analisa pertukaran waktu dan biaya (tcto)

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proyek konstruksi adalah suatu rangkaian
kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan
umumnya berjangka pendek. Dalam pelaksanaanya
perlu diperhatikan triple constrain yaitu yang
menyangkut biaya, mutu, dan waktu. Untuk
mengendalikan biaya dan waktu maka kita dapat
menggunakan metode time cost trade off.
Proyek pembangunan gedung Asrama
Providentia Dei merupakan sebagian pembangunan
dari kawasan Universitas Widya Mandala. Lokasi
Gedung ini terletak di PAKUWON CITYSurabaya. Gedung ini nantinya akan digunakan
untuk memfasilitasi mahasiswa yang menempuh
pendidikan teologi di universitas widya mandala
kampus laguna. Pihak owner mengharapkan
fasilitas asrama ini dapat memperlancar kegiatan
belajar mengajar. Oleh sebab itu Owner dalam hal
ini
keuskupan
surabaya
menginginkan
penyelesaian proyek tepat waktu sesuai kontrak
perjanjian.
Sesuai tender yang telah dilakukan panitia
pembangunan Asrama Providential Dei terpilih 2
kontraktor yaitu PT.TENO dan PT.Multibangun
Adhitama Konstruksi atau disebut juga
PT.MULTIKON. PT. TENO ditugaskan untuk
mengerjakan struktur bawah dan struktur atas
dikerjakan oleh PT.MULTIKON.
Pembangunan gedung Asrama Providentia
Dei tertuang dalam kontrak yang telah disepakati
pihak owner dan PT.MULTIKON dengan jangka
waktu penyelesaiannya adalah selama 217 (dua
ratus tujuh belas) hari kalender. Pembangunan
gedung Asrama Providentia Dei dilaksanakan
selama 31 minggu. Berdasarkan laporan pekerjaan
minggu ke 11 pada tanggal 10 Januari 2011 sampai
16 Januari 2011, terlihat bahwa proyek mengalami
keterlambatan. Pada minggu ke 11 proyek
seharusnya sudah diselesaikan 17.416%, namun
pada kenyataannya proyek baru diselesaikan 7,985
%, hal ini berarti bahwa proyek mengalami
keterlambatan 9,430%. Sedangkan sisa waktu
pelaksanaan adalah 20 minggu dan sisa prestasi
fisik yang harus dicapai adalah 92,015%.
Keterlambatan sebesar 9,430% tersebut
beberapa diantaranya disebabkan keterlambatan
mobilsasi tower crane sehingga untuk sementara
menggunakan mobile crane dan persipan site
sehingga kontraktor perlu melakukan percepatan
untuk menghindari keterlambatan proyek secara
keseluruhan. Apabila penyelesaian proyek
terlambat, maka kontraktor akan terkena sangsi
berupa denda yang telah disepakati dalam
dokumen kontrak.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan Latar belakang masalah diatas,
permasalahan yang ingin diangkat oleh penyusun
dalam dalam Tugas Akhir ini adalah:
1. Berapa total waktu dan biaya optimum
setelah adanya percepatan pada proyek
tersebut?
2. Mengetahui
mana
yang
lebih
menguntungkan antara mempercepat
proyek
hingga
maksimum
dibandingkan mencari biaya percepatan
yang optimum.
1.3 Maksud dan Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari Tugas Akhir ini
adalah:
1. Mengetahui total waktu dan biaya
optimum setelah adanya percepatan pada
proyek tersebut.
2. Mengetahui
mana
yang
lebih
menguntungkan
antara
melakukan
percepatan
penyelesaian
proyek
dibandingkan dengan membayar denda
akibat keterlambatan.
1.4 Batasan Masalah
Berdasarkan permasalah yang diuraikan diatas,
maka
untuk
menghindari
penyimpangan
pembahasan maka dibuat pembatasan masalah,
sebagai berikut:
1. Pecepatan dilakukan pada item-item
pekerjaan tertentu yang terletak di
lintasan kritis dalam pekerjaan sturktur.
Karena aktivitas kritis inilah yang
mempengaruhi total waktu keseluruhan
proyek.
2. Penghitungan harga bahan dan upah
pekerja menggunakan harga bahan dan
upah milik kontraktor pelaksana .
3. Percepatan
dilakukan
dengan
kombinasi penambahan jumlah tenaga
kerja, jam kerja, serta alat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Analisa Pertukaran Waktu dan Biaya
(TCTO)
2.1.1
Cara mempercepat durasi proyek
/crashing
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan
untuk mempercepat durasi proyek, antara lain:
1. Penambahan jumlah tenaga kerja
Penambahan
jumlah
tenaga
kerja
dimaksudkan sebagai penambahan jumlah
pekerja dalam suatu unit pekerjaan untuk
melaksanakan suatu aktivitas tertentu
tanpa menambah jam kerja. Dalam
penambahan jumlah tenaga kerja yang
perlu diperhatikan adalah ruang kerja yang
tersedia, karena penambahan tenaga kerja
pada suatu aktivitas tidak boleh
mengganggu pemakaian tenaga kerja
untuk aktivitas yang lain yang sedang
berjalan pada saat yang sama. Selain itu
harus diimbangi dengan menambah
pengawasan karena ruang kerja yang sesak
dan pengawasan yang kurang akan
menimbulkan produktivitas yang rendah.
