Pemimpin yang Melayani

advertisement
JADWAL MISA
Misa Harian:
Senin s/d Jumat 06.00 wib
20 September 2015
Tahun VI – No.38
Pemimpin yang Melayani
Seorang pemimpin adalah seseorang yang mau menjadi pelayan
Hari Sabtu :
17.00 wib
Hari Minggu :
06.30 - 09.00 - 17.00 wib
Misa Jumat Pertama :
06.00 - 12.00 - 19.30 wib
Adorasi Ekaristi :
Setiap hari Senin
15.00 s/d 22.00 di Kapel
ditutup pukul 22.00 dengan
ibadat penutup (completorium)
PENYELIDIKAN KANONIK
(dengan perjanjian)
Hari Senin, 17.00 – 18.30 wib
Romo A.S. Gunawan, Pr.
Hari Kamis, 17.00 – 18.30 wib
Romo Anton Baur, Pr.
PELAYANAN MISA REQUIEM
DI GEREJA
Dapat diselenggarakan pada
hari Senin hingga Jumat.
Hubungi Sekretariat Paroki.
Website:
www.parokisanmare.or.id
Facebook Group:
SanMaRe
Kontribusi artikel, pengumuman, iklan:
[email protected]
Di salah satu blog di internet, dikisahkan tentang Paus Fransiskus yang
konon membuatkan sandwich isi selai untuk seorang Swiss Guard yang
bertugas menjaga keamanan di depan apartemennya di Casa Santa
Marta.
Keluar dari pintu, Paus melihat sang Swiss Guard [mungkin bagi kita,
istilahnya satpam] berdiri berjaga. Lalu Paus bertanya:
“Apakah kamu telah berjaga semalaman?
“Ya”, jawab si petugas.
“Berdiri?” tanya Paus.
“Yang Mulia, itu tugasku sejak aku bergantian jaga dengan temanku.”
“Kamu tidak capek?”
“Itu tugas saya Yang Mulia; saya harus berjaga demi keamanan Anda.”
Paus memandangnya dengan kasih, dan kembali ke kamarnya. Setelah
semenit ia kembali dan membawa sebuah kursi: “Paling tidak,
duduklah dan beristirahatlah.”
Sang petugas menjawab, “Bapa Suci, maafkanlah saya, tapi saya tidak
dapat! Peraturannya tidak memperbolehkan itu.”
“Peraturan?”
“Perintah dari kapten saya, Yang Mulia.”
“O, begitu? Baiklah. Saya Paus dan saya memerintahkan kamu untuk
duduk.”
-1-
Terbelah antara peraturan dan Paus, sang petugas akhirnya memilih kursi itu. Paus kembali ke
apartemennya. Setelah beberapa menit, Paus keluar lagi menemui sang Swiss Guard yang masih duduk di
kursi. Paus membawa “panino con marmellata” (setangkap roti selai) yang telah dibuatnya.
Sebelum sang petugas mengucapkan apapun, Paus tersenyum dan berkata kepadanya, “Dengan berjamjam berdiri sambil berjaga, mestinya kamu sedikit lapar.” Sang Swiss Guard tak punya waktu untuk
menolak, sebab Paus langsung berkata: “Selamat makan, saudaraku.”
Terharu hatiku membacanya. Dengan pembawaannya yang khas, Paus Fransiskus memberikan contoh
kepada kita, bagaimana menjadi seorang pemimpin yang melayani.
Ini adalah salah satu pesan bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Setelah Yesus dimuliakan di atas gunung,
Yesus memberitahukan kepada murid-murid-Nya tentang apa yang akan dihadapi-Nya. Yaitu bahwa Ia
akan dianiaya dan dibunuh, namun tiga hari setelahnya, Ia akan bangkit (lih. Mrk 9:31).
Ini adalah nubuat Yesus yang sangat jelas akan sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, yang menggenapi
nubuat para nabi. Salah satunya adalah nubuat yang tertulis dalam Kitab Kebijaksanaan yang dibacakan
sebagai Bacaan Pertama Minggu ini.
