BIOEKOLOGI MAKRO ALGA LAUT, BUDIDAYA DAN

advertisement
BIOEKOLOGI MAKRO ALGA LAUT, BUDIDAYA
DAN PEMANFAATANNYA
1.
PENDAHULUAN
Alga adalah tumbuhan tingkat rendah yang tidak berpembuluh dan
termasuk dalam kelompok Thallophyta atau dikenal dengan tumbuhan bertalus.
Tidak memiliki akar batang dan daun sejati tetapi hanya menyerupai saja. Hidup
menempel pada substrat dengan menggunakan holdfast. Berklorofil a untuk
fotosintesis dan juga mengandung pigmen lainnya.
Pemanfaatan alga untuk menunjang kehidupan manusia telah banyak dilakukan
didalam berbagai bidang baik pangan maupun
sandang. Semua usaha
pemanfaatan alga telah dilakukan baik sacara tradisional maupun intensif dalam
berbagai aspek, seperti dalam budidaya untuk mendapatkan hasil panen yang
maksimal, juga di berbagai bidang industri, dalam skala kecil, industri rumah
tangga dan dalam skala besar, pabrik dan lain-lain. Di bawah ini akan dibahas
tentang bioekologi alga, budidaya dan pemanfaatannya.
2.
BIOLOGI ALGA
2.1.
Klasifikasi Dan Morfologi
Alga yang mula-mula ada di bumi kurang lebih sekitar tiga milyar tahun
yang lalu adalah cyanobacteria (atau ganggang biru-hijau), yang melakukan
fotosintesis, sel prokariotik tidak berinti sel. Kemudian muncul jenis-jenis alga
yang lain yang memiliki inti sel, sel kompleks multiselular atau Sel eukariotik.
Alga adalah tanaman laut yang di kelompokkan dalam 2 kelompok besar
makro alga dan mikro alga, mikro alga (berukuran kecil) tidak dapat dilihat
secara kasat mata tetapi hanya boleh dilihat dengan menggunakan alat bantu yaitu
mikroskop. Sebaliknya alga makro atau alga yang berukuran besar dapat dilihat
langsung (kasat mata).
1
Alga terdiri atas 8 divisio dan tersebar dalam 16 kelas dengan sejumlah ordo,
family, genus dan spesies. Pembagian klasifikasi di tingkat divisio menurut Sze
(1986), adalah sebagai berikut :

Divisio Cyanophyta (cyanobacteria atau blue-green algae)
Class Cyanophyceae

Divisio Prochlorophyta
Class Prochlorophyceae

Divisio Chlorophyta (green algae)
Class Prasinophyceae
OR Class Micromonadophyceae
Class Chlorophyceae
Class Chlorophyceae
Class Charophyceae
Class Charophyceae
Class Ulvophyceae
Class Pleurastrophyceae

Divisio Chrysophyta
Class Chrysophyceae (golden brown algae)
Class Prymnesiophyceae (=Haptophyceae)
Class Tribophyceae (=Xanthophyceae) (yellow-green algae)
Class Eustigmatophyceae
Class Raphidophyceae (=Chloromonadophyceae) Class
Bacillariophyceae
( = Diatomophyceae)
(diatoms)
Class
Phaeophyceae (=Fucophyceae) (brown algae)

Divisio Rhodophyta (red algae) Class Rhodophyceae
Subclass Florideophycidae Subclass Bangiophycidae

