T1_292009309_BAB II

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
2.1.1. Pengertian BI
Pendidikan Bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting
yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tak heran apabila
mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD. Dari
situ diharapkan siswa mampu menguasai, memahami dan dapat
mengimplementasikan keterampilan berbahasa. Seperti membaca,
menyimak, menulis, dan berbicara.
Pelajaran Bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat sekolah
sejak kelas 1 SD. Seperti ulat yang hendak bermetamorfosis menjadi
kupu-kupu. Mereka memulai dari nol. Pada masa tersebut materi
pelajaran Bahasa Indonesia hanya mencakup membaca, menulis
sambung serta membuat karangan singkat. Baik berupa karangan bebas
hingga mengarang dengan ilustrasi gambar. Sampai ke tingkat-tingkat
selanjutnya pola yang digunakan juga praktis tidak mengalami
perubahan yang signifikan. Pengajaran Bahasa Indonesia yang
monoton telah membuat para siswanya mulai merasakan gejala
kejenuhan akan belajar Bahasa Indonesia. Hal tersebut diperparah
dengan adanya buku paket yang menjadi buku wajib. Sementara isi
dari materinya terlalu luas dan juga cenderung bersifat hafalan yang
membosankan.
Inilah
yang
kemudian
akan
memupuk
sifat
menganggap remeh pelajaran Bahasa Indonesia karena materi yang
diajarkan hanya itu-itu saja.
Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng,
IN.S. (1997). Kegiatan pengupayaan ini akan mengakibatkan siswa
dapat mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien. Upaya-upaya
yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karakteristik studi dan
siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian,
isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran,
6
7
menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran, dan menetapkan
prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Oleh karena itu, setiap
pengajar
harus
memiliki
keterampilan
dalam
memilih
stategi
pembelajaran untuk setiap jenis kegiatan pembelajaran. Dengan
demikian, dengan memilih strategi pembelajaran yan tepat dalam setiap
jenis kegiatan pembelajaran, diharapkan pencapaian tujuan belajar dapat
terpenuhi belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi.
Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan pebelajar dalam berkomunikasi, baik lisan
maupun tulis. Hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa
kompetensi pebelajar bahasa diarahkan ke dalam empat sub aspek, yaitu
membaca, berbicara, menyimak, dan mendengarkan.
2.1.2 Tujuan Pembelajaran Cooperative Script
Di awal telah disebutkan, bahwa ide utama dari belajar kooperatif
adalah siswa bekerja sama untuk belajar dan bertanggung jawab pada
kemajuan belajar temannya. Sebagai tambahan, belajar kooperatif
menekankan pada tujuan dan kesuksesan kelompok, yang hanya dapat
dicapai jika semua anggota kelompok mencapai tujuan atau
penguasaan materi (Slavin, 1995). Tujuan pokok belajar kooperatif
adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi
akademik dan pemahaman baik secra individu maupun secara
kelompok. Karena siswa bekerja dalam suatu team, maka dengan
sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari
berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan
ketrampilan-ketrampilan proses kelompok dan pemecahan masalah
Manfaat penerapan belajar cooperative script adalah dapat
mengurangi kesenjangan pendidikan khususnya dalam wujud input
pada level individual. Di samping itu, belajar kooperatif dapat
mengembangkan solidaritas social di kalangan siswa. Dengan belajar
kooperatif, diharapkan kelak akan muncul generasi baru yang memiliki
8
prestasi akademik yang cemerlang dan memiliki solidaritas sosial yang
kuat.
Pembelajaran cooperative script merupakan sebuah kelompok
strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi
untuk mencapai tujuan bersama.. Pembelajaran cooperative script
disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa,
memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan
pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang
berbeda latar belakangnya. Jadi dalam pembelajaran cooperative script
siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa ataupun sebagai guru.
Dengan bekerja secara kolaboratif akan mengembangkan ketrampilan
berhubungan dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat
bagi kehidupan di luar sekolah.