Kitab Kebijaksanaan adalah salah satu kitab dalam kitab-kitab Deuterokanonika; yang di dalamnya
memuat perikop yang sangat jelas menggambarkan Kristus (lih. Keb 2:10-20). Oleh karena itu, para rabi
Yahudi tidak memasukkan kitab Kebijaksanaan dalam kanon kitab suci mereka, sebab mereka sampai
sekarang menolak Kristus dan tidak percaya kepada-Nya.
Kembali kepada nubuat Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya. Saat mendengar perkatan Yesus itu,
para murid tidak mengerti, namun mereka segan menanyakannya kepada-Nya. Mungkin mereka masih
belum memahami tentang apa yang Yesus bicarakan, tetapi mungkin juga, karena mereka sedang sibuk
membicarakan hal lain. Rupanya mereka sedang membicarakan tentang siapakah yang terbesar di antara
mereka.
Yesus yang mampu membaca kedalaman pikiran hati setiap manusia, mengetahui apa yang ada dalam
pikiran para murid-Nya saat itu. Sejumlah dari mereka mungkin masih terbayang-bayang pengalaman
melihat Yesus yang dimuliakan di atas gunung, lalu menghubungkan kemuliaan tersebut dengan kejayaan
kerajaan-Nya di bumi. Dengan demikian, mereka seolah-olah ingin berlomba menjadi yang terdekat
dengan Yesus atau menjadi pemimpin bagi sesama rasul lainnya.
Namun Yesus memberi persyaratannya: bahwa siapa yang mau menjadi pemimpin harus mau menjadi
pelayan bagi semuanya (lih. Mrk 9:35). Walau mungkin pada saat itu perkataan ini belum dipahami
sepenuhnya oleh para murid, namun setelah Yesus wafat, bangkit, naik ke Surga dan mengutus Roh KudusNya, perkataan ini jelas tertanam di hati para rasul. Ini nampak juga dari tulisan Rasul Petrus (1Ptr 5:1-3)
dan Rasul Paulus (1Kor 9:19-; 2Kor 4:5).
Paus sebagai penerus Rasul Petrus, juga melestarikan ajaran Yesus ini, dengan mengambilnya sebagai
salah satu gelarnya, yaitu “Pelayan dari semua pelayan Tuhan,” Servus servorum Dei.
Di Tahun Syukur—tema yang diangkat di Keuskupan Agung Jakarta tahun 2015—di saat banyak diadakan
banyak program kepemimpinan dan Leadership di paroki-paroki, kita diingatkan untuk kembali ke satu
prinsip dasar bagi seorang pemimpin sejati menurut Injil, yaitu seorang pemimpin adalah seseorang
yang mau menjadi pelayan.
Yesus mengajarkannya demikian, dan telah melaksanakannya sendiri, sebagaimana kita lihat selama
hidup-Nya di dunia sampai wafat-Nya di kayu salib. Kini mari kita memeriksa batin kita, terutama jika kita
memegang suatu peran kepemimpinan di keluarga, lingkungan, paroki, maupun masyarakat.
Sudahkah kita menjadi pemimpin yang rendah hati dan mau memperhatikan kesejahteraan mereka
yang kita pimpin? Sudahkah kita mau melayani mereka? Mari belajar dari Paus Fransiskus, yang tidak
canggung dan bahkan dengan sukacita, melayani petugas satpam dan menganggapnya sebagai saudaranya
sendiri.
Adakah saudara/saudari kita hari ini, yang mungkin perlu kita bawakan kursi dan kita buatkan roti?
Sumber: Katolisitas.org
-2-
umat bertanya
gembala menjawab
Diasuh oleh Romo Anton Baur, Pr
Pertanyaan silakan dikirimkan ke: [email protected]
Ketika membaca satu buku, saya
membaca adanya empat simbol
tentang empat Injil. Bagaimana
memahaminya ya Romo?
