MEKANISME PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN AIR DI TAMAN

advertisement
MEKANISME PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN AIR
DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO,
JAWA BARAT
(Studi Kasus Desa Tangkil dan Cinagara)
RAKHMI WALIDAINI
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
MEKANISME PEMBAYARAN JASA LINGKUNGAN AIR
DI TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO,
JAWA BARAT
(Studi Kasus Desa Tangkil dan Cinagara)
RAKHMI WALIDAINI
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan
pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN
KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA
FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
RINGKASAN
RAKHMI WALIDAINI. Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus Desa
Tangkil dan Cinagara). Dibimbing oleh ENDES N. DAHLAN dan
HARYANTO R. PUTRO.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki peran
penting dalam perlindungan sistem tata air serta pemberdayaan masyarakat di
sekitarnya. Kawasan ini memiliki nilai manfaat air sebesar Rp 4,341 milyar/tahun
(Darusman 1993). Salah satu cara yang dilakukan untuk melindungi sistem tata air
adalah melalui mekanisme pembayaran jasa lingkungan. Keberlanjutan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air diharapkan akan meningkatkan posisi
kawasan TNGGP sebagai penyedia jasa lingkungan air dan bahan pertimbangan
untuk mengatur pemanfaatan jasa lingkungan air di kawasan konservasi. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui mekanisme, keterlibatan para pihak serta
mengevaluasi mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan TNGGP.
Penelitian ini dilakukan di TNGGP dan sekitarnya pada bulan SeptemberNovember 2011. Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi lapang dan
wawancara semi terstruktur dengan narasumber kunci dan anggota kelompok tani.
Narasumber dipilih secara purposif dengan mempertimbangkan tingkat
pengetahuan narasumber terhadap mekanisme pembayaran jasa lingkungan air.
Data dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif dan analisis para pihak
berdasarkan Groenendjik (2003). Selain itu, mekanisme yang berjalan dilihat
berdasarkan definisi Wunder (2005) dan literatur lainnya.
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP didasari oleh surat
edaran Dirjen PHKA nomor SE.3/IV-SET/2008. Selanjutnya, dibentuk forum
independen yang mengelola insentif dari para pemanfaat jasa lingkungan air
TNGGP. Dana kompensasi yang terkumpul kemudian digunakan untuk
menjalankan program kerja serta manajemen Forpela TNGGP. Keterlibatan para
pihak dilihat berdasarkan keikutsertaan para pihak dalam mekanisme. Pihak yang
terlibat pada awal penginisiasian mekanisme antara lain: BB TNGGP, ESPUSAID, RCS, Dinas PSDA, Dinas ESDM, Dinas Pertanian dan Kehutanan, dan
Dirjen PJLKKHL. Pihak yang terlibat dalam penerapan mekanisme antara lain:
KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk, KSM Cinagara Asri, Forpela TNGGP, Mapala
UI, YBUL, dan pemanfaat-pemanfaat air (PT Rejosari Bumi, PT Pacul Mas Tani,
BPKH Cinagara, STPP Cinagara dan Pusdiklat Karya Nyata).
Mekanisme ini termasuk mekanisme “PES-like” karena memenuhi hampir
semua kriteria Wunder (2005). Namun, berdasarkan perkembangan mekanisme
PJL yang terjadi di lapangan, mekanisme PJL di desa Tangkil dan Cinagara lebih
terlihat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dengan melakukan kolaborasi
dengan berbagai pihak, sedangkan upaya konservasi dilakukan BB TNGGP
selaku pengelola kawasan TNGGP.
Kata kunci: mekanisme, pembayaran jasa lingkungan, air, TNGGP
SUMMARY
RAKHMI WALIDAINI. Payment for Environmental Water Service
Mechanism in Gede Pangrango National Park, West Java (Case Study in
Tangkil and Cinagara Villages). Under supervision of ENDES N. DAHLAN
and HARYANTO R. PUTRO.
Gede Pangrango National Park (GPNP) has an important role in protection
water system and surrounding community empowerment. This area has a value of
water benefits of Rp 4,341 billion/year (Darusman 1993). One of the ways is
conducted to protect water system is through the payment for environmental
services. Sustainability of this mechanism is expected to enhance the position of
the GPNP as a provider of environmental water service and consideration for
managing the use of environmental water services in protected area. The purpose
of this research is to know about the payment of environmental water service
mechanism, the involvement of all stakeholders, and to evaluate the payment of
environmental water service mechanism in GPNP.
This research conducted in GPNP and its surrounding in SeptemberNovember 2011. Data collected through the study of literature, field observation
and semi structured interview with key speakers and members of farmer groups.
Key speakers were selected by purposive considering the level of their knowledge
of the mechanism. Data analyzed with descriptive qualitative analysis and
stakeholder analysis based on the Groenendjik (2003). Besides, this mechanism
views based on the definition of Wunder (2005) and other literature.
This mechanism is based on letter of Dirjen PHKA number SE.3/IVSET/2008. Next, was formed an independent forum which manage the incentive
of the water service users in GPNP. Collected compensation fund then used to
carry out the work program and management of Forpela GPNP. The involvement
of the stakeholders are based on their participation in the mechanism. Stakeholdes
involved at the beginning are TNGGP office, ESP-USAID, RCS, Agency of
PSDA, Agency of ESDM, Agency of Agriculture and Forestry, and Dirjen
PJLKKHL. Stakeholders involved in the implementation of the mechanism, such
as: KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk, KSM Cinagara Asri, Forpela TNGGP,
Mapala UI, YBUL, and water service users (Rejosari Bumi company, Pacul Mas
Tani company, BPKH Cinagara, STPP Cinagara and Pusdiklat Karya Nyata).
This mechanism include to “PES-like” mechanism because it fulfilled
almost all criteria of Wunder (2005). However, based on the development of
mechanism that occurs in the field, the mechanism in Tangkil and Cinagara
villages more visible community empowerment as an effort to collaborate with
various stakeholders, whereas conservation efforts done by GPNP officer as
GPNP area manager.
Keywords: mechanism, payment for environmental services, water, GPNP
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Mekanisme
Pembayaran Jasa Lingkungan Air di Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus Desa Tangkil dan Cinagara) adalah
benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan
belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi atau lembaga
manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar
Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2012
Rakhmi Walidaini
E34070012
Judul Skripsi
: Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat
(Studi Kasus Desa Tangkil dan Cinagara)
Nama
: Rakhmi Walidaini
NIM
: E34070012
Menyetujui,
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Dr. Ir. Endes N. Dahlan, MS.
NIP. 19501226 198003 1 002
Ir. Haryanto R. Putro, MS.
NIP. 19600928 198503 1 004
Mengetahui,
Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata
Fakultas Kehutanan
Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS.
NIP. 19580915 198403 1 003
Tanggal lulus:
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt atas segala rahmat
dan karunia yang diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi
dengan judul Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus Desa Tangkil dan Cinagara)
merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada
Fakultas Kehutanan IPB.
Skripsi ini menguraikan tentang mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat. Skripsi ini
lebih memfokuskan wilayah kajian pada desa Tangkil dan Cinagara. Mekanisme
pembayaran jasa lingkungan air di kawasan taman nasional menjadi salah satu
cara untuk meningkatkan pengelolaan jasa lingkungan hutan khususnya air. Selain
itu, mekanisme ini diharapkan akan meningkatkan posisi kawasan TNGGP
sebagai penyedia jasa lingkungan air dan pusat pemberdayaan masyarakat di
sekitar kawasan. Adanya keterlibatan para pihak diharapkan mampu mendukung
keberlanjutan mekanisme ini. Oleh karena itu, skripsi ini diharapkan dapat
menjadi masukan bagi pengelola dan pihak terkait dalam pengelolaan jasa
lingkungan air yang lebih baik di masa mendatang.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Dr. Ir. Endes N. Dahlan,
MS dan Bapak Ir. Haryanto R. Putro, MS yang telah memberikan bimbingan
hingga skripsi ini terselesaikan. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi
ini masih terdapat banyak kekurangan. Semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.
Bogor, Maret 2012
Penulis
ii
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta, pada tanggal 12 Juli 1989
sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bapak
Imam Satriyo dan Ibu Ibnatul Ukhro.
Penulis memulai jenjang pendidikan di TK Taman
Putra
tahun
1992-1995.
Pada
tahun
1995,
penulis
melanjutkan pendidikan di SDN Jatiasih VI dan lulus pada
tahun 2001. Penulis kemudian melanjutkan di SMPN 9 Bekasi pada tahun 2001
dan lulus tahun 2004. Pada tahun 2007 penulis lulus dari SMAN 113 Jakarta dan
pada tahun yang sama lulus seleksi masuk IPB melalui jalur Undangan Seleksi
Masuk IPB (USMI). Penulis memilih Program Studi Konservasi Sumberdaya
Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan.
Selama menuntut ilmu di IPB, penulis aktif di Himpunan Mahasiswa
Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (HIMAKOVA) sebagai anggota
periode 2008/2009 dan 2009/2010. Penulis aktif sebagai anggota Kelompok
Pemerhati Ekowisata (KPE) Tapak. Penulis mengikuti kegiatan Eksplorasi Flora,
Fauna dan Ekowisata Indonesia (RAFFLESIA) di Cagar Alam Rawa Danau,
Banten tahun 2009 dan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) 2010 di Taman
Nasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Penulis melakukan Praktek Pengenalan
Ekosistem Hutan (PPEH) di Cikeong-CA Burangrang tahun 2009 dan Praktek
Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat tahun 2010. Selain
itu, penulis juga melakukan Praktek Kerja Lapang Profesi (PKLP) di Taman
Nasional Laiwangi-Wanggameti, Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2011.
Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan IPB penulis menyelesaikan
skripsi dengan judul Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat (Studi Kasus Desa Tangkil dan
Cinagara) dibimbing oleh Dr. Ir. Endes N. Dahlan, MS dan Ir. Haryanto R. Putro,
MS.
iii
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan
karunia-Nya yang begitu besar. Seraya mengucap alhamdulillah, penulis ingin
mengucapkan terimakasih kepada:
1.
Mama Ibnatul Ukhro, Papa Imam Satriyo, Niesfi Isbania, kakek Husin
Abubakar, nenek Takyum atas semua doa, kasih sayang, dukungan moril dan
materiil, serta pelajaran hidup yang diberikan.
2.
Bapak Dr. Ir. Endes N. Dahlan, MS dan Bapak Ir. Haryanto R. Putro, MS
sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, serta
motivasi kepada penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3.
Bapak Dr. Ir. Harnios Arief, MSc sebagai ketua sidang dan Bapak Dr. Ir.
Sucahyo Sadiyo, MS sebagai perwakilan dosen penguji dari Fakultas
Kehutanan
yang
telah
memberikan
arahan
dan
masukan
dalam
penyempurnaan skripsi ini.
4.
Seluruh staf Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atas izin,
bantuan dan informasi yang telah diberikan selama penelitian.
5.
Bapak Usep Suparman (Forpela TNGGP/RCS), Bapak I Nyoman Sukarata
dan Bapak I Made Soewecha (Forpela TNGGP/PT Rejosari Bumi unit
Tapos), Bapak Idham Arsyad (ESP-USAID), Ibu Sondang R. Situmorang
(PHKA), Bapak Suharso (BPKH Cinagara), Bapak Kenedy Putra (STPP
Cinagara), Bapak Yono (PT Pacul Mas Tani), Bapak H. Bambang (Pusdiklat
Karya Nyata), Mas Firmansyah (Mapala UI), Pak Mulyono (KT Saluyu),
Bapak Manta (KT Saluyu), anggota KT Garuda Ngupuk, dan KSM Cinagara
Asri yang telah berkenan menjadi narasumber dan memberikan banyak
informasi dan bantuan kepada penulis selama penelitian.
6.
Bapak Adang (KT Garuda Ngupuk) beserta keluarga atas bantuan dan
informasi yang diberikan kepada penulis selama penelitian.
7.
Ibu Nur dan Bapak Eko (KSM Cinagara Asri) atas bantuan dan informasi
yang diberikan selama penelitian.
8.
Staf desa Tangkil dan Cinagara atas izin dan bantuan yang telah diberikan
selama penelitian.
iv
9.
Staf TU DKSHE yang telah banyak membantu administrasi penelitian.
10. Tanoto Foundation yang telah memberikan beasiswa kepada penulis selama
menempuh perkuliahan.
11. Bapak Memen Suparman dan Ibu Cucu Suharyati atas doa, bantuan,
informasi dan motivasi kepada penulis.
12. Andita Chairunnisa, Spetriani, Neina Febrianti, Retno Hastiti, Woro
Probowati, Mettha Christiani, Fela Aditina, atas doa, motivasi, bantuan, dan
persahabatan.
13. Nini Sriani, Dewanti Pratiwi, Risa Agustina, serta Teman-teman KSHE’44
KOAK (Angkatan Helarctos malayanus). Teman-teman di Rumah Hamasah,
dan Wisma Blobo atas dukungan, bantuan, persahabatan dan kebersamaannya
selama ini.
14. Septian Wiguna atas doa, bantuan, motivasi, dan kebersamaannya selama ini.
15. Semua pihak yang yang telah banyak memberikan bantuan kepada penulis
dan tidak dapat disebutkan satu per satu.
v
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................................ i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................v
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ ix
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1 Latar Belakang ...............................................................................................1
1.2 Tujuan ............................................................................................................2
1.3 Manfaat Penelitian .........................................................................................2
1.4 Ruang Lingkup Penelitian ..............................................................................2
1.5 Kerangka Pemikiran .......................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
2.1 Jasa Lingkungan .............................................................................................5
2.2 Pembayaran Jasa Lingkungan ........................................................................5
2.3 Peraturan Perundang-undangan tentang Pembayaran Jasa Lingkungan ......10
2.4 Pengelolaan Sumberdaya Air di TNGGP ....................................................11
2.5 Penelitian Terdahulu ....................................................................................12
2.5.1 Jasa lingkungan di TNGGP ...................................................................12
2.5.2 Penerapan pembayaran jasa lingkungan di indonesia (studi kasus
di beberapa DAS) ................................................................................13
BAB III METODE PENELITIAN .....................................................................16
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................................................16
3.2 Alat dan Obyek Penelitian ...........................................................................16
3.3 Metode Pengumpulan Data ..........................................................................16
3.3.1 Studi literatur.........................................................................................16
3.3.2 Observasi lapang dan wawancara .........................................................17
3.4 Metode Analisis Data ...................................................................................19
3.4.1 Analisis deskriptif kualitatif ..................................................................19
3.4.2 Analisis para pihak ................................................................................20
vi
BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN .......................................23
4.1 Penyedia Jasa Lingkungan ...........................................................................23
4.1.1 Kawasan TNGGP ..................................................................................23
4.1.2 Desa penyangga kawasan TNGGP .......................................................23
4.2 Pemanfaat Jasa Lingkungan Air...................................................................27
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................................28
5.1 Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP..........................28
5.1.1 Latar belakang mekanisme pembayaran jasa lingkungan air ................28
5.1.2 Penetapan nilai pembayaran jasa lingkungan air ..................................30
5.1.3 Skema pembayaran jasa lingkungan air ................................................33
5.1.4 Penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di desa
Tangkil dan Cinagara ..........................................................................37
5.1.5 Perkembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air ................39
5.2 Keterlibatan Para Pihak ................................................................................42
5.2.1 Identifikasi para pihak ...........................................................................42
5.2.2 Peranan para pihak ................................................................................43
5.2.3 Tingkat kepentingan dan pengaruh para pihak .....................................45
5.2.4 Hak dan kewajiban para pihak ..............................................................50
5.3 Evaluasi Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP ...........55
5.3.1 Berdasarkan definisi Wunder (2005) ....................................................57
5.3.2 Berdasarkan perkembangan mekanisme ...............................................61
5.4 Permasalahan dan Solusi dalam Mekanisme Pembayaran Jasa
Lingkungan Air di TNGGP .....................................................................67
5.4.1 Permasalahan.........................................................................................67
5.3.4 Solusi yang ditawarkan .........................................................................71
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................74
6.1 Kesimpulan ..................................................................................................74
6.2 Saran .............................................................................................................75
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................76
LAMPIRAN ..........................................................................................................81
vii
DAFTAR TABEL
No.
Halaman
1
Jenis, sumber, dan metode pengumpulan data ................................................18
2
Kepentingan (interest) masing-masing pihak .................................................21
3
Penggunaan lahan di desa Tangkil tahun 2010 ...............................................24
4
Penduduk desa Tangkil berdasarkan mata pencaharian tahun 2010 ...............24
5
Penduduk desa Tangkil berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2010 .............24
6
Penggunaan lahan desa Cinagara tahun 2007 .................................................25
7
Penduduk desa Cinagara berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2007 ...........26
8
Penduduk desa Cinagara berdasarkan mata pencaharian tahun 2007 .............26
9
Jumlah pemanfaat air yang terdaftar sebagai anggota Forpela TNGGP .........27
10 Pemanfaatan air dari kawasan TNGGP oleh para pemanfaat .........................27
11 Nilai iuran pokok dan iuran wajib keanggotaan Forpela TNGGP ..................31
12 Jumlah kontribusi dari masing-masing pemanfaat air ....................................32
13 Besaran, pengelolaan serta peruntukan iuran yang ada di masyarakat ...........32
14 Pemasukan dan pengeluaran Forpela TNGGP ................................................33
15 Jenis kegiatan dan bantuan dalam penerapan pembayaran jasa
lingkungan air di desa Tangkil dan Cinagara..................................................37
16 Peranan masing-masing pihak.........................................................................44
17 Kepentingan (interest) masing-masing pihak .................................................45
18 Hak dan kewajiban pemanfaat air berdasarkan AD/ART Forpela TNGGP
dan MoU dengan BB TNGGP ........................................................................52
19 Hak dan kewajiban BB TNGGP dan Forpela TNGGP berdasarkan MoU
kemitraan tentang pemanfaatan air dari kawasan TNGGP .............................53
20 Hak dan kewajiban para pihak berdasarkan hasil wawancara ........................54
21 Kelebihan dan kekurangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
yang dilakukan di TNGGP ..............................................................................64
viii
DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1
Bagan alir kerangka pemikiran penelitian.........................................................4
2
Pembagian skema PES ......................................................................................6
3
Skema pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau, Banten . ....................13
4
Skema pembayaran jasa lingkungan di DAS Way Besai, Sumberjaya
Lampung .........................................................................................................15
5
Diagram matriks kepentingan (interest) dan pengaruh (influence) dari
masing-masing pihak ......................................................................................21
6
Skema pendanaan jasa lingkungan air di TNGGP ..........................................34
7
Skema pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP .......................................35
8 Bantuan yang diberikan kepada masyarakat kampung Gunung Batu, desa
Tangkil. Ket: (a) Domba; (b) Mesin mikrohidro ............................................38
9
Bantuan berupa WC umum di desa Cinagara .................................................41
10 Klasifikasi para pihak......................................................................................43
11 Diagram matriks tingkat kepentingan (importance) dan pengaruh
(influence) dari masing-masing pihak .............................................................48
ix
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Halaman
1 Panduan wawancara lembaga pemerintahan .....................................................82
2 Panduan wawancara LSM .................................................................................83
3 Panduan wawancara Pemanfaat air ...................................................................84
4 Panduan wawancara masyarakat .......................................................................85
5 Panduan wawancara ketua kelompok tani ........................................................86
6 Lokasi-lokasi penelitian....................................................................................87
7 Masukan pemanfaat air untuk pengelola TNGGP ketika proses pembentukan
Forpela...............................................................................................................88
8 Daftar pemanfaat yang memanfaatkan air dari kawasan TNGGP (di sekitar
desa Tangkil dan Cinagara)..............................................................................89
9
Daftar perusahaan pemanfaat air bersih di sekitar lokasi penelitian................89
10 Skoring masing-masing pihak..........................................................................90
11 Rekomendasi Skema Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP...............94
12 MoU kerjasama antara Forpela dengan Balai Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango..............................................................................................95
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki peran
penting dalam perlindungan sistem tata air serta pemberdayaan masyarakat di
sekitarnya. Berdasarkan Forpela TNGGP (2009), kawasan ini merupakan hulu
dari empat Daerah Aliran Sungai (DAS). DAS tersebut adalah DAS Citarum (sub
DAS Cikundul dan Cilaku), DAS Ciliwung, DAS Cisadane (sub DAS Cisadane
Hulu), dan DAS Cimandiri (sub DAS Cimandiri Hulu dan Cicatih).
CI Indonesia (2009), menyatakan bahwa daerah hulu yang didominasi oleh
hutan memiliki peran penting sebagai daerah tangkapan air, mengontrol aliran air,
menjaga wilayah hilir dari banjir dan erosi serta fungsi lainnya. Puspaningsih
(1999) menyebutkan pula bahwa daerah hulu memiliki fungsi lindung, fungsi
hidrologis dan merupakan daerah resapan air untuk konsumsi daerah hilir. Selain
itu, daerah hulu merupakan daerah pertanian bagi masyarakat hulu itu sendiri.
Kawasan TNGGP memiliki nilai manfaat dari fungsi hidrologis yang
berjalan. Darusman (1993), menyebutkan bahwa nilai manfaat air yang disediakan
kawasan ini adalah sebesar Rp 4,341 milyar/tahun atau setara dengan Rp 280
juta/ha taman nasional/tahun. Selain itu, terdapat 11 desa dan 83 pemanfaat yang
memiliki jaringan air langsung ke kawasan ini (USAID 2009).
Keberlangsungan sistem tata air sangat bergantung pada kelestarian
ekosistem hutan (Suprayitno 2008). Perubahan yang terjadi pada daerah hulu akan
berdampak pada sistem tata air yang mengalir pada daerah hilir. Dampak pada
daerah hilir antara lain banjir, penurunan debit air untuk irigasi, kurangnya
pasokan air minum, serta perubahan kualitas dan kuantitas air (CI Indonesia
2009). Selain itu, industri dan pemanfaat air yang berada di sekitar kawasan
TNGGP akan terkena dampak pengurangan debit air untuk kebutuhan mereka.
Perlindungan sistem tata air pada kawasan TNGGP tidak dapat dilakukan
sendiri. Hal tersebut memerlukan peran serta dari masyarakat, khususnya
masyarakat desa penyangga kawasan TNGGP. Salah satu cara yang dilakukan
adalah melalui mekanisme pembayaran jasa lingkungan.
2
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan atau Payment for Environmental
Services (PES) dilakukan untuk meminimalisasi kerusakan serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Mekanisme yang
dilakukan di TNGGP bertujuan untuk membangun kemitraan untuk mendukung
upaya konservasi kawasan TNGGP dan meningkatkan mata pencaharian
masyarakat desa penyangga melalui pengembangan inkubasi usaha terpadu
(Forpela TNGGP 2009).
Keberlanjutan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air diharapkan akan
meningkatkan posisi kawasan TNGGP sebagai penyedia jasa lingkungan air dan
pusat pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan. Selain itu, penerapan dari
mekanisme
pembayaran
jasa
lingkungan
air
tersebut
dapat
dijadikan
pertimbangan dalam pembentukan kebijakan untuk mengatur pemanfaatan jasa
lingkungan air di kawasan konservasi.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini antara lain:
1.
Mengetahui mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan TNGGP.
2.
Mengetahui keterlibatan para pihak dalam mekanisme pembayaran jasa
lingkungan air di kawasan TNGGP.
3.
Mengevaluasi mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan
TNGGP.
1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menambah informasi mengenai
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air serta penerapannya di TNGGP. Bagi
para pihak terkait, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana evaluasi serta
dapat menghasilkan sebuah rekomendasi bagi proses perumusan kebijakan dan
peraturan perundangan terkait mekanisme pembayaran jasa lingkungan.
1.4 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini terfokus pada mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
yang berjalan di kawasan TNGGP. Hal-hal yang diteliti meliputi: latar belakang
mekanisme, penetapan nilai kompensasi, skema pembayaran jasa lingkungan yang
dilakukan, para pihak yang terlibat, peranan para pihak, tingkat kepentingan dan
pengaruh para pihak, serta hak dan kewajiban para pihak. Selain itu, penelitian ini
3
juga melihat perkembangan mekanisme yang ada serta kendala dan solusi yang
ditawarkan. Lokasi penelitian difokuskan pada desa Tangkil (KT Garuda Ngupuk
dan Saluyu) dan Cinagara (KSM Cinagara Asri), pemanfaat air dan pihak lain
yang berada di sekitar lokasi tersebut (meliputi resort Tapos, Cimande, dan
Bodogol).
1.5 Kerangka Pemikiran
Pertanyaan-pertanyaan penelitian yang harus dijawab antara lain:
1. Bagaimana sejarah dan proses berjalannya mekanisme PJL di kawasan
tersebut? Apa saja hal yang disepakati para pihak selama berlangsungnya
mekanisme tersebut? Apa saja norma dan peraturan yang diacu para pihak
selama berlangsungnya mekanisme tersebut? Sejauh mana perkembangan
mekanisme PJL yang berlangsung di kawasan tersebut? Apa saja output yang
diharapkan?
2. Siapa saja pihak yang terlibat dalam mekanisme PJL di kawasan tersebut?
Apakah keterlibatan para pihak tersebut sudah tepat atau masih terdapat pihak
lain yang seharusnya dilibatkan dalam mekanisme tersebut? Selain itu, apa
peranan, hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang terlibat?
Bagaimana pemenuhan hak dan kewajiban masing-masing pihak serta
penegakan mekanisme yang berjalan?
3. Apakah mekanisme yang dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip PJL dan
masih tergolong mekanisme PJL? Apa saja kendala yang dihadapi selama
berlangsungnya mekanisme tersebut? Apa solusi dan rekomendasi untuk halhal tersebut?
Pertanyaan penelitian tersebut tergambar dalam bagan alir kerangka
pemikiran penelitian (Gambar 1). Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab
melalui analisis deskriptif menggunakan triangulasi data (poin 1 dan 3) serta
analisis para pihak (poin 2). Sebelumnya dilakukan wawancara kepada pihakpihak terkait serta penelusuran dokumen yang berhubungan dengan mekanisme
pembayaran jasa lingkungan air di kawasan TNGGP.
4
Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (TNGGP)
Daerah
tangkapan
air,
mengontrol
aliran
air,
menjaga wilayah hilir dari
banjir dan erosi serta
merupakan
daerah
pertanian bagi masyarakat
hulu itu sendiri
Masyarakat
desa
Tangkil
dan
Cinagara
(desa
penyangga TNGGP)
Nilai manfaat air yang
disediakan kawasan ini
adalah sebesar Rp 4,341
milyar/tahun atau setara
dengan Rp 280 juta/ha
taman nasional/tahun.
Banjir; penurunan debit air untuk irigasi
serta industri; kurangnya pasokan air
minum, serta perubahan kualitas dan
kuantitas air.
Pemanfaat air dari
kawasan TNGGP
- membangun kemitraan untuk mendukung upaya
konservasi kawasan TNGGP
- meningkatkan mata pencaharian masyarakat desa
penyangga melalui pengembangan inkubasi usaha
terpadu.
Pembayaran Jasa Lingkungan (PJL)
Norma, yang meliputi :
-Peraturan-peraturan terkait
-Perjanjian-perjanjian para
pihak yang diacu bagi
pelaksanaan mekanisme
Ya
Organisasi, yang meliputi :
-Pihak-pihak yang terkait
-Peran para pihak
-Penegakan
mekanisme
(insentif, disinsentif)
Kinerja mekanisme PJL berdasarkan :
-Realita di lapangan
-Studi Literatur
-Manfaat bagi kedua belah pihak
Tidak
Mekanisme non PJL
Gambar 1 Bagan alir kerangka pemikiran penelitian.
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jasa Lingkungan
Jasa lingkungan definisikan sebagai keseluruhan konsep sistem alami yang
menyediakan aliran barang dan jasa yang bermanfaat bagi manusia dan
lingkungan yang dihasilkan oleh proses ekosistem alami (Sutopo 2011).
Pemanfaatan jasa lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan potensi jasa
lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya
(DPR RI 2007). Leimona et al. (2011) mendefinisikan jasa lingkungan sebagai
penyediaan, pengaturan, penyokong proses alami, dan pelestarian nilai budaya
oleh suksesi alamiah dan manusia yang bermanfaat bagi keberlangsungan
kehidupan.
Wunder (2005), membagi produk jasa lingkungan hutan atau kawasan
konservasi dalam empat kategori, yaitu:
1. Penyerap dan penyimpanan karbon (carbon sequestration and storage)
2. Perlindungan keanekaragaman hayati (biodiversity protection)
3. Perlindungan daerah aliran sungai (watershed protection)
4. Keindahan bentang alam (landscape beauty)
2.2 Pembayaran Jasa Lingkungan
Pembayaran jasa lingkungan merupakan salah satu upaya untuk
meningkatkan posisi tawar jasa lingkungan. Pembayaran jasa lingkungan
merupakan pemberian penghargaan berupa pembayaran, kemudahan, keringanan
kepada pelaku pengelola penghasil jasa lingkungan dari suatu kawasan hutan,
lahan atau ekosistem (Suprayitno 2008). Wunder (2005) menyatakan pembayaran
jasa lingkungan (Payment for Environmental Services) sebagai “a voluntary
transaction where a well-defined ES (or land-use likely to secure that service) is
being ‘bought’ by a (minimum one) ES buyer from (minimum one) ES provider if
and only if ES provider secures ES provision (conditionally)....” Berdasarkan
definisi tersebut, terlihat adanya beberapa pihak yang berkaitan dengan
pembayaran jasa lingkungan, yaitu penyedia jasa, pembeli jasa serta perantara
diantara keduanya.
