this PDF file - E

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
PENGARUH KARAKTERISTIK GOOD CORPORATE GOVERNANCE
TERHADAP PENGUNGKAPAN TANGGUNGJAWAB SOSIAL : STUDI
EMPIRIS
Novy Ayu Anggraini
[email protected]
Kurnia
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
The purpose of this research is to test the characteristic influence of Good Corporate Governance to the range of
social responsibility disclosure which has been published in the companies’ annual reports which are listed in
Indonesia Stock Exchange (IDX). This research uses 6 GCG’s characteristics which are the presence of expatriate
Board of Directors, Board of Directors size, Audit Committee size, the proportion of i ndependent audit
committee, concentrated ownership, and government ownership, and company’s characteristic in the form of
company size and profitability level. Quantitative approach which uses multiple regression analysis models with
the assistance of SPSS version 20 is used in this research. The object of the research is the annual report of 2011
from 110 companies which are listed in Indonesia Stock Exchange (IDX). Based on the result of regression
analysis it has been found that partially company size and government ownership has significant influence to
the disclosure of corporate social responsibility while the existence of expatriate Board of Directors, Board of
Directors size, Audit Committee size, the proportion of independent audit committee, concentrated ownership,
and government ownership, and company’s characteristic in the form of profitability level have no significant
influence to the range of corporate social responsibility disclosure.
Keywords : corporate governance, corporate social responsibility, company size and profitability
level.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh karakteristik Good Corporate Governance (GCG)
terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial yang dipublikasikan dalam laporan tahunan
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini men ggunakan enam
karaktersitik GCG, yaitu keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris,
ukuran komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, dan
kepemilikan pemerintah, serta karakteristik perusahaan berupa ukuran perusahaan dan tingkat
profitabilitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang mengggunakan model analisis
regresi berganda dengan bantuan program SPSS versi 20. Obyek yang diteliti adalah laporan tahunan
tahun 2011 dari 110 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan hasil
analisis regresi, penelitian ini men emukan bahwa kepemilikan pemerintah dan ukuran perusahaan
berpen garuh signifikan secara parsial terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan,
sedangakan keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran komite
audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, serta karakteristik perusahaan
berupa tingkat profitabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap luas pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan.
Kata –kata kunci :
corporate governance, corporate social responsibility, ukuran perusahaan
dan tingkat profitabilitas.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
2
PENDAHULUAN
Perhatian terhadap praktek Good Corporate Governance (GCG) pada perusahaan
meningkat dalam hampir dua dekade belakangan ini, terlebih setelah pemerintah Indonesia
dan International Monetary Fund (IMF) memperkenalkannya sebagai tata cara kelola
perusahaan yang sehat dalam rangka pemulihan sektor ekonomi. Hal itu diwujudkan dalam
sebuah keyakinan bahwa GCG merupakan salah satu kunci sukses perusahaan untuk
tumbuh dan menguntungkan dalam jangka panjang demi kelangsungan hidup perusahaan.
Di Indonesia, isu mengenai corporate governance muncul setelah terjadinya krisis
multidimensi pada pertengahan 1997. Krisis ini dimulai dengan merosotnya nilai rupiah
terhadap dolar Amerika Serikat yang kemudian menghancurkan sendi-sendi ekonomi, salah
satunya adalah pada sektor perbankan. Menurut hasil penelitian dan laporan dari Bank
Dunia dan ADB (Asia Development Bank), krisis yang menimpa Indonesia dan mengakibatkan
runtuhnya perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun di dunia adalah
disebabkan oleh lemahnya pelaksanaan GCG.
Pada dasarnya terdapat lima prinsip dalam GCG, yaitu Transparency, Accountability,
Responsibility, Independency, dan Fairness. Semua prinsip penting dalam GCG sangat erat
kaitannya dengan tanggung jawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan
Corporate Social Responsibility (CSR). Melalui CSR diharapkan perusahaan juga
memperhatikan kepentingan dan nilai tambah bagi stakeholders-nya ini sejalan dengan salah
satu prinsip GCG yaitu responsibility, sedangkan pengungkapan pelaksanaan tanggung
jawab sosial perusahaan sejalan dengan prinsip transparency dan accountability. Penerapan
konsep GCG diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan dan pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan, termasuk dalam laporan tahunan sebagai salah satu cara
perusahaan untuk membangun, mempertahankan, dan melegitimasi kontribusi perusahaan
dari sisi ekonomi dan politis. Perubahan pada tingkat kesadaran masyarakat tersebut
memunculkan kesadararan baru tentang pentingnya melaksanakan Corporate Social
Responsibility, apalagi setelah ditetapkannya Undang-Undang No. 40 tahun 2007 pada
tanggal 20 Juli 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mewajibkan semua perseroan untuk
melaporkan pelaksanaan tanggung jawab tersebut di laporan tahunan. Adanya pelaporan
tersebut adalah merupakan pencerminan dari perlunya akuntabilitas perseroan atas
pelaksanaan kegiatan CSR, sehingga para stakeholders dapat menilai pelaksanaan kegiatan
tersebut. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas, tujuan akhir yang diharapkan
adalah bahwa perseroan dengan kesadaran sendiri akan melaksanakan kegiatan CSR.
Dengan demikian prinsip independency dan fairness dari GCG dapat terwujud dengan
dikelolanya perusahaan secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau
tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundanganundangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
Dari uraian latar belakang permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk
menguji apakah karakteristik Good Corporate Governance (GCG), yang terdiri dari keberadaan
dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, proporsi
komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, dan kepemilikan pemerintah
berpengaruh terhadap luas pengungkapan informasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan
atau Corporate Social Responsibility (CSR).
TINJAUAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
Menurut Anthony dan Govindarajan (2005), teori agensi adalah hubungan atau
kontrak antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu
semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik
kepentingan antara principal dan agent. Konflik tersebut timbul sebagai akibat keinginan
agent (manajemen) untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya dengan
mengorbankan kepentingan principal untuk memperoleh keuntungan dan nilai jangka
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
3
panjang perusahaan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena pada kenyataannya manajemen
lebih banyak mengetahui prospek usaha yang sebenarnya dibanding dengan pihak
stakeholders (principal), dengan kata lain telah terjadi penguasaan informasi yang berbeda
(asymmetric information). Informasi yang dimiliki stakeholders terbatas pada informasi publik
atau informasi yang disampaikan ke mereka, sedangkan manajemen perusaha an memiliki
informasi yang lengkap mengenai perusahaan. Terjadinya konflik kepentingan antara
principal dan agent akan menimbulkan biaya keagenan (agency cost). dan biaya kerugian
residual (residual loss). Corporate Governance dapat membantu menekan atau mengurangi
biaya agensi yang mungkin terjadi. Biaya agensi yang muncul karena konflik kepentingan
antara agent dan principal dapat dikurangi dengan mekanisme pengawasan agar pihak
manajemen bertindak sejalan dengan kepentingan pemilik perusahaan. Mekanisme
pengawasan yang dimaksud adalah mekanisme Good Corporate Governance (GCG). GCG
dianggap mampu mengurangi masalah keagenan karena dengan adanya pengawasan maka
perilaku oportunis manajer dan kecenderungan untuk menyembunyikan informasi demi
keuntungan pribadi dapat diantisipasi dan dapat mengarah pada peningkatan
pengungkapan perusahaan.
