this PDF file - Jurnal Ilmiah Mahasiswa

advertisement
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu
Narkoba
(Studi Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh)
(Teurapeutic Communication Process to Drug Addicts Rehabilitation (Case Study
at Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh)
Lissa Febrina1), Martunis Yahya2)
1)
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas FISIP, Universitas Syiah Kuala
ABSTRAK - Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses komunikasi
terapeutik yang dilakukan konselor di Yayasan Harapan Permata Hati Kita
(YAKITA) Aceh dalam rangka rehabilitasi pecandu narkoba dan mengetahui
hambatan yang dihadapi tenaga konselor dalam melakukan proses komunikasi
terapeutik serta usaha penanggulangannya dan mengetahui keberhasilan yang
dicapai dalam merehabilitasi pecandu narkoba. Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Subjek penelitian yang menjadi
informan adalah sebanyak 5 orang terdiri dari 3 orang konselor dan 2 orang klien.
Teknik pengumpulan data yang digunakan ialah wawancara, observasi dan studi
dokumen. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori behavioral.
Hasil penelitian menunjukkan proses komunikasi terapeutik konselor YAKITA
Aceh terdiri dari empat tahapan yaitu tahapan Pra-Interaksi, tahapan Orientasi,
tahapan Kerja, dan tahapan Terminasi/Evaluasi dengan menggunakan metode
terapi 12 Langkah NA (Narcotics Anonymous). Hambatan-hambatan yang
dihadapi oleh konselor yaitu, ketidaksediaan beberapa klien, dan ketidakterbukaan
beberapa klien untuk ditolong ini juga dikarenakan keterbatasan kemampuan
konselor di bidang konseling. Indikator-indikator yang dapat dilihat bahwa
komunikasi terapeutik yang dilakukan YAKITA Aceh telah berhasil yaitu, dari
segi fisik klien terlihat lebih sehat, perubahan perilaku menjadi positif, secara
emosional klien juga sudah mulai stabil. Sejauh ini komunikasi terapeutik dalam
kegiatan rehabilitasi pecandu narkoba yang dilakukan konselor YAKITA Aceh
dinilai cukup berhasil.
Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik, Pecandu Narkoba
ABSTRACT - The purpose of this study are, first to know therapeutic
communication process from counselor at Yayasan Harapan Permata Hati Kita
(YAKITA) Aceh in order to drug addicts rehabilitation, second to know the
obstacles faced counselor and mitigation efforts in communication therapeutic
process, and finally is to know success achieved in drug addicts rehabilitation.
The approach used in the research are qualitative descriptive methods. Subject of
this study are 5 person ( 3 counselors and 2 clients). The instrument of data
collection in this study is interview, observation and documentation study. The
theory used is Behavioral theory. The result of the study shows the teurapetic
Corresponding Author : [email protected]
JIM FISIP Unsyiah: AGB, Vol. 1. №. 1, Januari 2017: 1-12
1
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
communication process of YAKITA’s Aceh conseulors have four steps are preinteraction phase, orientation
phase, working phase and termination or evaluation phase with 12 NA (Narcotics
Anonymous) Therapy Methods.The problems of conseulors are unwillingness of
some clients, in ability of the counselor in counseling process. Indicators which
can be seen that the YAKITA’s therapeutic communication has been succesfully
are : from physicly the clients more healthy, the behavior changes to be more
positive, from emotional the clients more stable. Therefore therapeutic
communication process in drug addicts rehabilitation from YAKITA Aceh’s
counselor rated enough succesfully.
Keyword: Therapeutic Communication, Drug Addicts
PENDAHULUAN
Penyalahgunaan narkoba yang terjadi di Aceh terus meningkat dengan
cepat meskipun pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai upaya
untuk menanganinya. Survei Nasional yang dilakukan BNN mengantongi data
pada tahun 2008 sebanyak 1.61% pengguna narkoba dari jumlah penduduk Aceh.
