(Studi di Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten

advertisement
REVITALISASI LEMBAGA KUD DAN GAPOKTAN
(Studi di Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten
Konawe Selatan)
Oleh: Risky Dwi Alamsyah, Bahtiar, dan Peribadi
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan langkah strategis dalam
upaya revitalisasi KUD dan Gapoktan. Penelitian ini merupakan
penelitian Deskriptif Kualitatif yang dilaksanakan di Desa Andoolo
Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan. Teknik pemilihan
informan yang digunakan adalah teknik snowboll (bola salju) yaitu peneliti
akan mewancarai informan kunci terlebih dahulu, kemudian meminta
rekomendasi untuk informan berikutnya sampai pada data jenuh. Teknik
pengumpulan data baik data primer maupun data sekunduer diperoleh
melalui studi kepustakaan (library reseach), penelitian lapangan (field
research), pengamatan langsung, dan wawancara. Teknik analisis data
menggunakan deskriptif kualitatif yang terdiri dari pengumpulan data,
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil
penelitian ini adalah langkah strategis dalam paya revitalisasi lembaga
KUD yaitu: (1) Melakukan repositioning image KUD. (2) KUD dilibatkan
secara aktif dalam kegiatan revitalisasi pertanian. (3) Pemerintah
bekerjasama dengan KUD dalam melengkapi sarana dan prasarana
pertanian. (4) KUD diberikan keleluasaan yang bertangungjawab.
Kemudian langkah strategis dalam paya revitalisasi lembaga Gapoktan
yaitu; (1) Mekanisme kerja gapoktan dalam meningkatkan pegetahuan
anggotanya. (2) Usaha yang dilakukan gapoktan dalam merubah pola
pikir petani. (3) Mekanisme gapoktan sebagai mediator dalam memenuhi
kebutuhan modal untuk usaha pertanian anggotanya. (4) mekanisme
gapoktan dalam mengkoordinasi hasil produksi pertanian agar
mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi.
Kata Kunci: Revitalisasi, Lembaga.
PENDAHULUAN
Masyarakat petani merupakan masyarakat yang berlapis. Dimana terdapat
golongan kaya dan tidak kaya berdasarkan dari jumlah kepemilikan tanah di
desa. Masyarakat kelompok pekerja dibayar dengan upah dengan cara
pembagian hasil oleh pemilik tanah. Atau petani bisa juga melakukan
penyewaan tanah dan kemudian ketika panen melakukan bagi hasil dengan
pemilik tanah. Terdapat banyak pola dalam pembagian hasil antara pemilik
lahan dengan pekerja, dan dari kenyataannya petani atau pekerja seringkali
mendapatkan hasil yang kurang setimpal dengan apa yang dia kerjakan (Scott,
1985).
225
Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan
merupakan salah satu daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara yang sebagian
besar masyarakatnya masih bekerja di sektor pertanian dengan pendapatan
yang belum maksimal untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Masyarakat Desa Andoolo Utama yang berprofesi sebagai petani memiliki sifat
kesederhanaan dan solidaritas yang tinggi, hal ini di latar belakangi oleh
pengetahuan dan pendidikan mereka sebagai petani yang telah terinternalisasi
di dalam diri mereka sehingga tidak dapat dipisahkan atau selalu menyertai
dalam setiap proses kehidupannya, yang memungkinkan mereka sulit untuk
menerima perubahan-perubahan sosial atau inovasi baru dalam upaya
peningkatan taraf hidupnya sehingga pola kehidupannya tetap berjalan
monoton.
Secara umum, karakteristik utama pada rumah tangga petani khususnya
di Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan adalah
lemahnya pengetahuan akan pentingnya kelembagaan sosial, kelembagaan
ekonomi dan penyedia informasi yang ada. Lemahnya pengetahuan ini lah
yang menyebabkan tidak terurusnya lembaga-lembaga pedesaan yang ada.
Pengembangan kelembagaan yang telah dilakukan oleh pemerintah
selama ini, hanya sebatas membangun relasi-relasi horizontal sesama petani,
misalnya berupa kelompok-kelompok tani. Selain itu, akibat tidak terjalinnya
hubungan sosial-ekonomi yang baik menyebabkan kurangnya minat generasi
muda untuk meneruskan profesi orang tua mereka sebagai petani. Karena itu,
yang sesungguhnya mereka butuhkan adalah pengembangan kelembagaan yang
berupaya membangun dan menjaga berjalannya jaringan-jaringan sosial,
terutama jaringan dalam bidang ekonomi, sehingga warga petani menjadi
bagian dari sistem ekonomi yang berjalan di wilayahnya.
Pada tahun 1989 mulai lah di bentuk lembaga sosial masyarakat oleh
pemerintah Desa Andoolo Utama, yaitu pembentukan Koperasi Unit Desa
(KUD) dan kemudian pada tahun 2000 dibentuk pula Gabungan Kelompok
Tani (GAPOKTAN) dengan tujuan untuk membantu masyarakat tani untuk
menyiapkan sarana-sarana yang diperlukan dalam bertani, menguatkan
hubungan silaturahmi, memberikan tempat untuk bertukar pikiran, sebagai
pusat informasi dan sebagai tempat penyaluran bantuan yang bekerja sama
dengan pemerintah trkait sebagai bentuk upaya untuk mensejahterakan
masyarakat tani di Desa Andoolo Utama.
