Tugas AkhirEksplorasi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode

advertisement
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
BAB V
INTERPRETASI HASIL
PENGUKURAN RESISTIVITAS
Metode resistivitas atau metode geolistrik merupakan salah satu metode
geofisika yang digunakan untuk mengetahui sifat fisik batuan, yaitu dengan
melakukan pengukuran terhadap daya hantar kelistrikan pada batuan. Berdasarkan
hasil pengukuran dapat diketahui penyebaran nilai tahanan jenis batuan baik secara
lateral maupun vertikal.
Nilai resistivitas batuan mencerminkan kondisi fisik dari batuan tersebut.
Semakin rendah nilai resistivitas suatu batuan, menunjukkan bahwa batuan tersebut
semakin konduktif atau mudah dialiri aliran listrik, begitu pula sebaliknya. Nilai
konduktivitas batuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain porositas,
permeabilitas, keberadaan dan jenis fluida, serta suhu.
Porositas dan permeabilitas pada batuan memberikan ruang untuk di isi oleh
fluida. Karena fluida memiliki konduktivitas yang lebih tinggi dari konduktivitas
batuan sekitarnya maka keberadaan porositas dan permeabilitas yang diikuti oleh
kehadiran fluida akan memberikan nilai resistivitas yang lebih kecil dari batuan
sekitarnya. Jenis fluida juga mempengaruhi harga konduktivitas, sebagai contoh fluida
pada sistem geothermal umumnya banyak mengandung ion-ion seperti CO 3 , HCO 3 ,
SO 4 , Cl, dan lainnya yang berkontribusi meningkatkan harga konduktivitas batuan.
Dalam studi ini pengukuran nilai resitivitas menggunakan konfigurasi
Schlumberger yang mempunyai bentangan simetris. Pengukuran dilakukan pada
beberapa titik-titik yang ditentukan seperti yang terlihat pada gambar 5.1.
Data resistivitas batuan hasil pengukuran dapat diolah menjadi 2 bagian, yaitu
pembuatan pemetaan resistivitas (mapping) dan penampang resistivitas batuan
(sounding).
42
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
•
Pemetaan resistivitas (mapping) dilakukan untuk mengetahui variasi
tahanan jenis secara lateral. Digunakan cara traversing yaitu dengan
mengukur dengan spasi AB/2 = 250, 500, 800 dan 1000 m. Setelah
dilakukan pemrosesan data, akan didapat empat peta tahanan jenis semu.
•
Penampang resistivitas (sounding) atau dikenal juga dengan VES (Vertical
Electrical Sounding) dilakukan dengan cara menaikkan AB/2 secara
logaritmik pada setiap titik pengukuran. Semakin besar AB/2, semakin
besar pula penetrasi kedalaman yang didapatkan. Namun untuk
pengukuran yang semakin dalam dibutuhkan energi listrik yang besar pula.
Data penampang resistivitas semu mencerminkan total resistivitas yang
terbaca di setiap titik penelitian, yang diolah dengan program IPI2win.
Pada studi ini, dari data yang ada, maka dibuat 3 buah penampang
resistivitas semu, yaitu: penampang line B-2500-C2100-D2100-E300 line
B2500-C2600-D3000-F3000, line B1500-C2100-D3000-F4000. (Pada
semua peta nilai resistivitas dinyatakan dalam satuan Ohm meter.
Gambar 5.1. Peta penyebaran pengukuran resistivitas daerah Tambu
43
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
5.1. Pemetaan Resistivitas (Mapping)
Gambar 5.2. Pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=250 meter
Asumsi daerah prospek reservoir mempunyai nilai resistivitas dibawah 25
Ohm meter. Pada mapping resistivitas bentangan AB/2=250 m (gambar 5.2), daerah
yang mempunyai resistivitas di bawah 25 ohm meter terdapat pada bagian barat
daerah penyelidikan. Penyebarannya membuka ke arah barat, atau ke arah laut.