Prevalensi itu naik menjadi 2.03% dari jumlah penduduk pada tahun 2011. Pada
tahun 2014, estimasi penyalahgunaan narkoba sudah mencapai 2.08% atau setara
dengan 73.201 penduduk. Adapun jumlah narapidana di Aceh bedasarkan kasus
pengguna narkoba pada tahun 2013 terdapat 451 orang dan terus meningkat di
tahun 2014 menjadi 484 orang.
Dalam undang-undang Nomor 35 tahun 2009 disebutkan bahwa setiap
pengguna narkoba yang setelah vonis pengadilan terbukti tidak mengedarkan atau
memproduksi narkoba, dalam hal ini mereka hanya sebatas pengguna saja maka
mereka berhak mengajukan untuk mendapatkan pelayanan rehabilitasi. Sasaran
atau obyek yang menjadi fokus rehabilitasi adalah manusia (insan) secara utuh,
yakni yang berkaitan atau menyangkut dengan gangguan pada Mental, Spiritual,
Moral (akhlak), dan Fisik (jasmaniah) (Darajat, 1998: 16).
Perlu juga di pahami bahwa upaya rehabilitasi seorang pecandu bukan
sekedar memulihkan kesehatan secara fisik korban, melainkan pemulihan secara
utuh dan dilakukan oleh tim yang solid dan profesional mulai dari tahap
perencanaan hingga tahap evaluasi. Biasanya berbagai terapi yang di lakukan di
panti rehabilitasi antara lain mencakup terapi fisiologis dan medik, terapi mental
dan psikiatrik, terapi pendalaman batin dan spiritual, terapi minat dan
rekreasional, terapi kebersamaan dan sosial, dan akhirnya terapi kerja dan
vokasional (Tim Visimedia, 2006: 8).
Ada beberapa panti rehabilitasi yang ada di Banda Aceh, salah satunya
Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh. Yayasan Permata Hati Kita
(YAKITA) Aceh berdiri pada tahun 2006 oleh David Gordon tepatnya di Kota
Banda Aceh. YAKITA adalah salah satu Organisasi Non-profit berbasis
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 2
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
Komunitas, didirikan untuk menanggapi keprihatinan yang tulus dalam
meningkatnya masalah penyalahgunaan narkoba dan kecanduan di seluruh
Indonesia dan kurangnya bantuan yang tulus di daerah-daerah. YAKITA Aceh
memiliki beberapa konselor yang berperan penting dalam program pemulihan
klien (residen) pecandu narkoba.
Komunikasi yang disampaikan konselor sangat berpengaruh bagi klien.
Komunikasi diperlukan untuk menciptakan hubungan diantara konselor dan klien,
untuk mengenal kebutuhan klien dan untuk menentukan rencana tindakan dan
kerja sama diantara keduanya dalam memenuhi kebutuhan tersebut yang bertujuan
untuk pemulihan, maka komunikasi yang terjadi pada konselor inilah yang disebut
komunikasi terapeutik. Komunikasi terapeutik pada prinsipnya merupakan
komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan.
Dapat menjalankan proses komunikasi terapeutik secara efektif, konselor
perlu menguasai teknik-teknik komunikasi. Konselor perlu memahami bahwa
keterampilan komunikasi tidak hanya dalam bentuk verbal tapi juga non-verbal,
karena keduanya saling berkaitan dan saling memperkuat pesan yang disampaikan
(Jurnal Kajian Komunikasi, volume 3, No.2, Desember 2015: 204).
Dari latar belakang permasalahan di atas, tujuan penelitian ini adalah
untuk mengetahui proses komunikasi terapeutik yang dilaksanakan konselor
dalam rangka rehabilitasi terhadap pecandu narkoba di Yayasan Harapan Permata
Hati Kita (YAKITA) Aceh, untuk mengetahui Hambatan-hambatan apa saja yang
dihadapi tenaga konselor dalam melakukan proses komunikasi terapeutik di
Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) dan usaha penanggulangannya,
untuk mengetahui keberhasilan yang dicapai Yayasan Harapan Permata Hati Kita
(YAKITA) Aceh dalam merehabilitasi pecandu narkoba.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah:
1) Bagaimana proses komunikasi terapeutik yang dilaksanakan konselor
dalam rangka/kegiatan rehabilitasi terhadap pecandu narkoba di Yayasan
Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh?
