KEPUTUSAN DIREKSI

advertisement
KEPUTUSAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 511/KMK.06/2002
TENTANG
INVESTASI DANA PENSIUN
Keputusan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai isinya harap merujuk kepada teks aslinya.
KEPUTUSAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 511/KMK.06/2002
TENTANG
INVESTASI DANA PENSIUN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka menunjang keberhasilan penyelenggaraan Program
Pensiun, investasi kekayaan Dana Pensiun harus dikelola secara sehat
untuk mencapai hasil yang optimum;
b. bahwa sejalan dengan adanya perkembangan keadaan perekonomian di
Indonesia, pengaturan mengenai investasi Dana Pensiun sebagaimana
telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
296/KMK.017/2000 sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 45/KMK.017/2001 perlu disempurnakan;
c.
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a
dan b perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang Investasi
Dana Pensiun.
Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 37; Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3477);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun
Pemberi Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
126; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3507);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun
Lembaga Keuangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 127; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3508);
4. Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001.
MEMUTUSKAN
Menetapkan: KEPUTUSAN
PENSIUN
MENTERI
KEUANGAN
TENTANG
INVESTASI
DANA
KMK-511-2002 – 2
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Keputusan Menteri Keuangan ini yang dimaksud dengan:
1.
Afiliasi adalah hubungan antara perusahaan dengan Pihak yang secara langsung atau
tidak langsung mengendalikan, dikendalikan, atau di bawah satu Pengendalian dari
perusahaan tersebut.
2.
Arahan Investasi adalah kebijakan investasi yang ditetapkan oleh Pendiri atau Pendiri
dan Dewan Pengawas, yang harus dijadikan pedoman bagi Pengurus Dana Pensiun
dalam melaksanakan investasi.
3.
Bank adalah bank sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang Perbankan.
4.
Bursa Efek adalah bursa efek sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang
Pasar Modal.
5.
Pengendalian adalah kekuasaan untuk mempengaruhi pengelolaan perusahaan,
kecuali dalam hal kekuasaan tersebut semata-mata akibat kedudukan resmi di
perusahaan yang bersangkutan atau dalam hal kekuasaan tersebut ada pada
Pemerintah Negara Republik Indonesia;
6.
Pihak adalah perorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau sekelompok
Pihak yang terorganisasi yang anggota-anggotanya mempunyai hubungan Afiliasi.
7.
Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
BAB II
ARAHAN INVESTASI
Pasal 2
(1)
Pendiri, atau Pendiri dan Dewan Pengawas, wajib menetapkan Arahan Investasi.
(2)
Dalam Arahan Investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), paling kurang harus
dicantumkan hal-hal sebagai berikut:
a. sasaran hasil investasi setiap tahun dalam bentuk kuantitatif yang harus dicapai
oleh Pengurus;
b. batas maksimum proporsi kekayaan Dana Pensiun yang dapat ditempatkan untuk
setiap jenis investasi;
c.
batas maksimum proporsi kekayaan Dana Pensiun yang dapat ditempatkan pada
satu Pihak;
d. obyek investasi yang dilarang untuk penempatan kekayaan Dana Pensiun;
e. ketentuan likuiditas minimum portofolio investasi Dana Pensiun untuk mendukung
ketersediaan dana guna pembayaran manfaat pensiun dan operasional Dana
Pensiun;
f.
sistem pengawasan dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan investasi;
KMK-511-2002 – 3
g. ketentuan mengenai penggunaan tenaga ahli, penasihat, lembaga keuangan dan
jasa lain yang dipergunakan dalam pengelolaan investasi; dan
h. sanksi yang akan diterapkan Dana Pensiun kepada Pengurus atas pelanggaran
ketentuan mengenai investasi yang ditetapkan dalam Undang-undang Dana
Pensiun dan peraturan pelaksanaannya.
BAB III
KEWAJIBAN PENGURUS DALAM MENGELOLA INVESTASI
DANA PENSIUN PEMBERI KERJA
Pasal 3
(1)
Pengurus dilarang menyimpang dari ketentuan dalam Arahan Investasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2.
