deteksi molekuler cemaran daging babi pada bakso

advertisement
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
DETEKSI MOLEKULER CEMARAN DAGING BABI PADA BAKSO SAPI DI PASAR
TRADISIONAL KOTA MALANG MENGGUNAKAN PCR (POLYMERASE CHAIN
REACTION)
Molecular Detection of Pork Contamination in Beef Meatballs in Malang
Traditional Market Using PCR Method (Polymerase Chain Reaction
Agustin Krisna Wardani1*, Elok Puji Kurnia Sari1
1) Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, FTP Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Malang 65154
*Penulis Korespondensi, Email: [email protected]
ABSTRAK
Kehalalan merupakan isu penting dalam indutri makanan terutama cemaran daging babi
pada produk olahan. Metode PCR adalah salah satu teknik analisis molekuler untuk mendeteksi
cemaran daging babi pada produk olahan misal bakso. Optimasi Suhu annealing merupakan
faktor penting dalam proses PCR. Penelitian ini bertujuan untuk mencari kondisi optimum suhu
annealing pada metode PCR dengan menggunakan primer gen leptin dan cytochrome b untuk
mendeteksi ada atau tidaknya cemaran daging babi pada bakso sapi di pasar tradisional
wilayah Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa primer gen Leptin dengan kontrol negatif
daging ayam mampu mengamplifikasi DNA sampel bakso pada kondisi optimum PCR suhu
annealing 440C dalam 37 siklus dengan konsentrasi gel agarosa 3%. Primer gen Cytochrome b
tidak mampu mengamplifikasi DNA sampel bakso menggunakan PCR karena tidak terlihat pita
DNA pada hasil elektroforesis. Penggunaan primer gen Leptin tidak direkomendasikan untuk
deteksi cemaran daging babi karena pada penelitian ini gen leptin juga mengamplifikasi DNA
sapi.
Kata kunci: Annealing, Cemaran Babi, Gen Leptin, PCR
ABSTRACT
Halal authenticity is an important issue in the food industry mainly to the porcine
contamination in processed products. PCR is one of the techniques of molecular analysis to
detect pork contamination of processed products such as meatballs. Annealing temperature is
an important factor in the process of PCR. This study aims to find optimum conditions annealing
temperature using leptin and cytochrome b gene primer to detect presence or absence of pork
contamination in beef meatballs in Malang Traditional Market. The results showed that the leptin
gene with chicken negatif control able to amplify DNA sample in PCR optimum condition
annealing temperature of 440C in 37 cycles with agarose concentration 3%. Cytochrome b gene
is not able to amplify DNA samples using PCR because no visible DNA bands on the
electrophoresis results. Leptin gene primers not recommended for detection of pork
contamination because in this study also amplify Cow DNA.
Keywords: Annealing, Leptin Gene, Pork Contamination, PCR
PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia yakni
89% dari jumlah penduduk yaitu 237,6 juta jiwa [1] telah ditunjuk menjadi Pusat Halal Dunia
1294
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
pada tahun 2011. Hal ini mendorong LPPOM MUI untuk menyusun Sistem Sertifikasi Halal dan
Sistem Jaminan Halal yang digunakan untuk menjamin hak konsumen muslim di Indonesia,
yang mana sistem ini juga telah diadopsi lembaga sertifikasi halal Internasional. Namun hingga
saat ini, di Indonesia masih banyak ditemukan kasus pangan tercemar bahan tambahan yang
haram seperti bakso babi oplosan di wilayah Jakarta (2012), kandungan bactosoytone dari babi
pada produk penyedap masakan [2], daging dendeng tercemar daging babi [3] dan masih
banyak kasus lain diberbagai wilayah Indonesia. Beberapa metode analisis yang telah
diusulkan untuk analisis daging babi dan atau lemak babi, seperti e-nose GC-MS [4],
spektrofotometri FTIR [5], ELISA [6], dan Gold Nanoparticle [7][8], telah digunakan. Beberapa
metode tersebut memerlukan waktu dan biaya yang banyak, sehingga perlu adanya suatu
teknik analisis yang cepat dan reliable terhadap analisis daging babi di dalam produk bakso.
