tendensi reduksionis dan utilitarianis dalam ilmu hukum indonesia

advertisement
TENDENSI REDUKSIONIS DAN UTILITARIANIS DALAM
ILMU HUKUM INDONESIA :
MEMBACA ULANG FILSAFAT HUKUM GUSTAV RADBRUCH
Oleh :
Tristam P. Moeliono
Dan
Tanius Sebastian
Tendesi Reduksionis dan Utilitarianis dalam Ilmu Hukum Indonesia:
Membaca Ulang Filsafat Hukum Gustav Radbruch
Oleh: Tristam P. Moeliono dan Tanius Sebastian1
Universitas Katolik Parahyangan
1. Pengantar
Pada berbagai kesempatan diskusi ilmiah dan pustaka filsafat hukum Indonesia,
seringkali, nama Radbruch dirujuk dan dikait-kaitkan terutama dengan topik “keadilan,
kemanfaatan, dan kepastian”. Namun rujukan dan pengkaitan itu kerap tidak terlalu jelas
apakah memang dikutip dari pemikiran filsafat hukum Radbruch. Kita bisa menemukan dua
contoh dalam dunia hukum Indonesia yang memperlihatkan gejala kegemaran pengutipan
dan ketidaktepatan pemahaman sebuah teori, termasuk teori Radbruch tentang tujuan hukum.
Contoh yang pertama ada di sebuah perempatan jalan utama di Bandung. Di salah
satu sudut perempatan yang dekat dengan lampu tanda lalu lintas di kota itu sebuah papan
reklame dengan ukuran lumayan besar berdiri. Di papan itu tertulis sebuah kalimat: “Tiga
nilai dasar hukum: keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum.” Kalimat ini tidak begitu
jelas lantaran tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai apa maksud penyampaiannya
sehingga terkesan sebagai iklan layanan masyarakat belaka. Apakah kalimat tersebut
bersumber atau terkait dengan karya-karya Radbruch? Apa yang menarik adalah
tercantumnya gambar kecil berupa simbol institusional Mahkamah Agung Republik
Indonesia di pojokan papan reklame tersebut. Barangkali kita bisa mengungkapkan arti isi
papan reklame tersebut dengan semiotika tapi bukan itu minat kajian tulisan ini. Papan tiga
nilai dasar hukum itu merupakan contoh gejala kegemaran pengutipan yang menyangkut
sebuah teori atau pemikiran hukum.
Contoh yang kedua berada pada tataran berbeda. Gejalanya di sini terkait langsung
dengan metode berpikir ilmiah dalam pengembanan ilmu hukum. Masih soal rangkaian
“keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum”, gagasan tentang paradigma ilmu hukum
Indonesia pun rupanya tak lepas dari gejala ketidakjelasan pemahaman atas teori hukum yang
ada. Dalam sebuah teks kunci yang mengemukakan refleksi tentang struktur ilmu hukum
Indonesia, Arief Sidharta menjelaskan rangkaian tersebut sebagai sebuah konsep dalam
paradigma ilmu hukum nasional kita. Lebih spesifik lagi, dengan penyebutan yang agak lain,
keadilan, kehasil-gunaan, dan kepastian menjadi isi dari “cita-hukum” Pancasila yang
1
Kedua orang penulis adalah dosen di Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
1
merupakan fundamen ilmu hukum Indonesia.2 Tidak ada keterangan atau argumen lebih
lanjut soal dari mana pemahaman rangkaian ini berasal. Gejala ini menarik karena kita
menemukannya dalam sebuah karya intelektual akademis yang penting dalam ranah
pemikiran hukum di tanah air.3
Kedua gejala yang disebut di atas selintas seperti tidak ada hubungannya satu sama
lain. Gejala yang satu adalah papan reklame di pojokan jalan di kota Bandung, sedang gejala
yang lainnya adalah hasil pemikiran ilmiah. Namun keduanya menunjukkan gejala yang
sama: kita kerap mengutip suatu gagasan besar tanpa tahu dan peduli dari mana asalnya dan
bagaimana sebaiknya memahami suatu gagasan (in casu dalam bidang teori dan filsafat
hukum) dalam konteks yang paling tepat. Di sini sepertinya gagasan Radbruch menjadi bahan
rujukan tanpa disertai studi mendalam atas teks, konteks hidupnya, dan komentar-komentar
kritis terhadapnya. Kita bisa menyoroti dua problematika disiplin ilmu hukum kita dalam
kaitannya dengan urgensi bagi upaya membaca ulang filsafat hukum Radbruch. Pertama,
rangkaian “keadilan, kemanfaatan, dan kepastian” telah direduksi dari kompleksitas gagasan
“aslinya”. Dampak paling serius dari pereduksian ini adalah pengutamaan salah satu unsur di
atas dua sisanya. Kedua, buruknya kinerja ilmiah dunia ilmu hukum Indonesia yang
menunjukkan kecenderungan eklektisisme dan artinya sekaligus fragmentasi pemahaman atas
“teori”. Maka menurut kami telah terjadi kesalahpahaman dunia pemikiran tentang ilmu
hukum Indonesia dalam pembacaan terhadap filsafat hukum Radbruch.
Beranjak dari pemahaman bahwa pengembanan teori atau filsafat hukum akan juga
menentukan cara kita berhukum4, maka di sini hendak diargumentasikan bahwa
2
Arief Sidharta di sini membicarakan cita-hukum Pancasila sebagai bagian dari pandangannya tentang “upaya
mengeksplisitkan Paradigma Ilmu Hukum Indonesia”. Ia menyatakan bahwa: “Tatanan hukum yang
beroperasi dalam suatu masyarakat pada dasarnya merupakan pengejawantahan cita-hukum yang dianut
dalam masyarakat yang bersangkutan … Yang dimaksud dengan cita-hukum adalah gagasan, karsa, cipta dan
pikiran berkenaan dengan hukum atau persepsi tentang makna hukum, yang dalam intinya terdiri atas tiga
unsur: keadilan, kehasil-gunaan dan kepastian hukum.” B. Arief Sidharta, “Struktur Ilmu Hukum” dalam
Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum Indonesia, (eds.) Esmi Warassih, Suteki, Awaludin Marwan
(Yogyakarta: Thafa Media, Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas
Hukum Undip, 2012), hlm. 60-61.
3
Teks Arief Sidharta yang dirujuk di atas adalah sebuah artikel yang dikumpulkan menjadi bagian dari
proceedings konggres ilmu hukum yang diselenggarakan atas kerjasama Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia
(ASHI) dan Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip). Esmi Warassih,
Suteki, Awaludin Marwan, “Mentari Pagi Ilmu Hukum: Refleksi dan Rekonstruksi Pengetahuan” dalam
Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum Indonesia, (eds.) Esmi Warassih, Suteki, Awaludin Marwan
(Yogyakarta: Thafa Media, Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas
Hukum Undip, 2012), hlm. xxi.
4
Titik tolaknya adalah pandangan bahwa ilmu hukum mempengaruhi praktik hukum dan juga sebaliknya
merupakan pandangan yang khas bersifat hermeneutis. Gagasan-gagasan tentang ilmu hukum Indonesia
terkait dengan hermeneutika yang merupakan metode dan filsafat tentang penafsiran makna. Perlu
diperhatikan di sini bahwa, Paul Scholten-pun telah menyatakan hal ini dalam teks tahun 1942 tentang
2
Problem
statement
instrumentalisme dan eklektisisme menimbulkan tendensi reduksionis dan utilitarianis dalam
pengembanan ilmu hukum kita. Berdasarkan pembacaan ulang terhadap filsafat hukum
Radbruch, kami menyebut rangkaian tersebut sebagai “tri-tujuan hukum”. Di sini, kami
hendak menjelaskan bahwa tri-tujuan hukum tersebut lebih tepat dipahami sebagai “keadilan,
kebertujuan, dan kepastian hukum”. Pemahaman yang lain ini, kalau tidak ingin disebut
sebagai yang baru, mengemukakan kritik atas pembacaan yang instrumentalis terhadap teoriteori Radbruch. Di samping itu, dengan menyebut istilah “kebertujuan” daripada
“kemanfaatan” kami hendak memperlihatkan bahwa gagasan Radbruch menentang
utilitarianisme dalam praktik hukum. Tendensi utilitarianis ini tampak dari penitik-beratan
ide kemanfaatan bagi kepentingan banyak orang dalam praktik hukum. Tri-tujuan hukum
bukanlah “tujuan hukum” itu sendiri melainkan sebuah ide hukum, yakni suatu orientasi etis
pembentukan hukum yang sah. Titik berat ide hukum menurut Radbruch adalah keadilan
berupa jaminan dan perlindungan kesetaraan.
Tulisan ini bermaksud untuk menelusuri jejak pemikiran Radbruch dan menunjukkan
kekeliruan tafsir di dalam diskursus ilmu hukum di Indonesia terhadap pemikirannya. Untuk
itu, kami akan memaparkan argumen di atas lebih lanjut melalui beberapa bagian penjelasan.
Setelah pengantar ini, kami akan membongkar bukti-bukti adanya pengaruh ajaran Radbruch
dan kekeliruan pemahaman terhadapnya dalam diskursus ilmu hukum Indonesia. Bukti-bukti
tersebut dapat dilacak dalam tulisan-tulisan ilmiah. Kami akan menunjukkan reduksi
gagasan-gagasan tentang tri-tujuan hukum Radbruch yang seringkali dinyatakan sebagai
rangkaian “keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum” tanpa dijelaskan apa akar gagasan
rangkaian tersebut. Implikasi kekeliruan dan reduksi tersebut terwujud dalam dampak
metodologis terhadap pengembanan ilmu hukum Indonesia. Utilitarianisme menjadi tumpuan
bagi dua kegiatan utama pengembanan tersebut.5 Setelah itu akan didudukan perkara
sesungguhnya dari teori-teori hukum Radbruch, yakni konteks alam pikir dan kontroversi
seputar pemikiran Radbruch sesuai masa abad ke-19 dan ke-20. Kami akan menutup dengan
memberi catatan kritis dan sejumlah penggarisbawahan hal penting.
karakter keilmuan ilmu hukum. Menurutnya, kendati ilmu hukum pertama-tama berkutat dengan
“kenyataan hukum” dalam rupa hukum positif, bagaimanapun juga perhatiannya tidak bisa dilepaskan dari
“kehidupan kejiwaan” berupa kesadaran dan hukum tidak tertulis. Scholten menyebut momen ini sebagai
sebuah dialektika. Dalam pandangan Scholten, ilmu hukum yang berdialektika seperti ini adalah “ilmu hukum
yang menangkap kenyataan dari hukum”. Pendeknya, ilmu hukum tersebut menjadi realistis. Paul Scholten,
Struktur Ilmu Hukum, terj. Arief Sidharta (Bandung: PT. Alumni, 2013), hlm. 19-21.
5
Menurut Arief Sidharta, pengembanan ilmu hukum terdiri dari dua tahap kegiatan, yaitu (1) pemaparan
hukum dalam wujud metode penalaran serta interpretasi dan (2) sistematisasi berupa pembentukan hukum.
B. Arief Sidharta, “Struktur Ilmu Hukum”, hlm. 40-46.
3
2. Problem Kinerja Ilmiah dan Pereduksian Teori Radbruch
Tanpa bermaksud meniadakan sedikit pun kontribusi nyata para pengajar, peneliti,
dan ahli-ahli hukum kita, kutipan panjang dari pendapat Sunaryati Hartono secara verbatim
berikut cukup tajam menyinggung problematika kinerja ilmiah di atas6:
“Akan tetapi setelah direnungkan secara lebih mendalam, maka saya tersentak oleh suatu
pertanyaan yang timbul di dalam hati : Bagaimana dengan Ilmu Hukum Indonesia sendiri?
Kenalkah kita akan jalan fikiran dan teori-teori hukum yang telah dikembangkan oleh pakarpakar bangsa Indonesia sendiri, seperti teori yang dikemukakan oleh Prof. Soepomo, Prof.
Hazairin, Prof. Soediman, Prof. Djokosutono, Prof. Satochid, Prof. Moeljatno, Prof.
Djojodiguno dan lain-lain ? Kenalkah kita akan berbagai putusan pengadilan dan
pertimbangan hukum hakim-hakim Indonesia yang terkenal ? Bahkan kenalkah kita akan
hakim-hakim Indonesia yang terbaik ? Benarkah kita mengenal betul teori-teori hukum yang
dikemukakan oleh pakar-pakar asing, ataukah kita hanya mengutip uraian singkat seorang
professor, yang mengutip pendapat pakar tersebut dari buku yang mengutip sebagian
pendapat pakar asing itu. Benarkah kita mengenal filsafat hukum Hans Kelsen, atau teori
Kranenburg, atau teori Roscoe Pound dan Wolfgang Friedmann ? Ataukah kita hanya
mengutip apa yang pernah dikatakan oleh dosen kita tentang Hans Kelsen, Kranenburg atau
Roscoe Pound, yang pada gilirannya juga mengulangi apa yang dikatakan oleh dosennya
mengenai ketiga tokoh itu ?”
