172 upaya meningkatkan kemampuan bercerita

advertisement
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERCERITA
DENGAN TEKNIK TUTUR BERSAMBUNG PADA SISWA KELAS IX D
SMP NEGERI 1 PATIKRAJA SEMESTER 1 TAHUN 2014-2015
Sukesi Trisnowati
SMP Negeri 1 Patikraja, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia
Sur-el: [email protected]
Abstrak: Kemampuan bercerita siswa kelas IX D SMP Negeri 1 Patikraja pada
semester gasal tahun pelajaran 2014-2015 dinyatakan masih rendah. Dalam
kegiatan pembelajaran bercerita tersebut, sebagian besar siswa mengalami
kesulitan dan kendala psikologis yakni rasa malu, khawatir, dan kurang percaya
diri saat bercerita di depan kelas. Kebanyakan siswa merasa bingung dengan cerita
yang akan dibawakannya karena mereka kurang menguasai isi cerita yang telah
dibacanya serta khawatir tidak dapat menyelesaikan ceritanya. Berdasarkan
kondisi tersebut, perlu diupayakan solusinya. Penulis memilih teknik tutur
bersambung agar siswa dapat bercerita dengan baik dari awal hingga akhir sesuai
dengan isi cerita yang dibacanya tanpa rasa malu, khawatir, dan kurang percaya
diri. Teknik tutur bersambung merupakan teknik bercerita secara kelompok (2 - 4
orang) yakni bercerita dengan cara bergantian, beruntun, atau bersambungan dari
siswa pertama hingga yang terakhir. Dengan menggunakan teknik tersebut,
kesulitan dan kendala psikologis dapat teratasi serta hasil belajar pun lebih baik.
Kemampuan bercerita menjadi meningkat. Hal ini terbukti, nilai rata-rata kelas
meningkat dari 68 menjadi 80. Persentase ketuntasan belajar klasikal juga
meningkat dari 70,58% menjadi 94,11%.
Kata kunci : kemampuan bercerita, teknik tutur bersambung
THE EFFORT TO IMPROVE STORY TELLING ABILITY
USING A CONTINUED SPOKEN TECHNIQUE OF CLASS IX D STUDENTS
SMP NEGERI 1 PATIKRAJA IN THE FIRST SEMESTER
OF ACADEMIC YEAR 2014-2015
Abstract: The story telling ability of class IX D students SMP N 1 Patikraja at odd
semester in the academic year 2014-2015 are still low. In story telling learning
activity, most student have difficulty and psychological problem such as ashame,
worry and lack of confisence when they are telling the story in front of the class.
Most of them are confused with the story to tell because they don’t master the story
they have read and worry too much not to be able to finish the story. Based on that
condition, there should be a solution. The writer has chosen certain technique in
telling story so that students will perform story well, from the beginning until the
end of the story as the content of the story hase been read without feel in ashamed,
worried and unconfident. The chosen technique is continued-spoken technique.
Continued spoken technique is a group story telling technique (2-4 students) that
is perfumed in turn, in rows or continuonsly from the first student to the last
student. By using that technique, the difficulty and psychological problem could be
solved and the student achievement will be better. The story telling ability
increase. It’s proved by the increasing of the average score from 68 become 80.
Volume 1 No 2 April 2015
172
The percentage of classical accomplishment also increases from 70,58 % to
94,11%.
