KUNJUNGAN ANTENATAL TIDAK ADEKUAT SEBAGAI FAKTOR

advertisement
KUNJUNGAN ANTENATAL TIDAK ADEKUAT SEBAGAI
FAKTOR RISIKO PERSALINAN SEKSIO SESAREA
(Inadequate Antenatal Care During Pregnancy as Risk Factor of Cesarian
Section Childbirth Delivery)
Sulastri, Deswani, Yuli Mulyanti
Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Jakarta III
Email: [email protected]
ABSTRAK
Angka persalinan dengan seksio sesarea di Indonesia sekitar 20-25 % dari seluruh persalinan atau
rata-rata 11% di rumah sakit pemerintah, dan lebih dari 30% di rumah sakit swasta. Penelitian ini
bertujuan untuk membuktikan bahwa faktor risiko ibu, gizi, faktor kesehatan dan pertolongan
persalinan merupakan faktor risiko terjadinya persalinan seksio sesarea. Penelitian dengan rancangan
kasus control terhadap 164 responden, yang terdiri dari 84 responden kasus (persalian seksio sesarea),
dan 84 responden kontrol (persalinan pervaginam) di dua rumah sakit di Wilayah Jakarta Timur pada
periode Juni sampai Oktober 2012. Pengumpulan data dilakukan melalui data rekam medis maupun
langsung dari pasien, dan analisis data dilakukan secara komputerisasi. Hasil analisis bivariat
menunjukkan bahwa indeks masa tubuh yang tidak normal (p: 0.000), tekanan darah tidak normal (p:
0.004) dan kunjungan antenatal ≤ 4 kali (p: 0.000) merupakan faktor risiko kejadian persalinan seksio
sesarea. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda membuktikan bahwa kunjungan
antenatal yang tidak adekwat selama kehamilan menjadi faktor dominan persalinan seksio sesarea.
Hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan bagi institusi pelayanan kesehatan untuk meningkatkan
kualitas ANC dalam rangka menekan angka persalinan dengan seksio sesarea
Kata kunci: kunjungan antenatal, faktor risiko, seksio sesarea
ABSTRACT
The incidents of cesarean section childbirth delivery in Indonesia are about 20-25 % of all childbirth
delivery or average 11% in government hospitals, and more than 30% in private hospitals. This
research aimed to provide evidence that risk factor of mother, nutrition, health factor and childbirth
delivery performance were the risk factors of cesarean section childbirth delivery performance. This
research used case control design towards 164 respondents, in which consisted of 84 case
respondents (cesarean section childbirth delivery), and 84 control respondents (natural vaginal
childbirth delivery) in two hospitals in East Jakarta during June until October 2012. The data
analysis was done with using medical record data and direct to the patients, also the data analysis
was done by computerized. The bivariat analysis result showed that abnormal body mass index (p
value = 0.000), abnormal blood pressure (p value = 0.004) dan antenatal care ≤ 4 times (p value =
0.000) were the risk factors of performing cesarean section childbirth delivery. The multivariate
analysis result with multiple logistic regression test proved that unadequate antenatal care during
pregnancy was the dominant factor of cesarian section childbirth delivery. The result of this research
can be used as a reference for health care institution to progress the ANC quality in order to diminish
the numbers of cesarean section.
Keywords: antenatal care, risk factor, cesarean section
226
227
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
peningkatan
PENDAHULUAN
Seksio
sesarea
(SC)
merupakan
tindakan operatif untuk melahirkan janin,
plasenta dan selaput ketuban melalui irisan
pada dinding perut dan rahim. Tindakan
SC dapat dilakukan atas indikasi ibu
maupun janin. Indikasi ibu dapat berasal
dari keadaan penyakit yang dialami ibu
ataupun faktor lain seperti usia, paritas,
pekerjaan, tingkat pendidikan serta riwayat
persalinan sebelumnya. Tidak jarang pula
SC dilakukan atas permintaan ibu dengan
pertimbangan kosmetika ataupun karena
ibu takut akan nyeri persalinan, sedangkan
seksio sesarea yang dilakukan atas indikasi
janin antara lain bila didapatkan kondisi
gawat janin, bayi yang besar, dan tidak
memungkinkan
dilahirkan
pervaginam.
Namun demikian seksio sesarea bukanlah
tindakan yang tidak mengandung resiko
baik bagi ibu maupun janin. Resiko bagi
ibu yang seringkali terjadi adalah resiko
anestesia, perdarahan post partum, infeksi,
dan luka parut pasca SC yang dapat
membahayakan
untuk
persalinan
berikutnya, sedangkan resiko bagi janin
antara lain asfiksia (Anggun, 2012), dan
resiko takipnea, cedera, dan immatur paru
(merupakan resiko terbesar bagi janin yang
dilahirkan sebelum waktunya (Murray &
Mc Kinney, 2007 dikutip oleh
Jovani
2012). Beberapa tahun terakhir terjadi
angka
persalinan
dengan
seksio sesarea termasuk di Indonesia
angka seksio sesarea di rumah sakit
pemerintah 20-25% sedangkan di rumah
sakit swasta sekitar 30-80% dari total
persalinan (Mutiara, 2004).
Survei
sederhana
juga
pernah
dilakukan oleh Gulardi dan Basalamah,
terhadap 64 rumah sakit di Jakarta pada
tahun 1993. Hasilnya tercatat dari 17.665
kelahiran, 35.7- 55.3% ibu-ibu melahirkan
dengan seksio sesarea. Untuk mencegah
peningkatan kejadian seksio sesarea di
suatu
negara
WHO
(World
Health
Organization) telah menetapkan
standar
rata-rata seksio sesarea di sebuah negara
sekitar 5–15%.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan
Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan
salah
satu
indikator
penilaian
status
kesehatan. Menurut Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
yang
dikutip
dari
Rencana
Strategis
Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2014,
bahwa
Angka
Kematian
Ibu
(AKI)
melahirkan menurun dari 307 per 100.000
kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi
228 per 100.000 kelahiran hidup pada
tahun 2007. Penelitian Al Nuaim, dkk.