2. Penjadwalan kerja lembur
Mempercepat waktu pelaksanaan suatu
kegiatan dengan menambah jam kerja atau
kerja lembur merupakan salah satu usaha
untuk menambah produktivitas kerja
sehingga dapat mempercepat waktu
pelaksanaan sebuah kegiatan. Hal yang
perlu diperhatikan dalam penambahan jam
kerja adalah lamanya waktu kerja
seseorang dalam satu hari. Jika seseorang
terlalu lama bekerja maka produktivitas
orang tersebut akan menurun karena
kelelahan. Perhitungan rencana kerja
lembur secara umum adalah:
a. Waktu kerja normal adalah 8
jam(08.00–17.00), sedangkan kerja
lembur dilakukan setelah waktu kerja
normal
b. Harga upah pekerja untuk lembur
- Berdasarkan KEPMEN No. 102
tahun 2004 tentang waktu kerja
lembur dan upah kerja lembur,
maka upah pada saat kerja lembur
200% dari upah normal.
3. Penambahan peralatan
Penambahan peralatan dimaksudkan untuk
menambah
produktivitas.
Dalam
penambahan
peralatan
perlu
memperhatikan
penambahan
biaya
langsung
untuk
mobilisasi
dan
demobilisasi alat. Dalam penambahan
peralatan juga harus memperhatikan
produktivitas alat yang digunakan, alat
yang digunakan tentunya harus memiliki
produktivitas yang lebih tinggi atau sama
dengan alat yang sebelumnya.
4. Perubahan metode konstruksi di lapangan
Metode konstruksi berkaitan erat dengan
sistem kegiatan dan tingkat penguasaan
pelaksanaan terhadap metode tersebut serta
ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan.
Metode konstruksi yang tepat dan efektif
akan mempercepat yelesaian aktivitas.
5. Pemilihan sumber daya yang berkualitas
Yang dimaksud pemilihan sumber daya
yang berkualitas adalah adalah tenaga
kerja
yang
mempunyai
tingkat
produktivitas yang tinggi dengan hasil
kerja yang baik. Dengan mempekerjaan
tenaga kerja yang berkualitas maka
aktivitas akan lebih cepat diselesaikan.
2.1.2
Hubungan
waktu
dan
biaya
pelaksanaan proyek
Biaya optimal adalah biaya total minimum
proyek. Biaya total adalah jumlah biaya
langsung dan biaya tak langsung. Besarnya
biaya ini sangat tergantung dari lamanya waktu
(durasi) penyelesaian proyek Keduanya berubah
sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek.
Walaupun tidak dapat dihitung dengan rumus
tertentu, akan tetapi umumnya makin lama
proyek berjalan makin tinggi komulatif biaya
tak langsung yang diperlukan (Soeharto, 1997).
.
A
Gambar 2.2 Grafik Total Biaya
Proyek(Badri 1997)
Untuk menganalisis lebih lanjut hubungan
antara biaya dan waktu suatu kegiatan, dipakai
definisi berikut:
- Kurun waktu normal(normal duration)
yaitu jangka waktu yang diperlukan
untuk melakukan kegiatan sampai
selesai dengan tingkat produktivitas
kerja normal.
- Kurun
waktu
dipersingkat(crash
duration) yaitu waktu tersingkat untuk
menyelesaikan suatu kegiatan yang
secara teknis masih memungkinkan.
- Biaya normal(normal cost) yaitu biaya
langsung yang diperlukan untuk
menyelesaikan kegiatan dengan kurun
waktu normal.
- Biaya untuk waktu dipersingkat(crash
cost) yaitu jumlah biaya langsung
untuk
menyelesaikan
pekerjaan
dengan kurun waktu tersingkat
Apabila waktu penyelesaian suatu aktivitas
dipercepat, maka biaya langsung akan
bertambah besar sedangkan biaya tak langsung
akan berkurang. Pertambahan biaya langsung
untuk mempercepat suatu aktivitas persatuan
waktu disebut cost slope (Soeharto, 1997).
Cost slope=
Crash cos t  Normal cos t
c

Normal duration  Crash duration t
Grafik hubungan waktu-biaya normal dan
dipersingkat ditunjukkan oleh gambar 2.2. Garis
yang dihubungkan titik normal dan titik
dipersingkat disebut kurva waktu biaya. Pada
umumnya garis ini dapat dianggap sebagai garis
lurus. Seandainya diketahui bentuk kurva waktu
biaya suatu kegiatan, artinya dengan
mengetahui beberapa slope atau sudut
kemiringannya, maka bisa dihitung berapa besar
biaya untuk mempersingkat waktu dan biaya
satu hari.
