Ganda Putra-FITK - UIN Repository

advertisement
UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK
MATERI SIFAT WAJIB DAN MUSTAHIL BAGI ALLAH
DENGAN MENGGUNAKAN METODE MAKE A
MATCH
(PTK di kelas VII SMP Islam Nurul Hikmah Kecamatan legok
Kabupaten Tangerang)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi salah satu
Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd. I)
Oleh
Ganda Putra
NIM 1110011000053
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF
HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/2017 M
i
LEMBAR PENGESA}IAN DOSEN PEMBIMtsING
UPAYA PENTNGKATAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA
PELAJARAN AQIDAH AKHLAK IT{ATERI
SIFAT WAJIB DAN
MUSTAHIL BAGI ALLAH DENGAN MENGGUNAKAN
METODE MAKE A VI,.{TCH
(PTK di Kelas VII SMp Islam Nurul Hikmah
Kecamatan Legok Kabupaten
Tangerang)
..
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Untuk Memenuhi
Persya.ratan Memperoleh Gelar Sarjana pendidikan
Islam (S.pd.I)
Oleh
:
Ganda Putra
NIM: 11100110000s3
Dibawah Bimbingan:
Drs. H., Achmad Gholib. M,Ae
l[IP: 19541015 197902 I OOt
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF'
HIDAYATULLAII
,-'*ff;li*
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI
Skripsi berjudul "Upaya Peningkatan
Ilasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Akidah
Akhlak Materi Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Dengan Menggunakan Metode
Make A Match" disusun oleh Ganda Putra, I\[IM. 1110011000053. Diajukan kepada
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dinyatakan
lulus dalam ujian munaqasah pada tanggal 22
juni20l7 di
depan dewan penguji' Karena itu,
penulis berhak memperoleh gelar sarjana Pendidikan ( S.Pd ).
Jakarta, 05 Juli 2017
Panitia Penguji Munaqasah
Tanggal
Ketua Panitia ( Ketua Jurusan PAI )
Dr. H. Abdul Majid Khon. M.Ag
NIP. 19580707 198703 1005
Sekretaris Jurusan PAI
Marhamah Shaleh Lc. MA
NrP. 19720313 200801 2 010
Penguji I
Prof. Dr.Ahmad Syaf ie Noor
NIP. 19470902 196712 1 001
Penguji II
Dr. Dimyati. M. As
NrP. 19640704 199303 1003
Tanda Tangan
SURAT PERNYATAAN KARYA
ILMIAH
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
Ganda Putra
NIM
1110011000053
Jurusan
Pendidikan Agama Islam
Alamat
Jl. Diklat Pemda Desa Bojongnangka Kec. Kelapa Dua Tangeran!
MEI\TYATAKAN DENGAN SESUNGGTJH}IYA
Bahwa skripsi yang berjudul Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Aqidah Akhlak Materi Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah Dengan
Menggunakan Metode Make a Match adalah benar hasil karya sendiri di bawah
bimbingan dosen:
Nama
Pembimbing : Drs. H. Achmad Gholib, M.Ag
}rIIP
: 19541015 197902
Demikian surat pernyataan
ini
I
001
saya buat dengan sestmgguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.
Jakarta, l7 Juli 2017
v{i
Menyatakari
ABSTRAK
Ganda Putra (NIM: 1110011000053). Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa
Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Materi Sifat Wajib dan Mustahil Bagi
Allah Dengan Menggunakan Metode Make a Match (PTK di Kelas VII SMPI
Nurul Hikmah Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh hasil belajar siswa rendah pada mata
pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah di kelas VII
SMPI Nurul Hikmah.. Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran Aqidah
Akhlak kegiatan pembelajaran masih berpusat kepada guru, kurang tepatnya guru
dalam memilih metode pembelajaran dan pengelolaan kelas, sehingga siswa menjadi
kurang aktif dalam pembelajaran. untuk mengatasai masalah tersebut, peneliti
menerapkan metode make a match, dengan metode ini diharapkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah dapat
meningkat.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditentukan rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana impelementasi metode Make a Match
pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi Sifat Wajib dan Mustahil bagi Allah di
kelas VII SMPI Nurul Hikmah? 2) Apakah metode make a match dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi Sifat
wajib dan mustahil bagi Allah di kelas VII SMPI Nurul Hikmah ? Adapun penelitian
ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1) Untuk mengetahui impelementasi metode
Make a Match pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi Sifat Wajib dan Mustahil
bagi Allah di kelas VII SMPI Nurul Hikmah. 2) Untuk mengetahui hasil belajar
siswa dengan menggunakan metode make a match pada mata pelajaran Aqidah
Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah di kelas VII SMPI Nurul Hikmah.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK). Pada penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, setiap siklus terdiri
dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi (pengamatan) dan
refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VII SMPI Nurul Hikmah.
Untuk mengumpulkan data, instrument pengumpulan data yang digunakan berupa:
lembar soal tes dan lembar observasi kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari pra siklus, siklus I dan siklus II,
menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar siswa. Data-data tersebut diambil dari
hasil ketuntasan belajar siswa pada pra siklus (29,1 %), dengan nilai rata-rata 61,66,
siklus I (54,2 %), dengan nilai rata-rata 72,09 dan siklus II (87,5 %), dengan nilai
rata-rata 85,2, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan metode make
a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak
materi Sifat wajib dan mustahil bagi Allah.
i
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah
memberikan segala nikmat, taufik dan hidayah-Nya kepada penulis, sehingga penulis
dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak Materi Sifat Wajib dan
Mustahil bagi Allah dengan Menggunakan Metode Make a Match (PTK di kelas
VII SMPI Nurul Hikmah Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang)”.
Shalawat serta salam senantiasa penulis sanjungkan kepada Rasul-Nya yang
agung baginda Nabi Muhammad SAW. Rasul terakhir yang membawa risalah,
penyejuk dan penerang hati umat sehingga selamat bahagia dunia dan akhirat serta
mendapatkan syafaat kelak di yaumul akhir nanti.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bimbingan, saran
dan bantuan dari berbagai pihak yang secara langsung maupun tidak langsung
sehingga penulisan skripsi ini terselesaikan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Nurlena Rifa’I, MA, Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
ii
3.
Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
4.
Hj. Marhamah Saleh, Lc, MA, Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5.
Drs. H. Achmad Gholib, M.Ag sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia
meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan serta
pengarahan dalam penyusunan skripsi ini
6. Para Dosen di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada umumnya dan
Jurusan Pendidikan Agama Islam khususnya yang telah membekali berbagai ilmu
pengetahuan sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi.
7. Bapak/Ibu karyawan Perpustakaan Tarbiyah dan Perpustakaan Utama UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta atas pelayanan selama penyusunan skripsi
8. Bapak Abdul Halim Soepomo, S.Pd selaku Kepala SMPS Islam Nurul Hikmah
yang telah memberikan izin bagi penulis untuk melakukan penelitian di SMPS
Islam Nurul Hikmah.
9. Ibu Annisa Naufalia, S.Pd.I yang telah memberikan arahan dan informasi kepada
penulis.
10. Siswa/siswi SMPS Islam Nurul Hikmah yang telah mendukung penulis
mengumpulkan data-data untuk penelitian.
11. Orangtua Tercinta (Ibu Yusnawati dan Bapak Muhammad Ali) serta eluruh
keluarga dan sahabat penulis yang selalu mendo’akan, memotivasi dan
memberikan kasih sayangnya kepada penulis dalam setiap kondisi apapun.
iii
12. Mertua Tercinta (Ibu Tuti Mulyati dan Bapak Tresna Sumantri) serta eluruh
keluarga dan sahabat penulis yang selalu mendo’akan, memotivasi dan
memberikan kasih sayangnya kepada penulis dalam setiap kondisi apapun.
13. Istri Tercinta Annisa Naufalia Rafiqa, S.Pd.I yang selalu mendo’akan,
membantu, memotivasi dan memberikan kasih sayangnya kepada penulis dalam
setiap kondisi apapun.
14. Teman-teman Pendidikan Agama Islam angkatan 2009 pada umumnya dan kelas
D pada khususnya terimakasih atas semnagat, saran-saran, motivasi, bantuan dan
kebersamaan selama menimba ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
15. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu penulis.
Akhir
kata
penulis
mohon
maaf
atas
segala
kekurangan
dan
ketidaksempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Alhamdulillahi Rabbil’alamin
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Serang, 18 April 2016
Penulis
iv
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...............................................................................................
i
KATA PENGANTAR .............................................................................
ii
DAFTAR ISI ............................................................................................
v
DAFTAR TABEL ...................................................................................
vii
DAFTAR LAMPIRAN ...........................................................................
vii
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .....................................................
1
B. Identifikasi Masalah ...........................................................
6
C. Batasan Masalah .................................................................
7
D. Perumusan Masalah ............................................................
7
E. Tujuan Penelitian ................................................................
7
F. Manfaat Penelitian ..............................................................
8
LANDASAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS PENELITIAN
A. Kajian Teoretis ...................................................................
9
1. Metode Make a Match ................................................
9
a. Pengertian Metode Make a Match ...........................
9
b. Langkah-langkah Metode Make a Match ................
12
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Make a
match.........................................................................
12
2. Hasil Belajar ................................................................
14
a. Pengertian Hasil Belajar...........................................
14
b. Tipe-tipe Hasil Belajar .............................................
17
1) Hasil Belajar Kognitif ........................................
17
2) Hasil Belajar Afektif ..........................................
23
3) Hasil Belajar Psikomotorik................................
25
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ....
29
1) Faktor Internal ....................................................
29
2) Faktor Eksternal .................................................
35
d. Indikator Hasil Belajar .............................................
37
v
3. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak ................................
39
a. Pengertian Aqidah Akhlak .......................................
39
b. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak ................................
41
B. Hipotesis Penelitian............................................................
44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian ...............................................................
46
1. Tempat Penelitian ........................................................
46
2. Waktu Penelitian ..........................................................
46
B. Latar Penelitian ..................................................................
47
C. Metode Penelitian ..............................................................
47
D. Data dan Sumber Data .......................................................
50
E. Desain Penelitian ...............................................................
50
F. Prosedur Penelitian ............................................................
54
G. Prosedur Pengumpulan Data ..............................................
58
H. Analisis Data ......................................................................
60
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB V
A. Deskripsi Hasil Belajar Siswa .......................................
62
1. Pra Siklus .....................................................................
62
2. Siklus I .........................................................................
64
3. Siklus II .......................................................................
68
B. Pembahasan Hasil Penelitian .........................................
73
1. Pra Siklus .....................................................................
74
2. Siklus I .........................................................................
74
3. Siklus II .......................................................................
75
PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................
76
B. Saran-saran .........................................................................
77
DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................
78
LAMPIRAN-LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1
Jenis, Indikator dan cara Evaluasi Prestasi
Tabel 2.2
Perbandingan Nilai Angka dan Huruf
Tabel 3.1
Time Line Kegiatan Penelitian
DAFTAR DIAGRAM
Diagram 4.1
Hasil Belajar Pra Siklus
Diagram 4.2
Hasil Belajar Siklus 1
Diagram 4.3
Hasil Belajar Siklus 2
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 1
Lampiran 2
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus 2
Lampiran 3
Hasil Observasi Siswa Pra Siklus
Lampiran 4
Hasil Belajar Siswa Pra Siklus
Lampiran 5
Hasil Observasi Guru Siklus 1
Lampiran 6
Hasil Observasi Siswa Siklus 1
Lampiran 7
Hasil Belajar Siswa Siklus 1
Lampiran 8
Hasil Observasi Guru Siklus 2
Lampiran 9
Hasil Observasi Siswa Siklus 2
Lampiran 10 Hasil Belajar Siswa Siklus 2
Lampiran 11 Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2
Lampiran 12 Foto-foto Kegiatan Metode Pembelajaran Make a match
vii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Salah satu permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah
rendahnya kualitas hasil dan proses belajar yang dicapai siswa. Rendahnya
kualitas hasil belajar ditandai oleh pencapaian prestasi belajar yang belum
memenuhi standar kompetensi seperti tuntutan kurikulum. Menurut Bloom
dalam buku karangan Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, hasil belajar
mencakup tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.1 Prestasi belajar
di bidang pendidikan adalah hasil belajar dari pengukuran terhadap siswa yang
meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti proses
pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes atau instrumen
yang relevan.
Dari pendapat di atas jelas bahwa hasil belajar dapat dilihat dan diukur
dengan menggunakan instrumen tes ataupun non tes dimulai dari aspek
pengetahuan yang kemudian dikembangkan ke dalam aspek sikap dan
keterampilan yang tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Dalam
perspektif Islam, belajar merupakan kewajiban bagi setiap individu Muslim-
1
Muhammad Thobroni dan Arif Mustofa, Belajar & Pembelajaran Pengembangan Wacana
dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media, 2013),
23.
1
2
Muslimat dalam rangka memperoleh ilmu pengetahuan sehingga derajat
kehidupannya meningkat. Firman Allah dalam surat al-Mujadalah [58] ayat 11:
ََٰٰٓٓ‫ّللَُٰٓل ُكم‬
ََّٰٓ ‫حَٰٓٱ‬
َِٰٓ ‫سَٰٓفَٰٓٱفَٰٓسحُىآََٰٰٓيفَٰٓس‬
َِٰٓ ِ‫يَٰٓأيُّهآَٰٱلَّ ِذيهََٰٰٓٓءامىُىَٰٓآََٰٰٓإِذآَٰقِيلََٰٰٓٓل ُكمََٰٰٓٓتف َّسحُىآََٰٰٓفِيَٰٓٱلَٰٓمجَٰٓل‬
ََٰٰٓٓ‫ّللَُٰٓٱلَّ ِذيهََٰٰٓٓءامىُىآََٰٰٓ ِمى ُكمََٰٰٓٓوَٰٓٱلَّ ِذيهََٰٰٓٓأُوتُىآََٰٰٓٱلَٰٓ ِعلَٰٓم‬
ََّٰٓ ‫وإِذآَٰقِيلََٰٰٓٓٱو ُش ُزوآََٰٰٓفَٰٓٱو ُش ُزوآََٰٰٓيزَٰٓف َِٰٓعَٰٓٱ‬
َٰٓ َٰٓ١١ََٰٰٓٓ‫ّللَُٰٓبِمآَٰتعَٰٓملُىنََٰٰٓٓخبِيز‬
ََّٰٓ ‫درجَٰٓتََٰٰٓٓوَٰٓٱ‬
11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi
kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi
atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama
bagi berlangsungnya proses belajar-mengajar. Dalam hal ini bukan hanya
penyampaian pesan berupa materi pelajaran, melainkan penanaman sikap dan
nilai pada diri siswa yang sedang belajar.2 Oleh karena itu, salah satu faktor
penting dalam keberhasilan suatu pembelajaran di sekolah tergantung kepada
penggunaan strategi belajar aktif (active learning strategy).
SMP Islam Nurul Hikmah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). SMP Islam Nurul Hikmah ini berada dibawah naungan
Diknas dengan menggabungkan kurikulum yang ada di Kementrian Agama
2
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010),
Cet. 24, h. 4.
3
SMP Islam Nurul Hikmah menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). SMP Islam Nurul Hikmah ini berada dibawah naungan
Diknas dengan menggabungkan kurikulum yang ada di Kementrian Agama
(Kemenag) karena sekolah ini adalah sekolah yang berbasis Islam. Maka di SMP
Islam Nurul Hikmah mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) terbagi lagi
menjadi 4 mata pelajaran yaitu mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, Fiqih, Aqidah
Akhlak dan SKI.
Salah satu pelajaran Agama Islam yakni adanya pelajaran aqidah akhlak
yang memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik
untuk mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan
untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam
kehidupan sehari-hari.
Pada kenyataannya dalam mata pelajaran aqidah akhlak
siswa/siswi
kelas VII SMP Islam Nurul Hikmah hasil belajar dalam aspek kognitif
(pengetahuan) belum mencapai KKM yang telah ditetapkan oleh sekolah yakni
75, sehingga untuk dikembangkan ke dalam aspek sikap dan keterampilan akan
sulit karena belum memahami konsep pada materi yang diajarkan. Proses belajar
mengajar yang terjadi di kelas pun para siswa kurang antusias dalam
pembelajaran sehingga suasana pembelajaran menjadi tidak aktif. Selain itu
kurang memperhatikan ketika diberi tugas dan adanya isu gender antara siswa
laki-laki dan perempuan. Tanpa dipungkiri hal tersebut juga terjadi karena guru
yang kurang kreatif dalam menggunakan strategi atau metode pembelajaran.
4
Kelemahan proses belajar khususnya dalam mata pelajaran aqidah akhlak
dapat diidentifikasi dari kurangnya perhatian siswa dan suasana pembelajaran
yang tidak aktif akibat kurang tepatnya pengelolaan pembelajaran di kelas.
Mereka beranggapan bahwa pembelajaran di kelas kurang menarik, hanya
mendengarkan penjelasan guru, tanya jawab kemudian evaluasi berupa tes.
Sebagian besar dari mereka menginginkan pembelajaran yang menyenangkan
dengan melakukan suatu tindakan pembelajaran, tidak hanya lebih banyak
mendengarkan. Menurut Oemar Hamalik dalam buku psikologi belajar karangan
Muhibbin Syah,Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga
penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyesuaian sosial,
bermacam-macam keterampilan lain dan cita-cita.3
Dalam menyampaikan pembelajaran Agama Islam, seorang guru
memerlukan metode khusus. Metode ialah istilah yang digunakan untuk
mengungkapkan pengertian cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan
sesuatu. Karena metode berarti cara yang paling tepat dan cepat, maka urutan
kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-benar secara ilmiah.