6
Wunder (2008) membagi skema PES menjadi tiga bagian, yaitu skema PES
murni, skema “PES-like”, dan insentif ekonomi lainnya (Gambar 2). Skema
“PES-like “ lebih banyak diterapkan dibandingkan dengan skema PES murni.
Skema “PES-like” memenuhi kriteria-kriteria PES menurut Wunder (2005) tetapi
tidak semua kriteria.
Sumber: Wunder (2008)
Gambar 2 Pembagian skema PES.
CIFOR (2008) menyatakan bahwa terdapat hal-hal yang membuat skema
“PES-like” lebih dominan dibandingkan skema PES murni. Hal-hal tersebut
diilustrasikan dengan membahas masing-masing kriteria, yaitu:
1. Pertama, PES memiliki konsep sukarela, kerangka negosiasi, dimana hal ini
membedakan PES dari pendekatan “command and control”. Hal ini
mensyaratkan bahwa penyedia potensial benar-benar memiliki pilihan dalam
penggunaan lahan, walaupun tidak pada setiap kasus.
2. Kedua, jasa yang dibeli harus didefinisikan dengan baik. Pada kenyataannya,
apa yang dipikirkan untuk menyediakan jasa seringkali tidak dapat dibuktikan
secara ilmiah, dan bahkan kadang tidak mungkin, khususnya ketika hal itu
berasal dari proses hidrologi.
3. Ketiga, terdapat minimum satu pembeli jasa
4. Keempat, terdapat minimum satu penyedia jasa. Bagaimanapun, pada
praktiknya beberapa inisiatif dibiayai oleh donor lain daripada pembeli jasa,
sementara yang lainnya membayar penyedia jasa tetapi menggunakan
7
sumberdaya tersebut untuk aktivitas proyek dibandingkan pembayaran kepada
penyedia jasa.
5. Kelima, pada skema PES, pembayaran oleh pengguna tergantung pada
keberlanjutan penyediaan jasa. Kriteria persyaratan ini sangat sulit dilakukan,
dan di beberapa negara berkembang, bisnis ini seperti fitur PES, dimana hal itu
berarti “anda membayar apa yang anda dapatkan”, meningkatkan substansi
resistensi politik.
Wunder (2008) menyebutkan bahwa kelima kriteria PES digunakan di
beberapa skema yang sebenarnya, tetapi penerapan dari skema “PES-like”
memenuhi hampir keseluruhan kriteria-lebih banyak jumlahnya. Beberapa skema
PES berlangsung sendirinya, umumnya pada inisiatif dilakukan oleh pembeli jasa
lingkungan atau perantara seperti lembaga non-pemerintahan (LSM).
Wunder (2008) lebih lanjut menyebutkan, skema “PES-like” lainnya
dijalankan oleh lembaga pemerintah, yang berperan sebagai pembeli atas nama
pengguna jasa lingkungan. Skema tersebut memiliki cakupan wilayah yang lebih
luas dan cenderung menggabungkan beberapa jasa lainnya, serta mengutamakan
berbagai tujuan lainnya (pengentasan kemiskinan, pengembangan sektoral dan
regional). Hal ini didukung oleh dukungan politik, tetapi mungkin akan
membahayakan keefektifan dalam mencapai tujuan lingkungan mereka.
Wunder dan Wertz-Kanounnikoff (2009) menyebutkan bahwa konteks PES
yang dilakukan di kawasan konservasi dapat disesuaikan pada beberapa kondisi
tertentu, tetapi tetap membutuhkan perhatian khusus. Secara pribadi, komunitas
dan masyarakat lokal menyediakan, pilihan-pilihan penggunaan lahan biasanya
secara hukum kurang dibatasi, sehingga PES dapat diaplikasikan untuk
mempengaruhi pilihan manajemen sumberdaya secara sukarela. Kawasan
konservasi, bagaimanapun, sudah diutamakan untuk dijaga secara ketat, dimana
pada dasarnya membuat PES tidak dapat digunakan.
Wunder dan Wertz-Kanounnikoff (2009) juga menyebutkan, pembayaran di
kawasan konservasi bisa disesuaikan dalam kasus-kasus khusus berikut: (a) dalam
penggunaan kawasan konservasi secara berkelanjutan dimana jarak yang legal
atau toleransi dari pilihan penggunaaan lahan berada (pilot PES berada pada
pengaturan-pengaturan
tertentu);
(b)
ketika
kawasan
konservasi
sudah
8
dideklarasikan “di atas” tanah-tanah pribadi atau komunal sebelumnya, atau (c)
ketika potensi “command and control” secara de facto mendekati nol.
Bagaimanapun, walau dibawah keadaan yang bertentangan, insentif dari konteks
PES di kawasan konservasi berpotensi untuk dapat ditingkatkan. Misalnya, aksi
dari pembayaran penghuni liar illegal yang tidak menebang menciptakan dilema
keadilan, tuntutan hukunan bagi yang suka menentang (mendorong harapan
bahwa menghindari aktivitas-aktivitas ilegal layak mendapat kompensasi) dan
“magnet” efek demografi (pembayaran bahkan menarik lebih banyak penghuni
liar).
Penggunaan PES sebagai cara untuk meningkatkan nilai baru bagi
manajemen kawasan konservasi mungkin adalah sebuah pilihan, tetapi hal
tersebut tidak jauh berbeda dari ide asli PES sebagai kompensasi penyedia jasa
yang menanggung biaya konservasi. Ketika pendekatan “command and control”
dan PES dapat dikombinasikan di beberapa kasus (Wunder & WertzKanounnikoff 2009).
Rosa et al. (2003) menekankan bahwa prinsip yang paling penting dalam
menentukan mekanisme pembayaran dan imbal jasa lingkungan adalah
keterlibatan jangka panjang masyarakat sebagai penyedia jasa lingkungan. Tujuan
pembayaran finansial dan non finansial jasa lingkungan adalah sebagai alternatif
sistem produksi dan pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan, sebagai
upaya meningkatkan kesejahteraan pengelola lahan, sebagai upaya perlindungan
lingkungan serta pengelolaan sumber daya alam untuk pembangunan ekonomi
dan sosial yang lestari (Leimona et al. 2011).
Landell-Mills dan Porras (2002) menjelaskan beberapa mekanisme
pembayaran jasa lingkungan yang diterapkan di dunia, yaitu:
1. Direct negotiation, yaitu transaksi langsung antara penyedia dan pengguna jasa
lingkungan. Pada umumnya, hal ini tercakup dalam suatu proyek pembangunan
lingkungan. Hal ini seringkali menghasilkan proses negosiasi yang panjang.
2. Intermediary-based transaction. Dalam proses ini, fasilitator berperan agar
mengurangi biaya transaksi dengan cara mencari informasi, bernegosiasi, dan
menyelesaikan proses transaksi. Fasilitator juga berperan mengurangi resiko
9
kegagalan dengan membangun kapasitas masyarakat, mencari partner yang
tepat, serta mengidentifikasi masalah yang ada.
3. Pooled transaction, yaitu pendekatan yang mengandung resiko transaksi
dengan membagikan investasi melalui beberapa pengguna jasa lingkungan.
4. Joint venture, yaitu mekanisme yang melibatkan investor yang menawarkan
input yang seimbang untuk memulai suatu perusahaan dan menyalurkan
imbalan bagi lingkungan melalui perusahaan tersebut. Imbalan tersebut
berbentuk bagi keuntungan, konsultasi teknis, dana langsung, dan lain-lain.
5. Retail based traders, yaitu imbalan jasa lingkungan yang terdapat pada produk
pasar dan jasa.
6. Internal traiding, yaitu transaksi antar departemen dalam suatu organisasi.
7. Over the conter traders/users fees. Jasa lingkungan dikemas terlebih dahulu
dalam menjalankan mekanisme ini.
Cahyono dan Suyanto (2006) menyatakan, imbal jasa multifungsi DAS
mensyaratkan pemanfaat jasa membayar jasa yang diterimanya kepada penyedia
jasa. Selain itu, jasa yang akan dibayarkan oleh penerima jasa kepada penyedia
jasa harus disepakati terlebih dahulu. Penyedia jasa pun harus dapat memastikan
bahwa jasa tersebut merupakan hasil pengelolaannya dan ketersediaannya
tergantung pada keputusan yang diambil oleh penyedia jasa.
Gouyon (2004), membagi imbalan berkaitan dengan jasa lingkungan dalam
tiga kategori yaitu :
1. Imbalan berupa pembiayaan langsung, seperti pemberian subsidi atas
pertukaran suatu perubahan tata guna lahan.
2. Imbalan non finansial, misalnya penyediaan infrastruktur, pelatihan, manfaat
atau jasa-jasa lainnya bagi pihak yang menyediakan jasa lingkungan.
3. Akses ke sumberdaya atau pasar, seperti pemilikan lahan, atau akses pasar
yang lebih baik dengan sertifikasi jasa lingkungan atau dengan skema alokasi
kontrak publik.
Waage dan Stewart (2007), menyebutkan empat prasyarat keberhasilan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan yang berjalan, yaitu :
1. Jasa lingkungan yang benar-benar dipahami oleh seluruh pemangku
kepentingan serta adanya kemamapuan teknis pengelolaannya.
10
2. Informasi pasar yang mudah dipahami dan mudah diakses siapapun (transparan
dan akuntabel).
3. Kerangka hukum yang suportif serta adanya lembaga pengawas yang kredibel.
4. Selalu bersedia melakukan perbaikan mekanisme apabila ada keberatan atau
kritik.
2.3 Peraturan Perundang-undangan tentang Pembayaran Jasa Lingkungan
Terdapat
beberapa
peraturan
perundang-undangan
yang
mendasari
mekanisme pembayaran jasa lingkungan menurut RCS (2008), diantaranya :
1. UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Pasal 70 menyebutkan bahwa
(1) masyarakat turut berperan serta dalam pembangunan di bidang kehutanan;
(2) pemerintah wajib mendorong peran serta masyarakat melalui berbagai
kegiatan di bidang kehutanan yang yang berdaya guna dan berhasil guna; (3)
serta dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat, pemerintah dan
pemerintah daerah dapat dibantu oleh forum pemerhati kehutanan.
2. UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan
Ekosistemnya. Pasal 7 menyebutkan bahwa perlindungan sistem penyangga
kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang
kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan
mutu kehidupan manusia. Selanjutnya, pasal 27 menyebutkan bahwa
pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan
tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan.
3. UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air.
4. PP Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
5. SK Menhut Nomor 456/Menhut-II/2004, tentang Pemberdayaan Ekonomi
Masyarakat di dalam dan di sekitar Kawasan Hutan, maka kegiatan
pemberdayaan masyarakat dilakukan terhadap masyarakat desa di luar hutan.
Prasetyo et al. (2009) menyebutkan peraturan perundang-undangan terkait
mekanisme pembayaran jasa lingkungan, antara lain :
1. UU Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup yang mengatur
kewenangan dalam pengelolaan lingkungan. Pasal 10 ayat 3 menyebutkan
bahwa dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berkewajiban
11
mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan
antara masyarakat, dunia usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian daya
dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
2. UU Nomor 34 Tahun 2000 tentang Pajak dan Retribusi Daerah.
3. PP Nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana
Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan. Pasal 1 ayat 6 menyebutkan
pemanfaatan jasa lingkungan adalah kegiatan untuk memanfaatkan potensi jasa
lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi
utamanya. Disebutkan lebih lanjut pada pasal 22, pada hutan konservasi,
pemberian izin pemanfaatan hutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4. PP Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. Disebutkan dalam pasal 33
ayat 1 bahwa obyek pajak pengambilan dan pemanfaatan air (air bawah tanah
dan air permukaan) adalah pengambilan air bawah tanah dan/atau air
permukaan;
pemanfaatan
air
bawah
tanah
dan/atau
air
permukaan;
pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan/atau air permukaan. Pasal
34 menyebutkan subyek dan wajib pajak adalah orang pribadi atau badan yang
mengambil, atau memanfaatkan, atau mengambil dan memanfaatkan air bawah
tanah dan/atau air permukaan.
2.4 Pengelolaan Sumberdaya Air di TNGGP
Darusman (1993), menyebutkan bahwa nilai manfaat air yang disediakan
kawasan ini adalah sebesar Rp 4,341 milyar/tahun atau setara dengan Rp 280
juta/ha taman nasional/tahun. USAID (2006) menyatakan bahwa keberadaan
TNGGP memiliki peranan penting bukan hanya untuk wilayah hulu tetapi juga
bagi wilayah hilir seperti Jakarta dan sekitarnya. Manfaat kawasan ini sebagai
daerah tangkapan air yang penting bagi kabupaten Cianjur, Sukabumi, Bogor dan
DKI Jakarta; penyerap dan penyimpan karbon; penyeimbang iklim mikro;
pengatur tata air; wisata alam; penelitian dan pendidikan. Jasa ekosistem kawasan
hutan ini secara terus menerus menopang kehidupan manusia dan pembangunan.
USAID (2006) lebih lanjut menjelaskan, belum ada kebijakan, strategi dan
aksi nyata dalam pengelolaan air yang lebih menghargai peran kawasan TNGGP.
Pada kenyataannya, upaya memelihara kawasan hutan sebagai penghasil jasa
12
lingkungan air akan jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan
konstruksi air.
2.5 Penelitian Terdahulu
2.5.1 Jasa lingkungan di TNGGP
Karya ilmiah mengenai peningkatan kualitas jasa lingkungan TNGGP
melalui Payment for Environmental Services (PES), pernah dilakukan oleh
Sudrajat et al. (2009). Sudrajat et al. (2009) menyebutkan bahwa pemilik villa,
perkebunan teh dan instansi pembangkit listrik pun harus turut membayar jasa air
dari TNGGP yang dimanfaatkan. Dana yang diperoleh dari hasil pembayaran jasa
lingkungan tersebut dikelola oleh suatu badan/lembaga yang dibentuk khusus
untuk mengatasi masalah lingkungan. Dana yang terkumpul tersebut akan
digunakan untuk pengelolaan TNGGP untuk penjagaan kualitas lingkungan di
kawasan.
Lebih lanjut lagi, Sudrajat et al. (2009) menyebutkan pembayaran jasa
lingkungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk biaya reboisasi, manajemen
pengelolaan, biaya informasi, dan biaya promosi. Dengan adanya mekanisme
tersebut, maka kualitas lingkungan TNGGP tetap terjaga. Selain itu, manfaat jasa
yang dihasilkan oleh TNGGP dapat terus ditingkatkan. Artinya, pembayaran jasa
lingkungan berkorelasi positif dengan peningkatan jasa lingkungan.
Penelitian lainnya mengenai pembayaran jasa lingkungan di kawasan
tersebut adalah Sutopo (2011). Penelitian ini ditekankan pada pengembangan
kebijakan pembayaran jasa lingkungan dalam pengelolaan air minum yang
mengambil lokasi studi di DAS Cisadane Hulu. Penelitian ini menyebutkan
tingkat apresiasi masyarakat terhadap pembayaran jasa lingkungan mencapai
54,3% dan sebanyak 61,1% perusahaan pemanfaat air minum bersedia membayar
jasa lingkungan. Selain itu, penelitian ini juga mengasilkan rataan kesediaan
perusahaan membayar (WTP) sebesar Rp 1.538,65/m3 dan kesediaan menerima
pembayaran jasa lingkungan (WTA) sebesar Rp 1.589,29/m3. Berdasarkan hasil
tersebut, maka rataan yang digunakan sebagai dasar pembayaran jasa lingkungan
adalah sebesar Rp 1.563,97/m3.
13
2.5.2 Penerapan pembayaran jasa lingkungan di indonesia (studi kasus di
beberapa DAS)
Budhi et al. (2008) melakukan penelitian mengenai konsep dan penerapan
dari program pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau. Hasil dari penelitian
tersebut menyebutkan bahwa penerapan pembayaran jasa lingkungan di DAS
Cidanau dimotivasi oleh gangguan yang merusak daerah tangkapan air dan
penggunaan pupuk dan pestisida pada pertanian yang mencemari air. Faktor lain
adalah kebutuhan akan ketersediaan air yang diketahui telah mengalami fluktuasi
pada beberapa tahun terakhir.
Mekanisme ini diagggap penting diterapkan untuk mengatasi masalah air.
Selain itu, banyak perusahaan yang setuju untuk membayar sejumlah kompensasi
kepada masyarakat hulu. Namun, penerapan dari program tersebut tidak mudah.
PT KTI sebagai perusahaan air kemudian siap mendanai penerapan tersebut
sebagai uji coba PES. PT KTI mendanai komunitas hulu dari DAS Cidanau untuk
menanam pohon dan menggunakan teknik konservasi pada pertanian mereka.
Skema pembayaran jasa lingkungan yang terjadi di DAS Cidanau dapat dilihat
pada Gambar 3.
Kelompok
Tani
LP3ES dan
Rekonvasi
Bhumi
Industri
PT KTI
FKDC
Keterangan :
PDAM
Sektor Swasta
PLN
: Komunikasi dan Fasilitasi
: MoU dan PES
: Air dan Pembayarannya
Sumber: Budhi et al. (2007)
Gambar 3 Skema Pembayaran Jasa Lingkungan di DAS Cidanau, Banten.
Penerapan mekanisme ini telah memberikan beberapa manfaat kepada
lingkungan dan kondisi petani yang terlibat dalam proyek. Manfaat tersebut antara
lain penurunan praktek illegal logging, pertumbuhan pohon yang baik,
pengaplikasian pertanian berbasis konservasi, sikap petani yang ramah lingkungan
14
dan kondisi ekonomi petani, yang penting untuk keberlanjutan penerapan
pembayaran jasa lingkungan. Namun, penerapan tersebut menemui beberapa
hambatan. Hambatan tersebut yaitu konsep mekanisme pembayaran jasa
lingkungan masih sulit untuk diterima sebagai regulasi baru. Hal ini dikarenan
adanya anggapan dari pembuat kebijakan bahwa konsep tersebut telah
diakomodasi oleh kebijakan yang telah ada. Kisah sukses dari penerapan
pembayaran jasa lingkungan di DAS Cidanau perlu diambil sebagai pelajaran oleh
pemerintah untuk kebijakan lingkungan ke depan.
Penerapan yang sukses oleh PT KTI ditekankan pada aspek pembelajaran.
Hak dan kewajiban tiap para pihak dapat dikontrol secara transparan. Dengan
beberapa improvisasi dan modifikasi, penerapan pembayaran jasa lingkungan
dapat diuji coba pada skala nasional.
Lokasi lain yang menjadi penerapan mekanisme ini adalah DAS Wai Besai
Sumberjaya, Lampung. Isu yang melatarbelakangi mekanisme pembayaran jasa
lingkungan di Sumberjaya, Lampung dikemukakan oleh RUPES (2010). Tulisan
tersebut menyebutkan bahwa pemerintah mempercayai deforestasi yang tidak
terkontrol dan konversi lahan menjadi kebun kopi telah menyebabkan
peningkatan erosi tanah. Erosi tersebut mengancam pengoperasian bendungan
Sumberjaya dan mengurangi ketersediaan air untuk irigasi sawah di daerah hilir.
Kepercayaan tersebut mengakibatkan pengusiran ribuan petani dari Sumberjaya
antara tahun 1991-1996.
Hasil penelitian RUPES sejak tahun 1998 menunjukkan bahwa kebun kopi
multistrata dapat mengontrol erosi dan meningkatkan taraf hidup petani. Selain
itu, petani miskin di Trimulyo sangat tergantung pada lahan negara (Suyanto &
Khususiyah 2006). Berdasarkan analisa Gini Rasio, lahan negara merupakan
faktor yang menyebakan peningkatan pemerataan pemdapatan dan pemerataan
kepemilikan lahan. Pemberian imbalan atas lahan (land right) akan mengurangi
kemiskinan dan meningkatkan pemerataan di kalangan petani.
LPM Equator (2011) menyatakan proses perumusan masalah, pendefinisian
jasa lingkungan, aktor yang terlibat, serta indikator keberhasilan mekanisme
pembayaran
jasa
lingkungan
harus
dipenuhi
dalam
pengembangannya.
Mekanisme yang dikembangkan di Sumberjaya, Lampung merupakan salah satu
15
contoh penerapan pembayaran jasa lingkungan yang berhasil mengembangkan
indikator keberhasilan. Hal ini ditunjukkan dengan adanya indikator mengenai
jumlah sedimentasi yang ada di sungai Way Besai. Indikator yang dikembangkan
berasal dari aspek fisik, biologi, dan ekonomi. Berikut adalah skema pembayaran
jasa lingkungan yang terjadi di DAS Way Besai, Sumberjaya Lampung (Gambar
4).
Pemberian Pembangkit Listrik
mikrohidro
PLTA
Pembayaran
jasa
lingkungan
riparian
melalui dinas pertanian
dan kehutanan
Pengelolaan hutan
berbasis masyarakat
(kepemilikan lahan)
Masyarakat
hulu DAS
Way Besai
Masyarakat
peduli sungai
RUPES
(intermediary)
Pelaksanaan kontrak dimana masyarakat
hulu berhasil menurunkan sedimen sungai,
kemudian mendapatkan sejumlah insentif
Gambar 4 Skema Pembayaran Jasa Lingkungan di DAS Way Besai, Sumberjaya
Lampung.
16
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengambilan data dilaksanakan di beberapa lokasi yang berkaitan dengan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP. Lokasi-lokasi penelitian
antara lain Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP),
Forum Peduli Air (Forpela) TNGGP, ESP-USAID, Sekretariat Mapala UI, PT
Rejosari Bumi unit Tapos, PT Pacul Mas Tani, BPKH Cinagara, STPP Cinagara,
Pusdiklat Karya Nyata serta desa Tangkil dan Cinagara. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan September-November 2011. Lokasi-lokasi penelitian
tersaji pada Lampiran 6.
3.2 Alat dan Obyek Penelitian
Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain perekam suara,
kamera, panduan wawancara, serta alat tulis. Sedangkan obyek penelitian yang
dikaji antara lain para pihak serta peranan masing-masing pihak yang terkait
dengan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di TNGGP.
3.3 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur, observasi
lapang dan wawancara. Metode-metode tersebut digunakan secara kombinasi
untuk mendapatkan data di semua lokasi penelitian.
3.3.1 Studi literatur
Studi literatur dilakukan melalui penelusuran dokumen, pustaka, serta datadata pendukung lainnya yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran jasa
lingkungan air di TNGGP. Data-data tersebut diantaranya:
1.
Perjanjian kerjasama kemitraan antara Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (TNGGP) dengan Forum Peduli Air (Forpela) TNGGP
2.
Perjanjian kerjasama kemitraan antara TNGGP dengan pemanfaat air yang
belum menjadi anggota Forpela TNGGP
3.
Perjanjian kesepakatan bersama antara Forpela TNGGP dengan enam desa
penyangga TNGGP yang tergabung dalam Model Desa Konservasi (MDK)
17
4.
Perjanjian kesepakatan bersama masyarakat kampung Gunung Batu desa
Tangkil dalam pengelolaan saluran air dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro
Hidro (PLTMH)
5.
Surat Edaran Dirjen PHKA nomor SE.3/IV-SET/2008 tentang pemanfaatan
jasa lingkungan air di kawasan konservasi
6.
Laporan evaluasi kemitraan TNGGP
7.
Laporan dan data Forpela TNGGP
8.
Kondisi umum masyarakat desa Tangkil dan Cinagara
9.
Penelusuran dokumen terkait lainnya.
3.3.2 Observasi lapang dan wawancara
Observasi lapang dan wawancara dilakukan untuk mengetahui mekanisme
pembayaran jasa lingkungan di kawasan TNGGP, para pihak yang terkait serta
peranan para pihak tersebut dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan air.
Selain itu, observasi lapang dan wawancara dilakukan untuk mengetahui
perkembangan mekanisme pembayaran yang dilakukan.
Wawancara dilakukan pada narasumber kunci (key person) yang memiliki
peranan penting dan terlibat langsung dalam mekanisme (direct players).
Narasumber
dipilih
secara
purposif
dengan
mempertimbangkan
tingkat
pengetahuan narasumber terhadap mekanisme. Purposif sampling, didasarkan
pada kriteria yang ditetapkan sesuai dengan pertanyaan penelitian (Mack et al.
2005). Narasumber yang diwawancarai berjumlah 17 orang. Tujuan dan
katakteristik responden penelitian (seperti ukuran dan keanekaragaman populasi)
menentukan siapa dan berapa banyak responden yang harus dipilih. Walaupun
memungkinkan, tidak diharuskan untuk mengumpulkan data dari semua anggota
kelompok untuk mendapatkan hasil yang valid (Mack et al. 2005). Narasumber
tersebut terdiri dari lima orang perwakilan BB TNGGP, satu orang perwakilan
Forpela TNGGP, satu orang perwakilan ESP-USAID, satu orang perwakilan
Mapala UI, lima orang perwakilan pemanfaat air, dan empat orang perwakilan
kelompok tani.
Wawancara juga dilakukan kepada anggota kelompok tani yang berada di
desa Tangkil dan Cinagara yang terlibat dalam mekansime pembayaran jasa
lingkungan air. Anggota kelompok tani yang diwawancarai dipilih secara purposif
18
dengan mempertimbangkan informasi dari ketua kelompok tani. Jumlah
responden yang diwawancarai 24 orang. Responden tersebut terdiri dari 10 orang
anggota KT Garuda Ngupuk, 7 orang Anggota KSM Cinagara Asri, 3 orang
anggota kelompok sanitasi, dan 4 orang masyarakat umum. Jenis dan metode
pengunpulan data selengkapnya tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1 Jenis, sumber, dan metode pengumpulan data
No
Jenis Data
1
Keterlibatan para pihak :
- Identifikasi para pihak
- Peranan dan fungsi para
pihak
- Tingkat kepentingan
serta pengaruh para
pihak
- Hak dan kewajiban para
pihak serta pemenuhan
hak dan kewajiban
tersebut
2
Skema PJL di TNGGP :
- Latar belakang
- Dasar, cara perhitungan,
dan proses penetapan
nilai imbal jasa yang
disepakati
- Peraturan dari
mekanisme yang
berjalan
- Skema PJL
- Penegakan
aturan
(monev,
pemberian
sanksi, dan lain-lain)
3
Evaluasi mekanisme PJL:
- Perkembangan
mekanisme PJL yang
dilakukan
- Permasalahan yang
timbul dan solusinya
Sumber Data
Data Pokok
ï‚· BB TNGGP
ï‚· Forpela TNGGP
ï‚· ESP-USAID
ï‚· RCS
ï‚· Mapala UI
ï‚· PT Rejosari Bumi
ï‚· PT Pacul Mas Tani
ï‚· BPKH Cinagara
ï‚· STPP Cinagara
ï‚· Pusdiklat Karya Nyata
ï‚· KT Saluyu
ï‚· KT Garuda Ngupuk
ï‚· KSM Cinagara Asri
ï‚· BB TNGGP
ï‚· Forpela TNGGP
ï‚· ESP-USAID
ï‚· RCS
ï‚· Mapala UI
ï‚· PT Rejosari Bumi
ï‚· PT Pacul Mas Tani
ï‚· BPKH Cinagara
ï‚· STPP Cinagara
ï‚· Pusdiklat Karya Nyata
ï‚· KT Saluyu
ï‚· KT Garuda Ngupuk
ï‚· KSM Cinagara Asri
ï‚· BB TNGGP
ï‚· Forpela TNGGP
ï‚· ESP-USAID
ï‚· RCS
ï‚· Mapala UI
ï‚· PT Rejosari Bumi
ï‚· PT Pacul Mas Tani
ï‚· BPKH Cinagara
ï‚· STPP Cinagara
ï‚· Pusdiklat Karya Nyata
ï‚· KT Saluyu
ï‚· KT Garuda Ngupuk
ï‚· KSM Cinagara Asri
Metode Pegumpulan
Data
Studi Literatur, observasi
lapang, dan wawancara
Studi Literatur dan
wawancara
Wawancara, Observasi
lapang, Studi
Literatur
19
Tabel 1 (Lanjutan)
No
Jenis Data
4
Sumber Data
Metode Pegumpulan
Data
Data Pendukung
ï‚· Kantor desa Tangkil
ï‚· Kantor desa Cinagara
Kondisi monografi
masyarakat
Studi Literatur
3.4 Metode Analisis Data
3.4.1 Analisis deskriptif kualitatif
Analisis deskriptif kualitatif dilakukan untuk menganalisis mekanisme
pembayaran jasa lingkungan air yang terjadi di kawasan TNGGP. Analisis
deskriptif dilakukan berdasarkan data dari dokumen perjanjian mekanisme
pembayaran jasa lingkungan yang ada dengan tiga jalur analisis data, yaitu
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles & Huberman
1992).