Gambar 2.3 Hubungan waktu-biaya
normal dan dipersingkat untuk satu kegiatan
(sumber: Gray 2007)
Besarnya nilai crash cost dan crash
duration diperoleh dari perhitungan yang
tergantung
dari
produktivitas
crash.
Produktivitas crash diperoleh dari besarnya
volume pekerjaan dibagi produktivitas alat atau
tenaga kerja yang digunakan.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif
analitis untuk menerapkan metode optimasi
biaya dan waktu proyek. Penelitian ini
dilaksanakan pada saat menyusun proposal
dan data diperoleh dari pihak pengawas serta
pengamatan penulis di lapangan.
3.2 Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam Tugas Akhir
ini adalah:
1. Gambar perencanaan proyek
2. Schedule proyek,
Data schedule berupa penjadwalan
secara garis besar berupa diagram
balok dan kurva S, digunakan untuk
penggambaran
secara
umum
proyek(lampiran)
3. Rincian anggaran biaya beserta
volume pekerjaannya (lampiran)
4. Observasi, yaitu pengamatan langsung
yang dilakukan penulis pada saat
melakukan kerja praktek di proyek
yang bersangkutan.
3.3 Langkah-Langkah Penelitian
Dalam melakukan percepatan terhadap waktu
dibuat
skenario
dengan
melakukan
penambahan jumlah alat dan jumlah tenaga
kerja, sehingga produktivitas alat dan tenaga
kerja menjadi meningkat. Adapun penerapan
TCTO memerlukan perhitungan crash
duration dan crash cost. Untuk menghitung
crash cost dan crash duration maka perlu
dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Penyusunan Network Diagram
Penyusunan network diagram berdasarkan
durasi tiap-tiap pekerjaan, analisa durasi
dihitung dari kemampuan produksi dari
peralatan maupun pekerja. Ada beberapa
langkah dalam penyusunan network diagram
antara lain:
a. Menguraikan setiap aktivitas, bila
terdapat overlap atau pengerjaannya
b.
c.
d.
e.
yang bersamaan pada suatu aktivitas
dengan aktivitas yang lainnya maka
aktivitas
itu
dibagi
menjadi
beberapa kegiatan sesuai dengan
overlapnya.
Menentukan
kegiatan
yang
mendahului kegiatan yang lainnya
Menyusun
durasi
tiap-tiap
aktivitasnya
berdasarkan
data
penjadwalan
masing-masing
kegiatan
Menyusun
Preceden
Diagram
Method sesuai dengan urutan
kegiatannya disertai dengan elemenelemen waktu pendukungnya
Menentukan lintasan kritis
2. Menganalisa Aktivitas Sisa Pekerjaan
Analisa dilakukan pada aktivitas sisa
pekerjaan yang mengalami keterlambatan,
diketahui dari time schedule berdasarkan
laporan kemajuan proyek mingguan. Setelah
dilakukan
analisa,
didapatkan
waktu
normal(normal
duration)
penyelesaian
aktivitas sisa pekerjaan serta aktivitas
pekerjaan yang berada di lintasan kritis.
Pekerjaan yang berada di lintasan kritis
digunakan dalam menghitung percepatan
waktu dan biaya.
3. Penerapan Skenario Crashing
Perhitungan crash cost dan crash duration
menggunakan beberapa alternatif percepatan
yaitu penambahan jumlah tenaga kerja, jam
kerja serta penambahan peralatan dan jam
kerja(kombinasi)
pada
beberapa
item
pekerjaan
yang
memungkinkan
untuk
melakukan penambahan. Dari beberapa
alternative tersebut, dipilih salah satu
alternative yang lebih tepat untuk diterapkan,
sehingga mendapatkan total biaya dan waktu
yang paling optimum.
4. Penerapan Analisa Pertukaran Waktu
dan Biaya
Setelah mengetahui kegiatan yang berada
pada lintasan kritis, maka dapat dilakukan
analisa pertukaran waktu dan biaya dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1. Menentukan normal cost upah/jam
untuk semua kegiatan.
Normal cost upah/hari diperoleh
dari perhitungan RAB, sedangkan
Normal cost upah/jam diperoleh dari
Normal cost upah/hari dibagi
8(delapan) jam. Normal cost
upah/jam akan digunakan dalam
perhitungan crash cost.
2. Menentukan crash duration dan
crash cost kegiatan
Setelah dilakukan skenario crashing
dengan penambahan jumlah tenaga
kerja, jam kerja, peralatan dan jam
kerja(kombinasi), maka diperoleh
produktivitas crash. Produktivitas
crash digunakan untuk menghitung
crash duration, yaitu dengan cara
volume
pekerjaan
dibagi
produktivitas crash. Crash cost
diperoleh dari harga satuan pekerja
dikali produktivitas crash.