Divisio Pyrrophyta (=Pyrrhophyta=Dinophyta) (dinoflagellates)
Class Dinophyceae

Divisio Cryptophyta (cryptomonads)
Class Cryptophyceae

Divisio Euglenophyta (euglenoids)
Class Euglenophyceae
Di perairan Indonesia menurut Weber Van Boss ditemukan adanya 782 jenis alga
yang tersebar di seluruh wilayah perairan Indonesia. Meliputi 179 alga hijau, 134
alga coklat dan 425 alga merah.
2
Pembangian alga ditingkat divisio dan kelas (Sze, 1986), secara khusus didasarkan
pada :
1. Pigmen pengektasi cahaya untuk fotosintesis
2. Cadangan polisakarida
3. Organisasi selular
4. Morfologi
5. Ekologi
Klasifikasi alga laut, makro alga menurut Dawes (1981), terdiri dari 3 divisio
yaitu Rhodophyta alga merah, Phaeophyta alga coklat dan Chlorophyta alga hijau.
Sedangkan menurut Vanden Brook (1995), makro alga terdiri juga atas 3 divisio
yaitu divisio Chlorophyta alga hijau, Rhodophyta alga merah dan
Heterokontophyta alga coklat, nama division alga coklat dari ketiga penulis
berbeda. Ternyata dengan berkembangnya ilmu taksonomi maka banyak para ahli
mengelompokkan alga pada tingkat divisio yang sama namanya tetapi ada yang
berbeda. Begitu juga ada yang mengelompokkan Chlorophyceae, Rhodophyceae
dan Phaeophycea kedalam kelas tetapi yang lain memasukkannya ke tingkat taksa
yng lebih tinggi sedikit yaitu sub phylum/division. Memang taksonomi alga ini
masih sulit dasar pengelompokkannya menurut kata beberapa ahli alga (De
wreede dan Klinger, 1987).
Pada table 1 dapat dilihat contoh alga yang disusun atau dikelompokkan
berdasarkan karakteristik yang ada dan dimasukkan dalam susunan
hirarki
taksonomi mulai dari tingkat divisio sampai genus.
Table 1.
Tingkatan Klasifikasi
Ulva lactuca L.
Laminaria saccharina
Suffix
(L.) Lamouroux
Division
Chlorophyta
Chrysophyta
-phyta
Class
Chlorophyceae
Phaeophyceae
-phyceae
Order
Ulvales
Laminariales
-ales
Family
Ulvaceae
Laminariaceae
-aceae
Genus
Ulva
Laminaria
Species
lactuca
saccharina
Tubuh alga berupa thalus. Thalus alga berkisar dari sel soliter kecil sampai besar,
struktur multiselular kompleks. Jenis struktur yang berbeda penting dalam
3
mengelompokkan spesies untuk klasifikasi. Pengelompokan jenis eukariotik yang
berbeda yang ada pada alga adalah sebagai berikut :
(A)
Sel flagella soliter .
Jenis ini dianggap primitif di antara alga eukariotik. sel flagella
bervariasi dalam jumlah dan bentuk dan fungsi pengaturan flagella.
(gambar 1.a)
Contoh: Trachelomonas.
(B)
Sel flagella Koloni
Sel dapat bervariasi dalam pengaturan sel mereka dan bagaimana
sel-sel berada bersama-sama. Umumnya, koloni memiliki sel
bentuk piring datar atau dalam sebuah bola ( gambar 1.b).
Dalam jenis yang tersisa, sel-sel non-flagellated dalam kondisi
vegetatif (nonreproductive). Contoh : Stephanosphaera
(C)
Agregasi Palmelloid
Sel dipisahkan dari satu sama lain dalam lendir dan
mempertahankan beberapa fitur sel flagellated, seperti badan basal,
eyespot
dan
vakuola
kontraktil
(gambar1.c).
Pada tahap palmelloid dapat terjadi di mana sel kehilangan flagela
dan mengeluarkan lendir yang luas. Kondisi palmelloid
adalah kondisi normal, dalam beberapa alga. Contoh : Gloeocytis
Sel tidak berflagel dan koloni .
Sel kemungkinan
soliter, terpisah
atau terkait dalam koloni
reguler. (gbr. 1. d, e) Contoh: Eremosphaera, Tetraedron
(E)
Amoeboid atau sel rhizopodial
Jenis ini termasuk sel-sel soliter dan koloni sel amoeboid. kurang
dinding sel, atau kemungkinan tertutup oleh struktur lain, seperti
lorika berbentuk cangkir (gambar 1.g).Contoh: Chrysamoeba
(F)
Filamen
Didalam filamen sel-sel sejajar dari ujung ke ujung dengan
dinding bersama tersusun oleh sel-sel yang berdekatan
4
a
b
c
d.
e.
f
g.
h.
Gambar 1. Tipe-tipe morfologi alga.
Pada filamen uniseriate, sel-sel tersebut diatur dalam seri tunggal.
filamen Multiseriate memiliki lebih dari satu rangkaian sel tapi
5
masih
mempertahankan
penampilan
seperti
benang-dasar.
Mungkin filamen tidak bercabang (gambar 1.h) contoh ;
Erythrothrchia . Filament
bercabang (gbr. 1.i) contoh ;
Callithamnion. Dalam spesies berserabut lebih kompleks,
perubahan cukup dapat terjadi antara cabang-cabang. filamen
bercabang Banyak memiliki sistem yang berbeda dari cabang
bersujud tumbuh menempel pada substrat dan
sistem tegak
terbuka lebih memperluas cabang bebas dari substrat (gbr.1.j).
Filamen ini dijelaskan sebagai heterotrichous. Pada beberapa
spesies filamen, cabang-cabang tidak menyebar terpisah dalam
pola percabangan terbuka tetapi dilibatkan untuk membentuk
suatu massa yang kompak
alga tersebut disebut alga
pseudoparenchymatous.
(G)
Thalli Parenchymatous.
Tipe thalus adalah bentuk filament multiseriate. Dalam konstruksi
parenchymatous pembagian sel dalam 3 ukuran ; masa sel
filament gepeng, menyerupai daun dan silinder yang tersusun
lurus serupa tabung. Alga parenchymatous adalah konstruksi
yang paling maju.
Menurut sebagian ahli botani memasukkan alga ini kedalam dunia
tumbuh-tumbuhan dan secara morfologi tubuh alga tidak memiliki akar, batang,
dan daun
yang sejati seperti layaknya tumbuhan tingkat tinggi, tetapi hanya
menyerupai saja bagian-bagian tersebut karena alga hanyalah berbentuk talus
belaka dan di masukkan ke dalam tumbuhan tingkat rendah.
Untuk dapat
tumbuh bagi alga yang berukuran besar (makro alga)
memerlukan substrat untuk tempat menempel/hidup. Alga epifit pada benda-benda
lain seperti, batu, batu berpasir, tanah berpasir, kayu, cangkang moluska dan epifit
pada tumbuhan lain atau alga jenis yang lain (Kumampung, 1984).
Alga yang berukuran kecil (mikro), hidup melayang atau menempati kolomkolom air yang ada di perairan disebut phytoplankton. Bentuknya bervariasi, satu
sel atau koloni (diatom, dinoflagelata dan lain-lain).
6
Makro alga umumnya epifit memiliki bagian talus yang khusus untuk
menempel pada subsrat bagian yang menyerupai akar, ini di sebut holdfast.
Menurut Sze, (1986) tipe holdfast pada alga makro adalah sebagai berikut :
a. Talus benar-benar diluruskan /menyebar menempel
pada substrat (encrusting)
b.
Rhizoids/ rhizoidal pada pangkal talus
c. Heterotrichy (lembaran /lampiran)
Cabang dimodifikasi membentuk dasar untuk
lampiran, pertumbuhan kembali cepat dari dasar jika
sistem hilang
d. Diskoid
Pada jaringan (parenchymatous atau
pseudoparenchymatous)
membentuk dasar makroalga yang lebih besar
e. Haptera
Cabang/batang membentuk seperti jari-jari.
2.2
Pigmen Fotosintesis
Untuk tumbuh dan berkembang alga ini membutuhkan cahaya untuk
melakukan proses fotosintesis dimana alga ini bersifat autotrof dan mensitesa
sendiri makanannya dengan bantuan sinar matahari. Dalam penyerapan sinar
matahari alga memiliki pigmen fotosintesis yaitu klorofil a yang terdapat pada
semua jenis alga. Untuk proses fotosintesis klorofil dibantu dengan pigmen
lainnya. Jenis-jenis pigmen yang dikandung oleh alga adalah pigmen klorofil
yaitu klorofil A, klorofil B, klorofil C1, C2 dan klorofil D (gambar 2). Pigmen
caroten yaitu β-caroten, fucoxanthin, siphonaxanthin dan peridinin (gambar 3).
Pigmen phycobilin yaitu phycoerythrobilin dan
phycocyanobilin (gambar 4),
Secara rinci pembagiannya menurut divisi alga dapat dilihat pada table 2.
7
CH2 CH
CH3
CH2 CH
CHCH2CH3H3C
CH2
b
a
CH2
c
d
Gambar 2. Struktur pigmen chlorophyll
(a) chlorophyll A,
(b) chlorophyll B,
(c) chlorophyll Ci,
(d) chlorophyll D
8
CH3
CH,COO
9
Gambar 3. Struktur pigmen carotenoid
(a)
β-carotene,
(b) fucoxanthin,
(c) phonaxanthin,
(d) peridinin.
Gambar 4. Pigmen Phycobiline (a). Phycocyanobiline
(b). Phycoerythrobilin
10
Tabel 2. Pigmen fotosintesis pada alga
Divisio
Pigmen Fotosintesis
Cyanophyta
chlorophyll A; phycocyanobilin,
phycoerythrobilin
Prochlorophyta
chlorophylls A, B
Chlorophyta
chlorophylls A, B
Chrysophyta
chlorophylls A, C, and C2; fucoxanthin
Pyrrophyta.
chlorophylls A,C, C2; peridinin, fucoxanthin
Cryptophyta Cryptophyta
chlorophylls
chlorophylls A, C2; phycocyanobilin
Euglenophyta
chlorophylls A, B
Rhodophyta.
chlorophyll A; D
phycoerythrobilin
Dalam mensintesa makanan (fotosintesis), di dalam tubuh alga ada sejumlah
karbohidarat yang tersimpan sebagai cadangan makanan berupa pati (starch)
(alga hijau), laminarin( alga coklat) dan florideon starch (alga merah) ini
menurut Dawes (1981) terutama pada makro alga laut.
2.3
Reproduksi dan siklus hidup alga
Reproduksi adalah perkembangbiakan dari suatu orgsanisme menjadi
organisma
yang
baru.
Reproduksi
adalah
salah
satu
strategi
untuk
memepertahankan keberadaan populasinya di alam, agar tidak punah karena,
predasi, kompetisi, hama dan penyakit dan aging (Kimbal 1992). Ada dua cara
reproduksi yaitu cara aseksual dan seksual, yang amat berbeda antara cara yang
satu dengan yang lainnya. Pada alga juga berlaku kedua macam cara reproduksi
tersebut. Yaitu reproduksi aseksual dan seksual.
11
2.3.1
Reproduksi secara aseksual.
Reproduksi aseksual yaitu di mana suatu organisme baru dihasilkan dari
induk tunggal, tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina. Reproduksi
aseksual dapat terjadi dengan cara pembelahan sel, fragmentasi dan spora.
Pembelahan sel cara biner untuk jenis alga uniselular, dari satu sel menjadi dua
sel.
Cara fragmentasi adalah thalus alga dipotong-potong atau dibagi-bagi
menjadi beberapa bagian yang kemudian nantinya jika hidup pada substrat yang
cocok akan tumbuh menjadi individu yang baru. Kemudian reproduksi aseksual
dengan cara spora adalah dimana
spora dapat diproduksi dalam sel vegetatif
yang normal atau sel khusus. Spora yang dikeluarkan akan membentuk individu
yang baru. Spora dapat bersifat motil maupun non motil.
Pada Reproduksi
aseksual, Individu baru yang dihasilkan adalah sama persis dengan induknya.
Pada makro alga lebih khusus pada alga merah Gracilaria sp. tetraspora
yang dihasilkan oleh alga tetrasporophyte akan mengalami meosis terlebih dahulu
sehingga terjadi reduksi jumlah kromosom terbagi yang tadinya diploid menjadi
haploid. Spora ini akan tumbuh menjadi individu yang baru yaitu alga
gametophyte jantan dan betina yang haploid, dan hidup bebas di alam.
2.3.2
Reproduksi secara Seksual
Reproduksi seksual terjadi karena adanya penyatuan gamet jantan dan betina.
Gamet mungkin identik dalam bentuk dan ukuran (isogamy) dan (heterogamy)
yang berbeda. Beberapa bentuk sederhana alga seperti Spirogyra bereproduksi