Tabel 2.1
Perbedaan Kelompok Belajar Cooperative Script dengan
Kelompok Belajar Konvensional
Kelompok Belajar Cooperative Script
Kelompok Belajar Konvensional
Adanya saling ketergantungan positif,
Guru sering membiarkan adanya siswa
saling membantu, dan saling
yang mendominasi kelompok atau
memberikan motivasi sehingga ada
menggantungkan diri pda kelompok.
interaksi promotif.
Adanya akuntabilitas individual yang
Akuntabilitas individual sering
mengukur penguasaan materi pelajaran
diabaikan sehingga tugas-tugas sering
tiap anggota kelompok, dan kelompok
diborong oleh salah seorang anggota
diberi umpan balik tentang hasil belajar
kelompok sedangkan anggota kelompok
para anggotanya sehingga dapat saling
lainnya hanya “mendompleng”
mengetahui siapa yang memerlukan
keberhasilan “pemborong”.
bantuan dan siapa yang dapat
memberikan bantuan.
9
Kelompok belajar heterogen, baik
Kelompok belajar biasanya homogen.
dalam kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik, dan sebagainya
sehingga dapat saling mengetahui siapa
yang memerlukan bantuan dan siapa
yang memberikan bantuan.
Pimpinan kelompok dipilih secara
Pemimpin kelompok sering ditentukan
demokratis atau bergilir untuk
oleh guru atau kelompok dibiarkan
memberikan pengalaman memimpin
untuk memilih pemimpinnya dengan
bagi para anggota kelompok
cara masing-masing.
Ketrampilan social yang diperlukan
Ketrampilan sosial sering tidak secara
dalam kerja gotong royong seperti
langsung diajarkan.
kepemimpinan, kemampuan
berkomunikasi, mempercayai orang
lain, dan mengelola konflik secara
langsung diajarkan.
Pada saat belajar kooperatif sedang
Pemantauan melalui observasi dan
berlangsung guru terus melakukan
intervensi sering tidak diakukan oleh
pemantauan melalui observasi dan
guru pada saat belajar kelompok sedang
melakukan intervensi jika terjadi
berlangsung.
masalah dalam kerja sama antar
anggota kelompok.
Guru memerhatikan secara proses
Guru sering tidak memerhatikan proses
kelompok yang terjadi dalam
kelompok yang terjadi dalam
kelompok-kelompok belajar.
kelompok-kelompok belajar.
Penekanan tidak hanya pada
Penekanan sering hanya pada
penyelesaian tugas tetapi juga
penyelesaian tugas.
hubungan interpersonal (hubungan
antar pribadi yang saling menghargai)
10
Struktur tujuan cooperative script terjadi jika siswa dapat
mencapai tujuan mereka hanya jika siswa lain dengan siapa mereka
bekerja sama mencapai tujuan tersebut. Tujuan-tujuan pembelajaran
ini mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik,
penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan ketrampilan
sosial.
Para ahli telah menunjukkan bahwa pembelajaran cooperative
script dapat meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik,
unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit,
dan membantu siswa menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.
Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keuntungan baik pada
siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama
menyelesaikan tugas-tugas akademik.
Pembelajaran cooperative script mempunyai efek yang berarti
terhadap penerimaan yang luas terhadap keragaman ras, budaya dan
agama, strata social, kemampuan, dan ketidakmampuan. Pembelajaran
cooperative script memberikan peluang kepada siswa yang berbeda
latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama
lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur
penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
Ketrampilan social atau kooperatif berkembang secara signifikan
dalam pembelajaran cooperative script. Pembelajaran cooperative
script sangat tepat digunakan untuk melatihkan ketrampilanketrampilan kerja sama dan kolaborasi, dan juga ketrampilanketrampilan Tanya jawab.
