adln – perpustakaan universitas airlangga laporan pkl teknik

advertisement
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
TEKNIK PRODUKSI KISTA ARTEMIA DI VINH CHAU STATION,
VIETNAM
PRAKTEK KERJA LAPANG
PROGRAM STUDI S-1 BUDIDAYA PERAIRAN
OLEH:
DANIEL ONNY SETIYOKO
SURABAYA-JAWA TIMUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2015
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya :
Nama
: Daniel Onny Setiyoko
Nim
: 141211132140
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa laporan PKL yang berjudul
TEKNIK PRODUKSI KISTA ARTEMIA DI VINH CHAU STATION,
VIETNAM adalah benar hasil karya saya sendiri. Hal-hal yang bukan karya saya
dalam laporan PKL tersebut diberi tanda citasi dan ditunjukkan dalam daftar
pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya tidak benar, maka saya bersedia
menerima sanksi akademik yang berlaku di Universitas Airlangga, termasuk
berupa pembatalan nilai yang telah saya peroleh pada saat ujian dan mengulang
pelaksanaan PKL.
Demikian surat pernyataan yang saya buat ini tanpa ada unsur paksaan dari
siapapun dan dipergunakan sebagaimana mestinya.
Surabaya, 17 maret 2016
Yang membuat pernyataan,
Daniel Onny Setiyoko
141211132140
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
TEKNIK PRODUKSI KISTA ARTEMIA DI VINH CHAU STATION,
VIETNAM
Oleh:
DANIEL ONNY SETIYOKO
NIM. 141211132140
Mengetahui,
Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga,
Dr. Mirni Lamid, drh., MP
NIP. 19620116 199203 2 001
Menyetujui,
Dosen Pembimbing,
Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M. Si.
NIP. 19690621 199703 2 001
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
TEKNIK PRODUKSI KISTA ARTEMIA DI VINH CHAU STATION,
VIETNAM
Oleh :
DANIEL ONNY SETIYOKO
NIM : 141211132140
Setelah mempelajari dan menguji dengan sungguh-sungguh, kami berpendapat bahwa
Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik ruang lingkup maupun kualitasnya dapat diajukan
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Perikanan.
Telah diujikan pada
Tanggal : 17 November 2015
KOMISI PENGUJI
Ketua
: Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si.
Anggota
: Dr. Endang Dewi Masithah, Ir., MP.
Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si.
Surabaya, 17 Maret 2016
Dekan,
Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga
Dr. Mirni Lamid, drh., M.P.
NIP. 19620116 199203 2 001
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
RINGKASAN
DANIEL ONNY SETIYOKO. Teknik Produksi Kista Artemia di Vinh Chau
Station, Vietnam. Dosen Pembimbing Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si.
Artemia
adalah
salah
satu
pakan
alami
populer
dibidang
larvikulturperikanan. Artemia digunakan sebagai pakan alami sebab memiliki
kandungan nutrisi yang tinggi diantaranya kandungan protein kasar sebesar
50,76%. Keunggulan Artemia dapat disimpan dalam bentuk kista sehingga tahan
lama.
Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mengetahui produksi
kista Artemia yang dilakukan di Vinh Chau Station, Vietnam. Metode kerja yang
digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini yaitu metode deskriptif dengan
pengambilan data meliputi data primer dan sekunder. Pengambilan data dilakukan
dengan cara observasi, wawancara, partisipasi aktif dan studi pustaka.
Hasil Praktek Kerja Lapang yang telah dilakukan adalah teknik produksi
kista memiliki beberapa tahapan. Tahapan tersebut adalah persiapan budidaya,
pemeliharaan Artemia, pemanenan, processing dan evaluasi produk. Hasil
evaluasi dari kista di Vinh Chau terhitung dalam hatching percentage dengan nilai
diatas 90% dan hatching efficiencydengan nilai diatas 200.000 per gram.Teknik
produksi Artemia di Vinh Chau Vietnam menekankan pada proses pengeringan
dengan menggunakan bantuan alat fluidized bed dryer dan mesin rotator. Produksi
kista Artemia memanfaatkan tambak garam sebagai lahan budidaya Artemia yang
juga dapat diterapkan di Indonesia.
iv
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SUMMARY
DANIEL ONNY SETIYOKO. Production Technique of Artemia Cyst in
Vinh Chau Station, Vietnam. Dr. Rr. Juni Triastuti, S.Pi., M.Si.
Artemia is a popular live food in larviculture. Artemia used as live food
because of its high crude protein about 50,76%. Artemia can be keep as cyst for
long term usage.
The purpose of Field Work Practice is to know the production technique
of Artemia cyst which was done in Vinh Chau Station, Vietnam. Method used in
this Field Work Practice is descriptive method by collecting prime data and
secondary data. Data was taken with observation, interview, active participation
and literature study.
The result of Field Work Practice shows that culture of Artemia to produce
cyst have several steps. The steps are preparation of culture, Artemia culture,
harvesting,processing, and product evaluation. Evaluation product of Vinh Chau
cyst counted in hatching percentage with value above 90% and hatching
efficiency with value above 200.000 per gram. Production technique of Artemia
cyst focused in drying process by using fluidized bed dryer and rotator machine.
Production of Artemia cyst uses salt pond as the culture pond of Artemia that also
can be applied in Indonesia.
v
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga penulis
dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Praktek Kerja Lapang (PKL) tentang
Teknik Produksi Kista Artemia di Vinh Chau Station, Vietnam.Penulis haturkan
terima kasih yang tak terhingga kepada orang tua dan keluarga yang telah
mendoa’akan, mendidik dan memberikan motivasi serta semangat hingga
terselesaikannya Praktek Kerja Lapang ini. Laporan Praktek Kerja Lapang (PKL)
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Perikanan
pada Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga Surabaya.
Penulis menyadari penulisan laporan PKL ini masih belum sempurna,
sehingga kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan demi
perbaikan dan kesempurnaan laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga
laporan ini bermanfaat dan dapat memberikan informasi kepada semua pihak,
khususnya bagi Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan
dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya guna kemajuan serta perkembangan
ilmu dan teknologi dalam bidang perikanan, terutama budidaya perairan.
Surabaya, Oktober 2015
Penulis
vi
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Praktek Kerja Lapang ini
banyak melibatkan orang-orang yang sangat berarti bagi penulis. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa hormat serta ucapan terima kasih
kepada :
1. Prof. Dr. Hj. Sri Subekti, drh., DEA, selaku Dekan Fakultas Perikanan dan
Kelautan Universitas Airlangga.
2. Ibu Dr.Rr.Juni Triastuti.S.Pi.,M.Si. selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bimbingan sejak penyusunan usulan hingga penyelesaian
Laporan Praktek Kerja Lapang ini dengan penuh kesabaran.
3. Dr. EndangDewiMasithah, Ir., MP. selaku Dosen Penguji sidang Praktek
Kerja Lapang yang telah memberikan motivasi untuk melaksanakan PKL
di Vietnam.
4. Pak Abdul Manan S. Pi, M. Si. selaku dosen wali.
5. Ibu dan adik saya yang telah mendukung saya.
6. Truong Quoc Phu (Assoc. Prof. Ph.D) selaku dekan dan Tran Ngoc Hai
(Assoc. Prof. Ph. D)selaku wakil dekan College of FisheriesCan Tho
Universityyang telah memberi ijin untuk melakukan PKL di College of
Fisheries Can Tho University, Vietnam.
7. Prof. Dr. Gilbert van Stappen sebagai pembimbing lapang.
8. Pak Sapto Andriyono, S. Pi, MT. selaku pemberi arahan dalam
komunikasi.
9. Moh. Hadi Subarkah dan Ahmad Farid Ary Wardhana selaku tim relawan,
10. Reni Yulita selaku editor Laporan PKL.
11. Seluruh staf pengajar dan staf kependidikan Fakultas Perikanan dan
Kelautan.
vii
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
12. Semua pihak yang telah membantu kelancaran dan doa selama penyusunan
Laporan Praktek Kerja Lapang.
13. Mendiang Ayah angkat Uwa Sunarto
Surabaya,Oktober 2015
Penulis
viii
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN .................................................................................................. iv
SUMMARY ..................................................................................................... v
KATA PENGANTAR ..................................................................................... vi
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xiv
I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................................... 2
1.3 Manfaat .................................................................................................. 2
II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 3
2.1 KlasifikasiArtemia ................................................................................. 3
2.2 Morfologi............................................................................................... 4
2.3 Habitat dan Penyebaran ......................................................................... 5
2.4 SiklusHidup ........................................................................................... 6
2.5 Kebiasaan Makan dan Makanan............................................................ 9
ix
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.6 Budidaya Artemia .................................................................................. 9
2.6.1 Budidaya Artemia untuk Memperoleh Biomassa .......................... 10
2.6.2 Budidaya Artemia untuk Memperoleh Kista ................................. 11
2.7 Evaluasi Produk Kista Artemia ............................................................. 11
III PELAKSANAAN KEGIATAN.................................................................. 14
3.1 Tempat dan Waktu ............................................................................... 14
3.2 Metode Kerja ......................................................................................... 14
3.3 Pengumpulan Data ............................................................................... 15
3.3.1 Data Primer ................................................................................ 15
3.3.2 Data Sekunder ............................................................................. 15
IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 16
4.1 KeadaanUmumLokasiPraktekKerjaLapang .......................................... 16
4.1.1 Sejarah College of Aquaculture and Fisheries ............................ 16
4.1.2 Sejarah Vinh Chau Station .......................................................... 16
4.2Lokasi Praktek Kerja Lapang ................................................................. 17
4.2.1 Can Tho University ..................................................................... 17
4.2.2Vinh Chau Station ........................................................................ 17
4.3Visi dan Misi .......................................................................................... 18
