(Melaleuca leucadendron L.) JURUSAN TEKNOLOGI

advertisement
PENGARUH PERLAKUAN BAHAN BAKU TERHADAP
KUALITAS MINYAK ATSIRI DARI DAUN KAYU PUTIH
(Melaleuca leucadendron L.)
Oleh :
AGI MUHAMAD YUZA AL-BASRI
NIM. 070 500 037
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL HUTAN
PROGRAM STUDI PENGOLAHAN HASIL HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2010
2
PENGARUH PERLAKUAN BAHAN BAKU TERHADAP
KUALITAS MINYAK ATSIRI DARI DAUN KAYU PUTIH
(Melaleuca leucadendron L.)
Oleh :
AGI MUHAMAD YUZA AL-BASRI
NIM. 070 500 037
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Sebutan
Ahli Madya (D III) Kehutanan Pada Program Diploma III
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
JURUSAN TEKNOLOGI HASIL HUTAN
PROGRAM STUDI PENGOLAHAN HASIL HUTAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2010
3
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah
Nama Mahasiswa
: PENGARUH PERLAKUAN BAHAN BAKU
TERHADAP KALITAS MINYAK ATSIRI
DARI DAUN KAYU PUTIH
(Melaleuca leucadendron L.)
: AGI MUHAMAD YUZA AL BASRI
Nomor Induk Mahasiswa
: 070 500 037
Jurusan
: TEKNOLOGI HASIL HUTAN
Program Studi
: TEKNOLOGI HASIL HUTAN
Menyetujui,
Dosen pembimbing
Dosen Penguji
Firna Novari, S. Hut, MP
NIP. 197107171997022001
Eva Nurmarini. S. Hut ,MP
NIP. 197011271998021001
Menge sahkan,
Direktur
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
Ir. Wartomo, MP
NIP. 19631028198803003
4
RIWAYAT HIDUP
AGI MUHAMAD YUZA AL-BASRI lahir pada tanggal 25 September 1989
di Bogor Jawa Barat. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan
bapak MAS BASRI dan ibu ADE SUMARNI.
Tahun 1995 ia melanjutkan pendidikan formal di Sekolah Dasar Negeri 05
Gunung Putri dan lulus pada tahun 2001. Kemudian ia melanjutkan ke Madrasah
Tsanawiyah Daarul Uluum Lido Bogor dan lulus pada tahun 2004. Kemudian ia
melanjutkan ke Madrasah Aliyah Daarul Uluum Lido Bogor dan lulus pada tahun
2007.
Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2007 di Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda Program Studi Pengolahan Hasil Hutan Jurusan Teknologi Hasil Hutan.
Pada 16 Maret 2010 sampai dengan 16 Mei 2010, ia mengikuti Praktek Kerja
Lapangan di CV. Pavettia Kurnia Atsiri Kecamatan Serang Panjang Kabupaten
Subang Kota Bandung Provinsi Jawa Barat.
5
RINGKASAN
AGI MUHAMAD YUZA AL-BASRI. Pengaruh Perlakuan Baku
Terhadap Kualitas Minyak Atsiri dari Daun Kayu Putih ( Melaleuca
leucadendron L. )
Pada umumnya minyak atsiri dihasilkan dari tumbuhan yang mengandung
minyak atsiri, selain dari tumbuhan minyak atsiri juga dapat dihasilkan dari jenis
pohon kehutanan seperti pohon kayu putih. Penyulingan merupakan salah satu cara
untuk mendapatkan minyak atsiri baik dari dalam tumbuhan ataupun dari pohon
kehutanan seperti pohon kayu putih. Pada penelitian ini menggunakan teknik
penyulingan uap dan air.
Perbedaan perlakuan bahan baku bisa mempengaruhi rendemen maupun
kualitas minyak atsiri yang dihasilkan. Pada penelitian ini dicoba untuk melihat dari
sisi perlakuan pengeringan bahan baku yaitu pengeringan bahan baku kering udara
dan perlakuan pengeringan kering matahari terhadap kualitas minyak atsiri yang
dihasilkan.
Bahan baku yang digunakan adalah daun kayu putih dari perlakuan
pengeringan kering matahari dan perlakuan pengeringan kering udara kemudian
disuling dan menghasilkan minyak yang disebut minyak kayu putih. Kemudian
minyak tersebut diuji. Pengujian melip uti rendemen dan beberapa pengujian kualitas
minyak kayu putih berdasarkan SNI 06-3954-2001.
6
Minyak kayu putih yang dihasilkan dari perlakuan pengeringan kering udara
lebih tinggi yaitu 1,39% sedangkan minyak kayu putih perlakuan pengeringan kering
matahari lebih rendah yaitu 1,25%. Sedangkan untuk pengujian kualitas, kedua
minyak tersebut masuk kedalam standar SNI 06-3954-2001.
7
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................
i
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................
ii
RINGKASAN ................................................................................................
iii
DAFTAR ISI..................................................................................................
v
DAFTAR TABEL .........................................................................................
vii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
viii
KATA PENGANTAR ...................................................................................
ix
I.
PENDAHULUAN ................................................................................
1
A. Latar Belakang ..........................................................................
1
B. Tujuan Penelitian .......................................................................
3
TINJAUAN PUSTAKA........................................................................
4
A. Pengertian Minyak Atsiri...........................................................
4
B. Cara Memperoleh Minyak Atsiri................................................
7
C. Metode Penyulingan Minyak Atsiri ...........................................
8
D. Risalah Kayu Putih ( Melaleuca leucadendron L.) ....................
12
METODE PENELITIAN ......................................................................
18
A. Waktu dan Tempat ....................................................................
18
B. Alat dan Bahan...........................................................................
18
C. Prosedur Penelitian.....................................................................
20
D. Pengujian Kualitas......................................................................
22
HASIL DAN PEMBAHASAN ...........................................................
27
A. Hasil............................................................................................
27
B. Pembahasan ................................................................................
28
KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................