2) Hambatan-hambatan apa saja yang dihadapi tenaga konselor dalam
melakukan proses komunikasi terapeutik di Yayasan Harapan Permata
Hati Kita (YAKITA) dan bagaimana usaha penanggulangannya?
3) Bagaimana keberhasilan yang dicapai Yayasan Harapan Permata Hati Kita
(YAKITA) Aceh dalam merehabilitasi pecandu narkoba?
TINJAUAN PUSTAKA
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 3
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
Penelitian ini menggunakan teori behavioral berasal dari dua arah konsep
yakni Pavlovian dari Ivan Pavlov dan Skinnerian dari B.F. Skinner. Mula-mula
terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1958) untuk menanggulangi (treatment)
neurosis. Neurosis dapat dijelaskan dengan mempelajari perilaku yang tidak
adaptif (pantas) melalui proses belajar. Dengan perkataan lain bahwa perilaku
yang menyimpang bersumber dari hasil belajar di lingkungan.
Perilaku dipandang sebagai respon terhadap stimulus atau perangsangan
eksternal dan internal. Karena itu tujuan terapi adalah untuk memodifikasi
koneksi-koneksi dan metode-metode Stimulus-Respon (S-R) sedapat mungkin.
Kontribusi terbesar dari konseling behavioral (perilaku) adalah diperkenalkannya
metode ilmiah dibidang psikoterapi. Yaitu bagaimana memodifikasi perilaku
melalui rekayasa lingkungan sehingga terjadi proses belajar untuk perubahan
perilaku.
Dasar teori terapi behavioral adalah bahwa perilaku dapat dipahami
sebagai hasil kombinasi: (1) belajar waktu lalu dalam hubungannya dengan
keadaan yang serupa, (2) keadaan motivasional sekarang dan efeknya terhadap
kepekaan terhadap lingkungan, (3) perbedaan-perbedaan biologik baik secara
genetik atau karena gangguan fisiologik. Dengan eksperimen-eksperimen
terkontrol secara seksama maka menghasilkan hukum-hukum yang mengontrol
perilaku tersebut.
Dalam hal ini Skinner walaupun dipengaruhi teori S-R, tetapi dia punya
pandangan tersendiri mengenai perilaku, yaitu: (1) Respon tidak perlu selalu
ditimbulkan oleh stimulus, akan tetapi lebih kuat oleh pengaruh reinforcement
(penguatan), (2) Lebih menekankan pada studi subjek individual ketimbang
generalisasi kecenderungan kelompok, (3) Menekankan pada penciptaan situasi
tertentu terhadap terbentuknya perilaku ketimbang motivasi didalam diri (Willis,
2011: 69).
Didalam bagan di bawah ini terlihat bagaimana terbentuknya perilaku
individu dan hewan.
Lingkungan
perilaku
terkontrol
Dimanipulasi
Bagan: Terjadinya perilaku Menurut Skinner
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 4
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
wa
Jurn
a
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
Para konselor behavioral memandang kelainan perilaku sebagai kebiasaan
yang dipelajari. Karena itu dapat diubah dengan mengganti situasi positif yang
direkayasa sehingga kelainan perilaku berubah menjadi positif (Willis, 2011: 70).
