PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN

advertisement
PENGARUH KARAKTERISTIK PERUSAHAAN DAN CORPORATE
GOVERNANCE TERHADAP PUBLIKASI SUSTAINABILITY REPORT
(Studi Empiris pada Perusahaan Go Public yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2007-2011)
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk memenuhi Syarat-syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Disusun oleh:
PUSPOWARDHANI
NIM. 109082000103
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI SYARIF HDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013 M
i
ii
iii
iv
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I.
IDENTITAS PRIBADI
1.
Nama Lengkap
: Puspowardhani
2.
Tempat, Tanggal Lahir
: Jakarta, 3 Januari 1992
3.
Alamat
: Jl. H.Syaip III No.52 Rt.003/01,
Kel.Gandaria Selatan, Kec. Cilandak,
Jakarta Selatan
II.
4.
Telepon
: 08568094567
5.
Email
: [email protected]
PENDIDIKAN
1.
SD N Pesanggrahan 06 Petang
Tahun 1997-2003
2.
SMP N 177 Jakarta
Tahun 2003-2006
3.
SMA N 47 Jakarta
Tahun 2006-2009
4.
S1 Ekonomi Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah Tahun 2009-2013
III. PENDIDIKAN NON FORMAL
1.
Baruna Swimming School, 1998-1999.
2.
Lembaga Pendidikan Indonesia-Amerika (LPIA), Basic Levels, 20052006.
vi
3.
Program Bimbingan Belajar BTA (Bimbingan Tes Alumni) 8, 20082009.
IV.
PENGALAMAN ORGANISASI
1.
Bendahara Teater Citra SMA N 47 Jakarta, periode 2007-2008.
2.
Anggota BIUS (Bina Usaha) BEM Jurusan Akuntansi UIN Syarif
Hidayatullah, periode 2009-2010.
V.
SEMINAR DAN WORKSHOP
1. Talkshow Pemberantasan Korupsi bersama KPK oleh BEMJ Akuntansi
Syarif Hidayatullah Jakarta, 9 September 2009.
2. Seminar Nasional “Peran Asuransi Dalam Era Globalisasi” dalam acara
Insurance Goes to Campus, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 20 Mei
2010.
3. Workshop Komputer Akuntansi dengan menggunakan Zahir Accounting
Edisi Standar 5.1 oleh Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMAS)
Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, 17 Maret 2012.
VI.
KEPANITIAAN
1.
Program Pengenalan Studi Almamater (ProPeSA) oleh BEMJ
Akuntansi UIN Syarif Hidayatullah, 17-18 Agustus 2009.
VII. LATAR BELAKANG KELUARGA
1.
Ayah
: Harsenotomo Poespowardoyo
vii
2.
Tempat, Tanggal Lahir
: Palopo, 27 Februari 1942
3.
Ibu
: Sunarsih
4.
Tempat, Tanggal Lahir
: Nganjuk, 23 Agustus 1946
5.
Alamat
: Jl. H. Syaip III No.52 Rt.003/01,
Kel.Gandaria Selatan, Kec. Cilandak, Jakarta Selatan
6.
Anak Ke-, dari
: 7 dari 7 bersaudara
viii
ABSTRACT
The Effects of Firm Characteristics and Corporate Governance on
Publication of Sustainability Report
The aim of this research is to examine the effects of profitability, liquidity,
leverage, industry type, activity, firm size, the number of audit committee
meetings, the number of board meetings, and governance committee to the
publication of sustainability report (SR).
The study uses secondary data on companies listed in Indonesia Stock
Exchange (IDX) in the year 2007-2011. The selection of this sample uses
purposive sampling method. Based on purposive sampling method, the samples of
firms that publish sustainability report (SR) are 20 companies, while the number
of companies that do not publish sustainability report (SR) are 22 companies. The
analysis tool to test the hypothesis is the logistic regression analysis by using
SPSS 17.0.
Result of this research indicates that profitability (return on assets), activity,
firm size, and the number of audit committee meetings have significant influences
on publication of SR. Meanwhile, profitability (net profit margin), liquidity,
leverage, industry type, the number of board meetings, and governance committee
have no significant influences on SR publications.
Keywords:
Sustainability Report, Profitability, Liquidity, Leverage, Industry
Type, Activity, Firm Size, Meeting Audit Committee, Meeting Board
of Directors, Governance Committee.
ix
ABSTRAK
Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Corporate Governance Terhadap
Publikasi Sustainability Report
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh profitabilitas, likuiditas,
leverage, tipe industri, aktivitas, ukuran perusahaan, jumlah rapat komite audit,
jumlah rapat dewan direksi, dan governance committee terhadap publikasi
sustainability report (SR).
Penelitian ini menggunakan data sekunder pada perusahaan-perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007-2011. Pemilihan sampel
penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Berdasarkan metode
purposive sampling, jumlah sampel perusahaan yang mempublikasikan
sustainability report (SR) adalah 20 perusahaan, sedangkan jumlah perusahaan
yang tidak mempublikasikan sustainability report (SR) adalah 22 perusahaan.
Alat analisis untuk menguji hiptesis yaitu analisis regresi logistik dengan
menggunakan program SPSS 17.0.
Hasil penelitian ini menunjukkan profitabilitas (return on assets), aktivitas,
ukuran perusahaan, dan jumlah rapat komite audit berpengaruh signifikan
terhadap publikasi SR. Sedangkan profitabilitas (net profit margin), likuiditas,
leverage, tipe industri, jumlah rapat dewan direksi, dan governance committee
tidak berpengaruh signifikan terhadap publikasi SR.
Kata kunci:
Sustainability Report, Profitabilitas, Likuiditas, Leverage, Tipe
Industri, Aktivitas, Ukuran Perusahaan, Jumlah Rapat Komite
Audit, Jumlah Rapat Dewan Direksi, Governance Committee.
x
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
AssalamualaikumWr. Wb.
Alhamdullilahirobbil’alamin, segala puji dan syukur yang tak terhingga
penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan kemudahanNya, serta Rasulullah SAW yang telah menjadi inspirasi bagi
penulis sehingga skripsi yang berjudul “Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan
Corporate Governance terhadap Publikasi Sustainability Report” ini dapat selesai
dengan baik. Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk
menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan
Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama melakukan penelitian dan penyusunan skripsi ini, penulis tidak lepas
dari bantuan berbagai pihak yang telah banyak memberikan dukungan,
bimbingan, bantuan, dan doanya yang tulus sehingga penelitian ini dapat
diselesaikan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Orangtua tercinta yaitu Harsenotomo dan Sunarsih yang selalu menncurahkan
kasih sayang melalui doa, dukungan dan nasihat kepada penulis.
2. Kakak-kakakku Rini, Soni, Koko, Kiki, Jun, dan Desi yang selalu mendoakan
dan memberikan dukungan untuk kesuksesan penulis.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
xi
4. Ibu Dr. Rini, SE.,Ak.,M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Hepi Prayudiawan SE.,Ak.,MM selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dosen Pembimbing Skripsi I yang
telah bersedia meluangkan waktu untuk berdiskusi, memberikan pengarahan
dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih atasi lmu yang telah
Bapak berikan selama ini.
7. Ibu SoliyahWulandari SE., M.Sc selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang
telah meluangkan waktu, mencurahkan perhatian, membimbing dan
memberikan pengarahan kepada penulis. Terima kasih atas semua saran yang
Ibu berikan selama proses penulisan skripsi sampai terlaksananya siding
skripsi.
8. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan karyawan UIN Syarif
Hidayatullah yang telah memberikan bantuan kepada penulis.
9. Sahabat seperjuanganku “HAPPY” Annisa Ayu Fitria, Silvia Lailiyah, Laila
Badriyah, Zahra Septianingsih, dan Rizka Persia Pasadena terima kasih atas
dukungan dan bantuannya kepada penulis.
10. Sahabatku Dhika, Hamdan, Rifky, Rahmat, Galih, Amri, Koco dan rekanrekan ACID Akuntansi C lainnya yang telah memberikan bantuan dan
semangat kepada penulis.
11. Teman-teman Akuntansi UIN 2009 yang selalu memberikan semangat kepada
penulis.
xii
12. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu, tanpa mengurangi rasa
hormat, terima kasih atas masukan dan bantuannya.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran dan kritik yang
membangun dari berbagai pihak.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Jakarta,
Juni 2013
Puspowardhani
xiii
DAFTAR ISI
Halaman Judul .................................................................................................... i
Lembar Pengesahan Skripsi.............................................................................. ii
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif ....................................................... iii
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi ................................................................... iv
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah .................................................... v
Daftar Riwayat Hidup ....................................................................................... vi
Abstract ............................................................................................................... ix
Abstrak ................................................................................................................. x
Kata Pengantar ................................................................................................. xi
Daftar Isi .......................................................................................................... xiv
Daftar Tabel.................................................................................................... xvii
Daftar Gambar .............................................................................................. xviii
Daftar Lampiran ............................................................................................. xix
BAB I
PENDAHULUAN ............................................................................. 1
A. Latar Belakang Penelitian ............................................................. 1
B. Perumusan Masalah ....................................................................... 8
C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 10
D. Manfaat Penelitian......................................................................... 10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 12
A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel ..................................... 12
1. Teori Keagenan (Agency Theory) .......................................... 12
2. Teori Stakeholders ................................................................... 13
3. Teori Legitimasi ...................................................................... 15
4. Corporate Social Responsibility (CSR) .................................. 16
5. Konsep Triple Bottom Line ..................................................... 17
6. Sustainability Report ............................................................... 18
7. Karakteristik Perusahaan .......................................................... 24
a. Profitabilitas ......................................................................... 24
b. Likuiditas............................................................................. 25
xiv
c. Leverage .............................................................................. 25
d. Tipe Industri ....................................................................... 26
e. Aktivitas ............................................................................. 27
f. Ukuran Perusahaan ............................................................. 27
6. Corporate Governance............................................................ 28
a. Komite Audit ....................................................................... 29
b. Dewan Direksi .................................................................... 30
c. Governance Committee ....................................................... 31
B. Hasil Penelitian Sebelumnya ....................................................... 31
C. Kerangka Berpikir ........................................................................ 34
D. Hipotesis ...................................................................................... 36
1. Profitabilitas dengan Publikasi SR .......................................... 36
2. Likuiditas dengan Publikasi SR .............................................. 37
3. Leverage dengan Publikasi SR................................................ 37
4. Tipe Industri dengan Publikasi SR ......................................... 38
5. Aktivitas dengan Publikasi SR ............................................... 39
6. Ukuran Perusahaan dengan Publikasi SR .............................. 39
7. Komite Audit dengan Publikasi SR ....................................... 40
8. Dewan Direksi dengan Publikasi SR ..................................... 41
9. Governance Committee dengan Publikasi SR ........................ 41
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 44
A. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 44
B. Metode Penentuan Sampel ........................................................... 44
C. Metode Pengumpulan Data ........................................................ 45
D. Metode Analisis Data .................................................................... 46
1. Definisi Regresi Logistik ......................................................... 46
2. Tahapan Regresi Logistik .......................................................... 47
a. Statistik Deskriptif................................................................. 47
b. Pengujian Hipotesis Penelitian .............................................. 47
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian ........................................... 52
1. Variabel Independen ............................................................... 53
xv
a. Karakteristik Perusahaan (X1) ............................................ 53
b. Corporate Governance (X2) .............................................. 55
3. Variabel Dependen (Sustainability Report) (Y) ....................... 57
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................... 59
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ................................ 59
1. Deskripsi Objek Penelitian ...................................................... 59
2. Deskripsi Sampel Penelitian ................................................... 61
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian ............................................... 62
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif ................................................... 63
2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian ................................................ 66
a. Hasil Uji Kesesuaian Keseluruhan Model.......................... 68
b. Hasil Uji Koefisien Determinasi ........................................ 70
c. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi ................................... 70
d. Hasil Uji Multikolinieritas ................................................. 71
e. Hasil Matriks Klasifikasi .................................................... 73
f. Hasil Uji Regresi Logistik ................................................... 74
1) Pengaruh Profitabilitas Terhadap Publikasi SR ............. 75
2) Pengaruh Likuiditas Terhadap Publikasi SR ................. 77
3) Pengaruh Leverage Terhadap Publikasi SR..................... 78
4) Pengaruh Tipe Industri Terhadap Publikasi SR .............. 79
5) Pengaruh Aktivitas Terhadap Publikasi SR .................... 80
6) Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Publikasi SR ... 81
7) Pengaruh Komite Audit Terhadap Publikasi SR ............ 82
8) Pengaruh Dewan Direksi Terhadap Publikasi SR ......... 83
9) Pengaruh Governance Committee Terhadap Publikasi SR84
BAB V
PENUTUP ........................................................................................ 86
A. Kesimpulan.................................................................................. 86
B. Implikasi ..................................................................................... 89
C. Saran ........................................................................................... 91
Daftar Pustaka .................................................................................................... 92
Lampiran ............................................................................................................. 98
xvi
DAFTAR TABEL
No.
Keterangan
Halaman
2.1.
Penelitian Sebelumnya .............................................................................. 32
3.1.
Operasionalisasi Variabel Penelitian......................................................... 58
4.1.
Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria ..................................................60
4.2.
Data Sampel Penelitian ..............................................................................61
4.3.
Statistik Deskriptif .....................................................................................63
4.4.
Identifikasi Data .........................................................................................67
4.5.
Data yang Diproses ....................................................................................67
4.6.
Menilai Keseluruhan Model.......................................................................69
4.7.
Koefisien Determinasi................................................................................70
4.8.
Menguji Kelayakan Model Regresi .......................................................... 71
4.9.
Hasil Uji Multikolinieritas .........................................................................72
4.10.
Matriks Klasifikasi .....................................................................................73
4.11.
Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik .................................................................................... 74
4.12.
Ringkasan Hasil Penelitian........................................................................................................... 85
xvii
DAFTAR GAMBAR
No.
Keterangan
Halaman
2.1.
Skema Kerangka Konseptual ......................................................................35
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Keterangan
Halaman
1.
Data Sampel ...............................................................................................98
2.
Hasil Output SPSS ..................................................................................116
xix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penelitian
Pada umumnya perusahaan akan mencari profit yang besar untuk
memaksimalkan usahanya. Sebagian besar perusahaan menganggap bahwa
mereka sudah cukup memberikan sumbangsih kepada masyarakat berupa
penyediaan produk yang memuaskan kebutuhan konsumen dan penyediaan
lapangan pekerjaan. Namun, masyarakat semakin menyadari bahwa tidak
cukup hal itu saja, melainkan dampak sosial yang ditimbulkan perusahaan
juga perlu mendapat perhatian khusus.
Dengan keberpihakan perusahaan kepada pemilik modal mengakibatkan
perusahaan melakukan eksploitasi sumber-sumber alam dan masyarakat
(sosial)
secara
tidak
terkendali
sehingga
mengakibatkan
kerusakan
lingkungan alam dan pada akhirnya mengganggu kehidupan manusia.
Kapitalisme, yang hanya berorientasi pada laba material, telah merusak
keseimbangan kehidupan dengan cara menstimulasi pengembangan potensi
ekonomi yang dimiliki manusia secara berlebihan yang tidak memberi
kontribusi bagi peningkatan kemakmuran mereka tetapi justru menjadikan
mereka mengalami penurunan kondisi sosial {(Galtung & Ikeda, 1995) dan
(Rich, 1996) dalam (Anggraini, 2006:2)}.
1
Di dalam akuntansi konvensional (mainstream accounting), pusat
perhatian yang dilayani perusahaan adalah stockholders dan bondholders
sedangkan pihak yang lain sering diabaikan. Dewasa ini tuntutan terhadap
perusahaan semakin besar. Perusahaan diharapkan tidak hanya mementingkan
kepentingan manajemen dan pemilik modal (investor dan kreditor) tetapi juga
karyawan, konsumen serta masyarakat. Perusahaan mempunyai tanggung
jawab sosial terhadap pihak-pihak di luar manajemen dan pemilik modal.
Akan tetapi perusahaan kadangkala melalaikannya dengan alasan bahwa
mereka
tidak
memberikan
kontribusi
terhadap
kelangsungan
hidup
perusahaan. Hal ini disebabkan hubungan perusahaan dengan lingkungannya
bersifat non reciprocal yaitu transaksi antara keduanya tidak menimbulkan
prestasi timbal balik (Anggraini, 2006:2).
Anggapan tersebut bukanlah suatu hal yang cukup jika suatu perusahaan
ingin membentuk nilai jangka panjang karena sebenarnya masyarakat tidak
kemudian hanya menuntut pemenuhan kebutuan mereka melalui penyediaan
produk. Perusahaan dituntut untuk tidak hanya memberikan kontribusi
terhadap pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga dapat membantu dalam
memecahkan permasalahan terkait risiko dan ancaman terhadap keberlanjutan
(sustainability)
dalam
lingkup
hubungan
sosial,
lingkungan,
dan
perekonomian (Global Reporting Initiative, 2006 dalam Suryono, 2011:3).
Era 1990-an muncul gerakan konsumen yangdisebut “konsumen hijau”
(green consumer) menghendaki produk yang bersahabat dengan lingkungan
(environmentally friendly product). Hal ini terjadi karena meningkatnya
2
kerusakan ekologi sebagai akibat kegiatan pembangunan termasuk ekonomi
dan perdagangan. Permasalahan lingkungan hidup terus berlangsung hingga
saat ini. Laporan terakhir Panel PBB untuk Perubahan Iklim (United Nations
Intergovernmental Panel on Climate Change/IPPC) di Valencia, 19
Nopember 2007, menyebutkan bahwa pemanasan global merupakan hal yang
tidak terbantahkan lagi. Aktivitas manusia (90%) sebagai penyebab utama
pemanasan global. Menurut Antara News (2007), sedikitnya dua puluh tiga
pulau tak berpenghuni di Indonesia tenggelam dalam sepuluh tahun terakhir
akibat pemanasan global. Diperkirakan tahun 2070 sekitar 800 ribu rumah
dipesisir harus dipindahkan dan sebanyak 2.000 pulau dari sekitar 18.000
pulau di Indonesia akan tenggelam akibat naiknya air laut. Pulau Maladewa
(India), Vanuatu dan beberapa pulau lain akan mengalami nasib sama.
(Ambarini, 2010:275).
Isu lingkungan memang beberapa waktu terakhir ini terlihat begitu seksi.
Sampai-sampai, sejumlah perusahaan yang bisnisnya bersinggungan langsung
dengan aspek lingkungan melabeli dirinya dengan gerakan menjaga
kelestarian alam. Mereka mengemasnya melalui kegiatan corporate social
responsibility (CSR). Ini kalau perusahannya menyadari persoalan sosial dan
lingkungan merupakan bagian tanggung jawab kelangsungan perusahaan di
masa depan. (Setiaji, 2011). Namun, masih banyak kritik yang disampaikan
oleh masyarakat, pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), maupun
pakar pendidikan mengenai minimnya kepedulian perusahaan-perusahaan
terhadap aspek lingkungan dan sosial yang timbul dari kegiatan operasinya.
