PENGARUH PROFIT MARGIN, ASSETS TURNOVER DAN

advertisement
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
PEMANFAATAN LAPORAN BIAYA KUALITAS SEBAGAI
ALAT PENGENDALIAN BIAYA PADA PABRIK GULA WATOETOELIS
Rany Wanita Wigati
[email protected]
Titik Mildawati
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya
ABSTRACT
The analysis is carried out by identifying company production activity, determining quality cost
components, and classifying these costs to quality cost components. Quality cost components is
identified in order to find out the cost which has been expensed by the company with regard to create
competitive advantage of its products through quality improvement. The data which has been obtained
from these procedures are company’s general description, company’s organization structures,
company’s mission and vision, company’s production process, costs which are related to production,
and information about quality control. It can be concluded from the result of research that sugar
factory Watoetoelis has not implemented the drafting of quality cost report which is one of the ways to
control and to maintain the quality of its products. Based on the quality cost report, the percentage of
control cost is bigger than failure cost. Therefore, it shows that the company is capable to improve their
product quality which is carried out by high assessment cost in the form of training activities,
equipment and machineries maintenance, production planning and maintenance and the inspection of
raw materials.
Keywords: quality cost, product quality, quality cost report, cost control
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan laporan biaya kualitas
produk yang dihasilkan oleh Pabrik Gula Watoetoelis agar dapat digunakan sebagai alat
pengendalian biaya. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi aktivitas produksi
perusahaan, menetapkan komponen-komponen biaya kualitas, dan mengklasifikasikan
biaya-biaya tersebut kedalam komponen-komponen biaya kualitas. Komponen biaya
kualitas diidentifikasi untuk mengetahui biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam
usahanya untuk menciptakan keunggulan kompetitif produknya melalui peningkatan
kualitas. Prosedur pengambilan data dilakukan dengan observasi, dokumentasi dan
wawancara. Data yang diperoleh dari prosedur tersebut antara lain gambaran umum
perusahaan, struktur organisasi perusahaan, visi dan misi perusahaan, proses produksi
perusahaan, biaya-biaya yang berkaitan dengan produksi, dan informasi mengenai
pengendalian kualitas. Dari hasil penelitian diperoleh simpulan bahwa Pabrik
GulaWatoetoelis belum menerapkan penyusunaan laporan biaya kualitas yang merupakan
salah satu usaha untuk mengendalikan dan mempertahankan kualitas produk-produknya.
Berdasarkan laporan biaya kualitas, prosentase Biaya Pengendalian lebih besar
dibandingkan dengan biaya kegagalan sehingga menunjukkan bahwa perusahaan telah
mampu meningkatkan kualitas produknya, yaitu dengan besarnya biaya penilaian berupa
training karyawan, perbaikan mesin dan peralatan, pemeliharaan dan perencanaan produksi
serta adanya pemeriksaan bahan baku.
Kata Kunci: biaya kualitas, kualitas produk, laporan biaya kualitas, pengendalian biaya
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
2
PENDAHULUAN
Saat ini sebagian besar perusahaan telah menyadari akan pentingnya kualitas produk
yang berupa barang maupun jasa, sehingga secara berkesinambungan perusahaan terus
berusaha untuk melakukan perbaikan kualitas pada setiap jenis produk yang dihasilkan.
Tujuan dari peningkatan kualitas biasanya mencakup tujuan untuk mengurangi biaya
kegagalan. Meskipun relatif tinggi, namun biaya ini tidak dapat diketahui dengan pasti.
Akibat dari adanya usaha peningkatan kualitas maka timbul biaya kualitas. Biaya kualitas
didefenisikan sebagai biaya-biaya yang terjadi selama proses.
Perusahaan akan dapat bertahan hidup dan dapat berkembang apabila mampu
menawarkan produk atau jasa yang berkualitas tinggi dengan harga yang lebih murah atau
paling tidak dengan harga yang lebih murah untuk kualitas sama. Penerapan kualitas
sebagai salah satu senjata bersaing, perusahaan dituntut untuk melakukan perencanaan,
pengukuran dan pengendalian biaya kualitas yang benar. Sehingga jika adanya produk cacat
atau rusak yang dihasilkan harus ditekan sedemikian rupa agar perusahaan dapat
menghemat biaya.
Keharusan untuk memproduksi produk yang berkualitas itulah yang membuat
perusahaan perlu untuk melakukan perbaikan kualitas secara berkesinambungan bila ingin
tetap bertahan di dunia bisnis dengan keunggulan kompetitif yang tinggi. Perbaikan kualitas
dapat dilakukan dengan program-program yang didasarkan pada pencapaian kualitas pada
periode sebelumnya. Perusahaan dituntut untuk memantau dan melaporkan kemajuan dari
program-program yang dijalankan. Pemantauan dan pelaporan tersebut membutuhkan
informasi mengenai biaya kualitas yang merupakan biaya yang dikeluarkan oleh
perusahaan yang terkait dengan kegiatan pengendalian (control activities) dan kegiatan
karena kegagalan (failure activities). Laporan mengenai biaya kualitas yang dikeluarkan oleh
perusahaan pada periode tertentu disebut Laporan Biaya Kualitas. Departemen akuntansi
memiliki peran penting dalam melaporkan biaya kulitas karena informasi mengenai biaya
kualitas akan membantu pihak manajemen untuk mengukur besarnya biaya-biaya dalam
upaya meningkatkan kualitas.
Hasil dari pengukuran mengenai biaya kualitas dapat digunakan untuk menganalisis
peningkatan kualitas produk yang dihasilkan perusahaan. Dengan demikian biaya kualitas
dapat dipakai oleh perusahaan sebagai pengukur keberhasilan program perbaikan kualitas.
Hal ini berkaitan dengan kebutuhan perusahaan yang harus selalu memantau dan
melaporkan kemajuan dari program perbaikan tersebut. Mengingat arti pentingnya biaya
kualitas dalam rangka pengendalian produk rusak, maka pengelolaan unsur-unsur yang
dapat mempengaruhi kualitas produk bagi suatu perusahaan sangat diperlukan, tidak
terkecuali pula bagi Pabrik Gula Watoetoelis. PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) adalah
Badan Usaha Milik Negara bergerak dibidang industri manufaktur yang bisnis utamanya
adalah gula, tembakau, dan rumah sakit. PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) memiliki
banyak unit usaha yang tersebar di Jawa Timur, oleh karena itu penulis ingin memfokuskan
pada unit usaha Pabrik Gula Watoetoelis yang berada di kabupaten Sidoarjo.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana pemanfaatan laporan biaya kualitas agar dapat digunakan sebagai alat bantu
bagi pihak manajemen untuk pengendalian biaya pada Pabrik Gula Watoetoelis?”