2.1.3 Ruang Lingkup Cooperative Script
Belajar cooperative script bukanlah sesuatu yang baru. Sebagai
guru dan mungkin siswa kita pernah menggunakannya atau
mengalaminya sebagai contoh saat bekerja dalam laboratorium. Dalam
belajar kooperative script, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok
11
yang terdiri dari 2 orang berpasangan sebangku untuk bekerja sama
dalam menguasai materi yang diberikan guru (Salvin, 1995; Dalam
belajar cooperative script siswa belajar bersama sebagai suatu tim
dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab
yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran
cooperative
script
bernaung
dalam
teori
konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep bahwa siswa akan
lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika
mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja
dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalahmaslah yang kompleks. Jadi, hakikat sosial dan penggunaan kelompok
sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran cooperative script.
Di dalam kelas siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok
kecil yang terdiri dari 2 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen,
kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling
membantu. Tujuan dibentuknya kelompok tersebut adalah untuk
memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk dapat terlibat
secara aktif dalam proses berpikir dan kegiatan belajar. Selama
bekerja dalam kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai
ketuntasan materi yang disajikan oelh guru, dan saling membantu
teman sekelompoknya untuk mencapai ketuntasan belajar.
Selama belajar secara cooperative script siswa tetap tinggal
dalam kelompoknya selama beberapa kali pertemuan. Mereka
diajarkan ketrampilan-ketrampilan khusus agar dapat bekerja sama
dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar aktif,
memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik,
berdiskusi, dan sebagainya. Agar terlaksana dengan baik, siswa
diberi naskah bacaan dan lembar kegiatan yang berisi pertanyaan
atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Selama bekerja dalam
kelompok, tugas anggota kelompok adanya mencapai ketuntasan
12
materi yang disajikan guru dan saling membantu diantara teman
sekelompok untuk mencapai ketuntasan materi. Belajar belum selesai
jika salah satu anggota kelompok ada yang belum menguasai materi
pelajaran.
Sebagaimana
model-model
pembelajaran
lain,
model
pembelajaran cooperative script memiliki tujuan-tujuan, langkahlangkah dan lingkungan belajar dan sistem pengelolaan yang khas.
2.1.4 Unsur Penting dan Prinsip Utama Pembelajaran Cooperatif Script
Menurut Abdul Rahman Saleh), terdapat lima unsur penting
dalam belajar cooperative script, yaitu:
Pertama, saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa.
Dalam belajar cooperative script siswa merasa bahwa mereka sedang
bekerja sama untuk mencapai satu tujuan dan terikat satu sama lain.
Seorang
siswa
tidak
akan
sukses
kecuali
semua
anggota
kelompoknya juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya
merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil
terhadap suksesnya kelompok.
Kedua, Interaksi antara siswa yang semakin meningkat. Belajar
cooperative script akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini,
terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk
sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini
akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam
kelompok memengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi
masalah ini, siswa yang membutuhkan bantuan akan mendapatkan
dari teman sekelompoknya, Interaksi yang terjadi dalam belajar
kooperatif adalah dalam hal tukar-menukar ide mengenai masalah
yang sedang dipelajari bersama.
Ketiga, tanggung jawab individual. Tanggung jawab individual
dalam belajar kelompok dapat berupa tanggung jawab siswa dalam
hal: (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa
13
tidak dapat hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman
jawab siswa dan teman sekelompoknya.
Keempat, Ketrampilan interpersonal dan kelompok kecil. Dalam
belajar cooperative script, selain dituntut untuk mempelajari materi
yang diberikan seorang siswa dituntut untuk belajar bagaimana
berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa
bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam
kelompok akan menuntut ketrampilan khusus.
Kelima, Proses kelompok. Belajar cooperative script tidak akan
berlangsung tanpa proses kelompok. Proses kelompok terjadi jika
anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka kan mencapai
tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Selain
lima
unsur
penting
yang
terdapat
dalam
model
pembelajaran cooperative script, model pembelajaran ini juga
mengandung prinsip-prinsip yang memebdakan dengan model
pembelajaran lainnya. Konsep utama dari belajar cooperative script
menurut Slavin (1995), adalah sebagai berikut.
