hubungan pengetahuan dan sikap keluarga terhadap pasien

advertisement
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KELUARGA TERHADAP PASIEN
PERILAKU KEKERASAN DI UNIT RAWAT INAP RUMAH SAKIT
KHUSUS DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN
Alias1, Hartati2, Indirawaty3
1
Poltekkes Kemenkes Makassar
Poltekkes Kemenkes Makassar
3
Poltekkes Kemenkes Makassar
2
ABSTRAK
Pengetahuan adalah segala sesuatu apa yang diketahuai berkenaan dengan sesuatu hal.
Pengetahuan memiliki pengaruh yang besar terhadap penyakit gangguan jiwa makin rendah
pengetahuan tentang gangguan jiwa untuk individu,keluarga dan masyarakat. Sikap merupakan reaksi
atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Setiap orang
mempunyai sikap yang berbeda meskipun mengamati objek yang sama,perubahan-perubahan perilaku
dalam diri seseorang dapat diketahui melalui sikap. karena itu diperlukan sikap yang baik dalam
merawat pasien dengan gangguan perilaku kekerasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan pasien Perilaku Kekerasan di Unit Rawat Inap
Rumah Sakit Khusus Provinsi Sul – Sel.” Penelitian ini menggunakan pendekatan Analitik Deskriptif
Analitik dengan rancangan Cross Sectional. Populasi responden adalah seluruh keluarga pasien
perilaku kekerasan yang dirawat di unit rawat inap Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sul-Sel.
Sebanyak 200 orang. Jumlah sampel sebanyak 33 responden yang sesuai dengan kriteria
inklusi.Penentuan besar sampel dengan menggunakan rumus,Pengambilan sampel dengan tehnik
asidental sampling. Variabel independenya adalah pengetahuan dan sikap keluarga. Variabel
dependennya adalah pasien perilaku kekerasan. Data dikumpulkan menggunakan quesioner dan
observasi dengan tingkat kemaknaan < 0,05, Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan
pemahaman keluarga terhadap pasien perilaku kekerasan (ρ = 0,048), hubungan sikap menerima
keluarga terhadap pasien perilaku kekerasan (ρ = 0,234), hubungan sikap merespon keluarga terhadap
pasien perilaku kekerasan (ρ = 0,103). Dapat disimpulkan bahwa pemahaman keluarga terdapat
hubungan dengan pasien perilaku kekerasan di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi SulawesiSelatan dan sikap menerima tidak terdapat hubungan dengan pasien perilaku kekerasan di Rumah
Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi-Selatan. sikap merespon tidak terdapat hubungan dengan
pasien perilaku kekerasan di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi-Selatan. Untuk studi lebih
lanjut diperlukan jumlah sampel yang lebih banyak dan pengukuran yang lebih baik untuk mendapatkan
hasil yang akurat.
Kata Kunci : Memahami, menerima,merespon,keluarga
PENDAHULUAN
Marah adalah perasaan jengkel yang
timbul sebagai suatu respon terhadap
kecemasan yang dirasakansebagai ancaman
individu. Pengungkapan kemarahan dengan
langsung dan konstruksif pada saat terjadi
dapat melegakan individu dan membantu
orang lain untuk mengerti perasaan yang
sebenarnya sehingga individu tidak mengalami
kecemasan, stress, dan merasa bersalah dan
bahkan merusak diri sendiri, orang lain dan
lingkungan. Dalam hal ini, peran serta keluarga
sangat penting, namun perawatan merupakan
ujung tombak dalam pelayanan kesehatan jiwa.
Perilaku kekerasan merupakan suatu
keadaan di mana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara
fisik baik terhadap diri sendiri,orang lain
maupun lingkungan Perilaku kekerasan atau
agresif merupakan suatu bentuk perilaku yang
bertujuan untuk melukai orang lain secara fisik
maupun psikologis (Fitria 2009). perilaku
kekerasan dapat dimanifestasikan secara fisik
(mencederai diri sendiri, peningkatan mobilitas
tubuh), psikologis (emosional, marah, mudah
tersinggung, dan menentang), spiritual (merasa
dirinya sangat berkuasa, tidak bermoral).
Perilaku kekerasan merupakan suatu tanda
dan gejala dari gangguan skizofrenia akut yang
tidak lebih dari satu persen.