Karena itulah suatu metode selalu merupakan hasil eksperimen. Suatu konsep
yang dieksperimenkan haruslah telah lulus uji teori, dengan kata lain suatu
konsep yang telah diterima secara teoritis yang boleh dieksperimenkan.4
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode pengajaran
Agama Islam adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam mengajarkan agama
3
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya, 2010), 94
4
Ahmad Tafsir, Metododlogi Pengajaran Agama Islam, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,
2011), 9
5
Islam. Kata tepat dan cepat inilah yang sering diungkapkan dalam ungkapan
efektif dan efisien. Pengajaran yang efektif artinya pengajaran yang dapat
dipahami murid secara sempurna.Adapun pengajaran yang cepat ialah
pengajaran yang tidak memrlukan waktu yang lama dan tidak memerlukan biaya
yang mahal.
Metode khusus Pendidikan Agama ini penting sekali karena ia
merupakan suatu teori yang dipersiapkan lebih dahulu untuk menghadapi tugastugas dalam melaksanakan pendidikan agama. Selain itu metodik khusus
pendidikan agama merupakan sarana yang dapat memimpin dan menunjukkan
arah hingga tercapainya tujuan pendidikan agama. Dalam metodik khusus
pendidikan agama dibahas bermacam-macam metode beserta contoh-contoh
penggunaannya dalam setiap pokok materi pendidikan agama, dengan demikian
guru agama dapat menyesuaikan metode-metode tersebut dengan sifat khusus
bahan pelajaran yang akan diberikan dan dengan kemampuan dan perkembangan
anak didik, sehingga bahan pelajaran yang diberikan lebih dapat menarik
perhatian murid.5
Adanya fenomena di atas, mendorong peneliti untuk memperbaiki proses
pembelajaran dalam mata pelajaran Aqidah Akhlak dengan menggunakan
metode pembelajaran agar proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang
diharapkan serta hasil belajar semakin baik.
Salah satu cara untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Aqidah Akhlak, maka peneliti memilih dan menerapkan metode Make
5
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2001), 5
6
a Match (mencari pasangan). Metode ini merupakan salah satu tipe model
pembelajaran kooperatif. Dengan metode ini diharapkan kemampuan kognitif,
afektif dan psikomotorik siswa dapat berkembang secara maksimal dan hasil
belajar siswa pun akan meningkat lebih baik.
Make a match pertama kali dikembangkan pada tahun 1994 oleh Lorna
Curran, strategi make a match saat ini menjadi salah satu strategi penting dalam
ruang kelas. Salah satu keunggulan make a match adalah siswa mencari
pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang
menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam semua mata pelajaran dan
untuk semua tingkatan usia anak didik.6
Metode make a match ini tidak hanya mengarahkan siswa untuk duduk
dan mendengarkan tetapi siswa akan ikut berperan langsung dalam proses
belajar mengajar. Siswa diharuskan untuk mencari pasangannya sesuai dengan
apa yang mereka dapatkan.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka dibuatlah
penelitian dengan judul “Upaya Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Aqidah Akhlak Materi Sifat Wajib dan Mustahil bagi Allah
Dengan Menggunakan Metode Make a Match“
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan di atas, maka telah di
identifikasi masalah-masalah yang ada dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Rendahnya hasil belajar siswa
6
Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas,
(Jakarta : Grasindo, 2010), 55
7
2. Kurang aktifnya pembelajaran di dalam kelas antara siswa dan guru
3. Kurang efektifnya metode pembelajaran yang digunakan oleh guru dalam
mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah
C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah, terfokus dan tidak meluas, maka
penelitian ini dibatasi pada korelasi metode pembelajaran make a match dengan
hasil belajar siswa. Adapun untuk melihat hasil belajar siswa dilakukan tes
secara tertulis dengan beberapa criteria penilaian. Penelitian ini difokuskan pada
siswa kelas VII SMP Islam Nurul Hikmah Legok Tangerang.
D. Perumusan Masalah
Untuk memperjelas permasalahan yang akan diteliti, maka permasalahan
penelitian dirumuskan sebagai berikut:
Apakah penggunaan metode Make a Match dapat meningkatkan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi Sifat Wajib dan
Mustahil bagi Allah di di SMP Islam Nurul Hikmah kelas VII tahun ajaran
2016/2017?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa
pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah di
SMP Islam Nurul Hikmah kelas VII tahun ajaran 2016/2017
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
8
1. Untuk siswa, agar lebih termotivasi dan selalu aktif dalam proses belajar
mengajar, mengembangkan kreatifitasnya dalam belajar dan dapat lebih
meningkat dalam prestasi belajarnya.
2. Untuk guru terkhususnya untuk saya sebagai peneliti, dapat mengetahui
metode apa yang tepat digunakan dalam setiap pembelajaran.
3. Sebagai bahan informasi kepada guru-guru mengenai pencapaianhasil belajar
siswa yang diajar dengan menggunakan metode Make a Match.
4. Untuk pihak sekolah, penelitian ini dapat memberikan kesempatan kepada
guru untuk memperluas wawasan dan pengetahuan dalam proses belajar
mengajar dan meningkatkan kualitas sekolah.
9
BAB II
KAJIAN TEORETIS
A. Landasan Teori
1. Metode Pembelajaran Make a Match
a. Pengertian Metode Pembelajaran Make a Match
Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang
umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau cara
melakukan pekerjaan dengan menggunakan fakta dan konsep-konsep
secara sistematis.1
Pembelajaran
adalah
membimbing
kegiatan
siswa
dalam
memperoleh informasi dan pengetahuan serta mengarahkan perubahan
tingkah laku pada diri siswa yang meliputi aspek kognitif, afektif dan
psikomotor.2
Wina
Sanjaya
mengartikan
pembelajaran
sebagai
proses
pengaturan lingkungan yang diarahkan untuk mengubah perilaku siswa ke
arah yang positif dan lebih baik sesuai dengan potensi dan perbedaan
yang dimiliki siswa.Tugas guru dalam rangka optimalisasi proses belajar
mengajar adalah sebagai fasilitator yang mampu mengembangkan
kemauan belajar siswa, mengembangkan kondisi belajar yang relevan
1
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru,198.
Supardi,Perencanaan Sistem Pembelajaran, (Ciputat : Haja Mandiri, 2011), 18
2
10
agar tercipta suasana belajar secara wajar dengan penuh kegembiraan, dan
mengadakan pembatasan positif terhadap dirinya sebagai seorang guru.
Metode pembelajaran yang termuat dalam Al-Qur‟an pun
memiliki banyak macam diantaranya metode pembelajaran dalam Q.S
An-Nahl : 125.
ۡ‫ج ِدلۡهمۡۡبِٱلَّتِيۡ ِه َي‬
َۡ ‫ِّكۡۡبِٱلۡ ِحكۡ َم ِۡةۡ َۡوٱلۡ َمىۡ ِعظَ ِۡةۡٱلۡ َح َسنَ ِۡةۡ َو‬
َۡ ‫يلۡ َرب‬
ِۡ ِ‫ٱدۡعۡۡإِلَىۡۡ َسب‬
ۡ‫يه‬
َۡ ‫لۡ َعهۡ َسبِيلِ ِۡهۦۡ َوه َۡىۡأَعۡلَمۡۡۡبِٱلۡمهۡتَ ِد‬
َّۡ ‫ض‬
َۡ ‫نۡ َرب‬
َّۡ ِ‫ۡأَحۡ َسهۡۡإ‬
َ ۡ‫َّكۡه َۡىۡأَعۡلَمۡۡبِ َمه‬
ۡ ۡ٥٢١
125. Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah
dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk
Dari surah An-Nahl ini tercantum 3 metode pembelajaran,
diantaranya :
1) Metode hikmah (bijaksana)
2) Metode nasihat/pengajaran yang baik (mauizhah hasana)
3) Metode diskusi (jidal)
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru untuk
menyampaikan pelajaran kepada siswa. Karena penyampaian itu
berlangsung dalam interaksi edukatif, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan
11
berlangsung dalam interaksi edukatif, metode pembelajaran dapat
diartikan sebagai cara yang dipergunakan oleh guru dalam mengadakan
hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan
demikian, metode pembelajaran merupakan alat untuk menciptakan
proses belajar mengajar.3
Sedangkan Metode pembelajaran Make a match adalah salah satu
metode yang termasuk dalam pendekatan informatif. Pendekatan
informatif adalah pendekatan pembelajaran yang memfokuskan siswa
untuk mencari pengetahuan dan informasi dengan baik, siswa diharapkan
mampu mengakses informasi, menyeleksi dan mengolah informasi serta
berperilaku tulus.4
Make a match pertama kali dikembangkan pada tahun 1994 oleh
Lorna Curran, strategi make a match saat ini menjadi salah satu strategi
penting dalam ruang kelas. Salah satu keunggulan make a match adalah
siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik
dalam suasana yang menyenangkan. Teknik ini bisa digunakan dalam
semua mata pelajaran dan untuk semua tingkatan usia anak didik.5
Tujuan dari strategi ini antara lain : 1) Pendalaman materi; 2)
penggalian materi; dan 3) edutainment. Tata laksananya cukup mudah,
tetapi guru perlu melakukan beberapa persiapan khusus sebelum
menerapkan strategi ini. Beberapa persiapannya antara lain :
3
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung, CV. Pustaka Setia, 2011), 80
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis,
(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2014), 244.
5
Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas,
55
4
12




Membuat beberapa pertanyaan yang sesuai dengan materi yang
dipelajari kemudian menuliskannya dalam kartu-kartu pertanyaan.
Membuat kunci jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat
dan menulisnya dalam kartu-kartu jawaban. Akan lebih baik jika kartu
pertanyaan dan kartu jawaban berbeda warna
Membuat aturan yang berisi penghargaan bagi siswa yang berhasil
dan sanksi bagi siswa yang gagal (disini, guru dapat membuat aturan
ini bersama-sama dengan siswa)
Menyediakan lembaran untuk mencatat pasangan-pasangan yang
berhasil sekaligus untuk penskoran presentasi.6
Jadi, metode pembelajaran make a match ini dapat digunakan
untuk merangsang keaktifan belajar peserta didik dengan suasana yang
menyenangkan. Tugas guru pun cukup mudah hanya mempersiapkan
soal-soal berikut dengan jawabannya yang akan dibagikan kepada peserta
didik.
b. Langkah-langkah Metode Pembelajaran Make a Match
Langkah-langkah dalam kegiatan pembelajaran make a match
adalah sebagai berikut :
1) Guru menyampaikan materi atau memberi tugas kepada siswa untuk
mempelajari materi di rumah.
2) Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok, misalnya kelompok A dan
kelompok B. kedua kelompok diminta untuk berhadap-hadapan.
3) Guru membagikan kartu pertanyaan kepada kelompok A dan kartu
jawaban kepada kelompok B. Untuk variasi yang lain, kartu – kartu
yang berisi pertanyaan dan jawaban dicampur dan kocok beberapa
kali sampai benar-benar tercampur kemudian dibagikan kepada setiap
siswa secara acak.7
4) Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari /
mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru
juga perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan
kepada mereka.
5) Guru meminta semua anggota kelompok A untuk mencari
pasangannya di kelompok B. Untuk variasi lain siswa bisa juga
bergabung dengan dua atau tiga siswa lain yang memegang kartu
6
Miftahul Huda, Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran Isu-Isu Metodis dan Paradigmatis ,
251-252
7
Mel Silberman, Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta : Pustaka Insan
madani, 2002), 240.
13
6)
7)
8)
9)
yang cocok.8 Jika mereka sudah menemukan pasangannya masingmasing, guru meminta mereka melaporkan diri kepadanya. Guru
mencatat mereka pada kertas yang sudah dipersiapkan.
Jika waktu sudah habis, siswa yang belum menemukan pasangan
diminta untuk berkumpul sendiri.
Guru memanggil satu pasangan untuk presentasi. Pasangan lain dan
siswa yang tidak mendapat pasangan memperhatikan dan
memeberikan tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.
Terakhir, guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan
kecocokan pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan
presentasi.
Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu seterusnya sampai
seluruh pasangan melakukan presentasi.
Jadi, langkah-langkah metode pembelajaran make a match ini
dapat menjadikan suasana pembelajaran menyenangkan dan peserta
didikpun berperan aktif untuk menemukan pasangan / jawaban yang
dicarinya.
c. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Make a match
Kelebihan strategi ini antara lain : 1) Dapat meningkatkan
aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik; 2) karena ada
unsur
permainan,
pemahaman
siswa
metode
terhadap
ini
menyenangkan;
materi
yang
3)
dipelajari
meningkatkan
dan
dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa; 4) efektif sebagai sarana melatih
keberanian siswa untuk tampilpresentasi; dan 5) efektif melatih
kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.
Adapun kelemahan starategi make a match adalah : 1) jika strategi
ini tidak dipersiapkan dengan baik, akan banyak waktu yang terbuang; 2)
pada awal-awal penerapan metode, banyak siswa yang akan malu
8
Anita Lie, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-ruang Kelas ,
56
14
berpasangan dengan lawan jenisnya; 3) jika guru tidak mengarahkan
siswa dengan baik, akan banyak siswa yang kurang memperhatikan pada
saat presentasi pasangan; 4) guru harus berhati-hati dan bijaksana saat
memberi hukuman pada siswa yang tidak mendapat pasangan, karena
mereka bisa malu; 5) menggunakan metode ini secara terus menerus akan
menimbulkan kebosanan.
Jadi, metode pembelajaran make a match ini dapat digunakan
dalam semua mata pelajaran dan semua tingkatan peserta didik. Namun
jika menggunakan metode ini terlalu sering akan memberikan kesan
membosankan pada peserta didik.
2. Hasil Belajar
a. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar terdiri dari dua kata yang membentuknya, yaitu
“hasil” dan “belajar”. hasil (product) merupakan perolehan akibat
dilakukannya suatu aktivitas atau proses yang mengakibatkan berubahnya
input secara fungsional. Belajar merupakan proses yang terjadi dalam diri
individu, dengan cara berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan
perubahan dalamperilakunya. Belajar dilakukan untuk mengusahakan
adanya perubahan perilaku pada individu yang belajar. Perubahan
perilaku itu merupakan perolehan yang menjadi hasil belajar.9 Adapun
pengertian belajar menurut W.S. Winkel dalam bukunya yang berjudul
Psikologi Pengajaran, belajar adalah suatu aktivitas mental/psikis yang
9
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), 45.
15
berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan
perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan
nilai-nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan
berbekas. Perolehan perubahan itu dapat berupa suatu hasil yang baru
atau pula penyempurnaan terhadap hasil yang telah diperoleh. Hasil
belajar dapat berupa hasil yang utama, dapat juga berupa hasil sebagai
efek sampingan. Proses belajar dapat berlangsung dengan penuh
kesadaran, dapat juga tidak demikian.10
Hasil belajar merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri siswa, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan
psikomotornya sebagai hasil dari kegiatan belajar. Secara sederhana,
yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang
diperoleh siswa setelah melaksanakan kegiatan belajar. Karena belajar itu
sendiri merupakan suatu proses yang dilakukan oleh seseorang yang
berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif
menetap. Begiru juga dalam kegiatan pembelajaran, seorang guru
biasanya menetapkan tujuan belajar. Siswa yang berhasil dalam belajar
yaitu siswa yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan oleh guru. Penilaian hasil belajar siswa mencakup segala
hal yang dipelajari di sekolah, baik itu menyangkut aspek kognitif, sikap,
10
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta, Media Abadi, 2004), 61
16
dan psikomotor yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diberikan
kepada siswa.11
Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar siswa merupakan perubahan yang menetap dalam diri siswa, yang
diperoleh dari proses kegiatan pembelajaran, baik yang menyangkut
aspek kognitif,
aspek afektif, dan aspek psikomotor siswa. Prestasi
belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan
seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan
bobot yang dicapainya.12Dengan demikian, prestasi belajar adalah hasil
yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Hasil
belajar
siswa
dapat
diketahui
setelah
diadakan
evaluasi.Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tinggi-rendahnya
prestasi belajar siswa. Evaluasi terdiri dari evaluasi sumatif dan evaluasi
formatif. Evaluasi “sambil jalan” itu merupakan evaluasi formatif,
sedangkan evaluasi terhadap produk yang akhirnya dicetak setelah
keseluruhan rangkaian tindakan selesai dilaksanakan, merupakan
evaluasi sumatif. Evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama
proses belajar-mengajar masih berlangsung, agar siswa dan tenaga
pengajar mendapatkan informasi (feedback) mengenai kemajuan yang
telah dicapai. Yang dimaksud dengan evaluasi sumatif adalah
penggunaan tes-tes pada akhir suatu periodenpengajaran tertentu, yang
11
Ahmad susanto,Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana, 2013), 5.
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran,162
12
17
meliputi beberapa unit pelajaran atau semua unit pelajaran yang diajarkan
dalam satu caturwulan, bahkan mungkin pada saat suatu bidang studi
selesai dipelajari.13
Jadi, hasil belajar ini akan diketahui setelah diadakan evaluasi
baik berupa tes ataupun non tes, baik evaluasi formatif maupun evaluasi
sumatif. Dari hasil evaluasi tersebut, akan terlihat tinggi rendahnya hasil
belajar siswa serta tercapai atau tidakkah tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
b. Tipe-tipe Hasil Belajar
Menurut Benyamin S. Bloom “secara garis besar hasil belajar
dibagi menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah
psikomotor”.14
1) Hasil Belajar Kognitif
Hasil belajar kognitif yaitu hasil belajar yang ada hubungannya
dengan ingatan atau hafalan, kemampuan berpikir atau intelektual. Di
dalam ranah ini, hasil belajar terdiri dari enam tingkatan. Ke
enamhasil belajar ranah kognitif ini, yaitu meliputi: 1) pengetahuan
atau ingatan, 2) pemahaman, 3) aplikasi, 4) analisis, 5) sintesis, dan 6)
evaluasi.15
Belajar kognitif merupakan suatu kemahiran tersendiri, orang
yang memiliki kemahiran ini mampu mengontrol dan menyalurkan
13
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, 533
Muhammad Thobroni & Arif Mustofa, Belajar dan Pembelajaran Pengembangan Wacana dan
Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan nasional, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 23.