Terimakasih atas pertanyaanya. Memang, dalam
tradisi Gereja, khususnya sejak abad ke-4, ada
simbol-simbol yang membantu kita memahami
keempat Injil. Injil Matius dilambangkan dengan
Manusia bersayap. Injil Markus dilambangkan
dengan Singa. Injil Lukas dilambangkan dengan Sapi. Dan, Injil Yohanes dilambangkan dengan
Rajawali.
Secara sederhana, Matius digambarkan sebagai manusia karena dimulai dengan silsilah Yesus sebagai
manusia (Mat 1:17). Markus sebagai singa karena dimulai dengan “suara di padang gurun” (Mrk 1:3).
Lukas sebagai sapi, karena dimulai dengan Zakharia, yang (sementara) tidak bisa berbicara (Luk 1:20).
Dan, Yohanes sebagai rajawali, karena injil ini dimulai dengan pengatar yang berteologi tinggi (Yoh
1:1-18).
Dari gambaran manusia dalam Injl Matius, kita bisa mengenali tekanan Matius tentang Yesus sebagai
utusan Allah yang menyampaikan Sabda Sukacita Allah dan memberitakan Injil Kerajaan Allah (Mat
4:23). Dalam gambaran singa Injil Markus, kita melihat daya kekuatan Allah yang ada dalam Yesus.
Kekuatan itu tersembunyi di dalam diri Yesus karena demi cinta-Nya kepada kita.
Dalam gambaran sapi di injil Lukas, kita bisa pahami sapi sebagai ternak yang lunak dan halus. Simbol
ini menyiratkan Lukas yang menampilkan Yesus
yang memberikan perhatian kepada orang kecil dan
lemah, bahkan dalam setiap peristiwa dan perkara
kecil. Di sini, tampak tekanan Yesus yang murah
hati dan lemah lembut.
Dalam injil Yohanes dengan gambaran rajawali,
Yohanes ingin menampilkan keallahan Yesus. Dai
terbang sampai ke laingit tertinggi untuk
memperlihatkan siapakah Yesus sesungguhnya.
Yesus sungguh-sungguh ditampilkan sebagai anak
Allah yang penuh kebijaksanaan, dan penuh
kemuliaan.
-3-
Semoga jawaban ini membantu kita untuk semakin mencintai Kitab Suci, secara istimewa di Bulan
Kitab Suci Nasional ini. *
I N SP I R A SI K E L UA R G A
KIRIMKAN ARTIKEL ANDA KE: [email protected]
....ketika bosan menyapa..........
Suamiku berprofesi sebagai insinyur mesin, aku mencintainya karena sifatnya yang
tegar, dan perasaan hangat dan nyaman saat aku bersandar di bahunya yg bidang.
Tiga tahun berhubungan, dan sekarang sudah dua tahun kami menikah, aku harus
mengakui, aku mulai lelah dgn semua ini. Alasan-alasanku mencintainya, sekarang
telah berubah menjadi penyebab kelelahanku.
Aku perempuan yg sangat sentimental,
dan sangat, sangat sensitif tentang
hubungan cinta dan perasaanku. Aku
sangat mendambakan momen-momen
romantis dalam hidupku. Suamiku,
adalah org yg sangat berlawanan
sifatnya dgnku, dan ketidakmampuannya
membuat momen romantis dalam
pernikahan kami telah meruntuhkan
perasaan cintaku kepadanya.
Suatu hari, akhirnya aku memutuskan
utk menyatakan keputusanku kepadanya.
Aku ingin bercerai.
“Kenapa?” tanyanya, kaget.
“Aku lelah. Gak semua hal di dunia ini harus ada alasannya kan?!” Jawabku.
Suamiku hanya diam semalaman, sepertinya ia tenggelam dalam pikirannya, dan
merokok sepanjang malam. Perasaan kecewaku hanya bertambah besar melihatnya
seperti itu. Disana terlihat laki-laki yg bahkan tidak dapat mengekspresikan
kekecewaannya, apa lagi yg aku harapkan dari dia? Akhirnya suamiku bertanya
kepadaku.
