harmoni antar paham keagamaan

advertisement
9
HARMONI ANTAR PAHAM KEAGAMAAN
(Studi terhadap Konstruksi Pemikiran Elit Agama dalam Membangun Harmonisasi
Antar Paham di Madura)
Mohamad Suhaidi
(Dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra STKIP PGRI Sumenep)
Email: [email protected]
Abstrak
Kurikulum Berbagai paham dan aliran keagamaan transnasional seperti HTI, FPI, Ansorut Tauhid,
dan paham Syiah, secara perlahan terus berkembang dan mulai tumbuh di tengah-tengah
masyarakat Madura, baik di Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Oleh karena itu,
keberadaan ulama memegang peranan yang sangat strategis dalam kontelasi perbedaan paham
yang ada, khususnya di Madura, karena secara sosiologis, keberadaan ulama di kalangan
masyarakat Madura tidak hanya dianggap sebagai elit agama, melainkan juga sebagai pemimpin
non formal oleh masyarakat Madura yang dianggap memiliki otoritas sosial untuk menentukan
hidup dan kehidupan masyarakat. Peran ulama (elit agama) dalam mengelola perbedaan paham
keagamaan menjadi kekuatan harmoni, merupakan cita-cita suci dalam membumikan kehidupan
yang rukun dan toleran.
Kata Kunci: Harmoni, Elit Agama, Paham Keagamaan
Abstract
Curriculum Numbers of trans-national religious views and ideologies such as HTI, FPI,
Ansoruttauhid, and Syiah have eventually and continuously spread out and started to grow
within Madurese society in Bangkalan, Sampang, Pamekasan, and Sumenep Regions. Therefore,
the ulama (muslim scholars) play a very important and strategic role in the constellation of the
differences arising in religious views especially in Madura Island. It is due to the Madurese’s
sociological point of view which regards ulama is not only religious elites but also non-formal
leaders. Madurese people believe that ulama have social authority in determining the people’s
life. The ulama’s role in managing and handling the differences of religious views is a power of
harmony; a holly idea in creating a peaceful and tolerant life.
Key Words: Harmony, Religious Elite, Religious Views
A. Pendahuluan
Reformasi politik di Indonesia yang telah
digulirkan sejak 1998 telah memberikan
dampak kebebasan yang luas bagi seluruh
rakyat. Hak sipil diberikan seluas-luasnya
untuk diekspresikan atasnama kebebasan
sebagaimana yang diatur dalam UndangUndang Dasar 1945. Gerakan keagamaan
dengan segala dimensinya menjadi salah satu
aspek yang menemukan kebebasannya di era
reformasi ini. M. Imdadun Rahmat-Khamami
Zada (dalam Jurnal Tasawuf Afkar, 2004:26)
menulis bahwa, kebebasan (yang terbuka di
era reformasi) memungkinkan kalangan
gerakan Islam untuk lebih leluasa
menyatakan pendapat, membentuk
organisasi, memilih asas/ideologi dan
platform, melakukan berbagai kegiatan
dakwah dan terjun dalam kegiatan
politik praktis.
Munculnya bermacam-macam
paham dan aliran keagamaan pada
gilirannya menjadi sesuatu yang faktual
di tengah arus kebebasan yang ada.
Bahkan munculnya fenomena paham
dan aliran itu sudah menyebar ke
tingkat komunitas pedesaan dengan
segala varian yang ditimbulkannya,
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
10
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
termasuk di Madura yang dikenal sebagai
komunitas yang sangat teguh dalam beragama.
Abdul A’la (dalam Abdur Rozaki, 2004:v)
menjelaskan bahwa potret masyarakat
Madura sebagai masyarakat dengan keberagamaan yang kuat, tetapi sekaligus
“dianggap” nyaris lekat dengan tradisi atau
budaya yang tidak selamanya mencerminkan
nilai-nilai Islam mengisyaratkan tentang
kompleksitas kehidupan budaya keagamaan
masyarakat Madura itu sendiri.
Berbagai paham dan aliran keagamaan,
selain paham keagamaan yang sudah menjadi
mainstream di kalangan masyarakat Madura
(Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep)
seperti paham keagamaan ala NU, dan
beberapa paham keagamaan lain yang telah
mulai berkembang, seperti Muhammadiyah,
Persis, al-Irsyad, LDII, al-Hidayah, dan lain
sebagainya, juga sudah mulai berkembang
paham-paham keagamaan transnasional
seperti HTI, FPI, Ansorut Tauhid, dan paham
Syiah. Paham-paham itu secara perlahan telah
mulai berkembang dan tumbuh di tengahtengah kehidupan spritual masyarakat
Madura, baik di Bangkalan, Sampang,
Pamekasan dan Sumenep. Semua paham itu,
kemudian menyatu dengan paham mayoritas
yang telah diyakini oleh masyarakat Madura
dan melakukan kegiatan sesuai dengan
keyakinan paham yang dianutnya.
Dalam konteks Madura, paham keagamaan Syiah telah menjadi paham yang sejak
beberapa bulan terakhir sempat menjadi
sesuatu yang fenomenal di Madura, terutama
setelah terjadinya aksi kekerasan terhadap
penganut ajaran Syiah di Kabupaten Sampang
Madura dan telah menjadi aib tersendiri dalam
bangunan kerukunan antar paham di tanah
Madura. Konflik yang oleh media dinggap
sebagai konflik antar dua paham yang
berbeda, yaitu Sunni dan Syiah tersebut menggambarkan tentang hubungan disharmoni
antara kedua paham yang sejatinya tidak boleh
terjadi, apalagi masyarakat Madura memiliki
ikatan solidaritas sosial yang sangat tinggi.
Jurnal Pelopor Pendidikan
Sunni yang dalam konteks Madura identik
dengan warga NU merupakan penganut
terbanyak di Sampang, dan bahkan di Madura.
Mayoritas masyarakat Madura merupakan
penganut paham NU, sehingga paham ini
menjadi paham terbesar yang diyakini oleh
masyarakat Madura, khususnya masyarakat
Sampang sebagai paham keagamaan prioritas.
Konflik Syiah yang berujung dengan
perilaku anarkhisme merupakan puncak dari
ketegangan dua paham yang berbeda. Pihak
Sunni melihat paham Syiah sebagai gerakan
keagamaan yang berlawanan dengan keyakinan yang dianut oleh masyarat penganut
paham Sunni, sehingga perbedaan paham ini
menimbulkan resistensi yang kemudian
berujung pada konflik kekerasan antarmasyarakat. Dalam catatan Monthly Reporton
Religius The Wahid Institute (edisi XXXIII, Mei
2011: 11) bahwa konflik Syiah-Ahlussunah wal
jamaah di kabupaten Sampang Madura telah
terjadi sejak 2006 yang terjadi karena fitnah
yang disebarkan secara intensif. Ada usaha
yang dilakukan secara terus menerus untuk
menetapkan Syiah sebagai ajaran sesat.
Perkembangan paham Syiah di Sampang,
pada gilirannya ini telah mampu menimbulkan
berbagai reaksi dan upaya-upaya penanganan
yang dilakukan oleh sejumlah pihak berkaitan
dengan paham Syiah, misalnya PC NU
Sampang telah mengeluarkan sikap Nomor.
255/PC/A.2/L-36/I/2012 berkaitan dengan
ajaran yang dibawa oleh Ali Murtadlo (Tajul
Muluk), rekomendasi hasil musyawarah Badan
Silaturrahim Ulama Pesantren Madura
(BASSRA), Selasa 3 Januari 2012 yang salah
satu isinya meminta agar MUI Propinsi Jawa
Timur mengeluarkan fatwa tentang ajaran
Syiah.