1.
Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok
mencapai kriteria yang ditentukan.
2.
Tanggung jawab individual, bermakna bahwa suksesnya
kelompok tergantung pada belajar individual semua anggota
kelompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk
membantu yang lain dan memastikan setiap anggota kelompok
telah siap menghadapi evaluasi tanpa bantuan lain.
3.
Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa
telah membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar
mereka
sendiri.
berkemampuan
Hal
tinggi,
ini
memastikan
sedang
dan
bahwa
rendah
siswa
sama-sama
tertantang untuk melakukan yang terbaik dan bahwa kontribusi
semua anggota kelompok sangat bernilai.
14
2.1.5 Implikasi Model Pembelajaran Cooperative Script
Belajar cooperative script dapat mengembangkan tingkah laku
cooperative script dan hubungan yang lebih baik antar siswa, dan
dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar
lebih banyak dari teman mereka dalam belajar kooperatif daripada
guru. Interaksi yang terjadi dalam belajar cooperative script dapat
memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan
intelektual siswa.
Implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan
strategi belajar cooperative script yaitu sebagai berikut.
1. Kelompok kecil memberikan dukungan social untuk belajar.
Kelompok kecil membentuk suatu forum di mana siswa
menanyakan pertanyaan, mendiskusikan pendapat, belajar
member pendapat orang lain, memberikan kritik yang
membangun dan menyimpulkan penemuan mereka dalam
bentuk tulisan.
2. Kelompok kecil menawarkan kesempatan untuk sukses bagi
semua siswa. Interaksi dalam kelompok dirancang untuk semua
anggota mempelajari konsep dan startegi pemecahan masalah.
3. Suatu masalah idealnya cocok untuk didiskusikan secara
kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan
secara objektif. Seorang siswa dapat mempengaruhi siswa lain
dengan argumentasi yang logis.
4. Siswa dalam kelompok dapat membantu siswa lain utnuk
menguasai masalah-masalah dasar dan prosedur perhitungan
yang
perlu
dalam
konteks
permainan,
teka-teki,
atau
pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
5. Ruang lingkup materi dipenuhi oleh ide-ide menarik dan
menantang yang bermanfaat bila didiskusikan.
Belajar cooperative script dapat berbeda dalam banyak cara,
tetapi dapat dikategorikan sesuai dengan sifat berikut, (1) tujuan
15
kelompok; (2) tanggung jawab individual; (3) kesempatan yang sama
untuk sukses; (4) kompetisi kelompok; (5) spesialisasi tugas; dan (6)
adaptasi untuk kebutuhan individu.
2.1.6 Model Pembelajaran Cooperative Script
Menurut
Schank
dan
Abelson,
(2007)
pembelajaran
cooperative script adalah pembelajaran yang mengatur interaksi
siswa seperti ilustrasi kehidupan sosial siswa dengan lingkungannya
sebagai individu, dalam keluarga, kelompok masyarakat, dan
masyarakat yang lebih luas.
Menurut Salvin, (1995) mengemukakan bahwa penggunaan
pembelajaran cooperative dapat meningkatkan prestasi belajar siswa
sekaligus
dapat
meningkatkan kemampuan hubungan sosial,
menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta
dapat meningkatkan harga diri.
