Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa

advertisement
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana
dan Sosial Desa
oleh
Program Pengembangan Kecamatan
SEKRETARIAT PROGRAM PENGEMBANGAN KECAMATAN PMD
Direkorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Jl. Raya Pasar Minggu Km. 9,
Jakarta 12510
Tel: (6221) 791-91684
Fax: (6221) 791-96118
E-mail: [email protected]
REGIONAL MANAGEMENT UNIT (RMU) PPK di ACEH
Jl. T. Iskandar No. 46
Desa Lamteh Ulee Kareng
Banda Aceh 23118
Tel: (0651) 27997
Fax: (0651) 32283
E-mail: [email protected]
THE WORLD BANK OFFICE JAKARTA
Gd. Bursa Efek Jakarta Tower II/lt. 12
Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53
Jakarta 12910
Tel: (6221) 5299-3000
Fax: (6221) 5299-3111
Website: http;//www.worldbank.org/id
Cetakan Maret, 2007
Survei Desa Aceh 2006:
Evaluasi Keadaan
Prasarana dan Sosial Desa
oleh
Program Pengembangan Kecamatan
Maret 2007
PRAKATA
Tahun 2007 menandai masa dua tahun setelah tsunami dan gempa yang menghancurkan Aceh dan satu tahun
setelah Helsinki Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani, yang mengisyaratkan awal dari proses
perdamaian di Aceh. Banyak kemajuan yang telah dicapai Pemerintah Indonesia dalam memenuhi kebutuhan
rakyat Aceh dalam proses rekonstruksi dan reintegrasi pasca tsunami dan pasca konflik. Namun, masih banyak
tantangan yang harus dihadapi rakyat dalam membangun kembali kehidupan yang normal dan produktif
setelah dua bencana berupa konflik dan tsunami tersebut.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan prasarana dan keadaan sosial di Aceh dua
tahun setelah tsunami dan satu tahun setelah penandatanganan Helsinki MoU, Pemerintah Indonesia melalui
Program Pembangunan Kecamatan (PPK) di Aceh, dan dengan dukungan Bank Dunia, Multi-Donor Fund for Aceh
and Nias, dan Decentralization Support Facility, mengadakan Survei Desa Aceh pada tahun 2006. Laporan survei
itu berisi informasi mengenai keadaan prasarana dan sosial desa-desa di Aceh, termasuk keadaan pengungsi,
kebutuhan informasi dan pembangunan desa, dinamika sosial, serta kondisi pendidikan. Pemerintah berharap
informasi ini dapat digunakan sebagai masukan untuk perencanaan program-program rekonstruksi dan
reintegrasi, dan juga untuk merumuskan visi desa program PPK.
Laporan ini hanyalah salah satu dari sekian banyak langkah yang perlu diambil pemerintah dan rakyat Aceh
untuk membangun Aceh kembali dalam suasana damai yang berkelanjutan. Hasil survei ini dan informasi yang
kaya yang dikandungnya dapat digunakan pemerintah dan rakyat Aceh, dengan dukungan berbagai lembaga
dan donor internasional, untuk memastikan bahwa program-program pembangunan dirancang sedemikian
rupa sehingga benar-benar memenuhi kebutuhan nyata rakyat Aceh. Menggunakan informasi yang demikian
kaya itu merupakan langkah penting menuju perdamaian berkelanjutan di Aceh, dan membantu meningkatkan
kehidupan, peluang dan kemakmuran bagi rakyat Aceh.
Maret 2007
Irwandi Yusuf
Gubernur
Nanggroe Aceh Darussalam
Ayip Muflich
Direktor Jenderal
Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa, Departemen Dalam Negeri
Scott E. Guggenheim
Koordinator Sektor
Bank Dunia Indonesia
UCAPAN TERIMA KASIH
Survei Desa Aceh 2006 ini adalah karya bersama Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Departemen
Dalam Negeri, Tim Fasilitator PPK di Aceh, Tunas Aceh Research Institute (TARI) dan Unit Pembangunan Sosial
Bank Dunia.
Tim inti dipimpin oleh Susan Wong dan Lily Hoo (Bank Dunia). Tim ini terdiri dari: Richard Gnagey (Konsultan
PMD), Taufiq Dawood dan Jeliteng Pribadi (TARI), dan Steven Shewfelt, Patrick Barron, Ambar Mawardi, Wawan
Setiono, Ellen Tan, dan Sandra Usmany Tjan (Bank Dunia).
Tim ini ingin mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pihak-pihak berikut yang telah memberikan
masukan yang tidak ternilai untuk survei dan laporan ini:
PMD
: Ayip Muflich, Arwan Surbakti, Eko Sri Haryanto, Bito Wikantosa, Prabawa Eka Sutanta,
Tommy Aryanto dan Titik Mulyani
Tim PPK di Aceh
: M. Rusli, Ramli, Alfian, Fachri, Hamir, Rizky dan Satria (RMU Aceh), KM Kab, FK, FD, dan TPK
Kelompok pelatih : Chamiatus (NMC Jakarta), Azhari, Alfian, Mirdas (RMU Aceh), Yanis Rinaldi, Nasrillah Anis,
Miftachuddin (TARI), Fauzi Mohammad, Sadwanto Purnomo, Suyatno, M. Yusuf (Bank Dunia)
Staf Bank Dunia
: Andy Yogatama, Surya Windu, Samuel Clark, Matthew Zurstrassen, Arya B. Gaduh
GARANSI
: H. Syafruddin Budiman, Mohamad Ali, M. Rizal, Fadhil, dan Iqbal
Terima kasih khususnya kepada Ari Siregar dan Camilla Holmemo atas sumbangan yang tidak ternilai bagi
persiapan survei ini.
John Victor Bottini, Joel Hellman, Scott Guggenheim, dan Wolfgang Fengler dari Bank Dunia memberikan saransaran membangun bagi tim.
Editor laporan ini, Peter Milne, juga telah memberikan saran-saran penting mengenai isi laporan ini.
Foto disediakan oleh konsultan PPK, TARI, dan Bank Dunia. Peta disiapkan oleh Zejd Mohammad dan Doddy
Prima Kusumadhynata (Bank Dunia).
Dukungan dana untuk survei ini diberikan oleh Pemerintah Indonesia, Bank Dunia, Multi-Donor Trust Fund for
Aceh and Nias, dan Decentralization Support Facility.
Kepada semua pihak ini yang telah memberikan dukungan, tim ini mengucapkan terima kasih dan penghargaan
yang sedalam-dalamnya.
Jika ada pertanyaan atau permintaan untuk informasi tambahan, silakan menghubungi Susan Wong (swong1@
worldbank.org) atau Lily Hoo ([email protected]).
PETA ACEH
Legenda
Lokasi survey
Bukan lokasi survey
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
i
DAFTAR ISI
Daftar Kotak
ii
Daftar Gambar
iii
Daftar Tabel
iv
Daftar Peta
v
Daftar Lampiran
v
Kosakata
1
RINGKASAN EKSEKUTIF
3
BAB 1: PENDAHULUAN
11
1.1
Latar Belakang
12
1.2
Tujuan Survei Desa Aceh
13
1.3
Komponen Utama Survei
14
BAB 2: METODOLOGI SURVEI
17
BAB 3: INFORMASI UMUM DESA
21
BAB 4: STATUS PRASARANA
27
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
43
5.1
Pengungsi
44
5.2
Informasi yang Dibutuhkan
60
5.3
Kebutuhan Desa
69
5.4
Modal Sosial
74
5.5
Keadaan Pendidikan
84
BAB 6: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
91
LAMPIRAN
97
DAFTAR PUSTAKA
132
Daftar Kotak
ii
Kotak 1.1
Apa itu Program Pembangunan Kecamatan?
13
Kotak 2.1
Siapa itu Fasilitator Desa (FD)?
19
Kotak 4.1
Penjelasan tentang pelaporan kerusakan
31
Kotak 4.2
Indeks kerusakan tingkat kabupaten
32
Kotak 5.1
Catatan tentang data
44
Kotak 5.2
Metodologi menghitung nilai eksklusi dan tingkat eksklusi
77
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
Daftar Gambar
Gambar 3.1
Penduduk kabupaten menurut gender
22
Gambar 3.2
Jenis pekerjaan berdasarkan penduduk yang bekerja
25
Gambar 4.1
Tingkat rata-rata kerusakan prasarana menurut penyebab kerusakan
33
Gambar 4.2
Proporsi biaya yang dibutuhkan untuk memperbaiki/mengganti prasarana menurut
kabupaten
40
Gambar 5.1
Jumlah pengungsi tsunami dan konflik yang belum kembali menurut kabupaten
45
Gambar 5.2
Tempat tinggal pengungsi tsunami saat ini (sudah kembali dan dari desa lain)
52
Gambar 5.3
Tempat tinggal pengungsi konflik saat ini (sudah kembali dan dari desa lain)
53
Gambar 5.4
Keadaan ekonomi pengungsi tsunami saat ini dibandingkan dengan sebelum tsunami
menurut dampak tsunami (tingkat kecamatan)
55
Gambar 5.5
Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain dibandingkan dengan warga
lainnya menurut dampak tsunami (tingkat kecamatan
56
Gambar 5.6
Keadaan ekonomi pengungsi konflik dari desa lain dibandingkan dengan warga lainnya
menurut intensitas konflik (tingkat kecamatan)
56
Gambar 5.7
Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain dibandingkan dengan warga
lainnya menurut responden
57
Gambar 5.8
Informasi yang dibutuhkan masyarakat
61
Gambar 5.9
Jenis informasi yang diberikan pemimpin setempat kepada warga masyarakat
64
Gambar 5.10 Persentase kepala desa, ketua pemuda dan tokoh perempuan yang mendapat cukup
informasi tentang persoalan pasca-konflik
67
Gambar 5.11 Persentase responden yang mendapat cukup informasi menurut wilayah intensitas
konflik
67
Gambar 5.12 Sumber informasi tentang MoU
68
Gambar 5.13 Prioritas kebutuhan desa
70
Gambar 5.14 Persentase jawaban tentang proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan
publik
72
Gambar 5.15 Persentase responden yang memilih jalan dan perekonomian sebagai kebutuhan
prioritas pertama ketika proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan
publik meningkat
74
Gambar 5.16 Persentase tingkat eksklusi di Aceh
77
Gambar 5.17 Persentase jawaban tentang warga desa yang kesulitan berpartisipasi dalam
musyawarah/ kegiatan sosial desa
78
Gambar 5.18 Persentase jawaban tentang proporsi warga desa yang kesulitan untuk menghadiri
rapat desa dan kegiatan sosial
78
Gambar 5.19 Persentase jawaban tentang penyebab utama kesulitan memperoleh layanan publik
dan berpartisipasi dalam kegiatan desa
79
Gambar 5.20 Mekanisme utama pemecahan masalah
80
Gambar 5.21 Persentase jawaban tentang peserta rapat desa berdasarkan gender
80
Gambar 5.22 Tingkat kepercayaan kepada anggota GAM yang kembali
81
Gambar 5.23 Tingkat solidaritas antara warga desa
82
Gambar 5.24 Tingkat solidaritas pasca MoU Helsinki
82
Gambar 5.25 Pendapat tentang berbagai pernyataan kepercayaan
83
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
iii
Gambar 5.26 Kategori sekolah
85
Gambar 5.27 Jumlah rata-rata guru per sekolah dan rasio murid-guru
87
Gambar 5.28 Komposisi murid putus sekolah menurut gender
88
Gambar 5.29 Kebutuhan prioritas sekolah
89
Daftar Tabel
iv
Tabel 1.1
Tinjauan pertanyaan survei dan responden
15
Tabel 2.1
Jadwal survei desa Aceh
18
Tabel 3.1
Informasi KK menurut kabupaten
24
Tabel 4.1
Indeks kerusakan untuk semua penyebab kerusakan menurut kategori prasarana dan
menurut kabupaten
29
Tabel 4.2
Jenis prasarana dengan persentase kerusakan tinggi
32
Tabel 4.3
Jenis prasarana dengan proporsi tertinggi kerusakan akibat konflik
34
Tabel 4.4
Jenis prasarana dengan proporsi terendah kerusakan akibat konflik
34
Tabel 4.5
Jenis prasarana dengan persentase tertinggi kerusakan akibat bencana alam
34
Tabel 4.6
Proporsi kerusakan prasarana akibat bencana menurut kategori prasarana
35
Tabel 4.7
Jenis prasarana dengan persentase tertinggi kerusakan akibat kurang pemeliharaan
35
Tabel 4.8
Jenis prasarana dengan persentase terendah kerusakan akibat kurang pemeliharaan
35
Tabel 4.9
Indeks kerusakan akibat konflik dan bencana alam menurut kabupaten
36
Tabel 4.10 Persentase prasarana yang rusak akibat konflik dan bencana alam menurut kategori
prasarana dan menurut kabupaten
37
Tabel 4.11 Persentase prasarana rusak yang diganti atau diperbaiki menurut kabupaten
38
Tabel 4.12 Tingkat perbaikan rata-rata prasarana yang rusak akibat konflik dan bencana alam menurut
kategori
38
Tabel 4.13 Jenis prasarana dengan tingkat tertinggi penggantian atau perbaikan
39
Tabel 5.1
Jumlah KK yang meninggalkan desa mereka menurut penyebab
45
Tabel 5.2
Keluarga yang terpaksa mengungsi dari desa mereka akibat tsunami
46
Tabel 5.3
Keluarga yang terpaksa mengungsi dari desa mereka akibat konflik
48
Tabel 5.4
Jumlah pengungsi dari desa lain yang saat ini ditampung menurut kabupaten
50
Tabel 5.5
Keadaan ekonomi pengungsi
54
Tabel 5.6
Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dan konflik di desa yang menampung pengungsi
tsunami dan konflik
54
Tabel 5.7
Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dan konflik menurut kabupaten
58
Tabel 5.8
Persentase responden yang memprioritaskan informasi tentang program tsunami
menurut dampak tsunami (tingkat kecamatan)
62
Tabel 5.9
Persentase responden yang memprioritaskan informasi program reintegrasi menurut
intensitas konflik (tingkat kecamatan)
63
Tabel 5.10 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang tsunami menurut dampak
tsunami (tingkat kecamatan)
65
Tabel 5.11 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang MoU menurut intensitas konflik
(tingkat kecamatan)
65
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
Tabel 5.12 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang program reintegrasi menurut
intensitas konflik (tingkat kecamatan)
65
Tabel 5.13 Persentase pemimpin setempat yang mendapat cukup informasi tentang persoalanpersoalan pasca konflik
66
Tabel 5.14 Ketersediaan layanan publik
71
Tabel 5.15 Proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan publik angkutan umum tidak
tersedia
71
Tabel 5.16 Hubungan antara peluang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, air dan
sanitasi dan ketersediaan layanan publik
73
Tabel 5.17 Prioritas kebutuhan pertama menurut indeks tingkat kemiskinan
75
Tabel 5.18 Rasio murid per sekolah
86
Daftar Peta
Peta 1
Peta Aceh
i
Peta 5.1
Peta yang menunjukkan jumlah total KK pengungsi karena tsunami yang belum kembali
(distribusi di tingkat kecamatan)
47
Peta 5.2
Peta yang menunjukkan jumlah total KK yang pengungsi karena konflik yang belum
kembali (distribusi di tingkat kecamatan)
49
Peta 5.3
Peta yang menunjukkan wilayah dengan jumlah total pengungsi konflik dan tsunami dari
desa lain yang saat ini ditampung (distribusi di tingkat kecamatan)
51
Daftar Lampiran
Lampiran 1
Instrumen Survei
Lampiran 1.1
Kuesioner Sosial
99
Lampiran 1.2
Formulir Survei Prasarana
116
Lampiran 2
Data Prasarana
Lampiran 2.1
Kerusakan Prasarana menurut Jenis Prasarana, Tingkat Kerusakan, Penyebab Kerusakan, 120
dan Status Perbaikan
Lampiran 2.2
Persentase Prasarana menurut Tingkat Kerusakan, Penyebab Kerusakan, dan Status 122
Perbaikan
Lampiran 2.3
Indeks Kerusakan Sektor menurut Kabupaten dan Sumber Kerusakan
Lampiran 2.4
Tingkat Kerusakan dan Status Perbaikan Prasarana Rusak Akibat Konflik dan Bencana 125
Alam
Lampiran 2.5
Biaya Memperbaiki atau Mengganti Prasarana Rusak Akibat Konflik dan Bencana Alam 129
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
124
v
vi
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
KOSAKATA
KOSAKATA
AMM
APEA
BRA
BRR
BPS
CDD
Dikdasmen
EMIS
FD
FK
FT
Garansi
GAM
GDS
ICG
IDP
KK
KM Kab
Komnas-Perempuan
KPA
LSM
LoGA
MI
MoU
PMD
PNS
Podes
PPK
PREM
Pustu
RMU
SD
Susenas
TNI
TPK
UNDP
UNICEF
UNIMS
USAID
WB
SURVEI DESA ACEH 2006
Misi Pemantauan Aceh (Aceh Monitoring Mission)
Analisis Pengeluaran Pemerintah Aceh (Aceh Public Expenditure Analysis)
Badan Reintegrasi-Damai Aceh
Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh dan Nias
Badan Pusat Statistik
Pembangunan Berbasis Masyarakat (Community-Driven Development)
Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah
Sistem Informasi Pengelolaan Pendidikan (Education Management Information System
Fasilitator Desa PPK
Fasilitator Kecamatan PPK
Fasilitator Teknik PPK
Gerakan Aman Adil Sejahtera untuk Indonesia
Gerakan Aceh Merdeka
Survei Tata Pemerintahan dan Desentralisasi (Governance and Decentralization Survey)
Kelompok Krisis Internasional (International Crisis Group)
Pengungsi (Internally Displaced People)
Kepala Keluarga
Konsultan Manajemen Kabupaten
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
Komisi Pemantauan Aceh
Lembaga Swadaya Masyarakat
Undang-undang tentang Pemerintahan Aceh (Law on Governing Aceh)
Madrasah Ibtidayah
Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding)
Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
Pegawai Negeri Sipil
Survei Potensi Desa
Program Pengembangan Kecamatan
Poverty Reduction and Economic Management
Puskesmas Pembantu (di tingkat desa)
Regional Management Unit PPK
Sekolah Dasar
Survei Sosial dan Ekonomi Nasional
Tentara Nasional Indonesia
Tim Pelaksana Kegiatan
United Nations Development Program
United Nations Children’s Fund
United Nations Information and Management System
United States Agency for International Development
Bank Dunia (World Bank)
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
1
2
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
RINGKASAN EKSEKUTIF
RINGKASAN EKSEKUTIF
Gempa dan tsunami tanggal 26 Desember 2004, yang datang di atas konflik kekerasan selama tiga puluh
tahun yang masih berlangsung, menyebabkan prasarana dan dinamika sosial di Aceh porak poranda.
Konflik antara Pemerintah Indonesia (GoI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah berlangsung selama hampir
tiga puluh tahun yang mengakibatkan sekitar 15.000 kematian dan lebih dari 35.000 KK mengungsi. Di seluruh
propinsi itu, dan terutama di pedesaan, prasarana mengalami kerusakan berat yang semakin diperparah karena
situasi keamanan yang menyebabkan sulit atau tidak mungkin dilakukannya pemeliharaan. Di samping kerusakan
fisik, konflik yang sudah berjalan bertahun-tahun itu juga membawa dampak pada kehidupan sosial di propinsi
itu, seperti keluarga-keluarga yang terpisah satu sama lain atau terpaksa mengungsi, dampak psiko-sosial pada
perorangan dan masyarakat, dan ketegangan antara masyarakat, negara, dan GAM. Gempa dan tsunami 2004
karenanya terjadi di propinsi yang sudah lama dilanda bencana dan kerusakan besar.
Bencana gempa dan tsunami mengakibatkan sekitar 130.000 kematian, dan 37.000 orang masih belum
diketahui nasibnya. Wilayah-wilayah dengan kerusakan paling parah adalah Banda Aceh, pantai barat laut,
dan pulau-pulau di pesisir di mana beratus-ratus desa putus hubungan dengan pengangkutan dan komunikasi.
Selain itu, kerusakan meluas hingga ujung utara Aceh, dan kabupaten-kabupaten di sepanjang pantai timur juga
mengalami kerusakan yang parah. Banyak bangunan dan prasarana runtuh akibat gempa, dan di wilayah pantai
terjadi penyurutan luas tanah. Tsunami membawa kepingan-kepingan reruntuhan dan air laut ke rumah-rumah
dan gedung-gedung sampai lima kilometer ke daratan, menghancur-leburkan rumah-rumah dan gedunggedung tersebut dan selanjutnya merusak jalan, jembatan, telekomunikasi, air dan jaringan listrik, tanaman,
sistem irigasi, dan fasilitas ekonomi lainnya.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan desa-desa Aceh saat ini, Program
Pengembangan Kecamatan (PPK)—program pembangunan masyarakat pemerintah yang terbesar
di Aceh—melakukan evaluasi atas keadaan prasarana dan sosial di seluruh Aceh. PPK adalah program
nasional yang dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri. Menggunakan fasilitator PPK di desa, kecamatan
dan kabupaten, evaluasi dilakukan di hampir semua desa di Aceh, mencakup 5.698 desa, 221 kecamatan
dan 18 kabupaten (17 kabupaten dan 1 kota). Diharapkan informasi yang terkumpul dari survei ini dapat
dimasukkan langsung ke dalam visi dan perencanaan desa PPK agar dapat menjadi pedoman bagi warga desa
dalam perencanaan dan penentuan alokasi sumberdaya. Data yang dihasilkan evaluasi ini dapat berfungsi
sebagai sumberdaya bagi pelaku pembangunan, kalangan perguruan tinggi, pejabat pemerintah dan rakyat
Aceh. Informasi ini juga akan disebarkan seluas-luasnya dengan tujuan agar dapat menjadi penuntun dalam
perencanaan dan alokasi sumberdaya bagi kegiatan-kegiatan pada masa mendatang di seluruh propinsi
tersebut.
Laporan ini terdiri dari enam bagian. Dua bagian pertama merupakan pendahuluan yang menyajikan latar
belakang tentang tujuan survei, rancangan survei, dan metodologi. Bagian ketiga menyajikan informasi umum
mengenai desa. Bagian keempat memaparkan hasil-hasil evaluasi prasarana. Bagian kelima membahas hasilhasil survei sosial, dan mencakup pula sub-bagian tentang pengungsi, informasi yang dibutuhkan desa dan
kebutuhan-kebutuhan pembangunan desa, modal sosial, dan pendidikan. Bagian keenam dan kesimpulan
meninjau ulang temuan-temuan survei dan membahas rekomendasi yang muncul dari temuan-temuan ini.
METODOLOGI dan RANCANGAN SURVEI
Komponen Utama Survei
Survei Desa Aceh ini terdiri dari dua komponen: evaluasi prasarana dan evaluasi sosial. Kedua komponen
ini dilaksanakan di semua desa PPK di Aceh. Evaluasi prasarana memetakan prasarana di hampir semua desa,
lengkap dengan tingkat kerusakan dan penyebab kerusakan (bencana alam, konflik, atau kurang pemeliharaan).
Evaluasi ini juga melihat kebutuhan rekonstruksi atau penggantian prasarana yang rusak dan hancur dan, jika ada,
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
3
RINGKASAN EKSEKUTIF
tingkat rekonstruksi saat ini. Evaluasi sosial terdiri dari empat kuesioner informan kunci yang ditujukan kepada:
kepala desa, ketua pemuda, tokoh perempuan, dan kepala sekolah dasar. Ada sekitar 22.300 responden desa
yang diwawancarai untuk survei ini. Data dikumpulkan mengenai ciri-ciri umum desa, pengungsi, informasi
yang dibutuhkan desa dan kebutuhan pembangunan desa, modal sosial, dan pendidikan.
Metodologi Survei
Kegiatan lapangan untuk Survei Desa Aceh dilakukan pada bulan Agustus dan September 2006
oleh tim desa PPK, setelah masa persiapan yang intensif untuk menyusun sistem pelaksanaan, dan untuk
mengembangkan dan mengadakan uji coba kuesioner di lapangan. Tim lapangan PPK terdiri dari: Unit
Pengelolaan Wilayah PPK (RMU), fasilitator kabupaten PPK, fasilitator kecamatan, fasilitator desa, dan Tim
Pelaksana Teknis Desa. Tim Bank Dunia Indonesia memberikan tuntunan secara keseluruhan, pengawasan, dan
analisis penelitian untuk survei ini. Rancangan survei disusun bersama-sama oleh Departemen Dalam Negeri
dan Bank Dunia.
INFORMASI UMUM tentang DESA di ACEH
Berbagai indikator menunjukkan bahwa kemiskinan tersebar luas di seluruh propinsi Aceh. Beberapa
tolok ukur digunakan untuk mengevaluasi tingkat kemiskinan dan bentuk serta cakupan kegiatan perekonomian
di propinsi itu. Dari jumlah total sekitar 5.200 desa yang melaporkan tentang penduduk (sebesar 3,41 juta jiwa),
sekitar 26 persen atau 207.594 KK dicatat oleh kepala desa sebagai “KK miskin”. Sekitar 18.818 KK (2,4 persen
dari total) dilaporkan makan hanya sekali sehari. Sekitar 190.000 KK, atau 23,8 persen, dilaporkan mendapat
zakat. Selain itu, survei mencatat adanya 107.635 anak yatim. Dilihat dari sisi jumlah orang miskin dan indikatorindikator kemiskinan, kabupaten Pidie, Aceh Utara dan Bireuen paling membutuhkan perhatian khusus.
KEADAAN PRASARANA di ACEH
Survei menemukan bahwa prasarana mengalami kerusakan yang amat parah; lebih dari 50 persen
dari jenis-jenis prasarana utama rusak parah. Survei memeriksa 57 jenis prasarana tingkat desa yang
dikelompokkan ke dalam sembilan kategori utama: jalan; jembatan; air dan sanitasi; listrik; irigasi; fasilitas desa;
fasilitas ekonomi; pemukiman; dan lahan produktif. Dari kategori prasarana ini, lebih dari 50 persen dilaporkan
rusak berat. Dari jenis prasarana individu, banyak yang dilaporkan rusak sebesar lebih dari 80 persen. Jenis-jenis
prasarana yang paling banyak mengalami kerusakan adalah jembatan, sistem drainase, MCK dan jalan desa,
terutama yang ada di dusun.
Rata-rata, konflik menimbulkan 19,5 persen kerusakan, bencana alam 38,6 persen, dan kurang
pemeliharaan 41,9 persen dari seluruh kerusakan yang dilaporkan (rasio sekitar 1:2:2). Kategori yang
digunakan untuk penyebab kerusakan prasarana adalah: konflik; bencana alam; dan kurang pemeliharaan.
Kerusakan akibat konflik tampaknya banyak menimpa fasilitas ekonomi produktif, dengan tambak ikan atau
udang, generator, dan lahan pertanian atau perkebunan lainnya sebagai jenis prasarana dengan kemungkinan
tertinggi mengalami kerusakan. Sebaliknya, tembok penahan, bendungan kecil, dan jembatan kayu adalah tiga
jenis prasarana yang paling mungkin dilaporkan rusak akibat bencana alam. Kurang pemeliharaan juga menjadi
penyebab kerusakan prasarana propinsi, dengan generator, MCK, dan TK/TPA paling sering dilaporkan rusak.
Upaya perbaikan prasarana terfokus pada wilayah-wilayah yang dilanda tsunami. Di antara jenis-jenis
prasarana yang paling sering dilaporkan telah diperbaiki atau sedang diperbaiki adalah sarana kesehatan, jalan
kabupaten, dan jembatan yang lebih kompleks. Selain itu, beberapa jenis prasarana yang diprioritaskan oleh
masyarakat kemungkinan besar dilaporkan telah diperbaiki atau sedang diperbaiki, termasuk rumah ibadah,
sekolah, dan lahan kebun.
4
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
RINGKASAN EKSEKUTIF
Beberapa kabupaten melaporkan tingkat kerusakan prasarana yang tinggi. Wilayah-wilayah yang
melaporkan tingkat kerusakan prasarana tertinggi akibat konflik adalah Aceh Timur, Bener Meriah, dan
Nagan Raya. Wilayah-wilayah yang melaporkan tingkat kerusakan akibat bencana alam tertinggi adalah Aceh
Jaya, Simeulue dan Bireuen. Dengan pengecualian di beberapa area, bencana alam dilaporkan lebih banyak
menimbulkan kerusakan daripada konflik.
Berdasarkan biaya umum untuk membangun prasarana PPK akhir-akhir ini, perkiraan biaya total
untuk memperbaiki atau mengganti prasarana yang rusak mencapai hampir Rp 12 trilyun, atau US$1,3
milyar. Hampir separuh dari jumlah ini diperlukan untuk memperbaiki atau mengganti rumah. Jumlah terbesar
berikutnya diperlukan untuk memulihkan lahan agar kembali produktif, dan berikutnya lagi untuk memperbaiki
atau mengganti jalan. Aceh Utara, Pidie, Bireuen, Aceh Timur, dan Aceh Besar merupakan kabupaten dengan
total biaya untuk rekonstruksi/mengganti prasarana yang tertinggi.
KEADAAN SOSIAL di ACEH
Keadaan sosial di Aceh pada umumnya baik; kesulitan mendapatkan layanan publik relatif sedikit, dan
hampir semua indikator hubungan sosial cukup bagus. Namun, jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan
mengenai hubungan sosial juga menunjukkan adanya persoalan-persoalan penting yang perlu diatasi, termasuk
perlunya memperluas fokus upaya pemulihan ke wilayah-wilayah lain selain dari wilayah-wilayah yang dilanda
tsunami dan pentingnya memastikan partisipasi penuh masyarakat dalam proyek-proyek pembangunan.
Pengungsi
Laporan ini menyoroti pengungsi akibat tsunami dan konflik berdasarkan tiga kategori di bawah ini:
• Pengungsi yang sudah kembali ke desa responden;
• Pengungsi yang tetap berada di luar desa responden;
• Pengungsi dari tempat-tempat lain yang saat ini tinggal di desa responden.
Lebih banyak KK yang dilaporkan terpaksa mengungsi dari desa mereka akibat konflik (103.453 KK)
daripada akibat tsunami (66.893 KK). Kabupaten Pidie, Bireuen, dan Aceh Besar melaporkan jumlah terbesar
pengungsi akibat tsunami, termasuk di antara kabupaten dengan jumlah terbesar pengungsi akibat konflik,
dan di antara kabupaten dengan jumlah terbesar KK dari desa lain yang saat ini tinggal di desa responden.
Tingkat pengungsi yang tinggi di kabupaten-kabupaten timur ini mungkin ada kaitannya dengan kenyataan
bahwa pantai barat lebih cepat mendapat bantuan dan karena itu tidak banyak warga masyarakat di kabupatenkabupaten barat yang harus meninggalkan desa mereka setelah bencana terjadi.
Pengungsi akibat konflik dilaporkan kembali ke desa mereka pada tingkat yang lebih rendah (64,6
persen) daripada pengungsi akibat tsunami (85,2 persen). Tingkat kembali ini merata di semua kabupaten.
Tidak ada kabupaten yang menunjukkan persentase pengungsi akibat konflik yang sudah kembali yang lebih
tinggi daripada persentase rata-rata pengungsi tsunami yang sudah kembali. Sama halnya, tidak ada kabupaten
yang menunjukkan persentase pengungsi akibat tsunami yang sudah kembali yang lebih rendah daripada
persentase rata-rata pengungsi akibat konflik yang sudah kembali.
Pengungsi akibat tsunami yang kembali lebih besar kemungkinannya tinggal di rumah sendiri daripada
pengungsi akibat konflik yang kembali. Sejalan dengan upaya besar yang telah dilakukan untuk membangun
kembali perumahan untuk pengungsi akibat tsunami, sejauh ini bagian terbesar dari pengungsi akibat tsunami
yang kembali dilaporkan tinggal di rumah sendiri (59,9 persen). Jumlah pengungsi akibat konflik yang kembali
dan dilaporkan tinggal di rumah sendiri (26,7 persen) lebih rendah sedikit daripada jumlah yang dilaporkan
tinggal di rumah sewa (29,5 persen) dan tempat tinggal lainnya (28,1 persen). Ini mungkin dikarenakan tidak
banyaknya rumah yang dibangun untuk pengungsi akibat konflik, tetapi ini juga konsisten dengan kemungkinan
bahwa pengungsi akibat konflik lebih sulit berintegrasi kembali dengan desa asal mereka.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
5
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pengungsi konflik dari desa-desa lain lebih besar kemungkinannya tinggal di rumah sendiri daripada
pengungsi tsunami dari desa-desa lain. Pengungsi tsunami yang dilaporkan datang dari desa-desa lain
umumnya tinggal di barak (19,7 persen), tenda (8,0 persen), dengan keluarga (14,0 persen), dengan saudara (10,8
persen), di rumah sewa (10,3 persen), di rumah sendiri (13,1 persen), atau tempat tinggal yang lain (24,1 persen).
Sebaliknya, separuh dari semua pengungsi konflik yang datang dari tempat-tempat lain saat ini dilaporkan
tinggal di rumah sendiri (50,5 persen); ini menunjukkan bahwa pengungsi konflik dari tempat lain telah lebih
banyak mengambil langkah-langkah untuk berintegrasi sepenuhnya di desa yang mereka tumpangi.
Di desa-desa yang menampung pengungsi konflik dan pengungsi tsunami, keadaan ekonomi pengungsi
konflik dinilai jauh lebih buruk daripada pengungsi tsunami. Keadaan ekonomi pengungsi konflik dari
luar desa responden dilaporkan agak lebih buruk daripada keadaan ekonomi warga lainnya di desa responden.
Hal ini ditemukan di semua kabupaten dan agak berbeda menurut intensitas konflik di kecamatan tempat
responden tinggal. Perbedaan antara pengungsi dan warga lainnya di desa responden lebih kecil bagi pengungsi
tsunami daripada pengungsi konflik. Selain itu, responden di kecamatan yang sangat parah dilanda tsunami
lebih mungkin percaya bahwa keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari tempat lain saat ini lebih baik daripada
keadaan ekonomi warga yang lain di desa responden. Pola yang sama ditemukan ketika responden diminta
untuk membandingkan keadaan ekonomi pengungsi tsunami yang kembali dengan keadaan ekonomi mereka
pada masa pra-tsunami. Temuan-temuan ini konsisten dengan pandangan umum bahwa pengungsi konflik
tertinggal di belakang pengungsi tsunami dari segi sampai sejauh mana mereka telah berhasil memulihkan
kehidupan normal dan produktif mereka. Ini juga menunjukkan bahwa mereka yang tidak mendapat manfaat
yang sama besarnya dengan yang diperoleh pengungsi tsunami merasa agak ditinggalkan.
Informasi yang Dibutuhkan
Responden melaporkan bahwa informasi yang paling dibutuhkan penduduk desa adalah informasi
tentang Helsinki Memorandum of Understanding (MoU), yang ditandatangani pemerintah dan GAM
pada Agustus 2005 (22,9 persen), serta penggunaan anggaran desa (21,7 persen). Namun, jika fokus
diperluas hingga mencakup tiga pilihan informasi utama yang dibutuhkan, maka tampak bahwa informasi
tentang program pembangunan (52,5 persen) dan kesempatan kerja (49,8 persen) juga penting. Informasi
tentang program tsunami dan program reintegrasi pasca konflik saja menempati prioritas yang lebih rendah,
dan juga tidak banyak permintaan akan informasi tentang akses kepada tanah, pelayanan keuangan, dan trauma
psikologis dan konseling kejiwaan. Sedikit sekali perbedaan antara jawaban-jawaban ketiga kategori responden
(kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda) atau di antara wilayah-wilayah yang kena dampak tsunami
dan konflik pada tingkat berbeda-beda. Data menunjukkan bahwa investasi untuk strategi informasi tentang
kegiatan-kegiatan pembangunan pemerintah sehari-hari sama pentingnya dengan informasi tentang manfaat
dan program-program pasca konflik dan tsunami di Aceh.
Tidak mengherankan bahwa berdasarkan identifikasi jenis-jenis informasi yang dibutuhkan, pemimpin
setempat lebih mungkin memberikan informasi secara teratur tentang pembangunan desa dan
anggaran belanja desa. Meski tidak umum, mereka juga berbagi informasi tentang tsunami dan program
reintegrasi, atau tentang MoU Helsinki. Pola ini juga konsisten dengan jawaban semua kategori responden dan
semua wilayah yang kena dampak tsunami dan konflik pada kadar yang berbeda.
Banyak pemimpin setempat merasa mereka tidak memiliki informasi yang cukup tentang persoalanpersoalan pasca konflik, termasuk dana reintegrasi. Dari sisi sumber informasi bagi warga desa, televisi
merupakan sumber informasi terpenting tentang MoU; 92,8 persen dari responden melaporkan televisi sebagai
satu dari tiga sumber utama mereka. Sumber terpenting berikutnya suratkabar (81,2 persen) dan radio (57,2
persen). Dari ketiga kategori responden, kepala desa paling merasa tidak memiliki informasi yang memadai
tentang persoalan-persoalan pasca konflik, tetapi sejarah konflik tidak banyak berdampak pada apakah
pemimpin setempat merasa memperoleh informasi yang memadai tentang persoalan-persoalan pasca konflik.
6
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
RINGKASAN EKSEKUTIF
Kebutuhan Desa
Konsisten dengan temuan-temuan tentang keadaan prasarana dan temuan-temuan dari studi-studi
yang lain, kebutuhan utama desa yang diidentifikasi responden di Aceh adalah jalan; 59,8 persen
responden melaporkan jalan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama mereka. Perekonomian (50
persen), peluang kerja (39,6 persen), dan pendidikan (37,7 persen) adalah prioritas tertinggi berikutnya yang
diidentifikasi. Tidak banyak perbedaan antara ketiga kategori responden di setiap desa tentang kebutuhan
prioritas desa di tingkat propinsi dan kabupaten, meski ada perbedaan yang cukup besar di tingkat desa. Tidak
ada korelasi antara kebutuhan desa dan tingkat intensitas konflik atau tingkat kerusakan akibat tsunami.
Kebutuhan desa tidak selalu konsisten dengan akses kepada layanan publik. Survei juga mencantumkan
pertanyaan-pertanyaan mengenai jumlah warga desa yang mengalami kesulitan memperoleh empat jenis
layanan publik: angkutan umum, air bersih dan sanitasi, pendidikan dan kesehatan. Data menunjukkan bahwa
kesulitan mendapat pelayanan tidak berarti bahwa responden lalu memilih pelayanan-pelayanan ini sebagai
kebutuhan utama mereka. Misalnya, meski tidak banyak warga desa yang kesulitan memperoleh pendidikan
dasar, namun hampir 40 persen dari mereka memilih pendidikan sebagai kebutuhan prioritas. Ada korelasi
yang cukup tinggi dalam jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengenai akses ini, yang menunjukkan
bahwa masalah kesulitan mendapat pelayanan ini terkonsentrasi; jika di sebuah desa sebagian besar warga
kesulitan memperoleh salah satu layanan publik, maka kemungkinan ada lebih banyak lagi warga yang kesulitan
mendapat semua layanan publik di desa tersebut.
Modal Sosial
Survei mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai ikatan sosial dan partisipasi, mekanisme pengambilan
keputusan, dan kepercayaan dan solidaritas.
Modal sosial di Aceh cukup kuat. Tingkat tidak-ada-partisipasi (eksklusi) rendah dan tidak banyak warga desa
yang kesulitan menghadiri rapat desa dan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti kenduri, pemakaman, dan
upacara agama. Lebih banyak warga desa yang kesulitan menghadiri rapat desa daripada mengikuti kegiatan
sosial, yang menunjukkan bahwa warga desa lebih mampu mengikuti kegiatan-kegiatan sosial informal yang
menyangkut interaksi dengan sanak keluarga, teman dan tetangga.
Sekitar 77 persen responden memilih kemiskinan sebagai penyebab utama warga desa mengalami
kesulitan memperoleh layanan publik atau ikut hadir dalam rapat desa dan mengikuti kegiatan sosial
desa. Rendahnya pendidikan dan pekerjaan juga diindentifikasi sebagai penyebab warga sulit berpartisipasi,
tetapi kurang dari 10 persen responden memilih faktor-faktor yang berhubungan dengan indentitas seperti
agama dan suku/ras sebagai penyebab tidak ada atau sulitnya partisipasi. Namun, sekitar 20 persen dari
responden memilih “korban konflik” sebagai salah satu penyebab utama warga tidak berpartisipasi, yang
menunjukkan bahwa korban konflik masih menghadapi kesulitan berintegrasi kembali di desa mereka.
Secara keseluruhan, rapat desa dilihat sebagai mekanisme utama pemecahan masalah. Meski
meminta bantuan dari keluarga, teman dan tetangga merupakan mekanisme yang disukai (32 persen) untuk
memecahkan masalah bersama, jika dilihat ketiga pilihan mekanisme utama maka berpaling kepada keluarga,
teman dan tetangga adalah mekanisme urutan ketiga (45,8 persen) setelah musyawarah desa (80,3 persen) dan
organisasi masyarakat (69,4 persen). Mengingat pentingnya musyawarah desa, patut dicatat bahwa 52 persen
dari responden melaporkan bahwa rapat desa ini biasanya dihadiri laki-laki dengan hanya sedikit perempuan.
Ini menunjukkan pentingnya memastikan adanya mekanisme untuk membahas dan menyelesaikan persoalanpersoalan perempuan.
Ketika diminta untuk menilai tingkat kepercayaan antara “mereka yang baru saja turun gunung” dan
warga desa yang lain, sebagian besar memilih bersikap netral, 61 persen menjawab tingkat kepercayaan
tidak rendah dan tidak pula tinggi, dan sekitar 25 persen mengatakan bahwa tingkat kepercayaan
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
7
RINGKASAN EKSEKUTIF
tinggi atau sangat tinggi. Sebaliknya, sekitar 50 persen dari responden memilih tidak rendah atau tinggi ketika
diminta menilai tingkat solidaritas di desa; sekitar 40 persen mengatakan tinggi atau sangat tinggi. Tingkat
kepercayaan tampaknya lebih tinggi jika kepada responden diajukan pertanyaan-pertanyaan umum mengenai
kepercayaan di desa; 49 persen setuju atau sangat setuju dengan pernyataan bahwa sebagian besar warga desa
dapat dipercaya. Bahkan lebih banyak lagi yang setuju atau sangat setuju dengan pernyataan bahwa warga
desa biasanya saling membantu dan mau menolong orang lain (58 persen dan 76 persen). Kedua temuan ini
menunjukkan bahwa meski tingkat kepercayaan pada umumnya baik, namun sisa-sisa konflik belum hilang dan
kegiatan membangun perdamaian dengan anggota GAM yang sudah kembali harus diteruskan. Adalah menarik
bahwa tidak terdapat korelasi antara jawaban pada pertanyaan mengenai kepercayaan dan solidaritas dengan
intensitas konflik.
Kondisi Pendidikan
Rasio murid-guru rendah di sekolah-sekolah yang disurvei. Di sekolah-sekolah yang disurvei, rata-rata ada
12,6 guru per sekolah, dan dari ini 52 persen adalah pegawai negeri sipil (PNS), 20 persen guru honor, 18 persen
guru bakti, dan 10 persen guru kontrak. Rasio murid-guru adalah 14,6; rasio ini jauh lebih rendah daripada ratarata nasional. Selain itu, distribusi guru tidak merata, lebih banyak guru terpusat di perkotaan daripada di daerah
terpencil.
Menurut kepala sekolah—responden utama untuk bidang pendidikan—kebutuhan prioritas tertinggi
di bidang pendidikan adalah guru yang lebih berpengalaman dan berkualitas (35,8 persen), ruang kelas
yang lebih baik (17,9 persen), dan lebih banyak guru (16,7 persen). Dilihat dari ketiga kebutuhan yang
dipilih responden, lebih banyak buku pelajaran (62,1 persen), guru yang lebih berpengalaman dan berkualitas
(53,6 persen), dan ruang kelas yang lebih baik (47,2 persen) diidentifikasi sebagai kebutuhan paling penting.
KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Investasi Besar Masih Dibutuhkan
Tema besar yang muncul dalam laporan ini adalah meski sudah banyak kemajuan yang dicapai dalam
membantu Aceh memulihkan diri dari tsunami dan konflik, masih ada tantangan–tantangan besar yang
membutuhkan investasi tambahan dalam jumlah besar di tingkat desa. Biaya memperbaiki prasarana
diperkirakan sebesar Rp 12 trilyun, atau US$1,3 milyar. Namun, ini hanya untuk menutup biaya perbaikan sekitar
60 persen dari total prasarana yang rusak di propinsi; 40 persen lagi dari prasarana yang diidentifikasikan rusak
sebagai akibat dari kurang pemeliharaan belum diperhitungkan. Dengan demikian, biaya total perbaikan
prasarana dapat mencapai Rp 20 trilyun, atau US$ 2,2 milyar. Pemulihan sebesar ini dapat diwujudkan hanya
jika semua pihak yang berkepentingan bekerja bahu membahu dalam upaya ini.
Meski kemungkinan timbulnya kembali konflik sangat kecil, namun sisa-sisa konflik dan potensi bagi
timbulnya konflik kembali tetap ada. Meski dilihat dari berbagai segi keadaan sosial di Aceh cukup bagus,
adalah penting bahwa perkembangan-perkembangan positif ini jangan sampai mengaburkan kenyataan
bahwa sisa-sisa konflik masih berpotensi menghambat proses perdamaian dan upaya pemulihan. Berbagai
indikator menunjukkan adanya berbagai permasalahan yang tersembunyi. Warga masyarakat menyadari
bahwa berhasilnya pelaksanaan MoU Helsinki sangat penting bagi kehidupan dan kemakmuran mereka pada
tahun-tahun yang akan datang. Karena itu, upaya-upaya yang ada untuk mendukung proses pembangunan
perdamaian pasca konflik harus diteruskan. Upaya-upaya semacam itu mencakup penyebaran informasi yang
sudah berjalan mengenai perkembangan proses perdamaian, perbaikan layanan publik dan penjelasan tentang
bagaimana semua ini membawa manfaat bagi warga masyarakat, membekali para pemimpin setempat dengan
informasi yang akurat dan terkini tentang program reintegrasi, dan meningkatkan upaya-upaya yang sedang
berjalan untuk meningkatkan keamanan.
8
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
RINGKASAN EKSEKUTIF
Upaya pemulihan di Aceh hendaknya berpijak pada kekuatan propinsi dan kemajuan yang cukup
besar yang telah berhasil dicapai. Laporan ini menunjukkan bahwa keadaan di beberapa wilayah telah jauh
lebih baik. Sebagian besar pengungsi konflik dan pengungsi tsunami sudah kembali ke daerah asal masingmasing, dan banyak dari para pengungsi ini yang tinggal di rumah sendiri. Sebagian besar indikator modal
sosial menunjukkan bahwa keadaan cukup baik: kesulitan memperoleh layanan publik jarang terjadi, responden
melaporkan tingkat kepercayaan yang tinggi di desa mereka, dan berbagai mekanisme digunakan untuk
mengatasi pelbagai masalah setempat. Upaya-upaya pemulihan berkelanjutan harus berpijak pada kekuatankekuatan ini. Untuk pendidikan, dengan telah tersedianya guru di sekolah, investasi pendidikan sebaiknya
terfokus pada tiga prioritas yang telah diidentifikasi: memperbaiki mutu dan pengalaman guru; menyediakan
lebih banyak buku pelajaran; dan memperbaiki sarana sekolah.
Pemulihan di Aceh adalah Proses Yang Mencakup Seluruh Propinsi
Upaya membantu dan memulihkan kehidupan penduduk yang kena dampak tsunami jangan sampai
menutupi kebutuhan akan bantuan bagi daerah-daerah lain di propinsi Aceh. Wilayah-wilayah dan
penduduk yang kena dampak tsunami berada di barisan depan dalam proses pemulihan dan rehabilitasi.
Namun, kerusakan prasarana dan sosial yang dialami Aceh tidak terbatas pada wilayah-wilayah yang dilanda
tsunami, dan upaya pemulihan harus merupakan proses yang mencakup seluruh Aceh. Kemiskinan masih
tersebar luas dan wilayah-wilayah dan penduduk yang kena dampak konflik masih tetap tertinggal di belakang
wilayah-wilayah dan penduduk yang kena tsunami dalam berbagai segi. Mengingat sisa-sisa konflik dan potensi
munculnya masalah-masalah di masa datang, upaya pemulihan di wilayah yang terkena dampak konflik dan
wilayah-wilayah yang terkena dampak selain tsunami perlu terus didorong.