Reduksi
data
untuk
menyederhanakan
data,
meringkas,
dan
menggolongkannya. Penyajian data dapat berupa skema atau bagan alir
mekanisme atau teks naratif. Penarikan kesimpulan dengan cara peninjauan ulang
data untuk menarik kesimpulan.
Evaluasi mekanisme yang ada dilihat dengan metode triangulasi, yaitu
dengan mengecek kesesuaian antara data yang ada di dokumen terkait,
pengamatan lapang serta hasil wawancara. Selain itu, mekanisme yang berjalan
dilihat berdasarkan definisi Wunder (2005) dan literatur lainnya. Kesesuaian
antara mekanisme yang ada dengan literatur dilakukan untuk melihat apakah
mekanisme yang ada termasuk mekanisme PJL atau mekanisme lainnya.
Evaluasi terhadap mekanisme tersebut juga dianalisis secara deskriptif
kualitatif. Kerr dan Jindal (2007) menyatakan metode kualitatif menyediakan
pengertian yang mana konteks ini dapat dipahami dan digunakan untuk
mengungkap aspek penting dari sebuah proyek. Peneliti kualitatif biasanya kurang
menempatkan penekanan pada pengukuran dan lebih kepada proses dan
pemahaman secara tajam serta faktor-faktor penentu keberhasilan proyek,
biasanya dengan menekankan perspektif yang beragam dari berbagai pihak.
Sebuah analisis kualitatif cenderung kurang memikirkan tentang penerapan hasil
yang spesifik untuk lokasi proyek lainnya, tetapi lebih memfokuskan pada
generalisasi pelajaran yang dapat diterapkan untuk proyek lainnya.
20
3.4.2 Analisis para pihak
Analisis terhadap keterlibatan para pihak dilakukan untuk mengetahui peran
dan fungsi dari masing-masing pihak. Keterlibatan para pihak dianalisis melalui
pendekatan yang dikemukakan oleh Groenendjik (2003). Proses indentifikasi para
pihak merupakan proses awal dalam metode ini. Selanjutnya, dilakukan
pengklasifikasian para pihak menjadi pihak primer dan sekunder. Pembagian ini
dilakukan berdasarkan tingkat keterkaitan para pihak dengan mekanisme yang
ada.
Atribut kunci dari masing-masing pihak kemudian diidentifikasi dan
dianalisis. Atribut kunci yang dimaksud adalah kepentingan (interest). Selain itu,
dimasukkan pula atribut lainnya yaitu pengaruh (influence) dan tingkat
kepentingan (importance). Masing-masing pihak memiliki atribut yang berbeda
dan dianalisis tergantung pada situasi dan tujuan analisis.
Kepentingan (interest) terhadap tujuan mekanisme merupakan atribut yang
penting untuk diinvestigasi dari para pihak. Kepentingan ini mendukung tujuan
(para pihak juga menginginkan apa yang coba dicapai oleh mekanisme) atau
kebalikannya. Pengaruh (influence) adalah kewenangan para pihak untuk
mengontrol keputusan apa yang dibuat, untuk memfasilitasi penerapannya atau
untuk menggunakan tekanan yang mempengaruhi mekanisme secara negatif.
Pengaruh mungkin saja diartikan sebagai tingkatan orang, kelompok, atau
organisasi yang dapat membujuk atau memaksa pihak lain dalam membuat
keputusan dan mengikuti beberapa tindakan.
Tingkat kepentingan (importance) mengindikasikan prioritas yang diberikan
untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan para pihak pada mekanisme. Oleh
karena itu, tingkat kepentingan merujuk pada masalah, kebutuhan, dan
kepentingan para pihak yang merupakan prioritas dari mekanisme. Kepentingan
dari tiap para pihak yang diidentifikasi tersaji pada Tabel 2.
21
Tabel 2 Kepentingan (interest) masing-masing pihak
Kepentingan
(Interest)
Potensi dampak terhadap
proyek *
Pihak primer
Tingkat kepentingan relatif *
Pihak 1
.....
Pihak n
Pihak sekunder
Pihak 1
......
Pihak n
Keterangan : Tanda positif (+), negatif (-), tidak jelas (-/+), dan tidak diketahui (?) diisi pada
kolom potensi dampak, sedangkan kolom tingkat kepentingan relatif diisi dengan
skala 0-5 berdasarkan kebijakan dan tujuan mekanisme (Groenendjik 2003).
Keberhasilan suatu mekanisme juga tergantung pada kebenaran asumsi yang
dibuat oleh masing-masing pihak serta resiko yang dihadapi oleh mekanisme
tersebut. Resiko-resiko tersebut dapat menimbulkan konflik kepentingan.
Kombinasi pengaruh dan kepentingan masing-masing pihak akan menghasilkan
identifikasi asumsi dan resiko masing-masing pihak. Kombinasi tersebut dibuat
pada satu diagram matriks (Gambar 5). Posisi masing-masing pihak pada suatu
kuadran tertentu akan mengindikasikan resiko relatif yang mungkin ditimbulkan.
Selain itu, posisi tersebut juga dapat mengindikasikan peluang kerjasama antar
pihak untuk mendukung mekanisme yang ada.
High
AA
ï‚· Pihak 4
B ï‚· Pihak 1
ï‚· Pihak 1
Importance
Low
D
ï‚· Pihak 2
C
ï‚· Pihak 4
influence
ï‚· Pihak 3
High
Gambar 5 Diagram matriks kepentingan (interest) dan pengaruh (influence) dari
masing-masing pihak.
Berdasarkan matriks tersebut, kotak A, B, dan C merupakan pihak kunci
yang dapat mempengaruhi mekanisme secara signifikan. Implikasi dari masingmasing kotak adalah sebagai berikut :
22
A. Para pihak dengan tingkat kepentingan tinggi terhadap mekanisme tetapi
memiliki pengaruh yang rendah. Hal tersebut mengimplikasikan pihak-pihak
tersebut memerlukan inisiatif khusus untuk melindungi kepentingan mereka.
B. Para pihak dengan tingkat pengaruh dan kepentingan yang tinggi terhadap
keberhasilan mekanisme. Untuk membentuk kerjasama efektif dalam
mendukung mekanisme, sebaiknya pihak yang terlibat langsung dengan
mekanisme membangun hubungan kerja dengan pihak-pihak ini.
C. Para pihak yang memiliki pengaruh tinggi tetapi tidak memiliki kepentingan
terhadap mekanisme. Pihak-pihak ini dapat menjadi sumber resiko yang
signifikan. Selain itu, dibutuhkan monitoring dan manajemen dengan hati-hati.
Pihak-pihak ini dapat menghentikan mekanisme dan perlu diperhatikan.
D. Para pihak pada kuadran ini memiliki pengaruh dan kepentingan yang rendah
terhadap mekanisme. Pihak-pihak tersebut mungkin memerlukan monitoring
dan evaluasi namun dengan prioritas yang rendah. Pihak-pihak pada kuadran
ini bukanlah subyek dari mekanisme yang berlangsung.
23
BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Penyedia Jasa Lingkungan
4.1.1 Kawasan TNGGP
Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terletak
diantara 106°51’-107°02’ BT dan 6°51’ LS. Kawasan ini awalnya memiliki luas
15.196 ha. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No 174/KptsII/tanggal 10 Juni 2003, kawasan ini diperluas menjadi ± 21.975 ha. Saat ini
luasan kawasan TNGGP adalah 22.851,03 ha (Juanda 2010).
Juanda (2010) menyebutkan bahwa berdasarkan klasifikasi iklim SchmidtFerguson, curah hujan di dalam kawasan TNGGP termasuk ke dalam Tipe A.
Kawasan ini memiliki curah hujan yang tinggi dengan rata-rata hujan tahunan
antara 3.000-4.200 mm. Sebagian besar kawasan ini merupakan akuifer daerah air
tanah langka dan sebagian kecil merupakan akuifer produktif sedang dengan
sebaran yang luas. Akuifer produktif ini memiliki kekerasan keterusan yang
sangat beragam. Umumnya air tanah tidak tertekan dengan debit air kurang dari 5
liter/detik (Juanda 2010).
Menurut USAID (2009), terdapat puluhan sungai yang berhulu di kawasan
TNGGP. Kawasan ini juga merupakan hulu dari empat Daerah Aliran Sungai
(DAS) (Forpela 2009). Air yang dihasilkan dari kawasan ini mengairi 10.998 ha
sawah dan dimanfaatkan oleh 184.000 KK di 149 desa (USAID 2009). Selain itu,
air tersebut juga dimanfaatkan oleh hotel dan restoran yang berada di sekitar
kawasan.
4.1.2 Desa penyangga kawasan TNGGP
4.1.2.1 Desa Tangkil
Desa Tangkil memiliki luas 644,27 ha. Desa ini berbatasan dengan desa
Lemah Duhur di sebelah utara, sebelah selatan berbatasan dengan desa Cinagara,
sebelah barat dengan desa Pasir Muncang, dan sebelah timur dengan kawasan
TNGGP. Penggunaan lahan di desa Tangkil tersaji pada Tabel 3.
24
Tabel 3 Penggunaan lahan di desa Tangkil tahun 2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Penggunaan Lahan
Perumahan
Sawah
Perkebunan/ladang
Perikanan
Jalan Desa
Pemakaman
Perkantoran Umum
Lapangan Olah Raga
Bangunan Pendidikan
Bangunan Peribadatan
Lainnya
Jumlah
Sumber : Laporan kinerja kepala desa Tangkil (2010)
Luas Lahan (Ha)
169
199
179
1,5
32
5,6
1
1,5
6
2,5
47,17
644,27
Penggunaan lahan yang mendominasi desa Tangkil adalah sawah dan
kebun/ladang yaitu berturut-turut sebesar 199 ha dan 179 ha. Hal ini sesuai
dengan mata pencaharian penduduk desa Tangkil di sektor pertanian (Tabel 4).
Tabel 4 Penduduk desa Tangkil berdasarkan mata pencaharian tahun 2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Mata Pencaharian
Petani
Buruh Tani
Pedagang
Pegawai Negeri Sipil
Wiraswasta
Pegawai Swasta
Karyawan Pabrik
Buruh Bangunan
Pengrajin
Penjahit
Tukang Ojek
Bengkel
Supir Angkot
Pensiunan
Lainnya
Jumlah
Sumber : Laporan kinerja kepala desa Tangkil (2010)
Jumlah Penduduk (jiwa)
629
1200
350
11
60
30
150
276
128
15
560
4
10
6
763
4.192
Penduduk desa Tangkil berjumlah 8.720 jiwa dengan kepadatan penduduk
sebesar 1.360 jiwa/km2. Penduduk desa Tangkil terdiri dari 4.343 laki-laki dan
4.377 perempuan. Tingkat pendidikan masyarakat desa Tangkil sebagian besar
tamat sekolah dasar yaitu 2.530 orang. Tingkat pendidikan masyarakat desa
Tangkil selengkapnya pada Tabel 5.
Tabel 5 Penduduk desa Tangkil berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2010
No.
1
2
3
Tingkat Pendidikan
Tidak tamat SD
Tamat SD/sederajat
Tamat SLTP/sederajat
Jumlah Penduduk (Jiwa)
1522
2530
330
25
Tabel 5 (Lanjutan)
No.
4
5
6
7
8
Tingkat Pendidikan
Tamat SLTA/sederajat
Tamat D1/D2/D3
Tamat S1
Tamat S2
Tamat S3
Jumlah
Sumber : Laporan kinerja kepala desa Tangkil (2010)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
285
13
10
4.690
Desa Tangkil memiliki kelompok tani bernama KT Garuda Ngupuk dan KT
Saluyu. Kelompok tani ini merupakan mitra kerja Forpela TNGGP dalam
melaksanakan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di kawasan tersebut.
4.1.2.2 Desa Cinagara
Desa Cinagara memiliki luas 496,52 Ha. Desa ini berbatasan dengan desa
Tangkil di sebelah utara, desa Pasir Buncir di sebelah selatan, desa Muara Jaya di
sebelah barat dan kawasan TNGGP di sebelah timur. Penggunaan lahan di desa
Cinagara tersaji pada Tabel 6.
Tabel 6 Penggunaan lahan desa Cinagara tahun 2007
Luas Lahan
Ha
1
Jalan
2
2
Sawah dan Ladang
298,50
3
Bangunan Umum
1,00
4
Empang/ Kolam
2,50
5
Perumahan/ pemukiman
33,00
6
Perkuburan
3,00
7
Kehutanan
150,00
8
Lain-lain
6,52
Jumlah
496,52
Sumber : Data monografi desa Cinagara (2007) diacu dalam Iskandar (2008)
No.
Penggunaan
%
0,40
60,12
0,20
0,50
6,65
0,60
30,20
1,31
100,00
Penggunaan lahan terbesar di desa Cinagara adalah sawah dan ladang
sebesar 298,5 Ha (60,12%) yang terdiri dari beberapa peruntukan jenis tanaman.
Jenis tanaman yang ditanam pada areal tersebut diantaranya padi (260 ha), jagung,
tomat, kacang panjang, terong, buncis, ketimun, pisang, pepaya, salak, kelapa dan
kopi. Penggunaan lahan yang paling kecil adalah untuk bangunan umum yang
hanya sebesar satu ha (0,2%).
Penduduk di desa Cinagara berdasarkan data monografi desa (2007) diacu
dalam Iskandar (2008) berjumlah 9.622 orang. Penduduk desa Cinagara terdiri
atas 5.023 orang laki-laki (52,20%) dan 4.599 orang perempuan (47,80%) dengan
jumlah kepala keluarga sebanyak 2.176 KK.
26
Penduduk desa Cinagara yang tercatat berdasarkan tingkat pendidikan
adalah 1.955 orang (Monografi desa 2007 diacu dalam Iskandar 2008). Tingkat
pendidikan penduduk desa Cinagara terbagi dua, yaitu tingkat pendidikan umum
dan tingkat pendidikan khusus. Tingkat pendidikan penduduk desa Cinagara
tersaji pada Tabel 7.
Tabel 7 Penduduk desa Cinagara berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2007
No.
Tingkat Pendidikan
Jumlah Penduduk
Orang
Persentase
1
Lulusan Pendidikan Umum
a) TK
75
b) SD
135
c) SMP/SLTP
225
d) SMA/SLTA
125
e) Akademi/D1-D3
35
f) Sarjana (S1-S3)
10
2
Lulusan Pendidikan Khusus
a) Pondok Pesantren
75
b) Madrasah
525
c) Pendidikan Keagamaan
725
d) Kursus/Keterampilan
25
Jumlah
1.955
Sumber : Data monografi desa Cinagara (2007) diacu dalam Iskandar (2008)
3,84
6,91
11,51
6,39
1,79
0,51
3,84
26,85
37,08
1,28
100,00
Jumlah penduduk Desa Cinagara yang tercatat dalam monografi desa tahun
2007 menurut pekerjaannya berjumlah 1.365 orang yang terbagi dalam beberapa
jenis pekerjaan yang disajikan dalam Tabel 8.
Tabel 8 Penduduk desa Cinagara berdasarkan mata pencaharian tahun 2007
Jumlah Penduduk
Orang
Persentase (%)
1
Pegawai Negeri Sipil
25
1,83
2
ABRI
5
0,37
3
Swasta
425
31,14
4
Petani
375
27,47
5
Pertukangan
75
5,49
6
Buruh Tani
435
31,87
7
Pensiunan
15
1,10
8
Pemulung
10
0,73
Jumlah
1.365
100,00
Sumber : Data monografi desa Cinagara (2007) diacu dalam Iskandar (2008)
No.
Mata Pencaharian
Sebagian besar penduduk yang tercatat memiliki pekerjaan di sektor
pertanian baik sebagai petani 375 orang (27,47%) dan sebagai buruh tani 435
orang (31,87%). Sebanyak 8.257 orang (85,81%) lainnya masuk dalam kelompok
27
penduduk yang tidak mempunyai pekerjaan atau yang mempunyai pekerjaan yang
berbeda dengan kategori pada Tabel 8.
Banyaknya penduduk desa Cinagara yang bermatapencaharian di bidang
pertanian, membuat desa ini memiliki kelompok tani. Kelompok tani tersebut
bernama KSM Cinagara Asri. Kelompok tani tersebut merupakan mitra kerja
Forpela TNGGP dalam melakukan penerapan program pembayaran jasa
lingkungan.
4.2 Pemanfaat Jasa Lingkungan Air
USAID (2009) menyebutkan, berdasarkan hasil rapat revitalisasi Forpela
TNGGP selama tahun 2009, tercatat pemanfaat air dari kawasan adalah 103
pemanfaat baik komersial maupun non komersial. Informasi mengenai pemanfaat
air dari kawasan TNGGP tersaji dalam Tabel 9.
Tabel 9 Jumlah pemanfaat air yang terdaftar sebagai anggota Forpela TNGGP
PemanfaatAir (2006)
Komersial
Non-Komersial
Bogor
13
4
Cianjur
18
5
Sukabumi
5
2
Jumlah
36
11
Total
47
Sumber : USAID (2006) dan Forpela TNGGP (2006)
Wilayah
Pemanfaat Air (2009)
Komersial
Non-Komersial
30
9
44
9
19
2
83
20
103
Pemanfaat-pemanfaat air yang berada di wilayah resort Tapos, Cimande,
dan Bodogol antara lain PT Rejosari Bumi unit Tapos, PT Pacul Mas Tani, BPKH
Cinagara, STPP Cinagara, serta Pusdiklat Karya Nyata. Pemanfaatan air dari
kawasan taman nasional oleh para pemanfaat tersaji pada Tabel 10.
Tabel 10 Pemanfaatan air dari kawasan TNGGP oleh para pemanfaat
Jenis
Panjang
Sumber
Pipa
PT Rejosari Bumi
Sungai
2,16 km
PT Pacul Mas Tani
Sungai
5 km
BPKH Cinagara
Sungai
5 km
STPP Cinagara
Sungai
5 km
Pusdiklat Karya Nyata
Sungai
1 km
Sumber : USAID (2006) dan Forpela TNGGP (2006)
Pemanfaat
Diameter
Pipa
3 inchi
3 inchi
3 inchi
3 inchi
3 inchi
Ukuran Bak
Air
10 x 20 x 1 m3
5 x 6 x 1 m3
3 x 2 x 2 m3
3 x 2 x 2 m3
3 x 3 x 1 m3
Pemanfaatan air dari dalam kawasan taman nasional diambil melalui aliran
sungai yang kemudian ditampung dengan bak-bak penampungan untuk kegiatan
industri dan kegiatan non komersial lainnya.
28
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP
5.1.1 Latar belakang mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) memiliki potensi
untuk pengembangan jasa lingkungan air. Berdasarkan penelitian Darusman
(1993), nilai manfaat air yang disediakan TNGGP sebesar Rp 4,341 milyar/tahun
atau setara dengan Rp 280 juta/ha taman nasional/tahun. USAID (2009)
menyatakan pengembangan potensi TNGGP harus segera dilakukan. Hal ini
dikarenakan tingginya laju pertumbuhan penduduk di sekitar taman nasional.
Selain itu, di bagian hilir membutuhkan air dalam volume yang lebih banyak
dengan kualitas yang sesuai untuk air minum. Kecenderungan permintaan air
yang lebih tinggi ini berdampak bagi kelestarian ekosistem hutan sebagai sumber
airnya.
Pemanfaatan jasa lingkungan air yang dilakukan di TNGGP masih belum
memberikan kontribusi bagi kawasan. USAID (2006) menyatakan pada
kenyataannya, upaya memelihara kawasan hutan sebagai penghasil jasa
lingkungan air akan jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan
konstruksi air.
Selain itu, belum ada kebijakan, strategi dan aksi nyata dalam pengelolaan
air yang lebih menghargai peran kawasan Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango (USAID 2006). Hal ini mengakibatkan adanya perbedaan persepsi
diantara para pihak. Para pemanfaat jasa (air) beranggapan telah memberikan
kontribusi kepada pemerintah melalui pajak daerah. Berdasarkan PP Nomor 65
tahun 2001, pasal 34 (1) dan (2), disebutkan bahwa subyek dan wajib pajak
pengambilan dan pemanfaatan air bawah tanah dan air permukaan adalah orang
pribadi atau badan yang mengambil, atau memanfaatkan, atau mengambil dan
memanfaatkan air bawah tanah dan/atau air permukaan (DPR RI 2001).
Pemanfaatan air yang dilakukan di kawasan konservasi seharusnya tidak termasuk
pada kontribusi pajak daerah, melainkan kontribusi untuk kegiatan konservasi.
29
Jasa lingkungan air juga belum dinilai secara bijak oleh para pemanfaat air yang
ada di sekitar TNGGP.
Hal-hal tersebut kemudian mendasari adanya pertemuan yang difasilitasi
oleh dinas PSDA. Pertemuan tersebut dihadiri oleh pemanfaat air dan Pemerintah
Daerah. Berdasarkan hasil pertemuan tersebut, diambil kesimpulan bahwa
Pemerintah Daerah akan mengambil kontribusi berupa pajak ketika pemanfaat air
mengambil air melalui sumur bor dan berada di luar kawasan konservasi.
Pembangunan komitmen para pemanfaat air di sekitar kawasan TNGGP
dimulai dengan kegiatan inventarisasi pemanfaat air. Selanjutnya, dilakukan
pertemuan-pertemuan untuk membangun komitmen para pemanfaat. Namun, hal
tersebut belum sampai pada rancangan mekanisme insentif.
Balai Besar TNGGP selaku pengelola kawasan TNGGP memiliki harapan
dan keinginan untuk mengajak peran serta pemanfaat jasa lingkungan untuk
melakukan upaya konservasi kawasan TNGGP. Sesuai dengan surat edaran Dirjen
PHKA nomor SE.3/IV-SET/2008 tentang pemanfaatan jasa lingkungan air di
kawasan konservasi, bahwa UPT taman nasional dapat melakukan kegiatan
pemanfaatan jasa lingkungan air dari dalam kawasan melalui kerjasama dengan
mitra kerja (Dirjen PHKA 2008). Selain itu, Balai Besar TNGGP tidak dapat
mengelola insentif dari para pemanfaat air.
Hal-hal tersebut kemudian mendasari pembentukan suatu badan atau
lembaga independen. Badan atau lembaga ini nantinya akan mengelola insentif
dari para pemanfaat jasa lingkungan TNGGP khususnya air.
Proses pembentukan badan atau lembaga ini difasilitasi oleh USAID dan
RCS.
USAID
melalui
Environmental
Services
Programme
(ESP)
mengembangkan program watershed management. Salah satu program watershed
management tersebut adalah membangun sebuah kelembagaan dalam pengelolaan
jasa lingkungan air.
Proses pembentukan lembaga independen tersebut diawali dengan
menginventarisasi ulang para pemanfaat air di sekitar TNGGP. Selanjutnya,
dilakukan pertemuan dengan para pemanfaat jasa lingkungan air yang berada di
sekitar kawasan TNGGP. Pada tahap ini, dilakukan sosialisasi mengenai rencana
pembangunan insentif pengembangan jasa lingkungan air di kawasan TNGGP.
30
Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa masukan dari para pemanfaat air
untuk Balai Besar TNGGP (Lampiran 7). Pertemuan ini juga menghasilkan
komitmen dari para pemanfaat air untuk membentuk sebuah forum. Forum ini
diharapkan dapat menjadi media koordinasi dan komunikasi antara para
pemanfaat air dan Balai Besar TNGGP.
Tahap selanjutnya adalah pembentukan kelompok kerja di masing-masing
wilayah administrasi TNGGP. Setelah kelompok kerja dibentuk, dilakukan
pemetaan terhadap bak penampungan air dan perusahaan pemanfaat air. Setelah
peta penyebaran pemanfaat air dibuat, para pemanfaat air TNGGP membentuk
Forum Peduli Air (Forpela) TNGGP.
Keanggotaan Forpela TNGGP terdiri dari beberapa unsur. Pasal 12 dalam
AD/ART Forpela TNGGP menyebutkan bahwa anggota Forpela TNGGP adalah
pemanfaat air yang terdiri dari lembaga/perusahaan/lapisan masyarakat yang
berkepentingan terhadap pemanfaatan jasa lingkungan air di kawasan TNGGP.
Selain itu, anggota Forpela TNGGP juga dapat berasal dari kalangan profesional,
pemerhati, dan pihak lain yang peduli terhadap pemanfaatan jasa lingkungan air.
5.1.2 Penetapan nilai pembayaran jasa lingkungan air
Nilai pembayaran jasa lingkungan air dapat ditetapkan melalui beberapa
cara. Pada umumnya, nilai pembayaran jasa lingkungan air ditetapkan
berdasarkan nilai ekonomi air. Penghitungan nilai air dapat dilakukan melalui
pendekatan valuasi air atau perhitungan debit. Fauzi (2006) menyatakan,
pendekatan yang biasa digunakan untuk menghitung nilai air bersih atau irigasi
adalah metode kontingensi.
Lebih lanjut lagi, Fauzi (2006) menjelaskan, metode kontingensi
menghitung nilai air dengan mengukur kesediaan konsumen untuk membayar
(Willingness to Pay). Willingness to Pay (WTP) adalah jumlah maksimal
seseorang bersedia membayar untuk menghindari terjadinya penurunan kualitas
lingkungan. Sisi lain dari WTP adalah Willingness to Accept (WTA). Willingness
to Accept adalah jumlah minimum pendapatan seseorang bersedia menerima
penurunan kualitas lingkungan. Besaran WTA dapat mencapai 2-5 kali lebih besar
dibandingkan WTP.
31
Selain metode kontingensi, nilai air dapat dihitung berdasarkan debit dan
tarif air permukaan. Berdasarkan Perda Jawa Barat Nomor 6 tahun 2002, nilai
perolehan air permukaan ditetapkan sebesar Rp 500/m3. Nilai tersebut jika
dikalikan dengan jumlah air yang mengalir, akan menghasilkan nilai ekonomi air.
Sutopo (2011) menyebutkan perusahaan-peusahaan AMDK di sekitar
Tangkil dan Cinagara bersedia untuk membayar jasa lingkungan (WTP) sebesar
Rp 1.538,65/m3 dan kesediaan masyarakat menerima PJL sebesar Rp 1.589,29/m3.
Berdasarkan hasil tersebut, maka rataan yang digunakan sebagai dasar
pembayaran jasa lingkungan adalah sebesar Rp 1.563,97/m3. Nilai rataan tersebut
dapat digunakan sebagai dasar perhitungan pembayaran jasa lingkungan.
Forpela TNGGP dengan BB TNGGP tidak memakai metode valuasi
ekonomi dikarenakan ingin membuat sebuah konsep partisipatif. Konsep ini
mendorong anggota khususnya untuk mau memberikan kontribusi. Jika Forpela
TNGGP memakai konsep perhitungan debit dan nilai ekonomi air dengan
memaksakan pembayaran kepada para pemanfaat, dikhawatirkan akan berdampak
pada ketersediaan sumberdaya air. Para pemanfaat akan menekan jumlah air yang
seharusnya disediakan kawasan untuk pemenuhan kebutuhan usaha maupun
rumah tangga. Ketika hal tersebut tidak terpenuhi, maka proses partisipasi yang
diharapkan tidak akan terjadi.
Nilai pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP ditetapkan berdasarkan
musyawarah anggota Forpela TNGGP. Forpela TNGGP mencoba membangun
inisiatif para pemanfaat untuk memberikan kontribusi sesuai dengan apa yang
mereka sepakati. Nilai kontribusi tersebut kemudian ditetapkan sebagai iuran
pokok dan iuran wajib anggota. Besaran nilai iuran tersebut tersaji pada Tabel 11.
Tabel 11 Nilai iuran pokok dan iuran wajib keanggotaan Forpela TNGGP
Pemanfaat Air
Iuran Pokok*)
Iuran Wajib**)
Komersial
Rp 500.000-5.000.000,Rp 50.000-200.000,Non-Komersial
Rp 50.000-200.000,Rp 20.000-100.000,Keterangan : Tanda *) menyatakan bahwa iuran ini dibayarkan satu bulan setelah menjadi anggota
Forpela TNGGP; tanda **) menyatakan bahwa iuran dibayarkan anggota setiap
bulan (USAID 2009).
Besarnya nilai kontribusi yang diberikan para pemanfaat tergantung pada
kondisi, sifat pemanfaatan, dan kebijakan perusahaan/instansi. Pemanfaat
32
komersial
merupakan
perusahaan-perusahaan
maupun
instansi
yang
memanfaatkan air untuk keperluan usaha (Lampiran 8). Pemanfaat non komersial
merupakan masyarakat desa yang memanfaatkan air untuk kebutuhan sehari-hari
dan pertanian. Kontribusi dari masing-masing pemanfaat dapat dilihat pada Tabel
12.
Tabel 12 Jumlah kontribusi dari masing-masing pemanfaat air
No.
