perbedaan tipe kepribadian ekstrovert dan introvert didalam

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Tipe Kepribadian
1. Definisi Tipe Kepribadian
Tipe kepribadian merupakan sikap yang khas dari individu dalam
berperilaku dan merupakan segala yang mengarah ke luar atau kedalam dirinya
sehingga dapat dibedakan dengan individu lain. Kepribadian seseorang menurut
Jung (dalam Loekmono,2003) terdiri dari sembilan sistem yang berlainan tetapi
terkait satu dengan lainnya, dan salah satu sistem itu adalah sikap Ekstrovert –
Introvert. Kedua sikap ini terwujud dalam diri semua individu.
Jung (dalam Suryabrata, 1983) membedakan tipe kepribadian menjadi 2
jenis yaitu Ektraversion dan Intraversion, kedua tipe kepribadian tesebut
mengacu pada sejauh mana orientasi dasar seseorang diarahkan ke luar (dunia
luar) atau ke dalam diri individu. Apabila orientasi terhadap segala sesuatu
ditentukan oleh faktor – faktor objektif faktor – faktor luar, maka orang yang
demikian itu dikatakan mempunyai orientasi ekstrovert. Sebalikanya orang yang
mempunyai tipe dan orientasi introvers, yaitu orang yang dalam menghadapi
sesuatu faktor – faktor yang berpengaruh adalah faktor subjektif, yaitu faktor
yang berasal dari dunia batin sendiri.
Individu Ekstrovert dan Introvert memiliki perbedaan dalam sikap
mereka terhadap dunia, baik dalam hal rasional dan non rasional. Kedua sikap
11
yang berlawanan ini ada dalam kepribadian seseorang tetapi salah satu dari
keduanya yang lebih dominan. Setiap individu tidak ada yang murni memiliki
satu tipe kepribadian Ekstrovert atau murni tipe kepribadian Introvert, meskipun
demikian individu dapat dikelompokan ke dalam salah satu dari bentuk tipe
kepribadian tersebut. Seseorang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari
kepribadian ini berdasarkan pada jenis sikap yang lebih dominan dan lebih
berpengaruh pada dirinya.
2. Tipe kepribadian Ekstrovert
Ekstrovert adalah suatu kecenderungan sikap yang mengarahkan
kepribadian lebih cenderung ke luar dari pada ke dalam diri sendiri. Jung
(dalam Suryabrata, 1983) mengatakan bahwa ekstrovert adalah kepribadian
yang lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, orientasinya terutama tertuju ke
luar. Pikiran, perasaan, serta tindakannya lebih banyak ditentukan oleh
lingkungan. Jung (Suryabrata, 1983) menyatakan bahwa dimensi orang
ekstovert dalam perilaku aktual digambarkan sebagai orang yang terbuka,
periang,
suka bergaul dengan orang lain, cenderung berinteraksi dengan
masyarakat dan tidak sensitif, menghadapi kehidupan sehari kurang serius,
tidak menyukai keteraturan, agresif, kurang bertanggungjawab, optimis,
implusif bersifat praktis dan penuh motif-motif yang dikoordinasi oleh
kejadian-kejadian eksternal.
12
Seorang Ekstrovert bersikap positif terhadap lingkungannya. Bahaya
bagi individu ektrovert adalah apabila ikatan kepada dunia luar itu terlampau
kuat, sehingga ia tenggelam ke dalam dunia objektif, kehilangan dirinya atau
asing terhadap dunia subjektifnya sendiri. Kecenderungan semacam itu
membuat seorang Ekstrovert menjadi kurang sensitif atau peka terhadap
dirinya sendiri
Jung (dalam Suryabrata, 1983) percaya bahwa perbedaan tipe
kepribadian manusia dimulai sejak kecil, tanda awal dari perilaku ekstrovert
seorang anak adalah kecepatannya dalam beradaptasi dengan ketakutannya.
Seorang Ekstrovert sangat berani, Kadang ia mengarah pada sikap ekstrem
sampai pada tahap resiko. Segala sesuatu hal yang tidak diketahui selalu
memikat perhatiannya. Individu Ekstrovert
adalah individu yang suka
diperhatikan, suka menganjurkan, berlebihan dipengaruhi orang lain, suka
bercerita yang kadang mengaburkan kebenaran dan suka menjadi pusat
perhatian.
3. Tipe kepribadian Introvert
Introvert adalah suatu sikap atau orientasi ke dalam diri sendiri.
