Teori Keagenan

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS
A. KAJIAN PUSTAKA
1. Landasan Teori
a. Agency Theory (Teori Keagenan)
Jensen dan Meckling (1974) dalam Istanti (2009) menyatakan
bahwa masalah agensi dapat memburuk apabila presentase saham
perusahaan yang dimiliki oleh manajer sedikit. Jensen dan Meckling
menjelaskan hubungan keagenan di dalam teori agensi bahwa
perusahaan merupakan kumpulan kontrak (nexus of contract) antara
pemilik sumber daya ekonomis (principal) dan manager (agent) yang
mengurus penggunaan dan pengendalian sumber daya tersebut.
Teori ini merupakan dasar
yang digunakan perusahaan
memahami corporate governance.
Teory keagenan membahas
hubungan antara manajemen dengan pemegang saham, di mana yang
dimaksud dengan principal adalah pemegang saham dan agent adalah
manajemen ( Belkaoui, 1993: 127).
Dalam
kepentingan
teori
agency
sendiri,
masing-masing
principal
memiliki
individu
memiliki
kepentingan
untuk
mendapatkan laba yang maksimal sedangkan agen memiliki untuk
memaksimalkan kebutuhan ekonomi. untuk menghindari konflik
antara
principal
dengan
agen
10
sebaiknya
agen
melakukan
11
pengungkapan informasi yang relevan. Selain itu, agen juga memiliki
kewajiban untuk mengelola perusahaan sesuai dengan keinginan
principal.
Kontrak antara manajer dan pemilik menimbulkan masingmasing pihak memiliki hak dan tanggung jawab dalam proses
pengelolaan perusahaan. Manajer berkewajiban untuk menjalankan
dan mengoperasikan perusahaan secara bertanggung jawab serta
melaporkannya kepada pemilik secara berkala, lengkap, dan terbuka
atas apa saja yang telah dilakukan dan bersedia menerima pengawasan
dan pengarahan dari pemilik. Manajer berhak untuk menerima
penghargaan yang telah dijanjikan pemilik atas kinerja dan prestasinya.
Sedangkan pemilik berkewajiban untuk memperhatikan dan
memberi penghargaan, bonus atau imbalan kepada manajer, serta
berhak untuk melakukan pengawasan dan pengendalian, meminta
laporan pertanggung jawaban, mengganti manajemen dengan orang
yang lebih mampu bila manajemen dinilai tidak dapat melaksanakan
tugas, dan menerima return yang layak dari modalnya sehingga
kesejahteraannya meningkat.
Jensen dan Meckling (1976) dalam Istanti (2009) menyatakan
permasalahan
yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan
antara prinsipal dan agen adalah:
12
1. Moral hazard, yaitu permasalahan muncul jika agen tidak
melaksanakan hal-hal yang disepakati bersama dalam kontrak
kerja.
2. Adverse selection, yaitu suatu keadaan di mana prinsipal tidak
dapat mengetahui apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen
benar-benar didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya,
atau terjadi sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.
Dalam upaya mengatasi atau mengurangi masalah keagenan ini
menimbulkan biaya keagenan (agency cost) yang akan ditanggung baik
oleh principal maupun agent. Jensen dan Meckling (1976) dalam
Istanti (2009) membagi biaya keagenan ini menjadi monitoring cost,
bonding cost dan residual loss. Monitoring cost adalah biaya yang
timbul dan ditanggung oleh principal untuk memonitor perilaku agent,
yaitu untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agent.
Bonding cost merupakan biaya yang ditangung oleh agent untuk
menetapkan dan mematuhi mekanisme yang menjamin bahwa agent
akan bertindak untuk kepentingan principal. Selanjutnya residual loss
merupakan pengorbanan yang berupa berkurangnya kemakmuran
principal sebagai akibat dari perbedaan keputusan agent dan keputusan
principal.
b. Positive Accounting Theory (PAT)
Teori akuntansi positif (PAT) menjelaskan fenomena akuntansi
yang diamati berdasarkan pada alasan-alasan yang menyebabkan
13
terjadinya suatu peristiwa. Positive Accounting Theory (PAT)
bertujuan untuk menjelaksan dan memprediksi konsekuensi yang
terjadi jika manajer menentukan pilihan tertentu. Penjelasan dan
prediksi dalam PAT didasarkan pada proses kontrak (contracting
process) atau hubungan keagenan antara manajer dengan pihak lain
seperti investor, kreditor, auditor, BAPEPAM, dan pemerintah (Chariri
dan Ghozali, 2011).