“Apa yg bisa aku lakukan utk mengubah pikiranmu?”
Sepertinya yg orang-orang bilang itu benar, susah untuk mengubah kepribadian
seseorang, dan kurasa, aku telah kehilangan kepercayaan dan cintaku kepadanya.
Aku melihat dalam ke matanya, dan perlahan kujawab: “Aku punya pertanyaan, kalau
kamu bisa menjawabnya, dan meyakinkanku, aku mungkin mengubah pikiranku.
Seandainya ada bunga yg terletak di tepi jurang, dan mengambilnya bisa
membahayakan nyawamu, maukah kamu mengambilnya untukku?”
“Akan aku jawab besok” Jawabnya, singkat. Harapanku hancur mendengar jawabannya.
Keesokan harinya aku terbangun, dan dia sudah tdk ada. Kutemukan sepucuk surat
dengan tulisan tangannya yg jelek, di bawah segelas susu di meja makan dekat
pintu depan. Aku baca perlahan kata-katanya.
“Sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi biarkan aku
menjelaskan alasanku..” Baru kalimat pertama, tapi kekecewaanku semakin
bertambah padanya. Kulanjutkan membaca.
-4-
“... Ketika kamu menggunakan komputer, kamu selalu bermasalah dengan programprogramnya, kemudian kamu menangis di depan monitor. Aku harus menjaga jariku,
jadi aku bisa tetap membantumu memperbaiki programnya. Kamu selalu lupa membawa
kunci pintu kalau keluar rumah, jadi aku harus menjaga kakiku utk berlari pulang
agar kamu bisa segera masuk ke dalam rumah. Kamu suka jalan-jalan, tapi kamu
selalu tersasar di tempat yg baru, jadi aku harus menjaga mataku agar bisa
memberitahu jalan yg benar. Kamu selalu keram setiap bulan saat “teman baikmu”
datang, jadi aku harus menjaga tanganku utk mengelus perutmu dan meredakan rasa
keram itu...”
“Kamu selalu suka utk tetap di rumah, dan aku khawatir kamu tdk memiliki teman.
Jadi aku harus menjaga mulutku, agar bisa terus menceritakan cerita-cerita lucu
utk menghilangkan kebosananmu. Kau selalu suka menatap komputer, dan itu buruk
utk matamu. Jadi Aku harus menjaga mataku, agar kalau kita tua nanti, aku bisa
membantu memotong kukumu, dan membantumu menyibak ubanmu yg mengganggu, jadi aku
bisa memegang tanganmu, sambil memandang pantai berdua. Jadi kamu bisa menikmati
sinar matahari, dan pasir yg indah... Jadi aku bisa menceritakan kepadamu warna
dari bunga-bunga, seperti rona wajahmu saat kamu masih muda... Jadi, sayangku,
kecuali aku yakin ada orang lain yg mencintaimu lebih dari aku... Aku tidak bisa
memetik bunga itu, dan mati...”
Air mataku mengalir membasahi suratnya, dan merusak tinta di tulisannya
sepanjang aku membaca...
“... Sekarang kamu sudah selesai membaca jawabanku. Kalau kamu puas dgn
jawabanku, tolong buka pintu depan, krn aku sedang berdiri menunggumu sambil
membawa roti dan susu segar kesukaanmu...”
Aku bergegas menarik pintu, dan melihat wajahnya yg penasaran, memeluk erat
botol susu dan roti dgn tangannya. Sekarang aku sangat yakin, tidak ada org yg
bisa mencintaiku sebesar cintanya kepadaku, dan aku memilih utk tetap
bersamanya, meninggalkan bunga-bunga yg aku inginkan di belakang...
Begitulah hidup. Ketika seseorang dikelilingi oleh cinta, lama-lama perasaan bahagia itu pudar,
dan dia tidak merasakan cinta sesungguhnya karena tertutup oleh kebosanan.
Cinta hadir dalam berbagai bentuk, bahkan dalam bentuk yg sangat kecil dan tidak terasa. Bisa
jadi, cinta hadir dalam bentuk yang sangat membosankan.
