bab ii tinjauan pustaka

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Konsep, Konstruk dan Variabel Penelitian
2.1.1
Ketidakpastian Lingkungan
Luthun (1998) dalam Edfan (2002) mendefinisikan ketidakpastian
lingkungan adalah sebagai berikut”
“Ketidakpastian
lingkungan
(Environmental
Uncertainty)
merupakan keterbatasan individu dalam menilai probabilitas gagal
atau berhasil dari sebuah keputusan yang telah dibuat yang berasal
dari luar maupun dalam lingkungan organisasi.”Ketidakpastian
lingkungan adalah situasi seseorang terkendala untuk memprediksi
situasi di sekitarnya sehingga mencoba untuk melakukan sesuatu
dalam rangka menghadapi ketidakpastian tersebut.”
Menurut Erna dan Dwi (2006) organisasi yang beroperasi dalam
lingkungan yang mempunyai ciri kelangkaan sumber daya, dinamis dan
kompleks menghadapi tingkat ketidakpastian lingkungan yang tinggi. Setiap
organisasi memiliki pandangan yang berbeda-beda mengenai kondisi
lingkungannya. Sebagian organisasi menghadapi lingkungan yang relatif
statis, hanya sedikit kekuatan dalam lingkungan khusus mereka yang
berubah. Menurut Duncan (1972) bahwa:
“Ketidakpastian lingkungan sebagai ketidakmampuan individu untuk
menilai probabilitas seberapa besar keputusan yang telah dibuat akan
gagal atau berhasil yang disebabkan karena kesulitan untuk
memprediksi
kemungkinan-kemungkinan
yang
terjadi.
Ketidakpastian lingkungan diidentifikasi sebagai faktor penting
karena situasi ini dapat menyulitkan manajer dalam proses
perencanaan dan pengendalian.”
Dalam jangka panjang, lingkungan perusahaan selalu mengalami
perubahan, hanya organisasi yang dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya yang akan dapat tetap beroperasi dalam jangka panjang.
Dalam lingkungan yang stabil proses perencanaan dan pengendalian akan
menjadi lebih sulit dan banyak menghadapi masalah, karena kejadian
kejadian di masa yang akan datang sulit diprediksikan (Duncan, 1972).
8
9
Ketidakpastian lingkungan telah di identifikasi sebagai variabel
konstektual yang penting dalam sistem informasi akuntansi dan desain
sistem informasi manajemen. Duncan (1972) mendefinisikan lingkungan
sebagai berikut :
“The totally of physical and social factors that are taken directly
into consideration in the decision making behavior of inviduals in
the organization.”
Pernyataan
diatas
menjelaskan
bahwa
mengidentifikasikan
lingkungan sebagai totalitas faktor sosial dan fisik yang diperhitungkan atau
dipertimbangkan dalam sikap untuk mengambil keputusan dari setiap
individu-individu
dalam
organisasi.
Ketidakpastian
lingkungan
(environment uncertainty) juga didefinisikan oleh Duncan (1972) sebagai
berikut:
1. The lack of information regarding the environmental factors
associated with a given decision making situation
2. Not knowing the out-come of a specific decision in terms of how
much the organization would lose if the decision were incorrect, and
3. Inability to assign probabilities with any degree of confidence with
regard to how environmental factors are going to affect the success
or failure of the decision unit in performing its function.
Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa ketidakpastian lingkungan
yaitu kesenjangan informasi yang menyangkut faktor faktor lingkungan
yang
dihubungkan
dengan
situasi
pengambilan
keputusan,
untuk
mengetahui pengeluaran dari keputusan yang spesifik dalam istilah seberapa
banyak organisasi akan merugi jika keputusan tidak benar, dan
ketidakmampuan untuk menaksir probabilitas dalam berbagai tingkat
kepercayaan yang menunjukan bagaimana faktor-faktor lingkungan sedang
mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan keputusan unit dalam melakukan
fungsinya.
10
Duncan membedakan faktor-faktor dan komponen lingkungan
internal dan eksternal organisasi.