Dalam keterkaitan itu, keberadaan ulama
memegang peranan yang sangat strategis
dalam kontelasi perbedaan paham yang ada,
khususnya di Madura. Secara sosiologis,
keberadaan ulama di kalangan masyarakat
Madura tidak hanya dianggap sebagai elit
agama atau elit sosial, melainkan juga sebagai
pemimpin non formal oleh masyarakat Madura
Mohamad Suhaidi
yang dianggap memiliki otoritas sosial untuk
menentukan hidup dan kehidupan masyarakat.
Di kalangan masyarakat, dengan karakteristik
agamamis seperti masyarakat Madura, keberadaan kiai (ulama) adalah sebagai uswatun
hasanah, contoh dan model yang baik seluruh
perilaku, tindak tanduk, perangai dan tabiat
pribadinya bagi para santri dan komunitas di
lingkungannya. Pengaruh kiai atau ulama tidak
saja dalam masalah keagamaan, tetapi juga
dalam ranah politik (Faisal Ismail, dkk., 1999:21).
Munculnya berbagai paham dan aliran di
Madura yang notabene penganut paham
Sunni, terutama paham Syiah merupakan
fenomena yang berlawanan dengan mainstream paham Sunni yang dianut oleh
masyarakat Madura secara umum. Oleh
karena itu, keberadaan paham Syiah yang
dikembangkan di Madura dengan corak dan
tradisi berfikir keagamannya yang khas, secara
tidak langsung telah menciptaan problem baru
dalam kontruksi hubungan sosial masyarakat,
apalagi penolakan terhadap paham Syiah itu
(disinyalir) dilakukan oleh kalangan ulama,
sehingga mengkibatkan potensi konflik sosial
yang bisa meledak dalam setiap waktu.
Disinilah peran ulama Madura kembali
diuji untuk membangun harmonisasi kehidupan
sosial masyarakat antar paham, terutama
setelah terjadinya konflik Syiah-Sunni di
Sampang Madura. Ulama tentu saja memiliki
tanggung jawab yang besar untuk melakukan
langkah-langkah yang strategis dalam rangka
meminimalisir potensi konflik antar paham di
Madura, khususnya terhadap penganut ajaran
Syiah yang notabene ada di setiap kabupaten
yang ada di Madura. Oleh karena itu, kajian
ini akan difokuskan pada beberapa pertanyaan
mendasar, yaitu. Pertama, bagaimana karakter
dan cara pandang keagamaan masyarakat
Madura? Kedua, bagaimana posisi sosial
ulama dalam dinamika kehidupan sosial
masyarakat Madura, terutama dalam masalah
keberagamaan? Ketiga, bagaimana konstruksi
pemikiran elit agama Madura dalam mengelola potensi perbedaan paham keagamaan
menjadi kekuatan harmoni dalam rangka
membangun kehidupan yang toleran dan
moderat?
Penelitian ini merupakan penelitian field
research (penelitian lapangan), dengan
beberap model pengumpulan data, yang
meliputi observasi (pengamatan), wawancara
mendalam (indepth interview), dan metode
dokumentasi. Penentuan populasi dan sampel
ditetapkan sebagai narasumber dilakukan
dengan menggunakan teknik snow-ball, yaitu
penggalian data melalui wawancara mendalam dari satu responden ke responden
lainnya dan seterusnya sampai peneliti tidak
menemukan informasi baru lagi, jenuh,
informasi “tidak berkualitas” lagi (Syahiron,
2007 : 75). Sementara, teknik analisis isi
(content analisys) digunakan untuk menggambarkan tentang katagori-katagori yang
ditemukan dan muncul dari data yang ada
sehingga dapat melahirkan analisis yang
obyektif konstruksi pemikiran elit agama dalam
mengelola perbedaan paham menjadi kekuatan harmoni di Madura.
B. Agama dan Militansi Orang Madura
Masyarakat Madura merupakan masyarakat dengan karakter religius dan agamis yang
sangat militan. Dengan karakter keagamaan
yang sangat kuat tersebut, Madura pada
gilirannya dijuluki sebagai serambi Madinah.
Julukan itu, nyaris sama dengan Propinsi Aceh
yang dijuluki sebagai serambi Mekah. Julukan
itu sangat mendasar, mengingat kultur
keagamaan masyarakat Madura yang sangat
kental dengan tradisi keagamaan yang unik,
walaupun memang tidak seratus persen sama
dengan kondisi keagamaan masyarakat
Madinah. Tetapi, sadar atau tidak, masyarakat
Madura sangat kental dengan pola keberagamaan sebagaimana yang terjadi pada
masyarakat Madinah. Yang menarik, semangat
masyarakat Madinah, ternyata tidak hanya
pada aspek militansi keagamaan yang terbangun di Madura, melainkan juga terletak
pada pola keberagamaan yang beragam,
sehingga memberikan ruang toleransi yang
besar terhadap penganut agama yang berVolume 7, Nomor 1, Desember 2014
11
12
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
beda. Sebab, struktur masyarakat Madinah
tidak hanya terdiri dari satu keyakinan,
melainkan terdapat beberapa keyakinan yang
hidup dan berkembang di dalamnya. Ali Bulac
(2003:265) menulis bahwa Madinah tidak
hanya terdiri dari kaum muslim saja. Ada
beberapa penduduk asli di dalamnya; yaitu
orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab
yang tidak menerima Islam. Hazrat (yang
mulia) Muhammad SAW. Menghadapi masalah penting yaitu mendamaikan dan menyatukan kelompok-kelompok sosial ini,
menemukan formula yang tepat untuk dapat
hidup berdampingan.
Oleh karena itu, wacana sebagai serambi
Madinah yang dilekatkan kepada masyarakat
Madura, tidak hanya karena faktor militansi
keagamaan, melainkan juga terletak pada
struktur sosial keagamaan yang inklusif sesuai
dengan semangat Piagam Madinah yang
pernah dicetuskan oleh Rasulullah SAW.
Madinah di satu sisi merupakan potret wilayah
dengan potensi keagamaan yang kuat karena
Madinah menjadi salah satu basis dakwah
gerakan Islam yang dilakukan oleh Rasulullah.
Tetapi, di sisi yang lain, Madinah juga menjadi
potret tentang interaksi dan pola hubungan
keagamaan yang menempatkan toleransi
antar-agama sebagai perekat kehidupan
sosial yang sangat kuat.
Pola keagamaan religius tersebut, pada
dasanya tidak lepas dari aspek historis masuknya Islam ke tanah Madura. Perkembangan
Islam yang dilakukan oleh kalangan ulama
pada tempo dulu memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap pola keagamaan masyarakat Madura yang sangat religius.
Dalam keterkaitan itu, pola keberagamaan
yang militan di kalangan masyarakat Madura
tersebut, merupakan salah satu bukti tentang
adanya komitmen keberagamaan yang utuh.
Sebab, mayoritas masyarakat Madura menganut paham keagamaan ala Nahdlatul Ulama
(NU) yang dekat dengan paham Sunni, baik
masyarakat yang ada di Bangkalan, Sampang,
Pamekasan maupun Sumenep. Penganut
paham Islam ala NU menjadi sangat dominan
Jurnal Pelopor Pendidikan
di Madura, baik di wilayah perkotaan maupun
pedesaan. Bahkan, kedekatan paham NU
dengan masyarakat kultural, acapkali melahirkan militansi ke-NU-an yang sangat tinggi,
karena ada sebagian masyarakat Madura yang
berani menganggap NU sebagai agama bagi
mereka.
Penyebutan beragama NU oleh sebagian
masyarakat Madura, bukan berarti menunjukkan ketertinggalan dalam memahami NU
sebagai bagian dari paham Islam, melainkan
hal itu menunjukkan kedalaman dan kesungguhan orang Madura dalam beragama
Islam ala NU. Sebab, penggunaan “agama NU”
bukan hanya dipakai oleh orang Madura, tetapi
juga dipakai oleh orang-orang di luar Madura.
