1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pariwisata

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Pariwisata merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
manusia, terutama menyangkut kehidupan sosial dan ekonomi. Diawali dengan
kegiatan yang semula hanya dinikmati oleh orang-orang yang relatif kaya pada
awal abad ke-20, kini telah menjadi suatu hak azazi manusia, sebagaimana
dinyatakan oleh John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox, yaitu bahwa
“we here once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is
considered a basic human right”. Hal ini, terjadi tidak hanya di negara maju,
tetapi mulai dirasakan pula di negara berkembang termasuk Indonesia. (Santosa:
2012).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pusat tahun 2011,
sebelas provinsi yang paling sering dikunjungi oleh turis adalah Bali, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Sulawesi
Selatan, Sumatera Selatan, Banten, dan Sumatera Barat. Sekitar 59 persen turis
berkunjung ke Indonesia untuk tujuan liburan, sementara 38 persen untuk tujuan
bisnis.
Singapura dan Malaysia adalah dua negara dengan catatan jumlah
wisatawan terbanyak yang datang ke Indonesia dari wilayah ASEAN. Sementara,
dari kawasan Asia (tidak termasuk Asean), wisatawan Jepang berada di urutan
pertama disusul RRC, Korea Selatan, Taiwan, dan India. Jumlah pendatang
terbanyak dari kawasan Eropa berasal dari Negara Britania Raya disusul oleh
Perancis, Belanda, dan Jerman (BPS: 2011).
1
2
Salah satu Provinsi yang menjadi daerah tujuan wisata terbesar di
Indonesia adalah Provinsi Bali. Perjalanan pariwisata internasional di Bali telah
dimulai pada permulaan abad ke-20, di mana, sebelumnya Bali telah ditemukan
oleh Cornelis de Houtman (Belanda) pada tahun 1579 dalam perjalannnya
mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai ke Indonesia.
Sehingga, pada tahun 1920 mulailah wisatawan Eropa datang ke Bali. Hal ini,
terjadi berkat kapal-kapal Belanda dalam usahanya mencari rempah-rempah ke
Indonesia, kemudian, setelah kembali mereka memperkenalkan Bali di Eropa
sebagai The Island of God. (Bali Chemist:30 May 2012).
Dewasa ini, pariwisata di Bali telah mengalami perkembangan yang
cepat. Dengan terus meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali
setiap tahunnya, sehingga menjadikan Pariwisata sebagai salah satu sumber
penghasil pendapatan daerah dan sektor ekonomi yang penting. Hal ini, terlihat
dengan semakin meningkatnya jumlah akomodasi seiring bertambahnya
permintaan akan hal tersebut. Salah satu akomodasi pendukung pariwisata adalah
hotel. Perkembangan bisnis perhotelan di Indonesia memiliki angka pertumbuhan
yang signifikan, terbukti dengan adanya banyak pembangunan hotel di beberapa
daerah di Indonesia, terutama daerah yang memiliki potensi pariwisata.
Bali merupakan salah satu daerah tujuan wisata unggulan di Indonesia.
Lokasi Bali yang sangat strategis menjadikan Bali tidak hanya dikunjungi oleh
wisatawan lokal, namun juga wisatawan mancanegara. Sektor pariwisata dapat
dikatakan sebagai tulang punggung pergerakan ekonomi Bali. Sektor ini
memberikan kontribusi penyumbang devisa terbesar, khususnya bagi daerah Bali
sendiri. Pariwisata di Bali terus ditingkatkan agar tidak terjadi penurunan
3
kunjungan wisatawan. Banyak hal yang dilakukan, terutama oleh pemerintah
daerah untuk menjalankan program-program unggulan wisata Bali khususnya.
Diantaranya meningkatkan pelayanan bagi wisatawan serta pembangunan
bertahap seperti akomodasi hotel dan restoran.
