ANDI NURUL HIDAYAH J1A212100

advertisement
STUDI EPIDEMIOLOGI KADAR MERKURI (Hg) IKAN DAN URINE
PEKERJA TAMBANG DI DESA WUMBUBANGKA
KECAMATAN RAROWATU UTARA, KABUPATEN
BOMBANA TAHUN 2016
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana
Kesehatan Masyarakat
Oleh:
ANDI NURUL HIDAYAH
J1A212100
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2016
i
HALAMAN PENGAJUAN
Skripsi
STUDI EPIDEMIOLOGI KADAR MERKURI (Hg) IKAN DAN URINE
PEKERJA TAMBANG DI DESA WUMBUBANGKA
KECAMATAN RAROWATU UTARA, KABUPATEN
BOMBANA TAHUN 2016
Disusun dan Diajukan oleh:
ANDI NURUL HIDAYAH
J1A2 12 1200
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I,
Pembimbing II,
Farit Rezal, S.KM, M. Kes
NIP.19820807 201504 1 002
Andi Faizal Fachlevy, SKM, M. Kes
NIP. -
Mengetahui,
Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat
La Ode Ali Imran A, S.KM., M.Kes
NIP.19830308 200812 1 002
ii
iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan senantiasa mengharap Rahmat dan Ridha Tuhan Yang Maha Esa, saya
yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
: Andi Nurul Hidayah
Stambuk
: J1A2 12 100
Peminatan
: Epidemiologi
Menyatakan bahwa skripsi ini adalah asli karya saya sendiri dan bila di kemudian
hari ternyata ditemukan skripsi ini plagiat dan bukan hasil karya saya, maka skripsi
ini akan dibatalkan.
Kendari, April 2016
Andi Nurul Hidayah
iv
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
”Studi Epidemiologi Kadar Merkuri (Hg) Ikan dan Urine Pekerja Tambang Di Desa
Wumbubangka Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016”.
Sesuai dengan eksistensi penulis, maka apa yang tertuang dalam tulisan ini
perwujudan dan upaya optimal yang penulis lakukan.
Skripsi ini adalah buah dari proses kerja keras saya selama menempuh
pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Halu Oleo.
Banyak tahapan proses yang saya lalui sehingga skripsi sederhana ini bias
dikatakan sebagai refleksi dari cerminan perjalanan intelektual saya.
Terkhusus penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua tercinta
Ayahanda Drs. La Ode Mustari, M.Si dan Ibunda Dra. Andi Asniwati yang
telah mengasuh, mendidik, dan memberikan kasih sayang serta doa restunya kepada
penulis. Tak lupa pula seluruh saudara-saudaraku tercinta La Ode Syarif Achmad
Ali, S.Ip, dr. Wa Ode Azzahra, Andi Nazirah Syahrani, Wa Ode Nazli Chaerana
Mutia yang telah memberikan banyak kasih sayang dan semangat, serta sepupusepupu dan keluarga besar saya yang telah memberikan banyak bantuan dan
dukungan selama pembuatan skripsi ini.
v
Tak lupa, rasa terima kasih saya haturkan kepada Bapak Farit Rezal, S.KM.,
M.Kes selaku Pembimbing I, Bapak Andi Faisal Fachlevy S.KM, M.Kes selaku
pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan pikirannya dalam mengarahkan
penulis dalam penyusunan hasil penelitian serta Bapak Drs. H. Junaid, M.Kes yang
telah memberikan waktunya untuk mengarahkan penulis dalam setiap tahap proses
ujian skripsi ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada yang terhormat :
1. Rektor Universitas Halu Oleo Kendari.
2. Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat.
3. Pembantu Dekan I, II dan III Fakultas Kesehatan Masyarakat.
4. Ketua Jurusan Kesehatan Masyarakat, Dosen dan Staf yang telah memberikan
dukungan, bantuan serta arahan kepada penulis selama menempuh pendidikan.
5. Pihak PT. Anugerah Alam, PT. SAM dan mitra kerja dalam terselesaikannya
penelitian ini.
6. Bapak Lymbran Tina, S.KM., M.Kes, Ibu Jafriati, S.Si, M.Si., Ibu Karma
S.KM., M.Kes selaku penguji yang telah memberikan banyak pengetahuan dan
motivasi kepada penulis.
7. Bapak Kepala Badan Riset Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah
memberikan izin penelitian kepada penulis.
8. Wa Ode Asliati, S.KM., Aswar Ewink, S.KM., Syahril Syamsuddin, S.KM.,
Cahyani Biodaeng, S.KM., St. Yuliah Asrum, S.KM., dan Eva Erdanang,
S.KM, yang telah banyak memberikan bantuan dan masukkan yang berarti
selama pembuatan skripsi ini.
vi
9. Anan Fuadz Al Kadar, S.KM, Annisa Dellastrina Laiya, Widya Astuti, Nikita
Emmanuella, Kiki Reski Alfianti, Anjar Permatasari B., Utary Latief atas
bantuan, semangat, doa dan kebersamaannya selama ini.
10. Seluruh teman-teman angkatan 2012 dan kelas C angkatan 2014 atas doa dan
dukungannya.
Akhir kata penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun teknik penulisannya. Untuk itu penulis
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat konstruktif dari para pembaca dalam
rangka perbaikan skripsi ini. Terlepas dari kekurangan yang ada, semoga karya ini
dapat bermanfaat bagi pembaca. Amin Yaa Rabbal Alamin.
Kendari, 18 April 2016
Penullis
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN
HALAMAN PENGAJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN
ABSTRAK
BAB I. PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
Definisi dan Istilah, Glosarium
Organisasi / Sistematika
i
ii
iii
iv
v
viii
x
xii
xiii
xiv
xv
..........
10
10
11
1
9
.........
9
10
11
11
12
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
Tinjauan Tentang Paparan Merkuri
Tinjauan Umum Tentang Epidemiologi
Tinjauan Umum Merkuri Dalam Urine
Tinjauan Umum Tentang Skrining
Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya
Kerangka Teori Penelitian
Kerangka Konsep Penelitian
13
26
33
36
39
39
41
BAB III. METODE PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
Jenis Penelitian
Waktu dan Tempat Penelitian
Populasi dan Sampel
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
Teknik Pengumpulan dan Instrumen Penelitian
Metode Pengumpulan Data
Pengolahan Data dan Analisis Data
Penyajian Data
Jadwal Penelitian
42
42
42
44
48
49
51
52
53
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
B. Hasil Penelitian
viii
54
56
C. Studi Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) pada Penambang Emas
D. Pembahasan
64
68
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
82
83
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
No.
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Tabel 12
Tabel 13
Tabel 14
Tabel 15
Teks
Halaman
Keterangan Perilaku
Jadwal Penelitian
Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Distribusi Responden menurut Umur di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Responden menurut Pendidikan Terakhir
di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) Pada
Penambang Emas Menurut Pemeriksaan Sampel
Urine Di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Kadar Merkuri (Hg) Pada Penambang
Emas Menurut Pemeriksaan Sampel Urine Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Penambang Emas Menurut Tingkat Kadar
Merkuri (Hg) Urine Di Desa Wumbubangka,
Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana
Tahun 2016.
Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) pada
Ikan Menurut Pemeriksaan Sampel Ikan Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Kadar Merkuri (Hg) Ikan Menurut
Pemeriksaan Sampel Ikan Di Desa Wumbubangka,
Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana
Tahun 2016.
Distribusi Ikan Menurut Tingkat Kadar Merkuri (Hg)
Ikan di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Penambang Emas Berdasarkan Kelompok
Jenis Aktivitas Penambang Dari Hasil Pemeriksaan
Merkuri (Hg) Pada Sampel Urine Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Sumber Ikan Dari Hasil Pemeriksaan
Merkuri (Hg) Pada Sampel Ikan Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
47
53
x
55
55
57
58
59
60
61
62
63
64
64
65
Tabel 16
Tabel 17
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi Kadar Penggunaan Merkuri (Hg) pada
Penambang Emas Menurut Pemeriksaan Sampel
Urine Di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Distribusi konsumsi ikan pada penambang emas
berdasarkan perhitungan intake ikan menurut
pemeriksaan sampel urine di Desa Wumbubangka,
Kecamatan Rarowatu Utara Tahun 2016.
xi
66
67
DAFTAR GAMBAR
No.
Gambar 1
Gambar 2
Teks
Kerangka Teori
Kerangka Konsep
Halaman
40
41
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Judul
Lampiran 1.
Lampiran 2.
Lampiran 3
Lampiran 4.
Kusioner
Hasil Output SPSS
Hasil Perhitungan Intake Ikan
Dokumentasi
xiii
DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN
Lambang dan
Singkatan
Ρ
Arti/ Keterangan
Koefisien korelasi populasi
Jumlah populasi
N
N
:
Jumlah sampel
.
Titik
,
Koma
()
Dalam kurung
:
Titik dua
;
Titik koma
>
:
Lebih besar dari
<
:
Lebih kecil atau sama dengan
≥
:
Lebih besar atau sama dengan
%
:
Persen
≠
:
Tidak sama dengan
=
:
Sama dengan
xiv
STUDI EPIDEMIOLOGI KADAR MERKURI (Hg) IKAN DAN URINE
PEKERJA TAMBANG DI DESA WUMBUBANGKA KECAMATAN
RORAWATU UTARA KABUPATEN BOMBANA TAHUN 2016
Oleh
ANDI NURUL HIDAYAH
J1A2 12 100
Merkuri (Hg) merupakan salah satu jenis logam berat yang banyak ditemukan
di alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai
senyawa anorganik dan organik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar
merkuri (Hg) berdasarkan jenis aktivitas penambang, sumber ikan, frekuensi
pemakaian merkuri, dan konsumsi ikan pekerja tambang di desa Wumbubangka
kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana tahun 2016. Metode penelitian ini
adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survey melakukan
skrining pada pekerja tambang emas dengan pemeriksaan kadar merkuri (Hg)
melalui pengambilan sampel ikan dan urine pekerja tambang emas setempat.. Hasil
penelitian menunjukan bahwa kadar merkuri (Hg) pada sampel urine pekerja
tambang emas dengan kadar merkuri (Hg) tertinggi sebesar 4,43-4,92 µ/L (2,7%),
3,93-4,42 (24,3%), 3,43-3,92 (37,8%), 2,93-3,42 (16,2%) dan kadar merkuri
dengan proporsi terendah 2,43-2,92 (18,9%). Selanjutnya kadar proporsi merkuri
(Hg) menurut variabel orang berdasarkan jenis aktivitas penambang terbanyak yaitu
responden dengan jenis aktivitas lainnya sebesar 12 responden (32,43%) dan jenis
aktivitas penambang terendah yaitu pembakaran sebesar 1 responden (3,7%).
Menurut variabel tempat berdasarkan sumber ikan 14 (37,84%) berisiko tinggi
terpapar merkuri dan 23 (62,16%) berisiko rendah terpapar merkuri. Menurut
variabel waktu berdasarkan frekuensi pemakaian merkuri terdapat 10 orang
(27,03%) berisiko tinggi dan 27 orang (72,93%) berisiko rendah, Menurut variabel
perilaku presentase aman 18 orang (48,67%) dan tidak aman yaitu 19 orang
(51,35%). Sebaiknya bagi para pekerja penggunaan air raksa (Hg) di kelola dengan
baik agar tidak langsung dibuang ke tanah maupun ke sungai dan lebih lebih
memperhatikan penggunaan APD (alat pelindung diri) pada saat bekerja.
Kata Kunci : Merkuri, Orang, Tempat, Waktu
xv
EPIDEMIOLOGY STUDY OF MERCURY (Hg) DEGREE OF FISH AND
MINER’S URINE IN WUMBUBANGKA VILLAGE OF NORTH
RORAWATU SUBDISTRICT OF BOMBANA REGENCY 2016
By
ANDI NURUL HIDAYAH
J1A2 12 100
Mercury (Hg) is one of the heavy metal which mostly found in nature and
spread within rocks, mine seeds, soil, water and air as an anorganic and organic
compouds. This study aims to find out the degree of mercury (Hg) based on miner’s
type of activity, source of fish, the use frequency of mercury (Hg) and fish
consumption of the mine workers in Wumbubangka Village North Rarowatu
Subdistrict Bombana Regency 2016. This research uses descriptive qualitative as
the method of research through the survey approach in performing the screening for
the gold mine workers by checking the mercury (Hg) degree by taking the fish
sample and the local gold miners. The result shows that the degree of mercury (Hg)
in the urine sample of the gold mine workers with mercury (Hg) degree is in 4,434,92 µ/L (2,7%), 3,93-4,42 (24,3%), 3,43-3,92 (37,8%), 2,93-3,42 (16,2%) and the
lowest mercury degree is 2,43-2,92 (18,9%). Furthermore the degree of mercury
(Hg) according to the variable workers based on the most activity of the workers is
the respondents with the other activity in amount 12 respondents (32,43%) and the
lowest miner activity is the combustion 1 respondent (3,7%). According to the
place variable based on the fish source is 14 (37,84%) in high risk exposed by the
mercury and 23 (62,16%) in the low risk exposed by the mercury. According to the
time variable based on the frequency of mercury use finds 10 people (27,03%) are
in the high risk and 27 people (72,93%) in the low risk. According to the behavioral
variable the safe percentage is 18 people (48,67%) and 19 people (51,35%) in
unsafe. It would be better for the worker to use the mercury (Hg) in a good
management in order not to waste the mercury directly to the soil or the river, and
put the attention more on the use of Self Protection Instrument (APD) during the
working time.
Keywords: mercury, people, place, time
xvi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan kadang menghasilkan
dampak terhadap lingkungan. Dampak tersebut dapat berupa dampak positif
maupun negatif. Salah satu dampak negatif akibat aktivitas manusia adalah
turunnya kualitas lingkungan hidup. Sebagai contoh turunnya kualitas air
akibat pencemaran limbah yang dihasilkan oleh manusia baik limbah rumah
tangga, industri, maupun pertanian. Salah satu faktor pencemaran air yang
paling penting adalah limbah logam berat. Logam berat merupakan istilah
yang digunakan untuk unsur-unsur transisi yang mempunyai massa jenis
atom lebih besar dari 6 g/cm3. Merkuri (Hg), timbal (Pb), tembaga (Cu),
kadmium (Cd) dan stronsium (Sr) adalah contoh logam berat yang berupa
kontaminan yang berasal dari luar tanah dan sangat diperhatikan karena
berhubungan
erat
dengan
kesehatan
manusia,
pertanian
dan
ekotoksikologinya (Alloway, 1995) Darmono (1995).
Merkuri merupakan golongan logam berat yang membeku pada
temperatur -38,9C dan mendidih pada temperatur 357C. Logam merkuri
bersifat sangat toksik karena tidak dapat dihancurkan oleh organisme hidup
yang ada di lingkungan. Kontaminasi merkuri terjadi melalui makanan,
minuman, pernapasan dan kontak kulit. Merkuri merupakan satu-satunya
logam yang mengalami biomagnifikasi melalui rantai makanan dan sangat
1
2
mudah mengalami transformasi menjadi bentuk-bentuk organik yang lebih
toksik (metil merkuri, dimetil merkuri, etil merkuri, dll). Dalam penggunaan
merkuri (Hg) semua bentuk merkuri (Hg), baik dalam bentuk unsur, gas
maupun dalam bentuk garam merkuri (Hg) organik adalah beracun (Alfian Z,
2006).
Pencemaran logam berat di Indonesia cenderung meningkat sejalan
dengan meningkatnya proses industrialisasi. Sejak era industrialisasi, merkuri
menjadi
bahan
pencemar
penggalian karena
merkuri
dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Salah satu penyebab pencemaran lingkungan oleh
merkuri adalah pembuatan tuling pengolahan emas yang diolah secara
amalgamasi (International Agency for research on cancer World Health
Organization dalam Lestaria, 2010).
Usaha pertambangan oleh sebagian masyarakat sering dianggap
sebagai penyebab kerusakan dan pencemaran lingkungan, sebagai contoh,
pada kegiatan usaha pertambangan emas skala kecil, pengolahan bijih
dilakukan dengan proses amalgamasi dimana merkuri (hg) digunakan sebagai
media untuk mengikat emas.
Setelah proses penggilingan selesai, kemudian dituangi merkuri yang
bertujuan untuk memperoleh emas. Selama proses amalgamasi pekerja tidak
menggunakan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan. Sehingga
uap merkuri terhirup masuk kedalam tubuh. Pada pertengahan tahun 1980 di
Amerika Serikat, mengestimasi bahwa Merkuri (Hg) yang dikeluarkan oleh
kegiatan tambang emas mencapai 2000 ton pertahun. Pencemaran ini
3
utamanya melalui udara ketika poses pemijaran emas amalgam. Kandungan
Hg ditempat pemijaran mencapai 15.4 μg/l. Selanjutnya Hg yang dilepaskan
ke udara ini mempengaruhi kadar Hg dalam urine masyarakat wilayah
tersebut. Kadar tertinggi pada pekerja toko emas, kadar Hg dalam urine
mencapai 1200 μg/l (Olaf Malm, 1998, Hurtado Jasmin et al, 2006).
Penelitian kadar merkuri pada penambang emas telah dilakukan sebelumnya
oleh Hartini (2007) di desa Rengas.
Tujuh kecamatan Titi kabupaten Ketapang Kalimantan Barat yang
mendapatkan hasil bahwa sebanyak 44,4% pekerja tambang emas terdapat
merkuri dalam urinenya dengan rata-rata kandungan 7,6 μg/l. Keracunan
merkuri juga sering terjadi pada pekerja tambang emas. Para penambang
emas pada umumnya tercemar melalui kontak langsung dengan kulit,
menghirup uap merkuri dan memakan ikan yang telah tercemar merkuri.
Masalah kesehatan utama akibat uap air raksa terjadi pada otak, paru-paru,
system saraf pusat dan ginjal (Lestarisa, 2010).
Peristiwa keracunan logam merkuri (Hg) telah ada sejak tahun 1960an. Telah tercatat beberapa peristiwa keracunan merkuri (Hg) yang terjadi di
Dunia diantaranya kasus di Minamata yang menewaskan 111 jiwa, di Irak 35
orang meninggal 321 cidera, dan Guatemala 20 orang meninggal 45 cidera
akibat keracunan merkuri (Hg) (Palar, 2008 ).
