pembelajaran di madrasah tsanawiyah

advertisement
DARI RAKYAT AMERIKA
USAID PRIORITAS: Mengutamakan Pembaharuan, Inovasi,
dan Kesempatan bagi Guru,Tenaga Kependidikan, dan Siswa
Praktik yang Baik
PEMBELAJARAN
DI MADRASAH TSANAWIYAH
Buku praktik yang baik Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah ini dikembangkan dengan dukungan penuh
rakyat Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID) melalui Program
USAID Prioritizing Reform, Innovation, and Opportunities for Reaching Indonesia's Teachers, Administrators, and
Students (PRIORITAS). USAID PRIORITAS adalah program kemitraan antara Pemerintah Amerika dan
Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan akses pendidikan dasar yang berkualitas di Indonesia.
Sambutan Direktur Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama
Kementerian Agama bekerja sama dengan USAID Program Prioritizing Reform, Innovation and Opportunities for
Reaching Indonesia's Teachers, Administrators and Students (PRIORITAS Tahun 2012-2017) untuk meningkatkan akses
pendidikan dasar yang berkualitas. Dalam implementasi kerja sama tersebut USAID PRIORITAS telah
melaksanakan beberapa program dan kegiatan antara lain pelatihan dan pendampingan guru, kepala madrasah,
pengawas serta kegiatan kelompok kerja di tingkat madrasah maupun gugus tentang pendekatan pembelajaran aktif
dan kreatif, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), program budaya baca dan literasi dengan memberi hibah buku
pengayaan, buku fiksi, dan buku bacaan lainnya kepada madrasah ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Berbagai kemajuan yang dapat dilihat di madrasah di antaranya adalah guru berperan menjadi fasilitator dalam
mendorong interaksi antar siswa, guru memberikan tugas yang bervariasi yang menantang siswa untuk berbuat dan
berpikir, seperti diskusi, percobaan, pengamatan, dan pemecahan masalah. Dalam pembelajaran siswa menggunakan
kemampuan berpikir tingkat tinggi, memanfaatkan beragam sumber belajar, bekerja secara kooperatif dalam
kelompok, menghasilkan karya yang merupakan hasil gagasannya sendiri, dan memajangkan karya tersebut dalam
kelas. Sedangkan hasil implementasi MBS, pengelolaan sekolah oleh kepala sekolah menjadi partisipatif dengan
melibatkan guru, komite sekolah dan masyarakat , serta transparan dan akuntabel.
Dalam rangka menyebarluaskan pengalaman pembelajaran, manajemen, dan budaya baca di MI dan MTs tersebut,
USAID PRIORITAS menerbitkan beberapa buku praktik yang baik dengan tema pembelajaran tingkat MI,
pembelajaran tingkat MTs, dan manajemen, budaya baca dan pelayanan khusus di MI dan MTs.
Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada USAID PRIORITAS yang telah membantu pendidikan di madrasah
khususnya untuk MI dan MTs di kabupaten/kota mitra USAID PRIORITAS. Semoga buku praktik yang baik ini dapat
memberikan motivasi dan inspirasi bagi kabupaten/kota lainnya di seluruh Indonesia, bagi guru dan praktisi untuk
meningkatkan mutu pendidikan di madrasah.
Jakarta, Mei 2017
Direktur Jenderal Pendidikan Islam
Kementerian Agama
Prof. Dr. Phill. H. Kamaruddin Amin
DAFTAR ISI
Pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam
Pembelajaran
Matematika
2
Praktik Pemisahan Campuran
Kromatografi Kertas
24 Buat Matematika Jadi Favorit
4
Media Puzzle Menentukan Rumus
Kimia Secara Praktis
6
Pelajari Gerak dan Perubahan
Tumbuhan dari Putri Malu
7
Belajar Aktivitas Pemantauan Gunung
Berapi
8
Jadi Peneliti dengan Mengamati
Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau
28 Ayo Temukan Rumus Luas Lingkaran
30 Gunakan Bayangan untuk Hitung
Tinggi Benda
32 Aku Buat Kartunya, Aku Buat
Aturannya, Asyik...
10 Membuat Proyek Percobaan
Pemisahan Campuran
Pembelajaran
Bahasa Indonesia
13 Buat Ruang Meditasi IPA
36 Ciptakan Siswa Kreatif melalui Bahasa
Indonesia
14 Siaga Bencana dengan Simulasi
Gunung Berapi
40 Inspirasi Puisi dari Pohon Kata: Sulit
Memulai Lebih Sulit Mengakhiri
16 Stetoskop dari Corong Minyak
18 Buat Kompor Bertenaga Matahari
42 Situs Sejarah Poteu Meureuhom,
Inspirasi dalam Menulis
20 Mikroskop Berbiaya Murah, Mirip yang
Asli
44 Meresensi Buku Melalui Matriks
Analisis
46 Berbalas Surat Pembaca dengan
Kepala Madrasah
ii
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
48 Perhatikan Kemampuan Individu Siswa
dalam Membuat Poster
50 Pahami Teks Eksemplum Melalui
Cerita Bergambar
Pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Sosial
68 Membedakan Peta dan Globe Menggunakan
Bola Plastik
71 Amati Lingkungan Tanamkan Rasa Cinta Siswa
pada Alam
Pembelajaran
Bahasa Inggris
72 Manfaatkan Internet untuk Belajar
52 Memperkaya Kosakata Siswa dengan
Membuat Kamus Pribadi
74 Belajar Kependudukan ke Kantor Kecamatan
PeninggalanSejarah Kebudayaan Islam di
Indonesia
54 “Sekarang Saya Jadi Ngerti Notice!”
56 Tongkat berbicara untuk Tingkatkan
Minat Speaking Siswa
58 Merangkai Kata Bahasa Inggris Lewat
Metode Discovery Learning
60 Buat Komik Berbahasa Inggris
62 Plural Form Bertema Snake and
Ladder
64
Jurnal Refleksi Membuat Saya Lebih
Kreatif
Daftar Isi
iii
PEMBELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN
ALAM
Siswa sedang melakukan percobaan pemisahan campuran dengan metode kromatografi kertas.
MTsN 1 Serang, Banten
Praktik Pemisahan Campuran Kromatografi Kertas
Metode pemisahan campuran banyak
digunakan dalam kehidupan sehari-hari
seperti untuk penjernihan air,
pemisahan garam, analisis logam berat
dan sebagainya. Beberapa metode
pemisahan campuran yang sering
digunakan antara lain penyaringan
(filtrasi), sentrifugasi, sublimasi,
kromatografi dan distilasi.
Ibu Lailatul Lidia, guru IPA Kelas VIII
MTsN 1 mengajak siswanya melakukan
praktik pemisahan campuran dengan
kromatografi kertas. Tujuan
2
pembelajarannya adalah siswa mampu
mengolah informasi tentang metode
pemisahan campuran dengan cara
kromatografi. Dalam pembelajaran ini
guru menerapkan pendekatan
saintifik.
ini diharapkan siswa dapat
memperoleh informasi tentang
metode pemisahan campuran dengan
cara filtrasi. Siswa diminta membuat
tiga pertanyaan berkaitan dengan
tayangan video tersebut.
Di awal, siswa yang sudah dibagi
menjadi enam kelompok ditugasi
melakukan pengamatan melalui video.
Guru sudah menyiapkan video tentang
metode pemisahan campuran cara
filtrasi melalui proses penjernihan air
dengan alat sederhana. Melalui video
Di tahap menanya, siswa mengajukan
tiga pertanyaan dan dijawab oleh siswa
lainnya. Pertanyaan yang muncul
diantaranya apa yang dimaksud dengan
campuran, bagaimana cara
memisahkan campuran dan sebutkan
prinsip dasar metode pemisahan
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
campuran. Untuk tahap
mengumpulkan informasi, guru
meminta perwakilan dari masingmasing kelompok mengambil bahan
percobaan. Secara berkelompok, siswa
melakukan percobaan dengan cara
kromatografi.
Alat dan bahan yang disiapkan
kelompok yakni: gelas kimia ukuran
100 ml, gunting, penggaris, kertas
saring, spidol warna biru, merah dan
hijauh, alkohol dan penjepit kertas.
diminta mencatat hasil percobaan
dalam lembar kerja yang saya berikan.
Mereka diminta berdiskusi dalam
kelompok untuk menyimpulkan hasil
percobaan.
Pada saat kegiatan mengkomunikasikan, siswa menyajikan data percobaan
ke dalam laporan tertulis. Lalu
perwakilan siswa mempresentasikan
hasilnya di depan kelas. “Dengan
kertas saring yang dicelupkan cairan
alkohol menjadi warna-warni. Misal
nya sampel tinta merah bila dicelup
pelarut akuades seperti alkohol maka
terbentuk komponen warna ungu,
merah muda dan kucing. Komponenkomponen warna akan terpisah satu
sama lain berdasarkan perbedaan daya
serapnya pada kertas,” kata salah satu
kelompok dalam presentasinya.
Untuk kelompok yang membuat
laporan tertulis yang runtut dan jelas
berhak mendapatkan coklat dari guru
yang sudah disiapkan sebelumnya.
Langkah pertama, kertas saring
digunting membentuk menjadi persegi
dengan ukuran 1cm x 10cm. Kedua,
buatlah noda tinta pada kertas saring
dengan spidol (biru, merah dan hijau)
berjarak + 2 cm dari ujung bagian
bawah.
Langkah selanjutnya, jepitlah ujung
kertas saring bagian atas dengan
menggunakan penjepit kertas. Lalu
masukkan alkohol ke dalam gelas
kimia sebanyak 20 ml. Masukkan ujung
bawah kertas saring ke dalam gelas
kimia yang sudah berisi alkohol,
usahakan noda tinta tidak ikut
terendam.
Kemudian, tunggulah beberapa saat
sehingga alkohol mengalir ke atas
membasahi noda tinta, amati dan catat
apa yang terjadi. Terakhir, ulangi percobaan di atas dengan menggunakan
warna tinta spidol yang lain, kemudian
buatlah kesimpulan dari hasil
percobaan tersebut!
Sebagai kegiatan mengasosiasi, siswa
Hasil laporan percobaan siswa yang ditulis pada lembar kerja.
Ilmu Pengetahuan Alam
3
Media puzzle untuk belajar rumus
kimia sederhana.
MTsN 3 Medan, Sumatera Utara
Media Puzzle Menentukan
Rumus Kimia Secara Praktis
Oleh Khalida Agustina
Guru IPA MTsN 3 Medan
Setelah saya mengajarkan IPA kelas
VII dengan materi unsur dan rumus
kimia dengan metode ceramah, saya
melihat siswa sulit memahami materi
rumus kimia yang merupakan konsep
bersifat abstrak. Untuk itu saya
mengembangkan media berupa puzzle
pembelajaran untuk memudahkan
siswa memahami konsep penulisan
rumus kimia sederhana. Puzzle adalah
sejenis permainan yang dibuat dari
kertas kardus bekas seperti pada
gambar.
Keuntungan dari penggunaaan media
puzzle dalam pembelajaran penulisan
rumus kimia adalah 1) siswa dapat
menemukan cara yang relatif mudah
dalam menuliskan rumus kimia, 2)
siswa lebih cepat mengerti konsepkonsep kimia dalam penulisan rumus
kimia karena melakukan peragaan
langsung dan rumus yang diperoleh
merupakan hasil temuan sendiri dari
kombinasi media puzzle, 3) penggunaan
waktu lebih efektif dan efisien dalam
4
membimbing siswa untuk memahami
konsep-konsep penting dalam
penulisan rumus kimia, 4)
pembelajaran kimia terasa lebih
rekreatif dan menyenangkan.
Media puzzle dalam pembelajaran
penulisan rumus kimia terdiri dari dua
model yaitu model kation yang terdiri
dari kation positif satu, positif dua,
positif tiga, dan model anion yang
terdiri dari anion negatif satu, negatif
dua, dan negatif tiga. Media dapat
dibuat menggunakan bahan yang
murah dan mudah didapat seperti
kardus, sandal bekas, gabus, triplek dan
lain-lain.
Masing-masing model kation dan
anion dapat dibedakan dengan warna
misalnya warna merah untuk model
kation dan hijau untuk model anion.
Model kation memiliki tonjolan satu
untuk kation positif satu, tonjolan dua
untuk kation positif dua, dan tonjolan
tiga untuk kation positif tiga, masingmasing disebut model jantan.
Model anion memiliki lekukan satu
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
untuk anion negatif satu, lekukan dua
untuk anion negatif dua, dan lekukan
tiga untuk anion negatif tiga, masingmasing disebut model betina. Kombinasi antara model kation dengan
model anion, seperti yang diperlihatkan pada gambar.
Rumus kimia suatu zat menggambarkan komposisi dari partikel yang
menyusun zat tersebut dan dinyatakan
dengan lambang unsur-unsur atau
jumlah atom relatif unsur dari suatu
senyawa.
Rumus senyawa molekul (kovalen)
biner merupakan rumus senyawa yang
dibentuk melalui ikatan kovalen yang
hanya terdiri dari dua jenis unsur.
Untuk memudahkan menuliskan
rumus senyawa molekul biner unsur
yang terdapat lebih dahulu dalam
urutan berikut ditulis di depan: B – Si
– C – S – As – P – N – S – I – Br – Cl
– O – F.
Contoh rumus kimia Amonia ditulis
NH3 bukan H3N, H2O bukan OH2 dan
sebagainya. Rumus senyawa ion
adalah senyawa yang dibentuk melalui
ikatan ion antara kation (ion positif)
dan anion (ion negatif) dan ditentukan
oleh perbandingan muatan ion dan
anionnya.
Cara Menggunakan Media Puzzle
1. Lakukan kombinasi antara molekul
kation dengan model anion
seperti yang diperlihatkan pada
gambar di bawah ini :
K+
A-
2+
A
2-
3+
A
3-
K
K
Na
Na+
Na+
2+
2. Hasil kombinasi antara kation dan
anion seperti yang terlihat pada tabel
berikut :
A
KA
KA2
KA3
A
K2 A
KA
K2 A 3
3-
A
K3 A
KA3
KA
3. Kesimpulan dari kombinasi pada
tabel sebagai berikut :
n
Km+
+
m
An-
4. Contoh penggunaan puzzle
membentuk senyawa:
Cl
-
Dalam waktu singkat
siswa mampu menuliskan
100 rumus kimia dengan
menggunakan media puzzle tersebut.
Dalam kelompoknya siswa berbagi
menuliskan 100 rumus kimia tersebut
dengan jumlah anggota yang ada. Siswa
juga terlihat menikmati permainan
menyusun puzzle.
NaCl
KnAm
NO43-
PO43-
SO42- AsO43-
1
2
3
S2-
OH-
Br-
CrO4-
CN-
ClO4-
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
3+
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Ag+
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
Ca
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
K+
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
Mg
Al
2+
Kation/Anion
K+
K2K3-
+
laporan kegiatan siswa
berupa rumus kimia
sesuai tabel.
NaCl
5. Lengkapilah kombinasi kation
dengan anion no 1 s/d 100 Pada tabel
di bawah dengan rumus kimia dan beri
nama senyawanya, dalam hal ini
gunakan media puzzle! Hasil
pembelajaran dengan menggunakan
media puzzle dapat dilihat dari produk
K+
Satu set alat media pembelajaran
rumus kimia berjumlah 18 buah model
yang terdiri dari 9 buah model kation
(jantan) dan 9 buah model anion
(betina).
2-
Cl
A-
Model Kombinasi Kation dan Anion
-
+
3-
Cr
+
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
Ba2+
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
3+
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100
NH4
Fe
Hasil pembelajaran dengan menggunakan media puzzle dapat dilihat dari produk
laporan kegiatan siswa berupa rumus kimia sesuai table. Dalam waktu singkat
siswa mampu menuliskan 100 rumus kimia dengan menggunakan media puzzle
tersebut. Dalam kelompoknya siswa berbagi menuliskan 100 rumus kimia dengan
jumlah anggota yang ada. Siswa juga terlihat menikmati permainan menyusun
puzzle sehingga pembelajaran tidak monoton tetapi menyenangkan.
Ilmu Pengetahuan Alam
5
Siswa memberi perlakuan pada tumbuhan putr i malu. Hasilnya mereka presentasikan di kelas.
MTsN Lamno, Aceh Jaya
Pelajari Gerak dan Perubahan
Tumbuhan dari Putri Malu
Oleh Nita Heriyati SPd
Guru IPA MTsN Lamno
Kami memanfaatkan lingkungan
sekolah yang luas dan terdapat banyak
tumbuhan putri malu sebagai media
pembelajaran IPA untuk melihat gerak
dan perubahan tumbuhan. Setelah
menjelaskan tujuan percobaan, siswa
diberikan bahan bacaan tentang gerak
pada tumbuhan agar siswa
mendapatkan pemahaman awal.
Setiap kelompok mendapatkan lembar
kerja, lilin, korek api, es batu, dan
pengukur waktu. Kemudian siswa
mencari tumbuhan putri malu yang
terdapat di halaman sekolah, Setiap
anggota kelompok diberi tanggung
6
jawab dan tugas masing-masing. Ada
siswa yang memegang pengukur
waktu dan menghitung reaksi
sentuhan, ada siswa yang bertugas
menyentuh putri malu dengan
menggunakan tangan, menggunakan
lilin dan es batu, serta ada siswa yang
bertugas mencatat hasil percobaan.
dengan menggunakan lilin. Semua
tahapan perlakuan ini dilakukan
sebanyak tiga kali. Mereka mengamati
dan mencatat kecepatan respons
tumbuhan putri malu terhadap rangsangan dengan pengukur waktu dan
proses kembalinya putri malu pada
posisi awal.
Setiap kelompok memberi perlakuan
pada putri malu dengan menyentuh
menggunakan ujung jari tangan pada
bagian atas daun, menyentuh
menggunakan ujung jari tangan pada
tangkai daun putri malu, memberikan
suhu dingin dengan cara mendekatkan
es batu di bawah permukaan daun,
dan memberikan rangsangan suhu
panas di bawah permukaan daun
Setiap kelompok mempresentasikan
hasil eksperimen yang dilanjutkan
dengan membuat laporan secara
individu. “Dari berbagai perlakuan yang
diberikan, bagian yang paling sensitif
adalah bagian daun,” kata salah seorang
siswa dalam presentasinya.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Siswa mewancarai petugas kantor pemantau gunung berapi dan mengamati Seismometer, alat pemantau aktivitas gunung berapi.
MTsN Janarata, Bener Meriah, Aceh
Belajar Aktivitas Pemantauan Gunung Berapi
Oleh Lasma Farida SAg
Guru IPA MTsN Janarata
Gunung Bumi Telong yang berjarak
sekitar 10 Km dari sekolah merupakan salah satu gunung api aktif di
Provinsi Aceh. Untuk mengurangi
resiko bencana terhadap masyarakat,
pemerintah mendirikan kantor
pemantauan gunung berapi. Dalam
materi tata surya sub bab gejala
penampakan alam pada siswa kelas IX
semester 2, saya membawa siswa
mengunjungi kantor pemantau gunung
berapi ini.
Saya membentuk siswa menjadi empat
kelompok kecil. Setiap kelompok
mendapat lembar kerja yang
memandu data yang perlu diambil,
seperti potensi bencana, penanggulangan bencana, dan dampak dari
adanya gunung berapi. Di lokasi, siswa
mengumpulkan data dengan metode
wawancara, pengamatan serta
membaca buku, dan data yang
dipajangkan di kantor pemantau
gunung tersebut.
Siswa dapat memperoleh langsung
informasi untuk persiapan menghadapi
letusan gunung berapi (siaga bencana)
sebagai upaya untuk menghindari atau
memperkecil jumlah korban jiwa.
Siswa juga mengetahui proses yang
dilakukan untuk pengawasan atau
pemantauan gunung berapi serta
peralatan untuk pengawasan gunung.
Siswa juga mendapatkan penjelasan
dan dapat mengambil kesimpulan
tentang keterkaitan sumber air panas
dengan kesuburan tanah di sekitar
gunung. Siswa juga belajar tentang
bagian-bagian gunung berapi seperti
saluran magma di permukaan bumi
sehingga siswa dapat menjelaskan
pengaruh proses-proses yang terjadi
di lapisan litosfer terhadap perubahan
zat dan kalor.
