1. Sebagai Ketua Steering Committee konferensi - ic

advertisement
1. Sebagai Ketua Steering Committee konferensi
ICTHuSI, bisakah Anda jelaskan target dan sasaran yang
hendak dicapai?
Tujuan penyelenggaraan konferensi IC-THuSi ini pada
dasarnya adalah untuk merintis usaha ilmiah
mengkonstruksi apa yang kita sebut sebagai sains sosial
dan budaya Islam, yaitu disiplin ilmu-ilmu kemanusiaan
dalam pengertian luas yang dikembangkan berdasarkan
pandangan dunia dan prinsip-prinsip islam secara
ontologis, antropologis, epistemologis, dan metodologis.
Sedangkan sasaran utama konferensi ini adalah para
sarjana Muslim umumnya dan Indonesia khususnya. Kami mengundang para akademisi dan
peneliti ilmu-ilmu sosial dan humaniora Indonesia untuk mengirimkan artikel ilmiah
mereka.
2. Mengenai istilah “human sciences” itu sendiri, apakah itu sama dengan ilmu humaniora
atau ilmu pengetahuan budaya?
Kata “human sciences” dalam konferensi ini mencakup ilmu-ilmu sosial dan sekaligus ilmu
humaniora atau ilmu-ilmu budaya. Kami sengaja menggunakan nama “human sciences”
(ilmu-ilmu kemanusiaan) yang meliputi kedua bidang ilmu tersebut karena selama ini
dalam nomenklatur filsafat ilmu kontemporer kedua bidang tersebut dipisahkan secara
epistemologis dan metodologis. Itulah yang hendak kami koreksi. Menurut hemat kami,
yang sejalan pandangan dunia Islam, ilmu-ilmu sosial dan ilmu humaniora sangat terpaut
erat. Memang kedua rumpun ini bisa dibedakan, yaitu pada ilmu-ilmu sosial, kita lebih
melihat perilaku manusia sebagai anggota masyarakat (fakta sosial) sementara pada ilmu
humaniora tindakan manusia dipahami dan ditafsirkan sebagai individu. Nah, merujuk
pada pemikiran Islam, kedua ranah ini, yaitu dimensi individu dan sosial manusia, tidak bisa
dipisahkan. Akan tetapi, kurikulum modern selama ini telah memisahkan keduanya
sehingga lahirlah ilmu-ilmu sosial yang miskin wawasan tentang manusia di satu sisi dan
ilmu-ilmu budaya yang abai dengan realitas sosial di lain sisi. Secara metodologis pun,
keduanya juga sangat berjarak. Ilmu-ilmu sosial menggunakan pendekatan observasi
empiris dan analitis yang cenderung positivistik, sedang ilmu-ilmu budaya - dengan
merujuk pada hermeneutika Wilhelm Dilthey dan tradisi neo-Kantian- cenderung
menggunakan pendekatan interpretasi-subyektif, yang kini malah berujung kepada paham
relativisme dan anti-realisme. Jadi, kita seakan memiliki dua kutub dunia yang saling
bertolak belakang, yaitu obyektivisme vs subyektivisme atau positivisme vs relativisme.
Padahal, subyek kajian adalah sama-sama manusia. Inilah salah satu titik lemah ilmu-ilmu
sosial dan budaya kontemporer.
3. Lalu, bagaimana dengan pandangan Islam sendiri mengenai kedua rumpun ilmu tersebut?
Islam menganut pandangan interaksional antara kedua bidang ilmu tersebut. Maksudnya,
keduanya memang bisa dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan. Konsekuensinya adalah
keduanya saling berpengaruh timbal balik. Dalam sebuah momen tertentu, fakta sosial bisa
mempengaruhi fakta manusiawi (sementara sebut saja seperti itu; bisa juga kita sebut
dengan ‘nilai manusiawi’). Sebaliknya, dalam momen yang lain, fakta manusiawi dapat
mengkonstruksi fakta sosial. Sebagai contoh, Ayatollah Murtadha Mutahhari dalam
karyanya “Masyarakat dan Sejarah” (Bandung, 1987) menguraikan bagaimana peristiwaperistiwa sosial dibentuk oleh fakta-fakta manusiawi seperti ada tidaknya moralitas, hadir
tidaknya religiusitas, ada tidaknya solidaritas sosial yang terbentuk oleh komunitas. Di sini
Mutahhari mematahkan tafsiran materialistik terhadap peristiwa sosial dan sejarah.
