tingkat anemia pada ibu hamil tm iii dengan kejadian asfiksia

advertisement
TINGKAT ANEMIA PADA IBU HAMIL TM III DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA
NEONATORUM
Endang Buda Setyowati*
*Akademi Kebidanan Griya Husada, Jl.Dukuh Pakis Baru II no. 110 Surabaya
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan : Asfiksia adalah suatu kondisi di mana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan
teratur segera setelah lahir yang disertai dengan hipoksia yang progresif, penimbunan CO2, dan
asisdosis. Di RSUD Gambiran kediri kejadian asfiksia neonatorum tahun 2013 periode Oktober –
Desember sebesar 74 bayi (37,37%) sedangkan pada tahun 2014 periode Januari-Februari sebesar 78
bayi (40,20 %). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan tingkat anemia pada ibu hamil TM III
dengan kejadian asfiksia neonatorum Di RSUD Dr. Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014. Metode
: Pada penelitian yaitu analitik korelasional jenis case control dengan data sekunder. Populasi
penelitian sebesar 221 ibu bersalin dan besar sampelnya 141 orang yang dipilih secara systematic
random sampling. Hasil penelitian dibuat tabel frekuensi, tabulasi silang dan dianalisis menggunakan
uji Spearman roh dengan α = 0,05. Hasil : Hasil penelitian didapatkan tingkat anemia sebagian besar
adalah anemia ringan sebesar 78 (55,3%) dan kejadian asfiksia neonatorum hampir setengahnya
adalah asfiksia sedang sebesar 67 (47,5%). Hasil uji Spearman roh bahwa nilai ρ value sebesar 0,04
dengan nilai α 0,05 maka ρ value < α sehingga Ho ditolak dan H1 diterima artinya ada hubungan
tingkat anemia dengan kejadian asfiksia neonaturunm Di RSUD Dr. Muh Soewandhie Surabaya
Tahun 2014, serta didapatkan nilai r : 0,175 artinya kekuatan korelasi sangat rendah dan arah kolerasi
menujukan nilai positif sehingga semakin berat anemia maka semakin berat kejadian asfiksia
neonaturum Di RSUD Dr. Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014. Diskusi : RSUD Dr. Muh
Soewandhie Surabaya Tahun 2014 . Peran petugas kesehatan dalam mengatasi masalah ini yaitu
dengan pemeriksaan kehamilan secara berkala dan peningkatan pelayanan kegawatdaruratan.
Kata Kunci : Anemia, Asfiksia Neonatorum, Kehamilan, Neonatus
PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan pada hakekatnya
adalah penyelenggaraan upaya kesehatan
untuk mencapai kemampuan untuk kehidupan
sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
Perkembangan derajat kesehatan masyarakat
dapat dilihat dari kejadian kematian dan
kesakitan dalam masyarakat dari waktu ke
waktu. Disamping itu kejadian kematian juga
dapat digunakan sebagai indikator dalam
penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan
dan program pembangunan kesehatan lainnya
(Saifuddin, 2007).
Menurut Word Health Organization
(WHO) setiap tahun sekitar 3% (3,6 juta) dari
120 bayi lahir mengalami asfiksia dan hampir
1 juta bayi meninggal. Di Indonesia, dari
seluruh kematian bayi sebanyak 57%
meninggal. Penyebab kematian bayi baru lahir
di Indonesia adalah bayi baru lahir rendah
(29%), asfiksia (27%), trauma lahir , tetanus
neonatorum, infeksi lain dan kelainan neonatal
(Wiknjosastro, 2008).
Asfiksia adalah suatu kondisi dimana bayi
tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur
segera setelah lahir yang disertai dengan
hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan
asidosis. Secara umum, asfiksia disebabkan
adanya gangguan pertukaran gas atau
pengangkutan oksigen dari ibu ke janin pada
masa kehamilan, persalinan atau segera setelah
lahir. Penyebab kegagalan pernapasan pada
bayi yaitu hipoksia ibu, usia ibu kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun, gravida empat
atau lebih, penyakit pembuluh darah, plasenta
tipis, plasenta kecil, solusio plasenta,
perdarahan plasenta, prematur, Intrauterine
Growth Restriction (IUGR), gemeli, tali pusat
menumbung, kelainan kongenital, partus lama,
partus tindakan (Wahyuni, 2011).