Pendekatan behavioral merupakan pilihan untuk membantu klien mempunyai
masalah spesifik seperti gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan disfungsi
psikoseksual. Juga bermanfaat untuk membantu gangguan yang diasosiasikan
dengan anxietas, stres, asertivitas, berfungsi sebagai orangtua dan interaksi sosial
(Gladding, 2004 dlm Lesmana, 2013: 28).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini mengambil lokasi di Banda Aceh pada Yayasan Harapan
Permata Hati Kita, yang dikenal sebagai Yayasan KITA. YAKITA didirikan pada
Mei 1999 oleh David Gordon, orang yang hidupnya terkena dampak langsung
kecanduan narkoba dalam keluarga mereka sendiri. YAKITA adalah Organisasi
Non-profit Berbasis Komunitas, didirikan untuk menanggapi keprihatinan yang
tulus dalam meningkatnya masalah penyalahgunaan narkoba dan kecanduan di
seluruh Indonesia, dan kurangnya bantuan yang tulus di daerah-daerah. Selain itu,
menanggapi kecanduan obat masalah terkait dibidang Sex, HIV/AIDS dan
Hepatitis, Uang / Ekonomi, Kejahatan, dan Kekerasan serta kurangnya sarana
pemulihan.
Subjek penelitian yang dimaksud adalah sejumlah informan yang
mendukung dalam penelitian ini, yaitu bagian dari Yayasan Harapan Permata Hati
Kita (YAKITA) Aceh. Objek penelitian yang dimaksud adalah proses komunikasi
terapeutik yang dilaksanakan konselor dalam rangka rehabilitasi terhadap pecandu
narkoba di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh.
INFORMAN PENELITIAN
Informan pada penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik
purposive sampling. Teknik purposive dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang
telah ditentukan oleh peneliti yang peneliti anggap mengetahui informasi terkait
permasalahan yang diteliti. Kriterianya adalah staf dan klien Yayasan Harapan
Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh, terlibat dalam penerapan komunikasi
terapeutik saat kegiatan rehabilitasi pecandu narkoba di Yayasan Harapan Permata
Hati Kita (YAKITA) Aceh. Adapun nama-nama informan pada tabel di bawah:
Tabel 3.1 Informan Penelitian
No.
Nama Informan
Jabatan
1
M. Ichsan
Konselor
2
M. Ramadhana
Konselor
3
Safrizal
Konselor
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 5
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
wa
Jurn
a
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
4
MI
Klien/Residen
5
ME
Klien/Residen
Sumber: Dikembangkan oleh peneliti
SUMBER DATA
Dalam penelitian ini, sumber data yaang digunakan ada 2, yaitu: data primer
dan data sekunder.
1. Data Primer
Data primer diperoleh langsung dari informan yang bersangkutan dengan
melakukan wawancara. Sumber data dalam penelitian ini adalah orang-orang yang
terlibat dalam penerapan komunikasi terapeutik saat kegiatan rehabilitasi pecandu
narkoba, yaitu konselor dan klien YAKITA Aceh.
2. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini dilakukan dengan penelitian kepustakaan
dan pencatatan dokumen yaitu mempelajari berbagai literatur yang bersumber dari
buku-buku (tinjauan teoretis) yang berkaitan dengan relasi pertolongan dan proses
rehabilitasi pengguna narkoba dan pencatatan dokumen antara lain dengan
mengumpulkan data dari buku-buku, literatur, suratkabar, dan internet yang
dianggap relevan dengan masalah yang diteliti untuk melengkapi data primer.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
Untuk mengumpulkan data dan informasi yang diperlukan untuk penelitian
ini, diperlukan teknik pengumpulan data. Adapun teknik pengumpulan data yaitu:
1. Wawancara
(Berger, 2000:111) wawancara merupakan metode pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik wawancara semistruktur
(Semistructured interview). Jenis wawancara inilah yang lebih sesuai dalam
penelitian kualitatif sebab jenis wawancara tidak terstruktur ini memberi peluang
kepada peneliti untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan penelitian.