Sebaliknya, Mutahhari juga mengakui bahwa fakta-fakta sosial bisa mengkonstruksi cara
pandang manusia, baik disadari secara individu atau tidak (disebut juga collective
unconsciousness). Akan tetapi, Mutahhari menolak keras paham determinisme sosial yang
linier dengan menyebut bahwa selalu terbuka kemungkinan bagi manusia untuk
melepaskan diri dari struktur sosial yang menderanya karena manusia adalah makhluk
potensial; manusia adalah pengada yang serba mungkin. Itulah contoh bagaimana filsafat
manusia Mutahhari diterapkan dalam memahami peristiwa dan dinamika sosial.
Bandingkan dengan, misalnya, karya Francis Fukuyama “The End of History and The Last
Man” (New York, 1992), yang secara linier dan simplistis mengultimatum bahwa
kapitalisme dan demokrasi liberal adalah terminal akhir sejarah manusia yang tak
terelakkan; sebuah tesis yang dipatahkan oleh pelbagai peristiwa tiga dasawarsa terakhir.
Yang saya herankan juga adalah para sarjana dan aktivis Teori Kritis (Critical Theory)
ternyata berdiam diri saja terhadap tesis Fukuyama tersebut dan tampaknya mereka telah
kehilangan harapan dengan proyek emansipasi dan pembebasan manusia yang mereka
sendiri canangkan sejak 1960-an. Kenapa bisa demikian? Mungkin hal ini terkait dengan
modus pemahaman tokoh-tokoh Teori Kritis tersebut (sebut misalnya Herbert Marcuse,
Horkheimer, Adorno, Habermas) terhadap kodrat dan jati diri manusia itu sendiri, yang
telah kehilangan dimensi spiritual sehingga perjuangan emansipasi mereka mudah pupus
di tengah jalan oleh kuasa kapital dan aliran pesimisme yang mulai merasuki filsafat
kontemporer. Nah, inilah salah satu sumbangan yang kita harapkan dari perspektif Islam
dalam memahami dan menafsirkan peristiwa-peristiwa sosial yang tidak kehilangan visi
holistik terhadap manusia, dan karenanya berpotensi “menghidupkan kembali manusia
dalam arena sosial dan dinamika sejarah”.
4. Terkait dengan program konstruksi ilmu-ilmu kemanusiaan Islam tadi, menurut Anda
langkah apa yang perlu dilakukan?
Pada November 2013 lalu saya diundang mengikuti “International Congress on Islamic
Humanities” (ICIH) di Teheran. Dalam kesempatan itu, saya mengajukan dua program
utama dalam “ A Road Map for the Islamic Humanties” ini. Pertama, secara kontekstual,
kita mesti memahami betul ilmu-ilmu sosial dan budaya kontemporer dengan
mengidentifikasi segenap problemanya di level ontologi, kosmologi, antropologi,
epistemologi, dan metodologi. Kita tidak muncul dari kevakuman. Sarjana-sarjana Muslim
di seluruh dunia yang menekuni bidang-bidang psikologi, sosiologi, antropologi, politik,
ekonomi, pendidikan, hukum, kesejahteraan sosial, dan studi-studi kebudayaan selama ini
umumnya hanya mengenal tokoh-tokoh pemikir Barat modern. Kita tidak menolak
mentah-mentah pemikiran Barat modern dalam ilmu-ilmu kemanusiaan ini. Justru yang
diperlukan adalah mempelajari semuanya dengan terbuka dan kritis. Sikap menolak atau
menerima mentah-mentah tanpa bertanya dan kritis adalah sikap yang tidak ilmiah. Sesuai
dengan spirit Al-Qur‘an: Wa lā taqfu mā laysa laka bihī ‘ilmun. Inna al-sam‘a wal-bashara
wal-fuada kullu ulā-ika kāna ‘anhu mas-ūlā (Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang
tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan
dimintai pertanggungjawabnnya) - Surat Al-Isra ayat 36, kita mestinya mempertanyakan,
mengelaborasi, dan mengungkap asumsi-asumsi filosofis yang melahirkan sarjana-sarjana
seperti Freud, Pavlov, Durkheim, Marx, Locke, Adam Smith, Geertz, Weber, Giddens, dan
seterusnya. Langkah kedua adalah mengkonstruksi ilmu-ilmu kemanusiaan yang
digalikembangkan dari prinsip-prinsip dan filsafat Islam (ontologi, kosmologi, epistemologi,
metodologi) secara kreatif dan aktual. Dalam konteks ini, saya kurang sepakat dengan