(2)
Pengurus wajib bertindak sedemikian rupa sehingga keputusan investasi yang diambil
merupakan keputusan investasi yang obyektif, yang semata-mata untuk kepentingan
Peserta, Dana Pensiun, dan atau Pemberi Kerja.
Pasal 4
(1)
Pengurus wajib menyusun rencana investasi tahunan, yang memuat sekurangkurangnya:
a. rencana komposisi jenis investasi;
b. perkiraan tingkat hasil investasi untuk masing-masing jenis investasi dimaksud; dan
c. pertimbangan yang mendasari rencana komposisi jenis investasi dimaksud.
(2)
Rencana investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus merupakan
penjabaran Arahan Investasi serta mencerminkan penerapan prinsip-prinsip
penyebaran risiko dan keputusan investasi yang obyektif sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (2).
(3)
Rencana investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya akan berlaku setelah
paling kurang mendapat persetujuan Dewan Pengawas Dana Pensiun yang
bersangkutan.
Pasal 5
Penggunaan jasa dalam pengelolaan investasi Dana Pensiun atau pemanfaatan saran,
pendapat, dorongan, dan hal-hal lain dari pihak ketiga selain yang telah ditetapkan dalam
Arahan Investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan rencana investasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) yang dapat mempengaruhi Pengurus dalam mengambil
keputusan atau tindakan dalam rangka pelaksanaan pengelolaan kekayaan Dana Pensiun,
tidak mengurangi atau menghilangkan tanggung jawab Pengurus untuk mentaati ketentuan
yang berlaku dalam investasi Dana Pensiun.
KMK-511-2002 – 4
BAB IV
PENGELOLAAN INVESTASI DANA PENSIUN PEMBERI KERJA
Bagian Pertama
Jenis Investasi
Pasal 6
(1)
Investasi Dana Pensiun hanya dapat ditempatkan pada jenis investasi sebagai berikut:
a. deposito berjangka pada Bank;
b. deposito on call pada Bank;
c.
sertifikat deposito pada Bank;
d. saham yang tercatat di Bursa Efek;
e. obligasi yang tercatat di Bursa Efek;
f.
penempatan langsung pada saham yang diterbitkan oleh badan hukum yang
didirikan berdasarkan hukum Indonesia;
g. surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh badan hukum yang didirikan
berdasarkan hukum Indonesia;
h. tanah di Indonesia;
i.
bangunan di Indonesia;
j.
tanah dan bangunan di Indonesia;
k.
unit penyertaan reksadana sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang tentang
Pasar Modal;
l.
Sertifikat Bank Indonesia; dan atau
m. surat berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia.
(2)
Penghasilan Dana Pensiun dari kekayaan yang diinvestasikan dalam bidang-bidang
tertentu yang bukan merupakan obyek pajak ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan yang terpisah dari Keputusan Menteri Keuangan ini.
Bagian Kedua
Pembatasan Investasi Dana Pensiun
Pasal 7
Penempatan langsung pada saham atau surat pengakuan utang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f dan huruf g hanya dapat ditempatkan pada:
a. surat pengakuan utang yang berjangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun dan jatuh tempo
paling lama 10 (sepuluh) tahun;
KMK-511-2002 – 5
b. surat pengakuan utang yang dijamin oleh penerbitnya dengan kekayaan yang bernilai
sekurang-kurangnya 100% (seratus perseratus) dari nilai utang;
c.
surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh badan hukum yang telah menghasilkan
keuntungan selama 3 (tiga) tahun terakhir;
d. saham atau surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh badan hukum yang bukan
merupakan Pendiri, Mitra Pendiri atau Penerima Titipan dari Dana Pensiun yang
bersangkutan; dan
e. saham atau surat pengakuan utang yang diterbitkan oleh badan hukum yang tidak
mempunyai hubungan Afiliasi dengan Pengurus, Dewan Pengawas, Pendiri, Mitra Pendiri
atau Penerima Titipan dari Dana Pensiun yang bersangkutan.