35
II.
III.
IV.
V.
8
A. Kesimpulan.................................................................................
35
B. Saran...........................................................................................
35
DAFTAR ISI ( Lanjutan )
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
9
DAFTAR TABEL
No.
Tubuh Utama
Halaman
1.
Mutu Standar Minyak Kayu Putih .........................................................
7
2.
Nilai Rata-Rata Rendemen......................................................................
27
3.
Hasil Pengujian Kualitas .........................................................................
27
4.
Hasil Perhitungan Rendemen..................................................................
30
5.
Nilai Hasil Pengujian Berat Jenis ...........................................................
33
10
DAFTAR GAMBAR
No.
1.
No.
Tubuh Utama
Halaman
Gambar Minyak yang dihasilkan............................................................
Lampiran
28
Halaman
1.
Proses Pengeringan Bahan Baku Kering Udara ....................................
36
2.
Proses Pengeringan Bahan Baku Kering Matahar i ................................
36
3.
Proses Perajangan...................................................................................
36
4.
Proses Penyulingan.................................................................................
37
5.
Proses Pemisahan Minyak dengan Air ...................................................
37
6.
Proses Pemurnian Minyak menggunakan Magnesium Sulfat ................
37
7.
Pengujian Minyak dalam Kelarutan Alcohol 80% .................................
38
8.
Piknometer Alat Pengujian Berat Jenis ...................................................
38
9.
Refraktometer Alat Pengujian Indeks Bias.............................................
38
11
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT , karena atas rahmat dan karunia–Nya
penulis dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini sebagai salah satu syarat untuk dapat
menyelesaikan studi di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Jurusan Teknologi
Hasil Hutan tepat pada waktunya.
Dalam menyelesaikan Karya Ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak yang telah membantu dan dengan kerendahan hati penulis ingin
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar –besarnya kepada:
1. Ayahanda dan ibunda tercinta yang telah banyak memberikan dukungan
material maupun moril dalam menyelesaian studi dan penyusunan laporan
karya ilmiah serta seluruh keluarga yang selalu mendoakan dan mendorong
penulis dalam menyelesaikan studi.
2. Ir. Wartomo MP selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
3. M. Fikri Hernandi, S. Hut, MP selaku Ketua Jurusan Pengolahan Hasil Hutan
Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
4. Firna Novari, S.Hut, MP selaku Dosen Pembimbing.
5. Eva Nurmarini, S. Hut, MP selaku Dosen Penguji
6. Farida, S. Hut selaku teknisi pembimbing yang telah banyak meluangkan
waktunya untuk membantu dalam penelitian ini.
7. Rekan–rekan angkatan 2007 yang telah membantu baik dalam penelitian
maupun dalam penyusunan karya ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan karya ilmiah ini masih
terdapat kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan, akan tetapi besar
harapan dari penulis semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya.
Penulis
Kampus Sei. Keledang,Juli 2010
12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil minyak atsiri karena alam
Indonesia sangat kaya tumbuhan yang mengandung minyak atsiri. Pada umunya
minyak atsiri dihasilkan dari tanaman yang mengandung minyak atsiri, selain dari
tanaman tersebut minyak atsiri juga dapat dihasilkan dari jenis pohon kehutanan.
Ada juga macam- macam pohon kehutanan yang dapat diambil minyak
atsirinya yaitu diantaranya: pohon cengkeh, pohon kapur, pohon gaharu, pohon pinus
dan pohon kayu putih. Pada umumnya, minyak atsiri yang terkandung dalam pohon
tersebut diambil dari daun, ranting, bunga, buah, dan kulit batang. Dari kebanyakan
macam-macam pohon kehutanan tersebut, pohon kayu putih paling banyak diminati
oleh masyarakat Indonesia. Pohon kayu putih mengandung minyak atsiri yang
disebut juga cajuput oil yang biasa dipakai sebagai minyak balur atau campuran
minyak pengobatan lain (seperti minyak telon) atau campuran parfum serta produk
rumah tangga lain.
Kayu putih ( Melaleuca leucadendron L. ) merupakan tanaman yang tidak
asing bagi masyarakat di Indonesia karena dapat menghasilkan minyak kayu putih
( cajuput oil ) yang berkhasiat sebagai obat, insektisida dan wangi-wangian. Sebagai
komoditas perdagangan, minyak kayu putih dapat diperoleh dengan mudah di
warung-warung da n toko-toko. Selain dapat diambil minyaknya ( hasil dari
penyulingan daunnya ), pohon kayu putih dapat digunakan untuk berbagai keperluan,
13
asal bukan sebagai bahan bangunan. Dengan demikian kayu putih memiliki nilai
ekonomis yang tinggi.
Gelam atau Kayu putih (Melaleuca leucadendron L.) merupakan pohon
anggota suku jambu-jambuan (Myrtaceae) yang dimanfaatkan sebagai sumber
minyak kayu putih (cajuput oil). Minyak diekstrak (biasanya disuling dengan uap)
terutama dari daun dan rantingnya. Namanya diambil dari warna batangnya yang
memang putih.
Tumbuhan ini terutama tumbuh baik di Indonesia bagian timur dan Australia
bagian utara, namun demikian dapat pula diusahakan di daerah-daerah lain yang
memiliki musim kemarau yang jelas.
Minyak kayu putih mudah menguap. Pada hari yang panas orang yang
berdekatan dengan pohon ini akan dapat membauinya dari jarak yang cukup jauh.
Sebagai tumbuhan industri, kayu putih dapat diusahakan dalam bentuk hutan usaha
(agroforestri). Perhutani memiliki beberapa hutan kayu putih untuk memproduksinya.
Minyak kayu putih yang diambil dari penyulingan biasa dipakai sebagai minyak balur
atau campuran minyak pengobatan lain (seperti minyak telon) atau campuran parfum
serta produk rumah tangga lain.
