jurnal final - Pusdalisbang - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

advertisement
dari
redaksi
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Para pembaca yang berbahagia, pada tahun 2013, UPTB
Pusdalisbang Jawa Barat sebagai unit pelaksana teknis Bappeda
Provinsi Jawa Barat meluncurkan JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA BARAT sebagai publikasi baru
yang diterbitkan secara periodik (2 kali dalam 1 tahun) untuk
disebarluaskan kepada masyarakat luas terutama organisasi
perangkat daerah sebagai masukan dalam perencanaan
pembangunan di sektor masing-masing. Jurnal ini berfokus pada
penerbitan artikel singkat dari para Mahasiswa, Akademisi,
Peneliti dan pemerhati dalam kajian pembangunan daerah
melalui hasil penelitian mereka yang diharapkan dapat diakses
untuk semua pemangku kepentingan. Artikel yang dimuat dalam
jurnal ini disajikan dengan singkat dalam bentuk karya ilmiah
dengan menyampaikan ide segar untuk pembacanya.
ISSN No. 2302 - 9005
Tujuannya untuk mempublikasiJawa Barat
kan hasil penelitian atau kerangka
JURNAL
konseptual yang terkait dengan
Analisis Kebijakan Pembangunan
pembangunan dan kebijakan
Provinsi Jawa Barat
publik. Cakupan topik dalam
JURNAL ANALISIS KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA
BARAT Edisi pertama ini terdiri
dari: Urgensi Referensi Geospasial
Tunggal dalam Penyelenggaraan
Informasi Geospasial, Inovasi
Pemerintah Daerah dalam Rangka
Perlindu-ngan Tenaga Kerja Luar
Hubungan Kerja (Tenaga Kerja
Sektor Informal), Pertumbuhan Manusia dan Pertumbuhan
Ekonomi Antar Daerah di Indonesia, dan Analisis Spasial pada
Kualitas Pendidikan di Kota Bandung berdasarkan Nilai Ujian
Nasional SMP.
satu
data
Pembangunan
Desember 2013
Pusdalisbang
Bappeda Provinsi Jawa Barat
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada
penulis atas kontribusinya. Kami tunggu artikel berikutnya kepada
para penulis atas kontribusinya. Kami tunggu artikel berikutnya di
terbitan I Tahun 2014. Semoga tulisan yang disajikan dalam jurnal
Analisis Kebijakan Pembangunan Provinsi Jawa Barat menjadi
sumbangan bagi pengetahuan dan perencanaan berbasis
pengetahuan (knowledge based organization). Selamat membaca
dan tetap berkontribusi untuk mewujudkan perencanaan
pembangunan yang bermutu dan akuntabel di Jawa Barat.
JURNAL
ANALISIS KEBIJAKAN
PEMBANGUNAN
Provinsi Jawa Barat
Jl. Sangkuriang No.2 Bandung
TERBIT BERDASARKAN SK.LIPI
No. 005.251/Jl.3.2/SK.ISSN/2012.10
ISSN No. 2302 - 9005
Penanggung Jawab
Prof. Dr. Deny Juanda Puradimaja, DEA
Dewan Redaksi
Ketua: Ir. Rudi Mahmud Zafrullah, MSP.,M.T
Sekretaris: Ani Widiani, ST, MUT
Mitra Bestari
Prof. Dr. Sutyastie Soemitro Remi, SE, MS
Nugroho J. Setiadi, Ph.D
Ir. Teti Armiati Argo, M.E.S., Ph.D
Penyunting
Ir. H. Tresna Subarna, M.M
Ir. Agus Riswandi,M.Si
Mahensa Bilqys, SSi, MT
Joe Monang,ST, MA
Sekretariat
Widhy Kurniatun, ST, M.Si
Ferdian Gumiwa, S.P
satu
data
Pembangunan
Jawa Barat
ISSN No. 2302 - 9005
Daftar Isi
Daerah dalam Rangka Perlindungan Tenaga Kerja
2 Inovasi Pemerintah
Luar Hubungan Kerja (Tenaga Kerja Sektor Informal)
Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi
13 Pertumbuhan Modal
antar Daerah di Indonesia
23
Pemetaan Kualitas Pendidikan di Kota Bandung melalui Analisis
Spasial Berdasarkan Nilai Ujian Nasional SMP
Tunggal dalam Penyelenggaraan
36 Urgensi Referensi Geospasial
Informasi Geospasial
1
I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Inovasi Pemerintah Daerah dalam rangka
Perlindungan Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja
(Tenaga Kerja Sektor Informal)
Beberapa Pengalaman di Provinsi Jawa Barat
Ir. Marwini, MT
Kepala Bagian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Biro Pengembangan Sosial Setda Provinsi Jawa Barat
ABSTRAK
Provinsi Jawa Barat adalah salah satu bagian dari Negara Indonesia yang
berpenduduk paling padat (44,9 juta jiwa) dan mempunyai 26 daerah otonom berupa
16 Kabupaten dan 10 Kota. Sektor penghela pertumbuhan dan pembangunan ekonomi
di Jawa Barat adalah Industri Manufaktur, Perdagangan dan Agribisnis. Jumlah Tenaga
Kerja di Jawa Barat adalah 18.173.043 jiwa, dimana sebagian tenaga kerja tersebut
terserap di sector formal (bekerja dalam hubungan kerja), yaitu 6.567.738 orang dan
mayoritas terserap di sektor informal (bekerja di luar hubungan kerja), yaitu 11.605.305
orang.
Tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja pada umumnya
bekerja pada usaha-usaha informal yang selama ini dianggap sebagai katup
pengamanan karena mampu menyerap tenaga kerja lebih besar yang tidak terserap
pada usaha-usaha ekonomi formal. Namun ironisnya kelompok ini masih sangat minim
mendapatkan perlindungan sosial dalam bentuk Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
Upaya peningkatan perlindungan sosial bagi tenaga kerja luar hubungan kerja
atau tenaga kerja informal menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah sejalan
dengan akan segera dilaksanakannya secara kongkret Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
Kreatifitas Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam melakukan inovasi baik
dalam bentuk penyusunan regulasi, penyediaan lembaga dan SDM pelayan publik,
pengalokasian anggaran dan pemberdayaan stake holder, adalah sebagian dari strategi
dan langkah kongkret dalam mewujudkan perlindungan sosial secara menyeluruh
(universal coverage) bagi tenaga kerja khususnya tenaga sektor informal adalah inti dari
makalah ini.
Kata kunci : inovasi pemerintah daerah, Jaminan Sosial Tenaga Kerja, Sektor Informal.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
2
ABSTRACT
West Java Province is a part of Indonesian country having most dense
population (44.9 million) and it has 26 autonomous areas in the form of 16 regencies and
10 cities. The sector of driving the economic growth and development in West Java
Province is Manufacture Industry, Trade and Agribusiness. The number of manpower in
West Java is 18,173,043, where a part of the manpower has been absorbed in formal
sector (worked in a working relation): 6,567,738 and the majority has been absorbed at
informal sector (worked outside of the working relation): 11,605,305.
The manpower doing the work outside of the working relation generally work
in the informal businesses which has been so far considered as security valve because of
the ability to to absorb larger manpower that has been not absorbed at the formal
economic efforts. However, ironically this group is still highly minim in getting the social
protection in the form of Worker Social Security.
The attempt of enhancing the social protection for the manpower that worked outside of
the working relationship or informal worker becomes a serious attention got the local
government in line with to be immediately carried out concretely The Law Number 40 of
2004 concerning National Social Security System (SJSN and The Law Number 24 of 2011
concerning Social Security Performance Board (BPJS).
The various strategies and innovations of Local Government in the region of
West Java Province in attempting the realized social protection for all manpower
specially the manpower of informal sector is the core of this paper.
Keywords: local-governmental innovation, Worker Social Security, Informal Sector
3
I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Latar Belakang Masalah
Kebijakan desentralisasi dan otonomi
daerah di Indonesia yang mengatur hubungan
wewenang dan keuangan antara pemerintah
pusat dan daerah adalah wujud pengamalan
amanah konstitusi yang tercantum dalam Pasal
18 A UUD 1945. Lebih jauh lagi otonomi daerah
didefinisikan dalam Undang-undang Nomor 32
Tahun 2004 sebagai hak, wewenang dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
Keberhasilan implementasi kebijakan
desentralisasi dan otonomi daerah ditentukan
oleh berbagai faktor, salah satu diantaranya
adalah kinerja dari Pemerintah Daerah yang
terukur melalui kemampuan daerah mengatur
dan mengurus rumah tangganya sendiri.
Implikasi dari kebijakan desentralisasi adalah
lahirnya berbagai kreatifitas Pemerintah Daerah
Otonom melakukan inovasi baik dalam
penyusunan regulasi, penyediaan lembaga dan
SDM pelayan publik, pengalokasian anggaran dan
pemberdayaan stake holder, adalah sebagian
dari strategi dan langkah kongkret dalam
mewujudkan tujuan kebijakan desentralisasi dan
otonomi daerah dalam menyelesaikan
permasalahan di daerahnya.
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial
telah menjadi agenda nasional seiring dengan
pelaksanaan reformasi untuk mewujudkan tata
kelola pemerintahan yang baik (good governance) yang didasari oleh kesadaran untuk
mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan
masyarakat. Penyelenggaraan sistem jaminan
sosial di era desentralisasi menjadi salah satu
prioritas pemerintah daerah otonom untuk
mewujudkan universal coverage bagi masyarakat
di daerahnya, sebagai akibat dari kompetisi global
yang telah meyakinkan pemerintah untuk
mempercepat pembangunan sistem jaminan
sosial yang adekuat, terpadu dan terintegrasi
dengan agenda reformasi pembangunan terutama di bidang ekonomi, kesehatan dan
pendidikan. Bahkan diyakini pula bahwa negara
yang mempunyai sistem jaminan soasial yang
adekuat mampu berperan aktif di era persaingan
global dan mampu menciptakan kedamaian dan
rasa aman bagi masyarakatnya.
Penyelenggaraan sistem jaminan sosial
bagi tenaga kerja sebagai komponen masyarakat
yang produktif, adalah inti dari proses panjang
perwujudan universal coverage (perlindungan
menyeluruh) bagi seluruh warga negara. Penyelenggaraan jaminan Sosial Tenaga Kerja yang
adekuat akan memacu produktifitas dan pertumbuhan ekonomi yang juga berimplikasi
kepada terwujudnya stabilitas, kondusifitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat
Di Indonesia, meskipun Sistem Jaminan
Sosial Nasional yang diatur dengan Undangundang Nomor 40 tahun 2004 belum sepenuhnya
dapat terlaksana dengan kongkret, namun seiring
dengan pelaksanaan kebijakan desentralisasi
maka implementasi SJSN dalam tataran praktek di
daerah hendaknya dapat diakselerasi dan dilaksanakan dengan memperhatikan karakteristik,
kemampuan dan kemauan masing-masing
daerah. Kreatifitas pemerintah daerah melakukan berbagai inovasi dalam pembuatan
peraturan pendukung, pembentukan lembaga
penyelenggara yang efektif, penyediaan biaya /
anggaran yang layak dan startegis serta
pengembangan sistem dan SDM pelayan publik
yang kredibel dan akuntabel, yang mampu
mendukung best practiced penyelenggaraan
Sistem Jaminan Sosial di daerahnya adalah kunci
dari terwujudnya universal coverage bagi tenaga
kerja dan masyarakat secara menyeluruh.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
4
Perumusan Masalah
Masih sangat rendahnya cakupan
kepesertaan Jamsostek bagi tenaga kerja luar
hubungan kerja atau tenaga kerja sektor informal
di Jawa Barat, perlu mendapat perhatian serius,
mengingat jumlah tenaga kerja sektor informal
ini mendominasi dalam mapping tenaga kerja.
Perlu disusun strategi dan langkah-langkah
terobosan oleh pemerintah daerah untuk
mengakselesrasi pemenuhan perlindungan
terhadap tenaga kerja sector informal tersebut
melalui kepesertaan program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja (Jamsostek) bagi tenaga kerja luar
hubungan kerja (TKLHK).
Metode Penelitian
Metode penulisan yang digunakan
dalam penyusunan makalah ini adalah dengan
mengumpulkan materi-materi yang berkaitan
dengan pokok bahasan, dimana materi-materi
tersebut dikumpulkan dari berbagai media
seperti, buku-buku rujukan, artikel-artikel, dan
melalui media jaringan internet.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
A. Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga
Kerja di Provinsi Jawa Barat.
Provinsi Jawa Barat adalah salah
satu provinsi yang berlokasi paling dekat
dengan ibu kota Jakarta, merupakan propinsi dengan jumlah penduduk
terbesar (44,9 juta jiwa) dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia.
Hal ini tentu saja berimplikasi terhadap
tingginya tingkat permasalahan bidang
sosial, kependudukan dan ketenagakerjaan yang dihadapi oleh pemerintah
daerahnya.
Jumlah penduduk yang besar
tersebut tersebar di 26 kabupaten dan
kota. Jumlah penduduk yang bekerja
adalah 18.173.043 orang dan jumlah
penganggur adalah 1.982.448 orang (9.84
%). Penduduk yang yang bekerja tersebut
tersebar pada 9 lapangan kerja utama
sebagaimana tertera pada Tabel 1.
Tabel 1.
Penduduk Usia 15 Tahun ke atas yang Bekerja Menurut Lapangan Kerja Utama
pada Juni 2012.
Lapangan Kerja Utama
1. Pertanian, Perkebunan, Kehutan
dan Perburuan
2. Pertambangan dan Penggalian
Jumlah
an
4.000.956
22.02
152.523
0.84
3.494.740
19.23
46.506
0.26
5. Konstruksi
1.170.065
6.44
6. Perdagangan, rumah makan dan jasa
akomodasi
7. Transportasi, pergudangan dan
komunikasi
8. Keuangan, real estate, Usaha
persewaan dan Jasa perusahaan
9. Jasa Kemasyarakatan, sosial dan
perseorangan
4.863.107
26.76
1.276.468
7.02
408.129
2.25
2.760.549
15.19
3. Industri
4. Listrik, Gas dan Air
Sumber BPS – Juni 2012
5
Persentase
I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Berdasarkan status pekerjaannya, dari
18.173.043 orang penduduk yang bekerja,
sebanyak 6.054.122 orang (33.31 %) bekerja
sebagai buruh atau karyawan, diikuti berusaha
sendiri sebanyak 4.583.528 orang (25.22 %), dan
berusaha dibantu buruh tidak tetap sebanyak
2.684.418 orang (14.77 %). Sedangkan yang
terkecil komposisinya adalah berusaha
dibantu buruh tetap yaitu hanya 514.154 orang
(2.83 %).
Kegiatan usaha formal dan informal
dapat dilihat berdasarkan status pekerjaan. Dari
tujuh katagori pekerjaan utama, pekerja formal
hanya terdiri dari katagori berusaha dibantu
buruh tetap dan katagori buruh/ karyawan, dimana dalam dua katagori tersebut diberlakukan
norma hubungan kerja antara pemberi kerja dan
penerima kerja atau bekerja dalam hubungan
kerja. Jika dilihat dari status pekerjaan berdasarkan klasifikasi formal (bekerja dalam
hubungan kerja) ada sebanyak 6.567.738 orang
(36, 14 %), sedangkan tenaga kerja yang bekerja
pada kegiatan informal (bekerja di luar hubungan
kerja) ada sebanyak 11.605.305 orang ( 63,86 % ).