Barangkali kita kerap menemukan bagaimana para mahasiswa ilmu hukum bahkan
sarjana hukum seringkali hanya mengandalkan rangkuman pemikiran dari pemikir-pemikir
asing yang dibuat oleh orang-orang lain. Jarang bahkan tidak muncul upaya untuk membaca
dan menelusuri sendiri pemikiran dari penulis-penulis asing tersebut. Kendala lain yang
terkait adalah rendahnya penguasaan bahasa asing dan budaya baca. Bahkan sekarang ini
diktat dan rangkuman (pandangan) – dipermudah oleh internet, mesin pencari serta layanan Duduk
jasa Wikipedia – tuntas menggantikan uraian panjang lebar dari para pemikir atau penulis perkaranya:
ataupun peneliti asli. Dalam hal filsafat hukum Radbruch, maka boleh dikatakan bahwa yang
terjadi menurut keresahan Sunaryati di atas adalah kesalahpahaman dan kekeliruan tafsir
yang “di-iya-kan” bersama (deliberate misreading).
2.1.
Problem Kinerja Ilmiah Dunia Ilmu Hukum Indonesia
Para sarjana dan atau pemikir hukum Indonesia seringkali terlalu mudah mereduksi
pandangan (doktrin, ajaran, pandangan filsafat) dari orang-orang lain (dalam negeri maupun
luar negeri atau asing) ke dalam satu-dua kalimat dan dengan begitu menghindar dari
keniscayaan merunut dengan cermat apa yang sebenarnya dimaksud oleh penulis atau
6
Sunaryati Hartono, “Tentang Pengembanan dan Pembinaan Ilmu Hukum Nasional” dalam Percicikan Gagasan
tentang Hukum. Kumpulan Tulisan Ilmiah Alumni dan Staf Pengajar FH Unpar, ed. A. Yoyon (Bandung:
Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan, 1988), hlm. 47.
4
mengapa
harus resah?
penutur asli dan mengikuti perdebatan yang kemudian muncul darinya. 7 Maka, pandangan
Savigny hanya disebut sebagai pandangan bahwa hukum hidup dan berkembang bersama
masyarakat; John Austin sekadar diingat sebagai ahli hukum yang menyatakan law as the
command of the sovereign backed up by sanctions; Montesquieu dikenang sebagai penggagas
trias politica; dan seterusnya. Mengapa mereka mengatakan itu dan kemudian diskusi yang
muncul dari itu jarang diangkat.8 Meski begitu, kita pun bisa menemukan beberapa
pengecualian yang memperlihatkan pembacaan yang sesuai terhadap pandangan para
pemikir, khususnya juga terhadap filsafat hukum Radbruch.
Dilepaskan dari konteks sosial politik kemunculan dan aliran pemikiran tentang
hukum (tidak selamanya berkesinambungan, namun bisa fragmentaris bahkan acak), teori,
ajaran (doktrin) atau pemikiran dari para ahli hukum bahkan filsuf hukum tersebut di atas
diajarkan sebagai hafalan mati, bukan sesuatu yang memaksa kita memberikan tanggapan dan
mengambil posisi menolak, menerima, mendukung dengan catatan atau apapun. Pemikiran
mereka – para pemikir atau filsuf atau teoritikus tentang hukum “asing” – dengan demikian
dipersamakan dengan ajaran agama (dogma) yang harus diterima utuh, diyakini dengan iman
bukan dicermati dengan akal kritis. Alhasil para ahli hukum di Indonesia-pun mereduksi diri
menjadi penganut “kepercayaan” yang harus membela pandangan yang diimani dengan
darah, keringat, dan air mata.
7
Salah satu karya monumental dari pemikir Indonesia yang mempelajari dengan tekun berbagai aliran filsafat
hukum dan berusaha mengkaitkannya dengan penalaran hukum yang sesuai dengan konteks keindonesiaan
adalah buku “Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum” karangan Shidarta. Buku tersebut lahir dari sebuah
penelitian disertasi sang penulis di Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Di dalam “Prakata” untuk buku setebal 450 halaman lebih tersebut, Shidarta membuat semacam disclaimer
bahwa “pembaca tidak akan menemukan kupasan mendetail tentang latar belakang tokoh-tokoh pendukung
tiap-tiap aliran, proses kelahiran model-model penalaran tersebut, dan polemik yang menyertainya.” Namun
tampaknya Shidarta tidak mau terjebak dalam kinerja ilmiah yang reduktif. Sebab, baginya karyanya tersebut
“bernuansakan meta-keilmuan hukum” dan menelusuri benang merah dari model penalaran menurut aliranaliran filsafat hukum yang ia bahas demi kemudahan mencapai tujuan dan kegunaan kajiannya. Shidarta,
Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum. Buku 1 Akar Filosofis (Yogyakarta: Genta Publishing, 2013), hlm. ix.
8
Dalam arti ini, menarik untuk menyimak kata pengantar yang ditulis oleh para editor buku kumpulan artikel
hasil Konggres Ilmu Hukum Nasional. Dalam rangka menjelaskan konsep ilmu hukum menurut Satjipto
Rahardjo dalam kaitannya dengan perkembangan mutakhir sains dan masyarakat, para editor tersebut
dengan sangat rajin mengutip banyak sekali nama dan teori tentang hukum yang berasal dari orang-orang
asing. Asumsi di balik tulisan mereka itu kelihatannya adalah bahwa ada kesamaan yang niscaya berujung
pada sebuah sintesis dari gagasan tokoh-tokoh terkemuka seperti Hans Kelsen, Roscoe Pound, Joseph Raz,
dan Roger Cotterrell. Dengan asumsi itu pula konsep “jurisprudence” menjadi disamakan dengan konsep
“ilmu hukum”. Tentu saja asumsi tersebut bisa dikritisi lebih lanjut tapi karena keterbatasan yang ada maka
tulisan ini tidak membahasnya lebih lanjut. Esmi Warassih, Suteki, & Awaludin Marwan, “Mentari Pagi Ilmu
Hukum: Refleksi dan Rekonstruksi Pengetahuan” dalam Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum Indonesia,
(eds.) Esmi Warassih, Suteki, Awaludin Marwan (Yogyakarta: Thafa Media, Asosiasi Sosiologi Hukum
Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Undip, 2012), hlm. v-xxiii.
5
Selain itu kebiasaan lain dari kebiasaan banyak pemikir hukum di Indonesia ialah
menyembunyikan pandangannya sendiri dengan mengutip sebanyak-banyaknya pandangan
dari penulis (atau aturan hukum tertulis) yang dianggap lebih otoritatif. Jarang bahkan tidak
pernah diketemukan adanya pandangan yang tegas menilai, menolak atau merevisi
pandangan-pandangan otoritatif. Mungkin dalam budaya (keilmuan di-) Indonesia bersikap
konfrontatif terhadap satu ide, gagasan atau orang tertentu dianggap tidak sopan. Begitu juga
dengan menyatakan dengan tegas posisi dan pandangan penulis atau peneliti. Pandangan
peneliti harus dirumuskan dengan sangat abstrak dan impersonal. Alhasil baik pandangannya
sendiri maupun pandangan para penulis yang dikutip menjadi tidak jelas dan kabur. Pembaca
dipersilakan
menyimpulkan
sendiri
dan
penulis
asli
tidak
dapat
dan
mungkin
menyombongkan diri tentang posisi pandangannya maupun temuan-temuannya. Lagipula
dalam rasa bahasa Indonesia, individualis dan ambisius bermakna peyoratif..
Pemakaian slogan “kepastian, kemanfaatan, dan kepastian hukum” sekiranya dapat
mengilustrasikan reduksionisme, eklektisisme, dan instrumentalisme kinerja ilmu hukum di
atas. Kendati serba tidak menentu9, kami di sini menduga keras bahwa pandangan tentang tritujuan hukum berasal dari Gustav Radbruch, seorang pemikir ilmu hukum atau filsuf dari
Jerman dari periode 1930-1940’an. Dugaan ini diperkuat penelusuran atas pustaka (filsafat
atau pengantar ilmu) hukum. Ketika topiknya adalah “tujuan hukum”, maka kerap disebutkan Pembacaan
umum
dan dibincangkan tri-tujuan di atas dan dirujuk nama Gustav Radbruch dan tentunya nama- terhadap
filsafat
nama lain baik yang terkenal maupun kurang terkenal.
hukum
Teks berbahasa Indonesia tentang ilmu atau filsafat hukum yang secara eksplisit Radbruch di
menyebut nama Radbruch dan dalam hubungannya dengan topik ide hukum adalah Indonesia
terjemahan Arief Sidharta atas karya seorang Profesor Fakultas Hukum Universitas
Groningen, D.H.M. Meuwissen. Gagasan Radbruch di situ muncul dalam pembahasan
mengenai salah satu dalil filsafat hukum, yakni bahwa filsafat hukum bertugas untuk
merefleksikan “‘kenyataan hukum’ yang harus dipikirkan sebagai realisasi (perwujudan) dari
Ide-Hukum (Cita-Hukum).”10 Ada lima hal yang menarik untuk digarisbawahi dari apa yang
diterjemahkan oleh Arief Sidharta. Pertama, ide hukum disama-artikan dengan cita hukum
9
Cobalah ketik dan masukan kata-kata kunci “keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum radbruch” dalam
alat pencari di dunia internet, Google. Pada bagian web, diberitahukan bahwa hasil pencarian untuk katakata kunci tersebut adalah sekitar 3.430 hasil. Google,
https://www.google.co.id/search?q=keadilan+kemanfaatan+kepastian+hukum+radbruch&espv=2&biw=144
0&bih=755&source=lnms&sa=X&ved=0CAYQ_AUoAGoVChMI78jsxuHfyAIVCpWUCh2SlwUQ&dpr=1, diakses
pada 26 Oktober 2015.
10
D.H.M. Meuwissen, Meuwissen tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat
Hukum, terj. B. Arief Sidharta (Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 19. Perhatikan bahwa Arief Sidharta di
sini menulis secara spesifik “ide-hukum” serta “cita-hukum”.
6
(Rechtsidee). Kedua, sudah ditunjukkan bahwa ide hukum berakar dari paham NeoKantianisme. Ketiga, ide hukum terjabarkan dalam tiga aspek, yakni “kepastian hukum,
kegunaan, dan keadilan”. Keempat, posisi filosofis Radbruch adalah relativisme nilai.
Kelima, ide hukum memilik orientasinya. Lima hal inilah yang sangat menarik untuk dikaji
lebih lanjut. Namun, seperti yang sudah disinggung di muka, Arief Sidharta sendiri
menjadikan tiga aspek ide hukum tersebut sebagai rujukan, menyebutnya sebagai cita-hukum
nasional yang berwujud Pancasila, dan memandangnya sebagai tumpuan pengembanan ilmu
hukum nasional.
Masih soal eksistensi teori-teori Radbruch dalam lingkungan pemikiran tentang
hukum di Indonesia. Pembahasan tentang gagasan Radbruch dapat kita temukan juga dalam
dua buku “klasik” seputar refleksi tentang hukum. Boleh dibilang pembacaan terhadap
Radbruch dalam dua buku tersebut merupakan pengecualian terhadap problem kinerja ilmiah
di atas. Buku yang pertama, “Etika Politik” karangan Franz Magnis-Suseno yang beberapa
kali merujuk Radbruch.11 Pembacaan terhadap gagasan Radbruch tentang keadilan sebagai
ciri hakiki hukum memperlihatkan bahwa Magnis-Suseno menempatkannya menurut
kerangka tema filsafat hukum yang sesuai. Buku yang kedua adalah karangan Theo Huijbers
yang berjudul “Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah”. 12 Huijbers mendekati filsafat
hukum dari segi perkembangan alam pikiran Barat. Dalam kerangka itu, Radbruch mendapat
status yang sesuai dengan periode atau masa sejarahnya. Kendati berbau ad hominem, kita
dapat melihat sesuatu yang menarik dari latar belakang kedua pengarang buku tersebut.
Keduanya, seperti yang kita ketahui, terlatih dalam pendidikan tentang filsafat. Keduanya
pula datang dari tradisi budaya Barat. Berkaca dari keduanya maka agaknya makin kuat
sinyalemen tentang kelemahan kinerja ilmiah dunia ilmu hukum Indonesia yang bertendensi
reduksionistis.
2.2.
Implikasi Metodologis: Utilitarianisme Cara Berhukum
Pemahaman umum yang tercermin dari pustaka yang ada ialah kadangkala tri-tujuan
hukum saling berbenturan. Dengan merujuk pada adagium summum ius, summa injura
diyakini bahwa pembuatan aturan yang semakin rinci (demi kepastian dan ketertiban) justru
akan berujung pada ketidakadilan. Sebaliknya penekanan pada (rasa) keadilan (orang per
orang atau kelompok masyarakat) dapat berujung pada ketidakpastian dan digadaikannya
kepentingan bersama. Kemanfaatan (utilitarianisme) dari aturan atau pemberlakuan suatu
11
12
Lihat: Frans Magnis-Suseno, Etika Politik (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003).
Lihat: Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah (Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius, 1982).