Internal environment :
1) Organizational personel component
a. Educational and technological background and skills
b. Previous technological and managerial skill
c. Individual member’s involvement and commitment to attaining
system’s goals
d. Interpersonal behavior styles
e. Availibility of manpower for utilization within the systems
2) Organizational fuctional and staff units component
a. Technological characteristics of organizational units
b. Interdependence of organizational units in carrying out their
objectives
c. Intra-unit conflict among organizational
3) Organizational level component
a. Organizational objectives and goals
b. Organizations product services
External environment :
1) Customer component
a. Distributors of product or services
b. Actual users of product or services
2) Supplies component
a. New material suppliers
b. Equipment suppliers
c. Product parts suppliers
d. Labor supply
3) Competitor component
a. Competitor for suppliers
b. Competitors for customers
4) Socio-political component
a. Government regulatory control over the industry
11
b. Public political attitude towards industry and its particular
product
5) Technological component
a. Meeting new technological requirements of own industry and
related industries in production of product or services
Menurut Gordon dan Narayanan (1984) mengatakan Perceived
environmental uncertainty yaitu:
“Perceived environmental uncertainty was measured by a series of
seven questions, designed to tap respondents perceptions about the
predictability and stability in various aspects of their organization
industrial, economic, technological, competitive and customer
environment.”
Pernyataan di atas menjelaskan bahwa ketidakpastian lingkungan
yang dirasakan diukur dengan serangkaian tujuh pertanyaan, yang dirancang
untuk menanggapi persepsi responden tentang prediktabilitas dan stabilitas
dalam berbagai aspek industri lingkungan organisasi mereka, ekonomi,
teknologi, kompetitif dan lingkungan pelanggan.
Lukito dan Andi (2008) mengatakan ketidakpastian lingkungan yaitu
sebagai berikut:
“Kondisi lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi operasi
perusahaan, dalam perubahan lingkungan yang tidak pasti tersebut,
para manajer dapat merasa kurang yakin bahkan tidak yakin
terhadap tindakan apa yang harus dilakukan.”
Jadi dengan demikian maka dapat disimpulkan dari beberapa
pengertian di atas bahwa kondisi lingkungan eksternal lah yang sangat
mempengaruhi dalam pembuatan keputusan yang akan di ambil oleh
manajer untuk mendapatkan suatu informasi yang sangat berpengaruh untuk
kemajuan operasional perusahaan.
Menurut Robbins dan Coulter (2005) menilai ketidakpastian
lingkungan merupakan sebuah langkah penting yang harus dilakukan oleh
para manajer. Lingkungan yang dihadapi oleh para manajer tidak akan sama
dalam berbagai kondisi, hal itulah yang menyebabkan terjadinya
ketidakpastian lingkungan.
12
Hastuti (2005) menjelaskan apabila komponen-komponen dalam
lingkungan sebuah organisasi seringkali berubah dikatakan lingkungan
tersebut dinamis. Jika perubahannya amat sedikit maka lingkungan
dikatakan stabil.Pada lingkungan yang stabil mungkin terjadi kondisi tidak
adanya pesaing baru, tidak ada terobosan teknologi baru oleh pesaingpesaing yang ada, serta sedikitnya kegiatan atau aktivitas oleh kelompok
masyarakat tertentu yang mempengaruhi organisasi tersebut.
Dengan
demikian,
dapat
disimpulkan
bahwa
ketidakpastian
lingkungan yaitu kesenjangan informasi yang menyangkut faktor-faktor
lingkungan yang dihubungkan dengan situasi pengambilan keputusan, untuk
mengetahui pengeluaran dari keputusan yang spesifik dalam istilah seberapa
banyak organisasi akan merugi jika keputusan tidak benar, dan
ketidakmampuan menaksir yang menunjukkan bagaimana faktor-faktor
lingkungan sedang mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan keputusan
unit dalam melakukan fungsinya.
2.1.2
Sistem Informasi Akuntansi Manajemen
Menurut Hansen dan Mowen (2009:7) mendefinisikan Sistem
Informasi Akuntansi Manajemen yaitu:
“Suatu informasi yang menghasilkan keluaran dengan menggunakan
masukan untuk mencapai tujuan khusus manajemen, terutama
menyediakan informasi yang akan digunakan dalam perhitungan
biaya jasa atau produk dan tujuan lain yang diinginkan manajemen,
menyediakan informasi yang digunakan dalam perencanaan,
pengendalian dan pengevaluasian dan menyediakan informasi yang
berguna dalam pengambilan keputusan.”
