BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR A. Kajian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR
A. Kajian Pustaka
1. Tradisi Mitoni sebagai Kebudayaan
Perkumpulan manusia dalam sebuah masyarakat, akan melahirkan banyak
hal baru didalamnya. Baik bersifat sementara atau berkelanjutan. Sama halnya
dengan kebudayaan yang dibentuk dari dan utuk masyarakat itu sendiri.
Kebudayaan akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman yang dibentuk
manusia seirig berjalannya waktu. Kebudayaan, berasal dari bahasa Sansekerta
yaitu Buddayah, bentuk jamak dari budhi atau akal. Lalu berkembang menjadi
kata budaya adalah hasil perkembangan majemuk budhi-daya yang dapat
diartikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya (Koentjaraningrat, 2009: 146).
Beberapa pendapat lain mengenai definisi kebudayaan juga dipaparkan
oleh beberapa tokoh, antara lain Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi yang
memberikan definisi kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta
masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan atau kebudayaan jasmaniah yang diperlukan oleh mansia untuk
menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk
keperluan masyarakat (Soerjono, 2006: 151). Sedangkan kebudayaan menurut
Ralp Linton adalah sebagai berikut :
Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang mana
pun dan tidak mengenai sebagian dari cara hidup itu, yaitu bagian yang
oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Dalam arti
cara hidup seperti itu masyarakat kalau kebudayaan diterapkan pada cara
hidup kita sendiri, karena tidak ada sangkut pautnya dengan main piano
atau membaca karya sastra terkenal. Untuk seorang ahli ilmu sosial,
kegiatan seperti main piano itu merupakan elemen-elemen belaka dalam
keseluruhan kebudayan kita (Soyomukti, 2010: 428).
Kebudayaan berhubungan erat dengan masyarakat. Hal ini dikarenakan
“kebudayaan sebagai pola untuk perilaku yang mengacu pada pola kehidupan
suatu masyarakat, yaitu berupa berbagai kegiatan atau bentuk-bentuk pengaturan
sosial dan material. Selain itu, kebudayaan dapat berupa gagasan yang mengacu
pada sistem pengetahuan dan kepercayaan yang menjadi pedoman untuk
mengatur tindakan masyarakat” (Hari Poerwanto, 2006: 57). Dengan demikian
maka jelas bahwa tingkah laku sosial anggota suatu masyarakat tidak terlepas dari
kebudayaan yang merupakan kompleks nilai-nilai, gagasan dan keyakinan yang
hanya dapat dilihat melalui perwujudannya.
Menurut P. Hariyono (1994: 31),
“kebudayaan memiliki tiga unsur wujud, yang pertama adalah sistem
budaya, yaitu kompleks ide-ide dan gagasan manusia yang menjadi
sumber inspirasi dan orientasi dalam menghadapi masalah kehidupan
manusia. Kedua adalah sistem sosial, yaitu tindakan berpola habit of doing
dari sekelompok masyarakat. Sistem sosial ini terdiri dari pola aktivitasaktivitas manusia yang saling berinteraksi (berhubungan) serta saling
bergaul satu dengan yang lain dari waktu ke waktu, selalu membentuk dan
mengikuti pola-pola tertentu yang kemudian menetap dalam bentuk adat
tata perilaku. Sistem ini dapat diobservasi, difoto, didokumentasi dan
diamati, tetapi tidak bisa diraba. Ketiga yaitu kebudayaan fisik, merupakan
keseluruhan hasil fisik, perbuatan dan karya manusia dalam sekelompok
masyarakat. Oleh karena itu sifatnya paling kongkret, dapat berupa bendabenda atau hal-hal yang dapat diraba. Betuk dan wujud dari karya fisik ini
biasanya memiliki corak yang mencerminkan pola pikir nilai budaya dan
pola tindakan sekelompok masyarakat.”
Manusia dan kebudayaan adalah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan,
dan manusia merupakan pendukung kebudayaan. Meskipun manusia telah mati,
akan tetapi kebudayaan tetap hidup dengan mewariskannya kepada keturunan,
begitupun selanjutnya (Hari Poerwanto,2006: 87). Oleh karena itu, kedua hal
tersebut memiliki hubungan yang saling berkaitan dan saling mendukung dalam
masyarakat. Karena dapat dikatakan bahwa salah satu dari kedua hal tersebut
merupakan bagian dari terciptanya keutuhan kebudayaan serta manusia.