Key word : story telling ability, continued-spoken technique
dalam proses pembelajaran sebagian
PENDAHULUAN
dipandang
besar siswa tampak kurang bersung-
sebelah mata oleh banyak orang.
guh-sungguh dan kurang bersemangat
Mereka
baik
Bercerita
mengira
kadang
bahwa
bercerita
dalam
kegiatan
berdiskusi
dalam kegiatan pembelajaran adalah
maupun saat tampil di depan kelas
sebuah kesia-siaan. Padahal para pakar
untuk menceritakan kembali isi cerpen
pendidikan
yang telah dibacanya.
mengatakan
bahwa
bercerita khususnya pada anak-anak
Kegiatan pembelajaran yang
amatlah penting. Bercerita berfungsi
berlangsung
antara lain membangun kontak batin
kurang mendapat perhatian siswa,
antara guru dengan siswa, sebagai
sehingga hasil pembelajaran masih
media penyampai pesan baik pesan
rendah. Hal ini dikarenakan
moral, agama, maupun pendidikan dan
kegiatan pembelaja-ran tersebut, guru
sekaligus sebagai sarana hiburan untuk
mengatasi kejenuhan.
kurang
kondusif
dan
dalam
belum menggunakan teknik pembelajaran yang sesuai dengan bahan ajar
Pembelajaran bahasa Indonesia
aspek berbicara pada kompetensi dasar
menceritakan kembali secara lisan isi
cerpen di kelas IX D SMP Negeri 1
Patikraja pada semester gasal tahun
pelajaran 2014/2015 belum berhasil.
Dengan kata lain, kemampuan siswa
dalam bercerita masih rendah. Hal ini
dan tingkat kemampuan siswa.
Melihat
kondisi
tersebut,
peneliti berupaya untuk mencari solusi
agar proses pembelajaran berlangsung
secara aktif, inovatif, kreatif, efektif,
menyenangkan, serta hasilnya pun
memuaskan. Dengan demikian, diha-
terbukti dari jumlah 34 siswa di kelas
rapkan siswa dapat menceritakan isi
tersebut, terdapat 10 siswa yang belum
cerpen dengan baik di depan kelas dan
dapat
akan mendapatkan nilai lebih dari 76
mencapai
KKM
(Kriteria
Ketuntasan Minimal) yakni nilai 76.
Persentase ketuntasan klasikal baru
mencapai 70,58%. Disamping itu,
173
atau di atas KKM.
Berpijak
pada
kenyataan
tersebut, maka peneliti melakukan
Volume 1 No 2 April 2015
penelitian tindakan kelas pada kegiatan
meningkatkan kemampuan mencerita-
pembelajaran untuk kompetensi dasar
kan kembali secara lisan isi cerpen
menceritakan kembali secara lisan isi
melalui teknik tutur bersambung pada
cerpen. Permasalahan dalam penelitian
siswa kelas IX D SMP Negeri 1
ini adalah teknik pembelajaran apakah
Patikraja Kabupaten Banyumas pada
yang akan digunakan sebagai upaya
semester 1 tahun pelajaran 2014/2015.
meningkatkan kemampuan bercerita.
Secara khusus
Teknik pembelajaran yang dimaksud
kelas ini bertujuan untuk mengetahui
adalah
hasil dari penggunaan teknik tutur
teknik
Adapun
adalah
tutur
bersambung.
permasalahan
bagaimanakah
berikutnya
teknik
tutur
penelitian tindakan
bersambung
dalam
meningkatkan
kemampuan
menceritakan
kembali
bersambung diterapkan dalam pembe-
secara lisan isi cerpen pada siswa kelas
lajaran kompetensi dasar menceritakan
IX
kembali secara lisan isi cerpen. Selain
Kabupaten Banyumas pada semester 1
hal
tahun pelajaran 2014/2015.
tersebut,
penelitian
ini
juga
D
menyoroti bagaimana keaktifan siswa
dalam
kegiatan
bagaimana
sikap
berdiskusi
serta
siswa
dalam
mengikuti seluruh rangkaian kegiatan
pembelaja-ran.
Berdasarkan identifikasi dan
pembatasan masalah tersebut, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah :“Apakah teknik tutur bersambung dapat meningkatkan kemampuan
SMP
Negeri
1
Patikraja
Bercerita adalah menyampaikan suatu cerita di depan umum tanpa
teks.