Hal itu ditegaskan oleh Ahmad Baso (dalam
Iskandar Zulkarnain, 2005:10):
Sebutan “agama NU” juga dipakai orangorang Madura, orang-orang Yogjakarta
(Seperti almarhum Mbah Marijan) dan
orang-orang Jawa lainnya di desa-desa, di
kampung-kampung. Ketika penguasa
militer Orde Baru berkuasa di awal-awal
1970-an, mereka didatangi petugas
kependudukan untuk didata. Ketika
ditanya, agama kalian apa? “Agama NU!”,
spontan jawab mereka. “Itu tidak ada
dalam formulir”, jawab petugas, “Yang ada
ya hanya agama Islam!” Akhirnya, mereka
pun didata sebagai penganut “agama
Islam”.
Namun demikian, penyebutan agama NU
di kalangan orang Madura, bukan berarti tidak
ada paham lain yang juga berkembang di
Madura, karena penganut paham keagamaan
yang lain juga menjadi bagian dari kondisi
faktual masyarakat Madura, seperti paham
yang dianut kalangan Muhamadiyah, SI,
Hidayatullah, LDII, Syiah, Persis dan pahampaham lain yang juga berkembang. Sementara
keberadaan paham Ahmadiyah belum ditemukan data kongkrit atau informasi akurat di
Madura, sehingga muncul kesimpulan bahwa
paham ini belum berkembang di Madura
sebagaimana paham-paham yang lain
(Iskandar Zulkarnain, 2005:5). Apalagi
Mohamad Suhaidi
penganut paham Ahmadiyah tidak sebanyak
pengajut paham ala NU dan Muhammadiyah
yang berkembang di Indonesia.
Sebagai pulau dengan pola keagamaan
Islam tradisional yang dominan, masyarakat
Madura memiliki pola keberagamaan dengan
amaliah ala warga nahdliyin sebagaimana
yang terjadi di seluruh nusantara, yaitu penganut paham Suni, walaupun nilai-nilai keMaduraannya tetap kental dalam kehidupan
masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat
Madura dalam beragama sangat taat, tetapi
juga tidak bisa lepas dari nilai-nilai budaya
yang arif. Agama dan kebudayaan Madura,
dalam prakteknya menjadi satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dalam kehidupan sosial
keagamaan masyarakat Madura.
Dalam konteks itu, pilihan beragama bagi
orang Madura merupakan pilihan hakiki yang
sangat substansial, terutama pilihan terhadap
agama Islam yang menjadi agama mayoritas
yang dianut oleh orang Madura. Argumentasi
Latif Wiayata di atas menegaskan tentang
komitmen keagamaan orang Madura yang
sangat mendasar, karena pilihan agama
merupakan peneguhan identitas. Agama Islam
kemudian menjadi identitats yang terbumikan
dalam kehidupan sosial budaya masyarakat
Madura. Bahkan, identitats keagamaan itu
tidak hanya tercermin dalam seperangkat
keimanan yang bersifat batini, melainkan juga
menjadi identitats simbolik yang menghiasai
proses kehidupan sosial masyarakat Madura.
Kondisi itu di satu sisi memperlihatkan
tentang militansi dan antusiasme keagamaan
masyarakat Madura. Bentuk konkrit antusiasme itu, salah satunya bisa dilihat dalam kehidupan masyarakat Madura untuk memakmurkan masjid, mushalla dan langgar yang
notabene bertebaran dia seluruh penjuru
Madura. Nyaris di setiap kampung dan desa
terdapat bangunan masjid dan mushalla,
bahkan nyaris di setiap rumah masyarakat
Madura terdapat bangunan tempat ibadah
(bisa langgar dan mushalla ukuran mini)
sebagai tempat untuk menunaikan kewajiban
beribadah sesuai dengan ajaran agama Islam.
Abd. A’la (dalam Abdur Rozaki, 2004 : v)
memberikan gambaran bahwa potret masyarakat Madura sebagai masyarakat dengan
keberagamaan yang kuat, tapi sekaligus
“dianggap” nyaris lekat dengan tradisi atau
budaya yang tidak selamanya mencerminkan
nilai-nilai Islam mengisyaratkan tentang
kompleksitas kehidupan budaya keagamaan
masyarakat Madura itu sendiri.
C. Konstruksi Pemikiran Elit Agama: Dari
Tradisi Dialog ke Khutbah Toleransi
Secara substansial, kalangan alit agama
di Madura menghendaki adanya kedamaian
dan toleransi yang kua antar paham maupun
antar agama. Komitmen mereka dalam
membangun kehidupan yang damai dan sejuk,
menunjukkan adanya kemauan yang keras
untuk menempatkan perbedaan paham
sebagai pondasi dalam merajut kehidupan
yang harmoni. Konstruksi pemikiran elit agama
Madura dalam membangun harmoni antar
paham, mengerujut pada beberapa gagasan
mendasar, mulai dari pengembangan tradisi
dialog, pendidikan dan sampai sosialisasi
melalui kegiatan formal maupun non formal
keagamaan. Sehinga bisa dijadikan sebagai
kekuatan dalam menciptakan kerukunan dan
toleransi antar paham yang ada. Secara garis
besar, gagasan elit agama Madura tentang
harmoni antara paham, dapat dilakukan
dengan beberapa langkah, yang meliputi
dialog, Hal itu bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
1. Dialog Terbuka Lintas Paham
Keagamaan
Konflik bisa terjadi, akibat tidaknya
ada ruang komunikasi yang dinamis dan
terbuka bagi kedua belah pihak. Keterbukaan untuk menerima pihak lain
sebagai patner dialog, merupakan kunci
utama dalam menciptakan kehidupan yang
damai. Demikian pula halnya, sikap menutup diri terhadap pihak lain yang
berbeda paham, hanya akan menciptakan
ruang sempit yang bisa menghasilkan
kondisi dimana antara yang satu dengan
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
13
14
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
yang lainnya dihantui oleh rasa saling
curiga. Disinilah truth claim akan menjadi
embrio lahirnya konflik kedua belah pihak
dan pada gilirannya menimbulkan suasana
yang tidak kondusif dalam membangun
kerukunan antar paham.
Dalam konteks itu, dialog merupakan
salah satu sarana yang tepat untuk bertemu dan menyampaikan gagasan yang
berbeda, guna mencari titik persamaan
yang bisa dipertemukan. Apalagi setiap
perbedaan, tidak secara mutlak berbeda,
melainkan ada sisi persamaan yang bisa
dijadikan sebagai pijakan untuk disatukan.
Ruang dialog antar paham yang berbeda di Madura dapat menjadi kostruksi
sosial baru di tengah-tengah masyarakat
Madura yang tengah mengalami masa
multi paham keagamaan saat ini sebagai
wahana untuk menyelesaikan setiap
perbedaan pandangan yang berbeda,
apalagi dalam konteks perbedaan penafsiran agama yang sudah menjadi fakta
sosial. Sebab, perbedaan paham keagamaan yang terjadi dalam Islam, akibat
perbedaan penafsiran yang dihasilkan,
sehingga melahirkan perbedaan cara
pandang. Ruang dialog dapat dijadikan
sebagai momentum reunifikasi (penyatuan) pandangan yang berbeda untuk mendapatkan titik temu yang positif, sehingga
konflik sosial antara paham bisa diminimalisir atau bahkan diantisipasi untuk
tidak terjadi. Menurut Kiai Dardiri Zubairi
(wawancara pada tanggal 22 Juni 2014),
pengasuh pesantren Nas’atul Muta’allimin
Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura
Kabupaten Sumenep:
“Salah satu solusi yang bisa dibangun
di tengah-tengah masyarakat Madura
untuk mengantisipasi potensi konflik
antar paham adalah dengan cara
dialog dengan melibatkan setiap pihak
yang berbeda, yang dalam konteks
perbedaan agama Islam, misalnya
perbedaan antar paham. Mereka harus
diajak untuk duduk bersama untuk
Jurnal Pelopor Pendidikan
berdialog dengan rela dan penuh semangat saling menghormati. Tujuannya untuk mendiskusikan banyak hal,
bukan hanya untuk mencari titik temu
perbedaan penafsiran paham keagamaan, melainkan juga untuk membangun komitmen bersama dalam
menjaga keharmonisan antar penganut paham yang berbeda. Semakin
ruang dialog dibuka akan semakin
membuat akrab dan bisa saling terbuka. Masing-masing kelompok perlu
ada keseriusan untuk selalu bermusyawarah dan berdialog untuk
saling memahami tentang perbedaan,
sehingga dapat mencari titik temu
untuk saling merekatkan hubungan
kebangsaan dan kekeluargaan”.