Menurut Jung (dalam Suryabrata, 1983) gambaran individu yang termasuk
kecenderungan introvert adalah memperlihatkan kecenderungan bersifat diam,
introspektif dan reflektif, suka sibuk dengan diri sendiri, suka melamun, tidak
suka bergaul dengan orang lain, sering terlalu serius, jiwanya tertutup, mudah
13
tersinggung, acuh tak acuh, teguh dalam pendirian, kemampuan kognitif
relatif tinggi, teliti tapi lambat dalam bekerja, penuh pertimbangan sebelum
bertindak, penuh jawaban dan taat pada norma sosial dan agama.
Secara singkat individu introvert adalah individu yang cenderung
menarik diri dari kontak sosial. Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada
pikiran
dan
pengalamannya
sendiri.
Jung
(dalam,Suryabrata,
2000)
menguraikan perilaku introvert sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari
kejadian-kejadian luar, tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang
berada di tengah orang banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah
orang banyak. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri
terhadap pengaruh dunia luar (Naisaban, 2003).
Seorang Introvert memiliki penyesuain dengan batinnya sendiri
dengan baik. Bahaya Introvert ini adalah ketika jarak dengan dunia objektif
terlalu jauh, sehingga akan lepas dari dunia objektifnya, yang membuatnya
terasing dan kurang mampu menerima dengan baik dunia objektifnya. Dapat
disimpulkan bahwa individu dengan kecenderungan Introvert yang Ekstrem
akan merasa asing dengan dunia luar dan menjadikannya individu yang anti –
sosial.
Seorang introvert dalam perilaku aktual digambarkan sebagai orang
yang pendiam, suka menjauhkan diri dari pergaulan, mudah murung,
cenderung
menghindari
masyarakat
dan
sensitif
menghadapi
kritik,
introspektif, menanggapi kehidupan sehari - hari secara lebih serius, menyukai
14
keteraturan, jarang agresif, dapat dipercaya, pesimis, depresif, hati hati,
rendah diri, mudah melamun, cenderung mempertahankan dirinya, kaku,
tegas,egois, lambat tetapi teliti, bersifat damai dan pasif. Salah satu tanda
introvert pada diri seorang anak adalah reflektif, bijaksana, tenggang rasa,
pemalu, bahkan takut pada objek baru.
4. Karakteristik kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Dua dimensi sikap tipe kepribadian adalah Ekstrovert dan Introvert.
Ekstrovert ditandai dengan mudah bergaul, terbuka, dan mudah mengadakan
hubungan dengan orang lain. Sedangkan introvert ditandai dengan sukar
bergaul, tertutup, dan sukar mengadakan hubungan dengan orang lain.
Karakteristik ekstrovert ditandai oleh sosiabilitas, bersahabat, aktif berbicara,
impulsif, menyenangkan, aktif dan spontan, sedangkan introvert ditandai
dengan hal-hal kebalikannya.
Individu dengan kecenderungan Ekstrovert tampak lebih bersemangat,
mudah bergaul dan terkesan impusif dalam menampilkan tingkah laku.
Sedangkan individu yang cenderung Introvert akan lebih memeperhatikan
pikiran, suasana hati serta reaksi – reaksi dalam diri mereka. Hal ini yang
membuat individu Introvert cenderung pemalu, memiliki control diri yang
kuat, dan memiliki keterpakuan terhadap hal – hal yang terjadi dalam diri
mereka. Lebih jelasnya lagi penjabarkan komponen tipe kepribadian
Ekstrovert dan Introvert (dalam Schultz, 1994) meliputi aktivias (activity),
15
kesukaan bergaul (sociability), keberanian mengambil resiko (risk taking),
penurutan
dorongan
kata
hati
(impulsiveness),
pernyataan
perasaan
(ekspressiveness), kedalaman berpikir (reflectiveness), dan tanggung jawab
(responsibility) seperti yang dapat dilihat pada table 2.1 berikut
Tabel 2.1
Indikator Tipe kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Karakteristik
Aktivitas (activity)
Kesukaan bergaul
(sociability)
Keberanian mengambil
resiko (risk taking)
Penurutan dorongan kata
hati (impulsiveness)
Ekstrovert
Introvert
memiliki aktivitas tinggi,
umumnya aktif dan
energik, menyukai
aktivitas fisik
menyukai kegiatan sosial,
suka mencari teman,
pesta, mudah bergaul, dan
merasa senang berada di
keramaian.
cenderung tidak aktif secara
fisik, lesu, mudah letih,
santai dan lebih menyukai
hari libur yang tenang
lebih menyukai beberapa
teman khusus saja,
menyenangi kegiatan yang
menyendiri seperti
membaca, merasa sukar
mencari hal – hal yang
hendak dibicarakan dengan
orang lain dan cenderung
menarik diri dari kontak –
kontak sosial.
menyukai kegiatan yang
memberikan tantangan
yang baik dengan hanya
sedikit menghiraukan
konsekuensi yang
mungkin merugikan dan
berani mengambil resiko.
cenderung bertindak tanpa
dipikirkan terlebih
dahulu/spontan, membuat
keputusan terburu – buru,
gegabah dan tidak
menyukai keakraban dan hal
– hal yang di rasa aman
serta tidak menyukai
mengambil resiko.
mempertimbangkan
berbagai masalah dengan
sangat hati – hati dan
banyak pertimbangan
sebelum membuat
16
berpendirian tetap.
