BAB II KAJIAN TEORI

advertisement
18
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Belajar dan Pembelajaran
1. Konsep Belajar
Kegiatan belajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan
proses pendidikan. banyak pendapat yang dikemukakan oleh ahli untuk
menjelaskan
tentang
konsep
belajar.
American
Heritage
Dictionary
mendefinisikan belajar sebagai, ”To gain knowledge, comprehension, or
mastery through experience or study, sedangkan Kimble 1961 (Hergenhahn
dan Olson, 2009: 2) mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatif
permanen di dalam behavioral potentiality yang terjadi sebagai akibat dari
reinforced practice. Senada dengan itu Gagne 1970 (Sagala, 2003: 37)
mengungkapkan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam
kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar terus menerus, bukan hanya
disebabkan oleh proses pertumbuhan saja, Gagne berkeyakinan bahwa belajar
dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan faktor luar diri di mana keduanya
saling berintaraksi. Tidak jauh berbeda konsep belajar yang dikemukakan
oleh Morgan (1978) dalam Sagala (2003 : 13) belajar adalah setiap perubahan
yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari
latihan atau pengalaman.
Bertitik tolak dari berbagai pandangan sejumlah ahli tersebut mengenai
belajar, meskipun diantara mereka terdapat ada perbedaan mengenai
pengertian belajar, namun baik secara eksplisit maupun implisit diantara
19
mereka terdapat kesamaan maknanya. Karena konsep belajar selalu
menunjukkan kepada suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang
berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.
Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan perilaku,
namun demikian, setiap teori itu berpangkal dari pandangan tentang hakikat
manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan John Locke dan hakikat
manusia menurut Leibnitz. John locke menganggap manusia adalah makhluk
yang pasif, pandangan ini melahirkan teori tabularasa yang memunculkan
aliran/teori belajar behavioristik. Leibnitz menganggap bahwa manusia
merupakan sumber dari segala kegiatan
yang kemudian melahirkan
aliran/teori belajar kognitif konstruktivistik. (Sanjaya, 2006 :113 )
2. Teori Belajar
a. Teori Belajar Behavioristik
Menurut
aliran
behavioristik,
belajar
pada
hakikatnya
adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan
kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons
(S-R). Oleh karena itu, teori ini juga dinamakan teori Stimulus-Respons.
Belajar adalah upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons
sebanyak-banyaknya. Teori – teori belajar yang termasuk ke dalam kelompok
behavioristik diantaranya adalah :
1) Koneksionisme
Teori belajar koneksionisme dikembangkan oleh Thorndike sekitar tahun
1913. Menurut teori belajar ini, dasar terjadinya belajar adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindera dengan
20
kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons
(S-R). Dalam teori koneksionisme ini Thorndike mengemukakan hukumhukum belajar sebagai berikut :
a) Hukum kesiapan (law of readiness), keberhasilan belajar seseorang
sangat tergantung dari ada atau tidak adanya kesiapan
b) Hukum latihan (law of exercise), makin sering suatu pelajaran diulang,
maka akan semakin dikuasainya pelajaran itu.
c) Hukum akibat (law of effect), kuat atau lemahnya hubungan stimulus
dan respons tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya, implikasi
dari hukum ini adalah apabila mengharapkan agar seseorang dapat
mengulangi respons yang sama, maka harus diupayakan agar
menyenangkan dirinya, sebaliknya apabila kita mengharapkan
seseorang untuk tidak mengulangi respons yang diberikan , maka harus
diberi sesuatu yang tidak menyenangkan.
d) Transfer of training, konsep ini menjelaskan bahwa apa yang pernah
dipelajari oleh anak sekarang, harus dapat digunakan untuk hal lain di
masa yang akan datang, oleh karena itu, apa yang dipelajari oleh siswa
disekolah harus berguna dan dapat digunakan di luar sekolah.
( Sanjaya, 2006 : 117)
2). Teori Belajar Classical Conditioning
Teori belajar classical conditoning ini dikembangkan oleh Pavlov dan
Watson, dimana teori ini berpandangan bahwa belajar atau pembentukan
perilaku perlu dibantu dengan kondisi tertentu. Untuk membentuk
21
perilaku tertentu
harus dilakukan secara berulang-ulang dengan
melakukan pengkondisian tertentu harus dilakukan secara berulang-ulang
dengan melakukan pengkondisian tertentu. Pengkondisian itu adalah
dengan melakukan semacam pancingan dengan sesutu yang dapat
menumbuhkan tingkah laku itu.(Aunurrahman, 2009 :40)
3) Operant Conditioning
Teori operant conditioning yang dikembangkan oleh Skinner merupakan
pengembangan dari teori Stimulus Respon. Skinner membedakan dua
macam respons, yakni respondent response (reflexive response) dan
operant response (instrumental response). Skinner menjelaskan belajar
adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang
berlangsung secara progressif.
Skinner berpendapat bahwa untuk
membentuk tingkah laku tertentu perlu diurutkan atau dipecah-pecah
menjadi bagian-bagian atau komponen tingkah laku yang spesfik. Setiap
komponen tingkah laku yang spesifik anak yang direspons maka perlu
diberikan penguatan. (Sanjaya, 2006 : 118-120)
b. Teori Belajar Kognitif
Kognitif merupakan salah satu teori belajar yang dalam pembahasan
sering disebut model kognitif. Menurut teori belajar ini tingkah laku seseorang
ditentukan oleh persepsi dan pemahamannya tentang sesuatu yang
berhubungan dengan tujuan-tujuan. Karen itu belajar menurut kognitivisme
diartikan sebagai perubahan persepsi dan pemahaman. Karena teori ini lebih
menekankan kebermaknaan
keseluruhan sesuatu dari pada bagian-bagian,
22
maka belajar dipandang sebagai proses internal yang mencakup ingatan,
retensi, pengolahan informasi, emosi dan faktor-faktor lain. Proses belajar di
sini mencakup antara lain pengaturan simulus yang diterima dan
menyesuaikannya dengan struktur kognitif yang terbentuk di dalam pikiran
seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya. (Aunurrahman,
2009 : 44). Beberpa teori belajar kognitif diantaranya adalah :
1). Teori Gestalt
Menurut Teori Gestalt belajar adalah ”proses mengembangkan insight”.
Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antarbagian di dalam suatu
situasi permasalahan. Belajar terjadi karena kemampuan menangkap
makna dan keterhubungan antara komponen yang ada di lingkungannya.
Insight yang merupakan inti dari belajar menurut teori Gestalt memiliki
ciri- ciri sebagai berikut :
a) Kemampuan insight seseorang tergantung kepada kemampuan dasar
orang tersebut.
b) Insight dipengaruhi atau tergantung kepada pengalaman masa lalunya
yang relevan.
c) Insight tergantung kepada pengaturan dan penyediaan lingkungannya.
d) Pengertian merupakan inti dari insight.
e) Apabila insight telah diperoleh, maka dapat digunakan untuk
menghadapi persoalan dalam situasi lain.
Prinsip penerapan teori Gestalt menurut Nasution dalam Sanjaya
(2008: 121) adalah : a)Belajar itu berdasarkan keseluruhan, pembelajaran
23
bukanlah berangkat dari fakta-fakta, akan tetapi mesti berangkat dari suatu
masalah, melalui masalah itu siswa dapat mempelajari fakta. b) Anak yang
belajar merupakan keseluruhan. Membelajarkan anak itu bukanlah hanya
mengembangkan intelektual saja, akan tetapi mengembangkan pribadi anak
seutuhnya. c) Belajar berkat insight, belajar bukanlah menghafal fakta.
Melalui persoalan yang dihadapi anak akan mendapat insight yang berguna
untuk menghadapi setiap masalah. d) Belajar berdasarkan pengalaman,
belajar adalah melakukan reorganisasi pengalaman-pengalaman masa lalu
yang secara terus menerus disempurnakan. Dengan demikan proses
membelajarkan adalah proses memberikan pengalaman-pengalaman yang
bermakna untuk kehidupan anak.