Di Jawa Timur penyebab kematian
neonatal adalah BBLR (38,03%), asfiksia
(27,38%), trauma lahir (9,10%), infeksi
58
(3,70%), tetanus neonaturum (10,08%), dan
lain-lain (18,38%) (Dinkes Jawa Timur, 2012).
Berdasarkan survey awal yang dilakukan
peneliti Di RSUD Dr. Muh Soewandhie
terdapat kejadian asfiksia neonaturum tahun
2013 periode Oktober – Desember sebesar 74
bayi (37,37%) sedangkan pada tahun 2014
periode Januari-Februari sebesar 78 bayi
(40,20 %). Berdasarkan data tersebut
menunjukkan masih tingginya kejadian
asfiksia neonatorum di Di RSUD Dr. Muh
Soewandhie Surabaya.
Faktor penyebab asfiksia menurut
Barbara Straight (2007) adalah faktor ibu
(amnionitis, anemia, diabetes, hipertensi, obatobatan, infeksi), faktor uterus (persalinan
lama, presentasi abnormal), faktor plasenta
(plasenta previa, solusio plasenta, insufisiensi
plasenta), faktor umbilikal (prolaps tali pusat,
lilitan tali pusat), faktor janin (disporposi
sefalopelvis, kelainan konginetal, kesulitan
kelahiran).
Dampak mikro dari asfiksia neonatorum
pada bayi yaitu berupa gagal nafas dan dapat
menyebabkan suplai O2 ke tubuh menjadi
terhambat sehingga dapat menyebabkan koma,
walaupun sadar dari koma bayi akan
mengalami cacat otak. Dampak makro dapat
menimbulkan perdarahan otak, gangguan
tumbuh kembang, cacat seumur hidup seperti
buta, tuli, cacat otak dan kematian (Safrina,
2011).
Dalam hal ini upaya yang dapat
dilakukan
yaitu
penatalaksanaan
atau
pendeteksian sedini mungkin dengan cara
antenatal care secara teratur. Asfiksia
neonatorum yang disebabkan oleh ketuban
pecah dini dan preeklamsia dapat berdampak
buruk apabila penanganan bayi tidak
dilakukan secara sempurna. Upaya resusitasi
dengan mempertahankan jalan nafas agar tetap
baik, sehingga proses oksigenasi cukup dan
sirkulasi darah tetap baik.
Berdasarkan
fenomena
tentang
masih
tingginya angka kejadian asfiksia neonatorum
Di RSUD Dr. Muh Soewandhie Kota
Surabaya
Tahun
2014
yang
dapat
mengakibatkan perdarahan otak, gangguan
tumbuh
kembang
hingga
kematian.
Berdasarkan data Di RSUD Dr. Muh
Soewandhie Kota Surabaya, masalah tentang
hubungan tingkat anemia pada ibu hamil TM
III dengan kejadian asfiksia neonatrorum Di
RSUD Dr. Muh Soewandhie Kota Surabaya
Tahun 2014 belum pernah dilakukan
penelitian sehingga
memenuhi
kaidah
orginalitas tema penelitian. Oleh karena itu
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang hubungan tingkat anemia pada ibu
hamil TM III dengan kejadian asfiksia
neonatrorum Di RSUD Dr. Muh Soewandhie
Kota Surabaya tahun 2014
METODE PENELITIAN
penelitian ini yaitu berdasarkan
lingkup penelitian termasuk jenis penelitian
inferensial kuantitatif. Berdasarkan tempat
penelitian termasuk jenis penelitian lapangan.
Berdasarkan waktu pengumpulan data
termasuk jenis rancangan penelitian case
control. Berdasarkan ada tidaknya perlakuan
termasuk jenis expost facto. Berdasarkan cara
pengumpulan data termasuk jenis survey.
Berdasarkan tujuan penelitian termasuk jenis
analitik korelasional. Berdasarkan sumber
data termasuk jenis data sekunder
Penelitian ini semua ibu melahirkan
pada bulan Maret – Juni 2014 di RSUD Dr.