Salah satu bentuk masalah gangguan
mental emosional yang dialami sebagian besar
pasien adalah perilaku kekerasan. Pasien
dapat melakukan perilaku kekerasan kepada
125
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
orang lain, lingkungan maupun terhadap
dirinya sendiri. Meskipun belum ada data yang
pasti, namun diprediksikan Indonesia akan
menjadi wilayah yang sangat rentan untuk
mengalami ledakan angka gangguan jiwa
untuk jenis perilaku kekerasan ditahun-tahun
mendatang.
Keluarga merupakan unit paling dekat
dengan penderita, dan merupakan ”perawat
utama” bagi penderita. Keluarga berperan
dalam menentukan cara atau perawatan yang
diperlukan penderita di rumah. Keberhasilan
perawat di rumah sakit akan sia-sia jika tidak di
teruskan
di
rumah
yang
kemudian
mengakibatkan penderita harus dirawat
kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak
awal perawatan di rumah sakit akan
meningkatkan kemampuan keluarga merawat
penderita di rumah sehingga kemungkinan
kambuh dapat di cegah. Dari beberapa
penelitian menunjukan bahwa salah satu faktor
penyebab terjadinya kekambuhan penderita
perilaku kekerasan adalah kurangnya peran
serta keluarga dalam perawatan terhadap
anggota keluarga yang menderita penyakit
tersebut. Salah satu penyebabnya adalah
karena keluarga yang tidak tahu cara
menanggani perilaku penderita di rumah.
Keluarga jarang mengikuti perawatan penderita
karena jarang mengunjungi penderita di rumah
sakit, dan tim kesehatan di rumah sakit juga
jarang melibatkan keluarga.
Perilaku kekerasan merupakan salah
satu jenis gangguan jiwa. WHO (2001)
menyatakan, paling tidak ada satu dari empat
orang di dunia mengalami masalah mental.
WHO memperkirakan ada sekitar 450 juta
orang di dunia mengalami gangguan
kesehatan jiwa. Pada masyarakat umum
terdapat 0,2 – 0,8 % penderita skizofrenia dan
dari 120 juta penduduk di Negara Indonesia
terdapat kira-kira 2.400.000 orang anak yang
mengalami gangguan jiwa (Maramis, 2004
dalam Carolina, 2008). Data WHO tahun 2006
mengungkapkan bahwa 26 juta penduduk
Indonesia atau kira-kira 12-16 persen
mengalami gangguan jiwa. Berdasarkan data
Departemen Kesehatan, jumlah penderita
gangguan jiwa di Indonesia mencapai 2,5 juta
orang (WHO,
National institute of mental health.
(NIMH) melakukan studi mengenai masalah –
masalah perkawinan pada orang tua pasien
dengan gangguan jiwa, terutama pada
keluarga – keluarga yang mempunyai proyektif
dan pola hubungan tentang yang sering
diturunkan
kebeberapa
generasi
berikutnya,studi lain menyangkut pengaruh
konunikasi keluarga (verbal dan non verbal)
126
dalam mekanisme genesis timbulnya gejalagejala gangguan jiwa. (Ayub, 2011)
Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia
mencapai 245 jiwa per 1000 penduduk hal ini
merupakan kondisi yang sangat serius karena
lebih tinggi 2,6 kali dari ketentuan World Health
Organitazion (WHO). Di Indonesia, menurut
data riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun
2007, prevalensi gangguan mental emosional
berjumlah 11,6% dari populasi orang dewasa.
Bila dihitung menurut jumlah populasi orang
dewasa Indonesia saat ini sebanyak lebih
kurang 150.000.000 berarti terdapat 1.740.000
orang yang mengalami gangguan mental
emosional. (Depkes RI, 2010). Di perkirakan
penduduk indonesia menderita gangguan jiwa
sebesar 2-3%. Dari Survei Kesehatan Mental
Rumah
Tangga
(SKMRT)
tahun
1995,didapatkan bahwa 185 dari 1.000
anggota rumah tangga mempunyai gejala
gangguan jiwa.Surpvei Kesehatan Rumah
Tangga
1995,angka
gangguan
mental
emosional penduduk usia >15 tahunadalah 140
per 1.000 anggota rumah tangga (ART).Pola
usia penduduk semakin lanjut dengan angka
harapan hidup 66,2 tahun.hal ini memerlukan
penyediaan
sarana pelayanan yang baik
termasud
pelayana kesehatan mental.
(Kusumawati 2012).
