika. 2007. PT. Gramedia Utama.
Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008.Kamus
Besar Bahasa Indonesia Pusat bahasa
Edisi Ke Empat.Jakarta.
Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 1. 1988.
PT. Cipta Adi Pustaka. Jakarta.
Ensiklopedi Nasional Indonesia Jilid 10. 1990.
PT. Cipta Adi Pustaka. Jakarta.
Fuady, Munir. 2013.Teori-Teori Besar dalam
Hukum.Kencana. Jakarta.
Kansil, C.S.T. 1989. Pengantar Ilmu Hukum dan
Tata Hukum Indonesia. Balai Pustaka.
Jakarta.
Muhaimin, dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan
Studi Islam. Kencana. Jakarta.
Marzuki, Peter Mahmud. 2009. Pengantar Ilmu
Hukum. Kencana. Jakarta.
Rifyal ka’bah. 2004.Menegakkan Syariat Islam
di Indonesia.Jakarta.
AKTOR NON-NEGARA DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL
Margono
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email:[email protected]
Abstract: This report aims to describe the role of non-state actors in international relations. Although classically international relations in the information era is still dominated by the relationship
between countries, actors non-states increasingly play an important role, even capable of challenging the state with super powers like the United States. Thus, the critical paradigm in the discussion
of international relations needs to be done.
Keywords: non-governmental actors, international relations, critical.
Abstrak: paparan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peranan aktor non-negara dalam hubungan
internasional. Meskipun secara klasik hubungan internasional pada era informasi masih didominasi
oleh hubungan antar negara, secara meyakinkan aktor-aktor non-negara semakin memainkan peranan
penting, bahkan mampu menantang negara dengan kekuatan super seperti Amerika Serikat. Dengan
demikian, paradigma kritis dalam pembahasan hubungan internasional perlu dilakukan.
Kata kunci: aktor nonpemerintah, hubungan internasional, kritis
Perkembangan teknologi digital, ekspansi pasar,
dan perubahan tatanan politik dunia setelah
berakhirnya perang dingin telah merubah hubungan
internasional. Semula hubungan internasional
diwarnai oleh interaksi antara negara dengan
negara. Sekarang, aktor-aktor nonnegara lebih
menunjukkan kemampuan internasionalnya
terhadap negara adidaya sekalipun. Serangan
teroris internasional ke jantung ekonomi dan
pertahanan negara adidaya Amerika Serikat
mengejutkan semua pihak, bahwa aktor nonnegara
sekaliber Al Kaidah secara langsung mampu
menggerakkan Amerika Serikat untuk menyerang
Afghanistan, dan memperkuat hegemoninya di
Timur Tengah. Implikasi selanjutnya, serangan bom
terjadi di sejumlah pusat berkumpulnya orang asing
di Indonesia yang dimotori oleh alumni Afghanistan.
Pendidikan kewarganegaraan pada jenjang
sekolah menengah atas memuat materi tentang
hubungan internasional. Materinya masih
didominasi topik hubungan negara dengan negara.
Kendati hal ini masih dianggap sangat penting,
pembelajaran tentang hubungan internasional pada
jenjang ini harus mulai menyadarkan siswa bahwa
aktor-aktor nonnegara telah semakin kuat dalam
mempengaruhim tatanan hubungan internasional.
Menurut Alatas (dalam Rochmadi, 2008)
kecenderungan mutakhir hubungan internasional
adalah:
Ada empat perubahan mendasar terkait
dengan permasalahan di atas yang
mempunyai pengaruh sangat besar dalam
hubungan antar bangsa, yaitu: (1)
kecenderungan ke arah perubahan dalam
konstelasi politik global, dari suatu
kerangka bi-polar ke kerangka multi-polar; (2) menguatnya gejala saling
ketergantungan antarnegara dan saling
keterkaitan antarmasalah global di
berbagai bidang, politik, keamanan,
ekonomi, sosial, lingkungan hidup dan
sebagainya. Seiring dengan itu semakin
menguat pula dampak globalisasi dengan
segala implikasinya, baik yang positif
maupun yang negatif; (3) meningkatnya
peranan aktor-aktor non-pemerintah
dalam tata-hubungan antarnegara; (4)
munculnya isu-isu baru dalam agenda
internasional seperti masalah hak asasi
manusia, intervensi humaniter, demokrasi
105
106 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
dan demokratisasi, “good governance”,
lingkungan hidup dan sebagainya.
Makalah ini berusaha menyajikan perkembangan terbaru dalam interaksi internasional. Hal
ini dimulai dari memasukkannya aktor
nonpemerintah dalam definisi hubungan
internasional, siapa saja aktor hubungan
internasional, tujuan para aktor tersebut, bentuk
interaksinya, pergeseran politik internasional ke
arah politik dunia, teori internasionalisme liberal
dan teori internasional kritis dalam ilmu hubungan
internasional.
PENGERTIAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
Secara tradisional hubungan internasional
berarti hubungan antar negara. Sekarang definisi
ini tidak memadai, karena perkembangan mutakhir
tentang kondisi politik dunia menuntut untuk
membuat pengertian hubungan internasional lebih
luas. Hubungan internasional (Perwita & Yani,
2006) adalah studi tentang interaksi negara-negara
berdaulat di dunia, dan juga studi tentang aktor
bukan negara yang perilakunya mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan negara-bangsa
(MNC, IGO, INGO, dan TOC, serta teroris
internasional).
Selama perang dingin, negara-negara di dunia
bersitegang dalam dua kelompok besar, yakni blok
Timur dan blok Barat. Negara dianggap memiliki
kekuatan utama dalam hubungan internasional.
Jika ingin damai, maka saat itu negara-negara
harus siap berperang. Indonesia tidak mau
terjebak. Indonesia bersama sejumlah negara lain
menyelenggarakan konferensi Asia-Afrika, dan
membentuk Nonblok. Aktor konsepsi untuk
mengatasi ketegangan global ini tetap saja
konfigurasi antar negara.
Perang dingin usai, seolah menunjukkan
kapitalisme memperoleh kemenangannya atas
komunisme. Amerika Serikat dan sekutunya
menjadi satu-satunya kekuatan dunia, tanpa
penyeimbang dari negara-negara lain. Kekuatan
dominan kapitalisme dalam percaturan dunia dan
realitas hubungan internasional, justru membangkitkan kemampuan aktor bukan negara. Teorisme
internasional menjadi sesuatu yang menakutkan.
Organisasi kriminal internasional seperti Yakusa
dan Triad mengatur distribusi heroin di berbagai
negara, terutama Amerika Serikat, dan seringkali
juga menyuap pejabat-pejabat negara untuk
memperlancar operasi kejahatan antar negara.
Tekanan organisasi pecinta lingkungan semisal
Greenpeace mampu mengawasi penebangan
hutan di Indonesia. Laporan Tranparancy
Internasional menjadi acuan warga negara Indonesia untuk mengganyang pejabat negara yang
terlibat korupsi. Selain dari pada itu, organisasi
internasional yang beranggotakan negara-negara,
khususnya yang bergerak di bidang ekonomi
seperti APEC, WTO, dan IMF telah menjadi
entitas tersendiri yang mempengaruhi dan
membatasi kedaulatan setiap negara, khususnya
mayoritas negara-negara yang lemah secara
ekonomi untuk mandiri di bidang pangan dan
energi.
AKTOR-AKTOR HUBUNGAN INTERNASIONAL
Definisi terbaru tentang hubungan
internasional mengindikasikan perluasan aktor
hubungan internasional. Aktor menunjuk pada
pelaku dalam interaksi internasional. Aktor
hubungan internasional dikelompokkan menjadi
dua bagian. Pertama adalah aktor negara dan yang
kedua menyangkut aktor-aktor bukan negara atau
disebut aktor nonpemerintah. Aktor negara
misalnya Indonesia, Malaysia, Singapura, dan
Timor Leste. Ia merupakan negara berdaulat yang
dibangun oleh kesadaran kebangsaan. Oleh karena
itu, aktor ini disebut juga negara-bangsa (nation
state). Aktor negara ini berbeda-beda sistem
politiknya. Pada umumnya mereka mengarah
kepada negara demokratis, di mana politik
pemerintahnya merupakan representasi dari
kemauan rakyatnya. Akan tetapi, banyak juga
negara yang dikuasai elit pemerintah dan
pengusaha, sehingga seolah lepas dari gambaran
politik warganya. Sistem politik dalam negeri ini
berpengaruh kuat terhadap karakteristik hubungan
internasional.
Aktor bukan negara terdiri dari perusahaan
multi nasional-MNC, organisasi pemerintah
internasional-IGO, organisasi nonpemerintah
internasional-INGO, kejahatan transnasional
terorganisasi-TOC, dan jaringan teroris
internasional (Perwita & Yani, 2006:11). Multy
National Corporatios (MNCs) adalah
perusahaan multi nasional yang bergerak hampir
di seluruh negara di dunia. Misalnya perusahaan
Cola Cola. Ia memiliki kantor pusat di Amerika
Margono, Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional
Serikat. Kantor cabang, pabrik, dan jaringan
pemasarannya berada di berbagai negara. Konon
semilyar botol minuman Coca Cola diminum orang setiap hari di seluruh dunia. Setiap botol Coca
Cola yang kita minum pasti terdapat sekian persen
uang yang kita setor ke Amerika Serikat. Jika satu
rupiah saja setiap botol sebagai jatah pemerintah
Amerika Serikat, maka Amerika Serikat
menerima satu milyar rupiah setiap harinya.
Amerika Serikat menjadi sangat kaya. Kekayaan
ini antara lain dipergunakan untuk membiayai
pengembangan peralatan militer. Dan supremasi
kekuatan militer Amerika Serikat, terutama senjata
nuklir, kerap kali dipakai untuk mengancam
negara-negara yang berpikir selain sistem berpikir
pasar bebas. Amerika Serikat tengah mengancam
Venezuela melalui perjanjian pangkalan militer
dengan Colombia, ketika pemerintah Venezuela
menempuh jalur sosialisme yang menasionalisasi
kilang minyaknya yang semula dikuasai
perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat.
Seolah-olah perusahaan minyak seperti Exon
Mobil tengah memperalat pemerintah Amerika
Serikat untuk menggunakan kekuatan militernya
dalam menggempur Venezuala yang tidak mau
tunduk kepada hegemoni MNC ini. Dengan
demikian, siapakah yang paling berkuasa,
pemerintah Amerika Serikat atau pengusaha
minyak?
Organisasi pemerintahan internasional atau
International Govermental Organizations (IGOs)
sudah biasa dipelajari oleh siswa. Mereka adalah
PBB, ASEAN, WTO, dan sebagainya. Mereka
merupakan aktor tradisional hubungan
internasional. Aktor ini sering terlalu dipercaya
sebagai wadah untuk mencapai keadilan dan
kemajuan ekonomi, tetapi kenyataannya tidak
semua IGO menjalankan fungsi emansipatif seperti
UNESCO yang dibenci Amerika Serikat.
Sebagian besar IGO malah berfungsi eksploitatif
bagi anggotanya yang memiliki power lemah. IMF
misalnya telah terbukti menjadi instrumen Amerika
Serikat dan sekutu kapitalisnya untuk menundukkan sejumlah negara sedang berkembang,
termasuk Indonesia, agar tetap menjadi klien
penurut; ketika kebijakan pemerintah, tenaga kerja,
sumber alam, dan konsumennya dikerjain
(bahasa Malang-nya, diplokotho) habis-habisan.
IMF telah berhasil berperan sebagai penjajah yang
menggunakan strategi klasik VOC di Indonesia.
VOC adalah persekutuan dagang yang diberi
wewenang internasional untuk mengancam negara
107
lain, yang antara lain dengan kewenangan
membuat senjata dan menggunakannya, dalam
transaksi perdagangan rempah di Maluku.
Organisasi nonpemerintah internasional (International Nongovermental OrganizationsINGOs) adalah organisasi nonprofit berskala
internasional yang biasanya memperjuangkan nilainilai kemanusiaan dan lingkungan hidup.
Tranparancy International misalnya memperjuangkan aspirasi antikorupsi sehingga tercipta
keadilan. Palang Merah Internasional bergerak di
berbagai negara untuk menolong korban perang,
bencana alam, dan penyakit endemik. Greenpeace
memperjuangkan kelestarian lingkungan hidup
sehingga bumi menjadi tempat yang nyaman bagi
seluruh penghuninya.
Transnational Organized Crime (TOC)
yakni kejahatan internasional terorganisir, juga
merupakan aktor dalam hubungan internasional,
karena prengaruhnya yang signifikan terhadap
interaksi antar negara. Kerjasama antar negara
digalang untuk mengatasi peredaran narkotika,
pencucian uang, perdagangan manusia, dan
senjata gelap. Yakuza, kejahatan terorganisasi
yang berasal dari Jepang, telah membuka
jaringannya di Amerika Serikat dan negara lain,
bukan hanya untuk peredaran narkotika, tetapi juga
uang palsu, dan perdagangan manusia. Hal serupa
juga dilakukan oleh Triad yang semula berasal dari
Cina, dan Mafia yang asal-usulnya dari Italia.
Belakangan ini dunia dikejutkan dengan apa
yang disebut oleh Amerika Serikat sebagai teroris
internasional. Al kaidah adalah salah satu aktor
yang fenomenal. Aktor baru dalam hubungan
internasional ini membuat terperangah Amerika
Serikat ketika markas pasar bebasnya (WTC) dan
maskas militernya (Pentagon) dihancurkan bom
pesawat terbang. Akibatnya, Amerika Serikat
menjadi kalap. Ia intensifkan penyerangan
terhadap Irak dan Afganistan yang dianggap
sebagai sarang teroris internasional. Disebut
kalap, karena persenjataan dan tentara sekutunya
dikerahkan, tetapi senjata pemusnah massal dan
Osama bin Laden tidak kunjung ditemukan.
Pegunungan di perbatasan Pakistan telah
bombardir. Entah telah berapa tentara dan
penduduk sipil yang mati. Teoris internasional tetap
menjadi teka-teki dan menghantui hubungan
Amerika Serikat dengan negara-negara Timur
Tengah dan Asia Selatan. Dampaknya di Indonesia adalah pengeboman bertubi-tubi terhadap apa
yang dianggap teroris sebagai simpul kepentingan
108 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Amerika Serikat. Hal ini direaksi oleh Amerika
Serikat dan Australia antara lain dengan memberi
bantuan finansial kepada pesantren dan sekolah
yang mau mendidikkan demokrasi dan sikap lunak
kepada investor asing.
TUJUAN AKTOR DALAM HUBUNGAN
INTERNASIONAL
Tujuan para aktor dalam menjalin hubungan
internasional adalah mereka memupuk power.
Mereka ingin meningkatkan kemampuan
menggerakkan orang lain dengan ancaman, janji,
atau konsesi. Para aktor juga ingin memiliki
kemampuan memperoleh apa yang diinginkan
(output politik luar negeri misalnya) melalui kontrol
terhadap lingkungan eksternal. Power digunakan
untuk mempengaruhi aktor lain dalam bentuk
persuasif atau kekuatan koersif.
Jumlah penduduk, teritorial, kapasitas
ekonomi, kekuatan militer, stabilitas politik,
kepiawean diplomasi internasional, dan potensi
lainnya merupakan faktor yang dapat memperlemah dan juga dapat memperkuat power suatu
negara atau aktor lainnya dalam percaturan
internasional. Keterampilan para diplomat yang
tinggi dapat meningkatkan power tersebut, kendati
kekayaan alam negerinya tidak seberapa. Posisi
suatu negara di lintasan transportasi laut
internasional dapat meningkatkan power suatu
negara, tetapi sekaligus dapat memperlemah
power negara tersebut, manakala penjagaan laut
tidak seberapa, sehingga selat hanya dikuasai para
perompak.
BENTUK INTERAKSI DALAM HUBUNGAN INTERNASIONAL
Hubungan internasional seperti yang tercermin
pada bentuk interaksi para aktornya, dapat dilihat
dari tiga segi yaitu intensitas interaksi, banyaknya
aktor yang terlibat, dan pola interaksinya. Intensitas
interaksi menyangkut sikap yang ditunjukkan aktor
hubungan internasional terhadap aktor lainnya.
Mereka dapat bersikap mengakomodasi,
mengabaikan, berpura-pura tidak tahu, mengulurulur waktu, menawar, atau menolak. Kelompok
warga negara Indonesia berdemo di kedutaan
Malaysia menutut klaim budaya yang tidak benar.
Kedutaan Malaysia acuh-tak acuh.
Dari sudut banyaknya aktor yang terlibat,
interaksi hubungan internasional dapat berbentuk
interaksi bilateral, trilateral, regional, dan multilateral. Perundingan Indonesia dan Malaysia tentang
pencabutan perjanjian sebelumnya mengenai
paspor TKI yang dipegang majikan Malaysia,
merupakan contoh interaksi bilateral. Interaksi dua
negara ini disebut interaksi bilateral. Sedangkan
interaksi tiga negara adalah interaksi trilateral.
Bentuk kerjasama regional diikat oleh letak
geografis yang berdekatan dari sejumlah negara.
Dan keanggotaan organisasi internasional yang
berisi ratusan negara disebut interaklsi multilateral.
Pola interaksi internasional dapat berbentuk
kerjasama, persaingan, atau konflik. Hal ini
bermuara dari kenyataan bahwa setiap negara
memiliki kepentingan nasional masing-masing.
Kepentingan ini dapat sama atau berbeda.
Keduanya dapat melahirkan kerjasama,
persaingan atau konflik. Katakanlah setiap negara
memiliki kebutuhan vital untuk dipenuhi. Kebutuhan
ini melahirkan kepentingan nasional. Setiap negara
membutuhkan rasa aman, sejahtera, dan memiliki
kekuatan militer yang mampu mempertahankan
teritorial. Usaha memenuhi kebutuhan ini lebih baik
dijalankan dengan jalan kerjasama, atau setidaknya
persaingan. Komunikasi yang rasional antar aktor
hubungan internasional akan melahirkan
kesepakatan yang menguntungkan semua pihak,
dan menghindari konflik.
PERUBAHAN POLITIK INTERNASIONAL MENUJU POLITIK DUNIA
Perang dingin yang berakhir dengan
runtuhnya Uni Soviet mendorong perubahan
konsepsi politik internasional menjadi politik dunia.
Politik internasional adalah interaksi antar negara
yang bertujuan untuk mewujudkan kepentingan
nasional masing-masing. Hal ini banyak terjadi
pada sebelum dan selama perang dingin.
Setelah perang dingin usai, aktor nonnegara
berkembang pesat dan makin mewarnai hubungan
internasional, sehingga muncullah konsep politik
dunia. Konsep ini berarti interaksi antar aktor
negara dan aktor nonnegara untuk mewujudkan
kepentingan nasional dan kemanusiaan. Warga
dunia menjadi satu komunitas sehingga
perkembangannya mengarah kepada pemerintahan dunia yang seharusnya demokratis dan
berkeadilan. Tuntutan ini banyak digaungkan oleh
lembaga nonpemerintah antar negara. Problem
dunia yang sulit diatasi juga menjadi tanggung
Margono, Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional
jawab semua warga dunia, misalnya HIV,
kerusakan lingkungan, pemanasan global,
kemiskinan dan kebodohan.
PANDANGAN INTERNASIONALISME
LIBERAL TENTANG HUBUNGAN INTERNASIONAL
Fukuyama, sang tokoh internasionalisme liberal, berpendapat bahwa demokrasi liberal
merupakan titik akhir evolusi ideologi umat
manusia. Bentuk pemerintahan, ekonomi,
masyarakat, dan politik Barat adalah tujuan puncak
yang akan diraih umat manusia. Barat adalah
penjaga kebenaran moral, tanpa memandang
perbedaan bangsa dan budaya.
Amerika Serikat adalah model sempurna
yang ditiru oleh negara-negara lain di seluruh dunia.
Pasar bebas menghasilkan perdamaian, dan
mencegah timbulnya perang. Pasar bebas
menghancurkan ambisi para nasionalis yang hidup
dalam negara bangsa, menggantinya dengan
kosmopolitanisme (bebas dari batasan-batasan
nasional). Tugas kaum liberal adalah mengembangkan suatu standar moral (Burchill & Linklater,
2009).
Kritik terhadap pandangan internasionalisme
liberal tentang hubungan internasional sebagai
berikut. Perdagangan bebas dan kekuatan pasar
cenderung menghanyutkan dan bahkan
menghancurkan relasi dan institusi sosial
tradisional. Tidak semua negara mampu mengambil keuntungan yang ditawarkan perdagangan
bebas. Hanya masyarakat kaya yang sanggup
memanfaatkan kekuatan pasar. Perdagangan
bebas merupakan kebijakan yang tepat bagi negara
yang kuat industrinya. Kritik ini disebut perlawanan
terhadap konsensus Washington (Chomsky, 2005)
di mana pasar bebas hanya dilakukan manakala
negeri kapitalis yakin mereka sudah kuat dan
memenangkan persaingan. Jika tidak, mereka juga
melakukan proteksi dengan segala macam dalih.
TEORI INTERNASIONAL KRITIS
Hubungan internasional menurut teori
internasional kritis sebagai berikut. Konfigurasi
global hubungan kekuasaan selama ini penuh
dengan ketidakadilan dan kesenjangan, akibat
penggunaan rasionalitas strategis dan rasionalitas
instrumental. Ilmu hubungan internasional harus
mampu mentransformasi konfigurasi tersebut.
109
Transformasi itu akan terwujud dengan tindakan
komunikatif dan etika diskursus.
Tindakan komunikatif merupakan konsep
yang memiliki karakteristik (1) berorientasi pada
kesepakatan, (2) keterlibatan para aktor secara
setara, (3) tidak ada aktor yang disingkirkan—
tidak diajak diskusi—diembargo/isolasi, dan (4)
Kesediaan menanggung konsekuensi, serta (5)
kebebasan mengemukakan argumen dengan
bahasa yang dimengerti para aktor. Konsep
tindakan komunikatif diterapkan untuk mencari
keabsahan moral yang disebut etika diskursus.
