BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengetahuan 1. Pengertian

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar
menjawab pernyataan ‘what’, misalnya apa air, apa manusia, apa alam, dan
sebagainya. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan
terjadi
melalui
panca
indera
manusia,
yakni
indera
penglihatan,
pendengaran, penciuman, perasaan, dan peraba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).
2. Tingkatan Pengetahuan
Tingkatan pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan (Notoatmodjo, 2003) yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang paling rendah
karena tingkatan ini hanya mengingat kembali (recall) terhadap suatu
spesifik dari selutruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah
diterima.
10
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara
benar
tentang
obyek
yang
diketahui
dan
dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menerapkan atau
menggunakan materi yang sudah dipelajari pada situasi atau kondisi riil
(sebenarnya).
d. Analisis (Analysis)
Analisis diartikan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen–komponen, tetapi masih didalam satu
struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi – formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi diartikan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau suatu obyek berdasarkan kriteria
yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria–kriteria yang telah
ada.
11
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
3. Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan yang dimiliki seseorang
dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon
yang datang dari luar. Orang yang berpendidikan akan berfikir sejauh
mana keuntungan yang akan mungkin mereka peroleh dari gagasan
tersebut.
b. Paparan Media Massa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronika berbagai
informasi dapat diterima oleh masyarakat, sehingga seseorang yang lebih
sering terpapan media masa (televisi, radio, majalah, pamflet) akan
memperoleh informasi yang lebih hanya dibandingkan dengan orang
yang tidak pernah terpapar informasi media masa.
c. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun sekunder, keluarga dengan
status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibandingkan keluarga
dengan status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan
akan informasi yang termasuk kebutuhan sekunder.
d. Hubungan Sosial
Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam kehidupan saling
berinteraksi antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat
berinteraksi secara batinnya akan lebih terpapar informasi. Sementara
12
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
faktor hubungan sosial juga mempengaruhi kemampuan individu sebagai
komunikasi untuk menerima pesan menurut model komunikasi media.
e. Pengalaman
Pengalaman seorang individu tentang berbagai hal bisa diperoleh dan
lingkungan kehidupan dalam proses perkembangannya.
4. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003) dalam memperoleh pengetahuan dibagi dalam
2 kelompok :
a. Cara Tradisional
Cara ini dipakai orang untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,
sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara
sistemik dan logis. Cara – cara penemuan pengetahuan pada periode ini
antara lain, meliputi :
1)
Cara Coba–Salah (Trial and error)
Cara ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam
memecahkan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak
berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Pengalaman yang
diperoleh melalui penggunaan metode ini banyak membantu
perkembangan berpikir dan kebudayaan manusia kearah yang lebih
sempurna.
2)
Cara Kekuasaan atau Otoritas
Pengetahuan diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan,
baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemuka agama, maupun
13
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
ahli ilmu pengetahuan. Para pemegang otoritas, baik pemimpin
pemerintahan, tokoh agama maupun ahli ilmu pengetahuan pada
prinsipnya mempunyai mekanisme yang sama didalam penemuan
pengetahuan.
3)
Berdasarkan pengalaman pribadi
Pengalaman pribadi dapat digunakan sebagai upaya memperoleh
pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan mengulang kembali
pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan
yang dihadapi pada masa lalu.
4)
Melalui jalan pikiran
Kebenaran
pengetahuan
dapat
diperoleh
manusia
dengan
menggunakan jalan pikirannya, baik melalui induksi maupun
deduksi yang merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak
langsung melalui pernyataan–pernyataan yang dikemukakan dan
dicari hubungannya sehingga dapat diambil kesimpulan.
b. Cara Modern
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan dewasa ini
lebih sistematis, logis dan murah.Cara ini disebut metode penelitian
ilmiah atau lebih popular (research methodology). Setelah diadakan
penggabungan antara proses berpikir deduktif–induktif maka lahirlah
suatu penelitian yang dikenal dengan metode penelitian ilmiah.
14
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
5. Pengukuran Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam tiga kategori, yaitu :
a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari
seluruh pernyataan.
b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari
seluruh pernyataan.
c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari
seluruh pernyataan.
B. Pola Pemberian Makan Balita
1. Pengertian Pola Makan
Pola makan adalah berbagai informasi yang memberikan gambaran
mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan setiap hari oleh
seseorang dan merupakan ciri khas suatu keompok masyarakat tertentu.
Pemberian makanan balita adalah segala upaya dan cara ibu untuk
memberikan makanan pada anak balita dengan tujuan supaya kebutuhan
makan anak tercukupi, baik dalam jumlah maupun nilai gizinya (Karyadi,E.
dan Kolopaking, R., 2007).
Pola pemberian makanan balita dapat diartikan sebagai upaya dan cara
yang biasa dipraktekkan ibu untuk memberikan makanan kepada anak balita
mulai dari penyusunan menu, pengolahan, penyajian dan cara pemberiannya
kepada balita supaya kebutuhan makan anak tercukupi, baik dalam macam,
jumlah maupun nilai gizinya.
15
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Pemberian makanan pada anak bertujuan untuk mencapai tumbuh
kembang anak secara optimal. Pemberian makanan yang baik dan benar
dapat menghasilkan gizi yang baik sehingga meningkatkan kemampuan
untuk mengembangkan seluruh potensi genetik yang ada secaraoptimal.
Menurut Judarwanto (2004) pemberian makanan pada anak mempunyai
tiga fungsi, yaitu:
a. Fungsi fisiologis yaitu memberikan nutrisi sesuai kebutuhan agar tercapai
tumbuh kembang yang optimal.
b. Fungsi psikologis, penting dalam pengembangan hubungan emosional
ibu dan anak sejak awal.
c. Fungsi
sosial/edukasi
yaitu
melatih
anak
mengenal
makanan,
keterampilan makan dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Pemberian makanan pada anak secara tidak langsung menjadi alat untuk
mendidik anak. Kebiasaan dan kesukaan anak terhadap makanan mulai
dibentuk sejak kecil. Jika anak diperkenalkan dengan berbagai jenis
makanan mulai usia dini, pola makan dan kebiasaan makan pada usia
selanjutnya adalah makanan beragam. Secara dini anak harus dibiasakan
makan makanan yang sehat dan bergizi seimbang sebagai bekal
dikemudianhari.
Waktu makan yang teratur membuat anak berdisiplin tanpa paksaan dan
hidup teratur. Seperti halnya membiasakan anak makan dengan cara makan
yang benar tanpa harus disuapi, makan dengan duduk dalam satu meja sejak
dini, dan membiasakan mencuci tangan sebelum makan serta menggunakan
16
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
alat makan dengan benar dapat melatih anak untuk mengerti etika dan juga
mengajarkan anak hidup mandiri, serta mendidik anak hidup bersih
danteratur.