Laporan keuangan sebenarnya merupakan cermin perilaku
oportunis seseorang yang menyusun laporan keuangan tersebut
(Sulistyanto, 2008). Baik buruknya kinerja yang disajikan dalam
laporan keuangan akan dipengaruhi oleh keinginan dan kepentingan
penyusunnya, bukan kinerja perusahaan yang sesungguhnya.
Ada tiga
hipotesis dalam teori akuntansi positif
yang
dipergunakan untuk menguji perilaku etis seseorang dalam mencatat
transaksi dan menyusun
laporan keuangan (Watt dan Zimmerman,
1990 dalam Chariri dan Ghozali, 2011).
1. Hipotesis Rencana Bonus (Bonus plan hypothesis)
Manajemen
perusahaan dengan rencana bonus tertentu
cenderung lebih menyukai metode yang meningkatkan laba periode
berjalan. Pilihan ini diharapkan dapat meningkatkan nilai sekarang
bonus yang akan diterima. Konsep ini menjelaskan bahwa bonus
yang yang dijanjikan pemilik kepada manajer perusahaan tidak
hanya memotivasi manajer untuk bekerja dengan lebih baik tetapi
14
juga memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba agar
selalu nampak telah mencapai tingkat kinerja sesuai kontrak akan
mendapatkan bonus (Sulistyanto, 2008).
Manajer memainkan angka-angka akuntansi dalam laporan
keuangan hingga bonus itu selalu didapatkannya. Ketika kinerja
perusahaan berada di bawah syarat untuk memperoleh bonus, maka
manajer akan melakukan mengatur dan mengelola laba agar dapat
mencapai tingkat yang memenuhi syarat untuk mendapatkan
bonus. Sebaliknya, jika kinerja yang diperoleh manajer jauh di atas
jumlah yang disyaratkan untuk mendapatkan bonus, manajer akan
mengelola dan mengatur laba agar laba yang dilaporkan menjadi
tidak terlalu tinggi.
Manajer juga akan mengakui sebagian laba pada periode
mendatang untuk memastikan di periode mendatang dia tetap akan
memperoleh bonus.Hal ini mengakibatkan pemilik mengalami
kerugian
ganda,
yaitu
memperoleh
informasi
palsu
dan
mengeluarkan sejumlah bonus padahal seharusnya manajer tidak
berhak atas bonus tersebut karena tidak mencapai target.
2. Hipotesis Hutang/Ekuitas (Debt/Equity Hypothesis)
Debt/Equity Hypothesis menyatakan makin tinggi rasio antara
hutang dan ekuitas, makin besar kemungkinan bagi manajer untuk
memilih metode akuntansi yang dapat menaikan laba. Manajer
memilih metode akuntansi yang dapat menaikan laba untuk dapat
15
melonggarkan batasan kredit dan mengurangi biaya kesalahan
teknis. Makin tinggi batasan kredit, makin besar juga kemungkinan
penyimpangan perjanjian kredit dan pengeluaran biaya.
Laba merupakan indikator kemampuan perusahaan untuk
dapat menyelesaikan kewajiban hutangnya. Karena itu manajer
akan mengelola dan mengatur labanya agar kewajiban hutang yang
jatuh tempo tahun ini dapat ditunda untuk tahun berikutnya. Upaya
ini dilakukan agar dana untuk menyelesaikan kewjiban hutang
tersebut dapat digunakan untu keperluan lain.
Kreditor sebagai pihak yang menggunakan informasi laba
sebagai dasar pengambilan keputusan akan memperoleh informasi
yang salah. Informasi laba yang tidak sesuai dengan kondisi
perusahaan yang sebenarnya ini sangat merugikan. Karena
menyebabkan keputusan yang diambil kreditor salah atau tidak
tepat.
3. Hipotesi Biaya Politik (Political Cost Hypothesis)
Hipotesis ini menyatakan perusahaan besar cenderung
menggunakan metode akuntansi yang dapat mengurangi laba
periode dibandingkan perusahaan kecil. Ukuran perusahaan
merupakan variabel proksi dari aspek politik. Perusahaan besar
biasanya memiliki biaya politik besar. Biaya politik muncul
dikarenakan profitabilitas perusahaan yang tinggi dapat menarik
perhatian.