Pasal 8
(1)
Investasi pada tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h, huruf i, dan huruf j harus:
a. dilengkapi dengan bukti kepemilikan atas nama Dana Pensiun; dan
b. memberikan penghasilan ke Dana Pensiun atau bertambah nilainya karena
pembangunan, penggunaan, dan atau pengelolaan oleh pihak lain yang dilakukan
melalui transaksi yang didasarkan pada harga pasar yang berlaku.
(2)
Transaksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b harus didasarkan pada
perjanjian yang sah di hadapan notaris.
(3)
Penempatan pada tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan tidak dapat dilakukan
pada tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan yang diagunkan, dalam sengketa,
atau diblokir pihak lain.
Pasal 9
(1)
Penempatan langsung pada saham dan surat pengakuan utang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f dan huruf g tidak boleh melebihi 20% (dua
puluh perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
(2)
Investasi pada tanah, bangunan, dan tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h, huruf i, dan huruf j tidak boleh melebihi 15% (lima belas
perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
Pasal 10
(1)
Tanpa mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf j,
penempatan kekayaan Dana Pensiun pada tanah dan bangunan di luar negeri yang
telah dilakukan sebelum ditetapkannya Undang-undang Dana Pensiun dapat
diperhitungkan sebagai investasi.
(2)
Dalam hal investasi Dana Pensiun pada tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf h, huruf i, dan huruf j, melebihi batas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), kelebihan dimaksud dapat diperhitungkan sebagai
investasi sepanjang penempatan seluruh investasi pada tanah dan bangunan telah
dilakukan sebelum ditetapkannya Undang-undang Dana Pensiun.
KMK-511-2002 – 6
(3)
Pendiri Dana Pensiun wajib menyampaikan rencana dan jangka waktu penyesuaian
investasi termaksud terhadap ketentuan dalam Pasal 9 ayat (2) kepada Menteri.
(4)
Rencana dan jangka waktu penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus
mendapat persetujuan pemilik perusahaan atau rapat umum pemegang saham atau
yang setara dengan itu.
(5)
Dalam hal jangka waktu penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)
terlampaui dan masih terdapat investasi pada tanah dan bangunan yang melebihi batas
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), Pendiri bertanggung jawab untuk
mengganti kelebihan investasi termaksud dengan jenis investasi yang sesuai dengan
Keputusan Menteri Keuangan ini.
Pasal 11
(1)
Jumlah seluruh investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a
sampai dengan huruf l pada satu Pihak tidak boleh melebihi 20% (dua puluh
perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
(2)
Penempatan investasi pada surat berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf m dapat melebihi 20%
(dua puluh perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
(3)
Tanpa mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), total investasi
penempatan langsung pada saham dan atau surat pengakuan utang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f dan huruf g pada satu Pihak tidak boleh
melebihi 10% (sepuluh perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
(4)
Dana Pensiun yang berkedudukan di daerah yang tidak memungkinkan dilakukannya
penempatan kekayaan dalam bentuk deposito berjangka, deposito on call dan sertifikat
deposito sesuai ketentuan dalam ayat (1), dan di dalam Arahan Investasi Dana
Pensiun tersebut tidak ditetapkan jenis investasi lain, dapat menempatkan kekayaan
dalam bentuk-bentuk investasi dimaksud pada setiap Bank di daerah tersebut melebihi
batas 20% (dua puluh perseratus) dari total investasi Dana Pensiun, dengan tetap
memperhatikan prinsip-prinsip penyebaran risiko.
Pasal 12
Seluruh investasi Dana Pensiun yang ditempatkan pada:
a. semua Pihak yang dalam tahun buku terakhir mengalami kerugian atau mengalami
kegagalan dalam memenuhi kewajiban keuangannya;
b. penempatan langsung pada saham atau surat pengakuan utang sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf f dan huruf g;
c.
tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat
(1) huruf h, huruf i, dan huruf j;
tidak boleh melebihi 35% (tiga puluh lima perseratus) dari total investasi Dana Pensiun.