dengan metode konjugasi reproduksi seksual. Dalam proses konjugasi, dua untai
berserabut (atau dua organisme) dari bahan jenis alga yang sama pertukaran
genetik melalui tabung konjugasi. Antara dua untai, salah satu bertindak sebagai
donor dan lain berfungsi sebagai penerima. Setelah bertukar materi genetik, dua
alur terpisah dari satu sama lain. Penerima kemudian dapat menimbulkan
organisme diploid. Proses reproduksi secara seksual pada alga yang lebih maju
lagi
jaringan
reproduksinya,
dimulai
12
ketika
alga
gametofit jantan dan gametophyte betina dewasa
menghasilkan gamet haploid
melalui pembelahan sel mitosis, yang kemudian melebur menjadi satu (fertilisasi)
untuk membentuk zigot diploid yang berkembang menjadi tumbuhan sporophyte
atau tetrasporophyte.
Jadi pada alga kedua macam reproduksi (aseksual dan seksual) dapat
berlangsung di dalam satu siklus hidupnya. Dan akan terjadi pergantian generasi
dari generasi tetrasporophyte atau sporophyte yang diploid (2n) menjadi generasi
gametophyte haploid (1n) yang hidup bebas di alam (Free living) .Tetapi ada juga
dimana kedua fase tersebut ada bersamaan hidup bebas di alam. Apabila kedua
generasi alga tersebut dalam penampilan/ penampakan thalusnya terlihat sama
disebut isomorphik dan jika berbeda disebut heteromorphik.
Contoh alga isomorfik yang siklus hidupnya triphase yaitu Gracilaria sp.
Siklus hidupnya yaitu sebagai berikut (lihat gambar 5). Dimana Siklus
hidup Gracilaria sp ini juga terjadi pada kebanyakan alga merah, dimana akan
melalui tiga generasi (trifasik) yaitu generasi tetrasporophyte (2n) dan generasi
gametophyte(1n) yang merupakan tanaman yang hidup bebas di alam. Dan
generasi karposporophyte tidak hidup bebas di alam (non living) wujudnya kecil
seperti bintil-bintil disebut cystocarp (2n), menyerupai parasit tetapi bukan parasit
yang hidupnya menempel pada batang gametophyte betina. Terjadinya Cystocarp
(2n) ini berawal dari peleburan antara gamet (1n) jantan dan betina (1n), terjadi di
carpogonial branch yang ada trikogen. Setelah fertilisasi kemudian membentuk
cystocarp yang didalamnya terdapat spora disebut carpospora. Cystocarp ini 2n
yang tidak dapat hidup bebas dan tidak bergerak (bersifat parasit).Nanti saat
cystocarp ini membuka dan carpospores ini keluar dilepaskan
ke perairan
kemudian carpospora ini akan menempel pada substrat yang cocok dan akan
tumbuh
dan
berkembang
menjadi
individu
yang
baru
yaitu
tetrasporophyte.Tanaman tetrasporophyte ini setelah dewasa akan membentuk
spora yang disebut tetraspora(2n), spora ini akan mengalami meosis, membela dan
terjadi reduksi kromosom dari 2n menjadi 1n.
13
Setelah mendapatkan substrat yang cocok maka ia akan tumbuh dan
berkembang menjadi individu yang baru yaitu alga gametophyte jantan dan
Gambar 5. Siklus Hidup Alga Gracilaria sp (Gerung, 2001)
betina. Setelah dewasa menghasilkan gamet dan terjadi fertilisasi,
membentuk cystocarp lagi dan seterusnya. demikian siklus hidup ini berlangsung
di alam.(Dawes, 1981;Dawson 1966).
.
14
3.
MANFAAT ALGA
3.1
Ekonomi
Alga sejak dahulu telah dimanfaatkan oleh manusia sebagai makanan dan
obat-obatan. Dahulu kala di Cina alga digunakan sebagai jenis makanan istimewa
dan disajikan kepada kaisar Cina. Demikian juga dengan di Jepang, orang jepang
menganggap alga sebagai jenis makanan yang penting. Alga telah dimanfaatkan
untuk di makan langsung sebagai lalapan, asinan, oleh manusia bahkan hewan
ternak. Alga dijadikan bahan makanan karena mengandung komposisi utama
sebagai bahan pangan yaitu karbohidrat. Sebagian besar karbohidrat terdiri
sebagai bahan gumi, maka hanya sebagian kecil saja yang dapat diserap dalam
pencernaan manusia, sehingga baik juga untuk di gunakan sebagai bahan diet
makanan. Kandungan protein dan lemak juga sangat sedikit. Begitu pula dengan
kandungan mineralnya, yang paling banyak terdiri dari natrium dan kalsium.
Kadar airnya cukup besar terutama alga laut yaitu mencapai 80-90 persen.
Kandungan gizi
alga yang terpenting adalah pada trace element, khususnya
yodium. Sehingga orang yang banyak mengkonsumsi alga laut terhindar dari
penyakit gondok yang disebabkan karena kekurangan zat yodium.
Dalam dinding sel alga laut yang terdiri dari senyawa polisakarida yaitu selullosa
yang mengandung bahan phycocholloid yang dapat diekstrak untuk dimanfatkan
sebagai bahan baku dalam berbagai industri, yaitu mengandung agar, karageenan
dan asam alginat, yang dapat diekstrak untuk dipakai dalam industri makanan,
tekstil, farmasi dan industri kertas, pupuk, dan lain-lain. Sehingga alga ini
mempunyai nilai ekonomis.
Menurut Zaneveld (1956) dalam Kordi (2010) bahwa ada 56 jenis alga yang telah
di manfaatkan di Indonesia, yang meliputi 16 jenis alga hijau, 9 jenis alga coklat
dan 31 jenis alga merah. Selanjutnya Anggadiredja et al (1996) berhasil
menginventarisir 61 jenis dari 27 famili rumput laut yang sudah bisa dijadikan
makanan oleh masyarakat wilayah pesisir dan 21 jenis dari 12 famili yang telah
digunakan sebagai obat tradisional. Dan ada 10 jenis alga paling banyak
dibudidayakan di belahan dunia. Sedangkan Jenis alga yang dapat dimanfaatkan
15
sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas. Adalah Ptilophora sp
3.1.1
Agar
Agar adalah produk kering tidak berbentuk (amorphous), mempunyai sifat
seperti gelatin, dan merupakan hasil ekstraksi non nitrogen. Tidak semua alga
menghasilkan agar, hanya alga merah yang masuk dalam kelompok agarophytelah yang memproduksi agar. Sifat-sifat agar antara lain, dengan kemurnian tinggi
tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas, etanolamida dan
foramide (Selby dan Wyne, 1973 dalam Hermiati, 1992). Pada suhu 32oC – 39ºC
berbentuk solid dan tidak mencair pada suhu dibawah 85ºC (Sugiarto dkk,( 1978).
Dalam keadaan kering alga sangat stabil, pada suhu tinggi dan pH rendah akan
mengalami degradasi. Agar memiliki daya gelasi yang cukup baik, dan komponen
agar yang bertanggung jawab atas daya gelasi tersebut adalah agarose. Daya
gelasi agar juga tergantung pada spesies alga serta perbedaan kondisi daerah dan
iklim (Winarno, 1990). Nilai kandungan agar dan kekuatan gel dari beberapa
spesies alga dapat dilihat pada tabel 3. Pada tabel 3 menunjukkan bahwa
kandungan agar
pada Gracilaria sp berkisar antara 8-44 %. (Gerung,2001;
Kumampung ,dkk 2006 dan Sariono, dkk 1999). Pada alga Gracilaria perplexa
sp.nov. kandungan agarnya kurang lebih 30 % dan tipe agarnya adalah agar yang
mengandung muatan sulfat atau agaropektin (Byrne,dkk 2002).
Selain pada tabel 3 alga lain juga yang mengandung agar yaitu Gelidium,
Gracilaria sp, Pterocladia sp, dan Acanthopeltis japonica.
Secara komersil agar dapat dipisahkan menjadi agarose dan agaropektin.
Agarose umumnya bebas sulfat sedangkan agaropektin mengandung muatan
sulfat (Bird dan Benson, 1987).
Senyawa-senyawa penyusun agar-agar agarose dan agaropektin adalah :
a. Neutral agarose ; (13) D-galaktosa dan (14) anhydro-L-galaktosa
b. Methylated agarose ; (13) 6-0-methyl-D-galaktosa dan (14) anhydroL-galaktosa.
c. Pyruvated agarose, (13) 4,6 0-1 carboxyethylene) D-galaktosa dan
(14) anhydro-L-galaktosa
16
d. Sulphated galactan, (1) D-galatosa dan (14) L-galaktosa-6-sulphate
3.1.2
Kegunaan Agar
Agar digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Seperti industri
makanan, farmasi, industri kertas, tekxtil dan lain-lain.
Industri Makanan.
Agar digunakan dalam industri
ditambahkan sebagai
makanan, pada
bahan baku didalam
bermacam-macam makanan
adonan atau
resep. Seperti
pembuatan pudding, sup, sayuran dan berbagai jenis kue. Didalam pembuatan sup
dan saus fungsinya untuk menambah viscositas. Didalam pembuatan es krim,
permen jelly, digunakan untuk mengentalkan, begitu juga dalam susu.
Tabel 2. Kandungan Agar dan Kekuatan Gel alga Gracilaria sp.
Jenis Alga
Kandungan
Agar (%)
Kekuatan Gel
- Gametophyte
37,50
22, 40 ± 0,7
- Tetrasporofit
38,30
29,20 ± 1,8
Gracilaria salicornia
20,20
- Tetrasporofit
9,52
Gracilaria salicornia
8,6 0
Gracilaria salicornia
10
Gracilaria chilensis
91,29
42,92
80,00
-
11-16
Gracilaria vermiculophylla
11,6 - 45,7
Gracilariopsis longissima
11,6- 45,7
Sumber
(gr/cm )
Gracilaria bursapastories
- Gametophyte
Lokasi
2
-
Gracilariaopsis lemaneiformis
Menurun 25%
22,25 - 85,00
22, 25 - 91,00
954
Gracilaria vermiculophyla
15,3
1,064
Gracilaria coronopifolia
17,5-21,0
560-652
17
Mediterranean
coast, France
Pantai
Malalayang,
Manado.
Soriano,dkk (1998)
Kumampung,dkk
(2006)
Bibit dari Teluk
Gerung,dkk(1999).
Manado,Budidaya
di Jepang
(terkontrol)
Malaysia
Phang 1994 dalam
Kumampung(2006)
Australia Selatan
Bayrne, dkk (2002)
Teluk California
Teluk California
Teluk California
Rojas,dkk (2004)
Rojas,dkk (2004)
Leija,dkk (2004)
Pantai Tongkaina,
Manado
Higuera,dkk 2008)
Watung (2011).
Pada pembuatan es krim dan keju peranan agar juga mengatur keseimbangan dan
memberikan kehalusan (smoothness). Karena daya buihnya yang rendah.
Didalam makannan peranannya juga sebagai pemenuhan karbohidrat meskipun
sulit dicerna dan bergizi rendah, digunakan sebagai bahan diet, untuk
melangsingkan. Dalam minuman juga digunakan sebagai clarifying agent pada
minuman bir, anggur, kopi dan sebagai stabilisator dalam minuman coklat.
Dalam hal pengangkutan ikan yang telah dimasak dan diawetkan, ikan akan
dimasukkan kedalam gel agar-agar. Hal ini telah dilakukan oleh beberapa negara.
Di Jepang telah lama menggunakan agar-agar dalam proses pengalengan ikan
tuna,
fungsinya untuk mencegah terjadinya warna hitam. Di Australi
menggunakan teknik ini untuk menghindari atau melindungi terjadinya proses
pembusukan ikan.
Industri Farmasi
Dalam bidang farmasi peranan agar biasanya digunakan sebagai media kultur
bakteri untuk uji coba berbagai jenis antibiotika. Selain penumbuhan bakteri juga
jamur, dimana biasanya di dalam media agar tersebut ada penambahan nutrien
kedalam media kultur bakteri. Agar-agar untuk pertumbuhan bakteri sebaiknya
masih tetap cair bila digunakan sampai 42oC dan tetap kuat pada suhu 370C
bakteri yaitu menggunakan suhu incubator. Ada beberapa bakteri yang mampu
mencerna agar-agar yaitu bakteri Vibrio agar lequefaciens dan ada lagi bakteri
lainnya, ada 20 jenis bakteri. Bakteri ini juga digunakan untuk menguji apakah