Industri akomodasi sebagai sarana pokok kepariwisataan. Oleh karenanya
akomodasi tidak dapat dipisahkan dengan industri pariwisata karena keduanya
saling membutuhkan, yaitu tanpa kegiatan kepariwisataan maka usaha akomodasi
akan lumpuh. Namun perkembangan usaha kepariwisataan juga sangat
dipengaruhi oleh tersedianya usaha akomodasi yang memadai, atau sebaliknya
kepariwisataan tanpa sarana akomodasi merupakan suatu hal yang tidak
mungkin. Karenanya akomodasi merupakan Sarana Pokok Kepariwisataan (Main
Tourism Suprastructure).
Pertumbuhan hotel yang semakin pesat di Bali disebabkan adanya
peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali setiap tahunnya.
Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik Bali) sampai
pada Bulan Desember tahun 2010, kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali
mencapai 2.576.142 orang, atau meningkat sebesar 8,01 persen dari periode yang
sama pada tahun sebelumnya.
Tabel 1.1.
Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Bali Tahun 2006-2011
No.
1.
2.
3.
4.
5.
Tahun
2006
2007
2008
2009
2010
Jumlah
1,262,537
1,668,531
2,085,084
2,385,122
2,576,142
Rata-rata
Sumber: Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.
Pertumbuhan
-9,10 %
32,16 %
19,40 %
14,39 %
8,01 %
12,97 %
4
Dari Tabel 1.1. dapat dilihat bahwa pertumbuhan kunjungan wisatawan
mancanegara ke Bali tertinggi terjadi pada tahun 2007, dengan jumlah
kedatangan wisatawan mencapai 1.668.531 orang, atau naik sekitar 32,16 persen
dari tahun sebelumnya dengan jumlah 1.262.537 orang. Sedangkan, jumlah
kunjungan wisatawan mancanegara terendah terjadi pada tahun 2006 dengan
jumlah 1.262.537 orang, atau turun sekitar -9,10 persen dari tahun sebelumnya
(2005). Hal ini, diakibatkan oleh terjadinya kembali Bom Bali II pada tahun
2005, sehingga minat wisatawan untuk berkunjung ke Bali pada rentang tahun
2005-2006 mengalami penurunan yang drastis. Memasuki tahun 2007-2010,
pariwisata Bali mulai beranjak pulih, terbukti dengan terus naiknya jumlah
kedatangan wisatawan ke Bali setiap tahunnya. Berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik Provinsi Bali (BPS), diketahui pada tahun 2010 saat low season
jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali berkisar antara 170 ribu
sampai 190 ribu orang, sementara memasuki high season, tingkat kunjungan
mencapai 200 ribu orang lebih, dengan tingkat kunjungan tertinggi terjadi pada
bulan Juli (peak season), yaitu sebanyak 254,907 orang. Selain wisatawan
mancanegara, kedatangan wisatawan lokal juga terus mengalami pertumbuhan
yang signifikan setiap tahunnya.
5
Tabel 1.2.
Jumlah Kedatangan Wisatawan Nusantara ke Bali Tahun 2004-2010
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Tahun
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
Jumlah
2,038,186
2,408,509
2,474,787
2,484,644
2,898,794
3,521,135
4,646,343
Rata-rata
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.
Pertumbuhan
5,20 %
18,16 %
2,75 %
0,40 %
16,67 %
21,47 %
31,96 %
13,8 %
Dari Tabel 1.2. dapat dilihat jumlah kedatangan wisatawan nusantara ke
Bali tertinggi terjadi pada tahun 2010, dengan jumlah kunjungan mencapai
4.646.343 orang atau naik sekitar 31,96 persen dari tahun sebelumnya, yaitu
dengan jumlah 3.521.135 orang. Sedangkan, jumlah kunjungan wisatawan
terendah terjadi pada tahun 2007, dengan jumlah 2,484.644 atau hanya
mengalami kenaikan sekitar 0,40 persen dari tahun sebelumnya. Dilihat dari
tingginya minat wisatawan lokal untuk berkunjung ke Bali, membuktikan bahwa
Bali masih menjadi daerah tujuan wisata favorit, khususnya bagi wisatawan
lokal. Hal ini, terbukti dengan terus meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan
lokal ke Bali pada rentang tujuh tahun terakhir (2004-2010), seperti data yang
dilansir oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (BPS) di atas.
Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun
wisatawan lokal ke Bali, juga ditandai dengan meningkatknya jumlah tingkat
hunian kamar (THK). Pada hotel berbintang, angka THK mengalami kenaikan
dari tahun sebelumnya, yaitu dari 59,00 persen menjadi 60,16 persen pada tahun
2010, begitu pula halnya dengan hotel non bintang, terjadi peningkatan dari 32,26
persen pada tahun 2009, menjadi 36,79 persen pada tahun 2010 (BPS 2011).
6
Tabel 1.3.
Perkembangan Tingkat Hunian Kamar Hotel
di Bali Tahun 2005-2011
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Tahun
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
Rata-rata
Sumber : Badan Pusat Statistik Bali.
Pertumbuhan
46.45%
44.46%
53.32%
62.80%
59.41%
60.77%
60.76%
55.4 %
Berdasarkan Tabel 1.3. dapat diketahui bahwa pada tahun 2008
merupakan tahun dengan tingkat hunian kamar tertinggi, dengan rata-rata sekitar
62.80 persen, sedangkan tingkat hunian kamar terendah terjadi pada tahun 2006,
dengan rata-rata sekitar 44.46 persen. Namun, pada tahun 2007 hingga akhir
2010, tercatat peningkatan tingkat hunian kamar hotel yang cukup signifikan,
yaitu 53.32 persen pada tahun 2007, dan pada tahun 2008 yaitu 62.80 persen atau
naik sekitar 10 persen, kemudian turun pada tahun 2009, yaitu 59.41 persen dan
kembali naik pada tahun 2010, yaitu 60.77 persen atau naik sekitar 1.36 persen.
Peningkatan tingkat hunian kamar hotel dalam tiga tahun terakhir membuktikan
bahwa pariwisata di Bali semakin pulih dan berkembang setiap tahunnya,
sehingga akan berdampak bagus terhadap image atau citra Bali di mata
wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Seiring perkembangan tingkat hunian hotel di Bali, banyak pengusaha
yang berlomba untuk membangun hotel, terutama pada daerah tujuan wisata
penting di Bali, seperti Kuta, Sanur, dan Nusa Dua. Hal ini, diperkuat dengan
data terbaru yang dilansir oleh Knight Frank, yaitu sebuah lembaga yang
bergerak di bidang konsultan properti lokal, menyatakan bahwa, pasokan hotel di
7
Bali tahun lalu tumbuh 10 persen, atau sekitar 1.850 kamar sejak awal 2010.
Jumlah pasokan hotel berbintang lima masih mendominasi pasar hotel di Bali
dengan 36 persen, atau sekitar 10.099 kamar, diikuti hotel bintang empat dengan
32 persen, dan hotel bintang tiga 31 persen. Hotel-hotel tersebut tersebar di
wilayah Sanur, Tanjung Benoa, Seminyak, Jimbaran, dan Ubud. Untuk sebaran
pasokan selama 2012-2013, Knight Frank memperkirakan wilayah Kuta mencatat
jumlah pasokan baru sejumlah 1.033 kamar yang umumnya didominasi oleh hotel
bintang tiga dengan porsi 48,8 persen. Sedangkan, di wilayah Nusa Dua masih di
dominasi hotel bintang lima sebesar 66,1 persen dari total pasokan baru sejumlah
1.033 kamar. Wilayah Sanur dan Legian mendominasi pasokan baru sebanyak
masing-masing 725 dan 326 kamar. (www.vivanews.com/Frank,Knight/.Januari
2012).
Data lain yang memperkuat adalah data yang dikeluarkan oleh Badan
Pusat Statistik Provinsi Bali berkaitan dengan jumlah kenaikan pembangunan
hotel di Bali, berikut merupakan tabel banyaknya hotel berbintang di Bali
menurut lokasi dan kelas hotel tahun 2010:
Tabel 1.4.