Prevalensi gangguan jiwa tertinggi di
Indonesia terdapat di provinsi Daerah Khusus
Ibu kota Jakarta (24,3 %), diikuti Nagroe Aceh
Darussalam (18,5 %), Sumatera Barat (17,7
%), NTB (10,9 %), Sumatera Selatan (9,2 %)
dan Jawa Tengah (6,8%) (Depkes RI, 2008).
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar
(2007), menunjukkan bahwa prevalensi
gangguan jiwa secara nasional mencapai 5,6%
dari jumlah penduduk, dengan kata lain
menunjukkan bahwa pada setiap 1000 orang
penduduk terdapat empat sampai lima orang
menderita gangguan jiwa. Berdasarkan dari
data tersebut bahwa data pertahun di
Indonesia yang mengalami gangguan jiwa
selalu meningkat.
Berdasarkan data yang diperoleh dari
bagian medical record Rumah Sakit Khusus
Daerah Provinsi Sul – sel. Pada tanggal 04
November 2013,jumlah penderita gangguan
jiwa yang mengalami perilaku kekerasan dalam
3 tahun terakhir berjumlah 2712,dengan rincian
sebagai berikut : 1) Januari – Desember 2010
sebanyak 785 orang, 2) Januari – Desember
2011 sebanyak 882 orang dan 3) januari –
Desember 2012 sebanyak 1045. Data tersebut
di atas menunjukkan bahwa prevalensi
gangguan jiwa yang mengalami perilaku
kekerasan dari tahun ke tahun cenderung
meningkat.
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
Pengetahuan dan sikap keluarga
terhadap pasien perikalu kekerasan sangat
erat kaitannya, karena keluarga merupakan
unit paling dekat dengan penderita, dan
merupakan perawat utama bagi penderita,
keluarga berperan dalam menentukan cara
atau perawatan yang diperlukan penderita.
Dengan pengetahuan dan sikap yang baik
yang dimiliki oleh keluarga akan meningkatkan
kemampuan keluarga merawat penderita
dengan baik sehingga kemungkinan kambuh
dapat di cegah. Salah satu faktor penyebab
terjadinya kekambuhan penderita perilaku
kekerasan adalah kurangnya pengetahuan dan
sikap yang kurang baik terhadap penderita
perilaku kekerasan.
Bedasarkan uraian di atas,prevalensi
gangguan jiwa,khususnya yang mengalami
perilaku kekerasan masih menjadi masalah
kesehatan bangsa ini. Oleh karena itu penulis
tertarik untuk meneliti hubungan pengetahuan
dan sikap keluarga terhadap pasien Perilaku
Kekerasan di Unit Rawat Inap Rumah Sakit
Khusus Provinsi Sul – Sel.
BAHAN DAN METODE
Lokasi, populasi dan sampel penelitian
Berdasarkan permasalahan yang diteliti,maka
jenis penelitian yang digunakan adalah analitik
observasional dengan rancangan cross
sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah
sakit Khusus daerah Provinsi Sulawesi Selatan
pada tanggal 04 sampai 18 November 2013.
yaitu peneliti berupaya mencari hubungan
antara variabel dan menganalisa atau menguji
hipotesis yang dirumuskan. penelitian ini
menggunakan pendekatan cross sectional,
yaitu
melakukan
pengukuran
variabel
dependent dan independent hanya satu kali
tanpa melakukan follow up (Sugiyono 2008).
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh keluarga pasien perilaku kekerasan
yang dirawat di unit rawat inap Rumah Sakit
Khusus Daerah
Provinsi Sul-Sel yang
berjumlah 200 orang. Penentuan jumlah besar
sampel
dengan menggunakan runmus
didapatkan 33 responden sesuai dengan
criteria inklusi :
1) Kriteria inklusi
a) Keluarga pasien perilaku kekerasan
yang sedang di rawat di Unit Rawat
Inap Rumah Sakit Khusus Daerah
Provinsi Sul-Sel.
b) Bisa membaca dan menulis.
c) Bersedia untuk diteliti.
d) Berusia 21-70 tahun
e) Kooperatif.
2) Kriteria eksklusi
a) Bukan keluarga pasien perilaku
kekerasan yang sedang dirawat di Unit
Rawat Inap Rumah Sakit Khusus
Daerah Provinsi Sul-Sel.
b) Tidak bisa membaca dan menulis
c) Tidak bersedia untuk diteliti
d) Tidak kooperatif.