Kayu putih memiliki kandungan kimia yaitu; minyak atsiri (Kayuputol,
terpineol) dan tanin. Minyak atsiri tersebut seluruhnya menghasilkan bau yang khas
untuk minyak kayu putih, baunya aromatis dan pedas. Minyak atsiri tersebut
dimanfaatkan sebagai bahan campuran dalam obat-obatan atau campuran parfum
serta produk rumah tangga lainnya.
14
Minyak atsiri dikenal juga minyak terbang atau minyak eteris ( essential oil
atau volatile ) dihasilkan oleh tanaman tertentu. Minyak tersebut mudah menguap
pada suhu kamar, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai bau tanaman
penghasinya.
Minyak atsiri bersumber dari setiap bagian tanaman yaitu daun, bunga, buah,
biji, kulit, batang dan akar tanaman. Untuk minyak kayu putih minyaknya diambil
dari daun kayu putih.
B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses dan
mekanisme perolehan minyak atsiri dari daun kayu putih dengan menggunakan
metode penyulingan uap dan air ( water and steam destilation ) dan mengetahui
rendemen serta beberapa kualitas minyak atsiri yang dihasilkan dengan parameter
SNI 06-3954-2001.
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Minyak Atsiri
Menurut Kardinan ( 2005 ), Minyak atsiri juga dikenal dengan nama
minyak eteris (essential oil atau volatile). Minyak atsiri dapat dihasilkan dari
berbagai bagian tanaman, seperti akar, batang, ranting, daun, bunga atau buah.
Minyak atsiri dalam tumbuhan memegang peranan penting bagi kesehatan. Di
Indonesia, penggunaan minyak atsiri bisa melalui berbagai cara, antara lain;
1. Melalui mulut atau dikonsumsi (oral), antara lain berupa jamu yang
mengandung minyak atsiri atau bahan penyedap makanan (bumbu).
2. Pemakaian luar (topical/external use), antara lain pemijatan lulur, obat
luka/memar, parfum/pewangi.
3. Pernapasan (inhalasi atau aromaterapi), antara lain wangi-wangian
(perfum) atau aromatika untuk keperluan aromaterapi.
4. Pertisida nabati, antara lain sebagai pengendali hama lalat buah,
pengusir (repelent) nyamuk dan antijamur.
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil),
minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar
minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah
menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan
16
dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam
perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.
Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit sekunder
yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan oleh
hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain dalam
mempertahankan
ruang
hidup.
Walaupun
hewan
kadang-kadang
juga
mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau cairan yang
berbau menyengat dari beberapa kepik), zat- zat itu tidak digolongkan sebagai
minyak atsiri.
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain
itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama
di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya
kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat
menghasilkan rasa yang berbeda.
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai
senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu
aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa
organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.
Mutu minyak kayu putih diatur pada SNI 06-3954-2001. Standar tersebut
menetapkan istila dan definisi, syarat mutu, cara uji, pengemasan dan penandaan
minyak kayu putih yang digunakan sebagai pedoman pengujian minyak kayu
putih yang diproduksi di Indonesia.
17
Persyaratan mutu standar Minyak Kayu Putih adalah sebagai berikut :
Jenis Uji
Satuan
Persyaratan
1.
Keadaan
1.1
Warna
–
Jernih sampai kuning kehijauan
1.2
Bau
–
Khas kayu putih
2
Bobot jenis 20?C/20?C
–
0,900 – 0,930
3.
Indeks bias nD20
–
1,450 – 1,470
4.
Kelarutan dalam alkohol 80%
–
1 : 1 sampai 1 : 10 jernih
5.
Putaran optic
–
(-) 4? s/d 10 ?
6.
Kandungan sineol
%
50 – 65
Sumber : Standar Nasional Indonesia 06-3954-2001
18
B. Cara memperoleh minyak atsiri
Menurut Harris ( 1985 ), Minyak atsiri yang bersal dari tumbuh-tumbuhan
dapat diperoleh melalui tiga cara, yaitu:
?
Pengempaan (Expression)
?
Ekstrasi menggunakan pelarut (Solvent extraction)
?
Penyulingan (Distilation)
Dari ketiga cara tersebut, yang erat kaitannya dengan rencana kerja untuk
mendapatkan minyak nilam (patchouli oil) adalah cara yang terakhir yakni;
penyulingan.
Penyulingan adalah salah satu cara untuk mendapatkan minyak atsiri, dengan
cara mendidihkan bahan baku yang dimasukkan ke dalam ketel hingga terdapat uap
yang diperlukan. Atau dengan cara mengalirkan uap jenuh (saturated or superheated)
dari ketel pendidih air ke dalam ketel penyulingan.
Dengan penyulingan ini akan dipisahkan zat-zat bertitik didih tinggi dari zatzat yang tidak menguap. Dengan kata lain, penyulingan adalah proses pemisahan
komponen-komponen campuran dari dua atau lebih cairan, berdasarkan perbedaan
tekanan uap masing-masing komponen tersebut.
Cara penyulingan minyak atsiri, pertama-tama bahan baku dari tanaman yang
mengandung miyak dimasukkan ke dalam ketel pendidih, atau bahan baku tersebut
dimasukkan ke dalam ketel penyulingan dan dialiri uap. Dengan adanya panas air dan
uap, tentu akan mempengaruhi bahan trsebut, sehingga di dalam ketel terdapat dua
19
cairan, yaitu air panas dan minyak atsiri. Kedua cairan tersebut dididihkan perlahanlahan hingga terbentuk campuran uap yang terdiri dari uap air dan uap minyak.
Campuran uap ini akan mengalir melalui pipa pendingin, dan terjadilah proses
pangembunan sehingga uap tadi kembali mencair. Dari pipa pendingin, cairan
tersebut dialirkan ke alat pemisah, yang akan memisahkan minyak atsiri dari air
berdasarkan berat jenisnya.