Sedangkan tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana pemanfaatan laporan biaya kualitas produk yang dihasilkan oleh Pabrik Gula
Watoetoelis agar dapat digunakan sebagai alat pengendalian biaya.
TINJAUAN TEORETIS
Definisi Kualitas
Tjiptono dan Diana (2000:61) menyatakan bahwa kualitas adalah suatu tingkat yang
dapat diprediksi dari keseragaman dan ketergantungan pada biaya yang rendah dan sesuai
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
3
dengan pasar. Sedangkan Horngren dkk (2000:677) menyebutkan bahwa ’’The Quality
Control defines quality as the total features and characteristic of product or service made or performed
according to spesification to statisfy customers at the time of purchase and during use’’. Berdasarkan
definisi tersebut dapat dijelaskan bahwa kualitas produk atau jasa dibuat secara spesifik
dalam bentuk dan karakteristiknya untuk kepuasan pelanggan.
Hansen dan Mowen (2005:6) mengatakan bahwa ada dua jenis kualitas yaitu:
1. Quality of Design (Kualitas Rancangan)
Merupakan fungsi dari spesifikasi suatu produk. Kualitas seringkali nampak
apabila dilihat dari biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi serta harga jualnya.
Kualitas desain dikatakan semakin tinggi. Kualitas rancangan mengacu pada bagaimana
karakteristik produk sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pelanggan.
Sebagai contoh bahwa fungsi jam adalah untuk mengetahui waktu. Sebuah jam tangan
yang diproduksi memiliki komponen yang berbeda dengan jam tangan lainnya. Ada jam
tangan yang diproduksi untuk tahan air, ada jam tangan yang diciptakan tanpa baterai
tapi menggunakan denyut nadi tangan, ada yang berlapis perak sampai berlapis emas.
Kualitas desain sudah pasti berbeda, namun demikian kebanyakan orang akan setuju
bahwa jam tangan yang berlapis emas sudah pasti kualitasnya lebih tinggi. Kualitas
desain yang lebih tinggi biasanya direfleksikan dalam biaya produksi yang lebih tinggi
dan harga jual yang lebih tinggi pula.
2. Quality of Confromance ( Kualitas Kesesuaian)
Adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh suatu produk memenuhi
persyaratan atau spesifikasi kualitas yang telah ditetapkan. Jadi suatu produk atau jasa
dianggap sesuai apabila memenuhi persyaratan dan spesifikasinya. Kualitas kesesuaian
mengacu pada suatu ukuran mengenai bagaimana suatu produk memenuhi berbagai
persyaratan atau spesifikasi. Untuk lebih memahami dapat dilihat contoh pada seorang
pelanggan yang membeli jam tangan dengan dilapisi baja dengan harapan bahwa jam
tangan tersebut akan berfungsi dalam jangka waktu tertentu dengan kondisi selalu baik.
Jika pada suatu saat jam yang dibeli oleh konsumen tersebut mengalami kerusakan dalam
jangka waktu satu minggu setelah pembelian. Misal pada rantai jam yang putus atau jam
tersebut selalu telat sepuluh menit dalam setiap harinya atau juga posisi tanggal pada jam
tidak berfungsi. Dari situasi di atas maka konsumen yang membeli produk tersebut telah
menilai berbeda dengan sebuah jam yang dibuat oleh pesaing pada level rancangan yang
sama yang jarang mengalami masalah dalam hal ketepatan waktu.
Kualitas memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu perusahaan karena dengan
kualitas yang baik perusahaan dapat meningkatkan daya saing serta dapat mempertahankan
kelangsungan hidup perusahaan. Hal tersebut dikarenakan produk yang berkualitas akan
selalu diminati oleh konsumen sehingga perusahaan dapat selalu berproduksi untuk
memenuhi kebutuhan pelanggan tersebut. Oleh karena itu, kualitas produk merupakan
fokus utama dalam suatu perusahaan. Menurut Nasution (2005:3) pentingnya kualitas dapat
dijelaskan dari dua sudut, yaitu :
1. Sudut manajemen oprasional
Dilihat dari sudut ini, kualitas produk merupakan salah satu kebijaksanaan penting
dalam meningkatkan daya saing produk yang harus memberi kepuasan kepada
konsumen melebihi atau paling tidak sama dengan kualitas produk dari pesaing.
2. Sudut manajemen pemasaran
Dilihat dari sudut ini, kualitas produk merupakanm salah satu unsur utama dalam
bauran pemasaran (marketing-mix), yaitu produk, harga, promosi dan saluran distribusi
yang dapat meningkatkan volume penjualan dan memperluas pangsa pasar perusahaan.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
4
Biaya Kualitas
Definisi Biaya Kualitas
Blocher dan Lin (2007:405) mengemukakan biaya kualitas adalah biaya dari aktivitas
yang berkaitan dengan pencegahan, pengidentifikasian, perbaikan dan pembetulan produk
yang bermutu rendah, serta biaya peluang dari waktu produksi dan penjualan yang hilang
akibat kualitas yang rendah. Sedangkan Tjiptono dan Diana (2000:34) mendefinisikan biaya
kulitas adalah biaya yang terjadi atau mungkin akan terjadi karena kualitas yang buruk. Jadi
biaya kualitas adalah biaya yang berhubungan dengan penciptaan, pengidentifikasian,
perbaikan dan pencegahan kerusakan.
Hansen dan Mowen (2001:966) mengemukakan bahwa biaya kualitas adalah biayabiaya timbul karena kualitas buruk mungkin dan memang ada. Dengan demikian dapat
diimplikasikan bahwa biaya kualitas berhubungan dengan dua sub-kategori dari Aktivitasaktivitas yang berterkait dengan kualitas, yaitu :
1. Aktivitas Kontrol
Aktivitas yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk menghindari atau mendeteksi
kualitas yang buruk (karena kualitas yang buruk mungkin terjadi). Jadi, aktivitas
kontrol terdiri dari aktivitas pencegahan dan aktivitas penilaian.
