"KONFLIK INTERNAL GEREJA (Studi Kasus Terhadap Faktor

advertisement
BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL TEORI KONFLIK STRUKTURAL DAN
TEORI KEKUASAAN
1.1
Pendahuluan
Untuk dapat melihat dengan jelas alur tulisan ini, maka penulis mencoba untuk
menyampaikan
gagasan-gagasan dari ahli terhubung dengan, apa itu konflik?,
Bagaimana suatu situasi dapat dikatakan konflik?, sebab dengan batasan berdasarkan
uraian kajian Teori dirasa dapat membantu untuk memahami apa yang dimaksud oleh
penulis dalam tulisan ini. Sebab seperti yang tercantum dalam latar belakang masalah
bahwa inti dari karya tulis ini adalah membahas tentang Konflik gereja yang
membuahkan perpecahan gereja yang berkonflik tersebut, juga mengakibatkan
terjadinya disintegrasi dalam masyarakat Kampung Sawang, sebab konflik tersebut
berlatar belakang kepentingan segelintir orang dalam gereja yang cenderung
menggunakan kekuasaan yang ada pada mereka.
Pemilihan teori dalam uraian pada BAB II ini didasarkan pada masalah yang
ditemui di lokasi penelitian, dipakai guna menganalisa lebih jauh bagaimana sebenarnya
konflik yang terjadi ini, apa yang menyebabkan konflik ini bisa terjadi, termasuk dalam
jenis konflik yang seperti apa, dan dampak konflik yang dirasakan oleh masyarakat,
serta apa resolusi konflik yang cocok diterapkan dalam kasus konflik yang seperti
terjadi di dalam Gereja GMIST Sawang ini.
Seperti juga telah dicantumkan pada bagian analisa data yang ada dalam BAB I
dikatakan bahwa dalam menganalisa data semua berdasar pada data yang diperoleh di
lapangan dan bukan pada ide-ide yang ditetapkan sebelumnya dengan demikian, hasil``
analisa data dengan menggunakan teori-teori yang nantinya akan dijabarkan oleh
penulis ini sekiranya dapat menjawab masalah penelitian.
Memang bisa saja teori yang dipilih oleh penulis ini tak dapat menjawab
keseluruhan masalah yang ada di lokasi penelitian yang jika demikian maka akan ada
keluaran pemikiran yang baru yang juga akan dicantumkan oleh penulis sendiri untuk
dijadikan sumbangan bagi pembaca secara umum dan bidang akademik khususnya studi
Agama dan Masyarakat yang akan di uraikan dalam uraian analisa. Agar jika terjadi
gejala-gejala konflik seperti ini, semua dapat ditanggulangi agar tak tercipta disintegrasi
dalam masyarakat yang berkonflik tersebut.
1.2
Teori Konflik Lewis Coser
Lewis Coser, lahir di Berlin sebagai Ludwig Cohen, Coser adalah sosiolog
pertama yang mencoba untuk mempertemukan fungsionalisme struktural dan teori
konflik, karyanya berfokus pada menemukan fungsi konflik sosial. Coser berpendapat dengan George Simmel sebab Coser merupakan murid dari George Simmel– yaitu
konflik mungkin berfungsi untuk memperkuat kelompok yang strukturnya longgar atau
lemah. Konflik yang terjadi dalam masyarakat yang berdisintegrasi dengan masyarakat
lain atau konflik antar kelompok, dapat mengembalikan inti integratif. Misalnya,
kekompakan Yahudi Israel mungkin disebabkan konflik lama dengan orang Arab.
Konflik dengan satu kelompok juga dapat berfungsi untuk menghasilkan kohesi dengan
mengarah ke serangkaian aliansi dengan kelompok lain. Konflik antar-kelompok, dapat
membawa beberapa individu yang biasanya terisolasi menjadi berperan aktif.1
1
Di unduh dari http://en.wikipedia.org/wiki/Lewis_A._Coser., Pada Hari Rabu, 27 Maret
2013, Pukul 11.25 WIB.
Berdasarkan pemahamannya di atas maka, Lewis Coser mengemukakan konflik
dengan membaginya dalam dua bagian:2
Konflik external adalah konflik yang terjadi antara dua kelompok yang berbeda, di
mana akan memperkuat kelompok yang berkonflik tersebut dengan memberikan
batasan yang jelas dengan kelompok lain.
