Makalah - PUSHAM UII

advertisement
Makalah
Training Metode Pendekatan
Pengajaran, Penelitian, Penulisan Disertasi
dan Pencarian Bahan Hukum HAM
Bagi Dosen-Dosen Hukum HAM
Bali, 16 – 17 Maret 2009
Globalisasi, Transnational Corporation dan
Pelanggaran HAM Ekonomi, Sosial dan Budaya
Oleh :
Yusak E. Reba
GLOBALISASI, TRANSNATIONAL CORPORATION DAN
PELANGGARAN HAM EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA1
Oleh :
YUSAK E. REBA2
1. PENDAHULUAN
Dalam perkembangan peradaban manusia, mengalami pergeseran yang sangat cepat
dan perubahan peradaban itu tidak saja memberi kemanfaatan bagi manusia, namun
bersamaan dengan itupula perubahan peradaban juga menghadirkan sejumlah
permasalahan penting dalam kehidupannya, baik secara individual, kelompok maupun
dalam skala negara. Peradaban manusia yang dimulai dengan upaya untuk
memperoleh penghargaan dan penghormatan sebagai individu yang berhak atas harkat
dan martabat sebagai manusia yang adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, mengalami
perkembangan yang signifikan. Penghormatan terhadap manusia dan kemanusiaannya
harus diperjuangkan karena adanya penindasan yang dilakukan oleh individu atau
kelompok lainnya yang memiliki kekuasaan. Pada aspek yang lebih luas, munculnya
pergerakan berbagai suku bangsa di dunia untuk menentukan nasibnya sendiri dalam
wujud negara yang merdeka dan berpemerintahan sendiri agar mengatur kehidupannya
yang lebih baik. Pergerakan itu dilakukan melalui peperangan antar bangsa didunia
hingga ke wilayah Asia Tenggara. Peperangan antara bangsa dilakukan dalm bentuk
perang tertutup (perang dingin) dan perang terbuka. Perang terbuka melalui perang
dunia I dan perang dunia II, telah mengubah peradaban manusia yang hendak keluar
dari proses penindasan kembali lagi pada hal yang sama, dan rasa kemanusiaan
diantara sesama umat manusia telah hilang. Kesadaran akan pentingnya saling
menghormati diantara sesama umat manusia, tumbuh dengan dikeluarkannya
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), tanggal 10 Desember 1948
walaupun dalam implementasinya belum efektif.
1
Materi disampaikan pada Kegiatan “Training Metode Pendekatan Pengajaran, Penelitian, Penulisan
Disertasi dan Pencarian Bahan Hukum HAM Bagi Dosen – Dosen Hukum HAM (Peserta Gelombang II),
yang diselenggararakan oleh Pusat Studi HAM, Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) Yogyakarta,
bekerjasama dengan NCHR University of Oslo Norway, tanggal 16 -17 Maret 2009, di Sanur Paradise
Plaza Hotel, Sanur Bali.
2
Dosen pada Bagian Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum, Universitas Cenderawasih Jayapura – Papua
dan mahasiswa program Magister Ilmu Hukum (Konsentrasi Hukum Pemerintahan) pada Fakultas Hukum,
Universitas Udayana Bali.
Munculnya kesadaran untuk saling menghormati dan saling menolong diantara bangsa
– bangsa dilakukan melalui kerjasama internasional dalam berbagai bidang. Hal ini
dapat dilakukan karena dihasilkannya berbagai instrumen hukum internasional yang
menerobos batas – batas negara dengan tidak mengabaikan kedaulatan negara yang
diatur melalui hukum nasional masing – masing negara. Kerjasama yang dilakukan
meliputi
bidang
perdagangan,
pertahanan
keamanan,
pendidikan,
pertanian,
pengelolaan sumber daya alam dan lain sebagainya. Dalam perjalanan panjang
berkaitan dengan hubungan kerjasama antar negara dengan tetap menghormati
kedaulatan masing- masing negara, kini telah digiring pada adanya upaya – upaya
untuk tidak lagi memperketat adanya kedaulatan negara secara signifikan. Pergeseran
ini terjadi dengan adanya suatu paradigma baru yang disebut “globalisasi”. Era ini
mulai memperlihatkan adanya intervensi dari berbagai negara yang dikategorikan telah
maju dan siap untuk bersaing, namun lebih dari itu juga terkandung maksud yang
terselubung untuk menguasai bangsa lain. Dengan adanya kerjasama internasional
yang dilakukan oleh negara – negara berkembang dengan tidak lagi menempatkan
kedaualatan dan batas negara secara ketat, menunjukan bahwa globalisasi telah
menghentar kita kembali pada awal mula sifat manusia yang “ingin menguasasi” dan
tindakan “penjajahan dalam pola baru melalui strategi yang disebut “globalisasi”. Pola
interaksi antar negara memang sulit dihindari, namun dampak dari adanya era
globaliasi sangat terasa oleh penduduk yang terdiri dari berbagai suku atau etnis yang
hidup dalam wilayah negara Indonesia.
Kehadiran era globaliasi telah membuka ruang bagi adanya investasi yang dilakukan
oleh korporasi dari negara lain yang memiliki modal dan skill yang memadai.
Keberadaan transnational corporation memberikan dampak positif berupa penyerapan
tenaga kerja dan berimplikasi pada pemenuhan hak ekonomi dan sosial. Namun tidak
signifikan memberi dampak bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan dan
masyarakat lain yang tidak ambil bagian dalam aktivitas yang dilakukan oleh
Transnational Corporation. Sebagai contoh dapat dikemukakan pada wilayah Provinsi
Papua dengan kehadiran PT . Freeport Indonesia yang memulai aktifitas pada tahun
1962 hingga saat ini, tidak membawa perubahan bagi kehidupan penduduk di Papua.