2. Aktivitas gagal
Aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan atau oleh pelanggannya untuk merespon
kualitas yang buruk (kualitas buruk memang telah terjadi). Dalam menanggapi kualitas
buruk yang muncul sebelum pengiriman suatu produk yang jelek ke pelanggan,
aktivitas ini diklasifikasikan sebagai aktivitas gagal internal atau aktivitas gagal internal.
Berdasarkan pendapat beberapa tokoh mengenai biaya kualitas, maka dapat dikatakan
bahwa biaya kualitas adalah biaya-biaya yang dikeluarkan sebagai usaha untuk mencegah
terjadinya produk-produk berkualitas rendah yang tidak sesuai dengan spesifikasi atau
harapan pelanggan dan juga untuk mencgah terjadinya produk gagal.
Pengukuran Biaya Kualitas
Pengukuran biaya kualitas adalah merupakan langkah awal yang harus dilakukan
sehubungan dengan tugas departemen akuntansi untuk menyajikan laporan biaya kualitas
yang komprehensif. Pengukuran terhadap biaya kualitas yang dikeluarkan oleh perusahaan
dilakukan karena memegang peranan penting dalam pengendalian biaya kualitas. Langkah
awal dari kebijaksanaan yang paling mendasar dari system pengukuran biaya kualitas
adalah penetapan biaya kualitas aktual, dimana biaya ini dilaporkan per kategori secara
terpisah.
Pengukuran biaya kualitas dapat dilakukan secara dua tahap, menurut Atkinson dkk
(2001:142) adalah sebagai berikut :
1. Financial Measure
Dengan menghitung semua biaya kualitas yang dikeluarkan untuk mencegah produk
yang berkualitas rendah maupun memperbaiki produk berkualitas rendah.
2. Non Financial Measure
Pengukuran ini adalah pengukuran terhadap kinerja dari pemasok, pabrik dan
konsumen. Kinerja pemasok yang dipilih dapat memenuhi persyaratan perusahaan yaitu,
yang dapat mengirim barang tepat waktu sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah
disyaratkan juga dengan harga yang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk kinerja pabrik
dapat dilihat dari jumlah kerusakan, pengerjaan kembali kerusakan mesin, kecelakaan
kerja dan pengiriman barang tepat waktu. Untuk kinerja dari konsumen dapat diamati
jumlah komplain yang terjadi.
Menurut Hansen dan Mowen (2005:9) pengukuran biaya kualitas diklasifikasikan
menjadi dua tipe, yaitu :
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
5
1. Biaya kualitas yang dapat diamati merupakan biaya-biaya yang tersedia atau dapat
diperoleh dari catatan akuntansi perusahaan.
2. Biaya kualitas yang tersembunyi merupakan biaya kesempatan atau oportunitas yang
terjadi karena kualitas yang buruk.
Perilaku Biaya Kualitas
Tjiptono dan Diana (2003:42) mengemukakan bahwa biaya kualitas dapat diukur
berdasarkan biayanya. Perusahaan menginginkan agar biaya kualitas turun, namun dapat
mencapai kualitas yang lebih tinggi. Menurut para pakar kualitas, suatu perusahaan dengan
program pengelolaan kualitas yang berjalan baik, biaya kualitas tidak lebih besar dari 2,5%
dari penjualan. Setiap perusahaan dapat menyusun anggaran untuk menentukan besarnya
standar biaya kualitas setiap elemen secara individual sehingga biaya kualitas total yang
dianggarkan tidak lebih dari 2,5% dari penjualan. Agar standar tersebut dapat tercapai,
maka perusahaan harus mengidentifikasi perilaku setiap eleman biaya kualitas secara
individual. Agar laporan kinerja kualitas dapat bermanfaat, maka :
1. Biaya kualitas harus digolongkan ke dalam biaya variabel dan biaya tetap dihubungkan
dengan penjualan.
2. Untuk biaya variabel, penyempurnaan kualitas dicerminkan oleh pengurangan rasio
biaya variabel. Pengukuran kinerja dapat menggunakan salah satu dari dua cara berikut :
a. Rasio biaya variabel pada awal dan akhir periode tertentu dapat digunakan untuk
menghitung penghematan biaya sesungguhnya.
b. Rasio biaya yang dianggarkan dan rasio sesungguhnya dapat juga digunakan untuk
mengukur kamajuan kearah pencapaian sasaran periodik.
3. Untuk biaya tetap, penyempurnaan biaya kualitas dicerminkan oleh perubahan absolut
jumlah biaya tetap.
Biaya kualitas dievaluasi dengan membandingkan biaya sesungguhnya dengan biaya
yang dianggarkan. Pembandingan biaya kualitas tetap menggunakan jumlah absolut biaya
yang sesungguhnya dibelanjakan dengan yang dianggarkan. Pembandingan biaya dengan
menggunakan persentase dari penjualan tidak bemanfaat, karena penjualan yang
dianggarkan belum tentu sama dengan penjualan sesungguhnya.
Sedangkan biaya kualitas variabel dapat dibandingkan dengan menggunakan
persentase dari penjualan, atau jumlah rupiah biaya, atau kedua-keduanya. Apabila para
manajer terbiasa berhadapan dengan jumlah absolut atau jumlah rupiah biaya, maka
pendekatan yang terbaik adalah dengan membandingkan jumlah rupiah biaya dengan
dilengkapi ukuran persentase. Selanjutnya perhitungan persentase secara keseluruhan
dengan menggunakan biaya variabel dan biaya tetap juga dapat disarankan. Perhitungan
persentase secara keseluruhan ini dapat memberikan informasi pada manajemen mengenai
seberapa baik standar biaya kualitas sebesar 2,5 % dapat tercapai.
Pengendalian Biaya Kualitas
Strategi peningkatan kualitas untuk mendapatkan produk yang berkualitas dengan
harga yang bersaing tidak dapat dilepaskan dari usaha pengendalian kualitas. Pengendalian
yang baik mensyaratkan standar dan suatu pengukuran atas biaya sesungguhnya, yang
dilaporkan dalam kinerja biaya kualitas. Pengendalian biaya kualitas dapat menghasilkan
penghematan yang terjadi bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Oleh
karena itu pengendalian biaya kualitas harus dimulai sejak awal proses produksi sampai
produk berada di tangan pelanggan.