2). Teori Medan
Teori medan dikembangkan oleh Kurt Lewin, teori medan menganggap
bahwa belajar adalah proses pemecahan masalah. Beberapa hal yang
berkaitan proses pemecahan masalah menurut Lewin dalam belajar adalah :
a) Belajar adalah perubahan struktur kognitif, dan b) Pentingnya motivasi.
c. Teori Belajar Konstruktivistik
Teori Konstruktivistik dikembangkan oleh Piaget (1896-1980). Piaget
berpendapat bahwa pada dasarnya setiap individu sejak kecil sudah memiliki
kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pengetahuan yang
direkonstruksi akan menjadi pengetahuan yang bermakna, sedangkan
pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan hanya bisa
diingat sementara (Sanjaya, 2006 :124). Dengan demikian mengajar dianggap
24
bukan sebagai proses di mana gagasan-gagasan guru dipindahkan kepada
siswa, melainkan sebagai proses untuk mengubah gagasan si anak yang sudah
ada yang mungkin ”salah”. Dari uraian di atas dapat ditegaskan bahwa belajar
dalam hal ini dapat mengandung makna sebagai perubahan struktural yang
saling melengkapi antara asimilasi dan akomodasi dalam proses menyusun
kembali dan mengubah apa yang telah diketahui melalui belajar.
d. Teori Belajar Gagne
Teori yang disusun Gagne merupakan perpaduan yang seimbang antara
behaviorisme dan Kognitivisme yang berpangkal pada teori pengolahan
informasi. Menurut Gagne di dalam proses belajar terdapat dua fenomena,
yaitu meningkatnya keterampilan intelektual sejalan dengan meningkatnya
umur serta latihan yang diperoleh individu, dan belajar akan lebih cepat
bilamana strategi kognitif dapat dipakai dalam memecahkan masalah secara
lebih efisien. Gagne menyimpulkan ada lima macam hasil belajar dengar yaitu :
1) keterampilan intelektual,2) strategi kognitif, 3) informasi verbal , 4)
keterampilan motorik, dan 5) Sikap. Lebih jauh menurut Gagne, belajar tidak
merupakan sesuatu yang terjadi secara ilmiah, akan tetapi hanya akan terjadi
dengan kondisi-kondisi tertentu yaitu : 1) kondisi internal, antara lain
menyangkut kesiapan peserta didik dan sesuatu yang dipelajari, 2) kondisi
eksternal, merupakan stuasi belajar yang sengaja diatur oleh pendidik dengan
tujuan memperlancar proses belajar. Tiap–tiap jenis hasil belajar memerlukan
kondisi-kondisi tertentu ysng perlu diatur dan dikontrol.
25
3) Konsep Pembelajaran
Kata pembelajaran
adalah terjemahan dari ”instruction” istilah yang
banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif. Gagne dalam Sanjaya
(2008 : 213) menyatakan bahwa ”instruction is a set o f event that effect
learners in such a way that learning is facilitated”. Dalam pembelajaran
peran
guru
lebih
ditekankan
kepada
bagaimana
merancang
atau
mengaransemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan
atau dimanfaatkan siswa
dalam mempelajari sesuatu. Sejalan dengan itu
Dimyati dan Mudjiono (2006 :297) berpendapat bahwa pembelajaran adalah
kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat
siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Dalam konteks pembelajaran, sama sekali tidak berarti memperbesar
peranan siswa di satu pihak dan memperkecil peranan guru di pihak lain.
Dalam istilah pembelajaran, guru tetap harus berperan secara optimal
demikian juga halnya dengan siswa. Dalam proses pembelajaran yang
dilakukan siswa tidak mungkin terjadi tanpa perlakuan guru, yang
membedakannya hanya terletak pada peranannya saja.
Buce Weil 1980 dalam Sanjaya (2008 :216) mengemukakan tiga prinsip
penting dalam proses pembelajaran yaitu :
a) Proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat
membentuk
atau
mengubah
pengaturan
lingkungan
ini
struktur
kognitif
dimaksudkan
untuk
siswa.
Tujuan
menyediakan
pengalaman belajar yang memberi latihan-latihan penggunaan fakta-
26
fakta. Menurut Piaget, struktur kognitif akan tumbuh manakala siswa
memiliki pengalaman belajar. Oleh karena itu proses pembelajaran
menuntut keaktifan siswa.
b) Proses pembelajaran berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang
harus dipelajari. Ada tiga tipe pengetahuan yang masing-masing
memerlukan
situasi
yang
berbeda
dalam
mempelajarinya.
Pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisis, sosial dan logika.
Pengetahuan fisis adalah pengetahuan akan sifat-sifat fisis dari suatu
objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat serta bagaimana
objek itu berinteraksi satu dengan yang lainnya. Pengetahuan fisis
diperoleh melalui pengalaman indera secara langsung. Pengetahuan
sosial berhubungan dengan perilaku individu dalam suatu sisem atau
hubungan antara manusia yang dapat mempengaruhi interaksi sosial.
Pengetahuan sosial
tidak dapat dibentuk dari suatu tindakan
seseorang terhadap suatu objek tetapi dibentuk dari interaksi
seseorang dengan orang lain. Pengetahuan logika adalah pengetahuan
yang dibentuk berdasarkan pengalaman dengan suatu objek
atau
kejadian tertentu. Pengetahuan ini diciptakan dan dibentuk oleh
pikiran individu itu sendiri, sedangkan objek yang dipelajarinya
hanya bertindak sebagai perantara. Dari penjelasan di atas diketahui
bahwa jenis pengetahuan memiliki karakteristik tersendiri, oleh
karena itu pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh siswa
mestinya berbeda.
27
c) Dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan
sosial. Melalui pergaulan dan hubungan sosial anak akan belajar lebih
efektif dibandingkan dengan belajar yang menjauhkan dari hubungan
sosial.
Atas dasar uraian di atas, maka proses pembelajaran harus diarahkan agar
siswa mampu mengatasi setiap tantangan, dengan kompetensi yang mereka
miliki, oleh karena itu pembelajaran bukan hanya mendorong anak agar
mampu menguasai sejumlah materi pelajaran akan tetapi bagaimana agar
anak memiliki sejumlah kompetensi.
B. Model Pembelajaran Direct Instruction
Arends (1997 :7) menyatakan “ The term teaching model refers to a
particular approach to instruction that includes its goals, syntax, environment,
and management system,”. Istilah model pengajaran mengarah pada suatu
pendekatan
pembelajaran
tertentu
termasuk
tujuannya,
sintaksnya,
lingkungannya dan sistem pengelolaannya. Lebih lanjut dalam buku lain
Arends menyampaikan bahwa tidak ada satupun model pembelajaran yang
lebih baik dibanding model pembelajaran lainnya, namun beliau menekankan
bahwa model yang tepat sangat tergantung pada karakteristik siswa, materi
ataupun tujuan yang ingin dicapai oleh guru. Model pembelajaran tersebut
bisa berbentuk teaching models pendekatan yang berpusat pada guru ataupun
students modesl pendekatan yang berpusat pada siswa, lebih lanjut dijelaskan
bahwa penggunaan model tertentu membantu guru mencapai sebagian tujuan,
tetapi bukan untuk tujuan yang lain Arends (2008 :259-260 )
28
Brady (1985: 7) mengemukakan bahwa model pembelajaran dapat
diartikan sebagai blueprint yang dapat dipergunakan untuk membantu guru
dalam mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran. Untuk lebih
memahami model pembelajaran selanjutnya ia mengemukakan 4 premis
tentang model pembelajaran yaitu : a) model memberikan arah untuk
persiapan dan implementasi kegiatan pembelajaran. Karena itu model
pembelajaran lebih bermuatan praktis implementatif daripada bermuatan teori.
b) meskipun terdapat sejumlah model pembelajaran yang berbeda, namun
pemisahan antara satu model dengan model yang lain tidak bersifat deskrit,
namun memiliki keterkaitan. c) tidak ada satupun model pembelajaran yang
memiliki kedudukan lebih penting dan lebih baik dari yang lain. Tidak
satupun model tunggal yang dapat merealisasikan berbagai jenis dan tingkatan
tujuan pembelajaran yang berbeda. d) pengetahuan guru tentang model
pembelajaran memiliki arti penting dalam mewujudkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran.
Lebih lanjut Joyce (2009) menjelaskan bahwa terdapat berbagai model
pembelajaran yang bisa diterapkan oleh para guru dalam upaya meningkatkan
kualitas pembelajaran. Model Pembelajaran tersebut dibagi atas kelompok
model
pembelajaran
yang
bersifat
memproses
informasi,
kelompok
pembelajaran sosial, kelompok pembelajaran individual dan kelompok model
pembelajaran sistem perilaku.
29
1. Konsep Model Pembelajaran Direct Instruction
Joyce (2009) menempatkan model pembelajaran direct instruction
kepada kelompok model pembelajaran sistem perilaku, sedangkan Arends
(2008) mengelompokkan model pembelajaran direct instruction kepada
salah satu model pembelajaran yang bersifat teaching models. Direct
instruction awalnya dikembangkan oleh Siegfried Engelmann dan Wesley
C. Becker dari University of Oregon dimana keduanya berusaha untuk
mengidentifikasi metode pengajaran yang akan mempercepat dan
membantu kinerja siswa di sekolah. (http://directinstruction.org/(online).
Arends (2008 :295) menjelaskan, bahwa dalam perkembangannya
model ini diarahkan untuk menuntaskan dua hasil belajar siswa yaitu :
Penguasaan pengetahuan yang
distrukturisasikan dengan baik
DIRECT
INSTRUCTION
Penguasaan Keterampilan.
Sumber : Arends, 2008 :295
Gambar 2.1
Dua Hasil Belajar Siswa dalam Direct Instruction
Tujuan
utama
pembelajaran
langsung
(direktif)
adalah
untuk
memaksimalkan penggunaan waktu belajar siswa. Hal ini didasari oleh
beberapa temuan dalam teori perilaku di antaranya adalah, pencapaian
siswa yang dihubungkan dengan waktu yang digunakan dalam belajar/tugas
30
sangat positif. Dengan demikian, model pembelajaran langsung dirancang
untuk menciptakan lingkungan belajar terstruktur dan berorientasi pada
pencapaian akademik.
