9 BAB 2 LANDASAN KONSEPTUAL 2.1 Penelitian

advertisement
BAB 2
LANDASAN KONSEPTUAL
2.1
Penelitian Sebelumnya (State of The Art)
Dalam, penelitian ini terdapat 6 jurnal sebelumnya yang digunakan sebagai referensi penelitian. Jurnal sebelumnya yang digunakan
tersebut terdiri dari 3 jurnal nasional dan 3 jurnal internasional. Keenam jurnal yang ada dalam penelitian ini merupakan penelitian yang menjadi
acuan dalam menganalisis unsur-unsur yang terdapat pada professional attire awak kabin Garuda Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori
semiotika Roland Barthes dalam menguraikan makna-makna denotative, konotative dan mitos yang terdapat pada setiap unsurnya. Jurnal yang
dikemukakan oleh Rina Patriana menggunakan teori semiotika. Sedangkan jurnal Dominikus Tulasi juga menggunakan teori semiotika Roland
Barthes dalam menguraikan makna denotative dan konotative subjek penelitiannya. Jurnal Mia Angeline dan jurnal internasional yang digunakan
berhubungan dengan professional attire dalam dunia professional. Berikut adalah penjelasan dari jurnal sebelumnya yang digunakan:
Tabel 2.1 State of The Art
NO
Tahun
Judul
Nama
Hasil
Perbandingan :
1.
Jurnal
Semiotika Batik
Rina Patriana
Mengetahui bagaimana konsep-
Jurnal ini juga melakukan analisis
Humaniora
Larangan di
Chairiyani
konsep semiotika diterapkan dalam
pada pakaian.Penelitian ini
2 Oktober
Yogyakarta.
bidang seni dan kehidupan budaya
menggunakan analisis semiotika.
masyarakat Yogyakarta.
Namun penelitian ini hanya berfokus
2014
9
10
Mengetahui bagaimana makna dari
menganalisis semiotik motif batik,
setiap jenis motif yang termasuk ke
tidak termasuk warna dan bentuk
dalam jenis motif Batik Larangan
pakaiannya.
Yogyakarta.
Adapun batik yang sekaligus
merupakan batik larangan sesuai
dengan peraturan Sultan Hamengku
Buwono VIII adalah: (1) Parang
Rusak Barong, (2) Parang Rusak
Gendreh, (3) Parang Rusak Klitik, (4)
Semen Gede Swat Gruda, (5) Semen
Gede Swat Lat, (6) Udan Riris, (7)
Rujak Sente, (8) Parang-parangan.
Pada dasarnya Batik
Larangan adalah batik-batik tertentu
yang dilarang pemakaiannya untuk
masyarakat umum dan hanya
khusus diperuntukkan bagi kalangan
terbatas dalam masyarakat keraton
saja.
11
2.
Jurnal
Semiotika Atribut
Dominikus
Mengetahui makna pemakaian busana
Jurnal ini melakukan analisis
Humaniora
Sebagai Pesan
Tulasi
batik yang merupakan bagian dari
semiotika terhadap busana atau
2 Oktober
Komunikasi :
atribut yang dikenakan oleh ibu-ibu
pakaian. Menggali makna denotative
2014
Studi Kasus
anggota DPR RI. Mengetahui bahwa
dan makna konotatif pada subjek
Atribut Ibu
ternyata dalam memilih busana yang
penelitian. Dalam penelitian ini
Anggota DPR RI.
dikenakan, para ibu-ibu tersebut
dikatakan bahwa gaya personal
diperngaruhi oleh latar belakang
membentuk citra professional
mereka masing-masing. Dalam
seseorang.
penelitian ini latar belakang tersebut
dibagi menjadi 3, yaitu : kelompok
ibu-ibu berlatar belakang dari desa
yang kesehariannya bergumul dengan
hidup dan kehidupan yang sederhana.
Kedua, adalah kelompok yang berlatar
belakang keluarga terdidik (educated
people). Ketiga, kelompok yang
berlatar belakang pedagang, seniman,
artis, dan pebisnis. Dirunut dalam
konteks paham semiotika struktural,
dan direlasikan dengan pakaian batik
12
yang dikenakan ibu-ibu anggota
dewan dari ketiga kelompok yang
disebutkan sesungguhnya adalah
manifestasi dan aktualisasi budaya
lokal, yang dapat bermakna denotatif
dan konotatif sekaligus. Dalam
konteks ini berbusana batik sebagai
totalitas dalam tatanan berbusana,
menampakkan kecintaan ibu-ibu
anggota dewan perwakilan rakyat
pada budaya lokal yang memiliki
makna dan keluhuran nilai.
3.
Mengetahui pentingnya gaya personal
Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa
Matter Personal
dalam dunia professional (pekerjaan)
komunikasi interpersonal lebih cocok
Oktober
Style VS
dan dampak gaya personal dalam citra
menentukan citra profesional dan
2013
Professional
professional. Persepsi bahwa gaya
bukan gaya personal.
Image
personal penting dalam pekerjaan
Jurnal
Image Does
Humaniora
Mia Angeline
karena terkait dengan relasi dan
retensi konsumen, serta mendapatkan
persetujuan rekan kerja dan sosial
13
secara umum. Namun
kepentingan ini terbagi berdasarkan
industri pekerjaan. Industri kreatif
lebih mementingkan
authencity, yaitu gaya personal yang
menggambarkan karakter diri
sehingga memberikan kesan
kreatif. Sedangkan untuk industri
lainnya lebih mementingkan
kredibilitas dalam gaya personal, yaitu
menahan karakter diri dan
menyesuaikan dengan lingkungan agar
mendapat persetujuan sosial dan
mendapatkan benefit profesional.