15
Deni Kurniawan, Pembelajaran Terpadu Tematik Teori, Praktik dan Penilaian, (Bandung:
Alfabeta, 2014), 10.
14
18
aktivitas kognitif yang berlangsung dalam dirinya sendiri, bagaimana
dia memusatkan perhatian, bagaimana dia belajar, bagaimana dia
menggali dari ingatan, bagaimana dia menggunakan pengetahuan
yang dimilikinya, bagaimana dia berpikir dengan menggunakan
konsep, kaidah dan pengetahuan yang dimilikinya, khususnya bila
menghadapi problem atau masalah.16
a) Tipe hasil belajar pengetahuan hafalan (knowledge)
Pengetahuan hafalan merupakan terjemahan dari kata
“knowledge” menurut Bloom. Cakupan dalam pengetahuan
hafalan termasuk pula pengetahuan yang sifatnya faktual, di
samping pengetahuan yang mengenai hal-hal yang perlu diingat
kembali seperti batasan, peristilahan, pasal, hukum, bab, ayat,
rumus, dan lain-lain. Dari sudut respons belajar siswa,
pengetahuan itu perlu di ingat, agar dapat dikuasai dengan baik.17
Kemampuan ini merupakan kemampuan untuk mengingat
kembali fakta yang disimpan dalam otak yang akan digunakan untuk
merespons suatu masalah.18 Pengetahuan, mencakup ingatan akan halhal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu
dapat meliputi fakta, kaidah dan prinsip, serta metode yang
diketahui.Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat
dibutuhkan melalui bentuk ingatan mengingat (recall) atau mengingat
kembali (recognition).19
Tipe hasil belajar pengetahuan termasuk ke dalam tingkatan
kognitif yang paling rendah. Akan tetapi, tipe hasil belajar ini dijadikan
16
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, 374
Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru Algensido, 2011),
17
50.
18
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 50.
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, 274
19
19
sebagai prasarat bagi tipe hasil belajar berikutnya. Hafal menjadi
prasarat bagi pemahaman. Misalnya hafal suatu rumus akan
menyebabkan paham bagaimana menggunakan rumus tersebut; hafal
kata-kata akan memudahkan membuat kalimat, hafal 20 sifat wajib bagi
Allahbeserta artinya akan memudahkan siswa dalam memahami sifat
wajib dan mustahil bagi Allah.20
Jadi, tipe hasil belajar kognitif ini merupakan tingkatan hasil
belajar yang paling rendah karena bersifat pengetahuan. Ketika siswa
sudah dapat menyebutkan, menjelaskan dan menghafal pembelajaran
maka hasil belajar kognitif ini dapat dikatakan berhasil.
b) Tipe hasil belajar Pemahaman (comprehention)
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan yaitu
pemahaman.
Di
dalam
tingkatan
Pemahaman
memerlukan
kemampuan menangkap makna atau arti dari suatu konsep. Misalnya
menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri yang sesuai dengan
apa yang dibaca atau didengarnya. Kesanggupan memahami setingkat
lebih tinggi daripada pengetahuan, tidaklah berarti bahwa pengetahuan
tidak perlu ditanyakan, sebab, untuk dapat memahami sesuatu perlu
terlebih dahulu mengetahui atau mengenalnya.21
Pemahaman
didefinisikan
sebagai
kemampuan
untuk
menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Pemahaman
20
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2013), 23.
21
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , 24.
20
juga dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami
gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dan sebagainya.
Jadi, tipe hasil belajar pemahaman ini setingkat lebih tinggi
dari pengetahuan. Karena sampai siswa dapat menguraikan isi pokok
dari suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dalam bentuk
tertentu ke bentuk lain pembelajaran dapat dikatakan berhasil.
c) Tipe hasil belajar penerapan (aplikasi)
Penerapan (application) adalah kemampuan menggunakan
pengetahuan
(knowledge)
untuk
memecahkan
masalah
atau
menerapkan
pengetahuan
dalam
kehidupan
sehari-hari,
atau
kemampuan dalam menggunakan atau menafsirkan suatu bahan yang
sudah dipelajari ke dalam situasi baru atau situasi yang kongkrit,
seperti menerapkan suatu dalil, metode, konsep, prinsip atau teori.
Kemampuan ini lebih tinggi tingkatannya daripada pemahaman.22
Misalnya, memecahkan persoalan dengan menggunakan
rumus tertentu, menerapkan suatu dalil atau hukum dalam suatu
persoalan. Jadi, dalam aplikasi harus ada konsep, teori, hukum, rumus.
Dalil hukum tersebut, diterapkan dalam pemecahan suatu masalah
(situasi tertentu).
Jadi, tipe hasil belajar penerapan ini dapat dilihat setelah siswa
mengetahui dan memahami materi pembelajaran yang kemudian akan
diterapkan dalam kehidupannya.
22
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Alfabeta,
2013), 121.
21
d) Tipe hasil belajar analisis
Analisis adalah kesanggupan memecah, mengurai suatu
integritas (kesatuan yang utuh) menjadi unsur-unsur atau bagianbagian yang mempunyai arti atau mempunyai tingkatan. Kata-kata
operasional yang biasanya dipakai untuk analisis yaitu: menguraikan,
memecahkan, membuat diagram, memisahkan, membuat garis besar,
merinci, membedakan, menghubungkan, memilih alternatif dan lainlain.23
Analisis merupakan kemampuan menguraikan materi ke dalam
komponen-komponen
atau
faktor
penyebabnya,
dan
mampu
memahami hubungan di antara bagian yang satu dengan yang lainnya
sehingga struktur dan aturannya dapat lebih dimengerti. Analisis lebih
tinggi tingkatan kemampuan berpikirnya daripada aspek pemahaman
maupun penerapan.24
Jadi, tipe hasil belajar analisis ini adalah menganalisa atau
meneliti hal-hal yang tidak sesuai dengan pengetahuan dan
pemahaman yang didapat. Tipe analisis ini lebih tinggi tingkaan
kemampuan berpikirnya.
e) Tipe hasil belajar sintesis
Belajar sintesis yaitu menggabungkan atau merangkai berbagai
informasi menjadi satu kesimpulan ataumenjadi satu hal yang baru.
Contoh kemampuan ini adalah seseorang yang memiliki kemampuan
23
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , 52.
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional ( Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2006), 35.
24
22
untuk memilih nada dan irama dan kemudian menggabungkannya
sehingga menjadi gubahan musik yang baru, memberi nama yang
sesuai bagi suatu temuan baru, menciptakan logo organisasi,
memahami iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab Allah, Rasulrasul Allah, Hari Akhir, Qada dan Qadar jika digabungkan yaitu
memahami Rukun Iman.25
Hasil belajar sintesis ini adalah kemampuan untuk membentuk
suatu kesatuan atau pola baru.Adanya kemampuan ini dinyatakan
dalam membuat suatu rencana, seperti penyusunan satuan pelajaran
atau proposal penelitian ilmiah.26
f) Tipe hasil belajar evaluasi.
Kemampuan evaluasi yaitu kemampuan untuk memberikan pendapat
atau menentukan baik dan tidak baik atas sesuatu dengan
menggunakan suatu kriteria tertentu. kemampuan evaluasi akan
terbentuk setelah kemampuan pengetahuan, pemahaman, aplikasi,
analisis, dan sistesis telah ada.27
Tingkah laku operasional dilukiskan dalam kata-kata; menilai,
membandingkan,
mengeritik,
menyimpulkan,
mendukung
mempertimbangkan, mempertentangkan, menyarankan, memberikan
pendapat dan lain-lain. Misalnya
memberikan pendapat tentang
kegiatan belajar yang di lakukan di SMPI Nurul Hikmah,
menyimpulkan materi tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah.28
25
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam , 122.
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, 275
27
Deni Kurniawan, Pembelajaran Terpadu Tematik Teori, Praktik dan Penilaian, 10.
28
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar , 53.
26
23
Jadi, hasil belajar evaluasi ini adalah tipe hasil belajar yang
terakhir karena tingkatan kemampuan peserta didik harus sudah dapat
memberikan pendapat sendiri, membandingkan dan menyimpulkan
dari hasil pembelajaran yang dipelajari.
2) Hasil Belajar Afektif
Hasil belajar ranah afektif yaitu merujuk pada hasil belajar yang
berupa kepekaan rasa atau emosi seperti disiplin dan menghargai guru yang
sedang mengajar. Jenis hasil belajar ini terdiri dari lima jenis antara lain,
yaitu: 1) penerimaan (receiving/attending); 2) sambutan (responding); 3)
penilaian (valuing);4) Pengorganisasian (organization); dan 5). Karakterisasi
(characterization).
a) Penerimaan (receiving/attending)
Menurut
Sholeh
Hidayat,
dalam
bukunya
yang
berjudul
„Pengembangan Kurikulum Baru‟ bahwa “Penerimaan adalah sikap
kesadaran atau kepekaan seseorang terhadap gejala, kondisi, keadaaan,
atau suatu masalah”.29
Penerimaan (receiving/attending) terdiri dari tiga tahap yaitu: a)
kesiapan untuk menerima (awareness), yaitu adanya kesiapan untuk
menerima fenomena atau objek yang akan dipelajari, yang ditandai dengan
kehadiran dan usaha untuk memberi perhatian pada stimulus yang
bersangkutan, b) kemauan untuk menerima (willingness to receive), yaitu
usaha untuk mengalokasikan perhatian pada stimulus yang bersangkutan,
29
Sholeh Hidayat, Pengembangan Kurikulum Baru (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2013),
59.
24
c) mengkhususkan perhatian (controlled or selected attention), seperti
perhatian itu hanya tertuju pada warna, suara atau kata-kata tertentu saja.30
b) Sambutan (responding)
Sambutan (responding) dari segi pendidikan yaitu perubahan sikap
siswa yang terjadi setelah ada rangsangan pada saat ia belajar, 31 yang
meliputi proses a) kesiapan menanggapi (acquiescence of responding),
contoh: mengajukan pertanyaan tentang tajwid, khusunya hukum bacaan
idzhar halqi, b) kemauan menanggapi (willingness to respond), yaitu usaha
untuk melihat hal khusus yang ada dalam bagian tertentu yang
diperhatikan,
contohnya
pada
desain
atau
warna
saja,
siswa
memperhatikan warna baju yang dipakai oleh gurunya, c) kepuasan
menanggapi (satisfaction in response), yaitu
kegiatan yang berkaitan
dengan usaha untuk memuaskan rasa ingin tahunya, contohnya bertanya
tentang materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah yang belum
dimengerti.32
c) Penilaian (valuing)
Menurut Hamdani, dalam bukunya yang berjudul „Strategi Belajar
Mengajar‟ bahwa Penilaian adalah kemauan untuk menerima suatu objek
atau kenyataan setelah seseorang itu sadar bahwa objek tersebut
mempunyai nilai atau kekuatan, dengan cara menyatakan dalam bentuk
sikap atau perilaku positif atau negatif33
Pada tahap ini sudah mulai timbul rasa untuk memiliki dan
menghayati nilai dari stimulus yang dihadapi seperti menerima pelajaran
30
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam , 123.
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2011), 153.
32
Heri Gunawan, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam , 123.
33
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, 152.
31
25
yang diberikan oleh guru, menolak ajakan teman untuk bolos ketika jam
pelajaran, menghargai pendapat orang lain.
d) Pengorganisasian (organization)
Menurut Hamdani, dalam bukunya yang berjudul „Strategi Belajar
Mengajar‟ bahwa “Organisasi adalah proses konseptualisasi nilai-nilai dan
menyusun hubungan antar nilai, kemudian memilih nilai-nilai yang paling
baik untuk diterapkan”.34Pada tahap ini siswa melihat beberapa nilai yang
relevan untuk disusun menjadi satu sistem nilai, seperti menilai hasil karya
orang lain.
e) Karakterisasi (characterization)
Menurut Hamdani, dalam bukunya yang berjudul „Strategi Belajar
Mengajar‟ bahwa Karakterisasi adalah sikap dan perbuatan yang secara
konsisten dilakukan seseorang selaras dengan nilai-nilai yang dapat
diterimanya, sehingga sikap dan perbuatan itu seolah-olah menjadi ciri-ciri
perilakunya.35
Jadi karakterisasi siswa adalah sikap yang dimiliki siswa secara
konsisten dari hasil belajarnya baik di sekolah maupun di rumah serta
nilai-nilai budaya yang diajarkan sehingga menjadikan siswa tersebut
memiliki karakter / ciri-cirinya.
3) Hasil Belajar Psikomotor
Hasil belajar psikomotor yaitu hasil belajar yangberkenaan dengan
keterampilan dan kemampuan bertindak. Menurut Simpson “hasil belajar
psikomotorik ada enam: persepsi, kesiapan, gerakan terbimbing, gerakan
terbiasa, gerakan kompleks dan kreativitas”.
34
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, 153.
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, 154
35
26
a) Persepsi (perception)
Menurut Purwanto, dalam bukunya yang berjudul „Evaluasi Hasil
Belajar‟ bahwa “Persepsi (perception) adalah kemampuan hasil belajar
psikomotorik
yang paling rendah. Persepsi
adalah kemampuan
membedakan suatu gejala dengan gejala lain”.36
Kata-kata kerja operasional yang menandai kemampuan tersebut
adalah sebagai berikut:
1) Menyeleksi
2) Memilih
3) Menggambarkan
4) Membedakan.37
5) Menunjukkan
6) Menghubungkan
7) Mengidentifikasikan
b) Kesiapan (set)
Menurut Purwanto, dalam bukunya yang berjudul „Evaluasi Hasil
Belajar‟ bahwa “Kesiapan (set) adalah kemampuan menempatkan diri
untuk memulai suatu gerakan. Misalnya kesiapan menempatkan diri
sebelum
lari,
menari,
mengetik,
memperagakan
sholat,
mendemonstrasikan penggunaan thermometer dan sebagainya”.38
Kata kerja operasional sebagai indikator pencapaian kemampuan
tersebut adalah sebagai berikut:
1) Memulai
2) Mempersiapkan diri
3) Mendemonstrasikan
4) Mengawali
5) Menanggapi
6) Menunjukkan39
36
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 53.
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum,(Bandung: Yrama widya,
2014), 25.
38
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 53.
39
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum, 25.
37
27
c) Gerakan terbimbing (guided response)
Menurut Purwanto, dalam bukunya yang berjudul „ Evaluasi Hasil
Belajar‟
bahwa
“Gerakan
terbimbing
(guided
response)
adalah
kemampuan melakukan gerakan meniru model yang dicontohkan”.40
Kata kerja operasional yang dapat digunakan, antara lain:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
Meniru
Mengikuti
Mempraktikkan
Mengerjakan
Membuat
Mencoba
Memperlihatkan
Membuat41
d) Gerakan terbiasa (mechanisme)
Menurut Purwanto, dalam bukunya yang berjudul „Evaluasi Hasil
Belajar‟ bahwa “Gerakan terbiasa (mechanisme)adalah kemampuan
melakukan gerakan tanpa ada model contoh. Kemampuan dicapai karena
latihan berulang-ulang sehingga menjadi kebiasaan”. 42
Kata kerja operasioanal yang menandai kemampuan tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Menggunakan
2) Memperlancar
3) Memperbaiki
4) Membangun
5) Memainkan
6) Mengoperasikan
7) Memasang43
40
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 53.
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum, 25.
42
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 53.
43
W.S Winkel, Psikologi Pengajaran, 284
41
28
e) Gerakan kompleks (adaptation)
Menurut kosasih, dalam bukunya yang berjudul „Strategi Belajar dan
Pembelajaran‟ bahwa “Gerakan Kompleks (adaptation) adalah
kemampuan mengembangkan keahlian dan memodifikasikan sesuai
dengan kebutuhan.”.
Kata kerja operasional yang dapat menjadi indikator
pencapaian
adalah sebagai berikut:
1) Mengubah
2) Merevisi
3) Mengatur kembali
4) Menyusun
5) Memainkan
6) Merancang kembali.44
f) Kreativitas (origination)
Menurut Purwanto, dalam bukunya yang berjudul „Evaluasi Hasil
Belajar‟ bahwa “kreativitas (origination) adalah kemampuan menciptakan
gerakan-gerakan baru yang tidak ada sebelumnya.45
Kata kerja yang dapat digunakan sebagai indikator pencapaian adalah
sebagai berikut:
1) Merancang
2) Membangun
3) Menciptakan
4) Mendesain
5) Membuat.46
Menurut Nana Sudjana dalam bukunya, yang berjudul „Penilaian
hasil proses belajar mengajar‟ bahwa “ketiga ranah tersebut menjadi objek
penilaian hasil belajar. Diantara ketiga ranah itu, ranah kognitiflah yang
paling banyak dinilai oleh para guru di sekolah karena berkaitan dengan
kemampuan para siswa dalam menguasai bahan pengajaran”.47
44
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum, 26
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, 53.
46
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum, 27.
47
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, 22-23.
45
29
Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
siswa dibagi tiga, yaitu hasil belajar dari ranah kognitif seperti hafalan, dan
kemampuan berfikir, hasil belajar dari ranah afektif seperti disipilin, dan
menghargai guru dan teman, hasil belajar dari ranah psikomotorik seperti
menciptakan suatu karya.
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Adapun Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah
sebagai berikut:
1) Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam
diri peserta didik, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya, yakni
keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.Faktor yang berasal dari
dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni: aspek Fisiologis
(yang bersifat jasmaniah); dan aspek psikologis (yang bersifat
rohaniah).48
a) Aspek Fisiologis
Faktor fisik adalah faktor yang bersifat jasmaniah. Dan
bisa kita kelompokkan lagi menjadi dua kelompok antara lain
faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh.
(1) Faktor Kesehatan
Sehat adalah anggota badan dalam keadaan baik dan bebas
dari penyakit. Kesehatan seseorang sangat berpengaruh terhadap
48
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar , (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), 146.