16
Tiga hipotesis tersebut menukjukkan bahwa teori positif
mengakui adanya 3 hubungan keagenan (1) antara manajemen
dengan politik, (2) antara manajemen dengan kreditur, (3) antara
manajemen
dengan
pemerintah.
Masalah
agency
muncul
disebabkan karena adanya asimetri informasi antara agent dan
principal, dimana agent lebih banyakmempunyai informasi
dibandingkan principal, sehingga menyebabkan adanya moral
hazard.
Beberapa regulasi dikeluarkan pemerintah berkaitan dengan
dunia usaha. Salah satunya undang-undang perpajakan yang
mengatur jumlah pajak yang harus dibayar perusahaan berdasarkan
laba yang diperoleh selama periode tertentu. Dengan adanya
undang-undang tersebut maka jumlah pajak yang harus dibayar
perusahaan tergantung dari jumlah laba yang diperolehnya.
Perusahaan dengan laba tinggi akan dikenai pajak lebih besar.
Kondisi ini yang menyebabkan manajer cenderung untuk
mengelola laba dan mengaturnya dalam jumlah tertentu sehingga
pajak yang harus dibayarkan tidak terlalu tinggi. Manajer tidak
ingin kewajiban pajak yang harus ditanggung terlalu besar
sehingga membebani perusahaan.
17
2. Manajemen Laba (Earning Management)
a. Definisi Manajemen Laba
Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi didefinisikan
sebagai pembedaan antara pendapatan yang direalisasikan dari
transaksi yang terjadi selama satu periode dengan biaya yang berkaitan
dengan pendapatan tersebut (Chariri dan Ghozali, 2001). Manajemen
laba merupakan suatu fenomena dimana manajer dapat memilih
kebijakan akuntansi suatu standar dengan maksud memaksimalkan
kesejahteraan mereka atau meningkatkan nilai perusahaan (Scott, 1999
dalam Julia Halim, 2005).
Scott (1999) dalam Julia Halim (2005) membagi cara
pemahaman atas manajemen laba menjadi dua. Pertama, melihatnya
sebagai perilaku oportunistik manajer untuk
memaksimumkan
utilitasnya dalam menghadapi kompensasi, kontrak utang, dan political
costs
(Opportunistic
Earnings
Management).
Kedua,
dengan
memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting
(Efficient Earnings Management), dimana manajemen laba memberi
manajer suatu fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan
perusahaan dalam mengantisipasi kejadian-kejadian yang tak terduga
untuk keuntungan pihak-pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan
demikian,
manajer
dapat
mempengaruhi
nilai
pasar
saham
perusahaannya melalui manajemen laba, misalnya dengan membuat
18
perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang
waktu.
Healy dan Wahlen (1999) dalam I Gusti (2011) menyatakan
manajemen laba muncul ketika manajer menggunakan keputusan
tertentu dalam pelaporan keuangan dan mengubah transaksi untuk
mengubah laporan keuangan sehingga menyesatkan stakeholder yang
ingin
mengetahui
kinerja
ekonomi
mempengaruhi hasil kontrak yang
perusahaan
atau
untuk
menggunakan angka-angka
akuntansi yang dilaporkan.
Secara umum manajemen laba didefinisikan sebagai upaya yang
disengaja oleh manajer untuk mengintervensi atau mempengaruhi
informasi-informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk
memperoleh keuntungan pribadi. Aktivitas ini dapat mengelabuhi
stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan
(Sulistyanto, 2008).
b. Teknik Earnings Management
Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk melakukan
manajemen laba pada laporan keuangan Scott (2000) dalam Yulia
(2007), yaitu:
1. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi
Cara ini merupakan cara manajer untuk mempengaruhi laba
melalui judgement terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi
tingkat piutang tak tertagih, estimasi kurun waktu depresiasi aktiva
19
tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi biaya garansi,
dan lain-lain.
2. Mengubah metode akuntansi
Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat
suatu transaksi, contoh: mengubah metoda depresiasi aktiva tetap,
dari metoda depresiasi angka tahun ke metoda depresiasi garis
lurus.