Makanan yang aman merupakan faktor yang penting untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Menurut undang-Undang RI No
7 tahun 1996, keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya
4
yang diperlukan untuk mencegah pangan dari dari kemungkinan cemaran
biologis, kimia, benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan
membahayakan kesehatan manusia. Penyakit melalui makanan (food borne
disease) dapat berasal dari berbagai sumber yaitu organisme pathogen
termasuk bakteri, kapang, parasit dan virus, dari bahan kimia seperti racun
alami, logam berat, pestisida, hormon, antibiotik, bahan tambahan berbahaya
dan bahan-bahan pertanian lainnya (Fardiaz,1996).
Kasus yang terjadi di Indonesia yaitu, dimana sejak tahun 1996
Perairan Teluk Buyat di Propinsi Sulawesi Utara telah dijadikan tempat
pembuangan tailing oleh PT. Newmont Minahasa Raya akibatnya masyarakat
yang mengkonsumsi ikan di sekitar Teluk Buyat mengalami gangguan
kesehatan terutama penyakit kulit (Widowati dkk., 2008).
Kasus berikutnya yaitu pada tahun 2013 hasil laboratorium fungsi hati
memperlihatkan bahwa sebanyak 68,3% pekerja mengalami gangguan fungsi
hati dan terdapat hubungan kadar merkuri dalam darah dengan kadar SGPT
pekerja tambang emas tradisional di Desa Jendi,Kecamatan Selogiri,
Kabupaten Wonogiri.
Belum ada laporan yang tercatat secara nasional mengenai kasus
keracunan merkuri di berbagai wilayah di Indonesia. Tapi, kasus keracunan
merkuri (Hg) para pekerja diperoleh berdasarkan hasil penelitian–penelitian
sebelumnya.
Kasus serupa kini bisa mengancam masyarakat Bombana Sulawesi
Tenggara. Ratusan pekerja tambang emas dan ribuan masyarakat yang tinggal
5
di sekitar lokasi pendulangan terancam menerima dampak penambangan
emas akibat penggunaan cairan merkuri yang banyak digunakan oleh
pendulang tradisional ataupun dari perusahaan untuk memisahkan butiran
emas bercampur tanah.
Paparan merkuri dalam jangka panjang mengakibatkan gangguan
kesehatan pada manusia. Keracunan merkuri rawan terjadi pada masyarakat
yang tinggal di sekitar penambangan . Umumnya bersifat kronik kecuali jika
terpapar merkuri dalam kadar yang tinggi. Widowati (2008) menyatakan
keracunan akut bisa terjadi pada konsentrasi uap merkuri 0,5 - 1,2 mg/m3
dengan gejala mual, Shock, dan faringitis. Apabila paparan berlanjut dapat
menimbulkan pembengkakan kelenjar ludah, nefritis, dan gangguan sistem
saraf pusat seperti tremor, gagap, dan limbung (Chamid dkk., 2010). Efek
toksik merkuri tergantung pada bentuk, jalan masuk dan lamanya
berkembang. Merkuri masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, pencernaan,
dan kulit. Merkuri yang masuk ke dalam tubuh akan terakumulasi pada
bagian tubuh tetentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut
yang mengakibatkan keracunan sistem syaraf (Rokhman, 2013).
Sampel urine merupakan salah satu indikator untuk melihat kadar
merkuri dalam urine, Pemeriksaan kadar merkuri dalam urine dapat dilakukan
dengan pemeriksan dengan uji lab. mengingat penggunaan merkuri terjadi
secara terus menerus karena penambangan emas secara tradisional di desa
luas kecamatan Rarowatu Utara kabupaten Bombana diduga akan
berpengaruh pada kerusakan ginjal bagi penambang.
6
Hasil penelitian pada uji laboratorium yang dilakukan FPIK Unhalu
pada 26 Oktober sampai 2 Nopember 2009, ditemukan kandungan merkuri
(Hg) yang cukup tinggi hingga 0,09 mg/liter, melebihi ambang batas normal
yakni 0,003 mg/liter untuk biota dan 0,002 mg/liter untuk keperluan sehari
hari seperti air minum, ini sesuai yang ditetapkan bakumutu MKLH.
Pengambilan sampel dilakukan pada 18 Oktober 2009 pada empat lokasi
yang berbeda yaitu station I sungai Langkowala dengan kadar 0,07 mg/liter,
statiun II aliran sungai Langkowala dengan kadar 0,26 mg/liter, station III
sungai Wumbubangka dengan kadar 0,41 mg/liter dan station IV bendungan
Langkowala dengan kadar 0,9 mg/liter (Media Sultra, 2009).
Penambangan emas di Desa Wumbubangka merupakan salah satu
wilayah pertambangan emas rakyat yang ada di Kabupaten Bombana dan
masih aktif dalam aktivitas kegiatan tambangnya. Kegiatan penambangan
dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan menggunakan cara-cara
penambangan yang sangat sederhana (tradisional). Tapi sekarang adanya
perusahaan – perusahaan
yang masuk dalam lokasi tersebut dan lebih
dominan mereka menggunakan mesin dalam penambangan emas maupun
dalam pengolahan emas. Dalam mekanisme praktek kerjanya, pertambangan
tidak terlepas dengan penggunaan merkuri (Hg) dalam proses pengolahan
emas.
Berdasarkan survey lokasi dan wawancara kepada salah satu
masyarakat yang tinggal di Desa Wumbubangka dan bekerja di lokasi
tambang emas, pekerja menggunakan mekuri (Hg) dalam proses pengolahan
7
emas. Tanpa disadari penggunaan merkuri (Hg) sangat berdampak pada
kesehatan, salah satunya adalah masalah penyakit kulit. Karena tanpa
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), penggunaaan merkuri akan
bekontaminasi langsung pada kulit sehingga akan mengakibatkan infeksi
pada kulit. Data sepuluh penyakit terbanyak rawat jalan dan inap di
Puskesmas Desa Wumbubangka tahun 2014 terakhir masing-masing untuk
penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat sebanyak 732 kasus, infeksi
saluran pernafasan akut (ISPA) 711 kasus, gastritis 691 kasus, diare 572
kasus, Malaria klinis 437 kasus, penyakit kulit infeksi sebanyak 394 kasus,
penyakit kulit alergi 316 kasus, hypertensi 297 kasus, kecelakaan 203 kasus
dan TB paru klinis (suspect) 163 kasus. Sebelum adanya tambang, ISPA
merupakan penyakit yang mendominasi, namun setelah adanya adanya
tambang penyakit diare dan alergi mengalami peningkatan. Yang mana
sekitar 90% penderita diare adalah para pendulang, begitu pula dengan
penderita penyakit kulit yang berupa bintik merah. Sering diabsorpsi melalui
gastrointestinal, paru-paru dan kulit. Selain itu, penggunaan merkuri dapat
berdampak dalam jangka panjang berupa penyakit kronis yang dikarenakan
pemakaian merkuri secara terus menerus dalam kegiatan pertambangan emas.
Berdasarkan hasil survey awal di lokasi didapatkan bahwa masyarakat
yang bekerja sebagai penambang kerap mengonsumsi ikan dari sumber yang
dekat dengan lokasi pertambangan. Masyarakat menganggap bahwa ikan
yang mereka konsumsi aman, sehingga diperlukan suatu studi untuk
menggambarkan paparan merkuri pada ikan yang dikonsumsi oleh
8
penambang terutama yang bersumber dari lokasi yang dekat dengan
pertambangan, dikarenakan paparan merkuri tidak hanya melalui kontak
langsung namun juga dapat terjadi akibat mengonsumsi makanan yang
tercemar oleh merkuri.
Meskipun belum ada laporan kasus keracunan merkuri (Hg) pada
pekerja tambang, tapi para pekerja tambang memiliki risiko dalam terpajan
merkuri (Hg). Maka dari itu perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang
paparan merkuri (Hg) pada penambang emas di Desa Wumbubangka.
Belum pernah ada survei terkait studi epidemiologi paparan Merkuri
(Hg) pada pekerja tambang untuk mengetahui adanya paparan merkuri (Hg)
pada tambang emas yang berada di Desa Wumbubangka sebagai upaya
pencegahan dan deteksi dini dalam mengetahui kadar merkuri (Hg) dalam
tubuh melalui pemeriksaan urine, sehingga dapat diketahui segera dan
mendapat pelaksanaan yang tepat.
Skrining merupakan identifikasi dugaan penyakit atau kecacatan yang
belum dikenali dengan menerapkan pengujian, pemeriksaan atau prosedur
lain yang dapat diterapkan dengan cepat. Tujuan dari skrining adalah
mendeteksi adanya penyakit yang timbul dengan melakukan penyaringan dan
pengujian diagnose (Noor, 2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, maka diperlukan suatu penelitian
mengenai studi epidemiologi kadar merkuri (Hg) dalam ikan dan urine
pekerja tambang emas di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016.
9
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini yaitu bagaimana gambaran studi epidemiologi kadar
merkuri (Hg) dalam ikan dan urine pekerja tambang di desa Wumbubangka
Kecamata Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana Tahun 2016?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui studi epidemiologi kadar merkuri (Hg) dalam
ikan dan urine pekerja tambang di desa Wumbubangka Kecamata
Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana Tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui besarnya paparan merkuri (Hg) dalam ikan yang
dikonsumsi oleh pekerja tambang dan urine pekerja tambang di Desa
Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana
Tahun 2016.
b.
Untuk mengetahui besarnya kadar merkuri (Hg) dalam urine pada
pekerja tambang di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 menurut perilaku berdasarkan
frekuensi konsumsi ikan.
c. Untuk mengetahui gambaran paparan merkuri (Hg) pada pekerja
tambang emas di Desa Wumbubangka Rarowatu Utara, Kabupaten
Bombana Tahun 2016 menurut orang berdasarkan jenis aktivitas
penambang.
10
d. Untuk mengetahui gambaran paparan merkuri (Hg) pada pekerja
tambang emas di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 menurut tempat berdasarkan sumber
ikan.
e. Untuk mengetahui gambaran paparan merkuri (Hg) pada pekerja
tambang emas di di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 menurut waktu berdasarkan
frekuensi pemakaian merkuri.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Praktis
Sebagai
sumber
informasi
tentang
gambaran
dan
studi
epidemiologi kadar merkuri (Hg) dalam ikan dan urine pekerja tambang
emas di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten
Bombana tahun 2016
2. Manfaat Ilmiah
Sebagai bahan masukan bagi Dinas Kesehatan Kabupaten
Bombana Berguna dalam perencanaan dan penyusunan program dalam
mengatasi masalah kesehatan berbasis lingkungan serta adanya upaya
dalam penanggulangan terhadap cemaran yang di timbulkan oleh aktivitas
penambang emas.
3. Manfaat Bagi Peneliti
Sebagai tambahan pengalaman, wawasan, serta pengetahuan
penulis dalam melakukan penelitian tentang studi epidemiologi kadar
11
merkuri (Hg) dalam ikan dan urine pekerja tambang di di Desa
Wumbubangka Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana tahun
2016.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian hanya terbatas pada pekerja penambang
emas di Desa Wumbubangka kecamatan Rarowatu Utara. Ruang lingkup
variabel penelitian terbatas pada studi epidemiologi berdasarkan orang (jenis
aktivitas penambang di lokasi tambang), tempat (sumber ikan), waktu
(frekuensi pemakaian merkuri), dan perilaku (frekuensi konsumsi ikan).
Pemeriksaan kadar merkuri (Hg) dengan pengambilan sampel pada ikan dan
urine para pekerja kemudian diuji di Laboratorium F-MIPA Universitas Halu
Oleo, hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan ambang batas
merkuri (Hg) menurut WHO.
F. Definisi dan Istilah, Glosarium
Absorbsi
Penyerapan
Alkil
Radikal univalen yang hanya mengandung
atom karbon dan hidrogen yang disusun dalam
satu rantai.
Ataxia
Kondisi yang ditandai dengan berkurangnya
koordinasi
gerakan
otot
seperti
saat
melakukan berbagai
berjalan,
memegang,
mengambil sesuatu, dll.
Biotransformasi
Bagian dari farmakokinetika yang mempelajari
perubahan pada agen kimia atau obat dalam
12
persinggahan di sistem biologis.
Epidemiologi
Ilmu yang mempelajari pola kesehatan dan
penyakit serta fakor yang terkait di tingkat
populasi.
Iniksitasi
Keracunan
Merkuri
Biasa disebut air raksa adalah unsur kimia pada
tabel periodik dengan simbol Hg dan nomor
atom 80.
Skrining
Biasa
di
sebut
penapisan
merupakan
penggunaan tes atau metode diagnosis lain
untuk mengetahui apakah seseorang memiliki
penyakit
atau
kondisi
tertentu
sebelum
menyebabkan gejala apapun.
Tremor
Gemetar, gerakan otot ritmis bolak-balik yang
tidak disengaja pada satu atau lebih bagian
tubuh. Tremor paling banyak terjadi di telapak
tangan, meskipun juga dapat mempengaruhi
lengan, kepala, wajah, badan, dan kaki.
G. Organisasi/Sistematika
Penelitian ini berjudul studi epidemiologi kadar merkuri (Hg) dalam
ikan dan urine pekerja tambang di desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu
Utara, Kabupaten Bombana Tahun 2016 yang dibimbing oleh pembimbing I,
Farit Rezal, SKM., M.Kes,. dan Pembimbing II, Andi Faizal Fachlevy,
S.KM.,M.kes
13
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Tentang Paparan Merkuri
1.
Merkuri
Merkuri (Hg) adalah unsur logam yang sangat penting dalam
teknologi di abad modern saat ini. Merkuri (Hg) merupakan salah satu jenis
logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu-batuan, bijih
tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik
(Setiawati, 2012).
Merkuri adalah unsur yang mempunyai nomor atom (NA ; 80) serta
mempunyai massa molekul relatif (MR : 200,59). Merkuri diberikan symbol
kimia Hg yang merupakan singkatan yang berasal bahasa Yunani
Hydrargricum, merkuri atau raksa (Zul Alfian, 2006).
Sebagai unsur, merkuri berbentuk cair keperakan pada suhu kamar.
Merkuri membentuk berbagai persenyawaan baik anorganik maupun organik.
Merkuri dapat menjadi senyawa anorganik melalui oksidasi dan kembali
menjadi unsur merkuri (Hg) melalui reduksi. Merkuri anorganik menjadi
merkuri
lambat
berdegradasi
menjadi
merkuri
anorganik.
Merkuri
mempunyai titik lebur -38,9C dan titik didih 356,6C Widowati et.al. (2008).
Merkuri (Hg) adalah satu-satunya logam yang berwujud cair pada suhu
ruang. Merkuri, baik logam maupun metal merkuri (CH3Hg+) biasanya
masuk tubuh manusia lewat pencernaan dan pernafasan. Namun bila dalam
13
14
bentuk logam, biasanya sebagian besar bisa diekskreksikan. Sisanya akan
menumpuk diginjal dan system saraf, yang suatu saat akan menganggu bila
akumulasinya makin banyak. Merkuri dalam bentuk logam tidak begitu
berbahaya, karena hanya 15% yang bisa terserap tubuh manusia. Tetapi
begitu terpapar ke alam, dalam kondisi tertentu merkuri bisa bereaksi dengan
metana yang berasal dari dekomposisi senyawa organik membentuk metal
merkuri yang bersifat toksis. Dalam bentuk metal merkuri, sebagian besar
akan berakumulasi di otak. Karena penyerapannya besar, dalam waktu
singkat bisa menyebabkan berbagai gangguan (Palar Heryanto, 2008).
Logam merkuri dihasilkan dari bijih sinabar, HgS, yang mengandung
unsur merkuri antara 0,1% - 4%.
HgS + O2 → Hg + SO
Merkuri yang telah dilepaskan kemudian dikondensasi sehingga
diperoleh logam cair murni. Logam cair inilah yang dikemudian digunakan
oleh manusia untuk bermacam-macam keperluan termasuk bagi penambang
emas tradisional. Berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh
badan survey geologi di Amerika Serikat pada tahun 1974, dapat diketahui
konsentrasi merkuri dilingkungan dekat penambangan.
Secara umum logam merkuri memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
1. Berwujud cair pada suhu kamar (25C) dengan titik beku paling rendah
sekitar -39C.
15
2. Merupakan logam yang paling mudah menguap jika dibandingkan
dengan logam-logam yang lain.
3. Tahanan listrik yang dimiliki sangat rendah, sehingga menempatkan
merkuri sebagai logam yang sangat baik untuk menghantarkan daya
listrik.
4. Dapat melarutkan bermacam-macam logam untuk membentuk alloy yang
disebut juga dengan analgon.
5. Merupakan unsur yang sangat beracun bagi semua mahluk hidup, baik itu
dalam
bentuk
unsur
tunggal
(logam)
ataupun
dalam
bentuk
persenyawaan (Palar Heryanto, 2008).
Secara umum ada 3 bentuk merkuri (Hammond dan Beliles, 1980)
yaitu :
1. Merkuri Metal (Hg)
Merupakan logam berwarna putih, berkilau dan pada suhu kamar
berada dalam bentuk cairan. Pada suhu kamar akan menguap dan
membentuk uap merkuri yang tidak berwarna dan tidak berbau. Makin
tinggi suhu, makin banyak yang menguap. Merkuri metal banyak
digunakan untuk pemurnian emas dan digunakan pada thermometer.
2. Merkuri anorganik
Senyawa merkuri anorganik terjadi ketika merkuri dikombinasikan
dengan elemen lain seperti klorin, sulfur oksigen. Senyawa ini biasa
disebut garam-garam merkuri, garam-garam merkuri anorganik termasuk
16
amoniak merkuri klorida dan merkuri iodide digunakan untuk cream
pemutih kulit.
3. Merkuri organik
Senyawa merkuri organik terjadi ketika merkuri bertemu dengan
karbon atau organometri. Yang paling popular adalah metal merkuri
(dikenal monometil mercuri) CH3 – Hg-COOH. Merkuri organik sebagai
contoh metal merkuri yang secara komersial digunakan sebagai fungsida,
desinfektan, dan sebagai pengawet cat. Terpaparnya merkuri pada tubuh
dalam waktu yang lama dapat menimbulkan dampak kesehatan hingga
kematian pada manusia. Salah satu pengaruh merkuri terhadap fisiologi
manusia yaitu ; pada sistem saluran pencernaan dan ginjal, terutama
akibat merkuri yang terakumulasi, juga berpengaruh terhadap system
syaraf, karena senyawa kerusakan otak yang irreversible sehingga
mengakibatkan kelumpuhan permanen serta berpengaruh terhadap
pertumbuhan (Wurdiyanto, 2007).