Teori legitimasi mengatakan bahwa organisasi secara terus menerus mencoba untuk
meyakinkan bahwa mereka melakukan kegiatan sesuai dengan batasan dan norma -norma
masyarakat dimana mereka berada. Legitimasi dapat dianggap sebagai menyamakan
persepsi atau asumsi bahwa tindakan yang dilakukan oleh suatu entitas adalah merupakan
tindakan yang diinginkan, pantas ataupun sesuai dengan sistem norma, nilai, kepercayaan
dan definisi yang dikembangkan secara sosial. Pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan dianggap sebagai implementasi dari strategi legitimasi yang harus melibatkan
komunikasi (pengungkapan) dari organisasi untuk meyakinkan bahwa mereka melakukan
kegiatan sesuai dengan batasan dan norma-norma masyarakat dimana mereka berada.
Karenanya pengungkapan informasi perusahaan dapat dipandang sebagai suatu strategi
yang dapat dipergunakan oleh organisasi untuk mempertahankan legitimasinya.
Teori stakeholders berpandangan bahwa keberadaan perusahaan tidak hanya untuk
memaksimumkan kekayaan pemilik (shareholders), namun juga untuk melayani kepentingan
stakeholders perusahaan, seperti para pembeli (konsumen), komunitas investor, karyawan,
kontraktor, pemasok, pemerintah, masyarakat lokal, dan beberapa institusi atau lembaga
riset. Manajer dalam mengambil keputusan akan melihat dampaknya ke stakeholders dan
berusaha memaksimumkan manfaat dan meminimumkan kerugian dari masing-masing
stakeholders sehingga tercapai keseimbangan antara kepentingan berbagai pihak. Ullmann
(dalam Van Der Laan, 2004), juga menyimpulkan bahwa pengungkapan sosial merupakan
strategi yang digunakan untuk mengelola hubungan dengan stakeholders dengan
mempengaruhi level permintaan yang berasal dari stakeholders yang berbeda. Semakin
penting stakeholders itu bagi kesuksesan organisasi, semakin besar kemungkinan organisasi
akan memenuhi permintaannya. Implikasi dari teori stakeholder adalah bahwa perusahaan
secara sukarela akan melaksanakan CSR, karena pelaksanaan CSR adalah merupakan bagian
dari peran perusahaan ke stakeholders.
GOOD CORPORATE GOVERNANCE
Good Corporate Governance atau yang biasa disingkat GCG berasal dari istilah
“Corporate Governance” yang berarti tata kelola perusahaan, merupakan suatu bentuk analogi
antara pemerintahan suatu negara dengan pemerintahan dalam suatu perusahaan.
Sebagaimana dalam pemerintahan suatu negara, dalam perusahaan juga terdapat berbagai
kelompok dengan berbagai kepentingan untuk mencapai suatu tujuan. Oleh karena itu
muncul sebuah konsep Corporate Governance dalam mengatasi konflik kepentingan tersebut
agar perusahaan dapat dikelola dengan baik.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
4
Definisi diatas menjelaskan bahwa Corporate Governance adalah sistem yang bisa
digunakan untuk mengatur dan mengendalikan perusahaan. Good Governance timbul dari
kebutuhan usaha akan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance), yang
menegakkan prinsip-prinsip transparan, dapat dipercaya, bertanggung jawab dan
berkeadilan.
PRINSIP DASAR GOOD CORPORATE GOVERNANCE
Terdapat beberapa prinsip dalam implementasi good corporate governance (GCG).
Menurut pedoman umum good corporate governance Indonesia, terdapat lima prinsip utama
yang terkandung dalam good corporate governance yaitu transparency, accountability,
responsibility, independency serta fairness yang akan dijabarkan sebagai berikut:
Pertama Transparansi (keterbukaan informasi) yaitu keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan
informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.
Kedua, Accountability (akuntabilitas) yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem dan
pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana secara
efektif.
Ketiga, Responsibility (pertanggung jawaban) yaitu adalah kesesuaian (patuh) di
dalam pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku. Peraturan yang berlaku di sini termasuk yang berkaitan dengan
masalah
pajak,
hubungan
industrial,
perlindungan
lingkungan
hidup,
kesehatan/keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan yang sehat.
Keempat, Independency (kemandirian) yaitu suatu keadaan di mana perusahaan
dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari
pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
Kelima, Fairness (kesetaraan dan kewajaran) yaitu perlakuan yang adil dan setara di
dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku.
Karakteristik Good Corporate Governance
Ada enam karakteristik Good Corporate Governance yang dipakai dalam penelitian ini
yang bertujuan untuk pengungkapan luas tanggung jawab sosial perusahaan, yaitu
keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran komite
audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi dan kepemilikan
pemerintah.
Dewan Direksi Warga Negara Asing. Dewan direksi warga negara asing merupakan
anggota direksi perusahaan yang memiliki kewarganegaraan asing atau ekspatriat, dan
bukan warga asing yang sudah menjadi warga negara indonesia.
Ukuran Dewan Komisaris. Ukuran dewan komisaris merupakan jumlah seluruh
anggota dewan komisaris dalam perusahaan. Dewan Komisaris merupakan suatu
mekanisme untuk mengawasi dan untuk memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola
perusahaan atau pihak manajemen.
Ukuran Komite Audit. Ukuran komite audit merupakan jumlah seluruh anggota
komite audit yang dimiliki perusahaan. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan
perusahaan yang baik (good corporate governance), Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Badan
Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) mewajibkan perusahaan publik untuk memiliki komite
audit. Komite audit bertugas untuk untuk memastikan bahwa struktur pengendalian
internal perusahaan dilakukan dengan baik.
Proporsi Komite Audit Independen. Komite audit independen merupakan jumlah
anggota komite audit yang berasal dari luar emiten atau perusahaan publik yang tidak
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
5
memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham ataupun hubungan
keluarga dengan anggota komite audit lainnya, direksi ataupun pemegang saham
pengendali atau hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak
independen.
Kepemilikan Terkonsentrasi. Kepemilikan terkonsentrasi merupakan kepemilikan
saham yang besarnya lebih dari 50% hak suara pada suatu perusahaan. Kepemilikan saham
dikatakan terkonsentrasi jika sebagian besar saham dimiliki oleh sebagian kecil individu
atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang relatif
dominan dibandingkan dengan lainnya.
Kepemilikan Pemerintah. Kepemilikan pemerintah merupakan kepemilikan saham
perusahaan yang dikuasai oleh pihak pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun
pemerintah daerah.
Di Indonesia, CSR Indonesia mendefinisikan konsep CSR sebagai upaya manajemen
yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasar
keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif
dan memaksimumkan dampak positif tiap pilar. CSR merupakan konsep yang cukup
kompleks sehingga sulit untuk didefinisikan dengan pasti. Dalam suatu pandangan umum
CSR dapat disebut sebagai interaksi antara bisnis dan lingkungan sosialnya. Sedangakan
bertanggung jawab secara sosial menurut konsep CSR berarti bahwa perusahaan beroperasi
dan bertindak sesuai dengan yang dapat diterima oleh masyarakat dan dengan cara -cara
yang bertanggung jawab. Menurut Wibisono (2007:8), kendatipun tidak memiliki definisi
Ukuran dewan komisaris merupakan jumlah seluruh anggota dewan komisaris dalam
perusahaan. tunggal konsep CSR menawarkan sebuah kesamaan, yaitu keseimbangan
antara perhatian terhadap aspek ekonomis dan perhatian terhadap aspek sosial serta
lingkungan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan dalam kegiatannya juga harus
memperhatikan tiga hal yaitu profit, masyarakat dan lingkungan. Ketiganya harus berjalan
secara sinergis dan berkesinambungan agar tercipta iklim perusahaan yang baik sehingga
eksistensi perusahaan juga terjamin dengan citra atau reputasi positif yang didapatnya dari
konsumen dan masyarakat.