“Kami jadi paham kesuburan tanah
pertanian kopi juga dampak dari
adanya gunung berapi di daerah ini.
Kami juga dapat mengetahui sumber
air panas yang membuktikan gunung
berapi tersebut masih aktif dan
kewajiban pemerintah memantau
gunung tersebut selama 24 jam,” kata
Deddy, salah seorang siswa.
Siswa lainnya mengakui lebih paham
bagaimana tanda-tanda gunung akan
meletus, bahayanya, dan upaya yang
harus dilakukan jika terjadi bencana.
Siswa juga bangga dapat memperoleh
pembelajaran tentang peralatan
pencatat gempa Seismometer dan
melihat cara kerjanya secara langsung.
Dari kunjungan ini, siswa menjadi lebih
terampil dalam melakukan
pengamatan dan menulis laporannya.
Ilmu Pengetahuan Alam
7
Siswa sedang mengamati
pertumbuhan tanaman kacang
hijau dan menuliskan hasilnya
pada lembar pengamatan.
MTsN Janarata, Bener Meriah, Aceh
Jadi Peneliti dengan Mengamati
Pertumbuhan Tanaman Kacang Hijau
Oleh Lasma Farida SAg
Guru IPA MTsN Janarata
Untuk membangkitkan minat siswa
menjadi seorang peneliti, hal ini dapat
dilakukan melalui pembelajaran.
Misalnya, melalui pembelajaran IPA
yang saya asuh dengan materi
perkembangbiakan generatif.
Saya mengajak siswa melakukan
penelitian dengan judul “Mengamati
Panjang Akar dan Batang Kacang Hijau
Selama 4 Hari”. Tujuan pembelajarannya yaitu siswa dapat mendeskripsikan
hubungan pertambahan panjang akar
dan batang tanaman kacang hijau
8
selama 4 hari, sehingga memudahkan
siswa mengetahui perkembangbiakan
generatif secara cepat. Harapannya,
siswa dapat memahami keberlangsungan hidup suatu tanaman dengan
cara mengintentifikasi melalui adaptasi,
seleksi alam, dan perkembangbiakan.
Siswa secara langsung dapat melihat
pengaruh cahaya matahari dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan kacang hijau. Mereka juga
dapat mengetahui manfaat barang
bekas sebagai media pembelajaran dan
sekaligus membentuk karakter siswa
yang bertanggung jawab, sabar, teliti,
serta bekerja sama.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Pada langkah awal, siswa menanam biji
kacang hijau dalam gelas air minum
kemasan bekas yang sekelilingnya
diberi lubang kecil dengan label nama
peneliti (kelompok), jumlah bibit, nama
bibit, media, tanggal pembibitan. Lalu
diberi tanda dengan menggunakan
penggaris untuk mengetahui
ukurannya. Lima gelas bibit yang
ditanam per kelompok ditempatkan
pada ruang terbuka sehingga
memperoleh cahaya matahari dan
terlindungi.
Selanjutnya, siswa menyiapkan lembar
tabel pengamatan dengan
menyantumkan nomor dan tanggal,
pengamatan panjang akar (mm/cm),
pengamatan panjang batang (mm/cm),
perkembangan akar, perkembangan
batang, dan perkembangan daun.
Selama 4 hari tabel pengamatan diisi
sesuai dengan apa yang diamati dari
tanaman tersebut. Banyak hal yang
positif dari penelitian ini. Di antaranya,
salah seorang siswa mengungkapkan
rasa keingintahuannya. “Setiap pagi hari
setiba di sekolah, kami sangat bersemangat untuk melihat pertumbuhan
tanaman kami. Hasilnya kami tulis pada
tabel pengamatan dan melakukan
penyiraman,” kata Safriani.
mencintai tanaman dan sadar akan
lingkungan sekitar,” kata Adi, salah
seorang siswa.
Sebagai daerah pertanian dan salah
satu penghasil kopi terbaik di dunia,
saya berharap siswa akan melanjutkan
tradisi menjadi peneliti ini, sehingga
mereka dapat menciptakan
perkembangbiakan generatif kopi yang
menjadi andalan daerah kami. Sebagai
langkah awal, setiap kelompok diberi
tugas menanam bibit kopi dan melihat
perkembangannya selama satu tahun.
Keingintahuan siswa dalam proses
perkembangbiakan generatif ini
terjawab langsung dengan hasil riset
mereka, bukan hanya membaca dan
melihat pada buku teks saja. Siswa
dapat melihat dan menjawab langsung
mengapa gelas bibit harus diberi
lubang, bagaimana hubungan akar,
batang dan daun, berapa hari
tumbuhan membutuhkan waktu untuk
tumbuh, ketika tumbuh bagaimana
posisi akar, dalam waktu berapa hari
akar dan daun mulai terlihat, berapa
hari akar dan batang sama panjang,
kapan akar lebih panjang dan
sebaliknya.
Semua hasil temuan siswa ini,
dipresentasikan di depan kelas.
Mereka sadari ternyata terjadi
kompetisi dalam perkembangbiakan
sebuat tanaman dalam satu wadah.
“Ternyata tidak semua bibit yang
disemai akan hidup. Kami jadi
Siswa juga merawat tanaman kacang hijau yang mereka tanam dengan menyiraminya.
Ilmu Pengetahuan Alam
9
Kelompok kromatografi sedang
mempresentasikan hasil
percobaannya.
MTsN Turikale Maros, Sulawesi Selatan
Membuat Proyek Percobaan Pemisahan Campuran
Melaksanakan pembelajaran IPA
dengan kegiatan percobaan,
sudah menjadi ciri khas Ibu
Kasmiatang Kadir. Dia juga kerap
menerapkan model
pembelajaran berbasis proyek.
Seperti pembelajaran berikut ini.
Oleh Kasmiatang Kadir SPd
Guru IPA MTsN Turikale
Salah satu kompetensi dasar (KD)
pembelajaran IPA yang ingin dicapai
untuk siswa kelas VII adalah memahami
karakteristik, serta perubahan fisik dan
kimia pada zat yang dapat
dimanfaatkan untuk kehidupan seharihari. Saya membuat indikator
pencapaian KD siswa yaitu memahami
10
prinsip dan terampil melakukan
pemisahan campuran dengan metode
filtrasi, kristalisasi, sublimasi, destilasi,
dan kromatografi. Pembelajarannya
didesain berlangsung dua kali
pertemuan dengan menerapkan
model pembelajaran berbasis proyek.
buku paketnya yang terkait dengan
materi pembelajaran selama 10 menit.
Setelah itu siswa mengungkapkan
jawabannya berdasar hasil bacaannya.
Saya sampaikan jawaban-jawaban
tersebut akan dibuktikan melalui
kegiatan percobaan.
Pada kegiatan apersepsi, saya
mengajukan beberapa pertanyaan
kepada siswa. Pernahkah kalian
pikirkan, (1) Bagaimana mengubah air
keruh menjadi air jernih? Bagaimana
air laut menjadi garam? Bagaimana
pengharum ruangan yang padat
menghasilkan bau? (2) Apa yang harus
kalian lakukan untuk mengubahnya?
(3) Apa yang terjadi jika baju putihmu
terkena tinta hitam?
Kegiatan inti pembelajaran pada
pertemuan pertama adalah menyusun
perencanaan proyek pemisahan
campuran. Siswa saya bagi menjadi
lima kelompok heterogen yang setiap
kelompok mendapat tugas berbeda,
yaitu melakukan pemisahan secara
sublimasi, destilasi, kromatografi,
filtrasi, atau kristalisasi.
Saya mempersilakan siswa membaca
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Setiap kelompok mendapatkan lembar
kerja, serta alat dan bahan yang
digunakan. Semua kelompok
mendiskusikan jadwal kegiatan
percobaan, tempat pelaksanaan, cara
membuat laporan mulai dari judul,
tujuan, alat dan bahan, langkah kerja,
simpulan, berdasar contoh-contoh
laporan yang sudah dibuat sebelumnya.
Saya juga memberikan rubrik penilaian
kepada setiap ketua kelompok untuk
memonitor anggota kelompoknya.
Pertemuan pertama di akhiri dengan
presentasi rencana desain proyek
percobaan yang akan dipraktikkan di
rumah.
Pada pertemuan kedua, kegiatan
intinya berupa presentasi hasil
percobaan yang sebelumnya telah
dilakukan di rumah. Kelompok
sublimasi (pemisahan campuran dari
padat ke gas tanpa mencair terlebih
dulu) menunjukkan laporan hasil
percobaan, serta alat dan bahan yang
digunakan seperti botol air mineral
600 ml 1 buah, paku, sabun, gunting,
dan isolasi bening.
Cara kerjanya, botol aqua dilubangi
dengan menggunakan paku, kemudian
botol dipotong pada bagian bawah,
dan sabun dimasukkan ke dalam botol
tersebut. Botol yang telah dipotong
disatukan kembali dengan menggunakan isolasi bening. Produk pun jadi.
Berdasarkan penuturan siswa, sabun
disebut mengalami sublimasi karena
sabunnya perlahan menguap atau perubahan dari benda padat menjadi uap.
Penguapan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar seperti pengaruh
udara.
Hasil simpulan yang dibuat siswa setelah melakukan percobaan kromatografi.
Pada kelompok destilasi (pemisahan
campuran dengan menggunakan
pemanasan sampai titik didih sehingga
terpisah filtrate aslinya) bahan yang
dipersiapkan adalah kompor, panci, air
sumur, dan garam. Proses yang
mereka lakukan adalah air sumur
dicampurkan dengan garam sebagai
pengganti air laut. Air tersebut
dipanaskan di atas kompor, uap yang
dihasilkan ditampung dan dikumpulkan
pada penutup.
Secara bergantian setiap kelompok
melaporkan hasil percobaannya. Guru
juga memberikan penguatan tentang
prinsip metode pemisahan campuran,
manfaatnya, serta penerapan prinsip-
prinsip pemisahan campuran dalam
kehidupan sehari-hari. Terakhir, hasil
laporan kelompok dikumpulkan.
Aquarium Mini untuk Belajar
Ekosistem Buatan
Agar materi ekosistem buatan dapat
dipelajari siswa kelas VII lebih bermakna, saya mengajak siswa belajar dari
akuarium mini yang dibuat sendiri di
sekolah. Pada pertemuan sebelumnya,
siswa sudah diajak belajar pengamatan
langsung ke lingkungan sekitar sekolah
untuk belajar ekosistem alami. Pada
pembelajaran kali ini, siswa diharapkan
dapat menentukan bentuk-bentuk
interaksi yang terjadi pada ekosistem
Ilmu Pengetahuan Alam
11
buatan dan menganalisis peran
komponen biotik dan abiotik
berdasarkan pengamatan ekosistem
buatan yang telah dibuat.
Guru memberikan lembar kerja dan
penjelasan singkat tentang cara
membuat akuarium mini, dan tugas
pengamatannya. Adapun alat dan bahan
yang digunakan setiap kelompok
antara lain:
1. Botol bekas air kemasan plastik
1500 ml yang telah dipotong
2. Pinset
3. Air bersih
4. Ikan betok berukuran kecil 1 ekor
5. Ikan betok ukuran sedang 1 ekor
7. Siput sawah ukuran sedang 1 ekor
8. Hidrylla sp sebanyak 1/2 gr
9. Batu kerikil 30 butir
Setelah akuarium mini selesai dibuat,
siswa mengamati ekosistem dalam
akuarium tersebut, yaitu interaksi yang
terjadi antara biotik dan biotik, biotik
dan abiotik, serta abiotik dan abiotik.
Dalam ekosistem buatan di akuarium
mini tersebut, siswa mendapatkan data
bahwa komponen biotik dan abiotik
selalu berinteraksi membentuk
hubungan yang saling ketergantungan.
Contohnya ikan memerlukan udara
untuk bernapas, tumbuhan hydrilla
memerlukan cahaya untuk
berfotosintesis.
Selain itu ada juga ketergantungan
komponen abiotik terhadap
komponen biotik, misalnya kerikil dan
kotoran ikan dapat memberikan pupuk
12
Guru mendampingi siswa yang sedang melakukan pengamatan interaksi yang terjadi
dalam ekosistem buatan di akuarium mini.
bagi tumbuhan yang membuatnya
menjadi lebih subur.
Pada saat presentasi hasil pengamatan,
ada juga salah satu kelompok yang
menemukan adanya kompetisi pada
interaksi biotik dengan biotik yaitu
untuk mendapatkan makanan antara
ikan besar dan ikan kecil. Mereka
menyimpulkan dalam ekosistem
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
terjadi interaksi baik antara
komponen abiotik dengan komponen
biotik, interaksi antara sesama
komponen biotik, atau interaksi antara
sesama komponen abiotik.
”Karena itu penting bagi kita menjaga
kelestarian ekosistem lingkungan
sekitar kita,” kata salah seorang siswa
dalam presentasinya.
Guru sedang mendampingi siswa
melakukan uji coba perambatan sinar
dengan media sederhana di ruang
meditasi IPA. Di ruang Meditasi IPA, siswa
dapat menggunakan media untuk
membuktikan konsep IPA yang dipelajari.
MTsN Peanornor, Tapanuli Utara, Sumatera Utara
Buat Ruang Meditasi IPA
Media pembelajaran diperlukan untuk
mem-bantu siswa memahami konsep
IPA. Pada kenyata-annya media
pembelajaran IPA tidak selalu tersedia
di sekolah maupun di lingkungan
sehingga perlu dibuat sendiri. Oleh
sebab itu guru IPA dituntut kreatif
membuat media. Guru dapat mengajak
siswa bersama-sama membuat
membuat media pembelajaran.
Salah satu kelas di MTsN Peanornor,
Tapanuli Utara, memiliki banyak media
pembelajaran IPA. Siswa menyebut
kelas itu Laboratorium IPA. Tetapi
Desmila Manurung SPd, lebih senang
menyebutnya sebagai ruang meditasi.”
Itu bukan laboratorium IPA, mereka
menyebut begitu, karena mereka ingin
punya laboratorium IPA,” terang Ibu
Desmila.
Ibu Desmila mempunyai alasan
memilih istilah meditasi. Alumnus IKIP
HKBP Nommensen itu ingin siswanya
fokus dan senang belajar IPA. Di ruang
itu ia membuat dan mengumpulkan
berbagai media pembelajaran. Setiap
kali belajar IPA, siswa diajak
menggunakan media-media itu. ”Saya
ingin di sana mereka seperti
bermeditasi dan menemukan obat,”
tukas Ibu Desmila.
Obat yang dimaksudnya adalah praktik
nyata dari konsep IPA. Sebagai guru
IPA, dia menyadari kesulitan siswa
belajar IPA. Siswa sering gagal
memahami konsep IPA karena tidak
tahu penerapannya di dunia nyata. ”Di
sini mereka menggunakan media guna
membuktikan konsep fisika yang
mereka pelajari. Jadi konsepnya sesuai
dengan dunia nyata,” terangnya.
Ibu Desmila sudah banyak membuat
media pembelajaran. Dia memanfaatkan bahan-bahan sederhana dan berbiaya murah. Bahkan sering membuat
media dari barang-barang bekas.
Setelah membuat dan mengumpulkan
media, Ibu Desmila dihadapkan pada
masalah merawat media-media itu.
Banyak media yang rusak setelah
dipakai oleh siswa. Menghadapi
masalah ini punya cara bagus. Ia selalu
mendokumentasikan setiap media yang
dibuat. Hasil dokumentasi itu Ia
tunjukkan kepada siswa di awal tahun
pembelajaran. ”Tujuannya agar siswa
tahu media yang dulu dibuat kakakkakaknya,” katanya lagi.
Setelah itu, dia meminta siswa
membuat media yang sama. Ketika
membuat media itu, siswa mengalami
proses pembelajaran. Mereka secara
langsung menemukan konsep IPA yang
mereka pelajari. Media yang dibuat
menjadi semakin baik pula. ”Jadi ada
tiga keuntungan, siswa bisa
menemukan konsep pembelajaran,
media yang dibuat lebih bagus, dan
media selalu tersedia untuk
digunakan,” tukasnya.
Praktik pembelajaran kontekstual di
MTsN Pearnornor membuat sekolah
itu rutin mendapat kunjungan belajar.
Sejumlah sekolah dari Sibolga dan
Tarutung melakukan studi banding.
”Kami juga sering diundang mengikuti
pameran pendidikan,” ungkapnya.
Ilmu Pengetahuan Alam
13
MTsN Teunom Aceh Jaya, Aceh
Siaga Bencana dengan Simulasi Gunung Berapi
Siswi MTsN Teunom Aceh Jaya
memeragakan simulasi letusan gunung
berapi dengan media pembelajaran yang
dibuatnya.
dibeli di pasar sebagai model lava,”
ungkap Ridwan SPd, guru kelas VIII
MTsN Teunom Aceh Jaya.
Wilayah Indonesia berada di atas
kawasan cincin api pasifik, tempat
bertemunya lempeng-lempeng
tektonik utama dunia. Oleh sebab itu
Indonesia memiliki ratusan gunung
berapi yang terdapat di sepanjang
Pulau Sumatera, Jawa, Bali, Nusa
tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Maluku
Utara. Kondisi ini menyebabkan
sewaktu-waktu Indonesia dapat
mengalami bencana alam gunung
meletus, seperti yang pernah terjadi
pada Gunung Merapi di Yogyakarta,
Gunung Sinabung di Sumatera Utara,
dan Gunung Kelud di Kediri. Letusan
14
gunung-gunung ini ditandai dengan
keluarnya material lava dari dalam
kantung magma.
”Siswa perlu dibelajarkan tentang
gunung api dan dampaknya. Pembelajaran tentang gunung api dilakukan
dengan membuat model simulasi
gunung api. Untuk membuat model
gunung api diperlukan bahan-bahan
yang ada di lingkungan, yaitu pasir atau
tanah untuk membuat model gunung
api, botol bekas air mineral sebagai
dapur dan saluran magma, larutan
asam cuka dan soda kue yang bisa
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Cut Rika Ramadhani, siswa kelas VIII
menuangkan asam cuka dalam sebuah
selang yang terhubung dengan pompa
dan sebuah alat peraga di hadapannya.
Teman-teman kelompoknya ikut
membantu menuangkan soda dan
pewarna dalam sebuah lubang pada
alat peraga yang berbentuk puncak
gunung. Selanjutnya asam cuka
dipompa sehingga mengeluarkan
cairan merah.
Alat peraga yang mereka rancang
bersama itu bernama Simulasi Gunung
Berapi yang menghasilkan magma
(lahar merah) pada lereng pegunungan.
Pak Ridwan yang membimbing siswa
MTsN Teunom Aceh Jaya tersebut
berharap dengan menggunakan alat
peraga itu siswa dapat memahami
proses letusan gunung berapi.
“Dengan simulasi ini siswa lebih
paham proses gunung berapi karena
kita tidak mungkin membawa siswa
pada situasi nyata apalagi saat
terjadinya ledakan gunung berapi,”
jelas Ridwan.
Selain memahami letusan sebuah
gunung, siswa juga diajak memahami
jalur evakuasi, cara pengungsian yang
benar dan tempat pertemuan
(berkumpul) jika terjadi bencana. Oleh
karena itu alat peraga yang mereka
buat bersama dari karton dan busa
bekas tersebut juga memperlihatkan
hamparan jalan, sekolah, rumah
penduduk, pepohonan dan
persawahan.
“Dengan memperhatikan arah angin
dan magma soda yang keluar dari alat
peraga gunung berapi, kami juga dapat
mempelajari jalur evakuasi dan tempat
berkumpul yang benar saat terjadinya
bencana. Selain itu, kami juga
mengetahui radius yang aman untuk
mengungsi dan bersiaga saat
terjadinya bencana gunung berapi,”
jelas Rika.
Langkah-langkah pembuatannya:
Alat dan bahan yang dibutuhkan
untuk membuat simulasi gunung
berapi yang meletus adalah
sebagai berikut:
1. Siapkan botol plastik yang sudah
disediakan lalu masukkan soda kue
secukupnya ke dalam botol
tersebut.
1. Botol plastik bekas ukuran kecil
atau sedang
2. Tambahkan bahan pewarna merah
dan aduk sampai merata sehingga
terlihat merah.
