Page 29 BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS

advertisement
BAB III
ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN
TUGAS POKOK DAN FUNGSI
3.1 IDENTIFIKASI PERMASALAHAN BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI
Berdasarkan penyelenggaraan pelayanan pada Dinas Lingkungan
Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah teridentifikasi beberapa
permasalahan
yang
dihadapi
oleh
Dinas
Lingkungan
Hidup
dan
Kehutanan, pelanggan, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah
sebagai berikut :
1)
Usaha/kegiatan yang berpotensi menghasilkan limbah B3 Tahun
2014 sejumlah 1.471 buah dan Tahun 2015 menjadi 1.489 buah
terjadi peningkatan sebesar 12,25% dengan potensi limbah padat B3
(sludge + limbah batu bara) mencapai 1.084.464,42 ton/tahun.
2)
Lahan kritis di Jawa Tengah yang belum tertangani masih luas.
Sampai tahun 2016 luasnya mencapai 488.493 ha dari luas lahan
kritis 634.601 ha;
3)
Usaha/kegiatan skala kecil/menengah/besar di Jawa Tengah yang
mempunyai potensi menimbulkan pencemaran lingkungan sebanyak
648.999 buah, dengan jumlah limbah cair yang dibuang sebesar
645.995.000 m3/tahun;
4)
Menurunnya kualitas udara di perkotaan yang melampaui baku mutu
yang ditetapkan.
5)
Volume timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat meningkat
mencapai 22.791,93 ton/hr pada tahun 2015 dan terus meningkat
seiring dengan pertambahan penduduk.
6)
Ketersediaan
dan
kontinyuitas
data
dan
informasi
kehutanan
khususnya pada hutan rakyat masih kurang lengkap sehingga
menyulitkan dalam perencanaan dan pengendalian pembangunan;
7)
Masalah perubahan fungsi dan penggunaan kawasan hutan seperti
pinjam pakai, tukar menukar, kerjasama dan penggunaan bersama
masih banyak yang belum tuntas;
8)
Pola budidaya hutan rakyat masih dijumpai kegagalan karena bibit
kurang berkualitas, teknik budidaya belum menerapkan silvikutur
intensif dan tingginya serangan hama dan penyakit;
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 29
9)
Pengembangan
hasil
hutan
bukan
kayu
dan
jasa
lingkungan
terkendala keterbatasan akses pasar, modal dan kurang fokus serta
kurang terpadu dalam pengembangannya;
10) Kebakaran pada hutan lindung dan hutan konservasi dan pencurian
hasil hutan pada hutan produksi masih tinggi;
11) Produktifitas sumber daya hutan masih rendah;
12) Jumlah penduduk miskin di sekitar hutan masih tinggi.
3.2
TELAAH VISI, MISI DAN PROGRAM KEPALA DAERAH DAN WAKIL
KEPALA DAERAH TERPILIH
Untuk melakukan analisis terhadap tugas pokok dan Fungsi Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah yang terkait
dengan visi, misi dan program Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah
perlu dilakukan telaahan terhadap visi, misi dan program tersebut. Adapun
visi dan misi dari Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah adalah
sebagai berikut:
Visi :
“MENUJU JAWA TENGAH SEJAHTERA DAN BERDIKARI
Mboten Korupsi Mboten Ngapusi”
Misi :
1. Membangun Jawa Tengah berbasis Trisakti Bung Karno, Berdaulat
di Bidang Politik, Berdikari di Bidang Ekonomi, dan Berkepribadian
di Bidang Kebudayaan;
2. Mewujudkan
