Kertas Kerja Indonesia Menuju Ratifikasi Statuta Roma Tentang

advertisement
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
ICC Assembly of States Parties Meeting
Ruang sidang ICC
KERTAS KERJA
Indonesia Menuju Ratifikasi Statuta Roma
Tentang Mahkamah Pidana Internasional
Tahun 2008
I. Sekilas Tentang Mahkamah
Pidana Internasional (ICC)
Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court - ICC) didirikan
berdasarkan Statuta Roma yang diadopsi pada tanggal 17 Juli 1998 oleh 120 negara
yang berpartisipasi dalam “United Nations Diplomatic Conference on Plenipotentiaries
on the Establishment of an International Criminal Court” di kota Roma, Italia.
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional mengatur kewenangan
untuk mengadili kejahatan paling serius yang mendapatkan perhatian internasional.
Kejahatan yang dimaksud terdiri dari empat jenis, yaitu kejahatan genosida
(the crime of genocide), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity),
kejahatan perang (war crimes), dan kejahatan agresi (the crime of aggression).
Berbeda dengan mahkamah internasional sebelumnya yang sifatnya ad hoc, seperti
International Criminal Tribunal for fomer Yugoslavia (ICTY) dan International
Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR), Mahkamah Pidana Internasional merupakan
pengadilan yang permanen (Pasal 3(1) Statuta Roma). Mahkamah ini hanya
berlaku bagi kejahatan yang terjadi setelah Statuta Roma berlaku (Pasal 24 Statuta
Roma).
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
1
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
CICC Regional Meeting
I. A. Peran Indonesia dalam Proses
Pembentukan Mahkamah Pidana
Internasional
Penuntut Umum ICC - Moreno Ocampo
Mahkamah Pidana Internasional merupakan
mahkamah yang independen dan bukan
merupakan badan dari PBB karena dibentuk
berdasarkan perjanjian multilateral,
meskipun dalam beberapa kondisi tertentu
ada relasi peran antara Mahkamah dengan
PBB (Pasal 2 Statuta Roma).
Dalam proses pengadopsian Statuta Roma,
Indonesia terlibat secara aktif dengan
mengirimkan delegasi untuk mengikuti
Konferansi Diplomatik di Roma pada
bulan Juli 1998, ketika Statuta Roma itu
disahkan. Pada saat bersejarah itu, Indonesia
menyatakan dukungannya atas pengesahan
Statuta Roma dan pembentukan Mahkamah
Pidana Internasional . Indonesia juga
menyatakan niatnya untuk meratifikasi
Statuta Roma.
Statuta Roma memuat banyak pengaman
yang menjamin penyelidikan dan penuntutan
hanya dilakukan untuk kepentingan keadilan,
bukan kepentingan politik. Meskipun
Dewan Keamanan PBB dan negara dapat
merujuk kepada Jaksa Penuntut Mahkamah
Pidana Internasional, keputusan untuk
melaksanakan penyelidikan merupakan
wewenang Jaksa Penuntut. Namun, Jaksa
Penuntut tidak hanya akan bergantung
pada Dewan Keamanan PBB atau rujukan
negara saja, tetapi juga akan mendasarkan
penyelidikannya berdasarkan informasi
dari berbagai sumber. Jaksa Penuntut harus
meminta kewenangan dari Pre-Trial Chamber
baik untuk melakukan penyelidikan maupun
penuntutan dan permintaan tersebut dapat
digugat oleh negara.
Tahun 1999, Indonesia menyampaikan
pernyataan positif kepada Komite Ke-6
Majelis Umum PBB dalam pandangannya
mengenai Statuta Roma. Indonesia
menyatakan bahwa “partisipasi universal
harus menjadi ujung tombak ICC ” dan
bahwa “Pengadilan menjadi bentuk hasil
kerjasama seluruh bangsa tanpa memandang
perbedaan politik, ekonomi, sosial dan
budaya.” Dalam pernyataan yang sama,
Indonesia menyatakan bahwa Statuta Roma
menambah arti penting pada nilai-nilai yang
terkandung dalam Piagam PBB yang meliputi
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
2
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Peta Sebaran Negara Pihak ICC
persepakatan, imparsialitas, non-diskriminasi,
kedaulatan negara dan kesatuan wilayah.
Dalam hal ini, Indonesia menegaskan bahwa
Mahkamah berusaha untuk melengkapi dan
bukan menggantikan mekanisme hukum
nasional.
bahwa legislasi nasional perlu dibuat demi
keperluan kerjasama dengan Mahkamah
sebelum ratifikasi dilaksanakan.
Pada Agustus 2006, perwakilan parlemen
Indonesia berpartisipasi dalam konferensi
regional dengan seluruh parlemen Asia
tentang Mahkamah Pidana Internasional
dan berjanji akan bekerja untuk
mengupayakan ratifikasi/aksesi pada tahun
2008 atau lebih cepat. Tahun 2007 telah
didirikan pula Parliamentarian for Global
Action (PGA) Indonesia Chapters, dimana
sekretariat internasional PGA selama
ini sangat aktif mendukung universalitas
Mahkamah Pidana Internasional .
Pada tahun 2004, Presiden Megawati
Sukarnoputeri mengesahkan Rencana Aksi
Nasional tentang Hak-Hak Asasi Manusia
(RANHAM) 2004 -2009. Rancangan
tersebut menyatakan bahwa Indonesia
bermaksud meratifikasi Statuta Roma
pada tahun 2008. Untuk melaksanakan
Rancangan tersebut, Presiden membentuk
sebuah Komite Nasional. Dalam beberapa
kesempatan, pemerintah juga menyatakan
bahwa Statuta Roma sedang dipelajari dan
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
3
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Workshop Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
Pertemuan Strategis Internasional Coalition For ICC
I. B. Pengadilan Kejahatan Internasional: Dari Nuremberg Hingga Den Haag
Pembentukan Mahkamah Pidana Internasional memiliki latar belakang dan erat hubungannya
dengan pembentukan beberapa pengadilan kejahatan internasional sebelumnya. Pertama,
pembentukan pengadilan kejahatan internasional setelah Perang Dunia Kedua usai, yaitu
International Military Tribunal (IMT) atau dikenal sebagai Nuremberg Tribunal pada tahun
1945 dan International Military Tribunal for the Far East (IMTFE) atau dikenal sebagai
Tokyo Tribunal pada 1946. Kedua, pembentukan mahkamah kejahatan internasional setelah
usai perang dingin, yaitu International Criminal Tribunal for fomer Yugoslavia (ICTY) dan
International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) yang berkedudukan di Den Haag.
Keempat pengadilan kejahatan internasional tersebut bersifat ad hoc. Pembentukan IMT
didasarkan pada insiatif sekutu yang memenangkan perang untuk mengadili para pemimpin NaziJerman, baik sipil maupun militer, sebagai penjahat perang dengan terlebih dahulu dituangkan
dalam London Agreement tanggal 8 Agustus 1945. Sedangkan IMTFE dibentuk berdasarkan
Proklamasi Panglima Tertinggi Tentara Sekutu Jenderal Douglas MacArthur pada 1946.
Kedua pengadilan memiliki persaman dan perbedaan. Persamaan tersebut adalah bahwa
charter IMTFE merupakan hasil adopsi dari IMT. Selain itu, semangat dari pembentukan
kedua mahkamah kejahatan internasional itu didasari oleh kedudukan sekutu sebagai
pemenang dalam Perang Dunia Kedua, sehinggga dikenal dengan keadilan bagi pemenang
perang (victor’s justice).
Sedangkan perbedaannya adalah bahwa sekalipun kedua charter memiliki isi yang sama, namun
perangkat dan proses persidangannya sangat berbeda jauh, sehingga, menghasilkan perbedaan
yang cukup signifikan menyangkut putusan persidangan. Pada IMT, terdapat beberapa terdakwa
yang diputus bebas, tetapi pada IMTFE tidak seorang pun lolos dari hukuman.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
4
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Talkshow Radio “Pentingnya Indonesia Meratifikasi Statuta Roma”
Perbedaan lainnya terletak pada dasar hukum dari pembentukannya. Pada IMT, seluruh
pemimpin Nazi-Jerman duduk di kursi pesakitan, sedangkan pada IMTFE, Kaisar Hirohito
selaku pemimpin tertinggi Jepang tidak disentuh sama sekali. Ini disebabkan kesepakatan
antara Pemerintah Jepang dengan Sekutu, dalam hal ini Amerika Serikat, untuk tidak
mengganggu eksistensi Hirohito sebagai pemegang kedaulatan tertinggi Jepang. Berdasarkan
perbedaan tersebut dapat disimpulkan bahwa kedua pengadilan tersebut tidak memiliki sifat
independent dan impartial.