Pengendalian biaya kualitas hanya dapat dilakukan pada biaya-biaya aktivitas
pengendalian. Sedangkan biaya dari aktivitas kegagalan tidak dapat dikendalikan.
Meskipun demikian, besarnya biaya kegagalan dipengaruhi oleh kegiatan pengendalian. Hal
pertama yang perlu dilakukan untuk mengendalikan biaya kegagalan adalah melihat
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
6
hubungan timbal balik antar biaya kegagalan dengan eleman biaya kualitas yang lain.
Upaya tidak langsung untuk mengendalikan biaya kegagalan adalah dengan mengurangi
produk yang tidak memenuhi spesifikasi kualitas yang diharapkan. Salah satu caranya
adalah dengan meningkatkan usaha pencegahan. Dengan upaya pencegahan yang berhasil,
maka perusahaan tidak akan mengeluarkan biaya kegagalan dalam jumlah besar. Secara
teoritis pengendalian biaya kualitas diarahkan untuk mencapai biaya kualitas yang optimal
yaitu kurang dari 2,5% terhadap penjualan (Hansen and Mowen, 2005:12)
Pelaporan dan Pengendalian Biaya Kualitas
Pelaporan biaya kualitas sangat penting bagi perusahaan yang serius mengenai
perbaikan serta pengendalian biaya kualitasnya, dan juga sangat penting untuk menunjang
keberhasilan program kualitas dari produk yang dihasilkan. Dengan adanya laporan biaya
kualitas dalam suatu perusahaan bukanlah merupakan jaminan bahwa biaya kualitas di
perusahaan tersebut dapat dikendalikan. Untuk mengendalikan biaya kualitas tersebut,
diperlukan standart dan pengukuran biaya kualitas aktual secara periodik atau secara terus
menerus, dimana hasil perbandingan tersebut dilaporkan dalam kinerja biaya kualitas. Dari
hasil laporan tersebut dapat digunakan apabila diperlukan.
Seluruh biaya kualitas yang ada di perusahaan sangat mempengaruhi prestasi
perusahaan, karena pengendalian terhadap biaya kualitas dapat menghasilkan penghematan
yang terjadi bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan. Bagian pengendalian
kualitas akan menggabungkan laporan tentang pelaksanaan biaya kualitas. Bila laporan
masing-masing bagian sudah terkumpul maka bagian akuntansi dalam perusahaan mulai
mengambil alih. Pada departemen inilah tepat untuk menyajikan semua data keuangan
sehingga pengukuran dan pelaporan yang dilakukan bisa obyektif dan melaporkannya
secara periodik. Pengukuran biaya kualitas tersebut dilakukan dengan menggunakan
analisis selisih (variance analysis) berikut ini.
a. Bila biaya aktual lebih besar dari anggaran yang telah ditetapkan, maka selisih biaya ini
merupakan selisih yang tidak menguntungkan (unfavorable).
b. Bila biaya aktual lebih kecil dari anggaran yang telah ditetapkan oleh suatu perusahaan
maka selisih biaya merupakan selisih yang menguntungkan (favorable)
Analisa selisih dalam pengukuran terhadap biaya kualitas diharapkan dapat
menghasilkan suatu laporan biaya kualitas yang lengkap sehingga pihak manajemen dapat
memperoleh informasi yang akurat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan
keputusan manajemen dan sebagai pedoman dalam pengolahan perusahaan. Sehingga
jelaslah bahwa pelaporan biaya kualitas sangat dibutuhkan oleh perusahaan yang lebih
memberikan perhatian lebih besar pada pengendalian biaya kualitas.
Penyebab utama dari tingginya biaya kualitas adalah seringnya muncul suatu
kesalahan. Kesalahan ini dapat dilakukan pencegahan dengan biaya yang lebih murah.
Berdasarkan konsep di atas dapat disusun strategi yang bisa untuk menurunkan biaya
kuaitas, yaitu :
1. Memecahkan masalah dengan cara melakukan tindakan langsung yang diperlukan
untuk mengurangi biaya kegagalan bahkan sampai pada titik nol.
2. Investasi dan gunakan aktivitas-aktivitas pencegahan yang tepat untuk melakukan
perbaikan tersebut.
3. Mengurangi biaya penilaian pada saat yang tepat, yaitu setelah terlihat hasilnya.
4. Secara terus menerus melakukan evaluasi dan mengarahkan usaha-usaha pencegahan
untuk mendapatkan hasil lebih lanjut dari perbakan kualitas.
Pengendalian biaya kualitas merupakan suatu aktivitas manajemen untuk mencapai
biaya kualitas yang optimal. Biaya kualitas optimal ini akan tercapai bila biaya-biaya yang
termasuk kategori biaya kegagalan dapat dikurangi seminimum mungkin. Untuk mencapai
hal tersebut maka biaya pencegahan dan biaya penilaian perlu ditingkatkan. Namun
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
7
pengendalian juga harus dilakukan terhadap peningkatan biaya ini tidak melebihi
penurunan biaya kegagalan. Laporan perkembangan biaya kualitas menurut Garrison
(2006:16) ada empat tipe yaitu:
1. Perkembangan yang didasarkan standar yang telah ditetapkan untuk periode tertentu
(Laporan berdasarkan penjualan aktual)
Dalam tipe ini perusahaan menerapkan suatu standar biaya kualitas atau anggaran,
biaya kualitas tiap tahunnya dan membuat rencana dalam mencapai tingkat kualitas yang
telah ditetapkan. Pada standar ini tingkat biaya kualitas dianggarkan pada masingmasing kategori biaya kualitas, dan pada akhir suatu periode biaya kualitas yang
dianggarkan dibandingkan dengan biaya kualitas aktual. Pelaporan seperti ini berguna
untuk mengukur kemajuan program perbaikan kualitas yang telah dicapai pada periode
berjalan.
2. Perkembangan yang didasarkan hasil kualitas tahun berakhir (Laporan tren satu periode)
Pada laporan ini dibuat dengan membandingkan laporan kinerja kualitas tahun
berjalan dengan laporan kinerja kualitas tahun sebelumnya. Dalam jangka pendek
pelaporan seperti ini akan membantu pihak manajemen dalam mengevaluasi kemajuan
program perbaikan kualitas yag sedang dijalankan.