Pernyataan perasaan
(ekspressiveness)
Kedalaman berpikir (
reflectiveness)
Tanggung jawab
(responsibility)
cenderung lebih
memperlihatkan emosinya
kearah luar dan secara
terbuka seperti
kemarahan, ketakutan,
kecintaan dan kebencian.
dalam berkerja lebih
tertarik untuk melakukan
berbagai hal daripada
memikirkan hal – hal
tersebut. Kepribadian
ekstrovert cenderung
memiliki pola piker
terarah dan praktis.
cenderung terlambat, tidak
menepati janji, serta
kurang bertanggung jawab
dan tidak konsisten.
keputusan, teratur,
merencanakan kehidupan
mereka lebih dahulu dan
berfikir sebelum bicara.
sangat pantai menguasai
diri, tenang, tidak memihak,
dan pada umumnya
terkontrol dalam
menyatakan pendapat dan
perasaan.
memiliki pola pikir yang
bersifat teorits, cenderung
tertarik pada ide – ide,
diskusi, spekulasi, mereka
suka berpikir dan
instropeksi.
cenderung berhati – hati,
teliti, sungguh – sungguh,
konsisten dan bertanggung
jawab.
5. Pengukuran Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert
Ektrovert dan Introvert merupakan dua tipe kepribadian manusia yang
berbeda, seorang Ekstrovert terkesan lebih terbuka dan Seorang Introvert yang
terkesan tertutup. Dalam memahami ini sering kali terjebak dalam stikma
yang menyatakan bahwa seorang yang bertipe kepribadian Ekstrovert lebih
baik dari seorang dengan tipe kepribadian Introvert, Padahal kedua karakter
ini memiliki kelebihan dan kekurangnya masing – masing. Dalam hal
17
pergaulan individu Ektrovert memiliki banyak keuntungan tersendiri, individu
Ekstrovert mudah bergaul sehingga mempunyai banyak teman sedang
individu Introvert kebalikannya. Individu introvert sering kali disibukan
dengan dirinya sendiri dan kurang peka terhadap lingkungannya, dan pada
akhirnya lingkungannya juga tidak dapat menerima individu Introvert dengan
baik.
Seorang individu dengan tipe kepribadian Ekstrovert dapat berubah
menjadi seorang yang Introvert, dan begitu pula sebaliknya karena sikap
seseorang tidak bersifat permanen melainkan dinamis, artinya dapat berubah
sewaktu-waktu. Kepribadian dibentuk bukan oleh diri sendiri melainkan oleh
beberapa faktor seperti lingkungan sekitar, mood, teman, situasi sosial dan
lain sebagainya. Namun untuk perubahannya tidak dapat sekaligus dengan
tiba – tiba melainkan membutuhkan proses dan waktu.
Kadar Ekstrovert dan Introvert masing – masing
individu juga
berbeda – beda, ada yang tinggi dan ada yang rendah. Misalnya individu A
dan B bisa saja sama-sama seorang introvert. Namun individu A memiliki
kadar Ekstrovert 55% sedangkan B 70%. Semakin tinggi persentasenya maka
sifat khas dari masing-masing tipe kepribadian itu akan semakin muncul
dominan. Kadar tersebut bisa berubah seiring waktu. Menurut Jung (dalam
Suryabrata,2000) berpendapat bahwa Ekstrovert dan Introvert merupakan dua
kutub dalam satu skala. Kebanyakan individu akan berada di tengah – tengah
skala itu dan hanya sedikit orang – orang yang benar – benar murni Ekstrovert
18
atau Introvert, artinya setiap individu memiliki kecenderungan Ekstrovert dan
Introvert dalam dirinya.
Untuk mengukur tipe kepribadian seseorang apakah Ekstrovert atau
Introvert dapat dilakukan dengan metode tes. Tes kepribadian (personality
test) adalah tes yang digunakan untuk mengukur kepribadian seseorang.
Dalam tes kepribadian tidak ada tipe yang bersifat negatif dan tidak ada pula
yang bersifat positif. Pengambilan keputusan terhadap hasil berdasarkan
pengukuran aspek – aspek yang diukur dan hasilnya bersifat kuantitatif.
Pengukuran tipe keprribadian bersifat kompleks dan sangat tergantung pada
aspek yang diukur.