1
Pemanfaat Air
PT Rejosari Bumi
Iuran Pokok
Rp 6.000.000
2
3
4
PT Pacul Mas Tani
BPKH Cinagara
STPP Cinagara
-
5
Pusdiklat Karya Nyata
Sumber: Data diolah (2011)
-
Iuran Wajib
Rp
6.000.000/
tahun
Rp 600.000/ tahun
Rp
200.000500.000/tahun
-
Keterangan
Sampai tahun 2011
Belum berpartisipasi
Tahun 2007-2009
Tahun 2007- 2009
Belum berpartisipasi
Berdasarkan tabel tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat beberapa pemanfaat
air yang belum memberikan kontribusi. Hal tersebut terjadi karena beberapa
alasan. Sebagai contoh, STPP Cinagara merasakan kesulitan untuk memberikan
kontribusi karena tidak memiliki anggaran khusus untuk pembayaran iuran
keanggotaan. STTP Cinagara menggunakan air dari kawasan TNGGP untuk
keperluan rumah tangga instansi. PT Pacul Mas Tani menolak memberikan
kontribusi selama tidak ada kegiatan dan upaya konservasi yang jelas dari Forpela
TNGGP.
Selain pemanfaat komersial, terdapat pula pemanfaat non komersial yang
berasal dari masyarakat. Masyarakat melakukan pembayaran iuran melalui
kelompok tani atau perangkat desa. Besarnya iuran dari masyarakat dan
peruntukannya tersaji pada Tabel 13.
Tabel 13 Besaran, pengelolaan serta peruntukan iuran yang ada di masyarakat
Pemanfaat
Masyarakat
desa Tangkil
Besarnya Iuran
Rp 15.000,-/bulan
Rp 15.000,- atau 5 kg
gabah atau 2,5 kg beras/4
bulan (pasca panen)
Rp 5.000,-/bulan
Masyarakat
Rp 1.000,-/bulan
desa Cinagara
Sumber: Data diolah (2011)
Pengelola
KT Garuda Ngupuk
KT Garuda Ngupuk
Perangkat
desa
(ulu-ulu)
Kelompok sanitasi
Peruntukan
Pengelolaan mikro hidro
Pengelolaan saluran air
Bojong, Cioray, dan
Jogjogan
Perawatan saluran air
Pemeliharaan WC umum
33
Pada umumnya masyarakat membayarkan iuran seperti yang ada pada Tabel
13. Iuran-iuran tersebut kemudian dikelola untuk masing-masing peruntukan.
Pengelolaan iuran seperti yang terdapat di Tabel 13 tidak dilakukan oleh Forpela
TNGGP melainkan langsung dikelola masyarakat melalui kelompok tani/lainnya.
Berdasarkan pernyataan keuangan Forpela (2010) menyebutkan bahwa
jumlah dana kompensasi yang terkumpul sampai tahun 2010, tercatat Rp
8.000.000. Pernyataan keuangan Forpela tersaji pada Tabel 14.
Tabel 14 Pemasukan dan pengeluaran Forpela TNGGP
Tahun
Pemasukan
Pengeluaran
2009
40.000.000
18.500.000
2010
8.000.000
12.000.000
Sumber: Pernyataan keuangan Forpela TNGGP tahun 2009 dan 2010
Saldo
21.500.000
17.000.000
Tabel 14 menunjukkan pemasukan dan pengeluaran Forpela TNGGP antara
tahun 2009-2010. Dalam pernyataan keuangan yang diacu, tidak terdapat rincian
pengeluaran untuk pembiayaan kegiatan maupun program kerja Forpela.
5.1.3 Skema pembayaran jasa lingkungan air
Pada tahun 2006, ESP-USAID bekerjasama dengan BB TNGP dan RCS
melakukan inisiatif pengembangan program skema jasa lingkungan (PES) di
kawasan TNGGP. Skema ini bertujuan untuk mewujudkan pengelolaan sumber
daya air melalui pengembangan kemitraan dengan para pemanfaat jasa lingkungan
air disekitar kawasan konservasi untuk mendukung konservasi berkelanjutan
(Forpela 2009).
Skema pembayaran jasa lingkungan air diawali dengan pengumpulan dana
kompensasi dari para pemanfaat air oleh Forpela TNGGP. Pemanfaat-pemanfaat
air berperan sebagai pembeli jasa lingkungan air (buyer). Forpela TNGGP
berperan sebagai perantara (intermediary) dalam mekanisme ini. Forpela TNGGP
mencari informasi, bernegosiasi dengan pihak lainnya dan menyelesaikan proses
transaksi dengan pihak-pihak terkait. Skema pendanaan dalam mekanisme
pembayaran jasa lingkungan air yang berjalan di kawasan TNGGP tersaji pada
Gambar 6.
34
Pemanfaat Air dari
kawasan TNGGP
Perusahaan Swasta
Instansi Pemerintah
Iuran Pokok dan Iuran
Wajib; In-kind CSR
Masyarakat
Forum Peduli Air TNGGP
(Dewan Eksekutif dan Korwil)
ESP, RCS, BB
TNGGP
Program Kerja
Kegiatan
Rehabilitasi dan
Konservasi kawasan
BB TNGGP
Kolaborasi Program
Kegiatan
Pemberdayaan
Masyarakat
ESP, RCS, YBUL,
Mapala UI
Keterangan:
 Alur Pendanaan
- Fasilitasi
KT Garuda Nupuk, KT Saluyu,
KSM Cinagara Asri
Gambar 6 Skema pendanaan jasa lingkungan air di TNGGP.
Gambar 6 menunjukkan dana kompensasi berasal dari iuran pokok, iuran
wajib, dan in-kind CSR dari para pemanfaat air yang dikumpulkan melalui
Forpela. Dana kompensasi tersebut kemudian digunakan untuk menjalankan
program kerja yang telah disepakati. Program kerja yang disepakati terbagi
menjadi tiga komponen pokok. Komponen-komponen tersebut adalah kegiatan
rehabilitasi dan konservasi kawasan taman nasional, kolaborasi program dan
kegiatan pemberdayaan masyarakat desa penyangga. Selain itu, dana tersebut juga
digunakan untuk administrasi dan manajemen Forpela TNGGP.
Secara
bertahap,
BB
TNGGP
dan
ESP-USAID
mengembangkan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan untuk membiayai kegiatan konservasi
kawasan TNGGP (USAID 2006). Skema pembayaran jasa lingkungan air yang
dilakukan di kawasan TNGGP ditunjukkan pada Gambar 7.
35
Hutan dan
lahan
masyarakat
Memperbaiki kualitas air,
mengurangi sedimentasi
PDAM, perkebunan,
pabrik, hotel,
masyarakat hilir,
wisatawan
user fee, in-kind/
Rehabilitasi,
restorasi, praktek
pertanian ramah
lingkungan
MoU, Perda,
Perbup,
pengurangan
pajak, donor ($$)
Perdes
Kegiatan : kepastian
Pemilik/pengelola
hutan/BB
TNGGP/jaringan
masyarakat
DAS/LSM
CSR,
hak kelola masyarakat,
pelatihan, pelayanan
kesehatan, pendidikan,
Fund raising
M&E
Komite Para Pihak
TNGP, Forum DAS
administrasi
TA
kampanye, patroli
Sumber: RCS (2008)
Gambar 7 Skema Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP.
Gambar 7 menunjukkan bahwa skema pembayaran jasa lingkungan air di
TNGGP dimulai dari adanya peranan dari lahan masyarakat hulu dan hutan
(kawasan TNGGP) untuk memperbaiki kualitas air dan mengurangi sedimentasi.
Jasa air tersebut dimanfaatkan oleh para pemanfaat air. Selanjutnya, dana yang
terkumpul tersebut digunakan untuk melakukan kegiatan maupun program kerja
seperti pada Gambar 6. Para pihak seperti BB TNGGP dan masyarakat yang
berada di wilayah hulu melakukan upaya rehabilitasi, restorasi dan praktik
pertanian ramah lingkungan. Hal ini dilakukan untuk menjaga peranan dari lahan
masyarakat hulu dam hutan (kawasan TNGGP). Hubungan dan kesepakatan para
pihak terhadap pembayaran jasa lingkungan air diatur dalam MoU dan
kesepakatan lainnya.
Kegiatan rehabilitasi dan konservasi kawasan taman nasional meliputi
kegiatan seperti pengamanan kawasan patroli dan penanaman. Kegiatan ini
merupakan penerapan rencana kerja yang disepakati. Selain itu, dibuat juga
pembibitan tanaman-tanaman endemik yang ada di TNGGP, seperti rasamala
36
(Altingia excelsa) dan puspa (Schima walichii). Pusat pembibitan ini berada di
desa Pancawati.
Taman
pengembangan
Nasional
skema
Gunung
Gede
pembayaran
jasa
Pangrango
lingkungan
(TNGGP)
air
yang
memiliki
berbeda.
Pengembangan skema pembayaran jasa lingkungan air dilakukan pada tingkat
taman nasional. Pengembangan tersebut belum mencapai pada tingkatan
pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Empat DAS yang berhulu di kawasan
TNGGP masih tergabung dalam satu skema pembayaran jasa lingkungan air yang
sama. Hal ini dapat menimbulkan dampak berbeda jika dilihat dari karakteristik
dan urgentitas pengelolaan masing-masing DAS.
Selain itu, hubungan yang dibangun dari skema pembayaran jasa
lingkungan air di TNGGP belum mencakup hubungan hulu-hilir dalam arti luas.
Hal ini dikarenakan penyedia maupun pemanfaat air dari kawasan TNGGP masih
berada dalam ruang lingkup wilayah hulu dari suatu DAS. Pemanfaat air
merupakan para pihak yang memanfaatkan air secara langsung dari kawasan
taman nasional. Di lokasi lain, pembayaran jasa lingkungan air di DAS Cidanau
misalnya, pemanfaat air berada di wilayah hilir yaitu kota Cilegon. Leimona et al.
(2010) menyebutkan DAS Cidanau merupakan satu-satunya penyedia air untuk
rumah tangga dan hampir 100 industri yang beroperasi di Cilegon. Salah satu
industri tersebut adalah PT KTI yang merupakan satu-satunya pembeli jasa
lingkungan air DAS Cidanau.
Pengembangan skema pembayaran jasa lingkungan di kawasan TNGGP,
pada dasarnya bertujuan untuk mendukung upaya konservasi taman nasional oleh
berbagai pihak. Tujuan tersebut diturunkan pada tujuan mekanisme pembayaran
jasa lingkungan air TNGGP. Tujuan mekanisme pembayaran jasa lingkungan
yang dilakukan di TNGGP adalah untuk membangun kemitraan untuk
mendukung upaya konservasi kawasan TNGGP dan meningkatkan mata
pencaharian masyarakat desa penyangga melalui inkubasi usaha terpadu.
Berdasarkan proses dan skema yang dijalankan di TNGGP, mekanisme
tersebut termasuk kedalam intermediary-based transaction. Landell-Mills dan
Porras (2002) menyebutkan, dalam proses intermediary-based transaction,
fasilitator berperan mengurangi biaya transaksi dengan mencari informasi,
37
bernegosiasi, dan menyelesaikan proses transaksi. Fasilitator juga berperan
mengurangi resiko kegagalan dengan membangun kapasitas masyarakat, mencari
partner yang tepat, serta mengidentifikasi masalah yang ada.
5.1.4 Penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di desa Tangkil
dan Cinagara
Penerapan pembayaran jasa lingkungan air dilakukan secara kolaborasi oleh
Forpela TNGGP dan pihak lainnya. Kolaborasi tersebut antara lain dilakukan
Forpela TNGGP dengan ESP-USAID, RCS, Mapala UI, dan YBUL. Berdasarkan
Forpela TNGGP (2009) terdapat beberapa program kerja Forpela, antara lain:
Program pembangunan pusat pembibitan pohon (Bank Bibit), Program
peningkatan partisipasi dan peluang usaha produktif masyarakat, Progam
peningkatan kapasitas kelembagaan Forpela TNGGP, Program peningkatan
kerjasama kemitraan pengelolaan sumberdaya air, Program pemberian susu
pasteurisasi dan gemar menanam untuk siswa-siswi Sekolah Dasar di desa
penyangga, dan Program studi banding dalam penerapan pembiayaan jasa
lingkungan.
Beberapa program Forpela TNGGP dilakukan di desa Tangkil dan
Cinagara. Desa Tangkil dan Cinagara merupakan dua dari enam MDK (Model
Desa Konservasi) yang dicanangkan taman nasional. Program yang dilakukan di
dua desa tersebut yaitu Program pembangunan pusat pembibitan pohon (Bank
Bibit) dan Program peningkatan partisipasi dan peluang usaha produktif
masyarakat (Forpela TNGGP 2009).
Berdasarkann hasil identifikasi di lapangan, program yang dijalankan di
kedua desa meliputi kegiatan pelatihan-pelatihan usaha dan sekolah lapang serta
pemberian bantuan untuk inkubasi usaha masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut
dilaksanakan melalui kelompok-kelompok tani yang ada di kedua desa. Kegiatan
pelatihan dan pemberian bantuan di kedua desa tersaji pada Tabel 15.
Tabel 15
No.
1
Jenis kegiatan dan bantuan dalam penerapan pembayaran jasa
lingkungan air di desa Tangkil dan Cinagara
Pelaksana
kegiatan
KT Garuda
Ngupuk
desa
Tangkil
Kegiatan
Pelatihan pembuatan pupuk, sumur resapan,
sanitasi lingkungan, PLTMH (pelatihan
mikrohidro), budidaya jamur, tumbuhan
obat, serta beternak kelinci dan domba
Bantuan yang
diberikan
30 ekor domba dan dana
sebesar Rp 800.000,-;
PLTMH; kelinci; benih
sengon dan gmelina.
38
Tabel 15 (Lanjutan)
No.
2
Pelaksana
kegiatan
KT
Saluyu
desa Tangkil
KSM
Cinagara Asri
desa Cinagara
Kegiatan
Sekolah lapang dan pelatihan pembuatan
kripik wortel
3
Pelatihan usaha perikanan, peternakan
kambing, kelinci, dan tanaman hias.
Selain itu, dilakukan pelatihan sanitasi
lingkungan di kampung Pojok.
Sumber: Data diolah (2011)
Bantuan yang diberikan
Domba dan kelinci
bantuan pembuatan 2 unit
WC umum
Pelatihan-pelatihan seperti pada Tabel 15 bertujuan untuk mengembangkan
kapasitas SDM di kedua desa. Selain itu, diharapkan pelatihan tersebut dapat
dikembangkan menjadi sebuah usaha bagi anggota kelompok tani di kedua desa.
Apabila usaha ini berjalan, maka diharapkan akan menjadi mata pencaharian
tambahan dan meningkatkan tingkat kesejahteraan anggota kelompok tani di
kedua desa.
Bantuan mesin mikrohidro diberikan kepada masyarakat kampung Gunung
Batu. Bantuan tersebut diberikan oleh YBUL atas inisiasi dari Mapala UI, ESP,
dan Forpela TNGGP. Mapala UI menyampaikan kebutuhan masyarakat tersebut
kepada ESP. Berdasarkan hasil pembicaraan dengan ESP, informasi tersebut
kemudian disampaikan ke YBUL.
Bantuan ini bertujuan untuk mengembangkan sarana listrik berbasis
komunitas. Pengembangan listrik berbasis komunitas ini diharapkan dapat
membantu masyarakat kampung Gunung batu yang keadaannya masih belum
memiliki sarana listrik. Mesin mikrohidro tersebut diletakkan di saluran air
jogjogan dengan ketinggian 2,5 meter. Mesin tersebut kemudian dikelola oleh
anggota kelompok tani Garuda Ngupuk sesuai dengan naskah kesepahaman.
Bantuan yang diberikan kepada masyarakat tersaji pada Gambar 8.
(a)
(b)
Gambar 8 Bantuan yang diberikan kepada masyarakat kampung Gunung Batu,
desa Tangkil. Ket: (a) Domba; (b) Mesin mikrohidro.
39
Masyarakat kampung Gunung Batu diberikan benih sengon (Paraserienthes
falcataria) dan gmelina (Gmelina arborea) untuk ditanam disekitar rumah dan
daerah penyangga kawasan. Pemberian bantuan benih dilakukan pada November
2009. Program Bank Bibit tidak terlihat di kedua desa selama pengambilan data.
Adanya beberapa kendala di kedua desa yang menyebabkan program ini tidak
berjalan. Selain bantuan dan pelatihan tersebut, masyarakat diberikan uang
sebesar Rp 25.000/kegiatan yang diikuti.
Pemberian imbalan melalui penerapan mekanisme pembayaran jasa
lingkungan air yang dilakukan tersebut tergolong pemberian imbalan non
finansial. Hal ini dikarenakan imbalan yang diberikan berupa kegiatan pelatihan
dan bantuan bukan berupa dana. Sependapat dengan Gouyon (2004), bahwa
pemberian imbalan non finansial dilakukan melalui penyediaan infrastruktur,
pelatihan, manfaat atau jasa-jasa lainnya bagi pihak yang menyediakan jasa
lingkungan.
5.1.5 Perkembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
Forpela TNGGP menerapkan perioditas kegiatan 3 tahunan dan periode
terakhir berakhir di tahun 2009 (Forpela TNGGP 2009). Kegiatan tiga tahunan
berikutnya disusun dalam sebuah Rencana Strategis (Renstra) Forpela TNGGP
2010-2013. Kegiatan pemberian bantuan dan pelatihan-pelatihan di desa Tangkil
dan Cinagara berlangsung antara tahun 2007-2009. Tidak ada kurun waktu
perjanjian secara khusus untuk mekanisme pembayaran jasa lingkungan air itu
sendiri. Kurun waktu perjanjian yang diacu merujuk pada MoU antara pemanfaat
air dengan Forpela TNGGP, dan antara Forpela TNGGP dengan BB TNGGP.
Antara rentang tahun 2009-2011, belum ada kegiatan yang dilakukan di
desa Tangkil dan Cinagara. Saat ini, Forpela TNGGP masih melakukan
pengumpulan dana dari para pemanfaat air. Dana tersebut belum disalurkan untuk
program di desa Tangkil dan Cinagara. Dana tersebut lebih banyak dialokasikan
untuk membantu kegiatan taman nasional seperti pengamanan kawasan dan
program kerja Forpela TNGGP lainnya. Forpela TNGGP (2010) menyebutkan, di
tahun 2010, sebagian besar penerapan kegiatan Forpela TNGGP merupakan
lanjutan dari tahun-tahun sebelumnya. Program-program tersebut antara lain:
penguatan kapasitas keanggotaan Forpela TNGGP wilayah Cianjur, sosialisasi
40
program susunisasi dan bibit pohon, serta peningkatan kapasitas SDM pengelola
pemberdayaan masyarakat melalui TOT petugas kehutanan.
Proses pengumpulan dana dari para pemanfaat hingga saat ini masih sulit
dilakukan. Sebanyak dua dari lima pemanfaat air yang diwawancarai belum
bersedia memberikan kontribusi. Pemanfaat-pemanfaat bersedia membayarkan
kontribusi apabila Forpela TNGGP melakukan kegiatan-kegiatan lingkungan atau
pemberdayaan masyarakat secara nyata. Selain itu, beberapa pemanfaat juga
merasa kesulitan memberikan kotribusi dikarenakan belum adanya anggaran
khusus untuk pembayaran iuran keanggotaan.
Pemanfaat-pemanfaat juga mempertanyakan transparansi keuangan Forpela
TNGGP. Pemanfaat yang telah memberikan kontribusi berupa iuran keanggotaan,
tidak diberikan kwitansi pembayaran. Selain itu, pemanfaat (khususnya yang
memberikan kontribusi) tidak diberikan salinan laporan keuangan Forpela
TNGGP. Dalam pernyataan keuangan yang diacu, tidak terdapat rincian
pengeluaran untuk pembiayaan kegiatan maupun program kerja Forpela. Hal ini
juga menjadi salah satu penyebab pemanfaat pada akhirnya enggan memberikan
kontribusi.
Kelompok tani yang dibentuk ketika penerapan mekanisme pembayaran
jasa lingkungan air hampir bubar. Mereka tidak melakukan kegiatan terkait
pembayaran jasa lingkungan. Hal ini berdampak bagi pengelolaan bantuanbantuan yang diberikan. Bantuan domba yang diberikan di lokasi tersebut masih
terkelola dengan baik. Domba-domba tersebut dititipkan pada beberapa warga.
Akan tetapi, terdapat pengelolaan bantuan yang tidak berjalan sesuai naskah
kesepahaman. Contohnya pada pengelolaan PLTMH di kampung Gunung Batu
desa Tangkil. Sebagian besar anggota kelompok tani tidak bersedia membayar
iuran untuk pengelolaan PLTMH dikarenakan alat pembangkit listrik tersebut
tidak berfungsi.
PLTMH diberikan oleh YBUL pada November 2009 untuk digunakan
sebagai pembangkit listrik untuk kebutuhan masyarakat kampung Gunung Batu.
Hal ini dikarenakan warga kampung Gunung Batu hidup tanpa adanya aliran
listrik. Namun, yang terjadi, PLTMH tersebut tidak mampu mengaliri listrik ke 80
KK yang ada di kampung Gunung Batu. Hal ini terjadi karena penempatan
41
PLTMH di lokasi tersebut dianggap kurang tepat, debit yang digunakan untuk
memutar turbin sudah cukup. Namun, ketinggian tempat tidak memadai untuk
mengoperasikan PLTMH. Ketinggian tempat hanya 2,5 meter, sedangkan
ketinggian minimal untuk pengoperasian PLTMH adalah 6 meter. Hal tersebut
membuat PLTMH hanya mampu mengaliri kebutuhan listrik untuk 20 KK.
Adanya konflik yang terjadi di masyarakat kampung gunung batu sendiri,
pada akhirnya menyebabkan PLTMH tersebut tidak digunakan. Kondisi
masyarakat kampung gunung batu berpendidikan rendah sehingga sering terjadi
kecemburuan sosial. Selain itu, masyarakat kampung gunung batu juga kurang
memiliki kemauan untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.
Kondisi yang demikian menyulitkan kelompok untuk mensosialisasikan program
bantuan yang datang termasuk dari Forpela TNGGP/ESP-USAID.
Bantuan yang diterima masyarakat kampung Pojok desa Cinagara berupa
dua unit WC umum juga tidak digunakan. Iuran yang diperuntukkan untuk
pengelolaan bantuan tersebut tidak dijalankan warga. Hal ini mengakibatkan
fasilitas umum tersebut tidak bisa difungsikan lagi untuk keperluan MCK
masyarakat. Masyarakat kampung Pojok pada akhirnya kembali melakukan
kegiatan MCK di aliran sungai Cinagara.
Gambar 9 Bantuan berupa WC umum di desa Cinagara.
Program Bank Bibit tidak terlihat di kedua desa selama pengambilan data.
Adanya beberapa kendala di kedua desa yang menyebabkan program ini tidak
berjalan. Berdasarkan hasil wawancara, anggota kelompok tani di kampung
Gunung Batu hanya diberikan benih untuk kemudian ditanam di sekitar rumah
dan daerah penyangga taman nasional. Namun, sampai saat ini, hanya beberapa
warga yang kemudian menjadikan benih tersebut menjadi bibit tanaman. Bibit
tanaman tersebut pada saat ini belum mencapai hasil (panen).
42
Rencana peraturan mengenai pemanfaatan jasa lingkungan air di kawasan
konservasi tidak jadi disusun oleh Dirjen PJLKKHL. Hal ini menyebabkan,
sampai saat ini aturan yang diacu dalam pelaksanaan mekanisme pembayaran jasa
lingkungan di kawasan TNGGP hanya berdasarkan surat edaran Dirjen PHKA,
perjanjian-perjanjian
kerjasama,
naskah
kesepahaman
serta
peraturan
perundangan lain terkait pemanfaatan air secara umum.
5.2 Keterlibatan Para Pihak
5.2.1 Identifikasi para pihak
Para pihak didefinisikan sebagai semua pihak baik individu maupun suatu
kelompok yang mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan,
keputusan-keputusan dan penerapan dari suatu mekanisme (Groenendjik 2003).
Proses indentifikasi para pihak merupakan proses awal dalam analisis para pihak.
Proses identifikasi dimulai dengan mendaftar semua pihak yang terlibat.
Pihak-pihak yang terlibat dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
di TNGGP antara lain: KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk desa Tangkil, KSM
Cinagara Asri desa Cinagara, BB TNGGP, Forpela TNGGP, ESP-USAID, RCS,
Mapala UI, Direktorat Jenderal Pemanfaatan Jasa Lingkungan di Kawasan
Konservasi dan Hutan Lindung (Dirjen PJLKKHL), Dinas Pengelolaan
Sumberdaya Air (Dinas PSDA) Kab. Bogor, Dinas Energi dan Sumberdaya
Mineral (Dinas ESDM) Kab. Bogor, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor,
YBUL, dan pemanfaat-pemanfaat air (PT Rejosari Bumi, PT Pacul Mas Tani,
BPKH Cinagara, STPP Cinagara dan Pusdiklat Karya Nyata).
Selanjutnya, dilakukan pengklasifikasian para pihak menjadi pihak primer
dan sekunder. Pembagian ini dilakukan berdasarkan tingkat keterkaitan para pihak
dengan mekanisme yang ada.
Pihak primer didefinisikan sebagai pihak yang terlibat langsung dan
mengharapkan manfaat dari suatu mekanisme. Pihak lain di luar stakeholder
primer yang masih terlibat dalam mekanisme disebut pihak sekunder
(Groenendjik 2003). Berdasarkan hasil identifikasi, pihak-pihak yang termasuk
dalam pihak primer dan sekunder tersaji pada Gambar 10.
43
Pihak sekunder
Pihak Primer
• KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk desa
Tangkil, KSM Cinagara Asri desa
Cinagara; para pemanfaat air;
perusahaan AMDK; dan BB TNGGP
• Forpela TNGGP, ESP-USAID, RCS,
YBUL, Mapala UI, Dirjen PJLKKHL,
Dinas PSDA, Dinas ESDM, Dinas
Pertanian dan Kehutanan, dan BPDAS
Citarum-Ciliwung
Gambar 10 Klasifikasi para pihak.
Gambar 10 menunjukkan pihak primer pada umumnya merupakan pembeli
dan penyedia jasa lingkungan. Sesuai dengan definisi pembayaran jasa lingkungan
menurut Wunder (2005), transaksi pembayaran jasa lingkungan dilakukan oleh
minimum satu penyedia jasa dan minimum satu pembeli jasa lingkungan. Selain
itu, terdapat pula perusahaan-perusahaan AMDK di sekitar lokasi penelitian
(Lampiran 9). Namun, pihak ini belum terlibat dalam mekanisme.
Pihak sekunder yang teridentifikasi merupakan pihak yang terlibat selain
pihak primer dalam mekanisme. Gambar 10 menunjukkan, pada umumnya, pihak
sekunder merupakan lembaga pemerintahan maupun LSM. Berdasarkan
identifikasi hasil wawancara, pihak yang menjadi pihak sekunder dalam
mekanisme ini adalah Forpela TNGGP, ESP-USAID, RCS, YBUL, Mapala UI.
Selain pihak-pihak tersebut, Direktorat Jenderal PJLKKHL dan Dinas PSDA,
Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral (Dinas ESDM) Kab. Bogor, dan Dinas
Pertanian dan Kehutanan Kab. Bogor juga termasuk ke dalam pihak sekunder
dalam mekanisme. BPDAS Citarum-Ciliwung termasuk kedalam pihak sekunder,
tetapi pihak ini belum terlibat dalam mekanisme.
5.2.2 Peranan para pihak
Peranan masing-masing pihak yang terlibat dilihat berdasarkan tingkatan
para pihak seperti pihak primer dan sekunder. Secara umum, berdasarkan hasil
identifikasi, para pihak terbagi menjadi menjadi empat kategori utama yaitu
sebagai penyedia jasa lingkungan, pembeli jasa lingkungan, perantara, dan
pembuat kebijakan. Peranan masing-masing pihak tersaji pada Tabel 16.
44
Tabel 16 Peranan masing-masing pihak
No.
1
Peranan
Penyedia jasa lingkungan air
2
Pembeli jasa lingkungan air
3
Perantara
4
Pembuat kebijakan
Para Pihak
KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk desa Tangkil, KSM
Cinagara Asri desa Cinagara, dan BB TNGGP
Pemanfaat-pemanfaat air dari kawasan TNGGP
(yang tergabung dalam Forpela TNGGP)
Pembeli potensial: perusahaan AMDK di sekitar
lokasi penelitian
Forpela TNGGP, ESP-USAID, RCS, Mapala UI
Perantara potensial: BPDAS Citarum-Ciliwung
BB TNGGP, Dirjen PJLKKHL, Dinas PSDA, Dinas
ESDM, Dinas Pertanian dan Kehutanan
Sumber: Data diolah (2011)
Penyedia jasa lingkungan berperan untuk menjaga kelestarian daerah hulu
agar jasa lingkungan yang ditransaksikan dapat tersedia secara berkelanjutan.
Pembeli jasa lingkungan berperan sebagai pihak yang memberikan insentif
kepada penyedia jasa dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan.