Karakteristik etika diskursus adalah (1) dialog terbuka dan noneksklusioner, (2) mekanisme
untuk menguji prinsip, norma, atau kesepakatan
institusional agar menjadi kebaikan semua orang,
(3) dibimbing oleh keadilan, bukan kalkulasi
keuntungan, dan (4) kesepakatan tentang solusi
yang baik bagi semua pihak. Etika diskursus dapat
diterapkan pada hubungan internasional, terutama
pada permasalah internasional yang dilematik.
Dampak penerapan etika diskursus bagi
rekonstruksi politik dunia menyangkut (1)
pembuatan panduan normatif bagi isu globalisasi
(Aids, pemanasan global, hujan asam,dan lain-lain),
(2) prosedur regulasi konflik sosial, (3)
memberikan resolusi yang bisa diterima oleh semua
orang yang terkait, dan (4) alat untuk mengkritisi
dan menjustifikasi prinsip-prinsip Hubungan
Internasional, terutama prinsip inklusi dan eksklusi.
Internasionalisme liberal bukanlah puncak dari
peradaban manusia. Etika diskursus yang
mendasarkan diri pada tindakan komunikatif dapat
meningkatkan keberadaban umat manusia.
Liberalisme telah terbukti justru memicu perang.
Pembangunan kesepakatan dengan etika diskursus
membawa umat manusia kepada perdamaian
abadi dan keadilan sosial.
SIMPULAN
Hubungan internasional telah diwarnai
munculnya aktor nonpemerintah sebagai
pengimbang aktor pemerintah yang selama ini
mendominasi percaturan internasional. Pendidikan
kewarganegaraan mestinya memasukkan
pendatang baru ini agar siswa tidak kesulitan dalam
memahami gejala global dalam kehidupannya.
Pengaruh teori internasionalisme liberal pada
kurikulum pendidikan kewarganegaraan harus
diminimalkan dan diimbangi oleh teori internasional
kritis.
110 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
DAFTAR RUJUKAN
Burchill, S. & Linklater, A. 2009. Teori-teori
Hubungan Internasional. Bandung: Nusa
Media.
Chomsky, N. 2005. Memeras Rakyat:
Neoliberalisme dan Tatanan Global.
Jakarta: Profetik.
Perwita, A.A.B. & Yani, Y.M. 2006. Pengantar
Ilmu Hubungan Internasional. Bandung:
Rosda.
Rochmadi, N.W. 2008. Hubungan dan
Organisasi Internasional. Malang: P4TK
PKn dan IPS.
MEMAHAMI INDONESIA MELALUI PRESPEKTIF
NASIONALISME, POLITIK IDENTITAS, SERTA SOLIDARITAS
Mifdal Zusron Alfaqi
Jurusan Pertahanan Nasional, Universitas Gadjah Mada Jl. Bulak Sumur
email:[email protected]
Abstract: The diversity of ethnic identity politics, race, between groups and religions in Indonesia
requires us to live tolerance and have a high sense of national solidarity. Besides the emergence of
Indonesian nationalism emerged from the resistance against colonialism also arise because of national solidarity Adaiah Indonesia. but now the Indonesian people experiencing problems on all
three. So by learning to understand Indonesia of glasses nationalism, identity politics, and solidarity
will grow our national spirit.
Keywords: nationalism, identity politics, solidarity
Abstrak: Keragaman politik identitas suku, ras, antar golongan serta agama yang ada di Indonesia
menuntut kita untuk hidup bertoleransi dan memiliki rasa solidaritas kebangsaan yang tinggi.
Kemunculan nasionalisme Indonesia selain muncul dari adanya perlawanan terhadap kolonialisme
juga muncul karena adaya solidaritas nasional Indonesia. akan tetapi sekarang bangsa Indonesia
mengalami permasalahan-permasalahan tentang ketiga hal tersebut. Maka dengan belajar untuk
memahami Indonesia dari kaca mata nasionalisme, politik identitas, serta solidaritas akan
menumbuhkan semangat kebangsaan kita.
Kata Kunci: nasionalisme, politik identitas, solidaritas
Nasionalisme merupakan kata yang sering muncul
ketika membicarakan tentang sejarah
kemerdekaan Indonesia. Bangsa Indonesia
merupakan bangsa yang terlahir dari semangat
nasionalisme. hal ini disebabkan oleh semangat
ingin terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu
kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda dan
Jepang. Semangat untuk membentuk sebuah tata
kehidupan yang merdeka dan terbebas dari
kolonialisme akhirnya melahirkan semangat antar
suku, ras, agama dan antar golongan untuk bersatu
kemudian membentuk politik identitas serta
solidaritas nasional yaitu nasionalisme Indonesia.
Semangat nasionalisme di Indonesia pada
dasarnya memang lahir dari bentuk perlawanan
terhadap kolonialisme. Akan tetapi nasionalisme
indonesia juga di pengaruhi oleh adanya politik
identitas serta solidaritas nasional. bagaimana
suku-suku yang ada di Indonesia memiliki ciri khas
sendiri-sendiri antara satu dengan yang lainnya,
ini merupakan ciri dari nasionalisme yang ada di
Indonesia. Sebagai contoh, Suku Jawa pada
awalnya adalah sebuah suku yang terdiri atas
komunal-komunal mempunyai norma yang sudah
dijalankan dan di taati oleh masyarakat Suku Jawa.
Artinya sebelum penjajah datang Suku Jawa sudah
memiliki tatanan sosial masyarakat yang dijadikan
landasan dalam kehidupan. Tetapi adanya
kolonialisme yang datang di Indonesia nilai
tersebut menjadi luntur. Seperti yang telah
disampaikan oleh George McTurnan kahin
(2013:3). “Karakter perpolitikan masyarakat jawa
yang sebelum masa penjajahan boleh dikatakan
tidak terlalu otoriter menjelma sangat sewenangwenang selama tiga abad pemerintahan kolonial”.
Pernyataan tersebut menunjukan bahwa akibat
adanya kolonialisme maka politik identitas
masyarakat jawa yang menjadi ciri khas
masyarakat jawa menjadi luntur. Keinginan
mengembalikan politik identitas yang telah lama
sebagai aturan atau norma yang ada dimasyarakat
tersebut yang akhirnya menjadikan sebagai simbol
perlawanan kepada kolonialisme. Nasionalisme
juga muncul dari adanya solidaritas yang tinggi
111
112 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
yaitu rasa bahwa bangsa Indonesia tidak lebih
rendah dari bangsa penjajah. Seperti keyakinan
bahwa bangsa Indonesia memiliki peradaban
besar yang pernah terjadi di nusantara. Seperti
kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan kerajaankerajaan yang lainnya telah membuktikan bahwa
bangsa Indonesia dahulu mampu bersaing dengan
bangsa asing.
Politik identitas serta solidaritas yang ada di
Indonesia sekarang mengalami berbagai masalah.
Hal ini terjadi karena adanya beberapa konflik
antar suku, etnis, agama dan masalah-masalah lain
yang sering terjadi di Indonesia. masalah
kegalauan politik identitas ini terjadi karena banyak
yang menganggap bahwa identitas hanya diartikan
secara sempit yaitu identitas kelompok. Padahal
pasca kemerdekaan bangsa Indonesia telah
sepakat untuk menjunjung tinggi nilai identitas
nasional yang bersumber dari nilai persatuan dan
kesatuan dalam kebhinekaan. Artinya identitas
antar suku, ras, agama dan antar golongan yang
berbeda dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa
untuk mewujudkan nasionalisme Indonesia.
Untuk mewujudkan nasionalisme dan politik
identitas nasional Indonesia dibutuhkan solidaritas
yang tinggi pada bangsa Indonesia. bangsa Indonesia tidak boleh terjebak pada solidaritas
kelompok-kelompok
yang
melahirkan
primordialisme dan chauvinisme. Kemudian kita
akan terjebak pada fanatisme kedaerahan,
kesukuan, agama, golongan, serta kelompokkelompok lainnya, yang pastinya akan melunturkan
jiwa nasionalisme bangsa Indonesia. Konflik antar
daerah, suku, agama, serta kelompok yang
sekarang sering terjadi hanya akan memecah belah
semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
NASIONALISME
Nasionalisme secara etimologi berasal dari
kata “nasional” dan “isme” yaitu paham
kebangsaan yang mengandung makna kesadaran
dan semangat cinta tanah air, memiliki kebanggaan
sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan
bangsa, memiliki rasa solidaritas terhadap musibah
dan kekurangberuntungan saudara setanah air,
sebangsa dan senegara serta menjunjung tinggi
nilai persatuan dan kesatuan. Dari pengertian
tersebut nasionalisme dapat di artikan sebagai
faham tentang kebangsaan dan sikap cinta tanah
air yang tinggi yang harus dimiliki oleh warga
negara, merasa memiliki sejarah dan cita-cita yang
sama dalam tujuan berbangsa dan bernegara.
Beberapa ahli juga banyak yang mendefinisikan tentang konsep nasionalisme. Abdul Munir
Mulkhan (1996:14), mengatakan bahwa
“nasionalisme adalah sebuah gagasan mengenai
kesatuan kebangsaan dalam suatu wilayah politik
kenegaraan”. Kemudian menurut Marvin Perry
(2013:94). “Nasionalisme adalah suatu ikatan
sadar yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang memiliki kesamaan bahasa, kebudayaan
dan sejarah yang ditandai dengan kejayaan dan
penderitaan bersama dan saling terikat dalam suatu
negeri tertentu”. Pada dasarnya nasionalisme
memang lahir dari bermacam-macam cara, mulai
dari karena kesamaan akan sejarah, kebudayaan,
cita-cita, ketidakadilan, penindasan, serta sebagai
wujud perlawanan suatu kelompok bangsa.
Bentuk nasionalisme Indonesia tidak
semuanya meniru dari nasionalisme yang ada di
negara-negara barat. Tidak bisa dipungkiri bahwa
nasionalisme Indonesia lahir sebagai alat gerakan
perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. akan tetapi pada dasarnya nasionalisme
Indonesia terlahir karena adanya politik identitas
serta solidaritas, yaitu sebuah rasa bahwa bangsa
Indonesia pernah mempunyai peradaban yang
besar. seperti kerajaan sriwijaya dan majapahit dari
berbagai peninggalan yang berupa bangunanbangunan misalnya candi sampai peninggalan nilainilai luhur yang pernah ada di nusantara.
“Nasionalisme di Indonesia merupakan suatu cara
untuk “saringan ideologis” yang berbasis nilai-nilai
luhur yang telah lama berkembang di nusantara”
(Hariyono, 2014:59). Dengan adanya nasionalisme
tersebut maka adanya perasaan bahwa bangsa
Indonesia tidak lebih rendah dari bangsa penjajah,
akhirnya semangat tersebut melahirkan gerakangerakan perlawanan terhadap kolonialisme. Hal
tersebut ditandai mulai dari berdirinya budi utomo
sebagai organisasi pada era kebangkitan nasional
yang kemudian melahirkan semangat persatuan,
sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia.
POLITIK IDENTITAS
Politik identitas secara pengertian berawal
dari dua kata yaitu politik dan identitas. Pertama
kita melihat dari pengertian politik terlebih dahulu
yaitu secara etimologi politik berasal dari bahasa
Yunani yaitu Politeia, atau polis yang artinya
adalah negara atau kota. Kemudian menurut
Alfaqi, Memahami Indonesia melalui Prespektif Nasionalisme, Politik Identitas, serta Solidaritas
Miriam Budiardjo (2002:8), “politik (politics) adalah
bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem
politik (atau nagara) yang menyangkut proses
menentukan tujuan-tujuan dari sistim itu dan
melaksanakan tujuan-tujuan itu”. Kemudian yang
kedua adalah pengertian identitas, secara etimologi
identitas berasal dari kata identity yang artinya
sebuah ciri yang melekat pada seseorang atau
kelompok misalanya suku, ras, agama dan antar
golongan yang membedakan dengan yang lainnya.
Kemudian pengertian politik identitas adalah
sebuah alat politik suatu kelompok seperti etnis,
suku, budaya, agama atau yang lainnya untuk
tujuan tertentu misalnya sebagai bentuk perlawan
atau sebagai alat untuk menunjukan jati diri suatu
kelompok tersebut. Menurut Sri Astuti Buchari
(2014:20). “Politik identitas merupakan suatu alat
perjuangan politik suatu etnis untuk mencapai
tujuan tertentu, dimana kemunculannya lebih
banyak disebabkan oleh adanya faktor-faktor
tertentu yang dipandang oleh suatu etnis sebagai
adanya suatu tekanan berupa ketidakadilan politik
yang dirasakan oleh mereka”.
Pernyataan tersebut diatas dapat disimpulkan
bahwa politik identitas merupakan alat perjuangan
yang dipakai suatu kelompok untuk memperjuangkan apa yang menjadi keingininan kelompok
tersebut. Politik identitas pada dasarnya sering
muncul ketika terjadi adanya ketidakadilan atau
biasanya hal tersebut juga muncul akibat adanya
konflik yang melibatkan kelompok satu dengan
kelompok yang lain. Hal tersebut terjadi karena
merasa adanya kesamaan karakteristik atau etnis
serta kesukuan suatu kelompok tersebut.
Kemudian dalam pembangunan arah identitas,
maka diperlukan sebuah cara untuk membentuk
identitas tersebut, menurut Castells (dalam Sri Astuti
Buchari, 2014:23), ada tiga pembentukan dalam
membangun sebuah identitas, yaitu identitas
legitimasi, identitas resisten, dan identitas proyek.
Identitas Legitimasi (legitimizing identity), yaitu
identitas yang diperkenalkan oleh sebuah institusi
yang mendominasi suatu masyarakat yang
merasionalisasikan dan melanjutkan dominasinya
terhadap aktor-aktor sosial, seperti misalnya suatu
institusi negara yang mencoba meningkatkan
identitas kebangsaan anggota masyarakat. Institusi
tersebut memang telah mendapatkan legitimasi
untuk melakukan hal tersebut.
Identitas Resisten (resistance identity) yaitu
sebuah proses pembentukan identitas oleh aktoraktor sosial yang dalam kondisi tertekan dengan
113
adanya dominasi dan stereotipe oleh pihak-pihak
lain sehingga membentuk resistensi dan
pemunculan identitas yang berbeda dari pihak yang
mendominasi, dengan tujuan untuk kelangsungan
hidup kelompok atau golongannya. Sebuah
terminologi yang disebutkan ketika Calhoun
mengidentifikasi munculnya politik identitas.
Identitas Proyek (project Identity) yaitu
suatu identitas dimana aktor-aktor sosial
membentuk suatu identitas baru yang dapat
menentukan posisi-posisi baru dalam masyarakat
sekaligus mentransformasi struktur masyarakat
secara keseluruhan. Hal ini misalnya, terjadi ketika
sekelompok aktivis feminisme berusaha
membentuk identitas baru perempuan, menegosiasikan posisi perempuan dalam masyarakat, dan
akhirnya merubah struktur masyarakat secara
keseluruhan dalam memandang peranan
perempuan.
Tiga pembangunan identitas tersebut yang
membentuk politik identitas. Politik identitas
muncul sebagai alat suatu kelompok untuk
menunjukan jatidirinya serta sebagai proses
perjuangan suatu kelompok tersebut. mulai dari
perjuangan untuk legitimasi identitas suatu
kelompok, memperjuangkan ketidakadilan dalam
kondisi tertekan oleh kelompok yang lainnya, serta
alat perjuangan untuk proyek identitas yang
bertujuan untuk membentuk suatu identitas yang
baru.
SOLIDARITAS
Secara pengertian solidaritas adalah sikap
kesetiakawanan atau kebersamaan, dalam
kepentingan bersama serta rasa simpati terhadap
suatu kelompok tertentu. Solidaritas muncul ketika
individu merasa cocok terhadap individu yang lain
yang akhirnya melahirkan sebuah kesepakatan
bersama untuk saling berkomitmen dalam suatu
tujuan. Sebagai contoh misalnya, solidaritas suatu
suku yang menjadikan seseorang merasa bangga
ketika ketemu dengan orang lain yang berasal dari
suku yang sama. Solidaritas kadang juga muncul
ketika adanya konflik, penindasan, ketidakadilan
serta proses menunjukan sebuah identitas tertentu.
Dalam konsep solidaritas ada 2 (dua) macam
bentuk solidaritas dalam perjalanannya, yaitu
solidaritas mekanik dan solidaritas organik.
Solidaritas mekanik merupakan persamaan
perilaku atau sikap dari individu satu dengan individu
yang lain, sedangkan solidaritas organik adalah
114 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
sifat saling ketergantungan antar masyarakat
sosial. Artinya setiap individu satu dengan individu
yang lain saling ketergantungan atau saling
membutuhkan. Perbedaan solidartitas mekanik
dan solidaritas organik dapat dilihat pada table 1.
Tabel 1. Perbedaan solidaritas mekanik dan
solidaritas organik
Solidaritas Mekanik
Solidaritas Organik
1. Pembagian kerja
rendah
2. Kesadaran kolektif
kuat
3. Hukum represif
dominan
4. Individualitas rendah
5. Konsensus terhadap
pola-pola normatif itu
penting
6. Keterlibatan
komunitas dalam
menghukum orang
yang menyimpang
7. Secara relatif saling
ketergantungan
8. Bersifat primitif atau
pedesaan
1. Pembagian kerja
tinggi
2. Kesadaran kolektif
lemah
3. Hukum restitutif
dominan
4. Individualitas tinggi
5. Konsensus pada
nilai-nilai abstrak dan
umum itu penting
6. Badan-badan control
sosial yang menghukum orang yang
menyimpang
7. Saling ketergantungan yang tinggi
8. Bersifat industrial
perkantoran
(Sumber: Johnson dalam Sabian Utsman, 2007:29)
Kedua perbedaan antara solidaritas mekanik
dengan solidaritas organik tersebut dapat
disimpulkan bahwa keduanya memiliki perbedaan
yang sangat mendasar. Yaitu masyarakat yang
tinggal di suatu tempat tertentu yang sudah
berangsur lama serta mempunyai banyak
keturunan akan melahirkan solidaritas mekanik.
Karena solidaritas dibangun dari kesamaan sifat,
sikap, serta tatanan nilai atau norma yang berlaku
di suatu daerah tertentu, dan masyarakatnya
menjunjung tinggi nilai-nilai solidaritas kelompok
tersebut. Sebagai contoh misalnya masyarakat
“Suku Tengger” yang menempati lereng Gunung
Bromo yang ada di Jawa Timur. Masyarakat suku
tersebut memiliki sikap solidaritas sosial yang
tinggi. Solidaritas tersebut di wariskan oleh nenek
moyang mereka dan terus dilaksanakan secara
turun temurun dan menjadi sebuah tatanan nilai
tersendiri di masyarakat suku tengger. Ada
berbagai macam bentuk solidaritas yang ada di
suku tengger, salah satunya adalah nilai sikap
gotong royong yang terus dijunjung tinggi oleh
masyarakat suku tengger. “suku tengger memiliki
bentuk sosial kemasyarakatan yang kuat untuk
mewujudkan sikap solidaritas salah satunya
dengan nilai gotong royong. Nilai tersebut bahkan
sudah ada sejak mereka mendiami kaki lereng
gunung semeru yang diwarisi sejak jaman
Majapahit” (Sukari Dkk, 2004:171). Kemudian
solidaritas mekanik muncul karena ketergantungan
individu satu dengan individu yang lain. Sebagai
contoh misalnya karena hubungan kerja, kesamaan
hobi, kelompok studi, dan berbagai kegiatan yang
lain yang biasanya dilakukan oleh orang-orang
dilingkungan perkotaan. Solidaritas mekanik
biasanya lebih bisa menerima perbedaan yang
datang pada kelompoknya dibandingkan dengan
solidaritas organik. Hal ini terjadi karena solidaritas
organik terjadi pada masyarakat yang sudah
berfikiran modern dan mereka tidak membawa
nilai-nilai atau norma dari lingkungannya.
Solidaritas sosial masyarakat pada era
dewasa ini mengalami berbagai tantangan dan
gangguan. Gangguan solidaritas bisa disebabkan
oleh berbagai macam masalah yang datang.
Seperti misalnya dalam solidaritas mekanik terjadi
permasalahan yaitu kedatangan suku lain kedaerah
suku tertentu yang sangat banyak dan cepat maka
akan menyebabkan gangguan terhadap solidaritas
itu sendiri. Sebagai contoh kedatangan suku lain
ke “Masyarakat Nias” yang ada di Pulau Nias,
bagaimana masyarakat nias yang kedatangan suku
lain ke daerahnya yang memiliki perbedaan
tataran nilai, serta agama. Sejak orang asing atau
luar daerah menginjakan kaki di bumi pulau nias
maka perubahan exsternal secara pelan
menyusupi kehidupan sosial penduduk. Perubahan
sosial ini telah menyusupi poros yang paling dalam
pranata di nias yaitu agama. Hal tersebut yang
menjadikan gangguan terhadap solidaritas sosial
masyarakat Pulau Nias (Bambowo Laiya,
1980:90). Dengan adanya perubahan yang sangat
cepat maka gangguan terhadap solidaritas akan
mengalami permasalahan yang harus segera
diatasi supaya terciptanya solidaritas sosial
masyarakat yang tangguh. Berikutnya dalam
solidaritas organik juga mengalami banyak
permasalah. Seperti misalnya karena tingkat
solidaritas yang begitu tinggi terhadap suatu
kelompok tertentu maka melahirkan konflik dengan
kelompok yang lain, ini dapat dilihat dari berbagai
contoh misalnya perselisihan antar suporter
sepakbola yang sekarang ini sering terjadi di Indonesia.