Sebuah pelajaran dengan model pengajaran langsung membutuhkan
orkestrasi yang cermat oleh guru dan lingkungan belajar yang praktis,
efisien dan berorientasi tugas. Dalam melakukan tugasnya, guru dapat
menggunakan berbagai media, misalnya film, tape recorder, gambar,
peragaan, dan media lannya Lingkungan belajar untuk direct instruction
terutama difokuskan pada tugas-tugas akademis dan dimaksudkan untuk
mempertahankan keterlibatan secara aktif. (Kardi dan Nur, 2000: 57-59 )
Penjelasan tentang model direct Instruction juga dijelaskan oleh
Joyce, (2009 :427-428), beliau menjelaskan bahwa model ini mengacu pada
istilah yang digunakan oleh beberapa peneliti pada suatu model pengajaran
yang terdiri dari penjelasan guru mengenai konsep atau keterampilan baru
terhadap siswa. Penjelasan ini dilanjutkan dengan meminta siswa menguji
pemahaman mereka dengan melakukan praktik di bawah bimbingan guru
(praktik yang terkontrol, controlled practice), dan mendorong mereka
meneruskan praktik di bawah arahan guru (praktik yang dibimbing, guided
practice) dan terakhir melakukan praktik mandiri, namun penerapan model
ini harus didahului oleh diagnosis yang efektif mengenai pengetahuan atau
skill untuk memastikan mereka memiliki pengetahuan dan skill untuk
menapaki beberapa proses dan mampu mendapatkan level akurasi dalam
model ini
31
Praktik presentasi yang muncul untuk memfasilitasi pembelajaran
mencakup (1) menyajikan materi dengan langkah-langkah yang singkat
sehingga satu point/ inti pelajaran bisa dikuasai dalam satu waktu, (2)
menyediakan beberapa bahkan beragam contoh mengenai keterampilan
atau konsep baru (3) memeragakan atau memberikan gambaran naratif,
mengenai tugas pembelajaran;(4) menghindari digresi, tetap dan konsisten
pada satu topik dan (5) menjelaskan kembali point yang sulit. (Joyce (2009
:423)
Penelitian mengenai konsep pembelajaran juga menunjukkan bahwa
ketika mengajarkan sebuah konsep baru, maka hal yang juga penting adalah
mengidentifikasi karakteristik konsep tersebut secara jelas dan memberikan
aturan penjabaran atau beberapa rangkaian langkah dalam pembelajaran
keterampilan. Sesi penjelasan dilanjutkan dengan sesi diskusi, dimana guru
menguji pemahaman siswa terhadap konsep atau skill baru yang telah
diajarkan, seorang guru yang efektif akan mengajukan pertanyaan lebih
banyk dan memastikan bahwa siswa telah paham.
Rosenshine dan Gage Berliner (1985) memberikan masukan bentuk
pertanyaan yang efektif dalam direct instruction adalah:
1. memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat konvergen
2. Memastikan bahwa seluruh siswa memiliki kesempatan untuk
merespon.
3. Memberikan waktu kepada siswa untuk menjawab pertanyaan.
32
4. Selama proses pembelajaran berlangsung menghindari pertanyaan
yang tidak berhubungan dengan hal-hal akademik selama proses
instruksi berlangsung.
Setelah guru mengajukan pertanyaan dan siswa memberi respons, guru
haruslah memberi respons balik terhadap jawaban yang diberikan siswa
tersebut, ketika guru memberikan respon balik yang berupa perbaikan atau
kembali mengulang pelajaran, guru harus melakukan secara efisien (Joyce,
2009 : 425). Ketika siswa memberikan jawaban yang benar, maka guru
akan mengajukan pertanyaan baru. Pada awal-awal pembelajaran, ketika
ada jawaban yang benar namun agak sangsi, maka guru memberikan
penguatan yang tepat, namun jika siswa memberikan jawaban yang salah,
maka guru memberikan respons balik yang bersifat korektif.
Bruce Joyce, mengingatkan bahwa respon balik yang diterima siswa
selama pelaksanaan praktik sangat berpengaruh pada kesuksesan yang
mereka capai. Respons balik membantu siswa mengetahui bagaimana
mereka memahami materi baru dan apa kesalahan mereka, agar efektif,
respon balik haruslah bersifat akademik, korektif, penuh respek dan layak
hal ini karena respon balik yang diterima siswa selama pelaksanaan
pembelajaran sangat berpengaruh pada kesuksesan yang akan mereka capai
(Joyce, 2009 : 425) Respon balik membantu siswa mengetahui bagamana
mereka memahami materi baru dan apa kesalahan mereka. Sesuai dengan
namanya inti dari model ini adalah aktivitas praktik, tiga tahap dalam
model ini berkaitan erat dengan praktik
dalam situasi bantuan yang
33
berbeda-beda.Tiga tingkatan praktik ini juga berfungsi untuk tingkatan
selanjutnya.
2. Dukungan Teoritis dan Empiris Model Pembelajaran Direct Instruction
Sejumlah akar historis dan teoritis menyatu dan menjadi dasar
pemikiran dan dukungan bagi pengajaran langsung. Landasan teoritis yang
menjadi dasar pemikiran untuk penggunaan pengajaran
langsung
kontemporer, yakni :behaviorisme, teori belajar sosial, teori belajar Gagne
dan penelitian tentang efektivitas guru.
Menurut aliran behavioristik, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang
ditangkap panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau
hubungan antara stimulus dan respon (S-R). Belajar adalah upaya untuk
membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya. Salah
seorang pakar Behavioristik, Thorndike(1930) mengemukakan hukum law
of exercise, dimana koneksi antara stimulus dan respons akan menguat saat
keduanya dipakai dan melemah apabila dihentikan (Hergenhahn dan Olson,
2008
:65),
Skinner
(1904-1990)
mengemukakan
teori
operant
conditioning, respons yang timbul dan berkembang diikuti oleh perangsang
tertentu, Skinner berpendapat,bahwa agar terbentuk tingkah laku yang
diharapkan pada setiap tingkah laku spesifik yang telah di respons, perlu
dilakukan penguatan. (Hergenhahn dan Olson, 2008 :81-101).Dari teori
belajar behavioristik di atas memperlihatkan bahwa adanya pengkondisian
lingkungan (stimulus) yang tepat, akan membantu siswa dalam belajar.
34
Sejalan dengan itu Gagne menjelaskan bahwa belajar tidak merupakan
sesuatu yang terjadi secara ilmiah, akan tetapi hanya akan terjadi dengan
kondisi-kondisi tertentu yaitu : 1) kondisi internal, antara lain menyangkut
kesiapan peserta didik dan sesuatu yang dipelajari, 2) kondisi eksternal,
merupakan stuasi belajar yang sengaja diatur oleh pendidik dengan tujuan
memperlancar proses belajar. Tiap–tiap jenis hasil belajar memerlukan
kondisi-kondisi tertentu ysng perlu diatur dan dikontrol. (Aunurrahman,
2009 : 46-47)
Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning
adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan
teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme
lainnya, Bandura sebagai tokoh social learning memandang Perilaku
individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara
lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar
menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar
sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh
perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya
conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu
akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
(Hergenhahn dan Olson 356-360)
Data
penunjang
empirik
yang
paling
jelas
terhadap
model
pembelajaran direct instruction berasal dari penelitian tentang keefektifan
35
guru yang dilakukan pada tahun 1970-an dan 1980-an. Penelitian Stalling
dan Kazkowitz dalam (Trianto, 2007: 32) menunjukkan pentingnya waktu
yang dialokasikan pada tugas (Time on task). Penelitian ini juga
menyumbang dukungan empirik penggunaan pengajaran langsung.
Beberapa orang guru menggunakan metode-metode yang sangat terstruktur
dan formal, sedangkan guru-guru yang lain menggunakan metode-metode
yang informal. Stalling dan koleganya ingin mengungkapkan, manakah di
antara program-program itu yang dapat berfungsi baik dalam meningkatkan
hasil belajar siswa?. Maka prilaku guru-guru dalam 166 kelas yang diamati,
siswa-siswanya dites. Banyak hal yang dapat diungkap pada penelitian itu,
namun ada dua hal yang sangat menonjol, yaitu alokasi waktu dan
penggunaan tugas (kegiatan yang menggunakan model pengajaran
langsung lebih berhasil dan memperoleh tingkat keterlibatan yang tinggi
daripada mereka yang menggunakan metode-metode informal dan berpusat
pada siswa.
Beberapa hasil penelitian tahun 1970-an, misalnya yang dilakukan oleh
Stalling dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa guru yang memiliki kelas
yang terorganisasikan dengan baik menghasilkan rasio keterlibatan siswa
(Time task ratios) yang lebih tinggi daripada guru yang menggunakan
pendekatan yang kurang formal dan kurang terstruktur. Observasi terhadap
guru-guru yang berhasil, menunjukkan bahwa kebanyakan mereka
menggunakan prosedur pengajaran langsung (Kardi dan Nur, 2000: 17).