Secara khusus, peranan sebagai perantara tersebut terbagi lagi menjadi
peranan yang lebih spesifik. Hal ini terkait dengan mekanisme pembayaran jasa
lingkungan yang dilakukan.
Forpela TNGGP berperan sebagai wadah mediasi dan fasilitasi proses yang
ada. Forpela TNGGP sebagai sebagai wadah yang berperan untuk mengumpulkan
dana kompensasi dari para pemanfaat. Selain itu, Forpela TNGGP juga berperan
sebagai inisiator. Forpela TNGGP menginisiasi upaya-upaya yang mungkin bisa
dikembangkan khususnya bagi masyarakat untuk mendorong kelestarian kawasan
konservasi.
ESP-USAID berperan sebagai fasilitator ke kelompok tani di desa Tangkil
dan Cinagara melalui kegiatan penguatan kapasitas. RCS berperan memfasilitasi
pendistribusian dana Forpela TNGGP untuk diterapkan di tingkat kawasan dan
masyarakat daerah penyangga. Kedua lembaga ini juga berperan dalam inisiasi
pembentukan Forpela TNGGP.
Mapala UI berperan untuk memfasilitasi kelompok tani di desa Tangkil dan
Cinagara. Mapala UI memfasilitasi kebutuhan anggota KT dengan pihak-pihak
yang bersedia mendukung. YBUL berperan untuk menyalurkan bantuan
infrakstuktur (pengembangan PLTMH) kepada masyarakat kampung Gunung
Batu desa Tangkil.
45
Direktorat Jenderal PJLKKHL, BB TNGGP, serta dinas terkait memiliki
peranan untuk mengatur jalannya mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
yang ada di kawasan TNGGP melalui kebijakan yang dibuat. Selain itu, BB
TNGGP berperan mengawasi berjalannya kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan
yang ada di kawasan taman nasional. Dinas PSDA juga mendorong untuk
mensinergiskan pengelolaan sumber daya air di luar dan di dalam kawasan
konservasi.
Pihak yang berpotensi untuk terlibat secara langsung belum memiliki
peranan dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang ada. Namun,
pihak-pihak ini memiliki potensi peran yang kemudian dapat dikembangkan
dalam pelaksanaan mekanisme ini. Perusahaan-perusahaan AMDK yang terdapat
di sekitar lokasi penelitian berpotensi untuk berperan sebagai pembeli jasa
lingkungan air. BPDAS Citarum-Ciliwung berpotensi untuk berperan sebagai
fasilitator dalam kaitannya dengan pengelolaan DAS. Namun, potensi peranan ini
juga harus dipertimbangkan dengan tingkat ketertarikan pihak ini terhadap
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang berlangsung.
5.2.3 Tingkat kepentingan dan pengaruh para pihak
Kepentingan (interest) terhadap tujuan mekanisme merupakan atribut yang
penting untuk diinvestigasi dari para pihak. Kepentingan ini mendukung tujuan
(para pihak juga menginginkan apa yang coba dicapai oleh mekanisme) atau
kebalikannya (Groenendjik 2003). Kepentingan dari masing-masing pihak
kemudian diidentifikasi dan dianalisis. Kepentingan (interest) dari tiap para pihak
yang diidentifikasi tersaji pada Tabel 17.
Tabel 17 Kepentingan (interest) masing-masing pihak
Para Pihak
KT Saluyu
KT Garuda
Ngupuk
Kepentingan (Interest)
Pihak primer
Pendampingan kepada KT
Peningkatan kesejahteraan
Hutan tetap lestari
Pemilihan sub usaha yang sesuai
dengan masyarakat
1. Peningkatan kesejahteraan
2. Kepercayaan untuk mengelola bantuan
3. Program baru yang dijalankan sebagai
penerapan mekanisme
1.
2.
3.
4.
Potensi
dampak
terhadap
proyek *
Prioritas
kepentingan
relatif*
-/+
-/+
+
-
1
-/+
-/+
-
1
46
Tabel 17 (Lanjutan)
Para Pihak
Kepentingan (Interest)
KSM
Cinagara Asri
1. Pemahaman mengenai program yang
dijalankan
2. Kompensasi untuk masyarakat yang
melakukan penanaman
3. Peningkatan kualitas SDM
1. Kebutuhan air terpenuhi
2. Pelestarian kawasan TNGGP
3. Peninjauan pemanfaaat lain
4. Ikut serta dalam usaha penyelamatan
lingkungan
1. Kebutuhan air terpenuhi
2. Ikut serta dalam mekanisme
1. Monitoring secara berkala
2. Kontribusi para pemanfaat
3. Kelestarian kawasan TNGGP
4. Kesejahteraan
masyarakat
desa
penyangga
Pihak sekunder
1. Pemahaman menyeluruh terhadap
mekanisme
2. Kesejahteraan
masyarakat
desa
penyangga
3. Bantuan sosialisasi mekanisme dari
BB TNGGP
4. Kontribusi dari pemanfaat
5. Kejelasan peran masing-masing pihak
1. Lembaga independent yang mengatur
mekanisme
2. Program berjalan baik
1. Payung hukum yang jelas terkait
mekanisme
2. Dukungan program yang sinergis
dengan visi misi RCS
1. Aplikasi energi terbarukan untuk
masyarakat pedesaan
2. Meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat melalui energi terbarukan
1. Penguatan KT di kedua desa
2. Kesejahteraan masyarakat meningkat
1. Optimalisasi
pemanfaatan
jasa
lingkungan air di kawasan konservasi
1. Memfasilitasi pengelolaan sumberdaya
air
2. Mengembalikan kondisi dan fungsi
sungai sebagai sumber air untuk
menunjang daya dukung lingkungan
3. Peningkatan
pemberdayaan
masyarakat dan peran swasta
1. Peningkatan kemandirian masyarakat
dalam pemenuhan kebutuhan energi
2. Peningkatan
upaya
konservasi
lingkungan
dan
perlindungan
masyarakat
Pemanfaatpemanfaat air
Perusahaan
AMDK
BB TNGGP
Forpela
TNGGP
ESP-USAID
RCS
YBUL
Mapala UI
Dirjen
PJLKKHL
Dinas PSDA
Kab. Bogor
Dinas ESDM
Kab. Bogor
Potensi
dampak
terhadap
proyek *
-
Prioritas
kepentingan
relatif*
1
?
?
+
+
-/+
+
1
+
-/+
-/+
+
-/+
1
-
2
1
-/+
?
+
-/+
+
3
+
-/+
3
+
+
4
-/+
-/+
+
4
+
3
2
?
+
-/+
+
5
47
Tabel 17 (Lanjutan)
Para Pihak
Potensi
dampak
terhadap
proyek *
+
Kepentingan (Interest)
Dinas
Pertanian dan
Kehutanan
Kab. Bogor
BPDAS
CitarumCiliwung
Prioritas
kepentingan
relatif*
1. Optimalisasi
perlindungan
dan
3
pemanfaatan sumberdaya alam
2. Peningkatan
pengetahuan,
sikap,
?
keterampilan SDM
1. Pengembangan kelembagaan dan
+
3
kemitraan pengelolaan DAS
2. Pengembangan model pengelolaan
?
DAS
Keterangan : Tanda positif (+), negatif (-), tidak jelas (-/+), dan tidak diketahui (?) diisi pada
kolom potensi dampak, sedangkan kolom tingkat kepentingan relatif diisi dengan
skala 0-5 berdasarkan kebijakan dan tujuan mekanisme (Groenendjik 2003).
Tabel 17 menunjukkan bahwa terdapat banyak kepentingan para pihak yang
belum diakomodasi oleh mekanisme yang ada. Kepentingan para pihak yang
dapat terakomodasi oleh mekanisme yang ada umumnya berkaitan kesesuaian
antara program kerja para pihak dan mekanisme yang ada. Kepentingan yang
berkaitan dengan hasil yang diharapkan dari mekanisme, seperti peningkatan
kesejahteraan
masyarakat,
belum
terakomodasi
secara
jelas.
Hal
ini
mengindikasikan hasil dari mekanisme yang berjalan belum terukur secara jelas.
Selanjutnya, dimasukkan pula atribut lainnya yaitu pengaruh (influence) dan
tingkat kepentingan (importance). Masing-masing pihak memiliki atribut yang
berbeda dan dianalisis tergantung pada situasi dan tujuan analisis.
Groenendjik
(2003)
mendefinisikan
pengaruh
(influence)
sebagai
kewenangan para pihak untuk mengontrol keputusan apa yang dibuat, untuk
memfasilitasi
penerapannya
atau
untuk
menggunakan
tekanan
yang
mempengaruhi mekanisme secara negatif. Pengaruh mungkin saja diartikan
sebagai tingkatan orang, kelompok, atau organisasi yang dapat membujuk atau
memaksa pihak lain dalam membuat keputusan dan mengikuti beberapa tindakan.
Tingkat kepentingan (importance) mengindikasikan prioritas yang diberikan
untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan para pihak pada mekanisme
(Groenendjik 2003). Oleh karena itu, tingkat kepentingan merujuk pada masalah,
kebutuhan, dan kepentingan para pihak yang merupakan prioritas dari mekanisme.
Tingkat pengaruh dan kepentingan dari masing-masing pihak tersaji pada Gambar
11.
48
Gambar 11 Diagram matriks tingkat kepentingan (importance) dan pengaruh
(influence) dari masing-masing pihak.
Gambar 11 merupakan pemetaan para pihak berdasarkan tingkat pengaruh
dan kepentingan. Pemetaan tersebut didasarkan pada hasil skoring (Lampiran 10).
Groenendjik (2003) menyatakan bahwa kuadran A, B, dan C merupakan pihak
kunci yang dapat mempengaruhi mekanisme secara signifikan. Implikasi masingmasing kuadran pada Gambar 12 yaitu:
1. Kuadran A mengimplikasikan para pihak dengan tingkat kepentingan tinggi
terhadap mekanisme tetapi memiliki pengaruh yang rendah.
Pihak-pihak yang terdapat dalam kuadran ini adalah KT Saluyu, KT Garuda
Ngupuk, dan KSM Cinagara Asri, para pemanfaat air, perusahaan AMDK, ESPUSAID, dan RCS. Penyedia jasa (KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk, dan KSM
Cinagara Asri) dan pembeli jasa (pemanfaat air dan perusahaan AMDK),
memiliki tingkat kepentingan yang tinggi terhadap mekanisme. Hal ini
dikarenakan pihak-pihak tersebut merupakan subyek dari mekanisme yang ada.
Selain itu, mekanisme ini merupakan cara untuk mengakomodasi kebutuhan
49
(kepentingan) mereka. Namun, di sisi lain, pihak-pihak tersebut tidak memiliki
pengaruh yang tinggi terhadap mekanisme. Pihak-pihak ini bukan merupakan
pengatur regulasi mekanisme. Mereka tidak dapat mengupayakan tindakan
apapun apabila mekanisme ini mengalami gangguan dalam pelaksanaannya.
ESP-USAID dan RCS memiliki kepentingan tinggi karena pihak ini
merupakan inisiator dalam pembentukan mekanisme yang ada. Sama halnya
dengan penyedia dan pembeli jasa, pihak ini memiliki tingkat pengaruh yang
rendah. Walaupun pihak ini merupakan inisiator pembentukan mekanisme, tetapi
pihak ini bukan merupakan pengatur regulasi mekanisme. Groenendjik (2003)
menyebutkan pihak-pihak dalam kuadran ini memerlukan inisiatif khusus untuk
melindungi kepentingan mereka.
2. Kuadran B mengimplikasikan para pihak dengan tingkat pengaruh dan
kepentingan yang tinggi terhadap keberhasilan mekanisme.
Pihak-pihak yang terdapat pada kuadran ini adalah BB TNGGP, Forpela
TNGGP, Dirjen PJLKKHL, Dinas PSDA, Distanhut, dan BPDAS CitarumCiliwung. Pihak-pihak dalam kuadran ini merupakan pembuat dan pengatur
regulasi terhadap mekanisme yang ada. Regulasi merupakan titik awal dari
penerapan mekanisme. Tingkat kepentingan pihak yang berada di kuadran ini juga
tergolong tinggi terhadap mekanisme. Kepentingan pihak yang berada di kuadran
ini secara umum berkaitan dengan program pelestarian lingkungan (DAS maupun
kawasan taman nasional) dan pemberdayaan masyarakat yang terakomodasi dari
mekanisme ini. Untuk membentuk kerjasama efektif dalam mendukung
mekanisme, sebaiknya pihak yang terlibat langsung dengan mekanisme
membangun hubungan kerja dengan pihak-pihak ini (Groenendjik 2003).
3. Kuadran C mengimplikasikan para pihak yang memiliki pengaruh tinggi tetapi
tidak memiliki kepentingan terhadap mekanisme.
Pihak yang terdapat pada kuadran ini adalah Dinas ESDM. Pihak ini memiliki
tingkat pengaruh yang tinggi tetapi memiliki tingkat kepentingan yang rendah.
Dalam kaitannya dengan tingkat kepentingan, pihak ini tidak memiliki hubungan
langsung dengan mekanisme. Namun, kedudukan dinas ini sebagai lembaga
pemerintahan, memiliki kewenangan untuk membuat dan mengatur regulasi.
Apabila kepentingan pihak ini tidak sejalan dengan mekanisme yang ada, pihak
50
ini dapat menjadi sumber resiko yang signifikan (Groenendjik 2003). Oleh karena
itu, dibutuhkan monitoring dan manajemen terhadap pihak ini.
4. Para pihak pada kuadran D memiliki pengaruh dan kepentingan yang rendah
terhadap mekanisme.
Pihak yang terdapat pada kuadran ini adalah YBUL dan Mapala UI. Pihak ini
bukanlah subyek dari mekanisme yang berlangsung. Pihak ini hanya berperan
sebagai fasilitator dan donor serta tidak memiliki kepentingan khusus terhadap
mekanisme. Pihak ini juga tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap
mekanisme. Dapat dikatakan, pihak ini berada di luar mekanisme yang berjalan.
Pihak ini mungkin memerlukan monitoring dan evaluasi namun dengan prioritas
yang rendah (Groenendjik 2003).
5.2.4 Hak dan kewajiban para pihak
Hak dan kewajiban para pihak dilihat berdasarkan dokumen terkait dan hasil
wawancara terhadap para pihak. Dokumen terkait yang diacu antara lain Naskah
Kesepahaman Pengelolaan PLTMH, rencana aksi pembangunan model desa
konservasi melalui pengembangan desa produktif unggulan secara terpadu dan
berkelanjutan, AD/ART Forpela TNGGP, MoU Pemanfaat air dengan TNGGP,
dan MoU kemitraan pemanfaatan air antara Forpela TNGGP dengan BB TNGGP.
Pengacuan terhadap dokumen-dokumen tersebut dikarenakan dalam mekanisme
ini, belum terdapat perjanjian langsung antara anggota kelompok-kelompok tani
dengan pemanfaat-pemanfaat air.
Berdasarkan Naskah Kesepahaman Pengelolaan PLTMH, masyarakat desa
Tangkil menyepakati hal-hal berikut:
1. Mendukung dan menjadikan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro
(PLTMH) sebagai upaya mendorong upaya konservasi sumberdaya air yang
berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat lokal.
2. Menyepakati nilai iuran/kontribusi/kompensasi dari hasil pemanfaatan
Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro sebesar Rp 15.000,-/bulan masingmasing pintu (rumah). Dana tersebut akan diperuntukkan untuk kegiatan
pengelolaan dan perawatan perangkat PLTMH (turbin, dinamo) dan bangunan
fisik pendukungnya (bendungan, saluran air, bak penampungan, jaringan
listrik, dan rumah turbin).
51
3. Menunjuk dua orang warga masyarakat kampung Gunung Batu yang
diperuntukkan untuk pengelolaan dan perawatan perangkat PLTMH yang
ditetapkan berdasarkan hasil kesepakatan dan musyawarah bersama.
Selain berdasarkan naskah kesepahaman pengelolaan PLTMH, anggota KT
Saluyu, KT Garuda Ngupuk desa Tangkil, KSM Cinagara Asri desa Cinagara juga
menyepakati untuk mendukung dan menjadikan rencana aksi pembangunan model
desa konservasi melalui pengembangan desa produktif unggulan secara terpadu
dan berkelanjutan sebagaimana terlampir sebagai salah satu acuan dalam
penyusunan, perencanaan, pengembangan dan pembangunan daerah yang
disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang
ada. Kesepakatan ini tercantum dalam MoU antara Forpela TNGGP dengan enam
MDK tentang Pengembangan Desa Produktif Unggulan Bagi Peningkatan
Ekonomi Masyarakat.
Melalui kedua kesepakatan tersebut anggota KT Saluyu dan KT Garuda
Ngupuk desa Tangkil, serta KSM Cinagara Asri desa Cinagara berkewajiban
untuk mengelola bantuan yang diberikan dan mendukung pembangunan MDK.
Hak masyarakat memang tidak secara langsung terungkap dari kedua kesepakatan
tersebut. Namun, jika dilihat dari kedua kesepakatan tersebut, anggota ketiga KT
tersebut memiliki hak untuk menerima bantuan PLTMH dan mengembangkan
desa Tangkil dan Cinagara sebagai desa produktif unggulan untuk peningkatan
ekonomi mereka.
Selain anggota kelompok tani, pemanfaat-pemanfaat air baik yang sudah
terdaftar menjadi anggota Forpela TNGGP ataupun belum terdaftar memiliki hak
dan kewajiban sesuai dengan AD/ART Forpela TNGGP dan MoU Pemanfaat air
dengan TNGGP. Hak dan kewajiban para pemanfaat air tersebut tersaji pada
Tabel 18.
52
Tabel 18
Pihak
yang
terlibat
Pemanfa
at air*
Pemanfa
at air*
Hak dan kewajiban pemanfaat air berdasarkan AD/ART Forpela
TNGGP dan MoU dengan BB TNGGP
Hak**
Kewajiban**
Keterangan
- Hak
mendapatkan
fasilitas
dari
dewan
pengurus
- Hak memilih dan dipilih
sebagai pengurus
- Hak
menyampaikan
pendapat
- Hak mengikuti rapat
tahunan Forpela TNGGP
- Membayar iuran anggota
- Menjaga citra Forpela TNGGP
- Mematuhi AD/ART Forpela
TNGGP
- Mendukung
pelaksanaan
program Forpela TNGGP
*Sudah
terdaftar
menjadi
anggota Forpela
TNGGP
**Tercantum
dalam
Anggaran Dasar
Forpela
TNGGP
*Belum
terdaftar
menjadi
anggota Forpela
TNGGP
dan
memiliki MoU
dengan
BB
TNGGP
**Tercantum
dalam
MoU
antara
Pemanfaat Air
dengan
BB
TNGGP
- Memanfaatkan air yang
bersumber dari kawasan
TNGGP
- Memasang
dan
memelihara instalasi air
- Memperoleh dukungan
administrasi
dan
perizinan
untuk
pelaksanaan
kegiatan
yang telah dirancang
bersama
- Bersama-sama
BB
TNGGP
melakukan
pengamanan instalasi air
yang dipasang di dalam
kawasan
- Menyusun rencana kerja
- Melaksanakan rencana kerja
yang telah ditetapkan
- Memberikan sebagian air yang
dimanfaatkan
kepada
masyarakat sekitarnya
- Membantu secara partisipatif
dalam upaya perlindungan dan
pelestarian kawasan TNGGP
dalam bentuk: 1) melaporkan
setiap
pelanggaran/gangguan
terhadap kawasan TNGGP yang
ditemui,
dilihat,
dan/atau
didengar
kepada
petugas
TNGGP; 2) bersama-sama
petugas TNGGP ikut serta
melakukan pengawasan dan
pengamanan terhadap gangguan
kawasan
TNGGP;
3)
menyebarluaskan
informasi
tentang upaya konservasi; 4)
menanam pohon jenis lokal
TNGGP
dalam
rangka
perlindungan tata air di
kawasan TNGGP
- Melaporkan hasil kegiatan
secara tertulis tiap enam bulan
kepada BB TNGGP
- Wajib menjadi anggota Forpela
TNGGP
Sumber: AD/ART Forpela TNGGP (2006) dan MoU antara BB TNGGP dengan desa Pasir Buncir
(2008).
Tabel 18 menggambarkan adanya perbedaan hak dan kewajiban pemanfaat
air dikarenakan status keanggotaan dalam Forpela TNGGP yang berbeda.
Pemanfaat yang telah menjadi anggota Forpela TNGGP memiliki hak dan
kewajiban sebagai anggota sebuah organisasi. Pemanfaat air yang belum menjadi
anggota Forpela TNGGP memiliki hak dan kewajiban terhadap BB TNGGP
53
selaku pihak yang memberikan izin pemanfaatan air. BB TNGGP dan Forpela
TNGGP memiliki hak dan kewajiban yang tercantum dalam MoU kemitraan
pemanfaatan air. Hak dan kewajiban tersebut tersaji pada Tabel 19.
Tabel 19 Hak dan kewajiban BB TNGGP dan Forpela TNGGP berdasarkan MoU
kemitraan tentang pemanfaatan air dari kawasan TNGGP
No.
Pihak
yang
terlibat
1
BB
TNGGP
2
Forpela
TNGGP
Hak
Kewajiban
- Mendapat dukungan dari Forpela
TNGGP dalam rangka kegiatan:
1) Pengkajian dan pengembangan
pemanfaatan air dari kawasan
TNGGP;
2)
Pengamanan,
rehabilitasi, dan konservasi, di
kawasan TNGGP; 3) Pelaksanaan
kegiatan
yang
menunjang
pelestarian
TNGGP
dan
peningkatan
peran
serta
masyarakat; 4) Sosialisasi dan
penyuluhan KSDAE kepada
masyarakat di daerah penyangga
TNGGP;
5)
Memperkuat
kapasitas para pemanfaat air yang
berasal dari kawasan TNGGP
dalam
rangka
mendukung
program pelestarian kawasan.
- Memanfaatkan hasil kegiatan
kemitraan ini
- Dapat memberi rekomendasi bagi
calon pemanfaat air kepada BB
TNGGP
- Dapat
menggunakan
iuran
anggota dan sumber pendanaan
lainnya yang tidak mengikat
dalam rangka pelaksanaan RKL
dan RKT
- Menilai dan mengesahkan RKL
dan RKT
- Memfasilitasi
kegiatan
pengembangan pemanfaatan air
dari kawasan TNGGP
- Melakukan
pembinaan
dan
evaluasi terhadap kegiatan Forpela
TNGGP
- Menyusun RKL dan RKT
- Melaksanakan RKL dan RKT yang
telah disahkan
- Mengkoordinir dan memungut
iuran dari anggota Forpela TNGGP
- Memberikan dukungan kepada BB
TNGGP dalam setiap program
yang tercantum pada hak BB
TNGGP
- Berkoordinasi dengan BB TNGGP
dalam setiap kegiatan yang
berkaitan dengan program yang
tercantum pada hak BB TNGGP
- Melaporkan secara tertulis setiap
hasil kegiatan Forpela TNGGP
Sumber: MoU kemitraan BB TNGGP dan Forpela TNGGP (2008)
Selain berdasarkan MoU dan Naskah kesepahaman yang dibuat, hak dan
kewajiban masing-masing pihak juga dilihat berdasarkan hasil wawancara. Hasil
wawancara mendifinisikan para pihak beserta hak dan kewajiban masing-masing
54
pihak yang tidak tercantum dalam MoU. Tabel 20 menjelaskan hak dan kewajiban
para pihak berdasarkan hasil wawancara.
Tabel 20 Hak dan kewajiban para pihak berdasarkan hasil wawancara
No.
1
2
Pihak yang terlibat
Anggota KT Saluyu,
KT Garuda Ngupuk,
dan KSM Cinagara
Asri
Pemanfaat air
Hak
Mendapatkan
dan
mengelola bantuan
3
BB TNGGP
4
Forpela TNGGP
5
ESP-USAID
6
RCS
-
7
Mapala UI
-
Mendapatkan pasokan
air untuk kebutuhan
mereka
Mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak
untuk
menjaga
kelestarian
kawasan
TNGGP
Forpela TNGGP dapat
memanfaatkan potensi
sumberdaya air yang
ada
di
kawasan
TNGGP,
dengan
aturan main yang telah
disepakati.
-
Kewajiban
Membayar iuran air yang telah
disapakati, memelihara bantuan yang
diberikan,
menjaga
kelestarian
kawasan TNGGP.
Membayar iuran, menjaga jaringan
air, melakukan upaya konservasi dan
menjaga kelestarian sumber air.
Mengawasi
serta
memberikan
monitoring dan evaluasi kepada para
pihak khususnya pemanfaat air
Memberikan kontribusi dalam upaya
pelestarian
dan
perlindungan
kawasan TNGGP dengan berbagai
pogram.
Memfasilitasi
mekanisme
yang
berlangsung tetapi tidak langsung
berhubungan dengan mekanisme
yang ada.
Mensosialisasikan peran Forpela
TNGGP kepada para pihak serta
fundraising untuk sinergitas program
RCS dengan Forpela TNGGP.
Mendampingi
dan
memberikan
motivasi kepada masyarakat di saat
ada program yang datang kepada
masyarakat.
Sumber: Data diolah (2011)
Berdasarkan MoU dan hasil wawancara, terdapat beberapa perbedaan hak
dan kewajiban masing-masing pihak. Berdasarkan hasil wawancara, para pihak
mendefinisikan hak dan kewajiban masing secara luas. Berbeda dengan hasil
wawancara, MoU menjelaskan hak dan kewajiban para pihak dengan lebih rinci.
Disamping itu, terdapat beberapa pihak yang tidak tercantum pada MoU maupun
naskah kesepahaman. Pihak-pihak tersebut merupakan pihak-pihak yang berperan
sebagai perantara dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan air. Para pihak
tersebut mendefinisikan hak dan kewajiban mereka melalui wawancara.
55
Proses pemenuhan hak dan kewajiban tersebut dilihat dari keterlibatan
masing-masing pihak dan apa yang terjadi selama mekanisme ini berjalan. Secara
umum, pemenuhan hak masing-masing pihak sudah terpenuhi. Anggota kelompok
tani telah menerima bantuan; para pemanfaat (anggota Forpela TNGGP dan bukan
anggota) dapat memanfaatkan air dari kawasan TNGGP sesuai dengan ketentuan
yang ada; dan BB TNGGP mendapat bantuan pengamanan dan konservasi
kawasan dari masyarakat, pemanfaat, dan Forpela TNGGP.
Berbeda dengan pemenuhan hak, pemenuhan kewajiban para pihak tidak
berjalan sesuai dengan kesepakatan. Pembayaran iuran dari para pemanfaat dan
masyarakat tidak berjalan lancar. Dua dari lima pemanfaat yang diwawancarai,
belum memberikan kontribusi berupa iuran kepada Forpela TNGGP. Selain itu,
anggota KT Garuda Ngupuk, desa Tangkil juga tidak lagi menjalankan iuran
pengelolaan PLTMH. Pihak lainnya yang menjadi perantara dalam mekanisme ini
juga dirasa kurang memberikan fasilitasi maupun monitoring kepada pihak
lainnya sebagai salah satu dari kewajiban mereka. Proses pemenuhan kewajiban
para pihak tersebut kemudian menjadikan mekanisme ini kurang berjalan dengan
baik.
5.3 Evaluasi Mekanisme Pembayaran Jasa Lingkungan Air di TNGGP
Forpela TNGGP menginginkan masyarakat diberdayakan melalui penguatan
peran agar dapat berpartisipasi dengan tidak selalu reaktif, khususnya menyangkut
kebijakan pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan (USAID 2009). USAID
(2009) juga menyebutkan Forpela TNGGP berupaya menciptakan peluang dan
terobosan baru, khususnya dalam menciptakan keseimbangan baru dalam sistem
ekonomi pedesaan yang kondusif bagi tumbuhnya usaha mikro, kecil dan
menengah yang mandiri.
Forpela TNGGP mencoba mengembangkan dan menerapkan pendekatan
PJL secara menyeluruh yang sesuai untuk pembayaran jasa lingkungan (Payment
for Environmental Services) dan menekankan pada keseimbangan upaya
pengentasan kemiskinan dengan konservasi, serta mempertimbangkan keadilan
sosial dan kesetaraan.
USAID (2009) menyatakan bahwa Forpela TNGGP memiliki skema PJL
yang berbeda, yaitu skema yang melakukan upaya konservasi taman nasional
56
serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat daerah penyangga. Skema ini
dijalankan melalui pengembangan potensi lokal desa penyangga dengan
menekankan adanya manfaat berkelanjutan yang diperoleh masyarakat desa
penyangga. Salah satu caranya adalah dengan membangun pusat pembibitan
tanaman atau usaha produktif unggulan yang bisa menunjang peningkatan
perekonomian masyarakat. Hal ini dilakukan dengan harapan pada masa
mendatang masyarakat sejahtera dan hutan tetap lestari. Kegiatan pembayaran
jasa lingkungan dapat diberikan secara langsung melalui pemberdayaan atau
penguatan masyarakat, keamanan kepemilikan tanah (land tenure security), dan
konservasi ekosistem alam tempat masyarakat miskin di daerah penyangga
bergantung.