Kaitannya dengan tingkat perlindungan
tenaga kerja melalui penyelenggara program
jaminan sosial yang merupakan salah satu
tangung jawab dan kewajiban Negara untuk
memberikan perlindungan sosial ekonomi
kepada masyarakat, di Jawa Barat dilaksanakan
berdasarkan funded social security, yaitu jaminan
sosial yang didanai oleh peserta dan masih
terbatas pada masyarakat pekerja di sektor
formal, sedangkan bagi pekerja di sektor informal
masih bersifat sukarela.
Cakupan perlindungan tenaga kerja
formal yang telah mengikuti program jaminan
sosial tenaga kerja di Provinsi Jawa Barat adalah
2.565.535 orang (39.06 %) dibandingkan dengan
jumlah total tenaga kerja formal yang ada yaitu
6.567.738 orang. Sedangkan cakupan perlindungan bagi tenaga kerja informal yang bekerja di
luar hubungan kerja adalah 59.522 orang ( 0.51 %
) dari total tenaga kerja informal yang ada.
B.Perlindungan Tenaga Kerja Luar
Hubungan Kerja (TKLHK)
di Provinsi Jawa Barat.
Masih rendahnya cakupan perlindungan
tenaga kerja formal dan tenaga kerja informal di
Provinsi Jawa Barat antara lain disebabkan
program jaminan sosial tenaga kerja yang diatur
dalam Undang-Undang Nomor 3 tahun 1992
memuat ketentuan tentang jaminan sosial
tenaga kerja bagi semua pekerja. Tetapi dalam
pelaksanaannya dibedakan antara tenaga kerja
yang melakukan pekerjaan di dalam hubungan
kerja (tenaga kerja formal) dan tenaga kerja
di luar hubungan kerja (tenaga kerja informal)
yang masing- masing diaturoleh Peraturan
Pemerintah.
Tetapi sampai saat ini baru dapat
diterbitkan Peraturan Pemerintah yang mengatur
penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja bagi
tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di dalam
hubungan kerja. Peraturan Pemerintah yang
mengatur Jaminan Sosial bagi tenaga kerja yang
melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja
belum dapat diterbitkan sehingga untuk mengisi
kekosongan hukum diterbitkan Peraturan
Menteri Tenaga Kerja Kerja dan Transmigrasi
Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja bagi tenaga kerja yang melakukan pekerjaan
di luar hubungan kerja.
Tenaga Kerja yang melakukan pekerjaan
di luar hubungan kerja adalah tenaga kerja yang
melakukan kegiatan ekonomi tanpa dibantu
orang lain. Orang yang berusaha sendiri atau
tenaga kerja yang melakukan pekerjaan di luar
hubungan kerja pada umumnya melakukan
usaha-usaha pada ekonomi informal. Usaha
ekonomi informal selama ini dianggap telah
berjasa sebagai katub pengaman karena mampu
menyerap tenaga kerja yang tidak terserap oleh
usaha-usaha ekonomi
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
6
formal. Usaha-usaha ekonomi informal tersebut
mudah dimasuki oleh tenaga kerja karena pada
umumnya tidak mensyaratkan tingkat pendidikan
dan keterampilan tertentu (misalnya profesi
supir, tukang ojek, nelayan, tukang becak, PKL,
petani dsb).
Pada umumnya tenaga kerja pada
usaha-usaha ekonomi informal tersebut belum
terjangkau oleh upaya - upaya pembinaan
d a n p e r l i n d u n ga n t e n a ga ke r j a y a n g
berkesinambungan. Sedangkan ciri-ciri usahausaha ekonomi informal ini antara lain: berskala
mikro dengan ukuran kecil, menggunakan
teknologi sederhana/rendah, menghasilkan
barang dan/atau jasa dengan kualitas relatif
rendah, tempat usaha tidak tetap, mobilitas
tenaga kerja sangat tinggi, kelangsungan usaha
tidak terjamin serta jam kerja tidak teratur.
Tenaga Kerja di luar hubungan kerja juga
mempunyai karakteristik seperti resiko
kecelakaan kerja tinggi, belum di cover oleh
asuransi, belum terorganisir serta produktivitas
dan penghasilan tidak tetap.
Menurut Undang-Undang Nomor 3
Tahun 1992, program jaminan sosial tenaga kerja
adalah suatu perlindungan bagi tenaga kerja
dalam bentuk santunan berupa uang sebagai
pengganti sebagian penghasilan yang hilang atau
berkurang dan pelayanan sebagai akibat
peristiwa atau keadaan yang dialami oleh tenaga
kerja berupa kecelakaan kerja, sakit, hamil,
bersalin, hari tua dan meninggal dunia. Program
Jaminan Sosial tenaga kerja meliputi Jaminan
Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan
Hari Tua serta Jaminan Pemeliharaan Kesehatan.
Bagi tenaga kerja yang melakukan
pekerjaan di luar hubungan kerja, kemampuan
untuk membayar iuran terbatas karena
penghasilan yang tidak teratur dan ada yang
penghasilannya tergantung pada musim. Oleh
sebab itu tenaga kerja yang melakukan
perkerjaan di luar hubungan kerja tidak mungkin
diwajibkan untuk mengikuti seluruh program
Jaminan Sosial Tenaga kerja sesuai dengan
ketentuan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992.
7
I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Sehubungan dengan keterbatasan
kemampuan tenaga kerja yang melakukan
pekerjaan di luar hubungan kerja dalam
membayar iuran, maka Program Jaminan
Sosial Tenaga Kerja bagi para tenaga kerja yang
melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja
dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan membayar iuran
dari tenaga kerja yang bersangkutan.
Badan penyelenggara program
Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi tenaga kerja
yang melakukan pekerjaan di luar hubungan
kerja adalah PT. Jamsostek (Persero).
Sedangkan kepesertaannya adalah setiap
tenaga kerja di luar hubungan kerja yang
berusia maksimal 55 tahun dan kepesertaan
ini harus dilakukan secara sukarela oleh setiap
tenaga kerja yang bersangkutan
Iuran program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja di luar hubungan kerja ditetapkan
berdasarkan nilai nominal tertentu atau
sekurang-kurangnya setara dengan Upah
Minimum Kabupaten/Kota setempat. Untuk
menghitung besarnya iuran program
Jamsostek sebagai berikut:
1. Jaminan Kecelakaan Kerja sebesar 1 % dari
penghasilan sebulan.
2. Jaminan Kematian sebesar 2% dari pengha silan sebulan.
3. Jaminan Hari Tua sebesar 0,3% dari penghasilan sebulan.
4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan sebesar
6% dari penghasilan sebulan bagi tenaga
kerja yang sudah berkeluarga, dan 3% dari
penghasilan sebulan bagi tenaga kerja
lajang.
Pembayaran iuran dapat dilakukan
melalui Wadah/Kelompok maupun dilakukan secara langsung oleh peserta setiap bulan
atau setiap tiga bulan. Penanggung Jawab
Wadah/Kelompok adalah pihak yang ditunjuk
oleh peserta untuk mewakili peserta dalam
hal menyelesaikan hak dan kewajiban para
peserta yang meliputi pengumpulan iuran,
penyetoran iuran dan pengurusan klaim.
A. Inovasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
dalam rangka Perlindungan Tenaga Kerja
Informal di Provinsi Jawa Barat.
Sebagai wujud pelaksanaan kebijakan
desentralisasi di Provinsi Jawa Barat, telah
mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat
untuk lebih memperhatikan dan memprioritaskan cakupan perlindungan menyeluruh
terhadap tenaga kerja sebagai tulang punggung
pertumbuhan ekonomi daerah. Perwujudan
cakupan perlindungan tenaga kerja secara
menyeluruh tersebut dapat diakselerasi dengan
melakukan berbagai inovasi sebagai langkah
terobosan. Inovasi sektor publik yang dilakukan
antara lain melalui:
1.Memacu komitmen dan kebijakan
Pemerintah Daerah dalam mewujudkan
pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.
Komitmen dan kebijakan untuk memenuhi
hak-hak dasar masyarakat dilakukan melalui
alokasi anggaran kesehatan (10 %), pendidikan
(20 %) dan penciptaan kesempatan kerja yang
besar ( 1,8 juta) yang berimplikasi kepada
peningkatan kemampuan berusaha dan tingkat
pendapatan masyarakat, sehingga masyarakat
yang bekerja baik di kegiatan usaha formal dan
informal akan mampu melakukan perlindungan
dirinya melalui sistem jaminan sosial tenaga kerja
yang ada.
2. Pembuatan produk hukum yang menjadi
dasar Pelaksanaan Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Luar Hubungan Kerja di Daerah.
Peraturan yang mengatur tentang praktek
penyelenggaraan jaminan sosial bagi tenaga kerja
yang melakukan pekerjaan di luar hubungan kerja
masih belum lengkap, sebagai terobosan untuk
mengakselerasi implementasi penyelenggaraan
jaminan sosial bagi tenaga kerja yang melakukan
pekerjaan di luar hubungan kerja tersebut di
beberapa Kabupaten dan Kota serta Provinsi Jawa
Barat telah dibuat beberapa produk hukum yang
dijadikan acuan operasionalnya.
Pembuatan produk hukum dimaksud antara
lain :
Ÿ Diawali dengan penanda-tanganan naskah
kesepahaman (MOU) antara kepala daerah
(Gubernur/ Bupati/ Walikota) dengan Direktur
Utama PT. Jamsostek Persero atau Kepala Kanwil
IV Jawa Barat – Banten PT. Jamsostek Persero
tentang pelaksanaan jaminan sosial bagi tenaga
kerja luar hubungan kerja lingkup Provinsi atau
Kabupaten dan Kota yang bersangkutan. Kepala
Daerah yang telah melaksanakan MOU antara lain
adalah : Bupati Purwakarta, Bupati Majalengka,
Walikota Bandung, dan Bupati Subang.
Ÿ Sebagai dasar hukum operasionalisasi
program dan juga dasar pembiayaannya melalui
dana APBD, maka MOU tersebut ditindak lanjuti
dengan Peraturan Kepala Daerah (Gubernur/
Bupati/ Walikota) berupa Surat Edaran, Instruksi,
Keputusan atau Peraturan).
Ÿ Untuk kesinambungan pelaksanaan program
hasil inovasi dan inisiasi pemerintah daerah
tersebut haruslah mendapat dukungan dan
persetujuan pihak legislatif, maka lebih lanjut
dibuatlah produk hukum berupa Peraturan
Daerah (Perda). Pemerintah Provinsi Jawa Barat
telah mengajukan Rancangan Perda tentang
Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Jawa Barat yang akan disahkan pada tahun 2013
ini. Rancangan Perda tersebut juga memuat
pengaturan di tingkat lokal Jawa Barat tentang
jaminan pemeliharan kesehatan yang menjadi
salah satu bagian dari pelaksanaan jaminan sosial
bagi tenaga kerja sektor informak (tenaga kerja
luar hubungan kerja).
3. Mapping dinamika Tenaga Kerja Luar
Hubungan Kerja di Daerah.
Membuat data base yang akurat dan dinamis,
terevaluasi dan terbarukan, sehingga dinamika
kondisi target TKLHK yang menjadi sasaran
cakupan perlindungan akurat dan dapat
dilakukan intervensi yang tepat pula untuk
mewujudkan perlindungan menyeluruh terhadap
tenaga kerja luar hubungan kerja dimaksud.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
8
Secara garis besar mapping dinamika TKLHK di Jawa Barat adalah sebagai berikut:
No.
1.
Kriteria Tenaga Kerja
Tenaga Kerja Formal
3.
6.567.738
Skema Jaminan Sosial
(Perlindungan Tenaga Kerja)
Jamsostek, Asuransi Perlindungan
diri, Askes, Asabri, dan Taspen
· Pegawai Negeri Sipil
364.188
Askes dan Taspen
· Pengusaha (berkerja dibantu
buruh/karyawan tetap)
514.154
Jamsostek, Asuransi Perlindungan
diri
· Bekerja sebagai Buruh / Karyawan
2.
Jumlah
Tenaga Kerja Informal
6.054.122
11.605.305
Jamsostek
Jamsostek, Askesos, Jamkesda
· TK Informal Miskin (Pendapatan Rata rata < 230.445 rupiah / bulan
4.650.810
Jamkesda, Jamsostek
· TK Informal Potensial (Pendapatan Ratarata > 230.445 rupiah / bulan
6.954.495
Jamsostek,
· Pekerja Sosial, Perangkat Desa, Relawan
dll
26.210
·
·
Masyarakat Miskin
Penganggur
2.210.360
Askesos, Jamsostek
Jamkesmas, Jamkesda
1.982.448
Lebih lanjut perlu dibuat suatu model sistem yang mampu menggambarkan dinamika
mapping TKLHK tersebut, sehingga setiap saat dapat dipantau tingkat pencapaian cakupan
perlindungan tenaga kerja yang ada melalui intervensi sistem jaminan sosial yang diterapkan, dan
pemenuhan target sasaran akhir yaitu terwujudnya perlindungan sosial tenaga kerja dan
masyarakat menyeluruh (universal coverage) dapat diprediksi dengan akurat.
9
I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
4. Pembentukan atau optimalisasi Lembaga/ Wadah/ Kelompok TKLHK
Penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja luar hubungan kerja dilaksanakan oleh PT.
Jamsostek Persero melalui wadah organisasi TKLHK yang bersangkutan. Sebagian besar tenaga kerja
luar hubungan kerja yang bekerja pada kegiatan informal belum terorganisir dalam wadah / asosiasi /
serikat pekerja, mereka biasa bekerja sendiri-sendiri. Untuk meningkatkan cakupan jaminan sosial
tenaga kerja luar hubungan kerja tersebut telah dilakukan pembentukan dan pembinaan wadah /
organisasi TKLHK tersebut.
Beberapa wadah organisasi TKLHK yang dibentuk dan dibina di lingkup Provinsi Jawa Barat
antara lain adalah
NO
1.
2
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15
16.
17.
18.
19.
20.
21.
NAMA ORGANISASI/ WADAH
JENIS USAHA MANDIRI
Dpp. Serikat Pekerja Sektor Informa Indonesia (Spindo)
Jawa Barat
Forum Pekerja Mandiri Jawa Barat
Multi Sektor
Asosiasi Guru Honorer PGRI Bandung
Forum Pegawai Organik Non PNS OPD Provinsi Dan
Kabupaten / Kota
Paguyuban Satpam Non BUJP (Badan Usaha Jasa
Pengamanan)
Relawan Pemadam Kebakaran
Relawan Penanggulangan Bencana
Relawan Palang Merah Indonesia (PMI)
Pengurus Kwartir Daerah Dan Kwartir Cabang Pramuka
Jawa Barat
Asosiasi Kontributor Media Masa Wilayah Bandung
Asosiasi Tukang Foto Keliling Kota
Asosiasi Pekerja Dan Pengusaha Video Shooting Bandung
Himpunan Pramuwisata Indonesia
Paguyuban Dinas Luar Travel Bandung
Asosiasi Tukang Pijit Keliling
Paguyuban Tukang Sampah
Ikatan Ahli Boga Jawa Barat
Asosiasi Industri Kecil Menengah Agro (Aikma) Jawa Barat
Pendamping P3UKM Jawa Barat
Paguyuban Pedagang Bakso Keliling.
Paguyuban Tukang Ojek
Ukm Pangan, Tpt, Kerajinan, Logam Dan
Lingkup Pertanian
Guru Non Pns
TKK, Pegawai Kontrak pada
Pemerintah Daerah
Satpam Sekolah
Pemadam Kebakaran
Penaggulangan Bencana
PMI
Pramuka
Media Masa Dan Media Elektronik
Fotografi
Pembuatan Film
Pariwisata
Pariwisata
Jasa Pijit
Pembuangan Sampah
Tata Boga
IKM Pangan
Pendampingan Usaha
Produksi Bakso
Transportasi
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
10
5.