Salah satu metode yang cukup akurat untuk mendeteksi cemaran daging babi pada produk
pangan adalah dengan menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction).
Teknik PCR dipilih sebagai alat identifikasi karena mempunyai akurasi tinggi dalam
mendeteksi ada tidaknya campuran daging babi dalam daging segar maupun produk daging
olahan. PCR merupakan teknik amplifikasi potongan DNA yang diinginkan secara in vitro pada
daerah spesifik yang dibatasi oleh dua buah primer oligonukleotida dengan bantuan enzim
polymerase. Salah satu tahap dalam PCR adalah annealing yaitu proses penempelan primer
pada DNA template yang menentukan spesifisitas dan banyaknya DNA yang dihasilkan. Salah
satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan isolasi dan amplifikasi DNA template pada tahap
annealing adalah suhu, jika suhu terlalu tinggi maka akan menyebabkan gagalnya proses
amplifikasi sedangkan jika suhu terlalu rendah maka DNA yang terbentuk memiliki spesifisitas
rendah. Optimasi suhu annealing pada proses PCR ini penting untuk dilakukan agar amplifikasi
DNA dapat berjalan secara optimal.
Berdasarkan paparan diatas maka dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari kondisi
optimum suhu annealing pada metode PCR dengan menggunakan primer gen leptin dan primer
gen cytochrome b. Primer LEP dengan panjang 18 bp (primer LEP forward) dan 21 bp (Primer
LEP reverse) mengamplifikasi 152 bp fragmen gen leptin babi sementara primer gen
cytochrome b mengamplifikasi 130 bp DNA babi.
BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan sampel pada penelitian ini adalah bakso merk serta bakso curah. Bahan untuk
analisis meliputi Ethanol Absolut, Sterile Water / aquabides steril, Aquades, Proteinase-K
(20mg/ml), DNA Ladder, Master mix Go Tag Green merk Promega yang diperoleh dari CV
Gamma Scientific Biolab , Primer Spesifik Gen Leptin yang diperoleh dari CV Gamma Scientific
Biolab , bubuk agarose merk MERCK, TBE Buffer 1x pH 8, loading dye, Ethidium Bromide
(EtBr), larutan TNES, SDS 10%, fenol, kloroform, isoamil alkohol, Na-asetat, etanol 70%.
Alat
Alat-alat yng digunakan dalam penelitian ini adalah mikro pipet merk Finpipette,Thinwall,
sentrifus dingin , waterbath merk lokal, yellow tip, blue tip, white tip, microtube 1,5 ml,
aluminium foil, gunting, plastik, erlenmeyer, timbangan digital, kompor listrik , pinset steril,
autoklaf merk All american, tabung reaksi dan rak, mesin PCR merk Gene Amp, satu set alat
elektroforesis (Bio-Rad), 1 set alat visualisasi gel merk Digidoc PRO dan BioRad,
Spektrofotometer Nano Drop merk ND-1000, tisu, sarung tangan, masker, spidol dan gelas ukur
merk Pyrex.
1295
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
Tahapan Penelitian
Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif yang dilakukan
dengan dua tahap yaitu :
Tahap 1. Survei dan Pengambilan Sampel
Tahap 2. Identifikasi Gen Babi Pada Produk
Wilayah pengambilan sampel penelitian dilakukan di Kota Malang dengan menggunakan
metode populasi terjangkau (accessible population, source population). Survei dilakukan
dibeberapa Pasar Tradisional dan swalayan di Kota Malang yaitu Pasar Merjosari, Pasar Besar,
Pasar Tawangmangu, Hypermart Malang Town Square, Carrefour Malang Store dan salah satu
Rumah Makan di Kota Malang. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 8
sampel bakso curah, 5 sampel bakso merk dan 3 sampel daging segar. Daging segar yang
digunakan adalah daging segar babi, ayam dan sapi, sehingga total jumlah sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah 16 sampel.