Perbedaan ini disebabkan karena
persepsi mengenai profesionalitas
berbeda antarindustri. Kedua, gaya
personal disepakati sangat berdampak
pada citra profesionalitas.
Hal yang terkait dengan jawaban ini
14
adalah citra perusahaan, dimana citra
perusahaan selain digambarkan oleh
produk juga digambarkan oleh para
karyawan dalam perusahaan tersebut.
Karyawan yang baik selain dapat
menggambarkan citra profesional juga
dapat menggambarkan citra
perusahaan melalui gaya personalnya.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa
citra perusahaan harus lebih
diprioritaskan daripada gaya personal.
4.
Journal
Children's
Paediatric
perspective on the Iti Garg,
Dentistry
dentist's attire
April 2013
Anup Panda,
The study found that majority of
Dalam jurnal penelitian ini meneliti
children preferred dental professionals
professional attire. Gaya personal
Anamaya P.
to wear traditional formal attire with a
tidak membentuk citra professional
Bhobe.
white coat and name badge. They
seoseorang.
preferred the use of plain masks and
white gloves but disliked protective
eyewear or headcaps. Most children
liked dentists with closed shoes and no
jewellery but preferred the use of a
15
wrist watch.
5.
Journal
Hospitality
Manageme
nt
November
2011
What is
professional attire
today? A conjoint
Tanya
Personal presentation attributes have
Dalam penelitian ini, gaya personal
Ruetzel, Jim
long been understood to affect
seseorang dapat berhasil membentuk
Taylor,Dennis perceptions of competence and
gaya professional seseorang saat
analysis of
personal
presentation
attributes.
Reynolds,
capabilities. To that end, this study
melakukan pekerjaan.
William
investigates seven attributes associated
Baker, Claire
with favorable interview presentation,
Killen.
including overall physical
attractiveness, neatness and grooming,
clothing color, conservative versus
trendy attire, professional versus
casual attire, and body modification
(including tattoos and piercings).
Participants (n = 108), including
students, faculty, and hospitality
industry professionals, sorted an
orthogonal array of 16 full-color,
laminated cards that contained photos
so that respondents could see levels of
clothing color, clothing
16
conservativeness, and degree of
professional attire. The remaining
attributes and their corresponding
levels were shown on respective
analog indicators. The conjoint
analysis results indicate that grooming
and professional attire are the most
important attributes in shaping
favorable perceptions. Furthermore,
faculty perceived conservative
clothing to be better while students
and industry professionals indicated
that trendy clothing creates a more
favorable presentation on the part of a
job candidate.
6.
Journal of
Nursing
Practice
Augustus
2013
Patient perception Caroline Porr
PhD RN
of contemporary
Assistant
nurse attire: A
Professor,
pilot study.
Doree
Patients have expressed difficulty
Gaya personal tidak membentuk citra
accurately distinguishing registered
professional dalam pekerjaan. Gaya
nurses (RNs) from other hospital
personal dianggap tidak professional
personnel because standardized
dalam dunia pekerjaan sehingga
uniforms are no longer worn by RNs.
membuat konsumen menjadi sulit
17
n Dawe MSc
RN
Associate
Professor,
Nicol
e Lewis MN
RN Lecturer,
Rober
t J Meadus
PhD RN
Associate
Professor,
Nicol
e Snow
PhD(c) RN
Nurse
Educator and
Paula
Didham
MAdEd RN
Nurse
Educator.
According to American studies, such
untuk membedakan mana pihak yang
complaints are widespread; moreover,
professional mana yang bukan.
patients’ perceptions of nurse caring
and competence and of other traits
associated with nurses’ professional
image have been negatively affected
by casual, non-conventional attire. As
there are no published Canadian
studies, we conducted a pilot study to
examine patient perception of the
nurse uniform. Adult patients viewed
photographs of the same RN dressed
in eight different uniforms and rated
each uniform according to 10 traits
associated with nurses’ professional
image. The white pantsuit scored
higher for professionalism than
uniforms with small print, bold print,
or solid colour, and most patients
preferred that the RN dress in white.
18
Our preliminary findings suggest that
RN attire warrants further
investigation, and we are planning a
large-scale, fully powered study to
inform patient-driven change to
existing uniform policies.
19
2.2
Landasan Konseptual
2.2.1 Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi (organizational communication) merupakan
komunikasi yang terjadi di dalam dan di antara lingkungan yang besar dan
luas. Komunikasi organisasi mempunyai jenis yang sangat bervariasi karena
komunikasi organisasi juga meliputi komunikasi interpersonal (percakapan
antara atasan dan bawahan), kesempatan untuk berbicara di depan public
(presentasi di hadapan para eksekutif perusahaan), kelompok kecil (kelompok
yang membuat laporan), dan komunikasi menggunakan media. Oleh karena
itu, organisasi terdiri atas kelompok yang diarahkan oleh tujuan akhir yang
sama (West & H.Turner, 2008).
Dalam sebuah organisasi, pakaian merupakan aspek penting yang
harus diperhatikan. Pakaian dapat menjadi identitas bagi sebuah organisasi.
Pakaian yang dikenakan oleh anggota organisasi bukan lagi sekedar penutup
tubuh namun pakaian tersebut mempresentasikan identitas organisasi itu
sendiri. Sehingga ketika orang lain melihat pakaian yang dikenakan oleh
anggota organisasi, orang lain tersebut akan langsung dapat mengingat
identitas dari organisasi tersebut.