7
ketentuan atau aturan seringkali juga harus menyingkirkan tujuan hukum menjaga kepastian
hukum bahkan keadilan. Apa yang bermanfaat (bagi kemaslahatan banyak orang) itulah
hukum. Sebaliknya penekanan pada kepastian hukum (dalam wujud ketentuan-ketentuan
yang sangat rinci dan rumit) bisa jadi menghasilkan hukum yang jelas tidak bermanfaat bagi
masyarakat terkecuali bagi birokrasi yang membuatnya. Lantas, apakah tepat memahami
kemanfaatan di sini sebagai ide hukum menurut Radbruch?
Radbruch jelas berpikir, menulis dan berkarya menghadapi tantangan zaman yang
jauh berbeda dari yang dihadapi Indonesia dan dunia hukum Indonesia sekarang ini. Juga
dapat dicermati bahwa Rabruch menulis tentang situasi hukum di Jerman sebelum, semasa
rezim pemerintahan Hitler dan sesudahnya. Berkenaan dengan itu diperdebatkan oleh banyak
komentator apakah Rabruch pasca Perang Dunia II beralih dari penganut positivisme menjadi
pendukung aliran hukum kodrat atau sebenarnya ia hanya mempertegas pandangannya
setelah mengamati ketidakadilan dan kekejamanan hukum produk rezim pemerintahan Hilter.
Pertanyaan besarnya ialah apakah pandangan Radbruch dapat sepenuhnya dilepaskan
dari konteks zaman (Jerman sebelum dan sesudah Perang Dunia II) dan ditafsir ulang untuk
menjawab permasalahan dan situasi (perkembangan pemikiran) hukum di Indonesia?
Mahasiswa di fakultas hukum (setidaknya di Universitas Katolik Parahyangan) diajar bahwa
hukum adalah seperangkat instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan sosial-politik-ekonomi
tertentu yang dicanangkan pemerintah atau setidak-tidaknya mencapai tujuan negara
(kepentingan nasional atau yang diabstraksikan sebagai “Negara Hukum Pancasila”).
Mungkin tidak by design namun lebih by accident, fakultas hukum mengajarkan pada
mahasiswa bahwa hukum (itupun dibatasi pada produk perundang-undangan dalam arti luas)
sebagai produk politik. Pemahaman yang didukung pula berita-berita di media massa perihal
pembahasan rancangan perundang-undangan di Dewan Perwakilan Rakyat atau pengujian
undang-undang oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Alhasil banyak analisis tentang hukum
yang ada kerapkali lebih menekankan tarik-menarik kepentingan (partai, golongan penekan,
dan lain-lain) dan pertarungan politik yang menjadi panggung pembuatan aturan hukum
termasuk pembatalan perundang-undangan oleh MK.
Terbayangkan dibalik pemahaman ini pengaruh sejumlah teori besar baik dari pemikir
hukum Indonesia maupun dari asing. Kita dapat sebut Mochtar Kusuma-Atmadja, hukum
(produk perundang-undangan dalam arti luas) sebagai sarana pembaharuan masyarakat,
Sunaryati Hartono yang mencita-citakan pembaharuan dan pembangunan satu hukum
nasional serta mengembangkan pengertian hukum ekonomi (dalam arti sempit dan luas).
Selain itu juga dapat disebut Satjipto Rahardjo (pemikiran hukum progresif: bahwa hukum
8
Radbruch
dipahami
seturut
praktik
hukum
yang
utilitarianis di
Indonesia
harus dikembangkan demi manusia; bukan semata-mata untuk pembangunan) dan Soetandyo
Wignjosoebroto (hukum sebagai produk politik).
Benang merah dari ke-empat pemikir hukum Indonesia ialah pemahaman hukum
sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu (abstrak-ideal maupun konkrit-contigent).
Ilustrasi lain dalam praktik hukum Indonesia dari pemahaman hukum sebagai sarana yang
dibenarkan tujuan muncul dengan jelas dari zaman pemerintahan Orde Baru. Perintah yang
diterbitkan Letnan Jenderal Soeharto untuk menumpas Partai Komunis Indonesia (PKI)
sampai ke akar-akarnya sekaligus melegitimasi tidak saja pembantaian massal semua orang
yang “dianggap” (tanpa perlu dibuktikan dihadapan pengadilan) terlibat (langsung maupun
tidak langsung) dalam tindakan penculikan atau pembunuhan sejumlah jenderal angkatan
darat plus beberapa perwira rendahan dan satu anak kecil, namun juga pencabutan hak-hak
sipil-politik bahkan ekonomi dari mereka yang dianggap tidak bersih diri maupun lingkungan
(masyarakat Tionghoa, termasuk para eksil (mahasiswa di luar negeri, terutama Uni Soviet,
Republik Rakyat Cina waktu itu, dan Eropa Timur) maupun keluarga dekat atau jauh dari
mereka yang “dianggap” bersalah terlibat dengan satu dan lain cara dengan PKI. Dengan cara
yang sama, kepentingan memberikan shock therapy kepada para “preman” membenarkan
(legitimasi) “perintah” Presiden Soeharto untuk melakukan penculikan-penganiayaanpembunuhan mereka yang disangka berperilaku sebagai preman atau gali.
Sekalipun pada masa yang sama, perintah Presiden Soekarno untuk “ganyang
Malaysia” sebagai bagian dari konfrontasi dengan “Nekolim” (neo-kolonialisme dan
imperialisme) diam-diam tidak dipatuhi oleh pimpinan Angkatan Darat. Mereka dari
Angkatan Darat justru diam-diam menjalin hubungan dengan pihak Malaysia. Begitu juga
perintah Presiden Abdurachman Wahid sebagai panglima tertinggi agar Tentara Nasional
Indonesia (TNI) membubarkan Parlemen tidak ditaati. Hasil akhirnya adalah kekuasaan
Presiden dicabut (impeachment) dan Megawati Soekarnoputri menjadi presiden. Singkat kata,
kemungkinan besar, dalam kedua kasus di atas, hukum dipahami tidak hanya harus berasal
dari pihak yang berdaulat, melainkan lebih dari itu, harus didukung oleh kemampuan
menjatuhkan sanksi.
Di samping itu dapat pula kita jumpai ilustrasi lain tentang penggunaan hukum
sebagai sarana mencapai tujuan apapun yang seolah-olah tampak tidak terlalu berbahaya,
sekalipun tetap dengan dampak sosial-ekonomi yang luar biasa buruknya.
Misalnya
berkaitan dengan aturan-aturan hukum baik dari zaman pemerintahan Orde Baru atau
sesudahnya yang membenarkan pengambilalihan atau “apropriasi” kepemilikan dan
penguasaan sumberdaya alam (termasuk tanah) dari semua orang oleh negara demi
9
kepentingan nasional (pembangunan dan atau pertumbuhan ekonomi) untuk diserahkan
kepada investor.
Contoh lain di mana kepentingan umum dan kebahagiaan sebanyak
mungkin orang (mayoritas) dianggap membenarkan “hukum” berkaitan dengan aturan
tentang pendirian rumah ibadah (yang harus dibaca rumah ibadah bagi non-muslim
khususnya Nasrani). Penegakkan aturan tersebut yang dibaca memiliki tri-tujuan hukum
(“kepastian-keadilan-kemanfaatan”) kemudian diterjemahkan dan dibaca sebagai perintah
dari pemerintah setempat untuk membongkar dan mengusir masyarakat Nasrani dari suatu
wilayah tertentu, misalnya yang terjadi di banyak tempat di Indonesia (kabupaten Aceh
Singkil pada Oktober 2015).
Lantas di mana penting dan perlunya pemikiran Radbruch? Sumbangan pemikiran
Radbruch yang dapat kita re-aktualisasikan di sini ialah pembahasannya tentang keabsahan
hukum dan ide hukum. Jelas bahwa Radbruch ketika berbicara tentang tri-tujuan hukum akan
menyatakan bahwa perintah yang berdaulat (di Indonesia) seperti digambarkan di atas –
sekalipun betul aturan yang ditetapkan penguasa – bukanlah hukum yang memberikan
kepastian-keadilan-kemanfaatan bagi semua orang.
Persoalan yang akan dibahas di sini ialah apakah betul pemikiran Radbruch
sesederhana yang dirujuk dan dikutip oleh “iklan masyarakat” atau pun gagasan ilmu hukum
nasional dan apakah betul dalam pemikirannya tri-tujuan hukum tersebut niscaya
berbenturan. Dengan melakukan penelusuran kembali dapat diharapkan suara asli Radbruch
dapat diperdengarkan dan sekaligus kita dapat menengok dengan kritis pemahaman yang
berlaku perihal adanya perbenturan yang tidak dapat didamaikan antara tri-tujuan hukum di
atas.
3. Mengenal Filsafat Hukum Radbruch
Kita harus menempatkan pemikiran Radbruch sesuai dengan konteks zamannya.
Historical embededness dari suatu gagasan atau perkembangan pemikiran tidak dapat
diabaikan begitu saja. Dari situ kita akan melihat pengaruh setting alam pikir Jerman di
antara akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 terhadap pemikiran Radbruch. Dengan
memperhatikan konteks sejarah inipun, maka muncul perdebatan di antara pembaca Rabruch:
apakah ada “dua gagasan Radbruch” yang berbeda, yakni yang muncul sebelum dan sesudah
rezim Nazi berkuasa ataukah kita sebenarnya berbicara tentang evolusi pemikiran. Dalam
konteks itu akan ditelaah teori Radbruch tentang tri-tujuan hukum yang telah disinggung di
bagian pengantar tulisan ini.
10
3.1.
Hidup dan Karya-karya Radbruch
Di bawah ini akan dipaparkan bio-bibilografi ringkas dari Radbruch.13 Tujuan
menyoroti hidup dan karya-karya Radbruch adalah untuk menelaah seberapa jauh teori asli
Radbruch telah tereduksi dalam alam pemikiran hukum di Indonesia. Maka itu, pemikirannya
harus dipahami secara tekstual maupun kontekstual. Cara ini dipilih dengan sengaja sekaligus
sebagai tanggapan terhadap kritikan Sunaryati terkait problem kinerja ilmiah ilmu hukum
nasional.
Gustav Radbruch (1878-1949) adalah anak seorang pedagang dari Lubeck (Jerman).
Ia memulai studinya tentang hukum pada 1898 di Munich. Sejak masa kuliah ia tertarik
dengan mata pelajaran tentang ekonomi nasional dan reformasi sosial yang digagas Lujo
Bretano. Di Leipzig, tempat ia belajar selama tiga semester selama 1898 sampai 1900, ia
berjumpa tokoh-tokoh yang memperkenalkannya pada beberapa kajian. Karl Bucher
memperkenalkan Radbruch pada psikologisme empiris dalam makroekonomi, Wilhelm
Hundt pada filsafat, dan Karl Lamprecht pada pandangan sosiologis terhadap sejarah sebagai
sejarah kebudayaan. Beberapa tokoh lain membuatnya terpesona melalui kuliah dan bukubuku: Rudolf Sohm tentang hukum kanonik dan Franz von Liszt tentang hukum pidana
(criminal law). Radbruch lantas mengikuti dan bergabung dengan seminar Liszt tentang
politik hukum pidana. Hofmann mengungkapkan bahwa dari gagasan-gagasan Liszt dan juga
pengaruh Rudolf von Jhering-lah Radbruch mengajukan pandangannya tentang tujuan
(purpose), termasuk ketika ia menjadi Menteri Hukum Republik Weimar pada 1921-1922.
Dalam kapasitas sebagai menteri, Radbruch mendorong reformasi hukum pidana. Sebuah
rancangan kitab hukum pidana yang baru selama masa jabatannya adalah hasil karyanya.
Terlihat bahwa minat Radbruch yang besar pada dunia akademik juga dibarengi
dengan keterlibatannya dalam dunia praktis. Ia juga ikut serta dalam gerakan sipil dan politik.
Ia adalah anggota Volkspartei dan menjadi anggota dewan kota. Pengalamannya sebagai
prajurit garis depan mendorongnya menjadi seorang sosialis. Setelah Perang Dunia I,
Radbruch aktif di Partai Sosial Demokrat. Karir sosial-politiknya yang terbilang bagus itu
beriringan dengan karir akademik yang pada gilirannya mempengaruhi perkembangan
pemikirannya, termasuk dalam hal refleksi filosofis tentang hukum.
13
Kami mendasarkan uraian tentang topik ini pada dua sumber rujukan, yakni: Wolfgang Friedman (1967),
“Gustav Radbruch” in Encyclopedia of Philosophy, 2nd Edition, Volume 8 Price-Sextus Empiricus, ed. Donald M.
Borchert (Farmington Hills: Thomson Gale, 2006), pp. 229-230; Hasso Hofmann, “From Jhering to Radbruch:
On the Logic of Traditional Legal Concepts to the Sociological Theories of Law to the Renewal of Legal
Idealism” in A Treatise of Legal Philosophy and General Jurisprudence. Volume 9. A History of the Philosophy
of Law in the Civil Law World, 1600–1900, eds. Damiano Canale, Paolo Grossi, and Hasso Hofmann (New
York: Springer, 2009), pp. 301-354.