kandungan phycocoloid yang diekstrak dari alga benar-benar agar atau bukan,
karena bakteri ini tidak memakan karagenan.
Selain itu juga dipakai sebagai bahan tambahan pada kapsul pembungkus obat.
Juga sebagai bahan pengental dalam berbagai jenis obat sirup.
Juga sebagai bahan baku dalam kosmetika sebagai cream, lotion, untuk
mengentalkan.
Industri Tekstil
Agar digunakan dalam proses textile sizing. Bagi agar yang bermutu tinggi
18
digunakan untuk proses sizing pada kain sutra, yang mutunya rendah digunakan
untuk jenis tekstil macao, muslin, nonsoaks, voil dan lain lain. Agar yang baik
dapat diambil dari chondrus dan Gigarina.
Industri Fotografi
Agar-agar bermanfaat terutama dalam proses pembuatan pelat film. Meskipun
pada mulanya mereka lebih memilih gelatin untuk proses pembuatan pelat film
tetapi sekarang memakai agar-agar karena lebih baik dari gelatin dalam hal untuk
mendapatkan pelat film yang lebih tipis, larut dalam air dan tidak meleleh dalam
suhu tropis serta cara pembuatannya lebih muda.
Industri Kulit
Agar digunakan dalam proses akhir industri kulit untuk memantapkan permukaan
kulit yang halus (gloss) dan kekakuan kulit. Juga pakai dalam pembuatan perekat
(adhesive) tingkat tinggi yang banyak digunakan dalam industri plywood.
3.1.3
Ekstraksi Agar
Untuk mengekstrak kandungan agar pada alga merah salah satu cara yang
dapat dilakukan
adalah
menurut Chirapart dan Ohno (1993) yang telah di
modifikasi adalah sebagai berikut :
Sampel alga dijemur di bawah sinar matahari hingga kering, kemudian dengan
timbangan Ohaus alga kering ditimbang (A gram) sebanyak 5 gram dimasukkan
dalam 5 % larutan NaOH, diinkubasi selama 2 jam pada temperature 70oC dalam
water bath. Setelah itu dibersihkan dengan air. Selanjutnya alga dimasukkan
dalam 100 ml larutan H2SO4 1,5 % diaduk selama 1 jam. Kemudian dibersihkan
dengan air sampai semua asam tercuci bersih. Setelah itu sampel alga ditambah air
suling 150 ml kemudian direbus. Dalam keadaan panas agar disaring dengan kain
halus, didinginkan kemudian endapan tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu
60oC selama 24 jam. Selanjutnya agar ditimbang (B garam) utnuk diketahui
beratnya.
19
Prosentase agar dihitung dengan menggunakan rumus :
Berat kering Agar (B gram)
Agar (%) = ---------------------------------------- x 100
Berat Sampel Alga (A gram)
3.1.4
Kekuatan Gel agar
Untuk mengukur kekuatan gel digunakan metode Gel Strenght, yang
disederhanakan oleh Hatta dan Hermiati (1992). Larutan agar 2 gram dipanaskan
dengan larutan KCL dengan konsentrasi 0,3 % dalam 100 ml aquades. Filtrat yang
diperoleh dituangkan ke dalam 3 tabung reaksi sebanyak 15 ml, lalu diletakkan di
tempat datar dibiarkan menjedal pada suhu kamar. Kemudian tabung reaksi
dipasang pada alat pengukur kekuatan gel. Setelah itu beban (M) diletakkan pada
piring piston yang bagian atas mulai beban yang ringan. Kunci piston dibuka
dengan hati-hati. Dibiarkan piring piston pada bagian bawah (A) bergerak lambat
ke bawah sampai mengenai permukaan gel dan biarkan beberapa saat. Bila
permukaan tidak tembus, maka beban ditambah lagi secara hati-hati. Setiap
penambahan beban biarkan piston beberapa detik di atas permukaan gel, diamati
gerakannya. Perlakuan ini dilakukan terus sampai satu saat beban cukup berat dan
piring piston bagian bawah mampu menembus permukaan gel.
Kekuatan gel dapat dihitung degan rumus sebagai berikut :
M
Kekuatan Gel =
----------------------- gram/cm2
A
Dimana :
M
A
= Massa/berat beban (gram)
= Luas piring piston bagian bawah (cm)
20
3.2
Ekologis
Secara ekologis alga laut merupakan mata rantai dalam siklus rantai
makanan di perairan karena memproduksi zat-zat organik dan mensuplai oksigen,
hasil akhir dari fotosintesis. Penahan substrat, dan sebagai penyaring air (Dawes
1981). Alga juga berfungsi sebagai bahan makanan dari berbagai jenis biota laut
seperti antara lain ikan, limpet dan siput, juga sebagai tempat berlindung dan
pembesaran.
Manfat lainnya secara ekologis adalah memelihara keutuhan terumbu karang
dengan cara melekatkan terus menerus berbagai potongan kalsium karbonat
menjadi satu, sehingga dapat memperkuat kerangka terumbu karang dari
kerusakan yang diakibatkan oleh gerakan ombak dan mencegah tertepisnya
potongan-potongan individual dan terumbu ( Nybakken, 1992). Menurut Duxbury
dan Duxbury, alga juga bermanfaat sebagai penghasil kapur yang berguna bagi
pertumbuhan karang di daerah tropis (Kumampung, dkk, 2009)
Dalam masalah global saat ini mengenai pencemaran di darat laut maupun udara,
mengantisipasi semua itu alga dapat dijadikan alternative dalam pemecahan
masalah tersebut. Masalah pencemaran dilaut oleh logam-logam berat telah
dilakukan. Beberapa spesies alga mampu mangadsorpsi ion-ion logam. Baik
dalam keadan hidup maupun dalam bentuk sel mati (biomassa) Beberapa laporan
mengemukakan bahwa gugus fungsi yang terdapat di dalam alga mampu
melakukan pengikatan dengan ion logam. Gugus fungsi tersebut terutama adalah
gugus karboksil, hidroksil, sulfudril, amino, iomodazol, sulfat, dan sulfonat yang
terdapat didalam dinding sel dalam sitoplasma.
Sedangkan masalah pencemaran udara salah satu penyebab karena tingginya
Carbondioksida di udara sehingga mengakibatkan meningkatnya pemanasan
bumi, melalui budidaya alga masalah emisi gas carbon akan teredam sehingga
akan terjadi pengurangan karbondioksida lewat proses fotosintesis.
21
4.
TEKNOLOGI BUDIDAYA ALGA
Begitu banyaknya manfaat alga sehingga banyak dieksploitasi dan
lebih banyak diambil dari alam sedangkan kebutuhan akan alga cukup besar
sehingga produksinya tidak memenuhi kebutuhan yang ada. Untuk
mengantisipasi hal itu semua, maka perlu adanya usaha budidaya alga untuk
mendapatkan produksi yang maksimal.
Budidaya merupakan langkah yang paling tepat dalam usaha meningkatkan
produksi alga, sehingga diharapkan kebutuhan akan
alga dapat terpenuhi
sesuai dengan yang diharapkan, suplai alga dapat lebih lancar,teratur baik
dalam jumlah maupun mutunya.
Dalam usaha budidaya ada banyak permasalahan yang dihadapi termasuk
masalah lokasi kelayakan budidaya. Pemilihan lokasi budidaya yang tepat
merupakan tahap awal yang harus dilakukan untuk melakukan kegiatan usaha
budidaya rumput laut atau alga laut yang berkelanjutan. Banyak factor yang
harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi budidayaalga laut ini (Mubarak
et.al. 1990 dalam Radiarta, 2007). Lokasi budidaya yang baik adalah didaerah
teluk atau perairan yang setengah terbuka dengan pergerakan arus air dan
gelombang yang tidak terlalu keras. Untuk budidaya didasar (Bottom Cultur)
dasar perairan harus diperhatikan terutama jenis substratnya haruslah sesuai
dengan speises alga yang akan dibudidayakan.Juga kualitas perairan haruslah
sesuai untuk pertumbuhan alga. Masalah biologi alga seperti bibit, pemilihan
bibit yang baik atau bibit unggul, yang tahan terhadap hama dan penyakit.
Dari segi transportasipun harus diperhatikan terutama dalam hal pemasaran
nanti.
4.1
Pemilihan Jenis dan bibit unggul
Jenis alga yang ada di wilayah laut nusantara kita cukup banyak
temasuk yang mempunyai nilai ekonomis. Seperti jenis alga carragenophyt
(tanaman yang mengandung karagenan) dan jenis agarophyt (tanaman yang
22
mengandung agar-agar). Umumnya kedua jenis alga tersebut telah banyak
mendapat perhatian untuk diolah atau dikembangkan melalui teknik budidaya.
Pemilihan jenis alga yang akan dibudidayakan sangat tergantung pada produk
akhir yang diinginkan. Jika yang diinginkan hasil akhirnya adalah agar, maka
pilihlah alga jenis agarophyt seperti Gelidium, Gracilaria, Pterocladia sp dan
Acanthopeltis japonica dan Ahnfeltia plicata. Apabila produk akhir yang
diinginkan adalah karaginan maka pilih jenis alga yang jenis caragenophyt
seperti Gigartina, Hypnea dan Eucheuma.
Apabila hasil akhir yang diinginkan adalah asam alginate maka alga yang akan
dibudidayakan adalah kelompok alga coklat seperti Sargassum sp, Turbinaria
sp, Dictyota sp dan lain-lain. Dan dalam pemilihan jenis alga untuk
dibudidayakan harus melihat juga keadaan thallus alga tersebut yang diambil
adalah bibit unggul yang memenuhi beberapa persyaratan yang baik seperti ;
keasdaan fisik alga, harus kuat dan tahan terhadap cuaca buruk terutama
terhadap ombak, untuk menghindari terjadinya kerontokan. Alga ini juga harus
memiliki pertumbuhan harian (daily growth rate) yang cukup baik agar
produkktivitasnya akan tinggi. Selain itu juga alga harus yang bebas atau tahan
terhadap hama dan penyakit. Salah satu ciri bibit alga yang baik contohnya
pada alga jenis Eucheuma spinosum warnanya kemerah-merahan, dengan
duri dan percabangan yang lebih banyak (Winarno, 1990).
4.2
Metoda Budidaya
Metoda budidaya alga dapat dilakukan dalam beberapa cara, yang
paling sederhana atau tradisional adalah menanam atau membudidayakan
alga di tempat asalnya dengan cara menebarnya di sekitar perairan tempat
tumbuhnya yaitu pada substrat alami berupa tanah berpasir, atau batu
karang mati yang ada. Sedangkan yang telah menggunakan teknologi yang
lebih baik lagi memanfaatkan bahan-bahan yang ada seperti tali rafia, botol
aqua untuk pelampung. Dan yang lebih maju lagi adalah dengan
memanfaatkan material sebagai alat bantu budidaya alga yang lebih baik
lagi seperti menggunakan bola pelampung, tali nylon dan jaring dari bahan
polyetilen bahkan kerangka besi dan lain-lain hasil teknologi. Juga bibit
23
yang di gunakan untuk penanamanpun hasil dari kemajuan teknologi
seperti kultur jaringan.
4.2.1. Budidaya makro alga
Hal-hal yang perlu di perhatikan dalam budidaya alga adalah sebagai
berikut :
A.
Pemilihan lokasi
-
Perairan dasar pasir berbatu dengan tingkat kesuburan yang
baik
-
Bebas dari hempasan ombak besar, jauh dari sumber air tawar
dan bahan pencemar
-
Memiliki tingkat kesuburan yang baik
-
Parameter kualitas air :
Kecerahan : 20-40 cm/detik
Suhu
: 27-29oC
Salinitas
: 30-33 ppt
pH
: 7,5-8,2
Kecerahan : 4-6 m
Bahan organic: ≥ 50 ppm
B. Teknik budidaya
1.
Sistem Terapung
Teknik budidaya system terapung ini biasanya menggunakan material
sebagai alat bantu untuk menggantungkan
alga sehingga berada
dalam kondisi terapung di dalam kolom air tempat lokasi budidaya.
System terapung ini cara budidayanya dibagi atas; long line, rakit
apung dan jalur.