Akan tetapi dalam kurun waktu yang lama itu mulailah terjadi pergeseran
dalam fungsi KUD. Kemudian, selama hampir 15 tahun setelah pembentukan
Gapoktan di Desa Andoolo Utama, kontribusi yang diberikan oleh Gapoktan
kepada masyarakat petani setempat perlahan-lahan mulai memudar, bahkan
dapat dikatakan bahwa lembaga Gapoktan tidak lagi aktif beroperasi di
226
masyarakat. Masyarakat tani di Desa Andoolo Utama saat ini lebih memilih
untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk membantu melancarkan
kegiatan terkait produksi dan pemasaran hasil pertaniannya, dan tentu saja
kelompok-kelompok kecil tersebut tidak memiliki hubungan vertikal dengan
pemerintah setempat, sehingga perubahan sosial-ekonomi yang dirasakan oleh
masyaakat menjadi sangat lambat.
Atas dasar inilah, pentingnya dikembangkan kajian mengenai lembaga
sosial masyarakat pedesaan sebagai upaya revitalisasi, sehingga lembaga sosial
tersebut dapat kembali eksis dan memberi kontribusi nyata kepada komunitas
petani di Desa Andolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan.
Beradasarkan latar pemikiran tersebut, maka dirumuskan permasalahan yang
mendasar, yaitu; Bagaimana langkah strategis dalam upaya revitalisasi lembaga
KUD dan Gapoktan di Desa Andoolo Utama? Tujuan diadakannya penelitian
ini adalah untuk mengetahui, Bagaimana langkah strategis dalam upaya
revitalisasi lembaga KUD dan Gapoktan di Desa Andoolo Utama.
METODE PENELITIAN
Lokasi penelitian ini akan di laksanakan di Desa Andoolo Utama
Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan, dengan pertimbangan yakni
setelah melakukan pendekatan terkait kelembagaan, didapatkan adanya
lembaga sosial yang merupakan lembaga vital Desa Andoolo Utama
Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan yang tidak lagi di fungsikan
selama beberapa tahun.
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni tipe penelitian
deskiptis kualitatif yaitu untuk memberikan suatu uraian yang bersifat
deskriptif mengenai kolektifitas yang diteliti agar memperoleh gambaran yang
menyeluruh dan terperinci tentang bagaima langkah-langkah dalam upaya
Revitalisasi Lembaga Sosial di Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke
Kabupaten Konawe Selatan.
Adapun informan penelitian ini adalah beberapa warga Desa Andoolo
Utama kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan yang terkait dengan
lembaga Sosial Desa yang dimaksud dengan menggunakan metode snowboll
(bola salju), dimana peneliti akan bertanya pada responden yaitu Kepala Desa
Andoolo Utama, dengan pertimbangan bahwa beliau mengetahui siapa saja
yang ikut ambil bagian dalam lembaga sosial Desa, kemudian peneliti meminta
rekomendasi pada responden pertama untuk responden selanjutnya, sampai
peneliti mendapatkan data jenuh.
Teknik pengumpulan data baik data primer maupun data sekunder,
diperoleh melalui studi kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang di
lakukan guna mendapatkan data sekunder yang dapat mendukung pembahasan
227
penelitian ini, dengan membaca buku-buku literatur serta tulisan-tulisan ilmiah
lainnya yang berhubungan dengan revitalisasi lembaga sosial pedesaan,
penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian lapangan yang di laksanakan
di Desa Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan guna
mendapatkan data primer dengan cara; (a) pengamatan langsung (observasi),
yaitu pengumpulan data Melalui pengamatan langsung pada lokasi penelitian.
Jadi peneliti berada di lokasi penelitian bersama-sama dengan warga
masyarakat yang akan di teliti dalam jangka waktu yang tidak di
tentukan,sampai menemukan hasil, (b) wawancara (interview), yakni
melakukan tatap muka dengan beberapa informan penelitian yang telah
ditetapkan, dengan menggunakan pedoman wawancara.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif dengan cara
mengumpulkan dan menganalisis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan
observasi yakni menyangkut Revitalisasi Lembaga Sosial Pedesaan di Desa
Andoolo Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan. Untuk
menjawab permasalahan yang ada, data dan informasi yang telah di peroleh
kemudian di kelompokkan secara sistematis sehingga hasil penelitian ini dapat
menjawab parmasalahan yang ada dan menggambarkan kenyataan yang
sebenarnya.
PEMBAHASAN
Lembaga Sosial dan Masyarakat Tani di Desa Andoolo Utama
Revitalisasi pertanian yang merupakan track ketiga dalam triple track
strategy, memiliki peluang yang cukup besar dalam mengurangi kemiskinan di
daerah pedesaan, saat ini tercatat 17,94 juta orang berada dibawah garis
kemiskinan atau sejumlah 62% yang berada di pedesaan (BPS, 2015). Jika
ditinjau dari jenis pekerjaan di daerah pedesaan, pekerjaan sebagai petani dan
buruh tani merupakan pekerjaan yang paling dominan digeluti oleh masyarakat
desa di Indonesia. Desa Andoolo Utama merupakan desa dengan jumlah
petani sebanyak 74,97% dari total jumlah penduduk yang telah bekerja,
sebagaimana diungkapkan oleh bapak Suyanto (55 tahun) selaku Kepala Desa
Andoolo Utama berikut ini:
“Saya memang baru menjabat sebagai Kepala Desa, tapi saya orang
lama di Desa Andoolo Utama ini jadi saya sangat tahu bahwa
jumlah petani yang ada di desa sini jauh lebih banyak ketimbang
yang tidak bekerja sebagai petani, banyak petani yang memiliki
lahan dan ada juga yang hanya sebagai buruh tani namun
kehidupannya tidak jauh berbeda.” (Wawancara : Suyanto (55
tahun), 26 Oktober 2015).