Strategi Pengalokasian Anggaran
Mengacu kepada Kebijakan Umum Belanja
Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2013, ada 14
(empat belas) alokasi anggaran yang harus
dipenuhi dengan total anggaran sebesar 13,566
Trilyun Rupiah. Proporsi alokasi anggaran utama
adalah untuk pembangunan bidang pendidikan
20 %, bidang kesehatan 10 %, pembangunan
infrastruktur 10 %, pembangunan ekonomi dan
peningkatan daya beli masyarakat sebesar 10 %.
Alokasi anggaran untuk bantuan keuangan
kabupaten/kota, bantuan desa, hibah, bantuan
sosial dan subsidi sebesar 32,50 %.
Alokasi anggaran utama ditujukan untuk
peningkatan Indeks Pembangunan Manusia
(IPM) Jawa Barat melalui pembangunan bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan
infrastruktur akan berimplikasi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat. Sedangkan
alokasi anggaran untuk bantuan keuangan
kabupaten/kota, bantuan desa, hibah, bantuan
sosial dan subsidi sebagian dapat dimanfaatkan
untuk subsidi atau insentif bagi pembayaran
iuran jaminan sosial bagi tenaga kerja luar
hubungan kerja yang bekerja pada kegiatan
informal dengan pendapatan yang tidak tetap.
Alokasi anggaran untuk bantuan keuangan
kabupaten/kota, bantuan desa, hibah, bantuan
sosial dan subsidi yang dimanfaatkan untuk
subsidi atau insentif bagi pembayaran iuran
jaminan sosial bagi tenaga kerja luar hubungan
kerja ditujukan untuk memotivasi para TKLHK
tersebut agar mempunyai kesadaran, kemauan
dan mampu untuk menyisihkan sebagian pendapatannya yang digunakan untuk perlindungan
dirinya dan usahanya melalui jaminan sosial
tenaga kerja luar hubungan kerja, biasanya
diberikan dalam satu termin selama 10 (sepuluh)
bulan dan selanjutnya menjadi kewajiban dari
TKLHK yang bersangkutan untuk melanjutkan
pembayaran iuran dan kepesertaan jaminan
sosial TKLHK tersebut.
11 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Sistem subsidi atau insentif iuran tersebut
diinisiasi dan telah dilaksanakan oleh
Kemenakertrans dan Kemensos dan beberapa
kabupaten / kota di Jawa Barat, antara lain :
Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Majalengka, Kota Bandung, dan Kabupaten Tasikmalaya.
6. Peningkatan peran dan kesadaran
masyarakat.
Kelompok masyarakat dengan kesadaran
sosial tinggi terdapat di Jawa Barat. Sejak
pemberlakuan kebijakan desentralisasi,
dorongan dari kalangan masyarakat untuk
penyelenggaraan jaminan sosial bagi seluruh
warga sangat kuat. Dinamika kelompok
masyarakat ini, marak dengan tumbuhnya
berbagai kelompok penekan seperti akademisi, mahasiswa, wartawan, serikat
pekerja/serikat buruh, LSM dan ormas lainnya.
Tumbuhnya kelompok-kelompok ini menjadikan control terhadap pemerintah kuat dan
perubahan terhadap kebijakan juga lebih
cepat terjadi. Melalui kelompok-kelompok
ini jugalah yang mendorong deseminasi
pemikiran, cara-pandang dan kesadaran
masyarakat terhadap perlunya penyelenggaraan jaminan sosial secara menyeluruh
kepada semua warga masyarakat, membuahkan hasil lebih cepat.
Kesimpulan
1. Kebijakan desentralisasi masih membuahkan kesenjangan dan kekosongan aturan
dalam pelaksanaan beberapa kebijakan
pemerintah pusat di dareah.
2.
Pelaksanaan kebijakan desentralisasi
menuntut dan mendorong Pemerintah
Daerah untuk lebih kreatif dan inovatif
dalam membuat berbagai terobosan yang
mampu mengakselersasi terwujudnya
tata kelola pemerintahan yang baik,
pelayanan publik yang berkualitas dan
tingkat kesejahteraan masyarakat yang
tinggi, sebagai tujuan utama kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah.
3. Akselerasi Pemenuhan Jaminan Sosial Tenaga Kerja secara menyeluruh bagi Tenaga Kerja Formal
dan Informal adalah salah satu upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menyelenggarakan
Tata Pemerintahan yang baik dan mewujudkan produktivitas dan kesejahteraan tenagakerja di
daerahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Albury, David. 2003. Innovation in the Public Sector. Discussion paper. The Mall. London
Alkadar, Mahmud, 2008., Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja yang Melakukan
Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja , dalam Jurnal Ketenagakerjaan Vol. 3 – Nomor 2 Edisi Juli –
Desember 2008.
Cheema, G Shabbir, Dennis A Rondenelli, 1983. Decentralization and Development, Policy
Implementation in Developing Countries. Sage Publication, Beverly Hills/London/New Delhi
Halvorsen, Thomas, et al. 2005. On the Differences Between Public and Private Sector Innovations.
Publin Report. Oslo.
Kaho, Josef Riwu. 1997. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Indonesia: Identifikasi Beberapa
Faktor yang Mempengaruhi Penyelenggaraannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
ILO, 2002., Social Security and Coverage for All. Restucturing the Social Security Scheme in Indonesia Issues and Options.
Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pedoman Jaminan
Sosial Tenaga Kerja bagi Tenaga Kerja yang Melakukan Pekerjaan di Luar Hubungan Kerja.
Solihin, Dadang, 2012. Desentralisai dan Otonomi Daerah di Indonesia, Materi Kuliah Program
Doktor Bidang Ilmu Sosial UNPAS. Kementrian PPN/Bapenas – Jkt.
Suwarno, Yogi., 2008. Inovasi di Sektor Publik. Lembaga Administrasi Negara - Sekolah Tinggi
Administrasi Negara - Jakarta
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 20, Pasal 28H ayat (1), (2), (3), serta Pasal
34 ayat (1) dan (2)
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 12
PERTUMBUHAN MODAL MANUSIA
DAN PERTUMBUHAN EKONOMI ANTAR DAERAH
DI INDONESIA
Human Capital Growth and Economic Growth on Interregional in Indonesia
Tete Saepudin
Fakultas Ekonomi, Universitas Pasundan, Bandung
Jl. Tamansari no. 6-8 Bandung, 40116
E-mail ; [email protected]
Abstract
The objectives of this research to knowing analyzing, influence of investment
growth, human capital growth (outcome of SMTA, and PT ), and budget education
expenditure growth to economic growth. The research uses descriptive and
verificative, with using method PLS (pool least sequares). The using data secondary in
the form of pooled-data which is a combination of time series and cross-section data of
26 provinces in Indonesia period 1994-2008. The result of this study shows that (1) the
influences of capital (investment) growth have positif effect and significant on the
interregional economic growth in Indonesia (2) the influences of human capital growth
(outcome of SMTA, and PT ) have on positif effect and significant to economic growth,
and (3) the influences of budget education expenditure growth have on positif effect
and significant on the interregional economic growth in Indonesia.
Keywords : Invesment growth, human capital growth, economic growth
13 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Latar Belakang Masalah
Pembangunan ekonomi yang terjadi
tidak bisa terlepas dari peran dan kemampuan
negara dalam mengelola dan mengembangkan
sumber daya (resources) yang dimiliki, baik itu
sumber daya alam maupun sumber daya
manusia. Kuantitas dan kualitas sumber daya,
merupakan faktor yang penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sumber daya
yang ada dapat juga dikelompokan ke dalam ;
sumber daya alam (natural resources), sumber
daya manusia (human resources), sumber daya
modal (investment), dan juga perkembangan
teknologi. Kepemilikan sumber daya alam dan
sumber daya modal yang tinggi akan mendorong
pertumbuhan ekonomi, walaupun belum cukup
bila tidak dibarengi dengan kemampuan
penduduk dalam menggali dan mengelola kedua
sumber daya itu.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
dalam jangka waktu yang panjang merupakan
tujuan setiap negara. Tujuan itu dapat dicapai
apabila didukung dengan kepemilikan sumber
daya yang cukup. Salah satu sumber daya yang
utama yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi adalah sumber daya manusia, disamping
sumber daya (faktor produksi) yang lainnya, yaitu
modal dan kemajuan teknologi. Sumber daya
manusia merupakan faktor produksi yang aktif
dalam mengelola akumulasi modal, menggali
sumber daya alam, membangun organisasi sosial,
ekonomi, dan politik untuk pelaksanaan kegiatan
pembangunan. Sementara faktor produksi
modal, sumber daya alam dan yang lainnya
merupakan unsur faktor produksi yang pasif.
Peran perkembangan teknologi dapat
diterima secara luas sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, setelah Solow (1956) mencoba
mengkaji faktor-faktor penyebab pertumbuhan
ekonomi. Temuan Solow itu ternyata menunjukkan, bahwa penyebab pertumbuhan ekonomi, bukan semata-mata disumbangkan dari
faktor tenaga kerja dan modal saja, akan tetapi
ada faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan
ekonomi itu lebih berkembang, faktor itu adalah
efektivitas dari tenaga kerja (faktor teknologi).
Perkembangan teknologi yang merupakan bagian dari peciptaan ilmu pengetahuan (knowledge) telah diyakini oleh
Tapscott (1997) sebagai salah satu bentuk
dari ekonomi baru (The New Economy).
Salah satu ciri dari ekonomi baru adalah
ekonomi dengan mengandalkan ilmu pengetahuan sebagai sumber pendorong pertumbuhan ekonomi. Orang akan lebih banyak
bekerja dengan menggunakan otaknya
daripada menggunakan tangan.
Investasi pendidikan akan mampu
meningkatkan kualitas sumber daya manusia
yang diperlihatkan oleh meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja.
Peningkatan pengetahuan dan keahlian akan
mendorong peningkatan produktivitas kerja
pada tenaga kerja. Perusahaan akan memperoleh hasil yang lebih banyak dengan mempekerjakan tenaga kerja dengan produktivitas
yang lebih tinggi, sehingga perusahaan akan
bersedia memberikan upah/gaji yang lebih
tinggi, kepada pekerja tersebut. Pada akhirnya
seseorang yang memiliki produktivitas yang
tinggi akan memperoleh kesejahteraan yang
lebih baik, yang dapat diperlihatkan melalui
peningkatan pendapatan maupun konsumsinya. Rendahnya produktivitas tenaga kerja
kaum miskin dapat disebabkan oleh karena
rendahnya akses mereka untuk memperoleh
pendidikan.
Semakin terdidik sumber daya manusia, akan semakin tinggi/banyak teknologi
baru yang tercipta, dan sekaligus akan
semakin tinggi pula tingkat pendapatannya.
Penelitian (Acemoglu, 1998), di Amerika
Serikat menunjukkan bahwa pada tahun 1970
seorang sarjana (S1) menerima penghasilan
rata-rata 55 persen lebih tinggi
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
14
dari lulusan SMU. Sementara itu pada tahun 1995
seorang sarjana menerima penghasilan 62
persen lebih tinggi dari SMU. Dengan demikian
peranan pendidikan (baik formal maupun non
formal) adalah penting untuk meningkatkan
penghasilan. Penemuan teknologi baru (invention) dan pengembangan dari teknologi baru
(inovation) tersebut, akan tercipta/lahir dari
sumber daya manusia yang memiliki tingkat
pendidikan yang tinggi (PT), misalnya Microsoft
Word sebagai perangkat lunak pengolah kata
merupakan produk invention dari kepemilikan
(hak paten Bill Gates).
Pendidikan merupakan bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan kepada
masyarakat sebagai bagian dari public service
atau jasa layanan umum dari negara kepada
masyarakat yang tidak memberikan dampak
langsung bagi perekonomian masyarakat, sektor
pendidikan juga merupakan sektor yang memakan anggaran, sehingga membawa keraguan
terhadap pembangunan sektor pendidikan
sebagai pondasi bagi kemajuan pembangunan
ekonomi. Gary Besker (1964, 1975, 1993) ahli
sosiolog pendidikan sempat menyangsikan peran
pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi,
karena teori human capital lebih menekankan
dimensi material manusia sehingga kurang
memperhitungkan manusia dari dimensi sosiobudaya. Thurow (1974), John Meyer (1977), dan
Randall Collins (1977) bahwa tingkat pendidikan
tidak selalu sesuai dengan kualitas pekerjaan,
sehingga orang yang berpendidikan tinggi
ataupun rendah tidak berbeda produktivitasnya
dalam menangani pekerjaan yang sama. Tetapi
jika orang berpendidikan rendah mendapat
pelatihan (yang memakan periode jauh lebih
pendek dan sifatnya nonformal) akan memiliki
produktivitas relatif sama dengan orang yang
berpendidikan tinggi dan formal. Blau dan Ducan
(1967) penelitian di Amerika Serikat, Blaug
(1974) di Inggris dan Cummings (1980) Indonesia,
menunjukkan bahwa pendidikan formal
memberikan peranan yang relatif kecil terhadap
status pekerjaan dan penghasilan.
15 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Sekolah dengan lulusan pendidikan
menengah merupakan penyedia keterampilan
penting yang paling banyak dibutuhkan bagi
pembangunan ekonomi, manajer tingkat
menengah pada perusahaan paling banyak
produk sekolah menengah, disamping itu
merupakan tulang punggung administrasi
negara. A. Lewis (1962) menegaskan pentingnya pendidikan menengah sebagai “perwira dan perwira cadangan” dari suatu sistem
ekonomi dan sosial.
Pendidikan menengah bertujuan
membangun landasan bagi berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kritis, kreatif, inovatif, mandiri, percaya
diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab untuk
mengikuti pendidikan lebih lanjut atau bekerja dalam bidang tertentu sejalan dengan
pencapaian tujuan pendidikan nasional
(UU. N0.20 tahun2003, Sistem Pendidikan
Nasional).
Lulusan sekolah menengah tingkat
atas (SMTA) yang melanjutkan keperguruan
tinggi relatif rendah, yaitu hanya 10,84%
pada tahun 2003 (BPS, survei sosial ekonomi
nasional/Susenas). Data BPS Pebruari 2008
menujukkan bahwa pengangguran terbuka
untuk lulusan sekolah tingkat menengah atas
(SMTA), SMK sebanyak 17,26 % dan SMA
sebanyak 14,31%, ini ironi sekali dengan
tujuan dari pendidikan, yang semestinya
terjadi (Diknas, Dirjen Pendidikan Formal dan
Informal Direktorat Pembinaan Kursus dan
Kelembagaan, PKM, Pendoman Blockgrant
2009).
Pendidikan tinggi (PT) merupakan
kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik
menjadi anggota masyarakat yang memiliki
kemampuan akademik dan/atau profesional
yang dapat menerapkan, mengembangkan
dan atau menciptakan ilmu pengetahuan,
teknologi dan atau kesenian.
Bagi kemajuan suatu bangsa, harapan besar
diletakkan pada perguruan tinggi.