3. Perkembangan yang didasarkan prestasi perusahaan selama periode sebelumnya
(Laporan tren periode ganda)
Laporan ini menggambarkan bagaimana perkembangan program perbaikan
kualitas yang telah dilakukan beberapa periode sebelumnya sampai pada tahun terakhir.
Laporan ini berbentuk grafik yang menyangkut prosentase penjualan yang dihubungkan
dengan waktu, misal satu tahun. Grafik ini dapat berbentuk perkembangan masingmasing kategori biaya kualitas maupun grafik total biaya kualitas.
4. Perkembangan yang didasarkan standar atau tujuan jangka panjang (Laporan standar
atau sasaran jangka panjang)
Laporan ini dibuat dengan membandingkan biaya kualitas aktual dengan biaya
kualitas yang dianggarkan dalam jangka panjang pada akhir periode, dimana standar
jangka panjang yang dibuat perusahaan mengacu pada pendekatan Zero Defect.
Manfaat Pelaporan Biaya Kualitas
Menurut Tjiptono dan Diana (2003:40) informasi biaya kualitas dapat memberikan
banyak manfaat, antara lain dapat digunakan untuk :
1. Mengidentifikasi peluang laba (penghematan biaya dapat meningkatkan laba)
2. Mengambil keputusan capital budgeting dan keputusan investasi lainnya
3. Menekan biaya pembelian dan biaya yang berkaitang dengan pemasok
4. Mengidentifikasi pemborosan dalam aktivitas yang tidak dikehendaki pelanggan
5. Mengidentifikasi sistem yang berlebihan
6. Menentukan apakah biaya-biaya kualitas telah didistribusikan secara tepat
7. Penentuan tujuan dalam anggaran dan perencanaan laba
8. Mengidentifikasi masalah-masalah kualitas
9. Dijadikan sebagai alat manajemen untuk ukuran perbandingan tentang hubungan
masukan-keluaran
10. Dijadikan sebagai ukuran penilaian kinerja yang objektif
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka pelaporan biaya kualitas dalam suatu
perusahaan dirasa semakin penting mengingat manfaat-manfaat yang didapat dari
penyusunan laporan tersebut.
Proposisi Penelitian
Penelitian kualitatif dapat menggunakan proposisi penelitian yaitu jawaban sementara
atas masalah yang dikemukakan dalam penelitian. Proposisi dalam penelitian pemanfaatan
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
8
laporan biaya kualitas sebagai alat pengendalian biaya adalah bahwa setiap perusahaan
menerapkan penyusunan laporan biaya kualitas yang merupakan salah satu usaha untuk
mengendalikan dan mempertahankan kualitas produk-produknya yang dilakukan seefektif
dan seefisien mungkin agar dapat memperoleh hasil yang maksimal dengan biaya minimal
yaitu produk yang berkualitas namun dengan anggaran yang tidak melebihi target 2,5 %
dari angka penjualan aktualnya.
METODA PENELITIAN
Jenis Penelitian dan Gambaran Obyek Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan
pendekatakan studi kasus. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang
menggunakan data berupa kalimat tertulis atau lisan, perilaku, fenomena, peristiwaperistiwa, pengetahuan objek studi dengan menitikberatkan pada pengalaman, pemikiran
dan persepsi penelitian.
Adapun gambaran dari obyek penelitian ini adalah Pabrik Gula Watoetoelis.
Teknik Pengumpulan Data
Prosedur pengumpulan data pada Pabrik Gula Watoetoelis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Survey pendahuluan
Dalam tahap ini dilakukan kunjungan dan wawancara ke subyek penelitian. Hal ini
bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan gambaran tentang keadaan perusahaan
yang akan digunakan sebagai masukan dalam penulisan skripsi ini. Dari informasi yang
diperoleh kemudian dikelompokkan kedalam jenis-jenis kualitas, kemudian disusun
kedalam laporan biaya kualitas.
2. Penelitian Lapangan
Cara untuk memperoleh data dengan terjun langsung ke departemen-departemen
yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini. Adapun teknik yang digunakan adalah :
a. Dokumentasi, pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dan mengutip
akuntansi, dokumentasi resmi dan arsip perusahaan yang bersangkutan. Teknik ini
mempunyai kelebihan data yang diperoleh secara lengkap dan mempunyai kelemahan
data tentang validitas dokumen.
b. Wawancara, yaitu pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab langsung
terhadap personel yang berwenang dan berkompeten guna memberikan data-data
yang dibutuhkan. Teknik ini memiliki kelebihan yaitu data diperoleh dengan mudah
dan cepat, tetapi kelemahannya adalah sangat dipengaruhi oleh subjektifitas personal
yang diwawancarai.
c. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung
dilapangan untuk melakukan penelitian sesuai dengan situasi dan kondisi mendalam
dan intensif guna untuk mengetahui dan memperoleh pengamatan atas operasional
perusahaan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian
ini.
Satuan Kajian
Satuan kajian ini memberikan kemudahan penulis mengenai apa yang akan diteliti
serta cara pengukurannya dan juga memuat konsep-konsep peneliti untuk mengetahui
bagaimana pemanfaatan laporan biaya kualitas agar dapat digunakan sebagai alat
pengendalian biaya pada Pabrik Gula Watoetoelis. Aspek yang akan dikaji antara lain :
1. Pengelompokan Biaya ke dalam empat kategori biaya kualitas yaitu biaya pencegahan,
biaya penilaian, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal.
2. Pelaporan Biaya Kualitas berdasarkan Penjualan Aktual
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
9
3. Analisis Laporan Kinerja Biaya Kualitas
4. Pola Distribusi Relatif Biaya Kualitas
Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah :
1. Mengelompokkan biaya-biaya yang ada kedalam empat kategori biaya kualitas, yaitu
biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan
eksternal.
2. Membuat laporan biaya dan membandingkan unsur-unsur biaya-biaya tersebut dan total
biaya kualitas dengan suatu standar yaitu penjualan aktual periode bersangkutan, biaya
kualitas periode yang lalu, serta Analisis Trend biaya kualitas dalam beberapa periode
terakhir.