Model
pembelajaran
pembelajaran
berpijak
cooperative
pada
faham
script
adalah
konstruktivisme,
model
pada
pembelajaran ini terjadi kesepakatan antara siswa tentang aturanaturan dalam berkolaborasi. Masalah yang dipecahkan bersama akan
disimpulkan bersama, peran guru hanya sebagai fasilitator yang
mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan belajar. Pada interaksi
siswa terjadi kesepakatan, diskusi, menyampaikan pendapat dari ideide pokok materi, saling mengingatkan dari kesalahan konsep yang
disimpulkan, membuat kesimpulan bersama. Interaksi belajar yang
terjadi benar-benar interaksi dominan siswa dengan siswa. Dalam
aktivitas siswa selama pembelajaran Cooperative Script benar-benar
memberdayakan
potensi
siswa
untuk
mengaktualisasikan
pengetahuan dan keterampilannya, jadi benar-benar sangat sesuai
dengan pendekatan konstruktivis yang dikembangkan saat ini.
Ada suatu hal yang menarik, siswa mendapatkan peningkatan
hasil belajar dari aktivitas model pembelajaran cooperative script,
16
peningkatan yang lebih besar diperoleh untuk bagian materi saat
siswa mengajarkan bagian materi itu kepada pasangannya daripada
materi saat siswa berperan sebagai pendengar.
2.1.7 Langkah-langkah Model Pembelajaran Cooperative Script
Langkah-langkah model pembelajaran cooperative script
sebagai berikut:
1. Guru
membagi
siswa
untuk
berkelompok
berpasangan
sebangku.
2. Guru membagikan wacana/materi tiap siswa untuk dibaca dan
membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan
sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin,
dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya.
Sementara pendengar:
1. Menyimak, mengoreksi, menunjukkan ide-ide pokok yang
kurang lengkap.
2.
Membantu mengingat, menghafal ide-ide pokok dengan
Menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi
lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi
pendengar dan sebaliknya. Serta lakukan seperti diatas.
6. Kesimpulan (siswa bersama-sama dengan guru menyimpulkan).
7. Penutup (evaluasi dan refleksi).
Pada tahap penutup, guru memberikan soal evaluasi secara
individu dan melakukan refleksi terhadap pelajaran yang baru
dipelajari. Dalam kegiatan refleksi ini dijadikan media untuk
merefleksi (bercermin) pada kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan. Refleksi ini merupakan suatu cara untuk belajar,
menghindari kesalahan di waktu yang akan datang dan untuk
17
meningkatkan prestasi belajar serta kinerja peneliti.
Dalam
pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative script
siswabekerjaberpasangandanbergantiansecaralisanmengikhtisarkan,
bagian-bagiandarimateri yang dipelajari. Dengan penerapan model
cooperative script maka prestasi belajar siswa meningkat, karena
pembelajaran
cooperative
script
berpijak
pada
faham
konstruktivisme, pada pembelajran ini terjadi kesepakatan antara
siswa tentang aturan-aturan dalam berkolaborasi. Masalah yang
dipecahkan bersama akan disimpulkan bersama, peran guru hanya
sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan
belajar.
Pada
interaksi
siswa
menyampaikan
pendapat
dari
terjadi
ide-ide
kesepakatan,
pokok
diskusi,
materi,
saling
mengingatkan dari kesalahan konsep yang disimpulkan, membuat
kesimpulan bersama. Interaksi belajar yang terjadi benar-benar
interaksi dominant siswa dengan siswa. Dalam aktivitas siswa selama
pembelajaran dengan model pembelajaran coorperative script.
2.1.8 Kelebihan Model Pembelajaran Cooperative Script
Model pembelajaran Cooperative Script baik digunakan dalam
pembelajaran untuk menumbuhkan ide-ide atau gagasan baru, daya
berfikir kritis serta mengembangkan jiwa keberanian dalam
menyampaikan hal-hal baru
yang diyakininya benar.Sehubungan
dengan itu maka kelebihan dari model pembelajaran Cooperative
Script adalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Cooperative Script
mengajarkan siswa
untuk percaya kepada guru dan lebih percaya lagi pada
18
kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dari
sumber lain dan belajara dari siswa lain.
2. Model pembelajaran Cooperative Script mendorong siswa untuk
mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan
dengan ide temannya. Ini secara khusus bermakna ketika dalam
proses pemecahan masalah.