Pasal 13
(1)
Dana Pensiun dilarang melakukan transaksi derivatif atau memiliki instrumen derivatif,
kecuali bila instrumen derivatif tersebut diperoleh Dana Pensiun sebagai instrumen
KMK-511-2002 – 7
yang melekat pada saham atau obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf d dan huruf e.
(2)
Dana Pensiun dapat menjual instrumen derivatif yang melekat pada saham atau
obligasi yang diperdagangkan di Bursa Efek sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
secara terpisah dari saham atau obligasi yang bersangkutan.
Pasal 14
(1)
Dalam hal terjadi penggabungan Pihak-pihak tempat Dana Pensiun melakukan
investasi dan total investasi pada Pihak hasil penggabungan menjadi lebih besar dari
batas penempatan pada satu Pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1)
atau ayat (3), investasi Dana Pensiun pada Pihak hasil penggabungan tersebut harus
disesuaikan dengan ketentuan dalam Pasal 11 ayat (1) atau ayat (3), dalam jangka
waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal penggabungan.
(2)
Dana Pensiun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilarang melakukan investasi
baru pada Pihak yang melakukan penggabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) selama penyesuaian belum selesai dilakukan.
Bagian Ketiga
Penilain Investasi Dana Pensiun
Pasal 15
(1)
Dasar penilaian investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) adalah
sebagai berikut:
a. deposito berjangka dan deposito on call berdasar nilai nominal;
b. sertifikat deposito dan surat pengakuan utang berdasar nilai tunai;
c.
saham yang tercatat di Bursa Efek berdasar nilai pasar;
d. obligasi yang tercatat di Bursa Efek berdasar:
1. nilai perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto, dalam
dikelompokkan sebagai obligasi yang dimiliki hingga jatuh tempo; atau
hal
2. nilai wajar, dalam hal dikelompokkan sebagai obligasi yang diperdagangkan
atau tersedia untuk dijual;
e. penempatan langsung pada saham berdasar metode ekuitas atau nilai yang
ditetapkan penilai independen yang terdaftar pada instansi berwenang;
f.
tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan berdasar nilai yang ditetapkan penilai
independen yang terdaftar pada instansi berwenang;
g. unit penyertaan reksadana berdasarkan nilai aktiva bersih;
h. Sertifikat Bank Indonesia berdasar nilai tunai;
i.
surat berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasar:
KMK-511-2002 – 8
1. nilai perolehan setelah amortisasi premi atau diskonto, dalam
dikelompokkan sebagai surat berharga yang dimiliki hingga jatuh tempo;
2. nilai wajar, dalam hal dikelompokkan sebagai
diperdagangkan atau tersedia untuk dijual; atau
surat
berharga
hal
yang
3. nilai tunai, dalam hal dikelompokkan sebagai surat berharga yang jatuh
temponya kurang dari 1 (satu) tahun.
(2)
Pemilihan dasar penilaian atas penempatan langsung pada saham sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) huruf e terlebih dahulu harus disetujui oleh Pendiri atau
Pendiri dan Dewan Pengawas dan diberlakukan dengan memperhatikan prinsip
konsistensi.
(3)
Penilaian atas penempatan langsung pada saham, tanah, bangunan, atau tanah dan
bangunan oleh penilai independen sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e dan
huruf f dilakukan sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sekali.
Pasal 16
(1)
Kesesuaian terhadap batasan investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Pasal
11, dan Pasal 12 ditentukan pada saat dilakukan penempatan investasi.
(2)
Total investasi dalam rangka menentukan kesesuaian sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), memperhitungkan nilai seluruh investasi yang dimiliki Dana Pensiun dengan
didasarkan pada nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15.
(3)
Untuk menentukan total investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), nilai investasi
penempatan langsung pada saham, tanah, bangunan, atau tanah dan bangunan, dapat
diperoleh dari laporan keuangan terakhir yang diaudit, kecuali apabila telah dilakukan
penilaian baru oleh penilai independen atau penilaian investasi penempatan langsung
pada saham dilakukan dengan metode ekuitas.
(4)
Pembuktian kesesuaian terhadap batasan investasi sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) merupakan tanggung jawab Pengurus.