Unsur yang menonjol dari kebudayaan Jawa meliputi bahasa dan
komunikasi, kesenian dan kesusastraan, keyakinan, keagamaan, ritus, ilmu
gaib dan beberapa pranata dalam organisasi sosial. Kebudaaan Jawa
adalah pancaran atau pengejawantahan budi manusia Jawa yang
merangkum kemauannya, cita-citanya, keselamatan, dan kebahagiaan
hidup lahir batin. Yang menunjukkan identitas suatu kebudayaan adalah
unsur-unsur yang menonjol dari kebudayaan itu. Sedangkan yang menjadi
identitas kebudayaan Jawa adalah unsur yang menonjol dari kebudayaan
Jawa (Koentjaraningrat, 1990: 203).
Suatu kebudayaan dalam masyarakat dapat tercipta melalui tangan dan
pikiran masnusia. Kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat akan membentuk
sebuah kebudayaan yang nantinya akan dipertahankan oleh generasi-generasi
selanjutnya yang selalu mengalami perubahan. Meskipun di kemudian hari
terdapat perbedaan dalam kebudayaan, tidak ada manusia yang bisa menyalahkan,
karena memang segala hal di dunia ini pasti mengalami perubahan. Perwujudan
dari kesatuan antara manusia dengan kebudayaan adalah ketika pelaksanaan
sebuah tradisi misalnya. Pada saat dimulainya sebuah tradisi, tidak akan terlepas
dari seorang manusia yang memimpin dari awal hingga berakhirnya pelaksanaan
tradisi. Salah satu contoh pelaksanaan tradisi yang tidak terlepas dari peran
manusia adalah upacara selametan.
Slametan adalah suatu upacara yang biasanya diadakan di rumah suatu
keluarga dan dihadiri oleh anggota-anggota keluarga, tetangga-tetangga dekat,
kenalan-kenalan yang tinggal tidak jauh, dan termasuk juga orang-orang yang
mempunyai hubungan dagang (Jamil, 2002: 22).
Selamatan adalah suatu upacara makan bersama makanan yang telah
diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Hampir semua selamatan ditujukan
untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguangangguan apapun. Upacara ini biasanya dipimpin oleh modin, yakni salah
seorang pegawai masjid yang antara lain berkewajiban mengucapkan ajan.
Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam enam macam sesuai
peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari, diantaranya
yakni : (1) Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang, seperti
hamil tujuh bulan, kelahiran, upacara potong rambut pertama, upacara
menyentuh tanah untuk pertama kali, upacara menusuk telinga, sunat,
kematian, serta saat-saat setelah kematian; (2) Selamatan yang bertalian
dengan bersih desa, penggarapan tanah pertanian, dan setelah panen padi;
(3) Selamatan berhubung dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam
dan; (4) Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu, berkenaan dengan
kejadian-kejadian, seperti membuat perjalanan jauh, menempati rumah
kediaman baru, menolak bahaya (ngruwat), janji kalau sembuh dari sakit
(kaul) dan lain-lain (Koentjaraningrat, 2010: 347-348)
Berkaitan dengan lingkaran hidup terdapat berbagai jenis upacara, antara
lain adalah upacara tingkeban atau mitoni, upacara kelahiran, upacara sunatan
(Jamil, 2002: 132). Peneliti terfokus pada upacara tingkeban atau mitoni yaitu
upacara yang dilakukan pada saat janin berusia tujuh bulan dalam perut ibu.
Masyarakat Jawa meyakini bahwa pada usia kandungan tujuh bulan, bayi dalam
kandungan telah memiliki organ yang lengkap sehingga siap untuk dilahirkan.
Dengan melaksanakan mitoni, masyarakat berharap persalinan dapat berlangsung
dengan lancar dengan ibu dan bayi diberi kesehatan dan keselamatan sampai
proses persalinan. Mitoni merupakan upacara adat yang dilaksanakan menjelang
persalinan, biasanya disiapkan juga sesajen sebagai pelengkap dalam pelaksanaan
tradisi mitoni.