36
3. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Direct Instruction
Model direct instruction terdiri dari lima tahap aktivitas; yakni
orientasi, presentasi, praktik yang terstruktur, praktik di bawah bimbingan,
dan praktik mandiri. Namun penerapan model ini harus didahului oleh
diagnosis yang efektif mengenai pengetahuan atau skill siswa untuk
memastikan bahwa mereka memiliki pengetahuan dan skill untuk menapaki
beberapa proses dan mampu mendapatkan level akurasi praktik, Joyce ,(
2009
:423-425)
menjelaskan
secara
rinci
langkah-langkah
dalam
pelaksanaan pembelajaran yang mengunakan model direct instruction
yaitu:
Tahap pertama adalah orientasi di mana kerangka kerja pelajaran
dibangun. Selama tahap ini guru menyampaikan harapan dan keinginannya,
menjelaskan tugas-tugas yang ada dalam pembelajaran, dan menentukan
tanggung jawab siswa. Ada tiga langkah yang sangat penting dalam menggoalkan tujuan tahap ini, yakni (1) guru memaparkan maksud dari pelajaran
dan tingkat-tingkat performa dalam praktik; (2) guru menggambarkan isi
pelajaran
dan hubungannya dengan pengetahuan dan atau pengalaman
sebelumnya; (3) guru mendiskusikan prosedur-prosedur pelajaran yakni
bagian yang berbeda antara pelajaran dan tanggung jawab siswa selama
aktivitas-aktivitas ini berlangsung.
Tahap kedua adalah presentasi- yakni menjelaskan konsep atau skill
baru dan memberikan pemeragaan serta contoh. Jika materi yang sudah ada
merupakan konsep baru, maka guru harus mendiskusikan karakteristik-
37
karakteristik dari konsep tersebut, aturan-aturan pendefinisian, dan
beberapa contoh. Jika materinya adalah skill baru, maka hal yang harus
disampaikan guru adalah langkah-langkah untuk memiliki skill tersebut
dengan menyajikan contoh di setiap langkah.
Tahap ketiga adalah praktik yang terstruktur. Guru menuntun siswa
melalui contoh-contoh praktik dan langkah-langkah di dalamnya. Cara
yang paling baik dalam tahap ini adalah menyajikan contoh praktik secara
transparan dan terbuka, sehingga semua siswa bisa melihat bagaimana
tahap-tahap praktik dilalui. Peran guru dalam tahap ini adalah memberi
respon balik terhadap respon siswa, baik untuk menguatkan respons yang
sudah tepat maupun untuk memperbaiki kesalahan dan mengarahkan siswa
pada performa praktik yang tepat.
Tahap keempat, praktik di bawah bimbingan guru, memberikan siswa
kesempatan untuk melakukan praktik dengan kemauan mereka sendiri.
Praktik di bawah bimbingan memudahkan guru mempersiapkan bantuan
untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam dalam menampilkan tugas
pembelajaran. Hal ini biasanya dilakukan dengan cara membantu
meminimalisir jumlah dan ragam kesalahan yang dilakukan siswa. Peran
guru dalam tahap ini adalah mengontrol kerja siswa, dan jika dibutuhkan
memberikan respons yang korektif ketika dibutuhkan.
Pada tahap kelima, adalah praktik mandiri. Tujuan dari praktik
mandiri ini adalah memberikan materi baru untuk memastikan dan menguji
pemahaman siswa terhadap praktik-praktik sebelumnya. Dalam praktek
38
mandiri siswa melakukan praktik dengan caranya sendiri tanpa bantuan dan
respons balik dari guru. Praktik mandiri ini harus ditinjau sesegera mungkin
setelah siswa menyelesaikan seluruh proses. Hal ini dilakukan untuk
memperkirakan dan mengetahui apakah level akurasi siswa telah stabil
ataukah tidak, serta untuk memberikan respons balik yang sifatnya korektif
di akhir praktik terhadap mereka yang membutuhkannya, aktivitas praktik
mandiri berguna untuk mempertahankan penyerapan siswa terhadap materi
yang telah diterimanya.
Slavin 2003
dalam Sudrajat (2011) menjelaskan beberapa situasi
yang memungkinkan model pembelajaran langsung cocok untuk diterapkan
dalam pembelajaran:
a.
Ketika guru ingin mengenalkan suatu bidang pembelajaran yang baru
dan memberikan garis besar pelajaran dengan mendefinisikan konsepkonsep kunci dan menunjukkan keterkaitan di antara konsep-konsep
tersebut.
b.
Ketika guru ingin mengajari siswa suatu keterampilan atau prosedur
yang memiliki struktur yang jelas dan pasti.
c.
Ketika guru ingin memastikan bahwa siswa telah menguasai
keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam kegiatankegiatan yang berpusat pada siswa, misalnya penyelesaian masalah
(problem solving).
d.
Ketika guru ingin menunjukkan sikap dan pendekatan-pedekatan
intelektual (misalnya menunjukkan bahwa suatu argumen harus
39
didukung oleh bukti-bukti, atau bahwa suatu penjelajahan ide tidak
selalu berujung pada jawaban yang logis)
e.
Ketika subjek pembelajaran yang akan diajarkan cocok untuk
dipresentasikan dengan pola penjelasan, pemodelan, pertanyaan, dan
penerapan.
f.
Ketika guru ingin menumbuhkan ketertarikan siswa akan suatu topik.
g.
Ketika guru harus menunjukkan teknik atau prosedur-prosedur
tertentu sebelum siswa melakukan suatu kegiatan praktik.
h.
Ketika guru ingin menyampaikan kerangka parameter-parameter
untuk memandu siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran
kelompok atau independen.
i.
Ketika para siswa menghadapi kesulitan yang sama yang dapat diatasi
dengan penjelasan yang sangat terstruktur.
j.
Ketika lingkungan mengajar tidak sesuai dengan strategi yang
berpusat pada siswa atau ketika guru tidak memiliki waktu untuk
melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.
4. Kelebihan dan Keterbatasan Model Pembelajaran direct instruction
Seperti telah dijelaskan sebelumnya oleh para pakar, bahwa tidak ada
satupun model pembelajaran yang lebih baik dan lebih tinggi dari model
pembelajaran lainnya, namun masing –masing model memiliki kelebihan dan
keterbatasan masing-masing. Halil (2010:10) menjelaskan berbagai kelebihan
yang dimiliki oleh model pembelajarn direct instruction yaitu:
40
a.
Dengan model pembelajaran langsung, guru mengendalikan isi materi
dan urutan informasi yang diterima oleh siswa sehingga dapat
mempertahankan fokus mengenai apa yang harus dicapai oleh siswa.
b.
Dapat diterapkan secara efektif dalam kelas yang besar maupun kecil.
c.
Dapat digunakan untuk menekankan poin-poin penting atau kesulitankesulitan yang mungkin dihadapi siswa sehingga hal-hal tersebut dapat
diungkapkan.
d.
Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan
pengetahuan faktual yang sangat terstruktur.
e.
Merupakan cara yang paling efektif untuk mengajarkan konsep dan
keterampilan-keterampilan yang eksplisit kepada siswa yang berprestasi
rendah.
f.
Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalam
waktu yang relatif singkat yang dapat diakses secara setara oleh seluruh
siswa.
g.
Memungkinkan
guru
untuk
menyampaikan
ketertarikan
pribadi
mengenai mata pelajaran (melalui presentasi yang antusias) yang dapat
merangsang ketertarikan dan dan antusiasme siswa.
h.
Ceramah merupakan cara yang bermanfaat untuk menyampaikan
informasi kepada siswa yang tidak suka membaca atau yang tidak
memiliki keterampilan dalam menyusun dan menafsirkan informasi.
i.
Secara umum, ceramah adalah cara yang paling memungkinkan untuk
menciptakan lingkungan yang tidak mengancam dan bebas stres bagi
41
siswa. Para siswa yang pemalu, tidak percaya diri, dan tidak memiliki
pengetahuan yang cukup tidak merasa dipaksa dan berpartisipasi dan
dipermalukan.
j.
Model pembelajaran langsung dapat digunakan untuk membangun
model pembelajaran dalam bidang studi tertentu. Guru dapat
menunjukkan bagaimana suatu permasalahan dapat didekati, bagaimana
informasi dianalisis, dan bagaimana suatu pengetahuan dihasilkan.
k.
Pengajaran yang eksplisit membekali siswa dengan ”cara-cara disipliner
dalam memandang dunia (dan) dengan menggunakan perspektifperspektif alternatif” yang menyadarkan siswa akan keterbatasan
perspektif yang inheren dalam pemikiran sehari-hari.
l.
Model pembelajaran langsung yang menekankan kegiatan mendengar
(misalnya ceramah) dan mengamati (misalnya demonstrasi) dapat
membantu siswa yang cocok belajar dengan cara-cara ini.
m.