6. Tipe Kepribadian Korban Bullying
Pepler dan Craig (1988) mengidentifikasi beberapa faktor yang terkait
dengan korban bullying. Secara internal, anak yang rentan menjadi korban
bullying biasanya memiliki temperamen pencemas, cenderung tidak menyukai
situasi sosial (social withdrawal), secara garis besar Pepler dan Craig (1988)
menyimpulkan bahwa karakteristik tipe kepribadian korban Bullying adalah
mereka yang lebih cenderung Introvert dari pada Ekstrovert, karena seseorang
yang bertipe kepribadian Introvert cenderung pendiam, atau tidak banyak
bicara, menutup diri dan lemah sehingga lebih berpeluang untuk menjadi
korban Bullying.
19
Korban Bullying tidak hanya mereka yang mempunyai kepribadian
tertutup dan pasif terhadap dunia luar, tetapi juga mereka dengan kepribadian
yang terbuka dan aktif juga menjadi korban Bullying. Siswa yang cenderung
memiliki kepribadian terbuka dan aktif bisa menjadi korban Bullying dari
teman sebayanya. Mereka yang aktif dan terbuka cenderung berpotensi
menjadi korban Bullying (Wiyani, 2012). Baik kepribadian Ekstrovert atau
Introvert keduanya memiliki potensi yang sama untuk menjadi korban
Bullying, karena Bullying bisa menimpa siapa saja.
B. BULLYING
1. Definisi Bullying
Sejarah bullying dimulai sejak ratusan ribu tahun yang lalu saat
manusia Neandrethal digantikan oleh homo sapiens yang lebih kuat dan lebih
berkembang. Tema utama yang terekam dari sejarah – sejarah mengenai
bullying adalah perilaku ekploitasi yang lemah oleh yang kuat, bukan secara
tidak sengaja namun secara sengaja dengan suatu tujuan. Sekalipun bullying
telah menjadi masalah selama berabad – abad, bullying tidak mendapat
perhatian sampai tahun 1970. Adalah Profesor Dan Olweus (1931) dari
Skandivania seorang ilmuan pertama yang mengfokuskan diri pada topik
bullying dan mengkotribusikan data ilmiahnya pada literarur bullying. Bukan
itu saja Olweus juga menunjukkan bahwa bullying disekolah dapat direduksi
secara signifikan.
20
Bullying berasal dari bahasa inggris (Bully) yang berarti menggertak
atau menggangu. Olweus (1994) menjelaskan Bullying yaitu tindakan negatif
yang dilakukan seseorang atau lebih, yang dilakukan berulang – ulang dan
terjadi dari waktu ke waktu. Bullying adalah perilaku yang disengaja yang
mengakibatkan orang lain terganggu baik dengan kekerasan verbal, serangan
fisik, maupun pemaksaan dengan cara – cara halus seperti manipulasi.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku bullying adalah suatu perilaku
negatif yang dilakukan secara sadar yang dilakukan untuk menyakiti orang
lain, yang bisa menyebabkan ketidaknyamanan bagi orang lain, termasuk juga
tindakan yang direncanakan maupun spontan, bersifat nyata atau hampir tidak
ketara.
School Bullying termasuk dalam tindakan kekerasan yang merugikan
orang lain, bullying bisa dilakukan secara individual maupun kelompok,
bullying yang dilakukan oleh kelompok disebut mobbing. Bulying di sekolah
dapat dilakukan oleh siapa saja, baik antar teman, antar siswa, antar geng
disekolah, kakak kelas ke adik kelas, pada saat perpeloncoan atau biasa
disebut hazing dan bahkan guru kepada siswa. Bullying merupakan perilaku
tidak normal, tidak sehat, dan secara sosial tidak bisa diterima (Wiyani, 2012).
Bullying jika dilakukan secara berulang kali pada akhirnya akan menimbulkan
dampak serius dan fatal.
Lokasi terjadinya perilaku bullying disekolah mulai dari ruang kelas,
toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah (Astuti,
21
2008). Akibatnya sekolah bukan lagi tempat yang menyenangkan bagi siswa,
tetapi justru menjadi tempat yang menakutkan dan membuat trauma bagi
siswa. Dapat disimpulkan bahwa bullying adalah perilaku agresif dan negatif
seseorang atau kelompok orang secara berulang kali yang menyalahgunakan
ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) baik
secara fisik maupun mental.