Jumlah Hotel Berbintang di Bali Tahun 2010
Kabupaten/Kota
Kelas Hotel (Bintang)
5
4
3
2
Jembrana
1
Tabanan
1
1
Badung
26
32
19
15
Gianyar
5
7
Klungkung
2
Bangli
Karangasem
1
3
1
1
Buleleng
1
2
2
3
Denpasar
3
4
9
7
Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali.
Jumlah
1
1
2
1
5
2
2
94
12
2
6
9
28
8
Berdasarkan Tabel 1.4. dapat dilihat bahwa Badung merupakan
kabupaten/kota dengan jumlah hotel terbanyak, yaitu sekitar 94 buah hotel yang
terdiri dari 26 buah hotel bintang lima, 32 buah hotel bintang empat, 19 buah
hotel bintang tiga, 15 buah hotel bintang dua, dan 2 buah hotel bintang satu.
Sedangkan Bangli adalah kabupaten/kota yang sama sekali tidak memiliki hotel
berbintang, diikuti oleh kabupaten Jembrana, Tabanan, dan Klungkung yang
merupakan kabupaten/kota dengan jumlah hotel berbintang paling sedikit, yaitu
dengan masing-masing hanya memiliki 2 buah hotel berbintang.
Di Indonesia ada banyak nama atau brand hotel yang berkembang, salah
satunya adalah Aston. Brand Aston merupakan salah satu properti hotel yang
banyak berkembang di Indonesia. Aston pertama kali dibangun di Waikiki pada
tahun 1948 yang menjadi pelopor service dan apartement resort hotel di Hawaii.
Aston kemudian dikenal sebagai Corporation Hotel di Pasifik yang tumbuh
dengan sangat cepat, dan dipercaya menjadi pemimpin US resort untuk
perkembangan dan pemasaran Condotel pertama di wilayah Hawaii pada tahun
1985.
Mengikuti pertumbuhan yang berkelanjutan sepanjang tahun delapan
puluhan dan sembilan puluhan, Aston diakui sebagai perusahaan manajemen
hotel dan sebagai property terkemuka di Hawaii, yang akhirnya dibuka untuk
publik pada tahun 1997 dengan nama Resort Quest International dan menjadi
perusahaan manajemen terbesar untuk villa, resort rumah dan kondominium di
Amerika Serikat.
Di Indonesia Aston pada awalnya berkonsentrasi pada city hotel,
apartement serviced, dan manajemen properti. Dalam perkembangannya di
9
sektor resort, Aston berhasil mengelola villa, boutique property, dan spa,
kemudian saat ini berkembang menjadi salah satu perusahaan manajemen
perhotelan terkemuka di semua sektor industri.
Di Bali ada beberapa properti yang menggunakan brand Aston, yang
terdiri dari hotel, resort dan villa, yang tersebar di beberapa daerah wisata seperti
Kuta, Sanur, Tanjung Benoa, dan Nusa Dua. Salah satu hotel yang memakai
brand Aston adalah Aston Tuban Inn . Hotel ini berdiri pada tahun 2006, yakni
Soft Opening pada tanggal 21 April 2006, dan Grand Opening
pada bulan
Agustus tahun 2006.
Aston Tuban Inn Hotel memiliki lokasi yang sangat strategis, yaitu dekat
dengan Bandara International Ngurah Rai, serta terletak di kawasan wisata padat,
yakni kawasan Kuta. Banyak tempat-tempat wisata yang terletak tidak begitu
jauh dari hotel, sehingga hotel ini layak menjadi pilihan bagi wisatawan untuk
menginap selama berlibur.