30
belajarnya. Proses belajar seseorang akan
terganggu jika
kesehatan seseorang terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah,
kurang bersemangat, mudah pusing, ngantuk jika badannya
lemah, kurang darah ataupun ada gangguan/kelainan-kelainan
fungsi alat inderanya serta tubuhnya.49
Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai
pusing kepala berat misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah
cipta (kognitif) sehingga materi yang dipelajarinyapun kurang
atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani agar
tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan
minuman yang bergizi. Selain itu, siswa juga dianjurkan memilih
istirahat dan olahraga yang sedapat mungkin terjadwal secara
tetap dan berkesinambungan.50
(2) Cacat Tubuh
“Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan anggota
badan kurang baik atau kurang sempurna. Cacat tubuh itu dapat
berupa buta, setengah buta, tuli, setengah tuli, lumpuh dan
sebagainya”.51
Keadaan
cacat
juga
dapat
menghambat
keberhasilan seseorang. Misalnya siswa tersebut bisu, tuli sejak
lahir. Keadaan seperti inijuga dapat menjadi hambatan dalam
perkembangan siswa, sehingga siswa tersebut sulit untuk
49
Slameto, Belajar & Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya,(Jakarta: Rineka Cipta, 2010), 54.
Alex Sobur, Psikologi Umum,( Bandung: Pustaka Setia, 2003), 243.
51
Slameto, Belajar & Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya, 55.
50
31
bereaksi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekelilingnya.
Untuk mengatasi kemungkinan timbulnya masalah pendengaran
atau penglihatan, pihak guru seyogianya bekerja sama dengan
pihak sekolah untuk memperoleh bantuan emeriksaan rutin dari
dinas-dinas kesehatan setempat.52
b) Aspek Psikologis
Yang termasuk ke dalam faktor psikologis adalah sebagai
berikut: 1) tingkat kecerdasan/ intelegensi siswa; 2) sikap siswa;
3) bakat siswa; 4) Minat siswa; 5) Motivasi siswa.
(1) Kecerdasan (intelegensi)
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan
belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai
tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil daripada
yang mempunyai tingkat intelegensi yang rendah. Walaupun
begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi
belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan
karena belajar adalah suatu proses yang kompleks dengan
banyak factor yang mempengaruhinya, sedangkan intelegensi
adalah salah satu factor diantara factor yang lain. Jika factor
lain itu bersifat menghambat / bepengaruh negative terhadap
belajar, akhirnya siswa gagal dalam belajarnya.
52
Alex Sobur, Psikologi Umum, 244.
32
(2) Sikap
Sikap, yaitu suatu kecenderungan untuk mereaksi
terhadap suatu hal, orang atau benda dengan suka, tidak suka,
atau acuh tak acuh.Sikap seseorang dapat dipengaruhi oleh
faktor pengetahuan, kebiasaan dan keyakinan.Sikap yaitu suatu
kecenderungan untuk mereaksi terhadap suatu hal, orang, atau
benda dengan suka, tidak suka, atau acuh tak acuh. Di dalam
diri siswa harus ada harus ada sikap yang positif (menerima)
kepada sesama siswa atau kepada gurunya, karena sikap yang
positif akan mendorong kemauan siswa untuk belajar, dan
sebaliknya sikap negatif akan mengakibatkan siswa malas
untuk belajar.53
Untuk mencegah kemungkinan munculnya sikap
negatif siswa, seorang guru dituntut untuk terlebih dahulu
bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan terhadap mata
pelajarannya. Dalam hal ini, seorang guru sangat dianjurkan
untuk senantiasa menghargai dan mencintai profesinya. Jadi
seorang guru tidak hanya memahami materi bidang studinya,
tetapi juga mampu meyakinkan akan manfaat bidang studi itu
bagi kehidupan mereka. Karena dengan meyakini manfaat
bidang studi, siswa akan merasa membutuhkannya, dan dari
perasaan butuh itulah diharapkan muncul sikap positif terhadap
53
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar,142.
33
bidang
studi
tersebut
sekaligus
terhadap
guru
yang
mengajarkannya.54
(3) Bakat
Bakat adalah kemampuan potensial yang dimiliki
seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan
datang. Setiap orang memiliki bakat dalam arti berpotensi
untuk mencapai prestasi sampai tingkat tertentu sesuai dengan
kapasitas masing-masing.55
Bakat mempengaruhi tinggi-rendahnya prestasi belajar
bidang-bidang studi tertentu. Dalam proses belajar, terutama
belajar keterampilan, bakat memegang peranan penting dalam
mencapai suatu hasil akan prestasi yang baik.
(4) Minat
Minat menurut para ahli psikologi adalah suatu
kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat
sesuatu secara terus menerus.Minat ini erat kaitannya dengan
perasaan, terutama perasaan senang.Dan dikatakan minat itu
terjadi karena perasaan senang pada sesuatu.56
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila
bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat
54
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar ,150.
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, 141
56
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, 140
55
34
siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena
tidak ada daya tarik baginya.
(5) Motivasi
Pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal
organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya
untuk berbuat sesuatu.
Dalam perkembangan selanjutnya,
motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu 1)
motivasi intrinsik; 2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik
adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa
sendiri yang dapat mendorongnya melakukan tindakan belajar.
Termasuk dalam motivasi intrinsik siswa adalah perasaan
menyenangi materi dan kebutuhan masa depan siswa yang
bersangkutan. Adapun motivasi ekstrinsik adalah hal dan
keadaan yang datang dari luar individu siswa yang juga
mendorongnya untuk melakukan kegiatan belajar. Pujian dan
hadiah, peraturan/ tata tertib sekolah, suri teladan orangtua,
guru, dan seterusnya merupakan contoh-contoh konkret
motivasi ekstrinsik yang dapat menolong siswa untuk belajar.57
Jadi motivasi siswa merupakan dorongan untuk belajar,
dan mempunyai pengaruh yang besar, karena jika siswa
tersebut tidak memiliki motivasi baik internal atau eksternal,
maka siswa tersebut tidak mempunyai dorongan untuk belajar
57
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,153.
35
baik di rumah atau di sekolah, sehingga mengakibatkan hasil
belajarnyapun rendah.
2) Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar diri
siswa yang mempengaruhi hasil belajar, yakni kondisi lingkungan di
sekitar siswa. Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga
terdiri dari dua macam, yakni: faktor lingkungan sosial dan faktor
lingkungan non sosial.
Lingkungan merupakan bagian dari kehidupan anak didik. Di
dalam lingkunganlah anak didik hidup dan berinteraksi dalam
kehidupan.58
a) Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf
administrasi, dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi
semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu
menunjukkan
sikap
dan
perilaku
yang
simpatik
dan
memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam
hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat
menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pula pada
model
penyajian
materi.
Model
penyajian
materi
yang
menyenangkan, tidak membosankan, menarik, dan mudah
58
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), 176.
36
dimengerti oleh para siswa tentunya berpengaruh secara positif
terhadap keberhasilan belajar.59
Selanjutnya, yang termasuk lingkungan sosial siswa
adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di
sekitar perkampungan siswa tersebut.Kondisi masyarakat di
lingkungan kumuh (slum area) yang serba kekurangan dan anakanak penganggur, misalnya akan sangat mempengaruhi aktivitas
belajar siswa. Paling tidak, siswa tersebut akan menemukan
kesulitan ketika memerlukan teman belajar atau berdiskusi atau
meminjam alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum
dimilikinya.
b) Lingkungan Nonsosial
Lingkungan nonsosial ini dapat dikatakan lingkungan
yang terjadi diluar dari diri seseorang dan terjadi bukan karena
adanya hubungan social seseorang.
Faktor-faktor yang termasuk lingkungan nonsosial ialah
gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat tinggal keluarga
siswa, alat-alat belajar, keadaan cuaca danwaktu belajar yang
digunakan siswa.60
Dapat disimpulkan bahwa yang mempengaruhi hasil
belajar siswa ada dua faktor, yaitu: 1) faktor internal (faktor yang
ada di dalam diri siswa) seperti kesehatan, cacat tubuh, minat,
59
Ahmad susanto,Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar, 17.
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,138.
60
37
motivasi, bakat, intelegensi dan sikap. 2) faktor ekternal (faktor
yang berada di luar diri siswa) seperti lingkungan yang berada di
sekitarnya. Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling
berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.
d. Indikator Hasil Belajar
Pada prinsipnya, pengungkapan hasil belajar ideal meliputi
segenap ranah psikologis yang berubah sebagai akibat pengalaman dan
proses belajar siswa. Namun demikian, pengungkapan perubahan tingkah
laku seluruh ranah itu, khususnya ranah rasa murid, sangat sulit.Hal ini
disebabkan perubahan hasil belajar itu ada yang bersifat intangible (tak
dapat diraba).Oleh karena itu, yang dapat dilakukan guru dalam hal ini
hanya mengambil cuplikan perubahan tingkah laku yang dianggap
penting dan diharapkan dapat mencerminkan perubahan yang terjadi
sebgai hasil belajar siswa, baik yang berdimensi cipta dan rasa maupun
yang berdimensi karsa.
Kunci pokok untuk memperoleh ukuran dan data hasil belajar
siswa sebagaimana yang terurai di atas adalah mengetahui garis-garis
besar indikator (penunjuk adanya prestasi tertentu) dikaitkan dengan
jenis prestasi yang hendak diungkapkan atau diukur.61
61
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar,148
38
TABEL 2.1
Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi
Sumber : Buku Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru, 2010
Ranah / Jenis
Indikator
Prestasi
A. Ranah Cipta (Kognitif)
1. Pengamatan
1. Dapat menunjukkan
2. Dapat membandingkan
3. Dapat menghubungkan
2. Ingatan
1. Dapat menyebutkan
2. Dapat menunjukkan kembali
3. Pemahaman
4. Penerapan
5. Analisis
6. Sintesis
B. Ranah Rasa
(Afektif)
1. Penerimaan
2. Sambutan
3. Apresiasi
(sikap
menghargai)
1. Dapat menjelaskan
2. Dapat mendefinisikan
dengan lisan sendiri
1. Dapat memberikan contoh
2. Dapat menggunakan secara
tepat
1. Dapat menguraikan
2. Dapat mengklasifikasikan
1. Dapat menghubungkan
2. Dapat menyimpulkan
3. Dapat menggeneralisasikan
(membuat prinsip umum)
1. Menunjukkan sikap
menerima
2. Menunjukkan sikap menolak
1. Kesediaan berpartisipasi
2. Kesediaan memnafaatkan
1. Menganggap penting dan
bermanfaat
2. Menganggap indah dan
harmonis
3. Mengagumi
Cara Evaluasi
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
2.
Tes lisan
Tes tertulis
Observasi
Tes lisan
Tes tertulis
Observasi
Tes lisan
Tes tertulis
1.
2.
3.
1.
2.
1.
2.
Tes tertulis
Pemberian tugas
Observasi
Tes tertulis
Pemberian tugas
Tes tertulis
Pemberian tugas
1.
2.
3.
1.
2.
3.
1.
Tes tertulis
Tes skala sikap
Observasi
Tes skala sikap
Pemberian tugas
Observasi
Tes skala
penilaian / sikap
2. Pemberian tugas
3. Observasi
39
4. Internalisasi
(pendalaman)
1. Mengakui dan meyakini
2. Mengingkari
5. Karakterisasi 1. Melembagakan atau
(penghayatan)
meniadakan
2. Menjelmakan dalam pribadi
dan perilaku sehari-hari
C. Ranah Karsa
(Psikomotor)
1. Keterampilan 1. Mengkoordinasikan gerak
bergerak dan
mata, tangan, kaki dan
bertindak
anggota tubuh lainnya
2. Kecakapan
1. Mengucapkan
ekspresi verbal 2. Membuat mimik dan gerakan
dan nonverbal
jasmani
1. Tes skala sikap
2. Pemberian tugas
ekspresif (yang
menyatakan
sikap) dan
proyektif (yang
menyatakan
perkiraan /
ramalan)
3. Observasi
1. Pemberian tugas
ekspresif dan
proyektif
2. Observasi
1. Observasi
2. Tes tindakan
1. Tes lisan
2. Observasi
3. Tes tindakan
3. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
a. Pengertian Aqidah Akhlak
Aqidah menurut bahasa berasal dari kata „aqada yang berarti
mengikat.Maksudnya, mengikat dan memercayai sesuatu dengan akal
dan sepenuh hati.62
Adapun yang dimaksud dengan Aqidah adalah kepercayaan yang
mantap kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para
rasul-Nya, hari akhir, qadar yang baik dan yang buruk, serta seluruh
62
Teguh Prawiro, Akidah Akhlak Kelas VII Madrasah Tsanawiyah, (Jakarta : Yudishtira, 2011), 2
40
muatan Al-Qur‟an Al-Karim dan As-sunnah Ash-Shahihah berupa
pokok-pokok agama, perintah-perintah dan berita-beritanya, serta apa
saja yang disepakati oleh generasi Salafush Shalih (ijma‟), dan
kepasrahan total kepada Allah ta‟ala dalam hal keputusan hokum,
perintah, takdir maupun syara, serta ketundukan kepada Rasulullah SAW
dengan
cara
mengikutinya.
mematuhi,
Dengan
menerima
kata
lain,
keputusan
aqidah
hukumnya
adalah
dan
pokok-pokok
kepercayaan yang harus diyakini kebenarannya oleh setiap muslim
berdasarkan dalil naqli dan aqli (nash dan akal).63
Sementara itu kata akhlak berasal dari bahasa arab “khuluq”,
jamaknya “khuluqun”, menurut lughat diartikan sebagai budi pekerti,
perangai, tingkah laku, atau tabiat.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyatakan bahwa
akhlak ialah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa dan
mendorong
perbuatan-perbuatan
spontan
tanpa
memerlukan
pertimbangan pikiran. Selain itu, definisi lain dari akhlak menurut AlGhazali adalah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa yang darinya lahir
berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang tanpa perlu pemikiran
dan pertimbangan. Jika dari sikap itu lahir perbuatan tepuji, baik menurut
akal sehat maupun syara‟ maka ia disebut akhlak terpuji (akhlak
mahmudah). Jika yang lahir perbuatan tercela, ia disebut akhlak tercela
63
Rosihon Anwar, Akidah Akhlak,(Bandung : CV Pustaka Setia, 2008), 14
41
(akhlak mazmumah).64jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada
diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan
perbuatan.
b. Mata Pelajaran Aqidah Akhlak
Struktur kelompok mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan
Bahasa Arab dalam kurikulum meliputi: 1) Al-Qur‟an Hadis, 2) Akidah
Akhlak, 3) Fikih, 4) Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan 5) Bahasa
Arab. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling
terkait dan melengkapi.
Akidah-Akhlak di sekolah berbasis Islam adalah salah satu mata
pelajaran PAI yang merupakan peningkatan dari akidah dan akhlak yang
telah dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar.
Peningkatan tersebut dilakukan dengan cara mempelajari tentang rukun
iman mulai dari iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitabNya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, sampai iman kepada Qada dan Qadar
yang dibuktikan dengan dalil-dalil naqli dan aqli, serta pemahaman dan
penghayatan terhadap al-asma‟ al-husna dengan menunjukkan ciriciri/tanda-tanda perilaku seseorang dalam realitas kehidupan individu dan
sosial serta pengamalan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela
dalam kehidupan sehari-hari.
Secara substansial mata pelajaran Akidah-Akhlak memiliki
kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk
64
Al-ghazali, Ihya Ulumuddin, III, (Beirut: Dar al-Fikr, tt), 109
42
mempelajari dan mempraktikkan akidahnya dalam bentuk pembiasaan
untuk melakukan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam
kehidupan sehari-hari. Al-akhlak al-karimah ini sangat penting untuk
dipraktikkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu,
bermasyarakat dan berbangsa, terutama dalam rangka mengantisipasi
dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional yang
melanda bangsa dan Negara Indonesia.
Pendidikan Akidah Akhlaq di Madrasah memiliki karakteristik
sebagai berikut:
Akidah Akhlak menekankan pada kemampuan
memahami keimanan dan keyakinan Islam sehingga memiliki keyakinan
yang kokoh dan mampu mempertahankan keyakinan / keimanannya
serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma‟ al-husna. Akhlak
menekankan pada pembiasaan untuk menerapkan dan menghiasi diri
akhlak terpuji (mahmudah) dan menjauhi serta menghindari diri dari
akhlak tercela (madzmumah) dalam kehidupan sehari-hari.
Akidah adalah gudang akhlak yang kokoh. Ia mampu
menciptakan kesadaran diri bagi manusia untuk berpegang teguh kepada
norma dan nilai-nilai akhlak yang luhur. Akhlak mendapatkan perhatian
istimewa dalam akidah Islam.
Adapun
yang
dimaksud
dengan
Akidah
Islam
adalah
kepercayaan yang mantap kepada Allah, para Malaikat Nya, kitab-kitab
suci Nya, para rasul Nya, hari akhir, qada yang baik dan yang buruk,
serta seluruh muatan Al-Qur‟an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-
43
Shahihah.65 Selanjutnya, pengertian akhlak menurut Imam Al-ghazali
dalam Ihya Ulumuddin ialah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam
jiwa dan mendorong perbuatan-perbuatan spontan tanpa memerlukan
pertimbangan pikiran. Jadi, akhlak merupakan sikap yang melekat pada
diri seseorang dan secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku dan
perbutan.66
Hal ini dapat diidentifikasi dari tujuan Mata pelajaran AkidahAkhlak sesuai dengan kurikulum, yakni :
a. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan
pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan,
serta pengalaman peserta didik tentang akidah Islam sehingga
menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan
ketakwaannya kepada Allah SWT;
b. Mewujudkan
manusia
Indonesia
yang berakhlak
mulia
dan
menghindari akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam
kehidupan individu maupun sosial, sebagai manifestasi dari ajaran
dan nilai-nilai akidah Islam.
Untuk mencapai tujuan di atas, maka ruang lingkup mata
pelajaran Akidah-Akhlak di Madrasah Tsanawiyah meliputi:
a. Aspek akidah terdiri atas dasar dan tujuan akidah Islam, sifat-sifat
Allah, al-asma' al-husna, iman kepada Allah, Malaikat-malaikat
65
Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, 14.