2. Tahapan Pemberian Menu Makan
a. Penyusunan Menu
Pemberian makan pada balita harus disesuaikan dengan usia dan
kebutuhannya. Pengaturan makan dan perencanaan menu harus selalu
dilakukan dengan hati-hati sesuai dengan kebutuhan gizi, usia dan
keadaan
kesehatannya.
Pemberian
makan
yang
teratur
berarti
memberikan semua zat gizi yang diperlukan baik untuk energi maupun
untuk tumbuh
kembang yang optimal. Jadi apapun makanan yang
diberikan, anak harus memperoleh semua zat yang sesuai dengan
kebutuhannya, agar tubuh bayi dapat tumbuh dan berkembang. Artinya,
selain tubuh bayi menjadi lebih besar, fungsi – fungsi organ tubuhnya
harus berkembang sejalan dengan bertambahnya usia bayi.
Oleh karena itu pengaturan makanan harus mencakup jenis makanan
yang diberikan, waktu usia makan mulai diberikan, besarnya porsi
makanan setiap kali makan dan frekuensi pemberian makan setiap
harinya. Mulai memasuki usia 1 tahun, orang tua perlu membuat jadwal
harian pola makan anak (food diary) agar anak terbiasa dengan pola
makan yang teratur.
Selain jadwal makan, mencatat jenis makanan, porsi serta jumlah yang
dikonsumsi anak dan jenis makanan apa saja yang disukai atau tidak
17
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
disukai anak, bahkan bila ada makanan yang menyebabkan alergi dapat
diketahui dari food diary ini (Karyadi,E. dan Kolopaking,R., 2007).
Diharapkan kebiasaan makan yang teratur, baik, dan sehat ini akan terus
melekat sepanjang hidup anak dan hal itu merupakan modal bagi
pemeliharaan gizi anak untuk usia selanjutnya.
Pengaturan jenis dan bahan makanan yang dikonsumsi juga harus
diatur dengan baik agar anak tidak cepat bosan dengan jenis makanan
tertentu. Makanan yang memenuhi menu gizi seimbang untuk anak bila
menu makanan terdiri atas kelompok bahan makanan sumber zat tenaga,
zat pembangun, zat pengatur serta makanan yang berasal dari susu
(Karyadi,E.dan Kolopaking,R.,2007). Dalam praktek, keanekaragaman
bahan makanan itu dapat diwujudkan dengan menerapkan pola susunan
hidangan ”empat sehat lima sempurna”, yaitu diterapkannya penggunaan
empat kelompok bahan makanan dalam menu makanan anak sehari-hari
yang diperkaya dengan segelas susu. Komposisi makanan anak mulai
usia tahun kedua dapat digambarkan dalam bentuk ”piramida komposisi
makanan”. Luas bidang pada masing –masing petak kelompok bahan
makanan pada piramida menggambarkan perbandingan banyaknya porsi
kelompok bahan makanan pada setiap kali pemberian makan. Nasi atau
sumber karbohidrat lain seperti kentang atau roti menempati bidang yang
paling luas pada dasar piramida.
Hal ini menunjukkan bahwa nasi atau penggantinya merupakan bahan
yang porsinya paling besar karena merupakan sumber energi. Sebaliknya,
18
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
lemak atau minyak dan gula ditempatkan pada puncak piramida.
Makanan yang mengandung lemak, minyak, dan makanan manis harus
dibatasi sesedikit mungkin karena kurang baik bagi anak.
Besar porsi makanan setiap kali makan harus sesuai. Agar kecukupan
gizi anak terpenuhi, maka bukan saja jenis bahan makanan yang
diberikan harus beragam, tetapi juga harus memperhatikan banyaknya
makanan yang dimakan atau besar porsi makanan setiap kali makan.
Porsi makan yang kurang akan menyebabkan anak kekurangan zat gizi.
Sebaliknya porsi makan yang berlebih juga akan menyebabkan anak
menjadi kelebihan gizi hingga menjadi kegemukan. Beberapa penelitian
menyimpulkan, mereka yang pada masa kanak-kanak dan remaja telah
mengalami kegemukan (overweight), lebih rentan terhadap penyakit
diabetes atau kencing manis, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit
lainnya (Moehyi, 2008).
19
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Tabel 2.1 Contoh Menu Anak Usia 1 – 3 Tahun
Waktu
BangunuTidur
Menu
Jam 07.00 (sarapan)
Susu 1 gelas
Bubur Ayam
Sayur
Jam 10.00
(makanan selingan)
Jus Alpukat
Jam 12.00
(makan siang)
Nasi tim
Sayur daging
Jam 16.00
(makanan selingan)
Jus papaya
Jeruk
Jam 18.00
(makan malam)
Nasi tim
Brokoli
Sebelum tidur
Susu 1 gelas
Bahan Makanan
Susu
Beras
Kacang merah
Ayam giling
Tomat
Bayam
Wortel
Bawang putih
Daun seledri
Garam
Air
Daging alpukat
Susu skim bubuk
Madu
Krim moka
Air matang
Beras
Daging sapi giling
Tahu
Tomat
Wortel
Mentega
Pepaya
Air jeruk
Gula pasir
Beras
Brokoli cacah halus
Teri nasi
Kaldu ayam
Minyak sayur
Susu
Ukuran
150 ml
20 g
20 g
30 g
1 buah
20 g
20 g
1 siung
Ngsdm
½
½ sdm
150 ml
50 g
1 sdm
50 g
10 g
75 ml
20 g
25 g
50 g
25 g
50 g
1 sdt
100 g
1 sdm
1 sdt
20 g
25 buah
10 g
250 ml
1 sdm
150 ml
Total kalori
Kalori
100
182
196
218
93
119
100
1008
Sumber : Karyadi, E. dan Kolopaking, R. (2007).
20
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Tabel 2.2 Contoh Menu Anak Usia 3 – 5 Tahun
Waktu
Menu
Bahan
Ukuran
Kalori
Jam 06.00
Susu
Susu sapi segar
150 ml
100
Jam 07.00
Nasi uduk
Nasi uduk
1 mangkuk
266
(sarapan)
Dadar telur
Telur
I butir
Jam 10.00
Roti isi kacang
Jam 12.00
Nasi
(makan siang)
1 porsi
258
Beras
150 gr
400
Ayam goreng
Ayam
1 potong dada
Sayur bayam
Bayam
50 gr
Jagung
30 gr
Tahu
25 gr
Tepung
30 gr
Tahu tepung
Jam 16.00
Pisang segar
I buah pisang
100 g
95
Jam 18.00
Nasi putih
Nasi
150 g
432
(makan
malam)
150 g
Tumis jamur
Jamur
30 g
Jagung muda
50 g
Nanas potong
30
Total Kalori
1551
Sumber : Karyadi, E. dan Kolopaking, R. (2007).
b. Pengolahan
Keamanan pangan untuk balita tidak cukup hanya menjaga kebersihan
tetapi juga perlu diperhatikan selama proses pengolahan. Proses
pengolahan pangan memberikan beberapa keuntungan, misalnya
memperbaiki nilai gizi dan daya cerna, memperbaiki cita rasa maupun
aroma, serta memperpanjang daya simpan (Auliana, 1999).