Konflik Internal adalah suatu konflik yang muncul dalam sebuah kelompok yang
memiliki hubungan yang sangat intim. Konflik ini muncul karena terdapat ketegangan
dan perasaan-perasaann negatif yang merupakan hasil dari keinginan individu untuk
meningkatkan kesejahteraannya, kekuasaan, prestise, dukungan sosial atau
penghargaan-penghargaan lainnya. Karena banyak dari penghargaan-penghargaan itu
bersifat langka, maka tingkat kompetisi pun tak terelakkan.
Berdasarkan pengertian konflik menurut Lewis Coser ini, jelas bahwa ia
membagi konflik dalam dua jenis yaitu konflik external dan internal, di mana external
terkait dengan bagaimana konflik terjadi antara satu, dua, bahkan tiga kelompok yang
berbeda, sedangkan konflik internal lebih kepada konflik yang terjadi di dalam
kelompok itu sendiri, di mana masing-masing individu dalam kelompok itu memiliki
tujuan dan keinginan masing-masing untuk diperjuangkan, sehingga tingkat persaingan
meningkat maka menghasilkan keluaran Konflik.
Lewis Coser Juga Membedakan konflik menjadi dua bentuk sesuai dengan altar
terjadinya konflik, pihak yang terkait dalam konflik, dan substansi konflik, dan lainlain:3 Konflik realistik dan konflik nonrealistik. Konflik realistik merupakan konflik
yang digunakan sebagai suatu sarana pencapaian sesuatu yang diinginkan. Dengan
demikian konflik realistik selalu diarahkan pada objek konflik yang sebenarnya. Konflik
dapat berhenti ketika tujuan telah tercapai. Metode manajemen konflik yang dapat
digunakan dalam konflik ini adalah dialog, persuasi, musyawara, voting dan negosiasi.
2
Doyle Paul Johnson, Teori Sosiologi, Klasik dan Modern (terjemahan), Robert M.Z. Lawang
(Jilid 2; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1990),196-200.
3
Wirawan, 55
Konflik nonrealistik merupakan sebuah konflik yang mengarah bukan pada
objek konflik melainkan pada faktor-faktor penentu konflik dan juga tidak berorientasi
pada hasil tertentu. Atau dengan kata lain tidak peduli pada penyelesaian perbedaan
pendapat mengenai isu penyebab konflik. Yang penting adalah bagaimana mengalahkan
lawannya. Metode menejemen konflik yang digunakan dalam konflik jenis ini adalah
agresi, menggunakan kekuasaan, kekuatan dan paksaan.4
Dari dua jenis konflik menurut Lewis Coser di atas dapat ditarik kesimpulan
seperti ini yakni, keduanya memang memiliki tujuan mengapa terjadi konflik, tapi
konflik realistis lebih berfokus pada jalan atau tindakkan apa yang harus digunakan
untuk dapat memperoleh apa yang ingin di capai. Sedangkan konflik nonrealistik lebih
kepada ingin menunjukkan kemampuannya terhadap pihak lawan dengan tidak terlalu
memperhatikan faktor-faktor konflik serta tujuan yang hendak dicapai. Yang
diperhatikan disini adalah jalan untuk dapat mengalahkan pihak lawan.
Setelah mendefinisikan dan membagi konflik dalam dua bagian, Lewis Coser
juga memberikan beberapa penjelasan tentang fungsi konflik yang tak terpisahkan
dengan dampak dari konflik sesuai yang telah didefinisikan olehnya:
1. Konflik dapat menetapkan dan menjaga identitas dan garis batas masyarakat
dan kelompok-kelompok. Yang dimaksud di sini ialah dengan berkonflik
maka masing-masing kelompok dapat benar-benar mengetahui batasanbatasan apa yang mereka miliki terhadap kelompok lain.
2. Konflik dengan kelompok lain memberikan kontribusi untuk menetapkan dan
menyatakan kembali identitas dari kelompok dan menjaga batas identitas
4
Lewis Coser, The functions of social conflict (New York: Free Press, 1964), 48-50.
tersebut dari dunia sosial yang menguntungkan dua belah pihak dan
memberikan manfaat kolektif yang lebih besar bagi para anggotanya.