3
Wahyuningtyas dan Nugrahanti (2012:2) menyebutkan sejumlah contoh
kasus yang terjadi di antaranya adalah melubernya lumpur dan gas panas di
Kabupaten Sidoarjo yang disebabkan eksploitasi gas PT Lapindo Brantas,
limbah industri PT Wings Surya yang melampaui baku mutu buangan limbah
cair telah merusak sekitar 18 hektar tanaman padi milik warga, PT Adi
Makayasa yang ditutup sementara karena warga sekitar mengeluhkan polusi
udara yang ditimbulkan dari aktivitas pabrik pupuk organik tersebut, serta PT
Hutan Unggul Persada dilaporkan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia
karena telah mempekerjakan sekitar 88 anak di bawah umur.
Data National Centre for Sustainability Report (NCSR), lembaga
independen
pengembangan,
pembinaan,
pengukuran,
dan
pelaporan
implementasi CSR dan keberlanjutan perusahaan, menyuguhkan data
menarik. Chairman NCSR Indonesia Ali Darwin menyebutkan sebanyak tiga
puluh perusahaan di Indonesia menggunakan standar laporan keberlanjutan
(sustainability report) berdasarkan panduan terbitan Global Reporting
Initiative (GRI) yang berbasis di Belanda. Standar GRI ini diwajibkan di
sejumlah negara, seperti Belanda, Swedia, Perancis, China, Jepang. Ada tiga
alasan utama, mengapa hanya tiga puluh perusahaan di Indonesia yang
mengacu GRI dalam menyusun laporan kegiatan tanggung jawab sosial dan
lingkungannya. Pertama, laporan CSR belum menjadi ketentuan wajib meski
kegiatan CSR di Indonesia sudah diatur. Kedua, perusahaan yang memiliki
kegiatan CSR memang tidak transparan, selain alasan biaya dalam menyusun
laporan. Atau alasan ketiga, perusahaan ini low profile sehingga mereka
4
berpikir tidak perlu melaporkan, yang penting sudah memberi dampak dan
keberlanjutan sosial kepada masyarakat. (Setiaji, 2011:2).
Di tengah sulitnya kondisi perekonomian, manajemen sebuah perusahaan
mungkin akan tergoda untuk mengesampingkan masalah keberlanjutan
(sustainability). Semua upaya difokuskan agar perusahaan dapat bertahan
hidup dalam kondisi pasar dimana permintaan menurun dan biaya keuangan
semakin tinggi. Oleh karena itu, sustainability sebuah perusahaan „tidak
hanya‟ terbatas pada memperhatikan dampak dari operasi perusahaan
terhadap lingkungan dan masyarakat. Sustainability harus menjadi bagian
integral dari perencanaan jangka pendek dan perancangan strategi jangka
panjang sebuah perusahaan. Krisis ekonomi global telah membuat masyarakat
menjadi lebih curiga terhadap perusahaan. Perusahaan-perusahaan yang
mengabaikan norma-norma sosial akan kehilangan niat baik dari para
konsumen, pekerja dan pihak regulator. (Xavier Bary, 2013:1).
Xavier menyebutkan salah satu contoh dramatis dari perusahaan yang
mengabaikan sinyal-sinyal pentingnya masalah sustainability ini adalah tiga
manufaktur mobil besar di Amerika. Perusahaan-perusahaan ini merancang
mobil berdasarkan asumsi bahwa ada sejumlah besar cadangan minyak bumi
dan bahan-bahan mentah yang tersedia dan dapat digunakan. Mereka
kehilangan daya saing mereka saat harga bahan bakar melambung tinggi di
tahun 2005, sebuah refleksi dari semakin menipisnya cadangan sumber daya
alam dunia. Saat krisis terjadi, dalam jangka waktu yang singkat konsumen
memilih mobil-mobil yang lebih irit bahan bakar. Para perusahaan
5
manufaktur mobil di Amerika tidak memiliki cukup waktu untuk merespon
tren ini dengan rancangan-rancangan mobil yang baru. Perusahaanperusahaan ini sekarang berada di ambang kebangkrutan, bukan karena krisis
ekonomi yang terjadi, melainkan karena mereka gagal menangani masalah
sustainability beberapa tahun sebelumnya.
Isu mengenai sustainable development berkembang dengan pesat seiring
dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menerbitkan sustainability
report. The Global Reporting Initiative (GRI) yang berlokasi di Belanda dan
pemegang otoritas lain di dunia, berusaha mengembangkan “framework for
sustainability reporting”, dan versi terakhir dari pedoman pelaporan yang
telah
dihasilkan
dinamakan
G3
Guidelines
(Dilling,
2009).
Pertanggungjawaban sosial perusahaan diungkapkan di dalam laporan yang
disebut Sustainability Reporting. Sustainability Reporting adalah pelaporan
mengenai kebijakan ekonomi, lingkungan dan sosial, pengaruh dan kinerja
organisasi dan produknya di dalam konteks pembangunan berkelanjutan
(sustainable
development).
The
Association
of
Chartered
Certified
Accountants (ACCA) menjelaskan bahwa Sustainability Reporting meliputi
pelaporan mengenai ekonomi, lingkungan dan pengaruh sosial terhadap
kinerja organisasi (Anggraini, 2006:5). Sustainability report harus menjadi
dokumen strategik yang berlevel tinggi yang menempatkan isu, tantangan dan
peluang Sustainability Development yang membawanya menuju kepada core
business dan sektor industrinya. (Budiman dan Supatmi, 2009:4).
6
Anggraini
(2006:15)
meneliti
mengenai
faktor-faktor
yang
mempengaruhi pengungkapan informasi sosial dalam laporan keuangan
tahunan. Hasilnya adalah kepemilikan manajemen dan tipe industri
berpengaruh, sedangkan profitabilitas, ukuran perusahaan, dan tingkat
leverage tidak berpengaruh terhadap pengungkapan informasi sosial dalam
laporan keuangan tahunan. Hal ini disebabkan perusahaan dengan
kepemilikan manajemen yang besar dan termasuk dalam industri yang
memiliki risiko politis yang tinggi (high-profile) cenderung mengungkapkan
informasi sosial yang lebih banyak dibandingkan perusahaan lain.
Mengacu pada penelitian Suryono dan Prastiwi, penelitian ini juga
menganalisis pengaruh karakteristik perusahaan dan corporate governance
terhadap praktik pengungkapan sustainability reporting dengan memodifikasi
variabel penelitian. Perbedaan tersebut adalah menambahkan obyek
pengamatan pada karakteristik perusahaan dengan variabel tipe industri. Pada
variabel profitabilitas juga ditambahkan proksi net profit margin (NPM).
Selain itu, penelitian ini menambah tahun penelitian yaitu dari tahun 2007
hingga 2011 agar dapat memberikan informasi yang lebih jelas bagi
pemangku kepentingan. Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas,
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian karena tidak banyak penelitian
yang membandingkan variabel mengenai karakterisitik perusahaan corporate
governance dengan sustainability reporting. Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh karakteristik perusahaan dan praktik corporate governance dalam
7
pembuatan sustainability report. Oleh karena itu, peneliti melakukan
penelitian yang berjudul “Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan
Corporate Governance Terhadap Publikasi Sustainability Reporting”.
B. Rumusan Masalah
Tumbuhnya kesadaran publik tentang peran perusahaan di tengah
masyarakat melahirkan kritik karena menciptakan masalah sosial, polusi,
sumber daya, limbah, mutu produk, tingkat safety produk, serta hak dan status
tenaga kerja. Investor semakin peduli dengan menilai dan menentukan mana
sajakah
perusahaan
berkelanjutan
yang
melalui
telah
indikator
melakukan
yang
pengambilan
lebih
keputusan
komprehensif
dan
memprioritaskan investasinya pada perusahaan yang menjalankan operasional
perusahaan secara beretika dan bertanggung jawab. Tekanan dari berbagai
pihak memaksa perusahaan untuk memberikan tanggung jawab atas dampak
aktivitas bisnisnya terhadap masyarakat. (Made dan Putu Ayu, 2011:37).
Mindset atau cara pandang bahwa perusahaan harus mengedepankan
profit oriented mulai banyak dipertanyakan setelah banyak terjadinya
berbagai kerusakan baik sosial maupun lingkungan sebagai impact dari
aktivitas entitas bisnis dalam meraih profit. Banyaknya permasalahan
lingkungan sebagai akibat kegiatan pembangunan, mendorong diciptakannya
industri yang berwawasan lingkungan. Seiring dengan adanya perkembangan
CSR, perusahaan mulai menyadari untuk mengungkapkan sebuah laporan
yang tidak hanya berpijak pada single bottom line, yaitu kondisi keuangan
8
perusahaan saja tetapi berpijak pada triple bottom line, yaitu selain informasi
keuangan juga menyediakan informasi sosial dan lingkungan, yang kemudian
disebut sustainability report. Sustainability report ini disusun dengan
pedoman
(standar)
Global
Reporting
Initiative
(GRI)
yang
telah
dikembangkan sejak tahun 1990 dan disusun tersendiri terpisah dari laporan
keuangan atau laporan tahunan. (Maharani, 2011:192). Berdasarkan latar
belakang di atas, maka rumusan permasalahan yang hendak diteliti adalah
sebagai berikut:
1. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap publikasi sustainability
report?
2. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap publikasi sustainability report?
3. Apakah leverage berpengaruh terhadap publikasi sustainability report?
4. Apakah tipe industri berpengaruh terhadap publikasi sustainability report?
5. Apakah aktivitas perusahaan berpengaruh terhadap publikasi sustainability
report?
6. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap publikasi sustainability
report?
7. Apakah komite audit berpengaruh terhadap publikasi sustainability report?
8. Apakah dewan direksi berpengaruh terhadap publikasi sustainability
report?
9. Apakah
governance
committee
berpengaruh
terhadap
publikasi
sustainability report?
9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan secara
empiris:
a. Pengaruh profitabilitas terhadap publikasi sustainability report.
b. Pengaruh likuiditas terhadap publikasi sustainability report.
c. Pengaruh leverage terhadap publikasi sustainability report.
d. Pengaruh tipe industri terhadap publikasi sustainability report.
e. Pengaruh aktivitas perusahaan terhadap publikasi sustainability
report.
f. Pengaruh ukuran perusahaan terhadap publikasi sustainability report.
g. Pengaruh komite audit terhadap publikasi sustainability report.
h. Pengaruh dewan direksi terhadap publikasi sustainability report.
i. Pengaruh governance committee terhadap publikasi sustainability
report.
2. Manfaat Penelitian
a. Bagi mahasiswa akuntansi, penelitian ini bermanfaat sebagai bahan
referensi penelitian selanjutnya dan pembanding untuk menambah
ilmu pengetahuan.
b. Bagi masyarakat, sebagai sarana informasi mengenai pentingnya
laporan keberlanjutan (sustainability report) sebuah perusahaan.
c. Bagi peneliti berikutnya, sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak
yang akan melaksanakan penelitian lebih lanjut mengenai topik ini.
10
d. Bagi perusahaan, dapat mengeluarkan sustainability report sebagai
bahan evaluasi dan komunikasi kepada stakeholder.
e. Bagi penulis, sebagai sarana untuk memperluas wawasan serta
menambah referensi mengenai karakteristik perusahaan dan corporate
governance, serta pentingnya sustainability report yang saat ini masih
bersifat sukarela.
f. Bagi investor, sebagai wacana untuk mempertimbangkan aspek-aspek
yang perlu diperhatikan dalam investasi sehingga tidak terpaku pada
ukuran moneter saja.
g. Bagi pemerintah selaku regulator, sebagai bahan masukan terhadap
efektivitas penerapan UU No.40 Tahun 2007 oleh perusahaan di
Indonesia.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil
1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Penelitian ini menggunakan teori keagenan sebagai grand theory
dimana teori keagenan (agency theory) mengungkapkan adanya hubungan
antara principal (pemilik perusahaan atau pihak yang memberikan
mandat) dan agent (manajer perusahaan atau pihak yang menerima
mandat) yang dilandasi dari adanya pemisahan kepemilikan dan
pengendalian perusahaan, pemisahan penanggung risiko, pembuatan
keputusan dan pengendalian fungsi-fungsi (Jensen dan Meckling, 1976).
Konsep
keagenan
ini
mendorong
perusahaan
untuk
melakukan
pengungkapan, baik wajib maupun sukarela. Dorongan ini ditunjukkan
sebagai alat penggerak yang digunakan untuk mengurangi asimetri
informasi dan biaya agensi yang ditimbulkan dari konflik keagenan. Pihak
principal juga dapat membatasi divergensi kepentingannya dengan
memberikan tingkat insentif yang layak kepada agent dan bersedia
mengeluarkan biaya pengawasan untuk mencegah kecurangan yang
dilakukan oleh agent (Prastiwi dan Puspitaningrum, 2013:2).
Adanya pemisahan antara fungsi kepemilikan (ownership) dan fungsi
pengendalian (control) dalam hubungan keagenan sering menimbulkan
masalah-masalah
keagenan
(agency
12
problems).
Masalah-masalah
keagenan tersebut timbul karena adanya konflik atau perbedaan
kepentingan antara principal dan agent. Masalah keagenan antara
pemegang saham (pemilik perusahaan) dengan manajer potensial terjadi
bila manajemen tidak memiliki saham mayoritas perusahaan. Pemegang
saham
tentu
menginginkan
manajer
bekerja
dengan
tujuan
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Sebaliknya, manajer
perusahaan bisa saja bertindak tidak untuk memaksimumkan kemakmuran
pemegang saham, tetapi untuk memaksimumkan kemakmuran mereka
sendiri (Kodrat dan Herdinata, 2009:14).
Teori keagenan (agency theory) berusaha menjelaskan tentang
penentuan kontrak yang paling efisien yang bisa membatasi konflik atau
masalah keagenan (Jensen dan Meckling, 1976). Menurut Anggraini
(2006:7-8) perusahaan yang menghadapi biaya kontrak dan biaya
pengawasan yang rendah cenderung akan melaporkan laba lebih rendah
atau dengan kata lain akan mengeluarkan biaya-biaya untuk kepentingan
manajemen, salah satunya biaya yang dapat meningkatkan reputasi
perusahaan di mata masyarakat.
2. Teori Stakeholders
Stakeholder merupakan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap
perusahaan yang meliputi karyawan, konsumen, pemasok, masyarakat,
pemerintah selaku regulator, pemegang saham, kreditur, pesaing, dan lainlain. Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas
yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus
13
memberikan manfaat bagi stakeholder. Gray, et al. (1994, dalam
Purwanto, 2011:14) menyatakan bahwa:
“Kelangsungan hidup perusahaan tergantung pada dukungan
stakeholder dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas
perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful
stakeholder, makin besar usaha perusahaan untuk beradaptasi.
Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog antara
perusahaan dengan stakeholder-nya”.
Teori stakeholder berkaitan dengan cara yang dilakukan perusahaan
untuk mengatur stakeholder-nya. Cara tersebut tergantung pada strategi
yang diadopsi perusahaan, yaitu strategi aktif dan pasif (Ullman, 1985
dalam Purwanto, 2011:14). Strategi aktif tidak hanya mengidentifikasi
stakeholder, tetapi juga menentukan stakeholder mana yang memiliki
kemampuan terbesar dalam mempengaruhi alokasi sumber ekonomi ke
dalam perusahaan. Perhatian yang besar terhadap stakeholder akan
mengakibatkan tingginya tingkat pengungkapan informasi sosial dan
tingginya kinerja sosial perusahaan. Sedangkan perusahaan yang
mengadopsi strategi pasif cenderung tidak terus menerus memonitor
aktivitas stakeholder dan secara sengaja tidak mencari strategi optimal
untuk menarik perhatian stakeholder. Akibatnya adalah rendahnya tingkat
pengungkapan informasi sosial dan rendahnya kinerja sosial perusahaan.
Pengungkapan informasi dapat dibagi menjadi dua yakni yang
sifatnya wajib (mandatory) dan sukarela (voluntary). Salah satu bentuk
pengungkapan sukarela yang berkembang dengan pesat saat ini yaitu
pengungkapan sustainability report. Melalui pengungkapan sustainability
report
(pengungkapan
sosial
dan
lingkungan)
perusahaan
dapat
14
memberikan informasi yang lebih cukup dan lengkap berkaitan dengan
kegiatan dan pengaruhnya terhadap kondisi sosial masyarakat dan
lingkungan (Ghozali dan Chariri, 2007 dalam Suryono, 2011:6).
3. Teori Legitimasi
Legitimasi masyarakat merupakan faktor strategis bagi perusahaan
dalam rangka mengembangkan perusahaan ke depan. Hal itu, dapat
dijadikan sebagai wahana untuk mengonstruksi strategi perusahaan,
terutama terkait dengan upaya memposisikan diri di tengah lingkungan
masyarakat yang semakin maju (Nor Hadi, 2010 dalam Sari, 2012:127).
Menurut Dowling dan Pfeffer (1975 dalam Purwanto, 2011:15), teori
legitimasi sangat bermanfaat dalam menganalisis perilaku organisasi.
Kedua peneliti tersebut menyatakan bahwa:
“Karena legitimasi adalah hal yang penting bagi organisasi, batasanbatasanyang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial, dan
reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis
perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan”.
Teori legitimasi berdasarkan pada gagasan “perusahaan beroperasi di
dalam masyarakat melalui suatu kontrak sosial, kemudian perusahaan
tersebut akan membuat kesepakatan untuk melaksanakan berbagai macam
tindakan yang diinginkan oleh masyarakat sebagai balasan atas
diterimanya tujuan perusahaan, kelangsungan hidup perusahaan, dan
penghargaan lainnya” (Guthrie dan Parker, 1989 dalam Suryono, 2011,
hal.7). Kesesuaian nilai sosial yang ingin diciptakan oleh perusahaan dapat
diciptakan melalui peningkatan komunikasi yang efektif bagi masyarakat.
15
Komunikasi ini dapat dilakukan melalui pengungkapan informasiinformasi tambahan yang lebih bersifat pendukung dan kebanyakan
bersifat sukarela. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yakni dengan
pembuatan sustainability report. Laporan ini dapat digunakan oleh
perusahaan untuk memperoleh legitimasi (Suryono, 2011:7). Dengan
demikian, legitimasi merupakan manfaat atau sumber daya potensial bagi
perusahaan untuk mempertahankan hidup (going concern).
4. Corporate Social Responsibility (CSR)
Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan kewajiban
organisasi bisnis untuk turut serta dalam kegiatan yang bertujuan
melindungi
dan
meningkatkan
kesejahteraan
masyarakat
secara
keseluruhan (Prasetyono, 2011:239). Menurut The World Business
Council for Sustainable Development (WBCSD) dalam Wahyuningtyas
dan Nugrahanti (2012:4) CSR adalah komitmen bisnis untuk memberikan
kontribusi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan, melalui kerjasama
dengan para karyawan serta perwakilan mereka, keluarga mereka,
komunitas setempat maupun masyarakat umum untuk meningkatkan
kualitas kehidupan dengan cara yang bermanfaat bagi bisnis sendiri
maupun untuk pembangunan.
Pengungkapan
kegiatan
tanggung
jawab
sosial
yang
telah
dilaksanakan perusahaan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan
citra perusahaan di masyarakat pada umumnya dan investor pada
khususnya (Made dan Putu Ayu, 2011:39). Selain itu, Syahrir dan
16
Suhendra (2010) dalam Kamil dan Herusetya (2012:2) mengatakan bahwa
tujuan dari penerapan CSR ini adalah agar menciptakan standar kehidupan
yang lebih tinggi, dengan mempertahankan kesinambungan laba usaha
untuk pihak pemangku kepentingan sebagaimana yang diungkapkan dalam
laporan keuangan entitas.
Di Indonesia, kewajiban perusahaan untuk melaksanakan CSR diatur
dalam beberapa peraturan atau perundangan seperti Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) dalam Pasal 74
(1) yang menyatakan bahwa perseroan yang menjalankan kegiatan usaha
di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Selain itu, juga
terdapat dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang
Penanaman Modal (UUPM) yaitu pada Pasal 15 (b) yang menyatakan
bahwa setiap penanam modal wajib melaksanakan tanggung jawab sosial
perusahaan dan pada Pasal 16 yang menyatakan bahwa setiap penanam
modal bertanggungjawab menjaga kelestarian lingkungan hidup dan
menciptakan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kesejahteraan
pekerja (Purwanto, 2011:16).
5. Konsep Triple Bottom Line
Effendi (2009:109) mengemukakan bahwa istilah triple bottom line
dipopulerkan oleh John Elkington pada tahun 1997 melalui bukunya
Cannibals With Forks, the Triple Bottom Line of Twentieth Century
17
Business. Elkington memberi pandangan bahwa perusahaan yang ingin
berkelanjutan haruslah memerhatikan 3P, yaitu:
1) profit untuk meningkatkan pendapatan perusahaan,
2) people untuk memberikan kesejahteraan kepada karyawan dan
masyarakat, serta
3) planet untuk menjaga dan meningkatkan kualitas alam serta
lingkungan di mana perusahaan tersebut beroperasi.
Dalam gagasan tersebut, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung
jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu aspek ekonomi yang
direfleksikan dalam kondisi finansialnya saja, namun juga harus
memerhatikan aspek sosial dan lingkungannya.
6. Sustainability Report
Kewajiban pengungkapan CSR di Indonesia telah diakomodasi dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (Revisi 2009)
paragraf 12, yang berbunyi sebagai berikut:
“Entitas dapat pula menyajikan, terpisah dari laporan keuangan, laporan
mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added
statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup
memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap karyawan
sebagai kelompok pengguna laporan yang memegang peranan penting”.
Berdasarkan hal tersebut, sudah selayaknya perusahaan melaporkan
semua aspek yang mempengaruhi kelangsungan operasi perusahaan
kepada masyarakat. Namun, PSAK No.1 (Revisi 2009) tersebut
meunjukkan bahwa perusahaan yang ada di Indonesia diberikan suatu
kebebasan dalam mengungkapkan informasi tanggung jawab sosial dan
lingkungan dalam laporan tahunan perusahaan (Purwanto, 2011:18).
18
Penting dan besarnya desakan akan risiko dan ancaman terhadap
keberlanjutan kita bersama di samping peningkatan pilihan dan
kesempatan, akan membuat transparansi mengenai dampak ekonomi,
lingkungan dan sosial menjadi komponen utama bagi efektifnya hubungan
dengan pemangku kepentingan, kebijakan investasi dan hubungan pasar
lainnya (GRI, 2006:2). Isu mengenai CSR terkait erat dengan
sustainability reporting. Global Reporting Initiative (GRI) merupakan
salah satu dari lembaga yang serius menangani permasalahan yang
berhubungan dengan sustainability (Yuliana et.al, 2008:251).
GRI berdiri karena semakin mendesaknya transparansi pengaruh
aktivitas bisnis perusahaan baik ekonomi, lingkungan dan sosial sehingga
dibutuhkan pedoman atau framework untuk menyusun sustainability
report bagi perusahaan dalam berbagai ukuran dan sektor usaha di seluruh
dunia. (Notiger dan Gai, 2007 dalam Maharani, 2012:195). Lebih lanjut,
Maharani mengatakan dengan menyusun sustainability reporting maka
pemakai informasi megetahui apakah perusahaan transparan dalam
menyusun kebijakan yang berorientasi pada lingkungan, manajemen,
karyawan, masyarakat dan alam, pengaruh proses produksi atau aktivitas
perusahaan
terhadap
lingkungan
dan
sejauh
mana
perusahaan
mengomunikasikan hal tersebut kepada publik serta apakah perusahaan
jujur terhadap diri mereka sendiri dan terhadap lingkungan.
Laporan keberlanjutan adalah praktik pengukuran, pengungkapan dan
upaya akuntabilitas dari kinerja organisasi dalam mencapai tujuan
19
pembangunan berkelanjutan kepada para pemangku kepentingan baik
internal maupun eksternal. „Laporan Keberlanjutan‟ merupakan sebuah
istilah umum yang dianggap sinonim dengan istilah lainnya untuk
menggambarkan laporan mengenai dampak ekonomi, lingkungan, dan
social, misalnya triple bottom line, laporan pertanggungjawaban