3. Model pembelajaran Cooperative Script membantu siswa belajar
menghormati siswa yang pintar dan siwa yang kurang pintar dan
menerima perbedaan yang ada.
4. Model pembelajaran Cooperative Script merupakan suatu strategi
yang efektif bagi siswa untuk mencapai hasil akademik
dan
social termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri dan
hubungan interpersonal positif antara satu siswa dengan siswa
yang lain.
5. Model pembelajaran Cooperative Script banyak menyediakan
kesempatan kepada siswa untuk membandingkan jawabannya
dan menilai ketepatan jawaban.
6. Model pembelajaran Cooperative Script mendorong siswa yang
kurang pintar untuk tetap berbuat
7. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran Cooperative Script
membantu memotivasi siswa dan mendorong pemikirannya.
8. Dapat
meningkatkan
berdiskusi.
atau
mengembangkan
keterampilan
19
9. Memudahkan siswa melakukan interaksi social
10. Menghargai ide orang lain.
11. Meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.
2.1.9 Kekurangan Model pembelajaran Cooperative Script
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelebihan dan
kekurangan, begitu juga dengan Model pembelajaran Cooperative
Script
ini.
Adapun yang
menjadi
kekurangan
dari
Model
pembelajaran Cooperative Script ini adalah:
1. Beberapa
siswa
mungkin
pada
awalnya
takut
untuk
mengeluarkan ide, takut dinilai teman dalam kelompoknya.
2. Tidak semua siswa mampu menerapkan Model pembelajaran
Cooperative Script . Sehingga banyak tersita waktu untuk
menjelaskan mengenai model pembelajaran ini.
3. Penggunaan Model pembelajaran Cooperative Script harus
sangat rinci melaporkan setiap penampilan siswa dan tiap tugas
siswa, dan banyak menghabiskan waktu untuk menghitung hasil
prestasi kelompok.
4.
Sulit membentuk kelompok yang solid yang dapat bekerja sama
dengan baik.
5. Penilaian terhadap murid sebagai individual menjadi sulit karena
tersembunyi di dalam kelompok.
2.2
Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki
siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana,
2008:22).
Setiap guru pasti memiliki keinginan agar dapat meningkatkan
hasil belajar siswa yang dibimbingnya. Karena itu guru harus
20
memiliki hubungan dengan siswa yang dapat terjadi melalui proses
belajar mengajar. Setiap proses belajar mengajar keberhasilannya
diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai siswa.
Menurut Dimiyati dan Mudjiono (1999), hasil belajar
merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa
dan dari sisi guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan tingkat
perkembangan mental yang lebih baik bila dibandingkan pada saat
sebelum belajar. Tingkat perkembangan mental tersebut terwujud
pada jenis-jenis ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan
dari sisi guru, hasil belajar merupakan saat terselesikannya bahan
pelajaran.
Klasifikasi hasil belajar menurut Bloom dalam Agus
Suprijono
(2009) secara garis besar membagi menjadi 3 ranah,
yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris.
1. Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual.
