pemberian mobilisasi dini terhadap lamanya penyembuhan luka

advertisement
PEMBERIAN MOBILISASI DINI TERHADAP LAMANYA
PENYEMBUHAN LUKA POST OPERASI APENDIKTOMI
PADA ASUHAN KEPERAWATAN NY. S DI RUANG
KANTIL 2 RSUD KARANGANYAR
DI SUSUN OLEH :
RUBEN EKA MULYA
NIM. P12 109
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015
PEMBERIAN MOBILISASI DINI TERHADAP LAMANYA
PENYEMBUHAN LUKA POST OPERASI APENDIKTOMI
PADA ASUHAN KEPERAWATAN NY. S DI RUANG
KANTIL 2 RSUD KARANGANYAR
Diajukan
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III Keperawatan
DI SUSUN OLEH :
RUBEN EKA MULYA
NIM. P12 109
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2015
i
ii
iii
iv
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya
Tulis Ilmiah dengan judul “Pemberian Mobilisasi Dini Terhadap Lamanya
Penyembuhan Luka Pasca Operasi Apendiktomi Pada Asuhan Keperawatan Ny. S
di Ruang Kantil 2 RSUD Karanganyar “ .
Dalam Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada
yang terhormat :
1. Atiek Murhayati, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku Ketua Program studi DIII
Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk dapat menimba ilmu
di Stikes Kusuma Husada Surakarta, serta pembimbing dengan cermat,
memberikan masukan-masukan, inspirasi, perasaan nyaman dalam bimbingan
serta memfasilitasi demi sempurnanya studi kasus ini.
2. Meri Oktariani, S.Kep.,Ns., M.Kep, selaku Sekretaris Ketua Program studi
DIII Keperawatan yang telah memberikan kesempatan untuk menimba ilmu
di Stikes Kusuma Husada Surakarta.
3. Joko Kismanto, S.Kep.,Ns, selaku dosen penguji satu yang telah
membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,
perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya
studi kasus ini.
v
4. Fakhrudin Nasrul Sani, S.Kep., Ns., M. Kep, selaku dosen penguji dua yang
telah membimbing dengan cermat, memberikan masukan-masukan, inspirasi,
perasaan nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya
studi kasus ini.
5. Semua dosen Program studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya
serta ilmu yang bermanfaat.
6. Kedua orang tuaku, yang selalu menjadi inspirasi dan memberikan semangat
untuk menyesaikan pendidikan.
7. Teman-teman Mahasiswa Program Studi DIII Keperawatan Stikes Kusuma
Husada Surakarta dan berbagai pihak berbagai pihak yang tidak dapat
disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan dukungan moril dan
spiritual.
Semoga
Laporan kasus ini
bermanfaat
untuk
perkembangan ilmu
keperawatan dan kesehatan. Amin.
Surakarta, 23 Mei 2014
Penulis
vi
HALAMAN PERSEMBAHAN
Puji Tuhan dengan segala rendah hati saya dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini dan saya
persembahkan untuk orang yang kusayangi
Ayah ku Joko Purnomo dan ibu ku tercinta endang wahyuning yang tiada henti-hentinya memberi doa
restu,
kasih sayang, perhatian dan dukungan untuk menjadikanku orang yang sukses.
Serta tidak lupa orang-orang yang aku sayangi Wahyu Fitriyana, Anisa Perdinant, Oktavia Narrila Wati,
Siti Nurhidayah, Lailatul Mubarokah, Antonius Rangga, Ahmad Abror, Arief Widiatmoko, Romhat Adi
Saputra Rita puspitasari, Radetya Prima, Novita, Risky ramadan, Afif alfianto, Fajar jatmiko serta alm.
Herdi setia Pratama dan juga teman-teman lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu, semoga
perjalanan yang kita tempuh selama ini mampu menjadikan kita lebih baik, bijaksna dan dewasa.
Teman-teman seperjuangan angkatan 2012 kelas 3A dan 3B.
Atiek Murhayati, S. Kep., Ns., M. Kep. terimakasih atas bimbingannya selama ini.
Almamaterku tercinta
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................
i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ......................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN ..........................................................................
iii
LEMBAR PENGESAHAN ...........................................................................
iv
KATA PENGANTAR ...................................................................................
v
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................
vii
DAFTAR ISI ..................................................................................................
viii
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................
xi
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..........................................................................
1
B. Tujuan Penulisan .....................................................................
3
C. Manfaat Penelitian ...................................................................
4
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori .........................................................................
6
1.
Pengertian Appendiks .......................................................
6
2.
Etiologi .............................................................................
6
3.
Klasifikasi Appendiksitis ..................................................
7
4.
Manifestasi Klinik ............................................................
8
5.
Patofisiologi ......................................................................
8
6.
Penatalaksanaan ................................................................
9
7.
Komplikasi Appendisitis ..................................................
13
B. Asuhan Keperawatam Appendiktomi ......................................
15
C. Mobilisasi ................................................................................
25
D. Kerangka Teori ........................................................................
27
E. Kerangka Konsep ....................................................................
28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Subyek aplikasi riset .................................................................
viii
29
B. Tempat dan waktu ....................................................................
29
C. Media dan alat yang digunakan ...............................................
29
D. Prosedur Tindakan ....................................................................
30
BAB IV LAPORAN KASUS
BAB V
A. Identitas Pasien ........................................................................
31
B. Pengkajian ...............................................................................
31
C. Perumusan Diagnosa Keperawatan .........................................
38
D. Intervensi Keperawatan ...........................................................
40
E. Implementasi Keperawatan ....................................................
42
F. Evaluasi Keperawatan .............................................................
47
PEMBAHASAN
A. Pengkajian ...............................................................................
51
B. Perumusan Masalah .................................................................
53
C. Intervensi .................................................................................
59
D. Implementasi ...........................................................................
62
E. Evaluasi ...................................................................................
65
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ..............................................................................
70
B. Saran ........................................................................................
73
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Teori ..........................................................................
27
Gambar 2.2 Kerangka Konsep .......................................................................
28
Gambar 3.1 Genogram ...................................................................................
31
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.
Daftar Riwayat Hidup
Lampiran 2.
Usulan Judul
Lampiran 3.
Surat Pernyataan
Lampiran 4.
Lembar Konsultasi
Lampiran 5.
Lembar Look Book
Lampiran 6.
Format Pendelegasian
Lampiran 7.
Asuhan Keperawatan
Lampiran 8.
Jurnal Keperawatan
xi
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Insiden apendiksitis di negara maju lebih tinggi dari pada negara
berkembang. Amerika menangani 11 kasus / 10.000 kasus apendisitis setiap
tahun. Menutur data RSPAD Gatot subroto tahun 2008 jumlah pasien yang
menderita penyakit apendiksitis di indonesia adalah sekitar 32% dari jumlah
populasi penduduk Indonesia (Depkes RI, 2009).
Salah satu faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka
akibat operasi pembuangan apendiks (apendektomi) adalah kurangnya atau
tidak melakukan mobilisasi dini. Mobilisasi merupakan faktor yang utama
dalam mempercepat pemulihan dan mencegah terjadinya komplikasi pasca
bedah. Mobilisasi sangat penting dalam percepatan hari rawat dan
mengurangi resiko karena tirah baring lama seperti terjadinya dekubitus,
kekakuan atau penegangan otot-otot di seluruh tubuh, gangguan sirkulasi
darah, gangguan pernafasan dan gangguan peristaltik maupun berkemih
(Carpenito, 2000). Namun, bila terlalu dini dilakukan dengan tehnik yang
salah, mobilisasi dapat mengakibatkan proses penyembuhan luka menjadi
tidak efektif. Oleh karena itulah, mobilisasi harus dilakukan secara teratur dan
bertahap. Diikuti dengan latian Range of Motion(ROM) aktif
(Roper, 2002)
1
dan pasif
2
Marlita Sari (2010), meneliti tentang gambaran penatalaksanaan
mobilisasi dini pada pasiean apendiktomi di RS PKU Muhammadiyah
Gombong. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh data bahwa mobilisasi dini
dapat mengurangi rasa nyeri pasien, mengurangi waktu rawat di rumah sakit
dan dapat mengurangi stres psikis pada pasien. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah dengan bergerak seseorang dapat mencegah kekakuan otot dan sendi,
mengurangi rasa nyeri, menjaga aliran darah, memperbaiki metabolisme
tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organ-organ vital pada akhirnya justru
akan mempercepat penyembuhan luka.
Keberhasilan mobilisasi dini tidak hanya mempercepat proses
pemulihan luka pasca pembedahan namun juga mempercepat pemulihan
peristaltik usus pada pasien pasca pembedahan (Israfi dalam Akhrita, 2011).
Hal ini telah dibuktikan oleh wiyono dalam akhrita (2011) dalam
penelitiannya terhadap pemulihan peristaltik usus pada pasien pasca
pembedahan. Hasil penelitiannya mengatakan bahwa mobilisasi diperlukan
bagi pasien pasca pembedahan untuk membantu mempercepat pemulihan
usus dan mempercepat penyembuhan luka pasien.
Berdasarkan survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis diruang
kanthil 2 RSUD Karanganyar, terdapat 25 orang pasien yang mengalami
pasca operasi apendiktomy. Penulis mendapatkan informasi bahwa dari 25
orang yang baru mengalami operasi apendisitis, 25 orang mengatakan bahwa
mereka sangat takut untuk melakukan mobilisasi pasca operasi. Hal ini
disebabkan karena pasien merasa sangat kesakitan saat bergerak pasca efek
3
anestesi operasi tersebut hilang. Disamping itu, pasien juga mengungkapkan
kekhawatiran jahitan luka bekas operasi akan merenggang atau terbuka jika
mereka melakukan mobilisasi pasca operasi. Mereka beranggapan mobilisasi
dapat menyebabkan terjadinya ruam atau lecet pada bagian abdomen bagian
bawah, kekakuan atau penegangan otot-otot di seluruh tubuh, pusing dan
susah bernafas, juga susah buang air besar maupun berkemih. Hal inilah yang
menyebabkan banyak diantara mereka untuk lebih memilih diam atau tidak
bergerak diatas tempat tidur. Informasi yang didapat dari perawat ruangan
bedah kantil 2 bahwa, perawat di dalam ruangan tidak ada yang mengajarkan
mobilisasi pada pasien post operasi. Berdasarkan latar belakang data yang
didapat penulis, penulis mengaplikasikan penerapan mobilisasidini terhadap
lamanya penyembuhan luka pada pasien pasca operasi appendiktomi.
Berdasarkan latar belakang yang sudah tertulis diatas, maka penulis
tertarik mengatasi luka pasca operasi appendiktomi dengan penerapan
mobilisasi dini.
B. Tujuan penulisan
1.
Tujuan umum
Melaporkan pemberian mobilisasi dini pada asuhan keperawatan
Ny. S dengan apendiktomi di RSUD Karanganyar
2.
Tujuan khusus
a.
Penulis mampu melakukan pengkajian pada Ny. S dengan
apendiktomi
4
b.
Penulis mampu merumuskan diagnosa
keperawatan pada Ny.S
dengan apendiktomi
c.
Penulis mampu menyusun rencana asuhan keperawatan pada Ny. S
dengan apekdiktomi
d.
Penulis mampu melakukan implementasi pada Ny. S dengan
apendiktomi
e.
Penulis mampu melakukan evaluasi pada Ny. S dengan apendiktomi
f.
Penulis mampu menganalisa hasil pemberian mobilisasi dini dengan
lamanya penyembuhan luka paca operasi apendiktomi
C. Manfaat penulisan
1.
Bagi penulis
Menambah wawasan dengan pengalaman tentang konsep
penyakit serta penatalaksanaannya dalam aplikasi melalui proses
keperawatan dengan basis ilmu keperawatan dalam memberikan asuhan
pada pasien dengan apendiktomi
2.
Bagi pendidikan
Sebagai
wacana
dalam
perkembangan
ilmu
pengetahuan
khususnya dalam bidang keperawatan pada pasien apendiktomi dimasa
yang akan datang dan acuan bagi pengembangan laporan kasus sejenis
3.
Bagi profesi keperawatan
Memberikan
kontribusi
dalam
pengembangan
keperawatan khususnya dalam bidang keperawatan bedah
profesi
5
4.
Bagi rumah sakit
Sebagai evaluasi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dalam
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif terutama pada
pasien apekdiktomi dan tindakan mobilisasi dini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan teori
1.
Pengertian apendiks
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira kira
10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepatdi bawah katup ileosekal.
Apendiks berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur kedalam
sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan lumennya kecil,
apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentan terhadap
infeksi (apendisitis) (Longgo dan Fauzi,2014).
2.
Etiologi
Terjadinya apendiksitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi
bakteri. Namun terdapat banyak sekali faktor pencetus terjadinya
penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen apendiks.
Ostruksi pada lumen apendiks biasanya disebabkan karena adanya
timbunan tinja yang keras (fekalit), hepeplasia jaringan limfoid, penyakit
cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur.
Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen apendiks
adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid (Irga, 2007).
6
7
3.
Klasifikasi apendiksitis
Klasifikasi apendisitis terbagi menjadi 2 yakni :
a.
Apendisitis akut dibagi atas : apendisitis akut fokalis atau
segmentalis, yaitu setelah sembuh akan timbul struktur lokal.
Apendiksitis purulentadifusi yaitu sudah bertumpuk nanah.
b.