Deteksi cemaran daging babi pada bakso curah dan bakso merk yang beredar di
wilayah Kota Malang dilakukan melalui 3 tahapan yaitu :
a) Isolasi DNA Sampel
b) Optimasi PCR
c) Visualisasi DNA Dari Sampel Bakso
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Hasil Survei Pengambilan Sampel
Survei dilakukan dibeberapa Pasar Tradisional dan swalayan di Kota Malang yaitu
Pasar Merjosari, Pasar Besar, Pasar Tawangmangu, Hypermart Malang Town Square,
Carrefour Malang Store dan salah satu Rumah Makan di Kota Malang. Sampel yang digunakan
dalam penelitian ini terdiri dari 8 sampel bakso curah, 5 sampel bakso merk dan 3 sampel
daging segar. Daging segar yang digunakan adalah daging segar babi, ayam dan sapi,
sehingga total jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 16 sampel.
2.
Deteksi Cemaran Daging Babi Pada Bakso Curah Dan Bakso Merk
a. Isolasi DNA Sampel dan Pengukuran Konsentrasi – Kuantitas DNA
Isolat DNA pada penelitian ini didapatkan dari 3 sampel daging segar (ayam,sapi dan
babi), 5 sampel bakso bermerk dan 8 sampel bakso curah yang didapat dari Pasar Tradisional
dan Swalayan di wilayah Kota Malang. Pada dasarnya prinsip dari isolasi DNA terdiri dari
melisiskan sel dan memurnikan asam nukleat (DNA). Lisis merupakan perusakan dinding dan
melepaskan DNA, hal ini bisa dilakukan dengan cara fisik maupun kimia. Pemurniaan DNA
merupakan proses untuk memisahkan DNA dari lisat sel (protein, karbohidrat, lipid) dan
kontaminan lain [9]. Metode Isolasi DNA yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
isolasi DNA yang dimodifikasi dari Ilhak (2007).
Keberadaan DNA pada penelitian ini dapat diketahui dengan 2 cara yaitu secara
kuantitatif dan kualitatif. Hasil isolasi DNA secara kuantitatif dapat diukur kemurnian dan
konsentrasinya menggunakan alat nanodrop spectrophotometer. Hasil pengukuran kuantitatif
Isolasi DNA dapat dilihat pada Tabel 1.
Hasil pengukuran nilai kemurnian isolasi DNA daging segar dan bakso dengan
menggunakan alat nanodrop spectrophotometer pada Tabel 4.1 berkisar antara 1.52-2.02.
Menurut Thermo Fisher Scientific (2008), kemurnian DNA (A260/A280) tergolong baik jika memiliki
nilai berkisar antara 1.8-2.0. DNA yang memiliki nilai kemurnian dibawah 1.8 menunjukkan
adanya kontaminasi protein, sedangkan yang memiliki nilai kemurnian diatas 2.0 menunjukkan
adanya kontaminasi RNA. Sampel bakso yang tergolong memiliki kemurnian DNA baik yaitu
sampel dengan kode A5, B2, B4, B6, B7, B8 dan daging babi.