2. Ranah afektif, berkenaan dengan sikap
3. Ranah
psikomotorik,
berkenaan
dengan
hasil
belajar
keterampilan dan kemampuan bertindak.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat ditegaskan bahwa salah
satu fungsi hasil belajar siswa diantaranya ialah siswa dapat
mencapai prestasi yang maksimal sesuai dengan kapasitas yang
mereka miliki, serta siswa dapat mengatasi berbagai macam kesulitan
belajar yang mereka alami. Aktivitas siswa mempunyai peranan yang
sangat penting dalam proses belajar mengajar, tanpa adanya aktivitas
siswa maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan baik,
akibatnya hasil belajar yang dicapai siswa rendah. Untuk mengetahui
keberhasilan proses dan hasil belajar siswa digunakan alat penilaian
untuk mengetahui sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan tercapai
atau tidak. Hasil belajar yang berupa aspek kognitif, aspek afektif,
dan aspek psikomotorik menggunakan alat penilaian yang berbedabeda. Untuk aspek kognitif digunakan alat penilaian yang berupa tes,
21
sedangkan untuk aspek afektif digunakan alat penilaian yaitu skala
sikap (ceklist) untuk mengetahui sikap siswa dalam mengikuti
pembelajaran, dan aspek psikomotorik digunakan lembar observasi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan hasil belajar merupakan
hasil akhir dari proses kegiatan belajar siswa dari seluruh kegiatan
siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan menerima suatu
pelajaran untuk mencapai kompetensi yang berupa aspek kognitif
yang diungkapkan dengan menggunakan suatu alat penilaian yaitu tes
evaluasi dengan hasil yang dinyatakan dalam bentuk nilai, aspek
afektif yang menunjukkan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran,
dan aspek psikomotorik yang menunjukkan keterampilan dan
kemampuan bertindak siswa dalam mengikuti pembelajaran.
2.3 Kajian Penelitian yang Relevan
Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP
Negeri 2 Banyuasin I Dalam Pembelajaran Menyimak Berita Melalui
Model Pembelajaran Cooperatif Script (Admin).
Berdasarkan judul diatas dapat diketahui bahwa dalam
peningkatan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Banyuasin I
dapat meningkat dikarenakan dalam pembelajaran menggunakan
model pembelajaran cooperative script. Penelitian tersebut dilakukan
oleh Admin, Subjek penelitian berjumlah 30 orang. Pengumpulan
data menggunakan tes dan pengamatan. Data dianalisis dengan
melihat ketuntasan belajar siswa secara klasikal yaitu 85% siswa
mendapat skor ≥ 65. Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran cooperative script dapat
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran menyimak
berita. Hal ini terbukti dari adanya peningkatan rata-rata hasil tes
siklus 1 diketahui 73,17 dan hasil tes siklus 2 rata-rata 76,83.
Ditinjau dari pencapaian ketuntasan belajar siswa pada siklus 1
22
diperoleh 80% dan siklus 2 diperoleh 90%. Dengan demikian,
ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus 1 ke
siklus 2 sebesar 10%.berdasarkan penelitian tersebut maka terbukti
bahwa peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
menyimak dikarenakan dalam pembelajaran peneliti menggunakan
model pembelajaran cooperative script. Maka dapat disimpulkan
melalui pembelajaran cooperatif script dapat meningkatkan prestasi
belajar siswa.
Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran
Cooperative Script Dengan Media Gambar Pada Siswa Kelas IV
SDN Mangunsari 01 Salatiga (Delita)
Berdasarkan judul diatas dapat diketahui bahwa dalam
pembelajaran IPS peningkatan hasil belajar siswa kelas IV SDN
Mangunsari 01 Salatiga dapat meningkat dikarenakan dalam
pembelajaran menggunakan model pembelajaran cooperative script.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Delita, subjek penelitiannya
berjumlah 40 orang.
Pengumpulan data menggunakan tes dan
pengamatan. Data dianalisis dengan melihat ketuntasan belajar siswa
secara klasikal yaitu 80% siswa mendapat skor ≥ 70. Berdasarkan
hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
cooperative script dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran menyimak berita. Hal ini terbukti dari adanya
peningkatan rata-rata hasil tes siklus 1 diketahui 75,10 dan hasil tes
siklus 2 rata-rata 78,65. Ditinjau dari pencapaian ketuntasan belajar
siswa pada siklus 1 diperoleh 85% dan siklus 2 diperoleh 93%.