perusahaan, dan lain sebagainya. Laporan Keberlanjutan yang disusun
berdasarkan Kerangka Pelaporan GRI mengungkapkan keluaran dan hasil
yang terjadi dalam suatu periode laporan tertentu dalam konteks komitmen
organisasi, strategi, dan pendekatan manajemennya (GRI, 2006:3).
Laporan dapat digunakan untuk tujuan berikut, di antaranya:
1) Patok
banding
dan
pengukuran
kinerja
berkelanjutan
yang
menghormati hukum, norma, kode, standar kinerja, dan inisiatif
sukarela;
2) Menunjukkan bagaimana organisasi mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh harapannya mengenai pembangunan berkelanjutan; dan
3) Membandingkan kinerja dalam sebuah organisasi dan di antara
berbagai organisasi dalam waktu tertentu.
Sebagaimana dijelaskan dalam CSR Indonesia (2010, hal.3) meskipun
jumlah perusahaan di Indonesia yang melaporkan sustainability report
terus meningkat, namun ada berbagai alasan untuk tidak berpuas diri, dan
masih pentingnya kerja keras hingga bertahun-tahun ke depan. Pertama,
karena jumlah perusahaan pembuat laporan berkelanjutan masihlah
terlampau sedikit. Apalagi jika dibandingkan dengan jumlah seluruh
20
perusahaan di Indonesia. Kedua, kalau kita menyimak dengan seksama isi
laporan keberlanjutan Antam—yang dianggap terbaik hingga sekarang-tidak seluruh deskripsi di setiap indikator dikatakan berimbang. untuk
perusahaan lainnya. Ketiga, pemanfaatan laporan keberlajutan masih
sangat tertinggal dibandingkan negara lain. Keempat, dunia mengarah ke
ide One Report yaitu penyatuan laporan tahunan dan laporan
keberlanjutan.
Perusahaan yang menyusun sustainability reporting akan memberi
kemudahan bagi pemakai informasi untuk mengetahui apakah perusahaan
sudah transparan dalam menyusun kebijakan yang berorientasi pada
lingkungan, manajemen, karyawan, masyarakat dan alam. GRI membuat
sustainability report guideline yang memberi petunjuk pembuatan laporan
dengan memperhatikan aspek ekonomi, sosial dan lingkungan (Admin
KeuLSM, 2013). Ruang lingkup informasi sustainaility report menurut
GRI meliputi:
a) Strategy and analysis, yang digambarkan dari statement CEO dan
Preskom atau ketua organisasi independen terhadap organisasi
pembuat laporan yang memaparkan risiko dan peluang penting secara
ringkas, serta informasi umum stategi perusahaan.
b) Organization Profile, meliputi informasi menyeluruh mengenai nama
organisasi, produk-produknya, struktur operasional, negara-negara di
mana perusahaan beroperasi, kondisi kepemilikan dan badan
21
hukumnya, pasar, skala organisasi, serta keputusan-keputusan penting
selama periode pelaporan
c) Report parameter, memuat report profile, report scope and boundary,
dan GRI content index.
d) Governance (struktur organisasi dan tata kepemimpinan dalam
organisasi tersebut), Commitments to External Initiatives (keterangan
mengenai apakah dan bagaimana pendekatan tertentu diambil oleh
perusahaan
dengan
mengacu
pada
prinsip-prinsip/
perjanjian/
kesepakatan dalam hal sosial dan lingkungan yang dikembangkan
secara eksternal dan diterapkan secara sukarela) dan Engagement
(sebagai gambaran luasnya pemangku kepentingan yang didefinisikan
oleh organisasi dan relasi dengan para pemangku kepentingan
tersebut).
Kerangka kerja GRI telah diperbaiki secara kontinu dan pada tahun
2006, The Third Generation (G3) dari kerangka kerja keberlanjutan GRI
telah diperkenalkan di Amsterdam, Belanda. GRI G3 Guideliness (GRI,
2006) mencakup indikator kinerja ekonomi, sosial, dan lingkungan yang
terdiri dari 79 komponen.
1) Indikator Kinerja Ekonomi
Terdiri atas 9 komponen, meliputi:
a) Kinerja Ekonomi
b) Aspek Keberadaan Pasar
c) Dampak Ekonomi Tidak Langsung
22
2) Indikator Kinerja Sosial
Terdiri atas 40 komponen, meliputi:
a) Aspek Tenaga Kerja dan Praktik Kerja yang Layak
Mencakup tenaga kerja, hubungan manajemen, keselamatan dan
kesehatan kerja, pendidikan dan pelatihan, keberagaman dan
kesempatan yang sama, serta indikator tambahan.
b) Aspek Hak Asasi Manusia
Mencakup
praktik
manajemen),
anti
investasi
dan
diskriminasi,
pengadaan
kebebasan
(strategi
dan
berserikat
dan
perundingan bersama, pekerja anak, tenaga kerja wajib dan
terpaksa, praktik kedisiplinan serta hak masyarakat adat.
c) Aspek Masyarakat
Mencakup Masyarakat (komunitas), Penyuapan dan Korupsi,
Kebijakan Publik, Perilaku Anti Persaingan, dan Kepatuhan.
d) Aspek Tanggung Jawab Produk
Mencakup Keselamatan dan Kesehatan Konsumen, Pelabelan
Produk dan Jasa, Komunikasi Pemasaran dan Privasi Konsumen.
3) Indikator Kinerja Lingkungan
Terdiri atas 30 Komponen, meliputi :
a) Bahan/Material
b) Energi
c) Air
d) Keanekaragaman Hayati
23
e) Emisi, Efluen dan Limbah
f) Produk dan Jasa
g) Kepatuhan
h) Transportasi
i) Aspek Keseluruhan
7. Karakteristik Perusahaan
a. Profitabilitas
Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan entitas
dalam menghasilkan laba pada tingkat penjualan, aset, dan ekuitas
(Kamil dan Herusetya, 2012:4). Pengukuran profitabilitas merupakan
aktivitas yang membuat manajemen menjadi lebih bebas dan fleksibel
untuk mengungkapkan pertanggungjawaban sosial perusahaan kepada
pemegang saham [(Heinze (1976) dalam Hackston dan Milne (1996)].
Perusahaan yang memiliki kemampuan kinerja keuangan yang baik,
akan memiliki kepercayaan yang tinggi untuk menginformasikan
kepada stakeholder-nya, karena perusahaan mampu menunjukkan
kepada mereka bahwa perusahaan dapat memenuhi harapan mereka
terutama investor dan kreditor. Akibatnya, perusahaan dengan tingkat
profitabilitas
yang
tinggi
akan
cenderung
untuk
melakukan
pengungkapan melalui SR, karena profitabilitas merupakan salah satu
indikator kinerja yang harus diungkapkan dalam SR.
24
b. Likuiditas
Aktiva likuid (liquid asset) adalah aktiva yang diperdagangkan
dalam suatu pasar yang aktif sehingga akibatnya dapat dengan cepat
diubah menjadi kas dengan menggunakan harga pasar yang berlaku
(Brigham dan Houston, 2009:95). Likuiditas menunjukkan hubungan
antara kas dan aset lancar lainnya dari sebuah perusahaan dengan
liabilitas lancarnya. Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai
kemampuan entitas untuk membayar semua liabilitas finansial jangka
pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang
tersedia (Kamil dan Herusetya, 2012:4). Menurut Almilia (2007:4),
tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi
keuangan perusahaan. Perusahaan semacam ini cenderung untuk
melakukan pengungkapan informasi yang lebih luas kepada pihak luar
karena ingin menunjukkan bahwa perusahaan itu kredibel.
c. Leverage
Rasio leverage dapat diartikan sebagai besarnya aktiva perusahaan
yang didanai dengan pendanaan dari pihak luar. Rasio leverage
menggambarkan bagaimana suatu perusahaan dapat membayar semua
kewajibannya baik yang jangka pendek maupun jangka panjang
(Brigham dan Houston, 2009:107). Rasio leverage merupakan proporsi
total hutang terhadap rata-rata ekuitas pemegang saham. Rasio tersebut
digunakan untuk memberikan gambaran mengenai struktur modal
yang dimiliki perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat resiko tak
25
tertagihnya suatu utang [(Dwi Prastowo dan Rifka Juliaty : 84) dalam
Almilia (2007:4)]. Tingkat rasio leverage yang semakin tinggi
menyebabkan peluang yang semakin besar bagi perusahaan untuk
melanggar kontrak utang sehingga memicu manajer dalam melaporkan
laba sekarang yang lebih tinggi dibandingkan laba di masa mendatang
(Anggraini, 2008:8).
d. Tipe Industri
Tipe industri dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu
industri high-profile dan low-profile. Perusahaan yang termasuk dalam
industri yang high-profile akan memberikan informasi sosial lebih banyak
dibandingkan perusahaan yang low-profile. Hal ini dikarenakan
masyarakat umumnya lebih sensitif terhadap industri high-profile karena
kelalaian perusahaan dalam penanganan proses produksi dan hasil
produksi dapat membawa akibat yang fatal bagi masyarakat sehingga
perusahaan lebih sensitif terhadap keinginan konsumen. Sedangkan
perusahaan yang low-profile tidak terlalu mendapat sorotan luas dan lebih
ditoleransi masyarakat luas manakala melakukan kesalahan.
Roberts (1992) dalam Hackston dan Milne (1996) mendefinisikan
industri yang high-profile sebagai industri yang memiliki visibilitas
konsumen, risiko politis yang tinggi, atau menghadapi persaingan yang
tinggi. Preston (1977) dalam Hackston dan Milne (1996) mengatakan
bahwa perusahaan yang memiliki aktivitas ekonomi yang memodifikasi
lingkungan, seperti industri ekstraktif, lebih mungkin mengungkapkan
informasi mengenai dampak lingkungan dibandingkan industri yang lain.
26
e. Aktivitas
Rasio aktivitas mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki. Tingginya rasio
aktivitas perusahaan mencerminkan kemampuan dana yang tertanam
dalam perputaran seluruh aktivanya pada suatu periode tertentu
(Setiawan, 2005 dalam Suryono dan Prastiwi, 2011:7). Semakin tinggi
rasio mancerminkan semakin baik manajemen mengelola aktivanya,
yang berarti semakin efektif perusahaan dalam penggunaan total
aktiva.
Semakin
efektif
tindakan-tindakan
perusahaan
dalam
pengeloaan dana, maka perusahaan akan memiliki kecenderungan
untuk mencapai kondisi keuangan yang semakin stabil dan kuat.
Kondisi keuangan yang semakin kuat merupakan cerminan upaya yang
dilakukan perusahaan untuk mencari dukungan stakeholder dalam
mempertahankan kelangsungan hidupnya (Suryono dan Prastiwi,
2011:7).
f. Ukuran Perusahaan
Secara umum, perusahaan besar akan mengungkapkan informasi
lebih banyak daripada perusahaan kecil. Terdapat beberapa penjelasan
mengenai hal tersebut. Teori keagenan menyatakan bahwa perusahaan
besar memiliki biaya keagenan yang lebih besar daripada perusahaan
kecil [(Jensen dan Meckling, 1976) dalam Marwata (2001)].
Perusahaan besar mungkin akan mengungkapkan informasi yang lebih
banyak sebagai upaya untuk mengurangi biaya keagenan tersebut.
27
Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar dapat lebih bertahan
daripada perusahaan dengan ukuran yang lebih kecil, karena semakin
besar entitas, semakin besar pula sumber daya yang dimiliki entitas
tersebut. Dengan semakin besarnya sumber daya yang dimiliki entitas,
maka entitas tersebut akan lebih banyak berhubungan dengan
stakeholder, sehingga diperlukan tingkat pengungkapan atas aktivitas
entitas yang lebih besar, termasuk pengungkapan dalam tanggung
jawab sosial (Kamil dan Herusetya, 2012:5).
8. Corporate Governance
Menurut OECD (Organization for Economic Cooperation and
Development), corporate governance merupakan suatu sistem untuk
mengarahkan dan mengendalikan perusahaan. Terdapat beberapa prinsip
dalam implementasi good corporate governance (GCG). Menurut
pedoman umum good corporate governance Indonesia, terdapat lima
prinsip utama yang terkandung dalam good corporate governance yaitu
transparency, accountability, responsibility, independency serta fairness
yang akan dijabarkan sebagai berikut :
1) Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam
mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan,
termasuk tentang kegiatan CSR.
28
2) Accountability (akuntabilitas), yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem
dan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan
perusahaan terlaksana secara efektif.
3) Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian di dalam
pengelolaan perusahaan dengan prinsip korporasi yang sehat serta
peraturan perundangan yang berlaku.
4) Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan di mana perusahaan
dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh
atau tekanan dari pihak manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan
dan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
5) Fairness (kesetaraan dan kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan
setara di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul
berdasarkan perjanjian serta peraturan perundangan yang berlaku.
a. Komite Audit
Komite audit merupakan komite yang ditunjuk oleh perusahaan
sebagai penghubung antara dewan direksi dan audit ekternal, internal
auditor serta anggota independen, yang memiliki tugas untuk
memberikan pengawasan auditor, memastikan manajemen melakukan
tindakan korektif yang tepat terhadap hukum dan regulasi (Jati, 2009
dalam Suryono dan Prastiwi, 2011:10).
Berdasarkan
keputusan
Bapepam
Nomor
Kep-24/PM/2004
disebutkan bahwa komite audit mengadakan rapat sekurang-kurangnya
29
sama dengan ketentuan minimal rapat dewan komisaris yang
ditetapkan anggaran dasar perusahaan. Rapat dilaksanakan untuk
melakukan koordinasi agar efektif dalam menjalankan pengawasan
laporan dan pelaksanaan corporate governance perusahaan agar
menjadi semakin baik (Suryono dan Prastiwi, 2011:10).
b. Dewan Direksi
Dewan direksi/dewan direktur merupakan seseorang yang
ditunjuk untuk memimpin Peseroan Terbatas (PT), dapat berasal dari
seseorang
yang memiliki
perusahaan tersebut
ataupun orang
profesional yang ditunjuk oleh pemilik usaha. Dewan direksi bertindak
sebagai aspek sistem pengendalian dalam suatu perusahaan, memiliki
peran ganda yaitu sebagai monitoring dan pengambil keputusan (Fama
dan Jensen, dalam Dilling, 2009).
Dalam penerapannya, pelaksanaan GCG sangat bergantung pada
fungsi-fungsi dari dewan direksi yang dipercaya sebagai pihak yang
mengurus perusahaan. Direksi sebagai organ perusahaan bertugas dan
bertanggung jawab secara penuh dalam mengelola perusahaan.
Semakin tinggi frekuensi rapat antara anggota dewan direksi,
mengindikasikan semakin seringnya komunikasi dan koordinasi antar
anggota sehingga lebih mempermudah untuk mewujudkan good
corporate governance (Suryono dan Prastiwi, 2011:11).
30
c. Governance Committee
Suryono
(2011:18)
menjelaskan
bahwa
penciptaan
good
corporate governance suatu perusahaan dapat diwujudkan salah
satunya melalui pembentukan dan penunjukkan anggota governance
commitee yang kompeten dan berkualitas. Governance committee
adalah komite yang terdiri dari beberapa anggota dewan direksi.
Gagasan pembentukan komite ini pada awalnya, merupakan keharusan
bagi perusahaan berdasarkan Undang-Undang Sarbanes-Oxley 2002 di
Amerika Serikat. Tujuan dari governance committee adalah melakukan
pengawasan terhadap efektivitas pengendalian internal perusahaan atas
laporan keuangan. Hidayah (2008) dalam Suryono (2011:18)
menjelaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa
upaya untuk mendorong penerapan GCG, antara lain membentuk
Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) yang
telah mengeluarkan Pedoman GCG dan pada tahun 2004, KNKCG
diubah menjadi Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG).
B. Penelitian Sebelumnya
Adapun hasil penelitian sebelumnya mengenai topik yang berkaitan
dengan penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 2.2.
31
Tabel 2.2
Hasil Penelitian Sebelumnya
No.
1.
2.
3.
Judul dan
Peneliti
Pengungkapan
informasi
sosial
dan faktor-faktor
yang
mempengaruhi
pengungkapan
informasi
sosial
dalam
laporan
keuangan tahunan.
Metode
Hasil Penelitian
Penelitian
1) Prosentase
Analisis regresi Kepemilikan
kepemilikan
berganda
manajemen dan
manajemen,
tipe
industri
2) Tingkat
berpengaruh
leverage,
terhadap
3) Ukuran
pengungkapan
perusahaan,
informasi social;
4) Tipe industri,
Leverage,
5) Profitabilitas
ukuran
perusahaan, dan
(Fr. Reni Retno
profitabilitas
Anggraini, 2006)
tidak
berpengaruh.
Pengaruh
Profitabilitas (X1) Partial Least Profil
dan
karakteristik
Profil perusahaan Square (PLS)
kepemilikan
perusahaan
(X2)
berpengaruh
terhadap
Ukuran
dewan
terhadap
luas
pengungkapan
komisaris (X3)
pengungkapan
CSR
dan Konsentrasi
CSR;
dampaknya
kepemilikan (X4)
Luas
terhadap
reaksi Abnormal return
pengungkapan
investor.
(Y1)
CSR
Volume
berpengaruh
(Rita, Bambang, perdagangan
terhadap reaksi
Eko, 2008)
saham (Y2)
investor.
Retorika
dalam Sustainability
Kualitatif
PT.
Aneka
pelaporan
CSR: Report
Tambang telah
Analisis semiotik
mengungkapkan
atas sustainability
CSRnya
juga
reporting pada PT.
melalui
Aneka Tambang,
pembuatan
Tbk.
sustainability
report
dan
(Anis Chariri dan
proses
Firman
Aji
pembuatannya
Nugroho, 2009)
sebagian besar
Variabel
32
No.
4.
Judul dan
Peneliti
Sustainability
Reporting: What
Are
The
Characteristics of
Corporations that
Provide
High
Quality
Sustainability
Reports.
(Dilling, 2009)
4.
5.
Pengaruh
karakteristik
perusahaan
dan
corporate
governance
terhadap praktik
pengungkapan
sustainability
report.
Variabel
Metode
Penelitian
Hasil Penelitian
telah memenuhi
standar-standar
yang
telah
[ditetapkan oleh
GRI.
Sektor perusahaan Uji beda t-test, Perusahaan yang
(X1)
Regresi logistik memiliki
Ukuran (X2)
karakteristik
Profitabilitas dan
profitabilitas
pertumbuhan (X3)
yang
tinggi,
Corporate
bergerak
di
governance (X4)
sektor
pertambangan,
dan
memiliki
pertumbuhan
jangka panjang
yang
kuat
berpengaruh
terhadap
pembuatan
sustainability
report.
Profitabilitas (X1) Uji beda t-test, Praktik
Likuiditas (X2)
Regresi logistik pengungkapan
Leverage (X3)
dipengaruhi oleh
Aktivitas (X4)
profitabilitas,
Ukuran
ukuran
perusahaan (X5)
perusahaan, dan
Komite audit (X6)
CG
(komite
Dewan
direksi
audit dan dewan
(X7)
direksi).
Governance
committee (X8)
(Hari Suryono dan
Andri
Prastiwi,
2011)
Pengaruh
Profitabilitas (X1)
karakteristik
Likuiditas (X2)
perusahaan
Solvabilitas(X3)
Statistik
deskriptif
Hanya ukuran
perusahaan yang
berpengaruh
33
No.
Judul dan
Variabel
Peneliti
terhadap
luas Ukuran
pengungkapan
perusahaan (X4)
kegiatan CSR.
Pengungkapan
CSR (Y)
(Ahmad Kamil dan
Antonius
Herusetya, 2012)
Metode
Penelitian
Hasil Penelitian
positif terhadap
pengungkapan
CSR
pada
laporan
keuangan
tahunan
perusahaan
publik.
C. Kerangka Berpikir
Gambar di bawah ini menunjukkan kerangka pemikiran yang dibuat
dalam model penelitian mengenai pengaruh karakterisitik perusahaan dan
corporate governance terhadap publikasi sustainability report.
34
Gambar 2.1
Skema Kerangka Konseptual
Terdapat perusahaan yang tidak melaporkan tanggung jawab
sosial dan lingkungan
Basis Teori
Variabel Independen
Variabel Dependen
Return on Asset
Net Profit Margin
Current Ratio
Debt to Equity Ratio
Tipe Industri
Inventory Turnover
Publikasi
Sustainability Report
Total Assets
Jumlah Rapat
Komite Audit
Jumlah Rapat Dewan
Direksi
Governance
Committee
Metode Analisis: Regresi Logistik
Hasil Pengujian dan Pembahasan
Kesimpulan, Implikasi, dan Saran
35
D. Hipotesis
1. Profitabilitas dengan Publikasi Sustainability Report
Profitabilitas
merupakan
kemampuan
perusahaan
dalam
menghasilkan laba sehingga mampu meningkatkan nilai pemegang saham
perusahaan. Anggraini (2006), Almilia (2007), serta Kamil dan Herusetya
(2012) menemukan bahwa semakin tinggi tingkat profitabilitas, semakin
tinggi pula tingkat pengungkapan tanggung jawab sosial perusahaan. Hal
ini memberikan interpretasi bahwa perusahaan dengan profitabilitas yang
tinggi dapat mengatasi biaya-biaya atas pengungkapan tanggung jawab
sosial tersebut. Tingkat profitabilitas yang semakin tinggi mencerminkan
kemampuas entitas dalam menghasilkan laba semakin tinggi, sehingga
entitas mampu untuk meningkatkan tanggung jawab sosial, serta
melakukan pengungkapan tanggung jawab sosialnya dalam laporan
keuangan yang lebih luas.
Hackston & Milne (1996) menemukan tidak ada hubungan yang
signifikan antara tingkat profitabilitas dengan pengungkapan informasi
sosial. Sebaliknya, Anggraini (2006) menemukan pengaruh positif
profitabilitas (NPM) dengan pengungkapan informasi sosial. Penelitian
terbaru oleh Suryono dan Prastiwi (2011) menunjukan hubungan positif
antara profitabilitas yang diproksikan melalui ROA. Oleh karena itu,
penelitian ini mengasumsikan bahwa:
H1a: ROA berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
H1b: NPM berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
36
2. Likuiditas dengan Publikasi Sustainability Report
Rasio likuiditas merupakan rasio yang mengukur kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya kepada kreditur
jangka pendek [(Prastowo dan Juliaty (2002) dalam Almilia dan
Retrinasari (2007:4)]. Dalam Fitriani (2001), Wallace et al (1994)
menyatakan bahwa likuiditas dapat juga dipandang sebagai ukuran kinerja
manajemen dalam mengelola keuangan perusahaan. Dari sisi ini,
perusahaan dengan likuiditas rendah cenderung mengungkapkan lebih
banyak informasi kepada pihak eksternal sebagai upaya untuk menjelaskan
lemahnya kinerja manajemen.
Perusahaan dengan tingkat likuiditas yang tinggi mengindikasikan
bahwa perusahaan tersebut mampu untuk membayar kewajiban-kewajiban
jangka pendeknya secara tepat waktu. Kuatnya kondisi keuangan
perusahaan akan memberikan image yang baik bagi perusahaan tersebut.
Salah satu cara untuk meyakinkan para stakeholder adalah dengan
mempublikasikan kegiatan yang berkaitan dengan sosial dan lingkungan
melalui sustainability report yang terpisah dari laporan tahunan (Suryono
dan Prastiwi, 2011:6). Oleh karena itu, penelitian ini mengasumsikan
bahwa:
H2:
Tingkat likuiditas berpengaruh terhadap sustainability report.
3. Leverage dengan Publikasi Sustainability Report
Leverage mencerminkan tingkat ketergantungan perusahaan terhadap
para investor dan kreditor dalam membiayai asetnya. Rasio leverage yang
37
tinggi mengakibatkan perusahaan melanggar perjanjian kredit. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi leverage artinya semakin besar porsi
pendanaan perusahaan yang dibiayai oleh utang, sehingga perusahaan
cenderung untuk meninggikan laba sekarang. Tujuannya adalah agar
perusahaan dapat dengan mudah untuk memperoleh pinjaman, sebab laba
yang tinggi menggambarkan kondisi keuangan perusahaan yang kuat dan
baik.
Pelaporan laba yang tinggi, juga diimbangi dengan pengurangan
biaya, termasuk biaya untuk pelaporan sosial dan lingkungan sehingga
kinerja keuangannya terlihat bagus. Perusahaan lebih memilih untuk
mengurangi pengungkapan laporan terutama yang bersifat sukarela,
terlebih terpisah dari annual report seperti sustainability report, yang
tentunya akan memakan dana yang cukup besar. Oleh karena itu,
penelitian ini mengasumsikan bahwa:
H3:
Leverage berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
4. Tipe Industri dengan Publikasi Sustainabilty Report
Perusahaan yang termasuk dalam tipe industri high profile menurut
Robert (1992) dalam Hackston dan Milne (1996) adalah perusahaan yang
mempunyai tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap lingkungan, tingkat
risiko politik yang tinggi, atau tingkat kompetisi yang ketat. Penelitian
yang berkaitan dengan profile perusahaan kebanyakan mendukung bahwa
industri high profile mengungkapkan informasi tentang tanggung jawab
38
sosialnya lebih banyak dari industri low profile. Oleh karena itu, penelitian
ini mengasumsikan bahwa:
H4:
Tipe industri berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
5. Aktivitas dengan Publikasi Sustainability Report
Rasio aktivitas ini digunakan untuk mengukur bagaimana suatu
perusahaan dapat mengelola sumber-sumber dananya. Perusahaan
dikatakan efektif apabila diikuti dengan tingginya perputaran aktiva di
perusahaan tersebut. Semakin efektif perusahaan mengelola dananya maka