Berikutnya adalah pembentukan pengadilan kejahatan internasional oleh Dewan Keamanan
PBB untuk bekas Yugoslavia (ICTY) dan Rwanda (ICTR). Kedua pengadilan ini juga
memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaannya, kedua pengadilan dibentuk oleh lembaga
yang sama, yaitu Dewan Keamanan PBB melalui sebuah resolusi. Sedangkan perbedaannya
adalah, pembentukan ICTY merupakan hasil dari evaluasi masyarakat internasional melalui
Dewan Keamanan PBB terhadap pelanggaran berat HAM yang terjadi di bekas Yugoslavia.
Pembentukannya sendiri tidak mendapatkan dukungan, terutama dari “Yugoslavia baru” saat
itu yang terdiri dari Serbia dan Montenegro.
Telah digelarnya peradilan terhadap para penjahat dalam Perang Dunia Kedua tidak membuat
pemikiran untuk membuat sebuah institusi peradilan permanen memudar untuk mengadili
para pelaku kejahatan internasional. Hal ini disebabkan karena mekanisme pengadilan
internasional yang bersifat ad hoc mempunyai kelemahan-kelemahan yang mendasar, yaitu:
(1) Victor’s justice
Dari keempat pengadilan internasional yang telah diselenggarakan, semuanya mempunyai
kesamaan, yaitu yang dianggap bertanggung jawab atas kejahatan yang terjadi adalah individuindividu dari negara yang kalah perang, sementara bagi negara-negara pemenang perang akan
terbebas dari tanggung jawab, meskipun mereka juga melakukan kejahatan-kejahatan serupa.
Inilah mengapa keadilan yang dicapai melalui keempat proses pengadilan tersebut dianggap
sebagai victor’s justice (keadilan bagi pemenang)
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
5
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
(2) Selective justice
Kelemahan lain dari mekanisme pengadilan internasional ad hoc adalah terjadinya keadilan
“tebang pilih” (selective justice). Maksudnya adalah tidak semua kasus kejahatan internasional
paling serius mempunyai kesempatan yang sama untuk dibentuk pengadilan internasional,
hanya kasus-kasus tertentu yang dianggap mempengaruhi stabilitas dan keamanan internasional
saja yang akan diadili, dan hanya kasus-kasus yang melibatkan negara-negara penting yang
mempunyai kesempatan untuk diselesaikan. Artinya, akan ada pelaku yang tidak ditindak, dan
akan ada korban yang tidak mendapatkan hak-haknya atas keadilan dan kompensasi. Lebih jauh,
kondisi seperti ini tidak banyak memberikan sumbangan untuk menghentikan praktek-praktek
impunitas di berbagai penjuru dunia.
(3) Tidak adanya efek jera dan pencegahan di masa mendatang
Meskipun terdapat kemajuan yang pesat dari kedua pengadilan kejahatan internasional pasca
Perang Dunia Kedua, kedua pengadilan berikutnya masih memiliki keterbatasan yang sama. Di
antaranya, tidak adanya kerjasama dengan negara di mana kejahatan internasional yang serius
terjadi; tidak bisa menghentikan konflik yang sedang berlangsung dan tidak bisa mencegah
berulangnya konflik; serta jangkauan dari penuntutan terbatas pada kategori konflik yaitu konflik
internal atau internasional.
(4) Muatan politis
Lebih dari setengah abad sejak peradilan Nuremberg dan Tokyo, banyak negara gagal membawa
mereka yang bertanggung-jawab atas genosida, kejahatan kemanusiaan dan kejahatan perang
ke pengadilan. Ini disebabkan karena mekanisme pembentukan pengadilan internasional ad
hoc HANYA bisa dilakukan melalui Dewan Keamanan PBB. Artinya, “nasib” keadilan sangat
tergantung pada komposisi anggota Dewan Keamanan PBB dan penggunaan hak veto oleh
anggota tetap Dewan Keamanan PBB. Dalam konteks ini tentu saja kepentingan politik akan
lebih banyak berperan ketimbang pertimbangan hukum dan keadilan.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
6
Plenary Hall during the ICC Conference
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
ICC outreach meeting
Tahun 1989 ide untuk mendirikan
Mahkamah Pidana Internasional kembali
digulirkan dengan usulan delegasi Trinidad
dan Tobago yang mengatasnamakan enam
negara lainnya di wilayah Karibia pada
Sidang Komite VI Majelis Umum PBB.
Usulan Trinidad dan Tobago adalah untuk
mengaktifkan kembali kerja International
Law Commission (ILC) untuk menyusun
kembali rancangan Statuta Mahkamah
Pidana Internasional berkaitan dengan usaha
untuk memberantas perdagangan narkotika
internasional. Selanjutnya usulan ini
ditanggapi dengan baik oleh Majelis Umum
PBB
Pada tahun 1992, Majelis Umum PBB
sekali lagi mengeluarkan resolusi untuk
meminta ILC menyusun rancangan Statuta
Mahkamah Pidana Internasional. Baru pada
tahun 1994, ILC menyelesaikan tugasnya
menyusun rancangan Statuta Mahkamah
Pidana Internasional dan kemudian untuk
membahasnya dibentuklah sebuah komite
yang dibentuk oleh Majelis Umum PBB
dengan nama Ad Hoc Committe on the
Establishment of International Criminal Court.
Berangkat dari alasan-alasan di atas, maka
diperlukan sebuah mekanisme pengadilan
internasional yang relatif bebas dari intervensi
politik internasional, menjunjung tinggi
kedaulatan negara, dan bersifat independen
dan berlaku lebih fair, bahkan kepada pelaku.
I.C. Proses Pembentukan Mahkamah
Pidana Internasional (ICC)
Tahun 1950 PBB melalui Majelis Umum
membentuk sebuah panitia yang diberi
nama Committee on International Criminal
Jurisdiction, dimana panitia ini bertugas untuk
menyiapkan sebuah Statuta Mahkamah
Pidana Internasional.
Panitia ini menyelesaikan tugasnya setahun
kemudian tetapi kurang mendapatkan
perhatian dari anggota PBB. Permasalahan ini
tenggelam seiring dengan konfrontasi politik
dan ideologi selama perang dingin. Tetapi
dipertengahan tahun 1980-an, Pemimpin
Uni Sovyet, Gorbachev memunculkan
kembali ide pendirian Mahkamah Pidana
Internasional terutama ditujukan kepada
gerakan melawan terorisme.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
7
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Pada saat yang sama ILC merekomendasikan sebuah konferensi
diplomatik untuk mempertimbangkan pengadopsian rancangan
statuta tersebut namun tertunda karena masih adanya ketidak
sepakatan mengenai rancangan tersebut.
Selanjutnya pada tahun 1995, Komite Ad Hoc diganti dengan
Preparatory Committe on the Establihment of International
Criminal Court yang mempersiapkan segala sesuatu bagi
pembentukan ICC. Hasilnya adalah digelarnya sebuah
konferensi diplomatik PBB atau lengkapnya United Nations
Conference of Plenipotentiaries on The Establishment of an
International Criminal Court, di Roma, Italia tanggal 15-17 Juli
1998 yang dihadiri 120 negara yang kemudian mengadopsi
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional.
“Penuntut Umum ICC Moreno Ocampo
sedang memberi keterangan”
I.D. Perempuan dan Mahkamah Pidana Internasional
Di setiap konflik, perempuan dan anak adalah pihak yang sangat
rentan dan selalu menjadi korban. Sebut saja berbagai konflik
yang dikenal luas secara internasional seperti konflik bersenjata
Yugoslavia (1993), Rwanda (1994), dan belakangan Darfur
(2003), semuanya melibatkan jumlah perempuan yang cukup
besar sebagai korban, utamanya dari tindak kejahatan seksual. Di
Indonesia sendiri, kasus serupa mewarnai pelaksanaan Daerah
Operasi Militer Aceh sepanjang masa Orde baru, juga kasus
kerusuhan Mei 1998.
Registrar meets UN Special Representative
for Children and Armed Conflict
Jajak pendapat rujukan kasus Darfur ke ICC
Pada Nuremberg Tribunal dan Tokyo Tribunal terdapat
kelemahan pada kedua charter-nya sebagai pedoman untuk
mengadili pelaku kejahatan. Hal ini dikarenakan para perancang
kedua charter tersebut telah gagal memasukan pemerkosaan
atau kejahatan seksual (sexual crimes and gender violence). Unsur
kejahatan lain seperti perbudakan seksual yang dilakukan oleh
Jepang selama perang Asia Timur Raya juga tidak dimasukan
dalam Tokyo Tribunal.