228
Dari pemaparan informan tersebut di atas, dapat diketahui bahwa
kehidupan sosial ekonomi petani yang memiliki lahan dan petani yang bekerja
sebagai buruh tani tidaklah jauh berbeda. Oleh sebab itu, Desa Andoolo
Utama Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan dapat menjadi salah satu
target dalam upaya merevitalisasi pedesaan.
Masyarakat Tani Desa Andoolo Utama
Desa dan petani merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan satu
dengan yang lainnya, utamanya jika kita melihat dari keadaan geografis
indonesia yang merupakan negara tropis yang subur. Desa merupakan tempat
petani menjalani kehidupannya, desa tidak hanya sekedar bermakna teritorial
yang secara wilayah berbeda dengan kota dalam ciri geografis dan ekologis,
akan tetapi desa memiliki karakter sosial yang unik seperti kondisi georafis dan
ekologis yang sangat mempengaruhi pekerjaan masyarakatnya. Desa Andoolo
Utama merupakan daratan subur yang baik untuk bercocok tanam yang
sebagian besar masyaarakat Desa Andoolo Utama berprofesi sebagai seorang
petani.
Petani adalah seseorang yang bergerak di bidang pertanian, utamanya
dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk
menumbuhkan dan memelihara tanaman dengan harapan untuk memperoleh
hasil dari tanaman tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya
kepada orang lain. Petani Desa Andoolo Utama yang umumnya memiliki
tingkat pendidikan dari yang tidak bersekolah sampai pada tingkat pendidikan
SMA/sederajat, oleh sebab itu sistem bercocok tanam yang digunakan masih
tradisional seperti membajak sawah menggunakan sapi dan cangkul, seperti
yang di uangkapkan oleh Bapak Satijo (66 tahun) :
“Saya sudah terbiasa membajak sawah menggunakan cangkul dan
sapi, saya tidak menggunakan mesin traktor bukan karena saya
tidak mau, hanya saja saya tidak sanggup membeli dan tidak tau
cara pakainya” (Wawancara : Satijo (66 tahun), 27 Oktober 2015).
Ungkapan di atas kemudian diperjelas oleh ugkapan Bapak Saidi (68
tahun) yang merupakan seorang pensiunan guru yang kemudian bekerja
sebagai petani dalam hasil wawancara tanggal 27 Oktober 2015 bahwa:
“Cara bertani masyarakat di desa ini masih banyak yang tradisional,
petani lebih memilih menggunakan alat bajak dengan cangkul atau
menggunakan sapi, permasalahan adalah bukan karena petani tidak
ingin menggunakan alat modern, akan tetapi karena petani tidak
paham dengan cara penggunaanya serta masyarakat masih khawatir
padi yang ditanam tidak akan tumbuh dengan baik, jika lahannya
dibajak menggunakan mesin”.(Wawancara : Saidi (68 tahun), 27
Oktober 2015).
229
Hasil wawancara dengan para informan di atas menunjukkan bahwa
sistem pertanian Desa Andoolo Utama masih termasuk dalam sistem pertanian
tradisisonal. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh para informan
bahwa alat yang digunakan dalam proses pembajakan sawah masih
menggunakan cangkul dan sapi. Keluhan petani juga bukan persoalan
masyarakat petani tidak ingin berevolusi ke sistem modern dengan
menggunakan mesin-mesin pengolah sawah, akan tetapi masyarakat tidak
memahami cara mengoperasikan mesin-mesin tersebut. Selain itu akibat dari
kurangnya pengetahuan masyarakat petani akan cara bercocok tanam dengan
cara yang modern, beberapa masyarakat petani di Desa Andoolo Utama masih
meragukan alat-alat pertanian modern dapat membuat tanaman mereka
tumbuh dengan subur. Oleh sebab itu diperlukan adanya kelompok yang bisa
menampung semua keluhan petani, tempat petani mendapatkan informasi
tentang segala sesuatu yang berkaitan dalam proses pertanian, serta unit
koperasi yang menyediakan pinjaman dana dan sarana serta prasarana
pertanian yang dibutuhkan oleh petani.
Dalam pertanian bukan hanya permasalah menanam dan menggarap
sawah saja, masih ada beberapa tahap lagi yang menarik untuk diketahui yaitu;
cara memanen, proses pengeringan gabah, serta penjualan.
apak Yasmihadi (74 tahun) selaku petani tradisional mengungkapkan
bahwa:
“jaman sekarang itu serba susah, mau nandur atau mau manen
semuanya serba sendiri, apa lagi buat jemur gabah sopo seng arep
nulong (siapa yang mau menolong), kalau dulu masih enak masih
ada anak kalau enggak panennya gantian, rame-rame sama
tetangga”. (wawancara : Yasmihadi (74 tahun,), 28 oktober 2015).
Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa sudah terjadi pergeseran
dalam hubungan sosial petani yang seharusnya bersolidaritas mekanik, dimana
gotong royong yang seharusnya menjadi sifat yang mendasar bagi masyarakat
desa yang memiliki tujuan-tujuan kerja yang sama seperti gotong royong dalam
melakukan panen bergilir, kini sedikit-demi sedikit berubah menjadi solidaritas
yang organik, dimana para petani mulai bekerja secara individualis dan
melakukan panen sendiri-sendiri.
Tahap selanjutnya dalam pertanian (padi) yaitu penjualan. Padi atau
gabah yang telah dipanen dan dijemur kemudian akan dibawa ketempat
penggilingan yang dimiliki oleh tengkulak yang ada di desa. Seperti yang
diungkapkan oleh Bapak Danuri (72 tahun) sebagai berikut :
“karna dana yang terbatas, biasanya saya melakukan kerja sama
dengan tengkulak buat menggiling padi saya, kemudian biaya
penggilingnya diambil dari beras saya, berapa banyak beras yang
230
diambil oleh tengkulak dari tiap karung padi yang saya giling cuman
tengkulak yang tentukan, saya ya mengikut saja” (wawancara:
Danuri (72 tahun,), 29 oktober 2015).
Ungkapan di atas kemudian di perjelas oleh ugkapan Bapak Purwoko (46
tahun) sebagai berikkut :
“kalau penjualan gabah biasanya saya bagi 40% buat di makan
sendiri, terus 60% kami jual ditempat giling, harga gabah yang saya
jual tentu saja harus mengikuti harga yang sudah ditentukan oleh
tengkulak” (wawancara : Purwoko (4 tahun,), 29 oktober 2015)
Dari pernyataan informan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa dalam
melakukan penjualan, para petani di Desa Andoolo Utama membagi hasilnya
menjadi 40% untuk di konsumsi pribadi dan 60% yang akan di jual, sedangkan
biaya penggilingan dan harga gabah yang dijual oleh para petani mengikuti
harga yang telah dipatokkan oleh tengkulak. Ada juga beberapa petani yang
melakukan kerjasama langsung dengan tengkulak yang memiliki tempat
penggilingan padi, yaitu dengan pembagian hasil gilingan padi sebagai upah
dari jasa menggiling padi.
Lembaga Sosial Masyarakat Tani Desa Andoolo Utama
Mengorganisasikan petani secara formal merupakan pendekatan utama
pemerintah untuk pemberdayaan petani. Hampir pada semua program, petani
disyaratkan untuk berkelompok, dimana kelompok menjadi alat untuk
mendistribusikan bantuan (material atau uang tunai), dan sekaligus sebagai
wadah untuk berinteraksi baik antar peserta maupun dengan pelaksana
program. Untuk mewujudkan ini, telah dihabiskan anggaran dan dukungan
tenaga lapang yang cukup besar.
Di Desa, lembaga sosial yang mendukung perkembangan pertanian
antara lain seperti Koperasi Unit Desa (KUD) dan Gabungan Kelompok Tani
(Gapoktan). Begitupun lembaga sosial yang terdapat di Desa Andoolo Utama
yang seharusnya dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat di desa,
namun kenyataan di lapangan lembaga-lembaga ini kurang aktif dan vakum
dalam proses pengembangan pertanian. Permasalahannya, kelompokkelompok tersebut tidak berkembang sesuai harapan pemerintah. Kapasitas
keorganisasian mereka yang lemah mengakibatkan ketidakberhasilan
pencapaian tujuan program, bahkan menjadi kendala dalam pelaksanaan
program. Banyak studi membuktikan bahwa tidak mudah membangun
organisasi petani, karena petani cenderung merasa lebih baik tidak
berorgansiasi. Penyebab kegagalan ini adalah karena kurang dihargainya
inisiatif lokal, pendekatan yang seragam, kurang mengedepankan partisipasi
dan dialog, lemahnya kemampuan aparat pemerintah dan karena menggunakan
paradigma yang kurang tepat.
231
Pernyataan di atas sesuai dengan ungkapan Bapak Trimo (47 tahun)
selaku ketua dari salah satu kelompok tani yang ada di Desa Andoolo Utama
bahwa:
“Desa kami sebenarnya terdapat kelompok-kelompok yang bisa
mengembangkan sistem pertanian kami, akan tetapi kelompokkelompok ini terasa vakum dan pasif dalam melayani anggota
kelompok atau petani lain di luar anggota kelompok. Sebenarnya
keberadaan kelompok-kelompok ini akan sangat membantu
kemajuan pertanian jika pengelola atau pengurus dalam kelompokkelompok ini mempunyai kemampuan dalam mengelola
kelompoknya. Pengurusnya tidak ada kemampuan dalam
berorganisasi, anggota tidak mempunyai rasa partisipasi dalam
kelompok, juga karena pemerintah yang kurang memperhatikan
kelompok-kelompok tani ini”. (Wawancara : Trimo (47 tahun), 29
Oktober 2015)
Dalam hasil wawancara tersebut di atas dapat dipahami bahwa dalam
berorganisasi diperlukan pemahaman yang tinggi terhadap sebuah lembaga
yang kita jalankan, sikap solidaritas dan partisipatif terhadap lembaga baik
sebagai pengurus lembaga maupun anggota, serta pemerintah yang harus
berperan aktif dalam pengembangan kelompok-kelompok tani dan sistem
pertaniannya.