3. Menggeser periode biaya atau pendapatan
Beberapa orang menyebutkan rekayasa jenis ini sebagai
manipulasi keputusan operasional. Contoh: rekayasa perioda biaya
atau pendapatan antara
lain:
mempercepat atau menunda
pengeluaran untuk penelitian sampai perioda akuntansi berikutnya
(Daley dan Vigeland, 1993), mempercepat atau menunda
pengeluaran promosi sampai perioda akuntansi berikutnya,
mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai, dan
lain-lain.
c. Strategi Earnings Management
Menurut Subramanyam dan Wild (2010), terdapat tiga jenis
strategi manajemen laba, yaitu sebagai berikut:
1. Meningkatkan Laba
Salah satu strategi manajemen laba adalah meningkatkan laba
yang dilaporkan pada periode kini untuk membuat perusahaan
dipandang lebih baik. Cara ini memungkinkan peningkatan laba
20
selama beberapa periode. Pada skenario pertumbuhan, akrual
pembalik lebih kecil disbanding akrual kini, sehingga dapat
meningkatkan laba. kasus yang terjadi adalah perusahaan
malaporkan laba yang lebih tinggi berdasarkan manajemen laba
yang agresif sepanjang periode waktu yang panjang, selain itu,
perusahaan dapat melakukan manajemen laba untuk meningkatkan
laba selama beberapa tahun dan membalik akrual sekaligus pada
satu saat pembebanan. Pembebanan satu saat ini sering kali
dilaporkan ‘dibawah laba bersih” (below the line), sehingga
dipandang tidak terlalu relevan.
2. Big Bath
Strategi big bath dilakukan melalui penghapusan (write-off)
sebanyak mungkin pada satu periode. Periode yang dipilih
biasanya periode dengan kinerja yang buruk (seringkali pada masa
resesi dimana perusahaan lain juga malaporkan laba yang buruk)
atau peristiwa saat terjadi satu kejadian yang tidak biasa seperti
perubahan manajemen, merger, atau restrukturisasi. Strategi big
bath juga sering kali dilakukan setelah strategi peningkatan laba
pada periode sebelumnya. Oleh karena sifat big bath yang tidak
biasa dan tidak berulang, pemakai cenderung tidak memperhatikan
dampak keuangannya. Hal ini memberikan kesempatan untuk
meningkatkan laba di masa depan.
21
3. Perataan Laba
Perataan laba merupakan bentuk umum manajemen laba.
pada strategi ini, manajer meningkatkan atau menurunkan laba
yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasinya. Perataan laba juga
mencakup ridak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan
menciptakan cadangan atau ‘baik” laba dan kemudian malaporkan
laba ini saat periode buruk.
d. Mekanisme Manajemen Laba
Menurut Subramanyan dan Wild (2010), terdapat dua metode
utama manajemen laba, yaitu:
1. Pemindahan Laba
Pemindahan laba merupakan manajemen laba dengan
memindahkan laba dari satu period eke periode lainnya.
Pemindahan laba dapat dilakukan dengan mempercepat atau
menunda pengakuan pendapatan atau beban. Bentuk manajemen
laba ini biasanya menyebabkan dampak pembalik pada satu atau
beberapa periode masa depan, seringkali satu periode berikutnya.
Untuk alasan ini, pemindahan laba sangat berguna untuk perataan
laba.
2. Manajemen Laba melalui Klasifikasi
Laba
juga
dapat
ditentukan
dengan
secara
khusus
mengklasifikasi beban dan pendapatan pada bagian tertentu
laporan laba rugi. Bentuk umum dari manajemen laba melalui
22
klasifikasi adalah memindahkan beban di bawah garis, atau
melaporkan beban pada pos luar biasa dan tidak berulang, sehingga
tidak dianggap penting oleh analis.
3.
Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar
kecilnya perusahaan. Terdapat berbagai proksi yang biasanya digunakan
untuk mewakili ukuran perusahaan, yaitu jumlah karyawan, total aset,
jumlah penjualan, dan kapitalisasi pasar. Semakin besar aset maka
semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka
semakin banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar
maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat.
Perusahaan yang berukuran besar biasanya memiliki peran sebagai
pemegang kepentingan yang lebih luas. Hal ini membuat berbagai
kebijakan perusahaan besar akan memberikan dampak yang besar terhadap
kepentingan publik dibandingkan perusahaan kecil. Perusahaan yang besar
lebih diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka lebih berhati-hati
dalam melakukan pelaporan keuangan, sehingga berdampak perusahaan
tersebut harus melaporkan kondisinya lebih akurat.
Ukuran perusahaan dapat diukur dengan beberapa cara antara lain
dengan menjumlahkan aktiva kemudian hasilnya di-log-kan (Gu dkk,
2005). Selain itu dapat juga diukur dengan perhitungan market
capitalization (Halim dkk, 2005), dimana merupakan nilai pasar total dari
23
perusahaan yang dihitung dengan menggunakan harga pasar terbaru
dikalikan jumlah saham (Walsh, 2004).