Bahan makanan yang akan diolah disamping kebersihannya juga
dalam
penyiapan
seperti
dalam
membuat
potongan
bahan
perlu diperhatikan. Hal ini karena proses mengunyah dan refleks menelan
21
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
balita belum sempurna sehingga anak sering tersedak.
Penggunaan bumbu dalam pengolahan juga perlu diperhatikan.
Menurut Uripi, V (2004) pemakaian bumbu yang merangsang perlu
dihindari karena dapat membahayakan saluran pencernaan dan pada
umumnya anak tidak menyukai makanan yang beraroma tajam.
Pengolahan makanan untuk balita adalah yang menghasilkan tekstur
lunak dengan kandungan air tinggi yaitu direbus, diungkep atau dikukus.
Untuk pengolahan dengan dipanggang atau digoreng yang tidak
menghasilkan tekstur keras dapat dikenalkan tetapi dalam jumlah yang
terbatas. Disamping itu dapat pula dilakukan pengolahan dengan cara
kombinasi misal direbus dahulu baru kemudian dipanggang atau
direbus/diungkep baru kemudian digoreng.
c. Penyajian
Penyajian makanan salah satu hal yang dapat dapat menggugah selera
makan anak. Penyajian makanan dapat dibuat menarik baik dari variasi
bentuk, warna dan rasa. Variasi bentuk makanan misalnya dapat dibuat
bola-bola, kotak, atau bentuk bunga. Penggunaan kombinasi bentuk,
warna dan rasa dari makanan yang disajikan tersebut dapat diterapkan
baik dari bahan yang berbeda maupun yang sama. Disamping
itujugadepatmenggunakanalatsajiataualatmakanyanglucusehingga selain
anak tergugah untuk makan, anak tertarik untuk dapat berlatih makan
sendiri.
22
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
d. Cara Pemberian Makanan untukAnak
Anak balita sudah dapat makan seperti anggota keluarga lainnya
dengan frekuensi yang sama yaitu pagi, siang dan malam serta 2 kali
makan selingan yaitu menjelang siang dan pada sore hari. Meski
demikian cara pemberiannya dengan porsi kecil, teratur dan jangan
dipaksa karena dapat menyebabkan anak menolak makanan.
Waktu makan dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk belajar bagi
anak balita, seperti menanamkan kebiasaan makan yang baik, belajar
keterampilan makan dan belajar mengenai makanan. Orang tua dapat
membuat waktu makan sebagai proses pembelajaran kebiasaan makan
yang baik seperti makan teratur pada jam yang sama setiap harinya,
makan di ruang makan sambil duduk bukan digendongan atau sambil
jalan-jalan.
Makan bersama keluarga dapat memberikan kesempatan bagi balita
untuk mengobservasi anggota keluarga yang lain dalam makan. Anak
dapat belajar cara menggunakan peralatan makan dan cara memakan
makanan tertentu. Anak usia ini mulai mengetahui cara makan sendiri
meskipun masih mengalami kesulitan untuk mengambil atau menyendok
makanan dengan demikian anak dilatih untuk dapat mengeksplorasi
keterampilan makan tanpa bantuan.Untuk menumbuhkan keterampilan
makan anak secara mandiri anak jangan dibiasakan untuk selalu disuapi
oleh orang tua atau pengasuhnya.
Acara makan bersama juga dapat mengajarkan balita mengenai
23
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
makanan. Secara umum anak lebih suka memakan makanan yang
dimakan orang tuanya. Seiring bertambahnya usia anak balita mulai
tertarik dengan makanan yang dimakan oleh teman-temannya. Dengan
demikian, orang tua sangat berperan dalam memberikan model atau
contoh bagi anak dengan memilih makanan yang sehat dan bergizi.
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pola Pemberian Makan Balita
a. Pengetahuan Ibu tentang Gizi Balita
Pengetahuan gizi merupakan suatu proses belajar tentang pangan,
bagaimana tubuh menggunakan dan mengapa pangan diperlukan untuk
kesehatan. Pengetahuan pangan dan gizi orang tua terutama ibu
berpengaruh terhadap jenis pangan yang dikonsumsi sebagai refleksi dari
praktek dan perilaku yang berkaitan dengan gizi (Zulkarnaen,dkk.,2000).
Adanya pengetahuan gizi diharapkan seseorang dapat mengubah perilaku
yang kurang benar sehingga dapat memilih bahan makanan bergizi serta
menyusun menu seimbang sesuai dengan kebutuhan dan selera serta akan
mengetahui akibat apabila terjadi kurang gizi.
Pengetahuan tentang pangan dan gizi dapat diperoleh melalui berbagai
media baik cetak (majalah, tabloid) maupun elektronik (radio, televisi,
internet) disamping dari buku-buku. Selain itu juga bisa diperoleh
melalui pelayanan kesehatan seperti posyandu, puskesmas.
Sumber informasi yang dapat menambah pengetahuan ibu di luar
pendidikan formal yang sering dipergunakan dan menarik sebagian besar
ibu rumah tangga di pedesaan, sehingga memungkinkan informasi
24
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
termasuk pengetahuan pangan, gizi dan kesehatan adalah media
elektronik diantaranya televise dan radio. Namun, menurut penelitian
Zulkarnaen,dkk (2000) untuk ibu-ibu rumah tangga di desa keberadaan
posyandu justru lebih banyak dimanfaatkan sebagai sumber informasi
pangan, gizi dan kesehatan. Hal ini karena disamping adanya kegiatankegiatan penyuluhan (penyampaian pesan-pesan gizi), posyandu juga
merupakan tempat pertemuan ibu-ibu yang memiliki balita sehingga
sangat memungkinkan adanya pertukaran informasi dan pengalaman
dalam mengasuh balitanya.
b. Pendidikan
Menurut UU No.2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
pada bab I pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pendidikan, pengajaran
dan latihan bagi peranannya di masa yang akandatang. Berkaitan dengan
jenjang atau tingkatan yang ada dalam pendidikan sekolah, sikap dan
kepribadian seseorang akan berubahsetelah memperoleh pendidikan
sesuai dengan jenjang pendidikan yang berbeda- beda.