2.2.2 Komunikasi Nonverºl
Komunikasi nonverbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan
menggunakan pesan-pesan nonverbal. Pesan-pesan yang diekspresikan
dengan sengaja atau tidak sengaja melalui gerakan-gerakan, tindakantindakan, perilaku atau suara-suara atau vocal yang berbeda dari penggunaan
kata-kata dalam bahasa verbal. Istilah nonverbal biasanya digunakan untuk
melukiskan semua peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis
(Dasrun Hidayat, 2012).
Menurut Pace dan Faules (dalam Mulyana, 2007) terdapat dua bentuk
umum tindakan yang dilakukan orang yang terlibat dalam komunikasi, yaitu
penciptaan pesan dan penafsiran pesan. Pesan disini tidak harus berupa katakata, namun bisa juga merupakan pertunjukkan (display), termasuk pakaian,
20
perhiasan, dan hiasan wajah, atau yang lazimnya disebut pesan nonverbal
(Mulyana, 2007:65).
Pesan nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut
Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (dalam Mulyana, 2007), komunikasi
nonverbal mencakup semua rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam
suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan
lingkungan oleh individu yang mempunyai nilai potensial bagi pengirim atau
penerima. Definisi tersebut mencakup perilaku yang disengaja ataupun tidak
disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan. Kita
mengirim banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan-pesan
tersebut bermakna bagi orang lain (Mulyana, 2007).
Adapun salah satu jenis pesan nonverbal adalah pakaian. Sebagian
orang berpandangan bahwa pilihan seseorang atas pakaian mencerminkan
kepribadiannya. Pada kenyataannya, tidak dapat dipungkiri bahwa pakaian
digunakan untuk meproyeksikan citra tertentu yang diinginkan pemakaiannya
(Mulyana, 2007). Dalam peribahasa Latin “Uestis uirium reddit” yang berarti
pakaian menjadikan orang. William Throulby dalam bukunya You Are What
You Wear : The Key to Business Success (dalam Mulyana,2007) menekankan
pentingnya pakaian demi keberhasilan bisnis.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
komunikasi nonverbal pada dasarnya merupakan komunikasi tanpa kata-kata.
Pesan dalam komunikasi nonverbal dapat berupa pakaian. Orang professional
berpakaian bukan hanya sekedar untuk menutupi tubuh atau asal pantas,
namun juga berusaha menciptakan kesan yang positif pada orang lain. Maka
sebetulnya tanpa disadari bahwa ketika individu mengenakan pakaian
individu tersebut sedang melakukan komunikasi dan memberikan makna bagi
orang lain melalui pakaiannya.
2.2.3
Semiotika
Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, semeion yang
berarti “tanda” (Sudjiman dan Van Zoest 1996 dalam Sobur, 2009) atau seme
yang berarti “penafsir tanda” (Cobley dan Jansz 1999 dalam Sobur, 2009).
21
Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika,
dan poetika (Kurniawan, 2001). “Tanda” pada masa itu masih bermakna
sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandai
adanya api.
Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata, kalimat,
tidak memiliki arti pada dirinya sendiri.Tanda-tanda itu hanya mengemban
arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya. Pembaca itulah yang
menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan (signifie) sesuai dengan
konvensi dalam sistem bahasa yang bersangkutan. Dalam penelitian sastra,
misalnya, kerap diperhatikan hubungan sintaksis antara tanda-tanda
(strukturalisme) dan hubungan antara tanda dan apa yang ditandakan (Sobur,
2009).
Tanda adalah segala sesuatu- warna, isyarat, kedipan mata, objek,
rumus matematika dan lain-lain- yang mempresentasikan sesuatu yang lain
selain dirinya. Kata red, seperti yang telah dilihat dikategorikan sebagai tanda
karena ia bukan mempresentasikan bunyi r-e-d yang membangunnya,
melainkan sejenis warna dan hal lainnya (Danesi, 2012).
Littlejohn 1996 dalam Sobur, (2009) mengatakan bahwa tanda-tanda
(signs) adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan
tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal
bisa dikomunikasikan di dunia ini.
Sebuah teks, apakah itu surat cinta, makalah, iklan, cerpen, puisi,
pidato presiden, poster politik, komik, kartun, dan semua hal yang mungkin
menjadi “tanda” bisa dilihat dalam aktivitas penanda: yakni, suatu proses
signifikasi yang menggunakan tanda yang menghubungkan objek dan
interpretasi (Sobur, 2009).
Dalam bukunya yang berjudul Theories of Human Communication
Stephen W. Littlejohn mengatakan bahwa suatu tanda menandakan sesuatu
selain dirinya sendiri, dan makna (meaning) ialah hubungan antara suatu
objek atau idea dan suatu tanda. Konsep dasar ini mengikat bersama
seperangkat teori yang amat luas berurusan dengan bahasa, wacana, dan
bentuk-bentuk nonverbal, teori-teori yang menjelaskan bagaimana tanda
berhubungan dengan makna- nya dan bagaimana tanda disusun.Secara
22
umum, studi tentang tanda merujuk kepada semiotika. Semiotika
meruopakan sebuah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur,
2009).
Dengan tanda-tanda kita mencoba mencari keteraturan di tengahtengah dunia yang centang-penerang ini, setidaknya agar kita sedikit punya
pegangan. “Apa yang dikerjakan oleh semiotika adalah mengajarkan kita
bagaimana menguraikan aturan-aturan tersebut dan ‘membawanya pada
sebuah kesadaran’,” ujar Pines dalam Berger, (2000).
