18 PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MENGAJAR

advertisement
Volume 3 No. 2 Desember 2015
PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM MENGAJAR DAPAT MEMBERI
MOTIVASI BELAJAR KEPADA PESERTA DIDIK.
St.Marwiyah
IAIN Palopo
Abstrak : Dalam mengajar seorang guru perlu memahami kondisikondisi psikologis seperti; taraf intelegensi, minat dan bakat peserta
didik. Dengan memahami kondisi-kondisi tersebut, maka dengan
sendirinya peserta didik mudah menerima motivasi yang diberikan
oleh guru mengenai perilaku yang baik dalam memahami materimateri pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Kata-Kata Kunci : Pendekatan psikologis, motivasi belajar, peserta
didik.
Pendekatan psikologi oleh guru adalah sebagai cara untuk meningkatkan
motivasi belajar peserta didik. Berkaitan dengan proses belajar mengajar dikelas,
pemberian motivasi tertentu dipakai untuk memberikan semangat belajar bagi
peserta didik agar semangat belajarnya selalau terjaga, hingga nampak keceriaan
yang begitu berarti dalam belajar dan jika demikian yang terjadi, tentu dapat
dipastikan pendekatan psikologi yang digunakan oleh guru dalam proses
pembelajaran berpengaruh terhadapa sikap peserta didik dalam belajar, yaitu
mengenai perilaku yang ditampakkan dan salah satunya adalah kejenuhan peserta
didik dalam belajar dapat teratasi jika guru pandai menempatkan pendekatan
psikologi pendidikan yang digunakan dalam mengajar.
Dalam proses belajar mengajar, tanpa adanya pemberian motivasi oleh
guru adalah hal yang sangat membosankan bagi peserta didik, karena setiap saat
selalu merasakan hal yang sama. Dan guru yang pandai membaca situasi kelas
adalah guru yang mampu menempatkan pendekatan psikologi pendidikan yang
semestinya untuk diterapkan, karena dalam proses pembelajaran berbagai macam
pendekatan dapat diterapkan bahkan saat mengajar pada waktu yang bersamaan
dalam satu waktu mata pelajaran dapat digunakan lebih dari satu, tergantung
situasi dan kondisi peserta didik saat itu, serta tetap mempertimbangkan isi materi
pelajaran dengan pemilihan pendekatan psikologi pendidikan yang diterapkan.
Motivasi belajar merupakan salah satu faktor penunjang terhadap
pencapaian tujuan belajar motivasi dapat muncul apabila proses belajar mengajar
terjadi secara beragam (Sardiman, 2007 : 221). Dengan demikian upaya
meningkatkan motivasi belajar adalah dengan terlebih dahulu mencari penyebab
timbulnya kemalasan peserta didik untuk belajar, barulah kemudian memberikan
solusi terhadap keadaan tersebut. Apabila faktor penyabab kemalasan atau tidak
termotivasi karena cara belajar yang monoton, maka solusinya guru memberikan
pendekatan psikologi pendidikan aktif, kreatif, dan variatif hingga selalu tercipta
situasi dan suasana baru. Dan salah satu bentuk pendekatan yang dapat diterapkan
dalam proses pembelajaran sesuai dengang prinsip pembelajaran yaitu pendekatan
psikologi pendidikan, hal ini penting guna mengetahui secara dalam mengenai
kebiasaan baik maupun buruk peserta didik dalam proses pembelajaran pada
setiap materi pelajaran (IG K.Waradani, 2009 : 35).
18
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
Dalam mengajar seorang guru sangat penting memahami pendekatan
psikologi, karena karena dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik,
dan dengan motivasi belajar itu, maka peserta didik dengan mudah memahami
materi-materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.
Pendekatan Psikologi
1. Memahami aspek-aspek psikologis
Pembelajaran merupakan suatu proses yang kondisional, artinya terkait
erat dengan kondisi-kondisi tertentu. Oleh sebab itu, pencapaian hasil dan
motivasi belajar juga terkait dengan kondisi-kondisi tertentu baik yang ada dalam
diri peserta didik maupun yang berasal dari luar diri peserta didik (Tohirin. 2005 :
156). Dalam mengevaluasi terhadap kegiatan belajar peserta didik guna
meningkatkan motivasi belajar peserta didik, hendaknya guru memperhatikan
aspek-aspek psikologis peserta didik.