Proses Berbasis Masyarakat Paling Efektif untuk Menetapkan Sasaran
Investasi
Meski pola-pola yang muncul di tingkat propinsi dan kabupaten dapat membantu mengarahkan
kebijakan secara keseluruhan, namun karena banyaknya perbedaan pendapat di tingkat desa, maka
proses pembangunan berbasis masyarakat merupakan cara yang paling efektif untuk memenuhi
kebutuhan desa. Manfaat pendekatan ini tampak paling jelas jika dilihat dari perbedaan yang cukup besar
di tingkat desa antara responden mengenai berbagai persoalan dalam laporan ini. Selain itu, karena kaum
perempuan sebagian besar masih belum terwakili secara memadai dalam proses pengambilan keputusan di
Aceh—lebih dari separuh responden mengatakan rapat desa dihadiri sebagian besar oleh laki-laki, perempuan
yang hadir sangat sedikit—maka perlu diberikan perhatian khusus kepada upaya-upaya untuk memastikan
bahwa semua warga masyarakat mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam, dan memberikan
sumbangan kepada, proses-proses pembangunan desa.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
9
10
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 1
Pendahuluan
01
BAB 1: PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi dan tsunami, yang datang melanda di atas konflik yang
telah berlangsung selama tiga puluh tahun, membawa dampak yang menghancurkan bagi prasarana
dan dinamika sosial di Aceh. Konflik antara Pemerintah Indonesia (GoI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
berlangsung hampir tiga puluh tahun dan mengakibatkan hampir 15.000 kematian dan sekitar 35.000 KK
pengungsi. Di seluruh propinsi itu, dan terutama di pedesaan, prasarana rusak parah dan semakin rusak karena
situasi keamanan menyebabkan sulit atau tidak mungkinnya perawatan dilakukan. Selain kerusakan fisik, tahuntahun konflik juga membawa dampak pada kehidupan sosial di propinsi itu—keluarga-keluarga yang terpisah
satu sama lain atau harus mengungsi, dampak sosial dan psikologi pada perorangan dan masyarakat, dan
ketegangan antara masyarakat, negara, dan GAM. Gempa dan tsunami 2004 dengan demikian terjadi di sebuah
propinsi yang sebelumnya sudah dilanda bencana dan kerusakan yang luas.
Gempa bumi dan tsunami itu menimbulkan sekitar 130.000 kematian, dan 37.000 lainnya masih belum
diketahui nasibnya. Wilayah yang paling parah terkena dampak adalah Banda Aceh, pantai barat laut, dan
pulau-pulau di pesisir, dengan beratus-ratus desa putus hubungan dengan angkutan dan komunikasi. Banyak
bangunan dan prasarana runtuh akibat gempa, dan terjadi penyurutan luas tanah di wilayah pantai. Tsunami
membawa sampah reruntuhan dan air laut ke rumah-rumah dan gedung-gedung sepanjang lima kilometer ke
daratan, menghancurkan rumah-rumah dan gedung-gedung tersebut dan selanjutnya merusak jalan, jembatan,
telekomunikasi, air, jaringan listrik, tanaman, sistem irigasi, prasarana perikanan, dan pangkalan-pangkalan bahan
makanan dan bahan bakar.
Setelah tsunami, pada 15 Agustus 2005, Pemerintah Indonesia (GoI) dan GAM menandatangani
Helsinki Memorandum of Understanding (MoU) untuk mengakhiri konflik yang sudah lama berlangsung
itu. Respons yang tidak ada bandingannya di tingkat nasional dan internasional pada bencana tsunami itu
menciptakan jendela peluang yang unik bagi suatu jalan alternatif untuk keluar dari konflik di Aceh. Satu tahun
setelah MoU ditandatangani, masih ada peluang yang sangat besar bagi berbagai pihak yang terlibat dalam
kegiatan membangun kembali Aceh untuk membawa dampak positif bagi proses perdamaian. Desa-desa
di wilayah konflik sedikit sekali mendapat bantuan pembangunan selama konflik; perjanjian perdamaian ini
membuka peluang untuk membawa pembangunan yang sangat dibutuhkan ke desa-desa yang sebelumnya
tertutup bagi pelaku pembangunan.
Meski sudah banyak kemajuan yang dicapai, tantangan-tantangan rekonstruksi dan pembangunan
kembali di Aceh pasca tsunami dan konflik masih tetap besar. Juga terdapat keyakinan yang semakin besar
bahwa salah satu cara terbaik untuk mengatasi masalah prasarana desa dan memenuhi kebutuhan KK adalah
memberdayakan dan memberikan sumberdaya kepada warga desa, membiarkan mereka menentukan sendiri
prioritas kebutuhan mereka dan mengelola sendiri kegiatan-kegiatan mereka melalui pendekatan-pendekatan
pembangunan masyarakat. Pembangunan berbasis masyarakat (community-driven development, CDD) adalah
sebuah pendekatan yang memungkinkan mansyarakat mengendalikan perencanaan, pengambilan keputusan,
pengelolaan dan penggunaan dana pembangunan.
Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang keadaan desa-desa Aceh saat ini, Program Pembangunan
Kecamatan (PPK)—program pembangunan masyarakat terbesar pemerintah di Aceh—melakukan
evaluasi tentang status prasarana dan keadaan sosial di seluruh propinsi Aceh. PPK adalah program
nasional pemerintah Indonesia, yang dilaksanakan oleh Departemen Dalam Negeri. PPK sudah aktif di Aceh
sejak 1998 dan telah memberikan bantuan kepada setiap desa di Aceh pasca tsunami 2004. Menggunakan
fasilitator PPK di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten, evaluasi diselenggarakan di semua desa PPK di Aceh,
mencakup 5.698 desa, 221 kecamatan dan 18 kabupaten (17 kabupaten dan 1 kota).1
Informasi yang terkumpul dari survei ini akan langsung dimasukkan ke dalam proses penetapan
visi desa dan perencanaan PPK, untuk membantu membimbing desa-desa dalam perencanaan dan
1
12
Jumlah desa PPK di Aceh berdasarkan perkiraan Unit Pengelolaan Daerah (RMU) pada September 2006.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 1: PENDAHULUAN
penetapan peruntukan sumberdaya masing-masing. Selain itu, data yang terkumpul sebagai hasil evaluasi
akan disampaikan kepada lembaga pemerintah, donor, LSM, peneliti, warga masyarakat dan lain-lain, dan akan
digunakan sebagai salah satu pedoman dalam perencanaan dan alokasi sumberdaya untuk berbagai kegiatan
di propinsi Aceh.
1.2 TUJUAN SURVEI DESA ACEH
Tujuan utama Survei Desa Aceh adalah memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang
dibutuhkan masyarakat Aceh untuk pembangunan. Ini akan menjadi masukan langsung bagi perencanaan
desa dan pelaksanaannya dalam rangka PPK, dan dapat menjadi pedoman bagi masyarakat dalam perencanaan,
penyusunan dan penggunaan anggaran masing-masing. Survei ini:
• Berisi data menyeluruh mengenai prasarana desa yang rusak dan kebutuhan desa yang dapat dijadikan
pedoman dalam merumuskan program-program rekonstruksi 2007 dan tahun-tahun berikutnya; dan
• Memberikan gambaran mengenai dinamika sosial di setiap desa, yang dapat digunakan sebagai bahan
untuk merancang program-program untuk masa mendatang.
Kotak 1.1 Apa itu Program Pembangunan Kecamatan?
Program Pembangunan Kecamatan (PPK) adalah program nasional
Pemerintah Indonesia yang bertujuan memberantas kemiskinan,
memperkuat pemerintahan setempat dan lembaga-lembaga
kemasyarakatan, dan memperbaiki tata pemerintahan setempat.
PPK dilaksanakan oleh Kantor Pengembangan Masyarakat dan
Desa (PMD), Departemen Dalam Negeri. Program ini didanai
dengan anggaran pemerintah, hibah dari donor dan pinjaman
dari Bank Dunia.
Tujuan utama Survei Desa Aceh adalah
mendukung pembangunan masyarakat di
Aceh dan menyediakan informasi yang
relevan bagi donor dan lembaga-lembaga
pemerintah untuk program-program jangka
menengah donor dan lembaga pemerintah
terkait untuk mendorong proses perdamaian
dan rekonstruksi di propinsi tersebut.
Banyak LSM, lembaga, dan donor yang
melakukan evaluasi dan survei di Aceh,
mengumpulkan informasi mengenai konflik, tsunami, dan keadaan umum di seluruh propinsi itu. Survei Desa
Aceh akan melengkapi upaya-upaya yang telah dijalankan pada masa lalu dan tengah dijalankan saat ini. Namun,
Survei Desa Aceh berbeda dari sisi tiga hal yang penting:
• Survei Desa Aceh dilaksanakan hampir di semua desa di Aceh. PPK melakukan kegiatan di 221 dari
•
•
SURVEI DESA ACEH 2006
226 kecamatan di Aceh atau di 5.698 desa. Survei Desa Aceh adalah satu-satunya survei atau evaluasi
yang dilaksanakan saat ini yang mengumpulkan informasi mengenai indikator-indikator prasarana dan
sosial dengan cakupan yang demikian luas di propinsi Aceh. Ini akan memungkinkan perbandinganperbandingan yang akurat antara desa, kecamatan dan kebupaten satu sama lain.
Data menjadi milik desa. Selain dimasukkan ke dalam pangkalan data pusat, informasi yang terkumpul
akan melengkapi informasi yang ada di tingkat desa. Karena data ini milik desa, maka data ini bermanfaat
sebagai alat yang penting untuk perencanaan desa dan alokasi sumberdaya.
Evaluasi menggunakan ahli setempat untuk mengumpulkan informasi. Evaluasi dilaksanakan
dengan menggunakan mekanisme PPK. Fasilitator desa PPK, yang adalah tenaga sukarela setempat
yang tinggal di desa, berperan sebagai petugas pencacah untuk survei ini, didukung oleh konsultan
di tingkat kecamatan. Fasilitator desa memiliki pengetahuan yang lebih banyak mengenai keadaan
terkini daripada petugas pencacah dari luar, dan mereka kenal tokoh dan narasumber di desa mereka.
Diharapkan ini akan memungkinkan terkumpulkannya data yang lebih akurat dan yang digali dari
sumber-sumber setempat.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
13
BAB 1: PENDAHULUAN
1.3
KOMPONEN UTAMA SURVEI
Survei Desa Aceh terdiri dari dua komponen: evaluasi sosial dan evaluasi prasarana. Kedua komponen ini
dilaksanakan di semua desa PPK di Aceh.
Evaluasi Sosial
Program-program reintegrasi dan rekonstruksi harus memenuhi kebutuhan material dan sosial.
Memahami hubungan sosial di tingkat setempat dan bagaimana hubungan sosial ini dipengaruhi oleh
kembalinya bekas pejuang, tawanan, dan kelompok-kelompok lainnya penting sekali untuk mengatasi berbagai
persoalan menyangkut penyaluran bantuan ke lingkungan pasca konflik. Evaluasi sosial terdiri dari empat
kuesioner informan kunci untuk diisi oleh kepala desa, ketua pemuda, tokoh perempuan, dan kepala sekolah
dasar. Seluruhnya, ada 22.300 responden desa yang diwawancarai untuk survei ini. Informasi yang dikumpulkan
adalah:
• Informasi umum desa: Komponen ini mencakup data penduduk, kemiskinan dan lapangan kerja.
• Pengungsi: Komponen ini memberikan tinjauan mengenai pengungsi tsunami dan konflik, yakni
mengenai jumlah pengungsi, kondisi kehidupan, dan keadaan ekonomi.
• Informasi: Komponen ini mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan dan kesenjangan antara
permintaan dan persediaan informasi.
• Kebutuhan desa: Komponen ini menyajikan gambaran tentang apa yang dibutuhkan masyarakat
untuk pembangunan.
• Modal sosial: Komponen ini mencakup inklusi/eksklusi, tindakan kolektif, partisipasi, dan kepercayaan.
• Pendidikan: Modul pendidikan didasarkan pada wawancara dengan kepala sekolah dan memberikan
informasi dasar mengenai sekolah, seperti jumlah guru dan murid dan kebutuhan-kebutuhan utama di
sektor pendidikan.
Seleksi Responden
Untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan akan data lintas desa yang rinci serta kapasitas dan
waktu yang tersedia bagi petugas pencacah, komponen sosial dilaksanakan dengan menggunakan
survei responden kunci, bukan menggunakan sampel yang lebih luas di tingkat KK. Responden dipilih
untuk memastikan terwakilinya pimpinan desa, pemuda, dan perempuan. Juga, untuk memastikan agar
pelaksanaan di lapangan lebih mudah, maka diputuskan untuk menggunakan kuesioner yang sama untuk
ketiga kategori responden ini dengan tambahan modul tentang karakteristik desa yang pertanyaannya diajukan
hanya kepada kepala desa. Meski ini berarti ada kehilangan dari segi kekayaan data, hal ini dipandang perlu
untuk memastikan bahwa data yang terkumpul bermutu tinggi dan dapat dikelola dengan baik. Selain ketiga
responden kunci survei ini, sebuah modul singkat dan terpisah digunakan untuk wawancara dengan kepala
sekolah dan untuk mengevaluasi keadaan sekolah dasar pada saat ini.
Kepala desa
Pemimpin masyarakat setempat adalah pelaku kunci penyelesaian perselisihan. Bahkan untuk konflik-konflik
yang terkait dengan GAM-GoI sekalipun, kepala desa sering memainkan peranan penting, misalnya dalam
merundingkan kasus-kasus penculikan dan penyelesaian perselisihan yang terkait dengan pemerasan. Peran
serta kepala desa dalam menyebarkan dan memantau proses perdamaian dan meningkatkan kepercayaan
yang diperlukan untuk proyek-proyek pembangunan, sangat penting.
Ketua pemuda
Ketua pemuda memberikan perspektif penduduk usia muda di Aceh. Peran serta kaum muda dalam proses
pembangunan masyarakat sangat penting, karena sebagian besar kelompok penduduk ini kena dampak proses
reintegrasi dan juga akan menjadi pemimpin masa depan di propinsi itu.
14
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 1: PENDAHULUAN
Tokoh perempuan
Perempuan sering dipinggirkan dalam proses pembangunan di Aceh. Mereka juga kelompok yang menggunakan
sebagian besar waktunya untuk kegiatan rumah tangga di desa sehingga mereka memahami dengan baik
dinamika sosial di desanya. Pandangan kaum perempuan memberikan wawasan yang penting bagi perencanaan
pembangunan desa dan kebutuhan masyarakat.
Seluruhnya ada 22.300 responden (kepala desa, tokoh perempuan, ketua pemuda, dan kepala sekolah) di
5.587 desa di Aceh yang diwawancarai untuk survei ini.2
Instrumen penelitian
Tabel di bawah ini menyajikan tinjauan atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada berbagai responden.
Kuesioner bagi responden kunci disajikan dalam Lampiran 1.
Tabel 1.1 Tinjauan pertanyaan survei dan responden
Responden Survei
Topik dan pertanyaan penelitian
Kepala
desa
Ketua
pemuda
Tokoh
perempuan
Informasi umum desa
Data penduduk
Data kemiskinan
Data pekerjaan
√
Pengungsi
Pengungsi akibat tsunami, cara hidup saat ini
dan keadaan ekonomi
Pengungsi akibat konflik, cara hidup saat ini
dan keadaan ekonomi
√
√
√
Informasi
Informasi yang dibutuhkan masyarakat
Sumber informasi
√
√
√
Identifikasi kebutuhan desa
√
√
√
Dinamika Sosial
Akses kepada pelayanan, inklusi
Tindakan kolektif
Partisipasi
Kepercayaan
√
√
√
Pendidikan
Jenis dan kategori sekolah
Jumlah murid
Jumlah dan jenis guru
Kebutuhan sektor pendidikan
Kepala sekolah
dasar
√
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
2
Kalkulasi ini didasarkan pada jumlah total kuesioner yang dikembalikan oleh fasilitator desa.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
15
Evaluasi Prasarana
Evaluasi prasarana Survei Desa Aceh memetakan semua jenis prasarana di desa (tidak hanya prasarana
yang dibangun oleh PPK) dan memberikan informasi rinci tentang:
• Jalan
• Jembatan
• Air dan sanitasi
• Listrik
• Irigasi
• Fasilitas desa, termasuk kesehatan dan pendidikan, rumah ibadah, dan balai pertemuan
• Fasilitas ekonomi
• Pemukiman
• Lahan produktif
Survei mencatat semua prasarana yang ada di desa, tingkat kerusakan dan penyebab kerusakan (bencana alam,
konflik, atau kurang pemeliharaan). Survei juga mempelajari apa yang dibutuhkan untuk rekonstruksi atau
mengganti prasarana yang rusak dan, jika ada, tingkat rekonstruksi hingga saat ini. Formulir evaluasi prasarana
dapat dilihat dalam Lampiran 1.
16
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 2
Metodologi Survei
02
BAB 2: METODOLOGI SURVEI
Kegiatan lapangan Survei Desa Aceh dilakukan pada bulan Agustus dan September 2006, setelah
melalui masa persiapan yang intensif untuk menyusun sistem pelaksanaan, dan menyusun serta menguji coba
kuesioner di lapangan. Karena Survei Desa Aceh dilaksanakan dengan menggunakan sistem PPK yang ada dan
personil PPK, berbagai penyesuaian dilakukan untuk mengakomodasi beban tugas dan jadwal staf lapangan.
PPK mencakup semua desa di Aceh, sekitar 5.698 desa di 221 kecamatan dan 18 kabupaten. Tingkat
pengembalian kuesioner untuk survei ini sangat tinggi: 98 persen atau 5.587 desa mengembalikan kuesioner
sosial; dan 94 persen atau 5.356 desa mengembalikan kuesioner prasarana. Namun, seperti yang dijelaskan di
bawah ini, ada informasi yang hilang pada berbagai bagian survei, mis., tidak semua pertanyaan dijawab atau
diisi lengkap. Kekurangan-kekurangan ini dicatat dengan seksama dalam berkas data.
Pelaksana Survei
Survei ini adalah kerjasama antara Departemen Dalam Negeri, tim lapangan PPK di Aceh, dan anggota tim dari
kantor Bank Dunia Indonesia.
Tim lapangan PPK terdiri dari:
Unit Pengelolaan Daerah PPK (RMU)
Didukung oleh Bank Dunia, Unit Pengelolaan Daerah PPK (RMU) di Aceh memberikan dukungan umum dan
melakukan koordinasi untuk evaluasi ini.
Tim Pelatihan
Mengingat luasnya cakupan survei ini, sekitar 18.000
fasilitator kecamatan (FK) dan fasilitator desa (FD) dilatih
untuk melaksanakan survei. Pelatihan diselenggarakan
secara bertahap. Pertama, empat tim pelatih dikumpulkan,
masing-masing terdiri dari sub-tim prasarana dan sub-tim
sosial dan berada di bawah pengawasan koordinator kepala
prasarana PPK dan koordinator kepala sosial PPK. Para pelatih
itu adalah personil PPK, baik dari konsultan pengelolaan
nasional PPK (NMC) ataupun dari RMU PPK, bersama staf dan
konsultan Bank Dunia. Total 12 kali pelatihan diselenggarakan
secara berkelompok di tingkat kabupaten (beberapa
kabupaten disatukan untuk mengurangi waktu pelatihan
yang diperlukan untuk pelaksanaan seluruh pelatihan),
semuanya dijadwalkan bertepatan dengan rapat bulanan
FK PPK. Setiap pelatihan mencakup tiga kelompok (clusters)
pelatihan.
Pelatihan Fasilitator Desa di Kec. Batee, Kab. Pidie. Fasilitator
Kecamatan sedang memberikan arahan bagaimana
mewawancarai informan kunci.
Tabel 2.1 Jadwal Survei Desa Aceh
Tugas
Mei
06
Jun
06
Jul
06
Agu
06
Sep
06
Okt
06
Nov
06
Des
06
Jan
07
Feb
07
Menyiapkan instrumen survei dan logistik
Uji lapangan
Melatih staf lapangan
Mengumpulkan data lapangan
Mengembalikan formulir ke Banda Aceh
Memeriksa data
Memasukkan dan memproses data
Menulis laporan
Penyelesaian laporan
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
18
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 2: METODOLOGI SURVEI
Fasilitator Kabupaten PPK (KM Kab)
Fasilitator kabupaten adalah pengelola PPK tingkat kabupaten. Mereka melakukan koordinasi dan
pengawasan atas Survei Desa Aceh di tingkat kabupaten. Mereka bertanggung jawab atas penyelenggaraan
dan dukungan bagi pelatihan fasilitator kabupaten dan atas koordinasi dengan tim pelatih PPK dan Unit
Pengelolaan Daerah (RMU) menyangkut pelaksanaan keseluruhan evaluasi ini. Fasilitator kabupaten juga
bertanggung jawab mengumpulkan semua kuesioner dari FK dan melakukan kajian acak sebelum menyerahkan
kuesioner pada rapat RMU pada September 2006 di Banda Aceh.
Fasilitator Kecamatan PPK (FK)
FK adalah fasilitator kecamatan PPK dan di setiap kecamatan ada fasilitator sosial (FD) dan satu atau dua
fasilitator kecamatan teknik (FT), tergantung pada besarnya kecamatan dan jangkauannya. FT dan FK
adalah pelatih utama untuk evaluasi. FT bertanggung jawab bagi pelatihan satu FD dan satu tim pelaksanaan
kegiatan (TPK) dari setiap desa tentang prosedur pelaksanaan evaluasi prasarana. FK bertanggung jawab melatih
satu FD dari setiap desa mengenai pelaksanaan evaluasi sosial.
FK/FT mendapat “Pelatihan Pelatih” dari kelompok pelatih. Setelah ini, mereka bertanggung jawab
menyelenggarakan pelatihan tingkat desa, memberikan dukungan menyeluruh dan koordinasi selama
pelaksanaan survei, melakukan kajian acak di desa-desa, dan mengumpulkan kuesioner dari responden tingkat
desa, dan menyerahkannya kepada KM Kab pada rapat bulanan di tingkat kabupaten.
Fasilitator Desa PPK (FD) dan Tim Pelaksana Kegiatan Desa (TPK)
Metodologi dan metode pengumpulan data sengaja dibuat sederhana agar warga desa dapat menjadi
petugas pencacah. Satu fasililator desa PPK (FD) bersama dengan satu Tim Pelaksana Kecamatan (TPK),
bertanggungjawab melaksanakan komponen prasarana. Seorang FD lagi bertanggung jawab melaksanakan
komponen sosial dan mewawancarai responden kunci. Fasilitator Kecamatan PPK melatih FD dan TPK mengenai
prosedur survei. Pelatihan diberikan di tingkat kecamatan dan diadakan bertepatan dengan rapat bulanan FD.
Setelah pelatihan, FD diberi waktu untuk melakukan praktek dan melaksanakan survei. Mereka juga bertanggung
jawab membawa semua kuesioner yang telah diisi kepada FK/FT masing-masing sesuai dengan jadwal yang
telah ditetapkan.
Memasukkan dan membersihkan data
Setelah FD-PPK selesai melaksanakan survei, formulir
survei dikirimkan melalui FK kepada KM Kab dan
RMU di Banda Aceh. Sebuah tim data kemudian
menghitung jumlah formulir survei dan melakukan
tinjauan acak atas sekitar 30 persen dari formulir
survei, untuk memeriksa lengkap-tidaknya isi formulirformulir tersebut.
Kotak 2.1 Siapa itu Fasilitator Desa (FD)?
Warga desa memilih FD, atau fasilitator desa (satu laki-laki,
satu perempuan), yang bertugas membantu sosialisasi
PPK dan proses perencanaan PPK. FD memfasilitasi
pertemuan kelompok, termasuk pertemuan khusus
untuk perempuan, untuk membahas kebutuhan desa
dan prioritas-prioritas pembangunannya.
Formulir kemudian diserahkan kepada organisasi pengelolaan data Aceh, GARANSI, yang memasukkan
data, membersihkan data, dan menyiapkan tabulasi yang diminta. Data lengkap dan tabulasi diserahkan
kepada tim laporan survei Bank Dunia untuk dianalisis dan dilaporkan.
Bank Dunia Indonesia
Tim Bank Dunia Indonesia memberikan tuntunan menyeluruh, pengawasan, dan analisis penelitian
untuk survei ini. Tim Bank Dunia untuk survei ini terdiri dari staf dan konsultan dari unit-unit Social Development
dan Poverty Reduction and Economics Management (PREM) dari kantor Bank Dunia di Indonesia.
Rancangan survei disusun bersama-sama oleh Departemen Dalam Negeri dan Bank Dunia.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
19
BAB 2: METODOLOGI SURVEI
Beberapa Persoalan dalam Pembersihan Data
Tim survei menghadapi sejumlah persoalan menyangkut pembersihan data sebelum analisis. Persoalanpersoalan yang paling umum adalah:
• Harus diperhatikan betul agar “0” dan “nilai yang hilang” tidak tercampur aduk.
• Dalam hal jawaban tidak lengkap, tim analisis survei mencatat dengan seksama jumlah responden
untuk setiap variabel.
• Untuk sejumlah kategori dengan “fakta” numerik, misalnya, persentase penduduk miskin, dilakukan
•
•
•
•
pemeriksaan yang teliti untuk memastikan tidak ada kesenjangan dalam informasi itu. Untuk data dengan
kesenjangan yang sangat besar, mis., jumlah KK miskin dilaporkan jauh lebih banyak daripada jumlah
KK di desa bersangkutan, data ini dianggap “data yang hilang” dan dikesampingkan dalam kalkulasi.
Sejumlah data ganda dan kosong ditemukan dan kemudian dikesampingkan.
Untuk data prasarana, tim analisis memeriksa masuk akal tidaknya data yang terkait dengan unit-unit
pengukuran. Meski unit pengukur seharusnya dimasukkan secara otomatis, kadang-kadang pekerja
lapangan menggunakan unit pengukur yang berbeda. Misalnya, unit untuk mencatat klinik kesehatan
adalah jumlah klinik. Namun, ada kalanya klinik dicatat dalam meter persegi. Kesalahan-kesalahan data
seperti ini pada umumnya dapat dikonversi karena tim analisis memahami keadaan yang sama di
lapangan.
Pengukuran status prasarana dipecah ke dalam kategori tidak-rusak, empat derajat kerusakan, dan
tiga penyebab kerusakan. Jumlah total prasarana yang rusak yang didasarkan pada keempat derajat
kerusakan itu harus sama dengan jumlah total kerusakan berdasarkan ketiga penyebab kerusakan. Jika
tidak sama, ini harus diperbaiki, meskipun formulir asli lapangan sudah tidak ada. Ini membutuhkan
latar belakang pengetahuan mengenai kemungkinan kadar kerusakan bagi setiap potensi penyebab
kerusakan.
Setiap catatan prasarana yang rusak dalam berkas data harus disertai data tentang statusnya saat ini.
Prasarana yang rusak memiliki dua kemungkinan: belum pernah diperbaiki atau diganti, atau sedang
diperbaiki atau diganti. Jika telah diperbaiki, prasarana itu tidak termasuk prasarana yang rusak, tetapi
termasuk prasarana yang telah diperbaiki. Ini kadang-kadang tidak dituliskan dengan benar, sehingga
angka kerusakan harus dikurangi dengan angka prasarana yang telah diperbaiki oleh tim analisis, dan
jumlah total prasarana yang tidak rusak harus dinaikkan sebesar angka yang sama.
Pada umumnya, tim analisis survei berusaha memeriksa ulang dengan seksama semua data lapangan untuk
survei ini.
Pertimbangan-pertimbangan lain tentang Data
Seperti disebutkan di atas, fasilitator desa PPK dan
tim pelaksana bertugas sebagai petugas pencacah
dalam survei ini. Mereka adalah warga desa dan
dipilih oleh warga desa untuk menjadi bagian tim
PPK. Karena itu, ada potensi bias dalam jawabanjawaban dari responden survei, terutama dalam
pertanyaan tentang pendapat pribadi, sebagai
akibat dari penggunaan petugas pencacah
setempat yang berhubungan dengan PPK. Meski
para petugas PPK ini memiliki kelebihan dalam
arti lebih mengenal keadaan setempat, terdapat
kemungkinan bahwa peranan mereka sebagai
petugas PPK di desa dapat mempengaruhi jawaban
responden. Meski tim survei tidak memiliki bukti
bahwa bias ini benar-benar ada dan terjadi, namun
tim ingin menyatakan secara eksplisit di sini bahwa
bias ini kemungkinan ada.
20
Fasilitator Kecamatan Teknis dan Sosial di Kec. Jangka, Kab. Biruen sedang
memeriksa dan memverifikasi kuesioner yang diserahkan oleh Fasilitator Desa
dan Tim Pelaksana Kegiatan sebelum mengirimkannya kepada Konsultan
Manajemen Kabupaten (KM-Kab.).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 3
Informasi Umum Tentang Desa
03
BAB 3: INFORMASI UMUM DESA
Modul pertama dalam survei ini mengajukan 11 pertanyaan kepada kepala desa mengenai karakteristik
umum sosial-ekonomi desanya masing-masing. Modul ini juga menggali tingkat ketergantungan setiap
desa (mis., KK gantung, anak yatim, anak-anak tidak sekolah), dan masalah-masalah lapangan kerja dan pekerjaan.
Variabel-variabel modul ini adalah:
Penduduk desa (laki-laki, perempuan)
Jumlah KK di desa
Rumah tangga yang tinggal bersama orang tua/keluarganya (KK gantung)
Rumah tangga yang makan hanya sekali sehari
Rumah tangga yang menerima zakat
Rumah tangga miskin
Anak yatim
Anak-anak usia sekolah yang belum terdaftar sebagai murid sekolah atau tidak bersekolah
Pekerjaan
Warga usia 15 ke atas yang tidak bekerja saat ini
Warga usia produktif (antara 15 dan 55 tahun)
Kepala Desa bertindak sebagai responden untuk modul Informasi Umum Desa. Dari sekitar 5.200 desa yang
memasukkan laporan, ada 32 Kepala Desa perempuan; selebihnya Kepala Desa laki-laki.
Penduduk Desa
Dari total sekitar 5.200 desa yang memasukkan laporan jumlah penduduk, survei melaporkan jumlah
penduduk sebesar 3,41 juta orang; 1,75 juta atau 51 persen terdiri dari perempuan. Kabupaten-kabupaten
terbesar menurut jumlah penduduk adalah Aceh Utara, Pidie dan Bireuen. Jumlah penduduk terkecil terdapat
di kabupaten Aceh Jaya, Gayo Lues, dan Simeulue. Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang
diikutkan dalam survei (yi. kecamatan Muara Dua) karena dua kecamatan yang lain tidak termasuk lokasi PPK.
Perbedaan gender terbesar terdapat di Kabupaten Gayo Lues, dengan 54 persen perempuan, dan kabupaten
Simeulue, dengan hanya 48 persen perempuan.
Gambar 3.1 Penduduk kabupaten menurut gender
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
22
Data untuk dua variabel terakhir (yi. “Warga usia 15 ke atas yang tidak bekerja saat ini” dan “Warga usia produktif (antara 15-55 tahun))”
tidak digunakan dalam analisis untuk laporan ini karena banyaknya data yang meragukan (mis. jumlah warga usia produktif > 80 persen
dari total penduduk, jumlah warga usia produktif < 20 persen dari total penduduk).
Bandingkan dengan jumlah penduduk propinsi Aceh sebesar 4,1 juta menurut Podes 2005 BPS. Perbedaan angka sebagian dapat
dijelaskan oleh kenyataan bahwa dalam survei ini desa-desa yang melapor berjumlah 5.200, sedangkan angka Podes 2005 berasal dari
5.968 desa yang melapor, termasuk desa dan kampungkota (kelurahan).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 3: INFORMASI UMUM DESA
Jumlah KK yang tinggal dengan orang tua/kerabat (KK gantung)
Jumlah KK yang tinggal dengan orang tua/kerabat sebesar 111.145, atau sekitar 14 persen dari jumlah
total. Jumlah tertinggi KK gantung terdapat di Pidie (25.007 keluarga); Aceh Utara (15.534 keluarga); dan Bireuen
(11.082 keluarga). Persentase tertinggi KK gantung terdapat di Pidie (21,7 persen), Aceh Barat Daya (17,6 persen),
dan Aceh Selatan (16,6 persen)
Rumah tangga yang makan hanya sekali sehari
Jumlah KK yang makan hanya sekali sehari sebesar 18.818, atau sekitar 2,4 persen dari jumlah total.
Dari 4.530 desa yang melapor, 1.055 desa atau 23 persen melaporkan kasus KK yang makan hanya sekali sehari.
Konsentrasi terbesar terdapat di Pidie (3.250 KK), diikuti Aceh Utara (2.259 KK), Bireuen (2.221 KK) dan Aceh Timur
(1.926 KK). Sebagai persentase dari besar penduduk kabupaten, persentase tertinggi adalah di Gayo Lues (5,1
persen dari penduduk kabupaten), diikuti Aceh Barat (3,1 persen) dan Bener Meriah (3,0 persen).
Rumah tangga yang mendapat zakat
Survei menanyakan berapa banyak KK yang mendapat zakat. Zakat biasanya diberikan kepada orang
miskin. Rata-rata, sekitar 190.000 KK, atau sekitar 23,8 persen5 dari propinsi, mendapat zakat. Jumlah
tertinggi KK penerima zakat terdapat di Pidie (30.489), Aceh Utara (25.359), dan Aceh Besar (17.561). Persentase
tertinggi KK penerima zakat adalah di Aceh Barat (63,2 persen), Aceh Tengah (28,3 persen), Nagan Raya (26,9
persen) dan Pidie (26,4 persen).
Jumlah KK miskin
Dua puluh enam persen atau 207.594 KK6 dimasukkan kepala desa ke dalam kategori “KK miskin”.
Tiga kabupaten dengan jumlah KK miskin terbesar adalah Pidie (34.759 keluarga); Aceh Utara (29.555 keluarga)
dan Bireuen (19.777 keluarga).7 Dari sisi persentase berdasarkan jumlah penduduk, hampir semua kabupaten
melaporkan bahwa 25 - 30 persen dari penduduknya miskin, dengan jumlah persentase tertinggi di kabupaten
Nagan Raya dan Gayo Lues (30,5 persen) dan Pidie (30,1 persen). Pidie, Aceh Utara dan Bireuen termasuk dalam
lima kabupaten dengan intensitas konflik tertinggi.8 Namun, dari ketiga kabupaten ini, hanya Bireuen yang
paling parah menderita dampak tsunami.9
Berdasarkan sejumlah indikator kemiskinan yang relevan, kabupaten Pidie, Aceh Utara dan Bireuen adalah
kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbesar.10
5
6
7
Dari 3.966 desa yang melapor.
3.610 desa yang melapor
Data BPS dari Susenas 2004 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Aceh 28,5 persen; Aceh Utara, Pidie dan Bireuen adalah tiga
kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi menurut jumlah orang miskin.
8 Indeks intensitas konflik membagi kecamatan ke dalam tiga kategori intensitas konflik: rendah, menengah, dan tinggi. Indeks untuk
kabupaten dihitung menggunakan rata-rata tertimbang nilai indeks semua kecamatan di kabupaten (rendah = 1, menengah = 2, tinggi
= 3).
9 Indeks dampak tsunami membagi kecamatan di Aceh ke dalam empat kategori dampak tsunami: normal, ringan, menengah, dan berat.
Indeks kabupaten dihitung menggunakan rata-rata tertimbang nilai indeks semua kecamatan di kabupaten (normal = 0, ringan = 1,
menengah = 2, berat = 3).
10 Data dari PODES 2005 juga menunjukkan bahwa Aceh Utara, Pidie dan Bireuen termasuk kabupaten dengan jumlah KK miskin terbesar
di Aceh.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
23
24
SURVEI DESA ACEH 2006
23.636
26.309
70.526
13.468
44.253
33.266
49.477
32.654
35.516
70.806
114.144
23.757
77.678
9.465
20.139
20.729
115.476
13.708
795.007
Aceh Barat
Aceh Barat Daya
Aceh Besar
Aceh Jaya
Aceh Selatan
Aceh Singkil
Aceh Tamiang
Aceh Tengah
Aceh Tenggara
Aceh Timur
Aceh Utara
Bener Meriah
Bireuen
Gayo Lues
Lhokseumawe
Nagan Raya
Pidie
Simeulue
TOTAL
111.145
1.540
7.333
3.567
3.637
2.617
3.629
9.517
15.534
2.233
11.082
1.493
1.612
3.211
25.007
1.544
9.756
3.205
4.628
14,0
11,4
16,6
10,7
7,4
8,0
10,2
13,4
13,6
9,4
14,3
15,8
8,0
15,5
21,7
11,3
13,8
13,6
17,6
% KK
gantung
18.818
375
1.037
677
822
835
676
1.926
2.259
711
2.221
478
67
211
3.250
277
1.864
729
403
2,4
2,8
2,3
2,0
1,7
2,6
1,9
2,7
2,0
3,0
2,9
5,1
0,3
1,0
2,8
2,0
2,6
3,1
1,5
% KK
Jumlah
makan
KK makan
sekali
sekali sehari
sehari
Source : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Total KK
Kabupaten
Jumlah KK
gantung
Tabel 3.1 Informasi KK menurut kabupaten
189.482
2.811
8.846
7.043
9.536
9.245
8.443
16.143
25.359
4.999
16.811
2.189
1.729
5.568
30.489
3.150
17.561
14.944
4.616
Jumlah KK
penerima
zakat
23,8
20,9
20,0
21,2
19,3
28,3
23,8
22,8
22,2
21,0
21,6
23,1
8,6
26,9
26,4
23,0
24,9
63,2
17,5
207.594
3.097
9.850
8.519
10.925
9.188
10.545
18.208
29.555
6.531
19.777
2.886
2.204
6.324
34.759
3.783
18.368
6.768
6.307
26,1
23,0
22,3
25,6
22,1
28,1
29,7
25,7
25,9
27,5
25,5
30,5
10,9
30,5
30,1
27,6
26,0
28,6
24,0
% KK
Jumlah KK % KK
penerima
miskin
miskin
zakat
107.635
1.970
5.738
4.066
4.360
4.441
4.785
9.081
15.804
3.712
11.783
1.248
608
2.799
17.338
1.911
11.129
4.578
2.284
Jumlah
anak
yatim
60.313
908
3.448
2.282
2.125
2.792
2.478
5.321
8.935
2.303
6.384
756
462
1.556
10.371
1.011
5.320
2.213
1.648
Jumlah anak usia
sekolah yang saat ini
tidak terdaftar atau
tidak sekolah
BAB 3: INFORMASI UMUM DESA
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 3: INFORMASI UMUM DESA
Jumlah anak yatim
Survei mencatat ada 107.635 anak yatim11 di propinsi ini; jumlah anak yatim terbesar terdapat di Pidie
(17.338), Aceh Utara (15.804) dan Bireuen (11.783).
Anak-anak usia sekolah yang tidak terdaftar saat ini atau tidak bersekolah
Anak-anak tidak sekolah mencapai 60.313 orang. Jumlah tertinggi anak tidak bersekolah terdapat di Pidie
(10.371), Aceh Utara (8.935), dan Bireun (6.384).
Jenis pekerjaan
Pertanian sejauh ini merupakan jenis pekerjaan yang paling umum ditemukan dari antara jenis
pekerjaan yang dicatat dalam survei ini. Lima puluh tujuh persen responden adalah petani, diikuti oleh
pekerja/buruh musiman (17,0 persen), pekerjaan lain (8,0 persen), dan saudagar atau pedagang (6,0 persen).12
Gambar 3.2 Jenis Pekerjaan berdasarkan Penduduk yang Bekerja
1%
3%
1%
1%
3%
4%
Petani
Pekerja tidak tetap
6%
Lain-lain
Pedagang
Nelayan
8%
57 %
PNS
Guru
Tenaga medis
TNI Polri
17 %
Pengusaha
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
KESIMPULAN
Kabupaten Pidie, Aceh Utara, dan Bireuen adalah kabupaten dengan jumlah penduduk terbesar dan
jumlah KK miskin terbesar berdasarkan “indikator kemiskinan” yang diamati dalam survei ini: jumlah
KK miskin; KK yang makan hanya sekali sehari; KK yang menerima zakat; anak yatim; anak-anak usia sekolah
yang tidak terdaftar sebagai murid atau tidak bersekolah; dan warga yang menganggur. Menarik bahwa ketiga
kabupaten ini terletak di pantai timur dan, kecuali Bireuen, tidak langsung dilanda tsunami 2004. Tetapi ketigatiganya mengalami konflik tingkat tinggi selama bertahun-tahun. Ketiganya juga termasuk yang paling banyak
menampung pengungsi (lihat butir 5.1).
11 5.079 desa melapor tentang anak yatim.
12 Responden mungkin melaporkan lebih dari satu pekerjaan untuk setiap warga desa.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
25
26
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4
Status Prasarana
04
BAB 4: STATUS PRASARANA
Evaluasi keadaan prasarana di tingkat desa di Aceh merekam status kerusakan saat ini, penyebab
kerusakan, dan status perbaikan/rekonstruksi. Survei menyelidiki 57 jenis prasarana yang dikelompokkan ke
dalam sembilan kategori utama: jalan/transportasi; jembatan; air dan sanitasi; listrik; irigasi; fasilitas desa; fasilitas
ekonomi; perumahan; dan lahan produktif. Survei ini didasarkan pada survei sebelumnya yang lebih sederhana
dan dilakukan oleh PPK pada Maret 2005 mengenai prasarana yang rusak akibat gempa dan tsunami di Aceh
dan Nias. Meski hasil survei pada waktu itu - tiga bulan setelah tsunami terjadi - memadai dan banyak informasi
yang diperoleh, survei tersebut tidak dapat mencakup semua daerah yang rusak pada waktu itu berhubung
keterbatasan cakupan dan sumberdaya manusia PPK saat itu.
Untuk Survei Desa Aceh 2006 ini, instrumen dan metodologi sudah diperbaiki. Instrumen-instrumen survei
yang lama ditinjau ulang dan metodologi diperbaiki agar lebih akurat dan lengkap. Salah satu instrumen yang
ditinjau ulang adalah laporan pengumpulan data dasar dan formulir ringkasan. Disepakati untuk menambahkan
beberapa jenis prasarana yang lain, sehingga jumlah total jenis prasarana menjadi 57. Formulir ringkasan juga
diubah agar terekam tiga faktor lain yang mungkin menjadi penyebab—bukan hanya tsunami seperti pada
waktu lalu. Ketiga faktor yang mungkin menjadi penyebab ini adalah konflik, bencana alam (termasuk tsunami
dan gempa), dan kurang pemeliharaan. Formulir ringkasan juga diubah agar mencakup informasi tentang
nasib prasarana yang rusak, khususnya apakah telah diperbaiki atau diganti pada waktu survei ini diadakan.
Buku pedoman juga diubah agar mencerminkan instrumen dan formulir yang baru ini. Penjelasan mengenai
instrumen dan formulir ini diberikan dalam Kotak 4.1.
Apa yang rusak dan di mana?
Survei menemukan bahwa kerusakan prasarana desa sangat meluas; lebih dari 50 persen dari kategori
utama prasarana mengalami kerusakan. Untuk menentukan penyebab kerusakan di setiap kabupaten,
disusun indeks kerusakan tingkat kabupaten.
Metodologi yang digunakan untuk menyusun
indeks ini dijelaskan dalam Kotak 4.2. Dari Tabel
4.1, dapat dilihat bahwa keadaan prasarana di
seluruh kabupaten pada umumnya parah sekali.
Tidak ada kabupaten dengan tingkat kerusakan
di bawah 50 persen. Misalnya, Aceh Tamiang
memiliki indeks 5,52, yang berarti lebih dari 55
persen dari prasarananya dalam keadaan rusak,
dan ini dapat diakibatkan oleh konflik, bencana
alam, maupun kurang pemeliharaan. Indeks
rata-rata dari semua kabupaten adalah 6,82.
Aceh Jaya menduduki tempat tertinggi dengan
indeks sebesar 8,88; yang berarti lebih dari
80 persen dari prasarananya rusak. Data rinci
prasarana yang rusak menurut jenis prasarana, Tim Pelaksana Kegiatan sedang mengukur jembatan kayu di Ds. Uning Pune,
menurut besar kerusakan, menurut penyebab Kec. Putri Betung Kab. Gayo Lues
kerusakan, dan menurut tingkat perbaikan
dapat dilihat dalam Lampiran 3.1 dan 3.2.13
Rata-rata, lebih dari 50 persen prasarana dari semua kategori rusak. Jika dilihat Tabel 4.1 untuk kesembilan
kategori utama prasarana, tampak bahwa hanya tiga kategori (yi. lahan produktif, perumahan, dan listrik) yang
mengalami kerusakan di bawah 40 persen di kabupaten mana saja (yi. indeks di bawah 4), dan ini ditemukan
hanya di 5 dari 18 kabupaten. Sebaliknya, lebih dari 50 persen dari sistem air bersih, sistem irigasi, angkutan
dan jembatan mengalami kerusakan di semua kabupaten. Indeks tingkat propinsi untuk enam dari sembilan
13 Survei ini diadakan enam bulan sebelum banjir bandang melanda tujuh kabupaten di Aceh pada Desember 2006 (Aceh Tamiang, Aceh
Utara, Aceh Timur, Bireuen, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Tengah). Karena itu, status kerusakan prasarana di kabupaten-kabupaten
itu kemungkinan besar bahkan lebih buruk lagi dari apa yang dilaporkan di sini.
28
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
kategori prasarana ini (yakni angkutan, jembatan, sistem air bersih dan sanitasi, listrik, sistem irigasi, dan fasilitas
desa) adalah 7, yang berarti bahwa lebih dari 70 persen dari prasarana dalam kategori ini dalam keadaan rusak.
Hanya indeks perumahan, lahan produktif, dan kegiatan ekonomi yang agak lebih rendah (di bawah 70 persen).
Air dan sanitasi
Listrik
Irigasi
Fasilitas desa
Fasilitas ekonomi
Perumahan
Lahan Produktif
Rata-rata
Aceh Barat
Jembatan
Kabupaten
Transportasi
Tabel 4.1 Indeks kerusakan untuk semua penyebab kerusakan menurut kategori prasarana dan menurut
kabupaten
7
7
8
9
7
6
7
5
6
7,40
Aceh Barat Daya
6
6
7
6
7
6
4
4
4
5,97
Aceh Besar
7
6
6
7
7
6
5
4
3
6,04
Aceh Jaya
9
8
8
9
9
9
9
8
8
8,88
Pidie
7
6
6
4
7
7
4
5
5
6,24
Nagan Raya
8
7
6
8
8
8
4
6
8
7,50
Lhokseumawe
6
5
6
10
9
7
4
5
7
6,96
Aceh Utara
7
6
7
8
7
7
6
6
4
6,74
Aceh Selatan
8
7
7
9
8
7
6
4
8
7,55
Aceh Tenggara
8
9
8
7
8
7
6
4
3
7,09
Aceh Timur
7
7
7
6
8
8
6
5
5
7,31
Gayo Lues
8
8
6
6
8
9
6
7
7
7,73
Aceh Tamiang
5
6
6
4
7
6
4
3
2
5,52
Aceh Tengah
6
7
7
3
7
7
5
3
5
6,12
Bener Meriah
7
8
7
9
6
8
9
5
6
7,73
Bireuen
7
7
7
8
8
8
6
6
6
7,32
Aceh Singkil
6
7
8
3
8
7
6
5
7
6,77
Simeulue
7
7
7
6
8
8
7
8
7
7,66
Propinsi
7
7
7
7
7
7
6
5
5
6,82
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
29
BAB 4: STATUS PRASARANA
Contoh peta desa yang dibuat oleh Tim Pelaksana Kegiatan di Ds. Jangka Ule, Kecamatan Jangka, Kab. Bireuen
30
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
Kotak 4.1 Penjelasan tentang pelaporan kerusakan
Penjelasan tentang tingkat kerusakan
Setiap prasarana dicatat tingkat kerusakannya, dengan catatan bahwa beberapa prasarana dapat dipecah ke dalam
beberapa bagian dengan tingkat kerusakan yang berbeda. Misalnya, jalan sepanjang 500 meter dapat terdiri dari ruas
tidak rusak sepanjang 100 meter, ruas agak rusak sepanjang 100 meter, dan ruas rusak berat sepanjang 300 meter. Bila
sebuah volume dicatat sebagai satu unit, maka volume itu hanya dapat muncul dalam satu kategori.