Selain aktifitas dibidang pertambangan, eksploitasi atas sumber daya alam berupa
hutan dan laut dilakukan bentuk yang terhormat melalui mekanisme perizinan namun
2
juga melalui tindakan tidak terhormat dengan cara “pencurian”. Pada bidang
perdagangan, ekonomi penduduk Papua terpuruk karena rendahnya angka pendapatan
perkapita keluarga. Pergulatan untuk pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya
ditengah lajunya kegiatan yang dilakukan oleh Transnational Korporation semakin
menunjukan ketidakberdayaan masyarakat yang minim modal, skill maupun kapasitas
lainnya untuk mensejajarkan aktivitas dan pemenuhan HAM EKOSOB. Masyarakat
saat ini merupakan kelompok yang terpinggirkan yang juga diperburuk oleh orientasi
pemerintah daerah pada meningkatkan pendapatan asli daerah dengan menghadirkan
investor. Semakin tidak berdaya pemenuhan HAM EKOSOB rakyat di Papua, tidak
saja dikontribusi oleh “Transnational Corporation” tetapi juga “National Korporation”.
Terhadap permasalahan ini, hendak ditunjukan dalam tayangan film berikut ini yang
menceritakan bagaimana penindasan gaya baru yang difasilitasi melalui era globalisasi
terhadap penduduk di Provinsi Papua dan lemahnya tanggungjawab Pemerintah dalam
memberi perlindungan, penghormatan dan pemenuhan terhadap HAM EKOSOB.
2. GLOBALISASI DAN PERAN TRANSNATIONAL CORPORATION (TNC’s)
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan
keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia
melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk
interaksi
yang
lain
sehingga
batas-batas
suatu
negara
menjadi
bias.
Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai banyak karakteristik yang sama dengan
internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak
sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran
negara atau batas-batas negara. Kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang
maknanya ialah universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali
sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang
melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah,
atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin
terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan koeksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya
masyarakat. Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya
fenomena globalisasi di dunia.
3
•
Perubahan dalam konsep ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti
telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi
global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam
turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
•
Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling
bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional,
peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi
semacam World Trade Organization (WTO).
•
Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama
televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini,
kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai
hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion,
literatur, dan makanan.
•
Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis
multinasional, inflasi regional dan lain-lain.
Selain ciri –ciri tersebut diatas, Tanri Abeng menyatakan bahwa perwujutan nyata dari
globalisasi ekonomi anatar lain terjadi dalam bentuk – bentuk berikut :
•
Globalisasi produksi, di mana perusahaan berproduksi di berbagai negara, dengan
sasaran agar biaya produksi menajdi lebih rendah. Hal ini dilakukan baik karena
upah buruh yang rendah, tarif bea masuk yang murah, infrastruktur yang memadai
ataupun karena iklim usaha dan politik yang kondusif. Dunia dalam hal ini
menjadi lokasi manufaktur global.
•
Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses untuk memperoleh
pinjaman atau melakukan investasi (baik dalam bentuk portofolio ataupun
langsung) di semua negara di dunia. Sebagai contoh, PT Telkom dalam
memperbanyak satuan sambungan telepon, atau PT Jasa Marga dalam
memperluas jaringan jalan tol telah memanfaatkan sistem pembiayaan dengan
pola BOT (build-operate-transfer) bersama mitrausaha dari manca negara.
•
Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global akan mampu memanfaatkan tenaga
kerja dari seluruh dunia sesuai kelasnya, seperti penggunaan staf profesional
diambil dari tenaga kerja yang telah memiliki pengalaman internasional atau
4
buruh kasar yang biasa diperoleh dari negara berkembang. Dengan globalisasi
maka human movement akan semakin mudah dan bebas.
•
Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat suatu negara dengan mudah dan cepat
mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia karena kemajuan teknologi,
antara lain melalui: TV,radio,media cetak dll. Dengan jaringan komunikasi yang
semakin maju telah membantu meluasnya pasar ke berbagai belahan dunia untuk
barang yang sama. Sebagai contoh : KFC, celana jeans levi's, atau hamburger
melanda pasar dimana-mana. Akibatnya selera masyarakat dunia -baik yang
berdomisili di kota ataupun di desa- menuju pada selera global.
•
Globalisasi Perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan
penyeragaman tarif serta penghapusan berbagai hambatan nontarif. Dengan
demikian kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat, dan
fair.
Ciri – ciri globalisasi sebagaimana dikemukakan diatas menunjukan bahwa dengan
adanya ruang akses yang bebas antar berbagai negara dalam bidang perdagangan
inernasional memberikan kesempatan kepada Transtational Corporation untuk leluasa
melakukan aktivitasnya dan menguasai bidang – bidang perdagangan pada negara –
negara sedang berkembang. Karena tidak sleuruh kerjasama internasional dalam
bidang perdagangan akan menolong (berdampak positif) terhadap kemajuan negara
tersebut tetapi bersamaan dengan itu secara perlahan – lahan melemahkan posisi dan
daya saing dari negara yang sedang berkembang karena lambat dalam skill,
kekurangan modal lemahnya kapasitas dan rendahnya pengetahuan.