2. Sedotan untuk mengaduk
3. Larutan asam cuka
4. Soda kue (baking soda)
5. Bahan pewarna merah (pewarna
kain atau pewarna makanan)
6. Tanah liat atau pasir
3. Letakkan botol yang sudah diisi soda
kue dan pewarna tadi di atas lantai
atau papan kayu.
4. Tutupi sisi botol tersebut dengan
tanah liat atau pasir sampai
menyerupai bentuk gunung dengan
mulut botol dibiarkan terbuka.
5. Masukkan cuka sedikit demi sedikit
ke dalam botol yang berisi soda kue
dan pewarna lalu aduk dan biarkan.
6. Cuka akan bereaksi dengan soda
kue yang mengakibatkan soda kue
meluap ke atas dan keluar melewati
mulut botol dan turun mirip dengan
material lava yang sedang
dikeluarkan gunung api yang sedang
meletus.
Dengan alat dan bahan yang sederhana, simulasi letusan gunung berapi dapat
dipelajari di kelas.
Ilmu Pengetahuan Alam
15
MTsN Teunom, Aceh Jaya
Stetoskop dari Corong Minyak
Dengan stetoskop sederhana ini, detak jantung dapat lebih didengar dengan jelas.
CORONG minyak ternyata bisa
menjadi media pembelajaran dan
menumbuhkan semangat belajar siswa.
Ridwan SPd, guru MTsN Teunom Aceh
Jaya, membuktikannya. Ia merangkai
corong minyak menjadi alat untuk
mendengarkan detak jantung atau
16
stetoskop.
Stetoskop adalah alat yang dipakai
oleh dokter untuk mendengarkan
bunyi jantung dan paru-paru pada
pasien. Stetoskop menggunakan
prinsip bunyi merambat melalui udara.
Stetoskop dapat digunakan sebagai
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
media pembelajaran Bunyi dan Sistem
Transportasi pada Manusia di
SMP/MTs. Media pembelajaran
tersebut berbahan 1 corong minyak
ukuran sedang, 30 cm selang air
dengan diameter 6 mm, 30 cm selang
air diameter 5 mm, 1 selotip bening,
gunting, dan lem perekat.
Cara merangkainya:
1. Selang pertama dilubangi dengan
diameter 5 mm tepat pada bagian
tengah. Pada ujung selang kedua
(diameter 5 mm) tambahkan lem
secara merata.
2. Masukkan ujung selang kedua yang
sudah diberi lem pada lubang yang ada
di tengah selang pertama sampai
membentuk huruf T. Sambungan
direkat dengan selotip supaya tidak
bocor.
3. Hubungkan ujung selang kedua
dengan corong minyak dan direkatkan
dengan selotip hingga kuat (pastikan
tidak bocor).
secara bergantian menghitung detak
jantung teman yang sedang santai dan
membandingkan jumlah detak jantung
setelah beraktivitas. Hasilnya, dengan
hitungan normal rata-rata 72 kali per
menit, denyut jantung waktu
beraktivitas lebih tinggi daripada
normal” kata Nazalia Asrita, salah
seorang siswa.
Nazalia juga menuturkan, eksperimen
itu dapat membangun kerjasama tim
dalam pembelajaran yang kooperatif.
Dengan begitu, siswa bisa menemukan
hasil eksperimen sendiri dan
memahami materi.
4. Stetoskop siap digunakan. Pak
Ridwan telah memakai media ini
dalam pembelajaran. ”Dengan
menggunakan metode pembelajaran
yang efektif, penggunaan alat peraga
yang mudah dijangkau dan relevan bisa
membantu meningkatkan pemahaman
siswa,” jelas Pak Ridwan.
Menurutnya merakit stetoskop
bersama-sama lebih memotivasi
kreativitas siswa. Guru dapat
menambah penjelasan lain misalnya
dalam membuat media ini siswa harus
menggunakan bahan yang ramah
lingkungan. Guru juga dapat mendorong siswa supaya kreatif dalam
bereksperimen.
”Kami dapat mengetahui kapan
jantung kontraksi dan relaksasi. Kami
juga dapat menghitung jumlah denyut
jantung selama 1 menit. Kami juga
Membuat stetoskop sederhana dari bahan-bahan yang mudah ditemui.
Ilmu Pengetahuan Alam
17
MTsN 2 Medan, Sumatera Utara
Buat Kompor Bertenaga Matahari
Oleh Dedy Gunawan Hutajulu
Wartawan Harian Analisa,
Medan
Salah satu kompetensi yang
dibelajarkan bagi siswa SMP/MTs
adalah memahami konsep energi,
menganalisis perubahan energi,
menerapkan pemanfaatan energi
ramah lingkungan dalam kehidupan
sehari-hari. Siswa dapat belajar
mempraktikan penerapan energi
ramah lingkungan yaitu energi
matahari dengan membuat Kompor
Bertenaga Matahari, seperti yang
dilakukan siswa di MTsN 2 Medan.
Strategi pembelajaran yang digunakan
adalah pembelajaran berbasis proyek,
seperti yang disarankan dalam
Kurikulum 2013.
Habibul Khoir Lubis, siswa MTsN 2
Medan berhasil membuat kompor
bertenaga matahari hanya dengan
modal Rp.30.000,-. Kompor ini
dikerjakan Habibul selama masa
liburan sekolah guna memenuhi tugas
IPA yang diberikan gurunya.
Habibul mempresentasikan cara
pembuatan dan penggunaan kompor
bertenaga matahari.
18
Hasil karya Habibul telah
dipresentasikan pada kegiatan
kunjungan Walikota Medan dan
Konsul AS untuk Pulau Sumatera yang
mengunjungi sekolahnya. Pada waktu
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
presentasi Habibul sedikit grogi ketika
semua mata mulai mengarah
kepadanya. Suaranya perlahan
membahana kala berbicara di depan
puluhan tamu penting. Walikota Medan
Drs Rahudman Harahap MM, Konsul
AS untuk Pulau Sumatera Kathryn A
Crockart, dan puluhan pejabat
Pemerintah Kota Medan dengan tekun
menyimak Habibul mempresentasikan
penggunaan kompor tenaga surya
yang dia kembangkan.
Kompor tenaga surya ini sebenarnya
bukan murni terobosan Habibul. Ia
mendesain ulang apa yang sudah
ditemukan Horace de Saussure pada
1767. Kala itu Horace berhasil
memanfaatkan energi surya sebagai
bahan bakar kompor rancangannya.
”Saya mendapat informasi dari
internet,” tukas Habibul.
Lalu bagaimana cara membuatnya?
Bahannya hanya kardus bekas mie
instan, aluminium foil, cat hitam, lem
dan gunting. “Bentuk kardus menyerupai kotak ataupun panel kompor
tenaga surya. Gunting kertas timah
sesuai lebar dalam kardus, lalu tempelkan. Gunting karton hitam sesuai
lebar luar kardus, kemudian rekatkan.
Usahakan bagian dalam bawah kardus
berwarna hitam. Selesai.”
Kompor bertenaga matahari karya siswa
MTSN Medan, bisa dibuat memasak.
Kelihatannya mudah bukan. Namun
perlu diketahui, karena prinsip utama
kompor ini adalah mengandalkan
tenaga surya. Maka sebaiknya
digunakan saat sinar matahari
memadai, biasanya antara pukul 9 pagi
hingga pukul 2 sore. Hal lain yang
perlu diindahkan, kecepatan angin,
ketebalan panci, jumlah dan ukuran
bahan yang dimasak, dan banyaknya air
yang digunakan. Semua itu akan memengaruhi kecepatan masaknya bahan
makanan.
Prinsip kerja alat ini juga mudah
dipahami. Pertama, pemusatan cahaya
matahari. Kedua, mengubah cahaya
menjadi panas. Ketiga, memerangkap
panas. Almunium foil berfungsi untuk
memusatkan cahaya. Sedangkan cat
hitam ditujukan untuk menangkap
panas. Kedua material ini membuat
panas terperangkap dalam kotak.
Kotak inilah yang disebut kompor.
Pembuatan kompor tenaga surya
penting dibelajarkan kepada siswa. Di
tengah gembar-gembor isu pemanasan
global serta krisis energi yang
mendera negeri ini, rasanya
pemanfaatan kompor tenaga surya
patut kita lirik. Indonesia adalah
negara tropis dengan sinar matahari
yang bersinar sepanjang tahun
sehingga sangat sesuai jika
mengembangkan kompor dengan
memanfaatkan energi matahari.
Dengan menggunakan alat yang ramah
lingkungan ini, kita sudah bisa
menekan pemakaian bahan bakar
seperti minyak, gas, dan kayu bakar
yang setiap saat dapat habis.
itu. Sambil melahap pisang, Rahudman
mengacungkan jempol. Para undangan
pun bertepuk tangan. Selamat buat
Habibul.
Tulisan merupakan reportase yang
berjudul Memanfaatkan Kompor
Bertenaga Surya yang diterbitkan Harian
Analisa (7/5/2013). Disarikan kembali
dengan persetujuan penulis.
Drs Rahudman Harahap MM menguji
kompor tenaga surya Habibul. Ia pun
tak ragu menyantap pisang yang
direbus dengan kompor tenaga surya
Ilmu Pengetahuan Alam
19
Berbagai jenis model
mikroskop kreatif karya ibu
Kasmiatang yang dibuat
dengan memanfaatkan bahanbahan yang mudah didapat.
MTsN Turikale Maros, Sulawesi Selatan
Mikroskop Berbiaya Murah, Mirip yang Asli
Oleh Kasmiatang Kadir SPd
Guru MTsN Turikale Maros,
Sulawesi Selatan
Sebelumnya di sekolah saya hanya
ada satu mikroskop yang dipakai untuk
belajar di tiga kelas. Saya berpikir
bagaimana cara membuat sendiri alat
alternatif pengganti mikroskop yang
mahal itu. Saya kemudian mencoba
berinovasi memperbesar penglihatan
20
objek dengan menggunakan mistar
plastik, botol aqua, gelas kaca yang
diisi air, mangkok kaca, dan botol
parfum. Terakhir saya gunakan botol
minyak gosok.
Di antara alat-alat tersebut botol
minyak gosok memberikan hasil
terbaik. Mula-mula kertas tulisan yang
ada di bagian luar botol dibuka dan
dibersihkan. Botol diisi air sampai
penuh, dengan cara dimasukkannya ke
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
dalam baskom yang berisi air. Mulut
botol ditutup dan ditekan memastikan
tidak ada gelembung yang bisa
menghalangi pengamatan. Gelembung
dapat menghalangi fokus sehingga
objek preparat tidak nampak.
Setelah itu, lumut saya letakkan di atas
meja preparat, dan saya amati.
Rumbai-rumbai lumut kelihatan lebih
jelas dan botol minyak gosok lebih
efektif dibanding dengan bahan lainnya.
Namun bagaimana botol tersebut bisa
dirangkai menjadi mikroskop?
Bersama siswa, saya mencoba
merangkai dengan bahan lainnya dan
menempatkan botol yang berfungsi
sebagai lensa objektif.
Mikroskop yang kami buat
rangkaiannya adalah sebagai berikut:
 Botol plastik bekas air mineral
sebagai tubus, mulutnya sebagai
lensa okuler,
 Tiga buah balok dengan ukuran
yang berbeda, satu sebagai lengan
berukuran 22 cm, dan satu sebagai
penghubung lengan dengan tubus
dengan ukuran 8 cm, dan lainnya
sebagai kaki dengan ukuran 12 cm.
 Dua buah tutup botol sebagai
makrometer atau sekrup pengarah
kasar.
 Tiga buah paku yang berfungsi
sebagai penghubung, dua buah paku
sebagai penyangga meja objek, dua
buah paku sebagai pelekat tutup
botol, dan dua buah paku di simpan
di atas objek.
 Karton sebagai meja objek dan
Cara Membuat
Potong tiga buah balok dengan ukuran
22 cm, 12 cm, dan 8 cm dan rangkai
dengan paku. Tempelkan penutup
botol plastik pada bagian balok penghubung lengan dengan dua buah paku
ke lengan mikroskop sebagai
penyangga meja preparat. Gunting
karton persegi berukuran 11 cm, dan
lubangi bagian tengah dengan ukuran
diameter 1 cm. Gunting bagian yang
akan ditempelkan ke lengan
mikroskop dengan ukuran 4 cm dan
letakkan di atas paku.
Potong bagian bawah botol plastik.
Lubangi botol tersebut sesuai ukuran
mulut dan bagian bawah botol minyak
gosok. Masukkan botol minyak gosok
ke dalam lubang. Supaya tidak ada
celah antara botol minyak gosok
(lensa objektif) dengan botol plastik
(tubus), botol ditekan dengan paku
pada bagian depan, dan belakang
persis di atas botol minyak gosok.
Lekatkan botol plastik di balok
(lengan mikroskop) dengan
menggunakan karet. Sekarang siap
untuk digunakan, letakkan preparat
yang telah dibuat.
menaik-turunkan tubus.
Objek preparat terlihat besar dan jelas
pada jarak fokus kurang lebih 1,5 cm
sampai 5 cm. Sedangkan mekanisme
penggunaan mikroskop sederhana dari
bahan karton adalah menyimpan
preparat di atas meja sediaan, memilih
lensa objektif (botol yang telah berisi
air, sesuai dengan ukuran pembesaran
yang diinginkan), memegang botol
tersebut sambil mengamati objek
preparat.
Berdasarkan hasil pengamatan yang
telah dilakukan botol yang lebih besar
akan menghasilkan pembesaran yang
lebih besar. Botol minyak gosok juga
bisa diganti dengan jenis botol kaca
yang tidak berwarna lainnya.
Keunggulan mikroskop ini, alat dan
bahannya mudah didapat,
pembuatannya juga relatif mudah, hasil
yang didapatkan mirip dengan aslinya.
Jika pengamatan dilakukan di tempat
terbuka hasil dan perbesarannya
semakin jelas.
penahan cermin, cermin berfungsi
sebagai sumber cahaya.
 Karet yang berfungsi untuk
melekatkan tubus dengan lengan
mikroskop.
 Lakban untuk melekatkan paku
dengan tubus sehingga tubus dapat
berbentuk pipih.
 Pisau untuk memotong botol.
Cara Menggunakan
Mikroskop sederhana dari balok dan
bambu digunakan dengan menaikkan
tubus dan meletakkan preparat di atas
meja sediaan (meja preparat) dan
memastikan objek preparat tepat di
atas lubang. Jarak fokus diatur dengan
Ilmu Pengetahuan Alam
21
PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
MTsN 2 Tangerang, Banten
Buat Matematika
Jadi Favorit
Bapak Akidin MPd, guru
matematika MTsN Tigaraksa,
membuat matematika menjadi
mata pelajaran yang menjadi
pavorit siswa.
Proyek Membuat Miniatur
Madrasah
Bapak Akidin mengajak siswa kelas IX
membuat miniatur madrasah untuk
menerapkan konsep kesebangunan
dalam pemecahan masalah. Siswa
dibentuk dalam empat kelompok yang
berjumlah 8-9 siswa. Kemudian setiap
kelompok mendapat lembar kerja yang
berisi panduan membuat miniatur
gedung MTsN Tigaraksa, serta
meteran untuk mengukur.
“Kalian akan membuat tugas proyek
membuat miniatur sekolah. Tugas ini
dikerjakan dalam empat kali pertemuan. Hari ini kalian akan mengukur
luas madrasah untuk menjadi dasar
dalam membuat miniatur madrasah,”
terang Pak Akidin kepada siswanya.
Dalam proses pengukuran siswa
berbagi wilayah, ada yang mengukur
bagian gedung, lapangan, halaman
depan, dan luas seluruh sekolah. Semua
siswa tampak asyik menikmati
24
Setelah melakukan pengukuran dan menggambar madrasah, siswa dalam kelompok
kecil bekerja sama membuat maket miniatur madrasah dalam bentuk tiga dimensi.
mengukur. Setelah selesai mengukur,
setiap kelompok menyampaikan data
hasil pengukurannya, dan setiap
kelompok saling melengkapi.
Pada pertemuan kedua, guru menugaskan siswa untuk membuat gambar
miniatur madrasah. ”Setelah kalian
mendapatkan ukuran madrasah, sekarang setiap siswa akan menerapkan
konsep kesebangunan dengan
menggambar miniatur madrasah. Kita
akan menggunakan skala 1:100,” kata
Pak Akidin lagi.
Setelah gambar miniatur madrasah
selesai dibuat, pada pertemuan ketiga
dan keempat siswa membuat miniatur
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
madrasah dalam bentuk tiga dimensi.
Setiap kelompok sebelumnya telah
patungan untuk membeli alat dan
bahan yang diperlukan, seperti triplek,
karpet, lem, gunting, kayu seukuran
korek api, dan kertas karton dengan
ketebalan 3 mm. Berdasar gambar dan
ukuran yang sudah dibuat, siswa mulai
berbagi tugas membuat miniatur
madrasah. Ada yang mengukur kertas,
ada yang menggunting, dan ada yang
menempelkannya pada triplek yang
sudah dilapisi karpet.
“Dengan pembelajaran ini, para siswa
mempraktikkan konsep kesebangunan,
perbandingan senilai, pengukuran, dan
bangun ruang sisi datar,” kata Pak
Akidin. Setelah selesai membuat
miniatur madrasah, setiap kelompok
secara bergantian berpresentasi di
depan kelas.
Gunakan Rumus Luas
Permukaan Balok untuk
Tentukan Harga Modal Lemari
Pada pembelajaran lainnya, Pak Akidin
mengajak siswa kelas VIII menemukan
rumus luas permukaan balok untuk
diterapkan dalam pemecahan masalah
kehidupan sehari-hari.
Dia membuka sesi pembelajaran
dengan menunjukkan sebuah gambar
kepada para siswa dan menanyakan
gambar apakah yang ditampilkan.
“Kotak obat,” jawab seorang siswa.
“Bentuknya apa?” tanya Pak Akidin.
“Ada yang kubus, ada yang balok,”
jawab siswa.
penyederhanaan rumus dan menarik
kesimpulan bahwa ru-mus luas
permukaan balok 2 (pl + lt + pt).
ditemukan bersama, para siswa
melakukan penghitungan luas
permukaan balok sebagai berikut:
Kemudian guru mengundang dua
siswa perwakilan dari salah satu
kelompok untuk mempresentasikan
hasilnya. Ternyata kelompok lainnya
memiliki jawaban yang sama, sehingga
guru melanjutkan ke tahapan
selanjutnya, yaitu menugas-kan siswa
untuk mencari luas permukaan sebuah
balok dengan panjang 12 cm, lebar 8
cm dan tinggi 6 cm. Dengan
menggunakan rumus yang sudah
= 2 (pl + pt + lt)
= 2 (96 + 72 + 48)= 432 cm2
Guru lalu memberi dua soal yang
menggunakan masalah yang dapat
ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Soal pertama adalah “Nesti ingin
membungkus kotak kado
menggunakan sampul kertas kado yang
berbentuk balok dengan panjang 25
cm, lebar 12 cm dan tinggi 10 cm.
Berapa luas kertas kado minimal yang
Guru membagikan lembar kerja (LK)
dan model balok dari kotak kemasan
ke setiap kelompok siswa. Siswa
membuka kotak kemasan tersebut
sehingga tampak jaring-jaringnya dan
ditempelkan di kertas karton. Lalu
siswa memberi nomor pada setiap
bidang kotak dan menuliskan bagianbagian panjang, lebar, dan tinggi pada
jaring-jaring seperti gambar di bawah.
Setiap kotak dari jaring-jaring yang
berbentuk persegi panjang dituliskan
rumus luasnya. Setelah menemukan
rumus setiap bidang dan
menggabungkan semua rumus
tersebut, siswa melakukan
Pak Akidin sedang mendampingi siswa di kelompok kecil menemukan luas balok dari
jaring-jaring model balok dari kotak bekas kemasan.
Matematika
25
dibutuhkan Nesti untuk membungkus
kotak tersebut?”