Tidak rusak
Rusak ringan
Rusak berat
Perlu diganti
Terbengkalai
Masih bekerja sepenuhnya atau sudah diperbaiki
Rusak, tetapi masih dapat digunakan sambil menunggu perbaikan
Rusak berat sehingga tidak dapat atau hampir tidak dapat digunakan, tetapi dapat diperbaiki
Rusak berat tidak dapat diperbaiki, karena itu harus diganti
Tidak dapat digunakan, barangkali karena ditelantarkan sebelum selesai. Penelantaran mungkin
dikarenakan alasan keamanan atau ketakutan.
Keterangan tentang penyebab kerusakan
Survei ini melihat tiga penyebab kerusakan, dan fasilitator desa dan tim pelaksanan teknis diminta memilih satu
penyebab untuk setiap bagian atau porsi prasarana yang diamati. Sering terjadi bahwa sebuah prasarana rusak akibat
berbagai penyebab, tetapi fasilitator hanya merekam penyebab yang dominan. Misalnya, sebuah prasarana agak rusak
karena kurang pemeliharaan, dan kemudian ditutup karena konflik. Kemudian tsunami menghantamnya. Dalam hal ini,
konflik seharusnya yang dipilih sebagai penyebab utama. Ketiga penyebab kerusakan itu sebagai berikut:
Konflik
Bencana Alam
Kurang pemeliharaan
Pertempuran antara GAM dan TNI sering melumpuhkan sebuah wilayah dan kedua belah
pihak sering menekan warga masyarakat setempat. Banyak prasarana dirusak untuk
memutuskan hubungan dengan daerah-daerah terpencil yang dijadikan basis oleh GAM.
Sarana-sarana yang lain dirusak untuk menghambat musuh.
Tsunami 2004 membawa dampak pada 13 dari 17 kabupaten di Aceh, dan juga pada
keempat kotamadya (Banda Aceh, Sabang, Lhokseumawe, dan Langsa). Di samping
tsunami dan gempa yang mendahuluinya, gempa susulan dan bencana alam lainnya juga
terjadi di Aceh, termasuk banjir di Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.
Prasarana membutuhkan pemeliharaan, tetapi kegiatan-kegiatan pemeliharran sulit
dijamin karena kendala sumberdaya dan keuangan. Keadaan beberapa prasarana menjadi
buruk akibat penggunaan berlebih dan kurangnya pemeliharaan.
Penjelasan tentang status saat ini
Untuk tujuan survei ini, prasarana rusak dapat dalam keadaan salah satu dari tiga keadaan ini pada waktu survei
dilakukan:
Belum diperbaiki
Sedang diperbaiki
Sudah diperbaiki
Sampai saat survei, tidak tampak ada upaya memperbaiki prasarana yang rusak. Atau,
barangkali baru sebagian kecil saja yang selesai diperbaiki tetapi sasaran perbaikan yang
dilaporkan tidak tercapai.
Pada saat survei, sasaran perbaikan yang dilaporkan sedang dikerjakan tetapi belum selesai.
Pada saat survei, kerusakan sudah diperbaiki atau prasarana diganti. Prasarana ini tidak
termasuk prasarana rusak karena pada waktu survei dilaksanakan tidak lagi dalam keadaan
rusak.
Banyak prasarana yang mengalami kerusakan lebih dari 80 persen. Tabel 4.2 menunjukkan beberapa jenis
prasarana yang mengalami lebih dari 75 persen kerusakan. Tabel ini membedakan antara jenis-jenis prasarana
yang dapat ditemui di banyak desa yang melapor (lebih dari 20 persen dari desa yang melapor memiliki jenisjenis prasarana ini) dan jenis-jenis prasarana yang ditemukan hanya di kurang dari 20 persen dari desa yang
melapor.14 Prasarana dengan tingkat kerusakan tinggi mencakup jembatan kayu, selokan, MCK dan berbagai jenis
jalan desa, terutama jalan dusun, jalan setempat, dan jalan kebun. Jalan kabupaten dan jalan poros desa lebih
tahan terhadap kerusakan meskipun jalan-jalan ini juga cukup rusak (60-70 persen rusak). Tabel 4.2 mencakup
kerusakan akibat konflik, bencana alam, dan kurang pemeliharaan.
14
Pembedaan ini penting agar diperoleh ukuran yang cermat mengenai besarnya tingkat kerusakan. Beberapa jenis prasarana mungkin
menderita persentase kerusakan yang tinggi, tetapi karena tidak banyak terdapat di desa, jumlah absolutnya relatif kecil.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
31
BAB 4: STATUS PRASARANA
Tabel 4.2 Jenis prasarana dengan persentase kerusakan tinggi
Jenis prasarana yang ditemukan di > 20 persen desa
Jenis prasarana
Jenis prasarana yang ditemukan di < 20 persen desa
Persentase
kerusakan
Jenis prasarana
Persentase
kerusakan
Jembatan kayu
88,2
Generator
98,9
Saluran drainase
82,7
Tambatan perahu
95,2
MCK
81,5
Jembatan gantung
87,3
Jalan poros dusun (tanah)
81,3
Jalan lingkungan (tanah)
82,9
Jalan poros desa (tanah)
80,7
Jalan kebun (tanah)
82,8
Balai desa
79,9
Tempat pelelangan ikan
81,8
Polindes
78,7
Jalan lingkungan (diperkeras)
78,5
Kantor desa
78,2
Posyandu
77,3
Saluran irigasi
77,9
Tambak ikan atau udang
75,7
Tembok penahan tanah
76,6
Bangunan irigasi
75,6
Source: Survei Desa Aceh, 2006.
Apa yang menjadi penyebab kerusakan?
Rata-rata, konflik menimbulkan 19,5 persen
kerusakan, bencana alam 38,6 persen kerusakan,
dan kurang pemeliharaan 41,9 persen kerusakan,
rasio sekitar 1:2:2. Survei
merekam kerusak
prasarana oleh tiga penyebab yang mungkin: konflik,
bencana alam, dan kurang pemeliharaan. Lampiran
3.2 menunjukkan, rata-rata konflik merusak antara 1130 persen prasarana, sedangkan bencana alam dan
kurang pemeliharaan merusak antara 30-50 persen.15
Tingginya persentase kerusakan akibat bencana alam
mempertegas parahnya tingkat bencana yang melanda
Aceh pada saat terjadi gempa dan tsunami. Tingkat
kerusakan yang tinggi akibat kurang pemeliharaan
sesuai dengan temuan-temuan dalam laporan APEA
bahwa investasi pemerintah dan swasta dalam prasarana
di Aceh sudah rendah sebelum terjadi tsunami.16
Jalan rusak di Kec. Longkip, Kab. Aceh Singkil
Kotak 4.2: Indeks kerusakan tingkat kabupaten
Metode yang digunakan untuk menghitung indeks sederhana saja. Rata-rata kerusakan dari semua jenis prasarana
dihitung untuk kategori utama prasarana (angkutan, jembatan, air bersih dan sanitasi, listrik, irigasi, sarana masyarakat,
fasilitas ekonomi, perumbahan, dan lahan), ditimbang dengan persentase desa-desa yang melaporkan memiliki setiap
jenis prasarana dalam sebuah kategori. Persentase kerusakan dikonversi menjadi indeks dengan cara mengambil nilai
integer yang ditemukan dengan membagi persentase itu dengan 10. Indeks tertinggi yang dimungkinkan adalah 10,
yang tercapai bila 100 persen dari prasarana rusak; sedangkan indeks terendah yang dimungkinkan adalah 0 (yi. di
bawah 10 persen dari prasarana yang rusak). Indeks keseluruhan untuk kabupaten dihitung dengan mengkonversi
rata-rata persentase tidak tertimbang dari ke sembilan kategori menjadi sebuah indeks. Indeks untuk seluruh propinsi
dihitung dari data ringkas propinsi, bukan dari rata-rata indeks kabupaten.
15 Persentase kerusakan menurut penyebab untuk Lampiran 3.2 dihitung dari volume total prasarana, tidak hanya bagian yang rusak. Ini
dilakukan agar diperoleh ukuran yang lebih cermat untuk besarnya tingkat kerusakan bagi setiap jenis prasarana.
16 World Bank (2006a), hal. 82.
32
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
Persentase kerusakan akibat konflik dan
bencana alam terkait erat dengan indeks
intensitas konflik dan indeks dampak tsunami.
Ketika menghitung korelasi persentase kerusakan
akibat konflik dengan indeks intensitas konflik,
hasilnya menunjukkan bahwa
persentase
kerusakan berkolerasi positif dengan intensitas
konflik: semakin tinggi intensitas konflik di
sebuah wilayah, semakin tinggi
persentase
kerusakan prasarana akibat konflik. Hal yang sama
ditemukan ketika menghitung korelasi persentase
kerusakan akibat bencana alam dengan indeks
dampak tsunami. Korelasi ditemukan lebih besar
untuk kerusakan akibat bencana alam.17 Ini tidak
mengherankan karena lebih banyak prasarana
yang dilaporkan rusak akibat bencana alam
daripada akibat konflik.
Gambar 4.1 Tingkat rata-rata kerusakan prasarana
menurut penyebab kerusakan
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Konflik
Rusak Ringan
Rusak Berat
Perlu Diganti
24,1%
37,1%
21,1%
Bencana
Alam
24,9%
38,6%
20,5%
Kurang
Pemeliharaan
36,3%
29,2%
12,4%
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Tingkat kerusakan akibat kurang pemeliharaan
lebih rendah daripada tingkat kerusakan akibat
konflik atau bencana alam. Perbandingan
tingkat rata-rata kerusakan untuk masing-masing dari ketiga penyebab utama ini menunjukkan bahwa konflik
dan bencana alam memiliki tingkat kerusakan yang rata-rata sama (Gambar 4.1). Namun, kerusakan akibat
kurang pemeliharaan umumnya 15 persen lebih rendah. Angka-angka ini dihitung dengan mengambil rata-rata
kerusakan dari 20.000 kasus di lima kabupaten di mana kerusakan disebabkan oleh hanya salah satu dari ketiga
penyebab ini.18
Prasarana jenis apa yang paling parah kerusakannya akibat konflik, bencana
alam atau kurang pemeliharaan?
Prasarana ekonomi mengalami kerusakan paling parah akibat konflik. Tabel 4.3 di bawah menunjukkan lima
jenis prasarana dengan tingkat kerusakan tertinggi akibat konflik. Aset ekonomi seperti tambak ikan/udang dan
lahan pertanian termasuk prasarana dengan tingkat kerusakan paling tinggi akibat konflik (26,6 dan 23 persen).
Tabel 4.4 menunjukkan jenis-jenis prasarana dengan tingkat kerusakan terendah akibat konflik. Jenis-jenis ini
umumnya dari kategori air dan sanitasi. Kerusakan dapat diakibatkan oleh GAM atau TNI, akibat pertempuran
atau ditinggalkan. Walaupun kerusakan gedung sekolah di Aceh sering dikaitkan dengan konflik, lebih banyak
gedung sekolah dilaporkan rusak akibat bencana alam dan kurang pemeliharaan dibandingkan dengan akibat
konflik. Dari sekitar 2.000 desa yang menjawab, hanya 12-18 persen yang melaporkan kerusakan gedung sekolah
akibat konflik.19 Sekitar 20-24 persen dari gedung sekolah rusak akibat bencana alam, sedangkan 25-30 persen
dilaporkan rusak akibat kurang pemeliharaan.
17 Korelasi kerusakan akibat konflik dengan indeks intensitas konflik adalah 0,47, sedangkan korelasi kerusakan akibat bencana alam
dengan indeks dampak adalah 0.56. Kedua analisis korelasi ini dilakukan di tingkat kecamatan dan signifikan pada tingkat 0,01. Juga di
sini, persentase kerusakan menurut penyebab dihitung sebagai bagian dari total volume prasarana.
18 Hanya penyebab kerusakan karena konflik = 9.687 kasus; hanya bencana alam = 21.270 kasus; hanya kurang pemeliharaan = 25.531
kasus.
19 Ada empat jenis sekolah yang dicacah dalam survei ini: dasar, menengah, atas, dan pra-sekolah. Dari semua ini, sekolah dasar menurut
laporan menunjukkan persentase kerusakan tertinggi akibat konflik (18,1persen), sedangkan sekolah menengah menunjukkan
persentase terendah (12,7persen).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
33
BAB 4: STATUS PRASARANA
Tabel 4.3 Jenis prasarana dengan proporsi tertinggi kerusakan akibat konfllik
Jenis prasarana
Proporsi kerusakan akibat konflik (persen)
Tambak ikan atau udang
26,6
Generator
23,5
Lahan pertanian lain atau kebun
23,3
Jaringan listrik
21,7
Polindes
21,6
Tambatan perahu
21,0
Jalan kebun (tanah)
20,5
Jalan kebun (diperkeras)
20,4
Jembatan gelagar besi
20,1
Posyandu
20,1
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Tabel 4.4 Jenis prasarana dengan proporsi terendah kerusakan akibat konflik
Jenis prasarana
Proporsi kerusakan akibat konflik (persen)
Air dan sanitasi
0,8 – 9,1
Gardu listrik
7,4
Tembok penahan tanah
7,5
Bangunan irigasi
8,9
Saluran drainase
9,0
Jembatan beton
9,6
Sawah
9,7
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Tembok penahan, bendungan kecil dan jembatan kayu mengalami kerusakan paling parah akibat
bencana alam. Tabel 4.5 menunjukkan jenis-jenis prasarana dengan tingkat kerusakan tertinggi akibat bencana
alam. Dari jenis-jenis prasarana yang rusak berat ini banyak yang berasal dari kategori transportasi, air dan sanitasi,
dan jembatan. Sedikit sekali jenis-jenis prasarana yang kebal terhadap kerusakan akibat bencana alam. Tabel 4.6
menunjukkan, sebagian besar kategori prasarana mengalami kerusakan di atas 20 persen akibat bencana alam.
Beberapa prasarana seperti pelindung mata air dan turbin, tidak mengalami kerusakan yang terlalu besar akibat
bencana alam.
Tabel 4.5 Jenis prasarana dengan persentase tertinggi kerusakan akibat bencana alam
Jenis prasarana
Tembok penahan tanah
Proporsi kerusakan akibat bencana alam (persen)
46,4
Bendungan kecil
44,9
Jembatan gelagar kayu
44,0
Tambatan perahu
39,2
Jembatan gantung
38,4
Tempat pelelangan ikan
38,2
Jaringan listrik
35,7
Sumur gali
34,3
Saluran drainase
34,2
Bangunan irigasi
34,2
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
34
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
Tabel 4.6 Proporsi kerusakan prasarana akibat bencana menurut kategori prasarana
Kategori
Persentase
kerusakan
Transportasi
> 25
Jembatan
> 30
Air dan sanitasi
> 25
Irigasi
> 30
Listrik
> 24
Fasilitas desa
> 18
Fasilitas ekonomi
> 15
Pemukiman
>18
Lahan produktif
> 18
Jenis prasarana dengan persentase terendah kerusakan
untuk setiap kategori
Pelindung mata air (4,5 persen)
Turbin (14,3 persen)
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Generator, MCK dan TK/TPA adalah jenis-jenis prasarana dengan persentase tertinggi kerusakan
akibat kurang pemeliharaan. Tabel 4.7 menunjukkan prasarana dengan tingkat kerusakan tertinggi akibat
kurang pemeliharaan. Kurang pemeliharaan mungkin terjadi akibat penggunaan berlebihan, mutu rendah
atau kurangnya pengetahuan mengenai cara menggunakan prasarana secara benar. Sebaliknya, Tabel 4.8
menunjukkan jenis-jenis prasarana dengan tingkat kerusakan terendah akibat kurang pemeliharaan. Dari ini,
turbin, gardu listrik, dan jembatan beton paling sedikit mengalami kerusakan akibat kurang pemeliharaan.
Tabel 4.7 Jenis prasarana dengan persentase tertinggi kerusakan akibat kurang pemeliharaan
Jenis prasarana
Proporsi kerusakan akibat kurang pemeliharaan (persen)
Generator
48,6
MCK
45,1
TK/TPA
40,7
Sumur pompa tangan
39,6
Saluran drainase
39,6
Balai desa
38,9
Polindes
38,7
Jalan lingkungan (tanah)
38,6
Hidran umum
37,9
Saluran irigasi
37,5
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Tabel 4.8 Jenis prasarana dengan persentase terendah kerusakan akibat kurang pemeliharaan
Jenis prasarana
Proporsi kerusakan akibat kurang pemeliharaan (persen)
Turbin
14,3
Sambungan ke gardu listrik (PLN)
16,2
Jembatan beton
16,2
Tambak ikan atau udang
16,5
Rumah semi-permanen
16,6
Pelindung mata air
16,7
Jaringan listrik
18,0
Rumah permanen
18,5
Toko atau warung
19,5
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
35
BAB 4: STATUS PRASARANA
Kabupaten mana yang lebih terkena dampak konflik atau bencana alam?
Aceh Timur, Bener Meriah, dan Nagan Raya menunjukkan tingkat tertinggi kerusakan akibat konflik,
sedangkan Aceh Jaya, Simeulue dan Bireuen menunjukkan tingkat tertinggi kerusakan akibat bencana
alam. Sebagian besar kabupaten di Aceh melaporkan kerusakan cukup besar, tetapi penyebab kerusakan
berbeda-beda. Menggunakan metodologi indeks bencana yang sama yang disebutkan dalam Kotak 4.2, juga
disusun indeks untuk kerusakan akibat konflik dan bencana alam. Tabel 4.9 menunjukkan indeks konflik dan
kerusakan menurut kabupaten (indeks rinci menurut kategori prasarana dan kabupaten diberikan dalam
Lampiran 3.3). Tabel ini menunjukkan bahwa indeks konflik jauh lebih tinggi di Aceh Timur, Bener Meriah, dan
Nagan Raya, diikuti oleh lima kabupaten yang lain, dengan nilai 1,5 atau lebih: Aceh Jaya, Pidie, Aceh Utara,
Aceh Selatan, dan Gayo Lues. Nilai untuk kabupaten-kabupaten yang lain di bawah 1,5. Sebaliknya, nilai indeks
bencana jauh lebih tinggi. Lima belas kabupaten indeksnya di atas 1,5, sedangkan 11 lagi indeksnya di atas 2,5.
Indeks Aceh Jaya adalah yang tertinggi, yakni sebesar 5,46; atau lebih dari 50 persen kerusakan prasarana akibat
bencana, diikuti Simeulue dan Bireuen (4,93 dan 3,74). Kabupaten-kabupaten di daerah pedalaman indeksnya
lebih rendah, dan demikian pula kabupaten-kabupaten di pesisir utara yang jauh jaraknya dari Banda Aceh,
seperti Aceh Tamiang dan Aceh Timur.
Tabel 4.9 Indeks kerusakan akibat konflik dan bencana alam menurut kabupaten
Kabupaten
Indeks konflik
Kabupaten
Indeks bencana alam
Aceh Timur
3,63
Aceh Jaya
5,46
Bener Meriah
3,34
Simeulue
4,93
Nagan Raya
2,11
Bireuen
3,74
Aceh Jaya
1,75
Aceh Barat
3,38
Pidie
1,65
Aceh Besar
3,17
Aceh Utara
1,64
Aceh Singkil
3,15
Aceh Selatan
1,56
Aceh Selatan
3,00
Gayo Lues
1,50
Aceh Barat Daya
2,79
Aceh Barat
1,49
Gayo Lues
2,75
Lhokseumawe
1,35
Aceh Tenggara
2,67
Bireuen
1,04
Pidie
2,65
Aceh Tenggara
0,87
Aceh Utara
2,35
Aceh Singkil
0,80
Nagan Raya
2,01
Aceh Besar
0,74
Aceh Tengah
1,85
Aceh Tamiang
0,69
Aceh Tamiang
1,76
Aceh Barat Daya
0,56
Aceh Timur
1,47
Aceh Tengah
0,46
Lhokseumawe
1,11
Simeulue
0,22
Bener Meriah
0,81
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei
Sebagian besar kabupaten memasukkan jembatan dan lahan produktif ke dalam daftar kategori
prasarana yang rusak parah akibat konflik dan bencana alam. Tabel 4.10 menunjukkan bahwa jembatan
dan lahan produktif adalah dua jenis prasarana yang paling rusak di sebagian besar kabupaten, baik akibat konflik
ataupun bencana alam. Delapan dari 18 kabupaten menunjukkan bahwa jembatan adalah jenis prasarana yang
paling parah rusaknya, sedangkan lima kabupaten menunjukkan bahwa lahan produktiflah jenis prasarana yang
mengalami kerusakan paling parah. Prasarana lain mencakup sistem irigasi (tiga kabupaten), perumahan dan
listrik (masing-masing satu kabupaten).
36
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
Tabel 4.10 Persentase prasarana yang rusak akibat konflik dan bencana alam menurut kategori
prasarana dan menurut kabupaten
Fasilitas ekonomi
Perumahan
Lahan produktif
34,19
24,24
32,39
52,56
Lahan
Jembatan
32,60
26,09
30,40
35,58
Jembatan
Listrik
75,64
74,14
Listrik
Perumahan
32,53
64,04
Lahan
Jembatan
45,95
25,15
Irigasi
Perumahan
13,02
14,55
25,38
Irigasi
Jembatan
12,95
12,42
33,74
Jembatan
Lahan
19,44
24,58
23,12
Irigasi
Jembatan
53,94
43,78
44,15
Jembatan
Jalan
51,95
64,58
35,81
32,69
41,67
Aceh Barat Daya
30,05
47,19
22,33
15,67
43,42
Aceh Besar
43,41
56,49
28,84
56,37
42,11
Aceh Jaya
65,26
74,41
68,94
91,89
65,58
65,34
67,40
Aceh Selatan
50,79
53,48
41,71
39,02
49,04
42,84
36,71
Aceh Singkil
36,17
44,74
41,30
21,05
57,23
44,58
38,99
Aceh Tamiang
25,65
35,82
31,08
15,86
38,21
20,28
Aceh Tengah
26,79
47,04
22,35
15,17
20,66
16,72
Aceh Tenggara
44,11
52,92
38,69
24,27
62,03
29,18
Aceh Timur
58,70
65,10
31,09
53,28
57,17
51,23
Paling rusak
Fasilitas desa
Ekonomi
Irigasi
Jembatan
Listrik
43,16
Air dan sanitasi
54,24
Jembatan
63,81
Transportasi
50,62
Aceh Barat
Kabupaten
Kedua paling rusak
Kategori prasarana
Aceh Utara
41,52
49,19
38,11
18,29
40,52
38,96
44,44
40,56
47,89
Jembatan
Lahan
Bener Meriah
36,05
50,64
29,58
47,46
44,53
42,53
41,97
25,38
54,80
Lahan
Jembatan
Bireuen
51,17
66,88
56,15
34,90
52,83
50,53
40,98
45,67
31,61
Jembatan
Air
Gayo Lues
21,48
51,48
1,91
46,44
59,38
35,58
45,18
60,22
61,00
Lahan
Perumahan
Lhokseumawe
22,90
27,20
10,00
9,38
28,88
30,57
15,46
26,86
50,64
Lahan
F. Desa
Nagan Raya
42,77
62,00
31,43
40,55
43,61
41,04
22,62
41,83
44,33
Jembatan
Lahan
Pidie
40,75
51,88
36,62
18,03
47,80
30,92
27,61
28,17
50,74
Jembatan
Lahan
Simeulue
55,89
63,11
37,99
28,17
22,22
73,86
57,77
80,99
43,50
Perumahan
F. Desa
Note:
Lebih dari separuh prasarana rusak
25 persen – 50 persen prasarana rusak
Kurang dari 25 persen prasarana rusak
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Bagaimana tingkat perbaikan prasarana yang rusak?
Secara keseluruhan, sekitar 11 persen dari prasarana yang rusak sudah diperbaiki atau saat ini sedang
diperbaiki. Kecepatan melakukan perbaikan berkorelasi tinggi dengan penyebab kerusakan. Kabupatenkabupaten dengan tingkat kerusakan tinggi akibat bencana, seperti Simeulue (19,6 persen kerusakan sedang
diperbaiki atau sudah diperbaiki), Aceh Besar, Bireuen dan Aceh Jaya (lebih dari 10 persen) lebih cepat melakukan
perbaikan, sedangkan kabupaten-kabupaten dengan tingkat kerusakan yang rendah akibat bencana jauh lebih
lambat. Kabupaten yang paling lambat adalah Bener Meriah, yang baru melakukan perbaikan sebesar 4,3 persen
(Tabel 4.11). Ini mungkin dikarenakan lebih menyeluruh dan terarahnya program-program rekonstruksi untuk
kerusakan akibat tsunami yang dijalankan pemerintah dan para pelaku pembangunan di wilayah-wilayah ini.
Perbandingan juga diadakan antara tingkat perbaikan di wilayah dampak konflik dan wilayah dampak bencana
alam. Karena untuk perbandingan ini tidak dapat digunakan seluruh data, maka disiapkan sub-set data khusus
yang berisi wilayah-wilayah yang hanya kena dampak konflik atau hanya kena dampak bencana alam. Sekitar
30.000 dari 80.000 kasus yang ada memenuhi kriteria ini; sekitar 70 persen dari wilayah bencana alam. Hasilnya
dapat dilihat dalam tabel “Persentase Kadar Kerusakan dan Status Perbaikan Kerusakan Prasarana Akibat Konflik
dan Bencana Alam” dalam Lampiran 3.4.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
37
BAB 4: STATUS PRASARANA
Tabel 4.11 Persentase prasarana rusak yang diganti atau diperbaiki menurut kabupaten
Kabupaten
Simeulue
Aceh Besar
Bireuen
Nagan Raya
Aceh Jaya
Aceh Tengah
Aceh Selatan
Aceh Barat
Aceh Timur
Pidie
Aceh Utara
Aceh Tenggara
Aceh Barat Daya
Gayo Lues
Aceh Tamiang
Aceh Singkil
Lhokseumawe
Bener Meriah
Persentase prasarana yang diperbaiki atau diganti
19,6
13,2
12,7
12,2
10,9
10,9
10,6
10,2
10,1
9,8
9,5
7,8
7,5
7,5
7,2
6,4
5,6
4,3
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Prasarana yang rusak akibat bencana alam rata-rata diperbaiki sekitar 50 persen lebih cepat daripada
prasarana yang rusak akibat konflik. Rata-rata, hanya 6,5 persen dari prasarana yang rusak akibat konflik yang
sudah diperbaiki atau sedang diperbaiki, dibandingkan dengan 10,2 persen untuk prasarana yang rusak akibat
bencana alam (Tabel 4.12). Lampiran 3.4 juga menunjukkan bahwa prasarana yang rusak akibat konflik tiga
kali lipat lebih mungkin ditelantarkan daripada prasarana yang rusak akibat bencana alam (7,4 persen vs 2,4
persen). Ini mungkin karena lebih besar upaya yang diberikan kepada rekonstruksi kerusakan pasca tsunami.
Juga ada perbedaan dalam jenis-jenis prasarana yang paling mungkin diperbaiki di antara wilayah-wilayah yang
kena dampak konflik dan bencana alam. Lahan produktif dan sistem irigasi agak lebih cepat diperbaiki bila
rusak akibat konflik, sedangkan perumahan dan listrik lebih besar kemungkinannya diperbaiki bila rusak akibat
bencana alam (masing-masing 7,6 persen vs 19,0 persen dan 4,2 persen vs 13,1 persen).
Tabel 4.12 Tingkat perbaikan rata-rata prasarana yang rusak akibat konflik dan bencana alam menurut
kategori
Persentase sedang diperbaiki
Konflik
Bencana
4,1
7,2
6,4
9,5
7,0
10,1
4,2
13,1
2,6
2,2
9,6
12,2
5,0
10,3
7,6
19,0
14,9
12,6
6,8
10,7
Kategori
Transportasi
Jembatan
Air dan Sanitasi
Listrik
Irigasi
Fasilitas desa
Fasilitas ekonomi
Pemukiman
Lahan Produktif
Rata-rata
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
38
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
Menurut jenis prasarana, Puskesmas Pembantu menempati tempat teratas dalam daftar prasarana yang
paling cepat diganti atau diperbaiki. Penting untuk ditentukan prasarana jenis apa yang telah diperbaiki atau
dibangun kembali paling cepat oleh warga masyarakat, organisasi, dan pemerintah. Tabel 4.13 menunjukkan
persentase prasarana yang telah diperbaiki atau sedang diperbaiki pada saat survei, dengan sekitar 25 persen dari
Puskesmas Pembantu sudah diganti atau sedang diperbaiki. Prasarana yang telah diperbaiki tidak lagi dianggap
prasarana yang rusak. Dari Tabel 4.13 juga dapat dilihat bahwa perbaikan beberapa jenis prasarana sudah lebih
maju daripada prasarana yang lain. Perbaikan yang paling maju mencakup perbaikan yang dilakukan oleh
pelaku-pelaku pembangunan yang lain atau dengan upaya khusus, seperti sarana kesehatan, jalan kabupaten,
dan jembatan yang lebih rumit. Ini juga mencakup jenis-jenis prasarana yang diprioritaskan warga masyarakat
dan yang dapat diperbaiki sendiri oleh warga masyarakat, seperti rumah ibadah, gedung sekolah, dan lahan
kebun.
Tabel 4.13 Jenis prasarana dengan tingkat tertinggi penggantian atau perbaikan
Jenis prasarana
Persentase prasarana diganti atau sedang diperbaiki
Puskesmas pembantu
25,0
Generator
23,8
Rumah ibadah
Sekolah
22,0
16,1-20,6
Lahan lain/kebun
18,8
Hidran umum
18,3
Sawah
18,0
Tambak ikan atau udang
17,0
Balai desa
16,6
Jalan kabupaten
16,6
Perumahan
10,8 – 18,6
Jembatan beton
14,6
Jembatan gelagar besi
12,4
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Kisaran menunjukkan adanya beberapa jenis sekolah dan perumahan.
Berapa perkiraan biaya untuk memperbaiki/mengganti prasarana?
Perkiraan biaya total untuk memperbaiki atau mengganti prasarana yang rusak mencapai hampir Rp
12 trilyun, atau US$1,3 milyar. Ini tidak mencakup kerusakan prasarana akibat kurang pemeliharaan. Hampir
setengah dari jumlah ini adalah untuk memperbaiki atau mengganti rumah. Jumlah biaya terbesar berikutnya
ialah biaya memperbaiki lahan produktif, diikuti biaya memperbaiki atau mengganti jalan. Data biaya tidak
dikumpulkan pada waktu survei, karena akan membuat rumit kegiatan pengumpulan data dan juga karena
keterbatasan waktu. Namun, perkiraan biaya disusun berdasarkan biaya umum untuk membangun prasarana
PPK belakangan ini.20 Biaya total yang dihitung untuk setiap jenis prasarana dikurangi dengan jumlah biaya
yang setara dengan persentase prasarana yang rusak akibat kurang pemeliharaan. Hasil perhitungan ini diakui
memang agak kasar, tetapi dapat digunakan untuk memperkirakan kebutuhan per jenis prasarana dan kebutuhan
keseluruhan (kalkulasi rinci dapat dilihat dalam Lampiran 3.5).
20 Konsultasi dan rapat teknis diadakan beberapa kali dengan Fasilitator Teknik PPK (KM Teknik) untuk menentukan biaya satuan yang
paling masuk akal untuk biaya pembangunan prasarana umumnya di Aceh. Untuk prasarana jenis-jenis tertentu seperti perumahan,
biaya satuan mengikuti rekomendasi dari hasil evaluasi yang dilakukan BRR. Biaya satuan ini juga digunakan dalam Aceh Flood Damage
Assessment yang dilakukan World Bank baru-baru ini setelah banjir pada Desember 2006.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
39
BAB 4: STATUS PRASARANA
Aceh Utara, Pidie, Bireuen, Aceh Timur, dan Aceh Besar membutuhkan porsi biaya yang paling tinggi
dari biaya total untuk memperbaiki atau mengganti prasarana. Menggunakan satuan biaya yang sama dan
metode kalkulasi di atas, perkiraan biaya total untuk memperbaiki prasarana dihitung untuk setiap kabupaten,
untuk memperoleh gambaran tentang tingkat kerusakan prasarana menurut kabupaten. Hasil dalam Gambar
4.2 menunjukkan bahwa Aceh Utara, Pidie, Bireuen, Aceh Timur, dan Aceh Besar paling tinggi kebutuhan
biayanya, yang menunjukkan bahwa kabupaten-kabupaten ini menderita kerusakan yang paling parah dan
membutuhkan rekonstruksi atau penggantian.
Gambar 4.2 Proporsi biaya yang diperlukan untuk memperbaiki/mengganti prasarana menurut kabupaten
Aceh Singkil 4%
Aceh Barat 4%
Aceh Jaya 5%
Aceh Selatan5%
Simeulue 4%
Aceh Tamiang 3%
Aceh Besar10%
Aceh Tengah3%
Bener Meriah3%
Nagan Raya 2%
Aceh Tenggara 2%
Aceh Barat Daya 1%
Aceh Timur 11%
Gayo Lues1%
Lhokseumawe1%
Aceh Utara 15%
Bireuen 12%
Pidie 13%
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan diikutkan dalam survei ini.
KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Beberapa kesimpulan dapat ditarik berdasarkan hasil-hasil evaluasi prasarana.
• Upaya menyeluruh masih diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah prasarana di Aceh.
•
•
40
Hanya sedikit wilayah yang luput dari konflik dan bencana alam. Beberapa wilayah yang tidak kena
dampak tsunami kemudian dilanda banjir bandang yang besar. Beberapa wilayah yang tidak kena
dampak konflik, seperti Simeulue, kemudian rusak parah akibat tsunami. Beberapa wilayah konflik,
seperti Aceh Timur, hanya sedikit saja kena dampak bencana alam. Beberapa wilayah sangat menderita
akibat kedua bencana itu, seperti Aceh Jaya, yang menderita kerusakan terparah dari sisi bencana alam
dan keempat terparah dari sisi konflik.
Hampir semua jenis prasarana mengalami kerusakan, dengan lebih dari 50 persen prasarana
dari semua kategori mengalami kerusakan. Meski perhatian perlu dicurahkan kepada jembatan,
irigasi, dan jalan, namun sebenarnya semua kategori prasarana mengalami kerusakan yang parah. Perlu
ditegaskan kembali bahwa diperlukan rencana rekonstruksi yang menyeluruh untuk memperbaiki atau
membangun kembali prasarana yang rusak baik di wilayah konflik maupun tsunami.
Meskipun perbaikan telah dilakukan pada saat survei ini berlangsung pada bulan Agustus dan
September 2006, hanya 11 persen dari prasarana yang rusak yang telah diperbaiki. Perbaikan
umumnya merupakan tanggung jawab dari dinas-dinas pemerintah atau warga desa sendiri, tetapi
biasanya tidak mencakup kategori-kategori prasarana yang lazimnya dibiayai dari dana bantuan, seperti
jalan desa, jembatan, dan sistem irigasi. Perbaikan pasar, toko, gudang, kincir padi, dsb., oleh sektor
swasta juga berjalan lambat.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 4: STATUS PRASARANA
• Rencana perbaikan dan rekonstruksi perlu difokuskan pada wilayah-wilayah yang kena dampak
tsunami maupun konflik. Secara keseluruhan, sekitar 40 persen dari kerusakan disebabkan oleh
bencana alam, 40 persen karena kurang pemeliharaan, dan 20 persen oleh konflik. Prasarana yang rusak
akibat bencana alam rata-rata diperbaiki sekitar 50 persen lebih cepat daripada prasarana yang rusak
akibat konflik. Karena prasarana rusak berat akibat bencana alam maupun konflik, perlu upaya yang lebih
besar untuk memastikan bahwa kerusakan akibat konflik juga mendapat perhatian yang semestinya.
Pada umumnya, data dan hasil analisis ini sebaiknya digunakan sebagai pedoman oleh perencana dalam
merancang program-program untuk membantu masyarakat memulihkan diri setelah mengalami dua bencana
berupa konflik dan bencana alam itu.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
41
42
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5
Keadaan Sosial
05
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
5.1 PENGUNGSI
Gabungan konflik dan bencana alam di Aceh tahun-tahun terakhir ini menyebabkan banyak warga
desa terpaksa mengungsi. Pengungsi sering tidak saja terpaksa mengungsi tetapi juga mengalami tekanan
jiwa karena harus kehilangan atau terpaksa meninggalkan rumah dan lingkungan masyarakat mereka, dan
umumnya mereka termasuk kelompok masyarakat yang paling membutuhkan pertolongan dan paling lemah
di Aceh. Namun, karena mereka terpencar, sangat sulit menelusuri mereka dalam kaitan dengan pemberian
bantuan. Dalam bagian ini dibahas situasi pengungsi di Aceh saat ini seperti tercermin dalam survei ini berikut
beberapa temuan yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Kotak 5.1 Catatan tentang data
Salah satu tantangan yang paling sulit dalam pengumpulan data yang akurat tentang pengungsi ialah definisi
pengungsi yang tidak baku. Gambaran umum tentang seorang pengungsi ialah seseorang yang terpaksa keluar dari
rumah dan lingkungan masyarakatnya dan sekarang tinggal untuk sementara di tempat penampungan di tempat lain.
Namun, bisa saja terjadi orang yang terpaksa keluar dari desanya kemudian kembali ke desa asalnya dan tinggal di
situ di tempat penampungan sementara atau bahkan di rumah permanen. Atau ia sudah lama hidup di luar desanya
dan telah mendapat rumah, pekerjaan, dan menjalani hidup yang tampaknya normal di sebuah lokasi baru. Tidak
mudah, terutama bagi orang luar, untuk menentukan kapan seseorang tidak lagi termasuk pengungsi. Dan kalaupun
jelas seseorang adalah pengungsi, sulit membedakan antara pengungsi akibat tsunami dan pengungsi akibat konflik.
Banyak warga dari dataran tinggi Aceh tengah yang terpaksa mengungsi akibat konflik ke wilayah pesisir dan kemudian
terpaksa mengungsi lagi untuk kedua kalinya akibat tsunami.
Untuk mengatasi sebagian dari kesulitan-kesulitan ini, Survei Desa Aceh ini mencantumkan pertanyaan-pertanyaan
tentang pengungsi tsunami dan pengungsi konflik dalam tiga kategori pengungsi berikut ini:
Pengungsi yang sudah kembali ke desa responden;
Pengungsi yang tetap di luar desa responden; dan
Pengungsi dari desa lain yang saat ini tinggal di desa responden
Survei ini tidak menentukan cara mengidentifikasi pengungsi atau membedakan asal pengungsi satu sama lain. Karena
pengungsi melapor kepada kepala desa ketika mereka tiba di sebuah desa, maka kepala desa diasumsikan paling tahu
jumlah dan rincian pengungsi di desanya. Karena itu, walaupun semua pertanyaan diajukan kepada ketiga kategori
responden (kepala desa, tokoh perempuan, dan pemimpin pemuda), jumlah pengungsi di bagian ini berpijak pada
jawaban kepala desa semata-mata, kecuali jika dikatakan lain.
Jumlah Total Pengungsi
Di wilayah-wilayah yang dicakup survei ini, lebih banyak KK yang terpaksa meninggalkan desa akibat
konflik daripada akibat tsunami. Bantuan untuk pengungsi di Aceh terfokus pada korban tsunami, sebagian
karena dipercaya bahwa pengungsi tsunami lebih banyak daripada pengungsi konflik. Namun, data dalam
Tabel 5.1 menunjukkan bahwa lebih banyak KK yang mengungsi dari desa mereka karena konflik (103.453)
daripada karena tsunami (66.893). Selain itu, persentase pengungsi konflik yang kembali lebih kecil (64,6 persen)
daripada persentase pengungsi tsunami (85,2 persen). Salah satu penjelasan untuk angka-angka ini ialah banyak
keluarga yang terpaksa pindah karena tsunami masih dapat bertahan di desa mereka, karena banyak rumah
baru dibangun, atau karena mereka dapat tinggal dengan teman atau saudara mereka, atau karena seluruh
isi desa secara fisik pindah bersama-sama ke lokasi baru. Karena itu, KK yang harus pindah tidak terlalu banyak
menghadapi kendala sosial untuk kembali. Selain itu, fokus program-program bantuan pada KK yang kena dampak
tsunami kemungkinan dapat menjelaskan tingginya tingkat kembali pengungsi tsunami. Sebaliknya, keluarga
yang mengungsi karena konflik lebih besar kemungkinannya meninggalkan desa dan struktur pendukung sosial
mereka sendiri saja atau dalam kelompok kecil. Ketegangan mungkin tetap ada antara keluarga yang mengungsi
dan warga lain di desa, sehingga tetap ada kendala sosial yang besar untuk kembali. Dilihat bersama-sama,
angka-angka ini menunjukkan pentingnya menyusun program-program pulang-kampung untuk pengungsi
44
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
karena konflik, yang disertai dengan langkah-langkah untuk membantu pembentukan ikatan sosial.21
Tabel 5.1 Jumlah KK yang meninggalkan desa mereka menurut penyebab
Pengungsi Tsunami (KK)
Pengungsi Konflik (KK)
Total (KK)
Belum kembali
9.922 (14,8 persen)
1.791 pengamatan
36.634 (35,4 persen)
4.175 pengamatan
46.556 (27,3 persen)
Sudah kembali
56.971 (85,2 persen)
1.513 pengamatan
66.819 (64,6 persen)
5.050 pengamatan
123.790 (72,7 persen)
TOTAL
66.893 (100 persen)
103.453 (100 persen)
170.346 (100 persen)
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Berdasarkan laporan kepala desa.
Dari Mana Pengungsi Datang dan Di Mana Mereka Sekarang
Dari mana pengungsi datang?
Di setiap kabupaten, lebih banyak pengungsi konflik yang tetap di pengungsian daripada pengungsi
tsunami. Kabupaten yang melaporkan jumlah terbesar pengungsi karena konflik adalah Aceh Utara (6.744) dan
Pidie (5.464) (Gambar 5.1). Dari sisi jumlah KK yang terpaksa mengungsi, kabupaten yang paling besar kena
dampak konflik adalah Aceh Utara (16.995), Pidie (13.451), dan Aceh Timur (11.963). Juga di sini, angka-angka ini
mencerminkan distribusi penduduk secara keseluruhan. Dari sisi penduduk setiap kabupaten, penduduk yang
paling banyak terpaksa mengungsi akibat konflik adalah penduduk Aceh Barat (5,6 persen), Bener Meriah (5,4
persen), dan Simeulue (5,1 persen).22
Gambar 5.1 Jumlah pengungsi tsunami dan konflik yang belum kembali menurut kabupaten
8.000
7.000
6.000
5.000
4.000
3.000
2.000
Aceh Jaya
Gayo Lues
Aceh
Barat Daya
134
85
154
9
872
720
567
161
155
1.666
1.548
245
97
698
342
3.787
3.580
2.693
2.053
1.766
1.728
1.584
1.510
Lhokseu
mawe
207
1.006
660
5.464
Nagan
Raya
294
1.015
1.960
Aceh
Singkil
Aceh
Selatan
568
1.229
706
6.744
Simeulue
Aceh
Tenggara
Aceh
Tamiang
Aceh Barat
Bener
Meriah
Aceh
Tengah
Bireuen
414
Pidie
135
Aceh
Utara
Pengungsi tsunami
(belum kembali)
Pengungsi konflik
(belum kembali)
Aceh
Timur
-
Aceh Besar
1.000
Di desa ini, ada berapa KK yang pergi mengungsi karena tsunami/konflik dan sampai sekarang belum kembali?
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
21 Seperti dijelaskan dalam Bab 1 dan 2, kerja lapangan untuk survei ini dilakukan pada Agustus-September 2006. Sejak itu, jumlah
pengungsi mungkin telah berubah karena relokasi atau pemukiman kembali ke desa-desa penampung. Juga, banjir bandang pada
Desember 2006 menyebabkan sejumlah warga di tujuh kabupaten terpaksa mengungsi, dan ini mengakibatkan perubahan pada
jumlah pengungsi di wilayah-wilayah itu.
22 Angka-angka ini berdasarkan laporan jumlah pengungsi tingkat kabupaten dan laporan jumlah total penduduk. Namun, kuesioner
tidak menentukan apakah perkiraan jumlah total penduduk yang dilaporkan kepala desa harus mencakup pengungsi yang tinggal di
desanya atau tidak. Karena itu, perkiraan-perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa kepala desa tidak memasukkan jumlah pengungsi
ke dalam laporannya. Bila perkiraan-perkiraan itu didasarkan pada asumsi bahwa kepala desa memasukkan jumlah pengungsi ke dalam
laporannya tentang jumlah total penduduk, persentase jelas akan turun, tetapi sedikit, sedangkan peringkat sama sekali tidak berubah.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
45
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tingkat kembali pengungsi tsunami dan konflik konsisten dari kabupaten ke kabupaten, tetapi berbeda
satu sama lain. Rata-rata, 85,2 persen dari warga yang mengungsi akibat tsunami telah kembali, sedangkan
hanya 64,6 persen dari warga yang mengungsi akibat konflik yang telah kembali (Tabel 5.3). Tidak ada kabupaten
yang menunjukkan persentase pengungsi konflik yang telah kembali lebih tinggi daripada persentase rata-rata
dari pengungsi tsunami yang sudah kembali. Sama halnya, tidak ada kabupaten yang menunjukkan persentase
pengungsi tsunami yang sudah kembali lebih rendah daripada persentase rata-rata pengungsi konflik yang
telah kembali. Konsistensi distribusi warga yang kembali di tingkat kabupaten di antara pengungsi tsunami
dan pengungsi konflik memperkuat pandangan bahwa faktor-faktor sistematis seperti dislokasi sosial dan
ketimpangan sosial dalam pemberian bantuan dapat menjelaskan rendahnya tingkat kembali pengungsi
karena konflik.
Kabupaten yang melaporkan jumlah terbesar KK yang masih mengungsi karena tsunami adalah
Pidie (1.960), Bireuen (1.666), dan Aceh Besar (1.548). Barangkali tidak mengherankan bahwa kabupatenkabupaten ini juga merupakan kabupaten-kabupaten dengan jumlah terbesar KK yang terpaksa mengungsi
akibat tsunami: Pidie (12.499), Bireuen (7.512), dan Aceh Besar (10.002) (Tabel 5.2). Kabupaten-kabupaten ini
termasuk wilayah pedesaan dengan jumlah penduduk terbesar yang disurvei dalam studi ini. Namun, selain itu,
ada kemungkinan besar angka-angka ini berkaitan dengan kenyataan bahwa wilayah pantai barat lebih cepat
mendapat bantuan, yang berarti bahwa meski kerusakan fisik di pantai barat sangat parah, namun tidak banyak
warga kabupaten-kabupaten ini yang harus meninggalkan desa setelah tsunami. Sebagai bagian dari jumlah
penduduk yang dilaporkan setiap kabupaten, sebagian besar keluarga yang mengungsi akibat tsunami berasal
dari Simeulue (6,5 persen), Aceh Barat (5,2 persen), Aceh Besar (4,1 persen), dan Aceh Jaya (4,1 persen).23
Tabel 5.2 Keluarga yang terpaksa mengungsi dari desa mereka akibat tsunami
Kabupaten
Mengungsi belum kembali (KK)
(32 persen dari desa melapor)
Sudah kembali (KK)
(27 persen dari desa
melapor)
Total KK
Persentase
pengungsi yang
sudah kembali
Pidie
Bireuen
Aceh Besar
Aceh Utara
Aceh Barat
Aceh Timur
Simeulue
Aceh Selatan
Aceh Tamiang
Aceh Singkil
Aceh Tengah
Aceh Barat Daya
Aceh Jaya
Aceh Tenggara
Nagan Raya
Bener Meriah
Gayo Lues
Lhokseumawe
TOTAL
1.960
1.666
1.548
706
698
660
568
414
342
294
245
207
154
135
134
97
85
9
9.922
10.539
5.846
8.454
6.102
3.939
3.731
3.552
2.026
723
1.252
2.438
958
1.461
1.973
794
1.982
584
617
56.971
12.499
7.512
10.002
6.808
4.637
4.391
4.120
2.440
1.065
1.546
2.683
1.165
1.615
2.108
928
2.079
669
626
66.893
84,3
77,8
84,5
89,6
84,9
85,0
86,2
83,0
67,9
81,0
90,9
82,2
90,5
93,6
85,6
95,3
87,3
98,6
85,2 (Rata-rata)
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Simelue paling banyak melaporkan jawaban per desa untuk kedua pertanyaan itu (62 persen menjawab “mengungsi belum
kembali”, 67 persen menjawab “sudah kembali”). Lhokseumawe paling rendah melaporkan jawaban “mengungsi belum kembali”
(17 persen) sedangkan Bener Meriah paling rendah melaporkan jawaban “sudah kembali” (14 persen). Perlu dicatat bahwa angkaangka dari Lhokseumawe berasal dari hanya satu kecamatan di kabupaten itu.