Forpela
(2009)
menyebutkan,
secara
singkat,
skema
PJL
yang
dikembangkan untuk (1) membantu menunjukkan nilai konservasi vs konversi;
pengaruh kebijakan-kebijakan terhadap perencanaan dan proyek-proyek yang ada;
(2) sebagai dana konservasi; (3) membantu menciptakan pasar yang mendukung
tumbuhnya permintaan atas jasa-jasa yang ada; dan (3) pengurangan kemiskinan;
kesetaraan (Forpela 2009).
Evaluasi terhadap mekanisme pembayaran jasa ingkungan air dilakukan
secara kualitatif. Kerr dan Jindal (2007) menyatakan metode kualitatif
menyediakan pengertian yang mana konteks ini dapat dipahami dan digunakan
untuk mengungkap aspek penting dari sebuah proyek. Peneliti kualitatif biasanya
kurang menempatkan penekanan pada pengukuran dan lebih kepada proses dan
pemahaman secara tajam serta faktor-faktor penentu keberhasilan proyek,
biasanya dengan menekankan perspektif yang beragam dari berbagai pihak.
Sebuah analisis kualitatif cenderung kurang memikirkan tentang penerapan hasil
yang spesifik untuk lokasi proyek lainnya, tetapi lebih memfokuskan pada
generalisasi pelajaran yang dapat diterapkan untuk proyek lainnya.
Evaluasi terhadap mekanisme PJL dilakukan berdasarkan definisi Wunder
(2005) dan literatur lainnya serta perkembangan yang terjadi pada mekanisme itu
sendiri.
57
5.3.1 Berdasarkan definisi Wunder (2005)
Konsep mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan TNGGP
dievaluasi berdasarkan definisi Wunder (2005) dan literatur lainnya. Wunder
(2005), mengklasifikasikan lima kriteria untuk mendeskripsikan prinsip-prinsip
pembayaran jasa lingkungan, yaitu transaksi secara sukarela; jasa lingkungan
yang terdefinisi secara baik; pembeli jasa lingkungan; penyedia jasa lingkungan;
serta jaminan ketersediaan jasa lingkungan oleh penyedia. Berdasarkan lima
kriteria tersebut, perkembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan di
kawasan TNGGP dapat terdefinisi sebagai berikut:
1.
Transaksi secara sukarela
Transaksi secara sukarela didefinisikan sebagai perjanjian tanpa tekanan,
yang dibedakan melalui “command and control” (Prasetyo et al. 2009). Dalam
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang dilakukan di TNGGP, transaksi
antara penyedia dan pembeli jasa dapat dikatakan sebagai transaksi yang bersifat
sukarela. Belum terdapat aturan yang secara jelas mengikat para pemanfaat air
dari kawasan taman nasional untuk memberikan kontribusi berupa iuran maupun
retribusi. Aturan yang dijadikan acuan hanya berupa MoU kerjasama kemitraan
antara Forpela TNGGP dengan BB TNGGP serta AD/ART Forpela TNGGP.
Pemanfaat air yang tergabung dalam keanggotaan Forpela TNGGP memberikan
kontribusi secara sukarela. Walaupun terdapat beberapa kesepakatan yang diacu
dalam mekanisme ini, dalam pelaksanaannya tetap menggunakan prinsip sukarela.
Transaksi yang dilakukan antara pemanfaat dan penyedia jasa didasarkan
pada kesadaran para pemanfaat akan kebutuhan sumberdaya air. Pemanfaat air
memberikan apresiasi terhadap penyedia jasa dengan memberikan kontribusi
melalui keanggotaan Forpela TNGGP. Transaksi dilakukan dengan memberikan
bantuan berupa kebutuhan masyarakat dan inkubasi usaha untuk masyarakat.
Transaksi tersebut diatur dalam naskah kesepahaman dan rencana aksi
pembangunan model desa konservasi melalui pengembangan desa produktif
unggulan antara MDK dan Forpela TNGGP.
2.
Jasa lingkungan yang terdefinisi secara baik
Jasa lingkungan yang didefinisikan dalam mekanisme ini adalah nilai dan jasa
ekosistem
hutan
untuk
menghasilkan
air.
Kawasan
TNGGP
berperan
58
menghasilkan air bagi 103 pemanfaat air baik komersial maupun non komersial
(USAID 2009). Pemanfaat air mengambil air langsung dari kawasan ini untuk
kebutuhan usaha mereka.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap lima pemanfaat air, empat dari lima
pemanfaat telah mengetahui peran kawasan TNGGP untuk menghasilkan air.
Sebanyak empat pemanfaat dapat menjelaskan manfaat air tersebut bagi
perusahaan/instansi mereka. Selain para pemanfaat, anggota kelompok tani di
desa Tangkil dan Cinagara secara umum telah mengetahui peranan hutan dalam
menghasilkan air. Berdasarkan hasil wawancara, sebanyak 19 dari 24 orang
responden mengetahui dan dapat menyebutkan manfaat hutan untuk menghasilkan
air. Responden juga dapat menyebutkan hal-hal yang harus dilakukan untuk
menjaga ketersediaan air. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, sebagian
masyarakat belum merubah perilaku mereka terhadap sumber air yang berasal dari
kawasan TNGGP. Sebagian masyarakat kampung Pojok desa Cinagara khususnya
masih melakukan kegiatan MCK di sungai Cinagara.
Disamping itu, dalam mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang
berjalan, belum dilakukan pengukuran secara pasti terhadap debit air yang
diterima oleh para pemanfaat. Mereka berpendapat bahwa air yang disediakan
oleh alam dapat dimanfaatkan sesuai dengan keinginan mereka. Selain itu, dua
pemanfaat juga menganggap mereka memasang instalasi air sendiri untuk
memperoleh air. Hal ini menyebabkan dua dari lima pemanfaat yang
diwawancarai pada akhirnya belum mengambil inisiatif untuk memberikan
kontribusi terhadap jasa air yang dihasilkan hutan. Sejalan dengan pendapat
Chomitz dan Kumari (1998) bahwa meskipun diketahui hutan mampu
menyediakan jasa lingkungan air, tetapi hubungan antara hutan dan jasa
lingkungan air baik secara kualitatif maupun kuantitatif seringkali tidak dipahami.
3.
Pembeli jasa lingkungan
Pembeli dan penjual jasa lingkungan merupakan yang memiliki kontrol
terhadap sumberdaya yang menghasilkan jasa (Prasetyo et al. 2009). Menurut
Leimona et al. (2011), pemanfaat jasa lingkungan adalah (a) perorangan; (b)
kelompok masyarakat; (c) perkumpulan; (d) badan usaha; (e) pemerintah daerah;
(f) pemerintah pusat, yang memiliki segala bentuk usaha yang memanfaatkan
59
potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan tidak mengurangi
fungsi pokoknya. Pembeli jasa yang terdefinisi dalam mekanisme ini adalah para
pemanfaat air dari kawasan TNGGP. Pembeli jasa yang terdefinisi merupakan
pemanfaat yang telah bergabung dengan Forpela TNGGP atau pemanfaat lain
yang memiliki MoU kemitraan dengan pihak BB TNGGP. Pemanfaat lainnya
yang berada di luar kedua hal tersebut belum menjadi pembeli jasa.
Dalam mekanisme ini, pembeli jasa belum memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap kontribusi dana untuk penerapan mekanisme. Ada pihak lain
seperti ESP-USAID dan YBUL yang menjadi donor dalam penerapan mekanisme
ini. Hal ini sependapat dengan Wunder (2005) yang menyebutkan bahwa
kontribusi dana seringkali berasal dari donor daripada pemanfaat jasa lingkungan.
4. Penyedia jasa lingkungan
Penyedia jasa lingkungan adalah (a) perorangan; (b) kelompok masyarakat;
(c) perkumpulan; (d) badan usaha; (e) pemerintah daerah; (f) pemerintah pusat,
yang mengelola lahan yang menghasilkan jasa lingkungan serta memiliki ijin atau
alas hak atas lahan tersebut dari instansi berwenang (Leimona et al. 2011).
Penyedia jasa yang terdefinisi dalam mekanisme ini adalah ekosistem hutan
TNGGP yang berperan dalam menghasilkan jasa air. BB TNGGP selaku
pengelola kawasan seharusnya menjadi merupakan penyedia jasa lingkungan
dalam mekanisme ini. Namun, BB TNGGP tidak dapat mengelola dana kontribusi
dari pemanfaat-pemanfaat air. Penyedia jasa seringkali terlihat tidak jelas
(Wunder 2005). Kemudian, dilakukan pendekatan lain oleh Forpela TNGGP.
Forpela TNGGP dan BB TNGGP mencoba menfasilitasi daerah penyangga
kawasan untuk mendukung perlindungan dan pelestarian kawasan konservasi. Hal
ini kemudian menempatkan anggota KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk dan KSM
Cinagara Asri dan MDK lainnya sebagai penyedia jasa.
Ketua maupun anggota kelompok-kelompok tani tersebut belum memahami
tentang konsep pembayaran jasa lingkungan air yang dilakukan. Dua dari tiga
ketua kelompok tani yang diwawancarai menyatakan kurang paham tentang
konsep pembayaran jasa lingkungan air yang dilakukan. Ketua kelompok tani
hanya menjalankan penerapan mekanisme tersebut. Responden yang terdiri dari
anggota KT hanya mengetahui sebatas iuran yang harus dijalankan dan program
60
pelatihan-pelatihan usaha yang telah dijalankan. Sebanyak 17 dari 24 orang
responden yang secara umum mengetahui penerapan mekanisme ini.
Mayoritas anggota KT di kedua desa merupakan petani sawah dan ladang.
Mereka belum melakukan teknik pertanian untuk meningkatkan penyediaan jasa
lingkungan. Penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan dilakukan
melalui inkubasi usaha.
5.
Jaminan ketersediaan jasa lingkungan oleh penyedia
Wunder (2005) menyebutkan bahwa kriteria yang paling sulit untuk
dilaksanakan adalah adalah persayaratan: banyak mekanisme yang kurang
monitoring atau tidak termonitor sama sekali, pembayaran dilakukan di awal
perjanjian, para pihak dibuat percaya terhadap mekanisme daripada benar-benar
melakukan monitoring terhadap ketersediaan jasa.
Forpela TNGGP menerapkan perioditas kegiatan 3 tahunan dan periode
terakhir berakhir di tahun 2009 (Forpela TNGGP 2009). Selama kurun waktu
tersebut penyedia jasa seharusnya dapat memberikan jaminan ketersediaan jasa
kepada para pemanfaat. Prasetyo et al. (2009) menyatakan, pembayaran jasa
lingkungan dapat terus berlangsung, jika dan hanya jika penyedia jasa
menyediakan jasa secara terus menerus. Berdasarkan hasil wawancara terhadap
para pemanfaat, jasa lingkungan air tersebut masih tersedia dan dapat
dimanfaatkan dengan baik oleh para pemanfaat. Namun, baik penyedia dan
pemanfaat kurang melakukan kontribusi terhadap mekanisme itu sendiri.
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan tersebut berjalan dengan sendirinya
tanpa adanya penegakan mekanisme, seperti disinsentif pembayaran. Wunder
(2008) menyebutkan, beberapa skema pembayaran jasa lingkungan berlangsung
sendirinya, umumnya pada inisiatif dilakukan oleh pembeli jasa lingkungan atau
perantara seperti lembaga non-pemerintahan (LSM). Hal ini dikarenakan
pendekatan yang dilakukan saat penerapan mekanisme ini adalah melalui
pemberian bantuan kepada anggota kelompok tani. Pendekatan yang dilakukan
belum pada tingkat reward and punishment. Penyedia jasa belum dituntut untuk
menyediakan jasa terlebih dahulu sebelum jasa itu dibayarkan. Selain itu,
pembayaran (pemberian bantuan) dilakukan pada masa awal mekanisme.
61
Berdasarkan pengertian Wunder (2005) tersebut, mekanisme yang berjalan
di kawasan TNGGP memenuhi empat dari lima kriteria. Lebih lanjut lagi, Wunder
(2008) menyebutkan bahwa mekanisme yang memenuhi hampir semua kriteria
termasuk pada mekanisme “PES-like”.
Wunder (2008) lebih lanjut menyebutkan, skema “PES-like” lainnya
dijalankan oleh lembaga pemerintah, yang berperan sebagai pembeli atas nama
pengguna jasa lingkungan. Dalam mekanisme ini, terdapat dua instansi
pemerintah yang berperan sebagai pembeli jasa lingkungan. Selain itu, ekosistem
kawasan TNGGP juga dikelola oleh pemerintah (BB TNGGP).
Wunder (2008) menyebutkan, skema tersebut memiliki cakupan wilayah
yang lebih luas dan cenderung menggabungkan beberapa jasa lainnya, serta
mengutamakan berbagai tujuan lainnya (pengentasan kemiskinan, pengembangan
sektoral dan regional). Hal ini yang coba dijalankan di TNGGP. USAID (2009)
menyatakan bahwa Forpela TNGGP memiliki skema yang berbeda, yaitu skema
yang
melakukan
upaya
konservasi
taman
nasional
serta
memperbaiki
kesejahteraan masyarakat daerah penyangga. Skema ini dijalankan melalui
pengembangan potensi lokal desa penyangga dengan menekankan adanya manfaat
berkelanjutan yang diperoleh masyarakat desa penyangga.
Wunder dan Wertz-Kanounnikoff (2009) menyebutkan bahwa konteks PES
yang dilakukan di kawasan konservasi dapat disesuaikan pada beberapa kondisi
tertentu, tetapi tetap membutuhkan perhatian khusus.
5.3.2 Berdasarkan perkembangan mekanisme
Evaluasi terhadap mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan
TNGGP dilihat dari beberapa aspek berdasarkan perkembangannya. Aspek-aspek
tersebut antara lain: kenggotaan Forpela, pendanaan, skema, program kerja, serta
manfaat bagi masing-masing pihak.
Keanggotaan Forpela terdiri dari pemanfaat-pemanfaat air yang mengambil
air langsung dari kawasan TNGGP. Pasal 12 AD/ART Forpela menyebutkan
bahwa pemanfaat-pemanfaat tersebut terdiri dari lembaga, perusahaan, lapisan
masyarakat yang berkepentingan terhadap pemanfataan jasa lingkungan (air) di
kawasan TNGGP (Forpela TNGGP 2006). Berdasarkan rekapitulasi anggota
Forpela tahun 2009, di sekitar resort Tapos, Cimande, dan Bodogol terdapat 28
62
pemanfaat air (Forpela TNGGP 2009). Namun, ketika diambil sampel sebanyak
lima pemanfaat dari 28 pemanfaat di ketiga lokasi tersebut, dua pemanfaat
menyebutkan bahwa mereka belum menjadi anggota Forpela. Berdasarkan hasil
wawancara, dua pemanfaat tersebut juga mengaku belum memberikan kontribusi
berupa iuran kepada Forpela TNGGP.
Rekapitulasi keanggotaan Forpela TNGGP seharusnya dapat dilakukan
setiap tahun. Hal ini menyangkut kondisi para pemanfaat dan kontribusi yang
diberikan. Pemanfaat air yang sudah bangkrut atau tidak mau memberikan
kontribusi akan mempengaruhi manajemen dan pendanaan Forpela TNGGP itu
sendiri.
Pasal 12 AD/ART Forpela TNGGP juga menyebutkan bahwa pemanfaat air
di wilayah TNGGP wajib menjadi anggota Forpela TNGGP. Pada pasal ini tidak
dijelaskan lebih lanjut apakah pemanfaat air yang mengambil air melalui mata air
di daerah penyangga TNGGP wajib menjadi anggota Forpela. Sutopo (2011)
menyebutkan potensi air bersih yang bersumber dari mata air di daerah penyangga
TNGGP, kuantitas dan kualitas airnya sangat dipengaruhi oleh curah hujan,
morfologi, dan tumbuhan penutupnya. Oleh karena itu, pemanfaat-pemanfaat
yang mengambil air dari mata air di daerah penyangga kawasan seharusnya
berkontribusi dalam upaya konservasi kawasan. Berdasarkan penelitian Sutopo
(2011), terdapat tujuh perusahaan AMDK yang memanfaatkan air dari mata air di
sekitar kecamatan Caringin. Perusahaan-perusahaan ini bersedia memberikan
kontribusi melalui mekanisme PJL.
Pendanaan Forpela TNGGP berasal dari iuran pokok dan iuran wajib yang
dibayarkan anggota Forpela. Selain itu, sumber dana juga dapat berasal dari
sumbangan sukarela atau hibah. Berdasarkan pernyataan keuangan Forpela
TNGGP (2010) disebutkan bahwa jumlah dana kompensasi yang terkumpul
sampai tahun 2010, tercatat Rp 8.000.000 dan saldo keuangan Forpela TNGGP
sebesar Rp 17.000.000. Apabila dikurangi dengan pengeluaran tahun sebelumnya
seharusnya jumlah tersebut menjadi Rp 17.500.000. Tidak terdapat keterangan
mengenai hal ini. Hal ini dikarenakan dalam pernyataan keuangan yang diacu,
tidak terdapat rincian pengeluaran untuk pembiayaan kegiatan maupun program
kerja Forpela. Apabila dihitung berdasarkan bantuan yang diberikan kepada
63
kelompok tani di desa Tangkil dan Cinagara, dana yang dikeluarkan menjadi lebih
besar dibandingkan dengan apa yang tercantum pada pernyataan keuangan.
Selain itu, tidak terdapat rincian cost-sharing dengan pihak lain seperti ESPUSAID dan YBUL dalam pemberian bantuan terkait PJL di desa Tangkil dan
Cinagara. ESP-USAID selaku partner sharing Forpela TNGGP dalam pemberian
bantuan, tidak menyebutkan besaran cost-sharing yang dikeluarkan untuk
membiayai program tersebut. Mereka hanya menyebutkan bahwa mereka
memberikan sharing lebih kepada hal teknis. Tidak dijelaskan lebih lanjut dalam
bentuk teknis seperti apa sharing tersebut diberikan.
Hal-hal tersebut juga dipertanyakan para pemanfaat yang memberikan
kontribusi kepada Forpela TNGGP. Mereka mengeluhkan transparansi keuangan
Forpela TNGGP. Tidak terdapat catatan keuangan untuk para pemanfaat yang
telah memberikan kontribusi maupun yang belum berkontribusi. Selain itu, bukti
pembayaran tidak diberikan kepada para pemanfaat air yang telah berkontribusi.
Hal ini seharusnya tidak terjadi apabila Forpela TNGGP merupakan
lembaga/forum yang memiliki akuntabilitas yang baik.
Skema pembayaran jasa lingkungan air yang dibuat dalam mekanisme ini
masih menyangkut skema yang umum. Pada skema, hal-hal menyangkut teknis di
lapang ketika penerapan belum terlihat. Misalnya: program rehabilitasi yang
dilakukan sepeti apa, dilakukan dimana, berapa luasan tempat dilakukan
rehabilitasi tersebut, dsb. Hak dan kewajiban para pihak khususnya pembeli,
penyedia dan perantara diantara keduanya tidak terlihat dalam skema. Selain itu,
aliran dana dari pemanfaat dan ditujukan untuk apa saja dana tersebut tidak
terlihat pada skema.
Skema juga tidak mengakomodasi aliran dana dari pemanfaat kepada
pemerintah daerah, khususnya yang melalui pajak air. Pemanfaat air dari mata air
(air permukaan) yang berada di luar kawasan tetapi berada di desa penyangga
seharusnya membayarkan pajak air melalui pemerintah daerah. Aliran air tersebut
pada dasarnya juga berasal dari fungsi ekosistem TNGGP. Skema tidak
memperlihatkan aliran dana dari pemerintah daerah kepada BB TNGGP selaku
pengelola kawasan maupun kepada masyarakat desa penyangga. Bersdasarkan PP
65 tahun 2001 tentang Pajak Daerah, pasal 77 disebutkan bahwa pemerintah
64
daerah menerima 70% dari pajak air permukaan dan air tanah dari propinsi (DPR
RI 2001). Pasal 78 menyebutkan bahwa desa (masyarakat) menerima 10% dari
pemerintah kabupaten atas hasil penerimaan pajak kabupaten. Pajak air yang
dibayarkan pemanfaat ke pemerintah daerah seharusnya dapat disalurkan ke
masyarakat melalui Forpela. Forpela seharusnya dapat mengelola hasil
penerimaan pajak air yang diperuntukkan untuk pemberdayaan masyarakat desa
penyangga kawasan yang menjadi mitra Forpela. Hal ini dilakukan agar aliran
dana dari pemerintah daerah melalui pajak daerah (pajak air) dikelola dengan
jelas.
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang dilakukan di TNGGP
memiliki kelebihan dan kekurangan. Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan
dan literatur yang ada, kelebihan dan kekurangan mekanisme tersebut tersaji pada
Tabel 21.
Tabel 21 Kelebihan dan kekurangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air
yang dilakukan di TNGGP
Kelebihan
Dapat mengajak lebih dari satu pemanfaat
untuk berkontribusi dalam mekanisme
ï‚· Bertujuan juga untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa penyangga
melalui inkubasi usaha terpadu
ï‚· Bantuan yang diberikan bersifat non
finansial dan tidak langsung berupa dana
ï‚· Dapat mengajak peran serta banyak pihak
sebagai fasilitator serta donor untuk costsharing
ï‚·
Kekurangan
ï‚· Hanya
mengajak
pemanfaat
yang
mengambil air langsung dari kawasan
ï‚· Penerapan program di dua desa tidak
berjalan baik
ï‚· Pembagian cost-sharing dari pemanfaat
dan lembaga donor tidak jelas
ï‚· Peranan para pihak dalam mekanisme
belum terlihat jelas pada penerapan
mekanisme, peran Forpela terlihat
dominan.
Sumber: Data diolah (2011)
Berdasarkan Forpela TNGGP (2009) terdapat beberapa program kerja
Forpela, antara lain: Program pembangunan pusat pembibitan pohon (Bank Bibit),
Program peningkatan partisipasi dan peluang usaha produktif masyarakat, Progam
peningkatan kapasitas kelembagaan Forpela TNGGP, Program peningkatan
kerjasama kemitraan pengelolaan sumberdaya air, Program pemberian susu
pasteurisasi dan gemar menanam untuk siswa-siswi Sekolah Dasar di desa
penyangga, dan Program studi banding dalam penerapan pembiayaan jasa
lingkungan (Forpela TNGGP 2009). Berdasarkan dokumen tahunan Forpela
TNGGP (2009, 2010) maupun hasil wawancara, tidak terdapat penjelasan
65
mengenai program kerja apa saja yang terkait dengan mekanisme PJL di TNGGP.
Evaluasi terhadap program kerja Forpela TNGGP hanya sebatas program yang
dilakukan di desa Tangkil dan Cinagara.
Program yang dilakukan di desa Tangkil dan Cinagara yaitu Program
pembangunan pusat pembibitan pohon (Bank Bibit) dan Program peningkatan
partisipasi dan peluang usaha produktif masyarakat (Forpela TNGGP 2009).
Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan, program yang dijalankan di kedua desa
meliputi kegiatan pelatihan-pelatihan usaha dan sekolah lapang serta pemberian
bantuan untuk inkubasi usaha masyarakat. Pelatihan-pelatihan usaha bertujuan
untuk mengembangkan kapasitas SDM di kedua desa. Bantuan mesin mikrohidro
bertujuan untuk mengembangkan sarana listrik berbasis komunitas yang dikelola
secara swadaya oleh warga. Pengembangan listrik berbasis komunitas ini
diharapkan dapat membantu masyarakat kampung Gunung batu yang keadaannya
masih belum memiliki sarana listrik. Pemberian bantuan berupa 2 unit WC umum
di kapung Pojok bertujuan untuk mengurangi aktifitas MCK warga di sungai
Cinagara. Namun, pada akhirnya, bantuan-bantuan tersebut tidak berjalan.
Kinerja mekanisme PJL di TNGGP juga dilihat berdasarkan manfaat yang
diterima masing-masing pihak, terutama penyedia dan pembeli jasa lingkungan
air. Bagi para pemanfaat air, manfaat mekanisme PJL tidak terlalu dirasakan. Hal
ini dikarenakan pemanfaat merasa debit air sebelum dan sesudah mekanisme PJL
stabil, sehingga adanya mekanisme PJL tidak terlalu berpengaruh terhadap debit
air yang disediakan. Debit air masih mencukupi kebutuhan para pemanfaat.
Namun, manfaat lain yang dapat dirasakan para pemanfaat adalah dapat
berpartisipasi dalam upaya perbaikan lingkungan (konservasi kawasan TNGGP)
dan pemberdayaan masyarakat di sekitar taman nasional.
BB TNGGP selaku pengelola TNGGP belum merasakan manfaat langsung
dari mekanisme PJL. BB TNGGP tidak berhak memungut iuran kepada para
pengguna air dari dalam kawasan selama belum ada peraturan yang jelas. Oleh
karena itu, selama pemanfaat air dari kawasan memberikan kontribusi untuk
konservasi, hal itu yang kemudian menjadi manfaat bagi taman nasional. Melalui
PJL, kontribusi hidrologis dari taman nasional agar dapat dirasakan langsung oleh
masyarakat. Selain itu, mekanisme ini dapat membangun kesadaran masyarakat
66
untuk mendukung program-program pelestarian kawasan. BB TNGGP juga
berharap, melalui mekanisme ini, gangguan terhadap hutan bisa diminimalisasi.
Selain itu, diharapkan adanya peningkatan kesejahteraan dan kualitas masyarakat
yang ada di sekitar taman nasional.
Kelompok tani Garuda Ngupuk, Saluyu, dan Cinagara Asri selaku penerima
bantuan dalam mekanisme ini mengakui bahwa manfaat yang dirasakan lebih
kepada pengetahuan dan pengalaman tentang berorganisasi. Manfaat secara materi
(peningkatan kesejahteraan) maupun modal usaha masih belum dirasakan. Dua
dari tiga kelompok tani mengakui bahwa dalam pelaksanaan program di kedua
desa banyak penyimpangan yang harus dibenahi, seperti adanya pengalihan
bantuan ke kelompok lain, modal usaha yang tidak turun, dan lain sebagainya. Hal
ini kemudian membuat manfaat dari mekanisme PJL itu sendiri tidak tampak oleh
kelompok tani.
Budhi et al. (2008) menjelaskan bahwa konsep PJL berbeda dengan
pendekatan konservasi, yang bergantung pada peraturan untuk melindungi
kelestarian lingkungan tanpa insentif ekonomi. PJL berbeda dengan pendekatan
konservasi yang menggabungkan antara tujuan konservasi dengan tujuan
pengembangan lainnya. Berdasarkan perkembangan mekanisme PJL yang terjadi
di lapangan, hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme PJL itu sendiri seringkali
tidak muncul. Penerapan (program kerja) yang dilakukan berbeda dengan
penerapan konsep PJL di lokasi lain. Di beberapa lokasi penerapan PJL seperti
Cidanau dan Sumberjaya, kelompok tani sebagi kelompok target diharuskan untuk
melakukan penanaman (pada umumnya kopi multistrata) untuk mempertahankan
kelestarian daerah hulu. Hal ini dilakukan karena suplai air bagi daerah hilir yang
menjadi pembeli jasa tergantung dari kelestarian wilayah hulu.
Penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan aiur yang dilakukan di
TNGGP terlihat sebagai upaya pengelolaan daerah penyangga. Bismark dan
Sawitri (2007) menyatakan bahwa pengelolaan daerah penyangga bertujuan untuk
meningkatkan potensi manfaat jasa lingkungan dan nilai ekonomi lahan
masyarakat. Pengelolaan daerah penyangga di desa Tangkil dan Cinagara
dilakukan melalui upaya pemberdayaan masyarakat dengan melakukan kolaborasi
dengan berbagai pihak, sedangkan upaya konservasi dilakukan BB TNGGP
67
selaku pengelola kawasan TNGGP. Di lokasi penerapan PJL lainnya (misal:
Cidanau dan Sumberjaya), kegiatan pemberdayaan masyarakat dan upaya
konservasi wilayah hulu dilakukan secara bersamaan. Adanya kerjasama antara
BB TNGGP dengan masyarakat desa penyangga dalam melakukan upaya
konservasi akan membuat penerapan mekanisme ini lebih baik.
Waage dan Stewart (2007), menyebutkan empat prasyarat keberhasilan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan yang berjalan, yaitu: jasa lingkungan
yang benar-benar dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan serta adanya
kemamapuan teknis pengelolaannya; informasi pasar yang mudah dipahami dan
mudah diakses siapapun (transparan dan akuntabel); kerangka hukum yang
suportif serta adanya lembaga pengawas yang kredibel; selalu bersedia melakukan
perbaikan mekanisme apabila ada keberatan atau kritik. Apabila keempat hal
tersebut dipenuhi oleh para pihak yang terlibat dalam mekanisme ini, maka
mekanisme ini akan berjalan lebih baik.