akan mencerminkan kondisi keuangan yang stabil, kuat, dan rendah risiko.
Kondisi inilah yang merupakan upaya dari perusahaan untuk mendapat
dukungan dari para stakeholder demi kelangsungan hidup perusahaan.
Tingginya rasio aktivitas merupakan gambaran kinerja keuangan yang
baik sehingga mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi
lain yang lebih lengkap melalui laporan keberlanjutan (sustainability
report). Oleh karena itu, penelitian ini mengasumsikan bahwa:
H5:
Tingkat aktivitas perusahaan berpengaruh terhadap publikasi
sustainability report.
6. Ukuran Perusahaan dengan Publikasi Sustainability Report
Semakin besar suatu perusahaan akan semakin disorot oleh para
stakeholder. Dalam kondisi demikian perusahaan membutuhkan upaya
yang lebih besar untuk memperoleh legitimasi stakeholder dalam rangka
menciptakan keselarasan nilai-nilai sosial dari kegiatannya dengan norma
perilaku yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu semakin besar
39
perusahaan akan semakin berkepentingan untuk mengungkap informasi
yang lebih luas (Suryono dan Prastiwi, 2011:8).
Beberapa penelitian sebelumnya, seperti Hackston dan Milne (1996),
Sembiring (2005), serta [Fahrizqi (2010) dan Prihandono (2010) dalam
Kamil dan Herusetya] menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
positif terhadap pengungkapan CSR. Hal ini karena semakin besar ukuran
perusahaan maka semakin besar pula informasi yang terkandung di
dalamnya, sehingga perusahaan terdorong untuk melakukan praktik
pengungkapan sustainability report. Oleh karena itu, penelitian ini
mengasumsikan bahwa:
H6:
Ukuran perusahaan berpengaruh terhadap publikasi sustainability
report.
7. Komite Audit dengan Publikasi Sustainabilty Report
Komite audit merupakan alat yang efektif untuk melakukan
mekanisme pengawasan, sehingga dapat mengurangi biaya agensi dan
meningkatkan kualitas pengungkapan perusahaan (Foker, 1992 dalam Said
et.al, 2009). Komunikasi yang terjalin antara komisaris, direksi, auditor
internal dan eksternal, merupakan aspek yang penting dalam menilai
keefektifan dari komite audit (Effendi, dalam Sari, 2008). Dalam
pelaksanaan tugasnya, komite audit mempunyai fungsi membantu dewan
komisaris untuk (i) meningkatkan kualitas Laporan Keuangan, (ii)
menciptakan iklim disiplin dan pengendalian yang dapat mengurangi
kesempatan terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan perusahaan, (iii)
meningkatkan efektifitas fungsi internal audit (SPI) maupun eksternal
40
audit, serta (iv) mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian
Dewan Komisaris/Dewan Pengawas.
Berdasarkan
keputusan
Bapepam
Nomor
Kep-24/PM/2004
disebutkan bahwa komite audit mengadakan rapat sekurang-kurangnya
sama dengan ketentuan minimal rapat dewan komisaris yang ditetapkan
anggaran dasar perusahaan. Rapat dilaksanakan untuk melakukan
koordinasi agar efektif dalam menjalankan pengawasan laporan dan
pelaksanaan corporate governance perusahaan agar menjadi semakin baik.
Dengan semakin sering mengadakan rapat, maka koordinasi komite audit
akan semakin baik sehingga dapat melaksanakan pengawasan terhadap
manajemen dengan lebih efektif dan diharapkan dapat mendukung
peningkatan pengungkapan informasi sosial dan lingkungan yang
dilakukan oleh perusahaan. Ho dan Wong (2001) dalam Said et.al. (2009)
menyatakan bahwa keberadaan komite audit berpengaruh secara signifikan
terhadap luas pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) yang
dilakukan perusahaan. Oleh karena itu, penelitian ini mengasumsikan
bahwa:
H7:
Komite audit berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
8. Dewan Direksi dengan Publikasi Sustainability Report
Keefektivan
pengawasan
dalam
aktivitas
perusahaan
dapat
dipengaruhi oleh bagaimana dewan direksi dibentuk dan diorganisir.
Kinerja dewan yang baik akan mampu mewujudkan good corporate
governance bagi perusahaan. Dalam penerapannya, pelaksanaan GCG
41
sangat bergantung pada fungsi-fungsi dari dewan direksi yang dipercaya
sebagai pihak yang mengurus perusahaan. Direksi sebagai organ
perusahaan bertugas dan bertanggung jawab secara penuh dalam
mengelola perusahaan. Semakin tinggi frekuensi rapat antara anggota
dewan direksi, mengindikasikan semakin seringnya komunikasi dan
koordinasi
antar
anggota
sehingga
lebih
mempermudah
untuk
mewujudkan good corporate governance (Suryono dan Prastiwi, 2011).
Informasi yang diungkapkan perusahaan tidak hanya informasi
mengenai keuangan, tetapi juga mengenai kinerja sosial dan lingkungan
dalam suatu laporan keberlanjutan (sustainability reporting). Apabila
corporate governance di perusahaan tersebut sudah berjalan baik, yang
tercermin dari seringnya komunikasi dalam rapat dewan, maka akan
semakin
besar
kemungkinan
perusahaan
dalam
mengungkapkan
kinerjanya. Oleh karena itu, penelitian ini mengasumsikan bahwa:
H8:
Dewan direksi berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
9. Governance Committee dengan Publikasi Sustainability Report
Setiap perusahaan memiliki visi dan misi mengenai tujuan-tujuan
kegiatan usaha yang akan dilaksanakannya. Tentunya kegiatan tersebut
dapat tercapai dengan adanya sistem tata kelola perusahaan yang baik.
Sistem tata kelola perusahaan yang baik ini menuntut dibangunnya dan
dijalankannya prinsip-prinsip tata kelola perusahaan (GCG) dalam proses
manajerial
perusahaan.
Boediono,
dalam
Pedoman
GCG
2006
menjelaskan bahwa good corporate governance (GCG) berkaitan erat
42
dengan kepercayaan baik terhadap perusahaan yang melaksanakannya
maupun terhadap iklim usaha di suatu negara.
Penciptaan good corporate governance suatu perusahaan dapat
diwujudkan salah satunya melalui pembentukan dan penunjukkan anggota
governance commitee yang kompeten dan berkualitas. Hal ini dilakukan
untuk menjamin bahwa manajemen bertindak yang terbaik untuk
kepentingan stakeholders. Pengungkapan informasi secara detil akan
memberi gambaran kinerja perusahaan sesungguhnya, sehingga semakin
banyak
informasi
yang
diberikan
perusahaan,
khususnya
dalam
sustainability report akan meningkatkan kepercayaan investor dan
stakeholders lainnya. Penelitian oleh Khomsiyah (2005) [dalam Hidayah
(2008)] menyimpulkan adanya hubungan antara indeks GCG dengan
kualitas pengungkapan. Oleh karena itu, penelitian ini mengasumsikan
bahwa:
H9:
Governance
Committee
berpengaruh
terhadap
publikasi
sustainability report.
43
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas yaitu penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel atau lebih.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen, yaitu
karakteristik perusahaan yang meliputi profitabilitas; likuiditas; leverage; tipe
indutri; aktivitas perusahaan; serta ukuran perusahaan; dan corporate
governance yang meliputi komite audit; dewan direksi; dan governance
committee terhadap variabel dependen, yaitu publikasi sustainability
reporting. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2007-2011, kecuali
perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam kategori banking, credits
agencies other than bank, securities,dan insurance.
B. Metode Penentuan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah non probability
sampling, artinya setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang
sama untuk dijadikan sampel. Dalam non probability sampling, kami
menggunakan metode purposive sampling yaitu sampel ditarik sejumlah
tertentu dari populasi dengan menggunakan pertimbangan tertentu. Kriteria
bagi perusahaan yang dijadikan sampel antara lain:
44
1. Perusahaan yang listing di BEI.
2. Perusahaan yang tidak termasuk dalam kategori banking, credits agencies
other than bank, securities,dan insurance. Hal ini karena perusahaan
dalam kategori tersebut melakukan aktivitas yang cenderung lebih fokus
pada keuangan, sehingga diindikasikan memiliki karakteristik perusahaan
yang berbeda dengan perusahaan-perusahaan sampel lain pada umumnya.
3. Perusahaan yang menerbitkan annual report periode 2007-2011.
4. Perusahaan yang menampilkan data secara lengkap untuk menganalisis
pengaruh karakteristik perusahaan dan corporate governance terhadap
publikasi SR.
C. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode dokumenter, karena data yang dikumpulkan berupa data sekunder
yaitu annual report dan sustainability report perusahaan tahun 2007-2011.
Data tersebut diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory (ICMD) dan
IDX Fact Book yang diterbitkan oleh BEI. Selain itu juga dilakukan
penelusuran berbagai jurnal, karya ilmiah, artikel, dan berbagai buku
referensi sebagai sumber data dan acuan dalam penelitian ini. Data penunjang
lainnya
diperoleh
melalui
situs
resmi
Bursa
Efek
Indonesia
di
http://www.idx.co.id dan website masing-masing perusahaan.
45
D. Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
teknik analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara
menganalisis suatu permasalahan yang diwujudkan dengan kuantitatif. Dalam
penelitian ini, analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengkuantifikasi
data-data penelitian sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam
analisis.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi logistik
(logistic regression) dengan bantuan SPSS 17. Alasan penggunaan alat
analisis regresi logistik (logistic regression) adalah karena variabel dependen
bersifat dummy (mempublikasikan SR atau tidak mempublikasikan SR).
Asumsi multivariate normal distribution tidak dapat dipenuhi karena variabel
bebas merupakan campuran antara variabel kontinyu (metrik) dan kategorial
(non-metrik). Dalam hal ini dapat dianalisis dengan regresi logistik (logistic
regression) karena tidak perlu asumsi normalitas data pada variabel bebasnya.
1. Definisi Regresi Logistik
Regresi logistik adalah bentuk khusus dimana variabel dependennya
terbagi menjadi dua bagian atau kelompok (biner). Walaupun formulanya
dapat saja lebih dari dua kelompok. Regresi logistik adalah regresi yang
digunakan untuk mencari persamaan regresi jika variabel dependennya
merupakan variabel yang berbentuk skala. Regresi logistik binari
digunakan untuk menemukan persamaan regresi dimana variabel
46
dependennya bertipe kategorial dua pilihan seperti: ya atau tidak, atau
lebih dari dua pilihan seperti: tidak setuju, setuju, sangat setuju.
2. Tahapan Regresi Logistik
Tahapan dalam pengujian dengan menggunakan uji regresi logistik
(logistic regression) adalah statistik deskriptif dan pengujian hipotesis
penelitian, adapun penjelasannya diuraikan dalam paragraf dibawah ini
(Ghozali, 2012):
a. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran
mengenai distribusi frekuensi variabel yang tercermin dalam nilai
maksimum, nilai minimum, nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi
dari ROA, NPM, current ratio, debt to equity ratio, inventory
turnover, total aset, jumlah rapat komite audit dan dewan direksi.
Hasil ini akan didapat berdasarkan data olahan SPSS.
Tipe industri dan keberadaaan governance committee tidak
diikutsertakan dalam penghitungan statistik deskriptif karena kedua
variabel tersebut menggunakan skala nominal. Skala nominal adalah
skala yang mengategorikan individu atau objek ke dalam kelompok
yang eksklusif dan lengkap secara bersama, dan memberikan
informasi mendasar dan kategorikal mengenai variabel yang diteliti.
b. Pengujian Hipotesis Penelitian
Estimasi parameter menggunakan Maximum Likehood Estimation
(MLE).
47
Ho = b1 = b2 = b3 = ... = bi = 0
Ho ≠ b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ ... ≠ bi ≠ 0
Hipotesis nol menyatakan bahwa variabel independen (x) tidak
mempunyai pengaruh terhadap variabel respon yang diperhatikan
(dalam populasi). Pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan
menggunakan α = 5%. Nilai α dinyatakan sebagai besarnya tingkat
kesalahan yang dapat ditolerir. Umumnya, untuk ilmu sosial, termasuk
ekonomi dan keuangan, besarnya α adalah 5% (Nachrowi dan Usman,
2006:15). Kaidah pengambilan keputusan adalah:
a) Jika nilai probabilitas (sig.) < α = 5% maka hipotesis alternatif
didukung.
b) Jika nilai probabilitas (sig.) > α = 5% maka hipotesis alternatif
tidak didukung.
1) Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Langkah pertama adalah menilai overall model fit terhadap
data. Beberapa test statistik diberikan untuk menilai hal ini.
Hipotesis untuk menilai model fit adalah:
H0 : Model yang dihipotesiskan fit dengan data
HA : Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data
Dari hipotesis ini kita tidak akan menolak hipotesis nol agar
model fit dengan data. Statistik yang digunakan berdasarkan pada
fungsi likelihood. Likelihood L dari model adalah probabilitas
48
bahwa model yang dihipotesiskan menggambarkan data input.
Untuk menguji hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan
menjadi -2LogL. Penurunan likelihood (-2LL) menunjukkan
model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang
dihipotesiskan fit dengan data.
2) Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)
Cox dan Snell’s R Square merupakan ukuran yang mencoba
meniru ukuran R2 pada multiple regression yang didasarkan pada
teknik estimasi likelihood dengan nilai maksimum kurang dari 1
(satu) sehingga sulit diinterpretasikan. Nagelkerke’s R square
merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan Snell untuk
memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) sampai 1
(satu). Hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox dan
Snell’s R2 dengan nilai maksimumnya. Nilai Nagelkerke’s R2 dapat
diinterpretasikan seperti nilai R2 pada multiple regression. Nilai
yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen
dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai
yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi variasi variabel dependen.
3) Menguji Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan
Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Hosmer and
49
Lemeshow’s Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa
data empiris cocok atau sesuai dengan model (tidak ada
perbedaan antara model dengan data sehingga model dapat
dikatakan fit). Jika nilai statistik Hosmer and Lemeshow’s
Goodness of Fit Test sama dengan atau kurang dari 0,05, maka
hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara
model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model
tidak baik karena model tidak dapat memprediksi nilai
observasinya. Jika nilai statistik Hosmer and Lemeshow’s
Goodness of Fit Test lebih besar dari 0,05, maka hipotesis nol
tidak dapat ditolak dan berarti model mampu memprediksi nilai
observasinya atau dapat dikatakan model dapat diterima karena
cocok dengan data observasinya.
4) Uji Multikolinieritas
Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya
gejala korelasi yang kuat di antara variabel bebasnya. Pengujian
ini menggunakan matrik korelasi antar variabel bebas untuk
melihat besarnya korelasi antar variabel independen. Jika variabel
independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak
ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen sama
dengan nol.
50
5) Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari
model regresi untuk memprediksi kemungkinan publikasi
sustainability report yang dilakukan oleh perusahaan.
6) Model Regresi Logistik yang Terbentuk
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
regresi logistik (logistic regression), yaitu dengan melihat
pengaruh karakteristik perusahaan (profitabilitas, likuiditas,
leverage, tipe industri, aktivitas, ukuran perusahaan) dan
corporate governance (komite audit, dewan direksi, governance
committee) terhadap publikasi sustainability report. Model
persamaan regresi dalam penelitian ini adalah:
Logit (KODE) = α + β1(ROA) + β2 (NPM) + β3(CR) + β3 (DER) + β4
(TYPE) + β5 (IT) + β6 (LNTA) + β7 (JRKA) + β8 (JRDD) + β9 (GC)
Penjelasan :
Logit (KODE) = Variabel dummy, kategori perusahaan apakah
membuat sustainability report (nilai 1) dan
yang tidak (nilai 0).
A
ROA
= Konstanta
= Profitabilitas yang diproksikan melalui perhitungan
ROA.
51
NPM
= Profitabilitas yang diproksikan melalui perhitungan
NPM.
CR
= Likuiditas yang diproksikan melalui perhitungan
current ratio.
DER
= Leverage yang diproksikan melalui perhitungan debt
to equity ratio.
TYPE
= Tipe Industri, high profile = 1, low profile = 0.
IT
= Aktivitas perusahaan yang diproksikan melalui
perhitungan inventory turnover.
LNTA
= Ukuran perusahaan yang diproksikan melalui log
natural jumlah asset perusahaan.
JR KA
= Komite audit yang diproksikan melalui jumlah rapat
antar anggota
JR DD
= Dewan direksi yang diproksikan melalui jumlah rapat
antar anggota
GC
= Variabel dummy, keberadaan governance committee
( nilai 1 untuk perusahaan yang memiliki dan
nilai 0 untuk yang tidak ).
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing-masing variabel yang
digunakan yang disertai dengan operasional serta cara pengukurannya.
Adapun operasionalisasi variabel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:
52
1. Variabel Independen
a. Karakteristik Perusahaan (X1)
1) Profitabilitas
Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan
para eksekutif perusahaan dalam menciptaan tingkat keuntungan
baik dalam bentuk laba perusahaan maupun nilai ekonomis atas
penjualan, aset bersih perusahaan, maupun modal sendiri
(shareholders equity) (Sari, 2012:129). Profitabilitas dalam
penelitian ini diukur dengan menggunakan Return On Asset (ROA)
dan Net Profit Margin (NPM).
Return On Asset =
Net Profit Margin =
2) Likuiditas
Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan
entitas untuk membayar semua liabilitas finansial jangka pendek
pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aset lancar yang
tersedia (Kamil dan Herusetya, 2012:4). Rasio likuiditas diukur
dengan menggunakan current ratio.
Current Ratio =
53
3) Leverage
Rasio leverage merupakan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya baik jangka pendek maupun
jangka panjang jika suatu perusahaan dilikuidasi [(Hadiningsih,
2007) dalam (Suryono dan Prastiwi, 2011:6)]. Rasio leverage
diukur dengan menggunakan debt to equity ratio.
4) Tipe Industri
Tipe industri diukur dengan menggunakan variabel dummy,
yaitu pemberian skor 1 untuk perusahaan yang termasuk dalam
industri high-profile, dan skor 0 untuk perusahaan yang termasuk
dalam industri low-profile. Kriteria untuk menentukan perusahaan
termasuk high-profile dan low-profile digunakan pengelompokan
menurut Roberts (1992), Preston (1977) dan Patten (1991),
Hakston dan Milne (1996) dalam Anggraini (2006). Perusahaanperusahaan yang termasuk dalam industri migas, kehutanan,
pertanian, pertambangan, perikanan, kimia, otomotif, barang
konsumsi, makanan dan minuman sebagai industri yang highprofile (Anggraini, 2006:11).
5) Rasio Analisis Aktivitas Perusahaan
Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat
operasi perusahaan (sales) dengan aset yang dibutuhkan untuk
54
menunjang kegiatan operasi-operasi perusahaan [(Ulupui, 2009)
dalam (Suryono, 2011:14)]. Rasio Aktivitas dalam penilitian ini
diukur melalui inventory turnover.
Inventory Turnover =
6) Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dapat diukur dengan menggunakan total
aset, penjualan, atau ekuitas (Miswanto dan Husnan (dalam
Almilia, 2007). Ukuran perusahaan merupakan skala yang
digunakan dalam menentukan besar kecilnya suatu perusahaan
(Sari, 2012:128). Dalam penelitian ini varibel ukuran perusahaan
diproksikan dengan menggunakan nilai log of total asset yang
dimiliki
oleh
masing-masing
perusahaan,
tujuannya
agar
mengurangi perbedaan yang signifikan antara ukuran perusahaan
besar dan ukuran perusahaan kecil sehingga data total aset dapat
terdistribusi normal. Rumus yang digunakan adalah:
Size = Log natural (total aset)
b. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance) (X2)
1) Komite Audit
Komite yang ditunjuk oleh perusahaan sebagai penghubung
antara dewan direksi dan audit ekternal, internal auditor serta
anggota independen, yang memiliki tugas untuk memberikan
55
pengawasan auditor, memastikan manajemen melakukan tindakan
korektif yang tepat terhadap hukum dan regulasi (Jati, 2009 dalam
Suryono dan Prastiwi, 2011:10). Komite audit diproksikan melalui
jumlah rapat antara anggota komite audit pada suatu perusahaan
selama periode satu tahun untuk mengukur pelaksanaan corporate
governance.
2) Dewan Direksi
Dewan direksi merupakan bagian perseroan yang bertanggung
jawab penuh terhadap kepengurusan perseroan untuk kepentingan
dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam
maupun di luar pengadilan, sesuai dengan pelaksanaan corporate
governance untuk dewan direksi diukur melalui jumlah rapat
antara anggota dewan direksi yang telah terjadi selama periode satu
tahun. Rapat antara anggota dewan direksi merefleksikan
keefektifan dalam komunikasi dan koordinasi antara anggota
dewan direksi untuk mewujudkan good corporate governance
(Suryono dan Prastiwi, 2011:11).
3) Governance Committee
Menurut Willey (2009, dalam Suryono 2011:18) governance
committee merupakan sebuah komite yang terdiri dari beberapa
anggota
dewan
direksi,
yang
memiliki
tugas
untuk
mengembangkan dan merekomendasi kepada dewan, pedoman
dalam pelaksanaan dan etika corporate governance. Dalam
56
penelitian ini, pelaksanaan corporate governance yang dilakukan
perusahaan
dilihat
dengan
keberadaan
dari
pembentukan
governance committee. Variabel ini menggunakan dummy.
Pengukuran dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk
perusahaan yang terdapat pembentukan governance committee dan
0
untuk
perusahaan
yang tidak
melakukan
pembentukan
governance committee.
2. Variabel Dependen (Sustainability Report) (Y)
Variabel terikat yang digunakan dalam penelitian ini adalah praktik
pengungkapan sustainability report (laporan keberlanjutan) oleh suatu
perusahaan. Sustainability report merupakan laporan yang berisi praktik
dalam mengukur dan mengungkapkan aktivitas sosial dan lingkungan
perusahaan, sebagai tanggung jawab kepada stakeholder internal dan
eksternal mengenai kinerja organisasi dalam mewujudkan tujuan
pembangunan berkelanjutan (GRI, 2006). Variabel ini menggunakan
dummy. Pengukuran dilakukan dengan memberikan nilai 1 untuk
perusahaan yang melakukan pengungkapan sustainability report dan 0
untuk perusahaan yang tidak melakukan pengungkapan.
Ringkasan
variabel
dan
pengukuran
masing-masing
variabel
independen dijelaskan sebagai berikut:
57
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel Penelitian
Variabel
Profitabilitas
Pengukuran
Variabel
Return of Asset
=
Skala
Pengukuran
Rasio
Net Profit Margin
=
Likuiditas
Current Ratio
=
Rasio
Leverage
Debt to Equity Ratio
=
Rasio
Tipe Industri
High-profile = 1
Low-profile = 0
Inventory Turnover
=
Nominal
Aktivitas Perusahaan
Ukuran Perusahaan
Komite Audit
Dewan Direksi
Governance Committee
Nilai log of total asset
yang dimiliki oleh
masing-masing
perusahaan
Jumlah rapat antara
anggota komite audit
Jumlah rapat selama
periode setahun
Perusahaan yang
