ANALISIS IKLAN DAN MEREK TERHADAP LOYALITAS

advertisement
ANALISIS IKLAN DAN MEREK TERHADAP
LOYALITAS KONSUMEN KEK PISANG VILLA
DI KOTA BATAM
TUGAS AKHIR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Untuk Meraih Gelar Diploma III Akutansi
Disusun Oleh :
RUDY
NIM.11002799
AKADEMI AKUTANSI PERMATA HARAPAN
BATAM
2016
ABSTRAK
ANALISIS IKLAN DAN MEREK TERHADAP
LOYALITAS KONSUMEN KEK PISANG VILLA DI KOTA BATAM
Oleh:
Rudy
11002799
Dosen Pembimbing
Rahmi Oktarina,S.Pd.,M.Pd.T
Pada saat ini banyak produk kuliner yang menjadikan produk mereka sebagai ciri khas
kota Batam, Persaingan yang semakin ketat tentunya berpengaruh dalam pangsa pasar konsumen
dari kek pisang Villa, Oleh karena itu untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar perusahaan
maka promosi sangat diperlukan untuk menarik minat konsumen. Faktor yang mempengaruhi
minat beli konsumen dipengaruhi faktor harga, merek yang kurang menarik minat konsumen dan
iklan yang kurang maksimal merupakan faktor penting yang harus diperhatikan perusahaan.
Penelitian ini menggunakan cara dengan melakukan pengisian kuesioner untuk mendapatkan
estimasi dan interpretasi yang baik dari penelitian ini maka sampel yang diteliti ditetapkan
sebanyak 30 responden. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan purposive sampling. Maka sampel yang digunakan adalah 30 kostumer
yang berada di Outlet kek pisang villa Batam Center yang telah melakukan pembelian kek pisang
villa. Berdasarkan hasil penelitian membuktikan bahwa variabel independen yaitu Iklan (X1) dan
Merek (X2) mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap variabel dependen yaitu
loyalitas konsumen (Y). Hal ini dapat diartikan bahwa jika Iklan (X1) dan Merek (X2) meningkat
maka loyalitas konsumen (Y) juga akan meningkat.
Kata kunci : Loyalitas konsumen (Y), iklan (X1), merek (X2).
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi saat ini perusahaan dalam menghadapi pasar yang semakin
kompetitif, maka dunia usaha dituntut untuk lebih profesional dan bisa membaca peluang
yang ada, lebih inovatif dalam menciptakan ide-ide dan harus dapat menanggapi
kebutuhan masyrakat. Pemasaran yang baik oleh perusahaan berperan penting untuk
menarik minat konsumen. Pemasaran dengan sistem dan aktivitasnya mampu
mengakrabkan konsumen dengan produk dan merek dari produk tersebut karena itu
dalam aspek pemasaran tidak hanya mengarah pada fungsi produk saja, tapi lebih fokus
pada merek.
Menurut Ferrina dewi (2008:150), kepercayaan konsumen terhadap merek hanya
dapat diperoleh bila pemasar dapat menciptakan dan mempertahankan hubungan
emosional yang positif dengan konsumen. Hubungan emosional yang positif ini harus
dibangun dalam jangka waktu yang tidak pendek dan harus dilakukan secara konsisten
dan persisten. Kepercayaan yang terus dipelihara akan menghasilkan loyalitas. Untuk
menciptakan loyalitas pemasar harus dapat menciptakan kepercayaan konsumen terhadap
suatu merek, karena loyalitas konsumen terhadap merek tidak dapat diuji tanpa adanya
kepercayaan kosumen terhadap merek. Dalam kondisi saat ini, Pelanggan dihadapkan
dengan berbagai produk dan merek yang beragam dalam memenuhi kebutuhannya.
Merek menjadi identitas dari perusahaan dan menjadi “added value” dalam menjual
1
produknya. Merek memang bukan sekedar nama, istilah, tanda ataupun simbol saja, lebih
dari itu merek merupakan sebuah janji konsisten memberikan gambaran dan pelayanan
pada konsumen. Hanya merek yang dikelola dengan baik dan profesional yang dapat
menarik perhatian konsumen. Merek yang mempunyai nilai lebih akan mendapatkan
tempat tersendiri dibenak konsumen, Jadi dalam pemilihan jenis promosi, media promosi,
bentuk penyajian promosi harus meyakinkan konsumen bahwa produk yang di iklankan
merupakan produk bermutu dan bermanfaat. Jika suatu merek mampu memenuhi harapan
konsumen atau bahkan melebihi harapan konsumen dan memberikan jaminan kualitas
pada setiap kesempatan penggunaan- nya, serta merek tersebut diproduksi oleh
perusahaan yang memiliki reputasi, maka konsumen akan semakin yakin dengan
pilihannya dan konsumen akan memiliki kepercayaan merek, dan menyukai merek.
Menurut Tjahyadi (2006:84), istilah loyalitas pelanggan menujukan pada
kesetiaan pelanggan pada objek tertentu, seperti merek, produk, jasa, atau toko. Pada
umumnya merek seringkali dijadikan sebagai objek loyalitas pelanggan. Loyalitas
pelanggan mencerminkan loyalitas pada merek tertentu. Loyalitas merupakan suatu
kondisi dimana konsumen memiliki sikap yang positif terhadap merek, memiliki
komitmen terhadap merek, dan memiliki kecenderungan untuk meneruskan pembelianya
di masa yang akan datang. Kesetiaan pada suatu merek adalah kondisi dimana konsumen
mempunyai sikap positif terhadap merek, mempunyai komitmen terhadap merek dan
bermaksud meneruskan pembeliannya di masa mendatang.
Rangkuti (2009) menjelaskan bahwa kesetiaan pelanggan terhadap merek sangat
perlu dipertahankan dan ditingkatkan karena dengan mempertahankan pelanggan yang
sudah ada akan lebih mudah dan lebih menghemat biaya dibandingkan dengan mencari
pelanggan baru.
Loyalitas dapat dijadikan nilai yang berarti bagi pelanggan dan
perusahaan. Dari sisi pelanggan, pelanggan akan menanamkan loyalitas mereka pada
bisnis yang dapat memberikan nilai superior dibanding nilai yang ditawarkan pesaingnya.
Jika pelanggan loyal pada perusahaan, pelanggan dapat meminimalkan waktu yang
diperlukannya untuk mencari, menempatkan, dan mengevaluasi alternatif pembelian.
Pelanggan juga dapat menghindari proses pembelajaran yang mungkin terlalu banyak
menghabiskan waktu dan usaha yang diperlukan untuk menjadi biasa dengan vendor
yang baru. Dari sisi perusahaan, loyalitas pelanggan dapat menjadi sumber penting untuk
mempertahankan pertumbuhan, profit, dan aset yang bernilai bagi perusahaan
Menurut Kotler & Keller (2007:244) Iklan adalah segala bentuk presentasi
nonpribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus
dibayar. Persaingan yang semakin ketat dalam industri makanan menjadikan masingmasing produsen berusaha membangun dan mempertahankan loyalitas konsumen atau
kesetiaan pelanggan.
Lupiyoadi (2006) menjelaskan bahwa persaingan bukanlah antara apa yang di
produksi berbagai perusahaan dalam suatu pabrik, tetapi antara apa yang di tambahkan
pada hasil pabrik tersebut dalam bentuk pengemasan, pelayanan, iklan, konsultasi bagi
pelanggan, pendana, pengaturan pengiriman, pergudangan dan hal lain yang orang
anggap bernilai. Konteks ini perusahaan di tuntut bukan saja mampu memberikan berbagi
nilai atau benefit untuk membuat pelanggan memilih merek yang dipasarkan, namun
perusahaan harus terus menerus melakukan berbagi upaya untuk membangun citra merek
dan kepuasan konsumen. Perusahaan harus benar-benar jeli membaca keingian dan
kebutuhan sesungguhnya dari para konsumen dalam membangun loyalitas konsumen,
jangan sampai produk yang di tawarkan tidak sesuai dengan keadaan pasar.
Menurut Kotler (2007:178) Persaingan antara produk dipasaran mendorong
produsen gencar berpromosi untuk menarik perhatian konsumen, oleh karena itu
perusahaan tidak hanya melakukan pengembangan strategi bauran pemasaran, melainkan
juga pengembangan suatu program komunikasi efektif dengan para pelanggan atau yang
disebut dengan bauran promosi. Bauran promosi (promotion mix) sendiri terdiri dari lima
alat yaitu sales promotion, advertising, personal selling, public relation and direct
marketing. Namun di antara alat-alat promosi tersebut per-iklanan lah di percaya sebagai
pilihan yang tepat untuk menarik minat konsumen dan lebih efektif. Iklan merupakan
cara yang efektif untuk menyebarkan pesan atau memberi informasi suatu merek kepada
konsumen. Iklan dirancang untuk mengkomunikasikan simbol-simbol dan citra yang
menunjukkan bagaimana merek tersebut dapat memberikan benefit, sehingga dapat
menciptakan sikap positif terhadap merek tersebut dan mendorong konsumen untuk
mencoba produk tersebut. Iklan berfungsi mempengaruhi konsumen agar melakukan
pembelian ulang terhadap merek yang menjadi pilihannya, selain itu juga iklan dapat di
gunakan untuk membangun citra jangka panjang dan mampu menjangkau calon
konsumen walau letaknya berjauhan. Melalui iklan orang akan mempunyai sebuah kesan
tertentu tentang apa yang di iklan kan, dengan berbagai bentuk visualisasi antara lain
adalah penggunaan endoser, pesan kreatif, serta berbagai bonus dan penawaran harga
yang di berikan produsen untuk mempersuasi konsumen. Maka dari itu produsen yang
bertindak sebagai pemasar berusaha untuk menciptakan iklan sebaik-baiknya.