Dengan demikian perusahaan yang berskala besar mempunyai
tingkat earnings management yang lebih rendah daripada perusahaan
berskala kecil. Sedangkan perusahaan berskala kecil penyebaran informasi
mengenai informasinya belum begitu banyak. Karena untuk mendapatkan
informasi ini dengan biaya maka perusahaan berskala kecil mempunyai
tingkat earnings management yang lebih tinggi.
4.
Umur Perusahaan
Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat
bertahan hidup dan menjalankan operasional perusahaannya. Dalam
kondisi normal, perusahaan yang telah lama berdiri akan mempunyai
publikasi perusahaan yang lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan
yang masih baru. Perusahaan yang telah lama berdiri, memiliki
pengalaman yang lebih banyak dibandingkan perusahaan yang baru
memulai usahanya. Selain itu perusahaan juga memiliki nama dimata
masyrakat tentang perusahaan tersebut.
Selain itu perusahaan yang telah lama berkembang juga mempunyai
strategi untuk menghadapi persaingan dan untuk tetap bisa survive dimasa
depan. Jadi perusahaan yang telah lama berdiri mempunyai tingkat
manajemen laba yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perusahaan
yang masih baru.
24
5.
Leverage
Leverage didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam
melunasi semua kewajiban dengan ekuitasnya. Dengan demikian Leverage
menunjukkan resiko yang dihadapi perusahaan berkaitan dengan hutang
yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang tidak mempunyai leverage
berarti menggunakan modalnya sendiri untuk membiayai investasinya,
salah satunya untuk pembelian aktiva. Semakin tinggi rasio ini,
menunjukkan semakin besar pula investasi yang didanai dari pinjaman.
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan
memenuhi kewajiban-kewajiban jangka panjangnya. Rasio ini sama
dengan rasio sovabilitas. Rasio solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui
kemampuan perusahaan dalam pembayaran kewajibannya jika perusahaan
tersebut dilikuidasi. Perusahaan yang tidak sovabel yaitu perusahaan yang
total utangnya lebih besar dari total asetnya. Rasio ini juga menyangkut
struktur keuangan perusahaan, struktur keuangan adalah bagaimana
perusahaan mendanai aktivitasnya. Biasanya, aktivitas perusahaan didanai
dengan hutang jangka pendek dan modal pemegang saham. Menurut
Brigham (2009:101) seberapa jauh perusahaan menggunakan utang
(financial leverage) akan memiliki 3 (tiga) implikasi penting yaitu:
1. Dengan memperoleh dana melalui utang, para pemegang saham dapat
mempertahankan kendali mereka atas perusahaan tersebut dengan
sekaligus membatasi investasi yang mereka berikan,
25
2. Kreditor akan melihat pada ekuitas, atau dana yang diperoleh sendiri,
sebagai suatu batasan keamanan, sehingga semakin tinggi proporsi dari
jumlah modal yang diberikan pemegang saham, maka semakin kecil
resiko yang dihadapi kreditor.
3. Jika perusahaan mendapatkan hasil dari investasi yang didanai dengan
dana hasil pinjaman lebih besar daripada bunga yang dibayarkan, maka
pengembalian dari modal pemilik akan diperbesar, atau diungkit
(leverage)
Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka semakin ketat
pengawasan yang dilakukan oleh kreditor, sehingga
fleksibilitas
manajemen untuk melakukan manajemen laba semakin berkurang. Hal ini
mengindikasikan bahwa manajemen laba berkorelasi secara negatif dengan
rasio utang terhadap total aktiva.
6. Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk
meningkatkan size. Pertumbuhan perusahaan pada dasarnya dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu faktor eksternal, internal, dan pengaruh iklim
industri lokal. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi, dalam
hubungannya dengan leverage, sebaiknya menggunakan ekuitas sebagai
sumber pembiayaannya agar tidak terjadi biaya keagenan (agency cost)
antara pemegang saham dengan manajemen perusahaan, sebaliknya
perusahaan dengan tingkat
pertumbuhan yang
rendah sebaiknya
menggunakan hutang sebagai sumber pembiayaannya karena penggunaan
26
hutang akan mengharuskan perusahaan tersebut membayar bunga secara
teratur.