Dengan fasilitas yang dimiliki oleh Hotel Aston Tuban Inn, serta reputasi
hotel yang meningkat setiap tahunnya, terbukti hotel ini menduduki peringkat ke
6 dari 122 hotel di daerah Kuta versi Tripadvisor pada bulan Februari 2012
(sebuah website booking hotel online, sehingga menjadikan hotel ini selalu
menjadi pilihan bagi wisatawan sebagai tempat menginap mereka selama berada
di Bali.
Pertumbuhan jumlah wisatawan yang pesat setiap tahunnya juga
berpengaruh terhadap perkembangan dan kemajuan industri perhotelan, terutama
di Hotel Aston Tuban, di mana selama rentang waktu empat tahun terakhir,
jumlah kunjungan tamu yang menginap di Hotel Aston Tuban Inn terus
10
mengalami peningkatan, yaitu mencapai angka 10 persen setiap tahunnya. Hal
ini, juga didukung oleh prestasi yang diraih oleh hotel Aston Tuban Inn, baik
kepercayaan tamu terhadap pelayanan hotel yang ramah, juga terhadap travel
agent yang bekerja sama dengan Hotel Aston Tuban Inn.
Disisi lain, kenaikan jumlah yang signifkan tersebut tidak berarti hanya
mendatangkan sisi positif bagi hotel, pada rentang tahun 2008-2011 ada beberapa
kamar yang overbooking, artinya hotel kekurangan kamar, sedangkan jumlah
tamu yang melakukan reservasi melebihi jumlah kamar yang tersedia,
Room overbook pada dasarnya akan terlihat pada hotel yang
menggunakan sistem pengelolaan kamar hotel, di Aston Tuban Inn sistem
komputerisasinya menggunakan VHP (Visual Hotel Program), kamar overbook
akan terlihat pada daily forecast pada hari disaat terjadinya room overbook.
Berdasarkan studi pendahuluan, room overbook terjadi karena kesalahan
yang dilakukan oleh reservasi. Ada beberapa faktor yang yang menyebabkan
munculnya kesalahan tersebut, salah satunya adalah human error. Human error
didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau
potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan, atau peformansi suatu sistem
(Mc.Cornick 1993). Pada laporan ini human error atau kesalahan yang dilakukan
adalah karena tidak adanya koordinasi yang baik antara satu departemen dengan
departemen lain, terutama front office department, serta tidak melakukan up-date
tentang available room atau ketersediaan kamar, sebelum menerima reservasi
online atau reservasi baru lainnya. Hal ini, merupakan penyebab utama terjadinya
room overflow, sehingga akan menimbulkan dampak-dampak yang akan
merugikan hotel, salah satunya adalah pandangan yang tidak baik terhadap citra
11
atau image hotel dimata para wisatawan, atau khususnya tamu yang menginap
dan menggunakan jasa hotel tersebut.
Room overflow menjadi tanggung jawab dari Sales Department, karena
pangkal penyebab permasalahan ini biasanya terjadi pada lingkup department
tersebut. Sedangkan, tugas operasional penanganan berada pada Front Office
Departement. Ada beberapa section pada Front Office Departement yang terlibat
dalam penanganan room overflow ini diantaranya Front Office Manager (FOM),
Guest Service Agent (GSA/Receptionist) dan Bellboy. Masing-masing section ini
memiliki job desk yang berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga sangat
dibutuhkan koordinasi serta team work yang baik agar disaat penanganan tamu
room overflow bisa berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Disisi lain, apabila
penanganan room overflow ini tidak dijalankan sesuai dengan job desk yang telah
diberikan kepada masing-masing section tersebut, tentu akan berdampak buruk
terhadap reputasi atau image hotel.
Guest Service Attendant (GSA) adalah salah satu section yang terlibat
langsung dalam penanganan room overflow, karena GSA akan melakukan kontak
langsung dengan tamu yang akan dipindahkan atau tidak mendapatkan kamar
hotel. Seorang GSA harus mengetahui langkah-langkah apa saja yang akan
ditempuh untuk menangani tamu room overflow tersebut. Selain itu, perlu juga
diteliti tentang faktor-faktor apa saja yang mengakibatkan terjadinya room
overflow, sehingga akan menjadi referensi penting untuk mengatasi atau
meminimalisir terjadinya room overflow pada Hotel Aston Tuban Inn.