Kegiatan
ini
menuntut
keterampilan berbicara. Gaya bercerita
yang menarik, intonasi yang tepat,
pengurutan cerita yang cocok, dan
sebagainya harus dikuasai benar-benar
(Tarigan dan Henry Guntur Tarigan,
1986:
116).
Bercerita
merupakan
menceritakan kembali secara lisan isi
sebuah keterampilan, yang penguasa-
cerpen pada siswa kelas IX D SMP
annya tidak cukup hanya dengan
Negeri 1 Patikraja Kabupaten Banyu-
memahami ilmunya secara teoretik
mas pada semester 1 tahun pelajaran
saja. Keterampilan teknis bercerita
2014/2015?”
hanya dapat dikembangkan melalui
Penelitian tindakan kelas ini
secara
umum
bertujuan
Volume 1 No 2 April 2015
untuk
latihan
dan
pengalaman
praktik
(Sudarmadji dkk, 2010: 33).
174
Kemampuan bercerita adalah
sistematis yang terdapat dalam metode.
penguasaan, kesanggupan, dan keca-
Oleh
kapan menuturkan atau menyampaikan
implementatif yaitu tindakan nyata
cerita kepada orang lain dengan tepat
yang dilakukan sebagai usaha untuk
dan menarik. Ada dua faktor pokok
mencapai tujuan (Sufanti, 2010: 31).
yang
harus
diperhatikan
karena
itu,
teknik
bersifat
Istilah pendekatan, metode, dan
untuk
mencapai keberhasilan dalam bercerita,
teknik
yaitu
atau
tumpang tindih atau campur aduk baik
setidaknya kerangka cerita (sinopsis),
dalam pengertiannya maupun dalam
dan teknik penyajian (Sudarmadji dkk,
pemakaiannya. Akan tetapi secara
2010:
konseptual
naskah
27).
atau
skenario
Seseorang
yang akan
sering
digunakan
dibedakan.
secara
Ketiganya
bercerita harus menentukan terlebih
memiliki
dahulu gambaran jalan ceritanya yang
hirarkis.
dapat diperoleh dari berbagai sumber,
tingkat
antara lain: buku, majalah, koran, atau
dijabarkan
pengalaman
yang
Sedangkan metode dituangkan dalam
dipilih harus sudah dipertimbangkan
bentuk teknik. Jadi metode bersifat
masak-masak.
prosedural.
pribadi.
Cerita
Apakah
cerita
itu
hubungan
Pendekatan
tertinggi,
dalam
Hubungan
berbobot, menarik, dan sebagainya.
berjenjang/
berada
yang
bentuk
antara
pada
kemudian
metode.
strategi,
Seorang pencerita perlu mengasah
metode, dan teknik pembelajaran dapat
keterampilan-nya dalam bercerita, baik
digambarkan sebagai suatu sistem yang
dalam olah vokal, olah gerak, ekspresi,
bertitik tolak dari perumusan dan
dan sebagainya. Dia juga harus pandai-
penentuan tujuan, pemilihan strategi
pandai mengembangkan unsur-unsur
pembelajaran, pemilihan metode yang
penyaji-an cerita secara proporsional
relevan, kemudian diimplementasikan
seperti
ke dalam teknik pembelajaran selama
pemaparan
cerita,
dialog,
ekspresi, peragaan, media atau alat
proses
pembelajaran
berlangsung.
peraga.
Pemilihan strategi pembelajaran harus
Teknik adalah cara khas atau
berorientasi pada tujuan yang akan
operasional, yang digunakan untuk
dicapai, disesuaikan dengan materi,
mencapai tujuan berdasar pada proses
karakteristik siswa, serta situasi dan
175
Volume 1 No 2 April 2015
kondisi di mana proses pembelajaran
secara berkelanjutan, berurutan atau
akan berlangsung.
beruntun. Berdasarkan uraian tersebut,
Ada
teknik
beberapa
pembelajaran
metode
yang
dan
dapat
dapat dinyatakan bahwa teknik tutur
bersambung
adalah
yang
digunakan guru, tetapi tidak semuanya
digunakan
sama
sesuatu dengan lisan kepada orang lain
efektifnya
dalam
mencapai
tujuan pembelajaran (Uno, 2008:7).