2. Observasi
Dilakukan untuk meninjau langsung proses komunikasi terapeutik dalam
rangka rehabilitasi terhadap pecandu narkoba di YAKITA Aceh untuk
memperoleh data penelitian. Observasi yang digunakan adalah observasi terlibat
(participant observation) dengan cara melibatkan diri atau menjadi bagian
lingkungan sosial (organisasi) tengah diamati melalui teknik partisipasi dapat
memperoleh data relatif lebih akurat dan lebih banyak, karena peneliti secara
langsung mengamati perilaku dan kejadian atau peristiwa dalam lingkungan sosial
tertentu (Ruslan, 2010: 35).
3. Studi Dokumen
Metode ini adalah metode dengan mengumpulkan dan menggali data tertulis
seperti studi literature maupun dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 6
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
penelitian ini. Data tertulis yang mungkin dikumpul adalah surat-surat, memo
randum, pengumuman resmi, agenda kegiatan, kesimpulan rapat, berbagai laporan
peristiwa, dokumen administrative organisasi, serta kliping artikel yang muncul di
media massa (Moleong, 1998: 196).
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan deskriptif
kualitatif. Riset kualitatif merupakan suatu penelitian mendalam (in-depth),
berorientasi pada kasus dari sejumlah kecil kasus, termasuk satu studi kasus.
Dalam penelitian ini metode deskriptif digunakan untuk menjelaskan suatu
kondisi sosial tertentu (Morissan, 2012: 27). Analisis data kualitatif adalah upaya
yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data,
memilah-memilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikan,
mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang
dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain
(Moleong, 2010: 248). Proses-proses analisis data dapat dijelaskan ke dalam tiga
langkah yaitu: (1) Tahap Reduksi data, proses pemilihan pemusatan perhatian
pada penyederhanaan abstraksi dan transformasi data kasar yang diperoleh di
lapangan, (2) Tahap Penyajian Data,sebagai sekumpulan informasi yang tersusun
yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan, dan (3)
Tahap Penarikan Kesimpulan, Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan
aktivitas pengulangan (review) dengan tujuan untuk pemantapan data dan
peninjauan data kembali untuk memastikan bahwa data valid.
TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja
dengan data, mengorganisasikan data, memilah-memilahnya menjadi satuan yang
dapat dikelola, mensistensikan, mencari dan menemukan pola, menemukan apa
yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan
kepada orang lain (Moleong, 2010: 248).
1. Reduksi
Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari
catatan-catatan tertulis di lapangan.
2. Penyajian Data
Data yang telah dipilih, disusun, dianalisa dan disajikan guna merakit
informasi secara teratur untuk memperoleh gambaran yang lebih sistematis
tentang kondisi dan situasi yang ada. Data-data tersebut diolah dan dieksplorasi
secara mendalam kedalam bentuk narasi, bagan, hubungan antar kategori dan
lainnya.
3. Penarikan Kesimpulan
Setelah sajian data terkumpul, selanjutnya peneliti dapat menarik
kesimpulan akhir. Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan aktivitas
pengulangan (review) dengan tujuan untuk pemantapan data dan peninjauan data
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 7
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
kembali untuk memastikan bahwa data valid. Sehingga menghasilkan kesimpulan
yang dapat menjelaskan permasalahan penelitiaan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
YAKITA Aceh memiliki beberapa konselor yang berperan penting dalam
program penyembuhan pasien pecandu narkoba. Komunikasi yang disampaikan
konselor sangat berpengaruh bagi pasien. Komunikasi dibutuhkan untuk
menciptakan hubungan diantara konselor dan pasien, untuk mengenal kebutuhan
pasien, dan untuk menentukan rencana tindakan dan kerja sama diantara keduanya
dalam memenuhi kebutuhan tersebut yang pada akhirnya bertujuan untuk
penyembuhan, maka komunikasi yang terjadi pada konselor inilah yang disebut
komunikasi terapeutik.