Pengumpulan data
Pengumpulan data sekunder yaitu data
yang diperoleh dari tempat penelitian yaitu
bagian rekam medic RSKD Prov.Sulsel,data
primer dari questioner dan lembar observasi.
Pengolahan data dilakukan dengan :
1. Editing
Yaitu melihat apakah data-data pada
lembar quesioner telah terisi dengan lengkap.
2. Coding
Mengelompokkan jawaban responden
menurut jenisnya dan member kode pada
masing-masing jawaban menurut item
pada lembar instrument
3. Tabulasi
Memasukkan data ke dalam table
distribusi frekuensi untuk memudahkan
analisa data.
Analisa data
Setelah data terkumpul kemudian
ditabulasi dalam tabel dengan variabel yang
hendak diukur. Analisa data dilakukan melalui
tahap editing,koding,tabulasi dan uji statistik.
Analisis
univariat
dilakukan
dengan
menggunakan
analisis
distribusi
frekuensi,menggunakan bantuan program
SPSS for windows 16,0. Melalui tahapantahapan,kemudian data dianalisis dengan
menggunakan metode uji statistik univariat
dilakukan untuk variabel tunggal yang
dianggap terkait dengan penelitian dan analisis
bivariat untuk melihat distribusi atau hubungan
beberapa variabel yang dianggap terkait
dengan menggunakan uji chi-square
Analisis data dilakukan dengan
mengujian hipotesis Nol (Ho) atau hipotesis
yang akan ditolak dengan menggunakan uji chisquare. Batas kemaknaan = 0,05, Ho ditolak
jika p < 0,05 dan Ho diterima jika p > 0,05.
Jika p < α (0,05) maka hipotesis nol
ditolak dan hipotesis alternatif diterima yang
berarti
ada
hubungan
antara
pemahaman,penerimaan dan respon keluarga
dengan perilaku kekerasan.
Sedangkan jika p > α (0,05) maka
hipotesis nol diterima dan hipotesis alternatif
ditolak ang berarti tidak ada hubungan antara
127
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
pemahaman,penerimaan dan respon keluarga
dengan perilaku kekerasan.
yaitu tidak sekolah sebanyak 2 orang
(6,1%).
HASIL PENELITIAN
1. Hasil Analisis Univariat
Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan
umur keluarga penderita perilaku kekerasan
di unit rawat inap RSKD Prov. Sul-Sel 2013
Umur
n
(%)
21-30 tahun
5
15.2
31-40 tahun
12
36.4
41-50 tahun
8
24.2
51-60 tahun
7
21.2
61-70 tahun
1
3.0
Jumlah
33
100.0
Tabel 4. Distribusi responden berdasarkan
pekerjaan keluarga penderita perilaku
kekerasan di unit rawat inap RSKD Prov.
Sul-Sel 2013
Pekerjaan
n
(%)
IRT
13
39.4
Buruh
5
15.2
Petani
1
3.0
Wiraswasta
9
27.3
Honorer
1
3.0
PNS
4
12.1
Jumlah
33
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 5.1 menunjukan bahwa kelompok
umur responden terbanyak yaitu umur 31 40 tahun sebanyak 12 orang (36.4%) dan
kelompok umur terendah yaitu umur 61-70
tahun sebanyak 1 orang (3,0%).
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan
jenis kelamin keluarga penderita perilaku
kekerasan di unit rawat inap RSKD Pro. SulSel 2013
Jenis kelamin
n
(%)
Laki-laki
15
45.5
Perempuan
18
54.5
Jumlah
33
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 5.2 menunjukan bahwa sebagian
besar responden dengan jenis kelamin
perempuan sebanyak 18 orang (54,5%) dan
dan sebagian kecil berjenis kelamin laki-laki
sebanyak 15 orang (45,5%)
Tabel 3. Distribusi responden berdasarkan
pendidikan keluarga penderita perilaku
kekerasan di unit rawat inap RSKD Prov.
Sul-Sel 2013
Pendidikan
Tidak sekolah
SD
SLTP
SMA
Strata 1/pasca
sarjana
Jumlah
n
2
12
8
7
(%)
6.1
36.4
24.2
21.2
4
12.1
33
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 5.3 menunjukan bahwa sebagian
besar kelompok pendidikan responden
terbanyak yaitu SD sebanyak 12 orang
(36.4%) dan kelompok pendidikan terendah
128
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 4 menunjukan bahwa sebagian
besar kelompok pekerjaan responden
terbanyak yaitu IRT sebanyak 13 orang
(39.4%) dan kelompok pekerjaan terendah
yaitu petani dan honorer, masing-masing 1
orang (3,0%).