Kotler dan Keller (2009:172) berpendapat bahwa merek adalah nama, istilah,
lambang, atau desain, atau kombinasinya yang dimaksud- kan untuk mengindentifikasi
barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan membedakan mereka
dari pesaing. Berbagai merek kuliner dengan keunggulan masing-masing berlomba agar
bisa dipilih oleh konsumen, dari sekian banyak merek yang ada di pasaran, masingmasing merek akan dipersepsikan secara berbeda oleh konsumen dalam bentuk citra
merek yang akan mengantarkan konsumen pada kesimpulannya atas merek tersebut.
Peranan merek bukan lagi sekedar nama ataupun pembeda dari merek pesaing, lebih dari
itu, merek sudah menjadi faktor penentu keunggulan bersaing. merek bisa memiliki
posisi yang sangat kuat dan menjadi modal/ekuitas.
Alasan penting untuk mengelola dan mengembangkan ekuitas merek adalah
merek lebih bermakna daripada sekedar produk. Produk hanya menjelaskan atribut
dimensinya yang akan dipertukarkan dan mudah ditiru oleh perusahaan lain, sedangkan
merek dapat menjelaskan emosi serta hubungan secara spesifik dengan pelanggan serta
sifatnya tidak berwujud (intangible) sehingga tidak mudah ditiru oleh pesaing. Semakin
kuat ekuitas merek suatu produk, semakin kuat daya tariknya di mata konsumen untuk
termotivasi memilih produk tersebut (Darmawan, 2005).
Menurut Rangkuti (2004:224) Merek dapat menumbuhkan loyalitas, apabila para
konsumen beranggapan bahwa merek tertentu secara fisik berbeda dari merek pesaing,
citra merek tersebut akan melekat secara terus-menerus sehingga dapat membentuk
kesetiaan terhadap merek tertentu yang pada akhirnya akan menciptakan loyalitas
pelanggan.
Objek penelitian ini adalah kek pisang villa, oleh-oleh khas Batam. Berdasarkan
sumber yang peneliti peroleh dari website perusahaan kek pisang villa tentang pendirian
perusahaan, sejarah perusahaan, dan referensi tentang perusahaan kek pisang oleh
pimpinan cabang perusahaan juga karyawan kek pisang villa. Sejarah perusahaan kek
pisang villa berawal dari Cv.Media Kreasi Bangsa perusahaan yang fokus menggarap
produk berupa oleh-oleh khas Batam. Pada awal mula Pak.Denny yang merupakan
karyawan sebuah perusahaan pabrik elektronika, memutuskan untuk keluar dari
pekerjaan nya tahun 2006, memutuskan untuk menjadi wirausaha. Sepanjang tahun, ia
mencoba berbagai jenis usaha. Pada Februari 2007 Pak.Denny dan istrinya Bu.Selvi
Nurlia, mulai membuat bolu pisang dengan nama Banana Cake mereka memulai usaha
dari rumah sederhana kawasan Batu Aji di pinggiran Batam. Memulai dengan 2 kilogram
pisang sehari, rata-rata dibuat 40 kotak kue sehari kue tersebut dipasarkan dalam bentuk
potongan ke warung-warung. Kek pisang Villa ini resmi berdiri pada 20 Februari 2007
disebuah rumah type 36, Pada juli 2007 kemudian memutuskan untuk pindah di depan
komplek mereka di Villa Muka Kuning, Batu Aji dan mengubah nama produk mereka
menjadi Villa sebagai merek dagang oleh Bu.Selvi karena mereka tinggal di perumahan
Villa Muka Kuning nama ini cepat dihapal dan tidak susah diucapkan oleh masyarakat,
kemudian mereka meminjam uang untuk tambahan modal, dari Kredit Tanpa
Agunan(KTA) sebesar Rp.40.000.000,-. Mereka menyewa ruko di kompleks tempat
mereka tinggal saat itu produksi naik menjadi 100 kotak perhari, mereka mulai
meningkatkan promosi untuk menjadikan produk khas Batam. Juni 2008, Pak.Denny
mendapat kredit usaha rakyat sebesar Rp.500.000.000,- (Lima Ratus Juta Rupiah),
pinjaman tanpa agunan tersebut ia gunakan untuk mengembangkan sayap. Ia menambah
dua gerai dipusat kota dan satu lagi di kawasan pinggiran. Pabrik dipindahkan dari
kawasan Batu Aji ke gerai baru di Batam Center di kawasan industri Citra Buana III.
Pabrik itu memasok produk untuk gerai di Batu Aji, Penuin, Tiban, Nagoya, dan Bandara
Hang
Nadim.
(http://kekpisangvilla.com/info/owner-kek-pisang-villa-berbagi-sukses-
wirausaha-di-bpes.html, diakses tanggal 08 juli 2016).
Pada saat ini banyak produk kuliner yang menjadikan produk mereka sebagai ciri
khas kota Batam, tentunya berpengaruh dalam pangsa pasar konsumen dari kek pisang
Villa, Oleh karena itu untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar perusahaan maka
promosi sangat diperlukan untuk menarik minat konsumen. Menurut Wawancara yang
dilakukan kepada pimpinan Cabang Batam Center Bapak Chendra Mexi, permasalahan
yang dihadapi yaitu persaingan yang semakin ketat, dimana banyak produk-produk jenis
baru yang bermunculan akan menggerus pangsa pasar dari penjualan kek pisang villa, oleh
karena itu peningkatan mutu produk sangat dibutuhkan agar konsumen dapat menjadi
pelanggan tetap serta inovasi yang dilakukan untuk agar pelanggan tidak jenuh terhadap
produk. Strategi pemasaran yang dilakukan oleh kek pisang villa adalah melalui promosi
pada event-event hari besar nasional, dengan melakukan penjualan langsung kepada
konsumen.
Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh iklan terhadap penjualan
perusahaan karena menurut wawancara dengan pimpinan cabang kek pisang villa dimana
promosi yang dilakukan adalah secara langsung dengan pendekatan terhadap konsumen,
maka peneliti tertarik untuk menganalisis pengaruh iklan agar dapat dijadikan referensi
bagi perusahaan dalam melakukan promosi dan pengaruh merek terhadap loyalitas
konsumen. Seperti yang kita ketahui bahwa Kota Batam merupakan lokasi yang strategis
untuk para wisatawan baik lokal maupun mancan Negara untuk berkunjung ke lokasi
wisata atau sebagai transit dimana posisi Batam yang berdekatan dengan kota Singapura
dan Malaysia dan memiliki Bandar udara international Hang Nadim dengan
memaksimalkan promosi akan dapat meningkatkan penjualan perusahaan agar lebih
maksimal, dengan penempatan iklan dilokasi yang stragetis dikota Batam maka para
wisatawan lokal yang masih belum mengenal produk akan tertarik untuk melakukan
pembelian dan dapat menarik minat wisatawan untuk membeli. kemudian pengaruh merek
terhadap penjualan dimana produk yang lebih dikenal masyarakat akan lebih diminati oleh
para wisatawan karena produk yang terjamin serta konsumen akan lebih percaya diri
untuk dijadikan sebagai oleh-oleh dan bagaimana untuk menjadikan konsumen loyal serta
mempertahankan loyalitas dari konsumen. Loyalitas konsumen akan terbentuk apabila
konsumen merasa puas dan senang ketika melakukan pembelian produk.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis terdorong untuk melakukan
penelitian dengan lebih lanjut agar dapat meningkatkan daya saing dengan produk sejenis
dengan judul “ANALISIS IKLAN DAN MEREK TERHADAP LOYALITAS
KONSUMEN KEK PISANG VILLA DI KOTA BATAM”
1.2
Batasan Masalah
Agar tujuan penelitian dapat tercapai, maka penulis membuat batasan masalah,
untuk Objek penelitian yaitu outlet kek pisang Villa pada Komplek Nusantara Golden, Jl.
Raja H. Fisabilillah Blok A No.3, Kota Batam, Kepulauan Riau.
1.3
Rumusan Masalah
Adapun permasalahan penelitian yang dapat dirumuskan berdasarkan latar
belakang yang telah diuraikan diatas adalah sebagai berikut
1. Apakah iklan berpengaruh parsial terhadap loyalitas konsumen kek pisang villa di
kota Batam?
2. Apakah merek berpengaruh parsial terhadap loyalitas konsumen kek pisang villa di
kota Batam?
3. Apakah Iklan dan merek berpengaruh simultan terhadap loyalitas konsumen kek
pisang villa di kota Batam?
1.4
Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah iklan berpengaruh parsial terhadap loyalitas konsumen
kek pisang villa di kota Batam
2. Untuk mengetahui apakah merek berpengaruh parsial terhadap loyalitas konsumen
kek pisang villa di kota Batam
3. Untuk mengetahui apakah Iklan dan merek berpengaruh simultan terhadap loyalitas
konsumen kek pisang villa di kota Batam.
1.5
Manfaat Penelitian
1.5.1
Manfaat Teoris
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan konsep dan
kajian yang lebih mendalam tentang manajemen pemasaran melalui Analisi Iklan dan
merek. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai sumber ilmu untuk menambah
wawasan dan juga bahan pertimbangan serta referensi untuk pengembangan penelitian
selanjutnya.