Penyulingan itu sendiri masih dapat dipilahkan menjadi tiga cara yaitu;
?
Penyulingan dengan air
?
Penyulingan air dan uap
?
Penyulingan langsung dengan uap
C. Metode Penyulingan Minyak Atsiri
Menurut Rismunandar ( 1990 ), Pada umumnya cara isolasi minyak atsiri
adalah sebagai berikut:
1 Penyulingan dengan Air
Prinsip
kerja
penyulingan
dengan
air
adalah
sebagai
berikut;
Ketel
penyulingan diisi air sampai volumenya hamper separuh, lalu dipanaskan. Sebelum
air mendidih, bahan baku dimasukkan he dalam ketel penyulingan. Dengan demikian
penguapan air dan minyak atsiri berlangsung bersamaan. Cara penyulingan seperti ini
disebut;
penyulingan
langsung(direct
distilation).
Bahan
baku
yang
digunakan
20
bisanya dari bunga atau daun yang mudah bergerak did alam air dan tidak mudah
rusak oleh panas uap air.
Penyulingan secara sederhana ini sangat mudah dilakukan, dan tidak perlu
modal banyak. Namun, kulitas minyak atsiri yang dihasilkan cukup rendah, kadar
minyaknya sedikit, terkadang terjadi proses hidrolisis ester, dan produk miyaknya
bercampur dengan hasil sampingan.
Bila cara ini digunakan maka bahan yang akan disuling berhubungan
langsung dengan air mendidih. Bahan yang akan disuling kemungkinan mengambang
atau mengapung di atas air atau terendam seluruhnya, tergantung pada berat
jenis
dan kuantitas bahan yang akan diproses. Air dapat didihkan dengan api secara
langsung. Sejumlah bahan tanaman adakalanya harus diproses dengan penyulingan
air (contoh bunga mawar, bunga-bunga jeruk) sewaktu terendam dan bergerak bebas
dalam air mendidih.
2 Penyulingan dengan Air dan Uap
Bahan tanaman yang akan diproses secara penyulingan uap dan air
ditempatkan dalam suatu tempat yang bagian bawah dan tengah berlubang-lubang
yang ditopang di atas dasar alat penyulingan. Bagian bawah alat penyulingan diisi air
sedikit di bawah dimana bahan ditempatkan.
Penyulingan minyak aitsiri dengan cara ini memang sedikit lebih maju dan
produksi minyaknya pun relatf lebih baik. Prinsip kerja dari penyulingan macam ini
adalah sebagai berikut; Ketel penyulingan diisi air sampai batas saringan. Bahan baku
21
diletakkan di ats saringan, sehingga tidak berhubungan langsung dengan air yang
mendidih, tetapi akan berhubungan dengan uap air. Maka cara penyulingan semacam
ini disebut; penyulingan tidak langsung (indirect distillation). Air yang menguap akan
membawa partikel-partikel minyak aitsiridan dialirkan melalui pipa kea lat pendingin
sehingga terjadi pengembunan dan uap air yang bercapur minyak atsiri tersebut akan
mencair kembali. Selanjutnya, dialirkan kea lat pemisah untuk memisahakn minyak
atsiri dari air.
Cara ini paling sering dilakukan oleh para petani atsiri dan alat-alatnya pun
dapat dibuat sendiri oleh para petani atsiri. Produk minyak yang dihasilkan nya cukup
bagus, bahkan kalau pengerjaanya dilakukan dengan baik produk minyaknya pun
dapat masuk dalam kategori ekspor.
3 Penyulingan langsung dengan Uap
Cara ketiga dikenal sebagai penyulinga uap atau penyulingan uap langsung
dan perangkatnya mirip dengan kedua alat penyuling sebelumnya hanya saja tidak
ada air di bagian bawah alat. Uap yang digunakan lazim memiliki tekanan yang lebih
besar daripada tekenan atmosfer dan dihaslkan dari hasil penguapan air yang berasal
dari suatu pembangkit uap air. Uap air yang dihasilkan kemudian dimasukkan ke
dalam alat penyulingan. Penyulingan minyak atsiri secara langsung bengan uap
nmemerlukan biaya yang cukup besar. Karena harus disiapkan dua buah ketel, dan
sebagian besar peralatan terbuat dari stainless steel (SS) dan mild steel (MS).
22
Walaupun memerlukan biaya yang besar , kulitas minyak atsiri yang dihasilkan
memang jauh lebih sempurna.
Prinsip kerja penyulingan seperti ini hamper sama dengan cara menyuling
dengan air dan uap (indirect distillation), namun anatara ketel uap dan ketel
penyulingan harus terpisah. Ketel uap yang berisi air dipanaskan, lalu uapnya
dialirkan ke ketel penyulingan yang berisi bahan baku. Partikel-partikel minyak pada
bahan baku terbawa bersama uap dan dialirkan ke alat pendingin. Di dalam alat
pendingin itulah terjadi proses pengembunan, sehingga uap yang bercampur minyak
akan mengembun dah mencair kembali. Selanjutnya, dialirkan kea lat pemisah yang
akan memisahkan minyak atsiri dari air.
Cara ini biasanya dilakukan oleh perusahaan atau perorangan kaya. Karena
membutuhkan modal besar. Kualitas produk minyak yang dihasilkan jauh lebih
sempurna dibandingkan dengan kedua cara lainnya, sehingga harga jualnya pun lebih
tinggi.
23
D. Risalah Kayu Putih ( Melaleuca leucadendron L)
A. Tentang Kayu Putih ( Melaleuca leucadendron L.)
Di Indonesia, kayu putih mempunyai berbagai nama daerah, antara lain:
inggolom ( Batak ), kayu gelang ( Timor ), galam ( Dayak ), gelam ( Sunda dan
Jawa), ghelam ( Madura ), baru galang ( Makasar ), waru gelang ( Bugis ), iren
(Seram), ai kelane ( Ambon ) dan elan ( Buru ). Kayu putih (Melaleuca leucadendra
L.) merupakan pohon anggota suku jambu-jambuan ( Myrtaceae ) yang biasanya
dimanfaatkan sebagai sumber minyak kayu putih ( cajuput oil ). Minyak diekstrak
biasanya dengan cara disuling dengan uap terutama dari daun dan rantingnya.