Muh Soewandi Kota Surabaya yang
Berjumlah 221 Orang
HASIL PENELITIAN
Umur Ibu Bersalin
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Berdasarkan umur Ibu di RSUD
Dr. Mug Soewandi surabaya Tahun
2014
Umur
(tahun)
<20 dan >35
20-35
>35
Jumlah
Frekuensi
Persentase (%)
20
65
56
141
14,2
46,1
49,7
100
(Sumber : Rekam Medik tahun 2014)
Berdasarkan tabel diatas dapat
diinterpretasikan bahwa umur ibu hampir
setengahnya adalah 20-35 tahun sebanyak
65 (46,1%) responden.
Karakteristik Berdasarkan Pendidikan ibu
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Berdasarkan Pendidikan Ibu di
RSUD Dr. Muh Soewandhie
Surabaya Tahun 2014
Pekerjaan
Dasar
Menengah
Tinggi
Jumlah
Frekuensi
33
62
46
141
Persentase
23,4
44,0
32,6
100
(Sumber : Rekam Medik Tahun 2014)
59
Berdasarkan
tabel
diatas
dapat
diinterpretasikan bahwa pendidikan ibu hampir
setengah adalah pendidikan menengah
sebanyak 62 (44,0%) responden.
Karakteristik Berdasarkan Pekerjaan ibu
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Berdasarkan Pekerjaan Ibu di
RSUD Dr. Muh Soewandhie
Surabaya Tahun 2014
Pekerjaan
IRT
Buruh
Swasta
PNS
Jumlah
Frekuensi
42
37
33
29
141
Tabel 5 Data Berdasarkan Anemia di
RSUD Dr. Muh Soewandhie Surabaya Tahun
2014
Kejadian Anemia
Tidak Anemia
Anemia Ringan
Anemia Sedang
Anemia Berat
Jumlah
Berdasarkan data pada tabel 5 dapat
diinterpretasikan bahwa sebagian besar
mengalami anemia ringan sebesar 78 (55,3%)
responden.
Data Berdasarkan kejadian Asfiksia
Neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Gambiran Kota Kediri.
Tabel 6 Data Berdasarkan kejadian Asfiksia
Neonatorum di RSUD Dr. Muh
Soewandhie Surabaya Tahun 2014
Berdasarkan
tabel
diatas
dapat
diinterpretasikan bahwa pekerjaan ibu hampir
setengah adalah pekerjaan IRT sebanyak 42
(29,8%) responden.
Karakteristik Berdasarkan Paritas ibu
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Karakteristik
Berdasarkan Paritas Ibu di RSUD
Dr. Muh Soewandhie Surabaya
Tahun 2014
Frekuensi
61
51
29
141
Persentase
15,6
55,3
27,7
1,4
100
(Sumber : Rekam Medik Tahun 2014)
Persentase
29,8
26,2
23,4
20,6
100
(Sumber : Rekam Medik ruang Teratai Tahun 2014)
Pekerjaan
Primipara
Multipara
Grandemultipara
Jumlah
Frekuensi
22
78
39
2
141
Kejadian
Asfiksia
Tidak asfiksia
Asfiksia Ringan
Asfiksia sedang
Asfiksia berat
Jumlah
Persentase
43,3
36,2
20,6
100
Frekuensi
Persentase
21
39
67
14
141
14,9
27,7
47,5
9,9
100
(Sumber : Rekam Medik Tahun 2014)
Berdasarkan data pada tabel 6 dapat
diinterpretasikan bahwa kejadian asfiksia
neonatorum hampir setengahnya yaitu asfiksia
(Sumber : Rekam Medik Tahun 2014)
sedang yaitu sebanyak 67 (47,5%) responden.