1.5.2
Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dan informasi bagi
perusahaan yang berkaitan dengan kebijakan lembaga mengenai cara meningkatkan
Loyalitas konsumen ditinjau dari sisi Iklan dan Merek.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Loyalitas Konsumen
2.1.1 Pengertian Loyalitas Konsumen
Menurut
kesetiaan
Oliver
dalam Kotler
sebagai “ komitmen
yang
dan
Keller (2007 : 175) Mendefinisikan
dipegang
kuat untuk membeli lagi atau
berlangganan lagi produk atau jasa tertentu dimasa depan meskipun ada pengaruh situasi
dan usaha pemasaran yang berpotensi menyebabkan peralihan perilaku”
Gramer dan Brown (dalam Utomo 2006: 27) memberikan definisi mengenai
Loyalitas, yaitu derajat sejauh mana seorang konsumen menunjukkan perilaku pembelian
berulang dari suatu penyedia produk, memiliki suatu desposisi atau kecenderungan sikap
positif terhadap penyedia produk dan hanya mempertimbangkan untuk menggunakan
penyedia produk ini pada saat muncul kebutuhan untuk memakai jasa ini. Dari definisi
yang disampaikan Gramer dan Brown, konsumen yang loyal tidak hanya seorang pembeli
yang melakukan pembelian berulang, tetapi juga mempertahankan sikap positif terhadap
penyedia produk.
Menurut Supranto dalam Sinta (2009:13) loyalitas dapat didefinisikan sebagai
sikap konsumen terhadap suatu produk / merek yang diwujudkan dengan membeli terus
menerus produk yang sama sepanjang waktu yang merupakan hasil dari pembelajaran
dimana produk dapat memuaskan kebutuhannya.
Menurut Wahyu Nugroho (2005:11) loyalitas konsumen didefinisi- kan sebagai
suatu ukuran kesetiaan dari pelanggan dalam menggunakan suatu merek produk atau
merek jasa pada kurun waktu tertentu pada situasi dimana banyak pilihan produk ataupun
jasa yang dapat memenuhi kebutuhannya dan pelanggan memiliki kemampuan
mendapatkannya.
Berdasarkan beberapa definisi loyalitas konsumen diatas dapat disimpulkan
bahwa Loyalitas konsumen adalah kesetiaan konsumen yang dipresentasikan dalam
pembelian yang konsisten terhadap produk atau jasa sepanjang waktu dan ada sikap yang
baik untuk merekomendasikan orang lain untuk membeli produk Indikasi loyalitas yang
sesunggunhnya diperlukan suatu pengukuran terhadap sikap yang dikombinasikan
dengan pengukuran terhadap perilaku.
2.1.2 Faktor mempengaruhi Loyalitas Konsumen
Swastha dan Handoko (dalam Joko Riyadi 2004: 83) menyebutkan lima faktor
utama yang mempengaruhi loyalitas konsumen, sebagai berikut :
1. Kualitas Produk, kualitas produk yang baik secara langsung akan
mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen, dan bila hal tersebut berlangsung
secara terus-menerus akan mengakibatkan konsumen yang selalu setia
membeli atau menggunakan produk tersebut dan disebut loyalitas konsumen.
2. Kualitas Pelayanan, selain kualitas produk ada hal lain yang mempengaruhi
loyalitas konsumen yaitu kualitas pelayanan.
3.aEmosional, emosional di sini lebih diartikan sebagai keyakinan penjual itu
sendiri agar lebih maju dalam usahanya. Keyakinan tersebut nantinya akan
mendatangkan ide-ide yang dapat meningkatkan usahanya.
4. Harga, sudah pasti orang menginginkan barang yang bagus dengan harga yang
lebih murah atau bersaing. Jadi harga di sini lebih diartikan sebagai akibat,atau
dengan kata lain harga yang tinggi adalah akibat dari kualitas produk tersebut
yang bagus, atau harga yang tinggi sebagi akibat dari kualitas pelayanan yang
bagus.
5.aBiaya, orang berpikir bahwa perusahaan yang berani mengeluarkan biaya yang
banyak dalam sebuah promosi atau produksi pasti produk yang akan dihasilkan
akan bagus dan berkualitas, sehingga konsumen lebih loyal terhadap produk
tersebut.
2.1.3
Mempertahankan dan Meningkatkan Loyalitas konsumen
Strategi yang dapat dikembangkan untuk menciptakan dan mempertahankan
loyalitas konsumen terhadap suatu merek tertentu (Loudon, David dan Albert J. Della
Bitta, 2002; 654 – 655; dalam Sapto Handoyo, 2004; 164) adalah:
a. Meningkatkan mutu pelayanan purna jual.
b. Menurunkan harga, misal: dengan memberikan diskon.
c. Mengembangkan pesan-pesan periklanan yang baik dan persuasif.
d. Pemberian kupon belanja.
e. Pemberian contoh produk secara cuma-cuma.
f.
Meningkatkan citra produk melalui program promosi yang gencar.
g. Menghindari terjadinya kehabisan persediaan.
Lupiyoadi (2006:158) mengemukakan bahwa dalam meningkatkan kepuasan
konsumen atau loyalitas konsumen ada lima faktor yang perlu diperhatikan yaitu:
1. Kualitas Produk
Konsumen akan merasa puas jika membeli dan menggunakan produk tersebut
dan kualitasnya baik. Terdapat enam elemen dalam kualitas produk yaitu :
performance, durability, feature, reliability, consistency dan desaign.
2. Harga
Bagi konsumen yang sensitive harga yang lebih murah adalah sumber
kepuasan terpenting, karena mereka akan mendapatkan value for money yang
tinggi. Komponen ini sangat penting bagi beberapa perusahaan yang ingin
menciptakan kepuasan konsumen.
3. Service Quality
Komponen ini terdiri dari tiga hal yaitu sistem,teknologi dan manusia. Faktor
manusia memegang kontribusi terbesar 70% sehingga tidak mengherankan
kepuasan konsumen tidak dapat diikuti.
4. Emotional Factor
Komponen ini berlaku untuk konsumen dengan gaya hidup seperti : mobil,
pakaian, kosmetik dan sebaginya. Rasa bengga, symbol sukses dan rasa
percaya diri, bagian orang penting dan sebagainya adalah contoh-contoh
emotional value yang mendasari kepuasan konsumen.
5. Biaya dan Kemudahan Mendapatkan Produk
Pelanggan akan merasa puas jika biaya dan produk yang diperoleh relative
mudah, nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk dan pelayanan.
2.1.4 Indikator Loyalitas Konsumen
Konsumen yang loyal sangat besar artinya bagi perusahaan. Menurut
(2002:25) ada lima indikator konsumen yang loyal yaitu :
1. Konsumen cenderung membeli lebih banyak dan setia lebih lama.
2. Konsumen tidak sensitive terhadap harga.
3. Konsumen akan melakukan word of mouth yang positif.
Kotler
4. Menawarkan gagasan barang atau jasa kepada perusahaan
2.2
Iklan
2.2.1 Pengertian Iklan
Menurut Kotler dan Keller, 2007, Iklan adalah segala bentuk presentasi nonpribadi dan promosi gagasan, barang, atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar.
Sedangkan Menurut Lee dan Johnson yang dialih bahasakan oleh Munandar dan Priatna
(2007:3) Periklanan merupakan salah satu bentuk promosi yang paling banyak digunakan
perusahaan dalam mempromosikan produknya.
Pengertian periklanan menurut Fandy Tjiptono (2005:226) mengatakan bahwa:
“Iklan adalah bentuk komunikasi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang
keungulan atau keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga
menimbulkan rasa Menyenangkan yang akan mengubah pikiran seseorang untuk
melakukan pembelian”.
Menurut Kasali (2007:11) Periklanan adalah komunikasi komersil dan
nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke
suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah,
direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa iklan adalah semua
bentuk presentasi nonpersonal yang dimaksudkan untuk mempromosi- kan gagasan, atau
memberikan informasi tentang keungulan dan keuntungan suatu produk yang dibiayai
pihak sponsor tertentu.
2.2.2 Klastifikasi Iklan
Menurut Fandy Tjiptono (2005:227) iklan dapat diklasifikasi kan berdasarkan
berbagai aspek, di antaranya dari aspek isi pesan, tujuan, dan pemilik iklan.
1. Dari aspek isi pesan
a. Product advertising, yaitu iklan yang berisi informasi produk (barang dan
jasa) suatu perusahaan. Ada dua jenis iklan yang termasuk kategori ini,
yaitu :
1. Direct-action advertising, yaitu iklan produk yang didesain sedemikian
rupa untuk mendorong tanggapan segera dari khalayak atau pemirsa
2. Indirect-action advertising, yaitu iklan produk yang
didesain untuk menumbuhkan permintaan dalam jangka panjang.
b.
Institutional advertising, yaitu iklan yang didesain untuk memberi
informasi tentang usaha bisnis pemilik iklan dan membangun goodwill
serta image positif bagi organisasi. Institutional advertising terbagi atas:
1.aPatronage advertising, yakni iklan yang
memenginformasi
kanuusaha bisnis pemilik iklan.
2. Iklan layanan masyarakat (public service advertising), yakni iklan
yang menunjukan bahwa pemilik iklan adalah warga yang baik,
karena memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan.
2. Dari aspek tujuan
a.
Pioneering advertising (informative advertising), yaitu
iklan
yang
berupaya menciptakan permintaan awal (primary demand).
b.
Competitive advertising (persuasive advertising), yaitu iklan yang
berupaya mengembangkan pilihan pada merek tertentu.
c.
Reminder advertising, yaitu iklan yang berupaya melekatkan nama atau
merek produk tertentu di benak khalayak.