Interpretasi terhadap simbol dan makna yang terkandung dalam upacara
mitoni menunjukkan adanya hubungan secara vertikal dan horizontal.
Hubungan vertikal merujuk kepada hubungan antara manusia dengan
Tuhan sebagai tempat meminta keselamatan. Hubungan horizontal
mengacu kepada hubungan antar sesama manusia, saling menjaga
keharmonisan dan ketentraman dalam masyarakat. Dalam hakikat
hubungan manusia dengan sesamanya terdapat orientasi horizontal yaitu
rasa ketergantungan kepada sesamanya (berjiwa gotong royong), dan
untuk orientasi vertikal yaitu rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh
atasan dan berpangkat (Koentjaraningrat, 2009: 157).
Dalam setiap pelaksanaan prosesi mitoni tidak akan terlepas dari seorang
tokoh adat (orientasi vertikal) yang menjadi pemimpin atau pranata cara. Tokoh
adat dalam tradisi mitoni ini harus seorang perempuan, tidak diperkenankan
seorang laki-laki untuk memimpin prosesi mitoni dari awal hingga berakhirnya
do’a bersama untuk ibu dan bayi dalam kandungan. Dalam tradisi mitoni terdapat
beberapa ketentuan, diantaranya adalah pada saat penentuan hari pelaksanaan.
Biasanya telah ada tokoh adat yang menentukan hari dengan perhitungan yang
telah turun-temurun dilakukan sejak dahulu.
Tokoh adat merupakan seorang pemimpin dan juga pengatur jalannya
sebuah prosesi dalam suatu tradisi yang dilaksanakan untuk memperingati
peristiwa tertentu. Dapat pula dikatakan bahwa tokoh adat adalah seorang
pemimpin yang menjaga dan mengetahui banyak hal tentang adat setempat.
Tokoh adat dalam suatu masyarakat pasti akan diakui keberadaannya, dan akan
lebih dipandang dari pada masyarakat lain pada umumnya. Hal ini dapat diartikan
bahwa seorang tokoh adat itu akan eksis dalam lingkup wilayah setempat yang ia
tinggali.
Beberapa ahli mengemukakan pengertian mengenai eksistensi, diantaranya
adalah menurut Zaenal (2007: 16),
“Eksistensi adalah suatu proses yang dinamis, suatu, menjadi atau
mengada. Ini sesuai dengan asal kata eksistensi itu sendiri, yakni exsistere,
yang artinya keluar dari, melampaui atau mengatasi. Jadi eksistensi tidak
bersifat kaku dan terhenti, melainkan lentur atau kenyal dan mengalami
perkembangan atau sebaliknya kemunduran, tergantung pada kemampuan
dalam mengaktualisasikan potensi-potensinya”.
Dari pemaparan tersebut eksistensi dapat diartikan sebagai gerak hidup
manusia yang nyata dan pasti. Termasuk eksistensi seorang tokoh adat, eksis yang
ditunjukkan mereka bersifat nyata dan tidak dibuat-buat, asli keluar dari dalam
diri mereka masing-masing. Banyak hal yang mereka lakukan untuk menjaga
keeksisan mereka atau keberadaan mereka ditengah masyarakat yang selalu
berganti generasi.
Dalam penelitian ini juga tidak terlepas dari pentingnya peran dari tokoh
adat dalam tradisi mitoni khususnya pada tokoh adat perempuan. Tokoh adat
perempuan dalam sebuah tradisi akan menjadi sentral, karena dalam adat Jawa
beliau dipercaya untuk memberikan pengarahan dan diharapkan dapat
memperlancar segala prosesi di dalam prosesinya. Dalam hal ini, tokoh adat
perempuan juga mengupayakan agar eksistensinya dalam memimpin sebuah
tradisi tidak larut ditengah arus modernisasi.
Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan bahwa tradisi mitoni merupakan
salah satu kebudayaan yang masih dilestarikan masyarakat, khususnya masyarakat
Jawa. Dalam pelaksanaan tradisi mitoni, didalamnya terkandung nilai-nilai yang
luhur yaitu bersyukur dan memohon perlindungan kepada Tuhan untuk
keselamatan bayi dan ibu yang sedang mengandung. Tradisi mitoni juga
merupakan salah satu upacara selamatan yang dipimpin oleh salah satu tokoh adat
yaitu seorang tokoh adat perempuan yang memiliki keahlian dalam memimpin
pelaksanaan tradisi tersebut.