Pengaruh utama yang ditimbulkan oleh merkuri didalam tubuh
adalah menghalangi kerja enzim dan merusak membran sel, keadaan itu
disebabkan karena kemampuan merkuri dalam membentuk gugus yang
mengandung belerang yang terdapat dalam protein, enzim atau
membrane sel. Keracunan yang bersumber dari senyawa merkuri
biasanya melalui saluran pernapasan, disebabkan karena senyawasenyawa alkil-merkuri mempunyai rantai pendek yang mudah menguap,
17
yang masuk besama jalur pernapasan akan mengisi ruang-ruang dan
organ pernapasan dan berkaitan dengan darah (Palar, 2008).
2.
Mekanisme Kerja Merkuri dalam Tubuh
Merkuri membentuk berbagai senyawa anorganik (seperti oksida,
klorida, dan nitrat) dan organik (alkil dan aril). Logam merkuri dan uap
merkuri termasuk kedalam merkuri anorganik (Palar, 2004). Adapun
mekanisme kerja merkuri dalam tubuh adalah sebagai berikut :
1.
Absorbsi
Merkuri masuk ke dalam tubuh terutama melalui paru - paru
dalam bentuk uap atau debu. Sekitar 80 % uap merkuri yang
terinhalasi akan diabsorbsi. Absorbsi merkuri logam yang tertelan dari
saluran cerna hanya dalam jumlah kecil yang dapat diabaikan,
sedangkan senyawa merkuri larut air mudah diabsorbsi. Beberapa
senyawa merkuri organik dan anorganik dapat diabsorbsi melalui kulit.
2.
Biotransformasi
Unsur merkuri yang diabsorbsi dengan cepat dioksidadi
menjadi ion Hg2+, yang memiliki afmitas berikatan dengan substratsubstrat yang kaya gugus tersebut. Merkuri ditemukan dalam ginjal
(terikat pada metalotionen) dan hati. Merkuri dapat melewati darah,
otak dan plasenta. Metil merkuri mempunyai afmitas yang kuat
terhadap otak. Sekitar 90% merkuri darah terdapat dalam eritrosit.
Metabolisme senyawa alkil merkuri serupa dengan metabolisme
18
merkuri logam atau senyawa anorganiknya. Senyawa fenil dan
metoksietil merkuri dimetabolisme dangan lambat.
3.
Ekskresi
Sementara
unsur
merkuri
dan
senyawa
anorganiknya
dieliminasi lebih banyak melalui kemih daripada feses, senyawa
merkuri anorganik terutama diekskresi melalui feses sampai 90%.
Waktu paruh biologis merkuri anorganik mendekati 6 minggu.
3.
Kadar Batas Aman Merkuri
Menurut WHO dan UNEP (2008), kadar untuk urine konsentrasi
merkuri maksimum adalah 50 mg/g kreatinin. Kadar merkuri pada orang
yang pekerjaannya tidak terpapar merkuri jarang melebihi 5μ/g kreatinin.
Konsentrasi untuk merkuri metalik atau uapnya di udara yaitu
0,1mg/m3 dan untuk persenyawaan-persenyawaan organik 0,01mg/m3 di
tempat kerja dimana pekerjanya bekerja selama 8 jam per hari. (Suma'mur,
1998). Karena sifatnya yang sangat beracun, maka U.S. Food and
Administration (FDA) menentukan pembakuan atau Nilai Ambang Batas
(NAB) kadar merkuri yang ada dalam air sungai, yaitu sebesar 0,005 ppm.
(International Agency for Reserach on Cancer WHO, 1993).
Batas aman dari segi konsumsi makananan atau minuman yang
mengandung merkuri telah ditetapkan oleh The Joint FAO/WHO Expert
Committee on Food Additives (JEFCA). JEFCA menetapkan konsumsi
mingguan yang ditoleransi untuk total merkuri adalah sebesar 5mg/kg berat
badan, sedangkan untuk metilmerkuri sebesar 1,6 mg/kg berat. Sedangkan,
19
menurut US EPA dosis metilmerkuri per-hari adalah 0,1 mg/kg berat badan
dan dosis merkuri klorida per-hari adalah 0.3 mg/kg berat badan (WHO dan
UNEP, 2008).
Menurut EPA (2007), dosisletal akut merkuri inorganic untuk orang
dewasa adalah 1-4 gram atau 14-57 mg/kg berat badan untuk seseorang yang
memiliki berat badan sebesar 70 kg. Sedangkan dosis letal minimum
metilmerkuri untuk seseorang yang memiliki berat badan sebesar 70 kg
adalah berkisar antara 20-60 mg/kg berat badan.
4.
Cara Masuk Merkuri ke dalam Tubuh
Cara masuk merkuri ke dalam tubuh turut mempengaruhi bentuk
gangguan yang ditimbulkan, penderita yang terpapar dari uap merkuri dapat
mengalami gangguan pada saluran pernafasan atau paru-paru dan gangguan
berupa kemunduran pada fungsi otak. Kemunduran tersebut disebabkan
terjadinya gangguan pada korteks. Garam-garam merkuri yang masuk dalam
tubuh, baik karena terhisap ataupun tertelan, akan mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada saluran pencernaan, hati dan ginjal. Dan kontak langsung
dengan merkuri melalui kulit akan menimbulkan dermatitis lokal, tetapi dapat
pula meluas secara umum bila terserap oleh tubuh dalam jumlah yang cukup
banyak karena kontak yang berulang - ulang (Kalyanamedia, 2006 dalam
Sugeng 2010).
20
5.
Toksisitas Merkuri
Merkuri secara kimia terbagi menjadi tiga jenis yaitu merkuri
elemental, merkuri anorganik, dan merkuri organik. Merkuri elemental
berbentuk cair dan menghasilkan uap merkuri pada suhu kamar. Uap merkuri
ini dapat masuk ke dalam paru-paru jika terhirup dan masuk ke dalam sistem
peredaran darah. Merkuri elemental ini juga dapat menembus kulit dan akan
masuk ke aliran darah. Namun jika tertelan merkuri ini tidak akan terserap
oleh lambung dan akan keluar tubuh tanpa mengakibatkan bahaya. Merkuri
inorganik dapat masuk dan terserap oleh paru-paru serta dapat menembus
kulit dan juga dapat terserap oleh lambung apabila tertelan. Banyak penyakit
yang disebabkan oleh merkuri anorganik ini bagi manusia diantaranya
mengiritasi kulit, mata dan membran mucus. Merkuri organik dapat masuk
ketubuh melalui paru-paru, kulit dan juga lambung. Merkuri apapun jenisnya
sangatlah berbahaya pada manusia karena merkuri akan terakumulasi pada
tubuh dan bersifat neurotoxin. Merkuri yang digunakan pada produk-produk
kosmetik dapat menyebabkan perubahan warna kulit yang akhirnya dapat
menyebabkan bintik-bintik hitam pada kulit, iritasi kulit, hingga alergi, serta
pemakaian dalam dosis tinggi bisa menyebabkan kerusakan otak secara
permanen, ginjal, dan gangguan perkembangan janin, bahkan pemakaian
dalam jangka pendek dalam kadar tinggi bisa menimbulkan muntah-muntah,
diare, kerusakan paru-paru, dan merupakan zat karsinogenik yang
menyebabkan kanker (Gatot, 2007 dalam Lestarisa 2010)
21
6.
Pengaruh Merkuri terhadap Kesehatan
Beberapa hal terpenting yang dapat dijadikan patokan terhadap efek
yang ditimbulkan oleh merkuri terhadap tubuh, adalah sebagai berikut:
1.
Semua senyawa merkuri adalah racun bagi tubuh
2.
Senyawa merkuri yang berbeda, menunjukkan karakteristik yang
berbeda pula dalam daya racun, penyebaran, akumulasi dan waktu
retensi yang dimilikinya di dalam tubuh.
3.
Biotransformasi tertentu yang terjadi dalam suatu tata lingkungan dan
atau dalam tubuh organisme hidup yang telah kemasukan merkuri,
disebabkan oleh perubahan bentuk atas senyawa - senyawa merkuri
dari satu tipe ke tipe lainnya.
4.
Pengaruh utama yang ditimbulkan oleh merkuri dalam tubuh adalah
menghalangi kerja enzim dan merusak selaput dinding (membran) sel.
Keadaan
itu
disebabkan
karena
kemampuan
merkuri
dalam
membentuk ikatan kuat dengan gugus yang mengandung belerang,
yang terdapat dalam enzim atau dinding sel.
5.
Kerusakan yang diakibatkan oleh logam merkuri dalam tubuh
umumnya bersifat permanen. Dalam bidang kesehatan kerja dikenal
istilah keracunan akut dan keracunan kronis. Keracunan akut
didefinisikan sebagai suatu bentuk keracunan yang terjadi dalam
jangka waktu singkat atau sangat singkat. Peristiwa keracunan akut ini
dapat terjadi apabila individu secara tidak sengaja menghirup atau
menelan bahan beracun dalam dosis atau jumlah besar. Adapun
22
keracunan kronis didefinisikan dengan terhirup atau tertelannya bahan
beracun dalam dosis rendah tetapi dalam jangka waktu yang panjang.
Keracunan kronis lebih sering diderita oleh para pekerja di
penambangan emas.
Penggunaan merkuri dalam waktu lama menimbulkan dampak
gangguan kesehatan hingga kematian pada manusia dalam jumlah yang
cukup besar. Meskipun kasus kematian sebagai akibat pencemaran merkuri
belum terdata di Indonesia hingga kini namun diyakini persoalan merkuri di
Indonesia perlu penanganan tersendiri. Tentu saja hal ini sebagai akibat dari
pengelolaan dan kesehatan manusia dapat diuraikan sebagai berikut :
1.
Pengaruh terhadap fisiologis
Pengaruh toksisitas merkuri terutama pada SSP (Sistem Saluran
Pencernaan) dan ginjal akibat merkuri terakumulasi. Jangka waktu, intensitas
dan jalur paparan serta bentuk merkuri sangat berpengaruh terhadap sistem
yang dipengaruhi. Organ utama yang terkena pada paparan kronik oleh
elemen merkuri dan organomerkuri adalah SSP (Sistem Saluran Pencernaan).
Sedangkan garam merkuri akan berpengaruh terhadap kerusakan ginjal.
Keracunan akut oleh elemen merkuri yang terhisap mempunyai efek terhadap
sistem pernafasan sedang garam merkuri yang tertelan akan berpengaruh
terhadap SSP, efek terhadap sistem kardiovaskuler merupakan efek sekunder.
2.
Pengaruh terhadap Sistem Syaraf
Merkuri yang berpengaruh terhadap sistem syaraf merupakan akibat
pemajanan uap elemen merkuri dan metil merkuri karena senyawa ini mampu
23
menembus blood brain barrier dan dapat mengakibatkan kerusakan otak yang
irreversible sehingga mengakibatkan kelumpuhan permanen. Metilmerkuri
yang masuk ke dalam pencernaan akan memperlambat SSP (Sistem saraf
pusat) yang mungkin tidak dirasakan pada pemajanan setelah beberapa bulan
sebagai gejala pertama sering tidak spesifik seperti malas, pandangan kabur
atau pendengaran hilang (ketulian).
3.
Pengaruh terhadap Ginjal
Apabila terjadi akumulasi pada ginjal yang diakibatkan oleh masuknya
garam inorganik atau phenylmercury melalui SSP akan menyebabkan
naiknya permeabilitas epitel tubulus sehingga akan menurunkan kemampuan
fungsi ginjal (disfungsi ginjal). Pajanan melalui uap merkuri atau garam
merkuri melalui saluran pernafasan juga mengakibatkan kegagalan ginjal
karena terjadi proteinuria atau nephrotic syndrom dan tubular necrosis akut.
4.
Pengaruh terhadap Pertumbuhan.
Terutama terhadap bayi dan ibu yang terpajan oleh metilmerkuri dari
hasil studi membuktikan ada kaitan yang signifikan bayi yang dilahirkan dari
ibu yang makan gandum yang diberi fungisida, maka bayi yang dilahirkan
mengalami gangguan kerusakan otak yaitu retardasi mental, tuli, penciutan
lapangan pandang, buta dan gangguan menelan.
Metode terbaik penilaian paparan terhadap uap merkuri, senyawa alkil
dan merkuri anorganik adalah penetapan kuantitatif merkuri dalam kemih
dengan spektrometri. Pada paparan senyawa organik (metil merkuri),
hendaknya diukur kadar senyawa-senyawa tersebut alam eritrosit dan plasma.
24
Pekerja yang bekerja dengan merkuri akan memiliki kemungkinan risiko
terpapar merkuri yaitu keracunan akut dan kronis.
1.
Keracunan akut
Keracunan akut adalah keracunan yang terjadi dalam waktu singkat
atau seketika, dapat terjadi karena keracunan dalam dosis tinggi dan atau
akibat daya tahan yang rendah. Keracunan akut yang disebabkan oleh logam
merkuri umumnya terjadi pada pekerja-pekerja industri pertambangan dan
pertanian yang menggunakan merkuri sebagai bahan baku, katalis dan atau
pembentuk amalgam atau pestisida. Keracunan akut yang ditimbulkan oleh
logam merkuri dapat diketahui dengan mengamati gejala - gejala berupa :
peradangan pada tekak (pharyngitis), dyspaghia, rasa sakit pada bagian perut,
mual - mual dan muntah, disertai dengan darah dan shock. Bila gejala - gejala
awal ini tidak segera diatasi, penderita selanjutnya akan mengalami
pembengkakan pada kelenjar ludah, radang pada ginjal (nephritis), dan
radang pada hati (hepatitis). Senyawa atau garam-garam merkuri yang
mengakibatkan keracunan akut, dalam tubuh akan mengalami proses ionisasi.
2.
Keracunan kronis
Keracunan kronis adalah keracunan yang terjadi secara perlahan dan
berlangsung dalam selang waktu yang panjang. Penderita keracunan kronis
biasanya tidak menyadari bahwa dirinya telah menumpuk sejumlah racun
dalam tubuh mereka, sehingga pada batas daya tahan yang dimiliki tubuh,
racun yang telah mengendap dalam selang waktu yang panjang tersebut
bekerja. Pengobatan akan menjadi sangat sulit untuk dilakukan. Keracunan
25
kronis yang disebabkan oleh merkuri, peristiwa masuknya sama dengan
keracunan akut, yaitu melalui jalur pernafasan dan makanan.
Akan tetapi pada peristiwa keracunan kronis, jumlah merkuri yang
masuk sangat sedikit sekali sehingga tidak memperlihatkan pengaruh pada
tubuh. Namun demikian masuknya merkuri ini berlangsung secara terus
menerus sehingga lama kelamaan jumlah merkuri yang masuk dan
mengendap dalam tubuh menjadi sangat besar dan melebihi batas toleransi
yang dimiliki tubuh sehingga gejala keracunan mulai terlihat. Peristiwa
keracunan kronis tidak hanya menyerang orang-orang yang bekerja secara
langsung dengan merkuri, melainkan juga dapat diderita oleh mereka yang
tinggal di sekitar kawasan industri yang banyak menggunakan merkuri.
Hanya saja masa keracunan yang terjadi berjalan dalam selang waktu yang
berbeda. Untuk mereka yang bekerja langsung dengan menggunakan
merkuri, proses keracunan kronis mungkin sudah memperlihatkan gejala
dalam selang waktu beberapa minggu. Sedangkan pada mereka yang tidak
terkena langsung, proses keracunan kronis merkuri ini baru dapat diketahui
setelah waktu bertahun - tahun.
Akibat yang ditimbulkan tentu saja berbeda, dimana mereka yang
mengalami proses keracunan kronis setelah kemasukan merkuri dalam waktu
tahunan akan lebih sulit untuk diobati, bila dibandingkan dengan mereka
yang mengalami keracunan kronis dalam selang waktu beberapa minggu.
Pada peristiwa keracunan kronis oleh merkuri, ada dua organ tubuh yang
paling sering mengalami gangguan, yaitu gangguan pada sistem pencernaan
26
dan sistem syaraf. Radang gusi (gingivitis) merupakan gangguan paling
umum yang terjadi pada sistem pencernaan. Radang gusi pada akhirnya akan
merusak jaringan penahan gigi, sehingga gigi mudah lepas. Gangguan
terhadap sistem syaraf dapat terjadi dengan atau tanpa diikuti oleh gangguan
pada lambung dan usus. Ada dua bentuk gejala umum yang dapat dilihat bila
korban mengalami gangguan pada sistem syaraf sebagai akibat keracunan
kronis merkuri, yaitu tremor ringan (gemetar), dan parkinsonisme yang juga
disertai dengan tremor pada fungsi otot sadar.
Biasanya, satu dari kedua gejala ini akan mendominasi gejala
keracunan kronis dan ada kemungkinan terjadinya komplikasi dengan
psikologis. Hal ini diperlihatkan dengan terjadinya gangguan emosional,
seperti cepat marah di luar kewajaran dan mental hiperaktif yang berat.
Gejala tremor biasanya dimulai dari ujung jari tangan atau ujung jari kaki.
Gejala pada ujung jari tangan akan terus menjalar sampai pada otot wajah,
lidah, dan pangkal tenggorokan (larynx). Tremor tersebut biasanya akan
berhenti bila penderita tidur, namun demikian seringkali terjadi gangguan
kram secara tiba-tiba dan kontraksi-kontraksi lainnya. Tanda-tanda seorang
penderita keracunan kronis merkuri dapat dilihat pada organ mata. Biasanya
pada lensa mata penderita terlihat warna abu-abu sampai gelap, atau abu-abu
kemerahan, yang semua itu dapat dilihat dengan mikroskop mata. Disamping
itu, gejala keracunan kronis merkuri yang lainnya adalah terjadinya anemia
ringan pada darah.
27
B. Tinjauan Umum Tentang Epidemiologi
Epidemiologi merupakan ilmu yang mempelajari distribusi dan
determinan–determinan frekuensi penyakit dan kesehatan pada populasi
manusia. Berdasarkan definisi di atas, riset epidemiologi secara “tradisional”
di bagi menjadi dua kategori yaitu studi deskriptif dan studi analitik (Murti,
1997).
