ARTI PENTING PEMERINTAH DESA DALAM PELAKSANAAN

advertisement
ARTI PENTING PEMERINTAH DESA
DALAM PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG DESA
Oleh : Dr. Eko Prasetyanto PP., M.Si., MA*
A. Pendahuluan
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa memiliki arti dan makna
tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Bukan saja karena Undang-Undang ini adalah
Undang-Undang pertama tentang Desa yang secara komprehensif mengatur
persoalan-persoalan kewilayahan, kemasyarakatan dan permerintahan yang ada di
Desa maupun dalam hubungannya dengan penyelenggaraan pemerintahan di
atasnya, namun terlebih dari itu Undang-Undang Desa ini menjadi regulasi yang
sangat ditunggu, memberi harapan bagi Desa dan mampu menjadi “magnet” bagi
semua pemangku kepentingan untuk kembali “memperhatikan” arti penting Desa
dalam format negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemahaman Desa secara utuh dalam tatanan kenegaraan adalah sangat
penting. Mengapa hal ini sangat penting ? Karena ada beberapa alasan, Pertama
secara historis, jelas bahwa sejarah menunjukkan sebelum tata pemerintahan di
atasnya ada, Desa itu lebih dulu ada. Oleh karena itu sebaiknya Desa harus menjadi
landasan dan bagian dari tata pengaturan pemerintahan sesudahnya. Desa yang
memiliki tata pemerintahan yang lebih tua, seharusnya diberdayakan untuk menjadi
ujung tombak dalam setiap penyelenggaraan urusan pemerintahan, pembangunan
dan kemasyarakatan. Secara filosofis, menurut pendapat Prof. Mr J de Louter,
seorang ahli tata negara Belanda dan F. Laceulle dalam suatu laporannya,
menyatakan bahwa bangunan hukum Desa merupakan fundamen bagi tatanegara
Indonesia (Sutardjo, 1984: 39). Artinya bahwa kemajuan bangsa dan negara
Indonesia sebenarnya juga terletak di Desa. Hal ini tentu saja tidak berlebihan
manakala diperhatikan secara seksama bahwa semua sumberdaya itu sebenarnya
berpusat di Desa, baik SDM maupun sumberdaya manusia.
*Direktur Evaluasi Perkembangan Desa, Ditjen Bina Pemdes, Kemendagri
1
Secara eksplisit dan implisit, tujuan dari Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Desa, adalah untuk mewujudkan Desa yang maju, mandiri dan sejahtera
tanpa harus kehilangan jati dirinya. Aspek-aspek penting yang diatur antara lain
mengenai penataan desa, kewenangan desa, penyelenggaraan pemerintahan, hak
dan kewajiban desa dan masyarakat desa, pembangunan desa dan pembangunan
kawasan perdesaan, kekhususan Desa Adat,
dan sebagainya. Oleh karena itu,
Undang-Undang Desa memiliki posisi yang sangat strategis dalam kerangka
pembangunan bangsa dan negara.
untuk
kebaikan)
Undang-Undang
Dalam konteks politik par exellence (politik
ini
dapat
dipandang
sebagai
solusi
dan
keberpihakan atas problematika yang dihadapi negara dalam menjawab persoalan
kemiskinan, pengangguran, pendidikkan yang rendah, kesehatan yang buruk dan
berbagai persoalan sosial lainnya, baik langsung maupun tidak langsung.