Tipologi TNC’s adalah perusahaan dengan murni modal, bebas mengalir ke mana saja,
tanpa kedudukan nasional dengan perangkat manajemen internasional dan
kemampuan-kemampuannya beroperasi di lokasi mana saja atau berpindah ke lokasi
mana saja di dunia untuk meraih laba yang paling aman dan sebesar-besarnya. Konsep
ini adalah impian dari kapitalisme internasional. Dengan sebuah setting perdagangan
yang ”tanpa batas”, instrumen dan perkakasnya pun harus dibentuk mampu
menjalankan perannya melewati “batas-batas yang ada”, dalam hal ini negara. Maka
TNC’s bukan lagi sebuah perusahaan yang terpaku pada satu lokasi nasional,
melainkan akan menjadi pelayan bagi pasar dunia melalui operasi globalnya. Adalah
benar jika kemudian ada asumsi bahwa TNC’s tidak dapat lagi dikendalikan ataupun
dihambat dengan kebijakan-kebijakan oleh negara-negara mana pun. Bahkan, tidak
5
jarang TNC’s dapat melepaskan diri dari semua peraturan standar internasional yang
disepakati dan ditegakkan oleh masyarakat dunia. Kekuasaan TNC’s telah melampaui
kekuasaan-kekuasaan negara, militer, intelijen, bahkan lembaga-lembaga internasional
termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Negara maju seperti Amerika Serikat,
Uni Eropa, dan Jepang, tidak luput dari cengkeraman perusahaan-perusahaan tanpa
negara ini.
3. BENTUK – BENTUK PELANGGARAN HAM EKOSOB YANG TERJADI
Hak Asasi Manusia bersifat universal, yang berarti bahwa seseorang berhak atas hakhak tersebut karena ia adalah manusia. Jadi setiap orang harus diperlakukan sesuai
dengan hak-hak itu, dan merupakan sarana etis dan hukum untuk melindungi individu,
kelompok dan golongan lemah terhadap kekuatan-kekuatan atau kekuasaan-kekuasaan
yang menindas hak-hak itu dalam masyarakat modern. Deklarasi Wina (1993)
menyebut adalah Kewajiban Negara untuk menegakan hak asasi manusia dan
menganjurkan pemerintah-pemerintah untuk menggabungkan standar-standar yang
terdapat dalam instrumen-instrumen hak asasi manusia internasional kedalam hukum
nasional.
Penggabungan standart HAM dalam instrumen hukum internasional kedalam hukum
nasional dilakukan dengan cara ratifikasi. Ratifikasi adalah transformasi atau
penggalian dari hukum internasional kedalam hukum nasional, terutama hukum
perjanjian internasional baik yang bersifat bilateral maupun multilateral. Atau
pengikatan diri kepada perjanjian internasional yang telah dibuat bersama negaranegara yang bersangkutan.
Dengan demikian ada tiga sistem ratifikasi :
1. Sistem dimana ratifikasi semata-mata dilakukan oleh badan eksekutif;
2. Sistem diamana ratifikasi semata-mata dilakukan oleh badan legilstif;
3. Sistem campuran, dimana baik badan eksekutif maupun legislatif memainkan
suatu peranan dalam proses ratifikasi.
Pengikatan diri pada instrumen hukum nasional terlihat melalui materi muatan dalam
Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM (UU HAM). UU ini juga
mengatur mengenai keajiban dan tanggungjawab pemerintah atas pemenuhan HAM
termasuk tanggungjawab pemenuhan HAM EKOSOB. Dalam Pasal 71 UU HAM
6
menyatakan bahwa “Pemerintah wajib dan bertanggungjawab menghormati,
melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam
undang – undang ini, peraturan perundang – undangan lain, dan hukum internasional
tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia”. Pengaturan
ini dapat dikategorikan sebagai bentuk “norma kabur” karena tidak memberi uraian
lebih lanjut mengenai bentuk – bentuk atau wujud tindakan nyata yang dilakukan oleh
Pemerintah dalam hal melindungi, menegakkan, dan memajukan HAM secara umum
dan khususnya pada HAM EKOSOB. Tanggungjawab Pemerintah untuk memberi
perlindungan dan pemenuhan atas HAM EKOSOB juga diperlihatkan secara tegas
dalam Pasal 6 Kovenan HAM EKOSOB tanggal 16 Desember 1966 yang menyatakan
bahwa :
(1) Negara Pihak dari Kovenan ini mengakui hak atas pekerjaan, termasuk hak semua
orang atas kesempatan untuk mencari nafkah melalui pekerjaan yang dipilih atau
diterimanya secara bebas, dan akan mengambil langkah – langkah yang memadai
guna melindungi hal ini.
(2) Langkah – langkah yang akan diambil oleh Negara Pihak meliputi bimbingan
teknis dan kejuruan serta program – program pelatihan, kebijakan dan teknik –
teknik untuk mencapai perkembangan ekonomi, sosial dan budaya yang mantap
serta lapangan kerja yang penuh dan produktf, dengan kondisi – kondisi yang
menjamin kebebasan poltik dan ekonomi yang mendasar bagi perorangan.
Berdasarkan uraian pada ayat (1) memberi tanggungjawab pada Pemerintah untuk
melakukan upaya – upaya yang kongkrit dalam melindungi HAM EKOSOB. Namun
hal ini tidak sesuai dengan realitas sebagaimana digambarkan dalam tayangan film
tadi. Fakta yang tergambarkan menunjukan, Pemerintah dalam hal ini Pemerintah
Kota Jayapura tidak melindungi mama – mama orang asli Papua yang sedang
berjualan dengan cara menyediakan tempat/sarana berupa pasar yang layak bagi
mereka, tetapi yang terjadi adalah tindakan nyata berupa penggusuran terhadap
aktivitas mereka. Sedangkan Uraian dalam ayat (2) tidak ditermeahkan secara jelas
dalam Undang – Undang HAM maupun dalam Undang – Undang Nomor 11 Tahun
2005 tentang Ratifikasi Kovenan HAM EKOSOB.