sudah membentuk
governance committee
=1
Perusahaan yang
belum membentuk
governance committee
=0
Rasio
Rasio
Rasio
Rasio
Nominal
58
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Deskripsi Objek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan go public
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai tahun 2007-2011,
kecuali perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam kategori banking,
credits agencies other than bank, securities, dan insurance. Perusahaanperusahaan tersebut tidak dimasukkan ke dalam sampel penelitian karena
terdapat perbedaan dalam analisis kinerja keuangan yang dilakukan yang
memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan aktivitas
yang cenderung lebih fokus pada keuangan, sehingga diindikasikan
memiliki karakteristik perusahaan yang berbeda dengan perusahaanperusahaan sampel lain pada umumnya.
Alasan peneliti menggunakan periode yang dimulai tahun 2007
karena pada tahun 2006 merupakan tahun awal dilakukannya
sustainability reporting (SR). PT. Antam merupakan satu-satunya
perusahaan yang membuat SR pada saat itu, sehingga diharapkan tahun
berikutnya sudah banyak perusahaan yang mengikuti jejak Antam dan
menyadari pentingnya membuat laporan tersebut. Perusahaan yang
tercatat dalam BEI digunakan sebagai populasi karena perusahaan
tersebut memiliki kewajiban untuk menyampaikan laporan tahunan
59
kepada pihak luar perusahaan sehingga memungkinkan laporan tahunan
tersebut dapat diperoleh dalam penelitian ini.
Tabel 4.1 di bawah ini menyajikan tahapan seleksi sampel
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
Tabel 4.1
Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria
Kriteria Sampel
Jumlah
Perusahaan
Jumlah perusahaan yang listing di BEI tahun 2007-2011
Jumlah perusahaan yang termasuk kategori banking,
credits agencies other than bank, securities,dan
insurance
Jumlah perusahaan yang tidak menampilkan data lengkap
pada laporan tahunan
Jumlah sampel
Tahun pengamatan (tahun)
Jumlah sampel total dalam penelitian
440
(170)
(228)
42
5
210
Sumber : data sekunder yang diolah, 2013
Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama
periode 2007-2011 berjumlah 440 perusahaan. Dari 440 perusahaan
tersebut, terdapat 170 perusahaan yang masuk ke dalam kategori
banking, credits agencies other than bank, securities, dan insurance, dan
228 perusahaan yang laporan tahunannya tidak menampilkan data yang
tidak lengkap. Jadi, perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebanyak
60
42 perusahaan, sedangkan total pengamatan yang dijadikan sampel dalam
penelitian ini adalah sebanyak 210 pengamatan.
2. Deskripsi Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini,sampel dipilih dengan metode purposive
sampling dengan menggunakan kriteria yang telah ditentukan. Sampel
dipilih bagi perusahaan yang menyajikan data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini, seperti return on asset, net profit margin, current ratio,
debt to equity ratio, inventory turnover, total asset, jumlah rapat komite
audit, jumlah rapat dewan direksi, dan governance committee.
Selama periode tahun 2007-2011 terdapat 20 perusahaan yang
mempublikasikan SR, sedangan perusahaan yang tidak mempublikasikan
SR sebanyak 22 perusahaan. Dari 42 perusahaan tersebut menghasilkan
210 observasi. Ringkasan sampel penelitian disajikan daam Tabel 4.2.
Tabel 4.2
Data Sampel Penelitian
No.
Klasifikasi Industri
JUMLAH
2007
2008
2009
2010
2011
1.
Animal husbandary
1
1
1
1
1
2.
Automotive and Component
3
3
3
3
3
3.
Building Construction
2
2
2
2
2
4.
Cement
3
3
3
3
3
5.
Ceramic, Glass, Porcelain
1
1
1
1
1
6.
Chemicals
1
1
1
1
1
7.
Coal Mining
1
1
1
1
1
8.
Computer and Services
1
1
1
1
1
61
No.
Klasifikasi Industri
JUMLAH
2007
2008
2009
2010
2011
9.
Cosmetics and Household
2
2
2
2
2
10.
Crude Petroleum and Natural
3
3
3
3
3
Gas Production
11.
Energy
1
1
1
1
1
12.
Food and Beverages
1
1
1
1
1
13.
Metal and Mineral Mining
1
1
1
1
1
14.
Pharmaceuticals
1
1
1
1
1
15.
Plantation
4
4
4
4
4
16.
Retail Trade
6
6
6
6
6
17.
Telecommunication
4
4
4
4
4
18.
Tobacco Manufacturers
1
1
1
1
1
19.
Transportation Services
1
1
1
1
1
20.
Wholesale
4
4
4
4
4
42
42
42
42
42
JUMLAH
AKUMULASI
210
Sumber: data diolah, 2013
B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model
penelitian regresi logistik (logistic regression). Tujuannya adalah untuk
memperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen,
yaitu karakteristik perusahaan (profitabilitas, likuiditas, leverage, aktivitas
perusahaan, dan tipe industri) dan corporate governance (jumlah rapat komite
audit, jumlah rapat dewan direksi, dan governance committee) terhadap
variabel dependen, yaitu publikasi sustainability report.
62
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif memberikan suatu gambaran atau deskripsi
suatu data yang dilihat dari nilai minimum, maksimum, rata-rata (mean),
deviasi standar dari masing-masing variabel penelitian. Hasil analisis
deskriptif dengan menggunakan SPSS 17.0 dari variabel-variabel
penelitian ini adalahdiperoleh sebanyak 210 data observasi yang berasal
dari perkalian antara periode penelitian (5 tahun; dari tahun 2007-2011)
dengan jumlah perusahaan sampel (42 perusahaan).
Tabel 4.3
Statistik Deskriptif
N
Minimum Maximum
Mean
Std.
Deviation
ROA
210
-0.313
0.508
0.092
0.108
NPM
210
-3.723
0.679
0.0726
0.302
CR
210
-1.963
28.195
2.025
2.820
DER
210
-38.525 1,326.000
13.062
120.523
IT
210
1.696 1,653.205
62.997
199.683
LN TA
210
25.269
32.665
29.173
1.647
JR KA
210
0
72
10.05
9.676
JR DD
210
2
79
22.69
16.731
Valid N
210
(listwise)
Sumber: Output SPSS
63
Tabel 4.3 menunjukkan statistik deskriptif masing-masing variabel
penelitian. Hasil analisis deskriptif di atas menunjukkan bahwa jumlah
pengamatan dari penelitian ini ada 210 perusahaan. Dari 210 pengamatan
ini, nilai variabel profitabilitas (ROA) yang terkecil adalah -0,313, nilai
yang terbesar adalah 0,508, dengan rata-rata sebesar 0,092 dan standar
deviasi 0,108. ROA yang tinggi menunjukkan efektivitas perusahaan
dalam memanfaatkan besarnya asset yang dimiliki untuk menciptakan
laba. Pada variabel profitabilitas (NPM) nilai yang terkecil adalah -3,723,
nilai yang terbesar adalah 0,679, dengan rata-rata sebesar 0,073 dan
standar deviasi 0,302. NPM yang tinggi menunjukkan efektivitas
perusahaan yang dilihat dari besarnya pendapatan untuk menghasilkan
laba.
Pada variabel likuiditas (CR) nilai yang terkecil adalah -1,963 dan
yang terbesar adalah 28,195, dengan rata-rata sebesar 2,025 dan standar
deviasi 2,820. CR yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan
menggunakan aset lancar untuk membayar kewajiban lancarnya. Pada
variabel leverage (DER) nilai yang terkecil adalah -38,525, nilai yang
terbesar adalah 1.326, dengan rata-rata sebesar 13,062 dan standar deviasi
120,523. DER yang tinggi menunjukkan efektivitas perusahaan dalam
menggunakan ekuitasnya untuk membiayai hutang perusahaan. Pada
variabel aktivitas perusahaan (IT) nilai yang terendah adalah 1,696, nilai
yang terbesar adalah 1.653,205 dengan rata-rata sebesar
62,997 dan
standar deviasi 199,683. IT yang tinggi menunjukkan efektivitas
64
perusahaan
memanfaatkan
pendapatan
yang
diterimanya
untuk
menghasilkan persediaan.
Pada variabel tipe industri (TYPE) nilai terkecil adalah 0, nilai
terbesar adalah 1. Tipe industri dengan nilai 1 menunjukkan bahwa
perusahaan tersebut merupakan perusahaan high-profile, sedangkan nilai 0
menunjukkan bahwa perusahaan persebut merupakan low-profile. Total
sampel dengan kategori high-profile sebesar 64,286% dari keseluruhan
sampel sedangkan sampel dengan kategori low-profile sebesar 35,714%
dari keseluruhan sampel.
Pada variabel ukuran perusahaan (SIZE) nilai terkecil adalah 25,269,
nilai terbesar adalah 32,665 dengan rata-rata sebesar 29,173 dan standar
deviasi 1,647. Pada variabel corporate governance (JRKA) nilai terkecil
adalah 0, nilai terbesar adalah 72, dengan rata-rata sebesar 10,05 dan
standar deviasi 9,676. Pada variabel corporate governance (JRDD) nilai
terkecil adalah 2, nilai terbesar adalah 79, dengan rata-rata 22,69 dan
standar deviasi 16,731. Pada variabel corporate governance (GC) nilai
terkecil adalah 0, nilai terbesar adalah 1. Corporate governance dengan
nilai 1 menunjukkan bahwa perusahaan telah membentuk governance
committee, sedangkan nilai 0 menunjukkan bahwa perusahaan tidak
membentuk governance committee. Total sampel yang memiliki
governance
committeesebesar
20,476%
dari
keseluruhan
sampel
sedangkan sampel yang tidak memiliki governance committee sebesar
79,524% dari keseluruhan sampel.
65
Variabel profitabilitas, likuiditas, leverage, aktivitas perusahaan,
ukuran perusahaan, jumlah rapat komite audit, dan jumlah rapat dewan
direksi yang menggunakan skala pengukuran rasio, memiliki nilai rata-rata
lebih besar dari nilai standar deviasi. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas
data dari variabel tersebut cukup baik, karena nilai rata-rata yang lebih
besar dari nilai standar deviasinya mengidentifikasikan bahwa standar
error dari variabel tersebut kecil. Sedangkan untuk variabel tipe industri
dan governance committee yang menggunakan skala pengukuran nominal,
nilai rata-rata dan standar deviasi tidak tepat digunakan sebagai alat
analisis kualitas data, karena kode angka yang digunakan dalam skala
pengukuran nominal hanya berfungsi sebagai label kategori semata tanpa
nilai intrinsik dan tidak memiliki arti apa-apa (Ghozali, 2012:4).
2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Regresi binary logistik adalah regresi yang digunakan untuk
melakukan pemodelan suatu kemungkinan kejadian dengan variabel Y
(respons) bertipe kategorial dua pilihan (Trihendradi, 2007). Dalam
penelitian ini variabel dependen (respons) Y bertipe kategorik/dua pilihan
yaitu: perusahaan-perusahaan yang melakukan publikasi sustainability
report (SR) dengan nilai=1 dan perusahaan-perusahaan yang tidak
melakukan
publikasi
sustainability
report
(SR)
dengan
nilai=0.
Keterangan ini dapat dilihat dalam tabel identifikasi data:
66
Tabel 4.4
Identifikasi Data
Original
Value
Internal Value
0
0
1
1
Sumber: output SPSS
Dalam penelitian ini jumlah data yang diproses sebanyak 210 atau
N=210. Untuk melihat kelengkapan data yang diproses dalam penelitiann
ini dan tidak adanya missing case ditunjukkan pada tabel Case Processing
Summary:
Tabel 4.5
Data yang Diproses
S
u
Unweighted Casesa
m
Selected
Cases Included in Analysis
b
Missing Cases
Total
e
Unselected Cases
r
Total
:
N
Percent
210
100.0
0
.0
210
100.0
0
.0
210
100.0
Sumber: Output SPSS
67
Karena variabel dependen bersifat dummy (melakukan publikasi SR
dan tidak melakukan publikasi SR) maka pengujian terhadap hipotesis
dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik. Tahapan dalam
pengujian dengan menggunakan uji regresi logistik dapat dijelaskan
sebagai berikut (Ghozali, 2012):
a.
Hasil Uji Kesesuaian Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Menilai
keseluruhan
model
(overall
model
fit)
dengan
menggunakan Log Likehood value (nilai –2LL), yaitu dengan cara
membandingkan antara nilai -2LL pada awal (block number = 0),
model ini hanya memasukkan konstanta dengan nilai -2LL. Pada
bagian selanjutnya yaitu Block Number = 1, model memasukkan
konstanta dan variabel independent. Kesimpulannya bila nilai -2LL
Block Number = 0 > dari pada nilai Block Number = 1, maka
menunjukkan model regresi yang baik. Nilai -2LL awal adalah sebesar
290,645. Setelah dimasukkan kesepuluh variabel independen, maka
nilai -2LL akhir mengalami penurunan menjadi 142,402.Log likehood
pada regresi logistik, mirip dengan pengertian “Sum of Square Error”
pada model regresi, hal ini mengindikasikan penurunan nilai log
likehood menunjukkan model yang semakin baik atau dengan kata
lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.
68
Tabel 4.6
Menilai Keseluruhan Model
Iteration
-2 Log
likelihood
Coefficients
Constant
ROA
NPM
CR
DER
TYPE
IT
LNTA
JRKA
JRDD
GC
Step 1 1
175.893
-16.045
4.041
0.532
-0.006
-0.001
-0.080
0.000
0.512
0.051
0.004
0.474
2
152.372
-24.396
6.806
0.955
-0.047
-0.002
-0.125
-0.001
0.773
0.115
0.004
0.468
3
144.197
-29.354
8.631
1.922
-0.104
-0.003
-0.139
-0.002
0.919
0.194
0.003
0.366
4
142.477
-31.671
9.242
3.066
-0.134
-0.004
-0.120
-0.003
0.980
0.249
0.004
0.320
5
142.408
-32.240
9.402
3.312
-0.139
-0.005
-0.112
-0.003
0.995
0.260
0.005
0.327
6
142.404
-32.265
9.405
3.320
-0.139
-0.005
-0.112
-0.003
0.996
0.261
0.005
0.328
7
142.403
-32.267
9.403
3.320
-0.139
-0.006
-0.112
-0.003
0.996
0.261
0.005
0.328
8
142.402
-32.268
9.402
3.319
-0.139
-0.006
-0.112
-0.003
0.996
0.261
0.005
0.328
9
142.402
Sumber: output SPSS
-32.268
9.401
3.319
-0.139
-0.006
-0.112
-0.003
0.996
0.261
0.005
0.328
69
b.
Hasil Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)
Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik
ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R
Square adalah sebesar 0,676 yang berarti variabilitas variabel
dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah
sebesar 67,6%, sedangkan sisanya sebesar 32,4% dijelaskan oleh
variabel-variabel lain di luar model penelitian.
Tabel 4.7
Koefisien Determinasi
Cox &
-2 Log
Snell R Nagelkerke
Step likelihood Square R Square
1
142.402a
0.506
0.676
Sumber: output SPSS
c. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer
and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Pengujian menunjukkan nilai
Chi-Square sebesar 6,492 dengan signifikansi (p) sebesar 0,592.
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa signifikasi di atas 0,05 yang
berarti keputusan yang diambil adalah menerima Ho: tidak ada
perbedaan antara klasifikasi yang diprediksi dengan klasifikasi yang
diamati. Maka model regresi ini bisa digunakan untu analisis
selanjutnya atau dengan kata lain mampu memprediksi nilai
observasinya.
70
Tabel 4.8
Menguji Kelayakan Model Regresi
Chi-square
Df
Sig.
6.492
8
Sumber: output SPSS
d.
0.592
Hasil Uji Multikoliniaritas
Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya
gejala korelasi yang kuat di antara variabel bebasnya. Pengujian ini
menggunakan matriks korelasi antarvariabel bebas untuk melihat
besarnya korelasi antarvariabel independen.
Menurut Ghozali (2012), panduan suatu model regresi bebas
multikolinieritas dapat dilihat dari koefisien korelasi antarvariabel
bebas harus lemah (di bawah 0,5). Hasil Tabel 4.7 menunjukkan nilai
koefisien
korelasi
di
bawah
0,5,
maka
tidak
ada
gejala
multikoliniaritas yang serius antarvariabel bebas.
71
Tabel 4.9
Hasil Uji Multikolinieritas
Constant
Constant
ROA
NPM
CR
DER
TYPE
IT
LNTA
JRKA
JRDD
GC
1.000
-0.155
-0.055
-0.042
0.021
0.294
0.218
-0.990
-0.330
0.106
0.121
ROA
-0.155
1.000
-0.316
-0.304
0.038
-0.021
-0.049
0.114
0.152
0.059
-0.070
NPM
-0.055
-0.316
1.000
0.044
0.020
-0.006
-0.192
0.010
0.176
0.128
-0.057
CR
-0.042
-0.304
0.044
1.000
0.044
0.016
0.072
0.032
-0.287
0.180
-0.139
DER
0.021
0.038
0.020
0.044
1.000
0.037
-0.007
-0.033
-0.021
-0.015
-0.003
TYPE
0.294
-0.021
-0.006
0.016
0.037
1.000
-0.139
-0.372
-0.022
0.300
0.091
IT
0.218
-0.049
-0.192
0.072
-0.007
-0.139
1.000
-0.170
-0.417
-0.146
-0.067
LNTA
-0.990
0.114
0.010
0.032
-0.033
-0.372
-0.170
1.000
0.256
-0.181
-0.111
JRKA
-0.330
0.152
0.176
-0.287
-0.021
-0.022
-0.417
0.256
1.000
-0.105
-0.053
JRDD
0.106
0.059
0.128
0.180
-0.015
0.300
-0.146
-0.181
-0.105
1.000
-0.273
GC
0.121
-0.070
-0.057
-0.139
-0.003
0.091
-0.067
-0.111
-0.053
-0.273
1.000
Sumber: output SPSS
72
e. Hasil Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model
regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan melakukan
publikasi sustainability report (SR).
Tabel 4.10
Matriks Klasifikasi
Predicted
SR
Observed
SR
0
Percentage
Correct
1
0
94
16
85.5
1
19
81
81.0
Overall Percentage
83.3
Sumber: output SPSS
Menurut prediksi, perusahaan yang melakukan publikasi SR
adalah 100 perusahaan, sedangkan hasil observasi menunjukkan hanya
81 perusahaan. Jadi, ketepatan klasifikasi yang diamati untuk
perusahaan yang melakukan publikasi SR sebesar 81,0% (81/100),
sedangkan prediksi untuk perusahaan yang tidak melakukan publikasi
SR adalah 110 perusahaan dan hasil observasinya hanya 94, maka
ketepatan prediksi klasifikasi yang diamati untuk perusahaan yang
tidak melakukan publikasi SR sebesar 85,5% (94/110), secara
keseluruhan ketepatan klasifikasi sebesar 83,3%.
73
f.
Hasil Uij Regresi Logistik
Model regresi logistik yang terbentuk disajikan pada tabel di
bawah ini:
Tabel 4.11
Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik
B
S.E.
Wald
Df
Sig.
Exp(B)
Keterangan
ROA
9.401
3.289
8.169
1
0.004 12105.058
NPM
3.319
2.255
2.166
1
0.141
27.644 Tidak Signifikan
CR
-0.139
0.112
1.538
1
0.215
0.870 Tidak Signifikan
DER
-0.006
0.029
0.044
1
0.835
0.994 Tidak Signifikan
TYPE
-0.112
0.517
0.047
1
0.828
0.894 Tidak Signifikan
IT
-0.003
0.001
4.816
1
0.028
0.997
Signifikan
LNTA
0.996
0.191
27.149
1
0.000
2.707
Signifikan
JRKA
0.261
0.061
18.491
1
0.000
1.298
Signifikan
JRDD
0.005
0.015
0.123
1
0.726
1.005 Tidak Signifikan
GC
0.328
0.656
0.250
1
0.617
1.389 Tidak Signifikan
-32.268
5.625
32.911
1
0.000
0.000
Constant
Signifikan
-
Sumber: output SPSS
Hasil pengujian terhadap koefisien regresi menghasilkan model
berikut ini:
LOGIT (KODE) = -32,268 + 9,401 ROA + 3,319 NPM – 0,139
CURRENT – 0,006 DER – 0,112 TYPE – 0,003
IT + 0,996 LNTA + 0,261 JRKA + 0,005 JRDD
+ 0,328 GC
74
Berdasarkan pengujian regresi logistik (logistic regression)
sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, interpretasi
hasil disajikan dalam sepuluh bagian. Adapun penjelasannya adalah
sebagai berikut:
1) Pengaruh Profitabilitas terhadap Publikasi Sustainability Report
(SR)
a. Diproksikan dengan Return of Asset (ROA)
Variabel ROA menunjukkan koefisien regresi positif sebesar
9,401 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,004, lebih kecil
dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari α =
5% maka hipotesis ke-1 berhasil didukung. Penelitian ini berhasil
membuktikan bahwa return of asset (ROA) berpengaruh terhadap
sustainability report (SR). Penelitian ini mendukung hasil
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anggraini (2006),
Suryono dan Prastiwi (2011), Sari (2012), serta Puspitaningrum
dan Prastiwi (2013).
Menurut Belkoui dan Karpik (1989)dalam Sari (2012),
hubungan kinerja keuangan dengan tanggung jawab sosial
perusaaan paling baik diekspresikan dengan profitabilitas. Hal itu
disebabkan karena pandangan bahwa tanggapan sosial yang
diminta dari manajemen sama dengan kemampuan yang diminta
untuk membuat suatu perusahaan memperoleh laba. Selain itu
tingkat
profitabilitas
dapat
menunjukkan
seberapa
baik
75
pengelolaan
manajemen
perusahaan.
Seperti
dikatakan
Puspitaningrum (2013) bahwa perusahaan yang memiliki
profitabilitas
yang
tinggi
akan
cenderung
menyebarkan
goodnews. Oleh sebab itu, tingginya ROA suatu perusahaan,
mencerminkan sumber daya keuangan yang lebih besar sehingga
mereka akan menyajikan pengungkapan lain selain yang
diwajibkan
kepada
pemangku
kepentingan,
yaitu
dengan
menyajikan sustainability report.
b. Diproksikan dengan Net Profit Margin (NPM)
Variabel NPM menunjukkan koefisien regresi positif sebesar
3,319 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,141, lebih besar
dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α =
5% maka hipotesis ke-2 tidak berhasil didukung. Penelitian ini
tidak berhasil membuktikan bahwa net rofit margin (NPM)
berpengaruh terhadap sustainability report (SR). Penelitian ini
mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Almilia dan Retrinasari (2007).
Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang
dikemukakan oleh Singhvi dan Desai (1971) bahwa profit margin
yang tinggi akan mendorong para manajer untuk memberikan
informasi yang lebih terinci, sebab mereka ingin meyakinkan
investor terhadap profitabilitas perusahaan dan kompensasi
terhadap
manajemen.
Ketidak-konsistenan
penelitian
ini
76
kemungkinan disebabkan karena data net profit margin (NPM)
memiliki standar deviasi yang lebih tinggi dibanding meannya.
Hal itu menunjukkan bahwa varians data untuk net profit margin
itu tinggi sehingga hasilnya tidak berpengaruh terhadap variabel
terikat. Tidak didukungnya hipotesis yang diuji karena tingkat
NPM yang tinggi akan memberikan kebebasan dan fleksibilitas
kepada
manajemen
untuk
mengungkapkan
atau
tidak
mengungkapkan suatu informasi. Argumen lain terkait penolakan
hipotesis ini adalah kelemahan net profit margin sebagai alat
pengukur kinerja.
2) Pengaruh Likuiditas (CR) Terhadap Publikasi Sustainability Report
(SR)
Variabel current ratio (CR) menunjukkan koefisien regresi
negatif sebesar –0,139 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar
0,215, lebih besar dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p)
lebih besar dari α = 5% maka hipotesis ke-3 tidak berhasil
didukung. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa
likuiditas berpengaruh terhadap sustainability report (SR).
Penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Almilia dan Retrinasari (2007), Suryono dan
Prastiwi (2011), serta Kamil dan Herusetya (2012).
Menurut penelitian Sutomo (2004) dalam Kamil dan
Herusetya (2012), alasan yang mendasari hasil pengujian ini
77
adalah karena kurangnya perhatian dari stakeholder yang
berkepentingan
terhadap
informasi
keuangan,
kurang
memperhatikan kualitas likuiditas entitas maka pada akhirnya
tidak banyak mempengaruhi luas pengungkapan CSR. Alasan lain
yang mungkin timbul adalah sustainability report hanya laporan
tambahan untuk memberntuk image perusahaan sehingga
likuiditas belum menjadi faktor yang dipertimbangkan.
3) Pengaruh Leverage (DER) Terhadap Publikasi Sustainability
Report (SR)
Variabel debt to equity ratio (DER) menunjukkan koefisien
regresi negatif sebesar -0,006 dengan tingkat signifikansi (p)
sebesar 0,835, lebih besar dari α = 5%. Karena tingkat
signifikansi (p) lebih besar dari α = 5% maka hipotesis ke-4 tidak
berhasil didukung. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan
bahwaleverage berpengaruh terhadap sustainability report (SR).
Penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Anggraini (2006), Almilia dan Retrinasari (2007),
Suryono dan Prastiwi (2011), serta Sari (2012).
Kokobu et.al,. (2001) dalam Sari (2012:137) menyatakan
dalam penelitiannya di Jepang, perusahaan Jepang secara
tradisional mempunyai hubungan yang baik dengan bank,
walaupun mempunyai suatu derajat ketergantungan yang tinggi
pada utang. Hubungan yang baik antara perusahaan yang
78
memiliki utang dengan debtholders diperkirakan menjadi
penyebab tidak adanya pengaruh leverage terhadap CSR
disclosure.
Hal ini bisa juga disebabkan karena perusahaan memiliki
kepedulian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap ekonomi,
lingkungan, dan sosial sehingga tigkat leverage menjadi tidak
mempengaruhi
dibuatnya
sustainability
report
meskipun
hutangnya besar (Sari, 2012:137).
4) Pengaruh Tipe Indutri (TYPE) Terhadap Publikasi Sustainability