Implementasi Pelaporan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
Seperti halnya definisi CSR yang tak tunggal serta kegiatan tanggung jawab sosial
perusahaan itu sendiri, yang bagi sejumlah kalangan masih dianggap sebagai sesuatu yang
bersifat sukarela, laporan tersebut juga sangat beragam formatnya, gayanya, luasnya dan
metodologi evaluasi yang digunakan walaupun dalam suatu industri yang sejenis.
Bagaimanapun, laporan CSR atau laporan keberlanjutan merupakan upaya untuk
meningkatkan akuntabilitas perusahaan di mata para stakeholders-nya.
Gray, Owen dan Adams dalam Meutia (2008), mendefinisikan pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility Disclosure - CSRD) sebagai
proses mengkomunikasikan pengaruh sosial dan lingkungan dari suatu organisasi, tindakan
ekonomi untuk kelompok yang mempunyai kepentingan dalam suatu masyarakat dan
untuk masyarakat secara luas. Pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan merupakan
suatu cara bagi perusahaan untuk mengkomunikasikan kepada para stakeholders-nya bahwa
perusahaan memberikan perhatian pada pengaruh sosial dan lingkungan yang ditimbulkan
oleh perusahaan. Pengungkapan ini juga bertujuan untuk memperlihatkan kepada
masyarakat aktivitas sosial yang dilakukan oleh perusahaan dan pengaruhnya terhadap
masyarakat. Pengaruh disini antara lain adalah seberapa jauh lingkungan, pegawai,
konsumen, masyarakat lokal dan yang lainnya dipengaruhi oleh kegiatan dan operasi bisnis
perusahaan. Umumnya mencakup seluruh aspek triple bottom line yang meliputi aspek
ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
6
Jenis pengungkapan dalam laporan tahunan merupakan bentuk pelaporan tanggung
jawab sosial perusahaan yang cenderung paling banyak dipraktekkan di Indonesia,
walaupun beberapa perusahaan sudah melaporkan pengungkapan tersebut pada laporan
khusus tentang CSR mereka, seperti PT Unilever Indonesia Tbk yang memiliki Laporan
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dan PT Astra Internasional Tbk yang memiliki Astra’s
Corporate Social Responsibility. Kewajiban pengungkapan CSR di Indonesia telah diatur dalam
beberapa regulasi, antara lain adalah pernyataan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) yang
menyarankan perusahaan untuk mengungkapkan tanggung jawab mengenai sosial dan
lingkungan sebagaimana dituangkan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) No.1 (Revisi 1998) Paragraf kesembilan :
“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai
lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (added value statement), khusunya bagi
industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi
industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang
peranan penting.”
Secara yuridis formal, pemerintah telah mendukung praktik dan pengungkapan
tanggung jawab sosial melalui Undang-undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas Bab IV Pasal 66 ayat 2(c) dan Bab V Pasal 74. Pada Pasal 66 ayat 2 bagian c
disebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perusahaan juga diwajibkan
melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sedangkan Pasal 74
menjelaskan kewajiban untuk melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi
perusahaan yang kegiatan usahanya berkaitan dengan sumber daya alam. Selain itu
kewajiban pelaksanaan CSR juga diatur dalam Undang-Undang Penanaman Modal No.25
Tahun 2007 pasal 15 bagian b, pasal 17, dan pasal 34 yang mengatur setiap penanaman
modal diwajibkan untuk ikut serta dalam tanggung jawab sosial perusahaan. Selain itu,
pengungkapan tanggung jawab sosial juga terdapat dalam Keputusan Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. kep- 38/PM/1996 peraturan No.VIII.G.2 tentang
Laporan Tahunan yang berisi mengenai kebebasan bagi perusahaan untuk memberikan
penjelasan umum mengenai perusahaan, selama hal tersebut tidak menyesatkan dan
bertentangan dengan informasi yang disajikan dalam bagian lainnya. Penjelasan umum
tersebut berisi uraian mengenai keterlibatan perusahaan dalam kegiatan pelayanan
masyarakat, program kemasyarakatan, amal, atau bakti sosial lainnya, serta uraian
mengenai program perusahaan dalam rangka pengembangan SDM. Bagi perusahaan
terbuka, Bapepam LK mengeluarkan keputusan No. 134/BL/2006 tentang Kewajiban
Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik. Dibanding aturan
sebelumnya (No.38/PM/1996) jumlah informasi yang wajib diungkapkan, khususnya yang
terkait dengan praktek Corporate Governance, jauh lebih banyak. Aturan tersebut mewajibkan
perusahaan untuk menguraikan aktivitas dan biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan
tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan. Sama halnya
dengan Undang - Undang Perseroan, isi dan format uraian sepenuhnya diserahkan ke
perusahaan, yang berarti dapat menyulitkan publik dalam mengevaluasi dan
membandingkan pelaksanaan CSR antar perusahaan. Standar pengungkapan CSR yang
berkembang di Indonesia adalah merujuk standar yang dikembangkan oleh GRI (Global
Reporting Initiatives). Ikatan Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Manajemen (IAIKAM) atau sekarang dikenal Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) merujuk standar
yang dikembangkan oleh GRI dalam pemberian penghargaan Indonesia Sustainability Report
Award (ISRA) kepada perusahaan-perusahaan yang ikut serta dalam membuat laporan
keberlanjutan atau sustainability report. Standar GRI dipilih karena memfokuskan pada
standar pengungkapan berbagai kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan perusahaan.
Pengembangan Hipotesis
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
7
Pengaruh Keberadaan Dewan Direksi Warga Negara Asing terhadap Pengungkapan CSR.
Keberadaan warga negara asing dalam komposisi dewan direksi menurut Branco dan
Rodrigues (dalam Sudana, 2011) dapat mengangkat isu kausalitas pengungkapan. Hal ini
karena warga negara asing yang pada umumnya berasal dari negara yang telah maju dan
biasanya memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap kondisi lingkungan yang
bersih, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.Dengan demikian diharapkan dengan adanya
Dewan Direksi yang merupakan ekspatriat (warga negara asing) maka perusahaan akan
lebih peduli terhadap praktik dan pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan
sehingga pengungkapan informasi tanggung jawab sosial perusahaan akan semakin
berkualitas dan luas. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H1 : Keberadaan Dewan Direksi Warga Negara Asing berpengaruh positif terhadap luas
pengungkapan CSR.
Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris terhadap Pengungkapan CSR
Dewan Komisaris merupakan suatu mekanisme untuk mengawasi dan untuk
memberikan petunjuk dan arahan pada pengelola perusahaan atau pihak manajemen.