Menurut Kusumawati, Yuli (2004) latar belakang pendidikan
seseorang berhubungan dengan tingkat pengetahuan. Tingkat pendidikan
itu sangat mempengaruhi kemampuan penerimaan informasi gizi.
Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah akan lebih baik
mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan makanan
sehingga sulit menerima informasi baru bidang gizi. Tingkat pendidikan
25
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
ikut menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang
menerima suatu pengetahuan, semakin tinggi pendidikan maka seseorang
akan lebih mudah menerima informasi-informasi gizi.
Pendidikan ibu disamping merupakan modal utama dalam menunjang
perekonomian rumah tangga juga berperan dalam pola penyusunan
makanan untuk rumah tangga. Wahidah (2005) menyatakan bahwa
tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga berhubungan positif dengan
perbaikan pola konsumsi pangan keluarga dan pola pemberian makanan
pada bayi dan anak. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan akan
mempengaruhi konsumsi melalui pemilihan bahan pangan.
c. Pendapatan RumahTangga
Pendapatan adalah seluruh penerimaan baik berupa uang maupun
barang dari pihak lain maupun hasi sendiri dengan jalan dinilai dengan
uang atas dasar harga saat itu (Mulyono,dkk 1985).
Berdasarkan data
dari Badan Pusat Statistik pendapatan per kapita masyarakat Indonesia
tahun 2007 naik 17% menjadi US$ 1.946 atau sekitar 17,9 juta rupiah per
tahun (kurs 9.200), berarti pendapatan per kapita rata – rata masyarakat
Indonesia per bulan sekitar 1,46 juta rupiah.
Struktur pendapatan rumah tangga di pedesaan bervariasi tergantung
pada keragaman sumber daya pertanian. Variasi itu tidak hanya
disebabkan oleh faktor potensi daerah, tetapi juga karakteristik rumah
tangga. Akses ke daerah perkotaan yang merupakan pusat kegiatan
ekonomi seringkali merupakan faktor dominan terhadap variasi struktur
26
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
pendapatan rumah tangga pedesaan. Secara garis besar ada dua sumber
pendapatan rumah tangga pedesaan yaitu sektor pertanian dan nonpertanian. Struktur dan besarnya pendapatan dari sektor pertanian berasal
dari usaha tani/ternak dan berburuh tani. Sedangkan dari sektor
nonpertanian berasal dari usaha nonpertanian, profesional, buruh non
pertanian dan pekerjaan lainnya di sektor non pertanian.
Pada umumnya jika tingkat pendapatan naik, jumlah dan jenis
makanan cenderung untuk membaik juga. Akan tetapi mutu makanan
tidak selalu membaik jika diterapkan pada tanaman perdagangan.
Tanaman perdagangan menggantikan produksi pangan untuk rumah
tangga dan pendapatan yang diperoleh dari tanaman perdagangan itu atau
peningkatan pendapatan yang lain mungkin tidak digunakan untuk
membeli pangan atau bahan-bahan berkualitas gizi tinggi. Pendapatan
keluarga menurut Wahidah (2005) adalah jumlah semua hasil perolehan
yang didapat oleh anggota keluarga dalam bentuk uang sebagai hasil
pekerjaannya. Pendapatan keluarga mempunyai peran yang penting
terutama dalam memberikan pengaruh dalam taraf hidup keluarga.
Pengaruh di sini lebih diorientasikan pada kesejahteraan dan kesehatan,
dimana
perbaikan
pendapatan
akan
meningkatkan
tingkat
gizi
masyarakat. Pendapatan akan menentukan daya beli terhadap pangan dan
fasilitas lain (pendidikan, perumahan, kesehatan, dll) yang dapat
mempengaruhi status gizi.
27
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
d. Besar Keluarga
Wahidah (2005) menyatakan bahwa besar keluarga yaitu banyaknya
anggota suatu keluarga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Termasuk dalam hal ini akan mempengaruhi konsumsi pangan.
Sehingga
jumlah
anggota
keluarga
yang
semakin
besar
akan
menyebabkan pendistribusian konsumsi pangan akan semakin tidak
merata tanpa diimbangi dengan meningkatnya pendapatan.
Menurut Zulkarnaen,dkk (2000) jumlah anggota rumah tangga yang
sedikit akan lebih mudah meningkatkan kesejahteraan, pemenuhan
pangan dan sandang serta upaya meningkatkan pendidikannya lebih
tinggi. Keluarga miskin dengan jumlah anak yang banyak akan lebih sulit
untuk memenuhi kebutuhan pangannya jika dibandingkan keluarga
dengan jumlah anak yang sedikit. Jika besar keluarga bertambah maka
pangan untuk setiap anak berkurang dan banyak orang tua tidak
menyadari bahwa anak-anak yang sangat muda memerlukan pangan
relatif lebih banyak dari pada anak yang lebih tua.
e. Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok
individu memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap
pengaruh fisiologik, psikologik, sosial dan budaya (Suhardjo, 2003).
Mengembangkan kebiasaan makan, berarti mempelajari cara yang
berhubungan dengan konsumsi pangan dan menerima atau menolak
bentuk atau jenis pangan tertentu dimulai dari permulaan hidupnya dan
28
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
akan menjadi perilaku yang berakar diantara kelompok penduduk.
Kebiasaan makan adalah suatu gejala budaya dan sosial yang dapat
memberi gambaran perilaku dari nilai – nilai yang dianut oleh seseorang
atau suatu kelompok masyarakat. Pada masyarakat kota modern dimana
hampir semua orang menghabiskan waktu dari pagi sampai sore di
tempat kerja sudah tentu tidak banyak mempunyai waktu untuk memasak
makanan. Biasanya pada masyarakat seperti ini akan berkembang
kebiasaan makan di restoran cepat saji dimana nilai gizi yang terkandung
dalam makanan belum tentu sesuai dengan kebutuhan. Hal sebaliknya
terjadi pada masyarakat pedesaan dimana kebiasaan makan keluarga dari
makanan yang diolah dan dimasak sendiri.
Kebiasaan makan seseorang terbentuk dari proses belajar (learning
behavior). Apabila sejak dini orang tua tidak memperkenalkan atau
membiasakan makan dengan benar maka hal itu akan terbawa hingga
anak dewasa. Hal ini karena bersamaan dengan pangan yang disajikan
dan diterima baik langsung atau tidak langsung, anak-anak menerima
pula informasi yang berkembang menjadi perasaan, sikap dan tingkah
laku serta kebiasaan yang dapat mereka kaitkan dengan pangan.