Pada ICTY, Dan ICTR , perancang statuta dari kedua
pengadilan kejahatan internasional tersebut berhasil
memasukkan pemerkosaan. ICTY memasukkan pemerkosaan
sebagai bagian dari penyiksaan (torture) dan ICTR
memasukkannya dalam bagian dari genocide. Akan tetapi
dalam praktiknya di ICTR dalam kasus Akayesu, kejahatan
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
8
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
terhadap perempuan terungkap ketika anggota majelis hakim
bertanya kepada saksi korban sehingga kemudian jaksa baru juga
menambahkan dakwaannya.
Mahkamah Pidana Internasional menyediakan sebuah
mekanisme perlindungan bagi perempuan yang jauh lebih
progresif dibandingkan Mahkamah-mahkamah internasional
yang pernah ada. Perlindungan tersebut dapat ditemui dalam
bentuk:
a. Kodifikasi Kejahatan.
Statuta Roma memasukan kekerasan seksual dan jender
sebagai bagian dari kejahatan perang dan kejahatan terhadap
kemanusiaan. Secara rinci, kejahatan perang dan kejahatan
terhadap kemanusiaan tersebut termasuk diantaranya perkosaan,
perbudakan seks (termasuk didalamnya perdagangan perempuan),
prostitusi dengan paksaan, kehamilan dengan paksaan, dan segala
bentuk kekerasan yang dilakukan karena pembedaan jender
b. Korban dan saksi perempuan dalam mekanisme ICC.
Korban dan saksi perempuan dalam mekanisme ICC dapat
meminta prosedur pemeriksaan dilakukan sesuai dengan
kebutuhan mereka. Mahkamah memiliki kewajiban untuk
memberikan perlindungan terhadap korban dan saksi perempuan
untuk memperoleh rasa aman, kondisi fisik dan mental yang
sehat, serta kerahasiaan saksi dan korban dengan kekhususan
untuk kasus-kasus terkait kekerasan seksual dan jender. Statuta
juga mengatur adanya unit khusus perlindungan saksi (Victim
and Witness Protection), konsultasi dan berbagai bentuk asistensi
lainnya.
CICC annual strategic meeting
The UN Secretary-General Ban Ki-Moon
and the ICC President Judge
Philippe Kirsch
c. Mekanisme pembuktian
Mekanisme pembuktian dalam Statuta Roma dibuat sedemikian
rupa untuk melindungi korban kejahatan seksual dari proses
pembuktian yang mampu merusak kredibilitas mereka maupun
harga diri mereka sebagai perempuan. Mahkamah ini memiliki
panduan khusus ketika menangani kasus kekerasan seksual.
d. Adanya staf ahli khusus untuk kejahatan jender dan seksual
Statute Roma mengharuskan penuntut umum (Office of The
Prosecutor) ICC untuk menunjuk penasihat dengan keahlian
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
9
CICC Regional Meeting
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
hukum dalam bidang kekerasan seksual dan jender. Unit khusus saksi dan korban yang berada
dibawah panitera (The Registry) Mahkamah juga harus memiliki staff yang berpengalaman dalam
menangani kasus-kasus kejahatan seksual. Pemilihan hakim Mahkamah pun dilakukan dengan
pertimbangan representasi yang adil antara jumlah hakim perempuan dan laki-laki.
e. Partisipasi korban dalam proses Mahkamah.
Statuta roma dan prosedurnya memfasilitasi keterlibatan langsung korban dalam proses peradilan.
Korban dapat menyamaikan pendapatnya sesuai dengan aturan yang ada dimana mereka diberi
kesempatan untuk menceritakan pengalamannya meskipun jika mereka tidak dihadapkan sebagai
saksi. Mekanisme ini akan membuka kesempatan bagi setiap individu perempuan untuk bicara
yang sering tidak terekam dalam proses peradilan internasional.
Dengan berbagai pengaturan dan mekanisme yang disediakan oleh Mahkamah Pidana
Internasional ini berarti Mahkamah tidak saja memberikan kepastian bagi para pencari keadilan
namun juga menjamin kehormatan saksi dan korban perempuan.
II. Pentingnya Ratifikasi Statuta Roma
Keharusan ratifikasi Statuta Roma pada tahun 2008 tidak hanya karena alasan normatif bahwa
hal tersebut sudah disebutkan dalam RANHAM 2004 – 2009. Ratifikasi Statuta Roma pada
tahun ini juga akan memberikan kontribusi yang sangat positif penegakan dan perlindungan
HAM di Indonesia dan perdamaian kawasan dan dunia. Selain itu, ratifikasi Statuta Roma juga
akan menjadikan Indonesia dipandang sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang sudah
lebih dulu mengikatkan dirinya pada tatanan keadilan internasional.
Secara terperinci, arti penting dan keuntungan-keuntungan ratifikasi Statuta Roma pada tahun
ini dijelaskan sebagai berikut:
a. Menghapuskan Berbagai Praktik Impunitas
Peratifikasian Statuta Roma sangat diperlukan oleh Indonesia, apalagi ketika kita melihat
contoh-contoh penanganan kasus pelanggaran HAM yang berat yang terjadi di Indonesia
yang berakhir dengan kegagalan Pengadilan untuk menemukan dan menghukum “the most
responsible persons”.
Pembentukan Mahkamah Pidana Internasional bertujuan untuk menghentikan dan mencegah
praktik impunitas terhadap pelaku kejahatan internasional yang serius yang diatur oleh Statuta
Roma serta membuat perubahan signifikan atas perilaku aktor negara-bangsa. Para pelaku
kejahatan demikian tidak dapat bebas dari penuntutan sekalipun mereka adalah representasi
dari kedaulatan negaranya.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
10
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Workshop Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
Dengan kata lain terdapat tiga hal penting karena keberadaan Mahkamah Pidana Internasional
sebagai pencegah terjadinya kejahatan serius internasional sebagaimana diatur dalam Statuta
Roma.
Pertama, para penguasa tidak dapat lagi melakukan praktik dengan alasan apapun termasuk
melakukan impunitas dengan maksud melindungi menggunakan mekanisme hukum nasional
baik dengan jalan menggelar pengadilan yang bertujuan melindungi pelaku yang ataupun
pengampunan (amnesty).
Para penguasa itu harus berpikir panjang untuk membuat kebijakan politiknya yang
berakibat pada munculnya kejahatan serius karena Mahkamah Pidana Internasional memiliki
kewenangan untuk melakukan penyelidikan dan penuntutan terhadap kejahatan yang serius
yang terjadi serta menentukan peradilan nasional yang digelar telah memenuhi persyaratan
independen dan imparsial. Kedua, sehubungan dengan jangkauan Mahkamah Pidana Internasional yang sangat luas dalam
menerapkan yurisdiksinya sekalipun kehadirannya bersifat komplementer. Para pelaku selain
tidak dapat berlindung melalui mekanisme perundangan nasional negaranya juga tidak dapat
berlindung pada negara lain sekalipun negara itu bukan menjadi pihak dari statuta. Dalam
praktiknya, negara-negara yang telah menjadi pihak telah melakukan transformasi terhadap
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional sehingga ketentuan-ketentuan statuta
menjadi bagian dari hukum nasional secara penuh.
Ketiga, khusus bagi negara-negara yang mengirimkan pasukan perdamaian, Mahkamah Pidana
Internasional justeru melindungi personil pasukan penjaga perdamaian dari kemungkinan
tindakan-tindakan yang dikategorikan sebagai kejahatan serius internasional dan bukan
sebaliknya mengancam eksistensi pasukan penjaga perdamaian yang melakukan operasinya di
daerah konflik. Dengan kata lain, Mahkamah Pidana Internasional memberikan perlindungan
hukum bagi personel pasukan penjaga perdamaian.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
11
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Mahkamah Pidana Internasional dan Pasukan Perdamaian PBB
Indonesia sejak lama berperan serta dalam mengirimkan pasukan perdamaian dalam kerangka
PBB. Hal ini merupakan bentuk nyata dari ikrar Indonesia sebagaimana termaktub dalam
Pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta dalam menjaga ketertiban dunia. Terakhir, Indonesia
mengirimkan pasukan TNI untuk bergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB di Libanon.
Lalu apa hubungannya antara keterlibatan Pasukan Perdamaian PBB asal Indonesia dengan
Mahkamah Pidana Internasional? Statuta Roma memberikan jaminan kepada setiap personil
angkatan bersenjata dari berbagai negara yang bertugas sebagai Pasukan
Perdamaian PBB. Jaminan itu berupa peringatan, pencegahan dan perlindungan dari segala
bentuk tindakan kejahatan yang menjadi yurisdiksi mahkamah selama bertugas di daerah konflik
dan bukan sebaliknya menjadi penghalang dari kerja-kerja mereka dalam operasi perdamaian.