(2005)
melaporkan
seksio
sesarea
emergensi lebih sering dilakukan pada ibu
berumur
25
tahun
atau
kurang
228
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
dibandingkan dengan ibu berumur 35
tahun atau lebih.
METODE
Penelitian
ini
menggunakan
Demikian juga kelompok ibu paritas
pendekatan kuantitatif dengan rancangan
nol (P0) lebih sering mengalami seksio
case-control terhadap 84 responden kasus
sesarea emergensi dibanding kelompok
persalinan secara seksio sesarea dan 84
paritas 1–4 (P1-4). Mishar (1979–1983),
responden kontrol persalinan pervaginam
melaporkan kelompok ibu berumur 34
dengan alat pengumpul data menggunakan
tahun atau kurang paling sering mengalami
cek list dan kuesioner. Pengumpulan data
seksio sesarea, dan juga pada kelompok
dilakukan
ibu primipara atau paritas nol. Hasil
Keperawatan
penelitian
ini
sebelumnya
frekuensi
seksio
menunjukkan
bahwa
mahasiswa
tingkat
telah
Jurusan
akhir
diberikan
yang
pelatihan
pada
tentang pengumpulan data yang terkait.
kelompok ibu primipara atau paritas nol,
Data diperoleh dengan melihat rekam
sebab primipara atau paritas nol berisiko
medik pasien yang melahirkan pada
tinggi terhadap partus tak maju dan
periode Juni-Oktober 2012 di dua rumah
hipertensi dalam kehamilan. Hipertensi
sakit
pada primipara akibat stress persalinan
melihat distribusi frekuensi responden,
yang cukup tinggi melepaskan kortisol
kekuatan faktor risiko berkontribusi dalam
yang dapat menaikkan
kejadian seksio sesarea, dan faktor resiko
Melihat
sesarea tinggi
oleh
jumlah
tekanan darah.
Timur.
berpengaruh
Untuk
dengan
cukup
besar,
kejadian seksio sesarea dilakukan analisis
kecenderungan terjadinya seksio sesarea
univariat, bivariat dan multivariat secara
meningkat, dan faktor-faktor risiko yang
komputerisasi dengan uji statistik chi-
berhubungan sangat banyak, maka perlu
square dan regresi logistik dengan melihat
dilakukan penelitian untuk membuktikan
nilai p-<0,05 dan tingkat kemaknaan 95%.
yang
dominan
Jakarta
persalinan
komplikasi
yang
wilayah
terhadap
faktor risiko yang sangat berpengaruh
terhadap persalinan dengan seksio sesarea.
Adapun
tujuan
adalah
Hasil analisis membuktikan berbagai
mengetahui apakah faktor risiko ibu,
faktor risiko terhadap kejadian persalinan
faktor
seksio sesarea, seperti terlihat pada tabel
gizi,
penelitiannya
HASIL DAN PEMBAHASAN
faktor
kesehatan
dan
pertolongan persalinan merupakan faktor
risiko terjadinya persalinan dengan seksio
sesarea.
berikut ini :
229
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
Tabel 1. Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Persalinan Seksio Sesarea
Kelompok kasus
(N = 84 orang)
Jml
%
Umur
< 20 th dan ≥ 35 th
≥20 th dan ≤ 35 th
Paritas
Primipara
Multipara
Jarak Kehamilan
< 2 th - ≥9 th
>2 th – ≤9 th
Pendidikan
SD dan
SMP
Penghasilan
≥ Rp 1.529.000
≤ Rp 1.529.000
Kondisi kehamilan
Risiko
Tidak risiko
Pengetahuan
Rendah
Tinggi
Indeks Masa Tubuh
Obesitas
Tidak obesitas
Kenaikan BB
selama kehamilan
< 10 kg – > 12 kg
≥10 kg dan ≤ 12 kg
LILA
<23,5 CM
≥23,5 CM
Tekanan Darah
Hipertensi
Tidak hipertensi
Kadar haemoglobin
< 11 gr%
≥ 11 gr %
Keadaan Ketuban
KPSW
Tidak KPSW
Kunjungan antenatal
< 4 kali
≥ 4 kali
Indikasi kedatangan
Rujukan
Datang sendiri
Kondisi His
kurang baik
baik
Keadaan jalan lahir
tidak normal
normal
Kelompok kontrol
(N = 84 orang)
Jml
%
P - Value
CI
OR
47
37
56%
46%
73
11
86.9%
13.1%
0.000
0.089-0.425
1.910
47
37
56%
46%
54
30
64.3%
35,7%
0.344
0.380-1.312
0.706
32
52
38.1%
61.9%
43
41
52.1%
48.8%
0.121
0.318-1.084
0.587
29
55
34.%
65.5%
19
65
22.6%
65%
0.124
0.913-3.584
1.804
56
28
66,7%
33.3%
45
39
53.6%
46.4%
0.115
0.309-1.077
0.579
19
65
22.6%
77.4%
48
36
57.1%
42.9%
0.000
2.336-8.908
4.561
22
62
26.2%
73.8%
21
63
25%
75%
1,000
0.532-2.129
1.065
70
14
83.3%
16.7%
48
36
57.1%
42.9%
0.000
0.130-0.537
0.267
43
41
52.1%
48.8%
60
24
71.4%
28.6%
0.011
1.259-4.512
2.384
56
28
66,7%
33,3%
37
47
44%
56%
0.005
0.211-2.736
0.394
49
35
58,3%
41,7%
73
11
86.9%
13.1%
0.000
2.19910.219
4.740
29
55
66.7%
33.3%
47
37
56%
44%
0.205
0.340-1.187
0.635
74
10
88.1%
11.9%
56
28
66.7%
33.3%
0.002
0.121-0.602
2.70
53
31
63.1%
36.9%
78
6
92.9%
7.1%
0.000
8.67156.967
22.226
57
27
67.9%
32.1%
22
62
26.2%
73.8%
0.000
0.30511.604
5.949
26
58
31%
69.0%
11
73
13.1%
86.9%
0.009
0.153-0.737
0.336
41
43
48.8%
51.2%
20
64
23.8%
76.2%
0.001
0.169-0.634
0.328
230
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
Analisis
distribusi
univariat
frekuensi
menunjukkan
responden
kasus
dan Odd Ratio 1.910. Umur ibu berisiko
berpeluang hampir 2 kali lebih besar
maupun kontrol lebih banyak yang berada
menjalani
pada usia kurang aman dalam arti berusia
dibandingkan dengan ibu pada kelompok
(< 20 th dan ≥ 35 th), paritas primipara,
umur aman. Hasil penelitian ini sejalan
dan
sekolah
dengan hasil penelitian Budi Santoso yang
menengah pertama, dengan penghasilan di
menyatakan bahwa terdapat hubungan
atas
regional).