Undang-Undang tentang Desa juga mengakomodir keberagaman Desa dari
Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote yang saat ini jumlahnya
kurang lebih 74.754 Desa (berdasarkan Permendagri 54 Tahun 2015 tentang Kode
dan data Wilayah Administrasi Pemerintahan). Memperhatikan keberagaman ini
maka Pertama, design Undang-undang tentang Desa mendasarkan
pada
kombinasi antara hak asal-usul dan adat-istiadat setempat (self governing
community), dan sekaligus memberi kewenangan kepada Desa untuk mengatur
dan
mengurus
penyelenggaraan
pemerintahan,
pelaksanaan
pembangunan,
pembinaan kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat desa (local self
government). Kedua, disain kelembagaan pemerintahan Desa merupakan
kombinasi antara default village dan optional village yang sesuai dengan keragaman
lokal. Dengan pengaturan seperti ini, terkandung makna bahwa Undang-Undang
Desa mengakomodir berbagai kepentingan lokalitas, regionalitas, dalam tata aturan
Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus
dalam rangka mempercepat
menjawab persoalan masyarakat yang ada berdasarkan prioritas kebutuhan dalam
menghadapi era kesejagatan yang tidak terelakkan lagi. Hal ini penting untuk
dipahami oleh semua pihak karena majunya Desa juga akan sangat menentukan
majunya pemerintahan di atasnya.
2
B. Permasalahan
Pada
hakekatnya
penyelenggaraan
ada
3
(tiga)
kelompok
Pemerintahan,pelaksanaan
permasalahan
pembangunan,
dalam
pembinaan
kemasyarakatasn dan pemberdayaan masyarakat yaitu permasalahan kewilayahan,
kemasyarakatan dan pemerintahan.
Permasalahan kewilayahan, yang sering dihadapi oleh Pemerintah Desa saat
ini antara lain adalah masalah penetapan dan penegasan batas desa, pemekaran
desa, perencanaan pengembangan wilayah desa dan perencanaan pembangunan
kawasan
perdesaan,
kemasyarakatan
yang
lingkungan
dihadapi
dan
antara
sebagainya.
lain
Sedangkan
adalah
persoalan
permasalahan
kemiskinan,
pengangguran, pendidikan yang rendah, kesehatan yang buruk, keterwakilan
perempuan, perlindungan anak, dan sebagainya. Selanjutnya untuk permasalahan
Pemerintahan dapat dikelompokkan dalam permasalahan kewenangan, keuangan,
kelembagaan dan personil.
Permasalahan kewilayahan ke depan akan menjadi sangat penting untuk
diperhatikan, karena dengan meningkatnya intensitas pembangunan serta anggaran
yang masuk ke Desa, bukan tidak mungkin bahwa masalah batas Desa akan menjadi
persoalan yang sangat krusial. Batas Desa yang masih didasarkan pada batas alam
sedikit demi sedikit harus ditata sedemikian rupa sehingga Desa memiliki batas Desa
yang berdasarkan pada titik ordinat dan menggunakan pilar batas Desa Tipe D.
Demikian juga dengan masalah pemekaran, kalau tidak dikendalikan bukan tidak
mungkin Desa akan menjadi obyek kepentingan berbagai pihak. Selanjutnya yang
perlu diperhatikan dalam masalah kewilayahan adalah masalah perencanaan
pembangunan Desa dan Kawasan Perdesaan, dimana dalam ketentuan perundangundangan ada kewajiban Kepala Desa untuk membuat Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan Rencana Kerja Pemerintahan Desa (RKP
Desa), sebagai landasan bagi Pemerintah Desa dalam membuat Anggaran
Pendapatan dan Belanja Desa (APB Desa). Oleh karena itu, persoalan penguasaan
pengetahuan mengenai tata cara pembuatan RPJM Desa, RKP Desa, dan APB Desa
serta penguasaan mengenai penetapan skala prioritas pembangunan yang
3
dibutuhkan Desa dalam hubungannya dengan arah kebijakan pembangunan daerah
adalah menjadi suatu permasalahan yang perlu diselesaikan.
Sedangkan
masyarakat,
untuk
antara
permasalahan
lain
terdapat
kemasyarakatan
permasalahan
dan
pemberdayaan
kemiskinan,
pengangguran,
pendidikkan yang rendah dan kesehatan yang buruk. Data menunjukkan bahwa
persentase dan jumlah penduduk miskin secara bertahap terus mengalami
penurunan, namun demikian Tahun 2014 masih ada 27,3 juta penduduk miskin yang
perlu dientaskan (10,47%). Demikian juga dengan pengangguran yang ada di Desa,
perlu dicermati penyebab maupun cara mengatasinya, apakah pengangguran yang
ada bersifat friksional (frictional unemployment), pengangguran struktural (structural
unemployment), atau pengangguran siklis (cyclical unemployment).