Epidemiologi merupakan suatu cabang ilmu kesehatan untuk
menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan dalam suatu
penduduk serta mempelajari sebab timbulnya masalah dan gangguan
kesehatan tersebut untuk tujuan pencegahan maupun penanggulangannnya.
Dalam hal ini, sifat dasar epidemiologi lebih mengarahkan diri pada
kelompok penduduk atau masyarakat tertentu dalam menilai peristiwa dalam
masyarakat secara kuantitatif (Noor, 2008).
Studi
deskriptif
adalah
riset
epidemiologi
yang
bertujuan
menggambarkan pola distribusi penyakit dan determinan penyakit menurut,
populasi, letak geografik dan waktu. Studi deskriptif memberikan beberapa
manfaat. Pertama, memeberikan masukan tentang pengalokasian sumberdaya
dalam rangka perencanaan yang efisien, kepada para perencana kesehatan,
administrator kesehatan, dan memberi pelayanan kesehatan. Kedua,
memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu
variabel adalah faktor risiko penyakit (Murti, 1997).
28
1.
Distribusi Paparan Merkuri Menurut Variabel Orang
Variabel orang dapat dideskripsikan pada siapa yang menderita
penyakit dan menghadapi masalah kesehatan, bagaimana dengan identitas
orangnya seperti umur, jenis kelamin, kelas sosial, status pekerjaan,
pendidikan, golongan etnik, status perkawinan, besarnya keluarga, struktur
keluarga dan paritas (Noor, 2008).
Jenis Aktivitas Penambang di Lokasi Tambang Emas
Proses penambangan dilakukan dengan cara menyedot sedimen dasar
sungai yang terdiri dari lumpur, pasir, batuan kerikil, dan batuan kecil atau
campurannya menggunakan alat penghisap/pompa yang disebut “kato” yang
digerakkan oleh mesin penggerak diesel. Pompa kato tersebut mempunyai
diameter input (water intake) maupun output 4 sampai 6 inci (Lestarisa,
2010).
Pada proses berikutnya akumulasi air, pasir, batu dan lumpur yang
tersedot dialirkan melalui pipa paralon (PVC) ke cash box pertama yang
letaknya lebih tinggi (dibagian atas rakit), untuk kemudian diteruskan
mengalir dan melewati cash box kedua di bagian bawah. Cash box terbuat
dari kayu yang di dalamnya dilapisi dengan karpet beledru atau sejenisnya
yang berfungsi sebagai penangkap endapan yang diyakini mengandung
bijih/butiran emas yang disebut “puya”, sedangkan komponen pasir, batu,
dan lumpur akan mengalir terbawa oleh air ke badan sungai (Lestarisa, 2010).
Hal tersebut disebabkan butiran emas dan komponen logam lain (puya)
yang mempunyai berat jenis yang lebih besar namun mempunyai luas
29
permukaan kecil sehingga lebih dapat bertahan dibandingkan lumpur, pasir
maupun batuan kecil, yang mempunyai sifat sebaliknya. Kumpulan puya
tersebut selanjutnya didulang secara manual untuk
memisahkan dari
komponen lain sampai sekitar 70 – 80 % mendapat bijih/butiran emas mentah
(Lestarisa, 2010).
Bijih/butiran masih bercampur dengan komponen logam lain sehingga
perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut yaitu proses pemurnian. Proses
pemurnian yaitu dengan memisahkan bijih/butiran emas yang masih
tercampur dengan komponen lain (mentah) dengan menggunakan bahan
kimia yaitu raksa/merkuri (Hg). Dalam prosesnya bijih/butiran emas mentah
tersebut harus dicampur dengan Hg agar emas terpisah dari logam lain.
Secara ilmiah hal tersebut bukanlah proses pemisahan tetapi emas tidak
bereaksi dengan Hg, namun komponen lain tersebut yang bereaksi dengan Hg
sehingga menjadi larut yang akhirnya tersisa adalah murni emas. Limbah Hg
dan komponen lain tadi kemudian dibuang ke lingkungan atau perairan
sungai tanpa memikirkan akibat selanjutnya. Butiran emas murni akan
dibentuk menjadi batangan emas. Proses pengolahan/pemurnian emas ini
dapat dilakukan di darat ataupun langsung rakit tempat penambangan. Karena
rata-rata rakit tempat alat penyedot sedimen tersebut diatasnya sekaligus
dibuat pondok sebagai tempat tinggal para penambang. Rata-rata hasil
produksi butiran emas murni untuk setiap unit rakit/alat tambang adalah
antara 2-4 gram.
30
Jadi, dalam jenis aktivitas tambang ada dua kategori yakni :
Pencampur merkuri dan pembakar amalgram (jenis pekerjaan yang
mengalami kontak langsung dengan merkuri). Pengambil lumpur (jenis
pekerjaan yang tidak mengalami kontak langsung dengan merkuri) (Lestarisa,
2010).
2.
Distribusi Paparan Merkuri Menurut Variabel Tempat
Sumber Ikan
Secara teoritis bahwa ikan dan binatang lainnya berasal dari suatu
“daerah tertentu” pada salah satu tempat di belahan bumi ini. Dari daerah
tertentu tersebut ikan-ikan menyebar ke seluruh bagian bumi kita, baik secara
aktif maupun secara pasif. setiap spesies ikan akan dijumpai di seluruh
perairan di muka bumi, terkecuali individu spesies tersebut tidak berhasil
mencapai daerah yang menjadi tujuannya, dikarenakan dalam tujuan
ruaya/migrasinya aktif terhambat oleh adanya barrier atau individu jika
seandainya berhasil mencapai daerah tujuan ruayanya, tetapi tidak mampu
lagi beradaptasi dengan lingkungan baru (daerah ekologi baru) dan jika
spesies tersebut mampu beradaptasi sementara waktu dengan lingkungannya
tetapi dengan adanya proses evolusi, maka tipe asalnya mengalami
modifikasi, sehingga terbentuk tipe yang berbeda.
Kehadiran suatu populasi ikan di suatu tempat dan penyebaran
(distribusi) spesies ikan tersebut di muka bumi ini, selalu berkaitan dengan
masalah habitat dan sumberdayanya. Keberhasilan populasi tersebut untuk
dapat hidup dan bertahan pada habitat tertentu, tidak terlepas dengan adanya
31
penyesuaian atau adaptasi yang dimiliki anggota populasi tersebut. Perairan
merupakan habitat bagi ikan dalam proses pembentukan struktur tubuh ikan,
proses pernafasan, cara pergerakan, memperoleh makanan, reproduksi dan
hal-hal lainnya.
Seperti telah kita ketahui bersama bahwa 70% dari permukaan bumi
ini tertutupi oleh air, sehingga tidak mengherankan jika ditemukan berbagai
jenis, morfologi, serta habitat pada ikan. Ikan-ikan ditemukan di berbagai
tempat dan habitat yang berbeda. Mereka ditemukan di danau tertinggi dunia
dari permukaan laut yaitu danau Titicaca, Amerika Selatan (3812 meter), dan
pada daerah kedalaman 7000 m di bawah permukaan laut. Beberapa jenis
ditemukan pada air tawar dengan salinitas 0.01 ‰ (umumnya danau, 0.05 s/d
1‰) hingga pada salinitas yang sangat tinggi, 100‰ (umumnya 35‰ pada
laut terbuka). Mereka juga dapat ditemui pada gua yang sangat gelap seperti
ditemukan di Tibet, China, dan India hingga pada daerah yang berarus kuat.
Di Afrika ditemukan jenis ikan Tilapia yang hidup di sungai dengan
temperature 44°C, sedangkan di Antartika ditemukan hidup pada suhu –2°C.
Banyak jenis yang ditemukan memiliki organ pernapasan udara tambahan
dan hidup di rawarawa pada daerah tropic. Penyebaran secara vertical pun
dapat melampaui kemampuan jenis vertebata lainnya (sekitar 5 km diatas
permukaan laut sampai 11 km dibawahnya).
Hal serupa terjadi di wilayah pertambangan Desa Wumbubangka di
mana terdapat ikan-ikan yang hidup di kubangan air tempat pendulangan
emas yang berasal dari sungai yang telah kering akibat adanya pertambangan.
32
Kubangan-kubangan tersebut menjadi habitat berbagai jenis ikan yang
dikonsumsi oleh penambang yang tinggal di sekitar lokasi penambangan.
3.
Distribusi Paparan Merkuri Menurut Variabel Waktu
Frekuensi Pemakaian Merkuri
Frekuensi pemakaian merkuri adalah intensitas pekerja kontak dengan
merkuri dalam satu minggu yang dinyatakan dalam satuan hr/mg. Setiap satu
kali pembakaran emas, pekerja tambang menggunakan merkuri (Hg)
sebanyak 600.000 mg/L atau setara dengan 600 ml botol air mineral. Namun
pemakaian merkuri yang digunakan disesuaikan dengan emas yang diperoleh
tiap harinya.
4.
Distribusi Paparan Merkuri Menurut Variabel Perilaku
Konsumsi Ikan
Konsumsi ikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
terjadinya keracunan merkuri pada manusia. Hal tersebut karena merkuri
merupakan logam berat yang tidak dapat didegradasi sehingga dapat
menimbulkan bioakumulasi pada makhhluk hidup yang salah satunya adalah
ikan. Menurut Arsentina (2008) dan Agustina (2010), definisi dari
bioakumulasi yakni peningkatan zat kimia yang terjadi pada tubuh makhluk
hidup dalam waktu yang cukup lama dibandingkan dengan konsentrasi zat
kimia yang berada di alam.
Dalam perairan dan sedimen, merkuri dapat berubah menjadi bentuk
organik, yaitu metilmerkuri (CH3Hg) karena adanya aktivitas bakteri. Bentuk
senyawa metilmerkuri (CH3Hg) dapat dengan mudah berdifusi dan berikatan
33
dengan protein biota akuatik. Hal tersebut termasuk pada protein jaringan
otot ikan (Bureau of Nutritional Sciences, Food Directorate, Health Product
and Food Branch Canada, 2007; Athena dan Inswiasri, 2009). Diketahui pula
ion metil merkuri yang telah termakan akan larut dalam lipida dan ditimbun
dalam jaringan lemak pada ikan sampai kadar 3000 kali dari kadar yang ada
di air, namun ikan tersebut tidak menunjukkangangguan merkuri atau
menderita sakit (Polii dan Sonya, 2002). Sehingga apabila manusia
mengonsumsi ikan yang terkontaminasi oleh merkuri maka dapat terjadi
peningkatan risiko untuk terjadinya keracunan merkuri.
Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi kadar merkuri yang
terkandung dalam ikan, salah satunya adalah umur ikan tersebut . Kandungan
merkuri akan mengikat sesuai dengan umur ikan. Hal tersebut berarti, ikanikan yang berukuran besar sebagai ujung dari rantai makanan yang memiliki
konsentrasi merkuri yang paling tinggi (Athena dan Inswiasri, 2009).
C. Tinjauan Umum Merkuri Dalam Urine
Sampel urine merupakan indikator terbaik terhadap kandungan
merkuri dalam tubuh pada paparan merkuri anorganik jangka panjang karena
paparan uap logam merkuri. Hal ini dikarenakan merkuri dalam urine
mencapai puncaknya +2 -3 minggu setelah pemaparan dan berkurang dengan
sangat lambat dengan waktu paruh 40-60 hari untuk pemaparan jangka
pendek dan 90 hari untuk pemaparan jangka panjang. Pemaparan pada
masyarakat umum kadar merkuri dalam urine jarang melebihi 10μg/l,
34
sedangkan pada pekerja berbanding lurus antara konsentrasi merkuri di udara
dan urine.
Pada hasil beberapa studi menunjukkan bahwa tanda awal pengaruh
kurang baik yang berkenaan dengan sistem syaraf pusat atau ginjal dapat
dilihat pada konsentrasi kadar merkuri dalam urin antara 10 - 20 μg/l. Dan
apabila konsentrasi merkuri dalam urine melebihi 20 μg/l secara pasti
mempunyai risiko efek kurang baik pada kesehatan, terutama pada sistem
syaraf pusat, tremor, rasa cemas, erethism dan kerusakan ginjal dengan
proteinuria dapat diamati (WHO Geneva, 1994).
1.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kadar Merkuri dalam Urine
a.
Kadar Merkuri
Jumlah merkuri yang digunakan pekerja sebagai bahan
pecampur pada saat proses amalgamasi dan penggarangan dengan
satuan lt/hr.
b.
Lama Kontak Merkuri
Adalah lama seseorang bekerja setiap harinya (dalam satuan
jam) dan berapa hari dalam seminggu (dalam satuan hari), sehingga
semakin lama jam kerja orang tersebut dalam sehari maka akan
semakin banyak jumlah paparan merkuri yang diterima oleh tubuhnya,
dan terakumulasi dalam berapa hari kerja selama seminggu.
c.
Penggunaan Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri (APD) adalah alat yang digunakan untuk
meminimalisasi tingkat paparan bahan berbahaya atau beracun serta
35
menghindari kecelakaan akibat kerja di tempat kerja. APD (Alat
Pelindung Diri) ada untuk semua jenis bahaya dan keadaan. Jenis APD
(Alat Pelindung Diri) yang digunakan pada pertambangan emas,
meliputi : sarung tangan karet, kaca mata, sepatu boot, dan pakaian
panjang
(pada
proses
amalgamasi),
sedangkan
pada
proses
penggarangan dibutuhkan masker sebagai alat pelindungnya. Pada
dasarnya APD tersebut dapat berfungsi untuk mencegah masuknya
merkuri ke dalam tubuh pekerja, baik melalui inhalasi maupun melalui
pori - pori kulit. Dengan pekerja memakai APD, diharapkan akan
mengurangi risiko yang diakibatkan oleh paparan merkuri.
2.
Pemeriksaan pada Urine
Merkuri yang masuk ke dalam hati akan terbagi dua; sebagian akan
terakumulasi pada hati, sedangkan sebagian lainnya akan dikirim ke empedu.
Dalam kantong empedu, akan dirombak menjadi senyawa merkuri anorganik
yang kemudian akan dikirim lewat darah ke ginjal, dimana sebagian akan
terakumulasi pada ginjal dan sebagian lagi dibuang bersama urin (Connel
2001).
Metode yang digunakan dalam pemeriksaan total kadar merkuri adalah
Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS) baik untuk pemeriksaan kadar
merkuri dalam makanan, darah, urine, rambut dan dalam jaringan (Rianto,
2010). Kegunaan alat Atomic Absorbtion Spectrophotometer (AAS) adalah
untuk menentukan kandungan logam/metal total dalam suatu senyawa dalam
sampel logam apapun dalam kisaran kosentrasi rendah (ppm sampai pbb).
36
Kandungan logam dalam sampel padat, cair maupun gas (setelah dipreparasi
menjadi larutan) dapat dianalisis mengunakan alat ini (Hartono, 2003).
D. Tinjauan Umum Tentang Skrining
1.
Pengertian Skrining
Skrining atau uji tapis adalah suatu usaha mendeteksi atau menemukan
penderita penyakit tertentu yang tanpa gejala atau tidak tampak dalam suatu
masyarakat atau kelompok penduduk tertentu melalui suatu tes atau
pemeriksaan secara singkat dan sederhana untuk dapat memisahkan mereka
yang betul-betulsehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita
(Noor, 2008).
Tes skrining biasanya tidak menegakkan diagnosis, melainkan ada atau
tidak
adanya
faktor
risiko
yang
diidentifikasi,
sehingga
individu
membutuhkan tindak lanjut dan pengobatan. Sebagai penerima skrining
biasanya orang-orang yang tidak memiliki penyakit adalah penting bahwa tes
skrining itu sendiri sangat mungkin untuk menyebabkan kerusakan. Inisiatif
untuk skrining biasanya berasal dari penyidik atau orang atau badan
kesehatan dan bukan dari keluhan pasien. Skrining biasanya berkaitan dengan
penyakit kronis dan bertujuan untuk mendeteksi penyakit yang belum umum
dalam pelayanan medis. Skrining dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko,
kecenderungan genetik, dan pencetus atau bukti awal penyakit. Ada berbagai
jenis tes kesehatan, masing-masing dengan tujuan sendiri : massa, beberapa
atau multiphase dan preskriptif .
37
Skrining dilakukan untuk mendeteksi adanya suatu penyakit sebelum
dilakukan diagnosis klinis lebih lanjut. Skrining merupakan metode test
sederhana yang digunakan secara luas pada populasi asimptomatik (tampak
sehat) untuk mendeteksi adanya penyakit dengan membagi populasi subjek
skrining menjadi dua kelompok kemungkinan yaitu orang-orang yang lebih
cenderung memiliki penyakit tersebut dan orang-orang yang cenderung untuk
tidak memilikinya. Mereka yang mungkin memiliki penyakit (mereka yang
hasilnya positif) dapat menjalani pemeriksaan diagnostik lebih lanjut dan
pengobatan jika diperlukan. Seperti yang kita ketahui Skrining bukanlah
diagnosis sehingga hasil yang diperoleh betul-betul hanya didasarkan pada
hasil pemeriksaan tes skrining tertentu, sedangkan kepastian diagnosis klinis
dilakukan kemudian secara terpisah, jika hasil dari skrining tersebut
menunjukkan hasil yang positif (Noor, 2008).
2.
Tujuan dan Manfaat Skrining
Skrining mempunyai tujuan diantaranya : menemukan orang yang
terdeteksi menderita suatu penyakit sedini mungkin sehingga dapat dengan
segera memperoleh pengobatan, mencegah meluasnya penyakit dalam
masyarakat, mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan
diri sedini mungkin, mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas
kesehatan tentang sifatpenyakit dan untuk selalu waspada melakukan
pengamatan terhadap gejala dini mendapat keterangan epidemiologis yang
berguna bagi dan peneliti (Rajab, 2009).
38
Beberapa manfaat tes skrining di masyarakat antara lain, biaya yang
dikeluarkan relatif murah serta dapat dilaksanakan dengan efektif, selain itu
melalui tes skrining dapat lebih cepat memperoleh keterangan tentang sifat
dan situasi penyakit dalam masyarakat untuk usaha penanggulangan penyakit
yang akan timbul. Skrining juga dapat mendeteksi kondisi medis pada tahap
awal sebelum gejala ditemukan sedangkan pengobatan lebih efektif ketika
penyakit tersebut sudah terdeteksi keberadaannya (Chandra, 2009 ).
3.