bermakna antara umur dengan kejadian
Responden kasus maupun kontrol lebih
plasenta previa. Hal ini dapat dimengerti
banyak yang memiliki tekanan darah dan
bahwa pada usia <20 tahun, sistem
kadar hemoglobin di atas normal dengan
reproduksi wanita dianggap belum cukup
kunjungan antenatal kurang dari 4 kali
matang untuk dapat menjalani kehamilan
selama kehamilan. Jarak kehamilan kasus
ataupun persalinan dengan normal, dan
lebih banyak yang berada pada jarak aman
pada wanita
dibandingkan dengan responden kontrol.
merupakan usia yang kurang subur untuk
pendidikan
UMR
minimal
(upah
minimal
persalinan
seksio
sesarea
usia di atas 35 tahun
Analisis bivariat dengan uji chi square
suatu kehamilan. Penelitian Budi Santoso
untuk melihat keeratan hubungan antara
menggambarkan karakteristik umur ibu,
variabel
variabel
ternyata didapatkan p = 0,078 yang berarti
independen baik pada kasus maupun
berdasarkan perhitungan statistik tidak
kontrol
variable
bermakna. Artinya semakin tua umur ibu,
umur, kondisi kehamilan, indeks masa
maka kemungkinan untuk mendapatkan
tubuh (IMT), kenaikan berat badan selama
plasenta previa semakin besar.
dependen
menunjukan,
dengan
bahwa
hamil, lingkar lengan atas (LILA), tekanan
darah,
keadaan
ketuban,
kunjungan
Hasil
penelitian
kehamilan
ibu
terhadap
berpengaruh
kondisi
terhadap
antenatal dan indikasi kedatangan pasien
kejadian persalinan seksio sesarea (p-
ke Rumah Sakit mempunyai hubungan
0.000. OR 4.561). Ibu dengan kategori
bermakna
kehamilan
terhadap
kejadian
seksio
sesarea.
risiko
tinggi
memiliki
kemungkinan melahirkan seksio sesaria 4,
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa
5 kali lebih tinggi dibandingkan
ibu
baik pada responden kasus maupun kontrol
dengan kehamilan tanpa risiko atau risiko
lebih banyak dengan usia berisiko. Uji
rendah. Kondisi kehamilan risiko tinggi
statistik dengan Chi - Square terlihat,
ditandai dengan beberapa hal antara lain
bahwa umur ibu
riwayat obstetri yang jelek berupa abortus,
hamil berpengaruh
terhadap kejadian seksio sesarea (p-0.000)
lahir
mati,
atau
pernah
mengalami
231
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
persalinan seksio sesarea sebelumnya.
(IMT) dihitung dengan cara berat badan
Kondisi seperti ini menunjukan keadaan
(dalam kilogram) dibagi tinggi badan
yang tidak sehat pada proses reproduksi
(dalam meter) pangkat dua (normal 18,5 -
seseorang. Dengan riwayat reproduksi
22,9). IMT yang melebihi nilai normal
yang kurang baik, kemungkinan dapat
memberikan
menyebabkan terjadinya penyulit atau
berlebih (obesitas), kondisi ini dapat
komplikasi untuk kehamilan berikutnya.
berpengaruh terhadap berat badan janin
Di samping itu, adanya keluhan selama
menjadi besar. Bayi yang besar
kehamilan seperti tekanan darah tinggi,
mempersulit proses persalinan, sehingga
anemia dan lainnya termasuk dalam gawat
dapat terjadi partus lama yang harus
obstetrik, karena kondisi kesehatan secara
diakhiri dengan seksio sesarea, sedangkan
umum akan sangat mempengaruhi kondisi
IMT yang kurang dari normal memberikan
kehamilan
gambaran nutrisi yang kurang, yang dapat
dan
Penelitian
ini
proses
sejalan
persalinan.
dengan
hasil
menyebabkan
gambaran
Ibu
nutrisi
mudah
yang
akan
mengalami
penelitian Senewe dan Sulitywati (2001)
kelelahan pada saat persalinan, sehingga
bahwa adanya keluhan selama kehamilan
tidak
merupakan
mendorong
faktor
risiko
terjadinya
cukup
tenaga
bayi
(power)
keluar,
untuk
komplikasi persalinan yang membutuhkan
keselamatan
upaya mengakhiri kehamilan antara lain
tindakan
dengan persalinan seksio sesarea. Penulis
penelitian
berpendapat
hubungan yang bermakna antara IMT
bahwa
banyak
tindakan
korektif yang dapat dilakukan terhadap
keluhan dan komplikasi selama kehamilan
bila
ibu
kehamilan
melakukan
secara
pemeriksaan
teratur,
sehingga
persalinan dapat berjalan secara normal.