Dengan pembahasan diatas antara solidaritas
organik dan mekanik serta perbedaan dan
Alfaqi, Memahami Indonesia melalui Prespektif Nasionalisme, Politik Identitas, serta Solidaritas
permasalahan, pada dasarnya sikap solidaritas
kebangsaan akan menciptakan kekuatan
nasionalisme yang tinggi. Adanya solidaritas
kebangsaan membuat adanya politik identitas yang
begitu beragam di Indonesia tidak menjadi sebuah
permasalahan, adanya politik identitas malah akan
memperkaya kebangsaan Indonesia. Akan tetapi
ketika solidaritas yang begitu tinggi dan diartikan
dalam lingkup sempit yaitu sebuah kelompok, maka
solidaritas akan menjadi sebuah kefanatikan belaka
dan akan menjadi permasalahan baru dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti
munculnya sikap primordialisme dalam solidaritas
tersebut. Maka dari itu dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara solidaritas begitu penting untuk
mewujudkan nasionalisme kebangsaan Indonesia
dan dalam perjalanan solidaritas memerlukan
sebuah kontrol dan pemahaman kebangsaan yang
tinggi supaya solidaritas dan politik identitas tidak
menjadi sebuah permasalahan dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara, dan dapat mewujudkan
nasionalisme Indonesia yang lebih tinggi.
SIMPULAN
Nasionalisme begitu penting bagi bangsa dan
Negara Indonesia. karena semangat nasionalisme
inilah yang akhirnya membawa bangsa Indonesia
untuk keluar dari era kolonialisme dan imperialisme
yang telah lebih dari tiga abad menjajah Indonesia. Semangat nasionalisme yang tinggi akhirnya
melahirkan konsep persatuan dan kesatuan Indonesia. bagaimana sebuah perbedaan mulai dari
suku, ras, agama, dan antar golongan serta bahasa
dijadikan sebagai alat pemersatu dan sebagai
kekayaan keanekaragaman yang ada di Indonesia.
Ketika berbicara tentang nasionalisme maka
kita seharusnya tidak boleh melupakan adanya
politik identitas yang ada di Indonesia. Misalnya
di masyarakat Suku Dayak yang ada di Kalimantan, Suku Jawa atau suku-suku yang lainnya.
115
Politik identitas yang ada disetiap suku ada
bermacam corak dan latar belakang sendiri-sendiri,
mulai dari kemunculan politik identitas yang di
sebabkan oleh adanya ketidakadilan, wujud
perlawanan, warisan nilai luhur, serta alat untuk
menunjukan jati diri suku tertentu dengan suku lain.
Politik identitas yang ada di Indonesia yang begitu
beragam tersebut harus diperhatikan oleh
pemerintah Indonesia supaya adanya politik
identitas kesukuan tersebut tidak mengganggu
semangat nasionalisme. Akan tetapi adanya politik
identitas tersebut bisa menguatkan nasionalisme
yang ada di Indonesia dengan bentuk politik
identitas nasional yang menjunjung tinggi nilai
persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.
Kemudian sikap nasionalisme dan politik
identitas harus dibarengi dingan sikap solidaritas
kebangsaan yang kuat. Sikap solidaritas
kebangsaan yang kuat akan melahirkan tatanan
masyarakat yang stabil dan saling menghargai
serta merasa memiliki individu satu dengan
individu yang lainnya, dalam hal ini adalah warga
negara. Akan tetapi pada dewasa ini tidak jarang
solidaritas mengalami berbagai macam
permasalahan, karena banyak masyarakat yang
terjebak pada solidaritas dalam arti sempit yaitu
kelompok. Banyaknya benturan antar suku,
kelompok, agama bahkan suporter sepak bola
menunjukan bahwa ada yang salah dalam
memaknai sikap solidaritas dalam masyarakat.
Seharusnya solidaritas dimaknai sebagai sikap
yang saling menyayangi antar indivdu, sikap saling
memegang teguh norma-norma yang ada di
masyarakat, serta sikap saling merasa senasib dan
secita-cita dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Dengan sikap
solidaritas kebangsaan yang tinggi setiap warga
negara maka akan menjadi sebuah gerakan
bersama untuk mewujudkan negara yang adil dan
makmur, sesuai dengan amanah Pancasila sebagai
pandangan hidup bersama bangsa Indonesia.
DAFTAR RUJUKAN
Mulkhan, Abdul Munir. 1996. Nasionalisme,
Refleksi Kritis Kaum Ilmuan. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kahin, George McTurnan. 2013. Nasionalisme
& Revolusi Indonesia. Depok: Komunitas
Bambu
Perry, Marvin. 2013. Peradaban Barat, Dari
Revolusi Perancis Hingga Zaman
Globalisasi. Bantul: Kreasi Wacana
Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila, Roh
Progresif Nasionalisme Indonesia.
Malang: Intrans Publishing
116 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Budiardjo, Miriam. 2002. Dasar-dasar Ilmu
Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Buchari, Sri Astuti. 2014. Kebangkitan Etnis
Menuju Politik Identitas. Jakarta:
Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Ustman, Sabian. 2007. Anatomi Konflik &
Solidaritas Masyarakat Nelayan,
Sebuah
Penelitian
Sosiologis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Sukari, Dkk. 2004. Kearifan Lokal di
Lingkungan Masyarakat Tengger.
Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur.
Yogyakarta: Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata
Laiya, Bambowo. 1980. Solidaritas
Kekeluargaan dalam Salah Satu
Masyarakat Desa di Nias-Indonesia.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
ANALISIS PELAKSANAAN DESENTRALISASI DALAM
OTONOMI DAERAH KOTA/KABUPATEN
Muhammad Mujtaba Habibi
Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email: [email protected]
Abstrac : In order to implement regional autonomy based on Law No. 22 of 1999, that the granting of
autonomy to the local city / county is based on the principle of decentralization in the form of
autonomy, real, and responsible. Granting authority on the basis of the principle of decentralization,
causing all fields are left to local governments in the implementation of an autonomous basically
become the authority and responsibility of local city and county governments fully, both concerning
the determination of policy, planning, implementation, monitoring, control, and evaluation. This
study aimed to describe the factors that affect the implementation of regional autonomy and decentralization in the provision of recommendations for the implementation of decentralization in autonomy. The results showed that there are four variables that can explain the performance of the
implementation of decentralization in the regional autonomy in the city / county, namely managerial
aspects, aspects of Human Resources organization, aspects of bureaucratic culture, and ethics of
public service.
Keyword: decentralization, regional autonomy
Abstrak :Dalam rangka melaksanakan otonomi daerah berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999, bahwa pemberian otonomi kepada daerah kota/kabupaten didasarkan atas asas desentralisasi
dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab. Pemberian kewenangan atas dasar
asas desentralisasi tersebut, menyebabkan semua bidang pemerintahan yang diserahkan kepada
daerah dalam rangka pelaksanaan suatu otonomi pada dasarnya menjadi wewenang dan tanggung
jawab pemerintah daerah kota dan kabupaten sepenuhnya, baik yang menyangkut penentuan
kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, pengendalian, dan evaluasi. Penelitian ini
bertujuan untukmendeskripsikan faktoryang mempengaruhipelaksanaan desentralisasidalam otonomi
daerah dan pemberianrekomendasi terhadap pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi daerah.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat variabel yang dapat menjelaskan kinerja pelaksanaan
desentralisasi dalam otonomi daerahdi Kota/kabupaten, yaitu aspek manajerial, aspek Sumber Daya
Manusia organisasi, aspek budaya birokrasi, dan etika pelayanan publik.
Kata Kunci: desentralisasi, otonomi daerah
Kebijakan tentang otonomi daerah, memberikan
otonomi yang sangat luas kepada daerah,
khususnya kota dan kabupaten. Otonomi daerah
dilaksanakan dalam rangka mengembalikan harkat
dan martabat masyarakat di daerah, memberikan
peluang pendidikan politik dalam rangka
peningkatan kualitas demokrasi di daerah,
peningkatan efisiensi pelayanan publik di daerah,
peningkatan percepatan pembangunan di daerah,
dan pada akhirnya diharapkan pula penciptaan cara
berpemerintahan yang baik (good governance).
Pemberian dan wewenang dan tanggung
jawab sebagaimana diatur dalam undang-undang
tersebut, harus diimbangi dengan pembagian
sumber-sumber pendapatan yang memadai yang
mampu dan mendukung pelaksanaan wewenang
dan tanggung jawab yang diberikan.
Di era otonomi saat ini,upaya untuk tetap
mengandalkan bantuan dari Pemerintah Pusat atau
tingkatan pemerintahan yang lebih tinggi sudah tidak
bias dipertahankan lagi. Otonomi menuntut
kemandirian daerah di berbagai bidang, termasuk
117
118 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
kemandirian di dalam mendanai dan pelaksanaan
pembangunan di daerahnya. Oleh karena itu,
daerah dituntut agar berupaya untuk meningkatkan
Pendapatan Asli Daerah (PAD), guna mengurangi
ketergantungan terhadap Pemerintah Pusat.
Pemberlakuan Undang-Undang tersebut
menambah kewenangan yang dimiliki daerah, maka
tanggung jawab yang diemban oleh Pemerintah
Daerah juga akan bertambah banyak. Mahfud MD
(2000: 49) mengemukakan implikasi dari adanya
kewenangan urusan pemerintahan yang begitu luas
yang diberikan kepada daerah dalam rangka otonomi
daerah, dapat merupakan berkah bagi daerah, namun
pada sisi lain bertambahnya kewenangan daerah
tersebut sekaligus juga merupakan beban yang
menuntut kesiapan daerah untuk melaksanakannya,
karena semakin bertambahnya urusan pemerintahan
yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah.
Untuk itu ada beberapa aspek yang harus
dipersiapkan, yaitu: sumber daya manusia, sumber
daya keuangan, sarana, dan prasarana.
William N. Dunn (1981: 111-112) menyebutkan
bahwa model analisis kebijakan yang dapat dilakukan
dengan cara diperbandingkan dan dipertimbangkan
menurut sejumlah asumsi, yang paling penting
diantaranya: (a) perbedaan menurut tujuan, (b)
bentuk penyajian, (c) fungsi metodologis. Sehingga
ada dua bentuk pokok dari model kebijakan adalah :
(1) model deskriptif, dan (2) model normatif.
Hessel Nogi S. (2000: 1-3) kebijakan publik
sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri memperlihatkan
tiga tampilan dalam cakupan studinya yaitu
menentukan arah umum yang harus ditempuh untuk
mengelola isu-isu yang ada di tengah masyarakat,
menentukan ruang lingkup masalah yang dihadapi
pemerintah, dan mengetahui betapa luas dan
besarnya organisasi birokrasi publik ini. Kemampuan
analisis kebijakan publik amat bergantung pada
objektivitas dan keakuratan informasi, serta
kepekaan seorang analisis untuk menempatkan
masalah publik secara proporsional dengan
memperhatikan semua stakeholders yang terlibat.
Kepekaan ini perlu diasah melalui pendalaman
kasus-kasus kebijakan publik yang terjadi pada
masyarakat sekitar dengan memperhatikan faktor
rasionalitas serta wacana publik secara kontekstual.
PELAKSANAAN DESENTRALISASI DALAM OTONOMI DAERAH
Pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi
daerahdapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek
output dan aspek outcomes kebijakan. Kedua
aspek tersebut memiliki ukuran atau indikator yang
berbeda dalam penilaian keberhasilan.
Output Otonomi daerah dan desentralisasi
Output kebijakan desentralisasi dapat dilihat
dari beberapa aspek antara lain pertumuhan
ekonomi masyarakat, peningkatan kualitas
pelayanan publik, dan fleksibilitas program
pembangunan.
Pertumbuhan ekonomi masyarakat, untuk
mengetahui apakah program Pemerintah Daerah
dalam rangka pelaksanaan desentralisasi dalam
otonomi daerahadalah dari sejauh mana dapat
meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Asumsinya adalah intervensi Pemerintah Daerah
masih memegang peranan penting dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah. Tanpa
program pembangunan ekonomi yang konkret dari
Pemerintah Daerah, sukar bagi daerah untuk
mengalami kemajuan di bidang ekonomi.
Bertitik tolak dari asumsi tersebut, maka
keberhasilan pelaksanaan program Pemerintah
Daerah, khususnya yang dilakukan oleh dinas di
daerah yang memiliki akses langsung dengan
kegiatan ekonomi masyarakat adalah relevan
dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi
masyarakat. Dengan catatan bahwa bila program
tersebut dalam dua tahun anggaran terakhir berhasil
dilaksanakan, maka akan berdampak terhadap
kemajuan ekonomi masyarakat di masa yang akan
datang. Demikian sebaliknya apabila program
tersebut dalam dua tahun anggaran terakhir gagal
dilaksanakan (tidak mencapai sasaran) maka
dampaknya bagi kemajuan ekonomi masyarakat
negatif (rendah). Bidang-bidang yang dapat
dijadikan indikator dalam pertumbuhan ekonomi
masyarakat, misalnya: perkembangan sektor
pertanian, perkembangan sektor pertambangan dan
energi, perkembangan sektor industri,
perkembangan sektor pariwisata, dan lain-lain.
Peningkatan kualitas pelayanan public, untuk
melihat sejauh mana dampak pelaksanaan
desentralisasi dalam otonomi daerahdapat dilihat
dari kualitas pelayanan publik. Beberapa pelayanan
yang sering diberikan oleh Pemerintah Daerah
kepada masyarakat, antara lain: pelayanan bidang
pertanian, pelayanan bidan pertambangan dan
energi, pelayanan bidang perindustrian, pelayanan
bidang pariwisata, seni, budaya, dan lain-lain.
Fleksibilitas program pembangunan,
fleksibilitas program pembangunan berkenaan
Habibi, Analisis Pelaksanaan Desentralisasi dalam Otonomi Daerah Kota/Kabupaten di Indonesia
dengan kemampuan aparat pelaksana memahami
tuntutan masyarakat, tidak kaku dalam memahami
prosedur dan aturan-aturan formal,
mengedepankan kepentingan masyarakat di atas
kepentingan pribadi, peka terhadap ketidakadilan
dan ketidakpuasan yang berkembang di
masyarakat, dan dalam setiap langkah dan tindakan
berusaha melakukan penyesuaian terhadap
perkembangan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks analisis ini, pertanyaan yang
relevan diajukan adalah: apakah aparat pemerintah
daerah dan instansi teknis (dinas) memiliki
keleluasaan (discretion of power) dalam
mengelola bidang urusan pemerintah yang
diterimanya
Outcomes Desentralisasi dalam Otonomi
daerah
Outcomes desentralisasi terdiri dari dua aspek,
yaitu peningkatan partisipasi masyarakat dan
fektivitas pelaksanaan koordinasi. Peningkatan
partisipasi masyarakat berkaitan dengan
diserahkannya sebagian besar urusan pemerintahan
di daerah, diharapkan masyarakat bisa mengambil
bagian (partisipasi aktif) mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, sampai pada pengawasan dan
pemeliharaan hasil pembangunan.
Secara apriori, konsep partisipasi yang
dikehendaki oleh desentralisasi dalam otonomi
daerahkelihatannya terlampau muluk untuk bisa
direalisasikan. Sebab, selama ini (peran pemerintah
terlampau dominan) yang menempatkan
masyarakat tidak lebih sebagai objek
pembangunan atau pihak yang hanya penonton.
Efektivitas pelaksanaan koordinasi, yaitu suatu
proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatankegiatan dari satuan yang terpisah (unit-unit atau
bagian-bagian) suatu organisasi untuk mencapai
tujuan organisasi secara efisien. Tanpa koordinasi
individu-individu dan bagian-bagian akan kehilangan
pandangan tentang peran mereka dalam organisasi.
Mereka akan mengejar kepentingannya masingmasing yang khas, seringkali dengan mengorbankan
tujuan organisasi. Namun, kebutuhan akan
koordinasi tergantung pada sifat dan perlunya
komunikasi dari tugas-tugas yang dilakukan dan
ketergantungan berbagai subunit yang
melaksanakan tugas-tugas tersebut. Koordinasi
juga bermanfaat bagi pekerjaan yang tidak rutin dan
tidak diperkirakan sebelumnya, dimana pekerjaanpekerjaan ketergantungannya tinggi. Kebutuhan
koordinasi dapat dibedakan dalam tiga keadaan,
119
yaitu: (a) kebutuhan koordinasi atas ketergantungan
kelompok (pooled interdependence); (b)
kebutuhan koordinasi atas ketergantungan
sekuensial (sequential interdependence), dan (c)
kebutuhan koordinasi atas ketergantungan timbal
balik (reciprocal interdependence).
Ketergantungan kelompok terjadi apabila unit
organisasi tidak tergantung satu sama lain untuk
melaksanakan pekerjaan sehari-hari, tetapi
tergantung pada prestasi yang memadai dari setiap
unit demi tercapainya hasil akhir. Sedang,
kebutuhan koordinasi atas ketergantungan
sekuensial, terjadi pada suatu unit organisasi yang
harus melaksanakan kegiatan (aktivitas) terlebih
dahulu sebelum unit-unit selanjutnya dapat
bertindak. Sementara, ketergantungan timbal balik
terjadi apabila melibatkan hubungan saling
memberi dan menerima dan saling menguntungkan
diantara unit-unit.
Dalam proses pelaksanaan berbagai kegiatan
bidang urusan otonomi, terutama dalam hal
pelaksanaan program pembangunan, terdapat
beberapa unit organisasi yang saling terkait dan
melibatkan hubungan secara fungsional yaitu
antara lain: Walikota/Bupati (Kepala daerah),
organisasi dinas (instansi teknis), Bappeda, dan
Kepala Bagian Keuangan, Sekretaris Daerah.
Setiap program kerja tahunan dinas daerah,
sebelum disetujui oleh Walikota/Bupati (Kepala
Daerah) terlebih dahulu diteliti oleh Bappeda dan
Bagian Keuangan.
Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa dilihat dari aspek Output kebijakan, maka
implementasi kebijakan desentralisasi dapat
dikatakan relatif berhasil. Namun dilihat dari aspek
Outcomes kebijakan, ternyata banyaknya urusan
yang telah diterima (desentralisasi) oleh Kota/
kabupaten justru menjadi beban berat bagi daerah.
Harapan kebijaksanaan seperti memacu
pertumbuhan ekonomi masyarakat berbagai program pembangunan (proyek), pelaksanaannya
belum efektif.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN DESENTRALISASI DALAM OTONOMI DAERAH
Terdapat empat variabel yang dapat
menjelaskan kinerja pelaksanaan desentralisasi
dalam otonomi daerahdi Kota/kabupaten, yaitu
aspek manajerial, aspek SDM organisasi, aspek
budaya birokrasi, dan etika pelayanan publik.
120 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Aspek Manajerial
Kemampuan kepemimpinan Kepala Daerah
selaku top manajer di daerah memegang peranan
penting akan keberhasilan pelaksanaan desentralisasi
dalam otonomi daerah. Mengingat desentralisasi
dalam otonomi daerahmasih merupakan suatu yang
baru bagi pemerintah daerah serta memiliki tujuan
yang begitu luas dan kompleks, jelas memerlukan
suatu kemampuan seorang Walikota/Bupati dalam
memanage agar tujuan kebijakan yang begitu luas
dan kompleks bisa dipahami oleh semua pihak yang
berkepentingan (stakeholders). Dalam manajemen
modern, setiap organisasi harus memiliki visi dan misi
yang jelas, sebagai acuan bagi semua komponen
dalam melaksanakan aktivitasnya. Visi organisasi
tersebut sedapat mungkin disosialisasikan kepada
pegawai, menjadi visi bersama yang harus
diperjuangkan (Ordway Tead, 1954).
Kendala yang dihadapi dalam merealisasikan
misi yang telah ditetapkan adalah lebih disebabkan
oleh pelaksanaan program kerja yang belum
terdesain secara baik. Sebagian besar dinas di
daerah selaku pelaksana teknis urusan otonomi
daerah belum didukung dengan renstra yang
memiliki logframe yang baik yang memuat program-program yang dianggap strategis bagi
kemajuan daerah.
Dari uraian di atas, bahwa kemampuan
manajerial pimpinan daerah cukup baik dalam
mewujudkan visi, misi, dan tujuan yang telah
ditetapkan, tetapi belum didukung oleh SDM
pelaksana programnya maupun anggaran yang
tersedia. Kondisi ini jelas berimplikasi terhadap
kinerja desentralisasi dalam otonomi
daerahsebagaimana yang telah dipaparkan di muka.
Aspek SDM Organisasi
Ketersediaan Sumber daya Manusia (SDM)
organisasi (dinas daerah) sangat penting dalam
pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi daerah.
SDM dimaksud antara lain mencakup pegawai
yang harus mempunyai keahlian dan kemampuan
melaksanakan tugas, perintah, dan anjuran atasan
(pimpinan). Di samping itu, harus ada ketepatan
dan kelayakan antara jumlah pegawai yang
dibutuhkan dan keahlian yang dimiliki sesuai
dengan bidang tugas yang akan dikerjakan (Salusu,
1988: 493).
Ketercukupan Pegawai Dinas Daerah
Waktu yang dibutuhkan Pemerintah daerah
dalam membenahi organisasi dinas daerah kurang
lebih satu tahun. Dengan jumlah pegawai dari
setiap dinas atau instansi yang ada pada
kenyataannya kurang mencukupi untuk melayani
ara pengguna jasa atau masyarakat yang optimal.
Padahal sektor-sektor ini memiliki kedudukan yang
strategis untuk menggerakkan perekonomian
daerah setempat.
Sejauh yang diketahui belum ada suatu
analisis yang bisa menyimpulkan bahwa semakin
besar jumlah pegawai pada suatu organisasi, maka
kinerja organisasi tersebut meningkat. Namun
demikian, perlu mencermati bahwa pada
organisasi birokrasi, seperti pada beberapa dinas
daerah, terdapat suatu budaya birokrasi di mana
para pegawai yang menduduki jabatan cenderung
bergaya aristokrat, dalam pengertian selalu
merasa diri sebagai boss yang termanifestasi di
dalam kerja seharian.
Untuk pekerjaan administrasi, misalnya
mengetik surat, mengantar surat, mengatur
kebersihan ruangan, dan sejenisnya, umumnya
tidak mau dilakukan oleh pegawai yang memiliki
eselon, dan hanya mengharapkan staf atau
pegawai bawahan. Budaya kerja dan perilaku
seperti ini jelas secara tidak langsung ikut
mempengaruhi kinerja organisasi.