Kesejahteraan
Masyarakat
yang
Berkeadilan,
Menanggulangi Kemiskinan dan Pengangguran
3. Mewujudkan Penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah
yang Bersih, Jujur dan Transparan, “Mboten Korupsi, Mboten
Ngapusi”;
4. Memperkuat Kelembagaan Sosial Masyarakat untuk Meningkatkan
Persatuan dan Kesatuan;
5. Memperkuat Partisipasi Masyarakat dalam Pengambilan Keputusan
dan Proses Pembangunan yang Menyangkut Hajat Hidup Orang
Banyak;
6. Meningkatkan
Kualitas
Pelayanan
Publik
untuk
Memenuhi
Kebutuhan Dasar Masyarakat;
7. Meningkatkan Infrastruktur untuk Mempercepat Pembangunan
Jawa Tengah yang Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan;
Sedangkan berdasarkan relevansi dan korelasi tuga pokok dan
fungsi Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 30
dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur adalah terletak pada
Misi ke-7 yaitu : “Meningkatkan Infrastruktur untuk Mempercepat
Pembangunan
Jawa
Tengah
Lingkungan”, yang bertujuan
yang
Berkelanjutan
dan
Ramah
Menerapkan konsep ramah lingkungan
dalam setiap pembangunan; Adapun sasaran dari misi ke-7 tersebut yang
secara
langsung
dilaksanakan
oleh
Dinas
Lingkungan
Hidup
dan
Kehutanan Provinsi Jawa Tengah adalah Terwujudnya pembangunan
berwawasan lingkungan;
Berdasarkan Visi dan Misi tersebut, Gubernur dan Wakil Gubernur
Periode 2013 – 2018 memiliki beberapa program unggulan, diantaranya
yang sangat terkait dengan urusan lingkungan hidup dan kehutanan
adalah
pembangunan
lingkungan,
desa
infrastruktur
mandiri,
yang
kedaulatan
menerapkan
pangan,
wawasan
kedaulatan
energi,
penanggulangan kemiskinan dan Ijo Royo-royo. Visi, Misi dan Program
Gubernur dan Wakil Gubernur Periode 2013 – 2018 sangat berkaitan erat
dengan
permasalahan
umum
pembangunan
lingkungan
hidup
dan
kehutanan di Jawa Tengah.
Dinas
membantu
Lingkungan
Gubernur
Hidup
dan
melaksanakan
Kehutanan
urusan
mempunyai
tugas
pemerintahan
Bidang
Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menjadi kewenangan Daerah dan
tugas pembantuan yang ditugaskan kepada Daerah dengan 4 fungsi
sebagaimana pada Bab II.
Untuk
mendukung
visi
dan
misi
Gubernur
terpilih,
urusan
Lingkungan Hidup dan Kehutanan dijabarkan dalam 3 (tiga) indikator
urusan lingkungan hidup dan 2 (dua ) indikator urusan kehutanan yaitu:
1)
Informasi status mutu air (SPM)
2)
Informasi status mutu udara ambien (SPM)
3)
Tindak lanjut pengaduan akibat dugaan pencemaran lingkungan
4)
Rehabilitasi hutan dan lahan kritis
5)
Kontribusi sektor kehutanan terhadapp PDRB
3.3 TELAAH
RENSTRA
KEMENTERIAN
LINGKUNGAN
HIDUP
DAN
KEHUTANAN
Presiden Republik Indonesia telah mengarahkan visi dan misi
pembangunan Tahun 2015-2019 yang dijadikan peta jalan
seluruh
kementerian dalam merancang arah pembangunan, sasaran dan strategi
yang akan dilaksanakannya. Arahan pembangunan Indonesia ini tertuang
dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 31
2015-2019 yang telah ditetapkan dengan Peraturan Presiden Nomor : 2
Tahun 2015.
Visi pembangunan nasional Tahun 2015-2019 adalah:
“Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian
Berlandaskan Gotong Royong”.