Statuta Roma menyediakan panduan yang lebih lengkap tentang aturan pelibatan (rules of
engagement) pasukan perdamaian, sehingga anggota pasukan dapat memahami dengan lebih jelas apa
yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama menjalankan tugasnya. Lebih lanjut, dengan definisi
dan parameter element of crimes yang lebih jelas, Statuta roma justru mereduksi kemungkinan
politisasi sebuah kasus yang melibatkan pasukan perdamaian.
Indonesia bukanlah negara pihak dalam Statuta Roma namun tidak berarti para personilnya
bebas dari yurisdiksi Mahkamah Pidana Internasional. Mekanisme Statuta Roma memungkinkan
adanya rujukan (referral) dari Dewan Keamanan PBB sebagaimana dalam Kasus Darfur di Sudan.
Akan tetapi patut dicatat bahwa Mahkamah Pidana Internasional tidak serta merta langsung
menerapkan yurisdiksinya terhadap personil pasukan perdamaian tersebut. Asas Komplementer
yang menjadi prinsip utama Mahkamah Pidana Internasional tetap berlaku yaitu mendahulukan
mekanisme hukum nasional untuk mengadili para pelaku kejahatan tersebut sebagai bentuk
penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Bagaimana posisi Indonesia jika menjadi negara pihak dalam Statuta Roma? Asas Komplementer
tetap berlaku namun permasalahannya Indonesia tidak memiliki mekanisme hukum nasional
untuk mengadili para pelaku khususnya berkait dengan kejahatan perang. UU No. 26 Tahun
2000 tentang Pengadilan HAM tidak mengatur kejahatan perang dalam yurisdiksinya. Sehingga
dapat dimungkinkan kemungkinan dikategorikan tidak mampu (unable) untuk mengadili para
pelaku kejahatan.
Sungguhpun demikian, jalan keluar dari persoalan ini adalah Indonesia secepatnya meratifikasi
Statuta Roma. Ratifikasi Statuta Roma justeru menjadi pemicu dari upaya Indonesia untuk
perbaikan serta penguatan atas mekanisme hukum nasionalnya. Dalam memenuhi upaya itu perlu
diperhatikan bahwa kejahatan perang tidak dapat diletakan dalam yurisdiksi peradilan militer. Hal
ini penting mengingat dalam praktik internasional yang telah menjadi kebiasaan internasional
bahwa pelaku kejahatan perang tidak selalu berasal dari kalangan militer tetapi termasuk orangorang sipil. Dengan demikian jalan yang terbaik memasukan kejahatan perang dalam Amandemen
UU No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM sekaligus sebagai bentuk implementasi Statuta
Roma dalam hukum nasional Indonesia.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
12
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Berangkat dari hal itu, dengan meratifikasi Statuta Roma berarti Indonesia terikat dengan
komitmen yang kuat untuk memberikan perlindungan HAM bagi warganegaranya, dan terikat
untuk melaksanakan kewajiban untuk menghukum pelaku kejahatan serius internasional secara
benar agar tidak dinilai sebagai Negara yang “unwilling”.
b. Mengatasi Kelemahan Sistem Hukum Indonesia
Membawa pelaku kejahatan internasional ke pengadilan dan menghukumnya adalah bentuk
dari kewajiban Negara (state responsibility) dan wujud perlindungan HAM yang diberikan
Negara kepada warganegaranya. Namun, untuk melaksanakan kewajiban tersebut, Indonesia
sering terhambat oleh berbagai kelemahan dan tidak memadainya sistem hokum yang ada.
Dengan meratifikasi Statuta Roma, akan menjadi dorongan agar Indonesia segera membenahi
kekurangannya tersebut. Selain itu, dengan meratifikasi Statuta Roma yang berisi aturan
mengenai bentuk-bentuk kejahatan luar biasa (extraordinary crimes) yang bersifat dinamis
tetapi tidak diatur dalam KUHP dapat memotivasi negara untuk memperbaiki sistem
peradilannya, termasuk dalam hal hukum acaranya. Mengingat bahwa setelah meratifikasi
Statuta, negara pihak harus mempunyai aturan pelaksanaan yang berjalan sesuai isi Statuta
dan Hukum nasional harus mampu memberikan jaminan bagi kerjasama penuh dengan
Mahkamah Pidana Internasional.
c. Perlindungan Saksi dan Korban
Proses peratifikasian Statuta Roma merupakan upaya pencegahan terjadinya kejahatan dengan
akibat yang lebih besar di kemudian hari, juga memberikan perlindungan dan reparasi bagi
korban. Selain melaksanakan penghukuman bagi pelaku, pemberian kompensasi kepada
korban adalah merupakan salah satu bentuk tanggung jawab Negara ketika terjadi pelanggaran
HAM yang berat di wilayahnya.
Aturan perlindungan korban untuk pelanggaran berat HAM di Indonesia diatur dalam Pasal 34
UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM dan diikuti oleh PP No. 2 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Saksi dan Korban sebagai aturan pelaksanaannya. Namun jika dibandingkan
dengan Statuta Roma, banyak aturan dalam Statuta Roma tidak terakomodasi dalam peraturan
tersebut. Misalnya, adanya Trust Fund untuk kepentingan saksi dan korban yang didapat dari hasil
denda atau penebusan, yang pengaturannya diserahkan kepada Majelis Negara Pihak.
Selanjutnya Statuta Roma juga mengatur mengenai adanya Unit Saksi dan Korban yang
tujuannya untuk menyediakan langkah-langkah perlindungan dan pengaturan keamanan, jasa
nasihat dan bantuan yang perlu bagi para saksi, korban yang menghadap di depan Mahkamah
dan orang-orang lain yang mungkin terkena risiko karena kesaksian yang diberikan oleh para
saksi tersebut. Dengan meratifikasi Statuta Roma, maka Indonesia akan dapat secara efektif
mengadopsi sistem dan mekanisme perlindungan saksi dan korban sebagaimana tercantum dalam
Statuta ke dalam sistem dan mekanisme nasional. Lebih jauh lagi, Lembaga Perlindungan Saksi
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
13
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
dan Korban yang dibentuk berdasarkan UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan
Korban akan mendapatkan legitimasi hukum yang lebih tegas ketika merujuk pada praktek-praktek
yang dilakukan oleh Mahkamah Pidana Internasional dalam melaksanakan tugasnya.
III. Keuntungan Meratifikasi Statuta Roma
a. Hak Preferensi Aktif
Keuntungan nyata yang diperoleh adalah apabila ada suatu mekanisme yang melibatkan
Negara Pihak, misalnya Majelis Negara Pihak (Assembly of States Parties), maka kita akan dapat
memberikan suara dan pandangan tentang hal-hal yang berkaitan dengan perubahan/perbaikan
isi Statuta maupun hal-hal lain yang menyangkut pengaturan dan pelaksanaan Mahkamah
Pidana Internasional, termasuk masalah administratif. Bagi negara peratifikasi Statuta Roma, hal
ini berarti memberikan hak preferensi secara aktif dan langsung untuk memberikan peranannya
secara aktif dalam segala kegiatan Mahkamah Pidana Internasional, termasuk diantaranya
melindungi warga negaranya yang menjadi subjek Mahkamah Pidana Internasional.
Dengan meratifikasi Statuta Roma maka Indonesia otomatis menjadi anggota dari Majelis
Negara Pihak yang memiliki fungsi sangat penting dalam Mahkamah Pidana Internasional.
Fungsi penting dari Majelis Negara Pihak diantaranya adalah dapat ikut serta melakukan
pemilihan terhadap semua posisi hukum di Mahkamah Pidana Internasional. Posisi tersebut
diantaranya adalah posisi hakim dan jaksa penuntut.