23
46
Angka–angka ini berdasarkan laporan jumlah pengungsi tingkat kabupaten dan jumlah total penduduk desa. Namun, tidak jelas dari
kuesioner apakah jumlah total penduduk yang dilaporkan kepala desa harus mencakup jumlah pengungsi yang tinggal di desanya.
Karena itu, angka-angka ini didasarkan pada asumsi bahwa kepala desa tidak memasukkan jumlah pengungsi ke dalam jumlah total
penduduk desanya. Bila angka-angka ini didasarkan pada asumsi bahwa kepala dasar memasukkan jumlah pengungsi ke dalam jumlah
total penduduk desanya, jelas persentase agak turun, tetapi peringkat sama sekali tidak berubah.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Peta 5.1 Peta yang menunjukkan jumlah total pengungsi tsunami yang belum kembali (distribusi di
tingkat kecamatan)
Catatan: Banda Aceh, Sabang, dan Lhangsa tidak ikut dalam survei. Untuk Lhokseumawe, hanya satu kecamatan dari tiga kecamatan yang
diikutkan dalam survei.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
47
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.3 Keluarga yang terpaksa mengungsi dari desa mereka karena konflik
Mengungsi belum
kembali (KK)
(75 persen dari desa
melapor)
Kembali (KK)
(91 persen dari desa
melapor)
Total KK
Persentase KK
yang kembali
Aceh Utara
6.744
10.251
16.995
60,3
Pidie
5.464
7.987
13.451
59,4
Aceh Timur
3.787
8.176
11.963
68,3
Kabupaten
Bireuen
3.583
5.994
9.577
62,6
Aceh Besar
2.693
4.687
7.380
63,5
Bener Meriah
1.766
3.737
5.503
67,9
Aceh Tenggara
1.510
3.882
5.392
72,0
Aceh Barat
1.728
3.213
4.941
65,0
Aceh Tengah
2.053
2.884
4.937
58,4
Aceh Selatan
1.229
3.488
4.717
73,9
Aceh Singkil
1.006
3.401
4.407
77,2
Aceh Tamiang
1.584
2.508
4.092
61,3
Simeuleu
1.015
2.237
3.252
68,8
720
1.834
2.554
71,8
Nagan Raya
Aceh Barat Daya
872
933
1.805
51,7
Gayo Lues
567
490
1.057
46,4
Aceh Jaya
161
881
1.042
84,5
Lhokseumawe
155
236
391
60,4
36.637
66.819
103.456
64,6 (Rata-rata)
TOTAL
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Lhokseumawe paling banyak memberikan laporan jawaban per desa untuk kedua pertanyaan itu (97 persen menjawab “mengungsi
belum kembali”, 100 persen menjawab “sudah kembali”). Aceh Barat dan Aceh Besar paling rendah melaporkan jawaban “pengungsi
belum kembali” (63 persen) sedangkan Aceh Barat paling rendah memberikan laporan jawaban “sudah kembali” (76 persen). Perlu
dicatat, angka-angka dari Lhokseumawe berasal dari hanya satu kecamatan di kabupaten itu.
48
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Peta 5.2 Peta yang menunjukkan jumlah total pengungsi karena konflik yang belum kembali (distribusi
di tingkat kecamatan)
Catatan: Banda Aceh, Sabang, dan Lhangsa tidak ikut dalam survei. Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan
dalam survei.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
49
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Di Mana Mereka Sekarang?
Kabupaten yang banyak kehilangan warga karena mengungsi juga kemungkinan besar melaporkan
diri sebagai penampung terbesar pengungsi dari desa lain. Ini mungkin menunjukkan bahwa warga
yang terpaksa mengungsi cenderung berusaha tinggal sedekat mungkin dengan desa asalnya. Kabupaten
yang banyak menampung pengungsi dari desa lain saat ini, termasuk pengungsi tsunami dan konflik, adalah
Pidie (6.739), Aceh Besar (6.221), Bener Meriah (5.753), dan Aceh Utara (4.392) (Tabel 5.4). Dari sisi jumlah total
penduduk, kabupaten Bener Meriah adalah penampung pengungsi terbesar dibandingkan dengan kabupatenkabupaten yang lain (5,6 persen); Aceh Besar dan Gayo Lues masing-masing menampung 2,3 persen dan 2,1
persen, dari jumlah total penduduk masing-masing.24
Tabel 5.4 Jumlah pengungsi dari desa lain yang saat ini ditampung menurut kabupaten
Pengungsi tsunami (KK)
(51 persen dari desa
melapor)
Pengungsi konflik (KK)
(50 persen dari desa
melapor)
Total KK
Persentase
pengungsi
menurut total
penduduk
Pidie
4.098
2.641
6.739
1,4
Aceh Besar
5.024
1.197
6.221
2,3
256
5.497
5.753
5,6
Kabupaten
Bener Meriah
Aceh Utara
2.463
1.929
4.392
0,9
Bireuen
1.940
1.606
3.546
1,0
Aceh Tengah
2.002
716
2.718
2,0
Aceh Timur
1.621
796
2.417
0,7
Aceh Barat Daya
1.775
126
1.901
1,7
Aceh Tamiang
1.095
762
1.857
0,8
Aceh Barat
1.023
745
1.768
2,0
Simeulue
619
627
1.246
2,0
Aceh Tenggara
355
884
1.239
0,8
Aceh Selatan
847
349
1.196
0,6
Aceh Singkil
557
489
1.046
0,7
Gayo Lues
715
178
893
2,1
Nagan Raya
648
163
811
1,0
Aceh Jaya
335
184
519
1,3
Lhokseumawe
144
16
160
0,2
25.517
18.905
44.422
1,3 (Rata-rata)
TOTAL
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Aceh Barat Daya paling banyak memberikan jawaban per desa tentang pengungsi tsunami (90 persen) sedangkan Aceh Tamiang
paling banyak memberikan jawaban untuk pengungsi konflik (65 persen). Aceh Tenggara paling sedikit memberikan laporan
tentang pengungsi tsunami (25 persen), sedangkan Aceh Barat paling sedikit memberikan laporan tentang pengungsi konflik (35
persen). Perlu dicatat, angka-angka untuk Lhokseumawe berasal hanya dari satu kecamatan di kabupaten itu.
24 Angka-angka ini berdasarkan jumlah pengungsi yang dilaporkan di tingkat kabupaten dan jumlah total penduduk yang dilaporkan.
Namun, kuesioner tidak menentukan apakah perkiraan total penduduk dari kepala desa harus termasuk pengungsi yang bermukim di
desanya atau tidak. Karena itu, perkiraan-perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa kepala desa tidak memasukkan jumlah pengungsi
ke dalam jumlah total penduduk desa yang dilaporkannya. Bila perkiraan-perkiraan itu didasarkan pada asumsi bahwa kepala desa
memasukkan jumlah pengungsi ke dalam jumlah total penduduk desa yang dilaporkannya, persentase jelas agak turun, tetapi peringkat
tidak berubah.
50
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Peta 5.3 Peta yang menunjukkan wilayah dengan jumlah total pengungsi konflik dan tsunami dari desa
lain yang saat ini ditampung (distribusi di tingkat kecamatan)
Catatan: Banda Aceh, Sabang, dan Lhangsa tidak diikutkan dalam survei. Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang
diikutkan dalam survei.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
51
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Pola pengungsian dan kembali tingkat kabupaten sering tidak sama dengan pola pengungsian dan
kembali tingkat desa. Ini berarti bahwa diperlukan program bantuan yang fleksibel dan responsif
pada keadaan setempat. Data di atas menunjukkan bahwa kabupaten yang menurut laporan kepala desa
menampung pengungsi dari desa lain dalam jumlah besar juga kabupaten yang menampung sebagian besar
pengungsi konflik dan tsunami; ini menunjukkan bahwa warga pengungsi terkonsentrasi. Namun, pola ini
tidak ditemukan di tingkat desa; di sini jumlah pengungsi dari desa lain tampaknya tidak ada kaitannya dengan
jumlah pengungsi konflik atau pengungsi tsunami dari desa itu.25 Pola pengungsian di tingkat kabupaten dapat
menunjukkan di mana sumberdaya paling dibutuhkan, tetapi bagaimana dan untuk apa sumberdaya ini berbeda
sekali dari desa ke desa.
Di Mana Pengungsi Tinggal?
Untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai tantangan yang dihadapi pengungsi konflik dan
tsunami, responden diminta merekam secara rinci jenis tempat tinggal pengungsi yang sudah kembali
dan pengungsi dari desa lain. Jawaban atas pertanyaan ini memberikan gambaran tambahan mengenai
berbagai tantangan yang dihadapi pengungsi konflik dan tsunami.
Sebagian besar pengungsi tsunami yang sudah kembali sekarang tinggal di rumah sendiri, sedangkan
pengungsi tsunami dari desa lain tinggal di berbagai jenis tempat tinggal. Sejalan dengan upaya besar
yang telah dilakukan untuk membangun kembali rumah bagi pengungsi tsunami, sejauh ini sebagian besar
pengungsi tsunami yang sudah kembali dilaporkan tinggal di rumah sendiri (34.117 KK, atau 59,9 persen dari
pengungsi tsunami) (Gambar 5.2). Sebagian lagi, sebesar 17,9 persen, tinggal di barak pengungsi. Sebaliknya,
pengungsi tsunami yang dilaporkan berasal dari desa lain tersebar secara lebih merata di antara berbagai jenis
tempat tinggal yang disebutkan dalam survei, yakni barak pengungsi (19,7 persen), tenda (8,0 persen), dengan
keluarga (14,0 persen), dengan saudara yang lain (10,8 persen), rumah sewa (10,3 persen), rumah sendiri (13,1
persen), dan tempat tinggal lainnya (24,1 persen).26
Gambar 5.2 Tempat tinggal pengungsi tsunami saat ini (sudah kembali dan dari desa lain)
40.000
35.000
30.000
Jumlah KK
25.000
20.000
15.000
10.000
5.000
0
Dari desa lain
Telah kembali
Barak
pengungsi
Tenda
5.021
10.209
2.042
1.438
Tinggal dengan Tinggal dengan
keluarga
keluarga mereka
yang lain
di desa anda
3.591
2.760
3.741
1.779
Di rumah sewa
Rumah sendiri
Lain-lain
2.633
1.881
3.336
34.117
6.149
3.806
Dimana pengungsi tsunami tinggal pada saat ini?
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Berdasarkan hitungan kepala desa.
25 Korelasi antara jumlah total KK yang terpaksa mengungsi (pengungsi yang sudah kembali plus pengungsi yang belum kembali) karena
tsunami dan jumlah total pengungsi karena konflik adalah 0,047 (939 pengamatan). Korelasi antara jumlah total pengungsi dan jumlah
pengungsi yang ditampung sebuah desa adalah 0,022 (728 pengamatan) untuk pengungsi tsunami dan 0,183 (2.172 pengamatan)
untuk pengungsi konflik.
26 Beberapa dari “lokasi-lokasi yang lain” yang disebutkan kepala desa adalah rumah dinas (biasanya pegawai negeri), toko, rumah majikan
dan balai desa. Juga ada kemungkinan kepala desa memilih “lokasi-lokasi yang lain” bila ia tidak tahu pasti di mana pengungsi tinggal
karena dalam kuesioner tidak tercantum pilihan jawaban “tidak tahu” untuk tempat tinggal.
52
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Pengungsi konflik yang sudah kembali sama besar kemungkinannya tinggal di rumah sewa, rumah
sendiri, atau tempat tinggal jenis-jenis yang lain. Jumlah pengungsi konflik yang sudah kembali dan
dilaporkan tinggal di rumah sendiri (17.843 KK, atau 26,7 persen) sedikit di bawah jumlah yang dilaporkan tinggal
di rumah sewa (19.720 KK, atau 29,5 persen) dan tempat tinggal yang lain (18.746 KK, atau 28,1 persen) (Gambar
5.3). Distribusi tempat tinggal pengungsi konflik yang lebih luas ini, dibandingkan dengan pengungsi tsunami,
mungkin semata-mata akibat dari kenyataan bahwa lebih banyak rumah yang dibangun untuk pengungsi
tsunami daripada untuk pengungsi konflik, atau mungkin juga mencerminkan kesulitan yang dihadapi pengungsi
konflik melakukan reintegrasi di desa asal mereka. Apapun penyebabnya, program-program kembali-pulang
bagi pengungsi konflik sebaiknya mencakup pula langkah-langkah untuk memperkuat ikatan sosial.
Pengungsi konflik dari desa lain paling besar kemungkinannya tinggal di rumah sendiri. Bahwa sebagian
besar (9.556 KK, atau 50,5 persen) dari kelompok ini tinggal di rumah sendiri mungkin menunjukkan bahwa
pengungsi konflik, yang umumnya sudah lebih lama menjadi pengungsi daripada pengungsi tsunami, sudah
lebih banyak mengambil langkah-langkah untuk berintegrasi dengan masyarakat desa yang menampung
mereka, paling tidak dari sisi perumahan. Jika benar demikian halnya, maka ada implikasi-implikasi yang penting
bagi program-program bagi pengungsi konflik, dalam arti program-program itu hendaknya dirancang untuk
memungkinkan pengungsi konflik memilih antara pulang kampung, bermukim di tempat lain, atau diberdayakan
di desa yang menampung mereka.
Gambar 5.3 Tempat tinggal pengungsi konflik saat ini (sudah kembali dan dari desa lain)
30.000
25.000
Jumlah KK
20.000
15.000
10.000
5.000
0
Barak
pengungsi
Dari desa lain
Telah kembali
652
1.485
Tenda
609
1.952
Tinggal dengan Tinggal dengan
keluarga
keluarga mereka
yang lain
di desa anda
2.666
3.871
Di rumah sewa
Rumah sendiri
Lain-lain
2.862
19.720
9.556
17.843
897
18.746
1.668
3.202
Dimana pengungsi konflik tinggal pada saat ini?
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Berdasarkan hitungan kepala desa.
Keadaan Ekonomi Pengungsi
Sebagian besar responden percaya bahwa keadaan ekonomi pengungsi tsunami yang sudah kembali
agak lebih buruk daripada keadaan ekonomi mereka pada masa pra-tsunami. Di setiap desa, kepala desa,
tokoh perempuan, dan ketua pemuda diminta membandingkan keadaan ekonomi pengungsi tsunami saat ini
dengan keadaan ekonomi mereka pada masa pra-tsunami. Angka rata-rata bagi semua responden (2,5) terletak
di antara angka “agak buruk” (2) dan angka “sama” (3); ini menunjukkan bahwa, terlepas dari kemajuan-kemajuan
yang telah dicapai di Aceh, dampak ekonomi tsunami masih terasa di tingkat desa, bahkan di kalangan
pengungsi tsunami yang sudah kembali.
Sebagian besar responden percaya bahwa keadaan ekonomi pengungsi dari desa lain agak lebih buruk
daripada keadaan ekonomi warga lainnya di desa responden, terutama dari kalangan pengungsi karena
konflik. Di setiap desa, kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda diminta membandingkan keadaan
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
53
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
ekonomi pengungsi (baik konflik maupun tsunami) dari desa lain yang ditampung desa responden saat ini
dengan keadaan ekonomi warga lain di situ. Tabel 5.5 menunjukkan bahwa jawaban rata-rata untuk pertanyaan
ini bagi pengungsi tsunami sama dengan jawaban rata-rata untuk pertanyaan bagi warga desa yang lain (2,5);
ini menunjukkan bahwa keadaan ekonomi pengungsi tsunami agak lebih buruk daripada keadaan ekonomi
warga lain di desa yang menampung mereka. Perbedaan antara pengungsi dari desa lain dan desa penampung
jauh lebih besar bagi pengungsi konflik; nilai rata-rata 2,3 bagi pengungsi konflik lebih dekat pada kategori
“agak lebih buruk”.
Tabel 5.5 Keadaan ekonomi pengungsi
Rata-rata
Jumlah jawaban
2,5
4.489
Keadaan pengungsi tsunami yang sudah kembali sekarang dibandingkan
dengan pada masa pra-tsunami
Keadaan pengungsi tsunami dibandingkan dengan keadaaan warga lain
2,5
2.981
Keadaan pengungsi konflik dibandingkan dengan warga lain
2,3
4.720
Skala:
1 – Buruk
4 – Agak baik
2 – Agak buruk
5 – Lebih baik
3 – Sama
Sumber: Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Angka-angka tersebut merupakan angka rata-rata jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda.
Di desa yang menampung pengungsi konflik dan tsunami, keadaan ekonomi pengungsi konflik dinilai
jauh lebih buruk daripada keadaan ekonomi pengungsi tsunami. Dengan fokus pada desa yang menampung
mengungsi konflik dan tsunami, nilai rata-rata untuk keadaan ekonomi pengungsi tsunami dibandingkan
dengan keadaan ekonomi warga lain lebih tinggi (3,0) daripada nilai rata-rata untuk pertanyaan yang sama
untuk semua desa yang menampung pengungsi tsunami (2,5) (Tabel 5.6). Sebaliknya, nilai rata-rata keadaan
ekonomi pengungsi konflik dibandingkan dengan keadaan ekonomi warga lain di desa responden persis sama
(2,3) seperti halnya untuk pertanyaan yang sama untuk semua desa penampung pengungsi konflik.
Tabel 5.6 Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dan konflik di desa yang menampung pengungsi
tsunami dan konflik
Rata-rata
Jumlah jawaban
Tsunami dibandingkan warga lain
3,0
788
Konflik dibandingkan warga lain
2,3
10.985
Skala:
1 – Buruk
4 – Agak baik
2 – Agak buruk
5 – Lebih baik
3 – Sama
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Angka-angka di atas adalah angka rata-rata jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda.
Barangkali tidak mengherankan bahwa karena tingkat pembangunan yang rendah di sebagian besar
Aceh dan jumlah bantuan yang telah diberikan kepada korban tsunami khususnya, sebagian kecil
tetapi cukup signifikan dari responden percaya bahwa keadaan pengungsi lebih baik daripada warga
lain desa responden, meski ini tidak sepenuhnya benar bagi pengungsi konflik. Secara keseluruhan, 21
persen responden melaporkan bahwa keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain lebih baik atau agak
lebih baik daripada keadaan ekonomi warga lain di desa responden. Angka untuk pengungsi konflik adalah
17,7 persen. Dilihat bersama-sama dengan responden yang percaya bahwa keadaan ekonomi pengungsi sama
dengan keadaan ekonomi warga lain, persepsi-persepsi ini menunjukkan bahwa lebih diperlukan programprogram yang menawarkan sejumlah manfaat bagi desa yang menampung pengungsi daripada fokus kepada
pengungsi semata-mata.
54
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Keadaan ekonomi pengungsi di wilayah tsunami
Dibandingkan dengan responden di kecamatan yang tidak kena dampak tsunami, responden di
kecamatan yang kena dampak besar tsunami lebih besar kemungkinannya percaya bahwa keadaan
ekonomi pengungsi tsunami yang sudah kembali lebih baik saat ini daripada sebelum tsunami. Dari
warga yang tinggal di kecamatan yang tidak kena dampak tsunami, 60,5 persen percaya bahwa keadaan
ekonomi pengungsi tsunami buruk atau agak buruk dibandingkan dengan sebelum tsunami dan 20,2 persen
percaya bahwa keadaan ekonomi mereka lebih baik atau agak lebih baik (Gambar 5.4). Sebaliknya, di kecamatan
yang kena dampak besar tsunami, hanya 42,8 persen yang percaya bahwa keadaan ekonomi pengungsi buruk
atau agak buruk daripada sebelum tsunami, sedangkan 37,2 persen percaya bahwa keadaan ekonomi mereka
lebih baik atau agak lebih baik.
Gambar 5.4 Keadaan ekonomi pengungsi tsunami saat ini dibandingkan dengan sebelum tsunami
menurut dampak tsunami (tingkat kecamatan)
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Normal
Ringan
Sedang
Berat
Jauh lebih buruk atau
sedikit lebih buruk
60,5%
60,0%
51,8%
42,8%
Sama
19,3%
18,7%
23,5%
20,0%
Sedikit lebih baik atau
jauh lebih baik
20,2%
21,3%
24,6%
37,2%
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi (pekerjaan, pendapatan) pengungsi tsunami yang sudah kembali ke desa,
dibandingkan dengan keadaan mereka sebelum tsunami?
Sumber : Survey desa Aceh, 2006.
Catatan: Responden terdiri dari kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda.
Dibandingkan dengan responden di kecamatan yang tidak kena dampak tsunami, responden di
kecamatan yang kena dampak besar tsunami lebih besar kemungkinannya percaya bahwa keadaan
ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain lebih baik daripada keadaan ekonomi warga yang lain. Pola
jawaban untuk pertanyaan ini sama, tetapi tidak sepenuhnya, dengan pola jawaban ketika responden diminta
membandingkan keadaan ekonomi pengungsi tsunami saat ini dan keadaan ekonomi mereka pada masa pra
tsunami. Di kecamatan yang tidak kena tsunami, 56,8 persen dari responden mengatakan bahwa keadaan
pengungsi tsunami buruk atau agak buruk dibandingkan dengan warga lain di desa responden (Gambar 5.5).
Angka ini turun menjadi 47,6 persen dari responden di kecamatan yang kena dampak sangat besar tsunami.
Sebaliknya, 19,3 persen dari responden di kecamatan yang tidak kena dampak tsunami mengatakan bahwa
keadaan ekonomi pengungsi tsunami lebih baik atau agak lebih baik daripada keadaan ekonomi warga lain
di desa responden. Angka ini naik menjadi 26,4 persen di kecamatan yang kena dampak besar tsunami. Polapola simpati yang makin menurun terhadap keadaan ekonomi pengungsi tsunami di wilayah-wilayah yang
kena dampak lebih berat tsunami, di satu sisi merupakan bukti keberhasilan program-program bantuan untuk
pengungsi tsunami selama ini. Meski pengungsi jelas bukan satu-satunya kelompok yang menderita kerugian
ekonomi dan kehilangan anggota keluarga akibat tsunami, program-program bantuan sebagian besar difokuskan
kepada pengungsi. Program-program semacam itu paling kasat mata bagi warga yang tinggal di wilayah
yang kena dampak besar tsunami; jadi pola-pola itu di sini menunjukkan bahwa program-program bantuan
bagi pengungsi tsunami membawa dampak sedemikian rupa sehingga menarik perhatian warga lain. Risiko
meletakkan fokus pada pengungsi tsunami tentu saja adalah bahwa warga lain yang juga mengalami trauma
yang serupa tetapi tidak termasuk kategori pengungsi dapat merasa dianaktirikan sepanjang menyangkut
bantuan.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
55
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.5 Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain dibandingkan dengan keadaan warga
lainnya menurut dampak tsunami (tingkat kecamatan)
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Jauh lebih buruk atau
sedikit lebih buruk
Sama
Sedikit lebih baik atau
jauh lebih baik
Normal
56,8%
23,9%
19,3%
Ringan
54,7%
24,4%
20,9%
Sedang
52,9%
23,4%
23,7%
Berat
47,6%
25,9%
26,4%
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi pengungsi korban tsunami yang datang
dari desa lain ke desa ini, bila dibandingkan dengan penduduk desa ini?
Sumber : Survey desa Aceh, 2006.
Catatan: Responden terdiri dari kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda.
Keadaan ekonomi pengungsi di wilayah yang terkena dampak konflik
Persepsi responden tentang keadaan ekonomi pengungsi konflik dibandingkan dengan warga lain
tidak banyak berbeda berdasarkan intensitas konflik di kecamatan tempat responden tinggal. Temuan
ini berbeda dengan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tentang pengungsi tsunami, yang menunjukkan
pola yang jelas tentang keadaan ekonomi
yang lebih baik di kecamatan yang kena Gambar 5.6 Keadaan ekonomi pengungsi konflik dari
dampak besar tsunami. Jumlah responden
desa lain dibandingkan dengan warga
yang berpendapat bahwa pengungsi konflik
lainnya menurut intensitas konflik (tingkat
lebih buruk atau agak lebih buruk keadaan
kecamatan)
ekonominya daripada warga lain di desa
70%
tempat tinggal mereka sebesar sekitar 60
60%
persen, terlepas dari tingkat konflik (Gambar
5.6). Sama halnya, jumlah responden yang
50%
berpendapat bahwa pengungsi konflik
40%
lebih baik atau agak lebih baik keadaannya
30%
daripada warga lain di desa itu sebesar sekitar
18 persen, terlepas dari intensitas konflik di
20%
kecamatan responden. Pembahasan di atas
10%
menunjukkan bahwa pola jawaban pada
0%
pertanyaan-pertanyaan tentang keadaan
Sedikit lebih baik atau
Jauh lebih buruk atau
Sama
sedikit lebih buruk
jauh lebih baik
ekonomi pengungsi tsunami kemungkinan
Rendah
60,6%
21,1%
18,3%
besar adalah akibat dari efektifnya programSedang
61,1%
22,5%
16,4%
program bantuan untuk pengungsi di
Tinggi
59,6%
22,5%
17,9%
wilayah-wilayah yang rusak parah karena
Secara umum, bagaimana kondisi ekonomi pengungsi korban konflik
yang datang dari desa lain ke desa ini, bila dibandingkan dengan
tsunami. Sama halnya, temuan di sini bahwa
penduduk desa ini?
tidak ada pola dalam jawaban-jawaban bagi
pertanyaan-pertanyaan mengenai keadaan Sumber : Survey desa Aceh, 2006.
ekonomi pengungsi konflik kemungkinan Catatan: Responden terdiri dari kepala desa, tokoh perempuan, dan pemimpin
pemuda.
besar mencerminkan kurangnya programprogram untuk pengungsi konflik.
56
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Keadaan ekonomi pengungsi menurut responden
Jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda untuk pertanyaan-pertanyaan tentang
keadaan ekonomi pengungsi konflik dibandingkan dengan warga lain sangat serupa. Sekitar 60 persen
dari setiap kategori responden mengatakan bahwa keadaan pengungsi konflik lebih buruk atau agak lebih
buruk daripada keadaan warga lain di desa mereka, sedangkan sekitar 17,5 persen mengatakan bahwa keadaan
pengungsi lebih baik atau agak lebih baik.
Tokoh perempuan lebih besar kemungkinannya mengatakan bahwa keadaan ekonomi pengungsi
tsunami buruk, daripada kepala desa atau ketua pemuda. Ketika diminta membandingkan keadaan
ekonomi pengungsi tsunami yang sudah kembali, dengan keadaan mereka sebelum tsunami, 59,8 persen dari
responden tokoh perempuan mengatakan bahwa keadaan mereka lebih buruk atau agak lebih buruk. Hanya 53
persen dari kepala desa dan 57,2 persen dari wakil kelompok pemuda yang berpendapat seperti ini. Perbedaan
ini bahkan lebih tajam lagi dalam hal pertanyaan tentang keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain
dibandingkan dengan keadaan ekonomi warga lain di desa responden. Dalam hal ini, 65,9 persen dari responden
perempuan mengatakan bahwa keadaan ekonomi pengungsi lebih buruk atau agak lebih buruk, sedangkan
hanya 49,5 persen dari kepala desa dan 44,7 persen dari wakil pemuda yang berpendapat seperti ini (Gambar
5.7). Ini kemungkinan besar akibat diskriminasi yang dirasakan kaum perempuan di wilayah-wilayah yang paling
parah kena dampak tsunami mengenai peluang memperoleh bantuan tsunami. Sebuah laporan Komnas
Perempuan menunjukkan bahwa pengungsi perempuan kesulitan memperoleh bantuan tsunami karena
pembagian dan penggunaan bantuan biasanya ditentukan oleh laki-laki. Dan kalaupun perempuan mendapat
bantuan, jumlah bantuan sering lebih kecil dibandingkan dengan jumlah bantuan untuk laki-laki atau kelompok
perempuan yang lain.27 Diskriminasi semacam ini dapat membuat kaum perempuan lebih pesimis daripada
kaum laki-laki dalam menilai keadaan ekonomi pengungsi tsunami di desa mereka. Juga menarik untuk dicatat
bahwa perbedaan dalam jawaban ini tidak ditemukan dalam evaluasi keadaan ekonomi pengungsi konflik. Ini
barangkali karena sejauh ini tidak ada program bantuan besar-besaran atau terorganisir untuk pengungsi konflik
yang menjangkau sampai ke tingkat desa.
Gambar 5.7 Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dari desa lain dibandingkan dengan warga lainnya
menurut responden
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Jauh lebih buruk atau
sedikit lebih buruk
Sama
Sedikit lebih baik atau
jauh lebih baik
66%
50%
45%
23%
23%
27%
11%
28%
28%
Tokoh perempuan
Kepala Desa
Tokoh pemuda
Secara umum, bagaimana kondisi ekonomi pengungsi korban konflik yang datang dari desa lain ke desa ini, bila
dibandingkan dengan penduduk desa ini?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
27 Komnas Perempuan (2006), hal. 19.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
57
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Di tingkat desa, sedikit sekali persamaan pendapat antara responden tentang keadaan ekonomi
pengungsi. Jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda, tidak erat terkait satu sama lain di
tingkat desa.28 Jawaban yang tidak konsisten antara responden di tingkat desa kembali mencerminkan bahwa
diperlukan program-program yang fleksibel, menyeluruh, dan responsif pada kebutuhan setempat.
Keadaan ekonomi pengungsi menurut kabupaten
Sebagian besar nilai di tingkat kabupaten untuk pertanyaan tentang ekonomi mendekati nilai rata-rata
tingkat propinsi. Menarik untuk dicatat bahwa nilai yang paling berbeda dengan nilai rata-rata keseluruhan,
kecuali satu, tidak mencakup kabupaten dengan jumlah pengungsi terbesar (Aceh Besar, Aceh Utara, Bireuen,
dan Pidie) (Tabel 5.7).
Tabel 5.7 Keadaan ekonomi pengungsi tsunami dan konflik menurut kabupaten
Tsunami dibandingkan
sebelumnya
Tsunami dibandingkan warga
lainnya
Konflik dibandingkan warga
lainnya
Aceh Barat
2,4
2,6
2,3
Aceh Barat Daya
2,4
2,7
2,3
Aceh Besar
2,8
2,5
2,4
Aceh Jaya
2,8
2,3
2,2
Aceh Selatan
2,4
2,6
2,3
Aceh Singkil
2,4
2,4
2,5
Aceh Tamiang
2,3
2,2
2,3
Aceh Tengah
2,7
2,5
2,3
Aceh Tenggara
2,5
2,5
2,3
Aceh Timur
2,1
2,3
2,4
Aceh Utara
2,4
2,4
2,3
Bener Meriah
2,2
2,3
2,4
Bireuen
2,4
2,4
2,4
Gayo Lues
2,3
2,5
2,2
Lhokseumawe
2,5
2,1
2,1
Nagan Raya
2,4
2,5
2,3
Pidie
2,5
2,6
2,3
Simeulue
3,3
3,0
2,5
Skala:
1 – Buruk
4 – Agak lebih baik
2 – Agak buruk
5 – Lebih baik
3 – Sama
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Nilai-nilai di atas adalah rata-rata dari jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan wakil kelompok pemuda.
Kesimpulan dan Rekomendasi: Pengungsi
Situasi pengungsi di Aceh tetap serius dan rumit. Seperti ditunjukkan laporan ini, perkiraan konservatif
mengenai KK pengungsi yang dilaporkan belum kembali ke tempat asal mereka sebesar hampir 50.000. Ada
beberapa hal yang dapat disimpulkan dari laporan ini:
28 Dari semua perbandingan antara ketiga kategori responden untuk ketiga pertanyaan tentang ekonomi itu, hanya satu yang menunjukkan
korelasi dengan nilai absolut lebih besar dari 0,1 (0,15), yakni jawaban kepala desa dan tokoh perempuan untuk pertanyaan tentang
keadaan ekonomi pengungsi tsunami yang sudah kembali, dibandingkan dengan keadaan ekonomi sebelum tsunami.
58
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
• Jauh lebih banyak KK yang terpaksa mengungsi dari desa mereka karena konflik daripada karena
•
•
•
•
•
•
•
SURVEI DESA ACEH 2006
tsunami (103.456 dibandingkan dengan 66.893). Temuan ini mengandung implikasi-implikasi
penting bagi keputusan-keputusan pasca MoU Aceh tentang bagaimana sebaiknya menentukan
sasaran bantuan bagi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan bantuan ini.
Pengungsi konflik tampaknya lebih lama mengalami dampak berkepanjangan pengungsian
daripada pengungsi tsunami. Ini dapat dilihat dalam temuan bahwa pengungsi konflik yang kembali
ke desa asal mereka lebih kecil jumlahnya daripada pengungsi tsunami (64,6 persen dibandingkan
dengan 85,2 persen). Hal ini juga tampak jelas dalam temuan-temuan bahwa ada persepsi bahwa
dibandingkan dengan warga desa yang lain, keadaan ekonomi pengungsi konflik lebih buruk daripada
keadaan ekonomi pengungsi tsunami.
Mencerminkan sukses upaya membangun rumah kembali setelah tsunami, bagian terbesar
dari pengungsi tsunami yang sudah kembali ke desa asal mereka tinggal di rumah sendiri (59,9
persen). Tempat tinggal kedua paling umum bagi pengungsi tsunami yang sudah kembali adalah
barak pengungsi (17,9 persen). Sebaliknya, pengungsi tsunami yang tinggal di desa lain paling besar
kemungkinannya tinggal di barak pengungsi (19,7 persen) atau tempat tinggal jenis lain (24,1 persen),
tetapi juga kemungkinan besar tinggal dengan saudara atau di rumah sewa.
Pengungsi konflik yang sudah kembali ke tempat asal mereka hampir sama kemungkinannya
tinggal di rumah sewa (29,5 persen), rumah sendiri (26,7 persen), atau tempat tinggal jenis lain
(28,1 persen). Mereka kecil kemungkinannya tinggal di barak pengungsi (2,2 persen). Pengungsi konflik
yang dilaporkan datang dari desa lain sejauh ini kemungkinan besar tinggal di rumah sendiri di desa
baru mereka (50,5 persen). Ini mungkin mencerminkan sifat jangka panjang kebanyakan pengungsi
konflik.
Responden umumnya melaporkan bahwa keadaan ekonomi pengungsi tsunami lebih buruk,
tetapi kondisi ini berkurang parahnya jika responden tinggal di kecamatan yang kena dampak
berat tsunami. Pengungsi tsunami dari desa lain lebih besar kemungkinannya dinilai lebih baik keadaan
ekonominya daripada warga lain di desa mereka tinggal jika responden melaporkan dari kecamatan
yang kena dampak besar tsunami. Pola yang sama ditemukan ketika responden ditanya tentang keadaan
ekonomi pengungsi tsunami yang sudah kembali dibandingkan dengan keadaan ekonomi mereka
pada masa pra-tsunami. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa program bantuan untuk pengungsi
tsunami berhasil, tetapi pada waktu bersamaan mengingatkan pentingnya memastikan bahwa bantuan
tidak hanya terbatas bagi pengungsi.
Responden melaporkan bahwa keadaan ekonomi pengungsi konflik tidak baik. Terlepas dari
intensitas konflik di kecamatan tempat responden bermukim, pengungsi konflik dari desa lain umumnya
dinilai dalam keadaan yang lebih buruk atau agak lebih buruk keadaan ekonominya, dibandingkan
dengan warga lain di desa responden. Persepsi tentang keadaan ekonomi pengungsi konflik konsisten
di antara ketiga kategori responden yang diwawancarai, dengan mayoritas melaporkan bahwa keadaan
ekonomi pengungsi dari desa lain buruk atau agak lebih buruk daripada keadaan ekonomi warga lain
di desa responden.
Tokoh perempuan paling besar kemungkinannya melaporkan bahwa keadaan ekonomi
pengungsi tsunami buruk. Ini terlihat ketika diadakan perbandingan keadaan ekonomi pengungsi
yang sudah kembali dengan keadaan ekonomi pra-tsunami. Demikian pula halnya ketika responden
diminta membandingkan keadaan ekonomi pengungsi dari desa lain dengan keadaan ekonomi warga
lain di desa responden. Di sini, 66 persen dari tokoh perempuan mengatakan bahwa keadaan ekonomi
pengungsi tsunami lebih buruk, tetapi hanya 50 persen dari kepala desa dan 45 persen dari ketua
pemuda yang mengatakan keadaan ekonomi pengungsi tsunami lebih buruk.
Sedikit sekali pola-pola di tingkat kabupaten atau kecamatan yang ditemukan di tingkat desa.
Di tingkat desa, tidak ada kaitan antara kehadiran pengungsi konflik dan pengungsi tsunami; ada
perbedaan pendapat yang signifikan antara responden di setiap desa mengenai keadaan ekonomi
pengungsi; dan tidak ada kaitan antara tingkat kembali bagi pengungsi konflik dan pengungsi tsunami.
Perbedaan setempat ini mencerminkan pentingnya program-program yang fleksibel dan responsif
pada keadaan setempat.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
59
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
5.2. INFORMASI YANG DIBUTUHKAN
Kepada kepala desa, tokoh perempuan dan ketua pemuda diajukan sejumlah pertanyaan yang
berkaitan dengan informasi. Ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang lebih baik tentang informasi
apa yang dibutuhkan warga desa di Aceh dan untuk mendapat gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana
warga desa memperoleh informasi. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga memungkinkan analisis tentang
apakah ada perbedaan geografis yang signifikan dalam jawaban-jawaban responden, terutama dalam kaitan
dengan warga yang kena dampak konflik dan tsunami.
Informasi Apa Yang Dibutuhkan Warga Desa?
Prioritas kebutuhan informasi
Warga desa mencari informasi tentang berbagai hal yang berkaitan dengan proses perdamaian, proyek
dan anggaran pembangunan, peluang kerja, dan pendidikan dan peluang pelatihan. Gambar 5.6
menunjukkan prioritas kebutuhan informasi warga desa, menurut persepsi kepala desa, tokoh perempuan dan
ketua pemuda.29 Juga ditunjukkannya bahwa informasi tentang program pembangunan (52,5 persen), peluang
kerja (49,8 persen), dan penggunaan anggaran desa (46,5 persen) merupakan tiga prioritas informasi tertinggi
bagi warga desa.
Jawaban yang paling sering dipilih untuk
prioritas pertama (22,9 persen) ialah informasi
tentang Memorandum of Understanding (MoU)
Helsinki, yang ditandatangani pemerintah dan
GAM pada Agustus 2005. Hampir 40 persen
dari responden menjawab bahwa informasi
tentang MoU Helsinki adalah salah satu dari tiga
jenis informasi prioritas tertinggi bagi mereka.
Ini menarik, karena sudah setahun berlalu antara
penandatanganan MoU dan pelaksanaan survei.
Ini menunjukkan betapa warga desa tetap
menganggap penting kesepakatan tersebut.
Bahkan setelah penarikan pasukan pemerintah
dan perluncutan senjata GAM, dan ketika situasi
keamanan masih sangat bagus, warga desa
menyadari bahwa pelaksanaan MoU tetap sangat
penting bagi perdamaian untuk jangka panjang,
dan mereka menginginkan informasi mengenai
pelaksanaannya.
Fasilitator Desa sedang mewawancarai tokoh perempuan di Ds. Cinta Maju,
Kec. Blang Pegayon, Kab. Gayo Lues.
Perlu didukung penyebaran informasi yang sudah berjalan selama ini tentang perkembangan proses
perdamaian kepada warga desa. Sama halnya, informasi tentang program-program pasca konflik dianggap
lebih prioritas daripada informasi tentang program-program tsunami. Saat ini, ada kesenjangan informasi dalam
bidang ini, informasi yang disampaikan ke warga desa lebih banyak mengenai kegiatan-kegiatan tsunami.30
29 Jawaban dari ketiga kategori responden dijumlahkan. N = 16.758 (5.586 kepala desa, 5.586 tokoh perempuan, dan 5.586 pemimpin
pemuda).
30 Umumnya, ini karena sumberdaya yang disediakan untuk bantuan tsunami demikian besar dibandingkan dengan sumberdaya bagi
kegiatan-kegiatan pasca konflik. Akibatnya, BRR dan para pelaku besar lainnya memiliki unit-unit informasi untuk masyarakat luas,
menerbitkan buletin tentang kemajuan yang dicapai, dan mendukung acara-acara radio and televisi. Sebaliknya, BRA yang hanya
memiliki satu orang yang bertanggung jawab atas informasi bagi masyarakat luas.
60
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.8 Informasi yang dibutuhkan masyarakat
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Penggunaan
MoU
perdamaian anggaran
desa
Program
tsunami
Program
pembangunan
Program
Kesempatan
Kesempatan
reintegrasi memperoleh
Kerja
pasca konflik pendidikan
Akses
kepada
tanah
Pelatihan
mengenai
keahlian
Pelayanan
keuangan
Trauma/
konseling
psikologi
Lain-lain
Ketiga
Kedua
5,5%
8,8%
4,1%
15,5%
22,0%
6,5%
16,9%
3,4%
10,3%
4,3%
2,1%
0,6%
12,8%
16,0%
2,7%
23,4%
17,1%
10,5%
8,8%
3,7%
3,3%
1,2%
0,4%
0,1%
Pertama
22,9%
21,7%
15,9%
13,6%
10,7%
8,5%
2,3%
1,8%
1,3%
0,8%
0,3%
0,3%
Di desa ini, jenis informasi apa saja yang umumnya ditanyakan oleh
penduduk desa? (pilih 3 jenis informasi yang paling banyak diminta)
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Informasi tentang proyek pembangunan dan penggunaan anggaran desa dianggap lebih penting
daripada informasi tentang program tsunami atau pasca konflik. Ini mungkin karena program-program
tsunami dan pasca konflik hanya berlaku di wilayah-wilayah Aceh tertentu saja. Namun, seperti dibahas di
bawah, warga desa memberikan prioritas pada informasi tentang proyek pembangunan, bantuan tsunami dan
bantuan pasca konflik, di wilayah-wilayah dengan intensitas konflik yang tinggi, medium dan rendah, maupun
di wilayah-wilayah kena dampak besar, sedang dan rendah tsunami. Data menunjukkan bahwa investasi dalam
strategi informasi tentang kegiatan pembangunan pemerintah sama pentingnya dengan informasi tentang
manfaat dan program pasca konflik dan tsunami.
Informasi tentang peluang kerja juga dipilih sebagai prioritas kebutuhan masyarakat oleh hampir 49,8
persen dari responden. Ini tidak mengherankan mengingat tingkat pengangguran yang tinggi saat ini di Aceh.
Namun, tidak banyak responden yang mengatakan peluang kerja merupakan priortas pertama bagi mereka
(10,7 persen). Informasi tentang peluang pendidikan lebih diprioritaskan daripada informasi tentang pelatihan
ketrampilan-ketrampilan tertentu, meski sangat sedikit responden yang memilih informasi tentang pendidikan
dan pelatihan ketrampilan sebagai priotas pertama mereka (hanya 2,3 persen dan 1,3 persen).
Juga sama menariknya, bidang-bidang informasi yang tidak diprioritaskan oleh warga masyarakat. Paling
mencolok adalah tidak ada permintaan untuk informasi tentang akses kepada tanah dan pelayanan
keuangan. Hanya 8,9 persen dari responden yang mengatakan bahwa warga masyarakat memberikan prioritas
kepada informasi tentang peluang mendapat tanah, dan kurang dari 1,8 persen yang mengatakan informasi ini
merupakan prioritas pertama bagi warga masyarakat. Mengingat temuan-temuan sebelumnya, bahwa warga
masyarakat di Aceh yang ingin menjadi petani pada umumnya sudah memiliki akses kepada tanah, hasil survei
menunjukkan bahwa redistribusi tanah dan hak atas tanah barangkali menempati prioritas yang lebih rendah
bagi pembangunan pasca tsunami dan pasca konflik daripada dianggap orang selama ini.31 Sama halnya,
informasi tentang pelayanan keuangan dipilih sebagai prioritas warga masyarakat hanya oleh kurang dari 6,3
persen dari responden, dan kurang dari 0,8 persen memilihnya sebagai informasi prioritas tertinggi.
31 World Bank (2006b), hal. 56.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
61
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Informasi tentang pelayanan trauma psikologis dan pemberian nasihat dianggap prioritas warga
masyarakat hanya oleh 2,8 persen dari responden. Hanya 0,3 persen yang mengatakan informasi ini prioritas
tertinggi bagi mereka. Mengingat hasil-hasil studi sebelumnya yang menunjukkan tingkat trauma pasca konflik
dan pasca tsunami yang sangat tinggi,32 angka ini menunjukkan bahwa warga desa kemungkinan: (a) tidak
tahu bahwa pelayanan semacam itu tersedia di tempat-tempat tertentu; atau (b) tidak tahu bahwa gejala-gejala
seperti depresi dan rasa khawatir yang mereka alami merupakan akibat dari peristiwa-peristiwa yang baru lalu.
Untuk ini, pendekatan-pendekatan untuk membangun kembali ikatan sosial Aceh sebaiknya memasukkan pula
unsur-unsur pendidikan untuk meningkatkan kesadaran tentang perlunya kesehatan mental, jasa-jasa yang
tersedia, dan bagaimana semua ini bermanfaat bagi masyarakat luas.
Perbedaan antara responden
Pertanyaan tentang informasi apa yang dibutuhkan warga desa diajukan kepada tiga kelompok
responden di setiap desa: kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua pemuda. Sedikit sekali terdapat
perbedaan pendapat di antara ketiga responden ini. Pemimpin kaum perempuan agak lebih besar
kemungkinannya mengatakan bahwa warga desa ingin tahu tentang MoU Helsinki dibandingkan dengan
responden yang lain (25,9 persen memilih ini sebagai prioritas warga desa, dibandingkan dengan 23,9 persen
dari ketua pemuda dan 21,3 persen dari kepala desa). Tetapi, secara keseluruhan pendapat ketiga responden
ini sama mengenai informasi apa yang dibutuhkan warga desa. Ini menunjukkan bahwa sampai batas-batas
tertentu ada keseragaman menyangkut jenis informasi yang dibutuhkan warga desa, karena ketiga responden
itu kemungkinan besar mewakili, dan kenal baik, berbagai kelompok warga di desa mereka.
Wilayah-wilayah tsunami dan konflik
Hanya sedikit perbedaan sistematik yang terdapat antara jenis informasi yang dibutuhkan di wilayahwilayah yang kena dampak tsunami dan konflik pada berbagai tingkat. Desa-desa yang kena dampak
tinggi, sedang, rendah dan tidak kena dampak, tsunami, memberikan prioritas kepada jenis-jenis informasi
yang sama. Demikian pula desa-desa di wilayah-wilayah dengan intensitas konflik tinggi, medium dan rendah
memberikan prioritas yang sama kepada jenis-jenis informasi yang sama.
Menarik bahwa hal ini juga berlaku bagi informasi tentang program tsunami dan reintegrasi pasca konflik.
Tabel 5.8 menunjukkan bahwa wilayah-wilayah yang tidak kena dampak tsunami juga sama berminatnya untuk
mendapat informasi tentang program tsunami dibandingkan dengan wilayah-wilayah yang kena dampak besar
tsunami. Sama halnya, desa-desa di kecamatan dengan intensitas konflik rendah juga memberikan prioritas
tinggi kepada informasi tentang program reintegrasi seperti halnya desa-desa di wilayah dengan intensitas
konflik tinggi (Tabel 5.9).
.