4.4 Sarana dan Prasarana ............................................................................. 19
4.4.1 Air................................................................................................ 19
4.4.2 Kolam .......................................................................................... 19
A. Kitchen Pond (Kolam Pakan Alami) .......................................... 20
B. Kolam Penampungan Air Laut ................................................... 21
C. Kolam Penguapan ....................................................................... 21
D. Kolam Budidaya Artemia ........................................................... 22
E. Kolam Penelitian ......................................................................... 22
4.4.3 Bangunan ..................................................................................... 22
x
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
A. Aula ............................................................................................ 23
B. Laboratorium .............................................................................. 23.
C. Processing Room ........................................................................ 23
4.5. Budidaya Artemia ................................................................................. 24
4.5.1 Persiapan ..................................................................................... 24
A. Persiapan Kolam ......................................................................... 24
B. Persiapan Air Salinitas Tinggi .................................................... 27
C. Persiapan Pakan Alami ............................................................... 28
D. Penyediaan Naupli Artemia ........................................................ 29
4.5.2 Teknik Produksi Kista Artemia ................................................... 32
A. Pemeliharaan Artemia ................................................................ 32
B. Pemberian Pakan ......................................................................... 33
C. Pemantauan Kondisi Artemia ..................................................... 33
D. Pemanenan Kista ........................................................................ 36
E. Pengolahan Kista......................................................................... 37
a. Penyimpanan Sementara ......................................................... 37
b. Pencucian Kista....................................................................... 38
c. Pengeringan ............................................................................. 39
d. Penyimpanan dengan Suhu Rendah ........................................ 40
F. Evaluasi Produk Kista ................................................................. 40
V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 44
5.1 Kesimpulan ............................................................................................ 44
5.2 Saran ...................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 45
LAMPIRAN ..................................................................................................... 48
xi
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR TABEL
Tabel
Halaman
1.Permasalahan budidaya Artemia ................................................................. 34
2.Sampel 1 Hatching percentage dan hatching efficiency ............................. 41
3. Sampel 2 Hatching percentage dan hatching efficiency ............................ 42
xii
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1.Artemia franciscana dewasa tampak samping .............................................. 3
2. Embrio pada stage umbrella lepas dari kista dan naupli/instar I.................. 4
3. Artemia franciscana dewasa tampak atas,betina dan jantan ....................... 5
4.Daur hidup Artemia ....................................................................................... 7
5. Bagan sistem budidaya Artemia ................................................................... 10
6. Denah kolam budidaya Artemia ................................................................... 20
7. Lokasi pemasangan wavebreaker ................................................................ 25
8. Proses persiapan air salinitas tinggi ............................................................. 27
9. Reaksi saat penambahan hypochlorite............................................................... 30
10. Kista setelah dekapsulasi............................................................................ 31
11. Kegiatan raking .......................................................................................... 36
xiii
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
Halaman
1. Lokasi Vinh Chau ........................................................................................ 48
2. Sarana dan Prasarana Budidaya Artemia di Vinh Chau Station .................. 49
3. Pemetaan Kolam Artemia ............................................................................ 51
4. Alat yang DigunakandalamPengolahan Kista Artemia................................ 52
xiv
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Artemia
adalah
salah
satu
pakan
alami
populer
di
bidang
larvikulturperikanan. Artemia digunakan sebagai pakan alami sebab memiliki
kandungan nutrisi yang tinggi diantaranya kandungan protein kasar sebesar
50,76% dari berat kering (Anh et al., 2009a). Usaha larvikultur atau usaha
pemeliharaan larva merupakan salah satu bagian tersulit dalam budidaya perairan
dengan kubutuhan pakan alami yang memegang peran penting (Anh, 2009c).
Permasalahan utama dalam larvikultur adalah penyediaan pakan alami yang harus
dilakukan secara berkelanjutan sehingga membutuhkan tenaga lebih untuk
melakukan perawatannya. Penggunaan Artemiamerupakan pilihan yang tepat
sebagai upaya pemecahan permasalahan tersebut sebabArtemiamenghasilkan
kistayang dapat ditetaskan setiap saat tanpa perlu melakukan perawatan tambahan.
Saat ini berkembangnya usaha larvikultur di Indonesia meningkatkan
kebutuhan terhadap Artemia.Menurut Jubaedah dkk. (2006) menjelaskan bahwa
pemenuhan kebutuhan stok Artemia sebagai pakan alami di Indonesia masih
mengandalkan produk impor meskipun Indonesia telah memiliki beberapa produk
Artemia.Hal ini dikarenakan Artemia lokal memiliki kualitas yang kurang baik
dibanding dengan Artemia impor.Penggunaan Artemia impor berdampak pada
menurunnya efisiensi pengeluaran biaya pada usaha larvikultur.
Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan
stok Artemia sebagai pakan alami di Indonesia adalah dengan meningkatkan
kualitas produksi kistaArtemia secara lokal. Hal ini sesuai dengan harapan dari
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2
Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), yaitu mengembangkan usaha
budidaya Artemia baik secara ekstensif maupun intensif. Beberapa riset di
Indonesia telah mencoba mengembangkan budidaya Artemia dan berhasil
memproduksi kista, namun masih perlu informasi tambahan dan transfer teknologi
untuk meningkatkan kualitas dari produksi kista. Oleh karena itu,diperlukan
sebuah upaya untuk mempelajari teknik produksi kistaArtemia sehingga dapat
diaplikasikan dan meningkatkan produksi dan mutu kistaArtemia lokal di
Indonesia. Atas dasar pemikiran diatas maka dilaksanakan Praktek Kerja Lapang
(PKL) di College of Aquaculture and Fisheries Can Tho University, Vietnam
untuk mengetahui secara langsung tentang teknik produksi kistaArtemia(Artemia
fransiscana) sehingga dapat diaplikasikan di Indonesia.
1.2
Tujuan
Tujuan pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah :
1. Untuk mengetahui tahapan produksi kistaArtemia di Can Tho, Vietnam.
2. Untuk mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan dan pengalaman tentang
teknik produksi kistaArtemiadi Vietnam sehingga dapat diterapkan di
Indonesia.
1.3
Manfaat
Manfaat pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) adalah :
1. Menambah
pengetahuan
dan
keterampilan
tentang
teknik
produksi
kistaArtemia.
2. Transfer teknologi tentang teknik produksi kistaArtemiadari Vietnam ke
Indonesia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Klasifikasi Artemia
Artemia tergolong Arthropoda primitif. Artemia masuk ke dalam Ordo
Anostraca. Berikut adalah taksonomi berdasarkan Drewes (2002):
Kingdom
Filum
Kelas
Ordo
Genus
Species
: Animalia
: Arthropoda
: Branchiopoda
: Anostraca
: Artemia
: Artemia franciscana
Gambar 1. Artemia franciscanadewasa tampak samping (FAO, 2015)
Keterangan:
(1) Brood pouch betina
(2) Penis jantan
Artemia pada umumnya hidup secara berpasangan kecuali beberapa
spesies Artemia yang hidup secara partenogenesis atau berkembang tanpa melalui
pembuahan. Jantan dan betina dapat diidentifikasi berdasarkan alat kelamin yaitu
penis untuk jantan atau brood pouch untuk betina (Gambar 1.).
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.2
4
Morfologi
Morfologi Artemiafranciscanaberbeda-beda tergantung dari tahapannya.
Terdapat empat tahap yaitu kista, umbrella, naupli, meta-naupli, dan dewasa (Van
Stappen, 2015). Kista berbentuk bulat, setelah dilakukan dehidrasi bentuk kista
akan berubah menjadi cekung. Umbrella memiliki ciri khas yaitu chorion atau
cangkang masih menempel pada naupli Artemia franciscana (Nhu et al., 2009).
Naupli berwarna oranye kecoklatan karena memiliki persediaan yolk sac,
memiliki antena untuk bergerak (Treece, 2000). Meta-naupli (instar II dan
seterusnya) mulai dapat membuka mulut dan ditandai dengan berkembangnya
digestive track (Van Stappen, 2015). Digestive track berkembang memanjang
pada bagian ekor Artemia.
Gambar 2. Embrio pada stageumbrellalepas dari kista (kiri) dan naupli/instar I
(kanan)
Keterangan:
(1) mata nauplius,
(2) antennula,
(3) antenna
(4) mandible
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
5
Fase umbrella pada Gambar 2. merupakan Artemia yang baru menetas dari
kista. Setelah beberapa jam umbrella akan berkembang menjadi instar I.
Perkembangan umbrella menjadi instar Idapat diamati dari perubahan
mandible(Gambar 2.).
Artemia franciscana berganti instar sebanyak 15 kalisetelah melewati
tahap umbrellahingga dewasa.Artemia franciscanastage dewasa memiliki
antenna, sepasang mata dan thoracopod (FAO, 1996). Jantan memiliki clasper
pada bagian kepala dan pada betina terdapat brood pouch atau uterus (Tomkins
andDann, 2009). Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Artemia franciscanadewasa tampak atas,betina (kiri) dan jantan
(Abatzopouloset al., 2002).
2.3
Habitat dan Penyebaran
Habitat Artemia dipengaruhi oleh berbagai faktor pembatas. Faktor yang
berpengaruh terhadap habitat Artemia terdiri dari faktor kimia, fisika, biologi dan
substrat. Faktor kimia terdiri atas pH, kadar ammonia, nitrit, nitrat,oksigen terlarut
dan salinitas (Mintarso, 2007). Faktor fisika yaitukondisi musim. Faktor biologi
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
6
terdiri atas keberadaan predator (Van Stappen, 2015). Faktor substrat yang
berpengaruh adalah komposisi tanah (Lavens and Sorgeloos, 1996).
Artemia fransiscana hidup pada kondisi perairan ekstrim dengan keadaan
hypersaline (Khoi et al, 2007). Artemia dapat hidup pada danau garam, laut dan
kolam dengan salinitas 90 ppt (Lavens and Sorgeloos, 2000). Artemia
fransiscanatersebar di beberapa lokasi dengan perairan kadar garam tinggi seperti
Great Salt Lake, San Fransisco dan Vietnam (Van Stappen, 2015).
Artemia franciscanadi Indonesia merupakan spesies introduksi dari Great
Salt Lake dan San Francisco Bay yang saat ini sedang dikembangkan di
Indonesia. Mintarso (2007) menyebutkan bahwa beberapa pihak telah mencoba
melakukan kegiatan budidaya Artemiadalam rangka penelitian aplikatif, adapun
pihak yang telah melakukan usaha tersebut yaitu :
1.
Percobaan inokulasi Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau
(BBPBAP) Jepara pada tahun 1984, 1985, 1989 di Kabupaten Sampang
Madura, tahun 2002.
2.
Budidaya yang dilakukan oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut
(BBRPBL) Gondol pada tahun 2003 dan 2004 di Kabupaten Rembang,
Jawa Tengah.
2.4
Siklus Hidup
Siklus
hidup
Artemia
franciscana
terbagi
menjadi
dua
yaitu
perkembangbiakan secara ovipar dan ovovivipar (Gambar 4.). Mintarso (2007)
menjabarkan perkembangbiakan ovipar Artemiasebagai proses pelepasan kista
dari induk Artemia di dalam air. Perkembangbiakan ovovivipar dijabarkan sebagai
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
7
proses dimana telur yang telah matang dalam brood pouch berkembang menjadi
naupli yang langsung dapat berenang (Anh, 2009c)
Gambar 4. Daur hidup Artemia (Tomkins and Dann, 2009).
Siklus ovipar Artemiaterjadi dalam kondisi kurang menguntungkan seperti
suhu terlalu rendah dan salinitas terlalu tinggi. Pada siklus ini induk Artemia akan
menghasilkan embriodilapisi oleh chorion yang dihasilkan oleh shell gland dari
induk Artemia. Kista sebagai hasil dari proses ini akan dikeluarkan dan
mengalami fase diapause.
Fase diapause merupakan fase dimana Artemia menjadi dorman atau fase
terhambatnya pertumbuhan untuk sementara waktu. Fase ini terjadi pada kista
Artemia untuk mengatasi kondisi ekstrim pada habitat alami seperti perubahan
musim. Fase diapause non aktif secara alami akibat penurunan suhu secara
ekstrim selama musim dingin (Lavens and Sorgeloos, 1996).