Berdasarkan kondisi tersebut, bahwa
andaikan saja para pegawai mau melakukan
pekerjaan apa saja demi berjalannya aktivitas
organisasi, tanpa terbelenggu dengan berbagai titel
dan jabatan, maka kegiatan organisasi akan
berjalan secara lancar, dan pada akhirnya
berdampak pada meningkatnya kinerja organisasi
dinas. Sebab, dalam realitas keseharian, banyak
pegawai yang hanya bersantai-santai pada jam
kantor dan pada saat yang sama banyak pekerjaan
kantor yang bersifat rutin terabaikan. Dengan
demikian, maka sedikitnya jumlah pegawai dinas
daerah serta masih terpeliharanya budaya kerja
santai dari para pegawai menyebabkan banyak
bidang pekerjaan terbengkalai. Implikasi lebih
lanjut adalah gagalnya dinas daerah
menyelenggarakan urusan pemerintahan
berdasarkan otonomi daerah dan desentralisasi.
Kesesuaian Kualifikasi Pendidikan Pegawai
Dengan bidang tugas yang diemban SDM
yang berkualitas merupakan salah satu faktor
penentu keberhasilan suatu organisasi dalam
menjalankan misinya. Untuk mendapatkan SDM
yang berkualitas, ada dua jalur yang biasanya
ditempuh, yaitu: pertama melalui sistem seleksi
Habibi, Analisis Pelaksanaan Desentralisasi dalam Otonomi Daerah Kota/Kabupaten di Indonesia
ketat dengan persyaratan tertentu untuk suatu
bidang pekerjaan; dan kedua melalui pendidikan/
pelatihan tambahan setelah menjadi pegawai atau
melalui model magang (learning by doing).
Secara konsepsi, organisasi yang memiliki
SDM yang terbatas tetapi berkualitas akan jauh
lebih berhasil dibandingkan dengan organisasi yang
memiliki jumlah pegawai banyak tetapi kualitas
SDMnya rendah. Dan yang lebih parah lagi adalah
SDM yang terbatas dengan kualitas yang rendah.
Persoalan kualitas SDM akan terasa pengaruhnya
ketika organisasi mulai menghadapi pekerjaanpekerjaan yang spesifik yang membutuhkan
kualifikasi pendidikan atau skill tertentu.
Tidak berjalannya sistem seleksi dan
rekrutmen dalam proses pemenuhan kebutuhan
pegawai pada sejumlah dinas daerah merupakan
faktor utama yang menyebabkan kurangnya
jumlah pegawai yang memiliki kualifikasi
pendidikan yang cocok dengan bidang tugasnya
yang diemban. Prinsip the right men on the right
place kurang diperhatikan dalam sistem rekrutmen
pada jabatan-jabatan yang ada di dinas daerah.
Dari uraian di atas, bahwa minimnya pegawai
dinas daerah yang memiliki kualifikasi pendidikan
yang cocok dengan tugas bidang pekerjaannya,
telah ikut memberi kontribusi terhadap rendahnya
kinerja pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi
daerah, yang terefleksi dari kinerja dinas daerah
menjalankan tugasnya.
Aspek Budaya Birokrasi
Secara nasional birokrasi pemerintah yang ada
di Indonesia memiliki ciri-ciri yang hampir sama, di
mana unsur paternalisme amat kental dalam pola
hubungan yang bersifat internal organisasi maupun
pada tataran eksternal organisasi. Hubungan antara
bawahan dan pimpinan berada pada posisi di mana
bawahan cenderung berusaha melayani dan
memuaskan atasan. Kondisi ini secara otomatis
akan mengurangi kualitas layanan yang diberikan
birokrasi kepada masyarakat sebagai pengguna
jasa.
Pada sisi lain budaya lokal juga memberikan
warna tersendiri terhadap budaya birokrasi
pemerintah, terutama pemerintah daerah setempat.
Akan berbeda tampilan birokrasi pemerintah di
wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi,
Bali maupun Papua. Hal ini terutama berkaitan
dengan pola pengambilan keputusan , dimana
kebanyakan birokrasi di pulau Jawa terutama Jawa
Tengah dan Yogyakarta, akan sangat berhati-hati
121
untuk membuat keputusan terutama berhubungan
dengan keputusan diskresi. Kehati-hatian ini akan
berakibat pada lambannya pelayanan publik yang
diberikan kepada masyarakat sebagai pengguna
jasa.
Secara umum tampilan birokrasi pemerintah
di Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah
masih diwarnai dan dilingkupi oleh sifat feodalisme
yang tinggi, sebagai himbasan dari pola kerja
birokrasi selama orde baru yang memerintah
selama lebih dari tiga puluh dua (32) tahun. Pola
kerja yang kental dengan unsur feodalisme ini,
terasa terus dipertahankan oleh kelompok yang
dalam birokrasi karena berbagai kepentingan
ekonomi politik yang ada.
Nilai budaya masyarakat yang sebagian
besar berkiblat pada sektor agraris, dengan corak
utama para pelaku untuk cenderung mempertahankan keharmonisan antar elemen dan
menghindari konflik atau friksi yang dianggap akan
merugikan semua pihak. Pola pikir dan mental
seperti ini menghasilkan suatu kondisi pada habitat birokrasi yang tidak memungkinkan terjadinya
kritik maupun autokritik terhadap keputusan atau
kebijakan pimpinan, walaupun dampak keputusan
itu merugikan bawahan dan masyarakat yang luas.
Dari sinilah dapat dilihat garis hubungan antara
nilai yang masih dianut dalam masyarakat yang
berpola pikir agraris dengan perilaku birokrasi,
karena proses adopsi yang terjadi di dalamnya.
Pola inipun masih terjadi di kalangan birokrasi
pemerintah Kota/kabupaten di Indonesia, sehingga
kinerja birokrasi dalam pemberian pelayanan belum
berjalan secara optimal.
Di samping itu, pilihan sentralisme dalam
penyelenggaraan birokrasi pemerintah telah
menimbulkan persoalan tersendiri terhadap
kualitas pelayanan kepada masyarakat pengguna
jasa, karena kinerja birokrasi menjadi kaku yang
disebabkan pengambilan posisi yang lebih tinggi
dari pihak birokrasi terhadap masyarakat. Kondisi
demikian ini jelas pada era globalisasi dan
penguatan civil societyakan semakin berseberangan dengan upaya semua komponen
masyarakat untuk menerapkan prinsip good governance yang memprioritaskan asas akuntabilitas,
responsibilitas, maupun asas transparansi dalam
pelayanan publiknya.
Sentralisme ini secara langsung berdampak
pada tampilan budaya birokrasi yang
lingkungannya bernuansa diskriminatif dan
mengandalkan preferensi subjektivitas dalam
122 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
pemberian pelayanan kepada pengguna jasa
maupun dalam pola hubungan internal organisasi
birokrasi. Sentralisme akan mengakibatkan
berkurangnya pertanggungjawaban terhadap
publik, karena menciptakan budaya kurang peduli
pihak birokrasi terhadap kemajuan maupun
perubahan sosial ekonomi sebagai tujuan dari
pelaksanaan pembangunan, dimana birokrasi
merupakan motor penggeraknya. Fenomena yang
ada memperlihatkan bahwa kinerja birokrasi tidak
optimal, karena faktor koordinasi yang lemah, etos
kerja yang tidak mendukung, serta disiplin kerja
yang kurang, sehingga banyak tugas pelayanan
kepada para pengguna jasa menjadi terbengkalai
dan membutuhkan waktu yang berlarut-larut untuk
menyelesaikannya.
Pola pikeryang mengungkapkan peraturan
secara kaku melalui penerapan dan penafsiran
juklak (petunjuk pelaksanaan) dan juknis (petunjuk
teknis), membuat birokrasi pemerintah menjadi
kaku dan tidak luwes dalam pemberian pelayanan
publik. Struktur hierarkis birokrasi publik
menjadikan aparatur pemerintah menjadi tunduk
secara tidak proporsional kepada pimpinan dan
melupakan tugasnya sebagai agen perubahan
melalui pemberian pelayanan kepada masyarakat.
Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa
sesungguhnya birokrasi pemerintah yang ada di
Indonesia masih jauh dari harapan untuk
memberikan pelayanan prima kepada masyarakat
pengguna jasa, akibat pengaruh budaya birokrasi
yang mengadopsi budaya masyarakat lokal, yang
justru cenderung mengagungkan posisi birokrasi
dan menganggap masyarakat lebih rendah
daripadanya. Unsur feodalisme, paternalisme dan
penggunaan asas sentralisme yang berkolaborasi
dengan budaya birokrasi yang mengagungkan
otoritas pimpinan sebagai titik sentral jelas semakin
memperlemah posisi birokrasi untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas dan mampu melakukan
perubahan sosial ekonomi melalui pelaksanaan
pembangunan.
Aspek Politik Lokal
Perpanjangan proses politik pemerintah pusat
yang berupaya menyeragamkan semua institusi
birokrasi pemerintah, baik dari segi struktur
maupun fungsinya telah menyebabkan kemacetan
proses penyelesaian masalah yang telah berlaku
secara turun-temurun pada masyarakat melalui
pola musyawarah mufakat yang merupakan bentuk
penerapan demokrasi lokal.
Birokrasi nasional yang perkembangan
historisnya berasal dari kaum bangsawan
menjadikan birokrasi pemerintah dan aparaturnya
mengidentifikasi diri sebagai golongan elite yang
memiliki status sosial terhormat dan tinggi di tengah
masyarakat. Kondisi ini jelas menjadikan
pelayanan ublik tidak akan berfungsi otimal, karena
kaum birokrat cenderung ingin dilayani secara internal maupun eksternal, ketika terjadi transaksi
sosial berupa pelayanan publik. Indikasi yang
terlihat dari kondisi di atas adalah penyebutan yang
istimewa kepada para pejabat birokrat yang
memiliki status sosial istimewa itu.
Keangkuhan yang terkondisi di kalangan
birokrat ini menjadikan birokrasi pemerintah menjadi
jauh dengan masyarakat, karena persepsi birokrat
merasa lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan
yang menjadi pengguna jasa pelayanan publik.
Budaya seperti ini jelas menjadi penghambat bagi
birokrat untuk berfungsi optimal dengan kinerja yang
memadai dalam pemberian pelayanan publik.
Perkembangan politik lokal yang terjadi pada
masyarakat di daerah menciptakan iklim bagi
perluasan partisipasi politik masyarakat lokal yang
berdampak pada proses pengambilan keputusan
yang berkaitan dengan persoalan-persoalan publik.
Kebijakan publik yang lahir akan terlihat apakah
masyarakat lokal ikut dilibatkan atau tidak dan
seberapa jauh pelibatan itu terjadi yang mampu
mengadopsi aspirasi dan kebutuhan kelompokkelompok yang ada dalam masyarakat.
Keseimbangan akan terjadi, jika proses pembuatan
kebijakan publik mengikutsertakan kelompok
kepentingan yang ada di tengah masyarakat lokal.
Penerapan asas desentralisasi dan otonomi
luas pasca reformasi memberikan angin segar
dalam perubahan hubungan antara pihak
pemerintah daerah (aparatur) dengan masyarakat
luas yang merupakan mitra dalam pelaksanaan
pembangunan. Pada era ini berbagai perubahan
telah terjadi, sehingga masyarakat pengguna jasa
memiliki akses terhadap proses pembuatan
kebijakan publik.
Kondisi dan perubahan ini jelas memberikan
nuansa baru yang sebelumnya tidak terjadi, di mana
elemen-elemen yang ada dalam masyarakat
memiliki kesempatan untuk melakukan pengawasan
dan memantau kinerja birokrasi secara transparan,
terutama dalam hal pengalokasian sumberdaya
secara lebih adil sesuai dengan proporsi kelompokkelompok yang eksis di masyarakat lokal tersebut.
Hal ini secara otomatis akan mengurangi
Habibi, Analisis Pelaksanaan Desentralisasi dalam Otonomi Daerah Kota/Kabupaten di Indonesia
123
penyimpangan dan penyalahgunaan kekuasaan dari
pihak birokrasi pemerintah, yang pada masa
sebelumnya banyak merugikan masyarakat banyak.
Kondisi perkembangan politik di daerah
menunjukkan mental dari para birokrat belum ada
perubahan yang signifikan dan berarti bagi
peningkatan kinerja pelayanan publik yang berpihak
pada masyarakat kebanyakan. Justru yang terjadi
adalah masih menonjolnya penggunaan kekuasaan
dari pihak birokrasi pemerintah daerah yang hanya
menguntungkan kelompoknya secara sepihak, dan
mengorbankan kepentingan masyarakat banyak.
Peran dan fungsi legislatif yang diharakan
memberikan kontribusi positif dalam proses
pembuatan kebijakan publik, ternyata banyak
terjebak pada evaluasi kebijakan yang bersifat
makro dan kurang bergerak pada kebijakan
langsung yang memberikan manfaat bagi
masyarakat terutama berkaitan dengan peningkatan
pelayanan publik. Pihak legislatif banyak yang
terjebak pada persoalan internalnya yang hanya
membahas penggunaan dan alokasi APBD dan
sering memperjuangkan kesejahteraan pribadi
melalui peningkatan honor dan fasilitas
kesejahteraannya.
kepada jajaran aparatur pemerintah daerah, agar
seluruh aparatur yang ada mampu dan mau
bergerak sesuai dengan visi, misi, dan tujuan yang
telah ditetapkan sebagaimana yang dimuat dalam
Rencana Strategi Daerah (Renstrada) maupun Pola
Dasar Pembangunan (Poldas). Sementara peranan
DPRD sebagai lembaga kontrol perlu melakukan
pengawasan terhadap jalannya Renstrada secara
berkesinambungan, agar pelaksanaannya tetap
berjalan pada koridor yang tepat dan tidak
melenceng dari rel yang telah ditetapkan.
Perlu pembentukan dinas yang otonom bagi
sektor-sektor yang strategis, seperti: pendidikan,
tenaga kerja, pertambangan dan energi,
perindustrian, pertanian, dan lain-lain. Setiap
pimpinan dinas (instansi teknis) harus menyusun
rencana strategis (Renstra) dengan mengacu
pada visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan.
Renstra yang disusun harus betul-betul
memperhatikan dan mempertimbangkan urgensi,
dukungan dana, keahlian, serta kepentingan
masyarakat dan pembangunan daerah. Dan di
dalam pelaksanaannya diperlukan koordinasi lintas
instansi teknis (dinas) dan yang terkait lainnya,
dibawah Bappeda.
REKOMENDASI PELAKSANAAN DESENTRALISASI DALAM OTONOMI
DAERAH
Aspek SDM Organisasi
Pemerintah daerah melalui Badan
Kepegawaian Daerah harus memiliki perencanaan
pegawai yang komprehensif dan memuat hal-hal
antara lain: a) analisis jumlah kebutuhan pegawai
untuk jangka kurun waktu tertentu; b) data base
pegawai baik dalam hal jumlah, kualifikasi
pendidikan dan keahlian; c) jenis keahlian yang
dibutuhkan pada setiap dinas; d) Jenis pendidikan
dan pelatihan yang harus diikuti pegawai setiap
dinas; e) anggaran biaya pendidikan dan pelatihan;
dan f) pengembangan kerjasama dengan instansi
lain yang terkait.
Memperhatikan berbagai kendala yang
dihadapi oleh Pemerintah Daerah Kota/kabupaten
dalam pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi
daerah, maka upaya yang perlu ditempuh dari
aspek manajerial, SDM organisasi, budaya
organisasi, dan politik lokal.
Aspek Manajerial
Pemerintah daerah Kota/kabupaten perlu
merumuskan kembali visi yang jelas, mengenai
gambaran masa depan yang ingin dicapai (untuk
kurun waktu tertentu). Isi dari visi tersebut sedapat
mungkin dapat mencerminkan substansi dari
desentralisasi dalam otonomi daerahserta seluruh
harapan masyarakat Kota/kabupaten. Selanjutnya
visi yang telah ditetapkan harus disosialisasikan
kepada seluruh jajaran pemerintah daerah dan
masyarakat, sehingga menjadi visi bersama yang
perlu diperjuangkan antara pemerintah daerah
Kota/kabupaten dan masyarakat bersama-sama.
Bupati/walikota sebagai top manajemen
memiliki tugas untuk mentransfer visi yang ada
Aspek Budaya Organisasi
Perlu adanya perubahan sikap mental dari
aparatur pemerintah daerah untuk memiliki
komitmen dalam pemberian pelayanan yang
berkualitas kepada masyarakat sebagai pengguna
jasa.
Bekerjasama dengan instansi terkait dalam
menciptakan budaya birokrasi yang legaliter,
transparan, dan lebih berorientasi pada sikap
profesionalisme daripada berorientasi pada
kepentingan atasan.
124 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Aspek Politik Lokal
Perlu adanya pemberdayaan dari pihak
legislatif untuk mampu mengusulkan dan
merancang Peraturan Daerah (Perda) yang sesuai
dengan visi, misi Kota/kabupaten demi kemajuan
dan kesejahteraan masyarakatnya.
Menciptakan hubungan yang harmonis antara
pihak DPRD (legislatif) dengan pihak eksekutif
untuk secara bersama-sama bertanggung jawab
terhadap pelaksanaan pembangunan di Kota/
kabupaten secara optimal dan berkesi-nambungan.
SIMPULAN
Dari uraian di atas tentang analisis
pelaksanaan desentralisasi dalam otonomi
daerahKota/kabupaten di Indonesia, dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut : 1) pelaksanaan
desentralisasi dalam otonomi daerahdapat dilihat
dari dua aspek, yaitu: aspek output dan aspek
outcomes kebijakan. Kedua aspek tersebut
memiliki ukuran atau indikator yang berbeda
dalam penilaian keberhasilan; 2) output kebijakan
desentralisasi dapat dilihat 3 aspek, yaitu: (a)
peningkatan pertumbuhan ekonomi masyarakat;
(b) peningkatan kualitas pelayanan publik; dan
(c) fleksibilitas program pembangun-an; 3) outcomes kebijakan desentralisasi dapat dilihat dari
aspek peningkatan partisipasi masyarakat dan
efektivitas pelaksanaan koordinasi; 4) faktorfaktor yang mempengaruhi proses pelaksanaan
desentralisasi dalam otonomi daerahdi Kota/
kabupaten adalah: (a) aspek manajerial; (b) aspek
SDM organisasi; (c) aspek budaya birokrasi; dan
(d) aspek politik lokal. Dlihat dari aspek output
kebijakan, maka implementasi kebijakan
desentralisasi dapat dikatakan relatif berhasil.
Namun dilihat dari aspek outcomes kebijakan,
ternyata banyaknya urusan yang telah diterima
(desentralisasi) oleh Kota/kabupaten justru
menjadi beban berat bagi daerah. Harapan
kebijaksanaan seperti memacu pertumbuhan
ekonomi masyar akat berbagai progr am
pembangunan (proyek), pelaksanaannya belum
efektif.
DAFTAR RUJUKAN
Mahfud, MD. 2000. Demokrasi dan Konstitusi
di Indonesia: Studi Tentang Interaksi
Politik dan Kehidupan Ketatanegaraan.
Jakarta: Rineka Cipta.
N. Dunn, William. Public Policy Analisys: An
Introduction. London: Prentice-Hall Inc.
Nogi, S. Hessel. 2000. Analisis Kebijakan Publik
Kontemporer. Yogyakarta: Lukman Offset.
Syaukani, Affan Gaffar, Ryass Rasyid. 2002.
Otonomi Daerah dalam Negara Kesatuan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
ANALISIS KINERJA RELAWAN DEMOKRASI DALAM PEMILIHAN
UMUM LEGISLATIF DI KOTA BANDA ACEH
Nopri Hariadi
Amirullah
Ruslan
Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Syiah Kuala
Jl.Jl. T. Nyak Arief Darussalam Banda Aceh
email: [email protected], [email protected],
Abstract:the voters who did not vote in the election (white group) legislature is still high. In 2014 the
government gave rise to a new program, a program Volunteer Democracy (Relation). Relationships
program is expected to create a positive awareness of the importance of the elections in the life of the
nation. This study aims to determine the grounding performance, form the performance of “Relasi”,
and the constraints faced “Relasi” in the implementation of legislative elections in 2014, especially in
the city of Banda Aceh. The method used is descriptive qualitative. Source of data obtained through
interviews and documentation. The subjects of the research is determined by purposive sampling
method. The subjects in this study is one the group’s chairman and two members of the group of
each segment. The results showed that the foundations of the program “Relasi” is the voter turnout
tends to decrease. Mechanism of action of different used is adapted to the situation and the conditions required. Overall the entire relationship has been working in accordance with its function as an
extension. Obstacles faced when socialization is the style, technique, time, and bounce. In addition
to the mindset of the people who mostly do not have awareness about the importance of democracy.
Keywords: volunteer democracy, legislative elections
Abstrak:pemilih yang tidak memilih dalam pemilu (golongan putih) legislatif masih tinggi. Tahun
2014pemerintah memunculkan program baru yaitu program Relawan Demokrasi (Relasi). Program
Relasi diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran positif terhadap pentingnya pemilihan umum
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kajianini bertujuan untuk mengetahui landasan kinerja,
bentuk kinerja “Relasi”, dan kendala-kendala yang dihadapi “Relasi” dalam pelaksanaan Pileg Tahun
2014 khususnya di Kota Banda Aceh. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif.
Sumber data diperoleh melalui wawancara dan studi dokumentasi. Subyek penelitian ditentukan
melalui metode purposive sampling. Subyek dalam penelitian ini adalah satu orang ketua kelompok
dan dua orang anggota kelompok dari setiap segmen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
landasan terbentuknya program “Relasi”adalah partisipasi pemilih yang cenderung menurun.
Mekanisme kerja yang digunakan berbeda-beda yaitu disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang
dibutuhkan. Secara keseluruhan seluruh anggota Relasi telah bekerja sesuai dengan fungsinya
sebagai penyuluh. Kendala yang dihadapi saat sosialisasi umumnya adalahgaya bahasa, teknik,
waktu, dan mental. Selain itu pola pikir masyarakat yang sebagian besar belum memiliki kesadaran
mengenai pentingnya demokrasi.