Dengan semiotika, kita lantas berurusan dengan tanda. Semiotika,
seperti kata Lechte dalam Sobur, (2009), adalah teori tentang tanda dan
penandaan. Lebih jelasnya lagi, semiotika adalah suatu disiplin yang
menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs
‘tanda-tanda’ dan berdasarkan pada sign system (code) ‘sistem tanda’
(Segers, 2000:4 dalam Sobur, 2009). Hjelmslev dalam Sobur, (2009)
mendefinisikan tanda sebagai “suatu ke- terhubungan antara wahana
ekspresi (expression plan) dan wahana isi (content plan)”. Cobley dan
Jansz (1999:4 dalam sobur, 2009) menyebutnya sebagai “discipline is
simply the analysis of signs or the study of the functioning of sign systems”
(ilmu analisis tanda atau studi tentang bagaimana sistem penandaan
berfungsi). Charles Sanders Peirce dalam Sobur, (2009) mendefinisikan
semiosis sebagai “a relationship among a sign, an object and a meaning
(suatu hubungan antara tanda, objek dan makna).
Secara etimologis, istilah semiotika berasal dari kata Yunani
Semeion yang berarti tanda. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu
yang dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya – dapat dianggap
mewakili sesuatu yang lain (Wibowo, 2011).
Kehidupan intelektual dan sosial manusia didasarkan pada
pengasilan, penggunaan dan pertukaran tanda. Saat kita membuat isyarat,
berbicara, menulis, membaca, menonton acara TV, mendengarkan music,
melihat lukisan kita tengah melakukan penggunaan dan penafsiran tanda.
Dengan tanda-tanda, kita mencoba mencari keteraturan di tengah-tengah
dunia yang centang-perenang ini, setidaknya agar kita sedikit punya
pegangan. “Apa yang dikerjakan oleh semiotika adalah mengajarkan kita
bagaimana menguraikan aturan-aturan tersebut dan ‘membawanya pada
23
sebuah kesadaran’’ ujar Pines (Berger, 2010).
Kajian semiotika sampai sekarang telah membedakan dua jenis
semiotika, yakni semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi (lihat
antara lain Eco, 1979:8-9; Hoed, 2001:140).Yang pertama menekankan
pada teori tentang produksi tanda yang salah satu di antaranya
mengasumsikan adanya enam 23imula dalam komunikasi, yaitu pengirim,
penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan (hal
yang dibicarakan) (Jakobson, 1963, dalam Hoed 2001:140).Yang kedua
memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu
konteks tertentu (Sobur, 2009). Pada jenis yang kedua, tidak dipersoalkan
adanya tujuan berkomunikasi. Sebaliknya, yang diutamakan adalah segi
pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerima tanda
lebih diperhatikan daripada proses komunikasinya (Sobur, 2009).
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
semiotika selalu berhubungan dengan tanda dan makna. Segala sesuatu
yang berupa tanda mempunyai makna. Makna dalam setiap tanda dapat
ditelaah melalui ilmu semiotika. Satu hal yang perlu digarisbawahai dari
berbagai definisi di atas adalah para ahli melihat bahwa semiotika adalah
ilmu atau proses yang berhubungan dengan tanda. Ini berarti mempelajari
semiotika sama dengan kita mempelajari tentang berbagai tanda. Cara kita
berpakaian, apa yang kita makan dan cara kita bersosialisasi sebetulnya juga
mengkomunikasikan hal-hal mengenai diri kita dan dengan begitu dapat
kita pelajari sebagai tanda.
2.2.4
Semiotika Roland Barthes
Menurut Barthes (dalam Sobur,2009) Semiotika adalah suatu ilmu
atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda-tanda adalah perangkat
yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengahtengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika, atau dalam istilah
Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana
kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify)
dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to
communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa
24
informasi, dalam hal mana objek- objek itu hendak berkomunikasi, tetapi
juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1988:179;
Kurniawan, 2001:53 dalam Sobur, 2009).
Semiotika dan semiologi pada dasarnya memiliki arti yang sama.
Namun pemakaian salah satu istilah ini biasanya didasarkan pada pemikiran
pemakainya: mereka yang bergabung dengan Peirce menggunakan
kata
semiotika,
dan
mereka
yang
bergabung
dengan
Saussure
menggunakaan kata semiologi (Sobur, 2009).
Tujuan riset semiologis adalah merekonstitusi bagaimana sistemsistem signifikasi yang bukan language berfungsi, dengan mengikuti proyek
aktivitas strukturalis,
yaitu
membangun
suatu
objek-objek
yang
diamati (Barthes, 2007). Dengan demikian, Barthes melihat signifikasi
sebagai sebuah proses total dengan suatu susunan yang sudah terstruktur.
Signifikasi itu tidak terbatas pada bahasa,
tetapi
terdapat
juga
pada
hal-hal yang bukan bahasa. Barthes menganggap kehidupan sosial
sendiri
merupakan
suatu
bentuk
signifikasi. Dengan kata lain,
kehidupan sosial apapun bentuknya, merupakan suatu sistem tanda
tersendiri pula (Barthes, 2007).
Seragam merupakan sebuah tanda yang dikenakan oleh seluruh
awak kabin Garuda Indonesia. Seragam awak kabin tersebut merupakan
sebuah tanda yang telah didesain sedemikian rupa agar memiliki makna dan
dapat dimaknai oleh siapapun yang melihatnya. Penelitian ini melakukan
analisis semiotika pada professional attire awak kabin Garuda Indonesia.
Analisis semiotika yang digunakan adalah analisis semitoika Roland
Barthes.