Ceramah dapat bermanfaat untuk menyampaikan pengetahuan yang
tidak tersedia secara langsung bagi siswa, termasuk contoh-contoh yang
relevan dan hasil-hasil penelitian terkini.
n.
Model pembelajaran langsung (terutama demonstrasi) dapat memberi
siswa tantangan untuk mempertimbangkan kesenjangan yang terdapat di
antara teori (yang seharusnya terjadi) dan observasi (kenyataan yang
mereka lihat).
o.
Demonstrasi memungkinkan siswa untuk berkonsentrasi pada hasil-hasil
dari suatu tugas dan bukan teknik-teknik dalam menghasilkannya. Hal
42
ini penting terutama jika siswa tidak memiliki kepercayaan diri atau
keterampilan dalam melakukan tugas tersebut.
p.
Siswa yang tidak dapat mengarahkan diri sendiri dapat tetap berprestasi
apabila model pembelajaran langsung digunakan secara efektif.
q.
Model pembelajaran langsung bergantung pada kemampuan refleksi
guru
sehingga
guru
dapat
terus
menerus
mengevaluasi
dan
memperbaikinya.
Di samping memiliki berbagai kelebihan, model pembelajaran direct
instruction juga memiliki beberapa kelemahan (Villia, 2011), menjabarkan
berbagai kelemahan model pembelajaran direct instruction yaitu :
a.
Model pembelajaran langsung bersandar pada kemampuan siswa untuk
mengasimilasikan
informasi
melalui
kegiatan
mendengarkan,
mengamati, dan mencatat. Karena tidak semua siswa memiliki
keterampilan dalam hal-hal tersebut, guru masih harus mengajarkannya
kepada siswa.
b.
Dalam model pembelajaran langsung, sulit untuk mengatasi perbedaan
dalam hal kemampuan, pengetahuan awal, tingkat pembelajaran dan
pemahaman, gaya belajar, atau ketertarikan siswa.
c.
Karena siswa hanya memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara
aktif, sulit bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan
interpersonal mereka.
d.
Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan
strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru. Jika guru tidak
43
tampak siap, berpengetahuan, percaya diri, antusias, dan terstruktur,
siswa dapat menjadi bosan, teralihkan perhatiannya, dan pembelajaran
mereka akan terhambat.
e.
Terdapat beberapa bukti penelitian bahwa tingkat struktur dan kendali
guru yang tinggi dalam kegiatan pembelajaran, yang menjadi
karakteristik model pembelajaran langsung, dapat berdampak negatif
terhadap
kemampuan
penyelesaian
masalah,
kemandirian,
dan
keingintahuan siswa.
f.
Model pembelajaran langsung sangat bergantung pada gaya komunikasi
guru. Komunikator yang buruk cenderung menghasilkan pembelajaran
yang buruk pula dan model pembelajaran langsung membatasi
kesempatan guru untuk menampilkan banyak perilaku komunikasi
positif.
g.
Jika materi yang disampaikan bersifat kompleks, rinci, atau abstrak,
model pembelajaran langsung mungkin tidak dapat memberi siswa
kesempatan yang cukup untuk memproses dan memahami informasi
yang disampaikan.
h.
Model pembelajaran langsung memberi siswa cara pandang guru
mengenai bagaimana materi disusun dan disintesis, yang tidak selalu
dapat dipahami atau dikuasai oleh siswa. Siswa memiliki sedikit
kesempatan untuk mendebat cara pandang ini.
44
i.
Jika model pembelajaran langsung tidak banyak melibatkan siswa, siswa
akan kehilangan perhatian setelah 10-15 menit dan hanya akan
mengingat sedikit isi materi yang disampaikan.
j.
Jika terlalu sering digunakan, model pembelajaran langsung akan
membuat siswa percaya bahwa guru akan memberitahu mereka semua
yang perlu mereka ketahui. Hal ini akan menghilangkan rasa tanggung
jawab mengenai pembelajaran mereka sendiri.
k.
Karena model pembelajaran langsung melibatkan banyak komunikasi
satu arah, guru sulit untuk mendapatkan umpan balik mengenai
pemahaman siswa. Hal ini dapat membuat siswa tidak paham atau salah
paham.
l.
Demonstrasi sangat bergantung pada keterampilan pengamatan siswa.
Sayangnya, banyak siswa bukanlah pengamat yang baik sehingga dapat
melewatkan hal-hal yang dimaksudkan oleh guru. (Villa, 2011).
C. Pembelajaran Akuntansi
1. Konsep Dasar Akuntansi
Akuntansi sering dijuluki sebagai bahasa bisnis (the language of
business). Perubahan yang cepat dalam masyarakat telah menyebabkan
semakin kompleknya bahasa tersebut, yang digunakan untuk mencatat,
meringkas, melaporkan, menginterpretasikan data dasar ekonomi, untuk
kepentingan perorangan, pengusaha, pemerintah dan anggota masyarakat
lainnya (Sadeli, 2009:2).
45
Untuk mengetahui akuntansi secara lebih mendalam terlebih dahulu
dijelaskan definisi atau batasan akuntansi, akuntansi telah didefinisikan secara
luas. Menurut definisi dari American Accounting Association akuntansi adalah
: “…the process of identifying, measuring and communicating economic
information to permit informed judgments and decisions by users of the
information”. Definisi ini mengandung dua pengertian:
a. Kegiatan Akuntansi, bahwa akuntansi merupakan proses yang terdiri dari
identifikasi, pengukuran dan pelaporan informasi ekonomi.
b. Kegunaan Akuntansi, bahwa informasi ekonomi yang dihasilkan oleh
akuntansi diharapkan berguna dalam penilaian dan pengambilan keputusan
mengenai kesatuan usaha yang bersangkutan. (Soemarso, 2000)
Sedangkan : AICPA (American Institute of Certified Public Accountans)
pada tahun 1941, mendefinisikan akuntansi sebagai : “seni mencatat,
menggolongkan dan meringkas transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan
dengan cara tertentu dan dalam bentuk satuan uang, serta menafsirkan hasilhasilnya.” Dari definisi ini ada 3 aspek penting yaitu
a. Akuntansi adalah suatu proses, yaitu proses pencatatan, penggolongan dan
peringkasan transaksi.
b. Akuntansi memproses transaksi keuangan dengan cara yang mempunyai
pola tertentu (bukan sembarang atau acak-acakan) dan mengunakan satuan
uang sebagai alat pengukur.
46
c. Akuntansi tidak sekadar proses pencatatan, penggolongan dan peringkasan
belaka, melainkan meliputi juga penafsiran terhadap hasil dari proses
proses tersebut.
Definisi lain dinyatakan oleh Accounting Principles Board (APB) tahun
1970: Akuntansi adalah suatu kegiatan jasa. Fungsinya menyajikan informasi
kuantitatif tentang lembaga-lembaga ekonomi, terutama yang bersifat
keuangan, yang bertujuan agar berguna dalam pengambilan keputusan
ekonomis.” .Definisi menurut George A. Mac Farland : “Akuntansi adalah
suatu seni pencatatan, penggolongan, penyajian, serta penafsiran secara
sistematis dari data keuangan perusahaan atau perseorangan.”Dari definisi
ini dapat ditarik pengertian bahwa :
1. Prosedur-prosedur yang digunakan dalam akuntansi adalah mencatat,
menggolongkan, menyajikan dan menafsirkan.
2. Sasaran dari akuntansi adalah data keuangan atau peristiwa yang bersifat
finansial.
3. Prosedur mencatat, menggolongkan, dan menyajikan data keuangan
haruslah disusun secara sistematis, sehingga dapat digunakan untuk
menafsirkan dan membuat analisis terhadap laporan yang dibuat. Lebih
lanjut. (Niswonger, 2009).
Berdasarkan penjelasan di atas tampak bahwa tidak salah kalau akuntansi
disebut sebagai language of business, dengan akuntansi diperoleh informasi
mengenai keadaan suatu perusahaan yang memungkinkan pihak-pihak yang
47
berkepentingan mengetahui dan menilai keberhasilan perusahaan tersebut
sehingga nantinya bisa mengambil keputusan yang tepat.