2. Strukturasi Sosial
Eksistensi yang dialami oleh tokoh adat dapat dikaitan dengan teori
strukturasi sosial Anthony Giddens. Teori strukturasi mengarah pada konsep
tentang individu yang dikatakan sebagai aktor (agency) yang memiliki peran
untuk memproduksi dan mereproduksi struktur dalam tatanan sosial yang mapan.
Semua konsep keberlangsungan kehidupan sehari-hari mengacu pada agen
(Anthony Giddens, 2010: 12). Dari penjelasan tersebut dapat diartikan bahwa
manusia ketika hidup dalam sebuah masyarakat, siapa saja berhak untuk menjadi
seorang agen. Tentu agen yang dimaksud adalah seorang manusia yang
mempunyai kemampuan dan peranan dalam memenuhi kebutuhan kehidupannya
sehari-hari sesuai dengan status dan peranannya. Sesuai dengan status dan peran
yang dimiliki, seorang agen akan mampu merubah dan menghasilkan tatanan atau
struktur baru dalam masyarakat. setiap individu yang menjadi agen pasti memiliki
kekuasaan dan akan bertanggung jawab untuk mengikuti perkembangan zaman.
Dalam sebuah masyarakat, pasti akan ada tatanan atau struktur yang
mengatur segala kegiatan di dalam masyarakat itu sendiri. Tanpa adanya sebuah
struktur, masyarakat tidak akan bisa berjalan dengan kondusif dan teratur.
”Struktur adalah aturan (rules) dan sumber daya (resources) yang terbentuk dari
dan membentuk perulangan praktik sosial” (B. Herry-Priyono, 2002: 19). Sebuah
struktur dalam masyarakat merupakan hasil dari pengaruh kejadian sehari-hari
yaitu dari tindakan sosial yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat
itu sendiri.
Dalam teori strukturasi, struktur selalu dikonsepkan sebagai sifat dari
sistem sosial, yang terdapat di dalam praktik-praktik hasil reproduksi
sosial yang dilekatkan ke dalam ruang dan waktu. Sistem sosial
diorganisasikan secara hierarkies dan menyamping di dalam kehidupan
masyarakat yang institusinya juga terbentuk dari sistem sosial yang
membentuk aturan-aturan menjadi nilai dan norma yang berlaku di
masyarakat (Anthony Giddens, 2010: 261).
Dari pemaparan Anthony Giddens tersebut dapat dikatakan bahwa struktur
merupakan hasil dari sistem sosial yang berulang hingga membentuk sebuah
aturan yang dijalankan oleh masyarakat dan berakhir menjadi sebuah nilai dan
norma yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kenyataannya, perulangan sistem
tersebut bukan berasal dengan sendirinya, melainkan terdapat agen atau individu
yang melakukan kegiatan atau praktik sosial tersebut. Hal ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh George Ritzer, ”tidak diciptakan oleh aktor-aktor sosial, tetapi
senantiasa diciptakan kembali oleh mereka melalui cara-cara yang sama yang
mereka gunakan untuk mengungkapkan diri mereka sebagai aktor. Di dalam dan
melalui kegiatan-kegiatan mereka para agen menghasilkan kondisi-kondisi yang
memungkinkan kegiatan-kegiatan itu” (2012: 889).
Setiap masyarakat mempunyai aturan main yang berbeda-beda. Aturan
tersebut akan menjadi dasar masyarakat untuk melakukan kegiatan dalam waktu
dan tempat yang berulang-ulang. Kegiatan yang dilakukan masyarakat secara
berulang tersebut dinamakan praktik sosial. Praktik sosial dalam masyarakat
meskipun telah dilakukan secara berulang, namun masih tetap bisa berubah
karena menyesuaikan dengan keadaan setempat yang selalu mengalami
perubahan.
Dalam pelaksanaan praktik sosial di masyarakat, tidak terlepas dari adanya
peran seorang pemimpin.