2.2.5
Konotasi, Denotasi, Mitos
Makna denotasi pada dasarnya meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh
kata-kata (yang disebut sebagai makna referensial). Makna denotasi suatu
kata ialah makna yang biasanya kita temukan di dalam kamus, kata mawar
berarti ‘sejenis bunga’. Denotasi yang digunakan dalam penelitian ini
merupakan makna sebenarnya yang mengacu pada Kamus Bahasa
Indonesia (KBBI). Makna konotasi adalah makna denotasi ditambah
dengan segala gambaran, ingatan, dan perasaan yang ditimbulkan oleh kata
mawar itu. Kata konotasi berasal dari bahasa Latin connotare, “menjadi
25
tanda” dan mengarah kepada makna-makna yang terpisah/berbeda dengan
kata (dan bentuk-bentuk lain dari komunikasi) (Sobur, 2009). Arthur Asa
Berger (dalam Sobur,2009) mencoba membandingkan antara konotasi dan
denotasi sebagai berikut:
Tabel 2.3
Perbandingan antara Konotasi dan Denotasi
KONOTASI
DENOTASI
Pemakaian figure
Literature
Petanda
Penanda
Kesimpulan
Jelas
Memberi kesan tentang makna
Menjabarkan
Dunia mitos
Dunia keberadaan/eksistensi
Sumber : Sobur,2009:264
Mengabaikan dimensi dari bentuk dan subtansi, Barthes (dalam
Wibowo, 2011) mendefinisikan sebuah tanda (sign) sebagai sebuah sistem
yang terdiri dari (E) sebuah ekspresi atau signifier dalam hubungannya (R)
dengan content (atau Signified) ( C ) : ERC. Kemudian beliau melanjutkan
bahwa sebuah sistem tanda primer (primary sign system) dapat menjadi
sebuah elemen dari sebuah sistem tanda yang lebih lengkap dan memiliki
makna yang berbeda ketimbang semula.
Barthes (dalam Wibowo, 2011) menulis :
“Such sign system can become an element of a more comprehensive
sign system. If the extension is one of content, the primary sign (E1 R1 C1)
becomes the expression of a secondary sign system”. Apabila diterjemahkan
dapat berarti “Sistem tanda dapat menjadi elemen sistem tanda yang lebih
komperhensif. Apabila perluasan adalah salah satu dari konten, tanda primer
(E1 R1 C1) menjadi ungkapan dari sistem tanda kedua”.
E2 = ( E1 R1 C1 ) R2 C2
Dengan begitu, primary sign
adalah
denotative
sedangkan
secondary sign adalah satu dari conotative semiotics. Konsep connotative
inilah yang menjadi kunci penting dari model semiotika Roland Barthes.
26
Lewat model ini Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama
merupakan hubungan antara signifier (ekspresi) dan Signified (content) di
dalam sebuah tanda terhadap realitas external. Itu yang disebut Bathers
sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda (sign) (Wibowo, 2011).
Gambar 2.2.
Metode Semiotika Roland Barthes
Sumber : Wibowo, 2011:17
Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukan
signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan intraksi yang terjadi ketika
tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari
kebudayaan. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak
intersubjektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda
terhadap sebuah objek, sedangkan makna konotasi adalah bagaimana cara
menggambarkannya (Wibowo, 2011).
Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda
bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan
menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala
alam. Mitos merupakan produk kelas sosial yang sudah mempunyai suatu
dominasi. Mitos primitif, misalnya mengenai hidup dan mati, manusia dan
dewa. Sedangkan mitos masa kini misalnya mengenai femininitas,
maskulinitas, ilmu pengetahuan dan kesuksesan (Fiske, 1990 dalam Wibowo,
2011).
Dalam
ideologi,
yang
kerangka
Barthes,
disebutnya
konotasi
sebagai
‘mitos,
identik
dengan
operasi
dan
berfungsi
untuk
mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang
27
berlaku dalam suatu periode tertentu (Sobur, 2009). Mitos menurut wibowo
(2011) adalah suatu wahana dimana suatu idelogi berwujud. Mitos dapat
berangkai menjadi Mitologi yang memainkan peran penting dalam kesatuankesatuan budaya. Sedangkan Van Zoet (1991 dalam Wibowo, 2011)
menegaskan, siapapun bisa menemukan ideologi dalam teks dengan jalan
meneliti konotasi-konotasi yang terdapat di dalamnya.
Dalam pandangan Umar Yunus (1981 dalam Wibowo,2011)
dijelaskan bahwa mitos tidak dibentuk melalui penyelidikan, tetapi melalui
anggapan berdasarkan observasi kasar yang digeneralisasikan oleh karenanya
lebih banyak hidup dalam masyarakat. Ia mungkin hidup dalam ‘gosip’
kemudian ia mungkin dibuktikan dengan tindakan nyata. Sikap kita terhadap
sesuatu ditentukan oleh mitos yang ada dalam diri kita. Mitos ini
menyebabkan kita mempunya prasangka tertentu terhadap suatu hal yang
dinyatakan dalam mitos.
Dalam penelitian ini, setiap unsur desain yang ada pada professional
attire awak kabin Garuda Indonesia (bentuk, ukuran, warna, motif dan
tekstur) dianalisis dan dijabarkan makna denotasi, konotasi dan mitosnya.
Makna denotasi mengacu pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Sedangkan makna konotasi mengacu pada makna denotasi yang telah
bercampur dengan mitos. Mitos adalah produk sosial yang dominan. Dalam
penelitian ini hal yang paling dominan adalah culuture/kebudayaan Indonesia.
2.2.6 Semiotika Pakaian
Seperti objek atau artefak umum lainnya, kita menafsirkan pakaian
sebagai tanda yang mewakili hal-hal seperti kepribadian, status sosial dan
karakter keseluruhan si pemakai. Metode dasar Semiotika yaitu menanyakan
apa, bagaimana dan mengapa sesuatu memiliki makna yang kini dimilikinya,
berlaku pula pada pakaian (Danesi, 2012).