Apendiksitis kronis dibagi atas : apendisitis kronis fokalis atau
parsial, setelah sembuh akan timbul striktur lokal. Apendisitis kronis
obliteritiva yaitu apendiks miring, biasanya ditemukan pada usia tua.
Anatomi dan fisiologi appendiks merupakan organ yang kecil dan
vastigial (organ yang tidak berfungsi) yang melekat seperti jari.
a) Letak appendiks
Apendiks terletak diujung sakrum kira-kira 2cm dibawah anterior
ileo sakrum, bermuara dibagian posterior dan medial dari saekum.
Pada pertemuan ketiga taenia yauitu : taenia anterior, medial dan
posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney
yaitu daerah 1/3 tengah garis yang menghubungkan sias kanan
dengan pusat.
b) Ukuran dan isi appendiks.
Panjang appendiks rata-rata 5-10 cm. Lebar 0,3 – 0,7 cm. Isi 0,1 cc,
cairan bersifat basa mengandung amilase dan musin.
c) Posisi apendiks
Laterosekal : dilateral kolon asendens. Didaerah inguinal:
membelok kearah dinding abdomen Pelvis minor.
8
4.
Manifestasi klinik
Apendiksitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri
dari: mual, muntah dan nyeri yang hebat pada perut kanan bawah. Nyeri
biasa secara mendadak dimulai diperut sebelah atas atau sekitar pusar,
lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang dan
nyeri berpindah keperut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan
daerah inin, penderita akan merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan
ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam bisa mencapai 37,838,30 C. Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh disemua
bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu
berat dan didaerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus
buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang
bertambah buruk bisa menyebabkan syok (Irga, 2007).
5.
Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat
terlipat atau tersumbat kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari fases)
atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan intraluminal,
menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progesif,
dalam beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari
abdomen. Akhirnya apendiks yang terinflamasi berisi pus.
9
6.
Penatalaksanaan
a.
Apendiktomi
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah
ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan
dilakukan. Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakan.
Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan
sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Apendiktomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau
spinal dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparaskopi, yang
merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
Konsep asuhan keperawatan sebelum operasi dilakukan klien
perlu dipersiapkan secara fisik maupun psikis, disamping itu juga
klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang akan
dialami setelah dioperasi dan diberiakan latihan-latihan fisik
(pernafasan dalam, gerakan kaki dan duduk) untuk digunakan dalam
periode post operatif. Hal ini penting oleh karena banyak klien
merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap
penerimaan anastesi.
b.
Laparatomi
1) Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Ada 4 cara
yaitu:
a) Midline incision
b) Paramedian, yaitu : sedikit ketepi dari garis tengah ( kurang
lebih 2,5 cm ), panjang (12,5 cm)
10
c) Trasverse upper abdomen incision, yaitu : insisi dibagian
atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy
d) Transverse lower abdomen incision, yaitu : insisi melintang
di bagian bawah kurang lebih 4 cm diatas anterior spinal
iliaka, misalnya : pada operasi apendiktomi.
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan
yang diberikan kepada pasien-pasien yang telah menjalani
operasi pembedahan perut.
2) Tujuan perawatan post laparatomi :
a.
Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b.
Mempercepat penyembuhan.
c.
Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti
sebelum operasi.
d.
Mempertahankan konsep diri pasien.
e.
Mempersiapkan pasien pulang.
3) Indikasi
a.
Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / ruptur hepar.
b.
Peritonitis
c.
Perdarahan saluran pencernaan
d.
Sumbatan pada usus halus dan usus besar.
e.
Masa pada abdomen.
11
4) Latihan-latihan fisik
Latihan nafas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot
tangan, menggerakan otot-otot kaki, latihan alih baring dan
turun dari tempat tidur. Semua dilakukan hari ke 2 post operasi.
5) Komplikasi
a.
Gangguan
perfusi
jaringan
sehubungan
degan
tromboplebitis.
Tromboplebitis post operasi biasanya timbul 7-14 hari
setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila
darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan
ikut aliran darah sebagai emboli keparu-paru, hati dan otak.
Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi,
ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien
sebelum mencoba ambulatif.
b.
Buruknya integritas kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36-46 jam setelah operasi.
Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah
stapilokokus aurens, organisme, gram positif. Stapilokokus
mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi
luka yang paling penting adalah perawatan luka yang
memperhatikan aseptik dan antiseptik.
12
c.
Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka
atau eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka.
Eviserasi luka adalah keluarya organ-organ dalam melalui
insisi.
d.
Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi
luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan
yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk
dan muntah.
6) Proses penyembuhan luka
a.
Fase pertama
Berlangsung sampai hari ke tiga. Batang leukosit banyak
yang rusak / rapuh. Sel- sel darah baru berkembang menjadi
penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan
sebagai kerangka.
b.
Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14 pengisian oleh kolagen,
seluruh pinggiran epitel timbul sempurna dalam 1 minggu.
Jaringa baru tmbuh dengan kuat dan kemerahan.
c.
Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu.
Kolagen terus menerus
ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat
digunakan kembali.
13
d.
Fase keempat
Fase terakhir penyembuhan akan menyusut dan mengkerut.
7) Pengembalian fungsi fisik
Pengembalikan fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi
dengan latihan nafas dan batuk efektif, latihan mobilisasi dini
8) Mempertahankan konsep diri
Gangguan konsep diri : body image dapat terjadi pada pasien
post laparatomi karena adanya perubahan sehubungan dengan
pembedahan. Intervensi keperawatan terutama ditunjukan
kepada pemberian suport psikologis, ajak pasien dan kerabat
dekatnya berdiskusi tentang perubahan-perbahan yang terjadi
dan bagaimana perasaan pasien setelah pasien.
7.
Komplikasiapendisitis
Komplikasi utama apendisitis adalah perforasi apendiks, yang
dapat berkembang menjadi peritonitis atau abses. Insiden perforasi
adalah 105 sampai 32%. Insiden lebih tinggi pada anak kecil dan lansia.
Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah awitan nyeri. Gejala
mencakup demam dengan suhu 37,7 oC atau lebih tinggi, nyeri tekan
abdomen yang kontinue.
a.
Luka adalah rusakan struktur dan fungsi anatomi normal akibat
prosespatologis yang berasal dari internal dan mengenai organ teori
(lazarus, et al 1994: dalam Potter dan Perry, 2006). Luka adalah
kerusakan kontiyuitas kulit mukosa membran dan tulang atau organ
14
tubuh yang lain ketika luka timbul, berapa efek akan muncul seperti
hilangnnya seluruh atau sebagaian fungsi organ, respon stress
simpatis, perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan
kematian sel (Kozier, 1995).
Jenis luka berdasarkan lama waktu penyembuhan luka dibagi
menjadi 2 jenis, yaitu:
1) Luka akut adalah luka trauma yang biasannya segera mendapat
penanganan dan biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak
terjadi komplikasi. Kriteria luka akut adalah luka baru,
mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang
dipikirkan. Contohnnya adalah luka sayat, luka bakar, luka
tusuk.
2) Luka kronik adalah luka yang berlangsung lama atau sering
timbul kembali (rekuren) atau terjadi gangguan pada proses
penyembuhan yang biasannya disebabkan oleh masalah multi
faktor dari penderita. Pada luka kronik luka gagal sembuh pada
waktu yang diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi
dan punya tendesi untuk timbul kembali. Contohnnya adalah
ulkus tungkai, ulkus vena, ulkus arteri (iskemi), penyakit
vaskuler perifer ulkus dekubitus, neuropati perifer ulkus
15
B. Asuhan keperawatan appendiktomi
1.
Pengkajian
a.
Biodata
Identitas klien : nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, suku atau bangsa, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan nomor
register.
b.
Lingkungan
Dengan adanya lingkungan yang bersih, maka daya tahan tubuh
penderita akan lebih baik dari pada tinggal dilingkungan yang kotor.
c.
Riwayat kesehatan dahulu
1) Keluhan utama
Nyeri pada daerah kuadran kanan bawah, nyeri bersekitar
umbilikus
2) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat operasi sebelumnya pada kolon
3) Riwayat kesehatan sekarang
Sejak kapan keluhan dirasakasn, berapa lama keluhan terjadi,
bagaimana sifat dari hebatnya keluhan, dimana keluhan timbul,
keadaan apa yang memperberat dan memperingan.
d.
Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
Pada
apendisitis
akut
sering
ditemukan
adanya
abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini biasa
ditemukan distensi abdomen.
16
2) Palpasi
Pada daerah perut kana bawah apabila ditekan akan
terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri.
Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari
apendisitis. Pada penekanan perut kiri bawah akan terasa nyeri
pada perut kanan bawah, ini disebut tanda rovsing(Rovsing
sign). Tanda blumberg(blumberg sign)timbul apabila tekanan
pada perut kiri di lepas perut kanan bawah akan terasa sakit.
3) Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan ini dilakukan pada apendisitis untuk
menentukan letak apendiks apabila letaknya sulit diketahui. Jika
sat dilakukan pemeriksaan ini terasa nyeri, maka kemungkinan
apendiks yang meradang di daerah pelvis. Pemeriksan ini
merupakan kunci diagnosis apendisitis pelvika.
4) Uji psoas dan uji obturator
Pemeriksaan ini dilakukan juga untuk mengetahui letak
apendiks
yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan
rangsangan otot psoas mayor lewat hiperekstensi sendi panggul
kanan, kemudian pada paha kanan di tahan. Bila apendiks yang
meradang menempel pada psoas mayor maka tindakan tersebut
akan menimbulkan nyeri. Sedangkan pada uji obturator
dilakukan gerakan fleksi dan andorotasi sendi panggul pada
posisi terlentang. Bila apendiks yang meradang kontak dengan
obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil, maka
17
tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dapat
dilakukan pada apendisitispelvika (Akhyar Yayan, 2008).
e.
Perubahan pola fungsi
Data yang diperoleh dalam kasus apendisitis menurut
(Doenges, 2005) adalah sebagai berikut :
1) Aktivitas / istirahat
Gejala : Malaise
2) Sirkulasi
Tanda : Takikardi
3) Eliminasi
Gejala : Konstipasi pada awitan awal.
Diare (kadang-kadang).
Tanda : Distensi abdomen, nyeri tekan/ nyeri lepas, kekakuan.
Penurunan atau tidak ada bising usus.
4) Makanan/ cairan
Gejala : Anoreksia
Mual / muntah.
5) Nyeri / kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang
meningkat berat dan teralokasi pada titik Mc. Burney (setengah
jarak antara umbilikus dan tulang ileum kanan), meningkat
karena berjalan, bersin. Batuk, atau napas dalam (nyeri berhenti
tiba-tiba diduga perforasi atau infark pada apendiks).
18
Tanda perilaku berhati-hati : berbaring ke samping atau
terlentang dengan lutut ditekuk. Meningkatnya nyeri pada
kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan atau
posisi duduk tegak.
6) Pernafasan
Tanda : Takipnea, pernapasan dangkal
7) Keamanan
Tanda : Demam (biasanya rendah)
f.
Diagnosa dan fokus intervensi
1) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak
adekuatnya pertahanan utama, perforasi atau ruptur pada
apendiks, pembentukan abses, prosedur invasif infisi bedah.
Kriteria hasil: meningkatnya penyembuhan luka dengan benar,
bebas tanda infeksi atau inflamasi, drainase purulen, eritema
dan edema.
Intervensi :
a) Awasi tanda-tanda vital. Perhatikan demam, menggigil,
berkeringat,
perubahan
mental,
meningkatnya
nyeri
abdomen.
Rasional : dugaan adanya infeksi atau terjadinya sepsis,
abses, peritonitis
b) Lihat insisi dan balutan. Catatan karakteristik drainase luka
ataudrein (Bila dimasukan), adanya eritema.
19
Rasional : memberikan deteksi dini terjadinya proses
infeksi, dan atau pengawasan penyembuhan peritonitis yang
telah ada sebelumnya.
c) Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan luka
aseptik. Berikan perawatan paripurna.
Rasional : menurunkan resiko penyebaran infeksi.
d) Berikan informasi yang tepat, jujur, dan jelas pada pasien
atau orang terdekat.
Rasional
:
pengetahuan
tentang
kemajuan
situasi
memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan
ansietas.
e) Ambil contoh drainase bila diindikasikan
Rasional : kultur pewarnaan gram dan sensitivitas berguna
untuk mengidentifikasikan organisme penyebab dan pilihan
terapi.
f)
Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional : mungkin diberikan secara profilaktik atau
menurunkan jumlah mikroorganisme (pada infeksi yang
telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan
perumbuhannyapada rongga abdomen.
g) Bantu irigasi dan drainase bila diindikasikan
Rasional : dapat diperlukan untuk mengalirkan isi abses
terlokalisir.
20
2) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan
dengan pengeluaran cairan berlebih, pembatasan pasca operasi,
status hipermetabolik, inflamasi peritonium dengan cairan asing.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
cairan dan elektrolit menjadi kuat.
Kriteria hasil : kelembaban membran mukosa, turgor kulit
baik,tanda vital stabil dan secara individual keluaran urin
adekuat.
Intervensi :
a) Awasi tekanan darah dan nadi
Rasional : membantu mengidentifikasikan fluktuasi volume
intra vaskuler
b) Lihat membran mukosa : kaji turgor kulit dan pengisian
kapiler.
Rasional : indikator keadekuatan sirkulasi perifer dan
hidrasi seluler.
c) Awasi masukan dan keluaran : catat warna urin atau
konsentrasi, berat jenis.