secara
Untuk
bergantian.
itu,
dibutuhkan
adanya
untuk
cara
berurutan,
menyampaikan
beruntun
atau
dalam
Teknik tutur bersambung ini
memilih media pembelajaran yang
pada hakikatnya merupakan modifikasi
digunakan yang dapat merangsang
dan
indera siswa secara simultan.
pembelajaran melanjutkan cerita, cerita
kreativitas
guru,
termasuk
pengembangan
dari
teknik
Menurut Tarigan (1998: 41)
berantai, dan menceritakan kembali
teknik pembelajaran itu bersifat netral.
(Tarigan dan Henry Guntur Tarigan,
Tidak ada yang jelek, juga tidak ada
1986:101-104). Dari ketiga teknik
yang baik. Baik buruknya teknik
tersebut penulis memunculkan dan
pembelajaran bergantung pada penggu-
menggunakan
naannya. Bila digunakan secara tepat ia
bersambung.
nama
Penggunaan
menjadi baik, dan sebaliknya bila
teknik
tutur
teknik
tutur
digunakan pada situasi yang tidak tepat
bersambung diawali dengan kegiatan
ia menjadi tidak baik.
membaca cerita (cerpen) dari buku
Istilah
tutur
bersambung
kumpulan cerpen. Selanjutnya siswa
merupakan gabungan dari kata tutur
berkelompok
untuk
mendiskusikan
dan
pokok-pokok
cerita
untuk
kata
bersambung.
Menurut
dapat
Depdiknas (2007:1231) tutur berarti
dikembangkan menjadi sebuah cerita.
ucapan; kata; perkataan. Sedangkan
Dengan kata lain, siswa diminta untuk
bersambung berarti diberi tambahan
menceritakan kembali cerita yang telah
(agar lebih panjang); lanjut; berturut-
dibaca dengan bahasa sendiri secara
turut;
berkelompok.
berurutan;
berganti-ganti
Seorang
anggota
(Depdiknas, 2007:989). Jadi, tutur
kelompok
bersambung
awal/pertama cerita kemudian siswa
berarti
mengucapkan/
menyampaikan sesuatu dengan lisan
Volume 1 No 2 April 2015
kedua
menceritakan
melanjutkan
cerita
bagian
dan
176
seterusnya
secara
bergantian
atau
Data dalam penelitian ini ada
bersambungan sampai bagian akhir/
dua macam yaitu data primer dan data
penutup dari cerita tersebut.
sekunder. Data primer berupa
hasil
Dalam pembelajaran kompe-
belajar kemampuan bercerita para
tensi dasar bercerita dengan teknik
siswa. Data sekunder berupa hasil
tutur bersambung ini, siswa membaca
sebuah
cerpen
kemudian
siswa
mendiskusikan pokok-pokok ceritanya.
Berdasarkan
pokok-pokok
cerita
tersebut, siswa dalam kelompoknya
menceritakan kembali di depan kelas
pengamatan dari teman sejawat sebagai
kolaborator yang membantu melakukan observasi pada saat penelitian
dilaksanakan.
Pengumpulan
data
dalam
penelitian ini menggunakan dua teknik
yaitu teknik tes dan teknik non
secara bergantian atau berurutan dari
tes.Teknik
awal hingga akhir cerita. Dengan cara
berupa tes
inilah siswa akan dapat bercerita
performansi
dengan baik di depan kelas tanpa
pada kompetensi dasar menceritakan
merasa takut dan malu. Selain itu,
kembali secara lisan isi cerpen oleh
siswa tentu saja akan berusaha untuk
siswa
bekerja sama dalam kelompoknya
(tindakan) maupun setelah adanya
demi keberhasilan dalam bercerita.