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
8
Kista Artemia dapat menetas setelah melewati fase diapuse. Dry eggs atau
telur kering (Gambar 4.) merupakan hasil proses dari pengolahan kista. Kista yang
telah kering dapat menetas dalam kurun waktu 24-36 jam apabila diinkubasi pada
kondisi suhu 25 oC (Mintarso, 2007).
Siklus ovovivipar Artemiaterjadi dalam kondisi salinitas dibawah 80 ppt
dimana induk menghasilkan embrio tanpa membentuk selaput chorion sehingga
keturunan yang keluar langsung berupa instar I (Adityana, 2007). Chorion tidak
akan diproduksi oleh shell gland dari induk Artemia selama proses ovovivipar.
Hal ini terjadi sebab dalam kondisi salinitas dibawah 80 ppt kondisi bersifat
menguntungkan bagi Artemia.
Artemiayang telah menjadi naupli baik dari siklus ovipar maupun
ovovivipar mulai mengalami berganti kulit hingga 15 kali dalam kurun waktu 1-3
minggu (Gambar 4.). Pergantian kulit naupli Artemia disebut sebagai instar.
Naupli merupakan instar I, ketika berkembang menjadi instar 2 disebut metanaupli dan secara morfologi Artemia mulai memiliki organ berupa digestive
track(Lavens and Sorgeloos, 1996).
Artemia yang telah mengalami pergantian kulit sebanyak 15 kali
berkembang menjadi tahap sub-adult. Setelah 4-5 minggu Artemia tahap subadult akan menjadi stadia dewasa dan mengalami diferensiasi alat kelamin antara
jantan dan betina (Anh, 2009c). Jantan dan betina kemudian berpasangan dan
menghasilkan kista ataupun naupli baru.(Gambar 4.)
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
2.5
9
Kebiasaan Makan dan Makanan
Artemia merupakan hewan non-selectivefilter feeder (Toi, 2013). Artemia
dapat memakan apapun dengan ukuran partikel makanan lebih kecil dari bukaan
mulutnya seperti mikroalga, bakteri, protozoa dan partikel terlarut lain (Magnotti
et al., 2015). Makanan dapat berupa benda mati, keras maupun lunak (Mintarso,
2007).
Artemiabaru dapat makan partikel terlarut setelah melewati fase instar I.
Pada fase instar IArtemia masih menggunakan yolk sac sebagai sumber energi
(Lavens and Sorgeloos, 1996). Setelah masuk fase instar 2 Artemia memiliki
digestive track atau saluran cerna. Pada tahap ini Artemia telah mampu memakan
partikel kecil dibawah 60 mikron (Widiastuti dkk, 2012).
Artemia menggunakan bantuan thoracopod untuk makan.Pada fase instar
X keatas thoracopodArtemia mulai mengalami diferensiasi menjadi telopodite dan
endopodite yang berfungsi sebagai alat filter feeder sekaligus sebagai alat gerak
(Mintarso, 2007).
2.6
Budidaya Artemia
Berdasarkan sifat hidup, kebiasaan makan, dan kemampuan adaptasi yang
tinggi terhadap kondisi ekstrimArtemia mampu hidup pada kolam garam atau
kolam dengan air salinitas tinggi. Pada perkembangannya,saat ini Artemia telah
mampu dibudidayakan pada beberapa wilayah. Wilayah yang cocok untuk
kegiatan budidaya adalah daerah dengan iklim monsoon (Van Stappen, 2015).
Iklim monsoon adalah iklim yang memiliki musim peralihan akibat angin
dingin dan angin panas yang terdapat di kawasan tropis Asia, Afrika, dan
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
10
Samudera Hindia (Cliftet al., 2010). Iklim ini memberikan dampak kelembaban
dan suhu relatif stabil pada kondisi musim kering, oleh karena itu menjadi iklim
yang cocok untuk budidaya Artemia(Anh, 2009c).
Budidaya Artemia bertujuan untuk menghasilkan kista atau biomassa
(Gambar 5.). Produksi kista bertujuan untuk mendapatkan kista dari siklus ovipar
sedangkan produksi biomassa lebih mengutamakan hasil biomassa lewat siklus
ovovivipar. Masing-masing tujuan budidaya Artemia memiliki sistem dan cara
operasional sendiri-sendiri.
Gambar 5. Bagan sistem budidaya Artemia (Hoa, 2014).
2.6.1 Budidaya Artemia untuk Memperoleh Biomassa
Budidaya Artemia dengan tujuan memperoleh biomassa memiliki dua
sistem kultur yaitu batch atau continuous harvesting. Sistem kultur batch adalah
sistem kultur yang menerapkan proses pemanenan secara total pada satu kolam
ketika populasinya mencapai nilai maksimum atau mendekati kepadatan
maksimum (Lavens and Sorgeloos, 1996). Sistem ini sering digunakan dalam
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
11
kegiatan budidaya terutama budidaya pakan alami karena hal tersebut merupakan
cara termudah dibandingkan dengan metode continuous, walaupun demikian
kegiatan budidaya dengan sistem batchkurang efisien dan memiliki kualitas yang
berbeda setiap batch.
Sistem lain yang dipakai dalam kegiatan budidaya Artemia dengan tujuan
memperoleh biomassa adalah sistem continuous. Sistem ini lebih efisien
dibanding metode batch, memiliki kualitas yang konsisten dan dapat berlangsung
lama. Kelemahan dari metode ini adalah tingkat kesulitan yang tinggi.
Penggunaan teknik ini biasanya untuk budidaya dengan jumlah kecil, selain itu
peralatannya memiliki harga yang cukup mahal (Lavens and Sorgeloos, 1996).
Produk biomassa Artemiadari sistem continuous dan batchterbagi dalam
dua jenis yaitu produk alive (hidup) dan frozen(beku). Produk alive merupakan
produk yang siap pakai dari kolam budidaya untuk kegiatan larvikultur ikan atau
udang. Produk frozen merupakan produk aliveArtemia yang telah dilakukan
pembekuan. Tujuan pembekuan ini adalah untuk proses peningkatan ketahanan
produk alivedari Artemia, Proses pembekuan juga mencegah pertumbuhan dari
Artemia dan menghindari de-enrichment akibat metabolisme tubuh (Mendes et al.,
2010).
2.6.2 Budidaya Artemia untuk Memperoleh Kista
Produksi Artemia untuk memperoleh kistaterbagi dalam dua sistem
budidaya yaitu sistem stagnant dan sistem flow through. Sistem stagnantyang
dimaksud adalah budidaya Artemia pada kolam stagnan tanpa ada resirkulasi air.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
12
Kolam stagnan biasanya diterapkan pada kolam-kolam ekstensif sedangkan pada
sistem flow through terdapat resirkulasi air (Lavens and Sorgeloos, 1996).
Konsep flow through adalah mengalirkan air pada kolam secara terus
menerus. Pergantian air terus dilakukan pada kolam budidaya dengan
menggunakan air resirkulasi secara biologis dan mekanis. Air dikeluarkan lewat
pipa pada bagian tengah kolam. Pipa pengeluaran dilapisi oleh nilon dengan
meshsize tertentu sebagai filter untuk memisahkan antara limbah yang ikut
terbuang bersama air dengan populasi Artemia (Lavens et al., 1985). Air yang
telah keluar dari kolam utama kemudian masuk kedalam bak resirkulasi yang
ditambahkan bakteri pengurai untuk menguraikan bahan organik terlarut. Setelah
itu air kembali dialirkan ke dalam kolam utama.
Sistem produksi kistaArtemiaselain memiliki beberapa konsep tentang
pengolahan air juga ditinjau dalam konsep jenis kegiatannya. Sistem produksi
Artemiadapat berupa monokultur maupun integrated. Monokultur yang dimaksud
adalah budidaya Artemia tanpa ada kegiatan budidaya lain. Beda halnya dengan
budidaya sistem integrated. Pada kegiatan budidaya integrated,kistaArtemia
adalah salah satu komoditas yang dihasilkan. Selain Artemia terdapat kegiatan lain
seperti tambak garam musiman (Anh, 2009c).
2.7
Evaluasi Produk Kista Artemia
Evaluasiproduk kista Artemia adalah salah satu bagian yang penting dalam
kegiatan budidaya Artemia. Kegiatan evaluasi dilakukan pada produk biomassa
dan produk kista. Evaluasi biomassa dilakukan dengan penilaian terhadap kondisi
fisik Artemia, stadia/instar saat dipanen dan kandungan nutrisi dalam Artemia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
13
Kegiatan evaluasi kista Artemia dilakukan dengan menghitung hatching
percentage dan hatching efficiency. Hatching percentage adalah jumlah kista
yang menetas menjadi naupli per seratus kista yang digunakan.Rumus hatching
efficiency
adalah
.
Hatching
efficiency adalah jumlah kista yang menetas menjadi naupli per gram kista yang
digunakan dengan rumus
(Van Stappen, 1998 dan Van Stappen,
2015).
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
IIIPELAKSANAAN KEGIATAN
3.1
Tempat dan Waktu
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan di College of Aquaculture and
FisheriesUniversitas Can Tho, Vietnam. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal
16 Januari-20 Februari 2015.
3.2
Metode Kerja
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapang adalah metode
deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status
sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran,
ataupun suatu peristiwa pada masa sekarang. Metode ini bertujuan untuk membuat
deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Nazir,
2011).
3.3
Metode Pengumpulan Data
Data yang diambil dalam Praktek Kerja Lapang ini berupa data primer
maupun data sekunder.
3.3.1 Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan di College of Aquaculture and
FisheriesCan Tho University, Vietnam dan Vinh Chau Station.Data primer
diperoleh dengan dua metode yaitu metode wawancara dan metode observasi.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
15
Wawancara dilakukan terhadap narasumber di College of Aquaculture and
FisheriesCan Tho University yaitu Dr. Nguyen Van Hoa dan Dr. Gilbert Van
Stappen selaku pembina lapang. Wawancara terhadap narasumber terkait dengan
kondisi umum lokasi budidaya di Vinh Chau Station, kegiatan budidaya, dan
teknik budidaya serta teknik proses kistaArtemia. Wawancara juga dilakukan
terhadap pekerja di Vinh Chau Station terkait produksi Artemia seperti padat tebar
Artemia, hasil produksi kista dan informasi tentang kadar salinitas.
Observasi
Laboratorium
dilakukan
di
kolam
ArtemiaVinh
Chau
Station
dan
Algae College of Aquaculture Can Tho University. Observasi
dilakukan selama kegiatan Praktek Kerja Lapang berlangsung. Bahan observasi
adalah kemampuan daya tetas Artemia, teknik budidaya, penempatan posisi
kolam, serta pengolahan kistaArtemia.
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung.
Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan
oleh pengumpul data primer. Data sekunder ini diperoleh dari laporan-laporan,
data dokumentasi, pustaka yang menunjang (Sangadji dan Sopiah, 2010).