2. Penyebab terjadinya Bullying di sekolah
Bullying disekolah dapat terjadi karena adanya superioritas dalam diri
siswa. Hal senada juga diungkapkan oleh Coloroso (2007) bahwa bullying
adalah arogansi yang terwujud dalam tindakan. Pada umumnya siswa
melakukan tindakan Bullying karena merasa tertekan, terancam, terhina,
dendam dan lain sebagainya. Bullying disekolah dapat terjadi karena beberapa
faktor dan diantaranya dikemukakan oleh Olweus (1994) antara lain sebagai
berikut :
a. Kurangnya perhatian
Kurangnya keterlibatan orang tua terhadap anak membuat anak
kurang perhatian sehingga anak mencari perhatian dari orang lain. Dan
itu menyebabkan anak menjadi selalu ingin diperhatikan sekalipun ia
harus melakukan kekerasan.
22
b. Faktor gender
Banyak dari mereka yang mendidik anak laki – lakinya bahwa
laki-laki itu harus kuat dan tidak boleh kalah dalam persaingan, tapi
tidak memberi contoh dari hal-hal yang diajarkan tersebut sehingga
anak salah dalam memahami kuat itu sebagaimana mestinya, dan pada
akhirnya anak menjadi suka berkelahi dan berperilaku yang kurang
baik dengan tujuan ingin diakui sebagai laki-laki. Selain itu, anak
menjadi berperilaku agresif secara fisik dan membuat anak menjadi
sering dimusuhi. Akibat dari dimusuhi, akhirnya anak jadi sering
berkelahi karena ingin membalas dendam.
c. Adegan kekerasan dalam berbagai media
Berbagai media seperti game, televisi, dan film sering
menampilkan tayangan kekerasan. Anak meniru perilaku dalam game
dan film – film yang mereka tonton, umunya mereka meniru gerekan,
dan kata – kata. Media memiliki peranan peran penting dalam
pembentukan cara berfikir dan perilaku anak. Anak yang terbiasa
menonton adegan – adegan kekerasan di media akan berperilaku
agresif dan menggunakan agresi untuk memecahkan masalah. Maka
dari itu, orang tua harus mendampingi dan mengawasi anak saat
bermain game maupun menonton film dan orang tua harus
memperingatkan anak untuk tidak meniru adegan-adegan yang
23
berhubungan dengan kekerasan, sebab anak cenderung meniru pada
apa yang ia tonton dan ia mainkan
d. Masalah keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan yang palimg
dengan anak. Seringnya terjadi percekcokan antara ayah dan ibu yang
dilakukan di depan anak, serta orang tua yang sering memarahi
anaknya menyebabkan emosional anak tidak stabil dan menjadi agresif
sehingga anak cenderung mencari pelampiasan dengan melakukan
tindakan – tindakan kekerasan terhadap anak lain. Anak cenderung
meniru perilaku anggota keluarga yang ia lihat sehari – hari.
e. Faktor lingkungan social
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab
perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan sosial yang
menyebabkan perilaku bullying adalah faktor kemiskinan, mereka
yang berbuat kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi
kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika dilingkungan sekolah
sering terjadi pemalakan antar siswa. Begitu pula sebaliknya faktor
ekonomi keluarga yang berada dapat menyebabkan perilaku bullying,
siswa yang berlatar belakang keluarga dengan ekonomi berada merasa
mempunyai kekuasaan untuk menindas siswa dari latar belakang
ekonomi keluarga yang rendah.
24
f. Kecenderungan permusuhan
Biasanya, anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya
dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar
rumah. Selain orang tua faktor senioritas juga salah satu faktor
penyebab terjadinya bullying. Siswa yang di Bullying kakak kelasnya
akan cenderung melakukan balas dendam kepada adik kelasnya. Hal
tersebut yang menjadikan perilaku Bullying sebagai suatu tradisi.
g. Riwayat berkelahi
Kadang
berkelahi
untuk
membuktikan
kekuatan
bisa
menjadikan seseorang ketagihan untuk tetap melakukannya. Bisa jadi
karena mereka senang karena memperoleh pujian oleh banyak orang.
Astuti (2008) mencirikan sekolah yang pada umumnya mudah terdapat
kasus bullying, yaitu antara lain :
a. Sekolah yang di dalamnya terdapat perilaku deskriminatif baik di
kalangan guru maupun siswa
b. Kurangnya pengawasan dan bimbingan etika dari para guru dan
petugas sekolah
c. Terdapat kesenjangan ekonomi yang besar antara siswa yang kaya dan
miskin
d. Adanya pola kedisiplinan yang sangat kaku ataupun terlalu lemah
Bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten.