Indeks
Masa
Tubuh
(IMT)
dan
bayi
dan
untuk
perlu
dilakukan
sesarea.
Beberapa
membuktikan
terdapat
seksio
dengan hipertensi.
Hipertensi selama kehamilan terjadi
karena kerusakan endotel akibat adanya
vasospasme pembuluh darah pada plasena
sehingga dapat mengakibatkan masalah
yang
menyebabkan
kehamilan
harus
Lingkar Lengan Atas (LILA) merupakan
segera diakhiri dengan berbagai cara
aspek yang dapat memberikan gambaran
termasuk seksio sesarea. Hal ini sesuai
kecukupan
Hasil
dengan hasil penelitian Hendrik (2011)
hubungan
tentang hubungan IMT dengan Tekanan
antara IMT dengan tindakan seksio sesarea
darah (p-<0.05), dan penelitian Aina
(p=0.000
tingkat
Sarah, dkk., (2013) yang menemukan ada
keeratan yang rendah. Indeks Masa Tubuh
hubungan IMT dengan tekanan darah
penelitian
nutrisi
seseorang.
menunjukan
OR
0.267)
ada
dengan
232
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
sistolik dan diastolik (p-0.006, p-0,04)
eklampsia
dengan keeratan rendah.
dimengerti, dan sesuai dengan teori yang
Penambahan
Berat
Hal
ini
dapat
(BB)
mengatakan bahwa kenaikan berat badan
normal selama kehamilan berkisar antara
dan edema selama kehamilan disebabkan
10-12
penelitian
adanya spasme pembuluh darah yang
menunjukkan penambahan berat badan
disertai retensi garam dan air yang
berpengaruh terhadap
berakibat naiknya tekanan darah pasien.
kilogram.
Badan
(p=0.004).
Hasil
kejadian seksio
sesarea (p-0.11 OR 2.384). Penambahan
Rusdi,
dkk.,
(2009)
yang
dikutip
berat badan yang tidak normal berpeluang
Misnadiarly
hampir 2.5 kali untuk menjalani seksio
satu penyebab hipertensi adalah obesitas
sesarea dibandingkan ibu hamil dengan
atau kegemukan.
penambahan berat badan normal. Banyak
Obesitas
menyatakan, bahwa salah
(IMT>27)
menyebabkan
hal yang dapat menyebabkan penambahan
curah jantung dan sirkulasi volume darah
berat badan selama hamil lebih dari
meningkat dan menimbulkan hipertensi.
normal, antara lain obesitas, janin yang
Beberapa ahli berpendapat, bahwa setiap
besar, bayi kembar dan hidramnion.
penambahan
Secara fisiologis dapat dijelaskan
lingkar
perut
5
cm
merupakan resiko dini akan meningkatkan
dapat
kematian 13 – 17 % (Misnadiarly 2007).
menyebabkan obesitas dan janin yang
Untuk menekan angka tersebut perlu
besar, sehingga dapat menyulitkan proses
segera dilakukan pengakhiran kehamilan
persalinan dan membutuhkan bantuan
antara lain dengan tindakan seksio sesarea.
tindakan di antaranya seksio sesarea. Di
Penulis berpendapat bahwa ANC yang
samping itu penambahan berat badan yang
dilakukan
kurang akan berdampak terhadap tumbuh
mendeteksi secara dini IMT dan LILA,
kembang janin dalam kandungan, sehingga
dan
dapat terjadi bayi lahir dengan Berat
abnormal
sebagai
Badan Lahir Rendah (BBLR), dan ibu
penyimpangan
kecukupan
yang kurus akan mudah lelah sehingga
sehingga
tidak cukup tenaga untuk mendorong bayi
tindakan
ke luar saat proses persalinan. Hal ini
persalinan
didukung oleh
seksio sesarea
bahwa
nutrisi
yang
berlebih
penelitian Sri Minarti,
dkk., (2011) yang mendapatkan hubungan
secara
penambahan
teratur
berat
akan
badan
dengan
yang
gambaran
nutrisi
memungkinkan
korektif
dapat
untuk
,
dilakukan
menghindari
tindakan
termasuk
Hasil uji statistik dengan chi-square
bermakna antara penambahan berat badan
terhadap tekanan darah
selama
dan OR 4.740 yang menggambarkan,
hamil
dengan
kejadian
pre
didapat p-0.000
233
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
bahwa tekanan darah (TD) berpengaruh
melakukan
terhadap kejadian seksio sesarea. Pasien
kehamilan
dengan tekanan darah yang tidak normal
lebih awal diketahuinya tekanan darah
berpeluang hampir 5 kali menjalani seksio
yang tidak normal, terutama pada trimester
sesarea
akhir, sehingga kemungkinan ibu hamil
dibandingkan
pasien
dengan
ANC
≥
4
kali
akan memberi
masuk
multivariat didapat p-0.004 OR 8.470 Hal
dicegah, persalinan dengan tindakan dapat
ini
dihindari termasuk seksio sesarea.
tekanan
darah
periode
kesempatan
tekanan darah yang normal. Analisis
menunjukkan,
ke
selama
eklampsia
dapat
berpengaruh cukup kuat terhadap kejadian
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya
seksio sesarea dalam arti tekanan darah
(KPSW) atau dikenal pula dengan istilah
yang tidak normal berpeluang 8.5 kali
Ketuban Pecah
untuk menjalani tindakan seksio sesarea
sebagai faktor risiko terjadinya persalinan
dibandingkan dengan tekanan darah yang
dengan seksio sesarea (p-0.002 OR 2.70).
normal.