Berdasarkan teori agensi, dewan komisaris dianggap sebagai mekanisme pengendalian
intern tertinggi, yang bertanggung jawab untuk memonitor tindakan manajemen sehingga
dapat mengurangi agency cost dan meningkatkan citra dan reputasi perusahaan ke publik
(Akhtaruddin, et. al., 2009). Berkaitan dengan pengungkapan informasi oleh perusahaan,
semakin besar ukuran dewan komisaris maka intensitas kegiatan monitoring semakin
meningkat dan proses monitoring akan menjadi lebih baik dengan didukung pengalaman
dan keahlian yang dimiliki oleh masing - masing dewan komisaris. Dengan demikian
diharapkan mampu meningkatkan pengungkapan informasi terkait perusahaan ya ng
dimiliki oleh manajemen, termasuk informasi terkait tanggung jawab sosial perusahaan.
Hasil penelitian Sembiring (2005) menemukan adanya hubungan positif yang signifikan
antara ukuran Dewan Komisaris denganpengungkapan CSR di Indonesia. Hal ini berarti
bahwa semakin banyak jumlah anggota Dewan Komisaris dalam suatu perusahaan, maka
monitoring akan berjalan dengan baik dan pengungkapan informasi tanggung jawab sosial
perusahaan akan semakin luas. Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H2 : Ukuran Dewan Komisaris berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR.
Pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Pengungkapan CSR
Komite Audit merupakan komite yang bertugas membantu dewan komisaris dalam
melakukan mekanisme pengawasan terhadap manajemen. Menurut Forker (dalam Said et.
al., 2009) komite audit dianggap sebagai salah satu alat yang efektif untuk melakukan
mekanisme pengawasan, sehingga dapat mengurangi biaya agensi dan meningkatkan
kualitas pengungkapan informasi perusahaan, termasuk informasi terkait tanggung jawab
sosial perusahaan.Dengan demikian, semakin besar ukuran komite audit, maka mekanisme
pengawasan yang dilakukan akan semakin baik dan pengungkapan informasi tanggung
jawab sosial perusahaan akan semakin luas.
H3 : Ukuran Komite Audit berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR.
Pengaruh Proporsi Komite Audit Independen terhadap Pengungkapan CSR
Keberadaan komite audit dapat dirasakan sebagai indikasi monitoring berkualitas
tinggi dan berpengaruh signifikan dalam menyediakan informasi yang lebih baik kepada
para pemakai laporan keuangan Mujiyono (2010). Keberadaan anggota independen dalam
jajaran komite audit diharapkan dapat menjaga independensi komite audit dari pihak
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
8
manajemen, sehingga dapat secara objektif membantu dewan komisaris melaksanakan
tugas pengawasan terhadap manajemen. Dengan tercapainya pengawasan yang efektif,
maka dapat dipastikan pengendalian internal dilakukan dengan baik. Sehingga akan
mengurangi konflik dan biaya agensi yang pada akhirnya dapat mendorong manajemen
untuk mengungkapkan seluruh informasi perusahaan. Hipotesis dalam penelitian ini
adalah:
H4 : Proporsi Komite Audit Independen berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan
CSR.
Pengaruh Kepemilikan Terkonsentrasi terhadap Pengungkapan CSR
Kepemilikan saham dikatakan terkonsentrasi jika sebagian besar saham dimiliki oleh
sebagian kecil individu atau kelompok, sehingga pemegang saham tersebut memiliki jumlah
saham yang relatif dominan dibandingkan dengan lainnya. Kepemilikan saham dikatakan
menyebar, jika kepemilikan saham menyebar secara relatif merata ke publik, tidak ada yang
memiliki saham dalam jumlah sangat besar dibandingkan dengan lainnya Dallas (dalam
Shinta dan Ahmar, 2011) konsentrasi kepemilikan dapat menjadi mekanisme internal
pendisiplinan manajemen, sebagai salah satu mekanisme yang dapat digunakan untuk
meningkatkan efektivitas monitoring, karena dengan kepemilikan yang besar menjadikan
pemegang saham memiliki akses informasi yang cukup signifikan untuk mengimbangi
keuntungan informasional yang dimiliki manajemen. Jika ini dapat diwujudkan maka
tindakan moral hazard manajemen seperti tindakan oportunis manajemen untuk
menyembunyikan informasi dapat dikurangi. Dengan demikian dapat mendorong
pengungkapan CSR untuk dilakukan dengan lebih luas.
H5 : Kepemilikan Terkonsentrasi berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR
Pengaruh Kepemilikan Pemerintah terhadap Pengungkapan CSR
Kepemilikan pemerintah adalah jumlah saham perusahaan yang dimiliki oleh
pemerintah. Melalui kepemilikan saham ini pemerintah berhak menetapkan direktur
perusahaan. Selain itu pemerintah dapat mengendalikan kebijakan yang diambil oleh
manajemen agar sesuai dengan kepentingan/aspirasi pemerintah. Di Indonesia perusahaan
ini disebut dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Mayoritas sahamnya dimiliki oleh
pemerintah sehingga stakeholder utama perusahaan ini adalah pemerintah. Dalam
menjalankan operasional perusahaannya, BUMN berpedoman kepada perudang-undangan
dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pemerintah yang menanamkan uang
negara dalam perusahaan lazimnya sesuai dengan tujuan/kebijakan bidang politik, sosial,
ekonomi, maupun lainnya (La Porta et al, 1999). Kepemilikan pemerintah pada perusahaan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat terbatas, tetapi relatif merupakan
perusahaan yang besar (kapitalisasi pasar besar) dan pada bidang industri yang dianggap
strategis, misalnya pada bidang telekomunikasi, perbankan, dan konstruksi (bekas Badan
Usaha Milik Negara). Menurut hasil penelitian Sefrilia dan Saftiana (2012), faktor
kepemilikan saham pemerintah berpengaruh signifikan terhadap pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan. Artinya bahwa semakin besar tingkat persentase kepemilikan
saham pemerintah, maka semakin luas pula pengungkapan aktivitas/tanggung jawab sosial
perusahaan pada laporan tahunan perusahaan. Hasil ini memberikan arti bahwa pemerintah
mengawasi dan memperhatikan kinerja perusahaan. Kinerja ini tercermin dalam laporan
tahunan perusahaan, termasuk didalamnya pelaporan aktivitas/tanggung jawab sosial
perusahaan. Pemerintah menekan perusahaan untuk mengungkapkan CSR dalam laporan
tahunan perusahaan sebagai bentuk pelaksanaan Good Corporate Governance. Hipotesis dalam
penelitian ini adalah:
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
9
H6 : Kepemilikan Pemerintah berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR.
Pengaruh Size (Ukuran Perusahaan) terhadap Pengungkapan CSR.
Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya harta yang dimiliki oleh perusahaan.
Ukuran perusahaan dapat mempengaruhi kegiatan operasionalnya. Secara umum,
perusahaan besar akan mengungkapkan informasi lebih banyak daripada perusahaan kecil.
Terdapat beberapa penjelasan mengenai hal tersebut. Teori agensi menyatakan bahwa
perusahaan besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan kecil.