4. Penilaian Pola Pemberian Makan
Menurut jurnal tentang Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status
Gizi Anak Usia Prasekolah Di Taman Kanak-Kanak Nurul Huda
Kecamatan Indra Jaya Kabupaten Pidie Tahun 2012 oleh Junaidi penilaian
pola pemberian makan dapat dilakukan menggunakan rumus:
29
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
𝑁=
𝑆𝑝
× 100%
𝑆𝑚
Keterangan:
N : nilai pola makan
Sp : skor yang didapat
Sm : skor maksimum
Persentase diinterpretasikan dengan nilai patokan:
a. Kategori baik = > 15 mean
b. Kategori kurang baik = 15 mean
C. Faktor Pendapatan
Merupakan jumlah penghasilan yang diperoleh keluarga dalam satu bulan
yang dapat dikategorikan dalam penghasilan yang kurang, cukup maupun
berpenghasilan tinggi yang nantinya akan berpengaruh dalam memantau
tumbuh kembang. Atau menggunakan standar UMR (Upah Minimum
Regional) yang ditetapkan oleh pemerintah setempat. UMR Kabupaten
Banyumas tahun 2016 sebesar Rp.1.350.000.Pengukuran pendapatan juga
dapat dilakukan berdasarkan persepsi individu berdasarkan pendapatannya
selama satu bulan dengan dinyatakan ke dalam persepsi kurang, cukup dan
tinggi menurut tingkat kecukupan kebutuhannya. (Badan Pusat Statistik, 2008).
1. Tingkat Pendapatan Keluarga
a. Data Ekonomi Keluarga
Data ekonomi keluarga meliputi:
1)
Pekerjaan (pekerjaan utama, misalnya pekerjaan pertanian, dan
pekerjaan tambahan, misalnya pekerjaan musiman).
30
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
2)
Pendapatan keluarga (gaji, upah, imbalan, industri rumah tangga,
pertanian pangan/non pangan, dan hutang).
3)
Kekayaan yang terlihat seperti tanah, jumlah ternak, mobil, motor,
dan lain-lain).
4)
Pengeluaran/anggaran (pengeluaran untuk makanan, pakaian,
listrik, pendidikan, minyak/bahan bakar, transportasi, rekreasi, dan
lain-lain).
5)
Harga makanan yang tergantung pada pasar dan variasi musim.
(Supariasa, Bakri, & Fajar, 2012).
2. Sumber Pendapatan Keluarga
Pendapatan Keluarga adalah jumlah pendapatan tetap dan sampingan dari
kepala keluarga, ibu, dan anggota keluarga lain dalam 1 bulan dibagi jumlah
seluruh anggota keluarga yang dinyatakan dalam rupiah per kapita per bulan
(Ernawati, 2006).
Sumber-sumber pendapatan keluarga didapatkan dari upah, gaji, imbalan,
industri rumah tangga, dan pertanian pangan/non pangan. Kekayaan berbeda
dengan Pendapatan, karena kekayaan menandakan kepemilikan saham asset,
sedangkan pendapatan merupakan aliran daya beli. Kekayaan mewakili
kapasitas yang lebih permanen dalam jangka panjang, sedangkan
pendapatan mewakili kapasitas dalam jangka pendek. Kekayaan dan
pendapatan berkorelasi positif, karena pendapatan yang disimpan dan / atau
diinvestasikan dapat menjadi kekayaan, dan kekayaan dapat menjadi sumber
penghasilan, keluarga dengan berpenghasilan lebih dapat menambah
31
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
kekayaan, dan keluarga dengan kekayaan lebih dapat memperoleh tambahan
pendapatan (Raffalovich, Monnat, & Tsao, 2009).
D. Status Gizi
Status gizi adalah gambaran keseimbangan antara asupan dan kebutuhan
gizi seseorang. Apabila asupan tersebut sesuai maka disebut status gizi baik,
jika asupan kurang disebut status gizi kurang dan selanjutnya asupan gizi lebih
(Indonesian Nutrition Network Forum, 2005).
Status gizi sangat penting untuk diketahui guna menentukan ada tidaknya
gangguan gizi. Gangguan gizi yang terjadi pada bayi dan balita mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan, baik pada masa balita maupun pada masa
berikutnya sehingga perlu mendapatkan perhatian karena balita adalah generasi
penerus bangsa. Penyebab gangguan gizi pada anak adalah tidak sesuainya
jumlah zat gizi yang di peroleh dengan kebutuhan tubuh, termasuk kurangnya
asupan gizi (lemak, protein dan karbohidrat), infeksi dan yang paling penting
karena kurangnya perhatian dari ibu maupun keluarga terdekat (Arty, 2009).
1. Klasifikasi Status Gizi
Klasifikasi status gizi balita telah disepakati oleh pakar gizi pada bulan
Mei tahun 2000 di semarang tentang standar baku nasional diIndonesia,
yaitu nilai indeks antropometri berat badan menurut umur, tinggi badan
menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan dibandingkan dengan
nilai rujukan WHO-NCHS.
Indikator berat badan menurut umur mencerminkan keadaan gizi
sekarang, klasifikasi terdiri dari gizi lebih, gizi baik, gizi kurang dan gizi
32
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
buruk. Indikator tinggi badan menurut umur mencerminkan keadaan gizi
masa lalu, klasifikasi terdiri dari normal dan pendek. Indikator berat badan
menurut tinggi badan digunakan untuk menilai keadaan gizi secara lebih
khusus karena mencerminkan keadaan gizi masa lalu dan sekarang,
klasifikasi terdiri dari gemuk, normal, kurus, dan kurus sekali (Indonesia
Nutrition Network Forum, 2005).
Pemilihan dan penggunaan indikator sangat dipengaruhi oleh subjek
yang akan diukur dan ditimbang, ketersediaan alat dan kemampuan petugas.
Pengukuran tinggi badan pada kelompok balita sering mengalami kesulitan,
selain itu dalam pelaksanaannya dibutuhkan dua orang petugas yang
terlatih. Pelaksanaan pengukuran antropoetri terhadap balita diPosyandu
masih terbatas pada penimbangan berat badan menggunakan dacin dengan
pertimbangan lebih mudah dalam pelaksanaan dan lebih mudah dimengerti
oleh masyarakat umum (Indonesia Nutrition Network Forum, 2005).
2. Tujuan Pemantauan Status Gizi
Tujuan pemantauan status gizi adalah untuk memperoleh data atau
informasi status gizi seseorang, kelompok atau masyarakat sehingga dapat
diketahui status kesehatannya. Tujuan umum kegiatan pemantauan status
gizi adalah tersedianya informasi status gizi secara berkala dan terusmenerus, guna evaluasi perkembangan status gizi, penetapan kerjasama dan
perencanaan jangka pendek (Supariasa, 2012). Pemantauan berguna untuk
mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan, sehingga intervensi akan lebih
cepat dilakukan sebelum kondisi menjadi lebih parah (Sedioetama, 2004).