Kondisi psikologis peserta didik sangat memperngaruhi aktivitas dan hasil
belajarnya. Peserta didik yang pintar dalam kesehariannya, apabila disaat
mengikuti ujian dalam kondisi yang tidak prima, bisa saja memperoleh hasil yang
buruk (tidak memuaskan). Apabila guru hanya memberikan nilai berdasarkan
hasil yang diperoleh peserta didik secara riil, maka akan menimbulkan dampak
psikologis (kecewa dan kurang puas) terhadap peserta didik.
Kondisi psikologis peserta didik harus menjadi pertimbangan bagi para
guru dalam memberikan penilaian hasil belajar kepada peserta didik karena
berpengaruh terhadap semangat atau motivasi belajar peserta didik. Penilaian
hasil pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik harus
dijiwai oleh psikologi, khususnya psikologi pembelajaran sehingga tidak
menimbulkan dampak psikologis yang butuk pada peserta didik.
Faktor-faktor psikologis seperti intelegensia (kecerdasan), kemampuan,
minat belajar, motivasi belajar, bakat, sikap dan lain-lain sangat mempengaruhi
basil belajar peserta didik. Selain itu, kondisi-kondisi diluar peserta didik juga
turut mempengaruhi motivasi belajar peserta didik. Kesemua faktor-faktor di atas
hendaknya menjadi pertimbangan bagi guru dalam menilai hasil belajar peserta
didik, sebab jika psikologis peserta didik baik, maka motivasi belajar peserta didik
pun akan semakin meningkat.`
2. Perwujudan Belajar
a. Teori Belajar
Sangat banyak definisi belajar yang dapat ditemukan dalam berbagai
literatur yang ada dan pengertian tentang belajar oleh para ahli pun berbeda-beda.
Adapun beberapa pengertian belajar adalah sebagai berikut :
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
(M.Surya, 1997 : 9). Relevan dengan pengertian di atas, Slameto menyatakan
bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai
19
Volume 3 No. 2 Desember 2015
hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya
(Slameto, 1982 : 2).
Sementara pembelajaran merupakan suatu upaya membelajarkan atau
suatu upaya mengarahkan aktivitas peserta didik ke arah aktivitas belajar. Di
dalam proses pembelajaran, terkandung dua aktivitas sekaligus, yaitu aktivitas
mengajar oleh guru dan aktivitas belajar oleh peserta didik. Proses pembelajaran
merupakan proses interaksi, yaitu interaksi antara guru dengan peserta didik dan
peserta didik dengan peserta didik.
Salah satu ciri perbuatan belajar adalah tercapainya perubahan perilaku
baru. Hal ini sesuai dengan pengertian atau makna belajar yang menjelaskan
bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku yang secara keseluruhan sebagai hasil
pengalaman individu atau diri sendiri dalam interaksi dengan tingkah lakunya.
Proses belajar dapat terjadi apabila individu merasakan adanya kebutuhan
dalam dirinya yang tidak dapat dipenuhi dengan cara-cara yang refleks atau
kebiasaan. Ia ditantang untuk mengubah perilaku yang ada agar dapat mencapai
tujuan (Slameto, 1982 : 81). Dalam mengubah perilakunya, individu melakukan
berbagai perbuatan mulai dari yang sederhana hingga yang kompleks. Bentuk
perilaku dari yang sederhana hingga yang kompleks adalah :
“(1) Mengenal tanda isyarat, (2) Menghubungkan stimulus dengan respon,
(3) Merangkaikan dua respon atau lebih, (4) Asosiasi verbal, yaitu
menghubungkan sebuah label kepada stimulis, (5) Mengenal konsep, yaitu
menempatkan beberapa stimulus yang tidak sama dalam kelas yang sama,
(6) Mengnal Prinsip, yaitu membuat hubungan antara dua konsep atau
lebih, (7) Pemecahan masalah, yaitu menggunakan prinsip-prinsip untuk
merancang suatu respon (M.Surya, 1997 : 61).
Perilaku belajar yang efektif disertai proses mengajar yang tepat, maka
proses pembelajaran diharapkan mampu menghasilkan manusia yang memiliki
karakteristik pribadi yang mandiri, pelajar yang efektif dan pekerja yang
produktif.
b. Teori Mengajar
Menurut Sadirman ada beberapa pengertian mengajar, diantranya adalah :
1) Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan
kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk
berlangsungnya proses belajar.
2) Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada peserta didik.
3) Mengajar adalah menanamkan pengetahuan kepada peserta didik dengan
suatu harapan terjadi proses pemehaman.
4) Mengajat diartikan sebagau suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi
proses belajar.
5) Mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk
berlangsungnya kegiatan belajar bagi para peserta didik (Sardiman AM, 2006 :
47-48).