Proses Pelaksanaan Skrining
Pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan
(tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif. Individu dengan hasil negatif
pada suatu saat dapat dilakukan tes ulang, sedangkan pada individu dengan
hasil tes positif dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan
bila hasilnya positif dilakukan pengobatan secara intensif, sedangkan
individu dengan hasil tes negative dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya
sampai penderita semua penderita terjaring.
Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada suatu
kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Namun demikian
bila suatu penyakit diperkirakan mempunyai sifat risiko tinggi pada
kelompok populasi tertentu, maka tes ini dapat pula dilakukan secara selektif
(misalnya khusus pada wanita dewasa) maupun secara random yang sarannya
ditujukan terutama kepada mereka dengan risiko tinggi. Tes ini dapat
dilakukan khusus untuk satu jenis penyakit tertentu, tetapi dapat pula
dilakukan secara serentak untuk lebih dari satupenyakit (Noor, 2008).
39
Uji skrining terdiri dari dua tahap, tahap pertama melakukan
pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko
tinggi menderita penyakit dan bila hasil tes negatif maka dianggap orang
tersebut tidak menderita penyakit. Bila hasil tes positif maka dilakukan
pemeriksaan tahap kedua yaitu pemeriksaan diagnostik yang bila hasilnya
positif maka dianggap sakit dan mendapatkan pengobatan, tetapi bila
hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit dan tidak memerlukan
pengobatan. Bagi hasil pemeriksaan yang negatif dilakukan pemeriksaan
ulang secara periodik. Ini berarti bahwa proses skrining adalah pemeriksaan
pada tahap pertama (Budiarto dan Anggraeni, 2003).
E. Tinjauan Hasil Penelitian Sebelumnya
Peneliatian yang dilakukan oleh (Andry DH dkk., 2011) berbeda
dengan penelitian sebelumnya dimana hasil penlitian menujukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara lama tinggal (p=0,003), jarak
tempat tinggal (p=0,002), jenis pekerjaan (p=0,004), sumber air bersih
(p=0,004), kebiasaan mandi (p=0,015) dan konsumsi ikan hasil setempat
(p=0,007) dengan kadar merkuri pada rambut. Variabel konsumsi sayuran
setempat dan status gizi tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan
kadar merkuri pada rambut masing-masing dengan (p=0,330) dan (p=0,500).
Variabel yang berisiko terjadinya kadar merkuri pada rambut melebihi
ambang batas adalah lama tinggal ≥15 tahun (OR=7,07; 95%CI=2,12–23,57)
dan konsumsi ikan hasil setempat >3 kali per minggu (OR=6,14; 95%
CI=1,86-20,30), dengan nilai probabilitas sebesar 89,3%.
40
F.
Kerangka Teori Penelitian
Wilayah tambang emas rakyat diidentifikasi atau diukur kadar Hg
dalam lingkungan yang meliputi kadar Hg dalam ikan untuk menghitung
intake Hg yang berpengaruh terhadap kadar Hg dalam tubuh manusia (Hg
dalam urin). Selain itu perlu dipertimbangkan sebagai variabel yang
berpengaruh adalah karakter individu meliputi jenis aktivitas penambang dan
pola aktivitas yang digunakan untuk menghitung intake Hg ke dalam tubuh
manusia (Inswiasri dan Hartono, 2011). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
kerangka teori pada gambar di bawah ini :
Sumber
Lain
Sumber Pajanan
(Hg)
Hg di lingkungan
(dalam ikan)
Karakteristik individu:
Jenis aktivitas penambang
Pola aktivitas: frekuensi
pemakaian merkuri (Hg)
Intake Hg pada
manusia
Pharmako kinetik
efek tubuh terhadap Hg
Hg dalam tubuh
manusia
( dalam urine)
Pharmako dinamik
reaksi Hg terhadap tubuh
Efek kesehatan :
kronis
Gambar 1: Kerangka Teori
Sumber : Inswiasri, dan Haryoto Kusnoputranto (2011)
41
G. Kerangka Konsep Penelitian
Karakteristik Orang
jenis aktivitas
penambang.
Karakteristik Tempat
Sumber ikan
Studi
Epidemiologi
Karakteristik Waktu
frekuensi pemakaian
merkuri
Karakteristik Perilaku
Frekuensi konsumsi ikan
: Variabel Independen
: Variabel Dependen
Gambar 2: Kerangka Konsep
Status paparan
merkuri (Hg) dalam
ikan yang
dikonsumsi dan urin
pekerja tambang
42
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kuantitatif
dengan melakukan survei pada penambang emas dengan metode skrining
yakni pemeriksaan kadar merkuri (Hg) melalui pengambilan sampel ikan dan
urine pekerja tambang emas setempat.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari 2016 sampai
selesai, dan dilaksanakan di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara
Kabupaten
Bombana.
Pemeriksaan
Sampel
dilaksanakan
di
Laboratorium Forensik FMIPA Universitas Halu Oleo.
C. Populasi dan Sampel
1.
Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Sugiyono,
2012).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pekerja tambang emas
yang tinggal di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten
42
43
Bombana sebanyak 60 pekerja tambang emas di tiga kelompok yaitu
PT.Anugrah Alam, PT. SAM , dan Mitra Kerja dari kedua PT tersebut.
2.
Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang
diteliti, dan di anggap mewakili seluruh populasi (Notoatmojo,2002).
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah teknik
propotional random sampling, karena populasi terbagi atas bebrapa
kelompok, sehingga
setiap kelompok sampel harus diwakili sampel
(Arikunto,2006)
Besar sampel ditentukan melalui rumus Slovin (Notoadmojo,2010).
Besar sampel < 10000, maka:
Keterangan :
n : Jumlah sampel
N: Jumlah populasi
d : tingkat kesalahan = 0.1
Hasil perhitungan diperoleh:
Karena N = 60, d = 0.1, maka sampelnya (n) adalah:
n
60
1  60(0,12 )
n 
60
1,6
n  37 (pembulatan)
44
Berdasarkan dari hasil perhitungan rumus tersebut, maka diperoleh
total sample sebesar 37 sampel dari populasi sebesar 60 pekerja tambang.
Agar setiap perusahaan terwakili maka sampel harus diambil secara
proporsional berdasarkan rumus berikut:
Sehingga:

PT. Anugerah Alam

PT. SAM

MITRA KERJA
Adapun kriteri inklusi dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Pekerja mengonsumsi ikan di sekitar tambang
2. Bekerja sebagai penambang emas (dengan masa kerja minimal 5 tahun).
3. Masih aktif bekerja di lokasi tambang emas.
4. Responden berada di tempat pada saat pengambilan sampel.
5. Pekerja bersentuhan langsung pada proses pemisahan kandungan emas.
45
D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif
1.
Kadar Merkuri (Hg)
Definisi Operasional
Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang ada secara
alami, merupakan
satu-satunya logam yang pada suhu kamar
berwujud cair. Pemeriksaan merkuri dapat dilakukan dalam ikan dan
urine dibandingkan dengan standar kriteria WHO.
Kriteria Objektif :
Ikan
Normal
: jika kandungan merkuri dalam ikan ≤0,5 ppm
Tidak Normal
: jika kandungan merkuri dalam ikan >0,5 ppm
Urine
Normal
Tidak Normal
: jika paparan merkuri dalam urine 4µg/L
: jika paparan merkuri dalam urine (melebihi ambang
batas normal) ≥ 4µg/L
2.
Orang
Aktivitas Penambang
Definisi Operasional
Aktifitas penambang merupakan kegiatan atau aktivitas yang
dilakukan oleh penambang pada saat kegiatan penambangan
(Lestarisa, 2010).
Kriteria objektif :
46
i.
Jenis pekerjaan yang mengalami kontak langsung dengan
merkuri (Pembakar , Pencampur).
ii.
Jenis pekerjaan yang tidak mengalami kotak langsung dengan
merkuri (Pengambil lumpur / Mendulang).
iii.
Gabungan (Jika jenis aktivitas penambang yang dilakukan
semuanya yaitu pengambil lumpur/mendulang, pembakar dan
pencampur).
3.
Tempat
Sumber Ikan
Sumber ikan adalah sumber hayati perairan yang menghasilkan
berbagai jenis ikan yang diperuntukkan sebagai makanan bagi
konsumsi manusia.
Kategori Objektif :
 Resiko tinggi : >0,003 mg/l
 Resiko rendah : ≤0,003 mg/l (Angriyani, dkk. 2014).
4.
Waktu
Frekuensi Pemakaian Merkuri
Frekuensi pemakaian merkuri adalah intensitas pekerja kontak
dengan merkuri dalam satu minggu yang dinyatakan dalam satuan
hr/mg. Setiap satu kali pembakaran emas, pekerja tambang
menggunakan merkuri (Hg) sebanyak 600.000 mg/L atau setara
dengan 600 ml botol air mineral.
47
Kriteria Objektif :
 Resiko tinggi : 7 hr/35mg
 Resiko rendah : <7 hr/35mg
Dengan asumsi setiap proses pemijaran merkuri yang menguap
dan bersatu dengan udara sekitar 10% dari jumlah total merkuri yang
diproses sebagai berikut :
600.000 x 10/100
5.
Perilaku
Frekuensi Konsumsi
Frekuensi konsumsi adalah jumlah makan dalam sehari-hari
baik kualitatif dan kuantitatif. Dimana dalam menentukan tingkat
risiko digunakan rumus dari Ditjen PP dan PL dengan menentukan
Intake paparan melalui ingesti dengan rumus :
=
Keterangan
:
:
Jumlah konsentrasi agen risiko (mg) yang
masuk ke dalam tubuh manusia dengan berat
badan tertentu (kg) setiap harinya. Dengan
satuan (mg/kg x hari)
48
C (Concentration)
:
Konsentrasi
agen
risiko
pada
air
bersih/minum ataupada makanan
R (rate)
:
Laju konsumsi atau banyaknya volume air
atau jumlah berat makanan yang masuk setiap
jamnya (54 gram /hari)
fE
:
Lamanya atau jumlah hari terjadinya pajanan
setiap tahunnya ( Pajanan pada pemukiman :
350 hari/tahun)
Dt (duration time)
:
Lamanya
atau
jumlah
tahun
terjadinya
pajanan ((Residensial (pemukiman) / pajanan
seumur
Wb (weight of body)
:
hidup
: 8 tahun)
Berat badan manusia / populasi / kelompok
Populasi (Dewasa asia / Indonesia : 55
Kg dan pada anak – anak : 15 Kg)
tavg(nk)
(time
:
average)
Periode waktu rata–rata untuk efek non
karsinogen ( 8 tahun x 365hari/tahun = 2.920)
Kriteria Objektif :
Aman
:
jika nilai intakenya ≤ 0,5 ppm
Tidak aman
:
jika nilai intakenya >0,5 ppm
49
E. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
1.
Pengambilan data responden
Survei awal dilakukan untuk melakukan koordinasi dengan pihak Desa
Wumbubangka untuk mendapatkan izin penelitian dan data demografi desa
serta mendapat dukungan dari semua pihak. Pengambilan data responden
yakni dengan mengunjungi setiap rumah di Desa Wumbubangka.
Sebelum melakukan survey terlebih dahulu meminta persetujuan
responden. Setelah itu meminta persetuaan untuk siap diwawancarai dan
besedia mengambil sampel ikan dan urine. Setelah disetujui siap untuk
melakukan wawancara langsung
kepada responden dengan menanyakan
beberapa pertanyaan berdasarkankan kuisioner yang ada dengan beberapa
pertanyaan dari peneliti.
Adapun Instrumen penelitian ini, sebagai berikut :
a.
Alat tulis berupa polpen dan kertas.
b.
Kuisioner berupa berisi sejumlah pertanyaan.
c.
Multivitamin, yakni diberikan setelah dilakukan wawancara dan
pengambilan sampel urin dengan maksud sebagai tanda terima kasih dari
peneliti telah bersedia menjadi responden.
d.
Kamera sebagai dokumentasi peneliti.
50
F.
Metode Pengumpulan data
1.
Data Primer
Data Primer adalah sumber informasi yang langsung berasal dari yang
mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap data tersebut. Data
primer diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan
kuesioner dalam bentuk daftar pertanyaan yang disediakan sebelumnya
dengan maksud
untuk mengumpulkan data dan informasi langsung dari
responden yang bersangkutan serta dengan melakukan dengan menggunakan
wawancara terstruktur. Tahapan pengumpulan data primer yaitu :
Pengambilan sampel ikan dan urine dilakukan secara langsung di 3
lokasi yang telah ditentukan. Data primer diperoleh dari hasil pengukuran
kandungan Hg dalam ikan dan urine yang dilakukan melalui pemeriksaan
laboratorium.
a. Mengambil data pekerja tambang dengan metode wawancara berdasarkan
alat bantu berupa kuisioner yang dilakukan pada responden di Desa
Wumbubangka Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana Tahun
2016.
b. Sampel ikan, sampel ikan diambil di tiga tempat untuk diamati
kandungan merkurinya (Hg), wadah yang terbuat dari styrofoam untuk
menyimpan sampel ikan sebelum dilakukan uji laboratorium, kertas label
untuk memberi tanda terhadap sampel ikan, es untuk menjaga ikan
sampel agar tidak busuk, spektrofotometer penyerap atom (atomic
51
absorption spectrophotometer, AAS) untuk analisis kandungan logam
berat dalam tubuh ikan, larutan HNO3, SnCl2, HgSO4, dan HCI04.
c. Sampel urine, mengambil sampel urine pekerja tambang pada tiga
wilayah yang telah ditentukan kemudian dilakukan pemeriksaan total
kadar merkuri menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometer
(AAS).
d. Membuat daftar sampel penelitian dengan pemberian nomor.
2.
Data sekunder
Data sekunder diperoleh dari instansi terkait yang ada dalam
penelitianya itu : PT.Anugrah Alam, PT. SAM dan Mitra kerja dari kedua
perusahaan tersebut di desa Wuwubangka, Kecamatan Rarowatu Utara
Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
G. Pengolahan Data dan Analisis Data
1.
Pengolahan Data
a.
Kode yaitu pemberian kode-kode tertentu untuk memudahkan
dalam tahap pengolahan data yaitu dengan cara memberikan
kode angka.
b.
Edit yaitu memeriksa data yang terkumpul tentang hasil
pengukuran pemeriksaan yang telah dilakukan yaitu hasil
pemeriksaan merkuri (Hg) pada ikan dan urine penambang.
52
c.
Tabulasi data yaitu mengelompokan data kedalam tabel yang
dibuat sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
d.
Entry data yaitu memasukkan data yang telah di edit dan di
kode, selanjutnya data-data dimasukkan ke dalam tabel distribusi
frekuensi dengan menggunakan fasilitas komputer.
2.
Analisis Data
Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan karakteristik setiap
variabel penelitian yaitu studi epidemiologi berdasarkan orang, tempat dan
waktu dimana variabel orang meliputi : jenis aktivitas penambang, variabel
tempat sumber ikan, variabel waktu meliputi frekuensi pemakaian merkuri
dan variabel perilaku meliputi konsumsi ikan. Dengan melihat kadar merkuri
(Hg) pada ikan dan urine penambang berdasarkan hasil uji laboratorium,
kemudian dibandingkan dengan ambang batas terhadap kadar merkuri (Hg)
dalam ikan dan urine berdasarkan ketetapan dari WHO.
H. Penyajian Data
Data yang telah diolah dan di analisis, disajikan dalam bentuk tabel
distribusi frekuensi disertai dengan interpretasi dalam bentuk narasi.
53
I.
Jadwal Penelitian
Bulan
No
Kegiatan
I
1
Studi kepustakaan
2
Penyusunan
Proposal
3
Konsultasi Proposal
4
Seminar Proposal
5
Perbaikan Proposal
7
Pelaksanaan
Penelitian
Analisis Data
8
Konsultasi Hasil
9
Seminar Hasil
10
Perbaikan Hasil
11
Ujian Skripsi
12
Perbaikan Skripsi
6
Ket :
: Proposal
:Hasil
: Skiripsi
Januari
Februari
II III IV I
II III IV
Maret
I
II
III IV
April
I
II
III IV
54
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Luas Wilayah dan Topografi
Desa Wumbubangka merupakan bagian wilayah administrasi dari
Kecamatan Rarowatu Utara yang berada di wilayah Perbukitan. Jarak desa
dengan kecamatan yaitu sekitar 11 km. Luas Desa Wumbubangka yaitu
seluas ± 700 ha dengan luas pemukiman ± 20 ha, dan luas prasarana umum
lainnya adalah ± 7 ha.
2. Letak Geografis
Secara geografis, Desa Wumbubangka berada di wilayah Pemerintah
Kecamatan Rarowatu Utara yang merupakan bagian dari Kabupaten
Bombana dengan batas batas Desa sebagai berikut :
a. Sebelah Utara
: Desa Aneka Marga, Kec. Rarowatu Utara
b. Sebelah Selatan
: Punggung Gunung, Kec. Rarowatu
c. Sebelah Timur
: Desa Tembe, Kec. Rarowatu Utara
d. Sebelah Barat
: Desa Totole, Kec. Mata Uliu
3. Kependudukan
a.
Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Jumlah keseluruhan penduduk Desa Wumbubangka yaitu 1.347
jiwa. Keadaan penduduk Desa Wumbubangka berdasarkan jenis kelamin
dapat dilihat pada Tabel 1.
54
55
Tabel 3. Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Lokasi
Jumlah
KK
Jumlah
Penduduk
Jumlah Jiwa
LakiPerempuan
Laki
Desa
285
1.113
566
Wumbubangka
Persentase (%)
50,85
Sumber : Profil Desa Wumbubangka Tahun 2014
547
49,15
Berdasarkan tabel 1 dapat dilihat bahwa keadaan penduduk
menurut jenis kelamin dalam jumlah terbanyak yaitu berjenis kelamin
perempuan sebesar 547 jiwa (49,15%) dan yang terendah yaitu berjenis
kelamin laki - laki sebanyak 566 jiwa (50,85%).
b. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Keadaan penduduk Desa Wumbubangka berdasarkan tingkat
pendidikan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 4. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
No.
1
2
3
4
5
Pendidikan
Jumlah (Orang)
Tidak tamat SD
153
Tamat SD
131
Tamat SLTP
346
Tamat SLTA
121
Diploma/ Sarjana
61
Total
812
Sumber : Laporan KKN Reguler 1 (2014)
Persentase (%)
18,84
16,13
42,61
14,90
7,52
100%
Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa keadaan penduduk
menurut tingkat pendidikan tertinggi terdapat pada pendidikan yang
tamat SLTP sebanyak 346 orang (42,61%) sedangkan yang terendah
berada pada pendidikan Diploma/Sarjana sebanyak 61 orang (7,52%).