3. Dari aspek pemilik iklan
Ada dua jenis iklan berdasarkan aspek pemilik iklan, yaitu :
a.
Vertical cooperative advertising, yaitu iklan bersama para anggota saluran
distribusi, misalnya di antara para produsen, pedagang grosir, agen, dan
pengecer.
b.
Horizontal cooperative advertising, yaitu iklan bersama dari beberapa
perusahaan sejenis.
2.2.3 Jenis Iklan
Menurut Fandy Tjiptono (2008:370) periklanan dapat dibedakan ke dalam dua
golongan. Jenis periklanan tersebut adalah :
1.
Pull Demand Advertising
Pull demand advertising adalah periklanan yang ditujukan kepada pembeli
akhir agar permintaan produk bersangkutan meningkat. Biasanya produsen
menyarankan kepada para konsumen untuk membeli produknya ke penjual
terdekat. Pull demand advertising juga disebut consumer advertising.
2.
Push Demand Advertising
Push demand advertising adalah periklanan yang ditujukan kepada para
penyalur. Maksudnya agar para penyalur bersedia meningkatkan permintaan
produk
bersangkutan
dengan
menjualkan
sebanyak-banyaknya
ke
pembeli/pengecer. Barang yang diiklankan biasanya berupa barang industri. Push
demand advertising juga disebut trade advertising.
2.2.4 Tujuan Iklan
Adapun tujuan dari periklanan sebagai pelaksanaan yang beragam dari alat
komunikasi yang penting bagi perusahaan bisnis dan organisasi lainnya, menurut Fandy
Tjiptono (2005:206) adalah sebagai berikut:
1. Informing (memberikan informasi), periklanan membuat konsumen sadar akan
merek-merek baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat
merek, serta memfasilitasi penciptaan citra merek yang positif.
2. Persuasing
(mempersuasi), iklan yang efektif akan
mampu
membujuk konsumen untuk mencoba produk dan jasa yang di iklankan.
3. Remainding (mengingatkan), iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar
dalam ingatan para konssumen.
4. Adding Value (memberikan nilai tambah), periklanan memberikan nilai tambah
dengan cara penyempurnaan kualitas dan inovasi pada merek dengan
mempengaruhi
persepsi konsumen.
5.AAssisting (mendampingi), peranan periklanan adalah sebagai pendamping
yang menfasilitasi upaya-upaya lain dari perusahaan dalam proses komunikasi
pemasaran.
2.2.5 Sifat Iklan
Dalam konteks komunikasi, Iklan sangat dibutuhkan karena aktivitas perpindahan
informasi harus mengandung daya tarik dan menggugah suatu perasaan tertentu. Suatu
iklan menurut Fandy Tjiptono (2005:226-227) mempunyai sifat – sifat sebagai berikut:
a. Public Presentation
Iklan memungkinkan setiap orang menerima pesan yang sama tentang produk
yang diiklankan.
b. Persuasiveness
Pesan iklan yang sama dapat diulang-ulang untuk memantapkan penerimaan
informasi.
c. Amplifed Expresiveness
Iklan mampu mendramatisasi produk perusahaan melalui gambar dan suara
untuk menggugah dan mempengaruhi perasaan khalayak.
d. Impersonality
Iklan tidak bersifat memaksa khalayak untuk memperhati
kan dan menanggapinya, karena merupakan komunikasi
yang monolog (satu arah).
2.2.6 Indikator Iklan
Indikator Iklan menurut Nila Kasuma Dewi dkk. (2012:22) adalah sebagai berikut
:
1. Daya tarik pesan
Daya tarik pesan merupakan salah satu faktor pendorong timbulnya efek dari
konsumen. Dengan demikian sebuah pesan idealnya harus mendapat perhatian
(attention), mempertahankan minat (interst), menimbulkan keinginan (desire)
dan memperoleh tindakan (action).
3. Slogan
Slogan adalah motto atau frasa yang dipakai pada konteks politik, komersial,
agama, dan lainnya, sebagai ekspresi sebuah ide atau tujuan yang mudah
diingat. Kata "slogan" sendiri diambil dari istilah dalam bahasa Gaelik,
sluagh-ghairm, yangberarti "teriakan bertempur". Secara umum, Slogan yaitu
perkataan atau kalimat pendek yang menarik ataumencolok dan mudah diingat
untuk prinsip atau sebagai semboyan .
4. Gambar dan warna
Warna dan gambar dapat memberikan pengaruh terhadap psikologi
emosi serta cara bertindak manusia. Warna dan gambar juga menjadi bentuk
komunikasi non verbal yang bisa mengungkapkan pesan secara instan dan
lebih bermakna yang sering digunakan para marketer atau komunikasi visual
yang handal untuk tujuan branding, sales/penjualan serta marketing
perusahaan.
5. Kata-kata mudah di ingat dan menarik perhatian
Promosi dalam bentuk lisan lebih mudah diterima calon konsumen. Kata-kata
Promosi dengan isi yang bertema trend situasi dan familiar cenderung
diperhatikan dan berpeluang mempengaruhi orang, Sehingga Kata-kata
promosi yang kuat akan diingat dan akan selalu menempatkan nama produk
dengan kalimat promosinya.
2.3
Merek
2.3.1 Pengertian merek
Menurut Aaker, David (2009) Merek adalah salah satu atribut yang penting dari
sebuah produk, dimana merek suatu produk dapat memberikan nilai tambah bagi produk
tersebut.Merek tidak hanya sebuah nama bagi produk, tetapi lebih dari itu merupakan
identitas untuk membedakan dari produk-produk yang dihasilkan dari perusahaan lain.
Dengan identitas khusus, produk tertentu akan lebih mudah dikenali oleh konsumen dan
pada gilirannya tentu akan memudahkan pada saat pembelian ulang produk tersebut.
Untuk lebih mengetahui tentang merek, maka penulis menyajikan teori pengertian merek
dari beberapa ahli.
Fandy Tjiptono (2005:2) berpendapat bahwa pengertian merek adalah tanda yang
berupa gambar, nama, kata, huruf-huruf, angka-angka, susunan warna atau kombinasi
dari unsur-unsur tersebut yang memiliki daya pembeda dan digunakan dalam kegiatan
perdagangan barang atau jasa”
Menurut Kotler dan Armstrong (2008:275), merek (brand) adalah sebuah nama,
istilah, tanda, lambang, atau desain, atau kombinasi semua ini, yang menunjukkan
identitas pembuat atau penjual produk atau jasa”. Di samping itu, merek melindungi
konsumen maupun produsen dari para kompetitor yang berusaha memberikan produkproduk yang tampak identik. Pada intinya merek adalah penggunaan nama, logo, trade
mark, serta slogan untuk membedakan perusahaan-perusahaan dan individu-individu satu
sama lain dalam hal apa yang mereka tawarkan.
Pengertian menurut Kotler (2002:443): A brand is a name, term,sign, symbol, or
design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller
or group of sellers and to
differentiate them from those of competitors.
Artinya: Merek adalah nama, istilah, tanda, symbol, rancangan, atau kombinasi dari halhal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasikan barang atau jasa dari seorang
atau sekelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk pesaing.
Sedangkan menurut Warren J. Keegan (2006:379) sebagai berikut :
A brand is a complex bundle of images and experiences in the customer’s mind. Artinya:
Merek adalah sebuah berkas yang komplek dari kesan dan pengalaman menurut pikiran
konsumen. Merek memungkinkan konsumen untuk mengatur dengan lebih baik
pengalaman tempat belanja mereka,membantu
mereka mencari dan menemukan
keterangan produk. Sedangkan fungsi merek adalah untuk membedakan kepentingan
perusahaan, penawaran dari semuanya. Informasi tentang produk dan merek datang dari
bermacam-macam sumber, memasang iklan, pemberitaan,penjualan dan pengemasan.
2.3.2 Kepercayaan Merek
Kepercayaan terhadap merek memegang peranan yang penting dalam terciptanya
loyalitas konsumen terhadap suatu merek tertentu. Menurut Ferrinadewi (2008:150),
“kepercayaan konsumen terhadap merek hanya dapat diperoleh bila pemasar dapat
menciptakan dan mempertahankan hubungan emosional yang positif dengan konsumen”.
Kepercayaan adalah sejumlah spesifik terhadap integritas (kejujuran pihak yang
dipercaya dan kemampuan menepati janji), benevolence (perhatian dan motivasi yang
dipercaya untuk bertindak sesuai dengan kepentingan yang mempercayai mereka),
competency (kemampuan pihak yang dipercaya untuk melaksanakan kebutuhan yang
mempercayai) dan konsistensi perilaku pihak yang dipercaya (Luarn dan Lin dalam
Ferrinadewi, 2008:147). Dalam riset Costabile (Ferrinadewi, 2008:147) kepercayaan atau
trust didefinisikan sebagai persepsi akan kehandalan dari sudut pandang konsumen
didasarkan pada pengalaman atau terpenuhinya harapan akan kinerja produk.
Kepercayaan merek merupakan variabel psikologis yang mencermin kan sejumlah
akumulasi awal yang melibatkan kredibilitas, integritas dan benevolence yang dilekatkan
pada merek tertentu.