3. Konflik dapat mempererat persatuan kelompok.
Berdasarkan fungsi sekaligus dampak dari konflik di atas, nampak bahwa
keseluruhannya mengarah pada dampak positif konflik di mana konfik dapat
memperjelas identitas kelompok, dengan menyatakan dan menjaga batas identitas dari
kedua kelompok yang berkonflik dan memperkuat integrasi dalam kelompok-kelompok
itu sendiri.
2.3.
Teori Konflik George Simmel
George Simmel lahir di pusat kota Berlin pada tanggal 1 Maret 1858. Ia belajar
berbagai bidang studi di Universita Berlin.5 George Simmel membagi konflik dalam
dua jenis sebagaimana telah dikatakan di atas bahwa Coser sependapat dengan George
Simmel tentang teori konflik maka sudah pasti pemikiran mereka tidaklah jauh berbeda.
Pertama, konflik dapat di lihat dalam dinamika kelompok- dalam (in-group)
dengan hubungan kelompok-luar (out-group). Dengan pengertian bahwa solidaritas dan
integrasi kelompok dalam semakin bertambah tinggi jika konflik dengan pihak luar
makin bertambah. Sebab sesungguhnya menurut Simmel ketegangan atau konflik
dengan pihak luar akan meningkatkan dan mempertahankan solidaritas. Kelompok
dalam ini lebih menyalahkan pihak luar atas kesulitan-kesulitan internalnya daripada
membiarkan kesulitan-kesuliatan ini menghasilkan perpecahan atau konflik dalam
kelompok tersebut.6 Dengan demikian George Simmel lebih melihat dampak konflik
5
George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik sampai
Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmodern (terjemahan), (Jakarta: Kreasi Kencana, 2011), 172.
6
Doyle Paul Johnson ,196-197.
pada sisi positifnya yakni meningkatkan dan mempertahankan solidaritas secara khusus
dalam kelompok itu sendiri (in-group) ketika berkonflik dengan kelompok luar (outgroup).
Kedua, George Simmel juga mengemukakan bahwa konflik internal atau konflik
di dalam diri kelompok tersebut juga sama halnya dengan konflik dengan kelompok
luar yaitu keduanya memiliki dampak konflik yang positif serta negatif. Tak terelakkan
bahwa ketegangan dan perasaan negatif merupakan hasil dari keinginan individu untuk
meningkatkan kesejahteraannya, kekuasaannya, prestise, dukungan sosial atau
penghargaan-penghargaan lainnya. Apapun alasannya konflik internal memang sering
dihindari sebab dianggap jelek dan tidak diinginkan terjadi. Di lain pikah anggota
kelompok tersebut secara terbuka mengakui kepentingan-kepentingan yang saling
bertentangan khususnya untuk hal yang tidak terlalu penting sehingga membangun
sebuah mekanisme untuk penyelesaiannya. Namun ketika tidak menemukan sebuah
kerangka consensus atau tak ada lagi dasar untuk kesatuan kelompok, maka konflik
internal dapat mengakibatkan disintegrasi atau perpecahan kelompok. Tapi antagonistik
dan ketidaksepakatan akan berkurang ketika masalah-masalah pokok dibicarakan
dengan terbuka dan bukan dipendam. Baiknya konflik internal terjadi karena ketika
suatu hubungan begitu erat pastilah akan ada sikap antagonistik dari masing-masing
individu di dalam kelompok tersebut, yang sudah seharusnya dikeluarkan atau
disampaikan dengan terbuka, sehingga tidak menggunung dan menghasilkan konflik
yang lebih besar. Serta dampaknya pun tidak begitu buruk, semua dirundingkan secara
eksplisit.7
7
Ibid., 200-201
Jadi, berdasarkan uraian pemikiran Simmel di atas, sebuah konflik internal
tercipta memang bisa berdampak negatif yaitu terjadinya disintegrasi atau perpecahan
dalam kelompok tersebut ketika tidak mencapai suatu konsensus terhadap perbedaan
yang menghasilkan sikap antagonistik tersebut. Tapi sisi positifnya adalah tidak
terpendam lebih lama lagi perasaan antagonistik dan permusuhan yang ada sehingga
dampaknya pun tidak akan begitu parah, atau dapat dibicarakan secara terbuka.