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti ingin mengadakan penelitian dengan
rumusan masalah sebagai berikut:
12
1.2. Rumusan Masalah
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan terjadinya room overflow di
Hotel Aston Tuban Inn Bali?
2. Bagaimanakah upaya Guest Service Attendant dalam menangani room
overflow di Hotel Aston Tuban Inn Bali?
1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya room
overflow di hotel Aston Tuban Inn Bali.
2. Untuk mengetahui upaya Guest Service Attendant dalam menangani room
overflow di hotel Aston Tuban Inn Bali.
1.4. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah :
1. Manfaat Akademis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah kekayaan intelektual dan
wawasan mahasiswa, serta menerapkan ilmu pengetahuan dan praktek
dilapangan
khususnya dalam bidang Manajemen Kantor Depan yang
terkait dengan judul dan akan menambah wawasan tentang menangani
permasalahan room overflow di hotel.
2. Manfaat Praktis
2.1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu masukan pertimbangan
bagi Hotel Aston Tuban Inn dalam mengatasi permasalahan room
overflow di hotel, khususnya di Front Office Departement.
13
2.2. Dapat dijadikan sebagai referensi bagi industri pariwisata untuk
menigkatkan mutu sumber daya manusia, khususnya bagi karyawan
hotel dalam mengatasi permasalahan operasional hotel.
2.3. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah
dalam pembentukan kebijakan tentang industri pariwisata, khususnya
dalam penentuan jumlah minimal kamar berdasarkan tingkat bintang
sebuah hotel sehingga akan meminimalisasi permasalahan room
overflow.
2.4. Dapat dijadikan sebagai informasi dan ilmu pengetahuan bagi
masyarakat.
1.5. Sistematika Pembahasan
Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah :
BAB I
PENDAHULUAN
Pada Bab Pendahuluan, diuraikan mengenai Latar Belakang
tentang Pemilihan Judul, Penentuan Rumusan Masalah, Tujuan
Penelitian, Manfaat Penelitian bagi sejumlah pihak yang terkait,
dan Sistematika Pembahasan Laporan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Berisi tentang tinjauan penelitian sebelumnya dan tinjauan konsep,
yaitu: Tinjauan Tentang Kepariwisataan Dan Wistawan, Tinjauan
Tentang Tamu, Tinjauan Kamar Hotel, Tinjuan Tentang
Overbooking, Tinjuan Tentang Reservasi, Tinjauan Tentang Hotel,
Dan Tinjauan Tentang Guest Service Attendant.
14
BAB III
METODE PENELITIAN
Berisi tentang lokasi penelitian, Definisi Operasional Variabel
(DOV) yang terdiri dari faktor-faktor penyebab terjadinya room
overflow dan upaya guest service attendant dalam menangani
room overflow, jenis data yaitu kuantitatif dan data kualitatif,
sumber data menggunakan data primer dan data sekunder, teknik
pengumpulan
data
dilakukan
dengan
metode
observasi,
wawancara, studi pustaka dan dokumentasi, teknik penentuan
informan yaitu purposive sampling, dan teknik analisis data
menggunakan deskriptif kualitatif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berisi mengenai gambaran umum lokasi penelitian yang terdiri
dari: sejarah Hotel Aston, Perkembangan Hotel Aston, Struktur
Organisasi, dan fasilitas-fasilitas Hotel Aston Tuban Inn. Faktorfaktor penyebab room overflow yang terdiri dari: peningkatan
room occupancy, human error serta guest priority. Upaya Guest
Service Attendant dalam menangani room overflow yaitu: prearrival guest, arrival guest dan departure guest.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
Berisi tentang simpulan dari hasil pembahasan dan saran kepada
pihak Hotel Aston Tuban Inn Bali khususnya bagi departemen
Front Office.
Download