20
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
Sementara itu, oleh Torihin menjelaskan tentang mengajar atau
pembelajaran sebagai berikut mengajar pada hakikatnya adalah mempersiapkan
peserta didik untuk dapat hidup di tengah-tengah masyarakat, bergotong-royong
atau bekerja sama dengan orang lain yang berlainan dengan dirinya dalam segi
pendirian, agama, dan sebagainya. Selain itu menurutnya, mengajar tidak hanya
dalam menyampaikan pengetahuan saja kepada peserta didik, melainkan
senantiasa mengembangkan peibadinya (Tohirin, 2005 : 176).
Dalam bukunya yang sama dijelaskan bahwa : Education is the used her,
is a process or an activity which is directed at producing desireble, changes in
behaviour of human beings, yang artinya pendidikan adalah suatu proses atau
kegiatan yang bertujuan menghasilkan tingkah laku manusia (Tohirin, 2005 : 73).
Jika dikaitkan antara belajar dengan pembelajaran menurut Arif Sadiman,
proses belajar mengajar adalah proses komunikasi atau penyampaian pesan dari
sumber pesan melalui media tertentu ke penerima pesan (Sardiman AM, 2006 :
11). Pesan, sumber, media serta penerima pesan adalah komponen-komponen
proses komunikasi. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi ajaran atau
didikan yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, peserta didik,
orang laian ataupun penulis buku dan produser media, salurannya media
pendidikan, dan penerima pesan adalah peserta didik atau jasa guru.
Baik secara teoritis maupun praktis, pengertian mengajar mengalami
perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan teori pengenalan dan
persepsi masyarakat, sesuai dengan zaman dan lingkungannya.
1) Menurut teori lama, mengajar adalah proses penyerahan kebudayaan
berupa pengalaman dan kecakapan kepada peserta didik atau proses pewarisan
nilai-nilai budaya (spiritual, material, vital) kepada generasi penerus.
2) Menurut teori baru yang dikembangkan di negara-negara maju bahwa
mengajar adalah bimbingan guru terhadap proses belajar peserta didik, “teaching
is the guidance of learning” (mengajar adalah bimbingan ilmu pengetahuan).
3) Mengajar adalah suatu aktivitas untuk menolong dan membimbing
seseorang untuk mendapatkan, merubah, dan mengembangkan skill, attitude,
idealis, appreciation, and knowledge, yang artinya Keterampilan, sikap, cita-cita
penghargaan dan pengetahuan (Abdurrahman, 1990 : 122).
4) Mengajar adalah suatu perbuatan yang terpadu dan dilaksanakan secara
bertahap. Mengajar adalah keterlibatan guru dan peserta didik dalam interaksi dan
proses belajar mengajar (Safruddin Nurdin dkk, 2002 : 84).
5) Mengajar adalah aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan
dengan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak sehingga terjadi proses
belajar mengajar (Abdurrahman, 1990 : 123).
J.J Hasibuan mengemukakan bahwa mengajar menurut pengertian
mutakhir merupakan suatu perbuatan yang kompleks. Perbuatan mengajar yang
kompleks dapat diterjemahkan sebagai penggunaan secara integratif sejumlah
komponen yang terkandung dalam perbuatan mengajar itu untuk menyampaikan
pesan pengajaran (J.J.Hasibuan, 1995 : 37). Jadi mengajar adalah suatu aktivitas
guru dalam memberikan suatu materi terhadap peserta didik yang dilaksanakan
secara bertahap.
21
Volume 3 No. 2 Desember 2015
c.
Proses Belajar Mengajar
Dalam konteks pembelajaran, pengertian tentang belajar amat beragam.
Beragamnya pengertian belajar dipengaruhi oleh teori yang melandasi rumusan
belajar itu sendiri. Berikut beberapa pengertian belajar yang dijelaskan dalam
beberapa referensi yang terkait dengan pembahasan tersebut.
Belajar merupakan key term (istilah kunci) yang paling vital dalam setiap
usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada
pendidikan. Sebagai suatu proses, belajar hampir selalu mendapat tempat
yang luas dalam berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan upaya
pendidikan (Tohirin, 2005 : 56).
Selanjutnya ada yang mendefinisikan: “belajar adalah berubah”. Dalam hal
ini yang dimaksudkan dengan belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi
belajar akan membawa perubahan individu-individu yang belajar (Sardiman
AM, 2006 : 21). Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya pada penambahan
ilmu pengetahuan, tetapi juga berbentuk kecakapan, keterampilan, sikap,
pengertian, harga diri, Organisme dan tingkah laku pribadi. Dan menurut
Hamalik, belajar mengandung pengertian terjadinya perubahan dan persepsi dan
perilaku, termasuk perbaikan perilaku. Belajar adalah sebagai perubahan dan
perbuatan melalui aktifitas praktik dan pengalaman (Oemar Hamalik, 1992 : 45).