Tabel 5.8 Persentase responden yang memprioritaskan informasi tentang program tsunami menurut
dampak tsunami (tingkat kecamatan)
Dampak tsunami (n=3585)
Prioritas kebutuhan informasi
1
2
3
TOTAL
Berat
Sedang
Ringan
Normal
15,5
2,8
3,6
22,0
15,4
2,8
4,7
22,9
15,2
3,3
3,7
22,2
16,3
2,6
4,2
23,1
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
32 IOM/Harvard Medical School (2006).
62
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.9 Persentase responden yang memprioritaskan informasi tentang program reintegrasi menurut
intensitas konflik (tingkat kecamatan)
Intensitas konflik (n=3994)
Prioritas kebutuhan informasi
1
2
3
TOTAL
Tinggi
Sedang
Rendah
9,1
9,8
6,6
25,5
8,7
10,8
6,2
25,7
8,1
10,8
6,7
25,5
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa rekonstruksi tsunami dan reintegrasi pasca konflik merupakan
proses yang menyangkut seluruh propinsi Aceh. Skala tsunami dan dampak konflik adalah sedemikian rupa
sehingga setiap orang di Aceh merasakan dampaknya, langsung atau tidak langsung. Bahkan wilayah-wilayah
yang tidak langsung kena dampak tsunami merasakan pengaruhnya: dari sisi pergerakan penduduk; dari segi
perubahan struktur ekonomi; dan sebagainya. Wilayah-wilayah yang tidak langsung kena dampak konflik juga
merasakan pengaruhnya, terutama ketika undang-undang darurat militer berlaku. Ada pembatasan perjalanan,
terutama pembatasan kartu tanda penduduk dan penggunaan telpon genggam, dan pembatasan kebebasan
mengeluarkan pendapat dan berkumpul. Warga masyarakat paham betul bahwa proses kembar pasca tsunami
dan pemulihan pasca konflik akan mengubah wajah Aceh dan karena itu mereka membutuhkan informasi
mengenai proses kembar itu. Ini berarti diperlukan strategi informasi yang mencakup seluruh propinsi itu.
Informasi Apa Yang Diberikan Kepala Desa, Tokoh Perempuan dan Ketua
pemuda kepada Warga Desa?
Pemimpin setempat paling besar kemungkinannya memberikan informasi tentang pembangunan
desa dan anggaran desa secara teratur kepada warga desa. Gambar 5.9 menunjukkan bahwa 17,9 persen
dari pemimpin setempat mengatakan bahwa mereka selalu memberikan informasi tentang pembangunan
desa, dan 46,3 persen mengatakan bahwa mereka sering memberikan informasi. Sementara itu, 11,1 persen
mengatakan bahwa mereka selalu memberikan informasi tentang anggaran desa, dan 46,7 persen mengatakan
bahwa mereka sering memberikan informasi. Ini tidak mengherankan, mengingat besarnya minat warga
masyarakat pada jenis-jenis informasi ini (lihat atas).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
63
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.9 Jenis informasi yang diberikan pemimpin setempat kepada warga masyarakat
120%
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Selalu
Sering
Kadangkadang
Jarang
Tidak
pernah
Program tsunami
MoU perdamaian
3,1%
22,9%
4,0%
29,6%
Program
reintegrasi pasca
konflik
4,4%
24,7%
24,1%
28,6%
22,3%
27,5%
Penggunaan
anggaran desa
Program
pembangunan
Lain-lain
11,1%
46,7%
17,9%
46,3%
12,5%
50,5%
28,2%
22,4%
19,5%
10,8%
21,6%
20,3%
11,5%
8,9%
7,7%
16,2%
22,4%
8,3%
7,4%
18,5%
Sebagai kepala desa/ketua pemuda/tokoh perempuan apakah Bapak/Ibu merasa
telah memperoleh cukup informasi tentang hal-hal berikut?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Pemimpin setempat biasanya tidak memberikan informasi tentang tsunami dan program reintegrasi
atau informasi tentang MoU Helsinki. Ini mungkin karena tsunami hanya berdampak pada beberapa wilayah
saja di Aceh, dan karena dampak konflik serta kebutuhan reintegrasi tidak tersebar merata di wilayah Aceh.
Namun, seperti yang ditunjukkan analisis di atas, warga masyarakat di seluruh Aceh ingin memperoleh lebih
banyak informasi tentang topik ini. Ada kemungkinan, warga masyarakat mendapat informasi dari sumbersumber lain mengenai topik-topik ini. Analisis di bawah ini menunjukkan, misalnya, televisi, radio dan suratkabar
umumnya merupakan sumber utama bagi informasi tentang MoU dibandingkan dengan pemimpin setempat.
Namun, mengingat manfaat sampingan dari informasi yang disampaikan langsung, dengan berhadapan
muka, maka sebaiknya diadakan upaya-upaya yang lebih besar untuk memberikan informasi tentang hal-hal
ini kepada pemimpin setempat, dan untuk membangun kapasitas mereka untuk menyampaikan informasi ini
kepada warga masyarakat yang mereka wakili.
Kepala desa, tokoh perempuan dan ketua pemuda semuanya memberikan jenis-jenis informasi yang
sama kepada warga masyarakat. Agak mengherankan bahwa pemimpin kaum perempuan dan ketua pemuda
sama besar kemungkinannya untuk memberikan informasi tentang hal-hal ini kepada warga desa seperti halnya
dengan kepala desa. Berbagi informasi seperti itu merupakan tugas resmi kepala desa. Namun, 63,9 persen
dari kepala desa mengatakan bahwa mereka selalu atau sering memberikan informasi tentang pembangunan
desa, dibandingkan dengan 64,3 persen dari pemimpin kaum perempuan dan 64,3 persen dari ketua pemuda.
Sementara itu, 57,1 persen dari kepala desa mengatakan bahwa mereka selalu atau sering menyampaikan
informasi tentang anggaran pembangunan, dibandingkan dengan 57,3 persen dari tokoh perempuan dan 57,9
persen dari ketua pemuda.33 Jelas bahwa beberapa kategori wakil setempat merupakan sumber informasi yang
penting tentang pembangunan desa bagi warga masyarakat.
Wilayah konflik dan tsunami
Tidak ada perbedaan sistematik mengenai sejauh apa pemimpin setempat memberikan informasi
tentang tsunami dan program reintegrasi atau MoU berdasarkan sejarah konflik dan tsunami di wilayah
bersangkutan. Tabel 5.10 menunjukkan bahwa pemimpin setempat sama besar kemungkinannya memberikan
33
64
Untuk informasi tentang pembangunan desa: kepala desa (n= 5.049); tokoh perempuan (n=5.278); ketua pemuda (n=5.289). Untuk
anggaran pembangunan: kepala desa (n=5.124); tokoh perempuan (n=5.331); ketua pemuda (n=5.341).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
informasi tentang program tsunami di wilayah yang tidak kena dampak langsung dan di wilayah yang menderita
kerusakan terparah. Sama halnya, Tabel 5.11 dan 5.12 menunjukkan bahwa tingkat intensitas konflik hampir tidak
ada dampaknya atas kemungkinan pemimpin setempat memberikan informasi secara teratur tentang program
reintegrasi atau MoU Helsinki.
Tabel 5.10 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang tsunami menurut dampak tsunami
(tingkat kecamatan)
Sejauh apa memberikan informasi
Selalu (persen)
Sering (persen)
Kadang-kadang (persen)
Jarang (persen)
Tidak pernah (persen)
Berat
3,3
21,8
23,3
22,4
29,2
Dampak tsunami (n=15814)
Sedang
Ringan
3,2
2,3
23,6
23,9
23,0
24,7
22,2
23,6
28,1
25,5
Normal
3,2
22,8
24,4
22,1
27,5
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Tabel 5.11 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang MoU menurut intensitas konflik
(tingkat kecamatan)
Sejauh apa memberikan informasi
Selalu (persen)
Sering (persen)
Kadang-kadang (persen)
Jarang (persen)
Tidak pernah (persen)
Tinggi
4,3
30,5
29,0
21,0
15,3
Intensitas konflik (n=15714)
Sedang
4,2
29,6
27,8
21,8
16,7
Rendah
3,8
29,0
28,9
21,9
16,5
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Tabel 5.12 Sejauh mana responden memberikan informasi tentang program reintegrasi menurut
intensitas konflik (tingkat kecamatan)
Sejauh apa memberikan informasi
Selalu (persen)
Sering (persen)
Kadang-kadang (persen)
Jarang (persen)
Tidak pernah (persen)
Tinggi
4,7
24,4
28,5
20,4
22,0
Intensitas Konflik (n=15682)
Sedang
4,7
25,6
27,0
19,9
22,8
Rendah
4,0
24,5
28,6
20,5
22,5
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Sejauh Apa Pemimpin Setempat Memiliki Cukup Informasi tentang Persoalan
Utama Pasca Konflik?
Sebagian besar pemimpin setempat mengatakan bahwa mereka tidak memiliki cukup informasi
tentang persoalan pasca konflik. Hal ini terlihat dalam Tabel 5.13, terutama yang berkaitan dengan Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi dan pembentukan partai politik baru. Bahwa informasi mengenai ini tidak ada
tidak mengherankan. Sedikit sekali perhatian yang dicurahkan sejauh ini oleh pemerintah, GAM atau donor
kepada persoalan-persoalan kebenaran dan rekonsiliasi, karena ada konsensus bahwa persoalan-persoalan ini
sebaiknya menunggu sampai bagian-bagian yang lain dari MoU (seperti pelaksanaan manfaat reintegrasi) telah
selesai dilaksanakan. Sama halnya, meski Undang-undang tentang Pemerintahan Aceh (LoGA) mengizinkan
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
65
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
pembentukan partai politik lokal, jadwal yang ketat menyebabkan belum satupun partai yang terbentuk sejauh
ini. Dalam pemilihan umum Desember 2006, calon peroranganlah yang muncul.
Barangkali lebih mengkhawatirkan, sebagian besar pemimpin setempat merasa mereka tidak memiliki
cukup informasi mengenai dana reintegrasi.34 Diskusi-diskusi mengenai persoalan reintegrasi banyak
bermunculan dalam tahun terakhir ini dan keberhasilan melaksanakan program reintegrasi umumnya dianggap
sebagai kunci untuk mewujudkan perdamaian di Aceh.35 Pengamatan di lapangan menunjukkan adanya
ketegangan yang meningkat di lapangan dalam kaitan dengan tidak adanya pemahaman mengenai program
reintegrasi. Membekali pemimpin setempat dengan informasi yang akurat dan terkini tentang program
reintegrasi adalah kunci.
Tabel 5.13 Persentase pemimpin setempat yang mendapat cukup informasi tentang persoalanpersoalan pasca konflik
Jenis informasi
Persentase yang mendapat cukup informasi
Penarikan pasukan dan penyerahan senjata
67,0
Dana reintegrasi
38,0
Rancangan undang-undang tentang pemerintah Aceh
53,7
Partai politik baru
28,0
Peranan AMM
53,7
Komisi pencari fakta
24,7
Penyelesaian konflik
34,5
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Kepala desa paling kecil kemungkinannya merasa mendapat cukup informasi mengenai persoalanpersoalan pasca konflik. Seperti tampak dalam Gambar 5.10, untuk semua persoalan ini, ketua pemuda
besar kemungkinannya merasa memiliki cukup informasi, sedangkan tokoh perempuan bahkan lebih besar
lagi kemungkinannya merasa memiliki cukup informasi. Ini barangkali bukan indikator berbedanya tingkat
pengetahuan yang dimiliki kepala desa, tokoh perempuan dan ketua pemuda. Ini barangkali menunjukkan
bahwa ada harapan yang lebih tinggi di kalangan kepala desa, yang mungkin melihat diri mereka sebagai
sumber utama informasi untuk persoalan-persoalan semacam itu, bahkan walaupun warga masyarakat tidak
melihatnya seperti itu.
34
Pembentukan Dana Reintegrasi di bawah pihak berwenang di Aceh ditetapkan dalam Bagian 3.2 MoU. Sebagai jawaban, Pemerintah
Indonesia membentuk Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA), yang telah menyusun program-program ekonomi dan sosial dengan
sasaran kelompok-kelompok kunci penduduk, termasuk prajurit GAM, anggota sipil GAM, GAM yang menyerah sebelum MoU, anggota
front anti-separatis dan warga korban konflik. Program-program juga disusun untuk pembangunan rumah yang hancur atau rusak
akibat konflik, untuk pemberian kompensasi diyat kepada keluarga yang kehilangan anggota dalam konflik, dan pelayanan kesehatan
dan psikologis-sosial bagi mereka yang membutuhkan.
35 Lihat, misalnya: World Bank (2006b), hal. 2-73 dan ICG (2006).
66
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.10 Persentase kepala desa, ketua pemuda dan tokoh perempuan yang mendapat cukup
informasi tentang persoalan pasca konflik
% Pendapat responden
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Kepala desa
Tokoh pemuda
Tokoh
perempuan
Penarikan pasukan
dan pemusnahan
senjata
Dana reintegrasi bagi
Rancangan Undangsaudara-saudara kita Undang Pemerintahan
Aceh (RUU-PA)
yang baru turun gunung
Pembentukan partai
politik baru
Peran AMM (Aceh
Monitoring M ission)
Pembentukan komisi
pencari fakta dan
rekonsiliasi
Resolusi masalah
konflik
64,2%
67,0%
36,4%
38,1%
52,1%
52,8%
27,1%
27,5%
50,8%
54,2%
23,6%
25,4%
33,0%
35,2%
69,7%
39,4%
56,2%
29,2%
55,9%
25,1%
35,2%
Sebagai kepala desa/ketua pemuda/tokoh perempuan apakah Bapak/Ibu merasa telah
memperoleh cukup informasi tentang hal-hal berikut?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Dampak menurut intensitas konflik
Sejarah konflik tidak banyak berpengaruh pada apakah wakil setempat merasa mendapat cukup informasi
tentang persoalan-persoalan pasca konflik (Gambar 5.11).
Gambar 5.11 Persentase responden yang mendapat cukup informasi menurut wilayah intensitas konflik
80%
70%
60%
% Pendapat responden
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Tinggi
Sedang
Rendah
Penarikan pasukan
dan
pemusnahan senjata
Dana reintegrasi bagi
saudara-saudara kita
yang baru turun gunung
68,0%
67,4%
66,1%
Rancangan UndangUndang Pemerintahan
Aceh (RUU-PA)
Pembentukan partai
politik baru
Peran AMM (Aceh
Monitoring Mission)
Pembentukan komisi
pencari fakta dan
rekonsiliasi
36,7%
53,5%
28,2%
54,0%
39,2%
53,8%
28,7%
53,5%
38,0%
53,7%
27,4%
53,6%
Sebagai kepala desa/ketua pemuda/tokoh perempuan apakah Bapak/Ibu merasa
telah memperoleh cukup informasi tentang hal-hal berikut?
24,7%
25,1%
24,6%
Resolusi masalah
konflik
33,9%
35,0%
34,5%
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Apa Sumber Informasi Warga Desa tentang MoU?
Sejauh ini televisi merupakan sumber informasi terpenting tentang MoU, diikuti oleh suratkabar dan
radio. Dari warga desa yang ditanya, 92,8 persen mengatakan televisi merupakan salah satu dari sumber
informasi utama bagi mereka, dan 81,7 persen mengatakan televisi merupakan sumber utama.36 Selain itu, 81,2
36
Jawaban kepala desa, tokoh perempuan dan pemimpin pemuda digabung. Total n= 14.778 (sepertiga bagi setiap kategori
responden).
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
67
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
persen mengatakan suratkabar merupakan salah satu sumber informasi terpenting tentang MoU, sedangkan
57,2 persen menyebutkan radio, meski hanya 7,9 persen dan 5,4 persen (masing-masing) yang mengatakan
suratkabar dan radio merupakan sumber informasi utama. Ini tidak mengherankan karena luasnya cakupan
semua media ini. Sebuah survei baru-baru ini di 410 desa Aceh di 98 kecamatan menemukan bahwa semua
desa itu dapat menangkap siaran televisi, 81 persen mendapat suratkabar (biasanya harian) dan 88 persen dapat
menerima siaran radio.37
Sumber-sumber lain tidak terlalu berperan; hanya poster/selebaran yang cukup tersebar luas sebagai
sumber informasi mengenai MoU (31,3 persen). Studi-studi yang lain menunjukkan bahwa 80 persen dari
desa-desa itu mendapat poster berisi pokok-pokok kesepakatan perdamaian itu.38 Namun, karena hal yang
dapat disampaikan dengan poster terbatas, sementara liputan media yang lain lebih luas, tidak mengherankan
jika responden umumnya tidak menganggap poster sebagai salah satu sumber utama informasi tentang MoU.
Pemimpin setempat (15,7 persen) dan Aceh Monitoring Mission (8,6 persen) bukan sumber penting untuk
informasi.
Gambar 5.12 Sumber informasi tentang MoU
100%
90%
% Pendapat responden
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Poster
Dari AMM
& selebaran
3,7%
40,5%
7,5%
23,0%
4,8%
7,8%
33,4%
46,1%
6,0%
2,6%
81,7%
7,7%
5,3%
2,1%
1,2%
Dari mana Bapak/Ibu memperoleh informasi mengenai MoU antara pemerintah
RI-GAM ? (Sebutkan 3 sumber informasi utama)
TV
Ketiga
Kedua
Pertama
Surat kabar
Radio
Dari pejabat
daerah
13,1%
1,6%
1,0%
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Jaringan GAM sangat efektif ketika menyebarkan isi MoU kepada anggota GAM, tetapi kurang efektif
ketika mencoba menjangkau warga desa. Evaluasi kebutuhan GAM menemukan bahwa 84,3 persen dari
anggota GAM mendapat informasi tentang kesepakatan perdamaian dari pemimpin mereka.39 Namun, hanya
10,8 persen dari responden dalam survei ini yang mengatakan GAM atau KPA (organisasi beranggotakan mantan
anggota GAM yang mengawasi transformasi GAM menjadi sebuah partai politik) merupakan sumber utama
informasi tentang proses perdamaian.
Juga, tidak ada perbedaan besar antara jawaban-jawaban kepala desa, tokoh perempuan, dan ketua
pemuda.
37 Sharpe and Wall (2007).
38 Sharpe et al. (akan terbit).
39 World Bank (2006b), p35.
68
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Wilayah konflik
Sejarah konflik di sebuah wilayah tidak berkorelasi dengan perbedaan tingkat pentingnya berbagai
sumber informasi tentang MoU. Ini konsisten dengan temuan-temuan sebuah studi lain yang memetakan
peluang mendapat informasi dari berbagai media di 410 desa.40 Distribusi dan cakupan sebagian besar media
massa tidak banyak berbeda antara desa-desa di kecamatan-kecamatan konflik tinggi dan rendah, dengan
liputan suratkabar, radio dan televisi sama. Menarik bahwa sama kecil kemungkinannya responden mengatakan
bahwa mereka mendapat informasi dari GAM di wilayah-wilayah konflik tinggi dibandingkan dengan wilayahwilayah dengan intensitas konflik sedang atau rendah.
Kesimpulan dan Rekomendasi: Informasi yang Dibutuhkan
Dari hasil-hasil survei dapat ditarik beberapa kesimpulan dan rekomendasi tentang bagaimana memfokuskan
upaya-upaya infomasi.
• Warga masyarakat membutuhkan informasi tentang berbagai masalah yang mempengaruhi
•
•
kehidupan mereka sehari-hari. Tidak mengherankan jika warga desa menetapkan prioritas informasi
yang mereka anggap berguna bagi mereka. Ini mencakup informasi tentang program pembangunan
dan peluang ekonomi.
Ada kesenjangan antara kepentingan warga desa di Aceh dalam proses perdamaian di Aceh
dengan sejauh mana pemimpin setempat merasa memiliki cukup informasi untuk disampaikan
kepada warga masyarakat. Lebih dari setahun setelah kesepakatan Helsinki, warga masyarakat
masih tetap memberikan prioritas kepada informasi tentang MoU, karena jika kesepakatan itu berhasil
dilaksanakan, ini akan banyak berpengaruh pada kehidupan mereka pada tahun-tahun yang akan
datang. Namun, kepala desa merasa tidak memiliki informasi yang cukup mengenai MoU dan program
reintegrasi sehingga tidak dapat menyampaikan informasi itu kepada warga desanya. Meski sebelumnya
sudah ada program-program penyebaran informasi pasca MoU, semua ini mengalami kekurangan dana
anggaran dari pemerintah dan dari donor, sehingga tidak ada kepastian bahwa informasi tentang proses
perdamaian sampai ke tangan warga masyarakat.
Perlu digunakan berbagai kelompok di desa untuk menyampaikan informasi. Pemimpin
kelompok perempuan dan ketua pemuda sama besar kemungkinannya memberikan informasi tentang
persoalan-persoalan seperti pembangunan desa, seperti halnya kepala desa. Namun, di desa tampaknya
ada perbedaan pendapat mengenai siapa memberikan informasi apa. Karena itu, memberikan secara
sistematis informasi tentang berbagai persoalan penting kepada para pemimpin setempat akan dapat
meningkatkan arus informasi kepada warga masyarakat.
5.3. KEBUTUHAN DESA
Bagian dari Survei Desa Aceh ini mengevaluasi kebutuhan utama desa di Aceh. Tim survei juga menganalisis
apakah kebutuhan yang dilaporkan konsisten dengan bagian-bagian lain dari survei ini, termasuk peluang
memperoleh layanan publik (yakni pendidikan dasar, pelayanan kesehatan, air dan sanitasi, dan angkutan umum)
dan dengan laporan status prasarana.
Kebutuhan Warga Desa di Aceh
Kebutuhan utama desa adalah jalan. Dari semua responden yang diwawancarai dalam survei ini, hampir
separuh (48,4 persen, atau 7.701 dari 15.911 responden) memilih jalan sebagai kebutuhan prioritas desa.41
Jika dilihat angka kumulatif kebutuhan prioritas satu, dua dan tiga dalam Gambar 5.13, tampak bahwa jalan
40 Sharpe and Wall (2007).
41 Total jawaban untuk prioritas pertama sebesar 15.911, prioritas kedua 15,901 dan prioritas ketiga 15.615. Tingkat tidak menjawab untuk
semua kebutuhan prioritas sekitar 5 persen dari total responden.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
69
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
menduduki tempat tertinggi sebagai kebutuhan prioritas desa yang paling sering disebut.42 Kebutuhan jalan
tampaknya konsisten dengan temuan dalam Bab 4 (Status Prasarana) yang melaporkan bahwa kerusakan jalan
mencapai lebih dari 70 persen. Juga, sekitar 90 persen dari jalan yang rusak belum diperbaiki. Temuan tentang
kebutuhan jalan juga konsisten dengan temuan studi kebutuhan reintegrasi GAM yang menunjukkan bahwa
rekonstruksi prasarana (termasuk jalan desa) adalah kebutuhan prioritas dari desa yang menampung bekas
anggota GAM.43
Gambar 5.13 Prioritas kebutuhan desa
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prioritas
ketiga
Prioritas
kedua
Prioritas
pertama
Perumahan
Keamanan
dan
keteraturan
Kegiatan
keagamaan
Kesehatan
dan gisi
Listrik
12,4%
12,9%
4,8%
11,1%
6,5%
2,3%
13,7%
18,0%
13,5%
3,9%
2,7%
6,1%
7,7%
7,3%
6,9%
2,2%
2,0%
2,0%
Jalan
Kesempatan
kerja
Air dan
sanitasi
5,0%
10,1%
3,4%
28,7%
6,0%
17,7%
14,9%
48,4%
11,7%
10,0%
Perekonomian Pendidikan
Pelayanan
konseling
psikologi/
trauma
Lain-lain
Informasi
umum
1,2%
0,5%
1,1%
2,7%
0,5%
0,0%
0,2%
1,1%
0,4%
0,2%
0,1%
Dalam pandangan Bapak/Ibu, kebutuhan apa yang merupakan prioritas utama di desa ini?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Kebutuhan akan jalan mungkin berkaitan dengan keinginan untuk mengurangi kemiskinan. Kemiskinan
adalah masalah serius di Aceh: Aceh adalah propinsi termiskin keempat di Indonesia sebelum tsunami dan
tingkat kemiskinannya diperkirakan bertambah parah setelah tsunami.44 Sejumlah studi menunjukkan bahwa
sarana angkutan pedesaan, yang mengandalkan jalan dan kemudahan akses, dapat membawa dampak jangka
pendek dan jangka panjang pada kemiskinan.45 Potensi dampak termasuk lapangan kerja di luar sektor pertanian
bagi warga desa, yi. penghasilan langsung warga desa dari pekerjaan di proyek. Selain dari dampak langsung
jangka pendek pada kemiskinan, sarana angkutan pedesaan dapat membawa dampak tidak langsung, dan
dampak yang agak lama baru terasa pengaruhnya tetapi lebih bertahan pada kemiskinan, dibandingkan dengan
dampak langsung. Dampak tidak langsung ini muncul akibat menurunnya biaya angkutan untuk membawa
hasil pertanian dari lapangan ke pasar dan untuk mengangkut sarana pertanian. Selain itu, sarana angkutan
yang lebih baik berarti peluang yang lebih besar untuk memperoleh informasi dan teknologi baru di bidang
pertanian. Sarana angkutan yang lebih baik juga memudahkan warga memperoleh pelayanan pendidikan dan
kesehatan, yang berpotensi meningkatkan modal sosial warga miskin. Ini karena tersedianya sarana angkutan
dapat mendorong penyediaan layanan angkutan umum. Data survei menunjukkan, menurut kepala desa,
angkutan umum adalah pelayanan yang paling tidak tersedia di desa (Tabel 5.14). Data juga menunjukkan, bila
angkutan umum tidak tersedia, proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan publik lebih besar
daripada ketika angkutan umum tersedia (Tabel 5.15).
42
Perlu dicatat bahwa survei ini dilakukan oleh fasilitator desa PPK dan pada tahun 2005, 67 persen dari proyek PPK adalah proyek
prasarana dan bagian terbesar dari ini (34 persen) adalah proyek pembangunan jalan desa. Selain itu, dari jumlah total dana untuk
kegiatan PPK, 83 persen digunakan untuk prasarana, dan dari pengeluaran untuk prasarana, bagian terbesar (33,87 persen) adalah untuk
membangun jalan desa. Angka-angka ini menunjukkan kemungkinan adanya bias dalam jawaban responden yang lebih memberatkan
jalan. Namun, argumen-argumen berikut dapat menunjukkan bahwa jawaban-jawaban responden itu amat mungkin mencerminkan
kebutuhan warga desa yang sebenarnya.
43 World Bank (2006b), hal. 61-62.
44 World Bank (2006a), p xiv.
45 Asian Development Bank (2003), Kfw (2004), Kwon (2000), dan Gannon et.al. (1997)
70
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.14 Ketersediaan layanan publik
Layanan publik
Pendidikan dasar (%)
Sarana kesehatan (%)
Air bersih (%)
Angkutan (%)
Ya
58,6
46,8
56,3
42,8
Tidak
41,4
53,2
43,7
57,2
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Jawaban dari kepala desa.
Tabel 5.15 Proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan publik ketika angkutan umum
tidak tersedia
Proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh
pelayanan (persentase)
Layanan publik
Pendidikan dasar
Pelayanan kesehatan
Air bersih
Ketersediaan angkutan
umum
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Nihil
Hanya
beberapa
Kurang dari
setengah
populasi
desa
Lebih dari
setengah
populasi
desa
35,5
28,3
46,5
38,5
36,7
35,4
48,7
47,2
34,1
31,6
32,5
25,8
11,2
15,2
11,9
14,1
15,1
16,7
4,6
9,3
7,6
15,8
15,7
22,1
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Perekonomian dan peluang kerja juga dipilih sebagai kebutuhan utama prioritas. Perekonomian di sini
berarti penghasilan yang lebih baik tetapi tidak harus berarti mendapat pekerjaan baru, sedangkan peluang
kerja jelas mencerminkan kebutuhan mencari pekerjaan baru. Secara keseluruhan, 50 persen dari responden
memilih perekonomian sebagai prioritas kebutuhan mereka, sedangkan 39,6 persen memilih peluang kerja.
Ini diikuti oleh pendidikan, perumahan, dan air bersih, sebesar masing-masing 37,7, 33,4 dan 28,3 persen.
Kebutuhan-kebutuhan yang lain seperti listrik dan konseling psikologi/trauma jarang sekali disebut-sebut
responden. Persentase kebutuhan akan perekonomian dan peluang kerja yang tinggi tidak mengherankan
mengingat keadaan ekonomi yang sulit yang dihadapi banyak rakyat Aceh setelah tsunami dan konflik yang
berlarut-larut. Laporan Aceh and Nias One Year after the Tsunami misalnya, mengatakan bahwa sebagian besar
warga Aceh yang selamat dari tsunami mengatakan pemulihan perekonomian adalah kebutuhan utama bagi
mereka setelah bencana itu.46 Dalam evaluasi mengenai kebutuhan reintegrasi GAM, sebagian besar anggota
GAM yang kembali juga menyatakan keinginan mereka untuk mewujudkan perbaikan perekonomian seperti
tercermin dalam permintaan mereka agar diberi bantuan modal untuk digunakan untuk kegiatan produktif.47
Hanya sedikit perbedaan kebutuhan di tingkat kabupaten dan di antara responden di tingkat propinsi
dan kabupaten. Semua kabupaten menunjukkan pola kebutuhan yang sama dengan perbedaan persentase
jawaban yang kecil. Pola serupa juga ditemukan di wilayah-wiayah konflik dan tsunami. Ini menunjukkan bahwa
kebutuhan-kebutuhan dari desa-desa di Aceh pada umumnya konsisten. Hampir tidak terdapat perbedaan
jawaban di antara ketiga kelompok responden mengenai kebutuhan prioritas desa di tingkat provinsi dan
tingkat kabupaten. Namun, perbedaan-perbedaan jawaban yang signifikan ditemukan di tingkat desa, yang
menunjukkan bahwa perlu ada proses musyawarah di tingkat desa dalam perencanaan pembangunan.
46 BRR and International Partners (2005). “Aceh and Nias One Year after the Tsunami: The Recovery Effort and Way Forward.” hal. 52.
47 World Bank (2006). “GAM Reintergration Needs Assessment: Enhancing Peace through Community-level Development Programming”.
Jakarta: World Bank. Hal. 40-41.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
71
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Kebutuhan Desa dan Akses kepada Layanan publik
Sekitar 20 persen responden mengatakan, lebih dari setengah warga di desa mereka tidak dapat, atau
kesulitan, memperoleh layanan publik. Dalam bagian mengenai modal sosial survei ini, responden ditanya
apakah ada warga desa yang tidak dapat atau kesulitan memperoleh empat macam layanan publik (yi. pendidikan
dasar, pelayanan kesehatan, air bersih dan angkutan umum).48 Gambar 5.14 menunjukkan, sekitar 30-50 persen
dari responden mengatakan bahwa hanya beberapa orang saja dari warga desa yang kesulitan memperoleh
layanan publik. Gambar 5.14 juga menunjukkan, air minum dan angkutan umum lebih sulit diperoleh daripada
pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan.
Kesulitan memperoleh layanan publik terkonsentrasi dan terkait dengan ketersediaan pelayananpelayanan itu. Meski ada kemungkinan warga desa di wilayah-wilayah yang tidak memiliki layanan publik untuk
memperoleh layanan dari desa-desa di sekitarnya, persediaan layanan publik jelas mempengaruhi kemudahan
memperoleh pelayanan bersangkutan. Seperti dapat dilihat dalam Tabel 5.15, bila layanan publik tertentu tidak
tersedia, persentase responden yang mengatakan kurang dari setengah atau lebih dari setengah warga di desa
mereka kesulitan mendapat pelayanan, meningkat.49 Jawaban-jawaban tentang kesulitan memperoleh keempat
layanan publik itu sangat kuat korelasinya satu sama lain; ini menunjukkan bahwa masalah kesulitan memperoleh
pelayanan terkonsentrasi: bila sebuah desa menghadapi kesulitan memperoleh salah satu layanan publik, maka
kemungkinan besar desa itu juga menghadapi kesulitan memperoleh ketiga pelayanan yang lainnya. 50 Namun,
tidak ada perbedaan berarti antara wilayah tsunami dengan wilayah konflik sepanjang menyangkut persediaan
layanan publik dan kesulitan memperoleh pelayanan.51
Gambar 5.14 Persentase jawaban tentang proporsi warga desa yang kesulitan memperoleh layanan
publik
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pendidikan dasar
Pelayanan kesehatan
Air bersih
Angkutan umum
Tidak ada
Ada, hanya beberapa orang
31,5%
42,0%
36,0%
39,4%
47,9%
32,7%
28,7%
26,7%
Banyak, tapi kurang dari
separuh warga desa
13,4%
13,2%
15,9%
15,4%
Banyak, lebih dari separuh
warga desa
7,2%
12,2%
19,3%
18,5%
Apakah ada warga desa yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan
pelayanan umum?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
48
Penting dicatat bahwa pertanyaan-pertanyaan di sini adalah alat yang diciptakan untuk mengukur peranserta sosial dan tidak
dimaksudkan untuk menilai mutu pelayanan yang mungkin turut mempengaruhi perolehan pelayanan.
49 Situasi ini lebih menonjol dalam pelayanan tertentu seperti air bersih dan angkutan umum. Untuk pelayanan sekolah dasar dan
kesehatan, warga desa biasanya pergi ke desa tetangga yang memiliki pelayanan ini (lihat misalnya, World Bank (2006a) hal. 62 tentang
pelayanan kesehatan).
50 Korelasi antara jawaban-jawaban tentang kesulitan memperoleh keempat layanan publik itu berkisar antara 0,3 dan 0,4; semua signifikan
pada tingkat 0,01.
51 Tidak ditemukan pola tertentu ketika disusun tabulasi silang indeks dampak tsunami dan dampak konflik, dengan persediaan dan
kemudahan memperoleh empat layanan publik itu.
72
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.16 Hubungan antara peluang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, air dan sanitasi
dengan ketersediaan layanan publik
Proporsi warga kesulitan memperoleh pelayanan
Layanan
publik
Pendidikan
Dasar
Kesehatan
Air bersih
Angkutan
umum
Ketersediaan
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Ya
Tidak
Tidak ada
Total
3.099
1.709
3.769
2.589
3.893
1.588
3.616
2.297
Persen
33,8
27,8
51,8
32,8
43,9
25,0
54,2
27,6
Hanya beberapa
Kurang dari
setengah
populasi desa
Total
4.489
2.839
2.419
2.532
3.118
1.249
2.144
1.856
Total
1.097
958
662
1.332
1.122
1.296
619
1.696
Persen
49,0
46,2
33,3
32,1
35,2
19,7
32,1
22,3
Persen
12,0
15,6
9,1
16,9
12,7
20,4
9,3
20,4
Lebih dari
setengah populasi
desa
Total
472
635
420
1.429
729
2.219
295
2.476
Persen
5,2
10,3
5,8
18,1
8,2
34,9
4,4
29,7
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Kebutuhan prioritas desa tidak selalu konsisten dengan akses kepada layanan publik. Sekitar 20 persen
dari responden mengatakan, lebih dari setengah warga desa mereka kesulitan mendapat air bersih (Gambar 5.14).
52
Namun, kurang dari 30 persen dari semua responden memilih air sebagai kebutuhan prioritas. Dari responden
yang mengatakan bahwa lebih dari separuh warga desa kesulitan mendapat air bersih, hanya 11 persen yang
memilih air sebagai kebutuhan prioritas. Sebaliknya, sementara kurang dari 10 persen responden mengatakan
bahwa lebih dari separuh warga desa kesulitan memperoleh pelayanan pendidikan dasar, pendidikan dipilih
oleh hampir 40 persen dari responden sebagai kebutuhan prioritas. Untuk listrik, walaupun sekitar 27 persen
dari KK di Aceh tidak memperoleh aliran listrik menurut laporan APEA,53 hanya 6 persen dari responden yang
memilih listrik sebagai kebutuhan prioritas. Ini menunjukkan bahwa persoalan perolehan pelayanan bukanlah
satu-satunya pertimbangan di balik pandangan warga desa mengenai kebutuhan mereka. Karena itu, untuk
tujuan perencanaan pembangunan, disamping melihat masalah perolehan pelayanan, para perencana juga
perlu menggali kebutuhan-kebutuhan menurut persepsi warga masyarakat. Masyarakat mungkin memiliki
pertimbangan-pertimbangan yang lebih mendesak untuk memilih kebutuhan-kebutuhan tertentu, meski jelasjelas ada masalah kesulitan memperoleh layanan publik.
Kebutuhan Desa dan Kemiskinan
Kemiskinan adalah penyebab utama di balik
kesulitan memperoleh layanan publik tetapi
tidak berkaitan langsung dengan pilihan
responden mengenai prioritas kebutuhan
desa. Ketika ditanya mengenai sebab-sebab
warga di desa mereka kesulitan mendapat layanan
publik dan mengikuti kegiatan, 77 persen dari
responden mengatakan kemiskinan sebagai
sebab utama di balik kesulitan itu (Gambar 5.19).
Tabulasi silang antara kebutuhan prioritas desa
dan peluang memperoleh keempat layanan publik
menunjukkan pola yang menarik: semakin besar
proporsi warga yang kesulitan mendapat layanan
Fasilitator Desa mewawancarai kepala desa di Ds. Lancang, Kec. Bandar
Baru, Kab. Pidie
52
Untuk pendidikan dasar, 79 persen dari responden memilih tidak ada atau hanya beberapa (12.155 dari 15.,324); untuk pelayanan
kesehatan 75 persen (11.348 dari 15.201); air bersih 65 persen (9.886 dari 15.274); dan angkutan 66 persen (9.937 dari 15.037). Tidak
menjawab sekitar 9 persen. Semua responden diikutkan dalam analisis ini.
53 World Bank (2006a), hal. 83.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
73
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
publik, semakin kecil kemungkinan responden memilih jalan sebagai kebutuhan prioritas pertama dan semakin
besar kemungkinan mereka memilih perekonomian (Gambar 5.15). Ini tampaknya menunjukkan bahwa semakin
sulit memperoleh layanan publik – dimana penyebab utamanya adalah kemiskinan - semakin tinggi kemungkinan
responden memilih perekonomian sebagai prioritas kebutuhan utama. Namun, ketika tabulasi silang dilakukan
dengan menggunakan indeks tingkat kemiskinan, tidak ditemukan korelasi antara tingkat kemiskinan di suatu
wilayah dengan pilihan prioritas kebutuhan utama desa dari pihak responden (Tabel 5.17).54 Juga, ketika dihitung
korelasi antara indeks kemiskinan dengan jawaban bagi kesulitan memperoleh keempat layanan publik itu,
tidak ditemukan kaitan antara kesulitan memperoleh pelayanan dengan tingkat kemiskinan di suatu wilayah. Ini
tampaknya menunjukkan bahwa meski banyak pemimpin di desa (yi. responden) yang mengaitkan kesulitan
mendepat layanan publik dengan kemiskinan dan sangat paham mengenai situasi kemiskinan di desa mereka
masing-masing, besarnya kemiskinan itu sendiri tidak berpengaruh secara langsung terhadap pendapat mereka
mengenai kebutuhan prioritas desa. Tampaknya, terlepas dari jumlah keluarga miskin di desa mereka, pemimpin
setempat cenderung melihat kemiskinan sebagai masalah serius bagi desa mereka masing-masing.
Gambar 5.15 Persentase responden yang memilih jalan dan perekonomian sebagai kebutuhan prioritas
pertama ketika proporsi warga yang kesulitan mendapat layanan publik meningkat
25%
20%
15%
10%
5%
0%
Tidak ada
Ada, hanya
beberapa orang
Banyak, tapi kurang dari
separuh warga desa
Banyak,
lebih dari separuh
warga desa
56,4%
44,7%
41,0%
53,9%
45,0%
43,0%
55,3%
45,7%
42,9%
54,8%
49,9%
47,4%
Persentasi responden yang memilih jalan sebagai prioritas pertama
Pendidikan dasar
Pelayanan kesehatan
Air bersih
Transportasi
40,3%
37,4%
39,2%
25,7%
Tidak ada
Pendidikan dasar
Pelayanan kesehatan
Air bersih
Transportasi
6,1%
6,2%
5,4%
5,3%
Ada, hanya
beberapa orang
Banyak, tapi kurang dari
separuh warga desa
Banyak,
lebih dari separuh
warga desa
7,2%
6,8%
6,3%
4,1%
11,0%
9,4%
9,3%
4,0%
13,8%
14,6%
13,2%
22,0%
Persentasi responden yang memilih perekonomian sebagai prioritas pertama
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
54
74
Indeks tingkat kemiskinan dengan empat kategori kemiskinan—tidak miskin, agak miskin, miskin dan sangat miskin —disusun untuk
membantu analisis ini. Indeks tingkat kemiskinan ini disusun dengan menggunakan data persentase KK miskin di setiap desa (jumlah
KK miskin dibagi jumlah total KK). Indeks ini dikelompokkan ke dalam empat kategori:
Tidak miskin : % miskin > 1 standard deviasi di bawah rata-rata
Agak miskin : 1 standard deviasi di bawah rata-rata > % miskin < rata-rata
Miskin : rata-rata < % miskin < 1 standard deviasi di atas rata-rata
Sangat miskin : % miskin > 1 standard deviasi di atas rata-rata
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.17 Prioritas kebutuhan pertama menurut indeks tingkat kemiskinan
Kebutuhan Prioritas
Pertama
Jalan
Air dan Sanitasi
Peluang Kerja
Pendidikan
Listrik
Kesehatan dan Gizi
Keamanan dan Ketertiban
Perumahan
Perekonomian
Konseling
Kegiatan Keagamaan
Informasi umum
Lain-lain
TOTAL
Persentase Jawaban menurut indeks tingkat kemiskinan
Tidak Miskin
Agak Miskin
Miskin
Sangat Miskin
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah
Persen
Jumlah Persen
917
47,5
1.781
48,4
1.247
47,5
957
47,5
173
9,0
379
10,3
252
9,6
220
10,9
237
12,3
428
11,6
321
12,2
235
11,7
142
7,3
272
7,4
216
8,2
136
6,7
27
1,4
32
0,9
21
0,8
26
1,3
41
2,1
78
2,1
49
1,9
46
2,3
41
2,1
69
1,9
63
2,4
50
2,5
147
7,6
248
6,7
180
6,9
144
7,1
144
7,5
305
8,3
198
7,5
148
7,3
9
0,5
11
0,3
9
0,3
10
0,5
46
2,4
66
1,8
65
2,5
37
1,8
4
0,2
5
0,1
3
0,1
3
0,1
4
0,2
8
0,2
3
0,1
4
0,2
1.932
100
3.682
100
2.627
100
2.016
100
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Kesimpulan dan Rekomendasi: Kebutuhan Desa
• Jalan, perekonomian, dan peluang kerja dilaporkan sebagai prioritas kebutuhan warga
•
SURVEI DESA ACEH 2006
desa. Perencana hendaknya mencurahkan perhatian kepada bidang-bidang ini ketika membahas
pembangunan di tingkat desa. Kebutuhan-kebutuhan ini konsisten dari kabupaten ke kabupaten dan
tidak berhubungan dengan dampak tsunami atau konflik. Karena itu, perencanaan pembangunan
hendaknya menargetkan baik wilayah tsunami maupun konflik untuk memastikan bahwa semua desa
mendapat manfaat yang sama dari usaha-usaha pembangunan.
Penting untuk mengadakan musyawarah desa dalam proses perencanaan pembangunan.
Karena kebutuhan prioritas desa tidak selalu sama dengan perolehan layanan publik, perencana
perlu bermusyawarah dengan warga masyarakat tentang kebutuhan mereka dan tidak semata-mata
mengandalkan laporan-laporan tentang ketersediaan dan akses kepada layanan publik. Selain itu,
karena ada perbedaan pendapat tentang prioritas kebutuhan di antara responden di tingkat desa,
perencana juga perlu memastikan bahwa proses musyawarah melibatkan sebanyak mungkin unsur
warga masyarakat.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
75
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
5.4. MODAL SOSIAL
Dalam bagian ini, Survei Desa Aceh menelaah
modal sosial di Aceh hampir dua tahun
setelah tsunami dan satu tahun setelah MoU
Helsinki.55 Aspek-aspek yang dilihat dalam
survei ini adalah ikatan sosial (social cohesion)
dan partisipasi, mekanisme pengambilan
keputusan, dan kepercayaan dan solidaritas.
Studi-studi Bank Dunia sebelumnya tentang
pemulihan pasca tsunami dan reintegrasi GAM
menunjukkan bahwa modal sosial di tingkat
desa di Aceh sangat kuat.56 Modal sosial sudah
umum diterima sebagai salah satu sendi untuk
pemberdayaan di tingkat desa dan sebagai salah
satu persyaratan bagi program pembangunan
berbasis masyarakat. Karena itu, sangatlah penting Fasilitator Desa mewawancarai tokoh pemuda di Ds. Rantau Panjang, Kec.
untuk memahami modal sosial Aceh saat ini, Longkip, Kab. Aceh Singkil
untuk membantu menentukan bagaimana
program-program pembangunan—termasuk rekonstruksi pasca tsunami dan rekonsiliasi pasca konflik—dapat
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya demi memenuhi kebutuhan-kebutuhan rakyat Aceh.
Modal sosial sangat kuat di Aceh, terutama dalam kalangan kelompok dengan latar belakang dan
ciri-ciri yang sama seperti keluarga, teman dekat, tetangga dan rekan sekerja. Tingkat non-partisipasi
(eksklusi) rendah dan sebagian besar disebabkan faktor-faktor ekonomi seperti kemiskinan. Tingkat kepercayaan
dan solidaritas di antara warga desa tetap kokoh dan tingkat solidaritas umumnya lebih tinggi sejak MoU Helsinki
ditandatangani.
Namun, ada beberapa persoalan yang mungkin berpotensi menjadi masalah bagi rekonstruksi
tsunami dan rekonsiliasi konflik. Pertama, rakyat Aceh masih merasa gamang mengenai masa depan proses
perdamaian. Kedua, korban konflik masih mengalami semacam hambatan untuk memperoleh layanan publik
dan berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Ketiga, dalam proses pengambilan keputusan, kaum
perempuan umumnya tetap kurang terwakili. Karena adanya perbedaan pendapat antara kepala desa, ketua
pemuda dan tokoh perempuan di tingkat desa, menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa kaum
perempuan dapat mengeluarkan suara mereka dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program-program
pembangunan. Hal ini menjadi prasyarat agar kebutuhan-kebutuhan khusus mereka dapat ditangani dan untuk
memastikan bahwa hasil-hasil pembangunan dapat dinikmati bersama baik oleh kaum perempuan maupun
laki-laki.
55
Modal sosial biasanya berarti organisasi dan jaringan serta norma-norma dan nilai-nilai yang melandasi interaksi antara anggota
masyarakat (Grootaert dan van Bastelaer, 2002, hal. 2).
56 BRR and International Partners (2005), hal. 45 dan World Bank (2006b), hal. 23.
76
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Ikatan Sosial dan Partisipasi57
Partisipasi sosial umumnya kuat di Aceh.
Ini diukur dengan nilai ekslusi (non-partisipasi)
yang disusun dengan menggabungkan
jawaban mengenai kesulitan memperoleh
empat jenis layanan publik yang telah
disebutkan di atas dalam Gambar 5.14 Bagian
5.3. Nilai eksklusi selanjutnya di kelompokkan
ke dalam tingkat eksklusi – rendah, sedang
dan tinggi. (Untuk metode kalkulasi, lihat
Kotak 5.4.) Semua kabupaten memperlihatkan
pola eksklusi yang sama; sekitar 60 persen dari
jawaban masuk ke dalam kategori eksklusi
rendah (Gambar 5.16). Juga, tidak ditemukan
pola eksklusi spesifik ketika diadakan
perbandingan tingkat eksklusi antar-wilayah
dengan berbagai intensitas dampak tsunami
ataupun konflik.58 Ini menunjukkan bahwa
ikatan sosial pada umumnya kuat di semua
pelosok Aceh.
Gambar 5.16 Persentase tingkat eksklusi di Aceh
70%
58,3%
60%
50%
40%
32,1%
30%
20%
9,6%
10%
0%
Rendah
Sedang
Tinggi
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Kotak 5.2 Metodologi menghitung nilai eksklusi dan tingkat eksklusi
Sebuah variabel yang dinamakan “Nilai Eksklusi” diciptakan dengan menggabungkan jawaban-jawaban untuk
pertanyaan tentang apakah ada warga desa yang kesulitan mendapat empat jenis layanan publik (pendidikan dasar,
pelayanan kesehatan, air bersih dan angkutan umum). Jawaban yang sah untuk pertanyaan ini adalah:
1 = Nihil
2 = Hanya beberapa
3 = Kurang dari setengah penduduk
4 = Lebih dari setengah penduduk
Jadi, nilai eksklusi paling rendah adalah 4, sedangkan yang tertinggi adalah 16. Dari nilai ini, disusun variabel tingkat
eksklusi sbb.: nilai eksklusi 4-8 adalah kategori “Rendah”, nilai 9-12 adalah kategori “Sedang”, dan nilai di atas 13 adalah
“Tinggi”.