Soal kedua adalah, “Seorang tukang
kayu akan membuat lemari berbentuk
balok pesanan pelanggannya. Panjang,
lebar dan tinggi masing-masing 1m, 0,5
m dan 2 m. jika harga kayu Rp 200.000
/ m2, harga politur (pewarna) Rp
150.000/m2. Harga asesorisnya
Rp.100.000 dan biaya jasa
pembuatannya Rp 500.000, berapa
harga modal lemari tersebut?”
Guru berkeliling kelas untuk
mendampingi proses kerja kelompok
dan bertanya jawab dengan para siswa.
“Kebutuhan kayu dapat dicari
berdasarkan luas permukaannya.
Berapa luas permukaannya? Apakah
sudah ada yang tahu?” tanya guru.
“Luas permukaannya 7m2,” jawab salah
seorang siswa.
“Harga kayu permeter Rp 200.000.
Jadi berapa biaya kayunya?” tanya guru.
“7 x Rp 200.000 Pak,” jawab siswa.
“Lemari akan dilapisi dengan plitur.
Harga politur Rp150.000 /m2.Yang mau
diplitur berapa luasnya? 7 m2. Berarti 7
dikalikan harga plitur, lalu dijumlahkan
dengan biaya lain. Kita bisa
menemukan harga lemari itu,” jelas
guru lagi.
Selanjutnya perwakilan kelompok
mempresentasikan hasil kerja mereka.
Untuk soal pertama, siswa
menemukan bahwa luas permukaan
balok adalah 1.340 cm2.
26
Jaring-jaring balok yang sudah diberi label oleh siswa untuk memudahkan
menghitung luas permukaan balok dan menemukan harga jual lemari.
Berikut adalah hasil perhitungannya:
= 2 (pl + pt + lt) = 2 {(25 x 12) + (25
x 10) + (12x10)}
= 2 (300+250+120)
= 600 + 500 + 240
= 1340 cm2
= 2 (0,5 + 2 + 1)
= 7 m2
Harga jual lemari = (harga kayu x luas
permukaan) + (politur x luas
permukaan) + asesoris + jasa =
(200.000x7)+(150.000x7)+100.000+
500000
= Rp 3.050.000,-
Sementara untuk soal kedua, siswa
menemukan bahwa harga jual lemari
adalah Rp 3.050.000. Berikut adalah
hasil perhitungan siswa untuk
mendapatkan harga lemari:
2 (pl+pt+lt) = 2 {(1x1/2) + (1x2) +
(2.1/2)}
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
“Jadi kalian sudah mampu menghitung
harga modal lemari. Bukan hanya
untuk buat lemari, tapi banyak hal yang
dapat menggunakan rumus permukaan
balok,” kata Pak Akidin. Pembelajaran
ditutup dengan kegiatan refleksi.
Temukan Rumus
Luas Juring dan Panjang
Busur dengan Mudah
Pada pembelajaran matematika lainnya,
Pak Akidin mengajak siswa kelas IX
menemukan rumus luas juring dan
panjang busur. “Sebelum memulai
aktivitas kelompok, coba perhatikan di
sekitar kita benda-benda yang
berbentuk lingkaran,” tanyanya kepada
siswa. Sontak siswa beberapa siswa
menjawab pertanyaan gurunya.
Benda-benda di dalam kelas yang
disebut siswa seperti jam dinding,
tutup botol, dan lampu. “Siapa yang
hafal rumus luas lingkaran?” tanya Pak
Akidin sekali lagi. Seorang siswa
menyebutkan rumus lingkaran secara
lantang kemudian Pak Akidin membenarkannya.
“Sekarang kita masuk pada kegiatan
inti. Tolong siapkan alat dan bahan
seperti penggaris, jangka, busur
derajat, benang, spidol kecil, gunting,
kertas HVS dan kertas plano di
kelompok kalian! Saya akan bagikan
LK yang berisi langkah-langkah kerja.
Silakan kalian bekerja dalam kelompok
sesuai petunjuk dalam LK.” Demikian
instruksi yang diberikan Pak Akidin
kepada seluruh siswa yang sudah
terbagi dalam kelompok kecil.
Siswa mulai aktif bekerja membentuk
lingkaran, menggunting, berdiskusi dan
menuliskan temuan-temuan yang
diperoleh. Pada lingkaran yang dibuat
siswa, mereka membuat jari-jari 10 cm
dengan membentuk sudut pusat 90
derajat. Lingkaran tersebut digunting
dan ditempel di kertas plano. Lalu
siswa membandingkan luas kedua
juring lingkaran untuk menemukan
rumus luas juring.
Dari nilai-nilai perbandingan sudut,
luas juring dan panjang busur, siswa
menggunakan benang untuk mengukur
panjang busur. Pada tahap ini, siswa
harus membuat kesimpulan. Temuan
kelompok menyata-kan bahwa luas
juring berbanding lurus dengan besar
sudut pusat atau panjang busur.
Artinya, semakin besar ukuran sudut
pusat juring atau ukuran panjang
busurnya, maka semakin besar luas
juring tersebut.
Untuk menentukan rumus luas juring,
siswa harus membandingkan besar
sudut juring yang sudah ditemukan
dengan sudut lingkaran penuh 360
derajat, dan membandingkan luas
juring dengan luas lingkaran
berdiameter penuh. Hasil temuan
ditulis di kertas plano untuk
ditempelkan di dinding kelas.
Hasil karya siswa menemukan rumus
luas juring dan panjang busur.
“Setiap kelompok memilih juru bicara
yang akan tetap tinggal dan berdiri di
samping kertas plano yang ditempel.
Sisanya, silakan melakukan kunjung
karya untuk bertanya, memberi
komentar dan memberi penilaian atas
hasil kerja kelompok lain,” seru Pak
Akidin di akhir kerja kelompok. Siswa
yang mendapatkan komentar dari
kelompok lain diminta untuk
merespons komentar tersebut melalui
juru bicara yang sudah ditunjuk.
Matematika
27
Siswa menyusun bentuk
persegi panjang.
MTsN Cisaat, Cirebon, Jawa Barat
Ayo Temukan Rumus Luas Lingkaran
Oleh Agus Sudjono MPd
Guru MTsN Cisaat
Siswa terbiasa menggunakan rumusrumus matematika tanpa mengetahui
dari mana rumus itu diperoleh. Sepertinya siswapun tidak peduli tentang hal
tersebut. Karena itu pembelajaran yang
difasilitasi oleh Bapak Mahmud MPd,
guru kelas VIII, menguraikan cara
menurunkan rumus luas lingkaran
dengan cara yang sederhana.
Mengawali pembelajaran, guru
memberi pertanyaan kepada siswa:
“Siapa yang pergi ke sekolah naik
sepeda ?”Seorang siswa menjawab :
“Saya, pak.” Guru melanjutkan,
“Pernahkan kamu menghitung berapa
kali kamu harus mengayuh sepeda
untuk sampai ke sekolah?” Jawab siswa,
“Tidak pernah menghitung pak.”
Pada saat kalian mengayuh sepeda,
roda sepeda akan berputar. Setiap satu
28
kali mengayuh sepada, roda berputar
satu putaran dan sepeda bergerak
sejauh putaran roda sepeda tersebut.
Menghitung jarak yang ditempuh
sepeda itu tidak lain adalah menghitung keliling roda sepeda tersebut.
“Karena roda sepeda berbentuk
lingkaran, ada yang masih ingat rumus
keliling lingkaran?” Seorang siswa
menjawab rumus keliling lingkaran
adalah 2r. “Nah, rumus keliling
lingkaran ini yang akan kita gunakan
pada penurunan rumus luas
lingkaran.” Selain itu, luas bangun
datar lainnya, seperti berikut ini:
1.
2.
3.
BANGUN
DATAR
Persegi panjang
Jajaran genjang
Segitiga
4.
Trapesium
NO
Selanjutnya siswa dibagi dalam
kelompok dengan tugas menyiapkan
bahan-bahan beserta kelengkapannya.
Setiap kelompok diberi tugas yang
berbeda yaitu membuat lingkaran
pada kertas yang tersedia, kemudian
dipotong menjadi juring-juring kecil
sebanyak 16 bagian dengan ukuran
dan bentuk yang sama. Kemudian yang
semula berbentuk lingkaran diubah
menjadi bentuk bidang datar lain
sesuai tugas yaitu berbentuk persegi
panjang, jajaran genjang, segitiga atau
trapesium.
Setelah terbentuk dilanjutkan
menghitung luas daerah
bidang datar yang baru
RUMUS
tersebut. Hasil
Pxl
rangkuman perhitungan
axt
siswa dapat dilihat
1
sebagai berikut:
axt
2
1
2
(alas+atas)xt
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Beberapa jaring-jaring lingkaran
dalam berbagai bentuk.
Matematika
29
MTsN Sibolga, Sumatra Utara
Gunakan Bayangan untuk Hitung Tinggi Benda
1
Pembelajaran saya mulai dengan
pemberian motivasi. Saya katakan
kepada siswa kalau kita akan belajar
menghitung tinggi benda-benda. Saya
yakinkan bahwa gedung yang tinggi
bisa diketahui tingginya tanpa harus
memanjatnya. Cukup dengan bantuan
rol kayu dan sebuah kayu berbentuk
“T” siswa pasti bisa menentukan tinggi
30
sebuah benda. Saya memberikan
lembar kerja (LK) kepada siswa. Saya
meminta siswa keluar kelas untuk
menghitung benda-benda yang ada di
sekitar sekolah, seperti tiang bendera
dan pepohonan. Siswa langsung
bekerja sama di kelompok dengan
berpandu pada LK. Langkah pertama,
siswa mencari bayangan tiang bendera.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
2
Keterangan Foto: (1) Siswa
menggunakan meteran untuk
mengukur panjang bayangan. (2)
Siswa mencatat hasil ujicoba dan
melaporkannya. (3) Sketsa
matematis penentuan tinggi benda.
Setelah siswa mendapatkan bayangan,
saya minta mereka mengukur jarak
antara pangkal tiang bendera dengan
ujung bayangan. Setelah itu siswa
menuliskan hasilnya di selembar
kertas.
Langkah kedua, saya menempatkan
kayu berbentuk huruf “T” sejajar
dengan bayangan. Kemudian siswa
mengukur jarak dari letak benda
berhuruf “T” dengan ujung bayangan.
Karena tinggi benda berhuruf “T”
sudah diketahui, maka siswa bisa
langsung menghitung tinggi tiang
bendera (lihat gambar). Hanya saja, di
Kota Sibolga matahari tidak selalu
hadir. Fenomena cuaca kota di tepi
pantai selalu ekstrim dan susah di
tebak. Matahari tidak selalu bersinar
dan kadang hujan lebih sering datang.
Untuk menyiasati keadaan itu, saya
menggunakan sinar buatan dari senter
sebagai pengganti matahari. Tapi cara
ini hanya sebagai ilustrasi di kelas.
Cara kerjanya sama seperti
menggunakan matahari. Benda yang
akan kami ukur, kami sinari dengan
lampu senter. Kemudian kami mencari
bayangan yang dihasilkan sorotan
sinar senter itu. Setelah berhasil
menemukan ujung bayangan, kami
mene-ruskan proses penghitungan
dengan meletakkan benda berhuruf
“T”. Proses selanjutnya, kami
mengukur jarak antar benda berhuruf
“T” dengan ujung bayangan. Setelah
hasilnya diketahui, kami sudah bisa
menghitung tinggi benda.
Setelah praktik di luar kelas selesai,
saya melanjut-kan pembelajaran
dengan memberi soal-soal. Hasilnya
cukup memuaskan, siswa mampu
menjawab dengan baik soal-soal yang
diberikan.
Sketsa Matematis Penentuan Tinggi Benda
B
3
D
E
C
Benda yang
dicari tingginya
A
Dari gambar di samping berlaku
perbandingan sebagai berikut:
CE : CD = AE : AB
AB = CD x AE
CE
AB
CD
AE
CE
= Tinggi Benda
= Panjang Kayu T
= Panjang bayangan
= Jarak kayu T dan ujung bayangan
Matematika
31
Siswa dalam kelompok,
merancang strategi
permainan kartu perkalian
MTsN 2 Banjarnegara, Jawa Tengah
Aku Buat Kartunya,
Aku Buat Aturannya, Asyik...
Dari penjajakan dan pre-test materi
dasar matematika pada siswa kelas VII
MTsN 2 Banjarnegara diperoleh fakta
bahwa 78 persen siswa belum
menguasai perkalian bilangan antara 1
sampai 10, ada 15 persen siswa yang
belum begitu lancar dan hanya 7
persen yang menguasai perkalian
dengan baik. Dengan kondisi tersebut,
hampir semua materi perhitungan
dalam matematika akan menjadi rumit
bagi siswa. Itulah yang menjadi
penyebab utama mereka kurang
menyukai matematika.
perkalian dan pembagian. Tahap awal
saya membagi 45 siswa kelas VIIB
dalam kelompok kecil dengan anggota
4-5 siswa. Setiap kelompok menerima
100 lembar kartu kosong. Kemudian
ketua kelompok membagi tugas
kepada anggotanya untuk menuliskan
perkalian bilangan antara 1 sampai 10
tanpa ada hasil perkaliannya (untuk 5
kelompok) dan 5 kelompok lain
membuat soal pembagian di bawah
100. Setelah 20 menit kartu yang
sudah dibuat dikumpulkan dan
dikocok secara acak.
Untuk mengatasi masalah tersebut,
saya melakukan permainan kartu
Tahap kedua, selama 15 menit tiap
kelompok merancang sebuah bentuk
32
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
permainan yang dianggap menarik,
misalnya permainan membuat
pertanyaan, kemudian siswa
menuliskan aturan permainannya pada
selembar kertas HVS.
Tahap ketiga, selama 15 menit
kelompok mengadakan simulasi
permainan kartu sebelum
dipresentasikan di kelompok lain.
Selanjutnya, selama 15 menit ketua
kelompok membawa kartunya pada
kelompok lain dan mempresentasikan
penggunaan kartu yang dimilikinya,
kemudian dicobakan pada kelompok
yang dikunjungi.
Tahap keempat, permainan kartu
berakhir dan tiap siswa kembali pada
kelompoknya. Suasana menjadi ramai
dan menyenangkan ketika permainan
ini dicobakan. Berbagai strategi
dimunculkan siswa, ada yang
berpasangan, ada juga yang
berkelompok. Salah satunya yang
dilakukan Andini dan kelompoknya.
Permainan yang diciptakan Andini
yaitu membuat pertanyaan sebanyakbanyaknya dan digilir dari pemain satu
ke pemain yang lain.Yang giliran
mendapat permainan membuat
pertanyaan dan yang pertama
menjawab sesuai gilirannya berusaha
menjawab soal yang diterimanya.
Ada juga kelompok berpasangan yang
bermain cepat-cepatan dalam
menjawab dan menghabiskan kartu
yang dipegangnya. Semakin cepat dan
benar jawabannya, kartu yang
dipegangnya akan habis dan menjadi
pemenang.
Pembelajaran ini tidak hanya dilakukan
dalam kelas saat itu saja, tapi saya dan
siswa membuat komitmen bersama
untuk melakukannya di sela-sela
waktu kosong, istirahat, pergantian
jam, maupun saat di rumah. Siswa yang
belum maksimal dalam memahami
operasi bilangan saya minta untuk
sering bermain kartu ini dan mereka
senang melakukannya.
Tahap terakhir, semua siswa menulis
refleksi dari pembelajaran yang
berlangsung. Di luar dugaan, yang
tadinya 90 persen siswa tidak suka
pelajaran matematika, setelah selesai
pembelajaran, seratus persen siswa
menjadi sangat suka. Alasannya,
matematika itu asyik dan
menyenangkan. Secara kompak siswa
bertanya, “Besok pelajarannya apalagi
ya, Bu? Apa yang harus saya lakukan
untuk menyiapkannya?” Sejak itu saya
selalu dijemput siswa setiap ada jam
pelajaran matematika.
Selama 2 minggu setiap ada waktu
istirahat, saya melihat adanya
permainan kartu tersebut di dalam
kelas. Hal ini menunjukkan bahwa
minat dan motivasi belajar matematika
siswa kelas VII sudah tumbuh.
Hasil belajar mereka juga meningkat,
yaitu 80 persen siswa mempunyai nilai
di atas 60 pada ulangan harian
pertama. Ternyata dengan siswa
membuat kartu dan menciptakan
sendiri aturannya, mereka lebih merasa
memilki pemainan ini. Saya lihat
mereka terus mengembangkan model
dan strategi bermainnya. Hal itu
membuat mereka menjadi lebih
kreatif.
Manfaatkan waktu
istirahat untuk bermain
kartu perkalian dan
pembagian
Matematika
33
PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA
MTsN 2 Tangerang, Banten
Ciptakan Siswa Kreatif melalui
Bahasa Indonesia
Gunakan Foto Agar Siswa
Menulis Cerpen
Menulis cerita pendek berdasarkan
foto dapat membantu siswa kelas IX
yang kesulitan dalam mencari ide
penulisan. Pembelajaran ini bertujuan
agar siswa dapat menulis cerita
pendek berdasarkan peristiwa nyata
yang dialami siswa. Peristiwa dan
pengalaman siswa itu terdapat dalam
foto yang dibawa siswa.
Cerpen halaman satu dari tiga halaman
karya siswa yang ide ceritanya diambil
dari foto yang dibawa siswa.
Bapak Ahmad Hanapiyah, guru
MTsN 2 Tangerang, membuat
siswa yang belajar bahasa
Indonesia tidak hanya mampu
berbahasa Indonesia yang baik,
tetapi berhasil membuat
siswanya kreatif. Berikut adalah
beberapa pembelajaran di kelas
VII dan IX yang dia fasilitasi.
Sebelum pembelajaran siswa diminta
untuk membawa foto dirinya bersama
keluarga atau teman dalam suatu
peristiwa atau kegiatan. Untuk
menemukan inspirasi menulis, siswa
diberi kesempatan untuk meng-amati
orang-orang dalam foto, mengingat
kejadian bahkan mungkin konflik yang
muncul. Kemudian hasil pengamatan
dan pengalaman siswa tersebut
dituangkan dalam lembar kerja yang
menyangkut kata kunci 'apa, mengapa,
bagaimana, siapa, di mana dan kapan'.
Setelah itu siswa membuat garis besar
ide cerita yang akan ditulisnya.
Langkah selanjutnya, siswa diminta
berpasangan dengan teman yang
duduk di sebelahnya. Teknik curhat
(curah pendapat) dilakukan dengan
tujuan melatih dan menggali
kedalaman dan kelancaran ide penu-
36
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
lisan cerpen. Berdasar curhat tersebut,
siswa mengembangkan garis besar
cerita menjadi tulisan cerita pendek.
Usai menulis, cerpen karya siswa
saling ditukar dengan teman.
Kemudian secara berkelompok siswa
menyatukan lembaran cerpennya ke
dalam satu kumpulan cerpen. Siswa
berbagi peran, ada yang menjadi
ilustrator sampul, penulis kata
pengantar, penyusun cerpen secara
alfabetis, dan penjilid. Hasilnya, ada
empat kumpulan cerpen dalam satu
kelas. Siswa merasa senang dengan
pembelajaran ini dan merasa tidak
kesulitan untuk menulis.
Menceritakan Fabel dengan Peta
Konsep dan Cerita Berpasangan
Fabel menjadi salah satu materi
pembelajaran di kelas VII.6 yang saya
bimbing di semester dua. Fabel ini
dapat dipelajari secara teks maupun
lisan. Kemampuan membaca teks fabel
berupa memahami fungsi, struktur, dan
ciri kebahasaan fabel. Kemampuan
tersebut menjadi dasar dalam kemampuan lisan yaitu menceritakan fabel.
Saya menerapkan teknik pembuatan
peta konsep garis besar cerita dan
cerita berpasangan. Pada pertemuan
sebelumnya, siswa diberi tugas untuk
mencari teks fabel dari buku cerita,
majalah, atau internet. Mereka boleh
mencatat ulang teks, membawa buku
atau majalahnya, serta mencetak dari
internet. Guru memastikan bahwa
yang dibawa siswa benar merupakan
fabel.