Relevan dengan hal di atas, Slameto menyatakan bahwa belajar adalah
suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari
interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Slameto,
1987 : 2). Belajar juga berarti suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru yang secara keseluruhan,
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya (Slameto, 1987 : 3).
Dalam prespektif Islam makna belajar bukan hanya sekedar upaya
perubahan perilaku. Konsep belajar dalam Islam merupakan konsep belajar yang
ideal, karena sesuai dengan ajaran-ajaran Islam, tujuan belajar dalam Islam
bukanlah mencari rezki di dunia semata, tetapi untuk sampai kepada hakikat,
memperkuat akhlak, artinya mencari atau mencapai ilmu yang sebenarnya dan
akhlak yang sempurna. Olehnya itu belajar merupakan kewajiban bagi setiap
individu muslim-muslimat dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga
derajat kehidupannya meningkat (Tohirin, 2005 : 58).
Setelah memahami pengertian belajar, untuk melengkapi pengetahuan
proses belajar mengajar, maka selanjutnya diuraikan pengertian mengajar sebagai
berikut :
Menurut Sardiman ada beberapa pengertian mengajar, diantaranya adalah:
1) Mengajar pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan
Kondisi atau sistem lingkungan yang mendukung dan memungkinkan untuk
berlangsungnya proses belajar.
2) Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan pada peserta didik.
3) Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada peserta didik dengan
suatu harapan terjadi proses pemahaman.
22
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
4) Mengajar diartikan sebagai suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur
lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadi
proses belajar.
5) Mengajar sebagai upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk
berlangsungnya kegiatan belajar bagi para peserta didik (Sardiman AM, 2006 :
47).
Sementara itu, oleh Torihin menjelaskan tentang mengajar atau
pembelajaran sebagai berikut :
Mengajar pada hakikatnya adalah mempersiapkan peserta didik untuk
dapat hidup di tengah-tengah masyarakat, bergotong royong atau bekerja
sama dengan orang lain yang berlainan dengan dirinya dalam segi
pendirian, agama, dan sebagainya. Selain itu menurutnya, mengajar tidak
hanya dalam menyampaikan pengetahuan saja kepada anak didik,
melainkan senantiasa mengembangkan pribadinya (Tohirin, 2005 : 176).
Dari pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa proses
belajar mengajar adalah suatu interaksi yang terjadi antara guru dan peserta didik
dengan tujuan dapat memberikan perubahan bagi sang peserta didik melalui
perlakuan atau kegiatan yang dilakukan guru, sehingga keduanya mengalami
hubungan timbal balik satu sama lain. Dan jika salah satu unsur dari peserta didik
secara keseluruhan atau guru tidak ada, maka proses belajar mengajar tidak dapat
diwujudkan.
d. Perwujudan Perilaku Belajar
Secara teoritis seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, belajar
merupakan perubahan tingkah laku. Perubahan-perubahan tersebut termanifestasi
melalui perwujudan perilaku belajar yang biasanya tampak dalam hal: kebiasaan,
keterampilan, pengamatan, berpikir asosiatif dan daya ingat, berpikir nasional,
sikap, inhibisi, apresiasi dan tingkah laku efektif (Muhibbin Syah, 2000 : 117).
Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Kebiasaan
Setiap individu (peserta didik) yang telah mengalami proses belajar,
kebiasaan akan tampak berubah. Kebiasaan itu timbul karena proses penyusunan
kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi yang berulang-ulang
(Muhibbin Syah, 2000 : 118). Dalam proses belajar, pembiasaan juga meliputi
pengurangan perilaku yang tidak diberlakukan. Karena proses pengurangan itulah,
muncul suatu pola bertingkah laku baru yang relatif menetap dan optimis.
2) Keterampilan
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat-urat syaraf
dan otot-otot yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti menulis,
mengetik, olahraga, dan sebagainya (Dahlan, 1996 : 77). Keterampilan adalah
kemampuan melakukan pola-pola tingkah laku yang kompleks dan tersusun
secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk mencapai hasil tertentu.
3) Pengamatan
Menurut Sujanto, pengamatan adalah proses mengenal dunia luar dengan
menggunakan indera. Alat-alat indera yang digunakan dalam pengamatan adalah:
(1) Indera penglihat, (2) indera pendengar, (3) indera pembau atau penciuman, (4)
23
Volume 3 No. 2 Desember 2015
indera perasa atau pengecapan, (5) indera peraba, (6) indera keseimbangan, (7)
indera perasa urat daging (kinestasi), (8) indera perasa jasmaniah (Sujanto, 1985 :
21).