tindakan yakni kegiatan pembelajaran
Selanjutnya nilai yang diperoleh siswa
tes
yang
dilaksanakan
unjuk kerja atau uji
kemampuan
baik
sebelum
bercerita
perlakuan
kemampuan bercerita untuk kompetensi dasar menceritakan kembali secara
akan lebih baik atau meningkat.
lisan isi cerpen dengan teknik tutur
bersambung. Sedangkan teknik non tes
METODE PENELITIAN
berupa pengamatan atau observasi
Penelitian tindakan kelas ini
dilaksanakan
Patikraja
di
SMP
Kabupaten
Subjek penelitiannya
Negeri
1
Banyumas.
adalah siswa
selama proses pembelajaran berlangsung
terhadap
aktivitas
dan
keantusiasan siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran.
kelas IX D SMP Negeri 1 Patikraja
Alat
(instrumen)
yang
Kabupaten Banyumas tahun pelajaran
digunakan untuk mengumpulkan data
2014/2015, yang berjumlah 34 orang
adalah
siswa terdiri atas 20 siswa perempuan
Pada
dan 14 siswa laki-laki.
performansi
177
tes dan lembar pengamatan.
tes
unjuk
kerja
digunakan
atau
uji
rubrik
Volume 1 No 2 April 2015
penilaian
unjuk
kerja
dengan
kurang runtut, menggunakan bahasa
deskriptor dan skala (skor) penilaian
yang
yang
penampilan yang kurang ekspresif dan
sebelumnya
telah
disepakati
bersama antara guru dengan siswa.
Aspek
yang
dinilai
pada
lembar
penilaian tes unjuk kerja bercerita
dengan
teknik
tutur
bersambung
kurang
komunikatif,
serta
kurang menarik. Skor 1 untuk kegiatan
bercerita dengan
lafal dan
intonasi
yang tidak tepat, isi yang tidak sesuai,
bahasa
tidak
(lafal) dan lagu kalimat (intonasi), (2)
komunikatif, serta penampilan
tidak
kesesuaian isi cerita, (3) keruntutan
ekspresif dan tidak menarik.
meliputi: (1) ketepatan pengucapan
cerita
tidak
Rubrik
cerita, (4) penggunaan bahasa yang
runtut,
penilaian
bercerita
komunikatif, serta (5) penampilan yang
dengan deskriptor dan skor tersebut,
ekspresif dan menarik.
dapat dilihat pada tabel berikut.
penilaian
yang
Skala (skor)
digunakan
untuk
Penilaian Tes Unjuk Kerja
mengukur kelima aspek tersebut adalah
skor 1- 4.
Setiap aspek mempunyai skor 4
bila siswa bercerita dengan lafal dan
intonasi
N
Aspek
o
1 Lafal,
intonasi
yang sangat tepat, isinya
sangat sesuai dengan cerpen yang
2
dibacanya, diceritakan dengan sangat
runtut,
sangat
menggunakan bahasa yang
komunikatif,
serta
3
penam-
pilannya sangat ekspresif dan menarik.
Setiap aspek mempunyai skor 3 bila
siswa bercerita dengan
lafal dan
intonasi yang tepat, isinya sesuai,
ceritanya runtut, menggunakan bahasa
yang komunikatif, serta penampilan
yang ekspresif dan menarik. Setiap
aspek diberi skor 2 bila siswa bercerita
dengan lafal dan intonasi yang kurang
tepat, isi cerita kurang sesuai, ceritanya
Volume 1 No 2 April 2015
4
5
Deskriptor
Skor
1 2 3 4
Lafal &
intonasi
tepat&berva
riasi
Isi
Isi cerita
cerita
sesuai
dengan isi
cerpen
Kerun- Cerita
tutan
runtut
sesuai alur
cerpen
Bahasa Penggunaan
bahasa
komunikatif
Penam- Penampilan
pilan
ekspresif &
menarik
Nilai hasil bercerita dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut.