11
Profil biobibliografi
dari
Radbruch
Radbruch mengajar di Heidelberg sebagai dosen luar biasa sejak 1903. Keterangan
lain menyebutkan bahwa ia sempat beberapa kali dipindah-tugaskan: pada 1914, ia bekerja di
Universitas Konigsberg (Prussia) sebagai profesor, pada 1919 ke Universitas Kiel, dan 1926
ke Heidelberg.14 Di tempat yang terakhir itu, ia diangkat menjadi profesor pada 1910. Pada
ruang dan waktu inilah, kehidupan intelektual Radbruch terasah berkat diskusi-diskusinya
dengan tokoh-tokoh kunci dalam tradisi filsafat, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan Jerman.
Hofmann mencatat bahwa ketika Radbruch berada di Heidelberg, di tempat yang sama
bekerja pula Wilhelm Windelband (1848-1915), Emil Lask (1875-1915), Ernst Troeltsch
(1865-1923), Max Weber (1864-1920), dan Georg Jellinek (1851-1911). Ada pula nama
besar seperti Heinrich Rickert (1863-1936) yang sangat dipengaruhi Windelband serta yang
menjadi pelopor Neo-Kantianisme Mazhab Baden atau yang dikenal juga sebagai aliran
Jerman Barat Daya.15
Namun saat menjadi pengajar di Heidelberg inilah, Radbruch mengalami masa
kekuasaan rezim Nazi. Oleh rezim itu dan akibat latar belakang aktivitas politiknya,
Radbruch dipecat dari posisi akademiknya di Heidelberg pada 1933. Setelah Perang Dunia II,
tepatnya pada 1945, posisinya tersebut dipulihkan lagi dan ia menjadi Profesor Hukum
Pidana dan Filsafat Hukum di Heidelberg. Dalam posisinya itu ia mempengaruhi arah baru
pendidikan hukum dan filsafat Jerman sampai waktu meninggalnya.
Karya-karya tulis Radbruch yang dapat kami tunjukkan adalah sebagai berikut.
Einführung in die Rechtswissenschaft (Pengantar ke Filsafat Hukum atau Introduction to
Jurisprudence) ditulis pada 1910 adalah basis dari bangunan filsafat hukum Radbruch.
Rechtsphilosophie (Filsafat Hukum atau Legal Philosophy) merupakan edisi ketiga yang
terbit 1932. Edisi ketiga ini merupakan revisi dari karya yang sama dengan judul berbeda,
Grundzüge der Rechtsphilosophie (Prinsip-prinsip Dasar Filsafat Hukum atau Basic
Principles of Legal Philosophy), yang telah terbit dalam dua edisi; yang pertama kali, 1914
14
Keterangan ini diambil dari semacam pengantar singkat tentang karir dan karya Radbruch dalam buku
kumpulan terjemahan bahasa Inggris karya-karya Radbruch, bersama Lask dan Dabin, yang dieditori oleh
Edwin W. Patterson. Terjemahan karya “Filsafat Hukum” (Legal Philosophy) Radbruch ini menjadi sumber
utama rujukan kami di sini.
15
Keberadaan dan pengaruh Neo-Kantianisme dalam karya-karya Radbruch tidaklah bisa dikategorikan secara
tunggal. Di samping Sekolah Baden, melalui dua tokoh utamanya, Windelband dan Rickert, pada pemikiran
hukum Radbruch juga terdapat pengaruh Max Weber. Tokoh yang disebut terakhir malah ada yang
menggolongkannya sebagai bagian dari Neo-Kantianism Sosiologis yang berdiri di antara aliran Heidelberg
dan tradisi lain yang dibangun oleh Wilhelm DIlthey (1833-1912) dan George Simmel (1858-1918). Lewis
White Beck (1967), “Neo-Kantianism” in Encyclopedia of Philosophy, 2nd Edition, Volume 8 Price-Sextus
Empiricus, ed. Donald M. Borchert (Farmington Hills: Thomson Gale, 2006), pp. 544-545. Konstelasi
pemikiran Jerman ini tercermin dalam perdebatan terkenal antara dua kubu: pembela metode ilmu alam dan
ilmu humaniora. Soal ini dipaparkan lebih lanjut di bagian tentang konteks dan kontroversi filsafat hukum
Radbruch.
12
lalu yang kedua, 1922. Namun menurut Radbruch sendiri dalam pengantarnya, edisi ketiga
berjudul Rechtsphilosophie ini bukan hanya edisi baru melainkan “sebuah buku baru”. Karya
ini lahir, demikian Radbruch, dari keperluan akan adanya pembaharuan di satu sisi dan di sisi
lain ketidakmungkinan mengerjakannya pada masa-masa perang dan revolusi yang terjadi.16
Sesudah Perang Dunia II, karya Radbruch yang diterbitkan adalah: Fünf Minuten
Rechtsphilosophie (Lima Menit Filsafat Hukum atau Five Minutes of Legal Philosophy),
terbit pertama kali 1945; Gesetzliches Unrecht und Ubergesetzliches Recht (Ketidakadilan
dari Undang-Undang dan Keadilan yang di atas Undang-Undang), terbit pada 1946; lalu
kumpulan dari Grundzüge, Fünf Minuten, dan Gesetzliches yang disatukan menjadi edisi
Rechtsphilosophie versi editan Erik Wolf.17 Artikel Radbruch pasca Perang Dunia II yang
berbahasa Inggris dan yang terkenal karena dianggap menimbulkan kontroversi soal “dua
jenis” arah filsafat hukumnya adalah yang berjudul “Statutory Lawlessness and SupraStatutory Law”, terbit pada 2006 sebagai versi terjemahan.18
Karya-karya Radbruch tentang filsafat hukum dapat dikatakan merupakan tinjauan
ulang terhadap alam pikir Jerman abad ke-19. Berdasarkan proyek besar inilah, kita lantas
dapat menemukan keberlanjutan pembahasan topik-topik tentang refleksi terhadap hukum
dalam karya-karya Radbruch. Demikianlah sedari Einführung, yang merupakan kumpulan
kuliah-kuliahnya di Akademi Dagang Mannheim, telah dinyatakan oleh Radbruch bahwa
hukum merupakan dan filsafat hukum adalah bagian dari keseluruhan budaya.19
Mengikuti penjelasan Hofmann, buku yang menjadi dasar filsafat hukum Radbruch
tersebut telah membicarakan topik antinomi tiga nilai bagi kebudayaan dan juga hukum,
yakni nilai logis, estetis, dan etis. Ketiganya
menjadi tujuan bagi “hukum-hukum
kebudayaan” (cultural laws) yang, kendati berangkat dari keberadaan masing-masing nilai,
hendak menghasilkan keseimbangan di antara “wawasan ilmiah, ciptaan artistik, kapabilitas
moral dan ketertiban sosial.”20 Dengan kata lain, hukum merupakan bagian dan tidak
terpisahkan dari kebudayaan.
Beranjak dari pemahaman itulah lantas muncul gagasan Radbruch tentang pemilahan
atau distingsi tentang tugas hukum, yakni nilai apa yang mau dilayani atau diwujudkannya.
16
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 47.
Informasi ini diambil dari Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, hlm. 162. Huijbers di sini
menyebutkan bahwa tahun edisi Rechtsphilosophie yang ia rujuk adalah 1963.
18
Versi bahasa Inggris ini dibahas dan dirujuk oleh Paul Weismann, “A Question of Morals? Gustav Radbruch’s
Approach towards Law”, The Student Journal of Law, http://www.sjol.co.uk/issue-3/radbruch, diakses 5
September 2015.
19
Hasso Hofmann, “From Jhering to Radbruch”, hlm. 350.
20
Gustav Radbruch, Einführung in die Rechtswissenschaft, catatan kaki nomor 101, sebagaimana dikutip oleh
Hasso Hofmann, “From Jhering to Radbruch”, hlm. 350.
17
13
Di satu pihak, terdapat individu sebagai pengemban tujuan tersebut. Di sini etika individual
menjadi landasan pembenaran (adanya) hukum. Di lain pihak, terdapat entitas “supra
individual”, yakni negara, suatu organisme yang menjunjung hukum bukan sebagai nilai
individual melainkan sebagai nilai imanen dirinya (negara) dan keadilan sebagai tujuan
puncaknya. Maka terdapat kontradiksi antara dua tujuan hukum (yang dipandang sebagai
sebagai budaya), yaitu tujuan yang mengabdi kepentingan individu dengan yang supra
individual (negara). Bagi Radbruch, sebagaimana tertuang dalam Einführung, penyelesaian
harus dicari bukan melalui pertimbangan-pertimbangan ilmiah melainkan dikembalikan ke
pilihan pribadi tiap orang. Bagi Radbruch, pilihan tersebut terwujud dalam kontes partai
politik dalam pemilihan umum. Lebih spesifik lagi, soal penentuan pilihan pribadi itu
menyangkut gagasan kunci Radbruch, yakni “relativisme”. Menurut Radbruch, relativisme
mengajarkan baik penentuan sikap seseorang dan keadilan bagi satu sama lainnya. Perlu
ditekankan di sini bahwa tesis relativisme Radbruch terkait dengan ide demokrasi dalam
praksis politik.21 Topik tentang pilihan pribadi dalam kaitannya dengan aktivitas politik
dalam partai serta topik antinomi tiga nilai terkait muncul lebih lanjut dalam gagasan filsafat
hukum Radbruch, yakni di dalam Grundzüge.
Grundzüge adalah elaborasi lebih rinci tentang gagasan filsafat hukum Radbruch.
Selain topik-topik yang sudah ia bahas dalam buku Einführung di atas, Grundzüge
mengembangkan lebih lanjut topik tujuan hukum yang mengacu pada ajaran NeoKantianisme. Topik ini, yang juga merupakan pokok bahasan kami di sini, menyangkut
masalah validitas hukum. Komitmen Kantian Radbruch terhadap filsafat hukum terungkap
dari dua posisi. Pertama, bahwa hukum haruslah valid/absah bukan berdasarkan sifat
positifnya melainkan hukum yang benar (the right law); validitas bukan datang dari hukum
itu sendiri melainkan pada nilai, arti, dan tujuan hukum, yakni keadilan.22 Kedua,
pengadopsian “dualisme metodis”, yakni pembedaan nilai dan realitas, antara yang ada (Sein)
21
“For relativism is the conceptual presupposition of democracy. Democracy refuses to identity itself with a
definite political view … Relativism, which teaches that no political view is demonstratable – and non
refutable – is apt to counteract that self-rigtheousness which is usual in our political controversies … Thus
relativism teaches both determination in one’s own attitude and justice toward that of another.” Gustav
Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 48.
22
Gustav Radbruch, Grundzüge der Rechtsphilosophie, hlm. 22, sebagaimana dikutip oleh Hasso Hofmann,
“From Jhering to Radbruch”, hlm. 352. Sekali lagi perlu diklarifikasi di sini bahwa ada variasi sumber rujukan
karya asli Radbruch sendiri. Grundzüge yang dipakai oleh Hofmann, menurut daftar pustakanya, adalah edisi
terbitan 1993 yang berbahasa Jerman. Adapun yang kami rujuk adalah edisi ketiga, hasil revisi, dari
Grundzüge, yakni Rechtsphilosophie yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris (Legal Philosophy) versi
editan Edwin W. Patterson.
14
dan yang seharusnya (Sollen), yang khas filsafat Kant, sebagai pendekatan terhadap
penentuan validitas hukum.
Evaluasi terhadap validitas hukum menurut pendekatan ini harus didasarkan pada
refleksi dan orientasi terhadap nilai-nilai hukum. Makna tri-tujuan hukum: keadilan,
keberlanjutan, dan kepastian hukum, harus dikaitkan pada dua pokok di atas, relativisme dan
dualisme metodis. Inilah yang menjadi konteks pemikiran filsafat hukum Radbruch. Dalam
konteks tersebut kita bisa menelusuri duduk perkaranya: apa yang menjadi fokus perhatian
Radbruch?; apa yang hendak ia kritisi?; apa lawan pemikirannya? Di samping itu, dari kisah
hidupnya yang pernah menderita kekejaman Nazi, muncul perdebatan soal konsistensi alur
teori hukumnya. Ada pandangan umum yang menerima dan menyatakan bahwa teori hukum
Radbruch mengalami patahan, yakni sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Kengerian
terhadap gerakan Nazi menjadikan Radbruch mengubah haluan filsafat hukumnya.
Barbarisme penguasa Jerman yang sangat formalistik waktu itu menjadikan Radbruch
berpaling mengikuti teori hukum kodrat.23
Di sinilah letak soal hubungan tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan, dan kepastian
hukum. Dalam kerangka tema hubungan hukum dan moralitas, timbul pertanyaan: apakah
Radbruch adalah seorang positivis yang kemudian berubah menjadi pengikuti teori hukum
kodrat?; apakah dengan begitu teori tentang ide hukum juga mengalami perubahan makna?
Kontroversi perlu kita kaji sebelum menelaah apa yang dimaksud dengan: keadilan,
kebertujuan, dan kepastian hukum. Apa yang sebenarnya hendak Radbruch kemukakan
melalui teori tentang tujuan hukumnya itu? Konteks dan kontroversi pemikiran Radbruch
berikut ini kiranya berguna untuk mengantar kita menuju pemahaman akan hal tersebut.
3.2.