Di awal pembelajaran, siswa
mencurahkan pendapat tentang
manfaat menceritakan fabel dan
pengalaman mereka bercerita. Siswa
lalu menyimak cerita fabel yang
disampaikan oleh guru. Guru lalu
bertanya kepada siswa tentang hal-hal
apa saja yang harus dikuasai saat
seorang bercerita seperti yang guru
contohkan. Siswa lalu menyimpulkan
hal-hal yang harus dikuasai dalm
bercerita yaitu struktur cerita atau
garis besar cerita, volume suara,
intonasi, ekspresi, dan interaksi.
Kegiatan berikutnya, siswa secara
individu membaca fabel dari teks
masing-masing. Selanjutnya, mereka
menuliskan garis besar cerita atau
struktur fabel ke dalam peta konsep.
Struktur peta konsep itu terdiri dari
orientasi (pengenalan tokoh, latar),
komplikasi (masalah), resolusi
(penyele-saian), dan koda (perubahan
nasib tokoh dan pesan cerita).
Tujuan pembuatan peta konsep ini
agar siswa memahami garis besar
cerita sehingga memudahkan mereka
untuk menceritakan kembali isi fabel.
Untuk menarik minat, guru
mempersilakan siswa membuat
gambar peta konsep yang beragam
sesuai keinginan siswa. Ada yang
Siswa sedang saling menceritakan karya fabel buatannya secara bergiliran di kelompok.
berupa kotak, segitiga, awan, bahkan
kepala binatang sesuai tokoh cerita
seperti kancil, gajah, dan kura-kura.
Dalam menentukan struktur ini, siswa
tidak menemukan masalah karena
sudah pernah membuat analisis
struktur fabel dalam materi
pertemuan sebelumnya. Setelah itu,
siswa berpasangan dengan teman di
sebelahnya untuk berlatih bercerita
secara bergantian. Mereka saling
bertukar peta konsep dan memberi
tahu temannya jika ada garis besar
cerita yang terlewatkan. Siswa bercerita garis besar cerita menggunakan
kalimat sendiri dan tidak harus sama
dengan kalimat teks sehingga tidak
terpaku pada teks atau hapalan.
Pada saat bercerita, tampak siswa ada
yang tersendat-sendat, ada yang
tertawa, ada yang saling mengingatkan,
terlihat akrab dan antusias. Mereka
diminta untuk mengomentari kejelasan
volume suara, kelancaran bercerita,
variasi intonasi, serta kontak mata.
Selanjutnya, siswa berkelompok dan
ditugaskan untuk bercerita secara
bergiliran di dalam kelompok masingmasing. Sebagai panduan penilaian
bercerita teman, siswa berpandu pada
lembar pengamatan penilaian bercerita
yang merupakan kesepakatan pada
awal pembelajaran yaitu pengua-saan
struktur fabel, volume suara, intonasi,
ekspresi, dan interaksi.
Secara bergiliran siswa menyampaikan
cerita fabel seperti Kelinci yang
Sombong, Monyet yang Angkuh, Rubah
dan Kambing, Kancil dan Gajah, dan
lainnya. Selesai bercerita, siswa diminta
untuk menentukan satu karya siswa
terbaik. Tiga siswa terbaik mendapat
nominasi calon peserta lomba
bercerita di perpustakaan daerah.
Bahasa Indonesia
37
Siswa wawancara tentang pembuatan bakwan., berdiskusi, dan presentasi di depan kelas.
Menyajikan Teks Prosedur
Berdasarkan Hasil Pengamatan
Lingkungan Sekolah
dur secara individu dan mendiskusikan
dalam kelompok tentang struktur teks
dan ciri kebahasaan.
Memberikan pemahaman yang abstrak
kepada siswa akan lebih mudah jika
dimulai dari hal yang konkret. Itulah
yang mendasari Bapak Ahmad
Hanapiyah melakukan pembelajaran
menulis teks prosedur membuat atau
melakukan sesuatu dengan meminta
siswa kelas VII MTsN 2 Tangerang
Banten untuk mengamati proses atau
keadaan di lingkungan sekolah secara
langsung.
Pada pertemuan kedua ini, siswa
dalam kelompok mendiskusikan objek
pengamatan. Siswa diminta untuk
merumuskan pertanyaan dan fokus
objek pengamatan. Ada yang menentukan kantin, perpustakaan, UKS,
ruang BK, lab IPA, dan lab komputer.
Mereka menentukan pokok-pokok
pengamatan dan bahan pertanyaan
serta berbagi tugas anggota kelompok.
Para siswa diberi kesempatan sekitar
15 menit untuk mengamati objek
masing-masing. Kelompok perpustakaan mengamati dan tanya jawab
tentang cara penataan buku,
Pada pertemuan pembelajaran sebelumnya, siswa saling curah pendapat
tentang manfaat teks prosedur. Lalu
mereka membaca model teks prose-
38
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
kelompok UKS tentang cara
pengobatan luka, hingga kelompok
kantin tentang cara membuat
makanan.
Mereka kembali ke kelas lalu
memeriksa catatan pengamatan setiap
anggota secara berpasangan dalam
kelompok. Setelah itu, setiap kelompok menyusunnya menjadi teks prosedur yang terstruktur dan lengkap. Saat
penyusunan, saya mendampingi setiap
kelompok untuk meminta mereka
memeriksa urutan logis setiap langkah
prosedur.
Selesai menyusun teks, antarkelompok
saling bertukar karya dan memberikan
komentar berdasarkan kelengkapan
struktur, kebahasaan, dan kelogisan
langkah prosedur. Karya siswa dipajang
sebagai apresiasi.
Selesai berdiskusi, siswa diberikan
kesempatan untuk bertanya tentang
hal yang kurang paham dan saya
memberikan penjelasan penguatan
materi. Lalu, saya memberikan
pertanyaan penguatan: Mengapa kalian
harus dapat menyusun teks prosedur?
Bagaimana pemanfaatan teks prosedur
itu dalam kehidupan sehari-hari?
Selesai evaluasi, siswa diminta
menyimpulkan materi pembelajaran.
Dari refleksi siswa, dapat diketahui
bahwa mereka senang dan lebih
paham cara menyajikan teks prosedur
berdasarkan pengamatan langsung.
Sebagai rencana tindak lanjut, para
siswa diberikan tugas individu
menyusun teks prosedur berdasarkan
hasil pengamatan di lingkungan sekitar
rumah mereka.
Laporan tertulis siswa hasil
wawancara tentang pembuatan
bakwan atau bala-bala.
Bahasa Indonesia
39
Pohon kata buatan guru untuk media siswa membuat puisi. Media ini membantu siswa memperkaya
kosa kata dalam membuat puisi.
MTsN Garut, Jawa Barat
Inspirasi Puisi dari Pohon Kata:
Sulit Memulai Lebih Sulit Mengakhiri
Oleh Rina Rosmayana
Guru MTsN Garut
Setiap tahun, saat menjelaskan
pembelajaran “menulis puisi” pada
siswa kelas VII semester 2, siswa
spontan mengeluh kesulitan. Kali ini
saya mengajarkan puisi menggunakan
pohon kata untuk mengatasi
permasalahan kesulitan dan
keengganan siswa menulis puisi.
Langkah pembelajarannya sebagai
berikut:
motivasi siswa dengan bermain kata
melalui larik berantai. Saya
mengatakan satu larik tentang puisi
bertema keindahan alam sesuai
kompetensi dasar yang akan dipelajari.
Lariknya sebagai berikut “Rembulan
penuh// .......//Merenda kisah. Mentari
tersenyum//..........//Dalam dekap//.......
Kunci jawabannya: “Rembulan penuh//
Malam bertabur bintang// Merenda
kisah” Puisi kedua kuncinya “Mentari
tersenyum// Bersanding awan// Dalam
dekap// Menghangat.
1. Dalam apersepsi saya membangun
40
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Dari kegiatan memotivasi siswa hasil
dibahas tentang pola puisi Haiku (5-75 suku kata per barisnya), Sonian(6-54-3 suku kata tiap barisnya) dan siswa
akan mempelajari puisi bebas yang
tidak terikat pola tertentu.
2. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok,
masing-masing kelompok terdiri dari 6
orang siswa.
3. Selanjutnya siswa mengamati
gambar yang berhubungan dengan
keindahan alam dalam LK 1 lalu
mengisi matrik yang disediakan dengan
pilihan kata yang terinspirasi dari
gambar dalam LK 1. Dalam hal ini
siswa sudah memiliki pemahaman kata
abstrak dan kata konkret.
4. Setiap anggota kelompok adu cepat
menyebutkan satu kata dilanjutkan
searah jarum jam, dan siswa
selanjutnya tidak boleh menyebutkan
kata yang sama. Masing-masing
anggota minimal mengumpulkan 10
kata untuk satu objek gambar yang
diamati.
5. Kelompok yang tercepat
menyelesaikan mengerjakan LK 1
diberi tanda bintang se-suai rangking.
LK 1 diisi dalam matrik yang
diperbesar menggunakan kertas plano.
6. Sebelumnya siswa ditugaskan
membuat daun-daun kecil yang sesuai
kreasinya. Langkah berikutnya siswa
diminta menuliskan kata-kata yang ada
di matrik ke daun. Kata-kata konkret
yang ditulis dapat membangun
imajinasi siswa sehingga memiliki nilai
rasa tertentu yang dapat dinikmati
oleh panca indra baik penglihatan,
pendengaran, perabaan, ataupun
perasaan. Siswa juga diperbolehkan
mencantumkan turunan katanya.
Misalnya “desir, desiran, berdesir,
mendesir. Diharapkan dengan ini
siswa memiliki kosa kata yang lebih
kaya.
7. Selesai menuangkan kata-kata dalam
daun, siswa adu cepat kembali
merangkai daun tersebut dalam pohon
yang disusun di kertas plano. Masing-
masing siswa dalam kelompok
memiliki jenis daun dan warna daun
yang berbeda sehingga mereka
mengenali pilihan kata yang
dimilikinya.
8. Selanjutnya window shopping atau
belanja hasil karya. Dalam searah
jarum jam, siswa diminta berbelanja
pilihan kata yang tidak dimiliki untuk
menambah koleksinya.
9. Tugas kelompok selesai, tibalah
pada tugas yang sesungguhnya, yakni
menulis puisi bertema keindahan alam
dan pengalaman yang pernah dialami.
Siswa mengerjakan LK 2 yang di
dalamnya ada informasi tentang Haiku
(bentuk puisi baru sepanjang empat
larik dengan pola 5-7-5 suku kata
perlarik), Sonian (jenis puisi baru
puisi), dan puisi bebas beserta tiga
contohnya. Dengan berbekal pilihan
kata yang ada dalam pohon kata siswa
diminta menulis puisi minimal tiga
buah.
10. Terakhir, menyimpulkan
pembelajaran yang telah dilaksanakan,
refleksi siswa, dan memberikan tugas
terstruktur mandiri berlatih menulis
puisi lalu dikirim kepada guru melalui
sms untuk dikomentari.
Hal yang berharga dari pengalaman
pembelajaran ini, menulis puisi
memerlukan pilihan kata yang tepat
dan memiliki nilai keindahan. Dengan
pohon kata tersebut secara tidak
langsung anak belajar diksi dan kosa
kata yang sangat berguna saat menulis
sebuah puisi.
Melalui kegiatan ini siswa sampai tidak
menyadari bahwa kegiatan yang
dilakukannya ujung-ujungnya harus
menulis puisi. Salah satu siswa
bertanya, “Bu, bagaimana lagi
permainannya?” Dari pertanyaan itu
saya sadar bahwa pada pertemuan ini
siswa benar benar terhanyut sedang
bermain bukan sedang belajar.
Tetapi ada hal yang perlu diperbaiki,
terutama dalam pengelolaan waktunya.
Pembelajaran ini dilakukan dalam dua
kali pertemuan. Sebaiknya dibuat
dalam tiga kali pertemuan karena
harus ada proses perenungan saat
menuangkan dari pohon kata ke dalam
puisi.
Dampak perubahan dari menulis puisi
melalui “Pohon Kata” siswa aktif
mengumpulkan kosa kata dengan pilihan kata yang tepat, siswa juga menganggap bahwa menulis puisi tidak sulit
terbukti dengan hasil refleksi mereka
banyak yang menulis, “Saya senang
menulis puisi melalui pohon kata.”
Ketuntasan untuk kompetensi dasar ini
pun 90 persen di atas kriteria
ketuntasan minimal (KKM).
Alhamdulillah, sampai saat ini untuk
mewadahi minat menulis puisi, saya
membuat grup di Facebook ‘Sonian
MTsN Garut’ yang beranggotakan
guru bahasa Indonesia yang memberi
komentar dan apresiasi terhadap
postingan siswa.
Bahasa Indonesia
41
Siswa mengamati guci tua peninggalan masa kerajaan Daya.
MTsN Lamno, Aceh Jaya
Situs Sejarah Poteu Meureuhom,
Inspirasi dalam Menulis
Oleh Asnida
Guru MTsN Lamno
Situs sejarah Kerajaan Daya di Lamno,
Aceh Jaya, memiliki kisah sejarah yang
tidak terpisahkan dengan cerita
kegemilangan Kerajaan Aceh masa lalu.
Sultan Salathin Alaiddin Ri'ayat Syah,
merupakan raja yang memerintah
Negeri Daya antara tahun 1480-1508.
Beliau, setelah mangkatnya diberi gelar
Meureuhom Daya atau Poteu
Meureuhom.
Saat ini, situs sejarah itu masih terawat
42
rapi, bahkan setiap tahunnya dilakukan
kegiatan adat yang digelar setiap Idul
Adha. Nah, mengingat megahnya situs
sejarah tersebut bagi masyarakat, kami
berinisiatif untuk menjadikan objek
tersebut sebagai media pembelajaran
bahasa Indonesia terutama dalam
menulis cerita.
Selama ini ada anggapan siswa bahwa
menulis cerita sangat sulit sehinga
mereka takut dan tidak percaya diri
untuk menulis. Dengan memanfaatkan
situs sejarah, kami berharap siswa
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
dapat belajar menuangkan sesuatu
yang dilihatnya menjadi sebuah tulisan.
Selain itu, mengajak siswa untuk
menceritakan kembali sejarah sehingga
orang yang membacanya lebih paham
pada sejarah tersebut. Proses ini juga
akan menjadikan pelajaran Bahasa
Indonesia, khususnya menulis lebih
menarik dan menyenangkan, sembari
memperdalam rasa cinta sejarah dan
budaya daerahnya.
Strateginya, guru terlebih dahulu
menjelaskan tujuan pembelajaran dan
memberikan materi tentang menulis
cerita. Selanjunya, siswa bersama guru
menuju lokasi situs sejarah secara
bersama. Setibanya di lokasi, siswa
mendapatkan informasi awal dari
petugas situs sejarah sebelum melakukan observasi. Lalu, observasi dilakukan oleh siswa selama 30 menit. Sambil mengamati, siswa juga membuat
tulisan yang berkaitan dengan objek
sejarah tersebut. Sekembalinya ke
sekolah, siswa merapikan tulisan dan
guru bertindak sebagai fasilitator
untuk menyempurnakan hasil karya
tulisan cerita siswa. Diakhir sesi,
beberapa siswa menceritakan hasil
tulisan mereka di depan kelas dan
guru memberi penguatan tulisan
cerita dari hasil kunjungan tersebut.
“Sebenarnya kami sering ke tempat ini
saat kegiatan adat, namun tidak terpikirkan oleh kami bahwa sebenarnya
tempat ini bisa dijadikan media pembelajaran untuk menulis cerita. Dari
hasil amatan dan informasi dari petugas situs, kami dengan mudah dapat
menulis dan membandingkan antara
sejarah awal Kerajaan Kuala Daya
dengan keadaan sekarang.” cerita
Putri Humaira siswi kelas VIII MTsN
Lamno.
terlihat dan siswa lebih bersemangat
menulis jika ada suatu objek yang
dapat mereka tulis, daripada harus
mengarang di dalam kelas. Lainnya,
perbendaharaan kata-kata dalam
tulisan siswa lebih meningkat. Semoga
dengan menulis cerita yang dilakukan
sembari mengamati langsung objek
peninggalan sejarah ini, bukan saja
menambah keterampilan menulis siswa
tetapi juga menambah rasa cinta
mereka kepada peninggalan sejarah
sebagai jati diri bangsa.
Dampak dari kegiatan ini, rasa percaya
diri siswa untuk menulis sudah mulai
Siswa mengamati dan
memperoleh
informasi silsilah
kerajaan Daya.
Bahasa Indonesia
43
Siswa sedang meresensi buku dengan menggunakan matrik analisis.
MTsN Bobotsari, Purbalingga, Jawa Tengah
Meresensi Buku Melalui Matriks Analisis
Oleh Agung Wisnu Aji MPd
MTsN Bobotsari, Purbalingga,
Fasilitator USAID PRIORITAS.
Pada materi meresensi buku pengetahuan di kelas IXG MTsN Bobotsari,
dilaksanakan dua kali pertemuan atau
empat jam pelajaran. Pertemuan pertama dilaksanakan pada Senin jam 1-2,
dan pertemuan kedua Sabtu Jam 3-4.
Pertemuan pertama dan kedua
kehadiran siswa 100%. Jumlah siswa 36
terdiri atas 18 laki-laki dan 18
perempuan. Guru melaksanakan
langkah-langkah pembelajaran sesuai
dengan skenario pembelajaran. Adapun
44
urutan proses pembelajarannya
sebagai berikut:
Sebelum pembelajaran guru perlu
menyiapkan bacaan yang akan
diresensi oleh siswa. Bacaan yang
dipilih seyogyanya disesuaikan dengan
kondisi siswa, baik dari tebal buku,
maupun isinya. Guru membuat
matriks analisis berupa kalimat yang
berisi sub tema dalam bacaan serta
petanyaan yang akan dijawab oleh
siswa.
Langkah kegiatan :
Pertemuan pertama
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Kegiatan Pendahuluan diisi dengan
pengondisian siswa (salam, mengecek
kehadiran siswa, dll), apersepsi,
motivasi, penyampaian tujuan
pembelajaran, dan ruang lingkup
materi pembelajaran.
Pada kegiatan inti, guru mengaitkan
materi meresensi buku dengan
kegiatan bazar buku yang telah
dilakukan di sekolah. Siswa akan
diminta untuk menganalisis contoh
resensi buku.
Guru membagikan bahan pengamatan
berupa contoh resensi buku, kemu-
dian meminta siswa membaca secara
individu. Guru bersama siswa menyimpulkan bagian-bagian (struktur)
resensi buku.
Siswa dipersilakan untuk memilih salah
satu judul buku yang telah disiapkan
guru dan membaca membaca senyap
selama 20 menit.
Siswa membentuk kelompok sesuai
dengan judul buku yang dibacanya
maksimal 5 anak/kelompok. Siswa
menemukan identitas buku yang
dibaca bersama kelompoknya.
Perwakilan kelompok menyampaikan
hasil diskusinya kelompok lain
menanggapi.
Kegiatan penutup pada pertemuan
pertama adalah guru bersama siswa
menyimpulkan tentang bagian-bagaian
resensi buku dan identitas buku. Guru
memberi tugas agar siswa
menyelesaikan membaca buku
tersebut di rumah.
Pada pertemuan kedua, siswa
berkelompok sesuai dengan kelompok
pada pertemuan pertama. Guru
meminta siswa agar membaca sekilas
buku yang telah dibacanya. Hal ini
penting untuk membangkitkan
memori siswa. Guru membagikan
matriks analisis yang harus dikerjakan
siswa. Perwakilan kelompok
menyampaikan hasil analisisnya
kelompok lain menanggapi.
LK yang dibagikan guru dijadikan
panduan bekerja siswa secara individu.
Guru meminta kepada siswa untuk
menulis resensi buku yang
dibacanya dengan
mengembangkan matrik
analisis menjadi beberapa
paragraf. Pada awal
paragraf siswa dapat
mengambil paragraf
pertama pada prakata atau
kata pengantar buku. Hal
ini untuk memudah-kan
siswa mengawali
tulisannya. Paragraf
selanjutnya siswa
mengembangkan matrik
analisis. Pada bagian akhir
siswa diminta menulis
penilaian buku tersebut.
Perwakilan siswa
menyampaikan hasil
pekerjaannya. Karya siswa
kemudian dipajang
ditempat yang disediakan.