Ibu yang mengalami KPSW berpeluang
Dini
(KPD)
terbukti
Sejalan dengan penelitian ini Murphy,
untuk menjalani seksio sesarea hampir tiga
dkk., (2001) mendapatkan bahwa wanita
kali dibanding pasien dengan ketuban yang
preeklampsi dengan tekanan darah > 140
utuh. KPSW adalah kondisi pecahnya
mm
Hg
berpeluang
hampir
2
kali
ketuban sebelum waktunya yang dapat
tindakan
seksio
sesarea.
disebabkan oleh trauma ataupun penyebab
Apabila hipertensi dikhawatirkan akan
lainnya. Semakin lama selaput tersebut
berlanjut
menjadi
pecah sebelum kelahiran semakin besar
kejang)
maka
mengalami
eklampsia
untuk
(kejang-
menghindari
resiko
terjadinya
infeksi
pada
janin
komplikasi yang lebih berat merupakan
maupun ibunya yang akan berakibat
indikasi
mengakhiri
meningkatnya morbiditas dan mortalitas.
tindakan,
Secara fisiologis dapat dijelaskan, bahwa
untuk
kehamilan
segera
dengan
berbagai
termasuk tindakan seksio sesarea. Kondisi
infeksi
ini
dapat sedemikian berat (sepsis) sehingga
sesuai
dengan
hasil
penelitian
(korioamnionitis)
terjadi
Rahayuningsih Dharma, dkk (2005) yang
seringkali
mendapatkan bahwa pada pre eklampsi
kontraktilitas
terdapat korelasi antara petanda disfungsi
menimbulkan kegawatan pada ibu maupun
endotel dengan tingginya tekanan darah.
janin, bahkan dapat berakibat kematian.
Sebagian besar persalinan diakhiri dengan
Untuk menekan dan mencegah timbulnya
tindakan seksio sesarea (75,8 %). Penulis
sepsis,
berpendapat bahwa apabila ibu hamil
dimulainya persalinan maka kehamilan
bila
diikuti
yang
disfungsional
rahim
belum
yang
ada
akan
tanda-tanda
234
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
harus segera diakhiri dengan berbagai
selama kehamilannya. Hasil penelitian ini
tindakan, antara lain seksio sesarea. Hal ini
sejalan dengan penelitian Supryadi (2000)
didukung oleh penelitian Taher (2002 )
yang menyimpulkan bahwa ibu hamil yang
yang
merupakan
mempunyai praktek kurang baik dalam
masalah obstetrik yang berkaitan dengan
perawatan antenatal (ANC) akan berisiko
terjadinya infeksi korionamnitis sampai
lebih besar untuk mengalami distosia
sepsis. Apabila KPD terjadi > 24 jam dan
persalinan sebagai salah satu indikasi
persalinan belum terjadi, maka harus
persalinan
segera
Frekuensi ANC menunjukan kepedulian
menyatakan
KPD
dilakukan
persalinan
dengan
tindakan seksio sesarea.
Di
samping
dengan
seksio
sesarea.
ibu hamil dalam merawat kehamilan dan
itu
KPD
dapat
memperhatikan kesehatan dirinya serta
memperpanjang kala II, sehingga terjadi
bayi
partus lama yang merupakan indikasi
sehingga dapat mempersiapkan persalinan
seksio sesarea. Pada saat ANC dapat
yang akan dihadapi dengan baik.
dilakukan pemantauan terhadap adanya
resiko
KPD
(inkompetensi
polihidramnion,
selaput
ketuban,
serviks,
kelainan/kerusakan
kehamilan
kembar,
yang
dikandung
selama
hamil,
Indikasi kedatangan pasien ke rumah
sakit Wilayah Jakarta Timur
diperoleh
hasil bahwa cara datang berhubungan
bermakna
terhadap kejadian persalinan
trauma, serviks pendek dan infeksi),
dengan seksio sesarea (p-0.000
melalui berbagai pemeriksaan. Resiko ini
5.949). Hal ini dapat dijelaskan, bahwa
dapat
memberikan
kedua rumah sakit tersebut merupakan
penyuluhan untuk mengurangi aktivitas
rumah sakit rujukan untuk wilayah Jakarta
ibu hamil. Dengan demikian
Timur, sehingga sebagian besar pasien
dikurangi
dengan
persalinan
dengan tindakan termasuk seksio sesarea
dirujuk
dapat dihindari
lanjutan termasuk seksio sesarea.
Hasil penelitian menunjukkan
untuk
mendapatkan
OR
tindakan
Hasil
ada
ini sejalan dengan hasil penelitian Haid
hubungan bermakna antara frekuensi ANC
(1998) yang menyatakan bahwa sebagian
< 4 kali dengan kejadian persalinan seksio
besar kasus persalinan dengan seksio
sesarea (p = 0,000,
sesarea yang di tolong dengan ekstraksi
dengan
frekuensi
OR 22.226). Ibu
ANC
<
4
kali
mempunyai risiko mengalami persalinan
dengan
tindakan
dibandingkan
memeriksakan diri
sebesar
(dirujuk) oleh dukun.
kali
Analisis terhadap jalan lahir yang
yang
tidak normal, terbukti merupakan faktor
4 kali atau lebih
resiko terhadap kejadian seksio sesarea (p-
dengan
22,2
vakum adalah partus lama yang dikirim
ibu
235
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
0.001, OR 0.328) dengan tingkat keeratan
lama/tak maju. Hal ini disebabkan karena
rendah. Yang termasuk jalan lahir adalah
responden pada kasus tersebut menyatakan
cerviks, vagina dan vulva. Hambatan yang
bahwa
terjadi di salah satu organ tersebut akan
menginginkan hamil lagi, namun karena
menghalangi turunnya bagian terbawah
kegagalan penggunaan kontrasepsi, maka
janin, dan dapat terjadi partus lama. Partus
meskipun anak yang terakhir sudah besar
lama merupakan resiko bagi ibu maupun
(jaraknya terlalu jauh) akhirnya mereka
janin.
hamil dan melahirkan.