Rosihon Anwar, Akidah Akhlak, 206
66
44
Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, Hari Akhir serta QadaQadar.
b. Aspek akhlak terpuji yang terdiri atas ber-tauhiid, ikhlaas, ta‟at,
khauf, taubat, tawakkal, ikhtiyaar, shabar, syukur, qanaa‟ah,
tawaadu', husnuzh-zhan, tasaamuh dan ta‟aawun, berilmu, kreatif,
produktif, dan pergaulan remaja.
c. Aspek akhlak tercela meliputi kufur, syirik, riya, nifaaq, anaaniah,
putus asa, ghadlab, tamak, takabbur, hasad, dendam, giibah, fitnah,
dan namiimah.
d. Aspek adab meliputi: Adab beribadah: adab Shalat, membaca Al
Qur‟an dan adab berdoa, adab kepada kepada orang tua dan guru, adab
kepada kepada, saudara, teman, dan tetangga, adab terhadap
lingkungan, yaitu: kepada binatang dan tumbuhan, di tempat umum,
dan di jalan
e. Aspek kisah teladan meliputi: Nabi Sulaiman dan umatnya, Ashabul
Kahfi, Nabi Yunus dan Nabi Ayub, Kisah Shahabat: Abu Bakar ra,
Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib
B. Hipotesis Tindakan
Penelitian ini direncanakan dua siklus dan setiap siklus dengan prosedur
perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Melalui prosedur tersebut dapat
diamati peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak
materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Sehingga hipotesis tindakan yang
dirumuskan dalam penelitian ini adalah “Dengan menggunakan metode make a
45
match hasil belajar siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib
dan mustahil bagi Allah dapat meningkat”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Islam Nurul Hikmah yang terletak
di Jl. Jaya Ningrat Desa legok Kecamatan Legok Kabupaten Tangerang,
15820. Telp (021) 54210926. Website www.nurulhikmah.sch.id tahun
ajaran 2016/2017.
2. Waktu Penelitian
Penelitian ini diawali dengan penyerahan revisi proposal penelitian
kepada jurusan pada bulan Agustus, kemudian dilanjutkan dengan
pengumuman
dosen
pembimbing,
bimbingan
awal
dengan
dosen
pembimbing dan dilanjutkan dengan studi lapangan. Penelitian lapangan di
SMP Islam Nurul Hikmah pada tanggal 24 Januari-1 Februari 2017.
Adapun jadwal kegiatan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada
table berikut:
Tabel 3.1
Time Line kegiatan penelitian
NO
KEGIATAN
1
Penyerahan revisi
proposal ke jurusan
dan pengumuman
dosen pembimbing
AGS
SEP
OKT

46
BULAN
NOV DES
JAN
FEB
MAR
47
2
3
4
5
6
Bimbingan
awal
dengan
dosen
pembimbing
Membuat
instrument
penelitian
Pengajuan
surat
izin penelitian ke
sekolah
Penelitian
di
sekolah
Pengolahan
data
dan
penyusunan
skripsi






B. Latar Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Islam Nurul Hikmah Legok Tangerang.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang dilakukan
melalui pengamatan langsung ke lokasi yang di jadikan obyek penelitian yang
berorientasi pada temuan atau gejala yang bersifat alami. Penelitian ini
menggambarkan proses peningkatan hasil belajar dengan menggunakan metode
active learning yang meliputi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup dalam
pembelajaran Aqidah Akhlak di SMP Islam Nurul Hikmah Legok Tangerang.
C. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas atau biasa disingkat menjadi PTK. Penelitian tindakan kelas
merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang
dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga
kata inti, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, segera dapat
48
disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan
terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan
dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.1
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dapat dilakukan dalam bidang
pengembangan organisasi, manajemen, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.
Di dalam bidang pendidikan penelitian ini dapat dilakukan pada skala makro
ataupun mikro. Dalam skala mikro misalnya dilakukan di dalam kelas pada
waktu berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar untuk suatu pokok bahasan
tertentu pada suatu mata pelajaran.2
Untuk dapat melakukan praktik Penelitian Tindakan Kelas secara efektif
dan tepat guna terlebih dahulu harus memahami tujuan dan manfaat PTK yang
akan melandasi prosedur PTK selanjutnya. Pemahaman terhadap tujuan dan
manfat PTK akan mengarahkan guru dan peneliti dalam pelaksanaannya, serta
memotivasi untuk mencari berbagai sumber yang mengarah pada pencapaian
tujuan tersebut.
Dapat dikatakan bahwa semua penelitian bertujuan untuk memecahkan
suatu masalah, namun khusus PTK di samping tujuan tersebut tujuan PTK yang
utama adalah untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam
menangani proses belajar mengajar. Berdasarkan pemahaman terseubt, secara
umum PTK bertujuan untuk:
1. Memperbaiki dan meningkatkan kondisi-kondisi belajar serta kualitas
pembelajaran.
1
Suharsimi Arikunto, Penelitian Tindakan Kela,s (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 3.
Samsu Somadayo, Penelitian Tindakan Kelas, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013), 20
2
49
2. Meningkatkan
layanan
professional
dalam
konteks
pembelajaran,
khusunya layanan kepada peserta didik sehingga tercipta layanan prima.
3. Memberikan kesempatan kepada guru berimprovisasi dalam melakukan
tindakan pembelajaran yang direncanakan secara tepat waktu dan
sasarannya.
4. Memberikan kesempatan kepada guru mengadakan pengkajian secara
bertahap terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukannya sehingga
tercipta perbaikan yang berkesinambungan.
5. Membiasakan guru mengembangkan sikap ilmiah, terbuka, dan
jujur
dalam pembelajaran.
Adapun manfaat dari PTK antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Mengembangkan
dan
melakukan
inovasi
pembelajaran
sehingga
pembelajaran yang dilakukan senantiasa tampak baru di kalangan peserta
didik.
2. Merupakan upaya pengembangan Kurikulum sesuai dengan karakteristik
pembelajaran, serta situasi dan kondisi kelas.
3. Meningkatkan profesionalisme guru melalui upaya penelitian yang
dilakukannya, sehingga pemahaman guru senantiasa meningkat, baik
berkaitan dengan metode maupun isi pembelajaran.
Dengan
kemampuan
demikian,
guru
dalam
praktik
PTK
mengelola
diharapkan
pembelajaran,
dapat
meningkatkan
memecahkan
dan
50
memperbaiki berbagai persoalan pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan
kualitas pembelajaran dan kualitas pendidikan pada umumnya.3
D. Data dan Sumber Data
Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus
penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data,
menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan
atau temuannya. 4
Data yang digunakan dalam penelitian yakni data yang didapat secara
langsung saat melakukan penelitian yang diperoleh melalui kata-kata dan perilaku
guru dalam pelaksanaan pembelajaran Aqidah Akhlak. Selain itu juga terdapat
data pendukung seperti silabus, RPP, dan juga catatan lapangan penelitian.
Dalam penelitian yang dilakukan ini, dari jumlah populasi 50 siswa,
sample yang diambil sekitar 24 siswa yakni seluruh siswa-siswi di kelas 7B.
E. Desain Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan selama dua siklus. Adapun
mengenai model penelitian tindakan kelas, dalam hal ini menggunakan desain
PTK model Kemmis-Mc Taggart. Model ini merupakan pengembangan dari
konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Secara garis besar ada 4
(empat) tahapan utama yang harus dilakukan dalam penelitian tindakan kelas
yaitu perencanaan, (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing), dan
refleksi (reflecting). Selanjutnya melakukan perencanaan ulang, melaksanakan
3
H. E. Mulyasa, Praktik Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012),
89-90
4
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT RemajaRosdakarya, 2009),
6.
51
tindakan, melaksanakan observasi, melaksanakan refleksi, dan seterusnya.
Hanya saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan)
dijadikan sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut
disebabkan oleh adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan
observing merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, begitu
berlangsungnya suatu tindakan begitu pula observasi harus dilaksanakan.5
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa PTK dilakukan dalam
beberapa siklus atau putaran terdiri dari empat komponen, yaitu antara lain:
1. Perencanaan
Pada tahap ini, peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, dan merancang bagian isi mata
pelajaran dan bahan belajarnya yang disesuaikan dengan metode make a
match, dan merancang strategi dan skenario penerapan pembelajaran.
2. Tindakan
Pada tahap ini, pelaksanaaan tindakan menyangkut apa yang dilakukan
peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang
dilaksanakan berpedoman pada rencana tindakan. Misalnya peneliti
menerapkan strategi dan skenario penerapan pembelajaran.6
3. Observasi
Pada tahap ini sebenarnya sejalan dengan pelaksanaan tindakan, jadi
keduanya berlangsung secara bersama. Dalam kegiatan ini peneliti
5
Hamzah B. uno, dkk, Menjadi Peneliti PTK Profesional (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), 87.
Suharsimi Arikunto,Penelitian Tindakan Kelas,75-76.
6
52
mengamati hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau
dikenakan terhadap siswa.
4. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan
hasil-hasil atau dampak dari tindakan, berdasarkan data yang telah terkumpul,
kemudian dilakukan evaluasi agar dapat menyempurnakan tindakan
berikutnya. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan
perbaikan pada siklus berikutnya.7
Untuk lebih tepatnya, berikut ini dikemukakan bentuk desain PTK
model Kemmis-Mc Taggart.8
4. Refleksi
3. Observasi
Siklus I
1. Perencanaan
2. Tindakan
4. Refleksi
Siklus II
3. Observasi
1. Perencanaan
2. Tindakan
Berhasil ?
Gambar Siklus PTK (diadopsi dari Model Kemmis-Mc. Taggart (1988)
7
Suharsimi Arikunto,Penelitian Tindakan Kelas, 78-80.
Wijaya Kusumah dan Dedu Dwitagama, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta : Indeks Penerbit,
2012), 20
8
53
Apabila dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis Mc.Taggart
pada hakikatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu
perangkat terdiri dari empat komponen. Komponen-komponen yang berupa
untaian tersebut dipandang sebagai 1 siklus. Oleh karena itu pengertian siklus
pada kesempatan ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan,
tindakan, pengamatan dan refleksi.9 Alur siklus tersebut saling berkelanjutan dan
berkesinambungan.
Pada penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggambil model KemmisMC. Taggart karena Penggunaan model Kemmis-Mc. Taggart lebih mudah dan
lebih simpel dari model-model Penelitian yang lain dan model ini hanya
melakukan 2 siklus saja.
Pelaksanaan PTK dimulai dengan siklus pertama yang terdiri dari empat
kegitan. Apabila sudah diketahui letak keberhasilan dan hambatan dari tindakan
yang dilaksanakan pada siklus pertama tersebut, guru (bersama peneliti, apabila
PTK nya tidak dilakukan sendiri oleh guru) menentukan rancangan untuk siklus
kedua.
Kegiatan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan
dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai
hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama.
Dengan model ini diharapkan hasil belajar siswa dapat meningkat pada
mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah.
9
Hamzah B. uno, dkk, Menjadi Peneliti PTK Profesional,87
54
Demikian desain penelitian tindakan kelas yang dapat diterapkan guru dalam
kegiatan pembelajaran.
F. Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian atau langkah-langkah penelitian yang dilakukan
terbagi dalam bentuk siklus, mengacu pada model yang diadopsi oleh KemmisMc. Taggart. Penelitian Tindakan Kelas ini dilakukan dalam dua siklus, yang
setiap siklusnya terdiri dari 4 langkah yaitu perencanaan (plan), Tindakan
(action), Observasi (observation), dan Refleksi (reflection).
Adapun prosedur dalam penelitian ini yaitu dapat dideskripsikan sebagai
berikut:
1.
Pra Siklus
Peneliti melakukan ini untuk memperoleh gambaran tentang
bagaimana proses pembelajaran Aqidah Akhlak pada materi sifat wajib dan
mustahil bagi Allah. Apakah guru sudah menggunakan pendekatan yang
menuntut keterampilan siswa untuk menggunakan metode make a match.
Namun di bawah ini hanya dilakukan dua kali pelaksanaan tindakan
pra siklus, yaitu sebagai berikut:
a. Observasi
Peneliti mengamati setiap permasalahan yang muncul dan bersamasama dengan guru kelas mengevaluasi data untuk menentukan tindakan.
b. Refleksi
Peneliti dan guru kelas bersama merumuskan tindakan yang akan
dilakukan pada siklus I dan siklus II.
55
2. Siklus I
a. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti perlu mempersiapkan segala sesuatu yang
berkaitan dengan proses belajar mengajar, diantaranya menyusun rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), meminta izin kepada guru mata pelajaran
Aqidah Akhlak untuk melaksanakan dan menerapkan metode pembelajaan
make a match dalam kelas, menyediakan alat atau media pembelajaran dan
menyusun kisi-kisi soal dan test untuk instrument.
b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap ini peneliti melaksanakan proses belajar mengajar yaitu
dengan mengenalkan dan menjelaskan prosedur pembelajaran dengan
menggunakan metode make a match kepada siswa. Dalam siklus ini siswa
mulai dikenalkan metode make a match dengan materi sifat wajib dan
mustahil bagi Allah.
Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan tindakan adalah sebagai
berikut:
1) Guru menjelaskan materi tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah
2) Guru menjelaskan dan memberikan dalil naqli tentangsifat wajib dan
mustahil bagi Allah
3) Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak.
4) Guru membagikan beberapa kertas yang berisikan soal dan jawaban yang
sesuai dengan materi yang sedang dipelajari,
56
5) Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari /
mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga
perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan kepada
mereka
6) Siswa mulai mencari pasangannya masing-masing sesuai kertas yang
didapatnya selama waktu yang sudah ditentukan,
7) Siswa yang sudah menemukan pasangannya maka akan mendapatkan
point atau reward, sedangkan siswa yang tidak dapat menemukan
pasangannya maka akan diberikan hukuman sesuai kesepakatan bersama.
8) Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokkan
pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi.
c. Observasi
Pengamatan yang dilakukan oleh peneliti sebagai berikut:
1) Melakukan pengamatan terhadap peran aktif guru,
2) Melakukan pengamatan terhadap aktivitas siswa,
3) Melakukan pengamatan dengan lembar pengamatan untuk mengetahui
keterlibatan siswa dalam pembelajaran,
4) Hasil tes.
d. Refleksi
1) Menganalisis temuan saat melakukan pelaksanaan pengamatan atau
observasi,
2) Melakukan refleksi terhadap penerapan metode make a match,
3) Melakukan refleksi terhadap siswa dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
57
3. Siklus II
a. Perencanaan
Rencana siklus II merupakan hasil dari revisi siklus I. Rencana siklus
II ini disusun berdasarkan kesulitan dan kelemahan yang ditemukan pada
kegiatan siklus I.
b. Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II merupakan implementasi
serangkaian kegiatan pembelajaran yang telah direvisi atau di daur ulang
kembali untuk mengatasi masalah-masalah yang terdapat pada siklus I.
1) Memberikan materi tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah
2) Menerangkan tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah
3) Mengulang materi tentangsifat wajib dan mustahil bagi Allah beserta
dalilnya
4) Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak.
5) Guru membagikan beberapa kertas yang berisikan soal dan jawaban yang
sesuai dengan materi yang sedang dipelajari,
6) Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari /
mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru
juga perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan
kepada mereka
7) Guru mempersilahkan kepada semua siswa untuk keluar kelas sambil
membawa sebuah kertas yang mereka simpan
58
8) Siswa mulai mencari pasangannya masing-masing sesuai kertas yang
didapatnya selama waktu yang sudah ditentukan,
9) Siswa yang sudah menemukan pasangannya maka akan mendapatkan
point atau reward, sedangkan siswa yang tidak dapat menemukan
pasangannya maka akan diberikan hukuman sesuai kesepakatan bersama.
10) Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokkan
pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi.
c. Observasi
Peneliti melakukan pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran sifat
wajib dan mustahil bagi Allah dengan menggunakan metode make a match.
d. Refleksi
Kegiatan refleksi ini pada akhir siklus II bertujuan untuk mengetahui
kemajuan maupun kekurangan yang masih harus dihadapi. Dengan adanya
hasil refleksi tersebut maka akan terlihat berhasil atau tidaknya semua
tindakan implementasi pembelajaran di dalam kelas terhadap peningkatan
hasil belajar siswa.
G. Prosedur Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam
pendidikan, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa
mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan
data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.10
10
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), Cet. 10, . 308-309.
59
1. Metode Pengamatan (Observasi)
Metode observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematis
terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian. Metode observasi yang akan
digunakan adalah observasi langsung dengan cara pengambilan data dengan
menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk kepentingan
tersebut.11 Dalam hal ini, teknik yang akan digunakan adalah participant
observation dimana peneliti mengamati kegiatan pembelajaran yang dilakukan
guru Aqidah Akhlak. Metode ini digunakan peneliti untuk mengetahui
pelaksanaan metode make a match dalam pembelajaran Aqidah Akhlak di SMP
Islam Nurul Hikmah.
2. Metode Tes
Tes digunakan untuk mengetahui nilai hasil belajar siswa setelah
dilakukan pembelajaran dengan menggunakan metode make a match pada mata
pelajaran Aqidah Akhlak. Dalam penelitian ini, jenis tes yang akan diujikan
yaitu tes tertulis, dengan bentuk tes objektif isian sebanyak 10 soal.
3. Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi merupakan sumber non manusia, sumber iniadalah
sumber yang cukup bermanfaat, merupakan sumber yang stabil dan akurat
sebagai cermin situasi/kondisi yang sebenarnya serta dapat dianalisis secara
berulang-ulang dengan tidak mengalami perubahan.12
11
Tim Penyusun Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Pedoman Penulisan Skripsi Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, (Jakarta: FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2013), 66.