Data berdasarkan Anemia pada Ibu Hamil
Hubungan Tingkat Anemia pada Ibu
TM III di RSUD Dr. Muh Soewandhie
Hamil TM III dengan Kejadian Asfiksia
Surabaya Tahun 2014
Neonatorum di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Dr. Soewandhie Surabaya
Tabel 7 Hubungan Tingkat Anemia pada Ibu Hamil TM III dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum di
RSUD dr. Muh soewandi Surabaya Tahun 2014
Anemia
Tidak
Asfiksia
%
Asfiksia
ringan
Asfiksia Neonaturum
%
Asfiksia
%
sedang
Jumlah
Asfiksia
berat
%
Tidak Anemia
8
5,7
9
6,4
5
3,5
0
0,0
22
Anemia ringan
11
7,8
10
7,1
50
35,5
7
5,0
78
Anemia sedang
2
1,4
20
14,2
11
7,8
6
4,3
39
Anemia berat
0
0,0
Jumlah
21
P = 0,04
α= 0,05
( Sumber : Rekam Medik Tahun 2014)
0
39
0,0
1
67
0,7
1
14
0,7
2
141
Dari tabel 7 dapat diinterpretasikan
bahwa anemia ringan pada ibu hamil TM III
yang melahirkan bayi dengan asfiksia sedang
sebesar 50 (35,5%) responden.
r : 0,175
Berdasarkan
hasil
uji
statistik
menggunakan menggunakan uji spearman rho
diperoleh nilai ρ value sebesar 0,04 dengan
nilai α 0,05, maka ρ value < α sehingga Ho
60
ditolak dan H1 diterima artinya ada hubungan
tingkat anemia dengan kejadian asfiksia
neonaturunm di RSUD Dr. Muh Soewandhie
Surabaya Tahun 2014, serta didapatkan nilai r
: 0,175 artinya kekuatan korelasi sangat rendah
dan arah kolerasi menujukan nilai positif
sehingga semakin berat anemia maka semakin
berat kejadian asfiksia neonaturum di RSUD
Dr. Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014.
PEMBAHASAN
Kejadian anemia pada ibu hamil TM III
di RSUD Dr. Muh Soewandhie Surabaya
Tahun 2014.
Berdasarkan hasil penelitian yang
didapatkan dari 141 responden di RSUD Dr.
Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014, yang
mengalami anemia ringan sebesar 78 (55,3%)
responden.
Anemia adalah kondisi dimana sel darah
merah menurun atau menurunnya hemoglobin,
sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk
kebutuhan organ–organ vital pada ibu dan
janin menjadi berkurang (Varney, 2007). Fetus
yang sedang membesar di dalam uterus ibu
hamil mempunyai dua kebutuhan yang sangat
penting dan harus dipenuhi, yaitu bekalan
oksigen dan nutrient serta pembuangan sisa–
sisa metabolisme. Jika kebutuhan ini tidak
dapat dipenuhi, maka fetus akan menghadapi
masalah bahkan kematian. Terjadinya anemia
gizi pada ibu hamil dapat berawal dari seorang
ibu yang dilahirkan oleh ibu penderita anemia
gizi, yang selama masa pertumbuhan hingga
kehamilannya tidak mendapat sumber zat gizi
yang cukup, maupun pelayanan kesehatan
yang mungkin diperlukannya. Sehingga dia
selalu menderita anemia gizi. Alasan lain
adalah adanya kehamilan yang berulang dan
dalam selang waktu yang relatif singkat,
sehingga cadangan zat besi ibu seakan dikuras
guna memenuhi kebutuhan janin atau akibat
perdarahan pada waktu bersalin. Keadaan
terakhir tersebut akan semakin parah apabila
masih ditambah dengan adanya pantangan
terhadap beberapa jenis makanan, terutama
yang kaya akan zat besi selama kehamilan
(Manuaba, 2010).
Menurut Winkjosastro (2009) penyebab
anemia tersering adalah defesiensi zat nutrisi.
Seringkali defesiensinya bersifat multipel
dengan manifestasi klinik yang disertai infeksi,
gizi buruk atau kelainan herediter seperti
hemoglobinopati. Namun penyebab mendasar
anemia nutrisional meliputi asupan yang tidak
cukup, absorbsi yang tidak adekuat,
bertambahnya zat gizi yang hilang, kebutuhan
yang berlebihan, dan kurangnya utilisasi
nutrisi hemopoietik. Sekitar 75% anemia
dalam kehamilan disebabkan oleh defesiensi
besi. Penyebab tersering kedua adalah anemia
megaloblastik yang dapat disebabkan oleh
defesiensi asam folat dan defesiensi vitamin
B12. Penyebab anemia lainnya yang jarang
ditemui antara lain adalah hemoglobinopati,
proses inflamasi, toksisitas zat kimia dan
keganasan.