Sementara menurut Atkinson et al (2001) Sistem Akuntansi
Manajemen adalah :
“A value adding continuous improvement process of planning,
designing, measuring and operating nonfinancial and financial
information system that guides management action, motivates
behavior, and support and creates the cultural values necessary to
achieve an organizations strategic, tactical and operating
objectives.”
13
Definisi tersebut menjelaskan bahwa sistem informasi yang
melakukan nilai tambah dan perbaikan secara terus menerus dengan
merencanakan, merancang, mengukur dan mengoperasikan sistem informasi
data nonfinansial dan finansial, serta tindakan manajemen dengan
memotivasi perilaku, dukungan dan menciptakan nilai-nilai budaya yang
diperlukan untuk mencapai suatu organisasi strategis, taktis dan tujuan
operasi.
Menurut Horngren (2011:4) mendefinisikan sistem akuntansi manajemen
adalah:
“Management accounting produces information for managers
within an organization. It is the process of identifying, measuring,
accumulating,
analyzing,
preparing,
interpreting,
and
communicating information that helps managers fulfill
organizational objectives.”
Pernyataan di atas menjelaskan informasi akuntansi manajemen bagi
para manajer digunakan untuk pengambilan keputusan dalam rangka
mencapai tujuan perusahaan. Informasi akuntansi manajemen merupakan
proses yang meliputi identifikasi, pengumpulan, analisis, penyediaan,
interpretasi dan komunikasi informasi bagi para manajer dalam mencapai
tujuan.
Dari pernyataan-pernyataan tersebut menjelaskan bahwa suatu
mekanisme kontrol organisasi yang memberikan fasilitas kontrol melalui
pelaporan dan penciptaan yang tampak dalam tindakan dan kinerja, yang
mana merupakan alat yang efektif dalam penyediaan informasi yang
berguna dalam memprediksi akibat yang mungkin terjadi dari berbagai
alternatif yang dapat dilakukan. Serta peran informasi dari sistem akuntansi
manajemen memfasilitasi pengambilan keputusan dan kontrol dalam
organisasi dan harus disesuaikan dengan variabel kontekstual organisasi dan
subsistem kontrol lainnya
Atkinson et al (2001:11) menjelaskan bentuk informasi akuntansi
manajemen berupa informasi keuangan dan operasional dari berbagai
14
aktivitas organisasi, proses, unit-unit operasi, produk-produk, jasa-jasa dan
pelanggan. Di dalam perkembangannya kategori informasi akuntansi
manajemen menjadi lebih luas, bukan saja tentang operasi yang
dikuantifikasi dalam terminology keuangan saja akan tetapi juga berupa
informasi non keuangan, seperti kualitas waktu proses, pengukuran yang
bersifat lebih subjektif, kepuasan para pelanggan, kapabilitas karyawan dan
kinerja atas produk baru.
2.1.2.1 Fungsi Informasi Akuntansi Manajemen
Menurut Mulyadi (2001:20) Informasi akuntansi manajemen
diperlukan oleh manajemen untuk melaksanakan dua fungsi pokok
manajemen : perencanaan dan pengendalian aktivitas perusahaan. Informasi
akuntansi manajemen ini dihasilkan oleh sistem pengolahan informasi
keuangan yang disebut akuntansi manajemen. Informasi akuntansi
manajemen dibutuhkan oleh manajemen berbagai jenjang organisasi, untuk
menyusun rencana aktivitas perusahaan di masa yang akan datang.
Hoque (2005) mengemukakan fungsi informasi akuntansi manajemen yaitu:
“Management accounting information can contribute to the
following management areas : policy formulation, planning and
controlling the activities of the firm, decision taking on alternative
courses of action and so on.”
Definisi
tersebut
menjelaskan
bahwa
informasi
akuntansi
manajemen dapat memberikan kontribusi pada bidang manajemen yaitu:
perumusan kebijakan, perencanaan dan pengendalian kegiatan perusahaan,
keputusan mengambil tindakan alternatif dan sebagainya. Sedangkan
menurut Simamora (2012) menjelaskan informasi akuntansi manajemen
sebagai produk dari sistem akuntansi manajemen yang mempunyai manfaat
bagi manajer dan organisasi
Sebagai mana yang tertera di atas juga menambahkan bahwa salah
satu peran utama sistem informasi akuntansi manajemen adalah memasok
informasi yang memfasilitasi pengambilan keputusan bagi para manajer.