12
Tim Penyusun Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Pedoman Penulisan ..., 67
60
Data yang peneliti peroleh dilapangan melalui observasi, wawancara, dan
studi dokumentasi tersebut dikelompokkan sesuai pertanyaan penelitian,
kemudian dilakukan penyesuaian data. Data dari ketiga metode tersebut tidak
bisa dipisahkan, karena satu sama lain saling melengkapi. Metode ini digunakan
untuk mengumpulkan data sebagai acuan kegiatan pembelajaran diantaranya
adalah silabus, RPP dan daftar nilai siswa di SMPS Islam Nurul Hikmah.
H. Analisis Data
Data yang diperoleh dan dikumpulkan oleh peneliti, kemudian akan
dianalisis. Pengolahan data dilakukan untuk menganalisis dan memastikan
bahwa data yang ada benar sesuai dengan kenyataan dan sesuai dengan tujuan
yang telah ditetapkan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif
dan kuantitatif. Data yang berasal dari tes hasil belajar yaitu data kuantitatif,
sedangkan data yang diperoleh dari hasil observasi yaitu data kualitatif.
Teknik kuantitatif digunakan untuk mendeskripsikan hasil belajar siswa
setelah setelah proses pembelajaran, hasil belajar siswa dilihat dari hasil tes yang
dilakukan.
Hasil tes siswa dianalisis untuk menentukan peningkatan hasil belajar
anak tiap siklus, dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Sesuai dengan ketentuan sekolah siswa dinyatakan tuntas belajar dalam
setiap tes jika nilai yang diperoleh adalah 75.
2. Peningkatan hasil belajar jika dilihat dari hasil nilai rata-rata, dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
61
Keterangan:
ΣX
ΣN
= Nilai rata-rata
= Jumlah semua nilai siswa
= Jumlah siswa
3. Peningkatan individu dilakukan dengan membandingkan skor tes terbaru
dengan skor awal.
4. Skor siswa ditentukan dengan mencari rata-rata skor siswa.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Belajar Siswa
1. Pra Siklus
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di SMPS Islam Nurul
Hikmah, tepatnya di kelas VII. Pada tahap pra siklus ini peneliti
mengadakan observasi ke sekolah untuk mendapatkan data-data terkait
dengan proses pembelajaran Aqidah Akhlak dan merefleksi permasalahan
yang muncul dalam pembelajaran Aqidah Akhlak.
a.
Observasi
Pada kegiatan pelaksanaan pra siklus, dilakukan observasi yaitu
peneliti mengadakan pengamatan terhadap proses pembelajaran Aqidah
Akhlak tentang Sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Pada tahap pra
siklus ini, peneliti belum mempunyai rencana tindakan.
Dari hasil pengamatan ini,
peneliti menemukan beberapa
masalah dalam proses pembelajaran, diantaranya siswa kurang aktif
dalam menanggapi pertanyaan atau perintah dari guru, guru lebih
banyak menggunakan metode ceramah dan adanya isu gender dalam
kegiatan
pembelajaran.
Hal-hal
tersebutlah
menjadikan siswa merasa jenuh dan kurang
diantaranya
yang
berperan aktif dalam
proses pembelajaran yang sedang berlangsungsertahasil belajar
siswapun rendah.
62
63
Saat observasi berlangsung, kegiatan siswa kelas VII pada pra
siklus ini siswa cukup memahami pembelajaran yang disampaikan oleh
guru, siswa kurang aktif dalam kegiatan pembelajaran, siswa kurang
merespon dan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru, siswa
kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan sehingga hasil belajar yang
diperoleh siswa yang belum tuntas mencapai nilai kkm lebih banyak
dari siswa yang tuntas. Dari jumlah siswa 24, siswa yang tuntas hanya
terdapat 7 siswa sedangkan yang belum tuntas terdapat 17 siswa denga
nnilai rata-rata 61,66. Jika dilihat dalam hitungan persen, siswa yang
tuntas hanya 29,1 % sedangkan yang belum tuntas sebanyak 70,9 %.
Diagram 4.1
Hasil Belajar Pra Siklus
b. Refleksi
Pada tahap ini, peneliti dan guru Aqidah Akhlak mengadakan
diskusi serta refleksi untuk mengevaluasi permasalahan yang muncul
dalam pembelajaran, baik dirasakan oleh guru maupun hasil pantauan
yang dilakukan oleh peneliti dengan mencoba menerapkan metode
pembelajaran make a match pada mata pelajaran Aqidah akhlak pokok
materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Dengan menerapkan metode
64
make a match
diharapkan masalah-masalah yang dihadapi
dapat
teratasi dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
Aqidah akhlak di kelas VII . Berdasarkan hasil refleksi pada pra siklus,
maka peneliti melakukan siklus 1.
2. Siklus 1
a. Perencanaan
Peneliti dan guru secara kolaboratif merencanakan segala upaya
untuk melaksanakan kegiatan penelitian yang berupa tindakan-tindakan
yang akan dilakukan dalam memperbaiki kegiatan pembelajaran. maka
peneliti merancang rencana kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
metode make a match yang disusun dalam bentuk RPP (Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran) yang sebelumnya didiskusikan antara peneliti
dan guru Aqidah Akhlak. Selain itu peneliti juga membuat soal
pertanyaan untuk siswa, dan menyiapkan alat/sumber belajar untuk
mendukung pembelajaran.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 24 Januari 2017
di kelas VII B dengan jumlah 24 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak
sebagai guru. Dalam proses pembelajaran ini peneliti mengacu pada
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dipersiapkan.
Adapun hasil kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Guru menjelaskan materi tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah
65
2) Guru menjelaskan dan memberikan dalil naqli tentang sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
3) Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak.
4) Guru membagikan beberapa kertas yang berisikan soal dan jawaban
yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari,
5) Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari /
mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru
juga perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan
kepada mereka
6) Siswa mulai mencari pasangannya masing-masing sesuai kertas yang
didapatnya selama waktu yang sudah ditentukan,
7) Siswa yang sudah menemukan pasangannya maka akan mendapatkan
point atau reward, sedangkan siswa yang tidak dapat menemukan
pasangannya maka akan diberikan hukuman sesuai kesepakatan
bersama.
8) Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran dan kecocokkan
pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan presentasi.
c. Observasi
Berdasarkan hasil pelaksanaan siklus 1 maka peneliti dan guru
melakukan pengamatan terhadap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan dengan menggunakan metode make a match, apakah tindakan
itu sesuai dengan apa yang telah direncanakan, atau ada permasalahan
baru yang muncul pada tindakan sebagai bahan refleksi. Instrument yang
66
digunakan pada tahap ini yaitu lembar observasi, yang terdiri dari lembar
observasi untuk guru dan lembar observasi untuk siswa.
Pada hasil lembar observasi guru (data terlampir) pada siklus I
dalam kegiatan awal guru melakukan semuanya dengan baik. Seperti
memberi salam, mengajak berdo’a sebelum belajar, mengabsen siswa,
memberikan motivasi, dan menjelaskan tujuan pembelajaran. Namun
dalam hal memberikan apersepsi belum terlalu meluas. Pada kegiatan inti
guru juga sudah baik dalam menjelaskan materi tentang sifat wajib dan
mustahil bagi Allah, menggunakan metode make a match walaupun ada
sedikit kendala ketika metode make a match dilaksanakan, guru
menggunakan bahasa yang mudah dipahami serta membimbing siswa
dalam proses belajar. Pada kegiatan penutup, guru cukup baik dalam
menyimpulkan materi, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bertanya, mengadakan evaluasi dan penilaian.
Pada hasil observasi kegiatan siswa (data terlampir), siswa cukup
berperan aktif dalam pembelajaran terutama pada kegiatan awal karena
diadakannya apersepsi. Siswa sudah memahami pembelajaran yang
disampaikan oleh guru, siswa cukup baik merespon dan menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh guru, walaupun dalam hal mengajukan
pertanyaan masih belum aktif.
Pada akhir kegiatan pembelajaran peneliti memberikan 10 soal
isian / essay kepada siswa dengan tujuan untuk mengetahui tingkat
67
keberhasilan siswa pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib
dan mustahil bagi Allah dengan menggunakan metode make a match.
Adapun data hasil belajar siswa pada siklus 1 dibuat dalam
bentuk table (data terlampir). Dilihat dari hasil tes belajar siswa pada
siklus I mengalami peningkatan dari hasil tes pada pra siklus. Dengan
jumlah siswa yang tuntas sebanyak 13 siswa dengan presentase
ketuntasan 54,2 %, sementara siswa yang belum tuntas belajar sebanyak
11 siswa dengan presentase ketidaktuntasan 45,8 %. Nilai rata-rata hasil
belajar siswa pada siklus I mencapai 72,09, namun masih dibawah
standar ketuntasan minimal.
Diagram 4.2
Hasil Belajar Siswa Tuntas
d. Refleksi
Pada kegiatan refleksi dari hasil penelitian tindakan siklus 1 yaitu:
1) Masih ada siswa yang belum memahami pengertian dan macam-macam
sifat wajib dan mustahil bagi Allah
2) Siswa kurang aktif dalam mengajukan pertanyaan
3) Hasil belajar pada siklus 1 belum semua mencapai KKM
4) Ruang kelas yang kurang memadai untuk memakai metode make a match
68
5) Kurangnya managemen waktu sehingga setiap kegiatan terlihat terburuburu.
6) Kurangnya komunikasi antar guru dan siswa ketika mempresentasikan
hasil belajar metode make a match
Dengan adanya kekurangan atau kendala yang disebutkan di atas
berarti peneliti harus melakukan revisi dalam melaksanakan siklus II,
untuk dapat menyelesaikan masalah yang ada. Revisi yang dilakukan
adalah memperbaiki kelemahan yang terjadi pada siklus 1, memberikan
motivasi dan bimbingan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan
pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi
Allah, dan guru harus memanage waktu dan tempat ketika menggunakan
metode, memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang
materi yang sulit dipahami.
3. Siklus II
a. Perencanaan
Perencanaan pada siklus II berdasarkan revisi yang dihasilkan pada
kekurangan refleksi dari siklus I pada mata pelajaran Aqidah Akhlak
materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah, yang tidak lepas dari tujuan
utama penelitian yaitu dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah
dengan menggunakan metode make a match, dengan demikian peneliti
merancang suatu kegiatan yang dapat menarik perhatian siswa dan
berusaha melibatkan siswa langsung dalam kegiatan pembelajaran di
69
kelas. Peneliti memperbaiki Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
yang lebih baik lagi, menyiapkan kartu berpasangan yang akan
digunakan dalam metode make a match, membuat lembar observasi guru
dan siswa, serta membuat lembar soal siklus II.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan tindakan pada siklus II ini dilaksanakan pada tanggal
31 Januari 2017 di kelas VII dengan jumlah siswa 24 siswa. Dalam hal
ini peneliti kembali menjadi guru yang mengajar di kelas. Adapun proses
pembelajaran mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Hasil dari kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1) Guru sedikit mengulang kembali pembahasan materi minggu lalu
2) Guru memperjelas materi tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah,
3) Guru menjelaskan dalil naqli tentang sifat wajib dan mustahil bagi
Allah
4) Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak.
5) Guru membagikan beberapa kertas yang berisikan soal dan jawaban
yang sesuai dengan materi yang sedang dipelajari,
6) Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka harus mencari /
mencocokkan kartu yang dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru
juga perlu menyampaikan batasan maksimum waktu yang ia berikan
kepada mereka
7) Guru mempersilahkan semua siswa untuk keluar kelas karena akan
melaksanankan metode make a match di lapangan.
70
8) Siswa mulai mencari pasangannya masing-masing sesuai kertas yang
didapatnya selama waktu yang sudah ditentukan,
9) Siswa yang sudah menemukan pasangannya maka akan mendapatkan
point atau reward, sedangkan siswa yang tidak dapat menemukan
pasangannya maka akan diberikan hukuman sesuai kesepakatan
bersama.
10)
Guru
memberikan
konfirmasi
tentang
kebenaran
dan
kecocokkan pertanyaan dan jawaban dari pasangan yang memberikan
presentasi.
c. Observasi
Pada tahap ini peneliti dan guru melakukan pengamatan terhadap
kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus II dengan
metode make a match apakah tindakan itu sesuai dengan apa yang telah
direncanakan atau ada permasalahan yang muncul sebagai bahan refleksi.
Instrument yang digunakan pada tahap ini yaitu lembar observasi guru
atau siswa.
Pada hasil lembar observasi guru (data terlampir) pad asiklus II
dalam kegiatan awal, kegaiatan inti dan kegiatan penutup guru sudah
melakukan semua kegiatannya dengan sangat baik sesuai dengan waktu
yang telah ditentukan dalam RPP. Penjelasan materi yang diberikan
kepada siswa sudah jelas, langkah-langkah dalam metode pembelajaran
make a match juga sudah sesuai dan terencana. Komunikasi antara guru
dengan siswa sudah baik, memberikan kesempatan kepada siswa untuk
71
bertanya, memberikan motivasi kepada siswa, menyimpulkan materi
pembelajaran juga sudah baik.
Berdasarkan data dari hasil observasi guru pada siklus II dapat
dilihat bahwa guru (peneliti) sudah memenuhi aspek yang ditentukan dan
melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Dari hasil kegiatan yang
dilakukan guru pada pembelajaran siklus II akanberpengaruh terhadap
kegiatan belajar siswa di kelas.Pada hasil observasi kegiatan siswa (data
terlampir), semua kegiatan belajar siswa sudah sangat baik dan aktif.
Siswa sudah memahami pembelajaran yang disampaikan oleh guru,
berani dan percaya diri dalam menjawab dan mengajukan pertanyaan
kepada guru, tidak ada lagi isu gender antara siswa laki-laki dan
perempuan setelah menggunakan metode pembelajaran make a match,
menjawab soal-soal evaluasi dengan baik dan benar.
Pada akhir kegiatan pembelajaran peneliti memberikan 10 soal
isian / essay terkait dengan materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah
kepada siswa-siswi kelas VII untuk mendapatkan hasil belajar pada
siklus II dengan menggunakan metode make a match.
Adapun data hasil belajar siswa pada siklus II dibuat dalam
bentuk table (data terlampir). Dilihat dari hasil tes belajar siswa pada
siklus II mengalami peningkatan dari hasil tes pada siklus I. Dengan
jumlah siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa dengan presentase
ketuntasan 87,5 %, sementara siswa yang belum tuntas hanya berjumlah
3 siswa dengan presentase ketidaktuntasan 12,5 %. Nilai rata-rata hasil
72
belajar siswa pada siklus II mencapai 85,2 dan sudah mencapai nilai
ketuntasan minimum.
Diagram 4.3
Hasil Belajar Siswa Tuntas
d. Refleksi
Pada tahap ini data-data yang diperoleh adalah bahwa dalam
proses pembelajaran guru sudah lebih baik menggunakan metode make a
match dalam menyampaikan materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah,
serta aktifitas siswa dan hasil belajarnya pun mengalami peningkatan
menjadi lebih baik. Nilai rata-rata siswa pada siklus II sebesar 85,2 dan
sudah memenuhi KKM, serta telah menutupi kekurangan yang terdapat
pada siklus I. Dengan demikian peneliti telah menerapkan metode make
a match dengan baik, maka peneliti tidak diperlukan revisi kembali.
Berdasarkan hasil akhir dari pra siklus, siklus I dan siklus II,
terjadi peningkatan dalam setiap siklusnya. Hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah
dengan menggunakan metode make a match dapat dilihat dalam bentuk
table (data terlampir).
73
Berdsarkan
data
hasil
penelitian
tindakan
kelas
dapat
dideskripsikan sebagai berikut:
1) Kegiatan pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada tahap pra siklus,
siswa belum berhasil dengan baik, hal ini terlihat dari nilai rata-rata
61,66 dan siswa yang sudah tuntas hanya 7 siswa, sedangkan yang
belum tuntas berjumlah 17 siswa.
2) Kegiatan pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada tahap siklus I
siswa mengalami peningkatan hasil belajar, hal ini terlihat dari nilai
rata-rata 61,66 dan siswa yang sudah tuntas berjumlah 13 siswa,
sedangkan yang belum tuntas berjumlah 11 siswa.
3) Kegiatan pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada tahap siklus II
siswa mengalami peningkatan hasil belajar, hal ini terlihat dari nilai
rata-rata 85,2 dan siswa yang sudah tuntas berjumlah 21 siswa,
sedangkan yang belum tuntas hanya berjumlah 3 siswa.
B. Pembahasan Hasil Penelitian
Hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan di kelas VII
SMPS Islam Nurul Hikmah pada mata pelajaran Aqidah Akhlak materi sifat
wajib dan mustahil bagi Allah dengan menggunakan metode make a match.
Peneliti dan guru Aqidah Akhlak melaksanakan pengamatan dan pembelajaran
dengan beberapa tindakan, mulai dari pra siklus, siklus I dan siklus II. Peneliti
mendapatkan temuan-temuan pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas.
Adapun temuan-temuan tersebut dapat diuraikan pada setiap siklus.
74
1.
Pra Siklus
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pembelajaran
berlangsung, proses pembelajaran pada tahap pra siklus ini terlihat kurang
aktif dan menyenangkan. Hal ini dikarenakan guru lebih banyak
menggunakan metode ceramah, tempo penjelasan guru yang terlalu cepat
dan siswa yang kurang percaya diri dalam bertanya, sehingga
mengakibatkan kegiatan pembelajaran siswa-siswi di kelas VII SMPS
Islam Nurul Hikmah kurang aktif dalam merespon penjelasan dan perintah
guru, kurang aktif dalam bertanya dan saat kegiatan belajar. Terutama
pada materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah yang harus menghafalkan
dan mencermati 20 sifat wajib Allah dan 20 sifat mustahil bagi Allah.
Maka dari itu, beberapa hal inilah yang menyebabkan hasil belajar siswa
rendah dalam pembelajaran Aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil
bagi Allah. Nilai rata-rata yang diperoleh hanya 61,66 dari 24 siswa.
2.