Pakaian dapat membentuk diri seseorang. Pakaian lebih dari sekedar
penutup badan demi perlindungan. Pakaian merupakan sistem tanda yang
saling terkait dengan sistem-sistem tanda lainnya dalam masyarakat dan
melaluinya kita dapat mengirimkan pesan tentang sikap kita, status sosial
kita, kepercayaan politik kita dan seterusnya (Danesi, 2012).
28
Pakaian memenuhi sejumlah fungsi bagi kita manusia termasuk
dekorasi, perlindungan fisik dan psikologis, daya tarik, pernyataan diri,
identifikasi kelompok dan menampilkan status atau peran. Karena pakaian
dikenakan di tubuh, dan karena tubuh merupakan tanda dari diri, Pakaian
dapat didefinisikan sebagai tanda yang memperluas makna dasar tubuh dalam
konteks budaya. Karena itu pakaian dan tubuh yang ditutupi olehnya disusupi
oleh signifikasi moral, sosial dan estetis (Danesi, 2012).
Pada level biologis, pakaian mempunyai fungsi yang sangat penting
yaitu meningkatkan kemampuan kita dalam bertahan hidup. Pakaian, dalam
level denotative ini adalah perluasan buatan manusia dari sumber
perlindungan tubuh; pakaian adalah tambahan bagi rambut dan ketebalan
kulit di tubuh kita yang berfungsi melindungi (Danesi, 2012). Salah satu
contoh jenis penanda pakaian yang ada dalam kode pakaian perempuan :
Tabel 2.4
Contoh Jenis Penanda Pakaian yang Ada dalam Kode Pakaian Perempuan
Kode Pakaian
Seleksi dan Pilihan
Blus
Warna lembut, lebih disukai putih
Jaket
Abu-abu, biru atau warna konservatif lainnya.
Rok atau celana
Warna harus sesuai dengan jaket
Sepatu
Lebih disukai hak tinggi atau separo tinggi
dan berwarna gelap
Sumber : (Danesi, 2012:206)
Pakaian dalam level denotative, adalah perluasan buatan manusia dari
sumber perlindungan tubuh; pakaian adalah tambahan bagi rambut dan
ketebalan kulit di tubuh kita yang berfungsi melindungi. Seperti yang
dikemukakan oleh Werner Enninger (1992:215 dalam Danasi, 2012); inilah
mengapa gaya pakaian bervariasi menurut geografi dan topografi. Namun
seperti halnya semua sistem buatan manusia, pakaian akan selalu memperoleh
selingkupan konotasi dalam latar sosial. Konotasi ini dibangun berdasarkan
berbagai kode pakaian (dress code- dari bahasa Prancis lama dresser,
“mengatur,mendirikan”)
yang
membantu
orang
bagaimana
seharusnya berpakaian dalam berbagai situasi sosial (Danesi, 2012).
mereka
29
Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pakaian
merupakan objek yang memiliki makna. Dalam prakteknya, pakaian bukan
hanya sebagai pentup badan, namun pakaian dapat menjadi penanda
seseorang dalam sebuah organisasi. Kita umumnya berasumsi bahwa orang
sadar akan apa yang mereka kenakan. Karena itu penggunaan pakaian
menjadi sumber informasi yang penting mengenai mereka. Inilah mengapa
seragam wajib dikenakan dalam kelompok-kelompok tertentu seperti awak
kabin PT. Garuda Indonesia Tbk. Seragam tersebut merupakan tanda atau
simbol yang memiliki makna di dalamnya. Seragam yang dipakai para awak
kabin dirancang dengan standarisasi agar makna yang ada di dalamnya dapat
diketahui oleh orang yang melihatnya.
2.2.7 Aspek-Aspek Visual Tanda-Tanda
Menurut Berger (2010) tidak semua tanda terlihat. Suara dapat
menjadi suatu tanda, begitu juga dengan bau, rasa, dan bentuk. Tetapi,
beberapa tanda mempunyai dimensi visual, dan karenanya amat penting
untuk mengetahui atau memahami variasi- variasi aspek visual dari tandatanda yang mungkin bisa dijadikan pertimbangan di berbagai analisis.
Berikut aspek – aspek visual tanda tersebut menurut Berger (2010) :
a. Penggunaan Warna
Perbedaan warna cenderung menimbulkan perbedaan emosi
(setidaknya di dunia Barat). Warna merah memberi kesan nafsu, bahaya,
panas dan terkait emosi. Warna biru menunjukkan suasana dingin, tenang dan
halus. Warna violet berhubungan dengan kekayaan dan kerajaan. Namun
demikian, tidak ada hubungan alamiah antara warna dan perasaan yang
digambarkan oleh warna itu (Inilah yang ingin diperdebatkan, lantaran ada
beberapa ketidaksepakatan). Di Barat misalnya, warna hitam kita gunakan
bila kita berduka cita, tetapi di luar kebudayaan Barat warna hitam berarti
sebagai tanda keletihan. Dalam beberapa hal, dalam menyampaikan pesan
yang lebih rinci misalnya, masalah kejernihan warna mungkin lebih penting
ketimbang warna itu sendiri.
b. Ukuran
Ketika berbicara mengenai ukuran, perhatian seorang individu
tidak hanya pada dimensi-dimensi yang diberikan tetapi juga pada unsur-
30
unsur keterkaitan antara tanda dan sistem tanda. Tanda- tanda memiliki
variasi bentuk, mulai dari ukuran terkecil hingga yang terbesar (super grafik).