Muhibbin Syah menyatakan bahwa pengamatan artinya proses menerima,
menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera-indera
seperti mata dan telinga (Muhibbin Syah, 2000 : 118). Berkat pengalaman belajar,
seorang peserta didik akan mampu mencapai pengamatan yang benar objektif
sebelum memperoleh pengertian. Pengamatan yang salah akan mengakibatkan
timbulnya pengertian yang salah pula.
Proses pengamatan melalui tiga tahap, yaitu: (1) saat alami (saat physis),
yaitu saat indera kita menerima perangsang dari luar, (2) saat jasmani (saat
physiologis), yaitu saat perangsang itu diteruskan oleh urat syaraf sensori
ke otak, dan (3) saat rohani (saat psychis), yaitu saat sampainya peransang
itu ke otak, kita menyadari pransang itu dan bertindak (Sujanto, 1985 :
21).
4) Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat
Berpikir asosiatif dan berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu
dengan lainnya. Berpikir asosiatf itu merupakan proses pembentukan hubungan
antara rangsangan dengan respons (Syaiful Bahri Djamarah, 2000 : 86).
Kemampuan peserta didik untuk melakukan hubungan asosiatif yang benar amat
dipengaruhi oleh tingkat pengertian atau pengetahuan yang diperoleh dari hasil
belajar. Misalnya, seorang peserta didik yang mampu menjelaskan arti penting
tanggal 12 Rabiul Awal. Kemampuan peserta didik tersebut dalam
mengasosiasikan tanggal bersejarah itu dengan kelahiran maulid Nabi Muhammad
saw, hanya bisa didapat apabila ia telah mempelajari riwayat hidup beliau.
5) Berpikir Rasional dan Kritis
Berpikir rasional dan kritis adalah perwujudan perilaku belajar, terutama
yang bertalian dengan pemecahan masalah (problem solving). Umumnya, peserta
didik yang berpikir rasional akan menggunakan prinsip-prinsip dan dasar-dasar
pengertian dalam menjawab pertanyaan “bagaimana” dan “mengapa” (Syaiful
Bahri Djamarah : 116). Dalam berpikir rasional, peserta didik dituntut
menggunakan logika (akal sehat) untuk menentukan sebab akibat, menganalisis,
manrik kesimpulan-kesimpulan, dan bahkan juga menciptakan hukum-hukum
(kaidah teoritis) dan ramalan-ramalan.
6) Sikap
Dalam pengertian sempit sikap adalah pandangan atau kecenderungan
mental. Menurut Syah sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menerap
untuk beraksi dengan baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu
(Muhibbin Syah, 2000 : 120). Sementara itu dari penjelasan lain dikemukakan
bahwa sikap adalah menyukai atau menolak suatu objek psikologis. Selanjutnya
dinyatakan bahwa sikap adalah (1) pengaruh atau penolakan, (2) penilaian, (3)
suka atau tidak suka, (4) kepositifan atau kenegatifan terhadap suatu objek
psikologis (Muhibbin Syah, 2000 : 121).
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa, pada prinsipnya sikap asalah
kecenderungan individu (peserta didik) untuk bertindak dengan cara tertentu.
Perwujudan perilaku belajar peserta didik akan ditandai dengan munculnya
24
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
kecenderungan-kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas)
terhadap objek, tata nilai, peristiwa, dan sebagainya.
7) Inhibisi
Secara singkat, inhibisi adalah upaya pengurangan atau pencegahan
timbulnya suatu respon tertentu karena adanya proses respon lain yang sedang
berlangsung (Muhibbin Syah, 2000 : 120). Dalam kaitannya dengan belajar,
inhibisi bermakna kesanggupan peserta didik untuk mengurangi atau
menghentikan tindakan yang tidak pelu, lalu memilih atau melakukan tindakan
lainnya yang lebih baik ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya.
Kemampuan peserta didik melakukan inhibisi umumnya diperoleh melalui
proses belajar. Karena itu, makna dan perwujudan perilaku belajar seorang peserta
didik akan tampak pula dalam kemampuannya melakukan inhibisa. Misalnya,
seorang peserta didik yang telah berhasil mempelajari bahaya narkoba dan
alkohol, ia akan menghindari membeli obat-obatan terlarang dan minum keras.
Sebagai gantinya, ia akan membeli obat-obatan dan minuman sehat (tidak
berbahaya).