Nilai (N) =
Jumlah skor yang diperoleh
----------------------------------- x 100
Jumlah skor maksimal (20)
178
Analisis data dilakukan dengan
membandingkan nilai tes antarsiklus
dengan
indikator
kinerja
untuk
mengetahui peningkatan kemampuan
bercerita
pada
kompetensi
Keterangan:
F = Frekuensi (Jumlah siswa yang
mengikuti uji coba)
N = Jumlah siswa seluruhnya
Persentase
dasar
peningkatan
ke-
menceritakan kembali secara lisan isi
mampuan bercerita tersebut, dapat
cerpen. Data yang diperoleh dari tes
dilihat pada tabel berikut ini.
dianalisis
secara
kuantitatif
berdasarkan
persentase.
Sedangkan
data
diperoleh
dari
yang
mengetahui
N
o
Rentang
Nilai
1
Kurang
Dari 65
66–75
76–80
81 – 90
91– 100
hasil
observasi dianalisis secara kualitatif
untuk
Persentase Pencapaian Nilai Bercerita
tanggapan
dan
perubahan tingkah laku siswa setelah
2
3
4
5
kemampuan
bercerita
dihitung dengan rumus sebagai berikut.
N
=
F x
N
Persen Kriteria
tase
Sangat
kurang
Kurang
Cukup
Baik
Sangat
baik
Jumlah
siswa
Ketuntasan
klasikal
pembelajaran berlangsung. Persentase
peningkatan
Freku
ensi
Analisis data tes bercerita dan
pencapaian nilai bercerita pada setiap
100%
siklus dapat dilihat pada tabel berikut.
Analisis Data Nilai Tes bercerita
No
Nama
Siswa
Jumlah Nilai KetunSkor
tasan
Aspek yang dinilai
Lafal&
intonasi
Isi
Kerun
cerita tutan
Baha- Penam
sa
pilan
1
.
.
.
.
34
Jumlah
Rata-rata
Penelitian Tindakan Kelas ini
dilaksanakan
melalui
proses
pengkajian berdaur (siklus) yang terdiri
179
atas empat tahap, yaitu merencanakan
(planning),
melakukan
tindakan
(action), mengamati (observing), dan
Volume 1 No 2 April 2015
(reflecting)
pengamatan, dan refleksi. Jika terjadi
(Wardani dkk, 2002:23). Hasil refleksi
perubahan dalam proses maupun hasil
terhadap tindakan yang dilakukan akan
pembelajaran yakni adanya peningka-
digunakan kembali untuk merevisi
tan
rencana karena ternyata tindakan yang
penelitian dinyatakan berhasil.
melakukan
refleksi
kemampuan
bercerita
maka
dilakukan belum berhasil memperbaiki
pembelajaran
atau
belum
berhasil
HASIL DAN PEMBAHASAN
memecahkan masalah.
Pembelajaran kompetensi dasar
Berdasarkan refleksi hasil yang
diperoleh
dari
tes
awal,
ternyata
bercerita yang dilaksanakan terhadap
siswa kelas IX D SMPN 1 Patikraja
hasilnya belum memuaskan, maka
sebelum
peneliti menyu-sun kegiatan untuk
pembelajaran yang dilakukan tanpa
dilaksanakan pada pembelajaran siklus
menggunakan teknik tutur bersambung
1
Kegiatan pembelajaran yang dilaksa-
dengan
urutan
perencanaan,
tindakan, pengama-tan, dan refleksi.