Kata kunci: relawan demokrasi, pemilihan umum legislatif
Indonesia saat ini sudah melaksanakan 10 kali
Pemilihan Umum Legislatif atau Pileg, namun
ditemukan bahwa angka golput masyarakat masih
tinggi. Pada Pileg tahun 2014 ini mempunyai
pemerintah memuncul-kan program baru yaitu
program Relawan Demokrasi (Relasi). Program
Relasi diharapkan mampu menumbuhkan kembali
kesadaran positif terhadap pentingnya pemilu
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Relawan demokrasi menjadi mitra KPU dan
KIP Aceh dalam menjalankan agenda sosialisasi
dan pendidikan pemilih berbasis kabupaten/kota.
125
126 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Bentuk peran serta masyarakat ini diharapkan
mampu mendorong tumbuhnya kesadaran tinggi
serta tanggung jawab penuh masyarakat untuk
menggunakan haknya dalam pemilu secara optimal. Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik
untuk mengkaji lebih dalam mengenai kinerja
Relawan Demokrasi pada Pemilu 2014 khususnya
di Kota Banda Aceh.
METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh melalui
wawancara terhadap subjek penelitian serta
melalui studi dokumentasi. Dalam pemilihan subjek
peneliti menggunakan metode purposive sampling.
Ada lima segmen yang menjadi kelompok
sampel, yaitu segmen marjinal, perempuan, pemilih
pemula, keagamaan, dan disabilitas. Kriteria
sampel dalam penelitian ini adalah 1 orang ketua
kelompok dan 2 orang anggota kelompok dari
masing-masing segmen. Dengan demikian terpilih
sebanyak 15 orang (terdiri atas 3 orang dari setiap
segmen sesuai kriteria) sebagai subjek penelitian
dalam penelitian ini.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Landasan kinerja Relawan Demokrasi
Berdasarkan hasil pengumpulan data di
lapangan, temuan-temuan melalui wawancara dan
dokumentasi menunjukan bahwa dari kelima belas
orang yang tergabung dalam program Relawan
Demokrasi (Relasi) menyebutkan mengenai
landasan terbentuknya Relawan Demokrasi.
Landasan terbentuknya program Relawan
Demokrasi ini dilatar belakangi oleh partisipasi
pemilih yang cenderung menurun, yaitu selama
tiga kali pelaksanaan pemilu terjadi kemerosotan
jumlah pemilih. Hal ini sesuai dengan penjelasan
di dalam Petunjuk Pelaksanaan Program Relawan
Demokrasi (Relasi) tahun 2014, menjelaskan
bahwa jumlah pemilih pada tahun 1999 berjumlah
92 %, tahun 2004 berjumlah 84 %, dan tahun 2009
berjumlah 71 %.
Fenomena pada pemilu nasional tersebut
menjadi tantangan bagi pemerintah dan pihakpihak yang pro-demokrasi untuk menyukseskan
pelaksanaan pemilu tahun 2014 dengan
membentuk Gerakan Sejuta Relawan di
kabupaten/kota se- Indonesia. Dengan demikian,
diharapkan pemilu tahun 2014 ini mestinya menjadi
titik balik terhadap persolan partisipasi pemilih yang
sebelumnya ada, yaitu dengan cara menumbuhkan
kembali kesadaran positif terhadap pentingnya
pemilu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
agar tingkat golput semakin menurun.
Program Relawan Demokrasi ini adalah program pemerintah yang legal, karena dari awal
proses perekrutan hingga proses berakhirnya tugas
sudah disebutkan di dalam Surat Ketetapan (SK)
kerja yang diberikan kepada setiap anggota
Relawan Demokrasi saat proses pelantikan di
gedung lama KIP kota Banda Aceh. Pelantikan
tersebut dihadiri 25 orang Relawan Demokrasi,
komisioner KIP kota Banda Aceh, serta pihakpihak yang berwenang dalam pemilu legislatif
tahun 2014 ini. Isi dari SK kerja juga menjelaskan
mengenai anggaran yang yang diproksikan untuk
menunjang kegiatan para anggota Relawan
Demokrasi dalam bekerja dan disebutkan pula
anggaran yang untuk menunjang para anggota
Relawan Demokrasi berasal dari DIPA KPU
tetapi secara nasional anggaran yang digunakan
untuk menunjang kinerja Relawan Demokrasi di
Banda Aceh yaitu berasal dari APBN dan APBK.
Pos anggaran dalam APBN difungsikan untuk
honor bagi Relawan Demokrasi sedangkan pos
anggaran dalam APBK difungsikan untuk
penyediaan alat peraga, dll.
Bentuk kinerja Relawan Demokrasi
Berdasarkan hasil pengumpulan data di
lapangan, temuan-temuan melalui wawancara dan
dokumentasi menunjukan bahwa setelah resmi
menjadi Relawan Demokrasi pastinya mereka
belum mengetahui pasti bagaimana bentuk kerja
yang harus mereka laksanakan, oleh sebab itu
pihak KIP kota Banda Aceh memberikan
pembekalan berupa bimbingan teknis (Bimtek)
sebagai bentuk tanggung jawab pihak KIP kota
Banda Aceh terhadap program tersebut,
sebagaimana yang disebutkan di dalam petunjuk
pelaksanaan program Relawan Demokrasi
(Relasi) Pemilu Tahun 2014. Sejauh ini seluruh
anggota Relawan Demokrasi sudah diberikan
Bimtek sebanyak 4 kali setelah resmi menjadi
anggota Relawan Demokrasi yaitu sebelum pesta
demokrasi yaitu hari pemilihan. Saat bimtek
tersebut berlangsung, seluruh anggota Relawan
Demokrasi diberikan pengarahan dan pengenalan
mengenai segala hal yang berhubungan dengan
Hariadi dkk, Analisis Kinerja Relawan Demokrasi dalam Pemilihan Umum Legislatif di Kota Banda Aceh
Relawan Demokrasi, seperti halnya mengenai
prosedur, fungsi, perencanaan program, motivasi,
dan evaluasi terhadap program yang sudah
dijalankan oleh masing-masing segmen. Dengan
demikian kinerja Relawan sudah mencapai standar
kinerjanya. Standar kinerja tersebut merupakan
elemen penting dan sering dilupakan dalam proses
review kinerja (Wibowo, 2013:73).
Setelah dilakukannya pembekalan atau
bimtek kepada seluruh anggota Relawan
Demokrasi di kota Banda Aceh, secara
keseluruhan mereka sudah paham mengenai halhal yang berhubungan dengan tugas, prosedur,
serta fungsi mereka sebagai Relawan Demokrasi
karena dengan adanya bimtek tersebut seluruh
Relawan Demokrasi menjadi lebih terarah dan
terfokus dalam menjalankan tugasnya sebagai
RelawanDemokrasi. Di saat Relawan bekerja
mereka saling menutupi kekurangan antar anggota
kelompoknya, jika satu dari mereka tidak paham,
pasti rekan sekolompok selalu siap mambantu.
Kemudian mengenai bentuk atau mekanisme
kerja yang dilakukan oleh Relawan Demokrasi
selama bekerja yaitu sangatlah beragam. Setiap
segmen memiliki mekanisme yang berbeda, karena
mekanisme tersebut harus sesuai dengan kondisi
target masing-masing segmen. Misalnya
mekanisme atau prosedur yang digunakan oleh
masing-masing segmen yaitu : segmen marginal
lebih fokus terhadap kalangan pemulung, nelayan,
tukang becak, tukang sayur dan pedagang. Selain
itu, segmen disabilitas berfokus terhadap
penyandang disabilitas (tuna runga, tuna daksa, tuna
netra, dll), segmen pemilih pemula berfokus pada
siswa kelas 3 SMA, mahasiswa, Purnawiran.
Segmen keagamaan berfokus terhadap lingkup dan
komunitas keagamaan. Segmen perempuan lebih
fokus terhadap komunitas ibu-ibu. Dengan demikian
mekanisme kerja yang digunakan pun berbeda
sesuai kebutuhan dari tiap segmen agar target tidak
jenuh dan waktu yang digunakan untuk sosialisasi
disesuaikan dengan kondisi dari target sosialisasi.
Secara keseluruhan mekanisme atau
prosedur yang digunakan yaitu dengan cara
sosialisasi kepada masyarakat dari masing-masing
segmen tersebut dengan berbagai bentuk
sosialisasi, dimana segmen agama, segmen pemilih
pemula, segmen marginal, dan segmen perempuan
menggunakan bentuk sosialisasi yang normal,
bahasa yang mudah dipahami, lokasi sosialisasi
yang mendukung, dan teknik sosialisasi yang
menarik agar tidak membosankan, dan lain
127
sebagainya. Beda halnya dengan segmen
disabilitas yaitu menggunakan bentuk sosialisasi
dengan cara khusus (misalnya dengan teknik nonverbal). Hal ini sesuai dengan pernyataan dari Fajri
(2014:26) bahwa ada beberapa mekanisme yang
digunakan Relawan Demookrasi dalam
memberikan penyuluhan yaitu: (a) simulasi, (b)
bermain peran, (c) diskusi kelompok, (d) ceramah,
(e) alat bantu visual-non visual, (f) posting materi
sosialisasi ke media sosial .
Selain itu, dalam bekerja seluruh anggota
Relawan Demokrasi memiliki motivasi yang
berbeda-beda tetapi pada intinya motivasi saat
mereka bekerja yaitu dikarenakan kondisi Aceh
dulu sampai dengan sekarang ini, dimana jumlah
pemilih terus menerus turun artinya masyarakat
banyak yang golput, selain itu karena prihatin
karena sikap ketidakpercayaan masyarakat
terhadap calon legislatif sehingga memaksa
mereka untuk apatis. Motivasi bagi mereka dalam
bekerja dan mengajak masyarakat untuk
menggunakan hak pilih mereka dalam panggung
demokrasi di tahun 2014 ini. Hal ini bertujuan agar
Aceh lebih maju dari tahun kemarin dikarenakan
calon legislatif yang terpilih berdasarkan suara dari
sebagian besar masyarakat Aceh.
Setelah bekerja pastinya ada indikator yang
dapat digunakan oleh masing-masing anggota
untuk mengukur dan mengevaluasi bagaimana
kinerja Relawan Demokrasi yaitu dengan melihat
bagaimana antusias dan respon masyarakat saat
diberikan penyuluhan mengenai prosedur pada
pemilu tahun ini, dimana hal ini bisa dilihat dari
komunikasi interaktif dari masyarakat saat
melakukan sosialisasi. Selain itu indikator lain yang
digunakan yaitu terselesainya program yang
direncanakan dengan baik dan juga dapat dilihat
dari jumlah partisipatif pemilih yang dicatat oleh
pihak yang berwenang (KPU atau KIP Kota)
dalam pileg tahun 2014 di Indonesia. Hal ini sesuai
dengan tujuan dibentuknya program Relawan
Demokrasi yang tercantum dalam Petunjuk
PelaksanaanProgram Relawan Demokrasi
(Relasi) Pemilu tahun 2014.
Sejauh ini evaluasi terhadap kinerja selalu
dilaksanakan dan indikator yang digunakan oleh
Relawan Demokrasi sesuai dengan teori yang
dijelaskan oleh Dwiyanto (2002:48) yaitu
produktivitas, kualitas layanan, responsivitas,
responsibilitas, dan akuntabilitas.
Produktivitas tidak hanya mengukur tingkat
efisiensi, tetapi juga efektivitas pelayanan.
128 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Produktivitas pada umumnya dipahami sebagai
rasio antara input dan output. Konsep produktivitas
dirasa terlalu sempit dan kemudian General Accounting Office (GAO) mencoba mengembangkan
satu ukuran produktivtas yang lebih luas dengan
memasukkan seberapa besar pelayanan publik itu
memiliki hasil yang diharapkan sebagai salah satu
indikator kinerja yang penting.
Kualitas layanan menjadi isu yang menjadi
semakin penting dalam menjelaskan kinerja
organisasi pelayanan publik. Keuntungan
menggunakan kepuasan masyarakat sebagai
indikator kinerja adalah informasi mengenai
kepuasan masyarakat seringkali tersedia secara
mudah dan murah. Informasi mengenai kepuasan
terhadap kualitas pelayanan seringkali dapat
diperoleh dari media massa atau diskusi publik.
Responsivitas adalah kemampuan organisasi
untuk mengenali kebutuhan masyarakat,
menyusun agenda dan prioritas pelayanan, dan
mengembangkan program-program pelayanan
publik sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat. Responsivitas di sini menunjuk pada
keselarasan antara program dan kegiatan dan
kegiatan pelayanan dengan kebutuhan dan aspirasi
masyarakat. Responsivitas dimasukkan sebagai
salah satu indikator kinerja karena responsivitas
secara langsung menggambarkan kemampuan
organisasi publik dalam menjalankan misi dan
tujuannya, terutama untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Responsivitas rendah ditunjukkan
dengan ketidakselarasan antara pelayanan dengan
kebutuhan masyarakat. Hal tersebut jelas
menunjukkan kegagalan organisasi dalam
mewujudkan misi dan tujuan organisasi publik.
Responsibilitas menjelaskan apakah
pelaksananan kegiatan organisasi publik itu
dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsipkebijakan
organisasi, baik yang eksplisit maupun implisit. Oleh
karena itu, responsibilitas bisa saja pada suatu
ketika berbenturan dengan responsivitas.
Akuntabilitas publik menunjuk pada seberapa
besar kebijakan dan kegiatan organisasi publik
tunduk pada para pejabat politik yang dipilih oleh
rakyat. Konsep akuntabilitas publik digunakan
untuk melihat seberapa besar kebijakan dan
kegiatan organisasi publik itu konsisten dengan
kehendak masyarakat banyak. Suatu kegiatan
organisasi publik memiliki akuntabilitas yang tinggi
kalau kegiatan itu dianggap benar dan sesuai
dengan nilai dan norma yang berkembang dalam
masyarakat.
Kesesuaian indikator yang digunakan oleh
para Relawan Demokrasi dalam mengevaluasi
kinerjanya dengan teori indikator kinerja,
menyebabkan feed back dari kinerja tersebut
sudah tercapai walaupun belum maksimal.Jadi,
secara umumterlihat bahwa seluruh anggota
Relawan Demokrasi telah bekerja sesuai dengan
fungsinya sebagai penyuluh dan Relawan
Demokrasi juga telah mencapai sasaran kinerja.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Wibowo
(2013:63) menyebutkan bahwa sasaran kinerja
mencakup unsur-unsur sebagai berikut: (a) The
performers, yaitu orang yang menjalankan kinerja,
(b) The action/ performance, yaitu tentang
tindakan atau kinerja yang dilakukan oleh performer, (c) A time element, yaitu menunjukan
waktu kapan pekerjaan dilakukan, (d) An evaluation method, yaitu tentang cara penilaian
bagaimana hasil pekerjaan dapat dicapai, (e) The
place, yaitu menunjukan tempat di mana pekerjaan
dilakukan.
Kendala-kendala yang dihadapi Relawan
Demokrasi
Berdasarkan hasil pengumpulan data di
lapangan, temuan-temuan melalui wawancara dan
dokumentasi menunjukan bahwa, terdapat kendala
yang dirasakan oleh setiap anggota Relawan
Demokrasi saat sosialisasi kepada masyarakat.
Kendala tersebut berbeda-beda sesuai dengan
situasi dan kondisi lingkungan yang dihadapi saat
sosialisasi dari masing-masing segmen. Walaupun
ada di antara mereka yang merasa tidak ada
kendala sama sekali saat melakukan sosialisasi
kepada masyarakat.
Berikut ini merupakan kendala yang dihadapi
oleh masing-masing segmen saat sosialisasi yaitu
kendala yang dihadapi oleh segmen marginal
adalah terkait dengan gaya bahasa dan teknik yang
gunakan saat sosialisasi agar mudah dipahami oleh
target; segmen disabilitas terkendala dengan
kondisi fisik dari target sehingga tidak terbiasa saat
berinteraksi dan harus beradaptasi terlebih dahulu;
segmen pemilih pemula terkendala dengan waktu
yang dipilih untuk sosialisasi sehingga bersamaan
dengan waktu persiapan ujian nasional; segmen
keagamaan terkendala dengan masih kurangnya
keberanian dalam berinteraksi saat penyuluhan
karena khawatir akan menyinggung perasaan target yang terdiri dari latar belakang agama yang
berbeda; dan segmen perempuan terkendala
dengan aktivitas atau kesibukan dari target yang
Hariadi dkk, Analisis Kinerja Relawan Demokrasi dalam Pemilihan Umum Legislatif di Kota Banda Aceh
terdiri dari ibu-ibu sehingga harus memilih waktu
yang tepat untuk melakukan sosialisasi.
Selanjutnya, jika kita melihat dari segi situasi
objektif masyarakat, yaitu berbeda-beda sesuai
dengan persepsi dari masing-masing masyarakat.
Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar
masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap
calon pemimpin dan banyak pemimpin yang hanya
mengutamakan kepentingannya sendiri ketika
mereka memiliki jabatan tersebut. Kemudian juga
disebabkan karena adanya unsur kekhawatiran
yang berlebihan dari masyarakat bahwa kegiatan
pileg akan menghambat aktivitas mereka untuk
mencari nafkah setiap harinya. Uniknya ada
sebagian istri yang mengikuti suaminya, maksudnya
jika suaminya memberikan hak suara maka mereka
juga ikut memberikan suaranya, dan begitu pula
sebaliknya. Dengan kata lain kendalanya dalam hal
ini yaitu terkait dengan pola pikir masyarakat yang
sebagian besarnya belum memiliki kesadaran
mengenai pentingnya demokrasi.
129
SIMPULAN
Landasan terbentuknya program Relawan
Demokrasi ini dilatar belakangi oleh partisipasi
pemilih yang cenderung menurun. Sebelum turun
ke masyarakat seluruh anggota relawan Demokrasi
terlebih dahulu diberikan bimtek, dan sejauh ini sudah
4 kali dilakukan bimtek sebelum hari pemilihan.
Kemudian mekanisme yang digunakan oleh Relawan
Demokrasi sesuaidenganfungsinya sebagai
penyuluh dan telah mencapai sasaran kinerja, serta
indikator yang digunakan oleh Relawan Demokrasi
dalam mengevaluasi kinerja pun tepat, sehingga
feed back dari kinerja tersebut sudah tercapai
walaupun belum maksimal.
Kendala yang dihadapi dari segi anggota
Relawan Demokrasi yaitu berbeda-beda sesuai
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi namun
pada umumnya adalah terkait dengan pola pikir
masyarakat yang sebagian besarnya belum
memiliki kesadaran mengenai pentingnya
demokrasi.
DAFTAR RUJUKAN
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 22
Tahun 2007 tentang penyelenggara
pemilu.
Republik Indonesia.Undang-Undang Pemerintah Aceh tentang Pemilu.
Surbakti, Ramlan. 1992. Memahami Ilmu Politik.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Syarbaini, Syahrial, dkk. 2002. Sosiologi dan
Politik. Jakarta:Ghalia Indonesia.
Wibowo. 2013. Manajemen Kinerja. Jakarta:
Rajawali Pers.
Yunus, Hadi Sabari. 2010. Metodologi Penelitian
Wilayah Kontemporer. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
URGENSITAS OMBUDSMAN DALAM
PENGAWASAN PELAYANAN PUBLIK
Nurul Laili Fadhilah
Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Jember
Jl. Kalimantan Jember
Email:[email protected]
Abstract: competition some areas as improving the quality of services and satisfaction of the people
became the target of the government’s success in serving the community. Ombudsman to monitor
the implementation of public service held by the organizer of state and government at both central
and local levels including those organized by the State Owned Enterprises, Regional-Owned Enterprises and State Owned Legal Entity as well as private entities or individuals who were given the task
of organizing certain public services , The establishment of Ombudsman background for the empowerment of people concerned about state administration, the implementation of the idea of democracy, and as a protection of the rights of community members. The apparatus of government, including the judiciary in charge of creating justice and prosperity. The existence of supervisor institution
for public services to the community can be a means of control of people or institutions to maintain
the quality of government services.
Keywords: decentralization, public services, obudsman
Abstrak: Kompetisi beberapa daerah sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan dan kepuasan
masyarakat menjadi target keberhasilan pemerintah dalam melayani masyarakat. Ombudsman
berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara
negara dan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah termasuk yang diselenggarakan oleh
Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan Hukum Milik Negara serta badan
swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu.
Pembentukan Ombudsman dilatar belakangi adanya pemberdayaan masyarakat yang peduli terhadap
penyelenggaraan negara, implementasi paham demokrasi, dan sebagai perlindungan terhadap hakhak anggota masyarakat. Aparatur pemerintahan termasuk lembaga peradilan yang bertugas
menciptakan keadilan dan kesejahteraan. Keberadaan lembaga pengawas terhadap pelayanan publik
kepada masyarakat dapat menjadi alat kontrol dari masyarakat atau lembaga terkait untuk menjaga
kualitas layanan pemerintah.
Kata Kunci: Otonomi daerah, pelayanan publik, Ombudsman
Bahwa pada dasarnya dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara selalu saja ditemukan tarik ulur
antara kekuasaan, hukum dan demokrasi yang
bersumber pada keserakahan terhadap
kekuasaan. Padahal prinsip-prinsip Negara hukum,
demokrasi dan hak-hak asasi manusia juga dapat
melanggar prinsip-prinsip hukum administrasi dan
asas-asas umum penyelenggaraan pemerintahan
yang layak. Kajian terhadap bagian-bagian yang
mengisahkan jalinan antara sisi hukum demokrasi
dan hukum administrasi dirasa sangat penting
dalam penyelenggaraan pemerintahan Indonesia.
Disaat berbagai musibah dan malapetaka berupa
musibah korupsi, kolusi dan nepotisme masih terus
menerpa praktek penyelenggaraan pemerintahan.
Di saat era otonomi menghadapi pemekaran
daerah dan pertumbuhan provinsi, kabupaten, kota
dan kecamatan yang sering disertai munculnya
arogansi rasa kedaerahan yang berlebihan.