Bila Indonesia meratifikasi Statuta Roma tahun 2008 ini, maka pada tahun 2009, ketika Review
Conference digelar, Indonesia sudah bisa berpartisipasi secara aktif.
b. Kesempatan untuk Menjadi Bagian dari Organ Mahkamah Pidana Internasional
Sebagai negara pihak tentunya Indonesia akan dapat berkesempatan untuk masuk dan terlibat
dalam organ Mahkamah Pidana Internasional. Hal ini dikarenakan setiap negara pihak berhak
mencalonkan salah satu warganegaranya untuk menjadi hakim, jaksa penuntut ataupun
panitera. Tentunya kesempatan ini dapat meningkatkan kemampuan para aparat penegak
hukum Indonesia dalam berpraktik di peradilan internasional dan dapat menguatkan posisi
tawar negara dalam pergaulan internasional. Sementara negara bukan pihak tidak dapat
mencalonkan wakilnya untuk menjadi organ inti Mahkamah Pidana Internasional. Dengan
demikian, menjadi Negara Pihak dalam Statuta Roma, berarti Indonesia turut berperan aktif
dalam memajukan fungsi efektif dari Mahkamah Pidana Internasional. Itu juga berarti sumbersumber daya manusia Indonesia akan memiliki kesempatan untuk berperan aktif dalam sistem
international, sehingga hal itu akan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Indonesia.
Selain itu, dalam hal penegakan hukum di Indonesia, setelah meratifikasi Statuta Roma
maka para aparat penegak hukum mau tidak mau harus membuka diri mereka untuk lebih
terbiasa dan terlatih dalam melihat perkembangan kasus-kasus internasional yang terjadi dan
menjadikannya bahan referensi dalam menyelesaikan permasalahan hukum di Indonesia.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
14
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
c. Percepatan Proses Reformasi Hukum di Indonesia
Konsekuensi logis dari peratifikasian suatu ketentuan internasional yaitu bahwa negara
peratifikasi terikat dengan aturan dalam konvensi tersebut. Dengan meratifikasi Statuta Roma,
maka Indonesia akan segera terdorong untuk membenahi instrumen hukumnya yang belum
memadai agar selaras dengan aturan dalam Statuta Roma. Hal ini dikarenakan prinsip nonreservasi dalam peratifikasian Statuta Roma, yang berarti bahwa negara peratifikasi tunduk
pada semua aturan dalam Statuta Roma. Untuk mengefektifkan implementasi Statuta Roma,
Negara yang telah meratifikasi diwajibkan membuat aturan implementasi yang dilakukan
melalui proses harmonisasi perangkat hukum nasional disertai dengan sosialisasi aturan
tersebut kepada berbagai elemen yang terkait dengan perlindungan hak asasi manusia.
d. Efektivitas Sistem Hukum Nasional
Dalam Statuta Roma ditegaskan bahwa penyelesaian suatu perkara tetap mengutamakan upaya
hukum nasional baik secara formal maupun material dengan prinsip dan asas-asas yang sesuai
dengan hukum internasional. Artinya, Mahkamah Pidana Internasional justru membuka
kesempatan yang besar untuk mengefektifkan sistem hukum nasional dan pengadilan domestik
dalam menuntut para pelaku kejahatan.
Ini yang disebut pendekatan komplementer melalui pola yang strategis dan lebih terfokus.
Artinya, hal ini dapat mendorong para penegak hukum dan pemerintah serta semua pihak
untuk turut aktif dalam penegakan hukum dan perlindungan HAM. Sehingga dengan menjadi
pihak Mahkamah Pidana Internasional mau tidak mau suatu negara akan termotivasi untuk
melaksanakan penegakan HAM melalui pengefektifan hukum dan sistem peradilan nasionalnya
yang dilatarbelakangi salah satu prinsip fundamental Mahkamah Pidana Internasional yaitu
prinsip komplementer.
Lebih lanjut, Statuta Roma juga memungkinkan untuk memberikan “technical assistance”
bagi Negara Pihak dalam proses perbaikan dan penyesuaian sistem hukum domestiknya agar
memenuhi standar dan prinsip-prinsip hukum internasional yang berlaku. Bagi praktisi hukum
di Indonesia, khususnya para hakim dan jaksa, Mahkamah Pidana Internasional juga membuka
luas kesempatan untuk belajar dan berkarir baik melalui mekanisme magang maupun jalur
“visiting professional”.
e. Peningkatan Upaya Perlindungan HAM
Adanya Mahkamah Pidana Internasional dapat menjadi motivator untuk terus menggiatkan
dan meningkatkan peran Indonesia dalam upaya perlindungan HAM internasional, seperti
tujuan negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu turut aktif dalam upaya
menjaga ketertiban dan perdamaian dunia. Serta menunjukan komitmen Indonesia bahwa
Indonesia dapat melaksanakan perlindungan HAM melalui pengadilan HAM secara efektif dan
efisien dengan menjamin prinsip pertanggungjawaban individu, penuntutan dan penghukuman
bagi pelaku kejahatan.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
15
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Secara politis hal ini dapat mengangkat status Indonesia di mata pergaulan internasional.
Diharapkan, dengan diratifikasinya Statuta Roma disertai dengan penyerbarluasan informasi yang
terstruktur dan sistematis, maka pemahaman tentang aturan hukum HAM dan kewajiban negara
dalam menegakkan hukum HAM internasional dapat lebih baik lagi.
Mahkamah Pidana Internasional dan Perlindungan Buruh Migran Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah buruh migran terbanyak didunia.
Meskipun konsentrasi buruh migran Indonesia berada di negara-negara seperti
Malaysia dan Arab Saudi. Tidak hanya itu beberapa buruh migran Indonesia juga
berada di wilayah yang sedang mengalami konflik bersenjata atau konflik. Persoalan
yang mungkin dihadapi oleh Pemerintah Indonesia kemungkinan buruh migran kita
menjadi korban dari konflik tersebut.
Mahkamah Pidana Internasional dapat menjadi salah satu pilihan bagi Pemerintah
Indonesia untuk melindungi buruh migran Indonesia ketika kejahatan serius yang telah
menjadi yurisdiksi mahkamah. Hal ini terjadi jika Indonesia secepatnya meratifikasi
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional.
Sebagai negara pihak, Indonesia dapat saja mendorong Jaksa Penuntut Mahkamah
untuk segera melakukan investigasi terhadap kejahatan yang menjadi yurisdiksi
mahkamah yang menimpa buruh migran Indonesia. Dorongan ini tentunya muncul
ketika pelaku kejahatan berasal dari negara yang telah pula menjadi pihak dalam
Statuta Roma. Akan tetapi patut pula diingat bahwa Indonesia juga tidak kehilangan
kesempatannya untuk mencari keadilan, walau pelakunya bukan dari Negara pihak.
Akan tetapi hal itu tidak menjadikan kesempatan menegakan keadilan bagi Warga
Negara Indonesia yang menjadi buruh migran telah tertutup , Pemerintah Indonesia
masih dapat mendorong dimualainya investigasi jika negara tersebut tidak berniat
(unwilling) atau tidak mampu (unable) untuk mengadili pelaku kejahatan.
Berangkat dari hal itu dapat dikatakan Indonesia dapat menggunakan mekanisme
Mahkamah Pidana Internasional sesuai dengan semangat Pemerintah Indonesia
sebagaimana ditabalkan dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
f. Posisi Diplomatik
Ratifikasi Indonesia akan menempatkan Indonesia sebagai salah satu pendukung utama
keadilan internasional. Dalam pelaksanaannya, Indonesia akan bergabung dengan lebih
dari setengah masyarakat dunia untuk meyakinkan bahwa sistem keadilan yang efektif akan
mencegah kejahatan terburuk yang pernah terjadi terhadap kemanusiaan dan memastikan
adanya perlindungan bagi seluruh bangsa di dunia, termasuk Indonesia sendiri.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
16
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Dengan meratifikasi Mahkamah Pidana Internasional, Indonesia sebagai negara demokrasi
terbesar ketiga di dunia yang juga salah satu negara terpenting di kawasan Asia Tenggara dapat
menjadi contoh yang baik dalam upaya perlindungan HAM khusunya bagi negara-negara
tetangganya, maupun negara-negara besar lainnya di dunia. Secara politis, Ratifikasi ini penting
bagi pergaulan internasional karena akan menunjukan komitmen Indonesia yang tinggi dalam
pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia khususnya dalam penegakan hukum pidana
internasional dan yang terpenting adalah ikut serta bersama masyarakat internasional dalam
menghapuskan praktik impunitas.
IV. Kerugian Tidak Meratifikasi Statuta Roma Pada 2008
a. Komitmen terhadap Perlindungan HAM
Seperti telah dikemukakan di atas bahwa dengan meratifikasi Statuta Roma yang berisi
aturan mengenai bentuk-bentuk kejahatan luar biasa (extraordinary crimes) yang bersifat
dinamis tetapi tidak diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dapat
memotivasi negara untuk memperbaiki sistem peradilannya, termasuk dalam hal hukum
acaranya. Mengingat bahwa setelah meratifikasi Statuta, negara pihak harus mempunyai aturan
pelaksanaan yang berjalan sesuai isi Statuta Roma. Belajar dari pengalaman penegakkan hukum
di Indonesia, masih banyak terjadi praktek impunitas.