Dalam sebuah konflik internal, masuknya pihak ketiga dalam kelompok,
sejumlah peran sosial menjadi mungkin. Sebagai contoh, pihak ketiga dapat memainkan
peran sebagai penengah atau mediator pada perselisihan dalam kelompok, tetapi pihak
ketiga dapat juga memanfaatkan perselisihan antar dua pihak yang lain demi
keuntungannya sendiri atau menjadi sasaran yang dapat diperebutkan dua pihak lain.
Anggota ketiga pun dapat secara sengaja mendorong terjadinya konflik antar dua pihak
lain untuk memperoleh superioritas (memecah belah dan menguasai).8
Sering kali pihak-pihak yang terlibat konflik tidak mampu menyelesaikan
konflik yang sudah berlangsung lama dengan menghabiskan sumber-sumber yang
dimiliki dan pengorbanan yang besar. Akan tetapi, kedua belah pihak yang terlibat
konflik tidak mau mengalah untuk menyelamatkan muka. Menyelamatkan muka sering
kali terjadi jika konflik berkaitan dengan harga diri atau citra diri.9
2.4
Teori Kekuasaan Menurut Max Weber
Max Weber adalah seorang ahli hukum yang merupakan profesor di Freiburg,
Heildelberg, dan Munich dan aktif menulis dalam berbagai bidang ilmu seperti sejarah
agraria kuno, kondisi-kondisi populasi pedesaan di Prussia, metodologi ilmu-ilmu sosial
8
http://perilakuorganisasi.com/georg-simmel-masyarakat-sebagai-interaksi.html., Ferry Roen,
27 Agustus 2011.
9
George Simmel, 111.
dan juga sosiologi agama.10 Untuk itu penulis akan menjabarkan pikirannya tentang
kekuasaan, sebab penulis merasa teori kekuasaan ini juga dapat menjawab penelitian
penulis.
Max Weber berpendapat bahwa setiap individu atau kelompok yang terlibat
dalam sebuah konflik pastilah akan menggunakan kekuasaan sebab kekuasaan dalam
proses konflik sosial bagaikan oksigen bagi proses biologis tubuh kita betapa pun
perbedaan masalah dan perasaan dari mereka. Kekuasaan tersebut digunakan untuk
saling menaklukan (pertarungan curang) ataupun untuk saling bekerjasama (pertarungan
jujur). Demikian juga dalam proses konflik gereja semua oknum yang terlibat pasti
menggunakan kekuasaannya.11
Berbicara tentang kekuasaan penulis rasa penting untuk sedikit mengulas tentang
teori kekuasaan yang dijabarkan oleh Max Weber dalam bukunya yang berjudul
Economy and society, menurutnya konsep kekuasaan adalah secara sosiologis tak
berbentuk. Setiap orang dalam situasi tertentu dimana terdapat peluang dan juga adanya
kualitas tertentu dalam diri seseorang serta kemungkinan kombinasi-kombinasi dari
keadaan-keadaan sekitar, dapat menempatkan seseorang itu dalam satu posisi untuk
memaksakan kehendaknya.12
Weber Menulis:
“Power” (Macht) is the probability that one actor within a social relationship
will be in a position to carry out his own will despite resistance, regardless, of
basis on which this probability rests,13. Seorang aktor dalam satu hubungan
10
Max Weber, Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme (terjemahan), (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2006), v.
11
Ibid., 6
12
Arti dari domination (penguasaan) seringkali digunakan secara umum untuk menggambarkan
kekuasaan (power) yang dimiliki suatu kelompok sosial atas kelompok lain , seperti dominasi generasi tua
terhadap generasi muda. Atau yang digunakan oleh Weber menggambarkan kecenderungan ditaatinya
perintah di dalam organisasi atau masyarakat tertentu. Lihat Max Weber, Economy and Society, ( Edited
by Guenther Roth and Claus Wittich, vol. 1. Berkley-Los Angeles- London: University of California
Press, 1978), 53. Band. dengan pengertian domination menurut Nicholas Abercrombie dkk, Kamus
Sosiologi (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 163.