Namanya diambil dari warna batangnya yang memang putih. ( Sunanto, 2003 )
Masih menurut Sunanto ( 2003 ), Secara morfologis, bagian-bagian kayu
putih (Melaleuca leucadendron L.) adalah sebagai berikut:
1) Akar
Kayu putih termasuk kelas Dicotyledonae. Sehingga, tanaman yang
berasal dari biji mempunyai akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah.
Perkembangan akar sangat dipengaruhi oleh struktur tanah, terutama yang
berkaitan dengan air dan udara dalam tanah. Pada lahan dengan air tanah yang
dalam, akar tunggang akan tumbuh panjang. Kayu putih sangat tahan terhadap
kekeringan.
24
2) Batang dan Cabang
Batang
kayu
putih
berbentuk
bulat
tanpa
banir-banir
di
bagian
baawahnya, tumbuh lurus, dengan jumlah percabangan sedikit. Tajuk tanaman
tidak lebar dan tidak teratur, namun daunnya selalu tampak hijau meskipun
pada musim kemarau.
Bagian luar batang (kulit batang) berwarna putih atau putih kecoklatan,
terdiri
atas
lembaran-lembaran
tipis
yang
mudah
dilepaskan
tanpa
mengganggu pertumbuhan tanaman.
3) Bunga
Bunga kayu putih berwarna putih, tumbuh pada pucuk ranting-ranting
pohon. Bunga tersusun pada suatu cabang yang tumbuh terbatas, beruas-ruas
pendek
kelopak
dan
daun-daunnya telah mengalami perubahan bentuk menjadi
(calyx),
tajuk
(corolla),
benang
sari
(stamen)
dan
putik
(pistillum)yang tersusun melingkar rapat sehingga tampak seperti bertumpuk
pada sebuah buku (nodus). Diameter bunga sekitar 2 mm dan panjang sekitar
1 cm, diukur dari dasar bunga sampai bagian paling ujung (kepala putik).
Bunga kayu putih mempunyai dua alat kelamin sekaligus (putik dan benang
sari) sehingga disebut bunga berkelamin dua (biseksualis) atau hermaprodit.
4) Buah
Buah kayu putih berasal dari bakal buah yang telah mengalami
pembuahan, melekat pada tangkai secara berkelompok sebagaimana letak
bunganya. Bentuk buah bulat, merekah seperti tabung pipih. Buah bertekstur
25
keras dan berwarna kecoklatan. Jumlah buah pada tiap malai berbeda-beda,
pada tangaki malai yang pendek jumlah buah lebih sedikit daripada tangkai
malai yang panjang.
5) Daun
Daun merupakan bagian tumbuhan yang penting. Kayu putih termasuk
jenis tumbuhan kormus karena tubuh tanaman secara nyata memperlihatkan
diferensiasi dalam tiga bagian pokok, yaitu akar (radix), batang (caulis) dan
daun (folium). Daun kayu putih dikatakan sebagai daun tidak lengkap karena
hanya terdiri atas dua bagian, yaitu tangkai daun (petiolus) dan helaian daun
(lamina).
a) Tangkai daun (petiolus)
Tangkai daun merupakan bagian daun yang mendukung helaian
daun dan bertugas untuk menempatkan helaian daun pada posisi
sedemikian
rupa
sehingga
dapat
memperoleh
cahaya
matahari
sebanyak-banyaknya. Tangkai daun berbentuk bula kecil dan terdapat
rambut-rambut (bulu-bulu) halus pada permukaannya. Panjang tangkai
daun bervariasi.
b) Helaian daun
Sebatang kayu putih memiliki banyak daun. Helaian daun kayu
putih berwarna hiaju muda pada daun muda dan hijau tua pada daun
tua karena mengandung zat warna hijau (klorofil). Ukuran daun kayu
putih berkisar antara 0,66 cm – 4,30 cm dan panjang antara 5,40 cm –
26
10,15 cm. Daun-daun tumbuh pada cabang-cabang tanaman secara
selang-seling, pada satu tangkai daun terdapat lebih dari satu helai
daun. Jenis ini termasuk jenis daun majemuk.
Daun kayu putih mengandung cairan yang disebut cineol (sineol).
Jika daun diremas, cairan ini akan keluar dan mengeluarkan bau
(aroma) yang khas. Cairan inilah yang nantinya diproses menjadi
minyak kayu putih. Selain sineol, daun kayu putih juga mengandung
komponen lain, misalnya terpineol dan pinena.
B. Syarat Tumbuh
Menurut Sunanto ( 2005 ), Syarat tumbuh kayu putih meliputi faktor
lokasi, faktor tanah dan faktor iklim.
1. Faktor Lokasi
Tanaman kayu putih dapat tumbuh dengan baik hampir di
seluruh wilayah Asia Tenggara, yakni di daerah dataran rendah
dan rawa-rawa yang mempunyai ketinggian tempat kurang dari
400 m dari permukaan laut. Di daerah pegunungan, tanaman ini
jarang ditemukan
Di Indonesia, pertanaman kayu putih pada umumnya berupa
hutan alam dan hutan buatan. Hutan alam kayu putih terdapat di
Maluku ( Pulau Buru, Seram, Nusa Laut dan Ambon ), Sumatera
Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Irian
27
Jaya (Papua). Hutan buatan kayu putih terdapat di Jawa Timur
(Ponorogo, Kediri dan Madiun), Jawa Tengah ( Sala, Gundih,
Grobogan dan Purwodadi ), Daerah Istimewa Yogyakarta (Gunung
Kidul dan Bantul) dan Jawa Barat ( Banten, Bogor, Sukabumi,
Indramayu dan Majalengka).