3. Kategori Bullying
Olweus dalam Coloroso, (2006) membagi kategori bullying kedalam
lima frekuensi katergori yaitu :
25
a. Bullying kategori low (rendah) : biasanya melibatkan periode yang
singkat yaitu 1 kali dalam satu bulan, tindakan dapat meliputi ejekan,
pemberian julukan yang buruk dan pengucilan sewaktu – waktu. Bullying
dalam kategori ini biasanya menyebalkan dan tidak menyenangkan serta
dapat bereskalasi menjadi bentuk bullying yang lebih serius.
b. Bullying kategori infrequent (kadang – kadang) : pada kategori ini
seseorang mengalami bentuk Bullying dalam frekuensi ringan antara 2 kali
dalam satu bulan, dapat berupa dijauhi teman sebaya, digunjing dan
diganggu.
c. Bullying kategori intermediate (menengah) : seseorang yang mengalami
tindak bullying dengan frekuensi antara 3 – 4 kali dalam satu bulan adalah
mereka yang mengalami tindak Bullying dalam bentuk fisik dan psikologis
sehingga mengakibatkan rendahnya harga diri dan mengakibatkan depresi.
d. Bullying kategori frequent (sering) : terjadi saat seseorang mengalami
bentuk pelecehan dan penghianatan yang sistematik dan meyakitkan dengan
frekuensi yang sering yaitu antara 5 sampai 6
kali dalam satu bulan.
Tindakan dapat meliputi ejekan yang kejam, pengucilan yang berkelanjutan,
dan beberapa ancaman serta ancaman fisik yang halus seperti mendorong,
menjegal, mencubit,menjambak dan lain sebagainya.
e. Bullying kategori constantly (selalu) : melibatkan intimidasi dan tekanan
yang kejam dan intens, terutama saat hal tersebut terjadi berulang kali (lebih
dari 7 kali dalam satu bulan dan sangat menimbulkan stress bagi korbannya.
26
Bullying dalam kategori ini sering kali melibatkan serangan fisik yang
cukup ekstrim seperti memukul, menendang, melukai fisik dan sebagainya,
namun bisa juga melibatkan aksi non – fisik seperti pengasingan total, fitnah
yang kejam serta sarkasme yang berlebihan.
4. Proses dan siklus bullying
Proses dan siklus dimana bullying dimulai dan berkembang dapat
diilustrasikan dalam serangkaian diagram. Siklus atau proses bullying dimulai
saat terdapat anak yang relatif lemah dan rentan terhadap serangan orang lain.
Menurut penelitian, biasanya anak semacam ini Introvert, secara fisik lebih
lemah dibanding anak-anak lain, cemas, terisolir dan dijadikan objek olokolok. Selanjutnya, muncul seorang anak atau sekelompok anak yang lebih
kuat dan menempatkan korban kedalam situasi bullying. Situasi bullying ini
biasanya dimulai dengan olok-olok dan ejekan, dan hal tersebut bisa tidak
berlanjut dan bisa juga berkembang menuju tingkat yang lebih tinggi.
Beberapa anak mulai ikut serta menjadi pelaku bullying dan korban mulai
mengalami kekerasan verbal, tekanan dan dalam kasus yang ekstrim ia bisa
saja mengalami serangan fisik. Periode penolakan ini bisa beralih menjadi
periode dimana korban menjadi terisolir.
Jika korban memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia terganggu atau ia
menyerah, maka hal tersebut merupakan bukti bahwa si pelaku berhasil.
Pelaku memperoleh rasa senang dan puas atas dominasinya. Jika ada
27
pembenaran, pengakuan atau penguatan dari orang lain (bystanders), maka
secara perlahan empati si pelaku akan menghilang dan bullying akan berlanjut
menjadi bentuk yang lebih intens dan lebih ekstrem. Bagi korban hal ini
merupakan pengalaman yang akan menghantui dirinya selama berbulanbulan, bahkan bertahun-tahun.
Siklus bullying dapat terhenti ketika ada korban yang berusaha
mencari pertolongan atau mencari cara untuk melepaskan diri menghindar
dari pelaku bullying, ada yang menemukan cara tersebut dan ada juga yang
tidak. Cara-cara yang ditempuh bisa dengan melarikan diri, melawan balik,
bersikap dingin seakan tidak terjadi apa-apa, ataupun mencari bantuan dengan
melapor pada orang dewasa. Korban yang menemukan cara untuk lepas dari
situasi bullying disebut korban yang resisten. Ada juga korban yang menjadi
resisten karena memperoleh pertolongan dari pihak lain, dan hal ini juga dapat
mendobrak siklus bullying.
5. Bentuk dan jenis bullying
Olweus (1994) merumuskan adanya tiga unsur dasar dalam Bullying,
yaitu bersifat menyerang dan negatif, dilakukan secara berulang kali, dan
terjadi ketidakseimbangan antara pihak yang terlibat. Coloroso (2006) juga
mengatakan Bullying akan selalu mengantung tiga elemen yaitu kekuatan
yang tidak seimbang, bertujuan untuk menyakiti dan ancaman akan dilakukan
agresi. Sehingga seseorang dianggap korban bullying jika dihadapkan pada
28
tindakan negatif oleh seseorang atau lebih yang dilakukan berulang – ulang
dan terjadi dari waktu ke waktu.