Pada bentuk super grafik perbedaan skala menjadi hal yang sangat
penting.Dalam bentuk ini kata-kata dapat dibentuk hingga memiliki nilai seni
(di samping sebagai alat komunikasi). Perubahan skala ukuran lebih
menekankan nilai keindahan daripada fungsinya sebagai sarana komunikasi
(Berger, 2010).
c. Bentuk
Bentuk memainkan peran penting untuk memunculkan arti di
dalam pakaian. Sebagai contoh, garis besar berbentuk jantung yang dipakai
pada Hari Valentine harus diasosiasikan sebagai “cinta”. Sekarang, warna
merah pada jantung yang berarti “cinta” banyak dijumpai dalam banyak
iklan, stiker, dan sebagainya. Dalam hal ini arti bentuk jantung pada Hari
Valentine adalah simbol dan bukan ikon. Suatu gambar jantung semata tidak
akan tampak seperti Hari Valentine. Dalam hal lain, arti pokok dari ikonitas
adalah bentuk (Berger, 2010).
2.2.8
Desain Pakaian
2.2.8.1
Pengertian Desain Pakaian
Dalam membuat sebuah pakaian, desain menjadi kata
penting yang harus dilakukan seseorang dalam membuat pakaian.
Desain merupakan rancangan dasar dari sebuah busana yang akan kita
buat. Desain dapat pula diartikan sebagai ide dasar sebuah busana.
Rancangan, ide dasar dan coretan inilah yang nantinya akan
diwujudkan menjadi sebuah benda pakai yang bernama busana.
(Kurnia & Aminah, 2012).
Semua pembuat perancang busana dari amatir hingga
professional, pasti membuat desain untuk busana yang akan mereka
buat. Ini merupakan pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh
seluruh perancang busana amatir ataupun professional. Dalam
membuat pakaian desain menjadi aspek yang sangat penting karena
memberikan kepada kita arah dalam proses membuat pakaian hingga
selesai. Desain bisa diibaratkan juga sebagai petunjuk jalan ketika
31
membuat busana. Desain adalahsebuah penentu sebuah busana
(Kurnia & Aminah, 2012).
2.2.8.2
Manfaat Desain Pakaian
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, desain pakaian
merupakan aspek yang penting dibuat sebelum seorang perancang
busana (desainer) membuat sebuah buasana. Adapaun manfaat dari
desain pakaian adalah : (Kurnia & Aminah, 2012:2)
1. Terencana ketika membuat busana.
2. Hasil busana yang diinginkan lebih bagus dan menarik;
3. Busana tidak tampak seperti asal jadi;
4. Busana akan terlihat indah dan terasa nyaman;
5. Lebih mudah ketika proses membuat busana;
6. Sebagai bahan referensi seandainya kita lupa akan detail,
model dan aksen; dan
7. Desain
mudah,
berharga
murah,
berbahan
sederhana,
dibandingkan jika harus membuat ulang sebuah busana jika
ada kesalahan.
2.2.8.3
Unsur-unsur Desain
Dasar dari sebuah desain yaitu unsur desain. Elemen unsur
desain inilah yang akan menjadi tolak ukur dalam membuat desain.
Unsur desain merupakan penentu apakah desain yang dibuat mudah
dibaca dan dimengerti orang atau tidak. Unsur desain menitikberatkan
pada wilayah visual (pengelihatan). Unsur-unsur desain yang harus
diperhatikan adalah : (Kurnia & Aminah, 2012)
1. Bentuk
Unsur yang pertama adalah bentuk. Bentuk adalah hubungan
dari beberapa garis yang memiliki bidang dimensi. Bentuk
terbagi menjadi bentuk naturalis, bentuk geometris, bentuk
dekoratif dan bentuk abstrak. Bentuk naturalis adalah bentuk
yang mengambil tiruan dari alam seperti tumbuhan, hewan,
batuan, serta permukaan tanah. Bentuk geometris adalah
32
bentuk-bentuk yang bisa diukur dengan alat ukur dan terartur,
seperti persegi panjang, persegi empat, segitiga dan lingkaran.
2. Motif
Bentuk dekoratif adalah bentuk-bentuk dasar yang sudah
dimodifikasi dengan bentuk lain, sehingga menghasilkan
bentuk hiasan lain pada bidang tertentu.terkadang kita malah
tidak mengenali bentuk abstrak tersebut. Dalam hubungannya
dengan pakaian, bentuk digunakan dalam bentuk busana,
aksesori, serta corak dan motif busana.
3. Ukuran
Unsur yang ketiga adalah ukuran. Ukuran adalah besar
kecilnya lain yang beragam,seperti corak hias pada kain,
sulaman dan
benda yang diketahui satuannya dengan cara membandingkan
objek dengan alat ukur. Dalam desain, ukuran diharuskan
memiliki keseimbangan yang sempurna agar hasil busana
terlihat indah dan seimbang.
4. Warna
Unsur yang keempat adalah warna. Inilah unsur desain yang
paling menonjol karena sifatnya yang menarik mata. Warna
adalah spectrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya
sempurna (bewarna putih). Pada pembahasan ini, penulis akan
menjelaskan warna menjadi dua bagian yaitu kelompok warna
dan sifat warna.
a.
Kelompok Warna
Pengelompokan warna di dunia didasarkan pada teori-teori
dari beberapa ahli seperti teori Oswolk, teori Mussel, teori
Prang, dan teori Buwster. Namun, dalam penggunaan oleh
orang banyak dalam hubungannya dengan pakaian, teori
Prang lebih sering digunakan karena kesederhanaannya
mengelompokkan warna dan kemudahan dalam proses
pencampuran. Prang mengelompokkan warna menjadi
warna primer, sekunder, intermediet, tersier, dan kuarter.