Oleh karena itu, dialog akan dapat
menjadi jembatan yang baik dalam rangka
membuka ruang inklusifitas antar penganut paham yang berbeda. Dengan kata
lain, dialog akan dapat menjadi wasilah
(sarana) untuk menata setiap ketertutupan
yang terbangun dan menggantinya dengan
keterbukaan, sehingga melahirkan sikap
yang saling terbuka. Karena dialog lebih
merepresentasikan ruang komunikasi yang
selama ini kerapkali menjadi akar masalah.
Haryatmoko (dalam Ngainun Naim,
2011:45) menyatakan bahwa tanpa adanya
ruang dialog untuk membangun persepsi
dan pemahaman terhadap perbedaan yang
ada, dan watak “sangar” yang menunjukkan kekerasan tanpa kompromi. Kondisi
tidak toleran akan mengkristal manakala
seseorang atau sekelompok tersingkir
dalam dinamika sosial, politik, budaya
maupun kekuasaan.
Posisi dan peran dialog dalam menuntaskan setiap perbedaan yang terjadi
sangat strategis, karena ruang dialog tidak
hanya akan menjadi ruang diskusi,
melainkan menjadi ruang untuk melahirkan persamaan dan solusi atas perbedaan
(permasalahan) yang dihadapi. Menurut
Abd. A’la (2009:76) bahwa dialog sebenar-
Mohamad Suhaidi
nya merupakan salah satu sarana dengan
tingkat signifikansi cukup tinggi untuk
meredam konflik dan menjadikan perbedaan sebagai pengkayaan pandangan
dalam merumuskan solusi terbaik bagi
persoalan yang dihadapi bangsa.
Dalam konteks itu, dialog menjadi
jembatan komunikasi yang bisa mempertemukan titik-titik perbedaan pemahaman keagamaan, sehingga menemukan jalan tengah tanpa menimbulkan
konflik, karena dialog pada hakikatnya
merupakan pintu masuk untuk memulai
proses komunikasi timbal balik. Apalagi,
setiap konflik sosial keagamaan yang
terjadi, pada hakikatnya tidak bisa
dilepaskan dari masalah komunikasi yang
tidak mampu dibangun dengan terbuka
dan sikap persaudaraan yang hakiki.
Oleh karena itu, pola komunikasi yang
dialogis dianggap sebagai salah satu
sarana yang tepat untuk mengantisipasi
setiap potensi konflik antar paham di
Madura, sehingga dari setiap perbedaan
yang ada dapat dikelola dengan dinamis
dan jauh dari benih konflik antar paham.
Setiap elit paham keagamaan harus duduk
sama rata untuk berdialog sebagaiman
telah dilakukan di Kabupaten Pamekasan
yang telah mengagendakan pertemuan
bulanan dengan sejumlah elit agama
dengan latar belakang yang berbeda.
Bahkan, kalangan elit agama yang berbeda paham di Pamekasan telah membentuk forum khusus yang bernama FOKUS
(Forum Komunikasi Ormas Islam).
Forum semacam ini dimaksudkan
untuk menyatukan pandangan dan membangun kebersamaan antar paham keagamaan yang ada di Pamekasan Madura.
Dalam setiap pertemuan dijadikan kesempatan untuk membicarakan masalahmasalah keislaman. Bahkan, forum ini juga
bisa dijadikan sebagai sarana atau
mediasi untuk mendeteksi setiap gejala
keagamaan yang muncul, sehingga
dengan mudah bisa diatasi. Zainal Alim,
Ketua 1 PD Muham-madiyah Pamekasan
mengatakan bahwa:
“Dalam menyelesaikan masalah
konflik antar paham, semua pihak
harus terlibat, khususnya umat Islam.
Kalau di Pamekasan kami sudah
membentuk Forum Komunikasi Ormas
Islam (FOKUS) yang melibatkan semua
ormas Islam yang ada di Pemekasan.
Forum ini selalu mengadakan
pertemuan dalam setiap bulan dan
membahas masalah keagamaan yang
urgen” (Wawancara pada tanggal 17
juni 2014).
Jadi, secara substansial pertemuan
lintas paham itu merupakan bentuk nyata
dari semangat silaturrahim yang bisa
digunakan untuk melakukan dialog dan
tabayyun (klarifikasi) atas persoalan
keagamaan yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat. Artinya, silaturrahim itu merupakan langkah yang positif untuk membangun hubungan yang baik dengan
siapapun, karena dalam silaturrahim ada
semangat persaudaraan dan keakraban
antara satu dengan yang lainnya.
Silaturrahim-dialogis yang paling
prinsip merupakan momentum memperkuat pertemanan hakiki setiap individu,
apalagi orang Madura memaknai pertemanan dengan landasan resipokral.
Menurut Latif Wiyata (2013:21), apabila
hubungan pertemanan itu dikelola dengan
baik dan senantiasa dijadikan semangat,
referensi dan landasan dalam kehidupan
sosial oleh orang Madura, maka konflik
(kekerasan) sudah pasti dapat diantisipasi
dan sekaligus dicegah sedini mungkin,
yang pada gilirannya kehidupan sosial
orang Madura niscaya akan selalu dalam
suasana yang nyaman, sejuk, dan teduh
yang penuh dengan kedamaian sebagaimana makna ungkapan rampa’ naong,
baringen korong.
Pengembangan tradisi silaturrahim
dialogis yang menekankan pada aspek
kajian kritis dan terbuka terhadap setiap
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
15
16
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
perbedaan agama dan paham akan memberikan ruang diskusi yang lebar bagi
setiap perbedaan paham dalam mencari
titik temu. Dialog pada gilirannya dapat
dijadikan sebagai jalan tengah untuk
menemukan benang merah perbedaan
menujuk titik persamaan yang hakiki,
sehingga bisa menghasilkan kesepakatan
untuk membangun kejernihan dalam
beragama. Dengan dialog, trut claim oleh
satu paham akan bisa diminimalisir
dengan baik. Hal itu ditegaskan oleh M.
Amin Abdullah (2011:15) bahwa:
“Untuk mengurangi ketegangan yang
diakibatkan oleh ‘truth claim’ yang
secara metapisis dan psikologis
memang dapat dimengerti, namun
pada ruang lingkup pergumulan
sosiologis-kultural, kadang terasa
sangat mencekam –terutama bagi
masyarakat yang bersifat empiris
pluralistik– studi dan pendekatan
agama yang bersifat empiris-historiskritis, agaknya, akan dapat menyumbangkan jasanya untuk mengurangi kadar dan intensitas ketegangan tersebut, tanpa harus
berpretensi dapat menghilangkan
sama sekali. Lewat kajian dan
pendekatan agama yang bersifat kritishistoris, yakni lewat analisis yang
tajam terhadap aspek historis daripada
normativitas ajaran wahyu akan
membantu menjernihkan duduk
perkaranya “keberagamaan manusia”.