Konteks dan Kontroversi
Uraian tentang hidup dan karya-karya Radbruch membawa kita pada dua tema yang
menjadi kerangka pemikiran filsafat hukumnya. Tema yang pertama adalah konteks alam
23
Wolfgang Friedman (1967). “Gustav Radbruch”, hlm. 230. Torben Spaak adalah salah satu pihak
mengemukakan problematika “dua Radbruch”, yang sebelum dan yang sesudah perang, ini dalam kaitannya
dengan topik hubungan hukum dan moralitas. Torben Spaak, “Meta-Ethics and Legal Theory: The Case of
Gustav Radbruch” Law and Philosophy, Vol. 28, No. 3 (May, 2009), pp. 261-290. Ungkapan paling tajam
tentang pergantian posisi pemikiran Radbruch juga datang dari pembacaan H.L.A. Hart mengenai gelombang
kritik terhadap gagasan pemisahan hukum dan moralitas. Hart menyayangkan fakta bahwa Radbruch awalnya adalah seorang positivis - beralih menjadi pengkritik keras pemisahan hukum dan moralitas, bukan
atas dasar konstruksi penalaran, melainkan sekadar karena pengalaman hidupnya ketika menyaksikan
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sesama manusia. H.L.A. Hart, Essays in Jurisprudence and
Philosophy (Oxford: CLanderon Press, 1985), hlm. 72. Survei yang menarik, kompleks, dan mendasar tentang
ada tidaknya perubahan pemikiran Radbruch bisa dibaca dari Weismaan. Paul Weismann, “A Question of
Morals? Gustav Radbruch’s Approach towards Law”.
15
pikir Radbruch. Seperti yang telah ditunjukkan sebelumnya, ia dipengaruhi oleh NeoKantianisme yang berkembang di lingkungan Heidelberg. Lebih dari itu, ia pun terlihat
memegang teguh komitmen Kantian dan mengembangkannya dalam gagasan filsafat hukum.
Hal ini jelas menempatkannya dalam suatu konstelasi alam pikir di mana ia bersinggungan,
bersilangan, dan bahkan bentrok dengan sejumlah pandangan. Dengan kata lain, filsafat
hukum Radbruch mengandung kompleksitas tertentu terkait alam pikir filsafat Jerman.
Lantas tema yang kedua adalah kontroversi menyangkut penafsiran terhadap teori-teori
hukum Radbruch. Persoalan kontroversi ini menjadi pertaruhan bagi kita di sini. Sebab,
apabila kita mampu menyerap inti sari kontroversi tersebut besar kemungkinan kita dapat
memperoleh mengungkap makna sesungguhnya dari tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan,
dan kepastian hukum.
Konteks alam pikir Radbruch yang paling utama di sini adalah Neo-Kantianisme. Dari
namanya kita bisa mengidentifikasi bahwa paham ini terkait dengan gerakan pembaharuan
filsafat dan semangat Kant. Pemicu gerakan “kembali ke Kant” ini adalah dua kejadian yang
bertolak belakang namun yang semestinya sudah final di bawah traktat filsafat kritis Kant.24
Di pihak yang satu ada kelesuan metafisika idealisme dalam memproduksi pengetahuan. Di
lain pihak, membabi-butanya materialisme atas nama ilmu pengetahuan alam, teknologi, dan
ekonomi nasional. Cara berpikir ilmiah (rasionalistik-deterministik atau yang sering juga
dikenal sebagai paham saintisme) menjadi dominan dan menyingkirkan idealisme. Realitas
berdasarkan ilmu pengetahuan alam, teknologi dan ekonomi pada akhirnya direduksi menjadi
soal materi (materialisme). Padahal Kant sudah berupaya mendamaikan antara paham
rasionalisme
Cartesian
yang
mengunggulkan
rasio
dan
empirisme
Hume
yang
mengembalikan pemahaman akan realitas kepada pengalaman inderawi. Neo-Kantianisme,
demikian Copleston, adalah salah satu bentuk keyakinan akan kehebatan filsafat Kant yang
telah “dengan sangat teliti mengkritisi pengetahuan manusia” dan yang di abad ke-20 kiranya
dapat membantu untuk “menghindari meluapnya metafisika tanpa jatuh dalam paham
dogmatis para materialis”.25
24
Istilah dan moto “Kembali ke Kant!” (“Back to Kant!”) muncul dalam karya Otto Liebmann (1840-1912) yang
dipublikasikan pada 1865 di Stuttgart. Karya tersebut berjudul Kant und die Epigonen. Uraian tentang latar
belakang historis dan gagasan-gagasan Neo-Kantianisme di sini kami rujuk pada dua sumber bacaan, yakni
Frederick Copleston, A History of Philosophy. Volume VII. Modern Philosophy: From the Post-Kantian Idealists
to Marx, Kierkegaard, dan Nietzsche (New York: Image Books Doubleday, 1994), hlm. 361-373, dan Lewis
White Beck (1967), “Neo-Kantianism” in Encyclopedia of Philosophy, 2nd Edition, Volume 8 Price-Sextus
Empiricus, ed. Donald M. Borchert (Farmington Hills: Thomson Gale, 2006), pp. 539-546.
25
Frederick Copleston, A History of Philosophy. Volume VII, hlm. 361.
16
NeoKantianisme dan
filsafat
hukum
Jerman
antara
akhir abad
ke-19 dan
awal abad
ke-20
Mazhab Heidelberg yang mempengaruhi Radbruch adalah salah satu dari dua mazhab
kunci Neo-Kantianisme. Dari arah yang berbeda, terdapat pula mazhab atau sekolah NeoKantianisme lain yang bernama Mazhab Baden. Kalau grup Heidelberg dipimpin oleh
Windelband dan Rickert dengan gagasan mengenai filsafat nilai dan refleksi atas ilmu-ilmu
budaya atau manusia, maka grup Baden diusung terutama oleh dua eksponennya, Hermann
Cohen (1842-1918) dan Paul Natorp (1854-1924). Keduanya memfokuskan diri pada tema
epistemologi, aplikasi logika pikiran dan matematika, serta kesadaran etis.
Kita patut memeriksa lebih lanjut refleksi Windelband dan Rickert di sini karena dari
keduanya-lah, Radbruch meminjam dan mengolah lebih lanjut ide-ide tentang filsafat nilai
dan dualisme metodis dalam ranah epistemologi dan ilmu pengetahuan. Dalam pandangan
Windelband, filsafat nilai adalah sebuah penelusuran terhadap dasar-dasar anggapan dan
prinsip-prinsip berbagai keputusan nilai (value judgements). Windelband pun tertarik dengan
pertanyaan soal bagaimana hubungan penelusuran tersebut dengan kesadaran subjek yang
membuat keputusan. Setiap keputusan nilai pada dasarnya bersifat aksiologis. Artinya,
pikiran kita itu diarahkan oleh sebuah nilai atau norma tentang yang seharusnya. Dalam
pandangan Windelband, ada tiga bentuk keputusan nilai, yaitu logika, etika, dan estetika.
Ketiganya mengandaikan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan.26 Tapi dari mana
nilai-nilai tersebut berasal? Apa landasannya? Di titik inilah masuk unsur transendental dari
norma dan kesadaran, yakni sejenis kerangka besar dan universal yang menjadi cantolan bagi
arahan nilai-nilai. Unsur transendental ini berada di balik kesadaran empiris dan menjadi
ikatan bersama (common bond) bagi setiap keputusan nilai yang dibuat individu. Filsafat nilai
ini sangat kentara dalam alur berpikir filsafat hukum Radbruch, terutama mengenai hakikat
hukum dan filsafat hukum yang berorientasi pada nilai-nilai.
Rickert, yang mengembangkan lebih lanjut pandangan Windelband, menyatakan
bahwa nilai-nilai memiliki ranahnya sendiri dalam realitas. Oleh karenanya, ranah itu pun
menjadi objek pengetahuan tersendiri yang berbeda dari objek ranah inderawi. Pembedaan ini
menentukan bagaimana kesadaran dan pengetahuan subjek sampai pada keputusan nilai. Pada
ranah inderawi, subjek mengetahui objek realitas yang ada (eksistensi) melalui operasi ilmu
pengetahuan. Pada ranah nilai, subjek mengetahui sekaligus memaknai objek inderawi
bersamaan dengan objek non-inderawi berupa pengalaman hidup. Di sini penilaian bukan
muncul melalui persepsi melainkan pemahaman (Verstehen) terhadap berbagai peristiwa
26
Frederick Copleston, A History of Philosophy. Volume VII, hlm. 364.
17
(sejarah, kesenian, moral, dan institusi-institusi) sebagai objek kebudayaan.27 Dari Rickert,
Radbruch belajar bahwa ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pengetahuan hukum, terhubung
dengan nilai-nilai kebudayaan. Nilai dari hukum tidak lain adalah nilai dari kebudayaan.
Dualisme metodis yang diusung Rabruch-pun bertolak dari pemilahan nilai dan realitas yang
merujuk pada pandangan Rickert.
Posisi pemikiran lain yang juga langsung mempengaruhi filsafat hukum Radbruch,
namun tidak langsung terkait dengan Mazhab Neo-Kantianisme versi Windelband dan
Rickert di atas, berasal dari Weber. Darinya-lah Radbruch berhutang soal gagasan
relativisme. Sebagaimana Weber, Radbruch pun meyakini (sambil meneruskan wawasan
Windelband dan Rickert tentang nilai) bahwa nilai-nilai tidak bisa dibuktikan keberadaannya
secara ilmiah lantaran itu semua adalah urusan hati nurani (Gewissen) dan bukannya urusan
ilmu pengetahuan (Wissenchaft).28
Selain konteks alam pikir di atas, hal yang juga tidak bisa dilewatkan, adalah
kontroversi seputar pandangannya terhadap makna tri-tujuan hukum, keadilan, dan hakikat
filsafat hukum. Kontroversi yang dimaksud di sini adalah pertentangan pendapat antar
beberapa komentator dan penafsir Radbruch mengenai benar tidaknya telah terjadi perubahan
posisi Radbruch: dari positivis ke teori hukum kodrat; dari prioritas pada kepastian hukum
menjadi pada keadilan; dari norma hukum ke moralitas sebagai landasan validitas hukum.
Spaak meringkas pandangan umum yang berlaku tentang ada dua jenis posisi teoritis
Radbruch yang berbeda ini.29 Bahwa ada Radbruch, seorang positivis hukum dan relativis
moral sebelum masa Perang Dunia II, yang menyatakan tidak adanya hubungan konseptual
antara hukum dan moralitas, serta adanya kerangka moral sebagai landasan validitas
keputusan moral itu sendiri. Lantas terdapat pula pandangan Radbruch, pasca Perang Dunia
II, yang menegaskan adanya hubungan konseptual antara hukum dan moralitas.
Persoalannya di sini ialah kalau betul ada “dua Radbruch” yang berbeda, maka
konsekuensi logis darinya adalah ada pula dua pandangan berbeda tentang tri-tujuan hukum:
keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum. Pertanyaannya: mana di antara ketiganya yang
akhirnya menjadi nilai dasar bagi hukum? Kebingungan seperti ini, menurut kami, pada kasus
problem kinerja ilmiah ilmu hukum Indonesia, juga muncul dalam ekspresi tentang bagian
mana dari ketiga hal itu yang harus didahulukan, meski kemungkinan besar pertanyaan
tersebut tidak dimengerti seturut kontroversi “dua Radbruch”. Tendensi reduksi pengemban
27
Lewis White Beck (1967), “Neo-Kantianism”, hlm. 544.
Wolfgang Friedman (1967). “Gustav Radbruch”, hlm. 229.
29
Torben Spaak, “Meta-Ethics and Legal Theory”, hlm. 262.
28
18
Kontroversi
tentang
adanya
“dua
Radbruch”
ilmu hukum Indonesia, contohnya saja, membuat kita senang berargumen dengan lumayan
kacau bahwa hukum haruslah adil, sambil tetap pasti, namun asal bermanfaat.
Kami di sini tidak bermaksud untuk masuk ke dalam diskursus dan perdebatan soal
apakah pandangan Radbruch sebelum dan sesudah perang merupakan sebuah kontinuitas
(dan karenanya selaras) atau sebaliknya suatu diskontinuitas (dan karenanya ada pergeseran
posisi pemikiran hukum). Namun tidak ada salahnya untuk memperhatikan pendapat pihak
yang memandang adanya perubahan posisi Radbruch dari yang positivistik ke yang
menyatukan hukum dengan moralitas. Hart, raksasa positivisme hukum kontemporer dari
Inggris, adalah salah seorang yang paling gamblang berargumentasi bahwa telah terjadi
pergeseran tersebut. Hart berargumen bahwa kisah perubahan posisi Radbruch adalah bentuk
kritik terhadap doktrin pemisahan (separasi) hukum dan moralitas.30 Satu hal yang perlu
disadari, doktrin pemisahan hukum dan moralitas di atas lahir dari tradisi paham
utilitarianisme yang diusung terutama oleh Jeremy Bentham dan John Austin. Kembali ke
Radbruch, menurut Hart, ia adalah salah satu dari barisan pemikir Jerman yang
berkonfrontasi dengan doktrin separasi a la utilitarianisme. Mereka ini:
“bersikeras bagi perlunya penggabungan apa yang para Utilitarianis pisahkan karena separasi
inilah yang paling penting di mata para Utilitarianis; sebab mereka [para pemikir Jerman,
termasuk Radbruch] disita perhatiannya dengan masalah yang dikemukakan oleh keberadaan
hukum-hukum yang jahat secara moral.”31
Dari kaca mata Hart setidaknya diketahui bahwa Radbruch, pada akhirnya, menolak
doktrin pemisahan hukum dan moralitas yang bertumpu pada utilitarianisme Inggris. Hal ini
penting untuk digarisbawahi sekalipun bukan satu-satunya yang penting. Bagaimanapun juga
kontroversi “dua Radbruch” di atas tetap berlaku. Dengan menerima adanya kontroversi ini
serta mengikuti alur konteks alam pikir Radbruch, maka pemahaman yang lebih jernih atas
tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum-pun mesti beranjak dari ikhtiar
mengdentifikasi rival-rival pemikiran Radbruch. Pertanyaannya sekarang: apa yang
sebenarnya menjadi pokok pergulatan pemikiran filosofis Radbruch tentang hukum menurut
konteks dan kontroversi di sini?