Long line
1.
Bahan :
24
- Tali multifilament 12 mm sebagai tali utama (main line)
dan pemberat
- Tali multifilament 5 mm sebagai tali ris
- Tali multifilament 2 mm sebagai tali pengikat tali utama
dan pelampung
- Pelampung kecil (botol aqua) sebagai pelampung tali ris
- Pelampung bola (drum foam) sebagai pelampung
- Pemberat (beton, batu gunung dll)
- Tali rafiah/tali 2 mm /plastik es sebagai pengikat rumput
laut
2. Alat : - Pisau dapur
- Meteran
- Peralatan tukang batu untuk membuat pemberat
seperti sekop
3. Penunjang : Perahu, baju pelampung,kacamata selam.
4. Ukuran long line bervariasi sesuai dengan keinginan yaitu
25 x 30 m,
50 x 50 m
5.
Jarak antar titik ikat/titik rumpun tanam adalah 25 – 30 cm
Jarak antar tali ris 200 – 300 cm
6.
Jumlah pelampung bola 12 buah
7.
Jumlah pelampung kecil (botol aqua) 6 / tali ris
8.
Jumlah pemberat 12 buah dengan berat masing-masing +
50 kg
9.
Bibit yang ditanam antara 75 – 100 g / rumpun
10. Tali pengikat rumput untuk tali rapiah panjangnya 35 -40
cm, sedangkan untuk tali berbentuk gelang diameternya 30
– 40 cm
25