Menurut Lau dan Lee yang dikutip dari Cahyo dan Wahyudi
(2009:92), kepercayaan atas merek adalah kesedian seseorang untuk menggantungkan
dirinya pada suatu merek dan risikonya karena adanya harapan bahwa merek itu akan
memberikan hasil yang positif. terdapat tiga faktor yang mempengaruhi kepercayaan
terhadap merek. Hubungan ketiga faktor tersebut dengan kepercayaan merek dapat
digambarkan sebagai berikut:
a. Brand characteristic (karakteristik merek)
Karakteristik merek mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan
pengambilan keputusan konsumen untuk mempercayai suatu merek. Hal ini
disebabkan
oleh
konsumen
melakukan
penilaian
sebelum
membeli.
karakteristik merek meliputi dapat diramalkan, mempunyai reputasi, dan
kompeten.
b. Company characteristic (karakteristik perusahaan)
Yang ada dibalik suatu merek juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan
konsumen
terhadap
merek
tersebut.
Pengetahuan
konsumen
tentang
perusahaan yang ada di balik merek suatu produk merupakan dasar awal
pemahaman kosumen terhadap merek suatu produk. Karakteristik ini meliputi
reputasi suatu perusahaan, motivasi perusahaan yang diinginkan, dan integritas
suatu perusahaan.
c. Consumer-brand characteristic (karakteristik konsumenrmerek)
Karakteristik
konsumen-merek
merupakan
dua
kelompok
yang
mempengaruhi. Oleh sebab itu, karakteristik konsumen-merek dapat
mempengaruhi kepercayaan terhadap merek. Karaktersitik ini meliputi
kemiripan antara konsep emosional konsumen dengan kepribadian merek,
kesukaan terhadap merek, dan pengalaman terhadap merek.
2.3.3 Manfaat Merek
Beberapa manfaat memiliki merek yang kuat menurut Susanto dan Wijanarko
(2004 : 12) sebagai berikut :
1. Merek yang kuat akan membangun loyalitas dan loyalitas akan mendorong
binis terulang kembali. Studi dari Bob Psokoff menunjukkan bahwa
peningkatan loyalitas konsumen sebesar 5% dapat menaikkan keuntungan
lifetime dari konsumen hingga 100%. Selain itu peningkatan loyalitas
konsumen sebesar 2 % setara dengan penurunan biaya sebesar 10 %.
2. Merek yang kuat memungkinkan tercapainya harga premium dan akhirnya
memberikan harga yang lebih tinggi.
3. Merek yang kuat merupakan suatu pembeda yang jelas, bernilai dan
berkesinambungan menjadi ujung tombak bagi daya saing perusahaan serta
sangat membantu dalam strategi pemasaran.
4. Merek yang kuat memberikan jaminan fokus internal dan eksekusi merek.
5. Merek yang kuat umumnya memberikan pemahaman bagi karyawan tentang
posisi merek tersebut dan apa yang dibutuhkan untuk menopang reputasi atau
janji yang diberikan merek itu.
6. Merek yang kuat juga akan memberikan kejelasan atau strategi karena
setiap anggota organisasi mengetahui posisinya dan bagaimana cara
menghidupkannya dimata pelanggan.
7. Dengan basis merek yang kuat, pelanggan yang loyal mungkin
mengabaikan
jika
suatu
saat
perusahaan
membuat
akan
kesalahan.
2.3.4 Elemen Merek
Menurut Kotler & Keller (2008:269), elemen merek (brand element) adalah alat
pemberi nama dagang yang mengidentifikasikan dan mendiferensiasikan merek. Terdapat
enam kriteria utama untuk memilih elemen merek sebagai berikut:
1. Dapat diingat. Seberapa mudah elemen merek itu diingat dan dikenali.
2. Berarti. Apakah elemen merek itu kredibel dan mengindikasikan kategori yang
berhubungan dengannya. Apakah elemen merek itu menyiratkan sesuatu tentang
bahan produk atau tipe orang yang mungkin menggunakan merek.
3. Dapat disukai. Seberapa menarik estetika elemen merek itu.
4. Dapat
ditransfer.
Apakah
elemen
merek
itu
dapat
digunakan
untuk
memperkenalkan produk baru dalam kategori yang sama atau berbeda. Apakah
elemen merek itu manambah ekuitas
merek melintasi batas geografis dan segmen pasar.
5. Dapat disesuaikan. Seberapa mudah elemen merek itu disesuaikan dan diperbarui.
6. Dapat dilindungi. Seberapa mudah elemen merek itu dapat dilindungi secara
hukum.Selain nama merek, semboyan juga merupakan sarana yang efisien untuk
membangun ekuitas merek. Fungsinya sebagai pegangan untuk membantu
konsumen memahami merek dan menerjemahkan maksud program pemasaran.
2.3.5 Manfaat Loyalitas Merek
Menurut Susanto dan Wijanarko (2004) Jika loyalitas merek para pelanggan
dikelola dan dieksploitasi dengan benar, maka akan mempunyai potensi untuk
memberikan nilai dan keuntungan dalam beberapa bentuk. Adapun nilai dan keuntungan
loyalitas merek adalah sebagai berikut:
a. Pengurangan biaya pemasaran
Perusahaan yang memiliki bisnis pelanggan yang mempunyai loyalitas merek
yang tinggi dapat mengurangi biaya pemasaran perusahaan, karena biaya untuk
mempertahankan pelanggan jauh lebih murah dibandingkan mendapatkan
pelanggan baru.
b. Peningkatan perdagangan
Loyalitas merek yang kuat akan menyakinkan pihak pengecer untuk memajang
dirak-raknya, karena mereka mengetahui bahwa para pelanggan akan
mencantumkan merek-merek tersebut dalam daftar belanjanya.
c. Menarik konsumen baru
Perasaan puas dan suka terhadap suatu merek akan menimbulkan perasaan
yakin bagi calon konsumen untuk mengkonsumsi merek tersebut dan biasanya
akan merekomendasikan/mempromosikan merek yang ia pakai kepada orang
lain, sehingga kemungkinan dapat menarik pelanggan baru.
d. Waktu merespon
Loyalitas merek memberikan waktu, semacam ruang bernafas pada suatu
perusahaan untuk cepat merespon gerakan-gerakan pesaing. Misal: jika salah
satu pesaing mengembangkan produk yang unggul, seorang pengikut yang
loyal akan member waktu pada perusahaan agar memperbaharui produknya.
2.3.6 Indikator Merek
Indikator merek menurut Rully Arlan Tjahyadi, (2006:72) terdiri dari:
a. Prediktabilitas Merek (Brand Predictability)
b. Kesukaan pada Merek (Brand Liking)
c. Kompetensi Merek (Brand Competence)
d. Reputasi Merek (Brand Reputation)
e. Kepercayaan pada Perusahaan (Trust in The Company)
2.4
Hubungan Antar Variabel
2.4.1 Iklan dengan Loyalitas Pelanggan
Menurut
Kotler
(2002:658)
iklan
pada
dasarnya
bertujuan
untuk
memperkenalkan, mengingatkan, mengajak dan menjaga hubungan dengan konsumen
akan tertarik pada produk yang ditawarkan, serta salah satu tugas komunikasi spesifik
dan level keberhasilan yang harus dicapai atas audiens spesifik pada periode waktu yang
spesifik. Pesan yang disampaikan dalam iklan harus mampu menarik perhatian,
mempertahankan ketertarikan, membangkit kan keinginan dan menggerakkan tindakan,
sehingga citra merek dapat terbentuk dibenak konsumen disaat konsumen mengenal,
memakai produk. Konsumen yang puas akan membeli kembali produk, memuji produk
yang dibelinya dihadapan orang lain dan sedikit menaruh perhatian pada merek pesaing.
Maka hal ini akan sangat menguntungkan sekali bagi perusahaan karena konsumen
tersebut akan cenderung loyal karena kepuasan yang telah mereka peroleh dari produk
yang dikonsumsinya. Untuk itu perusahaan selalu berupaya untuk menampilkan produk,
me-renew
produk yang dapat
memuas-kan kebutuhan dan keinginan konsumen
sehingga memunculkan loyalitas konsumen.
2.4.2
Merek Dengan Loyalitas Konsumen
Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol atau kombinasi semuanya yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa seorang atau sekelompok penjual
dan untuk membedakannya dari barang atau jasa pesaing. Konsumen yang mempunyai
sikap positif terhadap suatu merek, mempunyai komitmen terhadap merek tersebut dan
bermaksud meneruskan pembelian di masa mendatang sehingga mereka akan loyal
terhadap merek tersebut.
Loyalitas terhadap merek adalah suatu kondisi dimana seorang pelanggan
menunjukkan sikap positif terhadap suatu merek, mempunyai komitmen pada merek
tertentu dan berniat untuk terus membelinya di masa mendatang (Mowen Minor, 2002;
108). Jadi terjadinya loyalitas terhadap merek pada konsumen disebabkan oleh adanya
pengaruh kepuasan atau ketidak-puasan dengan suatu merek yang terakumulasi secara
terus-menerus disamping adanya persepsi tentang kualitas produk. Konsumen yang loyal
terhadap suatu merek produk akan melakukan pembelian ber-ulang terhadap produk
dengan merek yang sama.
Konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk. Pemberian
merek dapat membantu konsumen dalam beberapa hal. Nama merek dapat digunakan
untuk mengidentifikasi produk, menyampaikan beberapa hal mengenai kualitas produk
dan membantu konsumen untuk berbelanja secara efisien (Kotler, 2002:121). Jika
konsumen belum mengetahui kualitas produk yang dibeli, konsumen akan merasakan
tingkat resiko yang tinggi dalam pembelian. Melalui kepercayaan kepada nama merek
yang memiliki reputasi kualitas dapat menjadi cara efektif untuk mengurangi resiko (Paul
W. Miniard, 2005:223). Oleh karena itu merek sangat menentukan terhadap loyalitas
konsumen di mana tanpa merek konsumen tidak dapat membedakan produk satu dan
yang lainnya. Dengan begitu loyalitas konsumen tidak dapat terwujud tanpa adanya
merek.