Sehingga opini tersebut adanya potensi
ibu hamil mengalami anemia pada masa
kehamilan dan perlunya asupan nutrisi
terutama yang mengandung zat besi serta tidak
ada kesenjangan antara teori dengan fakta
yang ada.
Kejadian Asfiksia Neonatorum di RSUD
Dr. Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014
Berdasarkan hasil penelitian yang
didapatkan dari 141 responden di RSUD Dr.
Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014,
respon den dengan kejadian asfiksia
neonatorum hampir setengahnya yaitu asfiksia
sedang yaitu sebanyak 65 (46,1%) responden
dan asfiksia ringan yaitu sebanyak 41(29,1%)
responden sedangkan sebagian kecil yaitu
asfiksia berat yaitu sebanyak 14 (9,9%)
responden.
Asfiksia Neonatorum adalah keadaan dimana
bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan
dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh
hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini
berhubungan dengan faktor yang timbul dalam
kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi
lahir (Sarwono, 2009).
Dari data diatas dapat diketahui bahwa
asfiksia neonatorum dapat terjadi selama
kehamilan, pada proses persalinan dan
melahirkan atau periode segera setelah lahir.
Janin sangat bergantung pada pertukaran
plasenta untuk oksigen, asupan nutrisi dan
pembuangan produksi sehingga gangguan
pada aliran darah umbilical maupun plasenta
hampir selalu menyebabkan asfiksia. Sebagian
besar pengetahuan mengenai respons terhadap
asfiksia akut pada janin dan bayi baru lahir
berasal dari penelitian hewan. Dengan
pembatasan tertentu, hal ini memberi
gambaran jelas tentang proses asfiksia pada
manusia dan juga dasar logis untuk resusitasi
neonatus. Gangguan suplai darah teroksigenasi
61
melalui vena umbilikalis dapat terjadi pada
saat antepartum, intrapartum, dan tentunya
pascapartum pada saat tali pusat dipotong. Hal
ini diikiuti oleh serangkaian kejadian berikut
yang diperkirakan ketika asfiksia berat
menurut Drew, dkk (2009).
Awalnya hanya sedikit napas. Sedikit
napas ini dimaksudkan untuk mengembangkan
paru, tetapi bila paru mengembang saat kepala
masih di jalan lahir atau bila paru tidak
mengembang karena suatu hal, aktivitas
singkat ini akan diikuti oleh henti napas
komplet. Kejadian ini disebut apnea primer.
Setelah waktu yang singkat, lama asfiksia
tidak dikaji dalam situasi klinis karena
dilakukan tindakan resusitasi yang sesuai
sehingga usaha bernapas otomatis dimulai. Hal
ini hanya akan membantu dalam waktu
singkat, kemudian jika paru mengembang,
secara bertahap terjadi penurunan kekuatan
dan frekuensi pernapasan. Selanjutnya bayi
akan memasuki periode apnea terminal.
Kecuali dilakukan resusitasi yang tepat,
pemulihan dari keadaan terminal ini tidak akan
terjadi.
Frekuensi jantung menurun selama apnea
primer dan akhirnya turundi bawah 100
kali/menit, yang dikenal secara internasional
sebagai titik aksi resusitasi. Frekuensi jantung
sedikit meningkat pada saat bayi berhenti
bernapas terengah-engah, tetapi bersama
dengan menurun dan berhentinya napas
terengah-engah bayi, frekuensi jantung terus
berkurang. Keadaan asam basa semakin
memburuk, metabolisme selular gagal, dan
jantung pun berhenti. Keadaan ini akan terjadi
dalam waktu yang cukup lama.
Selama apnea primer, tekanan darah
meningkat
bersama
dengan
pelepasan
katekolamin dan zat kimia stress lainnya.
Walaupun demikian tekanan darah yang
terkait erat dengan frekuensi jantung,
mengalami penurunan tajam selama apnea
terminal. Volume sekuncup pada neonatus
tetap dan curah jantung ditentukan hampir
sepenuhnya oleh frekuensi jantung.