Pada kegiatan penutup,
guru bersama siswa
menyimpulkan dan
merefleksi apa yang telah
dilakukan pada pertemuan
tersebut. Salah seorang
siswa menyampaikan
kesan, ”Ia senang dan bisa
menulis resensi dengan
tepat.” Sebagai pengayaan,
guru memberikan tugas
membaca buku-buku
cerita kemudian berlatih
membuat resensi.
Hasil resensi buku yang dibuat siswa.
Bahasa Indonesia
45
Siswa menunjukkan surat yang
dibuatnya untuk kepala sekolah.
MTsN 3 Kuningan, Jawa Barat
Berbalas Surat Pembaca dengan Kepala Madrasah
Oleh Nita Hernawati SPd
MTsN 3 Kuningan
Salah satu aktivitas pembelajaran
menulis surat pembaca yang pernah
saya lakukan adalah berbalas surat.
Seperti halnya pembelajaran pada
materi lain, saya mengelompokkan
siswa dalam kelas menjadi enam
kelompok kecil. Di awal pembelajaran,
siswa diberi contoh surat pembaca
untuk dianalisis sehingga mereka
paham tentang menulis surat pembaca
yang mengikuti kaidah kebahasaan yang
baik dan benar.
Setelah itu, masing-masing kelompok
mengambil undian yang disediakan
untuk menentukan objek yang akan
46
mereka amati dan dijadikan objek
penulisan. Objek yang diambil
disesuaikan dengan kompetensi dasar
yaitu tentang lingkungan sekolah,
misalnya UKS, masjid sekolah,
perpustakaan, kantin sekolah, lab.
MIPA, dan lab. Bahasa. Masing-masing
kelompok akan mengamati objek yang
berbeda. Pada menit berikutnya,
seluruh siswa dalam kelompok
mengamati secara langsung objek yang
terpilih untuk menuliskan hasil
pengamatannya serta komentar yang
ingin mereka sampaikan kepada pihak
sekolah. Waktu pengamatan dibatasi
hingga 15 menit saja.
Selesai pengamatan siswa kembali
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
masuk ke kelas dan masing-masing
anggota kelompok menyampaikan
hasil pengamatan mereka di dalam
kelompok. Selanjutnya ketua
kelompok memimpin diskusi untuk
menyusun surat pembaca yang utuh
berdasarkan masukan dari semua
anggota kelompok.
Setelah tersusun, masing-masing
kelompok mempresentasikan hasilnya
di depan kelompok lain untuk diberi
komentar. Surat pembaca yang telah
disepakati kelompok berdasarkan
komentar dari kelompok lain,
disunting dan dituliskan kembali pada
kertas folio bergaris atau kertas surat
yang telah disediakan.
Apresiasi yang baik dibutuhkan pada
karya siswa manapun. Itu menjadi
bahan pertimbangan bagi saya untuk
memotivasi dan menghargai sekecil
apapun karya siswa. Maka dari itu,
setelah surat pembaca yang ditulis
masing-masing kelompok terselesaikan
dengan baik, saya persilakan setiap
kelompok untuk mengirimkannya
kepada Kepala MTsN 3 Kuningan via
POS terdekat.
Mengapa mengirim surat via POS
menjadi bagian penting dari pembelajaran ini? Karena saya meyakini bahwa
anak-anak di zaman sekarang tidak
mengenal lebih jauh tentang fungsi
kantor POS dan bahkan mungkin
banyak dari mereka yang tidak paham
bagaimana cara berkirim surat via
POS.
Langkah selanjutnya yang saya lakukan
adalah bekerja sama dengan kepala
madrasah untuk turut serta
mengapresiasi dengan cara membalas
surat pembaca yang ditulis siswa, dan
kembali mengirimkan surat balasan
tersebut via POS melalui alamat
rumah siswa masing-masing. Sungguh
aktivitas belajar yang menyenangkan
dan membanggakan bagi siswa, karena
mereka bisa berbalas surat dengan
kepala madrasahnya sendiri.
Metode ini cocok dilakukan bagi
sekolah yang tidak mempunyai media
jurnalistik tulis seperti buletin, majalah,
dan surat kabar sekolah.
Surat pembaca yang ditulis oleh siswa.
Bahasa Indonesia
47
MTs Al Mukhtariyah, Bandung Barat, Jawa Barat
Perhatikan Kemampuan Individu Siswa dalam
Membuat Poster
”Silakan ketua kelompok maju
mengambil amplop yang ada di tangan
Bapak,” kata Pak Sugandi yang telah
menyiapkan amplop yang berisi
lembar kerja dan panduan dalam
membuat poster yang baik. Setelah
berdiskusi menentukan tema dalam
poster, setiap kelompok tampak sibuk
membuat poster.
Pada salah satu kelompok, ada satu
siswa yang terlihat tidak terlibat dalam
kegiatan kerja kelompok. Ia justru
asyik mencoret-coret tempat
duduknya. Melihat hal itu, Pak Sugandi
memberikan pendampingan khusus
untuk kelompok siswa tersebut. Pak
Sugandi juga mengarahkan ketua
kelompok untuk membagi rata tugas
bagi semua anggota kelompoknya.
Pak Sugandi sedang mendampingi siswa dalam kelompok kecil untuk memastikan
semua anggota kelompok memahami dan dapat melaksanakan tugasnya.
Kemampuan dan kondisi siswa
dalam belajar sangat beragam sehingga
diperlukan pelayanan pembelajaran
yang sesuai kebutuhan dan keunikan
individualnya. Hal itu juga menjadi
perhatian Sugandi SPd, guru bahasa
Indonesia MTs Almukhtariyah Bandung
48
Barat. Pada saat membelajarkan siswa
tentang membuat poster, Pak Sugandi
memastikan setiap kelompok memiliki
4 anggota dengan kemampuan yang
beragam, perpaduan antara siswa yang
cepat, sedang, dan lambat belajar.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
”Sekarang kalian membantu
menyelesaikan tugas kelompok sesuai
dengan tugasnya ya,” kata Pak Sugandi.
Setelah memastikan semua anggota
kelompok tersebut bekerja sesuai
tugasnya, Pak Sugandi mendampingi
kelompok lainnya.
Tidak lama berselang, semua
kelompok berhasil menyelesaikan
poster mereka. Dua siswa perwakilan
setiap kelompok secara bergantian
mempresentasikan hasil karyanya.
Setiap mendapat kesempatan
presentasi dua putaran ke kelompok
lain dengan presenter yang berbeda
sehingga semua siswa mendapat
kesempatan berpresentasi.
Usai presentasi, Pak Sugandi memberi
siswa tugas secara individu untuk
mendeskripsikan poster yang telah
dibuat dalam kelompok selama 15
menit. Deskripsi tersebut terdiri atas
judul, tujuan, penjelasan tentang
poster, dan harapan siswa terhadap
orang yang membaca poster tersebut.
Belum sampai 10 menit, beberapa
siswa tampak sudah menyelesaikan
tugasnya dengan baik.
Untuk siswa-siswa tersebut, guru
memberi tugas tambahan khusus. Ada
yang diberi tugas tambahan membuat
slogan, dan ada juga yang diminta
membantu temannya yang masih
kesulitan dalam menyelesaikan tugas
mendeskripsikan poster.
Tambahan tugas tersebut merupakan
pengayaan yang diberikan kepada
siswa yang cepat belajar sehingga
mereka dapat memanfaatkan waktu
untuk menigkatkan kemampuannya.
Bagi siswa yang lambat belajar, diberi
bimbingan dan dampingan dari teman
atau guru sehingga semua dapat
menyelesaikan tugasnya dengan baik.
Siswa yang membantu temannya
mendapat kesempatan untuk
meningkatkan pemahaman dan
kemampuannya karena mereka
terlatih menginformasikan kembali hal
yang dikuasai kepada orang lain.
Poster hasil karya siswa.
Bahasa Indonesia
49
MTs Al Fauzan, Lumajang, Jawa Timur
Pahami Teks Eksemplum
Melalui Cerita Bergambar
Siswa Kelas IX MTs Al Fauzan
Lumajang belajar memahami Teks
Eksemplum, yakni membuat cerita
bergambar asal usul desa mereka
masing-masing. Sekolah mitra yang
menjadi satu dengan Pondok Pesantren Al Fauzan Lumajang ini mewajibkan seluruh siswanya untuk tinggal di
pondok pesantren. Asal usul desa
para siswa pun berbeda-beda dan
menarik untuk dituangkan ke dalam
cerita bergambar. Inilah yang dilakukan
oleh Ita Winarti guru bahasa Indonesia
di MTs Al Fauzan.
“Pembelajaran kali ini saya buat berbeda agar siswa tidak hanya sekadar
menemukan pengertian Teks Eksemplum, namun mereka bisa membuat
Teks Eksemplum melalui cerita
bergambar buatan mereka sendiri,”
terangnya.
Kegiatan diawali dengan pencarian
informasi terkait pengertian Teks
Eksemplum. Siswa di kelas dibagi
dalam tugas kelompok dan diminta
mencari informasi di luar kelas, yakni
di perpustakaan, internet, buku, dan
museum Al Fauzan. Sambil membawa
lembar kerja (LK) mereka mulai
mencari pengertian Teks Eksemplum
melalui 4 pusat informasi. Setelah
mendapatkannya, seluruh kelompok
50
kembali ke kelas dan
merangkum hasil
yang mereka
peroleh di LK. Hasil
kelompok tadi kemudian dipresentasikan oleh setiap kelompok.
Langkah selanjutnya, tugas individu di
mana setiap siswa membuat cerita
bergambar asal usul desa mereka
masing-masing sesuai dengan struktur
penulisan yang lengkap yang terdiri
dari orientasi, insiden, dan interpretasi. Orientasi merupakan pusat cerita
berasal, yakni asal desa siswa masingmasing. Dilanjutkan dengan insiden
atau peristiwa yang pernah terjadi
sehingga kejadian tersebut menjadikan nama desa. Ditutup dengan interpretasi atau pesan moral yang
didapatkan dari cerita.
Hampir semua siswa mampu menceritakan asal usul desa mereka masingmasing dalam bentuk cerita bergambar yang menarik. Akmal siswa kelas
IX merasa lebih mudah memahami
Teks Eksemplum dan ciri-cirinya
melalui cerita bergambar yang ia buat.
Siang itu, Ahmad menceritakan
tentang Desa Bangsal Sari Jember, asal
usul tempat tinggalnya. Masuk dalam
ciri Orientasi, Ahmad menceritakan
asal usul desanya Bangsal Sari diawali
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Teks eksemplum asal usul desa yang
dibuat oleh siswa.
dengan keberadaan dua tokoh cerita
Kakek dan Nenek Nambi yang hidup
di sebuah hutan tak bernama.
“Nenek Nambi senang menanam bunga, namun Kakek selalu meremehkannya. Suatu hari bunga tersebut
merekah semua dan nenek menjualnya
ke pasar. Ternyata banyak sekali peminat bunga nenek. Kakek tak menyangka bunga tersebut laku dijual dan disukai orang. Tempat tinggal sang nenek
menjadi terkenal. Melihat kenyataannya
tersebut kakek minta maaf dengan
membuatkan rumah-rumahan atau
bangsal di tengah taman bunga. Sejak
itu tempat itu dikenal sebagai Bangsal
Sari,” cerita Ahmad disambut tepuk
tangan seluruh temannya.
Di akhir kegiatan, hasil karya setiap
siswa ditempelkan di dinding. Beberapa
siswa saat istirahat enggan meninggalkan kelas dan lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca cerita
asal usul desa teman-temannya yang
ditempel di dinding.
PEMBELAJARAN
BAHASA INGGRIS
Para siswa membuat kamus sendiri (kiri). Berbagai bentuk kamus karya siswa (kanan).
MTs As'adiyah Puteri I Pusat Sengkang, Sulawesi Selatan
Memperkaya Kosakata Siswa
dengan Membuat Kamus Pribadi
Oleh M Idris Hasanuddin MPdI
Guru MTs As'adiyah Puteri I
Pusat Sengkang
Salah satu pengaruh positif dari
pembelajaran program USAID
PRIORITAS di Kabupaten Wajo adalah
kegiatan pembelajaran dalam kelas
menjadi lebih aktif, guru terinspirasi
untuk mengembangkan memecahkan
permasalahan dalam pembelajaran dan
pada akhirnya siswa menjadi lebih aktif
dan bersemangat untuk belajar. Hal
yang sama juga terjadi di MTs
As'adiyah Puteri I Pusat Sengkang
khususnya pada pembelajaran bahasa
Inggris di kelas VIII.
52
Permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran bahasa Inggris adalah
keterbatasan penguasaan kosakata
bahasa Inggris siswa sehingga siswa
kesulitan belajar dan kurang
bersemangat belajar bahasa Inggris.
Untuk mengatasi permasalahan
tersebut, diperlukan praktik
pembelajaran yang menekankan pada
penguasaan kosa kata bahasa Inggris
khususnya yang berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Praktik
tersebut yakni guru menugaskan siswa
secara individu untuk membuat kamus
pribadi yang memuat kosa kata seharihari.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Tujuan praktik ini adalah siswa
diharapkan menguasai dan
memperkaya kosa kata bahasa Inggris
yang berhubungan dengan kehidupan
sehari-hari mereka. Selain itu, praktik
ini juga merangsang siswa belajar
secara kreatif dan mandiri karena
siswa membuat sendiri kamus sesuai
dengan kebutuhannya.
Praktiknya dalam kelas, guru
menjelaskan secara umum tujuan
tugas pembelajaran dan langkahlangkah kegiatan. Setelah itu, siswa
dibagi dalam tiga kelompok besar
yakni kelompok Noun (kata benda),
kelompok Adjective (kata sifat) dan
kelompok Verb (kelompok kata kerja).
Langkah selanjutnya adalah
menugaskan siswa dalam kelompok
untuk mencari 30 kosa kata beserta
artinya sesuai dengan kelas kata
kelompoknya yang berhubungan
dengan kegiatan di rumah. Contoh
kelompok Noun mencatatkan kata
room: kamar, wall: tembok, dan
sejenisnya. Kelompok Verb
mencatatkan kata cook: memasak,
sweep: menyapu dan lain-lain.
personal. Siswa ditegaskan agar kamus
pribadi ini akan digunakan pada
pembelajaran-pembelajaran
selanjutnya.
Setelah kelompok mengumpulkan
kosakata, setiap anggota kelompok
diberikan kesempatan untuk saling
mengunjungi kelompok lain untuk
mencatat kosakata yang didapatkan
oleh kelompok tersebut. Langkah
selanjutnya adalah menginstruksikan
siswa untuk kembali ke kelompok
asalnya.
Hal itu juga terlihat dari hasil refleksi
siswa yang mengungkapkan bahwa
mereka bersemangat dan termotivasi
Dari kegiatan ini, siswa nampak
antusias dan bersemangat untuk
mengumpulkan kosa kata yang
ditugaskan. Siswa menjadi lebih aktif
membuka kamus dan berdiskusi
dengan teman kelompoknya tentang
kosakata baru yang mereka dapatkan.
untuk menambah kosa kata baru
bahasa Inggris.
Kegiatan hari-hari berikutnya yang
kami lakukan adalah merangkai kata
yang mereka dapatkan secara individu.
Mereka saya minta membuat lima
kalimat dari berbagai kosa kata yang
mereka dapatkan selama ini. Selain
tentang rumah, mereka juga saya
tugaskan untuk membuat kamus kecil
berdasarkan topik-topik khusus,
seperti tentang komputer, kebun,
piknik, pasar dan sebagainya.
Setelah siswa kembali ke kelompok
asalnya, siswa secara individu
mengumpulkan kosakata yang mereka
dapatkan dari kelompok lain
berdasarkan kelas kata Noun (kata
benda), Adjective (kata sifat), dan Verb
(kata kerja) yang berguna sebagai isi
dari kamus mereka.
Langkah terakhir yakni menugaskan
siswa di rumah untuk
menyempurnakan kamus mereka
sesuai dengan kreativitas mereka
sendiri, baik dari segi sampul dan
medianya. Siswa juga diinstruksikan
untuk memberikan nama untuk kamus
mereka sendiri sehingga kamus pribadi
siswa menjadi lebih menarik dan lebih
Para siswa menunjukkan hasil karya dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Bahasa Inggris
53
Siswa secara
berkelompok
mengamati
'NOTICE' yang
diperolehnya,
kemudian
membuat notice
dengan katakatanya sendiri.
MTsN Ciruas Kabupaten Serang, Banten
“Sekarang Saya Jadi Ngerti Notice!”
Bapak Arif Fahrudin, guru bahasa
Inggris MTsN Ciruas Kabupaten
Serang membahas materi pokok
Notice, Caution,Warning. Notice adalah
suatu tulisan/tanda untuk memberi
informasi, instruksi, atau peringatan
kepada publik.
Caution atau Warning adalah peringatan
atau saran yang ditujukan untuk
publik/khalayak umum tentang sebuah
bahaya atau resiko yang mungkin
terjadi. Tujuan dari pembelajaran adalah
siswa memahami dan mengerti notice,
caution/warning pada tempat-tempat
54
tertentu.
Kegiatan pembelajarannya, pertama
adalah kegiatan mengamati grammar
dan menanya. Pak Arif menunjukkan
contoh-contoh tanda/peringatan yang
biasa ditemui di tempat umum. “What
is this, Class?” tanya guru saat
menunjuk di layar papan tulis berupa
tanda gambar rokok dicoret.
Seluruh kelas serempak menjawab,
“No Smoking!” Kemudian guru menunjuk seorang siswa laki-laki yang duduk
di depan kelas, “Ari, could you explain
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
the meaning of this sign, please?”Ari pun
menjawab, “We can not smoke around
this area, Sir.” Kemudian, guru juga
bertanya kepada siswa lain tentang
gambar 'caution/ warning' seperti
gambar dilarang berenang. Siswa pun
menjelaskannya sebagai berikut, “Sir,
this warning says this swimming pool is
dangerous for swimming.” Jawaban
disambut dengan gelak tawa seisi kelas
karena aksen berbahasa Inggris siswa
tersebut.
Kedua adalah kegiatan mengumpulkan
informasi. Guru meminta siswa secara
berpasangan mendiskusikan soal teks
caution/notice yang diberikannya. Siswa
secara berpasangan diminta berdiskusi
hal-hal yang menjadi ciri-ciri notice
atau caution. Setelah lima menit
berdiskusi, guru meminta beberapa
pasang siswa untuk menjelaskan hasil
diskusi. Guru berhasil mencatat
jawaban yang bagus dari sepasang
siswa yang menjelaskan ciri-ciri notice
atau caution.
satu teks caution/notice yang
diperolehnya.
Pembelajaran ditutup dengan
pembagian lembar kerja untuk setiap
siswa yang dikerjakan secara individu.
Mereka diminta membuat teks
caution/notice masing-masing. Sambil
menulis di lembar kerja, seorang siswa
berkata kepada siswa yang lain,
“Sekarang, saya jadi ngerti notice!”
“Menurut kami, notice atau caution
menggunakan tidak banyak kata alias
singkat dan juga agar mudah dipahami
menggunakan gambar,” kata siswa
tersebut.
Ketiga adalah kegiatan mengolah
informasi, guru memberikan tiga
amplop untuk setiap kelompok.
Amplop tersebut berisi guntingan
kertas yang berisi kata acak dari teks
caution/notice. Secara berkelompok
siswa menyusun kata-kata acak
menjadi teks caution/notice yang benar.
Pak Arif sudah menempelkan gambar
peringatan di papan tulis. Kelompok
bertugas mencocokkan kata-kata yang
telah disusun dan meletakkan di
gambar yang sesuai di papan tulis.
Kemudian kegiatan mengomunikasikan
dalam pleno. Guru meminta perwakilan siswa mempresentasikan secara
pleno teks caution/notice yang
diperoleh setiap kelompok.
“Do not park here. It means we can
not park in that area,” kata salah
seorang siswa menyampaikan salah
Pak Arif Fahrudin sedang melakukan kegiatan apersepsi tentang informasi
notice yang biasa ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Inggris
55
Siswa mempraktikkan teknik Talking Stick.