15
Menurut Atkinson et al (2001) Terdapat empat fungsi informasi
akuntansi manajemen dalam membantu para manajer menjalankan fungsi
fungsi operasionalnya yaitu:
Tabel 2.1
Functions of Management Accounting Information
No
1
Functions
Operational
Provide
Control
efficiency and qualiy of tasks performed
Product
2
3
Analysis
feedback
information
about
the
and Measure the costs of resources used to produce
Costumer
a product or service and market and deliver the
Costing
product or service to customers.
Management
Provide information about the performance of
Control
managers and operating units.
Provide information about the enterprise’s
4
Strategic Unit
financial and long-run competitive performance,
market conditions, customer preferences, and
technological innovations.
Sumber: Atkinson et al (2001:11)
Tabel di atas menjelaskan bahwa fungsi informasi akuntansi
manajemen yaitu memberikan umpan balik megenai efisiensi dan kualitas
tugas-tugas, mengukur biaya sumber daya yang digunakan untuk
memproduksi suatu barang atau jasa dan harga pasar serta biaya penyerahan
barang atau jasa kepada konsumen, memberikan informasi tentang kinerja
para manajer dan unit-unit perusahaan dan menyediakan informasi tentang
keuangan perusahaan dan kinerja kompetitif jangka panjang, kondisi pasar,
preferensi konsumen dan perkembangan teknologi.
Hansen dan Mowen (2009:47) mengemukakan keberadaan informasi
akuntansi manajemen di perusahaan terdapat tiga tujuan yang meliputi:
16
1. To provide information for costing out services, products and other
objects interest to management
2. To provide information for planning,control dan evaluation :
3. To provide information for decision making
Pernyataan
tersebut
menjelaskan
bahwa
sistem
akuntansi
manajemen memiliki tujuan untuk menyediakan informasi yang digunakan
dalam perhitungan biaya jasa, produk dan tujuan lain yang diinginkan
manajemen, untuk menyediakan informasi yang digunakan dalam
perencanaan, pengendalian, pengevaluasian dan untuk menyediakan
informasi yang berguna dalam pengambilan keputusan.
Sedangkan
menurut
Horngren
(2009:4)
informasi
akuntansi
manajemen bagi para manajer disediakan untuk menjelaskan :
1. Para manajer dalam penggunaan suatu informasi akuntansi
manajemen untuk perencanaan jangka pendek dan pengendalian
operasi yang rutin dijalankan, misalnya dalam mengkalkulasi biaya
yang bermanfaat untuk pengendalian biaya
2. Para manajer juga menggunakan informasi akuntansi manajemen
untuk membuat keputusan yang tidak rutin, misalnya dalam
pengambilan
keputusan
tentang
investasi
peralatan,
memformulasikan kebijakan dan perencanaan.
Menurut Atkinson et al (2001) informasi akuntansi manajemen dapat
memberikan bantuan dalam perencanaan jangka pendek dan pengendalian
operasi yang rutin dijalankan, seperti kalkulasi biaya yang bermanfaat dalam
pengendalian biaya dan membuat keputusan mengenai investasi peralatan,
menformulasikan kebijakan dan perencanaan.
2.1.2.2 Karakteristik Informasi Akuntansi Manajemen
Menurut Mulyadi (2001:53) secara konvensional rancangan sistem
akuntansi manajemen terbatas pada informasi keuangan internal yang
17
berorientasi historis. Tetapi, meningkatnya peran sistem akuntansi
manajemen untuk membantu manajer dalam pengarahan dan pemecahan
masalah telah mengakibatkan perubahan sistem akuntansi manajemen untuk
memasukkan data eksternaldan non keuangan kepada informasi yang
berorientasi masa datang (informasi akuntansi manajemen lingkup luas).
Karakteristik informasi akuntansi manajemen dimana informasi
yang paling bermanfaat menurut persepsi manajer adalah informasi yang
memiliki karakteristik berdasarkan penelitian Chenhall dan Morris (1986)
yaitu broad scope, timeliness, aggregation, dan integration.