Para penguasa atau para komandan/atasan masih bisa berlindung dari jeratan hukum karena
alasan tugas negara atau karena ketidakmemadaian instrumen hukum Indonesia yang
memberikan celah untuk membebaskan mereka. Jika tidak segera meratifikasi Statuta Roma
sebagai upaya untuk memutus rantai impunitas tersebut, maka komitmen Indonesia terhadap
perlindungan HAM dapat dianggap hanya sebagai retorika politis karena dalam prakteknya
Indonesia tidak mendukung upaya-upaya yang mengarah pada kemajuan perlindungan HAM.
Dalam konteks ini, perlu dibangun pemahaman bersama bahwa kepentingan nasional (national
interest) Indonesia bukan hanya menjaga kedaulatan negara (sovereignty of the state), tapi bahwa
menghormati HAM juga bagian dari kepentingan nasional karena diakui dalam konstitusi.
b. Komitmen Indonesia untuk Memutus Rantai Impunitas
Bila Indonesia menunda untuk meratifikasi Statuta Roma pada 2008 maka dapat dikatakan
bahwa Pemerintah Indonesia melanggar komitmen kepada rakyat Indonesia serta masyarakat
internasional sebagai upayanya untuk turut serta memutus rantai impunitas. Komitmen
pemerintah tersebut telah ditegaskan dalam Keputusan Presiden No. 40 Tahun 2004 tentang
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RAN HAM) 2004-2009. Pemerintah selalu
menggunakannya dalam berbagai kesempatan baik ditingkat nasional dan internasional sebagai
upaya untuk memperoleh kepercayaan rakyat, masyarakat internasional serta perbaikan citra
sebagai bangsa yang menjunjung tinggi HAM.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
17
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
Sudah seharusnya pemerintah secepatnya merealisasikan ratifikasi Statuta Roma sebagaimana
telah direncanakan dalam RAN HAM 2004-2009. Sekedar untuk mengingatkan komitmen dan
dukungan Pemerintah Indonesia untuk memutus rantai impunitas yang terlihat dari pernyataan
Duta Besar Marty Natalegawa, Wakil Tetap Indonesia untuk PBB sebagai salah satu anggota
tidak tetap Dewan Keamanan PBB dalam menanggapi laporan Jaksa Mahkamah Pidana
Internasional soal Darfur kepada Dewan Keamanan PBB pada Desember 2007:
“My delegation condemns the continued gross violations of human rights and international humanitarian law in Darfur.
These crimes are egregious affronts to the norms, rules and collective conscience of the international community.
The perpetrators of those acts must be brought to justice…Finally, we wish to underline the independence of the Court
on the conduct of its work . We believe that once case has been referred to the Court, including by the Council, there should
be no interference in the legal process. At the same time, we recognize and underline the responsibility of the Security
Council to ensure that Government of Sudan complies fully with the provisions
of Security Council resolution 1593 (2005). There cannot be any impunity.”
Sepantasnya pernyataan ini akan lebih bermakna apabila pemerintah secepatnya meratifikasi
Statuta Roma pada 2008. Dengan demikian Pemerintah Indonesia dapat membuktikan
komitmennya dan merealisasikan kata-kata dengan tindakan nyata.
V. Indonesia Siap Meratifikasi Statuta Roma Tahun 2008
Berdasarkan pembukaan Statuta Roma, Mahkamah Pidana Internasional merupakan pelengkap
dari peradilan nasional. Apa yang tercantum dalam pembukaan tersebut menegaskan salah satu
prinsip penting dalam Mahkamah Pidana Internasional yaitu prinsip komplementer. Berdasarkan
pasal 17 ayat (1) Statuta Roma, pengadilan nasional tidak dapat dikontrol oleh ICC.
Larangan ICC untuk mencampuri yurisdiksi hukum nasional jika suatu negara sedang
menyelidiki atau menuntut kejahatan tersebut, kasusnya tidak cukup gawat untuk
membenarkan tindakan lanjutan oleh ICC, dan kasusnya telah diputuskan oleh pengadilan
yang layak dan adil. Berdasarkan ketentuan ini, ICC sebetulnya bertujuan untuk
mengefektifkan peradilan pidana nasional suatu negara.
Dengan demikian, tidak ada kekhawatiran bahwa ICC akan mengurangi kedaulatan dalam
sistem hukum di Indonesia. Kasus-kasus yang akan dibawa ke ICC benar-benar hanya akan
didasarkan pada; pelanggaran terhadap proses peradilan domestik yang hanya ditujukan
sebagai upaya untuk melindungi pelaku, adanya ketidakmauan negara, dan sistem hukum
suatu negara tidak mampu mengadili kejahatan-kejahatan dalam yurisdiksi ICC. Mekanisme
hukum nasional tetap menjadi langkah yang utama dan pertama (the forum of first resort) untuk
melakukan penuntutan terhadap kejahatan-kejahatan tersebut.
Berdasarkan kesesuaian antara tujuan didirikannya ICC dan konstitusi Indonesia, penting
untuk meratifikasi Statuta Roma sebagai bentuk pelaksanaan kewajiban konstitusional dan juga
komitmen bangsa Indonesia dalam berkontribusi atas perdamaian dunia.
Melihat komitmen Indonesia dalam perlindungan hak asasi manusia, bisa dikatakan bahwa
saat ini Indonesia telah siap meratifikasi Statuta Roma. Kesiapan tersebut terkait dengan
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
18
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
politik hukum hak asasi manusia di Indonesia saat ini, kesiapan instrumem hukum, kesiapan
infrastruktur dan adanya pengalaman Indonesia dalam mengadili kejahatan internasional, dan
juga kesiapan masyarakat.
1. Komitmen Perlindungan HAM
a. Undang Undang Dasar 1945
UUD 1945 telah merumuskan pengaturan perlindungan HAM dalam UUD 1945 baik dalam
Pembukaan maupun batang tubuh. Dalam Pembukaan, secara eksplisit dan implisit Indonesia
mengemukakan pernyataan dan komitmennya dalam upaya perlindungan HAM. Dimana
salah satunya dilakukan melalui peran aktif dalam upaya melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial yang juga merupakan salah
satu tujuan bangsa Indonesia.
Bahwa paska reformasi, UUD 1945 mengalami perubahan penting dalam rangka untuk
menjamin perlindungan hak asasi manusia baik dalam bidang hak-hak sipil dan politik maupun
yang termasuk dalam hak-hak sosial, ekonomi dan budaya. Pada tahun 2002, perubahan Kedua
UUD 1945 menambahkan aturan yang lebih rinci berkenaan dengan pengaturan perlindungan
HAM khususnya di bidang hak-hak sipil dan politik, yaitu dalam BAB X A Pasal 28A – Pasal 28J.
Sebelumnya pengaturan yang berkaitan dengan perlindungan dan penegakan HAM secara rinci
hanya diatur dalam Undang Undang dan perangkat hukum lainnya di bawah UUD. Kemudian
pada tahun 2002, perlindungan HAM lebih menitikberatkan pada perlindungan HAM
di bidang ekonomi, sosial dan budaya.
b. RANHAM 2004-2009
Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) 2004-2009 berdasarkan Keppres
No.40 Tahun 2004 tanggal 11 Mei 2004 diantaranya mencakup persiapan ratifikasi instrumen
HAM internasional dan penerapan norma dan standar HAM. Peratifikasian Statuta Roma
merupakan hal yang sejalan dengan pelaksanaan RANHAM 2004-2009 menegaskan itikad baik
serta komitmen Indonesia dalam rangka perlindungan HAM internasional yang selaras dengan
hukum nasional. Agenda ratirikasi Statuta Roma dalam RANHAM akan dilaksanakan pada
tahun 2008, dan hal itu berarti tahun ini.
Urgensi peratifikasian Statuta Roma sudah semakin mendesak, untuk melengkapi mekanisme
penyelesaian pelanggaran HAM dan komitmen Indonesia dalam upaya perlindungan dan penegakan
hukum HAM. Ratifikasi Statuta Roma diperlukan agar dapat mendorong kemajuan perlindungan
HAM dan penegakan hukum terutama dalam konteks perbaikan sistem peradilan Indonesia.
2. Kesesuaian Pengaturan dan Upaya Perbaikan
a. Kesesuaian Prinsip-Prinsip dan Ketentuan Umum Hukum Pidana
l Penerapan asas non retroaktif (asas legalitas)
Berdasarkan pasal 24 Statuta Roma menyatakan bahwa seseorang tidak dapat tidak seorang pun
bertanggung jawab secara pidana berdasarkan Statuta ini atas perbuatan yang dilakukan sebelum
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
19
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
diberlakukannya Statuta ini. Ketentuan ini menunjukkan bahwa Statuta Roma tidak berlaku surut
(retroaktif) dan menjunjung tinggi asas legalitas sebagai asas kardinal dalam hukum pidana.