Oleh karena itu, dialog yang komunikatif dapat menjadi sarana yang pas untuk
mengurangi dan bahkan menghilangkan
sikap eksklusif yang notabene ada dalam
setiap penganut paham keagamaan
tertentu. Ekslusifitas penganut paham
yang dipertahankan cenderung menutup
kran dialog dengan pihak lain dan pada
akhirnya dapat memicu terjadinya konflik
sosial dan konflik agama yang menakutkan. Iqnas Kleden (dalam Rosyidi, 2009:45)
menegaskan bahwa di sisi lain bentuk
Jurnal Pelopor Pendidikan
kehidupan keagamaan yang tertutup atau
fanatik juga merupakan sumber konflik
yang mengancam keutuhan masyarakat.
Potensi atau sumber konflik yang ada
dapat berkembang menjadi konflik,
apababila terjadi persaingan yang bersifat
emosional. Corak emosional ini lebih
banyak muncul pada komunitas‘eksklusif
minoritas atau ekslusif mayoritas.
Komunitas ekslusif terbentuk sebagai
akibat terpisahnya kegiatan sosial antar
kelompok agama yang ada, sehingga
menimbulkan kecenderungan untuk
menutup diri dan saling berprasangka
antar kelompok agama tersebut.
Melalui dialog yang terbangun dengan
baik, maka konflik akan dapat dicegah
sedini mungkin, apalagi dialog pada
hakikatnya merupakan salah satu sarana
dengan tingkat signifikansi cukup tinggi
untuk meredam konflik dan menjadikan
perbedaan sebagai pengkayaan pandangan dalam merumuskan solusi terbaik bagi
persoalan yang dihadapi (Abd. A’la, 2009).
2. Peran Kolaboratif Umaro’ dan
Ulama’
Dalam konstelasi keberagaman masyarakat, khususnya di Madura, yang terus
dinamis, keberadaan pemerintah tetap
menjadi sesuatu yang strategis dalam
pengatasi potensi konflik antar paham di
Madura. Pemerintah dianggap memiliki
tanggungjawab yang besar untuk menjadi
penengah dan fasilitator dalam menjaga
keharmonisan antar paham di Madura,
sehingga keberadaannya dapat menjadi
katalisator bagi rekatnya keakraban
masyarakat antar paham yang ada di
Madura.
Dalam kerangka itu, pemerintah tetap
dianggap sebagai pihak yang paling
berwenang dalam menjaga dan memelihara potensi konflik antar paham yang
berkembang di tengah-tengah masyarakat
Madura. Sejumlah narasumber yang
diwawancarai menjelaskan bahwa ke-
Mohamad Suhaidi
beradaan pemerintah sangat penting
dalam menjembatani setiap perbedaan
yang berkembang dan menjadikannya
bagian dari kerukunan yang harmonis.
Pemerintah memiliki peran yang strategis
dalam membagun masyarakat yang
harmonis dengan kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan, sehingga
terbangun kehidupan yang egaliter dan
damai dengan perbedaan yang berkembang di tengah-tengah masyarakat,
terutama dalam merangkai harmoni di
tengah banyak paham yang berbeda. Salah
satu yang bisa dilakukan pemerintah
adalah mendorong masyarakat untuk terus
membumikan spirit kebersamaan dan
gotong royong dalam menyelesaikan
berbagai problem yang terjadi, apalagi
ketaatan seseorang pada dasarnya
ditentukan oleh sikapnya dalam bermasyarakat. Hal itu sejalan dengan
pandangan Mohammad Natsir (dalam
Charles Kurzman, 2003:68) di sebuah
tulisannya “Revolusi Indonesia” menegaskan bahwa:
“Nilai individu dan harga dari ketaatannya beragama ditentukan oleh sikapnya dalam bermasyarakat. Jika kita
ingin membangun, kita harus berupaya
keras menjadikan masyarakat secara
struktural bersikap “tasamuh” (toleransi) dan gotong royong. Secara internal,
semangat gotong royong merupakan
pupuk dalam memenuhi fardlu kifayah.
Tidak ada keraguan lagi bahwa sistem
tersebut sangat cocok dengan mentalitas bangsa Indonesia. Di dalam
masyarakat kita, Indonesia, tidak ada
kesempatan bagi sebuah sistem yang
didasarkan atas pertentangan satu
kelompok dengan kelompok lainnya,
atau satu kelas dengan lainnya untuk
muncul ke permukaan. Sistem yang
sesuai dengan mentalitas bangsa
Indonesia adalah keharmonisan hidup
sebagai suatu kelengkapan. Namun,
gotong royong juga sama baiknya.
Itulah ajaran yang dibawa oleh
Pemimpin Besar Revolusi, Nabi
Muhammad SAW”.
Disinilah posisi pemerintah (umaro’)
dan ulama memiliki memiliki tanggung
jawab yang sama untuk menyatukan
persepsi dalam membangun masyarakat
yang kondusif dengan membumikan
kembali spirit gotong royong sebagai
wujud adanya kebersamaan tanpa memandang perbedaan yang ada.
Oleh karena itu, pemerintah khususnya, dengan kewenangan yang dimiliki
bisa menggunakan kekuasaannya untuk
meredam setiap gejala ada, maka potensi
konflik antar paham, karena pemerintah
memiliki Undang-Undang yang jelas.
Artinya, pemerintah bisa meredam setiap
paham yang dianggap berlawanan dengan
Undang-Undang dan paham-paham yang
bisa memicu konflik sehingga memudarkan
kerukunan, sehingga keamanaan dan
jaminan hidup tenang bisa diberikan oleh
pemerintah. Menurut KH. Syarifuddin
Damanhuri, Ketua MUI Bangkalan:
“Memang perbedaan paham itu sudah
lumrah terjadi di Madura, ada Muhammadiyah dan NU. Dua ormas ini
memang berbeda secara fiqih, tetapi
akidahnya sama. Sejak dulu sudah
harmonis dan tidak ada konflik.
Memang, Syiah itu pada satu sisi
berbeda, tetapi masalah keyakinan
tetap kita berikan pada pemiliknya,
tetapi jangan sampai menyebarkan
aqidah yang berbeda di tengah aqidah
masyarakat Madura yang sudah
mapan, karena orang Madura bisa
memberontak. Untuk itu, agar perbedaan paham ini ke depan di Madura
tidak menjadi konflik, pmerintah harus
tetap berperan lebih proaktif untuk
memediasi setiap potensi konflik antar
paham yang akan terjadi. Jangan
sampai ada paham lain yang memaksakan aqidahnya pada pihak lain
yang sudah memiliki aqidah yang
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
17
18
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
mapan. Pemerintah yang berwenang
dan lembaga ormas Ialam bisa menjadi
bagian dalam menjembatani agar
tidak menjadi konflik horizontal yang
berbahaya (Wawancara pada tanggal
2 Juni 2014)”.
Peran mediator itu, merupakan pilihan
yang tepat bagi pemerintah untuk menjadi
bagian penting dalam setiap potensi
konflik yang akan muncul. Disinilah
ketegasan pemerintah dalam memandang
perbedaan paham yang ada sangat
diperlukan. Dengan kata lain, pemerintah
harus aktif memproteksi setiap gerakan
paham yang muncul dan bisa menimbulkan percikan konflik di tengah-tengah
masyarakat, apalagi di Madura yang
mayoritas beramaliah Islam Ahlus Sunah
Wal Jamaah dengan sangat militan.
Selain itu, peran pemerintah bisa
dilakukan dengan cara menfasilitasi
kegiatan yang mengarah pada penyadaran
masyarakat terhadap perbedaan, salah
satunya dengan cara melakukan kegiatan
pendidikan resolusi konflik yang diberikan
kepada masyarakat, sehingga masyarakat
dapat memiliki pemahaman yang universal
tentang konflik dan dampak yang akan
ditimbulkan. Penyadaran semacam itu,
memiliki makna yang sangat signifikan
dalam menata kesadaran masyarakat di
tengah kehidupan sosial yang beragam,
terutama dalam menyikapi perbedaan
antar paham.