Otonomi daerah serentak telah dilaksanakan
mulai Januari 2001. Dalam tahap awal pelaksanaa
otonomi daerah, masih ada beberapa daerah yang
belum siap, namun sebagian merasa sudah siap
melaksanakan otonomi. Pelaksanaan otonomi
130
Fadhilah, Urgensitas Ombudsman dalam Pengawasan Pelayanan Publik
daerah secara tidak langsung akan memaksa
daerah untuk melakukan perubahan-perubahan
struktur maupun perubahan proses birokrasi dan
kultur birokrasi. Perubahan proses meliputi
perubahan yang menyentuh keseluruhan aspek
dalam siklus pengendalian manajemen di
pemerintah daerah, yaitu perumusan strategi,
perencanaan strategi, penganggaran, pelaporan
kinerja dan mekanisme reward and punishment
system (Mardiasmo, 2004:207).
Undang-undang Dasar 1945 merupakan
landasan yang kuat untuk menyelenggarakan
Otonomi Daerah dalam Pasal 18 UUD
menyebutkan adanya pembagian pengelolaan
pemerintahan pusat dan daerah. Pemberlakuan
sistem otonomi daerah merupakan amanat yang
diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 Amandemen
Kedua tahun 2000 untuk dilaksanakan
berdasarkan undang-undang yang dibentuk khusus
untuk mengatur pemerintahan daerah. UUD NRI
1945 pasca-amandemen itu mencantumkan
permasalahan pemerintahan daerah dalam Bab
VI, yaitu Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B.
Sistem otonomi daerah sendiri tertulis secara
umum dalam Pasal 18 untuk diatur lebih lanjut oleh
undang-undang No. 32 Tahun 2004 dan diubah
menjadi Undang-undang No. 10 Tahun 2008
Tentang Pemerintah Daerah.
Otonomi daerah sendiri pada implementasi
memiliki dampak tersendiri bagi tiap-tiap daerah.
Dampak tersebut bisa positif dan negatif. Dampak
positif otonomi daerah adalah bahwa dengan
otonomi daerah maka pemerintah daerah akan
mendapatkan kesempatan untuk menampilkan
identitas lokal yang ada di masyarakat.
Berkurangnya wewenang dan kendali pemerintah
pusat mendapatkan respon tinggi dari pemerintah
daerah dalam menghadapi masalah yang berada
di daerahnya sendiri. Dengan otonomi daerah
maka kebijakan-kebijakan pemerintah akan lebih
tepat sasaran, hal tersebut dikarenakan pemerintah
daerah cenderung lebih mengerti keadaan dan
situasi daerahnya, serta potensi-potensi yang ada
di daerahnya daripada pemerintah pusat.
Dampak negatif dari otonomi daerah adalah
adanya kesempatan bagi oknum-oknum di
pemerintah daerah untuk melakukan tindakan yang
dapat merugikan Negara dan rakyat seperti
korupsi, kolusi dan nepotisme. Selain itu terkadang
ada kebijakan-kebijakan daerah yang tidak sesuai
dengan konstitusi Negara yang dapat menimbul-
131
kan pertentangan antar daerah satu dengan daerah
tetangganya, atau bahkan daerah dengan Negara,
seperti contoh pelaksanaan Undang-undang Anti
Pornografi di tingkat daerah. Hal tersebut
dikarenakan dengan sistem otonomi daerah maka
pemerintah pusat akan lebih susah mengawasi
jalannya pemerintahan di daerah, selain itu karena
memang dengan sistem otonomi daerah membuat
peranan pemeritah pusat tidak begitu berarti.
Selain itu juga menimbulkan persaingan antar
daerah yang terkadang dapat memicu perpecahan
atau (pemekaran daerah yang tidak memenuhi
syarat).
Dengan otonomi daerah berarti telah
memindahkan sebagian besar ke-wenangan yang
tadinya berada di pemerintah pusat diserahkan
kepada daerah otonom, sehingga pemerintah
daerah otonom dapat lebih cepat dalam merespon
tuntutan masyarakat daerah sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki. Karena kewenangan
membuat kebijakan (Perda) sepenuhnya menjadi
wewenang daerah otonom, maka dengan otonomi
daerah pelaksanaan tugas umum pemerintahan
dan pembangunan akan dapat berjalan lebih cepat
dan lebih berkualitas. Keberhasilan pelaksanaan
otonomi daerah sangat tergantung pada
kemampuan keuangan daerah (PAD), sumber
daya manusia yang dimiliki daerah, serta
kemampuan daerah untuk mengembangkan
segenap potensi yang ada di daerah otonom.
Terpusatnya SDM berkualitas di kota-kota besar
dapat didistribusikan ke daerah seiring dengan
pelaksanaan otonomi daerah, karena kegiatan
pembangunan akan bergeser dari pusat ke daerah.
Dari praktek-praktek otonomi daerah
dilapangan ternyata terdapat banyak pelanggaran
dari pemerintah daerah dalam penyelenggaraan
otonomi daerah di Indonesia. Misalnyanya saja
pada masalah pelayanan publik yang berujung
pada tindakan korupsi besar-besaran di daerah.
Secara umum penilaian berbagai kalangan
terhadap pelaksanaan pelayanan pubik masih jauh
dari memuaskan, antara lain bahwa: (1) petani
belum memperoleh pelayanan tentang informasi
pasar komoditi pertanian, (2) pungutan liar masih
berlangsung, (3) iklim usaha menjadi tidak jelas,
(4) terjadi pungutan yang tumpang tindih, (5)
persyaratan tender yang memberatkan, (6) fasilitas
pelayanan tidak diperhatikan (Smeru, 2011). Selain
itu juga banyak kepala daerah yang terjerat kasus
korupsi setelah menjabat sebagai bupati atau
walikota.Oleh karena itu diperlukan suatu lembaga
132 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
untuk mengawasi jalannya penyelenggaraan
pemerintah. Berdasarakan latar belakang di atas
makalah ini mengambil judul “Pengawasan Dalam
Pelayanan Publik Di Daerah”
PELAYANAN PUBLIK DI DAERAH
Digagasnya otonomi daerah adalah untuk
mendekatkan satuan unit pelayanan kepada
masyarakat, bukan sebaliknya yaitu semakin
menambah panjangnya meja birokrasi. Oleh
karena itu, konsepsi otonomi daerah harusnya
diikuti dengan adanya desentralisasi pelayanan.
Jika hal ini tidak terjadi maka antara konsepsi politik
dan kebijakan dengan tingkat pelaksanaan teknis
tentu akan terjadi benturan dan kontradiktif.
Penyediaan pelayanan publik yang dilakukan
oleh negara, saat ini masih diangap kurang dari
cukup. Banyak fakta yang menunjukkan bahwa
di beberapa daerah yang ada di Indonesia, yang
mewartakan tentang buruknya pelayanan publik.
Padahal ini sudah merupakan sesuatu yang diatur
dalam konstitusi. Konstitusi sebagai bentuk dari
adanya kontrak sosial dan politik di dalamnya
mengatur tentang pelayanan publik sebagai salah
satu tujuan utama dari dibentukknya negara, yaitu
mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan
makmur (Luthfi, 2007:56).
Otonomi yang diharapkan mampu membawa
perubahan terhadap pelayanan yang diberikan
kepada masyarakat juga mensyaratkan adanya
ruang partisipasi bagi rakyat dalam mengelola
kebijakan publik. Karena hal ini menjadi sebuah
keniscayaan bagi negara untuk mempromosikan,
menghormati, melindungi dan mematuhi hakhaknya sebagai pemegang kuasa atas negara ini
(Patra, 2006). Isu penyelengaraan pelayanan publik
dalam pelaksanaan otonomi daerah menjadi
perhatian tersendiri bagi pengambil kebijakan dan
birokrasi pemerintah daerah. Kompetisi beberapa
daerah sebagai upaya peningkatan kualitas
pelayanan dan kepuasan masyarakat menjadi target keberhasilan pemerintah dalam melayani
masyarakat. Namun isu pelayanan yang
mengemuka hanya di beberapa kabupaten atau
kota saja, belum menjadi wabah secara nasional.
Sebagaimana penyelenggaraan pelayanan
publik pada sektor pendidikan, sektor kesehatan
dan sektor layanan dasar lainnya, sektor
administrasi dasar merupakan salah satu sektor
terpenting dalam tata kelola ketertiban administasi
pemerintahan dan kependudukan terutama
administrasi yang langusng berkaitan dengan
masyarakat seperti halnya KTP, KK, Akta
Kelahiran dan berbagai macam bentuk perizinan.
Perspektif pihak pemberi/penyelenggaraan
layanan publik ini dapat kita lihat dari dua hal, yang
pertama pihak pengambil kebijakan di daerah yang
menetapkan peraturan dan jaminan pelaksanaan
pelayanan. Kedua pihak birokrasi yang
mengoperasionalkan kebijakan tersebut dalam
teknis layanan langsung ke masyarakat. Namun
tidak bisa dipungkiri dalam lini yang ada terbut
masih banyak mengalami kekurangan dan
kelemahan.
Contoh sehari-hari dalam pembuatan KTP
merupakan bentuk pelayanan yang tidak efektif,
seharusnya hal-hal demikian tidak perlu terjadi dan
terulang. Pemborosan baik dari biaya, waktu dan
kerumitan dalam mendapatkan pelayanan terjadi
dalam kasus ini. Sistem budaya birokrasi yang tidak
lepas dari unsur-unsur budaya daerah yang
menggunakan bahas jawa “alon-alon asal
kelakon” sudah tidak cocok lagi dengan ciri
birokrasi modern (Puji, 2006:19). Sehingga
seringkali muncul pameo seperti; “Kalau masih
ada hari esok kenapa harus diselesaikan
sekarang”. “Jika bisa dipersulit kenapa harus
dipermudah”. Nilai-nilai semacam ini seringkali
muncul dari nilai-nilai kedaerahan yang kurang
menunjang keberlangsungan sistem birokrasi (Puji,
2006:20).
Kondisi pelayanan publik yang diberikan
pemerintah belum sepenuhnya berpihak kepada
publik. Bermacam kepentingan seperti halnya
kepentingan capital, kepentingan politik, sangat
memperngaruhi kebijakanpelayanan yang
diberikan. Akibat dari semua hal ini, tidak lebih
bahwa pelayanan yang ada saat ini dapat
“diperjualbelikan”. Berdasarkan survey yang
dilakukan oleh Malang Corruption Watch (MCW)
pada bulan Juni 2006, tentang proses pelayanan
administrasi dasar, khususnya pembuatan KTP
menunjukkan waktu yang dibutuhkan oleh
masyarakat berbeda-beda. Perbedaan waktu
tersebut bisa dilihat pada tabel 1.
Dari tabel 1 menunjukkan bahwa pada
tingkatan Kelurahan dan Kecamatan membutuhkan
waktu yang relative lama dibandingkan dengan
tingkat RT/RW bisa dibilang cukup cepat. Adanya
perbedaan waktu tersebut telah menimbulkan
persepsi yang berbeda-beda pada masyarakat. Jika
sudah demikian maka dapat menimbulkan
keengganan masayrakat untuk melewati proses
Fadhilah, Urgensitas Ombudsman dalam Pengawasan Pelayanan Publik
133
Tabel 1. Waktu Yang Dibutuhkan Dalam Mengurus KTP
Tingkat
Pelayanan
1menit1 jam
2 jam
1 hari
RT
RW
Kelurahan
Kecamatan
66%
52%
31%
17%
21%
31%
21%
17%
2 hari- Mingggu1minggu 2 1 bulan >2 bulan
0%
7%
41%
52%
tahapan-tahapan dalam pengurusan KTP. Sehingga
masyarakat untuk melewati ini semua rela merogoh
kocek lebih dalam untuk hal pengurusan KTP.
Padahal telah jelas dalam UU Pelayanan
Publik dinyatakan bahwa pelayanan publik sebagai
salah satu fungsi utama pemerintah adalah upaya
untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat atas
keberadaan barang dan jasa yang diperlukan oleh
masyarakat. Pemenuhan kepentingan dan
kebutuhan masyarakat sangat menentukan bagi
kelangsungan dan tegaknya sistem pemerintahan.
Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan
kewajiban pemerintah untuk memberikan
kemakmuran sebesar-besarnya bagi rakyat, yaitu
membangun negara kesejahteraan dan tanggung
jawab pemerintah memenuhi kebutuhan warga
Negara (Sutedi, 2010:147).
Disadari bahwa kondisi aparatur negara
masih dihadapkan pada sistem manajemen
pemerintahan yang belum efisien dan lemah yang
antara lain menghasilkan kualitas pelayanan publik
rendah dan terjadi berbagai praktik korupsi, kolusi
dan nepatisme serta mengakibatkan inefisiensi
dalam penyelenggaraan pemerintahan. Upaya
perbaikan dan peningkatan kinerja aparatur,
dilaksanakan secara kesisteman diharapkan dapat
mewujudkan pelayanan yang cepat, murah, mudah
berkeadilan, berkepastian hukum, transparan dan
dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan
perkembangan masyarakat.
Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara dan
bermasyarakat, merupakan faktor pendorong
mewujudkan persepsi untuk mendapakan
pelayanan yang baik yang merupakan hak warga
negara dan sebaliknya aparatur pemerintahan
berkewajiban memberikan pelayanan yang baik.
Oleh karena itu, aparat penyelenggara pelayanan
bertangungjawab melaksanakan pelayanan sesuai
dengan standart pelayanan yang telah ditetapkan.
Pelayanan publik hakikatnya adalah segala
bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat.
0%
0%
3%
3%
Pelayanan publik wajib diberikan oleh badan/
pejabat tata usaha negara di pusat dan di daerah
serta pihak swasta yang memproleh wewenang
dari undang-undang. Pemberian pelayanan publik
oleh badan/pejabat tata usaha negara kepada
masyarakat tidak saja dalam rangka melayani
masyarakat atau warga negara untuk mendapatkan hak-haknya yangtelah dijamin dan diberikan
oleh peraturan perundang-undangan, tetapi yang
lebih penting lagi adalah memberikan pelayana
kepada anggota masyarakat yang akan memenuhi
kewajibannya yang telah ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan. Oleh karena itu, perinsip
pelayanan penyelenggaraan pemerintahan yang
bersih, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme harus
menjadi landasan guna memberikan arahan bagi
penyelenggara pemerintahan untuk menagtur
barang publik yang harus diproduksi secara efisien,
efektif, dan transparan sehingga biaya dan tarifnya
murah dan terjangkau oleh masyarakat dan cukup
tersedia, sehingga setiap orang dapat memperolehnya. Tidak hanya itu, untuk mengantisipasi
adanya sebuah pelanggaran dalam pelayanan
publik, pemerintah membentuk sebuah lembaga
yang berfungsi mengawasi jalannya pelayanan
publik di Indonesia.
OMBUDSMAN SEBAGAI LEMBAGA
PENGAWAS PELAYANAN PUBLIK
Ombudsman berfungsi mengawasi
penyelenggaraan pelayanan publik yang
diselenggarakan oleh Penyelenggara Negara dan
pemerintahan baik di pusat maupun di daerah
termasuk yang diselenggarakan oleh Badan Usaha
Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan
Badan Hukum Milik Negara serta badan swasta
atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu. Ombudsman
Republik Indonesia (sebelumnya bernama Komisi
Ombudsman Nasional) adalah lembaga negara di
Indonesia yang mempunyai kewenangan
134 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik baik
yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara
dan pemerintahan, termasuk yang diselenggarakan
oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha
Milik Daerah, dan Badan Hukum Milik Negara
serta badan swasta atau perseorangan yang diberi
tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu
yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Lembaga ini dibentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia.
Ten Berge menyebutkan bahwa instrumen
penegakan hukum administrasi negara meliputi
pengawasan dan penegakan sanksi. Pengawasan
merupakan langkah preventif untuk memaksakan
kepatuhan, sedangkan penerapan sanksi
merupakan langkah represif untuk memaksakan
kepatuhan Dalam suatu negara hukum, pengawasan
terhadap tindakan pemerintah dimaksudkan agar
pemerintah dalam menjalankan aktivitasnya sesuai
dengan norma-norma hukum, dan juga adanya
jaminan terhadap masyarakat dari tindakantindakan pemerintahan sebagai konsekuensi konsep
welfarestate pemerinta campur tangan sangat luas
dalam kehidupan masyarakat seperti bidang politik,
agama, sosial, budaya, dan sebagainya, perlu adanya
perlin-dungan kepentingan masyarakat yang
diimplemen-tasikan dalam bentuk pengawasan
terhadap kegiatan pemerintah (Santosa, 2008).
Dalam rangka meningkatkan pengawasan
terhadap penyelenggaraan negara serta menjamin
perlindungan hak-hak masyarakat, dibentuk suatu
komisi pengawasan masyarakat yang bersifat
nasional bernama Ombudsman. Penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan efektif merupakan
dambaan setiap warga negara di manapun. Hal
tersebut telah menjadi tuntutan masyarakat yang
selama ini hak-hak sipil mereka kurang
memperoleh perhatian dan pengakuan secara
layak, sekalipun hidup di dalam negara hukum
Republik Indonesia. Padahal pelayanan kepada
masyarakat (pelayanan publik) dan penegakan
hukum yang adil merupakan dua aspek yang tidak
terpisahkan dari upaya menciptakan pemerintahan
demokratis yang bertujuan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, keadilan, kepastian
hukum dan kedamaian (good governance).
Upaya pembentukan lembaga Ombudsman
sebagai lembaga pengawasan di Indonesia oleh
pemerintah dimulai ketika Presiden B.J. Habibie
berkuasa, kemudian dilanjutkan oleh penggantinya,
yakni K.H. Abdurrahman Wahid. Masa
pemerintahan dapat disebut sebagai masa K.H.
Abdurrahman Wahid dapat disebut sebagai
tonggak sejarah pembentukan lembaga Ombudsman di Indonesia, sedangkan pada masa
pemerintahan B.J. Habibie dapat disebut sebagai
masa rintisan dalam pembentukan lembaga Ombudsman di Indonesia. Dalam kondisi masyarakat
yang mendapat tekanan dan menghendaki
terjadinya perubahan menuju pemerintahan yang
transparan, bersih dan bebas KKN, maka
pemerintah saat itu berusaha melakukan beberapa
perubahan sesuai aspirasi yang berkembang di
tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah
dengan membentuk sebuah lembaga pengawasan
terhadap penyelenggara negara, bernama Komisi
Ombudsman Nasional.
Pembentukan lembaga Ombudsman di Indonesia dilatarbelakangi oleh tiga pemikiran dasar
sebagaimana tertuang di dalam konsiderannya,
yakni: (1) pemberdayaan masyarakat melalui
peranserta mereka melakukan pengawasan akan
lebih menjamin peneyelenggaraan negara yang
jujur, bersih, transparan, bebas korupsi, kolusi, dan
nepotisme; (2) pemberdayaan pengawasan oleh
masyarakat terhadap penyelenggaraan negara
merupakan implementasi demokrasi yang perlu
dikembangkan serta diaplikasikan agar
penyalahgunaan kekuasaan, wewenang ataupun
jabatan oleh aparatur dapat diminimalisasi; (3)
penyelenggaraan negara khususnya penyelenggaraan pemerintahan memberikan pelayanan dan
perlindungan terhadap hak-hak anggota
masyarakat oleh aparatur pemerintah termasuk
lembaga peradilan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya untuk menciptakan keadilan
dan kesejahteraan.
Kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh
instansi pemerintah baik pusat maupun daerah
dalam bentuk barang maupun jasa dalam rangka
pemenuhan kebutuhan masyarakat harus sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Tuntutan diatas harus dihadapi setiap pemerintah
daerah, terutama pemerinah kabupaten/kota yang
merupakan ujung tombak pelaksanaan asas
desentralisasi sebagai daerah otonom yang mandiri
dan memiliki kewenangan penuh untuk mengatur
rumah tangganya sendiri. Jika tidak mampu
beradaptasi dengan perubahan, maka kabupaten/
kota tidak akan mampu memenuhi harapan serta
kebutuhan rakyat yang berdomisili di wilayahnya.
Fadhilah, Urgensitas Ombudsman dalam Pengawasan Pelayanan Publik
Dari aspek kelembagaan juga belum ada
prosedur yang dapat menjembatani antara
mekanisme yang bersifat kaku sebagai akibat
sistem struktural hierarkis di satu pihak dengan
mekanisme lentur/pendek dari suatu organisasi
yang tidak struktural hierarkis. Dengan demikian
diperlukan lembaga Ombudsman sebagai alternatif
agar bisa menjadi jalan tengah bagi kepentingan
pengembangan sistem non struktural hierarkis
serta kepentingan pengembangan sistem non
struktural, namun pada sisi lain mampu
menampung seluruh aspirasi warga masyarakat
tanpa harus melewati sistem prosedur atau
mekanisme yang berliku-liku.
Ombudsman lahir bersamaan Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). Bedanya,
lembaga ini jauh dari popularitas. Tapi dari segi
penyelesaian pengerjaan, lembaga ini jauh lebih
banyak. Dalam setahun rata-rata menyelesaikan
1.000 kasus. Keberhasilan suatu pengawasan
sangat ditentukan oleh prosedur ataupun
mekanisme yang digunakan, apabila proses
pengawasan berbelit-belit melalui liku-liku yang
panjang maka pelaksanaan pengawasan akan
beralih dari masalah substansional ke masalah
prosedural. Padahal inti persoalan pokok adalah
penyimpangan dalam pelayanan umum.
Semua itu menunjukkan betapa
pentingnya penyelenggaraan pelayanan yang baik
dan memuaskan diwujudkan dan menjadi perhatian
utama pemerintah di era sekarang ini, era
reformasi otonomi daerah. Kinerja pelayanan
publik menjadi salah satu dimensi yang strategis
dalam menilai keberhasilan pelaksanaan otonomi
daerah dan reformasi tata pemerintahan. Semakin
tinggi kepedulian tata pemerintah yang baik (good
governance), kinerja pelayanan publik akan
semakin baik (Sadane, 2011).
Pembentukan lembaga Ombudsman
bertujuan untuk membantu menciptakan dan
mengembangkan kondisi yang kondusif dalam
melaksanakan pemberantasan korupsi, kolusi, dan
nepotisme (KKN) melalui peran serta masyarakat.