BAB V
PENGELOLAAN INVESTASI DANA PENSIUN LEMBAGA KEUANGAN
Pasal 17
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9, Pasal
11, Pasal 12, Pasal 13, Pasal 15, dan Pasal 16 berlaku bagi Dana Pensiun Lembaga
Keuangan.
Pasal 18
(1)
Dana Pensiun Lembaga Keuangan sekurang-kurangnya harus menawarkan jenis
investasi atau paket investasi yang terdiri dari jenis-jenis investasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e.
(2)
Penawaran setiap jenis investasi atau paket investasi oleh Dana Pensiun Lembaga
Keuangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9.
KMK-511-2002 – 9
BAB VI
PENGENDALIAN ATAS PENGELOLAAN INVESTASI DANA PENSIUN
Bagian Pertama
Laporan Investasi
Pasal 19
(1)
Pengurus Dana Pensiun wajib menyampaikan kepada Menteri:
a. laporan investasi semesteran; dan
b. hasil pemeriksaan akuntan publik atas laporan investasi untuk setiap tahun buku.
(2)
Kewajiban penyampaian hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) huruf b tidak berlaku bagi Dana Pensiun Pemberi Kerja yang memenuhi
seluruh kriteria sebagai berikut:
a. selama tahun buku, investasi Dana Pensiun hanya berupa deposito berjangka,
deposito on call, sertifikat deposito, Sertifikat Bank Indonesia, dan atau surat
berharga yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia; dan
b. pada akhir tahun buku, total investasi Dana Pensiun kurang dari Rp
100.000.000.000 (seratus miliar rupiah).
Pasal 20
Untuk Dana Pensiun yang disahkan Menteri Keuangan dalam periode 3 (tiga) bulan sebelum
akhir tahun buku, pemeriksaan akuntan publik atas laporan investasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b dapat dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan atas
laporan investasi tahun buku berikutnya.
Pasal 21
(1)
Laporan investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) harus memuat
sekurang-kurangnya:
a. pernyataan Pengurus tentang kesesuaian portofolio investasi terhadap:
1. ketentuan perundangan yang mengatur investasi Dana Pensiun;
2. Arahan Investasi, bagi Dana Pensiun Pemberi Kerja; dan
3. pilihan jenis investasi Peserta bagi Dana Pensiun Lembaga Keuangan;
b. laporan perkembangan portofolio serta hasil investasi Dana Pensiun; dan
c.
(2)
analisis mengenai kegiatan investasi.
Analisis mengenai kegiatan investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c
sekurang-kurangnya harus mencakup evaluasi atas:
a. pelaksanaan prinsip-prinsip penyebaran risiko dan keputusan investasi yang
obyektif;
KMK-511-2002 – 10
b. pelaksanaan tanggung jawab Pengurus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
ayat (4);
c.
kesesuaian investasi terhadap ketentuan Arahan Investasi;
d. jumlah dan komposisi portofolio investasi untuk tiap-tiap paket investasi atau jenis
investasi yang ditawarkan Dana Pensiun Lembaga Keuangan; dan
e. jumlah dan karakteristik investasi pada pihak-pihak yang memiliki hubungan Afiliasi
dengan Dana Pensiun.
(3)
Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b harus
memuat:
a. pendapat akuntan atas pernyataan Pengurus sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) huruf a; dan
b. laporan investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).
(4)
Isi dan susunan laporan investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih
lanjut dalam Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.
Pasal 22
(1)
Dalam rangka pemeriksaan atas laporan investasi Dana Pensiun sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b, Dewan Pengawas dilarang menunjuk
akuntan publik yang sama dalam hal:
a. akuntan publik tersebut telah melakukan pemeriksaan atas laporan investasi Dana
Pensiun selama 3 (tiga) kali periode pemeriksaan berturut-turut; atau
b. akuntan publik dimaksud dinyatakan oleh asosiasi akuntan atau Menteri telah
melanggar standar praktik akuntan publik yang berlaku di Indonesia.