Pelanggaran HAM dinegeri ini masih merupakan masalah besar hingga kini dan masih
membutuhkan banyak sekali pekerjaan yang harus dikerjakan tidak saja oleh Komnas
HAM tetapi membutuhkan dukungan pihak lain juga. Untuk itu usaha untuk semakin
menyebarluaskan pendidikan HAM terutama bagaimana bentuk-bentuk pelanggaran
HAM itu terjadi kepada banyak pihak patut dilakukan. Bentuk-bentuk pelanggaran
7
terjadi mulai dari ruang domestik dikeluarga sampai ruang publik dan dilakukan mulai
dari pelaku individu hingga negara. Memahami apa saja bentuk pelanggaran HAM dan
bagaimana pelanggaran itu terjadi menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok
orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian
yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut
hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh undang-undang ,
dan tidak mendapatkan, atau dikwatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum
yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku3.
Pembicaraan mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) dan pelanggarannya sudah kurang
lebih dari setengah abad yang lampau terjadi dan masih menjadi topik yang aktual
untuk masa lima atau sepuluh tahun yang akan datang, terutama untuk bangsa
Indonesia. Pemahaman HAM pada tingkat elit politik, lingkungan akademisi, maupun
dikalangan Lembaga Swadaya Masyarakat masih dalam tahap awal dan terkadang
pada tahap inipun masih saja ada ketidakjujuran demi kepentingan kelompok.
Esensi pelanggaran HAM bukan semata-mata pelanggaran terhadap hukum yang
berlaku melainkan degradasi terhadap kemanusiaan atau merendahkan martabat dan
derajat manusia menjadi rendah
Pelanggaran HAM tidak selalu identik dengan
pelanggaran hukum pidana karena dalam pelanggaran HAM terdapat unsur
perencanaan, dilakukan secara sistematik, dengan cara tertentu, dengan tujuan tertentu
dan ditujukkan kepada objek tertentu, yang lebih banyak bersifat kolektif baik
berdasarkan agama, etnis, atau ras tertentu. Keistimewaan lain yang membedakan
pelanggaran HAM dan pelanggaran Hukum Pidana adalah tidak ada masa kadaluarsa
bagi pelanggar HAM.
Dalam kaitan dengan pelanggaran HAM Ekosob, berdasarkan definisi tentang
“pelanggaran HAM” sebagaimana telah diuraikan diatas, maka pelanggaran HAM
EKOSOB sehubungan dengan tayangan dalam film memperlihatkan bentuk – bentuk
pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah meliputi :
a. Tindakan pembiaran oleh Pemerintah
Tindakan pembiaran terjadinya pelanggaran HAM EKOSOB diperlihatkan dalam
wujud tindakan berupa :
3
Pasal 1 angka 6 Undang – Undang Nomor 39 Tahun 199 tentang Hak Asasi Manusia.
8
1. Tindakan penggusuran bagi kelompok masyarakat yang berjualan
Kelompok masyaralat yang terdiri dari ibu – ibu, tidak memperoleh tempat
yang layak untuk melakukan kegiatan berjualan. Kebijakan pemerintah sering
tidak terarah dan berubah ubah, hal ini dipengaruhi oleh karakter
kepemimpinan dan program yang akan dilaksanakan oleh masing – masing
Kepala Daerah. Dalam uraian film, muncul pernyataan Walikota Jayapura yang
lebih berorientasi pada upaya peningkatan pendapatan daerah melalui pajak
dan retribusi daerah
dengan memberikan kesempatan kepada korporation
untuk melakukan aktifitasnya. Agar korporation dapat beraktifitas, pada tempat
– tempat tertentu atau tata ruang wilayah kota/daerah yang yang dipandang
potensial diprioritaskan pada kepentingan korporation sedangkan masyarakat
yang adalah warga dan penduduk kota setempat menempati posisi kedua
dengan tidak adanya jaminan perlindungan terhadap aktifitas yang mereka
lakukan.
2. Tidak menegakan aturan – aturan yang memberi perlindungan HAM EKOSOB
kepada rakyat.
Berbagai instrumen hukum internasional berkaitan dengan perlindungan,
pemenuhan dan penghormatan terhadap HAM EKOSOB telah diupayakan
oleh Pemerintah untuk diratifikasi dan menjadi bagian dari hukum nasional
sesuai Deklarasi Wina 1993. Namun berbagai hukum nasional yang telah
diratifikasi, walaupun secara nornatif masih terdapat beberapa kelemahan,
namun lebih dari itu adalah tidak dilaksanakannya aturan – aturan tersebut
secara konsekuen.
3. Memberi peluang yang lebih kepada Corporation untuk melakukan aktifitasnya
4.
Adanya proses pembiaran oleh Pemerintah bagi terjadi pelanggaran HAM EKOSOB
menunjukan bahwa politik legisilasi dalam kaitan dengan pemenuhan HAM EKOSOB
belum dijadikan sebagai prioritas perhatian dalam penyelenggara pemerintahan. Akibat
yang ditimbulkan oleh adanya proses pembiatan tersebut adalah pertama, masyarakat
tidak memiliki dasar lagalitas yang cukup untuk menuntut pemenuhan atas HAM
EKOSOB karena politik legislasi tidak menyediakan ruang atau kesempatan untuk hal itu.