Dalam pasal 4 UU RI No. 37 tahun 2008 tentang
Ombudsman Republik Indonesia dijelaskan tentang
tujuan Ombudsman: (a) mewujudkan negara hukum
yang demokratis, adil, dan sejahtera; (b) mendorong
penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang
135
efektif dan efesien, jujur, terbuka, bersih, serta bebas
dari korupsi, kolusi dan nepotisme; (c) meningkatkan
mutu pelayanan negara di segala bidang agar setiap
warga negara dan penduduk memperoleh keadilan,
rasa aman, dan kesejahteraan yang semakin baik;
(d) membantu menciptakan dan meningkatkan
upaya untuk pemberantasan dan pencegahan
praktek-praktek maladministrasi, diskriminasi,
kolusi, kolusi, serta nepotisme; (e) meningkatkan
budaya hukum nasional, kesadaran hukum
masyarakat, dan supremasi hukum yang berintikan
kebenaran dan keadilan.
George Soresen, berpendapat bahwa Ombudsman merupakan keniscayaan dalam sebuah
negara demokratis, yang didalamnya
menempatkan transparansi public sebagai factor
penting. Dengan demikian demokratisasi dapat
diartikan sebagai suatu proses yang mengarahkan
agar pemerintah sedang berjalan secara sensitive
dapat menangkap aspirasi, melibatkan aspirasi, dan
mengutamakan kepentingan rakyat dari
kepentingan penguasa.1 Partisipasi masyarakat
juga menentukan adanya proses pengawasan yang
dilakukan oleh pemerintah dari berbagai lembaga
yang diberi tugas untuk mengawasi jalannya
penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.
Karena partisipasi dari masayarakat akan
mempengaruhi adanya keinginan untuk
menjadikan birokrasi semakin baik dari hari ke hari
sehingga tercipta keadaan yang kondusif bagi
terwujudnya birkrasi yang sederhana yang bersih,
pelayanan umum yang baik. Ini juga dapat
mendorong proses demokratisasi dan transparansi
publik di Indonesia berjalan lebih cepat.
SIMPULAN
Dengan adanya lembaga Ombudsman yang
dibentuk oleh pemerintah diharapkan pelayanan
publik yang diberikan oleh penyelenggaran
pelayanan publik berjalan dengan efektif, efisien
dan transparan. Dengan jumlah kasus
penyelewengan pelayanan publik yang telah
diselesaikan melalui lembaga Ombudsman akan
memperbaiki citra pemerintah sebagai pelayan
publik dapat memberikan kepercayaan bagi
masyarakat luas untuk mengawasi pelayanan
publik baik itu di daerah dan dipusat.
DAFTAR RUJUKAN
Lembaga Penelitian Semeru. http://www.smeru.
or.id/report/field/plaksnaanotdasulut/
plaksnaanotdasulut.pdf Pelaksanaan
Desentralisasi dan Otonomi Daerah:
136 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
Kasus Tiga Kabupaten di Sulawesi Utara
dan Gorontalo. Diakses tanggal 23 April
2011
Luthfi. 2007. Wajah Buram Pelayanan Publik.
Intrans Publishing. Malang
Mardiasmo. 2004. Otonomi & Manajemen
Keuangan Daerah Serial Otonomi
Daerah. ANDI:Yogyakarta.
Patra, A. 2006. Mencegah Penyingkiran
Partisipasi Masyarakat. YLBHI. Jakarta.
Sadane.http://id.shvoong.com/social-sciences/
1828653-kapasitas-aparatur-pemda-dalampelayanan/#ixzz1KGgv1yvW Kapasitas
Aparatur Pemerintah Daerah Dalam
Pelayanan Publik oleh Sadane diakses
tanggal 22 April 2011
Sugeng Puji. 2006. Pelayanan Publik Bukan
Untuk Publik. MCW. Malang.
Sutedi, Adrian. 2010. Hukum Perizinan Dalam
Sektor Pelayanan Publik. Sinar Grafika.
Jakarta.
PENERAPAN METODE DEBAT GUNA MENGEMBANGKAN
SIKAP KRITIS DAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI
MAHASISWA
Petir Pudjantoro
Jurusan Hukum Kewarganegaraan Universitas Negeri Malang
Jl. Semarang No.5 Malang
email:[email protected]
Abstract: this study is the implementation of lesson study that tried to apply the method of debate
in political sociology course. Lesson study activities use to three proccess, plan, do, and see.
Debate methods purpose to develop the ability to think critically, rationally and creatively to address
current issues of politic and citizenship. Through the application of the method of debate in the
course, students examine issues of developing the interaction between state and society in the
context of political communication. Learning debate practice speaking skills and behave intelligently
so as to form a personal democratic and accountable. Through this lesson, learners have different
readiness views and have the skills to resolve any issues and differences.
Keywords: method of debate, critical attitude, skills of the students argued
Abstrak: penelitian inimerupakan penerapan dari lesson study yang mencoba untuk menerapkan
metode debat dalam matakuliah Sosiologi Politik. Aktivitas lesson study menggunakan 3 langkah,
yaitu plan,do, dan see. Metode debat bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis,
rasional, dan kreatif terhadap isu politik dan kewarganegaraan. Melalui penerapan metode debat
dalam matakuliah, mahasiswa meneliti masalah perkembangan hubungan antara negara dan masyarakat
dalam konteks komunikasi politik. Pembelajaran debat merupakan praktek keahlian praktik berbicara
dan berperilaku cerdas dalam menghadapi berbagai perbedaan sudut pandang dan mempunyai
keterampilan memecahkan masalah dan perbedaan.
Kata kunci: metode debat, sikap kritis, keterampilan berargumentasi
Peningkatan mutu perkuliahan merupakan concern utama dalam mewujudkan kualitas
pembelajaran di perguruan tinggi. Melalui
pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa
(student centered learning), disamping memiliki
penguasaan bidang ilmu (competence),
diharapkan pula mampu menajamkan suara hati
(conscience) dan menguatkan hasrat berbela rasa
(compassion). Pengembangan sikap kritis dan
peduli mahasiswa diposisikan secara integral dan
dicapai secara seimbangdengan pembentukan
kompetensi ilmiah. Dalam hal ini, perkuliahan perlu
didesain sebagai aktivitas mengkonstruksi
pengetahuan sekaligus mengeksplorasi nilai-nilai
kemanusiaan.
Observasi praktik perkuliahan di Jurusan
Hukum Kewarganegaraan (HKn) menunjukkan
bahwa aktifitas perkuliahan berlangsung secara
bervariatif. Sebagian besar perkuliahan
berlangsung dengan menerapkan metode diskusi
dan sebagian kecil yang lain masih berjalan dengan
metode ceramah dan tanya jawab. Penggunaan
metode diskusi dan presentasi secara konvensional
pada sebagian besar kelas perkuliahan
memunculkan fenomena kejenuhan yang
berdampak padapenurunan minat dan partisipasi
mahasiswa dalam pembelajaran. Hal yang
demikian terjadi pula pada pelaksanaan perkuliahan
Sosiologi Politik.
Sebagai upaya untuk peningkatan kualitas
perkuliahan, telah dilaksanakan kegiatan lesson
study pada kelas perkuliahan Sosiologi Politik. Lesson study merupakan kegiatan pengkajian
pembelajaran yang dilaksanakan secara kolabo137
138 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
ratif. Implementasinya meliputi tahapan
perencanaan (Plan), yang bertujuan menghasilkan
rancangan pembelajaran yang diyakini mampu
membelajarkan peserta didik secara efektif,
pelaksanaan (Do), dimaksudkan untuk menerapkan
rancangan pembelajaran yang telah dilaksanakan,
dan refleksi (See) dimaksudkan untuk menemukan
kelebihan dan kekurangan pembelajaran. Ketiga
tahapan tersebut dilaksanakan secara berulang
(Susilo dkk, 2009:33-36).
METODE
Aktifitas perencanaan (Plan)dikembangkan
melalui, pertama, penyusunan Satuan Acara
Perkuliahan (SAP).Standar kompetensi matakuliah Sosiologi Politik yang menjadi acuan
kegiatan lesson study secara mendasar berusaha
mewujudkan kemampuan berfikir kritis mahasiswa
dalam menganalisis fenomena perubahan sosial
politik yang terjadi serta mampu berfikir integral
dalam mengantisipasi dampak perubahan sosial
politik dalam kehidupan kemasyarakatan,
kebangsaan dankenegaraan. Hal ini dicapai melalui
beberapa kompetensi dasar antara lain mengkaji
hubungan negara dan masyarakat maupun
menganalisis berbagai fenomena sosialisasi politik,
partisipasi politik, rekrutmen politik, partai politik,
gerakan sosial dan budaya politik, termasuk pula
masalah komunikasi politik (Pudjantoro, 2014:1).
Dalam hal ini, fenomena permasalahan komunikasi
politik di Indonesia dipilih sebagai pokok bahasan
pada pelaksanaan open class.
Kedua, collecting bahan ajar dan
disosialisasikan kepada mahasiswa. Koleksi bahan
ajar berupa hand-out yang meliputi informasi
tentang fenomena komunikasi politik kontemporer,
urgensi-ruang lingkup dan fungsi komunikasi politik,
basis kekuasaan komunikasi politik serta public
sphere sebagai ruang komunikasi politik. Bahan
ajar juga dikumpulkan melalui penugasan kelompok
mahasiswa seminggu sebelum open class
dilaksanakan. Materi penugasan berupa
identifikasi masalah-masalah krusial pada pratik
komunikasi politik di Indonesia.Komunikasi politik
sebenarnya merupakan topik yang sangat luas.
Cangara (2014:30) menjelaskan komunikasi politik
sebagai suatu proses komunikasi yang memiliki
implikasi atau konsekuensi terhadap aktivitas
politik. Guna membatasi agar lebih fokus,
mahasiswa diminta mengidentifikasi isu-isu
komunikasi politik di Indonesia dengan kriteria
aktual, krusial problematis, mengandung isu pro
dan kontra serta berdampak strategis bagi warga
negara. Dalam pelaksanaan tugas dimaksud,
mahasiswa didukung oleh sumber belajar
perpustakaan maupun akses internet yang
menyediakan berbagai data dan informasi kajian
relevan.
Ketiga, memilih metode pembelajaran yang
paling cocok guna mencapai outcome pembelajaran yang dikehendaki. Metode debat dipilih dan
digunakan guna menstimulasi diskusi kelas.
Melalui implementasi metode ini, setiap peserta
perkuliahan didorong untuk mengemukakan
pendapatnya melalui suatu perdebatan antar
kelompok diskusi yang disatukan dalam sebuah
diskusi kelas.
Implementasi metode debat diawali dengan
diskusi singkat guna memantapkan formulasi isu
debat, menentukan juru bicara dan mempersiapkan yel-yel kelompok. Dalam hal ini setiap
kelompok diminta mendeskripsikan fenomena
yang diangkat, menegaskan posisi gagasan
kelompok pada isu yang dibahas apakah pro/
kontra/netral, serta bisa memberikan ide
pemecahan masalah bila diperlukan. Hal ini
dilaksanakan guna mendorong proses elaborasi
kognitif dimana peserta didik didorong bekerjasama
untuk memahami dan menimba informasi demi
peningkatan kapasitas pengetahuan kognitif
mereka. Adapun prosedur debat dilaksanakan
dengan langkah-langkah sebagaimana tabel 1.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perencanaan Setting Kelas
Perencanaan setting ruangan debat
merupakan bagian penting dalam strategi
pengelolaan kelas. Dalam hal ini masing-masing
kelas dibagi habis ke dalam lima kelompok. Hal
ini agak berbeda dengan pengaturan debat
sebagaimana lazimnya dimana ada kelompok
penampil dan ada penonton. Peserta perkuliahan
pada masing-masing kelas seluruhnya menjadi
penampil. Sedangkan penonton hanya melibatkan
beberapa observer. Dalam pelaksanaan,
keterbatasan jumlah penonton disiasati dengan
mengoptimalkan seluruh peserta penampil untuk
bertepuk tangan guna membina suasana antusias
sepanjang pelaksanaan debat berlangsung.
Mengikuti pembagian kelompok, settingkelas
diatur sebagaimana gambar 1.
Pudjantoro, Penerapan Metode Debat Guna Mengembangkan Sikap Kritis dan Keterampilan Berargugemtasi
139
Tabel 1. Prosedur Debat Fenomena Permasalahan Komunikasi Politik di Indonesia
NO.
LANGKAH
URAIAN
WAKTU
1.
BRIEFING
Pemberian materi pengantar tentang komunikasi politik oleh dosen
dan dilanjutkan pembahasan etika debat. Dalam hal ini dosen
menyatakan diri sebagai host yang akan bertindak sebagai
moderator debat.
15 menit
2.
KONSOLIDASI
Masing-masing kelompok melaksanakan pemantapan point-point
gagasan dan yel-yel yang akan ditampilkan.
5 menit
3.
OPENING
Pembukaan debat dimana masing-masing juru bicara memperkenalkan
anggota kelompok.
10 menit
4.
YEL-YEL PEMBUKA Masing-masing kelompok menampilkan yel-yel pembuka.
5.
PUTARAN I:
PAPARAN IDE
6.
PUTARAN II:
Masing-masing anggota kelompok menyampaikan pertanyaan/tangPERTANYAAN DAN gapan/penilaian kritis terhadap paparan ide kelompok lain. Langsung
TANGGAPAN
ditanggapi dan dijawab oleh kelompok yang bersangkutan.
10 menit
7.
PUTARAN III:
TANGGAPAN
BEBAS
Anggota kelompok bisa mengajukan pertanyaan/ tanggapan/
sanggahan kepada kelompok lain dan langsung ditanggapi sehingga
terjadi diskusi bebas dengan pengaturan lalu-lintas pembicaraan
melalui moderator.
20 menit
8.
PUTARAN IV:
CLOSSING
STATEMENT
Pernyataan penutup berupa kesimpulan dari masing-masing juru
bicara kelompok.
9.
YEL-YEL PENUTUP
Masing-masing kelompok menampilkan yel-yel kembali sebelum
debat diyatakan ditutup oleh moderator.
5 menit
10.
REFLEKSI
Dilaksanakan komentar, ulasan, penyimpulan dan penegasan oleh
dosen bersama-sama mahasiswa.
10 menit
Masing-masing juru bicara memaparkan masalah aktual-krusialkontroversial seputar fenomena komunikasi politik di Indonesia
disertai penegasan posisi sikap serta solusi atas permasalahan bila
diperlukan.
TOTALWAKTU PERKULIAHAN
15 menit
10 menit
100 menit
dan intensitas pertukaran ide-ide yang saling
berseberangan. Sementara posisi kelompok netral
memperlancar pula peran dalam membagi
perhatian kritis terhadap kedua kelompok yang pro
maupun yang kontra secara seimbang.
Gambar 1. Setting Ruangan Kelas
Pengkondisikan setting ruangan kelas dengan
menempatkan kelompok pro dan kontra dalam
posisi berhadap-hadapan serta kelompok netral
pada posisi di antara kelompok yang pro dan
kontra, terbukti mempermudah lalu-lintas gagasan
Pemilihan Tema Debat Secara Partisipatif
Pemilihan tema debat dilaksanakan melalui
penugasan kelompok secara mandiri pada empat
kelas pembelajaran sosiologi politik. Masingmasing kelas dibagi ke dalam lima kelompok,
dimana masing-masing kelompok menentukan
topik debat yang akan diangkat, mengumpulkan
bahan secara teliti dan menyusun argumentasi
secara cermat. Hal ini dilakukan guna menjamin
agar debat berlangsung tidaksaling menjatuhkan
atau mengarah ke debatkusir yang kurang bemutu.
Sebaliknya bisa berjalan secara argumentatif yang
140 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
KELAS/ KELOMOFF
POK
A
B
C
URAIAN
POSISI GAGASAN
I
Pilkada Langsung atau Pilkada DPRD dan
Permasalahan Politik Uang
Pro Pilkada Langsung
II
Pilkada Langsung atau Pilkada DPRD dan
Permasalahan Politik Uang
Pro Pilkada melalui
DPRD
III
Fenomena Politik Uang Pada Praktik Pilkada
Langsung
Kontra Pilkada
Langsung
IV
Menyoroti Kualitas dan Obyektifitas Kinerja DPRD Kontra Pilkada melalui
DPRD
V
Menakar profesionalisme dalam politik dinasti dan
keterlibatan artis sebagai politisi
Netral
I
Kontroversi Kebijakan Kenaikan harga BBM
Kontra Kenaikan BBM
II
Kontroversi Kebijakan Kenaikan harga BBM
Kontra Kenaikan BBM
III
Kebijakan Pengalihan Subsidi BBM
Pro Kenaikan BBM
IV
Kebijakan Kenaikan BBM dan
Pembangunan Infrastruktur
Pro Kenaikan BBM
V
Isu Persaingan KIH dan KMP dalam
kontroversi kebijakan kenaikan BBM
Netral
I
Politik Media Pada Rivalitas antara Ahok
dan FPI
Kontra terhadap Media
II
Blusukan: Media Pencitraan dalam
Kontra terhadap Media
komunikasi politik
D
III
Mengoptimalkan Media Sosial sebagai
instrumen komunikasi Politik
Pro terhadap Media
IV
Peran Media dalam Pengawasan Publik
Pro terhadap Media
V
Faktor Media dalam Membentuk Efektifitas
Komunikasi dan Kinerja Politik
Netral
I
Bahasa Uang dalam Komunikasi Politik
Kontra Politik Uang
II
Money Politic menciderai demokrasi
Kontra Politik Uang
III
Budaya Politik Uang dan Praktik Demokrasi
Pro Politik Uang
Kita
IV
Fenomena Jual Beli Suara Pemilih dalam
Pilkada
Pro Politik Uang
V
Strategi Pengembangan Politik Gagasan
Netral
Tabel 2. Hasil Identifikasi Tema-Tema Debat Pada Seluruh Kelas Pembelajaran
didukung data dan informasi yang cukup credible.
Adapun tema-tema yang berhasil diidentifikasi dan diangkat dalam debat fenomena masalah
komunikasi politik di Indonesia adalah sebagaimana
tabel 2.
Hasil pemilihan tema debat menunjukkan
bahwa mahasiswa relatif mampu memilih berbagai
isu aktual (fenomena baru yang berkembang
dalam dinamika komunikasi politik nasional
maupun lokal), krusial (memiliki problema dan
Pudjantoro, Penerapan Metode Debat Guna Mengembangkan Sikap Kritis dan Keterampilan Berargugemtasi
dampak strategis) serta kontroversial (cenderung
mengundang perdebatan di ranah publik secara
pro dan kontra). Pelibatan langsung mahasiswa
untuk memilih tema debat sesuai minat diharapkan
mampu mendorong tingkatan berfikir yang lebih
tinggi yakni daya pikir kritis. Pada taksonomi
Bloom yang termasuk tingkatan berfikir tinggi ini
adalah menerapkan (applying), menganalisis
(analizing), evaluasi (evaluating) dan mencipta
(creating) (Churches, 2009:9). Pelibatan
mahasiswa untuk mengkaji berbagai sumber
belajar dalam pemilihan tema debat diharapkan
dapat mendorong mahasiswa berfikir terbuka,
bertanya dan bernalar secara kritis dan
argumentatif.
Langkah pembelajaran dengan metode debat
yang diawali dengan penugasan kepada
mahasiswa untuk mengidentifikasi isu krusial dan
mengumpulkan bahan secara teliti memang
terbukti membantu mewujukan pelaksanaan debat
secara bermutu. Namun langkah ini dinilai banyak
memakan waktu. Oleh karena itu, langkah
pembelajaran dapat dimodifikasi secara lebih
sederhana lagi. Misalnya dosen cukup mengajak
melakukan brainstorming mengenai isu-isu krusial
yang dibahas atau bahkan menyodorkan kasus
atau isu untuk selanjutnya digunakan oleh siswa
sebagai materi debat. Namun demikian, upaya
persiapan melalui pengumpulan informasi dan
penyusunan argumentasi nampak sebagai
kegiatan yang tidak bisa ditawar. Apalagi jika kita
ingin mewujudkan kegiatan pembelajaran bermutu
melalui metode debat dalam perkuliahan.
Yel-Yel: Memproduksi Semangat dan
Kekompakan
Masing-masing kelompok secara kreatif
mempersiapkan dan mendiskusikan yel-yel yang
akan ditampilkan. Peserta debat merasa bahwa
yel-yel mereka menjadi identitas kelompok di
hadapan kelompok lain sekaligus memberikan
kebanggaan individukarena menjadi bagian dari
tim. Dalam hal ini, yel-yel terbukti berkontribusi
cukup besar dalam menumbuhkan kekompakkan
kelompok. Yel-yel yang disertai gerakan yang aneh
dan lucu mengkondisikan tumbuhnya suasana
segar dalam interaksi pembelajaran. Yel-yel dan
tepuk tangan sepanjang putaran berlangsungnya
debat, efektif memelihara semangat peserta didik
untuk terus mengikuti pembelajaran.
Hal penting untuk dikemukakan adalah
kecenderungan penyikapan mahasiswa dalam
141
produksi dan presentasi yel-yel. Sebagian
mahasiswa memiliki minat yang tinggi
memformulasikan yel-yel secara kreatif dan
berobsesi mempresentasikannya secara menarik.
Namun mereka kadang terlalu berlebihan memberi
perhatian pada masalah yel-yel dan kurang tertarik
mengikuti secara serius substansi debat.
Sebaliknya ada pula mereka yang lebih tertarik
kepada substansi debat dan kurang apresiatif
dengan penampilan yel yang berkepanjangan.
Oleh karenanya, demi mewujudkan efektifitas
pembelajaran, maka formulasi yel-yel perlu
disusun secara menarik namun ringkas.