Pada
ibu
dapat
menyebabkan
terjadinya infeksi dan kelelahan, dan bagi
bayi
resiko
terjadinya
gawat
sebenarnya
sudah
tidak
Analisis terhadap tingkat pendidikan
janin.
tidak menunjukkan bahwa pendidikan
Kelainan jalan lahir dapat dideteksi secara
bukan merupakan faktor risiko terhadap
dini bila ibu hamil memeriksakan diri
kejadian
secara teratur.
Penelitian
Hasil analisis bivariat pada penelitian
seksio
sesarea
ini
penelitian
sesuai
Supriyadi
dengan
hasil
(2000)
yang
ini menunjukan jarak kehamilan < 2 th - >
mendapatkan
9 th tidak berhubungan secara bermakna
pendidikan bukan merupakan faktor risiko
dengan kejadian seksio sesarea (p-0.121).
kejadian distosia, tetapi Mulidah (2002)
Hasil
dengan
menyatakan
yang
berpengaruh
penelitian
penelitian
ini
Supriyadi
berbeda
(2000)
bahwa
(p-0.124).
bahwa
bahwa
terhadap
tingkat
pendidikan
kejadian
partus
menyimpulkan bahwa jarak kelahiran ≥ 10
lama. Ibu yang berpendidikan rendah (≤
tahun merupakan faktor risiko kejadian
SMP) mempunyai risiko 6 kali lebih besar
distosia atau penyulit persalinan sebagai
untuk terjadi partus lama dari pada ibu
indikator persalinan dengan seksio sesarea.
dengan
Jarak kehamilan yang jauh berhubungan
Penelitian Irsal dan Hasibuan (2005) juga
dengan bertambah umur ibu, dimana hal
menyatakan
hal
ini akan terjadi proses degeneratif yang
pendidikan
ibu
menyebabkan
kekuatan
merupakan resiko kejadian seksio sesarea.
fungsi-fungsi otot uterus dan otot panggul
Tidak adanya pengaruh yang bermakna
yang sangat berpengaruh pada proses
pada penelitian ini disebabkan proporsi
persalinan apabila terjadi kehamilan lagi.
paparan kelompok kasus dan kontrol
Kontraksi otot-otot uterus dan panggul
hampir sama. Proporsi yang sama ini
yang lemah menyebabkan kekuatan his
mungkin disebabkan adanya pengaruh
(power) pada proses persalinan tidak
variabel
melemahnya
adekuat, sehingga banyak terjadi partus
pendidikan
yang
tinggi
yang
(≥
sama
rendah
berpengaruh
SMP).
bahwa
bukanlah
dianalisis
236
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
sekaligus
sehingga
kemungkinan
di
kontrol variabel yang lebih besar.
Pendapatan
pada
sesarea (p-1.000). Hal ini sejalan dengan
penelitian
penelitian
ini
Supriyadi
(2000)
yang
menyatakan bahwa pengetahuan
ibu
ditinjau dari segi pendapatan dalam bentuk
tentang tanda-tanda bahaya kehamilan
gaji/upah yang diperoleh keluarga sehari-
tidak
hari berdasarkan UMR yang berlaku di
seksio sesarea. Pengetahuan secara tidak
DKI yang merupakan salah satu aspek
langsung akan mempengaruhi perilaku
ekonomi keluarga. Aspek ekonomi akan
seseorang,
berpengaruh terhadap kondisi kehamilan
kesehatan untuk melakukan perawatan
dan persalinan. Ibu yang hidup dalam
antenatal. Pada penelitian ini lebih dititik
kondisi sosial ekonomi kurang akan
beratkan pada pengetahuan tentang tanda-
mengalami kesulitan untuk memenuhi
tanda dan bahaya kehamilan, selain itu
kebutuhan
kehamilan,
kemungkinan juga disebabkan adanya
sehingga mempunyai kontribusi dengan
pengaruh faktor risiko lain yang lebih kuat
kejadian seksio sesarea. Pada penelitian ini
mengingat variabel
yang berpengaruh
pendapatan
dianalisis
secara
nutrisi
selama
keluarga
tidak
terbukti
berpengaruh
dalam
terhadap
hal
sekaligus
kejadian
ini,
perilaku
bersamaan
berpengaruh terhadap kejadian persalinan
sehingga kemungkinan di kontrol oleh
dengan seksio sesarea (p-0.115), artinya
variabel lain yang lebih kuat.
kemungkinan melahirkan seksio sesarea
Kadar Hb merupakan salah
satu
hanya 0,579 kali dibandingkan dengan ibu
indikator status gizi seseorang. Kondisi
yang memiliki ekonomi cukup atau tinggi.
kadar Hb yang rendah (anemia) terutama
Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil
pada
penelitian
yang
terhadap kondisi janin yang dikandung dan
menyatakan bahwa pendapatan keluarga
proses persalinan yang dialami. Pada
berpengaruh terhadap terjadinya
partus
penelitian ini kadar Hb tidak terbukti
lama yang memerlukan persalinan dengan
sebagai faktor risiko terjadinya persalinan
seksio sesarea. Tidak adanya pengaruh
dengan seksio sesarea (p-0.205). Penelitian
pada penelitian ini dikarenakan adanya
ini
faktor yang lebih kuat pengaruhnya setelah
penelitian sebelumnya yang dilakukan
dianalisis secara bersamaan dengan faktor
oleh Irsal dan Hasibuan (2002) bahwa
lain, yakni yang lebih dekat hubungan
wanita yang mengalami anemia berisiko
dengan kehamilan.