Pemimpin adalah salah seorang agen yang dapat menggunakan kekuasaan
(power) sebagai suatu wahana untuk melakukan suatu tindakan. Arti agen
itu sendiri adalah kekuasaan merdeka yang dimiliki manusia (individu)
untuk turut ikut campur dalam suatu arus peristiwa yang berlangsung
secara terus-menerus dan membuat perubahan didalamnya (George Ritzer
dan Barry Smart, 2012: 693).
Agen dapat diartikan sebagai seseorang yang mampu melakukan campur
tangan di dunia, atau menarik intervensi itu, dengan efek mempengauhi proses
atau keadaan khusus. Suatu tindakan tergantung pada kemampuan individu dalam
mempengaruhi keadaan atau peristiwa yang sebelumnya (Anthony Giddens, 2010:
23). Dari penjelasan Anthony Giddens dapat diartikan bahwa seorang individu
dalam masyarakat yang menjadi agen dapat mempengaruhi sesuatu yang telah ada
sebelumnya. Seorang agen akan memiliki kekuatan untuk menjalankan
rutinitasnya dalam masyarakat. Kekuatan tersebut didapatkan agen melalui sistem
sosial, dimana posisi agen dalam sebuah sistem sosial harus menempati posisi atas
agar mampu mempengaruhi tatanan pada posisi bawah.
”Rutinitas tidak terpisahkan dengan kesinambungan kepribadian agen,
ketika dia bergerak di sepanjang jalur aktifitas keseharian, dan dengan institusiinstitusi masyarakat, yang merupakan satu-satunya sarana aktifitas itu diproduksi
secara terus-menerus” (Anthony Giddens, 2010: 93). Dapat dipahami bahwa agen
yang paling berpengaruh di dalam masyarakat adalah seorang pemimpin atau
dalam penelitian ini adalah seorang tokoh adat yang memiliki status sosial sebagai
ketua RW. Dalam sebuah struktur sosial, akan ada seseorang yang menduduki
jabatan tinggi diantara warga yang lain. Jabatan tersebut mempunyai kekuasaan
atas struktur dalam organisasi yang dijalankan. Sebuah struktur dalam masyarakat
dapat berjalan dengan baik memerlukan seorang aktor yang mampu membuat
masyarakat ikut menjalankan kegiatan dalam struktur tersebut secara rutin.
Seorang aktor dituntut untuk selalu memiliki karakter atau kepribadian yang
positif, agar dapat mengendalikan segala kegiatan dalam struktur yang dikuasai.
Strukturasi sosial merupakan suatu serangkaian aturan yang dimiliki dan
dijalankan oleh seorang tokoh adat yang berperan sebagai agen untuk menekan
individu lain. Status dan peran yang dimiliki tokoh adat perempuan dalam sebuah
tradisi dalam masyarakat berkaitan dengan teori Giddens mengenai konsep
dualitas struktur.
Tindakan individu dibentuk oleh struktur sosial, tetapi pola-pola sistematis
adalah hasil dari tindakan-tindakan individual ini. Struktur harus
dikonsepkan kembali sebagai sarana dihasilkannya tindakan-tindakan dan
juga sebagai hasil dari tindakan semacam itu sebagai medium dan juga
sebagai hasil (Jhon Scoot, 2012: 187).
Anthony Gidden juga berpendapat bahwa, rangkaian struktur juga
membentuk pembagian tenaga kerja di dalam masyarakat yang berelasi antara
satu dengan yang lain (2010: 294-295). Dapat diartikan bahwa dalam sebuah
struktur sosial di masyarakat pasti terdapat pembagian kerja. Pembagian kerja ini
bertujuan untuk memudahkan atasan untuk bekerja sama dengan bawahan.
Dapat disimpulkan bahwa strukturasi sosial adalah segala aturan yang
berlaku dalam sebuah struktur organisasi di masyarakat. Aturan yang berlaku
tersebut dilakukan secara terus-menerus dan berulang, sehingga menjadi sebuah
rutinitas yang dijalankan dalam masyarakat. Dalam sebuah struktur terdapat status
dan peran yang dimiliki dan dijalankan seorang individu yang menjadi seorang
agen yang memiliki status dan peran yang mampu untuk menekan individu lain.