57 Analisis untuk bab ini sebagian besar mengikuti pedoman dalam World Bank Working Series Paper No. 18 “Measuring Social Capital: An
Integrated Questionnaire” (Grootaert et al, 2004).
58 Tabulasi silang tingkat eksklusi dengan tsunami dan intensitas konflik menunjukkan bahwa tidak ada pola eksklusi tertentu. Korelasi
antara indeks tingkat eksklusi dengan indeks dampak tsunami dan indeks intensitas konflik juga tidak signifikan, yang berarti tidak ada
kaitan antara eksklusi baik dengan dampak tsunami maupun dengan intensitas konflik.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
77
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Beberapa warga masyarakat kesulitan untuk
menghadiri musyawarah desa dan kegiatan
sosial. Meski hanya 38 persen responden yang
mengatakan bahwa ada warga desa yang tidak dapat,
atau yang kesulitan, mengikuti kegiatan sosial seperti
kenduri, pemakaman, dan upacara agama, 48 persen
mengatakan bahwa ada warga yang sulit atau tidak
dapat menghadiri musyawarah desa (Gambar 5.17).59
Dari persentase ini, sekitar 70 persen mengatakan
bahwa kurang dari setengah penduduk desa mengalami
kesulitan-kesulitan ini, yang menunjukkan adanya ikatan
sosial yang erat di antara warga desa (Gambar 5.17).60
Pengamatan bahwa tingkat partisipasi lebih tinggi
untuk kegiatan sosial daripada untuk musyawarah
desa tampaknya menunjukkan bahwa lebih mudah
bagi warga desa untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan
sosial yang tidak terlalu resmi dan melibatkan interaksi
antara sanak saudara, teman-teman dan/atau tetangga,
dibandingkan dengan kegiatan yang lebih formal seperti
musyawarah desa. Ini menunjukkan bahwa modal sosial
“perekat” (ikatan antar warga dengan ciri-ciri demografi
yang sama, seperti anggota keluarga, tetangga dan
teman karib) sangat kuat di desa.
Gambar 5.17 Persentase jawaban tentang warga
desa yang kesulitan berpartisipasi
dalam musyawarah/kegiatan sosial
desa
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Dengan kesulitan
Tanpa kesullitan
Pertemuan desa
47,9%
52,1%
38,3%
Kegiatan sosial
61,7%
Apakah ada warga desa yang mengalami kesulitan dalam
berpartisipasi di pertemuan desa/kegiatan sosial?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Pandangan responden tentang tingkat eksklusi konsisten di tingkat propinsi dan kabupaten, tetapi
tidak pada tingkat desa. Ada korelasi yang tinggi antara ketiga kelompok responden di tingkat propinsi dan
kabupaten (korelasi = 0.99). Namun, korelasi sangat rendah (hampir 0) di tingkat desa.61 Ini menunjukkan bahwa
meskipun secara agregat jawaban dari ketiga kategori responden itu konsisten satu sama lain, tidaklah demikian
halnya di tingkat desa. Sama dengan temuan-temuan di bagian-bagian lain dari Bab Keadaan Sosial, pengamatan
ini menegaskan kembali pentingnya bagi para perencana pembangunan untuk mempertimbangkan pandangan
atau masukan dari sebanyak mungkin kelompok masyarakat.
Faktor-faktor ekonomi lebih banyak
berperan dalam hal warga desa
kesulitan memperoleh layanan publik
dan ikutserta dalam musyawarah
desa/kegiatan sosial. Ketika ditanya
mengenai sebab utama di balik kesulitan
warga desa memperoleh layanan publik
atau menghadiri musyarawarah desa/
ikutserta dalam kegiatan sosial, 89 persen
dari responden
memilih kemiskinan
sebagai penyebab, diikuti oleh kurangnya
pengetahuan/pendidikan (58,7 persen)
dan pekerjaan (52,7 persen) (Gambar
5.19). Ini masuk akal mengingat tingkat
kemiskinan yang tinggi di Aceh. Kurang dari
10 persen dari responden memilih faktorfaktor identitas, seperti agama dan suku/ras
sebagai alasan sulit berpartisipasi itu. Ini
Gambar 5.18 Persentase jawaban tentang banyaknya warga
desa yang kesulitan menghadiri rapat desa dan
kegiatan sosial
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pertemuan desa
Kegiatan sosial
Ada, hanya
beberapa orang
Banyak, tapi kurang dari
separuh warga desa
Banyak, lebih dari separuh
warga desa
13,2%
12,2%
72,5%
71,1%
14,3%
16,7%
Apakah ada warga desa yang mengalami kesulitan dalam berpartisipasi
di pertemuan desa/kegiatan sosial?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006
59
Untuk kegiatan sosial, 6.053 dari 15.814 responden mengatakan ada warga desa yang kesulitan atau tidak dapat menghadiri kegiatankegiatan sosial (tidak ada jawaban: 5,6 persen). Untuk musyawarah desa, 7.578 dari 15,809 respondenmengatakan ada kesulitan (tidak
ada jawaban: sama dengan kegiatan sosial, 5,6 persen).
60 5.345 dari 7.578 responden untuk musyawarah desa dan 4.126 dari 6.053 untuk kegiatan sosial.
61 Pengamatan yang sama juga diperoleh untuk semua jawaban dalam bagian ini.
78
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
konsisten dengan kenyataan bahwa konflik di Aceh umumnya tidak didasarkan pada persoalan-persoalan yang
menyangkut identitas.62
Gambar 5.19 Persentase jawaban tentang penyebab utama kesulitan memperoleh layanan publik dan
berpartisipasi dalam kegiatan desa
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Pilihan ketiga
Pilihan kedua
Pilihan pertama
Kemiskinan
Kurang ilmu
pengetahuan/
pendidikan
4,9%
7,3%
77,2%
33,0%
20,3%
5,5%
Pekerjaan
Jauh
lokasinya
Umur
Korban
konflik
Agama
Lain-lain
Korban
tsunami
14,4%
24,1%
5,5%
7,7%
1,3%
0,8%
3,7%
33,8%
5,7%
6,9%
11,1%
5,1%
2,7%
2,7%
4,6%
2,6%
2,5%
2,4%
1,9%
1,4%
1,0%
Sebutkan 3 alasan utama, kenapa warga sulit mendapatkan pelayanan umum atau
berpartisipasi dalam pertemuan desa/kegiatan sosial
Gender
Suku/
perbedaan
bahasa/ras/
2,6%
2,0%
0,5%
2,0%
2,4%
0,5%
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Sekitar 20 persen responden memilih “korban konflik” sebagai salah satu penyebab eksklusi. Hampir 20
persen dari responden mengatakan bahwa menjadi korban konflik dapat menyebabkan warga sulit mendapat
layanan publik atau mengikuti musyawarah/kegiatan desa, sedangkan hanya 7 persen yang mengatakan bahwa
korban tsunami mungkin salah satu sebab eksklusi. Ini menunjukkan bahwa sampai batas tertentu, korban konflik
masih menghadapi kesulitan untuk berintegrasi sepenuhnya dengan lingkungan masyarakatnya meskipun
proses reintegrasi dan rekonsiliasi pada awalnya berjalan dengan lancar. Ini juga menunjukkan bahwa penting
untuk memastikan bahwa korban konflik dapat memperoleh dana reintegrasi yang disalurkan melalui BRA, yang
selanjutnya menyalurkan dana ke desa dan kemudian dana dibagi berdasarkan keputusan yang diambil dalam
musyawarah desa. Meskipun misi pengawasan menemukan bahwa umumnya musyarah desa dihadiri oleh
sebagian besar warga, namun temuan survei menunjukkan bahwa ada resiko bahwa korban yang terpinggirkan
dapat terkucil sama sekali jika mereka mengalami kesulitan untuk menghadiri musyawarah desa.
Pengambilan-Keputusan
Musyawarah desa adalah mekanisme yang paling lazim untuk memecahkan masalah. Meski pertemuan
dengan keluarga, teman dan tetangga dipilih oleh 32 persen dari responden sebagai pilihan pertama untuk
memecahkan persoalan bersama, secara keseluruhan pertemuan semacan itu hanya menempati peringkat
ketiga (45,8 persen) setelah musyawarah desa (80,3 persen) dan organisasi kemasyarakatan (69,4 persen) (Gambar
5.20).63 Pilihan keluarga, teman dan tetangga sebagai pilihan pertama untuk memecahkan masalah tampaknya
konsisten dengan pengamatan yang telah disebutkan sebelumnya tentang modal sosial “perekat” yang kuat
di Aceh. Namun, dalam hal mengatasi persoalan-persoalan umum di desa, musyawarah desa tetapi merupakan
mekanisme yang paling lumrah untuk mengatasi masalah. Namun demikian, karena 48 persen dari responden
mengatakan bahwa ada warga yang kesulitan menghadiri, atau tidak dapat menghadiri, musyawarah desa,
maka sangatlah penting untuk memastikan bahwa proses pengambilan keputusan melalui musyawarah desa
melibatkan sebanyak mungkin kelompok masyarakat.
62 Lihat World Bank (2006b), hal. 23.
63 Total jawaban untuk pilihan pertama 15.870, tidak ada jawaban 5,2 persen (total 16.755 pengamatan), dan pilihan kedua 15.796, tidak
ada jawaban 5,7 persen, dan pilihan ketiga 15.735, tidak ada jawaban 6 persen
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
79
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.20 Mekanisme utama pemecahan masalah
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10,1%
30,2%
29,1%
22,8%
4,8%
2,0%
11,2%
6,0%
1,3%
1,4%
0,6%
0,5%
4,5%
2,3%
0,4%
0,0%
0,3%
0,3%
Tidak Tahu
2,1%
0,9%
0,4%
Lain-lain
Masalah
dibiarkan
saja tidak selesai
Musrenbang
kecamatan
mendiskusikan
pemercahan
masalah
13,1%
18,5%
8,9%
Mekanisme PPK
membantu
pemecahan
masalah
25,2%
30,5%
24,6%
Pemerintah
kecamatan
yang menangani
Pilihan pertama
7,6%
5,7%
32,5%
Pemerintah
kabupaten
yang menangani
Pilihan kedua
Kepala desa
mencari jalan
keluar
Pilihan ketiga
Musyawarah desa
untuk memecahkan
masalah
Keluarga, tetangga
dan kawan-kawan
berkumpul untuk
memecahkan
masalah
0%
Lembaga
masyarakat di desa
mencari jalan
keluar
10%
2,0%
0,0%
0,0%
Jika ada masalah yang terjadi dan mempengaruhi seluruh desa, misalnya tidak adanya air bersih, atau saluran air bersih rusak, biasanya bagaimana
cara menyelesaikannya? (sebutkan 3 hal yang umumnya dilakukan)
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Lebih banyak laki-laki daripada perempuan Gambar 5.21 Persentase jawaban tentang peserta rapat
yang hadir dalam musyawarah desa. Menurut
desa berdasarkan gender
kepala desa, musyawarah desa diadakan rata60%
52,3%
rata 10 kali setahun. Selanjutnya, 52 persen dari
50%
responden mengatakan bahwa musyarawarah
desa biasanya dihadiri oleh kaum laki-laki dengan
40%
sedikit kaum perempuan (Gambar 5.21).64 Karena
29,0%
30%
musyarwarah desa merupakan mekanisme paling
lazim untuk mengatasi masalah-masalah umum
20%
12,3%
di desa, seperti telah dibahas di atas, penting bagi
10%
4,5%
pemerintah dan pelaku pembangunan untuk
2,0%
mempertimbangkan penggunaan mekanisme
0%
Kebanyakan lakiPerempuan
Hanya
Kebanyakan
Hanya
khusus, seperti rapat khusus kaum perempuan,
laki, dan bedan laki-laki,
laki-laki saja perempuan, perempuan
berapa peremdalam jumlah
untuk memastikan bahwa persoalan-persoalan
dengan besaja
puan saja
yang hampir
seimbang
berapa laki-laki
khusus perempuan dapat dibahas dan dicarikan
Siapa yang umumnya ikut datang/berpartisipasi dalam musyawarah desa?
jalan keluar yang semestinya. Mengakui dan
memecahkan kebutuhan-kebutuhan khusus Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
penting karena banyak perempuan yang
menjadi korban tsunami dan konflik. Hal ini mungkin bahkan lebih penting lagi mengingat adanya perbedaan
pendapat antara ketiga kategori reponden di tingkat desa, yang menunjukkan kemungkinan adanya kebutuhan
perempuan yang berbeda di tingkat desa.65
Lembaga adat tetap penting di Aceh untuk mengambil keputusan. Organisasi kemasyarakatan dipilih oleh
63 persen dari responden (secara kumulatif ) sebagai salah satu mekanisme penyelesaian persoalan-persoalan
umum. Di Aceh, organisasi kemasyarakatan biasanya berkaitan dengan lembaga adat seperti tuha lapan/
tuha peut (hukum adat), keujruen blang (kelompok petani), dan panglima laot (kelompok nelayan). Lembagalembaga ini adalah organisasi-organisasi tradisional yang dibentuk untuk mengatasi persoalan-persoalan yang
berkaitan dengan hukum adat dan kebiasaan setempat lainnya. Pentingnya lembaga-lembaga ini sudah diakui
oleh pemerintah propinsi dengan disahkannya peraturan daerah tentang pelaksanaan kehidupan adat pada
64 8.273 dari 15.829 responden (tidak ada jawaban: 5.5 persen)..
65 Korelasi antara jawaban tokoh perempuan dengan jawaban pemimpin pemuda atau kepala desa di tingkat desa mendekati 0.
80
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
2001, yang mencakup definisi dan fungsi lembaga-lembaga adat.66 Karena sekitar 60 persen dari responden juga
sependapat bahwa lembaga-lembaga ini adalah salah satu dari mekanisme-mekanisme yang paling banyak
digunakan untuk memecahkan masalah, pemerintah dan pelaku pembangunan hendaknya menjalin kerja
sama dengan lembaga-lembaga ini dalam pelaksanaan program-program pembangunan di Aceh.
Mekanisme PPK juga salah satu pilihan mekanisme untuk mengatasi masalah di Aceh. Mekanisme PPK
dipilih oleh 30 persen dari responden sebagai pilihan ketiga untuk mengatasi masalah. Secara kumulatif, 37
persen dari responden memilih mekanisme PPK untuk mengatasi masalah bersama. Meski ada kemungkinan
bias karena petugas pencacah survei ini merupakan fasilitator desa PPK (FD), juga ada kemungkinan bahwa
responden memilih mekanisme PPK karena kesamaannya dengan mekanisme musyawarah desa di Aceh yang
mengambil tempat di meunasah (masjid) dimana warga membahas masalah-masalah bersama dan mengambil
keputusan untuk memecahkan masalah. Ini menunjukkan bahwa mekanisme PPK dapat dengan mudah diterima
oleh rakyat Aceh sebagai cara alternatif untuk mengatasi persoalan-persoalan sosial dan ekonomi. Modal sosial
yang kuat di tingkat desa di Aceh juga mempermudah warga masyarakat untuk menerima program-program
pembangunan seperti PPK. Ini dapat dilihat, misalnya, dalam upaya-upaya pemulihan pasca tsunami dimana
pemulihan berbasis masyarakat diakui sebagai “ciri utama” dalam program-program rekonstruksi.67
Peran kepala desa dalam pemecahan masalah juga sangat penting. Data menunjukkan bawah kepala desa
tetap memainkan peranan yang penting dalam pengambilan keputusan di desa (44 persen dari responden
memilih kepala desa sebagai mekanisme pemecahan masalah mereka). Kepala desa juga dilihat sebagai pihak
yang lebih penting dalam penetapan keputusan-keputusan desa dibandingkan dengan pejabat kecamatan atau
kabupaten. Kepala desa memang merupakan tokoh penting dalam penyelesaian konflik dan rekonstruksi pasca
tsunami. Karena itu, adalah penting untuk melibatkan kepala desa dalam program-program pembangunan
yang baru untuk memastikan agar program-program dapat diterima dengan cepat dan mendapat dukungan
kerjasama di tingkat desa.
Kepercayaan dan Solidaritas
Sebagian besar responden bersikap
netral mengenai kepercayaan sosial
antara warga desa dengan anggota
GAM yang kembali, serta tingkat
solidaritas antara warga desa.
Sebagian besar responden mengatakan
bahwa tingkat kepercayaan sosial
antara warga desa dengan anggota
GAM yang turun gunung tidak tinggi
dan tidak rendah (61 persen). Sekitar
7 persen menjawab “tidak tahu” dan
6 persen tidak memberikan jawaban
(Gambar 5.22).68 Hal yang sama
juga ditemukan untuk pertanyaanpertanyaan tentang solidaritas sosial
antara warga desa (Gambar 5.23). Sekitar
50 persen dari responden memilih tidak
tinggi dan tidak rendah, sedangkan 3
persen menjawab “tidak tahu” dan 5
Gambar 5.22 Tingkat kepercayaan kepada anggota GAM yang
kembali
70%
60 ,7 %
60%
50%
40%
30%
20 ,1 %
20%
10%
0%
3,2%
4,2%
4,7%
7,1%
Sangat
Rendah Sedang
Tinggi
Sangat
Tidak tahu
rendah
tinggi
Di desa ini, bagaimana Bapak/Ibu menilai tingkat rasa saling percaya
antara saudara-saudara yang baru turun dari gunung dengan anggota
masyarakat yang lain?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
66 Peraturan Daerah Aceh No. 7/2000 tentang Penyelenggaraan Adat.
67 BRR and International Partners (2005), hal. 45.
68 9.531 dari 15.712 responden memilih bersikap netral, 3.907 memilih tinggi atau sangat tinggi, 1.160 memilih rendah atau sangat
rendah, 1.114 menjawab tidak tahu. Tidak menjawab sekitar 6 persen.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
81
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
persen tidak menjawab.69 Ini mungkin menunjukkan bahwa responden masih merasa gamang mengenai masa
depan proses perdamaian. Ini dapat juga berarti bahwa persoalan-persoalan yang menyangkut GAM masih
dianggap sensitif dan karena itu responden, yang sebagian besar terdiri dari tokoh-tokoh setempat yang mudah
dikenal, memilih bersikap netral untuk menghindari hal-hal yang berpotensi menimbulkan masalah.
Gambar 5.23 Tingkat solidaritas antara warga desa
60%
50,2%
50%
40%
27,8%
30%
20%
12,5%
10%
2,3%
0%
Sangat
rendah
4,5%
Rendah
2,7%
Sedang
Tinggi
Sangat
tinggi
Tidak tahu
Secara keseluruhan, bagaimana menurut Bapak/Ibu
kebersamaan/solidaritas sosial di desa ini?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Responden cenderung memberikan jawaban
positif tentang kepercayaan dan solidaritas
daripada jawaban negatif. Data juga menunjukkan
bahwa lebih banyak responden yang mengatakan
bahwa tingkat kepercayaan dan solidaritas tinggi
atau sangat tinggi (25 persen untuk tingkat
kepercayaan dan 40 persen untuk solidaritas)
dibandingkan dengan rendah atau sangat rendah
(7 persen untuk kepercayaan dan solidaritas).
Meskipun ada kemungkinan bias karena adanya
kecenderungan memberikan jawaban positif
untuk menghindari ketegangan, ini mungkin
menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan antara
warga desa dan bekas anggota GAM dan solidaritas
antara warga desa sebenarnya sudah semakin baik.
Pengamatan ini konsisten dengan jawaban-jawaban
tentang tingkat solidaritas setelah MoU Helsinki
ditandatangani—sebagian besar dari responden (61
persen) menjawab bahwa tingkat solidaritas lebih
baik atau jauh lebih baik (Gambar 5.24).70
Gambar 5.24 Tingkat solidaritas pasca MoU Helsinki
50%
47,6%
45%
40%
35%
29,0%
30%
25%
20%
13,7%
15%
10%
5%
6,3%
3,4%
0%
Berkurang Berkurang Sama saja Sedikit
Sangat
banyak
sedikit
membaik membaik
Dibandingkan dengan sebelum penandatanganan MoU, menurut
Bapak/Ibu kebersamaan/solidaritas di desa ini bisa dikatakan?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006..
Pada umumnya, rasa saling percaya di antara warga desa masih kuat. Ketika dimintai pendapat tentang
berbagai pernyataan mengenai kepercayaan, sebagian besar dari responden sependapat bahwa warga desa
69
7.977 dari 15.879 responden memilih netral, 6.399 memilih tinggi atau sangat tinggi, 1.076 memilih rendah atau sangat rendah, 427
menjawab tidak tahu. Tidak menjawab sekitar 5 persen.
70 9.679 dari 15.792 responden memilih lebih baik atau jauh lebih baik; 4.584 memilih sama, 1.529 memilih lebih rendah atau jauh lebih
rendah. Tidak ada jawaban sekitar 6 persen.
82
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
dapat dipercaya, mereka biasanya saling membantu dan bersedia membantu orang lain (Gambar 5.25).
Persentase menjadi lebih tinggi untuk pernyataan bahwa warga desa biasanya saling membantu dan bersedia
membantu orang lain (58 persen dan 76 persen). Pada kenyataannya, rasa kebersamaan dan solidaritas yang
kuat ini merupakan salah satu pendorong utama yang membantu proses pemulihan pasca tsunami di Aceh.
Meski kehilangan banyak modal sosial akibat tsunami, masyarakat Aceh dengan sigap segera membenahi diri
dan menjadi pemimpin dalam upaya pemulihan diri mereka sendiri.71 Namun, sangatlah penting baik bagi GAM
maupun pemerintah untuk menunjukkan tekad yang kuat terhadap proses perdamaian guna meyakinkan rakyat
Aceh bahwa proses perdamaian akan dilaksanakan sepenuhnya hingga berhasil.
Gambar 5.25 Pendapat tentang berbagai pernyataan kepercayaan
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Kebanyakan orang di desa ini dapat dipercaya
Di desa ini masyarakat saling menolong
dan bekerjasama tanpa mengharapkan
imbalan/pamrih
Kebanyakan orang di desa ini akan bersedia
membantu jika Bapak/Ibu membutuhkan bantuan
Di desa ini, orang pada umumnya saling percaya
dalam hal pinjam-meminjamkan uang
Sangat tidak
setuju
Tidak setuju
Netral
Setuju
Sangat setuju
4,3%
14,4%
32,6%
41,4%
7,4%
2,3%
13,0%
26,8%
45,9%
12,0%
1,3%
3,6%
18,9%
56,4%
19,8%
4,9%
18,7%
33,8%
33,3%
9,3%
Secara umum, apakah Bapak/Ibu setuju atau tidak setuju dengan pernyataan berikut?
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Kesimpulan dan Rekomendasi: Modal Sosial
• Modal sosial masih tetap kuat dalam masyarakat Aceh. Ini dapat dilihat dari ikatan sosial dan
•
tingkat partisipasi yang tinggi (70 persen dari desa yang diamati masuk kategori eksklusi rendah)
dan dari indikator-indikator positif mengenai tingkat kepercayaan dan solidaritas. Karena itu, badanbadan pembangunan dan pemerintah hendaknya memelihara dan meningkatkan prakarsa-prakarsa
pembangunan yang bersumber dari masyarakat, baik untuk rekonstruksi pasca tsunami maupun untuk
program reintegrasi pasca konflik.
Kaum perempuan dan kelompok-kelompok tersisih sebagian besar masih kurang terwakili
dalam proses pengambilan keputusan di Aceh. Sekitar 52 persen dari responden mengatakan bahwa
sebagian besar musyawarah desa (dipilih sebagai mekanisme paling penting untuk mengatasi persoalanpersoalan bersama di desa) dihadiri laki-laki dan hanya segelintir perempuan, sedangkan 20 persen
mengatakan bahwa keadaan warga sebagai korban konflik merupakan penyebab mereka kesulitan
mendapat layanan publik dan ikutserta dalam musyawarah/kegiatan desa. Karena itu, diperlukan upayaupaya untuk meningkatkan partisipasi dan kemampuan kaum perempuan dan kelompok tersisih untuk
mengambil keputusan dalam kegiatan-kegiatan pembangunan. Ini sangat penting terutama karena
adanya perbedaan pendapat yang besar di antara responden di tingkat desa.
71 BRR and International Partners (2005), hal. 45-47.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
83
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
• Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan konflik masih berpotensi memperlemah modal
sosial. Sekitar 20 persen dari responden mengatakan bahwa menjadi korban konflik adalah salah satu
sebab utama mengapa warga tidak dapat memperoleh layanan publik atau ikutserta dalam musyawarah/
kegiatan sosial desa. Rasa tidak pasti mengenai masa depan proses perdamaian (dilihat dari besarnya
jumlah jawaban “netral”) dan kesulitan yang dihadapi korban konflik memperoleh layanan publik dan
ikutserta dalam musyawarah desa atau kegiatan-kegiatan sosial desa menunjukkan bahwa masih sangat
diperlukan upaya-upaya untuk reintegrasi lebih lanjut anggota GAM yang turun gunung dan korban
konflik ke dalam masyarakat serta mengatasi perbedaan-perbedaan yang masih ada. Pemerintah perlu
terus meningkatkan keamanan dan membangun kepercayaan di antara rakyat Aceh bahwa perdamaian
akan berlanjut untuk selamanya.
5.5. KONDISI PENDIDIKAN
Survei Desa Aceh melakukan evaluasi mengenai keadaan sekolah dasar di 18 kabupaten.72 Fasilitator
desa PPK mengumpulkan informasi dengan cara mewawancarai kepala sekolah menggunakan kuesioner
terstruktur. Terlepas dari jumlah total sekolah di setiap desa, hanya satu sekolah dasar per desa yang disurvei.
Prioritas pertama diberikan kepada sekolah dasar negeri (SDN). Jika tidak ada SDN di desa tersebut, dipilih sekolah
jenis lain menurut urutan prioritas sebagai berikut: sekolah dasar swasta, Madrasah Ibtidayah, dan pesantren.
Karena itu, jumlah total sekolah yang dipilih dalam survei ini tidak mewakili total populasi sekolah di wilayah
survei atau di Aceh. Sekolah sampel kemudian dikelompokkan sebagai berikut:73
1)
2)
3)
Sekolah dasar (SD),
Madrasah Ibtidayah (MI), dan
Pesantren .
Survei mengumpulkan data dari total 2.910 sekolah dasar, dan sebagian besar adalah SDN (81,2 persen), diikuti
oleh MI (11,8 persen) dan pesantren (6,9 persen). Dengan demikian, survei ini memberikan lebih banyak data
tentang sekolah dasar negeri daripada sekolah swasta.
Kondisi Sekolah
Survei menunjukkan, sebagian besar sekolah
yang disurvei tidak kena dampak tsunami
maupun konflik. Sekitar 19 persen dari 2.910
sekolah yang disurvei dilaporkan kena dampak
konflik, sedangkan 7 persen kena dampak
tsunami/gempa.74 Dari total SD yang disurvei,
sekitar 20 persen kena dampak konflik, 7 persen
kena dampak tsunami, sedangkan 59 persen
tidak kena dampak sama sekali. Untuk pesantren,
sekitar 11 persen kena dampak konflik, 2 persen
kena dampak tsunami dan 66 persen tidak kena
dampak sama sekali. Untuk MI, sekitar 20 persen
kena dampak konflik, 8 persen kena dampak
tsunami dan 61 persen tidak kena dampak sama
sekali (Gambar 5.26).
Kegiatan belajar di Ds. Buket Teukuh, Kec. Idi Tunong, Kab. Aceh Timur
72
Evaluasi mencakup 5.579 desa dan 2.910 sekolah rendah di 18 kabupaten: Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh
Selatan, Aceh Singkil, Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Utara, Bener Meriah, Bireuen, Gayo Lues, Nagan
Raya, Pidie, Simeulu, dan Lhokseumawe.
73 Dinas Pendidikan NAD mengelompokkan SD dan MI ke dalam kategori sekolah dasar formal, sedangkan pesantren masuk kategori
sekolah dasar informal.
74 60 persen dari sekolah yang disurvei dilaporkan tidak kena dampak tsunami maupun konflik. Tidak menjawab = 15 persen.
84
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.26 Kategori Sekolah
100%
90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Tidak terkena dampak apapun
Terkena dampak tsunami
Terkena dampak konflik
MI
Pesantren
SD
61,1%
7,6%
19,6%
66,0%
2,0%
10,5%
58,9%
7,2%
19,5%
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Survei menemukan, rata-rata ada 12,6 guru per sekolah. Di antara guru yang ada, 52 persen adalah pegawai
negeri sipil (PNS), 20 persen guru honorer, 18 persen guru sukarela (guru bakti), dan 10 persen guru kontrak.
Namun, jumah rata-rata guru per sekolah berbeda dari kabupaten ke kabupaten. Ada tiga kabupaten dengan
jumlah guru yang terbatas dibandingkan dengan kabupaten lainnya, yakni Gayo Lues, Simeulue dan Singkil
(kurang dari sembilan guru per sekolah). Sebaliknya, Lhokseumawe memiliki 18,3 guru per school.75 Bireuen
dan Aceh Besar memiliki guru dalam jumlah terbesar kedua per sekolah (masing-masing 14,9 dan 14,7) (Gambar
5.27).
Di sekolah yang disurvei, jumlah murid per kelas rendah. Survei menemukan bahwa total ada 482.704
murid atau, rata-rata, 166 murid per sekolah. Menggunakan angka perkiraan dari Departemen Pendidikan
Nasional bahwa ada enam ruang kelas per sekolah di Aceh, maka total murid per kelas adalah 27,6.76 Jumlah
murid terbesar per sekolah ditemukan di Lhokseumawe, dengan rata-rata 293 murid per sekolah atau 49 murid
per kelas. Kepadatan murid per kelas tertinggi kedua dan ketiga ditemukan di Aceh Utara dan Aceh Tamiang
(Tabel 5.18).
Di sebagian besar wilayah survei, jumlah total murid laki-laki sedikit lebih tinggi daripada jumlah murid
perempuan. Rata-rata, 51 persen dari jumlah total murid terdiri dari laki-laki dan 49 persen perempuan. Hanya di
Gayo Lues dan Bener Meriah terdapat rasio murid laki-laki terhadap murid perempuan yang lebih rendah.
75 Hanya satu kecamatan dari tiga di Lhokseumawe yang disurvei dalam evaluasi ini.
76 An Aceh Education Data Pack (UNIMS, 2005) yang diterbitkan Education Management Information System (EMIS/ School Mapping),
Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Republik Indonesia, bekerja sama dengan UNICEF menunjukkan bahwa jumlah ruang
kelas di sekolah dasar berkisar antara 1 dan 8 per sekolah. Namun, wawancara dengan staf Biro Pendidikan Propinsi menunjukkan bahwa
umumnya, sebagian besar sekolah terdiri dari enam ruang kelas dan satu giliran belajar per hari.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
85
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Tabel 5.18 Rasio murid per sekolah
Kecamatan
Lhokseumawe
Aceh Utara
Aceh Tamiang
Aceh Timur
Aceh Tenggara
Bireuen
Aceh Singkil
Aceh Barat Daya
Nagan Raya
Pidie
Aceh Besar
Bener Meriah
Aceh Selatan
Aceh Tengah
Aceh Barat
Gayo Lues
Simeulue
Aceh Jaya
Rata-rata
Komposisi
Murid rata-rata
per sekolah
Murid rata-rata per kelas*)
293,3
213
191,7
187,4
178,4
178,1
174,7
170
169,5
163,2
153,1
152,7
147,3
135,3
129,5
118,7
112,4
92
166
48,9
35,5
32
31,2
29,7
29,7
29,1
28,3
28,3
27,2
25,5
25,4
24,5
22,6
21,6
19,8
18,7
15,3
27,6
Laki-laki
Perempuan
0,51
0,51
0,52
0,52
0,51
0,51
0,51
0,52
0,53
0,50
0,51
0,51
0,51
0,49
0,52
0,53
0,51
0,48
0,51
0,49
0,49
0,48
0,48
0,49
0,49
0,49
0,48
0,47
0,50
0,49
0,49
0,49
0,51
0,48
0,47
0,49
0,52
0,49
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Dengan asumsi enam kelas per sekolah dan satu giliran belajar per hari. Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang
diikutkan dalam survey
Di wilayah survei, rasio murid-guru rendah, hanya 14,6. Aceh Tengah dan Aceh Jaya memiliki rasio muridguru terendah, hanya 11,3, diikuti oleh Aceh Jaya (11,5). Sebaliknya, Aceh Singkil memiliki rasio tertinggi, sebesar
21,4, diikuti oleh Lhokseumawe, sebesar 17.8, sedangkan Aceh Timur dan Aceh Tamiang menduduki tempat
ketiga, sebesar 16.9 (Gambar 5.22). Gambar 5.27 juga menunjukkan bahwa di Aceh Singkil, jumlah rata-rata guru
yang rendah per sekolah mungkin ikut menyebabkan rasio murid-guru yang tinggi. Dengan kata lain, di Aceh
Singkil jumlah guru tampaknya lebih terbatas dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Sebaliknya, jumlah guru
di Bireuen dan Aceh Besar tampaknya cukup. Dengan rata-rata hampir 15 guru per sekolah, rasio murid-guru
masing-masing hanya 13 dan 12,4 dan masih di bawah rasio murid-guru rata-rata tingkat propinsi Aceh (14.6).
86
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.27 Jumlah rata-rata guru per sekolah dan rasio murid-guru
25,0
Rasio
20,0
15,0
10,0
Aceh Tengah
12,3
13,6
11,9
12,5
8,7
16,6
12,8
8,9
13,5
14,9
7,8
14,7
9,7
12,8
16,7
16,6
15,7
14,7
14,6
14,3
13,8
13,5
13,1
13,0
12,5
12,4
11,5
11,3
Aceh Jaya
11,6
16,9
Bireuen
11,7
16,9
Pidie
18,3
17,8
Simeulue
8,9
21,4
Gayo Lues
Aceh Besar
Aceh Selatan
Aceh Tenggara
Bener Meriah
Aceh Utara
Nagan Raya
Aceh Tamiang
Aceh Timur
Aceh Barat
Rata-rata jumlah
guru per sekolah
Rasio
murid-guru
Lhokseumawe
Aceh Singkil
0,0
Aceh Barat Daya
5,0
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Jumlah guru per sekolah yang rendah di Aceh Singkil, Simeulue dan Gayo Lues (Gambar 5.22)
menunjukkan bahwa guru lebih terkonsentrasi di perkotaan daripada di pedesaan. Singkil misalnya,
terletak di sebelah tenggara propinsi, 710 km dari kota Banda Aceh. Perlu 14 jam dengan mobil dari Banda Aceh
untuk mencapai Singkil. Pulau Simeulue terletak di bagian barat propinsi dan perlu 10 jam untuk mencapai
pulau itu dengan feri atau satu jam dengan pesawat terbang dari Meulaboh di Aceh Barat. Pengamatan ini
konsisten dengan temuan studi APEA bahwa, berdasarkan data dari Biro Pendidikan Propinsi, terdapat lebih
banyak guru di perkotaan daripada di pedesaan di Aceh. 77
Jumlah murid laki-laki yang putus sekolah agak lebih tinggi daripada murid perempuan. Rata-rata,
53 persen dari murid putus sekolah adalah laki-laki dan hanya 47 persen perempuan (Gambar 5.28). Di Pidie,
dengan jumlah murid putus sekolah tertinggi, jumlah murid putus sekolah sama antara murid laki-laki dan murid
perempuan. Untuk Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Tamiang, dan Aceh Barat, jumlah rata-rata murid
putus sekolah laki-laki agak lebih tinggi daripada murid perempuan.78
77 World Bank (2006a), p74.
78 Jumlah murid putus sekolah pada tahun ajaran 2004/2005. Tingkat murid putus sekolah tidak mungkin dihitung karena survei tidak
berisi data jumlah murid pada tahun ajaran 2004/2005.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
87
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.28 Komposisi murid putus sekolah menurut gender
80.000
70.000
Jumlah Murid
60.000
50.000
40.000
30.000
20.000
10.000
Aceh Tenggara
Aceh Tamiang
Aceh Tengah
3.004
2.810
Aceh Jaya
3.208
3.230
Pidie
3.053
3.400
34.263 33.403 21.475 20.852 15.389 15.092 13.093 11.731 11.279 9.948
Gayo Lues
5.549
5.807
Aceh Utara
Nagan Raya
Aceh Barat Daya
Bener Meriah
Lhokseumawe
6.848
7.391
Aceh Besar
8.115
7.765
Aceh Barat
8.757
Aceh Timur
9.877
35.729 35.183 22.760 22.256 16.863 15.995 13.747 12.373 11.515 10.751 10.422 9.771
Bireuen
Simeulue
Murid
perempuan
Murid
Laki-laki
Aceh Singkil
Aceh Selatan
0
Jumlah anak putus sekolah pada tahun ajaran 2004-2005
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Kebutuhan Sekolah Dasar
Menurut para kepala sekolah dasar, kebutuhan terpenting di bidang pendidikan adalah guru yang lebih
berpengalaman dan berkualitas, lebih banyak buku pelajaran, dan ruang kelas dan perabot sekolah
yang lebih baik (Gambar 5.29). Tidak ada perbedaan besar sepanjang menyangkut kebutuhan antara wilayah
dengan intensitas konflik tinggi, sedang dan rendah. Juga tidak ada perbedaan yang menyolok sepanjang
menyangkut kebutuhan sekolah antara sekolah di wilayah dengan dampak tsunami ringan, sedang, dan tinggi.
Bahkan data menunjukkan bahwa kebutuhan sekolah dasar sama saja baik di wilayah konflik maupun di wilayah
tsunami.
Lebih dari 35 persen responden mengatakan bahwa “guru yang lebih berpengalaman dan berkualitas”
adalah kebutuhan utama untuk meningkatkan mutu pelayanan. Sampai batas tertentu, ini menunjukkan
bahwa mutu guru SD di desa masih rendah. Studi APEA juga menemukan bahwa mutu guru SD di pedesaan
relatif rendah. Studi ini mengatakan ada beberapa penyebab masalah mutu ini. Pertama, kualifikasi guru di Aceh
(meski ini bukan alat ukur yang sempurna) rendah jika dibandingkan dengan kualifikasi nasional rata-rata. Studi
ini juga menunjukkan bahwa kualifikasi rata-rata guru SD adalah paling rendah dibandingkan dengan sekolah
lanjutan. Kedua, berdasarkan Governance and Decentralization Survey 2 (GDS2) yang juga dilakukan pada 2006,
30 persen dari guru tidak hadir pada waktu jam pelajaran. Ketiga, ada masalah yang selalu muncul pada tahuntahun terakhir ini, yakni guru lebih suka mengajar di sekolah di perkotaan. Ini berarti bahwa guru yang memenuhi
syarat lebih cenderung mencari kerja di perkotaan sehingga di pedesaan yang tersisa hanya guru-guru dengan
kualifikasi lebih rendah.
Lebih dari 25 persen responden mengatakan bahwa buku pelajaran merupakan kebutuhan prioritas
kedua. Di samping buku pelajaran, hampir 23 persen memilih perabot sekolah dan 20 persen memilih ruang
kelas yang lebih baik sebagai kebutuhan prioritas kedua. Semua kebutuhan ini konsisten dengan temuan APEA,
yang mengatakan bahwa sekitar seperempat (23 persen) dari ruang kelas SD rusak parah dan membutuhkan
perbaikan besar-besaran. Hanya 44 persen dari ruang sekolah SD yang dinilai dalam keadaan baik. Selain tentang
keadaan ruang sekolah, studi APEA juga mengatakan bahwa ada kelangkaan buku pelajaran dan sarana sekolah.
Secara kumulatif, “lebih banyak buku pelajaran” merupakan prioritas tertinggi kebutuhan sekolah menurut lebih
dari 60 persen dari kepala sekolah dasar.
88
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 5: KEADAAN SOSIAL
Gambar 5.29 Kebutuhan prioritas sekolah
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0%
Prioritas 3
Prioritas 2
Prioritas 1
Guru yang lebih Ruang kelas yang Lebih banyak
berpengalaman
lebih baik
guru
dan bagus
4,2%
13,7%
35,8%
9,0%
20,3%
17,9%
2,7%
2,3%
16,7%
Mobiler sekolah
Buku-buku
sekolah
Pagar sekolah
Toilet
Lebih banyak
informasi bagi
orang tua murid
Lain-lain
11,9%
22,9%
11,9%
27,9%
25,3%
9,0%
19,9%
9,1%
5,9%
14,0%
3,8%
1,6%
6,9%
2,7%
0,6%
3,6%
0,0%
0,6%
Sebutkan 3 prioritas utama yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah ini
Sumber : Survei Desa Aceh, 2006.
Catatan: Untuk Lhokseumawe, hanya satu dari tiga kecamatan yang diikutkan dalam survei.
Kesimpulan dan Rekomendasi : Kondisi Pendidikan
• Pemerintah dan masyarakat pembangunan perlu mempercepat upaya meningkatkan mutu
•
SURVEI DESA ACEH 2006
pengajaran dan sarana, terutama bagi warga yang paling banyak kena dampak konflik dan
tsunami. Sekolah dasar (SD) menduduki tempat teratas untuk perbaikan, karena sebagian besar murid
adalah murid SD. Rehabilitasi hendaknya mencakup mekanisme untuk menarik murid putus sekolah
untuk kembali ke bangku sekolah, misalnya dengan membentuk program beasiswa khusus.
Mutu pendidikan harus menjadi prioritas dalam bantuan pembangunan pendidikan. Studi
ini menemukan, rasio murid-guru rendah (terutama di Aceh Jaya, Simeulue, Gayo Lues, Aceh Barat
dan Aceh Tengah) dan jumlah guru (terutama di Aceh Tengah, Aceh Besar, Bireuen, dan Pidie) sudah
cukup. Para kepala sekolah sependapat, daripada membangun lebih banyak gedung sekolah atau
mengeluarkan dana untuk kontrak/honor guru, adalah lebih penting untuk menyediakan guru-guru
yang lebih berpengalaman, buku pelajaran dan perabot sekolah, dan juga memperbaiki ruang kelas
yang ada.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
89
90
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 6
Kesimpulan Dan Rekomendasi
06
BAB 6: KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Studi ini melakukan evaluasi mengenai keadaan prasarana fisik dan keadaan sosial di Aceh pada paruh
kedua tahun 2006 saat propinsi itu memulihkan diri setelah mengalami konflik hampir 30 tahun lamanya
dan bencana alam tsunami. Berdasarkan survei yang disebarkan melalui Program Pembangunan Kecamatan
(PPK) pemerintah hampir ke seluruh desa di Aceh, laporan ini mencakup pertanyaan tentang keadaan prasarana
propinsi, pengungsi, kebutuhan informasi dan prioritas pembangunan desa, modal sosial, dan pendidikan saat
ini.
Bagian kesimpulan ini membahas prioritas-prioritas yang muncul dari temuan-temuan survei ini dan
cara-cara terbaik bagi program dan mekanisme pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
yang telah diidentifikasi. Rekomendasi dikelompokkan ke dalam tiga kategori utama berikut ini:
1
2
3
Investasi besar masih diperlukan sebelum pemulihan fisik dan sosial di Aceh dapat dinyatakan telah
terwujud.
Perhatian khusus perlu dicurahkan untuk memastikan bahwa upaya-upaya pemulihan ini benar-benar
memenuhi kebutuhan korban konflik dan tidak terfokus hanya pada pemulihan pasca tsunami atau bencana
alam yang lain.
Temuan-temuan di sini menekankan perlunya masukan dari bawah untuk proses pemulihan dan
pembangunan, dan ini menggarisbawahi pentingnya proses pembangunan yang berpijak pada partisipasi
masyarakat.
Investasi Besar Masih Dibutuhkan
Tema utama yang muncul dari laporan ini adalah bahwa, walaupun sudah banyak kemajuan
yang telah dicapai dalam upaya membantu Aceh memulihkan diri dari tsunami dan konflik, masih
banyak tantangan besar yang membutuhkan tambahan investasi dalam jumlah besar.
Banyak temuan dalam laporan ini yang mengungkapkan betapa luasnya kerusakan yang dialami Aceh
dan banyaknya tugas-tugas besar yang masih harus dilaksanakan sebelum pemulihan benar-benar
dapat dikatakan telah terwujud. Baik tsunami maupun konflik, secara sendiri-sendiri atau bersama, merusak
lebih dari 50 persen dari semua jenis prasarana di propinsi, serta lebih dari 25 persen SD yang disurvei. Sedikit
sekali wilayah yang lolos tanpa cacat. Disamping dan di atas angka perkiraan sebesar 130.000 orang yang
tewas akibat tsunami dan 15.000 orang yang terbunuh karena konflik, lebih dari 170.000 KK terpaksa pindah
karena tsunami atau konflik. Kerusakan prasarana sosial di propinsi itu besar sekali dan tidaklah wajar untuk
mengharapkan bahwa pemulihan akan berjalan dengan cepat atau tanpa kendala.
Masalah yang dihadapi masih banyak. Jumlah KK miskin di wilayah yang dicakup laporan ini tetap besar, dan
hampir 24 persen dari rakyat dilaporkan cukup miskin hingga patut mendapat zakat dari mesjid dan 26 persen
dimasukkan kepala desa ke dalam kelompok “KK miskin”. Proses perbaikan prasarana juga jauh dari selesai. Hanya
sekitar 11 persen dari prasarana yang rusak telah diperbaiki atau sedang diperbaiki, dengan tingkat perbaikan
yang rendah baik dalam hal prasarana yang biasanya menjadi tanggung jawab desa atau pemerintah, maupun
prasarana yang menjadi tanggung jawab sektor swasta, seperti pasar, toko, gudang, dan kincir padi. Jumlah
murid putus sekolah cukup besar di wilayah yang kena dampak tsunami dan konflik, dan ada permintaan yang
tinggi agar mutu guru ditingkatkan. Partisipasi sosial masih tetap perlu ditingkatkan, dan partisipasi kaum
perempuan dalam proses pengambilan keputusan desa masih terbatas.
Data dalam laporan ini menunjukkan, biaya total untuk memperbaiki prasarana yang rusak akibat
konflik atau tsunami mencapai Rp 12 trilyun, atau US$1,3 milyar. Lagipula, ini hanya cukup untuk
memperbaiki sekitar 60 persen dari total prasarana yang rusak di propinsi itu; sisa yang 40 persen dari prasarana
yang rusak adalah karena kurang pemeliharaan. Terlepas dari apakah kurangnya pemeliharaan ini memang
karena tidak dilakukan atau karena konflik atau tsunami, angka-angka ini menunjukkan bahwa biaya total untuk
memperbaiki prasarana dapat mencapai Rp 20 trilyun atau US$2,2 milyar.
92
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 6: KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Pemulihan dengan biaya sebesar ini dapat berhasil hanya jika semua pihak yang berkepentingan
ikutserta dalam upaya pemulihan. Masyarakat internasional hendaknya terus memainkan peranan positif
dengan memberikan bantuan keuangan, logistik dan teknik yang diperlukan untuk pemulihan. Pemerintah
pusat dan pemerintah daerah di Aceh hendaknya, berlandaskan hasil-hasil yang telah dicapai hingga saat ini,
memperbaiki prasarana dan memusyawarahkan jalan keluar dari ranjau politik pasca konflik. Tetapi, yang lebih
penting lagi, rakyat Aceh harus terus mendukung pemulihan fisik, ekonomi, dan sosial-politik dengan secara
aktif melibatkan diri dalam proses tersebut.
Meski kecil kemungkinannya bahwa konflik akan timbul kembali, namun sisa-sisa dampak dari
konflik masa lalu dan potensi bagi konflik pada masa mendatang tetap ada.
Dilihat dari berbagai segi, keadaan sosial di Aceh, diluar perkiraan, cukup bagus. Modal sosial umumnya
kuat, khususnya dalam kalangan kelompok-kelompok seperti keluarga, teman dekat, tetangga, dan rekan sekerja.
Indikator-indikator eksklusi yang dilaporkan dalam survei rendah dan umumnya berkaitan dengan faktor-faktor
ekonomi seperti kemiskinan. Selain itu, tingkat kepercayaan dan solidaritas di antara warga desa cukup kuat dan
tingkat solidaritas tampaknya bertambah tinggi sejak MoU Helsinki ditandatangani.