Siklus I
Pada siklus I peneliti mencoba menerapkan metode yang menarik
dan sesuai dengan kondisi kelas, yaitu peneliti menggunakan metode make
a match. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat pembelajaran
berlangsung, proses pembelajaran pada tahap siklus I ini terlihat bahwa
aktivitas siswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran mengalami
peningkatan menjadi lebih baik, karena siswa dapat berperan aktif dalam
kegiatan pembelajaran, walaupun hasil yang diinginkan masih belum
mencapai KKM dan tujuan pembelajaran. Dengan penerapan metode make
75
a ,hasil belajar siswa mengalami peningkatan, dengan nilai rata-rata 72,09
dari 24 siswa, tetapi di dalam siklus I masih banyak siswa yang belum
berhasil dalam proses pembelajaran. Maka peneliti perlu melakukan siklus
II untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar siswa pada mata
pelajan Aqidah Akhlak materi Sifat wajib dan mustahil bagi Allah.
3.
Siklus II
Pada siklus II, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti bahwa kegiatan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran
aqidah Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah terdapat
peningkatan yang cukup signifikan. Suasana pembelajaran terlihat sangat
aktif, walaupun mereka sudah sedikit banyak mengetahui metode
pembelajaran make a match, namun pembelajaran tersebut dapat dikatakan
berhasil karena seluruh siswa dapat menjawab pertanyaan melalui kartu
berpasangan, seluruh siswa berperan aktif dalam mencari jawaban,
sehingga rata-rata hasil belajar siswa pada siklus II ini meningkat dan
sudah mencapai KKM yakni dengan nilai rat-rata 85,2 dengan jumlah
siswa yang tuntas sebanyak 21 siswa, sedangkan yang tidak tuntas
sebanyak 3 siswa.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah peneliti melakukan penelitian yang telah tertuang dalam bab-bab
sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Upaya
peningkatan
hasil
belajar
di
kelas
VII
B
yaitu
dengan
mengimplementasikan metode make a match pada mata pelajaran Aqidah
Akhlak materi sifat wajib dan mustahil bagi Allah. Diwujudkan dalam
beberapa komponen yang saling mempengaruhi yaitu tujuan pembelajaran,
pemilihan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan isi/materi
pelajaran serta guru dan siswa. Metode make a match ini merupakan metode
yang menyenangkan, membuat siswa menjadi aktif dalam kegiatan belajar,
menjadikan siswa saling menghargai antar teman, siswa menjadi lebih
semangat belajar karena akan menggunakan metode pembelajaran yang
menyenangkan serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Peningkatan hasil belajar siswa melalui metode pembelajaran make a match
dapat dilihat dari nilai rata-rata saat pra siklus yang dicapai hanya 61,66 dan
masih dibawah KKM. Pada siklus I terdapat peningkatan dengan nilai ratarata 72,09, lanjut pada siklus II hasil belajarnya mengalami peningkatan yang
cukup signifikan yaitu dengan nilai rata-rata 85,02. Dari hasil belajar tersebut,
76
77
penggunaan metode belajar make a match pada materi Sifat wajib dan
mustahil bagi Allah dapat dikatakan berhasil.
B. Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka ada beberapa saran yang harus
dipergunakan sebagai bahan pertimbangan, antara lain:
1. Kualitas pembelajaran Aqidah Akhlak di Sekolah Menengah Pertama
khususnya di kelas VII perlu ditingkatkan lagi untuk menambah minat belajar
dan meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Profesionalitas guru PAI perlu ditingkatkan lagi melalui berbagai training
yang diselenggarakan di sekolah ataupun di luar sekolah agar pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki oleh guru PAI terus bertambah dan berkembang
mengikuti majunya dunia pendidikan. Sehingga dalam proses pembelajaran
PAI guru mampu mengaktualisasikan situasi pembelajaran agar lebih efektif
dan efesien.
78
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon, Akidah Akhlak, Bandung: CV Pustaka Setia, 2008.
Arikunto, Suharsimin, et al, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2006.
Djamarah, Syaiful Bahri, dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2002.
Ghazali, Al, Ihya Ulumuddin,III, Beirut: Daar al-Fikr,tt.
Gunawan, Heri, Kurikulum dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Bandung:
Alfabeta, 2013
Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2008.
Hamdani, Strategi Belajar Mengajar, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011.
Hidayat, Sholeh, Pengembangan Kurikulum Baru, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2013.
Huda, Miftahul, Model-model Pengajaran dan Pembelajaran, Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2014.
Kosasih, Strategi Belajar dan Pembelajaran Implementasi Kurikulum, Bandung:
Yrama Widya, 2014.
Kurniawan, Deni, Pembelajaran Terpadu Tematik Teori, Praktik dan Penilaian,
Bandung: Alfabeta, 2014.
Kusumah, Wijaya dan Dedi Dwitagama, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Indeks
Penerbit, 2012
Lie, Anita, Cooperative Learning Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruangruang Kelas, Jakarta: Grasindo, 2010.
Moleong, Lexy J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009.
Mulyasa, H. E., Praktik Penelitian Tindakan Kelas, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2012.
79
Prawiro, Teguh, Akidah Akhlak Kelas VII Madrasah Tsanawiyah, Jakarta:
Yudishtira, 2011.
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014.
Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Kalam Mulia, 2001.
Silberman, Mel, Active Learning : 101 Strategi Pembelajaran Aktif, Yogyakarta:
Pustaka Insan Madani, 2002.
Slameto, Belajar & Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta,
2010.
Sobur, Alex, Psikologi Umum, Bandung: CV Pustaka Setia, 2003.
Somadayo, Samsu, Penelitian Tindakan Kelas, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2013.
Sudjana, Nana, Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 1999.
_____________, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Bandung: Sinar Baru
Algesindo, 2011.
Supardi, et al, Perencanaan Sistem Pembelajaran, Ciputat: haja Mandiri, 2011.
Susanto, Ahmad, Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah dasar, Jakarta: Kencana,
2013.
Syah, Muhibin, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2005.
Tafsir, Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2011.
Tarbiyah, Fakultas dan Keguruan, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, IAIN SMH
Banten, Serang: 2013
Thobroni, Muhammad, dan Arif Mustofa, Belajar & Pembelajaran Pengembangan
Wacana dan Praktik Pembelajaran Dalam Pembangunan Nasional,
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013.
Tim Penyusun Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Pedoman Penulisan Skripsi
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Jakarta: FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, 2013.
Uno, Hamzah B, et al , Menjadi Peneliti PTK yang Profesional, Jakarta: Bumi
Aksara, 2011.
Usman, Moh. Uzer, Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2006.
80
Winkel, W.S, Psikologi Pengajaran, Yogyakarta: Media Abadi, 2004.
LAMPIRAN - LAMPIRAN
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas /Semester
Pertemuan Ke
Materi Pokok
Alokasi Waktu
: SMPS Islam Nurul Hikmah
: Aqidah Akhlak
: VII (Tujuh) / I
: 1 (satu)
: Sifat wajib dan mustahil bagi Allah
: 2 x 40 menit
A. Kompetensi Inti
KI.1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI.2.Menghargai
dan
menghayati
perilaku
jujur,
disiplin,tanggungjawab, peduli (toleransi,
gotong royong),
santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
KI.3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural)
berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak
mata
KI.4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret
(menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan
membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung,
menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di
sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian
Kompetensi Dasar
1.1.
Meyakini sifat-sifat wajib Allah
yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani,
dan ma’nawiyah, sifat-sifat
mustahil serta sifat jaiz Allah
SWT
Indikator
2.1.
3.1.
4.1.
Menampilkan
perilaku
mengimani sifat-sifat Allah
Mengidentifikasi
sifat-sifat
wajib Allah yang nafsiyah,
salbiyah,
ma’ani
dan
ma’nawiyah beserta bukti / dalil
naqli dan aqlinya, sifat-sifat
mustahil dan jaiz bagi Allah
SWT.
Menyajikan contoh fenomenafenomena
kehidupan
yang
muncul sebagai bukti dari sifat
wajib, mustahil dan jaiz bagi
Allah SWT.
1. Menjelaskan
pengertian sifat wajib
dan mustahil bagi
Allah
2. Menyebutkan
macam-macam sifat
wajib, mustahil dan
jaiz bagi Allah
1. Menunjukkan
perilaku
orang yang mempercayai
sifat wajib, mustahil dan
jaiz bagi Allah.
C. Tujuan Pembelajaran
Melalui metode pendekatan scientific peserta didik mampu :
1. Menjelaskan pengertian sifat wajib dan mustahil bagi Allah
2. Menyebutkan macam-macam sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi
Allah
3. Memberikan contoh perilaku orang yang mempercayai sifat wajib,
mustahil dan jaiz bagi Allah
D. Materi Pembelajaran
 Sifat wajib dan mustahil dan bagi Allah
 Perilaku orang yang mempercayai sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi
Allah
E. Metode dan Strategi Pembelajaran
1. Ceramah
2. Make a Match
3. Diskusi
F. Alat dan Sumber Belajar
 Buku Paket Akidah Akhlak kelas VII Mts, Teguh Prawiro, M. Ag,
Jakarta : Yudhistira, 2011
 Kartu berpasangan
 Al-Qur’an
 Spidol
G. Langkah-langkah Pembelajaran
No
Kegiatan
1
2
Pendahuluan
a. Membuka
pelajaran
dengan
mengucapkan salam dan membaca do’a
belajar yang dipimpin oleh ketua kelas
b. Bertegur sapa
c. Mengajukan
pertanyaan
secara
komunikatif berkaitan dengan materi
pelajaran
d. Menyampaikan kompetensi dasar dan
tujuan yang akan dicapai
e. Menyampaikan
tahapan
kegiatan
pembelajaran
Kegiatan Inti
a. Mengamati
 Guru menyampaikan tema dan tujuan
pembelajaran tentang sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
 Guru mengajak siswa mengamati dan
memperhatikan materi tentang sifat wajib
dan mustahil bagi Allah
b. Menanya
 Guru mengajak siswa berkomentar dan
bertanya tentang sifat-sifat wajib dan
mustahil bagi Allah dan kita harus
mempercayainya
c. Mengeksplorasi
 Guru
mengajak
siswa
membuka
cakrawala fikirannya dengan membaca
ringkasan materi tentang Sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
d. Mengasosiasi
 Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara
acak, yakni kelompok orange dan
Waktu
10 Menit
60 Menit




e.



kelompok biru. Kedua kelompok diminta
untuk saling berhadapan.
Guru membagikan beberapa kartu orange
yang berisikan nama-nama malaikat dan
kartu biru yang berisikan tugas-tugas
malaikat
Guru menyampaikan kepada siswa bahwa
mereka harus mencari / mencocokkan
kartu yang dipegang dengan kartu
kelompok lain. Guru juga perlu
menyampaikan batasan maksimum waktu
yang ia berikan kepada mereka
Guru meminta semua anggota kelompok
orange untuk mencari pasangannya di
kelompok biru. Jika mereka sudah
menemukan
pasangannya
masingmasing,
guru
meminta
mereka
melaporkan diri kepadanya kemudian
guru mencatat pada kertas yang sudah
dipersiapkan.
Jika waktu sudah habis, siswa yang
belum menemukan pasangan diminta
untuk berkumpul sendiri.
Mengkomunikasikan
Guru memanggil satu pasangan untuk
presentasi. Pasangan lain dan siswa yang
tidak mendapat pasangan memperhatikan
dan memberikan tanggapan apakah
pasangan itu cocok atau tidak.
Guru memberikan konfirmasi tentang
kebenaran dan kecocokkan pertanyaan
dan jawaban dari pasangan yang
memberikan presentasi.
Guru memanggil pasangan berikutnya,
begitu seterusnya sampai seluruh
pasangan melakukan presentasi.
3
Penutup
a. Di bawah bimbingan guru, peserta didik
menyimpulkan materi pembelajaran
b. Mengadakan evaluasi (tes) tentang materi
sifat wajib dan mustahil bagi Allah
c. Melakukan kegiatan tindak lanjut dengan
memberikan tugas secara untuk membuat
macam-macam sifat wajib dan mustahil
bagi Allah dalam bentuk mind map
d. Bersama-sama menutup pelajaran dengan
berdo’a
10 Menit
H. Penilaian
Penilaian
N
o
Teknik
Waktu
Bentuk
Instrumen
Sampel Instrumen
Aspek Penilaian
1.
Pengamatan
Sikap
a) Terlibat aktif
dalam
pembelajaran
b) Bekerjasama
dalam kegiatan
kelompok
Selama
pembelajaran
dan saat
diskusi
Non tes:
1. Tugas
2.Observasi
- Tugas
Mengumpulkan
data (gambar, berita,
artikel) tentang
pengalaman yang
mempercayai sifatsifat wajib dan
mustahil bagi Allah
- Observasi
Mengamati
Keaktifan siswa
selama presentasi ke
depan dan Tanya
jawab
2.
Pengetahuan
a) Menyebutkan
kembali sifatsifat wajib dan
mustahil bagi
Pengamatan
dan tes
Penyelesaian
Soal tes
Tes tertulis
1. Apa yang
dimaksud dengan
sifat wajib dan
mustahil bagi
Allah ?
Allah
b) Menunjukkan
kembali perilaku
orang yang
mempercayai
sifat-sifat wajib
dan mustahil
bagi Allah
3.
Keterampilan
Terampil
menerapkan
2. Ada berapa
macam sifat
wajib Allah dan
sifat mustahil
Allah ?
3. Tuliskan 5 sifat
wajib Allah
beserta artinya !
4. Tuliskan 5 sifat
mustahil bagi
allah beserta
artinya!
5. Allah bersifat
Qidam, mustahil
Allah bersifat ?
6. Allah bersifat
mukhalafatul
lilhawaditsi yang
artinya ?
7. Allah mustahil
bersifat karohah,
karena Allah
bersifat ?
8. Allah mustahil
bersifat fana,
yang artinya ?
9. Tuliskan 1 bukti
bahwa Allah
memiliki sifat
Qudroh !
10. Tuliskan 2
contoh perilaku
orang yang
percaya bahwa
Allah
Bersifat wujud !
Pengamatan
Penyelesaian
tugas
kelompok
tugas:
Tugas
kelompok
Memaparkan hasil
pengamatan tentang
hasil
konsep/prinsip
dan
menjalani
kehidupan
yang sesuai
dengan
ajaran Agama
Islam
Mengetahui
Kepala SMPS Islam Nurul Hikmah
Abdul Halim Soepomo, S.Pd.I
yang diraih bagi
orangorang
yang mempercayai
sifat-sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
Legok, 21 Januari 2016
Guru Bidang Studi
Nana Supriatna, S.Pd..I
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah
Mata Pelajaran
Kelas /Semester
Pertemuan Ke
Materi Pokok
Alokasi Waktu
: SMPS Islam Nurul Hikmah
: Aqidah Akhlak
: VII (Tujuh) / I
: 2 (Dua)
: Sifat wajib dan mustahil bagi Allah
: 2 x 40 menit
A. Kompetensi Inti
KI.1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
KI.2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab, peduli
(toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan
keberadaannya
KI.3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa
ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait
fenomena dan kejadian tampak mata
KI.4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan,
mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak
(menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan
yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut
pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian
Kompetensi Dasar
Meyakini sifat-sifat wajib Allah yang
nafsiyah, salbiyah, ma’ani, dan
ma’nawiyah, sifat-sifat mustahil serta
sifat jaiz Allah SWT
2.1. Menampilkan perilaku mengimani
sifat-sifat Allah
3.1. Mengidentifikasi sifat-sifat wajib
Allah yang nafsiyah, salbiyah, ma’ani
dan ma’nawiyah beserta bukti / dalil
naqli dan aqlinya, sifat-sifat mustahil
dan jaiz bagi Allah SWT.
Indikator
1.1.
Menjelaskan pengertian sifat
nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan
ma’nawiyah
2. Membagi sifat wajib Allah ke
dalam sifat nafsiyah, salbiyah,
1.
ma’ani dan ma’nawiyah
3. Menjelaskan pengertian sifat jaiz
bagi Allah
4.1.
Menyajikan
contoh
fenomena- 1.
fenomena kehidupan yang muncul
sebagai bukti dari sifat wajib, mustahil
dan jaiz bagi Allah SWT.
Menunjukkan perilaku orang yang
mempercayai sifat-sifat wajib,
mustahil dan jaiz bagi Allah
C. Tujuan Pembelajaran
Melalui metode pendekatan scientific peserta didik mampu :
1. Menjelaskan pengertian sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiyah
2. Membagi sifat wajib Allah ke dalam sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani dan
ma’nawiyah
3. Menjelaskan pengertian sifat jaiz bagi Allah
4. Menunjukkan perilaku orang yang mempercayai sifat-sifat wajib, mustahil dan
jaiz bagi Allah
D. Materi Pembelajaran
 Pembagian sifat-sifat wajib bagi Allah (sifat nafsiyah, salbiyah, ma’ani,
ma’nawiyah)
 Pengertian sifat jaiz bagi Allah
E. Metode dan Strategi Pembelajaran
1. Ceramah
2. Make a Match
3. Diskusi
F. Alat dan Sumber Belajar
 Buku Paket Akidah Akhlak kelas VII Mts, Teguh Prawiro, M. Ag, Jakarta :
Yudhistira, 2011
 Kartu berpasangan
 Al-Qur’an
 Spidol
G. Langkah-langkah Pembelajaran
Waktu
No
Kegiatan
1
Pendahuluan
a. Membuka pelajaran dengan mengucapkan salam
dan membaca do’a belajar yang dipimpin oleh
ketua kelas
b. Bertegur sapa
c. Mengajukan pertanyaan secara komunikatif
berkaitan dengan materi pelajaran
10 Menit
2
d. Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan
yang akan dicapai
e. Menyampaikan tahapan kegiatan pembelajaran
Kegiatan Inti
a. Mengamati
 Guru menyampaikan tema dan tujuan
pembelajaran tentang sifat wajib dan mustahil
bagi Allah
 Guru mengajak siswa mengamati dan
memperhatikan materi tentang sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
b. Menanya
 Guru mengajak siswa berkomentar dan bertanya
tentang sifat wajib dan mustahil bgai Allah dan
kita harus mempercayainya
c. Mengeksplorasi
 Guru mengajak siswa membuka cakrawala
fikirannya dengan membaca ringkasan materi
tentang sifat wajib dan mustahil bagi Allah
d. Mengasosiasi
 Siswa dibagi ke dalam 2 kelompok secara acak,
yakni kelompok A dan kelompok B.