3. Perhitungan cost slope untuk semua
aktivitas
Cost
slope
dihitung
dengan
menggunakan rumus:
Cost slope
=
Crash cos t  Normal cos t
c

Normal duration  Crash duration t
4. Perhitungan cost slope terendah pada
aktivitas kritis
5. Melaksanakan
TCTO
dengan
bantuan
program
komputer
Quantitative Methode For Windows
Version 2.1
Data-data yang diperoleh berupa
normal cost, normal duration, crash
cost dan crash duration serta
hubungan
antar
aktivitas
dimasukkan ke dalam program
komputer QM For Windows Version
2.1 untuk dianalisa, sehingga
menghasilkan output berupa waktu ,
crash cost/hari, crash by dan
crashing cost setelah percepatan.
6. Menentukan waktu dan biaya
optimum
Output QM For Windows Version
2.1 ditabelkan dan ditambahkan
biaya langsung dan biaya tidak
langsung untuk mendapatkan total
biaya proyek setelah percepatan
dengan ketiga alternative percepatan.
Selanjutnya dibuat grafik hubungan
antar ketiga biaya tersebut. Dari
grafik dapat diketahui berapa
besarnya total biaya dan waktu
optimum penyelesaian proyek
5. Mengevaluasi Hasil Analisa TCTO
Setelah dilakukan analisa TCTO maka
didapatkan output berupa beberapa waktu dan
biaya proyek yang baru. Dari sekian
banyaknya waktu penyelesaian proyek yang
baru, dipilih waktu penyelesaian proyek yang
optimum dengan biaya yang minimum.
6. Membandingkan Biaya Percepatan
Dengan Besarnya Denda Akibat
Keterlambatan
Dari hasil analisa waktu dan biaya setelah
dilakukan percepatan diperoleh waktu dan
biaya optimum penyelesaian proyek. Besarnya
biaya optimum hasil percepatan diban-dingkan
dengan besarnya denda akibat keterlambatan.
Pembandingan dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui apakah besarnya biaya percepatan
lebih besar dibandingkan dengan denda yang
harus dibayarkan karena keterlambatan.
Total denda = total waktu keterlambatan x
denda per hari akibat
keterlambatan
7. Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisa yang diperoleh maka
dapat diambil kesimpulan dan saran yang
dapat digunakan bagi pelaksana proyek dalam
hal waktu maupun biaya yang sebaiknya
digunakan.
BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1 Menyusun Metode Preseden Diagram
4.1.1 Identifikasi aktivitas sisa
Identifikasi aktivitas sisa dilakukan hanya
sampai pekerjaan struktur selesai, yaitu sampai
pengerjaan lantai atap & dak. Identifikasi ini
kita tinjau mulai minggu ke 11 karena terlihat
bahwa proyek mengalami keterlambatan. Pada
minggu ke 11 proyek seharusnya sudah
diselesaikan
17.416%,
namun
pada
kenyataannya proyek baru diselesaikan
7,985 %, hal ini berarti bahwa proyek
mengalami keterlambatan 9,430%. Dari jadwal
awal dapat diketahui bahwa pekerjaan struktur
selesai sampai minggu ke 21, sehingga sisa
waktu pelaksanaan adalah 10 minggu dan sisa
prestasi struktur yang harus dicapai 26,028%.
Dari laporan minggu ke 11 dapat kita lihat
pekerjaan yang belum dikerjakan dan dapat
dihitung besar volume pekerjaannya. Dari
aktivitas sisa tersebut perlu dilakukan analisa
agar waktu penyelesaian proyek dapat kembali
sesuai
jadwal
rencana
atau
waktu
keterlambatan penyelesaian proyek dapat
dikurangi sehingga biaya yang dikeluarkan
akibat keterlambatan dapat ditekan seminimum
mungkin.
4.1.2 Perhitungan produktivitas harian normal
Setelah aktivitas sisa proyek didapatkan,
maka langkah selanjutnya menentukan
hubungan
keterkaitan
antar
aktivitas
(predecessor dan successor) berdasarkan
urutan pekerjaan di lapangan. Hubungan antar
aktivitas ini disesuaikan dengan kapan
aktivitas ini harus dimulai dan kapan harus
selesai. Hubungan antar aktivitas diperoleh
dari jadwal yang terdapat dilapangan, yang
kemudian dibreakdown menjadi sub-sub
pekerjaan. Dalam penentuan hubungan antar
aktivitas sudah dikonsultasikan dengan
pelaksana di lapangan sehingga hubungan
antar aktivitasnya menjadi lebih sesuai dengan
kenyataan di lapangan. Hubungan keterkaitan
antar aktivitas dapat dilihat pada lampiran.
4.1.3 Hubungan keterkaitan antar aktivitas
Setelah durasi proyek didapatkan, maka
langkah selanjutnya menentukan hubungan
keterkaitan antar aktivitas (predecessor dan
successor) berdasarkan urutan pekerjaan di
lapangan. Hubungan antar aktivitas ini
disesuaikan dengan kapan aktivitas ini harus
dimulai dan kapan harus selesai.