Pertumbuhan perusahaan yang cepat maka semakin besar kebutuhan
dana untuk ekspansi. Semakin besar kebutuhan untuk pembiayaan
mendatang maka semakin besar keinginan perusahaan untuk menahan
laba. Jadi perusahaan yang sedang tumbuh sebaiknya tidak membagikan
laba sebagai deviden tetapi lebih baik digunakan untuk ekspansi. Potensi
pertumbuhan ini dapat diukur dari besarnya biaya penelitian dan
pengembangan.
Pertumbuhan perusahaan dapat diukur dengan beberapa cara,
misalnya dengan melihat pertumbuhan penjualannya. Pengukuran ini
hanya dapat melihat pertumbuhan perusahaan dari aspek pemasaran
perusahaan saja. Selain itu pengukuran juga dapat dilakukan dengan
melihat pertumbuhan laba operasi perusahaan, laba bersih perusahaan dan
pengukuran yang terakhir ialah melalui pengukuran pertumbuhan modal
sendiri. Dengan melihat itu semua, kita dapat melihat seberapa efisienkah
perusahaan dalam pemanfaatan sumber daya yang dimilikinya.
B.
Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu pernah dilakukan untuk menguji
faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap manajemen laba, di
antaranya adalah:
27
1. I Gusti Ayu (2011)
I Gusti Ayu (2011) melakukan penelitian mengenai pengaruh
dewan komisaris, proporsi dewan, komite audit, reputasi auditor,
ukuran perusahaan dan pertumbuhan perusahaan terhadap manajemen
laba pada seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) periode tahun 2006-2008. Proses penentuan sampel
dalam penelitiannya
menggunakan teknik purposive
sampling
berdasarkan kriteria tertentu.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa hanya dewan komisaris,
ukuran perusahaan, dan pertumbuhan perusahaan yang berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba.
2. Juan Manuel San Martin Reyna (2012)
Reyna (2012) melakukan penelitian mengenai sebuah studi
empiris pemeriksaan struktur kepemilikan, manajemen laba dan
peluang pertumbuhan di pasar Meksiko. Data sampel dari 90
perusahaan yang terdaftar Meksiko selama periode 2005-2009. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kepemilikan, komposisi
dan leverage memainkan peran ganda: mengurangi manajemen laba
ketika tidak ada proyek-proyek investasi, tetapi dampak positif di
hadapan peluang pertumbuhan.
3. Nelson M Waweru and George K. Riro (2013)
Waweru dan Riro (2013) melakukan penelitian mengenai tata
kelola perusahaan, karakteristik perusahaan, dan manajemen laba di
28
perekonomian yang terlihat di negara berkembang, Kenya. Data yang
diperoleh dari 148 perusahaan diperoleh dari laporan tahunan dari 37
perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Nairobi (NSE).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa struktur kepemilikan,
dewan
komposisi
dan
karakteristik
tata
kelola
perusahaan
mempengaruhi manajemen laba oleh perusahaan yang terdaftar Kenya.
4. Nur Azlina (2010)
Nur Azlina (2010) melakukan penelitian mengenai pengaruh
dewan direksi, leverage, persentase saham yang ditawarkan ke public,
dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan
yang terdaftar di BEI tahun 2007. Hasil dari dari penelitiannya
menunjukkan bahwa hanya ukuran perusahaan yang berpengaruh
terhadap manajemen laba.
5. Nurhasanah (2014)
Nurhasanah (2014) melakukan penelitian mengenai pengaruh
leverage, ukuran perusahaan, dan umur perusahaan terhadap
manajemen laba pada perusahaan asuransi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia pada perusahaan asuransi tahun 2009-2012. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa variabel independen leverage, ukuran
perusahaan dan umur perusahaan secara simultan (bersama-sama)
tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.
29
6. Rice, Agustina (2012)
Rice, Agustina (2012) melakukan penelitian mengenai analisa
faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan manajemen laba pada
perusahaan indeks kompas 100 yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
periode 2008-2012. Variabel yang digunakan yaitu earning power,
leverage, kepemilikan institusional dan nilai perusahaan. Dengan 27
sampel perusahaan yang digunakan. Hasil dari penelitian, secara
simultan, earning power, leverage, kepemilikan institusional dan nilai
perusahaan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Secara
parsial, leverage berpengaruh signifikan negative terhadap manajemen
laba,
sedangkan earning
power,
dan nilai perusahaan tidak
berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
7. Yulia Fransiska (2007)
Yulia Fransiska (2007) melakukan penelitian mengenai pengaruh
ukuran perusahaan, umur perusahaan, leverage, dan nilai penawaran
saham terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang
melakukan IPO pada tahun 2000 sampai dengan 2005 di Bursa Efek
Jakarta (BEJ). Dengan menggunakan sampel sebanyak 21 perusahaan
yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa variabel yang paling
berpengaruh terhadap manajemen laba adalah variabel nilai penawaran
saham (proceeds) perusahaan.