Rasional
:
penurunan
haluaran
urin
pekat
dengan
peningkatan berat jenis diduga dehidrasi atau kebutuhan
peningkatan cairan.
d) Auskultasi bising usus,catat kelancaran flatus, gerakan usus.
Rasional : indikator kembalinya peristaltik, kesiapan untuk
pemasukan oral.
21
e) Berikan sejumlah kecil minuman jernih bila pemasukan
peroral dimulai, dan lanjutkan dengan diet sesuai toleransi.
Rasional : menurunkan iritasi gaster atau muntah untuk
meminimalkan kehilangan cairan.
f)
Berikan perawatan mulut sering dengan perhatian khusus
pada perlindung bibir.
Rasional : dehidrasi megakibatkan bibir dan mulut kering
dan pecah-pecah.
g) Pertahankan penghisapan gaster atau usus.
Rasional : selang NGT biasanya dimasukan pada praoperasi
dan dipertahankan pada fase segera pasca operasi untuk
dekompresi usus, meningkatkan istirahat usus, mencegah
muntah.
h) Berikan cairan iv dan elektrolit.
Rasional : peritonium bereaksi terhadap iritasi atau infeksi
dengan menghasilkan sejumlah besar cairan yang dapat
menurunkan
volume
sirkulasi
hipovolemia.
Dehidrasi
dan
darah,
dapat
mengakibatkan
terjadi
ketidak-
seimbangan elektrolit.
3) Gangguan rasa nyaman : nyeri (akut) berhubungan dengan
distensi jaringan usus oleh inflamasi : adanya insisi bedah
Tujuan : nyeri berkurang atau hilang.
22
Kriteria hasil : klien melaporkan nyeri berkurang atau hilang,
klien rileks, mampu istirahat atau tidur dengan cepat.
Intervensi :
a) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10).
Selidiki dan laporkan perubahan nyeri dengan tepat.
Rasional : berguna dalam pengawasan keefektifan obat,
kemajuan penyembuhan. Perubahan pada karakteristik nyeri
menunjukan terjadinya abses atau peritonitis, memerlukan
upaya evaluasi medik dan intervensi.
b) Pertahankan istirahat dengan posisi semifowler.
Rasional : gravitasi melokalisasi eksudat inflamasi dalam
abdomen bawah atau pelvis, menghilangkan tegangan
abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang.
c) Dorong dan ajarkan ambulasi dini.
Rasional : meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh :
merangsang peristaltik dan kelancaran flatus, menurunkan
ketidaknyamanan abdomen.
d) Berikan aktivitas hiburan.
Rasional : fokus perhatian kembali, meningkatkan relaksasi,
dan dapat meningkatkan kemampuan koping.
e) Pertahankan puasa atau penghisapan NGT pada awal.
Rasional : menurunkan ketidaknyamanan pada peristaltik
usus dini dan iritasi gaster atau muntah.
23
f)
Berikan analgesik sesuai indikasi.
Rasional : menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama
dengan intervensi terapi lain seperti ambulasi, batuk.
g) Berikan kantong es pada abdomen.
Rasional : menghilangkan dan mengurangi nyeri melalui
penghilangan rasa ujung saraf. Catatan : jangan lakukan
kompres panas karena dapat menyebabkan kompresi
jaringan.
4) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,
prognosis, dan kebutuhan pengobatan dengan tidak mengenal
sumber informasi dan salah interpretasi informasi.
Tujuan : menyatakan pemahaman proses penyakit, pengobatan
dan potensial komplikasi.
Kriteria hasil : berpartisipasi dalam program pengobatan
Intervensi :
a) Kaji ulang pembatasan aktivitas pasca operasi, contoh :
olahraga, seks, latihan menyetir.
Rasional : memberikan informasi pada pasien untuk
merencanakan kembali rutinitas biasa tanpa menimbulkan
masalah.
b) Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh
: peningkatan nyeri, edema atau eritema luka, adanya
drainase, demam.
24
Rasional : upaya intervensi menurunkan resiko komplikasi
serius,
contohnya
:
peritonitis,
lambatnya
proses
penyembuhan.
c) Dorong aktivitas sesuai toleransi dengan periode istirahat
periodik.
Rasional
:
mencegah
kelemahan,
meningkatan
penyembuhan dan perasaan sehat, mempermudah kembali
ke aktivitas normal.
d) Diskusikan perawatan insisi termasuk mengganti balutan,
pembatasan
mandi
dan
kembali
ke
dokter
untuk
mengangkat jahitan atau pengikat.
Rasional : pemahaman meningkatkan kerjasama dengan
program terapi, meningkatkan penyembuhan dan proses
perbaikan
e) Berikan laksatif atau pelembek feses jika diinginkan dan
hindari enema.
Rasional : membantu kembali ke fungsi usus semula,
mencegah mengejan saat defekasi (Doenges,2005).
25
C. Mobilisasi
1.
Definisi
Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara
bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehat (Mubarak dan Nurul C, 2007). Menurut, (Hidayat, 2006)
mobilisasi merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak bebas,
mudah, teratur, dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehat dan pentingnya untuk kemandirian suatu keadaan ketika individu
mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik di sebut
dengan imobilisasi. Perubahan dalam tingkat mobilisasi fisik dan dapat
mengakibatkan intruksi pembatasan gerak dalam bentuk tirah baring,
kehilangan fungsi motorik (Potter dan Perry, 2005).
2.
Jenis mobilisasi
Menurut,(Alimul, 2009) jenis mobilisasi di bedakan berdasarkan
kemampuan gerakan yang dilakukan oleh seseorang yaitu:
a.
Mobilisasi penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak
secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial
dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilisasi penuh ini merupakan
fungsi saraf motorik dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh
area tubuh seseorang.
b.
Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak secara
26
bebas karena di pengaruhi oleh gangguan saraf motorik dan sensorik
pada area tubuh.
3.
Tujuan mobilisasi dini
Mobilisasi dini bertujuan untuk mengurangi komplikasi pasca
bedah, terutama atelektasis dan pneunomia hipostasis,mempercepat
terjadinya buang air besar dan buang air kecil secara rasa nyeri pasca
operasi
(E.Oswari,
2005).
Mobilisasi
yang
dilakukan
untuk
meningkatkan ventilasi, mencegah stastis drah dengan meningkatkan
kecepatan sirkulasi pada ekstremitas dan kecepatan pemulihan pada luka
abdomen (Suzanne C, 2005).
4.
Latian rentang gerak (ROM)
Kemampuan sendi untuk melakukan pergerakan pada pasien
berbeda sesuai dengan kondisi kesehatannya. Latihan rentang gerak
merupakan gerakan yang mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari
tiga potongan tubuh yaitu sagital, frontal, dan trasfersal (Potter dan
Perry, 2006).
Latian rentang gerak ini dilakukan pada masing-masing
persendian dengan melakukan gerakan yang tidak membahayakan latihan
ROM dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Latian ROM secara pasif
merupakan latihan dimana perawat menggerakan persendian pasien
sesuai dengan rentang geraknnya. Sedangkan latian ROM secara aktif
adalah ROM yang dilakukan oleh pasien sendiri tanpa bantuan perawat
dan alat bantu. Perbedaan latian ROM pasif dan aktif bergantung pada
tidaknya bantuan yang diberikan perawat pada pasien dalam melakukan
ROM (Asmadi, 2009).
27
D. Kerangka teori
Hiperplasia folikel limfot,felakit, benda asing, cacing, peradangan
Obstruksi lumen apendiks
Pembengkakan jaringan limfoid
Peningkatan produksi mukus
Bendungan pada dinding apendiks
Peningkatan tekanan intraluminal sehingga menghambat saluran limfe yang
mengeluarkan mukus
Edema dan aslerasi apendiks
Apendiks akut
Luka post operasi
kerusakan integritas kulit
perawatan luka (penerapan mobilisasi dan perawatan luka bersih)
kecepatan pemulihan luka
mencegah perdarahan
luka jahitan tampak baik
meningkatkan meningkatkan kecepatan
ventilasi
sirkulasi
tidak ada pus
kulit tidak tampak kemerahan
kulit cepat sembuh
Gambar 2.1 Kerangka Teori
28
E. Kerangka konsep
Kerusakan intergritas
jaringan kulit
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
Penerapan mobilisasi
dini
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Subjek aplikasi riset
Subjek dari aplikasi riset ini adalah penerapan mobilisasi dini terhadap
lamanya penyembuhan luka pasca operasi apendiktomi
B. Tempat dan waktu
Aplikasi riset ini direncanakan telah dilakukan di rumah sakit pada
tanggal 9-21 Maret 2015, tindakan dilakukan selama 3 hari
C. Media dan alat yang digunakan
Media: botol aqua di kasih air hangat
Alat : LEMBAR OBSERVASI PENYEMBUHAN LUKA
Tabel 3.1 lembar observasi (Potter Perry, 2005)
NO
MOBILISASI
HARI KE
1
Hari ke 2
2
Hari ke 3
JAM
TINDAKAN
MOBILISASI
Mobilisasi 1
pkl 10.10wib
Mobilisasi 2
pkl 12.15wib
Mobilisasi 3
pkl 14.00wib
Mobilisasi 4
pkl 10.10wib
Mobilisasi 5
pkl 12.00
Mobilisasi 6
pkl 14.00
KEMERAHAN
KONDISI LUKA FASE INFLAMASI
PENDARAHAN
PUS
KELEMBAPAN
BENGKAK
Luka belum di
buka
Belum di ketahui
Belum
di
ketahui
Belum di
ketahui
Belum di
ketahui
Tidak ada
Tidak ada
Tidak
ada
Ada
Ada
29
30
D. Prosedur tindakan
Prosedur
tindakan
deskriptif
korelasi
yang
bertujuan
untuk
mengetahui hubungan mobilisasidini dengan lamanya penyembuhan post
operasi apendiktomi.
1.
Mengucapkan salam dan perkenalan diri
2.
Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada klien
3.
Ciptakan lingkungan yang nyaman dengan menutup ruangan atau tirai
ruangan
4.
Atur posisi pasien yang nyaman
5.
Memberikan kompres air hangat di bagian sendi yang akan di gerakkan
6.
Mengajarkan klien untuk mengerakkan ke dua kaki dan tungkai
7.
Bantu posisi klien yang nyaman
8.
Berpamitan dengan klien
BAB IV
LAPORAN KASUS
Pada bab ini penulis menjelaskan tentang aplikasi jurnal Pemberian
Mobilisasi Dini Secara Teratur Untuk Mempersingkat Waktu Penyembuhan Luka
Post Operasi Appendiktomi Pada Asuhan Keperawatan Ny. S dengan post
appendiktomi di ruang Kantil 2 RSUD Karangannyar. Asuhan keperawatan pada
Ny. S meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi sesuai masalah
keperawatan, implementasi yang telah dilakukan dan evaluasi. Pengkajian
dilakukan pada tanggal 11 Maret 2015 pukul 08.30 WIB dengan menggunakan
metode autoanamnesa dan alloanamnesa.
A. Identitas pasien
Hasil pengkajian diperoleh data antara lain, nama klien Ny. S, usia
42 tahun, beragama Islam, pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama
(SMP), pekerjaan Wiraswasta, beralamat di Karanganyar, dirawat di RSUD
Karangannyar dengan diagnosa medis post operasi appendiktomi, dan nomor
registrasii xxxxx. Identitas penanggung jawabnya adalah Tn. S berusia 47
tahun, pendidikan terakhir Sekolah Menengah Pertama (SMP), bekerja
sebagai buruh pabrik, alamat di Karanganyar, hubungan dengan pasien adalah
suami.
B. Pengkajian
Keluhan utama klien saat dikaji nyeri pada abdomen kuadran 4,
riwayat penyakit sekarang pasien mengatakan 3 hari yang lalu tanggal 6
31
32
Maret 2015, perut bagian kanan bawah terasa nyeri, lalu pasien membeli obat
di warung namun sakitnya tidak berkurang, lalu pada tanggal 10 Maret 2015
pasien dibawa ke RSUD Karanganyar pasien mengeluh badan lemas, mual,
tidak nafsu makan, perut terasa perih dan perut terasa nyeri dengan TTV TD:
120/70 mmHg, RR:15 x/menit, N:80 x/menit, S: 37,7°C, di IGD mendapat
terapi infus RL 20 tpm, ranitidin 2x1 amp, antrain 2x1 amp, lalu pasien
dibawa kebangsal kantil 2 tanggal 10 jam 10.00 WIB, pasien mengatakan
lemas, pola makan berkurang, mual-mual, lalu pasien diberi terapi obat
cefotaksin 2x1 amp, metro 3x500 mg, ranitidi 1 amp, antrain 1 amp, infus RL
20 tpm, pada tanggal 10 Maret 2015 pasien di operasi jam 10.15 WIB
selesaai jam 11.30 WIB, lalu di bawa kebangsal kantil 2, pemantauan TTV
TD:110/70 mmHg, N:76 x/menit, S: 37,7°C, RR: 20 x/menit, pasien belum
sadar penuh, kemudian pasien sadar jam 13.00 WIB, lalu pasien mendapatkan
terapi obat injeksi ranitidin, antrain.
Riwayat penyakit dahulu, klien mengatakan tidak mempuyai riwayat
penyakit seperti DM dan klien mengatakan belum pernah dirawat di rumah
sakit.