56
c.
Keadaan Penduduk Menurut Jenis Mata Pencaharian
Secara umum tingkat perekenomian di Desa Wumbubangka
dipengaruhi oleh potensi sumberdaya yang dapat dimanfaatkan oleh
masyarakat. Keadaan penduduk Desa Wumbubangka berdasarkan jenis
mata pencaharian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 5. Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian
Jumlah Pekerja
(n)
1 Pendulang
468
2 Tukang kayu
21
3 Tukang batu
17
4 Pedagang
67
5 Petani
88
6 Pensiunan PNS
50
7 Wiraswasta
39
8 PNS
62
Total
812
Sumber : Laporan KKN Reguler 1 (2014)
No
Pekerjaan
Persentase (%)
57,63
2,59
2,09
8,25
10,85
6,17
4,81
10,1
100 %
Berdasarkan tabel 3 diatas dapat dilihat bahwa keadan penduduk
menurut mata pencaharian tertinggi terdapat pada pekejaan sebagai
pendulang atau biasa disebut sebagai penambang emas sebanyak 468
orang (57,63%) sedangkan yang terendah berada pada pekerjaan
sebagai tukang batu sebanyak 17 orang (2,09%).
B. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana dengan jumlah sampel sebanyak 37 responden
yang bekerja sebagai penambang emas. Berdasarkan pengolahan data yang
telah dilakukan, maka disajikan hasil penelitian sebagai berikut:
57
1. Karakteristik Responden
a. Umur Responden
Umur adalah perhitungan usia yang dimulai dari saat kelahiran
seseorang sampai dengan waktu penghitungan usia. Pengelompokkan
umur dilakukan untuk mengklasifikasilkan kelompok umur mana yang
lebih banyak menjadi responden penelitian. Selain itu untuk mengetahui
kelompok umur yang lebih beresiko rentan terpapar.
Tabel 6. Distribusi Responden menurut Umur di Desa Wumbubangka,
Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Jumlah
No.
Kelompok Umur
(Tahun)
1.
<25 tahun
2.
26-30 tahun
3.
31-35 tahun
4.
36-40 tahun
5.
41-45 tahun
6.
46-50 tahun
7.
51-55 tahun
8.
>56
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2016
(n)
(%)
3
5
9
5
11
1
1
2
37
8,1
13,5
24,3
13,5
29,7
2,7
2,7
5,4
100
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden
berdasarkan umur responden tertinggi yaitu 41-45 tahun yang berjumlah
11 orang (29,7%) kemudian kelompok umur 31-35 tahun yang berjumlah
9 orang (24,3%) dan jumlah responden berdasarkan umur yang terendah
adalah 46-50 tahun dan 51-55 tahun yang berjumlah 1 orang (2,7%)
58
b. Pendidikan
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan,keterampilan, dan
kebiasaan sekelompok orang yang ditransfer dari satu generasi ke
generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
responden dalam berfikir dan bertindak. Semakin tinggi tingkat
pendidikan, maka akan semakin mudah seseorang menerima sesuatu
yang bersifat baru dan akan lebih terampil serta lebih dinamis terhadap
setiap perubahan yang dihadapi khususnya yang berkaitan dengan
pemeliharaan kesehatan. Tingkat pendidikan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah pendidikan formal yang pernah dijalani atau dilalui
oleh responden. Distribusi responden menurut pendidikan terakhir
responden dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 7. Distribusi Responden menurut Pendidikan Terakhir di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten
Bombana Tahun 2016.
Jumlah
No.
Pendidikan Terakhir
Responden
1.
SD
2.
SMP
3.
SMA
Jumlah
Sumber: Data Primer, 2016
(n)
(%)
12
11
14
37
32,4
29,7
37,8
100
Berdasarkan tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden
berdasarkan pendidikan terakhir terbanyak terdapat pada lulusan SMA
yaitu 14 orang (37,8%) kemudian jumlah responden berdasarkan lulusan
59
SD yaitu 12 orang (32,4%) sedangkan jumlah responden berdasarkan
lulusan SMP adalah yang terendah yaitu 11 orang (29,%).
2. Analisisi Univariat
a. Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) pada Sampel Urine
Penambang Emas
Distribusi kadar merkuri (Hg) penambang emas menurut hasil
pemeriksaan pada sampel urine dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 8. Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) Pada Penambang
Emas Menurut Pemeriksaan Sampel Urine Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten
Bombana Tahun 2016.
Hasil Pemeriksaan
Jumlah
No.
Merkuri (Hg) Pada
(n)
(%)
Sampel Urine
1.
Hasil Positif
37
100.0
2.
Hasil Negatif
0
0
Total
37
100
Sumber: Laporan Hasil Analisa Laboratorium, 2016
Berdasarkan tabel 6 di atas dapat dilihat bahwa jumlah penambang
emas berdas arkan hasil pemeriksaan merkuri (Hg) pada sampel urine
menunjukkan hasil positif sebanyak 37 orang (100%) dan hasil negatif
sebanyak 0 orang (0%). Hal ini menunjukkan bahwa dari 37 pekerja
tambang yang menjadi responden positif terpapar merkuri (Hg).
b. Distribusi Kadar Merkuri (Hg) pada Urine Penambang Emas
Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang ada secara alami,
merupakan satu-satunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair.
60
Pemeriksaan merkuri dapat di lakukan dalam urine. Urine merupakan
salah satu cairan dalam tubuh manusia yang dapat mengakumulasi
merkuri. Kadar merkuri dapat dilihat dengan menggunakan analisis AAS
(Atomic Absorbtion Spectrophotometer) destruksi basah (Lestarisa,
2011).
Distribusi hasil pemeriksaan merkuri (Hg) pada pekerja tambang
dari hasil sampel urine dapat dilihat pada tabel 7.
Tabel 9.Distribusi Kadar Merkuri (Hg) Pada Penambang Emas Menurut
Pemeriksaan Sampel Urine Di Desa Wumbubangka, Kecamatan
Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Kadar Merkuri (Hg)
Jumlah
No.
Pada Sampel Urine
(n)
(µ/L)
1.
2,43-2,92
7
2.
2,93-3,42
6
3.
3,43-3,92
14
4.
3,93-4,42
9
5.
4,43-4,92
1
37
Total
Sumber: Laporan Hasil Analisa Laboratorium, 2016
(%)
18,9
16,2
37,8
24,3
2,7
100
Berdasarkan tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa kadar merkuri (Hg)
pada sampel urine pekerja tambang emas dengan kadar merkuri (Hg)
tertinggi yaitu 4,43-4,92 µ/L sebanyak 1 orang (2,7%) dan kadar merkuri
terendah yaitu sebesar 2,43-2,92 µ/L yaitu 7 orang (18,9%). Jumlah
penambang emas berdasarkan kadar merkuri (Hg) pada sampel urine
yang paling banyak adalah 3,43– 3,92 µ/L yaitu 14 orang (37,8%). Data
di atas menujukkan bahwa kadar merkuri (Hg) pada sampel urine pekerja
61
tambang emas masih berada di bawah ambang batas yaitu 4µ/L
berdasarkan kriteria WHO.
Berdasarkan data deskriptif pada tabel 7 mengenai ditribusi kadar
merkuri (Hg) pada penambang, berikut merupakan tingkat kadar merkuri
(Hg) urine berdasarkan tingkatan untuk melihat besar pengaruh dari
variabel yang diteliti.
Tabel 10. Distribusi Penambang Emas Menurut Tingkat Kadar Merkuri
(Hg) Urine Di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
No.
Tingkat kadar merkuri
(Hg) pada urine
Rendah ( ≤ 4µ/L)
Tinggi ( >4µ/L)
Total
Sumber: Data Primer, 2016
1.
2.
Jumlah
(n)
(%)
27
10
37
72,97
27,03
100
Berdasarkan tabel 8 di atas dapat dilihat bahwa tingkat kadar
merkuri (Hg) pada sampel urine pekerja tambang emas tertinggi terdapat
pada tingkatan rendah (≤4µ/L) yaitu sebanyak 27 orang (72,97%) dan
yang terendah terdapat pada tingkatan tinggi (>4µ/L) yaitu sebanyak 10
orang (27,03%). Hal ini mengartikan sebagian besar penambang masih
berada dalam kategori rendah terhadap kadar merkuri (Hg) pada
urinenya.
62
c. Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) pada Sampel Ikan
Distribusi kadar merkuri (Hg) dalam ikan menurut hasil pemeriksaan
pada sampel ikan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 11. Distribusi Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg) pada Ikan Menurut
Pemeriksaan Sampel Ikan Di Desa Wumbubangka, Kecamatan
Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Jumlah
Hasil Pemeriksaan Merkuri
(Hg) Pada Sampel Ikan
(n)
(%)
1.
Hasil Positif
37
100.0
2.
Hasil Negatif
0
0
Total
37
100
Sumber: Laporan Hasil Analisa Laboratorium, 2016
No.
Berdasarkan tabel 9 di atas dapat dilihat bahwa hasil pemeriksaan
merkuri (Hg) pada sampel ikan menunjukkan hasil positif sebanyak 37
sampel ikan (100%) dan hasil negatif sebanyak 0 sampel ikan (0%). Hal
ini menunjukkan bahwa dari 37 ikan yang menjadi sampel positif
terpapar merkuri (Hg).
d. Distribusi Kadar Merkuri (Hg) Pada Ikan
Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari
siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan. Secara umum
perairan tempat kehidupan ikan terdiri dari laut, air tawar dan payau. Ikan
diperhitungkan sebagai sumber zat gizi yang sangat tinggi. Kandungan
Omega 3 pada ikan mampu mencegah penyakit jantung dan penyakit
degeneratif. Namun apabila merkuri (Hg) terakumulasi di dalam tubuh
ikan dan dikonsumsi oleh manusia maka akan sangat berbahaya bagi
kesehatan. Kadar merkuri pada ikan dapat pula dilihat dengan
63
menggunakan analisis AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer)
destruksi basah (Lestarisa, 2011).
Distribusi hasil pemeriksaan merkuri (Hg) pada ikan dapat dilihat
pada tabel 10.
Tabel 12. Distribusi Kadar Merkuri (Hg) Ikan Menurut Pemeriksaan
Sampel Ikan Di Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu
Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
Kadar Merkuri (Hg)
Jumlah
No.
Pada Sampel Ikan (ppm)
(n)
1.
0,8-1,4
1
2.
1,5-2,1
6
3.
2,2-2,8
5
4.
2,9-3,5
16
5.
3,6-4,2
9
6.
4,3-4,9
0
37
Total
Sumber: Laporan Hasil Analisa Laboratorium, 2016
(%)
2,7
16,22
13,51
43,24
24,32
0
100
Berdasarkan tabel 7 di atas dapat dilihat bahwa kadar merkuri (Hg)
pada sampel ikan dengan kadar merkuri (Hg) tertinggi yaitu 4,3-4,9 ppm
sebanyak 0 ikan (0%) dan kadar merkuri terendah sebesar 0,8-1,4 ppm
yaitu 1 ikan (2,7%). Jumlah ikan berdasarkan kadar merkuri (Hg) pada
sampel ikan yang paling banyak adalah 2,9– 3,5 ppm yaitu 16 ikan
(43,24%). Data di atas menujukkan bahwa kadar merkuri (Hg) pada
sampel ikan telah berada di atas ambang batas yaitu 0,5 ppm berdasarkan
kriteria WHO.
64
Berdasarkan data deskriptif pada tabel 10 mengenai ditribusi kadar
merkuri (Hg) pada ikan, berikut merupakan tingkat kadar merkuri (Hg)
ikan berdasarkan tingkatan untuk melihat besar pengaruh dari variabel
yang diteliti.
Tabel 13. Distribusi Ikan Menurut Tingkat Kadar Merkuri (Hg) Ikan di
Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten
Bombana Tahun 2016.
Tingkat kadar merkuri
(Hg) pada urine
1.
Rendah ( ≤ 0,5 ppm)
2.
Tinggi ( >0,5 ppm)
Total
Sumber: Data Primer, 2016
No.
Jumlah
(n)
(%)
0
37
37
0
100
100
Berdasarkan tabel 11 di atas dapat dilihat bahwa tingkat kadar
merkuri (Hg) pada sampel ikan berada dalam kategori tinggi terhadap
kadar merkuri dalam ikan sehingga ikan tidak aman untuk dikonsumsi.
C. Studi Epidemiolgi Paparan Merkuri (Hg) Pada Penambang Emas
1. Variabel Orang
Jenis Aktivitas Penambang
Distribusi penambang emas menurut orang berdasarkan jenis aktivitas
dari hasil pemeriksaan Merkuri (Hg) pada sampel urine dapat dilihat pada
tabel 12.
Tabel 14. Distribusi Penambang Emas Berdasarkan Kelompok Jenis
Aktivitas Penambang Dari Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg)
Pada Sampel Urine Di Desa Wumbubangka, Kecamatan
Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
No
.
Jenis Aktivitas
Hasil Pemeriksaan
merkuri(Hg) pada Sampel
Urine
Normal
Tidak
Normal
Total
65
1.
2.
Mendulang
Pembakaran/Pencam
puran
3.
Keduanya
4.
Lainnya
Total
Sumber: Data Primer, 2016
(n)
9
1
(%)
33,33
3,7
(n)
3
0
(%)
30
0
(n)
12
1
(%)
32,43
2,7
5
12
27
18,52
44,44
100
1
6
10
10
60
100
6
18
37
16,22
48,65
100
Berdasarkan tabel 12 di atas dapat dilihat bahwa jumlah penambang
emas dengan tingkat kadar merkuri (Hg) pada urine yang menunjukkan
tingkat terendah menurut kelompok jenis aktivitas adalah kelompok
pembakaran yaitu 1 orang (3,7%), dan tingkat tertinggi menurut kelompok
jenis aktivitas yang adalah kelompok lainnya yaitu 12 orang (44,44%).
2. Variabel Tempat
Sumber Ikan
Distribusi hasil pemeriksaan merkuri menurut tempat berdasarkan
sumber ikan dari hasil pemeriksaan Merkuri (Hg) pada sampel ikan dari
hasil pemeriksaan ikan dapat dilihat pada tabel 13.
Tabel 15. Distribusi Sumber Ikan Dari Hasil Pemeriksaan Merkuri (Hg)
Pada Sampel Ikan Di Desa Wumbubangka, Kecamatan
Rarowatu Utara Kabupaten Bombana Tahun 2016.
No.
Sumber Ikan
1.
2.
Risiko Tinggi
Risiko Rendah
Total
Sumber: Data Primer, 2016
Hasil Pemeriksaan (Hg)
pada Sampel Ikan
Tidak Normal
(n)
(%)
14
37,84
23
62,16
37
100
Total
14
23
37
66
Berdasarkan tabel 13 dapat dilihat bahwa seluruh ikan yang diperoleh
atau dikonsumsi dari sumber ikan seperti sungai maupun kubangan
memenuhi kriteria tidak normal atau telah positif mengandung merkuri
(Hg), dimana risiko tinggi berjumlah 14 ikan (37,84%) dan risiko rendah
sebanyak 23 ikan (62,16%).
3. Variabel Waktu
Frekuensi Penggunaan Merkuri
Distribusi hasil pemeriksaan merkuri (Hg) menurut waktu berdasarkan
frekuensi pengggunaan merkuri pada pekerja tambang dari hasil
pemeriksaan urine dapat dilihat pada tabel 14.
Tabel 16. Distribusi Kadar Penggunaan Merkuri (Hg) pada Penambang
Emas Menurut Pemeriksaan Sampel Urine Di Desa
Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten
Bombana Tahun 2016.
No
1.
2.
Frekuensi
Penggunaan
Merkuri
Risiko Tinggi
Risiko Rendah
Total
Sumber: Data Primer, 2016
Hasil Pemeriksaan (Hg)
pada Sampel Urine
Normal
Tidak
normal
(n)
(%)
(n)
(%)
8
29,63
2
20
19 70,37
8
80
27
100
10
100
Total
(n)
10
27
37
(%)
27,03
72,93
100
Berdasarkan tabel 14 di atas dapat dilihat bahwa frekuensi penggunaan
merkuri (Hg) berdasarkan hasil pemeriksaan sampel urine terdapat 10 orang
(27,03%) berisiko tinggi dan 27 orang (72,93%) berisiko rendah.
67
4. Variabel Perilaku
Konsumsi Ikan
Distribusi
hasil
pemeriksaan
merkuri
(Hg)
menurut
perilaku
berdasarkan intake ikan pada pekerja tambang dari hasil pemeriksaan urine
dapat dilihat pada tabel 15.
Tabel 17.Distribusi konsumsi ikan pada penambang emas berdasarkan
perhitungan intake ikan menurut pemeriksaan sampel urine di
Desa Wumbubangka, Kecamatan Rarowatu Utara Tahun 2016.
Hasil Pemeriksaan (Hg) pada
Sampel Urine
No.
Intake Ikan
Normal
Tidak
Normal
(n)
(%)
(n)
(%)
1.
Aman
14
51,85
4
40
2.
Tidak Aman
13
48,15
6
60
27
100
10
100
Total
Sumber: Data Primer, 2016
Total
(n)
18
19
37
(%)
48,67
51,35
100
Pada tabel 15 di atas dapat dilihat bahwa konsumsi ikan yang diperoleh
dari intake ikan berdasarkan hasil pemeriksaan urine memperoleh presentase
aman yaitu 18 orang (48,67%) dan tidak aman yaitu 19 orang (51,35%).
Tabel di atas menunjukkan bahwa konsumsi ikan pada area sekitar
pertambangan adalah tidak aman dikarenakan kadar merkuri dalam ikan
yang mencapai kategori tidak aman.
D. Pembahasan
1. Gambaran Paparan Merkuri (Hg) Pada Pekerja Tambang Emas Di
Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana
Tahun 2016
68
Merkuri (Hg) merupakan salah satu dari bahan pencemaran logam berat
yang sangat
penting untuk diperhatikan. Selain dapat masuk secara
langsung ke dalam perairan alami dari buangan limbah industri juga dapat
masuk melalui air hujan dan pencucian tanah (Achmad, 2004).