Lulusan perguruan tinggi (PT) merupakan pencetak sumber daya manusia (human
capital) yang memiliki kemampuan yang handal
dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
(iptek). Sumber daya manusia dari lulusan perguruan tinggi (PT) juga merupakan tenaga-tenaga
ahli dalam hal penemuan-penemuan baru (invention) dan sekaligus dalam mengembangkannya
(inovation). Salah-satu sumber invention dan
inovation adalah melalui research and development (R&D). Jika dilihat dari persentase
pendidikan di Indonesia penduduk yang berusia
15 tahun ke atas masih ber-pendidikan SD ke
bawah (58,6%), dan (41,4%) berpendidikan SLTP
ke atas, dan hanya (3,6%) diantarannya lulusan
perguruan tinggi (Prioritas Pembangunan
Nasional/Propenas Tahun 2005-2009). Masih
rendahnya tingkat lulusan perguruan tinggi (PT),
akan menjadi salah satu penyebab masih
rendahnya penemuan-penemuan baru (invention) dan pengembangan penemuan baru
(inovation). Untuk menjaga (mewadahi) hasil
penemuan dan pengembangan baru tersebut
pemerintah telah membuat suatu badan/
lembaga yaitu HAKI (Hak Atas Kepemilikan
Intelektual), yang diberlakukan sejak tahun 2000.
Romer (1986), Lukas (1988), Barro, Salai-Martin (1989) dan Robelo (1991) mencoba
mengembangkan model endogeneous dengan
memasukkan peran pemerintah dalam proses
pertumbuhan ekonomi, dimana pemerintah
memegang peranan penting dalam proses
pertumbuhan ekonomi. Broons, de Groot dan
Nijkamp (1999) menyatakan bahwa sektor pemerintah dapat berpengaruh secara langsung
ataupun tidak langsung terhadap pertumbuhan
ekonomi. Sementara Dar dan Amir Khalkahli
(2002) memberikan kesimpulan bahwa kebijakan
pemerintah dapat mempengaruhi pertumbuhan
dalam jangka panjang melalui tiga instrumen
fiskal: pajak, pengeluaran pemerintah dan
keseimbangan anggaran.Ketiga komponen
tersebut berpengaruh pada tingkat efisiensi
penggunaan sumber daya, akumulasi faktor
produksi dan perkembangan teknologi.
Wagner dalam Hymman (2005), menyatakan bahwa perkembangan per-sentase
pengeluaran pemerintah yang semakin besar
terhadap produk domestik bruto, seiring
dengan meningkatnya pendapatan perkapita,
pengeluaran pemerintah untuk pendidikan,
hukum, kebudayaan dan lain sebagainya.
Anggaran yang dikeluarkan untuk pendidikan
di Indonesia masih relatif kecil jika dibandingkan dengan negara-negara Asean lainnya,
misal Malaysia 28 % dari anggaran belanjanya.
Indonesia hanya 20% dari anggaran belanja
negara, itupun setelah UUD 1945 diamandemen, padahal sudah jelas-jelas tertera pada
pasal 31 ayat 4 dari UUD 1945 itu. Meskipun
itu masih relatif kecil jika dibandingkan dengan
negara lain, tapi itu sudah mengalami
perkembangan, jika dibandingkan dengan
sebelum UUD 1945 diamandemen.
Penggunaan Human Capital Model
dalam menganalisis sumber-sumber pertumbuhan ekonomi, relatif lebih baik bila
dibandingkan dengan model pertumbuhan
Neoklasik yang menganggap Total Faktor
Produksi (TFP) sebagai residual yang sematamata hanya ditentukan oleh faktor-faktor
eksogen. Dalam Human Capital Model, modal
manusia merupakan unsur penting dari TFP
dan merupakan faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi secara internal.
Banyak para ahli, terutama ahli ekonomi
pembangunan telah mencoba menjelaskan
peranan modal manusia terhadap pertumbuhan ekonomi, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
16
Modal manusia dalam berbagai penelitian diproksi dengan pendidikan yang diukur paling tidak
dengan dua cara yaitu; (1) tingkat pendidikan tertinggi yang dapat dicapai , dan (2) jumlah investasi
atau pengeluaran publik untuk pendidikan.
METODE
Untuk menganalisis variabel-variabel penelitian sehingga dapat memberikan informasi
yang memenuhi syarat ilmiah maka, studi pengaruh pertumbuhan modal, pengeluaran
pemerintah untuk pendidikan, lulusan pendidikan sekolah menengah tingkat atas dan perguruan
tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di Indonesia, dengan spesifikasi model
mengacu pada fungsi produksi dari Romer (1986, 1996) dan Sala-i-Martin (1995, 2000) dalam
fungsi Cobb-Douglas sebagai berikut :
Y(t) = K(t)α H(t)β {(A(t)L (t)}1- α – β G(t)
Dimana Y = Pertumbuhan Ekonomi , K = Modal (Capital) , H = Modal Manusia (Human
Capital) A = Teknologi, L = Tenaga Kerja, G = Belanja Pemerintah (Government Expenditure),
t = Waktu Penelitian, dan α, β = Parameter yang akan diuji.
HASIL ESTIMASI REGRESI PANEL DATA
Perbandingan nilai koefisien estimasi model pertumbuhan (investasi, lulusan SMTA, Ptdan
Pengeluaran Pemerintah, untuk Pendidikan) terhadap pertumbuhan ekonomi masing-masing
provinsi selengkapnya disajikan dalam tabel 1.
17 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Tabel 1
Hasil Estimasi Model Pertumbuhan (Investasi, Lulusan SMTA, Lulusan PT, dan Pengeluaran
Pemerintah untuk Pendidikan) antar Daerah di Indonesia Tahun 1994-2004
VARIABEL
KOEFISIEN
Estimasi Model
1
2,921922
(18,90860)
0,012876
(9,471893)
0,188604
(2,302689)
0,042633
(7,625794)
0,015057
(3,090959)
72,03242
KOEFISIEN
Estimasi Model
2
3,102155
(33,70044)
0,015706
(67,51948)
0,082862
(2,358694)
0,048604
(8,05384)
0,016367
(3,250554)
70,74660
KOEFISIEN
Estimasi Model
3
3,070106
(30,37344)
0,015778
(78,19627)
0,059225
(3,08480)
0,048734
(7,834739)
0,016407
(5,245666)
70,66709
KOEFISIEN
Estimasi Model 4
R-Square
0,899518
0,897878
0,897775
0,883369
0,887087
Adj. R-Square
0,887030
0,885187
0,885071
0,868875
0,873054
Durbin-Watson
stat
1,805145
1,779960
1,787944
1,599246
1,752234
C
Invest
Educt : Smta
Sma
Smk
Educt : Pt
Diii
S1
Gexp
Uji-F
2,745452
(15,51496)
0,010472
(9,584833)
0,344968
(5,139294)
0,072918
(2,022627)
0,038917
(1,123158)
60,94476
KOEFISIEN
Estimasi Model 5
2,549188
(18,49364)
0,222557
(6,585679)
0,348728
(5,715902)
0,161105
(5,649169)
0,045446
(2,155356)
63,21621
Sumber
: Hasil Perhitungan
Keterangan : Angka dalam kurung adalah t-hitung
PEMBAHASAN
Pertumbuhan Modal (Investasi) dan Pertumbuhan Ekonomi antar Daerah di Indonesia
Pertumbuhan investasi merupakan unsur yang penting dalam proses pertumbuhan ekonomi
disuatu negara/daerah. Hal ini ditunjukkan pada hasil estimasi, bahwa pertumbuhan investasi
adalah berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi-provinsi di
Indonesia, hubungkan antara pertumbuhan investasi dan pertumbuhan ekonomi, menunjukkan
hubungan yang searah, jika pertumbuhan investasi meningkat, maka pertumbuhan ekonominya
juga akan meningkat. Hal ini sejalan dengan kaidah teori pertumbuh-
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
18
an ekonomi dari Evsey Domar (1939) dan Sir Roy
Harrod (1947), dimana bahwa pertumbuhan
modal (investasi) sejalan dengan pertumbuhan
ekonomi (output), pertumbuhan modal berkolerasi positif dengan pertumbuhan ekonomi.
Hubungan ini oleh Harrod-Domar dikemukakannya dengan,seberapa besar tambahan modal
yang diperlukan agar ekonomi bisa tumbuh
dengan apa yang diharapkan, atau pernyataan
itu jika dirumuskan sebagai ∆k/∆y, rumusan itu
sering diberi nama ICOR (Incremental Capital
Output Ratio).
Disamping itu juga sejalan dengan
pemikiran dari teori pertumbuhan ekonomi NeoClassic, khususnya model pertumbuhan ekonomi
Solow (1956) dimana pertumbuhan investasi
akan meningkatkan stok modal yang selanjutnya
akan berkolerasi positif terhadap pertumbuhan
ekonomi, karena dengan bertambahnya stok
modal maka jumlah stok alat-alat modal dan
teknologi juga akan meningkat pada akhirnya
berimplikasi terhadap kemampuan untuk
berpoduksi sehingga pendapatan nasional
meningkat dari waktu ke waktu yang menghasilkan peningkatan dalam pertumbuhan ekonomi (Sanusi Fattah, 2005).
Sejak pemerintahan orde baru, arah
pembangunan ditujukkan kepada pertumbuhan
ekonomi yang tinggi (Trilogi Pembangunan).
Pertumbuhan ekonomi bisa berkembang apabila
kepemilikan modal cukup melimpah, baik modal manusia ataupun modal alam. Upaya yang
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan
pertumbuhan ekonomi,yaitu dengan jalan
membuka investasi domestik dan asing masuk
sebesar-besarnya. Untuk mendorong masuknya
investasi baik domestik ataupun asing,
pemerintah mengeluarkan kebijakan, yaitu
dikeluarkannya Undang-undang Penanaman
Modal Asing (PMA) No. 1Tahun 1967 dan Undang
undang Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) No. 6 Tahun 1968, dan Undang-undang
No. 25 tahun 2007, yang mengatur segala unsur
tentang penanaman modal.
19 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Peningkatan investasi akan mendorong meningkatnya permintaan agregat
melalui jalur koefisien multiplier yang
selanjutnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hasil kajian pada periode
tahun 1994-2008 provinsi-provinsi di
Indonesia menunjukkan bahwa investasi
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
ekonomi. Hal ini dapat dijelaskan melalui
sejumlah argumentasi, bahwa; (1) Pertumbuhan investasi searah dengan pertumbuhan
ekonomi provinsi-provinsi di Indonesia,
dengan share yang cukup besar. (2) Berkaitan
dengan kebijakan dan strategi pembangunan
yang dilakukan pemerintah orde baru yang
lebih menekankan kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Kelompok jenjang pendidikan sekolah menengah tingkat atas dapat di bagi ke
dalam dua kolompok, yaitu kelompok sekolah
menengah atas (termasuk kelompok umum)
dan sekolah menengah kejuruan. Menurut
UU No. 20 Tahun 2003 yang dimaksud dengan
pendidikan umum merupakan pendidikan
dasar dan menengah yang mengutamakan
perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh
peserta didik untuk melanjutkan pendidikan
ke jenjang lebih tinggi, sedangkan pendidikan
kejuruan merupakan pendidikan menengah
yang mempersiapkan peserta didik terutama
untuk bekerja dalam bidang tertentu.Hasil
persamaan model modal manusia dari lulusan sekolah menengah atas dan sekolah
menengah kejuruan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi,
hanya sumbangan dari lulusan sekolah
menengah atas lebih besar daripada sekolah
menengah kejuruan, padahal bahwa sekolah
menengah itu dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, berbeda
dengan sekolah kejuruan, yang dipersiapkan
untuk masuk dunia kerja.
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan
pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau juga profesional yang
dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau
menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perguruan tinggi diharapkan dapat membawa pembaharuan untuk membawa kemajuan
bangsa. lulusan perguruan tinggi dari tahun
penelitian menunjukkan angka yang terus
meningkat. Hasil estimasi menunjukkan bahwa
lulusan perguruan tinggi bepengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Kelompok pendidikan tinggi mencakup
program pendidikan diploma, sarjana, magister,
spesialis, dan doktor. Dari kelompok itu lulusan
yang paling banyak adalah lulusan program DIII,
dan lulusan program sarjana (S1). Hasil estimasi
menunjukkan bahwa lulusan program DIII,
ataupun program sarjana (S1), berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Besarnya pengaruh lulusan program
DIII, lebih besar dari lulusan progam sarjana (S1).
Ini berbeda dengan jenjang pendidikan di sekolah
menengah atas dan sekolah menengah kejuruan.
Sekolah menengah kejuruan yang diprogramkan untuk siap kerja pengaruhnya lebih kecil dari
sekolah menengah atas yang dipersiapkan untuk
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di perguruan tinggi program DIII yang mempunyai keahlian dibidang madya lebih besar
pengaruhnya dari program sarjana (S1), meskipun lulusan sarjana (S1) lebih besar dari lulusan
DIII.
Lulusan sekolah menengah atas (SMTA)
pengaruhnya lebih besar jika dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan masing-masing koefisien sebesar (0,188604) dan (0,042633). Lulusan pendidikan menengah merupakan penyedia
keterampilan peting yang paling banyak
dibutuhkanbagi pembangunan ekonomi, manajer tingkat menengah pada perusahaan,
dan merupakan tulang punggung administrasi
negara, ini sejalan dengan pendapat A. Lewis
(1962) bahwa pendidikan menengah sebagai
”perwira dan perwira cadangan” dari suatu
sistem ekonomi dan sosial.
Pertumbuhan Pengeluaran Pemerintah
Untuk Pendidikan dan Pertumbuhan
Ekonomi antar Daerah di Indonesia
Pengeluaran pemerintah merupakan
wujud kebijakan pemerintah dalam rangka
memberikan pelayanan kepada publik yang
meliputi pengeluaran untuk pendidikan,
kesehatan, infrastruktur dan pengembangan
sektor ekonomi Pengeluaran pemerintah memegang peranan penting dalam menggerakkan aktivitas perekonomian yang akan mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi.
Pengeluaran pemerintah untuk
pendidikan merupakan bagian dari pengeluaran pembangunan, yang bertujuan untuk
meningkatkan kecerdasan masyarakat melalui
peningkatan mutu dan perluasan kesempatan belajar disemua jenjang pendidikan mulai
dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Pengeluaran pemerintah untuk pendidikan
mulai tahun 2003, merupakan bagian dari biaya modal.
Alokasi anggaran pemerintah untuk
bidang pendidikan dan kesehatan merupakan
bagian yang terpenting dalam kebijakan
anggaran (Rosen, 1988). Kebijakan ini
dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai
penyedia barang publik. Mulai tahun 2004
pengelompokan pengeluaran pemerintah
mengalami perubahan dari tahun-tahun
sebelumnya (Undang-undang No. 17 Tahun
2003, tentang Keuangan Negara).
Meskipun pengeluaran pemerintah
tidak berpengaruh langsung terhadap
pertumbuhan ekonomi, lewat peranan
pemerintah sebagai penyedia barang publik
(investasi pemerintah), diyakini bahwa efek
belanja itu akan meningkatkan pertumbuhan
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
20
SMA, dan SMK, dan juga lulusan perguruan tinggi, S1, dan DIII) berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi antar daerah di Indonesia.
ekonomi. Rostow dan Musgrave dalam Guritno
Mangkusubroto (1998), mengembangkan teori
yang menghubungkan perkembangan pengeluaran pemerintah dan tahap-tahap pembangunan ekonomi.
Pada tahap awal perkembangan ekonomi
persentase investasi pemerintah terhadap total
investasi sangat besar sebab pemerintah harus
menyediakan prasarana seperti, misalnya
;pendidikan,kesehatan, prasarana tranfortasi dan
sebagainya. Wagner dalam Hyman (2005),
mengembangkan teori dimana perkembangan
persentase pengeluaran pemerintah yang
semakin besar terhadap Produk Domestik Bruto.
Dalam suatu perekonomian apabila pendapatan
perkapita meningkat, secara relatif pengeluaran
pemerintah akan meningkat,terutama pengeluaran pemerintah untuk mengatur hubungan
dalam masyarakat seperti; hukum, pendi-dikan,k
ebudayaan, dan sebagainya.