(2)
Kantor akuntan publik yang sama tidak dapat ditunjuk untuk melakukan pemeriksaan
atas laporan investasi Dana Pensiun lebih dari 5 (lima) kali berturut-turut.
Pasal 23
(1)
Laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) disampaikan kepada Menteri melalui Direktur Dana Pensiun.
(2)
Laporan investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a harus
disampaikan paling lambat 2 (dua) bulan setelah akhir semester.
(3)
Hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1)
huruf b harus disampaikan paling lambat 5 (lima) bulan setelah akhir tahun buku.
(4)
Dalam hal Dana Pensiun telah menyampaikan hasil pemeriksaan akuntan publik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b, maka kewajiban penyampaian
laporan investasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a untuk
semester kedua dapat tidak dipenuhi.
(5)
Penyampaian laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai
berikut:
KMK-511-2002 – 11
a. diserahkan langsung ke kantor Direktorat Dana Pensiun;
b. dikirim melalui kantor pos secara tercatat; atau
c. dikirim melalui perusahaan jasa pengiriman/titipan.
Bagian Kedua
Penilaian Kinerja Investasi Dana Pensiun
Pasal 24
(1)
Dewan Pengawas wajib mengevaluasi kinerja investasi Dana Pensiun sekurangkurangnya sekali untuk 1 (satu) tahun buku yang didasarkan pada:
a. laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 19 ayat (1); dan
b. saran dan pendapat Peserta.
(2)
Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling kurang mencakup kewajaran
alasan Pengurus dalam menjelaskan ketidaksesuaian kinerja investasi Dana Pensiun
dengan Arahan Investasi dan rencana investasi tahunan.
(3)
Dewan Pengawas dapat mengusulkan kepada Pendiri untuk mengenakan sanksi
kepada Pengurus apabila hasil evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
menunjukkan alasan Pengurus dalam menjelaskan ketidaksesuaian kinerja investasi
Dana Pensiun dengan Arahan Investasi dan rencana investasi tahunan, tidak dapat
diterima.
Bagian Ketiga
Transparansi Pengelolaan Investasi Dana Pensiun
Pasal 25
(1)
Pengurus Dana Pensiun wajib mengumumkan kepada Peserta:
a. ringkasan laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) paling lambat 1 (satu) bulan setelah
disampaikan kepada Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan
ayat (3); dan
b. ringkasan hasil evaluasi Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
ayat (1).
(2)
Pengurus wajib menyusun tata cara bagi Peserta untuk menyampaikan pendapat dan
saran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b, mengenai
perkembangan portofolio dan hasil investasi kekayaan Dana Pensiun kepada Pendiri,
Dewan Pengawas, dan Pengurus Dana Pensiun yang bersangkutan.
Pasal 26
Pengurus harus menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1)
kepada Pendiri dan Dewan Pengawas.
KMK-511-2002 – 12
BAB VII
PENGALIHAN PENGELOLAAN INVESTASI
Pasal 27
(1)
Dalam hal pengelolaan investasi Dana Pensiun dialihkan kepada lembaga keuangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (4) Undang-undang Dana Pensiun,
lembaga keuangan termaksud harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. memiliki ijin untuk bertindak sebagai manajer investasi dari instansi yang
berwenang;
b. memiliki pengalaman dalam memberikan jasa pengelolaan investasi; dan
c.
(2)
mampu mengelola portofolio investasi sesuai dengan ketentuan perundangundangan di bidang investasi Dana Pensiun.
Pengelolaan investasi Dana Pensiun oleh lembaga keuangan sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) tidak boleh menyimpang dari ketentuan-ketentuan dalam Keputusan
Menteri Keuangan ini.
Pasal 28
(1)
Pengelolaan investasi Dana Pensiun dapat dialihkan kepada lembaga keuangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dalam bentuk pengelolaan portofolio investasi
kolektif.
(2)
Pengalihan pengelolaan investasi Dana Pensiun sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) hanya dapat dilakukan pada portofolio investasi kolektif yang dibentuk dari investasi
yang dikelola Dana Pensiun.