Terjadi penurunan pH (power of
Hidrogen) yang hampir linear sejak awitan
asfiksia. Hal ini disebabkan oleh penumpukan
asam laktat dan asam lainnya yang diproduksi
oleh glikolisis anaerob pada jaringan yang
mengalami hipoksia. Adanya hubungan yang
buruk antara pH (power of Hidrogen) arteri
umbilical, keadaan klinis bayi pada saat itu,
dan prognosis jangka panjang. Apnea primer
dan apnea terminal mungkin tidak selalu dapat
dibedakan. Pada umumnya, bradikardia berat
dan kondisi syok memperburuk apnea
terminal.
Faktor yang turut mempengaruhi asfiksia
neonatorum adalah paritas ibu. Berdasarkan
kharakteristik paritas 1 beresiko karena ibu
belum siap secara medis (organ reproduksi)
maupun secara mental. Primiparity merupakan
faktor resiko yang mempunyai hubungan yang
kuat terhadap mortalitas asfiksia, sedangkan.
Keadaan tersebut memberikan predisposisi
untuk terjadi perdarahan, plasenta previa,
rupture uteri, solutio plasenta yang dapat
berakhir dengan terjadinya asfiksia bayi baru
lahir.
Akibat asfiksia neonatorum akan
bertambah buruk apabila penanganan tidak
dilakukan secara sempurna. Tindakan yang
akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
membatasi gejala lanjut yang mungkin timbul
(Prawirohardjo,
2008).
Menurut
hasil
penelitian tersebut potensi bayi mengalami
asfiksia semakin bertambah dan pencegahan
dapat dilakukan sedini mungkin serta tidak ada
kesenjangan teori dan fakta yang ada.
Hubungan tingkat Anemia pada ibu hamil
TM III dengan Kejadian Asfiksia Neonatorum
di Dr. Muh Soewandhie Surabaya
Berdasarkan tabel 7 menunjukan ibu
hamil TM III yang mengalami anemia ringan
melahirkan bayi asfiksia sebesar 35,5 %.
Hubungan ini diperkuat dengan hasil analisa
menggunakan spearman rho dimana diperoleh
nilai ρ value sebesar 0,04 (α=0,05) serta
kekuatan korelasinya sangat rendah dan arah
korelasinya positif yang artinya semakin tinggi
kejadian anemia, semakin tinggi juga kejadian
asfiksia neonatorum sehingga disimpulkan
bahwa terdapat hubungan tingkat anemia pada
ibu hamil TM III dengan kejadian asfiksia
neonatorum pada bayi baru lahir. Dalam hal
ini, tidak terjadi kesenjangan antara teori
dengan kenyataan yang terjadi di lapangan.
Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah
menurun atau menurunnya hemoglobin,
sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk
kebutuhan organ–organ vital pada ibu dan
janin menjadi berkurang (Varney, 2007). Fetus
yang sedang membesar di dalam uterus ibu
hamil mempunyai dua kebutuhan yang sangat
penting dan harus dipenuhi, yaitu bekalan
62
oksigen dan nutrient serta pembuangan sisa–
sisa metabolisme. Jika kebutuhan ini tidak
dapat dipenuhi, maka fetus
akan
menghadapi
masalah
bahkan
kematianDengan demikian jelaslah bahwa ibu
hamil dengan anemia akan memengaruhi
kondisi bayinya dan akan rentan mengalami
asfiksia neonatorum. Asfiksia neonatorum ini
dapat mendatangkan kematian dimana
menurut berbagai penelitian 27% bayi
meninggal akibat asfiksia neonatorum
(Winkjosastro, 2008).
Menurut hasil penelitian di atas bahwa
hampir setengahnya responden mengalami
kejadian anemia yang menyebabkan kejadian
asfiksia neonatorum. Dari hasil penelitian di
atas sesuai dengan teori bahwa yang
berpotensi mengalami asfiksia neonatorum
adalah pada ibu hamil TM III dengan anemia.
Untuk pencegahan terjadinya komplikasi
asfiksia neonatorum, perlu dilakukan Ante
Natal Care (ANC) yang komprehensif dan
berkualitas dan pertolongan persalinan
dilakukan sesuai standar Asuhan Persalinan
Normal (APN) dengan harapan angka
kematian
ibu
diminimalkan.