33
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
3. Cara Pemantauan Status Gizi
Cara pemantauan dan penilaian status gizi dapat dilakukan secara
langsung maupun secara tidak langsung. Pada umumnya pemantauan status
gizi adalah dengan cara antropometri yaitu menilai ukuran tubuh.
Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat
gizi (Supariasa, 2002).
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh
manusia, antara lain: umur, berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas,
lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul dan tebal lemak dibawah kulit
(Supariasa, 2002).
Umur sangat penting dalam pemantauan status gizi. Hasil pengukuran
tinggi badan, berat badan, lingkar lengan atas yang akurat, menjadi tidak
berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Menurut
puslitbang gizi, batasan umur digunakan adalah tahun umur penuh, dan
untuk anak umur 0 sampai 2 tahun digunakan bulan usia penuh (Supariasa,
2002).
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran
massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan-perubahan
yang mendadak, misalnya terserang penyakit infeksi, menurutnya nafsu
makan dan menurunnya jumlah makanan yang dikonsumsi. Indeks berat
badan menurut umur menggambarkan status gizi saat ini. Ambang batas
34
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
baku untuk keadaan gizi berdasarkan indeks berat badan menurut umur
adalah gizi baik bila berat badan berada > 80% dari median berat baku
rujukan WHO-NCHS (National Centre for Health Statistics), gizi kurang
61-80 persen dan gizi buruk ≤ 60 persen (Supariasa, 2002).
4. Status Gizi Baik
Cara mengetahui pertumbuhan berat badan anak balita dan usia sekolah
dapat menggunakan KMS, Selanjutnya, jabaran AKG menurut takaran
konsumsi makanan sehari, berdasarkan kelompok umur adalan sebagai
berikut:
Tabel 2.3 Anjuran jumlah porsi menurut kecukupan energi
kelompok umur 3-5 tahun
Golongan Umur
3-5 tahun
Bahan Makanan
Berat (gr)
Nasi
300
Daging
100
Telur
50
Tempe
50
Kacang hijau
10
Buah
200
Sayuran
100
Gula
25
Minyak
10
Susu
400
Sumber : Pudjiaji (2003)
URT
2 ½ gelas
2 potong
1 butir
2 potong
1 sdm
2 buah pisang
2 magkuk
2 ½ sdm
1 sdm
2 gelas
5. Penilaian Status Gizi
a. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia, ditinjau dari
sudut pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan
berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari
35
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
b. Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah berat badan kilogram dibagi tinggi
badan kuadrat dalam meter. Indeks massa tubuh merupakan cara untuk
menggambarkan berat badan dalam hubungannya dengan tinggi badan.
c. Indeks Antropometri
Parameter antropometri merupakan dasar dari penilaian status gizi.
Berapa indeks antropometri yang sering digunakan yaitu :
1)
Berat Badan Menurut Umur (BB/U)
Berat badan adalah salah satu parameter yang memberikan
gambaran massa tubuh. Berat badan adalah parameter antropometri
yang sangat labil. Dalam keadaan normal, dimana kesehatan baik
dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan gizi terjamin,
maka BB berkembang mengikuti pertambahan umur. Mengingat
karakteristik berat badan yang labil, makan indeks BB/U lebih
menggambarkan status gizi seseorang saat ini.
2)
Tinggi Badan Menurut Umur (TB/U)
Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan
keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal tinggi badan
tumbuh seiring dengan pertambahan umur.
3)
Berat Badan Menurut Tinggi Badan (BB/TB)
Berat badan memiliki hubungan yang linear dengan tinggi badan.
Dalam keadaan normal, perkembangan berat badan akan searah
36
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
dengan pertumbuhan tinggi badan dengan kecepatan tertentu.
Tabel 2.4 Gabungan Beberapa Indeks Antropometri
BB / TB
BB / U
TB / U
Status gizi
Normal
Rendah
Rendah
Baik, pernah kurang gizi
Normal
Normal
Rendah
Baik
Normal
Tinggi
Tinggi
Jangkung, baik
Rendah
Rendah
Tinggi
Buruk
Rendah
Rendah
Normal
Buruk / kurang
Rendah
Normal
Tinggi
Kurang
Tinggi
Tinggi
Rendah
Lebih, kemungkinan obes
Tinggi
Rendah
Rendah
Lebih, pernah kurang gizi
Tinggi
Tinggi
Rendah
Lebih, tetapi tidak obes
Sumber : Arisman, 2007
Bentuk
mempertajam
indikator
dan
gabungan
memperjelas
diatas
interprestasi
dimaksudkan
status
gizi
untuk
agar
penanggulangannya dapat lebik baik dalam menentukan prioritas maupun
jenis perlakuan atau intervensi.
Tabel 2.5 Klasifikasi Menurut Standar WHO-NCHS
Indeks
BB / U
Status Gizi
Ambang batas
Gizi lebih
> 2,0 SD
Gizi baik
- 2,0 SD / + 2 SD
Gizi kurang
< - 2 SD
Gizi buruk
< - 3,0 SD
37
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Berdasarkan penilaian Z-skor adalah sebagai berikut :
a. BB/ U ( Berat bada menurut Umur berdasarkan Z-Score )
1)
Gizi buruk ; <- 3 SD
2)
Gizi kurang : -3 SD sampai -2 SD
3)
Gizi baik : -2 SD sampai +2 S
4)
Gizi lebih ; > +3 SD
b. TB/ U ( Tinggi badan menurut Umur berdasarkan Z-Score)
1)
Normal : > -2 SD
2)
Rendah : <-2 SD
Menurut Depkes RI (2005) Paremeter BB/TB berdasarkan Z-Score
diklasifikasikan menjadi :
1)
Gizi Buruk (Sangat Kurus) ; <-3 SD
2)
Gizi Kurang (Kurus) : -3SD sampai <-2SD
3)
Gizi Baik (Normal) : -2 SD sampai +2SD
4)
Gizi Lebih (Gemuk) : > +2 SD
Dampak kurang gizi pada anak dapat meningkatkan risiko
kematian, menghambat perkembangan kognitif, dan mempengaruhi
status kesehatan pada usia remaja dan dewasa (Almatsier, Soetardjo &
Soekatri, 2011).
c. Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai
status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan
yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini
38
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
dapat dilihat pada jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut, dan organorgan yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Tanda
klinik seperti pucat, kemungkinan defisiensi zat gizinya adalah kurang
zat besi, gusi berdarah kemungkinan kurang vitamin c, dan pembesaran
kelenjar tiroid kemungkinan kurang yodium.
d. Biokimia
Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen
yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam
jaringan tubuh, antara lain: darah, urine, tinja, dan juga eberapa jaringan
tubuh seperti hati dan otot.