33
Pengkajian riwayat kesehatan keluarga
Ny. S umur 42 tahun
Gambar 3.1 Genogram
Keterangan :
: laki-laki
: perempuan
: pasien
: tinggal dalam satu rumah
: Meninggal
Riwayat kesehatan keluarga, klien mengatakan bahwa di dalam
keluarganya maupun keluarga klien tidak ada penyakit keturunan seperti
diabetes melitus, jantung, dan hipertensi. Riwayat kesehatan lingkungan,
klien mengatakan lingkungan rumahnya bersih, terdapat ventilasi, ada tempat
pembuangan sampah, jauh dari sungai atau pabrik.
Hasil pengkajian menurut pola gordon, pada pola persepsi dan
pemeliharaan kesehatan klien mengatakan bahwa sehat itu penting dan
34
berharga, menurut klien sakit merupakan sesuatu yang tidak nyaman, apabila
ada anggota keluarga yang sakit segera diperiksakan ke puskesmas atau
dokter.
Pola nutrisi dan metabolisme sebelum sakit klien makan 3x sehari
dengan nasi, sayur, lauk, teh atau air putih, klien tidak memiliki keluhan dan
makan satu porsi habis. Selama sakit klien makan 3x sehari dengan makanan
yang disediakan rumah sakit nasi lembek, sayur, teh atau air putih, 1 porsi
habis.
Pola eliminasi BAB, baik sebelum sakit maupun selama sakit klien
tidak memiliki keluhan. Klien BAB 1x sehari dengan konsistensi lunak, bau
khas, dan warna kuning kecokelatan. Pada pola eliminasi BAK, sebelum sakit
klien mengatakan BAK 4-6x sehari ± 150cc sekali BAK dengan warna
kuning jernih, bau amoniak, dan tidak ada keluhan. Selama sakit, klien BAK
1000cc per 24 jam, warna kuning kecoklatan, bau amoniak.
Pola aktivitas dan latihan, sebelum sakit klien mampu melakukan
perawatan diri secara mandiri (score 0). Selama sakit untuk makan atau
minum, berpakaian, mobilitas di tempat tidur, berpindah, toileting, pasien
memerlukan bantuan orang lain (score 2). Sedangkan untuk ambulasi/ROM
tergantung total (score 2).
Pola istirahat tidur, sebelum sakit pasien mengatakan bisa tidur 21.00
WIB sampai jam 04.30 WIB dan jarang tidur siang. Selama sakit
pasienmengatakan tidak bisa tidur dan tidur sebentar-sebentar bangun kira-
35
kira 2-3 jam dalam 24 jam, pasien juga mengatakan suhu dilingkungan ruang
panas..
Pola kognitif – perseptual sebelum sakit pasien sadar penuh,
penglihatan dan pendengaran normal tidak menggunakan alat bantu. Selama
sakit pasien sadar penuh penglihatan dan pendengaran normal tidak
menggunakan alat bantu P: pasien mengatakan nyeri waktu bergerak, Q: nyeri
seperti di tusuk-tusuk, R: nyeri pada bagian post operasiabdomen pada kanan
bawah, S: skala nyeri 6, T: nyeri sewaktu-waktu 5 menit.
Pola persepsi konsep diri, gambaran diri klien menerima dengan
keadaan sakitnya saat ini, ideal diri klien ingin segera sembuh dan pulang ke
rumah agar bisa melakukan aktivitasnya kembali, harga diri klien tidak merasa
rendah diri dengan penyakitnya, peran diri klien seorang ibu rumah tangga,
sedangkan identitas diri klien berjenis kelamin perempuan dengan usia 42
tahun, bekerja sebagai wira swasta.
Pola hubungan peran, pasien mengatakan sebelum sakit maupun
selama sakit hubungannya dengan keluarga, saudara, tetangga-tetangganya
baik dan tidak ada masalah. Pola seksual reproduksi, pasien berusia 42 tahun
mempunyai suami dan mempunyai 2 anak. Pola mekanisme koping, sebelum
sakit pasien mengatakan bila mempunyai masalah selalu mengatakan kepada
keluarga dan bermusyawarah untuk memecahkan masalah, dan selama sakit
pasien mengatakan saat mengetahui masalah kesehatannya
pasien
merundingkan dengan keluarganya untuk segera melakukan penanganan lebih
lanjut.
36
Pola nilai dan keyakinan, pasien beragama Islam selalu menjalankan
sholat 5 waktu, tetapi selama sakit pasien mengatakan hanya bisa berdoa.
Pengkajian pemeriksaan fisik didapatkan keadaan klien dengan
kesadaran composmentis, TD(tekanan darah) 120/70 mmHg, nadi 80x/menit
teraba kuat dan irama teratur, respirasi 15x/menit irama teratur, dan suhu
36,5°C. Bentuk kepala mesochepal, kulit kepala bersih tidak ada ketombe.
Rambut kuat, hitam. Pada pemeriksaan mata, didapatkan data mata simetris
kanan-kiri, fungsi penglihatan baik, konjungyiva tidak anemis, dan sklera
tidak ikterik. Pada pemeriksaan hidung, bersih, tidak ada polip, dan tidak
terdapat sekret. Mulut simetris, bersih, dan mukosa bibir lembab. Gigi sejajar
dan bersih tidak ada lubang. Telinga simetris, tidak ada serumen, dan tidak
mengalami gangguan pendengaran. Pada pemeriksaan leher, tidak terdapat
pembesaran tyroid.
Pada pemeriksaan fisik paru, didapatkan hasil Inspeksi : bentuk dada
simetris, Palpasi : vocal fremitus kanan dan kiri sama, Perkusi : sonor,
Auskultasi : suara vesikuler dan irama teratur. Pada pemeriksaan fisik
jantung, didapatkan hasil Inspeksi : ictus cordis tidak tampak, Palpasi : ictus
cordis teraba kuat di SIC V, Perkusi : pekak, Auskultasi : Bunyi jantung I dan
Bunyi jantung II sama, tidak ada suara tambahan, irama reguler. Pada
pemeriksaan fisik abdomen didapatkan hasil Inspeksi : terdapat luka post
operasi pada kanan bawah kurang lebih 5 cm, tidak ada tanda infeksi pada
luka post operasi, Auskultasi : bising usus 15x/menit, Perkusi : redup di
37
kuadran 1 dan tympani di kuadran 2, 3, 4, Palpasi : adanya nyeri tekan skala
6.
Pada pemeriksaan genetalia, didapatkan hasil genetalia bersih dan
tidak ada jejas, pemeriksaan rektum bersih, pada pemeriksaan ekstremitas
bagian atas didapatkan hasil kekuatan otot tangan kanan dan kiri 5 (bergerak
bebas), tangan kiri mampu bergerak bebas tetapi tangan kanan gerakan
terbatas karena terpasang infus RL 20 tpm, perabaan akral hangat, tidak ada
oedema, dan capilary refill< 2 detik. Pada pemeriksaan ekstremitas bagian
bawah diperoleh hasil kekuatan otot kaki kanan 5 (mampu bergerak),
kekuatan kaki kiri 5 (mampu bergerak), perabaan akral hangat, tidak ada
oedema, dan capilary refill< 2 detik.
Selama di rawat di kantil 2 mendapatkan therapy infus RL 20 tpm
untuk mengembalikan cairan elektrolit, injeksi cefotaxim 100 mg antibiotik,
ranitidin 50 mg untuk mual muntah, antrain metamizole untuk anti nyeri dan
demam.
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 10 Maret 2015 diperoleh
hasil: hemoglobin 13.1 g/dl (nilai normal 12.00-16.00), hematokrit 39.9%
(nilai normal 37.00-47.00), leukosit 6.4 ribu/ul (nilai normal 5-10), trombosit
204 ribu/ul (nilai normal 150-300), eritrosit 4.35 juta/ul (nilai normal 4.005.00), MPV 5.2 fl (nilai normal 6.5-12.000), LDW 17.0 % (nilai normal 9.017.0), MCV 91.7 fl (nilai normal 82.0-92.0), MCH 30.1 pg ( nalai naormal
27.0-31.0), MCHC 32.8 g/dl (nilai normal 32.0-37.0), limfosit 38.0 % (nilai
normal 25.0-40.0), monosit 6.0 % (nilai normal 3.0-9.0), limfosil 2.4 x10^3ul
38
(nilai normal 1.25-40), monosit 0.43 x10^3ul (nilai normal 0.30-1.00), gran
56.0 % (nilai normal 50.0-7.00), gran 3.6 x10^3ul (nilai normal 2.50-70.0),
ROW 12.3 % (nilai normal 11.5-14.7), CT 03.30 menit (nilai normal 2.8), BT
02.0 menit (nilai normal 1-3), GDS 90 mg/dl (nilai normal 70-150), creatinin
0.99 mg/dl (nilai normal 0,5-09), ureum 29 mg/dl (nilai normal 10-50).
Hasil pemeriksaan USG pada tanggal 10 Maret 2015 kesan: pada
waktu pemeriksaan USG abdomen tampak, MC burney gambaran proses
sedang (appendiksitis sup akut), tidak tampak tanda-tanda infeltrat, tidak
tampak tanda-tanda perfolasi.
Selama dirawat di ruang Kantil 2, klien mendapat therapy infus RL 20
tpm untuk mengembalikan cairan elektrolit, injeksi cefotaxine 10 mg/2 jam
untuk anti infeksi, dan injeksi ranitidine 50 mg/12 jam untuk pengobatan
tukak lambung jangka pendek, injeksi antrain 10 mg/8 jam untuk anti nyeri
dan demam.
C. Perumusan diagnosa keperawatan
Dari data pengkajian dan observasi di atas, penulis melakukan analisa
data dan merumuskan diagnosa keperawatan. Data subyektif : pasien
mengatakan nyeri pada perut kanan bawah, P: pasien mengatakan nyeri perut
kanan bawah karena luka post operasi, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R:
nyeri pada bagian post operasi abdomen kuadran 4, S: skala nyeri 6, T; nyeri
hilang timbul kurang lebih 5 menit. Data obyektif: pasien tampak meringis
kesakitan menahan nyeri, post operasi appendiktomi luka kurang lebih 10cm,
39
tidak ada pust, luka sedikit lembab, adannya kemerahan, berdasarkan
penulisan data di atas maka penulis merumuskan masalah keperawatan yaitu
nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.
Data subyektif : pasien mengatakan untuk bergerak kesakitan, untuk
membolak-balik posisi. Data obyektif : ambulasi pasien tampak hanya bisa
miring kanan, kiri, ROM ekstremitas bawah gerak terbatas, berdasarkan
penulisan data di atas maka penulis merumuskan masalah keperawatan yaitu
hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot.
Data subyektif : pasien mengatakan sebelum sakit tidurnnya 7-8 jam
perhari, selama sakit pasien mengatakan tidak bisa tidur nyenyak tidur hanya
2-3 jam sehari, pasien juga mengatakan suhu dilingkungan ruang terasa panas
, data obyektif : pasien tampak pucat, kantung mata hitam, berdasarkan
penulisan data di atas maka penulis merumuskan masalah keperawatan yaitu
gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar.
Data subyektif : pasien mengatakan lemah, untuk bergerakan karena
nyeri diperut kanan bawah, data obyektif : pasien tampak lemah, hanya
berbaring ditempat tidur, kulit lembab, kulit berwarna kemerahan pada
abdomen kanan bawah, berdasarkan penulisan data di atas maka penulis
merumuskan masalah keperawatan yaitu kerusakan intergritas kulit
berhubungan dengan imobilitas fisik.
40
D. Intervensi keperawatan
Perencanaan dari masalah keperawatan pada tanggal 11 maret 2015
penulis menyusun suatu intervensi sebagai tindak lanjut pelaksanaan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan
agen cedera fisik dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24
jam nyeri bisa berkurang dengan kriteria hasil pasien tidak merasa
nyeri,pasien tampak nyaman, nyeri teratasi, skala nyeri berkurang dari 6
menjadi 2.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan dilakukan pada Ny.
S untuk mengatasi nyeri adalah mengkaji TTV untuk mengetahui keadaan
umum pasien, kaji nyeri (PQRST) dengan rasional nyeri merupakan respon
subyektif yang dapat dikaji dengan menggunakan skala nyeri, ajarkan tehnik
relaksasi nafas dalam untuk mengurangi rasa nyeri, kolaborasi dengan dokter
untuk pemberian injeksi untuk mengurangi rasa nyeri dengan obat.
Perencanaan dari masalah keperawatan pada tanggal 11 maret 2015
penulis menyusun suatu intervensi sebagai tindak lanjut pelaksanaan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa keperewatan hambatan mobilitas
fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot, setelah di lakukan tindakan
keperawatan selam 3x24 jam di harapkan pasien mampu melakukan aktivitas
dan latihan secara mandiri dengan kriteria hasil pasien mampu memenuhi
kebutuhan secara mandiri, pasien mampu melakukan aktivitas dan latihan
secara mandiri.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan di lakukan pada
Ny.S untuk mengatasi masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik adalah
41
mengkaji kemampuan pasien untuk mengetahui tingkat kemampuan pasien
dalam melaksanakan aktivitas, anjurkan mobilisasi pada pasien ROM aktif
dan alih baring untuk memperlancar peredaran darah, berikan edukasi kepada
pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilisasi untuk menambah
pengetahuan pasien dan keluarga, kolaborasi dengan tim medis dalam terapi
obat cefotaxim 1000mg/12jam untuk memberikan terapi secara farmakologis,
Perencanaan dari masalah keperawatan pada tanggal 11 maret 2015
penulis menyusun suatu intervensi sebagai tindak lanjut pelaksanaan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa keperawatan gangguan pola tidur
berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar, setelah dilakukan tindakan
3x24 jam diharapkan pola tidur pasien tidak terganggu dengan kriteria hasil,
pasien tidur nyenyak 7-8 jam, raut wajah rileks dan tampak segar, kantung
mata tidak hitam.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan di lakukan pada
Ny.S untuk mengatasi masalah keperawatan gangguan pola tidur adalah kaji
pola tidur pasien untuk mengetahui kualitas tidur pasien, memberikan posisi
yang nyaman (supinasi) untuk memberikan kenyamanan pada pasien,
jelaskan kepada pasien tentang pola tidur saat sakit untuk menambah
pengetahuan tentang pentingnya pola tidur, ajarkan kepada keluarga untuk
memberikan pijatan pada kaki atau punggung sebelum tidur untuk menambah
kenyamanan pasien dan memperbaiki kualitas tidur.