Pemerintah harus selalu melakukan
komunikasi intensif dengan para elit
agama di Madura, bahkan harus mampu
membangun komunikasi yang aktif, karena
masyarakat Madura memiliki ketergantunggan yang sangat tinggi terhadap
elit agama. Salah satu bentuk religiusitas
masyarakat Madura adalah memiliki
ketaatan yang tinggi terhadap figur kiai dan
tokoh agama yang ada di lingkungannya.
Konsolidasi dengan para kiai menjadi
mutlak dilakukan, karena logika berfikir
mayoritas masyarakat Madura adalah
Jurnal Pelopor Pendidikan
masih menjadikan kiai sebagai teladan
kehidupan yang nyaris tanpa batas. Untuk
itu, sekeras apapun perbedaan yang
terjadi tidak akan pernah terjadi konflik
selama masih ada kiai, karena orang
Madura dalam setiap kegiatan yang akan
dilakukan tidak lepas dari upaya meminta
restu kepada figur kiai yang dihormati.
Kondisi itu terjadi karena orang
Madura memiliki falsafah hidup yang
terbangun sangat kuat, misalnya terangkum dalam konsepsi kultural masyarakat
Madura Buppa’, Bappu’, Guruh Ratoh
(Bapak, Ibu, Guru dan Pemerintah). Hal itu
memberikan indikasi nyata bahwa masyarakat Madura selalu mengutamakan
keberadaan seorang bapak, ibu, guru (elit
agama) dan pemerintah dalam menjalani
kehidupan. Oleh karena itu, hirarki sosial
tersebut dapat dijadikan sebagai rujukan
bahwa setiap perilaku sosial masyarakat
Madura tidak pernah lepas dari urutan
posisi itu, khususnya pada posisi seorang
“guruh” (elit agama). Menurut Latif (2013:
30) bahwa orang Madura pertama-tama
harus patuh dan taat pada kedua orang
tua, kemudian kepada ghuru (ulama/kiai),
dan terakhir pada rato (peminpin formal
atau biasa disebut birokrasi). Artinya,
dalam kehidupan sosial budaya orang
Madura terdapat standar referensi kepatuhan terhadap figur-figur utama secara
hirarhikal.
Oleh karena itu, kordinasi dan konsolidasi terhadap kalangan elit agama di
Madura dapat menjadi salah satu bagian
penting dalam upaya menjaga keharmonisan antar paham, sehingga potensi konflik
bisa diantisipasi. Apabila, kalangan elit
agama memiliki satu pandangan dan
persepsi dalam memahami perbedaan
paham, maka konflik tidak akan terjadi,
karena masyarakat Madura yang militan
terhadap agama tersebut, selalu patuh
terhadap apa yang disampaikan oleh para
kiai (elit agama). Artinya, aksi kekerasan
terhadap penganut paham yang lain, tidak
Mohamad Suhaidi
akan pernah terjadi selama kalangan elit
agama di Madura masih tetap memiliki
komitmen yang kuat untuk mengendalikan
masyarakatnya.
Pemerintah dengan kewenangan yang
dimiliki tetap memiliki tanggungjawab
yang besar untuk menjembatani setiap
perbedaan paham yang muncul dan mengelolanya menjadi kekuatan harmoni
yang dinamis. Rasa nyaman dan tenang
dalam menjalankan keyakinan dan paham
keagamaan setiap individu membutuhkan
perhatian dan pengawalan yang serius dari
pemerintah. Apalagi, peran pemerintah
dalam memberikan jaminan terhadap
keselamatan fisik setiap anggota masyarakat, juga menjadi tanggung jawab
pemerintah sesuai dengan ketentuan dan
hukum yang berlaku. Hal itu ditegaskan
oleh Abdurahman Wahid dalam sebuah
prolog yang ditulisnya dengan judul
“Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam”:
“........ jaminan akan keselamatan fisik
warga masyarakat mengharuskan
adanya pemerintahan berdasarkan
hukum, dengan perlakuan adil kepada
semua warga masyarakat tanpa
kecuali, sesuai dengan hak masingmasing. Hanya dengan kepastian
hukumlah sebuah masyarakat mampu
mengembangkan wawasan persamaan
hak dan derajat antara sesama warganya, sedangkan kedua jenis persamaan
itulah yang menjamin terwujudnya
keadilan sosial dalam arti sebenarbenarnya. Sedangkan kita ini mengetahui, bahwa pandangan hidup
(worldview, weltanschauung) paling
jelas universalitasnya adalah pandangan keadilan sosial” (Nurcholish Majid,
2007:3).
3. Pendidikan Multikultural dan
Resolusi Konflik
Perbedaan yang diyakini sebagai
kodrat kehidupan tidak bisa dipungkiri.
Apalagi, perbedaan itu telah menjadi ciri
khas bagi bangsa Indonesia. Berbeda
adalah identitas unik yang hidup dan
berkembang dalam wadah NKRI yang
Bhinneka Tunggal Ika. Perbedaan budaya,
etnik, sosial dan agama serta perbedaan
paham yang terjadi di Indonesia, menggambarkan tentang bangsa ini yang multikultural dan heterogen. Oleh karena itu,
dengan keragaman yang terjadi, di satu sisi
juga membuat bangsa ini memiliki potensi
konflik yang sangat besar. Sebab, keragaman yang ada, apabila tidak dikelola
dengan baik dan benar, akan menjadi
amunisi untuk saling menyerang antara
satu pihak dengan pihak yang lain.
Dalam konteks yang lebih khusus,
perbedaan agama dan paham telah
menjadi salah satu bagian dari perbedaan
yang dimiliki bangsa ini, termasuk di
Madura. Dengan karakter keagamaan yang
militan, masyarakat Madura tidak hanya
memilih satu paham keagamaan yang
tunggal, melainkan banyak paham yang
tumbuh dan berkembang di tengah-tengah
masyarakat. Sementara itu, perbedaan
paham yang dianggap melenceng jauh dari
paham yang sudah diyakini kebenarannya
oleh mayoritas Madura, kerapkali bisa
menjadi pemicu lahirnya konflik sosial yang
serius. Kekerasan terhadap penganut
paham Syiah yang terjadi di Sampang,
merupakan gambaran utuh tentang
dampak perbedaan paham yang sangat
terasa di tengah-tengah masyarakat.
Dalam konteks itu, bagi orang Madura
perbedaan paham memang bisa tidak
menjadi masalah, selama paham itu bisa
memenuhi etika dan bisa menghargai
terhadap paham mayoritas yang sudah
hidup lama di tengah-tengah masyarakat
Madura. Dengan kata lain, paham baru
yang masuk ke Madura diharapkan
bukanlah paham yang memiliki pertentangan yang sangat dahsyat, sehingga
apabila dipaksakan hanya akan menimbulkan konflik sosial. Setidakanya, itulah
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
19
20
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
substansi dari argumentasi elit Muhammadiyah di atas bahwa memang pada
dasarnya orang Madura bisa memahami
keberadaan paham lain, selama paham
lain itu bisa beradaptasi dengan paham
yang sudah jamak diyakini oleh masyarakat Madura. Sebab, perbedaan paham
yang terlalu jauh dengan paham mayoritas, apalagi paham baru tersebut tidak
hanya sekedar berbeda pandangan, tetapi
sampai pada batas menyalahkan paham
mayoritas atau bahkan menjelek-jelekkan
paham yang ada. Hal itu akan menjadi
pemicu lahirnya pertentangan sosial
atasnama agama di Madura. Kasus
penganut paham Syiah di Sampang merupakan salah satu fakta tentang adanya
penolakan yang keras dari masyarakat
sebagai penganut paham masyoritas,
yang pada gilirannya menimbulkan kekerasan.