4.1.4 Perhitungan
produktifitas
Harian
Normal dan Durasi Aktivitas
Setelah Setelah mengidentifikasi pekerjaan
sisa selanjutnya dilakukan penjadwalan ulang.
Pekerjaan sisa yang akan dijadwalkan ulang
dapat di lihat pada Tabel 4.1.
Produktivitas didapat dari pengamatan
dilapangan, analisa harga satuan pokok
kegiatan, dan juga dari hasil konsultasi dengan
project manager di lapangan. Hal ini
diharapkan dapat menghasilkan nilai yang
paling mewakili dengan kondisi sebenarnya.
Sehingga dapat kita rumuskan
Produktivitas normal =
Upah pekerja harian
Upah pekerja menurut HSPK
Contoh perhitungan produktivitas salah satu
aktivitas pada pekerjaan bekisting pelat lantai
sebagai berikut:
Upah tukang kayu = Rp 75.671,00 / hari
Upah pembantu tukang = Rp 55.798,00 / hari
Upah pemasangan bekisting = Rp 42.827 / M2
75.671+55.798
Produktivitas normal =
=
42.827
3,07 M2/hari
Selanjutnya dihitung durasi normal tiap
aktivitas berdasarkan produktivitas harian
masing-masing group pekerja.
Durasi =
Volume
(hari)
Produktivitas
Contoh perhitungan durasi pada salah satu
pekerjaan di LT.1 sebagai berikut :
Pekerjaan pembesian plat Lt dasar
Volume = 12.358 kg
Produktivitas = 63.47 kg / tukang&pembantu
Jumlah orang dlm 1 regu = 30
Jumlah regu = 1 grup
Durasi =
12.358
= 13 hari
63.47x1x(30/2)
4.2 Analisa Time cost trade off
4.2.1. Membuat Network diagram dan
menghitung Normal Duration
Setelah mengetahui hubungan antar aktivitas
(predecessor dan successor) dan kita telah
menghitung durasi dari masing-masing aktivitas
berdasarkan produktivitas normal, maka langkah
selanjutnya adalah membuat jaringan kerja
(network planning).
Dalam menyusun hubungan antar aktivitas
maupun kapan suatu aktivitas dilapangan dimulai
dan
kapan
harus
selesai.
kami
telah
mengkonsultasikan dengan pelaksana dilapangan
sehingga hubungan antar aktivitasnya menjadi
lebih sesuai dengan kenyataan dilapangan. Setelah
itu untuk menyusunnya kami menggunakan
bantuan program microsoft project seperti dapat
dilihat pada lampiran 1
Kemudian dari jaringan kerja yang telah
selesai dapat kita lihat normal duration, yaitu total
durasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
aktivitas sisa yang ada.
4.2.2.
Menghitung Normal Cost
Normal cost merupakan biaya total dari
masing-masing aktivitas sisa yang terdiri dari
normal cost bahan dan normal cost upah. Normal
cost dapat kita ambil dari RAB yang digunakan
pada proyek.
Perhitungan normal cost dalam Tugas
Akhir ini dibedakan menjadi normal cost bahan
dan normal cost upah sehingga kita perlu
melakukan penyesuaian agar didapat masingmasing cost upah dan bahan. Untuk mendapatkan
normal cost bahan maka pertama-tama kita melihat
dulu detail harga satuan pokok kegiatan yang
umumya digunakan dilapangan. Hal ini
dikarenakan data detail harga satuan pokok
kegiatan yang digunakan dalam proyek tersebut
tidak didapatkan.
1. Perhitungan normal cost bahan
Contoh pekerjaan besi sebagai berikut
:
Volume pekerjaan besi plat Lt.Dasar = 156
M3
Pekerjaan 1 kg penulangan besi :
Normal Cost pembesian (RAB) = 6.848
HSPK yang umum digunakan :
Bahan = 11.363
Nilai HSPK = 13.434
Koefisien bahan HSPK =
Harga bahan
Nilai HSPK Umum
=
11.363
13.434
= 0.85
Normal cost bahan = Koef.bahan HSPK x
normal cost
= 0.85 x 6.848
= 5.821
Total Normal cost bahan pekerjaan besi
plat Lt dasar :
= Volume besi plat Lt.dasar x normal
cost bahan
= 12.368 x 5.821 = 71.991.654
2. Perhitungan normal cost upah
Contoh pekerjaan besi sebagai berikut
:
Volume pekerjaan besi plat Lt.Dasar = 156
M3
Pekerjaan 1 kg penulangan besi :
Normal Cost pembesian (RAB) = 6.848
HSPK yang umum digunakan :
Upah = 2.071
Nilai HSPK = 13.434
Koefisien upah HSPK =
Harga upah
Nilai HSPK Umum
2071
=
13.434
=0.15
Normal cost upah = Koef.upah HSPK x
normal cost
= 0.15 x 6.848
= 1.027
Total Normal cost bahan pekerjaan besi
plat Lt dasar :
= Volume besi plat Lt.dasar x normal
cost upah
= 12.368 x 1.027 = 12.704.410
4.2.3.