Perusahaan besar mungkin akan mengungkapkan informasi yang lebih banyak sebagai
upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut. Penjelasan lain yang mungkin adalah
perusahaan besar menghadapi biaya politis yang lebih besar daripada perusahaan yang
lebih kecil. Perusahaan besar merupakan entitas yang paling banyak disorot oleh pasar
maupun publik secara umum. Mengungkapkan lebih banyak informasi merupakan bagian
dari upaya perusahaan untuk mewujudkan akuntabilitas publik. Penjelasan lain yang juga
sering diajukan adalah karena perusahaan besar memiliki sumber daya yang besar. Dengan
sumber daya yang besar tersebut perusahaan perlu menyediakan informasi untuk keperluan
internal dimana informasi tersebut sekaligus menjadi bahan untuk keperluan pengungkapan
informasi kepada pihak eksternal, sehingga tidak perlu ada tambahan biaya yang besar
untuk dapat melakukan pengungkapan dengan lebih lengkap. Sebagai tambahan,
perusahaan yang lebih besar melakukan lebih banyak aktivitas, membuat suatu dampak
yang lebih besar pada lingkungan sosialnya, memiliki lebih banyak shareholders yang
mungkin peduli dengan aktivitas-aktivitas sosial yang dilakukan perusahaan, dan laporan
tahunan menyediakan suatu efisiensi sebagai alat komunikasi untuk informasi tersebut.
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H7 : Size (Ukuran Perusahaan) berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR.
Pengaruh Profitabilitas terhadap Pengungkapan CSR
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio
profitabilitas akan memberikan gambaran tentang efektivitas manajemen perusahaan dalam
memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan laba dari kegiatan utama
perusahaan. Donovan dan Gibson( dalam Sembiring, 2005) menyatakan bahwa berdasarkan
teori legitimasi, salah satu argumen dalam hubungan antara profitabilitas dan tingkat
pengungkapan tanggung jawab sosial adalah bahwa ketika perusahaan memiliki tingkat
laba yang tinggi, perusahaan (manajemen) menganggap tidak perlu melaporkan hal-hal
yang dapat mengganggu informasi tentang sukses perusahaan. Sebaliknya, pada saat tingkat
profitabilitas rendah, manajemen berharap para pengguna laporan akan membaca informasi
positif mengenai kinerja perusahaan, misalnya dalam lingkup sosial, dan dengan demikian
investor akan tetap berinvestasi di perusahaan tersebut. Hubungan antara pengungkapan
tanggung jawab sosial dengan profitabilitas perusahaan mencerminkan bahwa perhatian
terhadap lingkungan sosial dipandang sama seperti perhatian manajemen untuk
menciptakan laba bagi perusahaan Bowman dan Haire (dalam Hackston dan Milne, 1996)
Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
H8 : Profitabilitas berpengaruh positif terhadap luas pengungkapan CSR.
METODE PENELITIAN
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
10
Populasi dan Sampel Penelitian
Penelitian dalam skripsi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melakukan
pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang tercatat
(go-public) di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013. Dari 440 perusahaan yang
mempublikasikan annual report tahun 2011 mereka dalam website BEI sampai dengan
tanggal 22 Mei 2013, sebanyak 110 perusahaan dipilih menjadi sampel dengan
menggunakan metode judgement sampling, yaitu salah satu bentuk purposive sampling dengan
mengambil sampel yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan maksud dan tujuan
penelitian dengan kriteria sebagai berikut: (1) Perusahaan menerbitkan dan
mempublikasikan laporan tahunan (annual report) periode 2011 secara lengkap, (2) Laporan
tahunan (annual report) yang diterbitkan perusahaan memenuhi ketentuan Bapepam-LK,
(3)Memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang digunakan dalam
penelitian.
Model analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda yang dirumuskan sebagai
berikut:
CSRI = α + β1DDWNA + β2 KOM + β3 UDIT + β4 KMAIND + β5 KONST +
β6 PEM + β7 SIZE + β8 PROF + e
Dimana :
CSRI
DDWNA
KOM
UDIT
KMAIND
KONST
PEM
SIZE
PROF
α
β1 , ..., β 13
e
: Corporate Social Responsibility Indeks (CSRI)
: Dewan Direksi Warga Negara Asing
: Ukuran Dewan Komisaris
: Ukuran Komite Audit
: Komite Audit Independen
: Kepemilikan Terkonsentrasi
: Kepemilikan Pemerintah
: Size atau Ukuran Perusahaan
: Profitabilitas
: Konstanta
: Koefisien regresi linier
: Error
Definisi Operasional dan Pengukuran variabel
1. Pengungkapan corporate social responsibility (CSRD), merupakan pengungkapan
informasi terkait dengan aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan. Variabel CSRI
diukur dengan persamaan :
ΣXij
CSRIj =
nj
Keterangan:
CSRIj : Corporate Social Responsibility Disclosure Index perusahaan j
nj : jumlah item untuk perusahaan j, n j ≤ 78
Xij : dummy variable: 1 = jika item i diungkapkan; 0 = jika item i tidak diungkapkan
2. Variabel dewan direksi warga negara asing (DDWNA) diukur dari ada tidaknya
anggota dewan direksi warga negara asing dalam susunan dewan direksi
perusahaan yang dicantumkan dalam laporan tahunan perusahaan, dengan
menggunakan variabel dummy dimana 0 (nol) menyatakan tidak ada warga negara
asing dalam susunan keanggotaan dewan direksi perusahaan dan 1 (satu)
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
11
menyatakan ada warga negara asing dalam susunan keanggotaan dewan direksi
perusahaan.
Ukuran dewan komisaris merupakan jumlah seluruh anggota dewan komisaris
dalam perusahaan yang diukur dengan menghitung jumlah anggota dewan
komisaris dalam perusahaan sebagaimana yang tercantum dalam laporan tahunan
perusahaan.
Ukuran komite audit merupakan jumlah seluruh anggota komite audit yang dimiliki
perusahaan yang diukur dengan menghitung jumlah anggota komite audit dalam
perusahaan sebagaimana yang tercantum dalam laporan tahunan.
Komite audit independen merupakan jumlah anggota komite audit yang berasal dari
luar emiten atau perusahaan publik yang tidak terafiliasi dengan perusahaan yang
diukur dengan rumus:
KMAIND = Jumlah Anggota Komite Audit Independen
Total Anggota Komite Audit
Kepemilikan terkonsentrasi merupakan kepemilikan saham yang besarnya lebih dari
50% hak suara pada suatu perusahaan. Variabel kepemilikan terkonsentrasi (KONST)
diukur dengan memberikan variabel dummy dimana 0 (nol) menyatakan bahwa
kempemilikan saham perusahaan cenderung menyebar atau tidak terdapat
kepemilikan terkonsentrasi dan 1 (satu) menyatakan dalam perusahaan terdapat
kepemilikan terkonsentrasi.
Kepemilikan pemerintah merupakan kepemilikan saham perusahaan yang dikuasai
oleh pihak pemerintah, baik pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Variabel
kepemilikan pemerintah (PEM) diukur dengan menghitung prosentase jumlah
kepemilikan saham perusahaan oleh pihak pemerintah.
Ukuran perusahaan yang diwakili oleh total aktiva yang dimiliki perusahaan
dihitung dengan rumus:
SIZE = Log natural total aktiva
Profitabilitas perusahaan yang diwakili oleh nilai net profit margin dihitung dengan
menggunakan rasio laba bersih terhadap pendapatan.
Net profit margin =
Laba Bersih
X 100 %
Total Pendapatan
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Tabel 1 menunjukkan statistik deskriptif masing-masing variabel penelitian yaitu
keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran komite
audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, kepemilikan
pemerintah, ukuran perusahaan dan profitabilitas.