MTsN Tanah Jambo Aye, Aceh Utara
Tongkat berbicara untuk
Tingkatkan Minat Speaking Siswa
Oleh Amniwati SPd I
Guru MTsN Tanah Jambo Aye
Speaking adalah salah satu
keterampilan penting yang harus
dikuasai siswa SMP/MTs dalam
pembelajaran bahasa Inggris disamping
3 keterampilan lainnya yaitu reading,
writing dan listening. Melalui speaking,
siswa dapat menyampaikan ide mereka
untuk berkomunikasi dengan orang
lain. Namun kenyataannya, sebagian
siswa menghadapi berbagai masalah
dalam speaking, meskipun mereka telah
belajar bahasa Inggris selama beberapa
tahun. Masalah tersebut juga dihadapi
oleh siswa MTsN Tanah Jambo Aye
56
kelas VIII. Mereka merasa kesulitan
dalam pembelajaran speaking karena
kurangnya vocabulary maupun
kurangnya penguasaan grammar. Siswa
merasa takut salah ketika berbicara
bahasa Inggris. Mereka juga merasa
malu untuk speaking baik dengan
sesama teman maupun untuk tampil di
depan kelas. Siswa juga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk speaking
di dalam kelas. Dan masalah yang
sangat penting adalah kurangnya variasi teknik pembelajaran yang digunakan guru ketika mengajar di kelas.
Tujuan pembelajaran ini adalah untuk
meningkatkan minat speaking siswa,
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
meningkatkan motivasi dalam belajar
speaking, memberikan kesempatan
untuk melakukan speaking tanpa rasa
malu dan takut dan menghindari
kejenuhan siswa dengan variasi Talking
Stick atau tongkat bicara ketika proses
pembelajaran.
Dengan teknik pembelajaran ini, siswa
bekerja sama dalam kelompok. Setiap
siswa memiliki kesempatan yang sama
untuk menyampaikan ide mereka
tanpa takut salah dan tanpa adanya
interupsi atau sanggahan dari siswa
lain. Siswa bebas menyampaikan
pendapat mereka. Caranya, siswa yang
memegang tongkat harus menjawab
pertanyaan dari guru dan temannya.
Setiap siswa diberi kesempatan untuk
bertanya sesuai dengan kesepakatan
awal dalam kelompok, artinya terlebih
dahulu mereka mempersiapkan
pertanyaan yang akan dilontarkan
pada kelompok atau siswa lainnya.
Teknik ini dapat memotivasi siswa
meningkatkan kemampuan speaking
siswa dengan cara yang lebih santai
dan menyenangkan. Siswa merasa
senang, santai dan tertarik dengan
pembelajaran sehingga guru lebih
mudah untuk mengajarkan mereka
dalam proses pembelajaran speaking.
Terlihat juga siswa lebih aktif dalam
menjawab pertanyaan, berbicara dan
bekerjasama dengan temannya
sehingga mereka tidak merasa bosan.
Proses pembelajarannya sebagai
berikut: Tongkat diletakkan di atas
meja, siswa duduk melingkar
mengelilingi meja. Setelah menjelaskan
aturan permainannya, guru meminta
siswa untuk membaca sebuah materi
dan mendiskusikannya dengan teman
lain atau secara berpasangan.
Kemudian guru mengangkat tongkat,
lalu memberikan dan menggilirkannya
kepada siswa dengan diiringi musik.
Musik berhenti dan siswa yang
memegang tongkat di tangannya harus
menjawab pertanyaan dari guru atau
guru meminta siswa tersebut untuk
bertanya.
masukan atau komentar kepada
pembicara sampai semua siswa
mendapat giliran.
“Kami merasa waktu berjalan sangat
cepat dan tanpa terasa dua jam
pelajaran sudah berlalu. Kamipun
memahami materi dengan mudah,
teman-teman berani berbicara untuk
mendeskripsikan gambar yang
disajikan oleh guru tanpa takut salah,”
ungkap Raisa salah seorang siswa kelas
VIII.
Dampaknya, Tongkat Bicara dapat
meningkatkan minat siswa dalam
belajar speaking hal itu terbukti dari
pembelajaran menggunakan Talking
Stick Technique score speaking siswa
meningkatkan dari biasanya 60-70,
menjadi 85. Respon siswa dalam
pembelajaran speaking khususnya
materi Describing People menjadi lebih
aktif, lebih tertarik dan termotivasi
serta suasana kelas selama proses
pembelajaran sangat menyenangkan.
Siswa yang mendapatkan tongkat
menjadi lebih termotivasi untuk berani
berbicara dalam bahasa Inggris.
Dalam pembelajaran ini, guru
membangun diskusi di antara mereka
dengan meminta siswa lain memberi
Bahasa Inggris
57
Siswa berada di kantor sekolah dan
berusaha mengidentifikasi benda-benda
di dalamnya untuk disusun dalam
kalimat bahasa Inggris.
MTs Jabal Nur, Parepare, Sulawesi Selatan
Merangkai Kata Bahasa Inggris Lewat
Metode Discovery Learning
Oleh Khairunnisa Hatta
Guru MTs Jabal Nur
Belajar bahasa Inggris sering kali
hanya belajar di ruang kelas saja,
padahal bahasa adalah media
mengungkapkan semua hal yang ada di
sekitar kita. Dengan metode discovery
learning, saya berusaha mengajar siswa
berbahasa Inggris secara praktis
dimulai dari lingkungan sekitar.
Dalam metode discovery learning, bahan
ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir
atau sudah jadi, tetapi siswa dituntut
melakukan berbagai kegiatan menghimpun, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasi
informasi dan membuat kesimpulan.
Guru berfungsi sebagai pemandu.
58
Agar siswa kelas VII MTs yang baru
saja belajar bahasa Inggris ini bisa
mengomunikasikan hal-hal yang terkait lingkungannya, berikut langkahlangkah pembelajaran yang saya
terapkan dengan metode discovery
learning.
Pertama, siswa dibentuk kelompok
kecil yang terdiri dari 4-5 orang;
Kedua, guru menentukan tempat
setiap kelompok: office (kantor),
canteen (kantin), field (lapangan), dan
toilet (WC). Masing-masing kelompok
berpencar dan mencari benda-benda
yang ada di tempat dituju. Misalnya di
kantin: gelas, mangkok, kue dan lainlain. Demikian juga di tempat lainnya.
Mereka langsung mencari kosa kata
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
padanannya dalam bahasa Inggris lewat
kamus yang mereka bawa dan dicatat
di buku kecil.
Bukan sekadar menuliskan nama
benda-benda yang didapatkannya
dalam bahasa Inggris, tapi juga setiap
benda dibuatkan kalimat deskriptif
yang menggambar-kan letaknya.
Misalnya, there are glasses in the cabinet,
the plate is near the window dan lainlain. Oleh karena itu, proses
pembelajarannya mencakup dua hal,
yaitu mencari benda-benda di tempat
tersebut, dan menggambarkan dalam
kalimat yang menunjukkan tem-pat
benda itu berada. Tiap kelompok
kemudian mempresentasikan hasil
menulisnya. Masing-masing kelompok
ditugaskan minimal mencatat tujuh
kosa kata baru yang bisa
dikembangkan dalam kalimat baru.
Salah satu hasil karya kelompok siswa
yang bertugas mengamati kantor,
mereka tulis tujuh kata benda yang
mereka dapatkan disana. Kata tersebut
adalah table, chair, pen, computer, and
lamp. Mereka juga menguraikan
masing-masing menjadi kalimat seperti,
there is a table beside a chair; there is a
pen in the pail dan lain-lain. Beberapa
kalimat yang disusun memang masih
salah dan tugas saya sebagai guru
adalah membimbingnya.
Kegiatan ini tanpa disadari membuat
siswa mampu mengungkapkan bendabenda di lingkungannya dalam bahasa
Inggris dengan cukup baik. Dari awal
mereka dikenalkan bahwa berbahasa
Inggris itu bukan hal yang kompleks,
bisa dimulai dari hal sederhana seperti
mengungkapkan benda-benda di
lingkungan kita sendiri.
“Saya sangat senang dengan
pembelajaran seperti ini. Belajar
bahasa Inggris tidak melulu lewat buku
paket. Lebih cepat menangkap kalau
membahasakan dahulu apa-apa yang
ada di sekitar saya,” ujar Syahrir siswa
kelas VII.
Salah satu hasil karya siswa kelompok.
Bahasa Inggris
59
MTsN 2 Tangerang, Banten
Buat Komik Berbahasa Inggris
Hasil karya siswa membuat komik aktivitas sehari-hari dalam bahasa Inggris.
60
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Ibu Haryati, guru bahasa Inggris kelas
VIII MTsN 2 Tangerang mengajak
siswanya untuk lebih terampil
mengungkapkan pendapatnya dengan
bahasa Inggris. Tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai adalah siswa mampu
menyampaikan pendapat secara
tertulis dengan tepat dan baik.
“Good morning class! Today we learn
how to express our opinion through daily
activities. In the beginning, what do you
do usually every morning?” tanya Ibu
Haryati kepada seluruh siswa. Siswa
saling bersahutan tunjuk tangan
menjawab pertanyaan gurunya.
“Okay, thank you for quick response.”
Ibu Haryati menuliskan satu per satu
jawaban siswa di papan tulis seperti
pray, take a bath; have breakfast; go to
school, dll.
Lalu Ibu Haryati bertanya lagi, “What
time do you have breakfast, Rina?” Siswa
yang bernama Rina menjawab, “I have
breakfast at 6 am.”
Kemudian Ibu Haryati membagikan
karton, pensil dan crayon ke setiap
kelompok siswa yang beranggotakan
4-5 siswa. “Class, I'd like to ask all of
you to work in groups. Kalian sekarang
bekerja dalam kelompok. Make one
comic of daily activities for each group!
Buat satu komik secara runut dalam
bahasa Inggris tentang kegiatan seharihari!” seru Ibu Haryati. “Any questions?
Ada pertanyaan?” tanyanya lagi.
Dalam kelompok siswa berbagi tugas
dengan teman yang bisa menggambar
dengan baik. Meskipun menurut Ibu
Haryati, penilaian bukan dari gambar
melainkan isi penulisan dalam bahasa
Inggris seperti grammar dan vocabulary.
Siswa berdiskusi dalam kelompok
menyusun rencana gambar dan
kalimat untuk tiap satu kotak komik.
Setelah idenya sudah disepakati, siswa
yang ahli menggambar membuat
gambar tiap kotak komik. Seluruh
siswa di kelompok membantu
memberi warna dan menuliskan
kalimat aktivitas per kotak komik.
Selesai membuat komik, komik
dipasang di dinding kelas dan siswa
melakukan kunjung karya untuk
menyimak dan menilai hasil karya
kelompok lain.
Guru tidak menentukan hasil
kelompok dari gambar yang bagus
tetapi dari kalimat berbahasa Inggris
yang baik dan benar dari setiap adegan
komik dalam tiap kelompok. Hasil
kelompok dipajang di dinding kelas.
Kelompok yang memiliki gambar yang
menarik dan sedikit kesalahan dalam
penulisan dipamerkan di mading
sekolah.
Bahasa Inggris
61
Siswa menunjukkan
hasil karyanya.
MTsN Peudada, Bireuen, Aceh
Plural Form Bertema Snake and Ladder
Oleh Laini Wati SPd
Guru MTsN Peudada
Saya membuat media pembelajaran
bahasa Inggris snake and ladder ini
dilatar belakangi oleh kurang
pahamnya siswa untuk mengubah
bentuk kata benda yaitu dari bentuk
tunggal menjadi bentuk jamak. Selain
itu untuk menepis pemahaman
sebagian siswa kelas VII yang
menganggap jika bentuk jamak itu
hanya dengan menambahkan huruf “S”
saja di belakang kata benda. Hal itu
62
terlihat dari hasil karya tulis mereka
selama ini dalam menggunakan kalimat
yang mengandung kata benda jamak.
Padahal untuk membentuk kata benda
bentuk jamak, terdapat beberapa
aturan seperti, menambahkan huruf
“es” di belakang kata benda
berakhiran huruf “ch, sh, ss, x, z” yang
harus diikuti.
Ditambah lagi aturan lain yaitu dari
kata benda yang berakhiran “f” atau
“fe” dengan terlebih dahulu mengubah
“f” menjadi “v” + es / “fe” menjadi
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
“ve” + s bahkan sampai kata benda
yang tidak beraturan perubahan
bentuk jamaknya seperti “child”
menjadi “children”. Masih ada
beberapa aturan lain dalam
pembetukan kata benda bentuk
tunggal menjadi jamak.
Karena itu saya mencoba membuat
media pembelajaran yang menarik dan
berwarna-warni di sertai gambar
dengan bahan mudah dan murah. Salah
satunya adalah dengan permainan
“snake and ladder” sebagai media
pembelajaran. Komponen permainan
snake and ladder ini terdiri atas papan
permainan berupa 36 bidang kotak
yang berisikan kata benda yang
bervariasi dalam aturan pembentukan
“plural form” nya.
Papan ini juga berisi instruksi bahwa
pemain harus mengganti singular form
untuk menjadi plural form. Bahan lain
pendukung permainan ini adalah bidak
dan dadu besar dari kertas karton.
Adapun bahan yang harus disediakan
yaitu: kertas karton putih, spidol,
pensil warna, penggaris, dan bidak.
Cara bermainnya tidak sulit,
permainan ini dapat dimainkan secara
individu atau berkelompok. Cara
kerjanya mirip permainan ular tangga
biasa. Pertama, guru meminta siswa
berpasangan dan dimulai dengan
mengocok dadu secara bergiliran,
siswa melangkahi kotak demi kotak
pada papan permainan dengan bidak
sesuai jumlah mata yang muncul pada
dadu. Siswa yang bidaknya berhenti
pada kotak tersebut harus mengubah
kata benda tersebut menjadi bentuk
plural form secara tertulis dan
mengucapkannya dengan tepat
permainan di lanjutkan hingga
mencapai finish.
Pada permainan ini, jika ada pemain
yang berhenti dikotak dengan gambar
kaki tangga, dia berhak menaiki tangga
sampai kekotak di ujung tangga.
Sebaliknya jika pemain berhenti di
kepala ular, maka harus turun ke kotak
bergambar ekor di bawahnya. Bagi
siswa yang tidak mampu menggubah
bentuk plural form-nya, maka sangsinya
adalah bidak pemain kembali lagi ke
tempat semula
“Metode pembelajaran seperti ini
sangat menyenangkan dan kami
mudah memahami perubahan bentuk
kata benda tunggal menjadi jamak,”
jelas Nurul, siswa kelas VII. “Benar,
selama ini kami
pikir setiap
bentuk jamak
dalam bahasa
inggris cukup
hanya
menambahkan
huruf s saja,”
timpal Razi.Yang
terpenting dalam
permainan ini adalah siswa mengetahui
jika ada aturan-aturan tertentu dalam
membentuk plural form dari sebuah
benda dalam bahasa Inggris. Di
samping itu siswa akan memperoleh
tambahan kosa kata baru khusunya
kata benda melalui media
pembelajaran yang menarik tersebut.
Media
pembelajaran
bahasa Inggris
Snake and Ladder
Bahasa Inggris
63
MTsN 2 Medan, Sumatera Utara
Pak Yazid:
Jurnal Refleksi
Membuat
Saya Lebih
Kreatif
Oleh Dedy Hutajulu
Jurnalis Harian Analisa Medan
Bapak Muhammad Yazid, guru bahasa
Inggris MTsN 2 Medan rutin menulis
jurnal refleksi. Keberhasilan dan
kendala selama pembelajaran
dicatatnya dengan detail. Selepas
mengajar Pak Yazid bergegas ke kantor
guru. Diambilnya sebuah buku
bersampul biru dongker dari atas
lemari. "Respons siswa kali ini semakin
tajam dalam menanggapi presentasi
yang disampaikan temannya di depan
kelas. Mereka sudah menerapkan
64
pertanyaan tingkat tinggi. Saya semakin
kagum pada mereka. Vocabulary and
pronounciation siswa meningkat tajam,”
tulisnya di buku itu.
Sore itu Pak Yazid baru selesai
mengajar kelas IX. Ia meminta siswa
membahas topik kesehatan. Putri salah
satu siswa yang presentasi. Ia
menjelaskan soal pentingnya
mengonsumsi sayuran. Materinya
menuai banyak pertanyaan. Seorang
anak lelaki di bangku tengah bertanya,
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
“Adakah sayur yang berbahaya bagi
tubuh?”
Putri bilang sayuran busuk dan
mengkonsumsi sayuran secara
berlebih tidak baik bagi tubuh. “Parents
must to do provide fresh vegetable every
day,” ungkapnya.
Pak Yazid segera bereaksi. Ia bilang
struktur kalimat Putri tidak tepat. Dia
meminta teman sekelompok Putri
untuk memperbaikinya. Namun
kelompok tersebut gagal
meralatnya.Yazid kemudian melemparkannya ke kelompok lain.
“Parents should provide fresh vegetable
every day,” jawab seorang dari
kelompok yang lain.
Pak Yazid memuji anak tersebut.
“You're right! Please give applause to
your friends,” kata Pak Yazid. Tepuk
tanganpun membahana di kelas.
Pak Yazid sudah mengajar 32 tahun. Ia
mulai rutin menulis jurnal refleksi
sejak 2013 lalu. Ide itu muncul
pascapelatihan yang digelar USAID
PRIORITAS. "Cara berpikir saya
berubah drastis dalam mengajar sejak
mendapat pelatihan dari USAID
PRIORITAS," ujarnya yang sore itu
mengenakan kemeja batik biru lengan
pendek.
Dari catatan jurnalnya, terbaca
kesukaannya dalam mengajar, yaitu
memperhatikan perkembangan anakanaknya satu demi satu serta secara
klasikal.
Di jurnal sebelumnya dia menulis,
kelas speaking dipersiapkan guna
membangun kelenturan lidah mereka
dalam berbahasa dan kepercayaan diri
anak-anaknya. Juga untuk
meningkatkan kosa-kata serta
kecakapan berbahasa secara logis
dengan struktur yang baik. Karena itu
saya patut mengapre-siasi usaha
mereka. Saya akan beri tepuk-tangan.
Saya akan tunjukkan tata bahasa yang
perlu dikoreksi dan saya semangati
mereka untuk terus berpartisipasi.
Minimal untuk berani bertanya. Begitu.
Pun di akhir pembelajaran tempo hari,
semua jalannya proses pembelajaran
di kelas dikekalkan-nya dalam jurnal.
Jurnal Pak Yazid berisi catatan keadaan,
evaluasi, dan tindaklanjut pembelajaran
di kelas.“Kalau perbaikan itu bisa
formal atau informal. Kalau formal, ada
waktunya di akhir pembelajaran. Kalau
informal bisa dimana saja kita ketemu
si anak. Kita ajak dia berdiskusi.
Macam-macam caranya,” terangnya.
Menurut Pak Yazid, memberi koreksi
secara klasikal, bagi guru, itu mudah
sekali.Tetapi bagaimana secara
individu? “Tentu sulit,” sahutnya
kemudian cepat-cepat
ditambahkannya, “Tetapi dengan
adanya jur-nal refleksi, kita bisa lebih
objektif (mengevaluasi). Juga lebih
mudah memberikan perbaikan karena
semua catatan itu lengkap per tiap
pertemuan. Makanya jurnal refleksi
selalu saya isi secara detail.”
untuk mencatatkannya. Ia terbiasa
menulis tanpa menunda-nunda. Sebab
ia mengaminkan betul bahwa tulisan
lebih tajam dari ingatan.
Jurnal biru dongkernya sudah lebih
separuh terisi. "Jurnal-jurnal
sebelumnya saya simpan baik di rumah.
Semua bercerita tentang proses
pengajaran yang saya lakukan.
Semuanya saya rangkum di situ
sehingga kalau dibuka lagi, saya jadi
tahu perkem-bangan anak-anak.
Lompatan-lompatan berpikir mereka.
Dan saya suka tersenyum sendiri,"
sambungnya.
Dan jurnal itu multi fungsi: refleksi
terhadap siswa juga terhadap dirinya
sebagai guru.Ya, ibarat pedang bermata
dua.“Dari jurnal inilah saya tahu
kekurangan-kekurangan saya dalam
membelajarkan materi.”