untuk
Djalaludin
(2004)
Hasil penelitian terhadap pengetahuan
tidak terbukti sebagai faktor risiko seksio
ibu
hamil
bertolak
belakang
kejadian
merupakan
sangat
kala
indikasi
berpengaruh
dengan
II
lama,
utama
hasil
yang
untuk
persalinan seksio sesarea. Demikian juga
237
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
dengan
penelitian
Suryanto
bahwa
(2004)
ibu
Djalaluddin
yang
sehingga menyebabkan pembukaan jalan
menyimpulkan
lahir tidak optimal yang akhirnya proses
anemia
persalinan mengalami kesulitan. Hal ini
berpengaruh secara bermakna terhadap
merupakan komplikasi persalinan yang
kejadian partus lama, dan pendapat Taher
sering terjadi. Oleh karena itu untuk
(2002) yang menyatakan bahwa anemia
menyelamatkan
jarang menimbulkan kegawat daruratan
dilakukan
akut selama kehamilan, namun setiap
sesarea.
masalah
hamil
dan
kegawat
dengan
daruratan
dapat
bayi
dan
persalinan
Selanjutnya
ibu
perlu
dengan
dilakukan
seksio
analisa
diperberat oleh anemia yang telah ada.
multivariat untuk mengetahui seberapa
Perbedaan penelitian ini dengan peneltian
besar sumbangan secara bersama-sama
sebelumnya, karena pada penelitian ini,
seluruh faktor risiko terhadap
kasus persalinan dengan seksio sesarea
seksio sesarea. Analisis ini menggunakan
yang ditemukan memang sebagian besar
uji regresi logistik ganda pada tingkat
oleh karena indikasi kala II lama dan
kemaknaan 95%. Variabel yang dijadikan
partus tak maju. Kadar Hb yang rendah
kandidat dalam uji regresi logistik ini
pada ibu hamil, sampai pada bulan-bulan
adalah variabel yang dalam analisa bivariat
terakhir
mempunyai nilai p < 0,25, hasilnya seperti
dan
saat
mendekati
proses
persalinan mempengaruhi kerja otot-otot
kejadian
terlihat pada tabel di bawah ini.
alat reproduksi yakni otot uterus, otot
panggul
dan
mengakibatkan
kekuatan
his
ligamen.
ibu
tidak
(power)
Hal
ini
mempunyai
yang
adekuat,
Tabel 2. Faktor-faktor Resiko Yang Dominan Berpengaruh terhadap
persalinan Seksio Sesarea
No
1
2
3
Tabel
Faktor risiko
OR
adjusted
Indeks masa tubuh (IMT)
Tekanan darah
Kunjungan ANC
2.
menggambarkan
5.363
8.470
21.145
bahwa
95% CI
Nilai p
0.130-0.537
2.199-10.219
8.671-56.967
seksio
0.21
0.004
0.000
sesarea
p=0,000
OR=21,145).
merupakan
antenatal < 4 kali beresiko lebih dari 21
yang
paling
berhubungan terhadap kejadian persalinan
dengan
dan
frekuensi kunjungan antenatal < 4 kali
faktor
Ibu
(nilai
kali untuk menjalani
kunjungan
seksio sesarea.
238
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
dini masalah nutrisi pada ibu hamil.
dengan melakukan kunjungan antenatal ≥
Pemeriksaan nutrisi ibu hamil dapat
4
dapat
dipantau sejak trimester I kehamilan
menurunkan angka kejadian seksio sesarea
sehingga komplikasi yang terkait dengan
di
penyimpangan
IMT (Indeks Masa Tubuh yang tidak
kondisi ibu hamil yang dapat dideteksi
normal) pada ibu bisa diatasi secara dini.
melalui
IMT
kali
selama
Indonesia.
kehamilan
Banyak
pemeriksaan
memungkinkan
antenatal,
dilakukan
dan
upaya-upaya
yang lebih
merupakan
dari
faktor
normal
risiko
terjadinya
koreksi. Ibu yang melakukan ANC secara
peningkatan
baik memberi gambaran, bahwa ibu peduli
kehamilan terutama pada trimester ke III.
terhadap kehamilannya (careness), hal ini
Pada penelitian ini Hipertensi selama
juga
keterjangkauan
kehamilan merupakan faktro risiko yang
fasilitas pelayanan kesehatan (acessibilty)
kuat terhadap kejadian persalinan dengan
disamping itu juga diperlukan kemampuan
sesioa sesarea, Penelitian ini diukung oleh
ibu dari segi biaya (kesediaan) dalam
hasil penelitian Wikojosastro (2005) yang
merawat
Untuk
menyatakan bahwa preeklampsia berat
menurunkan angka kematian ibu (AKI)
dapat mengakibatkan hipoksia pada janin
dan
(AKB)
dan langkah terbaik untuk menyelamatkan
pemerintah telah menyediakan pelayanan
kehidupan janin adalah dengan mengakhiri
kesehatan untuk ibu dan anak secara gratis
kehamilan
melalui program
Manuaba (2001) menyebutkan pilihan
terkait
dengan
kehamilannya.
angka
kematian
bayi
Jaminan persalinan (
tekanan
dapat
dengan
Jampersal). Program Jaminan Persalian
persalinan
pada
adalah jaminan pembiayaan persalinan
eklampsia
berat
meliputi
persalinan
pemeriksaan
kehamilan,
darah
seksio
pasien
adalah
pervaginam
dengan
dua
pre
yaitu
(diutamakan)
didahului
(sampai 42 hari setelah melahirkan), dan
tindakan ini bahayanya lebih ringan, bila
perawatan bayi baru lahir (sampai dengan
memungkinkan
usia 28 hari). Dengan adanya program ini
pemecahan ketuban untuk merangsang
maka
persalinan.
terfokus
kesehatan
dapat
lebih
induksi
sesarea.