3. Hasil analisis biaya kualitas diinterpretasikan untuk keperluan tindakan-tindakan
pengendalian yang akan diambil oleh pihak manajemen.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pengukuran Biaya Kualitas
Pengukuran terhadap biaya kualitas yang dikeluarkan oleh perusahaan karena
memegang peranan penting dalam pengendalian biaya kualitas. Langkah awal dari
kebijaksanaan yang paling mendasar dari sistem pengukuran biaya adalah penetapan biaya
aktual dimana biaya ini dilaporkan per kategori secara terpisah. Menurut Atkinson dkk
(2001:545) pengukuran biaya kualitas dapat dilakukan secara dua tahap, yaitu :
1. Financial Measure. Dengan menghitung semua biaya kualitas yang dikeluarkan untuk
mencegah produk yang berkualitas rendah maupun memperbaiki produk berkualitas
rendah.
2. Non Financial Measure. 1) Pengukuran kinerja dari pemasok (mengirim barang tepat
waktu sesuai dengan kuantitas dan kualitas yang telah disyaratkan juga dengan harga
yang dapat dipertanggungjawabkan), 2) Kinerja pabrik (jumlah kerusakan, pengerjaan
kembali, kerusakan mesin, kecelakaan kerja dan pengiriman barang tepat waktu), 3)
Kinerja konsumen (jumlah komplain yang terjadi).
Jadi dengan pengukuran biaya kualitas ini akan memotivasi serta memberikan umpan
balik bagi manajemen untuk mengidentifikasi tingkat kualitas produk yang dihasilkan oleh
perusahaan untuk dilakukan pengendalian biaya.
Identifikasi dan Klasifikasi Biaya Kualitas
Sebelum membuat laporan biaya kualitas, terlebih dahulu dilakukan identifikasi dan
pengelompokan biaya kualitas. Identifikasi dan pengelompokan ini dilakukan berdasarkan
data keuangan perusahaan, berikut ini adalah pengelompokan biaya kualitas pada PG
Watoetoelis.
Tabel 1
Identifikasi Biaya Kualitas
Biaya Pencegahan
Biaya Penilaian
1. Penyeleksi supplier
1. Pemeriksaan penerimaan material
2. Perawatan mesin dan peralatan
2. Pemeriksaan tahap produksi
3. Perbaikan mesin dan peralatan
3. Pengawasan selama produksi
4. Pemberian training karyawan
4. Pengambilan sampel bahan baku
5. Brefing pra produksi
5. Set up mesin
6. Pemeliharaan bahan baku
6. Tes laboratorium
7. Perencanaan Produksi
Biaya Kegagalan Internal
Biaya Kegagalan Eksternal
1. Sisa bahan
1. Retur
2. Pengerjaan ulang (rework)
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
10
Pelaporan Biaya Kualitas
Diketahui bahwa suatu perusahaan dengan manajemen kualitas yang baik maksimum
memiliki total biaya kualitas tidak lebih dari 2,5% dari penjualan pada periode tersebut
(Hansen and Mowen, 2005:12). Oleh karena itu pelaporan biaya kualitas merupakan salah
saru laporan manajerial dibuat oleh departemen akuntansi.
Pelaporan dan analisis biaya kualitas dimaksudkan agar pihak manajemen
mempunyai informasi yang cukup untuk mengetahui seberapa jauh masalah kualitas yang
dihadapi oleh perusahaan. Dimana semakin jauh masalah kualitas yang sedang dihadapi
oleh perusahaan maka semakin besar biaya kualitas yang timbul secara langsung
berpengaruh pada permasalahan kualitas produk yang sedang diproduksi.
Dalam pengukuran biaya kualitas berdasarkan penjualan aktual dapat memberikan
manfaat bagi pihak manajemen dalam membuat suatu analisis mengenai jumlah biaya yang
telah dikeluarkan oleh perusahaan. Hal ini dapat juga menyajikan jumlah dan distribusi
biaya kualitas untuk setiap kategorinya, sehingga dapat membantu usaha pencapaian
perbaikan kualitas. Laporan biaya kualitas dapat mengambil tindakan korektif yang
diarahkan kepada kualitas suatu produk yang lebih baik dengan harga yang lebih
kompetitif.
Analisis Laporan Kinerja Biaya Kualitas
Analisis biaya kualitas dapat memberikan masukan bagi manajemen mengenai
aktivitas yang menguntungkan atau tidak dari hasil upaya masing-masing aktivitas yang
dilakukan. Kemudian juga untuk mengetahui seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan
oleh perusahaan karena hasil produksi yang tidak sesuai atau rusak. Dengan analisis
tersebut, maka dapat diketahui penyebab dari ketidaksesuaian kinerja biaya kualitas dengan
kinerja yang direncanakan, sehingga dapat diambil suatu tindakan pengendalian oleh pihak
manajemen guna mencari solusi perbaikan yang diperlukan pada periode berikutnya.
Berikut adalah prosentase laporan biaya kualitas terhadap penjualan pada tahun 2009-2011.
Tabel 2
Prosentase Laporan Biaya Kualitas Terhadap Penjualan Pada Tahun 2009-2011
Biaya
Biaya
Biaya
Biaya
Total Biaya
Tahun
Kegagalan
Kegagalan
Pencegahan
Penilaian
Kualitas
Internal
Eksternal
2009
2,81%
6,63%
4,20%
0,37%
14,01%
2010
5,27%
12,45%
7,89%
0,69%
26,29%
2011
4,31%
10,19%
6,45%
0,56%
21,51%
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis
Berdasarkan prosentase Laporan Biaya Kualitas pada Tabel 2 tersebut, dapat dilihat
bahwa pada tahun 2009-2011 prosentase total biaya kualitas terhadap penjualan yaitu
masing-masing sebesar 14,01% , 26,29% dan 21,51%. Dari tiga tahun tersebut komposisi
biaya kualitas tersebut lebih banyak terdapat pada biaya pengendalian (biaya penilaian dan
biaya pencegahan) daripada biaya kegagalan (kegagalan internal dan kegagalan eksternal).