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang
4.1.1 Sejarah College of Aquaculture and Fisheries
College of Aquaculture and Fisheries (CAF), Can Tho University (CTU)
didirikan padatahun 1979. Saat ini terdapat 61 staff pengajar dan 43 peneliti yang
memiliki berbagai gelar yaitu 12 Associate Professor, 34 PhD, dan 31 Master.
Selama 30 tahun bergerak dalam bidang pendidikan College of Aquaculture and
Fisheries telah menghasilkan lebih dari 3000 alumni.
4.1.2 Sejarah Vinh Chau Station
Vinh Chau Station adalah lokasi budidaya Artemiamilik Can Tho
Universityyang berada di Jalan Vinh Chau, Provinsi Soc Trang, Vietnam Selatan.
Anh (2009c) menyatakan Vinh Chau Station pada awalnya merupakan tambak
garam. Pada tahun 1985 Artemia mulai dikenalkan sebagai spesies introduksi atas
dukungan dari Dutch Commite of Science and Technology dan dilaksanakan oleh
Faculty of FisheryCan Tho Universitysebagai salah satu alternatif usaha untuk
meningkatkan nilai ekonomi masyarakat sekitar yang bekerja sebagai petambak
garam.
Artemia yang dibudidayakan di Vinh Chau Station adalah Artemia
franciscanastrain San Francisco Bay (SFB). Strain yang dimaksud adalah
perbedaan variasi spesies berdasarkan kondisi geografis (Lavens and Sorgeloos,
1996). Artemia yang dibudidayakan secara bertahap dapat beradaptasi dengan
keadaan di Vinh Chau Station dan menghasilkan kista belum diolah lebih banyak
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
17
daripada strain San Francisco Bay. Sebagai langkah lanjutan, penelitian terkait
Artemia dilakukan di Vinh Chau Station. Atas upaya tersebut, saat ini Vinh Chau
Station telah berkembang menjadi sebuah sentra produksi Artemia yang berada di
bawah naungan Universitas Can Tho dan dapat memenuhi kebutuhan petambak
lokal terhadap kistaArtemiadengan hatching percentage tinggi (Hoa, 2014).
4.2
Lokasi Praktek Kerja Lapang
Kegiatan Praktek Kerja Lapang dilakukan di dua tempat yaitu Can Tho
University dan Vinh Chau Station, Vietnam.
4.2.1 Can Tho University
Kegiatan Praktek Kerja Lapang berupa pengolahan kista dan evaluasi
produk kista dilakukan di College of Aquaculture and Fisheries, Can Tho
University, Vietnam. College of Aquaculture and Fisheries Can Tho University
terletak di Campus II, 3/2 Street, Nink Kieu District, Can Tho City, Vietnam.
College of Aquaculture and Fisheries berada di dalam lingkup Can Tho
University.
4.2.2 Vinh Chau Station
Vinh Chau Station berada di Ap Bien Duoi – Phuong Vinh Phuoc – Thi Xa
Vinh Cau – Tinh Soc Trang. Vinh Chau Station adalah salah satu lokasi budidaya
Artemia yang berdiri di bawah naungan Can Tho University. Vinh Chau Station
merupakan wilayah tambak garam yang terintegrasi dengan budidaya Artemiadi
wilayah estuari yang berada dekat dengan delta Sungai Mekong dan Laut Timur.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
18
Hoa (2014) menyatakan bahwa di wilayah Vinh Chau Station (Vietnam
Selatan) terdapat dua musim yaitu musim hujan yang terjadi pada bulan April
sampai Oktober dengan curah hujan tahunan 85% dan musim kering dengan curah
hujan tahunan 15%. Rentang suhu berkisar antara 26-27oC. Tingkat evaporasi
memiliki rentang 1.600-2.000 mm setiap tahunnya dengan rentang nilai terbesar
pada bulan Maret dengan nilai 2,0-5,5 mm per harinya. Selain itu, komposisi
tanah di wilayah Vinh Chau adalah tanah liat 55-60%, tanah liat 19-20%, dan
pasir 21-22%.
4.3
Visi dan Misi
College of Aquaculture and FisheriesCan Tho University memiliki visi
dan misi yang menjadi landasan untuk melakukan kegiatan pendidikan. Visi dari
College of Aquaculture and Fisheries Can Tho University adalah College of
Aquaculture and Fisheries dengan kapasitas terbaiknya akan menjadi fakultas
kuat yang membantu Can Tho University dan rencana strategis nasional menuju
2030 dalam bidang akuakultur dan perikanan.
College of
Aquaculture and Fisheries
dalamupaya
mewujudkan
visinya,memiliki beberapa misi. Misi dari College of Aquaculture and
Fisheriesadalah menawarkan pendidikan S1 dan S2 di bidang akuakultur dan
perikanan. College of Aquaculture and Fisheriesmelakukan riset berhubungan
dengan pengembangan akuakultur, lingkungan perairan, manajemen penyediaan
ikan, dan biodiversitas lautserta membagikan teknologi akuakultur dan perikanan
di delta sungai Mekong berikut wilayah sekitar delta Sungai Mekong.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
4.4
19
Sarana dan Prasarana
Kegiatan budidaya Artemia di Can Tho, Vietnam didukung oleh sarana
dan prasarana yang menunjang. Sarana dan prasarana untuk penunjang kegiatan
budidaya Artemia terdapat pada lokasi Can Tho University sebagai pusat
informasi. Selain Can Tho University, sarana dan prasarana juga terdapat di Vinh
Chau
Station
Vietnam
yang
merupakan
tempat
budidaya
Artemiadan
pengembangan riset Artemia. Sarana dan prasarana dalam kegiatan budidaya
Artemia di Vietnam secara umum terbagi menjadi air, kolam, dan bangunan.
4.4.1 Air
Air adalah salah satu kebutuhan mutlak dalam budidaya Artemia. Air
berhubungan langsung dengan Artemia sebagai media hidup. Air yang digunakan
adalah air laut dengan salinitas 12-40 ppt (Hoa, 2014). Air laut didapat dari Laut
Timur dengan menggunakan pompa air D6 (Sorgeloos and Hoa, 2014).
4.4.2 Kolam
Salah satu sarana yang harus dimiliki dalam kegiatan budidaya Artemia
adalah kolam. Kolam dalam kegiatan budidaya Artemiadi Vinh Chau memiliki
beberapa fungsi yaitu sebagai kitchenpond (kolam pakan alami), kolam
penampungan air, kolam penguapan, kolam penelitian dan kolam budidaya
Artemia serta dilengkapi dengan kanal (Gambar 6.).
Kanal adalah salah satu bagian penting yang digunakan untuk transfer air
dari kolam satu ke kolam lainnya. Pada kegiatan budidaya Artemia konstruksi
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
20
kanal harus diperhatikan untuk mengatur debit air. Anh (2009) menyatakan bahwa
kanal sebaiknya dibangun dengan lebar 1,5 m.
Kolam yang digunakan adalah kolam tradisional untuk produksi garam.
Komposisi utama dari substrat kolam adalah tanah liat. Pada lokasi budidaya
Artemia luas kolam bervariasi tergantung fungsi dari kolam tersebut. Sebagai
bahan acuan Anh (2009c) menyatakan bahwa luas kolam optimal berkisar 0,05-0,5
ha.
Gambar 6. Denah kolam budidaya Artemia
A.
Kitchen pond (Kolam Pakan Alami)
Kolam pakan alami adalah kolam yang dipakai dalam kegiatan budidaya
Artemia untuk kultur Chlorella, Spirulina, dan alga lain untuk pemenuhan
kebutuhan makanan Artemia (Van Stappen, 2015). Luas kolam pakan alami pada
Vinh Chau Station adalah 1500 m2. Kolam ini dibangun dekat dengan instalasi
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
21
kanal yang menuju kolam budidaya Artemia untuk memudahkan pemberian
pakan.
Kolam pakan alami dipersiapkan terlebih dahulu sebelum Artemia
dibudidayakan. Persiapan yang dilakukan berupa pemupukan air dengan kotoran
ayam untuk menumbuhkan pakan alami dengan dosis awal 0,8-1,2 ton/ha dan
tambahan 0,4-0,6 ton/ha setiap 3 minggu sekali saat masa budidaya. Tujuan
persiapan kolam pakan alami di awal adalah untuk menjaga ketersediaan pakan
saat Artemia pertama kali dibudidayakan ke kolam.
B.
Kolam Penampungan Air Laut
Kolam penampungan atau reservoir adalah kolam yang digunakan untuk
menampung air yang dipompa dari Laut Timur. Pada kolam ini air dikumpulkan
terlebih dahulu sebelum disalurkan ke kolam penguapan pertama dengan tujuan
menyamakan salinitas sebelum dipindahkan ke kolam lain. Air yang telah
ditampung kemudian dipindahkan lewat kanal.
C.
Kolam Penguapan
Kolam penguapan adalah kolam yang dipakai untuk meningkatkan
salinitas dari air laut yang telah diperoleh dari Laut Timur. Kolam penguapan
terdiri atas kolam penguapan pertama dan kedua. Kolam penguapan pertama
digunakan untuk meningkatkan kadar salinitas air laut dari 12-40 ppt menjadi 4080 ppt. Kolam penguapan kedua digunakan untuk meningkatkan rentang dari
salinitas air laut hingga berkisar 80–120 ppt. Kolam penguapan kedua juga
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
22
digunakan sebagai kolam budidaya pada tambak garam terintegrasi dengan
Artemia.
D.
Kolam BudidayaArtemia
Kolam budidaya adalah kolam utama sekaligus kolam penguapan kedua
untuk kegiatan budidaya Artemia. Kolam ini dibangun dengan bentuk persegi
panjang dan dikelilingi oleh pematang. Luas kolam budidaya adalah 3000 m2.
Kedalaman kolam 40 cm dan pada daerah sekitar pematang dibuat lebih dalam.
Pada bagian tengah dibuat lebih tinggi sekitar 10 cm dari kolam bagian pinggir.
Perbedaan kedalaman ini bertujuan sebagai tempat berlindung Artemia ketika
suhu air mulai meningkat pada kolam.
Selokan keliling dibangun di sekitar petak dengan lebar 2 m dan
kedalaman 0,3 m. Sebagai penahan pematang dibangun dengan ketinggian 0,5 m
dari permukaan kolam.
E.
Kolam Penelitian
Kolam penelitian adalah salah satu bagian prasarana dari kegiatan
budidaya Artemia di Vinh Chau Station. Kolam ini digunakan untuk riset dan
pengembangan teknologi terkait budidaya Artemia untuk dapat diaplikasikan di
Vinh Chau Station. Adapun luas dari area ini bervariasi tergantung dengan
kegiatan penelitian.
4.4.3 Bangunan
Bangunan adalah salah satu bagian penting dalam kegiatan budidaya
Artemia. Bangunan terbagi menjadi Aula, laboratorium dan processing
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
23
room.Beberapa bangunan terletak terpisah dari Vinh Chau Station dan berada di
College of Aquaculture and Fisheries namun memiliki peran penting dalam
kegiatan budidaya.