30
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
No.
1.
Nama Peneliti &
Tahun Penelitian
I Gusti Ayu (2011)
Desain Penelitian (Variabel & Metode
Penelitian)
Variabel dependen: Manajemen Laba
Variabel independen: Dewan komisaris, Proporsi
dewan, Komite audit, Reputasi auditor, Ukuran
perusahaan, dan Pertumbuhan perusahaan,
2.
Juan Reyna (2012)
Variabel dependen: Earning Management
Variabel independen: Ownership structure, board
and leverage
Ownership structure, composition and size
of board and leverage play a dual role:
reduce the earnings management when there
are no investments projects, but impact
positively in presence of growth
opportunities.
3.
Nelson
Waweru
and Riro (2013)
Variabel dependen: Earning Management
Variabel independen: corporate governance
characteristic (Ownership structure,
Independence of the Audit Committee and
Board Composition) and firm specific
characteristics (Firm size, Firm Performance and
Leverage)
Ownership structure and
Board Composition were the main corporate
governance characteristics influencing
earnings management by
Kenyan listed Companies.
4.
Nur Azlina (2010)
Variabel dependen: Earning Management
Variabel independen: dewan direksi, leverage,
persentase saham yang ditawarkan kepublik, dan
ukuran perusahaan.
Variabel Ukuran Perusahaan berpengaruh
terhadap manajemen laba.
5.
Nurhasanah (2014)
Variabel dependen : Manajemen Laba
Variabel independen: Leverage, Ukuran
Perusahaan, dan Umur Perusahaan.
Variabel Leverage, Ukuran
Perusahaan dan Umur Perusahaan secara
simultan tidak berpengaruh terhadap
Manajemen Laba. Secara parsial variabel
Leverage, Ukuran Perusahaan,Umur
Perusahaan tidak berpengaruh terhadap
Manajemen Laba.
6.
Rice,
(2012)
Agustina
Variabel dependen: Manajemen Laba
Variabel independen: Earning power, Leverage,
Kepemilikan Institusional, dan Nilai Perusahaan.
Secara simultan, earning power, leverage,
kepemilikan institusional dan nilai
perusahaan berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba. Secara parsial, leverage
berpengaruh signifikan negative terhadap
manajemen laba, sedangkan earning power,
dan nilai perusahaan tidak berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba.
7.
Yulia
(2007)
Fransiska
Variabel dependen: Manajemen laba
Variabel independen: Ukuran perusahaan, Umur
perusahaan, Leverage, dan Nilai penawaran
saham.
Variabel yang paling berpengaruh terhadap
manajemen laba adalah variabel nilai
penawaran saham (proceeds) perusahaan.
Sumber : Dari beberapa jurnal
Hasil Penelitian
Dewan komisaris, ukuran perusahaan, dan
pertumbuhan perusahaan yang berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba.
31
C. Rerangka Pemikiran
Rerangka pemikiran merupakan bagian dari penelitian yang
menggambarkan alur pemikiran penulisan dalam memberikan penjelasan
kepada orang lain. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar
kecilnya perusahaan. Perusahaan yang berukuran besar biasanya
memiliki peran sebagai pemegang kepentingan yang lebih luas.
2. Umur Perusahaan
Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat
bertahan hidup dan menjalankan operasional perusahaannya.
3. Leverage
Leverage menunjukkan resiko yang dihadapi perusahaan berkaitan
dengan hutang yang dimiliki oleh perusahaan.
4. Pertumbuhan Perusahaan
Pertumbuhan Perusahaan merupakan kemampuan perusahaan
untuk meningkatkan size.