2. Faktor Tanah
Kayu putih tidak membutuhkan kondisi tanah yang khusus.
Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah-tanah liat ataupun berpasir,
bahkan di tanah yang berkapur. Tanaman ini dapat tumbuh dengan
baik pada tanah yang kurus dan kering, bahkan merupakan salah
satu tanaman yang dapat tumbuh baik di tanah yang terlalu jelek
untuk tanaman jati. Pada tanah yang sering tergenang air, kayu
putih dapat bertahan hidup. Namun, tanaman ini tidak tahan
terhadap tanah yang berkadar asam tinggi.
3. Faktor iklim
Tanaman kayu putih membutuhkan temperatur atau suhu udara
yang panas sehingga membutuhkan cahaya matahari penuh pada
siang hari. Oleh karena itu, tanaman ini dapat tumbuh dengan baik
jika ternaungi oleh pohon-pohon lainnya.
Curah hujan tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan tanaman
kayu putih. Tanaman ini dapat tumbuh di daerah yanhg memiliki
28
curah hujan tinggi maupun di daerah yang memiliki curah hujan
yang rendah.
C. Varietas
Di Indonesia dikenal tiga varietas tanaman kayu putih, yaitu varietas
Buru, varietas Timor dan varietas Ponorogo. Secara visual, berdasarkan
warna kuncup daunnya tanaman kayu putih dibedakan menjadi tanaman
yang berkuncup kuning dan tanaman yang berkuncup merah. Tanaman
kayu yang berkuncup kuning memiliki kandungan sineol dan rendemen
minyak yang lebih tinggi daripada yang berkuncup merah.
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan, yang terdiri dari
persiapan sampel dan proses penyulingan 2 minggu dan 2 minggu pengambilan
dan pengolahan data.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Sifat Kayu dan Analisa Produk
Jurusan Teknologi Hasil Hutan.
B. Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan:
a) Daun dan ranting kayu putih
b) Air
c) Es batu
d) Alkohol 80 %
e) Magnesium sulfat (Mgs SO4 )
f) Briket batu bara
g) Korek
2. Alat:
a) Terpal
b) Koran
30
c) Parang
d) Kunci pas
e) Tang
f) Destilator
g) Separator
h) Kondensor
i) Timbangan analitik
j) Refraktometer
k) Piknometer
l) Beaker glass
m) Tabung reaksi
n) Labu filtrasi
o) Pipet
p) Baskom
q) Kompor briket
r) Tissue
s) Alat tulis
t) Kalkulator
31
C. Prosedur Penelitian
1) Mempersiapkan bahan baku.
Bahan baku terdiri dari daun dan ranting kayu putih yang diperoleh di
areal sekitar kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Jumlah
bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah 6 kg kering.
Setelah bahan baku diperoleh kemudian bahan baku dikeringkan.
2) Proses pengeringan bahan baku.
Bahan baku dikeringkan dengan dua cara, yaitu;
1. Bahan baku dikeringkan dengan menggunakan tenaga matahari
yaitu pengeringan dilakukan dengan cara bahan baku diletakkan di
atas tikar atau alas dengan kurun waktu 2 hari.
2. Bahan baku dikeringkan dengan cara kering udara yaitu
pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan sampai
bahan baku menjadi kering.
Setelah bahan baku menjadi kering kemudian bahan baku dirajang
kemudian ditimbang kemudian masuk ke proses penyulingan.
3) Proses penyulingan
Proses penyulingan menggunakan metode penyulingan uap dan air
(water
and
steam
destilatio n).
Adapun
langkah- langkah
proses
penyulingan adalah sebagai berikut;
1. Menyiapkan bahan baku yang terdiri dari daun dan ranting kayu
putih sebanyak 1500 g.
32
2. Menyiapkan peralatan penyulingan yang terdiri dari ketel suling,
kondensor, separator dan tempat penampungan sementara yaitu
beaker glass.
3. Menyiapkan kompor sebagai sumber energi panas.
4. Memasukkan bahan baku ke dalam ketel suling kemudian
dilaksanakan proses penyulingan. Penyulingan dilaksanakan
selama 4-5 jam. Lamanya penyulingan dimulai dari ketika minyak
keluar pertama kali sampai minyak tidak keluar lagi.
5. Minyak yang keluar kemudian tertampung di tempat penampungan
sementara di labu filtrasi.
4) Proses pemisahan air dan minyak atsiri.
Proses pemisahan air dan minyak atsiri menggunakan alat separator.
Separator merupakan alat yang berfungsi sebagai pemisah minyak dan air.
5) Proses pemurnian minyak.
Proses pemurnian minyak menggunakan bahan kimia Mgso4. Mgso4
berfungsi sebagai pengikat air yang masih tercampur pada minyak. Cara
memurnikan minyak yaitu minyak yang telah dipisahkan dari air
kemudian dimasukkan ke tabung reaksi kemudian di beri Mgso4
secukupnya sampai minyak tersebut kelihatan murni (tidak ada air)
kemudian sampel diuji.
33
6) Pengujian kualitas dan pengolahan data
Pengujian kualitas minyak atsiri ini meliputi rendemen dan beberapa
kualitas minyak atsiri kayu putih seperti uji bau, uji warna, kelarutan
dalam alkohol, berat jenis dan indeks bias dengan parameter SNI 06-39542001.
D. Pengujian kualitas
Pengujian kualitas minyak atsiri ini meliputi rendemen dan beberapa
kualitas minyak atsiri kayu putih seperti uji bau, uji warna, kelarutan dalam
alkohol, berat jenis dan indeks bias dengan parameter SNI 06-3954-2001.