Hasil estimasi menunjukkan bahwa
pengeluaran pemerintah untuk pendidikan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
ekonomi provinsi-provinsi di Indonesia. Hal ini
dengan pengeluaran pemerintah untuk pendidikan (investasi pemerintah) yang meningkat dan
dibelanjakan terhadap sarana dan prasarana
pembangunan pendidikan, akan menyebabkan
tingkat pendapatan masyarakat akan meningkat,
peningkatan pendapatan masyarakat akan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil estimasidan pengujian hipotesis diperoleh beberapa kesimpulan
yang dijelaskan berdasarkan kepada variabel
penelitian, adalah sebagai berikut :
1. Pertumbuhan investasi (modal) berpengaruh
positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi antar daerah di Indonesia.
2. Pertumbuhan modal manusia ( lulusan SMTA,
21 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
3.
Pertumbuhan pengeluaran pemerintah
untuk pendidikan berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi antar daerah di Indonesia.
4.
Provinsi Riau dan Kalimantan Timur
merupakan dua provinsi yang memiliki
nilai intercept yang paling besar diantara
26 provinsi yang lainnya. Kedua provinsi
(Riau ataupun Kalimantan Timur)
merupakan provinsi yang mem-iliki atau
kaya akan sumber daya alam-nya(Factor
Endowment), yaitu dari sum-ber daya
minyak bumi.
DAFTAR PUSTAKA
Acemoglu D., 1998, “Why Do New Technologies Complement Skills? Directed Technical Change and
Wage Ineqality”, The Journal Of Economics
Arthur Lewis., W, 1960, “The Theory Of Economic Growth”, George Allen & Unwim Ltd, Ruskin House
Museum Street London.
Domar, E., 1946. “Capital Expansion, Rate of growth and Employment”, Econometrica, Vol.14, pp.13747.
-----------, 1947 “Expansion and Employment”, American Economic Review, Vol.37, No.1, March, pp.34355.
Guritno Mangkusubroto, 1998, “Ekonomi Publik”, Yogyakarta BPFE-UGM
Harrod, R.F., 1939. “ An Essay in Dynamic Theory”, Economic Journal, Vol.49, March pp.14-33.
----------, 1948. “ Toward a Dynamic Economics”, Macmillan, London.
Mankiw, N. Gregory, 2005, Macroeconomics, 5th edition, Worth Publisher
Robelo, Sergio, 1991. “ Long Run Policy Analysis and Long Run Growth”, Journal of Political Economy,
Vol.94 (October), pp.1002-37.
Romer, D, 2006, “Advanced Macroeconomics”, 3rd edition, McGraw-Hill Irwin
----------------1986“ Increasing Returns and Long Run Growth”, Journal of Long Political Economy, Vol.94,
pp.1002-37.
Solow, R.M., 1956. “ A Contribution to the Theory of Economic Growth”, Quarterly Journal of Economics,
Vol.70, pp.65-94.
Tapscott, D.,1997, “Strategy in The New Economy”, Strategy and Leadership, November/Desember.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I
22
PEMETAAN KUALITAS PENDIDIKAN DI KOTA BANDUNG
MELALUI ANALISIS SPASIAL BERDASARKAN NILAI UJIAN
NASIONAL SMP
Udjianna S. Pasaribu dan Rr. Kurnia Novita Sari
Kelompok Keahlian Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan,
Institut Teknologi Bandung, Indonesia
E-mail : [email protected], [email protected]
Abstrak
Penerapan analisis spasial dalam bidang pendidikan merupakan hal baru, karena ilmu
ini berkembang pesat dalam geostatistika dan pertambangan. Dengan analisis spasial,
pemetaan hubungan antar sekolah di suatu daerah dapat diamati. Hubungan antar
sekolah dapat dimodelkan oleh semivariogram yang menggambarkan variansi dari
selisih nilai pengamatan antar pasangan lokasi yang terpisahkan oleh jarak tertentu.
Kami menyimpulkan bahwa jarak antar pasangan sekolah memberikan pengaruh
terhadap perolehan nilai Ujian Nasional (UN). Sekolah-sekolah yang letaknya
berdekatan akan memiliki pengaruh yang lebih kuat, khususnya dalam hal ini adalah
nilai UN, dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang berjauhan. Sehingga pola
distribusi nilai UN secara tidak langsung dapat menggambarkan kualitas pendidikan di
Bandung. Informasi ini sangat bermanfaat untuk para praktisi pendidikan untuk
meningkatkan kualitas sekolahnya.
Kata kunci: proses spasial, semivariogram eksperimental, model semivariogram,
kriging, nilai ujian nasional.
Abstract
The application of spatial analysis in education is relatively new because this science is
growing rapidly in geostatistics and mining. The mapping of relationships between
schools in an area can be observed by spatial analysis. The relationship between schools
can be modeled by semivariogram that is a diagram of variance from the difference of
observation value between pairs of locations that separated by a certain distance. We
conclude that the distance between pairs of schools influence the score of National
Examination (UN). The schools that have close distance will have a more spatial
correlation, especially in this case is the score of UN, than the schools that have far
distance. So, the pattern of distribution of UN ?can indirectly describe the quality of
education in Bandung. This information is very useful for practitioners in education to
improve the quality of education in their school.
Key words: spatial process, experimental semivariogram, semivariogram model,
kriging, score of national examination.
23 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Di Indonesia, banyak fenomena atau
kejadian sehari-hari yang saling terkait dan
membentuk pola musiman atau kecenderungan
(trend). Misalnya, kejadian gempa bumi di
beberapa lokasi di Indonesia merupakan kejadian
yang saling berhubungan. Kejadian ini dapat
dibuat suatu model yang dapat menggambarkan
pengaruh antar observasi, memperkirakan nilai di
suatu lokasi atau waktu tertentu yang belum
diamati, dan memprediksi nilai pengamatan di
masa yang akan datang. Dalam statistika,
kejadian di atas merupakan suatu proses
stokastik. Proses stokastik adalah suatu proses
yang dibangun oleh kumpulan barisan variabel
acak dengan indeks parameter tertentu seperti
waktu, lokasi, atau waktu dan lokasi. Jika indeks
parameter berupa lokasi, maka proses stokastik
dapat dianalisis menggunakan analisis spasial
(spatial analysis).
Pada awalnya, analisis spasial banyak
diaplikasikan dalam pertambangan, perminyakan, dan hidrogeologi. Dalam per-tambangan,
kita dapat mengamati model kan-dungan mineral
seperti requosit, spalerit, dan kalkopirri di Akenobe, Barat Daya Jepang. Amstrong menuliskan
bahwa analisis spasial dapat memodelkan
heterogenitas internal minyak dan emas. Dengan
pemodelan tersebut, kita dapat mengetahui
cadangan minyak atau barang tambang pada
beberapa blok pertambangan yang belum
dieksplorasi. Dalam hidrogeologi, dilakukan
pemetaan lokasi sumur air yang tercemar oleh zat
kimia yang berasal dari air atau tanah. Hohn
menerangkan tentang pemodelan spasial dan
interpolasi porositas dan permeabilitas air pada
275 sumur (reservoir) di Yunani.
ditunjukkan pada Gambar 1a. Dalam sosial,
dapat dibuat pemodelan pola kejahatan yang
terjadi di Kota Boston, Amerika Serikat seperti
ditunjukkan pada Gambar 1b. Dalam kesehatan, analisis spasial dapat memodelkan
besar pengaruh daerah-daerah tetangga
terhadap suatu daerah berkaitan dengan pola
penyebaran virus berbahaya SARS (Severe
Acute Respiratory Syndrome) di Hongkong
pada tahun 2003 yang menelan korban 300
penduduk.
Pengaruh antar daerah tersebut
diamati dengan mempelajari karakteristik
setiap daerah, mencatat rataan penduduk
yang terinfeksi SARS setiap hari, rataan
kematian setiap hari, dan rataan penduduk
yang dirawat setiap hari akibat SARS.Dalam
pertanian, analisis ini digunakan untuk
menentukan strategi interpolasi suatu lahan
pertanian dengan membandingkan pemakaian model-model semivariogram dalam
proses kriging. Dalam biologi, analisis spasial
dapat menggambarkan distribusi populasi
serangga Sciarid pada budidaya Jamur Tiram
mengingat bahwa serangga memiliki karakteristik khusus dalam perkembangbiakan dan
behaviour kehidupannya.
a)
Dalam perkembangannya, analisis
spasial mulai diaplikasikan pada bidang-bidang
lain yaitu: klimatologi, sosial, kesehatan,
pertanian, dan biologi. Dalam klimatologi, kita
dapat mengamati rata-rata curah hujan pada
beberapa lokasi di wilayah Asia Barat Daya.
Kontur curah hujan wilayah Asia Barat Daya yang
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 24
Gambar 1 a) Kontur curah hujan wilayah Asia
barat daya. Tingkat curah hujan digambarkan
dengan warna yang berbeda. Warna biru
menunjukkan tingkat curah hujan rendah sampai
warna merah untuk curah hujan tinggi. Sebagian
besar wilayah memiliki tingkat curah hujan yang
rendah sampai tingkat menengah yang berkisar 29,25 sampai 65 mm. b) Peta pola kejahatan di
Boston, Amerika Serikat. Kejahatan yang banyak
terjadi di Boston adalah perampokan dan
pencurian seperti yang ditunjukkan oleh warna
merah, sedangkan biru adalah jenis kejahatan
lainnya seperti penembakkan, penyerangan,
penculikan, kekerasan, dan lain-lain
Perkembangan pemodelan semivariogram pada berbagai bidang tentu saja membawa
manfaat yang sangat besar. Seperti contoh kasuskasus di atas, pemodelan spasial dapat digunakan
untuk memprediksi nilai pada suatu titik yang
tidak terobservasi. Dengan alasan tersebut, kita
dapat menerapkannya pada bidang pendidikan
seperti penentuan kualitas pendidikan di suatu
lokasi dengan mempertimbangkan pengaruh
lokasi-lokasi lain di sekitarnya.
2. Perumusan Masalah
2.1 Kota Bandung
Kota Bandung adalah kota metropolitan
terbesar di Jawa Barat sekaligus menjadi ibukota
provinsi. Bandung Raya adalah wilayah metropolitan terbesar kedua di Indonesia setelah Jabotabek. Kota Bandung juga disebut Paris van Java
karena begitu terkenal karena keindahan alam
dan memiliki udara yang sejuk. Kondisi ini sama
dengan kota Paris di Perancis. Kota Bandung
adalah kota terpadat di Jawa Barat dengan total
populasi mencapai 2.536.649 pada tahun 2011.
Saat ini, Bandung menjadi salah satu tujuan
utama pariwisata dan pendidikan. Oleh karena
itu, menjadi hal yang menarik untuk mempelajari
kualitas pendidikan di kota yang padat
penduduknya.
25 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Bandung dibagi menjadi 6 wilayah,
mulai dari sebelah barat dan kemudian berputar searah jarum jam sebagai berikut: Bojonegara (BJ) (barat laut Bandung), Cibeunying
(CB) (utara sampai tengah Bandung), Ujungberung (UB) (timur dan timur laut Ban-dung),
Gedebage (GB) (tenggara dan selatan Bandung), Karees (KR) (tengah sampai selatan
Bandung), dan Tegallega (TG) (barat laut dan
selatan Bandung). Area Bandung yang luas
tentu saja akan mempengaruhi kualitas
pendidikan di berbagai daerah di Bandung.
Peta Wilayah Kota Bandung disajikan pada
Gambar 2.
Gambar 2 Peta Kota Bandung yang dibagi
menjadi 6 wilayah yaitu: Bojonegara (BJ),
Cibeunying (CB), Ujungberung (UB), Gedebage
(GB), Karees (KR), dan Tegallega (TG)
2.2 Pendidikan
Pendidikan di Indonesia merupakan
salah satu bidang yang diutamakan oleh
pemerintah mengingat Indonesia merupakan
negara ke-3 dengan populasi penduduk terbesar
di dunia. Sehingga perlu adanya peningkatan
kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan
cara meningkatkan kualitas pendidikan. Selain
itu, Indonesia merupakan negara kepulauan yang
luas dan terdiri dari 300 suku bangsa. Dengan
keragaman ini, tugas pemerintah Indonesia untuk
menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan
di setiap daerah tidak mudah.
Pemerintah melakukan berbagai upaya
terus menerus untuk meningkatkan kualitas
unsur-unsur pendidikan seperti: sarana prasarana sekolah, infrastruktur,dan pengelolaan
sekolah. Fasilitas dan infrastruktur meliputi
kurikulum, hubungan sekolah dengan lingkungan, lokasi dan kondisi sekolah, serta sarana
transportasi seperti jalan dan angkutan umum
yang melewati sekolah. Guru juga memiliki peran
yang tidak kalah penting karena guru bukan
hanya sebagai pengajar ilmu pengetahuan tetapi
sebagai pendidik yang membantu siswa
membangun mental dan psikologisnya. Sedangkan manajemen sekolah meliputi: manajemen
sekolah, kepala sekolah, komunikasi antar
sekolah, hubungan sekolah dan lingkungan.
Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi
kualitas pendidikan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Misalnya lokasi sekolah, sekolahsekolah yang berada di pusat kota memiliki
kemudahan dalam berkomunikasi dengan sekolah lain karena terdapat kemudahan seperti
sarana transportasi dan kelengkapan fasilitas
teknologi. Sedangkan sekolah yang jauh dari jalan
utama dan sulit dicapai oleh transportasi umum
akan memiliki kualitas yang rendah. Begitupun
sekolah yang letaknya berdekatan dengan sekolah favorit diduga memiliki kualitas yang baik
karena tercipta suasana kompetisi yang positif.
Perbedaan kualitas sekolah tersebut
dapat mempengaruhi nilai Ujian Nasional (UN)
yang setiap tahun diselenggarakan oleh
pemerintah. Ujian Nasional (UN) merupakan
salah satu alat untuk mengukur kualitas
pendidikan di Indonesia. Menurut Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia No.20
tahun 2005, UN adalah kegiatan pengukuran
dan penilaian kompetensi siswa di pendidikan
dasar dan menengah. Hasil UN digunakan
untuk menentukan kelulusan peserta didik
dari setiap satuan pendidikan, menyeleksi
siswa ke tingkat pendidikan berikutnya, dan
pemetaan kualitas program pendidikan.
Dengan luasnya wilayah Indonesia, nilai UN di
setiap provinsi dan setiap kota akan bervariasi
karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Dengan keragaman nilai UN yang mencerminkan kualitas pendidikan tersebut, artikel ini membahas bagaimana pola hubungan
antar sekolah berdasarkan nilai Ujian Nasional
melalui analisis spasial.
3. Metode Penelitian
3.1 Analisis Spasial
Misalkan barisan variabel acak {Z(s),
s € D} dengan s himpunan lokasi, Z(s) nilai
observasi pada lokasi s, dan D himpunan acak
di ruang berdimensi d. Pandang selisih dua
variabel acak Z(si) dan Z(sj) dengan si dan sj yang
terpisahkan sejauh h, ditulis D(h) = Z(si) – Z(sj).
Dalam analisis spasial, hubungan spasial antar
pasangan lokasi yang terpisahkan sejauh h
dapat diukur dengan semivariogram. Semivariogram adalah diagram variansi dari D(h)
untuk berbagai h atau dituliskan sebagai Y(h) =
V ar [Z(Si) – Z (Si) ] = Var [D(d)] Jika realisasi Z(si)
dan Z(sj) diketahui, maka semivariogram di
atas dapat ditaksir oleh semivariogram
eksperimental yang dirumuskan sebagai
berikut:
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 26
dimana N(h) banyaknya pasangan data (si ,sj) yang terpisahkan sejauh h.