Teori behavioral (Willis, 2011: 70) mengatakan para konselor behavioral
memandang kelainan perilaku sebagai kebiasaan yang dipelajari. Karena itu dapat
diubah dengan mengganti situasi positif yang direkayasa sehingga kelainan
perilaku berubah menjadi positif. Berkaitan dengan teori tersebut, situasi
positif/bentuk rekayasa yang dilakukan oleh konselor YAKITA Aceh melalui
empat tahapan komunikasi terapeutik dengan menggunakan metode terapi 12
langkah narcotics anonymous. Adapun tahapan yang dilakukan tersebut yaitu
tahapan Pra-Interaksi. Tahap awal yang harus dilakukan oleh konselor ialah
tahapan persiapan sebelum memulai hubungan. Dalam membina hubungan baik
dengan klien, konselor YAKITA Aceh menunjukkan sikap yang positif terhadap
klien. Dimana konselor menunjukkan sikap ramah dan bersahabat. Kemudian
konselor juga membina hubungan yang saling percaya dengan klien, hingga
membuat klien merasa nyaman. Selain itu konselor juga menerima klien dengan
ikhlas dan apa adanya, dengan begitu klien akan percaya bahwa konselor dapat
membantu permasalahan adiksi mereka.
Tahap kedua yaitu tahapan orientasi, dimana tahap ini menjadi tahap
konselor selanjutnya setelah membangun hubungan baik dengan klien. Di tahap
ini konselor menggali informasi yang melatarbelakangi keterlibatan klien dengan
narkoba, sejauh mana pemakaian dan tingkat keparahan klien. Menurut konselor
terdapat tiga cara dalam menggali informasi klien yaitu dengan belajar bahasa
junkie, waktu, dan bahasa. Setiap pecandu memiliki bahasa atau simbol-simbol
tertentu dalam berinteraksi dengan sesama pecandu. Hal tersebut yang dapat
konselor lakukan untuk mempermudah menggali informasi kliennya. Selain itu
waktu, seorang konselor dalam menggali informasi tentang klien memakan waktu
yang lumayan lama agar klien mau terbuka dan menceritakan permasalahan
pemakain mereka. Yang terakhir adalah bahasa, dalam menggali informasi
konselor harus bisa menggunakan bahasa yang mudah difahami oleh klien.
Bertujuan untuk meminimalisis kesalahfahaman yang terjadi. Menurut pengakuan
klien kepada konselor keterlibatan mereka dengan narkoba awalnya karena cobacoba dan pengaruh teman.
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 8
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
Kemudian tahapan Kerja. Setelah konselor memperoleh informasi
permasalahan pemakain klien, selanjutnya konselor membantu memecahkan
permasalahan adiksi klien. Konselor YAKITA Aceh mengatakan terapi yang
digunakan untuk program pemulihan klien menggunakan metode 12 langkah
narcotics anonymous. NA adalah persaudaraan masyarakat yang terdiri dari pria
dan wanita yang mempunyai masalah yang besar terhadap narkoba. 12 langkah
secara garis besar memuat tentang prinsip-prinsip spiritual yang dapat membantu
pecandu untuk menjalankan pemulihan. Berdasarkan observasi yang dilakukan
peneliti selama sebulan di panti rehabilitasi YAKITA Aceh, pemulihan pecandu
dilaksanakan melalui NA Meeting. NA Meeting adalah pertemuan atau
perkumpulan para pecandu yang disebut circle, dimana dalam NA Meeting itu
mereka membacakan materi kemudian menerjemahkan maksud dari setiap
materinya kemudian materi tersebut dikaitkan dengan pengalaman mereka selama
menjadi pecandu narkoba. Selain itu konselor juga memberikan terapi dengan
individual counseling, program religi, dan program sesi.
Yang menjadi tahapan terakhir adalah tahap terminasi/evaluasi. Ini
menjadi langkah terakhir yang harus dilakukan oleh konselor yaitu peninjauan
kembali atas capaian dan rencana lanjutan. Di sini konselor YAKITA Aceh
melihat sejauh mana pencapaian 12 langkah narcotics anonymous yang telah
dikerjakan oleh klien. Menurut pengakuan klien kepada konselor pencapain 12
langkah NA mereka baru di langkah delapan.