1296
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
Tabel 1. Konsentrasi dan Kemurnian DNA Hasil Isolasi Sampel
No
Sampel
Kemurnian Konsentrasi (ng/uL)
1
A1
1.52
121.52
2
A2
1.57
30.26
3
A3
2.01
475.67
4
A4
2.02
310.59
5
A5
1.98
75.81
6
B1
2.02
260.48
7
B2
1.88
64.91
8
B3
1.78
41.49
9
B4
1.99
135.02
10
B5
1.58
67.81
11
B6
1.80
69.43
12
B7
1.94
104.11
13
B8
1.82
46.17
14 Daging Babi (K+)
1.89
26.15
15 Daging Ayam (K-)
1.60
198.87
16 Daging Sapi (K-)
1.78
105.32
Sampel yang memiliki kemurnian dibawah 1.8 menunjukkan adanya kontaminasi oleh
protein pada isolat DNA sampel. Kontaminasi pada DNA sampel diduga kurang maksimalnya
pada saat presipitasi DNA sampel dengan menggunakan phenol-chloroform-isoamyl alkohol
(PCI). Phenol berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa protein yang masih terdapat pada isolat
DNA sementara pemberian senyawa kimia kloroform dapat menyebabkan lisisnya membran sel
serta terdenaturasinya protein-protein seperti endonuklease. Isoamil alkohol digunakan untuk
mengurangi pembusaan ketika ekstraksi berlangsung [10]. Sampel yang kemurniannya diatas
2.0 menunjukkan adanya kontaminasi RNA. Hal ini disebabkan karena tidak adanya
penambahan enzim RNAse yang berfungsi untuk mendegradasi RNA.
Konsentrasi DNA hasil ekstraksi bervariasi antara 30.26 ng/uL sampai 475.67 ng/uL. Hal
ini disebabkan sampel yang diekstraksi berasal dari sumber yang berbeda yaitu daging segar
dan produk olahan (bakso). Adanya bahan campuran dalam suatu produk mempengaruhi
konsentrasi DNA yang diperoleh. Bahan dan bumbu-bumbu yang ditambahkan dalam produk
olahan menyebabkan DNA yang diekstraksi masih tercampur dengan senyawa kontaminan
seperti oligopeptide, polisakarida, protein dan bahan-bahan organik lainnya [11].
b. Optimasi PCR Daging Segar Dengan Primer Gen Leptin dan Cyt-b
Primer yang digunakan pada penelitian ini adalah primer gen leptin dan primer
Cytochrom b. Penggunaan 2 jenis primer pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
spesifitas dari masing-masing primer dalam mendeteksi adanya cemaran daging babi pada
sampel. Primer gen Leptin sering digunakan untuk deteksi spesies hewan tertentu dengan
panjang 18 bp (Primer LEP forward) dan 21 bp (Primer LEP reverse) karena memiliki ukuran
fragmen 152 bp [12]. Meyer [13] dan Alaraidh [14] menggunakan primer LEP untuk analis DNA
babi dengan PCR konvensional. Hasil penelitian Matsunaga et al., [15] menunjukkan bahwa
sejumlah daging (mentah ataupun telah dipanaskan pada suhu 100oC dan 120oC selama 30
menit) dapat diidentifikasi secara spesifik dengan menggunakan sebuah campuran primer yang
dikembangkan dari gen Cytochrom b mitokondria. Sampel DNA yang digunakan pada proses
optimasi PCR penelitian kali ini adalah sampel DNA daging segar ayam, sapi dan babi.
Kespesifikan penempelan primer dipengaruhi oleh ketepatan penggunaan suhu
annealing [16]. Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan isolasi dan amplifikasi DNA
template pada tahap annealing adalah suhu, jika suhu terlalu tinggi maka akan menyebabkan
1297
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
gagalnya proses amplifikasi sedangkan jika suhu terlalu rendah maka DNA yang terbentuk
memiliki spesifisitas rendah. Optimasi suhu annealing merupakan salah satu kriteria parameter
yang penting untuk keberhasilan PCR. Optimasi suhu annealing bertujuan untuk menghindari
misspriming yang terjadi bila suhu anneaaling terlalu tinggi, dan meningkatkan spesifitas produk
PCR. Suhu annealing dapat ditentukan dengan menghitung TM dimana biasanya suhu
annealing dibawah 50C di bawah Tm primer yang sebenarnya [17].
Penentuan suhu annealing optimasi PCR pada penelitian ini adalah menggunakan Tm
(temperature of melting ) primer gen Leptin dan Gen Cytochrom b yang sudah tertera pada
sheet primer Gamma Scientivic Biolab. Tm primer untuk primer forward 490C dan primer
reverse 530C. Apabila Tm terendah 490C, maka suhu Tm yang digunakan untuk suhu annealing
yaitu 440C. Suhu annealing 440C tersebut dinaikkan menjadi 20C hingga mencapai suhu Tm
tertinggi 530C. Berdasarkan hal tersebut, maka didapatkan rentang suhu optimasi annealing
440C, 460C, 480C, 500C, 520C.