Report (SR)
Variabel TYPE menunjukkan koefisien regresi negatif
sebesar -0,112 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,828, lebih
besar dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari
α = 5% maka hipotesis ke-5 tidak berhasil didukung. Penelitian
ini tidak berhasil membuktikan bahwa tipe industri berpengaruh
terhadap sustainability report (SR). Penelitian ini mendukung
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lestari dan
Chariri (2007).
Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007
Pasal 74 Ayat 1, yang mengatur tentang kesadaran akan perlunya
menjaga lingkungan, menyatakan bahwa “perseroan yang
menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab
79
sosial dan lingkungan”. Hal ini mengindikasikan bahwa baik
perusahaan tersebut high-profile maupun low-profile,
mereka
akan tetap membuat sustainability report yang didasarkan atas
peraturan di atas dan juga kesadaran manajemen, walaupun baru
sebagian perusahaan saja yang menerapkan. Selain itu, setiap
perusahaan pasti ingin memberi image yang baik di kalangan
masyarakat, salah satunya dengan mempublikasikan SR (Lestari
dan Chariri, 2007:17).
5) Pengaruh Analisis Aktivitas Perusahaan (IT) Terhadap Publikasi
Sustainability Report (SR)
Variabel inventory turnover (IT) menunjukkan koefisien
regresi negatif sebesar -0,003 dengan tingkat signifikansi (p)
sebesar 0,028, lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi
(p) lebih kecil dari α = 5% maka hipotesis ke-6 berhasil didukung.
Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa aktivitas perusahaan
berpengaruh terhadap sustainability report (SR).
Penelitian ini bertentangan dengan Suryono dan Prastiwi
(2011:24) yang menyatakan bahwa aktivitas perusahaan tidak
berpengaruh terhadap sustainaility report. Tingginya rasio IT
mencerminkan bahwa perusahaan mampu mengelola asetnya
dengan baik sehingga memiliki kondisi keuangan yang stabil. Hal
ini akan mendorong manajemen untuk membuat sustainability
80
report. Tujuannya adalah meyakinkan investor dan stakeholder
lainnya demi kelangsungan hidup perusahaan.
6) Pengaruh Ukuran Perusahaan (LNTA) Terhadap Publikasi
Sustainability Report (SR)
Variabel LNTA menunjukkan koefisien regresi positif
sebesar 0,996 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,000, lebih
kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari
α = 5% maka hipotesis ke-7 berhasil didukung. Penelitian ini
berhasil membuktikan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
terhadap sustainability report (SR). Penelitian ini mendukung
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan olehAlmilia dan
Retrinasari (2007), Dilling (2009), Suryono dan Prastiwi (2011),
serta Sari (2012).
Berdasarkan teori oleh Meek, Roberts dan Gray (1995, dalam
Almilia dan Retrinasari, 2007:13) bahwa perusahaan besar
mempunyai kemampuan untuk merekrut karyawan yang ahli,
serta adanya tuntutan dari pemegang saham dan analis, sehingga
perusahaan
besar
memiliki
insentif
untuk
melakukan
pengungkapan yang lebih luas dari perusahaan kecil. Sebaliknya,
bagi perusahaan kecil, tidak terlalu penting untuk membuat
sustainability report karena butuh biaya yang lebih besar.
Shingvi dan Desai (1971, dalam Almilia dan Retrinasari,
2007:13) pun menuturkan bahwa perusahaan kecil umumnya
81
berada pada situasi persaingan yang ketat dengan perusahaan
yang lain. Mengungkapkan terlalu banyak tentang jati dirinya
kepada pihak eksternal dapat membahayakan posisinya dalam
persaingan sehingga perusahaan kecil cenderung tidak melakukan
pengungkapan selengkap perusahaan besar.
7) Pengaruh Komite Audit (JRKA) Terhadap Publikasi Sustainability
Report (SR)
Variabel JRKA menunjukkan koefisien regresi positif sebesar
0,261 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,000, lebih kecil
dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari α =
5% maka hipotesis ke-8 berhasil didukung. Penelitian ini berhasil
membuktikan bahwa jumlah rapat komite audit berpengaruh
terhadap sustainability report (SR). Penelitian ini mendukung
hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suryono dan
Prastiwi (2011).
Menurut Collier (1993) dalam Suryono dan Prastiwi
(2011:24)
keberadaan
komite
audit
membantu
menjamin
pengungkapan dan sistem pengendalian agar dapat berjalan
dengan baik. Semakin berkualitas komite audit, mereka akan
memahami makna pengungkapan informasi. Oleh karena itu,
melalui jumlah pertemuan, komite audit semakin mampu
mendorong manajemen untuk mengungkapkan sustainability
report sebagai media komunikasi dengan stakeholder.
82
8) Pengaruh
Dewan
Direksi
(JRDD)
Terhadap
Publikasi
Sustainability Report (SR)
Variabel JRDD menunjukkan koefisien regresi positif sebesar
0,005 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,726, lebih besar
dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α =
5% maka hipotesis ke-9 tidak berhasil didukung. Penelitian ini
tidak berhasil membuktikan bahwa jumlah rapat dewan direksi
berpengaruh terhadap sustainability report (SR). Penelitian ini
mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh
Dilling (2009) serta Suryono dan Prastiwi (2011).
Direksi bertanggung jawab secara penuh dalam mengelola
perusahaan. Semakin tinggi frekuensi rapat antara anggota, maka
semakin sering komunikasi sehingga memudahkan terwujudnya
good corporate governance (GCG) dan terbukanya informasi.
Hidayah (2008:62) mengemukakan tidak didukungnya hipotesis
ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya kesadaran emiten
dalam menerapkan GCG. Mereka menerapkan bukan karena
kebutuhan, tetapi hanya sekedar mematuhi peraturan. Dengan
demikian, frekuensi rapat antara anggota dewan direksi tidak
mencerminkan adanya komunikasi yang baik dalam hal
keterbukaan informasi mengenai sustainability report.
83
9) Pengaruh Governance Committee (GC) Terhadap Publikasi
Sustainability Report (SR)
Variabel GC menunjukkan koefisien regresi positif sebesar
0,328 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,617, lebih besar
dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α =
5% maka hipotesis ke-10 tidak berhasil didukung. Penelitian ini
tidak berhasil membuktikan bahwa pembentukan governance
committee berpengaruh terhadap sustainability report (SR).
Penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Suryono dan Prastiwi (2011).
Pembentukan GC yang dilakukan sejumlah perusahaan
diharapkan
dapat
pengungkapan
mewujudkan
sosial
prinsip
memberi
dan
inisiatif
lingkungan
transparancy
untuk
yang
dari
melakukan
lebih,
GCG.
untuk
Namun,
berdasarkan uji hipotesis hal ini belum bisa dibuktikan
dikarenakan mungkin masih minimnya jumlah perusahaan yang
membentuk GC di Indonesia (Suryono dan Prastiwi, 2011:25).
Dikatakan minim karena hanya 10 perusahaan yang membentuk
GC dari 42 perusahaan yang dijadikan sampel pada penelitian ini.
Ringkasan hasil penelitian disajikan dalam tabel di bawah ini:
84
Tabel 4.12
Ringkasan Hasil Penelitian
Variabel Dependen
Variabel Independen
Sustainability Report
ROA
(+) 
NPM
(+) 
CR
(-) 
DER
(-) 
TYPE
(-) 
IT
(-) 
LNTA
(+) 
JRKA
(+) 
JRDD
(+) 
GC
(+) 
Keterangan:
 : variabel independen berpengaruh terhadap variabel
dependen atau hipotesis diterima.
 : variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen atau hipotesis ditolak.
85
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penelitian ini meneliti tentang pengaruh karakteristik perusahaan yang
meliputi profitabilitas, likuiditas, leverage, tipe industri, aktivitas perusahaan,
serta ukuran perusahaan; dan corporate governance yang meliputi komite
audit, dewan direksi, dan governance committee terhadap publikasi
sustainability report (SR). Hasil pengujian dan pembahasan pada bagian
sebelumnya dapat diringkas sebagai berikut:
1. Hasilnya menunjukkan bahwa profitabilitas yang diproksikan dengan
ROA berpengaruh terhadap publikasi sustainability report (SR),
sedangkan yang diproksikan dengan NPM tidak berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report (SR). Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Anggraini (2006), Almilia dan Retrinasari (2007), Suryono
dan Prastiwi (2011), Sari (2012), serta Puspitaningrum dan Prastiwi
(2013). Tingkat profitabiilitas menunjukkan seberapa baik pengelolaan
manajemen perusahaan. ROA yang tinggi mencerminkan sumber daya
keuangan yang lebih besar sehingga berpengaruh pada perusahaan untuk
menyajikan pengungkapan lainnya seperti SR. Sementara, NPM yang
tinggi memberikan kebebasan dan fleksibilitas kepada manajemen untuk
mengungkapkan atau tidak mengungkapkan suatu informasi sehingga
tidak berpengaruh pada perusahaan untuk membuat SR.
86
2. Hasilnya menunjukkan bahwa likuiditas yang diproksikan dengan current
ratio tidak berpengaruh terhadap publikasi sustainability report. Hasil
penelitian ini mendukung hasil penelitian Almilia dan Retrinasari (2007),
Suryono dan Prastiwi (2011), serta Kamil dan Herusetya (2012). Alasan
yang mendasarinya menurut Sutomo (2004) dalam Kamil dan Herusetya
(2012) adalah karena kurangnya perhatian dari stakeholder yang
berkepentingan terhadap informasi keuangan, kurang memperhatikan
kualitas likuiditas entitas sehingga tidak banyak mempengaruhi luas
pengungkapan CSR.
3. Hasilnya menunjukkan bahwa leverage yang diproksikan dengan debt to
equity ratio tidak berpengaruh terhadap publikasi sustainability report.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian Anggraini (2006),
Almilia dan Retrinasari (2007), Suryono dan Prastiwi (2011), serta Sari
(2012). Hal ini disebabkan oleh adanya hubungan yang baik antara
perusahaan dan debtholders. Selain itu, kepedulian dan tanggung jawab
perusahaan yang tinggi terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan.
4. Hasilnya menunjukkan bahwa tipe industri tidak berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Lestari dan Chairiri (2007). Alasan yang mendasarinya adalah
adanya UU PT yang mengatur kewajiban bagi seluruh perusahaan untuk
melaksanakan tanggung sosial dan lingkungan.
5. Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas perusahaan berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini berbeda dengan yang
87
dilakukan oleh Suryono dan Prastiwi (2011). Rasio aktivitas yang tinggi
mencerminkan perusahaan mengelola aset dengan baik sehingga kondisi
keuangannya stabil. Hal inilah yang mendorong manajemen
untuk
membuat SR.
6. Hasilnya menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Almilia dan Retrinasari (2007), Dilling (2009), Suryono dan
Prastiwi (2011), serta Sari (2012). Hal ini dikarenakan perusahaan besar
memiliki insentif untuk melakukan pengungkapan lebih luas, sedangkan
perusahaan kecil umumnya tidak membuat SR terkait posisinya yang
berbahaya dalam persaingan jika mengungkapkan terlalu banyak
informasi.
7. Hasilnya menunjukkan bahwa komite audit berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Suryono dan Prastiwi (2011). Banyaknya jumlah rapat komite
audit mencerminkan bahwa manajemen telah mampu memahami
pentingnya pengungkapan informasi seperti SR.
8. Hasilnya menunjukkan bahwa dewan direksi tidak berpengaruh terhadap
publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini mendukung hasil
penelitian Suryono dan Prastiwi (2011). Hal ini ditegaskan oleh Hidayah
(2008) yang menyatakan terdapat rendahnya kesadaran emiten dalam
menerapkan GCG sehingga frekuensi rapat tidak mencerminkan
komunikasi yang baik dalam keterbukaan informasi seperti SR.
88
9. Hasilnya menunjukkan bahwa governance committee tidak berpengaruh
terhadap publikasi sustainability report. Hasil penelitian ini mendukung
hasil penelitian Suryono dan Prastiwi (2011). Masih minimnya jumlah
perusahaan yang membentuk governance committee menjadi penyebab
utama sehingga kurang ada komite yang dapat memberi inisiatif untuk
membuat SR.
Dapat disimpulkan, dalam penelitian ini dari tujuh proksi karakteristik
perusahaan yang digunakan, hanya tiga yang hasilnya berpengaruh. Selain
itu, dari tiga variabel corporate governance, hanya satu saja yang hasilnya
berpengaruh, yaitu komite audit. Atau dengan kata lain, secara simultan
karakteristik perusahaan dan corporate governance tidak berpengaruh
terhadap publikasi sustainability report. Hal ini disebabkan karena adanya
regulasi seperti UU No.40 tentang Perseroan Terbatas (PT) menciptakan
iklim penerapan sustainability report bagi seluruh perusahaan publik secara
mandatory, tidak lagi bersifat voluntary (Kamil dan Herusetya, 2012:12).
B. Implikasi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada
pengembangan ilmu pemeriksaan akuntansi yang khususnya membahas
mengenai publikasi sustainability report. Serta diharapkan dapat memberikan
informasi
tambahan
mengenai
faktor-faktor
apa
saja
yang
dapat
mempengaruhi perusahaan dalam pembuatan sustainability report, dalam hal
89
ini faktor yang mempengaruhinya adalah ROA, aktivitas perusahaan, ukuran
perusahaan, dan komite audit.
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan di atas, maka penulis
mengemukakan beberapa implikasi yang mungkin bermanfaat bagi pihakpihak yang berkepentingan di bawah ini sebagai berikut:
a. Bagi perusahaan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu perusahaan dalam
mempertimbangkan pembuatan sustainability report, karena saat ini
sustainability report sudah menjadi kebutuhan yang akan berpengaruh
terhadap kelangsungan hidup perusahaan dan masyarakat di masa yang
akan datang.
b. Bagi investor
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para
investor untuk mempertimbangkan keputusan pengambilan investasi
sehingga tidak lagi hanya menjadikan laba sebagai satu-satunya indikator
untuk menilai prospek usaha, melainkan juga kepedulian perusahaan
pada masyarakat dan alam.
c. Bagi pemerintah selaku regulator
Penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan kepada regulator atas
efektivitas penerapan UU PT No.40 Tahun 2007 oleh perusahaanperusahaan publik di Indonesia.
90
C. Saran
Penelitian mengenai publikasi sustainability report di masa yang akan
datang diharapkan mampu memberikan hasil penelitian yang lebih berkualitas
dengan mempertimbangkan saran di bawah ini:
1. Penelitian selanjutnya mungkin dapat memperluas sampel dengan
mempertimbangkan seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI sebagai
populasi penelitian dan menambah tahun pengamatan. Atau dapat pula
memfokuskan penelitiannya hanya pada perusahaan yang termasuk
industri pertambangan terkait UU No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas (PT).
2. Penelitian selanjutnya sebaiknya menggunakan pengukuran yang berbeda
sebagai proksi dari variabel untuk menghasilkan penelitian yang lebih
baik. Misal, variabel profitabilitas diproksikan dengan ROE, serta
variabel corporate governance dapat diproksikan dengan kepemilikan
manajerial dan dewan komisaris.
91
DAFTAR PUSTAKA
Adit, “Membangun Tata Kelola Perusahaan Menurut Prinsip-prinsip GCG”,
Diambil
dari
http://businessenvironment.wordpress.com/2007/04/30/membanguntatakelol
a-perusahaan-menurut-prinsip-prinsip-gcg/ diakses pada 21 Desember 2012.
Admin KeuLSM, “Ekonomi & Lingkungan: Tentang Sustainability Reporting”,
Diambil dari http://keuanganlsm.com/article/umum/tentang-sustainabilityreporting/ 6 Mei 2013, Diakses pada 16 Mei 2013.
Almilia, Luciana dan Retrinasari, Ikka, “Analisis Pengaruh Karakteristik
Perusahaan terhadap Kelengkapan Pengungkapan dalam Laporan Tahunan
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEJ”, Proceeding Seminar
Nasional FE Universitas Trisakti Jakarta.9 Juni 2007.
Almilia, Luciana Spica, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengungkapan
Sukarela: Internet Financial and Sustainability Reporting”, JAAI Volume
12 No.2, Desember 2008: 117-131.
Ambarini, Nur Sulistyo B, “Audit Lingkungan sebagai Perwujudan Tanggung
Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) di Era
Globalisasi Ekonomi”, MMH, Jilid 39 No.3 Juli 2010.
Anggraini, Retno, “Pengungkapan Informasi Sosial dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi Pengungkapan Informasi Sosial dalam Laporan Keungan
Tahunan”, Simposium Nasional Akuntansi 9 Padang.23-26 Agustus 2006.
Anonim, “Peranan dewan komisaris dan
komite audit dalam rangka
implementasi GCG”. http://www.reindo.co.id/reinfokus/edisi24/peranan.htm
diakses pada 20 Desember 2012.
92
Bary, Xavier, “Mengapa Bisnis Perlu Menerapkan Sustainability”, Diambil dari
www.pa-international.org/pa.../Article%20Sustainability%20(BHS).doc , Diakses
pada 16 Mei 2013.
Brigham dan Houston, “Fundamentals of Financial Management, Dasar-dasar
Manajemen Keuangan”, Buku 1 Edisi 10, Salemba Empat, Jakarta, 2009.
Budiman, Ferry dan Supatmi, “Pengaruh Pengumuman Indonesia Sustainability
Report Awards (ISRA) Terhadap Abnormal Return dan Volume
Perdagangan Saham”, 2009.
Chariri, A dan Nugroho, Firman Aji, “Retorika dalam Pelaporan CSR: Analisis
Semiotik Atas Sustainability Reporting PT. Aneka Tambang Tbk”.
CSR Indonesia, “Ruang Perbaikan bagi Pelaporan Keberlanjutan”, Bogor, 22
Desember 2010.
Dilling, “Sustainability Reporting In A Global Context: What Are The
Characteristics Of Corporatons That Provide High Quality Sustainability
Reports- An Empirical Analysis”, dalam International Business &
Economics Research Journal. Vol.9, No.1., New York Institute of
Technology, Canada, 2009.
Effendi, Muh.Arief, “The Power of Good Corporate Governance: Teori dan
Implementasi”, Salemba 4, Jakarta. 2009.
Fitriani. “Signifikasi Perbedaan Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Wajib dan
Sukarela Pada Laporan Keuangan Perusahaan Publik Yang Terdaftar Di
Bursa Efek Jakarta.” Makalah dipresentasikan dalam Simposium Nasional
Akuntansi IV. 2001.
93
Ghozali Imam, “Aplikasi Analisis Multivariate dengan program IBM SPSS 20”,
Cetakan VI, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2012.
Global Report Initiative, “Sustainability Reporting Guideliness, Version 3.0”,
Netherland, 2006.
Gunawan, Hendra, “Dari 438 Emiten, Hanya 25 Perusahaan yang Membuat
Laporan Keberlanjutan”, Diambil dari http://investasi.kontan.co.id/news 21
Desember 2011. Diakses pada 15 Oktober 2012.
Hackston, David and Markus J. Milne. ”Some Determinants of Social and
Environmental Disclosure in New Zealand Companies”.Accounting,
Auditing and Accountability Journal.Vol. 9, No. 1, p. 77-108. 1996.
Hamid, Abdul, “Buku Panduan Penulisan Skripsi”, Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Syarif Hidayatullah, Jakarta. 2012.
Hidayah, Erna, “Pengaruh Kualitas Pengungkapan Informasi terhadap Hubungan
Antara Penerapan Corporate Governance dengan Kinerja Perusahaan di
BEJ”, dalam Jurnal Akuntansi Vol.12, No.1, Juni 2008: 53-64.
Jensen, M.C. and Meckling, ”Theory of the Firm: Managerial Behavior, Agency
Costs, dan Ownership Structure”, Journal of Financial Economics. Vol 3,
p. 305-360. 1976.
Kamil, Ahmad dan Herusetya, Antonius, “Pengaruh Karakteristik Perusahaan
terhadap Luas Pengungkapan Kegiatan CSR”, Media Riset Akuntansi,
Vol.2, No.1. Februari 2012.
Kodrat, David Sukardi dan Herdinata, Christian, “Manajemen Keuangan Based
on Empirical Research”, Graha Ilmu, 2009.
94
Komite Nasional Kebijakan Governance, “Pedoman Umum Good Corporate
Governance Indonesia”, 2006.
Lestari, H. S., dan Chariri, A, ”Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Pelaporan Keuangan Melalui Internet (Internet Financial Reporting) dalam
Website Perusahaan”, 2007.
Maharani, Satia Nur, “Corporate Sustainability Report sebagai Indikator
Pengambilan Keputusan Investasi”, Jurnal Keuangan dan Perbankan.Vol.15,
No.2, Mei 2011, hlm 191-200.
Marwati. “Hubungan Antara Karakteristik Perusahaan dan Kualitas Ungkapan
Sukarela dalam Laporan Tahunan Perusahaan Publik di Indonesia”.
Makalah dipresentasikan dalam Simposium Nasional Akuntansi IV, 2001.
Nachrowi Nachrowi Djalal, Hardius Usman, “Pendekatan Populer dan
PraktisEkonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan”, Lembaga
Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Prasetyono, “Analisis Ukuran Perusahaan, Penerapan Etika Bisnis dan Praktik
Corporate Governance Terhadap Penerapan Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan”, Prosiding Seminar Nasional dan Penelitian PKM: Sosial,
Ekonomi, dan Humaniora, 2011.
Purwanto, Agus, “Pengaruh Tipe Industri, Ukuran Perusahaan, Profitabilitas,
Terhadap Corporate Social Responsibility”, Jurnal Akuntansi dan Auditing
Volume 8 No.1, November 2011:1-94.
Puspitaningrum, Ayu dan Prastiwi, Arum, “Pengaruh Karakteristik Perusahaan
Terhadap Internet Financial and Sustainability Reporting(IFSR)”, Jurnal
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya. 2013.
95
Said, Roshima., Yuserrie Hj Zainuddin, dan Hasnah Haron. “The Relationship
between Corporate Governance Characteristics in Malaysian Public Listed
Companies”.Social Responsibility Journal.Vol.5, No.2, hal.212-226. 2009.
Sekaran, Uma, “Research Methods for Bussiness: Metodologi Penelitian untuk
Bisnis”, Edisi 4, Salemba Empat, Jakarta, 2009.
Sembiring, E.R, “Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab
Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek
Jakarta”, Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo. 2005.
Setiaji, Stefanus Arif, “Curhat Sang Menteri: Dari Lingkungan Rusak Hingga
CSR yang Disembunyikan”, Diambil dari http://www.bisnis.com/articles
Jumat, 23 Desember 2011, Diakses pada 15 Oktober 2012.
Singhvi, S dan Desai, H. “An Empirical Analysis of The Quality of Corporate
Financial Disclosure”. Accounting Review, Vol.46, No.1 pp. 129-138.
1971.
Sudana, I Made dan Ayu, Putu, “Corporate Governance dan Pengungkapan
Corporate Social Responsibility Pada Perusahaan Go Public di Bursa Efek
Indonesia”, Jurnal Manajemen Teori dan Terapan.Tahun 4, No. 1. April
2011.
Suryono, Hari dan Prastiwi, Andri, “Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan
Corporate Governance terhadap Praktik Pengungkapan Sustainability
Report”, Simposium Nasional Akuntansi XIV Aceh 2011.
Trihendradi, Cornelius. “Kupas Tuntas Analisis Regresi”. Yogyakarta: ANDI.
2007.
96
Wahyuningtyas dan Nughrahanti, “Pengaruh Mekanisme Corporate Governance
terhadap Pengungkapan CSR”, 2012.
Waizly,“Perlukah Membuat Laporan Kegiatan CSR?”, Diambil dari http://themarketeers.com/archives/perlukah-membuat-laporan-kegiatan-csr.html 24
September 2010.Diakses pada 13 Oktober 2012.
Widianto, Hari Suryono, “Pengaruh Profitabilitas, Likuiditas, Leverage,
Aktivitas, Ukuran Perusahaan dan Corporate Governance Terhadap Praktik
Pengungkapan Sustainability Report”, 2011.
Yuliana, Purnomosidini, dan Sukoharsono, “Pengaruh Karakteristik Perusahaan
terhadap Pengungkapan CSR dan Dampaknya Terhadap Reaksi Investor”,
Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia.Vol.5, No.2.Desember 2008.
97
DAFTAR PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SUSTAINABILTY REPORT (SR)
AALI
ADHI
ADRO
ANTM
ASGR
ASII
AUTO
BTEL
BWPT
ELSA
HMSP
INCO
INDF
INKP
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
2007


