9
Kedua, rakyat tetap merupakan kelompok yang menjadi objek dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan bukan subjek hukum. Ketiga, rakyat merupakan kelompok yang
termarjinalisasi dari peran pemerintah dan hubungannya dengan Transnational
Corporation.
Materi yang diuraikan :
1. pengaturan tanggungjawab pemenuhan ham ekosob menurut UUD, UU dan aturan
internasional;
2. konsep pelanggaran HAM menurut UU HAM dan menurut pendapata para ahli
hukum
3. Bentuk – bentuk pelanggaran HAM Ekosob yang dilakukan oleh pemerintah
dalam arti luas dari uraian film
4. Akibat yang ditimbulkan dari adanya pembiaran oleh pemerintah terhadap
pelanggaran HAM Ekosob tersebut
4. AKTOR UTAMA PELANGGARAN HAM EKOSOB
Hak Asasi Manusia dikaji dari aspek hukum menurut Ignas Kleden berarti berbicara
tentang bagaimana HAM itu seharusnya dilaksanakan (das sollen), bukan HAM itu
telah dilaksanakan (das sein). Ham sebagai das sollen diatur dalam hukum
internasional, regional, nasional dan lokal. Tanggungjawab mengenai Ham yang das
sein
pada dasarnya diberikan kepada negara. Bentuk tanggungjawab itu
dikelompokkan menjadi : menghormati
(obligation to protect),
( obligation to respect), melindungi
dan bentuk pemenuhan (obligation to fulfil). Hal ini
berpedoman kepada Sistem Hukum Asasi Manusia Internasional yang menempatkan
negara sebagai aktor utama yang mempunyai kewajiban dan tanggungjawab (duty
holders), sedangkan individu, kelompok, rakyat, berkedudukan sebagai pemegang hak
(right holders). Negara diberi kewajiban atau tanggungjawab (obligation atau
Resposibility) untuk memenuhi hak-hak rakyatnya yang diatur oleh hukum.
Tanggungjawab ini juga sesuai dengan teori negara hukum yang dikemukakan oleh
Freidrich Julius Stahl yang menyebutkan bahwa unsur – unsur Rechsstaat yakni
“perlindungan hak asasi manusia”. Terhadap pendapat Stahl ini, A.V Dicey juga
mengemukakan hal yang sama dengan menyatakan bahwa salah satu unsur negara
hukum (rule of law) adalah terjaminnya hak – hak asasi manusia oleh undang –
undang ataupun Undang – Undang Dasar. Berdasarkan kedua pendapat ini, maka
10
secara konstitusional sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3) UUD Negara RI 1945
yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum” memiliki makna
adanya tanggungjawab Pemerintah untuk memberi perlindungan dan pemenuhan
terhadap HAM EKOSOB. Namun dalam perspektif poltik legislasi, berbagai peraturan
perundang – undangan yang dihasilkan setelah perubahan UUD Negara RI 1945
belum seleuruhnya mencerminkan adanya tanggungjawab negara dalam hal
melindungi dan memenuhi HAM EKOSOB. Hal ini dapat terlihat melalui sulitnya
masyarakat untuk menuntut pemenuhan HAM EKOSOB yang dilanggar oleh negara,
karena dasar legalitas menuntut belum mendapat jaminan dalam peraturan perundang
– undangan negara.
Pemenuhan terhadap HAM EKOSOB bukan merupakan suatu hal atau kewajiban
mutlak yang harus segera dipenuhi, karena Kovenan HAM EKOSOB juga memberi
keleluasaan bagi Pemerintah untuk memenuhinya secara bertahap yang disesuaikan
kemampuan
negara
Chesneyberpandangan
bersangkutan.
bahwa
Namun
“meskipun
terhadap
kovenan
hal
ini
membolehkan
Allan
Mc
Pemerintah
mencapai pemenuhan hak secara bertahap, namun kovenan juga mengharuskan
Negara – negara mengambil beberapa langkah secara langsung, dan dengan demikian
merencanakan tahap untuk kemajuan selanjutnya. Jadi suatu negara peserta tidak boleh
duduk diam saja dan tidak melakukan apapun terhadap hak ekonomi, sosial dan
budaya sekalipun kovenan mengijinkan Pemerintah untuk membuat kemajuan secara
perlahan.
Kewajiban melindungi dan memenuhi HAM EKOSOB dari Pelaksana Hak (duty
holders) atau Pemerintah mensyaratkan agar Pemerintah dapat mencegah atau
menghentikan pelanggaran terhadap hak – hak kovenan yang dilakukan oleh individu
ataupun organisasi yang bukan merupakan bagian dari Pemerintah. Menurut Allan Mc
Chesney, Pemerintah melanggar kewajiban melindungi hak asasi, jika dalam usahanya
mendorong investasi dan bisnis, pemerintah membatalkan undang – undang atau
program – program yang melindungi hak – hak pekerja atau pengangguran. Selain itu
kewajiban Pemerintah yang seharusnya menghormati, melindungi dna memenuhi hak
asasi dalam kaiatn dengan peningkatan pendapatan perkapia atau ekonomi rumah
tangga, tidak dipenuhi namun lebih memperioritaskan peran, aktivitas dan kontribusi
anggaran dari kontribusi Korporation dibanding memajukan rakyat yang tertinggal
secara sosil ekonomi.
11
Berdasarkan uraian diatas, hal ini terlihat jelas dalam tayangan film yang
memperlihatkan bahwa peran Pemerintah melalui Pemerintah Kota/Kabupaten lebih
memprioritaskan kegiatan investasi daripada menolong rakyat yang menderita. Cara
berpikir maupun orientasi pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah
menunjukan bahwa kuatnya pengaruh dan kekuatan Corporation dalam mepnegaruhi
Pemerintah serta memposisikan ketergantungan yang sangat besar pada Corporation.