Semivariogram eksperimental y(h) di atas akan dicocokkan dengan model semivariogram. Model
semivariogram memiliki tiga parameter yaitu: efek nugget (C0), sill (C), dan range (a). Ada tiga
model yang umumnya dipilih untuk dicocokkan pada yaitu model spherikal, eksponensial, dan
Gauss. Perumusan model semivariogram disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Model-model Semivariogram
Ketiga model tersebut banyak diterapkan dalam berbagai bidang. Model spherikal dapat
menggambarkan korelasi spasial dari endapan logam seperti endapan besi dan bauksit di Perancis,
uranium di Kanada, tembaga di Chili, nikel laterit di New Kaledonia, fosfat di Afrika, dan endapan
emas di Afrika Selatan. Model eksponensial banyak diterapkan dalam hidrologi seperti kandungan
air dalam akuifer di Santa Petrus dan Gunung Simon di utara Illinois. Sementara model Gauss banyak
digunakan dalam geostatistik minyak bumi.
3.2 Data dan Pengolahan Data
Di Bandung, terdapat 209 Sekolah Menengah
Atas (SMA), 250 Sekolah Menengah Pertama
(SMP), dan 1023 Sekolah Dasar (SD). Kita akan
menggunakan data nilai UN khusus mata
pelajaran Matematika dari 52 SMP negeri di kota
Bandung pada tahun 2006.
Penulis memilih data tingkat SMP karena pada
tingkat ini anak-anak mengalami mengalami
masa peralihan menjadi dewasa. Usia anak
berkisar 12,5 - 14,5 tahun disebut remaja. Mereka
mengalami tahap pubertas yang memiliki
27 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
beberapa karakteristik seperti: perubahan
fisik, sikap, dan perilaku. Perubahan fisik
terjadi dengan cepat meliputi: perubahan
ukuran tubuh, proporsi tubuh, perkembangan
ciri-ciri seks primer dan seks sekunder.
Perkembangan fisik ini disertai dengan
perkembangan sikap dan perilaku seperti:
meningginya emosi, berubahnya minat dan
peran yang diharapkan oleh kelompok sosial,
berubahnya pola perilaku, dan sikap
ambivalen terhadap setiap perubahan.
Keunikan tugas perkembangan remaja
tentu saja berhubungan dengan minat mereka
terhadap pendidikan. Pada umumnya, remaja
muda sering mengeluh tentang sekolah,
larangan-larangan, pekerjaan rumah, kursuskursus, dan cara pengelolaan sekolah. Namun,
sebagian besar remaja dapat menyesuaikan diri
dengan baik di sekolah, baik dengan masalah
akademik maupun sosial. Besarnya minat remaja
terhadap pendidikan sangat dipengaruhi oleh
minat mereka pada pekerjaan. Jika mereka
mengharapkan pekerjaan yang menuntut
pendidikan tinggi, maka pendidikan akan
dianggap penting sehingga timbul tanggung
jawab untuk memperoleh prestasi yang baik.
Seiring dengan tumbuhnya kemandirian dan
tanggung jawab terhadap pendidikan itulah,
maka analisis terhadap nilai Ujian Nasional
tingkat SMP cukup menarik untuk dipelajari.
Pelajaran yang akan diamati kebergantungan nilai antara satu sekolah dengan sekolah
lain adalah Matematika. Matematika dikenal
sebagai pelajaran yang memiliki tingkat kesulitan
yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena
siswa harus menyelesaikan semua soal
matematika dengan waktu terbatas dalam Ujian
Nasional. Selain itu, standar kelulusan untuk
matematika pada Ujian Nasional tahun 2006
adalah 4,26. Penulis mengambil data nilai pada
tahun 2006 karena tahun ini merupakan awal dari
kenaikan penentuan nilai batas minimum
kelulusan pada tahun-tahun berikutnya. Pencapaian nilai rata-rata pun mengalami peningkatan sehingga dijadikan tolak ukur kebijakan
menteri pendidikan nasional dalam penentuan
standar minimal kelulusan siswa SMP.
Data nilai rata-rata setiap SMP dapat
diperoleh dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), suatu badan independen yang
mengawasi kualitas pendidikan di Indo-nesia.
Data tersebut cukup lengkap meliputi: jum-lah
sekolah di setiap propinsi di Indonesia, nilai ratarata mata pelajaran yang diujiankan di setiap
sekolah serta tingkat kelulusan pada tahun
tertentu.
Dari data tersebut, penulis mengambil data nilai rata-rata dari 52 SMP negeri di
kota Bandung. Lokasi 52 SMP tersebut digambarkan pada Gambar 3. Terlihat bahwa pola
penyebaran SMP di Bandung terpusat di
tengah kota Bandung. Sementara di tempat
lain, sekolah-sekolah lebih jarang daripada di
pusat kota. Penyebaran SMP pada 6 wilayah di
Bandung adalah 11 sekolah di BJ, 12 sekolah di
CB, 6 sekolah di UB, 5 sekolah di GB, 11 sekolah
di KR, dan 7 sekolah di TG.
Gambar 3 Lokasi 52 Sekolah Menengah
Pertama (SMP) negeri di Kota Bandung. Setiap
titik mereprentasikan koodinat SMP di
Bandung
Data nilai UN dari 52 SMP negeri di
Bandung tersebut akan diolah dan dianalisis. Langkah pertama adalah menentukan statistika deskriptif untuk nilai UN Mate-matika
dengan menentukan statistik yang menunjukkan ukuran pemusatan, penyebaran, kemiringan, dan kelancipan data. Selain itu dibuat
boxplot untuk melihat distribusi data, plot
normal untuk memastikan bahwa data
berdistribusi normal, dan kontur dari nilai UN
untuk melihat pola hubungan antar sekolah.
Boxplot, plot normal, dan kontur data niali UN
disajikan pada Gambar 4.Langkah kedua adalah menghitung semivariogram eksperimental
untuk setiap pasangan lokasi SMP yang terpisahkan sejauh h. Langkah ketiga adalah mencocokkan
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 28
semivariogram eksperimental dengan beberapa
model semivariogram dan melakukan validasi
silang untuk menentukan model yang terbaik.
Langkah selanjutnya adalah melakukan kriging
yang berguna untuk menaksir nilai UN untuk
lokasi-lokasi SMP yang belum terobservasi
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Statistika deskriptif untuk nilai UN Matematika
ditunjukkan pada Tabel 2. Dari Tabel 2 dan
Gambar 4, kita dapat memperoleh beberapa
kesimpulan:
a. Nilai minimum matematika yang diperoleh
adalah 5,59 dan masih berada di atas batas
ketentuan kelulusan yaitu 4,26. Nilai rata-rata
cukup tinggi yaitu 7,48 dan merupakan
prestasi yang cukup menggembirakan. Selain
itu, pencapaian nilai maksimum yaitu 9,35
menunjukkan bahwa tiga atau empat dari 40
soal matematika tidak dijawab dengan benar.
b. Penyebaran nilai matematika cukup kecil
dengan nilai deviasi standar yang mencapai
1,037 artinya simpangan nilai dari rataratanya yaitu antara 6,44 sampai 8,52.
c. Dari boxplot, data nilai UN tidak memiliki nilai
pencilan dan dari plot normal pun data dapat
dianggap berdistribusi normal karena titiktitik error berada pada garis lurus. Selain itu,
distribusi nilai UN mendekati simetri dengan
nilai rata-rata dekat dengan nilai kuartil ke-2
yang biasa disebut median.
d. Korelasi atau ketergantungan spasial antar
SMP dapat dilihat dari kontur nilai UN. Kontur
nilai tersebut terbentuk dengan masukan
data berupa koordinat lokasi setiap SMP
dalam koordinat (x,y) dan nilai rata-rata nilai
UN matematika dari setiap sekolah.
Perbedaan warna pada kontur penunjukkan
perbedaan nilai mulai dari nilai terkecil
sampai nilai terbesar. Dari kontur, terdapat
pengelompokkan nilai-nilai di wilayahwilayah tertentu.
d. Pengelompokkan sekolah yang tampak pada
gradasi warna kontur dijelaskan pula dengan
pengelompokkan SMP menjadi 4 kategori
29 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
berdasarkan kuartil yaitu: kelompok
unggul, baik sekali, baik, dan sedang. Kategori unggul adalah nilai berkisar pada kuartil ke-3 sampai nilai maksimum yaitu
8,18–9,35 dan terdapat 13 SMP (25%).
Kategori baik sekali berkisar pada kuartil
ke-2 sampai kuartil ke-3 yaitu 7,45–8,18
dan terdapat 13 SMP (25%). Kategori baik
berkisar pada kuartil ke-1 sampai kuartil
ke-2 yaitu 6,67–7,45 dan terdapat 14 SMP
(27%). Terakhir, kategori sedang berkisar
pada nilai minimum sampai kuartil ke-1
yaitu 5,59 – 6,67 dan terdapat 12 SMP
(23%).
e. Hasil pengelompokkan SMP berdasarkan
nilai UN matematika dibandingkan dengan
pengelompokkan SMP berdasarkan kluster
yang ditetapkan pemerintah terdapat pada
Tabel 3. Hasilnya, ada kesesuaian perolehan nilai UN matematika dengan kluster,
walaupun ada beberapa SMP yang kurang
sesuai pengelompokkannya.Misalnya, SMP
yang masuk dalam kategori unggul adalah
sebagian besar SMP yang berada pada
kluster 1 seperti SMP 5, 8, 7, 3, 1, dan 13.
Hal ini sangat wajar karena SMP pada
kluster 1 memiliki nilai yang sangat baik
untuk rata-rata semua pelajaran. Namun
ada beberapa SMP pada kluster 3 dan 4
yang masuk dalam kategori unggul seperti
SMP 50 dan 49 pada kluster 3 dan SMP 42
dan 33 pada kluster 4. Hal ini merupakan
hal yang cukup mengejutkan, terutama
untuk SMP 42 di GD dan 33 di TG. Kedua
sekolah tersebut mendapatkan prestasi
yang baik dalam nilai matematika. Sementara ada SMP pada kluster 1 hanya mencapai kategori baik yaitu SMP 34 di GD dan
30 di KR. Tentu saja kondisi ini menjadi
bahan evaluasi bagi sekolah yang bersangkutan agar tahun berikutnya kualitas
sekolahnya dapat diperbaiki.
Tabel 2
Statistika Deskriptif dari Nilai Ujian Nasional Matematika pada 52 SMP di Kota Bandung
Banyak data
Rata-rata
Median
Simpangan baku
Variansi
Kurtosis
Skewness
Statistika Deskriptif
52
Jangkauan
7,482
Nilai minimum
7,45
Kuartil ke-1
1,037
Kuartil ke-2
1,076
Kuartil ke-3
-0,964
Nilai maksimum
-0,042
Standard error
3,76
5,59
6,67
7,45
8,18
9,35
0,144
Boxplot dan plot normal dari nilai matematika digambarkan pada Gambar 5 sebagai berikut:
a)
b)
c)
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 30
Gambar 5 a) Boxplot untuk nilai matematika. Boxplot ini terdiri atas nilai minimum, nilai
maksimum, kuartil ke-1 sampai kuartil ke-3. Data cukup simetri dengan rata-rata nilai hampir sama
dengan nilai median serta tidak terdapat data pencilan; b) Normal p-plot dari nilai matematika. Nilai
matematika berdistribusi normal karena plot errornya berada pada garis lurus; c) Kontur data nilai
Ujian Nasional Matematika dari 52 SMP negeri di Kota Bandung.
Langkah kedua, semivariogram eksperimental dihitung dengan menggunakan program Surfer
dengan memasukkan nilai jarak maksimum lag yaitu 34 dan jumlah lag 60. Jarak maksimum lag
artinya nilai semivariogram akan dihitung untuk setiap pasangan lokasi yang memiliki jarak mulai
dari jarak 1 m sampai dengan 34 m dan jumlah lag h=60. Grafik semivariogram eksperimental dapat
dilihat pada Gambar 6. Kemudian, model-model semivariogram yang sesuai dengan semivariogram
eksperimental dapat dipilih untuk dicocokkan pada semivariogram eksperimental. Beberapa model
semivariogram yang sesuai ditunjukkan pada model berikut ini:
Penentuan model semivariogram yang terbaik adalah dengan validasi silang melalui
metode jumlah kuadrat galat (Sum of Square Error, SSE). Model yang terbaik memiliki nilai SSE
yang terkecil yaitu model eksponensial.
Langkah ketiga, model eksponensial tersebut dimasukkan dalam persamaan kriging dan
kemudian diperoleh kontur hasil estimasi kriging biasa (ordinary kriging). Kontur nilai matematika
sebelum dan sesudah dilakukan estimasi kriging biasa ditampilkan pada Gambar 7a dan 7b. Kedua
kontur tersebut memiliki kesamaan seperti penyebaran warna pada setiap daerah. Sehingga, kami
menyimpulkan bahwa model eksponensial sesuai dengan model eksperimental untuk nilai
matematika. Selain itu, dari kedua kontur itu dapat diperoleh informasi sebagai berikut:
1)
Sekolah-sekolah dengan kategori unggul ditunjukkan oleh daerah berwarna biru sampai hijau
tua dan berada di pusat dan timur kota Bandung.
2)
Sekolah-sekolah dengan kategori sangat baik ditunjukkan dengan daerah berwarna hijau tua
sampai hijau muda. SMP tersebut ada di sekitar sekolah berkategori unggul dan menyebar
dari barat sampai timur kota Bandung.
3)
Sekolah-sekolah dengan kategori baik ditandai oleh warna hijau muda sampai kuning. SMP
tersebut terletak di utara dan selatan kota Bandung.
4)
Sekolah-sekolah dengan kategori sedang ditunjukkan oleh warna orange sampai merah tua
dan berada di utara dan barat laut kota Bandung.
31 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
V a r i o g r a m N il a i U N M a t e m a t ik a
2 .5
Variogram
2
1 .5
1
0 .5
0
0
5
10
15
20
25
30
L a g D is t a n c e
Gambar 6 Semivariogram eksperimental untuk nilai Ujian Nasional Matematika. Sumbu mendatar
menunjukkan lag jarak 0 sampai 34 m. Sumbu tegak menunjukkan nilai semivariogram. Sedangkan
58 titik-titik menunjukkan nilai semivariogram untuk setiap jarak h.
a)
b)
60
50
50
40
40
30
30
20
20
10
10
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
Gambar 7 a) Kontur nilai Matematika untuk 52 SMP di Bandung. Warna biru menunjukkan SMP
berkategori unggul, warna hijau untuk SMP berkategori sangat baik, warna kuning untuk SMP
berkategori baik, dan warna orange untuk SMP berkategori sedang; b) Kontur nilai Matematika
hasil estimasi kriging biasa. Kontur ini diperoleh dengan memasukkan parameter-parameter
model eksponensial pada persamaan kriging.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 32
100
Tabel 3
Pengelompokkan SMP di Bandung berdasarkan nilai Ujian Nasional Matematika dan asal kluster
KATEGORI
UNGGUL
(13 SMP)
SANGAT BAIK
(13 SMP)
SMP
LOKASI
5
8
17
50
7
42
3
49
44
1
13
33
11
2
14
39
12
4
31
28
46
18
26
52
25
21
CB
UB
UB
UB
CB
GD
KR
UB
CB
BJ
KR
TG
KR
CB
CB
TG
BJ
KR
KR
KR
UB
GD
BJ
CB
TG
TG
ASAL
KLUSTER
1
1
2
3
1
4
1
3
2
1
1
4
2
1
1
3
1
2
3
1
4
2
3
4
3
4
33 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
KATEGORI
BAIK
(14 SMP)
SEDANG
(12 SMP)
SMP
LOKASI
34
30
45
27
51
22
16
24
15
35
6
47
10
9
20
48
38
29
37
43
40
23
41
36
32
19
GD
KR
UB
CB
GD
CB
CB
TG
BJ
CB
BJ
BJ
KR
BJ
KR
GD
TG
BJ
KR
KR
CB
BJ
BJ
TG
CB
BJ
ASAL
KLUSTER
1
1
4
2
3
3
2
3
2
4
4
4
3
2
3
4
4
4
4
2
3
4
3
4
4
4
5. Kesimpulan
Dengan analisis spasial, hubungan antar SMP di Kota Bandung yang berdasarkan nilai Ujian
Nasional Matematika dapat digambarkan dengan model semivariogram eksponensial. SMP-SMP di
Kota Bandung dapat dikelompokkan menjadi 4 katergori yaitu: unggul, sangat baik, baik, dan sedang.