5.4 Permasalahan dan Solusi dalam Mekanisme Pembayaran Jasa
Lingkungan Air di TNGGP
5.4.1 Permasalahan
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapang, terdapat beberapa
permasalahan yang terjadi pada mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang
dijalankan. Permasalahan-permasalahan tersebut diantaranya:
1.
Payung hukum yang diacu
Pengembangan pemanfaatan jasa lingkungan yang ada di kawasan TNGGP
mengacu pada surat edaran Dirjen PJLKKHL. Selain aturan tersebut, belum
terdapat payung hukum yang jelas mengatur pemanfaatan jasa lingkungan air di
kawasan konservasi. Selanjutnya, aturan yang dijadikan acuan dalam mekanisme
ini adalah surat edaran dirjen PHKA, perjanjian-perjanian kerjasama, naskah
kesepahaman, serta peraturan perundangan lain terkait pemanfaatan air secara
umum.
Terdapat beberapa hal yang saling bersinggungan dalam perjanjian kerjasama
antara BB TNGGP dengan Forpela TNGGP dan BB TNGGP dengan pemanfaat
air. BB TNGGP membuat MoU kerjasama pemanfaatan air dari kawasan kepada
pemanfaat dengan proses tertentu. Di sisi lain, BB TNGGP juga membuat MoU
68
kemitraan dengan Forpela TNGGP. Hal ini kemudian menjadi masalah ketika
pemanfaat air tersebut belum menjadi anggota Forpela TNGGP. Pemanfaat air
harus membuat perjanjian kerjasama dengan BB TNGGP terlebih dahulu. Apabila
pemanfaat kemudian menjadi anggota Forpela TNGGP, maka kesepakatan mana
yang harus diacu oleh pemanfaat menjadi suatu hal yang saling bersinggungan.
2.
Kinerja Forpela TNGGP
Kinerja Forpela TNGGP dinilai beberapa pihak belum optimal. Forpela
TNGGP yang terdiri dari para pemanfaat air dirasakan kurang dapat merangkul
komitmen dari para pemanfaat air untuk berkontribusi. Selain itu, sistem
keuangan Forpela TNGGP juga menjadi suatu permasalahan dalam penerapannya.
Beberapa pihak menilai belum adanya transparansi keuangan dari Forpela
TNGGP itu sendiri. Hal ini berdampak pada pemanfaat yang berkomitmen
memberikan kontribusi pada akhirnya mempertanyakan kinerja Forpela TNGGP.
3.
Peranan masing-masing pihak yang belum dijalankan
Para pihak yang terlibat (langsung atau tidak langsung) belum sepenuhnya
menyadari peranannya dalam mekanisme yang ada. Hal ini kemudian berdampak
bagi kinerja masing-masing pihak dalam mekanisme yang ada. Contohnya,
anggota kelompok tani, mereka belum menyadari perannya sebagai penyedia jasa
lingkungan yang kemudian seharusnya menjaga wilayah mereka agar jasa
lingkungan air dapat terus tersedia. Mereka hanya mengetahui untuk tidak
melakukan penebangan di dalam kawsan konservasi. Mereka belum melakukan
teknik pertanian untuk meningkatkan penyediaan jasa lingkungan seperti
agroforestri atau kebun multistrata.
Selain itu, peranan dari pihak yang seharusnya melakukan pendampingan
terhadap anggota kelompok tani juga belum dijalankan dengan baik. Akibat yang
terjadi adalah tidak berjalannya program maupun kelompok tani yang ada.
Contohnya terjadi pada KT Saluyu antara tahun 2008-2009. Pendampingan
terhadap kelompok dirasakan baru setengah perjalanan. Selanjutnya, kelompok
ditinggal begitu saja tanpa pendampingan. Hal ini berdampak pada kehancuran
kelompok dan program yang ada.
69
4.
Komitmen para pemanfaat
Berdasarkan hasil wawancara, dua dari lima pemanfaat belum ingin
berkomitmen untuk mengikuti mekanisme PJL ini. Selain itu, para pemanfaat juga
menganggap kontribusi yang dikeluarkan cukup pada awal mula keanggotaan
Forpela TNGGP.
5.
Pemilihan lokasi penerapan mekanisme PJL
Pemilihan lokasi penerapan seharusnya berkaitan dengan keadaan masyarakat
sebagai penyedia jasa dan jasa lingkungan yang didefinisikan itu sendiri. Lokasi
penerapan seharusnya mampu mengakomodasi ketersediaan jasa lingkungan yang
ada melalui pengelolaan dari kelompok tani. Pemilihan lokasi penerapan menjadi
suatu permasalahan ketika penguatan kapasitas kelompok masyarakat di lokasi
tersebut belum dilakukan. Kelompok tani dirasakan belum siap menerima bantuan
dan menjalankan mekanisme yang ada. Selain itu, adanya konflik diantara
masyarakat itu sendiri menjadi salah satu hambatan. Hal ini kemudian berdampak
kepada pengelolaan bantuan yang diberikan dan pemahaman masyarakat
mengenai program yang berjalan.
6.
Pemilihan bantuan yang diberikan kepada masyarakat
Bantuan yang diberikan tepat sasaran apabila disesuaikan dengan kebutuhan
dan kondisi masyarakat. Anggota kelompok tani di kedua desa mayoritas
merupakan petani sawah dan ladang. Bantuan yang diberikan seharusnya tidak
jauh dari sektor pertanian sehingga mereka dapat mengelola bantuan tersebut
dengan baik. Namun, bantuan yang diberikan berupa domba dan kelinci. Anggota
kelompok tani banyak yang tidak mengetahui bagaimana beternak domba dan
kelinci. Pada akhinyra domba-domba yang diberikan belum mencapai panen
maksimal dan kelinci banyak yang terserang penyakit hingga mati.
Selain itu, bantuan berupa mesin mikrohidro yang diberikan kepada warga
kampung Gunung Batu (KT Garuda Ngupuk) juga menjadi permasalahan. Warga
kampung Gunung Batu merasa bantuan mesin mikrohidro yang diberikan tidak
dapat berfungsi untuk warga. Warga sebenarnya menginginkan untuk dibuatkan
jaringan PLN saja daripada mengahabiskan dana yang besar untuk PLTMH tetapi
alat tersebut tidak dapat digunakan warga. PLTMH hanya mampu mengaliri
listrik untuk 20 KK sedangkan warga kampung Gunung Batu berjumlah 80 KK.
70
Pelatihan usaha yang diberikan kepada anggota kelompok tani juga dirasakan
kurang sesuai. Anggota kelompok tani Saluyu diberikan pelatihan untuk membuat
kerupuk wortel. Jika dilihat dari bahan baku, usaha ini nantinya tidak bisa
dijalankan oleh warga. Warga cukup kesulitan untuk memperoleh bahan baku
untuk usaha tersebut.
Adanya hal-hal yang bertentangan antara pihak yang menerima bantuan
dengan pihak yang menyalurkan bantuan menjadikan bantuan yang diberikan
kurang tepat sasaran. Hal yang terjadi kemudian adalah pengelolaan bantuan yang
kurang maksimal.
7.
Proses penyampaian informasi ke berbagai pihak
Proses penyampaian informasi ke berbagai pihak juga dinilai kurang
maksimal. Banyak pihak yang belum memahami mekanisme pembayaran jasa
lingkungan yang ada di kawasan TNGGP. BB TNGGP (2011), menyebutkan
salah satu kendala yang dihadapi oleh BB TNGGP dengan Forpela TNGGP dan
pemanfaat air sebagai mitra adalah kurangnya komunikasi antara BB TNGGP
dengan para mitra.
Penyampaian informasi mengenai mekanisme yang dijalankan juga tidak
sampai ke masyarakat. Mayoritas anggota kelompok tani yang diwawancarai
mayoritas asing dengan istilah pembayaran jasa lingkungan yang ada.
Berdasarkan hasil wawancara dengan anggota kelompok tani, sebanyak 17 dari 24
orang responden yang secara umum mengetahui penerapan mekanisme ini.
Responden tidak mengetahui secara rinci mengenai mekanisme ini. Responden
hanya mengetahui adanya bantuan yang diberikan dan kewajiban membayar iuran
yang harus dijalankan. Konsep pembayaran jasa lingkungan air mulai dari awal
proses hingga penerapan tidak dipahami responden. Dua dari tiga ketua kelompok
tani yang diwawancarai pun menyatakan kurang paham tentang konsep
pembayaran jasa lingkungan air yang dilakukan. Ketua kelompok tani hanya
menjalankan penerapan mekanisme tersebut.
Proses penyampaian informasi yang kurang baik kemudian menjadikan
konflik diantara para pihak. Hal ini kemudian membuat para pemanfaat belum
ingin berkomitmen melakukan kontribusi, adanya konflik antar kelompok tani
71
karena adanya pelimpahan bantuan dan program ke kelompok lain, serta banyak
pihak yang tidak mengetahui perkembangan mekanisme yang dijalankan.
8.
Monitoring dan evaluasi yang kurang berjalan baik
Monitoring dan evaluasi (monev) yang kurang berjalan dengan baik menjadi
salah satu hambatan terhadap mekanisme itu sendiri. Adanya monev yang baik
memungkinkan keberlanjutan mekanisme ke arah yang lebih baik. Melalui
monev, keterlibatan para pihak dalam mekanisme serta perkembangan yang
terjadi dapat terus terpantau. Dalam mekanisme ini, hal tersebut terlihat masih
kurang dilakukan. Hal ini berdampak pada keterlibatan para pihak yang kurang
terkontrol dan perkembangan mekanisme yang dipertanyakan banyak pihak.
5.3.4 Solusi yang ditawarkan
Beberapa pihak menginginkan solusi untuk permasalahan-permasalahan
tersebut dengan mengadakan pertemuan atau musyawarah besar (Mubes).
Musyawarah ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengevaluasi
mekanisme yang ada. Pada kesempatan tersebut, para pihak yang terlibat dan
berpotensi terlibat dalam mekanisme ini diundang. Mubes ini sebaiknya
difasilitasi oleh pihak yang memiliki kewenangan yang lebih tinggi dibandingkan
dengan para pihak yang sudah terlibat, misalnya Dirjen PHKA. Hal ini dilakukan
agar evaluasi dapat berjalan baik dan para pihak tunduk kepada hasil evaluasi.
Selain itu, mubes tersebut dapat menjadi salah satu sarana untuk menyampaikan
perkembangan mekanisme, penguatan komitmen dari masing-masing pihak,
menguatkan proses penyampaian informasi
kepada pihak terkait
serta
merumuskan strategi seperti apa yang dapat dilakukan untuk pengembangan
mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di waktu mendatang. Musyawarah
besar tersebut juga dapat menjadi dapat menjadi sarana untuk mengevaluasi
kinerja Forpela TNGGP sebagai perantara utama dalam mekanisme ini. Hal ini
dilakukan agar dapat dilakukan pembenahan atau tindakan lain apabila para pihak
menilai kinerja Forpela TNGGP kurang baik.
Beberapa
pihak
juga
menginginkan
adanya
peraturan
mengenai
pemanfaatan jasa lingkungan air dan pengembangannya. Peraturan ini dibuat
sebagai acuan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang berjalan.
72
Peraturan ini nantinya diharapkan mampu menertibkan para pemanfaat air yang
belum memberikan kontribusi.
Solusi lain yang dapat dilakukan adalah dengan merekomendasikan skema
serta program kerja baru dalam penerapan mekanisme PJL di TNGGP. Skema
mekanisme PJL di TNGGP dibuat lebih spesifik (Lampiran 11) dengan
menyertakan alternatif penggunaan lahan pertanian untuk meningkatkan
kesejahteraan petani melalui mekanisme PJL dan cara lain untuk meningkatkat
partisipasi masyarakat desa penyangga dalam upaya konservasi TNGGP. Selain
itu, perjanjian kerjasama antar pihak dibuat dengan lebih rinci dengan
menyertakan skema-skema pembayaran dan rincian pembiayaan untuk penerapan
mekanisme PJL di desa penyangga.
Program kerja yang dapat dilakukan sebagai alternatif solusi antara lain
penguatan kapasitas kelompok tani dan pengajuan alternatif penggunaan lahan
pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui mekanisme PJL.
Penguatan kapasitas kelompok tani diawali dengan pendampingan secara intensif
ke kelompok tani. Dalam pendampingan tersebut, anggota kelompok diberikan
pengetahuan mengenai konsep PJL, peran dan fungsi kawasan TNGGP serta
dampak yang akan terjadi jika upaya konservasi TNGGP tidak dilakukan secara
bersama-sama. Selanjutnya, anggota kelompok tani diikutsertakan untuk
memikirkan apa yang harus dilakukan anggota kelompok, alternatif bantuan atau
usaha apa yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dan sejalan dengan
upaya konservasi kawasan TNGGP. Anggota kelompok tani diharapkan dapat
menjadi subyek dan dilibatkan secara aktif dalam mekanisme ini. Hal ini akan
memberikan dampak positif dalam penerapan mekanisme. Anggota kelompok tani
yang diberikan pemahaman terhadap mekanisme ini akan bertanggungjawab
terhadap jaminan ketersediaan jasa lingkungan air. Namun, hal ini juga harus
diakomodasi dengan perjanjian kerjasama yang jelas antar pihak.
Alternatif penggunaan lahan pertanian untuk meningkatkan kesejahteraan
petani melalui mekanisme PJL dapat dilakukan dengan membuat kebun lindung
atau kebun multistrata. Anggota kelompok tani di desa Tangkil dan Cinagara,
pada umumnya merupakan petani sawah atau petani ladang. Petani ladang
menanam singkong di lahan pribadi atau lahan HGU (Hak Guna Usaha) yang
73
berada pada kelerengan yang cukup. Hal ini jika dibiarkan terus menerus dapat
membayahakan masyarakat yang bermukim di bawahnya.
Kebun lindung didefinisikan sebagai sistem penggunaan lahan berbasis
pohon yang dikelola oleh masyarakat yang dapat menambah pendapatan dan
memberikan fungsi lindung atau layanan lingkungan yang sama dengan yang
diberikan oleh hutan (Suyanto & Khususiyah 2006). Lebih lanjut lagi, Suyanto
dan Khususiyah (2006) menjelaskan bahwa fungsi lindung hutan yang dapat
diperoleh dari kebun lindung baik sebagian maupun keseluruhan. Fungsi tersebut
adalah fungsi konservasi tanah dan air, mempertahankan cadangan karbon, dan
keanekaragaman hayati.
Kebun lindung pada umumnya menggabungkan antara tanaman yang
memiliki nilai IDA rendah, sedang, dan tinggi. Nilai IDA digunakan untuk
melihat seberapa dalam penyebaran akar suatu jenis tanaman (Buana et al. 2005).
Contoh kasus penerapan kebun lindung ini berada di Sumberjaya, Lampung.
Petani kopi di lokasi tersebut menanam kopi dengan menggabungkannya dengan
tanaman lainnya.
Kopi memiliki nilai IDA yang rendah, sedangkan jenis pohon buah-buahan
dan pohon penghasil kayu atau pohon bermanfaat lainnya memiliki nilai IDA
yang lebih tinggi. Apabila jenis pohon-pohon tersebut ditanam dengan kopi
(kebun kopi multistrata), maka akan menghasilkan nilai IDA yang beragam.
Dengan demikian, sistem tersebut memiliki nilai konservasi tanah dan air yang
lebih besar dan dapat digunakan untuk pencegahan erosi permukaan tanah, jaring
penyelamat hara, serta pencegahan longsor.
74
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian terhadap mekansime pembayaran jasa
lingkungan air yang dilakukan di TNGGP, terdapat beberapa hal yang dapat
disimpulkan:
1.
Mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP didasari oleh surat
edaran Dirjen PHKA nomor SE.3/IV-SET/2008 tentang pemanfaatan jasa
lingkungan air di kawasan konservasi. Selanjutnya, dibentuk forum
independent yang mengelola insentif dari para pemanfaat jasa lingkungan air
TNGGP. Dana kompensasi yang terkumpul kemudian digunakan untuk
menjalankan program kerja yang meliputi rehabilitasi dan konservasi
kawasan taman nasional, kolaborasi program dan kegiatan pemberdayaan
masyarakat desa penyangga serta administrasi dan manajemen Forpela
TNGGP.
2.
Keterlibatan para pihak dilihat berdasarkan keikutsertaan para pihak dalam
mekanisme. Pada awal penginisiasian mekanisme BB TNGGP, ESP-USAID,
RCS, Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air (Dinas PSDA) Kab. Bogor, Dinas
Energi dan Sumberdaya Mineral (Dinas ESDM) Kab. Bogor, Dinas Pertanian
dan Kehutanan Kab. Bogor, Direktorat Jenderal Pemanfaatan Jasa
Lingkungan di Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung (Dirjen PJLKKHL)
merupakan pihak yang terlibat. Selanjutnya, pihak-pihak yang terlibat dalam
penerapan mekanisme yang ada antara lain: KT Saluyu, KT Garuda Ngupuk
desa Tangkil, KSM Cinagara Asri desa Cinagara, Forpela TNGGP, Mapala
UI, YBUL, dan pemanfaat-pemanfaat air (PT Rejosari Bumi, PT Pacul Mas
Tani, BPKH Cinagara, STPP Cinagara dan Pusdiklat Karya Nyata).
3.
Konsep mekanisme PJL yang dilakukan di TNGGP berdasarkan pengertian
Wunder (2005), termasuk mekanisme “PES-like” karena memenuhi hampir
semua kriteria. Namun, berdasarkan perkembangan mekanisme PJL yang
terjadi di lapangan, penerapan mekanisme PJL di desa Tangkil dan Cinagara
lebih terlihat sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dengan melakukan
75
kolaborasi dengan berbagai pihak, sedangkan upaya konservasi dilakukan BB
TNGGP selaku pengelola kawasan TNGGP.
6.2 Saran
Masukan yang dapat direkomendasikan kepada para pihak terkait dalam
kaitannya dengan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air di kawasan
TNGGP, diantaranya:
1.
Perlu dilakukan pengkajian ulang (evaluasi) terhadap mekanisme pembayaran
jasa lingkungan air yang berjalan. Evaluasi sebaiknya dilakukan oleh dirjen
PHKA. Hal ini terkait dengan keterlibatan dan penerapan peranan para pihak,
pendekatan pengembangan mekanisme (skala DAS atau kawasan taman
nasional), dan penerapan mekanisme yang dilakukan. Pengkajian ini
dilakukan agar mekanisme yang ada dapat mengakomodasi semua pihak.
2.
Perlu dilakukan kerjasama dengan pihak terkait untuk merumuskan
pengembangan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang berjalan.
Perumusan ini dilakukan agar tujuan yang diinginkan mekanisme dapat
tercapai.
76
DAFTAR PUSTAKA
[BB TNGGP] Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. 2011.
Laporan Evaluasi Kegiatan Kemitraan Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. Cianjur: Kementrian Kehutanan [tidak dipublikasikan].
Budhi GS, Kuswanto SA, Iqbal M. 2008. Concept and Implementation of PES
Program in the Cidanau Watershed : A Lesson Learned For Future
Environmental Policy. Analisis Kebijakan Pertanian 6 (1): 37-55.
Bismark M, Sawitri R. 2007. Pengembangan Dan Pengelolaan Daerah Penyangga
Kawasan Konservasi. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian 2007.
Buana Y, Suyanto S, Hairiah K. 2005. Kebun Lindung: Kajian Ekologis dan Sosio
Ekonomi di Lampung Barat, Sumatera. Agrivita 27 (3): 170-181.
Cahyono SA, Suyanto. 2006. Imbal Jasa Multifungsi DAS untuk Mendukung
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Makalah Seminar Peran Stakeholder
dalam Pengelolaan Jasa Lingkungan DAS Cicatih Hulu; Bogor 21
September 2006.
Chandler FJC, Suyanto. Tidak Ada Tahun. Pengakuan dan Pemberian Imbalan
bagi Penyediaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Bogor: World
Agroforestry Center (ICRAF-South East Asia).
Chomitz KM, Kumari K. 1998. The Domestic Benefits Of Tropical Forests: A
Critical Review. World Bank Research Observer 13(1): 13–35.
[CI Indonesia] Conservation International Indonesia. 2009. Promoting Ecosystem
Services Value from Hydrological Processes in the Gedepahala
Biodiversity Corridor : “Understanding the Hydrological Processes to
Build a Payment for Environmentas Sevices (PES) Scheme”. Jakarta: CI
Indonesia.
[CIFOR] Center of International Forestry Research. 2008. Introduction to
Payment for Ecosystem Services. Bogor: CIFOR.
Darusman D. 1993. Nilai Ekonomi Air untuk Pertanian dan Rumah Tangga: Studi
Kasus di Sekitar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Makalah
pada Simposium Nasional Permasalahan Air di Indonesia; Bandung 2829 Juli 1993.
77
[Dirjen PHKA] Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
2008. Surat Edaran Nomor SE.3/IV-SET/2008 tentang pemanfaatan jasa
lingkungan air di kawasan konservasi. Jakarta: Departemen Kehutanan.
[DPR RI] Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2001. Peraturan
Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah. Jakarta: DPRRI.
[DPR RI] Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 2007. Peraturan
Pemerintah Nomor 6 tahun 2007 tentang Tata Hutan Dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Serta Pemanfaatan Hutan. Jakarta: DPR RI.
[DPRD] Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat. 2002. Peraruran Daerah
Nomor 6 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Pengairan. Bandung:
DPRD Jawa Barat.
Fauzi A. 2006. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
[FORPELA TNGGP] Forum Peduli Air Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. 2006. Profil Forum Peduli Air Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. Bogor: Forpela.
[FORPELA TNGGP] Forum Peduli Air Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. 2009. Laporan Tahunan Forum Peduli Air Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango 2009. Bogor: Forpela.
[FORPELA TNGGP] Forum Peduli Air Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango. 2010. Laporan Tahunan Forum Peduli Air Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango 2010. Bogor: Forpela [tidak dipublikasikan].
Gouyon A. 2004. Imbalan bagi Masyarakat Miskin Dataran Tinggi terhadap Jasa
Lingkungan: Sebuah Tinjauan tentang Inisiatif dari Negara-Negara Maju.
Bogor: RUPES-ICRAF.
Groenendijk L. 2003. Planning and Management Tools, A Reference Book.
Netherlands: ITC, Enschede.
Iskandar MI. 2008. Optimalisasi Penggunaan Input dan Analisis Finansial Usaha
Pembesaran Ikan Nila dan Kolam Air Deras di Desa Cinagara,
Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor [skripsi]. Bogor: Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
78
Juanda N. 2010. Estimasi Nilai Klaim Kerusakan Hutan di Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan Metode Habitat Equivalency
Analysis (HEA) [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen,
Intitut Pertanian Bogor.
Kepala Desa Tangkil. 2010. Laporan Kinerja Kepala Desa Tangkil Tahun 2010.
Bogor: Desa Tangkil Kecamatan Caringin [tidak dipublikasikan].
Kerr J, Jindal R. 2007. Impact Evaluation of PES Programs. Di dalam: Colby M,
editor. USAID PES Sourcebook: Lessons And Best Practices For ProPoor Payment For Ecosystem Services. Blacksburg, Virginia: USAID.
Landell-Mills N, Porras IT. 2002. Silver bullet or fools’ gold? A global review of
markets for forest environmental servicesand their impoact on the poor.
London: IIED.
Leimona B, Pasha R, Rahadian NP. 2010. The livelihood impacts of incentive
payments for watershed management in Cidanau watershed, West Java,
Indonesia. Di dalam: Tacconi L, Mahanty S, Suich H, editor. Payments
for Environmental Services, Forest Conservation and Climate Change
Livelihoods in the REDD?. Cheltenham: Edward Elgar Publishing
Limited. Hlm 106-129.
Leimona B, Munawir, Ahmad NR. 2011. Gagasan Kebijakan Konsep Jasa
Lingkungan dan Pembayaran Jasa Lingkungan di Indonesia. Bogor:
RUPES- ICRAF.
[LPM] Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Equator. 2011. Laporan Proses
Pengembangan Mekanisme PES. Bogor: LPM Equator.
Mack N, Woodsong C, MacQueen KM, Guest G, Namey E. 2005. Qualitative
Research Methods: A Data Collector’s Field Guide. North Carolina: FHI.
Miles MB, Huberman AM. 1992. Qualitative Data Analysis: A Sourcebook of
New Methods. Beverly Hills: SAGE.
Prasetyo FA, Suwarno A, Purwanto, Hakim R. 2009. Making Policies Work for
Payment for Environmental Services (PES): An Evaluation of the
Experience of Formulating Conservation Policies in District of Indonesia.
Journal of Sustainable Forestry 28: 415-433.
79
Puspaningsih N. 1999. Studi Perencanaan Pengelolaan Lahan di Sub DAS
Cisadane Hulu Kabupaten Bogor. Manajemen Hutan Tropika V (II) : 4553.
Rosa H, Barry D, Kandel S, Dimas L. 2004. Compensation for Environmental
Services and Rural Communities: Lessons from the Americas. Presented
at the International Conference on Natural Assets, Tagaytay City,
Philippines, January 2003 and Revised July 2004. Working paper series
number 96.
[RCS] Raptor Conservation Society. 2008. Dokumen Rencana Aksi Strategis
Perlindungan dan Perbaikan Daerah Resapan Mata Air Batu Karut oleh
Multipihak Sukabumi Jawa Barat. Sukabumi: RCS-USAID.
[RUPES] Rewards for, Use of and shared investment in Pro-poor Environmental
Services scheme. 2010. Where We Work: Brief Profiles of RUPES Action
Research Sites. Bogor: RUPES-ICRAF.
Sudrajat A, Yunita N, Haqq K. 2009. Program Kreativitas Mahasiwa-GT (PKMGT): Peningkatan Kualitas Jasa Lingkungan Taman Nasional Gunung
Gede Pangrango Melalui Payment for Environmental Services
(Pembayaran Jasa Lingkungan). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Suprayitno. 2008. Bahan Bacaan: Teknik Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan
Wisata Alam. Bogor: Pusat Diklat Departemen Kehutanan.
Sutopo MF. 2011. Pengembangan Kebijakan Pembayaran Jasa Lingkungan dalam
Pengelolaan Air Minum (Studi Kasus DAS Cisadane Hulu) [disertasi].
Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.
Suyanto S, Khususiyah N. 2006. Imbalan Jasa Lingkungan untuk Pengentasan
Kemiskinan. Jurnal Agro Ekonomi 24 (1): 95-113.
[USAID] United States Agency International Development. 2006. Kemitraan
Pengguna Air untuk Konservasi TNGP. Jakarta: ESP-USAID.
[USAID] United States Agency International Development. 2007. Laporan Studi
PES untuk Mengembangkan Skema PES di DAS Deli, Sumatra Utara
dan DAS Progo, Jawa Tengah. Jakarta: ESP-USAID.
[USAID] United States Agency International Development. 2009. Imbal Jasa
Lingkungan di Beberapa Daerah Aliran Sungai. Jakarta: ESP-USAID.
80
Waage S, Stewart E. 2007. The New Market for Environmental Services: A
Corporate Manager’s Guide to Trading in Air, Climate, Water and
Biodiversity Assets. San Fransisco: Bussiness for Social Responsibility.
Wunder S. 2005. Payments for Environmental Services : Some Nuts and Bolts.
CIFOR Occasional Paper 42 : 1-24. Bogor: CIFOR.
Wunder S. 2008. Necessary Conditions for Ecosystem Service Payments.
Conference Paper on Economics and Conservation in the Tropics: A
Strategic Dialogue January 31–February 1, 2008. CSF, Moore
Foundation, and Resources for the Future.
Wunder S, Wertz-Kanounnikoff S. 2009. Payments for Environmental Services:
Guidance Paper for the Scientific and Technical Advisory Panel (STAP).
GEF Council.
81
LAMPIRAN
82
Lampiran 1 Panduan wawancara lembaga pemerintahan
a. Pertanyaan terkait mekanisme PJL
1.
Sejauh mana Anda mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam mekanisme
PJL ini? Siapa saja pihak-pihak tersebut?
2.
Bagaimana alur dalam mekanisme PJL itu berlangsung?
3.
Apakah sudah ada peraturan pemerintah yang digunakan sebagai payung
hukum dari mekanisme ini? Peraturan apa saja yang digunakan?
4.
Bagaimana pendapat Anda mengenai mekanisme PJL?
b. Pertanyaan terkait kepentingan
5.
Apa
yang
Anda
harapkan
dari
mekanisme
PJL
ini?
Bagaimana
instansi/lembaga Anda berencana mewujudkannya?
6.
Apa manfaat yang Anda rasakan dari berjalannya mekanisme PJL ini?
7.
Sumberdaya/komitmen apa yang dipunyai Anda untuk bersedia (atau tidak)
dipertukarkan dalam mekanisme ini?
8.
Apakah minat Anda yang mungkin bertentangan dengan mekanisme ini?
9.