Di samping itu konselor juga memiliki hambatan dalam proses komunikasi
terapeutik pada klien YAKITA Aceh antara lain ketidaksediaan beberapa klien
untuk ditolong/berubah, ketidakterbukaan pikiran beberapa klien yang disebabkan
oleh keterbatasan kemampuan konselor dibidang konseling, dan keterbatasan
fasilitas panti rehabilitasi YAKITA Aceh. Untuk menanggulangi hambatan
tersebut, konselor YAKITA Aceh mengajak kerjasama keluarga klien tujuannya
agar klien bisa belajar bagaimana bertanggung jawab atas apa yang telah
dilakukan, selain itu agar klien lebih fokus menjalani program pemulihan.
Membangun hubungan dan rapport, tidak membuat tembok/jarak dengan klien
dan membangun keakraban seperti keluarga dengan klien, dan menjadi pendengar
yang baik setiap kali klien ingin konseling tentang permasalahan yang sedang
mereka rasakan.
Hasil wawancara yang dilakukan peneliti dengan konselor juga
mengatakan adapun ciri-ciri yang dapat dilihat bahwa klien tidak terlibat kembali
dengan narkoba yaitu, tingkah laku yang kembali positif, pola hidup klien yang
kembali normal dan cara bicara klien yang sudah kembali waras, pergaulan klien
yang sudah mulai terbuka dengan orang lain dan lebih cerdas dalam memilih
teman yang baik dengan yang tidak baik di ajak berteman, dan yang terakhir
mereka mampu bertahan bersih dari narkoba.
Untuk bertahan bersih dari narkoba atau biasa disebut dengan program
aftercare klien setelah masa rehabilitasi selesai, ada beberapa cara yang bisa
dilakukan oleh klien. Pertama, klien bisa menghadiri pertemuan-pertemuan yang
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 9
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina,
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
ada di panti rehabilitasi baik panti rehabilitasi YAKITA Aceh maupun panti
rehabilitasi lain. Kedua, hindari teman-teman yang masih aktif menggunakan
narkoba. Ketiga, langkah 1 tetap harus dan terus diterapkan baik masih dalam
proses pemulihan di panti rehabilitasi YAKITA Aceh maupun saat selesai
program pemulihan yaitu, klien mengakui ketidakberdayaan terhadap adiksi
sehingga hidup menjadi tidak terkendali.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan pada
bab-bab sebelumnya mengenai, proses komunikasi terapeutik yang dilaksanakan
konselor dalam rangka rehabilitasi terhadap pecandu narkoba di Yayasan Harapan
Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
a. Dalam proses komunikasi, pertama sekali yang di lakukan konselor
YAKITA Aceh adalah menjelaskan tentang program pemulihan yang ada
di Panti Rehabilitasi YAKITA Aceh secara langsung atau tatap muka,
kepada seluruh klien mereka yang bertujuan untuk membantu pemulihan
adiksi klien yang ada di YAKITA Aceh.
b. komunikasi terapeutik yang dilakukan Yayasan Harapan Permata Hati
Kita (YAKITA) Aceh menggunakan 4 tahapan komunikasi yaitu pertama,
tahapan Pra-Interaksi. Kedua, tahapan Orientasi. Ketiga, tahapan Kerja.
Tahap ini merupakan tahap inti dari keseluruhan proses komunikasi
terapeutik. Pada tahap ini konselor memberikan jalan keluar untuk
menyelesikan masalah adiksi klien. Program pemulihan yang di berikan
kepada klien YAKITA Aceh adalah dengan menggunakan metode 12
Langkah NA (Narcotics Anonymous) sebagai alat komunikasi terapeutik.