Tabel 1
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
N
KOM
110
UDIT
110
KMAIND
110
PEM
110
SIZE
110
PROF
110
CSRI
110
Valid N (listwise)
110
Sumber : Hasil Olahan SPSS
Statistik Deskriptif
Minimum Maximum
Mean
2
11
5,15
0
7
3,37
,0000
1,0000
,601104
,0000
,9003
,093758
25,4937
33,9446
29,507952
,0081
,8771
,185126
,0769
,7969
,267339
12
Std. Deviation
1,886
,907
,1829608
,2311790
1,7383380
,1425811
,1322414
Melalui hasil statistik deskriptif tersebut dapat diketahui bahwa jumlah dewan
komisaris (KOM) terbanyak dimiliki oleh Astra Internasional Tbk dengan jumlah dewan
komisaris sebanyak 11 orang. Untuk ukuran komite audit (UDIT), Aneka Tambang (Persero)
Tbk merupakan perusahaan yang memiliki jumlah anggota komite audit terbanyak yaitu
sebanyak 7 orang. Sedangkan untuk proporsi komite audit independen (KMAIND)
prosentase terbesar adalah 100%, prosentase ini dimiliki oleh beberapa perusahaan antara
lain Astra Graphia Tbk dan PT. Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk. Untuk prosentase
kepemilikan pemerintah (PEM), perusahaan Kimia Farma Tbk merupakan perusahaan yang
paling banyak dimiliki sahamnya oleh pemerintah dengan prosentase kepemilikan sebesar
90,03%.
Dari hasil analisis statistik deskriptif pada tabel 2 juga dapat diketahui bahwa sampel
yang memiliki ukuran perusahaan (SIZE) terbesar adalah Bank Mandiri (Persero) Tbk,
dengan nilai total aktiva sebesar Rp 551.992.000.000.000,- yang diproksikan dengan log
(asset) sebesar 33,9446. Sedangkan sampel yang memiliki ukuran perusahaan paling kecil
adalah Mitra Investindo Tbk dengan nilai total aktiva sebesar Rp 117.966.795.513,- yang
diproksikan dengan log (asset) sebesar 25,4937. Untuk tingkat profitabilitas (PROF) rata-rata
perusahaan sampel memiliki tingkat profitabilitas sebesar 18,51%. Sedangkan untuk tingkat
pengungkapan CSR (CSRI), pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan sampel berkisar
pada nilai rata-rata sebesar 26,38%.
Hasil Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas. Distribusi normal dalam penelitian ini dideteksi dengan menggunakan
analisis grafik histogram dan normal probability plot, dan analisis statistik nonparametrik
Kolmogorov-Smirnov Z (K-S). Berdasarkan hasil dari uji normalitas pada penelitian ini
tampilan grafik histogram menunjukkan pola distribusi normal, dimana grafik berbentuk
simetris tidak melenceng ke kanan atau ke kiri. Hal ini didukung dengan grafik normal
yang menunjukkan titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan penyebarannya
berhimpit disekitar garis diagonal. Dengan demikian dapat dinya takan bahwa
penyebaran data mendekati normal atau memenuhi asumsi normalitas. hasil uji statistik
non-parametrik Kolmogorov - Smirnov (K-S) dapat dilihat bahwa nilai Kolmogorov Smirnov sebesar 0.991 dan tidak signifikan pada 0,05 (karena probabilitas = 0,279 > 0,05),
maka dapat dinyatakan bahwa residual berdistribusi normal. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa semua variabel memiliki distribusi normal.
b. Uji Multikolonieritas. semua variabel independen mempunyai nilai tolerance > 0,10 dan
nilai VIF < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada kolerasi antara variabelvariabel independen. Ini berarti persamaan model regresi diatas bebas dari
multikolinieritas atau dapat dipercaya dan obyektif.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
13
c. Uji Autokorelasi. Hasil output SPSS menunjukkan bahwa nilai test adalah -0,01668
dengan dan tidak signifikan pada 0,05 (karena probabilitas = 0,055 > 0,05), sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada model regresi tidak terjadi gejala autokolerasi.
d. Uji Heteroskedastisitas. Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat pola grafik
scatterplot. Hasil dari grafik scatterplot menunjukkan bahwa titik-titik menyebar secara
acak serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Sehingga model
regresi layak digunakan untuk untuk memprediksi CSRI berdasarkan masukan variabel
independen keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris,
ukuran komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, dan
kepemilikan pemerintah serta variabel kontrol berupa ukuran perusahaan (SIZE) dan
profitabilitas.
Hasil Uji Hipotesis
Tabel 2
Hasil Pengujian Regresi Variabel DDWNA, KOM, UDIT, KMAIND,
KONST, PEM, SIZE, dan PROF terhadap CSRI
Coefficientsa
Model
Unstandardized
Standardized
t
Sig.
Coefficients
Coefficients
B
Std. Error
Beta
1 (Constant)
-0,434
0,221
-1,967
0,052
DDWNA
-0,033
0,024
-0,123
-1,363
0,176
KOM
0,005
0,007
0,068
0,717
0,475
UDIT
0,011
0,014
0,074
0,741
0,461
KMAIND
-0,034
0,059
-0,047
-0,570
0,570
KONST
0,011
0,024
0,043
0,481
0,632
PEM
0,168
0,056
0,293
2,968
0,004
SIZE
0,022
0,008
0,286
2,654
0,009
PROF
0,057
0,077
0,061
0,739
0,461
R Square
0,358
Adj R Square
0,308
F hitung
7,052
Sig F
0,000 b
a. Dependent Variable : CSRI
b. Predictors : (Constant), PROF, KOM, KMAIND, PEM, DDWNA, KONST, UDIT,
SIZE
Sumber : Hasil Olahan SPSS
Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat besar nilai adjusted R2 sebesar 0,308 yang berarti
variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen sebesar 30,8
%. Hal ini berarti 30,8 % pengungkapan informasi tanggung jawab sosial perusahaan
dipengaruhi variabel keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan
komisaris, ukuran komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan
terkonsentrasi, kepemilikan pemerintah, ukuran perusahaan (SIZE) dan profitabilitas.
Sedangkan sisanya 69,2 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian
ini.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
14
Standar Error of the Estimate (SEE) menunjukkan nilai 0,1100415 hal ini menunjukkan
nilai yang kecil sehingga dapat disimpulkan model regresi layak digunakan untuk
memprediksi variabel independen. Sementara itu, nilai R sebesar 0,599 menunjukkan
hubungan antara variabel dependen yaitu keberadaan dewan direksi warga negara asing,
ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, proporsi komite audit independen,
kepemilikan terkonsentrasi, kepemilikan pemerintah, ukuran perusahaan (SIZE) dan
profitabilitas cukup kuat.
Uji F dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh variabel independen
terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Berdasarkan hasil uji F di atas, dapat
dilihat bahwa tingkat signifikansi adalah sebesar 0,000 dan nilai ini jauh lebih kecil
dibandingkan 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel independen yang terdiri
dari keberadaan dewan direksi warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran
komite audit, proporsi komite audit independen, kepemilikan terkonsentrasi, kepemilikan
pemerintah, dan variabel kontrol berupa ukuran perusahaan (SIZE) dan profitabilitas secara
serempak (simultan) memiliki pengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung
jawab sosial perusahaan (CSR Indeks) yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan hasil uji t dapat dianalisis variabel independen mana yang memiliki
pengaruh signifikan terhadap variabel dependen. Hasil pengujian SPSS menunjukkan angka
signifikansi variabel dewan direksi warga negara asing sebesar 0,176. Angka tersebut lebih
besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan Dewan direksi warga negara asing tidak berpengaruh
signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan hal ini dapat
dikarenakan anggota dewan direksi yang merupakan warga negara asing pada perusahaan
di Indonesia secara umum belum mempedulikan masalah lingkungan dan sosial sebagai isu
kritis yang secara ekstensif untuk diungkapkan dalam laporan tahunan. Hasil ini tidak
sesuai dengan hasil penelitian Sudana dan Arlindania W (2011) yang menyatakan bahwa
keberadaan dewan direksi warga negara asing berpengaruh secara signifikan terhadap luas
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan.