Bunga-bunga dan momen romantis hanya hal yang bisa dilihat dari kekuatan cinta.
Namun di balik itu semua, ada cinta yg sebenarnya..
Pandangi wajah pasanganmu jika kau mulai merasa bosan.
Pikirkan hal-hal yg membuatmu jatuh cinta kepadanya dulu…
Sumber: Gulalives
Apakah kita mengucapkan
“Terima Kasih” kepada
Tuhan setiap hari?
Paus Fransiskus melalui akun twitter @Pontivex
10.sept. 2015
-5-
OLAHRAGA PERSAHABATAN
ANTAR 9 GEREJA SE-BINTARO
Dalam rangka perayaan HUT Gereja Santa Maria Regina Bintaro Jaya yang
ke-5 (Lustrum I), diadakan PERTANDINGAN OLAHRAGA 9 GEREJA SE-BINTARO
(Gereja Santa Maria Regina Bintaro Jaya, Gereja St Matius Penginjil Pondok Aren,
Gereja St Nicodemus Ciputat, Gereja Reformed Injili Indonesia, Gereja Kristen Indonesia
Bintaro, Gereja Kristen Oikumene Bintaro, Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Imanuel
Bintaro, GBI HOS Bintaro, GPdI Sejahtera).
JENIS
PERTANDINGAN
JADWAL
WAKTU
TEMPAT
BULUTANGKIS
Sabtu, 3,10,17, 24
dan 31 Oktober 2015
15.00 –
21.00
ANS HALL
Jl. Kalimantan no.1
Villa Bintaro Indah,
Jombang Ciputat
Minggu, 11 Oktober 2015
13.00 –
selesai
Aula Gereja
Santa Maria Regina
Rabu, 14 Oktober 2015
10.00 - 16.00
Minggu, 4, 11, 18
Oktober 2015
12.00 - 17.00
TENIS MEJA
FUTSAL
-6-
Aula Gereja
Santa Maria Regina
MANGUNI FUTSAL
Bintaro Sektor 3
(sebelah RM Padang Sederhana)
 JADWAL LITURGI 
MINGGU BIASA XXVI, 27 September
MINGGU BIASA XXVII, 4 Oktober
Sabtu, 26 September, pukul 17.00
Sabtu, 3 Oktober, pukul 17.00
Koor dan Tatib: St. Yakobus
Lektor: Anastasia Agnes / Theresia Priscylla
Koor dan Tatib: St. Andreas
Lektor: Theresia Michelle Alessandra
Cicilia Nina
Bacaan: Bil. 11:25-29; Mzm. 19:8,10,12-13,14;Ul:9;
Yak. 5:1-6; Mrk. 9:38-43,45,47-48
Saran Lagu: PS 328, 366, 367, 368, 369, 381, 697,
853, 960
Bacaan: Kej. 2:18-24; Mzm. 128:1-2,3,4-5,6;Ul:lih,5;
Ibr. 2:9-11; Mrk. 10:2-16
Saran Lagu: PS 616, 617, 619, 662, 663, 664, 846,
957
/
Putra/i Altar: Catherine Inez Maharani P., Caroline
Susan Mahadewi Gadis Amara, Agata Anjani Cita
Permata Kusuma, Maria Fransiska Chelsea Novelia
Prodigma Gunawan, Seraphine Archangela Girlani
Oktafandi, Kevin Bagas K., Irenne Yudia Hagaina
Tarigan, Shannon Wijaya, Yohanes Purba Sangga
Becik, Theresia Avilla Revabelle Maharani
Prodiakon: Franciscus Xaverius Andri, Probel
Gultom, Johanes Sumardi, Cynthia Catharina, Prima
Widi Hatmi, Ronald C. Sampayan, Thomas Erwin
Kurniawan, Yohanes Budi Purwanto
Putra/i Altar: Albertus Alexander Goenawan,
Benigno Areli Siswoko, Benedicto Siswoko, YM
Jonathan Glenn Paskalis, Theodorus Albert Winata,
Christopher Satrio Binatoro, Euginea Puspa
Pitaloka, Maria Natania Pangastuti, Claudia Michelle
Ivane, Stefani Nathania Sanchia
Prodiakon: Didi Hartanto, Veronika Kani, Rudyanto