Misi yang diemban untuk memenuhi visi yang telah dirumuskan
adalah:
1) Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan
wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber
daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara
kepulauan;
2) Mewujudkan
masyarakat
maju,
berkeseimbangan
dan
demokratis
berlandaskan negara hukum;
3) Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri
4) sebagai Negara maritim;
5) Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan
sejahtera;
6) Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing;
7) Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju,
kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional; dan,
8) Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Pelaksanaan
pembangunan
dilakukan
dengan
9
agenda
pembangunan Tahun 2015-2019, yang di dalamnya memuat sub agenda
dan sasaran yang hendak dicapai dan menjadi amanat bagi Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pelaksanaan pembangunan dibagi ke
dalam : prioritas nasional, yang memuat sasaran pembangunan yang
memiliki kaitan langsung dengan janji Presiden dan Wakil Presiden;
prioritas bidang, yang memuat sasaran yang memiliki kaitan terhadap
bidang sumberdaya alam dan lingkungan untuk Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan; dan lintas bidang yang sasarannya merupakan hasil
kerja bersama lintas kementerian.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merumuskan
tujuan
pembangunan
Tahun
2015-2019,
yaitu
memastikan
kondisi
lingkungan berada pada toleransi yang dibutuhkan untuk kehidupan
manusia dan sumberdaya berada rentang populasi yang aman, serta secara
paralel meningkatkan kemampuan sumberdaya alam untuk memberikan
sumbangan bagi perekonomian nasional. Selanjutnya, untuk memastikan
peran pembangunan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan,
dirumuskan sasaran strategis pembangunan Lingkungan Hidup dan
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 32
Kehutanan. Sasaran strategis ini akan menjadi panduan dan mendorong
arsitektur kinerja tahun 2015-2019.
Sasaran strategis pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Tahun 2015-2019 adalah : (1) Menjaga kualitas lingkungan hidup untuk
meningkatkan daya dukung lingkungan, ketahanan air dan kesehatan
masyarakat, dengan indikator kinerja Indeks Kualitas Lingkungan Hidup
berada pada kisaran 66,5-68,6, angka pada tahun 2014 sebesar 63,42.
Anasir utama pembangun dari besarnya indeks ini yang akan ditangani,
yaitu air, udara dan tutupan hutan; (2) Memanfaatkan potensi Sumberdaya
hutan dan lingkungan hutan secara lestari untuk meningkatkan ekonomi
dan kesejahteraan masyarakat yang berkeadailan, dengan indikator kinerja
peningkatan kontribusi SDH dan LH terhadap devisa dan PNBP. Komponen
pengungkit yang akan ditangani yaitu produksi hasil hutan, baik kayu
maupun non kayu (termasuk tumbuhan dan satwa liar) dan eksport; dan,
(3) Melestarikan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta
keberadaan SDA sebagai sistem penyangga kehidupan untuk mendukung
pembangunan
berkelanjutan,
dengan
indikator
kinerja
derajat
keberfungsian ekosistem meningkat setiap tahun. Kinerja ini merupakan
agregasi berbagai penanda (penurunan jumlah hotpsot kebakaran hutan
dan lahan, peningkatan populasi spesies terancam punah, peningkatan
kawasan ekosistem esensial yang dikelola oleh para pihak, penurunan
konsumsi bahan perisak ozon, dan lain-lain).
Memperhatikan visi, misi, tujuan, sasaran strategis dan kebijakan
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Tahun 2014 – 2019, pada
prinsipnya sasaran strategi dan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup
dan Kehutanan tersebut akan menjadi salah satu faktor pendorong atas
peningkatan kualitas pelayanan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Provinsi Jawa Tengah, dikarenakan kebijakan Kementerian Lingkungan
Hidup
dan
Kehutanan
tersebut
secara
langsung
akan
mendukung
penyelesaian permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan di Jawa
Tengah. Selain hal tersebut peran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Provinsi Jawa Tengah sebagai bagian dari entitas lingkungan hidup dan
kehutanan dan sekaligus sebagai katalis bagi para pihak yang jumlahnya
banyak dan kepentingannya cukup beragam.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 33
3.4 TELAAHAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2009-2029 DAN KAJIAN
LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS RPJMD 2013 – 2018
A. Telaahan Rencana Tata Ruang Wilayah
Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta
segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan
aspek administratif dan/atau aspek fungsional. Sedangkan kawasan
adalah wilayah yang memiliki fungsi utama lindung atau budidaya.