(3)
Pencatatan investasi Dana Pensiun yang dikelola oleh lembaga keuangan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan Pasal 27 diatur lebih lanjut dengan
Keputusan Direktur Jenderal Lembaga Keuangan.
BAB VIII
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 29
(1)
Dalam hal penyampaian laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) terlambat dilakukan, Pendiri Dana
Pensiun dikenakan denda sebesar Rp 300.000 (tiga ratus ribu rupiah) untuk setiap hari
keterlambatan terhitung sejak hari pertama setelah batas akhir masa penyampaian
laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3), paling banyak sebesar Rp 100.000.000 (seratus juta
rupiah).
(2)
Dalam rangka pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), tanggal
penyampaian laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik adalah:
a. tanggal penerimaan laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik,
apabila laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik diserahkan
langsung ke kantor Direktur Dana Pensiun; atau
KMK-511-2002 – 13
b. tanggal pengiriman dalam tanda bukti pengiriman, apabila laporan investasi dan
hasil pemeriksaan akuntan publik dikirim melalui kantor pos atau perusahaan jasa
pengiriman/titipan.
(3)
Perhitungan hari keterlambatan untuk pengenaan denda sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), berakhir pada tanggal penyampaian laporan investasi dan hasil
pemeriksaan akuntan publik sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).
(4)
Denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), wajib dibayarkan ke Kas Negara.
(5)
Copy bukti setoran denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) wajib disampaikan ke
Direktur Dana Pensiun.
(6)
Penyampaian laporan investasi dan hasil pemeriksaan akuntan publik setelah melewati
jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) tidak
menghapuskan kewajiban pembayaran denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),
dan dalam hal Pendiri belum membayar denda, denda tersebut dinyatakan sebagai
utang Pendiri pada Negara yang harus dicantumkan dalam neraca Pendiri yang
bersangkutan.
Pasal 30
Menteri dapat mengenakan sanksi administratif kepada Dana Pensiun atau Pendiri dalam hal
terjadi pelanggaran atas ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 sampai dengan
Pasal 29 termasuk mewajibkan Pendiri untuk mengganti Pengurus dan atau Pelaksana
Tugas Pengurus, atau mewajibkan Pengurus untuk menghentikan pengelolaan investasi oleh
lembaga keuangan.
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 31
(1)
Investasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang melebihi batasan investasi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 12, wajib disesuaikan
dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak diberlakukannya Keputusan
Menteri Keuangan ini.
(2)
Rencana penyesuaian kelebihan batasan investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) wajib disampaikan kepada Menteri melalui Direktur Dana Pensiun paling lambat 2
(dua) bulan sejak Keputusan Menteri Keuangan ini ditetapkan.
Pasal 32
(1)
Untuk penggabungan Pihak-pihak dalam rangka restrukturisasi perbankan di
Indonesia, yang terjadi sebelum Keputusan Menteri Keuangan Nomor
296/KMK.017/2000 ditetapkan, yang mengakibatkan investasi Dana Pensiun pada satu
Pihak hasil penggabungan dimaksud melebihi batas penempatan satu Pihak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) atau ayat (3), investasi Dana Pensiun
pada Pihak hasil penggabungan tersebut harus disesuaikan sehingga tidak melebihi
batas-batas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (1) atau ayat (2), dalam
jangka waktu paling lambat tanggal 26 Juli 2003.
KMK-511-2002 – 14
(2)
Dana Pensiun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilarang melakukan investasi
baru pada Pihak yang melakukan penggabungan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) selama penyesuaian belum selesai dilakukan.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 33
Pada saat mulai berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini, Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 296/KMK.017/2000 tentang Investasi Dana Pensiun sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 45/KMK.017/2001, dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 34
Arahan Investasi yang ditetapkan oleh Pendiri atau Pendiri dan Dewan Pengawas setelah
berlakunya Keputusan Menteri Keuangan ini harus disusun berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan ini.
Pasal 35
Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2003.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengumuman Keputusan Menteri
Keuangan ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Desember 2002
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.BOEDIONO
KMK-511-2002 – 15
Download