Munculnya paham baru di Madura
dengan jalan dakwah mengejek dan
menjelekkan paham lain yang sudah ada,
memang merupakan ancaman bagi
pengembangan kehidupan yang harmonis
di Madura. Sebab, mengejek dan menjelek-jelekkan paham lain, kerapkali
dianggap sebagai paham menyimpang dan
dianggap sebagai pengganggu, sehingga
masyarakat akan menganggap layak untuk
–meminjam istilah KH. Syafraji–
“diamputasi”. Paham dengan gaya
menjelek-jelekkan paham lain ini, juga
mendapatkan respon kurang baik dari
salah seorang anggota Jemaah Tabligh
asal Sumenep, Rifa’i Hasyim mengatakan:
“Perbedaan paham apabila menjadi
modal untuk persatuan, saya kira tidak
jadi masalah. Tetapi, apabila perbedaan paham itu menjadi modal
untuk perpecahan, itu yang menjadi
masalah. Misalnya, satu paham
mengejek dan menyindir paham yang
lain atau menganggap dirinya sebagai
yaang paling benar (Wawancara pada
tanggal 25 juni 2014).
Jurnal Pelopor Pendidikan
Dalam keterkaitan itu, kesadaran
terhadap perbedaan paham serta kedewasaan dalam menempatkan perbedaan sebagai kodrat kehidupan,
merupakan langkah nyata untuk dibangun.
Truth claim dan salvation claim yang
tumbuh di tengah-tengah masyarakat yang
pada gilirannya menghasilkan keyakinan
sepihak sebagai paham yang paling benar
dan paham lain salah, merupakan problem
krusial dalam penataan kehidupan antar
paham yang harmonis. Keragaman paham
yang tumbuh dan berkembang di Madura,
di satu sisi merupakan potensi dalam
membangun masyarakat yang multikultural, tetapi pada sisi yang lain,
keragaman paham tersebut bisa menjadi
potensi konflik yang dapat merusak
hubungan antar penganut paham yang
berbeda. Apalagi, paham-paham baru yang
mulai berkembang di Madura merupakan
paham radikal dan salafi yang dianggap
mengancam terhadap paham yang diyakini
mayoritas masyarakat Madura. Potensi
konflik pada gilirannya dianggap sebagai
sesuatu yang bisa terjadi dan menjadi
bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Dalam konteks itu, pendidikan multikultural di Madura menjadi sesuatu yang
sangat urgen untuk ditanamkan secara
holistik di tengah-tengah masyarakat,
yang pada gilirannya akan mampu membentuk pola pikir dan kesadaran maksimal
masyarakat dalam menerima dan menghargai perbedaan paham sebagai bagian
dari takdir kehidupan umat beragama.
Bahkan, di tengah keragaman paham yang
ada di Madura, selain dilakukan dalam
bentuk pendidikan multikultural, pemahaman tentag resolusi konflik di
Madura juga memiliki makna yang strategis dalam memperkuat komitmen orang
Madura dalam merespon perbedaan antar
paham.
Dalam keterkaitan itu, resolusi konflik
bisa memberikan perspektif baru bagi bagi
masyarakat dalam menempatkan per-
Mohamad Suhaidi
bedaan sebagai rahmah dan dijadikan
sebagai modal untuk mengokohkan kembali kebersamaan dan toleransi antar
paham. Resolusi konflik, tidak hanya
diberikan kepada elit agama, melainkan
juga dilakukan pada tataran masyarakat
bawah, sehingga dapat terbangun dengan
kuat dari akar rumput, karena membangun
resolusi konflik itu tidak hanya menjadi
tanggung jawab pemerintah, tetapi juga
tanggung jawab semua elemen masyarakat Madura, baik kiai, pemuda, ormas
dan elemen lain yang ada di Madura.
Walaupun, untuk memulai hal itu, pemerintah yang sejatinya dapat menjadi
fasilitator dalam mengupayakan resolusi
konflik berbasis masyarakat itu.
4. Penyadaran Toleransi Melalui
Khutbah dan Kegiatan Kultural
Kesadaran masyarakat untuk menerima perbedaan antar paham memang
sangat urgen untuk dikembangkan, karena
tanpa adanya kesadaran masyarakat,
toleransi yang menjadi kekuatan tidak
akan menjadi perekat. Harmoni antar
paham dan atau antar agama sekalipun,
tidak bisa dipisahkan dengan prinsip
toleransi, karena toleransi mengidealkan
pola hubungan dimana antara yang satu
dengan yang lainnya merasa sama dan
setara, sehingga diharuskan untuk saling
menghargai, menghormati dan saling
menjaga. Kesadaran untuk menerima
perbedaan secara substansial bisa dilakukan, apabila toleransi dijadikan
sebagai spirit dalam menjalani kehidupan
yang pluralis.
Untuk membangun kesadaran toleransi
terhadap perbedaan paham, bisa dilakukan
dengan menggunakan media khutbah dan
kumpulan kultural yang memang sudah
biasa dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Khutbah yang biasanya disampaikan
oleh para kiai pada saat shalat Jumah
ataupun pada saat momentum yang lain,
seperti dalam kegiatan kumpulan bisa diisi
dengan pemahaman-pemahaman yang
bisa memberikan pencerahan terhadap
masyarakat akan pentingnya menerima
perbedaan sebagai rahmat. Menurut Rifa’i
Hasyim:
“Upaya mencegah aksi kekerasan
terhadap paham lain, bisa melalui
khutbah dan media kumpulan. Itu bisa
dilakukan untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat dalam
memahami perbedaan yang ada. Jadi,
tidak usah terpancing dengan paham
yang dikembangkan oleh paham lain.
Tidak perlu terpancing. Kita tetap saja
istiqamah menjalankan apa yang kita
yakini, apabila ada informasi yang
tidak dipahami, tolong tanyakan
kepada kiai dan ulama yang bisa
mengayomi. Untuk itu, khutbah bisa
dijadikan sebagai media untuk memberikan pemahaman dan penyadaran
terhadap masyarakat untuk belajar
menerima perbedaan dan memahami
perbedaan sebagai sesuatu yang
biasa. Tak perlu merespon perbedaan
itu dengan cara-cara yang kurang baik”
(Wawancara pada tanggal 27 juni
2014).
Dalam keterkaitan itu, khutbah dan
kegiatan kumpulan yang sudah menjadi
tradisi di kalangan masyarakat muslim
Madura, bisa memberikan makna yang
penting dalam membangun minsed
masyarakat dalam menjalankan agama
dan keberagamaan. Khutbah dan kumpulan
sejatinya tidak hanya diisi dengan
informasi-informasi keagamaan yang
memang sudah biasa disampaikan,
melainkan juga bisa diarahkan pada upaya
untuk membangun kesadaran toleransi
masyarakat yang substansial. Dengan cara
demikian, khutbah dan kumpulan bisa
menjadi media pendidikan dan pembelajaran hidup toleran yang strategis,
karena hidup toleran dan rukun pada
hakikatnya merupakan ajaran agama yang
selalu relevan dengan kehidupan masyaVolume 7, Nomor 1, Desember 2014
21
22
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
rakat yang heterogen. Menurut Imron
Rosyidi (2009:13) sikap toleransi dan
kerukunan umat beragama merupakan
salah satu ajaran Islam yang relevan
dengan kemajuan zaman yang akan selalu
masuk ke dalam ruang gerak kehidupan
manusia.