Di Desa Andoolo Utama terdapat dua lembaga yang menjadi penopang
utama dalam lingkaran sosial ekonomi masyarakat tani. Yakni, Koperasi Unit
Desa (KUD) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Kedua lembaga ini
dapat juga dikatakan sebagai mata rantai penyambung kehidupan masyarakat
tani di desa yang krisis akan pengetahuan dan modal. Seperti yang
diungkapkan oleh bapak Wayan Sertayasa (54 tahun) bahwa :
“Dulu di Desa Andoolo Utama ini, lembaga yang paling berperan
penting dalam proses pemenuhan kebutuhan hidup saya sebagai
petani, yaitu KUD dan GAPOKTAN, kami bisa meminjam modal
untuk bertani dari KUD, kalau lagi musim paceklik kami juga bisa
mengambil dulu sembako dari KUD yang setelah panen baru di
bayar, sedangkan untuk menentukan bibit padi yang akan di tanam
diperoleh dari hasil rembung dalam Gabungan Kelompok Tani
serta cara menanam dan merawat bibitnya”. (Wawancara : Wayan
Sertayasa (54 tahun), 29 Oktober 2015)
Dari Keterangan Bapak Wayan Sertayasa dapat ditarik benang merah,
bahwa KUD dan Gapoktan sebagai lembaga sosial di pedesaan dianggap
sangat bermanfaat dan penting bagi masyarakat tani di Desa Andoolo Utama.
232
Koperasi Unit Desa (KUD)
Koperasi unit desa merupakan koperasi diwilayah pedesaan yang
bergerak dalam penyedian kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan
kegiatan pertanian. Koperasi unit desa dapat juga dikatakan sebagai wadah
organisasi ekonomi yang berwatak sosial dan merupakan wadah bagi
pengembangan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat pedesaan yang
diselenggarakan oleh masyarakat dan untuk masyarakat itu sendiri.
Koperasi Unit Desa (KUD) merupakan salah satu pilar perekonomian
yang berperan penting dalam pembangunan perekonomian nasional. Namun,
sejak dikeluarkan Inpres No. 18 Tahun 1998, KUD tidak lagi menjadi koperasi
tunggal di tingkat kecamatan. Program-program pemerintah untuk
membangun masyarakat pedesaan, seperti distribusi pupuk, benih, dan
pengadaan gabah, yang awalnya dilakukan melalui KUD selanjutnya
diserahkan pada mekanisme pasar.
Pernyataan di atas kemudian di dukung oleh pernyataan Bapak Prayitno
(56 tahun) selaku sekertaris Desa Andoolo Utama, beliau mengungkapkan
bahwa:
“Kemerosotan kinerja KUD sebenarnya berawal sejak adanya
Inpres tahun 1998. KUD tidak lagi menjadi distributor utama
perlengkapan pertanian seperti pupuk dan lain-lainnya, semuanya
diserahkan kepada mekanisme pasar”. (wawancara : Heri Prayitno
(56 tahun), 26 Oktober 2015).
Dari hasil wawancara di atas di ketahui bahwa disfungsi KUD berawal
sejak adanya Inpres tahun 1998 tentang penyerahan distribusi alat pertanian
kepada mekanisme pasar dari KUD. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan
KUD di Indonesia secara umum mengalami penurunan kinerja dan tidak
sedikit yang hanya tinggal papan nama. Meskipun demikian, tidak sedikit pula
KUD yang bertahan, bahkan berkembang. Mengembalikan peran kunci KUD,
merupakan konsekuensi tuntutan pembangunan ekonomi kerakyatan. Hal ini
sejalan dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai koperasi untuk menyejahterakan
anggota serta masyarakat pedesaan, termasuk membantu berbagai program
pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Akan tetapi KUD di
Desa Andoolo Utama tidaklah menjadi salah satu dari KUD yang masih tetap
eksis dan berfungsi sebagaimana mestinya setelah mungculnya Inpres tahun
1998.
Kelompok Tani dan Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN)
Keberadaan Gapoktan di Desa Andoolo Utama saat ini berada dalam
keadaan tumpang tindih, kegiatan yang dilaksakan hanya dilaksanakan jika ada
himbauan untuk proses penyaluran bantuan baik bantuan fisik maupun
bantuan berupa financial..
233
Pernyataan di atas diperkuat oleh ungkapan Bapak H.Muttori (80 tahun)
bahwa:
“Fungsi wahana kerjasama dalam Gapoktan di desa ini tidak
terlaksana sama sekali. Anggota kelompok lebih memilih kerja
secara sendiri-sendiri dari pada berkelompok”. (wawancara :
H.Mutorri (80 tahun), 02 November 2015)
Bapak Bambang (39 tahun) juga mengungkapkan bahwa:
“Sebagai anggota Gapoktan, saya ingin sekali tukar pikiran dengan
teman-teman anggota Gapoktan tentang permasalahan pertanian.
Akan tetapi dalam Gapoktan di desa ini tidak ada wadah untuk
menyalurkan keluhan permasalahan anggota. Pertemuan yang
dilaksanakan dalam kelompok dilaksakan jika ada himbauan dalam
penerimaan bantuan”. (wawancara : Bambang (39 tahun), 02
November 2015).
Kemudian hasil wawancara di atas juga lebih diperjelas lagi oleh
ungkapan dari Bapak Muliono (48 tahun) yakni:
“Kelompok bukan lagi sebagai kelompok produksi hasil pertanian.