Namun, penting untuk memastikan bahwa semua perkembangan positif ini tidak dibiarkan
mengaburkan sisa-sisa konflik yang masih tetap ada dan berpotensi mengganggu proses perdamaian
dan upaya pemulihan. Misalnya, sebagian besar pemimpin setempat merasa bahwa mereka tidak mendapat
cukup informasi mengenai persoalan-persoalan pasca konflik atau tentang dana reintegrasi, sedangkan kegiatan
lapangan menemukan bahwa ketegangan yang semakin meningkat di desa ada kaitannya dengan kurangnya
pemahaman mengenai program reintegrasi. Paling tidak 20 persen dari responden mengatakan bahwa menjadi
korban konflik merupakan salah satu sebab mengapa warga desa kesulitan memperoleh layanan publik atau
ikutserta dalam musyawarah desa dan kegiatan sosial desa. Responden pada pertanyaan-pertanyaan yang
menyangkut kepercayaan sosial dan solidaritas sosial dengan anggota GAM yang turun gunung tampak enggan
mengeluarkan pendapat dibandingkan dengan jawaban mereka yang lebih positif pada pertanyaan-pertanyaan
serupa tentang warga desa yang tidak ada sangkut pautnya dengan GAM atau MoU Helsinki.
Seperti tampak dari temuan bahwa prioritas informasi tertinggi adalah informasi yang menyangkut MoU
Helsinki, warga desa menyadari bahwa keberhasilan pelaksanaan perjanjian politik itu sangat penting
dalam membentuk kehidupan dan kesejahteraan mereka dalam tahun-tahun yang akan datang. Jelas
bahwa upaya-upaya yang sudah berjalan selama ini untuk mendukung proses perdamaian pasca konflik harus
tetap dilanjutkan. Namun, upaya-upaya semacam itu hendaknya juga mencurahkan perhatian pada sosialisasi
perkembangan proses perdamaian; pembekalan pemimpin setempat dengan informasi yang akurat dan terkini
tentang program reintegrasi; dan upaya-upaya yang sedang berjalan untuk meningkatkan keamanan.
Upaya pemulihan di Aceh hendaknya dibangun di atas kekuatan propinsi dan kemajuan-kemajuan
yang telah dicapai dalam upaya pemulihan.
Kebutuhan akan investasi yang berkelanjutan tidaklah mengherankan, dan hendaknya dilakukan
berdasarkan kemajuan luar biasa yang telah dicapai oleh rakyat Aceh, pemerintah pusat dan daerah,
dan masyarakat internasional. Laporan ini menunjukkan bahwa keadaan di sejumlah wilayah sudah jauh
lebih baik. Sebagian besar pengungsi konflik and pengungsi tsunami sudah kembali ke desa asal mereka masingmasing, dan banyak yang tinggal di rumah sendiri sekarang. Sebagian besar indikator modal sosial menunjukkan
bahwa keadaan sosial cukup bagus. Kesulitan memperoleh layanan publik jarang terjadi, responden melaporkan
ada kepercayaan yang tinggi di desa mereka, dan berbagai mekanisme digunakan untuk mengatasi persoalanpersoalan setempat.
Upaya pemulihan berkelanjutan harus berpijak pada kekuatan-kekuatan ini. Indikator-indikator yang
bagus mengenai modal sosial dan partisipasi menunjukkan bahwa proses berlandaskan partisipasi masyarakat
adalah proses yang paling menjanjikan untuk mewujudkan rencana-rencana pembangunan yang paling
responsif terhadap kebutuhan desa. Oleh karena itu, badan-badan pembangunan dan pemerintah sebaiknya
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
93
BAB 6: KESIMPULAN dan REKOMENDASI
mempertahankan dan meningkatkan prakarsa pembangunan berbasis partisipasi masyarakat desa baik untuk
rekonstruksi pasca tsunami maupun reintegrasi pasca konflik. Pemimpin setempat tetap merupakan sumber
informasi yang penting bagi rakyat Aceh. Mengingat manfaat tambahan dari informasi yang disampaikan
melalui tatap muka, hendaknya dilakukan upaya-upaya yang lebih besar untuk memberikan informasi kepada
para pemimpin setempat tentang program-program reintegrasi tsunami dan program-program yang berkaitan
dengan MoU, untuk membangun kapasitas mereka meneruskan informasi ini kepada warga masyarakat
yang mereka wakili. Di sekolah dasar, rasio murid-guru tampaknya cukup memadai. Namun, investasi dalam
pendidikan sekarang sebaiknya difokuskan pada prioritas yang telah diidentifikasi di sini: meningkatkan mutu
dan pengalaman guru secara menyeluruh; menyediakan lebih banyak buku pelajaran; dan memperbaiki ruang
kelas dan sarana.
Pemulihan di Aceh adalah Proses yang Mencakup Seluruh Propinsi
Upaya-upaya bantuan dan pemulihan untuk penduduk yang kena dampak tsunami jangan sampai
mengabaikan kebutuhan bantuan di wilayah-wilayah lain propinsi ini.
Wilayah dan penduduk yang kena dampak tsunami mendahului dalam proses pemulihan dan rehabilitasi.
Laporan ini menunjukkan, misalnya, bahwa prasarana yang rusak akibat bencana alam rata-rata diperbaiki sekitar
50 persen lebih cepat daripada prasarana yang rusak akibat konflik. Demikian pula, pengungsi konflik yang
sudah kembali lebih kecil kemungkinannya tinggal di rumah sendiri dibandingkan dengan pengungsi tsunami;
ini menunjukkan bahwa keluarga yang terkena dampak konflik tidak hanya tertinggal dalam upaya rekonstruksi
fisik yang semata-mata terbatas pada pekerjaan umum.
Kerusakan prasarana dan sosial yang dialami Aceh tidak hanya menimpa wilayah yang kena dampak
tsunami, dan karenanya, upaya pemulihan perlu dijadikan proses yang mencakup seluruh propinsi.
Hampir setiap kabupaten di Aceh melaporkan bahwa rata-rata lebih dari 22 persen dari keluarga di sana
termasuk golongan miskin, terlepas dari apakah kabubaten itu kena dampak langsung tsunami atau tidak.
Laporan ini juga menunjukkan bahwa dari berbagai segi, wilayah konflik mengalami kerusakan lebih berat
dibandingkan dengan wilayah tsunami. Lebih banyak keluarga yang terpaksa pindah dari desa mereka akibat
konflik daripada tsunami (103.456 banding 69.389), dan jumlah pengungsi konflik yang sudah kembali lebih
rendah daripada pengungsi tsunami yang sudah kembali (64,6 persen banding 82,1 persen). Meskipun data ini
tidak mengherankan mengingat lebih mendesaknya kebutuhan rekonsiliasi warga di wilayah konflik daripada
di wilayah tsunami, laporan ini juga menunjukkan bahwa perbedaan ini tidak luput dari pengamatan warga
di tingkat lokal. Responden di wilayah yang lebih parah kena dampak tsunami lebih mungkin percaya bahwa
keadaan pengungsi tsunami lebih baik daripada keadaan warga lain di desa mereka dan lebih baik daripada
sebelum tsunami. Ketika kepada mereka diajukan pertanyaan serupa mengenai keadaan pengungsi konflik
sekarang ini dibandingkan dengan keadaan warga lain di desanya, mereka memberikan jawaban yang berbeda.
Keadaan pengungsi konflik menurut persepsi mereka lebih buruk daripada keadaan warga lain dibandingkan
dengan pengungsi tsunami. Pendapat ini didukung oleh warga di wilayah dengan intensitas konflik yang berat
maupun ringan. Akhirnya, prioritas yang diberikan responden akan kebutuhan informasi yang lebih lengkap
tentang MoU Helsinki dan program pasca konflik, khususnya jika dibandingkan dengan rendahnya prioritas
yang mereka berikan pada informasi tentang program tsunami, menunjukkan bahwa perhatian yang lebih besar
perlu dicurahkan untuk informasi tentang MoU Helsinki dan program pasca konflik. Sebagian besar rakyat Aceh
tampaknya memandang keberhasilan pelaksanaan MoU sebagai faktor yang paling mendasar bagi kemakmuran
dan keamanan mereka pada masa mendatang.
Mengingat sisa-sisa dampak konflik yang masih berkepanjangan dan berpotensi menjadi masalah di
kemudian hari, perlu ditekankan kembali pentingnya upaya pemulihan di wilayah yang kena dampak
konflik. Penekanan ini mencakup: upaya yang lebih baik untuk menyampaikan informasi tentang MoU dan
program pasca koflik; upaya terus-menerus untuk memberikan dukungan yang diperlukan pengungsi konflik
untuk kembali ke desa asal mereka, atau bermukim untuk seterusnya di tempat lain; serta upaya perbaikan
prasarana di wilayah konflik.
94
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
BAB 6: KESIMPULAN dan REKOMENDASI
Proses Berbasis Partisipasi Masyarakat Paling Efektif untuk Menentukan
Sasaran Investasi
Walaupun pola-pola yang muncul di tingkat propinsi dan kabupaten dapat membantu memberikan
arah pada kebijakan keseluruhan, perbedaan-perbedaan yang ada di tingkat desa menjadikan
proses pembangunan berbasis musyawarah masyarakat cara yang paling efektif untuk memenuhi
kebutuhan desa.
Untuk menggali kebutuhan berbagai kelompok yang ada di tingkat desa, adalah penting untuk
memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok masyarakat untuk lebih terlibat dalam
kegiatan pembangunan dan proses perencanaan. Meskipun sedikit sekali terdapat perbedaan pendapat
antara responden di tingkat propinsi dan kabupaten, ada perbedaan-perbedaan besar di tingkat desa, yang
menunjukkan bahwa diperlukan mekanisme untuk menggali berbagai kebutuhan masyarakat dalam proses
pembangunan. Pendapat kepala desa tidak harus sama dengan pendapat ketua pemuda atau tokoh perempuan
di desa yang sama. Karena survei ini menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari warga desa kesulitan menghadiri
musyawarah desa—yang merupakan mekanisme utama untuk memecahkan masalah di desa—maka sangat
penting untuk meningkatkan peranserta warga desa dalam proses pengambilan keputusan, untuk memastikan
bahwa perbedaan pendapat ini dapat diatasi. Selain itu, hasil survei juga menunjukkan bahwa kaum perempuan
dan kelompok-kelompok tersisih lainnya seperti korban konflik, kemungkinan besar tidak ikut berpartisipasi dalam
musyawarah desa. Karena kebutuhan kelompok-kelompok ini mungkin berbeda dengan kebutuhan pihak-pihak
lain di desa, adalah penting untuk menggunakan mekanisme yang memungkinkan mereka mengeluarkan
pendapat mereka. Akhirnya, keinginan warga desa untuk mendapat lebih banyak informasi tentang program
pembangunan desa dan penggunaan anggaran desa tampaknya mencerminkan minat mreka untuk lebih
banyak terlibat dalam kegiatan pembangunan dan proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung
pada kehidupan pribadi mereka.
Perhatian khusus perlu diberikan untuk memastikan bahwa semua anggota masyarakat mendapat
kesempatan untuk ikutserta dalam, dan memberikan sumbangan kepada, proses pembangunan
desa
Kaum perempuan sebagian besar masih tetap belum terwakili dalam proses pengambilan keputusan di
Aceh. Lebih dari separuh responden mengatakan bahwa sebagian besar musyawarah desa—yang dipilih sebagai
mekanisme paling populer untuk menyelesaikan persoalan-persoalan desa—dihadiri umumnya oleh laki-laki
dan sedikit sekali perempuan. Hal ini saja sudah cukup mencemaskan. Namun, yang lebih mengkhawatirkan
lagi adalah hasil survei yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan-perbedaan pendapat yang besar di
tingkat desa antara ketiga kategori responden yang diwawancarai dalam survei ini mengenai berbagai macam
persoalan. Bila pendapat kepala desa tentang desanya atau informasi apa yang dibutuhkan desa berbeda
dengan pendapat tokoh perempuan, maka sangatlah penting untuk memastikan bahwa kedua pendapat ini
dapat disuarakan dalam rapat desa yang mengambil keputusan mengenai pembangunan dan investasi.
Juga mengkhawatirkan bahwa 48 persen dari responden mengatakan sulit bagi beberapa warga desa
untuk menghadiri rapat desa. Meski proses musyawarah di tingkat desa dapat menjawab secara efektif
kebutuhan desa, namun hal ini kemungkinan besar tidak akan terwujud jika ada sejumlah besar warga yang
tidak berpeluang untuk berpartisipasi dalam musyawarah desa.
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
95
96
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1
Instrumen Survei
98
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
LAMPIRAN 1.1 Kuesioner Sosial
SURVEY DESA PPK
Juli 2006
SURVEY SOSIAL UNTUK KEPALA/SEKRETARIS DESA
Tanggal/Bulan/Tahun
/
/2 0 0 6
Nama Fasilitator Desa/Petugas Survei yang mengisi formulir ini:
Nama Desa
: ______________________________________
Kode:
Nama Kecamatan
: ______________________________________
Kode:
Nama Kabupaten
: ______________________________________
Kode:
Nama Responden
: ______________________________________
Jenis Kelamin
1. Laki-laki
1.
Informasi Umum Tentang Desa
1.1
Berapa orang jumlah penduduk desa ini?
2. Perempuan
Laki-laki
Perempuan
Total
1.2
a. Berapa jumlah Kepala Keluarga (KK)?
KK
b. Berapa jumlah Kepala Keluarga gantung?
KK
1.3
Kira-kira, ada berapa banyak KK yang hanya makan satu kali
sehari?
KK
1.4
Ada berapa banyak KK yang menerima zakat di desa ini?
KK
1.5
Ada berapa banyak KK miskin yang ada di desa ini?
KK
1.6
Ada berapa banyak jumlah anak yatim di desa ini?
Anak
1.7
Ada berapa banyak anak usia sekolah yang belum terdaftar
atau tidak sekolah, padahal harusnya mereka bersekolah?
anak/murid
1.8
Berapa jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian berikut ini?
Petani
Tenaga Medis
Nelayan
TNI/Polri
Pedagang
Pengusaha
PNS
Pekerja Tidak Tetap
Guru
Lain-lain
1.9
Berapa jumlah penduduk berusia di atas 15 tahun (tidak
sedang bersekolah) yang belum memiliki pekerjaan/mata
pencaharian?
Jiwa
1.10
Berapa jumlah penduduk dalam usia kerja (antara 15 – 55
tahun) di desa ini?
Laki-laki
Perempuan
Total
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
99
LAMPIRAN
2.
PENGUNGSI INTERNAL
2.1
Pengungsi Korban Tsunami
2.1.1
Di desa ini, ada berapa KK yang pergi mengungsi karena
tsunami dan sampai saat ini belum kembali?
KK
2.1.2
a. Di desa ini, ada berapa KK yang pergi karena tsunami dan
sudah kembali? (jika tidak ada lanjutkan ke no. 2.1.3)
KK
b. Dimana mereka tinggal saat ini?
1. Barak pengungsian
2. Tenda
KK
2.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
3.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
4.
KK
5. Di rumah sewa
5.
KK
6. Rumah sendiri
6.
KK
7.
KK
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.1.3
1.
a. Apakah ada pengungsi korban tsunami dari desa lain ke
desa ini?
1. Ada 2. Tidak (jika tidak,
lanjutkan ke no.2.2)
b. Ada Berapa KK jumlahnya ?
c. Dimana mereka tinggal saat ini?
KK
1. Barak pengungsian
2. Tenda
1.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
2.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
3.
KK
4.
KK
5.
KK
6.
KK
7.
KK
5. Di rumah sewa
6. Rumah sendiri
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.1.4
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi (pekerjaan,
pendapatan) pengungsi tsunami yang sudah kembali ke desa,
dibandingkan dengan keadaan mereka sebelum tsunami?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
2.1.5
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi pengungsi
korban tsunami yang datang dari desa lain ke desa ini, bila
dibandingkan dengan penduduk desa ini?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
100
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
2.2
Pengungsi Korban Konflik
2.2.1
Di desa Anda, ada berapa KK yang pergi mengungsi karena
konflik dan belum kembali?
KK
2.2.2
a. Di desa Anda, ada berapa KK yang pergi karena konflik dan
sudah kembali?
KK
b. Di mana mereka tinggal saat ini?
1. Barak pengungsian
1.
KK
2.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
3.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
4.
KK
5. Di rumah sewa
5.
KK
6. Rumah sendiri
6.
KK
7.
KK
2. Tenda
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.2.3
a. Apakah ada pengungsi korban konflik dari desa lain ke desa
ini?
1. Ada 2. Tidak (jika tidak, lanjut
ke No.3)
b. Ada berapa KK jumlahnya ?
c. Dimana mereka tinggal saat ini?
KK
1. Barak pengungsian
2. Tenda
1.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
2.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
3.
KK
4.
KK
5.
KK
6.
KK
7.
KK
5. Di rumah sewa
6. Rumah sendiri
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.2.4
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi pengungsi
korban konflik yang datang dari desa lain ke desa ini, bila
dibandingkan dengan penduduk desa ini?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
101
LAMPIRAN
3.
Informasi
3.1
Di desa ini, jenis informasi apa saja yang umumnya ditanyakan oleh penduduk desa?
(pilih 3 jenis informasi yang paling banyak diminta)
1. Program Tsunami
7. Kesempatan kerja
1.
2. Helsinki MoU
8. Kesempatan memperoleh
pendidikan
2.
3. Program reintegrasi pasca
konflik
4. Penggunaan anggaran
desa
5. Program pembangunan
(sesuai dengan prog.
perencanaan di desa
6. Akses kepada tanah
(surat tanah, batas
tanah,kepemilikannya dll)
3.2
3.
9. Pelatihan mengenai
keahlian tertentu
(jawaban no.1 diatas adalah
informasi yang paling sering diminta
oleh masyarakat, dst...)
10. Pelayanan keuangan
11. Trauma/konseling
psikologi
12. Lain-lain, sebutkan_____
_____
Sebagai Kepala Desa, seberapa sering Bapak /Ibu
menyampaikan informasi-informasi di bawah ini kepada
masyarakat?
Tidak
Pernah
Jarang
1
2
kadangsering
kadang
3
4
selalu
5
1. Program Tsunami
2. MoU Perdamaian
3. Program reintegrasi pasca konflik
4. Penggunaan anggaran desa
5. Program pembangunan
.
............................................................................................
6. Lain-lain, sebutkan
3.3
102
Sebagai Kepala Desa, apakah Bapak/Ibu merasa telah
memperoleh cukup informasi tentang hal-hal berikut? (ya
atau tidak)
1. Penarikan pasukan dan pemusnahan senjata
1.
Ya
Tidak
2. Dana reintegrasi bagi saudara-saudara kita yang baru
turun gunung (eks GAM) dan korban konflik?
2.
Ya
Tidak
3. Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU-PA) 3.
Ya
Tidak
4. Pembentukan partai politik baru
4.
Ya
Tidak
5. Peran AMM (Aceh Monitoring Mission)
5.
Ya
Tidak
6. Pembentukan komisi pencari fakta dan rekonsiliasi
6.
Ya
Tidak
7. Resolusi Masalah Konflik
7.
Ya
Tidak
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
3.4
Dari mana Anda memperoleh informasi tentang perjanjian
perdamaian RI-GAM (MoU)? (Urutkan 3 sumber informasi
utama)
(jawaban no.1 di atas adalah
sumber informasi yang paling sering
diterima, dst...)
1. TV
5. Dari AMM
1.
2. Radio
6. Dari GAM/KPA
2.
3. Surat Kabar
7. Dari Pejabat Daerah
4. Poster dan Selebaran
8. Lainnya... (Sebutkan)
3.
4.
Kebutuhan Desa
4.1
Dalam pandangan Bapak/Ibu, kebutuhan apa yang
merupakan prioritas utama di desa ini?
(jawaban dari mulai yang paling
penting/ ranking 1 sampai 3)
1. Jalan
8. Perumahan
1.
2. Air dan sanitasi
9. Perekonomian
3. Kesempatan kerja
10. Pelayanan konseling
psikologi/ trauma
4. Pendidikan
5. Listrik
6. Kesehatan dan Gizi
7. Keamanan dan
keteraturan
5.
Dinamika Sosial
5.1
A. Pendidikan/sekolah
2.
3.
11. Kegiatan Keagamaan
12. Informasi Umum (koran,
radio,TV dll)
13. Lain-lain
sebutkan............................
a. Apakah di desa ini ada lembaga pendidikan dasar (SD/
MIN/Pesantren)?
b. Apakah ada warga desa yang sulit untuk bersekolah?
Berikan tanda
yang dipilih
Ya
untuk jawaban
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
B. Sarana kesehatan/puskesmas/pustu/polindes
a. Apakah di desa ini terdapat puskesmas/pustu/polindes?
b. Apakah ada warga desa yang sulit mendapatkan
layanan di puskesmas/pustu/polindes?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
103
LAMPIRAN
C. Air Bersih
a. Apakah di desa ini terdapat sarana/fasilitas air bersih?
(PAM/mata air/sumur bor/sumur cincin)
b. Apakah ada warga yang sulit mendapatkan air bersih?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
D. Partisipasi dalam pertemuan desa
a. Apakah ada orang dewasa di desa ini yang tidak bisa
/sulit untuk mengikuti pertemuan-pertemuan desa?
b. Jika ya, berapa orang?
Ya
Tidak (lanjutkan
ke no. E)
1. Hanya beberapa orang
2. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
3. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
E. Transportasi
a. Apakah di desa ini terdapat transportasi umum?
b. Apakah ada warga yang sulit mendapatkan pelayanan
transportasi umum?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
F. Kegiatan sosial kampung (kenduri kampung, peringatan
maulid,kematian dll)
a. Apakah ada warga di desa ini yang tidak bisa/sulit untuk
berpartisipasi dalam kegiatan sosial?
b. Jika ya, berapa orang?
Ya
Tidak (lanjutkan ke no.
5.2)
1. Hanya Beberapa orang
2. Banyak orang, tapi kurang dari
separuh warga desa
3. Lebih dari separuh warga desa
104
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
5.2
Sebutkan 3 alasan utama kenapa warga sulit mendapatkan
pelayanan pada No. 5.1 point A – F di atas?
1. Kemiskinan
7. Korban konflik
2. Agama
8. Korban Tsunami
(jawaban no. 1 dibawah ini adalah
permasalahan utama, dst...)
3. Suku/Perbedaan bahasa/
Ras/golongan
9. Kurang ilmu pengetahuan/
pendidikan
1.
4. Pekerjaan
10. Jauh lokasinya
2.
5. Gender
11. Lain-lain, sebutkan .............
3.
6. Umur
Kegiatan/Tindakan Sosial Bersama
5.3
Jika ada masalah yang terjadi dan mempengaruhi seluruh
desa, misalnya tidak adanya air bersih, atau saluran air bersih
rusak, biasanya bagaimana cara menyelesaikannya? (sebutkan
3 hal yang umumnya dilakukan)
1.
Keluarga, tetangga dan kawan-kawan berkumpul
bersama untuk mencari pemecahan masalah
2.
Lembaga Masyarakat di desa mencari pemecahan
masalah
3.
Kepala Desa yang mencari jalan keluar
4.
Musyawarah desa untuk memecahkan masalah
5.
Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan)
Kecamatan mendiskusikan pemecahan masalah
6.
Pemerintahan kabupaten yang menangani
7.
Pemerintahan kecamatan yang menangani
8.
Mekanisme PPK membantu penyelesaian masalah
9.
Masalah dibiarkan saja tidak terpecahkan
1.
2.
3.
10. Lain-lain, sebutkan...........
11. Tidak tahu
Partisipasi
5.4
a. Selama satu tahun terakhir, ada berapa kali musyawarah
desa dilakukan di desa ini?
Kali
b. Siapa yang umumnya ikut datang/berpartisipasi dalam
musyawarah desa tersebut?
1. Perempuan dan laki-laki, dalam jumlah yang hampir
seimbang
2. Hanya laki-laki saja
3. Kebanyakan laki-laki, dan beberapa orang perempuan
4. Kebanyakan perempuan, dengan beberapa orang laki-laki
5. Hanya perempuan saja
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
105
LAMPIRAN
Tingkat Kepercayaan dan Kebersamaan/Solidaritas Sosial di Masyarakat
5.5
Di desa ini, bagaimana Bapak/Ibu menilai tingkat rasa saling
percaya antara saudara-saudara yang baru turun dari gunung
dengan anggota masyarakat yang lain?
1 Sangat rendah
2 Rendah
3 Tidak rendah dan juga tidak tinggi
4 Tinggi
5 Sangat tinggi
6 Tidak tahu
5.6
a. Secara keseluruhan, bagaimana menurut Bapak/Ibu
kebersamaan / solidaritas sosial di desa ini?
1 Sangat rendah
2 Rendah
3 Tidak rendah dan juga tidak tinggi
4 Tinggi
5 Sangat tinggi
6 Tidak tahu
b. Dibandingkan dengan sebelum penandatanganan MoU,
menurut Bapak/Ibu kebersamaan/solidaritas sosial di desa
ini bisa dikatakan..
1. Berkurang banyak
2. Berkurang sedikit
3. Sama saja
4. Sedikit membaik
5. Sangat membaik
5.7
Secara umum, apakah Bapak/Ibu setuju atau
tidak setuju dengan pernyataan berikut ini?
Sangat
Tidak
Setuju
Tidak
Setuju
Netral
Setuju
Sangat
Setuju
1
2
3
4
5
a. Kebanyakan orang di desa ini dapat dipercaya
b. Di desa ini masyarakat saling menolong dan
bekerjasama tanpa mengharap imbalan/
pamrih...... tidak ada kemungkinan orang
mengambil keuntungan dari anda
c. Kebanyakan orang di desa ini akan bersedia
membantu jika Bapak/Ibu membutuhkan
bantuan.
d. Di desa ini, orang pada umumnya saling
percaya dalam hal pinjam-meminjamkan
uang
106
SURVEI DESA ACEH 2006
.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
SURVEY DESA PPK
Juli 2006
SURVEY SOSIAL UNTUK KETUA PEMUDA/TOKOH PEREMPUAN
Tanggal/Bulan/Tahun
/
/2 0 0 6
Nama Fasilitator Desa/Petugas Survei yang mengisi formulir ini:
Nama Desa
: ______________________________________
Kode:
Nama Kecamatan
: ______________________________________
Kode:
Nama Kabupaten
: ______________________________________
Kode:
Nama Responden
: ______________________________________
Jenis Kelamin
1. Laki-laki
2. Perempuan
2.
PENGUNGSI INTERNAL
2.1
Pengungsi Korban Tsunami
2.1.1
Di desa ini, ada berapa KK yang pergi mengungsi karena
tsunami dan sampai saat ini belum kembali?
KK
2.1.2
a. Di desa ini, ada berapa KK yang pergi karena tsunami dan
sudah kembali? (jika tidak ada lanjutkan ke no. 2.1.3)
KK
b. Dimana mereka tinggal saat ini?
1. Barak pengungsian
2. Tenda
KK
2.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
3.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
4.
KK
5. Di rumah sewa
5.
KK
6. Rumah sendiri
6.
KK
7.
KK
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.1.3
1.
a. Apakah ada pengungsi korban tsunami dari desa lain ke
desa ini?
1. Ada 2. Tidak (jika tidak,
lanjutkan ke no.2.2)
b. Ada Berapa KK jumlahnya ?
c. Dimana mereka tinggal saat ini?
KK
1. Barak pengungsian
2. Tenda
1.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
2.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
3.
KK
4.
KK
5.
KK
6.
KK
7.
KK
5. Di rumah sewa
6. Rumah sendiri
7. Lain-lain, sebutkan...................
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
107
LAMPIRAN
2.1.4
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi (pekerjaan,
pendapatan) pengungsi tsunami yang sudah kembali ke desa,
dibandingkan dengan keadaan mereka sebelum tsunami?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
2.1.5
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi pengungsi
korban tsunami yang datang dari desa lain ke desa ini, bila
dibandingkan dengan penduduk desa ini?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
2.2
Pengungsi Korban Konflik
2.2.1
Di desa Anda, ada berapa KK yang pergi mengungsi karena
konflik dan belum kembali?
KK
2.2.2
a. Di desa Anda, ada berapa KK yang pergi karena konflik dan
sudah kembali?
KK
b. Di mana mereka tinggal saat ini?
1. Barak pengungsian
2. Tenda
KK
2.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
3.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
4.
KK
5. Di rumah sewa
5.
KK
6. Rumah sendiri
6.
KK
7.
KK
7. Lain-lain, sebutkan...................
2.2.3
1.
a. Apakah ada pengungsi korban konflik dari desa lain ke desa
ini?
1. Ada 2. Tidak (jika tidak, lanjut
ke No.3)
b. Ada berapa KK jumlahnya ?
c. Dimana mereka tinggal saat ini?
KK
1. Barak pengungsian
2. Tenda
1.
KK
3. Tinggal dengan keluarga mereka di desa Anda
2.
KK
4. Tinggal dengan saudara yang lain
3.
KK
4.
KK
5.
KK
6.
KK
7.
KK
5. Di rumah sewa
6. Rumah sendiri
7. Lain-lain, sebutkan...................
108
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
2.2.4
Secara umum, bagaimana keadaan ekonomi pengungsi
korban konflik yang datang dari desa lain ke desa ini, bila
dibandingkan dengan penduduk desa ini?
1. Jauh Lebih Buruk
4. Sedikit Lebih Baik
2. Sedikit Lebih Buruk
5. Jauh Lebih Baik
(isikan berdasarkan no.pilihan
disebelah)
3. Sama
3.
Informasi
3.1
Di desa ini, jenis informasi apa saja yang umumnya ditanyakan oleh penduduk desa?
(pilih 3 jenis informasi yang paling banyak diminta)
1. Program Tsunami
7. Kesempatan kerja
1.
2. Helsinki MoU
8. Kesempatan memperoleh
pendidikan
2.
3. Program reintegrasi pasca
konflik
4. Penggunaan anggaran
desa
5. Program pembangunan
(sesuai dengan prog.
perencanaan di desa
6. Akses kepada tanah
(surat tanah, batas
tanah,kepemilikannya dll)
3.2
3.
9. Pelatihan mengenai
keahlian tertentu
(jawaban no.1 diatas adalah
informasi yang paling sering diminta
oleh masyarakat, dst...)
10. Pelayanan keuangan
11. Trauma/konseling
psikologi
12. Lain-lain, sebutkan_____
_____
Sebagai Kepala Desa, seberapa sering Bapak /Ibu
menyampaikan informasi-informasi di bawah ini kepada
masyarakat?
Tidak
Pernah
Jarang
1
2
kadangsering
kadang
3
4
selalu
5
1. Program Tsunami
2. MoU Perdamaian
3. Program reintegrasi pasca konflik
4. Penggunaan anggaran desa
5. Program pembangunan
6. Lain-lain, sebutkan
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
.
............................................................................................
109
LAMPIRAN
3.3
Sebagai Kepala Desa, apakah Bapak/Ibu merasa telah
memperoleh cukup informasi tentang hal-hal berikut? (ya
atau tidak)
1.
Ya
Tidak
2.
Ya
Tidak
3. Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU-PA) 3.
Ya
Tidak
4. Pembentukan partai politik baru
4.
Ya
Tidak
5. Peran AMM (Aceh Monitoring Mission)
5.
Ya
Tidak
6. Pembentukan komisi pencari fakta dan rekonsiliasi
6.
Ya
Tidak
7. Resolusi Masalah Konflik
7.
Ya
Tidak
Dari mana Anda memperoleh informasi tentang perjanjian
perdamaian RI-GAM (MoU)? (Urutkan 3 sumber informasi
utama)
(jawaban no.1 di atas adalah
sumber informasi yang paling sering
diterima, dst...)
1. Penarikan pasukan dan pemusnahan senjata
2. Dana reintegrasi bagi saudara-saudara kita yang baru
turun gunung (eks GAM) dan korban konflik?
3.4
1. TV
5. Dari AMM
1.
2. Radio
6. Dari GAM/KPA
2.
3. Surat Kabar
7. Dari Pejabat Daerah
4. Poster dan Selebaran
8. Lainnya... (Sebutkan)
4.
Kebutuhan Desa
4.1
Dalam pandangan Bapak/Ibu, kebutuhan apa yang
merupakan prioritas utama di desa ini?
(jawaban dari mulai yang paling
penting/ ranking 1 sampai 3)
1. Jalan
8. Perumahan
1.
2. Air dan sanitasi
9. Perekonomian
3. Kesempatan kerja
10. Pelayanan konseling
psikologi/ trauma
4. Pendidikan
5. Listrik
6. Kesehatan dan Gizi
7. Keamanan dan
keteraturan
110
3.
2.
3.
11. Kegiatan Keagamaan
12. Informasi Umum (koran,
radio,TV dll)
13. Lain-lain
sebutkan............................
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
5.
Dinamika Sosial
5.1
A. Pendidikan/sekolah
a. Apakah di desa ini ada lembaga pendidikan dasar (SD/
MIN/Pesantren)?
b. Apakah ada warga desa yang sulit untuk bersekolah?
Berikan tanda
yang dipilih
Ya
untuk jawaban
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
B. Sarana kesehatan/puskesmas/pustu/polindes
a. Apakah di desa ini terdapat puskesmas/pustu/polindes?
b. Apakah ada warga desa yang sulit mendapatkan
layanan di puskesmas/pustu/polindes?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
C. Air Bersih
a. Apakah di desa ini terdapat sarana/fasilitas air bersih?
(PAM/mata air/sumur bor/sumur cincin)
b. Apakah ada warga yang sulit mendapatkan air bersih?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
D. Partisipasi dalam pertemuan desa
a. Apakah ada orang dewasa di desa ini yang tidak bisa
/sulit untuk mengikuti pertemuan-pertemuan desa?
b. Jika ya, berapa orang?
Ya
Tidak (lanjutkan
ke no. E)
1. Hanya beberapa orang
2. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
3. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
111
LAMPIRAN
E. Transportasi
a. Apakah di desa ini terdapat transportasi umum?
b. Apakah ada warga yang sulit mendapatkan pelayanan
transportasi umum?
Ya
Tidak
1. Tidak ada
2. Ada, hanya beberapa orang
3. Banyak, tapi kurang dari separuh
warga desa
4. Banyak, lebih dari separuh warga
desa
F. Kegiatan sosial kampung (kenduri kampung, peringatan
maulid,kematian dll)
a. Apakah ada warga di desa ini yang tidak bisa/sulit untuk
berpartisipasi dalam kegiatan sosial?
b. Jika ya, berapa orang?
Ya
Tidak (lanjutkan ke no.
5.2)
1. Hanya Beberapa orang
2. Banyak orang, tapi kurang dari
separuh warga desa
3. Lebih dari separuh warga desa
5.2
Sebutkan 3 alasan utama kenapa warga sulit mendapatkan
pelayanan pada No. 5.1 point A – F di atas?
1. Kemiskinan
7. Korban konflik
2. Agama
8. Korban Tsunami
(jawaban no. 1 dibawah ini adalah
permasalahan utama, dst...)
3. Suku/Perbedaan bahasa/
Ras/golongan
9. Kurang ilmu pengetahuan/
pendidikan
1.
4. Pekerjaan
10. Jauh lokasinya
2.
5. Gender
11. Lain-lain, sebutkan .............
3.
6. Umur
112
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
Kegiatan/Tindakan Sosial Bersama
5.3
Jika ada masalah yang terjadi dan mempengaruhi seluruh
desa, misalnya tidak adanya air bersih, atau saluran air bersih
rusak, biasanya bagaimana cara menyelesaikannya? (sebutkan
3 hal yang umumnya dilakukan)
1.
Keluarga, tetangga dan kawan-kawan berkumpul
bersama untuk mencari pemecahan masalah
2.
Lembaga Masyarakat di desa mencari pemecahan
masalah
3.
Kepala Desa yang mencari jalan keluar
4.
Musyawarah desa untuk memecahkan masalah
5.
Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan)
Kecamatan mendiskusikan pemecahan masalah
6.
Pemerintahan kabupaten yang menangani
7.
Pemerintahan kecamatan yang menangani
8.
Mekanisme PPK membantu penyelesaian masalah
9.
Masalah dibiarkan saja tidak terpecahkan
1.
2.
3.
10. Lain-lain, sebutkan...........
11. Tidak tahu
Partisipasi
5.4
a. Selama satu tahun terakhir, ada berapa kali musyawarah
desa dilakukan di desa ini?
Kali
b. Siapa yang umumnya ikut datang/berpartisipasi dalam
musyawarah desa tersebut?
1. Perempuan dan laki-laki, dalam jumlah yang hampir
seimbang
2. Hanya laki-laki saja
3. Kebanyakan laki-laki, dan beberapa orang perempuan
4. Kebanyakan perempuan, dengan beberapa orang laki-laki
5. Hanya perempuan saja
Tingkat Kepercayaan dan Kebersamaan/Solidaritas Sosial di Masyarakat
5.5
Di desa ini, bagaimana Bapak/Ibu menilai tingkat rasa saling
percaya antara saudara-saudara yang baru turun dari gunung
dengan anggota masyarakat yang lain?
1 Sangat rendah
2 Rendah
3 Tidak rendah dan juga tidak tinggi
4 Tinggi
5 Sangat tinggi
6 Tidak tahu
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
113
LAMPIRAN
5.6
a. Secara keseluruhan, bagaimana menurut Bapak/Ibu
kebersamaan / solidaritas sosial di desa ini?
1 Sangat rendah
2 Rendah
3 Tidak rendah dan juga tidak tinggi
4 Tinggi
5 Sangat tinggi
6 Tidak tahu
b. Dibandingkan dengan sebelum penandatanganan MoU,
menurut Bapak/Ibu kebersamaan/solidaritas sosial di desa
ini bisa dikatakan..
1. Berkurang banyak
2. Berkurang sedikit
3. Sama saja
4. Sedikit membaik
5. Sangat membaik
5.7
Secara umum, apakah Bapak/Ibu setuju atau
tidak setuju dengan pernyataan berikut ini?
Sangat
Tidak
Setuju
Tidak
Setuju
Netral
Setuju
Sangat
Setuju
1
2
3
4
5
a. Kebanyakan orang di desa ini dapat dipercaya
b. Di desa ini masyarakat saling menolong dan
bekerjasama tanpa mengharap imbalan/
pamrih...... tidak ada kemungkinan orang
mengambil keuntungan dari anda
c. Kebanyakan orang di desa ini akan bersedia
membantu jika Bapak/Ibu membutuhkan
bantuan.
d. Di desa ini, orang pada umumnya saling
percaya dalam hal pinjam-meminjamkan
uang
114
SURVEI DESA ACEH 2006
.
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
Pertanyaan untuk Kepala Sekolah (SD)
Tanggal/Bulan/Tahun
/
/2 0 0 6
Nama Fasilitator Desa/Petugas Survei yang mengisi formulir ini:
Nama Desa
: ______________________________________
Kode:
Nama Kecamatan
: ______________________________________
Kode:
Nama Kabupaten
: ______________________________________
Kode:
Nama Responden:
________________________________________________________
Nama Sekolah
1. Laki-laki
Jenis Sekolah:
________________________________________________________
Katagori Sekolah
1. SD umum (Negeri/Swasta)
Nomor Identifikasi Sekolah
1. Sekolah korban tsunami
masalah
2. Perempuan
2. MIN
3. Pesantren
2. Sekolah korban konflik 3. Tidak ada
Nomor Identifikasi Sekolah:
1
Pendidikan
1.1
Ada berapa banyak murid sekolah ini pada tahun
ajaran 2005-2006?
Laki-laki
Perempuan
Total murid
1.2
Ada berapa banyak guru di sekolah ini pada tahun
ajaran 2005-2006?
guru PNS
guru Honor
guru Kontrak
guru Bakti
Total Guru
1.3
Berapa jumlah siswa yang terdaftar namun akhirnya
berhenti (putus sekolah) di tengah jalan pada tahun
ajaran yang lalu (2004-2005)?
Laki-laki
Perempuan
Total murid
1.4
SURVEI DESA ACEH 2006
Apa saja 3 prioritas utama yang perlu dilakukan 1.
untuk memperbaiki pendidikan di sekolah ini?
2.
1. Lebih banyak guru
3.
2. Guru yang lebih berpengalaman dan bagus
3. Ruang kelas yang lebih baik
4. Mobiler sekolah
5. Buku-buku sekolah
6. Lebih banyak informasi untuk orang tua murid
7. Pengurangan biaya yang harus dibayar orang tua
8. Pagar Sekolah
9. Toilet
10. Lain-lain, sebutkan___________
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
115
116
II.1.2
II.1.1
No.
SURVEI DESA ACEH 2006
meter
unit
Drainase/saluran
Tambatan perahu
unit
unit
unit
Gelagar kayu
Gantung
unit
Gelagar besi
Beton
Jembatan
unit
meter
meter
Jalan kebun (tanah)
Tembok Penahan Tanah
meter
Jalan kebun (diperkeras)
Gorong-gorong
meter
meter
Lingkungan (tanah)
Poros dusun (tanah)
Lingkungan (diperkeras)
meter
meter
Poros dusun (diperkeras)
meter
meter
Poros desa (tanah)
meter
Satuan
Poros desa (diperkeras)
Jalan kabupaten
Jalan
Jenis Prasarana
Volume
Tidak
rusak
Perlu
perbaikan
ringan
II
Perlu
perbaikan
berat
III
Perlu
diganti
IV
Ter
bengkalai
V
Bencana
II
Kurang
dipelihara
III
Jumlah menurut alasan rusak
Konflik
I
: ……………….
: ……………….
: ……………….