istilah “Islamisasi ilmu-ilmu kemanusiaan” karena tiga alasan. Pertama, istilah itu
mengesankan bahwa Islam hanya berperan sebagai pemoles atau stempel. Kedua, istilah
itu juga mengindikasikan sikap yang tidak kreatif karena seakan-akan cuma sibuk mencari
padanan dan kecocokan antara Islam dan ilmu-ilmu kemanusiaan. Ketiga, istilah itu juga
problematis secara metodologis. Ternyata, mayoritas peserta konferensi ICIH juga
berpandangan yang sama, yaitu kurang menyukai istilah “Islamisasi ilmu-ilmu
kemanusiaan” tersebut. Kita sebut saja langsung sebagai upaya rasional mengkonstruksi
ilmu-ilmu kemanusiaan Islam secara ilmiah dan filosofis, bukan stempelisasi apalagi
‘ayatisasi’. Yang mesti digarisbawahi di sini adalah - sebagaimana yang telah kami sebutkan
dalam Proposal konferensi IC-THuSI - bahwa alasan mengapa kita mengusung perlunya
ilmu-ilmu kemanusiaan Islam adalah karena krisis ilmiah-filosofis yang terjadi pada ilmuilmu kemanusiaan kontemporer. Ernst Cassirer sendiri berkata, “Teori-teori modern
tentang manusia telah kehilangan pusat intelektualnya. Kita memang maju dalam
instrumen teknis untuk observasi dan eksperimentasi tetapi kita tidak memiliki wawasan
umum siapa sesungguhnya manusia itu” (An Essay on Man, New Haven: 1979) Pemenang
Nobel Alexis Carrel juga menulis, “Manusia modern adalah seseorang yang asing di dunia
yang dia ciptakan. Dia tidak mampu mengelola dunia ini karena dia tidak memiliki
pengetahuan tentang kodratnya sendiri” (Man The Unknown, New York:1979).
5. Tadi disebutkan bahwa para pemikir Barat dalam ilmu-ilmu kemanusiaan pasti memiliki
asumsi-asumsi filosofis tertentu. Bagaimana dengan dunia Islam sendiri? Bukankah Islam
memiliki tradisi filsafat Islam juga, tetapi mengapa mereka tidak kreatif dan produktif
melahirkan ilmu-ilmu kemanusiaan Islam?
Itulah persoalan besar kita. Ada dua problem atau tantangan utama yang kita
hadapi secara bersamaan. Pertama, banyak sarjana Muslim kontemporer telah kehilangan
visi tradisi intelektual Islam sehingga banyak di antara mereka yang beranggapan bahwa
Islam hanyalah sebuah agama yang mengajarkan ritus-ritus individual. Mereka tidak tahu
bahwa Islam adalah juga sebuah peradaban dengan warisan intelektual dan capaian ilmiah
yang gemilang. Kedua, sebaliknya ada juga sarjana Muslim yang membatasi diri untuk
berkutat dengan peninggalan karya-karya agung para filsuf yang lalu seperti Ibn Sina,
Suhrawardi, Mulla Shadra dan sebagainya tanpa melatih kemampuan berpikir merespons
tantangan dan masalah pemikiran aktual yang kita hadapi. Saya teringat dengan sambutan
Prof. Reza Davari Ardakani, seorang filsuf-budayawan senior Iran, pada Konperensi “Islamic
Philosophy and the Challenges of the Present-Day World” tahun 2009 lalu di Teheran dan
Hamadan. Beliau menyebutkan bahwa filsafat adalah aktivitas berpikir yang membantu kita
untuk: (1) membuka sebuah horizon baru; (2) menciptakan sebuah horizon baru; (3)
berpikir ke depan (thinking ahead); dan (4) mengingatkan kita akan batasan-batasan dan
sekaligus kapasitas mengatasi batasan-batasan itu (beyond limit). Filsafat, menurut
Ardakani, juga harus selalu berinteraksi dengan dunia kontemporer; jika ia hanya berurusan
dengan sejarah, ia mati (if it deals with only the past, it dies). Pada momen yang sama,
Ayatollah Muhammad Khamenei direktur SIPRIn (Sadra Islamic Philosophy for Research
Institute), mengingatkan bahwa filsafat selalu muncul dari tantangan-tantangan. Filsafat
harus bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di dunia sekarang ini. Nah,
penyelenggaran IC-THuSI oleh Sadra International Institute ini bisa dianggap sebagai bentuk
pertanggungjawaban filsafat Islam terhadap masalah kemanusiaan hari ini.
Download