Akan tetapi kelompok hanya menjadi symbol keberadan lembaga
tani di desa ini. Kelompok hanya dijadikan wadah dalam proses
pelancaran penerimaan bantuan dari pemerintah kepada petani dan
tentu saja saya senang jika ada bantuan-bantuan pemerintah yang
masuk, tetapi yang saya sesalkan adalah ketika dana yang diberikan
oleh pemerintah telah habis maka habis pula kegiatan dari
Gapoktan ini”. (wawancara : Muliono (48 tahun), 02 November
2015).
Berdasarkan hasil wawancara di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
keberadaan Gapoktan tidak sesuai dengan fungsi seharusnya. Gapoktan hanya
menjadi symbol keberadaan kelompok tani di Desa Andoolo Utama.
Gapoktan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan pelancaran penerimaan
bantuan dari pemerintah ke sektor pertanian, sedangkan untuk pengolahan
dana jangka panjangnya masih belum ada. Oleh sebab itu dibutuhkan upaya
revitalisasi terhadap lembaga sosial pedesaan, agar lembaga Gapoktan dapat
berjalan secara fungsional dan dana-dana bantuan dapat dikelola dengan lebih
baik.
Revitalisasi Lembaga Sosial Masyarakat Desa Andoolo Utama
Revitalisasi lembaga sosial masyarakat tani dalam arti luas dilakukan
untuk mendukung pencapaian sasaran penciptaan lapangan kerja, terutama di
pedesaan, dan membantu mengentas masyarakat miskin, serta mendukung
proses pertumbuhan ekonomi petani. Revitalisasi lembaga sosial masyarakat
tani ini mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti
234
penting lembaga sosial pedesaan secara proporsional dan kontekstual. Dalam
arti menyegarkan kembali vitalitas, memberdayakan kemampuan dan
meningkatkan kinerja para petani dalam upaya mensejahterakan hidupnya.
Bapak Trimo (47 tahun) menegaskan :
“Revitalisasi saya rasa bisa digunakan sebagai jalan keluar untuk
masalah disfungsi lembaga-lembaga sosial yang ada di Desa,
masalah utamanya adalah langkah-langkah dalam proses revitalisasi
tersebut sesuai atau tidak dengan kebutuhan masyarakat”.
(Wawancara : Trimo (47 tahun), 29 Oktober 2015).
Maksud dari penegasan diatas yakni, masyarakat Desa Andoolo Utama
pada umumnya bersuku jawa, bekerja sebagai petani padi, dan masih
menggunakan cara-cara tradisional. Oleh karena itu dalam Merevitalisasi
lembaga sosial di Desa Andoolo Utama butuh pendekatan-pendekatan khusus
agar masyarakat tertarik bergerak dan bangkit kearah yang lebih baik.
Langkah-langkah Strategis Dalam Upaya Revitalisasi KUD
Bapak Prayitno (56 tahun) selaku sekertaris Desa Andoolo Utama, beliau
mengungkapkan bahwa:
“Kemerosotan kinerja KUD sebenarnya berawal sejak adanya
Inpres tahun 1998. KUD tidak lagi menjadi distributor utama
perlengkapan pertanian seperti pupuk dan lain-lainnya, semuanya
diserahkan kepada mekanisme pasar”. (wawancara : Heri Prayitno
(56 tahun), 26 Oktober 2015)
Kalau menilik gagasan diatas, dapat dijelaskan bahwa masyarakat
merindukan KUD kembali ke pola lama dimana KUD banjir keberpihakan
pemerintah lewat berbagai kebijakan yang men-support. Akan tetapi harapan
semacam itu menunjukkan lemahnya semangat kemandirian atau masih
akudnya ketergantungan terhadap kebijaksanaan pemerintah. Padahal, hal
tersebut sudah sangat tidak memungkinkan dan ironisnya berkurangnya daya
dukung tersebut terjadi disaat KUD sedang pada posisi tidak siap untuk
mandiri.
Adapun langkah-langkah Strategis dalam revitalisasi Koperasi Unit Desa
dalam menunjang ketahanan pangan adalah:
1. Melakukan repositioning image KUD di dalam pemahaman masyarakat
pedesaan (khususnya para petani), bahwa KUD adalah satu-satunya wadah
perekonomian dari, oleh dan untuk mereka (dengan menjadi anggota
KUD) yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan hidup. Sehingga
masyarakat desa dapat lebih bersemangat dalam membangun KUD di
daerahnya masing-masing. Image tersebut juga dapat dibangun dengan
mewujudkan KUD dengan manajemen yang baik.
235
2. KUD dilibatkan secara aktif dalam kegiatan revitalisasi pertanian (baik
dalam penyuluhan bercocok tanam yang efektif dan produktif, tentang
transfer teknologi, dan sebagainya) sehingga KUD dapat secara cepat
memenuhi kebutuhan yang dapat menunjang aktivitas produksi tersebut.
3. pemerintah dalam menyediakan sarana pertanian atau media yang
menunjang pengembangan pertanian juga dapat bekerja sama dengan
KUD dalam penjualannya.
4. KUD sebagai suatu lembaga yang membantu masyarakat, harus diberi
keleluasaan yang bertangungjawab, artinya bantuan-bantuan yang diberikan
oleh pemerintah tidak langsung disalurkan kepada masyarakat melalui
KUD, pengelola KUD harus mampu memutar modal bantuan yang ada
dalam lembaganya sehingga dapat berkembang dan tidak ketergantungan
dengan bantuan pemerintah.