Dengan demikian aktor utama pelanggaran HAM EKOSOB diperankan oleh
Pemerintah dan Corporation. Kedua subyek hukum ini tidak lagi bercermin pada
kovenan HAM Ekosob 1966 dan berbagai instrumen hukum internasional lainnya
yang menegatur perlindungan dan pemenuhan terhadap HAM EKOSOB.
5. KETERLIBATAN
NEGARA
ATAU
ORGAN
-
ORGANNYA
SECARA
LANGSUNG TERHADAP PEMBIARAN PELANGGARAN HAM EKOSOB.
Didalam alinea ke-4 (empat) Pembukaan UUD 1945, secara jelas diamanatkan bahwa
pemerintah bertugas dan berkewajiban melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini berarti bahwa pemerintah berkewajiban
melindungi warga negaranya dalam kaitan dengan pemenuhan hak asasinya. Dengan
demikian agar setiap warga negara memiliki hak untuk memperoleh perlindungan atas
dirinya dan apa yang menjadi haknya, yang sangat pokok adalah tiap warga negara
memiliki hak asasi memperoleh perlindungan hukum untuk menegakkan dan
mewujudkan hak asasinya.
Proses perlindungan hukum terhadap masyarakat sangat tergantung pada kemauan
politik (political will) dari Pemerintah. Kemauan politik ini sangat tergantung pada
sistem politik hukum nasional yakni jika suatu negara semakin kuat demokratisnya
maka semakin kuat kemauan politiknya untuk menghormati dan melindungi hak asasi
manusia.
Seluruh dokumen HAM menegaskan bahwa kewajiban pemerintah dan individu
dimanapun untuk tidak melanggar hak seseorang. Didalamnya terkandung keharusan
untuk bertanggungjawab dalam melindungi dan menegakkan hak-hak mereka.
Perdebatan yang sampai sekarang tetap berkaitan dengan siapa yang harus
bertanggungjawab melindungi dan menegakkan HAM. Setiap individu (warga negara)
memiliki hak asasi, baik yang bersifat non derogible rights (hak yang dalam keadaan
darurat perangpun harus dilindungi). Hak inilah yang harus dijamin realisasinya oleh
12
negara. Namun HAM EKOSOB juga merupakan hak yang harus dapat dipenuhi
karena tanpa makan, kesehatan yang baik, perumahan yang layak, hak lainnya juga
tidak dapat dipenuhi. Jadik antara HAM Sipil, HAM EKOSOB dan Hak atas
Pembangunan, ketiganya memiliki keterkaitan yang erat.
Kewajiban negara tersebut merupakan konsekuensi dari mandat yang diberikan oleh
rakyat kepada negara. Oleh karenanya bila negara tidak mampu melindungi HAM dari
warga negaranya, maka negara yang bersangkutan dengan sendirinya akan kehilangan
legitimasi. Dengan demikian, analisis terhadap pelanggaran HAM pun selalu dalam
situasi pelanggaran oleh negara terhadap rakyat. Pelanggaran negara tidak hanya by
omission (pelanggaran secara langsung) tetapi juga by omission (negara membiarkan
terjadinya pelanggaran HAM) dan pelanggaran terhadap pemenuhan kewajibannya.
Tanggungjawab HAM tidak cukup dibebankan kepada negara tetapi individu pun
memiliki tanggungjawab melindungi HAM; artinya negara dan individu sama-sama
berkewajiban memberikan perlindungan terhadap HAM, karena pelanggaran HAM
tidak hanya dilakukan oleh negara, tetapi juga oleh individu, seperti praktek
perbudakan, pelanggaran hak buruh oleh pengusaha, pembunuhan oleh kelompok sipil
bersenjata dan lain sebagainya.
Mukadimah Deklarasi Universal HAM juga menegaskan kewajiban individu dalam
menegakkan HAM. Dalam kaitan itu Nickel mengajukan 3 (tiga) alasan mengapa
individu memiliki tanggungjawab dalam melindungi hukum HAM (Nickel, 1996 :5356)
Pertama, sejumlah besar problem HAM tidak hanya melibatkan pemerintah, tetapi
juga kalangan swasta atau kalangan diluar negara. Oleh karenanya perlindungan dari
pelanggaran HAM tidak hanya dari pemerintah tetapi juga dari individu.
Kedua, HAM yang sejati bersandar pada pertimbangan pertimbangan normative, agar
umat manusia diperlakukan sesuai dengan human dignity.
Ketiga, individu juga memiliki tanggungjawab atas dasar prinsip-prinsip demokrasi
dimana setiap orang memiliki kewajiban untuk ikut mengawasi tindakan pemerintah.
Dari ketiga hal yang diuraikan tadi maka Corporation juga dikategorikan sebagai
subyek hukum yang dapat melakukan pelanggaran HAM EKOSOB. Dalam suatu
masyarakat yang demokratis, sesuatu yang menjadi kewajiban pemerintah itupun
menjadi kewajiban rakyatnya.