Biaya penilaian terjadi karena adanya aktivitas perusahaan seperti pemeriksaan pada
tahap produksi, pemeriksaan penerimaan material, set up mesin, tes laboratorium,
pengawasan selama produksi berlangsung dan pengambilan sample bahan baku. Sedangkan
biaya pencegahan terjadi karena adanya aktivitas perusahaan seperti perawatan/perbaikan
mesin dan peralatan, pelatihan/training terhadap karyawan yang diadakan setiap tahun,
pemeliharaan terhadap bahan baku, perencanaan produksi, penyeleksi supplier dan
diadakan briefing pra produksi. Biaya kegagalan internal terjadi karena adanya biaya sisa
bahan (selisih nilai bahan baku yang telah dibeli dengan bahan baku yang telah digunakan
sampai menjadi produk jadi) dan biaya pengerjaan ulang/rework (biaya yang dikeluarkan
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
11
karena perusahaan harus melakukan pekerjaan ulang untuk produk cacat yang masih harus
diperbaiki yang terjadi sebelum produk dikirim ke konsumen). Biaya kegagalan eksternal
terjadi karena adanya biaya return penjualan (biaya yang dikeluarkan perusahaan karena
salah mengirimkan barang sehingga harus mengirim kembali barang kepada pembeli yang
seharusnya).
Besarnya biaya penilaian dan biaya pencegahan menunjukkan bahwa Pabrik Gula
Watoetoelis telah serius dalam meningkatkan kualitas produknya, yaitu dengan adanya
suatu usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencegah terjadinya produk yang tidak
sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan, dan adanya karyawan yang memiliki
kualitas keterampilan tinggi dan kondisi mesin-mesin yang terawat dengan baik sehingga
dapat mendukung proses produksi secara optimal.
Laporan biaya kualitas menunjukkan jumlah dan distribusi biaya kualitas diantara
keempat katagori, sehingga menunjukkan peluang untuk perbaikan kualitas. Atas dasar
laporan biaya kualitas yang telah disajikan sebelumnya, maka dapat disusun suatu laporan
kinerja kualitas yang meliputi laporan tren kualitas multi periode. Berikut adalah grafik tren
multi periode :
Gambar 1
Grafik Analisis Tren
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis
Berdasarkan Gambar 1 di atas dapat diketahui bahwa perusahaan sangat berhasil
dalam mengurangi biaya kegagalan (biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan
eksternal) karena perusahaan telah meningkatkan biaya untuk kegiatan pengendalian (biaya
pencegahan dan biaya penilaian) sehingga semakin berkurangnya produk yang tidak
memenuhi standar. Keberhasilan dalam meningkatkan kualitas produk tidak boleh
membuat pihak manajemen merasa puas, sebaliknya pihak manajemen harus terus
melaksanakan program-program perbaikan kualitas dengan lebih baik agar dapat
menurunkan biaya kualitas. Penurunan biaya kualitas menunjukkan pengendalian kualitas
yang semakin baik. Pengendalian kualitas yang semakin baik akan menghasilkan produk
yang semakin berkualitas. Selain itu Pelaporan biaya kualitas juga bermanfaat bagi pihak
manajemen yaitu untuk memperbaiki dan mempermudah perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan, penetapan harga strategis dan analisis produk baru. Pelaporan
biaya kualitas sangat diperlukan bagi perusahaan yang menginginkan adanya peningkatan
kualitas melalui informasi yang disajikan dalam laporan biaya kualitas.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
12
Strategi peningkatan kualitas untuk mendapatkan produk yang berkualitas dengan
harga yang bersaing tidak dapat dilepaskan dari usaha pengendalian kualitas. Aspek
Pengendalian biaya kualitas hanya dapat dilakukan pada biaya-biaya aktivitas
pengendalian, sedangkan biaya aktivitas kegagalan dipengaruhi oleh kegiatan
pengendalian. Upaya tidak langsung untuk mengendalikan biaya kegagalan adalah dengan
mengurangi produk yang tidak memenuhi spesifikasi kualitas yang diharapkan. Salah satu
caranya adalah dengan meningkatkan usaha pengendalian.
Prosentase laporan biaya kualitas pada Tabel 2 secara tidak langsung memperlihatkan
adanya peningkatan kualitas terhadap produk yang dihasilkan oleh PG Watoetoelis. Tabel
tersebut menunjukkan bahwa perusahaan berhasil menurunkan biaya kualitas, penurunan
tersebut sangat terlihat pada penurunan biaya karena kegiatan kegagalan terutama biaya
kegagalan eksternal. Perusahaan berhasil menurunkan biaya karena kegagalan sebab
perusahaan telah meningkatkan biaya untuk kegiatan pengendalian terutama biaya
penilaian sehingga semakin berkurangnya produk yang tidak memenuhi standar.
Pola Distribusi Relatif Biaya Kualitas
Dari laporan biaya kualitas, dapat diketahui besarnya masing-masing kategori biaya
kualitas yang terjadi pada PG Watoetoelis. Pola distribusi kualitas menunjukkan berapa
besar distribusi masing-masing kategori dalam biaya kualitas yaitu biaya pencegahan, biaya
penilaian, biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal terhadap total biaya
kualitas berdasar penjualan aktualnya dalam upaya mempertahankan kualitas suatu
produk. Pola ini dihitung berdasar prosentase biaya kualitas terhadap penjualan aktual
dalam periode yang sama. Pola distribusi relatif biaya kualitas dapat bermanfaat bagi pihak
manajeman sebagai acuan untuk menetapkan berapa besar anggaran yang akan dikeluarkan
untuk masing-masing kategori biaya kualitas periode selanjutnya sehingga pengeluaran
biaya kualitas dapat berjalan efektif dan efisien.
Pola distribusi relatif biaya kualitas untuk tahun 2009 sampai tahun 2011 adalah
sebagai berikut :
Gambar 2
Diagram Biaya Kualitas Tahun 2009
Pada Pabrik Gula Watoetoelis (Tahun 2009)
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis (diolah)
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
13
Dari data diatas dapat dilihat bahwa prosentase biaya pencegahan sebesar 2,81%,
biaya penilaian sebesar 6,63%, biaya kegagalan internal sebesar 4,20% dan biaya kegagalan
eksternal sebesar 0,37%. Distribusi biaya yang terbesar diperoleh dari biaya penilaian
dengan jumlah Rp. 7,457,558,360. Hasil ini mengindikasikan bahwa perusahaan
mengoptimalkan upaya penilaian pada produk gula yang antara lain berupa biaya
pemeriksaan penerimaan material, biaya pengawasan selama produksi berlangsung, biaya
sample bahan baku, biaya perencanaan produksi, biaya set up mesin dan biaya tes
laboratorium agar menghasilkan gula yang berkualitas pula. Hai ini dapat dilihat dari
besarnya distribusi biaya penilaian disebabkan oleh besarnya alokasi dana untuk biaya
pemeriksaan pada tahap produksi.