Rakit Apung
Bahan :
- Tali multifilament 12 mm sebagai tali pemberat
- Tali multifilament 5 mm sebagai tali ris
- Pelampung bola (drum foam) sebagai pelampung
utama
- Pemberat (beton, batu gunung dll)
- Tali rafiah/tali 2 mm /plastik es sebagai pengikat
rumput laut
- Bambu
- Kayu pasak/usuk
- Jaring
Alat :
- Pisau, parang, gergaji, bor tangan/listrik, pahat,
gunting
- Meteran
- Peralatan tukang batu untuk membuat pemberat
seperti sekop
Penunjang : Perahu, baju pelampung,kacamata selam.
-
Bambu yang baik untuk rakit
- Tua dan lurus
- Diameter ukuran minimal 5 cm dan panjang minimal 10
m
- Tidak pecah
- Ukuran rakit maksimal 10 x 10 m yang kecil 4 x 4 m
- Jarak antar tali ris 25 cm.
- Jarak antar titik tanam / rumpun 25 - 30 cm
- Jaring yang digunakan sebagai pelindung meshsize maksimal 2.5
inch
- Bentuk / disain tidak mudah berubah dan tali ris kuat terbenang
- Bibit yang ditanam antara 75 – 100 gram
26
Gambar 6. Sistem terapung