Kewajiban negara dan individu terhadap HAM meliputi :
¾ menghormati ( respect)
13
¾ melindungi (protect)
¾ memajukan ( promote) dan
¾ Pemenuhan (fulfill)
Dalam Pelaksanaan HAM sebagai Das Sein, Duty Holders (pelaksana HAM) maupun
Right Holders (Pemegang HAM) suatu saat dapat saja menjadi subyek pelanggar
HAM. Mereka ini dapat saja melanggar HAM. Pelanggaran HAM yang dapat
dilakukan oleh pemegang maupun pelaksana HAM disebabkan oleh beberapa
beberapa hal :
a. Kesewenangan (abase of Power) yaitu tindakan penguasa atau aparatur negara
terhadap
masyarakat
diluar
atau
melebihi
batas-batas
kekuasaan
dan
wewenangnya yang telah ditetapkan oleh atau dalam undang-undang.
b. Pembiaraan Pelanggaran HAM (Violation by Omission) yaitu tidak mengambil
tindakan atas suatu pelanggaran HAM.
c. Sengaja melakukan pelanggaran HAM (Violation by Commission) yaitu
melakukan tindakan yang menyebabkan pelanggaran HAM.
d. Pelanggaran yang dilakukan kelompok masyarakat.
Subyek pelanggar HAM EKOSOB dalam tayangan film memperlihatkan bahwa
Negara melalui organ – organ Pemerintah seperti Pemerintah Daerah yang seharusnya
memiliki kewenangan untuk melindungi dan memenuhi HAM EKOSOB rakyatnya,
justru lebih mengutamakan target investasi untuk penerimaan daerah daripada
mensejahterahkan rakyat melalui kehadiran Corporation.
6. ANALISIS SOSIAL DAN STRUKTURAL ATAS TERJADINYA PELANGGARAN
HAM
Dalam penyelenggaraan Pemerintahan kita saat ini Pasca runtuhnya Rezim Soeharto
hingga tahun 2004, fokus perhatian dari organisasi non Pemeirntah (NGO) lebih
diarahkan pada penyelesaian pelanggaran – pelanggaran HAM Sipil dan Politik. Sejak
2004 hingga saat ini (dalam masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono),
perhatian organisasi masyarakat sipil lebih diarahkan pada pemenuhan hak ekonomi,
sosial dan budaya. Bentuknya adalah dengan mendorong perbaikan pada peraturan
perundang – undangan yang berlaku, mendorong pembentukan aturan – aturan hukum
yang dapat melindngi dan memenuhi HAM EKOSOB serta melakukan upaya
penegakan hukum berupa pengajuan gugtan pada lembaga peradilan berkaitan dengan
14
kebijakan Pemerintah yang belum berorientasi pada pemenuhan HAM Ekosob.
Gerakan untuk mendoong keseriusan Pemerintah untuk memenuhi HAM Ekosob lebih
banyak diprakarsai dan berasal dari organisasi non pemerintah. Beberapa penyebab
HAM EKOSOB belum dijadikan sebagai aspek prioritas yang harus menjadi perhatian
Pemerintah adalah :
1. HAM Ekosob dijadikan sebagai orientasi politik
Isu HAM khusus hak ekonomi sosial dan budaya, memiliki nilai jual yang
potensial. Karena para pemimpin negara dalam cabang kekuasaan legislatif dan
eksekutif serta Kepala Daerah dan DPRD menjadi permasalahan HAM Ekosob
sebagai isu yang harus dijual dalam rangka kepentingan – kepentingan poltik
dalam pemerintahan.
2. Orientasi Pembangunan yang belum terarah antara kekuasaan legilatif dan
kekuasaan eksekutif.
Berbagai kebijakan pembangunan dalam negara dewasa ini disesuaikan dengan
visi, misi, dan program dari Kepala Negara terpilih. Dalam kontek lokal didaerah,
kebijakan pembangunan juga berdasar kepada visi, misi dan program yang
diusung oleh Kepala dan Wakil Kepala Daerah terpilih. Sedangkan DPR dan
DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di tingkat Pusat dan daerah tidak
memiliki orientasi pemabanguna yang jelas tentang perlidungan dan pemenuhan
HAM EKOSOB. Hal ini dapat terlihat melalui perdebatanmelalui pembahasan
terhadap kebijakan pembangunan yang direncanakan dalam APBN maupun
APBD. Disinilah letaknya orientasi dan kewajiban terhadap memenuhan HAM
EKSOB oleh Pemerintah menjadi tidak jelas, karena perdebatan dalam
pembahasan APBN dan APBD tidak seluruhnya dalam kaitan dengan pemenuhan
kepentingan dan HAM EKOSOB rakyat Indonesia.
3. HAM EKOSOB belum menjadi target penting dalam penyelenggaraan
pemerintahan.
Para penyelenggara pemerintahan ditingkat Pusat dan Daerah masih belum
memiliki target yang jelas dalam pemenuhan HAM EKOSOB dalam skala
nasional maupun daerah. Hal ini dapat terlihat melalui banyaknya kebijakan
pembangunan ditingkat nasional seperti BLT belum dapat diarahkan secara tepat
dalam mebnjawab pemenuhan HAM EKOSOB dan perkembangan globalisasi
dewasa ini. Ditingkat daerah, banyak ditemukan adanya kebijakan pembangunan
15
yang tidak tepat sasaran (tidak beorientasi pada pemenuhan hak Ekosob) sehingga
salah sasaran.