 Guru membagikan beberapa kartu yang berisikan
pertanyaan dan jawaban. Kartu-kartu tersebut
kemudian dicampur dan dikocok beberapa kali
sampai benar-benar tercampur kemudian
dibagikan kepada setiap siswa secara acak.
 Guru menyampaikan kepada siswa bahwa mereka
harus mencari / mencocokkan kartu yang
dipegang dengan kartu kelompok lain. Guru juga
perlu menyampaikan batasan maksimum waktu
yang ia berikan kepada mereka
 Guru meminta semua siswa untuk pergi ke
lapangan sekolah sambil membawa kartu yang
tadi sudah dibagikan.
 Guru meminta semua anggota kelompok untuk
mencari pasangannya. Jika mereka sudah
menemukan pasangannya masing-masing, guru
meminta mereka melaporkan diri kepadanya
kemudian guru mencatat pada kertas yang sudah
60 Menit
3
dipersiapkan.
 Jika waktu sudah habis, siswa yang belum
menemukan pasangan diminta untuk berkumpul
sendiri.
e. Mengkomunikasikan
 Guru memanggil satu pasangan untuk presentasi.
Pasangan lain dan siswa yang tidak mendapat
pasangan memperhatikan dan memberikan
tanggapan apakah pasangan itu cocok atau tidak.
 Guru memberikan konfirmasi tentang kebenaran
dan kecocokkan pertanyaan dan jawaban dari
pasangan yang memberikan presentasi.
 Guru memanggil pasangan berikutnya, begitu
seterusnya sampai seluruh pasangan melakukan
presentasi.
Penutup
a. Di bawah bimbingan guru, peserta didik
menyimpulkan materi pembelajaran
b. Mengadakan evaluasi (tes) tentang materi sifat
wajib dan mustahil bagi Allah
c. Melakukan kegiatan tindak lanjut dengan
memberikan tugas secara kelompok untuk
membuat macam-macam sifat wajib, mustahil
dan wajib bagi Allah dalam bentuk mind map
d. Bersama-sama menutup pelajaran dengan berdo’a
10 Menit
H. Penilaian
Penilaian
No
Teknik
Aspek Penilaian
1.
Sikap
a) Terlibat aktif dalam
pembelajaran
b) Bekerjasama dalam
kegiatan kelompok
Waktu
Bentuk
Instrumen
Pengamatan Selama
Non tes:
pembelajaran 1. Tugas
dan saat
2. Observasi
diskusi
Sampel Instrumen
- Tugas
Membuat mind map
tentang pembagian
sifat-sifat Allah
- Observasi
Mengamati
Keaktifan siswa
selama presentasi ke
depan dan Tanya
jawab
2.
Pengetahuan
a) Menyebutkan kembali
sifat-sifat wajib dan
mustahil bagi Allah
b) Menyebutkan kembali
pembagian sifat-sifat
wajib bagi Allah
Pengamatan Penyelesaian
dan tes
Soal tes
Tes tertulis
3.
Keterampilan
Terampil
menerapkan
konsep/prinsip dan
menjalani kehidupan
yang sesuai dengan
Pengamatan Penyelesaian
tugas
kelompok
tugas:
Tugas
kelompok
1. Allah bersifat
qiyamuhu binafsihi,
mustahil Allah
bersifat ?
2. Allah bersifat
sami’an yang
artinya ?
3. Allah mustahil
bersifat mautun,
karena Allah
bersifat ?
4. Allah mustahil
bersifat ‘adam
yang artinya ?
5. Allah mustahil
bersifat jahlun
yang artinya ?
6. Ada berapa sifat
wajib Allah yang
nafsiyah ?
sebutkan!
7. Ada berapa sifat
wajib Allah yang
salbiyah ?
sebutkan!
8. Ada berapa sifat
wajib Allah yang
ma’ani ? sebutkan !
9. Ada berapa sifat
wajib Allah yang
ma’nawiyah ?
sebutkan !
10. Tuliskan 1 contoh
bahwa Allah
bersifat jaiz !
Memaparkan hasil
pengamatan tentang
hasil yang diraih bagi
orangorang yang
mempercayai sifat
wajib dan mustahil
ajaran Agama Islam
Mengetahui
Kepala SMPS Islam Nurul Hikmah
Abdul Halim Soepomo, S.Pd.I
bagi Allah
Legok, 28 Januari 2016
Guru Bidang Studi
Nana Supriatna, S.Pd.I
Lampiran 3
Tabel 4.1
Hasil Observasi Siswa Pra Siklus
Hasil Pengamatan
No
Sangat
Aspek yang diamati
Kurang
Cukup
Baik
Baik
1.
Siswa berperan aktif dalam
pembelajaran
2.
Siswa memahami pembelajaran
yang disampaikan oleh guru
3.
Siswa dapat menjawab
pertanyaan yang disampaikan
kepadanya melalui Tanya
jawab
4.
Siswa aktif dalam mengajukan
pertanyaan
Tangerang, 18 Oktober 2016
Peneliti
Ganda Putra
Lampiran 4
Tabel 4.2
Hasil Belajar Siswa Pra Siklus
No
KKM
Nilai
Keterangan
Alya Sucinda Dewi
75
76
Tuntas
2.
Anti Nur Intan
75
62
Tidak Tuntas
3.
Dadi Wahyudi
75
32
Tidak Tuntas
4.
Dava Haiqal
75
38
Tidak Tuntas
5.
Defri Setiawan
75
76
Tuntas
6.
Fathul Korib
75
56
Tidak Tuntas
7.
Hening Tyas
75
54
Tidak Tuntas
8.
Mega Rani
75
48
Tidak Tuntas
9.
M. Elgy Capricorn
75
60
Tidak Tuntas
10.
M. Ghofur
75
62
Tidak Tuntas
11.
M. Harsya Wisudawan
75
66
Tidak Tuntas
12.
Mutiara Santi Anggraeni
75
84
Tuntas
13.
M. Rafly Widjaya
75
90
Tuntas
14.
Ogest Davina Nathasha
75
64
Tidak Tuntas
15.
Rafial Shiddiq Fatiha
75
62
Tidak Tuntas
16.
Rama Ichtarom
75
56
Tidak Tuntas
17.
Salma Septania Putrizal
75
32
Tidak Tuntas
18.
Siti Ulfatul Farihah
75
76
Tuntas
1.
Nama
19.
Surya Arifin Ilham
75
74
Tidak Tuntas
20.
Syahrul Fahmi Al Farizi
75
80
Tuntas
21.
Zian Family Suherman
75
34
Tidak Tuntas
22.
M. Fauzan Ramadhan
75
76
Tuntas
23.
Dewi Nurliana
75
48
Tidak Tuntas
24.
Ugi Astriya
75
74
Tidak Tuntas
Jumlah Nilai
1480
Nilai Rata-rata
61,66
Presentase Ketuntasan Belajar
29,1%
Presentase Ketidaktuntasan Belajar
70,9%
Tangerang, 18 Oktober 2016
Guru MAPEL Aqidah Akhlak
Wahyu Mardeni, S.Pd.I
Lampiran 5
Tabel 4.3
Hasil Observasi Guru Siklus 1
Hasil Pengamatan
No
Aspek yang diamati
Kurang
1.
Kegiatan Awal
a. Guru
membuka
pelajaran
dengan mengucapkan salam
b. Guru mengajak berdoa sebelum
belajar
c. Guru mengabsensi siswa
d. Guru memberikan apersepsi
e. Guru memberikan motivasi
f. Guru
menjelaskan
tujuan
pembelajaran
2.
Kegiatan Inti
a. Guru
menjelaskan
materi
tentang sifat wajib dan mustahil
bagi Allah.
b. Guru menggunakan metode
make a match.
c. Guru membimbing siswa dalam
Cukup
Baik
Sangat
Baik
proses belajar
d.
Guru menggunakan bahasa
yang jelasdanmudah dipahami
3.
Kegiatan Penutup
a. Guru menyimpulkan materi
b. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya.
c. Guru
bersama-samamengajak
berdo’a setelah belajar
d. Guru memberi salam
Tangerang, 24 Januari 2017
Guru MAPEL Aqidah Akhlak
Wahyu Mardeni, S.Pd.I
Lampiran 6
Tabel 4.4
Hasil Observasi Siswa Siklus 1
Hasil Pengamatan
No
Aspek yang diamati
Sangat
Kurang
1.
Cukup
Baik
Baik
Siswa berperan aktif dalam
pembelajaran
2.
Siswa
memahami
pembelajaran
yang
disampaikan oleh guru
3.
Siswa
dapat
menjawab
pertanyaan
yang
disampaikan
kepadanya
melalui kartu berpasangan
4.
Siswa
aktif
dalam
mengajukan pertanyaan
Tangerang, 24 Januari 2017
Guru MAPEL Aqidah Akhlak
Wahyu Mardeni, S.Pd.I
Lampiran 7
Tabel 4.5
Hasil Belajar Siswa Siklus I
No
Nama
KKM
Nilai
Keterangan
1.
Alya Sucinda Dewi
75
90
Tuntas
2.
Anti Nur Intan
75
60
Tidak Tuntas
3.
Dadi Wahyudi
75
65
Tidak Tuntas
4.
Dava Haiqal
75
65
Tidak Tuntas
5.
Defri Setiawan
75
95
Tuntas
6.
Fathul Korib
75
60
Tidak Tuntas
7.
Hening Tyas
75
75
Tuntas
8.
Mega Rani
75
45
Tidak Tuntas
9.
M. Elgy Capricorn
75
90
Tuntas
10.
M. Ghofur
75
85
Tuntas
11.
M. Harsya Wisudawan
75
75
Tuntas
12.
Mutiara Santi Anggraeni
75
95
Tuntas
13.
M. Rafly Widjaya
75
60
Tidak Tuntas
14.
Ogest Davina Nathasha
75
90
Tuntas
15.
Rafial Shiddiq Fatiha
75
95
Tuntas
16.
Rama Ichtarom
75
90
Tuntas
17.
Salma Septania Putrizal
75
50
Tidak Tuntas
18.
Siti Ulfatul Farihah
75
75
Tuntas
19.
Surya Arifin Ilham
75
60
Tidak Tuntas
20.
Syahrul Fahmi Al Farizi
75
75
Tuntas
21
Zian Family Suherman
75
50
Tidak Tuntas
22.
M. Fauzan Ramadhan
75
95
Tuntas
23.
Dewi Nurliana
75
30
Tidak Tuntas
24.
Ugi Astriya
75
60
Tidak Tuntas
Jumlah Nilai
1730
Nilai Rata-rata
72,09
Presentase Ketuntasan Belajar
54,1 %
Presentase Ketidaktuntasan Belajar
45,8 %
Keterangan:
Nilai rata-rata siswa = Jumlah nilai = 1730 = 72,09
Jumlah siswa
24
Presentase Ketuntasan = Jumlah Siswa Tuntas = 13 x 100% = 54,2 %
Jumlah Siswa
24
PresentaseKetidaktuntasan = Jumlah Siswa Belum Tuntas= 11x100% =45,8%
JumlahSiswa
24
Tangerang, 24 Januari 2017
Peneliti
Ganda Putra
Lampiran 8
Tabel 4.6
Hasil Observasi Guru Siklus II
Hasil Pengamatan
No
Aspek yang diamati
Sangat
Kurang
Cukup
Baik
Baik
1.
Kegiatan Awal
a. Guru
membuka
pelajaran
dengan mengucapkan salam
b. Guru mengajak berdoa sebelum
belajar
c. Guru mengabsensi siswa
d. Guru memberikan apersepsi
e. Guru memberikan motivasi
f. Guru
menjelaskan
tujuan
pembelajaran
2.
Kegiatan Inti
a. Guru
menjelaskan
materi
tentang sifat wajib dan mustahil
bagi Allah.
b. Guru menggunakan metode
make a match.
c. Guru membimbing siswa dalam
proses belajar
d. Guru menggunakan bahasa yang
jelasdanmudah dipahami
3.
Kegiatan Penutup
a. Guru menyimpulkan materi
b. Guru memberikan kesempatan
kepada siswa untuk bertanya.
c. Guru
bersama-samamengajak
berdo’a setelah belajar
d. Guru memberi salam
Tangerang, 30 Januari 2017
Guru MAPEL Aqidah Akhlak
Wahyu Mardeni, S.Pd.I
Lampiran 9
Tabel 4.7
Hasil Observasi Siswa Siklus II
Hasil Pengamatan
No
Aspek yang diamati
Sangat
Kurang
Cukup
Baik
Baik
1.
Siswa berperan aktif dalam
pembelajaran
2.
Siswa
memahami
pembelajaran
yang
disampaikan oleh guru
3.
Siswa
dapat
menjawab
pertanyaan yang disampaikan
kepadanya
melalui
kartuberpasangan
4.
Siswa aktif dalam mengajukan
pertanyaan
Tangerang, 30 Januari 2017
Guru MAPEL Aqidah Akhlak
Wahyu Mardeni, S.Pd.I
Lampiran 10
Tabel 4.8
Hasil Belajar Siswa Siklus II
No
Nama
KKM
Nilai
Keterangan
1.
Alya Sucinda Dewi
70
100
Tuntas
2.
Anti Nur Intan
70
60
Tidak Tuntas
3.
Dadi Wahyudi
70
75
Tuntas
4.
Dava Haiqal
70
80
Tuntas
5.
Defri Setiawan
70
100
Tuntas
6.
Fathul Korib
70
80
Tuntas
7.
Hening Tyas
70
90
Tuntas
8.
Mega Rani
70
60
Tidak Tuntas
9.
M. Elgy Capricorn
70
100
Tuntas
10.
M. Ghofur
70
95
Tuntas
11.
M. Harsya Wisudawan
70
90
Tuntas
12.
Mutiara Santi Anggraeni
70
100
Tuntas
13.
M. Rafly Widjaya
70
80
Tuntas
14.
Ogest Davina Nathasha
70
100
Tuntas
15.
Rafial Shiddiq Fatiha
70
100
Tuntas
16.
Rama Ichtarom
70
100
Tuntas
17.
Salma Septania Putrizal
70
75
Tuntas
18.
Siti Ulfatul Farihah
70
80
Tuntas
19.
Surya Arifin Ilham
70
80
Tuntas
20.
Syahrul Fahmi Al Farizi
70
80
Tuntas
21.
Zian Family Suherman
70
75
Tuntas
22.
M. Fauzan Ramadhan
70
100
Tuntas
23.
Dewi Nurliana
70
65
Tidak Tuntas
24.
Ugi Astriya
70
80
Tuntas
Jumlah Nilai
2045
Nilai Rata-rata
85,2
Presentase Ketuntasan Belajar
87,5 %
Presentase Ketidaktuntasan Belajar
12,5 %
Keterangan:
Nilai rata-rata siswa = Jumlah nilai = 2045 = 85,2
Jumlah siswa
24
Presentase Ketuntasan =JumlahSiswaTuntas = 21 x 100% = 87,5 %
Jumlah Siswa
24
Presentase Ketidaktuntasan = Jumlah Siswa Tidak Tuntas= 3 x100% = 12,5 %
JumlahSiswa
24
Tangerang, 30 Januari 2017
Peneliti
Ganda Putra
Lampiran 11
Tabel 4.9
Hasil Belajar Siswa Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus II
No
Hasil Belajar Siswa
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
61,66
72,09
85,2
1.
Nilai rata-rata siswa
2.
Jumlah siswa yang tuntas
7
13
21
3.
Jumlah siswa yang tidak tuntas
17
11
3
Tangerang, 30 Januari 2017
Peneliti
Ganda Putra
KEMENTERIAN AGAMA
UIN JAKARTA
FITK
: FITK-FR-AKD-082
: l Maret 2010
Tgl. Terbit
FORM (FR)
No.
Dokumen
No.
Revisi: :
Hal
Jl. lt. H. Juanda llo 95 Ciputat 15412 tndonesa
01
111
PENELITIAN
Jakarta,
Nomor : Un.01/F.1 |KM.O1.31........12012
Lamp.'. Outline/ProPosal
: Permohonan lzin Penelitian
2012
Hal
Kepada Yth.
Kepala Sekolah SMPS lslam Nurul Hikmah
H. Abdul Halim SuPomo S. Pd
di
Tempat
Assalamu'alaikum wr.wb.
Dengan hormat kami sampaikan bahwa,
Nama
: Ganda Putra
NIM
:1110011000053
Jurusan
: Pendidikan Agama lslam
Semester : Xlll (Tiga Belas)
:
Upaya Peningkatan Hasil Balajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Akidah Akhiak Materi Sifat Wajib dan Mustahil Bagi Allah dengan Menggunakan
Judul
Skripsi
Metode "Make a Match"
adalah benar mahasiswa/i Fakultas llmu Tarbiyah dan'Keguruan ulN Jakarta yang
sedang menyusun skripsi, dan akan mengadakan penelitian (riset) di
instansi/sekolah/madrasah yang Saudara pimpin.
untuk itu kami mohon saudara dapat mengizinkan mahasiswa
melaksanakan peneiitian dimaksud.
Atas perhatian dan kerja sama Saudara, kami ucapkan terima kasilt.
wassatamu'ataikufit wr.wb.
a.n. Dekan
Kajur
Dr. H.
NIP. 1
Dekan FITK
Pembantu Dekan Bidang Akademik
Mahasiswa yang bersangkutan
1.
2.
Agama Islam
id Khon, M.Ag
198703 1 005
tersebut
Lampiran 12
Foto-foto kegiatan Metode Pembelajaran Make a Match
Download