Dengan demikian, ketuntasan belajar siswa mengalami peningkatan
dari siklus 1 ke siklus 2 sebesar 8%.berdasarkan penelitian tersebut
maka terbukti bahwa peningkatan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran
IPS
dikarenakan
dalam
pembelajaran
peneliti
menggunakan model pembelajaran cooperative script. Berdasarkan
penelitian tersebut maka terbukti bahwa peningkatan hasil belajar
23
siswa dikarenakan dalam pembelajaran peneliti menggunakan model
pembelajaran cooperative script. Maka dapat disimpulkan melalui
pembelajaran cooperatif script dapat meningkatkan hasil belajar
siswa.Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Script untuk
Meningkatkan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Biologi Siswa
Kelas XI-IPA SMA Taman Madya Malang. Setelah dilakukan
analisa data dengan perhitungan koefisien korelasi, didapatkan hasil
koefisien korelasi sebesar 0,410 yang termasuk ke dalam kategu\ori
ci\ukup kuat, koefisien determinasi sebesar 16,5%. Hal ini
menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa hanya dipengaruhi oleh
faktor penggunaan model pembelajaran cooperative script sebesar
16,5%, sedangkan sisanya 83,5% dipengaruhi oleh faktor lain
misalnya minat, motivasi, lingkungan sekolah, lingkungan keluarga,
serta lingkungan masyarakat, Melalui pengujian uju t statisrik
didapatkan hasil terhitung sebesar 2,243, karena terhitung (2,243)
tabel (1,699) dengan taraf signifikan 0,05, hal ini menunjukkan
bahwa
penggunaan
model
pembelajaran
cooperative
script
berpengaruh positif terhadap ptestasi belajar siswa pada mata
pelajaran IPA. Dengan demikian hipotesis penelitian yang diajukan
sebelumnya yairu: Penggunaan Model Pembelajaran Cooperative
Script Berpengaruh Positif Terhadap Prestasi Belajar Siswa terbukti
kebenarannya.
Berdasarkan judul di atas dapat diketahui bahwa dalam
pembelajaran Biologi peningkatan hasil belajar siswa kelas Kelas XIIPA SMA Taman Madya Malang dapat meningkat dikarenakan
dalam pembelajaran menggunakan model pembelajaran cooperative
script. Penelitian tersebut dilakukan oleh Kusumawati, berdasarkan
penelitian tersebut maka terbukti bahwa peningkatan hasil belajar
siswa dikarenakan dalam pembelajaran peneliti menggunakan model
pembelajaran cooperative script.
24
2.4 Kerangka Berpikir
Kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang
bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah di
identifikasi sebagai masalah yang penting.
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam hasil belajar adalah
dari faktor model pembelajaran yang digunakan yang berpengaruh
terhadap hasil belajar anak karena model pembelajaran sangat
penting
dalam
keberhasilan
seseorang
dalam
belajar.
Pada
pembelajaran cooperative script terjadi kesepakatan antara siswa
tentang aturan-aturan dalam berkolaborasi. Masalah yang dipecahkan
bersama akan disimpulkan bersama. Peran guru hanya sebagai
fasilitator yang mengarah-kan siswa untuk mencapai tujuan belajar.
Model pembelajaran cooperative script dapat meningkatkan
hasil belajar siswa dan siswa. akan terdorong untuk belajar secara
aktif, karena model pembelajaran ini sangat diperlukan dalam proses
belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
cooperative script dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Langkah-langkah
yang
akan
dilakukan
mengambarkan dalam sebuah bagan dibawah ini:
maka
penulis
25
2.1 Bagan Kerangka Berpikir
Kondisi
Hasil belajar
rendah
awal
Siklus 1 tidak
menggunakan model
pembelajaran
Cooperative Script
Model
pembelajaran
Cooperative
Script
Tindakan
Kondisi
akhir
Siklus 2 menggunakan
model pembelajaran
Cooperative Script
Hasil belajar
meningkat
(Muhibbin Syah, 2000)
2.5 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir, maka hipotesis tindakan dalam
penelitian ini adalah penggunaan model pembelajaran Cooperative
Script dapat meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa
kelas 4 Sekolah Dasar Negeri
Kalibeji 01 Kecamatan Tuntang
Kabupaten Semarang semester 2 Tahun Pelajaran 2012/2013.
Download