8) Apresiasi
Apresiasi adalah suatu pertimbangan (judgement) mengenai arti penting
atau nilai sesuatu (Abdurrahman, 1996 : 98). Dalam penerapannya, apresiasi
sering diartikan sebagai penghargaan atau penilaian terhadap benda-benda (baik
abstrak maupun konkret) yang memiliki nilai luhur. Apresiasi adalah gejala ranah
afektif yang umumnya ditujukan pada karya-karya seni budaya seperti: seni
sastra, musik, lukis, drama, dan sebagainya (Abdurrahman, 1996 : 99).
Tingkat apresiasi peserta didik terhadap nilai sebuah karya sangat
bergantung pada tingkat pengalaman belajarnya. Misalnya, seorang peserta didik
yang telah mengalami proses belajar agama secara mendalam, maka tingkat
apresiasinya nilai seni baca Al-Quran dan kaligrafi akan mendalam pula. Dengan
demikian, pada dasarnya seorang peserta didik baru akan memiliki apresiasi yang
memadai terhadap objek tertentu (misalnya kaligrafi) apabila sebelumnya ia telah
mempelajari materi yang berkaitan dengan objek yang dianggap mengandung
nilai penting dan indah tersebut.
e. Tingkah Laku Afektif
Tingkah laku afektif adalah tingkah laku yang menyangkut
keanekaragaman perasaan, seperti takut, marah, sedih, gembira, kecewa, senang
benci, was-was, dan sebagainya (Dahlan, 1996 : 80). Tingkah laku seperti ini
tidak terlepas dari pengalaman belajar. Oleh karena itu, ia dianggap sebagai
perwujudan perilaku belajar.
Seorang peserta didik dapat dianggap berhasil secara afektif dalam belajar
agama (khususnya agama Islam), apabila ia telah menyenangi dan menyadari
dengan ikhlas kebenaran ajaran agama Islam yang ia pelajari, lalu menjadikannya
sebagai sistem nilai diri (Zakiah Daradjat, 2000 : 106). Kemudian, pada
gilirannya ia menjadikan sistem nilai ini sebagai penuntun hidup, baik dikala suka
mapun duka.
Pengertian dan Kebutuhan Motivasi
1. Pengertian Motivasi
25
Volume 3 No. 2 Desember 2015
Motivasi berasal dari kata “motif” yang diartikan sebagai daya upaya yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian maka motivasi
merupakan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif (Zakiah Daradjat,
2000 : 157).
Berdasarkan pengertian di atas motivasi mengandung tiga elemen penting
yang dikemukakan oleh Mc Donald dalam Sadirman, yakni :
a) Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu
manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi
di dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia,
karena menyangkut perubahan energi manusia (walaupun motivasi itu
muncul dari dalam diri manusia), penampakannya menyangkut kegiatan fisik
manusia.
b) Motivasi ditandai dengan munculnya rasa, “feeling”, afeksi seseorang.
Motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan emosi
yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c) Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan. Jadi, motivasi dalam hal ini
sebenarnya merupakan respon dari suatu aksi, yaitu tujuan (Zakiah Daradjat,
2000 : 74).
Dengan ketiga elemen di atas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu
sebagai suatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu
perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga akan mengarah pada
persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi. Semua itu didorong karena
adanya tujuan kebutuhan atau keinginan.
Setiap anak dalam proses belajar perlu diberikan rangsangan agar tumbuh
motivasi pada dirinya, karena dengan demikian semangat, rasa senang, dan gairah
untuk belajar menjadi kuat pada akhirnya mempunyai banyak energi untuk
melakukan kegiatan belajar. Jika seseorang telah memiliki atau sudah tertanam
dalam hatinya motivasi kuat maka dorongan untuk selalu dan senantiasa belajar
menjadi kuat dan rasa keingintahuan dalam hatinya akan tertanam.
Hal di atas menjelaskan bahwa setiap orang yang termotivasi untuk belajar
akan memiliki ilmu yang banyak, karena selalu mencari dan memperoleh
pengetahuan. Dan hal inilah yang membedakan seseorang yang banyak memiliki
ilmu dengan yang lainnya dalam semangat atau motivasi belajar.
Allah Swt, bertanya dengan menjelaskan dalam Q.S al-Zumar 39:9
Apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang
yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia
takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orangorang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang
dapat menerima pelajaran (Depag, 2005 : 659).
Di ayat lain Q.S al-Mujadilah 58:11 Allah swt, menjawab atas pertanyaan
tersebut :
Terjemahnya :
Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi
kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka
26
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.
dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Depag, 2005 :
909).