33
Gambar 2.3
Lingkaran Warna
Sumber : (Kurnia & Aminah, 2012:8)
1) Warna Primer
Merupakan warna dasar karena bukan pencampuran dari
warna lain. Warna primer terdiri dari warna merah, biru, dan
kuning.
Gambar 2.4
Warna Primer
Sumber : (Kurnia & Aminah, 2012:9)
2)
Warna Sekunder
Merupakan pencampuran dari dua warna primer.
Warna sekunder terdiri dari warna ungu (M+B), warna hijau
(K+B) dan warna oranye (M+K).
34
Gambar 2.5
Warna Sekunder
Sumber : (Kurnia & Aminah, 2012)
3) Warna Intermediet
Merupakan pencampuran antara warna primer dengan warna
sekunder
yang
berdekatan
dalam
lingkaran
warna
dan
pencampuran dua warna primer dengan perbandingan 1:2. Warna
intermediate terdiri dari warna kuning hijau (K+H atau 2K+1H),
biru hijau (B+H atau 2B+1H), biru ungu (B+U atau 2B+1U),
merah ungu (M+U atau 2M+1U), merah oranye (M+O atau
2M+1K),dan kuning oranye (K+O atau 2K+1M).
Gambar 2.6
Warna Tersier
Sumber : (Kurnia & Aminah, 2012)
35
4) Warna Tersier
Merupakan pencampuran dua warna sekunder yang terdiri dari
tersier merah (O+U), tersier biru (U+H), dan tersier kuning
(H+O).
5) Warna Kuarter
Merupakan pencampuran dua warna tersier yang terdiri dari
kuarter hijau (B+K), kuarter ungu (M+B) dan kuarter oranye
(M+K).
b.
Sifat Warna
1) Sifat Panas dan Dingin
Sifat panas adalah sifat dari warna-warna yang ada
pada bagian kiri dalam lingkaran warna (merah hingga
kuning). Warna-warna tersebut memberikan kesan
riang,
gembira,
semangat,
marah,
dan
agresif.
Sedangkan sifat dingin adalah sifat dari warna-warna
yang ada pada bagian kanan dalam lingkaran warna
(hijau
hingga
ungu).
Warna-warna
tersebut
memberikan kesan sejuk, tenang, nyaman, melankolik,
dan lembut.
2) Sifat Gelap dan Terang
Sifat gelap dan terang didapatkan dengan cara
menambahkan
warna
putih
atau
hitam.
Jika
menginginkan warna yang lebih gelap, tambahkan
warna hitam (shade). Sebaliknya, jika menginginkan
warna lebih terang, tambahkan warna putih (tint).
3) Sifat Terang dan Kusam
Sifat terang dan kusam suatu warna sangat dipengaruhi
oleh intensitas atau kekuatan warna tersebut. semakin
tinggi intensitas, semakin terang sifat warna dan
demikian sebaliknya.
36
5.
Tekstur
Unsur yang kelima adalah adalah tekstur. Tekstur adalah
keadaan permukaan sebuah benda yang dapat diketahui dengan
cara diraba dan dilihat. Sebuah benda bertesktur terang, gelap,
menerawang, mengkilat, kaku dan lemas diketahui dengan cara
dilihat. Sedangkan jika benda bertekstur kasar, lembut, licin, keras
dan tebal dapat diketahui dengan cara diraba (Kurnia & Aminah,
2012).
Setiap benda pasti memiliki tekstur. Entah itu benda berupa
kayu, plastic, gelas, besi apalagi bahan pakaian pasti memiliki
tekstur. Dalam hubungannya dengan desain, tekstur bahan sangat
mempengaruhi bentuk tubuh, karakter, serta kepribadian seseorang.
Misalnya, bahan yang bertekstur kasar sebaiknya tidak digunakan
oleh seseorang yang bertubuh gemuk. Kemudian bahan yang
bertekstur terang atau bercahaya sebaiknya digunakan oleh
seseorang yang bertubuh kurus agar terlihat lebih gemuk (Kurnia &
Aminah, 2012).
37
2.3
Kerangka Konseptual
Professional attire Awak Kabin PT.
Garuda Indonesia Tbk
Unsur desain Proffesional Attire
Awak Kabin PT. Garuda Indonesia
Tbk :
-
Bentuk
Motif
Ukuran
- Warna
- Tekstur
Denotasi
Konotasi
Mitos
Makna Hasil
Penelitian
Gambar 2.7
Skema Kerangka Konseptual
Sumber : Olah data penelitian
Seperti yang telah dijabarkan sebelumnya, professional attire awak kabin PT
Garuda Indonesia, Tbk merupakan objek penelitian ini. Professional attire awak
kabin Garuda Indonesia didesain sedemikian rupa sebagai bentuk representasi
maskapai pada masyarakat. Desain professional attire awak kabin Garuda Indonesia
mempunyai unsur-unsur pembentuknya yang kemudian dianalisis berdasarkan :
bentuk, motif, ukuran, warna dan teksturnya. Unsur-unsur desain tersebut memiliki
makna yang kemudian dianalisis menggunakan analisis semiotika. Analisis semiotika
38
dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: denotasi, konotasi dan mitos.
Setiap unsur desain professional attire awak kabin Garuda Indonesia dianalisis
berdasarkan ketiga hal tersebut. Setelah dianalisis menggunakan analisis semiotika,
peneliti akan mendapatkan makna hasil analisisnya.
Download