Perencanaan dari masalah keperawatan pada tanggal 11 Maret 2015
penulis menyusun suatu intervensi sebagai tindak lanjut pelaksanaan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa kerusakan intergitas kulit, setelah
42
dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan mampu mempertahankan kulit
dengan kriteria hasil, klien mampu berpartisipasi dalam mencegah luka, tidak
ada tanda-tanda kemerahan, tidak terdapat luka dan tidak ada tanda-tanda
infeksi.
Intervensi atau rencana keperawatan yang akan di lakukan pada
Ny.S untuk mengatasi masalah keperawatan kerusakan integritas kulit adalah
observasi kulit akan adanya kemerahan untuk mengetahui tanda-tanda
kerusakan intergitas kulit, mobilisasi pasien setiap 2jam sekali untuk
mencegah terjadinya trauma dan kerusakan jaringan, anjurkan keluarga
pasien untuk menjaga kulit pasien tetap bersih dan kering untuk menghindari
terjadi kelembapan pada kulit, anjurkan pasien agar tetap besih dan kering
untuk menjaga tetap bersih dan mencegah terjadinya intergitas pada kulit.
E. Implementasi keperawatan
Implementasi hari pertama hari Rabu 11 Maret 2015 pukul 11.15
WIB mengobservasi KU dan TTV dengan respon subyektif: pasien
mengatakan mau untuk diperiksa, respon obyektif: TD: 120/90 mmHg, N:
80x/menit, RR: 22 x/menit, S: 36°C
Pukul 11.30 WIB mengobservasi pola nyeri respon subyektif:
pasien mengatakan perutnnya nyeri seperti ditusuk-tusuk. P: pasien
mengatakan nyeri waktu bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri
pada post operasi abdomen pada kanan bawah, S: skala 6, T: nyeri sewaktu-
43
waktu durasi kurang lebih 5 menit, respon obyektif: pasien tampak tidak
rileks menahan kesakitan.
Pukul 11.45 WIB memberikan obat ranitidin 50 mg/12 Jam dan
antrain respon subyektif : pasien mau diberikan obat, respon obyektif : injeksi
masuk melalui iv tidak ada tanda-tanda infeksi. Pukul 12.00 WIB
mengajarkan mobilisasi dini ROM ekstermitas bawah dan atas dengan respon
subyektif: pasien mengatakan bersedia melakukan ambulasi dini respon
obyektif pasien kooperatif.
Pukul 12.15 WIB kaji pola tidur pasien dengan respon subyektif
pasien mengatakan tidur 2-3 jam/hari respon obyektif pasien terlihat lemas.
Pukul 13.00 WIB memberikan posisi yang nyaman (supinasi) dengan respon
subyektif pasien bersedia untuk di posisikan, respon obyektif pasien tampak
nyaman.
Pukul 13.15 WIB mengobservasi kulit akan adanya kemerahan
respon subyektif pasien mengatakan bersedia di periksa, respon obyektif ada
tanda-tanda kemerahan tidak ada luka di daerah punggung. Pukul 13.20 WIB
mobilisasi npasien setiap 2 jam sekali respon subyektif pasien bersedia di
posisikan 2 jam sekali, respon obyektif pasien tampak nyaman setelah di
posisikan miring ke kiri tidak ada tanda-tanda kemerahan.
Pukul 13.25 WIB menganjurkan pasien untuk mengunakan pakian
yang longgar, respon obyektif pasien tampak mengerti atas anjuran perawat
untuk menggunakan pakian yang longgar, Pukul 13.30 WIB menganjurkan
keluarga pasien untuk menjaga kulit pasien agar tetap bersih dan kering,
44
respon subyektif keluarga pasien tampak mengerti dan mengikuti anjuran
perawat, respon obyektif keluarga pasien mengeringkan keringat pasien
dengan tisu/sapu tangan.
Implementasi hari kedua hari kamis 12 maret 2015 pukul 11.15 WIB
mengobservasi keadaan umum dan TTV dengan respon subyektif: pasien
mengatakan mau untuk diperiksa, respon obyektif: TD: 120/90 mmHg, N:
80x/menit, RR: 22 x/menit, S: 36°C. Pukul 11.30 WIB mengobservasi pola
nyeri respon subyektif: pasien mengatakan perutnya nyeri seperti ditusuktusuk . P: pasien mengatakan nyeri waktu bergerak, Q: nyeri seperti ditusuktusuk, R: nyeri pada post op abdomen pada kanan bawah, S: skala 4, T: nyeri
sewaktu-waktu durasi kurang lebih 2-3 menit, respon obyektif: pasien tampak
tidak rileks menahan kesakitan.
Pukul 11.45 WIB memberikan obat ranitidin 50 mg/12 Jam dan
antrain respon subyektif : pasien mau diberikan obat, respon obyektif : injeksi
masuk melalui iv tidak ada tanda-tanda infeksi. Pukul 12.00 WIB
mengajarkan mobilisasi dini ROM ekstermitas bawah dan atas dengan respon
subyektif: pasien mengatakan bersedia melakukan ambulasi dini respon
obyektif pasien kooperatif
Pukul 12.15 WIB kaji pola tidur pasien dengan respon subyektif
pasien mengatakan tidur 2-3 jam/hari respon obyektif pasien terlihat lemas.
Pukul 13.00 WIB memberikan posisi yang nyaman (supinasi) dengan respon
subyektif pasien bersedia untuk di posisikan respon obyektif pasien tampak
nyaman Pukul 13.15 WIB mengobservasi kulit akan adanya kemerahan
45
respon subyektif pasien mengatakan bersedia di periksa, respon obyektif ada
tanda-tanda kemerahan tidak ada luka di daerah punggung.
Pukul 13.20 WIB mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali respon
subyektif pasien bersedia di posisikan 2 jam sekali, respon obyektif pasien
tampak nyaman setelah di posisikan miring ke kiri tidak ada tanda-tanda
kemerahan. Pukul 13.25 WIB menganjurkan pasien untuk mengunakan
pakean yang longgar, respon obyektif pasien tampak mengerti atas anjuran
perawat untuk menggunakan pakean yang longgar,
Pukul 13.30 WIB menganjurkan keluarga pasien untuk menjaga kulit
pasien agar tetap bersih dan kering, respon subyektif keluarga pasien tampak
mengerti dan mengikuti anjuran perawat, respon obyektif keluarga pasien
mengeringkan keringat pasien dengan tisu/sapu tangan.
Implementasi hari ke tiga pada hari jumat 13 maret 2015 pukul 11.15
WIB mengobservasi keadaan umum dan TTV dengan respon subyektif:
pasien mengatakan mau untuk diperiksa, respon obyektif: TD: 120/90 mmHg,
N: 80x/menit, RR: 22 x/menit, S: 36°C
Pukul 11.30 WIB mengobservasi pola nyeri respon subyektif: pasien
mengatakan perutnnya nyeri seperti ditusuk-tusuk . P: pasien mengatakan
nyeri waktu bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: nyeri pada post op
abdomen pada kanan bawah, S: skala 2, T: nyeri sewaktu-waktu durasi
kurang lebih 1-2 menit, respon obyektif: pasien tampak tidak rileks menahan
kesakitan.
46
Pukul 11.45 WIB memberikan obat ranitidin 50 mg/12 Jam dan
antrain respon subyektif : pasien mau diberikan obat, respon obyektif : injeksi
masuk melalui iv tidak ada tanda-tanda infeksi. Pukul 12.00 WIB
mengajarkan mobilisasi dini ROM ekstermitas bawah dan atas dengan respon
subyektif: pasien mengatakan bersedia melakukan ambulasi dini respon
obyektif pasien kooperatif. Pukul 12.15 WIB kaji pola tidur pasien dengan
respon subyektif pasien mengatakan tidur 2-3 jam/hari respon obyektif pasien
terlihat lemas.
Pukul 13.00 WIB memberikan posisi yang nyaman (supinasi)
dengan respon subyektif pasien bersedia untuk di posisikan respon obyektif
pasien tampak nyaman Pukul 13.15 WIB mengobservasi kulit akan adanya
kemerahan respon subyektif pasien mengatakan bersedia di periksa, respon
obyektif ada tanda-tanda kemerahan tidak ada luka di daerah punggung.
Pukul 13.20 WIB mobilisasi npasien setiap 2 jam sekali respon
subyektif pasien bersedia di posisikan 2 jam sekali, respon obyektif pasien
tampak nyaman setelah di posisikan miring ke kiri tidak ada tanda-tanda
kemerahan.
Pukul 13.25 WIB menganjurkan pasien untuk mengunakan pakean
yang longgar, respon obyektif pasien tampak mengerti atas anjuran perawat
untuk menggunakan pakean yang longgar.
Pukul 13.30 WIB menganjurkan keluarga pasien untuk menjaga kulit
pasien agar tetap bersih dan kering, respon subyektif keluarga pasien tampak
47
mengerti dan mengikuti anjuran perawat, respon obyektif keluarga pasien
mengeringkan keringat pasien dengan tisu/sapu tangan.
F. Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan hari Rabu, 11 Maret 2015 pukul 15.00 WIB
diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik di
lakukan evaluasi dcengan metode SOAP, pasien mengatakan perutnya seperti
di tusuk-tusuk P: pasien mengatakan nyeri saat bergerak, Q: seperti di tusuktusuk, R: nyeri pada perut kanan bawah post op app, S: sekala 6, T: nyeri
sewaktu-waktu kurang lebih 5 menit, pasien tampak tidak rilek menahan
sakit, masalah belum teratasi, planning lanjutkan intervensi observasi ku
TTV, TD:120/70 mmHg, N:80x/menit R:24x/menit S:36°c, observasi skala
nyeri, anjurkan tehnik relaksasi nafas dalam, kalaborasi dengan dokter injeksi
analgesik (antrain 1000mg)
Evaluasi keperawatan hari Rabu, 11 Maret 2015 pukul 15.00 WIB
diagnosa keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kendali otot di lakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien
mengatakan aktivitas terbatas, pasien tampak tidak bisa memenuhi kebutuhan
mandirinya secara maksimal, masalah belum teratasi, planning lamjutkan
intervensi, kaji kemampuan pasien, anjurkan mobilisasi pada pasien ROM
aktif dan tirah baring miring kanan miring kiri, kolaborasi dengan dokter
dalam pemberian obat (cefotaxim 1000mg/12 jam)
48
Evaluasi keperawatan hari Rabu, 11 Maret 2015 pukul 15.00 WIB
diagnosa keperawatan gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu
lingkungan sekitar dilakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien
mengatakan tidur 2-3 jam,pasien juga mengatakan suhu dilingkungan ruang
terasa panas, pasien terlihat lemas, masalah belum teratasi, planning lanjutkan
intervensi, kaji pola tidur, berikan posisi yang nyaman (supinasi), anjurkan
kepada keluarga untuk memberikan pijatan dipunggung/ kaki sebelum pasien
tidur.
Evaluasi keperawatan hari Rabu, 11 Maret 2015 pukul 15.10 WIB
diagnosa kerusakan intergritas berhubungan dengan mobilitas fisik dilakukan
evaluasi dengan metode SOAP, pasien mengatakan bersedia diposisikan
mengikuti intruksi dari perawat, pasien tampak lebih nyaman dari
sebelumnnya, masih ada kemerahan dipunggung dan tumit tidak ada luka,
masalah belum teratasi, planning lanjutkan intervensi observasi kulit akan
adannya kemerahan, mobilisasi setiap 2 jam sekali.
Evaluasi keperawatan hari Kamis, 12 Maret 2015 pukul 13.30 WIB
diagnosa keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik di
lakukan evaluasi dcengan metode SOAP, pasien mengatakan perutnya seperti
di tusuk-tusuk P: pasien mengatakan nyeri saat bergerak, Q: seperti di tusuktusuk, R: nyeri pada perut kanan bawah post op app, S: sekala 4, T: nyeri
sewaktu-waktu kurang lebih 2-3 menit, pasien tampak rilek, masalah teratasi
sebagian dengan nyeri berkurang menjadi 4, planning lanjutkan intervensi
observasi keadaan umum dan
TTV, TD:120/70 mmHg, N:80x/menit
49
R:24x/menit S:36°C, observasi skala nyeri, anjurkan tehnik relaksasi nafas
dalam, kalaborasi dengan dokter injeksi analgesik (antrain 1000mg)
Evaluasi keperawatan hari Kamis, 12 Maret 2015 pukul 13.35 WIB
diagnosa keperawatan hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kendali otot di lakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien
mengatakan sudah mampu melakukan latian walaupun belum maksimal,
pasien tampak bisa melakukan aktivitas tapibelum maksimal, seperti duduk,
masalah teratasi sebagian, planning lanjutkan intervensi, kaji kemampuan
pasien, anjurkan mobilisasi pada pasien ROM aktif dan tirah baring miring
kanan miring kiri, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat (cefotaxim
1000mg/12 jam)
Evaluasi keperawatan hari Kamis, 12 Maret 2015 pukul 13.40 WIB
diagnosa keperawatan gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu
dilingkungan sekitar dilakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien
mengatakan tidur 4-5 jam,pasien juga mengatakan suhu dilingkungan ruang
masih sedikit terasa panas pasien tampak lebih rileks dan segar, masalah
teratasi sebagian, planning lanjutkan intervensi, kaji pola tidur, berikan posisi
yang nyaman (supinasi), anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pijatan
dipunggung/ kaki sebelum pasien tidur.