Rencana struktur tata ruang Jawa Tengah terdiri dari 4 Sistem, yaitu
Pedesaan, Perkotaan, Perwilayahan, dan Jaringan Prasarana Wilayah.
Pengelolaan lingkungan hidup sangat terkait erat dengan Rencana
Tata
Ruang
Wilayah
RTRW.
Semakin
tinggi
tingkat
kesesuaian
pembangunan infrastruktur dengan RTRW yang telah ditetapkan semakin
baik pengelolaan lingkungan hidupnya.
Sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6
Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa
Tengah Tahun 2009-2029 pada pasal 3 huruf (h) bahwa RTRW Provinsi
Jawa Tengah menjadi pedoman untuk rencana perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup.
Rencana
Pola
Ruang
Jawa
Tengah
menempatkan
Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah sebagai
Pelaksana
Utama
untuk
Perwujudan
Hutan
Lindung,
Perwujudan
Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya, Perwujudan
Pengembangan Kawasan Hutan Produksi, Perwujudan Kawasan Hutan
Rakyat, selain itu Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga menjadi
Pelaksana
Pendukung
pada
Rencana
Pengembangan
Sungai,
Pengembangan Waduk, Pengembangan Embung, Perwujudan Kawasan
Resapan Air, Perwujudan Kawasan Perlindungan Setempat, Perwujudan
Kawasan Perlindungan Plasma Nutfah dan Kawasan Pengungsian Satwa,
Perwujudan Kawasan Lindung Geologi, Kawasan Strategis Provinsi Jateng
dari Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup.
Rencana Kawasan Strategis Provinsi Jawa Tengah antara lain dari
sudut
kepentingan
fungsi
dan
daya
dukung
lingkungan
hidup
menempatkan Kawasan Hutan Jawa Tengah sebagai kawasan yang
strategis (diantaranya TN Merapi, TN Merbabu, TN Karimunjawa, Dataran
Tinggi Dieng, Sindoro Sumbing, Rawa Pening, Segara Anakan, DAS
Garang, KR Baturraden, Gunung Lawu, Gunung Slamet) Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029 telah merinci
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 34
Indikasi Program Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Kehutanan
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009-2029 adalah sebagai berikut:
1. Indikasi Program Utama Perwujudan Sistem Jaringan
Pelaksana Pendukung Pengembangan Sungai (Konservasi Sumber
Daya Air, Pendayagunaan Sumber Daya Air, Pengendalian Daya Rusak
Air Sungai), Pengembangan Waduk (Konservasi Sumber Daya Air
Waduk, Pendayagunaan Sumber Daya Air waduk, Pengendalian Daya
Rusak Air Waduk), Pengembangan Embung.
2. Indikasi Program Utama Perwujudan Pola Ruang
a. Pelaksana Utama Perwujudan Hutan Lindung (Rehabilitasi dan
pemantapan fungsi kawasan hutan lindung, Pengembangan dan
pengelolaan kawasan hutan lindung). Perwujudan Kawasan Hutan
Lindung Secara Fisiografis Seperti Hutan Lindung (Rehabilitasi dan
Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan pengelolaan
kawasan)
b. Pelaksana
Pendukung
Perwujudan
Kawasan
Resapan
Air
(Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan
pengelolaan Kawasan)
c. Pelaksana Pendukung Perwujudan Kawasan Perlindungan Setempat
(Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan
Pengelolaan Kawasan)
d. Pelaksana Utama Perwujudan Kawasan Suaka Alam, Pelestarian
Alam dan Cagar Budaya (Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi
Kawasan, Pengembangan dan Pengelolaan Kawasan Suaka Alam,
Pelestarian Alam dan Cagar Budaya)
e. Pelaksana Pendukung Perwujudan Kawasan Perlindungan Plasma
Nutfah
dan
Kawasan
Pengungsian
Satwa
(Rehabilitasi
dan
Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan Pengelolaan
Kawasan)
f. Pelaksana
Pendukung
Perwujudan
Kawasan
Lindung
Geologi
(Rehabilitasi dan Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan
Pengelolaan Kawasan)
g. Pelaksana Utama
Produksi
Perwujudan Pengembangan Kawasan Hutan
(Rehabilitasi
dan
Pemantapan
Fungsi
Kawasan,
Pengembangan dan Pengeloaan Kawasan)
Pelaksana Utama Perwujudan Kawasan Hutan Rakyat (Rehabilitasi
dan Pemantapan Fungsi Kawasan, Pengembangan dan Pengelolaan
Kawasan
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 35
3. Perwujudan Kawasan Strategis Provinsi
Pelaksana Pendukung Perwujudan Kawasan Strategis Prov Jateng dari
Sudut Kepentingan Fungsi dan Daya Dukung Lingkungan Hidup
(Rehabilitasi
dan
Pengembangan
Kawasan
Strategis
Provinsi)
Memperhatikan arahan RTRWP, maka permasalahan yang dihadapi
dalam
menjalankan
tugas
pokok
dan
fungsi
pelayanan
Dinas
Kehutanan Provinsi Jawa Tengah pada prinsipnya sama dengan
permasalahan yang akan dihadapi dalam mewujudkan RTRWP Provinsi
Jateng 2009 s.d 2029. Atas arahan dalam RTRWP telah menjadi
pendorong utama untuk meningkatkan pelayanan Dinas Kehutanan
Jawa Tengah khususnya untuk mewujudkan luas tutupan hutan
minimal 30% dari luas daratan dan tersebar secara proporsional.
B. Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Dalam kajian pengaruh dan mitigasi dampak indikasi program
prioritas RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2013 - 2018 terdapat 25 program
prioritas
yang
perlu
dilakukan
mitigasi
karena
pelaksanaannya
berdampak pada lingkungan, yakni :
1) Program pembangunan jalan dan jembatan;
2) Program peningkatan jalan dan penggantian jembatan;
3) Program rehabilitasi/pemeliharaan jalan dan jembatab;
4) Program pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi, rawa serta
jaringan pengairan lainnya;
5) Program penyediaan dan pengelolaan air baku;
6) Program pengembangan, pengelolaan dan konservasi sungai, danau
dan sumberdaya air;
7) Program pengendalian banjir dan pengamanan pantai;
8) Program
peningkatan
prasarana
dan
sarana
perkotaan
dan
perdesaan;
9) Program peningkatan kinerja pengelolaan air minum dan sanitasi;
10) Program pembangunan perumahan;
11) Program pengembangan perhubungan darat;
12) Program pengembangan perhubungan laut;
13) Program pengembangan perhubungan udara;
14) Program peningkatan iklim dan realisasi investasi;
15) Program pengembangan agribisnis;
16) Program pemanfaatan potensi sumberdaya hutan;
17) Program pengembangan pertambangan dan air tanah;
18) Program pengembangan ketenagalistrikan dan migas;
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 36
19) Program pengembangan energi baru terbarukan dan konservasi
energi;
20) Program pengembangan perikanan tangkap;
21) Program pengembangan perikanan budidaya;
22) Program
optimalisasi
pengolahan
dan
pemasaran
produksi
perikanan;
23) Program pepengembangan industri logam, mesin dan tekstil;
24) Program pengembangan industri agro, kimia dan hasil hutan;
25) Pengembangan industri alat transportasi, elektronika dan aneka
Dengan demikian maka Organisasi Perangkat Daerah (OPD)
pengampu program-program tersebut diharapkan melakukan tindakan
tindakan mitigasi dan melaksanakan rekomendasi berdasarkan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) guna mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan akibat implementasi program-program tersebut.