1. Rendemen
A. Pengertian Rendemen
Menurut Cenmark dan Ruhedi (1976) dalam Hermitono
(2005),
menyatakan bahwa rendemen dihitung berdasarkan
perbandingan antara output dengan input dalam persen. Pegertian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut ;
Selain daripada
itu Harris, R. (1987), menyatakan bahwa
rendemen minyak atsiri adalah perbandingan atara hasil minyak
atsiri dengan bahan tanaman yang diolah.
34
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen
Menurut Guenther (1987), faktor-faktor yang mempengaruhi
rendemen adalah ketelitian dan kerapian dalam membuat alat
penyulingan dan dalam pelaksanaan proses penyulingan.
Lebih lanjut menurut Harris, R. (1987), mengemukakan bahwa
faktor- faktor yang juga mempengaruhi rendemen, yaitu;
1) Jenis bahan baku. Dalam hal ini bisa berupa kulit, bunga, daun,
buah dan sebagainya. Jika penyulingan menggunakan bahan
berupa daun, tentu akan dihasilkan rendemen yang lebih besar
daripada menggunakan bahan baku berupa kulit.
2) Ukuran dan mutu bahan baku. Dari segi ini, banyaknya bahan
dan cara penanganan untuk mutu bahan baku.
3) Peralatan yang digunakan. Dari segi ini, misalanya pada
penggunaan alat pemanas berupa kompor, tentu akan akan
memberikan panas yang tidak stabil. Hal ini juga didukung
oleh pendapat Guenther (1987), yang menyatakan bahwa suhu
dan tekanan dapat mempengaruhi rendemen minyak atsisri
yang disuling.
4) Ketelitian dalam pelaksanaan penyulingan. Keterampilan dan
ketelitian seseorang dalam melakukan proses penyulingan juga
turut mempengaruhi nilai rendemen yang akan dihasilkan.
35
Misalnya ketelitian sesorang pada saat pemisahan air dan
minnyak menggunakan pipet tetes tidak hati- hati.
Harris, R. (1987) juga menambahkan bahwa rendemen minyak
atsiri juga dipengaruhi oleh keadaan bahan baku yang diolah.
2. Uji bau
?
Contoh uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi
?
Dekatkan mulut tabung reaksi ke hidung kemudian dicium sampai
tercium bau khas minyak khas minyak kayu putih
3. Uji warna
?
Contoh uji dimasukkan ke dalam tabung tabung reaksi
?
Kemudian contoh uji dilihat warnanya.
4. Kelarutan dalam alkohol
?
Pipet 1 ml contoh uji ke dalam tabung reaksi
?
Tambahkan alkohol 1 ml demi 1 ml
?
Pada setiap penambahan alkohol kemudian dikocok dan diamati
kejernihannya
5. Berat jenis
?
Timbang piknometer kosong.
?
Isi piknometer kosong dengan contoh uji sampai penuh.
?
Kondisikan piknometer yang berisi contoh uji hingga suhunya
27,5o C dan dibiarkan selama 15 menit.
36
?
Piknometer diangkat, kemudian dikeringkan dengan kertas atau
kain lap yang tidak mengandung minyak.
?
Timbang piknometer.
6. Indeks bias
?
Ambil satu tetes contoh uji kemudian diteteskan di atas kaca
preparat
?
Kemudian indeks bias ditetapkan menggunakan alat refraktometer.
37
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini adalah meliputi
rendemen dan beberapa pengujian minyak kayu putih berdasarkan SNI 06-39542001. Nilai hasil rataan rendemen minyak kayu putih dan pengujian kualitas
dapat dilihat pada tabel 2 dan 3 berikut ini:
Tabel 2. Nilai Rata-rata Rendemen
Rendemen
No
Perlakuan
Ulangan Ulangan
I
II
1.
Kering Udara
1,36
1,43
2.
Kering Matahari
1,66
Rata-rata
Jumlah
0,85
(%)
2,79
1,39
2,51
1,25
Tabel 3. Hasil Pengujian Kualitas
Hasil
No
Persyaratan
1
Bau
2
Warna
3
4
5
Berat jenis
Indeks bias 20 0
Kelarutan dalam alcohol
Kering
Udara
Kering
Matahari
Standar
menurut
SNI 06-39542001
Khas kayu putih
Khas kayu
putih
Jernih agak
kuning
kehijauan
Khas kayu putih
Jernih agak
kehijauan
Jernih sampai
kuning
kehijauan
0,91
1,468
1 : 1?
1 : 2?
1 : 8?
1 :10?
0,92
1,468
1 : 1? Jernih
1 : 2? Jernih
1 : 8? Jernih
1 : 10? Jernih
0,900-0,930
1,450–1,470
1:1 sampai 1:10
jernih
Jernih
Jernih
Jernih
Jernih
38
Dari proses penyulingan dihasilkan minyak kayu putih. Dan minyak tersebut
dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar 1. Minyak kayu putih yang dihasilkan
Bila dicermati gambar di atas menunjukkan sedikit perbedaan pada warna
dimana minyak kayu putih hasil sulingan kering udara berwarna jernih agak kuning
kehijauan sedangkan minyak kayu putih hasil sulingan kerin g matahari berwarna
jernih agak kehijauan.
B. Pembahasan
Dalam pengujian mutu minyak kayu putih ini menggunakan 2 macam minyak
kayu putih yaitu minyak kayu yang dihasilkan dari perlakuan pengeringan kering
udara dengan minyak kayu putih yang dihasilkan dari perlakuan pengeringan kering
matahari.