Memang jurnal itu masih tulisan
tangan. Namun itu lebih dari cukup
bagi guru. Semarak teknologi digital,
mungkin kelak akan dirambah Pak
Yazid. "Jurnal ini sebenarnya bersifat
pribadi. Tetapi mungkin suatu saat bisa
ditulis ulang untuk dibuat ke blog. Jadi
saya harus belajar (ngeblog) dululah,"
ujarnya.
Pak Yazid rajin mengisi jurnalnya.
Rutin.Tiap pertemuan diisinya. Ia
luangkan waktu 10 sampai 15 menit
Bahasa Inggris
65
PEMBELAJARAN
ILMU PENGETAHUAN
SOSIAL
MTs Al-Wasliyah 27 Firdaus, Serdang Bedagai, Sumatera Utara
Membedakan Peta dan Globe
Menggunakan Bola Plastik
Oleh Erwansyah,
Guru MTs Al-Washliyah
27 Firdaus
Bola plastik mempunyai
manfaat dalam kegiatan
pembelajaran IPS di kelas VII
Tts Al-Washliyah 27 Firdaus
pada kompetensi dasar
menggunakan peta, atlas, dan
globe untuk mendapatkan
informasi keruangan.
Indikator pembelajaran
adalah mengidentifikasi
perbedaan antara peta, atlas,
dan globe.
Siswa sedang memotong bola plastik
yang sudah diberi gambar peta dunia.
IPS bila diajarkan dengan lebih
banyak praktik, dapat
meningkatkan pemahaman siswa
dan melatih keterampilan
sosialnya. Untuk itu Bapak
Erwansyah, lebih banyak
mengajar IPS kepada siswanya
dengan media sederhana dan
mempraktikkannya yang
dikaitkan dengan lingkungan
sosial siswa.
68
Pada kegiatan pembelajaran
ini, guru dan siswa bersamasama mempersiapkan segala sesuatu
yang dibutuhkan untuk kegiatan
tersebut, yaitu:
1. Satu buah bola plastik
2. Spidol
3. Pisau kertas (cutter)
Langkah-langkah pembelajarannya
yaitu:
a. Siswa dibagi menjadi tujuh
kelompok yang terdiri dari 5-6
orang siswa, kemudian masingmasing kelompok menyiapkan
peralatan yang dibutuhkan.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
b. Secara berkelompok masingmasing menggambari bola plastik
dengan kondisi permukaan bumi.
Setelah selesai digambar, guru
menjelaskan ini adalah “globe”
kelompok mengamati dan
mempresentasikan hasilnya.
Kelompok lain diberi kesempatan
untuk memberi tanggapan serta
masing masing kelompok membuat
pengertian “Globe” dari kondisi bola
yang sudah bergambar kondisi
permukaan bumi.
c. Kemudian masing masing bola yang
sudah bergambar kondisi
permukaan bumi tadi diletakkan di
atas meja. Lalu masing-masing
kelompok dengan menggunakan
cutter, membelah bola tersebut, dan
membentangkannya di atas meja
menjadi sebuah bidang datar, dan ini
adalah peta. Setiap kelompok
mengamati dan mempresentasikan
hasilnya, kelompok lain diberi
kesempatan untuk memberi
tanggapan serta masing masing
kelompok membuat pengertian
peta dari kondisi bola yang sudah
bergambar kondisi permukaan
bumi dan dibelah lalu dibentangkan
menjadi sebuah bidang datar.
d. Selanjutnya guru memberikan
beberapa pertanyaan untuk
didiskusikan di masing-masing
kelompok, yaitu:
- Apakah Globe itu ?
- Apakah Peta itu ?
- Dimanakah letak perbedaan
antara Globe dengan Peta?
Uraikan!
pertanyaan, masing-masing kelompok
mendiskusikan untuk menjawab
pertanyaan dan menyimpulkan
pengertian Globe dan Peta. Mereka
juga mengidentifikasi perbedaan
antara Globe dan Peta, kemudian
mempresentasikannya, sedangkan
kelompok lain memberikan tanggapan
dan masukan.
Berdasarkan pengamatan terhadap
kegiatan pembelajaran, dan beberapa
Dari kegiatan praktik ini siswa lebih
mudah memahami tentang pengertian
Globe dan Peta, serta mencari
perbedaan antara Globe
dan Peta. Hal ini dapat
dilihat dari hasil diskusi
dan presentasi, dengan
arahan dan panduan
guru, siswa dapat
menyimpulkan dengan
menggunakan bahasanya
sendiri. “Globe adalah
gambaran (miniatur)
bumi dalam bentuk bola,
sedangkan Peta adalah
gambaran kondisi
permukaan bumi pada
sebuah bidang datar,”
tukas salah seorang
siswa.
Siswa sangat senang
Dari kegiatan ini siswa
dapat membedakan peta
dan globe.
dengan kegiatan praktik pembelajaran
ini. Siswa menjadi lebih mudah
memahami karena ada benda-benda
yang digunakan sebagai model untuk
mewakili kondisi yang sebenarnya.
Memodelkan Terjadinya
Dangkalan Menggunakan Baki
dan Batu
Pada pembelajaran untuk kompetensi
dasar membuat sketsa dan peta
wilayah yang menggambarkan objek
geografi, dengan indikator
mengidentifikasi proses terbentuknya
dangkalan/laut dangkal (laut trangresi),
siswa saya ajak memanfaatkan baki/
talam, batu, air, dan es batu sebagai
media pembelajaran.
Pada kegiatan pembelajaran, guru dan
siswa secara bersama sama
mempersiapkan segala sesuatu yang
dibutuhkan pada kegiatan praktik
untuk mengidentifikasi terjadinya
dangkalan/laut dangkal akibat kenaikan
permukaan air laut yang disebabkan
pencairan gletser/gunung es.
Bahan-bahan yang dipersiapkan adalah:
1. Satu buah baki/ talam
2. Beberapa buah batu yang berbeda
ukuran dan ketebalannya
3. Air
4. Sebongkah es batu
5. Sebuah mistar/ penggaris
Langkah-langkah kegiatan
pembelajaran sebagai berikut:
1. Siswa dibagi menjadi 7 kelompok
yang terdiri dari 5-6 orang siswa,
Ilmu Pengetahuan Sosial
69
Kemudian masing masing kelompok
mempresentasikan hasil diskusinya,
dan kelompok lain diberi kesempatan
untuk menanggapi dan memberi
masukan.
Melalui media baki, batu, air, dan es batu, siswa dapat memahami proses terbentuknya
dangkalan/laut dangkal (laut trangresi).
kemudian masing-masing kelompok
mempersiapkan perlengkapan
seperti yang telah disebutkan.
2. Secara berkelompok siswa
meletakkan baki/ talam di atas
meja, kemudian baki diisi dengan air
secukupnya. Setelah cukup, langkah
berikutnya adalah meletakkan batu
dengan berbagai ukuran dan
ketebalan ke dalam baki yang telah
diisi air.
3. Kemudian siswa meletakkan
bongkahan es ke dalam baki, dan
mengukur ketinggian permukaan
air pada baki (sebelum dipengaruhi
oleh cairan es yang mencair). Baki
yang telah terisi dibawa keluar
kelas dan diletakkan di tempat yang
terkena sinar matahari agar
bongkahan es dapat mencair/
meleleh sampai batu batu yang
berukuran lebih tipis tenggelam
oleh kenaikan permukaan air akibat
mencairnya bongkahan es batu.
70
4. Siswa mengamati dan mencatat
semua perubahan dan informasi
yang didapatkan dari kegiatan
tersebut.
5. Siswa mengukur perubahan
kenaikan permukaan air (setelah
dipengaruhi oleh es yang mencair)
dan mencatat perbedaan
permukaan air sebelum dan
sesudah es mencair.
Untuk melengkapi praktik, guru
mengajukan pertanyaan sebagai bahan
diskusi, yaitu:
1. Apa yang terjadi pada permukaan
air saat sebelum dan sesudah es
mencair ?
2. Apa yang terjadi pada batu batu
yang berukuran lebih tipis ?
Hasil pengamatan yang diperoleh
selanjutnya didiskusikan oleh
kelompok masing-masing, dan hasil
diskusinya dituliskan pada kertas HVS
yang telah disiapkan kelompoknya.
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Dari kegiatan praktik ini ternyata
siswa lebih mudah memahami proses
terbentuknya dangkalan. Hal itu dapat
dilihat dari hasil diskusi dan presentasi,
dengan arahan dan panduan guru,
siswa dapat menyimpulkan proses
terbentuknya dangkalan/ laut dangkal
sebagai akibat mencairnya gunung es/
gletser yang terjadi di kutub utara dan
kutub selatan. Batu batu yang berada
pada permukaan baki mewakili pulau
pulau atau dataran yang rendah dan
tinggi di permukaan bumi. Air di
permukaan baki mewakili permukaan
lautan dan bongkahan es mewakili
gunung es/ gletser yang mencair, yang
kemudian menyebabkan kenaikan
permukaan air.
Akibat kenaikan permukaan air, ada
beberapa batu yang berukuran lebih
tipis menjadi tenggelam dan tergenang
oleh air, dan inilah yang menjadi
dangkalan atau laut dangkal (laut
transgresi) di permukaan bumi.
Berdasarkan refleksi siswa, mereka
sangat senang dengan kegiatan praktik
pembelajaran ini seperti yang
disampaikan oleh Poppy Lisandri,
"Pembelajaran dengan cara seperti ini,
saya dapat mudah mengerti, karena
ada benda benda yang digunakan
sebagai model, untuk mewakili kondisi
yang sebenarnya."
Siswa mengamati
kondisi lingkungan
yang ada di sekolah.
MTsN Unggul Susoh, Aceh Barat Daya
Amati Lingkungan Tanamkan Rasa
Cinta Siswa pada Alam
Oleh Tirta Jannah SPdI
Guru MTsN Unggul Susoh
Kerusakan lingkungan akibat perilaku
manusia yang tidak peduli lingkungan
telah menjadi hal biasa. Jika dibiarkan,
kerusakan yang terjadi akan semakin
parah. Pentingnya memberikan
pemahaman kepada siswa tentang
kepedulian dan merawat lingkungan
mendorong kami mendekatkan siswa
terhadap lingkungannya. Sebagai
generasi penerus, siswa harus
memahami materi ini sebagai bekal
keikutsertaan mereka dalam
melestarikan lingkungan kelak.
Tujuan pembelajaran ini yaitu siswa
dapat mengidentifikasikan unsur-unsur
yang ada pada lingkungan sekitar,
mengidentifikasikan bentuk-bentuk
kerusakan lingkungan, faktor penyebab
dan solusi penanganannya, serta
memberi gambaran penanganan
sampah sebagai salah satu penyebab
kerusakan lingkungan.
Langkah pembelajarannya, guru
menjelaskan materi kerusakan
lingkungan yang menyebabkan
terjadinya berbagai bencana dan
pencemaran. Langkah berikutnya guru
membagi siswa dalam beberapa
kelompok kecil, kemudian
membagikan LK tentang pengamatan
terhadap lingkungan dan dampak
kerusakannya.
Guru menjelaskan langkah apa yang
harus dilakukan oleh siswa sesuai LK
tersebut, selanjutnya, siswa langsung
melakukan pengamatan di lingkungan
sekitar sekolah selama 30 menit.
Lokasi yang diamati adalah lokasi
pembuangan sampah dan lokasi
saluran air yang tidak lancar.
Setelah kegiatan pengamatan selesai
dilaksanakan, langkah berikutnya, siswa
kembali ke kelas untuk mendiskusikan
hasil temuan mereka selama
melakukan pengamatan di lapangan.
Materi yang didiskusikan adalah identifikasi kerusakan lingkungan, faktor
penyebab dan penanggulangannya. Di
akhir sesi, hasil pengamatan masingmasing kelompok dipresentasikan di
depan kelas.
Melalui pembelajaran tersebut siswa
lebih memahami unsur-unsur lingkungan, bentuk kerusakan, penyebab dan
penanganannya. Langkah berikutnya
siswa diminta mencoba menerapkan
penanganan masalah lingkungan yang
terjadi di dekat sekolah secara
berkelompok.
“Kami jadi tahu dampak dan penyebab
kerusakan lingkungan serta
penanganannya, terutama penanganan
sampah seperti sampah rumah tangga
jika tidak tertangani secara baik maka
akan merusak lingkungan,” jelas
Syarifah Yuli Wirza, siswa MTs N
Unggul Susoh.
Ilmu Pengetahuan Sosial
71
Siswa menggunakan laptop dan internet untuk mencari sejarah kebudayaan
MTsN Telukdalam Nias Selatan, Sumatera Utara
Manfaatkan Internet untuk Belajar Peninggalan
Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia
Oleh Sulaiman Waruwu SPd
Guru MTsN Telukdalam
belajar siswa untuk mengatasi
keterbatasan informasi.
Nias Selatan merupakan daerah
kepulauan serta daerah minoritas
penduduk beragama Islam sehingga
bukti peninggalan sejarah Islam
jumlahnya sedikit. Mengatasi situasi
tersebut saya tertarik melaksanakan
pembelajaran tentang peninggalan
sejarah kebudayaan Islam di Indonesia
menggunakan internet sebagai sumber
MTsN Telukdalam sudah menyediakan
fasilitas internet yang memudahkan
saya mencari sumber belajar
meskipun di daerah belum ada
museum peninggalan sejarah.
72
Fasilitas internet saya manfaatkan pada
saat siswa mendapat tugas membuat
laporan tentang peninggalan sejarah
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Kebudayaan Islam di Indonesia.
Laporan disusun berdasarkan lembar
kerja (LK) yang berisi beberapa
petunjuk, yaitu:
1. Cari sumber berita tentang
peninggalan sejarah kebudayaan
Islam di Indonesia.
2. Deskripsikan pengaruh kebudayaan
Islam dalam bidang politik, sosial,
pendidikan, sastra dan bahasa, dan
bidang arsitektur dan kesenian.
3. Setelah selesai setiap kelompok
mempresentasikan hasil
kelompoknya dan memberikan
kesempatan kepada kelompok lain
untuk menanggapinya.
Dari hasil tugas individu dan
kelompok, berikut beberapa materi
pembelajaran yang dapat dipahami
oleh siswa, yaitu:
1. Kerajaan-kerajaan Islam di
Indonesia terdiri kerajaan Perlak,
Samudra Pasai, Kerajaan Aceh,
Kerajaan Demak, Kerajaan
Mataram dan Kerajaan Banten.
2. Pengaruh kebudayaan Islam dalam
kehidupan masyarakat Indonesia
antara lain:
a. Bidang politik, sistem
pemerintahan yang bercorak
Islam, rajanya bergelar sultan
atau sunan seperti halnya para
wali. Jika rajanya meninggal,
tidak dimakamkan di candi
tetapi dimakamkan secara Islam.
b. Bidang Sosial, kebudayaan Islam
tidak menerapkan aturan kasta
seperti kebudayaan
Hindu.Nama-nama Arab seperti
Muhammad, Abdullah, Umar, Ali,
Musa,Ibrahim, Hasan, Hamzah,
dan lainnya mulai digunakan.
Kosakata bahasa Arab juga
banyak digunakan, contohnya
rahmat, rezeki, majelis (majlis),
mukadimah.
Begitu pula dengan sistem
penanggalan menggunakan
perhitungan peredaran bulan
(komariah) seperti tahun
Hijriah (Islam).
c. Bidang Pendidikan, setelah Islam
masuk, mata pelajaran dan
proses pendidikan pesantren
berubah menjadi pendidikan
Islam. Pesantren adalah sebuah
asrama tradisional pendidikan
Islam. Siswa tinggal bersama
untuk belajar ilmu keagamaan di
bawah bimbingan guru yang
disebut kiai
ini. Media yang sering digunakan
adalah nisan makam, dinding
masjid, mihrab, kain tenunan,
kayu, dan kertas sebagai
pajangan
Pada akhir pembelajaran, saya meminta
siswa menuliskan perasaannya dalam
mengikuti pelajaran IPS sebagai
refleksi. Siswa merasa senang dengan
mengunakan media internet karena
dapat memperkaya sumber belajar
serta memperoleh keterampilan dalam
mengoperasikan media TIK.
d. Bidang Sastra dan Bahasa, pada
mulanya, memang hanya kaum
bangsawan yang pandai menulis
dan membaca huruf dan bahasa
Arab, namun rakyat kecil pun
mampu membaca huruf Arab.
Penggunaan huruf Arab di
Indonesia pertama kali terlihat
pada batu nisan, karya sastra
yang berkembang pada masa
kerajaan-kerajaan Islam di
antaranya Hikayat, Babad, Suluk,
dan Syair.
e. Bidang Arsitektur dan Kesenian,
Islam telah memperkenalkan
tradisi baru dalam teknologi
arsitektur seperti masjid dan
istana. Islam juga
memperkenalkan seni kaligrafi.
Kaligrafi adalah seni menulis
aksara indah yang merupakan
kata atau kalimat.
Teks-teks dari Al-Quran
merupakan tema yang sering
dituangkan dalam seni kaligrafi
Ilmu Pengetahuan Sosial
73
MTsN Lampahan, Bener Meriah, Aceh
Belajar Kependudukan ke Kantor Kecamatan
matan siswa menggali informasi
tentang pertambahan penduduk,
komposisi penduduk, jumlah
penduduk terkini, dan metode sensus
penduduk yang dilakukan oleh
kecamatan. Siswa juga menggali
informasi tentang data tenaga kerja,
sosial, dan pertanian.
Siswa sedang bertanya jawab dengan petugas kecamatan menggali
informasi tentang data kependudukan.
Oleh Muliani SPd
Guru MTsN Lampahan, Bener
Meriah
Kantor kecamatan merupakan
sumber belajar yang kontekstual dan
menarik untuk belajar mengenai
kependudukan. Kami memanfaatkan
kantor kecamatan untuk mendapatkan
informasi penyebaran dan
penghitungan penduduk yang dilakukan
74
pada setiap kecamatan. Sebelumnya
kami juga sudah meminta izin ke
pihak kecamatan untuk mengajak
siswa belajar langsung tentang
kependudukan.
Siswa dibagi menjadi beberapa
kelompok untuk mempermudah
pelaksanaan observasi dan
menghindari terganggunya jam kerja
pegawai kecamatan. Di kantor keca-
Praktik yang Baik: Pembelajaran di Madrasah Tsanawiyah
Sekembalinya dari kantor kecamatan,
semua informasi dan data yang
diperoleh dituliskan pada kertas plano
dalam bentuk grafik pertumbuhan
penduduk. Setelah semua kelompok
menyelesaikan data pertumbuhan
penduduk dalam bentuk grafik,
masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya di depan kelas.
Selanjutnya mereka menjelaskan
mengapa terjadi pertumbuhan
penduduk, kondisi sosial ekonomi dan
tenaga kerja, serta hal lain yang terkait
dengan pertumbuhan penduduk.
Grafik yang ditampilkan oleh setiap
kelompok memang tidak ada
perbedaan yang signifikan artinya
setiap kelompok menjabarkan data
pertumbuhan penduduk menjadi
sebuah grafik.Yang berbeda dari setiap
kelompok adalah saat mereka
menjelaskan mengapa terjadi pertumbuhan dan bagaimana data
kependudukan diperoleh. Masingmasing kelompok menjelaskan sesuai
dengan pemahaman informasi yang
mereka terima. Siswa dengan mudah
dapat menjelaskan jumlah penduduk
yang lahir dan meninggal serta dapat
mengetahui jumlah penduduk yang
masuk dan keluar dari kecamatan.
Dampak dari pembelajaran ini,
ternyata dapat meningkatkan
keterampilan siswa dalam bertanya.
Mereka juga menjadi lebih kritis
terhadap lingkungannya, menjadi lebih
terbuka dengan permasalahan yang
ada di sekitarnya, dan berani menggali
informasi dari narasumber tentang
data dan informasi yang sebenarnya.
Hasil karya individu siswa setelah belajar
kependudukan di kecamatan.
Ilmu Pengetahuan Sosial
75
USAID PRIORITAS
Ratu Plaza Office Tower Lt. 25. Jl. Jenderal Sudirman Kav 9, Jakarta-10270
Telp: (021) 722 7998 Fax: (021) 722 7978
email: [email protected]
www.prioritaspendidikan.org
Download