Penggunaan: Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi.
e. Biofisik
Merupaan metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan
fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dan jaringan.
Penggunaan: Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja endemic. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi
gelap.
6. Karakteristik dan Fungsi Gizi
a. Protein
Protein merupakan senyawa yang berasal dari nitrogen organik
yang sangat kompleks dengan asam amino sebagai unit penyusunnya.
Asam amino tersusun atas unsur karbon, hydrogen, oksigen, nitrogen
39
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
dan pada keadaan tertentu, unsur fosfor.
1) Fungsi Protein
Protein berperan sebagai penunjang pertumbuhan, pengatur
proses tubuh, dan energy. Sebagai penunjang pertumbuhan, protein
merupakan unsur utama matriks tulang dan gigi, kulit, kuku,
rambut, sel darah dan serum. Protein dalam pengaturan proses
tubuh menjalankan fungsi yang sangat khusus. Protein juga
merupakan sumber energi, ini dapat dipahami karena tiap gram
protein menghasilkan kurang lebih 4 kkal. (0,01 MJ).
2) Masalah Kelebihan dan Kekurangan Protein
Masalah yang diakibatkan oleh asupan protein berlebih
terjadi bila asupan protein lebih dari 20% total kalori selama masa
bayi. Kompensasi kelebihan protein yang diikuti oleh peningkatan
kebutuhan air dapat menimbulkan dehidrasi. Kurang gizi dan
infeksi saling berkaitan, membentuk sebuah lingkaran setan, anak
terkena infeksi kelhilangan nafsu makan sehingga asupan zat gizi
kurang dari kebutuhan dan menyebabkan peningkatan proses
metabolism.
Kadar
protein
semakin
berkurang,
akibatnya
ketahanan tubuh menurun sehingga anak mudah terserang infeksi.
b. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan senyawa organic yang paling banyak
ditemukan
dan
melimpah
diseluruh
dunia.
Karbohidrat
dapat
diklasifikasikan sebagai monosakarida (gula simpleks), disakarida (gula
40
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
ganda), dan polisakarida (termasuk molekul gula simpleks).
1) Peran Karbohidrat
Karbohidrat diguaakan sebagai pemenuhan kebutuhan energi
oleh tubuh. Namun, ada beberapa karbohidrat digunakan juga
untuk sintesis sejumlah senyawa pengatur seperti karbohidrat
sebagai pengasil energi, aksi penadangan protein, pengatur
metabolisme lemak, dan berperan dakam system penernaan.
2) Sumber Karbohidrat
Pada masa bayi muda, lakosa merupakan karbohidrat yang
dihasilkan lebih banyak dari ASI dan susu sapi. Namun, seiring
pertambahan usia, pemenuhan kebutuhan karbohidrat pada bayi
perlu ditambahkan dari sumber lain, seperti biji-bijian, roti, dan
makanan lain misalnya kentang.
3) Masalah Kekurangan dan Kelebihan Karbohidrat
Kekurangan karbohidrat terjadi bila asupan karbohidrat rendah
atau dibawah kebutuhan tubuh. Bila karbohidrat tidak ada sama
sekali dari makanan yang dikonsumsi, segera munul gejala
dehidrasi, ketosis, kehilangan protein tubuh, kelelahan, dan
kehilangan
energi.
Asupan
karbohidrat
yang
berlebihan
mengakibatkan penurunan asupan zat gizi esensial lain sehingga
timbul defisiensi gizi dan kelebihan berat badan.
c. Lemak
Lemak merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen. Namun
41
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
proporsi oksigen lebih rendah. Seara kimiawi, lemak makanan terdiri
atas ampuran trigliserida. Asam lemak dibedakkan menjadi asam lemak
jenuh merupakan asam lema yang stabil dan tidak mempunyai ikatan
ganda. Asam lemak tak jenuh memiliki lebih dari dua ikatan yang
bereaksi seara bertahap dengan udara. Reaksi ini menyebabkan tengik.
Asam lemak tak jenuh diperoleh dari asam oleat, asam linoleat dan
asam arakidonat.
Fungsi utama lemak adalah memberikan energi. Tiap gram lemak
setelah proses oksidasi menghasilkan kurang lebih 9 kalori. Lemak juga
berfungsi sebagai pelarut vitamin A, D, E dan K. Lemak memberikan
perasaan kenyang karena keepatan pengosongan dari lambung
berhubungan dengan kandungan lemak dalam makanan.
d. Vitamin
Vitamin merupakan bahan makanan organic. Dalam jumlah keil,
vitamin diperlukan untuk pertumbuhan normal dan kesehatan tubuh.
Jumlah vitamin yang dibutuhkan tubuh sehari-harinya relative keil
karena vitamin diperkirakan sebagai katalisator.
1) Maam-maam Vitamin dan Manfaatnya
a) Vitamin A adalah Vitamin larut dalam lemak pertama yang
ditemukan secara luas. Vitamin A dikenal juga dengan Nama
Retinol. Fungsi Vitamin A : Berperan dalam Penglihatan, dan
merupakan salah satu komponen penyusun pigmen mata. selain
itu fungsi vitamin A juga ikut berperan penting menjaga
42
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
kesehatan, kekebalan tubuh, pertumbuhan dan perkembangan
dan sangat baik untuk menjaga kesehatan kulit.
Sumber-sumber Vitamin A , Hewani : Hati, Kuning telur, susu,
mentega dan minyak ikan.Nabati : Karoten sumber karoten
adalah sayuran berwarna hijau, dan buah-buahan yang berwarna
kuning seperti Wortel, pisang dan pepaya.Penyakit Akibat
Kekurangan
Vitamin
Adapat
mengakibatkan gangguan
penglihatan, rabun senja, katarak dan penurunan daya tahan
tubuh.
b) Vitamin BAda beberapa kelompok golongan Vitamin B (B
Komplek) dan secara umum manfaat vitamin B berperan penting
dalam metabolisme tubuh, terutama dalam hal pelepasan energi
saat kita melakukan aktivitas. Peranan Vitamin B di dalam tubuh
sebagai senyawa koenzim yang dapat meningkatkan laju reaksi
metabolisme tubuh terhadap berbagai jenis sumber energi.