Alternatif Percepatan/Scenario
Crashing
Sebelum menghitung biaya percepatan
maka kita perlu menentukan alternatif percepatan
yang nantinya kita gunakan. Untuk menentukan
alternatif ini maka sebaiknya kita harus faham
betul kondisi dilapangan sehingga percepatan yang
sudah kita rencanakan akan berjalan dengan baik.
Perlu diingat pula, percepatan untuk setiap item
pekerjaan berbeda-beda tergantung kondisi apa
yang memungkinkan.
Dalam Tugas Akhir ini kami mencari
kondisi yang paling optimum dalam segi biaya dan
waktu oleh karena itu perlu dikombinasikan antara
mempercepat dari sisi sumberdaya manusia dan
alat
bantu
yang
digunakan
dilapangan.
Mempercepat dari sisi sumberdaya manusia dapat
dilakukan dengan penambahan tenaga kerja,
penambahan jam kerja(lembur) sedangkan dari sisi
peralatan kita dapat Menambahan jumlah
peralatan.
Percepatan yang kita lakukan ini sebaiknya
pada lintasan kritis sehingga dapat mengurangi
durasi total proyek. Pada pembangunan gedung
asrama ini aktifitas kritis terdapat pada seluruh
item pekerjaan karena pekerjaan struktur atas dapat
dimulai ketika struktur yang dibawahnya telah
selesai dan dapat menopang dengan baik.
Adapun asumsi-asumsi yang kami
gunakan
untuk
menyederhanakan
proses
percepatan adalah :
1. Penambahan Tenaga kerja
a. Tidak ada kesulitan dalam
mendatangkan tenaga kerja
karena tenaga kerja yang ada
cukup
untuk
memenuhi
kebutuhan proyek. Tetapi
perlu
penambahan
biaya
akibat
mendatangkan
/
mobilisasi tenaga kerja.
b. Pekerja yang ada sudah cukup
terampil untuk mengerjakan
item-item pekerjaan yang
dibutuhkan
sehingga
produktivitasnya
sesuai
dengan standart umumnya.
c. Telah
diperkirakan
sebelumnya scop pekerjaan
dan luas area kerja sehingga
tidak terjadi penumpukan.
2. Penambahan jam kerja dan peralatan
a. Jam kerja normal adalah pukul
08.00-17.00 dengan 1 jam
istirahat siang. Maka jam kerja
efektif
adalah
8
jam
sedangkan jam lembur adalah
pukul 18.00-22.00 sehingga
durasi lembur adalah 4 jam.
b. Perlu diperhatikan karena
kemampuan fisik pekerja
maka pada saat lembur sudah
menurun
dan
kondisi
penerangan buatan maka
produktivitasnya
hanya
diperhitungkan 75% dari
produktivitas normal.
c. Penambahan
Alat
yang
dimaksud
adalah
untuk
memenuhi kapasitas produksi
bahan seiring dengan jumlah
pekerja yang meningkat.
Detail sekenariocrashing pada tiap
pekerjaan dapat dilihat pada Lampiran.
4.2.4.
Produktitas setelah Percepatan
Dari alternatif percepatan yang sudah ada
dapat dihitung produktivitas harian setelah
percepatan dengan menambahkan produktivitas
harian normal dengan produktivitas per hari dari
hasil percepatan. Produktivitas harian setelah
percepatan ini dapat didefinisikan sebagai
kemampuan untuk dapat menyelesaikan suatu
aktivitas dengan volume tertentu tiap harinya
setelah adanya alternatif percepatan.
Produktivitas setelah percepatan/hari
= Produktivitas normal x jml.grup crash
Jumlah group normal
Contoh perhitungan untuk alternatif percepatan:
Aktivitas C (pekerjaan dinding dan plat
lantai beton) untuk pembesian
Jumlah regu yang bekerja
Produktivitas awal
Kg/hari
Jumlah regu yang ditambahkan
Jumlah total regu
= 1 regu
= 63,47
= 2 regu
= 3 regu
Produktivitas setelah percepatan
= 63.47 Kg / hari x3 regu = 190,41Kg / hari
1 regu
Crash duration
Setelah produktivitas meningkat maka
waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
aktivitas akan lebih cepat bila dibandingkan
dengan sebelumnya.
4.2.7.
Cost slope
Dengan
adanya
percepatan
durasi
pelaksanaan pada aktivitas tertentu, maka akan
terjadi pertambahan biaya akibat percepatan durasi
tersebut. Pertambahan biaya percepatan tersebut
tergantung besarnya durasi percepatan yang
direncanakan serta total biaya setelah percepatan
(crash cost). Semakin besar crash costnya maka
semakin besar nilai cost slopenya.