13
Ibid.
sosial akan berada dalam satu posisi untuk melaksanakan keinginannya sendiri
tanpa memperhatikan hal mendasar lainnya dimana kemungkinan adanya
perlawanan.
Selain kekuasaan Weber juga mengungkapkan tentang Dominasi (otoritas)
sebagai kemungkinan dimana perintah-perintah tertentu yang spesifik atau khusus
dipatuhi oleh kelompok yang diberi perintah.14
Weber menulis:
“Domination” (Herrschaft) is the probability that a command with a given
specific content will be obeyed by a given group of person. Yakni dominasi
(Herrschaft) adalah kemungkinan dimana satu perintah yang diberikan dengan
satu tujuan yang spesifik, akan diikuti oleh sekelompok orang yang diberi atau
menerima perintah.15
Dengan kata lain dominasi berlangsung ketika adanya satu figur tertentu yang
sungguh-sungguh berhasil memberikan perintah kepada orang lain. Oleh sebab itu suatu
“organisasi yang berkuasa” (Herrschaftsverband) dapat hidup dan berkembang sejauh
mana anggota-anggotanya tunduk kepada dominasi berdasarkan perintah yang
diperlihatkan.16 Terkait dengan kekuasaan dan dominasi, Weber pun menulis tentang
disiplin:
“Dicipline” is the probability that by virtue of habituation a command will
receive prompt and automatic obedience in stereotyped forms, on the part of a
given group o person.17 Yakni kemungkinan dimana satu perintah secara
otomatis segera akan diikuti dengan ketaatan melalui sifat baik dan bentukbentuk yang diikuti kelompok yang diberi perintah.
Dengan demikian tak ada kekuasaan atau dominasi yang bisa lepas dari sikap
disiplin dari pihak yang diperintah. Jadi ketiga hal tersebut di atas yaitu, kekuasaan,
dominasi dan disiplin sangat terkait erat seperti teori yang dijabarkan oleh Max Weber
yang penulis rasa juga terkait erat dengan konflik sebab ketika kekuasaan, dominasi dan
disiplin dilanggar atau disalah gunakan oleh seorang aktor yang memberi perintah
14
Ibid., 212.
Ibid., 53
16
Ibid.
17
Ibid.
15
dengan menciptakan legitimasi yang salah maka dari sanalah akan muncul perlawanan
yang melahirkan konflik.
Sebab seperti yang diutarakan oleh Morton Deutsch, Konflik merupakan
pergumulan kekuasaan atas berbagai perbedaan: informasi atau keyakinan yang
berbeda; kepentingan, keinginan atau nilai-nilai,
kemampuan-kemampuan yang
berbeda dalam memperoleh sumber-sumber yang dibutuhkan.18 Yang berarti bahwa
konflik lahir dari berbagai perbedaan baik informasi, kepentingan, keinginan, nilai serta
kemampuan dalam memperoleh atau mungkin memperebutkan sumber-sumber yang
dibutuhkan yang tentunya pastilah bersifat langkah sehingga harus diperebutkan.
Lebih dalam lagi, konflik lahir sebab individu atau kelompok memiliki
kepentingan yang berbeda dan untuk itulah konflik seringkali merupakan persepsi
mengenai perbedaan kepentingan (Perceived divergence of interest), atau suatu
kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara
simultan. Konflik dapat terjadi pada berbagai macam keadaan dan pada berbagai tingkat
kompleksitas.19 Memahami maksud dari pernyataan ini, nampaklah bahwa setiap
konflik memiliki sebab yang berbeda-beda, tergantung dengan objek terjadinya konflik
tersebut, serta pihak apa yang sedang berkonflik.
Objek konflik pastilah terkait dengan “kepentingan”. Kepentingan yang
dimaksud di sini adalah perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan.
Apa yang sesungguhnya ia inginkan tersebut cenderung bersifat sentral dalam pikiran
dan tindakan orang, yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan dan niat
(intensi)nya. Ada kepentingan yang bersifat universal (seperti kebutuhan akan rasa
aman, isentitas, restu sosial (social approval), kebahagiaan, kejelasan tentang dunianya,
18
Morton Deutsch dalam Hugh F Halverstadt, Conflict: Productive and Destructive “Mengelola
Konflik Gereja”, (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2004), 5.