30
Dari uraian Hart tentang kemunculan doktrin tersebut dalam sejarah pemikiran dan perubahan sosial di
Inggris akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, kita bisa mengidentifikasi tiga corak dasarnya. Pertama,
perlunya memilah secara tegas dan jelas hukum sebagaimana adanya dari hukum sebagaimana yang
seharusnya. Kedua, dari sekadar fakta bahwa sebuah aturan melanggar standar-standar moral tidaklah lantas
bisa disimpulkan bahwa aturan tersebut bukan aturan hokum. Ketiga, sebaliknya, dari sekadar fakta
keberadaan sebuah aturan dikehendaki atas dasar moralitas tidak berarti aturan tersebut menjadi aturan
hukum. H.L.A. Hart, Essays in Jurisprudence and Philosophy, hlm. 50 dan 55.
31
H.L.A. Hart, Essays in Jurisprudence and Philosophy, hlm. 73. Kalimat di dalam tanda dalam kurung oleh kami
penulis.
19
Menurut hemat kami, pergulatan Radbruch berkenaan dengan cara pandang filosofis
terhadap hukum. Radbruch memulai refleksinya dengan sebuah pandangan tentang hakikat
filsafat hukum. Filsafat hukum dalam pandangannya merupakan cara pandang terhadap
hukum sebagai nilai budaya.32 Karakteristik filsafat hukum adalah filsafat nilai yang merujuk
ke pemikiran Windelband dan Rickert. Logika, etika, dan estetika menandai laku
mengevaluasi (evaluating attitude) yang muncul dari karakter tersebut. Hakikat filsafat
hukum yang evaluatif ini kemudian menentukan pula hakikat hukum atau yang, dalam katakata Radbruch sendiri, disebut sebagai ide hukum (idea of law). “Ide sesungguhnya dari
hukum … yang merupakan prinsip konstitutif dari dan juga standar evaluasi bagi, realitas
hukum, mengacu pada sikap mengevaluasi.”33 Namun dari asumsi filosofis yang Radbruch
gali dan tetapkan, kebudayaanlah yang menandai hakikat hukum. “Hukum adalah sebuah
fenomena kultural, artinya, sebuah fakta yang terkait pada nilai”. 34 Maka, secara konseptual
pemahaman terhadap hukum tampil dalam laku yang terkait nilai (value-relating attitude).
Dari gagasan terakhir ini – bahwa hakikat hukum secara konseptual adalah untuk
merealisasikan ide hukum – muncullah pernyataan yang sangat terkenal dari Radbruch bahwa
“Hukum mungkin saja menjadi tidak adil (summum ius – summa injuria); tapi hal itu adalah
hukum hanya karena maksudnya menjadi adil.”35
Dari konteks dan kontroversi, pergulatan Radbruch tentang hakikat filsafat hukum di
atas, dapat ditunjukkan penolakannya terhadap paham filosofis yang menyingkirkan
pemaknaan dan pengaitan hukum dengan nilai etis.36 Kita bisa memahami sekarang bahwa
32
Radbruch memilah empat jenis laku filosofis menurut asumsi filosofis yang membedakan “nilai” dan
“realitas”. Dasar pemilahan ini adalah pola-pola hubungan yang terbentuk antara nilai dan realitas dalam
pengalaman kita. Itulah alasannya mengapa Radbruch menyebutnya sebagai laku (attitude). Mengikuti
uraian Radbruch, empat laku tersebut kemudian memunculkan tiga cara pandang tentang hukum. Dua laku
di antaranya saling terkait erat dan kami terangkan di paragraf ini. Dua laku lainnya adalah laku buta nilai
(value-blind attitude) dan laku penaklukan nilai (value-conquering attitude). Laku buta nilai membuat kita
hanya menerima eksistensi yang ada tanpa menilai tujuannya. Menurut Radbruch, hukum tidaklah mungkin
untuk dimengerti dengan laku nir-nilai seperti ini. Sementara laku penaklukan nilai memainkan perannya
dalam pandangan religius terhadap hukum. Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 51-52. Chroust
menyatakan bahwa tiga laku (terkait nilai, mengevaluasi nilai, dan penaklukan nilai) bersifat filosofis
sedangkan laku buta nilai dengan metode realistic membantatah segala bentuk pengaruh nilai dalam refleksi
filsafat hukum.
33
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 52. Anton-Hermann Chroust, “The Philosophy of Law of Gustav
Radbruch”, The Philosophical Review, Vol. 53, No. 1 (Jan. 1944), pp. 25.
34
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 52.
35
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 52. Magnis-Suseno telah mengutip pernyataan Radbruch ini ketika
ia membicarakan keadilan sebagai ciri hukum dalam teksnya tentang etika politik. Frans Magnis-Suseno,
Etika Politik, hlm. 82.
36
Chroust menyatakan bahwa Radbruch, sebagaimana Kant dalam karya-karya etikanya, menolak segala
bentuk empirisisme, positivisme, pragmatisme, historisisme, atau pun evolusionisme. Paham-paham besar
filosofis ini, menurut Chroust, menyatukan dua metode pemahaman yang sejatinya berbeda dan saling
20
apa yang Radbruch hadapi adalah gagasan-gagasan yang muncul dan berkembang pada
zamannya yang bertendesi menampik aspek kontemplatif, substantif, dan bertujuan
(purposive) dari filsafat hukum. Seperti yang dipaparkan di bagian berikutnya nanti,
pencirian filsafat hukum dalam pandangan Radbruch bertopang pada dua konsep utama,
yakni dualisme metodis dan relativisme. Tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan, dan
kepastian hukum pun tidak lepas dari titik tolak pandangan di atas. Radbruch
mempertahankan titik tolak tersebut dalam pergulatannya dengan “gerhana total kontemplasi
nilai-nilai hukum melalui kontemplasi realitas hukum.”37
Gejala gerhana (kegelapan) tersebut terjadi karena ada tarikan atau tegangan beberapa
aliran pemikiran hukum.38 Pada satu titik, seperti yang telah terindikasikan dari latar belakang
Neo-Kantianisme, pemakaian metode ilmu pengetahuan yang murni empiris terhadap realitas
hukum menguat. Di titik yang lain, eksistensi Mazhab Historis mengalami kontradiksi dalam
hal metode evaluasi hukum, yakni antara “irasionalisme reaksioner” yang menempuh jalan
evaluasi sejarah dan “rasionalisme Hegelian” yang hendak menjustifikasi nilai-nilai hukum
berdasarkan perkembangan materialistik. Kontradiksi tersebut terjadi lantaran asumsi metode
yang monistik alias tidak memisahakan realitas dari nilai. Namun yang menjadi penentu akhir
dalam pergulatan ini adalah pendekatan yang murni positivistik terhadap hukum, yakni yang
berupa pengembangan teori konsep-konsep umum dari hukum. Di titik ini, filsafat hukum
menjadi filsafat hukum positif. Rudolf von Jhering (1818-1892) merupakan tokoh yang patut
memperoleh penghargaan tertinggi atas jasanya menggenapkan teori hukum umum. Hukum
pun diartikan sama dengan preskripsi.
Radbruch kemudian muncul dengan misi mengatasi monisme metodis. Caranya jelas
dengan mengajukan pandangan dualisme metodis. Kekuatan dualisme metodis ini, dalam
pandangan Radbruch, adalah pengkontemplasian dua hal, realitas hukum dan nilai hukum.
Lebih lanjut, langkah berikutnya dari pengadopsian dualisme tersebut menunjukkan adanya “
… keharusan untuk mengatasi utilitarianisme dari tujuan-tujuan parsial dengan mengajukan
sebuah ide tujuan yang final, absolut.”39 Didorong oleh kekuatan gagasan itu dan juga
pengaruh ajaran teori hukum kodrat Rudolf Stammler (1856-1938), Radbruch tampil ke
independen, yakni konsep-konsep nilai etis dan dasar-dasar ilmiah (scientific) dari fakta empiris. AntonHermann Chroust, “The Philosophy of Law of Gustav Radbruch”, pp. 25.
37
Hasso Hofmann, “From Jhering to Radbruch”, hlm. 352.
38
Tentang hal ini, kami merujuk pada uraian Hasso Hofmann tentang keterlibatan Radbruch dalam perjalanan
filsafat hukum Jerman abad ke-19. Hasso Hofmann, “From Jhering to Radbruch”, hlm. 352-354.
39
Gustav Radbruch, Grundzüge der Rechtsphilosophie, hlm. 37, sebagaimana dikutip oleh Hasso Hofmann,
“From Jhering to Radbruch”, hlm. 353.
21
gelanggang pergulatan filsafat hukum. Ia mengemukakan refleksi mengenai isi dari “hukum
yang benar” (right law), yakni yang mengandung keadilan sebagai tujuan pamungkasnya.
Sampai di sini kita telah mempelajari konteks alam pikir dan kontroversi
perkembangan filsafat hukum Radbruch. Dari dua topik tersebut sekiranya kita
dapat
mengenal secara sungguh-sungguh latar belakang, dasar-dasar anggapan, dan keterlibatan
Radbruch dalam dunia pemikiran abad ke-19 dan ke-20 di Barat pada umumnya dan di
Jerman pada khususnya. Konteks alam pikir Radbruch, sebagaimana dijelaskan di atas,
ternyata terkait erat dengan pengaruh Neo-Kantianisme Mazhab Heidelberg. Sementara
kontroversi yang muncul adalah perdebatan tentang adanya “dua Radbruch”. Tema yang
terakhir ini membawa kita pada setting pergulatan filsafat hukum.
Lantas apa faedahnya mengurai berbagai hal ini bagi pemahaman yang lebih seksama
atas tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum? Berdasarkan konteks dan
kontroversi filsafat hukum Radbruch, sudah barang tentu terdapat kompleksitas tertentu yang
sangat berharga dari pemikirannya untuk direduksi. Kecenderungan untuk mereduksi
membuat dunia pengembanan ilmu hukum Indonesia meleset dalam memaknai tri-tujuan
hukum di atas. Implikasi metodologisnya adalah instrumentalisme dan utilitarianisme tidak
hanya dalam memaknai tapi juga merealisasikan hukum, keadilan, dan moralitas. .
3.3.
Isi Ide Hukum
Pada bagian ini hendak diklarifikasi apa yang sebenarnya dimaksud dengan tri-tujuan
hukum: keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum. Sebagaimana telah ditunjukkan di atas,
menurut hemat kami, ketiganya harus dipahami dalam kaitan dengan konteks dan kontroversi
yang muncul seputar perkembangkan dan pergulatan filsafat hukum Radbruch. Gagasangagasan teori hukum Radbruch berada dalam diskursus antara teori hukum kodrat dan
positivisme hukum. Kendati begitu, posisi Radbruch adalah mempertahankan dan
mengembangkan pandangan keadilan substansial (substantial justice) dalam kaitannya
dengan validitas legal atau keabsahan hukum, baik sejak sebelum pengalamannya akan
Perang Dunia II maupun sesudahnya.40 Perpaduan tesis keadilan substansial ini dengan
konsep dualisme metodis serta relativisme menjadikan filsafat hukum Radbruch tidak mudah
untuk dikelompokan ke dalam paham naturalis (hukum kodrat) atau justru positivisme
hukum. Maka tri-tujuan hukum Radbruch perlu ditafsir ulang dalam cahaya perpaduan
tersebut. Dari sudut ini, problematikanya adalah soal sejauh apa tri-tujuan hukum tersebut
40
Paul Weismann, “A Question of Morals? Gustav Radbruch’s Approach towards Law”. Weismann di sini telah
mengindikasikan bahwa Radbruch mengikuti pendekatan positivistik tapi sambil memegang relativisme.
22
dijadikan tumpuan dunia pengembanan ilmu hukum kita. Kuncinya, menurut kami, adalah
pada pemahaman tentang keadilan substansial dalam filsafat hukum Radbruch.
Klarifikasi di sini dimulai dengan masalah pengertian dan hubungan elemen-elemen
tri-tujuan hukum sebagai ide hukum. Radbruch mengungkapkan perihal “keadilan”,
“kebertujuan”, dan “kepastian hukum” ketika ia membuat antinomi ide hukum (idea of law).