Selanjutnya dibidang Pemerintahan, permasalahan saat ini antara lain adalah
permasalahan ketidakjelasan urusan yang menjadi kewenangan pemerintah Desa.
Akibatnya, Pemerintah Desa mengalami kesulitan dalam mengoptimalkan tugas dan
fungsinya, khususnya dalam mengembangkan sumber-sumber pendapatan aslinya.
Dalam bidang keuangan persoalannya adalah bagaimana menggali dan mengelola
keuangan, sedangkan dibidang kelembagaan permasalahan yang dihadapi seperti
pembentukan organisasi yang gemuk, hubungan antar lembaga Desa yang kurang
harmonis, kekurangan aparat yang kompeten, dan sebagainya.
Pertanyaannya sekarang, strategi apa yang diperlukan untuk untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan
di
pelaksanaan
pembinaan
pembangunan,
atas
agar
penyelenggaraan
kemasyarakatan
dan
pemerintahan,
pemberdayaan
masyarakat dapat berjalan dengan baik dan berkelanjutan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan ?
C. Strategi Penguatan Pemerintahan Desa
Memperhatikan permasalahan-permasalahan di atas, hal ini perlu dijawab
dengan mendukung penuh semangat Bapak Presiden dan Wakil Presiden yaitu Kerja,
Kerja dan Kerja yang dilakukan dengan rasa optimis bahwa kita pasti bias maju dan
sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju lainnya. Pepatah mengatakan “Tidak ada
permasalahan yang tidak dapat diselesaikan...”... “kalau ada kemauan pasti ada
4
jalan”. Berkaitan dengan ini,
Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa
berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2015 tentang Kementerian Dalam
Negeri telah siap untuk mengawal penyelenggaraan Pemerintahan Desa dalam
rangka mewujudkan Kementerian Dalam Negeri sebagai “Poros Pemerintahan”. Saat
ini, Ditjen Bina Pemdes telah melakukan pelatihan dan bintek dalam rangka
menyiapkan SDM, khususnya aparat Pemerintah Desa, untuk meningkatkan
kemampuan (cognitif), ketrampilan (psycho-motorik) dan sikap (attitude) . Untuk
tahun 2015 telah dilatih 300-an Master of Trainer dari berbagai komponen, lembaga
dan Provinsi serta telah dilakukan Training of Trainers untuk 2500-an pelatih dari
Kabupaten/Kota bahkan sekarang dalam proses pelatihan untuk 222000 aparat
Pemerintah Desa serta 14000 aparat Kecamatan. Hal ini sangat penting dilakukan
dalam rangka mengawal pelakasanaan Undang-Undang Desa agar berhasil guna dan
berdaya guna dalam mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahan,
pelaksanaan
pembangunan,
pembinaan
kemasyarakatan
dan
pemberdayaan
masyarakat. Selanjutnya, pengetahuan dan ketrampilan yang diberikan dalam
pelatihan
tersebut
mencakup
manajemen
Pemdes,
Perdes,
Perencanaan
Pembangunan dan Pengelolaan Keuangan Desa. Pemahaman yang ditekankan selain
pengelolaan keuangan Desa adalah cara dan mekanisme dalam perencanaan
pembangunan, seperti dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Desa (RPJM Desa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). Berbagai
penyiapan pengetahuan dan ketrampilan ini perlu karena aparat Pemerintah Desa
selain sebagai regulator, motivator, garda terdepan atau ujung tombak dalam
penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di
desanya, juga sebagai agent of change bagi kemajuan, kemandirian dan
kesejahteraan desanya.
5
6
Download