2.4.3
Iklan dan Merek Dengan Loyalitas Pelanggan
Untuk membangun dan mempertahankan Loyalitas konsumen terhadap merek,
perusahaan harus mengelola prediktabilitas merek (brand predictability), kesukaan pada
merek (brand liking), kompetensi merek (brand competence), reputasi merek (brand
reputation), dan kepercayaan pada perusahaan (trust in the company) yang merupakan
indikator dari kepercayaan merek.
Philip Kotler(2007:13) Periklanan adalah salah satu bentuk promosi paling
banyak digunakan perusahaan dalam mempromosikan produknya, iklan adalah bentuk
promosi tidak langsung yang didasari pada informasi tentang keunggulan atau
keuntungan suatu produk, yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa
menyenangkan yang akan mengubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian
Menurut Susanto dan Wijanarko (2004 : 2) manfaat memiliki merek yang kuat
akan membangun loyalitas dan loyalitas akan mendorong binis terulang kembali.
Menurut Aaker (2009:12) mendefinisikan loyalitas terhadap merek merupakan
suatu ukuran keterkaitan pelanggan terhadap sebuah merek. Ukuran ini mampu
memberikan gambaran tentang kemungkinan seorang pelanggan beralih ke produk lain
terutama pada suatu merek tersebut didapatinya adanya perubahan, baik menyangkut
harga atau atribut lain.
Iklan dan merek berpengaruh dalam keputusan pembelian dan menarik minat
pembeli agar menjadi pelanggan atas suatu produk. Menurut Rangkuti (2009:129) dalam
bukunya Management Strategi dan Kebijakan Perusahaan, fungsi dari Periklanan :
1. Menyampaikan informasi : menganjurkan cara penggunaan baru untuk produk
tertentu,
menjelaskan cara kerja suatu produk, dan membangun citra
perusahaan
2. Untuk membujuk : memilih merek tertentu, mengharuskan pembeli merek
tertentu, mengubah persepsi konsumen tentang ciri-ciri merek tertentu, dan
membujuk pelanggan untuk membeli.
3. Untuk mengingatkan : mengingatkan konsumen bahwa produk itu mungkin
akan sangat dibutuhkan dalam waktu dekat, mengingatkan konsumen dimana
membeli produk itu, menjaga agar pelanggan selalu ingat akan produk atau merek itu.
Iklan dan merek sangat berpengaruh untuk menentukan loyalitas dari pelanggan
tanpa iklan perusahaan tidak akan dapat menyanpaikan informasi produk dan tanpa
merek pembeli tidak akan dapat membedakan produk satu dengan lainnya, dengan
keberhasilan dari suatu iklan dan merek sangat menentukan dalam keputusan pembelian,
apabila konsumen merasa puas akan produk tersebut loyalitas konsumen akan terbentuk
dan biasanya konsumen akan sulit untuk berpindah ke produk lainnya apabila telah puas
dengan produk tersebut. komitmen yang tinggi untuk membeli kembali suatu produk atau
jasa yang disukai dimasa mendatang. Dengan kata lain konsumen akan setia untuk
melakuka pembelian ulang secara terus-menerus.
2.5
Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai Loyalitas Pelanggan telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu.
Penelitian terdahulu ini diambil dari berbagai jurnal yang telah diterbitkan oleh lembaga
penelitian maupun instansi-instansi pendidikan. Adapun penelitian terdahulu dijelaskan sebagai
berikut:
Tabel 2.1 : Penelitian terdahulu yang Relevan
No
1.
Peneliti
Teguh
Waluyo
Jud
Pengaruhul
terhadap
Tahun
iklan
loyalitas
2013
konsumen sepeda
motor studi kasus
pada
konsumen
sepeda
motor
merek
Honda
Hasil Penelitian
Hasil dari penelitian
menunjukan bahwa iklan
mempunyai
pengaruh
yang signifikan terhadap
loyalitas
konsumen
sepeda motor Honda
disemarang.
disemarang
2.
Hasil
Muhammad
Pengaruh
Edris
Kepercayaan
Merek
Loyalitas
2009
Terhadap
Merek
dari
penelitian
menunjukan
bahwa
Kepercayaan
Merek
mempunyai
pengaruh
Studi Kasus pada
yang signifikan terhadap
Detergen
Loyalitas merek Rinso
Merek
Rinso di Kabupaten
Kudus.
di kabupaten kudus
3.
Nila Kasuma
Dewi,SE, Gus
Andri,SE.,M
M, dan Sepris
Yonaldi,SE.,
MM
Pengaruh
Iklan,
Citra Merek, dan
Kepuasan
Konsumen
Terhadap Loyalitas
Konsumen Dalam
Menggunakan
Vaseline Hand and
Body Lotion di kota
padang.
Hasil
2012
dari
yang
menunjukkan
Penelitian
dilakukan
bahwa
Serta secara simultan
Iklan, Citra merek, dan
Kepuasan
konsumen
berpengaruh positif dan
signifikan
terhadap
Loyalitas konsumen.
4.
Danny
Alexander
Bastian
Analisa Pengaruh
Citra Merek (Brand
Image)
dan
Kepercayaan Merek
(Brand
Trust)
Terhadap Loyalitas
Merek
(Brand
Loyalty) PT. Ades
Alfindo Putra Setia
1.Variabel brand image
2014
berpengaruh
signifikan
positif
terhadap
brand loyalty dipt.ades
kota Surabaya
2.Variabel brand trust
berpengaruh signifikan
terhadap brand loyalty
di pt.ades kota surabaya
5.
E.Desiarista
Analisis Pengaruh
dan Sri Rahayu Iklan, Kepercayaan
Tri Astuti
Merek, dan Citra
Merek
terhadap
Minat
Beli
Konsumen
Hasil dari penelitian ini
2011
menunjukkan
Variabel
berpengaruh
bahwa
iklan
signifikan
untuk mendorong minat
beli konsumen, Variabel
kepercayaan
merek
memiliki signifikansi
yang memenuhi syarat
pendukung bagi minat
beli
konsumen,
Variabel Citra merek
tidak memenuhi syarat
tingkat
signifikansi
sehingga tidak memiliki
pengaruh
terhadap
signifikan
minat
beli
produk.
2.6
Kerangka Berfikir
Banyaknya produk yang berada dipasaran akhir-akhir ini menyebabkan banyaknya
pilihan bagi konsumen dalam mencari variasi untuk memilih produk. Pemasaran merupakan
persepsi
bagi
konsumen
tidak
hanya
produk.
Beberapa
produk
dengan
kualitas,model,fitur(karakteristik tambahan produk), serta kualitas yang relative saman, dapat
memiliki kinerja berbeda-beda dipasar karena perbedaan persepsi dibenak konsumen. Hal itu
membuat konsumen lebih selektif dalam melakukan seleksi terhadap produk.
Penelitian ini melihat pengaruh iklan dan citra merek terhadap konsumen, sehingga
adanya pengaruh iklan dan citra merek mendorong konsumen melakukan pembelian berulang
atau disebut loyalitas konsumen. Iklan digunakan untuk mempengaruhi konsumen terhadap citra
merek produk perusahaan yang baik dibenak konsumen sehingga konsumen melakukan
keputusan pembelian produk. Untuk mengembangkan produk dengan merek perusahaan
memerlukan biaya yang cukup besar khususnya untuk iklan,promosi, dan pengemasan. Namun
dengan image yang positif terhadap merek lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
Iklan yang dilakukan oleh Kek pisang villa diberapa lokasi di Batam,dan menjadikannya sebagai
Oleh-oleh Khas dari Kota Batam memiliki dampak yang positif bagi perusahaan dan menjadikan
produk lebih di kenal oleh Konsumen.Kerangka pemikiran dimaksudkan untuk menggambarkan
hubungan pengaruh antara variabel independen dengan variabel dependen. Variabel independen
disimbol-kan dengan (X), Sedangkan variabel dependen disimbolkan dengan(Y). Iklan dan
merek merupakan variabel independen, sedangkan Loyalitas konsumen merupakan variabel
dependen.
Gambar 2.1 Diagram Kerangka Pemikiran
2.7
Perumusan Hipotesis
Berdasarkan Kerangka pemikiran di atas, Maka hipotesis untuk penelitian ini
dirumuskan sebagai berikut :
Ho1
: Diduga tidak ada pengaruh parsial Iklan terhadap Loyalitas
konsumen.
Ha1
:aDiduga
konsumen
Ho2
:
Ha2
:
ada
pengaruh
parsial
Iklan
terhadap
Loyalitas
Diduga tidak ada pengaruh parsial Merek terhadap Loyalitas konsumen
Diduga
ada
pengaruh
parsial
Merek
terhadap
Loyalitas
konsumen
Ho3
: Diduga tidak ada pengaruh Simultan Iklan dan Merek terhadap Loyalitas
konsumen.
Ha3
: Diduga ada pengaruh Simultan Iklan dan Merek terhadap Loyalitas konsumen
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif
yang berfungsi dalam
pengukuran data kuantitatif dan statistik objektif melalui perhitungan ilmiah berasal dari
sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan
tentang survei untuk menentukan frekuensi dan persentase tanggapan mereka (Sugiyono,
2005:11).