Dari hasil statistik deskriptif dapat diketahui bahwa rata-rata jumlah dewan
komisaris yang dimiliki oleh perusahaan sampel adalah sebanyak 5 orang. Hasil pengujian
menunjukkan tingkat signifikansi sebesar 0,475, dimana nilai ini lebih besar dari tingkat
signifikansi penelitian sebesar 5%, hal ini menunjukkan bahwa sedikit banyaknya Dewan
komisaris tidak berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan hal ini dapat dikarenakan dilapangan bahwa dalam melakukan fungsi
pengawasan, efektifitas mekanisme pengawasan dewan komisaris tidak tergantung pada
besar kecilnya ukuran dewan komisaris. Ukuran dewan komisaris yang terlalu besar akan
dapat menimbulkan masalah dalam hal koordinasi , membuat proses mencari kesepakatan
dan membuat keputusan menjadi sulit, panjang, dan bertele-tele, sehingga dewan komisaris
tidak dapat menjalankan fungsinya secara efektif.
Hasil pengujian menunjukkan komite audit tidak memiliki pengaruh yang signifikan
terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan tingkat signifikansi
sebesar 0,461, dimana nilai ini lebih besar dari tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%, dan
nilai koefisien variabel sebesar 0,011 Hal ini dapat dijelaskan berdasarkan tabel statistik
deskriptif pada tabel 1 bahwa rata-rata ukuran komite audit perusahaan adalah 3 orang,
yang artinya bahwa sebagian besar perusahaan memiliki jumlah komite audit yang sama
yaitu 3 orang, walaupun jumlah terbanyak komite audit yang dimiliki oleh perusahaan
sampel adalah sebanyak 7 orang. Dapat dikatakan bahwa ukuran komite audit tidak
berpengaruh hal ini dapat dikarenakan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh
terhadap mekanisme pengawasan dan pengungkapan CSR karena keberadaan anggota
komite audit tersebut hanya sebagai formalitas untuk memenuhi peraturan Bapepeam
Nomor IX.I.5 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit, tanpa
mempertimbangkan efektifitas dan kompleksititas perusahaan.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
15
Hasil pengujian SPSS menunjukkan proporsi komite audit independen juga tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,570, dimana nilai ini lebih besar dari
tingkat signifikansi penelitian sebesar 5% hal ini dapat dikarenakan pemegang saham
mayoritas memegang kendali sehingga dewan komisaris independen tidak dapat
meningkatkan kinerjanya atau dapat dikatakan komisaris independen dalam perusahaan
hanyalah sebagai formalitas untuk mengikuti peraturan yang berlaku.
Kepemilikan terkonsentrasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,632, dimana nilai
ini lebih besar dari tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%, dan nilai koefisien variabel
sebesar 0,011 menunjukkan bahwa kepemilikan terkonsentrasi tidak memiliki pengaruh
yang signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan hal ini dapat
dikarenakan tingkat pengendalian dan pengawasan terhadap pemilik perusahaan menjadi
tidak efektif karena tidak banyak pihak – pihak yang terkait dalam artian 50% saham
dimiliki oleh suatu pihak tertentu, sehingga tekanan terhadap manajemen juga akan
semakin kecil untuk mengungkapkan tanggung jawab sosial suatu perusahaan.
Kepemilikan pemerintah berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan
tanggung jawab sosial perusahaan, hasil pengujian SPSS menunjukkan angka signifikansi
proporsi kepemilikan pemerintah sebesar 0,004, dimana angka tersebut lebih kecil dari
tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%, dan nilai koefisien variabel sebesar 0,168 hal ini
berarti Intervensi pemerintah dalam kepemilikan di perusahaan, mungkin dapat
memberikan tekanan kepada perusahaan untuk mengungkapkan lebih banyak informasi,
karena pemerintah merupakan badan yang dipercaya oleh rakyat. Pemerintah juga
mengawasi dan memperhatikan kinerja perusahaan serta bertindak sebagai regulator,
apabila memiliki proporsi saham pada sebuah perusahaan, maka pemerintah memiliki
kekuatan untuk menekan perusahaan dalam mematuhi peraturan pemerintah terkait CSR.
Ukuran perusahaan dalam penelitian ini diwakili oleh nilai log total aktiva dari
perusahaan. Dari hasil analisis statistik deskriptif dapat diketahui bahwa rata -rata
perusahaan sampel yang memiliki ukuran perusahaan (SIZE) dengan nilai log total asset
sebesar 29,507952. Hasil pengujian menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap
pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan dengan tingkat signifikansi sebesar 0,009,
dimana nilai ini lebih kecil dari tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%, dan nilai koefisien
variabel sebesar 0,022. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa semakin tinggi nilai log total
aktiva perusahaan (ukuran perusahaan semakin besar), maka semakin luas pengungkapan
tanggung jawab sosial yang dibuat oleh perusahaan. Hal ini berarti ini sejalan dengan teori
agensi, yang menyatakan bahwa semakin besar suatu perusahaan maka biaya keagenan
yang muncul juga semakin besar. Untuk mengurangi biaya keagenan tersebut perusahaan
akan cenderung mengungkapkan informasi yang lebih luas.
Profitabilitas dari hasil statistik deskriptif dapat diketahui bahwa tingkat rata-rata
perusahaan sampel memiliki tingkat profitabilitas sebesar 18,51%. Hasil pengujian
menunjukkan tingkat signifikansi untuk variabel profitabilitas sebesar 0,461, dimana nilai ini
lebih besar dari tingkat signifikansi penelitian sebesar 5%, hal ini menunjukkan bahwa besar
kecilnya profitabilitas tidak akan mempengaruhi luas pengungkapan tanggung jawab sosial
perusahaan. Hasil penelitian ini mendukung pendapat Donovan dan Gibson (dalam
Sembiring, 2005) yang menyatakan bahwa berdasarkan teori legitimasi, salah satu argumen
dalam hubungan antara profitabilitas dan tingkat pengungkapan tanggung jawab sosial,
ketika perusahaan memiliki tingkat laba yang tinggi, perusahaan (manajemen) menganggap
tidak perlu melaporkan hal-hal yang dapat mengganggu informasi tentang sukses keuangan
perusahaan. Sebaliknya, pada saat tingkat profitabilitas rendah, mereka berharap para
pengguna laporan akan membaca “good news” kinerja perusahaan, misalnya dalam lingkup
sosial, dan dengan demikian investor akan tetap berinvestasi di perusahaan tersebut.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
16
SIMPULAN DAN KETERBATASAN
Simpulan
Simpulan hasil penelitian ini dapat dikemukakan sebagai berikut: (1) Dewan direksi
warga negara asing, ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, komite audit
independen, kepemilikan terkonsentrasi dan profitabilitas tidak berpengaruh terhadap luas
pengungkapan tanggung jawab social perusahaan; (2) kepemilikan pemerintah dan ukuran
perusahaan berpengaruh signifikan terhadap luas pengungkapan tanggung jawab social
perusahaan.