A.
Aula
Aula memiliki peran sebagai tempat berkumpul dan menyambut tamu.
Aula berada tepat bagian depan lokasi Vinh Chau Station. Bagian depan aula
terdapat tempat penyimpanan Artemia berupa bak plastik dan akses air bersih.
B.
Laboratorium
Laboratorium terdapat di College of Aquaculture and Fisheries, Can Tho
University. Laboratorium yang berperan dalam kegiatan budidaya Artemia adalah
laboratorium pakan alami sebagai tempat untuk mendapatkan kultur murni dari
fitoplankton seperti Chlorella sp. sebagai pakan alami dari Artemia. Laboratorium
Algae sebagai tempat untuk pengamatan hasil evaluasi dari kista Artemia.
Penggunaan Chlorella sp. dari kultur murni sebagai pakan alami Artemia
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan makanan.
C.
Processing Room
Processing room adalah bangunan yang digunakan untuk kegiatan
pengolahan dari kista Artemia yang telah dipanen. Pada ruangan ini terdapat
beberapa alat seperti fluidized bed dryer, rotator machinedan mesin pengayak.
Ruangan ini berperan sebagai tempat pengolahan hasil akhir dari pemanenan
Artemia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
24
Alat fluidized bed dryer dan rotator machine berperan sebagai alat untuk
mengurangi kadar air dari kista Artemia.Fluidized bed dryer menggunakan panas
untuk menurunkan kadar air sedangkan rotator machinemenggunakan putaran
kecepatan tinggi untuk mengurangi kadar air kista. Mesin pengayak berfungsi
sebagai alat pemisah kista dengan bahan-bahan atau partikel lain seperti pasir dan
garam.
4.5
Budidaya Artemia
Budidaya Artemia memiliki proses dalam pelaksanaanya. Adapun proses
terdiri atas kegiatan persiapan,pemeliharaan dan pemanenan. Setelah kegiatan
pemanenan dilakukan kegiatan pengolahankistayaitu kegiatan pasca panen untuk
mengolah kista sehingga dapat digunakan dan ditetaskan. Evaluasi produk
dilakukan sebagai proses akhir pengamatan hasil dari produksi kista.
4.5.1 Persiapan
Langkah awal dalam kegiatan budidaya Artemia adalah proses persiapan.
Proses persiapan budidaya terdiri atas persiapan kolam, persiapan air salinitas
tinggi, persiapan pakan alami dan penetasan Artemia. Proses dijabarkan sebagai
berikut.
A.
Persiapan Kolam
Persiapan kolam adalah salah satu kegiatan utama dalam tahap persiapan
budidaya. Persiapan kolam sangat penting sebab berhubungan dengan tempat
yang akan dipakai sebagai pemeliharaan Artemia.Kolam yang dipakai merupakan
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
25
tambak garam. Oleh karena itu, perlu dilakukan persiapan kolam untuk kegiatan
budidaya.
Salah satu upaya persiapan kolam adalah pemasangan wavebreaker yang
dipasang pada pinggir kolam. Alat ini bertujuan untuk memecah gelombang yang
diciptakan oleh hembusan angin sehingga kista tidak terbawa oleh gelombang.
Arah pemasangan wavebreaker searah dengan arah angin. Wavebreaker ini
terbuat dari bambu dan anyaman bambu yang disusun secara melintang pada
kolam (Gambar 7.). Alat ini perlu dipasang di awal kegiatan dan dilakukan
perbaikan setiap selesai satu masa pemeliharaan Artemia bersamaan dengan
kegiatan pengeringan.
Gambar 7. Lokasi pemasangan wavebreaker(sumber : Dokumentasi Pribadi,
2015).
Kolam yang sudah dipasang wavebreakerdikeringkan terlebih dahulu
sebelum digunakan. Pengeringan dilakukan secara alami dengan memanfaatkan
panas matahari. Pengeringan dilakukan selama satu minggu. Pengeringan ini
bertujuan untuk menghilangkan bakteri pathogen dan predator berbahaya yang
dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup Artemia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
26
Bakteri berbahaya adalah bakteri yang mampu hidup pada kondisi salinitas
tinggi sehingga dapat mempengaruhi secara langsung perkembangan Artemia atau
menjadikan Artemia sebagai vektor bagi perkembangan bakteri. Bakteri
berpotensi seperti Vibrioproteolyticus (Verschuereet al., 2000). Predator
berbahaya juga dapat mengancam budidaya Artemia dengan memakan Artemia
pada kolam budidaya. Predator dapat berupa ikan nila yang dapat hidup pada
kondisi air salinitas tinggi (Van Stappen, 2015).
Menurut Lavens and Sorgeloos (1996),proses pengeringan biasanya
diakhiri dengan kegiatan limingatau yang biasa disebut dengan pengapuran
untukmembunuh patogen danmeningkatkan pH tanah, tetapi di Vinh Chau tidak
dilakukan
proses
limingatau
pengapuran
pada
masa
persiapan
budidayaArtemia.Pengapuran tidak dilakukan di Vinh Chau dikarenakan kondisi
lahan masih bersifat basa akibat penggunaan air laut dengan kadar garam tinggi.
Kadar garam tinggi dalam air laut meningkatkan kadar pH tanah yang digunakan.
Pengapuran dapat digunakan apabila lahan yang digunakan adalah lahan
mangrove atau pH lahan rendah.
Pengeringan dan pengapuran pada umumnya masih belum dapat
membunuh predator secara optimal pada saat mempersiapkan kolam. Predator
dapat bertahan dengan dengan berpindah lokasi ke kolam lain atau ke laut lewat
kanal. Oleh karena itu,ditambahkan saponite dengan dosis 1 kg/100 m3 pada
kolam dan saluran kanal.Saponite adalah salah satu bahan kimia yang digunakan
untuk mematikan ikan. Saponite bersifat racun bagi hewan akuatik air. Target
pemberian saponite sendiri adalah ikan-ikan yang mampu bertahan pada kondisi
ekstrim seperti ikan nila (Tilapia niloticus). Keberadaan ikan ini dapat
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
27
menurunkan jumlah biomassa Artemia dalam jumlah besar sehingga perlu
dimusnahkan dari lokasi tambak garam. Setelah proses persiapan kolam selesai
maka dilanjutkan dengan persiapan air salinitas tinggi.
B.
Persiapan Air Salinitas Tinggi
Kegiatan persiapan air salinitas tinggi dilakukan pada awal musim kering
yaitu akhir Desember. Persiapan dilakukan dengan memompa air dari kolam
keluar menggunakan pompa air. Hal ini bertujuan untuk membuang air salinitas
rendah akibat curah hujan yang tinggi saat musim hujan.
Gambar 8. Proses Persiapan Air Salinitas Tinggi (Van Stappen, 2015).
Proses persiapan air salinitas tinggi dapat dilihat pada Gambar 7. Airyang
menggenang di tambak akibat musim hujan dikeluarkan dari kolam terlebih
dahulu lalu air laut dipompa masuk kedalam kolam. Air laut ditampung dahulu
dalam kolam penampungan (reservoir). Air laut lalu dialirkan ke kolam
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
28
penguapan pertama lewat kanal. Setelah proses ini air laut yang telah diuapkan
memiliki salinitas sekitar 40-80 ppt.
Proses penguapan mulai dilakukan setelah air masuk kedalam kolam
penguapan. Air dibiarkan terpapar cahaya matahari selama 3-4 minggu. Air akan
menguap dan kadar garam akan semakin meningkat hingga mencapai salinitas 80
ppt.
Air dengan salinitas 80 ppt yang telah diuapkan dari kolam penguapan
pertama dialirkan kembali kedalam kolam penguapan selanjutnya lewat kanal.
Kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan rentang salinitas air laut yang diproses.
Setelah melalui proses penguapan kedua air laut memiliki rentang salinitas 80-120
ppt yang cocok untuk perkembangan Artemia.
C.
Persiapan Pakan Alami
Pakan alami disiapkan terlebih dahulu sebelum kegiatan budidaya Artemia
dan produksi kistaArtemia berlangsung. Hal ini bertujuan untuk menyediakan
makanan bagi Artemia yang akan dibudidaya. Kolam pakan diisi dengan kultur
alami Chlorella sp.Anh (2009) menyatakan bahwa kolam pakan diberi pupuk
organik dan inorganik dengan tujuan menstimulasi pertumbuhan mikroalga yaitu
Chlorella sp. Dosis pupuk organik berupa kotoran ayam yang diberikan adalah
0,4 – 0,6 ton perhektar sebagai inisiasi dan dilanjutkan dengan pemberian pupuk
inorganik dengan rasio N:P antara 5 dan 10 dengan dosis 2-5 gram per m3 per
minggu.
Pupuk yang berperan untuk menstimulasi pertumbuhan Chlorella sp.
menggunakan komposisi dari N (nitrogen) dan P (phosporus). Kedua bahan ini
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
29
memberikan suplai nutrisi bagi Chlorella sp. untuk dapat berkembang biak dalam
kolam
ekstensif.
Perludiperhatikan
bahwa
proses
pemupukan
harus
mempertimbangkan komposisi N dan P sebab komposisi N dan P merupakan
faktor pembatas dari pertumbuhan Chlorella sp.
D.
Penyediaan NaupliArtemia
Penetasan Artemia merupakan salah satu bagian dari persiapan sebelum
melakukan budidaya Artemia. Kegiatan ini dapat dilakukan setelah semua
persiapan lain termasuk persiapan pakan alami telah selesai. Adapun kegiatan
penetasan Artemia ini bertujuan untuk mendapatkan naupli Artemia untuk
kegiatan budidaya Artemia.
KistaArtemia merupakan pakan alami yang dapat disimpan cukup lama,
namun sebelum digunakan kista terlebih dahulu harus melewati tahapan tertentu.
Tahapan yang dimaksud adalah hatchingatau penetasan kista mencapai stage
instar I. Prosedur proses hatching yaitu menyiapkan wadah plastik untuk diisi air
salinitas 25 ppt. Wadah tersebut kemudian diisi dengan kistaArtemia. Wadah
plastik yang telah diisi kistaArtemia lalu diletakkan di tempat dengan cahaya
terang selama 24 jam dengan aerasi yang cukup. Cahaya menstimulasi penetasan
kista Artemiadengan cara membantu perkembangan embrio (Sorgeloos, 1973).
Selain itu, perlu dilakukan kontrol terhadap aerasi, sebab penggunaan aerasi yang
terlalu kencang dapat menyebabkan kista menempel pada dinding bak sehingga
tidak terendam oleh air. Apabila tidak terendam oleh air kista Artemia tidak dapat
menetas.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
30
Salah satu metode dalam proses hatching dilakukan dengan cara
dekapsulasi. Proses dekapsulasi diawali dengan melakukan hidrasi untuk
membuat kista kembali mengembang. Proses ini dilakukan dengan merendam
kista dengan air yang memiliki salinitas 25 ppt. Perbedaan tekanan osmotik
menyebabkan air masuk kedalam kistasehingga kista dapat mengembang dan
berbentuk bulat kembali. Setelah mengembang kistadiberi larutan hypochlorite
5% yang didapat dari produk detergen lokal (pada hatchery udang galah) atau
menggunakan larutan NaOCl dan NaOH (pengamatan lab) selama lima menit.