2008


















Tahun
2009


















2010


















2011


















PTRO
SGRO
SMAR















No.
Nama Perusahaan
Kode
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10..
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Astra Agro Lestari Tbk
Adhi Karya (Persero) Tbk
Adaro Energy Tbk
Aneka Tambang (Persero) Tbk
Astra-Graphia Tbk
Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Bakrie Telecom Tbk
BW Plantation Tbk
Elnusa Tbk
HM Sampoerna Tbk
Vale Indoensia Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
Indah Kiat Pulp & Paper Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
INDOSAT Tbk
Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero)
Tbk
Petrosea Tbk
Sampoerna Agro Tbk
SMART Tbk
19.
20.
21.
98
No.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
Nama Perusahaan
Holcim Indonesia Tbk
Semen Gresik (Persero) Tbk
Timah (Persero) Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk
Bakrie Sumatra Plantation Tbk
United Tractor Tbk
Unilever Indonesia Tbk
Wijaya Karya (Persero) Tbk
Kode
SMCB
SMGR
TINS
TKIM
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
WIKA
Sumber: data diolah
Keterangan:
 = menampilkan data secara lengkap
 = tidak menampilkan data secara lengkap
99
2007









2008









Tahun
2009









2010









2011









DAFTAR PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SUSTAINABILITY REPORT (SR)
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
Nama Perusahaan
Asahimas Flat Glass Tbk
Centrin Online Tbk
Catur Sentosa Adiprana Tbk
Energi Mega Persada Tbk
Enseval Putera Megatrading Tbk
XL Axiata Tbk
Smartfren Telecom Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Hero Supermarket Tbk
Kalbe Farma Tbk
Lautan Luas Tbk
Mitra Adiperkasa Tbk
Multibreeder Adirama Indonesia Tbk
Matahari Putra Prima Tbk
Radiant Utama Interinsco Tbk
Millenium Pharmacon International Tbk
Salim Invomas Pratama
Selamat Sempurna Tbk
Sorini Agro Asia Corporindo Tbk
Mandom Indonesia Tbk
Tira Austenite Tbk
Panorama Transportasi Tbk
Kode
AMFG
CENT
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
WEHA
100
2007






