Sementara nilai resistivitas yang lebih besar (50-100 Ohm meter), ditemukan
menyebar di bagian barat daya hingga selatan. Penyebarannya terbuka ke arah barat.
Di timur daerah dengan nilai resistivitas 50-100 Ohm juga ditemukan dan membuka
ke arah timur. Sementara daerah dengan nilai resistivitas tinggi (diatas 200 Ohm
meter), ditemukan di bagian utara daerah penelitian, memanjang ke arah selatan dan
membuka ke arah utara.
44
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.3. Pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=500 meter
Pada pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=500 meter (gambar 5.3), daerah
yang mempunyai nilai resistivitas dibawah 25 Ohm meter, terdapat pada bagian barat
daerah penyelidikan yaitu disekitar mata air panas dan pada bagian selatan. Wilayah
penyebarannya semakin kecil dan membuka ke arah barat. Sementara nilai resistivitas
yang lebih tinggi (50-250 Ohm), ditemukan menyebar di daerah barat daya, selatan,
tenggara, utara dan timur laut daerah penelitian. Sementara itu nilai resitivitas sangat
tinggi (diatas 750 Ohm meter) ditemukan pada bagian tenggara, tengah dan utara
daerah penelitian. Penyebarannya berupa wilayah tertutup.
45
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.4. Pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=800 meter
Berdasarkan hasil pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=800 meter (gambar
5.4), daerah yang mempunyai nilai resistivitas di bawah 25 Ohm meter terdapat pada
bagian barat wilayah penelitian yaitu disekitar mata air panas. Penyebaran nilai
resistivitas pada daerah ini berupa tutupan di sekitar mata air panas. Pada bentangan
AB/2=800 meter ini daerah dengan nilai resistivitas yang rendah penyebarannya
semakin menyempit, karena pada daerah ini nilai resistivitas yang ditemukan semakin
tinggi. Nilai resistivitas paling tinggi (diatas 750 Ohm meter) ditemukan sangat luas
pada daerah barat laut, utara, timur laut yang membuka kearah utara dan timur. Selain
itu ditemukan daerah dengan nilai resistivitas yang tinggi pada bagian tengah dan
barat daya daerah penelitian. Penyebarannya tertutup, dan mempunyai kecenderungan
memanjang dan berarah barat laut-tenggara.
46
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.5. Pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=250 meter
Sedangkan, pada pemetaan resistivitas (mapping) AB/2=1000 m (gambar 5.5),
daerah yang mempunyai nilai resistivitas rendah masih konsisten terdapat pada bagian
barat wilayah penelitian yaitu disekitar mata air panas yang membuka ke arah barat.
Selain itu daerah yang mempunyai nilai resitivitas rendah terdapat pada bagian timur
daerah penelitian. Kemungkinan pada bagian timur daerah penelitian, juga terdapat
daerah yang prospek sebagai reservoir pada daerah yang dalam. Kemungkinan ini
didukung oleh data gravitasi yang menunjukkan adanya daerah dengan nilai anomali
yang tinggi pada sekitar daerah yang sama. Nilai anomali yang tinggi ini
menunjukkan adanya sumber panas pada daerah tersebut.
47
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
5.2. Penampang Resistivitas (Sounding)
Gambar 5.6. Penampang resistivitas semu line B2500-C2100-D2100-E3000
Penampang B2500-C2100-D2100-E3000 (gambar 5.6) memanjang berarah
Timur Laut-Barat Daya, nilai resistivitas paling kecil didapatkan di bagian atas daerah
penelitian, yaitu hingga kedalaman 100 m. Hal ini disebabkan oleh litologi pada
bagian atas daerah penelitian berupa aluvial yang bersifat unconsolidated. Semakin
kedalam, nilai resistivitas semakin besar. Pada titik C2100, terdapat nilai resistivitas
yang rendah, dengan pola berupa sisipan, diperkiran ada infiltrasi air dari mata air
panas pada titik tersebut.