Tabel 5. Distribusi responden berdasarkan
tingkat pengetahuan keluarga penderita
perilaku kekerasan di unit rawat inap RSKD
Pro. Sul-Sel 2013
Tingkat
Pengetahuan
Baik
n
(%)
13
39.40
Cukup
Kurang
Jumlah
5
15
33
15.15
45.45
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 5 menunjukan bahwa sebagian
besar tingkat pengetahuan memahami
keluarga masih kurang yaitu sebanyak 15
orang (45.45%), sedangkan terendah
dengan kategori cukup sebanyak 5 orang
(15.15%), pemahaman baik sebanyak 13
orang (39.40%).
Tabel 6. Distribusi responden berdasarkan
sikap menerima keluarga penderita perilaku
kekerasan di unit rawat inap RSKD Prov.
Sul-Sel 2013
Sikap
n
(%)
Menerima
Positif
22
66.67
Negatif
11
33.33
Jumlah
33
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 6 menunjukan bahwa sebagian
besar keluarga yang memiliki sikap positif
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
sebanyak 22 orang (66.67%), sedangkan
sebagian kecil keluarga yang memiliki sikap
negatif sebanyak 11 orang (33.33%).
Tabel 7. Distribusi responden berdasarkan
sikap merespon keluarga penderita perilaku
kekerasan di Unit rawat inap RSKD Prov.
Sul-Sel 2013
Sikap Merespon
n
(%)
Positif
Negatif
Jumlah
27
6
33
81.81
18.19
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 7 menunjukan bahwa sebagian
besar keluarga yang memiliki sikap
merespon positif sebanyak 27 orang
(81.81%), sedangkan sebagian kecil
keluarga yang memiliki sikap merespon
negatif sebanyak 6 orang (18.19%).
Tabel 8. Distribusi Responden perilaku
kekerasan di unit rawat inap RSKD Provinsi
Sul-Sel 2013
Pasien PK
Agresif
Tidak agresif
Jumlah
n
19
14
33
(%)
57.58
42.42
100
Sumber : Data Primer 2013
Tabel 8 menunjukan bahwa sebagian
besar pasien yang perilaku kekerasan yang
mengalami agresif yaitu sebanyak 19 orang
(57.58%), sedangkan sebagian kecil yang
tidak agresif sebanyak 14 orang (42.42%).
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk
mendapatkan gambaran tentang apakah
ada hubungan antara variabel independent
dengan variabel dependent
Tabel 9. Distribusi hubungan pengetahuan
memahami keluarga dengan pasien
perilaku kekerasan di unit rawat inap
RSKD.Prov.Sulsel.2013
Pasien PK
Tingkat
Tidak
Total
Agresif
pengetahuan
agresif
memahami
n
%
n
%
n
%
Baik
7 36.8 6 42.8 13 39.4
Cukup
3 15.8 2 14.4 5 15.1
Kurang
9 47.4 6 42.8 15 45.5
Jumlah
19 100 14 100 33 100
 -Value = 0.048
Sumber : Data Primer 2013
Berdasarkan
Tabel
9
diatas
menunjukan bahwa tingkat Pengetahuan
memahami, dengan data kurang terdapat
sebanyak 9 orang (47,36%) dengan pasien
perilaku kekerasan agresif dan 2 orang
(14,4%) dengan pasien perilaku kekerasan
tidak
agresif.
Sedangkan
tingkat
pengetahuan keluarga dengan kategori
cukup sebanyak 3 orang (15,79%) dengan
pasien perilaku kekerasan tidak agresif
sebanyak 2 orang (14,4%)
Hal ini di
tunjukan melalui hasil uji statistik chi square
bahwa terdapat hubungan antara tingkat
pemahaman keluarga dengan pasien
perilaku kekerasan. Dimana nilai  = 0,048
(α < 0,05).