Gambar 3
Diagram Biaya Kualitas
Pada Pabrik Gula Watoetoelis (Tahun 2010)
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis (diolah)
Dari data diatas dapat dilihat bahwa prosentase biaya pencegahan sebesar 5,27%,
biaya penilaian sebesar 12,45%, biaya kegagalan internal sebesar 7,89% dan biaya kegagalan
eksternal sebesar 0,69%. Distribusi biaya yang terbesar diperoleh dari biaya penilaian
dengan jumlah Rp. 8,203,314,197. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya biaya penilaian
mengalami peningkatan hal ini disebabkan karena perusahaan benar-benar teliti dalam
memeriksa peralatan dan mesin-mesin produksi, pemilihan bahan baku yang akan
digunakan untuk produksi, serta adanya pemeriksaan dan pengawasan selama produksi
berlangsung. Selain itu dari tahun 2009 sampai tahun 2010 Pendistribusian biaya kualitas
pada Pabrik Gula Watoetoelis telah dilaksanakan dengan cukup baik karena presentasi biaya
kegagalan eksternal lebih rendah dari biaya pencegahan dan biaya penilaian. Meski
presentasi biaya kegagalan internal lebih besar dari biaya pencegahan, tetap saja
pendistribusian tersebut baik karena presentasi biaya kegagalan internal lebih rendah dari
biaya penilaian. Hal tersebut menunjukkan bahwa ativitas pengendalian biaya kualitas
untuk tahun 2009 dan tahun 2010 telah dilaksanakan dengan baik dan bisa lebih baik lagi
pada periode yang akan datang.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
14
Gambar 4
Diagram Biaya Kualitas
Pada Pabrik Gula Watoetoelis (Tahun 2011)
Sumber: Pabrik Gula Watoetoelis (diolah)
Distribusi relatif biaya kualitas untuk tahun 2011 dapat dilihat bahwa prosentase
masing-masing biaya mengalami penurunan dari tahun 2009 dan 2010, yaitu biaya
pencegahan sebesar 4,31%, biaya penilaian sebesar 10,19%, biaya kegagalan internal sebesar
6,45% dan biaya kegagalan eksternal sebesar 0,56%. Dari pola distribusi ini dapat diketahui
bahwa biaya pencegahan dan biaya penilaian masih lebih besar dari biaya kegagalan
internal dan biaya kegagalan eksternal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan
telah melaksanakan aktivitas pengendalian biaya kualitas. Usaha perusahaan dalam
perbaikan kualitas produknya dapat dilihat dari biaya pencegahan dan biaya penilaian yang
lebih besar dari biaya kegagalan internal dan biaya kegagalan eksternal.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
1.
Pabrik Gula Watoetoelis belum menerapkan penyusunaan laporan biaya kualitas
yang merupakan salah satu usaha untuk mengendalikan dan mempertahankan kualitas
produk-produknya yang dalam hal ini dikhususkan untuk produksi gula dan tetes.
2. Prosentase total biaya kualitas pada tahun 2009, 2010 dan 2011 berturut-turut adalah
sebesar 14,01 %, 26,29 % dan 21,51 %. Berdasarkan teori dari Tjiptono dan Diana maka
angka tersebut belum menunjukkan angka yang ideal yaitu sebesar 2,5 % dari angka
penjualan. Hal ini belum menunjukkan adanya efisiensi untuk anggaran biaya kualitas
mengingat prosentase yang didapat lebih dari 2,5 % dari angka penjualan aktualnya.
3. Berdasarkan laporan biaya kualitas Pabrik Gula Watoetoelis, prosentase Biaya
Pengendalian lebih besar dibandingkan dengan biaya kegagalan sehingga menunjukkan
bahwa perusahaan telah mampu meningkatkan kualitas produknya, yaitu dengan
besarnya biaya penilaian berupa kegiatan pelatihan/training karyawan, perbaikan mesin
& peralatan, pemeliharaan & perencanaan produksi serta adanya pemeriksaan bahan
baku.
Jurnal Ilmu & Riset Manajemen Vol. 3 No. 7 (2014)
15
Saran
1. Mengoptimalkan pengendalian dan pelaporan biaya kualitas dengan cara menyusun dan
melaporkan biaya kualitas secara terpisah, sehingga perkembangan dari waktu ke waktu
dapat diketahui dan bermanfaat bagi pihak manajemen untuk memperbaiki dan
mempermudah perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan.
2. Memberikan upaya yang lebih terhadap kegiatan pengendalian (pencegahan dan
penilaian) sehingga dapat menekan kegiatan karena kegagalan dan semakin mendekati
jumlah ideal biaya kualitas yaitu 2,5% dari penjualan aktual.
3. Pelaporan biaya kualitas perlu disusun secara terpisah oleh perusahaan agar perusahaan
mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan kualitas produk serta
agar perusahaan dapat mengetahui peningkatan produknya dari periode ke periode.
DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, A.A, R.D Banker, M. Young, dan Kaplan. 2001. Management Acconting:
Enviromental Impacts. Nglewood Clift. Prentice Hall Inc. New Jersey.
Blocher, E.J dan T.W Lin. 2007. Cost Management. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Garrison, R.H, W.N Eric, dan C.B Peter. 2006. Akuntansi Manajerial. Penerbit Salemba
Empat. Jakarta.
Hansen, D.R dan M.M Mowen. 2001. Manajemen Biaya Terjemahan. Penerbit Salemba Empat.
Jakarta.
. 2005. Akuntansi Manajemen. Edisi Ketujuh. Penerbit Salemba
Empat. Jakarta.
Horngren, T.Charles, G. Foster, dan S. M Datar. 2000. Cost Managemen Managerial Emphasis
Tenth Edition. Prentice Hall, Inc. New Jersey.
Nasution, M.N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management). Penerbit Ghalia
Indonesia. Bogor.
Tjiptono, F dan A. Diana. 2003. Total Quality Management. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.
Download