Pemakai informasi akuntansi tersebut dapat dibedakan menjadi dua
kelompok yaitu, pihak internal dan pihak eksternal. Pihak internal adalah
pihak yang berhubungan langsung dengan operasi perusahaan sehari-hari
yaitu pimpinan/manajer perusahaan. Berdasarkan informasi akuntansi,
pemimpin perusahaan dapat membuat berbagai kebijakan dalam penalokasian
biaya yang efisien, penyusunan anggaran yang realistis, penetapan harga
pokok
produksi
yang
rasional
dan
penetapan
harga
jual
yang
menguntungkan. Pihak eksternal adalah pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan tetapi tidak terlibat secara langsung dalam membuat berbagai
keputusan dan kebijakan operasional perusahaan. Pihak eksternal terdiri dari
pihak-pihak sebagai berikut: a) Pemilik perusahaan/investor, investor adalah
pihak yang berkepentingan atas maju-mundurnya perusahaan
karena
merekalah yang menanggung resiko atas modal yang disetornya ke dalam
perusahaan. b) Karyawan dan serikat pekerja, karyawan dan serikat pekerja
memerlukan informasi akuntansi untuk mengetahui maju atau mundurnya
suatu perusahaan. c) Kreditur, kreditur memerlukan informasi akuntansi
untuk memutuskan apakah akan memberikan pinjaman atau tidak kepada
suatu perusahaan. d) Badan-badan pemerintah, pemerintah memerlukan
informasi akuntansi untuk data perpajakan dan ketenagakerjaan. e)
Pelanggan, pelanggan memerlukan informasi akuntansi untuk mengetahui
keadaan keuangan suatu perusahaan.( S, Alam, 2007 :143)
48
2. Ekonomi Akuntansi di SMA
Dalam Permendiknas Tahun 2006 mengenai standar isi dijelaskan
bahwa Ekonomi merupakan ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, dan berkembang
dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi,
konsumsi, dan/atau distribusi. Luasnya ilmu ekonomi dan terbatasnya waktu
yang tersedia membuat standar kompetensi dan kompetensi dasar ini dibatasi
dan difokuskan kepada fenomena empirik ekonomi yang ada disekitar peserta
didik, sehingga peserta didik dapat merekam peristiwa ekonomi yang terjadi
disekitar lingkungannya dan mengambil manfaat untuk kehidupannya yang
lebih baik.
Akuntansi sebagai bahagian ilmu Ekonomi difokuskan pada perilaku
akuntansi jasa dan dagang. Peserta didik dituntut memahami transaksi
keuangan perusahaan jasa dan dagang serta mencatatnya dalam suatu sistem
akuntansi untuk disusun dalam laporan keuangan. Pemahaman pencatatan ini
berguna untuk memahami manajemen keuangan perusahaan jasa dan dagang.
Dalam permendiknas tahun 2006 dapat diketahui Standar kompetensi (SK)
dan Kompetensi Dasar (KD) yang diharapkan dimiliki oleh siswa, secara
ringkas ditampilkan pada Tabel 2 berikut :
49
Tabel 2 : 1
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
KELAS XI, Semester 2
Standar Kompetensi
5. Memahami penyusunan
siklus akuntansi
perusahaan jasa
Kompetensi Dasar
5.1 Mendeskripsikan akuntansi sebagai
sistem informasi
5.2 Menafsirkan persamaan akuntansi
5.3 Mencatat transaksi berdasarkan
mekanisme debit dan kredit
5.4 Mencatat transaksi/dokumen ke dalam
jurnal umum
5.5 Melakukan posting dari jurnal ke buku
besar
5.6 Membuat ikhtisar siklus akuntansi
perusahaan jasa
5.7 Menyusun laporan keuangan perusahaan
jasa
Sumber : Depdiknas, 2006
Tabel 2 di atas memperlihatkan bahwa standar kompetensi yang di
harapkan di miliki oleh siswa adalah
penyusunan siklus
kemampuan untuk memahami
akuntansi. Berbagai ahli dan pakar akuntansi dalam
Tjahjono (2003 : 45) menjelaskan bahwa “siklus akuntansi merupakan
langkah atau proses pengerjaan akuntansi mulai dari tahap awal sampai tahap
akhir”. Lebih lanjut Tjahjono menguraikan langkah-langkah dalam siklus
akuntansi formal sebagai berikut : a) Mendokumenstasikan transaksi bisnis,
dan melakukan analisis transaksi keuangan tersebut.b) Mencatat transaksi
dalam buku jurnal, tahapan ini disebut menjurnal.c) Membukukan dalam
buku besar masing-masing akun, tahapan ini disebut posting ke buku besar. d)
50
Menentukan saldo-saldo buku besar diakhir periode dan menuangkannya
dalam neraca saldo. e)Menyesuaikan saldo buku besar berdasar informasi
yang paling up to date (terkini) pada akhir periode. f) Menentukan saldo buku
besar setelah penyesuaian, dan menuangkannya dalam neraca saldo
disesuaikan. g) Menyusun kertas kerja (worksheet), h) Menyusun laporan
keuangan berdasarkan daftar saldo yang telah disesuaikan, dibantu dengan
worksheet. i) Membuat jurnal penutup, dan kemudian menutup buku besar
masing-masing akun nominal.j) Menyusun neraca saldo setelah penutupan.k)
Membuat jurnal penyesuaian kembali (jurnal balik). Secara ringkas, siklus
akuntansi, baik perusahaan jasa, maupun perusahaan dagang dapat
digambarkan sebagai berikut :
Analisis Transaksi
Keuangan
Transaksi di
Jurnal
Neraca Saldo
Setelah
Penutupan
Daftar/Neraca
Saldo
Jurnal Penutup
Menyusun Laporan
Keuangan
1. Lap Laba Rugi
2. Lap Ekuitas Pemilik
3. Lap Neraca
4. Lap Arus Kas
Sumber: Tjahjono, 2003 : 45
Posting Ke
Masing-Masing
Akun Buku Besar
Jurnal
Penyesuaian
Menyusun
kertas Kerja
(Worksheet)
Gambar 2.2
Siklus Akuntansi
Daftar/Neraca
Saldo
Disesuaikan
51
Berikut penjelasan masing-masing siklus Akuntansi formal tersebut :
Gambar 1 di atas memeperlihatkan bahwa akuntansi merupakan sebuah
siklus, di mana satu tahap sangat tergantung pada tahap sebelumnya, berikut
dijelaskan tahap-tahap dalam akuntansi tersebut :
a. Analisis transaksi keuangan, transaksi keuangan merupakan kejadian
ekonomi yang secara langsung berpengaruh terhadap posisi keuangan
keuangan/hasil operasi perusahaan. Transaksi keuangan kemudian
didokumentasikan dalam bentuk bukti-bukti transaksi untuk kepentingan
pencatatan dalam akuntansi, terlebih dahulu transaksi keuangan tersebut
harus dianalisis untuk menentukan akun apa yang terpengaruh dari
transaksi tersebut.
b. Pencatatan dalam buku jurnal, akuntansi memerlukan sebuah catatan
setiap transaksi bisnis secara kronologis/urut sesuai dengan tanggal
terjadinya transaksi. Daftar yang menyajikan informasi transaksi secara
kronologis disebut jurnal, selain itu jurnal juga menjadi dasar penentuan
ke akun mana suatu transaksi dicatat, jumlah uang yang dicatat, di sisi
mana dicatat, dan keterangan singkat tentang transaksi (S Alam, 2007
:203). Proses pencatatan transaksi pada jurnal disebut dengan penjurnalan
(journalize).
c. Posting ke buku besar, posting adalah proses pemindahan (pentransferan)
ayat-ayat jurnal kea kun buku besar. Posting dilakukan individual secara
berkala, bisa setiap hari atau seminggu sekali. Posting dilakukan karena
52
jurnal hanya menujukkan urutan kronologis pencatatan atas transaksi,
tetapi tidak diklasifikasikan ke berbagai akun yang terkait, sebaliknya
buku besar menyediakan catatan berdasarkan klasifikasi akun. Kedua
catatan baik jurnal maupun akun buku besar diperlukan dalam operasi
entitas bisnis.
d. Penyusunan neraca saldo, neraca saldo adalah daftar yang memuat saldo
dari akun-akun yang terdapat dalam buku besar. Tujuan penyusunan
neraca saldo adalah untuk menguji apakah transaksi telah diposkan ke
akunnya dengan benar, selain untuk menguji apakah jumlah yang
diposkan ke buku besar telah mencerminkan nilai transaksi yang
sebenarnya. Jika buku besar yang digunakan berbentuk skontro, maka
saldo tersebut ditentukan dengan cara menjumlakan debet dan kredit, jika
jumlah debet lebih besar daripada jumlah kredit, maka pada neraca saldo
selisih tersebut dicatat di debet. Sebaliknya jika jumlah kredit lebih besar
daripada jumlah debit, maka selisihnya dicatat di sebelah kredit. Di lain
pihak, jika buku besar yang digunakan berbentuk stafel, maka hanya
saldonya saja yang dikutip.
e. Penyesuaian, beberapa akun dari neraca saldo belum menunjukkan
informasi/jumlah yang up to date (terakhir), karena beberapa informasi
baru diketahui pada akhir periode. Jurnal yang digunakan untuk
menyesuaikan saldo akun agar menjadi saldo yang up to date dan
sebenarnya disebut dengan jurnal penyesuaian. Setiap jurnal penyesuaian
53
paling tidak melibatkan satu akun riil (neraca) dan satu akun nominal
(laba-rugi).
f.