Pada siklus 1 diprediksikan
adanya
tindakan
adalah
nakan diawali dengan penjelasan dari
guru
tentang kegiatan bercerita,
belum mencapai keberhasilan baik
kemudian siswa membaca cerpen.
dalam proses pembelajaran maupun
Selanjutnya
penilaian-nya
kembali cerpen tersebut di depan kelas
karena
guru
baru
menerapkan teknik tutur bersambung
pembelajaran
yang
sesuai
menceritakan
secara bergantian.
yang didukung dengan metode dan
media
siswa
Hasil dari pembelajaran kompetensi
dasar
menceritakan
kembali
dengan materi dalam pembelajaran
secara lisan isi cerpen yang dibaca
mencerita-kan kembali secara lisan isi
ternyata belum memuaskan, karena
cerpen .Kekurangan dan kelemahan
belum sesuai dengan yang diharapkan.
tersebut dievaluasi untuk menentukan
Terbukti dari 34 siswa yang dinyatakan
langkah berikutnya pada pelaksanaan
berhasil yakni mencapai ketuntasan
siklus 2.
minimal (nilai 76) sebanyak 24 orang,
Pada siklus 2 proses yang
dengan persentase ketuntasan klasikal
ditempuh sama dengan yang dilakukan
baru mencapai 70,58%. Hal ini berarti
pada
kemampuan bercerita siswa kelas IXD
siklus
1,
yaitu
merevisi
perencanaan, pelaksanaan tindakan,
Volume 1 No 2 April 2015
relatif masih rendah.
180
Kemampuan bercerita
yang
bercerita
siswa
yang
cukup
relatif masih rendah tersebut, dapat
menggembirakan. Terbukti dari 34
ditingkatkan
siswa
dengan
melaksanakan
yang
dinyatakan
berhasil
kegiatan pembelajaran yang lebih baik
(mencapai KKM dengan nilai 76)
dan menarik. Untuk itu tindakan yang
terdapat 28 orang, dengan persentase
dilakukan
ini
ketuntasan 80,25 %. Dibandingkan
hakikatnya adalah memperbaiki proses
dengan hasil yang diperoleh sebelum
pembelajaran yang dilaksanakan dalam
adanya tindakan (tes awal) berarti ada
dua siklus yaitu siklus 1 dan siklus 2.
peningkatan persentase sebesar 9,67 %.
dalam
penelitian
Pada siklus 1 pembelajaran
Berdasarkan
hasil
yang
dengan menggunakan teknik tutur
diperoleh pada siklus 1 yang belum
bersambung dilakukan dengan metode
memuaskan
tanya jawab, diskusi kelompok, dan
demonstrasi.
Pembelajaran
diawali
dengan kegiatan membaca cerpen.
Selanjutnya
siswa
mendiskusikan
pokok-pokok cerita tersebut secara
berkelompok,
kemudian
guru
mempersiapkan
penilaian
tentang
membawakan cerita tersebut dengan
urutan yang baik, suara, lafal, intonasi,
gesture
dan
mimik
yang
tepat
adanya
tersebut,
tindakan
maka
perlu
berikutnya
yakni
pembelajaran siklus 2. Pembelajaran
siklus 2 ini, metode dan teknik yang
digunakan sama dengan sebelumnya.
Pada kegiatan awal siswa membaca
sebuah cerpen dari buku kumpulan
cerpen. Selanjutnya siswa mendiskusikan pokok-pokok isi cerpen tersebut,
kemudian siswa secara berkelompok
berdasarkan pokok-pokok cerita. Hal
menceritakan
ini dimaksudkan untuk memotivasi
dengan menggunakan teknik tutur
siswa, menghilangkan rasa malu dan
bersambung. Namun dalam hal ini
takut tampil di depan kelas, serta
siswa diberi kesempatan untuk lebih
menambah kelancaran bercerita karena
kreatif dalam mengembangkan cerita
dilakukan berkelompok secara bergan-
tanpa menyimpang dari pokok-pokok
tian atau bersambungan.
isi cerpen. Cerita yang dibawakan di
Meskipun
hasilnya
belum
depan
kelas
kembali
dengan
isi
teknik
cerpen
tutur
begitu memuaskan namun pembelaja-
bersambung itu dikembangkan sendiri
ran pada siklus 1 ini menunjukkan
oleh siswa (dalam kelompok diskusi)
adanya
berdasarkan pokok-pokok isi cerpen.