Dari hasil kajian pengaruh dan mitigasi dampak indikasi program
prioritas RPJMD Provinsi Jawa Tengah 2013 - 2018 tidak satupun
program pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa
Tengah tahun 2013 – 2018 yang perlu melaksanakan tindakan mitigasi
untuk
mengurangi
dampak
pada
lingkungan
dan
melaksanakan
rekomendasi sesuai Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Dengan adanya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
terhadap RPJMD 2013-2018 diharapkan dalam setiap pembangunan
yang dilaksanakan mengacu pada kaidah lingkungan dan aspek-aspek
pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Berdasarkan hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atas
RPJMD Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 – 2018 terhadap program
pembangunan yang terkait dengan isu-isu pembangunan berkelanjutan,
terdapat satu Program Pembangunan Kehutanan yang telah dibahas
dalam dokumen KLHS dikarenakan diduga berpotensi berdampak
negatif terhadap isu-isu pembangunan berkelanjutan. Adapun beberapa
dampak yang diduga akan muncul atas implementasi program ini antara
lain:
1. Pemanfaatan
sumberdaya
hutan
yang
tidak
terkendali
mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan dan menimbulkan
lahan kritis
2. Berpotensi
meningkatkan
pencemaran
udara
dan
air
karena
berkembangnya industri pengolahan hasil hutan;
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 37
3. Berpotensi meningkatkan pencemaran udara karena kebakaran
hutan yang diakibatkan dari pemanfaatan hutan yang tidak
terkendali;
4. Berpotensi menyebabkan erosi, banjir dan tanah longsor, jika
pemanfaatan hasil hutan tanpa upaya rehabilitasi.
Atas
potensi
pemanfaatan
dampak
potensi
ini,
telah
sumberdaya
direkomendasikan
hutan
harus
dalam
memperhatikan
kelestarian sumberdaya hutan melalui pengendalian dan pengawasan,
penegakan aturan/hukum dan peningkatan rehabilitasi hutan serta
peningkatan penerapan sertifikasi pengelolaan hutan lestari.
3.5 PENENTUAN ISU-ISU STRATEGIS
Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan yang dihadapi Dinas
Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, pelanggan dan
faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menjalankan tugas dan fungsinya
dan memperhatikan Visi, Misi, Program Kerja Gubernur dan Wakil
Gubernur Periode 2013 – 2018 yang dituangkan dalam RPJMD Jawa
Tengah Periode 2013 - 2018, Renstra Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan Periode 2014 – 2019, RTRWP Jawa Tengah Tahun 2009 – 2029
dan Hasil Kajian Lingkungan Hidup Strategis, maka telah dilakukan
pelingkupan dengan menggunakan metode USG (Urgency /kemendesakan,
Seriosness/keseriusan
dan
Growth/pertumbuhan)
terhadap
hasil
identifikasi isu-isu pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan di Jawa
Tengah dan analisis internal, berdasarkan pelingkupan tersebut ditetapkan
beberapa isu strategis yang akan ditangani sebagai berikut:
1)
Meningkatnya
pencemaran
air,
baik
itu
dari
Limbah
industri,
pertanian, dan rumah tangga dan semakin tingginya pencemaran
limbah padat (sampah dan limbah B3);
2)
Meningkatnya kerusakan DAS, terutama yang diakibatkan oleh praktik
penebangan liar dan konversi lahan;
3)
Rusaknya
habitat
diakibatkan
oleh
ekosistem
deforestasi
degradasi sebagian
kawasan
hutan
pesisir
mangrove,
dan
laut,
serta
yang
terjadinya
besar terumbu karang dan padang lamun,
mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati
(biodiversity);
4)
Menurunnya kualitas udara perkotaan dengan semakin meningkatnya
perindustrian dan penggunaan kendaraan bermotor;
5)
Kurangnya
pengetahuan
dan
kesadaran
masyarakat
terhadap
pengelolaan lingkungan;
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 38
6)
Masih tingginya potensi konflik dalam penggunaan kawasan hutan,
ancaman terhadap gangguan keamanan hutan maupun kebakaran
hutan;
7)
Rendahnya produktivitas sumberdaya hutan;
8)
Belum efisiennya pemanfaatan hasil hutan kayu sebagai bahan baku
Industri pengolahan;
9) Lemahnya kapasitas dan kompetensi kelembagaan kehutanan
10) Potensi
hasil
hutan
bukan
kayu
dan
jasa
lingkungan
belum
dikembangkan secara optimal
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Page 39
Download