Neraca saldo disesuaikan, setelah jurnal penyesuaian dicatat dan
diposting kea kun buku besar, maka neraca saldo setelah penyesuaian bisa
disiapkan. Dalam neraca saldo setelah penyesuaain, besarnya saldo setiap
akun telah menunjukkan kondisi terkini dan sebenarnya.
g. Penyusunan kertas kerja (worksheet), kertas kerja dapat diartikan sebagai
media pencatatan neraca saldo, jurnal penyesuaian, laporan laba rugi, dan
neraca yang disusun secara logis
untuk mempermudah penyusunan
laporan keuangan. Istilah lain untuk kertas kerja (worksheet),adalah
neraca lajur (S Alam, 2007 : 237)
h. Penyusunan laporan keuangan, produk akhir dari siklus akuntansi adalah
laporan keuangan. Laporan keuangan diperlukan oleh pihak-pihak yang
berkepentingan terhadap kinerja perusahaan seperti pemegang saham,
pimpinan, kreditur, bank, pemerintah, dan sebagainya. Penyusunan
laporan keuangan
diawali dengan menyiapkan laporan laba rugi,
kemudian laporan ekuitas pemilik(perubahan modal), dan terakhir neraca,
laporan arus kas bersifat optional boleh ya boleh tidak.
i. Jurnal penutup (closing entries), saldo-saldo yang terdapat dalam neraca
akan terus dibawa ketahun-tahun berikutnya, akun neraca mempunyai
sifat relatif permanen, maka akun ini disebut dengan akun permanen/akun
riil (real account). Sebaliknya saldo-saldo yang terdapat dalam laporan
laba rugi dan laporan ekuitas pemilik seperti akun pendapatan, beban dan
54
prive tidak akan di bawa ke tahun berikutnya. Akun pendapatan, beban
dan prive yang tergolong akun nominal, hanya akan berhubungan dengan
satu periode sehingga disebut
dengan akun sementara (temporary
account). Untuk itu akun nominal harus bersaldo nol pada awal periode
berikutnya. Proses pemindahan saldo-saldo akun nominal ke akun riil
dinamakan penutupan akun. Jurnal penutup akan menjadikan semua saldo
akun pendapatan, beban dan prive bersaldo nol (nihil).
j. Neraca saldo setelah penutupan, setelah proses penutupan akun langkah
berikutnya, adalah mempersiapkan daftar saldo setelah penutupan (post
closing trial balance). Pembuatan neraca setelah penutuapan bertujuan
untuk mengkaji apakah penutupan buku telah dilakukan secara benar.
Neraca saldo setelah penutupan hanya berisi semua akun riil yaitu akun
aktiva, kewajiban/hutang, dan ekuitas/modal.
Dari paparan di atas terlihat bahwa akuntansi berisi pengetahuan faktual
dan sarat dengan pengetahuan prosedural di mana siswa harus memahami
siklus akuntansi mulai dari analisis transaksi, mencatat transaksi di jurnal,
memposting jurnal ke akun buku besar, menyusun neraca saldo, membuat
jurnal penyesuaian, menyusun neraca saldo disesuaikan, membuat worksheet,
menyusun laporan keuangan, membuat jurnal penutup, neraca saldo setelah
penutupan serta terakhir jurnal balik. Dari karakteristik akuntansi seperti ini
maka diperlukan model pembelajaran yang tepat sehingga siswa memiliki
pengetahuan factual dan pengetahuan prosedural.
55
D. Hasil Belajar
Dari proses pembelajaran akan diperoleh suatu hasil yang disebut dengan
istilah hasil belajar.
Syah (2003: 195) menjelaskan bahwa “Hasil belajar
siswa merupakan tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dalam sebuah program”. Sejalan dengan itu Tardif dalam Syah
(2003: 195) menjelaskan bahwa evaluasi hasil belajar itu “Merupakan proses
penilaian untuk menggambarkan prestasi belajar yang dicapai siswa sesuai
dengan kriteria yang telah ditetapkan”. Hamalik (2004: 155) mengemukakan
bahwa hasil belajar tampak pada terjadinya perubahan tingkah laku pada diri
siswa, yang dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan,
sikap dan keterampilan. Perubahan itu dapat diartikan terjadinya peningkatan
dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.
Bloom membagi hasil belajar kedalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif,
ranah afektif dan ranah psikomotor, yang dikenal dengan istilah Taksonomy
Bloom. Taksonomi merupakan alat yang sangat berguna untuk mengambil
keputusan tentang tujuan instruksional dan untuk mengases hasil belajar
(Arends, 2008:117). . Taksonomi ini awalnya dikembangkan oleh Bloom dan
rekan-rekan sejawatnya pada 1950-an.
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup
kemampuan intelektual yang sederhana, yaitu mengingat, sampai pada
kemampuan
memecahkan
masalah
yang
menuntut
siswa
untuk
menghubungkan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau
56
prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan
demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yangmengungkapkan tentang
kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke
tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi.
Taksonomi yang telah dikembangkan oleh Bloom tersebut kemudian
direvisi oleh sekolompok siswa Bloom dan diberi nama taxonomy for
learning, teaching and assessing (Anderson dan Krathwohl 2001),.
Taksonomi ini memberikan kerangka kerja untuk menghasilkan tujuan
belajar dan cara untuk mengasesnya. (Arends, 2008: 119). Taksonomi Bloom
yang telah direvisi itu bersifat dua-dimensi, yaitu dimensi pengetahuan yang
mendeskripsikan berbagai tipe pengetahuan yang terdiri atas pengetahuan
faktual, pengetahuan konseptual, pengetahuan procedural dan pengetahuan
metakognitif. Sedangkan dimensi kedua adalah dimensi proses kognitif (cara
berfikir). Dimensi Proses Kognitif berisi enam kategori yaitu : a)mengingat
(remember,
b)memahami
(understand),
c)
menerapkan
(apply),
d)
menganalisis (analyze), e) mengevaluasi (evaluate), f) menciptakan (create)
Mengingat menurut para kreator taksonomi, berarti mengambil informasi
yang relevan dari ingatan jangka panjang,pada tahap ini menuntut siswa
untuk mampu mengingat (recall) berbagai informasi yang telah diterima
sebelumnya, misalnya fakta, rumus, terminology dan sebagainya.Sementara
memahami
berarti
mengonstruksikan
makna
dari
berbagai
pesan
instruksional, kategori memahami dihubungkan dengan kemampuan untuk
menjelaskan pengetahuan, informasi yang telah diketahui, pada tahap ini
57
peserta
didik
disampaikan.
diharapkan
mampu
menerjemahkan
apa
yang
telah
Menerapkan berarti melaksanakan atau menggunakan suatu
prosedur, pada tahap ini siswa diharapkan mampu menggunakan atau
menerapkan informasi yang telah dipelajari kedalam situasi baru, serta
memecahkan masalah/soal yang ada.
menganalisis berarti menguraikan
materi menjadi bagian-bagian konstituen dan menentukan bagaimana
hubungan yang satu dengan bagian yang lain, pada tahap ini siswa
diharapkan mampu menunjukkan hubungan diantara
berbagai gagasan
tersebut dengan standar, prinsip, atau prosedur yang telah dipelajari.
Mengevaluasi dan menciptakan/(create) dua kategori yang terletak dalam
ujung kontinum yang lebih kompleks, berarti membuat judgment berdasarkan
kriteria dan menyatukan berbagai elemen untuk membentuk sebuah pola dan
struktur baru.
(Anderson dan Krathwohl 2001:89). Untuk lebih jelasnya
Anderson, mendeskripsikan dalam Tabel 2 berikut :
No
1
2
Tabel 2.2
6 Kategori Dimensi Proses Kognitif dan Hubungannya dengan
Proses Kognitif yang Terkait
Kategori Proses
Proses Kognitif dan Contoh
Remember
(Mengingat)
Recognizing
(mengenali)
Recalling
(mengingat
kembali)
Understand
(Memahami)
Interpreting
(menginterpretasikan)
Exemplifying (memberi
contoh)
Classifying
Mengambil pengetahuan yang relevan dari
ingatan jangka Panjang
Misalnya mengenali tanggal peristiwa-peristiwa
penting dalam sejarah AS
Misalnya mengingat kembali tanggal peristiwaperistiwa penting dalam sejarah AS
Mengonstruksikan makna dari pesan-pesan
Mis, menafsirkan pidato dan dokumen penting
Mis, memberikan contoh berbagai gaya lukisan
artistik
Mis, mengklasifikasi kasus-kasus gangguan
58
(mengklasifikasikan)
Summarizing
(merangkum)
Inferring
(menyimpulkan)
3
Comparing
(membandingkan)
Explaining
(menjelaskan)
Apply (Menerapkan)
Executing
(melaksanakan)
4
Implementing
(mengimplementasikan)
Analyze (menganalisis)
Differentiating
(mendiferensiasikan
Organizing
(mengorganisasikan
Attributing
(mengatribusikan)
5
Evaluate
(Mengevaluasi)
Checking (mengecek)
Critiquing (mengkritik)
6
Create (Mencipta)
Generating
(menghasilkan)
Planning ( perencanaan)
Producing
(memproduksi)
mental
Mis, menulis ringkasan pendek dari rekaman
peristiwa tertentu
Mis, dalam mempelajari bahasa asing,
menyimpulkan prinsip gramatikal dari contohcontoh.