Evaluasi keperawatan hari Kamis, 12 Maret 2015 pukul 13.45 WIB
diagnosa kerusakan intergritas berhubungan dengan mobilitas fisik dilakukan
evaluasi dengan metode SOAP, pasien mengatakan bersedia diposisikan
mengikuti intruksi dari perawat, pasien tampak lebih nyaman dari
50
sebelumnnya, masih ada kemerahan dipunggung dan tumit tidak ada luka,
masalah belum teratasi, planning lanjutkan intervensi observasi kulit akan
adannya kemerahan, mobilisasi setiap 2 jam sekali.
Evaluasi keperawatan hari Jum’at, 13 Maret 2015 pukul 13.40 WIB
diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologis dilakukan
evaluasi dengan metode SOAP, pasien mengatakan nyeri sudah berkurang
hanya terasa cekit-cekit, P saat gerak, Q cekit-cekit, R perut kanan bawah, S:
nyeri 2, T: nyeri sewaktu-waktu kurang lebih 1-2 menit, pasien tampak lebih
tenang, dan rilkes, masalah tertasi dengan nyeri berkurang menjadi 2, wajah
pasien tampak rilkes dan tenang, hentikan intervensi.
Evaluasi keperwatan hari Jum’at, 13 Maret 2015 pukul 13.45 WIB
diagnosa hambatan mobilitas fisik berhungan dengan penurunan kendali otot
dilakukan evalusi dengan metode SOAP, pasien mengatakan sudah bisa
duduk dan berdiri serta berjalan berlahan-lahan, pasien tampak mampu
melakukan aktivitas yang ringan, hentikan intervensi.
Evaluasi keperawatan hari Jum’at, 13 Maret 2015 pukul 13.50 WIB
diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar
dilakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien mengatakan sudah bisa
tidur kurang lebih 7 jam,pasien juga mengatakan suhu dilingkungan ruang
sudah tidak panas, pasien tampak rileks, kantung mata tidak hitam, masalah
teratasi dengan tidur 7 jam, raut wajah tampak rileks, kantung mata tidak
hitam, hentikan intervensi.
Evaluais keperawatan hari Jum’at, 13 Maret 2015 pukul 13.55 WIB
diagnosa kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan imobolitas fisik
51
dilakukan evaluasi dengan metode SOAP, pasien mengatakan bersedia
diposisikan mengikuti intruksi dari perawat, pasien tampak lebih nyaman,
tidak ada tanda kemerahan dipunggung dan kulit tidak ada luka, masalah
teratasi, hentikan intervensi.
BAB V
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas tentang aplikasi jurnal pemberian
mobilisasi dini secara teratur untuk mempersingkat waktu penyembuhan luka
pasca operasi appendictomi Pada Asuhan Keperawatan Ny. S dengan post operasi
appendiktomi di Ruang Kantil 2 RSUD karanggayar yang dilakukan pada tanggal
11 – Maret 2015 Penulis juga akan membahas tentang adanya kesesuaian maupun
kesenjangan antara teori dengan asuhan keperawatan pada Ny. S dengan post
operasiappendiktomi.
A. Pengkajian
Pengkajian adalah proses pengumpulan data secara sistematis yang
bertujuan untuk menentukan status kesehatan dan fungsional pada saat ini dan
waktu sebelumnya, serta untuk menentukan pola respons klien saat ini dan
waktu sebelumnya (Carpenito, 2005). Pada tahap ini penulis menggunakan
metode wawancara kepada keluarga dan pasien, metode observasi, metode
studi dokumentasi yang mana penulis mengambil data dari catatan medis
pasien. Dimana catatan medis tersebut berisi tentang riwayat kesehatan
pasien, program terapi, dan data penunjang lainnya yang berhubungan dengan
perkembangan kesehatan pasien. Pasien masuk rumah sakit pada tanggal 10,
Maret 2015 jam 08.30 WIB dibawa oleh keluarga dengan keluhan badan
lemas, mual, tidak nafsu makan, perut terasa penuh dan terasa nyeri, saat di
IGD dilakukan pemeriksaan TTV dengan TD 120/70 mmHg, RR 15x/menit,
52
53
80 x/menit, S 37,7 °C, dilakukan pemasangan infus RL 20 tmp, terapi injeksi
ranitidin 30mg/8 jam, antrain 30mg/8 jam. Pada jam 10.00 WIB pasien
dipindahkan kebangsal bedah kantil 2, kemudian pasien dibawa keruang
operasi pada jam 11.00 WIB. Pada tanggal 11, Maret 20115 jam 11.00 WIB,
mahasiswa melakukan pengkajian pada pasien dengan keluhan pasien
mengatakan lemas, nyeri pada luka operasi appendiktomi, dilakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital TD 110/70 mmHg, N 76 x/menit, RR 20
x/menit, S 37,6°C.
Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga tidak ada penyakit
keturunan atau menukar seperti hipertensi, asma, diabetes melitus, jantung.
Penulis melakukan pengkajian pola kesehatan fungsional 11 fungsi
gordon.Pengkajian yang penulis uraikan pola istirahat tidur pasien
mengatakan tidak bisa tidur, tidurpun terbangun terus karena nyeri pada luka
post appendiktomidi kuadran 4. Keluarga juga mengatakan baru pertama kali
ini pasien menjalani operasi. Wajah pasien tampak lemas, tampak sayu,
pasien tampak meringis kesehatan menahan sakit.
Pengkajian pola aktivitas dan latihan didapatkan hasil aktivitas pasien
seperti makan, minum, berpakain, mobilitas ditempat tidur, dibantu oleh
kelurga, sekor aktifitas keluarga 2, sedangkan untuk toileting pasien terpasang
dengan selang urine.
Pola kognitif perceptual yang penulis uraikan yaitu (PQRST). P
(Provocate) yang berarti penyebab atau stimulus-stimulus nyeri, Q (Quality)
yang berarti kualitas nyeri yang dirasakan, R (Region) yang berarti lokasi
54
nyeri, S (Severe) yang berarti tingkat keparahan nyeri, T (Time) yang berarti
awitan, durasi dan rangkaian nyeri (Prasetya, 2010).
P (provocate) klien merasa nyeri pada perut kanan bawah. Klien
mengatakan nyeri karena post appendiktomi, Q (quality) nyeri terasa seperti
tertusuk benda tajam, R (regional) luka dibagian abdomen kanan bawah,S
(skala) dengan skala nyeri 6, T (Time) nyeri muncul selama 5 menit setiap
ada gerakan.
Hasil pemeriksaan USG pada tanggal 10, Maret 2015 pada waktu
pemeriksaan
USG
abdomen
tampak,
MC
burney
gambar
proses
sedang(appendiksitis sup akut), tidak tampak tanda-tanda inflaret, tidak
tampak tanda-tanda perfolasi.
B. Perumusan masalah
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis tentang respons
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan yang aktual
dan potensial, atau proses kehidupan (Potter dan Perry, 2005).
1.
Nyeri akut
Diagnosa keperawatan : nyeri akut berhubungan agen cidera fisik:
post operasiappendiktomi. Nyeri akut adalah pengalaman sensori dan
emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan
jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal
kerusakan sedemikian rupa (intermational association for the study of
pain), awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intersitas ringan hingga
55
berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan
berlangsung <6 bulan (Herman, 2012).
Batasan karakteristik menurut (Herman, 2012) perubahan selera
makan, perubahan tekanan darah, perubahan frekuensi jantung,
perubahan frekuensi pernafasan, laporan isarat, diaforesis, distraksi,
mengekpresikan perilaku, masker wajah, sifat melindungi area nyeri,
fokus menyempit, indikasi nyeri yang dapat diamati, perubahan posisi
untuk menghindari nyeri, sikap tubuh melindungi, dilatasi pupil,
melaporkan nyeri secara ferbal, fokus pada nyeri sendi, gangguan tidur.
Berdasarkan batasan data pendukung yang penulis temukan data
subyektif: P (Provocate) yang berarti penyebab atau stimulus-stimulus
nyeri, Q (Quality) yang berarti kualitas nyeri yang dirasakan, R (Region)
yang berarti lokasi nyeri, S (Severe) yang berarti tingkat keparahan nyeri,
T (Time) yang berarti awitan, durasi dan rangkaian nyeri, data obyektif :
pasien tampak meringis kesakitan menahan nyeri post operasi
apendiktomi.
Batasan karakteristik yang dialami oleh Ny. S dengan
apendiktomi pada diagnosa nyeri akut, sikap melindungi area nyeri,
perubahan posisi untuk menghindari nyeri, sikap tubuh melindungi,
melaporkan nyeri secara verbal, gangguan tidur.
Penulis merumuskan diagnosa keperawatan telah disesuaikan
dengan (Hermand, 2012). Penulis mencantumkan diagnosa nyeri akut
berhubungan dengan agen cidera fisik dengan alasan mengacu pada
56
pengkajian yaitu data subyektif pasien mengatakan nyeri pada perut
kanan bawah karena luka post operasi, nyeri seperti ditusuk-tusuk, nyeri
pada bagian post operasiabdomen kuadran 4, skala 6, nyeri hilang timbul
kurang lebih 5 menit setiap ada gerakan. Data obyektif: pasien tampak
meringis kesakitan menahan nyeri post operasiappendiktomi. Batasan
karakteristik nyeri akut menurut (Asuhan keperawatan nanda nic-noc,
2013) yaitu perubahan tekanan darah, sikap melindungi area nyeri,
mengekpresikan perilaku (misal merengek, menangis, gelisah), laporan
isyarat, indikasi nyeri yang diamati, sikap tubuh melindungi, melaporkan
nyeri secara verbal.
Berdasarkan data pengkajian sudah diperoleh data tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 76 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 37,6 °C,
tetapi penulis belum mencantumkan dianalisa data asuhan keperawatan,
namun diagnosa keperawatan yang diangkat sudah tepat.
Penulis mengangkat diagnosa nyeri akut berhubungan dengan
agen cidera fisik : post operasi appendiktomi, sebagai prioritas diagnosa
utama karena yang dirasakan pasien jika tidak segera ditangani akan
menganggu aktivitas pasien, dan kesembuhan pasien, selain itu juga
diagnosa ini merupakan keluhan utama yang muncul pada pasien.
2.
Gangguan pola tidur
Diagnosa keperawatan : gangguan pola tidur berhubungan dengan
gangguan rasa nyaman. Gangguan pola tidur adalah gangguan kualitas
dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal (Hermand, 2012).
57
Batasan karakteristik gangguan pola tidur menurut (Herman,
2012). Yaitu meliputi : kurang puas tidur, keluhan verbal merasa kurang
istirahat,
penurunan
kemampuan
fungsi.
Data
subyektif
pasien
mengatakan sebelum sakit tidurnnya 7-8 jam perhari, selama sakit pasien
mengatakan tidak bisa tidur nyenyak tidur hanya 2-3 jam sehari, suhu
sekitar terasa panas data obyektif pasien tampak pucat, kantung mata
hitam.
Penulis mengangkat diagnosa pola tidur berhubungan dengan
gangguan suhu lingkungan sekitar karena antara teori dengan data
pengkajian yang ditemukan oleh penulis telah sesuai sehingga diagnosa
tersebut sudah tepat untuk diangkat sesui diagnosa.
Penulis mengkat diagnosa gangguan pola tidur berhubungan
dengan rasa nyaman sebagai diagnosa kedua karena mengacu pada teori
Abraham maslow, yang menyatakan bahwa kebutuhan dasar manusia
yang utama adalah kebutuhan fisiologis yang meliputi kebutuhan oksigen
dan pertukaran gas, kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan makanan,
kebutuhan eliminasi urine dan alve, kebutuhan istirahat dan tidur,
kebutuhan aktivitas, kebutuhan kesehatan temperatur tubuh, dan
kebutuhan seksual.
58
3.
Hambatan mobilitas fisik
Diagnosa keperawatan : hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan penurunan kendali otot. Hambatan mobilitas fisik adalah
keterbatas pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih akstremitas
secara mandiri dengan terarah (Herman, 2012).
Batasan karakteristik hambatan mobilitas fisik menurut (Herman,
2012) yaitu perilaku meliputi :
kesulitan membolak-balik posisi,
keterbatasan rentang gerak sendi, keterbatasan kemampuan untuk
melakukan keterampilan motorik kasar.
Penulis mencantumkan diagnosa hambatan mobilitas fisik
berhubungan dengan penurunan kendali otot dengan alasan mengacu
pada pengkajian yaitu data subyektif pasien mengatakan sulit untuk
bergerak, sulit untuk memposisikan miring kanan, miring kiri, data
obyektif pasien tampak lemas, sulit untuk bergerak, aktivitas dan latian
dibantu oleh keluraga. Penulis mengangkat diagnosa keperawatan
hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot
karena antara teori dan data pengkajian yang ditemukan penulis telah
sesuai, sehingga diagnosa tersebut sudah tepat untuk diangkat diagnosa.