Gunawan, Dwi Respati, F. A. Soedjarno, Donanta
Octaviardi, Noegroho Tjiptorahardjo, Joachim
Sulistyo
Minggu, 27 September, pukul 06.30
Minggu, 4 Oktober, pukul 06.30
Koor dan Tatib: St. Damian
Lektor: Angelina Wardhani E / Cecilia
Andria Permata Sari
Koor dan Tatib: Sta. Ursula
Lektor: Maria.A Witjaksono / Anggia Kandhi
Putra/i Altar: Santos Ferdinand Tambunan,
Thomas Lasmono Wibowo, Aurelia Yashodara
Nareswari, Bernadette Claudia Kartikasari Sutandi,
Paulus Winton Fernandes Tambunan, Maria Ajeng
Cipta Wening, Michael Rama Aviandri Santoso,
Katarina Sari Kusuma Dewi Mursito, Margaretha
Velicia, Gabriel Nathaniel Orion
Prodiakon Yustinus T. Mudjihardjo, Agustinus
Darmawan, Metty Suprapti, Antonius E. Nelwan,
Agung Wahyu Wibowo, Felicianus Purnawan Solihin
Minggu, 27 September, pukul 09.00
Koor dan Tatib: WILAYAH 1
Lektor: Benedicta Gita Adinda / Jacinta
Dewi iswanto
Putra/i Altar: Patricia Dias Riandari, Jonathan
Mark, Maria Kiara Anindita, Josephine Marie
Yohana, Andreas Widiatmoko Prabowo, Ignatius
Prayogo, Laurentius Melvin Pratama, Alleandra
Luwina Nugroho, Fransciscus Xaverio Anggara
Nugroho, Clara LourdessaOryza Emmanuella
Prodiakon: Fransiskus P. Narendra, Heribertus
Putra/i Altar: Catherine Inez Maharani P., Caroline
Susan Mahadewi Gadis Amara, Agata Anjani Cita
Permata Kusuma, Maria Fransiska Chelsea Novelia
Prodigma Gunawan, Seraphine Archangela Girlani
Oktafandi, Kevin Bagas K., Irenne Yudia Hagaina
Tarigan, Shannon Wijaya, Yohanes Purba Sangga
Becik, Theresia Avilla Revabelle Maharani
Prodiakon Kamilus Arifin, Maria Yoke Edna, Petrus
Lazarus Mardjono, Yoseph Martahan Sitorus,
Albertus Sugianto Supriadi
Minggu, 4 Oktober, pukul 09.00
Koor dan Tatib: Sta. Helena
Lektor: Kineta / Helena Hennywati Halim
Putra/i Altar: Joety Johannes Aaron Bongku, Maria
Ajeng Cipta Wening, Margaretha Velicia, Graciella
Antonius Putri, Robertus Darren Radyan, Gabriel
Nathaniel Orion,
Michael David Christopher,
Michael Rama Aviandri Santoso, Elisabeth
Novadiana Kurniasavitri T., Aurelia Anindita Herputri
Prodiakon: George Pangemanan, Ferry Kodrat,
Gunawan Gunarso, Didik Wiryawan AP, Gregorius
-7-
Darno, Agus Munandar, Esther Meinelsa Manurung,
Rinto Setiono, Royandi Ernestus DP, Gunawan
Wibowo, Yohanes Soeryanto Santoso, Agustinus
Fadjar AS, Bambang Tedjo Nugroho, Haryono
Widarta, Daniel Bala Batti, Lily Irene Tantra,
Hartawan Makmur, Heru Santosa, Georgino
Godong, Temmy Royani, Paul August Liqui, Soetojo
Dharmadi,
Tjhong
Vincentius,
Yohannes
Pudjiastoto, Gatot Kusumo Atmojo
Minggu, 27 September, pukul 17.00
Suyanto Utomo, Joannes Suharno, Lucas Hanifa
Natahusada, Yadi Djuhandi, Ping Julianto Widjaja,
Willem Dagi, Yuliana Yelly, Agnes A. Sayan
Rampisela, Wahid Gunawan, Saras Damai Susetyo,
Irwan Wijaya, Agustono Widjaja, Helfina M.