Cost slope =
Crash cos t  Normal cos t
c

Normal duration  Crash duration t
4.2.5.
Crash duration =
Volume
Produktivitas setelah percepatan
Contoh perhitungan crash duration:
Aktivitas C (pekerjaan dinding dan plat
lantai beton) untuk pembesian
Crash duration =
11906,47 Kg
(190.41x10) Kg / hari
= 4,38 hari
4.2.6.
Crash cost
Crash cost adalah jumlah biaya langsung
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kurun
waktu tersingkat. Biaya ini dikeluarkan setelah
dilakukan percepatan.
Crash cost = (Harga satuan material x volume) +
(harga satuan upah x (prod. Crash) x
durasi crash) + mobilitas pekerja +
alat + pengawas
Biaya mobilitas sebesar 15% dari normal cost upah
dan biaya pengawas adalah Rp 100.000,perharinya
Contoh perhitungan untuk alternatif percepatan:
Aktivitas C (pekerjaan dinding dan plat
lantai beton) untuk pembesian
Crash cost = (5821 x 11906,47) + (1027 x
(190,41x10) x 4,38) + (0.15 x 1027 x
11906,47) + 1500000 + (100000 x
4.38)
=83473244,39
4.2.8.
Waktu dan biaya hasil percepatan
Setelah kita menghitung durasi dan cost
maka kita gunakan Program Quantitative Method
For windows. Program ini digunakan untuk
mempermudah dalam menentukan aktivitas mana
saja yang akan dipercepat yang dimulai dari nilai
cost slope terendah. Langkah pertama kita
inputkan besarnya nilai normal time, crash time,
normal cost dan crash cost setiap aktivitas ke
dalam program, program akan menganalisa secara
otomatis sehingga kita mengetahui urutan aktivitas
yg dicrashing beserta waktu dan biayanya.
Selanjutnya hasil output QM ini kita
tambahkan dengan biaya tidak langsung sehingga
didapat total crash cost.Detail biaya tidak langsung
:
A. Biaya tetap(fixed cost)
- Tempat tinggal sementara tenaga kerja=
Rp 7.000.000,00
B. Biaya tidak tetap(variable cost)
I. Biaya Overhead
- Project Manager(1 orang)
=
- Rp 4.500.000,00
- Site Engineer(1 orang)
=
- Rp 3.600.000,00
- Pelaksana Sipil(2 orang)
=
- Rp 5.000.000,00
- Administrasi(1 orang)
=
- Rp 1.800.000,00
- Ahli Mekanikal(1 orang)
=
- Rp 1.500.000,00
- Juru Ukur(2 orang)
=
- Rp 3.000.000,00
- Telp,air,listrik transportasi dan biaya
rapat lapangan
=
- Rp 4.500.000,00
Biaya per bulan=Rp 23.900.000,00
Biaya per hari = Rp 796.666,00
Biaya tak langsung bertambah seiring
dengan bertambahnya waktu pelaksanaan proyek
dapat ditulis dengan persamaan:
Biaya Tak Langsung = biaya tetap + (biaya
tidak tetap per hari x
durasi aktivitas)
= Rp 7.000.000,00 +
(Rp
796.666,00
x
durasi aktivitas)
Total Biaya crash = biaya langsung +
biaya tak langsung
Tabel 4.3 Detail Perhitungan Crashing
Durasi Biaya Percepatan Biaya langsung
106
105
104
103
98
94
89
87
82
80
78
78
3,943,485,000
3,944,019,885
3,944,562,012
3,945,176,711
3,948,319,563
3,950,834,253
3,953,986,704
3,955,389,976
3,958,935,709
3,960,555,260
3,963,488,860
3,963,615,170
534,885
542,127
614,699
3,142,852
2,514,690
3,152,452
1,403,272
3,545,733
1,619,551
2,933,600
126,310
Biaya tidak langsung
Fix cost Variable cost
7,000,000 84,518,366
7,000,000 83,721,699
7,000,000 82,925,033
7,000,000 82,128,366
7,000,000 78,145,025
7,000,000 74,958,358
7,000,000 70,975,025
7,000,000 69,381,691
7,000,000 65,398,358
7,000,000 63,805,025
7,000,000 62,211,692
7,000,000 62,186,206
5,000,000,000
4,000,000,000
3,000,000,000
DC
2,000,000,000
IC
1,000,000,000
TC
75
95
Membandingkan biaya percepatan
optimum dengan percepatan maksimum
Selanjutnya biaya optimum itu dianalisa
apakah melebihi sisa waktu pengerjaan atau tidak,
jika terlambat maka perlu ditambahkan denda
sebesar 1 permil dari nilai kontrak per hari dan
dibandingkan dengan biaya percepatan maksimum
ditambah denda (bila percepatan maksimum juga
terlambat).