Merkuri merupakan salah satu logam berat yang memiliki tingkat
toksisitas paling tinggi dibanding dengan logam berat lainnya. Selain itu,
merkuri mempunyai sifat tidak mudah terurai (non degradable) sehingga
dapat tersebar jauh dari sumber pencemaran namun mudah terabsorbsi.
Merkuri yang terabsorbsi oleh manusia baik melalui inhalasi, kontak kulit,
maupun asupan makanan akan terakumulasi dalam organ tertentu yang dapat
menimbulkan keracunan merkuri (Rokhman, 2013).
Pertambangan emas di Desa Wumbubangka merupakan salah satu
wilayah pertambangan emas rakyat yang ada di Kabupaten Bombana dan
masih aktif dalam kegiatan tambangnya hingga saat ini. Kegiatan
penambangan dilakukan oleh sekelompok masyarakat dengan menggunakan
cara-cara penambangan yang sangat sederhana (tradisional). Namun
semenjak adanya perusahaan–perusahaan
yang masuk ke dalam lokasi
tersebut para pekerja lebih dominan menggunakan mesin dalam proses
penambangan emas maupun dalam pengolahan emas pada mekanisme
praktek kerjanya. Pertambangan tidak terlepas dengan penggunaan merkuri
(Hg) dalam proses pengolahan emas.
Masyarakat melakukan pengolahan bijih emas ini dengan menggunakan
merkuri atau air raksa. Limbah cair dari pengolahan bijih emas tersebut
69
dibuang langsung ke aliran sungai di dekat pertambangan (Balihristi, 2013).
Adanya kegiatan pertambangan yang membuang limbahnya ke sungai
tentunya akan berdampak terhadap kondisi perairan dan organisme di
dalamnya. Sementara para penambang di Desa Wumbubangka kadangkadang memanfaatkan organisme perairan sekitar lokasi tambang untuk
dikonsumsi.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 37 responden
yang diteliti, jumlah penambang emas berdasarkan hasil pemeriksaan
merkuri (Hg) pada sampel urine yang menunjukkan hasil positif sebanyak
37 orang (100%) dan hasil negatif sebanyak 0 orang (0%). Kadar merkuri
(Hg) pada sampel urine pekerja tambang emas dengan kadar merkuri (Hg)
tertinggi yaitu 4,43-4,92 µ/L sebanyak 1 orang (2,7%) dan kadar merkuri
terendah yaitu sebesar 2,43-2,92 µ/L yaitu 7 orang (18,9%). Jumlah
penambang emas berdasarkan kadar merkuri (Hg) pada sampel urine yang
paling banyak adalah 3,43– 3,92 µ/L yaitu 14 orang (37,8%) (dapat di lihat
pada lampiran).
Data deskriptif terhadap kadar merkuri (Hg) dari hasil pemeriksaan
merkuri (Hg) pada sampel urine menujukkan bahwa 37 pekerja tambang
emas yang menjadi responden masih berada di bawah Ambang Batas
Normal dari kadar merkuri (Hg) pada sampel urine yang telah diuji
berdasarkan kriteria World Health Organization (WHO) yang menyatakan
bahwa kadar normal Hg dalam urine berkisar antara 4 µ/L. Akan tetapi
70
paparan yang terus menerus akan mengakibatkan akumulasi merkuri di
dalam tubuh, walaupun konsentrasinya di bawah nilai ambang batas.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Yulandari Nusi (2015)
berdasarkan data deskriptif menunjukkan bahwa kandungan merkuri pada
urine pekerja tambang emas di Desa Hulawa berada pada kisaran 0,03 ppm
sampai dengan 0,48 ppm dengan rata-rata kadar merkuri adalah 0.298 ppm
atau 298μg/L. Hasil pemeriksaan terhadap 20 orang responden, terdapat
responden dengan kadar merkuri tertinggi yaitu 0,48 ppm dan terendah yaitu
0,03 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa kadar merkuri dalam urine
penambang emas di Desa Hulawa melebihi batas kadar normal yang telah
ditetapkan oleh World Health Organization yaitu rata-rata 4μg/L dan telah
melebihi ambang batas maksimal Biological Exposure Index (BEI) merkuri
dalam urine yaitu 50μg/L (Murray. 2013). Namun kadar merkuri dalam
tubuh responden belum termasuk dalam kategori berbahaya, kadar yang
berbahaya dalam urine melebihi 500 μg/L dan akan menunjukkan
intoksikasi merkuri (Depkes dalam Rianto, 2010)
Hasil penelitian yang berbeda dilakukan oleh Wardiatun (2009) dari
data deskriptif sebanyak 44,4 % (8 orang) pekerja tambang emas di desa
Rengas Tujuh pada penelitian ini terdapat merkuri di dalam urinenya,
dengan kisaran kadar merkuri antara 2,32–45,29g/l dan rata - rata kadar
merkuri 7,6g/l. Terdapat 3 orang penambang emas yang kandungan kadar
merkuri dalam urinenya sudah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).
71
Efek toksik merkuri tergantung pada bentuk, jalan masuk, dan lama
berkembang merkuri di dalam tubuh. Merkuri masuk ke dalam tubuh
melalui pernafasan, pencernaan, dan kulit. Merkuri yang masuk ke dalam
tubuh akan terakumulasi pada bagian tubuh tetentu seperti ginjal, hati, kuku,
jaringan lemak, dan rambut yang mengakibatkan keracunan sistem syaraf
(Rokhman, 2013).
2. Gambaran Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) pada Pekerja
Tambang Emas Di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 Berdasarkan Orang (Jenis Aktivitas
Penambang)
Jenis aktivitas pada penambang emas adalah penambang dengan tugas
sebagai pendulang, penambang sebagai pencampur merkuri, dan penambang
sebagai pembakar merkuri. Dalam penelitian ini jenis aktivitas dibedakan
menjadi dua kelompok berdasarkan kontak dengan merkuri yaitu kelompok
penambang pendulang (kontak tidak langsung dengan merkuri) dengan
persentase sebesar 32,43% atau 12 orang dari jumlah penambang,
sedangkan kelompok pencampur dan pembakar merkuri (kontak langsung
dengan merkuri) mempunyai persentase 2,7% atau 1 orang dari jumlah
penambang, dengan kandungan merkuri dalam urine sebesar 3,94 µ/L. Jenis
aktivitas pendulang pada umumnya membutuhkan banyak penambang hal
ini disebabkan pekerjaan mendulang merupakan pekerjaan berat. sedangkan
untuk pembakar dan pencampur merkuri harus memiliki keahlian sendiri
agar kadar emas yang diperoleh tidak berkurang akibat dari proses
72
pencampuran dan pemabakaran dengan merkuri sehingga tidak merugikan
penambang.
Dari hasil ini dapat dikatakan sebagian besar atau lebih dari 50%
penambang terkena keracunan merkuri bukan melalui aktivitas menambang
seperti mendulang, hal ini dikarenakan aktivitas pencampuran merkuri dan
pembakaran amalgram merupakan aktivitas yang dikerjakan oleh 1 orang
saja walaupun diketahui proses pembakaran merupakan aktivitas yang
mempunyai presentase tertinggi terkena keracunan merkuri. Hal ini
disebabkan karena penambang yang mempunyai aktivitas mencampur dan
membakar melakukan kontak langsung dengan merkuri, selain itu karena
uap hasil pembakaran amalgram tersebut terhirup langsung oleh penambang
sehingga masuk kedalam saluran pernafasan dan uap merkuri yang masuk
ke dalam paru-paru berikatan dengan darah. Merkuri yang masuk kedalam
tubuh akan ditransportasi dalam sel darah merah untuk diedarkan ke seluruh
jaringan tubuh. Dalam darah akan mengalami proses oksidasi, yang
dilakukan oleh enzim hidrogen peroksida katalese sehingga berubah
menjadi ion Hg2+. Ion merkuri ini selanjutnya dibawa ke seluruh tubuh
bersama dengan peredaran darah. Logam ini juga terserap dan akan
menumpuk pada ginjal dan hati. Namun demikian penumpukan yang terjadi
pada organ ginjal dan hati masih dapat dikeluarkan bersama urine dan
sebagian akan menumpuk pada empedu. (Palar, 2008 dalam bukunya
Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat Hal 106-107).
73
Di samping itu, merkuri yang berpengaruh terhadap system syaraf
merupakan akibat pemajanan uap elemen merkuri dan metil merkuri karena
senyawanya ini mampu menembus blood brain barrier dan dapat
mengakibatkan kerusakan otak yang irreversible sehingga mengakibatkan
kelumpuhan permanen. Sedangkan metil merkuri yang masuk ke dalam
saluran pencernaan akan memperlambat sistem saluran pencernaan (SSP)
yang mungkin tidak dirasakan pada saat pemajanan, setelah beberapa bulan
sebagai gejala pertama yang sering tidak spesifik seperti malas, pandangan
kabur atau pendengaran hilang (ketulian).
Meskipun jenis aktivitas penambang dalam penelitian ini tidak ada
hubungan dengan kejadian keracunan merkuri namun harus tetap
diwaspadai karena jenis aktivitas pencampur, pembakar amalgram dan
pengambil lumpur akan berbeda kejadian keracunannya. Pencampur dan
pembakar merkuri lebih rentan terkena keracunan karena melakukan kontak
langsung dengan merkuri dan menghirup uap merkuri hasil pembakaran.
Adapun penelitian Trilianty Lestarisa yang mengemukakan bahwa
responden dengan aktivitas penambangan yaitu pengambil lumpur memiliki
frekuensi tertinggi (43.9 %) dibandingkan dengan aktivitas lainnya yaitu
pembakar amalgram (18 %), dan pencampur merkuri (17.1%). Jenis
aktivitas pengambil lumpur pada umumnya membutuhkan banyak
penambang hal ini disebabkan pekerjaan mengambil lumpur merupakan
pekerjaan berat. Sedangkan untuk pembakar dan pencampur merkuri harus
memiliki keahlian sendiri agar kadar emas yang diperoleh tidak berkurang
74
akibat dari proses pencampuran dan pembakaran dengan merkuri sehingga
tidak merugikan penambang.
Cara masuk merkuri ke dalam tubuh turut mempengaruhi bentuk
gangguan yang ditimbulkan, penderita yang terpapar dari uap merkuri dapat
mengalami gangguan pada saluran pernafasan atau paru-paru dan gangguan
berupa kemunduran pada fungsi otak. Kemunduran tersebut disebabkan
terjadinya gangguan pada cortex cerebri.
Garam – garam merkuri yang masuk dalam tubuh, baik karena terhisap
ataupun tertelan, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada saluran
pencernaan, hati dan ginjal. Kontak langsung dengan merkuri melalui kulit
akan menimbulkan dermatitis lokal, tetapi dapat pula meluas secara umum
bila terserap oleh tubuh dalam jumlah yang cukup banyak karena kontak
yang berulang – ulang (Lestarisa, 2010).
3. Gambaran Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) pada Pekerja
Tambang Emas di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 Berdasarkan Tempat (Sumber Ikan)
Sumber ikan adalah tempat para penambang beberapa kali meluangkan
waktu istirahatnya untuk memancing dan mengonsumsi ikan di sekitar area
penambangan seperti sungai dan kubangan. Sumber ikan ini sangat dekat
dengan tempat penambangan sehingga sangat berisiko terjadi pencemaran
pada air dan biota di dalamnya.
Merkuri dan turunannya telah lama diketahui sangat beracun sehingga
kehadirannya di lingkungan perairan dapat mengakibatkan kerugian pada
75
manusia karena sifatnya yang mudah larut dan terikat dalam jaringan tubuh
organisme air. Selain itu pencemaran merkuri mempunyai pengaruh
terhadap ekosistem setempat yang disebabkan oleh sifatnya yang stabil
dalam sedimen, kelarutannya yang rendah dalam air dan kemudahannya
diserap dan terakumulasi dalam jaringan tubuh organisme air, baik melalui
proses bioakumulasi maupun biomagni fikasi yaitu melalui rantai makanan.
Pencemaran merkuri ke lingkungan pada saat amalgamisasi dan
pemijaran emas amalgam dalam proses penambangan emas, akan
mengontaminasi sumber air dan ikan (Inswiasri dan Martono, 2007).
Pembuangan tailing yang berasal dari proses amalgamasi bijih emas,
memungkinkan limbah merkuri tersebar di wilayah penambangan dan dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan oleh merkuri organik atau
anorganik. Hal ini terjadi terutama di wilayah-wilayah tropis karena
tingginya tingkat pelapukan kimiawi dan aktivitas biokimia yang akan
menunjang percapatan mobilisasi unsur-unsur berpitensi racun (Herman,
2006).
Dalam penelitian ini seluruh sumber ikan di area sekitar pertambangan
masuk ke dalam kategori tidak normal dilihat pada hasil pemeriksaan
merkuri dalam ikan. Berdasarkan presentase yang diperoleh risiko tinggi
pada sumber ikan yaitu sebesar 37,84% atau 14 ikan dan risiko rendah
62,16% atau 23 ikan.
Pada penelitian Mahmud Mokoginta, dkk (2014) diperolah analisis data
pengukuran kualitas air oleh Badan Lingkungan Hidup diketahui beberapa
76
sungai mengalami penurunan kualitas air, dan salah satu sungai yang
dimaksud adalah Sungai Ongkag Dumoga dengan penurunan kualitas air
hingga kelas 3. Penurunan kualitas air di beberapa sungai disebabkan oleh
tingginya kadar logam berat seperti merkuri, yaitu sebesar 0,005 mg/l
sehingga masuk pada kelas 3. Tingginya kadar merkuri pada sungai
mengindikasikan adanya kegiatan penambangan emas di hulu Sungai
Ongkag Dumoga. Umumnya merkuri dihasilkan oleh Penambangan Emas
pada saat proses amalgamasi atau saat pemurnian bijih emas yang
menggunakan logam merkuri untuk mengikat emas dari biji mentah.
Kandungan merkuri pada air sungai Ongkag Dumoga sudah melebihi
NAB untuk penggunaan air, karena sudah melewati 0,002 mg/l. Namun, bila
ditinjau lebih lanjut maka dapat dikatakan mengalami pencemaran berat
karena kandungan merkuri dalam air sungai sudah menunjukan kandungai
merkuri sebesar 0,02064 mg/l.
Adapun penelitian lainnya (Miswan, dkk. 2012) mengenai pengukuran
terhadap jenis gastropoda pada masing-masing stasiun dari hulu kearah hilir
memperlihatkan perbedaan kandungan merkuri dimana bagian hulu tinggi
dan bagian hilir muara rendah. Hal ini, tidak jauh berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan peneliti lain di sungai Poboya yang dilakukan
oleh Elvince et al., (2011) yang meneliti masalah polusi merkuri di Palu,
Sulawesi Tengah. Hasil pengukuran merkuri dilakukan terhadap sedimen
adalah dari arah hulu sebesar 0,56 mg/kg lalu turun sampai kearah hilir atau
muara sebesar 0,04 mg/kg.
77
4. Gambaran Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) Pada Pekerja
Tambang Emas Di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 Berdasarkan Waktu (Frekuensi
Penggunaan Merkuri)
Intensitas pekerja kontak dengan merkuri dalam satu minggu
dinyatakan dalam satuan hr/mg. Penggunaan Merkuri dalam intensitas yang
tinggi dapat menimbulkan dampak gangguan kesehatan hingga kematian
pada manusia dalam jumlah yang cukup besar. Pada penelitian ini dapat
dilihat bahwa frekuensi penggunaan merkuri (Hg) berdasarkan hasil
pemeriksaan sampel urine diperoleh presentase 10 orang (27,03%) berisiko
tinggi dan 27 orang (72,93%) berisiko rendah.
Pada dasarnya jumlah pemakaian merkuri per hari yang digunakan oleh
penambang emas tergantung dari emas yang diperoleh. Dalam kegiatan
penambangan sehari-hari para penambang menggunakan merkuri sebagai
bahan baku pengikat emas. Merkuri yang digunakan tergantung dari
material yang diolah dan kandungan emasnya.
Tingginya presentase responden yang keracunan dan menggunakan
kadar merkuri di bawah nilai ambang batas atau sesuai standar dikarenakan
para penambang tersebut yang keseluruhannya sebagai pemijar dengan masa
kerja >5 tahun dan berisiko terpapar langsung dengan merkuri melalui udara
yang dihirup. Hal ini juga disebabkan karena penggunaan APD yang tidak
lengkap. Para pemijar kebanyakan hanya menggunakan sepatu boot saja.
Sedangkan untuk penggunaan masker, baju lengan panjang dan kacamata
78
jarang digunakan. Sehingga walaupun jumlah merkuri yang digunakan
sedikit tetapi langsung terhirup pada saat pemijaran maka akan berisiko
tinggi untuk keracunan dibandingkan dengan para pengolah yang
menggunakan merkuri lebih banyak tetapi menggunakan APD. Para
pengolah bersentuhan langsung dengan merkuri hanya pada saat
menuangkan merkuri pada material ditromel dan pada saat pemerasan,
sehingga risiko untuk terkontaminasi lebih kecil dari pada para pemijar yang
langsung menghirup uap merkuri di udara.
Hasil penelitian ini serupa dengan penelitian Trilianti pada penggunaan
sampel rambut yang menyatakan tidak adanya hubungan antara jumlah
pemakaian merkuri dengan kejadian keracunan merkuri. Namun walaupun
jumlah pemakaian merkuri tidak memberikan kaitan yang signifikan
terhadap keracunan merkuri, penggunaan merkuri pada penelitian ini relatif
tinggi yaitu antara 0,5 kg s/d 1 kg per hari. penggunaan merkuri yang
sedikitpun jika terkena kontak dengan kulit maka akan terabsorbsi melalui
pori, demikian pula bila merkuri tersebut menguap maka akan dapat
terinhalasi masuk ke dalam paru-paru. Merkuri masuk ke dalam tubuh tidak
hanya melalui pori kulit ataupun saluran nafas namun dapat juga melalui
kontak cairan, misalnya lewat mata (Sugeng, 2010).
79
5. Gambaran Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) Pada Pekerja
Tambang Emas Di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2016 Berdasarkan Perilaku (Konsumsi
Ikan)
Kebiasaan konsumsi ikan setempat terbukti sebagai faktor risiko
terjadinya kadar merkuri pada urine yang telah melebihi ambang batas
artinya bahwa kebiasaan mengkonsumsi ikan yang berasal dari sungai
setempat >3 kali/minggu memiliki risiko lebih besar untuk terjadinya kadar
merkuri pada urine melebihi ambang batas jika dibandingkan yang
mengkonsumsi ikan hasil setempat ≤ 3 kali/minggu.