Tisnakusuma, Columbanus Marianto, Probel
Gultom, Johanes Sumardi, Cynthia Catharina,
Prima Widi Hatmi
Koor dan Tatib: WILAYAH 6
Lektor: Chresentia Flavia D / Miche
Koor dan Tatib: St. Markus
Lektor: Maria Agustine Tri Mardikowati / Ista
Anindita
Putra/i Altar: Christina Simamora, Maria Carmelita
Ome Leba, Alexander Andi, Christopher Rizal,
Gregorius Rio Alfrian, Nicholas Yabes Condi,
Giacinta Maretha Prita Pradita, Fransiska Wahyuni
Novita Kristiyani Br.M, Estherania N, Maria Carolina
Itu Leba
Prodiakon: Bayu Rajasa, Arden Andreas Barus, Fifi
Amaliawaty, Florentina Ratna Supeni H., Grace
Theresia Supit, I. Y. Supriyanto, Saly Listiyadhi,
Ingewati Kusuma, Heru Yuniriyanto, Yosep Yendi
Minggu, 4 Oktober, pukul 17.00
Putra/i Altar: Gabriel randall W, Alleandra Luwina
Nugroho, Fransciscus Xaverio Anggara Nugroho,
Jonathan Mark, Josephine Marie Yohana, Maria
Kiara Anindita, Fransisca Mariana Rasendrya Z.,
Ignatius Prayogo, Andreas Widiatmoko Prabowo,
Patricia Dias Riandari
Prodiakon: Ronald C. Sampayan, Thomas Erwin
Kurniawan, Yohanes Budi Purwanto, Yustinus T.
Mudjihardjo, Agustinus Darmawan, Metty Suprapti,
Antonius E. Nelwan, Agung Wahyu Wibowo,
Felicianus Purnawan Solihin, Fransiskus P.
Narendra
 PENGUMUMAN 
1. Misa HUT perkawinan bulan September akan diadakan pada hari Sabtu tanggal 26
September 2015 pukul 17.00. Pendaftaran bisa melalui Sekretariat paroki.
2. Akan saling menerimakan Sakramen Pernikahan
Pengumuman ke II :
• Ancilla Winda Ardianti dari Lingk. St. Gregorius dengan Odilo Christian Audi Buwono
dari Lingk. St. Yakobus
Barangsiapa mengetahui adanya halangan untuk perkawinan tersebut, wajib memberitahu
Pastor Kepala Paroki.
Dibutuhkan: Tenaga Administrasi Sekolah / Tata Usaha (untuk ditempatkan di sekolah Katolik di Bintaro)
Syarat: Min. Lulus SMA, bisa naik motor, menguasai Komputer dengan baik, menguasai Administrasi
Keuangan, usia max. 30 th, beragama Katolik, jujur dan bertanggung jawab, sehat jasmani & rohani.
Lamaran dibawa langsung ke Yayasan Abdi Siswa Jln. Patra Tomang Raya No.1 Duri Kepa, Jakarta Barat
Kode Pos 11510. Email: [email protected]
Dibutuhkan: Marketing Head for TBI GadSerp/BSD. Max 35 years old, exp sales & marketing, promotion,
& digital marketing. Apply to our email : [email protected]
IKLAN BARIS – Wahana bagi umat yang ingin mengiklankan informasi lowongan pekerjaan atau mencari pekerjaan.
Materi iklan diserahkan ke sekretariat paroki setiap hari kerja atau email ke: [email protected]
-8-
Download