Jalur
Bahan :
- Tali multifilament 12 mm sebagai tali pemberat dan main
line
- Tali multifilament 6 mm sebagai tali ris
- Pelampung bola (drum foam) sebagai pelampung utama
- Pemberat (beton, batu gunung dll)
- Tali rafiah/tali 2 mm /plastik es sebagai pengikat rumput
`
laut
- Bambu
Alat :
- Pisau, parang, gergaji, bor tangan/listrik, pahat, gunting
- Meteran
- Peralatan tukang batu untuk membuat pemberat seperti
sekop
Penunjang : Perahu, baju pelampung,kacamata selam.
27

Kantong
Bahan :
- Keranjang kantong terbuat dari benang PE ukuran D18
- 21
- Tali multifilament 6 mm sebagai ttali gantung
- Pelampung bola (drum foam) sebagai pelampung
utama
- Pemberat (beton, batu gunung dll)
- Kantong
- Pemberat kantong
Alat :
- Pisau, parang, gergaji, gunting
- Meteran
- Peralatan tukang batu untuk membuat pemberat seperti
sekop
Penunjang : Perahu, baju pelampung,kacamata selam.
Gambar 7. Budidaya alga dalam kantong
28
2.
Sistem Lepas Dasar PPenanaman rumput alu
Sistem Budidaya dengan cara ini dimana alga laut di tanam di dasar
perairan. Menggunakan patok dan tali.

Patok
Bahan :
- Tali multifilament 10 mm sebagai tali utama (main
line)
- Tali multifilament 5 mm sebagai tali ris
- Tali rafiah/tali 1 mm /plastik es sebagai pengikat
rumput laut
- Patok
Alat :
- Pisau dapur, parang
- Meteran
- Linggis, cangkul, hammer,
Penunjang : Kacamata selam, karung panen.
Ukuran Patok ;
- Panjang patok maksimal 100 cm
- Diameter patok minimal 3 cm
- Bahan patok dapat berupa kayu atau besi
- Jarak antar patok 50 – 80 cm
- 40 % patok dipermukaan perairan
- Panjang tali ris 5 meter, jika lebih sebaiknya menggunakan
pelampung kecil (botol )
- Jarak antar tali ris 25 – 30 cm
- Jarak antar titik tanam 25 – 30 cm
- Jarak antara tali ris dengan dasar perairan 30 cm
29

Tebar Tempel
Di Tambak :
- 1 ha bibit 1 -2 ton disesuaikan dengan kesuburan tambak
- Pergantian air minimal satu kali seminggu
- Kedalaman air tambak pada minggu 1 – 4 sekitar 40 – 50
cm, minggu ke 4 – 8 kedalaman 60 -70 cm
- Apabila pertumbuhan kurang dapat ditambahkan pupuk 20
kg/ha
- Tambak harus bersih dari predator dan teritip/siput dan
lumut
- Bibit ditebar secara terurai
Di Laut :
- Bibit diikat dengan tali rafiah dan diikatkan pada karang
atau batu gunung. kelemahannya adalah mudah diserang
oleh predator dan gampang hanyut atau putus
C.
Hama dan penyakit
Hama adalah organisme yang mengganggu, merusak bahkan
memangsa
rumput laut sehingga dapat menimbulkan kerusakan bahkan
kematian.
Hama rumput laut dapat berupa ikan herbovora, penyu, bulu babi.
Penyakit adalah organisme yang menyerang rumput laut berupa bakteri,
virus.
Epifit adalah organisme yang menumpang hidup dan tumbuh pada inangnya
seperti gulma, atau rumput laut lainnya.

Penyebab timbulnya hama dan penyakit adalah :
1. Perubahan suhu perairan yang ekstrim ;
- suhu perairan yang tinggi (lebih dari 31 oC) ; akibat panas
matahari dan
30
kurangnya pengadukan perairan oleh arus dan gelombang.
- suhu yang rendah (dibawah 26 oC) ; akibat cuaca dingin oleh
hujan pasokan air tawar
2. Salinitas yang rendah akibat hujan atau limpasan air tawar dari sungai
3. Pencemaran lingkungan seperti limbah industri
4. Turunnya kandungan nutrien
5. Musim spawning
Tanda- tanda serangan hama dan penyakit :
-Ujung thallus memutih
-Pangkal dan batang thallus terdapat bintik putih
-Terdapat jamur di thallus, Thallus menjadi kurus, Ujung patah dan luka
-Kulit thallus terkelupas
-Warna berubah menjadi pucat akibat kehilangan pigmen warna
-Rontok karena patah-patah , Warna rumput hitam
- Kerdil dan pertumbuhan lambat

Penanggulangan hama dan penyakit :
1. Penggunaan jaring.
Jaring yang digunakan hendaknaya bersih dari macam kotoran yang
menempel dan bebas dari bakteri atau mikroorganisme lainnya.
2. Metode kejut.
Penggunaan bahan-bahan yang mengkilap seperti cd dan kertas warnawarni.
3. Metode bunyi yaitu penggunaan botol-botol kecil agar menimbulkan bunyi
4. Metode tenggelam yaitu menurunkan rumput laut beberapa cemtimeter
dari kedalaman sebelumnya.
5. Controling dan membersihkan dari epifit lain yang menempel pada jarring
maupun pada alga yang di budidayakan dengan cara yaitu mengoyanggoyang rumput laut.
6. Panen
31
7. Penggantian jenis/strain bibit dan penggantian metode penanaman.
8. Pembersihan sarana dan lokasi budidaya
9. Pembatasan jumlah areal budidaya
a. Proses Panen
- Panen dapat dilakukan dengan beberapa cara :
1. Panen rumput laut secara langsung yaitu dengan mengambil rumput laut
dengan memotong pada tali ris
Kelemahannnya ; waktu digunakan lebih lama
Kelebihannya
; bersih, utuh
2. Panen rumput laut dengan memanen bersama tali risnya
3. Panen dengan mengangkat sarana budidayanya seperti rakit
4. Melepaskan rumput laut dengan tali risnya
Waktu Panen :
-Waktu panen ; disesuaikan dengan pasang surut dan keadaan musim yang
terjadi.
-Prediksi jumlah panen.
Peralatan Panen :
-
Perahu angkut ; pada sistem apung dan tanam dasar
-
Rakit apung ; pada sistem tanam dasar
-
Pisau atau gunting
-
Karung atau kantong jaring
-
Terpal
-
Baju pelampung
-
Sepatu karet
-
Tongkat pengait
Panen karena alasan khusus;