Tabel 10. Hubungan sikap menerima
keluarga dengan pasien perilaku kekerasan
di unit rawat inap RSKD Prov. Sul-Sel 2013
Pasien PK
Sikap
Menerima
Positif
Negatif
Jumlah
Agresif
n
14
7
21
Tidak agresif
%
n
%
66.67 8 66.67
33.33 4 33.33
100 12 100
 -Value = 0.234
Total
n
%
22 66.67
11 33.33
33 100
Sumber : Data Primer 2013
Berdasarkan
Tabel
10
diatas
menunjukan bahwa sebagian besar
keluarga yang memiliki sikap menerima
dengan kategori positif terdapat sebanyak
14 orang (66.67%) dengan pasien perilaku
kekerasan agresif dan 8 orang (66,66%)
dengan pasien perilaku kekerasan tidak
agresif. Sedangkan sebagian kecil keluarga
yang memiliki sikap menerima dengan
kategori negatif terdapat sebanyak 7 orang
(33,33%) dengan pasien perilaku kekerasan
tidak agresif sebanyak 4 orang (33,33%)
Hal ini di tunjukan melalui hasil uji statistik
chi square bahwa terdapat tidak ada
hubungan antara sikap menerima keluarga
dengan pasien perilaku kekerasan. Dimana
nilai  =0, 234 (α > 0,05).
Tabel 11 : Hubungan sikap merespon
keluarga dengan pasien perilaku kekerasan
di unit rawat inap RSKD Prov.Sul-Sel 2013
Pasien PK
Tidak
Agresif
agresif
n
%
n
%
Positif
18 81.81 9 81.81
Negatif
4 18.19 2 18.19
Jumlah
22 100 11 100
 -Value = 0.103
Sumber : Data Primer 2013
Sikap
Merespon
Total
N
%
27 81.81
6 18.19
33 100
129
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
Berdasarkan Tabel 5.11 diatas
menunjukan bahwa sebagian besar
keluarga yang memilki sikap merespon
dengan kategori positif terdapat sebanyak
18 orang (81.81%) dengan pasien perilaku
kekerasan agresif dan 9 orang (81.81%)
dengan pasien perilaku kekerasan tidak
agresif. Sedangkan sebagian kecil keluarga
yang memiliki sikap menerima dengan
kategori negatif terdapat sebanyak 4 orang
(18,19%) dengan pasien perilaku kekerasan
tidak agresif sebanyak 2 orang (18.19%),
Hal ini di tunjukan melalui hasil uji statistik
chi square bahwa terdapat tidak ada
hubungan antara sikap menerima keluarga
dengan pasien pasien perilaku kekerasan.
Dimana nilai  = 0,103 (α > 0,05).
PEMBAHASAN
1. Hubungan pemahaman keluarga dengan
pasien perilaku kekerasan
Dari hasil uji statistik chi squre
diperoleh nilai α < 0,05 dan nilai  = 0.048,
ini berarti bahwa ada hubungan bermakna
antara pemahaman keluarga dengan
pasien
perilaku
kekerasan.
dalam
pengertian dari hasil uji statistik Ho ditolak
dan Ha diterima.
Dari hasil penelitian diperoleh
bahwa pemahaman keluarga dengan
pasien perilaku kekerasan dinyatakan
kurang 15 (45,45%) dari 33 orang yang
dijadikan responden, hal ini menunjukan
bahwa sebagian besar keluarga memiliki
tingkat pemahaman yang kurang
Hal tersebut sesuai dengan Teori
lyus,y
(2009),
menyatakan
bahwa
pengetahuan memiliki pengaruh yang besar
terhadap penyakit gangguan jiwa makin
rendah pengetahuan tentang gangguan jiwa
untuk individu, keluarga, dan masyarakat .
makin besar pula gejala timbulnya pada
pasien. Sebaliknya pengetahuan yang baik
tentang gangguan jiwa akan membantu
masyarakat dalam mengatasinya.
Menurut peneliti hal ini terlihat dari
beberapa kuesioner tentang pengetahuan
kurang baik terhadap keluarga pasien
tentang pasien perilaku kekerasan. Dari
jawaban responden yang menjawab kurang
baik
diantaranya
responden
yang
menjawab tentang apa penyebab pasien
menderita perilaku kekerasan adalah
penyakit kutukan dari tuhan yaitu sebanyak
15 orang (45,45%). Seharusnya keluarga
menyadari bahwa penyebab timbulnya
penyakit perilaku kekerasan disebabkan
oleh faktor genetika.