Belum
diperbaiki
I
Sedang
diperbaiki
II
Sudah selesai
diperbaiki
III
Jumlah menurut Status Perbaikan/ Rekonstruksi
Halaman
Desa
Jumlah menurut tingkat kerusakan
Tanggal
Kecamatan
I
Tim
Kabupaten
REKAPITULASI STATUS KERUSAKAN PRASARANA DESA
LAMPIRAN 1.2 Formulir Survei Prasarana
LAMPIRAN
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
II.1.6
II.1.5
II.1.4
II.1.3
No.
unit
meter
unit
unit
unit
Perpipaan
Perlindungan mata air
Sistim penjernihan
Penampungan air hujan
MCK
unit
unit
unit
Turbin air (micro-hydro)
PLN
Jaringan
unit
unit
Bangunan irigasi
Saluran
meter
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
Kantor desa
Sekolah Dasar/ Madrasah
SMP/Madrasah Tsanawiyah
SMU/Madrasah Aliyah
TK/TPA
Puskesmas pembantu
Posyandu
Polindes
Tempat ibadah
Fasilitas desa
meter
Bendungan
Irigasi
unit
Genset
Listrik
unit
unit
Hidran umum
unit
Sumur pompa mesin
unit
Sumur pompa tangan
Satuan
Sumur gali
Air Bersih
Jenis Prasarana
Volume
Tidak
rusak
I
Perlu
perbaikan
ringan
II
Perlu
perbaikan
berat
III
Perlu
diganti
IV
Jumlah menurut tingkat kerusakan
Ter
bengkalai
V
Bencana
II
Kurang
dipelihara
III
Jumlah menurut alasan rusak
Konflik
I
Belum
diperbaiki
I
Sedang
diperbaiki
II
Sudah selesai
diperbaiki
III
Jumlah menurut Status Perbaikan/ Rekonstruksi
LAMPIRAN
117
118
SURVEI DESA ACEH 2006
II.1.9
II.1.8
II.1.7
No.
unit
unit
unit
unit
unit
unit
unit
Penggilingan padi
Pabrik lain
Bengkel
Gudang beras
Gudang
Toko
KK
Semi permanen
Barak (sementara)
Ha
Ha
Ha
Segala jenis sawah
Segala jenis kebun
Tambak
Lahan produktif
unit
unit
Permanen
Pemukiman
unit
Tempat pelelangan ikan
unit
Satuan
Pasar desa
Fasilitas ekonomi
Meunasah / Balai Desa
Jenis Prasarana
Volume
Tidak
rusak
I
Perlu
perbaikan
ringan
II
Perlu
perbaikan
berat
III
Perlu
diganti
IV
Jumlah menurut tingkat kerusakan
Ter
bengkalai
V
Bencana
II
Kurang
dipelihara
III
Jumlah menurut alasan rusak
Konflik
I
Belum
diperbaiki
I
Sedang
diperbaiki
II
Sudah selesai
diperbaiki
III
Jumlah menurut Status Perbaikan/ Rekonstruksi
LAMPIRAN
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
LAMPIRAN 2
Data Prasarana
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
119
120
meter
meter
meter
Poros dusun (tanah)
Jalan lingkungan (diperkeras)
Jalan lingkungan (tanah)
meter
unit
Tembok penahan tanah
Drainase/saluran
Tambatan perahu
SURVEI DESA ACEH 2006
unit
unit
Gelagar besi
Gelagar kayu
Gantung
3.082
unit
unit
unit
Sistem penjernihan
Penampungan air hujan
unit
unit
unit
meter
Genset
Turbin air (micro-hydro)
PLN
Jaringan
Listrik
MCK
164
unit
Perlindungan mata air
1.216
361
101
375
69
209
531
230
unit
612
meter
unit
Sumur pompa mesin
231
2.043
Perpipaan
unit
Sumur pompa tangan
375
1.224
728
2.584
174
1.839
1.277
2.920
1.004
404
734
575
1.966
2.277
1.830
3.415
2.232
Jumlah
Desa
Hidran umum
unit
Sumur gali
Air Bersih dan Sanitasi
unit
unit
Beton
Jembatan
unit
meter
Gorong-gorong
meter
meter
Poros dusun (diperkeras)
meter
meter
Poros desa (tanah)
Jalan kebun (tanah)
meter
Jalan kebun (diperkeras)
meter
Poros desa (diperkeras)
Unit
Jalan kabupaten
Transportasi
Jenis Prasaran
608.868
512
126
1.606
24.159
2.055
363
4.357
1.013.796
965
8.483
2.206
155.355
544
4.369
1.734
8.562
806
3.985.422
1.097.972
26.638
1.736.992
717.233
883.182
648.601
2.884.586
3.296.009
2.980.274
6.107.918
3.862.088
Volume
149.827
267
76
17
4.475
278
40
3.402
318.121
268
3.330
715
57.890
69
516
442
3.580
39
687.428
257.266
8.062
295.376
141.240
154.546
139.129
538.201
913.658
576.560
1.782.414
1.560.386
Tidak Rusak
100.305
56
7
314
3.957
565
51
587
142.881
184
1.348
268
34.473
125
703
379
1.708
135
676.697
130.282
3.870
417.638
141.310
243.374
162.391
689.888
858.616
726.365
1.635.148
780.893
Rusak
Ringan
146.058
77
21
427
6.143
459
95
241
269.999
325
2.109
854
37.631
198
1.448
547
1.911
268
1.864.103
426.854
6.634
841.416
346.771
360.464
285.502
1.310.886
1.257.623
1.371.231
2.279.606
1.281.868
Rusak Berat
199.012
100
21
810
5.480
625
155
82
224.546
164
1.627
350
23.536
141
1.585
339
1.185
291
517.938
241.183
7.541
88.564
42.211
43.550
36.352
154.655
147.178
128.731
231.371
135.271
13.666
12
1
38
4.104
128
22
45
58.249
24
69
19
1.825
11
117
28
178
73
238.634
42.387
531
93.998
45.701
81.248
25.227
190.956
118.934
177.387
179.379
103.670
Perlu
Terbengkalai
Perbaikan
131.906
38
14
377
1.455
188
7
34
83.268
35
412
52
6.520
100
817
349
823
169
357.449
82.513
3.332
355.775
146.430
165.120
98.385
539.872
491.307
569.219
934.372
429.934
Konflik
217.646
124
18
431
7.330
766
190
194
265.544
296
2.451
566
53.305
209
1.924
578
2.773
316
1.363.640
508.953
8.623
440.669
217.026
222.250
184.389
737.528
888.176
757.472
1.643.920
981.753
Bencana
109.489
83
18
781
10.899
823
126
727
346.863
366
2.290
873
37.640
166
1.112
365
1.386
282
1.576.283
249.240
6.621
645.172
212.537
341.266
226.698
1.068.985
1.002.868
1.077.023
1.747.212
890.015
433.991
236
46
1.217
18.450
1.527
316
938
624.661
621
4.849
1.365
93.009
458
3.755
1.188
4.719
723
3.211.994
814.238
18.156
1.396.096
550.006
720.546
496.639
2.295.848
2.301.047
2.343.888
4.122.631
2.097.367
25.050
9
4
372
1.234
250
7
17
71.014
76
304
126
4.456
17
98
104
263
44
85.378
26.468
420
45.520
25.987
8.090
12.833
50.537
81.304
59.826
202.873
204.335
Kurang
Belum
Dalam
Pemeliharaan Diperbaiki Perbaikan
16.122
9
3
9
301
19
3
58
38.005
63
326
75
7.549
12
66
64
543
7
141.219
27.758
1.524
21.398
14.396
10.912
21.935
55.442
160.749
59.820
264.907
214.541
Sudah
Diperbaiki
LAMPIRAN 2.1: Kerusakan Prasarana menurut Jenis Prasarana, Tingkat Kerusakan, Penyebab Kerusakan,
dan Status Perbaikan
LAMPIRAN
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
SURVEI DESA ACEH 2006
meter
unit
unit
unit
unit
Posyandu
Polindesa
Tempat ibadah
Meunasah/balai desa
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
unit
unit
unit
unit
unit
unit
Tempat pelelangan ikan
Penggilingan padi
Pabrik lain
Bengkel
Gudang beras
Gudang
Toko/warung
unit
KK
Rumah semi-permanen
Barak sementara
Ha
Segala jenis kebun
Tambak ikan atau udang
692
3.213
3.412
1.062
3.740
4.220
1.476
572
154
748
448
1.405
268
549
3.901
2.703
1.658
769
698
2.250
298
488
2.060
103.033
761.499
422.434
64.072
214.604
344.791
21.554
1.790
341
1.875
2.745
2.146
395
3.136
6.286
4.425
1.811
866
810
4.099
416
707
3.024
2.582
5.304.949
3.077
1.025
Volume
25.009
293.878
214.212
26.099
101.874
160.904
10.984
665
157
812
898
794
72
959
1.262
1.115
386
197
289
794
143
278
987
564
1.173.264
750
167
Tidak Rusak
Catatan: Total jumlah desa = 5.229; total jumlah kecamatan = 218
Ha
Ha
Segala jenis sawah
Lahan Produktif
unit
Rumah permanen
Pemukiman
unit
unit
Pasar desa
Fasilitas Ekonomi
unit
SMU/Madrasah Aliyah
unit
unit
SMP/Madrasah Tsanawiyah
Puskesmas pembantu
unit
SD/Madrasah
TK/TPA
unit
unit
Kantor desa
Fasilitas Desa
2.356
2.843
unit
Saluran
802
unit
605
Jumlah
Desa
Bangunan irigasi
Unit
Bendungan
Irigasi
Jenis Prasaran
14.263
125.007
66.859
12.369
52.420
79.365
5.090
457
76
567
778
638
61
1.088
2.171
1.324
436
182
212
1.194
130
213
940
628
1.086.206
463
199
Rusak
Ringan
43.000
181.282
70.917
12.022
35.028
56.350
3.203
289
47
273
668
402
118
596
1.840
1.339
420
181
153
1.125
73
123
618
575
2.236.358
1.344
415
Rusak Berat
9.586
26.817
11.237
12.533
20.431
41.521
1.643
273
56
168
238
220
125
382
789
496
489
269
124
854
62
75
416
716
546.828
331
188
11.174
134.515
59.210
1.049
4.851
6.652
634
106
5
55
163
92
19
111
224
151
80
37
32
132
8
18
63
99
257.044
189
57
Perlu
Terbengkalai
Perbaikan
27.442
177.540
41.049
9.401
23.968
41.633
2.820
246
44
247
406
308
52
581
961
521
392
174
120
718
61
90
547
500
476.900
274
112
Konflik
33.626
137.816
78.692
12.085
53.122
78.541
3.541
393
62
285
612
381
151
727
1.620
1.250
333
200
194
919
80
147
733
642
1.659.495
1.052
460
Bencana
16.956
152.266
88.481
16.487
35.640
63.714
4.209
486
78
531
829
663
120
869
2.443
1.539
700
295
207
1.668
132
192
757
876
1.990.041
1.001
287
68.072
417.428
196.203
35.605
105.182
166.333
10.005
1.037
175
1.014
1.691
1.286
310
1.992
4.381
2.751
1.292
614
419
2.901
227
356
1.728
1.835
4.015.946
2.275
838
9.952
50.193
12.019
2.368
7.548
17.555
565
88
9
49
156
66
13
185
643
559
133
55
102
404
46
73
309
183
110.490
52
21
Kurang
Belum
Dalam
Pemeliharaan Diperbaiki Perbaikan
3.960
46.464
30.915
1.949
10.828
20.545
201
22
1
21
42
10
4
19
230
216
74
44
38
151
13
14
82
109
26.258
3
8
Sudah
Diperbaiki
LAMPIRAN
121
122
37,6%
Poros dusun (tanah)
SURVEI DESA ACEH 2006
55,8%
24,4%
35,2%
3,3%
Jalan kebun (tanah)
Gorong-gorong
Tembok penahan tanah
Drainase/saluran
Tambatan perahu
23,4%
7,2%
Gelagar besi
Gelagar kayu
Gantung
4,4%
11,7%
4,4%
10,2%
4,0%
1,3%
3,1%
58,9%
Sumur pompa tangan
Sumur pompa mesin
Hidran umum
Perpipaan
Perlindungan mata air
Sistem penjernihan
Penampungan air hujan
MCK
7,2%
1,9%
6,9%
23,3%
Genset
Turbin air (micro-hydro)
PLN
Jaringan
Listrik
39,1%
Sumur gali
Air Bersih dan Sanitasi
49,4%
13,9%
Beton
Jembatan
7,7%
19,2%
Jalan kebun (diperkeras)
11,0%
43,5%
Poros dusun (diperkeras)
14,0%
35,0%
Poros desa (tanah)
Jalan lingkungan (tanah)
65,3%
Poros desa (diperkeras)
Jalan lingkungan (diperkeras)
42,7%
Jalan kabupaten
Transportasi
Tipe
% Desa
yang
melapor
24,6%
52,1%
60,3%
1,1%
18,5%
13,5%
11,0%
78,1%
31,4%
27,8%
39,3%
32,4%
37,3%
12,7%
11,8%
25,5%
41,8%
4,8%
17,2%
23,4%
30,3%
17,0%
19,7%
17,5%
21,5%
18,7%
27,7%
19,3%
29,2%
40,4%
Tidak
rusak
75,4%
47,9%
39,7%
98,9%
81,5%
86,5%
89,0%
21,9%
68,6%
72,2%
60,7%
67,6%
62,7%
87,3%
88,2%
74,5%
58,2%
95,2%
82,7%
76,6%
69,7%
83,0%
80,3%
82,5%
78,5%
81,3%
72,3%
80,7%
70,8%
59,6%
Dengan
kerasakan
16,5%
10,9%
5,6%
19,6%
16,4%
27,5%
14,0%
13,5%
14,1%
19,1%
15,9%
12,1%
22,2%
23,0%
16,1%
21,9%
19,9%
16,7%
17,0%
11,9%
14,5%
24,0%
19,7%
27,6%
25,0%
23,9%
26,1%
24,4%
26,8%
20,2%
Rusak
ringan
24,0%
15,0%
16,7%
26,6%
25,4%
22,3%
26,2%
5,5%
26,6%
33,7%
24,9%
38,7%
24,2%
36,4%
33,1%
31,5%
22,3%
33,3%
46,8%
38,9%
24,9%
48,4%
48,3%
40,8%
44,0%
45,4%
38,2%
46,0%
37,3%
33,2%
Rusak
berat
Persentasi volume
32,7%
19,5%
16,7%
50,4%
22,7%
30,4%
42,7%
1,9%
22,1%
17,0%
19,2%
15,9%
15,1%
25,9%
36,3%
19,5%
13,8%
36,1%
13,0%
22,0%
28,3%
5,1%
5,9%
4,9%
5,6%
5,4%
4,5%
4,3%
3,8%
3,5%
Perlu
perbaikan
2,2%
2,3%
0,8%
2,4%
17,0%
6,2%
6,1%
1,0%
5,7%
2,5%
0,8%
0,9%
1,2%
2,0%
2,7%
1,6%
2,1%
9,1%
6,0%
3,9%
2,0%
5,4%
6,4%
9,2%
3,9%
6,6%
3,6%
6,0%
2,9%
2,7%
Terbengkalai
21,7%
7,4%
11,1%
23,5%
6,0%
9,1%
1,9%
0,8%
8,2%
3,6%
4,9%
2,4%
4,2%
18,4%
18,7%
20,1%
9,6%
21,0%
9,0%
7,5%
12,5%
20,5%
20,4%
18,7%
15,2%
18,7%
14,9%
19,1%
15,3%
11,1%
Konflik
35,7%
24,2%
14,3%
26,8%
30,3%
37,3%
52,3%
4,5%
26,2%
30,7%
28,9%
25,7%
34,3%
38,4%
44,0%
33,3%
32,4%
39,2%
34,2%
46,4%
32,4%
25,4%
30,3%
25,2%
28,4%
25,6%
26,9%
25,4%
26,9%
25,4%
Bencana
18,0%
16,2%
14,3%
48,6%
45,1%
40,0%
34,7%
16,7%
34,2%
37,9%
27,0%
39,6%
24,2%
30,5%
25,5%
21,0%
16,2%
35,0%
39,6%
22,7%
24,9%
37,1%
29,6%
38,6%
35,0%
37,1%
30,4%
36,1%
28,6%
23,0%
Kurang
pemeliharaan
Persentasi volumen
91,3%
92,9%
86,8%
76,2%
92,3%
85,0%
96,9%
92,6%
85,1%
81,7%
88,5%
87,2%
88,6%
94,0%
95,8%
87,6%
85,4%
93,4%
93,4%
93,8%
90,3%
95,4%
93,2%
97,4%
93,5%
95,6%
90,5%
95,1%
89,8%
83,4%
Pebaikan
belum
dilakukan
5,3%
3,5%
7,5%
23,3%
6,2%
13,9%
2,1%
1,7%
9,7%
10,0%
5,5%
8,0%
4,2%
3,5%
2,5%
7,7%
4,8%
5,7%
2,5%
3,0%
2,1%
3,1%
4,4%
1,1%
2,4%
2,1%
3,2%
2,4%
4,4%
8,1%
Sedang
diperbaiki
3,4%
3,5%
5,7%
0,6%
1,5%
1,1%
0,9%
5,7%
5,2%
8,3%
5,9%
4,8%
7,2%
2,5%
1,7%
4,7%
9,8%
0,9%
4,1%
3,2%
7,6%
1,5%
2,4%
1,5%
4,1%
2,3%
6,3%
2,4%
5,8%
8,5%
Sudah
selesai diperbaiki
8,7%
7,1%
13,2%
23,8%
7,7%
15,0%
3,1%
7,4%
14,9%
18,3%
11,5%
12,8%
11,4%
6,0%
4,2%
12,4%
14,6%
6,6%
6,6%
6,2%
9,7%
4,6%
6,8%
2,6%
6,5%
4,4%
9,5%
4,9%
10,2%
16,6%
Sedang
dalam
perbaiki
+ telah
selesai diperbaiki
Persentasi yang rusak dan yang diperbaiki
LAMPIRAN 2.2: Persentase Prasarana menurut Tingkat Kerusakan, Penyebab Kerusakan, dan Status
Perbaikan
LAMPIRAN
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
SURVEI DESA ACEH 2006
15,3%
54,4%
Bangunan irigasi
Saluran
39,4%
9,3%
5,7%
43,0%
13,3%
14,7%
31,7%
51,7%
74,6%
SD/Madrasah
SMP/Madrasah Tsanawiyah
SMU/Madrasah Aliyah
TK/TPA
Puskesmas pembantu
Posyandu
Polindesa
Tempat ibadah
Meunasah/balai desa
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
5,1%
26,9%
8,6%
14,3%
2,9%
10,9%
28,2%
Tempat pelelangan ikan
Penggilingan padi
Pabrik lain
Bengkel
Gudang beras
Gudang
Toko/warung
20,3%
Rumah semi-permanen
Barak sementara
65,3%
61,4%
13,2%
Segala jenis sawah
Segala jenis kebun
Tambak ikan atau udang
Lahan Produktif
80,7%
71,5%
Rumah permanen
Pemukiman
10,5%
Pasar desa
Fasilitas Ekonomi
45,1%
Kantor desa
Fasilitas Desa
11,6%
Bendungan
Irigasi
Tipe
% Desa
yang
melapor
24,3%
38,6%
50,7%
40,7%
47,5%
46,7%
51,0%
37,2%
46,0%
43,3%
32,7%
37,0%
18,2%
30,6%
20,1%
25,2%
21,3%
22,7%
35,7%
19,4%
34,4%
39,3%
32,6%
21,8%
22,1%
24,4%
16,3%
Tidak
rusak
75,7%
61,4%
49,3%
59,3%
52,5%
53,3%
49,0%
62,8%
54,0%
56,7%
67,3%
63,0%
81,8%
69,4%
79,9%
74,8%
78,7%
77,3%
64,3%
80,6%
65,6%
60,7%
67,4%
78,2%
77,8%
75,6%
83,8%
Dengan
kerasakan
13,8%
16,4%
15,8%
19,3%
24,4%
23,0%
23,6%
25,5%
22,3%
30,2%
28,3%
29,7%
15,4%
34,7%
34,5%
29,9%
24,1%
21,0%
26,2%
29,1%
31,3%
30,1%
31,1%
24,3%
20,5%
15,0%
19,4%
Rusak
ringan
41,7%
23,8%
16,8%
18,8%
16,3%
16,3%
14,9%
16,1%
13,8%
14,6%
24,3%
18,7%
29,9%
19,0%
29,3%
30,3%
23,2%
20,9%
18,9%
27,4%
17,5%
17,4%
20,4%
22,3%
42,2%
43,7%
40,5%
Rusak
berat
Persentasi volume
9,3%
3,5%
2,7%
19,6%
9,5%
12,0%
7,6%
15,3%
16,4%
9,0%
8,7%
10,3%
31,6%
12,2%
12,6%
11,2%
27,0%
31,1%
15,3%
20,8%
14,9%
10,6%
13,8%
27,7%
10,3%
10,8%
18,3%
Perlu
perbaikan
10,8%
17,7%
14,0%
1,6%
2,3%
1,9%
2,9%
5,9%
1,5%
2,9%
5,9%
4,3%
4,8%
3,5%
3,6%
3,4%
4,4%
4,3%
4,0%
3,2%
1,9%
2,5%
2,1%
3,8%
4,8%
6,1%
5,6%
Terbengkalai
26,6%
23,3%
9,7%
14,7%
11,2%
12,1%
13,1%
13,7%
12,9%
13,2%
14,8%
14,4%
13,2%
18,5%
15,3%
11,8%
21,6%
20,1%
14,8%
17,5%
14,7%
12,7%
18,1%
19,4%
9,0%
8,9%
10,9%
Konflik
32,6%
18,1%
18,6%
18,9%
24,8%
22,8%
16,4%
22,0%
18,2%
15,2%
22,3%
17,8%
38,2%
23,2%
25,8%
28,2%
18,4%
23,1%
24,0%
22,4%
19,2%
20,8%
24,2%
24,9%
31,3%
34,2%
44,9%
Bencana
16,5%
20,0%
20,9%
25,7%
16,6%
18,5%
19,5%
27,2%
22,9%
28,3%
30,2%
30,9%
30,4%
27,7%
38,9%
34,8%
38,7%
34,1%
25,6%
40,7%
31,7%
27,2%
25,0%
33,9%
37,5%
32,5%
28,0%
Kurang
pemeliharaan
Persentasi volumen
83,0%
81,2%
82,0%
89,2%
85,1%
81,4%
92,9%
90,4%
94,6%
93,5%
89,5%
94,4%
94,8%
90,7%
83,4%
78,0%
86,2%
86,1%
75,0%
83,9%
79,4%
80,4%
81,5%
86,3%
96,7%
97,6%
96,7%
Pebaikan
belum
dilakukan
12,1%
9,8%
5,0%
5,9%
6,1%
8,6%
5,2%
7,7%
4,9%
4,5%
8,3%
4,8%
4,0%
8,4%
12,2%
15,9%
8,9%
7,7%
18,2%
11,7%
16,1%
16,5%
14,6%
8,6%
2,7%
2,2%
2,4%
Sedang
diperbaiki
4,8%
9,0%
12,9%
4,9%
8,8%
10,0%
1,9%
1,9%
0,5%
1,9%
2,2%
0,7%
1,2%
0,9%
4,4%
6,1%
4,9%
6,2%
6,8%
4,4%
4,5%
3,2%
3,9%
5,1%
0,6%
0,1%
0,9%
Sudah
selesai diperbaiki
17,0%
18,8%
18,0%
10,8%
14,9%
18,6%
7,1%
9,6%
5,4%
6,5%
10,5%
5,6%
5,2%
9,3%
16,6%
22,0%
13,8%
13,9%
25,0%
16,1%
20,6%
19,6%
18,5%
13,7%
3,3%
2,4%
3,3%
Sedang
dalam
perbaiki
+ telah
selesai diperbaiki
Persentasi yang rusak dan yang diperbaiki
LAMPIRAN
123
LAMPIRAN
Air Bersih dan
Sanitasi
Listrik
Irigasi
Fasilitas Desa
Kegiatan
ekonomi
Perumahan
Lahan Produktif
Rata-rata
Aceh Barat
Jembatan
Rusak karena konflik
Transportasi
LAMPIRAN 2.3: Indeks Kerusakan Sektor menurut Kabupaten dan
Sumber Kerusakan
1
1
1
1
1
1
2
1
-
1,49
Aceh Barat Daya
-
-
-
-
-
-
-
-
1
0,56
Aceh Besar
-
1
-
-
1
-
-
-
1
0,74
Aceh Jaya
-
2
1
3
-
1
1
1
2
1,75
Pidie
1
1
-
-
1
1
1
-
1
1,65
Nagan Raya
1
3
-
3
-
2
1
2
3
2,11
Lhokseumawe
1
-
-
-
2
1
1
-
3
1,35
Aceh Utara
1
1
1
1
1
2
1
1
2
1,64
Aceh Selatan
1
-
1
-
1
-
3
1,56
Aceh Tenggara
-
-
-
1
1
1
-
-
0,87
Aceh Timur
4
4
1
4
2
4
4
3
3
3,63
Gayo Lues
-
2
-
1
-
1
1
5
-
1,50
Aceh Tamiang
-
-
1
-
1
-
-
-
1
0,69
Aceh Tengah
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0,46
Bener Meriah
2
3
2
3
2
3
3
2
5
3,34
Bireuen
1
1
-
-
-
1
1
1
-
1,04
Aceh Singkil
-
-
-
-
1
-
-
-
1
0,80
Simeulue
-
-
-
-
-
-
-
-
-
0,22
1
1
-
1
-
1
1
1
1
1,40
3
4
2
2
2
3
3
4
3
3,38
Propinsi
-
Rusak karena bencana alam
Aceh Barat
Aceh Barat Daya
2
3
1
1
4
2
2
2
4
2,79
Aceh Besar
3
4
2
5
2
2
2
2
2
3,17
Aceh Jaya
5
4
5
5
6
5
5
6
4
5,46
Pidie
2
4
3
1
3
1
1
1
4
2,65
Nagan Raya
3
2
2
-
3
1
-
1
1
2,01
Lhokseumawe
-
2
-
-
-
1
-
2
1
1,11
Aceh Utara
2
3
2
-
2
1
2
2
2
2,35
Aceh Selatan
3
4
2
1
4
2
1
2
2
3,00
Aceh Tenggara
3
4
3
-
4
1
1
1
2
2,67
Aceh Timur
1
1
1
-
3
-
-
-
1
1,47
Gayo Lues
1
3
-
3
4
1
3
-
5
2,75
Aceh Tamiang
2
3
1
1
2
1
-
-
-
1,76
Aceh Tengah
2
3
2
1
1
1
-
-
2
1,85
Bener Meriah
-
1
-
-
2
-
1
-
-
0,81
Bireuen
3
5
5
2
4
3
3
3
2
3,74
Aceh Singkil
3
3
3
1
4
3
3
4
1
3,15
Simeulue
5
5
3
2
2
5
4
5
4
4,93
3
3
3
2
3
2
2
2
2
2,77
Propinsi
124
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
LAMPIRAN 2.4: Tingkat Kerusakan dan Status Perbaikan Prasarana
Rusak Akibat Konflik dan Bencana Alam
Hanya Disebabkan oleh Konflik
Tingkat Kerusakan
Tipe
Unit
Jumlah
yang
rusak
Ringan
261.034
24,5%
Berat
Status Perbaikan Pada Saat ini
Perlu
Diganti
Terbengkalai
5,8%
7,2%
Dalam
Perbaikan
Telah
Selesai
Diperbaiki
Persentasi yang
masih
dalam
perbaikan
247.984
13.050
13.620
9,7%
6,2%
Belum
Diperbaiki
Transportasi
Jalan kabupaten
meter
62,5%
Poros desa (diperkeras)
meter
622.493
26,3%
64,5%
6,3%
2,9%
606.550
15.943
24.155
Poros desa (tanah)
meter
406.775
25,8%
61,7%
5,2%
7,3%
394.675
12.100
12.090
5,8%
Poros dusun (diperkeras)
meter
366.239
26,5%
66,4%
5,0%
2,1%
355.419
10.820
8.180
5,1%
Poros dusun (tanah)
meter
360.336
15,8%
71,3%
4,1%
8,8%
355.906
4.430
6.730
3,0%
Jalan lingkungan (diperkeras)
meter
99.650
17,8%
68,2%
3,4%
10,5%
97.337
2.313
5.475
7,4%
Jalan lingkungan (tanah)
meter
126.710
8,5%
72,9%
9,0%
9,5%
126.710
0
2.500
1,9%
Jalan kebun (diperkeras)
meter
88.875
8,8%
64,7%
2,5%
24,1%
88.475
400
2.600
3,3%
Jalan kebun (tanah)
meter
251.048
17,4%
71,5%
5,5%
5,6%
246.148
4.900
2.200
2,8%
Gorong-gorong
unit
39.293
7,6%
86,1%
4,6%
1,7%
39.234
59
199
0,7%
Tembok penahan tanah
meter
49.324
16,9%
60,0%
16,2%
6,9%
48.902
422
350
1,6%
Drainase/saluran
meter
213.056
11,0%
56,6%
22,8%
9,6%
210.226
2.830
8.211
5,0%
Tambatan perahu
unit
6.037
3,4%
57,9%
22,1%
16,6%
6.009
28
0
0,5%
12,3%
Jembatan
Beton
unit
549
39,3%
33,7%
23,1%
3,8%
535
14
61
Gelagar besi
unit
355
24,2%
47,2%
26,6%
2,0%
333
22
12
9,3%
Gelagar kayu
unit
538
7,4%
39,6%
50,9%
2,0%
535
3
4
1,3%
Gantung
unit
171
24,6%
42,7%
31,0%
1,8%
166
5
0
2,9%
Sumur gali
unit
3.474
20,6%
39,6%
39,1%
0,6%
3.402
72
6
2,2%
Sumur pompa tangan
unit
306
22,5%
45,4%
32,0%
0,0%
298
8
0
2,6%
Sumur pompa mesin
unit
309
12,6%
15,5%
70,6%
1,3%
307
2
0
0,6%
Air Bersih dan Sanitasi
Hidran umum
87
9,2%
51,7%
37,9%
1,1%
86
1
0
1,1%
meter
59.022
15,6%
36,5%
42,3%
5,7%
58.982
40
3.248
5,3%
Perlindungan mata air
unit
2.032
0,2%
1,1%
98,6%
0,0%
2.032
0
2
0,1%
Sistem penjernihan
unit
4
0,0%
0,0%
100,0%
0,0%
4
0
0
0,0%
Penampungan air hujan
unit
160
54,4%
7,5%
36,3%
1,9%
80
80
0
50,0%
MCK
unit
638
12,9%
44,5%
31,7%
11,0%
633
5
0
0,8%
Genset
unit
309
9,1%
33,3%
53,4%
4,2%
293
16
0
5,2%
Turbin air (micro-hydro)
unit
27
11,1%
33,3%
48,1%
7,4%
27
0
3
10,0%
Perpipaan
unit
Listrik
PLN
unit
Jaringan
SURVEI DESA ACEH 2006
meter
34
23,5%
14,7%
47,1%
14,7%
34
0
0
0,0%
95.374
15,0%
38,6%
42,5%
3,9%
95.171
203
1.462
1,7%
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
125
LAMPIRAN
Hanya Disebabkan oleh Konflik
Tingkat Kerusakan
Tipe
Unit
Jumlah
yang
rusak
Ringan
Berat
Perlu
Diganti
Terbengkalai
Status Perbaikan Pada Saat ini
PersenTelah
tasi
Belum
Dalam
Seyang
DiperPerbailesai
masih
baiki
kan
Diperdalam
baiki
perbaikan
Irigasi
Bendungan
unit
90
8,9%
54,4%
30,0%
6,7%
87
3
0
3,3%
Bangunan irigasi
unit
219
7,8%
77,2%
9,6%
5,5%
218
1
0
0,5%
295.468
24,4%
54,3%
12,1%
9,1%
283.247
12.221
0
4,1%
Saluran
meter
Fasilitas Desa
Kantor desa
unit
424
18,6%
31,8%
45,5%
4,0%
403
21
0
5,0%
SD/Madrasah
unit
520
37,7%
33,7%
25,4%
3,3%
457
63
1
12,3%
SMP/Madrasah Tsanawiyah
unit
120
37,5%
40,0%
18,3%
4,2%
99
21
0
17,5%
SMU/Madrasah Aliyah
unit
61
45,9%
26,2%
21,3%
6,6%
57
4
0
6,6%
TK/TPA
unit
561
26,6%
39,4%
30,7%
3,4%
524
37
4
7,3%
Puskesmas pembantu
unit
135
22,2%
37,8%
34,1%
5,9%
121
14
3
12,3%
Posyandu
unit
165
18,8%
35,2%
40,6%
5,5%
155
10
4
8,3%
Polindesa
unit
372
16,4%
29,3%
48,9%
5,4%
355
17
4
5,6%
Tempat ibadah
unit
430
27,0%
48,4%
21,4%
3,3%
383
47
10
13,0%
Meunasah/balai desa
unit
820
36,5%
42,0%
17,2%
4,4%
755
65
6
8,6%
9,8%
Fasilitas Ekonomi
Pasar desa
unit
371
28,0%
38,5%
29,1%
4,3%
340
31
6
Tempat pelelangan ikan
unit
114
12,3%
36,0%
49,1%
2,6%
114
0
0
0,0%
Penggilingan padi
unit
251
30,7%
45,0%
18,3%
6,0%
242
9
1
4,0%
Pabrik lain
unit
266
13,9%
71,1%
9,8%
5,3%
263
3
0
1,1%
Bengkel
unit
206
35,4%
36,4%
22,8%
5,3%
182
24
0
11,7%
Gudang beras
unit
56
21,4%
42,9%
33,9%
1,8%
54
2
0
3,6%
Gudang
unit
210
23,8%
29,0%
41,4%
5,7%
199
11
0
5,2%
Toko/warung
unit
1.903
37,2%
36,2%
23,5%
3,2%
1.851
52
37
4,6%
Pemukiman
Rumah permanen
unit
23.129
34,3%
35,6%
23,3%
6,8%
22.597
532
1.119
6,8%
Rumah semi-permanen
unit
15.946
26,7%
36,9%
21,8%
14,7%
15.573
373
613
6,0%
Barak sementara
KK
7.036
22,6%
33,7%
43,3%
0,4%
6.789
247
498
9,9%
Segala jenis sawah
Ha
21.276
36,2%
33,8%
1,3%
28,7%
20.268
1.008
1.902
12,6%
Segala jenis kebun
Ha
108.092
19,1%
39,3%
2,9%
38,7%
86.414
21.678
1.605
21,2%
Tambak ikan atau udang
Ha
51.981
10,1%
24,4%
9,2%
56,4%
46.558
5.423
283
10,9%
Lahan Produktif
Catatan: Jumlah kasus yang hanya berhubungan dengan kerusakan karena konflik = 9.687
126
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
LAMPIRAN
Hanya Disebabkan oleh Bencana Alam
Tingkat Kerusakan
Tipe
Unit
Jumlah
yang
Rusak
Ringan
Berat
Perlu
Diganti
Status Perbaikan Pada Saat Ini
Terbengkalai
Belum
Diperbaiki
Dalam
Perbaikan
Persentasi yang
masih
dalam
perbaikan
Telah
Selesai
Diperbaiki
Transportasi
Jalan kabupaten
meter
1.046.337
28,9%
60,8%
9,0%
1,3%
653.846
98.253
39.953
17,4%
Poros desa (diperkeras)
meter
1.498.625
30,1%
62,2%
6,3%
1,4%
1.098.950
62.457
44.457
8,9%
Poros desa (tanah)
meter
627.510
23,7%
66,8%
5,3%
4,1%
491.286
17.740
16.474
6,5%
Poros dusun (diperkeras)
meter
767.459
30,9%
57,7%
9,7%
1,8%
590.503
29.234
23.089
8,1%
Poros dusun (tanah)
meter
607.644
21,7%
63,7%
11,4%
3,2%
506.571
13.612
14.902
5,3%
Jalan lingkungan (diperkeras)
meter
197.944
32,5%
51,3%
14,7%
1,4%
154.688
4.365
2.601
4,3%
Jalan lingkungan (tanah)
meter
189.651
34,8%
50,2%
12,3%
2,7%
158.013
1.973
1.350
2,1%
Jalan kebun (diperkeras)
meter
214.293
26,5%
59,8%
12,9%
0,8%
166.373
8.875
3.220
6,8%
Jalan kebun (tanah)
meter
382.024
22,2%
66,9%
8,1%
2,9%
311.865
14.980
8.816
7,1%
9,8%
Gorong-gorong
8.593
15,9%
38,1%
44,8%
1,2%
6.372
111
579
Tembok penahan tanah
meter
unit
533.926
9,6%
54,6%
33,3%
2,4%
404.856
15.432
14.611
6,9%
Drainase/saluran
meter
1.232.145
14,9%
63,1%
19,0%
2,9%
1.039.116
26.024
31.105
5,2%
Tambatan perahu
unit
286
7,8%
45,4%
38,3%
8,6%
263
6
7
4,7%
Beton
unit
3.240
26,7%
43,9%
26,4%
2,9%
2.242
168
162
12,8%
Gelagar besi
unit
617
22,1%
44,1%
30,2%
3,6%
462
64
5
13,0%
Gelagar kayu
unit
1.728
18,7%
41,6%
37,3%
2,5%
1.495
43
39
5,2%
Gantung
unit
206
21,6%
41,2%
33,0%
4,1%
185
9
5
7,0%
Sumur gali
unit
60.449
29,4%
39,6%
30,3%
0,7%
41.550
1.913
3.481
11,5%
Sumur pompa tangan
unit
639
10,7%
65,8%
23,5%
0,0%
384
46
43
18,8%
Sumur pompa mesin
unit
2.584
12,4%
41,1%
45,8%
0,6%
1.986
223
68
12,8%
Jembatan
Air Bersih dan Sanitasi
Hidran umum
Perpipaan
unit
meter
328
18,3%
57,1%
24,2%
0,4%
243
9
19
10,3%
266.636
10,2%
41,1%
40,6%
8,1%
200.791
16.996
8.800
11,4%
3,1%
Perlindungan mata air
unit
168
14,8%
55,6%
17,3%
12,3%
157
5
0
Sistem penjernihan
unit
147
15,8%
25,3%
58,9%
0,0%
140
6
0
4,1%
Penampungan air hujan
unit
728
18,2%
24,3%
57,5%
0,0%
670
38
19
7,8%
MCK
unit
6.186
19,8%
41,2%
37,9%
1,1%
4.698
479
89
10,8%
unit
384
19,7%
37,1%
42,4%
0,8%
366
14
4
4,7%
26,3%
Listrik
Genset
Turbin air (micro-hydro)
unit
19
0,0%
47,1%
47,1%
5,9%
14
3
2
PLN
unit
119
18,3%
28,7%
50,4%
2,6%
107
8
3
9,3%
223.352
13,1%
31,3%
54,1%
1,6%
184.075
23.376
2.183
12,2%
Jaringan
SURVEI DESA ACEH 2006
meter
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
127
LAMPIRAN
Hanya Disebabkan oleh Bencana Alam
Tingkat Kerusakan
Tipe
Unit
Jumlah
yang
Rusak
Ringan
Berat
Perlu
Diganti
Status Perbaikan Pada Saat Ini
Terbengkalai
Belum
Diperbaiki
Dalam
Perbaikan
Telah
Selesai
Diperbaiki
Persentasi
yang masih
dalam
perbaikan
Irigasi
Bendungan
unit
468
21,7%
50,5%
23,1%
4,7%
421
7
3
2,3%
Bangunan irigasi
unit
1.088
19,0%
61,3%
18,7%
1,0%
906
19
1
2,2%
1.471.607
19,5%
61,9%
16,1%
2,5%
1.220.189
21.779
4.830
2,1%
Saluran
meter
Fasilitas Desa
Kantor desa
unit
651
28,2%
32,2%
38,2%
1,4%
580
51
10
9,5%
SD/Madrasah
SMP/Madrasah
Tsanawiyah
SMU/Madrasah Aliyah
unit
725
41,9%
31,9%
25,7%
0,5%
561
100
3
15,5%
unit
141
40,8%
31,5%
26,2%
1,5%
107
23
1
18,3%
unit
72
35,7%
25,7%
37,1%
1,4%
60
10
1
15,5%
TK/TPA
unit
846
34,3%
31,5%
33,4%
0,8%
716
68
10
9,8%
Puskesmas pembantu
unit
189
37,9%
28,6%
32,4%
1,1%
160
22
0
12,1%
Posyandu
unit
198
20,1%
29,9%
47,4%
2,6%
187
7
1
4,1%
Polindesa
unit
339
28,7%
33,3%
36,7%
1,2%
303
21
12
9,8%
Tempat ibadah
unit
1.208
38,3%
44,6%
16,0%
1,1%
969
148
20
14,8%
Meunasah/balai desa
unit
1.602
36,4%
42,3%
19,6%
1,7%
1.290
169
13
12,4%
Fasilitas Ekonomi
Pasar desa
unit
766
57,1%
27,3%
14,9%
0,6%
583
54
2
8,8%
Tempat pelelangan ikan
unit
151
19,0%
35,4%
43,5%
2,0%
136
11
0
7,5%
Penggilingan padi
unit
387
45,2%
29,7%
23,1%
2,0%
324
23
2
7,2%
Pabrik lain
unit
545
52,9%
34,0%
12,3%
0,8%
340
51
15
16,3%
Bengkel
unit
332
46,9%
25,4%
25,0%
2,7%
245
11
0
4,3%
Gudang beras
unit
93
44,1%
30,5%
25,4%
0,0%
53
6
0
10,2%
Gudang
unit
388
50,7%
26,8%
20,9%
1,6%
267
39
5
14,1%
Toko/warung
unit
3.362
31,3%
39,3%
27,0%
2,4%
2.066
304
27
13,8%
Rumah permanen
unit
89.162
30,7%
31,6%
36,1%
1,5%
48.332
11.617
4.360
24,8%
Rumah semi-permanen
unit
54.918
39,6%
31,6%
28,1%
0,8%
32.157
3.883
2.530
16,6%
Barak sementara
KK
14.397
21,4%
29,3%
45,8%
3,5%
8.005
1.182
290
15,5%
Pemukiman
Lahan Produktif
Segala jenis sawah
Ha
87.056
40,4%
47,7%
4,3%
7,6%
57.330
4.157
1.932
9,6%
Segala jenis kebun
Ha
149.200
26,6%
59,3%
7,1%
7,0%
94.186
7.538
2.307
9,5%
Tambak ikan atau udang
Ha
34.659
17,7%
71,2%
10,2%
0,8%
24.746
3.314
2.386
18,7%
Catatan: Jumlah kasus yang hanya berhubungan dengan kerusakan karena bencana = 21,270
128
SURVEI DESA ACEH 2006
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
SURVEI DESA ACEH 2006
meter
unit
Tembok penahan tanah
Drainase
Tambatan perahu
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
unit
unit
Gelagar besi
Gelagar kayu
Gantung
unit
unit
unit
meter
unit
unit
unit
unit
Sumur pompa tangan
Sumur pompa mesin
Hidran umum
Perpipaan
Perlindungan mata air
Sistem penjernihan
Penampungan air hujan
MCK
unit
unit
unit
meter
Generator
Turbin air 9micro-hydro)
PLN
Jaringan
Listrik
unit
Sumur gali
Air Bersih dan Sanitasi
unit
unit
Beton
Jembatan
unit
meter
Gorong-gorong
meter
meter
Jalan kebun (tanah)
Lingkungan (tanah)
Jalan kebun (diperkeras)
meter
meter
Lingkungan (diperkeras)
meter
meter
meter
Poros desa (tanah)
Poros dusun (tanah)
meter
Poros dusun (diperkeras)
meter
Poros desa (diperkeras)
Unit
Jalan kabupaten
Transportasi
Tipe
100.305
56
7
314
3.957
565
51
587
142.881
184
1.348
268
34.473
125
703
379
1.708
135
676.697
130.282
3.870
417.638
141.310
243.374
162.391
689.888
858.616
726.365
1.635.148
780.893
Rusak
Ringan
146.058
77
21
427
6.143
459
95
241
269.999
325
2.109
854
37.631
198
1.448
547
1.911
268
1.864.103
426.854
6.634
841.416
346.771
360.464
285.502
1.310.886
1.257.623
1.371.231
2.279.606
1.281.868
Rusak
Bereat
199.012
100
21
810
5.480
625
155
82
224.546
164
1.627
350
23.536
141
1.585
339
1.185
291
517.938
241.183
7.541
88.564
42.211
43.550
36.352
154.655
147.178
128.731
231.371
135.271
Perlu Diperbaiki
Jumlah yang Rusak
13.666
12
1
38
4.104
128
22
45
58.249
24
69
19
1.825
11
117
28
178
73
238.634
42.387
531
93.998
45.701
81.248
25.227
190.956
118.934
177.387
179.379
103.670
Terbengkalai
8.100
40.000.000
25.000.000
2.000.000
4.200.000
3.000.000
5.000.000
8.000.000
20.000
1.000.000
2.000.000
1.800.000
1.000.000
120.000.000
9.000.000
15.000.000
16.000.000
15.000.000
2.500
60.000
2.400.000
27.000
62.500
22.000
50.000
27.000
62.500
32.500
75.000
100.000
Rusak
Ringan
20.250
100.000.000
60.000.000
4.800.000
33.600.000
7.500.000
15.000.000
20.000.000
40.000
4.000.000
4.000.000
3.800.000
3.000.000
240.000.000
41.600.000
65.000.000
96.000.000
30.000.000
6.000
120.000
4.800.000
42.000
100.000
34.000
80.000
42.000
100.000
50.000
120.000
250.000
Rusak Berat
40.500
200.000.000
100.000.000
8.000.000
42.000.000
15.000.000
30.000.000
25.000.000
50.000
5.000.000
7.000.000
6.800.000
6.000.000
300.000.000
52.000.000
78.000.000
120.000.000
75.000.000
10.000
150.000
6.000.000
54.000
112.500
43.000
90.000
54.000
112.500
65.000
135.000
500.000
Diganti
Unit Pembiayaan
30.375
150.000.000
75.000.000
6.000.000
31.500.000
11.250.000
22.500.000
18.750.000
37.500
3.750.000
5.250.000
5.100.000
4.500.000
225.000.000
39.000.000
58.500.000
90.000.000
56.250.000
7.500
112.500
4.500.000
40.500
84.375
32.250
67.500
40.500
84.375
48.750
101.250
375.000
Terbengkalai
10.043
26.595
3.094
4.821
319.691
9.564
4.456
10.339
17.808
1.486
16.706
3.749
224.886
74.554
114.466
54.672
309.270
23.402
11.996
77.289
66.703
34.700
36.671
13.562
23.375
56.502
143.334
69.726
318.123
388.676
Total
Biaya (Rp
‘000.000)
18,0%
16,2%
14,3%
48,6%
45,1%
40,0%
34,7%
16,7%
34,2%
37,9%
27,0%
39,6%
24,2%
30,5%
25,5%
21,0%
16,2%
35,0%
39,6%
22,7%
24,9%
37,1%
29,6%
38,6%
35,0%
37,1%
30,4%
36,1%
28,6%
23,0%
Kurang
Perawatan
LAMPIRAN 2.5: Biaya Memperbaiki atau Mengganti Prasarana Rusak Akibat Konflik dan Bencana Alam
LAMPIRAN
129
130
unit
meter
Saluran
unit
Posyandu
SURVEI DESA ACEH 2006
unit
unit
unit
unit
unit
Bengkel
Gudang beras
Gudang
Warung/toko
unit
KK
Rumah semi-permanen
Barak sementara
Ha
Segala jenis kebun
Tambak ikan atau udang
14.263
125.007
66.859
12.369
52.420
79.365
5.090
457
76
567
778
638
61
1.088
2.171
1.324
436
182
212
1.194
130
213
940
628
1.086.206
463
199
Rusak
Ringan
43.000
181.282
70.917
12.022
35.028
56.350
3.203
289
47
273
668
402
118
596
1.840
1.339
420
181
153
1.125
73
123
618
575
2.236.358
1.344
415
Rusak
Bereat
9.586
26.817
11.237
12.533
20.431
41.521
1.643
273
56
168
238
220
125
382
789
496
489
269
124
854
62
75
416
716
546.828
331
188
Perlu Diperbaiki
Jumlah yang Rusak
11.174
134.515
59.210
1.049
4.851
6.652
634
106
5
55
163
92
19
111
224
151
80
37
32
132
8
18
63
99
257.044
189
57
Terbengkalai
3.000.000
837.931
4.376.415
480.000
3.000.000
5.760.000
20.000.000
15.000.000
15.000.000
20.000.000
10.000.000
20.000.000
45.000.000
45.000.000
15.000.000
60.000.000
12.500.000
5.760.000
7.000.000
15.000.000
45.000.000
45.000.000
45.000.000
12.500.000
45.000
3.000.000
5.000.000
Rusak
Ringan
TOTAL
7.200.000
1.396.552
8.752.830
2.400.000
15.000.000
28.800.000
75.000.000
36.000.000
50.000.000
75.000.000
24.000.000
75.000.000
180.000.000
180.000.000
60.000.000
240.000.000
30.000.000
28.800.000
70.000.000
60.000.000
180.000.000
180.000.000
180.000.000
30.000.000
100.000
7.000.000
10.000.000
$
Rp
12.000.000
2.793.103
8.752.830
4.800.000
30.000.000
57.600.000
150.000.000
60.000.000
75.000.000
150.000.000
40.000.000
150.000.000
225.000.000
225.000.000
75.000.000
300.000.000
50.000.000
57.600.000
140.000.000
75.000.000
225.000.000
225.000.000
225.000.000
50.000.000
125.000
15.000.000
25.000.000
Diganti
Unit Pembiayaan
Rusak Berat
Catatan: Unit pembiayaan untuk prasarana yang terbengkalai = 75% dari unit pembiayaan untuk prasarana yang perlu diganti.
Ha
Ha
Segala jenis sawah
Lahan Produktif
unit
Rumah permanen
Perumahan
unit
Pabrik lainnya
unit
Tempat pelelangan ikan
Penggilingan padi
unit
Pasar desa
Fasilitas Ekonomi
unit
unit
Pustu
Meunasah/balai desa
unit
TK/TPA
unit
unit
SMU/Madrasah Aliyah
unit
unit
SMP/ Madrasah Tsanawiyah
Tempat ibadah
unit
SD/Madrasah
Polindes
unit
Kantor desa
Fasilitas Desa
unit
Bangunan irigasi
Unit
Bendungan
Irigasi
Tipe
9.000.000
2.094.827
6.564.623
3.600.000
22.500.000
43.200.000
112.500.000
45.000.000
56.250.000
112.500.000
30.000.000
112.500.000
168.750.000
168.750.000
56.250.000
225.000.000
37.500.000
43.200.000
105.000.000
56.250.000
168.750.000
168.750.000
168.750.000
37.500.000
93.750
11.250.000
18.750.000
Terbengkalai
1.321.044.570
11.889.401
474.516
571.716
1.107.052
73.321
1.171.465
3.879.570
530.956
27.981
6.148
45.304
26.679
59.610
38.511
188.619
131.283
380.610
27.913
15.398
24.503
93.044
23.410
37.614
193.243
42.691
228.057
12.069
7.858
Total Biaya (Rp
‘000.000)
16,5%
(1$ = Rp 9.000)
million
20,0%
20,9%
25,7%
16,6%
18,5%
19,5%
27,2%
22,9%
28,3%
30,2%
30,9%
30,4%
27,7%
38,9%
34,8%
38,7%
34,1%
25,6%
40,7%
31,7%
27,2%
25,0%
33,9%
37,5%
32,5%
28,0%
Kurang Perawatan
LAMPIRAN
Evaluasi Keadaan Prasarana dan Sosial Desa oleh Program Pengembangan Kecamatan Maret 2007
DAFTAR PUSTAKA
ADB. 2003. Infrastructure and Poverty Reduction: What is the connection? ERD Policy Briefs series No.13. Manila,
Philippines.
BRR and International Partners. 2005. Aceh and Nias One Year after the Tsunami: The Recovery Effort and Way
Forward. Banda Aceh.
Gannon, Collin and Zhi Liu. 1997. Poverty and Transport. World Bank.
Grootaert, C.D. and T. van Bastelaer (ed). 2002. Understanding and Measuring Social Capital: A Multidisciplinary
Tool for Practitioners. World Bank.
Grootaert, C, D. Narayan, V.N. Jones, and M. Woolcock. 2004. Measuring Social Capital: An Integrated
Questionnaire. World Bank.
ICG. 2006. Aceh: Now For the Hard Part, 29 March 2006; No. 44.
IOM/Harvard Medical School. 2006. Psychosocial Needs Assessment of Communities Affected by the Conflict in the
Districts of Pidie, Bireuen Aceh Utara; WHO Recommendations for Mental Health in Aceh, available at
http://www.who.or.id/eng/contents/aceh/WHO_Recommendations_Mental_Health_Aceh.pdf
Kfw. 2004. Transport and Poverty: The direct contribution of transport infrastructures to poverty reduction.
Komnas Perempuan. 2006. As Victims, Also Survivors: A Collection of Women IDPs’ Experiences and Voices of
Violence and Discrimination in Aceh.
Kwon, Eunkyung. 2000. Infrastructures Growth, and Poverty in Indonesia, A cross sectional Analysis. Asian
Development Bank, Manila, Philippines.
Ministry of Home Affairs. 2006. Kecamatan Development Program (KDP) Annual Report 2005. Jakarta.
Posko Aceh Dikdasmen. 2005. “Data Kondisi Guru Pra dan Pasca Gempa Provinsi Nangroe Aceh Darussalam
dan Sumatera Utara (Nias dan Nias Selatan)”. 27 April 27 2005.
Sharpe, J. and I. Wall. 2007. “Mapping Media: Understanding Communication Environments in Aceh”. Indonesian
Social Development Paper No. 9. Banda Aceh/Jakarta: World Bank/DSF.
Sharpe, J. , P. Barron and A. Sim. (forthcoming). “Promoting Peace: Public Outreach and ‘Socialization’ of the
Peace Process in Post-Conflict Aceh.” Banda Aceh: World Bank/DSF.
Subhan, Muhammad. 2005. “Proses Pendidikan Dasar Menengah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD)
Pasca Tsunami”. Implementation Coordination Unit (Satkorlak) NAD Province, Banda Aceh.
United Nation Information Management Services for Sumaterat (UNIMS). 2005. “An Aceh Education Data Pack”.
Education Management Information System (EMIS/ School Mapping), Ministry of National Education
(MoNE), Republic of Indonesia, in cooperation with UNICEF. Jakarta.
World Bank. 2003. “Aceh Regional Public Expenditure Review: Human Development”. Education section.
Unpublished joint paper: The World Bank, UNDP and USAID. Banda Aceh.
World Bank. 2005. Conflict and Recovery in Aceh. World Bank Jakarta.
World Bank. 2006a. Aceh Public Expenditures Analysis: Spending for Reconstruction and Poverty Reduction.
World Bank, Banda Aceh/Jakarta.
World Bank. 2006b. GAM Reintegration Needs Assessment: Enhancing Peace through Community-Level
Development Programming. Banda Aceh: World Bank/DSF.
Download