pertolongan persalinan, perawatan nifas
tenaga
dengan
selama
persalinan,
dapat
dilakukan
pada pengembangan kualitas
Pilihan ke dua adalah seksio sesarea
layanan yang diberikan sehingga pasien
yang dilakukan bila induksi persalinan
memperoleh haknya atas informasi terkait
pervaginam gagal dilakukan dan gagal
ANC yang dilakukan secara teratur
dan sesuai standar dapat mendeteksi secara
pengobatan konservatif. Seksio
pada kondisi
sesarea
ini akan meminimalkan
239
JKep. Vol. 1 No. 2 Mei 2014, hlm 226-240
terjadinya perdarahan. Bertolak belakang
Hasil penelitian ini dapat dijadikan
dengan penelitian Murphy, et.al. (2000)
masukan
yang menyatakan
bahwa preeklampsia
kesehatan agar meningkatkan kualitas
bukan merupakan
faktor risiko seksio
ANC dan memotivasi masyarakat untuk
sesarea.
Dapat
disimpulkan,
bahwa
bagi
institusi
pelayanan
menggunakan haknya atas ”jampersal”
kunjungan antenatal yang baik dan rutin
yang
diprogramkan
dapat mendeteksi secara dini komplikasi
diharapkan
yang mungkin muncul selama kehamilan
komplikasi kehamilan, sehingga angka
seperti pre eklampsia dan masalah gizi
persalinan dengan sekssio sesarea dapat
kurang atau gizi lebih (IMT tidak normal)
ditekan.
dapat
pemerintah,
menurunkan
angka
sehingga dapat dilakukan upaya-upaya
pencegahan agar kondisi kehamilan baik
DAFTAR PUSTAKA
ibu
Aina Sarah, dkk., 2013. Hubungan Indeks
Masa Tubuh dengan Tekanan
Darah Anak di SD 064979, EJurnal FK USU Vol 1, Nomor 1
tahun 2013, Medan
dan
janin
dapat
terselamatkan.
Diharapkan dengan kualitas ANC yang
baik dan sesuai standar maka komplikasi
kehamilan dapat diturunkan dan angka
persalinan dengan seksio sesarean bisa
ditekan.
SIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan,
bahwa faktor risiko : jarak kehamilan yang
tidak
adekwat,
rendah,
pendidikan
penghasilan
ibu
dibawah
UMR,
bahaya kehamilan, dan kadar Hb rendah
terbukti
berpengaruh
secara
bermakna terhadap kejadian persalinan
seksio sesarea. Adapun variabel yang
dominan berpengaruh terhadap kejadian
persalinan
seksio
sesarea
adalah
kunjungan antenatal yang tidak adekwat
selama kehamilan.
Destyana, dkk., 2009. Hubungan antara
Indeks Masa Tubuh dengan
Tekanan Darah dan Golongan
Darah di Kelurahan Mersi, Jurnal
Keperawatan Soedirman, vol 4 No
2, Juli 2009, Purwokerto
yang
pengetahuan ibu kurang tentang tanda dan
tidak
Bobak, M., Lowdermilk, & Jensen (2004),
Maternity Nursing, Jakarta : EGC
Djalaluddin dan Suryanto. 2004. Faktorfaktor risiko ibu untuk terjadinya
pratus lama di RSUD Ulin
Banjarmasin dan RSU Ratu
Zalecha Martapur, Jurnal Sains
Kesehatan, no, 17
Hannah, M.E. 2004. Planned elective
cesarean section : A Readonable
Choice
for
Some
Women,
Canadian Medical Association
Journal, 5, 813-814
Deswani: Kunjungan Antenatal Tidak Adekuat Sebagai Faktor Risiko Persalinan Seksio Sesarea
Hendrik. 2011. Karya Tulis Ilmiah,
Hubungan Indeks Masa Tubuh
dengan Tekanan Darah Pada
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatra Utara, Medan
Irsal dan Hasibuan S. 2012. Faktpr-faktor
yang mempengaruhi kejadian kala
II lama, Bagian Obstetri dan
Ginekologi FK.UGM, Diakses dari
http://www.obgin-ugm.co,
pada
tanggal 1 Desember 2012
Jovani, M. 2012. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Keputusan Ibu
Dilakukan Seksio Sesarea Yang
kedua,
Universitas
Indonesia,
Skripsi, diakses tanggal 24 Juni
2014
Manuaba, I. B.G. 2001. Kapita selekta
penatalaksanaan rutin obstetric
ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
Murphy, et.al. 2001. Early Mathernl and
neonatal Morbidity Association
with Operative Delivery in Second
Stage of Labor, a Cohort Study,
The Lancet Vol 358 : 1203-1207.
SDKI. 2007. Angka Kematian Ibu dan
Angka Kematian Bayi. Diakses dari
http://datastatistik.com. tanggal 2
Nopember 2009.
240
Senewe, F. P., & Sustyowati, N. 2004.
Faktor-faktor yang berhubungan
dengan komplikasi persalinan tiga
tahun terakhir di Indonesia (analisis
SKRT – surkesmas 2001), Buletin
Penelitian Kesehatan, vol 45, no. 2.
Supriyadi. 2006. Pengaruh Pemberian
Informasi Mobilisasi Dini pada Ibu
Primipara Post Seksion Caesarea
dengan anestesi spinal terhadap
tingkat kecemasan.
Supryadi, S. 2000. Faktor-faktor sosiodemografi dan perilaku ibu hamil
dalam perawatan antenatal sebagai
risiko kejadian distosia di RSUP
DR Sardjito Yogyakarta, Berita
Kesehatan Masyarakat, vol XVIII,
no, 2 p 65-79
Taher,
B. 2002.
Kapita Selekta
kedaruratan
Obstetrik
dan
ginekologi (alih bahasa Supriyadi T
dan Gunawan J), Jakarta : EGC.
Download