3.2
Tempat dan Waktu Penelitian
Dalam rangka menelaah masalah iklan dan merek terhadap Loyalitas konsumen
kek pisang villa. Untuk mendapatkan data penelitian dilakukan di Outlet Kek Pisang
Villa pada komplek Nusantara Golden, Jl.Raja H Fisabilillah Blok A No.3, Kota Batam,
Kepulauan Riau. Waktu penelitian dilakukan mulai bulan Juni 2016 sampai dengan
Agustus 2016
3.3
Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi merupakan subyek penelitian. Menurut Sugiyono (2010:117) populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda
alam yang lain. Populasi dalam penelitian ini yaitu konsumen di Outlet kek pisang villa
pada komplek Nusantara Golden, Jl.Raja H Fisabilillah Blok A No.3, Kota Batam,
Kepulauan Riau.
3.3.2 Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2010:118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik
yang dimiliki oleh populasi tersebut. Apabila peneliti melakukan penelitian terhadap
populasi yang besar, sementara peneliti ingin meneliti tentang populasi tersebut dan
peneliti memiliki keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti menggunakan teknik
pengambilan sampel, sehingga generalisasi kepada populasi yang diteliti. Makna nya
sampel yang diambil dapat mewakili atau representatif bagi populasi tersebut.
3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
1. Purposive Sampling
Menurut Sugiyono (2014: 85), Purposive Sampling yaitu pemilihan sampel
berdasarkan kriteria tertentu. Dengan demikian yang menjadi objek penelitian adalah
kostumer di Outlet kek pisang villa. Kostumer yang dimaksud adalah kostumer yang
bersedia mengisi data dengan sungguh-sungguh, mencermati isi pernyataan dan yang
berusia diatas 18 tahun. Sehingga tidak semua populasi memperoleh peluang yang
sama untuk dijadikan sampel.
2. Sampling Insidental
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling incidental.
Menurut Sugiyono, 2010:122 sampling insidental, yaitu teknik penentuan sampel
berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/incidental bertemu
dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang
kebetulan itu cocok sebagai sumber data. Untuk membatasi ruang lingkup
pembahasan dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah 30 orang diantara
kostumer yang melakukan pembelian produk pada outlet kek pisang villa di Batam
Centre.
3.4
Variabel Penelitian
Penelitian ini melibatkan tiga variabel yang terdiri dari satu
variabel terikat
(dependen) dan dua variabel bebas (independen). Variabel bebas tersebut adalah Iklan
dan Merek, Sedangkan variabel terikatnya adalah Loyalitas konsumen. Adapun definisi
dari masing-masing variabel tersebut adalah sebagai berikut :
3.4.1 Variabel Bebas (Independen)
Menurut Sugiyono (2014: 39), variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel-variabel bebas yaitu sebagai berikut :
1. Iklan(X1)
Menurut Fandy Tjiptono (2005:226) Iklan adalah bentuk komunikasi tidak
langsung yang didasari pada informasi tentang keungulan atau keuntungan suatu produk,
yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan
mengubah pikiran seseorang untuk melakukan pembelian. Indikator dalam iklan antara
lain:
a. Daya Tarik Pesan
b. Media yang digunakan
c. Slogan
d. Gambar dan warna
e. Kata-kata mudah di ingat dan menarik perhatian
2. Merek (X2)
Menurut Kotler dan Keller (2007) Merek adalah identitas tambahan dari suatu produk
yang tak hanya membedakannya dari produk pesaing, namun
merupakan janji
produsen atau kontrak kepercayaan dari produsen kepada konsumen dengan
menjamin konsistensi bahwa sebuah produk akan selalu dapat menyampaikan nilai
yang diharapkan konsumen dari sebuah produk. Indikator dalam merek antara lain :
a. Prediktabilitas Merek
b. Kesukaan Merek
c. Kompetisi Merek
d. Reputasi Merek
e. Kepercayaan pada perusahaan
3.4.2 Variabel Terikat (Dependen)
Menurut Sugiyono (2014: 39), variabel terikat merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat
dalam penelitian ini adalah : Loyalitas Konsumen (Y).
Indikator dalam Loyalitas
Konsumen antara lain:
1. Konsumen cenderung membeli lebih banyak dan setia lebih lama.
2. Konsumen tidak sensitive terhadap harga.
3. Konsumen akan melakukan word of mouth yang positif.
4. Menawarkan gagasan barang atau jasa kepada perusahaan
3.5
Jenis dan Sumber Data
3.5.1 Jenis data
Jenis data dalam penelitian ini berupa :
1. Menurut Sugiyono (2014: 137) Data primer, Jenis data yang digunakan adalah data
yang dikumpul- kan oleh peneliti sendiri dicatat dan diamati untuk mencapai tujuan
penelitian. Ini merupakan sumber data yang langsung diberikan oleh kuesioner kepada
penulis. Tempat melakukan wawancara atau memberikan kuesioner yaitu ditempat
Objek penelitian yaitu di Outlet Kek pisang villa Batam Centre.
2. Menurut Sugiyono (2014: 137) Data Sekunder, adalah sumber data yang tidak
langsung memberikan data kepada pengumpul. Jenis Data yang diperoleh diluar
responden yang diperlukan guna mendukung penelitian ini. Data ini diperoleh melalui
study pustaka berupa literatur, jurnal, internet,media dan lain sebagainya sesuai dengan
topik penelitian.
3.5.2 Sumber Data
Sumber data penelitian yaitu sumber subjek dari tempat mana data bisa didapatkan.
Peneliti memakai kuesioner atau wawancara didalam pengumpulan datanya, maka sumber
data itu dari responden, yakni orang yang menjawab pertanyaan peneliti, yaitu tertulis
ataupun lisan. Sumber data berbentuk responden ini digunakan didalam penelitian.
3.5.3 Metode Pengumpulan Data
Metode Pengumpulan Data merupakan teknik atau cara yang dilakukan untuk
mengumpulkan data. Metode menunjuk suatu cara sehingga dapat diperlihatkan
penggunaannya melalui angket/kuesioner, wawancara, pengamatan, tes, dokumentasi dan
sebagainya. Dalam memperoleh data yang dibutuhkan, metode yang digunakan peneliti
adalah
kuesioner, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan kepada orang lain yang dijadikan
responden untuk dijawabnya. Sehubungan dalam penelitian ini peneliti memberikan
kuesioner kepada kostumer kek Pisang Villa di Cabang Batam Centre .
3.6
Skala Pengukuran
Menurut Sugiyono (2014:92), Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang
digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam
alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan
menghasilkan data kuantitatif.
Dalam Penelitian ini menggunakan Skala Likert pengukuran pada skala Likert
terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka
pada skala guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” dan “tidak setuju”. Penelitian
menggunakan skala Likert, maka variabel yang diukur dijabarkan menjadi indikator
variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun itemitem instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Jawaban setiap item instrument yang menggunakan skala likert mempunyai
gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat berupa kata-kata antara lain:
a.
Sangat Setuju (SS)
a. Sangat Sering (SS)
b.
Setuju (S)
c.
Ragu-Ragu (RR)
d. Tidak Setuju (TS)
d. Tidak Sering (TS)
e. Sangat Tidak Setuju (STS)
e. Sangat Tidak Sering (STS)
b. Sering (S)
c. Ragu-Ragu (RR)
Untuk keperluan Analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor,
misalnya :
1. Setuju/selalu/sangat Positif diberi skor
5
2. Setuju/sering/positif diberi skor
4
3.7
3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral, diberi skor
3
4. Tidak setuju/hamper tidak pernah/negatif diberi skor
2
5. Sangat tidak setuju/tidak pernah diberi skor
1
Uji Validitas dan Reliabilitas
3.7.1 Uji Validitas
Menurut Priyatno (2010), validitas adalah teknik untuk mengukur sejauh mana
ketepatan dan kecermatan terhadap apa yang akan di ukur, sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas ini akan
dilakukan dengan penggunaan program SPSS (Statistical Package for Social Sciences)
versi 21.
Teknik pengujian yang digunakan penelitian dalam penelitian ini dengan cara
membandingkan r-hitung dengan r-tabel untuk degree of freedom (df) = n-2, dalam hal
ini n adalah jumlah sampel.
Untuk menguji apakah masing-masing indicator valid atau tidak, dapat dilihat
dalam tampilan ouput Cronbach Alpha pada kolom Correlated Item-Total Correlation.
Jika r-hitung lebih besar dan nilai positif maka butir atau pertanyaan atau indikator
tersebut dinyatakan valid.
Pernyataan
rhitung
rtabel
IK1
IK2
IK3
IK4
IK5
0.507
0.742
0.442
0.602
0.596
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
Validitas
(status)
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
IK6
IK7
IK8
IK9
IK10
IK11
IK12
IK13
IK14
IK15
0.455
0.572
0.392
0.618
0.769
0.707
0.539
0.496
0.616
0.418
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Table 3.1 Hasil Uji Validitas Iklan (X1)
Uji validitas dihitung dengan membandingkan nilai rhitung (correlated item-total
correlation) dengan nilai rtabel. Jika rhitung > rtabel dan nilai positif, maka butir pertanyaan
tersebut dinyatakan valid.
rtabel
MK1
rhitung
0.562
Validitas
(status)
0,374
Valid
MK2
0.584
0,374
Valid
MK3
0.542
0,374
Valid
MK4
0.762
0,374
Valid
MK5
0.533
MK6
0.407
0,374
0,374
Valid
Valid
MK7
0.628
0,374
Valid
MK8
0.485
0,374
Valid
MK9
0.721
0,374
Valid
MK10
0.643
0,374
Valid
MK11
0.570
0,374
Valid
MK12
0.768
0,374
Valid
MK13
0.711
0,374
Valid
MK14
0.691
0,374
Valid
MK15
0.381
0,374
Valid
Pernyataan
Table 3.2 Hasil Uji Validitas Merek (X2)
Uji
validitas
membandingkan nilai
item-total
dengan
nilai
rtabel.
dihitung
rhitung
dengan
(correlated
correlation)
Jika
rhitung>rtabel
dan nilai positif, maka butir pertanyaan tersebut dinyatakan valid.