Selain itu bullying juga melibatakan kekuatan dan kekuasaan yang
tidak seimbang, sehingga korbanya berada pada suatu keadaan tidak mampu
mempertahankan diri secara efektif untuk melawan tindakan negatif yang
diterimanya (Olweus, dalam Coloroso, 2006). Beberapa macam tindakan
bullying menurut Olweus (1994) adalah sebagai berikut :
a.
Bullying Psikologis yaitu berupa tindakan seperti menfitnah,
mempermalukan, menakut – nakuti, menghina, melecehkan,
mengucilkan, mencibir dan lain sebagainya.
b. Bullying Fisik yaitu perbuatan yang melukai fisik seperti menendang,
memukul, mendorong dengan sengaja, menempeleng, menjewer,
mencubit, memalak, mencakar dan lain sebagaianya.
c. Bullying Verbal yaitu perilaku seperti mengancam, meledek,
menghina, name calling, merendahkan, sarkasme dan lain lain.
d. Bullying Non Verbal yaitu perilaku seperti melihat dengan sinis,
menjulurkan lidah, menampilkan muka merendahkan, mencibir,
meneror dan mengabaikan
6. Tanda – tanda korban Bullying
Korban bullying bukanlah sekedar pelaku pasif dalam situasi Bullying.
Korban bullying turut berperan dan memelihara situasi bullying dengan
bersikap diam. Seorang korban umumnya tidak berbuat apa – apa dan
membiarkan perilaku bullying terjadi padanya, karena ia tidak mempunyai
keberanian atau kekuatan untuk membela diri atau melawan. Olweus dalam
Coloroso (2006) mengungapkan tanda – tanda untuk mendeteksi terjadinya
pada korban antara lain :
29
1. Tanda Fisik
a. Sering membolos, kabur dari rumah dan lain sebagainya
b. Memotong, membakar, merusak barangnya sendiri atau
sembarang barang
c. Sering pusing, tidak bisa tidur, tidak sehat atau sakit
d. Sering minta uang tambahan
e. Enggan berangkat kesekolah
f. Melukai diri
2. Tanda Intelektual
a. Sulit bicara, atau kadang bicara namun kurang nyambung
b. Sering lupa
c. Kurang perhatian dikelas atau pada orang lain
d. Tidak mengerjakan tugas
3. Tanda Emosional
a. Diam, sering merenung
b. Marah, gusar, teriak tak jelas
c. Merusak sesuatu
d. Perilaku yang berubah secara tiba-tiba
e. Tidak percaya diri
4.
a.
b.
c.
Tanda sosial
Menghindar atau tidak mau bertemu teman atau orang lain
Berperilaku tidak menyenangkan atau aneh pada orang lain
Menyakiti orang lain
7. Korban Bullying
Olweus (2007) mendefinisikan victim (korban bullying) yaitu anak
yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan
dan hanya sedikit memperlihatkan pertahanan melakukan perlawanannya.
Korban bullying menunjukkan fungsi sosial yang buruk. Menurut Olweus
dalam Coyne, Seigne & Randall (2000) korban bullying lebih menunjukkan
depresi, cemas dan cenderung merasa tidak aman dibandingkan dengan anak
lainnya, memperlihatkan harga diri yang rendah, dan biasanya bersikap hati –
30
hati, sensitif dan pendiam. Jika dibandingkan dengan teman sebayanya yang
tidak menjadi korban Bullying.
Karakteristik umum dari korban bullying adalah korban cendurung
berhati – hati, sensitif, dan umumnya mereka adalah anak – anak yang merasa
kurang percaya diri atau merasa tidak aman ketika bergaul dengan teman
sebayanya, mereka sering sangat terisolasi secara sosial dan juga kesepian.
Menurut Olweus, (1994) anak yang menjadi korban bullying secara fisik lebih
lemah dari rekan – rekan mereka.
Olweus, (1994) menyebutkan beberapa karakteristik korban bullying,
anak yang rentan menjadi korban bullying
adalah anak yang baru di
lingkungan itu, anak termuda di sekolah, anak yang pernah mengalami
trauma, anak penurut, anak yang perilakunya dianggap menganggu oleh anak
lain, anak yang tidak mau berkelahi, anak yang pemalu, anak yang berasal
dari keluarga tidak mampu (miskin) atau kaya, anak yang ras suku etnisnya
dianggap inferior oleh penindas, anak yang agamanya dianggap inferior oleh
penindasnya, anak yang cerdas dan berbakat, anak yang gemuk atau kurus,
anak yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan orang lain, dan anak
dengan ketidak cakapan mental atau fisik.