19
Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin, 10-11.
dan beberapa harkat manusia yang bersifat fisik). Namun, beberapa kepentingan lain
bersifat spesifik bagi pelaku-pelaku tertentu (contohnya keinginan bangsa Palestina
untuk memiliki tanah air). Beberapa kepentingan bersifat penting (memiliki prioritas
yang lebih tinggi) dari pada yang lain, dan tingkat prioritas tersebut berbeda pada
masing-masing orang. Beberapa kepentingan mendasari kepentingan lainnya; sebagai
contoh, kepentingan Amerika atas keamanan mendasari kepentingannya untuk
mempertahankan kekuatan aliansi Barat.20
Konflik yang didefinisikan sebagai perbedaan persepsi mengenai kepentingan
terjadi ketika tidak terlihat adanya alternatif yang dapat memuaskan aspirasi kedua
belah pihak. Konflik dapat terjadi hanya karena salah satu pihak memiliki aspirasi tinggi
atau karena alternatif yang bersifat integratif dinilai sulit didapat. Ketika konflik
semacam ini terjadi maka ia akan semakin dalam bila aspirasi sendiri atau aspirasi pihak
lain bersifat kaku dan menetap.21
Dalam suatu hubungan ada yang disebut antagonism. Secara sosiologis
antagonisme merupakan suatu unsur yang tidak pernah tidak ada dalam kerja sama.
Sebuah pertentangan karena antagonisme seperti ini berlangsung dengan harapan bahwa
antagonisme akan berhenti apabila mencapai taraf tertentu, karena kesadaran bahwa hal
itu tidak memiliki manfaat atau karena telah jenuh berkelahi. Sebab konflik atau
pertentangan yang terjadi antara kedua pihak karena mengejar tujuan yang sama.22
Konflik biasanya terjadi juga ketika orang cenderung mengidentifikasi diri
dengan para anggota kelompok lain yang dekat dengannya atau yang memiliki
kesamaan dalam beberapa hal dengan kelompoknya sendiri. Bila kelompok tersebut
20
Ibid, 21-22
Ibid, 26-27
22
Soerjono Soekanto, George Simmel: Beberapa Teori Sosiologis (Jakarta: CV Rajawali, 1986),
21
22-23.
berprestasi yang lebih baik, maka dari sanalah tercipta konflik akibat dari peningkatan
aspirasi diri sendiri. Hal seperti ini juga dapat terjadi pada individu, di mana fenomena
seperti tersebut ini disebut sebagai invidious comparison (perbandingan yang
menyakitkan hati). Hal ini akan menstimulasi peningkatan aspirasi untuk alasan yang
dianggap realistis (karena rasanya masuk akal ketika orang tersebut dapat melakukan
hal itu maka ia pun dapat melakukannya) maupun bersifat idealistis (karena orang
tersebut berpikir hasil kerjanya harus sebaik hasil kerja orang yang menjadi
perbandingannya).23
Aktor yang terlibat konflik dalam gereja biasanya adalah pihak yang
kepentingan-kepentingannya-tujuan, kebutuhan, keinginan, tanggung jawab dan/atau
komitmen-nya – bertabrakkan dengan tujuan, kebutuhan, keinginan, tanggung jawab
dan/atau komitmen dari sekurang-kurangnya satu pihak lain. Mereka terkait konflik
karena ada yang mereka pertaruhkan dalam perbedaan-perbedaan yang bertabrakkan.
Jika ingin agar konflik selesai maka perbedaan inilah yang harus diselesaikan dan hal
tersebut hanya sanggup diselesaikan oleh mereka sendiri.24
Pelaku konflik karena tanggung jawab institutional mereka disebut sebagai para
pelaku struktural sedangkan yang bertikai karena status yang mereka miliki disebut
sebagai pelaku budaya. Baik staf yang digaji, ketua komisi dan anggota majelis yang
bekerja secara sukarela termasuk dalam para pelaku struktural ketika mereka terkait
dalam konflik gereja.25 Dengan demikian, para aktor konflik struktural ini pastilah akan
menggunakan kekuasaan guna pencapaian keinginan.
23
Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin, 32-33.
Morton Deutsch, 69.
25
Ibid, 70.
24
Download