Bagaimana pandangan Anda terhadap LSM/masyarakat/swasta?
c. Pertanyaan terkait evaluasi mekanisme PJL
10. Dalam mekanisme PJL ini apa peran dan fungsi lembaga Anda?
11. Sejauh ini bagaimana fungsi dan peran tersebut bermanfaat bagi mekanisme
PJL?
12. Dalam perjanjian mekanisme PJL apa saja hak dan kewajiban Anda?
13. Menurut Anda apa saja dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari
mekanisme tersebut?
14. Apa hambatan-hambatan yang Anda yang ditemui dalam penerapan
mekanisme PJL ini?
15. Apa harapan Anda ke depannya terhadap mekanisme PJL ini?
83
Lampiran 2 Panduan wawancara LSM
a. Pertanyaan terkait mekanisme PJL
1.
Mengapa Anda menginisiasi TNGGP sebagai lokasi penerapan mekanisme
PJL?
2.
Sejauh mana Anda mengetahui pihak-pihak yang berpotensi untuk terlibat
dalam mekanisme PJL ini? Siapa saja pihak-pihak tersebut?
3.
Bagaimanakah cara Anda mengajak stakeholder lain untuk berpartisipasi?
4.
Bagaimana alur mekanisme PJL tersebut berlangsung?
5.
Bagaimanakah proses penetapan jumlah dana yang dikompensasikan?
Apakah metode tertentu seperti metode valuasi ekonomi?
6.
Adakah peraturan pemerintah yang dijadikan payung hukum untuk
mekanisme PJL ini?
b. Pertanyaan terkait kepentingan
7.
Apa yang Anda harapkan dari mekanisme PJL ini?
8.
Apa manfaat yang Anda rasakan dari berjalannya mekanisme PJL ini?
9.
Sumberdaya apa yang dipunyai Anda untuk bersedia (atau tidak)
dipertukarkan dalam mekanisme ini?
10. Apakah minat Anda yang mungkin bertentangan dengan mekanisme ini?
11. Bagaimana pandangan Anda terhadap swasta/pemerintah/masyarakat?
c. Pertanyaan terkait evaluasi mekanisme PJL
12. Apakah peranan dan fungsi dari lembaga Anda pada mekanisme PJL ini?
13. Apa saja Hak dan Kewajiban dari lembaga Anda dalam mekanisme ini?
Kegiatan apa saja yang dirancang untuk dilakukan demi berjalannya
mekanisme ini?
14. Bagaimana proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam mekanisme
PJL ini?
15. Apa hambatan-hambatan yang Anda yang ditemui selama penerapan
mekanisme PJL ini? Apa saja solusi yang diambil?
16. Apa harapan Anda ke depannya terhadap mekanisme PJL ini?
84
Lampiran 3 Panduan wawancara Pemanfaat air
a. Pertanyaan umum mengenai TNGGP
1.
Apa peran penting TNGGP yang Anda ketahui? Apakah manfaat air dari
TNGGP untuk perusahaan Anda?
2.
Dari peran penting tersebut apakah upaya konservasi perlu dilakukan? Mengapa?
3.
Bagaimana menurut Anda mengenai kondisi dari TNGGP saat ini?
b. Pertanyaan terkait mekanisme PJL
4.
Siapakah yang memberikan informasi/pengetahuan mengenai mekanisme PJL?
Dalam bentuk apa informasi tersebut? Informasi apa saja yang disampaikan?
5.
Apa alasan Anda mau berpartisipasi dalam mekanisme PJL ini?
6.
Berapakah dana yang Anda keluarkan untuk dana kompensasi PJL ini?
Bagaimana cara penetapan besarnya dana tersebut? Apakah jumlah dana tersebut
sesuai dengan keinginan Anda?
c. Pertanyaan terkait kepentingan
7.
Apa yang Anda harapkan dari mekanisme PJL ini?
8.
Apa manfaat yang Anda rasakan dari berjalannya mekanisme PJL ini?
9.
Sumberdaya/komitmen apa yang dipunyai Anda untuk bersedia (atau tidak)
dipertukarkan dalam mekanisme ini?
10. Apakah minat Anda yang mungkin bertentangan dengan mekanisme ini?
11. Bagaimana pandangan Anda terhadap LSM/pemerintah/masyarakat?
d. Pertanyaan terkait evaluasi mekanisme PJL
12. Bagaimana proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam mekanisme
PJL ini?
13. Dalam perjanjian mekanisme PJL apa saja yang Anda harus lakukan sebagai
kewajiban untuk menjalani mekanisme tersebut? Dan apakah ada kegiatan
lainnya?
14. Apa saja keuntungan yang Anda rasakan setelah terlibat dalam mekanisme PJL
ini?
15. Apa hambatan-hambatan yang Anda rasakan selama mengikuti mekanisme PJL
ini? Solusi apa yang diambil untuk mengatasi hambatan tersebut?
16. Apa harapan Anda ke depannya terhadap mekanisme PJL ini?
85
Lampiran 4 Panduan wawancara masyarakat
a. Pertanyaan umum
1.
Apakah mata pencaharian utama dan sampingan Anda saat ini?
2.
Berapa jumlah tanggungan Anda?
3.
Apakah pendidikan terakhir Anda?
4.
Berapa penghasilan rata-rata Anda per bulan?
5.
Berapa rata-rata pengeluaran Anda sebulan? Untuk keperluan apa?
6.
Apakah Anda mempunyai sejumlah lahan? Berapa hektar? Digunakan untuk
apa? Bagaimana status lahan tersebut?
b. Pertanyaan terkait mekanisme PJL
7.
Apakah Anda mengetahui jasa lingkungan dari hutan/tegakan berkayu?
8.
Bagaimana perilaku Anda terhadap mata air dan aliran sungai sekitar rumah
Anda?
9.
Apakah Anda mengetahui tentang Pembayaran Jasa Lingkungan di desa ini?
10. Apakah Anda menerima sejumlah pembayaran jasa lingkungan? Berapa
besar? sejak kapan?
11. Siapakah yang memberikan informasi/pengetahuan mengenai mekanisme PJL
yang ada saat ini di desa Anda? Dalam bentuk apa informasi tersebut?
Informasi apa saja yang disampaikan?
12. Apa alasan Anda mau berpartisipasi dalam mekanisme PJL ini?
13. Dalam perjanjian mekanisme PJL apa saja yang Anda harus lakukan sebagai
kewajiban untuk menjalani mekanisme tersebut? Dan apakah ada kegiatan
lainnya?
14. Apa hambatan-hambatan yang Anda rasakan selama mengikuti mekanisme
PJL ini?
15. Apa harapan Anda ke depannya terhadap mekanisme PJL ini?
86
Lampiran 5 Panduan wawancara ketua kelompok tani
a. Pertanyaan terkait mekanisme PJL
1.
Bagaimanakah pandangan Anda mengenai lingkungan sekitar?
2.
Siapakah yang memberikan informasi/pengetahuan mengenai mekanisme PJL
yang ada saat ini di desa Anda? Dalam bentuk apa informasi tersebut?
Informasi apa saja yang disampaikan?
3.
Bagaimana latar belakang keterlibatan dan proses keterlibatan kelompok tani
ini dalam mekanisme PJL?
4.
Apa alasan Anda mau berpartisipasi dalam mekanisme PJL ini?
5.
Bagaimana pandangan Anda mengenai mekanisme PJL?
6.
Bagaimana alur mekanisme PJL tersebut berlangsung?
b. Pertanyaan terkait kepentingan
7.
Apa yang Anda harapkan dari mekanisme PJL ini?
8.
Apa manfaat yang Anda rasakan dari berjalannya mekanisme PJL ini?
9.
Sumberdaya/komitmen apa yang dipunyai Anda untuk bersedia (atau tidak)
dipertukarkan dalam mekanisme ini?
10. Apakah minat Anda yang mungkin bertentangan dengan mekanisme ini?
11. Bagaimana pandangan Anda terhadap LSM/pemerintah/swasta?
c. Pertanyaan terkait evaluasi mekanisme PJL
12. Bagaimana proses monitoring dan evaluasi yang dilakukan dalam mekanisme
PJL ini?
13. Dalam perjanjian mekanisme PJL apa saja yang Anda harus lakukan sebagai
kewajiban untuk menjalani mekanisme tersebut? Dan apakah ada kegiatan
lainnya?
14. Apa saja keuntungan yang Anda rasakan setelah terlibat dalam mekanisme
PJL ini?
15. Apa hambatan-hambatan yang Anda rasakan selama mengikuti mekanisme
PJL ini?
16. Apa harapan Anda kedepannya terhadap mekanisme PJL ini?
87
Lampiran 6 Lokasi-lokasi penelitian
Lokasi-lokasi
penelitian
87
Sumber: USAID (2009)
88
Lampiran 7
Masukan pemanfaat air untuk pengelola TNGGP ketika proses
pembentukan Forpela
Faktor-faktor Penyebab yang Terjadi di
Lingkup Para Pemanfaat Air di TNGGP
1. TNGGP merupakan menara air bagi tiga
kabupaten
2. Belum adanya distribusi pipa kepada
masyarakat yang ada di sekitar peruahaan
secara merata, sehingga menyebabkan masih
adanya desa yang kekurangan air.
3. Perda No. 65, disebutkan adanya kewajiban
memberikan
kontribusi
pajak
kepada
pemerintah bagi pengguna air komersial
4. Pemanfaat menanyakan siapa yang berhak
mengeluarkan SIPA terutama pemanfaatan air
dari kawasan konservasi.
5. Masih terlihatnya penebangan liar yang
dilakukan oleh masyarakat di sekitar kawasan.
6. Masih terlihatnya para pemanfaat air yang
memberikan kontribusi tanpa ada yang
memfasilitasi.
7. Peraturan Daerah tentang pengelolaan jasa
lingkungan yang belum jelas.
8. MoU yang dibuat antara pemanfaat dan
pengelola TNGGP bukan untuk berkewajiban
memberikan kontribusi.
9. Belum adanya forum independent yang
memfasilitasi para pemanfaat air.
10. Harus ada pengecekan ulang aliran sungai
yang ada di kawasan TNGGP.
11. Belum terlaksananya kerjasama diantara
para pihak sehingga menimbulkan perbedaan
persepsi.
12. Sebagian pemanfaat air masih belum
mendapatkan izin pemanfaatan air bersih dari
kawasan TNGGP.
13. Belum terbentuknya kerjasama partisipatif
dengan masyarakat sekitar dalam upaya
konservasi.
14. Kurangnya kerjasama yang baik antar
institusi, terutama untuk menjaga kualitas air.
15. Belum adanya pengecekan ulang dari
pemerintah daerah tentang pemanfaatan air
yang dilakukan para pemanfaat.
Harapan dan Tindakan yang Sudah
Dilakukan oleh Para Pemanfaat air di
TNGGP
1.Adanya penegakan hukum yang konsisten.
2. Adanya bentuk kemitraan dengan aparat
pemerintahan setempat.
3.
Adanya
sebuah
forum
untuk
mengkomunikasikan
dan
memfasilitasi
berbagai permasalahan dengan semua pihak.
4. Adanya sebuah mekanisme kerjasama
tentang pengaturan kontribusi air, sehingga
terkoordinasi dengan baik
5. Adanya PERDA tentang jasa lingkungan
air.
6. Adanya sebuah pengakuan legal, sehingga
semua pihak memiliki kewajiban yang sama.
7. Adanya upaya penghijauan secara
partisipatif.
8. Adanya sebuah forum yang independent.
9. Adanya sebuah support, peran, serta
keterkaitan dalam upaya pengelolaan air, baik
dari pemilik dana, pengguna air, dan
pemerintah.
10. Semua pihak harus memberikan kontribusi
sehingga air tetap terjaga dan terpelihara.
11. Adanya analisis dampak lingkungan.
12. Adanya izin penggunaan air.
13. Kemudahan mendapatkan air dari kawasan
TNGGP.
14. Sudah melakukan kegiatan penanaman di
lahan-lahan kritis secara partisipatif
15. Sudah tersedia pembibitan pohon
tersendiri yang dilakukan para pemanfaat air.
16. Adanya pengukuran debit air yang
digunakan para pemanfaat.
17. Sudah melakukan kegiatan pembinaan
18. MoU yang jelas
19. Para pemanfaat air (sektor swasta) diajak
menjaga kelestarian hutan dengan membuat
kesepakatan bersama.
Sumber: Hasil observasi dan kuisioner RCS dan ESP-USAID
89
Lampiran 8 Daftar pemanfaat yang memanfaatkan air dari kawasan TNGGP (di
sekitar desa Tangkil dan Cinagara)
No.
Resort
Pemanfaat
1
Alesscia Farm
2
Ibu Ida
3
PT Rejosari Bumi
4
PT Prestine Aqua
5
Peternakan Bunikasih
Tapos
6
Romo (Sukaresmi)
7
Jepri (Sukaresmi)
8
Desa Bojong Murni
9
Desa Cileungsi
10
Desa Citapen
11
PT Pacul Tani
12
Peternakan Hendro
Cimande
13
Bapak Suryo
14
Peternakan Dodi
Sumber: Forpela TNGGP (2009)
No.
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
Resort
Bodogol
Pemanfaat
Santa Monica
Yayasan Batase
PT Pasekon
Peternakan Fajar
Padepokan Walisongo
Pusdiklat Karya Nyata
RM Desa Bumbu
Desa Pancawati
Desa Nanggerang
Desa Pasir Buncir
STTP Cinagara
BBDAPK Cinagara
Peternakan Wangunjaya
Yayasan Dua’pa
Lampiran 9 Daftar perusahaan pemanfaat air bersih di sekitar lokasi penelitian
1
Budi Kosasih
Lokasi
Mata Air
Caringin
2
Syahril
Caringin
120
3
PT Aqua Asia Irinda
dan CV MAP
Bojong
Murni
120
4
Buana Tirta Abadi
Caringin
400
5
Super Wahana Techno, Sinar Mas Group
Tirta Sariaji
PDAM Tirta Pakuan
Caringin
200
No.
6
7
Nama Perusahaan
Debit
(m3/hari)
120
Keterangan
AMDK; izin ESDM terbit
tanggal 30 Mei 2008
AMDK; izin ESDM terbit
tanggal 19 Oktober 2004
Sejak tahun 2000 dan 2006. Pada
tahun 2008 pindah ke Caringin
mendirikan AMDK
AMDK; izin ESDM terbit
tanggal 25 Juli 2008
AMDK; izin ESDM terbit
tanggal 04 Desember 2007
Caringin
120
Ciburial,
10.638
Air bersih dan air minum; izin
Tangkil,
ESDM terbit tanggal 27 Mei
Caringin
2008
Sumber: Dinas ESDM (2010) dan hasil penelitian Sutopo (2011) diacu dalam Sutopo (2011)
90
Lampiran 10 Skoring masing-masing pihak
No.
1
Para Pihak
Masyarakat desa
Tangkil
dan
Cinagara
Skoring
Pengaruh = 1
Kepentingan = 5
2
Pemanfaat air
Pengaruh = 2
Kepentingan = 5
3
Perusahaan
AMDK
Pengaruh = 2
Kepentingan = 5
90
Keterangan
Masyarakat memiliki pengaruh yang rendah terhadap mekanisme. Masyarakat tidak dilibatkan terlalu jauh dalam
proses pengambilan keputusan. Masyarakat hanya dapat menjalankan mekanisme yang ada tanpa dapat menolak
atau mencegah hal-hal buruk terjadi pada mekanisme. Misalnya: Anggota KSM Cinagara Asri, desa Cinagara
tidak dapat berbuat apa-apa ketika proses pendampingan dan penyaluran bantuan dialihkan ke KT Garuda
Ngupuk, desa Tangkil.
Masyarakat memiliki kepentingan yang sangat tinggi terhadap mekanisme. Hal ini dikarenakan masyarakat
membutuhkan bantuan dari penerapan mekanisme. Selain itu, proses berjalannya mekanisme ini merupakan salah
satu cara untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat menjadi sangat penting untuk
dilibatkan karena masyarakat memiliki interaksi terhadap daerah hulu yang tinggi. Tingkat ketergantungan
masyarakat terhadap sumberdaya hutan (daerah hulu) juga diharapkan dapat diminimalisasi melalui mekanisme
ini.
Pemanfaat air memiliki pengaruh yang masih tergolong rendah. Kontribusi yang dilakukan para pemanfaat air
dalam mekanisme ini belum terlalu memberikan pengaruh nyata terhadap mekanisme itu sendiri. Kontribusi
untuk impelementasi mekanisme (bantuan) lebih banyak berasal dari lembaga donor ataupun anggaran
pemerintah.
Pemanfaat air memiliki kepentingan yang sangat tinggi terhadap mekanisme. Pemanfaat air membutuhkan
pasokan air untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Minat pemanfaat air terhadap usaha perbaikan lingkungan
melalui mekanisme ini juga tinggi. Hal ini juga didasari agar sumber air untuk pasokan air mereka tetap terjaga
dan mereka tidak kekurangan air. beberapa pemanfaat menyebutkan bahwa melalui mekanisme ini mereka justru
lebih hemat dalam membayar penggunaan air jika dibandingkan dengan keikutsertaan mereka di PLN atau
PDAM.
Pengaruh dari perusahaan AMDK tergolong rendah. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan AMDK tersebut
belum terlibat dalam mekanisme yang ada sehingga mereka juga belum terlibat dalam proses pengambilan
keputusan. Apabila perusahaan-perusahaan tersebut sudah terlibat dalam mekanisme, maka pengeruh mereka
mungkin dapat memiliki nilai yang lebih tinggi.
Kepentingan perusahaan-perusahaan AMDKI berada pada level yang paling tinggi. Perusahaan-perusahaan
tersebut sangat bergantung pada pasokan air untuk menjalankan usahanya. Ketertarikan perusahaan-perusahaan
AMDK terhadap mekanisme ini juga tergolong tinggi. Hal ini terlihat dari hasil penelitian Sutopo (2011) yang
menyebutkan sebanyak 61,1% perusahaan AMDK di wilayah sub DAS Cisadane Hulu bersedia membayar jasa
lingkungan. Perusahaan-perusahaan AMDK tersebut akan mengupayakan kelestarian sumber air untuk
memenuhi kebutuhan air mereka.
91
Lampiran 9 (Lanjutan)
No.
4
Para Pihak
BB TNGGP
Skoring
Pengaruh = 4
Kepentingan = 4
5
Forpela TNGGP
Pengaruh = 3
Kepentingan = 4
6
ESP-USAID
Pengaruh = 2
Kepentingan = 3
7
RCS
Pengaruh = 2
Kepentingan = 3
91
Keterangan
BB TNGGP memiliki pengaruh yang tergolong tinggi dalam mekanisme ini. BB TNGGP memiliki kewenangan
pengelolaan wilayah di kabupaten/antar kabupaten. Selain itu, BB TNGGP memiliki kewenangan untuk
mengeluarkan MoU kerjasama dengan para pihak uuntuk melaksanakan mekanisme ini. MoU tersebut merupakan
dasar perjanjian yang diacu dalam mekanisme ini.
BB TNGGP memiliki kepentingan yang tinggi terhadap mekanisme ini. BB TNGGP, melalui mekanisme ini
memiliki tujuan untuk melestarikan kawasan taman nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang
tinggal di desa penyangga kawasan taman nasional.
Forpela TNGGP memiliki pengaruh yang tergolong sedang. Kewenangan yang dilakukan Forpela dilihat dari
penetapan nilai kontribusi yang dilakukan para pemanfaat air. Forpela juga membuat rencana penerapan
mekanisme yang berjalan melalui kolaborasi program, kegiatan rehabilitasi kawasan, dan kegiatan pemberdayaan
masyarakat. Forpela memiliki kewenangan di dalam mekanisme ini terutama yang berhubungan dengan para
pemanfaat air dan penerapan mekanisme di tingkat masyarakat.
Forpela TNGGP memiliki kepentingan yang tergolong tinggi. BB TNGGP telah menginisiasi pembentukan
forum ini untuk memfasilitasi para pemanfaat air dari kawasan TNGGP untuk memberikan kontribusi. Forum ini
kemudian mengelola kontribusi tersebut dan menyalurkannya melalui penerapan program. Jika forum ini tidak
ada/tidak berjalan, maka penerapan mekanisme pembayaran jasa lingkungan air yang ada di TNGGP tidak akan
berjalan dengan baik.
ESP-USAID memiliki pengaruh yang tergolong rendah. ESP-USAID merupakan mitra kerja Forpela dalam
penerapan mekanisme yang berjalan. Selain itu, lembaga ini merupakan fasilitator masyarakat desa. Namun,
dalam proses pengambilan keputusan ESP-USAID tidak banyak terlibat secara langsung.
Ketertarikan lembaga ini terhadap mekanisme tergolong sedang. Hal ini terkait dengan program dari lembaga ini
mengenai pengembangan jasa lingkungan. Di satu sisi, lembaga ini memang memiliki ketertarikan terhadap
pngembangan jasa lingkungan. Namun, di sisi lain, hal itu juga terkait dengan pelaksanaan program lembaga ini.
Pengaruh LSM ini tergolong rendah dalam mekanisme. RCS pada awalnya hanya bertindak sebagai fasilitator
dan lembaga donor untuk pembentukan Forpela. Setelah forum tersebut terbentuk, dalam proses pengambilan
keputusan tidak lagi melibatkan RCS.
Ketertarikan LSM ini terhadap mekanisme yang berjalan tergolong sedang. LSM ini tertarik dengan mekanisme
yang berjalan dan juga merupakan mitra kerja Forpela dalam penerapan mekanisme yang ada. Selain itu,
mekanisme ini juga mendukung program kerja RCS. Salah satu program kerja RCS adalah program
pengembangan masyarakat. Dalam program tersebut terdapat anakan program yaitu pengembangan MDK,
pengembangan jasa lingkungan, dan rehabilitasi (Kementrian Kehutanan 2008). Program-program tersebut
sejalan dengan penerapan mekanisme yang ada.
92
Lampiran 10 (Lanjutan)
No.
8
Para Pihak
YBUL
Skoring
Pengaruh = 1
Kepentingan = 2
9
Mapala UI
Pengaruh = 1
Kepentingan = 2
10
Dirjen PJLKKHL
Pengaruh = 5
Kepentingan = 4
11
Dinas PSDA
Pengaruh = 4
Kepentingan = 3
12
Dinas ESDM
Pengaruh = 4
92
Keterangan
YBUL memiliki pengaruh yang tergolong rendah dalam mekanisme ini. Yayasan ini tidak terlibat secara
langsung dalam mekanisme. Yayasan ini tidak berpengaruh pada proses pengambilan keputusan dalam
mekanisme yang ada. Hal ini dikarenakan yayasan ini hanya bertindak sebagai donor untuk memberikan
bantuan PLTMH kepada masyarakat.
Kepentingan yayasan ini tergolong rendah. Hal ini dikarenakan yayasan ini hanya berperan sebagai pemberi
bantuan PLTMH kepada masyarakat. Bantuan tersebut merupakan salah satu penerapan dari mekanisme
yang ada. Namun, yayasan ini memiliki ketertarikan terhadap penggunaan alternatif energi terbarukan
untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan.
Mapala UI memiliki pengaruh yang tergolong rendah dalam mekanisme. Mapala UI hanya bertindak sebagai
fasilitator dan tidak terlibat langsung dalam mekanisme yang berjalan. Mapala tidak berkontribusi dalam
proses pengambilan keputusan.
Tingkat kepentingan Mapala UI juga tergolong rendah. Mapala UI berkepentingan untuk membantu penguatan
kapasitas kelompok tani yang dibentuk di kedua desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Dalam mekanisme ini, hal-hal tersebutlah yang coba dicapai Mapala UI melalui kegiatan fasilitasi yang
dilakukan. Hal-hal terkait mekanisme mulai dari pembentukan Forpela hingga penerapan mekanisme
secara langsung tidak melibatkan Mapala UI.
Dirjen PJLKKHL memiliki kewenangan di tingkat nasional dalam hirarki kewenangan. Direjen PJLKKHL juga
memiliki kewenangan untuk mengeluarkan surat edaran kepada UPT taman nasional untuk dapat
melakukan kerjasama kemitraan dalam pengelolaan jasa lingkungan air. Surat ini yang kemudian
menjadi dasar acuan dalam mekanisme ini.
Dirjen PJLKKHL memiliki kepentingan yang hampir sama dengan BB TNGGP. Kelestarian kawasan taman
nasional merupakan hal yang diprioritaskan oleh Dirjen PJLKKHL.
Dinas PSDA memiliki kewenangan di tingkat kabupaten. Dinas ini memiliki kewenangan untuk membuat aturan
mengenai pemanfaatan air di tingkat kabubaten (PERDA). Dalam mekanisme ini, dinas PSDA
memfasilitasi pembuatan aturan dimana Pemerintah Daerah akan mengambil kontribusi berupa pajak
ketika pemanfaat air mengambil air melalui sumur bor dan berada di luar kawasan konservasi
Dinas PSDA memiliki minat terhadap pengelolaan sumberdaya air yang tergolong sedang. Di tingkat kabupaten,
dinas ini juga memiliki program terkait dengan lingkungan (pengelolaan SD air). Program-program
tersebut dapat berjalan sesuai maupun berlainan dengan mekanisme yang ada.
Dinas ESDM memiliki kewenangan di tingkat kabupaten dalam kaitannya dengan pengembangan energi dan
sumberdaya mineral.
93
Lampiran 10 (Lanjutan)
No.
Para Pihak
Skoring
Kepentingan = 1
13
Dinas Pertanian
dan Kehutanan
Pengaruh = 4
Kepentingan = 3
14
BPDAS CitarumCiliwung
Pengaruh = 4
Kepentingan = 3
Keterangan
Dinas ESDM memiliki kepentingan yang tergolong rendah dengan mekanisme ini. Dinas ini tidak memiliki
hubungan langsung dengan jasa lingkungan dari suatu kawasan hutan. Adapun program yang dijalankan terkait
lingkungan, lebih banyak mengenai energi dan sumberdaya mineral. Selain itu, peranan lembaga ini belum
terlalu jelas terlihat pada mekanisme yang berjalan.
Dinas Pertanian dan Kehutanan memiliki kewenangan di tingkat kabupaten. Dinas ini memiliki kewenangan
untuk membuat aturan terkait pertanian dan kehutanan di tingkat kabubaten (PERDA).
Dinas Pertanian dan Kehutanan memiliki minat terhadap mekanisme yang tergolong sedang. Dinas ini memiliki
kepentingan untuk mengoptimalkan perlindungan dan pemanfaatan terhadap sumberdaya alam. Kepentingan
tersebut sejalan dengan mekanisme karena mekanisme ini dijalankan di kawasan taman nasional.
BPDAS Citarum-Ciliwung memiliki pengaruh yang hampir sama dengan BB TNGGP. Pengaruh tersebut terkait
dengan wilayah pengelolaan DAS yang memiliki cakupan wilayah antar kabupaten/propinsi. Wilayah
pengelolaan yang luas memungkinkan lembaga ini untuk membuat keputusan yang mempengaruhi keseluruhan
wilayah pengelolaannya. Dalam mekanisme yang berjalan, lembaga ini dapat mempengaruhi keputusan yang
diambil di wilayah hulu dan hilir. Namun, dalam mekanisme yang berjalan di TNGGP, lembaga ini belum
dilibatkan secara langsung. Hal ini juga dikarenakan, pendekatan mekanisme yang digunakan di TNGGP adalah
pendekatan kawasan taman nasional, belum melalui pendekatan DAS.
BPDAS Citarum-Ciliwung memiliki kepentingan yang tergolong sedang. Belum diketahui secara lebih lanjut
apakah lembaga ini akan ikut berpartipasi dalam mekanisme atau tidak. Hal ini dikarenakan lembaga ini juga
memiliki program-program terkait lingkungan dan pengelolaan DAS. Apabila kemudian lembaga ini dapat
berpartisipasi dalam mekanisme, hal ini akan membantu proses fasilitasi dan pengembangan hubungan hulu-hilir
dalam mekanisme.
93
93
Lampiran 11 Rekomendasi skema pembayaran jasa lingkungan air di TNGGP
LSM dan Akademisi
Desa Penyangga
TNGGP
BB TNGGP
Kelompok
Tani
Rehabilitasi dan
Konservasi
kawasan TNGGP
Program
Dana
Kompetitif
Perkebunan multistrata
yang dikelola masyarakat
desa penyangga
Jasa air
Forpela TNGGP
Pemanfaat air dari
kawasan TNGGP dan
wilayah penyangga
Perusahaan
AMDK
Perusahaan
non AMDK
Lembaga
Donor
Lainnya
Instansi
Desa/masyarakat
PDAM
Keterangan:
PEMDA
Pelanggan
PDAM
Forum
Pelanggan
PDAM
: Alur mekanisme PJL
: Fasilitasi
93
94
Lampiran 12
MoU kerjasama antara Forpela dengan Balai Taman Nasional
Gunung Gede Pangrango
94
95
Lampiran 12 (Lanjutan)
95
96
Lampiran 12 (Lanjutan)
96
97
Lampiran 12 (Lanjutan)
97
98
Lampiran 12 (Lanjutan)
98
99
Lampiran 12 (Lanjutan)
99
Download