Selain itu beberapajenis-jenis vitamin B ini juga berperan dalam
pembentukan sel darah merah Sumber vitamin B berasal dari
susu, gandum, ikan, dan sayur-sayuran hijau.
c) Vitamin C nama lainnya yaitu asam askorbat. Banyak
sekali manfaat vitamin C bagi kesehatan tubuh kita. Diantara
yaitu berperan sebagai senyawa pembentuk kolagen yang
merupakan protein penting penyusun jaringan kulit, sendi,
tulang, dan jaringan penyokong organ lain. Selain itu Vitamin C
43
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
merupakan antioksidan alami yang bisa menangkal berbagai
radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh kita sehingga
meminimalisir risiko terjadinya berbagai penyakit degenaratif,
seperti kanker Servik, kanker payudara dan berbagai jenis
penyakit degeneratif lain.Selain itu, vitamin c juga berperan
dalam menjaga kebugaran tubuh danmencegah penuaan diri,
sangat baik dan ber manfaat vitamin c untuk kecantikan
kulit bisa mencegah mencegah berbagai jenis penyakit dan
infeksi.
Sumber Vitamin C yaitu Jeruk banyak terdapat pada buahbuahan
seperti
jeruk,
tomat,
semangka
dansayur-
sayuran lainnya. Kekurangan vitamin C bisa menyebabkan Gusi
berdarah dan nyeri pada persendian, kurangnya imunitas tubuh.
namun kelebihan konsumsi vitamin C berdampak buruk
terhadap ginjal dan gangguan saluran pencernaan.
d) Vitamin D adalah jenis vitamin yang paling mempengaruhi
bagian tulang. Sumber Vitamin D banyak di temukan pada jenis
makanan seperti ikan, telur, susu, dan keju. sel kulit akan
memproduksi
Vitamin
ini
disaat
terkena
cahaya
matahari.Manfaat dan fungsi Vitamin D adalah mempengaruhi
pertumbuhan tulang, membantu metabolisme kalsium dan
mineral penting untuk tulang.
Kekurangan Vitamin D bisa menyebabkan pertumbuhan tubuh
dan kaki yang tidak normal, seperti betis kaki akan membentuk
44
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
huruf O dan X. selain itu kurangnya vitamin D menyebabkan
gigi mudah mengalami kerusakan, dan hilangnya unsur kalsium
dan fosfor secara berlebihan di dalam tulang yang berakibat
rapuhnya kekuatan tulang.
e) Fungsi Vitamin E berperan sebagai anti oksidan alami dan untuk
menjaga kesehatan berbagai jaringan di dalam tubuh, mulai dari
mata, sel darah merah, hati dan jaringan kulit,. karena itu
Vitamin
E
bisa menghambat
dan
mencegah
penuaan
dini.Sumber Vitamin E banyak terdapat pada ikan, ayam, kuning
telur, ragi, dan minyak tumbuh-tumbuhan.
Kekurangan vitamin E menyebabkan gangguan kesehatan yang
fatal bagi tubuh seperti kemandulan dan keguguran, Konsumsi
vitamin E sangat penting untuk tubuh baik bagi pria maupun
wanita dan vitamin ini mempengaruhi kehamilan.
f) Salah satu Vitamin yang larut dalam Lemak, Fungsi Vitamin
K yaitu berperan dalam pembekuan darah dan berpengaruh
terhadap penutupan luka. Makanan Sumber Vitamin K seperti
Sayur-sayuran hijau, brokoli, kol, hati, kacang polong dan
buncis.Kekurangan Vitamin K akan berakibat pada kesulitan
pembekuan darah saat terjadi luka atau pendarahan.
7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Balita
Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah potensi genetikheredo konstituinal (intrinsik) dan peran lingkungan (ekstrinsik). Gangguan
tumbuh kembang terjadi bila ada faktor genetik dan atau karena faktor
lingkungan yang tidak mampu mencukupi kebutuhan dasar tumbuh
45
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
kembang anak. Peran lingkungan sangat penting untuk mencukupi
kebutuhan dasar tumbuh kembang anak yaitu kebutuhan bio-psikosial terdiri
dari kebutuhan biomedis/asuh (nutrisi, imunisasi, higiene, pengobatan,
pakaian, tempat tinggal, sanitasi lingkungan, dsb) dan kebutuhan
psikososial/asih dan asah (kasih sayang, penghargaan, komunikasi, stimulasi
bicara, gerak, sosial, moral, intelegensi dan lain-lain) sejak masa konsepsi
sampai akhir remaja.
46
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
E. Kerangka Teori
Menurut Notoatmodjo (2003)
pengetahuan yang tercakup dalam
domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi.Dalam penelitian saya hanya meneliti tahu dan
memahami. Tahu yaitu mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, sedangkan memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat
menginterpretasikan materi dengan benar. Menurut Zulkarnaen,dkk (2000)
faktor-faktor yang mempengaruhi pola pemberian makan pada balita antara
lain pengetahuan ibu tentang gizi balita, pendidikan dan pendapatan keluarga.
Pengetahuan ibu tentang gizi balita sangat penting karena berpengaruh
terhadap jenis pangan yang dikonsumsi. Pendidikan juga modal utama dalam
menunjang perekonomian rumah tangga dan berperan dalam pola penyusunan
makanan untuk rumah tangga. Selain itu pendapatan juga berpengaruh
terhadap pola pemberian makan balita, karena jika tingkat pendapatan naik,
jumlah makanan cenderung membaik juga. Adapun faktor lain yaitu besar
keluarga dan kebiasaan makan, semakin besar jumlah anggota keluarga, maka
konsumsi pangan akan semakin tidak merata jika tidak diimbangi dengan
kenaikan pendapatan. Dan kebiasaan makan juga sangat berpengaruh, karena
dengan kebiasaan makan bersama akan membiasakan balita untuk makan
dengan benar.Sehingga untuk mencapai status gizi balita yang baik perlu
adanya kesinambungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan faktor-faktor
pola pemberian makan pada balita.
47
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Pengetahuan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Tahu
Memahami
Aplikasi
Analisis
Sintesis
Evaluasi
Status Gizi
Balita
Faktor-faktor yang
mempengaruhi pola
pemberian makan:
1.
2.
3.
4.
5.
Pengetahuan ibu
Pendidikan
Pendapatan keluarga
Besar keluarga
Kebiasaan makan
Gambar 2.3. Kerangka Teori menurut Notoatmodjo (2003), Zulkarnaen, dkk
(2000)
48
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
F. Kerangka Konsep
Variabel Dependen
Variabel Independent
Pengetahuan Ibu
Pola Pemberian
Makan Balita
Status Gizi
Balita
Pendapatan
Rumah Tangga
Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian
G. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
“Ada Hubungan Antara Pengetahuan Ibu, Pola Pemberian Makan,
Pendapatan Keluarga dengan Status Gizi Pada Balita”
49
Hubungan Pengetahuan Ibu..., FITRIA RAHMAWATI, Fakultas Ilmu Kesehatan UMP, 2016
Download