130
2. Hubungan sikap menerima keluarga
dengan pasien perilaku kekerasan
Dari hasil uji statistik chi squre
diperoleh nilai α < 0,05 dan nilai  = 0,234,
ini berarti bahwa tidak ada hubungan
bermakna antara sikap menerima keluarga
dengan pasien perilaku kekerasan. dalam
pengertian dari hasil uji statistik Ho diterima
dan Ha ditolak
Dari hasil penelitian diperoleh
bahwa sikap mernerima keluarga dengan
pasien perilaku kekerasan dinyatakan
positif sebanyak 14 orang (66.67%) dari 33
orang yang dijadikan responden, hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar
keluarga memiliki sikap menerima yang
positif terhadap pasien perilaku kekerasan.
Sementara dari hasil penelitian ini
diketahui bahwa sebagian responden
mempunyai sikap yang positif lebih banyak
dari pada yang negatif , Hal ini kemungkinan
dapat dipengaruhi oleh faktor kepedulian
dan rasa cinta dari keluarga terhadap
pasien tersebut.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh
teori notoatmodjo (2007) sikap adalah
sebagai pengalaman yang dihasilkan
melalui panca indera, setiap orang
mempunyai sikap yang berbeda meskipun
mengamati objek yang sama, perubahanperubahan perilaku dalam diri seseorang
dapat diketahui melalui sikap.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian Tri wahyuningsi (2007), yang
menyatakan bahwa salah satu penyebab
terjadinya kekambuhan pada pasien
dengan gangguan perilaku kekerasan
adalah karena ketidak tahuan dan sikap
tidak peduli keluarga tentang cara merawat
pasien dirumah .
Menurut peneliti hal ini terlihat dari
beberapa kuesioner dengan jawaban
responden yang memiliki sikap positif lebih
banyak dari pada jumlah responden yang
menjawab negatif. Dari jawaban responden
yang menjawab positif sebagian besar
responden tahu bahwa pasien perilaku
kekerasan tidak boleh dikucilkan
dan
sebagian besar
keluarga menerima
keadaan klien yaitu sebanyak 14 orang
(66.67%).
Dalam penelitian ini diketahui
bahwa pengetahuan responden tentang
perilaku kekerasan sebagian besar adalah
positif, hal ini dikarenakan adanya
responden yang kurang memahami tentang
pengertian perilaku kekerasan , tanda dan
gejala perlaku kekerasan dan cara
perawatan pasien ini terbukti dari 33
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
responden
hampir
sebagian
besar
responden yaitu 7 respendon kurang
memahami tentang perilaku kekerasan.
Untuk hal tersebut maka peneliti
mengupayakan dengan cara memberikan
penyuluhan
tentang penyakit perilaku
kekerasan , sikap positif dari petugas
kesehatan juga dapat meningkatkan
pelayanan yang baik sehingga keluarga
mendapatkan informasi mengenai penyakit
perilaku kekerasan.
3. Hubungan sikap merespon keluarga
dengan pasien perilaku kekerasan
Dari hasil uji statistik chi squre
diperoleh nilai α < 0,05 dan nilai  = 0,103,
ini berarti bahwa tidak ada hubungan
bermakna antara sikap merespona keluarga
dengan pasien perilaku kekerasan. dalam
pengertian dari hasil uji statistik Ho diterima
dan Ha ditolak
Dari hasil penelitian diperoleh
bahwa sikap merespon keluarga dengan
pasien perilaku kekerasan dinyatakan
positif sebanyak 18 orang (81.81%) dari 33
orang yang dijadikan responden, hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar
keluarga memiliki sikap menerima yang
baik.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh
teori notoatmodjo (2007) sikap adalah
sebagai pengalaman yang dihasilkan
melalui panca indera, setiap orang
mempunyai sikap yang berbeda meskipun
mengamati objek yang sama, perubahanperubahan perilaku dalam diri seseorang
dapat diketahui melalui sikap.
Hasil penelitian ini diperkuat oleh
teori Notoatmodjo (2010) sikap positif
terhadap nilai-nilai kesehatan tidak selalu
terwujud dalam suatu tindakan nyata. Hal ini
disebabkan oleh beberapa alasan, antara
lain :
a. Sikap akan terwujud di dalam suatu
tindakan tergantung pada situasi saat
itu. Misalnya, seorang ibu yang
anaknya
sakit,
segera
ingin
membawanya ke puskesmas, tetapi
pada saat itu tidak mempunyai uang
sepeser pun sehingga ia gagal
membawa anaknya ke puskesmaas.
b. Sikap akan di ikuti atau tidak di ikut
ioleh tindakan yang mengacu kepada
pengalaman orang lain. Misalnya,
seorang ibu tidak mau membawa
anaknya yang sakit keras ke rumah
sakit, meskipun ia mempunyai sikap
yang positif terhadap RS, sebab ia
c.
teringat akan anak tetangganya yang
meninggal setelah beberapa hari di RS.