Antinomi tersebut mengacu pada pengkonsepsian apa itu hukum menurut Radbruch. Hukum
merupakan konsep yang terkait dengan nilai dan pengejawantahannya dalam realitas itupun
melayani nilai itu. Ide hukum adalah apa yang mengarahkan, mengorientasikan pelayanan
hukum terhadap nilai.41 Radbruch meyakini bahwa elemen ide hukum yang pertama dan
utama adalah “keadilan” (justice).
Namun ia juga mengamati bahwa keadilan tidak menetapkan apa yang disebut atau
dikualifikasi sebagai adil. Alhasil kepada ide hukum perlu ditambahkan elemen
“kebertujuan” (atau yang dalam terjemahan bahasa Inggris dari kata-kata Radburch sendiri
disebut dengan expediency atau suitability for a purpose, bahkan purposiveness).42 Di sinilah
paham relativisme memainkan perannya, yaitu untuk menjawab apa yang menjadi tujuan
hukum, sebagaimana akan ditunjukkan sebentar lagi.
Lebih lanjut, Radbruch menyatakan bahwa bagaimanapun juga relativisme tidak dapat
dipertahankan terus-menerus, sebagaimana yang juga Meuwissen sudah tunjukkan. Sebab,
perlu ada tatanan hukum yang tertib. Hukum, maka itu, adalah hukum positif tapi bukan demi
ketertiban itu sendiri melainkan demi “hukum yang benar” alias, sebagaimana yang sudah
kami singgung, demi keadilan. “Kepastian hukum” (legal certainty) adalah elemen ide
hukum dalam hal positivitas hukum tersebut.
Penetapan elemen-elemen ide hukum di atas kemudian memunculkan persoalan
bagaimana ketiganya saling berhubungan atau yang dikenal sebagai “problem formula
Radbruch”. Pada dasarnya Radbruch sudah mengatakan bahwa “tiga elemen ide hukum itu
mengasumsikan satu dengan yang lain – tapi pada saat yang bersamaan mereka bertentangan
satu dengan yang lain.”43 Satu hal yang pasti, ketiga elemen ide hukum tersebut senantiasa
berada dalam tegangan (tension). Maka bisa dikatakan bahwa Radbruch tidaklah hendak
membakukan rumusan bahwa, misalnya, keadilan adalah prioritas dari kebertujuan dan atau
41
Gustav Radbruch, Legal Philosohy, hlm. 73. Di sini kita dapat mengingat kembali pokok-pokok yang sudah
Arief Sidharta terjemahkan perihal dalil filsafat hukum menurut Meuwissen. D.H.M. Meuwissen, Meuwissen
tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum, dan Filsafat Hukum, terj. B. Arief Sidharta
(Bandung: Refika Aditama, 2009), hlm. 19-21.
42
Gustav Radbruch, Legal Philosohy, hlm. 108. Untuk selanjutnya kami menggunakan kata “kebertujuan”
untuk menggantikan kata “kemanfaatan”.
43
Gustav Radbruch, Legal Philosohy, hlm. 109.
23
kepastian hukum. Bagi Radbruch, ketiga elemen ide hukum dalam formulanya menampilkan
pertentangan berbagai karakter dari cara pandang dan sikap terhadap hukum. Duduk perkara
yang sesungguhnya adalah soal dinamika tri-tujuan hukum tersebut dalam kaitannya dengan
gagasan kunci Radbruch tentang dualisme metodis, relativisme, dan juga hubungan hukum
dan moralitas.
Kata dinamika di sini merepresentasikan pokok dari konteks dan kontroversi
pemikiran Radbruch. Bagaimanapun juga kisah hidup dan keterlibatan intelektual Radbruch
turut menentukan konsepsi teori hukumnya. Inti perhatian teorinya adalah mengenai tujuan
hukum, yakni keadilan sebagai nilai absolut yang dilayani oleh hukum. Maka merujuk pada
Weismann, isi ide hukum di sini berkenaan dengan pembentukan hukum dan dengan
keabsahan hukum.44 Adanya dinamika tampil dalam perubahan penekanan yang diberikan
Radbruch terhadap landasan dua hal tersebut.
Sebelum meninjau apa dan bagaimana perubahan penekanan tersebut, kita perlu
mengklarifikasi terlebih dahulu perihal dualisme metodis, relativisme, dan hubungan hukum
dan moralitas. Seperti telah ditegaskan sebelumnya dualisme metodis berakar dari komitmen
Kantian Radbruch yang memisahkan bidang “yang seharusnya” (Sollen atau ought) dengan
bidang “yang ada” (Sein atau is). Esensi dualisme metodis ini, menurut Radbruch, adalah
aturan logika bahwa pernyataan “yang seharusnya” tidak dapat diturunkan atau didasarkan
dari pernyataan “yang ada”.45 Maksud Radbruch mengemukakan konsepsi ini adalah untuk
menegaskan ciri evaluatif dari pemikiran tentang hukum. Di dalam pergulatan pemikiran itu
terdapat ideal hukum yang Radbruch umpamakan seperti ide figur patung Daud yang belum
terbentuk dari materi berupa bongkahan batu marmer namun sudah terbayang dalam visi
pemahatnya, Michaelangelo. Ide hukum seperti itulah yang memberi penilaian “yang
seharusnya” terhadap hukum dan filsafat hukum yang bertugas melakukannya.
Ada pun relativisme berkenaan dengan langkah bagaimana penilaian di atas
dilaksanakan. Menurut metode relativisme, penilaian menurut ide hukum bukan ditentukan
dari sesuatu yang absolut baik atau buruk, benar atau salah. Apa “yang seharusnya” bukan
44
“... even before Hitler came to power there was a continuous presence of the idea of justice as an aim which
legislators always should at least strive for. In that sense, the adaptation merely consists in an up-grading of
the role of fundamental justice to a validity claim... .” Paul Weismann, “A Question of Morals? Gustav
Radbruch’s Approach towards Law”.
45
Gustav Radbruch, Legal Philosohy, hlm. 53.
24
diturunkan dari kriteria yang tertinggi melainkan dari wujud-wujud nilai tertentu.46 Metode
relativisme menampik pendeterminasian nilai berdasarkan penetapan ilmiah.
Selanjutnya tentang hubungan hukum dan moralitas, Radbruch pun memandangnya
menurut pendekatan filsafat nilai terhadap hukum. Cukup pasti bahwa Radbruch membuat
pemilahan hukum dan moralitas tapi baginya hukum tetaplah berkomitmen bagi keadilan.
Dari titik tolak inilah muncul diskusi tentang pembentukan hukum dan prinsip keabsahannya.
Dengan kata lain, masalah hubungan hukum dan moralitas adalah masalah ada tidaknya
keinginan membentuk hukum yang adil. Pertanyaan pokoknya ialah dari mana datangnya
keinginan tersebut? Apa landasannya? Upaya mencari jawaban atas masalah ini membawa
kita kembali pada pemaknaan tri-tujuan hukum: keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum.
4. Catatan Kritis
Bagian berikut ini adalah sebuah catatan kritis menyangkut dua hal yang sudah
dipaparkan panjang lebar sebelumnya. Hal yang pertama adalah soal suara asli dari filsafat
hukum Radbruch. Hal yang kedua adalah soal pemahaman terhadapnya yang sesuai dengan
konteks keindonesiaan. Dari hal yang terakhir ini muncul pertanyaan: apa yang bisa dipetik
dari ajaran filsafat hukum Radbruch bagi cara berhukum kita di Indonesia?
Menyangkut hal yang pertama. Dari uraian sebelumnya, kita melihat adanya
keterkaitan antara konsepsi tri-tujuan hukum Radbruch dan masalah pembentukan hukum
yang adil. Berkenaan dengan tri-tujuan hukum sendiri dan juga berkaca dari problematika
dalam dunia pengembanan ilmu hukum Indonesia, pertanyaan yang masih “menggantung”
adalah tentang formula Radbruch. Dikatakan menggantung karena meskipun di atas sudah
diterangkan bahwa ketiganya selalu bertegangan satu sama lain, kita tetap dapat menemukan
adanya pola-pola formula ide hukum yang dinyatakan oleh Radbruch sendiri. Pola-pola
formula Radbruch tersebut, seperti yang kami paparkan berikut ini, menyangkut landasan
keabsahan hukum atau validitas legal. Dalam pandangan Radbruch, keadilan substansial
merupakan landasan keabsahan tersebut. sekaligus titik berat bagi formula ide hukum.
Apa yang dimaksud dengan keadilan substansial itu? Terdapat beberapa langkah
pendekatan terhadap pertanyaan ini. Langkah yang pertama adalah dengan menengok
kembali konteks dan kontroversi seputar teori-teori hukum Radbruch. Sesuai dengan ajaran
Neo-Kantian yang Radbruch ikuti, terdapat “nilai hukum” (legal value) yang memiliki fungsi
46
Gustav Radbruch, Legal Philosohy, hlm. 53. Bdk. Anton-Hermann Chroust, “The Philosophy of Law of Gustav
Radbruch”, hlm. 28.
25
konstitutif dalam menentukan keabsahan hukum.47 Hukum dikatakan sah jika dan hanya jika
ia ditentukan oleh nilai konstitutif tersebut. Kita telah melihat bahwa ide hukumlah yang
mengemban peran konstitutif ini. Namun ajaran Neo-Kantian itu pula yang membuat ide
hukum Radbruch sebagai nilai konstitutif bekerja justru secara formal. Artinya, keadilan,
kebertujuan, dan kepastian hukum lebih merupakan bentuk-bentuk daripada isi yang
menentukan keabsahan hukum. Kalau begitu apa yang menentukan isi atau substansi bagi
keabsahan hukum? Jawabannya adalah proses politis.48
Setidak-tidaknya ada dua implikasi dari karakter formal ide hukum ini. Pertama,
keabsahan hukum bergantung pada pemenuhan prosedur pembuatan hukum di tangan
legislator.49 Kedua, titik berat ide hukum terletak pada elemen kebertujuan. Implikasi yang
disebut terakhir ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Radbruch sendiri dalam teks Grundzüge
edisi ketiga menyatakan bahwa “eksistensi tatanan hukum lebih penting daripada keadilan
dan kebertujuan … “ sehingga tugas pertama hukum adalah menjaga kepastian hukum. 50
Pandangan Radbruch ini apabila dibaca secara menyeluruh bukan berarti menyingkirkan
sama sekali keadilan dan kebertujuan. Justru dalam rangka menjaga kepastian hukum itu,
kebertujuan memainkan peran yang sangat penting, yakni untuk “mengoperasionalkan”
keadilan. Kebertujuan di sini berfungsi sebagai semacam alat ukur bagi kesetaraan yang mau
direalisasikan oleh elemen keadilan.
Langkah pertama di atas mengemukakan konsep keadilan formal dari Radbruch.
Meminjam kata-kata Weismann, keadilan formal tersebut bagaikan “botol kosong” tanpa isi
nilai apa pun (disinterested).51 Langkah berikutnya menunjukkan bahwa
Radbruch
menggeser konsepsi keadilan formalnya menjadi substansial. Konteks pengalaman hidup
Radbruch pasca Perang Dunia II memang turut mempengaruhi pergeseran ini. Namun kami
tidak bermaksud untuk ikut dalam perdebatan soal “dua Radbruch” yang positivis atau yang
naturalis. Alasan kami menerima adanya pergeseran ke keadilan substansial ini didasarkan
pada posisi filsafat hukum Radbruch yang sedari awal berkomitmen teguh pada keadilan.
47
Alexander Somek, “German Legal Philosophy and Theory in the Nineteenth and Twentienth Centuries” in A
Companion to Philosophy of Law and Legal Theory. Second Edition, ed. Dennis Patterson (West Sussex:
Blackwell Publishing Ltd, 2010), pp. 345-346.
48
Alexander Somek, “German Legal Philosophy and Theory in the Nineteenth and Twentienth Centuries”, pp.
346.
49
Ada dua syarat validitas legal menurut Radbruch. Pertama, kesesuaian dengan proses legislatif yang ada,
seperti pembuatan keputusan parlemen yang berdasarkan pada voting mayoritas. Kedua, penerapan hukum
yang telah dibuat tersebut. Gustav Radbruch, Rechtsphilosophie, hlm. 302 sebagaimana dikutip oleh Paul
Weismann, “A Question of Morals? Gustav Radbruch’s Approach towards Law”.
50
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 108.
51
Paul Weismann, “A Question of Morals? Gustav Radbruch’s Approach towards Law”.
26
Mengacu pada gagasan filsafat nilai, maka nilai absolut bagi hukum menurut Radbruch
adalah adil.52 Titik berat ide hukum di sini bukan lagi pada kebertujuan melainkan keadilan
itu sendiri. Pembentukan hukum yang mencederai kesetaraan orang-orang yang menjadi
subjek pengaturannya tidaklah sah secara legal.
Konsepsi keadilan substansial menunjukkan bahwa tujuan hukum yang pertama dan
utama menurut Radbruch adalah jaminan atas perlakuan yang setara di hadapan hukum.