Pernyataan
LK1
LK2
LK3
LK4
LK5
LK6
LK7
LK8
LK9
LK10
rhitung
0.684
0.563
0.452
0.761
0.542
0.786
0.451
0.394
0.629
0.499
rtabel
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
0,374
Validitas
(status)
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Table 3.3 Hasil Uji Validitas Loyalitas konsumen (Y)
Uji validitas dihitung dengan membandingkan nilai rhitung (correlated item-total
correlation) dengan nilai rtabel. Jika rhitung>rtabel dan nilai positif, maka butir pertanyaan
tersebut dinyatakan valid.
3.7.2 Uji Reabilitas
Menurut Priyatno (2010:97), uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh
mana konsistensi alat ukur tersebut, apakah alat pengukur yang digunakan dapat
diandalkan dan tetap konsisten jika pengukuran tersebut diulang. Ghozali (2009)
menyatakan bahwa reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang
merupakan indikator dari peubah atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau
handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari
waktu ke waktu. Reliabilitas suatu test merujuk pada derajat stabilitas, konsistensi, daya
prediksi, dan akurasi.
Pengukuran yang memiliki reliabilitas yang tinggi adalah pengukuran yang dapat
menghasilkan data yang reliable. Uji reliabilitas ini akan dilakukan dengan penggunaan
program SPSS (Statistical Package for Social Sciences) versi 21.
Untuk menguji reliabilitas kuesioner adalah koefisien Cronbach Alpha, dengan
kriteria penilaian uji reliabilitas sebagai berikut (Ghozali, 2009:89):
1. Apabila koefisien Cronbach Alpha lebih besar dari 0,6
maka
susuatu
konstruk atau variabel dikatakan reliabel.
2. Apabila koefisien Cronbach Alpha lebih kecil dari 0,6 maka suatu kokonstruk
atau variabel dikatakan tidak reliabel.
No.
Variabel
Cronbach’s
Alpha
Cronbach’s
Alpha yang
disyaratkan
Keterangan
1.
Iklan (X1)
0,685
0,60
Reliabel
2.
Merek (X2)
0,730
0,60
Reliabel
3.
Loyalitas
konsumen (Y)
0,708
0,60
Reliabel
Tabel 3.4 hasil perhitungan uji reabilitas
Hasil pada Tabel 3.4 tersebut diatas menunjukkan bahwa variabel Iklan, Merek
dan Loyalitas konsumen mempunyai Cronbach’s Alpha lebih besar dari 0,60, sehingga
dapat dikatakan semua konsep pengukur variabel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah reliabel.
3.8
Metode Analisis Data
3.8.1 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada
analisis regresi linear berganda yang berbasis ordinary least square (OLS). Jadi analisis
regresi yang tidak berdasarkan OLS tidak memerlukan persyaratan asumsi klasik,
misalnya regresi logistik atau regresi ordinal. Demikian juga tidak semua uji asumsi klasik
harus dilakukan pada analisis regresi linear, misalnya uji multikolinearitas tidak
dilakukan pada analisis regresi linear sederhana dan uji autokorelasi tidak perlu
diterapkan pada data cross sectional.
Uji asumsi klasik yang sering digunakan yaitu uji multikolinearitas, uji
heteroskedastisitas, uji normalitas, uji autokorelasi dan uji linearitas. Tidak ada ketentuan
yang pasti tentang urutan uji mana dulu yang harus dipenuhi. Analisis dapat dilakukan
tergantung pada data yang ada. Sebagai contoh, dilakukan analisis terhadap semua uji
asumsi klasik, lalu dilihat mana yang tidak memenuhi persyaratan. Kemudian dilakukan
perbaikan pada uji tersebut, dan setelah memenuhi persyaratan, dilakukan pengujian pada uji
yang lain.
a. Uji Normalitas
Menurut Imam Ghozali (2013,160), Uji Normalitas bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki disribusi
normal, bila asumsi ini dilanggar maka uji statistic menjadi tidak valid untuk jumlah
sampel kecil. Uji normalitas data dilakukan dengan uni Kolmogorov Smirnov, untuk
mempermudah dalam melakukan perhitungan secara statistik, maka yang dilakukan
dalam penelitian ini akan diolah dengan penggunaaan program SPSS (Statistical
Package for Social Sciences) versi 21. Suatu data dinyatakan berdistribusi normal jika
nilai Asymp Sig (2-tailed) hasil perhitungan Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 1/2α.
Dasar pengambilan keputusan:
a. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal
atau grafik histogramnya, menunjukkan pola terdistribusi normal, maka model
regresi memenuhi asumsi normalitas.
b. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah
garis diagonal atau grafik histogramnya, tidak menunjukkan pola terdistribusi
normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas
b. Uji Multikolinearitas
Menurut Imam Ghozali (2009,105), uji multikolinearitas bertujuan
untuk
menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
bebas(independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara
variabel independen. Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas didalam
model regresi pada penelitian ini menggunakan besaran VIF (Variance Inflation
Factor) dan Tolerance, untuk mendekteksi multikolinearitas adalah sebagai berikut :
1. Apabila nilai Tolerance Value lebih besar dari 0,1 atau VIF (Variace Inflation
Factor) lebih kecil dari 10, maka tidak terjadi multikolonieritas.
2. Apabila nilai Tolerance Value lebih kecil dari 0,1 atau VIF (Variace Inflation
Factor) lebih besar dari 10, maka terjadi multikolonieritas.
c. Uji Heterokedastisitas
Menurut Imam Ghozali (2009), Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji
apakah dalam model regresi terdapat ketidaksamaan variance dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika variance dari satu residual satu ke
pengamatan lainnya tetap maka terjadi homoskedastisitas dan jika berbeda maka
disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Pengujian
heteroskedastisitas
menggunakan
cara
grafik
scatterplot.
Dasar analisis uji heterokedastisitas menurut Ghozali (2013:187) :
1. Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang membentuk pola tertentu yang
teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit), maka mengindikasikan
telah terjadi heterokedastisitas.
2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik – titik menyebar diatas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heterokedastisitas.
d. Uji autokorelasi
Menurut Ghozali (2013) Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau
tidaknya penyimpangan asumsi klasik autokorelasi yaitu korelasi yang terjadi antara
residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Prasyarat
yang harus terpenuhi adalah tidak adanya autokorelasi dalam model regresi. Metode
pengujian yang sering digunakan adalah dengan uji Durbin-Watson (uji DW) dengan
ketentuan sebagai berikut:
1)
Jika d lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hopotesis nol ditolak,
yang berarti terdapat autokorelasi.
2) Jika d terletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima, yang berarti
tidak ada autokorelasi.
3) Jika d terletak antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4-dL), maka tidak
menghasilkan kesimpulan yang pasti.
Nilai du dan dl dapat diperoleh dari tabel statistik Durbin Watson yang bergantung
banyaknya observasi dan banyaknya variabel yang menjelaskan.
3.9
Pengujian Hipotesis
Metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis data, baik dari
percobaan yang terkontrol, maupun dari observasi (tidak terkontrol). Dalam statistik sebuah
hasil bisa dikatakan signifikan secara statistik jika kejadian tersebut hampir tidak mungkin
disebabkan oleh faktor yang kebetulan, sesuai dengan batas probabilitas yang sudah
ditentukan sebelumnya
Uji hipotesis ini bertujuan untuk mengetahui besar kontribusi dan pengaruh
masing-masing variabel bebas iklan dan merek terhadap variabel terikat yaitu Loyalitas
konsumen Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan program SPSS untuk melihat
hasil uji F, uji t dan uji R2.
3.9.1
Uji F atau Uji Anova
Uji F, digunakan untuk menguji pengaruh seluruh variabel bebas yang dimasukkan
dalam model regresi terhadap variabel terikat secara bersamaan. Model regresi dikatakan
mempunyai pengaruh yang signifikan jika memiliki nilai probabilitas kurang dari 0,05. Dan
sebaliknya dikatakan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan jika nilai probabilitas lebih
besar dari 0,05 (Ghozali, 2013:102).
3.9.2
Uji T atau Uji Parameter Individual
Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel
penjelas/indpenden secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen
(Ghozali, 2013). Kriteria yang dipakai untuk membuat keputusan terhadap hasil uji
hipotesis yang diuji adalah berdasarkan tingkat signifikansi sebesar 0,05 yang merupakan
probabilitas kesalahan sebesar 5%. Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
-Jika tingkat signifikansi > 0,05 maka Ho diterima.
-Jika tingkat signifikansi < 0,05 maka Ha diterima.
3.9.3 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Uji Koefisien Determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah
antara nol (0) dan satu (1). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel
independen dalam menjelaskan variabel- variabel dependen amat terbatas (Ghozali,
2013:97).
Uji R2 digunakan untuk menjelaskan hubungan antara variabel dan adanya faktor
lain yang mempengaruhi hubungan tersebut. Adapun rumus hipotesis regresi linear
berganda sebagai berikut:
Y = a + b1.X1 + b2.X2 + e
Dimana:
Y = Variabel Terikat (Perfomance)
X1 = Variabel Bebas (Intelectual Quotient)
X2 = Variabel Bebas (Emotional Quotient)
a = Konstanta
b = Koefisien Regresi Variabel
e = Error
Download