Proses dekapsulasi tidak boleh terlalu lama sebab pada saat hypochlorite bereaksi
dengan air akan menghasilkan reaksi eksoterm dan melepas panas. Reaksi ini
ditandai dengan munculnya gelembung pada pengamatan mikroskop dengan
bantuan lugol.
1.
2.
Gambar 9. Reaksi setelah penambahan hypochlorite. (Sumber : Dokumentasi
pribadi, 2015)
Keterangan:
(1.)kista,
(2.) Reaksi gelembung yang muncul
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
31
Proses dekapsulasi dengan larutan NaOH dan NaOCl dilakukan selama 57 menit, setelah itu kista kemudian dicuci dengan air salinitas 25 ppt. Penggunaan
air salinitas 25 ppt dikarenakan sumber air yang ada hanya air dengan salinitas 25
ppt, pencucian sebenarnya juga dapat dilakukan dengan air tawar. Proses ini
bertujuan untuk menghilangkan sisa hypochloritepada kista. Dekapsulasi
kistaArtemia mengakibatkan chorion atau lapisan luar dari kista terkikis
(Sorgeloos, 1977). Hal ini ditandai dengan perubahan warna pada kistaArtemia
dari hitam menjadi kuning (Gambar 9.).
1.
Gambar 10. Kista setelah dekapsulasi. (Sumber: Dokumentasi pribadi, 2015)
Keterangan:
(1.) kista berubah menjadi kuning
Setelah melalui proses dekapsulasi dan berhasil menetas setelah 18-24
jam, Artemia keluar dalam bentuk umbrellayaitu stadia dimana Artemia yang
telah menetas masih bergabung dengan cangkangnya atau stadia naupli (instar I).
Artemia dipelihara dalam bangunan utama selama 24 jam terlebih dahulu untuk
menyamakan stadianya sebelum proses inokulasi Artemia. Pemeriksaan dilakukan
untuk mengetahui perubahan stadia dengan sampling Artemia menggunakan
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
32
mikroskop. Apabila 90% populasi telah mencapai instar II maka inokulasi dapat
dilakukan. Padat tebar Artemia yang dibudidaya ke tambak garam ekstensif adalah
100 individu per liter air.
4.5.2 Teknik Produksi Kista Artemia
A.
PemeliharaanArtemia
Budidaya Artemia di Vinh Chau menggunakan sistem produksi kista
terintegrasi dengan kolam stagnan (Hoa, 2014). Kegiatan budidaya Artemia di
Vinh Chau disebut budidaya terintegrasi sebab pada proses budidaya
mengutamakan produksi kista, dan sebagai penutup kegiatan budidaya dilakukan
pemanenan terhadap garam.
Padausaha pemeliharaan Artemia, hal pertama yang dilakukan adalah
mendapatkan Artemia yang telah menetas 24 jam. Artemia dapat dipindahkan ke
kolam ekstensif setelah mencapai metanaupli (instar II). Saat dipindahkan ke
kolam ekstensif, salinitas ditingkatkan perlahan-lahan dengan mengalirkan air ke
dalam kolam sampaiArtemia mampu beradaptasi dengan salinitas tinggi (90 ppt).
Artemia diberi pakan berupa Chlorellasp.dan kotoran ayam selama
pemeliharaan. Setelah 14 hari hingga 4 minggu masa pemeliharaan, naupli akan
berubah menjadi stadia dewasa. Pada proses ini kelamin jantan dan betina
mengalami diferensiasi. Jantan memiliki penis dan betina memiliki brood pouch.
Setelah menginjak fase dewasa Artemia akan berpasangan jantan dan betina.
Posisi jantan berada diatas tubuh betina. Fase ini akan terus berlangsung hingga
Artemia mati.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
33
Artemia betina dapat menghasilkan embrio selama fase berpasangan.
Embrio ini dapat berkembang menjadi naupli atau kista. Pada kegiatan budidaya
di Vinh Chau embrio berubah menjadi kista karena kadar garam yang sangat
tinggi 90 ppt keatas. Embrio dilapisi oleh selaput chorion untuk perlindungan
yang dihasilkan oleh induk dan menjadi kista. Pada fase berpasangan ini kegiatan
pemanenan juga dapat berlangsung untuk mengumpulkan kista.
Pada proses pemeliharaan dilakukan perlu dilakukan kontrol terhadap
perkembangan Artemia. Sebagai kontrol beberapa hal ini perlu dilakukan yaitu
raking, pemantauan kondisi Artemia, pemberian pakan dan kontrol predator.
B.
Pemberian Pakan
Artemia merupakan non selektif filter feeder (Toi, 2013) sehingga dapat
memakan berbagai jenis bahan makanan. Pada kegiatan budidaya Artemia pakan
menjadi salah satu hal penting terutama dalam kegiatan budidaya semi-intensif.
Suplai pakan disalurkan ke dalam kolam budidaya Artemia lewat kanal suplai.
Pakan berupa Chlorellasp. yang telah dipersiapkan dahulu sebelum kegiatan
budidaya berlangsung. Sebagai tambahan pakan, pada kolam Artemia diberikan
kotoran ayam dengan dosis 200-300 kg per hektar per minggu (Anh, 2009c).
Penambahan kotoran ayam selain sebagai pakan tambahan juga berfungsi sebagai
bahan untuk menumbuhkan bakteri maupun mikroalga yang dapat dimakan oleh
Artemianamun tujuan utama pemberian pakan tambahan berupa kotoran ayam
karena mengandung protein, serat, dan lemak (Van Stappen, 2015).
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
C.
34
Pemantauan Kondisi Artemia
Pada proses budidayaArtemia terkadang timbul beberapa masalah.
Masalah utama pada kondisi Artemia dipengaruhi oleh keadaan lingkungan,
ketersediaan bahan makanan, kondisi budidaya ekstrim. Meskipun Artemia
memiliki tingkat toleransi tinggi terhadap salinitas ekstrim namun Artemia sangat
sensitif terhadap faktor-faktor tersebut. Faktor tersebut dapat berdampak terhadap
perubahan kondisi fisik dan bahkan mempengaruhi tingkat kelulushidupan dari
Artemia.Oleh karena itu, pemantauan Artemia merupakan kunci utama untuk
meningkatkan kelulushidupan Artemia selama budidaya dan produksi kista.
Adapun indikasi permasalahan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Permasalahan budidaya Artemia
Masalah
Tingkat kematian tinggi (lebih
dari sebagian populasi mati)
Tingkat pertumbuhan rendah
(perubahan fase lambat)
Bintik hitam pada tubuh Artemia
Bagian ekor (digestive track)
berwarna putih pada Artemia
TubuhArtemiaberwarna merah
Induk betina dengan brood
pouch kosong
Air keruh
Penyebab
Kondisi ekstrim (suhu terlalu
tinggi), terdapat bahan beracun
pada kolam, kekurangan O2
Kepadatan tinggi, kurang
asupan makanan
Kandungan bahan organik
berlebihan
Kekurangan makanan atau
penggunaan pupuk organik
mengandung jamur
Nilai O2 rendah, populasi tua
Populasi tua, kondisi ekstrim
Angin
terlalu
rakingberlebihan.
kencang,
Kondisi ekstrim saat budidaya Artemia seperti suhu terlalu tinggi dan
keberadaan bahan beracun dapat menyebabkan kematian pada Artemia. Hal ini
dikarenakan Artemia adalah hewan sensitif terhadap perubahan kondisi
lingkungan. Kepadatan tinggi atau kekurangan asupan makanan dapat
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
menghambat
perubahan
faseArtemiaakibat
adanya
persaingan
35
makanan.
Persaingan makanan pada Artemia menyebabkan Artemia lebih banyak bergerak
sehingga energi yang terpakai untuk tumbuh digunakan untuk bergerak dan
membuat tingkat pertumbuhan menjadi rendah.
Bintik hitam pada tubuh Artemia biasa terjadi pada kondisi kandungan
organik berlebih. Kandungan organik berlebih menyebabkan kondisi air menjadi
buruk dan meningkatkan populasi bakteri kurang menguntungkan. Kondisi bintik
hitam juga dipengaruhi oleh kurangnya pemberian pakan Artemia. Ekor putih
pada Artemia juga disebabkan oleh pemberian pakan yang kurang atau pupuk
mengandung jamur, sehingga jamur tertelan masuk ke dalam digestive track dari
Artemia.Perubahan warna dapat diamati sebab bagian digestive track transparan.
Perbaikan jumlah pemberian pakan dan waktu pakan merupakan salah satu cara
untuk mencegah indikasi pada populasi Artemia.
Artemiayang telah berusia satu bulan setelah pemeliharaan merupakan
populasi tua. Populasi tua ini ditandai dengan menurunnya jumlah kista yang
dihasilkan atau brood pouchkosong pada betina. Populasi tua pada Artemia lebih
rentan terhadap perubahan kadar oksigen terutama dalam kepadatan tinggi. Warna
merah pada tubuh Artemia menjadi penanda bahwa kadar oksigen kurang pada
perairan.
Kegiatan pemantauan budidaya Artemia didukung dengan aktivitas
rakingyaitu kegiatan pengadukan bagian dasar kolam. Hal ini dilakukan dengan
tujuan menghindari pertumbuhan makroalga yang tumbuh di dasar kolam atau
yang lebih dikenal sebagai lab-lab (Lavens and Sorgeloos, 1996). Makroalga
yang dimaksud adalah alga dari golongan tumbuhan alga yang memiliki ukuran
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
36
besar seperti lumut-lumutan. Makroalga tidak memberikan pengaruh secara
langsung terhadap Artemia, namun dengan tumbuhnya makroalga akan terjadi
persaingan untuk memperoleh nutrisi antara makroalga dengan mikroalga yang
menjadi makanan Artemia. Artemia juga tidak mampu memakan makroalga
sehingga makroalga tidak dapat dimanfaatkan pada kolam Artemia.
Raking dilakukan sebanyak dua kali sehari pada pagi dan siang hari.
Kegiatan raking menggunakan alat berupa bambu yang diletakkan diatas dasar
kolam dan ditarik oleh orang mengitari area kolam. Pada tengah kolam digunakan
bambu dengan ukuran lebih panjang untuk mencakup area yang lebih luas
sedangkan pada pinggir kolam digunakan alat raking yang memiliki ukuran
bambu lebih kecil. Berikut adalah ilustrasi penggunaan alat raking.
Gambar 11. Kegiatan raking(Sumber : Dokumentasi Pribadi, 2015)
D.