4. Menurunnya kepercayaan rakyat terhadap peran negara.
Maksudnya dalah bahwa hak ekonomi, sosial dan budaya yang telah dijamin
dalam UUD Negara RI 1945 dan berbagai peraturan perundang lainnya tidak
dilaksanakannya secara konsisten. Misalnya hak atas kesehatan yang dijamin
dalam UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, UU No 13 Tahun 2003 tentang
Ketenagakerjaan dan aturan hukum lainnya. Rakyat senantiasa melakukan
tindakan – tindakan agar hak tersebut dapat dipenuhi. Disini terlihat bahwa peran
negara sangat pasif sedangkan rakyat yang proaktif mendorong Pemerintah agar
melakukan kewajiban dan tanggungjawabnya. Karena peran rakyat lebih dominan,
berkaibat pada menururnya kepercayaan rakyat pada Pemerintah. Artinya bahwa
kalau rakyat tidak bersuara, pasti HAM EKOSOBnya tidak segera dipenuhi
bahkan dapat diabaikan oleh negara dalam pemenuhannya secara cepat.
7. MEKANISME REMEDY YANG DAPAT DILAKUKAN DALAM SISTEM
PENEGAKAN HAM NASIONAL.
Perubahan UUD Negara RI 1945 telah mendorong tanggungjawab Pemerintah untuk
memenuhi hak asasi
rakyat yang telah dilindungi dan dijamin dalam konstitusi
tersebut. Upaya Pemerintah untuk memenuhi HAK Ekosob telah diperlihatkan melalui
beberapa kebijakan Pemerintah misalnya dalam bidang kesehatan yakni pemberian
jaminan Kesehatan Bagi Masyarakat Miskin (Jamkesmas), pada bidang Pendidikan
dengan mengalokasikan anggaran yang diperuntukan bagi pendidikan murah dan
gratis dan ditahun 2009, Pemerintah mengalokasikan anggaran Pendidikan sebesar
20% (dua puluh persen) dalam APBN sebagai akibat adanya Putusan Mahkamah
Konstitusi. Memang pemenuhan HAM EKOSOB dari Pemerintah tidak seluruhnya
merupakan “komitmen” atau kemauan politik dari Pemerintah, tetapi sebagai
dorongan itu datang dari masyarakat melalui kelompok – kelompok organisasi
masyarakat sipil.
Peran Corporation dalam memenuhi kewajibannnya untuk memenuhi HAM EKOSOB
masyarakat yang berdomisili disekita aktivitasnya belum dilakukan dengan baik.
Kalaupun ada sebagaian Corporation yang berupaya untuk memenuhi kewajiban itu
16
namun kewajiban itu belum seluruhnya dipenuhi. Kuatnya pengaruh Corporation yang
berdampak pada menurunnya tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah
terhadap HAM EKOSOB. Hal ini menimbulkan ketergantungan yang kuat dari
Pemerintah terhadap Corporation tanpa menempatkan posisi Corporation sebagai
mitra dengan tetap mengakui dan menghormati wewenang yang dimiliki oleh
Pemerintah sebagai organ negara.
Dalam kaitan dengan globalisasi dewasa ini, membawa seluruh bangsa dan negara
didunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru dengan
menyingkirkan batas – batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. Akibatnya,
kedaulatan negara yang bersifat internal yakni kekuasaan untuk mengatur rakyat
dalam negara) tidak berlaku mutlak karena selain rakyat yang merupakan penduduk
tetap dalam negara Indonesia, berdiam dan beraktifitas pula subyek hukum lain yang
disebut Transnational Corporation. Jadi dapat saja pengakuan negara hanya pada
kewilayahan sedangkan pemanfaatan sumber daya alam tidak lagi didominasi oleh
penduduk dalam wilayah negara. Agar negara tetap memiliki kedaulatan yang bersifat
internal dan kedaulatan eksternal dalam rangka pelaksanaan kewajiban dan
tanggungjawab Pemerintah untuk Pemenuhan HAM EKOSOB rakyatnya dalam
sistem penegakan HAM Nasional adalah dengan melakukan :
a. Perbaikan Dalam Sistem Politik Hukum Nasional
b. Perbaikan/Perubahan Terhadap Peraturan Perundang – Undangan Nasional Yang
Tidak Berpihak Pada Pememuhan HAM EKOSOB
17
SUMBER BACAAN
Allan Mc Chesney, Memajukan dan Membela Hak – hak ekonomi, Sosial dan Budaya,
Insist Press, Yogyakarta, 2003.
Ignas Kleden, Hak Asasi Manusia : Siapa Manusia dan Seberapa Jauh Asasi (Kata
Pengantar) dalam Rhoda E. Howard, HAM : Penjelajahan Dalil Retivisme Budaya,
Alih Bahasa : Nugraha Katjasungkana, Grafiti, Jakarta, 2000
Atmasasmita Romli, Reformasi Hukum Hak Asasi Manusia dan Penegakan Hukum, CV
Mandar Maju, bandung, 2001.
Hardjowirogo Marbagun, Hak Asasi Manusia Dalam Mekanisme Perintis Nasional dan
Internasional, PT. PATM, Bandung, 1997.
Komnas HAM, Pendidikan Hak Asasi Manusia, Panduan Untuk Fasilitator, Insist,
Yogyakarta, 2000.
Mauna Boer, Hukum Internasional, Pengertian dan Fungsi Dalam Era Dinamika Global
PT. Alumni, Bandung, 2001.
Magnis Suseno Frans, Hak Asasi Manusia Dalam Teologi Katolik Kontemporer, Dalam
Dimensi Hak Asasi Manusia, Perspektif dan Aksi, CESDA – LP3ES, Jakarta.
Nickel W. James, Hak Asasi Manusia, Refleksi Filosofis Atas Deklarasi Hak Asasi
Manusia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996
Omba Marthinus, Pemahaman Dasar Mengenai Hak –Hak Asasi Manusia, Pusat Studi
Advokasi dan HAM Uncen, Jayapura, 2001.
Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya Tahun 1966
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 1948.
Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
18
19
Download