Demi
mewujudkan rendahnya angka kematian akibat
asfiksia neonatorum kerja sama antara
keluarga, pemerintah, tenaga medis dan
pemerhati kesehatan seperti institusi kesehatan
dan LSM perlu ditingkatkan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Tingkat anemia pada ibu hamil di Dr.
Muh Soewandhie Surabaya Tahun 2014
sebagian besar mengalami anemia sedang .
Kejadian asfiksia neonatorum di Dr. Muh
Soewandhie Surabaya tahun 2014 hampir
setengahnya adalah asfiksia sedang.
Ada hubungan, dengan kekuatan sangat
rendah dan arah kekuatan positif antara tingkat
anemia pada ibu hamil TM III dengan kejadian
asfiksia neonatorum di Dr. Muh Soewandhie
Surabaya tahun 2014.
Saran
Diharapkan dapat melakukan peningkatan
pelayanan kegawatdaruratan sehingga bayi yang
mengalami asfiksia neonatorum dapat ditangani
secara cepat, sehingga tidak terjadi kematian pada
ibu akibat asfiksia neonatorum yang dapat
menimbulkan bahaya perdarahan
KEPUSTAKAAN
Arikunto, Suharsini.2010. Prosedur Penelitian :
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta
.Bobak, Irene M. 2009. Buku Ajar Keperawatan
Maternitas Jakarta : EGC.
Budianto, Didik. 2012 Metode Penelitian.
Surabaya : DepKes RI.
Depkes RI. 2008. Assuhan Persalinan Normal.
Jakarta : JNPK-KR
Drew, D., Jevon, P dan Raby, M. 2008.Resusitasi
Bayi Baru Lahir Seri Praktik
Kebidanan. Jakarta : EGC.
Gunatmaningsih, D. 2007. Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian
anemia pada remaja putri di SMA
Negeri. Bogor: Fakultas Ekologi
Manusia,
Institut
Pertanian
Bogor.
. Varney, Helen. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan. Jakarta : EGC
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu
Kesehatan Anak. Jakarta : Salemba
Medika.
Irawan, Nungki Kusuma. 2011. Menumpas
Penyakit Dengan Darah Tali Pusat.
Jakarta : Berlian Medika
Kusmiyati, Yuni. 2009. Perawatan Ibu Hamil.
Yogyakarta : Fitramaya
Manuaba, Ida Bagus . 2010. Ilmu Kebidanan,
Penyakit
Kandungan
dan
Keluarga
Berencana
untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.
Prawirohardjo,
Sarwono.
2008.
Ilmu
Kebidanan. Jakarta : YBPSP
Profil Kesehatan Jawa Timur. 2012. Diakses
tanggal 22 Januari 2014, jam
19.30 WIB.
Proverawati, Atikah. 2009. Buku Ajar Gizi
Kebidanan. Yogyakarta : Nuha
Medika
Purwitasari, Vita. 2009. Buku Kesehatan Ibu
dan Anak. Jakarta : Depkes RI
Saifuddin, Abdul Bari. 2007. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta
:YBP-SP.
Simkin, Penny. 2007. Panduan Lengkap
Kehamilan, Melahirkan dan Bayi.
Jakarta : Arceon
Straight, Barbara. 2007. Keperawatan Ibu dan
Bayi Baru Lahir. Jakarta : EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metode
Penelitian Kesehatan. Jakarta : EGC.
Nursalam dan Pariani. 2008. Pendekatan
Praktis
Metodologi
Riset
63
Keperawatan. Jakarta :Sagung
Seto.
Wahyuni, Sari. 2011. Asuhan Neonatus, Bayi, dan
Balita Penuntun Belajar Prakti
kKlinik. Jakarta : EGC
Winjosastro, Gulardi, 2008. Pelatihan Klinik
Asuhan Persalinan Normal Asuhan
(Asuhan Esensial, Pencegahan dan
Penanggulangan Segera Komplikasi
Persalinan dan Bayi Baru Lahir).
Jakarta
:Jaringan-Kesehatan
Reproduksi Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Winkjosastro, Hanifa. 2008. Ilmu Bedah
Kebidanan. Jakarta :Yayasan Pustaka
Sarwono Prawihardjo.
64
Download