Sikap diikuti atau tidak diikuti oleh
suatu tindakan berdasarkan pada
banyak atau sedikitnya pengalaman
seseorang.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan
sementara maka dapat di tarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Ada hubungan antara
pemahaman
keluarga dengan pasien perilaku kekerasan
di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi
Sulawesi-Selatan yang dibuktikan dengan
hasil uji statistik chi squre diperoleh nilai α <
0,05 dan nilai  = 0.048.
2. Tidak ada hubungan antara sikap menerima
keluarga dengan pasien perilaku kekerasan
di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi
Sulawesi-Selatan yang dibuktikan dengan
hasil uji statistik chi squre diperoleh nilai α >
0,05 dan nilai  =0,234.
3. Tidak ada hubungan antara sikap merespon
keluarga dengan pasien perilaku kekerasan
di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi
Sulawesi-Selatan yang dibuktikan dengan
hasil uji statistik chi squre α > 0,05 dan nilai
 = 0,103..
Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan di
atas,maka penulis dapat memberikan saran
sebagai berikut :
1. Bagi keluarga pasien
Kepada keluarga diharapkan lebih
berperan aktif dalam mengikuti kegiatan
penyuluhan yang biasa dilakukan pada
rumah sakit sehingga dapat meningkatkan
pengetahuan dan sikap keluarga terhadap
penderita perilaku kekerasan
2. Bagi pihak RSKD Prov. Sulsel
Sebagai
masukan
untuk
bahan
pertimbangan bagi Rumah Sakit Khusus
Daerah Provinsi Sulawesi-Selatan dalam
memberikan asuhan keperawatan pada
pasien Perilaku kekerasan di Rumah Sakit
Jiwa kiranya dapat memberikan informasi
atau pengetahuan kepada keluarga dalam
menangani pasien perilaku kekerasan
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Memahami banyak hal tentang perilaku
kekerasan sehingga dapat meneliti
variabel lain yang berhubungan dengan
perilaku kekerasan. Dengan demikian
seluruh variabel yang berhubungan
dengan
perilaku
kekerasan
dapat
dituntaskan.
131
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
DAFTAR PUSTAKA
Aqib Zainal, (2013). Konseling Kesehatan Mental, Bandung : Yrama Widya.
Azwar Saifuddin, (2012). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Depkes RI. 2010. Riset kesehatan dasar Jakarta: Direktorat kesehatan jiwa.
Fitria Nita, (2009). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan, Jakarta : Salemba Medika
Hartono Yudi dan Kusumawati Farida, (2012). Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba Medika
Hidayat Alimul Azis. A, (2013). Metode Penelitian Keperawatan dan Tehnik Analisis Data, Jakarta : Salemba
Medika
http://fourseasonnews.blogspot.com/2012/05/cara-memperolehpengetahuan-menurut.html
http://duniabaca.com/definisi-pengetahuan-serta-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pengetahuan.html.
http://ilmukeperawatan.blogspot.com/2011/05/tinjauan-teori-perilaku-kekerasan.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/32281/3/Chapter%20II.pdf
http://ispendimantari.blogspot.com/2012/05/gambaran-pengetahuan-dan-sikap-keluarga.html
Lubis Lumangga Namora dan Pleter Zan Herri, (2011). Pengantar Psikologi Dalam keperawatan, Jakarta :
Kencana
Muhith Abdul dan Nasir Abdul, (2011). Dasar – Dasar Keperawatan Jiwa, Jakarta : Salemba medika.
Notoatmodjo, S. (2007)., Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta.
Riyanto Agus, (2011). Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan, Yogyakarta : Muha Medika
Soekidjo Notoatmodjo, (2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugiyono. 2008. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta
Suyanto, (2011), Metodoligi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan, Yogyakarta : Muha Medika
Wahyuningsi Tri (2011),Gambaran Pengetahuan Dan Sikep Keluarga Terhadap Pasien Skizoprenia Di Rumah
Sakit Jiwa Jambi, FKI- UI
Yosep Iyus, (2010), Keperawatan Jiwa, Bandung : PT Refika Aditama
132
Volume 3 Nomor 5 Tahun 2013 ● ISSN : 2302-1721
Download