48
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.7. Penampang resistivitas semu line B2500-C2600-D3000-F3000
Penampang B2500-C2600-D3000-F3000 (gambar 5.7) memanjang berarah
Timur Laut-Barat Daya. Nilai resitivitas yang kecil terdapat pada bagian atas
penelitian 80-90 m. Berdasarkan penampang diketahui bahwa semakin dalam, nilai
resitivitas semakin besar. Pada titik C2600 dapat diamati adanya pola konsentris yang
menunjukkan adanya infiltrasi air dari mata air panas pada titik tersebut.
49
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.8. Penampang resistivitas semu line B1500-C2100-D3000-F4000
Penampang B1500-C2100-D3000-F4000 (gambar 5.8) memanjang berarah
Utara-Selatan. Nilai resistivitas yang kecil terdapat pada bagian atas penelitian. Pada
penampang juga diketahui bahwa semakin dalam, nilai resitivitas semakin besar.
Sama seperti panampang resistivitas sebelumnya, pada penampang ini juga ditemukan
pola konsentris pada titik C2100 yang menunjukkan adanya infiltrasi air dari mata air
panas pada titik tersebut.
Berdasarkan hasil pemetaan dan penampang resistivitas dapat diamati adanya
daerah-daerah dengan nilai resistivitas yang kecil. Nilai resistivitas yang kecil berarti
batuan yang ada memiliki konduktivitas yang besar, hal ini bisa disebabkan adanya
porositas yang besar dan terisi oleh fluida sehingga nilai konduktivitas naik. Adanya
Batuan dengan porositas besar dan terisi fluida dapat berfungsi sebagai reservoir yang
50
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
baik. Untuk itu dalam mencari prospek keberadaan reservoir dan batuan penutup
adalah dengan mencari keberadaan daerah-daerah dengan nilai resistivitas yang kecil.
Dengan mengasumsikan reservoir yang baik memiliki nilai resistivitas di
bawah 25 Ohm meter, maka dari peta pemetaan resistivitas (mapping) dapat dilihat
bahwa nilai resistivitas yang konsisten di bawah 25 Ohm meter adalah pada daerah
barat penelitian, yaitu di sekitar manifestasi mata air panas Tambu. Hal ini diharapkan
mengindikasikan adanya aktivitas panas di bawah permukaan bukan dari batuan
sedimen/aluvial atau intrusi air laut yang mendominasi daerah sekitar air panas.
Berdasarkan hasil penyelidikan sounding diketahui bahwa lapisan penudung
tidak dapat ditemukan, karena titik pengamatan sounding di area tahanan jenis rendah
<25 Ohm meter, ujung lintasannya sudah berada di laut, sedangkan zona resistivitas
yang rendah dengan nilai <25 Ohm meter mengarah ke arah barat, ke arah laut. Tapi
dari pengamatan pada penampang B2500-C2100-D2100-E3000, diperkirakan lapisan
reservoir terdapat pada kedalaman 200-350 m dengan nilai resistivitas 60-120 Ohm
meter. Penampang B-1500-C2100-D3000-F4000 juga menunjukkan demikian, pada
kedalaman antara 200-350 m juga menunjukkan lapisan dengan nilai resistivitas yang
rendah yaitu berkisar antara 49-90 Ohm m, walaupun lapisan penudung tidak
ditemukan.
Daerah prospek berada diduga berada di sekitar tahan jenis rendah < 25 Ohm
meter yang membuka ke arah barat (ke arah laut) dan disekitar struktur yang
mengontrol air panas Tambu. Diperkirakan reservoir ini media fluidanya adalah
rekahan. Rekahan ini terbentuk pada batuan granit yang berada di bawah lapisan
aluvial dan endapan pantai.
51
Eksplorasi Energi Panas Bumi Dengan Menggunakan Metode Geofisika di Lapangan
Panas Bumi Tambu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah
Gambar 5.9. Zona potensi reservoir dan batuan penutup
52
Download