Dalam konteks demikian, implementasi
metode debat merupakan pintu bagi perwujudan
PAIKEM dimana sesuai dengan Suparlan
(2008:70) dijelaskan mengandung unsur aktif
dimana pembelajaran sedemikian rupa
mengaktifkan peserta didik untuk mengajukan
pertanyaan, mengemukakan gagasan, dan
memecahkan masalah. Inovatif dimana mampu
diciptakan kondisi belajar dan kegiatan
pembelajaran yang baru sesuai tuntutan dan
perkembangan pendidikan. Kreatif oleh karena
mampu diciptakan kegiatan pembelajaran beragam
sehingga memenuhi tingkat kemampuan siswa.
Efektif dalam konteks pencapaian kompetensi
yang telah ditetapkan. Dan menyenangkan oleh
karena mampu diciptakan suasana pembelajaran
yang menyenangkan sehingga memusatkan
konsentrasi dan semangat peserta didik dalam
pembelajaran.
Materi Pengantar: Fenomena Problematik
dan Kontroversial
Pengembangan kemampuan berfikir kritis
menjadi fokus implementasi metode debat ini.
Kemampuan berfikir kritis ditandai oleh
kemampuan menganalisis berbagai persoalan atau
isu-isu, memberikan argumentasi, memunculkan
wawasan dan memberikan argumentasi, serta
mengambil keputusan terbaik (Komalasari,
2010:262). Hal ini mempengaruhi keputusan dosen
untuk memformulasikan materi pengantar yang
lebih menggugah fenomena-fenomena, memaparkan perspektif agar mahasiswa mampu melihat
problematik serta merangsang kemampuan kritis
dengan melontarkan sejumlah pertanyaan kepada
mahasiswa. Sebagai contoh,dalam rangka
membentuk kesadaran mahasiswa mengenai
urgensi komunikasi politik, maka dosen
menayangkan fenomena jaringan Obama dengan
142 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
social media sebagai faktor penting yang
mempengaruhi kemenangannya pada kontestasi
politik pemilihan presiden di Amerika Serikat.
Dosen berusaha mendorong pendapat dan
komentar mahasiswa seputar efektifitas
komunikasi politik melalui media pada konteks
kasus di Indonesia.
Materi pengantar disampaikan secara ringkas
dengan mengedepankan fakta (kejadian aktual
dan problematik di ruang publik), prinsip (unsur,
ruang lingkup, fungsi komunikasi politik) dan
prosedur (pembahasan basis kekuasaan dalam
komunikasi politik). Namun agak kurang
menyampaikan materi konseptual. Hal ini penting
dilakukan agar mahasiswa berpikiran terbuka,
mampu mengembangkan pikiran terbuka serta
berbicara dengan bebas dan bertanggung jawab.
Etika Yang Dipedomani
Pelaksanaan implementasi metode debat
diawali dengan pembahasan etika yang harus
dipedomani oleh semua peserta debat. Pemahaman terhadap etika debat menyangkut persoalan
substantif dan teknis. Ada tiga hal substantif yakni:
(i) debat melatih mahasiswa untuk mampu berfikir
secara kritis. Yang pertama dan utama dalam hal
ini adalah keberanian berbicara, (ii) debat melatih
kemampuan berargumentasi. Dalam konteks ini
mahasiswa melatih diri menyampaikan gagasan
secara logis, sistematis dan didukung oleh hujjah
empiris, (iii) debat berusaha melatih mahasiswa
untuk mengelola emosi sehingga mampu
menghargai dan memahami perbedaan pandangan,
(iv) debat melatih mahasiswa untuk berfikir holistik
dan mampu memutuskan pilihan tindakan terbaik
setelah memahami permasalahan secara
mendalam.
Sedangkan hal yang bersifat teknis
menjelaskan bahwa: (i) lalu-lintas debat dipimpin
oleh moderator yang mengatur dan mengendalikan
komunikasi selama debat berlangsung. Peran
moderator penting untuk mengatur agar lalu-lintas
gagasan dapat berjalan sesuai dengan prosedur
dan tahapan yang sudah ditetapkan, (ii) setiap
pembicara perlu berdiri dan memperkenalkan diri
sebelum menyampaikan pertanyaan atau gagasan.
Hal ini mengintroduksikan suatu budaya
komunikasi yang hormat dan akrab antara sesama
peserta debat, (iii) moderator berhak memotong
dan mengatur lalu lintas pembicaraan. Ketentuan
ini penting demi menjaga agar pembahasan
gagasan berjalan fokus dengan intensitas
mendalam, (iv) peserta wajib bertepuk tangan
secara meriah sebagai bentuk apresiasi terhadap
setiap argumentasi dan gagasan yang selesai
disampaikan. Ketentuan ini terbukti mampu
menjaga ritme suasana antusias sepanjang
pelaksanaan debat berlangsung.
Indikator-Indikator Yang Mengemuka
Beberapa indikator yang mengemuka dalam
praktik debat fenomena permasalahan komunikasi
politik di Indonesia pada empat kelas perkuliahan
Sosiologi Politik antara lain:
Pertama: Mampu mengambil keputusan
pro-kontra dengan alasan-alasan. Ini tercermin
ketika mahasiswa pada kelas A membahas pro
kontra Pilkada Langsung versus Pilkada melalui
DPRD. Argumen yang dibangun tidak hitam-putih.
Namun berusaha menjelaskan alasan kelebihan
dan kelemahan pengambilan opsi-opsi dimaksud.
Pada kelas B berkaitan dengan kontroversi
kenaikan harga BBM. Dalam hal ini yang
terpenting bukan memenangkan pandangan mana
dan mengalahkan siapa. Namun pemahaman
terhadap argumentasi di balik kebijakan akan
mengarahkan mahasiswa berfikir secara terbuka
dan bijaksana.
Kedua: berfikir kritis mengembangkan
argumen berbeda dari kelaziman pandangan
yang sudah ada. Hal ini tergambarkan ketika
kelas B membahas makna oposisi mengkritisi
rivalitas Koalisi Indonesia Hebat (KIH) dan Koalisi
Merah Putih (KIH). Persepsi yang berkembang
selama ini memposisikan oposisi sebagai tradisi
buruk karena merepresentasikan sikap waton
sulaya dan bahkan dikecam sebagai tindakan
inkonstitusional. Di dalam debat justru
berkembang pandangan berbeda bahwa oposisi
adalah tradisi demokrasi yang baik. Keberadaan
oposisi kuat memungkinkan mekanisme kontrol
secara efektif terhadap kinerja pemerintah. Hal
ini merupakan upaya mulia guna memastikan
kebijakan pemerintah selalu on the track dan
tercegah dari segala bentuk penyimpangan
kekuasaan (abuse of power).
Ketiga: menerima saran untuk mengembangkan ide-ide baru. Hal ini setidaknya
tercermin ketika kelas C ketika membahas strategi
kampanye dan komunikasi politik kontemporer
dengan memanfaatkan media. Muncul kiat dan
gagasan baru yang diterima oleh semua penampil
debat dalam rangka lebih mengefektifkan kinerja
komunikasi politik para politisi dan parpol.
Pudjantoro, Penerapan Metode Debat Guna Mengembangkan Sikap Kritis dan Keterampilan Berargugemtasi
Keempat: Kritis membandingkan antara
logika dan fakta. Argumentasi yang dibangun
oleh peserta debat kadang logis namun tidak
empiris. Dalam pembahasan kasus kenaikan harga
BBM berkembang argumentasi dari pihak pro
bahwa kenaikan BBM dua ribu rupiah saja kok
diributkan. Padahal mereka membeli rokok yang
harganya lebih mahal mampu dilakukan.
Argumentasi ini dinilai manipulatif karena tidak
mempertimbangkan kenyataan empiris yang
terjadi dimana kenaikan harga BBM berdampak
melambungkan harga-harga hampir semua
kebutuhan rumah tangga. Dan hal ini dirasakan
memberatkan oleh sebagian besar rakyat yang
terimbas kebijakan kenaikan BBM.
Kelima: berani berbicara dengan pikiran
terbuka dan bertanggung jawab. Ini tercermin
ketika kegiatan refleksi bersama mahasiswa
setelah mereka mengikuti pembelajaran melalui
metode debat. Mereka berkomentar mengapa
baru saat ini metode ini dipraktikkan. Mereka
merasa bebas berekspresi dan menyampaikan
pikirannya secara bebas dan terbuka. Sementara
ketika mereka mengikuti perkuliahan dengan
metode diskusi merasa memiliki keterbatasan
dalam mengekpresikan pikirannya. Praktik
presentasi diskusi konvensional menunjukkan
kecenderungansebagian besar penampil
menyampaikan gagasannya dengan membaca.
Dalam debat ini, jumlah yang membaca ketika
mempresentasikan gagasan sangat kecil.
Sebaliknya, sebagian besar penampil berani
berbicara secara interaktif dan ekspresional.
Keenam: melakukan analisis kritis dan
elaborasi jawaban. Hal ini terjadi pada kelas A
yang mempertanyakan kinerja anggota dewan.
Kenapa sudah tahu banyak anggota dewan tidak
bermoral dan terlibat kasus korupsi. Kenapa rakyat
masih memilihnya? Gagasan dan pertimbangan
macam apa yang sebenarnya ada pada pikiran
rakyat pemilih itu? Dalam hal ini, debat
memungkinkan terjadinya elaborasi atau
pendalaman gagasan dengan cara mempertanyakan
dan menguji jawaban-jawaban yang terkemukakan.
Ketujuh:menanyakan pertanyaan relevan
dan beraturan. Interaksi dalam debat dapat
mengkondisikan seluruh peserta debat untuk
bertanya secara fokus. Ini berkembang karena ada
mekanisme interaktif yang memungkinkan
klarifikasi pertanyaan yang tidak jelas dan bisa
memotong sekaligus mengarahkan pertanyaan
yang out of contect. Pernyataan: apa maksud
143
pertanyaan anda? Saya kira yang anda kemukakan
tidak memiliki relevansi dengan topik yang sedang
kita perdebatkan? dan sejenisnya banyak
berkembang pada semua kelas pembelajaran.
Kedelapan:bersikap sopan dalam
berbicara dan berkomunikasi. Pada semua kelas
pembelajaran yang mengimplementasikan metode
debat ini, berkembang sikap sopan dari mahasiswa
ketika berbicara dan mengemukakan gagasan.
Mereka mendengarkan dengan hati-hati. Untuk
selanjutnya memberikan tanggapan dan atau
penilaian kritis terhadap informasi yang dipahami.
Pada umumnya mereka juga mengembangkan
sikap empati dan saling memahami posisi gagasan
mereka masing-masing yang saling berbeda.
Kesembilan: mengedepankan dasar
argumentasi dan adil dalam berfikir. Sebelum
pelaksanaan debat berlangsung, masing-masing
mahasiswa
membaca
referensi
dan
mengumpulkan informasi seputar isu yang
diperdebatkan. Dengan posisi gagasan pro kontra
maupun abstain, pada umumnya selalu didukung
oleh dasar agumentasi yang kuat. Disamping itu,
mengacu pada bukti-bukti empiris dan logis
mengkondisikan mereka untuk berfikir secara adil
dan tidak gampang menuduh atau memberikan
prasangka yang tidak berdasar (steriotype). Pada
topik debat rivalitas antara Ahok dengan FPI di
kelas C setidaknya membuktikan hal ini.
Kesepuluh: memungkinkan berkembangnya sikap korektif terhadap informasi
atau gagasan. Pada seluruh kelas perkuliahan
terjadi mekanisme interaksi dimana kelompok
penampil satu meminta klarifikasi, mengajukan
koreksi konsep, pengertian dan dasar hukum dari
gagasan yang dipresentasikan. Hal ini bisa
memupuk sikap hati-hati mahasiswa dalam
menerima dan menyerap informasi dari berbagai
pihak.
Kesebelas: Menghubungkan masalah
khusus diskusi dengan prinsip umum dan
kaidah kehidupan. Hal ini setidaknya tercermin
pada debat pro-kontra yang terjadi di kelas D. Posisi
yang pro cenderung menggunakan fakta empiris
praktik politik uang yang sudah menggejala sebagai
alasan untuk membenarkan politik uang. Namun
proses diskusi akhirnya menyepakati bahwa politik
uang telah melanggar prinsip umum yang namanya
kejujuran dan terbukti mendorong meluasnya
perilaku korupsi pada kalangan pejabat dan politisi.
Keduabelas:partisipasi dalam berbicara
dan mengemukakan gagasan. Terjadi
144 Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Th. 28, Nomor 2, Agustus 2015
kecenderungan bahwa partisipasi dalam berbicara
didominasi oleh mahasiswa itu-itu saja. Sedangkan
sebagian mahasiswa lain masih kurang
berpartisipasi dan asyik dengan kegiatan di luar
pembelajaran, misalnya main HP atau bercanda
dengan temannya. Refleksi observer menyarankan untuk mencegah hal ini perlu perbaikan
desain debat, dimana mahasiswa yang kurang
partisipasi diberi tugas untuk melaporkan secara
tertulis prosesdan hasil debat yang dilangsungkan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Pembelajaran dengan metode debat terbukti
mampu mengembangkan kemampuan mahasiswa
untuk berfikir kritis, rasional dan kreatif dalam
menanggapi isu-isu politik dan kewarganegaraan.
Dalam hal ini, mahasiswa dididik secara aktif
bertanggung jawab dan mampu bertindak cerdas
serta bijaksana dalam kegiatan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Pembelajaran debat
diyakini mampu membentuk sikap demokratis oleh
karena memiliki kesiapan untuk berbeda
pandangan dan memiliki ketrampilan untuk
menyelesaikan segala masalah dan perbedaan.
Oleh karena perkuliahan yang berlangsung
masih banyak menggunakan metode diskusi
konvensional, maka ke depan implementasi metode
debat perlu dipertimbangkan sebagai metode
alternatif guna memperkaya variasi metode yang
dipraktikkan dalam pembelajaran di kelas-kelas
perkuliahan.
DAFTAR RUJUKAN
Cangara, Hafied, Prof., M.Sc, Ph.D. 2014.
Komunikasi Politik: Konsep. Teori dan
Strategi. Depok: RajaGrafindo Persada.
Churches,
A.,
Blooms
Digital
Ta x o n o m y. 2 0 0 9 . ( o n l i n e ) ( h t p p : / /
endorigami.wikispaces.com), (diakses
tanggal 19 November 2014).
Komalasari, Kokom, Dr., MP.d. Pembelajaran
Kontekstual: Konsep dan Aplikasi. 2010.
Bandung: Reflika Aditama.
Pudjantoro, Petir, Satuan Acara Perkuliahan
Sosiologi Politik. 2014. Malang: Jurusan
Hukum dan Kewarganegaraan (HKn),
Fakultas Ilmu Sosial (FIS), Universitas
Negeri Malang (UM). Tidak dipublikasikan.
Suparlan, Dasim dan Danny. PAIKEM:
Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan
Menyenangkan. 2008, Bandung: PT
Genesindo.
Susilo, H., Chotimah, H., Joharmawan, R., Jumiati,
Dwitasari, Y., Sunarjo. 2009. Lesson Study
Berbasis Sekolah Konservatif Menuju
Guru Inovatif, Malang: Bayumedia.
INDEKS SUBJEK
JURNAL PENDIDIKAN PANCASILA DAN
KEWARGANEGARAAN
TAHUN 2015
agama, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 104
aktor nonpemerintah, 105, 106, 107, 108, 109
Bhineka Tunggal Ika, 31, 32, 33, 34, 35, 36
buruh, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95
demokrasi, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14
desentralisasi, 1, 2, 3, 4, 5, 117, 118, 119, 120, 121,
122, 123
desentralisasi asimetris, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10,
11, 12, 13, 14
eksistensi manusia, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95
good governance, 1, 2, 3, 4, 5
hubungan internasional, 105, 106, 107, 108, 109
hukum, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 104
humanisme, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95
kekerasan, 15, 16, 17, 18, 19
keterampilan berargumentasi , 137, 138, 139, 140,
141, 142, 143, 144
konflik, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47, 48, 49
kritis, 105, 106, 107, 108, 109
Lawrence Kohlberg, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84,
85, 86
metode debat, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143,
144
model inkuiri jurisprudensi, 50, 51, 52, 53, 54
modul berbasis kecakapan sosial, 67, 68, 69, 70,
71, 72, 73, 74
moral, 96, 97, 98, 99, 100, 101, 102, 103, 104
multikultural, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29,
31, 32, 33, 34, 35, 36
nasionalisme, 111, 112, 113, 114, 115
Ombudsman, 130, 131, 132, 134, 135
otonomi daerah, 117, 118, 119, 120, 121, 122, 123,
130, 131, 132, 134, 135
paradigma antroposentrisme, 56, 57, 58, 59, 60,
61, 62, 63, 64, 65, 66
paradigma religi, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64,
65, 66
pelayanan publik, 130, 131, 132, 134, 135
pembelajaran PPkn, 67, 68, 69, 70, 71, 72, 73, 74
pemilihan umum legislatif , 125, 126, 127, 128, 129
pendidikan karakter, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27,
28, 29
pendidikan kewarganegaraan, 20, 21, 22, 23, 24,
25, 26, 27, 28, 29, 50, 51, 52, 53, 54
peran negara, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 47,
48, 49
perempuan, 15, 16, 17, 18, 19
pergerakan nasional, 88, 89, 90, 91, 92, 93, 94, 95
politik identitas, 111, 112, 113, 114, 115
reformasi birokrasi, 1, 2, 3, 4, 5
relawan demokrasi, 125, 126, 127, 128, 129
revolusi, 56, 57, 58, 59, 60, 61, 62, 63, 64, 65, 66
rumah tangga, 15, 16, 17, 18, 19
santri mahasiswa, 77, 78, 79, 80, 81, 82, 83, 84, 85,
86
sikap kritis, 137, 138, 139, 140, 141, 142, 143, 144
solidaritas, 111, 112, 113, 114, 115
tahap perkembangan moral, 77, 78, 79, 80, 81, 82,
83, 84, 85, 86
tanah perkebunan, 38, 39, 40, 41, 42, 43, 44, 45,
46, 47, 48, 49
tata kelola pemerintahan, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13,
14
INDEKS PENGARANG
JURNAL PENDIDIKAN PANCASILA DAN
KEWARGANEGARAAN
TAHUN 2015
Abd Mu’id Aris Shofa, 1
Anata Ikrommullah, 77
Andhika Yudha Pratama, 7
Arbaiyah Prantiasih dkk, 15
A. Rosyid Al Atok dkk, 20
Daya Negri Wijaya, 88
Eri Hendro Kusuma, 96
Gina Lestari, 31
Ktut Diara Astawa, 38
Margono, 105
Mifdal Zusron Alfaqi, 111
Muhammad Mujtaba Habibi, 117
Nurul Laili Fadhilah, 130
Petir Pudjantoro, 137
Nopri Hariadi dkk, 125
Sumarno, 50
Sutoyo, 56
Zulis Mariastutik, 67
DAFTAR NAMA MITRA BESTARI
TAHUN 2015
Untuk menerbitkan jurnal tahun 24 semua naskah yang disumbangkan kepada Jurnal Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan telah ditelaah oleh mitra bestari sebagai berikut.
1. Udin S. Winataputra (Universitas Terbuka)
2. Dasim Budimanysah (Universitas Pendidikan Indonesia)
3. SukoWiyono (Universitas Negeri Malang)
Penyunting Jurnal Pendidikam Pancasila dan Kewarganegaraan menyampaikan penghargaan setinggitingginya dan terima kasih sebesar-besarnya kepada para mitra bestari tersebut atas bantuannya.
Petunjuk Bagi Penulis
1. Naskah belum pernah diterbitkan dalam media cetak lain, diketik dengan spasi rangkap
pada kertas kuarto. Panjang 10-20 halaman dan diserahkan paling lambat 3 bulan sebelum
penerbitan dalam bentuk ketikan diatas kertas kuarto sebanyak 2 eks, dan disket. Berkas
naskah disimpan pada disket yang ditulis/diketik dengan menggunakan pengolah kata
Word Perfect, MS Word.
2. Artikel yang dimuat dalam jurnal ini meliputi tulisan tentang hasil penelitian, gagasan
konseptual, kajian dan aplikasi teori, tinjauan kepustakaan dan resensi buku baru.
3. Semua karangan ditulis dalam bentuk esai, disertai judul sub-bab ( heading) masingmasing bagian sajian tanpa judul sub-bab. Peringkat judul sub-bab dinyatakan dengan
huruf yang berbeda (semua huruf dicetak tebal/bold). Cetak miring dan letaknya pada
halaman, bukan dengan angka, sebagai berikut:
PERINGKAT 1 (huruf besar semua tebal rata tepi kiri)
Peringkat 2 (huruf besar-kecil tebal rata tepi kiri)
Peringkat 3 (huruf besar-kecil dengan cetak miring/tebal rata tepi kiri)
4. Setiap karangan harus disertai (a) abstrak (50-75 kata), (b) kata-kata kunci, (c) identitas
pengarang (tanpa gelar akademik), (d) pendahuluan (tanpa judul sub-bab) yang berisi latar
belakang dan tujuan ruang lingkup tulisan, dan daftar rujukan. Hasil penelitian disajikan
dengan sistematika sebagai berikut: (a) judul, (b) nama peneliti, (c) abstrak (50-75 kata),
(d) kata-kata kunci, (e) pendahuluan (tanpa judul sub-bab) yang berisi pembahasan
kepustakaan dan tujuan penelitian, (f) metode penelitian, (g) hasil, (h) pembahasan, (i)
kesimpulan dan saran, (j) daftar rujukan.
5. Daftar rujukan disajikan mengikuti tata cara seperti contoh berikut dan diurutkan secara
alpabetis dan kronologis.
Cornel, L. dan Weeks, K. 1985. Planning Career Leaders: Lesson from the States, Atlanta.
GA: Career leader Clearing House.
Kanafi, A. 1989. Partisipasi dalam Siaran Pedesaan dan Adopsi Inovasi. Forum Penelitian. (1):33-47
6. Tata cara penyajian kutipan, rujukan, tabel, dan gambar mengikuti ketentuan dalam
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Skripsi, Artikel, dan Makalah (Universitas Negeri
Malang, 2010). Naskah diketik dengan memperhatikan aturan tentang penggunaan tanda
baca dan ejaan yang dimuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang
Disempurnakan.
Download