Disinilah, toleransi akan ditetapkan
sebagai bagian tidak terpisahkan dari
pluralisme kehidupan yang nyata. Tanpa
ada kesadaran hidup toleran, maka
pluralisme tidak akan mampu berdiri
kokoh. Peran kiai dan elit agama sangat
memegang peran penting, sehingga setiap
momentum Khutbah dan kegiatan lainnya
bisa dijadikan sebagai media untuk
memperkuat kesadaran tentang kemajemukan, pluralisme dan hidup dengan
semangat toleransi yang kuat. Moh. Shofan
dalam buku Jalan Ketiga Pemikiran Islam
dengan detail menjabarkan tentang posisi
pluralisme yang harus digerakan dalam
tindakan nyata. Pluralisme sebagai desain
Tuhan (design of God) harus diamalkan
berupa sikap dan tindakan yang menjunjung tinggi multikulturalisme. Namun
tidak sekedar berhenti pada wacana
pentingnya pluralisme dan multikulturalisme, akan tetapi lebih diejawantahkan
pada tataran praksis. Yakni, tidak pula
sekedar menjadi homo pluralis yang
menghargai keragaman hidup, melainkan
juga sebagai homo multikulturalis yang
berkeyakinan bahwa, relasi pluralitas yang
di dalamnya terdapat problem minoritas
vs mayoritas, harus dibangun dengan
tindakan nyata berdasarkan pengakuan
atas persamaan, kesetaraan, dan keadilan.
Dengan cara demikian, perbedaan
antar paham akan terikat oleh prinsip
toleransi yang kuat, sehingga tercipta
harmoni yang kokoh di tengah-tengah
masyarakat. Islam sebagai agama, walaupun di dalamnya masih ada perbedaan
penafsiran atas beberapa masalah, akan
tetap berpijak pada kerangka perbedaan
sebagai rahmat. Penganut agama Islam,
Jurnal Pelopor Pendidikan
walaupun berbeda paham, harus tetap
menjunjung setinggi mungkin misi dasar
Islam sebagai agama pembawa kedamaian, karena Islam bukan agama kasar dan
bukan agama yang suka kekerasan, tetapi
agama yang datang untuk melindungi
umat manusia dengan prinsip kedamaian.
D. Penutup
Konstruksi pemikiran elit agama di Madura
dalam membangun kehidupan yang harmoni
antara paham keagamaan, merupakan salah
satu komitem luhur yang sejatinya harus
dibumikan. Sebab, elit agama dalam kehidupan masyarakat Madura menjadi penentu
sosial yang sangat sentral. Anggapan masyarakat bahwa “semua bergatung pada elit
agama” termasuk dalam keberagamaan,
menjadi dasar penting bagi kalangan elit
agama di Madura untuk menjadi kekuatan guna
menciptakan kehidupan keberagaman yang
kondusif.
Dalam konteks kajian di atas, penulis dapat
mengajukan beberapa kesimpulan mendasar
tentang konstruksi pemikiran elit agama dalam
mengelola potensi perbedaan antar paham di
kalangan masyarakat Madura. Pertama,
masyarakat Madura termasuk masyarakat
yang memiliki karakter religius dan sangat
agamis. Hal itu terjadi, karena masyarakat
Madura dihuni oleh mayoritas penganut agama
Islam yang militan, terutama penganut paham
Ahlussunah wal Jamaah (NU) yang ketat. Pola
keagamaan semacam itu, pada gilirannya
menjadi karakter keagamaan yang khas, salah
satunya karekter khas keagamaan masyarakat
Madura bisa dilihat dalam kehidupan masyarakat Madura untuk memakmurkan masjid,
mushalla dan langgar yang notabene bertebaran dia seluruh penjuru Madura. Hampir
di setiap kampung dan desa terdapat bangunan masjid dan mushalla, bahkan nyaris di
setiap rumah masyarakat Madura terdapat
bangunan tempat ibadah (bisa langgar dan
mushalla ukuran mini) sebagai tempat untuk
menunaikan kewajiban beribadah sesuai
dengan ajaran agama Islam yang diyakini.
Mohamad Suhaidi
Kedua, kiai dan ulama di tengah-tengah
masyarakat Madura memiliki posisi sosial
yang sangat tinggi. Kiai dan ulama bahkan
dianggap sebagai figur sentral komunitas
masyarakat Madura, bukan hanya dalam satu
aspek saja, melainkan di semua aspek, baik
agama, sosial dan budaya. Apalagi, sosok kiai
dianggap sebagai seorang guru, dan guru bagi
orang Madura identik dengan kiai, sehingga
dalam derajat sosial orang Madura, kiai
menempati pada posisi yang teratas, sehingga
dalam kehidupan masyarakat Madura, kiai
selalu menjadi rujukan utama dalam setiap
aktivitas yang dilakukan.
Ketiga, elit agama di Madura memiliki
pandangan yang sama dalam merespon
perbedaan paham dan bahkan perbedaan
agama sebagai potensi yang harus dikelola
dengan baik. Perbedaan tidak dipahami
sebagai potensi konflik yang bisa meruntuhkan
bangunan harmoni antar agama, karena
perbedaan paham pada hakikanya berakar
pada perbedaan penafsiran, sehingga memiliki
peluang untuk berbeda. Oleh karena itu,
perbedaan paham yang ada di Madura,
dianggap sebagai dinamika keberagamaan
yang harus dikelola sebaik mungkin menjadi
kekuatan harmoni. Terdapat beberapa langkah
yang bisa dilakukan untuk mengelola potensi
perbedaan paham menjadi kekuatan di
harmoni di Madura, antara lain (a) mengintensifkan kegiatan dialog lintas paham
keagamaan, (b) memaksimalkan peran kolaboratif ulama-umaro’, (c) mengembangkan
pendidikan multikultural dan resolusi konflik,
dan (d) penyadaran signifikansi hidup toleran
melalui khutbah atau kegiatan kultural
lainnya.[]
DAFTAR PUSTAKA
A’la, Abd. 2009. Agama Tanpa Penganut :
Memudarnya Nilai-Nilai Moralitas
dan Signifikansi Pengembangan
Teologi Kritis. Yogjakarta : Kanisius.
Abdullah, M. Amin. 2011. Studi Agama
Normativitas atau Historisitas.
Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Baso, Ahmad. 2013. Agama NU untuk NKRI.
Tangerang Selatan: Pustaka Afid
Djauhari, Mohammad Tidjani. 2008. Membangun Madura. Jakarta: TAJ
Publishing.
Ismail, Faisal dkk. 1999. NU, Gusdurisme dan
Politik Kiai. Yogjakarta: Tiara Wacana.
Kurzman, Charles (ed.). 2003. Wacana Islam
Liberal : Pemikiran Islam Kontemporer
tentang Isu-Isu Global. Jakarta:
Paramadina.
Makmun, Achmad Rodli. 2006. Sunni dan
Kekuasan Politik. Ponorogo: STAIN
Ponorogo Press.
Majid, Nurcholish. 2007. Islam Universal.
Yogjakarta : Pustaka Pelajar
Naim, Ngainun. 2011. Teologi Kerukunan
Mencari Titik Temu dalam Keragaman.
Yogjakarta: Teras
Rahmat, M. Imdadun. -Khamami Zada,
“Agenda Politik Gerakan Islam Baru”
dalam Jurnal Taswirul Afkar, edisi
No.16 Tahun 2004
Rozaki, Abdur. 2004. Menabur Kharisma,
Menuai Kuasa : Kiprah Kiai dan Blater
sebagai Rezim Kembar di Madura.
Yogjakarta: Pustaka Marwa, 2004
Sodiqin, Mochammad Ali. 2013. Muhammadiyah itu NU! Dokumen Fiqih yang
Terlupakani. Jakarta: Naoura Boks.
Sosyidi, Imron. 2009. Pendidikan Berparadigma Insklusif. Malang: UIN
Malang Press.
Volume 7, Nomor 1, Desember 2014
23
24
HARMONI ANTAR PPAHAM KEAGAMAAN
Shofan, Moh. Jalan Ketiga Pemikiran Islam :
Mencari Solusi Perdebatan Tradisionalisme dan Liberalisme. Yogjakarta :
IRCiSoD
Zulkarnain, Iskandar. 2005. Gerakan
Ahmadiyah di Indonesia. Yogjakarta:
LKiS.
Jurnal Pelopor Pendidikan
Download