Penulis mengangkat diagnosa keperawatan hambatan mobilitas
fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot, sebagai priotitas
diagnosa ketiga karena mengacu pada teori Abraham maslow, yang
menyatakan bahwa kebutuhan dasar manusia yang utama adalah
kebutuhan fisiologis yang meliputi kebutuhan oksigen dan pertukaran
59
gas, kebutuhan cairan dan elektrolit, kebutuhan makanan, kebutuhan
eliminasi uirine dan alve, kebutuhan istirahat dan tidur, kebutuhan
aktivitas, kebutuhan kesehatan temperatur tubuh, dan kebutuhan seksual.
Berdasarkan diagnosa yang sudah diangkat penulis tidak
mengalami hambatan dalam melakukan pengkajian pada pasien.
4.
Kerusakan intergritas kulit
Diagnosa keperawatan : kerusak intergritas kulit berhubungan
dengan immobilitas fisik. Kerusakan intergritas kulit adalah perubahan
atau gangguan epidermis dan atau dermis (Hermand, 2012).
Batasan
karakteristik
kerusakan
intergritas
kulit
menurut
(Herman, 2012) yaitu kerusakan lipisan kulit, gangguan permukaan kulit.
Penulis mencantumkan diagnosa kerusakan intergritas kulit berhubungan
dengan imobilitas fisik dengan alasan mengacu pada pengkajian yaitu
data subyektif pasien mengatakan lemah untuk bergerak karena nyeri
diperut kanan bawah,
data subyektif pasien tampak lemah hanya
berbaring ditempat tidur kulit lembab, kulit berwarna kemerahan pada
abdomen kanan bawah. .
Penulis dapat mengangkat diagnosa kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan imobilisasi fisik karena antara teori dengan data
yang ditemukan penulis telah sesuai sehingga diagnosa tersebut dapat
diangkat.
Penulis
mengangkat
diagnosa
kerusakan
intergritas
kulit
berhubungan dengan faktor mekanis, sebagai prioritas diagnosa keempat
60
karenadidapatkan data dari pasien kulit pasien tampak kemerahan karena
pasien berbaring terlalu lama maka dari itu harus ditangani untuk
mencegah kelecetan pada punggung pasien agar tidak semakin parah.
Diagnosa keperawatan yang tidak diangkat adalah resiko tinggi
terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan
utama, perforasi atau ruptur pada apendiks, pembentukan abses ;
prosedur invasif infisi bedah. Hal tersebut karena pada data penunjang
didapatkan hasil laboratorium lekosit dan hemoglobin dalam batas
normal : leukosit 6,4 103/µl(5-10), trombosit 204103/µl(150-300).
Selanjutnya kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,
prognosis, dan kebutuhan pengobatan dengan tidak mengenal sumber
informasi dan salah interpretasi informasi.
C. Intervensi
Perencanaan adalah pengembangan strategi desain untuk mencegah,
mengurangi, dan mengatasi masalh-masalah yang telah diidentifikasi dalam
diagnosis keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh mana
perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan masalah dengan efektif dan
efisien, menurut (Nikmatur rohmah & Saiful walid, 2012).
Intervensi atau rencana yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan
dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada, sehingga rencan tindakan dapat
dilaksanakan dengan SMART, spesifik, Measurable, Acceptance, Rasional
dan Timing(Nikmatur rohmah & Saiful walid, 2012). Pembahasan dari
61
intervensi yang meliputi tujuan, kriteria hasil dan tindakan yaitu pada
diagnosa keperawatan :
1.
Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik. Pada kasus Ny. S
penulis melakukan rencana tindakan selam 3x24 jam diharapkan nyeri
hilang atau berkurang dengan kriteria hasil pasien tidak merasa nyeri,
pasien tampak nyaman, nyeri teratasi, skala nyeri berkurang dari 6
menjadi 2 (Hermand, 2012). Intervensi yang dilakukan kaji TTV dengan
rasional untuk mengetahui keadaan pasien, kaji tingkatan nyeri dengan
rasional untuk mengetahui skala nyeri, ajarkan teknik relaksasi nafas
dalam dengan rasional untuk mengurangi rasa nyeri, kolaborasi dengan
dokter untuk pemberian obat injeksi dengan rasioanl untuk mengurangi
rasa nyeri dengan obat (Hermand, 2012)
2.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar, Pada
kasus Ny. S penulis melakukan rencana tindakan selama 3x24 jam
diharapkan pola tidur pasien tidak terganggu dengan kriteria hasil pasien
tidur nyenyak 7-8 jam, raut wajah rileks segar, kantung mata tidak hitam
(Hermand, 2012). Intervensi yang dilakukan yaitu kaji pola tidur pasien
dengan rasioanal untuk mengetahui kualitas tidur pasien, memberikan
posisi yang nyaman (supinasi) dengan rasional untuk memberikan
kenyamanan pada pasien, jelaskan tentang pentingnnya pola tidur saat
sakit dengan rasional untuk menambah pengetahuan pasien, ajarkan
kepada keluarga untuk memberikan pijatan pada kaki atau punggung
62
sebelum pasien tidur dengan rasional untuk menambah kenyamanan
pasien dan memperbaiki kualitas tidur.(Hermand, 2012)
3.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kendali otot. Pada kasus
Ny. S penulis melakukan rencana tindakan selama 3x24 jam diharapkan
pasien mampu melakukan aktifitas dan latian secara mandiri dengan
kriteria hasil pasien mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri, pasien
mampi melakukan aktifitas dan latian secara mandiri (Hermand, 2012).
Intervensi yang dilakukan adalah kaji kemampuan pasien dengan rasional
untuk mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam melaksanakan
aktivitas, ajarkan mobilisasi pada pasie ROM aktif dan alih baring
dengan rasional untuk memperlancar peredaran darah, berikan edukasi
kapada pasien dan keluarga tentang pentinggnya mobilisasi dengan
rasional untuk menambah pengetahuan pasien dan keluarga, kolaborasi
dengan tim medis dengan rasional untuk mempercepat penyembuhan
(Hermand, 2012)
4.
Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan immobilitas fisik. Pada
Ny. S penulis melakukan rencana tindakan selama 3x24 jam diharapkan
pasien mampu mempertahankan kulit dengan kriteria hasil klien mampu
berpatisipasi dalam mencegah luka, tidak ada tanda-tanda kemerahan,
tidak terdapat luka (Hermand, 2012) Intervensi yang dilakukan adalah
observasi kulit akan adannya kemerahan dengan rasioanal untuk
mengetahui tanda-tanda kerusakan intergritas kulit, mobilisasi pasien
setiap 2 jam sekali dengan rasional untuk mencegah terjadinnya trauma
63
dan kerusakan jaringan, anjurkan keluarga pasien untuk menjaga kulit
pasien tetap bersih dan kering dengan rasional untuk menghindari
terjadinnya kelembapan pada kulit, anjurkan pasien agar tetap bersih dan
kering untuk mencaga agar tetap bersih dan kering dengan rasional
untuk mencegah perubahan pada kulit (Hermand, 2012)
D. Implementasi
Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencari tujuan
yang telah di tetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi
pengumpulan data berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan
sesudah pelaksana tindakan, serta menilai data yang baru, menurut (Nikmatur
Rohmah & Saiful Walid, 2012).
Pemberian informasi mengenai kondisi yang di alami pasien mampu
menurunkan tingkat nyeri setelah operasi. Implementasi yang di lakukan
kepada pasien selama 3 x 24 jam yaitu :
1.
Diagnosa pertama nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.
Tindakan
keperawatan
yang
dilakukan
penulis
yaitu
mengobservasi keluhan utama dan TTVuntuk mengetahui keadaan umum
pasien jika dilakukan TTV penulis akan mengetahui keaadaan umum
pasien(Potter dan Perry, 2005).
mengobservasi pola nyeri, PQRST untuk mengetahui tindakan
nyeri pasien, selain itu juga mengevaluasi respon pasien. Keuntungan
pengkajian nyeri bagi pasien adalah nyeri diidentifikasi, dikenali sebagai
64
suatu yang nyata yang dapat diukur dan dijelaskanserta digunakan untuk
mengevaluasi perawatan (Potter dan Perry, 2005).
Mengajarkan
tehnik
relaksasi
nafas
dalam
yaitu
untuk
menurunkan intensitas nyeri dan merilekkan kondisi pasien dan apabila
tidak diajarkan relaksasi nafas dalam intensitas nyeri tidak berkurang
pasien tidak rilek (Potter dan perry, 2005).
Memberikan terapi farmakologismelalui intravena memberikan
obat ranitidin 50mg, antrain50mg dengan golongan dan kandungan
antiemetik
dengan
fungsi
farmakologis
yaitu
anti
mual
dan
muntah(Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia, 2009).
Hari kedua dan ketiga pasien masih tetap mengobservasi nyeri
dan menentukan skala nyeri pada pasien. Pada saat implementasi hari
pertama penulis sulit mengaplikasikan karena pasien masih takut dibuka
balutannya.
2.
Diagnosa kedua gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu
lingkungan sekitar
Tindakan keperawatan yaitu kaji pola tidur pasien, agar
mengetahui kualitas tidur pasien (Potter dan Perry, 2005)memberikan
posisi yang nyaman (supinasi), agar pasien dapat tertidur dengan
nyenyak dan tidak bangun pada malam hari (Potter dan Perry,
2005)untuk diagnosa kedua ini sudah sesuai perencanaan.
65
3.
Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot
Tindakan keperawatan yang dilakukan yaitu mengajarkan
mobilisasi dini ROM
dan miring kanan, miring kiri untuk
mengembalikan fungsi-fungsi otot dan meningkatkan kekuatan otot.
Latihan rentang gerak merupakan gerakan yang mungkin
dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan tubuh yaitu, sagital,
frontal, dan transversal (Potter dan Perry, 2006).
Latihan rentang gerak ini dilakukan pada masing-masing
persendian dengan melakukan gerakan yang tidak membahayakan .
Latihan ROM dapat dilakukan secara aktif dan pasif. Latihan ROM
secara pasif merupakan latihan dimana perawat menggerakan persendian
pasien sesuai dengan rentang geraknya. Sedangkan latihan ROM secara
aktif adalah ROM yang dilakukan oleh pasien sendiri tanpa bantuan
perawat dan alat bantu. Perbedaan latihan ROM pasif dan aktif
bergantung pada ada tidaknya bantuan yang diberikan perawat pada
pasien dalam melakukan ROM (Asmadi, 2009).
Mobilisasi dini bertujuan untuk mengurangi komplikasi pasca
bedah, terutama atelektasis dan pneumoniahipostasis, mempercepat
terjadinya buang air besar dan buang air kecil secara rasa nyeri pasca
operasi
(E.
Oswari,
2005).
Mobilisasi
yang
dilakukan
untuk
meningkatkan ventilasi, mencegah stasis darah dengan meningkatkan
kecepatan sirkulasi pada ekstremitas dan kecepatan pemulihan pada luka
66
abdomen (Suzanne, 2005).Untuk diagnosa ketiga ini sudah sesuai dengan
perencanaan.
4.
Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan immobilitas fisik
Tindakan keperawatan yang dilakukan penulis untuk mengatasi masalah
keperawatan kerusakan integritas kulit adalah mengkaji kemampuan
pasien dengan rasional untuk mengetahui tingkat kemampuan pasien
dalam melaksanakan aktivitas, mengajarkan mobilisasi pada pasien ROM
aktif dan alih baring dengan rasional untuk memperlancar peredaran
darah, memberikan edukasi kapada pasien dan keluarga tentang
pentinggnya mobilisasi dengan rasional untuk menambah pengetahuan
pasien dan keluarga (Hermand, 2012)
Tujuan penulis melakukan tindakan mobolisasi dini pada asuhan
keperawatan Ny. S dengan post operasi appendiktomi bertujuan untuk
mempercepat pemulihan luka pasca pembedahan. Hal ini sesuai dengan
riset keperawatan yang telah dilakukan oleh
(Elfarida, 2013) ada
hubungan antara mobilisasi dini dengan lamanya penyembuhan luka post
operasi appendik. Menurut penelitian (Elfarida, 2013) manfaat dari
mobilisasi
dini
mengurangi
rasa
nyeri
menjaga
aliran
darah,
mengembalikan fungsi fisiologis organ-organ yang pada akhirnya dapat
mempercepat penyembuhan luka.
Menurut
(Hermand,
2012)
mobilisas
dapat
mempercepat
penyembuhan luka karena adanya pergerakan akan meningkatkan
67
ventilasi, mencegah statis darah dengan meningkatkan sirkulasi sehingga
akan mempercepat pemulihan luka pada abdomen.
Penulis melakukan mobilisasi dini dengan cara melakukan latihan
ROM aktif dilakukan dalam waktu 2 jam dalam satu hari pengelolaan.
Hal ini sesuai dengan teori (Smezer dan Bare, 2008) menyebutkan bahwa
latihan ROM dapat dilakukan 4 sampai 5 kali sehari, dengan waktu 10
menit untuk setiap latihan. Dalam latihan ROM aktif penulis melibatkan
keluarga.
E. Evaluasi
Evaluasi yang di lakukan oleh penulis di sesuaikan dengan kondisi
pasien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat dilaksanakan
dengan SOAP (subyective, obyective, analisa, planning). (Dermawan, 2012)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan hari pertama, dilakukan
evaluasi pada hari rabu 11 Maret 2015 jam 13.45dengan menggunakan
metode SOAP pada diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen
ciderafisik.