Berikut uraian masing masing Karakteristik Informasi Akuntansi
Manajemen :
a. Informasi Broad Scope (lingkup)
Chia (1995) mengemukakan pengertian informasi lingkup (broad
scope) sebagai berikut:
“A management accounting system with an information
characteristic of broad scope provides information that is both
internal and external to the organization. The scope of the
information covers a diverse range of areas such as economic (total
market sales,organization's share of that market, GNP) and noneconomic (e.g.,technological advances, sociological changes,
demographic developments) aspects of the environment. Estimates of
the likelihood of future events occurring are also covered in the
broad scope as well. To the sub-unit managers operating in a
decentralized organization, the broad scope of the management
accounting system caters for their diversity of informational needs in
their decision-making.”
Pengertian tersebut menjelaskan bahwa karakteristik informasi
akuntansi manajemen memiliki lingkup informasi yang luas bersifat internal
maupun eksternal di dalam organisasi. Ruang lingkup informasi meliputi
beragam bidang seperti ekonomi (penjualan total pasar, pangsa organisasi
pasar itu, GNP) dan non-ekonomi (misalnya,kemajuan teknologi, perubahan
sosiologis, perkembangan demografis) aspek lingkungan. Perkiraan
kemungkinan peristiwa di masa depan terjadi juga tercakup dalam lingkup
yang luas juga. Untuk sub-unit manajer beroperasi di sebuah organisasi
desentralisasi, ruang lingkup yang luas dari sistem akuntansi manajemen
18
melayani keragaman mereka kebutuhan informasi dalam pengambilan
keputusan mereka.
Selanjutnya menurut Gorry dan Morton (1971); Larker (1981)
mengatakan bahwa :
“The scope of an information system refers to the dimensions of
focus, quantification, and time horizon.”
Pernyaaan tersebut menjelaskan bahwa karakteristik informasi broad
scope adalah informasi dari suatu sistem akuntansi manajemen yang
mewakili dimensi fokus, kuantifikasi dan time horizon
Gordon dan Narayanan (1984) menjelaskan informasi lingkup
(broad scope) yaitu:
“Wider scope information is defined as information that is related to
the external environment, is non-financial and future oriented.”
Definisi tersebut dapat menjelaskan informasi lingkup yang lebih
luas di definisikan sebagai informasi yang berkaitan dengan lingkungan
eksternal, yaitu non-keuangan dan berorientasi pada masa depan.
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di
atas bahwa karakteristik informasi lingkup (broad scope) yaitu lingkup
informasi yang bermanfaat bagi manajer yang bersifat internal dan eksternal
agar dapat membantu dalam membuat keputusan yang lebih efektif di dalam
lingkup manajemen.
b. Informasi Timeliness
Menurut Chenhall dan Morris (1986) mejelaskan informasi tepat
waktu (timeliness) yaitu :
“A manager’s ability to respond qualiky to events likely to be
influenced by the timeliness of the management accounting system.
Timeliness is usually specified in terms of the provision of
information on request and the frequency of reporting systematically
collected information. Timely information enhances the facility of
management accounting system to report upon the most recent
events and to provide rapid feedback on decisions.”
19
Definisi tersebut menjelaskan bahwa kemampuan para manajer
untuk merespon secara cepat suatu peristiwa kemungkinan dipengaruhi oleh
timeliness sistem akuntansi manajemen. Informasi yang timeliness
meningkatkan fasilitas sistem akuntansi manajemen untuk melaporkan
peristiwa paling akhir dan untuk memberikan umpan balik secara tepat
terhadap keputusan yang telah dibuat.
Selanjutnya Supriyono (2001) menjelaskan informasi tepat waktu
(timeliness) adalah:
“Informasi akuntansi manajemen yang harus memenuhi karakteristik
kualitatif tepat waktu, karena informasi tersebut akan dipakai oleh
manajemen sebagai dasar pembuatan keputusan dan untuk
menghindari keterlambatan atau tertundanya pembuatan keputusan
tersebut.”
Supriyono (2001) juga menambahkan tepat waktu ini dipengaruhi
oleh dua komponen penyajian informasi, yaitu :
(1) Interval waktu pelaporan informasi
(2) Tepat ataulambatnya laporan informasi tersebut dapat disajikan sesuai
interval waktu yang sudah ditentukan.