Bahwa ketentuan tidak berlakunya ICC sejalan dengan asas pokok dalam hukum pidana bahwa
tidak ada penghukuman tanpa adanya pemidanaan terlebih dahulu. Hal ini sesuai dengan
hukum pidana nasional pasal 1 KUHAP yang menyatakan bahwa tiada suatu perbuatan dapat
dihukum kecuali didasarkan pada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah
diadakan terlebih dahulu.
Jaminan untuk menegakkan prinsip non retroakif ini juga tertuang dalam pasal 4 UU No. 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dan pasal 28 I UUD 1945 yang menyatakan bahwa
hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang
tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun. Hak untuk tidak dituntut berdasarkan hukum
yang berlaku surut ini juga sesuai dengan pasal 11 ayat (2) Konvenan Internasional hak-hak
sipil dan politik yang telah diratifikasi dengan UU No. 12 Tahun 2005 yang menyatakan
bahwa tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan tindak pidana karena perbuatan atau
kelalaian yang tidak merupakan suatu tindak pidana menurut undang-undang nasional atau
internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. Juga tidak diperkenankan menjatuhkan
hukuman yang lebih berat daripada hukum yang seharusnya dikenakan ketika pelanggaran
pidana itu dilakukan.
Dengan demikian, baik Statuta Roma maupun hukum nasional mempunyai prinsip yang sama
yakni melindungi setiap individu dari penerapan tuntutan pidana tertentu yang sebelumnya
belum menjadi tindak pidana dalam hukum nasional maupun internasional. Dalam hal,
jika Indonesia meratifikasi Statuta Roma maka hanya akan berlaku penerapannya sejak
diratifikasinya Statuta tersebut. ICC hanya dapat menerapkan yurisdiksinya atas dugaan
terjadinya kejahatan yang paling serius setelah adanya ratifikasi.
l Pertanggungjawaban individual dan dapat dihukumnya pelaku yang
melakukan percobaan, pembantuan dan permufakatan jahat
Berdasarkan pasal 25 ayat (2) Statuta Roma, pertangungjawaban pidana adalah
pertanggungjawaban yang bersifat individual. Dalam ayat (2) juga dinyatakan bahwa pelaku
kejahatan dapat dikenakan pidana dan dijatuhi hukuman atas tindakan yang dilakukan secara
bersama-sama, memrintahkan, mengusahakan, membantu atau melakukan persekongkolan
untuk melakukan kejahatan dalam yurisdiksi ICC.
Ketentuan sebagaimana diatur dalam Statuta Romatersebut juga telah diatur dalam pasal
1 angka 4 UU No. 26 Tahun 2000 yang menyatakan bahwa setiap orang adalah orang
perseorangan, baik sipil, militer maupun polisi yang bertanggungjawab secara indvidual.
Sementara tindakan berupa percoabaan, permufakatan jahat diatur dalam pasal 41 UU No. 26
Tahun 2000 dan dalam berbagai ketentuan dalam KUHP.
l Ne bis in Idem
Berdasakan pasal 20 Statuta Roma melarang adanya pengadilan dihadapan ICC atau
pengadilan jika dasar kejahatan terhadap orang itu telah dinyatakan bersalah atau dibebaskan
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
20
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
oleh ICC. Ketentuan tersebut dapat dikecualikan jika pengadilan lain yang mengadili kalau
proses pengadilannya dilakukan; 1) dengan tujuan untuk melindungi orang yang bersangkutan
dari tanggung jawab pidana, dan 2) tidak dilakukan secara mandiri dan memihak sesuai dengan
norma-norma mengenai proses yang diakui oleh hukum internasional dan dilakukan dengan
maksud untuk membawa orang tersebut ke pengadilan.
Larangan untuk mengadili kembali tersebut merupakan salah satu prinsip penting dalam
hukum pidana yaitu prinsip ne bis in idem. Prinsip ini diakui dalam hukum pidana Indonesia
dan bahkan juga telah diatur secara tegas dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia dalam pasal 18 yang menyatakan bahwa setiap orang tidak dapat dituntut kedua
kalinya dalam perkara yang sama atas suatu perbuatan yang memperoleh putusan pengadilan
yang berkekuatan hukum tetap.
l Daluwarsa
Kejahatan-kejahatan yang diatur dalam Statuta Roma tidak mengenal daluwarsa yakni jangka
waktu atau masa dimana suatu tindak pidana tidak dapat diadili atau diajukan ke pengadilan.
KUHP Indonesia memang menganut asas ini sebagai sebuah asas dalam hukum pidana.
Namun, berdasarkan ketentuan pasal 46 UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
yang menyimpangi asas ini. Pasal 46 tersebut menyatakan bahwa untuk pelanggaran hak asasi
manusia yang berat tidak berlaku ketentuan mengenai kadaluwarsa.
b. Harmonisasi Produk Hukum Nasional
1. KUHP, RUU KUHP dan KUHAP
KUHP Indonesia belum mengatur tentang Kejahatan Genosida, Kejahatan Terhadap
Kemanusiaan, dan Kejahatan Perang sebagaimana diatur dalam Statuta Roma. Baru pada
tahun 2000, Kejahatan Genosida dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan masuk dalam leksikon
hukum nasional sebagai pelanggaran HAM yang berat yang diatur secara khusus dalam UU No.
26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Namun demikian, Prinsip-prinsip dalam hukum
pidana yang dianut oleh ICC yang juga telah diatur dalam KUHP Indonesia, yakni prinsip
legalitas (non-retroactive principle), pertanggungjawaban individual, hal tentang penyertaan,
percobaan dan pembantuan serta pemufakatan.
Dari sisi hukum acara, terdapat perbedaan yang cukup besar. Dalam Statuta Roma semua
unsur penegak hukum dalam sistem peradilan ICC bersifat independen, berdiri sendiri tanpa
pengaruh pihak manapun, begitu juga dengan proses beracaranya yang berbeda dengan perkara
pidana biasa yang merupakan gabungan antara Anglo Saxon dan Eropa Kontinental. Sedangkan
dalam Pengadilan HAM kita yang diatur oleh Undang-Undang No.26 Tahun 2000, hukum
acara yang digunakan adalah sama dengan acara yang terdapat dalam KUHAP dengan sistem
kita yang menganut Eropa Kontinental.
Dalam Rancangan UU KUHP Tahun 2006, telah dimasukkan kejahatan-kejahatan yang
menjadi jurisdiksi ICC (kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan
perang) menjadi bagian RKUHP. Pengaturan ini diantaranya terdapat dalam Buku Kedua
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
21
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
tentang “Tindak Pidana Hak Asasi Manusia”, yang berisi pengaturan dari segi materi tindak
pidana beserta hukuman yang dapat dijatuhkan kepada para pelaku tindak pidana tersebut. Bila
RKHUP ini disahkan dengan segera artinya kita tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan
buruk yang dapat timbul, dari peratifikasian Statuta Roma berkenaan dengan pengaturan
jurisdiksi yang berbeda dengan Undang Undang No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM
yang hanya memasukan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam jurisdiksinya.
RKUHP ini menunjukan komitmen dan kesiapan Indonesia dalam upaya perlindungan HAM
yang sejalan dengan standar aturan hukum internasional.
2. UU No. 39 Tahun 1999
Undang-Undang ini merupakan awal tonggak pengaturan HAM karena Undang -Undang ini
mengatur mengenai hak-hak mendasar yang wajib mendapat perlindungan diantaranya yang
termasuk dalam hak-hak sipil dan politik serta yang termasuk dalam hak-hak ekonomi, sosial
dan budaya. Undang-Undang ini mengatur tentang KOMNAS HAM sebagai lembaga yang
independen. Lembaga independen ini diantaranya memiliki fungsi pengkajian, penelitian,
penyuluhan, pemantuan dan meditasi tentang hak asasi manusia.
Berkaitan dengan forum internasional, Undang Undang ini pun tidak menentang adanya upaya
yang dilakukan ke forum internasional dalam rangka perlindungan HAM bilamana upaya yang
dilakukan di forum nasional tidak mendapat tanggapan. Pasal 7 ayat (1) Undang Undang No.