Gambar 1. Hasil Optimasi Suhu
Gambar 2. Hasil Optimasi Suhu
Annealing Primer Gen Leptin Babi
Annealing Primer Gen Cytochrome b
Keterangan:
1 = Suhu optimasi 44oC
4 = Suhu optimasi 50oC
o
2 = Suhu optimasi 46 C
5 = Suhu optimasi 52oC
o
3 = Suhu optimasi 48 C
Gambar 1 menunjukkan bahwa, hasil visualisasi optimasi suhu annealing terlihat pita
DNA yang jelas pada suhu annealing 440C. Pada Gambar 2 menunjukkan bahwa tidak terlihat
pita DNA hasil elektroforesisnya, sehingga Primer yang digunakan untuk penelitian ini adalah
primer Gen Leptin dengan suhu 440C. Running elektroforesis dilakukan pada konsentrasi gel
agarosa 3%, yang dijalankan pada tegangan 70 volt selama 50 menit.
Hasil Visualisasi amplifikasi DNA PCR Bakso Curah pada Gambar 3 menunjukkan
bahwa kontrol positif tidak teramplifikasi dengan baik oleh primer gen leptin. Hal ini dikarenakan
sampel kontrol positif yang digunakan adalah bakso babi yang memiliki konsentrasi rendah
yaitu 26,15 ng/µl. Konsentrasi DNA berpengaruh pada hasil visualisasi amplifikasi DNA.
Semakin rendah konsentrasi DNA yang digunakan, maka intensitas pita DNA juga akan
semakin rendah bahkan tidak terlihat. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Kesmen et al., [18] yang menyatakan bahwa intensitas DNA dari produk PCR pada gel agarosa
berbanding lurus dengan konsentrasi DNA. Lajur sampel dari B1 sampai B8 menunjukkan
adanya pita DNA yang terbentuk dengan intensitas DNA yang berbeda. Lajur sampel A1
sampai A5 juga menunjukkan adanya pita DNA yang terbentuk dengan intensitas yang berbeda
pada ukuran 152 bp. Lajur kontrol negatif (K-) pada Gambar 3 dan Gambar 4, terbentuk pita
1298
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
DNA pada hasil visualisasi amplifikasi DNA. Oleh karena itu, hasil amplifikasi DNA pada
Gambar 3 dan Gambar 4 ini tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan bakso
curah dan bakso merk yang beredar di Kota Malang positif tercemar daging babi.
Gambar 3. Hasil Amplifikasi DNA Bakso
Curah Dengan Kontrol Negatif Daging
Sapi
Gambar 4. Hasil Amplifikasi DNA
PCR Bakso Merk Dengan Kontrol
Negatif Daging Sapi
Hasil amplifikasi DNA bakso curah Gambar 5 menunjukkan adanya amplifikasi pita DNA
ukuran 152 bp. Hal ini menunjukkan bahwa gen leptin mampu mengamplifikasi DNA sampel
bakso curah dengan baik. Lajur sampel dengan kode B1 sampai B8 terlihat adanya pita DNA
ukuran 152 bp dengan intensitas warna pita DNA yang berbeda. Intensitas warna pita DNA
yang paling terang berada pada lajur B3 dan B8. Gambar 6 juga menunjukkan terbentuknya
pita DNA amplifikasi ukuran 152 bp. Lajur sampel A1, A2 dan A5 memiliki pita DNA sejajar
dengan pita DNA kontrol positif yang terbentuk. Sementara untuk lajur A3 terbentuk smear pada
hasil visualisasinya. Lajur A4 dan lajur kontrol negatif pada Gambar 5 dan Gambar 6 tidak
menunjukkan adanya pita DNA yang terbentuk. Kontrol negatif yang digunakan yaitu sterile
water tanpa DNA sampel. Kontrol negatif tanpa DNA ini dilakukan untuk mengetahui spesifikasi
primer dan mengetahui ada tidaknya kontaminasi pada primer yang digunakan.