Untuk memudahkan analisis dan menguji hipotesis, maka dapat
digambarkan dalam suatu bagan kerangka berfikir yang disajikan sebagai
berikut:
32
Gambar 2.1
Model Konseptual Penelitian
Ukuran perusahaan
Ha1
Umur Perusahaan
Ha2
Manajemen Laba
Leverage
Ha3
Pertumbuhan
Perusahaan
Ha4
D. Hipotesis
1. Ukuran Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba
Faktor pertama yang diuji pengaruhnya terhadap manajemen laba
adalah ukuran perusahaan. Dalam penelitian Halim (2005) menyatakan
bahwa ukuran perusahaan dapat mempengaruhi manajemen laba
dimana semakin besar ukuran suatu perusahaan maka semakin besar
juga kesempatan manajemen untuk melakukan manajemen laba. Selain
itu semakin besar ukuran perusahaan, maka perusahaan juga semakin
dituntut untuk memenuhi ekpektasi investor yang tinggi.
Menurut Watts dan Zimmerman (1990) dalam Halim (2005)
memaparkan the political cost hypothesis. Hipotesis ini menyatakan
bahwa ukuran perusahaan digunakan sebagai pedoman biaya politik
33
dan biaya politik akan meningkat seiring dengan meningkatnya ukuran
dan risiko perusahaan. Dalam teori ini perusahaan yang besar memiliki
motivasi untuk melakukan manajemen laba dengan menurunkan laba
guna menurunkan biaya politik. Berdasarkan hal tersebut maka
dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Ukuran perusahaan berpengruh terhadap Manajemen Laba
2. Umur Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba
Umur perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan dapat
bertahan hidup dan menjalankan operasionalnya. Dalam kondisi
normal, perusahaan yang telah lama berdiri akan mempunyai publikasi
perusahaan yang lebih banyak dibandingkan dengan perusahaan yang
masih baru. Semakin lama umur perusahaan, semakin bayak informasi
yang telah diperoleh masyarakat tentang perusahaan tersebut. Jadi
perusahaan yang telah lama berdiri mempunyai tingkat manajemen
laba yang lebih rendah jika dibandingkan dengan perusahaan yang
masih baru. Dalam penelitian Zulia
Muhardani dkk (2013)
menemukan bahwa umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap
manajemen laba. Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan sebagai
berikut:
H2 : Umur Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba
3. Leverage berpengaruh terhadap Manajemen Laba
Leverage didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam
melunasi semua kewajiban dengan ekuitasnya. Dengan demikian
34
Leverage menunjukkan resiko yang dihadapi perusahaan berkaitan
dengan hutang yang dimiliki perusahaan. Perusahaan yang tidak
mempunyai leverage berarti menggunakan modalnya sendiri untuk
membiayai investasinya, salah satunya untuk pembelian aktiva.
Semakin tinggi rasio ini, menunjukkan semakin besar pula investasi
yang didanai dari pinjaman.
Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka semakin
ketat pengawasan yang dilakukan oleh kreditor, sehingga fleksibilitas
manajemen untuk melakukan manajemen laba semakin berkurang. Hal
ini mengindikasikan bahwa manajemen laba berkorelasi secara negatif
dengan rasio utang terhadap total aktiva. Penelitian yang dilakukan
oleh Lobo dan Zhou (2001) dalam Veronica (2003) menemukan bahwa
rasio utang berkorelasi secara negatif dengan manajemen laba.
Berdasarkan hal tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H3 : Leverage berpengaruh terhadap Manajemen Laba
4. Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba
Pada tahap pertumbuhan, perusahaan telah memperoleh pangsa
pasar dan mengalami peningkatan penjualan. Laba perusahaan pada
tahap ini lebih besar dibandingkan tahap sebelumnya. Perusahaan
berkewajiban membayar pajak yang jumlahnya ditentukan oleh laba
yang dilaporkan. Semakin besar laba yang dilaporkan, maka semakin
besar pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah. Manajer
35
cenderung
selalu
berusaha
untuk
memilimalisasi
kewajiban-
kewajibannya termasuk kewajiban untuk membayar pajak.
Dengan demikian perusahaan yang tingkat pertumbuhannya
meningkat akan cenderung melakukan manajemen laba dengan tujuan
untuk meminimalisasi jumlah pajak yang harus dibayar kepada
pemerintah. Hasil Gu dkk (2005) juga menyatakan hubungan yang
positif antara growth dengan manajemen laba. Berdasarkan hasil
penelitian terdahulu, maka penelitian ini memprediksi pertumbuhan
perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Berdasarkan
hal tersebut maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H4 : Pertumbuhan Perusahaan berpengaruh terhadap Manajemen Laba
Download