2008






















Tahun
2009






















2010






















2011






















DAFTAR NAMA SAMPEL PENELITIAN
No.
Nama Perusahaan
Kode
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
Adhi Karya (Persero) Tbk
Asahimas Flat Glass Tbk
Aneka Tambang (Persero) Tbk
Astra-Graphia Tbk
Astra International Tbk
Centrin Online Tbk
Catur Sentosa Adiprana Tbk
Elnusa Tbk
Energi Mega Persada Tbk
Enseval Putra Megatrading Tbk
XL Axiata Tbk
Smartfren Telecom Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Hero Supermarket Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
INDOSAT Tbk
Kalbe Farma Tbk
Lautan Luas Tbk
Mitra Adiperkasa Tbk
Multibreeder Adirama Indonesia Tbk
Matahari Putra Prima Tbk
Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk
Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero)
Tbk
Radiant Utama Interinsco Tbk
Millenium Pharmacon International Tbk
Sampoerna Agro Tbk
Salim Ivomas Pratama
SMART Tbk
Holcim Indonesia Tbk
Semen Gresik (Persero) Tbk
Selamat Sempurna Tbk
Sorini Agro Asia Corporindo Tbk
Mandom Indonesia Tbk
Tira Austenite Tbk
Telekomunikasi Indonesia (Persero)
ADHI
AMFG
ANTM
ASGR
ASII
CENT
CSAP
ELSA
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
HMSP
INDF
INTP
ISAT
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
PGAS
PTBA
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
101
RUIS
SDPC
SGRO
SIMP
SMAR
SMCB
SMGR
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
TLKM
38.
39.
40.
41.
42.
Bakrie Sumatra Plantations Tbk
United Tractor Tbk
Unilever Indonesia Tbk
Panorama Transportasi Tbk
Wijaya Karya (Persero) Tbk
102
UNSP
UNTR
UNVR
WEHA
WIKA
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
NO.
KODE
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
ADHI
ANTM
ASGR
ASII
ELSA
HMSP
INDF
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
SGRO
SMAR
SMCB
SMGR
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
PROF
ROA
0.026
0.426
0.115
0.103
0.046
0.231
0.033
0.098
0.045
0.007
0.194
0.103
0.123
0.023
0.208
0.157
0.048
0.115
0.368
NPM
0.022
0.427
0.099
0.093
0.048
0.122
0.035
0.134
0.124
0.179
0.184
0.135
0.122
0.045
0.185
0.216
0.106
0.082
0.157
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.209
4.474
1.336
0.913
1.083
1.780
0.921
2.960
0.926
1.173
4.432
2.516
1.720
1.330
3.644
0.773
3.173
1.339
1.110
13.283
0.374
0.988
1.169
1.259
0.280
2.621
0.443
1.720
2.090
0.399
0.405
1.285
2.193
0.271
1.156
0.807
1.259
0.980
27
24
7
10
12
8
7
6
9
30
17
0
11
7
36
72
9
5
6
51
22
41
48
27
15
5
2
34
22
19
6
5
21
23
49
24
43
24
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
103
18.824
9.104
5.877
15.318
43.736
3.336
6.682
7.351
102.050
422.348
15.190
7.434
5.534
14.260
9.162
52.030
13.244
8.564
14.630
29.097
30.119
27.160
31.782
28.401
30.383
31.016
29.935
31.444
30.644
28.999
28.367
29.718
29.606
29.773
32.038
29.092
30.196
29.305
GC
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2007
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
NO.
KODE
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
WIKA
ADHI
ANTM
ASGR
ASII
ELSA
HMSP
INDF
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
SGRO
SMAR
SMCB
SMGR
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
PROF
ROA
0.031
0.016
0.134
0.074
0.114
0.040
0.241
0.026
0.155
0.036
0.025
0.280
0.204
0.104
0.037
0.238
0.117
0.037
0.116
0.370
NPM
0.030
0.012
0.143
0.061
0.095
0.053
0.112
0.027
0.178
0.132
0.050
0.237
0.192
0.065
0.059
0.207
0.175
0.059
0.095
0.155
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.652
1.174
8.016
1.136
1.322
1.394
1.444
0.898
1.786
0.905
2.176
3.657
2.270
1.722
1.683
3.386
0.542
1.488
1.636
1.004
2.151
7.745
0.264
1.527
1.214
1.045
1.004
3.110
0.325
1.953
2.471
0.508
0.372
1.088
2.024
0.301
1.337
0.902
1.046
1.096
11
14
22
10
7
51
7
6
5
9
23
16
9
12
5
18
26
7
12
4
11
60
34
44
52
32
12
5
3
41
23
17
3
5
12
41
51
15
43
22
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
104
9.225
11.444
6.894
5.550
11.201
34.097
4.529
6.401
6.454
58.593
881.010
17.179
19.019
12.006
12.424
7.725
19.006
20.711
5.319
12.126
29.050
29.265
29.958
27.458
32.022
28.830
30.412
31.310
30.055
31.576
30.872
29.440
28.399
29.936
29.669
29.992
32.145
29.179
30.760
29.504
GC
0
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
1
0
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2008
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
NO.
KODE
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
WIKA
ADHI
ANTM
ASGR
ASII
ELSA
HMSP
INDF
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
SGRO
SMAR
SMCB
SMGR
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
PROF
ROA
0.027
0.029
0.061
0.086
0.113
0.111
0.287
0.051
0.207
0.027
0.217
0.338
0.125
0.073
0.123
0.257
0.116
0.049
0.156
0.407
NPM
0.024
0.021
0.069
0.050
0.102
0.127
0.131
0.056
0.260
0.081
0.346
0.305
0.155
0.053
0.151
0.231
0.175
0.109
0.131
0.167
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.444
1.196
7.273
1.447
1.369
1.534
1.881
1.161
3.006
0.546
2.484
4.912
2.612
1.579
1.270
3.576
0.606
1.010
1.656
1.042
3.108
6.686
0.215
1.034
1.003
1.197
0.693
2.451
2.211
2.047
1.355
0.402
0.269
1.097
1.191
0.258
1.222
0.899
0.755
1.020
11
18
25
11
7
29
8
8
5
7
34
26
5
10
5
20
25
3
14
3
27
50
47
45
38
45
12
7
3
57
20
21
7
5
12
32
47
10
37
23
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
105
4.858
15.121
7.442
8.980
13.530
43.703
4.086
7.258
8.332
124.075
1276.464
21.829
13.364
6.639
15.554
10.222
19.862
21.375
7.372
13.617
29.384
29.359
29.928
27.376
32.119
29.069
30.506
31.329
30.217
31.639
30.987
29.720
28.447
29.954
29.614
30.192
32.211
29.255
30.826
29.644
GC
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
1
0
0
1
0
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2009
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
NO.
KODE
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
WIKA
ADHI
ANTM
ASGR
ASII
ELSA
HMSP
INDF
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
SGRO
SMAR
SMCB
SMGR
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
PROF
ROA
0.033
0.038
0.137
0.121
0.127
0.017
0.313
0.063
0.210
0.012
0.194
0.230
0.157
0.101
0.079
0.234
0.116
0.044
0.130
0.389
NPM
0.029
0.033
0.193
0.076
0.111
0.015
0.148
0.077
0.290
0.033
0.316
0.254
0.195
0.062
0.139
0.253
0.168
0.268
0.104
0.172
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.444
1.143
3.817
1.510
1.262
1.604
1.612
2.037
5.554
0.516
3.434
5.791
1.892
1.527
1.662
2.917
0.915
0.535
1.566
0.851
2.652
4.175
0.283
1.104
1.098
0.892
1.009
1.336
0.172
1.937
1.225
0.358
0.336
1.115
0.529
0.285
0.976
1.197
0.839
1.150
15
19
20
8
9
41
8
8
4
6
20
37
5
12
5
33
30
8
4
5
79
50
42
45
40
55
12
9
3
43
34
21
9
5
12
22
46
30
33
19
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
106
6.310
91.878
7.113
10.176
11.990
36.596
4.426
6.804
8.571
151.363
1407.179
18.668
10.209
7.497
11.923
8.831
25.100
15.017
5.385
12.509
29.372
29.226
30.141
27.613
32.357
28.934
30.653
31.487
30.362
31.598
31.099
29.797
28.687
30.155
29.976
30.376
32.234
30.549
31.022
29.794
GC
1
1
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2010
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
NO.
KODE
20
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
WIKA
ADHI
ANTM
ASGR
ASII
ELSA
HMSP
INDF
INTP
ISAT
PGAS
PTBA
SGRO
SMAR
SMCB
SMGR
TLKM
UNSP
UNTR
UNVR
PROF
ROA
NPM
0.045
0.030
0.127
0.124
0.137
-0.007
0.416
0.091
0.198
0.018
0.197
0.268
0.161
0.121
0.097
0.201
0.150
0.003
0.127
0.397
0.047
0.027
0.186
0.081
0.130
-0.006
0.153
0.108
0.259
0.045
0.313
0.292
0.175
0.056
0.141
0.241
0.217
0.171
0.107
0.177
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
28
15
13
10
8
43
10
7
4
5
22
36
4
12
5
13
30
8
7
4
27
56
41
29
36
53
12
11
3
44
44
19
10
5
12
25
52
60
40
20
1.406
1.103
10.642
1.592
1.364
1.246
1.749
1.909
6.985
0.551
5.499
4.632
1.589
1.864
1.466
2.647
0.958
1.007
1.783
0.687
2.425
5.172
0.411
1.023
1.024
1.305
0.899
0.695
0.154
1.773
0.803
0.409
0.365
1.007
0.455
0.345
0.690
1.072
0.689
1.848
0
0
1
0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
107
7.059
97.650
6.130
7.797
13.558
43.504
5.930
6.935
10.460
220.726
1653.205
16.409
9.411
11.157
13.189
8.162
94.001
19.636
7.722
12.946
29.469
29.441
30.352
27.750
32.665
29.110
30.595
31.612
30.530
31.586
31.064
30.074
28.858
30.320
30.024
30.610
32.266
30.858
31.469
29.981
GC
1
0
1
0
0
0
0
0
0
0
1
1
0
0
0
1
0
1
1
0
DATA PERUSAHAAN YANG MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2011
NO.
KODE
20 WIKA
PROF
ROA
0.047
NPM
0.050
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.139
2.750
13
28
0
108
8.870
29.750
GC
1
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
NO.
KODE
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
AMFG
CENT
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
PROF
ROA
0.087
0.160
0.031
0.012
0.111
0.013
0.011
0.011
0.039
0.137
0.034
0.039
0.113
0.021
0.087
0.041
0.053
0.097
NPM
0.080
0.222
0.016
0.102
0.036
0.039
0.057
0.014
0.013
0.101
0.026
0.030
0.093
0.018
0.040
0.153
0.153
0.075
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
2.835
28.195
1.157
0.652
1.910
0.228
4.268
2.209
0.931
4.983
0.829
2.151
1.497
2.253
2.877
1.393
0.655
1.709
0.353
0.050
1.754
1.798
0.858
3.217
1.526
2.544
1.721
0.331
2.423
1,145
2.830
1.585
1.291
2.305
0.915
0.654
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
109
4.486
240.905
5.951
3.010
7.671
109.562
5.086
7.113
10.400
4.907
6.805
5.328
14.338
10.777
506.548
8.546
5.534
4.341
28.196
25.315
27.706
29.869
28.370
30.566
29.143
29.766
28.193
29.268
28.390
28.716
27.402
29.765
26.746
26.170
30.565
27.445
12
1
5
4
5
5
3
4
4
5
3
4
3
4
16
5
6
4
12
2
5
9
14
42
40
12
52
17
3
4
12
52
12
12
7
12
GC
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2007
2007
2007
2007
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
NO.
KODE
19
20
21
22
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
SOBI
TCID
TIRA
WEHA
AMFG
CENT
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
PROF
ROA
NPM
0.112
0.153
0.011
0.040
0.115
-0.173
0.046
-0.003
0.106
-0.001
-0.223
-0.072
0.045
0.124
0.042
-0.018
0.039
0.001
0.090
0.109
0.011
0.073
0.099
-0.205
0.021
-0.019
0.036
-0.002
-0.551
-0.078
0.016
0.090
0.033
-0.020
0.023
0.001
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.808
17.609
1.140
0.806
3.452
3.320
1.362
1.800
1.906
0.202
0.663
1.400
0.859
3.333
1.124
1.403
1.970
1.122
0.826
0.077
2.141
0.58
0.331
0.246
1.721
2.393
0.879
5.711
5.597
1.470
1.819
0.375
3.178
2.335
2.388
2.135
1
0
0
1
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
1
0
110
3.482
6.119
2.730
185.213
3.609
153.627
5.755
3.867
8.015
76.507
8.938
5.691
9.363
4.905
4.257
3.070
12.893
12.184
27.460
27.310
26.199
25.352
28.321
25.269
27.835
30.167
28.553
30.995
29.199
29.796
28.386
29.372
28.882
28.956
27.422
29.907
3
12
12
3
12
1
5
12
4
5
3
4
2
2
5
4
4
4
12
13
12
20
12
3
5
6
12
43
28
12
52
22
3
4
12
12
GC
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2008
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
NO.
KODE
15
16
17
18
19
20
21
22
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
WEHA
AMFG
CENT
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
KLBF
PROF
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
ROA
NPM
CR
0.049
0.031
0.051
0.098
0.128
0.126
0.001
0.035
0.034
0.113
0.001
-0.169
0.110
0.062
-0.152
0.102
0.061
0.143
0.026
0.011
0.090
0.068
0.095
0.093
0.005
0.060
0.035
0.176
0.004
-1.197
0.038
0.125
-1.963
0.114
0.026
0.102
1.945
1.324
1.153
1.818
1.672
8.098
1.157
0.414
3.344
5.631
1.268
0.472
1.935
0.334
0.425
2.532
0.714
2.987
2.069
2.870
0.901
0.625
0.950
0.116
1.944
0.927
0.290
0.167
2.068
4.869
0.862
2.110
5.002
2.324
2.054
0.392
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
0
1
1
1
0
1
111
367.270
8.045
13.004
4.727
3.132
5.387
3.017
171.938
4.488
124.098
5.399
3.643
7.882
689.231
12.242
9.205
7.954
5.820
27.151
26.455
30.669
27.558
27.736
27.538
26.155
25.609
28.310
25.354
27.957
29.959
28.725
30.941
29.191
29.815
28.671
27.198
20
4
6
4
9
13
12
12
12
2
5
14
4
7
4
4
8
4
15
12
12
12
35
12
12
24
12
4
5
8
22
40
31
12
52
24
GC
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2009
2010
2010
2010
2010
2010
2010
NO.
KODE
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
1
2
3
4
5
6
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
WEHA
AMFG
CENT
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
PROF
ROA
NPM
0.028
0.048
0.208
-0.012
0.033
0.036
0.087
0.141
0.125
0.125
0.011
0.033
0.140
0.013
0.019
-0.001
0.079
0.106
0.023
0.047
0.133
0.029
0.018
0.009
0.227
0.097
0.107
0.090
0.009
0.054
0.136
0.014
0.010
-0.050
0.026
0.166
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.121
1.449
2.332
0.692
2.174
1.486
13.369
1.587
1.535
7.263
1.249
0.512
3.940
1.236
1.168
0.613
1.927
0.488
2.784
1.624
1.163
5.379
1.670
2.002
0.822
0.798
0.876
0.129
1.512
1.141
0.287
2.758
2.513
1.003
0.810
1,326
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
0
1
0
1
112
8.408
3.590
16.951
1.696
247.296
10.547
8.351
5.392
5.977
6.763
3.663
126.229
4.950
4.841
5.142
3.506
8.575
288.921
28.756
28.849
27.573
28.052
27.057
26.314
30.794
27.571
27.864
27.626
26.030
25.770
28.495
26.515
28.165
30.096
28.811
30.936
4
4
4
4
12
4
7
4
6
12
7
2
12
2
5
14
4
6
12
4
12
12
15
12
6
12
32
14
12
12
12
4
12
52
20
40
GC
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
1
0
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2010
2011
2011
NO.
KODE
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
1
2
FREN
GJTL
HERO
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
WEHA
AMFG
CENT
PROF
ROA
NPM
-0.313
0.080
0.071
0.183
0.024
0.055
0.223
0.508
0.022
0.001
0.068
0.141
0.038
0.126
0.018
0.001
0.125
0.000
-3.723
0.084
0.029
0.126
0.022
0.043
0.163
0.679
0.012
0.002
0.102
0.096
0.034
0.090
0.015
0.001
0.130
0.000
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
0.215
1.761
0.792
4.394
1.101
1.270
2.601
1.761
1.495
1.420
1.483
2.174
1.179
10.684
1.437
0.528
4.423
7.214
-38.525
1.941
1.721
0.235
3.143
1.498
0.662
0.599
1.799
2.046
1.795
0.960
1.377
0.104
1.352
2.154
0.254
0.167
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
1
1
0
113
1.743
9.047
8.343
6.594
6.335
4.388
15.351
8.812
145.277
6.544
7.178
5.086
3.838
7.596
4.053
263.958
4.368
426.996
29.131
29.970
28.771
29.582
28.909
28.931
27.771
30.066
27.112
26.346
30.970
27.696
28.136
27.677
26.107
26.163
28.621
25.381
2
4
11
4
4
4
4
4
15
4
8
4
6
14
6
2
14
2
12
12
52
36
12
4
12
52
12
12
5
12
32
14
12
12
12
5
GC
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1
0
0
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
2011
NO.
KODE
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
CSAP
ENRG
EPMT
EXCL
FREN
GJTL
HERO
KLBF
LTLS
MAPI
MBAI
MPPA
RUIS
SDPC
SIMP
SMSM
SOBI
TCID
TIRA
PROF
ROA
NPM
0.037
0.010
0.080
0.091
-0.195
0.059
0.074
0.184
0.023
0.082
0.016
0.012
0.003
0.012
0.080
0.193
0.012
0.124
0.033
0.018
0.082
0.033
0.151
-2.515
0.058
0.031
0.140
0.016
0.061
0.015
0.014
0.003
0.004
0.179
0.121
0.013
0.085
0.025
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
1.176
0.634
1.980
0.388
0.256
1.749
0.817
3.653
1.038
1.040
1.041
1.222
1.077
1.374
1.969
2.716
1.116
11.743
1.467
2.379
1.827
0.795
1.277
2.762
1.607
1.615
0.270
3.236
1.461
1.144
0.814
3.654
2.413
0.549
0.695
0.869
0.108
1.182
0
1
0
1
1
1
0
1
0
0
1
0
1
0
1
1
1
0
0
114
5.096
5.057
7.664
280.994
5.108
7.131
371.254
6.399
5.478
4.275
9.809
7.036
138.207
8.113
7.514
5.571
3.162
5.943
3.915
28.329
30.485
29.106
31.070
30.140
30.078
28.945
29.744
29.027
29.116
28.054
29.964
27.617
26.502
31.134
27.759
28.007
27.754
26.134
5
7
2
6
2
4
7
3
4
4
4
4
12
4
8
4
6
14
4
12
52
2
36
12
12
52
41
12
4
12
52
17
12
4
12
32
15
12
GC
0
0
1
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
DATA PERUSAHAAN YANG TIDAK MEMPUBLIKASIKAN SR
TAHUN
2011
NO.
KODE
22 WEHA
PROF
ROA
0.017
NPM
0.026
LIK
LEV
TYPE
AKTV
SIZE
KA
DD
CR
DER
H/L
IT
LN TA
JML RAPAT
JML RAPAT
0.404
0.329
1
115
16.162
26.294
2
12
GC
1
Descriptive
[DataSet2]
Descriptive Statistics
N
Minimum
Maximum
Mean
Std. Deviation
ROA
210
-.3130
.5080
.091507
.1075664
NPM
210
-3.723
.679
.07264
.301544
CR
210
-1.9633
28.1950
2.024624
2.8204064
DER
210
-38.5250
1,326.0000
13.061859
120.5225092
IT
210
1.6960
1,653.2050
62.997493
199.6826745
LN TA
210
25.269
32.665
29.17308
1.647188
JR KA
210
0
72
10.05
9.676
JR DD
210
2
79
22.69
16.731
Valid N (listwise)
210
LOGISTIC REGRESSION VARIABLES SR
/METHOD=ENTER ROA NPM CR DER HL IT LNTA
JRKA JRDD GC
/CLASSPLOT
/PRINT=GOODFIT CORR ITER(1)
/CRITERIA=PIN(0.05)
POUT(0.10) ITERATE(20) CUT(0.5).
Logistic Regression
[DataSet2]
Case Processing Summary
a
Unweighted Cases
Selected
Included in
Cases
Analysis
Missing Cases
Total
Unselected Cases
Total
N
Percent
210
Dependent Variable
100.0
Encoding
Original
Internal
0
.0
210
100.0
0
.0
0
0
210
100.0
1
1
Value
Value
a. If weight is in effect, see classification table for the
total number of cases.
116
Block 0: Beginning Block
Classification Table
a,b,c
Iteration History
Iteration
Step 0
Predicted
Coefficients
-2 Log
likelihood
a,b
SR
Constant
1
290.645
-.095
2
290.645
-.095
Observed
Step SR
0
a. Constant is included in the model.
0
Percentag
1
e Correct
0
110
0
100.0
1
100
0
.0
Overall Percentage
b. Initial -2 Log Likelihood: 290.645
52.4
c. Estimation terminated at iteration number 2
a. Constant is included in the model.
because parameter estimates changed by less
b. The cut value is .500
than .001.
Variables in the Equation
B
Step 0
Constant
S.E.
-.095
Wald
.138
df
.476
Sig.
1
.490
Exp(B)
.909
Variables not in the Equation
Score
Step 0
Variables
df
Sig.
ROA
30.183
1
.000
NPM
7.688
1
.006
.180
1
.671
DER
1.791
1
.181
HL
9.545
1
.002
IT
.959
1
.328
LNTA
64.072
1
.000
JRKA
39.705
1
.000
JRDD
18.490
1
.000
GC
15.569
1
.000
Overall Statistics
99.580
10
.000
CR
117
Block 1: Method = Enter
a,b,c,d
Iteration History
Coefficients
-2 Log
Iteration
Step 1
likelihood
Constant
ROA
NPM
CR
DER
HL
IT
LNTA
JRKA
JRDD
GC
1
175.893
-16.045
4.041
.532
-.006
-.001
-.080
.000
.512
.051
.004
.474
2
152.372
-24.396
6.806
.955
-.047
-.002
-.125
-.001
.773
.115
.004
.468
3
144.197
-29.354
8.631
1.922
-.104
-.003
-.139
-.002
.919
.194
.003
.366
4
142.477
-31.671
9.242
3.066
-.134
-.004
-.120
-.003
.980
.249
.004
.320
5
142.408
-32.240
9.402
3.312
-.139
-.005
-.112
-.003
.995
.260
.005
.327
6
142.404
-32.265
9.405
3.320
-.139
-.005
-.112
-.003
.996
.261
.005
.328
7
142.403
-32.267
9.403
3.320
-.139
-.006
-.112
-.003
.996
.261
.005
.328
8
142.402
-32.268
9.402
3.319
-.139
-.006
-.112
-.003
.996
.261
.005
.328
9
142.402
-32.268
9.401
3.319
-.139
-.006
-.112
-.003
.996
.261
.005
.328
a. Method: Enter
b. Constant is included in the model.
c. Initial -2 Log Likelihood: 290.645
d. Estimation terminated at iteration number 9 because parameter estimates changed by less than .001.
118
Omnibus Tests of Model Coefficients
Model Summary
Chi-square
Step 1 Step
df
Sig.
148.243
10
.000
Block
148.243
10
.000
Model
148.243
10
.000
-2 Log
Step
Cox & Snell Nagelkerke
likelihood
1
142.402
R Square
a
.506
R Square
.676
a. Estimation terminated at iteration number 9
because parameter estimates changed by less
than .001.
Hosmer and Lemeshow Test
Step
Chi-square
1
df
6.492
Sig.
8
.592
Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test
SR = 0
Observed
Step 1
SR = 1
Expected
Observed
Expected
Total
1
21
20.909
0
.091
21
2
20
20.190
1
.810
21
3
20
18.951
1
2.049
21
4
14
17.001
7
3.999
21
5
15
14.045
6
6.955
21
6
13
9.900
8
11.100
21
7
4
5.706
17
15.294
21
8
2
2.519
19
18.481
21
9
1
.746
20
20.254
21
10
0
.033
21
20.967
21
119
Classification Table
a
Predicted
SR
Observed
Step 1
SR
Percentage
0
1
Correct
0
94
16
85.5
1
19
81
81.0
Overall Percentage
83.3
a. The cut value is .500
Variables in the Equation
B
Step 1
a
S.E.
Wald
df
Sig.
Exp(B)
ROA
9.401
3.289
8.169
1
.004
12105.058
NPM
3.319
2.255
2.166
1
.141
27.644
CR
-.139
.112
1.538
1
.215
.870
DER
-.006
.029
.044
1
.835
.994
HL
-.112
.517
.047
1
.828
.894
IT
-.003
.001
4.816
1
.028
.997
LNTA
.996
.191
27.149
1
.000
2.707
JRKA
.261
.061
18.491
1
.000
1.298
JRDD
.005
.015
.123
1
.726
1.005
GC
.328
.656
.250
1
.617
1.389
-32.268
5.625
32.911
1
.000
.000
Constant
a. Variable(s) entered on step 1: ROA, NPM, CR, DER, HL, IT, LNTA, JRKA, JRDD, GC.
120
Correlation Matrix
Constant
Step 1
ROA
NPM
CR
DER
HL
IT
LNTA
JRKA
JRDD
GC
Constant
1.000
-.155
-.055
-.042
.021
.294
.218
-.990
-.330
.106
.121
ROA
-.155
1.000
-.316
-.304
.038
-.021
-.049
.114
.152
.059
-.070
NPM
-.055
-.316
1.000
.044
.020
-.006
-.192
.010
.176
.128
-.057
CR
-.042
-.304
.044
1.000
.044
.016
.072
.032
-.287
.180
-.139
DER
.021
.038
.020
.044
1.000
.037
-.007
-.033
-.021
-.015
-.003
HL
.294
-.021
-.006
.016
.037
1.000
-.139
-.372
-.022
.300
.091
IT
.218
-.049
-.192
.072
-.007
-.139
1.000
-.170
-.417
-.146
-.067
LNTA
-.990
.114
.010
.032
-.033
-.372
-.170
1.000
.256
-.181
-.111
JRKA
-.330
.152
.176
-.287
-.021
-.022
-.417
.256
1.000
-.105
-.053
JRDD
.106
.059
.128
.180
-.015
.300
-.146
-.181
-.105
1.000
-.273
GC
.121
-.070
-.057
-.139
-.003
.091
-.067
-.111
-.053
-.273
1.000
121
Step number: 1
Observed Groups and Predicted Probabilities
32 +
+
|
|
|
|
F
|
|
R
24 +
+
E
|
1|
Q
|
1|
U
|0
1|
E
16 +0
1+
N
|0
1|
C
|0
1|
Y
|0
1|
8 +0
0
11+
|000 00
0
1
1 1
11|
|000 00 00
000
0
0
0
01 1 1
11
11 1 1 111|
|000000000 00000 000010 00 000 1 11000 0 0 0 0100100 0
000 0 01 1
01 1101 101101111 1111011|
Predicted ---------+---------+---------+---------+---------+---------+---------+---------+---------+---------Prob:
0
.1
.2
.3
.4
.5
.6
.7
.8
.9
1
Group: 0000000000000000000000000000000000000000000000000011111111111111111111111111111111111111111111111111
Predicted Probability is of Membership for 1
The Cut Value is .50
Symbols: 0 - 0
1 - 1
Each Symbol Represents 2 Cases.
122
Download