Munculnya pita DNA dibawah dan diatas ukuran amplifikasi, yaitu sekitar 80 bp dan 180
bp pada Gambar 5 dan Gambar 6 diduga disebabkan oleh rendahnya spesifitas primer yang
digunakan. Hal ini menyebabkan terjadinya misspriming (penempelan primer ditempat lain yang
tidak diinginkan) dan menghasilkan pita DNA dengan ukuran yang bervariasi [19]. Berdasarkan
analisis hasil amplifikasi DNA yang dilakukan, Gambar 5 semua sampel diindikasikan adanya
cemaran daging babi pada bakso curah yang beredar di Pasar Tradisional wilayah Kota
Malang. Gambar 6 pada lajur A1, A2 dan A5 juga diindikasikan masih adanya cemaran daging
babi pada bakso merk yang beredar di swalayan wilayah Kota Malang.
Kontrol negatif pada Gambar 7 dan Gambar 8 tidak menunjukkan adanya pita DNA yang
terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa primer gen leptin tidak mengkode gen yang ada pada
daging ayam. Amplifikasi DNA pada Gambar 7 menggunakan PCR mix yang sama dengan
penelitian sebelumnya, yang membedakan hanya pada penggunaan template DNA sampel.
Gambar 7 menunjukkan semua sampel teramplifikasi dengan baik oleh primer gen leptin pada
ukuran 152 bp namun intensitas pita DNA lebih rendah dibandingkan dengan penelitian
sebelumnya. Sementara untuk Gambar 8 menunjukkan bahwa pita DNA yang terbentuk
intensitasnya sangat rendah bahkan tidak terlihat. Hal ini diduga terjadi karena beberapa faktor
1299
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
yang diantaranya adalah konsentrasi template DNA yang terlalu tinggi yaitu 15 µl. DNA tidak
keluar sama sekali karena sampel terkontaminasi protein atau polisakarida dan komponen
fenolik [20].
Gambar 5. Hasil Amplifikasi DNA PCR
Bakso Curah Dengan Kontrol Negatif
Sterile Water
Gambar 7. Hasil Amplifikasi DNA PCR
Bakso Curah Dengan Kontrol Negatif
Daging Ayam
Gambar 6. Hasil Amplifikasi DNA PCR
Bakso Merk Dengan Kontrol Negatif
Sterile Water
Gambar 8. Hasil Amplifikasi DNA PCR
Bakso Merk Dengan Kontrol Negatif
Daging Ayam
SIMPULAN
Amplifikasi DNA menggunakan primer gen Leptin dapat dilakukan dengan metode PCR
sebanyak 37 siklus dengan kondisi optimasi suhu annealing 440C selama 1 menit. Amplifikasi
DNA menggunakan primer gen Cytochrome b tidak dapat dilakukan karena tidak terlihatnya pita
DNA hasil elektroforesis. Primer Gen Leptin tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai
deteksi cemaran daging babi. Hal ini dikarenakan pada penelitian yang telah dilakukan, gen
leptin juga mengamplifikasi DNA sapi.
1300
Deteksi Molekuler Cemaran Daging Babi pada Bakso – Sari, dkk
Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 3 No 4 p.1294-1301, September 2015
DAFTAR PUSTAKA
1) Badan Pusat Statistik (BPS).2010.Hasil Sensus Penduduk 2010.Jakarta.
2) Jusuf E. 2009. Produk Berlabel Halal. Online at http://www.ahmadheryawan.com [diakses
tanggal 13 April 2014].
3) Muzdalifah. 2009. Harga Abon Campur Babi Lebih Murah. On line at http://riaubisnis. com
[diakses tanggal 20 April 2014].