181
peningkatan
kemampuan
Volume 1 No 2 April 2015
Dari pembelajaran siklus 2
yakni tes awal, tes siklus 1, dan tes
tersebut, ternyata hasil yang dicapai
siklus
lebih
terjadi
pembelajaran memotivasi siswa belajar
peningkatan hasil sebesar 13,86%.
berbicara di depan orang banyak (di
Pada siklus 2 ini, dari 34 siswa
depan
terdapat 32 orang yang dinyatakan
kemampuan bercerita mereka. Upaya
berhasil
dengan
yang dilakukan untuk mencapai tujuan
mencapai
tersebut adalah penggunaan teknik
memuaskan,
(tuntas
persentase
karena
belajar)
ketuntasan
94,11%.
tutur
Dengan demikian, pembelajaran aspek berbicara untuk kompetensi
dasar bercerita dengan menggunakan
teknik
tutur
memenuhi
bersambung
standar
hipotesis
2.
Pelaksanaan
kelas)
dan
bersambung
kegiatan
meningkatkan
yang
didukung
dengan metode dan media pembelajaran yang sesuai.
Peningkatan kemampuan ber-
telah
cerita dengan teknik tutur bersambung
yang
pada pembelajaran awal
(sebelum
diajukan. Hal ini dapat diketahui dari
perlakuan), siklus 1, dan siklus 2
analisis hasil dalam beberapa tahap,
tampak pada diagram berikut
Volume 1 No 2 April 2015
ini.
182
DAFTAR PUSTAKA
SIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut,
dapat
diambil
simpulan
bahwa
bercerita merupakan suatu kemampuan
yang harus dikuasai siswa kelas IX D
SMP Negeri 1 Patikraja. Masih banyak
siswa yang mengalami kesulitan dalam
pembelajaran pada kompetensi dasar
menceritakan kembali cerpen yang
dibaca. Hal ini disebabkan siswa masih
mengalami
kesulitan
dan
kendala
psikologis saat bercerita di depan
kelas.
Teknik
Tutur
Bersambung
merupakan teknik bercerita yang dapat
Depdiknas. 2007. Kamus Besar
Bahasa
Indonesia
(Edisi
III).Jakarta: Balai Pustaka
Sudarmadji
dkk.
2010.
Bercerita. Yogyakarta:
Kalam Semesta.
Teknik
Kurnia
Sufanti,
Main.
2010.
Strategi
Pengajaran Bahasa dan Sastra
Indonesia. Surakarta: Yuma
Pustaka.
Tarigan, Djago dan Henry Guntur
Tarigan.
1986.
Teknik
Pengajaran
Keterampilan
Berbahasa. Bandung: Angkasa
Bersambung ini, siswa dapat bercerita
Tarigan,
Henry
Guntur.
1998.
Berbicara
Sebagai
Suatu
Keterampilan
Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
secara berurutan dan bersambungan
Uno,
mengatasi masalah tersebut. Dengan
menggunakan
Teknik
Tutur
dari siswa pertama sampai siswa
keempat, sesuai isi cerpen yang telah
dibaca tanpa rasa takut, malu, dan
kurang
percaya
menggunakan
diri.
teknik
Dengan
tersebut,
kesulitan dan kendala psikologis dapat
teratasi. Siswa bercerita dengan lancar
sehingga
nilai
hasil
belajar
Hamzah B. 2008. Model
Pembelajaran
Menciptakan
Proses Belajar Mengajar yang
Kreatif dan Efektif. Jakarta:
Bumi Aksara.
Wardani dkk. 2002. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat
Penerbitan Universitas Terbuka
Departemen Guru Nasional.
pun
menjadi meningkat. Hal ini terbukti,
nilai rata-rata kelas meningkat dari 68
menjadi 80. Persentase ketuntasan
belajar klasikal juga meningkat dari
70,58% menjadi 94,11%.
183
Volume 1 No 2 April 2015
Download