Langkah-langkah Strategis Dalam Upaya Revitalisasi GAPOKTAN
Penulis lebih menyoroti dan mensikapi kelompok tani dan Gapoktan
karena pertimbangan satu sama lain sangat erat hubungannya. Dimana masingmasing lembaga tersebut obyeknya sama secara program/proyek yaitu petani
(anggota).
Kaitannya dengan berbagai kegiatan ataupun program kelompok tani
ataupun gabungan kelompok belumlah jelas orientasinya akan arah dan
kebijakan. Namun berakhirnya sama yaitu petani (anggota). Ini terlihat dalam
pembentukan/pembinaan kelompok tani lebih terpapar merupakan lembaga
bersama para petani yang berhimpun dalam kerjasama baik ekonomi maupun
sosial, dimana para petani terhimpun memberikan pastisipasi dengan simpanan
wajib, simpanan pokok, simpanan lumbung dan sebagainya. Bahkan ada juga
sebagai bentuk pembelian bersama atau usaha bersama kelompok tani. Disisi
lain Gapoktan dalam pembentukan / pembinaannya seiiring dengan turunnya
Program Usaha Agribisnis Pedesaan seperti sebagai lembaga petani baru
dimana menghimpun pula simpanan wajib, simpanan pokok, manasuka, dan
simpan - pinjam. Padahal Gapoktan merupakan Gabungan Kelompok Tani
Kelompok Tani yang terhimpun, nota benenya bahwa anggota gapoktan
adalah kelompok tani. Hal tersebut secara administrasi terasa akan sulit dan
rancu manakala kegiatan usaha di kelompok tani berjalan, ditindih dengan
kegiatan usaha Gapoktan yang sama. Dalam hal ini haruslah masing masing
lembaga punya satu presepsi yang sama dalam pengelolaan ekonomi petani
(anggota). Disinilah penting revitalisasi organisasi kelembagaan petani secara
sinergi dan terintegrasi.
Berikut ini adalah beberapa poin terkait fungsi, kontribusi, dan peraturan
dalam kelompok tani dari hasil wawancara dengan bapak Trimo (47 tahun)
selaku ketua dari salah satu kelompok tani di Desa Andoolo Utama antara lain:
236
Fungsi kelompok tani :
1. Mempersatukan petani
2. Memberi semangat
3. Memberi pengetahuan melalui informasi-informasi pertanian
Kontribusi kelompok tani :
1. Dana kas untuk simpan pinjam melalui iuran tiap pertemuan rutin
2. Bibit musiman (jenis bibit diputuskan dari hasil musyawarah)
3. Pemupukan
4. Dan penanggulangan hama
Peraturan dalam kelompok tani Desa Andoolo Utama :
1. Membuat pertemuan rutin bulanan
2. Kegiatan kerja rutin tiap bulan
3. Membuat rencana kerja dalam jangka satu tahun
4. Membuat anggaran kelompok dari iyuran rutin.
Setelah mengamati fungsi,kontribusi, dan peraturan diatas, masalah
pokok dalam Gapoktan adalah masih kurangnya hubungan vertikal antar
lembaga desa dengan pemerintah setempat, serta pemasaran hasil-hasil
pertanian yang diserahkan pada masing-masing individu. Untuk menjawab
semua pernyataan-pernyataan di atas, maka penulis menarik beberapa langkah
strategis dalam upaya merevitalisasi lembaga Gapoktan, antara lain :
1. Mekanisme kerja gapoktan dalam meningkatkan pegetahuan anggotanya
antara lain: (a) Melalui pertemuan pengurus kelompok tani dari masingmasing dusun di tingkat desa, (b) Pertemuan kelompok tani yang dihadiri
oleh pengurus gapoktan dan pemerintah sebagai narasumber, (c)
Pertemuan antara gapoktan dan kelompok tani. Sehingga dengan adannya
gapoktan sebagai gabungan kelompok tani maka anggota gapoktan dapat
menjadi berdaya karena adanya kelompok tersebut, sering terjadi kegiatan
tukar menukar informasi, diskusi, bekerjasama, tukar menukar pengalaman
sehingga pengetahuan dan cara berfikir petani menjadi dinamis tidak statis,
anggota gapoktan juga lebih mampu menerima inovasi contohnya mampu
menerima bibit unggul yang dapat menghasilkan padi lebih melimpah.
2. Usaha yang dilakukan gapoktan dalam merubah pola pikir petani antara
lain sebagai berikut: (a) Study banding, (b) Pelatihan ketrampilan. Kedua
cara tersebut merupakan salah satu usaha untuk merubah pola pikir
anggota gapoktan, karena anggota gapoktan masih berpendidikan rendah
maka mereka lebih mengerti dan percaya jika setiap kegiatan yang
dilakukan dengan praktek langsung.
3. Mekanisme gapoktan sebagai mediator dalam memenuhi kebutuhan modal
untuk usaha pertanian anggotanya antara lain: (a) Gapoktan
mengkoordinasi kebutuhan anggota gapoktan melalui kelompok tani untuk
237
mendapatkan benih unggul, pupuk dan obat-obatan, (b). Gapoktan
bekerjasama dengan KUD untuk memfasilitasi petani yang membutuhkan
modal untuk biaya usaha taninya. Sehingga dengan adanya gapoktan maka
kebutuhan petani menjadi terpenuhi, petani tidak terlalu sulit untuk
mendapatkan saprotan, kebutuhan modal sehingga dalam kegiatan tanam
petani tidak merasa mendapat kesulitan yang berarti.