Nilai Ujian Nasional untuk SMP-SMP yang berada di pusat Kota Bandung lebih baik daripada di daerah
lain. Hal ini terjadi karena ditunjang oleh kelengkapan fasilitas pendidikan dan sarana transportasi
yang menjangkau tempat tersebut. SMP-SMP berkategori sedang memiliki nilai matematika yang
rendah dan biasanya ditemukan pada daerah-daerah sebagai berikut:
a. Jauh dari pusat kota seperti SMP 29 di utara Bandung (Gegerkalong) dan SMP 47 di barat Bandung
(Sukaraja).
b. Terpencil seperti SMP 35 di utara Bandung (Dago Pojok) dan SMP 39 di barat daya (Cigondewah).
c. Dekat dengan pasar seperti sekolah-sekolah di KR (Kiaracondong), SMP 23 dan 32 di BJ (pasar
Ciroyom dekat), dan SMP 36 di TG (dekat Caringin pasar).
d. Sulit dijangkau oleh transportasi umum seperti sekolah di daerah barat GD (Rancasari).
Kondisi ini tentu saja menjadi bahan evaluasi bagi kepala sekolah di setiap sekolah yang
berkategori sedang di atas sehingga kualitas sekolah harus lebih ditingkatkan.
6. Daftar Pustaka
Kamble, K.H., & Aggrawal, P. (2011). Geostatistical Analyst for Deciding Optimal Interpolation Strategies
for Delineating Compact Zones. International Journal of Geosciences, 2, 585-596.
Shi, W. (2010). Principles of Modelling Uncertainties in Spatial Data and Spatial Analysis. Taylor and Francis
Group.
Sari, K.N. (2009) Model Semivariogram dan Estimasi Ordinary Kriging untuk Nilai Ujian Nasional SMP di
Kota Bandung dan Cimahi. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20.
Rostaman. (2005). Dinamika Populasi Lalat Sciarid (Diptera: Sciaridae) pada Budidaya Jamur Tiram.
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Hohn, M.E. (1999). Geostatistics and Petroleum Geology. London: Kluwer Academic Publishers.
Armstrong, M. (1998). Basic Linear Geostatistics. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg.
Kintanidis, P.K. (1997). Introduction to Geostatistics: Applications to Hydrogeology. New York: Cambridge
University Press.
Fetter, C.W. (1994). Applied Hydrogeology. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Hurlock, E. (1992). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
David, M. (1977). Geostatistical Ore Reserve Estimation. New York: Amsterdam Oxford.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 34
Visit Bandung Indonesia. Bandung maps. Diunduh April, 2013 dari
http://visitbandungindonesia.wordpress.com/bandung-map-2/.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Profil Kependudukan Jawa Barat Tahun 2011. Diunduh April, 2013 dari
http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/75.
Badan Standar Nasional Pendidikan. Data Statistik Sekolah. Diunduh April, 2009 dari http://bsnpindonesia.org/id.
Spot Crime. Boston, MA Crime Map. Diunduh Oktober, 2013 dari http://spotcrime.com/ma/boston;
Amstrong, M. (1998). Basic Linear Geostatistics. Germany: Springer-Verlag Berlin Heidelberg, 1-3.
Kintanidis, P.K. (1997). Introduction to Geostatistics: Applications to Hydrogeology. New
York: Cambridge University Press, 1.
Hohn, M.E. (1999). Geostatistics and Petroleum Geology. London: Kluwer Academic Publishers, 57.
Shi, W. (2010). Principles of Modelling Uncertainties in Spatial Data and Spatial Analysis. Taylor and
Francis Group, 190-192.
Kamble, K.H., & Aggrawal, P. (2011). Geostatistical Analyst for Deciding Optimal Interpolation
Strategies for Delineating Compact Zones. International Journal of Geosciences, 2, 585-596.
Rostaman. (2005). Dinamika Populasi Lalat Sciarid (Diptera: Sciaridae) pada Budidaya Jamur Tiram.
Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Spot Crime. Boston, MA Crime Map. Diunduh Oktober, 2013 dari http://spotcrime.com/ma/boston.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Profil Kependudukan Jawa Barat Tahun 2011. Diunduh April, 2013
dari http://www.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/75.
Visit Bandung Indonesia. Bandung maps. Diunduh April, 2013 dari
http://visitbandungindonesia.wordpress.com/bandung-map-2/.
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20.
David, M., Geostatistical Ore Reserve Estimation (New York: Amsterdam Oxford, 1977), 103-106.
Fetter, C.W., Applied Hydrogeology (New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs, 1994), 341-345.
Hurlock, E., Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1992), 188-220.
Badan Standar Nasional Pendidikan. Data Statistik Sekolah. Diunduh April, 2009 dari http://bsnpi
ndonesia.org/id.
Sari, K.N. (2009) Model Semivariogram dan Estimasi Ordinary Kriging untuk Nilai Ujian Nasional SMP
di Kota Bandung dan Cimahi. Bandung: Institut Teknologi Bandung
35 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
URGENSI REFERENSI GEOSPASIAL TUNGGAL DALAM
PENYELENGGARAAN INFORMASI GEOSPASIAL
Eki Riyanti Suyatno a,*, A M. Pahlevi b
a,*,b,
Pusat Jaring Kontrol Geodesi dan Geodinamika, Badan Informasi Geospasial
Jln. Raya Jakarta-Bogor KM. 46 Cibinong-Bogor, Telp. +062-21-8757329,
Email: [email protected], [email protected]
Abstrak
Perencanaan dan pelaksanaan pembangunan suatu daerah harus didasarkan pada
data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Data dan informasi
tersebut tak lepas dari data dan informasi keruangan (spasial). Geospasial atau ruang
kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan lokasi, letak dan posisi suatu
obyek atau kejadian yang berada di bawah, pada atau di atas permukaan bumi yang
dinyatakan dalam koordinat tertentu. Informasi Geospasial (IG) adalah data ruang
kebumian yang telah diolah, sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Permasalahan yang terjadi adalah
adanya penyelenggaraan kegiatan pembangunan dengan menggunakan IG yang
berbeda-beda atau menggunakan referensi yang beragam.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU-IG)
mengamanatkan terbangunnya IG (peta) yang dapat dipertanggungjawabkan dan
bersumber dari satu referensi. Penggunaan sistem referensi geospasial yang beragam
mengakibatkan antara satu IG dengan yang lainnya tidak menempati posisi yang sama
dan tidak dapat diintegrasikan satu dengan lainnya. Hal ini berdampak pada defisiensi
waktu dan biaya pembangunan. Untuk menghindari permasalahan-permasalahan
tersebut maka diperlukan acuan yang sama dalam pemetaan di seluruh Indonesia atau
dengan kata lain diperlukan sistem referensi geospasial tunggal dalam penyelenggaraan
IG.
Penyelenggaraan IG dengan menggunakan referensi tunggal merupakan hal yang
penting karena dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan keruangan dengan
mengembalikannya pada sumber yang sama. Untuk itu diperlukan peran dan kesamaan
langkah antara instansi Pemerintah dengan Pemerintah Daerah dalam mewujudkan
penyelenggaraan IG yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan.
Kata Kunci: Informasi Geospasial, Informasi Geospasial Dasar, Informasi Geospasial
Tematik, Undang-Undang Informasi Geospasial
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 36
Abstract
Planning and development of a region should be based on accurate and reliable data
and information. The data and information that mean due to spatial. Geospatial is
spatial aspect that shows of location, layout and position an object or event that is
under, on or below the earth's surface which is expressed in a certain coordinate.
Geospatial Information (GI) is geospatial data that has been processed, so that can be
used as tools in planning and development. The problems are many development
activities used difference coordinate reference.
In the other side, low number 4 about Geospatial Information (Low of GI) mandated
to establish reliable GI and based on a single reference. The use of the difference
geospatial reference system caused between one another GI does not occupy the same
position and cannot be integrated with one another. This is result in deficiency time and
cost development. To avoid these problems, it will be required the same reference (a
single geospatial reference) in mapping and implementation of GI in Indonesia.
This is important to solve the spatial problems by returning them to the same
reference. To achieve this goal, need the collaboration role between government
institution and local government so that be an integrated planning and development.
Keywords: Geospatial Information, Based Geospatial Information, Thematic
Geospatial Information, Low of Geospatial Information
37 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
PENDAHULUAN
Latar belakang
Disadari atau tidak, dalam keseharian kita
telah banyak menggunakan peta untuk
membantu dan mempermudah aktivitas. Misalnya saat akan bepergian ke suatu tempat, informasi lengkap mengenai letak dan denah lokasi
akan sangat membantu dalam mencapai tujuan
tersebut. Selembar peta mengandung beragam
informasi yang menyangkut aspek keruangan
(spasial) suatu obyek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak dan posisinya.
Informasi Geospasial (IG) atau dalam istilah
umum lebih dikenal dengan nama “peta” tersebut adalah segala data keruangan yang
menunjukkan lokasi, letak, dan posisi suatu obyek
atau kejadian yang berada di bawah, pada atau
di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam
sistem koordinat tertentu yang telah diolah. IG
terbagi menjadi dua yaitu Informasi Geospasial
Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial Tematik
(IGT). IGD adalah IG yang berisi tentang objek
yang dapat dilihat secara langsung atau diukur
dari kenampakan fisik di muka bumi dan yang
tidak berubah dalam waktu yang relatif lama. IGD
sendiri dibagi menjadi dua yaitu Jaring Kontrol
Geodesi (JKG) dan peta dasar. Sedangkan IGT
merupakan IG yang menggambarkan satu atau
lebih tema tertentu yang dibuat mengacu pada
IGD.
Dalam kaitannya dengan pembangunan
infrastruktur dan ekonomi dalam suatu wilayah,
IG dapat digunakan sebagai alat bantu dalam
perumusan kebijakan dan pengambilan keputusan serta pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (UU-IG) memberikan
suatu payung hukum dan aturan yang mengikat
terkait dengan penyelenggaraan IG. Amanat dari
UU-IG tersebut adalah:
1. Menjamin ketersediaan dan akses IG yang
dapat dipertanggungjawabkan,
2. Mewujudkan kebergunaan dan keberhasilgunaan IG melalui kerjasama, koordinasi,
integrasi dan sinkronisasi,
3.Mendorong penggunaan IG dalam
pemerintahan dan kehidupan masyarakat,
serta
4.Pembinaan kepada penyelenggara,
pelaksana dan pengguna IG lainnya.
UU-IG tersebut mengamanatkan terbangunnya IG (peta) yang dapat dipertanggungjawabkan dan bersumber dari satu
referensi. Karena IG dinyatakan dalam sistem
koordinat tertentu, maka diperlukan suatu
referensi geodesi tertentu.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna tanggal
23 Desember 2010, Presiden SBY menyatakan
“harus ada satu peta yang menjadi rujukan
nasional” atau yang dikenal dengan Kebijakan
Satu Peta (One Map Policy). Kebijakan ini sejalan dengan amanat UU-IG tersebut di atas juga
dengan Undang-Undang lain yang terkait
dengan perencanaan pembangunan. Undangundang Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah Pasal 152 menyebutkan
“Perencanaan pembangunan daerah
didasarkan pada data dan informasi yang
akurat dan dapat dipertanggung jawabkan”. Undang-undang Nomor 25 tahun 2004
tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional Pasal 31 menyebutkan “Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan
informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan”.
Permasalahan
Saat ini IG yang tersedia di berbagai inst
ansi menggunakan beragam referensi geospasial. Keberagaman sistem referensi geospasial tersebut mengakibatkan antara satu IG
dengan lainnya tidak menempati posisi yang
sama dan tidak dapat diintegrasikan satu
dengan lainnya. Contohnya adalah dilakukannya pengukuran posisi teliti dan real time
menggunakan GPS oleh beberapa instansi pe-
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 38
merintah pembuatan pilar JKG untuk berbagai
macam kebutuhan yang belum terintegrasi, dan
dilakukannya pengukuran pasang surut laut oleh
berbagai instansi. Hal ini berdampak pada
defisiensi waktu dan biaya pembangunan.
Contoh lain adalah sering terjadi konflik di perbatasan, adanya sengketa lahan perkebunan,
pertambangan, kehutanan, dll. Hal ini disebabkan
karena acuan peta yang digunakan tidak
mempunyai referensi yang sama. Oleh karena itu
untuk menghindari permasalahan-permasalahan
tersebut maka diperlukan acuan yang sama
dalam pemetaan di seluruh Indonesia atau
dengan kata lain diperlukan sistem referensi
geospasial tunggal dalam penyelenggaraan IG.
Maksud dan Tujuan
Tulisan ini bermaksud untuk memaparkan
sekilas tentang sejarah penyelenggaraan IG di
Indonesia; status IGD khususnya JKG saat ini;
dan pentingnya penggunaan sistem referensi
geospasial tunggal.
Tujuan yang ingin dicapai adalah agar daerah
mengetahui mengenai pentingnya penggunaan
sistem referensi geospasial tunggal yang
digunakan dalam penyelenggaraan IG, yang
nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam
perencanaan, pengambilan keputusan sampai
penyajian informasi di segala aspek kehidupan
khususnya untuk percepatan dan perluasan
pembangunan Indonesia.
METODOLOGI
Penyusunan tulisan ini berdasarkan kajian
literatur dari berbagai sumber khususnya di
dalam penyelenggaraan IG menurut UndangUndang Informasi Geospasial. Kemudian dianalisa sesuai dengan permasalahan yang ada.
39 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
PENYELENGGARAAAN IG
Sebagaimana disebutkan dalam UU-IG
bahwa IG yang berjenis IGD hanya diselenggarakan oleh Pemerintah dalam hal ini Badan
Informasi Geospasial (BIG). Sedangkan IG yang
berjenis IGT diselengga-rakan oleh Instansi
Pemerintah atau Pemerintah Daerah sesuai
tupoksinya maupun perorangan hanya untuk
kepentingan sendiri (Pasal 23 UUIG).
Untuk menjamin keterpaduan informasi
geospasial, penyelenggaraan IGT harus
mengacu pada IGD yang dikeluarkan oleh BIG.
Jenis IGT misalnya peta sumberdaya alam,
peta kebencanaan, peta tata ruang, peta
kehutanan, peta sebaran penduduk, peta
penutup lahan dan kemiringan lereng, dll.
Penyelenggaraan IG dilakukan secara
bertahap dan sistematis untuk seluruh
wilayah Indonesia. Penyelenggaraan IG mempunyai tahapan sebagai berikut: pengumpulan Data Geospasial (DG); pengolahan DG
dan IG; penyimpanan dan pengamanan DG
dan IG; penyebarluasan DG dan IG; serta
penggunaan IG.