Kekuatan (power) yang digunakan agen tersebut bertujuan untuk memprtahankan
keberadaannya dan dapat menciptakan praktik-praktik sosial dalam masyarakat.
B. Kerangka Berpikir
Negara Indonesia memiliki kebudayaan yang melimpah, membuat
masyarakatnya merasa bangga dan memiliki kesadaran untuk tetap menjaga
warisan yang diberikan oleh nenek moyang. Kebudayaan yang ada pada zaman
modern seperti ini memang telah mengalami banyak perubahan karena telah
terakulturasi dengan budaya baru yang lebih menyesuaikan situasi dan kondisi
yang ada. Terlepas dari perubahan yang terjadi pada sebuah kebudayaan atau
tradisi, sebenarnya masih banyak yang melaksanakan tradisi baik dalam bentuk
tradisional maupun yang telah berpadu dengan budaya baru. Salah satu tradisi
yang hingga kini masih dilaksanakan adalah tradisi mitoni.
Masyarakat Jawa tepatnya di Desa Palur termasuk salah satu daerah yang
masih mempertahankan tradisi tersebut. Mitoni sendiri merupakan salah satu adat
atau tradisi yang bertujuan luhur yaitu bersyukur kepada Tuhan atas adanya
nyawa baru dengan karunia-Nya dan memohon keselamatan serta kelancaran
untuk ibu yang sedang mengandung anak pertamanya beserta anak yang
dikandungnya hingga nanti proses persalinan. Di dalam tradisi mitoni, peran
tokoh adat perempuan sangat penting dan dapat dikatakan sentral. Karena melalui
tokoh adat, setiap prosesi yang berlangsung dalam mitoni akan berjalan dengan
lancar dan tetap terjaga secara turun temurun kepada generasi penerus.
Pada era modernisasi seperti sekarang ini, berdampak pada banyaknya
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, tidak terkecuali pada tradisi mitoni.
Proses pelaksanaan mitoni yang selalu menggunakan adat Jawa sekarang
mengalami perubahan, yaitu menggunakan tata cara keagamaan, atau kebiasaan di
masyarakat. Akan tetapi, keberadaan tokoh adat membuat tradisi ini tetap masih
dilestarikan. Beberapa strategi digunakan oleh tokoh adat untuk mengupayakan
tradisi mitoni masih dilestarikan hingga sekarang. Dalam struktur masyarakat,
peran dari tokoh adat sangat ditonjolkan dalam memimpin pelaksanaan tradisi.
Sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Anthony Giddens bahwa seorang
agen akan berperan aktif dalam sebuah struktur yang ada dalam masyarakat.
Dalam pemaparan teori Anthony Giddens hal tersebut dinamakan strukturasi
sosial. Strukturasi sosial akan melahirkan sebuah praktik-praktik sosial dari
kebiasaan agen dalam memimpin sebuah struktur dalam masyarakat. Dalam hal
ini, praktik tersebut adalah berupa tradisi mitoni yang masih dijalankan oleh salah
satu agen di masyarakat yakni tokoh adat perempuan. Agen atau tokoh adat
tersebut selalu eksis dalam setiap pelaksanaan sebuah tradisi di masyarakat. Guna
memberikan jawaban atas pertanyaan peneliti di atas maka penulis mengkaitkan
permasalahan yang penulis angkat dengan konsep teori dualitas strukturasi oleh
Anthony Giddens. Dengan mendasarkan pada asumsi konsep teori ini maka
peneliti dapat memberikan analisis atas konteks permasalahan yang peneliti
angkat. Adapun kerangka berpikir secara sistematis dapat dilihat pada gambar 2.1.
Kebudayaan
Tradisional
Jawa Melimpah
salah satunya
Tidak terlepas dari
Tradisi Mitoni
(Praktik Sosial)
Peran Tokoh Adat
(Agen)
Perubahan Sosial
(dampak
modernisasi)
membentuk
Eksistensi Tokoh Adat
Perempuan dalam Tradisi Mitoni
(Strukturasi
Strategi
Sosial)
Tokoh Adat
Untuk mempertahankan
Gambar 2.1 Kerangka berpikir
Download