4. Mekanisme gapoktan dalam mengkoordinasi hasil produksi pertanian agar
mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi antara lain: (a) Gapoktan
menampung hasil petani dengan harga yang layak, (b) Gapoktan
bekerjasama dengan KUD dan pedagang untuk membeli hasil tani dengan
nilai jual yang memberikan keuntungan kepada petani, (c) Gapoktan
bekerjasama dengan BUMN seperti Bulog yang ditugasi oleh pemerintah
untuk menampung gabah maupun beras dengan standar harga yang telah
ditentukan oleh pemerintah sehingga petani mendapat nilai jual yang lebih
tinggi.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah
dilakukan dapat diimpulan bahwa langkah strategis dalam upaya Revitalisasi
Lembaga KUD dan Gapoktan, sebagai berikut :
1. Upaya Revitalisasi Lembaga KUD
a. Melakukan repositioning image KUD.
b. KUD dilibatkan secara aktif dalam kegiatan revitalisasi pertanian..
c. pemerintah bekerjasama dengan KUD dalam melengkapi sarana dan
prasarana pertanian.
d. KUD diberikan keleluasaan yang bertangungjawab.
2. Upaya Revitalisasi Gapoktan
a. Mekanisme kerja gapoktan dalam meningkatkan pegetahuan
anggotanya.
b. Usaha yang dilakukan gapoktan dalam merubah pola pikir petani..
c. Mekanisme gapoktan sebagai mediator dalam memenuhi kebutuhan
modal untuk usaha pertanian anggotanya.
d. Mekanisme gapoktan dalam mengkoordinasi hasil produksi pertanian
agar mendapatkan nilai jual yang lebih tinggi.
238
Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka terdapat beberapa saran yang peneliti
ajukan bagi Pemerintah, Pengurus Lembaga KUD dan Gapoktan, serta
seluruh masyarakat Desa Andoolo Utama, yaitu:
1. Pemerintah diharapkan mampu untuk terus memantau perkembangan
lembaga-lembaga sosial di Desa Andoolo Utama, memberikan masukan,
bantuan, dan motivasi pada masyarakat agar menjadi lebih sadar akan
pentingnya lembaga sosial di tengah-tengah masyarakat.
2. Pengurus lembaga KUD dan Gapoktan diharapkan mampu untuk lebih
profesional dan fungsional dalam menjalankan tugas-tugas yang telah
diamanatkan, sehingga lembaga dapat berjalan secara efisien dan produktif.
3. Pengurus lembaga KUD dan Gapoktan diharapkan mampu untuk saling
bersinergi dalam melaksanakan program-progam kerjasama, yang
diharapkan dapat memberikan nilai tambah dalam kehidupan sosial
ekonomi masyarakat Desa Andoolo Utama.
4. Kepada masyarakat Desa Andoolo Utama dihimbau agar berpartisipasi
dalam lembaga-lembaga yang ada di Desa dan senantiasa mennjaga
lembaga-lembaga yang ada, sehingga tetap hidup dan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Bustanul. 2005. Pembangunan Pertanian. Paradigma Kebijakan dan
Strategi Revitalisasi. Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia.
Danisworo, M. 2002. Revitalisasi. Sebuah pendekatan dan pemanfaatan kawasan.
Jakarta.
Danisworo, M, Martokusumo, W, Revitalisasi Kawasan Kota : Sebuah Catatan
Dalam Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan Kota, Info URDI
Vol.13, 2002.
Durkheim, Emile, 1964, The Division of Labour in Society, Translated by George
Simpson, New York, Free Pres.
J, Nasikun, 1995, Mencari Suatu Strategi Pembangunan Masyarakat Desa
Berparadigma Ganda, dalam Jefta Leibo, Sosiologi Pedesaan,
Yogyakarta: Andi Offset.
James C. Scott, 1985. Moral Ekonomi Petani : Antara Subsistensi dan Resistensi.
Ulasan Buku oleh : Victor T. King*. Buku “The Moral Economy of The Farmer’s.
Koentjaraningrat,1984. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Gramedia
Pustaka Utama,Jakarta.
Redfield.1985. Masyarakat Petani dan Kebudayaan. Jakarta: PT. Rajawali
Arwata, Kanda, Kasryno. “Sejarah dan Perkembangan Revolusi Hijau, Revolusi
Bioteknologi, dan Revolusi Hijau Lestari” dalam buku “Merevolusi
Revolusi Hijau” Pemikiran Guru Besar IPB, Kampus IPB Taman
Kencana Bogor, IPB Press 2012.
239
Sunyoto Usman,2004, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.
Sutoro Eko, 2002, Pemberdayaan Masyarakat Desa, Materi Diklat
Pemberdayaan Masyarakat Desa, yang diselenggarakan Badan
Diklat Provinsi Kaltim, Samarinda, Desember 2002.
Syahyuti.2003. “Bedah Konsep Kelembagaan : Strategi Pengembangan dan Penerapannya
Dalam Penelitian Pertanian”. Di Cetak Oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
240
Download