Keterbatasan
Keterbatasan yang terdapat dalam penelitian ini terletak pada periode penelitian
yang hanya menggunakan satu tahun pengamatan. Oleh karena itu, untuk mengembangkan
dan menyempurnakan penelitian tentang pengaruh karakteristik perusahaan terhadap
praktek pengungkapan informasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social
Responsibility (CSR) dalam laporan tahunan (annual report) perusahaan. Untuk penelitian
selanjutnya, juga dapat memperbanyak jumlah sampel perusahaan yang digunakan dalam
penelitian maupun menambah periode jangka waktu penelitian, Peneliti selanjutnya juga
dapat menguji pengaruh kebijakan pelaporan pertanggungjawaban sosial perusahaan
terhadap kinerja pasar, misalnya terhadap harga saham atau volume perdagangan.
DAFTAR PUSTAKA
Akhtarudin, M. dan L. Yao. 2009. Corporate Governance and Voluntary Disclosure in
Corporate Annual Reports of Malaysian Listed Firms. JAMAR, Volume 7.
Amalia, F. dan H. Laksito. 2013. Pengaruh Mekanisme Tata Kelola Perusahaan Terhadap
Luas Pengungkapan Informasi Strategis Pada Website Perusahaan (Studi Empiris pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010).
Diponegoro Journal Of Accounting, 2(1): 1-11.
Amran, A. dan S. Susela. 2008. The Impact Of Government And Foreign Affiliate Influence
On Corporate Sosial Reporting (The Case Of Malaysia). Accounting, Auditing and
Accountability Journal, 23(4): 386-404.
Anggraini, Fr. R. R. 2006. Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keuangan Tahunan
(Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta).
Simposium Nasional Akuntansi IX, Padang.
Anthony, Robert N. dan V. Govindarajan. 2005. Management Control Systems. Salemba
Empat: Jakarta.
Daniri, M. 2008. Standarisasi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Diakses dari www.madaniri.com.
Effendi,
M.
2007.
Implementasi
GCG
Melalui
CSR.
Diakses
dari
www.muhariefeffendi.wordpress.com.
Forum for Corporate Governance in Indonesia. 2001. Peranan Dewan Komisaris dan Komite
Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance Tata Kelola Perusahaan, volume 2. Jakarta.
Ghozali, I. 2005. Aplikasi Analiasis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro.
Ghozali, I dan A. Chariri. 2007. Teori Akuntansi. Edisi 3, Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
Gray, R., Kouhy, R, and Lavers, S. 1995. Corporate Social And Environmental Reporting: A
Review Of The Literature And A Longitudinal Study Of Uk Disclosure. Accounting,
Auditing & Accountability Journal, 8(2): 47-77.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
17
Guthrie, J., R. Petty, dan F. Ricceri. 2006. The voluntary reporting of intellectual capital;
comparing evidence from Hong Kong and Australia. Journal of Intellectual Capital, 7(2):
254-271.
Hackston, D. dan J. Milne. 1996. Some determinants of social and environmental disclosures
in New Zealand companies. Accounting, Auditing & Accountability Journal, 9(1): 77.
Hastuti, T. 2005. Hubungan Antara Good Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan
dengan Kinerja Keuangan (Studi Kasus pada Perusahaan yang listing di Bursa Efek
Jakarta). Simposium Nasional Akuntansi VIII, Solo: 379-395.
Hidayat, H. 2009.
CSR : Sekilas Sejarah dan Konsep. Diakses dari
http://ngenyiz.blogspot.com/2009/02/csr-sekilas-sejarah-dan-konsep.
Ishak, A. 2006. Konsep Kedermawanan Korporasi Bisnis. Diakses dari www.genetekonline.com.
Jensen, M. dan W. Meckling. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior, agency costs and
ownership structure. Journal of Financial Economics 3: 305-360.
Kamal, M. 2011. Konsep Corporate Governance di Indonesia: Kajian atas Kode Corporate
Governance. Jurnal Manajemen Teknologi, 10(2): 145 - 161.
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) LK No. 134/BL/200 6 tentang
Kewajiban Penyampaian Laporan Tahunan bagi Emiten dan Perusahaan Publik.
Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) No. kep- 38/PM/1996 peraturan
No.VIII.G.2 tentang Laporan Tahunan.
Komite Nasional Kebijakan Governance. 2006. Pedoman Umum Good Corporate Governance
Indonesia. Jakarta: Komite Nasional Kebijakan Governance.
Kurniawan, D. dan N. Indriantoro. 2000. Corporate Governance in Indonesia. The Second
Asian Roundtable on Corporate Governance.
Porta, R., F. Lopez, dan A. Shleifer. 1999. Corporate Ownership Around the World. The
Journal of Finance, 3(2): 471 – 517.
Mathews, M. 1995. Social and Environmental Accounting: A practical Demonstration of
Ethical Concern. Journal of Business Ethics, 14(8): 663.
Meutia. 2008. Menyibak Kepentingan di Balik CSRD. Diakses dari www.thoughts.com.
Mujiyono dan M. Nany. 2010. Pengaruh Leverage, Saham Publik, Size dan Komite Audit
Terhadap Luas Pengungkapan Sukarela. Jurnal Dinamika Akuntansi (JDA), 2(2): 129-134.
Nugroho, Y. 2007. Commodum Totti Topulo : The Benefit is for the Whole Society. Diakses
dari www.audentis.wordpress.com.
Said, R., Y. Zainuddin., dan H. Haron. 2009. The Relationship between Corporate Social
Responsibility and Corporate Governance Characteristics in Malaysian Public Listed
Companies. Social Responsibility Journal, 5(2): 212-226.
Sefrilia, M. dan Y. Saftiana. 2012. Pengaruh Kepemilikan Saham Pemerintah dan
Profitabilitas Terhadap Pengungkapan Corporate Sosial Responsibility (CSR). Jurnal
Ekonomi dan Informasi Akuntansi (JENIUS), 2(2): 132 – 139.
Sembiring, E.R. 2005. Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial:
Study Empiris pada Perusahaan yang Tercatat Di Bursa Efek Jakarta. Simposium
Nasional Akuntansi VIII, Solo, 15-16 September.
Shinta, N. P. dan N. Ahmar. 2011. Eksplorasi Struktur Kepemilikan Saham Publik di
Indonesia Tahun 2004 - 2008. The Indonesian Accounting Review, 1(2): 145 – 154.
Sudana, I. dan P. Ayu. 2011. Corporate Governance dan Pengungkapan Corporate Social
Responsibility pada Perusahaan Go-Public di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Manajemen
Teori dan Terapan, 4(10): 37-49.
Undang-undang No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.
Undang-Undang Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007.
Utama, S. 2007. Evaluasi Infrastruktur Pendukung Pelaporan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan di Indonesia. Pidato Pengukuhan Guru Besar FE-UI. 14 November 2007.
Diakses dari www.csrindonesia.com.
Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi Vol. 3 No. 4 (2014)
18
Van Der Laan, Sandra L. 2004. The Role Of Theory In Explaining Motivation For Corporate
Social Disclosure VS „Solicited‟ Disclosures. Presentation at the Fourth Asia Pacific
Interdisciplinary Research in Accounting Conference. Singapore, 4-6 July.
Wibisono, Y. 2007. Membedah Konsep & Aplikasi CSR: Corporate Social Responsibility. Gresik.

Download