4) Nurjuliana M, Che Man YB, Mat Hashim and Mohamad AKS. 2011. Rapid identification of
pork for halal authentication using the electronic nose and gas chromatography mass
spectrometer with headspace analyser. Meat Science. 88: 638-644.
5) Rohman A.,Sismindari, Erwanto, Y.and Che Man, Y.B., 2011, Analysis of pork adulteration
in beef meatball using Fourier transform infrared (FTIR)Spectroscopy. Meat Sci. 88, 91-95.
6) Asensio, L., González, I., García, T., & Martín, R. 2008. Determination of food authenticity
by enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Food Control, 19(1), 1–8
7) Ali, M. E. Hashim, U. Mustafa, S. Che Man, Y. B. and Islam, Kh. N. 2012. Gold Nanoparticle
Sensor for the Visual Detection of Pork Adulteration in Meatball formulation. Journal of
Nanomaterials Volume 2012, Article ID 103607 (7)
8) Ali, M. E. Hashim, U. Mustafa, S. Che man, Y.B. 2011. Swine-specific CRRFLP assay
targeting mitochondrial cytochrome b gene for semiquantitative detection of pork in
commercial meat products, Food Analytical Methods.doi: 10.1007/s12161- 12011-1929012165
9) Peccia, J. dan Hernadez, M. (2006). Incorporating Polymerase Chain Reaction-Based
identification Population Characterization, and Quantification of Microorganisms into
Aerosol: A Review. Atmospheric Environment. 40: 3941-`3961.
10) Sambrook, J.S.&D.W.Russel.2001. Molecular Cloning, A labolatory Manual. Volume 1-3.3rd
ed. Cold Spring Harbour Laboratory Press,New York:xxvii+18.136+A.14.1+R.22+I.44 hlm.
11) Nuraini, H. 2004. Pengembangan Sekuen Porcine Repetitive Element-1 (PRE-1) Sebagai
Penanda Molekuler untuk Mendeteksi Material Babi pada Produk Daging Olahan. Sekolah
Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.
12) Farouk., A., Batcha, M. F., Griner, R., Salleh H. M., Salleh, M. R. and Sirajudin, A. R. 2006.
The use of a molecular technique for the detection of porcine ingredients in the Malaysian
food market. Saudi Med J. 27: 447-450.
13) Meyer, R., Hofelein, C., Luthy, J.and Candrian, U. 1995. Polymerase chain reactiorestriction
fragment length polymorphism analysis: A simple method for specific identification in food.
J Assoc Off. Anal. Chem. 78: 1542-1551.
14) Alaraidh, Ibrahim Abdullah. 2008. Improved DNA Extraction Method for Porcine
Contaminants, Detection in Imported Meat to The Saudi Market. Saudi Journal of Biological
Sciences 15 (2): 225-229
15) Matsunaga, T., K. Chikuni, R. Tanabe, S. Muroya, K. Shibata, J. Yamada, & Y.Shinmura.
1999. A quick and simple method for the identification of meat species and meat products
by PCR assay. Meat Science 51: 143-148. (15)
16) Henegariu,O.,N.A.Heerema,S.R.Dlouhy,G.H.Vance,&P.H.Vogt.1997. MultiplexPCR:Critical
parameters and step-by-step protocol.Bio Techniques 23:504-511
17) Muladno, 2010. Teknologi Rekayasa Genetik Edisi Kedua. Bogor : IPB Press
18) Kesmen, Z., H. Yetim, & F. Şahin. 2010. Identification of different meat species used in
sucuk production by PCR assay. GIDA. 35 (2): 81-87. (18)
19) Rahmawati. 2011. Identifikasi Gen Transgenik Pada Kedelai Impor Dan Tempe Di Kota
Malang.Universitas Brawijaya
20) Pierroton.2008.Gel
Agarose
Trouble
Shooting.
http://www.pierroton.inra.fr/genetics/labo/protocol.html. Diaksess tanggal 19 maret 2014
1301
Download