Penelitian pada beberapa wilayah di Malaysia juga membuktikan bahwa
ada hubungan antara jumlah gram/bulan ikan yang dikonsumsi dengan
kadar merkuri pada urine. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang
membuktikan bahwa mengkonsumsi ikan >3 kali/minggu berisiko
meningkatkan kadar merkuri pada urine melebihi ambang batas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi ikan berdasarkan
hasil pemeriksaan urine memperoleh presentase aman sebanyak 18 orang
(48,67%) dan tidak aman
yaitu 19 orang (51,35%). Hal tersebut
menunjukkan bahwa konsumsi ikan pada area sekitar pertambangan dapar
berisiko tinggi dikarenakan kadar merkuri dalam ikan yang mencapai
kategori tidak aman.
Konsentrasi merkuri yang ada pada ikan, nilai tertinggi sebesar 1,66
ppm (Purnama et al., 2015). Dengan mengacu pada Keputusan Direktur
80
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (POM) No. 3725/B/VII/89 tentang
batas maksimum cemaran logam berat dalam makanan yang diperoleh pada
ikan adalah sebesar 0,5 ppm. Hal ini berarti rata-rata konsentrasi merkuri
pada ikan telah melebihi kadar yanng diperbolehkan. Peneliti berpendapat
bahwa ikan tidak aman dikonsumsi oleh masyarakat.
Penelitian Aditya Rahman, dkk (2013) mendapatkan hasil analisis
laboratorium pengukuran kandungan merkuri pada stasiun pengambilan
sampel ikan nila. Hasil analisis kandungan merkuri pada sampel daging ikan
Nila budidaya keramba pada ketiga stasiun dan 1 sampel ikan Nila terdapat
tangkapan yang berasal dari perairan bebas dari tiap-tiap stasiun
menunjukkan bahwa hampir semua sampel daging ikan Nila yang diuji
tidak terdeteksi atau berada dibawah limit deteksi alat. Hanya ada satu
sampel yang terdeteksi yaitu kode sampel ikan A1 yang terdeteksi adanya
kandungan logam berat merkuri sebesar 0,0062 mg/kg. Kandungan tersebut
masih berada di bawah ambang batas berdasarkan Keputusan Kepala BPOM
No.HK.00.06.1.52.4011 tentang batas maksimum cemaran logam dalam
makanan khususnya pada ikan yaitu sebesar 0,5 mg/kg.
Adapun penelitian Hardi (2013) yang meneliti kandungan logam berat
merkuri dalam daging ikan sapu-sapu yang ditangkap pada bulan September
yang dianalisis dengan metode AAS menunjukkan hasil <0.001 ppb. Hasil
analisis pada bulan Oktober dan November dengan metode APHA ed. 21th
3111B (2005) menunjukkan hasil <0.001 ppm. Apabila dibandingkan
dengan standar baku mutu yang ditetapkan yaitu 0.5 mg/k (SNI 2009); 0.3
81
mg/kg (BPOM RI 2007); 0.5 mg/kg (European Communities2006); 0.5
mg/kg (Codex 1995); 0.5 mg/kg (Gazette Food Standards 2011) maka hasil
penelitian ini masih berada di bawah batas baku mutu. Meskipun kadar
logam berat merkuri yang diperoleh dari penelitian masih berada di bawah
baku mutu namun tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi ikan sapu-sapu
yang ditangkap di Sungai Ciliwung. Hal ini didukung hasil penelitian
Alfisyahrin yang melakukan penelitian tahun 2012 di lokasi yang sama
ditemukan adanya kandungan logam berat timbal (Pb) yang telah melebihi
batas baku mutu. Selain itu, mengkonsumsi ikan yang mengandung logam
berat merkuri yang konsentrasinya sangat kecil sekalipun masih berbahaya
bagi kesehatan. Hal ini dikarenakan logam merkuri yang masuk ke dalam
tubuh organisme akan terakumulasi dan tetap tinggal dalam tubuh
organisme tersebut.
82
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Desa Wumbubangka,
Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana mengenai studi epidemiologi
kadar merkuri (Hg) dalam ikan dan urine pada pekerja tambang emas Tahun
2016. Maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu :
1.
Berdasarkan variabel konsumsi ikan dari hasil pemeriksaan urine dapat
disimpulkan bahwa mengonsumsi ikan pada area sekitar pertambangan
adalah tidak aman dikarenakan kadar merkuri dalam ikan yang mencapai
kategori tidak normal dan telah melebihi nilai ambang batas.
2.
Seluruh responden pada penelitian ini yaitu 37 orang terbukti terpapar
merkuri (Hg) berdasarkan pemeriksaan sampel urine oleh Laboratorium
menggunakan analisis AAS (Atomic Absorbtion Spectrophotometer). 27
responden berisiko tinggi da 10 responden berisiko rendah.
3.
Jenis aktivitas penambang dalam penelitian ini yaitu pencampur dan
pembakar amalgram hanya terdapat 1 orang dengan kadar merkuri dalam
urine sebesar 3,94 µ/L, sehingga jenis aktivitas penambang tidak terlalu
berperan dalam kejadian keracunan merkuri (Hg).
4.
Dalam penelitian ini, paparan merkuri (Hg) pada penambang emas
berdasarkan sumber ikan menujukkan seluruh ikan yang diperoleh atau
82
83
dikonsumsi dari sumber ikan seperti sungai maupun kubangan memenuhi
kriteria tidak normal atau telah positif mengandung merkuri (Hg).
5.
Paparan merkuri (Hg) pada penambang emas menurut waktu berdasarkan
frekuensi pemakaian merkuri memperoleh presentase yang rendah
dikarenakan penggunaan merkuri yang disesuaikan oleh emas yang
diperoleh setiap harinya. Semakin sedikit emas yang diperoleh maka
semakin sedikit pula merkuri yang digunakan.
B. Saran
1.
Bagi Pekerja Tambang Emas
a.
Diharapkan kesadaran pekerja dalam meminimalisir penggunaan
merkuri mengingat bahaya dampak merkuri terhadap kesehatan selain
itu juga diharapkan pekerja menggunkan APD (Alat Pelindung Diri)
pada saat beraktivitas di lokasi tambang emas, mengingat resiko
terpaparnya merkuri. Melihat penelitian menujukkan bahwa para
pekerja tersebut sudah tepapar merkuri. Jika terus memerus terpapar
merkuri akan beresiko menyebabkan keracunan merkuri.
b.
Mengingat kadar merkuri dalam ikan di area sekitar tambang telah
melebihi nilai ambang batas, maka diharapkan kepada seluruh pekerja
tambang agar tidak mengonsumsi ikan di sekitar area pertambangan
lagi.
2.
Dinas atau Instansi-Instansi Terkait
84
a.
Perlu adanya pendidikan kesehatan kerja terpadu secara terus menerus
dengan materi bahaya merkuri bagi kesehatan. Selain itu juga
penyuluhan dengan mebagikan brosur atau leaflet pada masyarakat
ataupun penambang yang berada di lokasi tambang emas. Dan perlu
adanya penyuluhan khusus penambang emas terhadap pentingnya
penggunaan APD (Alat Pelindung Diri). Hali ini bertujuan untuk
menghindari atau mengurangi paparan merkuri sehingga diharapkan
dapat mencegah penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan
oleh keracunan merkuri.
b. Perlu adanya kebijakan dari pemerintah, selain itu kerja sama dengan
perusahaan yang terkait dalam penambang emas dalam membuat
suatu kebijakan untuk mencari solusi alokasi tempat peoses
pembuangan
hasil
olahan
limbah
penambang
emas
dengan
menyediakan tempat penampungan limbah merkuri yang sudah
digunakan agar limbah tersebut tidak langsung dibuang kesungai.
Karena hal ini bisa mengakibatkan cemaran merkuri (hg) pada air
sungai.
3.
Bagi Peneliti
Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian sejenis, perlu dilakukan
studi
lanjutan
yang
berkaitan
dengan
faktor–factor
lain
yang
mempengaruhi paparan merkuri (Hg) pada pekerja tambang emas ataupun
pada masyarakat yang berada di kawasan tambang emas dengan uji sampel
pada urine, darah, maupun rambut.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, titin, 2008. Kontaminasi logam berat pada makanan dan dampaknya
Pada kesehatan. Tjp, fakultas teknik, unnes.
Alfian, Z., (2006), Merkuri : Antara Manfaat dan Efek Penggunaanya Bagi
Kesehatan Manusia dan Lingkungan ,Universitas Sumatera Utara
,Medan.
Alloway, B.J and D.C Ayres. 1995. Chemical Principle of Environmental
Pollution, 2nd Edition, Blackie Academic and Professional, Chapman
& Hall, London.
Arikunto, S., 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Ariana, N., 2015, Studi Epidemiologi Paparan Merkuri (Hg) pada Pekerja
Tambang Emas di Desa Wumbubangka Kecamata Rarowatu Utara,
Kabupaten Bombana Tahun 2015, Skripsi, Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Halu Oleo.
Athena dan Inswasari. 2009. Analisis Risiko Kesehatan Masarakat Akibat
Konsumsi Hasiln Laut yang Mengandung Merkuri (Hg) di Kabupaten
Kepualauan Seribu, Jakarta. Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 8 No. 1,
Maret 2009; h. 849-859
Budiarto, E., Anggraeni, D., 2003. Pengantar Epidemiologi. Edisi II.
Jakarta: EGC.
Darmono, 1995. Logam Berat dalam Sistem Biologi. UI Press. Jakarta
DH, Andri; Anies dan Suharyo H. 2011. Kadar merkuri pada rambut masyarakat
di sekitar penambang emas tanpa ijin. Jurnal Media Medika Indonesia,
Vol.45, No. 3, Tahuin 201. Fakultas Kedokteran Universitas
Diponegorodan Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Tengah.
Fardiaz,1996. Analis Bahaya dan Pengendalian titik Kritis (HACCP) Makalah
disampaikan pada pada Pelatihan pengendalian Mutu dan Keamanan
Pangan bagi Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian, IPB, Bogor.
Hartini, E., 2007. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kadar Merkuri Dalam
Urine pada Pekerja Tambang Emas Di Desa Rengas Tujuh Kecamatan
Tumbang Titi Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat.
Hartono, wahyu. 2003. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kadar
Merkuri dalam Rambut pada Pekerja Laboratorium di Balai
Laboratorium Kesehatan Bandar Lampung tahun 2003. Depok : tesis
FKM UI
Lestarisa T, 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan keracunan Merkuri
(Hg) pada penambang emas tanpa ijin (PETI) di Kecamatan Kurun,
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Semarang: Thesis
Universitas Diponegoro
Lestarisa,Tilianty. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keracunan Merkuri
(Hg) Pada Penambang Emas Tanpa Ijin ( PETI) di Kecamatan Kurun,
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Universitas Diponegoro,
2010.
Murti, B, Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi, Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta,1997.
Noor NN, 2008. Epidemiologi. Jakarta : Rineka Cipta
Palar, H. 2008. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta.
Jakarta.
Palar, Heryando. 2004. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Rineka
Cipta : Jakarta.
Palar, Heryando. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta.
Jakarta. 1994.
Polii, Bobby J, dan Desmi N. Sunya. 2002. Pendugaan Kandungan Merkuri
dan Sianida di Daerah Aliran Sungai (DAS) Buyat Minahasa. Ekoton
Vol 2, No.1:31-37, April 2002.
Rajab,wahyudin.20009.Buku ajar Epidemiologi . Jakarta: EGC
Riyanto, Sugeng . Analisis Faktor - Faktor Yang Berhubungan Dengan
Keracunan Merkuri Pada Penambang Emas Tradisional di Desa Jendi
Kecamatan Selogiri Kabupaten Wonogiri. Semarang : Magister
Kesehatan Lingkungan Universitas Diponegoro, 2010.
Rochmana, Suharsono Kamal dan Suhandi. 2006. Pendataan Penyebaran
Unsure Merkuri Pada Wilayah Pertambangan Emas Daerah Gunung
Gede, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Proceding Pemaparan
Hasil-Hasil Kegiatan Lapangan Dan Non Lapangan. Pusat Sumber
Daya Geologi Tahun 2006.
Suma’mur, PK. Higiene Perusahaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja. PT Toko
Gunung Agung. Jakarta. 1996.
UNEP (United Nations Environment Programme) and WHO (World Health
Organization). 2008. Guidance for Identifying Populations at Risk from
Mercury
Exposure.
UNEP
DTIE
Chemicals
Branch
Geneva,
Switzerland.
Wardana, W. 1995. DampakPencemaranLingkungan. Andi. Jakarta.
World Health Organization. Enviromental Health Criteria 118: Inorganic
Mercury; IPCS. Geneva. 1994.
Widowati dkk.2008 Efek toksik logam “Pencegahan dan penanggulangan
pencemaran”.Penerbit Andi, Yogyakarta
Yudhastuti, Ririh, Lilis Sulistyorini, Windhu Purnomo, 1998. Pengaruh Logam
Berat Hg, Cd dan Pb pada Ikan Konsumsi Terhadap Kesehatan
Masyarakat di Kotamadya Surabaya. Laporan Penelitian, Lembaga
Penelitian Unair. Surabaya
LAMPIRAN
Lampiran 1
KUESIONER
STUDI EPIDEMIOLOGI KADAR MERKURI (Hg) PADA IKAN DAN URINE
PEKERJA TAMBANG DI DESA WUMBUBANGKA KEC. RAROWATU UTARA
KAB. BOMBANA TAHUN 2016
A. Identitas Responden
No. Responden
:
Tgl wawancara
:
Nama
:
Umur
:
Pendidikan
: 1. Tidak tamat SD
(Thn)
2. SD
3. SMP / Madrasah
4. SMA / Kejuruan
5. Sarjana
B. Jenis Pekerjaan : 1. Mendulang
2. Pembakaran /pencampuran
3. Keduanya
4. Lainnya ……..( sebutkan )
C. Tempat Tinggal
1. Dari mana sumber ikan yang anda konsumsi?
……………………………………………………………
(kubangan/sungai)
2. Berapa banyak ikan yang anda konsumsi per hari
…………………………………………………………….
3. Berapa banyak merkuri yang anda gunakan tiap hari?
…………………………………………………………….
Lampiran 2
Hasil Output SPSS
Karakteristik Responden
Umur
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
< 25 Tahun
3
8.1
8.1
8.1
26-30 Tahun
5
13.5
13.5
21.6
31-35 Tahun
9
24.3
24.3
45.9
36-40 Tahun
5
13.5
13.5
59.5
41-45 Tahun
11
29.7
29.7
89.2
46-50 Tahun
1
2.7
2.7
91.9
51-55 Tahun
1
2.7
2.7
94.6
> 56
2
5.4
5.4
100.0
Total
37
100.0
100.0
Pendidikan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
SD
12
32.4
32.4
32.4
SMP
11
29.7
29.7
62.2
SMA
14
37.8
37.8
100.0
Total
37
100.0
100.0
ANALISIS UNIVARIAT
Frequency Table
Statistics
urine
N
Valid
Missing
37
0
Urine
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
2.43-2.92
7
18.9
18.9
18.9
2.93-3.42
6
16.2
16.2
35.1
3.43-3.92
14
37.8
37.8
73.0
3.93-4.42
9
24.3
24.3
97.3
4.43-4.92
1
2.7
2.7
100.0
37
100.0
100.0
Total
kategori intake ikan
Cumulative
Frequency
Valid
Percent
Valid Percent
Percent
Aman
18
48.6
48.6
48.6
Tidak Aman
19
51.4
51.4
100.0
Total
37
100.0
100.0
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
Jenis Aktivitas *
kadar_merkuri_urin
Missing
Percent
37
100.0%
N
Total
Percent
0
.0%
N
Percent
37
100.0%
JenisPekerjaan * kadar_merkuri_urin Crosstabulation
kadar_merkuri_urin
normal
JenisPekerjaan
tidak normal
Total
Mendulang
9
3
12
Pembakaran/Pencampuran
1
0
1
Keduanya
5
1
6
12
6
18
27
10
37
Lainnya
Total
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
SumberIkan *
Missing
Percent
37
kadar_merkuri_urin
N
Total
Percent
100.0%
0
N
.0%
Percent
37
100.0%
SumberIkan * kadar_merkuri_urin Crosstabulation
Count
kadar_merkuri_urin
normal
SumberIkan
tidak normal
Total
Risiko Tinggi
12
2
14
Risiko Rendah
15
8
23
27
10
37
Total
Case Processing Summary
Cases
Valid
N
PemakaianMerkuri *
kadar_merkuri_urin
Missing
Percent
37
100.0%
N
Total
Percent
0
.0%
N
Percent
37
100.0%
PemakaianMerkuri * kadar_merkuri_urin Crosstabulation
Count
kadar_merkuri_urin
normal
PemakaianMerkuri
Total
tidak normal
Total
Risiko Tinggi
8
2
10
Risiko Rendah
19
8
27
27
10
37
Lampiran 3
Hasil Perhitungan Intake Ikan
c
R
3,28
3,91
3,42
2,62
3,84
1,73
1,87
2,06
1,83
2,64
2,16
2,56
4,12
3,01
2,99
2,67
3,52
3,09
3,4
3,21
3,13
3,62
3,55
3,38
3,76
0,82
2,11
3,02
2,98
2,63
3,09
3,52
3,88
4,01
3,81
3,54
4,21
Fe
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
Dt
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
350
wb
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
360
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
54
tavg
Intake
2920
5,242009132
2920
6,248858447
2920
5,465753425
2920
4,187214612
2920
6,136986301
2920
2,764840183
2920
2,988584475
2920
3,292237443
2920
2,924657534
2920
4,219178082
2920
3,452054795
2920
4,091324201
2920
6,584474886
2920
4,810502283
2920
4,778538813
2920
4,267123288
2920
5,625570776
2920
4,938356164
2920
5,433789954
2920
5,130136986
2920
5,002283105
2920
5,785388128
2920
5,673515982
2920
5,401826484
2920
6,00913242
2920
1,310502283
2920
3,372146119
2920
4,826484018
2920
4,762557078
2920
4,203196347
2920
4,938356164
2920
5,625570776
2920
6,200913242
2920
6,408675799
2920
6,089041096
2920
5,657534247
2920
6,728310502
Lampiran 4
Pengambilan Sampel Ikan
Pengambilan Sampel Urine
Penyimpanan Sampel Uri
Download