Selanjutnya
menurut
Bodnar
(1995)
informasi
tepat
waku
(timeliness) yaitu :
“Ketepatan waktu dalam memperoleh informasi suatu
kejadian.Informasi dikatakan tepat waktu apabila informasi tersebut
mencerminkan kondisi terkini dan sesuai dengan kebutuhan
manajer.”
Selain itu Romney dan Steinbert (2006) juga menjelaskan informasi
tepat waktu (timeliness) yaitu:
“Information is timely if it is provided in time for decision makers to
make decisions.”
Pernyataan di atas maka dapat menjelaskan bahwa informasi di nilai
tepat waktu apabila informasi tersebut dihasilkan tepat pada saat yang
dibutuhkan.
20
Mc.Leod (2004:20) memberikan penjelasannya mengenai Informasi
Tepat Waktu bahwa Informasi harus tersedia untuk pemecahan masalah
sebelum terjadinya situasi krisis yang berkembang atau kesempatan yang
hilang. Manajer harus mampu memperoleh informasi yang menggambarkan
apa yang akan terjadi sekarang di samping apa yang terjadi di masa lalu.
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di
atas bahwa informasi tepat waktu (timeliness) yaitu kemampuan para
manajer untuk merespon secara cepat dan tepat terhadap setiap informasi
yang di butuhkan pada saat pengambilan keputusan.
c. Informasi Aggregation (agregasi)
Menurut Chenhall dan Morris (1986) memberikan penjelasan
informasi agregasi (aggregation) yaitu:
“Management accounting system provide information in various
forms of aggregation ranging from provision of basic raw,
unprocessed data to a variety of aggregations around periods of
time or areas of interest such as responsibility centers, or functional
areas. An additional type of aggregation refers to summation in
formats consistent with formal decision models such as discounted
cash flow analysis for capital budgeting, simulation and linear
programming in budgetary applications, cost-volume-profit analysis,
and inventory control models. In the current study, aggregated
information is a composite of temporal and functional summation
(e.g., sales area, cost center, marketing and production departments)
and information produced specifically for formal decision models”
Definisi tersebut menjelaskan bahwa sistem akuntansi manajemen
memberikan informasi dalam berbagai bentuk agregasi yang berkisar dari
pemberian bahan dasar, data yang tidak di proses sehingga berbagai agregasi
berdasarkan periode waktu atau area tertentu misalnya pusat pertanggung
jawaban atau fungsional. Tipe agregasi yang lain mengacu kepada berbagai
format yang konsisten dengan model keputusan formal seperti analisis cash
flow yang di diskontokan untuk anggaran modal, simulasi dan linear
programming untuk penerapan anggaran, analisis biaya, volume, laba, dan
model pengendalian persediaan. Dalam perkembangan terakhir, agregasi
informasi
merupakan penggabungan informasi fungsional dan temporal
seperti area penjualan, pusat biaya, departemen produksi dan pemasaran,
21
dan informasi
yang dihasilkan secara khusus untuk model keputusan
formal. Menurut Supriyono (2001) menjelaskan informasi agregasi
(agregation) adalah:
“Menunjukan proses pengurangan volume data yang diperlukan agar
dapat mengurangi atau menghemat biaya dalam penyediaan
informasi akuntansi. Tetapi agregasi ini dapat menimbulkan
kerugian karena informasi yang penting mungkin tidak disajikan.”
Selanjunya
Bodnar
(1995)
mengatakan
informasi
agregasi
(aggregation) yaitu:
“Informasi disampaikan dalam bentuk yang lebih ringkas, tetapi
tetap mencakup hal-hal penting sehingga tidak mengurangi nilai
informasi itu sendiri.”
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di
atas bahwa informasi agregasi (aggregation) yaitu informasi yang
merupakan penggabungan informasi fungsional dan temporal yang di
butuhkan di dalam pengambilan keputusan.
d. Informasi Integration (integrasi)
Semakin banyaknya segmen dalam sub-unit atau jumlah sub-unit
dalam organisasi, maka informasi yang bersifat terintegrasi akan semakin
dibutuhkan. Begitu pula pendelegasian kebijakan serta permasalahan
pengendalian yang akan muncul pada organisasi desentralisasi, mungkin
akan berkurang dengan adanya informasi terintegrasi (Chenhall dan Morris,
1986). Informasi terintegrasi akan berperan dalam mengkoordinasikan
kebijakan dalam organisasi agar terjadinya keselarasan dalam mencapai
tujuan utama perusahaan.