Mis, membandingkan peristiwa bersejarah
dengan situasi sekarang
Mis, menjelaskan penyebab peristiwa penting
abad kedelapan belas di Perancis
Melaksanakan atau menggunakan prosedur
dalam situasi tertentu
Mis, membagi sebuah bilangan bulat dengan
bilangan bulat lainnya, keduanya dengan
banyak digit
Mis, menentukan dalam situasi mana hukum
kedua Newton yang kedua dapat diterapkan
Memecah materi menjadi bagian-bagian
konstituen dan menentukan hubungan antara
satu bagian dengan bagian lain dan dengan
struktur atau maksud keseluruhan
Mis, membedakan antara bilangan yang relevan
dan tidak relevan dalam soal kalimat
matematika
Mis, bukti struktur dalam deskripsi historis
menjadi bukti-bukti yang mendukung dan yang
bertentangan
dengan penjelasan historis
tertentu
Mis, menentukan sudut pandang penulis sebuah
esai dalam kaitannya dengan perspektif
politisnya
Membuat judgment berdasarkan criteria atau
standar
Mis, menentukan apakah kesimpulan seorang
ilmuwan sesuai dengan data yang terobservasi
Mis, menentukan mana di antara dua metode
yang
merupakan
cara
terbaik
untuk
menyelesaikan masalah tertentu
Memasukkan unsur-unsur bersama-sama
membentuk satu kesatuan yang koheren atau
fungsional, reorganisasi elemen ke dalam pola
atau struktur baru
Mis, menghasilkan hipotesis untuk menjelaskan
suatu fenomena yang diamati.
Mis, membuat rencana sebuah penelitian dari
berbagai topik sejarah tertentu
Mis, memproduksi, membangun habitat bagi
spesies tertentu untuk tujuan tertentu
59
Sumber :Anderson dan Krathwohl (2001:31)
2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah
afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan
nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan
perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi.
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai
tingkah laku Bloom membagi tujuan dalam affective domain menjadi lima
kategori
yaitu:
a)
Receiving
(menerima),
siswa
menyadari
atau
memperhatikan sesuatu di lingkungan .b) Responding, siswa memperlihatkan
perlaku baru tertentu sebagai hasil pengalaman dan respon terhadap
pengalaman. c) Valuing (menghargai) siswa memperlihatkan keterlibatan
mutlak atau komitmen terhadap pengalaman tertentu. d) Organization, siswa
telah mengintegrasikan sebuah nilai, e) Characterization, siswa bertindak
secara konsisten menurut nilainya dan memiliki komitmen yang kuat (Arends,
2008 :121),.
Receiving atau attending (= menerima atau memperhatikan), adalah
kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang
datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.
Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk
menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan
yang datang dari luar. Receiving atau attending juga sering di beri pengertian
sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada
60
jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau
nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan
diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah
hasil belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin
wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh.
Responding (= menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”.
Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena
tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih
tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif
responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih
jauh atau menggali lebih dalam lagi,
Valuing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai artinya memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau
obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan
membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif
yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam
proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai
yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau
fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka
nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa
peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai dicamkan
(internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam
61
peserta didik. Contoh hasil belajar afektif jenjang valuing adalah tumbuhnya
kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik
disekolah, dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Organization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang
membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan
merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk
didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan prioritas
nilai yang telah dimilikinya.
Characterization (=karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai),
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini
peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada
waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Disini proses internalisasi nilai
telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah
tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya.
Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah
mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga
membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan
dapat diramalkan. (Zaif, 2009)
3. Alat Ukur Hasil belajar
Di dalam pendidikan terdapat bermacam-macam alat penilaian yang
dapat dipergunakan untuk menilai proses dan hasil pendidikan yang telah
dilakukan terhadap siswa (Purwanto, 1987 :33). Lebih Lanjut dijelaskan
62
bahwa penilaian adalah penerapaan berbagai cara dan penggunaan beragam
alat. Penilaian berguna untuk memperoleh ragam informasi tentang sejauh
mana hasil belajar peserta didik atau informasi tentang ketercapaian
kompetensi peserta didik. Proses penilaian ini bertujuan untuk menjawab
pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar pesrta didik.(
Haryati, 2007 : 15)
Alat penilaian dapat digolongkan ke dalam dua jenis yaitu : test dan
non test. Kedua jenis alat ini dapat dipergunakan untuk menilai ketiga sasaran
(kognitif, afektif dan Psikomotor), berikut dijelaskan alat penilaian tersebut :
a) Tes
Test adalah merupakan alat penilaian pendidikan yang digunakan untuk
mengetahui hasil belajar peserta didik baik dalam aspek kognitif, afektif
maupun psikomotor, diberikan dalam bentuk serangkai tugas yang harus
dikerjakan oleh peserta didik siswa) sehingga menghasilkan suatu angka sebagai
hasil ukur. Selain itu tes juga berguna untuk melihat isi pendidikan yang telah di
berikan dalam kegiatan belajar mengajar. Test sebagai alat ukur ada yang telah
distandarisasikan dan ada yang tidak. Test yang telah distandarisasikan memiliki
tingkat validitas dan reliabilitas yang teruji, sehinngga hasil ukurnya mempunyai
derajat ketepatan dan ketetapan (keajegan) yang tinggi.
Dilihat bentuk
jawabannya ,test dibagi dalam tiga macam yakni: 1). Tes lisan; Tes dimana
jawaban
yang
diberikan
oleh
peserta
didik
dalam
bentuk
lisan,
biasanyadipergunakan untuk mengukur kemampuan kognitif, juga afektif.2) Tes
tertulis; Tes dimana jawaban yang diberikan oleh peserta didik dalam bentuk
63
tertulis, biasanya dipergunakan untuk mengukur kemampuan kognitif. 3) Tes
tindakan;
Tes
jawaban
yang
diberikan
peserta
didik
dalam
bentuk
tindakan,seperti mengerjakan sesuatu (praktik), dengan demikian tes ini tepat
digunakan untuk mengukur kemampuan psikomotor.
Dilihat dari bentuk pertanyaan yang diberikan , tes hasil belajar dapat
dibedakan atas dua jenis yakni tes obyektif dan tes uraian (Essay test). 1) Tes
obyektif Tes obyektif terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan cara
memilih salah satu alternatif yang tersedia atau dengan mengisi jawaban yang
benar dengan kata atau simbul. Tes obyektif umumnya terdiri dari dua bagian
utama yakni Stem merupakan pertanyaan atau pernyataan dari masalah yang di
ukur dan bagian kedua disebut option merupakan alternatif jawaban yang harus
dipilih. 2) Tes Uraian (Essay test) Tes Essay adalah suatu bentuk tes yang
terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban berupa
uraian-uraian yang relatif panjang. Bentuk-bentuk pertanyaan dan suruhan,
meminta peserta tes untuk menjelaskan, membandingkan, menginterpretasikan,
mencari perbedaan dan lain sebagainya (Purwanto, 1987 : 33-36)
b. Non Test
Jenis alat non test lebih sesuai digunakan sebagai alat penilai aspek-aspek
tingkah laku yang menyangkut: sikap, minat, perhatian karakteristik dan lainlain yang sejenis. Alat penilaian jenis non test ini antara lain : 1) Observasi;
yakni pengamatan kepada tingkah laku pada suatu situasi tertantu. Observasi
bisa dalam situasi yang sebenarnya atau observasi langsung dan bisa pula dalam
situasi buatan atau observasi tidak langsung. Kedua observasi ini dapat
64
dilaksanakan secara sistematis dengan menggunakan pedoman observasi. 2)
Wawancara; yakni melakukan komunikasi secara langsung antar a pewawancara
dengan yang diwawancara. Untuk memudahkan pelaksanaannya, perlu
disediakan pedoman wawancara berupa pokok-pokok yang akan ditanyakan. 3)
Studi kasus; mempelajarai perilaku individu dalam periode tertentu secara terus
menerus untuk melihat perkembangannya.4) Rating scale (Skala penilaian);
menilai dengan menggunakan skala yang telah disusun dari ujung yang negatif
sampai keujung yang positif, sipenilai tinggal membubuhi tanda chek (V).5)
Inventory; pertanyaan dimana yang ditanya/ siswa tinggal memilih alternatif
jawaban : setuju sekali, setuju, kurang setuju, tidak setuju.Pemaparan di atas
memperlihatkan bahwa banyak jenis dan alat tes yang dapat dipergunakan oleh
guru untuk mengases siswanya, namun tes tersebut hendaknya di sesuaikan
dengan aspek/ranah yang ingin dinilai dan tujuan dari penilaian tersebut.
E. Penelitian Yang Relevan
Penelitian yang relevan pernah dilakukan oleh Mumu Muzayyin Maq
(2009), yang berjudul” Pengembangan Model Pembelajaran Direct Method
untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris siswa SMPN
Majalengka”., dan peneliti merekomendasikan kepada peneliti lain untuk
melakukan penelitian dengan mengkaji dan mentelaah masalah yang
berhubungan
dengan
model
pembelajaran
direct
method
bila
diimplementasikan pada materi lain ataupun pelajaran lain, baik dilihat dari
pelibatan variabel maupun kerangka teoritis.
Download