Dalam formula ide hukum Radbruch, elemen keadilan (substansial) menjadi titik berat bagi
pembentukan hukum dan klaim keabsahannya. Dalam bentuk pernyataan yang lain,
kesetaraan sebagai keadilan adalah nilai yang harus terwujud menurut ide hukum.53
Dari Radbruch kita dapat memetik pemahaman bahwa tujuan hukum yang
sesungguhnya adalah pemenuhan nilai-nilai etis. Pengertian apa itu hukum pun tidak bisa
dilepaskan dari ide dasarnya yang terbagi ke dalam tiga elemen keadilan, kebertujuan, dan
kepastian hukum. Elemen-elemen tri-tujuan hukum ini menurut jalan pikiran Radbruch
sendiri jelas menampik paham utilitarianisme. Berkaca dari situ, maka keliru apabila kita
memahami tri-tujuan hukum dalam cahaya utilitarianis. Lebih lanjut, dengan paham bahwa
kesetaraan merupakan inti keadilan dalam ide hukum maka refleksi ilmu hukum pun
sejatinya bertumpu pada penghormatan hak. Pemahaman seperti ini sekalipun didasari pada
pembacaan dari tangan kedua karya-karya Radbruch (dalam bahasa Inggris) menunjukkan
bahwa pemikirannya sendiri tidak sebatas apa itu tujuan hukum.
Ide hukum yang dibaca sebagai cita hukum nasional dan yang menjadi tumpuan
struktur ilmu hukum menurut Arief Sidharta pun sekiranya lebih tepat dimaknai sesuai alur
berpikir Radbruch sendiri ini. Cita hukum yang dijelmakan sebagai ideologi Pancasila
barangkali justru membuat pemahaman atas tujuan hukum menjadi licin. Akibatnya, tumpuan
ilmu hukum mudah terpeleset menjadi pandangan yang mengedepankan kemanfaatan umum
yang utilitarianis, entah atas nama “keadilan” atau “ketertiban”. Asumsi yang berlaku dalam
pandangan itu adalah penyamaan apa yang negara buat atau tentukan sebagai apa yang baik.
Kami pikir di sinilah letak bahaya nomor satunya, yakni semacam formalisasi,
instrumentalisasi, atau mekanisasi hukum yang dilanggengkan oleh disiplin ilmunya sendiri
melalui metode kinerja ilmiah. Inspirasi dari ajaran Radbruch dapat ditempatkan dalam
kerangka pandangan yang mengkritisi bahaya tersebut.
52
53
Gustav Radbruch, Legal Philosophy, hlm. 91.
Bdk. Franz Magnis-Suseno, Etika Politik, hlm. 112-119. Magnis-Suseno di sini menguraikan tiga nilai dasar
dalam hukum, yakni kesamaan, kebebasan, dan solidaritas. Baginya, tiga nilai dasar ini berimplikasi bagi
syarat sahnya (kriteria validitas legal) hukum.
27
5. Penutup
Ada dua pokok besar yang bisa kita simpulkan. Pokok yang pertama mengenai kinerja
ilmiah dunia pengembanan ilmu hukum Indonesia. Terlihat betapa kompleksitas pemikiran
Radbruch telah direduksi sedemikian rupa. Tendesi reduksionis ini kita temukan dalam
kinerja ilmiah para pembelajar dan ahli hukum Indonesia yang suka mengutip tanpa disertai
upaya pengenalan yang mendalam atas suatu teori hukum beserta sang penteorinya. Dari
sinilah muncul instrumentalisme hukum sebagai akibat metodologis dari pembiasaan dan
kebiasaan pengembanan ilmu hukum yang eklektik. Instrumentalisme tersebut berdampingan
erat dengan utilitarianisme yang menomorsatukan kemanfaatan tanpa mengindahkan rasa
keadilan masyarakat maupun kepastian hukum. Dalam kaitannya dengan konsep tri-tujuan
hukum Radbruch, ternyata tidak terlalu tepat memahami cita-hukum sebagai sesuatu yang
mengandung ide kemanfaatan. Tri-tujuan hukum menurut kami tidaklah bertitik berat pada
kemanfaatan dalam arti yang utilitarianis. Hal ini menyangkut pokok yang kedua.
Pokok yang kedua mengenai makna tri-tujuan hukum menurut Radbruch. Ada
beberapa hal yang dapat kita garis bawahi. Pertama, tujuan hukum dalam pandangan
Radbruch adalah perwujudan “kebaikan etis” karena hukum melayani nilai etis berdasarkan
gagasan filsafat nilai Neo-Kantian. Kedua, tujuan hukum tersebut terwujud dalam tiga
elemen ide hukum yang disebut sebagai tri-tujuan hukum. Ketiga, konteks dan kontroversi
seputar filsafat hukum Radbruch memperlihatkan bahwa ia jelas dan tegas menolak
utilitarianisme. Keempat, sebagai implikasi dari yang disebut terakhir, tri-tujuan hukum lebih
tepat dipahami sebagai keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum di mana titik beratnya
ada pada penjaminan kesetaraan sebagai keadilan substansial dalam hukum.
Bahwa Radbruch mengajarkan kita banyak hal tentang filsafat hukum adalah sesuatu
yang gamblang berdasarkan upaya penelusuran jejak-jejak pemikirannya yang telah
dilakukan dalam tulisan ini. Akan tetapi di sisi lain adalah gamblang juga bahwa gagasangagasan Radbruch menjadi keliru dimengerti apabila ia dipandang secara reduktif, yakni
sebagai penganjur utilitarianisme yang menekankan kemanfaatan dan menyingkirkan
kepastian hukum serta keadilan. Dari apa yang telah kami bentangkan soal pengenalan
terhadap sosok dan teori-teori hukum Radbruch, kami mengemukakan bahwa tri-tujuan
hukum lebih tepat dibaca sebagai keadilan, kebertujuan, dan kepastian hukum. Tri-tujuan
hukum adalah isi dari ide hukum dan bukan “tujuan hukum” itu sendiri sebagaimana yang
selama ini dipahami secara umum dalam peredaran wacana ilmu hukum kita. Ide hukum
merupakan orientasi etis yang menekankan penjaminan dan perlindungan kesetaraan dalam
hukum.
28
Membaca ulang filsafat hukum Radbruch sekiranya membuka pandangan kita bahwa
kinerja ilmiah dunia pengembanan ilmu hukum kita telah keliru – untuk meminjam kata-kata
Sunaryati Hartono – “mempelajari jalan pikiran” salah seorang pakar asing, yang tidak hanya
berpengaruh dalam dunia pemikiran hukum abad ke-20 tapi juga, yang secara khusus bahkan
jejak-jejaknya ada dalam perkembangan dunia ilmu hukum Indonesia. Apakah buruknya
kinerja ilmiah dunia pengembanan ilmu hukum terjadi secara keseluruhan, dalam arti bahwa
jalan pikiran dan teori semua pakar orang Indonesia sendiri menderita reduksionisme,
eklektisisme, dan instrumentalisme, adalah pertanyaan yang jawabannya terbuka untuk
diargumentasikan lebih lanjut. Bagaimana dengan jalan pikiran dan teori “law as a tool of
social engineering” yang dikait-kaitkan dengan tokoh sociological jurisprudence Amerika
abad ke-20 dan yang kerap dirujuk berdampingan dengan “teori hukum pembangunan”
Mochtar Kusuma-Atmadja yang termasyhur itu? Apa betul positivisme hukum yang suka kita
gugat itu merupakan paham yang sedemikian salah, kaku, dan dinginnya terhadap aspek
keadilan? Padahal Herbert Hart, orang Inggris yang merupakan tokoh kunci positivisme
hukum kontemporer, mengemukakan adanya “kandungan minimum moralitas” dalam
hukum. Ini hanyalah sekelumit ihwal bagi proyek mengenal sungguh-sungguh teori-teori
hukum yang turut mempengaruhi dunia pengembanan ilmu hukum kita. Barangkali
kehendak, kalau tidak mau dibilang ambisi, untuk usaha pengenalan seperti itulah yang perlu
kita tumbuhkan, kendati di dalam hatinya Sunaryati Hartono sudah tersentak akibat betapa
mendesaknya pelaksanaan usaha tersebut di dunia ilmu hukum nasional Indonesia, sejak
hampir dua dekade yang lampau.
Daftar Pustaka
Anderson, R. Lanier. “The Debate over the Geisteswissenschaften in German
Philosophy.” In The Cambridge History of Philosophy 1870-1945, ed. Thomas
Baldwin. Cambridge: Cambridge University Press, 2003, pp. 221-234.
Beck, Lewis White (1967). “Neo-Kantianism.” In Encyclopedia of Philosophy, 2nd
Edition, Volume 8 Price-Sextus Empiricus, ed. Donald M. Borchert. Farmington
Hills: Thomson Gale, 2006, pp. 539-546.
Chroust, Anton-Hermann. “The Philosophy of Law of Gustav Radbruch.” The
Philosophical
Review
53
(January
1944):
23-45.
http://www.jstor.org/stable/2181218. Diakses pada 24 Juli 2015.
29
Copleston, Frederick. A History of Philosophy. Volume VII. Modern Philosophy: From the
Post-Kantian Idealists to Marx, Kierkegaard, dan Nietzsche. New York: Image
Books Doubleday, 1994.
Friedmann, Wolfgang (1967). “Gustav Radbruch.” In Encyclopedia of Philosophy, 2nd
Edition, Volume 8 Price-Sextus Empiricus, ed. Donald M. Borchert. Farmington
Hills: Thomson Gale, 2006, pp. 229-230.
Hart, H.L.A. Essays in Jurisprudence and Philosophy. Oxford: Oxford University Press,
1985.
Hartono, Sunaryati. “Tentang Pengembanan dan Pembinaan Ilmu Hukum Nasional.”
Dalam Percicikan Gagasan tentang Hukum. Kumpulan Tulisan Ilmiah Alumni dan
Staf Pengajar FH Unpar, ed. A. Yoyon. Bandung: Fakultas Hukum Universitas
Katolik Parahyangan, 1988, pp. 45-52.
Hofmann, Hasso. “From Jhering to Radbruch: On the Logic of Traditional Legal Concepts
to the Sociological Theories of Law to the Renewal of Legal Idealism.” In A
Treatise of Legal Philosophy and General Jurisprudence. Volume 9. A History of the
Philosophy of Law in the Civil Law World, 1600–1900, eds. Damiano Canale, Paolo
Grossi, and Hasso Hofmann. New York: Springer, 2009, pp. 301-354.
Huijbers, Theo. Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Yayasan
Kanisius, 1982.
Magnis-Suseno, Franz. Etika Politik. Prinsip-prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003.
Meuwissen, D.H.M. Meuwissen tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori
Hukum, dan Filsafat Hukum. Terj. B. Arief Sidharta. Bandung: Refika Aditama,
2009.
Radbruch, Gustav. “Five Minutes of Legal Philosophy (1945).” Trans. Bonnie Litschewski
Paulson and Stanley L. Paulson. Oxford Journal of Legal Studies 26 (Spring 2006):
13-15. http://www.jstor.org/stable/3600539. Diakses pada 24 Juli 2015.
Radbruch, Gustav. “Legal Philosophy.” In The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and
Dabin. Ed. Edwin W. Patterson. Trans. Kurt Wilk. Cambrigde. Massachusetts:
Harvard University Press, 1950, pp. 47-224.
Rahardjo, Satjipto. “Ilmu Hukum di Indonesia dalam Lintasan Perkembangan Sains.”
Dalam Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum Indonesia, ed. Esmi Warassih,
Suteki, Awaludin Marwan. Yogyakarta: Thafa Media, Asosiasi Sosiologi Hukum
Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum Undip, 2012, pp. 609655.
Shidarta. Hukum Penalaran dan Penalaran Hukum. Buku 1 Akar Filosofis. Yogyakarta:
Genta Publishing, 2013.
Sidharta, B. Arief. “Struktur Ilmu Hukum.” Dalam Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum
Indonesia, ed. Esmi Warassih, Suteki, Awaludin Marwan. Yogyakarta: Thafa
30
Media, Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat
Fakultas Hukum Undip, 2012, pp. 1-75.
Somek, Alexander. ”German Legal Philosophy and Theory in the Nineteenth and Twentienth
Centuries.” In A Companion to Philosophy of Law and Legal Theory. Second
Edition, ed. Dennis Patterson. West Sussex: Blackwell Publishing Ltd, 2010, pp. 339349.
Warassih, Emi, Suteki, dan Awaludin Marwan. “Mentari Pagi Ilmu Hukum: Refleksi dan
Rekonstruksi Pengetahuan.” Dalam Refleksi dan Rekonstruksi Ilmu Hukum
Indonesia, ed. Esmi Warassih, Suteki, Awaludin Marwan. Yogyakarta: Thafa
Media, Asosiasi Sosiologi Hukum Indonesia, Bagian Hukum dan Masyarakat
Fakultas Hukum Undip, 2012, pp. v-xxiii.
Weismann, Paul. “A Question of Morals? Gustav Radbruch’s Approach towards Law.” The
Student Journal of Law. http://www.sjol.co.uk/issue-3/radbruch. Diakses pada 5
September 2015.
31
Download