Sementara menurut Gorry dan Morton (1971); Larker (1981)
memberikan pendapat nya yaitu:
“Informasi yang bersifat Integratet menunjukan bahwa ada
koordinasi antar segmen-segmen perusahaan, informasi ini akan
bermanfaat bagi manajer ketika dihadapkan pada pembuatan
keputusan yang berdampak pada beberapa segmen perusahaan.”
22
Jadi dengan demikian dapat disimpulkan dari beberapa pengertian di
atas bahwa informasi integrasi (integration) yaitu informasi yang mencakup
aspek tentang ketentuan target atau aktivitas yang dihitung dari proses
interaksi antar sub
unit dalam organisasi
yang berperan dalam
mengkoordinasikan kebijakan suatu organisasi agar terjadinya keselarasan
dalam mencapai tujuan utama perusahaan.
2.2
Kerangka Pemikiran
Fisher (1996) berpendapat bahwa pada kondisi ketidakpastian yang
tinggi individu sulit untuk memprediksikan kegagalan dan keberhasilan dari
keputusan yang dibuatnya. Sementara menurut Duncan (1972) dalam
menghadapi ketidakpastian lingkungan terdapat beberapa kondisi yang perlu
diidentifikasi oleh manajemen. Kondisi tersebut merupakan aktivitas,
strategi
para
pesaing,
perkembangan
teknologi
permintaan
pasar,
kemudahan memperoleh bahan baku, harga bahan baku, regulasi
pemerintah, dan aktivitas serikat pekerja.
Salah satu karakteristik sistem akuntansi manajemen menurut Chia
(1995) adalah sebagai sumber informasi penting untuk membantu
manajemen
mengendalikan
ketidakpastian
lingkungan
aktivitasnya
serta
mengurangi
masalah
dalam
rangka
mencapai
tujuan
perusahaan.Sementara Chenhall dan Morris (1986) mengatakan informasi
sistem akuntansi manajemen mempunyai beberapa karakteristik informasi.
Karakteristik informasi yang paling bermanfaat dalam persepsi manajer
adalah informasi akuntansi manajemen dengan karakteristik broad scope,
timeliness, aggregation dan integration.
Berdasarkan penelitian terdahulu diperoleh bukti empiris bahwa
ketidakpastian lingkungan diidentifikasi sebagai variabel kontijensi yang
mempengaruhi ketersediaan karakteristik informasi akuntanasi manajemen
dan pada kondisi ketidakpastian lingkungan yang tinggi dibutuhkan
informasi yang mempunyai cakupan luas (broad scope) dan tepat waktu
(timeliness). Pada perusahaan yang mempunyai struktur organisasi
terdesentralisasi, para manajer akan membutuhkan informasi akuntansi
23
manajemen yang teragregasi (aggregation) dan terintegrasi (integration)
(Chenhall dan Morris (1986), Chia (1995), dan Mardiyah dan Gudono,
2001).
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas maka paradigma penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Karakteristik
Informasi Akuntansi
Manajemen
(Y)
Ketidakpastian
Lingkungan
(X)
(Duncan (1972) Aida
Ainul Mardiyah dan
Gudono (2001) dan
Luthun (1994))
(Mc Leod (1994:20),
Chenhall dan Morris
(1986)
Gambar 2.1
Model Kerangka Pemikiran
2.3
Hipotesis Penelitian
Menurut Uma Sekaran (2009:135) hipotesis didefinisikan sebagai
hubungan yang diperkirakan secara logika diantara dua atau lebih variabel
yang diungkapkan dalam bentuk pernyataaan yang dapat diuji. Hubungan
tersebut diperkirakan berdasarkan jaringan asosiasi yang diterapkan dalam
kerangka teoritis yang dirumuskan untuk studi penelitian. Hipotesis
merupakan jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian, sampai tebukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi
Arikunto, 2008:8).
Sejalan dengan penjelasan di atas, maka hipotesis yang diajukan
peneliti
adalah
Ketidakpastian
Lingkungan
Karakteristik Informasi Akuntansi Manajemen.
berpengaruh
terhadap
Download