Yang terakhir tahapan Terminasi/Evaluasi.
c. Hambatan yang dialami oleh konselor YAKITA Aceh adalah,
ketidaksediaan beberapa klien untuk ditolong/pulih, ketidakterbukaan
pikiran beberapa klien, dan yang terakhir keterbatasan fasilitas. Cara
penanggulangan hambatan tersebut yaitu dengan mengajak kerjasama
keluarga klien, membangun hubungan dan rapport, tidak membuat
tembok/jarak dengan klien, mendukung keinginan klien yang bersifat
positif, dan menjadi pendengar yang baik saat klien membutuhkan tempat
untuk menceritakan permasalahan yang sedang di hadapi.
d. Keberhasilan yang di capai konselor YAKITA Aceh dalam kegiatan
rehabilitasi pecandu narkoba bisa dilihat dari keseharian klien selama di
panti, kebiasaan klien yang sudah bisa bangun pagi dan bicara klien yang
sudah kembali waras. Selain itu juga dari fisik klien yang terlihat lebih
sehat dan perubahan perilaku klien menjadi lebih positif, dari segi mental,
emosional, dan spritual klien.
SARAN
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 1
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina, 0
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
a
a
wa
Jurn
h Mah
sis
lmia
lI
Jurnal Ilmiah Mahasiswa FISIP Unsyiah
Volume 1, Nomor 1, Januari 2017
www.jim.unsyiah.ac.id/FISIP
FISIP
a. Diharapkan agar YAKITA Aceh dapat terus mempertahankan program
NA (Narcotics Anonymous) dalam membantu pemulihan klien.
b. Perlu ada dukungan tambahan tenaga yang lebih profesional dalam bidang
konseling yaitu sarjana bimbingan konseling dan psikologi.
c. Diharapkan kepada pihak YAKITA Pusat di Ciawi untuk membuka panti
rehabilitasi YAKITA Aceh bagi korban penyalahgunaan narkoba yang
wanita.
d. Kepada masyarakat diharapkan untuk dapat menghilangkan stigmanya
bagi para mantan pecandu narkoba yang telah menjalani rehabilitasi. dan
kembali menjalin hubungan yang baik dengan mereka, mengajak mereka
untuk berbaur dan berinteraksi di dalam masyarakat tanpa ada pembedaan.
e. Bagi keluarga untuk tetap terus mendukung anaknya yang sedang berjuang
untuk pulih dari belenggu narkoba. dan tidak lagi memberikan stigmastigma negatif kepada mereka melainkan beri kesempatan dan
kepercayaan untuk mereka, agar mereka bisa semakin termotivasi untuk
pulih.
DAFTAR PUSTAKA
Berger, Athur Asa. 2000. Media and Communication Research Methods. London:
Sage Publication.
Daradjat, Zakiyah. 1998. Kesehatan Psikologi Islam. jakarta: Hajimas Agung,
hlm. 16
Jurnal Kajian Komunikasi, Volume 3, No 2, Desember 2015
Jurnal Data Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap
Narkoba (P4GN). Tahun 2014 Edisi Tahun 2015.
Lexy J, Moelong. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
_____________. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Morissan, M. A, dkk. 2012. Metode Penelitian Survei. Jakarta: Kencana.
Ruslan, Rosady. 2010. Metode Penelitian PR dan Komunikasi. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada.
Tim Visimedia. 2006. Rehabilitasi Korban Narkoba. [E-book]. PT. Visimedia.
Tersedia:http://books.google.co.id/books/about/Rehabilitasi_Korban_Nar
koba. Html. [Diakses pada 2 februari 2016].
Undang-Undang Republik indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Willis, Sofyan S. 2011. Konseling Invidual Teori dan Praktek. Bandung:
Alfabeta.
www.bnn.go.id
Proses Komunikasi Terapeutik dalam Kegiatan Rehabilitasi Pecandu Narkoba (Studi 1
Kasus di Yayasan Harapan Permata Hati Kita (YAKITA) Aceh) (Lissa Febrina, 1
Martunis Yahya)
Jurnal ilmiah mahasiswa FISIP Unsyiah, Vol. 1. №. 1. Januari 2017 1-11
Download
Study collections