39 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk mengajukan semua upaya
hukum nasional dan forum internasional atas semua pelanggaran hak asasi manusia yang
dijamin oleh hukum Indonesia dan hukum internasional mengenai hak asasi manusia yang
telah diterima negara Republik Indonesia. Maksudnya bahwa mereka yang ingin menegakan
HAM dan kebebasan dasarnya diwajibkan untuk menempuh semua upaya hukum Indonesia
terlebih dahulu (exhaustion of local remedies) sebelum menggunakan forum di tingkat regional
maupun internasional. Hal ini seiring dengan prinsip komplementer yang dianut ICC.
Meskipun tidak secara rinci menyebutkan kejahatan-kejahatan seperti dalam jurisdiksi
ICC, tetapi Undang Undang dalam pasal 104 telah memandatkan pembentukan pengadilan
HAM untuk mengadili pelanggaran HAM yang berat. Kejahatan-kejahatan yang termasuk
pelanggaran HAM yang berat dalam UU ini adalah pembunuhan massal (genocide),
pembunuhan sewenang-wenang atau diluar keputusan pengadilan (arbitrary extra judicial
killing), penyiksaan dan penghilangan orang secara paksa.
3. UU No. 26 Tahun 2000
Undang – undang ini dibuat atas dasar kesadaran dan kepentingan bahwa Indonesia sebagai
negara yang berdaulat. Sebagi landasan filosofis, Undang-Undang ini dibuat sebagai penerapan
cita-cita bangsa yang dipelopori oleh para pendiri bangsa ini dalam rangka pencapaian
tujuan bangsa diantaranya mensejahterakan rakyat Indonesia melalui perlindungan HAM.
Pertimbangan yuridis yang menjadi landasan Undang-Undang ini yaitu untuk menjamin
keadilan dan kepastian hukum, dikarenakan KUHP Indonesia tidak mengatur pelanggaran
berat terhadap HAM yang merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crimes). Dalam
sistem hukum Indonesia, suatu hal yang belum diatur dalam KUHP dapat diatur dalam
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
22
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
peraturan tersendiri sehingga Undang-Undang 26 tahun 2000 banyak melakukan terobosanterobosan aturan hukum yang tidak diatur sebelumnya dalam KUHAP.
Landasan sosiologis dalam Undang-Undang ini yaitu sebagai upaya menjaga dan meningkatkan
upaya perlindungan HAM, dan mencegah terjadinya kembali pelanggaran-pelanggaran
HAM yang berat masa lalu. Sedangkan alasan politik dalam Undang-Undang ini yaitu bahwa
pelanggaran HAM yang berat bersifat politis yang dilakukan oleh sekelompok orang yang
memegang kekuasaan.
Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 ini telah mendefinisikan pelanggaran HAM yang berat
yakni Kejahatan Genosida dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, yang merupakan kejahatan
yang luar biasa (extra ordinary crimes). Pelanggaran HAM yang berat dalam UU ini mengadopsi
dari Statuta Roma sebagaimana dinyatakan dalam Penjelasannya.
UU ini merupakan salah satu upaya yang dilakukan Indonesia untuk menunjukan bahwa
Indonesia mampu melaksanakan peradilan sendiri yang sesuai dengan standar internasional
(Statuta Roma) dan untuk menguatkan prinsip komplementaritas yang dianut oleh
ICC. Undang-Undang ini menunjukan niat dan itikad baik pemerintah Indonesia untuk
melaksanakan penghukuman terhadap pelaku pelanggaran HAM yang berat di negaranya.
4. UU No. 13 Tahun 2006
Sejak tahun 2006, Indonesia telah mempunyai UU khusus tentang Perlindungan Saksi dan
Korban. UU ini mengatur tentang hak-hak korban dan saksi, termasuk dalam saksi dan korban
kejahatan-kejahatan yang merupakan pelanggaran HAM yang berat. Beberapa hak saksi yang
diatur diantaranya hak-hak saksi untuk diberikan perlindungan pergantian identitas dan
relokasi saksi (pasal 5). Selain itu juga mengadopsi berbagai ketentuan dalam Statuta Roma
tentang perlindungan saksi diantaranya pemeriksaan saksi in camera, atau pemberian kesaksian
melalui media elektronik lainnnya (pasal 9).
Dalam UU perlindungan saksi dan korban, para korban kejahatan yang termasuk pelanggaran
HAM mendapatkan hak untuk kompensasi, restitusi dan rehabilitasi. Hal ini sesuai dengan
ketentuan di Statuta Roma mengenai hak-hak korban kejahatan yang menjadi yurisdiksi ICC.
Dalam rangka melindungi saksi dan korban secara lebih baik, UU ini juga memandatkan
pembentukan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Lembaga ini merupakan
lembaga yang mandiri dengan anggota yang mewakili lembaga-lembaga penegak hukum dan
masyarakat dan dengan sistem kerja yang berkoordinasi dengan lembaga-lembaga penegak
hukum lainnya. Meskipun berbeda konsepnya dengan unit perlindungan saksi dan korban di
ICC, namun dalam beberapa hal lembaga ini mempunyai kesamaan tujuan dan fungsi.
Adanya UU Perlindungan saksi dan korban ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk
memenuhi kewajibannya dalam menuntut kejahatan-kejahatan yang termasuk pelanggaran
HAM yang berat dengan adanya sistem perlindungan bagi saksi dan korban. Demikian juga
komitmen untuk memberikan hak-hak reparasi (pemulihan) kepada para korban, yang sesuai
dengan hukum internasional dan Statuta Roma.
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
23
Ratifikasi Statuta Roma Sekarang!
VI. Penutup
Berbagai perangkat hukum yang telah dimiliki Indonesia merupakan kelebihan dan ‘modal’
yang dimiliki Indonesia yang menunjukan kesiapan sistem hukum kita dalam penegakan
HAM, jika dibanding negara lain seperti Norwegia dan Kamboja ataupun negara-negara
yang tergabung dalam Uni Eropa yang telah meratifikasi Statuta Roma tapi belum memiliki
aturan pelaksanaan maupun perangkat hukum yang mendukung implementasi Statuta
Roma. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menjadi penghalang itikad baik mereka dalam
mewujudkan komitmen yang kuat dalam upaya perlindungan HAM dan penegakan hukumnya.
Hal ini terlihat dari komitmen yang dibuat oleh Norwegia yang akan melakukan peninjauan
kembali terhadap berbagai perangkat hukumnya yang disesuaikan dengan pengaturan dalam
Statuta Roma seperti KUHP, KUHPerdata dan aturan kemiliterannya. Begitu pula yang terjadi
dengan Kamboja yang melakukan ratifikasi terlebih dahulu lalu kemudian selanjutnya dibuat
aturan pelaksanaannya.
Kelebihan lain yang dimiliki Indonesia adalah adanya praktek pengadilan HAM yang mengadili
kejahatan terhadap kemanusiaan. Meskipun belum sempurna, pengadilan ini terus menerus
memperbaiki diri baik dari sisi kelengkapan instrumen hukumnya, aparat penegak hukumnya
dan pengadilannya sendiri. Diratifikasinya Statuta Roma akan memperkuat proses perbaikan
pengadilan HAM dan juga instrumen hukum lainnya.
Faktor lain yang penting adalah adanya komitmen dan kesiapan dari pemerintah dalam upaya
meratifikasi Statuta Roma. Komitmen tersebut sebagaimana dicantumkan dalam Ranham
2004-2005 kemudian berlanjut dengan serangkaian upaya untuk mempersiapkan ratifikasi
Statuta Roma yang dilakukan oleh Departeman Luar Negeri dan Departemen Hukum dan
HAM. Sementara itu, Departemen Pertahanan juga memberikan dorongan yang positif
atas upaya Ratifikasi ini karena sesuai dengan reformasi internal yang telah, sedang dan akan
dilaksanakan di Lingkungan Departemen Pertahanan dan TNI. Hal ini disampaikan oleh
Menhan Juwono Sudarsono dalam Acara Sosialisasi dan Workshop Tentang Statuta Roma/ICC.
Bagi Perwira TNI, disampaikan di Makassar, Banda Aceh, Palembang, Jayapura, Ambon,
Padang, Balikapapan dan Surabaya. Dukungan lainnya juga datang dari Komnas HAM dan
juga para anggota DPR.
Dari paparan di atas, sangat nyata terlihat betapa Indonesia telah benar-benar siap
meratifikasi Statuta Roma pada tahun 2008 ini, sebagai salah satu perwujudan tujuan
bangsa Indonesia seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yaitu ikut serta secara
aktif dalam memelihara perdamaian, ketertiban dan keamanan dunia.
Ratifikasi Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional, Sekarang!
Koalisi Masyarakat Sipil untuk Mahkamah Pidana Internasional
24
Download