Terserang hama seperti ikan, penyu dan epifit

Terkena penyakit seperti ice-ice
32

Rumput laut rusak akibat kondisi perairan yang ekstrim

Terkena bencana seperti gelombang dan badai

Konstruksi sarana budidaya rusak
b. Proses penjemuran alga
Penjemuran dapat dilakukan dengan :
- Jemur dengan tali ris dengan cara digantung seperti jemuran
- Jemur di para-para yang disesuaikan dengan kapasitasnya dan lahan
yang tersedia
- Plastik terpal
- Lantai jemur
Standar mutu rumput laut kering
- kadar air maksimal 30%
- kadar kotoran maksimal 1%,
- umur panen 45 hari (eucheuma), dan 60 hari (gracillaria)
- bau spesifik rumput laut
Penyimpanan
- Sebelum di packing, rumput laut diangin-anginkan untuk
menghilangkan hawa
panas agar tidak lembab
- Packing sebaiknya dilakukan dengan press untuk mengurangi
volume sehingga
menghemat angkutan
- Gudang harus kering dan sirkulasi udara lancar
- Kemasan packing dijaga agar tidak terjadi kontak dengan lantai
gudang
33
Kelompok Alga laut yang banyak dibudidaya di belahan dunia
(Anonim, 2007).
a. Alga Undaria
b. Alga Laminaria
34
c.
Alga hizikia
d. Alga Eclonia
35
e. Alga Sargassum
f.
Alga Gelidium
36
g. Alga Gracilaria
h. Alga Chondrus
37
Alga Eucheuma
Alga phorphyra
38
5. KESIMPULAN
Alga banyak di temukan dipermukaan bumi baik, di perairan darat
atau air tawar maupun laut. Dikelompokan dalam 8 division dan terdiri
dari 16 kelas, dan tersebar dalam ordo, family, genus dan sejumlah spesies
yang ada. Secara morfologi tidak dapat dibedakan antara akar batang dan
daun tetapi hanyalah berupa bentuk talus belaka. Dapat bereproduksi
secara aseksual dan seksual. Ada mikro alga dan makro alga.
Alga banyak manfaatnya; dapat dimakan langsung atau sebagai
bahan baku dalam berbagai industri baik industri makannan, tekstil,
farmasi dan lain-lain. Karena di dalam dinding selnya mengandung agar,
karagenan dan alginate yang dapat diekstrak, sehingga alga mempunyai
nilai ekonomis. Secara ekologis merupakan mata rantai dalam siklus rantai
makanan di perairan dan mensuplai oksigen.
Teknologi budidaya alga dapat dilakukan dengan beberapa cara
yaitu system apung dan lepas dasar, untuk mendapatkan produksi yang
maksimal. Dan selama budidaya berlangsung perlu memperhatikan kondisi
lingkungan perairan yang ada dan waspada terhadap hama dan penyakit
alga.
39
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007. CO2 Removal by seaweed. Ministry of Maritime affairs and
Fisheries. Koren Institute of Marine Sci & Tech. Promotion Pusat National
University. 5 hal
Byrne, K., G.C. Zuccarello, J.West,M.L.Liao and G.T.Kraft. 2002. Gracilaria
spesies (Gracilariaceae, Rhodophyta) from southeastern Australia,
including a new species, Gacilaria perplexa sp. Nov. : morphology,
molecular relationships and agar content. Phycological Research.50:295311.
Aslan, I.M, 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta. 94 hal.
Bold, H.C. dan M.J. Wynne. 1978. Introduction to the Algae. Prenticell. Inc.
Engelwood Cliff. New Jersey. 710 hal.
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. Jhon Wiley and sonc.inc. Published
dimultanconly. Canada.
Dawson, E.Y. 1966. Marine Botany and Introduction. Hollt, Rinehart and
Winston, Inc. New York Chicago, San Fransisco, Toronto, London. 371 pp
Grevo S. Gerung. 2001, Study on Indonesian Gracilariaceae. (Rhodophyta,
Gigartinales): Taxonomy, Parasitic, Seed Production, Life History, Growth
and Agar Properties Doctor Thesis, Hokkaido University, Graduate School
of Fisheries Science, Lab. of Aquatic Breeding Science. Hokkaido,
Hakodate.
Kimbal, J.1992. Biologi. Edisi ke lima jilid 2. Terjemahan edit S.S Tjitrosomo dan
N. Sugiri. Erlangga. Jakarta.
Kordi, M.G.H. 2010. Ekosistem Terumbu Karang. Potensi, Fungsi dan
Pengelolaan. Rineka Cipta. Jakarta. 212 hal.
Kumampung, D.R.H., T. Sumarto dan I, Manembu.2009. Struktur Komunitas
Alga Laut di Perairan Pantai Malalayang Kota Manado. Jurnal
Perikanan dan Kelautan.Volume V Nomor 3, Desember 2009. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. UNSRAT. Manado. hal 49-57.
Kumampung,D.R.H, B.Soeroto. R.Ch.Kepel. F. Losung. F. Manajang dan J.M.
Mamuaja., 2006. Pola Reproduksi Kandungan Agar dan Kekuatan Gel pada
Alga merah Gracilaria salicornia (C. Agardh) Dawson dari Pantai
40
Malalayang. Journal of Research and Development Sam Ratulangi
University. 29(1):79-184.
McConnaughey,B.H. dan R. Zottoli.1983. Pengantar Biologi Laut.C.V.Mosby
Company.St.Louis, Toronto, London .Hal 115-134
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut.Suatu Pendekatan ekologis. Gramedia
Pustaka Utama. Jakarta. 459 hal.
Sariano, E.M., E.Bourret.,M.L. de Casabianca., and LMaury. 1999. Agar From
The Reproductive and Vegetative Stages of Gracilaria bursa-pastoris.
Bioresource Technology. 67:1-5.
Sze, P. Algae. Second edition.Wm.c.Brown Publishers. Dubuque, Melbourne,
Australia, Oxford, England.256 p
Winarno, F.G. 1990. Teknologi Pengelolaan Alga Laut. Pustaka Sinar harapan.
Jakarta. 112 hal.
Isomorphic adalah dimana secara morfologi bentuk thalus alga hanya satu
bentuk yang sama antara alga gametophyte dan tetrasporophyt. Sehingga
secara kasat, akan sulit untuk membedakan antara kedua phase alga tersebut
pada spesies yang sama. Sebaliknya Hetromorphic dimana secara morfologi
bentuk yang berbeda, bervariasi.
41
Download