Pemanenan kista
Kista dapat dipanen setiap hari setelah Artemia yang dipelihara masuk
dalam fase berpasangan. Kegiatan pemanenan di Vinh Chau berlangsung sehari
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
37
dua kali. Pemanenan dilakukan pagi hari dan sore hari. Tempat pemanenan
kistaArtemia di belakang wavebreaker. Kista yang dipanen berupa bulatan seperti
serbuk berwarna oranye dan mengapung diatas air.
Pengambilan kista dilakukan secara manual. Alat yang digunakan adalah
jaring dengan lubang kurang dari 250 mikron. Kista dipanen dengan cara
menyerok permukaan air di belakangwavebreaker. Kista akan mengapung sebab
chorionkista memiliki daya apung sehingga mudah diambil dengan bantuan
jaring.
Pemanenan kistadapat dilakukan setiap hari hingga bulan April. Pada
bulan April suhu udara mencapai puncak sehingga budidaya Artemia tidak dapat
dilakukan lagi. Kegiatan budidaya Artemia dialih fungsikan dengan usaha tambak
garam.
E.
Pengolahan Kista
Pengolahankista
adalah
langkahterakhir
dalam
usaha
produksi
kistaArtemiasetelah kegiatan pemanenan selesai. Kegiatan pengolahanakan
berdampak terhadap kualitas kista yang dihasilkan. Pengolahan kista yang baik
akan menghasilkan kista dengan kualitas yang baik pula.
Usaha pengolahan pada dasarnya adalah kegiatan pasca panen. Oleh
karena itu, kegiatan ini meliputi beberapa hal diantaranya kegiatan penyimpanan
sementara, kegiatan pencucian kista, kegiatan pengeringan kista dan kegiatan
penyimpanan dalam suhu rendah. Setelah kegiatan pengolahan,kistabaru dapat
digunakan untuk keperluan dalam bidang budidaya maupun larvikultur.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
a.
38
Penyimpanan Sementara
Kegiatan penyimpanan sementara adalah cara untuk mengumpulkan hasil
panen. Selama kegiatan panen hasil kista yang didapat tidak langsung diolah
namun dikumpulkan terlebih dahulu dalam sebuah bak plastik untuk alasan
efisiensi usaha. Pada bak plastik ini diisi air dengan salinitas 25 ppt. Kista yang
disimpan dalam bak penyimpanan sementara dapat bertahan selama dua minggu
sebelum diolah.
b.
Pencucian Kista
Kista yang telah dikumpulkan kemudian diolah untuk dipersiapkan
menjadi kista siap pakai. Sebelum diolah kista terlebih dahulu dicuci. Cara
pencucian kistayang baik memegang peranan yang sangat penting dalam usaha
menghasilkan kista dengan kualitas yang optimal.
Pencucian kista dilakukan dengan cara merendam kista dalam air laut pada
sebuah wadah berbentuk kerucut. Pencucian ini akan menyebabkan kista
melayang disebabkan oleh perbedaan massa jenis dan juga sifat apung chorion.
Partikel besar dan berat akan turun ke bagian dasar wadah.
Pada bagian dasar wadah terdapat sebuah kran yang digunakan untuk
membuang air. Kran ini dibuka setelah partikel yang lebih besar dan berat
mengendap didasar sehingga ikut terbuang bersama dengan air. Setelah proses ini
pada wadah tersisa kista yang mengapung di atas dan diambil untuk proses
pencucian kedua.
Proses pencucian kedua menggunakan air tawar. Pada proses ini kista
dimasukkan dalam kantong kain lalu dibilas secara cepat dalam waktu 3 menit
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
39
dengan air mengalir untuk menghilangkan kandungan garam. Sebagai acuan
Lavens and Sorgeloos (1996) menyatakan bahwa waktu yang optimal untuk
mencuci dengan air tawar antara 3-5 menit. Proses ini harus dilakukan secara hatihati, pencucian dengan air terlalu lama dapat menyebabkan kandungan air dalam
kista semakin banyak. Apabila kandungan air semakin banyak maka daya simpan
kista akan turun beserta kualitasnya.
c.
Pengeringan
Kegiatan pengeringan dilakukan setelah kistamelewati proses pencucian.
Browne et al. (1991) menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu rantai
kegiatan dalam upaya produksi kistaArtemia. Setelah dicuci, kandungan air dalam
kistaharus dikeluarkan terlebih dahulu.Lavens and Sorgeloos (1996) menyatakan
bahwa kegiatan pengeringan dapat dilakukan dengan membiarkan kista selama 3
hari di bawah terik matahari. Namun, di Vietnam kegiatan pengeringan dilakukan
dengan bantuan mesin. Mesin yang digunakan adalah rotator, fluidized bed dryer
dan mesin pengayak otomatis.
Pengeringan menggunakan mesin diawali dengan alat rotator. Alat ini
digunakan untuk mengeluarkan air dengan cara memutar kista yang terdapat pada
kantong kain pada kecepatan tinggi. Kerja alat ini mirip dengan fungsi sentrifugal.
Air akan keluar dari kista akibat kecepatan putaran yang dihasilkan oleh rotator.
Kegiatan ini membutuhkan waktu 15 menit untuk setiap 2 kilogram kista. Setelah
proses pengeringan dengan rotator kadar air dalam kista mencapai 12-15%.
Pengeringan dengan rotator masih belum cukup untuk menurunkan kadar
air yang terkandung dalam kista sehingga dilakukan pengeringan tahap berikutnya
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
40
yaitu pengeringan dengan fluidized bed dryer. Bosteels et al. (1996) menyatakan
bahwa fluidized bed dryer adalah salah satu alat yang tersusun tabung berbentuk
kerucut dan air steam blower. Alat ini mampu mengeringkan kista secara
homogen dengan cepat.
Pengeringan dengan fluidized bed dryerdilakukan beberapa tahapan.
Tahap pertamakistayang telah melewati proses rotator dimasukkan dalam tabung
kerucut bagian bawah. Setelah itu tabung disatukan kembali ke alat fluidized bed
dryer dan dilakukan proses pengeringan dengan bantuan blower di bagian bawah.
Blower ini akan membuat kista melayang dan membuat kadar air berkurang lewat
panas yang dihasilkan. Selain untuk mengeringkan kistaalat ini juga untuk
memisahkan antara kista kosong dan kista berembrio. Kista kosong memiliki
berat yang lebih ringan sehingga ketika ditiup blower dari bawah kista kosong
tersebut akan langsung keluar lewat corong bagian atas. Kista yang berembrio
akan melayang di bagian kolom tabung kerucut. Setelah melewati proses
pengeringan ini kadar air dalam kista menjadi 7-9 % sehingga lebih tahan lama
ketika disimpan dalam bentuk kista.
d.
Penyimpanan dengan Suhu Rendah
Penyimpanan produk kistaArtemia yang telah diproses melalui berbagai
tahapan merupakan tahap akhir dari kegiatan produksi kistaArtemia. Penyimpanan
kista dilakukan dengan menyimpan kista pada suhu -25oC selama 16 minggu.
Lavens and Sorgeloos (1996) menyatakan bahwa perlakuan suhu yang diberikan
dapat bervariasi yaitu -25oC dan -80oC. Penyimpanan ini bertujuan untuk non-
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
41
aktifkan proses diapause pada Artemia. Hasil dari penyimpanan Artemia dapat
langsung dipakai atau dapat dilakukan packing terlebih dahulu.
F.
Evaluasi Produk Kista
Evaluasi merupakan kegiatan utama dalam kegiatan pasca produksi.
Evaluasi digunakan untuk menentukan kualitas kista seperti daya tetas dan jumlah
partikel non kista yang terkandung di dalam produk dari proses pengolahan.
Proses evaluasi kista di Vinh Chau menggunakan metode penghitungan hatching
percentage dan hatching efficiency.
Hatching percentage digunakan untuk menyatakan persentase Artemia
franciscana yang menetas perseratuskista. Hatching efficiency digunakan untuk
menghitung jumlah Artemia yang menetas setiap gramnya (Van Stappen, 2015).
Berdasarkan hasil pengamatan di Laboratorium Algae, berikut tabel hasil hatching
percentage dan hatching efficiency dari Artemia franciscana strain Vinh Chau.
Tabel 2. Sampel 1 Hatching Percentage dan Hatching Efficiency per 24 jam
Naupli
Umbrella
Embrio
Hatching
Hatching
Percentage
Efficiency
(H%)
(HE)
125
2
6
94
250.000
100
2
9
90,1
200.000
100
1
10
90,1
200.000
124
6
9
91,2
248.000
145
5
6
92,9
290.000
143
2
8
93,5
286.000
rata rata
rata rata
245.00
H%
91, 97 HE
0
SD
1,70
SD
39500
Tabel 2. menunjukkan bahwa jumlah naupli yang menetas memiliki ratarata hatching percentage91,97% dan hatching efficiency245.000. Hatching
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
42
percentage tertinggi sebesar 94% dan terendah sebesar 90,1%. Hatching
efficiencytertinggi sebesar 290.000 dengan nilai terendah sebesar 200.000.
Tabel 3. Sampel 2 Hatching Percentage dan Hatching Efficiency per 24 jam
Naupli
Umbrella
Embrio
Hatching
Hatching
Percentage
Efficiency
(H%)
(HE)
100
2
2
96,15
200.000
121
1
0
99,18
242.000
104
8
1
92,04
208.000
108
1
2
97,30
216.000
108
2
3
95,58
216.000
142
2
1
97,93
284.000
rata rata
rata rata
H%
97,02
HE
227.666
SD
0,70
SD
42283
Berdasarkan Tabel 3. hatching percentage mencapai 97,02%.Angka
hatchingpercentage mencapai angka diatas 90% sehingga tergolong kista
berkualitas baik. Selain faktor pengolahan, menurut Elizabeta (2008) hatching
percentage dipengaruhi oleh suhu. Suhu optimum pada proses hatchingArtemia
adalah 25-30oC (Vanhaecke and Sorgeloos, 1989).
Hatching efficiency dari Tabel 3. menunjukkan nilai tertinggi sebesar
284000. Nilai rata-rata dari hatching efficiency adalah 227.666. Hatching
efficiency dari produk Artemia masuk ke dalam kualitas baik. Sebagai
perbandingan, standar hatching efficiency produk Artemia unggulan mencapai
270.000.
Hatching efficiency selain dipengaruhi oleh hatching percentage juga
dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu jumlah kandungan air yang terdapat pada
produk, kista kosong, kotoran berupa pasir, debu dan kerikil (Van Stappen, 1996).
Benda benda asing dalam produkkistaArtemia ini berdampak pada perolehan
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
43
jumlah naupli yang menetas. Semakin banyak partikel asing dalam produk
kistamaka semakin rendah jumlah perolehan naupli setiap gramnya. Oleh karena
itu hatching efficiency menjadi salah satu faktor penentu kualitas kistaArtemia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
V KESIMPULAN
5.1
Simpulan
Berdasarkan hasil yang diperoleh selama Praktek Kerja Lapang, dapat
disimpulkan bahwa:
1. Tahapproduksi kistaArtemiadimulai dari persiapan kolam, persiapan air
salinitas tinggi, persiapan budidaya, pemeliharaan Artemia, pemanenan
dan pengolahan kista. Pada bagian akhir dilakukan evaluasi terhadap hasil
kista.