Table 4.4 Perbandingan Biaya
Durasi
82
78
durasi sisa Total cost keterlambatan denda
Total
70
4,031,334,067
12
48,463,547 4,079,797,614
70
4,032,801,376
8
32,301,041 4,065,102,417
Biaya Total
4,035,003,366
4,034,741,584
4,034,487,044
4,034,305,077
4,033,464,588
4,032,792,611
4,031,961,729
4,031,771,668
4,031,334,067
4,031,360,285
4,032,700,552
4,032,801,376
Contoh perhitungan biaya percepatan pada
saat optimum yaitu durasi percepatan 82 hari
Biaya langsung proyek
= Rp 3.958.935.709,00
Biaya tidak langsung
= biaya tetap + (biaya tidak tetap
per hari x durasi aktivitas)
=
Rp
7.000.000,00+(
Rp
796.666,67x82 hari)
= Rp 72.398.358,00
Total biaya setelah percepatan
= Rp 3.958.935.709,00 + Rp
72.398.358,15
= Rp 4.031.334.067,00
Setelah mengetahui besarnya biaya
langsung, biaya tidak langsung dan biaya total
proyek percepatan, maka selanjutnya dibuat grafik
hubungan antar ketiga biaya tersebut. Dari grafik
tersebut dapat diketahui berapa besarnya biaya dan
waktu optimum untuk penyelesaian proyek
0
4.2.9.
Contoh Perhitungan denda keterlambatan
durasi 82 hari
= durasi keterlambatan x nilai kontrak
1000
Rp 4.008.567.993,00
= 12 x
1000
= Rp 48.102.815,00
Sehingga total biaya proyek dengan durasi
82 hari
= Total biaya + denda
= Rp 4.031.334.067,00 + Rp
48.102.815,00
= Rp 4.079.436.883,00
Dari hasil perhitungan diatas maka dapat
disimpulkan
mempercepat
proyek
hingga
maksimum yaitu 78 hari dengan keterlambatan 8
hari mengeluarkan biaya lebih kecil daripada
percepatan optimum yaitu 82 hari dengan
keterlambatan 12 hari. Dengan demikian maka
mempercepat proyek hingga maksimum adalah hal
yang layak dilakukan oleh kontraktor.
4.2.10. Perhitungan Opportunity cost
Selain biaya percepatan dari pihak
kontraktor maka ada opportunity cost dari pihak
owner. opportunity cost proyek yaitu keuntungan
potensial yang hilang bila proyek ini mundur
penyelesaiannya. Keuntungan tadi akan didapat
bila proyek tadi cepat penyelesaiannya(Badri, 2001)
Karena
proyek
ini
mengalami
keterlambatan maka ada opportunity cost yang
hilang, dalam hal ini karena bangunan asrama
untuk melayani mahasiswa maka selama masa
keterlambatan ada biaya sewa yang tidak
dibayarkan oleh calon penghuni asrama. Besar
opportunity cost yang hilang karena bulan pertama
masih belum ditempati dapat dihitung :
Opportunity cost
= Durasi keterlambatan x biaya
sewa x jumlah penghuni
= 1 bulan x Rp 200.000,00 x 100
= Rp 20.000.000,00
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang telah dilakukan
dalam Tugas Akhir ini, dihasilkan kesimpulan
yaitu sebagai berikut:
1. Proyek dapat diselesaikan dengan durasi
optimum selama 82 hari, namun proyek
masih mengalami keterlambatan selama
12 hari. Besarnya biaya percepatan
ditambah denda yang dikeluarkan adalah
sebesar Rp 4.079.436.883,00
2. Dari perhitungan dapat disimpulkan
mempercepat proyek hingga maksimum
yaitu 78 hari dengan keterlambatan 8 hari
mengeluarkan biaya lebih kecil yaitu Rp
4.064.869.920
daripada
percepatan
optimum yaitu 82 hari dengan
keterlambatan 12 hari sebesar Rp
4.079.436.883,00
2.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil analisa yang lebih
mendekati kenyataan dan dapat langsung
diaplikasikan di lapangan maka sebaiknya
memperhatikan kondisi di lapangan serta
melakukan observasi lebih detail selama
pelaksanaan proyek. Serta dapat dicoba pula
alternative yang lain dengan mempercepat pula
pekrjaan finishing.
DAFTAR PUSTAKA
Badri,
S.
1997.
Dasar-dasar
Network
Planning(Dasar-dasar
Perencanaan
Jaringan Kerja), Penerbit Rineka Cipta,
Jakarta.
Ervianto, Wulfram I. 2002. Manajemen Proyek
Konstruksi, Penerbit Andi, Yogyakarta.
Gray, Clifford F. 2007. Manajemen Proyek Proses
Manajerial, Penerbit Andi, Yogyakarta.
PMBOK, 2008. Project Mangement Body Of
Knowledge, Fourth Edition.
Republik Indonesia. KEPMEN N0. 102 Tahun
2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan
Upah Kerja Lembur.
Soeharto, Iman. 1997. Manajemen Proyek Dari
Konseptual Sampai Operasional, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Download