Apabila anak telah menjadi korban Bullying, anak tersebut tidak akan
memberitahukan kepada orang lain secara terus terang, beberapa alas an
mengapa korban bullying enggan melaporkan perilaku Bullying tersebut
diungkap oleh Olweus (1994) antara lain karena korban merasa malu
31
mengakui karena pernah ditindas, takut akan aksi balas dendam apabila
memberitahukan kepada orang lain, korban berpikin bahwa tidak ada orang
yang mampu member pertolongan, dan mereka berpikir kalau tidak akan
orang yang mau menolong mereka.
8. Cara Mengatasi Bullying
Untuk mencegah dan mengatasi bullying di sekolah diperlukan
kebijakan yang bersifat menyeluruh di sekolah, sebuah kebijakan yang
melibatkan seluruh komponen dari guru sampai siswa, dari kepala sekolah
sampai orang tua murid, kerja sama antara guru, orang tua dan masyarakat
maupun pihak lain yang terkait seperti kepolisian, aparat hukum dan lain
sebagainya.
Salah satu cara yang bisa dilakukan sekolah adalah membuat program
anti Bullying di sekolah. Menurut Huneck seorang ahli intervensi bullying
yang berkerja di Jakarta International School, menyatakan bahwa bullying
akan terus terjadi kalangan pelajar di lingkungan sekolah apabila tidak ada
tindakan kongkrit dari guru, kepala sekolah, orang tua siswa maupun pihak
terkait untuk mengatasi tindakan tersebut (Wiyani, 2012). Adapun cara untuk
mengatasi bullying di sekolah adalah dengan membuat program dan kegiatan
anti - bullying di sekolah antara lain :
a. Menanamkan pengertian kepada siswa bahwa rasa aman adalah hak
dan milik semua orang.
32
b. Menyadarkan semua pihak di sekolah bahwa tindakan bullying dalam
bentuk apapun tidak dapat ditolerir.
c. Membantu siswa membentuk lingkaran orang yang mereka percayai.
d. Mengoptimalkan mata pelajaran budi pekerti
e. Menciptakan suasana yang aman dan nyaman di sekolah.
Kegiatan yang dapat dilakukan selama program – program tersebut antara
lain :
a. Brainstorming dan diskusi
b. Kegiatan menggunakan lembar kerja
c. Membuat gambar, kolase, poster mengenai pencegahan Bullying.
d. Bermain drama
Untuk memutus mata rantai pelaku dan budaya bullying, pihak
sekolah harus bertindak tegas dan membuat peraturan mengenai tindakan
Bullying yang wajib untuk dipatuhi siswa. Peraturan yang dibuat secara tidak
langsung akan mempengaruhi budaya sekolah.
C. Penelitian Yang Relevan
Van Cleave (2000) dalam penelitianya kepada 60 orang Irlandia yang
menjadi korban Bullying di tempat kerja menggunakan Comprehensive
measure personality based on five factor model, menemukan tidak ada
perbedaan tipe kepribadian, korban lebih Ekstrovet dan Independent dari pada
control sample dari non – victim.
Hal senada juga didapatkan oleh Sesar (2009) dalam penelitiannya
pada 372 pada anak usia 10 – 14 tahun (mean age 12.3±1.6 years) dengan alat
ukur completed a School Relationship Questionnaire (SRQ) dan the Junior
Eysenck Personality Questionnaire (EPQ Junior), didapatkan hasil victims
33
memiliki level yang tinggi pada extraversion (F(3.323) = 3.105, p <0.05),
sedangkan Bullies memiliki level yang tinggi pada neuroticism (F (3.325) =
20.390, p<0.001).
Varita (1996) dalam survei yang dilakukannya di Irlandia, melaporkan
korban Bullying lebih tinggi pada neuroticms dari pada yang non – korban,
yang berarti tidak ada perbedaan tipe kepribadian pada korban Bullying.
D. Hipotesis
Hipotesis komparatif adalah pernyataan yang menunjukkan dugaan
nilai dalam satu variabel atau lebih pada sampel
yang berbeda
(Sugiyono,2010). Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut : Ho :
Tidak ada perbedaan yang signifikan tipe kerpribadian
Ekstrovert dan Introvert dalam Frekuensi terkena Bullying pada siswa SMA
Negeri 3 Salatiga.
Ha : Ada perbedaan yang signifikan tipe kepribadian Ekstrovert dan Introvert
dalam Frekuensi terkena Bullying pada siswa SMA Negeri 3 Salatiga.
34
Download