2. Teknik produksi Artemia di Vinh Chau Vietnam menekankan pada proses
pengeringan dengan menggunakan bantuan alat fluidized bed dryer dan
mesin rotator. Produksi kista Artemia memanfaatkan tambak garam
sebagai lahan budidaya Artemia yang juga dapat diterapkan di Indonesia..
5.2
Saran
Perlu adanya kontrol intensif terhadap pengeringan kista Artemiasehingga
kualitas produk tetap terjaga. Selain itu, perlu juga dilakukan evaluasi secara teliti
dan sesuai prosedur agar tidak menurunkan kualitas produk.
Kegiatan budidaya Artemia, domestikasi dan upaya produksi kista kualitas
tinggi dapat dilakukan di Indonesia namun perlu adanya riset lebih lanjut untuk
dapat mengaplikasikan teknologi yang berlaku di Vietnam ke Indonesia. Selain
itu, perlu adanya alat-alat yang dapat mendukung proses produksi kistaArtemia
kualitas tinggi di Indonesia.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
DAFTAR PUSTAKA
Abatzopoulos, Th. J., Beardmore, J. A., Clegg, J. S. and Sorgeloos, P. (Eds.).
(2002). Artemia basic & applied biology. Dordrecht: Kluwer Academic
Publishers.
Adityana, D. 2007. Pemanfaatan Berbagai Jenis Silase Ikan Rucah Pada Produksi
Biomassa Artemia franciscana. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Anh, N. T. N., T. T. T. Hien, W. Mathieu, N. V. Hoa, P. Sorgeloos. 2009a. Effect
of fishmeal replacement with Artemia biomass as a protein source in
practical diets for the giant freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii.
Aquaculture Research 40 (6).pp. 669-680.
Anh, N. T. N., N. V. Hoa, G. V. Stappen, P. Sorgeloos. 2009b. Effect on Different
Supplemental Feeds on Proximate Composition and Artemia biomass
production in Salt Ponds. Journal of Aquaculture 286. pp. 217 – 225.
Anh, N. T. N. 2009c. Optimisation of Artemia biomass production in Salt Ponds in
Vietnam and Use as Feed Ingredient in Local Aquaculture. Thesis. Ghent
University, Belgium. pp. 1-249.
Azis, C. Y. dan Agustono. 2013. Teknik Kultur Artemia Sp. Sebagai Pakan Alami
dalam Pemeliharaan Ikan Badut atau Clownfish (Amphiprion ocellaris) Di
Balai Budidaya Laut Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Jurnal
ADLN Universitas Airlangga. 12 hal.
Clift, P. D., R. Tada, H. Zheng. 2010. Monsoon Evolution and Tectonics: Climate
Linkage
in
Asia.
https://books.google.com.tr/books?id=OHSSFnAEHfsC&pg=PA240&dq=cl
cli+monsoon+climate&hl=id&sa=X&ved=0CCEQ6AEwAGoVChMIoqDlu
AEwAGoVChMIoq38UwMS#v=onepage&q=clift%20monsoon%20climate
&f=false. 8/4/2015. pp. 12-20.
Dewan Kelautan dan Perikanan. 2006. Buku Panduan Pengembangan Usaha
Terpadu Garam dan Artemia. Buku Panduan. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Nonhayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen
Kelautan dan Perikanan Tahun Anggaran 2006. ISBN 978-979-3768-10-6.
hal. 11.
Drewes,
C.
2002.
Artemia
franciscana.
www.eeob.iastate.edu/faculty/DrewesC/htdocs/ARTEMIA.PDF. 8/4/2015. 4
pp.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
46
Food and Agricultural Organization of United Nations. 2015. Cultured Aquatic
Species Information Programme Artemia spp. (Leach, 1819). Food and
Agricultural Organization of United Nations, Italy, Rome.16 pp.
Food and Agricultural Organization of United Nations. 1980. Thai freshwater
Prawn and Brine Shrimp Farming Report on A Study of Economics,
Marketing and Processing Requirements. Chapter 4 Production, Processing
and
Marketing
of
Artemia.http://www.fao.org/docrep/field/003/ab919e/ab919e04.htm
Terakhir diakses 19/5/2015.
Hoa, N. V., N. T. N. Anh, N. T. H. Van, T. H. Le, P. Sorgeloos, G. Van Stappen.
2014. Sustainable Artemia Pond Production in Coastal Saltworks As A Tool
to Solve Aquaculture Challenges. International Workshop on Sustainable
Use of Marine and Coastal Resources in Kenya : From Research to Societal
Benefits. Kenya.
Hoa, N. V. 2014. Artemia production in Southern Vietnam : Geographical, soil
structure, climatic and culture technique updating. Journal of Artemia
Biology. College of Aquaculture and Fisheries, Can Tho University,
Vietnam. pp. 30-37.
Jubaedah, D., D. Djokosetiyanto, A. F. M. Soni. 2006. Jumlah dan Kualitas
KistaArtemia Pada Berbagai Tingkat Perubahan Salinitas. Jurnal Perikanan
VIII. hal. 194-200.
Khoi, C. M., V. T. Guong, M. Drouillon, P. Pypers, R. Merekx. 2008. Chemical
estimation of phosphorus released from hypersaline pond sediments used for
brine shrimp Artemia fransiscana production in the Mekong Delta. Journal
of Aquaculture 274. pp 275-280.
Lavens, P. and P. Sorgeloos. 1996. Manual on the Production and Use of Live
Food For Aquaculture. Food and Agricultural Organization of United
Nations, Italy, Rome. pp 79-250.
Mintarso, Y. 2007. Evaluasi Pengaturan Waktu Peningkatan Salinitas Pada
Kualitas Produksi KistaArtemia. Tesis Magister Managemen Sumberdaya
Pantai Universitas Diponegoro, Semarang.
Nambu, Z., S. Tanaka, F. Nambu. 2004. Influence of Photoperiod and
Temperature on Reproductive Mode in the Brine Shrimp, Artemia
franciscana. Journal of Experimental Zoology 301A. pp. 542-546.
Nazir, M. 2011. Metodologi Penelitian Cetakan ke 7. Penerbit Ghalia Indonesia,
Bogor. hal. 40-60.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
47
Nhu, V. C., K. Dierckens, T. H. Nguyen, M. T. Tran, P. Sorgeloos. 2009. Can
Umbrella-stageArtemia franciscana substitute Enriched Rotifers for Cobia
(Rachycentron canadum) Fish Larvae. Journal of Aquaculture 289. pp. 64 –
69.
Sangadji, E. M. dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian. Penerbit ANDI.
Yogyakarta. ISBN : 978-979-29-1618-8. hal. 20-40.
Sorgeloos, P. and N. V. Hoa. 2014. Integrated Salt and Artemia Production in
Artisanal Saltwork in the Mekong Delta in Vietnam. Presentasi. 2nd Eusalt
Conference, Sicily-Italy.
Sorgeloos, P. 1973. First Report on the Triggering Effect of Light on the Hatching
Mechanism of Artemia salina Dry Cysts. Journal of Marine Biology.
Springer Science. pp. 75-76.
Sui, L. Y., J. Wang, V. H. Nguyen, P. Sorgeloos, P. Bossier, G. Van Stappen.
2013. Increased carbon and nitrogen supplementation in Artemia culture
ponds results in higher cyst yields. Journal of Aquaculture. Springer
Science. pp. 1343-1354.
Toi, T. H., P. Boeckx, P. Sorgeloos, P. Bossier, G. Van Stappen. 2013. Bacteria
contribute to Artemia nutrition in Algae-limited conditions : A laboratory
study. Journal of Aquaculture 388-391. pp. 1-7.
Tomkins, S. P. and L. Dann. 2009. Sexual Selection in Brine Shrimp Practical
Investigations Using Artemia franciscana. Journal of Bioscience Volume 5
No. 1. Cambridge. 22 pp.
Treece, G. D. 2000. Artemia Production for Marine Larval Fish Culture. SRAC
Publication No. 702. 8 pp.
Van Stappen, G. 1996. Artemia : Use of Cysts. Pages 107-137 in P. Lavens and P.
Sorgeloos, editors. Manual on the Production and Use of Live Food For
Aquaculture. FAO. Rome, Italy.
Van Stappen, G. 2015. Live Food Production Course Book. Faculty of BiosciencEngineering, Laboratory of Aquaculture and Artemia Research Center,
Ghent, Belgia.
Widiastuti, R., J. Hutabarat, V. E. Herawati. 2012. Pengaruh Pemberian Pakan
Alami Berbeda (Skeletonema costatumdan Chaetoceros gracilis) Terhadap
Pertumbuhan Biomass Mutlak dan Kandungan Nutrisi Artemiasp. Lokal.
Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 1, Nomor 1.
hal. 236-248.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
48
Verschuere, L., H. Heang, G. Criel, P. Sorgeloos, W. Verstraete. 2000. Selected
Bacterial Strains Protect Artemia spp. From the Pathogenic Effects of Vibrio
proteolyticus CW8T2. Journal of Applied and Environmental Microbiology.
pp.1139 - 1146.
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
LAMPIRAN
Lampiran 1. Lokasi Vinh Chau (Hoa, 2014)
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
50
Lampiran 2. Sarana dan Prasarana Budidaya Artemia di Vinh Chau Station
Jenis Sarana dan
Prasarana
Kolam budidaya
Kolam penelitian
Lahan mangrove
(Konservasi)
Aula pertemuan
Satuan
Jumlah
Hektar
Hektar
Hektar
9
5
2
Unit
1
Ruang
pengamatan
Unit
1
Ruang
penyimpanan kista
Rumah pekerja
Toilet
Kamar mandi
Freezer
Alat raking
Bak plastik besar
Unit
1
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
Unit
1
1
1
1
2
4
Mikroskop
Unit
4
Refraktometer
Fluidized bed
dryer
Unit
Unit
1
1
Unit
Unit
1
7
Unit
1
Mesin Pengayak
Tabung cone
Pompa Air
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
Keterangan
Tempat
untuk
melakukan kegiatan
penyuluhan
dan
pelatihan
Tempat
untuk
melakukan
pengamatan
terhadap
kistaArtemia
Tempat
penyimpanan
sementara
kistaArtemia
Alat
pengamatan
kistaArtemia
Alat pengukur
Alat pengering kista
berada
di
Laboratorium CAF
Alat pengayak kista
Alat
untuk
melakukan proses
pembersihan
Memompa
air
masuk ke dalam
kolam dan keluar
dari kolam
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
51
Lampiran 3. Pemetaan Kolam Artemia
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
ADLN – PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
52
Lampiran 4. Alat yang Digunakan dalam Pengolahan Kista Artemia
Gambar 1. Fluidized Bed
Dryer
Gambar 2. Alat pengayak otomatis
LAPORAN PKL TEKNIK PRODUKSI KISTA
DANIEL ONNY SETIYOKO
Download