Sebuah IG dikatakan tepat jika memiliki
referensi geodesi yang akurat dan tunggal.
Pada kondisi saat ini, masing-masing penyelenggara IG di beberapa instansi masih menggunakan berbagai macam referensi dalam
membuat kebijakan. Dampak dari penggunaan berbagai macam referensi adalah
tidak dapat dilakukannya penggabungan IG
antar instansi dan sektoral yang dapat
menyebabkan defisiensi waktu dan biaya.
BIG sebagai instansi penyelenggara IG,
khususnya IGD, dalam hal ini JKG, telah
melakukan kegiatan pengumpulan data JKG,
bahkan sejak jaman pendudukan Belanda
dengan metode dan peralatan yang
disesuaikan dengan masanya hingga sekarang.
BIG juga telah melakukan pengolahan data JKG
dan menjadikannya sebagai informasi JKG, serta
melakukan penyimpanan dan pengamanan data
dan informasi tersebut secara terus menerus dari
tahun ke tahun. Kemudian dilakukan proses
penyebarluasan dan terakhir adalah penggunaan
IG. JKG adalah infrastruktur yang berfungsi untuk
mendefinisikan/ merealisasikan sistem referensi
koordinat yang tunggal secara nasional. JKG
digunakan sebagai acuan/referensi dalam
penentuan posisi (koordinat) secara nasional.
sedemikian rupa hingga triangulasi Sumatera
membentuk satu sistem dengan triangulasi
Jawa. Pada periode tahun 1912-1918 jaring
utama triangulasi Jawa diperluas ke Bali dan
Lombok. Pada tahun 1911 pengukuran jaring
utama triangulasi di Celebes (sekarang
Sulawesi) dimulai. Sistem koordinat adalah
Bessel 1841 ellipsoid, dengan lintang dan
azimuth ditentukan di titik triangulasi di G.
Moncong Lowe dan dalam penentuan bujur,
Makasar sebagai meridian nol.
STATUS JARING KONTROL GEODESI
Keterbatasan teknologi saat itu, yaitu
pengukuran dilakukan dengan alat optis,
penyatuan sistem datum geodesi tidak
dimungkinkan. Sehingga jaring utama triangulasi Jawa-Sumatera-Bali-Lombok tidak satu
sistem dengan jaring utama Sulawesi dan
masing-masing mempunyai ketelitian berbeda. Begitu pula jaring utama triangulasi di
Kalimantan yang dilaksanakan oleh perusahaan eksplorasi minyak-bumi, tidak satu
sistem. Ketelitian relatif yang dicapai dari
jaring utama triangulasi tersebut sekitar 1 :
100.000.
Jaring Kontrol Geodesi Nasional adalah
posisi di muka bumi di wilayah Indonesia yang
ditandai dengan bentuk fisik tertentu yang
dijadikan sebagai kerangka acuan horisontal,
vertikal dan gayaberat yang terhubung satu sama
lain dalam satu kerangka referensi (Rakorda IG
2013).
Jaring Kontrol Geodesi (JKG) menurut UUIG terdiri dari Jaring Kontrol Horizontal Nasional
(JKHN), Jaring Kontrol Vertikal Nasional (JKVN),
dan Jaring Kontrol Gayaberat Nasional (JKGN).
Wujud Jaring Kontrol Geodesi (JKG) direpresentasikan oleh Titik Kontrol Geodesi (TKG). TKG
adalah posisi di muka bumi yang ditandai dengan
bentuk fisik tertentu yang dijadikan sebagai
kerangka acuan posisi untuk Informasi Geospasial
(IG) baik Dasar maupun Tematik.
Penyelenggaraan JKHN di Indonesia menurut
Subarya (1995) sudah dimulai sejak jaman
penjajahan Belanda, yaitu dengan pengukuran
triangulasi yang dimulai pada tahun 1862, yaitu
jaring utama triangulasi di P.Jawa, dan selesai
pada tahun 1880. Sistem koordinat triangulasi
Jawa dihitung mengacu kepada elipsoid Bessel
1841, dengan lintang dan azimuth ditentukan
titik triangulasi di Genoek, dan untuk hitungan
bujur, Batavia (sekarang Jakarta) sebagai
meridian nol. Selanjutnya pada tahun 1883 jaring
utama triangulasi Jawa diperluas ke P. Sumatera,
Selanjutnya dengan pengembangan
sistem satelit navigasi Doppler (Transit), sejak
tahun 1974 pengadaan jaring titik kontrol juga
mulai memanfaatkan sistem satelit ini. Pada
realisasinya jaring kontrol geodesi yang titiktitiknya ditentukan dengan memanfaatkan
satelit doppler sudah dalam satu sistem, akan
tetapi belum homogin dalam hal ketelitian,
disebabkan metoda pengukuran (penentuan
posisi absolut, translokasi) dan metoda
hitungan ('multistation mode, short arc
mode') yang dipakai berbeda. Walaupun
demikian koordinat titik-titik pada jaring
kontrol geodesi tersebut, secara teknis cukup
memenuhi untuk keperluan pemetaan
rupabumi pada skala 1 : 50.000. (Subarya
1995).
Dengan berkembangnya sistem satelit
GNSS, sejak tahun 1989 pengadaan jaring titik
kontrol horizontal di Indonesia umumnya
bertumpu pada pengamatan satelit GNSS.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 40
Pengukuran Jaring Kontrol Horisontal
Nasional dilaksanakan pada tahun 1992,
bersamaan dengan pengukuran untuk penelitian
geodinamik dengan memanfaatkan teknologi
GPS. Lokasi titik-titik/pilar pada JKHN ditempatkan di kota-kota besar dilokasi yang mudah
dalam pencapaian dan memenuhi persyaratan
untuk pengukuran GPS. Penyebaran titik
ditempatkan merata secara geometris diseluruh
wilayah Indonesia, berjumlah 60 titik/stasiun.
Perkembangan JKHN di Indonesia
mengenal berbagai datum dimulai dari Datum
Triangulasi mengacu kepada Bessel 1841,
kemudian Datum Indonesia 1974 mengacu kepada ellipsoid Geodetic Reference System 1967
(GRS67), dan saat ini Datum Geodesi Nasional
1995 (DGN95) mengacu kepada ellipsoid World
Geodetic System 1984 (WGS84). JKHN dengan
DGN95,
dimana parameternya adalah sama dengan
parameter ellipsoid WGS84, pada proses
hitungannya adalah selain titik-titik kontrol GNSS
yang berada di wilayah Indonesia juga dilibatkan
titik-titik kontrol International GNSS Service (IGS)
global secara simultan dalam International
Terrestrial Reference Frame (ITRF).
JKVN di Indonesia telah dibangun sejak
tahun 1980 yang direalisasikan di lapangan
berupa pilar-pilar yang dinamakan dengan Tanda
Tinggi Geodesi (TTG). TTG tersebut dibangun di
sepanjang jalan utama dengan spasi jarak sekitar
4 km membentuk looping dan jaringan. Data sipat
datar kemudian dikoreksi dengan data gravity dan
di lakukan perataan kemudian diikatkan ke
kedudukan Mean Sea Level (MSL) pada stasiunstasiun pengamatan pasang surut. Dari hasil
perhitungan, diperoleh nilai tinggi orthometrik
TTG-TTG dengan akurasi mencapai level cm.
Gambar 1. Jaring Kontrol Horizontal Nasional orde 0 (Sumber: Subarya.1995)
41 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Gambar 2. Jaring Kontrol Horizontal Nasional Orde 0 dan 1
Di Indonesia Pengukuran JKGN terestrial sejak tahun 1986 hingga 2007 menghasilkan 5780
titik JKGN absolut, orde I, II, dan III. JKG Absolut terdapat 4 titik, yaitu di Bandung, Yogyakarta,
Pontianak dan Cibinong (BIG). Orde I, merupakan orde pengikatan ke absolute gravity. JKG orde 1
berjumlah 110 titik tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang sebagian besar diwujudkan dalam
bentuk pilar Gaya Berat Utama (GBU). Mayoritas titik tersebut tersebar di lingkungan bandara di
seluruh wilayah Indonesia. Orde II, diikatkan kepada JKG Orde I dan nilainya relatif terhadap Orde I,
sebagian besar berupa pilar tanda tinggi geodesi (TTG) dan pilar pengukuran gayaberat biasa serta
sebagian lainnya hanya berupa nilai gravity pada koordinat tertentu (tanpa pilar). JKG orde II
tersebar di daerah Jawa, Sumatra, Sulawesi, Madura, Bali, Lombok, Timor-Timur (sekarang Timor
Leste), Ambon, dan Pulau Seram. Pengukuran JKGN terestris membutuhkan waktu yang sangat lama
dan biaya yang besar, serta pengukurannya terbatas pada daerah yang hanya terjangkau
transportasi, selain itu pengukuran juga terbatas hanya di daratan saja sehingga pengukuran
terestrial kurang efektif dan efisien untuk pemetaan geoid. Oleh karena itu, mulai tahun 2009 BIG
(dahulu bernama Bakosurtanal) bekerja sama dengan Danmarks Tekniske Universitet (DTU),
Denmark untuk melakukan survei airborne gravity. Pada tahun 2009 dilakukan survei untuk Pulau
Sulawesi, Pulau Kalimantan dilakukan pada tahun 2010 dan 2011, dan Papua dilakukan pada tahun
2011. Hasil dari model geoid berupa undulasi geoid yang kemudian di fittingkan dengan koordinat
komponen tinggi hasil pengukuran GNSS di JKVN (metode GNSS Heighting).
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 42
Selain JKG dalam bentuk pilar, terdapat pula JKG aktif yang merekam posisi (koordinat) secara
real time, yaitu stasiun tetap GPS dan stasiun pasang surut laut. Dari data posisi yang terekam secara
terus menerus dan pengukuran periodik di pilar JKG, dilakukan perhitungan sehingga menghasilkan
satu set koordinat, yaitu Datum Geodesi Nasional.
Gambar 3. Jaring Kontrol Vertikal Nasional
43 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Gambar 4. Jaring Kontrol Gayaberat Nasional
Gambar 5. Sebaran Stasiun Tetap GPS (Stasiun CORS) – BIG
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 44
Gambar 6. Sebaran Stasiun Pasang Surut Permanen - BIG
SISTEM REFERENSI GEOSPASIAL TUNGGAL
Perencanaan yang matang sehingga akan memberikan perkembangan yang terarah dan
meningkatkan kualitas pemanfaatan ruang. Perencanaan pembangunan tersebut membutuhkan
data dan informasi geospasial yang akurat dan terpercaya. Beberapa permasalahan di daerah
terkait dengan penggunaan IG (peta) yang berbeda pada umumnya adalah permasalahan batas dan
sengketa lahan. Selain itu beragamnya sistem referensi yang digunakan dalam menghasilkan
Informasi Geospasial, mengakibatkan setiap instansi, Badan Usaha, Organisasi, bahkan orang per
orang, mendefinisikan sistem referensinya masing-masing. Hal tersebut akan menyulitkan saat
dilakukan integrasi data.
Penyelenggarakan IG dalam satu referensi tunggal menjadi acuan dalam penyelenggaraan
IGT di seluruh instansi maupun Pemerintah Daerah. Kebijakan menggunakan satu peta rujukan
nasional ini merupakan langkah penting menuju informasi geospasial yang terintegrasi untuk
pelaksanaan pembangunan.
Untuk menjawab tantangan Presiden serta mewujudkan Informasi Geospasial Nasional
yang Terintegrasi, BIG sebagai lembaga penyelenggara informasi geospasial memandang perlu
adanya Referensi Tunggal Informasi Geospasial yang menjadi acuan bersama untuk Menata
Indonesia Yang Lebih Baik. Hal ini diwujudkan dengan diluncurkannya Referensi Tunggal Informasi
Geospasial pada tanggal 17 Oktober 2013 di Jakarta.
45 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
PERAN DAERAH DALAM PENYELENGGARAAN IG
Untuk dapat mewujudkan IG yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan, maka diperlukan kesamaan langkah antar instansi pemerintah maupun Pemerintah
Daerah dalam pembangunan data dan informasi geospasial termasuk kegiatan survei dan
pemetaannya. Dalam penyelenggaraan IG, kegiatan pemberian akses, pendistribusian, dan
pertukaran DG dan IG yang dapat dilakukan dengan menggunakan media cetak dan elektronik,
merupakan kegiatan dalam penyebarluasan DG dan IG. Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah
daerah Jawa Barat dapat memanfaatkan JKG yang ada di Jawa Barat.
Di daerah Jawa Barat terdapat sebanyak 454 pilar JKV yang tersebar di sepanjang jalur jalan
utama. Sedangkan JKH terdapat sebanyak 33 pilar di hampir semua kabupaten di Jawa Barat. Stasiun
pasang surut terdapat di Pelabuhan Ratu, Pameungpeuk, Pangandaran, Pemayangsari. Disamping
pemanfaatan data, peran Pemerintah daerah sangat diperlukan dalam menjaga pilar JKG maupun
stasiun pasang surut agar tidak hilang karena adanya kegiatan pembangunan.
Urgensi dalam mempercepat penyediaan IGD semakin terasa diperlukan khususnya peta
dasar skala besar untuk mendukung program-program nasional seperti pembuatan Rencana Detail
Tata Ruang (RDTR). “Dalam penyusunan RDTR digunakan peta skala 1:5.000” sesuai UU Nomor 26
tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam hal ini peran daerah diperlukan untuk membantu
mempercepat kebutuhan Peta Rupabumi (RBI) di daerah masing-masing dengan ketentuan teknis dari
BIG. Hal tersebut sejalan dengan tujuan Rakorda IG tahun 2013 yaitu membangun komitmen nasional
khususnya di daerah, di dalam penyelenggaraan informasi geospasial dalam jangka pendek,
menengah maupun panjang.
KESIMPULAN
1. UU No. 4 tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial mengamanatkan terbangunnya IG yang dapat
dipertanggung-jawabkan dan bersumber dari satu referensi tunggal.
2.Penyelenggaraan IG dengan menggunakan referensi tunggal merupakan hal yang penting karena
dapat menyelesaikan permasalahan-permasalahan keruangan dengan mengembalikannya pada
sumber yang sama.
3.Diperlukan peran dan kesamaan langkah antara instansi Pemerintah dengan Pemerintah Daerah
dalam mewujudkan penyelenggaraan IG yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan.
I
Desember 2013 Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
I 46
DAFTAR PUSTAKA
Bidang Kerangka Geodesi, 2010, Laporan Akhir Densifikasi Jaring Kontrol Horizontal Nasional (JKHN) Di
Sulawesi, BIG, Bogor.
Bidang Kerangka Geodesi, 2011, Laporan Kegiatan Tahunan, Basisdata Kerangka Geodesi, BIG, Bogor.
Hidayah, A., 2012, Jaring Kontrol Geodesi: Kondisi Kekinian dan Tantangan, BIG, Bogor.
Pangastuti, D., 2012, Grand Design Geodesi dan Geodinamika. Referensi Tunggal untuk Kemajuan
Pembangunan Indonesia, BIG, Bogor.
Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Informasi Geospasial 2013, Tema: Peningkatan Peran Daerah dalam
Penyelenggaraaan Informasi Geospasial, Jakarta, 16-17 April 2013.
Republik Indonesia, 2011, Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Informasi Geospasial, DPR-RI,
Jakarta.
Subarya. C., 1995, Datum Geodesi Nasional 1995 (Dgn95) Yang Geosentrik. Bakosurtanal, Cibinong.
47 I Desember 2013 I Jurnal Analisis Kebijakan Pembangunan
Download