Dari gambaran dua ayat di atas, maka sangat perlu bagi seorang pendidik
utamnya orang tua dan guru untuk berupaya dengan menerapkan berbagai cara
dalam menyemangati anaknya untuk selalu mau belajar. Dalam hal ini
menanamkan motivasi.
Selain beberapa gambaran yang menjelaskan tentang motivasi dalam
belajar di atas, dalam buku psikologi umum mengemukakan ada tiga unsur yang
saling berkaitan di dalam motivasi, yaitu :
a) Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi. Perubahanperubahan dalam motivasi timbul dari perubahan tertentu di dalam organisme
manusia.
b) Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan effective arousal (perasaan
semakin meningkat). Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu
merupakan suasana emosi. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang
bermotif.
c) Motivasi ditandai dengan reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan. Pribadi yang
bermotivasi mengadakan respon-respon yang tertuju ke arah suatu tujuan.
Respon-respon ini berfungsi mengurangi ketegangan yang disebabkan oleh
perubahan energi dalam dirinya. Setiap respon merupakan suatu langkah yang
arah mencapai tujuan (Abu Ahmadi, 1998 : 142).
Setiap peserta didik yang termotivasi untuk belajar karena suatu strategi
atau upaya yang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar, maka dalam
diri peserta didik tersebut telah tertanam prinsip bahwa materi yang diajarkan oleh
guru merupakan suatu kebutuhan yang harus dipelajar, sehingga ia akan menjadi
lebih giat dan serius untuk belajar. Timbulnya motivasi oleh karena seseorang
merasakan suatu kebutuhan tertentu dan karenanya perubahan tadi terarah kepada
pencapaian tujuan tertentu pula (Oemar Hamalik, 2000 : 159).
Tujuan pembelajaran adalah suatu yang hendak dicapai oleh guru dalam
proses belajar mengajar. Dengan adanya tujuan yang jelas dan disadari akan
mempengaruhi kebutuhan dan mendorong timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan
dapat juga membangkitkan timbulnya motivasi dalam diri seseorang.
Adalah menjadi tanggung jawab agar pegnajaran yang diberikannya
berhasil dengan baik. Keberhasilan ini banyak bergantung pada usaha guru
membangkitkan motivasi belajar peserta didik melalui strategi yang digunakan
dalam proses belajar mengajar, sebagai contoh penggunaan pre-test sebagai
strategi membangkitkan motivasi peserta didik untuk menumbuhkan perhatian
mereka dalam proses belajar mengajar. Dalam garis besarnya motivasi
mengandung nilai-nilai sebagai berikut :
a) Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya perbuatan belajar peserta
didik. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya sangat sulit berhasil.
b) Pengajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pengajaran yang
disesuaikan dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada peserta
27
Volume 3 No. 2 Desember 2015
didik. Pengajaran yang demikian sesuai dengan tuntutan demokrasi dalam
pendidikan.
c) Pengajaran bermotivasi menuntut kreativitas dan imajinasi guru untuk
berusaha secara bersungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan
sesuai guna membangkitkan dan memelihara motivasi peserta didik. Guru
senantiasa berusaha agar peserta didik akhirnya memiliki self motivation
“motivasi diri” yag baik.
d) Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan menggunakan motivasi
dalam pengajaran erat pertaliannya dengan pengaturan disiplin kelas.
e) Asas motivasi menjadi salah satu bagian yang integral daripada asas-asas
mengajar. Penggunaan motivasi dalam mengajar buku saja melengkapi
prosedur mengajar, tetapi juga menjadi faktor yang menentukan motivasi
adalah sangat efektif. Demikian penggunaan asas motivasi adalah sangat
esensial dalam proses belajar mengajar (Oemar Hamalik, 2000 : 160).
Gambaran di atas harus menjadi perhatian guru dalam proses belajar
mengajar agar peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dan pendidikan
dengan baik.
2. Kebutuhan Motivasi
Memberikan motivasi kepada seseorang atau anak, berarti
menggerakkannya untuk melakukan sesuatu karena merasa ada kebutuhan.
Kebutuhan timbul karena adanya keadaan yang tidak seimbang dan jika keadaan
tersebut telah seimbang, maka tercapailah suatu kebuthan yang diinginkan,
sehingga timbul tuntutan atau kebutuhan baru. Hal ini menunjukkan bahwa
kebutuhan manusia bersifat dinamis (Sardiman AM, 2007 : 78). Menurut Morgan
dan ditulis kembali oleh Sardiman, manusia hidup dengan memiliki berbagai
kebutuhan :
1) Kebutuhan untuk berbuat sesuatu aktifitas
Hal ini sangat penting bagi anak, karena perbuatan sendiri mengandung
suatu kegembiraan baginya. Sesuai dengan konsep ini, bagi orang tua yang
memaksa anak untuk diam di rumah saja adalah bertentangan dengan hakikat
anak. Hal ini dapat dihubungkan dengan suatu kegiatan belajar bahwa pekerjaan
atau belajar itu akan berhasil jika disertai rasa gembira.
2) Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain.
Banyak orang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak
berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain. Konsep ini dapat diarahkan misalnya
pada anak-anak yang rela melakukan sesuatu kegiatan belajar untuk orang yang
disukainya misalnya orang tua jika diberi motivasi.
3) Kebutuhan untuk mencapai hasil
Pada konsep ini kegiatan belajar perlu dikembangkan reinofocement atau
aspek pujian. Anak sebaiknya diberi kesempatan dan pujian untuk melakukan
sesuatu dengan hasil yang optimal sehingga ada “sense of succes” perasaan
sukses dalam dirinya. Dengan demikian motivasi untuk berbuat semakin besar.
4) Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Kesulitan atau hambatan dapat menjadi dorongan yang kuat untuk mencari
atau berusaha demi meningkatkan suatu kelebihan atau keunggulan agar
kekurangan yang ada dapat tertutupi. Dengan kondisi yang seperti itu maka
28
Jurnal Pendidikan ‘IQRA’
peranan motivasi sangatlah penting untuk menjadi dorongan dalam diri sang anak
untuk berbuat dan bekerja dengan fokus dan bersemangat (Sardiman AM, 2007 :
78).
Dalam belajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan
menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan
makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi motivasi akan senantiasa menentukan
intensitas belajar bagi sang anak.
Motivasi bertalian dengan suatu tujuan motivasi mempengaruhi adanya
kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
1) Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor
yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari
setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai.
Dengan demikian, motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan tujuannya.
3) Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus
dikerjakan guna mencapai tujuan. Sebagai contoh jika seorang peserta didik
belajar untuk menghadapi ujian dengan harapan lulus, maka ia akan
memanfaatkan waktu yang biasanya digunakan untuk bermaian dan menonton,
menjadi waktu untuk belajar (Sardiman AM, 2007 : 85).
Selain hal di atas motivasi dapat berpengaruh sebagai pendorong usaha
dan pencapaian prestasi seseorang melakukan suatu usaha karena adanya
motivasi. Motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.
Dengan kata lain, dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya
motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan mendapatkan prestasi yang baik.
PENUTUP
Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Dalam mengajar, guru perlu memahami; aspek-aspek psikologis peserta
didik, cara mengajar yang baik, perilaku belajar yang baik, serta dapat
memahami tingkah laku afektif peserta didik secara lebih tepat.
2. Dalam proses mengajar di kelas seorang guru perlu memberi
pemahaman kepada peserta didik tentang; tentang arti motivasi, manfaat
motivasi belajar terkait dalam memahami semua materi-materi pelajaran
yang diajarkan oleh guru.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Pengelolaan Pengajaran, Cet.IV, (Ujung Pandang; Bintang
Selatan, 1990)
Ahmadi,Abu, Psikologi Umum, (Cet.II; Jakarta: Rineka Cipta, 1998)
Dahlan, Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar,Cet.II, (Bandung:
Diponegoro, 1996)
Departemen Agama RI. Al-Quran dan Terjemahannya. (Semarang: CV. Karya
Thoha Putra, 2005)
29
Volume 3 No. 2 Desember 2015
Djamarah,Syaiful Bahri, Guru dan Peserta Didik dalam Interaksi Edukatif, Cet.
I, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000)
Daradjat, Zakiah, Motivasi dan Proses Pembelajaran. Cet. I; Jakarta: Rineka
Cipta, 2000).
Hasibuan, J.J, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995)
Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru, 1992)
______________,
Pengembangan
Kurikulum:
Dasar-dasar
dan
Perkembangannya (Bandung: Mandar Maju, 2000)
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Cet,IV, (Bandung
: PT.Remaja Rosdakarya, 2000).
Nurdin, Syafruddin dkk, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta:
Ciputat Press, 2002)
Surya,M, Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, (Bandung: IKIP Bandung,
1997)
Sardiman AM, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta.
2006)
___________ Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo
Press, 2007)
Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Memperngaruhinya, (Jakarta: Binis
Cipta, 1987)
Sujanto, Psikologi Umum, Cet. V, (Jakarta : Aksara Baru, 1985)
Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005)
Wardani, IG.K, Prespektif Pendidikan SD, (Jakarta: Universitas Terbuka, 2009)
30
Download