1. Menghitung rendemen
Menurut Cenmark dan Ruhedi (1976) dalam Hermitono (2005),
menyatakan bahwa rendemen dihitung berdasarkan perbandingan antara
39
output dengan input dalam persen. Pegertian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut ;
Dan nilai hasil perhitungan rendemen dapat dilihat pada tabel 4 di
bawah ini:
Tabel 4. Hasil Perhitungan Rendemen
Sampel Ulangan Output
Input Moisture
yang
( gr )
( gr )
Factor
diuji
(MF)
Kering
1
18,236 1500
0,8923
Udara
2
16,657
1300
0,8923
Kering
1
22,062
1500
0,8923
Matahari
2
9,7994
1300
0,8923
Rendemen Rendemen
(%)
rata-rata
(%)
1,36
1,39
1,43
1,66
1,25
0,85
Berasarkan tabel 4 di atas, rendemen minyak kayu putih yang dihasilkan dari
perlakuan pengeringan kering udara menunjukkan nilai yang lebih tinggi
dibandingkan dengan minyak kayu putih yang dihasilkan dari perlakuan kering
matahari. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Firna ( 2007 ), hal tersebut
disebabkan selama proses penjemuran pada sinar matahari akan terjadi proses
penguapan yang sangat cepat yang berimbas pada kehilangan minyak yang lebih
besar bila dibandingkan dengan bahan baku yang hanya yang dikering udarakan di
bawah naungan. Hal ini juga diperkuat menurut Harris, R. (1987),bahwa salah satu
faktor yang mempengaruhi rendemen adalah mutu dan kualitas bahan baku.
40
2. Uji bau
Uji bau ini dilakukan dengan cara organoleptik yaitu dengan cara
dicium menggunakan indera penciuman hidung. Berdasarkan hasil pengujian
dapat diketahui bahwa sampel minyak kayu putih baik yang dihasilkan dari
kering udara maupun minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering matahari
memiliki bau khas minyak kayu putih.
Berdasarkan persyaratan SNI 06-3954-2001 untuk parameter bau pada
sampel minyak kayu putih baik yang dihasilkan dari kering udara maupun
minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering matahari adalah bau khas
minyak kayu putih.
3. Uji warna
Uji warna ini dilakukan dengan cara organoleptik yaitu dengan cara
dilihat menggunakan indera penglihatan mata. Berdasarkan hasil pengujian
dapat diketahui bahwa sampel minyak kayu putih baik yang dihasilkan dari
kering udara maupun minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering matahari
memiliki warna khas minyak kayu putih yaitu jernih sampai kehijauan.
Berdasarkan persyaratan SNI 06-3954-2001 untuk parameter warna
pada sampel minyak kayu putih baik yang dihasilkan dari kering udara
maupun minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering matahari adalah
warna khas minyak kayu putih.
41
4. Kelarutan dalam alkohol
Pengujian kelarutan miyak kayu putih ini dilakukan dengan
menggunakan
alcohol
80%
dengan
perbandingan
tertentu,
yaitu
perbandingan alkohol dengan minyak (1 : 1, 1 : 2, 1 : 8, dan 1 : 10). Proses
penembahan alkohol ini dilakukan di dalam tabung reaksi dan dikocok,
kemudian didiamkan kamudian diamati kejernihannya.
Berdasarkan pengamatan dan parameter SNI 06-3954-2001 untuk
kelarutan dalam alkohol dalam minyak kayu putih maka dapat diketahui
bahwa tingkat kelarutan minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering udara
maupun kering matahari dalam alkohol adalah jernih.
5. Indeks bias
Indeks bias adalah bilangan yang menunjukkan perbandingan antara
sinus sudut datang dengan sinus sudut bias cahaya. Pengujian indeks bias ini
menggunakan alat refraktometer pada suhu 20 0 . Berdasarkan hasil penelitian
dan perhitungan dapat diketahui indeks bias dari sampel minyak kayu putih
yang dihasilkan dari kering udara adalah 1,468 dan indeks bias untuk sampel
dari minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering matahari adalah 1,468.
Berdasarkan SNI SNI 06-3954-2001 untuk parameter indeks bias
minyak kayu putih pada suhu 200 adalah antara 1,46 – 1,47. Dari hasil
penelitian yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan persyaratan
42
SNI 06-3954-2001 maka dapat diketahui kedua minyak tersebut sesuai
dengan standar yang ditentukan.
6. Berat jenis
Menurut S. Ketaren (2005), Berat jenis adalah perbandingan berat
suatu benda dengan berat air yang yang sama volumenya pada suhu yang
sama. Pengertian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Berikut adalah data hasil pengujian berat jenis ( lihat pada tabel di
bawah ini ).
Sampel
yang diuji
Kering
Udara
Kering
Matahari
Tabel 5. Nilai Hasil Pengujian Berat Jenis
Ulangan
Berat
Berat Air Berat Jenis
Minyak
1
9,17175
9,99945
0,91
2
9,17045
9,99945
0,91
1
9,2479
9,99945
0,92
2
9,23315
9,99945
0,92
Rata-rata
Berat
Jenis
0,91
0,92
43
Berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui bahwa berat jenis kedua
sampel yatiu minyak kayu putih yang dihasilkan dari kering udara adalah
0,91 dan minyak kayu putih hasil dari kering udara adalah 0,92.
Berdasarkan SNI 06-3954-2001 untuk berat jenis minyak kayu putih
adalah antara 0,90 – 0,93. Dari penelitian yang telah dilaksanakan
dibandingka dengan persyaratan SNI 06-3954-2001 maka kedua sampel
tersebut sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
44
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan data di atas dapat disimpulkan bahwa nilai
rendemen rata-rata minyak atsiri dari daun kayu putih (Melaleuca
leucadendron) yang dihasilkan dari kering udara yaitu 1,39 % lebih tinggi
daripada minyak yang dihasilkan kering matahari yaitu 1,25 %. Di samping
itu minyak atsiri yang dihasilkan baik dari bahan baku kering udara maupun
dari kering matahari memenuhi hasil uji berdasarkan SNI 06-3954-2001 yaitu
Uji bau, uji warna, kelarutan dalam alkohol 80 %, indeks bias dan berat jenis.
B. Saran
Berdasarkan data penelitian di atas maka perlu diadakan penelitian
lebih lanjut mengenai pengujian minyak berdasarkan SNI 06-3954-2001 yaitu
pengujian kandungan sineol dan putaran optik.
45
Download