Data subyektif pasien mengatakan nyeri. P: pasien mengatakan nyeri
saat bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: pada perut kanan bawah post
op appendiktomi, S: skala 6 , T: nyeri sewaktu-waktu kurang lebih 5 menit.
Data obyektif pasien tampak tidak rileks tampak menahan sakit, analisa,
masalah belum teratasi, planning: lanjutkan intervensi.Observasi keadaan
68
umum dan TTV, observasi skala nyeri, anjurkan teknik relaksasi nafas dalam,
kolaborasi dengan dokter pemberian injeksi analgetik.
Evaluasi pada hari rabu 11, Maret 2015 dengan metode SOAP dengan
diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan sekitar.
Data subyektif pasien mengatakan tidur 2-3 jam, data obyektif pasien terlihat
lemah, assessment masalah belum teratasi, planning: lanjutkan intervensi.
Kaji pola tidur, berikan posisi yang nyaman (supinasi), anjurkan kepada
keluarga untuk memberikan pijatan dipunggung atau kaki sebelum pasien
tidur.
Evaluasi pada hari rabu 11, Maret 2015 dengan metode SOAP dengan
diagnosa hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali
otot. Data subyektif pasien mengatakan aktivitas terbatas, data obyektif
pasien tampak tidak bisa memenuhi kebutuhan mandirinnya secara maksimal,
analisa, masalah belum teratasi, planning: lanjutkan intervensi. Kaji
kemampuan pasien, anjurkan mobilisasi pada pasien ROM aktif dan tirah
baring miring kanan, miring kiri.
Evaluasi pada hari rabu 11 Maret 2015 dengan metode SOAP dengan
diagnosa kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan faktor mekanis.
Data subyektif pasien mengatakan bersedia diposisikan mengikuti intruksi
dari perawat, data obyektif pasien tampak lebih nyaman dari sebelumnnya,
analisa masalah teratasi sebagian, planning: lanjutkan intervensi. Observasi
kulit adannya kemerahan, mobilisasi setiap 2 jam sekali.
69
Evaluasi hari kedua pada hari kamis 12, Maret 2015 dengan metode
SOAP dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.
Data subyektif pasien mengatakan nyeri. P: pasien mengatakan nyeri saat
bergerak, Q: nyeri seperti ditusuk-tusuk, R: pada perut kanan bawah post
operasiappendiktomi, S: skala 4 , T: nyeri sewaktu-waktu kurang lebih 2-3
menit. Data obyektif pasien tampak tidak rileks tampak menahan sakit,
analisa : masalah teratasi sebagian dengan nyeri berkurang menjadi 4,
planning: lanjutkan intervensi.Observasi keadaan umum dan TTV, observasi
skala nyeri, anjurkan teknik relaksasi nafas dalam, kolaborasi dengan dokter
pemberian injeksi analgetik.
Evaluasi pada hari kamis 12, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan
sekitar. Data subyektif pasien mengatakan tidur 4-5 jam, data obyektif pasien
tampak lebih rileks dan segar, analisamasalah teratasi sebagian, planning:
lanjutkan intervensi. Kaji pola tidur, berikan posisi yang nyaman (supinasi),
ajarkan kepada keluarga untuk memberikan pijatan dipunggung atau kaki
sebelum pasien tidur.
Evaluasi pada hari kamis 12, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan
kendali otot. Data subyektif pasien mengatakan mampu melakukan latihan
walaupun belum maksimal, data obyektif pasien tampak bisa melakukan
aktifitas tapi belum maksimal seperti duduk, analisa masalah teratasi
sebagian, planning: lanjutkan intervensi. Kaji kemampuan pasien, ajarkan
70
mobilisasi pada pasien ROM aktif dan tirah baring miring kanan, miring kiri,
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat cefotaxim 1000mg.
Evaluasi pada hari kamis 12, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan faktor
mekanis. Data subyektif pasien mengatakan bersedia diposisikan mengikuti
intruksi dari perawat, data obyektif pasien tampak lebih nyaman dari
sebelumnnya, analisa masalah teratasi sebagian, planning: lanjutkan
intervensi. Observasi kulit adannya kemerahan, mobilisasi setiap 2 jam sekali.
Evaluasi hari ketiga pada hari jumat 13, Maret 2015 dengan metode
SOAP dengan diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.
Data subyektif pasien mengatakan nyeri. P: pasien mengatakan nyeri saat
bergerak,
Q:
cekit-cekit,
R:
pada
perut
kanan
bawah
post
operasiappendiktomi, S: skala 2, T: nyeri sewaktu-waktu kurang lebih 1-2
menit. Data obyektif pasien tampak tenang dan rileks, analisa masalah teratasi
dengan nyeri berkurang menjadi 2 wajah pasien tampak rileks dan tenang,
planning: hentikan intervensi.
Evaluasi pada hari jumat 13, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa gangguan pola tidur berhubungan dengan suhu lingkungan
sekitar . Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa tidur kurang lebih 7
jam, data obyektif pasien tampak lebih rileks dan segar, analisa masalah
teratasi dengan tidur 7 jam, planning: hentikan intervensi.
Evaluasi pada hari jumat 13, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan
71
kendali otot. Data subyektif pasien mengatakan sudah bisa duduk dan berdiri
serta berjalan perlahan-lahan, data obyektif pasien tampak mampu melakukan
aktivitas yang ringan, assessment masalah teratasi dengan latihan ringan,
planning: hentikan intervensi.
Evaluasi pada hari jumat 13, Maret 2015 dengan metode SOAP
dengan diagnosa kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan faktor
mekanis. Data subyektif pasien mengatakan bersedia diposisikan mengikuti
intruksi dari perawat, data obyektif pasien tampak lebih nyaman dari
sebelumnnya, analisa masalah teratasi, planning: hentikan intervensi.
Berdasarkan jurnal penelitian Nainggolan (2013) didapatkan hasil
bahwa ada pengaruh pemberian mobilisasi dini untuk mempersingkat waktu
penyembuhan pasca operasi appendiktomi.
Dari hasil evaluasi penulis terlihat kasus Ny. S setelah diberikan
mobilisasi dini intesitas luka sudah kering tidak ada kemerahan tidak ada pus,
jahitan terlihat bagus.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Setelah
penulis
melakukan
pengkajian,
penentuan
diagnosa,
perencanaan, implementasi, evaluasi serta mengaplikasikan pemberian
mobilisasi dini secara teratur untuk mempersingkat waktu penyembuhan luka
pasca operasi appendiktomi pada asuhan keperawatan Ny. S diBangsal Kantil
2 RSUD karanganyar maka dapat ditarik kesimpulan :
1.
Pengkajian
Hasil pengkajian keluhan utama pasien mengatakan nyeri pada
perut kanan bawah karena luka post operasi appendiktomi. Pasien juga
mengatakan tidak dapat tidur, pasien merasa lemas dan sulit untuk
menggerakan badan karena luka terasa nyeri.
2.
Diagnosa keperawatan
Hasil perumusan diagnosa keperawatan pada Ny. S adalah nyeri
akut berhubungan dengan agen cidera fisik, gangguan pola tidur
berhubungan dengan gangguan rasa nyaman, hambatan mobilitas fisik
berhubungan
dengan
kendali
otot,
berhubungan dengan faktor mekanis.
72
kerusakan
intergritas
kulit
73
3.
Intervensi
Perencanaan untuk diagnosa nyeri akut berhubungan dengan agen
cidera fisik, dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam adalah
memonitor TTV, mengkaji tingkat nyeri, mengajarkan teknik relaksasi
nafas dalam dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
analgesik. Pada diagnosa kedua gangguan pola tidur berhubungan dengan
suhu lingkungan disekitar, dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
jam adalah mengkaji pola tidur, memberikan posisi nyaman (supinasi),
mejelaskan pentingnya tidur yang adekuat dan ajarkan kepada keluarga
pijat pada kaki atau punggung sebelum tidur. Diagnosa ketiga hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kendali otot, dilakukan
tindakan 3x24 jam adalah mengkaji kemampuan pasien dalam aktivitas,
ajarkan mobilisasi pada pasien dengan rom aktif dan tirah baring, berikan
edukasi pada pasien tentang pentingnya mobilisasi dan kolaborasi dengan
dokter dengan tim medis. Dan pada diagnosa keempat kerusakan
intergritas kulit berhubungan dengan faktor mekanis adalah observasi
kulit adanya kemerahan, ajarkan mobilisasi setiap 2 jam sekali, anjurkan
keluarga untuk menjaga kulit pasien agar tetap bersih dan kering.
4. Implementasi
Impementasi yang dilakukan penulis pada diagnosa pertama
mengkaji skala nyeri dengan lembar observasi, mengobservasi keadaan
umum dan TTV, mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, memberikan
terapi obat antrain dan ranitidin. Diagnosa kedua gangguan pola tidur
74
berhubungan dengan suhu dilingkungan sekitar meliputi mengkaji pola
tidur pasien, memberikan posisi nyaman (supinasi), menjelaskan
pentingnya tidur yang adekuat, mengajarkan kepada keluarga untuk
memberikan pijat pada kaki atau punggung pasien sebelum tidur.
Diagnosa ketiga hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kendali otot meliputi mengkaji kemampuan aktivitas pasien,
mengajarkan mobilisasi ROM aktif dan tirah baring pada pasien,
memberikan edukasi pada pasien tentang pentingnya mobilisasi dan
kolaborasi dengan tim medis. Diagnosa keempat kerusakan intergritas
kulit berhubungan dengan faktor mekanis meliputi mengobservasi kulit
pasien adanya kemerahan, mengajarkan mobilisasi pada pasien setiap 2
jam sekali, menganjurkan keluarga untuk menjaga kulit pasien agar tetap
bersih dan kering.
5.
Evaluasi
Hasil evaluasi pada hari terakhir, pada diagnosa pertama nyeri
akut berhubungan agen cidera fisik sudah teratasi intervensi dapat
dihentikan. Diagnosa kedua gangguan pola tidur berhubungan dengan
suhu lingkungan disekitar sudah teratasi intervensi dapat dihentikan.
Diagnosa ketiga hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kendali otot sudah teratasi maka intervensi dihentikan.
Diagnosa keempat kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan
imobilitas fisik juga sudah teratasi dan intervensi dapat dihentikan pasien
pulang.
75
6.
Analisa
Pemberian mobilisasi dini pada Ny. S dengan post operasi
apendiktomi selama 3 hari pengelolaan efektif karena pasien mampu
duduk tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka sehingga dapat
disimpulkan pemberian mobilisasi dini mempercepat penyembuhan luka
sudah sesuai dengan jurnal utama.
B. Saran
1.
Bagi pendidikan
Diharapkan institusi mampu meningkatkan mutu pendidikan
sehingga menghasilkan perawat yang profesional dan inovatif, terutama
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan post operasi
appendiktomi.
2.
Bagi Rumah Sakit
Diharapkan rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan
yang baik serta menyediakan fasilitas atau sarana dan prasarana yang
memadai untuk penyembuhan pasien, khususnya pasien dengan post
operasi appendiktomi.
3.
Bagi profesi keperawatan
Diharapkan para perawat memiliki keterampilan dan tanggung
jawab yang baik dalam memberikan asuhan keperawatan, serta mampu
menjalin kerjasama dengan tim kesehatan lain dan keluarga pasien dalam
76
membantu proses penyembuhan pasienkhususnya pada pasien post
operasi appendiktomi.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J., (2005). Diagnosa keperawatan aplikasi pada praktik klinis edisi
6. Jakarta : ECG
Depkes RI. 2009. Prioritas Kesehatan Indonesia tahun 2009. Jakarta: Depkes RI
Ed. Herman T.H and Komitsuru. S. 2014. Nanda Internasional Nursing
Diagnosis, Definition and Clasification 2015-2017. EGC. Jakarta.
Hidayat, A. (2009). Penghantar kebutuhan dasar manusia. Jakarta. Salemba
Medika
ISO. (2010). Informasi Spesialite Obat Indonesia, Vol 46. Jakarta: PT ISFI
L.Longso, Dan S. Fauci Anthony. 2014. Gastroenterologi dan hepatologi.
Jakarta: EGC
Muttaqin, Kumala Sari. 2009. Asuhan Keperawatan Perioperatif Konsep, proses,
dan aplikasi. Jakarta: Salemba Medika
Morison, M. J.(2004). Manajemen luka. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
Nainggolan, E. 2013. HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN LAMANYA
PENYEMBUHAN LUKA PASCA OPERASI APENDIKTOMI. Jurnal
keperawatan HKBP Belige, 1. (2). 98.105. Di akses tanggal 14 februari
2015
NANDA. 2014. Diagnosa keperawatan definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta
EGC
NIC-NOC. EGC, jakarta
Perry dan Potter. (2006). Buku Ajar Fundamental keperawatan Konsep Proses
dan Praktik, Voll 2, Ed 4. Editor Yulianti dkk. Jakarta: EGC
Potter, P. A., & Perry, A. G. Buku ajar fundamental keperawatan. (2005). (Ed 4).
Jakarta :ECG
Sjamsuhidajat, dkk.2010. Buku ajar ilmu bedah. Jakarta: EGC
Sjamsuhudajat dan Jong De Wong. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed 2. Jakarta:
EGC
Smeltzer et al. (2010). Textbook of medical
Philadelphia:lippincott Williams & wilkins
77
surgical
nursing.
78
Wilkinson, M. Judith. 2007. Nursing Diagnosa Handbook With NIC
Interquentions and NOC Outcomec. 7.Ed. EGC: Jakarta.
Download